Publisher Note
Artikel ini memiliki dua bagian. Bagian pertama dimuat pada 7 Maret 1953 dalam majalah Mimbar Indonesia, No. 10. Kemudian, bagian kedua, dimuat dalam majalah yang sama keesokan harinya, tepatnya di edisi No. 10 tanggal 8 Maret 1953. Untuk memudahkan pembaca, kami menggabungkan dua artikel ini.
Artikel ini ditujukan untuk Mochtar Apin, sekaligus respons terhadap tulisan H.B. Jassin yang berjudul “Selamat Tinggal Tahun ‘52”.
Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Mochtar Apin,
BUKAN keinginan jang langsung mendorong saja menulis surat ini. Sebenarnja saja bermaksud menulis karangan berhubung „pidato selamat tinggal 1952” H.B. Jassin dan surat menjurat antara dia, Neny dan Asrul jang disiarkan dalam Zenith nomor Pebruari. Tapi setelah saja mengidap pilek empat hari tak tjukup lagi tenaga berpolemik padaku, dan lagi pula aku pernah berniat tak akan menulis lagi buat sementara. Tapi keseluruhan sebab2 diatas tambah …keisengan dalam sakit membikin hal mengirim surat suatu kelegahan.
Sampaikah kartupos jang kukirim dari Port Said melalui D.? Sajang kami tak dapat mengantarkan ketika sdr dan Burhan hendak ke Spanjol ke Gare St. Lazare. Karena tak tahu djam hari berangkatnja. Walaupun tak suka diantar saja suka mengantarkan kawan.
Seminggu kemudian (tgl. 21 Nop. 52) diantar oleh D. kestasion, pulang ke Indonesia melalui Swiss dan Italia. Djam berangkat kereta apiku dari A’dam ke Paris tak kutjeritakan supaja orang djangan merasa „wadjib” mengantarkan. Demikianlah achir kediaman dua setengah tahun di Eropah atau lebih baik dikatakan di A’dam dan Paris, sebab seperti kau tahu tak ada negeri Eropah jang kukenal baik, sekalipun sebagai pelantjongan melulu. Niatku melalui Swiss-Italia dalam perdjalanan kembali bukan dengan pengharapan akan mengenal kedua negeri itu, akan tetapi lebih banjak hanja karena takut akan mabok laut di Biskaje dan takut akan keisengan dikapal (kupergunakan lagi kata keisengan, nanti kau akan tahu sebabnja).
Dua bulan hampir aku kembali di Djakarta. Tekanan kesan2 pertama telah dapat kuatasi, lama kelamaan tapi lama kelamaan pula aku insjaf buka kata „mengatasi” jang tepat. Saja kuatir bahwa aku hanja mendjadi kebal, indera tumpul karena terlalu biasa pada rangsangan keadaan. Lalu dihadapanku sudah membajang keadaan dimana dalam diriku, antara diri dan sekeliling ketegangan sudah lenjap, dan diri sudah sebagian dari pemandangan alam atau hanja satu faset ketjil dari gedjalan …keisengan (timbul lagi).
Lalu rindupun timbul. Tapi sebagaimana pada minggu2 terachir di Paris djelas padaku bahwa kediamanku disana harus kuputuskan, begitu pulalah adaku di Djakarta sekrang suatu keharusan bagi diriku. Lalu njata pula perumusannja bukan rindu lagi, baik ke Paris maupun ke Djakarta, tapi keharusan jang mendorong aku mempergunakan kesempatan ke Eropa dulu dan sebagai konsekwensinja pula kembali ke Djakarta. Tapi karena besarnja djarak antara Djakarta-Paris, maka djurang dalam waktu kadang terasa sebagai djurang dalam ruang, sematjam gespietenheid. Penjakit jang berat pada hari2 pertama, apalagi dimana tidak djelas lagi batas antara hal2 jang kita „missen”, apakah hanja „technisch gemakken” atau „geestelijke stimulata”. Pada kelainan djensi, katakanlah technisch minderwaardig, dari gemakken, seperti transport, telpon dll. gampang menjesuaikan diri. Bukti: Aku tak sanggup lagi marah kalau gadis telepon tak menjahut kadang2 sampai satu dua menit. Soal tempo. Tapi bagaimanakah dengan „gemakken” kedjiwaan, dalam arti djelasnja istilah2?
Kata Sam Udin pada suatu malam (pada hari2 pertama aku mentjari2 pulau dikota Djakarta): Apakah kau djuga bukan mentjari geestelijke gemakken? H.B. Jassin menganggap saja sombong, hingga ia merasa perlu mentjatatnja. Mula2 saja tjoba mendjelaskan bahwa ia salah menafsirkan kata2ku, tapi kemudian aku hanja sampai pada kesimpulan bahwa ia tak tjukup menggambarkan kesombongan dan berkenaan dengan Sam Udin, bahwa Sam Udin sudah ingeschakeld dalam keisengan. Siapa pula jang tahan terus menerus berontak sekalipun sekeliling separuhnja mengadjak berontak? Alhasil tarik diri „kepulau”.
Naluri mempertahankan diri mendorong saja menulis sebuah sadjak dan kemudian berturut2 tiga sandiwara. Seakan2 jang satu timbul dari pada jang lain. Achirnja dapat dikatakan saja tulis simultan, dan sekarang masih terus saja kerdjakan walaupun jang pertama sudah akan terbit dalam Zenith bulan depan, namanja „Djalan Mutiara”.
Jang kedua „Pertahanan Terachir” dan jang ketiga „Pulo Batu”, drama tiga babak berdasar tjerita kuno dinegeri Batak, dan sebagaimana kebanjakan tjerita kuno sekaligus bersumber dari kenjataan dan tachjul. Sesudah ketiga sandiwara itu selesai makin djelas latar bahwa dari pada dorongan menulisnja. Lahir dari pada condition manusia jang pada suatu ketika dalam suatu taraf sedjarah kemanusiaan sebagaimana jang dialami dunia zaman sekarang (di Eropa barangkali akan disebut manusia dua perang dunia), bagi siapa soal buruk dan baik tidak dapat lagi di apel, dan djika ada Tuhan, hanja Tuhan jang mentjipta dalam …keisengan, dengan konsekwensi adanja manusia, njata dan sungguh sebagai kesungguhan keisengan. Takkan kupergunakan kata absurditet, jang kata Asrul lahir (hanja?) dari logika. Tapi seperti keisengan absurditet djuga bisa udjung, baik dari logika maupun pentjarian naluri penjair. Pada suatu ketika keisengan sama sadja dengan absurditet. Tapi ada dua matjam keisengan, ialah keisengan dalam mana orang malah menganggap sebagai soal jang sungguh2, hal memiliki koelkast dsb, dan keisengan dalam mana mentjipta djadi permainan jang sungguh2 soal hidup-mati. Djika H.B. Jassin dan Asrul Sani memperkatakan keisengan, atau absurditet buat2an pada Rivai Apin, kesan saja mereka bertolak dari suasana „hal memiliki koelkast”. Tentang Rivai saja takkan bitjara, baiklah ia buktikan sendiri dalam keisengan mana ia berada dan kata terachir tak pernah diutjapkan, melainkan sepi. Kalau terbukti ada Tuhan dihari kiamat aku akan mengusulkan padaNja untuk memadjukan hanja satu pertanjaan pada manusia: Bagaimanakah kau pergunakan keisengan jang lahir dari keisenganKu?
Tapi baik saja kembali kepada soal ketiga sandiwara itu. Maksud saja akan menerbitkannja dalam satu kumpulan dan kalau djadi oleh Pustaka Rakjat, Sutan Takdir Alisjahbana. Berhasil tidaknja sebagai sandiwara saja sendiri tak berani mengatakannja, apalagi sekarang. Tapi dengan siapnja sandiwara itu makin banjak saja berpikir sekitar kekurangan didikan sekitar seni drama disini, seperti hal dekor, mise en scene dsb. padahal sandiwara pada prinsip salah satu tjabang seni-bersama jang dikenal oleh seluruh puak di Indonesia, sekalipun masih dalam taraf bertjerita dan belum sampai kepada „konflik jang hidup”. Dapat saja tjeritakan bahwa dalam ketiga sandiwara konfliknja didukung (ditegaskan) oleh diri seorang, lebih banjak sebagai korban daripada katalisator dalam suasana „hampa Tuhan”. Mungkin dapat dimainkan segera akan tetapi kalau tak dapat sesudah sepuluh atau dua puluh tahun pun djadilah. Berkenaan dengan soal2 sekitar Rivai, antara H.B. Jassin dan Asrul, dan sekitar2 pikiran dalam sandiwara2 diatas, antara Jassin dan saja, ditambah pula dengan „pidato selamat tinggal 1952”nja jang berpathos opera Stambul saja makin berpikir tentang Jassin sebagai kritikus. Ia sendiri menganggap dirinja (dirinja jang „sudah digantung”?!) sebagai djurubuku bertindak merebut tanggung djawab kebidjaksanaan pimpinan perusahaan? Lagi sastera bukan soal jang dapat dipimpin dengan kebidjaksanaan, apalagi dengan semangat djurubuku. Pengarang lahir tanpa kritikus, walaupun mungkin terdjadi seorang pengarang mati sebagai pengarang karena „kebidjaksanaan” seorang kritikus, tapi jang sebaliknja tak mungkin terdjadi. Gujah pula bagi saja kedudukan kritikus dalam segala lapangan seni, bila ia berlagak memupuk kelahiran seni seakan2 ini peristiwa menanam kol; bila ia tidak tinggal dalam patokan: berusaha memperkenalkan seni kepada sebanjak mungkin orang, desnoods dengan membitjarakannja dengan tegak sok tahu segala, tapi djangan lebih dari pada itu. Menimbulkan tertawanan sikap Jassin jang keguru-guruan dalam pidatonja itu dan gebaarnja hendak mengangkat orang dari kubang. Dalam betoognja ia sampai lebih sepuluh kali barangkali menjebut nama epigon (Iwan Simatupang namanja) jang menerbitkan satu dua sadjak. Ini soal rasa-perbandingan. Entah berapa kali ia menjebut2 Camus dalam suratnja kepada Asrul seolah2 absurditet itu baru lahir dengan Camus, dan seolah2 ia mengerti dan Rivai tidak dst. dst. Untunglah ia tetap djudjur naief membiarkan penanja menggoreskan minderwaardigheidscomplex dalam huruf2 Uw. dw. Dia perlu mendjadikan orang jang pergi ke atau datang dari „luar negeri” kapstok complexnja. Dia belum sampai pada kenjataan bahwa keluar dari atau masuk kekamar tidur kita sendiri bisa merupakan pelarian. Demikianlah banjak istilah2 jang kandungannja tak sama lagi bagi Jassin dan saja. Apakah kita hanja melantjong melulu sebagai toeris atau hanja alat propaganda itu soal orang seorang, sebagaimana djuga ketololan jang dipertontonkan oleh beberapa kawan2 dinegeri orang. Tapi ke Eropah Barat, ke Amerika atau kebelakang tirai besi saja rela menindjau, tapi supaja tuan rumah djangan salah sangka saja tetap akan memadjukan „pilihan” saja, dan bukan hanja setjara opportunis. Merah kalau ke Peking, liberal kalau ke Washington. Pilihan saja ialah Eropa-Barat dari dulu hingga sekarang. Andai kata karena itu saja takkan ada kemungkinan masuk kebelakang tirai besi (bila ada kesempatan) itu saja terima, sekalipun saja tetap akan ingin menindjau seluruh pelosok dunia, andai kata tjukup uang dan tempo pada saja, dan andai kata diizinkan. Pilihan saja itulah satu2nja jang membenarkan bagi diriku pergi ke Eropa, dan siapa pulalah orang lain jang akan meributkan hal itu? Pilihan ini pulalah jang merasa terdorong menindjauh sikap Asrul terhadap „milieu” Eropa sebagai jang tersimpul dalam kalimat2: Saudara pernah merasakan diri seorang radja diantara kaum republikein? dan: Ia ada punja satu perbandingan jaitu perbandingan air bah jang tidak pernah memperhatikan orang seorang etc. dan dibagian lain suratnja (pada permulaan) „kita jang lebih jakin kepada jang irreel. Utjapan2 seperti „Orang disini kuat menulis, tapi semata karena orang adalah penulis. Lain tidak! Di Djerman saja rasanja lebih betah. etc.etc.” Tjatatannja tentang keedanan Rustandi Kartakusumah mau djadi komponis boleh dianggap sebagai lelutjon. Tapi berlagak sebagai pengukur ketjerdikan orang (Utjapannja tentang Achdiat jang katanja tak tambah „tjerdik” sesudah perdjalanannja ke Amerika2 menundjukkan ketidaktjerdikan. Tapi tentang soal2 ini dalam surat berikut. Saja sudah tjape dan masih pening karena aspirine. Besok saja sambung.
Sitor Situmorang.
Mochtar Apin,
DALAM SURAT terdahulu saja berhenti pada sikap Asrul Sani terhadap milleu Eropa. Aku masih belum sembuh sama sekali dan kini menulis dirumah, panas menekan sekali seakan2 mau hudjan, walaupun hudjan tidak sering turun sebagaimana biasa dimusim begini.
Pernahkah kau merasa seorang parvenu kebudajaan dan merasakan keisengan parvenu kebudajaan? Saja sering, maka saja sekarang di Djakarta, antara lain. Tak pernah aku merasa radja ketika dan karena aku di Eropa, ketika dan sesudah aku kembali di Djakarta. Tapi sesekali aku merasa radja dalam hatiku sendiri, baik di Eropa maupun di Indonesia. Pengarang di Eropa tak pernah mendjengkelkan hatiku sebab tak pernah kutjari perkenalan persoonlijk dengan mereka, tak pernah terpikir padaku untuk misalnja mentjari Niko Kazantzakis ke Cannes, Monte Carlo, Nice dan mentjari dalam „Gruppe 47”, djadi tentu sadja tak ada kemungkinan keketjewaan dalam perbandingan Negeri Belanda atau Djerman atau Midi atau Perantjis. Tak pernah aku „berkenalan” dengan pengarang Belanda atau Perantjis ketjuali karena urusan atau melulu sebagai penonton. Saja tahu ukuran air bah bukan hanja dikenal peladang, djuga orang kota mengenal airbahnja. Dan punja ukuran besar bukan monopoli penjair-peladang Indonesia. Kau tahu ukuran besar terdapat djuga pada pelajan restoran self-service, sigadis jang bunuh diri melompat dari Menara Eiffel dan pada orang-kota Apollinaire.
Ja, Mochtar, begitulah djadinja, kalau orang jang mungkin akan djadi radja, telah diberikan lebih dahulu hak2 kedaulatan sebelum waktunja. Dengan dua tiga sadjak jang baik, tambah satu essay dan beberapa kalimat jang „tjerdik” orang sudah diangkat (oleh Jassin) djadi pudjangga jang berukuran besar di Indonesia, sehingga tak dapat lagi berdjalan biasa dengan ukuran biasa. Melainkan hanja mau bitjara dan menulis karena dan untuk membuktikan ketjerdikannja dimana2. Tjerdik semata karena tjerdik. Lutju kan? Ha, ha, ha, memang susah djadi orang kota kalau kita dasar orang gunung (biar tjerdik), jang menganggap berdjalan ke luar negeri bisa djadi alasan tambah tjerdik.
Kuulangi pertanjaan: Pernahkah kau merasa parvenu kebudajaan? Di Paris? Terutama di Paris? Djuga di Amsterdam? Djuga dekat Borobudur dan Prambanan. Djuga kalau naik kapal terbang. Kepedihan jang timbul dari kesadaran akan keparvenuan, djika membatja tentang perang dunia, tentang perang saudara Spanjol, kepedihan rasa parvenu jang mendorong Hemingway mentjari kontak dengan hidup (sebagai alasan jang bescheiden) padahal keluar dari hormat pada kehidupan, mendorong orang dari avontur keavontur sampai kepuntjak Kilimanjaro mempertarungkan njawa untuk mengenal hidup diungkapan mati, tapi semuanja dalam besheidenheid, bukan keriahan PEN-kongres atau bir Djerman. Kepedihan bila kita berhadapan dengan Cézanne, Van Gogh.
Kepedihan keparvenuan bila kita hanja tinggal penonton, diluar arena matador. Kepedihan mempersaksikan Affandi hanja sanggup memperhatikan bagaimana tjara2 Van Gogh melumaskan tjat diatas kanvas, melewati manusia Van Gogh dan melalui seniman2 lain jang tak dapat dihargainja, tak berkata padanja karena stijl. Hanja Affandi, hanja peladang Indonesia jang perlu diperhatikan, pembawa ukuran besar!!
Saja sedih meninggalkan Paris, meninggalkan musimnja, meninggalkan keriahan dan kesungguhannja, sedih meninggalkan keisengannja, keisengan jang padat. Tapi lebih pedih tusukan rasa parvenu, terselit dihati dari eksposisi keeksposisi, dari pertundjukan kepertundjukan, dari konsert kekonsert, maka saja kini kembali di Djakarta. Keisenganku berasal di Djakarta, keisengan jang minta dipadatkan untuk membuangkan rasa parvenu, dan bila hal ini tertjapai barulah aku akan dapat pergi rasanja ke Paris lagi dengan tiasa rasa parvenu. Mudah-mudahan. Paris…keisengan jang padat. Keisengan jang padatlah eindtoestand bagi setiap gerak kebudajaan, sesudah itu dan diluarnja hanja iseng2 koelkast dan djaminan sekitarnja. Tapi tjukuplah. Walaupun hati hendak berkata2 penuh rindu. (Sebab April sudah dekat dan Tuhan dalam keisengannja akan menaburkan warna pada pohonan Bois de Boulogne). Djika keisengan kita sendiri tak dapat kita padatkan tinggal satu hiburan: kalau kita berani berpisah. Hal ini sering kudjelaskan pada D.
Demikianlah tiap minggu kini di Djakarta dirumah Sudjatmoko berlangsung omong-omong keisengan. Udin menjiapkan tjeramah tentang integrasi kesenian (atau seniman?) dalam masjarakat. Debat akan disambung minggu depan. Tapi sementara itu telah djelas bahwa tindjauan sosiologis dan historis (dasar Sam Udin bertolak), bagi saja hanja atjuan2 ilmu, pada hal ilmu tak akan dapat menangkap pengertian seni dan gedjala seniman, ketjuali kalau orang hanja perlu pengertian pembantu sadja dalam integrasi segala2nja buat keperluan politik dan tatanegara, mempergampang administrasi (termasuk administrasi H.B. Jassin).
Pengisi keisengan lain ialah snobisme. Tapi ada snobisme jang dapat kupudji (termasuk taktik hidup keisengan). Njonja Subardjo dengan Pusat Gabungan Kebudajaannja menjelenggarakan pameran lukisan berasal dari berbagai partikelir di Djakarta dan dari segala bangsa.
Hasilnja bermatjam2 dalam arti kwalitet. Pernah kau tahu ada Chagall di Djakarta? Dan sebuah Rembrandt ketjil? Dan beberapa Italiaanse Meester dbs. Litho2 dari Mexico. Affandi, Zaini, tjampur aduk dengan Henk Ngantung, Sudibjo, tjampur aduk dengan Dezentje. Ada pula Theo Meier, Ouborg jang baik. Tapi ada pula Walter Spies dengan lampu sorotnja, supaja njata tjahaja tropika itu. Dua Raden Saleh jang besar, satu potret njonja (?) jang pernah kau lihat reproduksinja di A’dam.
Pengundjung banjak: peladjar2, pegawai2 dan pembesar2. Tapi hampir lupa saja mentjeritakan kumpulan Dr. Sie. Banjak jang bagu sekali.
Banjak mooi-doenerij dan (pindjam akata Rivai) grootdoenerij membesarkan masalah jang tak pernah dialaminja, onani. Sekali omongan dengan Sudjojono. Ia sambil lau bitjarakan kesannja di Moskou tentang musik, tari dsb. Baik kalau kau lihat. Begitu kira2 katanja. Buat musik Rusia harus ke Moskou. Saja djawab: Kalau musik dan tari Rusia lebih baik lihat di Paris. Jang dapat kau lihat di Paris tak dapat di Moskou, tapi sebaliknja jang di Moskou dapat semua dilihat di Paris. Sebagai ilustrasi kutambahkan: Akan dapatkah kau lihat Chagall di Moskou? Sudjojono lalu bitjara tentang bagaimana sedjuknja duduk diteras dibawah kolong langit jang biru djernih (diteras restoran Terry di Menteng). Pembitjaraan tertutup oleh tirai „tutup-mata”.
Perdjalanan Paris-Genua tak banjak peristiwa. Saja tertinggal di Andolet batas Perantjis-Swis, salah masuk gerbong kereta api kedjurusan lain ketika naik di Paris. Pemandangan di Swiss (gunung bersaldjunja) imposan tapi terlalu lemas untuk tinggal lebih dari seminggu disana, walaupun saja anak keturunan radja-petani-orang gunung. Paspor saja jang sudah pandjang dan kumul seperti surat padjak menimbulkan keheranan orang.
Di Milano aku melihat2 domnja. Tidak sebaik Chartes. Saja kira batu lebih baik sebagai material dari pada pualam untuk vergeestelijking jang ditudju. Semuanja itu terdapat di Chartes. Dan saja tiba pula pada pendirian bahwa saja lebih suka pada seni-pahat Gotik pada umumnja, lepas dari pembatasan spiritualitet oleh sifat pualam jang terlalu bertjahaja dan terlalu litjin dan dingin. Kata orang kalau saja sempat ke Roma tadinja, saja tak akan bertahan pada pendirian ini. Tapi saja tak jakin. Monumentalitet hanja menakdjubkan orang-lintas.
Untuk memperdjelas maksudku, Arc de Triomphe bukan hanja monumentalitet.
Hari minggu jang lalu (djuga dalam keadaan sakit) saja kerumah Sutikno didjalan Garuda. Kebetulan datang pula Nasjah. Sutikno memperlihatkan banjak lukisan pada saja, diantaranja banjak jang lebih baik dari pada jang biasa dipamerkan digalerie2 ketjil di Paris. Terutama Sjahri menarik hati saja. Djelas pengaruh Affandi tapi djelas pula karena Sjahri apa jang tak ada pada Affandi sendiri, intelligensi dan disiplin kebudajaan jang menjimpulkan segalanja. Teringat Soutine.
Saja belum ada kesempatan naik ke Bandung atau kemana2 diluar kota. Kepanasan hawa tidak terlalu mengganggu lagi, dan kalau saja mula2 djengkel melihat rumah2 bungalow di Menteng, benteng siburger dan burgerlijkheidnja, dan merindukan anonimitet rumah tangsi di Montparnasse, hal itu telah tidak menjolok lagi seperti lalulintas jang katjau, bau selokan, keadaan hidup kebinatangan beribu2 manusia ditengah kota, seakan2 indera menutup diri buat kesan seperti itu untuk menjelamatkan diri buat „keperluan lain”.
Sekian dulu. Bagaimana dengan beasiswa kau ke Paris? Kalau tidak kesana apakah kau djadi ke Bauhaus di Ulm? Kalau tidak mari sadja kemari membagi keisengan ini.
Horas.
Sitor Situmorang.