Baca PDF (OCR): Sastra Perang, Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil

256 halaman · 82 halaman diproses dengan OCR· 52123 ms

Daftar isi
  1. Ibranphil lsian
  2. Sastne
  3. Porang
  4. Sthnah pembiccraan menaenar Hikayt PeruyS bpBALAI PUSTAKA
  5. 0104 2009
  6. 110370279
  7. SASTRA PERANG
  8. Sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil
  9. MAATER
  10. SASTRA PERANG
  11. Sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil
  12. Perancang Kulit : Lian Sahar
  13. PRAKATA
  14. Balai Pustaka
  15. DAFTARISI
  16. Prakata v
  17. PENGANTAR
  18. Haji berteriak Al la hu Akbar datang mengamuk tak lagi sabar
  19. dengan tolong Tuhan Mal ik Al-Jabbar serdadii Menteng habislah bubar
  20. Keluar sekalian hulubalang panglima menolong haji bersama-sama
  21. opsirnya mati empat dan li ma haji pun sampai di kota lama
  22. Haji mengusir kanan dan kiri
  23. Haji berteriak sambil memandang hai kafir marilah tandang
  24. syurga bernaung di mata pedang bidadari hadir dengan selendang
  25. Di situlah haji lama terdiri dikembiingi serdadii Holanda pencuri
  26. lukanya tidak lagi terperi fanaluh haji hipakan diri
  27. Datanglah komandan bersungguh hati membedil haji tiada berhenti
  28. Six miles was the distance that now lay between
  29. Our fine lofty ship and the enemy's land.
  30. SAMALANGA oleh Iz. Thenu
  31. 1. Mari sobat, mari soedara!
  32. Pergi prang di Samalanga;
  33. Mari koempoel dan bersoeara,
  34. Laloe bernjanji bersama-sama.
  35. 2. Satoe njanjian jang amat merdoc
  36. Menghiboer haii jang amat doeka,
  37. Hari ini kita di Merdoe,
  38. Esok loesa djaian kamoeka.
  39. 3. Dari Merdoe djaian disawa
  40. Itoe djaian jang amat soesah,
  41. Tenipo-tempolah liwat rawa,
  42. AsaI bisa dapat kamoeka.
  43. 4. Kaioe djaian haroes berdiam
  44. Karna moesoeh berdjaga-djaga,
  45. Kaloe dengar boenji meriam
  46. Itoe tandalah moesoeh ada.
  47. 5. Soenggoeh moesoeh banjak sekali,
  48. Ada berdiri didalam benteng
  49. Haroes kami berlari-Iari
  50. Waktoe komandolah: "Attaqueeren".
  51. 6. i)jangat) tinggal berdiri lama,
  52. Kaloe komandolah: "Attaqueeren",
  53. Lari lekas datang kesana,
  54. Masoek pertama kedalam benteng.
  55. 7. Siapa masoek nommer satoe
  56. Itoelah tanda amat berani,
  57. Nanti dapatlah bintang satoe
  58. Tanda setia lagi berani.
  59. 8. Maski dengarlah hoedjan pelor Dari moesoehmoe orang Atjeh, ï)jangan sekali bersoesah keloeh,
  60. Tapi peranglah hidoep mati.
  61. 9. Mari kamoe he orang Ambon!
  62. Lagi Menado lagi Ternate!
  63. Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,
  64. Sampe gagahnya djadi berhenti.
  65. Di Tahoen sembilanbelas tigapoeloeh,
  66. Datang Djenderal, datang dari tanah Djawa
  67. Membawa bintang dari Maharadja,
  68. Bintang ditaroh atas vaandel Korps Maréchaussee
  69. Yang memerangi kafir dalam perang sabil Niat mempertinggi kebenaran agama
  70. Kalimah Allah agama Islam Kafir jahanam isi neraka
  71. Sabilillah dinamai perang Tuhan berikan akhirnya surga
  72. Mengikuti suruhan sampai ajal Pahala kelak sangat sempurna
  73. Orang-orang yang memberi sumbangan Memang berganda pahala datang
  74. Biarpun kita memberi satu sahaja Berganda Tuhan mengembalikan
  75. Satu dirham kini kita berikan Tujuh ratus ketika dikembalikan
  76. Pembalasan satu adalah tujuh ratus Tuhan sebut di dalam Qur'an
  77. kai itu berbuah seratus biji, Allah mempunyai karunia luas lagi mengetahui."
  78. Waktu kafir menduduki negeri Semua kita wajib berperang
  79. Jangan diam bersunyi diri Di dalam negeri bersenang-senang
  80. Di waktu itu hukum fardhu 'ain Harus yakin seperti sembahyang
  81. Wajib kerjakan setiap waktu Kalau tak begitu dosa hai abang
  82. Tak sempurna sembahyang puasa
  83. Jika tak mara ke medan perang
  84. Fakir miskin, kecil dan besar
  85. Tua, muda, pria dan wanita
  86. Yang sanggup melawan kafir Walaupun dia budaknya orang
  87. 1 liikmu fardhu 'ain di pundak kita Meski tak sempat lunasnya hutang
  88. Wajib harta disumbangkan Kepada siapa yang mau berperang
  89. Baik wanita atau pria Semuanya, tua dan muda
  90. Akil baliq, kanak-kanak Menurut Ijmak ikut serta
  91. Saleh, fasik, alim, jahil, Wajib semua berperan serta
  92. Raja, rakyat, uleebalang Wajib berperang sama rata
  93. Kafir yang menyerang Negeri kita Wajib di sini lawan segera
  94. Haram lari, wajib melawan Fardhu 'ain ke atas kita
  95. ... Jika engkau tiada melakukan perang menegakkan kebenaran ini, meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu,
  96. kehormatan sesungguhnya lebih buruk daripada kematian.
  97. Orang akan menganggap engkau pengecut karena lari dari pertempuran dan orang yang pernah memujamu merendahkan
  98. dengan penghinaan. Sesungguhnya tiada yang lebih sedih daripada hal itu.18
  99. Manawa Dharmacastra menegaskan demikian:
  100. mengingat kewajiban seorang kesatria, jangan sama sekali meninggalkan medan pertempuran, karena inilah
  101. jalan satu-satunya yang terbaik untuk memperoleh kebahagiaan.19
  102. Demikian pula dalam Nitisastra dijelaskan bahwa:
  103. Pahlawan yang mati di medan perang mendapat tempat di kediaman dewa-dewa, dikerumuni oleh bidadari-bidadari.
  104. Si penakutyang tak berani perang, jika meninggal dunia, ditangkap dan disiksa oleh anak Betara rama.
  105. Jika tidak mati, ia dicerca, diolok-olok, ditawan, dan dihina oleh musuh.20
  106. kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. [Allah berbuat demikian untuk membinasakan
  107. mereka] dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah
  108. Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  109. 2 u pde a bottm
  110. CATATAN HALAMAN
  111. SASTRA PERANG TEKS ASLI
  112. DAN TERJEMAHANNYA
  113. HIKAYAT PERANG SABIL
  114. HIKAYAT PERANG SABIL
  115. Dia bersyairdia bernyanyi, dayang-dayang putri jauhari
  116. 1165. Neu blóh nuraka Nabi Muhammad, neu ja' eu ummat dalam syéksa
  117. Srej ie mata seun-seun siploh, ban hujeuen toh meuleulumba
  118. Neu ja' eu ummat jeueb-jeueb palöh, nuraka neu blóh po meukuta
  119. Nyandum guna po Junjöngan, he budiman pakon lupa
  120. Pue nyang neu kheun han ta iman, pakon meunan po bentara
  121. Nabi geutanyoe hé boh haté, lam prang sabé geunap masa
  122. Tinggay puasa tinggay haji, han padoli po meukuta
  123. Nyan dum di Nabi keu geutanyoe, hé samlakoe pakon lupa
  124. 1185. 'Oh meu teu'oh Nabi ka neumoe, sabab geutanyoe le that lupa
  125. Han ta sayang meung sigeutu, nyan dum hé teungku tinggay guna
  126. 1285. Ban sare tröih 'Umar keunan, neu eu ureueng nyan cit hitam that
  127. 1290. Ban neu deungo narit meunan, 'Umar yöh nyan ka beungèh that
  128. 1305. Ulön peugah sabda gata, han cit rida geu kheun teupat
  129. ya Rabba 'l-'alamin Amin.
  130. PAFT AR ISTILAH
  131. Akhi :
  132. Arasy kursi :
  133. Ashabil Fil :
  134. Rabban Ghafurun : Tuhan Maha Pengampun
  135. ke dalam muta yang mengendune
  136. dape SurabU lobie
  137. aatluz inuziem9qybu5kfgr μimya Allah SWT
  138. L そはしにえいらにんてこといいいし
  139. L比
  140. benLeb lece eLit
  141. ec e b
  142. L∴
  143. 苏(8亿)
  144. 1675
  145. 70 KL
  146. CEEA TRSS
  147. 1040
  148. 二化
  149. 1175
  150. —19
  151. 1205
  152. 1285
  153. 二338
  154. 1410
  155. 1415
  156. L 1475
  157. 1485
  158. そい
  159. 1540
  160. o liaLivn Li
  161. やン
  162. 1565
  163. EY 1575
  164. 心能

hh 9868 N

Ibranphil lsian

Sastne

Porang

Sthnah pembiccraan menaenar Hikayt PeruyS bpBALAI PUSTAKA

BIBLIOTHEEK KITLV

0104 2009

110370279

SASTRA PERANG

Sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil

MAATER

lenagasm dak1ealdmaq deade2 6da2 90a199 187a811

SASTRA PERANG

Sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil

oleh Prof. Ibrahim Alfian

BALAI PUSTAKA Jakarta 1992

Pcruni Pcnerbitan dan Pcrcctakan BALAI PUSTAK A BP No. 3815

Hak Pengurangdiündungi Undang-undang Cclakan pcrtama -1992

899.221 Alf Alfian, Ibrahim s Sastr a Perang: sebuah pembicaraan mengenai Hikayat Perang Sabil / oleh Prof. Ibrahim Alfian. - Cet. 1. - Jakarta : Balai Pustaka, 1992.
VIII, 248 hlm.; 21 cm. - (Seri BP no. 3815)

  1. Kesusasteraan Indonesia. I. Judul. II. Seri
    ISBN 979- 407- 422- 5

Perancang Kulit : Lian Sahar

PRAKATA

Karangan yang bersifat sastra yang memberi ilham untuk memper- juangkan sesuatu lewat perang dinamakan dalam buku ini "sastra perang." Hikayat Perang Sabil adalah sejenis sastra perang itu. Hikayat itu memberikan semangat kepada rakyat Aceh untuk bertahan terhadap serangan-serangan bala tentara kolonial Belanda selama Perang Aceh. Di dalam Pengantar Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian menguraikan dengan panjang lebar mengenai sastra perang tersebut. Hikayat Perang Sabil menduduki tempat yang khusus sebagai sastra perang, karena kemampuannya mengilhami perlawanan rakyat terhadap usaha pen- jajahan selama 40 tahun lamanya sejak serangan pasukan Belanda di Aceh pada tahun 1973. Hikayat Perang Sabil penting untuk ditelaah isinya sehingga dapat kita pahami nilainya, baik sebagai karya sastra maupun sebagai sumber gagasan perlawanan. Untuk memperkenalkannya kepada para pembaca dalam bentuk yang selengkapnya, Balai Pustaka menyajikan teks bahasa Aceh dalam huruf latin beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia, dan melampirkan teks aslinya dalam huruf Arab. Untuk penerbitan buku ini kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Menteri Sosial Prof. Dr. Haryati Subadio, Menteri Koperasi Bustanil Arifin, SH., Dutabesar Abdul Rachman Ramly, Irjen Dep. Koperasi M. Hasan Basry, SH., Ustaz Yahya Mach- mud, kepada Perpustakaan Universitas Leiden yang mengizinkan kami mempublikasikan teks asli Hikayat Perang Sabil, MS. Or. 8689, serta berbagai pihak yang telah membantu dalam penerbitan ini.

Balai Pustaka

v

ATARAIT BALALPUSTAKA -10qmam lunu madl hnadmam gme as2 taliened gaa nsgnaa2 mlase" ini vud malab nelamenib gaemq 1awal ulsuase aalgnaui asdahad lutmu doA lav ba26e anodmom uti 1sveiH smaloa ebasls8 leinoloa aalnst alsd asgaa-m6gasa qabadat .daoA gn6199 melímgnom meilA midand .T .1G .3019 rstaago94 malab ia gmav9910v0H .udo215l g0619q sl262 1680gm9m 16dal g06jn6q m6gnob ano1el .gamq sua62 iageda aveuda ams Jamst klububaem kida2 -829 sds20 q6bsrat 1ev2e7 aanawehoq imedbgaom avnasuqmsmak ib sbnaog meluaaq magnsioa sjoa svaamel mudal 04 amaloa medsiei .ETeI auded sbeq daoA 1sqeb sggaidoe aymiai deelaib lutnu gaimeq lida2 gnous9 iavaiH vadmua igeda uqua ea eal igedaa adeyaialin kmadsq stil soedmoq s1aq sbaqaxl svansllamshoqmom lunU .aenawshoq ms2sg69 aał majeyas sateu iels8 vaqagnoe gn unad maleb saaded maleb avmnadamairal sheeod mirsl lnud maleb daoA saeded

.da1A lmud meisb syniles alat asaluqmsiam nsb aizonobal
gasy daeal smiol nalisqmsynam imaa ini mlud matidionaq ataU oibadu2 eyaH r .1019 ai202 halnsM sbsqa smsasd-1a2odoa momdo6 lubdA aodstuC H2 ,niA lmatauE iasioqo2X hnstaoM -d2sM 6daY aa..H2yz68.nesH..izs19qo2..qL.ajL.vlme imal aminisigmom gney oobial astiamviaU meealauqe9 sbeqex ,bum sho2 .e888 .1ON2M 2 g09 16vsH i6 21 n6izsiduqmsm ini nag m deat gay eige (2. 3615) 626120976168

8582|.979~407~422-5

Perancang Kult: Lian Sahar V

DAFTARISI

Prakata v

Pengantar Sastra Perang Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil 1

Hikayat Perang Sabil 3 7
Daftar Istilah 16 9
Lampiran 17 1

vii

DLBAII 616|619

1evs2iH ia058naM m6876oidm9 daudo2 gn6199 me62 181m6g009 .. jde2806799 TE

.lid82 g0mt99 16va2iH
eat
...... dslütel xaflea
IVI neiqmel

liv

PENGANTAR

SASTRA PERANG Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil

I Dalam riwayat pcrjalanan umat manusia kita dapat menyaksikan orang mempergunakan bahasa sastra sebagai salah satu alat untuk memenuhi harapan, merealisasikan cita-cita atau untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Para pemimpin agama, misalnya, mengucap- kan doa-doa dan membawakan nyanyian-nyanyian pujaan kepada Tuhan dalam berbagai kegiatan keagamaan bernapaskan kitab suci masing-masing untuk memenuhi hasrat batin atau rohani manusia dengan bahasa yang indah. Gubahan kata-kata yang dianggap menawan sesuai dengan nor- ma estetika yang berlaku pada suatu masa dipergunakan orang dalam berbagai aspek kehidupan untuk mcnarik masyarakat agar memenuhi apa yang terkandung dalam pesan-pesan yang diungkapkan melalui gubahan-gubahan itu. Orang menyusun untaian kata-kata dalam iklan dengan harapan masyarakat tergerak untuk mcmbeli produk-produk yang dihasflkan -Meh para pemasang iklan itu. Demi- kian pula para pengarang dan pujangga adakalanya memperingati suatu peristiwa yang dianggapnya penling untuk dikomunikasikan kepada masyarakat melalui karyanya. Chairil Anwar, sastrawan pelopor angkatan '45, melalui puisi dengan judul "Krawang Bekasi" merekam kesan-kesannya mengenai salah satu peristiwa yang terjadi dalam Perang Kemcrdckaan kita (1945-1949). Puisinya ini tidak hanya tcrpahat di bcbcrapa makam pahlawan di tanah air kita, tetapi juga dikutip oleh Prof. Dr. T. Jacpb sebagai motto dalam disertasinya di bidang antropologi ragawi yang dipertahankannya di Universitas Negeri Utrecht, Holland, pada tahun 1967. Bcberapa baris di antara yang dikutip oleh T.Jacob adalah sebagai berikut.

Kami adalah tnlangZ berserakan tapi adalah kepunyaanmu

kaurah lagi yang tentukan nilai tulang2 berserakan

Dari sekedar contoh di atas dapat terlihat bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh seorang pengarang telah dimanfaatkan sebagai salah satu alat untuk mencapai sesuatu tujuan. Pada tahun 1819 tentara kolonial Belanda di bawah komando Muntinghe menyerang Kerajaan Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin memimpin perlawanan menghadapi agresi itu dan kisah peperangan di Palembang ini termuat dalam Syair Perang Menteng, yang digubah tidak lama setelah perang itu berlangsung. M.O. Woelders dalam bukunya Het Soeltanaat Palembang: 1811-1825 (1975) menyajikan salinan Syair Perang Menteng ini yang sebagian kecil daripadanya dikutip berikut ini: 1

Haji berteriak Al la hu Akbar datang mengamuk tak lagi sabar

dengan tolong Tuhan Mal ik Al-Jabbar serdadii Menteng habislah bubar

Keluar sekalian hulubalang panglima menolong haji bersama-sama

opsirnya mati empat dan li ma haji pun sampai di kota lama

Haji mengusir kanan dan kiri

mi nui rangkan pedang ke sana ke mari serdadii Holanda habislah lari hanya komandan juga terdiri

Haji berteriak sambil memandang hai kafir marilah tandang

syurga bernaung di mata pedang bidadari hadir dengan selendang

Di situlah haji lama terdiri dikembiingi serdadii Holanda pencuri

lukanya tidak lagi terperi fanaluh haji hipakan diri

Datanglah komandan bersungguh hati membedil haji tiada berhenti

ptliirunya datang meniiju pasti di sanalah tempat haji nan mali

Syahidlah haji dua dan tiga akan mengisi di dalam syurga

bidadari pun banyak tiada berhingga datang menyambut haji berida

Darahnya mengalir bagai kesturi bidadari pun banyak datang mengampiri

siika dan ram ai tepuk dan tari merebut mayat haji jauhari.

Dalam Syair Perang Menteng ini kita dapat mclihat peranan para pcmimpin agama dalam peperangan melawan penjajah disertai ideo- logi perang sabil yang mewarnai perlawanan itu yang akan diuraikan lebih lanjut dalam karangan ini. Lebih clari 150 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Februari 1832 kapal perang Amerika Serikat, Potomac, telah menyelesaikan tugasnya "menghukum" rakyat Kuala Batu di Aceh Barat, karena rakyatnya di situ dipersalahkan menjarah kapal dagang Amerika "Friendsliip" yang berdagang Iada di wilayah itu. 2 Inilah pertama kalinya dalam sejarah Amerika seorang presiden mengeluarkan perintah untuk mcmpcrgunakan angkatan bersenjatanya menyerang penduduk sebuah negara asing di Asia. Seuntai puisi telah dikarang untuk merayakan suksesnya kapal perang Potomac melaksanakan perintah Presiden Andrew Jackson. Surat selcbaran yang memuat puisi itu sampai sckarang ini masih tersimpan di Essex Instilute, Salem, Mascachusetts. Man' kitasimakenambait pertama dari ISbait puisi itu.

The sun was retiring behind the high mountains, The forts of our enemy full in our view; The frigate Potomac-John Downes our commander-Rode proudly at anchor of f Qualah Battoo.

The land breeze blew mild, the night was serene, Out boats-was the word, and our tackles were manned;

Six miles was the distance that now lay between

Our fine lofty ship and the enemy's land.

Our boat were launched on the breast of the billows, And moored until the word of command should be given; On deck we reposed with our swords for our pillows, And conimitted our cause with its justice to heaven.

At the dead hour of night, when all nature was silent, The boatswain's shriil pipe called each man to his post; Our hearts armed with justice and minds fully bent, To attack and destroy that piratical host,

Who boarded the Friendship and murdered her crew. Just twelve months before the memorable day When Shubrick led forth the Potomac so true, To fight and to vanquish the hostile Malay.

Our boats were all ready and we were prepared To fight ortodie; for our cause it was just; Our muskets were loaded, our bosoms were bared, To the strife or the storms, for in God was our trust.

Dalam konflik scpcrti perang misalnya orang mcnggubah ber- bagai link untuk dinyanyikan guna menaikkan scmangat juang de- ngan tujuan memcnangkan pepcrangan yangsedang dihadapi. Ketika Kerajaan Belanda berperang melawan Kerajaan Aceh Darussalam (1873-1912), Domine h Tlienu mengarang lirik untuk dinyanyikan oleh serdadu-scidadu bumiputera dalam serangan ke Samalanga, Aceh Utara, pada tahun 1901. Man kita pcrhatikan delapan dari 18 bait berikut ini."

SAMALANGA oleh Iz. Thenu

1. Mari sobat, mari soedara!

Pergi prang di Samalanga;

Mari koempoel dan bersoeara,

Laloe bernjanji bersama-sama.

2. Satoe njanjian jang amat merdoc

Menghiboer haii jang amat doeka,

Hari ini kita di Merdoe,

Esok loesa djaian kamoeka.

3. Dari Merdoe djaian disawa

Itoe djaian jang amat soesah,

Tenipo-tempolah liwat rawa,

AsaI bisa dapat kamoeka.

4. Kaioe djaian haroes berdiam

Karna moesoeh berdjaga-djaga,

Kaloe dengar boenji meriam

Itoe tandalah moesoeh ada.

5. Soenggoeh moesoeh banjak sekali,

Ada berdiri didalam benteng

Haroes kami berlari-Iari

Waktoe komandolah: "Attaqueeren".

6. i)jangat) tinggal berdiri lama,

Kaloe komandolah: "Attaqueeren",

Lari lekas datang kesana,

Masoek pertama kedalam benteng.

7. Siapa masoek nommer satoe

Itoelah tanda amat berani,

Nanti dapatlah bintang satoe

Tanda setia lagi berani.

8. Maski dengarlah hoedjan pelor Dari moesoehmoe orang Atjeh, ï)jangan sekali bersoesah keloeh,

Tapi peranglah hidoep mati.

9. Mari kamoe he orang Ambon!

Lagi Menado lagi Ternate!

Lawan moesoeh bertamboen-tamboen,

Sampe gagahnya djadi berhenti.

10. Anak Ambon gagah berani Ta takoet mati atau loeka Toeroet hati orang serani, Anak Ambon berani dimoeka.
Bila kita berkunjung ke Museum Angkatan Darat Kerajaan Belanda di Bronbeek, Arnhem, dapat kita lihat di sana pameran ber- bagai peninggalan Tentara Hindia Belanda, antara lain peninggalan pasukan elite yang sangat terkenal dalam perang mereka melawan Kerajaan Aceh, yaitu pasukan marechaussee atau lebih terkenal de- ngan nama marsose. Dalam salah satu ruang pameran dalam museum itu kita temukan salinan lirik Lagu Korps Marsose yang ku- tipannya adalah sebagai berikut:

Di tahoen delapanbelas toedjoeh poeloeh tiga Moelai perang tanah Atjeh, Koetaradja Sebab infanterie doedoek di linie Mendirikan satoe divisie marsose.

Refrein:

La marsose, la marsose, la marsose, Memboeroe moesoeh, memboeroe moesoeh tidak tjape-e Naiktoeroen goenoeng, masoek, loear rimba Memboeroe moesoeh, t jari bekas anak marsosé Di tahoen delapanbelas sembilan poeloeh Mendirikan satoe divisie marsose Di Pante Pira di Koetaradja Bivak pertama, itoe bivak dari marsose.

Refrein: Commandant jang pertama Kapitein Notten-e, Dia memberi satoe sendjata pada marsose, Senapan pendek keiewang pandjang, Kelevvang pandjang itoe sendjata marsose,

Refrein:

Di tahoen sembilanbelas sembilan poeloeh enam Divisie soedah keloear waktoe malam, Dengan kapitein Graafland hantem Anak Galoeng, He anak matjan, keberanian kami tanggoeng.

Refrein:

Di tahoen sembilanbelas ratoes tambah empat, Njonja dan toean djangan loepa Van Daalen-e Bikin patrollie di Gajo Loees Memboeroe moesoeh sampai ke Koetatjane

Refrein:

Di tahoen sembilanbelas doeapoeloeh lima Moelai prang Tapa Toean dan Bakoengan Tjoet Ali lari atas Ladang Rimba Tetapi memboenoeh oleh kapitein Gosenson

Refrein:

Di Tahoen sembilanbelas tigapoeloeh,

Datang Djenderal, datang dari tanah Djawa

Membawa bintang dari Maharadja,

Bintang ditaroh atas vaandel Korps Maréchaussee

Refrein:

Dalam Zaman Pendudukan Jepang, oleh BalatentaraDaiNippon telah diajarkan pula lagu-lagu perjuangan mereka kepada pasukan- pasukan bumiputera yang terdiri dari Giyugun, Perajurit Tanah Air (Peta); Heiho, Gijitsu-heiho, dan lain-lain. Lagu yang terkenal adalah Mars Cinta Tanah Air, Aikoku Kosinkyoku, yang liriknya adalah sebagai berikut:

Miyo tokai no sora akete Kyoku jitsu takaku kagayakeba Tenci no seiki hatsuratsuto Kiboo wa odoru oyashima Oo seiro no asa gumoni

Sobuyuru fuji no sogata koso Kin no muketsu yuFUgi naki Wa ga Nippon no hokori nare

Lagu-iagu untuk membangkitkan semangat bangsa Asia diajar- kan pula oleh pihak Jepang kepada pasukan-pasukan bumiputera yang liriknya berbunyi demikian:

Kono hi kono sora kono hikari Ajia wa akeru ogoso kani Moeru kiboono ici okuga Syooi no yushi seni oote Ima hu mi Shimeru dai iippo Shimei ni kozoni shingunda

Selain daripada itu ada pula lagu yang popuier pada masa pendu- dukan Jepang yang diharuskan oleh pihak Jepang untuk dinyanyikan guna mempertebal semangat menghadapi musuh-musuh Dai Nippon. Beberapa baris di antaranya adalah sebagai bcrikut di bawah ini.

Awaslah Inggeris dan Amerika Musuh seluruh Asia Ilendak memperbudakkan kita Untuk selama-lamanya

Hancurkanlah musuh kita Itulah Inggeris Amerika Hancurkanlah musuh kita Itulah Inggeris Amerika. Ada pula karya sastra seperti yang dikemukakan di atas yang memerlukan kejelian mata dalam menangkap maknanya. Louis Got- tschalk dalam bukunya Understanding History (1969) menyajikan sebuah octave yang dimuat oleh The New York Times segera setelah Tentara Nazi Jerman menyerbu dan menduduki Pcrancis pada tahun

  1. Puisi itu berasal dari Paris-Soir yang berisi kekaguman yang luar biasa seorang Perancis terhadap Hitier disertai ungkapan yang menghina terhadap Inggris. Puisi itu disalin berikut ini.

Aimons et admirons le Chancelier Ilitler L'eternelle Angleterre est indigne de vivre; Maudissons et ecrasons le peuple d'outremer; Le Nazi sur ia terre seru seul a survivre. Soyons donc le soutier du Fuehrer allemand, Les boys navigateurs iïnira I'odyssee; A eux seuls appertient un juste chatiment; La paliue du vanqueur attend la Croix (lammees. Puisi di atas tcrmasuk dalam kelompok sajak Alexandrine. Apa- bila dipisahkan pcnggalan pertama dengan penggalan berikutnya, maka dari dclapan baris-puisi itu terjadilah dua stanza. Hasilnya adalah makna yang 180 dcrajat bertentangan dengan isi puisi asli yang termuat dalam Paris-Soir scperti yang dikemukakan di atas.

Perhatikanlah terjemahan The New York Times berikut ini sete- lah dijadikan dua stanza.4

With love Jet us praise Ilitler, the Chancellor, Everlasting England I s unworthy of life, Let us curse, Iet us raze Th e trans-Channel mentor-On earth the Nazi band Sol e survivor in strife-Let us then bear support For the German Chieftain For the boys plowing the see Shall the Odyssey fade, Uy whole sole effort Jus t punishment obtain, The victory shall be For the Swastika glaive.

Demikianlah dengan "mempermainkan" sedikit untaian kata- kata terjadilah makna yang bertentangan dari pengagum dan pen- dukung Hitier dalam PerangDunia II menjadi pengutuk diktator Nazi itu. Cukuplah kiranya sekedar contoh seperti yang dikemukakan di atas untuk menunjukkan betapa karya sastra dipergunakan orang untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.

II

Pada tanggal 26 Maret 1873 Kerajaan Belanda menyampaikan manisfesto perang kepada Kerajaan Aceh, setclah ultimatum yang

SASTRA PERANG - 2 9

berisi tuntutan agar Aceh mengakui kedaulatan Belanda tidak men- dapat jawaban yang memuaskan bagi Belanda. Pada tanggal 8 April 1873 Angkatan Bersenjata Belanda dengan enam buah kapal uap, dua buah kapal angkatan laut, lima buah kapal barkas, delapan buah kapal peronda, sebuah kapal komando, enam buah kapal pengang- kut, dan lima buah kapal layar berada di perairan Aceh dengan kekuatan 168 orang opsir dan 3198 bawahan. Hariitujuga mendarat- lah pasukan Belanda di pantai Aceh Besar di bawah komando Jen- ***deralJ.H.R. Kohier.***5 Akibatnya meletuslah perang yang terlama yang telah menelan jiwa, harta, dan enersi terbanyak dibandingkan dengan perang-perang kolonial lainnya dalam abad XIX dan awal abad XX di Nusantara Agresi itu mengakibatkan timbulnya ketegangan dalam masyarakat Aceh hal ini tercermin dalam surat para pemimpin Aceh, terutama dalam surat Seri Paduka Bangta Muda Tuanku Hasyim yang menangani urusan kenegaraan setelah Sultan Mahmud Syah mangkat pada tahun 1874. ^Tuanku Hasyim menyerukan agar Tanah Aceh dipertahankan mati-matian, meskipun tinggal sampai sebesar nyiru sekalipun. Kepada masyarakat Aceh disampaikan melalui pel- bagai jalur komunikasi yang ada mengenai sebab-musabab ketegangan serta cara-cara mengatasinya. Jalan yang harus ditempuh untuk me- ngatasi ketegangan yang disebabkan oleh serangan pihak Belanda itu ialah dengan cara bertempur melawan musuh yang dianggap merusak sendi-sendi agama Islam. Hal demikian ini dapat terjadi dalam satu masyarakat, seperti masyarakat Aceh, yang nilai keagamaannya memainkan peranan penting, sehingga agama dan politik dapat di- ibaratkan sebagai dua sisi mata uang logam yang sama. Seperti per- nah dikemukakan oleh penulis di tempat lain unsur perang sabil yang telah lama berada dalam masyarakat Aceh diangkat sebagai basis ideologi, diaktifkan menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam perlawanan terhadap Belanda. Ideologi perang sabil yang sumber-sumbernya sampai kepada kita berasal dari abad XVII di- hidupkan kembali melalui hikayat-hikayat perang sabil pada perte- ngahan kedua abad XIX, ketika Negeri Aceh dilanda serangan bangsa yang dianggap kafir. Para ulama berupaya agar umat dapat

dididik dengan berbagai cara hingga mampu memiliki molivasi yang padu dalam mengusir Belanda. Wajarlah jika para pemimpin agama menimba dari kilab suci Al-Qur'an yang mcrupakan sumber hukum yang tertinggi dalam agama Islam agar setiap Muslim merasa ter- panggil untuk memenuhi kewajiban berperang di Jalan Allah. Dalamperang yang berlangsung selama 40 tahun (menurut Paul vant Veer, penulis Belanda, 80 tahun lamanya, sampai Jepang me- nycrbu Indonesia) beredar banyak sekali hikayat perang yang di- namakan Hikayat Perang Sabil (HPS). Adapun hikayat menurut Prof. Dr. Sulastin Soetrisno adalah (1) termasuk sastra tulis dalam huruïJawi, (2) sebagai sastra tulis hikayat sudah berkembang sccara luas bersamaan dengan sastra Melayu ialah sekitar tahun 1500, (3) karya sastra Melayu klasik, (4) sebagai karya sastra klasik hikayat adalah anonim, (5) ditulis dalam bentuk prosa, (6) adalah fiksi, dalam arti dibaca oleh pembaca Melayu dan modern sebagai dunia dalam kata4cata, tanpa hubungan langsung dengan dunia luar, dengan kenyataan, (7) akibat berulangkali disa- lin dengan berbagai macam tujuan dan karena tradisi teks yang kurang diikat... maka leks mengalami bermacam-macam pcrubahan yang tcrutama diadakan oleh (para) penyalin, yang merasa bebas untuk membuat teks sesempurna mungkin menurut kehendaknya. Berbeda dengan sastra Melayu yang mengenai hikayat sebagai prosa, dalam sastra Aceh hikayat adalah puisi di luar jenis pantun, nasih, dan kisah. Hikayat bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir4)utir yang menyangkut peng- ajaran moral; ke dalam kelompok ini termasuk kitab-kitab pelajaran sederhana, asalkan ditulis dalam bentuk sanjak. Orang Aceh sangat gemar mendengarkan pembacaan hikayat yang sampai pada awal abad XX merupakan hiburan yang utama, apalagi sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Dalam hikayat-hikayat perang yang terdapat di Aceh dinyatakan bahwa mati dalam berperang melawan Belanda yang dianggap kaphe (kafir) oleh orang-orang Aceh adalah mati syahid dan orang yang syahid akan diampunkan segala dosanya serta dimasukkan oleh Allah Ta'ala ke dalam surga, dan di dalam surga itu ia akan mem-

peroleh segala macam kenikmatan seperti beristrikan bidadari-bidadari yang cantik jelita, memperoleh makanan dan minuman yang amat lezat citarasanya, dan lain sebagainya. Teungku Nya'Ahmad alias Uthi dari Gampong Cot Palene, Pidie,

  • mengemukakan dalam salah sebuah Hikayat Perang Sabil yang di- tulis pada tahun 1894 mengenai makna perang sabil yang setelah di- terjemahkan, berbunyi demikian:

    Yang memerangi kafir dalam perang sabil Niat mempertinggi kebenaran agama

Kalimah Allah agama Islam Kafir jahanam isi neraka

Sabilillah dinamai perang Tuhan berikan akhirnya surga

Mengikuti suruhan sampai ajal Pahala kelak sangat sempurna

Adapun dari segi isinya hikayat-hikayat perang sabil dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu: (1) yang berisi anjuran untuk berperang sabil dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan yang akan diraih, (2) yang berisi berita mengenai tokoh atau keadaan peperangan di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masya- rakat untuk mendorong semangat orang-orang muslimin yang sedang berjihad, dan (3) yang mencakup kedua-dua kategori yang tersebut terdahulu. Dalam salah sebuah naskah HPS yang masih tersimpan di Leiden diuraikan tujuh faedah yang akan diperoleh orang yang gugur dalam berperang sabil, yaitu: (1) diampunkan semua dosanya oleh Allah Ta'ala, (2) mendapat tempat dalam surga dengan pelbagai kenikmatan, (3) kuburnya menjadi luas dan ia akan sentosa di dalam- nya, (4) luput daripada bahaya kiamat, (5) di dalam surga diberikan pakaian yang indah disertai permata-permata, (6) memperoleh istri bidadari satu mahligai berjumlah 72 orang, dan (7) diampunkan oleh Tuhan dosa 70 kerabat dari orang yang mati syahid itu.11 Selain daripada itu bagi mereka yang mengeluarkan dana untuk

kepentingan perang sabil akan dibalas oleh Allah dengan imbalan berlipat ganda dan mereka pun akan dimasukkan ke dalam surga.12 Dengarlah sebagian yang disenandungkan oleh Tgk. Nya'Ahmad dalam hikayatnya. Terjemahannya adalah demikian:

Orang-orang yang memberi sumbangan Memang berganda pahala datang

Biarpun kita memberi satu sahaja Berganda Tuhan mengembalikan

Satu dirham kini kita berikan Tujuh ratus ketika dikembalikan

Pembalasan satu adalah tujuh ratus Tuhan sebut di dalam Qur'an

Dalam surat AI-Baqarah ayat 261 Allah berfiiman: "...orang yang menafkahkan hartanya pada jalan kebajikan (sabililiah) seperti buah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, pada tiap-tiap tang-

kai itu berbuah seratus biji, Allah mempunyai karunia luas lagi mengetahui."

Di samping itu HPS juga mengajarkan bahwa perang sabil itu hukumnya adalahfardhu 'ain, yakni diwajibkan kepada semua orang muslimin, lelaki dan perempuan, tua dan muda termasuk anak-anak. Dalam HPS tahun 1710 terdapat beberapa rangkap syair yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut: 14

Waktu kafir menduduki negeri Semua kita wajib berperang

Jangan diam bersunyi diri Di dalam negeri bersenang-senang

Di waktu itu hukum fardhu 'ain Harus yakin seperti sembahyang

Wajib kerjakan setiap waktu Kalau tak begitu dosa hai abang

Tak sempurna sembahyang puasa

Jika tak mara ke medan perang

Fakir miskin, kecil dan besar

Tua, muda, pria dan wanita

Yang sanggup melawan kafir Walaupun dia budaknya orang

1 liikmu fardhu 'ain di pundak kita Meski tak sempat lunasnya hutang

Wajib harta disumbangkan Kepada siapa yang mau berperang

Patut juga rasanya disajikan kutipan bcberapa bait dari sebuah HPS lain yang terjemahannya berbunyi demikian: 15

Baik wanita atau pria Semuanya, tua dan muda

Akil baliq, kanak-kanak Menurut Ijmak ikut serta

Saleh, fasik, alim, jahil, Wajib semua berperan serta

Raja, rakyat, uleebalang Wajib berperang sama rata

Kafir yang menyerang Negeri kita Wajib di sini lawan segera

Haram lari, wajib melawan Fardhu 'ain ke atas kita

Kiranya gema HPS yang dikutip di atas terbukti dalam peperang- an melawan Belanda. Sebagai sekedar ilustrasi kita lihat dalam pertempuran yang terjadi di Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. Pada pertempuran di Pehosan pada tanggal 11 Mei 1904 telah gugur 95 perempuan dan anak-anak. Di Tampeng pada tanggal 18 Mei 1904 tewas 51 perempuan dan anak-anak, diKrto Reh juga gugur 248 orang

wanita dan kanak-kanak pada tanggal 14 Juni 1904, dan di Kuto Lengat Baru tewas 316 orang wanita dan kanak-kanak pada tanggal 24 Juni 1904.16 Kepercayaan akan mendapatkan kebahagiaan setelah gugur dalam pertempuran melawan agresor, tidak hanya dianut oleh rakyat yang beragama Islam di Aceh, Palembang, dan Pulau Jawa, tetapi juga diyakini oleh rakyat Indonesia yang beragama Hindu di Pulau Bali. Dalam Niti Rajasasana yang terdapat di Pulau Bali dikemukakan bahwa raja yang hina adalah yang takut mati dan menyerah apabila diserang musuh, sedangkan rajayang pantang menyerah dan pantang mundur dalam perang melawan musuh patut mendapat pujian.17 Kemudian dalam Bhagavadgita, kita temukan sebagai berikut:

... Jika engkau tiada melakukan perang menegakkan kebenaran ini, meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu,

ma ka dosa papalah bagimu. Orang akan terus niembicarakan nama burukmu dan bagi seorang yang terhormat, kehilangan

kehormatan sesungguhnya lebih buruk daripada kematian.

Orang akan menganggap engkau pengecut karena lari dari pertempuran dan orang yang pernah memujamu merendahkan

dengan penghinaan. Sesungguhnya tiada yang lebih sedih daripada hal itu.18

Manawa Dharmacastra menegaskan demikian:

mengingat kewajiban seorang kesatria, jangan sama sekali meninggalkan medan pertempuran, karena inilah

jalan satu-satunya yang terbaik untuk memperoleh kebahagiaan.19

Demikian pula dalam Nitisastra dijelaskan bahwa:

Pahlawan yang mati di medan perang mendapat tempat di kediaman dewa-dewa, dikerumuni oleh bidadari-bidadari.

Si penakutyang tak berani perang, jika meninggal dunia, ditangkap dan disiksa oleh anak Betara rama.

Jika tidak mati, ia dicerca, diolok-olok, ditawan, dan dihina oleh musuh.20

Di Bali terdapat pula ungkapan-ungkapan seperti apang da ja mati di ayunane, artinya usahakan jangan sampai mati di ayunan, dan eda pesan ngaba satu mulih, yang artinya, jangan sama sekali mem- bawa luka perang, lebih baik mati daripada cacat untuk selamanya.- Dapat dipahami mengapa di Bali para kesatria beserla para pcngikut- nya yang setia lebih baik memilih mati dalam berperang untuk mcm- bela kehormatan daripada menyerah kepada Belanda. Hal ini terjadi dalam Puputan Klungkung pada tahun 1908 dan dalam peperangan mati-matian menghadapi agresi Belanda itu Raja Klungkung Dewa Agung Jambe memilih gugur di medan laga daripada menyerah. Sejak kapankah ideologi perang sabil ini dimiliki oleh rakyat Aceh? Secara teoretis semangat perang sabil ini telah diyakini oleh rakyat Aceh sejak agama Islam bertapak di wilayah ini. Alangkah tepatnya apa yang dikemukakan oleh Teungku Syaikh Ibrahim Lam Bhuek ibni Teungku Syaikh Marhaban, penjabat Uleebalang Mesjid Raya kepada A.G. van Sluijs, seorang pejabat tinggi Belanda, pada tahun 1920 bahwa wawasan berperang sabil melawan kafir sudah ada sejak Portugis menyerang Kerajaan Aceh. Adapun pertempuran antara Kerajaan Portugis melawan Kerajaan Aceh terjadi pada tahun 1521 dan pada tahun 1524 Aceh dapat mengusir Portugis yang telah bercokol di Samudera Pasai. Dalam Hikayat Malem Dagang₂₃yang ditulis pada abad XVII yang mengisah- kan peperangan Aceh terhadap Portugis telah disebut-sebut me- ngenai perang sabil yang terjemahannya disajikan berikut ini:

Mengapa takut perang Yahudi Daripada Nabi asal mula

Mengapa takut perang sabil Tuan kita Ali dijadikan Panglima

Pada hari ini raja [Iskandar Muda] berperang Malem Dagang dijadikan Panglima.

Kisah melawan kafir seperti yang terdapat dalam Hikayat Malem Dagang itu terus diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Syaikh Muhammad Ibn 'Abbas alias Tgk. Chik Kutakarang dalam sebuah kitabnya yang berjudul Tadhkirat al-Radikin (1889) merujuk

kepada kisah Malem Dagang sebagai peristiwa perang melawan kafir di masa lalu dan menasihatkan kepada semua orang Aceh agar menarik pelajaran dari kisah-kisah perlawanan seperti itu.24 Timbul pertanyaan dari manakah asal-muasal tema perang sabil ini masuk dalam sastra Aceh? Sejauh ini baru diketahui dua sumber sebagai punca utama hikayat perang sabil yang kemudian berkem- bang dalam masyarakat Aceh. Pertama adalah sebuah naskah dalam Bahasa Aceh tertulis pada 11 Sya'ban 1122H. (5 Oktober 1710) tersimpan dalam perpustakaan Universitas Negeri Leiden di Negeri Belanda.25 Meskipun nama pengarangnya tidak tercantum di dalam naskah hikayat perang sabil yang tertua itu, penggubahnya menyebutkan karanganyangdisusun- nya itu bersumber pada sebuah kitab yang dinamakan Mukhtasar Muthiri'I-gharam yang artinya Kitab Ringkas yang Menggerahkan Cinta yang Menyiksa Had. Dalam halaman terakhir naskah pengarang menyebutkan bahwa sumber bahan untuk menyusun kitab ini berasal dari Syaikh Ahmad Ibn Musa, yang mungkin sekali adalah penulis kitab Mukhtasar tersebut di atas. Dalam kitab Tadkhirat al-Radikin (1890) Tgk. Chik Kutakarang menyinggung juga sedikit mengenai isi kitab Mukhtasar itu, sedangkan nama pengarangnya tidak juga disebut oleh ulama besar ini. Bagian yang sedikit yang dikutip oleh Tgk. Chik Kutakarang dari kitab Mukhtasar itu adalah mengenai segerombolan pcrampok yang kemudian insyaf akan per- buatannya yang durjana lalu menempuh jalan taubat dengan cara pergi berperang sabil.26 HPS yang disajikan dalam penerbitan ini juga menyebutkan bahwa ada bagian dari gubahan dalam hikayat itu yang dikutip oleh penyusun dari kitab perang sabil Muthiri'I-gharam (lihat halaman 5-6). Sumber yang kedua adalah hikayat perang sabil yang juga tertulis dalam Bahasa Aceh pada tahun 1834, beberapa puluh tahun sebelum pecahnya perang melawan Belanda pada tahun 1873. Meskipun nama pengarang juga tidak tersebut dalam naskah, namun peng- gubah hikayat menyebutkan bahwa sumber untuk nienyusun hikayat itu adalah berasal dari karangan ulama besar Syaikh Abd al-Samad (Abdussamad) al-Falimbani. Syaikh Abdussamad berasal dari Palem- bang yang pada awal tahun 1760-an bertempat tinggal di Mekah. Ia

menulis berbagai kitab di Mekah atau di Ta'if dan salah satu di an- taranya adalah Nasihat al-Muslimin atau lengkapnya Nasihat al-Mus- limin wa tadhkirat al-mu'minin fi fada'il al-jihad fi sabil Allah wa-karamat al-mujahidin fi sabil Allah D i Tanah Arab Syaikh Abdussamad pernah berguru pada Syaikh Saman yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 1775. Syair Perang Menteng seperti yang dikutip pada awal tulisan ini jelas bernapaskan perang sabil dan besar sekali kemungkinannya hikayat perang yang ditulis segera setelah perang di Palembang itu usai pada tahun 1819 adalah berkat pe- ngaruh Syaikh Abdussamad. Dalam HPS yang dikarang Tgk. Ahmad Cot Paleue pada tahun 1894 yang telah dibicarakan di muka disebutkan bahwa sumber gubahannya juga berasal dari buah pena Syaikh Abdussamad yang berjudul Nasihat al-Muslimin. Pembacaan hikayat perang sabil dilakukan sebelum orang mara ke medan pertempuran. Tradisi membaca hikayat sebelum orang ter- jun ke dalam peperangan sudah lama tertanam dalam Kebudayaan Melayu seperti disebutkan dalam kitab Sejarah Melayu.2& Dalam masa perang dengan Belanda, orang Aceh membaca hikayat perang sabil di dayah-dayah atau pesantren, di meunasah-meunasah dan di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi ber- tempur melawan Belanda. Di daerah-daerah yang sudah dikuasai Belanda orang membaca dan mendengarkan hikayat perang sabil secara sembunyi-sembunyi khawatir ditangkap oleh pihak Belanda. Pada tahun 1912 Pemerintah Hindia Belanda menugaskan RA. Kern, penasihat urusan bumiputeranya, datang ke Aceh untuk me- nyelidiki dan membuat laporan mengenai gejala bunuh kafir, dalam Bahasa Aceh poh kaphe, yang oleh pihak Belanda disebut Atjehmoord. Pembunuhan ini dilakukan secara perorangan, dengan tidak di- sangka-sangka, di kota-kota atau di tempat-tempat yang telah dikuasai Belanda dan yang dapat dianggap sudah aman. Kern hanya mengutip laporan-laporan yang dibuat oleh pegawai-pegawai ad- ministrasi Belanda sejak tahun 1910, sedangkan serangan-serangan yang dilaporkan sebelum tahun itu tidak diambilnya, karena di- anggapnya masih berkaitan langsung dengan peperangan melawan Belanda.29 Darijumlah 79 peristiwa penyerangan secara perseorang- an itu korban yang jatuh di pihak Belanda antara tahun 1910-1921

adalah sebanyak 99 orang dengan perincian 12 mati dan 87 orang cedera." Menurut kesimpulan Kern latar belakang serangan secara perseorangan itu adalah ide perang sabil dan perasaan benei terhadap kafir (kafir-haat). Pada bulan April 1924 sebagian penduduk Daya di Aceh Barat merencanakan penyerangan ke bivak Balanda di Lamno. Sebelum serangan dilakukan diadakan pembacaanHP5guna membangkitkan semangat jihad di kalangan barisan muslimin,31 Serangan ini dapat digagalkan oleh pihak Belanda. Belanda menganggap hikayat perang sabil itu sangat berbahaya sebab dapat membangkitkan semangat melawan Belanda, sehingga hikayat-hikayat perang sabil disita oleh pihak Belanda dan sebagian besar daripadanya dimusnahkan. Begitu besar kekhawatiran Gubernur Jenderal Hindia Belanda terhadap pengaruh hikayat-hikayat perang sabil sehingga dalam sepucuk surat rahasianya kepada Gubernur Belanda di Aceh ia menulis bahwa ia dengan senang hati membaca laporan mengenai keadaan politik di Aceh selama setengah tahun pertama 1926 yang menyebutkan bahwa tiga buah lagi hikayat perang sabil dapat disita oleh Belanda.32 Selan- jutnya dalam surat Gubernur Jenderal itu dinyatakannya pula yang ia percaya bahwa daya upava untuk mengusut HPS akan terus dijalankan secara teratur, berhubung sungguh tidak sedikit pengaruh yang merusak dapat ditimbulkan oleh bacaan itu. Enam tahun kemudian Gubernur Aceh A. H. Philips dalam memori serah terima jabatannya menyatakan pula bahwa selalu ter- nyata membaca hikayat perang sabil itu, yang diadakan di hadapan umum, dapat merangsang pembaca atau pendengarnya sedemikian rupa, sehingga dapat menghilangkan keseimbangan jiwa, yang kemudian disalurkan dalam tindakan membunuh kaphe. Sebab itu, sambung Gubernur Belanda tersebut, adalah penting sekali hikayat-hikayat seperti itu disita dan dimusnahkan, dijadikan makanan api.33 Akan tetapi H.T. Damste seorang pegawai tinggi Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda mengajukan pendapat bahwa HPS amat penting dipelajari untuk mengetahui jalan pikiran, sikap, dan perilaku orang Aceh, dan HPS yang telah diperoleh jangan sampai lenyap serta usaha-usaha yang lebih efektif harus terus-menerus

dilakukan untuk mencari dan mengumpulkan hikayat-hikayat perang sabil itu.' Berkat ikhtiarZ)a**/N5**-tóterkumpullahberpuluh-puluh///>1S' koleksi Damsté, Dr. van de Velde, Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, dan beberapa buah lagi yang dikirimkan oleh pegawai-pegawai Departe- men Dalam Negeri Hindia Belanda di Universitas Negeri Leiden.

III

Salah sebuah naskah HPS yang tersimpan dalam koleksi Universitas Leiden yang kita pilih untuk penerbitan ini adalah naskah HPS milik Teungku Putroe, permaisuri Sultan Muhammad Daud Syah. Naskah ini, yang selanjutnya disingkat denganHPSTP, selesai disalin pada hari Selasa 27.Muharram tahun 1320 H. [1902 M.]. Naskah ini tertulis dalam Bahasa Aceh dan dalam penerbitan ini disajikan secara utuh dalam huruf Jawi nVAuArab Melayu dengan transliterasi dalam huruf Latin disertai terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Sayang sekali teks HPSTP ini tidak dapat disajikan melalui pendekatan filologis, karena satu dan lain hal. Mudah-mudahan dalam penerbitan berikutnya dapat terlaksana kiranya kritik teks sebagaimana yang diharapkan. Sebelum ringkasan isi HPSTP ini dikemukakan ada baiknya di- singgung serba sedikit mengenai Sultan Muhammad Daud Syah, suami Teungku Putroe yang memiliki naskah ini sebelum tersimpan di Leiden, oleh karena bagian akhir naskah ada juga sedikit kaitannya dengan kedudukanAM/ta/i**^ce**/j, yang didoakan oleh pengarang agar Tuhan mengembalikannya kepada tempat dan kedudukan semula. Sultan Muhammad Daud Syah dinobatkan sebagai sultan pada tahun 1878 di Mesjid Indrapuri, Aceh Besar. Baginda kemudian berke- dudukan di Keumala, daerah Pidie dan bersama-sama pemimpin-pemimpin Aceh lainnya turnt memimpin perlawanan hingga sampai mengundurkan diri ke gunung-gunung di pedalaman akibat serangan Belanda. Pada tanggal 26 November 1902 Letnan Marsose//. Chris- toffel bersama pasukannya menyerbu Glumpang Payong di Pidie dan berhasil menangkap permaisuri Sultan Teungku Putroe.35 Pada hari Natal tahun ini juga van derMaaten berhasil menahan istri sultan yang

seorang lagi Pocut Murong beserta Tuanku Ibrahim, putra sultan.36 Gubernur sipil dan militer Letnan Jenderal Van Heutsz mengancam sultan, jika baginda tidak menyerah dalam tempo satu bulan, kedua istri baginda akan dibuang. Akhirnya menyeralah Sultan Daud Syah pada 10 Januari 1903. Pada bulan Maret r907 terjadi serangan atas Kutaraja yang dianggap oleh Belanda telah aman. Kemudian dalam bulan Juni tahun itu juga terjadi serangan terhadap bivak-bivak di Seudu dan Pekan Bada di Aceh Besar, yang menurut tuduhan pihak Belanda semuanya direncanakan oleh sultan Aceh.37 Akibatnya dalam bulan Desember tahun itu juga sultan dibuang ke Ambon. Adapun HPSTP, secara sangat ringkas, di samping berisi dorongan agar berperang sabil sebagai suatu kewajiban utama memuat juga ajakan agar orang menyumbangkan harta untuk dana perang sabil, sehingga dengan demikian orang akan memperoleh rahmat dan kenikmatan daripada Allah serta menjadi penghuni surga. Dalam hikayat ini dikritik pula ulama-ulama yang berdiam diri, tidak mem- bantu perang sabil. Kebanyakan ulama sedikit sekali menghayati isi Al-Qur'an, mereka takut menghadapi kafir Belanda. Di samping itu dalam hikayat ini disampaikan pula empat buah kisah agar pembaca dan pendengar mengambil tamsil dan ibarat daripada kisah itu, sehingga mereka dengan rela dan ikhlas akan segera mara ke medan perang sabil. Selain daripada itu terdapat pula di dalamnya harapan dan doa si pengarang agar Allah mengalahkan kafir dan mengem- balikan sultan Aceh kepada kedudukannya semula. Kisah I berisi riwayat yang disampaikan oleh Abdul Wahid seorang yang sangat saleh, berpangkat wali Allah, dan sangat fasih berbahasa Arab. Beliau sedang duduk bermusyawarah bersama-sama sejumlah orang tua-tua mengenai hal perang sabil melawan kafir Belanda. Ada juga sejumlah orang lain yang turut mendengarkan pembicaraan itu. Salah seorang di antara yang hadir terus membaca ayat-ayat Qur'an. Baru saja ia membaca surah al-Taubah ayat 111 "Sesungguhnya Allah tetap membeli diri orang-orang Mukmin dan harta benda mereka dengan menganugerahkan surga untuk mereka", belum lagi sampai selesai, bangkitlah seorang remaja yatim piatu, gagah rupa, cerdik, lagi mempunyai sekedar harta. Ayat itu demikian merasuknya dalam sukmanya sehingga ia menyatakan kepada Abdul

Wahid gurunya, untuk menukar nyawanya dengan surga tinggi me- lalui usaha berperang sabil. Ia segcra pulang ke rumah mengambil pakaian tidak saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk semua teman-temannya. Semua hartanya dihabiskannya untuk membeli kuda dan senjata-senjata yang juga dibagi-bagikannya kepada rekan- rekannya. Tidak lama kemudian rakyat bersama Abdul Wahid, ter- masuk sang pemuda berangkat ke medan perang sabil. Setelah lama berjalan mereka berhenti sebentar meiepaskan lelah. Di tempat perhentian itu sang pemuda tertidur lelap dan dalam tidurnya ia melihat surga yang tiada tepermanai indahnya, penuh dengan emas, intan permata, dan ia sempat bertegur sapa dengan bidadari-bidadari yang cantik jelita, serta bermesraan dengan bidadari yang tercantik bernama Ainul Mardiyah. Bcgitu ia terbangun langsung tcringat olehnya keindahan surga serta kenikmatan yang dialaminya bersama Ainul Mardiyah. Kepada ulama Abdul Wahid, gurunya, diceritakan semuanya sambil berlinang air mata dan dikatakannya bahwa ia merindukan Ainul Mardiyah. Abdul Wahid menasihatkan agar ia segera terjun ke medan pertempuran agar dapat dengan segera ber- temu dengan bidadari pujaannya. Segera pemuda itu melompat ke atas kudanya dan dengan semangat yang tinggi ia bertempur dan banyak sekali kafir yang dibunuhnya. Akhirnya ia pun gugur dalam perang, mati syahid, dan bidadari-bidadari segera menyambutnya dalam pangkuan mereka untuk segera diantar kepada Ainul Mar- diyah, istri pujaan. Lebih dari 20 halaman dipergunakan pengarang untuk meng- gambarkan keindahan surga. Kisah Abdul Wahid dengan seorang remaja seperti dikemukakan di atas terdapat juga dalam HPS yang lain-lain. Kisah II menceritakan seorang raja yang sangat saleh berasal dari kaum Bani Israil. Ia memohon kepada Allah agar ditakdirkan berperang melawan negeri kafir yang menentang agama dengan hartanya dan putra-putranya. Allah memberikan kepada sang raja anak laki-laki yang gagah rupawan semuanya berjumlah seribu orang. Putranya diangkatnya sebagai panglima perang dan diberinya leng- kap dengan pakaian dan bermacam alat senjata. Setelah sebulan

lamanya perang syahidlah putranya itu. Ia sangat mencintai agama, oleh karena itu diangkatnya putranya yang lain sebagai panglima. Raja terus berkhalwat tiada reda, malam berjaga dan siang berpuasa serta berzikir tiada henti-hentinya. Putranya yang seribu itu se- muanya mati syahid. Setelah itu raja bangkit bersama rakyat pergi memerangi kafir. Banyak sekali kafiryang mati. Raja kemudian gugur dalam pertempuran dan mayatnya bersama alat kebesaran raja di- bawa pulang ke istana. Raja memperoleh karunia pahala berlimpah daripada Allah. Kisah III menceritakan seorang laki-laki mandul yang sangat mendambakan seorang anak lelaki. Bersama istrinya siang dan malam ia berdoa kepada Allah. Dengan takdir Allah hamillah sang istri. Dengan rasa syukur dan bahagia ia menanti kelahiran sang bayi. Pada vffiktu itu sampailah berita bahwa Nabi hendak berangkat memerangi kafir Yahudi. Lelaki itu turut serta, sebab bila ia tidak pergi berperang sabil ia merasa salah kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia pun memohon lindungan Allah agar anak yang didambakannya, jika ada umur panjang kembali dari berperang sabil, dapat kelak dilihatnya. Dalam perang melawan kafir itu Nabi dibantu oleh Sayidina AU. Banyak kafir laknatyang mati. Semua kafir kalah berkat bantuan AU Murtada, pahlawan Mekah. Setelah kafir Ulanda [sic!] diislamkan dan raja pengganti diangkat, Nabi pun beserta para sahabat dan rakyat kembali ke tempat. Setelah lelaki yang menginginkan anak itu pulang ke rumahnya diketahuinya dari tetangganya bahwa istrinya telah meninggal dan bayi yang belum sempat lahir ke dunia telah di- kuburkan bersama ibunya. Sambil menangis ia memohon kepada Allah agar ia dapat memandang nyata anaknya itu. Begitu sedihnya hingga ia jatuh pingsan. Pada waktu ia terbangundari pingsannya hari sudah semakin malam. Tiba-tiba ia melihat muncul cahaya dari arah kuburan. Ia segera berlari ke sana dan tampak olehnya anaknya terduduk sendiri di situ. Tuhan Yang Mahakuasa memelihara si bayi, sedangkan ibunya telah menjadi tanah. Waktu hendak berangkat ke perang sabil teungku itu alpa memasrahkan istrinya kepada Allah. Ia segera menggendong anaknya yang terduduk sendiri itu disertai puji syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah. Pengarang menambah-

kan bahwa demikianlah pada waktu perang melawan Belanda [sic!] bersama Nabi, orang yang mati hidup kembali. Andaikata lelaki itu tidak pergi ke perang sabil, tidaklah mungkin ia akan dapat melihat anaknya yang sangat didambakannya itu. Pengarang mengajak pem- baca dan pendcngar mengambil teladan dari perang Belanda dan menganjurkan agar orang segera berangkat ke perang sabil, oleh karena perang sabil itu wajib hukumnya, ymiufardhu'ain. Kisah IV adalah cerita tentang Sa'id Salmiyung oleh pengarang dikatakan terjadi pada masa Nabi Muhammad SAWdan menanyakan jalan manakah yang senang untuk kembali kepada Allah. Nabi men- jawab bahwa perang sabil adalah jalan yang terbaik dan tidak ada jalan lain yang melebihinya. Sa'id Salmi bertanya demik.an karena mukanya yang buruk itu tak seorang pun perempuan yang mau dengannya. Nabi sangat sayang melihat Sa'id, lalu menyuruhnya pergi kepada Umar bin Khattab untuk membawa pesan Nabi, agar Umar mengambil Sa'id sebagai menantunya. Sa'id pergi ke rumah Umar untuk menjalankan perintah Nabi. Ketika Umar membuka pintu dan melihat orang yang sangat hitam, ia mundur ke bclakang, takut dan jijik melihat wajah orang yang di depannya. Setelah Sa'id Salmi menyampaikan maksud kedatangannya, Umar menolaknya, karena menganggap apa yang disampaikan oleh Sa'id sebagai fitnah belaka. Sa'id pergi sambil mencucurkan air mata. Putri Umar yang cantik, saleh, dan takwa memprotes ayahnya yang tidak mau me- nerima jodoh pemberian Rasulullah. Ia minta supaya seketika itu juga ayahnya pergi menghadap Nabi untuk minta ampun, sambil menyampaikan permintaan putrinya itu yang bersedia dinikahkan dengan Sa'id Salmi. Dalam musyawarah itu diputuskan bahwa dua hari°lagi mereka akan dinikahkan. Nabi memanggil Sa'id Salmi dan menyuruh Sa'id meminta uang sebanyak 1000 dirham kepada AU, Usman, dan Abu Bakar, untuk mahar dan pembeïi pakaian pengantin. Sahabat-sahabat Nabi dengan rela memberikan 2000 dirham masing-masing. Tiba-tiba dengan takdir Tuhan, datanglah kafir Yahudi menyerang umat Islam. Nabi menyerukan agar kafir Yahudi yang datang itu dilawan. Pada waktu itu Sa 'id Salmi sedang berbelan- ja. Mendengar seruan berperang sabil itu, ia pun dengan sukarela

ingin lurut serta, mengikutijejak Nabi berperang sabil. Ia sudah tidak berhajat lagi akan istri yang hendak dinikahinya itu. Ia lalu membeli pakaian, bedil dan obat bedil, pedang yang tajam dan seekor kuda. Ia sangat berbahagia. Kepada masalah dunia ia tidak lagi bernafsu, ia rindu keakhirat. Ia segera mengikutijejak sahabat-sahabat Nabi yang sedang berperang. Ali dengan gagah berani menyerang musuh, dan banyaklah kafir yang mati. Dengan pedang terhunus di atas kuda, Sa'id Salmi turul mengambil bagian dalam pertempuran. Ia keiihatan sangat gagah sampai sahabat-sahabat Nabi tidak dapat mengenalnya lagi. Banyak kafir yang mati dicencangnya. Kemudian Sa'id tewas kena senjata kafir. Akhirnya kafir kalah dan lari. Mayat Sa'id Salmi di- temukan oleh Ali dan Rasulullah. Nabi menangis, tetapi kemudian sambil melihat kc kanan dan ke kiri Nabi tersenyum. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabat, mengapa Nabi berbuat demikian, beliau men- jawab, bahwa hati beliau sedih, karena hi]at Sa'id Salmi dalam dunia tidak kesampaian. Beliau tersenyum, karena tampak kepada beliau bidadari-bidadari yang cantik jclita berebut-rebut hendak memper- suntingkan Sa'id Salmi. Tuhan membcrikan kepada Sa 'id Salmi tujuh puluh bidadari dalam surga, siang-malam bersuka-sukaan dengan segala hidangan yang lezat-lezat. Jasad Sa'id dimakamkan dan har- tanya disuruh antarkan dengan khidmal kepada Umar. Putri Umar bersedih hati dan menangis mendengar berita syahid calon suaminya. Kecuali keempat kisah yang dikemukakan di atas serta berbagai anugerah yang dikaruniakan oleh Allah kepada orang yang berperang sabil pengarang HPSTP ini menggunakan kalamnya mengemukakan berbagai hal untuk mempengaruhi orang agarbersemangat pergi berperang melawan kafir. Pengarang mengemukakan kisah AshabilFil, pasukan gajah yang hendak menghancurkan Aa'batullah, seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an yang terjadi ketika Nabi Muhammad SAWbelum lahir ke dunia. Allah memberikan pertolo- ngan dengan mengirimkan burung-burungyang membawa batu dan melemparkannya ke atas orang-orang kafir sehingga musuh dengan pasukan gajahnya binasa semua dan Ka'bah selamat dari serangan mereka. Seperti yang terjadi di Mekah, Allah pun, kata pengarang, mengirimkan bantuan kepada pasukan muslimin yang sedang ber-

SASTRA PERANG - 3 2

perang sabil di Mi, Aceh Timur. Banyak kafir mati kena serangan pisau di Mi, padahal pasukan-pasukan Aceh pada waktu itu hanya menggunakan bedil dan semuanya berada di dalam benteng. Pengarang mengemukakan bahwa pertolongan dalam perang di Mi itu tiada lain datangnya daripada Allah jua. Dalam menyusun karangan- nya penggubah HPSTP sadar benar akan firman Allah dalam surat al-Anfal ayat 17 yang berbunyi:

Maka [yang sebenarnya] bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan

kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. [Allah berbuat demikian untuk membinasakan

mereka] dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah

Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Selain daripada itu dikemukakan pula oleh pengarang bahwa Nabi pernah bersabda mengenai adanya tiga buah mata dalam dunia ini yang tidak akan menangis pada hari kiamat di Padang Mahsyar kelak. Pertama, mata yang takwa kepada Tuhan, kedua mata yang tertutup kepada barang yang haram, dan ketiga mata yang siap mengawasi musuh, kafir anjing, yang akan tiba. Ditambahkan pula oleh pengarang bahwa seribu rakaat sembahyang di negeri sendiri, satu rakaat di negeri Mekah, terlebih pahala sembahyang di Mekah. Seribu rakaat sembahyang di Baitullah di Mekah, satu rakaat sembahyang dalam shaf di tempat perang sabil berada, tedebih banyak pahala bersembahyang di tempat perang sabil. Pengarang juga menyinggung tentang Raja Qarun yang memen- tingkan harta kekayaan dunia sehingga terkena murka daripada Allah. Umat harus mengambil teladan daripadanya sehingga mau memberikan harta untuk belanja berperang sabil. Dengan demikian siksaan yang sangat pedih dapat terhindar di hari kebangkitan. Cari- lah bekal untuk akhirat yang kekal, sedangkan harta kekayaan dan kerajaan yang luas di dunia tidak akan terbawa mati. Sebuah catatan kecil baik juga dikemukakan di sini mengenai bagian anggota mana badan wanita yang dipilih oleh si pengarang

untuk melukiskan kccantikan wanita. Menurut pengarang kecan- tikan Ainul Mardiyah yang putih kuning itu tiada tandingannya di bawah kolong langit ini. Meskipun kain yang dipakainya tujuh puluh lapis, sinar betisnya tampak berseri, dan menurut pengarang indah kakinya bak emas murni, dan wajahnya tiada sanggup ditantang, redup mata lezat berahi. Suara Ainul Mardiyah indah seperti biola Parsi [sic!] berbunyi dan merdu seperti tiupan buluh perindu. Men- jelang akhir naskah pengarang memanjatkan berbagai doa dan per- mohonan ke hadapan Aiiah semoga Allah menurunkan rahmat, sehingga dapatlah kaum kafir terkalahkan semuanya.

IV

Perang di jalan Allah adalah merupakan inti utama dalam hikayat-hikayat perang sabil yang terdapat di Aceh. Di samping ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an ayat-ayat yang seri.ngkali ditemukan dalam berbagai hikayat perang sabil adalah ayat-ayat berikut ini.

  1. Sesungguhnya Allah telah membcli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka mem- bunuh atau terbunuh. [Itu telah menjadi] janjiyang benardari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergem- biralah dengan jual beli yang telah kami lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (surat al-Taubah, ayat 111).
  2. Dan belanjakanlah [harta bendamu] di jalan Allah, dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (surat al-Baqarah, ayat 195).
  3. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakangyang belum menyusul mereka; bah-

wa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka bersedih hati. (surat Ali Imran, ayat 169-170).

  1. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Jika kamu berbuat demikian Allah akan mengampuni dosa-dosa- mu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik dalam Surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (surat al-Saff, ayat 10, 11, dan 12). Di dalam ayat-ayat yang dikutip di atas terdapat dua ungkapan,
    yaitu berperang di jalan Allah dan berjihad di jalan Allah. Khusus untuk istilah perang yang dalam Al-Qur'an dipakai kata pokok qital tidak saja terdapat dalam surat al-Taubah ayat 111 yang dikemukakan di atas, tetapi juga di dalam surat-surat al-Hajj ayat 39, al-Baqarah 190, 191, dan 193, seperti dikutip berikut ini.

  2. Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah amat berkuasa menolong mereka. (surat Al-Hajj ayat 39).

  3. Dan perangilah olehmu di jalan Allah terhadap mereka yang memerangimu, namun janganlah kamu melanggar batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui, dan usirlah mereka dari tempat kamu telah diusirnya, dan fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan; dan janganlah kamu pe- rangi mereka di Masjidi'l-Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu di tempat itu, bunuhlah mereka. Begitulah pembalasan terhadap orang-orang yang kafir. (surat al-Baqarah ayat 190, 191, dan
    192).
    Kata jihad berasal dari kata Arab jahada, yang artinya bersung- guh-sungguh mencurahkan segenap pikiran, kekuatan, dan kemam-

puan untuk mencapai sesuatu tujuan. Kata ini dapat juga mempunyai arti yang lain-Iain, antaranya perang dan kekuatan. Menurut istilah syar'iyyah pengertian jihad ialah "bersungguh-sungguh mencurahkan segenap pikiran dan kekuatan melawan hawa nafsu, setan, kebaülan, dan menghancurkan orang-orang yang kafir".38 Ayat-ayat yang menyebut kata jihad dalam arti bersungguh-sungguh terdapat antara lain dalam surat-surat al-'Ankabut ayat 6, 69 dan al-Hajj ayat 78 seperti tersalin berikut ini.

  1. Dan barangsiapa yang berjihad, maka kemanfaatan jihadnya itu, adalah untuk dirinya sendiri, karena Allah sebenarnya Mahakaya, tak membutuhkan sesuatu pun dari alam semesta ini. (surat al-'Ankabut ayat 6). Orang-orang yang berjuang di pihak Kami melawan musuh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami, jalan-jalan kebaha- giaan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (surat al-'Ankabut ayat 69)
  2. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah, sebenar-benarnya berjihad.'Dia telah memilihmu di antara semua bangsa-bangsa, dan Dia tidak menjadikan perkara-perkara yang berat atasmu dalam agama ini, yaitu agama nenek moyang Ibrahim. Dia telah menjuluki kamu dengan manusia-manusia muslim sejak kitab-kitab yang dahulu, begitu pula pada kitab ini. Tuhan berbuat demikian, supaya Rasul Muhammad menjadi saksi atasmu pada hari kiamat dan kamu pun menjadi saksi pula atas seluruh umat manusia. Karena itu kerjakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah dengan agama Allah. Dia, adalah Pelindungmu, bahkan PelindungyangTer- baik, serta Penolong yang terbaik pula. Adapun jihad fi sahilillah, menurut M. Yunan Nasution, dapat
    dibagi atas tiga macam :

(1) Jihad terhadap diri sendiri,
(2) Jihad terhadap syaitan,
(3) Jihad terhadap musuh yang nyata.39

nsn (69q0am 6eb kag adezu immbnam (m osbgiggsd aeig d ib delleiaaegaanamam alunu deAmsli baid melsJuan nsb nsisjuloqolie gneouisoq WA2bammaduMidsneh TW2 dolo 06lemkaib i15q52 u6qm6l 626m 06mal6g05q-06msis905q

  • meb y- sd m dal
    asaosde/oqb aeb zeei nodei abeq anulubib dalsł dsamsjaw

2 u pde a bottm

demi kehidupan umat manusia yang layak secara kolektil, dan yang fungsionatinya udak ditunggangi kepentingan pribali di dunia ini-

sebagai berikut: Jika kffa mendermakan sesuatu karena meramalkaa akaa me. aerime kmbalan material aiau moral di dunia inl, jelas tidak akn dkisgaama saba". tepi ja ke ingiaa ke adalah mendapataa ridha Aah dengn memberi pertoloagen kepada makir miskia, maka tindakan derma lni dapat dipastikan dilakukan secara "D sabilah", Oeh ka- renanyn istitah " sabifllab" diperuntukkan banya bagi dn- dakaeodakn yang diakuan denga cian sempurna Dengan demikian jihad, seperti dikatakan oleh Dr. Yusuf Qardhawl menjadi banyak vuriasinya dalam zaman sekarang ini dan

CATATAN HALAMAN

  1. M.O. Woelders, Het Soeltanaat Palembang: 1811-1825 's-Granvenhage: Martinus Nijhoff, 1975, hlm. 195-196.
  2. George Granville Putnam, Salem Vessels and Their Voyages: A History of the Pepper Trade with the Island Sumatra. Salem, Mass.: The Essex Institute, 1922.
  3. A. Doup (ed.) Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorigheden. Medan: tanpa nama penerbit: ea 1942, hlm. 105-6.
  4. Louis Gottschalk, Understanding History. New York: Alfred
    A. Knopf, 1969, hlm. 135-6.
  5. E.B. Kielstra, Beschrijving van den Atjeh-Oorlog. Jil. I, 1883, hlm. 66-7.
  6. W. Frijling, "De Voornaamste Gebeurtenissen in het Begin van de 2de Expeditie door Atjehers Beschreven", TBB (1912), hlm. 23-6.
  7. Paul van't Veer, De Atjeh Oorlog, 1969, Dalam halaman satu buku ini dilulisnya bahwa Aceh adalah yang paling lama di- taklukkan Belanda dan yang paling pertama merdeka.
  8. Su las tin Soetrisno, Memahami Hikayat dalam Sastra Indo- nesia, 1978, hlm. 8, 90-91.
  9. C. Snouck Hurgronje, The Achehnese. Jil. II. Leiden: E.J. Brill, 1906, hlm. 77.
  10. HPS, Cod. Or. 8035,1894, hlm. 111.
  11. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 37-8.
  12. Ibid., hlm. 5,19.
  13. UPS, Cod. Or. 8035, hlm. 21.
  14. UPS, Cod. Or. 8163 B, hlm. 7, 123-30.

15. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 121.
16. G.D.E.J. Hotz, Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog. Breda: De Koninklijke Militaire Academie, 1924, hlm. 63.
17. Dikutip dari I Made *Sudjana, Puputan Klungkung:* 16-28April
1908. Skripsi Jurusan Sejarah Univ. Gadjah Mada, 1982, hlm. 108.
18. Bhagavadgita. Terjemahan Gede Pudja dan Tjokorda Rai Sudarta. Jakarta: Lembaga Penterjemah Kitab Suci Weda dan Dharmapala, Departemen Agama Republik Indonesia, 1967,hlm. 48-49.
19. Manawa Dharmacastra. Terjemahan Gede Pudja dan Tjokorda Rai Sudarta. Jakarta: Lembaga Penterjemah Kitab Suci Weda, 1973, hlm. 378.
20. Nitisastra. Penyunting R. Ng. Purbatjaraka. Djakarta: Balai Pustaka, 1950, hlm. 19.
21. I Made Sudjana, op. cit., hlm. 109, 111.
22. A.G. van Sluijs, "Nota: Atjeh Onderhoorigheden, Sept. 1918 - OcL 1920", Kernpapieren, KITLV Leiden, no. 797/156, him. 5. Pertempuran antara Portugis dengan Kerajaan Aceh terjadi pada tahun 1521. Lihat George Kepper, De Oorlog tegen Nederland en Atchin, 1874, hlm. 5. Pada tahun 1524 Aceh mengusir Portugis dari Pasai. Lihat Raden Iloesein Djajadiningrat, Critische Overzicht van de in Maleische Werken veivalle Gegevens over de Geschiedenis van het Sultanaat van Atjeh", BKI (1911), hlm. 147.
23. II.K.J. Cowan, De Hikayat Malem Dagang, 1937, hlm. 38. Meskipun dikisahkan perlawanan terhadap Portugis, na- mun dalam hikayat itu ada disebut mengenai peperangan melawan Belanda.
24. Syaikh "Abbas ibn Muhammad, Tadhkirat al-Radikin, Cod. Or**.8038**,Univcrsilcits Bibliotheek (UB) Leiden.

  1. HPS, Cod. Or. 8163 b, UB Leiden.
  2. Syaikh 'Abbas ibn Muhammad, op. cit., hlm. 182-6.
  3. G.W.J. Drewes, Directions for Travellen on the Mystic Path, The Hague: Martinus Nijhoff, 1977, hlm. 223.
  4. Sejarah Melayu, ed. W.C. Shellabear, 1961, hlm. 272-4.
  5. R.A. Kern, "Onderzoek Atjeh-moorden", laporan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 16 Desember 1921, Kern- papieren no. H 797/159 KITLV Leiden.
  6. Ibid.
  7. Surat Gubernur Hens kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, no. 192/82, Koetaradja 10 Agustus 1924 dalam Kern- papieren no. H 797/161 KITLV Leiden.
  8. Mailrapport no. 899 x 26.
  9. H.T. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", IG (1912), hlm. 788, dan Damste, "Hikajat Prang Sabi", BKJ Jil. 84 (1928), hlm. 545. Lihat juga surat controleur Seulimeum Dr. J. J. van de Velde kepada Prof. Dr. Snouck Hurgronje, 5 Agustus 1932, UB Leiden, Cod. Or. 8134.
  10. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", op. cit., hlm. 689.
  11. A. Struyvenberg, Het Korps Marechaussee 1890-1930, Koetaradja: tanpa nama penerbit, 1930, hlm. 50-51. Struyvenberg menamakan cara-cara penangkapan para istri dan anak-anak pejuang Aceh untuk dijadikan sandera, "metode Christoffel". Struyvenberg, ibid., hlm. 104-5. Yang dapat dianggap sebagai auctor intellectualis "metode Christoffel" ini adalah Snouck Hurgronje. Lihat Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, 1987.
  12. Struyvenberg, ibid.
  13. Koloniaal Verslag, 1908, kolom 9. Lihat juga Missive Gubernur Sipil dan Militer Atjeh van Daalen kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, no. 131/Zeer Geheim, Koetara-

dja, 16 Juli 1907, MR 1218-'07, Ministerie van Binnen- landse Zaken, Den Haag. Kini semua arsip yang berkaitan dengan Indonesia yang berada di Kementerian ini telah dipindahkan ke Alg. Rijksarchief Den Haag.

  1. M. Yunan Nasution, DjUiad. Jakarta: Publicita, 1970, hlm. 6. Cf. H. Th. Obbink, De Heilige Oorlog volgens den Koran, 1901, hlm. 24-5. Juga Rudolph Peters, Islam and Colo- nialism: The Doctrine of Jihad in Modem History, Den Haag: Mouton, 1979, hlm. 118.
  2. Yunan Nasution, op. cit., hlm. 18-26. Cf. Peters, loc. cit.
  3. Abduh, Djihad. Bandung: Penerbit Peladjar, 1968, hlm.7.
  4. Peters, op. cit., hlm. 118-9.
  5. Abul'A'la Maududi, "Jihad", dalam Abul'A'la Maududi et al., Jihad, terj. Asep Hikmat dan Bahrun Abubakar. Bandung: Penerbit Risalah, 1985, hlm. 9.
  6. Maududi, ibid., hlm. 10.
  7. Ibid., hlm. 10-11.
  8. Yusuf Qordhowi, "Pengertian Fi Sabilillah", dalam Muham- mad Ibrahim An-Nashr et al., Berjuang di Jalan Allah, terj. Abu Fahmi. Jakarta: Penerbit Buku Andalan, 1990, hlm. 20-
    21.
    2700 Tilden Street, Washington, D.C.: 31 Agustus 1991.

II

2.
3.

SASTRA PERANG TEKS ASLI

DAN TERJEMAHANNYA

HIKAYAT PERANG SABIL

BISMILLAHIRRAIIMANIRRAHIM

  1. Alhamdulillah khaliqul asyya', dum perkara peuneu-jeued Rabbi 'Arasy keurusi syeuruga nuraka, langèt dönya bumi beurangri Kömdian seulaweuet saleuem hulön, ateueh Junjóngan panghulèe Nabi Ateueh waréh sahbat sajan, dum sikeulian Muhajir Anshari
  2. 'Oh teulheueh pujoe seulaweuet sudah, bi hidayah hamba faqi Tulöng Tuhan Insya Allah, ulön peugah keu bhaih prang sabi haba kitab Ion meung karang, suröh cut abang uba' kami Lön meuda'wa pi han reumbang, bah lön karang beurangkari Lom peureubuet ateueh keubajikan, mudah-mudahan pahala neubi
  3. Jeued peu'ingat sigala tèelan, waréh rakan dum beurangri Geulantoe lön bri keurih meudulang, baday lön pulang kröng meuriti Geulantoe tampö' pucö' keurawang, baday keunarang intan ngon pudi Teutapi nyang na jeued syubhat, lön seumurat keu hulèe budi Beu that meunan pi lön seumurat, keu 'ibarat dumna akhi
  4. Jakalèe karöt deungon salah, bè' ta marah keu hamba faqi Ulön seumurat li wajhillah, karena Allah kon beurangkari Wahé teungku ade'' abang, bè' lé lanteng taja' prang sabi Bè' takira keu hulèebalang, ka ji pasang Ié'jen pari Hè teungku cut dönya akhe', agama tan le sigala nanggri

HIKAYAT PERANG SABIL

DENGAN NAM A ALLAH YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG

L AJhamdulillah khaliqul asyya', segala hal ciptaan Rabbi Arasy kursi surga neraka, semua langit dunia dan bumi Kemudian selawat salam hamba, kepada junjungan Penghulu Nabi Kepada waris bersama sahabat, termasuk sekalian Muhajir Anshari

  1. Setelah selesai puji selawat, berilah hidayat hamba yang fakir Insya Allah dengan tolong Tuhan, hamba berkabar hal perang sabil Kabar kitab hamba 'kan karang, disuruh abang kepada kami Hamba bertengkar rasanya tak pantas, biarlah kukarang yang mana jadi Hamba perbuat atas kebajikan, mudah-mudahan pahala diberi
  2. Boleh mengingatkan segala taulan, saudara dan rekan semua sekali
  • Pengganti kuberi keris berdulang, ganti kuserahkan berlum- bung padi Pengganti mahkota pucuk kerawang, ganti disusun intan per- mata Tetapi yang ada timbul keraguan, hamba mengarang demi budi nan tinggi Meskipun demikian hamba menyurat, untuk ibarat semua akhi
  1. Jikalau kacau serta salah, janganlah marah pada fakir ini Aku menulis di pihak Allah, semata-mata karena Illahi Wahai tuan adik dan abang, jangan hindari berperang sabil Jangan hitung para hulubalang, sudah dirasuki jin dan pari Wahai tuan dunia akhir, agama tak lagi di segala negeri

  2. Dum ulama narit tan le, keu prang kaphé han padóli Lidah ulama dum habéh klo, tan lé hiro buet prang sabi Meula'énkan nyang na ngon izin Po, Teungku di Tiro neubaday Nabi Ulama la'én dum jeueb nanggroe, peuseungap droe tan padóli Ba' geukira é' leupaih droe, uroe dudoe jan geusudi

  3. Uroe meuhadap ngon Potallah, hana rot glah hé ya sayidi Dalam Kitab meunan geupeugah, Firman Allah ngon hadih Nabi He teungku cut adé' sahbat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Sigala na dum ibadat, nyang leubèh that taja' prang sabi Lafad hadih tan lön baca, ma'na sahaja lön böh sini
  4. Keu peu'ingat jaga-jaga, kadang lupa dumna akhi Wahé teungku beugèt tapham, kon lön reusam hana meukri Haba nyoe lön tueng syit [cit] di dalam Mulhiri '1-gharam kitab prang sabi Di dalam Qur'an geuriwayat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Seureuta hadih Sayyidul Ümmat, bè' lupa that wahé akhi
  5. Hadih Nabi cit that sahèh, hana rot wèh ba' prang sabi Neubribuluenghanpuedalèh, cit ka teuprèh syeuruga tinggi Meunan meuteumeung jeueb-jeueb kitab, pangulèe ibadat cit prang sabi Deungo teungku lön beuet ayat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Inna 'llaha 'sytara mina 'i-mu'minino anfusahum wa amwalahum bianna lahumu
  6. 'l-jannata yuqatilima fisabili 'llahifa yaqtuluna wayaqtaluna wa'dan 'aloihi haqqan Fi 'l-Taurati wa 'l-Injiïi wa 'l-Qur'ani wa man 'aufa bi'ahdihi mina 'llahi Fastabsyiru bibay'ikumu 'llazina baya 'turn bihi wa zalika huwa al-fauzu 'l-'azimu

  7. Semua ulama berdiam diri, akan perang kafir tiada perduli Lidah ulama semau 'lah kelu, tak lagi perduli kerja perang sabil Melainkan yang ada dengan izin Allah, Teungku di Tiro mewakili Nabi Ulama lain di setiap negeri, berdiam diri tiada perduli Mereka sangka dapat lepas, ketika diperiksa di hari nanti

  8. Pada hari menghadap Allah, takkan lepas wahai sayidi Demikian dikatakan dalam Kitab, Firman Allah dengan hadith Nabi Wahai tuan adinda sahabat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi Dari semua ibadat yang ada, yang terlebih mulia berperang sabil Kutipan hadith tak hamba baca, hanya makna tertulis di sini
  9. Untuk peringatan jaga-jaga, barangkali lupa semua akhi Wahai tuan baik-baik fahami, bukan tak menentu yang kukabari Sengaja kuambil uraian ini, dari Mathirilgharam kitab perang sabil Di dalam Qur'an diriwayatkan, Firman Hadarat Tuhanku Rabbi Beserta hadith pemimpin umat, sungguh jangan lupa wahai akhi
  10. Hadith Nabi sangat sekali saheh, tak ada jalan lari dari perang sabil Imbalan diberi tanpa alasan, memang 'lah tersedia surga nan tinggi Demikian didapat di setiap kitab, utama ibadat memang perang sabil Dengarlah tuan kubaca ayat, firman Hadarat Tuhanku Rabbi
  11. Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lantas mereka membunuh atau terbunuh. Itulah janji Allah yang pasti di dalam Taurat, Injil, dan Qur'an. Dan siapakah lagi yang lebih menepati janjinya selain dari Allah?
    SASTRA PERANG - 4 4

Beu that ta'dhim hé ya sayidi, neubloe geutanyoe Rabbul Karim Jannatunna 'im keu yum neubri Soe nyang najö' nyawong areuta, geupubelanja ba' prang sabi

  1. Neubloe oleh Po meuhay hareuga, ngon syeuruga neutuka sali Nyankeu keuyum neubri lé Allah, neubaday payah yöh di sini Meunan janji Potallah, he meutuah bè' lé lanti Taurat Injil ngon Qur'an, sinan Tuhan neukeubah janji Bè' lalè lé hé bangsawan, meukat ngon Tuhan nyang that suci
  2. Bè' lalè ba' meukat lada, hana laba meung si tali Bah lé tameukat intan meutia, publoe keu raja Rabbul Jali Meuneukat nyoe bit that halöh, publoe yum beutröih wahé" akhi Meusampé that hai teungku beh, meuneukat goh tróih yum ka neubri He teungku cut adoe boh haté, bè' taweueh lé dönya ini
  3. Tatueng la'én nyang meusampé, peunoh that haté penulang Rabbi Hé'raja cut teungku meutuah, inong nyang ceudah bah lé di sini Tatueng la'én 'Ainul Mardiah, sang meuih meuntah meung palot gaki Ji pinggang ija tujöh plöh lapéh, cuaca beuteh deuh teujali Neupeujeued niba' nur nyang putéh, sinan keu jih asay sinyak ti
  4. He adoe cut pike beutö', bè' that dawö' ngon dönya ini Bah létinggay sikin meupucö', peudeueng meutampö' bah lé di sini He teungku cut bungong tanjong meuih, bè' le taweueh keu dönya ini

Sebab itu bergembiralah kamu dengan perjanjian yang telah kamu ikat itu. Dan itulah kemenangan yang besar. Agar sangat dimuliakan wahai sayidi, kita dibeli Rabbul Karim, sebagai harganya surga nan tinggi Siapa menyerahkan nyawa dan harta, dibelanjakan pada perang sabil

  1. Mahal harganya dibeli Tuhan, dengan surga di tukar asli Itulah harga diberi Allah, pengganti usaha selama di sini Dcmikianlah janji Allah Taala, wahai yang berbahagia janji menanti Taurat Injil dengan Al-Qur'an, di situ Tuhan menyimpan janji Jangan lalai lagi wahai bangsawan, berjualan dengan Tuhan Yang Maha Suci
  2. Jangan lalai berjualan lada, tiada laba barang setali Marilah berjualan intan mutiara, kepada raja Rabbul Jalil Dagangan ini sungguh sangat halus, dengan mahal dijual ya akhi Tercapai sungguh wahai tuan, dagangan belum sampai harga 'lah diberi Wahai tuan adinda tercinta, jangan sedihkan dunia ini
  3. Milikilah lain yang sempurna, hati gembira anugerah Rabbi Wahai tuan muda yang berbahagia, wanita rupawan biar tinggal di sini Ambil yang lain Ainul Mardiah, yang kakinya bak mas murni Kain yang dipakainya tujuh puluh lapis, sinar betisnya tampak berseri Dijadikan dari cahaya yang putih, dari nur itulah asal sang putri
  4. Pikirlah habis-habis wahai adinda, jangan amat sibuk dengan dunia ini Biarlah tinggal senjata berpucuk, pedang berhias biar di sini Wahai tuan bunga tanjung emas, jangan lagi sedihkan dunia ini Campakkan ke belakang tinggalkan sungguh, ambillah Fir-

Tie' u liköt keubah beu Iheueh, c5' Firdaus syeuruga tinggi He teungku cut muda samlakoe, umu nanggroe hana treb le

  1. Janji Tuhan yöh saboh roe, ka rab sampoe he boh hate Tunggu neugulöng langet dönya, la'en kana ta eu lahe Jitron dajeue dalam dönya, nyan pi kana han peue lé Meung goh troih nyang siblah mata, ra'yat ka na dum sagai be Meung ka troih nyan he bintara, hana guna barang pue le
  2. Keupue guna ta ibadat, Tuhan Hadarat han neutueng lé Tan lé guna wahe sahbat, pinto tèebat ka geugunci Wahé teungku bè' lalè that, beukay akhirat tapeuhase Yöh goh teutöp pintö tèebat, jinoe takarat hé boh haté Lom yöh goh troih malaikat, suröh Hadarat nyawong crébre
  3. Yöh goh geuco' get ta euntat, jö' bu meuhat bè' sayang lé He raja cut adoe meutuah, hina ngon meugah bandum mate Hana guna kaya ngon meugah, ba' Potallah bandum sabe He syèedara sigala kawom, geutanyoe bandum wajéb mate Walèe meski raja di Röm, nyang é' huköm sigala bumi
  4. Beurangho taja' wahé sahbat, wajéb meuhat cit ta maté Seperti firman ba' Hadarat, dalam ayat ta eu lahé Ainama takunu yudrikkumu 'l-mautu wa lau kuntumfi burujin musyayyadatin Beuthat ta löb lam kuta' beusoe, jadèh cit adoe geutanyoe maté Nyan keu lön kheun po samlakoe, ingat keu droe dum teusare
  5. Soe leubèh lom Nabi Muhammad, panghulèe ummat ka cit tan Neuwoe ba' Tuhan Rabbul 'Izzah, tueng ibarat he boh hate

daus surga tinggi Wahai tuan muda gagah rupawan, umur negeri tak seberapa lagi

  1. Janji Tuhan pada suatu hari, hampir sampai hai kekasih hati Tunggu digulung langit dunia, lain telah ada tampak terbukti Turun dajal dalam dunia, itu pun 'lah ada tanpa disebut lagi Sebelum datang yang bermata sebelah, rakyat pun sudah di sana semua Kalau 'lah datang itu hai tuan hamba, apa pun juga tak berguna lagi
  2. Apakah guna kita beribadat, Tuhan tidak menerimanya lagi Tak berguna wahai sahabat, pintu taubat telah terkunci Wahai tuan jangan sangat lalai, bekal di akhirat usahakan dapati Selagi belum tertutup pintu taubat, mari bergiat hai buah hati Sebelum datang sang malaikat, disuruh Hadarat nyawa terbagi
  3. Sebelum diambil lebih baik kita antar, beri dengan wajar jangan sayang lagi Wahai adinda yang bahagia, hina dan terkenal semua mati Tidak ada gunanya kaya dan megah, pada Allah semua sama Hai saudara segala kaum, semua kita wajib mati Walaupun raja yang di Rum, yang dapat memerintah segala di bumi
  4. Ke mana pergi wahai sahabat, memanglah kita 'kan wajib mati Seperti Firman dari Hadarat, dalam ayat terlihat bukti Di mana juga kamu berada mau itu pasti menghampiri, walau kamu berada dalam benteng yang tinggi, kuat dan kokoh Walaupun sembunyi di peti besi, mati takkan bisa dihindari Demikianlah kukatakan lelaki pujaan, semua ingat masing- masing diri
  5. Siapa yang dapat melebihi Nabi Muhammad, penghulu ummat memang telah tiada lagi Kembali kepada Tuhan Rabbul 'Izzah, ambillah ibarat demikian semua bersama pahami

Iza ja a ajaluhum, meunan muph5m dum sare La yasta 'khiruna sa 'atan, 'Oh troih ba' jan han hudep lé Wa la yastaqdimuna, dilèe niba' nyan pi han mate

  1. Cuba ingat hé bangsawan, keupue intan cahaya muble' Kaman meungnyo peuneujeued Tuhan, jen ngon insan bandum mate Meung teutap hana meujan, buet di Tuhan han tröih pike Ingat beutÖ' wahé tolan, la'én ba' Tuhan bandum maté Beurangpue buet wahé rakan, meungkon ngon Tuhan han meusampé
  2. Tieb-tieb tagaséh la'én ba' Tuhan, si'at han jan ka hana lé kadang teungoh gala' teu that, han jan si'at cit ka tan lé miseue nyawong tagaséh that, han tatupat 'oh watèe ere Meungnyo meunan wahé abang, riwang ba' prang bè' lalè lé Niba' maté di rot di blang, bah lé ba' prang sinan meugulé
  3. Meungnyo maté di rumoh inong, hanpue tanyong meugriet han sabé Sakét teu that geuco' nyawong, nyang kon keunong sinyata kaphe Bah lam shaf prang muba' teugageueng, bah seulinteueng sinan meugulé Ta niet droe keu ie sikureueng bah teugageueng ba' tapoh kaphé Wahé teungku cut adoe meutuah, bè'lé dahsyah ta due' sabe'
  4. Meungna hajat 'Ainal Mardiah, beudoh langkah ja' prang kaphé Hadih Nabi Rasulullah, gata han reubah 'oh keunong beudé Meungkon lam leumueng 'Ainal Mardiah, han lom reubah hé boh haté Meung goh lom troih po sambinoe, mantong geutanyoe tcudong sabe

Apabila telah tiba ajal mereka itu, wahai buah hati Tiada dapat mereka mengundurkannya, kalau sampai wak- tunya takkan hidup lagi Dan tiada pula minta mendahulukannya sesaat jua pun, dahulu daripadanya pun tidakkan mati

  1. Coba ingat hai bangsawan, buat apa intan sinar berseri Kalau hanya ciptaan Tuhan, jin dan insan semuanya mati Yang pasti tak tahu kapan, perbuatan Tuhan tak diketahui Ingat sungguh wahai taulan, selain Tuhan semua akan mati Apa pun yang hendak dibuat wahai rakan, tanpa Tuhan tak terpenuhi
  2. Apa yang dikasihi selain Tuhan, sebentar saja sudah tak ada lagi Mungkin sedang sangat kita sukai, hanya sebentar 'lah lenyap lagi Misal nyawa sangat disayangi, tak kita ketahui ketika ia pergi Jika demikian wahai abang, kembali ke medan perang jangan lalai lagi Daripada mati di jalan atau di sawah, biarlah bergelimang dalam perang sabil
  3. Jikalau mati di kamar tidur, keadaan terdesak tiada terperi Sangat sakit nyawa diambil, yang bukan terkena senjata kafir Biar dalam saf perang waktu dihantam, biar terlintang di sana terguling Niatkanlah diri ke air sembilan, biar terlentang membunuh kafir Wahai tuan adinda yang berbahagia, duduk termenung ja- nganlah lagi
  4. Jika berhajatkan Ainal Mardiah, memerangi kafir bangkitlah pergi Hadith Nabi Rasulullah, terkena bedil anda tak rebah Jika tidak ke pangkuan 'Ainal Mardiah, belum 'kan rebah hai buah hati Jika belum sampai sang juwita, masih kita tctap berdiri

Tröih sambinoe ja' theun jaroe, barö samlakoe reubah meugulé

  1. Meudilèe-dilèe ja' theun jaroe, ja' co' lakoe jipoh lé kaphé Tröih lam leumueng po sambinoe, nyawong geutanyoe jiteubiet le Teubiet nyawong alhamdulillah, masya Allah hanjeued kheun lé Meula'énkan nyang thèe sidroe Allah, baday payah ureueng prang kaphe Wahe teungku huléebalang bé' le bimbang ta iem sabé
  2. Sayang adé mata u blang, ngieng cut abang lam prang kaphé 'Oh hana tröih ji eu tawoe, po sambinoe cit ji trön le Ja' lam shaf prang ja' eu lakoe, that teugoe-goe dalam haté Kadang syahid di dalam prang, jico' rijang jipuwoe Ie Ureueng syahid di dalam prang,wahé abang hana maté
  3. Beuthat tan le ta eu rupa, bè' tasangka nyan hana le Firman Tuhan cit deuh nyata, be' syak sangka he boh hate Wa la tahsabanna al-lazina qutilu, be' he teungku ta kheun mate Fi sabili'llahi amwatun bal ahya 'un hudep sabe Wa lakin la tasy'unina, munafik kheun nyo bit mate
  4. Beuthat ta eu nyawong ka tan, bè' he tolan takheun mate Gob nyoe hudép niba' Tuhan, lam suka'an hanjeued kheun lé Nyan dum leubèh syahid ba' Tuhan, toh teuladan nyangna sabé Toh saboh treut nyangsa ngon nyan, he budiman cuba piké
    4S

Datanglah juwita membuka tangan, barulah bangsawan jatuh terguling

  1. Dahulu mendahului menadahkan tangan, menerima suami yang dibunuh kafir Begitu sampai ke pangkuan sang juwita, nyawa kita keluar serta Nyawa terbang alhamdulillah, masya Allah tak terlukiskan Yang hanya tahu Allah sendiri, pengganti usaha orang perang kafir Wahai tuan hulubalang, bimbang berdiam janganlah lagi
  2. Adikku sayang pandanglah ke medan, melihat kafir abang perangi Jika dilihatnya anda tak pulang, sang bidadari segera pun hadir Pergi ke saf perang melihat suami, sangat tergugah di dalam hati Barangkali syahid di dalam perang, segera diambil dibawanya pulang Orang syahid di dalam perang, wahai abang tidaklah mati
  3. Meskipun tak lagi terli^t rupa, jangan disangka sudah tiada Firman Tuhan terlihat nyata, jangan syak sangka hai buah hati "Janganlah sekali-kali kamu menyangka mati orang-orang yang terbunuh", jangan hai teungku katakan mati "Fi sabilillah namun sesungguhnya mereka itu hidup", hidup abadi "Cuma kamu tiada mengetahuinya", kata si munafik itulah sesungguhnya mati
  4. Meskipun terlihat nyawa 'lah hilang, janganhai taulan katakan mati Orang ini hidup dengan izin Tuhan, dalam bersuka-sukaan tiada terperi Demikianlah kelebihan syahid pada Tuhan, mana ada teladan yang menyamai Mana lagi yang sama dengan itu, cobalah pikir tuan yang berbudi

Wahe teungku mengnyoe meunan, bah lé sinan hudép maté

  1. Bè' sayanglé gampöng laman, bah le sinan bè' ta weueh le Aneu' ngon judo bah le sinoe, bungka jinoe ja' prang kaphé Ja' tueng la'en nyang sambinoe, tujoh plöh droe saré-saré Ureueng dilèe watèe muprang, dum sibarang hana weueh le' Areuta ngon nyawong dum sibarang, geutie' lam prang ekeulaih hate
  2. Digeutanyoe he syèedara, syak-syak sangka talawan kaphé Nyandum di Tuhan neubri keu gata, pakon bentara syak lam hate Ya Allah Wahidul Qahhar, Rabban ghafurun Tuhanku Rabbi Neubri beuteutap hate' hamba, ba' prang Beulanda kaphé hareubi Hé teungku cut dum syèedara, hé bentara bè' ta iem lé
  3. Nyawong tuböh ngon areuta, pubeulanja keu prang sabi Krueng-krueng Kalkautsar indah sangat, bulueng Muham- mad karönya Rabbi Di Panghulee neubri keu ummat, nyangna khideumat buet prang sabi Jeb siteugö' rasa la'én, lazat makén hanjeued kheun kri Keu peurumoh bintang candén, putéh licén budiadari
  4. Tujoh plöh droe nyang khideumat, rupa jroh that hana sakri Tangieng mantong kaseb lazat, hanpue tamat deungon jari Nyandum bulueng neubri le Allah, he meutuah ja' prang sabi Bè' lé ta due' nanggroe sö'sah, woe ba' Allah nyang that suci Bah lé tinggay inong ceudah, bah teukeubah nyang bèe basi
  5. Woe ba'judo 'Ainal Mardiah, nyang that indah bèe kasturi Hé adé' cut muda seudang, beudoh rijang ja' prang sabi Bah le tinggay dum sibarang, ja' co' bintang ateueh keurusi

Wahai tuan jika demikian, biarlah di situ hidup dan mati

  1. Jangan sayangkan lagi kampung halaman, biarlah di situ jangan pindah lagi Anak istri biarlah di sini, perangi kafir berangkat kini Jemput yang lain sang juwita, setara cantiknya tujuh puluh orang bidadari Orang dahulu ketika berperang, terhadap apa pun tak sedih lagi Nyawa dan harta semua sembarang, sumbang dalam perang ikhlas hati.
  2. Di pihak kita wahai saudara, melawan kafir bimbang di hati Demikian Tuhan memberi anda, mengapa tuan syak di hati Ya Allah Wahidul Qahhar, Rabban Ghafurun Tuhanku Rabbi Berilah hamba ketetapan hati, melawan Belanda kafir harbi Wahai adinda semua saudara, wahai tuan jangan berdiam lagi
  3. Nyawa tubuh dengan harta, belanjakan untuk berperang sabil Sungai-sungai Kalkautsar sangat indah, pembagian Muham- mad karunia Rabbi Penghulu kita memberi pada ummat, yang berkhidmat berperang sabil Minum seteguk rasa lain, semakin lezat tak terperi Dijadikan istri bintang kejora, cantik jelita sang bidadari
  4. Tujuh puluh orang yang melayani, rupa indah tak tertandingi Melihatnya saja sudah nikmat, tidak perlu dipegang dengan jari Demikianlah anugerah diberi Allah, hai yang berbahagia pergi perang sabil Jangan lagi duduk sedang negeri susah, kembali kepada Allah yang sangat suci Biarlah tinggal wanita cantik, biarlah disimpan yang bau basi
  5. Kembali ke jodoh Ainul Mardiah, yang sangat ayu dengan harum kasturi Wahai adinda muda remaja, bangun segera berperang sabil Biarlah tinggal apa pun saja, ambillabbintang di atas kursi

Keu inong jroh bè' lé'ta syén, ta co' la'én nyang juhari Bah lé keudéh ta meukawén, nyang that candén budiadari

  1. He teungku cut po bentara, saboh haba 'ajib sikali Ureueng publoe nyawong areuta, geupubeulanja ba' prang sabi Ka teulheueh wafeuet Sayidil Anbiya, nyan keu masa muda juhari Geupubloe nyawong ngon areuta, ngon syeuruga geutuka sali 'Abdul Wahid po riwayat, cit saleh that pangkat wali
  2. He raja cut tueng ibarat, bè' malaih that ja' prang sabi 'Abdul Wahid nyang peuhaba, ngo syèedara dumna akhi Kamoe meudue' sabé' tuha, mubicara buet prang sabi Ureueng la'én dum due' lingka, santeut banja dum meuriti Musyawarah keumeung bungka, prang Hulanda kaphe hareubi
  3. Sit sidroe ureueng dalam kawan, firman Tuhan geubijali Geukheun ayat lam Qur'an dihadapan dumna kami Inna'llaha'sytara mina'l-mu'minina anfusahum wa amwalahum bi anna lahumu al-jannata, 'ohnan saja tan geukheun le Neubloe mu'min Allah Ta'alajannatul ma 'wa keu yum neubri
  4. Soe-soe nyang publoe nyawong areuta, geupubeulanja ba' prang sabi Neubloe le Po meuhay hareuga, ngon syeuruga neutuka sali Sidroe aneu' miet lam kawan leu, bungong kundó raya bahgi Limong blah thon umu barö, rakan pi leu kanan kiri Ma hanalé du pi ka tan, muda bangsawan tinggay sendiri
  5. Rupa pi jroh ceureudek hanban, akay pi tuan jroh han sakri

Perempuan cantik tak usah inginkan, ambillah lain yang indah johari Biarlah kita kawin di sana, dengan sang juwita bidadari

  1. Hai tuan muda yang mulia, sebuah cerita ajaib sekali Orang menjual nyawa dan harta, untuk belanja berperang sabil Setelah wafat Nabi yang mulia, itulah waktunya muda jauhari Dijualnya nyawa serta harta, dengan surga ditukar asli Abdul Wahid empunya riwayat, saleh sangat berpangkat wali
  2. Hai raja muda ambillah ibarat, jangan sangat malas berperang sabil Abdul Wahid yang memberi kabar, dengan semua sahabat kami Kami duduk sesama tua, membicarakan hal perang sabil Orang lain duduk berlingkar, sama berjajar semua berdiri Bermusyawarah hendak berangkat, memerangi Belanda kafir harbi
  3. Dari hadirin cuma seorang, terus membaca Firman Illahi Dibacanya ayat Qur'an, dihadapan semua kami "Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang-orang mukmin dan harta benda mereka dengan menganugerahkan surga untuk mereka", sampai sekian saja tak diteruskan lagi Dibeli orang mukmin oleh Allah Ta'ala, surga tinggi harga diberi
  4. Siapa yang menjual nyawa dan harta, dibelanjakan pada
  • perang sabil Dibeli oleh Allah dengan harga tinggi, dengan surga ditukar asli Seorang anak dalam kumpulan orang, bunga hiasan perun- tungan tinggi Lima belas tahun umurnya baru, teman pun banyak kanan dan kiri Ibu dan ayah telah berpulang, muda bangsawan tinggal sendiri
  1. Rupa pun gagah lagi sangat sangat cerdik, akalnya baik tak

Areuta pina meung sikada, muda bahlia that meusampé Peninggalan ayah bunda, tueng pusaka muda juhari Ban ji deungo ayat Qur'an, muda bangsawan jibeudoh le Jitamong meusra dalam badan, seolahan sang hanale

  1. Wahé teungku payong hamba, nyo sibeunar ban kheun ini Tuhan neubloe nyawong hamba, ngon syeuruga neutuka sali 'Abdul Wahid se'öt nyoe ban, nyo bit meunan he boh haté Po geutanyoe Khaliqul Manan, sagai pihan ubah janji Samlakoe cut nyang meutuah, Insya Allah hé ya sayidi
  2. Nyawong areuta darah gapah, lön publoe sah jinoe keu Rabbi Nyawong areuta lön jö' bandum, lön tueng keu yum syeuruga tinggi 'Abdul Wahid sang teusinyom, be' lepah kheun he boh hate He raja cut bungong putéh, bè' dilèe gléh tameujanji Teulah dudoe bintang peuraséh, areuta habéh gata ka rudi
  3. Gata aneu' muda seudang, teungoh bimbang dönya ini 'Oh takheun nyan hé buleuen trang, sang-sang wayang niba' kami Haté kami meu' ulang-ulang, tan lom yakin hé boh hate Kamoe nyang tuha han meujeued meunan, gata nyang seudang habéh piké Seu'öt samlakoe nyang meutuah, jipeugah jipeudong syaksi
  4. Syaksi ulön Poteu Allah, Rasulullah panghulèe kami Teulhee ngon teungku payöng hamba, nyangkeu tiga lön peudong syaksi Han lön ubah ban nyang lön kata, han lön hawa donya ini Teulheueh jikheun nyan bintang timu, seumah teungku jaroe gaki

tertandingi Harta pun ada meskipun sekedar, sangat berkecukupan muda jauhari Peninggalan ayah bunda, terima pusaka muda jauhari Segera terdengar ayat Qur'an, muda bangsawan berbangkit segera AJunan ayat merasuk dalam badan, seolah-olah ia 'lah lupa diri

  1. Wahai tuan payung hamba, sungguh benar yang dikatakan ini Tuhan membeli nyawa hamba, dengan surga ditukar asli Abdul Wahid menjawab begini, sungguh demikian hai buah hati Tuhan kita Khaliqul Manan, sungguh takkan mengubah janji Lelaki pujaan yang bahagia, Insya Allah wahai sayidi
  2. Nyawa harta darah gapah, kujual sah kini ke Rabbi Nyawa harta semua kuberi, untuk harga surga tinggi Abdul Wahid seperti tersenyum, jangan terlanjur kata hai buah hati Hai tuan muda bak bunga putih, jangan dulu tuntas anda berjanji Menyesal kemudian bintang pujaan, harta habis anda rugi
  3. Anda anak muda remaja, sedang bimbang di dunia ini Ketika anda katakan hai bulan terang, seolah-olah main-main dari pihak kami Hati kami berulangkali, belum lagi yakin hai buah hati Kami yang tua tak berani demikian, anda yang muda pikirlah habis Jawab rupawan nan bahagia, berkata ia menunjuk saksi
  4. Saksi hamba adalah Allah, Rasulullah Penghulu kami Ketiga dengan tuan guru payung hamba, itulah tiga menjadi saksi Takkan hamba ubah yang telah terucapkan, takkan hamba inginkan dunia ini Seusai berkata sang bintang timur, disembahnya tuan guru jari

Jibeudoh Ie jitren laju, tahe teungku teukab bibi

  1. Jiwoe laju samlakoe jroh, tröih u rumoh buka peti Hatéteutap mutawajah, iköt suröh Tuhanku Rabbi Buka peutoe co' peukayan, muda bangsawan cit jipubi Saré cukop sileungkapan, salén rakan bandum sare Bloe ngon alat sikeulian, kuda kandran bloe ngon beude
  2. Bloe kupiah ngon syureuban, salen rakan dum beurangri Pue nyang hana alat rakan, muda bangsawan bandum jibri Habéh areuta sikeulian, bloe angkatan ja' prang kaphé Ji teubiet lé bungong peukan, sajan rakan dum beurangri Ureueng la'en seukalian, ba' uroe nyoe jadèh pergi
  3. 'Abdul Wahid ulama besar, sajan seureuta dum pergi Samlakoe cut jijak lanja, yakin raya hana sakri Tinggay di liköt dum sinaroe, muda samlakoe dilèe pergi Seureuta deungon rakan droe, ja' publoe droe ba' prang sabi Hingga tröih ba' saboh teumpat, piyöh si'at po juhari
  4. Tröih lé keunan bandum rakyat, Abdul Wahid ulama kabir Samlakoe cut jibeudoh laju, deungon teungku salam jibri Assalamu'alaikum warahmatuh, ka tröih teungku gurèe kami Alaikumu'ssalam warahmatullah, sijahtera ba' Allah hé boh haté Tröih ban janji hé meutuah, Alhamdulillah that meusampé
  5. Teulheueh nyan geu due' dum neupiyoh, 'oh thö reu'öh geupeureugi

dan kaki Bangkit ia segera bcrlalu, heran guru bibir terkunci

  1. Pulang segera lelaki bcrbudi, sampai ke rumah membuka peti Hati tctap ingat kepada Allah, mengikut perintah Tuhanku Rabbi Buka peti mengambil pakaian, muda bangsawan membiarkan diri Cukup lcngkap segala sesuatu, untuk rekan semua sekali Beli dengan semua alat-alat, kendaraan kuda bedil dibeli
  2. Beli kupiah dengan scrban, kepada semua itu rekan diberi Apa yang tak dipunyai rekan, oleh muda bangsawan semua diberi Habislah semua harta, untuk perang kafir senjata dibeli Tampillah ia muda jauhari, bersama rekan semua sekali Orang-orang yang lain pula, jadi pergi pada hari ini
  3. Abdul Wahid ulama besar, turut bersama semuanya pergi Priya pujaan langsung berangkat, tiada tara yakin sekali Tinggal di belakang orang semua, lelaki pujaan lebih dulu pergi Dengan rekan-rekannya bersama-sama, untuk perang sabil pergi berbakti Hingga sampai pada suatu tempat, berhenti sebentar sang jauhari
  4. Sampailah ke situ semua rakyat, bersama ulama besar Abdul Wahid Beiia tampan segera bangkit, pada tuan guru salam diberi Assaiamualaikum warahmatullah, telah sampai tuan guru kami Alaikumussalam warahmatullah, sejahtera pada Allah hai buah hati Sesuai janji wahai yang berbahagia, Alhamdulillah sungguh terjadi
  5. Setelah itu duduk beristirahat, seusai kering keringat mereka pergi SASTRA PERAN G - 5 5

Yakin haté bandum sunggöh, ja' u ji'öh ba' prang sabi Malam geu éh uroe musafé, sipanyang be geupeuregi Samlakoe cut nyang meujaga, gubeue areuta bè' gob curi Hingga meunan beurangkajan, sampoe jalan geupeuregi

  1. Samlakoe jroh cré ngon kawan, dilèe jalan po juhari Nyangna sajan meung rakan droe, la'én sidroe tinggay sari Na keujikoh ja' si'uroe, 'ohnan ka toe saf prang sabi Tröih ba' saboh perhentian, piyöh sinan po juhari Hingga teungeut sinan pansan, ji due' rakan kanan kiri
  2. Taqdir Allah Po lön sidroe, ateueh samlakoe haté nyang suci Dalam pansan teungeut laloe, lam-lam lumpoe syeuruga tinggi Habéh jikalon sikeulian, ni'mat Tuhan 'ajib sikali Padum-padum lazat pansan, jikalon intan ateueh keurusi 'Ainal Mardiah jikheun nyoe ban, ba' bangsawan bungong pudi
  3. Neupeujeued lön Allah Ta'ala, bulueng gata cit Tuhan bri Habéh wasiet dum ba' pansan, bungong raihan cit jaga le Jibeudoh due' raja meutuah, jihei Allah Rabbul Jalil Wa asyuqu ila Ain al-Mardiyyati, nyan dibabah ie mata ilé Abdul Wahid ka tröih keunan, sikeulian ra'yat saré
  4. Neu marit lé ba' budiman, pakon meunan hé boh haté Pue beu ma'na 'Ainal Mardiah, ie mata boh-bah takheun sabe Pakon meunan aneu' meutuah, si'ulah-ulah akay hana le Ban jideungo muda bahlia, kheun syaikhuna sijue' hate Ba' teungku jitangah muka, peugah bentara uba' kami

Semua bersungguh yakin di hati, pergi jauh berperang sabil Malam tidur siang musafir, sepanjang jalan mereka pergi Pemuda tampan yang berjaga, mengawal harta jangan orang curi Hingga demikianlah berterusan, menerusi jalan mereka pergi

  1. Pemuda pujaan berpisah dengan kawan, dahulu berjalan sang jauhari Yang bersama hanya rekan sendiri, lain seorang tinggal sari Adalah sejauh jalan sehari, hampir sampai ke saf perang sabil Sampai pada suatu perhentian, berhenti sebentar sang jauhari Hingga tertidur lelap di situ, duduklah rekan di kanan-kiri
  2. Takdir Allah Tuhan hamba, kepada lelaki tampan berhati suci Dalam tertidur sangat pulas, termimpi ia surga tinggi Habis semua dilihatnya, nikmat Tuhan ajaib sekali Dalam kelazatan tidur nyenyak, dilihatnya intan di atas kursi Ainal Mardiah berkata demikian, kepada bangsawan bunga manikam
  3. Diciptakan hamba oleh Allah, untuk anda memang Tuhan beri Habis semua wasiat dalam tidur, pemuda rupawan terbangun lagi Bangkit duduk raja bahagia, dipanggilnya Allah Rabbul Jaiil, itulah ucapan sambil air mata mengalir Abdul Wahid sampai ke situ, semua rakyat ikut menyertai
  4. Berkata beliau pada budiman, mengapa demikian wahai buah hati Seberapa besar makna Ainal Mardiah, terus diucapkan dengan air mata berderai Mengapa demikian ananda yang bahagia, seolah-olah akal tak ada lagi Begitu didengar muda belia, kata-kata tuan syaikh menyejuk- kan hati Kepada tuan guru dihadapkannya muka, katakan bintara kepada kami

  5. Pa kon ta moe bijèh mata, peugah béhtara u ba' kamoe Seu'ot samlakoe muda bahlia, ya syaikhuna ulón kheun kri Teungeut ulön bunoe pansan, leumah lön kalon syeuruga tinggi Hanjeued lön peugah keulakuan, wahe Tuhan neutueng kami Nyan jipeugah ngon ie mata, srej ba' dada meugulé-gulé

  6. Tueng ibarat hé syèedara, bè' sya' sangka ba' prang sabi 'Abdul Wahid neukheun nyoe ban, peugah intan uba' kami Lon meung deungo keulakuan, penulang Tuhan soe prang kaphé Lom pi na jeued keu 'ibarat, adé' sahbat dum beurangri Mangat jitém prang musöh Hadarat, bè' syubhat dalam' hate
  7. Teuma jipeugah bintang timu, na nyeum hé teungku lön peureugi Taloe binèh krueng lon ja' laju, qandé that hu dum meuriti Qandé meugantung kon ngon taloe meugantung keudroe karunia Rabbi Batèe ba' panté intan pudoe, Tuhan sidroe nyang keutahui Ie krueng heunèng manèh rasa, Krueng Kalkautsar nan geurasi
  8. Jeb siteugö' la'én rasa, Tuhan kaya la'én neubri Reulueng ji meuih bandua blah, jeumeureulah hu sang hari Hé teungku hanjeued lön peugah, sidroe Allah nyang keutahui Taloe binèh krueng bandum khiyam, meulabang meuih heya sayidi Di dalam nyan hanjeued lön peugah, peuneujeued Allah budiadari
  9. Jitreun lam krueng dum ja' manoe, rupa sambinoe miseue qandé Jimeusya'ir jimeunyanyi, dalam sungai Kalkautsari Ba' sintèe o' sawa' ija, intan meutia hu muble'-ble Umu santeut dum geujangka, muda-muda nyang sirungkhi Rupa jroh that bukan bubarang, hanjeued lon pandang he ya

245 Mengapa menangis biji mataku, katakan bintara kepada kami Jawab pemuda muda belia, ya syaikh ceritanya begini Hamba tadi tertidur pulas, tampak kulihat surga nan tinggi Tak dapat kulukiskan keadaan, wahai Tuhan terimalah kami Itulah ucapan dengan air mata, menitik di dada bertubi-tubi

  1. Ambillah ibarat wahai saudara, jangan syak wasangka pada perang sabil Abdul Wahid berkata begini, katakan hai intan kepada kami 'kan kudengar bagaimana halnya, bagi yang perang kafir im- balan Tuhan beri Lagi pula menjadi ibarat, adik dan sahabat semua sekali Agar mau melawan musuh Tuhan, jangan sangsi di dalam hati
  2. Kemudian berkata bintang timur, terasa benar hamba hendak pergi Sepanjang pinggir sungai segera kulalui, kandil menyala ber- jajar asri Kandil bèrgantung tanpa tali, tergantung sendiri kurnia Rabbi Batu di pantai intan pudi, Tuhan sendiri Yang Maha Me- ngetahui Air sungai jernih rasanya manis, Sungai Kalkausar itu dinamai
  3. Minum seteguk rasanya lain, demikianlah lain Tuhan yang beri Tebingnya emas kedua belah, bercahaya-cahaya di siang hari Wahai tuan tak dapat kukisah, Allah sendiri yang ketahui Sepanjang pinggir sungai semua, berpaku emas wahai sayidi Di dalamnya tak dapat kukisah, ciptaan Allah bidadari
  4. Turun ke sungai semuanya mandi, indah rupawan semisal kandil Mereka bermadah mereka menyanyi, di dalam Sungai Kalkausari Di ujung rambut selendang disandang, intan mutiara kemilau sekali Umur sama seperti yang disangka, muda-muda sama scbaya Rupanya cantik bukan sembarang, tak sanggup kupandang

sayidi

  1. Cahaya muka lang gumilang, sang buleuen trang peuet hari Ulön ja' dibinèh sungai, jingieng kamoe bungong pudi 'Oh meuhadap muka keunoe, nyawong lön nyoe sang hanalé Meulayang nyawong ngon aruah, meunan ulah hé ya sayidi Teutapi habéh hanjeued lön peugah, mela'énkan Allah nyang keutahui
  2. Jingieng ba' lön jikheun meunoe, ka tröih keunoe judö cut ti Ka tröih judö po sambinoe, ba' geutanyoe neupeureugi Meunan jikheun wahé teungku, mangat that su miseue bangsi Dalam teungeut lön ja' laju, sang hé teungku kon ngon gaki Hingga tröih ba' teupin la'én, krueng ie abin Tuhan rasi
  3. Lön ngieng keunan makén meusyén bintang candén dum ji mandi Jingieng ba' lön po sambinoe, misee bunoe lom jikheun kri Ka tröih judö cut geutanyoe, nyang sambinoe lam krueng sabé Ban lön deungo meunan jikheun, tahe hireuen lön ya sayidi Lon ngiengrupa miseu buleuen, Pue roe ta kheun wahé nyak ti
  4. Teungku ampön syahi 'alam, pocut deundam lam meuligi Manyoh meucén rindu deundam, uroe malam prèh suami Teungku langkah u hadapan, po cut intan lam keurusi Kamoe bandum sikeulian, hé tuanku na ngon cut ti Teuma lön ja' laju keunan, meurumpok sinan lom krueng suci
  5. Krueng Ie Unoe Tuhan boh nan, lön eu sinan budiadari Hé'teungku hanjeued lön peugah, kaya Allah Tuhanku Rabbi Hantom jingieng mata dua blah, hantom meusanggah niba' haté

wahai sayidi

  1. Cahaya mukanya gilang-gemilang, ibarat bulan empat belas hari Hamba berjalan di pinggir sungai, bunga pujaan melihat kami Ketika wajahnya dihadapkan ke sini, nyawa hamba terasa pergi Melayang nyawa bersama arwah, demikianlah ulah wahai sayidi Tetapi semua tak sanggup kuperi, melainkan Allah yang ketahui
  2. Sambil menoleh ia berkata begini, 'lah sampai jodohku kemari Telah tiba jodoh sang istri, datang ia kehadapan kami Demikian ia berucap wahai insan, suaranya merdu bak buluh perindu Dalam tidur hamba terus berjalan, rasanya bukan dengan kaki Hingga sampai pada lain tepian, Sungai Abin Tuhan namai
  3. Kulihat ke sana bintang pujaan, semua mereka bermandi- mandi Wanita jelita memandang hamba, seperti tadi berkata lagi Telah sampai jodoh putri kita, yang jelita 'nantiasa di sungai mandi Begitu kudengar ia berucap, heran sangat hamba ya sayidi Kutatap rupanya bak bulan purnama, apa 'ndak dikata wahai saudari
  4. Tuan hamba yang dihormati, putri bangsawan di dalam puri Dalam keadaan rindu dendam, siang-malam menanti suami Tuan melangkah ke hadapan, Tuan Putri duduk di kursi Kami semuanya ini, ya tuanku semua bidadari Kemudian hamba menuju ke situ, bertemu di situ sungai suci lagi
  5. Sungai madu milik Rabbi, kulihat di situ bidadari Wahai tuan tak sanggup kuperikan, Allah kaya Tuhanku Rabbi Tak pernah melihat dengan kedua belah mata, tak pernah

Wahé teungku guree kamoe, mumada 'oh noe lön peugah kri 'Oh lön eu nyan tuwo nyang nyoe, rindu kamoe hé ya sayidi

  1. Han é' theun lé haté kamoe, sang 'alam nyoe ka hana lé Ulön teukheun teuma meunoe, salam kamoe keu sinya' ti Assalamu'alaikum ya khairati ahlan, judö lön na disini 'Ainal Mardiah na disinan, lam kawan nyan wahé nyak ti Ji seu'öt lé pirah huqam, suara lageuemam suling bangsi
  2. Marhaban 'alaikumussalam, dèelat mukarram datang keumari Ateueh lön jipandang mata, seureuta jipuji kami Meusyen lön that keumeukuta, prèh-prèh teuka malam hari Manyoh deundam po cut kamoe, prêh tröih keunoe payöng neugri Nyang baroe kon lon ngo bunyoe, ba' uroe nyoe ka teujali
  3. Alhamdulillah ni'mat that leu, ka woe judö po cut siti Pocut geutanyoe ka woe linto, dara barö ateueh keurusi Neuja' laju po junjöngan, pocut intan lam meuligi Kamoe nyoe bandum kunangan, bè'lé hireuen tanglong nanggri Kamoe bandum khadam putroe, nyang sambinoe judö döli
  4. Pocut jroh that niba' kamoe, beudoh ja' woe bè' hireun lé Ban lön dengo narit meunan, lön ja' yohnyan lön peureugi Lom ngon malèe lön hanaban, narit intan budiadari Lön ja' sinan lom hé teungku, hate'rindu hana sakri Meurumpok lom bri Tuhanku, krueng ie madu manèh han sakri

pula menyanggah di hati Wahai tuan guru kami, sampai di sini yang dapat hamba kabari Ketika saya lihat yang itu lupa yang ini, rindu kami wahai sayidi

  1. Tak tahan lagi hati kami, serasa alam ini tak ada lagi Lalu oleh hamba terucap begini, salam kami kepada sang putri Assalamu'alaikum jodoh hamba ada di sini Ainal Mardiah ada di situ, dalam kumpulan itu wahai putri Dijawab oleh sang bidadari, suaranya indah bak suling ber- bunyi
  2. Ya kekasih alaikumussalam, daulat yang mulia datang kemari Matanya tertuju kepada hamba, pujiannya serta kepada kami Rinduku sangat kepada tuan, menunggu-nunggu datang di malam hari rindu dendam tuan putri kami, tunggu sampai kemari payung negeri Yang dahulu kudengar berita, pada hari ini telah terjadi
  3. Alhamdulillah berlimpah nikmat, telah pulang jodoh sang putri Datang sudah pengantin lelaki, pengantin putri menanti di kursi Jalanlah terus tuan yang dihormati, ke dalam ïstana tuan putri Semua kami berkilau-kilau, janganlah heran pelita negeri Kami semua mengabdi putri, putri yang menjadi jodoh duli
  4. Putri yang lebih cantik daripada kami, bangkit pulang jangan heran lagi Begitu kudengar katanya demikian, berangkatlah hamba Iangsung pergi Malu hamba tiada terkira, mendengar ucapan sang bidadari Hamba jalan di situ wahai tuan, hati rindu tiada terperi Mendapatkan pula pemberian Tuhan, sungai madu manis sekali

  5. 'Oh tröih keunan lön ja' laju, lön dengo su budiadari Hanjeued ja' lé meusigeutu, wahé teungku mupalét gaki Nyawong ulon lam anggèeta, goh-ku rasa sa ji bunyi Ji teubiet sajan suara, meunan rasa héya sayidi Ji meusya'i ji meunyanyi, po sambinoe teungoh mandi

  6. Han tatukri peugah bunyi, Po teu sidroe nyang keutahui Muka ji hu lang geumilang, hanjeued pandang héya sayidi Lön bri saleuem teuma rijang, dum buleuen trang teungoh mandi Assalamu'alaikum ya khairatun nisa, judö hamba na disini 'Ainal Mardiah sambinoe rupa, dumna dia sikarang ini
  7. 'Alaikumussalam ya waliyullah, ka tröih langkah datang keumari Woe ba'judö 'Ainal Mardiah, peunulang Allah bulueng prang sabi That meutuah mubahgia, hé meukuta meunyo that kami Ja' eu judö lam syeuruga, yum areuta ba' prang sabi Wahé teungku nyak meutuah, teungku langkah sidikit lagi
  8. U hadapan teungku langkah, dalam khimah pocut kami Kamoe nyoe bandum dendayang, khadam buleuen trang judö doli He tuanku neuja' rijang, be' lé bimbang deungon kami Meunan jikheun po jroh rupa, lön ja' lanja lön peureugi Suara mangat hana tara, sang biula gampöng Farisi
  9. Taloe binèh krueng dum meuhatö, putéh hijö syeuruga tinggi Manyang pithat he'teungku e, tahe gante hilang budi Di teungoh lom geu peugèt jalan, kiri kanan syeuruga tinggi Geuturab meuih batèe intan, kaya Tuhan han tök piké

  10. Sesampai di situ hamba terus pergi, terdengar suara sang bidadari Sedikit pun tak dapat berjalan, wahai tuan terikat kaki Nyawa hamba dalam anggota, terdengar suara serasa berbunyi Terkeluar bersama suara, demikianlah rasa wahai sayidi Dia bersyair dia menyanyi, ketika permaisuri sedang mandi

  11. Tidak terperi indah suara, hanya Allah yang mengetahui Gilang-gemilang mukanya berseri, tak sanggup dipandang wahai sayidi Hamba beri salam segera, seperti bulan purnama sedang mandi Assalamu'alaikum wahai kebajikan, jodoh hamba ada di sini Ainal Mardiah wanita rupawan, demikianlah dia sekarang ini
  12. Alaikumussalam wahai waliullah, sampai langkah datang kemari Pulang kepada jodoh Ainal Mardiah, pemberian Allah hadiah perang sabil Sangat bertuah berbahagia, wahai mahkota rindu sekali kami Melihat jodoh di dalam surga, harga harta dari perang sabil Wahai tuanku belia bertuah, tuan melangkah sedikit lagi
  13. Ke depan tuan melangkah, dalam kemah ratu kami Kami semua dayang-dayang, mengabdi rembulan jodoh tuanku Wahai tuanku berjalanlah segera, jangan lagi bimbang ter- hadap kami Demikian dikatakan sang indah rupawan, hamba langsung berjalan pergi Suaranya indah tiada tandingan, seperti biola Parsi-Parsi sedang berbunyi
  14. Teratur sepanjang pinggir sungai, putih hijau surga tinggi Memang tinggi sungguh wahai tuan, termangu-mangu hamba budi Lagi di tengah dibuat jalan, kiri dan kanan surga tinggi Diturap emas batu intan, kaya Tuhan.tiada terperi

Lön ja' laju taloe jalan, lazat badan jaroe gaki

  1. 'Oh ji eu lön sikeulian, gala' hanban budiadari Ji meututö sabé keudroe, ka woe lakoe pocut siti Meutuah that po samlakoe, geupubloe droe ba' prang sabi Lön ja' laju u hadapan, meurumpo' sinan lom krueng suci Krueng Ie Mameh Tuhan böh nan, soe nyang jéb nyan dahaga han le
  2. Budiadari muda-muda, po jroh rupa dum jimandi Ngon nyang ka Iheueh lön eu rupa, siplöh ganda leubeh ini Ya Allah 'Azizul Ghaffar, hana daya hamba ini Ulön peugah meung sikada, ba' syaikhuna payöng kami Hanjeued lön peugah haba syeuruga, Allah Ta'ala nyang lön keutahui
  3. Nyangna tuah ngon bahgia, cit jirasa ni'mat ini Teuma teulheueh nyan hé teungku droe, saleuem kamoe lom keu cut ti Lom ji seu'öt po sambinoe miseue bunoe héya sayidi Teungku ampön ka troih neuwoe, lön teugoe-goe ateueh keurusi Manyoh meusyen geunap uroe, lam teugoe-goe keu suami
  4. Lhèe boh teupin tröt neujali, tröih ba' intan nyang juhari Kamoe nyoe dum sikeulian, kunangan tuan judö döli Alhamdulillah ni'mat that le, ulon syukö hé ya Rabbi Ka tröih neuwoe lintö barö, uba'judö pocut kami Neuja' laju tuanku e, bë' lé tahe uba' kami
  5. Cit ba' khimah nyang meulu-meulu sinan judö ateueh keurusi Cit rot teupat ateueh jalan, pudoe intan dum keutiti Ba' buböng meuih tampöng intan, nyankeu tuan khimah cut ti Hingga meunan sikeulian, ji eu lön tuan suka hati Alhamdulillah that sukaan, ka tröih sultan meu'èn kami

Hamba berjalan terus sepanjang jalan, nikmat di badan tangan dan kaki

  1. Ketika semua melihat hamba, sukacita sungguh para bidadari Mereka berkata antarsesama, telah pulang suami sang putri Bertuah sekali sang suami, menjual diri pada perang sabil Hamba melangkah terus ke depan, bertemu lagi di situ sungai suci Sungai air manis Tuhan beri nama, siapa meminumnya tak dahaga lagi
  2. Bidadari muda-muda, indah rupawan lagi mandi Yang telah pernah kulihat rupa, sepuluh kali lebih yang ini Ya Allah Yang Mahamulia, tiadalah daya hamba ini Hamba sampaikan hanya sekadar, kepada tuan hamba payung kami Tak dapat kurawikan kabar surga, Allah Ta'ala yang me- ngetahui
  3. Yang ada tuah dan bahagia, memang akan dirasanya nikmat ini Lalu setelah itu wahai tuan, salam kami kepada tuan putri i Lalu dijawab oleh sang istri, seperti tadi wahai sayidi Tuan hamba telah pulang, hamba terkagum4cagum di atas kursi Rindu kasih setiap hari, dalam ingatan terhadap suami
  4. Melalui tepian jalur sungai, terus ke tempat intan jauhari Adalah semuanya kami ini, pelayan jodoh tuanku tuan putri Alhamdulillah nikmat sekali, hamba bersyukur wahai Rabbi Telah kembali pengantin baru, kepada jodoh putri kami Berjalanlah terus hai tuanku, jangan tertegun melihat kami
  5. Memang di kemah bunga melati, di sana jodoh di atas kursi Memang tepat arah di atas jalan, mutiara dan intan menjadi titi Seperti atap emas bertampung intan, itulah kemah tuan putri Hingga demikianlah adanya, dilihatnya hamba suka dihati Alhamdulillah sangat sukacita, telah datang Sultan kekasih

  6. Meuribèe-ribee dum pujian, 'oh ji eu lon budiadari Padum-padum lazat pansan, ba' beujalan he ya sayidi Ulon kalon perhiasan Tuhan, dalam peukan meuribee bahgi Keude nyan kon perjualan, meu'en sukaan geunap hari Peukayan jroh dum ba' badan, pudoe intan jaroe gaki

  7. Nyang tan iköt suröh Tuhan 'oh tröih keunan putöh isi Ba' uroe nyoe ta thèe rugoe seusai dudoe hana sakri Keupue jeued lom ta poh-poh droe yöh lam nanggroe tan paduli Nyankeu uroe keusudahan meuteumèe rakan dum beurangri Nyang iköt suröh Tuhan, teukui yöhnyan ngieng ba' gaki
  8. Malèe teuthat keutèwasan, deungon rakan dum beurangri Nyangna iköt suruh Tuhan, that sukaan gala' haté Po bri ija halöh licin, nan sundusin Tuhan rasi Dan lom lagèe ïtibraq, haloh licén peunulang Rabbi Wahe teungku adé' abang, riwang ba' prang bè' lalè le
  9. Tueng ibarat muda seudang, publoe nyawong ba' prang sabi Lön riwang lom haba bunoe, po samlakoe nyang juhari Ji meututö sira jimoe, meutaloe ie mata ile He teungku hanjeued lön peugah, hanya Allah nyang keutahui Hingga lön ja' laju leupaih, bunoe peuneugah cut juhari
  10. Ulön teubiet ulua peukan, seutoj jalan intan pudi Habéh lon eu dum ba'jalan, ni'mat Tuhan hanjeued kheun kri Troih ulua keudè indah, lön eu khimah peuneujeued Rabbi Tampong intan hu meujeureulah, hireuen dhasyah heya sayidi Geupeudab buböng ngon meuih meuntah, kaya Allah Tuhanku Rabbi

kami

  1. Beribu-ribu jumlah pujian, ketika bamba terlihat oleh bidadari Beberapa waktu merasa nikmat, waktu berjalan wahai sayidi Hamba lihat pertunjukan Tuhan, dalam pasar beribu ragam Bukanlah itu kedai yang berjualan, tetapi orang bersuka- sukaan setiap hari Pakaian indah dipakai di badan, perhiasan intan di tangan dan kaki
  2. Yang tidak ikut perintah Tuhan, sampai ke situ putus isi Pada hari ini anda tahu rugi, sesal kemudian tiada terpermanai Apa guna lagi memukul-mukul diri, ketika di negeri tiada peduli Begitulah pada hari nanti, dengan berbagai rekan bertemu kembali Yang mengikut suruhan Tuhan, tunduk waktu itu melihat ke kaki
  3. Sangat malu kekalahan, dengan rekan yang mana saja Yang mengikut perintah Tuhan, sangat suka senang di hati Allah beri kain yang indah, sutera hijau Tuhan namai Dan lagi seperti kilauan, yang indah hadiah Rabbi Wahai tuan adik dan abang, kembali berperang jangan lalai lagi
  4. Ambillah ibarat muda belia, menjual nyawa dalam perang sabil Hamba kembali ke kabar tadi, pada sang suami yang jauhari Ia berkata sambil menangis, berterusan air mata mengalir Wahai tuan tak sanggup kuceritakan, hanya Allah yang me- ngetahui Hingga hamba terus melangkah, cerita yang tadi wahai jauhari
  5. Hamba menuju ke luar pasar, mengikuti jalan intan permata Habis hamba lihat semua di jalan, nikmat Tuhan tak terperi Sampai ke luar kedai indah, kulihat kemah ciptaan Rabbi Tampung intan bersinar cemerlang, sangat menakjubkan wahai sayidi Atap dibuat dari mas murni, Allah kaya Tuhanku Rabbi

  6. Tangieng ji'Öh kunèng mirah, si'ulah-ulah matahari Ba' tingkab ceureumen intan, cahaya le ban Tuhan neubri Hanjeued teungku lön peugah ban, sidroe Tuhan nyang keutahui Pageue kuta sangat 'ajib, geu turab intan ngon pudi Keunan laju ulön peurab, rindu lön that dalam hati

  7. Leupaih laju ulön tamong, lön ngieng bungong jroh meuriti Kebon jroh that hanpue tanyong, sigala bungong na disini Tanoh geuturab batèe meuhato, yaqut nyang hijö dum keunari Hanjeued tadong tahe gante, hai teungku lupakan diri Lon eu qande lingkar istana, tameh hana niba' bumi
  8. Takheun meugantung taloe hana, limpah karönya Tuhanku Rabbi Ba' binteh geuböh ceureumen, teumpat ramien cut juhari Pakri ban meung tulak angèn, tahe ingin hilang budi Tamèh rumoh bandum meucat, meusurat kalimah Rabbi Dengan ie meuih nyan keu da'wat, Rabbul 'Izzat sangat rani
  9. Ba' pha reunyeun dum kalimah, meutatah ngon cawareudi Hijö biru putéh mirah, hireuen dahsyah héya sayidi Hanjeued lön peugah keulakuan, ba' khimah nyan peuneujeued Rabbi Mangat tuböh lazat badan, 'oh ta eu nyan hilang budi Sigala na dum di jalan, tan soe wazan khimah cut ti
  10. Meungka lön eu sikeulian, lebèh that ban héya sayidi Hanjeued teungku le lon peugah, kaya Allah Tuhanku Rabbi Meulayang nyawong arwah, meunan ulah he ya syaikhi Perhiasan le meuribèe bagoe, mangat bunyi hana sakri Ji meusya'i ji meunyanyi, déndayang putroe cut juhari
  11. Ba' balè meuih pudoe intan, peunoh sinan budiadari

  12. Tampak dari jauh kuning merah, seolah-olah matahari Pada jendcla ccrmin intan, cahaya beragam Tuhan memberi Tak sanggup tuan hamba perikan, hanya Tuhan sendiri yang mengetahui Pagar istana sangat ajaib, intan diturap dengan patri Ke sana terus hamba mendekat, rindu sangat di dalam hati

  13. Lalu hamba terus ke dalam, melihat bunga indah tertata asri Taman permai tak usah tanya, segala bunga ada di sini Tanah diturap batu diatur, pcrmata yakut yang hijau seperti kcnari Tak sanggup berdiri terheran-heran, hai tuan terlupakan diri Kulihat kandil kcliling istana, tiangnya tak sama seperti di bumi
  14. Dikatakan tergantung tak ada tali, limpah karunia Tuhanku Rabbi Di dinding di beri cermin, tempat bersolek putri jauhari Seperti halnya penangkal angin, walau dilanda tiada berge- ming Tiang rumah semuanya bercat, tersurat di sana kalimah Rabbi Dengan air emas sebagai dawat, sangatlah kaya Rabbul 'Izzati 405 D i pangkal tangga dua kalimah, ditatah dengan indah sekali Hijau biru putih merah, heran mengagumkan wahai sayidi Tidaklah sanggup kulukiskan, perihal kemah ciptaan Rabbi Nyaman di tubuh lezat di badan, melihat yang demikian hilang budi Segala apa yang ada di jalan, tiada sepadan dengan kemah putri
  15. Telah semuanya hamba lihat, itulah yang berlebih wahai sayidi Tak sanggup lagi hamba kisahkan, Allah kaya Tuhanku Rabbi Melayang nyawa dan arwah, demikianlah ulah wahai syaikhi Pertunjukkan banyak berbagai macam, bunyi sedap tiada ter- peri

    Dia bersyairdia bernyanyi, dayang-dayang putri jauhari

  16. D i balai emas pcrmata intan, pernah di sana bidadari SASTRA PERANG - 6 7

Lalè teungoh meusuka'an, déndayang intan lam keurusi Ulön tahe hireuen laloe, iumpöh asoe sigala sendi Ban jingieng lön po sambinoe, jikheun meunoe hé ya sayidi Alhamdulillah ni'mat datang bang, ampön jeunulang datang keumari

  1. Ji é' lajur teuma rijang, ba' buleuen trang jija' kheun kri Ampon po cut bungong kundo, ka woe judo nyang juhari Jéh pat dilön lintö barö, keunoe ta hei ba' meuligi Ban jideungo haba dendayang, putroe seudang pujoe Rabbi Ji beudoh lé cut buleuen trang, ngieng jeunulang dileuen meuligi
  2. Ji lob tingkab ceureumen intan. ji ngieng lön tuan ji seutot lé Lön ka layöh lazat pansan, lön ngo intan pujoe Rabbi Hé Tuhanku Po lön Tuhan, sempurna'an neupumeuri Judö ulön syahi 'alam, dèelat mukarram sudah keumbali Lön that meusyen uroe malam, rindu deundam keu suami
  3. Ka tröih neuwoe bungong jeumpa, karönya Gata hé ya Rabbi Lom ji meuhey po jroh rupa, hé meukuta meu'èn kami Wahé teungku nyawong badan, bè' lé sinan bintang pari Meusyén lon that hana padan, keu bangsawan malam hari Teungku langkah keunoe leugat, ba' teumpat ateueh keurusi
  4. Teungku ampön tröih ban hajat, yum meuneukat ba' prang sabi Meunan jikheun putéh lumat, suara mangat teurasa bangsi

Sedang asyik bersuka-sukaan, dayang-dayang intan di atas kursi Hamba terperangah heran termangu, rasanya lumpuh segala scndi Ketika hamba dilihat sang putri, demikian katanya wahai sayidi Alhamdulillah nikmat 'lah datang, tuanku pujaan datang kemari

  1. Naiklah ia dengan.segera, pada bulan purnama ia berkata Ampun tuanku bunga pujaan, 'lah pulang jodoh yang jauhari Itulah dia pengantin baruku, panggillah ia ke istana ini Bcgitu didcngar oleh dayang-dayang, putri jelita memuji Rabbi Bangkitlah ia dara puspita, melihat pujaan di depan istana
  2. Dibukanya jendela cermin intan, dilihatnya hamba lalu diikutinya Hamba lemas lazat nikmat, mendcngar intan memuji Rabbi Wahai Tuhanku yang Mahakuasa, telah Engkau perlihatkan dengan sempurna Jodoh hamba tuanku junjungan, daulat yang mulia telah kem- bali Siangdan malam amat hamba rindukan, rindu dendam kepada suami
  3. Telah pulang kusuma pujaan, karunia-Mu wahai Rabbi Dipanggil hamba oleh putri rupawan, wahai mahkota kekasih kami Wahai tuan nyawa badan, janganlah di situ bintang pujaan Rinduku sangat tiada tertahankan, kepada bangsawan di malam hari Tuan mendekatlah segera kemari, pada tempat di atas kursi
  4. Tuan yang mulia tercapai yang diinginkan, kaya berjualan pada perang sabil Demikianlah kata sang putih jelita, suaranya nikmat bak buluh perindu

Keuluar roh ngon seumangat, ji seutot lezat suara cut ti Sigala anggèeta teukemang-kemang, cicém teureubang piyoh beurheunti Bintang di langèt beuhamböran, meudeungo ban mangat bunyi

  1. Nyawong ulön lam anggèeta, ka keulua uba' cut ti Ji seutot sambinoe rupa, meunan rasa hé ya sayidi Hingga puléh lön ba' rindu, lön deungo su bintang pari Ji meuhey lom bintang timu, meunoe laku lageuem bunyi Wahé nyawong nyang meutuah, publoe keu Allah ba' prang sabi
  2. Beutröih keunoe laju langkah, ba' zawjah ateueh keurusi Be' na malèe hé samlakoe, meuligoe droe peunulang Rabbi Baday payah dalam nangroe, yum nyawong droe ba' prang sabi Meunan jikheun putéh lumat, roh seumangat pulang kembali Beudoh laju lon ék leugat, manyoh lazat sigala sendi
  3. Lön e' laju leupaih pintö, ulön tahe teukab bibi Deungon ie meuih dum geulabö, geusundö ngon cawareudi Ulön tamong laju leupaih, hu meujereulah kanan kiri Pudoe intan dum meutatah, kaya Allah Tuhanku Rabbi Huurul 'ainin dum muda-muda, dong mubanja dum meuriti
  4. Ba' ulön han pueh mata, cahaya muka tamsél hari Peukayan hu dum ba' badan, pudoe intan jaroe gaki Meuribèe pue meung bèe-bèe wan, karönya Tuhan Po lön Rabbi

Keluarlah roh dengan semangat, mengikuti lezat suara sang putri-Segala anggota terkembang-kembang, burung terbang tengger berhenti Bintang di langit berhamburan, mendengar suara indah ber- bunyi

  1. Nyawa hamba dalam anggota, telah keluar menuju sang putri Diikutinya putri jelita, demikianlah rasanya wahai sayidi Hingga terobat rindu hamba, terdengar suara bintang pujaan Dipanggilnya hamba bintang timur, begini sikapnya sambil berkata Wahai nyawa yang bertuah, menjual kepada Allah pada perang sabil
  2. Sampailah kemari segera melangkah, kepada istri di atas kursi Janganlah malu wahai suami pujaan, istana tuan ini pemberian Rabbi Sebagai pengganti pengorbanan di negeri, harga nyawa tuan dalam perang sabil Demikian kata putri rupawan, roh semangat pulang kembali Bangkit hamba naik segera, rindu lezat segala sendi
  3. Hamba terus naik melalui pintu, tercengang hamba bibir ter-Dengan air emas semua dicelup, dihiasi pula dengan cawardi Hamba masuk terus lcwat, merah menyala kanan dan kiri Intan pcrmata semua tersusun, kekayaan Allah Tuhanku Rabbi Bidadari Nurul Aini muda-muda, semua teratur berjajar ber- diri
  4. Tak puas-puas hamba memandang cahaya mukanya seperti siang hari Pakaian berkilauan semua di badan, intan berlian di tangan dan kaki Beribu macam wangi-wangian. kurnia Tuhanku Rabh'

Jikheun ba' lon putéh lumat, hé dèelat meukuta nangri Teungku langkah laju leugat, ba' teumpat ateueh keurusi

  1. Teuma lön tamong laju lepah, peuratah intan ngon pudi Tröih ba' nyang meutatah, hireuen dahsyah lön ya sayidi 'Ainal Mardiah putroe sambinoe, jipreh lön nyoe dong beur- heunti 'Ohban leumah ji eu kamoe, jikheun meunoe bintang pari Alhamdulillah tröih ban hajat, wahé dèelat nyawong kami
  2. Tuanku tamong keunoe leugat, ja' due' sapat ateueh keurusi 'Ainal Mardiah teulheueh jikheun nyanjimat tangan lön ya sayidi Jicöm jaroe lön putroe intan, lazat badan sigala sendi Ji peudue' lön putroe 'ajam, ba' tilam intan ngon pudi Mirah hijö putéh hitam, khaliqul 'alam empunya ini
  3. Tika éh meuih dum meuhimpön, bantay susön kanan kiri Permandani meu'alön-alön, sang bakat treun dibinèh pasi Tika licin sireuk lalat, hana dapat jeued peureugi Leumie' tuböh lazat, Rabbul 'Izzat nyang pumeuri Hantom lön eu sigala nanggroe, sibagoe nyoe hé ya sayidi
  4. 'Ainal Mardiah that sambinoe. yub langèt nyoe tan seunabé Hanjeued tantang uba' muka, layoh mata lazat beureuhi Hanjeued peugah sifat anggèeta. Rabbul A'la nyang keutahui Peukayansuyö'uba'badan, pudoe intan jaroe gaki Hanjeued teungku lön peugah ban, keubeusaran Tuhanku Rabbi
  5. Tirè keuleumbu meu 'anténg-'anténg, leulangèt tabéng intan ngon pudi 'Ainal Mardiah putroe sambinoe. jikheun meunoe bintang pari

Berkata kepadaku bidadari putih kuning, wahai tuanku mah- kota negeri Tuan masuk terus segera, ke tempat hamba atas kursi

  1. Kemudian hamba masuk terus lewat, tempat tidur intan de- ngan baiduri Tiba di tempat tersusun rapi, heran tercengang saya ya sayidi Bidadari Ainal Mardiah putri jelita, menunggu hamba ini sambil berhenti Begitu dia melihat kami, dikatakan begini bintang pari Alhamdulillah sampai sebagaimana hajat, wahai daulat tuanku nyawa kami
  2. Tuanku masuk ccpat ke sini, duduk bersama atas kursi Amal Mardiah setelah mengatakan itu, dipegang tangan hamba ya sayidi Dicium tanganku oleh putri intan, lezat di badan segala sendi Hamba ditempatkan tuan putri, di atas tilam intan baiduri Merah hijau putih dan hitam, Allah pencipta alam yang memiliki ini
  3. Tempat tidur emas semua terhimpun, bantal susun kanan dan kiri Permadani beralun-alun, seperti gelombang turun di pantai Tikar licin, terpleset lalat, tidak dapat beranjak pergi Lemas tubuh tcrasa lezat, Rabbul 'Izzah yang menunjuki Belum pernah kulihat di segala negeri, seperti ini wahai sayidi
  4. Ainal Mardiah cantik sekali, di kolong langit ini tak tertandingi Wajah tiada sanggup ditantang, rcdup mata lezat berahi Tidaklah dapat dilukiskan anggota, Tuhan Mahatinggi yang mcngetahui Pakaian scpadan di badan, pcrmata intan di tangan dan kaki Tak dapat teungku saya ccritakan, kebcsaran Tuhanku Rabbi
  5. Tirai kclambu beranting-ranting, langit-langit tabing intan pcrmata Ainal Mardiah putri yang cantik, bintang kcjora katakan begini

Alhamdulillah troih ban hajat, wahé dèelat nyawong kami Tuanku tamong kanoe leugat, ja' due' sapat ateueh keurusi

  1. 'Ainal Mardiah teulheueh jikheun nyan, jimat tangan lön ya sayidi Jicöm jaroe lön putroe intan, lazat badan sigala seundi Ji peudue' lön putroe 'ajam, ba' tilam intan ngon pudi Mirah hijö puteh hitam, khaliqul 'alam empunya ini Tika eh meuih dum meuhimpön, bantay susön kanan kiri
  2. Permandani meu alön-alön, sang bakat treun dibinèh pasi Tika licén sireuk lalat, hana dapat jeued peureugi Leumi' tuböh teuka lazat, Rabbul 'Izzat yang pumeuri Hantom lön eu sigala nanggroe, sibagoe nyoe héya sayidi 'Ainal Mardiah that sambinoe, yub langèt nyoe tan seunabé
  3. Hanjeued tantang uba' muka, layöh mata lazat beurcuhi Hanjeued peugah sil'euet anggèeta, Rabbul A'la nyang keutahui Peukayan suyok uba' badan, pudoe intan jaroe gaki Hanjeued teungku lön peugah ban, keubeusaran Tuhanku Rabbi Tirai khelambu meu-anteng-anténg, lelangèt tabéng intan ngon pudi
  4. Ji beudoh cahaya hu mupuséng, hana bandéng sigala nanggri Habéh lon kalon sikutika, lazat mata jaroe gaki Reubah lé sinan teurhanta, ji pot lingka putroe sisi Ji seupeuk mawo ngon 'atha, bèewan syeuruga 'ajib sikali Po sambinoe dum pot lingka, kipah meutara inlan baiduri
  5. 'Oh troih mawo uba' badan, nyawong lon tuan ji keumbali Lon beudoh le due' teusurnpan, putroe intan kanan kiri
    HU

Alhamdulillah sampailah hajat, wahai daulat nyawa kami Tuanku datang cepat ke sini, duduk bersama di atas kursi

  1. Ainal Mardiah seusai menyatakan itu, dipegang tanganku wahai sayidi Dicium tanganku putri intan, terasa lezat di segala sendi Didudukkan hamba tuan putri, pada tilam intan baiduri Merah hijau putih dan hitam, Allah Pencipta Alam yang memiliki ini Tempat tidur emas semua terhimpun, bantal susun di kanan dan kiri
  2. Permadani beralun-alun, seperti gelombang turun di pantai Tikar licin terpleset lalat, tidaklah dapat bcranjak pergi Datang kelezatan mclemaskan tubuh, Rabbul 'Izzah yang menunjuki Belum pernah kulihat di segala negeri, seperti ini ya sayidi Ainal Mardiah cantik sekali, di kolong langit ini tiada tertan- dingi
  3. Wajahnya tak sanggup ditantang, redup mata lezat berahi Tidak dapat dilukiskan sifat anggota, Tuhan Yang Mahatinggi yang mengetahui Pakaian sepadan di badan, pcrmata intan di tangan dan kaki Tidak dapat teungku saya gambarkan, kcbesaran Tuhanku Rabbi Tirai kelambu beranling-anting, langit-Iangit labing intan baiduri
  4. Timbul cahaya berputar menyala, tiada banding di segala negeri Habis hamba lihat scketika, lezat mata tangan dan kaki Rebah hamba di situ terhantar, dikipas putri di sekeliling sisi Ditabur mawar dan minyak alar, wewangian surga ajaib sekali Semua putri cantik mcngipas di sekeliling, kipas terus-terusan intan baiduri
  5. Pada waktu ijba niawardi badan, nyawa hamba datang kembali I tamba lerbangun duduk lersumpan,"pulri intan di kanan-kiri

'Ainal Mardiah putroe leunténg, hana bandeng sigala nanggri Ji due' rab lön sinan dampéng, di geuniréng ateueh keurusi Ji ngieng ba' lon khem teusinyom, bibi ranom sang bintang pari

  1. Kuasa Po Khaliqul Ma'lum, hantröih peu yum hamba ini Seureuta ji kheun putéh lumat, he'dèelat main that kami Peunoh haté tröih ban hajat, peunulang Hadarat Tuhanku Rabbi Janji Tuhan Rabbul A'la, neubloe hamba ba' prang sabi Nyoekeu keu yum neubri keu gata, pat naceudra peuneujeued Rabbi
  2. Wahé teungku hulèebalang, nyoe buleuen trang Tuhan neubri Kamoe bandum dara barö prang, prèh cut abang ateueh keurusi Wahé teungku yang meutuah, meukat ngon Allah ba' prang sabi Nyoe keu bulueng neubri !é Allah, baday payah yöh lam nanggri Lön keu judö hé meuih mirah, ka neubri sah oleh Rabbi
  3. Teungku kalon pat nyang salah, bandua blah jaroe gaki Teungku ampon meusampé that, troih ban hajat Tuhan neubri Euntreut malam ta eh sapat meusyén lön that keu suami He Tuhanku meu'èn kamoe, ba' uroe nyoe tröih ban janji Buka puasa euntreut keunoe, sajan kamoe ateueh keurusi
  4. Meunan jikheun pute'h lumat, suara mangat tiwah bangsi

Ainal Mardiah putri nan cantik, tiada bandingan di segala negeri Duduk di dekatku berdampingan, duduk di samping di atas kursi Dia memandangku tersenyum simpul, bibir merah bak bintang jauhari

  1. Kuasa Tuhan yang menjadikan alam, tiada sanggup menilai hamba ini Serta dikatakan si kuning langsat, wahai daulat kesayangan Sepenuh hati sampailah hajat, pemberian Hadarat Tuhanku Rabbi Janji TuhanYang Maha Tinggi dibeli hamba dengan perang sabil Inilah harga diberikan untuk anda, di mana ada cidera ciptaan Tuhanku Rabbi
  2. Wahai teungku huiubalang, inilah bulan terang Tuhan yang beri Kami semua pengantin perang, menunggu kakanda di atas kursi Wahai tuan yang bertuah, jualan dengan Allah pada perang sabil Inilah pembagian diberi oleh Allah, pengganti pajak waktu dalam negeri Hamba menjadi jodoh wahai putri ayu, sudah diberi sah oleh Tuhanku Rabbi
  3. Tuan lihat di mana yang salah, kedua belah tangan dan kaki Teungku ampon sampailah sudah, sampailah hajat Tuhan yang beri Nanti malam kita tidur bcrdua, hamba rindu sangat kepada suami Wahai Tuhanku inilah kekasih kami, di hari ini tiba sebagai- mana janji Berbuka puasa nanti ke sini, bersama kami di atas kursi
  4. Begitu dikatakan si kuning langsat, suara merdu bak buluh

Keulua roh ngon seumangat, manyoh lazat lön beureuhi Badan lön nyoe miseue geumpa, han e' saba hé ya sayidi Lön tajö le'lön keumeung wa, po jroh rupa lom jikheun kri He teungku cut bungong keumbee,piyöh dilee payong nanggri

  1. Cit si'at tröih ba' watee, riwang dilèe ba' prang sabi He teungku cut meuih seuneupöh, malam nyoe tröih ban nyang janji Cit si'at treut lön meutanggöh, nyawong lam tuböh gohlom suci Areuta nyangka Tuhan teurimong, ja'jó' nyawong sikarang ini Syarat tuanku niet beuseunang, neupu manyang agama Rabbi
  2. Meunan jikheun cut bangsawan, jaga lön tuan héya sayidi Ban teukeujöt niba' pangsan, lön eu ka tan cut juhari Wahé teungku gurèe kamoe, that sambinoe hanjeued kheun lé Di yub langèt diateueh bumoe, lam 'alam nyoe tan seunabe' Nyawong ulön ka keulua, he jroh rupa meu'èn kami
  3. Bukon sayang putöih asa, he jroh rupa meu'èn kami Ho ka taja' he meuih meuntah, pat ta keubah abang ini Tatingkue lön cut meutuah, hé ya Allah neutueng kami Wahé teungku payöng kamoe, sang dönya nyoe ka hana le Nyeum bu maté ulön jinoe, ba' lön due' nyoe bè' minah lé
  4. Ji peugah nyan sira jimoe, meutetaloe ie mata ile' 'Abdul Wahid pika neumoe, he'samlakoe that meusampé

perindu Keluar ruh dengan semangat, rindu lezat hamba berahi Badanku ini seperti gempa, tak sanggup bersabar wahai sayidi Saya terus mendekat ingin memeluk, si cantik berkata lagi Wahai teungku kuntum bunga, istirahat dahulu payung neger;

  1. Cuma sebentar sampailah waktunya, kembali dulu ke perang sabil Hai teungku emas sepuhan, malam ini tiba sebagai yang janji Cuma sekejap lagi hamba minta tunggu, nyawa dalam tubuh belumlah suci Harta yang telah Tuhan terima, pergi menyerahkan nyawa sekarang ini Syarat tuanku niat bersenang, mempertinggi agama Rabbi
  2. Begitu dikatakan putri bangsawan, hamba terbangun wahai sayidi Begitu terkejut dari pingsan, tiada lihat putri jauhari Wahai tuan guru kami, amat cantik tak terkata lagi Di kolong langit dan di atas bumi, dalam alam ini tiada tertan- dingi Nyawa hamba sudah keluar, wahai yang indah rupa kesayangan kami
  3. Bukan saya berputus asa, wahai yang indah rupa kesayangan kami Ke manakah anda wahai emas murni, di mana anda tinggalkan abang ini Gendonglah daku dara bertuah, wahai ya Allah terimalah kami Wahai tuan guru payung kami, serasa dunia ini telah terhenti Rasanya biarlah mati sekarang, di tempat kududuk ini jangan pindah lagi
  4. Dikatakannya itu sambil menangis, air mata mengalir derai- berderai Abdul Wahid juga menangis, wahai muda rupawan begitulah terjadi

He raja cut bè'lé ngo nyan, bintang canden bè' tamoe le' Ja' lam saf prang ja' meukawén, putéh licén budiadari Ban jideungo suara teungku, bintang timu ji beudiri

  1. Ji seumah ba' teu5t teungku, moe meu-'u-'u hana sakri Di teungku pi sira neumoe, neucöm ba' dhoe bintang pari Bu meutuah po samlakoe, woe ba' nanggroe nyang that suci Di teungku pi neumoe sangat, sayang neu that hana sakri Ja' hé aneu' beu seulamat, lön ta ingat jeueb-jeueb hari
  2. Lakee keu lon bijèh mata, miseue gata hé boh haté Ji seu'ot léraja meutuah, insya Allah hé ya sayidi Neubri keu gata syeuruga indah, nyang that Iuah lagi tinggi Teulheueh ji kheun po jroh rupa, ji é' lanja kuda taji
  3. Troih samlakoe ateueh kuda. ji poh lawar hana sakri Tinggay dilikot bandum rakan, muda bangsawan pantas beulari Tan ingat lé sikeulian, publoe badan jeunamèe cut ti Hingga sampoe ba' medan prang, kaphé gurangsang hana sakri Ji tajo lé bungong keumang, peudeueng panjang niba'jari.
  4. Ji suet peudeueng muda seudang, kaphé jicang kanan kiri Ureueng la'én dum sibarang, teungoh datang laju ghazi 'Oh troih keunan dum sibarang, tamong lam prang tan le lanti Yakin haté bandum seunang, geu pu manyang agama Rabbi 'Abdul Wahid pi ka sampoe, seutot samlakoe bungong padé

Wahai raja kecil jangan dengar itu lagi, bintang timur jangan menangis lagi Pergilah ke dalam saf perang untuk menikah, putih licin sang bidadari Begitu didengar suara tuan guru, si bintang timur dia berdiri

  1. Dia sembah di lutut guru, menangis tersedu-sedu tiada terperi Sang guru pun sambil menangis, dicium di dahi sang bintang pari Semoga bertuah sang muda rupawan, kembali ke negeri yang amat suci Tuan guru pun tangisnya keras, beliau menyayangi tiada terperi Pergilah wahai ananda biar selamat, ingatlah akan daku setiap hari
  2. Mintalah untukku hai biji mata, seperti anda wahai jantung hati Menyahut ia raja bertuah, Insya Allah wahai ya sayidi Diberi untuk anda surga indah, yang amat luas lagi tinggi Setelah berkata ia sang rupawan, dinaikinya cepat kuda bertaji
  3. Setiba sang rupawan di atas kuda, dipacu tiada terkira lagi Tinggal di belakang semua rekan, muda bangsawan cepat berlari Tiada ingat lagi sekalian, menjual badan untuk mas kawin putri Hingga tiba di medan perang, kaum kafir garang tiada terperi Diserbu terus oleh si kuntum mekar, pedang panjang ada di jari
  4. Muda belia-belia mencabut pedang, kafir dicincang kanan dan kiri Adapun semua orang lainnya, begitu datang terus berperang Ketika semua ke situ tiba, masuk perang tak lagi menanti Hati yakin semua senang, mempertinggi agama Rabbi Abdul Wahid pun telah tiba, mengikuti pria pujaan si kembang padi

  5. Sayang neu that hana bagoe, meuteutaloe ie mata ile Samlakoe cut that gurangsang, kaphéji cang dum meugulé Ji pagab lé kaphé suwang, muda seudang hana lheuh lé Sikureueng droe kaphé nyawong hilang, muda seudang reubah meugulé Alhamdulillah ka keu sampoe, janji bunoe ngon sinya' ti

  6. Watèe pi akhé 'ashar uroe, laju ji woe ba' sinya' ti Budiadari dum dendayang, cit ka di blang ji beurheunti 'Ohban reubah muda seudang, ji mat rijang deungon jari Ji mueng ulèe sampoh darah, Alhamdulillah ji pujoe Rabbi Ji puwoe laju nyawong meutuah, ba' cut indah ateueh keurusi
  7. 'Abdul Wahid laju peutoe, neu eu samlakoe ka meugulé Ngon ie mata meuteutaloe, neu com ba' dhoe bungong pade' Neu mueng ulèe muda bahlia, neu moe rugha soe tukri Neu eu darah teungoh keulua, cahaya muka tamsé hari Wahé aneu' bungong geutoe, ka tröih sampoe ban nyang janji
  8. Janji ngon lön Po samlakoe, ja' publoe droe ba' prang sabi Geuco' samlakoe böh lam qubah, nyang that indah hana sakri Dum rakan droe nyang peurintah, Alhamdulillah ni'mat Tuhan bri •Teulheueh niba' nyan 'Abdul Wahid mata neu pet neu kab bibi Ateueh kaphe laju neu let neu cang bit-bit hana sakri
  9. Bandum sunggöh hana lagee, geu cang sitrèe suroh Rabbi Han é' theun lé kaphé asèe, le that padèe bie' Yahudi Tinggay bangké dum teudu-du, ji plueng laju kaphé 'ashi

  10. Beliau sayangi tiada tara, bercucuran air mata mengalir Pria tampan amat gembira, kafir dicincang terkapar semua Dikepung oleh kafir ganas, muda belia tak dapat meiepas diri Sembilan orang kafir nyawanya hilang, muda belia roboh ter- gulir Alhamdulillah sudahlah tiba, janji tadi dengari sang putri

  11. Waktu pun sudah akhir 'asar, langsung ia kembali pada sang putri Bidadari sekalian dayang-dayang, 'lah tiba di arena lalu ber- henti Begitu roboh sangifnuda belia, dipegang cepat dengan jemari Dipangku kepala bersihkan darah, Alhamdulillah dia memuji Rabbi Dibawa pulang segera nyawa bertuah, pada putri indah di atas kursi
  12. Abdul Wahid terus mendekati, melihat terkapar pujaan hati Dengan air mata bercucuran, dicium di dahi si kembang padi Dipangku kepala muda perjaka, menangis duka tiada terperi Melihat darah sedang mengalir, sinar muka bak siang hari Wahai ananda si kembang kesti, sudahlah sampai sebagian janji
  13. Janji denganku lelaki pujaan, pergi menjual diri pada perang sabil Lelaki pujaan ditaruh dalam kubah, yang sangat indah tiada terperi Semua rekannya yang perintah, Alhamdulillah nikmat Tuhan beri Setelah itu Abdul Wahid, memejamkan mata menggigit bibir Kaum kafir terus dikejar, dicincang benar-benar tiada ter- samai
  14. Semua bersungguh tiada bandingan, mencincang musuh perintah Rabbi Kafir anjing tak tahan lagi, banyak sekali mati kaum Yahudi Tinggal semua bangkai bertumpuk-tumpuk, kafir maksiat SASTRA PERANG -7

Uroe pi ka seupöt laju, neu woe Teungku bandum sare Khaba bunoe lom lon gisa, muda bahlia nyang juhari

  1. Tröih ban janji putroe muda, buka puasa ateueh keurusi Alhamdulillah sangat suka, tröih ban pinta bintang pari Uroe malam suka, lam syureuga ngon eseutiri Hana jeued le lön peu haba, Rabbul A'la nyang keutahui Habéh kisah muda bahlia, publoe areuta ba' prang sabi
  2. 'Abdul Wahid empunya kalam, kisah le pham bahasa 'Arabi Khaba sudah wallahu a'lam, han lé troih pham lon peugah kri Wahé teungku ade'' abang, bè'lélintang ba' prang sabi Abdul Wahid empunya kalam, fasèh le pham bahasa Arabi Tueng ibarat hé buleuen trang, muda seudang tango pakri
  3. Khaba sudah wallahu a'lam, han le troih pham lon peugah kri Wahe adé' dum syèedara, bè' sya' sangka ba' prang sabi Nyan dum bulueng neu bri keu gata, pakon bentara han padoli La ilaha illallah, balék kisah hujöng banja Muhammadur Rasulullah, bit that indah prang Hulanda
  4. Soe meu nabsu syeuruga indah, bè' na culah taja' ghasi Meung na hajat putroe indah, 'Ainal Mardiah sambinoe rupa Ja' lam saf prang ja' meunikah, bè' lé malaih he syèedara Taja' laju hé meutuah, bè' lédahsyah ngon areuta

terus lari Hari pun sudah menjelang petang, tuan guru sekalian bersama kembali Kabar tadi hamba ulang lagi, muda belia yang jauhari

  1. Tercapailah janji putri muda, buka puasa di atas kursi Alhamdulillah sangat gembira, sampailah pinta bintang pari Siang malam sukacita, dalam surga dengan istri Tiada sanggup lagi hamba kabarkan, Tuhan Mahatinggi yang mengctahui Selesailah kisah sang muda belia, menjual harta pada perang sabil
  2. Abdul Wahid yang punya karangan, memahami dengan baik bahasa Arabi Kabar sudah wallahu 'alam, tak sampai hamba paham wahai akhi Wahai teungku adik dan abang, jangan tak serta dalam perang sabil Abdul Wahid yang punya tulisan, menguasai dengan fasih bahasa Arabi Ambillah ibarat wahai bulan terang, muda sedang dengarlah begini
  3. Kabar sudah wallahu 'alam, tak hamba paham bercerita lagi Wahai adik dan saudara, jangan syak sangka pada perang sabil Demikian banyak pemberian Tuhan, mengapa bintara tiada peduli La ilaha illallah, kembali kisah disusun pula Muhammad Rasul Allah, sungguh indah nian perang Belanda
  4. Siapa menginginkan surga indah, janganlah anda malas ber- perang Jika berhajatkan putri jelita, Ainul Mardiah istri pujaan Masuk barisan perang pergi menikah, jangan lagi malas wahai saudara Pergilah segera wahai yang berbahagia, jangan lagi tergiur

'Oh teulheueh qabul ijab nikah, hé meutuah ja' woe lanja

  1. Ja' éh sapat ba' peuratah, nyang indah dalam syureuga Ka ta deungo wahé abang, muda seudang nyang bahagia Digata pi hé buleuen trang, bè' 'é sayang dum peukara Hé adé' cut teungku panghulëe, jinoe ngon dilèe hana beda Be' takira han meuteuntee, jinoe ngon dilèe takheun han sa
  2. Nyang keubiet buet ba' jalan nyoe, leubèh jinoe hé syèedara Karena tapubuet ngon yakin droe, raja nanggroe han seureuta Cit na hadih Saidul Insan, lakèe ba' Tuhan Rabbul A'la Ka rab wafeut Po Junjongan, neu lakèe yohnyan ba' Rabbana Hai Tuhanku nyang kaya that, beu troih hajad pinta hamba
  3. Neubri ummat lon 'oh rab qiamat, beu mudah ta'at dum keu Gata Lakèe ulön masa jinoe, meunan dudoe ya Rabbana Ya Tuhanku lön ngadu droe, harab kamoe harnba Gata Nyankeu hadih ba' Panghulëe, neulakee keu ummat dumna Nyankeu ka tröih wahé sampoe, ban nyang lakèe Sayidil Anbiya
  4. Nyang dilèe kon hé boh hate, hantom kaphe'pulo Ruja Ba' sa'at nyoe that meusampé, ka tröih kaphé euntat syeuruga Nyankeu lön kheun po sambinoe, dum geutanyoe raya bahgia

oleh harta Setelah terkabul ijab nikah, wahai yang berbahagia pulanglah segera

  1. Tidur berdua di atas katil, di tempat yang indah di dalam surga Sudah anda dengar wahai kakanda, muda belia yang berbahagia Anda juga wahai bulan terang, janganlah sayang semua perkara Hai adik teungku penghulu, sekarang dan dahulu tiadalah beda Jangan anda hitung tiada menentu, sekarang dan dahulu katakan tak sama
  2. Yang sungguh-sungguh usaha di jalan ini, lebih sekarang wahai saudara Karena dilaksanakan dengan keyakinan, raja negeri bersama serta Memang ada hadith Penghulu insan, mohon pada Tuhan Rabbul A'la Ketika hampir wafat Junjungan, baginda memohon pada Rab- bana Tuhanku Yang Mahakaya, sampaikanlah hajat yang hamba pinta
  3. Berikanlah umatku dekat kiamat, agar semuanya taat kepada-Mu Permohonan hamba saat ini, agar kemudian terjadi ya Rab- bana Ya Tuhanku hamba mengadukan diri, harapan kami hamba Allah ini Itulah hadith dari Penghulu, yang memohon untuk ummat semua Semua sudahlah sampai, seperti yang diminta Sayidil Anbiya
  4. Yang dahulu wahai buah hati, tak pernah kafir ke Pulau Ruja Saat ini sudahlah kesampaian, telah datang kafir mengantar surga Begitulahkukatakan istri pujaan, semua kita berbahagia raya

Zameun masa intu geutanyoe, hantom meunoe po bintara 'Oh teulheueh zameun dahulu kala, masa na nabi Saidil An- biya

  1. Teulheueh nyan hantom lé prang sabi, karönya Rabbi nyoe barö na Po geutanyoe Rabbul 'Izzah, neugaséh that bandum hamba Neubri jurong nyang raya that, roj woe teumpat lam syeuruga He teungku cut raja meutuah, bè'lé dahsyah maniaga Meung han ta prang sitrèe Allah, dudoe teulah putöih asa
  2. Hé teungku cut nyang bangsawan, firman Tuhan lahe'nyata Beu tapatéh ayat Qur'an, firman Tuhan Rabbul A'la In la tanfiru yu'azzibkum 'azaban, aliman wa yastabdilu qauman gairakum Nyan firman hé boh haté, bè' ta iem le po béntara Makna maklum dum teu sare, han pue kheun le he syèedara
  3. Neubri syiksa bukan bubarang, soe nyang han prang kaphé Beulanda Nyankeu lön kheun wahé abang, bè'lé wayang hé saudara Yöh goh neubri baday la'én, bè'lé tasyén dum peukara Dum geutanyoe meung han tatém, neu yue soe la'en lawan Beulanda Miseue kisah Ashhabul Fil, masa nabi goh lom nyata
  4. Mantong dalam kandung ummi, deungo akhi lön calitra Kaphe bajeueng la'natullah, ji prang Makkah nanggroe mulia Jilakèe reuloh Ka'batuIIah, ba' ureueng Makkah bè' na da'wa Ureueng Makkah liyar haté, geu suröt le bandum rata Ka meuhimpön dumna kaphe, wadi meushir lam blang raya
  5. Cicem hujeuen Tuhan suröh, jipoh musuh kaphe Beulanda Ji srom ngon batèe hana teudöh, miseue guróh lam blang raya

Zaman ketika nenek moyang kita, tiada pernah begini wahai bintara Setelah zaman dahulu kala, ketika masih ada Nabi Sayidil Anbia

  1. Semenjak itu tak pernah lagi berperang sabil, karunia Rabbi kini baru ada Tuhan kita Rabbul 'Izzah, amat mengasihi semua hamba Diberi jalan yang besar sekali, jalan pulang ke dalam surga Wahai teungku raja bahagia, jangan lagi tergiur dalam ber- niaga Jika tidak memerangi seteru Allah, sesal kemudian putus asa
  2. Hai teungku yang bangsawan, firman Tuhan lahir nyata Patuhlah kepada ayat-ayat Qur'an, firman Tuhan Rabbul A'la "Jika kamu tiada mau berperang, niscaya Allah menyiksamu dengan azab yang pcdih dan Dia akan menukar kamu dengan kamu yang lain," itulah firman wahai buah hati
  3. Dijatuhi siksa bukan kepalang, yang tidak memerangi kafir Belanda Itulah yang kukatan wahai abang, hai saudara bukan main- main lagi Sebelum diberikan pengganti lain, jangan lagi hindari semua perkara Jika kita tak mau mclaksanakan, disuruh yang lain lawan Belanda Misal kisah Ashabi Fil, ketika Nabi belum lahir di dunia
  4. Masih di dalam kandungan ummi, dengar akhi saya berecrita Kafir jahanam laknatullah, diperangi Mekkah negeri mulia Dimintanya Ka'batullah rusak, orang Mekkah jangan sampai melawan Orang Mekkah tak jinak hati, mereka mundur bersama-sama Telah berhimpun semua kafir, seperti oase dalam dataran luas
  5. Burung hujan Tuhan yang suruh, dibunuhnya musuh kafir Belanda Tiada hcnti-hcnlinya dilemparnya dengan batu, seperti guruh

Kaphé bajeueng habéh mate, la'én tan lélaqsin laqsa Meung soe peutröih haba u nanggroe, tinggay sidroe la'en hana

  1. Tueng 'ibarat he samlakoe, dum geutanyoe ban sineuna Po geutanyoe kuasa that, Neuyue beurangpat lawan Beulanda Yohna neuyoe le Hadarat, jinoe takarat he^syèedara Meungka neubri la'én geunantoe, raya that rugoe po bintara Han tapatéh Tuhan sidroe, syiksa dudoe lam nuraka
  2. Nyan keu lön kheun wahé akhi, suröh Rabbi ateueh jeurnala Miseue barö nyoe lam prang Idi, ta ngor pakri he syèedara Leu that maté kaphé la'én, beukaih sikin dum ba' muka Piké hai teungku panè sikin, ureueng muslimin dum lam kuta Cuba piké wahe abang, soe cit meucang hé'syèedara
  3. Kamoe bandum tan soe meucang, cit muprang ngon beudé sahja He teungku cut beu ta piké, Rabbul Jalil that kuasa He teungku talawan kaphé, Neu tulong lé Rabbul A'la Seperti ban firman Tuhan, lam Qur'an nyang that mulia Wajéb ta patéh wahé rakan, adc' abang tuha muda
  4. Am hasibtum an tadkhulu 'l-jannata, wa lamman ya'tikum masalu 'l-lazina khalau min qablikum, iman ba' gata be' syak sangka Hé ureueng mukmin bè'lé gadöh, prang beu sunggöh kaphe' Beulanda Hate beu teutap mutawajuh, tulong rab tröih geubri keu gata

dalam lapangan raya Kafir jahanam habis mati, beribu-ribu lagi tidaklah ada Ketika disampaikan kabar ke negeri, tinggal seorang yang lain tiada

  1. Ambillah ibarat hai lelaki pujaan, juga bagi semua kita Allah Tuhan Yang Mahakuasa, di mana pun disuruh melawan Belanda Semasih disuruh oleh Hadarat, sekarang bergiat hai saudara Jika diberi pengganti lain, sangat besar kerugian bintara Tak anda patuhi Tuhan Yang Esa, siksa kemudian dalam neraka
  2. Demikian hamba katakan wahai akhi, suruh Rabbi di atas kepala Seperti baru-baru ini dalam perang Idi, dengarlah keadaan hai saudara Banyak sekali mati kafir, bekas pisau di wajah mereka Pikir teungku pisau dari mana, orang muslimin dalam benteng semua Cobalah pikir wahai abang, siapa pula yang meneencang hai saudara
  3. Kami semua tiada menggunakan pedang, berperang dengan bedil sahaja Hai tuan hendaklah berpikir, Rabbul Jalil amat kuasa Hai tuan kita lawan kafir, ditolong oleh Rabbul A'la Seperti bunyi firman Tuhan, dalam Qur'an yang sangat mulia Wajib dipatuhi wahai rekan, adik abang tua dan muda
  4. "Adalah kamu kira', bahwa kamu akan masuk surga saja dan tiada akan datang (malapetaka) kepadamu seperti yang telah dat?ng kepada orang-orang terdahulu sebelum kamu?", iman anda jangan syak sangka Hai orang mukmin jangan lagi lalai, perang dengan sungguh kafir Belanda Hati agar tctap ingat pada Allah, pertolongan hampir datang diberi kepada anda

Nyan firman Ilahul Haq, bè' lé ta jlak hé syèedara

  1. Nyandum di Po neupeu gala', han cit taja' prang Beulanda Hé teungku cut adoe boh haté, tan seunabé prang Beulanda Ta niet mantong ta lawan kaphe, dèesya tan léba' anggèeta Ta tren di rumoh saboh tapak, ta niet taja' prang Beulanda Barang dum dèesya habéh pipak, tamsé buda' ban keulua
  2. Nyan gohlom troih wahé abang, barö teukadang di rumoh tangga Jakalèe ka troih dalam saf prang, ka mupandang ngon Beulanda Hanjeued kheun lé wahé sahbat, Tuhan Hadarat sangat kuasa Suroh Tuhan Rabbul 'Izzat, malaikat bantu gata Pintö syeuruga bandum teuhah, suröh Allah neu yue buka
  3. Soe nyangsyahid tuböh meutuah, jiwoepantaih lam syeuruga Wahé teungku nyang budiman, hadih Junjöngan Saidil An- biya Lön kheun ma'na tinggay matan, panjang bacaan jlak ta baca He syèedara ade' abang, taja' muprang ngon Beulanda Meung dhöy tapak ba' ta muprang, tan ngon timang hè syèedara
  4. Langèt bumoe bandum sare, han e' jimè brat that pahla Bèe dhoy tapak ba' prang sabi, bèe kasturi lam syurga Meunan neukheun oléh Nabi, hé boh haté bè' syak sangka Beurang soe na tapubeudé, ateueh kaphé musuh Rabbana Gej tröih aneu' atawa tan, gej meuriwang keunoe meugisa
  5. Neubri pahala oleh Tuhan, siplöh droe teumon tapu merdeh- ka Nyan dum neubri hè boh hate, sigo beude ateueh Beulanda Jakalèe le tapubeudé, cuba pike dumna pahala

Itulah firman Allah yang Haq, jangan anda abaikan wahai saudara

  1. Begitulah Allah mcmbuat kita suka, mengapa tidak juga memerangi Belanda Hai teungku adik buah hati, tak ada tandingan perang Belanda Niatkan saja melawan kafir, dosa tidak lagi pada anggota Turun dari rumah sebuah langkah, niat pergi memerangi Belanda Segala dosa habislah sudah, ibarat budak baru dilahirkan
  2. Itu belum datang wahai abang, baru teranjak di rumah tangga Jika telah sampai dalam saf perang, sudah berpandang dengan Belanda Tak dapat dikatakan lagi wahai sahabat, Tuhan Hadarat sa- ngat kuasa Suruh Tuhan Rabbul 'Izzah, malaikat membantu anda Terbuka semuanya pintu surga, perintah Allah menyuruh buka
  3. Siapa yang syahid tubuh bertuah, kembali segera ke dalam surga Wahai tuan yang budiman, hadisth Junjungan Sayidil Anbia Kusajikan makna tinggal kutipan, panjang bacaan bosan di- baca Hai saudara adik dan abang, pergi berperang lawan Belanda Berdebu tapak waktu berperang, tanpa ditimbang hai saudara
  4. Langit dan bumi sama semua, tak kuat memikul beratnya pahala Bau debu tapak ketika perang sabil, baü kasturi dalam surga Demikianlah sabda Nabi, hai buah hati jangan syak sangka Barangsiapa menggunakan bedil, atas kafir musuh Rabbana, Baik anak datang atau tidak, baik kembali kemari berada
  5. Diberi pahala oleh Tuhan, sepuluh orang budak diberi mer- deka Begitulah diberi hai buah hati, sekali membedil atas Belanda Jika-banyak seteru dibedil, coba pikir berapa banyak pahala

Tajak u Axab hé samlakoe, tameu rugoe ngon areuta Ta dong sidéh meuribèe uroe, han cit adoe sabe pahala

  1. Ta dong siuroe ba' buetan nyoe, leubèh that sinoe hésyèedara Nyoe na bacut ulön seubSt, keu seunamböt haba nyangka Sidroe raja masa dilèe, ngo hé sampoe lön calitra Nama kawöm Bani Israil, salèh han sakri ateueh dönya Saboh peukara buet keubajikan, laén tuan tan keureuja
  2. Teuma neu kheun uléh Nabi, uba' sayidi raja raya Turun peureuman ba' Potallah, Neu yue peugah uba' raja Teulheueh nyan neu kheun uleh Nabi, uba' sayidi raja raya Wahé raja nyang meutuah, lakèe ba' Allah la'én peukara Teuma neu lakèe ba' Potallah, beu Neutamah ya Rabbana
  3. Ya Tuhanku Neubri lon muprang, droe lön sajan ngon areuta Lom ngon aneu' lön beu sajan, lön ja' lawan musöh Gata Potallah bri keu raja nyan, aneu' agam siribèe na Bandum aneu' that samlakoe, cit that lakèe ja' ba' ghaza Ba' si buleuen sidroe samlakoe, nyang that beuhe keu panglima
  4. Raja neu böh panglima prang, muda seudang nyang jroh rupa Neu jö' sajan muda seudang, alat peuprangan si aneka Peudeueng meutampö' kréh meupucö', raja neu jö' keu aneu'da Bandum rakan habeh neusalen, ngon peukayan nyang jroh rupa

Pergi ke tanah Arab hai lelaki pujaan, kita merugi dengan harta Kita berada di sana beribu hari, tidak hai adik sama pahala

  1. Tinggallah sehari untuk pekerjaan ini, sangat bernilai di sini hai saudara Ini ada sedikit hamba sebut, sebagai penambah kisah yang sudah Seorang raja di masa dahulu, dengar sampai selesai hamba cerita Nama kaum Bani Israii, saleh di dunia tiada tara Hanya satu berbuat kebajikan, lain tuan tiada dikerjakannya
  2. Kemudian dikatakan oleh Nabi, kepada sayidi raja yang jaya Turun firman daripada Allah, menyuruh sampaikan kepada raja Setelah itu bersabdalah Nabi, kepada sayidi raja yang jaya Wahai raja yang berbahagia, mohon kepada Allah lain perkara Lalu baginda memohon kepada Allah, baru tambah ya Rab- bana
  3. Ya Tuhanku beri hamba berperang, diriku bersama dengan harta Agar hamba bersama dengan putra, pergi melawan musuh Anda Allah memberi pada sang raja, anak laki-laki seribu jumlahnya Anaknya semua gagah rupawan, mereka inginkan ke medan laga Pada suatu bulan seorang pria pujaan, yang amat berani diangkat panglima
  4. Raja mengangkat panglima perang, muda belia yang tampan rupa Diberikan kepada muda belia, alat peperangan beraneka rupa Pedang bertampuk keris berpucuk, raja berikan kepada anan- da Semua rekan busananya diganti, dengan pakaian yang indah rupa

Raja euntat panglima prang, deungon rakan dum simua

  1. Neu yue ja' prang nanggroe kaphé, nyang meung ungki keu agama Sibuleuen sabé cit dalam prang, syahid teulheueh nyan muda bahlia Teulheueh syahid nyan neu böh la'én, raja meusyen keu agama Sidroe aneu'ji kheurajeuen, cit sibuleuen leubeh hana Po teu raja lam masa nyan, khaluet tuan hana reuda
  2. Puasa uroe meujaga malam, dumnan yakin ba' agama Zikir di babah hana padèe, hana lalè sikutika Aneu' siribèe bandum syahid, meung sidroe cit tinggay hana Teulheueh nyan raja neubcudoh droe, that teu goe-goe keu agama Neu krah rakyat dalam nanggroe, yue tren keunoe ban simua
  3. Habeh bandum ji tren rakyat, nyang na jeued mad alat sinjata Raja meukeumah yöh masa nyan, co' seunalén qulah qama Neu co' guda nyang plang gaki, guda taji that jroh rupa La'én neu jö' dum keu rakan, neu yue kandran dum simua Neu bri keu rakan dumna alat, nyang that gcj-gej dalam kuta
  4. 'Oh saré ka keumah padan, beudoh laman Po Meukuta Neu ja' laju deungon ra'yat, neu beurangkat nanggroe raya 'Oh sare tröih nanggroe kaphe, meurumpok le dua tantra Dum pahlawan neu ba sajan, ji meucang hana ta kira Po teu raja pi neu beudoh, sare neukeucoh prang that gura
  5. Maté kaphé han soe tudum, nyang na ma'lum Allah Ta'ala Raja syahid teuma sinan, sajan rakan ngon panglima

Raja mengantar panglima perang, bersama dengan rekan semua

  1. Baginda suruh perang negeri kafir, yang menentang kepada agama Sebulan lamanya di dalam perang, syahid sesudah itu muda belia Setelah ia syahid diangkat yang lain, raja sangat mencintai agama Seorang anak dalam kerajaan, tiada lebih sebulan cuma Baginda raja dalam masa itu, berkhalwat terus tiada reda
  2. Siang berpuasa malam berjaga, demikian yakin pada agama Zikir di bibir tiada henti, tiada lalai seketika Putra seribu semua syahid, seorang saja pun tinggal tiada Setelah itu raja bangkit, sangat terserap dalam agama Baginda kerahkan rakyat dalam negeri, disuruh turun rakyat semua
  3. Habis semua rakyat bcrhimpun, yang sanggup memegang alat senjata Raja bersiap pada masa itu, ambil pakaian serta mahkota Diambil kuda yang belang kaki, kuda bertaji amat indah rupa Lain diberi semua kepada rakan, disuruh kendarai yang ada semua Diberi kepada rakan semua alat, yang amat baik di dalam istana
  4. Setelah semua bersiap sudah, bangkitlah segera Raja Mahkota Pergi segera bersama rakyat, berangkat dari negeri raya Ketika sampai di negeri kafir, bertemulah dua tentara Dua pahlawan dibawa bersama, mereka mencincang tiada terkira Baginda raja juga bangkit, ikut menggalakkan ramainya perang
  5. Mati kafir tiada terbilang, yang maklum hanya Allah Ta'ala Raja syahid kemudian di situ, bersama rekan dengan panglima

Nyang na tinggay habéh ji woe, ja' puwoe 'alamat raja Ji co' raja böh lam reuhab, ja' intat u rumoh tangga That bit leubèh di raja nyan, meung si dumnan neu keureuja

  1. Areuta ka habéh aneu' ka habéh, pakri han leubèh niba' nyang na Droe geu pi lom teuma syahid, that leubèh bit niba' nyangna Potallah bri keu geutanyoe, la'én geunantoe neu karönya Lailatul Qadar neu bn si malam, leubèh that nyan niba' nyangka Leubèh niba' siribèe buleuen, meunan peureuman Allah Ta'ala
  2. Si malam nyoe siribèe jéh, that bit leubèh Tuhan karönya Nyoe la'én lom nyang leubèh that, saboh sa'at dong ba' ghaza Ta prang kaphé saboh sa'at, nyan nyang jroh that niba' nyangka Leubèh ba' malam Lailatul Qadar, meunan sabda Nabi kita Saboh sa'at nyoe simalam jéh, that bit leubèh hé syèedara
  3. Sabda Nabi Rasulullah, meunan neu peugah ba' ummatnya Perintah Tuhan Rabbul 'Izzat, neu bri pangkat maseng jeum- ba Ummat dilèe ngon ummat nyoe, leubèh sinaroe han pue kira Dumnan murah Tuhan Ghani, pahala neu bri han é' kira Saboh sa'at ta prang kaphé, tan seunabé ateueh dönya
  4. Meunan neu kheun Rasulullah, Abi Hurairah nyang calitra Meunan hadih Nabi geutanyoe, kon hé adoe lon peubula Bit pi ta eu ba' hikayat, han hé sahbat meutamah haba

Yang ada tinggal habis kembali, membawa pulang alat kebesaran raja Raja dibaringkan di dalam tandu, diantar kembali ke istana Terlebih sungguh raja itu, demikian banyak ia berdarma

  1. Harta habis anak pun habis, bagaimana tidak terlebih daripada yang ada Baginda pun kemudian syahid, sungguh sangat lebih daripada yang ada Allah memberi kepada kita, lain pengganti diberi karunia Lailatur Qadar diberi satu malam, sangat lebih itu daripada yang sudah ada Lebih daripada seribu bulan, demikian firman Allah Ta'ala
  2. Satu malam yang ini seribu yang lain, sungguh sangat lebih Tuhan karunia Ini lain lagi yang sangat terlebih, satu saat tegak dalam perang Perang lawan kafir satu saat, itulah yang terbaik dari yang pernah ada Lebih dari Lailatur Qadar, demikian sabda Nabi kita Satu saat ini scmalam yang lain, sungguh sangat lebih hai saudara
  3. Sabda Nabi Rasulullah, demikian disampaikan kepada um- matnya Perintah Tuhan Rabbul 'Izzah, diberi pangkat masing-masing saudara Ummat dahulu dengan ummat sekarang labih semuanya tak usah kira Demikian murah Tuhan Yang Mahakaya, pahala diberi tiada terkira Suatu saat kita perangi kafir, tak ada tandingannya di atas dunia
  4. Demikian sabda Rasulullah, Abi Hurairah yang bercerita Demikian hadith nabi kita, bukan hai adik hamba mengada- ada Meskipun anda lihat dalam hikayat, hai sahabat bertambah SASTRA PERANG - 8 10

Ban peuneugah dalam kitab, peureuman Hadarat Rabbul A'la Seureuta hadih Rasulullah, han sipatah lön tamah haba

  1. Han beurani Teungku meutuah, lon taköt salah ba' Rabbana Lom meu sabda Nabi Muhammad, sidroe ummat ji due' lam kuta Tuhan bri pahla han teureukhimat, sitimang brat langèt dönya Lom meusabda Nabi geutanyoe, deungo adoe lön calitra Lhee boh mata lam dönya nyoe, nyang hana moe di Blang Mahsyar
  2. Pertama mata taköt keu Tuhan, muwoe beurang jan jeueb kutika Keudua mata pet ba' haram, han ji kalon dum perkara Keu lhèe mata kaway sitrèe, kaphé'asèe bè'ji teuka Nyang hana moe nyan meuteutaloe, la'én muroe lam Blang Mahsyar Hé syèedara aduen adoe, Nabi geutanyoe lom meu sabda
  3. Siribèe raka'at seumahyang sinoe, lam nanggroe nyoe hé syèedara Saboh raka'at di nanggroe Makkah, leubèh that jeh neu bri pahla Siribèe raka'at seumayang di Makkah, dalam Baitullah nyang that mulia Saboh raka'at dalam saf prang, ta seumayang teumpat ghaza Leubèh that nyan wahé abang, Tuhan pulang le that pahla
  4. Wahé Teungku adé' abang, ureueng muprang ta bri beulanja Pue na mudah ta peu'eumpang, Tuhan pulang le that pahla Hana meu teuntèe gupang ngon tali, meuseuki ta bri ie si tima Uroe dudoe ie nyang ta bri, ji é' syaksi di nab Rabbana

berita Menurut dikatakan dalam kitab, firman Hadarat Rabbul A'la Serta hadith Rasulullah, tak sepatah ditambah oleh hamba

  1. Tak berani tuan yang bahagia, hamba takut salah pada Rab- bana Lagi bersabda Nabi Muhammad, seorang ummat duduk dalam benteng istana Tuhan beri pahala tak terkira, seimbang berat langit dunia Lagi bersabda Nabi kita, dengarlah adik hamba bercerita Tiga buah mata dalam dunia ini, yang tidak menangis di Padang Mahsyar
  2. Pertama mata lakut pada Tuhan, menangis beruang setiap ketika Kcdua mata terlutup padayangharam, takmau melihatsemua perkara Ketiga mata mengawasi musuh, kafir anjing supaya jangan tiba Yang tidak menangis bcrterusan, lain disapu dalam Padang Mahsyar Hai saudara adik dan abang, Nabi kita lagi bersabda
  3. Seribu rakaat sembahyang di sini, dalam negeri ini hai saudara Satu rakaal di negeri Mekkah, sangat terlebih diberi pahala Seribu rakaat sembahyang di Mekkah, dalam Baitullah yang sangat mulia Satu rakaal dalam shaf perang, kita sembahyang di tempat perang berada Itulah yang terlebih wahai kakanda, Tuhan berikan sangat banyak pahala
  4. Wahai teungku adik dan abang, orang berperang kita beri belanja Yang ada kcmudahan kita bungkuskan, Tuhan kembalikan sangat banyak pahala Tidaklah tcnlu kupang dengan uang tali, meski kita beri air setimba Di hari kiamat air yang kita beri, naik saksi di hadapan Rab-

Ngon sabab nyan he meutuah, ji meusumpah apue nuraka

  1. Tamong syureuga bi fadhlillah, Alhamdulillah sangat suka Saboh tima ie keu sabi, nyandum neu bri balaih keu gata Jakalèe le na röh ta bri, pike'hé akhi dumna pahla Tamsé sikrak ta bri beudé, alat prang kaphé hé syèedara Pahala neu bri hanjeued kheun le, uroe page ta eu nyata
  2. Meunan hadih niba' Nabi, kon han meukri he syèedara Hana sabé beurangkari, buet prang sabi hana nyang sa Lafad hadih tan lön surat, cit panyang that ba' ta baca Bit pi meunan na mupat-pat, keubeureukat hadih mustafa Ri meung nyang nyo tuböh meutuah, neubri lé* Allah asoe syureuga
  3. Hana pue lé ba' jih ta peugah, saboh patah pi mumada Bali 'l-insanu 'ala nafsihi basirah, peureuman Allah hé syèedara Dalam tuböh droe teungku meutuah, Tuhan keubah cit na mata Nyang trang bandrang peungeuh sare, mata haté hé syèedara Tueng nyang laba boh nyang rugoe, pileh samlakoe bandum gata
  4. Lön peugah nyoe hai samlakoe, meung roj glah droe ba' Rabbana Watèe Neutanyong uroe dudoe, watèe ta woe geutanyoe dumna Miseue peureuman ba' Hadarat, neu bri ingat bandum hamba Ayat Qur'an wahé sahbat, kalam Hadarat Rabbul A'la Wa 'ttaqu yauman turja 'una fihi ila 'llahi, ta pham beu jroh kheun Rabbana

bana Dengan sebab itu hai yang berbahagia, bersumpah api neraka

  1. Masuk surga dalam keutamaan Allah, Alhamdulillah sangat bersuka Satu timba air kepada perang sabil, banyak ganjaran diberi pada anda Jikalau banyak kita memberi, pikir hai akhi berapa banyak pahala Tamsil sepucuk kita beri bedil, alat memerangi kafir hai saudara Pahala diberi tak terkira, di hari kiamat terlihat nyata
  2. Demikianlah hadith daripada Nabi, bukan tak tentu hai saudara Tidaklah sama dengan apa saja, perbuatan perang sabil tak ada yang sama Lafas hadith tak hamba tuliskan, memang panjang sekali waktu bicara Meski demikian ada di beberapa tempat, untuk berkat hadith mustafa Jikalau ada tubuh bertuah, diberi oleh Allah isi surga
  3. Tak semua dikatakan lagi padanya, satu patah memadai sudah "Bahkan manusia jadi saksi atas dirinya sendiri," firman Allah hai saudara Dalam tubuh anda teungku bertuah, Tuhan simpankan adanya mata Yang terang bendcrang selamanya, mata hati hai saudara Ambillah laba buang yang rugi, pilih jadi pria pujaan semua anda
  4. Kukatakan ini hai pria pujaan, jalan meiepaskan diri dari Rabbana Waktu ditanya di hari kemudian, waktu kembali kita semua Misal firman pada Hadarat, diberi ingat semua hamba Ayat Qur'an wahai sahabat, kalam Hadarat Rabbul A'la "Takutlah kamu akan hari yang akan dikembalikan kamu pada

  5. Beu tataköt wahe akhi, uroe keumbali keupadanya Uroe tawoe ba' Potallah, pakri tapeugah he syèedara Ba' uroe nyan tan lé hilah, yöh nyan teulah putöh asa Allah-Allah he samlakoe, nyan keu uroe habéh daya Keupue jeued lom ta poh-poh droe, yöh disinoe han ta kira

  6. Nyan keu lön kheun hé buleuen trang, bè' lé bimbang syaitan daya Lön pi meunan wahe abang, syaitan pasang miseue guda Harap tawakkal lön keu Tuhan, neu bri jalan nyang sampörna Beu phui tuböh mangat badan, ba' lön lawan kaphé'Ulanda He Tuhanku nyang that utöh, neu bri beu tröih pinta hamba
  7. Neu bri haté lön tawajuh lön prang musöh kaphé Ulanda Wahé Teungku dumna akhi, bè' lé henti hé syèedara Ja' he teungku ba' prang sabi, seureuta ta bri ngon beulanja Saboh beulanja na roh keunan, he budiman le that laba Niba' Tuhan meunan peureuman, soe na keunan bri beulanja
  8. Allazina yunfiquna amwalahum fi sabili'llahi, kalam Allah Rabbul A'la Tamse ta pula kayèe siba', jroh that rampa' hana tara Ji teubiet cabeueng tujöh teurata', jroh meusiga' tujöh tangga Saboh cabeueng boh sireutöh, he teungku beh dumna laba Saboh beulanja keunan na röh, tujöh reutöh pulang keu gata
  9. Hai dalém cut adoe boh haté, bè' kira lé hé syèedara Nyan areuta nyang meusampé, uroe pagéta eu nyata Wahé teungku ja' prang kaphé, bè' ta iem lé po béntara Jköi suröh Rabbul Jalil, bè' sayang lé dum peukara Bah lé tinggay gampöng laman, hé budiman bè' ta kira
  10. Aneu' ngon judö bah lé sinan, Tuhan daman dum peukara Aneu' ngon judö jö' ba' Allah, ngon ekeulaih haté lam dada

hari itu kepada Allah," pahamkan yang baik firman Rabbana

  1. Takutilah wahai akhi, hari kembali kepada-Nya Hari kembali kepada Tuhan, apa jawaban dari saudara Pada hari itu tiada dalih, barulah sedih putus asa Allah-Allah hai bestari, itulah hari hilang daya Tiada guna menyakiti diri, semasa di sini dalam alpa
  2. Makanya kuingalkan wahai bulan terang, jangan bimbang setan perdaya Hamba pun demikian wahai abang, setan tunggangi tamsil kuda Semoga tawakkal pada Ilahi, ditunjuki jalan sempurna Ringan langkah segar badan, biar kulawan kafir Ulanda Ya Tuhanku yang pemurah, kabulkanlah pinta hamba
  3. Berikan hamba hati lawajjuh, kuperangi musuh kafir Ulanda Wahai teungku semua akhi, jangan lagi lalai saudara Berangkatlah ke arena sabil, beserta uang untuk biaya Serupiah' uang yang disumbangkan, hai budiman berganda laba Dari Tuhan begitu firman, yang menyumbang uang untuk biaya
  4. Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, kalam Allah Rabbul A'la Tamsil menanam sebatang pohon, indah rimbun tak bertara Tumbuh cabang tujuh teratak, indah rancak tujuh tangga Satu cabang berbuah scratus, wahai teungku sebegitulah laba Serupiah sumbangan diberi, tujuh ratus ganti untuk anda
  5. Wahai abang adik sayang, jangan bimbang wahai saudara Konon harta yang bcrsampaian, pada hari kemudian lahir nyata Wahai teungku pcrangi kafir, jangan lalai tuan bintara Ikut suruh Rabbul Jalil, jangan sayangi dua perkara Biarlah tinggal kampung halaman, hai budiman jangan dikira
  6. Anak dan istri biarlah tinggal, Tuhan dhaman segala perkara Anak dan istri pasrahkan Allah, penuh ikhlas hati di dada

Miseue yöh prang Rasulullah, deungo lön peugah saboh haba Jeued ibarat ade' abang, bè' lé sayang dum peukara Meung nyo teungku taja' ba' prang, dum sibarang Tuhan peulahra

  1. Hana padit geutanyoe sayang, leubèh peutimang Allah Ta'ala Sidroe ureueng wahé abang, yöh masa prang Sayidi! Anbiya Gob nyan malé aneu' geu tan, umu teungku nyan ka rab tuha Gala' keu aneu' hana padan, lakèe ba' Tuhan hana reuda He Tuhanku nyang kaya that, beutröih hajat pinta hamba
  2. Ta bri aneu' lön si urat, gala' lön that bijèh mata Bandua deungon eseutiri, malam hari geumupinta Teukeudirullah Po lön Rabbi, limpah pumeuri dum keu hamba Hamè perempuan meungandöng buda', sangat gala' hana tara Uroe malam hantom neu ja', neu preh sinya' pandang dönya
  3. Teukeudi Tuhan Rabbu '1-Shamad, Panghulëe umat neu keumeung bungka Neu meung ja' prang kaphé la'nat, seureuta sahbat tuha muda Neu meu sabda Po Junjöngan, Bilal yöh nyan seu'öt sabda Sabda Nabi Sayidil Mursalin, Muhammad Amin tanglöng agama Dengan tulöng Rabbal "Alamin, kaphé la'én neu ja' mita
  4. Taja' beu tröih jeueb-jeueb teumpat, bandum sahbat tuha muda Singoh keunoe dum meusapat, lusa meuhat jadèh bungka Meunan hadih Rasulullah, Bilal pantas neu ja' sigra Jeueb-jeueb pintö neu ja' peugah, hana ubah ban nyangsabda Ban nyang hadih Po Junjöngan, Neu ubah han sikrak haba
  5. Hingga tröih le Bilal keunan, ba' teungku nyan neuba sabda Neukheun hadih Sayidul Ummat, geu hendak berangkat Po Meukuta Singoh keudéh dum meusapat, lusa meuhat jadèh bungka Neu meung ja' prang kaphé la'én, meunan neu yue kheun bandum gata Ban geu deungo hadih Junjöngan, ie mata yöh nyan srej ba' dada
  6. Seureuta geu kheun sira geu moe, sang geumanoe troe ie mata

Seperti di masa Rasulullah berperang, dengar kukisahkan satu cerita Untuk ibarat adik abang, jangan sayangi semua perkara Jika teungku maju berperang, segalanya Tuhan yang pelihara

  1. Tidak seberapa kemampuan kita, lebih kuasa Allah Ta'ala Ada seorang wahai abang, masa berperang Saidil Anbia Beliau mandul tak berputra, umurnya sudah separo baya Mendambakan anak bukan kepalang, memohon pada Tuhan tiada reda Ya Tuhanku yang kaya sangat, kabulkan hajat pinta hamba
  2. Anugerahi anak hamba seorang, hamba dambakan si biji mata Bersama dengan sang istri, malam dan siang memohon pinta Takdir Aliah Iiahi Rabbi, limpah anugerah kepada hamba Hamil istri mengandung bayi, senang hati tiada tara Siang-malam tak pernah jarak, menanti anak lahir ke dunia
  3. Takdir Tuhan Rabbus Samad, pemimpin umat hendak mara Hendak memerangi kafir Yahudi, bersama sahabat tua muda Bersabda Rasul Junjungan, Bilal waktu itu yang menjawabnya Sabda Nabi Saidil Mursalin, Muhammad Amin suar agama Atas pertolongan Rabbul 'Alamin, kafir lain disuruh siasati
  4. Datangilah setiap tempat, semua sahabat tua-muda Besok ke sini semua berkumpul, lusa pasti jadi mara Begitu hadith Rasulullah, Bilal lantas pergi segera Ke tiap pintu disampaikan, tiada ubahan dari sabda Seusai dengan hadith Junjungan, tiada satu ubahan kata
  5. Hingga sampailah Bilal ke situ, pada teungku itu disampaikan sabda Disampaikan hadith Sayidul ummat, hendak berangkat rasul mulia Besok ke sana semua berhimpun, lusa pasti jadi mara Hendak diperangi kafir lain, begitu pesan untuk anda semua Ketika mendengar hadith Junjungan, air mata keharuan jatuh ke dada
  6. Seraya berkata sambil tersedu, bagafdiguyur air matanya

He Tuhanku Iangèt bumoe, pakri lon nyoe ya Rabbana Gala' keu aneu' lon han sakri, malam hari lon mupinta Lon meung han ja' ba' prang sabi, salah ba' Nabi ngon ba' Gata He Tuhanku Rabbul Jalil, pakri-pakri ya Rabbana

  1. Hantom lön ja' meung si padé, lön prèh boh haté pandang dönya Meung han lön ja' sajan Junjöngan, sang-sang ringan suröh Gata Gej keu bah le lön ja' sajan, wahe Tuhan nyang that kaya Tinggay aneu' that lön sayang, ta peutimang uléh Gata Meung na umu ta bri panyang, 'oh lön riwang lön eu mata
  2. Ya Tuhanku Rabbul Jalil, ulön ka cré ngon aneu'da Watèe lön woe ba' prang sabi, aneu' ta bri lon eu rupa Watèe lön woe ba' prang kaphé, ta bri boh haté lön eu mata Huköm Gata he ya Rabbi, lön peurangi sajan Sayidina Watèe lön woe ba' prang sabi, aneu' lön tabri ya Rabbana
  3. Geu marit nyan ngon tawajuh, that bit sunggöh hana tara Srej ie mata seun-seun siplöh, ban hujeuen toh meuleulumba Ya Tuhanku Ilahul Haq, nyan pat siti tapeulahra Teulheueh geu kheun nyan laju geu ja', hingga tröih ba' Nabi kita Cöm ba' teu'öt seumah ba' gaki, di bawah döli nyang that mulia
  4. Keu hay ihway dum geu kheun kri, uba' Nabi Sayidil Anbiya Habeh geu kheun dum silsilah, geu peugah uba' meukuta Jawcueb Nabi Rasulullah, ajaraka'ltahu khairan kasiran Hingga habéh dum meusapat, dumna rakyat tuha muda Beungoh uroe Nabi beurangkat, seureuta sahbat Muhajir Anshar

Ya Tuhanku langit dan bumi, bagaimana hamba ya Rabbana Kudambakan sangat anak turunan, siang malam kumohon pinta Jika tak berangkat ke perang sabil, salah pada Nabi dan Engkau juga Ya Tuhanku Rabbul Jalil, bagaimanakah ya Rabbana?

  1. Tak pernah jarak barang sejari, kunanti buah hati lahir ke dunia Jika tak mara bersama Junjungan, seolah ringan suruh Rabbana Biarlah hamba ikut berjalan, wahai Tuhan yang amat kaya Tinggal anak yang hamba dambakan, mohon lindungan ya Rabbana Jika engkau berikan umur panjang, sekembali dari perang kupandang mata
  2. Ya Tuhanku Rabbul Jalil, hamba terpisah dengan ananda Waktu kembali dari perang sabil, izinkan hamba memandang ananda Waktu kembali dari perang kafir, berikan buah hati kupandang nyata Terpulang pada-Mu ya Rabbi, hamba pergi bersama Sayidina Waktu kembali dari perang sabil, berikan anakku ya Rabbana
  3. Ia berbicara dengan tawajjuh, bersungguh-sungguh tiada tara Air mata cucur tiada henti, bagaikan hujan cucur semata Ya Tuhanku Ilahu Haq, mohon Siti dipelihara Setelah berkata ia langsung pergi, hingga bcrtemu dengan Nabi kita Cium di lutul sembah di kaki, di bawah duli yang teramat mulia
  4. Tentang hal ihwal ia berperi, kepada Nabi Sayidil Anbia Habis semua masalah, disampaikan pada Sayidina Jawab Nabi Rasulullah, Allah mcmbalas dengan banyak pahala Setelah semuanya dalangberkumpufseluruh rakyat tua muda Fagi hari Nabi berangkat, bersama sahabat muhajir ansar

  5. Muhammad Amin neu co' langkah, ngon Bismillah mula per- tama Ja' prang kaphé la'natullah, haram jadah baié' agama Seureuta 'Ali pahlawan Makkah, that masyhurah sigala dönya Nyan keu rimueng Rasulullah, Tuhan titah sahbat Sayidina Bandum sahbat that tawajuh, ja' prangmusöh kapheHulanda

  6. 'Oh ka malam due' mupiyöh, nanggroe ji'öh meuhala' dönya Padum lawét neu ja' sabé, tröih ka sampe'meukuta dönya Geu tamong lam nanggroe kaphé, geü muprang le sahbat dumna Le that maté kaphe la'nat, han é' khimat la'sin la'sa Hingga talö bandum samad, boh sahbat 'Ali Murtada
  7. Teuma sabda 'Alaihissalam, ta peu Islam kaphé Hulanda Nyang na tinggay dara agam, na bè' karam lam nuraka Neu boh ngon raja la'én geunantoe, peu timang nanggroe mat neuraca Teulheueh meuteuntèe dum sinaroe, keumala nanggroe teuma neugisa Seureuta waréh bandum sahbat, tröih lé si'at nanggroe mulia
  8. Maséng-maséng bandum ra'yat, woe u teumpat maséng tangga Alhamdulillah Tuhan lön pujoe, hajat ka sampoe Sayidil An- biya Haba Junjöngan teutap 'ohnoe, haba bunoe lom lön gisa Nyang jo' aneu' uba' Rabbi, neu peureugi sajan Sayidina Leupaih teungku ba' prang sabi, sakét eseutiri sinya' ka na
  9. Teukeudi Tuhan Ilahulhaq, ban nyang keuheunda' Neukarönya Han jan leupaih keulua buda', bunda sinya' tinggay dönya Ka tröih ajay sampéumu, bri Tuhanku ateueh hamba Aneu' teutap lam pruet ibu, geu tanom laju sajan ngon ma

  10. Muhammad Amin mulai melangkah, dengan Bismillah mula pertama Memerangi kafir laknat Allah, haram-jadah balik agama Bersama Ali pahlawan Mekkah, sangat masyhur ke segala dunia Itulah harimau Rasulullah, Tuhan titah untuk sahabat Sayidina Semua sahabat sangat tawajjuh, memerangi musuh kafir Ulanda

  11. Jika malam bcrlcpas lelah, negeri jauh membentangi dunia Beberapa lama berjalan terus, sampai ke tujuan mahkota dunia Negeri kafir dimasuki, bersama sahabat diperangi semua Banyak yang mati kafir laknat, tak terkhimat berlaksa-laksa Hingga kalah semuanya, berkat sahabat Ali Murtadla
  12. Kemudian bersabda 'Alaihissaiam, Islamkanlah kafir Ulanda Yang masih tinggal laki-laki perempuan, agar tak haram dalam neraka Raja pun diangkat untuk pengganti, mengatur negeri bagai neraca Setelah beres semua hal, kemala negeri berbalik pula Beserta ahli semua sahabat, sampailah kini ke negeri mulia
  13. Masing-masing seluruh rakyat, kembali ke tempat menjumpai keluarga Alhamdulillah Tuhan kupuji, terpenuhi hajat Sayidil Anbia Cerita Junjungan cukup sekian, hamba ulangi kisah semula Yang menitipkan anak pada Tuhan, pergi berperang bersama Sayidina Berangkat teungku berperang sabil, sakit istrinya hendak melahirkan
  14. Takdir Tuhan Ilahul Haq, sesuai kehendak dikaruniai-Nya Belum sempat bayi lahir, bunda si anak meninggal dunia Sudah ajal sampai umur, kehendak Tuhan ke atas hamba-Nya Bayi masih dalam perut ibu, lalu dikuburkan bersama ibunya

Padum lawét teuma dudoe, ka woe lakoe prang Hulanda

  1. Neu woe laju u rumoh droe, haté teu goe-goe keu aneu'da Neu ja' pantaih sang-sang neu plueng, troih lé tamong u rumoh tangga Neu'eu di leuen ka meunaleueng, salèh ho ureueng ba' neukira Neu meuhey lé teuma nyoe ban, judö badan ho ka gata Neu meuhey na soe seu'öt tan, neu e' yöh nyan sigra-sigra
  2. Neu eu buböng pi ka tiréh, han teuseuréh dalam dada Neu tren laju neu ja' keudéh, ba' rumoh jéh ureueng lingka Neu tanyong lé teuma sinan, eseutiri lön ho salèh ka Teuma geu peugah le ureueng nyan, eseutiri tuan ka tröih masa Leupaih teungku ba' prang sabi, sakèt eseutiri aneu' ka na
  3. Han jan keulua buda' juhari, maté umi tinggay dönya Ka meutanom wahe teungku, jéh pat kubu judö gata Aneu' sajan lam pruet ibu, sayang that du apon asa Ban geu deungo narit meunan, geu moe yohnyan ngon ie mata Sira geu moe geu kheun nyoe ban, wahé Tuhan nyang that kaya
  4. Hay Tuhanku langèt bumoe, pakon meunoe ya Rabbana Masa lön ja' dilèe suntök, bè' that dawö' lon ngon dönya Bah lé'tinggay sikin meupucö', lön jö' ngon aneu' uba' Gata Hay Tuhanku Ilahul Haq, ta bri sinya' lön eu mata Ka lheueh dilèe masa lön ja', lön jö' aneu' uba' gata
  5. Lön ja' sajan Po Junjöngan, keubeunaran Rasul Gata Hay Tuhanku Po lön Tuhan, ta tueng ulön ya Rabbana Manyoh meusyén malam uroe, lam teugoe-goe keu aneu'da Hay Tuhanku Tuhan kamoe, hamba teu nyoe putöih asa

Beberapa lama kemudian, suami pulang dari perang Ulanda

  1. Langsung kembali ke rumahnya, hati khawatir tentang ananda Berjalan gontai setengah berlari, maka sampailah ke rumah tangga Terlihat pekarangan ditumbuhi ilalang, entah ke mana istri agaknya Lalu diserukan demikian, "istri hamba ke manakah Anda!" Panggilannya tak ada yang jawab, ia pun naik dengan segera
  2. Dilihatnya atap sudah bocor, namun belum syak dalam dada Dari situ ia keluar, menuju ke rumah tetangga Di situ ia bertanya, "Sudah ke mana istri hamba?" Maka orang itu menceritakan, "istri tuan tutup usia" Berangkat teungku berperang sabil, sakit istri hendak melahirkan
  3. Tak sempat lahir bayi jauhari, meninggal umi membelakangi dunia Sudah dikuburkan wahai teungku, di situ kubur istri anda Bayi ikut dalam perut ibu, sayang ayahnya putus asa Setelah mendengar c?r
  4. Ya Tuhanku langit bumi, mengapa begini ya Rabbana Ketika berangkat hamba suntuk, membuang ikatan dengan dunia Biarlah tinggal pisau berpucuk kupasrahkan anak pada Yang Esa Ya Tuhanku Ilahul Haq, berikan anak kupandang nyata Dulu ketika hamba berjalan, kupasrahkan anak pada Rabbana
  5. Hamba jalan bersama Nabi Junjungan, kebenaran Rasul Tuhan Ya Tuhanku pemilik hamba, ambillah hayatku ya Rabbana Rindu dendam siang-malam, terbayang-bayang akan ananda Ya Tuhanku Tuhan kami, hamba-Mu ini putus asa

Teulheueh geu kheun nyan reubah pangsan, ta 'eu sinan le teuhanta

  1. Sayang geu that hanjeued kheun ban, aneu' badan ubat mata Uroe pi ka seupöt laju, jaga teungku miseue nyang ka Geu poh-poh droe hana lagèe, hay Tuhanku hana reuda Hingga malam ji lob uroe, dawö' poh droetumbö' dada Teukeudi Tuhan Po lon sidroe, ateueh teungku nyoe nyang that taqwa
  2. Teungoh poh droe apoh apah, meuhey Allah hana reuda Leumah ba' kubu hu meujeureulah, geu plueng pantaih teuma sigra 'Oh tröih neu ja' keunan teungku, leumah neu'eu bijen mata Teudue' sidroe dalam kubu, tan le ibu po jroh rupa Ka jeued keu tanoh ibu manya', tinggay sinya' Tuhan peulahra
  3. Silab teungku masa neu ja', neu jö' meung aneu' tinggay bunda Teu due' sidroe manya' meutuah. kaya Allah Wahidul Qahhar Tinggay puteng mom niba' babah. sinan neu keubah nikmat syureuga 'Oh ban leumah neu'eu boh hate, neu tajo le neu co' sigra That sukaan hanjeued kheun lé, neu pujoe lê'Rabbul A'la
  4. Pujoe Allah sajan ngon syukur, 'Azizul Ghafur sangat kaya Karönya Gata ya Tuhanku, lon teumèe eu bijèh mata Aneu' lön maté hudep neubri, limpah Po meuri Gata keu hamba Keubeunaran buet prang sabi, sibenar Nabi Rasul Gata Aneu' ulön ka neupulang, soe peutimang ma ji hana
  5. Ibu manya' ta bri lön pandang, jinoe sikarang ya Rabbana Teulheueh nyan geumeuhey teuma di manyang, narit han reumbang ka meuhaba Masa ta tren taja' ba' prang, ba' soe ta pulang judö gata Hana ta jö' judo teu dilèe, keupue ta lakèe ba' Allah Ta'ala

Setelah itu jatuh pingsan, terlihat terhantar ia di sana

  1. Rindu amat tak tcrlukiskan, anak tunggal si turus mata Hari pun semakin malam, teungku terbangun dari pingsannya Mcnyesali diri menumbuk badan, menyerukan Tuhan tiada reda Hingga surup datang malam, teungku gaduh mendabik dada Takdir Tuhan Yang Maha Esa, kepada teungku yang sangat taqwa
  2. Sedang sibuk menyiksa diri, menyerukan Allah tiada reda Di kuburan muneul cahaya tecerlah, ia lari ke situ segera Setelah sampai teungku ke situ, terpandang olehnya si biji mata Terduduk sendiri dalam kubur, tak beribu si bayi mungil Ibunya sudah menjadi tanah, tinggal si bayi Tuhan pelihara
  3. Alpa teungku waktu berangkat, memasrahkan anak lupa ibunya Terduduk sendiri bayi bertuah, kaya Allah Wahidul Qahhar Masih di mulut puling susu, tersimpan di situ nikmat surga Begitu berpandang buah hati, teungku berlari menggen- dongnya segera Senang hati tak terkira, ia pun memuji Rabbul A'la
  4. Memuji Allah bcserta syukur, 'Azizul Ghafur sangat kaya Karunia Engkau Ya Tuhanku, sempat kupandang turus mata Anak hamba hidup kembali, limpah karunia-Mu kepada hamba Kebenaran kerja perang sabil, benar Nabi Rasul utusan-Mu Anak hamba sudah dikembalikan, siapa yang merawat ibunya tiada?
  5. Izinkan hamba memandang ibunya, sekarang juga ya Rabbana Kemudian terdengar seruan di angkasa, "Yang tak senonoh engkau perikan!" Ketika turun berangkat berperang, istri dipasrahkan pada siapa Tak kau serahkan istrimu dulu, mengapa menuntut pada SASTRA PERANG - 9 12

Ban neu deungo meunan geu kheun, tahe hireuen si peunganja

  1. Teu'ingat lé haba jameun, nyo ban geu kheun han meutuka Yöh masa nyan barö teulah, lön paban bah ya Rabbana Cré ngon judö lön ya Allah, 'ohnoe langkah dalam dönya Wahe judö teungku boh haté, uroe nyoe cré lön ngon gata Sidéh ta prèh lön bungong padé, uroe pagédi Padang Mahsyar
  2. Teulheueh geu kheun nyan laju geuwoe, tingkue samlakoe bijèh mata Ngon ie mata meuteutaloe, sang geu manoe srej ba' dada Keu peurumoh sayang neu that, keuhendak Hadarat jeued geu lupa Hingga neu woe due' ba' leumpat, aneu' si urat neu peulahra La ilaha Illallah, habeh kisah ureueng taqwa
  3. Muhammad Rasulullah, nyan dum indah prang Hulanda Jeued hudép lom ureueng maté, cuba piké teungku dumna Sabab ayah ja' prang kaphé, hudép boh haté nyang ka pahna Jakalèe kon lön ja' ba' prang, han soe peutimang kalon aneu'da Cit ka maté dalam pruet nang, pakri ta pandang cuba kira
  4. Nyan keu lön kheun hé bangsawan, tan teuladan prang Hulanda Beurangkari he budiman, han sa ngon nyan hé syèedara Ja' hé teungku ba' prang kaphé, bè' ta iem lépo bentara Aneu' ngon judo bè' sayang lé', Rabbul Jalil nyang peulahra Miseue sabda 'Alaihissalam, pham hé kaum bandum gata
  5. Al-Jihadu wajibun 'alaikum, ma'na muphöm hé syèedara Prang kaphé' nyoe peureulèe 'ien, beu ta yakin gata nyoe dumna Meunan hadih Sayidil Mursalin, Muhammad Amin peulita dönya

Allah Ta'ala? Ketika mendengar perkataan demikian, terpana heran ia seketika

  1. Teringat ia peristiwa awal, benar demikianlah adanya Menyesallah ia ketika itu, hamba keliru ya Rabbana Pisah dengan istri hamba ya Allah, sepada itu langkahnya di dunia Duhai istriku buah hati, kita kini saling terpisah Tunggulah abang hai kembang padi, di hari nanti di Padang Mahsyar
  2. Setelah itu ia pun kembali, menggendongbuah hati si biji mata Air mata bercucuran, bagai disiram menetes ke dada Kepada istri dikasihi amat, kehendak Hadarat jadi alpa Setelah sampai teungku ke tempat, anaknya dirawat dipelihara La Ilaha Illallah, sclcsai kisah orang taqwa
  3. Muhammad Rasulullah, begitu indah perang Belanda Hidup kembali orang yang mati, coba pikirkan oleh teungku semua Sebab ayahnya memerangi kafir, hidup si bayi yang sudah fana Andaikan bukan karena berperang, tak berkemungkinan melihat ananda Pastilah mati di pcrut ibu, bukankah begitu coba pikirkan
  4. Karena itu wahai bangsawan, ambillah teladan perang Belanda Bagaimanapun hai budiman, sebanding demikian hai saudara Berangkatlah teungku memerangi kafir, jangan berdiam lagi hai bintara ^ Anak dan istri jangan hiraukan, Rabbul Jalil yang meme- lihara Seperti sabda Alaihissalam, pahamilah semuanya
  5. Jihad itu wajib atas kamu, maknanya demikian hai saudara Memerangi kafir fardlu 'ain, yakinilah semuanya Begitu hadith Sayidil Mursalin, Muhammad Amin pelita dunia

Wahé kawöm wajeb ta pham, rukön Islam lhèe peukara Peurtama syahadat keudua seumayang, keulhèe ta ja' prang kaphé Hulanda

  1. Meung kon meunan hana reumbang, patéh abang hadih Mus- tafa Cit wajeb that ba' masa nyoe, sabab ka sinoe ji due' Ulanda Bè' ta iem lé po samlakoe, teulaih dudoe lam nuraka Be' ta pateh ureueng malém, meung han geutém lawan Hulanda Beu that jeued kaphe miseue cicém, bè' cit po lém ta peucaya
  2. Bè' gata tueng sinan 'ibarat, malém ka séb syaithan daya Mita hilah ba' hareukat, ringgét lipat saboh dua Ayat muprang han leumah lé, seupot hatébuta mata Mita hilah rab ngon kaphé, ulama jahé syaithan daya Nyan 'eleumèe na geu tupeue, nyang Tuhan yue han geukira
  3. Droe han geu ja' gob han geuyue, prèh geu hei-hei lam nuraka Ba' geu kira e' leupaih droe, uroe dudoe di nab Rabbana Miseue hadih Nabi geutanyoe, ta deungo nyoe teungku dumna Man katama 'ilman aljamahu'llahu ta'ala bilujamin mina 'n-nari Beurangsoe som 'eleumee Allah, neu böh lam babah apuy nuraka
  4. Nyan keu hadih Rasulullah, neu peugah keu ummat dumna Soe nyang pateh ka meutuah, soe nyang ubah röh lam hina Agama kureueng beureukat tan lé, dönya akhé ka tok masa Di ulama nyangna geupiké, buet tueng tahlé ngon pusaka Due' di gampöng dalam dahsyah, suröh Allah han geu kira
  5. Meudeh meunoe mita hilah, be' roh langkah prang Hulanda Bulueng sabi dum sibarang, geu co' rijang han geukira

Wahai kaum wajib pahami, sendi Islam tiga perkara Pertama syahadat kedua sembahyang, ketiga memerangi kafir Ulanda

  1. Jika tidak demikian kurang imbang, percaya abang hadith Mustafa Sungguh wajib di masa ini, sebab negeri diduduki Belanda Jangan lagi berdiam diri, menyesal nanti dalam neraka Jangan percaya orang alim, jika tak mau melawan Belanda Meski mampu terbang bak burung, jangan abang memper- cayainya
  2. Jangan di situ anda warisi ibarat, orang alim yang sudah setan perdaya Cari dalih dalam berniaga, ringgit ditabung satu dua Ayat yang menganjurkan perang hirau tiada, hati gelap mata pun buta Cari jalan dekal dengan kafir, ulama jahil setan perdaya Itulah ilmu'ia ketahui, suruh Rabbi dilupakannya
  3. Dirinya enggan orang lain tak disarankan, tunggulah dipen- dam dalam neraka Dikira dapat mclcpaskan diri, di hari nanti depan Rabbana Semisal hadith Nabi kita, dengarlah oleh teungku semua Man katana 'ilman al-janahu'llahu ta'ala bilujamin mina'naari Barangsiapa mcnyembunyikan Ilmu Allah, disumpal ke mulut api neraka
  4. Itulah hadith Rasulullah, disampaikan kepada ummat semua Yang percaya mendapat tuah, yang mengubah mendapat hina Agama kurang perniagaan punah, menyata sudah akhir dunia Para ulama hanya memikirkan, menerima upah tahlil dan pusaka Berdiam di kampung dalam keseronokan, suruhan Tuhan disepikan saja
  5. Dalih dicari berbagai cara, agar tak serta dalam perang Belanda Jalan sabil scmestinya, disambut lekas serta-merta

Hana geujö' keu ureueng muprang, prèh geukeukang lam nuraka Neu bri syeksa nyang that peudeh, soe han 'adih prang Hulan-da Walèe meuseuki raja Quraisy, beu that wareh Sayidil Anbiya

  1. Teungku jinoe ka jen tipèe, kon peureulèe prang Hulanda Leubèh gob nyan ngon Panghulèe, lam prang sitrèe geunap masa Lori peugah nyoe hana meusé, asoe nanggroe tuha muda Gurèe payöng aduen adoe, gob deungon droe hana bida Bè' weueh haté keu haba nyoe, le that meunoe dum ulama
  2. Siblah u timu 'oh Peusangan, tan soe iman kalam Rabbana Ulama le neu bri lé Tuhan, kitab Qur'an ban ie raya Keupuejeued lesibagoe tan, han geu tem lawan kaphéHulan- da Na sidroe tém siploh nyang han, meunan-meunan dum ulama Na sidroe-droe nyang na iman, teutap meung nyan la-'én hana
  3. Ureueng la'én keu pue le that, di gob geutaköt keu peutuwa Hana geu taköt nyan keu Allah, han geu gundah 'azeueb nuraka Pue ta taköt sabé insan, han é' ji peu tan ngon jipeuna Hana ta taköt nyan keu Tuhan, nyang pue jeued badan deungon nyawa Bè' lé meunan wahe'teungku, iköt nabsu syeitan daya
  4. Salah teu that ba' Tuhanku, wahé teungku ta peucahya Hadih Nabi mcungalön-alön, sang bakat tren di binèh pasi Peureuman Tuhan meususon-suson, wajéb ta scu'ön he'ya akhi Ya ayyuha 'llazina amanu** hal **adullukum 'ala tijaratin tun- jikum *Min 'azabin aiimin tu'miriuna bi'üahi, waMin **'azabin aiimin tu'miriuna** bi'üahi, **wa** rasulihi wa lujah**'uluna biamwalikum**

Jika tidak demikian, tunggulah dipanggang dalam neraka Mendapat siksa yang amat pedih, yang tak mau memerangi Belanda Sekalipun ia Raja Quraisy, walau ahli-ahli Sayidil Anbia

  1. Teungku kini telah dikecoh setan, memandang sepi perang Belanda Merasa lebih tinggi dari Nabi, yang memerangi musuh sepan- jang masa Kukatakan ini bukan umpama, anak negeri tua-muda Guru tercinta adik-abang, kita dan orang lain tiada beda Jangan kecewa dengan perkataanku, banyak begitu yang ulama
  2. Sebelah timur sampai Peusangan, tiada yang mengimani kalam Rabbana Banyak ulama dikaruniai Tuhan, Kitab Qur'an bagai air bah Banyak jumlahnya sedikit yang menghayati, takut menghadapi kafir Belanda Seorang mau sepuluh tidak, ragu gamang semua ulama Jarang-jarang yang beriman tangguh, hanya dialah lain tiada
  3. Orang lain mengapa banyak, karena takut pada tetua Bukan takut kepada Allah, tak gundah azab neraka Apa yang ditakuti sesama insan, tak mampu mematikan atau menghidupkan Tiada takut kepada Tuhan, yang menjadikan nyawa dan badan Janganlah demikian wahai teungku, mengikut nafsu perdaya setan
  4. Salah besar kepada Tuhan, wahai budiman percayalah Hadith Nabi berdengung-dengung, bagai taifun menerpa pan- tai Firman Tuhan bersusun-susun, wajib dijunjung wahai ikhwan Hai orang-orang yang beriman maukah aku tunjukkan ke- padamu dari siksa yang pedih. Yaitu bahwa beriman kamu kepada Allah dan Rasulnya dan berjuang di jalan Allah dengan harta

  5. Wa anfusikum in kuntum ta'lamuna, ta ngo lön kheun jinoe ma'na Peuneujö' Tuhan Rabbal 'Alamin, keu ureueng mukmin jalan sijahtra Leupaih ba' 'azeueb uroe kömdian, neu bri lé Tuhan dudoe syureuga Jannatu 'Adnin Tuhan böh nan, ni'mat di sinan hanjeued soe kira Pue nyang meuhat dalam haté, cit ka hasé lé keunan teuka

  6. Karönya Po Rabbul Jalil, ureueng prang sabi that mulia Budiadari tujöh plöh droe, khadam sinaroe muda-muda Meunan peureuman Rabbul Jalil, bè' ta iem lé hé syèedara ja' hé teungku ba' prang kaphé, bè' sayang lé keu areuta Dumna areuta gata hé tèelan, Nabi Sulaiman saboh seuen hana
  7. Neu hüköm jen deungon insan, sigala hewan marga situwa Nyan dum meugah ngon kayaan, ibadat keu Tuhan han torn reuda Cuba piké he budiman, sabé ngon nyan meugah gata Nyan dum di Nabi Rasul Hadarat, ngon meugah that dum ngon kaya Han cit lupa ba' ibadat, tueng ibarat he syèedara
  8. Di geutanyoe meugah pi tan, areuta pi tuan [tan] han sapue na Pue cit lalè hé bangsawan, tipèe syèitan gata nyoe dumna Kaya Sulayman ngon meugah that, dönya akhirat that sijahtra Seudeukah le that han takhimah, dumna umat neupu beulanja Keupue kaya keupue meugah, tuwo keu Allah sia-sia
  9. Raja Qarön deungo lön peugah, la'nat Allah asoe nuraka Pakri ngon kaya lom meugah that, hana sapat nyang sabé sa Lön peugah nyoe keu 'ibarat, bè' sang-sang that meugah gata Aneu' gunci raja Qarön, Tuhan yue kheun neucalitra Tujöh plöh sen brat ureueng pahlawan, keu bilangan ureueng teuga
  10. Si ancu'-aneu' ba' sidroe ureueng, tujöh plöh geudöng di jih jibuka

  11. Dan jiwamu dcnga r kukatakan maknanya kini Pemberian Tuhan Rabbul 'Alamin, pada orang mukmin jalan sejahtera Lepas dari azab hari kemudian, diberikan Tuhan kelak surga Jannatul 'Adnin Tuhan namakan, nikmat nian tiada terkira Apa yang tergerak dalam hati, segera nyata ke situ tiba

  12. Karunia Khalik Rabbul Jalil, yang berperang sabil sangat mulia Bidadari tujuh puluh orang, khadam sekalian muda-muda Begitu firman Rabbul Jalil, jangan diam lagi wahai saudara Berangkatlah teungku memerangi kafir, jangan sayangi akan harta Seluruh harta anda wahai taulan, dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada
  13. Ia menguasai jin dan insan, segala hewan margasatwa Begitu megah dan hartawan, ibadat kepada Tuhan tak pernah alpa Pikirkanlah hai budiman, seimbangkah dengan kemegahan anda? Demikian Nabi Rasul Hadarat, megah amat lagi kaya Tiada lupa akan ibadat, ambil ibarat hai saudara
  14. Kita sendiri megah pun tiada, harta tuan hampa belaka Mengapa lalai hai bangsawan, ditipu setan kita semua? Kaya Sulaiman dan megah amat. dunia akhirat dalam sejahtera Sedekah banyak lak tcrhingga, ummat semua diberi bclanja Tak guna kaya dengan megah, jika kepada Allah lupa tersia
  15. Raja Qarun dcngar kukisah, rahmat Allah isi neraka Sungguh kaya lagi megah, tiada seorang pun imbangannya Kusebut ini untuk ibarat, jangan menyangka lebih hebat anda Anak kunci Raja Qarun, Tuhan sebutkan keadaannya Tujuh kali lipal bobot pahlawan, untuk bilangan orang yang tegar
  16. Sebuah anak kunci untuk seorang, tujuh puluh gedung dapat dibuka

Nyan dum kaya aneu' bajeueng, soe na ureueng nyang sabe sa Lam geudöng nyan hé samlakoe, meuih sinaroe tök u bara Miseue meugah Peura'un pindoe, hingga ji kheun droe Allah Ta'ala Ulön peugah bacut sapat, keu peu'inga tjaga-jaga

  1. Na geu tueng kieh ngon 'ibarat, na teu'ingat dum syèedara Cuba piké wahé sampoe, niba' dilèe soe na nyang sa Hana sidroe nyang troih hajat, bit meugah that deungon kaya Sabab hana ji 'ibadat, Tuhan Hadarat hana rida Cuba piké teungku meutuah, keu pue meugah deungon kaya
  2. Seperti ban peureuman Tuhan, dalam Qur'an nyang that mulia Annaru li'l-mu'asi wa lau kana quraisyiyyan, kalam Tuhan Rabbul A'la Ureueng ma'siet nuraka peudéh, meuseuki Quraisy bangsa mulia Aljannata lilmuUaqina wa lau kana 'abdan liabasyiyyan, Rasul Tuhan nyang calitra Syureuga ureueng taköt keu Tuhan, meuseuki teumon geu publoe ba
  3. Cuba piké'wahe sahbat, keupue meugah that le areuta Meung tan ta ikot suröh Hadarat, 'azeueb peudéh that lam nuraka Ka ta deungo dum nyang meugah, toh fa'idah hé syèedara Jih pi maté tinggay meugah, 'azabullah lam nuraka Di geutanyoe wahé abang, meung sigupang hana areuta
  4. Lalè mabök seutot bubayang, panèmeuteumeung hé syèedara He syèedara bè' lalè that, beukay akhirat ta bicara Nyang keu maté wajéb meuhat, ingat beu that po bentara Yohna muda teungoh kuat, ta 'ibadat hé syèedara Be' hétèclan ta peu lumpat, ta 'ibadat 'ohjan tuha
  5. Kadang tuha han meutcumèe, gata dilèe löb keureunda Peureuman Tuhan wahé sampoe, han meuteuntèe mawot tcuka

Begitu kaya si celaka. adakah manusia menyamainya? Dalam gedung hai bangsawan, sampai ke bubungan emas semata Misal terkenal Fir'un laknat, sampai mengangkat dirinya Tuhan Hamba nukilkan dari berbagai tempat, untuk pengingat jaga- jaga

  1. Agar diambil kias ibarat, agar teringat semua saudara Coba pikir wahai rekan, dari dulu adakah imbangannya? Tak seorang mencapai hajat, walau megah dengan kaya Sebab tiada bcribadat, Tuhan Hadarat tidak rela Coba pikir Teungku bertuah, untuk apa megah dan kaya
  2. Sebagaimana firman Tuhan, dalam Qur'an yang amat mulia Annaru li'l-nushani wa lau kana qurasyiyyan, Kalam Tuhan Rabbul A'la Si maksiat bara neraka, sekalipun Quraisy bangsa mulia Aljanata lilmuttaqina wa lau kana 'abdan habasyiyyan, Rasul Tuhan yang berccrita Surga bagi yang takutkan Tuhan, sekalipun budak yang diper- jualbelikan
  3. Camkanlah wahai sahabat, untuk apa megah banyak harta Jika mengabaikan suruh Hadarat, pedis azab-Nya dalam neraka Telah anda dengar semua yang megah, adakah facdah wahai saudara? Ia pun mati kemegahan tertinggal, azab Allah dalam neraka Bagi kita wahai abang, sekupang pun tak bcrharta
  4. Lengah lalai ikul bebayang, mungkinkah dapat hai saudara? Wahai saudara janganlah lalai, bckal akhirat pikirkan segera Kematian itu pasti datang, ingat sekalian tuan bintara Selagi muda badan kuat, perbanyak ibadat hai saudara Jangan taulan salah tempat, beribadat di kala rcnta
  5. Terkadang tidak sempat tua, keduluan kita masuk keranda Firman Tuhan wahai akhi, tidak tentu maut tiba

Wa ma tadrinafsun biayyiardin tamutu, dalam ayat lahényata Maté han meu jan kubu han mupat, ingat hé'sahbat tuha muda Di donya nyoe teumpat meularat, nanggroe akhirat tempat nyangsuka

  1. Hana keukay dum geutanyoe, lam dönya nyoe he bentara Mita beukay beulanja ta woe, bè' that laloe he syèedara 'oh tröih ajay habeh langkah, tinggay meugah tinggay kaya Tinggay nanggroe kheurajeuen luah, yöh nyan teulah putöh asa Teulah teu that wahé teungku, phön lam kubu 'azeueb syi'sa
  2. Han pat kheun droe lakèe bantu, hingga laju u blang Mahsya Allah-Allah wahé sahbat, teulah teu that po bentara Pakri-pakri ngon 'azeueb teu that, mata uroe rab ateueh keupala Makanan tan han pue pajöh, ta meung piyöh reuluy hana 'Azeueb teu that hai teungku beh, teubiet reu'öh seutot dada
  3. Jeueb-jeueb Nabi taja' meurön-rön, lakèe ampon bè' lé syéksa Han cit keumah muplöh ribèe thon, teulheueh nyan geurön lam nuraka Han é' ta theun hé bangsawan, hancö badan jeued keu sira Muwoe lè lom karönya Tuhan, meunan beurangjan hana reuda Kidlama nadijat juluduhum, baddalnahum kheun Rabbana
  4. Tieb-tieb nyang hancö tuböh jih nyan, geubaday la-'én deun- gon sigra Ya Allah Khaliqul Marman, ya Hannan Wahidul Gaffar Na'uzubillah ba' 'azeueb nyan, bè' roh meunan bandum hamba Allah he teungku aduen adoe, bè' lé laloe muda bahlia Beuthat ta sayang maséng keu droe, 'azeueb dudoe lam nuraka
  5. Ta ibadat wahé teungku, bè' that rindu keu areuta Beuthat kaya areuta ma'mu, han lam kubu ji peungon gata

Jadi seseorang tidak mengetahui di bumi yang mana ia akan mati, dalam ayat lahir nyata Kematian dan pusara tak kita ketahui, ingat hai sahabat tua muda Dunia ini tempat berlarat, negeri akhirat tempat bersuka

  1. Tiada kekal semua kita, di dunia ini hai bintara Carilah bekal untuk kembali, jangan lalai hai saudara Sesampai ajal rezeki habis, meninggalkan kemegahan dengan harta Meninggalkan negeri kerajaan luas, ketika itu menyesal ber- putus asa Menyesali nasib wahai teungku, berawal di kubur azab siksa
  2. Tiada tempat meminta bantuan, siksa berlanjut sampai hari kebangkitan Allah-AUah wahai sahabat, menyesal amat hai bintara Sungguh pedih tersiksa sangat, matahari dekat di atas kepala Tiada makanan untuk dimakan, hendak berteduh kerimbunan tiada Tersiksa sekali wahai teungku, memercik peluh mengairi dada
  3. Ke setiap Nabi kita berduyun, memohon ampun dihentikan siksa Berlanjut pula puluhan ribu tahun, setelah itu dihalau ke neraka Tak tertahankan hai bangsawan, hancur badan seremuk garam Berwujud kembali karunia Tuhan, begitu selalu tiada reda Tiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti firman Rabbana
  4. Setiap yang tubuhnya hancur, diganti yang lain dengan segera Ya Allah Khaliqul Mannan, Ya Hannan Wahidul Ghaffar Na'uzubillah tentang azab itu, semoga terhindar semua hamba Duhai teungku adik-abang, jangan lalai muda belia Meski menyayangi diri sendiri, azab nanti dalam neraka
  5. Beribadat wahai teungku, jangan terpaku dengan harta Walau kaya harta makmur, dalam kubur tak menemani anda

Allah hé teungku adé' sahbat, ingat beu that po bénlara Keupue kaya areuta le that, gata lam jeurat sidroe sahja Allah Allah hé bangsawan, ta tueng intan ta boih teumaga

  1. Be' ta iköt suröh sycithan, iköt Tuhan Rabbul A'la Nyang peujeued la'öt deungon darat, nyang peujeued jasad deungon nyawa Nyang bri syureuga uroe akhirat, soe nyang iköt ban suruhNya Lom ta iköt Nabi Muhammad, nyang bri syöfeu'at di Padang Mahsya Neu gaséh that bandum ummat, neu peu ingat rugoe ngon laba
  2. Hingga wafeuet Po Junjöngan, neu woe ba' Tuhan Rabbul
    A.'la Habeh langkah uroe Seunayan, Neu moe Junjöngan troe ie mata Bandum sahbat keuliiing Nabi. dampeng sare sajan seureuta Malikalmaut di gcunireng, ie mata meuléng-iéng po meukuta Malaikat neu kheun nyoe ban, pakon dukaan panghulëe hamba
  3. Ulön ja' nyoe suröh Tuhan, meung hana izin ulön teu gisa Jaweueb Nabi Rasul Hadarat, rida lön that hé syèedara Ban nyang huköm Rabbul 'Izzat, cit suka that hana tara Aneu' ngon judö huköm Hadarat, bandum sahbat hana duka Nyang lön moe nyoe sayang lön that, cit keu ummat tuha muda
  4. Lön taköt ringan ba' ibadat, nyan keu nyang that duka cita Sayang lön that dum keu ummat, taköt meukeumat dengan dèesya Teungoh neu moe hana sakri, trön Jibrail ba' Sayidina Niba' Tuhan neu ba wahi, keu Nabi peugawè dönya 'Oh teulheueh saleuem tahyeuet haluan, Jibrail kheun ba' meukuta
  5. Lön ba peureuman niba' Tuhan, Khaliqul Manan rindu keu gata Rida sangat Sayidul Insan, woe ba' Tuhan Rabbul A'la

Wahai teungku adik sahabat, ingat-ingat hai bintara Untuk apa kaya harta, di dalam kubur seorang saja Hubaya-hubaya wahai bangsawan, memilih intan membuang tembaga

  1. Jangan ikuti godaan setan, ikuti Tuhan Rabbul A'la Yang menjadikan laut dan darat, yang memberikan jasad dengan nyawa Yang memberikan surga di akhirat, bagi yang mengikuti perin- tah-Nya Serta mengikut Nabi Muhammad, memberi syafa'at di Padang Mahsyar Disayangi amat semua ummat, diingatkan rugi dan laba
  2. Setelah wafat Rasul Junjungan, menghadap Tuhan Rabbul A'la Sampai ajal hari Senin, menangis Junjungan berderai air mata Para sahabat sekeliling Nabi, berdampingan semuanya Malaikat maut ada di samping, air mata berlinang Mahkota Dunia Malaikat berkata begini, mengapa berduka pemimpin hamba
  3. Hamba ini disuruh Tuhan, jika tak diizinkan saya kembali Jawab Nabi Rasul Hadarat, rela sangat wahai saudara Sesuai hukum Rabbul 'Izzah, senang sangat tak bertara Anak <ïan istri hukum Hadarat, semua sahabat tak berduka Yang saya tangisi amat sangat, hanya pada ummat tua muda
  4. Saya khawalir ringan beribadat, itulah yang teramat saya berduka Saya sayangi semua ummat, khawatir lekat dengan dosa Sedang menangis tiada henti, turun Jibrail menghadap Sayidina Dibawanya wahyu dari Tuhan, untuk Nabi Pelindung Dunia Setelah salam disampaikan, Jibrail berkata pada Sayidina
  5. Saya bawa firman dari Tuhan, Khaliqul Mannan rindukan Anda Rela sangat Sayidul insan, menghadap Tuhan Rabbul A'la

Sugoe pi srej niba' tangan, wafeuet Junjöngan Sayidil Anbiya Woe ba' Tuhan Rabbush shamad, tinggay ummat dalam dönya Tinggay kitab tinggay Qur'an, Rasul Tuhan ka neugisa

  1. Neuyue 'ibadat bè' na khali, ncuyue prang kaphe bè' na reuda Panghulèe ibadat cit prang sabi, beurangkari hana nyang sa Peureuman Tuhan Rabbul Jalil, hadih Nabi Sayidil Anbiya Seuncugej jalan woe ba' Rabbi, cit prang sabi la'en hana Meunan wasiet Sayidil Anbiya, neu yue lawan kaphé Hulanda
  2. Jakalèe mate'niba' buet nyan, sajan Junjöngan lam syureuga Muhammad Amin geumaséh that, di akhirat that seutia Hingga dudoe jan qiamat, han pue ingat dum peukara Watèe neu bangkét uléh Tuhan, Jibrail tren dalam dönya Neuja' peugoe Sayidil Insan, suröh Tuhan ba' Sayidina
  3. Teulheueh neu peugoe lé Jibrail, jaga Nabi Sayidil Anbiya Hana jan cit neudue' Nabi, neutanyong lépantaih sigra Pue uroe nyoe ya Jibrail, ka tröih janji Allah Ta'ala Malaikat jaweueb neubi, na'am ya Sayidi ban kheun gata Han jan neudue' Nabi neu moe, ummat kamoe ho salèh ka
  4. Pakri hay éhway ba' uroe nyoe, rindu kamoe hana tara Jaweueb Jibrail gohlom bangkét, sigala ummat agam dara Neumoe Nabi amat sangat, pakon tréb that ya Rabbana Nyandum di Nabi sayang neu that, keu dum ummat tuha muda La'én beurangpue han neu ingat, cit keu ummat nyang that duka
  5. Dumnan di Nabi wahé sahbat, sayang neu that gata nyoe dumna Pakri geutanyoe han ta ingat, Sayidil Ummat nyan dum guna Hantom tuwo keu geutanyoe, malam uroe po meukuta Phön jinoe kon tröih 'an dudoe, Nabi geutanyoe that seutia 'Oh neu deungo ummat neu ka tan, ie mata sajan le ba' dada

Sugi pun jatuh di tangan, wafat Junjungan Sayidul Anbia Menghadap Tuhan Rabbul Shamad, tinggal ummat dalam dunia Tinggal kitab tinggal Qur'an, Rasul Tuhan sudah tiada

  1. Disuruh ibadat tak pernah alpa, memerangi kafir tiada reda Ibadat utama hanya perang sabil, tiada yang lain padanannya Firman Tuhan Rabbul Jalil, Hadith Nabi Sayidil Anbia Jalan terbaik menghadap Rabbi, hanya perang sabil lain tiada Begitu wasiat Sayidil Anbia, disuruh lawan kafir Belanda
  2. Jikalau mati dalairi peperangan, bersama Junjungan dalam surga Muhammad Amin sangat penyayang, di akhirat tuan sangat setia Hingga nanti kala kiamat, tak usah diingat semua perkara Waktu dibangkitkan oleh Tuhan, Jibrail turun ke dunia Membangunkan Sayidil Insan, perintah Tuhan pada Sayidina
  3. Setelah dibangunkan oleh Jibrail, terjaga Nabi Saidil Anbia Belum sempat Nabi duduk, sudah bertanya kepadanya Hari apa ini ya Jibrail, sudah sampaikah janji Allah Ta'ala? Malaikat menjawab Nabi, naam ya sayidi seperti kata anda Segera pula Nabi menangis, ummat kami bagaimanakah kiranya?
  4. Bagaimana ihwal hari ini, rindu kami tak bertara Jawab Jibrail belum bangkit, semua ummat pria-wanita Menangis Nabi amat sangat, mengapa lambat ya Rabbana Sedemikian Nabi penyayang amat, kepada ummat tua-muda Yang lain apa pun tiada ingat, hanya ummat yang membuatnya duka
  5. Begitulah Nabi wahai sahabat, menyayangi amat kita semua Bagaimana kita melupakan, Sayidil Ummat sebegitu jasanya Tak pernah lupa kepada kita, siang-malam Sayidi mulia Sejak kini hingga nanti, Nabi kita sangat setia Jika mendengar ummat meninggal, air mata selalu mengalir di dada SASTRA PERANG - 10 13

1165. Neu blóh nuraka Nabi Muhammad, neu ja' eu ummat dalam syéksa

Srej ie mata seun-seun siploh, ban hujeuen toh meuleulumba

Neu ja' eu ummat jeueb-jeueb palöh, nuraka neu blóh po meukuta

Nyandum guna po Junjöngan, he budiman pakon lupa

Pue nyang neu kheun han ta iman, pakon meunan po bentara

1170. Wafeuet Nabi Sayidil Insan, woe ba' Tuhan Rabbul A'la Neu keubah ayat lam Qur'an, neu yue lawan kaphé Hulanda Han neu bri meukaj deungon kaphé, musöh sabe beurang jan masa

Nabi geutanyoe hé boh haté, lam prang sabé geunap masa

Tinggay puasa tinggay haji, han padoli po meukuta

1175. Peuet biet sagay neu ja' haji, teutap lam ghazi geunap masa Teuphön cut kon lam prang sabé, meuta tublé lam-lam rimba Rakan peuet plöh sabé-sabé, neu lawan kaphé la'sin la'sa Meung bu di pruet hana soe bri, ibu ngon abi tréb ka hana Ji banci that kaphé 'ashi, keu Nabi peugawè dönya
1180. Hingga rayek Po Junjöngan, lam puprangan geunap masa Tröih ba' wafeuet Nabi meunan, hana ringan prang Hulanda Ba' geutanyoe dum bangsawan, neu yue lawan kaphé dumna Roj nyang teupat woe ba' Tuhan, nyan keu jalan nyang sam- pörna

Nyan dum di Nabi keu geutanyoe, hé samlakoe pakon lupa

1185. 'Oh meu teu'oh Nabi ka neumoe, sabab geutanyoe le that lupa

Han ta sayang meung sigeutu, nyan dum hé teungku tinggay guna

Leubèh niba' ma deungon ku, pakon hé teungku that ta lupa Han ta patéh wahé tolan, pue neu kheun uléh meukuta Ngon kaphé han neu bri meu rakan, jinoe hé tèelan ka jeued syèedara

1190. Han ta ingat wahé sampoe, keu Panghulëe Nabi kita Banci ji that kaphe asèe, habéh lam batèe neuplueng meukuta Nyan dum banci kaphé syeithan, keu Junjöngan Sayidil Anbiya

  1. Menempuh neraka Nabi Muhammad, untuk melihat umat dalam siksa Menetes air mata bcrjatuhan, bagaikan hujan mengalir semata Menjenguk ummat di tiap lembah, neraka ditempuh oleh Sayidina Sebegitu jasa Rasul Junjungan, wahai budiman mengapa alpa Apa yang dikatakannya tak diimani, mengapa tuan bintara?
  2. Wafat Nabi Sayidil Insan, menghadap Tuhan Rabbul A'la Diwariskan ayat dalam Qur'an, disuruh lawan kafir Belanda Dilarang berjualan dengan kafir, musuh selalu sepanjang masa Nabi kita hai buah-hati, selalu dalam perang sepanjang masa Tertinggal puasa tcrtinggal haji, tidak perduli Sayidil Anbia
  3. Hanya empat kali Nabi naik haji, tetap dalam perang senantiasa Sejak kecil dalam perang selalu, bertubi-tubi di dalam rimba Dengan empat puluh rekan yang sebaya, menyerang kafir berpuluh laksa Makanan di perut tiada yang memberi, ibu dan abi sudah lama tiada Dibenci amat oleh kafir 'ashi, kepada Nabi Pelindung Dunia
  4. Sampai besar Rasul Junjungan, dalam peperangan senantiasa Sampai wafat Nabi begitu, tidak ringan perang Belanda Bagi kita wahai bangsawan, disuruh lawan kafir semua Sebegitu Nabi memperhatikan kita, wahai bestari mengapa lupa
  5. Tiap disebutkan Nabi menangis, sebab kita sangat pelupa Tiada hiraukan sedikit pun, pada hal jasanya tak terhingga Melebihi ayah dengan ibu, mengapa teungku melupakannya Tak dipercayai oleh taulan, apa yang dikatakan oleh Nabi kita Dengan kafir dilarang berkawan, kini bahkan dijadikan saudara
  6. Tidak lagi kita hiraukan, akan Penghulu Nabi kita Benei amat kafir asu, sampai ke gua batu Nabi sembunyi Sebegitu benei kafir setan, pada Junjungan Sayidil Anbia

Di geutanyoe ka jeued rakan, bè' ie meunan po bentara Bè' ta pateh kaphé Yahudi, han é'ji bri rugoe ngon laba

  1. Meunapa'at meularat han é' ji bri, kaphé Yahudi asoe nuraka Patéh Nabi hé boh haté, dudoe pagé lam nuraka Hana khilaf jeueb-jeueb Kitab, ta meusahbat ngon Hulanda Bè' ta iköt wahé ahbab, Tuhan 'azab lam nuraka Wahé ureueng nyang meu'iman, ikot peureuman Allah Ta'ala
  2. Han e' kheun léayat Qur'an, Tuhan yue lawan kaphé Ulanda Allazina amanu wa hajaru wa jahadu, fi sabilülahi biam- walihim Wa anfusihim a 'zamu darajatan 'inda Allahi wa ula 'ika humu 'l-fa 'izuna Ma'na muphóm hé boh hate, han pue kheun lé hé syèedara Hé teungku ta lawan kaphe, bè' ta iem le po béntara
  3. Bè' ta takot teungku meutuah, le that peukakah kaphe Hulanda Meung nyo ta pubuet tulöih ekeulaih, cit na Allah soe geu kira Di nanggroe Aceh wahé tolan, keumudahan dum pèukara Raya tulong niba' Tuhan, sabab geu lawan kaphé Hulanda Siblah u Barat wahé teungku, Pidie Meureudu Samalanga
  4. Dum pue mudah bri Tuhanku, pike/ he' teungku geutanyoe dum na Sabab geu prang sitrèe Allah, dum pue mudah Tuhan karönya Di geutanyoe teungku meutuah, dum pue sösah silagaina Nyan keu sabab wahe tolan, sitrèe Tuhan sajan gata Han neu tulong uléh Tuhan, gata nyoe sajan ngon Hulanda
  5. Be' lé'meunan wahé tolan, ta meurakan ngon Beulanda Kaphé paléh beu ta lawan, musöh Tuhan ngon Musthafa La ilaha illallah, bale' kisah hujöng ayat

Kini dijadikan rekan, janganlah demikian tuan bintara Jangan percaya kafir Yahudi, tak ada perhitungan rugi dan laba

  1. Manfaat mudharat tak sanggup diberi, kafir Yahudi isi neraka Percaya pada Nabi buah hati, di akhir nanti dalam surga Tiada khilaf tiap kitab, bersahabat dengan Belanda Jangan ikut wahai sahabat, azab Tuhan dalam neraka Wahai kaum yang beriman, ikuti firman Allah Ta'ala
  2. Tak terpermanai ayat Qur'an, yang menyuruh lawan kafir Belanda "Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad pada jalan Allah dengan harta-benda dan jiwa mereka, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang menang" Pahami makna hai buah hati, tidak perlu dijelaskan pula Wahai teungku lawanlah kafir, jangan berdiam lagi hai bintara
  3. Jangan takut teungku bertuah, meski banyak senjata kafir Belanda Jika dilakukan dengan tulus ikhlas, ada Allah yang memelihara Di negeri Aceh wahai taulan, ada kemudahan semua perkara Besar bantuan dari Tuhan, sebab menentang kafir Belanda Sebelah ke baral wahai teungku, Pidie, Meureudu, Samalanga
  4. Semua mudah anugerah Tuhan, pikirkan oleh semua kita Sebab diperangi seteru Allah, segalanya mudah Tuhan karunia Bagi kita teungku bertuah, semua susah tak terkira Itulah sebabnya wahai taulan, seteru Tuhan bersama anda Jika tak ditolong oleh Tuhan, kita bcrcampuran dengan Belanda
  5. Jangan lagi demikian wahai taulan, menjadikan rekan kafir Belanda Kafir eclaka harus dilawan, musuh Tuhan dengan Mustafa La ilaha Illallah, kembali kisah ujung ayat

Muhammad Rasulullah, that bit indah prang soe jungkat Hana nyang sa beurangkari, ngon prang sabi wahé sahbat

  1. Soe na hajat syureuga tinggi, bè' lè lanti ja' beu leugat Tujöh plöh droe budiadari, keu eseutiri wahé sahbat Rupa indah hana sakri, peunulang Rabbi di akhirat Saboh haba 'ajib sikali, wahé akhi tueng ibarat Haba jameun treb ka lawi, yöh prang Nabi Sayidil Ummat
  2. Sidroe ureueng hé syèedara, jeuheut rupa cit hitam that Pakri parot ba'-ba' muka, lom ngon sukia meukeu kilat Keu peurumoh gala' raya, neu ja' mita jeueb-jeueb teumpat Han ji tém tueng inong nyangna, sabab rupa eit jeuheut that Ho nyang neu ja' han ji tém tueng, sigala ureueng bandum luwat
  3. Tahe gante teuja' teu dong, han ji tém tueng jeueb-jeueb teumpat Uroe malam ja' mencari, keu eseutiri gala' neu that Padum lawét lon peureugi, tröih ba' Nabi Sayidil Ummat Ureueng lakoe nyan na ta turi, Sa'id Salmi nama meuhat Jeuheut meung rupa ta eu hitam, hatédi dalam cit putéh that
  4. Tröih ba' Nabi 'Alaihissalam, ureueng hitam peurab leugat Assalamu'alaikum héya Sayidi, sibeuna Nabi Rasul Hadarat 'AJaikumussalam jaweueb Nabi, due' beurheunti he ya aswad Geupiyöh lé rab ngon Nabi, geu tanyong kri bhaih 'ibadat Jalan seunang woe ba' Rabbi, neu peugah kri ya Muhammad
  5. Teuma neu peugah uléh Nabi, cit prang sabi nyang indah that Hana nyang sa beurangkari, ngon prang sabi hé ya aswad Meunan neukheun uléh Nabi, Sa'id Salmi tanyong leugat Beukit lön ja' ba' prang sabi, keu lön pue neu bri lé Hadarat Nyang jeued lön tanyong Po meukuta, karena rupa lön jeuheut that

Muhammad Rasulullah, sungguh indah perang dibangkit Tak ada yang sama suatu pun, dengan perang sabil wahai sahabat

  1. Yang berhajat surga tinggi, jangan lalai berangkat cepat Tujuh puluh orang bidadari, untuk istri wahai sahabat Rupa indah tiada lawan, anugerah Tuhan di akhirat Satu cerita ajaib sekali, wahai akhi ambil ibarat Kisah purba di masa silam, waktu berperang Nabi Sayidil ummat
  2. Ada seorang wahai saudara, rupanya jelek hitam amat Beserta parut di wajahnya, kulitnya pun hitam mengkilap Akan istri didamba amat, dicarinya ke setiap tempat Tidak disukai oleh wanita, sebab rupa jelek amat Ke mana saja tak ada yang mau, semua orang jijik amat
  3. Gamang ia termangu-mangu, tak ada yang mau di tiap tempat Siang-malam ia mencari, calon istri didamba sangat Beberapa lama ia pergi lagi, bertemu Nabi Sayidil Ummat Lelaki itu kenalkah anda?, Said Salmi namanya tepat Rupa jelek memang hitam, hati di dalam putih amat
  4. Sampai pada Nabi 'Alaihissalam, pemuda hitam mendekat cepat Assalamu'alaikum ya Sayidi, sesungguhnya Nabi Rasul Hadarat 'Alaikum salam jawab Nabi, duduklah di sini hai ya Aswad Ia pun duduk dekat Nabi, menanyakan soal ibadat Jalan yang senang mengahadap Rabbi, katakanlah kini ya Muhammad
  5. Maka dikatakan oleh Nabi, hanya perang sabil yang indah sangat Tak ada yang sama dengan itu, dengan perang sabil wahai Aswad Begitu dikatakan oleh Nabi, Sa'id Salmi bertanya cepat Andai saya berperang sabil, untuk saya apa hadiah Hadarat Saya tanyakan wahai Rasul, sebab rupa saya buruk sangat

  6. Pakri ngon parot ba'-ba' muka, ba' syèedara bandum luwat Sa'id Salmi meunan kata, Sayidil Anbiya jaweueb leugat Po geu tanyoe Rabbul A'la, han neu kira rupa jroh that Meuseuki namiet geu publoe ba, neu bri syureuga ma'na ibadat Meung nyo ma'siet neu bri nuraka, beu that raja manyang pangkat

  7. Jaweueb Sa'id kalam Sayidina, ya Maulana Sayidil Ummat Gaseh keu lon faqir hina, ureueng dönya bandum luwat Nyangna bacut Po meukuta, gala' raya lön meu teumpat Sigala inong hana rida, karena rupa lön jeuheut that Geu marit nyan ngon ie mata, srej ba' dada laju leugat
  8. Pakri lagèe Po meukuta, han è' saba gala' lön that Bandum inong hana ji tem, rupa kleng lon hitarh that Bani Hasyim kawöm ulön, bie' meurukon ureueng le that Rupa gej-gej adoe aduen, sidroe ulön nyang jeuheut that Ulön sidroe nyangjeued jeuheut, lön turöt apacut blah ma meuhat
  9. Ulön turöt syèedara ma, di gob nyata bandum keurabat Pakri ulön ya Sayidina, nyang that hina dagang kharat Nama ulön héya Sayidi, Sa'id Salmi ya Muhammad Teurimong gaséh meuribèe kali, di bawah gaki Sayidil Ummat Meunan geu kheun sira geu moe, Nabi geutanyoe sayang neu that
  10. Wahé Sa'id ta deungo kamoe, ta ja' jinoe gata leugat Uba' 'Umar ta ja' gata, meunoe haba ta riwayat Niba' Nabi lön ba sabda, aneu' gata neumeu hajat Neu yue ja' lön lé Panghulëe, meunoe lagèe neu amanat Neu yue tueng lon keu meulintèe, kheun Panghulëe Sayidil Ummat
  11. Nyan keu haba niba' Nabi, neu yue kheun kri keunoe meuhat Meunan ta kheun Sa'id Salmi, beudoih pergi bè' lé lambat Ban neu deungo Sabda Nabi, Sa'id Salmi beudoih leugat Hate mangat hana sakri, ka na eseutiri gala' neu that Yakin haté neu ja' sunggöh, ban nyang suröh Sayidil Ummat
  12. Haté teutap meu tawajuh, hajat ka tröih haté'mangat Hingga tröih lé keunan laju, neu meung lalu hana dapat

  13. Dengan parut penuh muka, semua yang pandang jijik amat Begitu berkata Sa'id Salmi, Saidil Anbia jawab cepat Khalik kita Rabbul A'la, tidak memandang keindahan rupa Sekalipun budak yang diperjualbelikan, diberikan surga pahala ibadat. Jika yang maksiat diberi neraka, sekalipun raja tinggi pangkat

  14. Menjawab Sa'id kalam Sayidina, Ya Maulana Sayidil Ummat Kasihi saya fakir hina, orang semua memandang jijik Yang ada sedikit ya Rasul, saya damba akan tempat Semua wanita tiada yang rela, karena rupa jelek amat Ia bicara dengan air mata, jatuh ke dada mengalir cepat
  15. Apakah daya ya Mustafa, tak tertahankan damba amat Semua wanita tiada yang mau, karena rupa hitam sangat Bani Hasyim kaum hamba, yang dikenal banyak kerabat Rupa baik adik-abang, saya sendiri yang jelek amat Saya sendiri yang buruk rupa, seperti paman adik ibunda
  16. Pada saya menurun saudara ibu, terlihat nyata semua kerabat Bagaimana saya ya Sayidina, yang sangat hina dagang larat Nama hamba ya Sayidi, Sa'id Salmi ya Muhammad Terima kasih beribu kali, ke bawah duli Sayidil Ummat Begitu katanya sambil tersedu, Nabi terharu kasihan amat
  17. Wahai Sa'id dengarlah kami, pergilah kini anda cepat Kepada Umar pergilah anda, begini cerita engkau riwayat Dari Nabi saya bawa sabda, putri Anda beliau hajat Disuruh saya oleh Penghulu Nabi, begini beliau beramanat Disuruh terima saya menjadi menantu, kata penghulu Sayidil Ummat
  18. Itulah kabar dari Nabi, disuruh sampaikan ke sini tepat Begitu katakan Sa'id Salmi, cepat pergi jangan lambat Begitu mendengar sabda Nabi, Sa'id Salmi segera berangkat Hati senang tak terkira, sudah ada istri yang dirindukan amat Yakin hati berjalan terus, sesuai perintah Sayidil Ummat
  19. Hati tetap dalam tawajjuh, hati senang sampai hajat Sesampai ia ke situ, hendak lalu tiada dapat

U dalam hanjeued neu lalu, gunci pintö geu boh kong that Sa'id teu dong niba' pintö, neu hei laju lépo teumpat Keunoe si'at wahé teungku, lon meunabsu raya hajat

1280. 'Umar deungo geu meuhey subra, neu tren lanja neu ja' leugat Pue roe neu hei nyan dilua, panè gata pue na hajat Sa'id seu'ot wahé"teungku, keunoe laju neuja' si'at Raya hajat lön meunabsu, hanjeued lalu pintö kong that 'Umar deungo narit meunan, nyo bit gobnyan na pue hajat

1285. Ban sare tröih 'Umar keunan, neu eu ureueng nyan cit hitam that

'Umar suröt lé u liköt, that teumaköt lom ngon luwat Sa'id neu kheun be' ta suröt, bè' ta taköt lön tan jungkat Lön ba Hadih Rasulullah, lön peugah jinoe beu teupat Aneu' gata neu yue peugah, ka lheueh nikah ngon lön meuhat

1290. Ban neu deungo narit meunan, 'Umar yöh nyan ka beungèh that

Be' ta peugah nyan narit nyan, tutö nyan hana mupatpat Nyang han patöt ta meuhaba, nyan sa rupa teu jeuheut that Bè' lé ta dong ja' tagisa, hitam sukla di lön luwat Ban Sa'id deungo meunan haba, srej ie mata sang hujeuen that

1295. Hay Tuhanku Rabbul A'la, hamba gata han tröih hajat Hay Tuhanku putöih asa, hamba gata nyang hina that Salah suröh Rasul gata, han cit rida he Hadarat Sayang that lön hé ya Rabbi, nyang eseutiri han lön dapat Sabab rupa lön that keuji, hana rida soe nyang lihat
1300. Han tröih hajat ban nyang nabsu, hay Tuhanku Rabbul 'Izzat Tob ngon ulèe geu woe laju, 'adat ta eu sayang teu that Tröih lè geu woe uba' Nabi, ba' gaki geusujud leugat Sira geu moe neu peugah kri, hana radi ya Muhammad 'Oh geu eu lön dong dilua, geu yue gisa geu kheun luwat

1305. Ulön peugah sabda gata, han cit rida geu kheun teupat

Ke dalam tak bisa jewat, kunci pintu kukuh amat Sa'id tertegun di dcpan pintu, dipanggilnya empunya tempat Ke mari sebentar wahai teungku, saya perlu besar hajat

  1. Umar dengar panggilan di luar, ia pun turun langsung ke tempat Apa yang diserukan itu di luar, dari mana anda apa yang dihajat Sa'id jawab wahai teungku, ke sini Anda sekejab mendekat Besar hajat saya sampaikan, tak bisa lewat pintunya kuat Umar dengar kata demikian, benarlah ia mempunyai hajat
  2. Setelah sampai Umar ke situ, dilihatnya yang datang hitam amat Umar undur ke belakang, karena jijik dan rasa takut Kata Sa'id janganlah undur, jangan takut saya bukan penjahat Saya membawa hadith Rasulullah, saya katakan kini cepat Disuruh sampaikan yang anak anda, sudah dinikahkan dengan hamba
  3. Begitu mendengar ucapan Said, Umar marah amat sangat Jangan ucapkan pcrkc.;r?.n itu, tutur karut tiada hormat Yang tidak patul kau ucapkan, sedangkan rupa jelek amat Ayo balik sekarang juga, hitam legam menjijikkan amat Mendengar ucapan demikian, air mata Sa'id bagai hujan lebat
  4. Ya Tuhanku Rabbul A'la, hamba Engkau selalu larat Ya Tuhanku putus asa, hamba Engkau yang hina amat Meski suruhan Rasul Engkau, juga tak diterima ya Hadarat Kecewa benar saya ya Rabbi, calon istri gagal kudapat Sebab rupa sangat jelek, tak rela orang yang melihat
  5. Gagal hajat yang dituju, ya Tuhanku Rabbul 'Izzah Menutup kepala langsung pulang, jika dipandang kasihan amat Sesampai ia kehadapan Nabi, pada kaki bersujud cepat Sambil menangis diceritakan, tidak diterima ya Muhammad Melihat saya berdiri di luar, disuruh balik katanya jijik
  6. Hamba sampaikan sabda Sayidi, tak juga rela jawabnya cepat

Ban Nabi ngo Sa'id peugah, Rasulullah sayang neu that Bit Umar nyan kureueng tuah, lön jibantah hana mupat Lön peu due' haba Sayidina, haba 'Umar lom lön sambat 'Oh hana lé Sa'id disana, neu woe teuma lé u teumpat

  1. Tröih u rumoh neu é' lanja, ba' aneu'da putéh lumat Ji marit lé po jroh rupa, ngon ayahanda suara mangat Cit saleh that ngon taqwa, sunggöh raya ba' 'ibadat Rupa pi jroh hana tara, ba' ayahanda ji kheun teupat Wahe du po ayah kamoe, pakon meunoe gadoh ingat
  2. Suröh Nabi han ta pakoe, na la'én soe bri syufeu'at Neu lakèe lon Rasulullah, neupeunikah deungon sahbat Han ta tém tueng wahé ayah, Allah mupaloe that 'Umar seu'öt bijèh mata, kon han rida putéh lumat Nyang han lön tueng po jroh rupa, sabab rupa jeuheut sangat
  3. Po sambinoe seu'öt abi, nyang bakeuti takuwa that Ba' lön hé ayah pue nyang ta bri, uléh Nabi rida lön that Niba' gata han meuteuntèe, keu meulintèe jeuheut sangat Niba' ulon ateueh ulèe, bri Panghulèe Sayidil Ummat Wahé ayah sikarang ini, ja' ba' Nabi gata leugat
  4. Lakèe ampon di bawah gaki, beu neurida pue nyang hajat Ban 'Umar ngo kheun aneu'da, neu tren lanja neu ja' leugat Ban saré tröih 'Umar keunan, Po Junjöngan le kheun teupat Wahe 'Umar pakon meunan, narit lön ringan ba' gata that 'Umar seumah jaroe gaki, ya Habibi Sayidil Ummat
  5. Raya salah lön ba' Nabi, ampön neu bri ya Muhammad Aneu' ulön sösah raya, teumeurcuka jitaköt that Ji yue rida ja' ulön uba' gata, jiyue rida pue nyang hajat

Begitu Nabi dengar Sa'id berkata, Rasulullah terharu sangat Sungguh Umar kurang tuah, saya dibantah tidak setakat Hamba hentikan kisah Sayidina, kepada Umar hamba beran- jak Setelah Sa'id berbalik pergi, Umar kembali lagi ke tempat

  1. Sesampai ke rumah langsung naik, menjumpai anaknya si kuning langsat Berkata putrinya yang rupawan, kepada ayahanda suaranya sedap Sungguh saleh lagi laqwa, yakin amat beribadat Rupanya pun sangat elok, pada ayahnya bertanya cepat Wahai ayah pelindung kami, mengapa begini gelisah amat
  2. Perintah Nabi tiada hirau, adakah yang lain pemberi syafa'at Terimalah wahai ayah, nikahkan saya dengan sahabat Kalau tak diterima wahai ayah, Allah-Allah celaka sangat Umar menjawab si biji mata, bukan tak rela hai kuning langsat Maka kutolak wahai ananda, sebab rupanya buruk sangat
  3. Berkata pula dara jauhari, yang berbakti taqwa sangat Bagi saya hai ayah apa yang diberi, oleh Nabi kusukai amat Bagi ayah belum lentu, karena menantu buruk amat Bagi saya atas batu kepala, pemberian Penghulu Sayidil Ummat Wahai ayah sekarang juga, jumpai Nabi janganlah lambat
  4. Mohonkan ampun ke bawa duli, terimalah sembarang hajat Setelah Umar dinasihati putri, turun segera langsung berangkat Setelah sampai Umar ke situ, Nabi Junjungan menegur cepat Wahai Umar mengapa demikian, pesanku enteng anda anggap Umar menyembah di tangan di kaki, ya Habibi Sayidil Ummat
  5. Besar kesalahan saya ya Rasul, berikan ampunan ya Muham- mad Anak hamba susah sangat, akan durhaka ditakuti sangat Kepada hamba kini ya Sayidi, disuruh terima apa yang dihajat

jinoe ba' lön he ya Sayidi, hajat Nabi rida sangat Ampön meu'ah meuribèe kali, di bawah gaki Sayidil Ummat

  1. Jaweueb Nabi Rasulullah, ampön ba' Allah Rabbush-Shamad Ba' ulön gata tan salah, meung han ubah ban amanat Uba' 'Umar tanyong Nabi, pajan hari nyang jroh sangat 'Umar jaweueb ya Habibi, jan ba' Nabi rida sangat Wahe 'Umar ja' ta gisa, malam lusa jadèh meuhat
  2. Tamubisan lön ngon gata, meukeureuja ban nyang 'adat 'Oh lheueh pakat teugoh janji, 'Umar keumbali woe u teumpat Neu seumah ba' teu'öt Nabi, bangkét berdiri neu woe leugat Teuma neu meuhey uleh Nabi, Sa'id Salmi keunoe si'at Sa'id beudoh lé peureugi, he Salmi tröih ban hajat
  3. 'Umar bin Khattab ka geurida, jinoe gata ta ja' leugat Phön ba' 'Ali ta peuteuka, lakèe beulanja sinan meuhat Siribèe deureuham ta lakèe sinan, hana jeuet han kheun beu teupat Teulheueh nyan ta ja' ba' 'Usman, nyan pi meunan cit riwayat Ba' Abu Bakar lom talakèe, deureuham siribèe lön meuhajat
  4. Tapeugah ulön yue lakèe, keu jeunamee gata meuhat Ban neu deungo sabda Nabi, Sa'id Salmi beudoh leugat Ka tröih hajat na eseutiri, hana sakri gala' neu that Hingga tröih le neu peureugi, uba' 'Ali tamong leugat Neu peugah ban Sabda Nabi, Sayidina 'Ali cit rida that
  5. Lom neu tamah siribèe lagi, Sa'id Salmi neu tren leugat Ba' 'Usman neupeureugi, hate beureuhi gala' neu that 'Oh tröih keudéh geu peugah kri, 'Usman bri le rijang that Lom neu tamah siribèe lagi, Sa'id Salmi tröih ban hajat Neu tren sinan teuma sigra, ba' Abu Bakar neu ja' leugat
  6. Neu peugah lé'ban nyang sabda, neu bri sigra hana lambat Lom siribèe neu tamah lagi, Sa'id Salmi sayang neu that

Bagi hamba demikian juga, keinginan Nabi rela sangat Ampunkan kami beribu kali, ke bawah kaki Sayidil Ummat

  1. Menjawab Nabi Rasulullah, pengampunan pada Allah Rabbul Samad Pada saya anda tidak bersalah, jika tak berubah dari amanat Pada Umar Nabi bertanya, hari apa yang baik sangat Jawab Umar ya Habibi, terserah pada Nabi waktu yang tepat Wahai Umar pulanglah Anda, malam lusa sungguh tepat
  2. Berbesan saya dëngan anda, berhelat mengikut adat Bulat mufakat teguh janji, Umar kembali balik ke tempat Disembahnya lutut Nabi, lalu berdiri langsung berangkat Kemudian dipanggil oleh Nabi, Sa'id Salmi ke sini sekejab Sa'id bangkit menemui Nabi, wahai Salmi terkabul hajat
  3. Umar bin Khattab sudah setuju, kini anda segera berangkat Pertama sekali jumpai Ali, pastilah di situ bantuan dapat Seribu dirham mintalah di situ, harus begitu katakan cepat Setelah itu jumpai Usman, itu pun demikian harus didapat Pada Abu Bakar juga katakan, seribu dirham hamba berhajat
  4. Katakan saya yang suruh minta, untuk maskawin anda berhelat Setelah mendengar sabda Nabi, Sa'id Salmi langsung berangkat Tercapai hajat ada istri, senang hati gembira sangat Hingga sampailah ia berjalan, ke kediaman Ali masuk cepat Disampaikannya sabda Nabi, Sayidina Ali rela sangat
  5. Pitambahkannya seribu lagi, Sa'id Salmi kini berangkat Kepada Usman ia pergi, hati bernyanyi, senang sangat Setiba ke sana disampaikan, Usman pun memberi dengan cepat Juga ditambah seribu lagi, Sa'id Salmi bersampaian hajat Dari situ berangkat segera, ke rumah Abu Bakar berjalan cepat
  6. Disampaikannya sesuai sabda, diberikan segera tiada lambat Lagi seribu ditambahkan, Sa'id Salmi disayangi amat

Muliaan sabda Nabi, meunan geu bri ban lhèe sahbat Nam ribèe deureuham ka meuteumèe, neu ja' lakèe ban lhèe teumpat Neu woe laju ba' Panghulëe, hana lagèe gala' neu that

  1. 'Oh tröih keudèh uba' Nabi, ya Salmi tröih ban hajat Neu seu'öt lé'ya Habibi, beureukat Nabi ngon mu'jizat Lom geu tamah ban lön lakèe, dua ribèe sapat-sapat Lhèe pat geubri jeued nam ribèe, he Panghulèe nyoe puwoe pat Jaweueb Nabi Panghulèe geutanyoe, areuta nyoe keu gata meuhat
  2. Keupue ta jö' uba' kamoe, ja' bloe jinoe pue nyang hajat Lön meu haba ka seuleusoe, janji baroe ka tröih ba' had Tanggöh Nabi dua uroe, ka tröih sampoe ban nyang pakat Wahé Sa'id ja' u peukan, bloe peukayan pue nyang hajat Mangat ta puwoe keu dara barö, ta ja' laju bè' lé lambat
  3. Euntreut malam woe ba' judö, lintö barö gata meuhat Ban Sa'id ngo haba Junjöngan, neu tren yöh nyan neu ja' leugat ja' u keudè bloe peukayan, hanjeued kheun ban gala' neu that Mè deureuham dum seumubloe, ngon bungong bèe dum mangat that 'Ata jibet mawo ceundana, cit dum pue na ka ji meukat
  4. Bloe siluweue bajèe ija, le hareuga yum meuhay that Meu keurawang kasab sutra, si anika neubloe leugat Pue nyang gala' ureueng binoe, habéh neu bloe dum lat batat Rindu haté Sa'id Salmi, teungoh lalè bloe meuneukat Neu keumeung woe ba' eseutiri, hana sakri gala' neu that
  5. Teukeudi Tuhan Rabbul A'la, gaséh keu hamba nyang 'ibadat Tieb-tieb Neugaséh Neubri bala, niba' raja nyang 'adé'that Teukeudi Tuhan Po lon Rabbi, kaphéYahudi ka meusapat Teuma meugah uba' Nabi, neu yue kheun kri bandum sahbat

Sungguh mulia sabda Nabi, langsung diberi oleh ketiga sahabat Enam ribu dirham telah terkumpul, diperoleh di tiga tempat Langsung kembali pada Saidina, bukan kepalang senang amat

  1. Setelah sampai ditanyai Nabi, ya Salmi tercapailah hajat? Dijawabnya: Ya Habibi, berkat Nabi dengan mukjizat Malah ditambah dua kali lipat, dua ribu di tiap tempat Jadi enam ribu di liga tempat, wahai penghulu inilah lihat! Menjawab Nabi penghulu kita, ini harta untuk anda berhelat
  2. Mengapa dibcrikan pada kami?, belikan kini apa yang dihajat Bicara saya sudah selesai, janji kemarin sudah didapat Bertangguh Nabi dua hari, tercapai kini sesuai hajat Wahai Sa'id pergilah ke pekan, beli pakaian penuhi adat Untuk bawaan bagi mempelai, pergilah kini jangan terlambat
  3. Nanti malam ke tempat istri, anda pengantin yang penuh rahmat Ketika mendengar ucapan Junjungan, Sa'id pun turun langsung berangkat Masuk ke kedai beli pakaian, tak terkatakan gembira sangat Membawa dirham untuk berbelanja, bunga-bungaan baunya sedap Atar kesturi mawar cendana, semua dijual mudah didapat
  4. Beli celana baju dan kain, harganya tinggi mahal amat Berkerawang bcnang emas dan sutra, ia pun segera membeli cepat Apa yang discnangi oleh wanita, dibeli semua berbagai perangkat Rindu dendam Sa'id Salmi, sibuk membeli berbagai perangkat Hendak dibawa untuk istri, senang hati gembira sangat
  5. Takdir Tuhan Rabbul A'la, mengasihi hamba yang beribadat Setiap yang dikasihi diberi bala, dari Raja yang adil sangat Takdir Tuhan Khaliqul Rabbi, kafir Yahudi sudah merapat Kemudian terbcrita kepada Nabi, disuruh kabari pada para sahabat SASTRA PERANG - 11 15

'Oh tröih keunoe bandum sare, meusabda lé Rasul Hadarat

  1. Ba' uroe nyoe bè' lé lalè, ja' prang kaphé wahe sahbat Peu keumah droe sikeulian, ta ja' lawan kaphé'jungkat Ulon teu nyoe pi ja' sajan, beudoh rakan bè' lé lambat Sare keumah sikeulian, Rasul Tuhan neu beurangkat Bè' le meukat dalam peukan, meuhey yöh nyan bandum sahbat
  2. Wahé teungku bandum gata, hé syèedara bè' ié meukat Uroe nyoe prang kaphé Ulanda, Nabi geutanyoe neu beurangkat Sa'id Salmi gohlom neu woe, ka seuleusoe bloe meuneukat Ba' eseutiri neu keumeung woe, hana bagoe meusyén neü that Teungoh-teungoh neu meung co' langkah, teukeudi Allah Rabbul 'Izzat
  3. Neu deungo su Bilal ka marah, suara limpah neu meuhey le' that Wahe teungku tuha muda, taja' lanja keunoe leugat Jéh pat Nabi prèh dilua, ta ja' sigra bè' lé lambat 1 Taja' co' dara baro prang, sang buleuen trang rupa jroh that Hé"teungku ta ja' beu rijang, jéh pat di blang ka na meuhat
  4. ja' co' rampasan lam syureuga, peunoh pinta tröih ban hajat Ban neu deungo meunan haba, tren dum rata geu ja' leugat Sa'id Salmi teungoh gisa, sang geupula teudong kong that U langèt neutangah muka, srej ie mata ban hujeuen that Seureuta ngon geu kheun nyoe ban, wahé Tuhan Rabbul 'Izzat
  5. Hai Tuhanku nyang that kaya, sama' bashar qudrat iradat Hai Tuhanku Tuhan kamoe, hamba teu nyoe cit hina that Gala' lön that keu eseutiri, malam hari lön meuhajat Ka meuteumèe he'ya Rabbi, beureukat Nabi Rasul Hadarat ja' u keudè lön ja' mubloe, lon keumeung woe ja' éh sapat

Setelah sampai semuanya, lalu bersabda Rasul Hadarat

  1. Pada hari ini jangan lalai, perangi kafir wahai sahabat Persiapkan diri sckalian, kita serang kafir laknat Saya pun ikut berjalan, bangkitlah rekan jangan terlambat Setelah berlcngkap handai taulan, Rasul Tuhan lalu berangkat Berhenti semua berjualan, lalu dihimpunkan semua sahabat
  2. Wahai teungku sckalian, berhenti berjualan simpan cepat Hari ini memerangi kafir Belanda, Nabi kita hendak berangkat Sa'id Salmi belum kembali, baru selesai membeli perangkat Untuk istri hendak'dibawa, tak terkira rindu amat Ketika hendak mengambil langkah, takdir Allah Rabbul'Izzah
  3. Didengarnya suara Bilal menggertak, suara seruan ramai sangat Wahai Teungku tua muda, mari kita segera berangkat Di sana Nabi menunggu di luar, pergilah segera jangan terlambat Pergi menjemput mempelai perang, purnama benderang can- tik amat Wahai teungku berangkat sekarang, di arena perang pasti terlihat
  4. Jemputlah rampasan di dalam surga terpenuhi damba tercapai hajat Ketika mendengar berita demikian, bergabunglah semua langsung berangkat Sa'id Salmi sedang berjalan, tegak terheran amat sangat Ke langit ia tengadahkan muka, air mata jatuh bagai hujan lebat Sambil berkata demikian, wahai Tuhan Rabbul 'Izzah
  5. Ya Tuhanku yang amat kaya, sama' bashar qudrat iradat Ya Tuhanku, Tuhan kami, hamba ini memang hina sangat Rindu sungguh akan istri, malam dan siang saya berhajat Sudah ketemu ya Rabbi, berkat Nabi Rasul Hadarat Pergi ke kedai hamba berbelanja, hendak kembali tidur se- tempat

  6. Keuheundak gata ba' uroe nyoe, Panghulèe kamoe neu beurangkat Jinoe lön ja' sajan Nabi, keu eseutiri han lön hajat Areuta nyoe hé ya Rabbi, jinoe lön bri keu gata meuhat Lön iköt gata héya Rabbi, lön iköt Nabi Sayidil Ummat Jinoe lön ja' ba' prang sabi, deungon radi haté'mangat

  7. Sa'id Salmi meunan ngadu, ba' Tuhanku Rabbul Izzat Ngon ie mata teubiet laju, Sa'id rindu keu akhirat Teulheueh neu kheun nyan Sa'id Salmi, neu publoe dum meuneukat Bloe peukayan ja' prang kaphé, neu bloe beude dum ngon ubat Bloe ngon peudeueng panyang mata, bloe jeumba-jeumba meung sigak that
  8. Neu bloe kandran gidue' guda, bajee raya sangat hibat Peukayan hibat didalam prang, dum sibarang neu bloe leugat Ateueh guda Sa'id pasang, taloe keukang le neukarat Sa'id tarék uba' taloe, guda raghoe ji lumpat-lumpat Yakin haté hana bagoe, Sa'id sidroe bahagia that
  9. Neu poh guda pantaih laju, Sa'id rindu keu akhirat Keu dönya nyoe tan lénabsu, wahé teungku tueng 'ibarat Hingga tröih lé'uba' Nabi, Sa'id Salmi sangat hibat Bandum ureueng tan geu turi, hana sakri meusiga' that Sahbat Nabi dum sinaroe, teungoh laloe muprang leugat
  10. Bandum sunggöh hana bagoe, kaphé pindoe maté le that Tuan teu 'Ali that gurangsang, kaphé neu cang han é' böh that Teungoh sunggöh dum geu muprang, seun srej datang ureueng hibat Ateueh guda geumeukandran, raya badan ngon panyang that Geu tajö lé dalam kawan, pantaih hanban miseue kilat
  11. Salèh panè teuka gob nyan, pike meunan bandum sahbat Salèh ureueng nanggroe Yaman, bantu Junjöngan prang meukarat Bandum sahbat han geu turi, Sa'id Salmi keureuna hibat

  12. Kehendak Engkau hari ini, Penghulu kami hendak berangkat Kini hamba menyertai Nabi, akan istri tak. berhajat Harta ini duhai Rabbi, hamba sumbangkan untuk Engkau yang Ahad Hamba ikut engkau ya Rabbi, mengikut Nabi Sayidil Ummat Kini hamba berperang sabil, dengan hati rela sangat

  13. Sa'id Salmi begitu mengaku, pada Tuhanku Rabbul 'Izzah Air mata menetes terus, Sa'id Salmi rindu akhirat Selesai berkata Sa'id Salmi, dikembalikannya semua perang- kat Dibelinya pakaian untuk berperang, bedil dan mesiu dengan cepat Beserta pedang panjang mata, dengan jumbia yang rancak sangat
  14. Dibelinya kendaraan kuda tunggang, baju zirah hebat sangat Berbagai peralatan dibelinya, bahkan pakaian perang yang hebat Di punggung kuda Sa'id menunggang, tali kekang dikebat Said tarik tali kekang, kuda garang lalu melompat Yakin hati tak terperi, said sendiri bahagia amat
  15. Kuda dipacu kencang sekali, Sa'id Salmi rindu akhirat Pada dunia tak lagi bernafsu, wahai teungku ambil ibarat Ia pun sampai pada Nabi, Sa'id Salmi sangat hebat Semua orang tak mengenalnya, tak bertara rancak sangat Sahabat Nabi sekalian, sedang berperang penuh tekad
  16. Semua yakin tiada tara, kafir celaka bertindih mayat Saidina Ali sangat berangsang, kafir diparang tak terkhidmad Sedang sibuk semua berperang, lalu datang pahlawan hebat Dengan kuda ia melaju, badan tegap jangkung sangat Ia merencah ke dalam kerumunan, lincah berahh secepat kilat
  17. Entah dari mana ia datang, berpikir demikian semua sahabat Entah orang dari Yaman, membantu Junjungan perang mem- berat Semua sahabat tak mengenali, Sa'id Salmi begitu hebat

Geu cang kaphé han soe tukri, kaphé 'ashi maté le that Guda pantaih sang keudidi, kaphé Yahudi neu cang leugat

  1. Meusila' bajèe leumah ba' 'Ali, ka neu turi neu eu hitam that Wahe Sa'id nyang bahgia, asoe syureuga manyang pangkat Sa'id seu'öt neu kheun labbaika, ya Murtada nyoe lön meuhat Nyoe keu ulön héya 'Ali, Sa'id Salmi nyang hina that Meu'ah ampön dèesya kami, lön keumbali u akhirat
  2. Teungoh kheun nyan Sa'id Salmi, kanan kiri neu cang leugat Teukeudi Tuhan Po lön Rabbi, Sa'id Salmi meutuah that Gadoh ingat ba' neumeucang, dönya nyoe sang tan lé mupat Leumah akhirat nyang trang bandrang, Sa'id bimbang keunan lazat Kaphé paléh jipubeudé, Sa'id keunong le'uba' jasad
  3. Ateueh guda srej meugulé, ka meusampé'bri Hadarat Tröih lé judö ja' theun jaroe, ji mueng lakoe putéh lumat Suka haté hana bagoe, cut sambinoe haté mangat Ureueng la'én dum kafilah, Sa'id reubah tan geulihat Teungoh geucang sitrèe Allah, teungoh sösah dum meukarat
  4. Tuan teu 'Ali that guranta, peudeueng zulfikar yo meutat-tat Kaphe mate dum meukeuba, si ceulaka ji plueng leugat Habéh talö kaphé pindoe, rakyat geu woe dum meusapat Geu eu rakan syahid sidroe, ureueng bunoe nyang hitam that Teuma geu woe uba' Nabi, geu peugah kri laju leugat
  5. Ureueng syahid héya Sayidi, han lön turi reubah jeh pat Ban Nabi ngo meunan haba, Po meukuta neu beurangkat Meuteumeung ngon 'Ali Murtada, neuparè'sa laju leugat Soe jéh syahid wahe 'Ali, han geuturi uléh sahbat 'Ali jaweueb ya Habibi, Sa'id Salmi na lon lihat
  6. Sa'id Salmi bunoe sinoe, salèh sit nyoe han tröih dapat

Dipedangnya kafir tiada henti, kafir 'ashi bertindih mayat Kuda bergerak lincah sekali, kafir Yahudi dipedangnya cepat

  1. Tersibak baju dilihat Ali, ia kenali karena hitam sangat Wahai Sa'id yang berbahagia, isi surga yang tinggi pangkat Sa'idmenjawab dengan 'labbayka', ya Murtadha sayalah Said Inilah saya wahai Ali, Sa'id Salmi yang hina amat Maafkanlah dosa kami, saya kembali ke akhirat
  2. Sedang berkata Said Salmi, kanan4dri diparangnya cepat Takdir Tuhan Khaliqul Rabbi, Sa'id Salmi bertuah amat Lupa diri dalam berperang, dunia seolah tak lagi terlihat Tampak akhirat yang benderang, Sa'id terpukau memandang lezat Kafir celaka menembakkan senapan, Sa'id terkena melukai jasad
  3. Dari punggung kuda jatuh ke bumi, sudah tercapai anugerah Hadarat' Bidadari tiba menampung jasad, memeluk suami mesra sangat Suka hati tak bertara, putri surga jelita sangat Orang lain berbagai kafilah, Sa'id rebah tiada yang lihat Sedang memarang musuh Allah, sedang susah perang mem- berat
  4. Sayidina Ali sangat berani, pedang Zulfikar bergetar cepat Bangkai kafir bertaburan, yang lain berlarian meninggalkan tempat Alah sudah kafir celaka, rakyat semua kembali ke tempat Terlihat syahid seorang rekan, pahlawan tadi yang hitam amat Kemudian dikabarkan kepada Nabi, diceritakan secara singkat
  5. Ada yang syahid wahai sayidi, tak saya kenali rebah di tempat Nabi dengar demikian cerita, Sayidina pun lalu berangkat Bertemu dengan Ali Murtadah, lalu ditanya dengan cermat Siapakah yang syahid wahai Ali, tak dikenali oleh sahabat Ali jawab: Ya Habibi, Sa'id Salmi ada saya lihat!
  6. Sa'id Salmi tadi di sini, entah pun benar tak saya lihat

Ban neu deungo Po Junjöngan, ie mata yöh nyan srej le leugat Pue buet keunoe Sa'id Salmi, sidéh di keude bloe meuneukat Lön yue ja' woe ba' eseutiri, malam hari gala' geu that Neu ja' laju Po meukuta, neupeu nyata Sayidil Ummat

  1. 'Oh deuh neu eu Sa'id mulia, neu moe rugha amat sangat Wahé Sa'id nyang meutuah, pajan ta langkah keunoe meuhat Sidéh di keudè gata lön keubah, woe ba' zawjah bloe meuneukat Ulèe Sa'id neu beu'et ngon jaroe, neu mueng keudroe Sayidil Ummat Srej ie mata meuteutaloe, hana bagoe sayang neu that
  2. Neu ngieng ba' muka Sa'id Salmi, neu moe Nabi amat sangat 'Oh neu paleng kanan kiri, khém Habibi Sayidil Ummat Sahbat tanyong uba' Nabi, ya Habibi pue hékeumat 'Oh neü ngieng ho la'én muka, khém meukuta kami lihat Jaweueb Nabi Sayidil Anbiya, neupeu haba ba' dum sahbat
  3. Lön ngieng Sa'id nyang jeued lön moe, lam dönya nyoe han tröih hajat Euntreut malam geu keumeung woe, ba' judö droe gala' geu that Nyang jeued lön khém kanan kiri, budiadari ji tren le that Meu seunoh-seunoh co' suami, rupa juhari han jeued lihat Lam leumueng lön Sa'id Salmi, tök eseutiri dum jija' mat
  4. Malèe ulön hana sakri, judö Salmi rupa jroh that Teuma Sabda Rasulullah, Sa'id meutuah tanom leugat Geu tanom lé boh lam qubah, gaséh Allah ureueng hitam that Areuta Sa'id bubé nyangna, bandum keu 'Umar neu yue eun- tat Sa'id ka neuwoe ba' Rabbana, judö ka na la'én nyang jroh that
  5. Aneu' gata pi han ta bri, rupa keuji ta kheun luwat

Mendengar itu Rasul Junjungan, air matanya pun jatuh ber- derap Mengapa ke sini Sa'id Salmi, ia di kedai membeli perangkat Saya suruh pulang mendapatkan istri, malam dan hari dirin- dui sangat Langsung berjalan Rasul Junjungan, ingin kepastian Sayidil Ummat

  1. Setelah nyata Sa'id mulia, menangis Sayidina amat sangat Wahai Sa'id yang bertuah, kapankah langkah ke sini diangkat Di kedai sana Anda saya tinggal, membeli bawaan memenuhi adat Kepala Sa'id diangkat Nabi, dipangku sendiri oleh Sayidil Ummat Air mata jatuh berlinang, sungguh sayang yang melihat
  2. Dipandangnya wajah Sa'id Salmi, menangis nabi amat sangat Kala berpaling kanan-kiri, tersenyum Habibi Sayidil Ummat Bertanya sahabat pada nabi, ya Habibi apakah hikmat Kala berpaling ke arah lain, tersenyum Sayidina kami lihat Jawab Nabi Sayidil Anbia, diceritakan pada sahabat
  3. Sebabnya Sa'id saya tangisi, di dunia ini tak sampai hajat Nanti malam dia hendak kembali, menjumpai istri yang dirin- dui amat Saya tersenyum ke kanan4xiri, sebab bidadari banyak sangat Berebutan memangku suami, wajah jauhari silau dilihat Dalam pangkuan saya Sa'id Salmi, datang bidadari berebut angkat
  4. Malu saya tak terkira, jodoh Sa'id Salmi jelita sangat Kemudian sabda Rasulullah, Sa'id bertuah kuburkan cepat Maka dikuburkan di bawah qubah, dikasihi Allah orang hitam amat Harta Sa'id sebcrapa ada, semua pada Umar diantar khidmat Sa'id sudah menghadap Rabbana, istrinya yang baru jelita amat
  5. Anak dara anda tak rela diberi, karenarupa buruk menjijikkan

Tujöh plöh droe budiadari, peunulang Rabbi rupa jroh that 'Oh tröih ba' 'Umar geu peugah kri, ban yue Nabi geu kheun teupat Aneu' 'Umar ngo judö tan lé, weueh that haté sayang ji that Aneu' 'Umar moe hana sakri, hé ya Sayidi han tröih hajat

  1. Ayah dilèe neumeuda'wa, neukheun sukla sangat luwat Tuböh ulon hana bahgia, ureueng mulia han lön dapat Wahé Sa'id nyang meutuah, judö lön sah gata meuhat Di dönya kon hana ubah, waliyullah tröih akhirat Hé'Tuhanku putöih asa, cit meung rupa goh lön lihat
  2. Seun sroj ka tröih keu lön areuta, ho ulön ba hé Hadarat Bah keu dumna lön peuhaba, jlak tabaca meungnyo le that Habeh kisah ureueng bahgia, he syèedara tueng 'ibarat Ja' hé teungku ba' prang sabi, bè' lé lanti wahé'sahbat Pakon teungku han padöli, bandum neu bri lé Hadarat
  3. Hesyèédara aduen adoe, bè' that laloe ba' hareukat Adat le geudong meuih meupeutoe, geutanyoe sidroe cit lam jeurat Meung kon mate di dalam prang, wahé" abang cit sakét that Sikureueng ribèe bala datang, keusakétan nyawong lam jasad Saboh-saboh bala nyan neubri, siribèe kali geutak nyang that
  4. Geucang ngon peudeueng siribèe kali, piké akhi dumna meularat Sikureueng ribèe nyan dum-dum nan, teuka keunan uba'jasad Pue lom sakét leubèh niba' nyan, hé budiman ingat beu that Maté lam prang sabilullah, teungku meutuah cit mangat that Tamsé ta jeb ie teungoh grah, meunan ulah manyoh lazat
  5. Beu tapateh teungku meutuah, peureuman Allah wahe ahbab Sikra' haba tan lon tamah, bube peuneugah dalam Kitab La ilaha illallah, balek kisah wahe abang

amat Tujuh puluh orang bidadari, anugerah Rabbi jelita amat Sesampai pada Umar dikabarkan, perintah Nabi dikatakan cepat Didengar putri meninggal suami, bersedih hati kasihan am?. Putri Umar menangis tiada henti, o ya Sayidi tak sampai hajat

  1. Dulu ayah sampai berdakwa, mengatakan hitam jijik amat Tubuh hamba tak berbahagia, orang mulia hamba tak dapat Duhai Sa'id yang bertuah, suami hamba yang sah ini Sejak di dunia tak berubah, waliyullah sampai akhirat Ya Tuhanku putus asa, hanya rupa yang belum kulihat
  2. Kini diantar untukku harta, ke mana hamba bawa ya Hadarat Cukup sekian saya berkisah, bosan anda jika panjang amat Selesai kisah orang bahagia, wahai saudara ambil ibarat Berangkatlah teungku berperang sabil, jangan lalai wahai sahabat Mengapa teungku tak peduli, semua diberi oleh Hadarat
  3. Wahai saudara adik dan abang, dengan dagangan jangan lalai amat Walau banyak gedung emas berpeti, sendirian kita di dalam kubur Jika bukan mati di dalam perang, wahai abang sakit amat Sembilan ribu bala yang datang, kesakitan nyawa dalam jasad Satu persatu bala itu diberi, seribu kali ditetakan yang kuat
  4. Dihantam pedang seribu kali, pikirkan akhi menderita sangat Sembilan ribu yang seberat itu, datang ke situ menyiksa jasad Adakah sakit lebih dari itu, hai budiman camkan sangat Mati dalam perang sabililah, teungku bertuah senanglah sangat Tamsil minum selagi haus, seolah begitu hanyut lezat
  5. Percayalah teungku bertuah, firman Allah wahai sahabat Sepatah kata pun tak kutambahkan, sesuai pekabaran dalam kitab La Ilaha Illahah, wahai abang beraliH kisah

Muhammad Rasul Allah, teungku meutuah taja' ba' prang Soe nyang rindu keu syureuga, ta ja' lanja jinoe sikarang

  1. Tujöh plöh droe budiadari, keu eseutiri Tuhan pulang Rupa indah hana sakri, peuneujeued Rabbi sang buleuen trang Taja' laju he boh hate, areuta be' le dum ta sayang Inna lillahi wa inna ilaihi raji'una, ayat nyan ta kheun wahé akhi Ta'ingat droe milék Hadarat, dudoe meuhat ta woe ba' Rabbi
  2. Meung nyo ba' Tuhan ta woe dudoe, ingat jinoe buet prang sabi Seureuta tulöng ta bri beulanja, ya Rabbana kaphé beu lari Ta lakèe dö'a uroe malam, uba' Tuhan Po lön Rabbi Neubri talö sikeulian, wahé Tuhan nyang that ghani Bè' jihukom nanggroe Islam, neu bri beu hilang kaphe hareubi
  3. Raja-raja habéh cre'-bré, Dalam han lé'habeh ji'ungki Habéh kéng-keueng dalam rimba, sabab Ulanda that ji banci Buet Ulanda sitrèe gata, kamoe hamba habéh cre-bré' Beu Neutulong raja Islam, hé^ya Rahman sikarang ini Beu Neutulong ateueh agama, raja nyang beuna keu kamoe Neubri
  4. Beu Neupuwoe raja ba' teumpat, Neubri hidayat ba' prang sabi Neutulong kamoe ya Rabbana, habéh dumna jeueb-jeueb nanggri Sabab kaphé jiprang nanggroe, dumna kamoe habéh cré-bre Keureuna kamoe daröhaka, tèebat hana ma'siet sabe Jinoe Neubri taufiq Gata, ateueh hamba tèebat neu bri
  5. Habéh cré-bré' jeueb-jeueb nanggroe, kaphé pindoe buet jideungki Agama Gata jipeuhina,_ya Rabbana bè' le Neubri Kamoe jiprang jipeusyéksa, Sayidil Anbiya jipeukeuji Ji peujayeh Nabi Muhammad, kaphé'la'nat jeuheut that bagi

Muhammad Rasulullah, teungku bertuah herangkatlah ber- perang Siapa yang rindu akan surga, pergilah segera dari sekarang

  1. Tujuh puluh orang bidadari, Tuhan berikan untuk istri Rupa indah tak terperi, bak bulan terang ciptaan Rabbi Berangkatlah segera buah hati, akan harta jangan lagi disa- yangi Sesungguhnya kami inilah Allah dan kamu akan kembali kepadanya, ayat itu ucapkan wahai akhi Ingatkan diri milik Hadarat, pasti kelak menghadap Rabbi
  2. Jika pada Tuhan kembali nanti, ingatlah kini kerja perang sabil Serta memberi sumbangan belanja, Ya Rabbana biar kafir lari Mohonkan doa siang-malam, kepada Tuhan Khaliqul Rabbi Semoga semua engkau kalahkan, wahai Tuhan yang amat ghani Jangan diperintahnya negeri Islam, engkau hapuskan kafir musuh kami
  3. Raja-raja sudah cerai-berai, Istana dibongkar dipereteli Habis berantakan di dalam rimba, sebab Belanda sangat di- benci Gara-gara Belanda seteru engkau, kami semua cerai-berai Engkau tolonglah raja Islam, o ya Rahman sekarang ini Tolonglah kami karena agama, raja yang benar berikan kami
  4. Kembalikanlah raja ke tempat, berikan hidayat dalam perang sabil Tolonglah kami ya Rabbana, hancur semata di tiap negeri Sebab kafir memerangi negeri, kami semua bercerai-berai Karena kami orang durhaka, taubat tiada maksiat dicari Kini limpahkan taufiq engkau, ke atas hamba taubat diberi
  5. Cerai-berai sudah setiap negeri, kafir celaka sungguh dengki Agama Engkau dihinakan, ya Rabbana jangan biarkan lagi Kami diperangi dan disiksa, Sayidil Anbia dibuat keji Diremehkan Nabi Muhammad, kafir laknat biadab sekali Ya Tuhanku Penguasa kami, berikan kami ketetapan hati

Ya Tuhanku Po di kamoe, Neubri jinoe teutap hate

  1. Di dalam prang kaphé la'nat, Neubri rahmat hé'ya Rabbi Neubri kuat badan tuböh, beu e' lön poh kaphé 'ashi Beu é' lön prang geunap uroe, mangat asoe keu lön neu bri Kaphé paléh bè' lésinoe, tulöng kamoe héya Rabbi Neu bri talö sikeulian, beu é' Sulthan woe u nanggri
  2. Beu é' muwoe raja Aceh, gaséh Allah adé neubri Miseue raja nyangka dilèe, adémeuthèe hana sakri Po Teumeureuhöm raja dilèe, neu prang sitrèe jeueb-jeueb nanggri Bandum kaphé talo neu prang, panglima prang that beurani Malem Dagang panglima prang, kaphe suwang that jituri
  3. Raja adè lom ngon salèh, nanggroe Aceh neu bri mufeuti Meunan keu Neubri raja jinoe, tulöng keu kamoe he ya Rabbi Beureukat mu'jizat Rasul Gata, bu meunang raja talö kaphé Beurcukat entu lön Nabi Adam, Gampong Dalam raja keum- bali Kaphe asee be' e' muprang, dum beu hilang jeueb-jeueb nanggri
  4. Nanggroe Aceh sikeulian, Pidie meunan héya Rabbi Lom Meureudu ngon Peusangan, Sawang meunan Teulök Seumawè Teulheueh nyan Pasè lom Geudong, kaphé bajeueng bè' lé neu bri Neubri beuhabéh sikeulian, beu teureuban sampoe Idi Neubri beugadoh dum kaphé nyan, bè'ji kaman nanggroe ini
  5. Neubri teubuka dum hidayat, jeueb-jeueb teumpat keu prang kaphe' Neubri talö deungan si'at, deungon mu'jizat Panghulèe Nabi Lom ngon dö'a sigala sahbat, nyang sunggöh that ba' buet ini Beureukat lom sigala Syekh, beu ji minah kaphé ini Tamat hikayat uroe Selasa, watèe duha naik hari

  6. Dalam memerangi kafir laknat, turunkan rahmat wahai Rabbi Berikan kekuatan jiwa dan tubuh, agar mampu membunuh kafir 'ashi Sanggup kuperangi setiap hari, limpahkan kesehatan kepada kami Kafir celaka biar menyingkir, tolonglah kami o ya Rabbi Kalahkanlah mereka semua, agar Sultan kembali ke negeri

  7. Agar kembali raja Aceh, karunia Allah adil diberi Seperti raja terdahulu, adil masyhur.tak terperi Baginda Marhum raja dahulu, memerangi seteru di setiap negeri Sekalian kafir kalah berperang, panglima perang sangat berani Mal'em Dagang panglima perang, sangat disegan oleh kafir harbi
  8. Raja adil lagi salch, negeri Aceh berikan mufti Berikanlah pada raja kini, tolonglah kami o ya Rabbi Berkat mukjizat Rasul Engkau, menangkan Raja kalahkan kafir Berkat moyang Nabi Adam, kampung dan Dalam Raja kembali Kafir asu semoga dikalahkan, semua hilang di tiap negeri
  9. Negeri Aceh sekalian, Pidie pun demikian o ya Rabbi Juga Meureudu dengan Peusangan, Sawang pun sama dengan Lhokseumawe Setelah itu Pasai dan Geudöng, kafir jahanam jangan lari kemari Semuanya engkau musnahkan, agar terbang sampai ke Idi Semoga lenyap kafir itu, tidak berdiam di negeri ini
  10. Bukakanlah semua hidayat, setiap tempat kafir diperangi Kalahkanlah dengan cepat, dengan mukjizat Penghulu Nabi Beserta doa segala sahabat, yang yakin amat dengan perang ini Berkat doa segala syaikh, semoga menyingkir kafir ini Tamat hikayat hari Selasa, waktu dhula naik matahari

  11. Uba' tarikh siribèe lhèe reutöh, teuma dua plöh Hijrah Nabi Dua plöh tujöh buleuen Muharram, lön peu tamam hé ya Sayidi Wa salla 'llahu a 'la khairi khalqihi Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'ina amin,

    ya Rabba 'l-'alamin Amin.

  12. Tarikh seribu tiga ratus, lagi dua puluh Hijrah Nabi Dua puluh tujuh bulan Muharram, hamba selesaikan o ya Sayidi Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada sebaik-baik ciptaan-Nya Muhammad dan para keluarga serta para sahabat beliau sekalian, Ya Tuhan Rabbal 'Alamin Amin Tamat
    SASTRA PERANG - 12 16

PAFT AR ISTILAH

Akhi :

Arasy kursi :

Ashabil Fil :

'Ashi. : dhaman : Dalam : gamang : gapah : hadarat :

. harbi : habibi : karut : legam : Muhajir Anshari :

saudaraku

pengertian 'Arasy kursi' dapat dimasukkan ke dalam mutasabihat yang mengandung arti simbolis singgasana dan kursi Allah. gerombolan pasukan gajah seperti-yang ter- dapat dalam Al-Qur'an Surah 105 orang yang berbuat maksiat menjamin istana, kraton takut-takut lemak dalam badan, gajih hadapan, dalam naskah HPSTP Hadarat de- ngan h huruf besar artinya Allah SWT perang, peperangan, diperangi kekasihku kacau, kalut, kusut pikiran, tidak benar, dusta hitam legam = hitam betul Orang-orang Mekkah yang pertama-tama kali memeluk Islam dan mengikuti Rasulul-' lah SAW berhijrah ke Madinah disebut den- gan Muhajir, seorang-orang Islam Madinah yang mènerima para saudaranya yang berhijrah ke tempat mereka disebut Anshari. orang yang suci intan yang butirnya kecil-kecil

Tuhan Yang Mahatinggi Tuhan Yang Mahamulia Tuhan Yang Mahaagung Tuhan Yang Maha Terhormat Tuhan tempat segala sesuatu bergantung

Mustafa" : Pudi :

Rabbul A'la : Rabbul 'izzah : Rabbul Jalil : Rabbul Karim : Rabbus-Samad :

Rabban Ghafurun : Tuhan Maha Pengampun

Sama', bashar, qudrat, iradat : termasuk bahagian dari Nama Sifat-Sifat Allah yang berjumlah 20 (dua puluh) yang artinya Mendengar, Melihat, Berkuasa, Berkehendak. Sayidi : tuanku Sayidil Anbia' : penghulu para nabi Sayidil Mursalin : penghulu para nabi yang diutus Sayidul Ummat : penghulu manusia tawajjuh : bersungguh-sungguh tiada tara teungku : 1) tuan, panggilan yang sopan untuk orang yang belum dikenal

2) gelar untuk para raja atau uleebalang di Aceh abad XIX
3) gelar untuk orang alim atau ulama
4) gelar untuk perrnaisuri sultan
turap ' : campuran pasir dengan semen dan lain-lain yang dipakai untuk melekatkan bata. rawi : meriwayatkan hadith ummi : bula huruf Wahidul Qahhar : Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa

DAFTAR ISTILAH ebup 1ar2ad .sms2 1s12-1e12 ame hab maigsded luesms1 Jsbsii gosy (duluq sub) OS dalmujsd gnay datlA Bravlis8 JsdilsM SaghsbhoM synins Arasy kursi pengerhebnsns5grsł dapat dhmasukkan

ke dalam muta yang mengendune

sindsismqagasn kusi AimA libivea Ashabil.Fil auuib

dape SurabU lobie

'Ashi a161 sbsioggdeabgghueisgaksiat dujjswat :unlgnst y Rutau agoz gneafgq .eut (1 Dalam 16 699b m6158gm6v 6doslu uste sise b al2 ( lexix hmH9sAmn.gajih

aatluz inuziem9qybu5kfgr μimya Allah SWT

h-pisl nsb aome méeprangi rl

.61sd m6|a2|alsm 56b462sqib gn6v
karut aefaheyewneran,tidak benar,duwar legam immu Mu kali memeluk Islam dan mengikuti Rasulul- lah SAW berhijrah ke Madinah disebut den- gan Muhajir, seqrang-orang Islam Madínah yang menerima para saudaranya yang berhijrah ke tempat mereka disebut Anshari. Mustafr orang yang suci pudi intan yang butirnya kecil-kecil Rabban Ghafurun Tuhan Maha Pengampun Rabbul A'ka Tuhan Yang Mahatinggi Rabbul izzall Tuhan Yang Mahamulia Rabbul Jalil Tuhan Yang Mahasgung Rabbul Karim Tuhan Yang Maha Terhormat Rabbus-Samad Tuhan tempat segala sesuatu bergantung.

bp 5 e releresigtne

L Lin 10

L

L 15 LLBa L L

L

L 25 na n

L e 30

35 b

L L

40.

L そはしにえいらにんてこといいいし

45 L

L Ll

50 Ledoey ULe

L 55 A

60 leSide Li L

L比

o

70 Leee l

75 dlbe irab rae

80 ib L2 G

85 t r

lece

90 b, b e b 95

100 le 105 rsai

N.S.

leeab 15 biea L

Leeee leeeb120 L le

125 3 bn le

lve

L

leele135

lesea leble l Leeeeeeen140

Le

Le lea145

ke leb lee 150 le

Le 155 L L L Levece

) ree 165 be leet peal Julbkre

170 Lo

b b lekel

benLeb lece eLit

dhl eee elq e180 llL

Le Lol o 185 b

Let L 190 4 l lle Manl u an k195 A Lelebe locbnb

20 e B E 205

wl 210 lelo lne btel

L L 215 be

dea a

220 Los l Le Le Lee Leke ü 225 L

0 LeL eke akikle kLe

25 e te b 1 Lie blonk bue Ll240 t

1.

tie Le lrn a ledeb tb Lea lnt 245 g le

Lüera Lee 250 Le

L Llen 255

260 le n

SASTRA PERANG - 13 18

2 Li a Lie b eL 270 e E Lb

275 L ti l

280 Ng

b b

v 90 le Lie be lb 295 e 4 300 le ug

05 A

L 310 b

b b 0 r Leee L L 325 ie vi Le

3 eet ue L 40

ec e b

eE 35

3 b 5 W 370

e 380

385 R sni 0

p n 400

ed 405 ri Lr eiinil Le 410 山 415

L C 425 n aLe ped 430

ien 435 i j

440 w L

L 0 L L L45 w L

11.nc

45 A 480 n jB

w

LiLe L L

495 L L

00 L j

Eyte 10

ilsh LayPe L 0 E

i

L 530

L

bb L40 L L

545 enme

L An

L L L

K. 吃

0 to 心 江

SASTRA PERANG - 14 20

33 0 5 0

L∴

苏(8亿)

i 45

650 L

5 L L

0 L

D

1675

Ki

K9685

5 K

V3705

710) 715
3 720

Wo 心

70 KL

K

L

75 K

V L 80

y 810 L

.

L

8 3

L

公小 L 0

895 L L L w00

L

1 K

L

40 1

995 L 1000

CEEA TRSS

1005 K 1010

1020 L 1025 1030 C

1040

v 1050

5232002 k KK 1065

L 1070 y的

此 1075

心3 v 1080

L 3'. 1085 K b 1090 193013. L一 1095

L

1105 化

L. Lleb3 K
1110

K 11

之125 jesg

至业130

LS 115 L 305235 F (bsj, 1140 L L SE

1145 L

j U ik1150

115 Unk

L 1160

二化

.

usibe 上 L

s

1175

i

1.51022.2 1180
2 1185

3.
以亲死 1195 16

—19

LL≥3 71200 565 6 vpse

1205

K 9 1220 ∴93 2sg L K Ls

L20

2 1230

av3

12 C

1240 KLil ル3年

3 1245

LlL 1250

L

1280 25

1285

1290 32 1295 a e

二338

1300 5

.

SASTRA PERANG - 16 23

o 125

ov 1330 L3 3 3

1335 N3

03 1340 L 二53

1360 s

15 二

175 2>25 1

400 02 olk 1405

1410

s. 52

1415

on3 2 4

之 1425

14 L 冰 1460

10559 14

L 1475

1485

9.5 , 沙流业 50
3

— ? 1505

=

そい

1515 色

S

055 1525

冰北

  1. 1535
    レジこをル L

1540

.Loklig ∴K lio Le 1545

o liaLivn Li

V,0 1550 E

K SS

やン

どン

1565

ふye 此

行 1570

n50k3 S

EY 1575

3 dde

C

donde 征 的: L 电 这 Lib

o こESとE 天德花七起乐 pee n ih Jnp 我化是 L L

德临

n 能 gS t 能所

心能

能心 Lbie L

ni l KI i 3 s N

三三 了

29 N 后能 1 22

RIWAYAT HIDUP

IBRAHIM ALFIAN, mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (1985-1991) menyelesaikan Baccalaureat Ilmu Sejarah di UGM tahun 1957, meneruskan studinya di Kansas University, Amerika Serikat dengan beasiswa Pemerintah Amerika, pada tahun 1959 dan lulus M.A. dalam Sejarah Eropa tahun 1961, dengan tesis berjudul The Potsdam Agreement and the First Postwar Election in Germany. Sarjana Sejarah Indonesia diraihnya di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1964 dan Doktor Ilmu Sejarah tahun 1981 di Universitas yang sama. Karya-karyanya yang telah diterbitkan: Kronika Pasai: Sebuah Ttnjauan Sejarah (Gadjah Mada Univ. Press, 1973); Mata Uang Emas Kerajaan- kerajaan di Aceh (Museum Negeri Aceh, 1979); Revolusi Kemerdekaan Indonesia diAceh, 1945-1949 (et al., 1982); Perang di Jalan Allah (Pustaka Sinar Harapan, 1987), Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis (et al., ed., Gadjah Mada Univ. Press, 1987); Perang Kolonial Belanda di Aceh, edisi II yang diperbaharui (et al., ed., 1990). Jabatan yang pernah dipegangnya adalah Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Gadjah Mada (1962), Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (1963-1966), Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Aceh yang disponsori oleh Ford Foundation (1976-

1977), Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1977-1978). Pada tahun 1961 mendapat grant dari The Rockefeller Foundation untuk survey di BritishMuseum London, dan dari tahun 1966-1968 grant diperolehnya dari Pemerintah Belanda untuk mengadakan penelitian tentang peranan ulama dalam Perang Belanda di Aceh. Di samping itu ia juga mendapat dana penelitian dari Toyota Foundation untuk penelitian Sejarah Pasai dan dari Program Fulbright Amerika Serikat dana untuk menulis tentang Hubungan Perdagangan antara Aceh dan Amerika Serikat, 1799-1838., Ketika Universiti Kebangsaan Malaysia mula-mula didirikan di Kuala Lum- pur pada tahun 1970 ia ditugaskan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk membantu Jabatan Sejarah Universiti yang baru didirikan itu sampai dengan tahun 1974. BP-1.0085-92 ISB N 979-407-442-5