Publisher Note
Digitalisasi awal oleh Penggiat Buku.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
KALAU film „Pareh” atau „Terang Bulan”, jang masing-masing dibuat pada tahun 1934 dan 1937, diputar sekarang didepan pemuda-pemudi kita jang masih duduk dibangku S.M.P., sangat mungkin mereka akan heran melihat aspek-aspek hidup pada tahun-tahun tersebut jang sedikit-banjaknja ditjerminkan kedua film itu. Kalau film „Melati van Java” jang dibuat kira-kira tahun 1928 diputar sekarang, banjak diantara angkatan ’45 jang masih merangkak atau beladjar djalan pada masa itu akan heran djuga melihat bagaimana umpamanja tjaranja orang berpakaian dan bergaul pada waktu itu. Mereka akan melihat, bahwa pertjintaan antara pemuda dan pemudi tidak dimulai digedung bioskop atau waktu pulang dari sekolah malam-malam seperti sekarang, melainkan disawah atau ditempat jang tersembunji dibelakang rumah dengan tjara diam-diam.
Bagaimana tjara hidup, perhubungan sosial, kegiatan-kegiatan dalam lapangan kebudajaan, politik dsb. Pada masa sebelum perang, kita hanja tahu sedikit-sedikit dari buku-buku roman, madjalah-madjalah jang masih ada atau setjara lisan. Tetapi bagaimanapun djuga, gambaran atau bajangan jang diberikan laporan-laporan tertulis atau lisan ini tentu mempunjai bentuk atau tafsiran bermatjam-matjam pada tiap-tiap permbatja jang tidak pernah mengalami hidup sebelum perang. Disinilah letaknja perbedaan jang hakiki antara pertjatatan pena dengan pentjatatan film jang memberikan gambaran visueel dan lebih teliti daripada tjatatan seolah pelukis jang mengabadikan keadaan sesuatu aspek hidup bagi generasi kemudian dalam lukisan.
Melihat pesatnja berlakunja modernisasi pada abad atom ini dan mengingat betapa tjepatnja bangsa kita meniru dan mentjernakan unsur-unsur baru jang datang dari luar, maka adalah suatu imperatif untuk selekas mungkin mengadakan pentjatatan visueel dari berbagai aspek2 hidup jang masih terdapat ditanahair kita, sebelum aspek-aspek ini lenjap dihanjutkan oleh modernisasi jang berlaku makin lama makin pesat. Pernah seorang kawan dari seberang, jang untuk pertama kalinja melihat tari-serimpi di Djawa, mengatakan, bahwa mungin tarian jang indah itu sudah lenjap sebelum ada lima persen dari penduduk daerah seberang mengetahui—djangankan melihat—, bahwa ada tarian jang begitu indah di Djawa.
Saja tak dapat menjebut kawan ini seorang pessimist, melihat tjepatnja modernisasi jang berlaku sekarang dan sedikitnja perhatian generasi baru terhadap kebudajaan lama.
Tidak mustahil pula, bahwa penduduk Perantjis akan lebih dulu melihat tari Bali daripada umpamanja penduduk pedalaman Sumatera atau Kalimantan, karena ahli-ahli film Perantjis telah membuat film dari pentundjukan tarian Bali jang djuga mengundjungi Paris pada permulaan 1953.
Sangat mungkin djuga penduduk Negeri Belanda akan lebih dulu melihat tarian „Shiva” Jodjana, karena Jajasan Kerdjasama Kebudajaan Indonesia-Belanda sudah mendahului kita membuat film dari tjiptaan penari Indonesia jang terkenal itu. Dan kalau kita hendak melihat tari Bali jang lengkap atau tari „Shiva” dari Jodjana, kita terpaksa memindjamnja dari luarnegeri. Bagaimana pula andaikata tarian Jodjana itu tidak diabadikan? Tentu tjiptaan Jodjana akan hilang pulalah bagi kita untuk selama-lamanja. Ini adalah hanja beberapa tjontoh sadja. Diseluruh Indonesia tidak terhitung kemungkinan2 untuk mengadakan pentjatatan dengan film jang bukan berguna untuk dokumentasi sadja, melainkan pula untuk penjelidikan ethnologis, sosiologis, archeologis, historis dsb. Dalam hal ini kita dapat bertjermin pada Rusia jg setjara sistematis membuat film-film dokumenter dari kota-kota, desa-desa, adat-istiadat dan tjara-tjara hidup aneka-warga bangsa jang tinggal diwilajah Sovjet Russia1 . Pentjatatan2 visueel ini dipergunakannja untuk mempeladjari dasar-dasar jang sesuai bagi pemerintahan daerah-daerah otonom masing-masing. Suatu tjontoh jang baik untuk mempeladjari berbagai sukubangsa sebagaimana terdapat ditanahair kita. Banjak negeri-negeri di Eropa dan di Amerika jang telah meniru tjontoh jang baik ini.
Setelah David Wark Griffith, seorang sutradara Amerika, pada tahun-tahun permulaan abad ini menemui dan mempergunakan hasil-hasil baru dalam lapangan film, berkembanglah film sebagai tjabang seni jang baru dan sangat dinamis dengan kepesatan jang belum pernah dialami tjabang seni manapun dalam sedjarah. Dengan sangat pesat film diakui sebagai seni dan dapat merebut tempat terkemuka dibarisan tjabang-tjabang seni lainnja.
Dilihat dari sudut seni boleh dikatakan, bahwa pada umumnja perkembangan film berdjalan pesat kira-kira tahun 1930. Di Djerman senifilm mentjapai puntjaknja sebelum kekuasaan kaum Nazi dan di Rusia sampai kira-kira tahun 1930. Antara tahun 1930 dan selama puntjak kekuasaan kaum Nazi sebelum perang, berkembanglah penjempurnaan tehnik dan organisasi film, terutama di Amerika jang merebut pasaran-pasaran jang dulu dikuasai oleh Djerman. Pada masa ini djugalah paling djelas nampak sifat komersieel dari film. Modal-modal raksasa menguasai Hollywood.
Tetapi masa ini pulalah permulaan mundurnja mutu seni dari film, karena kaum pengusaha film sudah lebih tjenderung memperhatikan sifat komersieel dari film daripada sifat seninja. Mulailah Amerika dengan produksi besar2an dari film „box office” jang membuat uang mengalir begitu banjak dan deras kedalam kantong kaum pengusaha, sehingga industri-film merupakan industri nomor tiga di Amerika. Bukan lagi sutradara atau penulis scenario jang menentukan tjorak film, melainkan pedagang-pedagang besar. Dengan hilangnja kemerdekaan sutradara, hilang pulalah sifat seni dari film.
Maka tidaklah mengherankan, bahwa seniman-seniman film jang masih djudjur, terutama di Eropa, dan melihat perkembangan jang tidak sehat itu mengadakan reaksi untuk devaluasi seni film ini. kehausan melihat film-film jang bernilai menimbulkan gerakan mengumpulkan film2 seni lama, memperlipat-gandakannja, membuat film seni baru dan mempertundjukkannja kepada kalangan terbatas jang masih tjinta pada senifilm. Dengan demikian dapatlah dipeladjari kembali senifilm lama dan didjarkan pada generasi baru dan dengan demikian memperluas lapangan film jang bermutu seni dan mentjegah pendangkalan.
Mungkin karena pendangkalan itu lebih tjepat terasa di Amerika, maka djuga inisiatif untuk mendirikan perpustakaan film internasional datang dari The Museum of Modern Art Film Library di New York pada tahun 1938. Bersama-sama dengan The National Film Library di London, Die Reichsfilmarchive di Berlin dan La Cinémathéque Française di Paris, didirikanlah Fédération Internationale des Archives du Film (International Federation of Film Libraries) jang berpusat di Paris.
Pada dasarnja usaha perpustakaan ini tidak berbeda dengan perpustakaan biasa. Perbedaannja hanjalah, bahwa perpustakaan film ini terutama mengumpulkan film-film (filmarchief) dan menjimpannja, sedangkan perpustakaan biasa adalah mengumpulkan buku-buku. Dengan adanja perpustakaan film ini, maka dapatlah disimpan berbagai film dari berbagai negeri dan film-film itu dapat dipindjamkan pada badan-badan jang membutuhkannja. Badan2 jang umpamanja selalu mengadakan hubungan dengan Federasi Internasional Perpustakaan Film adalah Fédération Internationale du Cinéma Ethnographique, Fédération Internationale du Cinéma Scientifique, dan Association Internationale du Film Individuel. Tetapi dibentuk pula di kantor pusat di Paris sebuah kantor, jakni Bureau Internationale de la Recherche Historique jang bertugas mengadakan penjelidikan2 mengenai sedjarah senifilm, mengumpulkan bahan-bahan dan buku-buku mengenai sedjarah senifilm.
Sebagaimana telah njata djelas dari namanja, keanggotaan perpustakaan ini adalah bersifat internasional. Semua negara boleh mendjadi anggota dan djumlah anggota dari sesuatu negara tidak dibatasi. Artinja : baik jang resmi, maupun partikelir boleh mendjadi anggota, asal sifat perpustakaan itu tidak kommersieel, melainkan semata-mata kulturil. Dalam negeri sendiri perpustakaan2 ini mempunjai tugas murni, jakni memelihara perpustakaan senifilm dan memperkenalkan pada chalajakramai tjiptaan2 senifilm jang dihasilkan oleh senifilm internasional serta memberikan keterangan2 dan pertundjukan2 pada mereka jang berminat hendak mempertinggi mutu film.
Pada umumnja perpustakaan2 film ini mendapat sokongan dari pemerintah, lebih-lebih karena tudjuannja adalah djuga untuk negara dan dinegeri-negeri Eropa Timur umpamanja perpustakaan2 itu memang merupakan badan-badan resmi.
Sebagaimana kita terangkan diatas badan jang selalu berhubungan erat dengan Federasi Internasional Perpustakaan Film adalah Assosiation Internationale du Film Individueel. Pembentukan Liga Film pertama pada tahun duapuluh di Perantjis adalah djuga sebagai reaksi terhadap film-film jang buruk terutama dari Amerika. Dan pada hakekatnja pembentukan perpustakaan2 film adalah konsekwensi dan kelandjutan usaha Liga Film. Maksud Liga Film ini adalah untuk mempertundjukan film-film jang seni pada anggota-nja. Karena sifatnja tidak kommersieel, maka film-film yang dipertundjukkan itu tidak dikenakan padjak oleh jang berwadjib. Dengan adanja Liga Film jang mendjadi anggota dari Federasi Internasional Liga Film, maka dapat diadakan pertukaran film diantara berbagai negari jang mempunjai perpustakaan Film sangat erat. Di Djakarta sudah ada suatu Liga Film, tetapi perpustakaan belum ada. Dengan demikian Liga Film Djakarta untuk sementasa hanja baru dapat memindjam film, tetapi belum sanggup memindjamkannja pada negeri lain. Suatu kepintjangan jang sekelas mungkin harus diatasi.
Terlebih-lebih Indonesia jang terlalu banjak dibanjiri oleh film2 Amerika jang biasanja tak ada hubungannja lagi dengan seni dan terlalu sedikit mendapat kesempatan melihat film jang bermutu seni, baik jang baru, maupun jang lama, perpustakaan dan Liga Film ini sangat perlu. Sebab hanja dengan demikian kita dapat memupuk rasaseni dan mendidik tenaga2 baru untuk senifilm. Dan inilah salah suatu djalan untuk menembus isolasi jang sampai sekarang merintangi kita berkenalan dengan senifilm luarnegeri jang tinggi mutunja. Boleh dikatakan, bahwa ditiap-tiap kota di Eropa sudah terdapat Liga Film jang tergabung dalam Federasi Internasional Liga Film. Bukanlah suatu kemewahan djika tiap2 kota besar di Indonesia mempunjai Liga Film.
Rukiah bintangfilm jang pertama kalinja bermain didalam „Terang Bulan”
Untuk mentjapai maksud ini, maka adalah sangat perlu dan urgent, bahwa kita mendirikan dulu suatu perpustakaan film (filmarchief). Karena soal film djuga termasuk dalam rangka usaha Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional, maka alangkah baiknja djika badan ini segera mengambil langkah kearah pembentukan perpustalaan film jang dimaksud dalam kerdjasama dengan Masjarakat Seniman jang baru didirikan di Djakarta. Dan setelah perpustakaan itu didirikan, segera mengadakan hubungan dengan Federasi Internasional Perpustakaan Film. Inilah jang dapat dikerdjakan dalam djangka pendek. Dalam djangka pandjang bantuan jang dapat diharapkkan dari Federasi Internasional Perpustakaan Film adalah tenaga-tenaga tehnik untuk pembuatan film2 dokumenter atas dasar non-commercieel. Dalampada itu B.M.K.N. dalam kerdjasama dengan Masjarakat Seniman perlu mengandjurkan pada pemerintah untuk memuat dalam undang-undang-film peraturan-peraturan jang menetapkan pembelian dan pengumpulan film-film dalamnegeri jang mengandung sifat dokumenter sera peraturan2 jang menetapkan pembebasan padjak atas film-film jang tidak bersifat commercieel.
1Maksudnja adalah Uni Sowjet, karena Sowjet-Rusia hanjalah sebagian ketjil sadja dari Uni Sowjet (Red.)