Publisher Note
(pidato diutjapkan pada peringatan ulangtahun ke-33 PKI jang diselenggarakan oleh SC PKI Djakarta Raya dan CC PKI bertempat di Gedung Kesenian, Djakarta, pada hari 22 Mei 1953 malam)
Jajasan „PEMBARUAN”
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Kawan² dan parahadirin,
Genap 33 tahun Rakjat pekerdja Indonesia mempunjai pemimpin jang terpertjaja, jaitu Partai Marxis, Partai type baru, Partai type Lenin dan Stalin : Partai Komunis Indonesia. (tepuktangan). Revolusi Rusia tahun 1905 telah menggugah bangsa² Asia, dan PKI, Partai Indonesia jang per-tama² bersendjatakan ilmu, lahir dalam pangkuan Revolusi Oktober 1917, revolusi jang dibawah pimpinan Lenin dan Stalin berhasil menumbangkan kekuasaan feodal dan kapital, dan mendirikan negara type baru, negara jang paling progresif dalam sedjarah umatmanusia : Negara Sosialis. (tepuktangan).
Seperti halnja manusia tambah hari tambah dewasa, PKI-pun semakin dewasa. Dan sekarang, PKI tidak hanja turut menulis sedjarah bangsa Indonesia, tetapi peranan PKI dalam kehidupan dan perdjalanan bangsa Indonesia semakin penting dan menentukan, karena organisasi dan kekuatan PKI sudah semakin besar.(tepuktangan). Kami, Kawan Aidit dan saja, berbahagia sekali telah diserahi mewakili Partai jang besar ini dalam beberapa peristiwa penting diluarnegeri, antara lain konferensi Partai Komunis Tjekoslowakia, pada pemakaman Kawan Stalin dan Kawan Gottwald jang kepergiannja begitu kita sajangkan, pada Hari 1 Mei dan Hari Pembebasan Tjekoslowakia. Kawan Aidit telah membentangkan arti Partai kita dalam perdjuangan pembebasan Rakjat Indonesia, dan telah pula menerangkan dengan djelas dan tepat kewadjiban-kewadjiban apa jang dihadapi oleh Partai Komunis dan Rakjat Indonesia di-hari² datang. Kepada saja diminta untuk memberikan sekedar pengalaman jang kami dapat selama kami diluarnegeri. Saja kira permintaan ini tidak ada djeleknja. Sebab, meskipun banjak sekali pengalaman jang telah didapat PKI selama sepertiga abad berdirinja, pengalaman kami diluarnegeri toh akan berguna. Bukankah pada Rakjat pekerdja ada kewadjiban untuk, disamping beladjar dari pengalaman nasionalnja sendiri, djuga beladjar dari pengalaman² proletariat internasional ? (hadirin berseru : benar !).
Kawan² dan parahadirin,
Karena takut akan meluasnja pengaruh Soviet Uni, dan karena tidak bisa menundjukkan kedjelekan Soviet Uni baik setjara politik, ideologi maupun moril, maka kaum reaksi, mulai Van Mook sampai Sjahrir dan Natsir (tawa dan tepuktangan), dan pers reaksi, mulai „New York Times” sampai „Pedoman” dan „Keng Po” (tawa dan tepuktangan), mereka² dongengan tentang „tirai besi”. Dalam 6 bulan ini kami telah terbang kuranglebih 50.000 kilometer. Dan sepandjang djarak jang djauh itu hanja ditiga tempat kami mendapat rintangan : pertama di Singapura, ketika polisi Inggeris tidak bisa menjembunjikan ketakutannja kepada dua orang Komunis (hadirin tertawa), kedua di Schiphol, Amsterdam, ketika pemerintah Belanda lebih suka menerima djendral Ridgeway jang membawa bom atom daripada menerima kami jang membawa tjita² kemerdekaan (tepuktangan); dan ketiga di Kemajoran (hadirin tertawa), ketika kami, warganegara Indonesia, ternjata lebih ditjurigai daripada fasis Schacht atau imperialis Stevenson. (tepuktangan). Tambahkanlah pada kenjataan² ini kenjataan² jang lain, jaitu bahwa Amerika tidak memberikan visa untuk Paul Robeson, Charlie Chaplin dan ribuan warganegaranja jang lain, bahwa setiap tahun ber-puluh²-ribu orang dari be-ratus² delegasi berkundjung ke Soviet Uni dan negeri² Demokrasi Rakjat, dan bahwa kepergian warganegara Indonesia keluarnegeri selalu dipersukar meskipun Undang² Dasar mendjamin kebebasan itu, — maka tidaklah sukar untuk melihat dimana tirai besi dipasang orang. Jang terang tidak di Praha, tidak di Moskow dan tidak di Peking ! (tepuk-tangan).
Ketika kami mendarat di Praha, ketika kami turun dari tangga pesawatterbang, — ketika itu banjak delegasi melewati Praha dalam perdjalanannja ke Kongres Rakjat untuk Perdamaian di Wina — kami tidak melihat tirai besi. Djuga tirai kaju atau tirai gedek tidak ada. (hadirin tertawa). Jang ada hanjalah sematjam tirai kain — spanduk kata kita disini — jang bertuliskan : „Tjekoslowakia, negeri perdamaian, menjambut parautusan ke Kongres Rakjat untuk Perdamaian” (tepuktangan), „Perdamaian bisa dibela, perdamaian harus dibela.” (tepuktangan).
Kawan² dan parahadirin,
Kalau seseorang datang kenegeri asing, dengan sendirinja banjak jang asing baginja. Djuga bagi kami banjak jang asing di Tjekoslowakia: ladang²nja, gunung²nja, sungai-sungainja, chewan²nja, saldju dan hawadinginnja, kebiasaan² dan adat-istiadatnja. Tetapi ada djuga jang tidak asing bagi kami, jaitu : susunan masjarakat dan manusia-manusianja. Susunan masjarakatnja tidak asing bagi kami, karena sedjak lama sudah kami ketahui teori Demokrasi Rakjat dan karena sebelum kami berangkat telah kami peladjari sekedar sedjarah dan bahan² lain dari Republik Rakjat Tjekoslowakia. Manusianja djuga tidak asing bagi kami, bukan per-tama² karena kami teoritis tahu apa artinja manusia jang bebas, tetapi terutama karena praktis kebebasan demikian itu telah kita rasakan bersama selama revolusi kita 1945-1948. Dan apa jang sudah kami ketahui, jaitu bahwa susunan Demokrasi Rakjat djauh lebih unggul daripada susunan kapitalis, dibenarkan dan diperkuat oleh segala jang kami lihat, jang kami djumpai dan jang kami rasakan di Tjekoslowakia.
Tjekoslowakia adalah salah satu negeri jang terkaja, jang sangat madju industrinja di Eropa. Tidak mengherankan djika Hitler, sebelum perang, tidak hanja mengintjer tetapi mengerahkan segenap kekuatannja untuk menguasai negeri ini. Dan ketika sesudah perang dunia kedua dengan bantuan jang menentukan dari Tentara Pembebasan Soviet Tjekoslowakia mematahkan belenggu imperialisme dan mendjadikan dirinja sebagian dari kubu demokrasi, kaum imperialis, terutama imperialis Amerika, tidak hanja kaget, tetapi djuga marah kebingungan.
Usaha jang per-tama² ditjoba Amerika jalah membudjuk Tjekoslowakia supaja mau menerima ,,rentjana Marshall.” Ketika budjukan halus ternjata tidak berhasil, merekapun menggunakan kekerasan jang kasar. Menteri² burdjuis mereka perintahkan supaja keluar dari kabinet, dengan harapan supaja kabinet djatuh dan supaja presiden Benesj mengangkat pemerintah baru jang sedia mendjual kemerdekaan Tjekoslowakia untuk United States' dollars. (sidang tertawa). Tetapi malang bagi Amerika, sebab: di Tjekoslowakia ada Gottwald. Dan Gottwald selain perdana menteri proletar jang pertama, djuga seorang murid Lenin jang setia. Gottwald tidak melupakan adjaran Lenin bahwa jang pokok jalah kekuasaan negara, kekuasaan Rakjat atas negara. Gottwald membiarkan menteri² reaksioner mengundurkan diri, menjusun pemerintah baru, dan presiden Benesj, didesak oleh kehendak Rakjat, terpaksa harus mensahkan pemerintah Gottwald jang baru. Demikianlah, pada tanggal 28 Februari 1948, didepan be-ratus² ribu Rakjat jang mentjintainja, Gottwald berdiri dimimbar dan mengumumkan dengan tegap : Pemerintah jang baru akan menempuh djalan baru, djalan Sosialisme ! (tepuktangan).
Pengalaman peristiwa Februari di Tjekoslowakia ini penting sekali. Penting untuk Indonesia sekarang, disaat menteri² seperti Hamengku Buwono, Tedjasukmana, Mohamad Rum dan Sumitro telah dan sedang mreteli disebabkan oleh sikap mereka sendiri jang memusuhi Rakjat. (sidang tertawa). Dan penting untuk Indonesia dimasa datang, dimana perdjuangan antara Rakjat dan kaum pendjadjah akan semakin tadjam dan sengit.
Sudah lebih 5 tahun sedjak Peristiwa Februari itu terdjadi. Dan pengarang wanita Tjek, Maria Marejova, benar sekali ketika dia menulis, bahwa „tidak ada aparat musuh jang bisa menahan kemadjuan Tjekoslowakia kearah tudjuan jang ditetapkan Rakjatnja dibulan Februari”.
Kawan² dan parahadirin,
Tidak ada aparat musuh jang bisa menahan kemadjuan Tjekoslowakia ke Sosialisme. Amerika, jang rupa²nja belum djera, belum kapok, mentjoba dengan djalan jang tersembunji : dia selundupkan agen²nja, baik monarkis, fasis maupun titois, jang dikepalai oleh Slansky, kedalam aparat Partai Komunis dan negara Tjekoslowakia. Agen² ini ditugaskan untuk menjebarkan ketidakpuasan dikalangan Rakjat, untuk mensabot segala usaha jang memadjukan kehidupan Rakjat, dan untuk membunuh Klement Gottwald dan pemimpin² Komunis lainnja. Tetapi malang lagi bagi Amerika (tawa), Partai Komunis ternjata lebih kuat daripada FBI dan segala djawatan polisi rahasia, dan Klement Gottwald ternjata lebih pintar daripada Truman dengan segala djendral² dan mata²nja. (tepuktangan). Ketika komplotan Slansky digulung, Amerika menangis kesakitan. (tawa). Dan untuk menutupi kedjahatannja, mereka me-ngarang² dongengan se-olah² di Tjekoslowakia meradjalela anti-semitisme. Koran² sosialis-kanan dan koran²-reaksioner lainnja di Indonesia sinipun dengan sendirinja turut² ber-kaok² tentang „anti-semitisme.” Bahwa Willie MacGhee dan ber-puluh² Negro lainnja dikursi listrik di Amerika, dan bahwa suami-istri Rosenberg djuga mau mereka kursilistrikkan hanja karena mereka ini Jahudi, tentu sadja koran² jang menjebut dirinja „objektif” itu bungkam. Tetapi kalau seorang spion jang melanggar segala konvensi dan moral, ditangkap di Tjekoslowakia, ributlah mereka mengarang chajal tentang apa jang mereka namakan „anti-semitisme.” Koran² ini djuga bungkam kalau Amerika terang²an mengeluarkan beaja sebesar 100 djuta dolar jang mereka namakan MSA, untuk — sebagaimana mereka akui sendiri — mengongkosi usaha mata² mereka di-negeri² Demokrasi Rakjat dan Soviet Uni. Malahan seorang tuan Subardjo, tangankanannja tuan Sukiman, tjoba² mau mendjual Indonesia kepada MSA atau usaha mata² Amerika ini, sehingga — kasihan tuan Subardjo ! (tawa) — dia dipaksa turun panggung oleh Rakjat. (tawa).
Kawan Gottwald, didepan konferensi nasional Partai Komunis Tjekoslowakia, jang dilangsungkan ketika kami disana, menerangkan dengan djelas dan berdasarkan sikap Marxis jang tepat perbedaannja jang seperti api dan air antara anti-semitisme dan anti-zionisme: Anti-zionisme berarti melindungi klas buruh dari serangan² kapital. (tepuktangan). Dan koran² reaksi tidak selamanja bisa menjembunjikan hubungan antara zionisme dan imperialisme Amerika. Demikianlah, dalam pesawat terbang saja berkesempatan membatja „Het Parool”, harian sosialis-kanan Belanda, jang menjiarkan berita bahwa ketua Exekutif Zionis, Berl Locker, berangkat (dari Israel) ke New York untuk turut dalam perundingan tentang pendirian suatu ,,front pertahanan” jang berada dibawah pengawasan Dewan Zionis Amerika.
Di-negeri² kapitalis djuga di-sebar²kan dongengan seolah² be-ribu² bangsa Jahudi di Tjekoslowakia ditangkapi dan se-olah² semua bangsa Jahudi disana hidup dalam ketakutan. Kami berdjumpa dengan be-ratus² bangsa Jahudi disana : di-djalan², di-rumah², di-pabrik², di-toko². Mereka hidup berbahagia seperti Rakjat Tjekoslowakia lainnja, dan mereka gembira sekali, seperti Rakjat Tjekoslowakia lainnja gembira sekali, karena komplotan Slansky, jang mau mematikan kehidupan mereka, telah dibongkar dan dihantjurkan oleh pemerintah. Tjekoslowakia adalah suatu negeri jang Rakjatnja terdiri dari bangsa Tjek dan bangsa Slowakia, jang mengikuti tjontoh politik nasional Stalin, hidup rukun bersaudara. (tepuktangan). Seperti halnja dinegeri multi-nasional Soviet Uni, di Tjekoslowakiapun bangsa² Tjek dan Slowakia, dan disamping itu minoriti² Jahudi maupun Djerman hidup rukun dan damai bersaudara.
Kawan² dan parahadirin,
Dari peristiwa komplotan Slansky ini satu peladjaran jang sangat penting wadjib kita tarik, jaitu bahwa tidak hanja dari kaum Komunis, tetapi dari tiap² patriot dan orang progresif selalu dan dalam keadaan jang bagaimanapun dituntut k e w a s p a d a a n, kewaspadaan politik jang tadjam, jang tiap-tiap saat harus dipertadjam. karena, musuh² klas buruh tidak akan membiarkan tiap² kesempatan jang bisa mereka pakai, tidak hanja untuk memetjahbelah gerakan kita, tetapi untuk menghantjurkannja.
Kawan² dan parahadirin,
Kalau kita ber-djalan² dikota Praha, atau di Ostrawa atau di-tempat² lain di Tjekoslowakia, satu hal sangat menjolokmata : toko² sangat ramai dikundjungi. Apa artinja ini ? Ini berarti bahwa dajabeli Rakjat adalah besar. Beginilah kalau kita menarik kesimpulan ekonomi dari keadaan jang terlihat se-hari². Tetapi kesimpulan begini ini tentu tidak tjukup. Kita harus menjelidiki lebih dalam lagi untuk membuktikan bahwa ekonomi Demokrasi Rakjat memang sehat. Anggaran belandja Tjekoslowakia untuk tahun 1953, sebagaimana baru² ini diadjukan oleh menteri Jaroslav Kabesj kepada Dewan Nasional, menundjukkan pengeluaran sebesar 430.9 miljard kron dan pemasukan sebesar 435.2 miljard kron. Djadi terdapat surplus sebesar 4.3 miljard kron. Kalau kita ambil anggaran belandja Indonesia untuk tahun 1952, kebetulan sekali kita djuga mendjumpai angka sama, jaitu 4.3 miljard. Tetapi 4.3 miljard rupiah ini bukannja surplus, melainkan minus alias defisit! (sidang tertawa).
Dimana letak rahasianja maka anggaran belandja Tjekoslowakia bisa mentjatat surplus ? Sebagaimana diterangkan oleh menteri Kabesj, karena „peluasan produksi sosialis”, artinja, karena peluasan perusahaan² milik negara. Di Indonesia memang lain, orang madju-mundur kalau berhadapan dengan BPM atau Bangka Biliton My atau Aniem (tawa), dan rupa²nja lebih suka menerima sekedar fooi atau persenan daripada mengexploitasi sendiri perusahaan² itu sebagai perusahaan negara.
Tentang produksi, dibandingkan dengan tahun 1951 produksi industri berat tahun 1952 meningkat dengan 39,1%. Disini orang mengeluh terus karena, kata mereka, produksi terus merosot. Meskipun, tiap² tahun maskapai² Belanda membagikan dividen sebesar 9, 12 sampai 15%. Dimana letak rahasianja maka berbeda dari disini, produksi di Tjekoslowakia terus meningkat ? Sederhana sadja: karena kaum pekerdja disana tahu dan insjaf untuk siapa mereka membanting-tulang, jaitu : untuk mereka sendiri, (tepuktangan) dan karena sjarat² hidup kaum pekerdja tambah hari tambah baik. Disini, kita mendengar njanjian bersama ,,Mehrarbeit” dari tuan Schacht, Hatta dan Sjahrir. Tuan² ini rupanja mengira bahwa produktivitet bisa ditinggikan dengan sekedar andjuran kepada kaum buruh jang kelaparan. (tawa dan tepuktangan). Dan seandainja produktivitet bisa dinaikkan, bagi siapa jang belum terang bahwa hal itu hanja akan lebih menggendutkan kantong kapital asing? (sambutan : betul! betul!).
Tentang teknik di Tjekoslowakia, berkat bantuan insinjur-insinjur Soviet, kemadjuannja sangat mengagumkan. Ini djuga didorong oleh kesedaran pemimpin² Tjekoslowakia tentang kebenaran adjaran Kawan Stalin dalam buku nja jang terachir dan klasik „Masaalah² Ekonomi Sosialisme di Soviet Uni”, jaitu bahwa untuk memenuhi setjara maximal kebutuhan² materiil dan kulturil jang selalu meningkat dari seluruh masjarakat, djalannja jalah terus-menerus memperluas dan menjempurnakan produksi sosialis berdasarkan teknik² jang lebih tinggi. Bagaimana kemadjuan teknik² jang tinggi di Tjekoslowakia ini, saja kira bukan barang baru bagi parahadirin. Pabrik² disana menghasilkan mulai djepitan kertas sampai mobil Skoda, mulai potelot Koh-I-Noor sampai pesawat jet. Dan teknik² jang tinggi ini tidak hanja di-pabrik² dipakai. Kami mendatangi kesatuan² koperasi pertanian, djadi sematjam kol-chos, dan kami melihat bagaimana penggarapan tanah, pemeliharaan ajam sampai pada pemerahan susu sapi, semuanja dilakukan dengan mesin.
Kawan² dan parahadirin,
Salah satu tjara jang baik dan terudji untuk mengukur seberapa kemadjuan sesuatu bangsa, jalah dengan melihat kehidupan kebudajaannja dan mempertimbangkan kemadjuan-kemadjuan dan hasil² jang ditjapainja dilapangan kebudajaan. Kami disana mengundjungi museum², teater², tempat² bersedjarah, sekolah², rumahsakit², istana² pionir, tempat² penitipan anak², geredja², dll. Kebudajaan Tjekoslowakia berusia tua. Djuga sedjarah universitet disana sudah tua. Tetapi sampai petjah perang dunia jang lalu, djumlah mahasiswa disana tidak pernah melebihi 19.000, sedang sekarang, djumlah ini telah meningkat mendjadi hampir 47.000. Djadi, Rakjat Tjekoslowakia jang kira² hanja seperenam Rakjat Indonesia mempunjai mahasiswa 5 kali lebih banjak dari Indonesia !
Jang djuga karakteristik bagi perkembangan Demokrasi Rakjat jalah kehidupan kesenian di Tjekoslowakia. Kita tahu bahwa tradisi kesenian Tjekoslowakia tidak sadja tua, tetapi djuga besar. Dilapangan musik kita kenal Smetana dan Dvorak, dilapangan literatur kita kenal Jirasek dan Hasek, dan dilapangan senilukis kita kenal Alesj dan Manesj. Tetapi jang sangat menarik jalah bagaimana tradisi gemilang ini dipelihara, bagaimana dengan berpidjak atas tradisi ini mentjiptakan kekajaan seni jang baru, pendeknja: bagaimana dari Tjekoslowakia jang tua melahirkan Tjekoslowakia jang baru ! Dan kami menjaksikan bahwa dengan keahlian dan ketjakapan jang luarbiasa seniman² Tjekoslowakia sekarang mengikuti adjaran Kawan Stalin: mentjiptakan kesenian jang nasional bentuknja, tetapi sosialis isinja. Disana sekarang ada 63 teater permanen, disamping ber-puluh² lainnja jang temporer. Dan di-teater² ini, jang dengan tiada kesukaran sedikitpun bisa dikundjungi oleh setiap orang — saja ulangi: bisa dikundjungi oleh setiap orang, karena murahnja kartjisnja —, kami menjaksikan opera, balet maupun pertundjukan² drama, klasik maupun modern, jang dengan satu perkataan bisa saja simpulkan : hebat! Saudara Dajoh, seorang pengarang jang mendjadi anggota delegasi Indonesia ke Kongres Rakjat untuk Perdamaian di Wina, dan jang telah djuga berkundjung ke Tjekoslowakia, antara lain menuliskan kesan²nja dalam „Harian Rakjat”. Saja mengerti kesukaran saudara itu dalam menuliskan kesan²nja. Saudara Dajoh tahu bahwa ada orang² jang tidak akan mempertjajainja, karena, ja, apa jang bisa lebih mejakinkan selain djika kita melihat dan mengalaminja sendiri ? Tetapi achirnja, dengan tidak takut apakah dia akan dituduh „merah” atau „Komunis”, saudara Dajoh menjatakan kekagumannja akan kehidupan kesenian di Tjekoslowakia. Saudara Dajoh tidak takut dituduh apa sadjapun, karena dia menuliskan hal² jang benar. Djuga pada saja bukannja tidak ada kesukaran dalam saja memikirkan bagaimana se-baik²-nja saja mengemukakan kesan² dan pengalaman saja. Tetapi orang tidak bisa menuduh saja lebih dari seorang Komunis !(tawa). Makaitu dengan patuh dan setia kepada kebenaran, saja tjeriterakan apa jang saja lihat, jang saja tahu, jang benar.
Dan saja tidak bisa berbuat lain ketjuali membenarkan saudara Amir Pasaribu atau saudara Basuki Resobowo, jang iri melihat eratnja hubungan antara seniman dan Rakjat disana. Hari apa sadja dan djam berapa sadja kami masuk museum — museum apa sadja, museum sedjarah. museum lukisan maupun museum literatur — tidak pernah museum² itu tidak penuh oleh pengundjung², mulai sardjana-sardjana jang melakukan studi sampai pada kaum buruh jang djuga gairah beladjar, mulai murid² sekolah jang menginginkan keterangan² jang lebih djelas tentang apa² jang dipeladjarinja, sampai pada anak² jang belum bersekolah, jang datang hanja untuk me-lihat² gambar. Di-teater², saban kali lajar turun, tepuktangan jang selalu beralih mendjadi ovasi, se-olah² tak mau berhenti dan penonton meminta supaja artis²nja keluar lagi, sekali, dua kali, tiga kali, sampai 5 atau 6 kali dan kadang² lebih lagi ! Dan jang unik bagi negeri² Demokrasi Rakjat dan Sosialis, jang tidak ada bandingannja di-negeri² kapitalis jalah, bahwa parapengarang, baik romansir, novelis maupun penjair tiap² kali mengadakan diskusi dengan parapembatjanja, dimana parapengarang itu menerangkan bagaimana dia sampai pada fikiran menuliskan karangannja dan bagaimana dia melakukannja, sedang dari parapembatjanja mereka mendengarkan kritik² dan andjuran². Dan kalangan pembatja ini sangat luas : mulai pionir² ketjil sampai petani² tua, mulai kaum buruh pabrik sampai sardjana² loboratorium.
Inilah tanda jang spesifik dan karakteristik bagi kesenian jang paling progresif dalam sedjarah umatmanusia, kesenian proletar. Sebagaimana diadjarkan Lenin, seniman harus mendengarkan Rakjat, seniman harus mentjipta untuk Rakjat dan harus erat berhubungan dengan Rakjat. Disinilah letak sumber kekuatan dan sumber mentjipta bagi kesenian realisme sosialis.
Kawan² dan parahadirin,
Sepatah-dua kata tentang kesehatan Rakjat dan tentang pemeliharaan anak². Kalau sebelum revolusi di Tjekoslowakia, untuk tiap² 1.815 penduduk hanja ada seorang dokter, sekarang, sesudah revolusi, untuk tiap² 774 penduduk sudah ada seorang dokter. Segala pemeriksaan dokter adalah tjuma², sedang harga obat²an lebih murah daripada harga makanan jang sudah begitu murah. Djumlah tempat-tidur di-rumahsakit² sekarang sudah 60% lebih banjak daripada sebelum revolusi.
Tentang pemeliharaan anak²: anak² disana diistimewakan sekali dalam segala hal. Pembagian makanan lebih banjak dan istimewa daripada jang lain², harga pakaian untuk anak² djauh lebih murah daripada untuk jang lain², djuga harga² mainan, kereta, tempattidur, dll. bagi anak² adalah murah sekali. Kalau kita mentjari orang jang kurus, kita masih bisa mendapatkan diantara orang² tua, karena diantara orang² jang sebelum revolusi sangat menderita itu tentu ada jang sudah demikian susunan badannja sehingga sukar diperbaiki. Tetapi diantara anak² disana, tidak bisa parahadirin menemukan jang kurus. (tawa dan tepuktangan). Semuanja gemuk² dan sehat². Untuk ibu jang bekerdja dan jang mau menitipkan anak²nja kepada pengasuh² jang ahli, di-mana², di-kota² maupun di-desa², diadakan tempat² penitipan anak², dimana anak² dididik, dibesarkan, dipelihara setjara tjermat dan ahli. Pemerintah djuga mengadakan teater² spesial untuk anak², terutama teater² boneka. Dan di-istana² pionir, jang benar² i s t a n a bagi anak² sampai umur 14 tahun, boleh dibilang tidak ada jang tidak ada. Ruangan chusus untuk ilmubumi, ilmu-falak, ilmupasti, ilmuhajat, ruangan² chusus untuk beladjar melukis, memahat, bermusik, menari, untuk konstruksi pesawatterbang, ruangan² untuk bermain tjatur, untuk gerak-badan, bibliotik, teater ketjil, ruangan diskusi, dan: sebutkanlah jang lain² — disana a d a ! (tepuktangan). Dan dalam ruangan² jang chusus ini anak², besar dan ketjil, mendapat pendidikan dari orang² jang ahli dalam lapangan masing², djuga guru² sekolah memberikan konsultasi tentang matapeladjaran apapuh. Sungguh, kawan² dan parahadirin boleh iri terhadap anak² di-negeri² jang sudah bebas itu.
Disini, seperti djuga di-negeri² kapitalis lainnja, ada disebarkan fitnahan² jang kedji, se-olah² anak² di-negeri² Demokrasi Rakjat atau Sosialis tidak boleh dimiliki ibu dan bapaknja, se-olah² anak² disana dirampas dan dimiliki oleh negara. Seram bukan? (hadirin tertawa). Dan apa djawaban saja terhadap fitnahan² jang kotor dan tak-kenal-malu ini ? Kalau saja mempunjai anak disana, lama sebelum anak saja lahir sudah akan saja daftarkan ke tempat penitipan anak², karena disana anak saja akan lebih terdjamin, baik kesehatan maupun pendidikannja daripada dirumah. (tepuktangan pandjang).
Kawan² dan parahadirin,
Dalam hidup, kesedihan suka datang mengganggu kegembiraan. Ia djuga datang menganggu kami ketika kami dalam perdjalanan, — tidak, tidak hanja mengganggu kami, tetapi mengganggu kita semua — : Kawan Stalin, guru dan pemimpin proletar jang zenial, jang tidak ada bandingannja dalam sedjarah dunia ketjuali dengan guru²nja sendiri Marx, Engels dan Lenin, Kawan Stalin jang telah memberikan seluruh hidupnja kepada pembebasan manusia dari perbudakan dan kenistaan jang ber-puluh² abad lamanja, Kawan Stalin pergi meninggalkan kita untuk se-lama²nja. Belum pernah seorang manusia jang pergi dihormati dengan kechidmatan jang begitu besar. Di Paris dan di Tokio, di Roma dan di New York, kaum buruh menghentikan pekerdjaannja. Di India, di Inggeris, di Italia dan di-mana², parlemen² mengheningkan tjipta. Diseluruh dunia bendera dukatjita dinaikkan, dan airmata tidak bisa ditahan. Kami pun ke Moskow, untuk menjatakan, bahwa djuga Rakjat Indonesia, Rakjat jang sudah ber-puluh² kali mengangkat sendjata terhadap pendjadjah Belanda, sedih tetapi berterimakasih kepada Kawan Stalin, sahabat dan guru jang paling setia dan bidjaksana dari Rakjat negeri² djadjahan dan setengah-djadjahan. Sudah ditahun 1925 Kawan Stalin memperhatikan dan memikirkan dan membantu Rakjat Indonesia jang tidak mempunjai tjita² lain ketjuali mengusir kolonialisme Belanda dari buminja dan ingin berkuasa atas tanahair dan nasibnja sendiri. Dan sampai pada hari-wafatnja, Kawan Stalin tiada henti²nja memikirkan dan membantu perdjuangan bangsa² terdjadjah untuk kebebasan nasionalnja. Pidato Kawan Stalin pada penutupan Kongres ke-XIX PKSU menundjukkan djalan jang terang dan djelas bagi bangsa² terdjadjah, djadi djuga bagi kita bangsa Indonesia, menudju tjita² sebagai jang dilagukan dalam „Indonesia Raya” (tepuktangan).
Lebih daripada negeri² lain, Soviet Uni jang bahagia itu berkabung. Kami berbahagia sekali, ber-sama² dengan murid² Stalin jang lain, ber-sama² dengan Kawan Gottwald dan Kawan Tjou En-lai, Kawan Togliatti dan Kawan Duclos, Kawan Harry Pollitt dan Kawan Paul de Groot, dan bersama ber-puluh² Kawan jang lain, melakukan pendjagaan kehormatan disamping djenazah Kawan dan guru kita, dan mengantarkannja ketempat peristirahatannja jang terachir. Ketika saja berdiri bersama Kawan Aidit disamping djenazah Kawan Stalin, dengan perasaan jang tidak bisa saja gambarkan dengan kata², saja melihat sendiri betapa besar ketjintaan Rakjat Soviet kepada pemimpinnja, pemimpin negara dan pemimpin Partai mereka. Seorang anak pionir lalu, dengan tangan diatjungkan keatas menurut tjarasalam pionir — dia menangis. Seorang perwira Tentara Merah lalu, dia tidak berani menatap wadjah djendralisimusnja jang sudah tidak bernafas, dia tutupkan saputangan kemukanja — dia menangis. Seorang djedjaka berdjalan bergandengan dengan kekasihnja, mereka erat² saling berpegangan — mereka menangis. Seorang wanita tua lalu, dengan membuat silang Keristen diatas dadanja — dia menangis. Semua menangis.
Kawan² dan parahadirin,
Budak² kapital jang sudah kehilangan akal dan tidak punja moral, selalu membohong se-akan² Soviet Uni adalah negeri ,,totaliter” dan se-olah² Kawan Stalin adalah diktator”. Tetapi diktator mana jang bisa menjuruh Rakjatnja untuk menangis ber-sama² ? (tepuktangan). Tidak! Tangis dan airmata jang se-olah² tiada habis²nja itu, tidak mungkin keluar dari lubuk lain ketjuali lubuk tjinta, tjinta jang dalam, jang tak terhingga kepada seorang pemimpin jang telah memberikan kepada Rakjatnja suatu negara baru negara dimana penderitaan tidak lagi dikenal dan dimana hidup penuh diliputi senjum dan kebahagiaan.
Kami mengantar Kawan Stalin dalam perdjalanannja jang terachir, ketempat dimana guru dan sahabatnja, Wladimir Iljitsj Lenin jang besar, berbaring dalam kebahagiaan. Kami mengantar Kawan Stalin dengan djandji dan sumpah sebagaimana disimpulkan oleh Kawan Aidit dan kami tuliskan diatas karangan bunga jang kami letakkan didepan djenazahnja : ,,Kawan Stalin, kami tetap setia pada adjaran²mu !” (tepuktangan pandjang).
Ada pepatah mengatakan bahwa datangnja kesedihan tidak sendirian. Demikianlah, hanja beberapa hari setelah dunia berkabung ditinggalkan Kawan Stalin, datang kesedihan jang lain: proletariat ditinggalkan oleh seorang puteranja jang lain: Klement Gottwald. Sungguh sukar untuk dipertjaja. Hanja beberapa hari jang lalu, ber-sama² dengan kami dia berdiri mengawal Kawan Stalin. Sekarang dia menjusul pergi. Kamipun, ber-sama² dengan Kawan-kawan dari Soviet Uni, dari Tiongkok, dari Korea dan dari Mongolia, kembali ke Praha. Di-tengah² Rakjat Tjekoslowakia jang gagah, kami turut merasakan kesedihan mereka jang luarbiasa: dalam waktu jang kurang dari dua minggu dua orang pemimpin raksasa meninggalkan mereka. Sekali lagi kami tak dapat menahan airmata, bersama airmata djutaan Rakjat Tjekoslowakia jang djuga tak dapat ditahan. Sekali lagi kami menjaksikan suatu arak²an jang sangat istimewa, jaitu djutaan Rakjat jang meskipun antri 10 sampai 12 kilometer dan meskipun harus menungu 6 sampai 8 djam, sabar berbaris, karena ingin mendjumpai pemimpinnja, sebelum diletakkan di Pantheon. Dan sekali lagi, kami berdjalan pelahan dibelakang djenazah sahabat kita, melalui djalan² dan lorong² jang kanan-kirinja penuh Rakjat jang mengutjapkan djandji-setia, dan diiring lagu² dukatjita tjiptaan² Tjaikovski, Beethoven, Grieg dan Chopin.
Baru beberapa hari jang lalu, Kawan Gottwald, ketika memperingati Kawan Stalin jang meninggal, berpesan kepada Rakjat Tjekoslowakia, mengingatkan bahwa Lenin dan Stalin mengadjarkan kepada kita tidak boleh lemah apalagi putusasa dalam kedjadian² jang menjedihkan. Baru beberapa hari jang lalu, Kawan Gottwald berpesan, supaja kepergian Kawan Stalin lebih membulatkan persatuan dan lebih memperbesar dajadjuang kita. Sekarang, Kawan Gottwald sendiri meninggalkan kita.
Memang pepatah mengatakan bahwa datangnja kesedihan tidak sendirian. Tetapi airmata jang kita tumpahkan adalah airmata tekad dan kebulatan, airmata jang bukan melemahkan tetapi memperkuat.
Dan djangan kita lupakan, djuga bagi imperialisme, pe-njembelih²nja Rakjat itu, kesedihan tidak dalang sendirian. Kawan Stalin meninggalkan kita sesudah Soviet Uni jang ber-sama² Lenin dia dirikan, merupakan kekuatan jang tiada bandingannja didunia, sesudah perang intervensi jang dilakukan oleh 14 negara imperialis maupun perang biadab jang dimulai oleh Hitler dia balas dengan pukulan jang manghantjurkan, sesudah empat rentjana limatahun dia selesaikan dengan melebihi rentjana, dan achirnja, sesudah Soviet Uni merebut kepertjajaan dari tidak hanja proletariat, tetapi seluruh Rakjat pekerdja sedunia. Dan Kawan Gottwald meninggalkan kita, sesudah reaksi Februari 1948 maupun komplotan spion Slansky dia hantjurkan, dan sesudah Tjekoslowakia, menuruti djedjak negara Kawan Stalin, setapak demi setapak tetapi pasti madju dengan tjepatnja menudju ke Sosialisme. Dan djangan dikira bahwa segala kesedihan jang menimpa imperialisme ini akan berhenti disini. Ia akan terus datang, ber-tubi², selama mereka tidak menghentikan penindasan, perampokan dan peperangannja. (tepuktangan).
Kawan² dan parahadirin,
Orang jang tergolong pada harikemarin, dan jang tidak akan merasakan kebebasan hariesok, biasanja kehilangan segala objeklivitet. Begitulah diluarnegeri kita lihat pers reaksi tidak mampu dan tidak mau menilai pribadi Kawan Stalin setjara objektif, menurut djasa dan kebesarannja dalam sedjarah dunia setengah abad ini. Mereka lebih suka beromongkosong tentang apa jang mereka namakan „perebutan kekuasaan didalam tembok Kremlin”. Djuga di Indonesia sini, harian „Mimbar Indonesia” misalnja jang dipimpin oleh tuan Jusuf Wibisono me-niru² pers imperialis beromongkosong. Tuan Jusuf Wibisono, jang pikirannja tidak pernah lain ketjuali menjiasati kursi² di Pedjambon (tawa), rupa²nja tidak bisa berfikir lain, dan mengira bahwa semua orang adalah seperti dirinja. (tawa). Mungkin pula beliau mengira bahwa Partai Komunis adalah seperti Masjumi, jang barisannja gampang berantakan tiap² saat. (tawa). Sajang, tuan Jusuf Wibisono tidak berhadapan dengan suatu partai sematjam Masjumi, tetapi berhadapan dengan Partai² Komunis, jang bulat ideologi dan politik nja, jang kuat disiplinnja, jang tidak bisa dikalahkan sekalipun dengan bom atom atau bom kuman, apalagi hanja dengan dolar ! (tepuktangan pandjang).
Kawan² dan parahadirin,
Meskipun kundjungan kami jang pertama ke Soviet Uni ini dalam suasana berdukatjita, tetapi selama kami disana, meskipun tidak lama, kami telah menggunakan waktu se-baik²nja untuk mempeladjari segi² kehidupan sosialis jang begitu penuh dengan pengalaman dan peladjaran. Kami mengundjungi museum pemberian² kepada Kawan Stalin ketika berumur 70 tahun, dan kami menjedari bahwa ketjintaan Rakjat dunia kepada Stalin adalah tidak terbatas. Kami mengundjungi museum revolusi, dan kami lebih mejakini, bahwa revolusi itu menuntut pengorbanan dan keichlasan jang se-djudjur²nja dan se-dalam²nja. Kami mengundjungi museum Lenin, dan kami lebih mengenal kebesaran pemimpin revolusi jang belum pernah ada ban dingannja ini. Kami mengundjungi museum politeknik, dan kami jakin bahwa penemuan² teknik di Soviet Uni, jang dalam banjak lapangan sudah melampaui negeri manapun itu, terus dan akan terus madju dengan tiada habis²nja. untuk kebahagiaan dan kemadjuan umatmanusia. Kami mengundjungi tempat² jang lain, dan kesimpulan kami: semuanja lebih baik dan lebih madju daripada di Tjekoslowakia jang sudah baik dan sudah madju itu ! Seperti di Tjekoslowakia, kami mengundjungi geredja², bahkan djuga mesdjid². Kami mengundjungi Bolsjoi-teater jang masjhur itu, kami melihat disana balet Tjaikovski „Telaga Gangsa” dan opera Glinka „Iwan Susanin”, dan dalam satu hal ini kami bisa setudju dengan Mohamad Yamin jang menjatakan bahwa balet dan opera di Moskow adalah jang paling baik diseluruh dunia. (tepuktangan).
Soviet Uni — besar, Partai Komunis Soviet Uni djuga besar. Dan negara dan Partai jang besar ini, dibawah pimpinan Kawan Stalin jang besar, telah mentjiptakan hal² jang besar². Siapa jang tidak kenal kanal raksasa Wolga-Don dan bangunan² Komunisme lainnja ? Bangunan² Komunisme ini bisa menimbulkan tenaga listrik 22.500 djuta djam-kilowat, mengairi 28 djuta hektar tanah, dan tanah jang baru disuburkan ini bisa menghidupi 100 djuta manusia. Dan siapa jang tidak kenal gedung universitet Lomonosov jang baru, jang berdiri megah dibukit Lenin di Moskow ? Universitet jang terbesar di Amerika luas gedung dan halamannja kurang dari 25 hektar. Tetapi universitet Lomonosov jang baru ini, luas gedung dan halamannja „hanja” lebih dari 250 hektar. (tawa dan tepuk tangan). Tingginja kuranglebih 15 pohon kelapa, dan mem punjai asrama untuk 6000 mahasiswa, tiap² mahasiswa diberi satu kamar tersendiri, dan mulai September jang akan datang ini akan beladjar disana se-kurang²nja 10.000 mahasiswa ! Tetapi kemadjuan Soviet Uni tidak berhenti disini. Sesudah 7 buah bangunan tinggi sekarang ini, di Moskow tak lama lagi akan dimulai pembangunan Istana Soviet, suatu gedung raksasa jang tingginja „hanja” dua kali universitet jang saja sebutkan tadi, jaitu 500 meter, dan jang diatasnja akan ditempatkan patung Lenin setinggi 80 meter. Djuga pelabuhan Moskow, jang telah menghubungkan lima lautan, akan diperluas, sehingga Moskow akan mendjadi pelabuhan 7 lautan ! (tepuktangan).
Sedikit tentang kemadjuan teknik, saja bisa terangkan, bahwa di Soviet Uni sekarang sudah ada exkavator, jaitu mesin penggaruk tanah, jang tiap² kali bisa menggaruk 14 1/2 meter kubik, dan bahwa disana sekarang sedang disiapkan prahoto jang beratnja 50 ton. Mesinbubut jang terbaru disana, tiap² menit bubutannja berputar 3000 kali ! Belum lagi saja tjeriterakan tentang pabrik² otomatik, misalnja pabrik kogelager, pabrik semen, pabrik rabuk, pabrik sepatu, dll., jang benar² otomatik sampai pada sistim kontrolnja sekali. Artinja, tiap² pabrik itu hanja didjalankan oleh 2 atau 4 atau se-banjak²nja 10 orang! Kalau pabrik begini ada disini sekarang, akibatnja tentu sadja kita tahu : massa-onslag. (tawa). Tetapi Rakjat pekerdja Soviet tidak pernah takut kepada perkataan jang kedjam ini, karena ditemukannja pabrik² otomatik hanja berarti memindahkan kaum pekerdja ke-tempat² jang lain, jaitu untuk mendirikan pabrik² baru. Begitulah seterusnja.
Satu-dua hari jang lalu, wakil presiden tuan Mohammad Hatta mengatakan dalam pidatonja bahwa ,,tjita²nja lebih tinggi daripada tjita² Rakjat”, dan mendjelaskan tjita²nja itu tuan Hatta mengatakan bahwa keinginannja jalah supaja tiap² rumah di Indonesia ini mempunjai listrik, dan supaja tiap² kampung mempunjai radio umum. Dalam keadaan seperti sekarang ini ,,tjita²” tuan Hatta ini sudah terang tidak lebih dari satu impian. Tetapi seandainja, seandainja tuan Hatta akan memulai djuga usahanja ke arah ini — mengingat andjurannja untuk „menabung” — artinja sudah djelas bagi kita : mengeduk kantong Rakjat jang sudah tipis, untuk keuntungan maskapai² listrik dan maskapai² radio asing ! Tetapi di Soviet Uni, parahadirin akan sia² mentjari rumah jang tidak berlistrik, dan sukar sekali kita mentjari disana rumah jang tidak punja radio !
Kedjadian penting lainnja jang kami alami ketika kami disana, jalah diumumkannja pada hari 1 April oleh pemerintah Malenkov penurunan harga barang² untuk keenam kalinja sesudah perang, mulai 10 sampai 50%. Djadi, sedang di-negeri² kapitalis harga² membubung terus, dan sedang di Indonesia sini, sebagaimana saja dengar ketika saja diluarnegeri, tuan Sumitro djuga menaikkan harga barang-barang, (terdengar: betul!) di Soviet Uni harga barang-barang diturunkan, sehingga seluruh Rakjat Soviet mendapat keuntungan 54 miljard rubel karenanja ! (tepuktangan).
Kawan² dan parahadirin,
Kalau tidak saja kuasai diri saja sendiri, saja kuatir akan menahan parahadirin sepandjang malam digedung ini, mentjeriterakan tentang kemadjuan² Soviet Uni. (terdengar : terus! terus!). Tetapi sebelum saja sampai pada achir uraian saja, baiklah saja buktikan kebohongan sementara orang disini, jaitu tuan² sosialis-kanan dan konservatif. Uraian saja ini tentu tidak berguna buat mereka, sebab tuan² itu rupa²nja sudah mabok purbasangka dan tidak dojan lagi kebenaran dan objektivitet. (tawa). Tetapi bagi mereka jang karena ketidaktahuannja, selama ini masih mempertjajai tuan² jang tjelaka itu, barangkali keterangan saja ini akan berguna.
Salah satu kebohongan jang paling banjak diobral jalah, se-akan² di Soviet Uni tidak ada kemerdekaan individu. Meneruskan tulisan² dan interviu²nja dalam „Sikap”, „Siasat”, „Pedoman”, „Nieuwsgier”, „Indonesia Raya” dan „Keng Po”, tuan Sjahrir baru² ini berbitjara pada hari 1 Mei sbb. : „Kita haruslah merobah nasib mereka (mak sudnja nasib „rakjat umum”) dengan tidak mereka ketahui lebih dahulu”. (tawa). Ja, dalam kalimat jang singkat ini tjukup tergambar djalan fikiran tuan Sjahrir. Buat tuan Sjahrir, Rakjat adalah kerbau, jang tidak perlu berfikir, tidak perlu turut apa², tjukup menggantungkan nasibnja kepada apa jang mereka namakan „pemimpin²”, jang, althans dalam omongan tuan² ini, akan „merobah nasib rakjat umum dengan tidak diketahui lebih dulu”. Tetapi djangan lupa, merobah belum tentu memperbaiki, bisa djuga memperdjelek! (tawa dan tepuktangan). Dan kalaupun jang mereka maksudkan „memperbaiki”, jang mereka maksudkan tentunja begini: kalau mereka mendapat apa², entah dari seorang Lord Killearn atau seorang Mac Donald (tawa), kira² 1/2 atau 1% akan mereka sebarkan kepada apa jang mereka namakan „rakjat umum”.
Kawan² dan parahadirin,
Tidak ada kemerdekaan individu, kata mereka. Tetapi apa jang mereka maksudkan kemerdekaan individu ? Saja telah melihat sendiri bagaimana Rakjat Soviet tidak hanja tjukup makan, pakaian dan tempaltinggal, saja melihat sendiri bagaimana hasil² budaja manusia, mulai buku² sampai istana² jang indah, mulai park² sampai teater² jang besar, jang dulunja hanja djadi tempat ber-foja² sedjumlah ketjil tuantanah dan burdjuasi, sekarang dinikmati dengan seleluasa-leluasanja oleh Rakjat pekerdja. Apakah ini jg. mereka namakan „tidak ada kemerdekaan individu” ? Kalau jang mereka maksudkan dengan kemerdekaan itu kemerdekaan klik mereka untuk membohongi dan menipu Rakjat, atau kemerdekaan klik mereka untuk menjerahkan Rakjat dan kebebasan negerinja kepada pendjadjahan dan penghisapan kapital asing, oo, „kemerdekaan individu” sematjam itu memang tidak ada ! (tepuktangan).
Berhubung dengan soal „kemerdekaan individu” ini, tuan² tadi djuga suka djual omongan, se-olah² di Soviet Uni pemerintahan didjalankan berdasar „kekedjaman”. Karena musuh² Rakjat seperti dulu Trotski dan Bucharin, dan sekarang Slansky dll. dihukum oleh pemerintah Rakjat, maka tuan² ini membikin dongengan tentang „kekedjaman di Soviet Uni”, meskipun tiap² otak jang waras bisa berfikir, bahwa, djika Soviet Uni bersendikan kekedjaman terhadap Rakjatnja, djangankan 35 tahun, 35 haripun dia tidak akan bisa tahan berdiri ! (tepuktangan). Dan baiklah kita bertanja: kalau berkat politik tuan Rum, tani di Tandjung Morawa dibunuhi dan karena teror Darul Islam kaum tani djuga dibunuhi, mengapa tuan² itu bungkem dalam seribu bahasa? (tepuktangan).
Dongengan lain jang djuga suka didjual, adalah dongengan tentang ,,tidak adanja kemerdekaan pers di Soviet Uni”. Ketika saja disana, harian Pravda, dan tidak hanja Pravda, tetapi semua harian diseluruh Soviet, dan tidak hanja harian² Soviet, tetapi boleh dibilang semua harian disemua negeri Demokrasi Rakjat, disamping memuat tulisan Pravda sebagai djawaban atas pidato presiden Eisenhower, djuga memuat teks pidato Eisenhower selengkapnja. Tjoba tundjukkan kepada saja: koran mana di Amerika Serikat — ketjuali „Daily Worker” harian Partai Komunis — jang mau memuat tulisan Pravda selengkapnja ? Dan tadi sudah saja terangkan, bahwa di lapangan terbang Kemajoran, buku² Kawan Aidit dan saja, sebanjak 2 koper, telah dirampas „untuk diperiksa” katanja. Saja tidak tahu apakah tuan Sosrodanukusumo, sesudah membatja atau melihat buku² profesor Pavlov, Mitsjurin, buku² tentang musik, filsafat dan politik itu akan berubah fikirannja (tawa), tetapi saja kira tidak sukar lagi untuk mengetahui dimana ada dan dimana tidak ada kemerdekaan pers dan kemerdekaan berfikir!
Ada lagi omongan jang lain. Dalam usahanja menghalang-halangi Indonesia membuka kedutaannja di Moskow dan Soviet Uni membuka kedutaannja di Djakarta, orang² konservatif dan sosialis-kanan tjoba² me-nakut²i kita dengan menjatakan : „sedangkan seorang wartawan Tass kita tidak bisa meng-amat²i, apalagi kalau ada kedutaan Soviet disini”. Djadi, digambarkan oleh tuan² itu se-olah²
Soviet Uni berkepentingan sekali membuka kedutaannja disini. Di Moskow saja berbitjara dengan sopir jang mengantar kami ke-mana². Dia tanja bagaimana sikap partai² di Indonesia tentang pembukaan hubungan diplomatik. Saja katakan bahwa Masjumi dan PSI tidak setudju. Tahukah parahadirin apa djawab dia ? Dia bilang: meskipun tidak ada hubungan diplomasi dengan Indonesia Soviet Uni tidak akan runtuh karenanja ! (tawa dan tepuktangan pandjang).
Ada lagi jang lain lagi. Djendral² Amerika untuk membenarkan pengiriman armada dan tentara mereka sampai ber-puluh²-ribu mil djauhnja, dan untuk membenarkan pendudukan mereka atas Djepang dan Eropa, selalu mengatakan se-akan² Soviet Uni adalah agresif dan se-akan² agresi mereka sendiri itu suatu tindakan ,,pembelaan”. Dan tuan Jusuf Wibisono, jang oleh sementara orang dianggap „teoretikus”-nja tuan Sukiman, (tawa) — dan tentunja djuga „teoretikus”-nja tuan Cochran di Indonesia ! (tawa) — dalam pidatonja dimuka parlemen pernah menarik kesimpulan — jang barangkali dia anggap sendiri „zenial” — dari pidato Kawan Malenkov. Kawan Malenkov, setia pada adjaran² Lenin dan Stalin, ber-kali² mengatakan bahwa politik Soviet Uni adalah politik damai. Tetapi, demikian Kawan Malenkov, kalau kaum imperialis akan nekat djuga menjerang Soviet Uni, seluruh kapitalisme akan hantjur. (tepuktangan). Terus tuan Jusuf Wibisono menarik „kesimpulan”, bahwa Soviet Uni „agresif”. Sebab, katanja, orang jang paling ingin perang tentu orang jang jakin akan kemenangannja.
Orang boleh tidak habis² heran bagaimana seorang meester in de rechten seperti tuan Jusuf Wibisono itu bisa kehilangan segala logika. Tetapi lebih baik kita gunakan fikiran jang sehat sadja, dan menjedari, bahwa djustru karena kuat itulah maka Soviet Uni tidak berkepentingan untuk menjerang siapa² ! (tepuktangan pandjang).
Dan kalau parahadirin bertanja kepada saja, benarkan Soviet Uni dan negeri² Demokrasi Rakjat itu kuat: Saja telah melihat parade di Moskow dan di Praha, dan saja melihat bagaimana persendjataan jang se-modern²nja, sampai pada bomber² jet, dimiliki oleh negeri² itu, untuk mendjaga kalau² kaum imperialis matagelap dan mau tjoba² menjerang. Dan sendjata ini dimiliki oleh Rakjat jang bulat persatuannja, jang bulat kemauannja, jang tinggi ketjakapannja dan jang luarbiasa keberaniannja.
Kalau boleh saja menasehati kaum agresor itu, memang lebih baik djangan menjerang Soviet Uni dan negeri² Demokrasi Rakjat (tawa), sebab kalau mereka menjerang, benar² mereka akan dihantjurkan ! (tepuktangan).
Kawan² dan parahadirin,
Meskipun saja tahu bahwa mereka itu tidak akan mendengarkan nasehat saja, tetapi kalau mereka memulai djuga serangannja, serangan itu memang tidak per-tama² akan ditudjukan kepada Soviet Uni atau Tiongkok atau Eropa Timur. Persiapan² perang mereka lebih mengantjam kita dan sematjam negeri² kita. Mengapa ? Karena merekapun bukannja tidak tahu, bahwa Soviet Uni dan sekutunja adalah keras, atos. Dan barang jang keras memang tidak enak. (tawa). Maka itu mereka akan memilih negeri² jang empuk dulu. (tawa). Inilah sebabnja, mengapa Kawan Aidit ketika baru datang menjatakan bahwa bahaja perang lebih mengantjam kita daripada mengantjam Soviet Uni, dan bahwa perdjuangan kita untuk perdamaian dunia adalah per-tama² untuk kepentingan kita sendiri.
Ketika Soviet Uni baru sadja lahir, dekrit jang per-tama² dikeluarkan Lenin jalah dekrit tentang perdamaian. Dan ketika Kawan Stalin meninggalkan kita, testamennja jang terachir jalah testamen perdamaian. Semua orang tahu bahwa hanja di Soviet Uni dan di-negeri² Demokrasi Rakjat propaganda perang dilarang oleh undang² dengan antjaman hukuman berat. Semua orang djuga tahu bahwa pers maupun radio Soviet dan negeri² Demokrasi Rakjat, dari menit kemenit menanamkan kejakinan akan perdamaian. Hanja orang² dungu jang tidak mengerti bahwa Rakjat jang mendapat didikan begini ini tidak mungkin Rakjat jang agresif.
Djuga kita, Rakjat Indonesia, berkewadjiban untuk bersama² dengan Rakjat seluruh dunia berdjuang se-kuat²nja untuk perdamaian dunia, sebab, sebagaimana dipesankan Kawan Stalin, perdamaian dunia akan bisa dipelihara hanja kalau Rakjat memperdjuangkan perdamaian dunia itu dengan tangannja sendiri.
Kawan² dan parahadirin.
Hari ini PKI genap 33 tahun. Djalan jang dilalui PKI adalah pandjang dan sukar. Tetapi, sebagaimana Kawan Musso mengadjarkan kepada kita, tidak ada kesukaran jang tidak bisa diatasi. Sekarang, dibawah pimpinan Kawan Aidit, PKI madju dari satu sukses kesukses jang lain.
Parahadirin tadi mendengar dari Kawan pimpinan, bahwa Partai² Komunis Tiongkok, Nederland, India dan Australia berdiri disamping PKI. Tidak hanja Partai² Komunis jang tersebut, tetapi Partai² Komunis seluruh dunia, dengan dipelopori oleh Partai Komunis Soviet Uni, partainja Kawan Lenin dan Stalin jang djaja, berdiri disamping PKI. (tepuktangan). Dan dengan persahabatan jang besar ini terdjamin pulalah persahabatan antara Rakjat pekerdja seluruh dunia, jang dengan bersendikan internasionalisme proletar, tidak bisa dikalahkan dan pasti akan membawa Rakjat dunia kesuatu dunia baru : dunia Komunisme !
Apa jang sekarang terlaksana di Soviet Uni dan Tiongkok dan negeri² Demokrasi Rakjat Eropa Timur, besok djuga akan terlaksana di Indonesia ! (tepuktangan pandjang).
Hidup Indonesia, tanahair jang kaja, indah dan kita tjintai ! (tepuktangan pandjang).
Hidup Partai Komunis Indonesia, pemimpin Rakjat Indonesia jang terpertjaja ! (tepuktangan pandjang).