Publisher Note
Tulisan ini diterbitkan di majalah Kisah, Th. I No. 6 Des 1953.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Kami keluar dari djalan ketjil jang dikelilingi semak². Sebentar kami berhenti dipinggir djalan besar. Hasan menunjuk kearah warung diseberang djalan dan aku mengikuti dia menjebrang. Didepan dan didalam warung ada beberapa orang laki², perempuan dan anak² jang sedang menunggu bis.
Waktu kami mau masuk, seorang laki² dekat pintu mengangguk pada Hasan. Mereka salam-salaman dan bitjara pelahan². Aku duduk dekat medja, minta dua gelas kopi sambil memperhatikan orang² jang sedang bitjara dengan Hasan. Disamping kawan Hasan itu duduk seorang perempuan dengan anaknja menangis tersedu-sedu. Orang² ini djuga mau mengungsi rupanja, aku fikir. Dan setelah aku lihat bungkusan² barangnja, akupun jakinlah bahwa mereka turut djuga mendjadi korban gerombolan jang baru mengamuk dekat Sukabumi. Mungkin teman sekampung kaum keluarga Hasan jang baru kami kundjungi.
Seluruh kampung Hasan terbakar. Abangnja terbunuh dan istri abangnja dibawa lari oleh gerombolan. Untung sadja ajah dan ibunja sedang bepergian waktu gerombolan datang mendjerbu. Dan Hasan sendiri sudah lama tinggal di Djakarta.
Setelah kopi datang, Hasan duduk dekatku. Sambil memegang gelasnja dengan kedua tangannja, dia memandang aku. Aku bisa terka apa jang dia sedang fikirkan dan hendak tjeritakan. Tetapi setelah dia lihat aku meng-angguk² seperti orang jang sudah mengerti, dia diam sadja dan menghirup kopinja. Aku mengeluarkan rokok jang diterimanja dengan tidak bitjara pula
Seperempat djam kami diam sadja, tetapi aku merasa banjak djuga kami bitjarakan, sekalipun mulut tertutup.
Suasana dalam warung itu memang terasa agak lain. Hanja sedikit orang bitjara, tetapi masing² jang ada disana se-akan² mendengar djeritan hatinja sendiri. Mungkin hanja aku di warung itu jang tidak langsung menderita sesuatu, karena aku orang luar dan tidak mempunjai kaum keluarga jang mendjadi korban gerombolan didaerah itu. Tetapi djustru karena itu aku dapat membajangkan keadaan djiwa mereka masing² pada waktu itu.
Selagi aku mentjoba membajangkan keadaan istri abang Hasan jang ditjulik gerombolan, masuk seorang laki² dengan seorang anak gadis ketjil. Se-olah² aku tersentak ketika aku melihat gadis ketjil itu. Matjam² bajangan ber-desak² dalam fikiranku. Siapa gadis ini? Dimana aku pernah lihat dia? Hampir² aku dapat ingat, tetapi bajangan itu didesak bajangan lain lagi dan aku merasa otakku panas. Rupa²nja gadis ketjil itu merasa bahwa pandanganku terpaku padanja dan dia menundukkan kepalanja. Aku sadar dan merasa agak malu. Pada saat itu laki² itu duduk disampingku dan meletakkan topinja dimeja. Sebentar aku dipandangnja. Kemudian dengan senjum dia mengulurkan tangannja sambil memanggil namaku.
„Masih ingat?” dia tanja. „Limbat,” teriakku setengah terdiri, kemudian duduk.
„Ah, pendeta Limbat…!”
„Sudah berapa lama saja tidak melihat saudara,” katanja sambil meng-angguk² dan meng-gojang²kan tungkuk. „Tahun ’45. Lama djuga. Masih ingat ini, Nora?” menunjuk pada gadis ketjil itu. Dan pada saat itu djuga aku melihat persamaan Nora dengan ibunja, Lola. Terbajanglah padaku semua kedjadian² ’46, pada permulaan revolusi. Nora memang adalah gambaran hidup dari ibunja. Raut mukanja, hidung dan mulutnja, matanja, warna kulitnja sampai rambutnja jang mengikal itu. Kalau dia sudah besar, bisa djuga dia bikin gila pemuda², aku fikir.
Sedang aku melamun, lewat sebuah kretek membawa dua orang luka. Pendeta Limbat sedih geleng² kepala. Aku mentjoba mengadjak dia bitjara untuk mengetahui bagaimana pendapatnja tentang peristiwa baru² ini.
„Sesudah delapan tahun merdeka kita masih begini?” aku bilang. „Sekarang kita bunuh-membunuh.”
„Kenapa sekarang sadja,” dia bilang suram sambil mengerling pada Nora.
„Tahun ’45 kita sudah mulai bunuh membunuh,” diusapnja kepala Nora dan terbajang lagi padaku Lola jang diperkosa anak² laskar di Kepu.
„Sudah terlalu banjak noda melekat pada perdjoangan kita ini,” sambung pendeta Limbat. „Sudah terlalu banjak orang jang tidak djudjur memegang sendjata dan berkuasa. Tjita² adalah sutji dan hanja dapat ditjapai oleh orang² jang djudjur…Eh, maaf saudara. Sudah datang orang jang kami tunggu. Sampai ketemu”. Ter-gesa² dia berdiri pergi keluar dengan gadis ketjil itu. Diluar berdiri tiga orang, dua laki² dan seorang perempuan tua jang bersandar pada kedua laki² itu. Korban gerombolan, aku taksir². Pe-lahan² mereka menjebrang dan turun kelereng melalui djalan ketjil. Aku mengikuti mereka sampai kepinggir djalan. Pe-lahan² seperti orang² jang pergi kekuburan mereka turun kebawah sampai kepinggir sawah jang terhampar menghijau dilembah. Sunji lengang nampaknja seluruh lembah: terlalu sunji untuk petang hari. Dan makin djauh kelima orang itu, makin samar² gerak mereka dan bertambah sepilah seluruh lembah. Hanja seekor burung ulung² nampak me-lajang² diudara. Dikejdjauhan nampak asap membumbung dari sebuah desa. Mungkin kampung itu dibakar, aku fikir. Sebentar aku merasa badanku gemetar. Aku berbalik kearah djalan besar dan melihat Hasan berdiri dekatku.
„Bis sudah datang”, katanja. „Kalau kita berangkat sekarang, masih bisa kita ambil oplet dari Bogor ke Djakarta.” Kami masuk bis. Hanja beberapa orang sadja duduk didalam, tidak banjak orang jang bepergian,” kata Hasan sambil duduk disudut dibagian belakang. „Dan kebetulan djuga hari Djum’at.”
Aku mengerti apa sebabnja Hasan duduk dibelakang, sedang tempat masih banjak didepan. Dia mau omong² tenang dengan aku. Dia menatap kearah desa jang masih mengepulkan asap. Mungkin tafsiran kami sama. Setelah bis bergerak, barulah dia memandang kedepan.
„Dimana kau kenal pendeta itu,” tanja Hasan.
„Di Djakarta,” aku djawab. „Kau kenal dia?”
„Kenal muka. Dia sering datang kedaerah ini. Entah apa kerdjanja disini. Dan selalu dengan gadis ketjil itu. Tetapi ibu gadis itu tak pernah aku lihat.”
„Memang ibunja tak ada lagi. Sudah meninggal. Dan gadis itu bukan anak pendeta itu.”
„Ajahnja sendiri dimana?”
„Dibunuh Kempetai patja waktu Nora masih dalam kandungan. Sedjak waktu itulah Lola, ibu Nora tinggal dirumah pendeta tadi.”
„Dan disitulah kau berkenalan dengan Lola?” tanja Hasan dengan penuh perhatian. Dia menggeser lebih dekat padaku sambil mengulurkan rokoknja.
„Tidak,” aku bilang, „dirumahku sendiri di Tanah Tinggi, malam². Pandjang tjeritanja.” Hasan memandang aku lagi. Seluruh pandangannja membudjuk supaja aku bertjerita terus.
„Bagaimana?” katanja.
„Lola mempunjai seorang adik laki². Adi namanja. Tetapi orang² menjebut dia si Tjebol. Dia memang kerdil dan bongkok. Belum pernah aku lihat orang jang begitu djelek menakutkan seperti dia. Luar biasa! Perempuan² dan anak² takut melihat dia. Menurut tjerita orang, pernah seorang perempuan keguguran karena kaget melihat dia. Bahkan orang² kampung mengatakan bahwa malam² dia mendjadi hantu. Ada orang jang berani sumpah, sering melihat dia di kuburan dekat gang Sentiong. Aku tidak pertjaja, sebab aku tahu bahwa malam² dia bekerdja disebuah restoran Tionghoa, menjapu dan mentjutji piring, kalau tamu² sudah pergi. Hampir tak pernah dia nampak siang². Karena dia malu dan selalu diganggu anak².
Pada suatu malam aku terkejut mendengar banjak anak² berteriak² didepan rumah. Aku keluar dan melihat si Tjebol dikerumuni dan dipukuli anak². Waktu aku melihat dia pertama kalinja, aku sendiri terkejut dan merasa ngeri. Tetapi perbuatan anak² itu sudah kelewat. Kau sendiri tak akan tahan melihatnja. Setelah anak² itu kuusir aku bawa si Tjebol keruangan belakang disamping dapur. Dia ternjata belum makan. Sedang aku memperhatikan dia dan membatangkan nasibnja jang malang itu, aku fikir²: Apakah sebetulnja arti dan guna hidup ini bagi orang seperti dia? Hasan memandang aku lagi dan berkata: „Djangan bilang begitu. Lihat sadja pengemis² jang kurus merana. Hidup andjing lebih terpelihara daripada hidup mereka. Tetapi belum pernah aku melihat seorang pengemis dengan sukarela mengachiri hidupnja jang sengsara itu. Sebab untuk bunuh diri djuga perlu keberanian …Lalu bagaimana?”
„Nah, aku tanja dimana rumahnja dan siapa orang tuanja. Malam itu djuga aku panggil kakaknja, Lola, satu²nja jang dia punjai didunia ini. Mula² aku tak pertjaja bahwa Lola adalah kakak si Tjebol. Perbedaannja terlalu menjolok mata. Aku tidak me-lebih²kan kalau aku bilang bahwa Lola adalah bidadari. Kalau kau lihat Nora tadi, kau kira² dapat membajangkan bagaimana tjantiknya Lola. Tetapi sebagaimana si Tjebol merasa malang dengan kedjelekannja, ketjantikan Lola djuga tidak menguntungkan baginja. Jang paling mengharukan aku ialah besarnja tjinta Lola pada adiknja. Di-peluk² dan ditjiuminja si Tjebol didepanku. Air matanja bertjutjuran dan aku merasa hatiku remuk. Timbul iba hati dan simpatiku terhadap si Tjebol jang malang itu. Orang sakit bisa lekas sembuh kalau orang seperti Lola jang merawat, aku fikir. Nah, sedjak itu si Tjebol sering datang kerumahku.
Dia mem-bantu² babu tua jang njata tidak takut, bahkan sajang padanja. Dia selalu datang dari belakang rumah, karena malu dan takut djalan dari depan. Dan malam² dia tetap pergi kerestoran mentjutji piring dan menjapu. Demikian dia bisa hidup dengan tidak mendjadi beban bagi kakaknja.
Dalam pada itu revolusi petjah. Si Tjebol makin djarang datang kerumah. Dan aku dengar dari Lola jang sudah masuk Palang Merah, bahwa si Tjebol tidak berani lagi keluar. Lagi pula restoran² di Kramat tidak dibuka lagi malam² selama „zaman bersiap”. Penghidupan makin lama makin sulit. Pada waktu itulah pertama kalinja aku takut mati kelaparan. Sebab sekalipun masih ada uang, ada waktunja tukang beras satu dua hari tidak lewat karena terhalang. Aku djuga dapat bajangkan bahwa penghidupan Lola dan si Tjebol lebih sulit lagi.
Pada suatu hari Lola dan pendeta Limbat datang kerumahku mentjari si Tjebol. Sudah dua hari katanja si Tjebol tidak pulang dan mereka kira bahwa dia tinggal dirumahku. Lola menghempaskan dirinja diatas divan dan menangis setelah dia dengar, bahwa sudah tiga minggu aku tak pernah melihat si Tjebol. Ke-tiga²nja kami mendjadi bingung. Waktu itu pentjulikan sudah meradjalela dan banjak orang jang terbunuh atau hilang tak berbekas. Pendeta Limbat mentjoba membesarkan hati Lola. Tjurahkan isi hatimu pada Tuhan dan pertjajalah padanja, dia bilang. Kami melihat tangan pendeta Limbat berdoa. Sudah berapa tahun aku tidak pernah mendoa, aku fikir. Terus terang aku katakan bahwa aku tak dapat memusatkan fikiranku pada Tuhan pada waktu itu. Tembakan² dan letusan granat disekitar Tanah Tinggi selalu mengedjutkan dan mengganggu fikiranku.
Setelah kami selesai mendoa kami usulkan supaja Lola tinggal dirumah dan kami pergi mentjari si Tjebol. Lola menurut sadja. Tak lama kami mentjari. Di Bungur dekat sebuah parit, kami lihat banjak orang berkumpul. Se-olah² djantungku berhenti berdenjut waktu aku dengar seorang anak ketjil berteriak: „Si Tjebol, si Tjebol.”
Aku memandang pada pendeta Limbat. Mukanja putjat. Aku tarik dia dan kami lari kearah tempat orang² berkumpul. Orang menjisih melihat kami datang ter-gesa². „Ja, Tuhan,” aku dengar pendeta Limbat mendjerit.
Aku mendesak kedepan dan melihat majat si Tjebol dalam parit, berlumuran darah. Aku memandang kekanan kiri. Orang² diam. Kebanjakan perempuan² jang berdiri disana.
„Siapa jang membunuh dia?” aku tanja dengan geram. Mereka diam. Aku pegang seorang laki² jang berdiri dekatku dan sentak bahunja.
„Katanja pemuda²,” dia bilang gemetar.
„Pemuda² mana?” aku bentak.
„Dari Kepu. Katanja dia mata² musuh. Sesudah dipukuli, dia diseret kemari. Hanja itu jang saja tahu.” Aku memandang sekeliling. Orang² diam² sudah pada pergi. Hanja suara pendeta Limbat aku dengar: „Hanja setan jang akan gembira melihat perbuatan ini. Kamu sekalian akan mempertanggung-djawabkan perbuatan ini didepan Tuhan diachirat …” Tetapi tak ada lagi orang jang mendengarkan dia; semua sudah pada pergi.
„Sekarang dia tidak menderita lagi,” aku bilang, „dia sudah bebas dari segala penderitaan.”
„Ah, kenapa harus pendjahat² jang melepaskan dia dari kegetiran hidup ini,” keluh pendeta Limbat.
Aku mengadjak dia pulang. Sambil djalan aku ber-fikir²: bagaimana si Tjebol sampai kesasar ke Kepu; bagaimana dia bisa dituduh mata² Nica. Aku ber-fikir² tentang kekedjaman gerombolan jang seperti binatang buas membunuh orang jang tak berdaja. Bagaimana aku nanti mentjeritakannja pada Lola? Dimana si Tjebol akan dikubur?
Sampai di Pontjol Tanah Tinggi baru aku sadar, bahwa pendeta Limbat sudah ada limapuluh meter didepan dan sudah menjebrang. Tepat pada waktu dia membelok, kedengaran tembakan empat kali ber-turut². Se-olah² ada jang menjentak aku kebelakang: aku mundur dan masuk gang ketjil. Kedengaran deruan mobil lewat. Tak tahu aku dari mana datangnja dan kedjurusan mana perginja. Pikiranku terus melajang pada pendeta Limbat.
Tidak mustahil tembakan itu ditudjukan padanja.
Kira² sepuluh menit aku menunggu ditempat itu. Semua pintu gubuk² jang ada disamping itu, pada tutup. Kesunjian selama sepuluh menit itu sungguh mengerikan. Sajup² diudjung gang kedengaran sebuah pintu menggeret dibuka.
Bisa djuga suara pintu menakutkan, aku fikir. Seorang tua keluar dan mengambil djemuran dari kawat. Kesana sadja aku pergi, aku fikir. Terr! Tembakan! Perempuan itu kaget dan tjepat masuk. Pintu ditutup. Sepi kembali dan aku makin gelisah. Sebelah kanan aku lihat sebuah gang ketjil jang keluar didjalan besar. Aku taksir hanja duapuluh meter djaraknja kedjalan besar. Tetapi entah berapa lama aku baru sampai didjalan besar. Entah berapa ratus meter kekanan kiri tak nampak seorang manusiapun. Se-akan² seluruh daerah itu mati. Sudah berapa kali aku mendoa dalam hati? Tetapi aku masih terus ragu². Achirnja aku lari keseberang. Bukan karena bertambah berani sesudah mendoa, tetapi djustru karena rasa takut jang memuntjak menghalau aku dari tempat jang sunji mengerikan itu.
Baru aku sampai diseberang, aku melihat seorang perempuan tjepat menjebrang kedjurusan dari mana aku datang. Aku menoleh. Sebentar masih nampak perempuan itu dari belakang. „Lola” mentjetus dari mulutku. Berputar se-gala²nja dimukaku. Mustahil, aku fikir. Tetapi siapakah perempuan itu? Dia berpakaian putih.
Aku lari kerumah. Dikamar depan pendeta Limbat mundar-mandir, seperti kehilangan akal dia nampaknja.
„Dimana Lola,” aku tanja ter-gesa².
Pendeta Limbat berpaling padaku. Dia mengangkat tangannja seperti orang jang putus asa. Djelas nampak bahwa dia baru mengeluarkan air mata. Bisa djuga seorang pendeta putus asa, aku fikir.
„Saja tak dapat menahan dia,” kata pendeta Limbat. „Ach, saja tak tahan melihat Lola menderita begitu.” Dia memegang dadanja se-akan² dia takut hatinja remuk.
Hari itu djuga kami pergi ke Kepu. Sampai malam kami mendjeladjah didaerah itu. Sia² belaka. Kami mampir dirumah seorang kenalan pendeta Limbat. Disana kami makan, sehabis makan aku adjak pendeta Limbat pulang.
Dia tak mau; dia mau terus mentjari Lola. Achirnja aku pulang sendiri.
Sampai djauh malam aku menunggu dirumah. Mungkin ada orang jang membawa kabar. Sesudah tjapek duduk aku pergi ketempat tidur. Ber-ganti² terbajang dimukaku si Tjebol dan Lola. Dalam kebingungan mentjari Lola kami sampai lupa mengubur si Tjebol. Inilah revolusi, aku fikir.
Baru pukul empat pagi aku tertidur. Setelah bangun aku kaget melihat sudah pukul sebelas. Fikiranku segera melajang ke Kepu.
Setelah mandi dan berpakaian setjepat kilat, aku pergi ke Kepu. Tetapi pertjuma sadja aku ter-gopoh² ke Kepu. Sampai disana aku hanja mendjadi saksi dari suatu drama jang tak akan dapat kulupakan seumur hidup; Lola telah membunuh diri.
Waktu aku mendekati pendeta Limbat jang duduk disamping majat Lola, dia menjodorkan setjarik kertas dalam tanganku. Dia sendiri tidak bitjara.
Tak sanggup lagi bitjara barangkali pada saat itu. Dia hanja bersungut ber-ulang²:
„Tidak akan selamat orang jang berbuat kedjahatan ini.”
Per-lahan² aku batja surat itu:
Bapak, pendeta Limbat.
Setelah adik saja terbunuh dan kehormatan saja dirusak orang² jang menjebut dirinja pembela kemerdekaan, hidup ini tak memberi pegangan apa² lagi bagi saja …
Surat itu belum selesai, tetapi aku tidak mentjapakkan otakku dengan pertanjaan apa sebabnja surat itu belum selesai. Pertanjaan² itu telah ber-desak² dalam otakku. Pertanjaan² itu lekas djuga terdjawab. Orang tua jang duduk disampingku mentjeritakan, bahwa Lola jang disangka perempuan Indo dan mata² musuh, ditangkap pemuda² jang dipimpin oleh Banteng Kepu …”
Waktu aku sebut nama Banteng Kepu, nampak Hasan kaget dan putjat. Dia memegang keningnja. Entah dia pusing entah berfikir. Tetapi dia tak bilang apa², dan padakupun tak timbul sangkaan apa². Aku terlalu sibuk dengan tjeritaku.
„Dan katanja kepala laskar itu sendiri, Banteng Kepu, jang merusak kehormatan Lola. Sudah ber-tahun² aku mentjari Banteng Kepu ini. Katanja dia sudah lama meninggalkan Djakarta. Dan namanja jang sebenarnja aku tidak tahu …”
Bis berhenti. Aku mendjenguk keluar dan melihat bahwa kami sudah sampai di Bogor.
„Nanti sadja aku sambung lagi,” aku bilang pada Hasan jang masih duduk terdiam.
„Mari”, aku adjak sambil turun.
Agak berat Hasan berdiri.
Sampai diluar Hasan memandang aku. Ada sesuatu pada pandangannja jang tak dapat aku lukiskan.
„Tak perlu lagi,” katanja lemah.
„Apa?” aku tanja heran.
„Kau tak perlu mentjari Banteng Kepu. Dia telah mendapat gandjarannja …”
„Tertangkap? Kau kenal dia?” aku tanja ber-turut².
„Lebih dari kenal. Aku adalah adiknja. Nama jang sebenarnja adalah Musa. Kau sudah tahu bagaimana dia menemui adjalnja dan apa jang terdjadi dengan istrinja.”
Aku diam. Apa jang hendak kukatakan. Didepanku berdiri adik pendjahat jang sudah ber-tahun² kutjari.
„Bagaimana kau tahu, San,” aku tanja achir²nja untuk melenjapkan suasana jang menekan itu.
„Aku turut menangkap Lola,” kata Hasan sedih.
Aku diam lagi; kepalaku pusing. Dadaku terasa sesak. Pada saat itu terbajang dimukaku p’tang baru siang itu kami kubur dengan penuh chidmat. Aku turut mendoakan agar Jang Maha Kuasa menerima dia dipangkuannja. Apakah doa dapat ditjabut kembali, aku fikir. Baru aku sadar bahwa orang bisa djuga bentji pada jang telah meninggal. Pelahan aku djalan dan duduk ditembok dipinggir djalan. Entah berapa lama aku duduk disana.
Selagi merenung aku merasa tangan Hasan diatas bahuku.
„Aku tidak akan lari. Kau tahu alamatku di Djakarta. Hanja Tuhan barangkali jang dapat mengampuni dosaku,” kata Hasan seperti orang menjerah.
Waktu aku menoleh Hasan sudah pergi.
Sedjak itu aku tak pernah lagi bertemu dengan dia. Mungkin perpisahan itulah penjeleseian jang sebaiknja. Tak pernah aku mentjari dia di Djakarta. Untuk apa pula? Untuk mengadakan perhitungan? Atau untuk mengampuni dosanja? Dua²nja tak dapat aku lakukan.