Publisher Note
Rahayu Surtiati bermakna ‘sejahtera dan hati bersih’. Itulah harapan orang tuanya ketika dia bertaha hidup meskipun lahir di belantara Lampung Selatan pada tahun 1946 dengan pertolongan ayahnya sendiri yang bukan dukun apalagi dokter.
Pendidikan dasar diperolehnya di Jakarta, menengah pertama di Palembang dan menengah atas di Surabaya. Di SMA Santa Maria itulah Rahayu berkenalan dengan bahasa Prancis tulis dan penerjemahan berkat gurunya, Mere Immaculata. Dia memperdalam bahasa Prancis di Fakultas Sastra Universitas Indonesia hingga 1971. Minatnya pada bilinguisme mendorongnya untuk menyusun skripsi sarjana yang membahas bentuk jamak dalam bahasa Prancis dan bahasa Indonesia. Masalah yang muncul sebagai akibat pertemuan dua bahasa membuatnya tertarik pada pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa asing yang dipelajarinya di Université de Besançon sampai 1973, di Singapura pada 1979, dan di Rijksuniversiteit Utrecht pada tahun 1981 hingga 1983. Penelitian yang dilakukannya setelah itu, menghasilkan sebuah disertasi yang membahas kesahihan konstrak tes (construct validity) membaca, di Universitas Indonesia pada tahun 1989
Kini Rahayu masih bekerja sebagai dosen di Universitas Indonesia, dia mengajar di program D3, S1, dan S2, di samping meneliti bersama kelompok yang dipimpinnya di Lembaga Penelitian universitas yang sama. kegemarannya mempertemukan bahasa Prancis dan bahasa Indonesia disalurkannya lewat penerjemahan berbagai karya ilmiah berbahasa Prancis.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Besançon 1973
Hari itu untuk kedua kalinya aku meninggalkan Besançon dengan diantar banyak teman. Ya, aku pulang ke Indonesia. Aku sudah berpamitan seminggu yang lalu di stasiun yang sama, tetapi aku terpaksa kembali karena setiba di Paris, kudapati dompetku tidak di tempatnya lagi. Uang cuma sedikit di dompet itu, sekadar ongkos selama beberapa hari di Paris menunggu keberangkatan, tetapi paspor dan buku tabungan ikut sirna. Aku kembali lagi ke Besançon. Terbayang reaksi para pegawai Kedutaan Indonesia di Paris seandainya aku datang melaporkan keadaanku yang tanpa uang satu sen pun.
Di kereta api, ingatanku melayang ke masa dua tahun yang lalu. Aku tiba pada akhir musim gugur di ceruk pegunungan Jura, di ibu kota Franche-Comté yang dibelah Sungai Doubs itu. Di musim dingin 1973 itu aku pulang ke tanah air. Teringatlah sekilas perjalananku dua tahun yang lalu: sebulan setelah menikah, aku berangkat ke Paris di bulan November. Dingin menyambutku di Paris dan juga kehangatan teman-teman Indonesia yang menjemputku di bandara. Mereka hampir tidak percaya bahwa aku datang, apalagi pembimbing skripsiku yang sedang menjadi pengajar bahasa Indonesia di Paris. Mereka mengira bahwa setelah aku menikah, suamiku tidak akan mengizinkan aku melanglang buana sejauh dan selama itu. Mereka tidak kenal Yudi yang sebenarnya.
Teringat pula perjalanan nekat bersama seorang temanku, seorang gadis Korea, selama sebulan di Eropa: kami menumpang (autostop) dari Besançon sampai Italia. Di Italia kami menginap di penginapan remaja, satu kamar diisi selusin orang, namun segalanya serba tertib. Setelah menjenguk Florence, Roma, Pisa, dan menginap tiga malam di Venezzia—juga di penginapan remaja—kami ke München lalu ke Paris. Maklum kami “orang daerah”, jadi perlu menengok Paris. Ada untungnya juga berani bekerja sebulan di panti wreda Louvecienne (30 km dari Paris) dan sebulan di Côte d’Azur menjadi pembantu rumah tangga keluarga Communaux yang berlibur di sebuah villa. Kalau tidak, mana mampu aku keluar dari Besançon yang dingin di segala musim itu. Beasiswa yang kuterima sebenarnya tidak besar, tetapi aku tidak berhak tinggal di asrama yang diperuntukkan mereka yang memperoleh beasiswa lebih rendah. Aku harus tinggal di apartemen, bersama tiga orang mahasiswa lain, yang terletak di pinggiran kota. Kewajiban sewa kamar, ongkos jalan, serta biaya hidup dan belajar memaksa aku belajar mengatur “pembukuan” dengan cermat.
Setelah satu tahun belajar hidup, dengan menerapkan motto ayahku “dahulukan keperluan primer”, ternyata tidak Cuma hutan dan ladang di sekitar Besançon yang sempat kulihat—berkat kebaikan Père Gilles yang selalu mengajak mahasiswa mengenali bagian dalam daerahnya—, tetapi juga daerah lain di Prancis dan bahkan negeri lain di Eropa.
Kini aku menuju rumah, rumah orang tuaku tentu saja, karena Yudi dan aku belum sempat memikirkan rumah ketika aku berangkat. Banyak yang kuperoleh dari kehidupan di Prancis, bahasa Prancisku sangat lancar, walau di Paris ditertawakan teman-teman karena lentongku yang begitu bisontin (khas daerah Besançon). Semakin banyak saja yang kutahu tentang bahasa Prancis: tidak hanya dari sudut pandang linguistik namun juga dari sudut pandang linguistik namun juga dari sudut pandang ilmu susastra, dan yang paling penting, aku tahu bagaimana mengajarkannya dan menyusun bahan ajarnya.
Namun, ada satu hal sangat penting yang kuperoleh juga, kemampuan hidup mandiri: jadi mahasiswa di Prancis tidak ada yang mengingatkan ini dan itu; mau sekolah, mau bolos tidak ada yang peduli, aku bertanggung jawab kepada diriku sendiri; hidup sendirian jauh dari orang tua juga pelajaran bagus; aku yang terbiasa bertanya dulu sebelum bertindak, sekarang jadi bisa menentukan jalanku dengan pertimbanganku sendiri, aku bertanggung jawab atas segala tindakanku. Aku pulang sebagai orang dewasa.
Montpellier, Musim Panas 1975
Paris, aku datang lagi. Aku dapat tugas mempelajari pengajaran bahasa Prancis bidang ilmu dan teknologi. Mulai banyak karyasiswa yang dikirim ke Prancis dan penghambat terbesar adalah bahasa Prancis. Namun, sarjana-sarjana itu tidak akan suka—dan tidak sempat—belajar bahasa Prancis “umum”, mereka harus segera dapat berbahasa Prancis untuk mengikuti kuliah dan menulis disertasi.
Montpellier di musim panas membuatku sesak bernafas. Terbayang Besançon yang selalu dingin dan lembab. Di Montpellier aku kepanasan tetapi tidak bisa berkeringat. Meskipun demikian, aku menikmati perjalananku, bau romarin yang setiap pagi masuk ke kamarku di asrama mahasiswa terasa begitu menyegarkan. Aku memang memerlukan jeda sesaat, aku perlu istirahat setelah mengalami musibah yang membuatku meragukan takdir. Waktu senggang kulewatkan dengan berkeliling perbukitan di sekitar Montpellier, naik mobilet pinjaman dari teman yang sedang pergi berlibur. Kebetulan Bapak Communaux yang telah pensiun tinggal bersama istrinya di dekat Montpellier, sehingga aku beberapa kali sempat menengok mereka. Sangat menyenangkan bertemu teman lama. Kini keduanya sudah almarhum.
Jika di Besançon aku bertemu dosen yang berusaha sekuat tenaga berbahasa Prancis “standar”, di Montpellier para ahli teknologi Prancis yang meluangkan waktu mengajar bahasa tidak peduli dengan lentong mereka.
Teori yang kupelajari di Besançon terjungkirbalik, mengajarkan bahasa yang baik dan benar tidak selamanya perlu, yang lebih penting dikuasai ternyata kemampuan berkomunikasi. Para “guru” bahasa Prancis di Université de Pharmacie Industrielle sangat pemaaf dalam menghadapi mahasiswa asing, yang penting mereka dapat saling memahami. Maka bahasa Tarzan pun kudengar di mana-mana. Sempat juga kukenal bahasa simbol sebab ada sarjana ITB yang biasa berbincang dengan guru besarnya mengenai masalah matematik dengan saling menuliskan angka dan sandi di papan tulis, luar biasa…
Lalu, aku dapat juga tugas khusus mengajar bicara seorang guru besar Korea yang usianya pasti sesuai dengan jabatannya. Ia sangat pandai menulis dalam bahasa Prancis karena seringnya berkorespondensi dengan rekan-rekan seilmu yang berbahasa Prancis, tetapi ia belum pernah melafalkannya. Ia datang di Montpellier untuk belajar bicara. Lagi-lagi teori yang pernah kupelajari buyar, pengajaran bahasa yang katanya harus dimulai dari bentuk lisan untuk menuju bentuk tulis terpaksa dibalik pada kasus ini. Maka aji nekat diterapkan lagi, nggak perlu teori-teorian: kugunakan kaset, rekaman pelajaran kuperdengarkan kepadanya. “Je suis bête, je ne comprends pas” tulisnya. Kuputar sekali lagi kaset dan kutulis kalimat-kalimat yang kudengar. Ketika ia membaca tulisanku, mukanya bersinar, dia paham sepenuhnya. Lalu kuucapkan pelan-pelan kalimat yang sama sambil menunggu waktu makan. Tiga bulan berlalu, sang Profesor dapat pujian ketika berpidato dalam bahasa Prancis, dan aku dapat rekomendasi sangat memuaskan dari Profesor Lalaurie.
Aku pulang dengan bangga, pengetahuanku bertambah lagi, dan yang terpenting, setelah menyepi sesaat di negeri orang dan banyak “berbicara” dengan Tuhan dengan caraku sendiri, aku menyadari bahwa takdir tidak dapat ditolak. Aku bertambah dewasa. Aku hanya harus terus berjalan sambil mengisi hidup ini.
Paris-Strasbourg, Musim Panas 1977
Yudi ada di negeri Belanda sejak tahun lalu, benih yang ditinggalkannya sudah berwujud dan belum sempat berkenalan dengan ayahnya. Umurnya sembilan bulan saat itu, bayi yang manis dan aku benar-benar menikmati masa menjadi ibu, namun ada tugas untuk menghadiri Kongres II Universitas Sedunia yang Menggunakan Bahasa Prancis. Keinginan untuk bertemu suami dan keengganan meninggalkan si kecil membuatku bingung, namun akhirnya kutinggalkan dia bersama neneknya.
Ketika aku tiba di Paris, Ceu Tines (almarhumah) mengabarkan bahwa Yudi baru saja kembali ke Leiden setelah menunggu kedatangan istrinya tanpa hasil. Pasporku tidak siap pada waktunya sehingga keberangkatanku diundur dua hari. Malamnya ada telpon buatku dari Leiden, perjanjian dibuat, kami akan saling kunjung dua minggu sekali. Kesempatan buatku melihat Leiden.
Kali ini aku sempat hidup beberapa lama di Paris, dan dalam kondisi yang sangat nyaman karena aku ditampung oleh orang tua seorang pejabat Total Indonésie yang belajar bahasa Indonesia dari aku. Semula aku tinggal di sebuah “rumah gadang” di Paris XVII, yang dibangun oleh arsitek terkenal di awal abad XX. Dahulu, plafond berenda hanya kulihat di ruang kuliah dan di museum, kini aku dapat memandanginya setiap saat di kamarku.
Semua yang tinggal di rumah susun itu bernama Prot, dari nenek sampai cucu masing-masing mendiami sebuah apartemen. Maka, bila orang menyurati salah satu anggota keluarga itu, harus menuliskan alamat tujuan dengan menyebutkan nama kecilnya. Kalau tidak, surat bisa nyasar dulu sebelum sampai ke tangan yang berhak.
Beasiswaku berlaku selama tiga bulan, maka kugunakan kesempatan itu untuk mempelajari perpustakaan linguistik terapan di Bureau de l’Enseignement de Langue et de Civilisation (BELC), sambil menunggu kongres yang hanya berlangsung seminggu lamanya. Meskipun tempat tinggalku jauh dari BELC yang terletak di Paris V, aku menikmati perjalananku setiap hari menyeberangi kota Paris naik bus kota: banyak monumen penting kulewati dan satu jam kemudian bus berhenti tepat di depan tempatku bekerja.
Sepulang dari Strasbourg menghadiri kongres, aku diberi tempat di sebuah studio milik sahabat keluarga Prot, agar lebih nyaman menerima kunjungan suami. Studio mewah di Paris XVII itu kutempati selama satu bulan tanpa sewa. Keluarga Prot senang sekali dapat membantu seorang Indonesia, karena anak-anaknya di Indonesia dapat menikmati kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya berkat sahabat-sahabat Indonesia mereka.
Hasil belajar di BELC tidak terlalu mengesankan, namun menghadiri kongres besar untuk pertama kali merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Di sini aku berkenalan dengan bahasa pidato yang sebenarnya dan dengan basa-basi… Di sini pula aku berkenalan dengan apa yang disebut politik bahasa. Berkat kehadiranku, Universitas Indonesia diterima menjadi anggota Association des Universités Partiellement et Entièrement de Langue Francaise (AUPELF) dan termasuk dalam seksi Asia yang sekretariatnya berada di India. Di masa mendatang aku sempat melihat Togo, India, Canada, Jepang, Thailand, dan tentu saja Prancis, karena ketua seksi Asia sangat giat. Aku belajar banyak sebagai wakil Indonesia di dalam perkumpulan internasional, dan pernah juga belajar menjadi tuan rumah pada pertemuan seksi Asia di Jakarta pada tahun 1985.
Sèvres 1982
Sudah setahun aku berada di Utrecht untuk menyiapkan disertasi doktor, namun ada tugas dari Jakarta untuk menyempurnakan buku pelajaran bahasa Prancis di SMA yang pernah kususun bersama rekan-rekan. Centre International d’Etudes Pédagogiques yang berada di Sèvres bersedia membantu, maka aku membolos satu bulan dari Utrecht untuk mengerjakan tugasku. Lagi-lagi sebuah gedung tua dan indah yang kutemui, sehingga aku semakin kagum: gedung-gedung tua tidak berarti monumen mati, di baliknya terus berputar roda menuju kemajuan. Dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, pengajaran bahasa Prancis mengalami banyak perubahan. Orang tidak pernah dapat menghasilkan metode dan bahan ajar yang sempurna, cara memandang bahasa pun berubah. Orang selalu ingin maju, ingin mengajarkan bahasa secara lebih berhasil guna, metode lama dianggap kurang manjur, dicari metode baru.
Kedatanganku membawa metode yang tampak sangat kuno, mengejutkan mitra kerjaku, tetapi apa hendak dikata, sekolah menengah di Indonesia menampung sedikitnya empat puluh murid dalam satu kelas, dan di banyak sekolah, guru bahasa Prancis harus menangani ratusan murid. Bagaimana mungkin menggunakan metode pandang-dengar di kelas besar? Lagipula beberapa gelintir lulusan sekolah menengah yang bakal menggunakan bahasa Prancis lisan? Pengalamanku di Montpellier meyakinkan aku bahwa belajar bahasa asing dari bahasa tulis mungkin dilakukan. Buku ajar itu, yang disusun di Indonesia dan oleh orang Indonesia, akhirnya dijadikan model oleh mitraku untuk bahan ajar di sekolah-sekolah Vietnam dan Cina.
Siang hari aku bekerja di Sèvres dan malam hari di kamarku di Boulogne-Billancourt sambil memandangi Sungai Seine dan tepi seberangnya yang penuh kerlap-kerlip lampu. Pemandangan itu seperti pernah kulihat sebelumnya. Di mana? Terbayang Sungai Musi dan kerlap-kerlip lampu Sungai Gerong yang sering kulihat pada saat orang tuaku membawa kami berjalan-jalan menikmati malam hari. Palembang 1959, umurku 13 tahun, kami memang keluarga “pengelana” karena ayahku beberapa kali dimutasikan. Selera berkelana rupanya sudah tumbuh pada diriku sejak kanak-kanak. Sulit diterangkan dengan kata-kata kesenanganku pada tempat asing.
Aku terbangun dari lamunan. Buram disertasi masih menunggu penyelesaian di Utrecht. Penulisan selalu menjengkelkan, padahal aku begitu bersemangat ketika menyiapkan penelitian dan meneliti. Begitu analisis data selesai, semuanya jadi basi, tetapi aku harus terus jika mau segera menyelesaikan program doktor. Disertasi yang kubawa pulang dari Utrecht pada tahun 1983 ternyata baru kuselesaikan enam tahun kemudian…
Rambouillet, Arles, Musim Gugur 1990
Aku menjejakkan kaki kembali di Paris. Tanpa kusadari, kegemaranku menerjemahkan komik dan karya ilmiah membuatku dapat gelar tambahan: “penerjemah”. Reputasiku sebagai penerjemah mendapat penghargaan dari Kementrian Kebudayaan Prancis berupa beasiswa untuk melakukan penerjemahan di pusat bahasa Prancis.
Kali ini Keluarga Prot bekas muridku yang menampung aku di rumahnya di Rambouillet (60 km dari Paris). Musim panas hampir berlalu, namun aku masih sempat bersepeda menikmati hutan yang mulai menguning di sekitar puri Rambouillet. Daun kering yang tergilas roda sepeda menimbulkan bunyi yang khas, dan walaupun sol sepatuku cukup tebal, telapak kakiku bisa merasakan gesekan dengan dedaunan warna-warni yang agak basah. Rasa khawatir tergelincir dan kenikmatan berbaur jadi satu, pernah aku alami: Taman Sari, Palembang, 1959.
Walaupun tinggal di Rambouillet, Hutan Saint Germain-en-Laye sempat beberapa kali kujelajahi juga dengan berjalan kaki bersama keluarga Loiret, teman lama yang pernah menjadi muridku juga belajar bahasa Indonesia. Kami mencari cendawan hutan, namun hanya memperoleh biji marron yang tak dapat dimakan.
Perjalananku kali ini sangat santai, tak ada jadwal kuliah ataupun pertemuan. Aku hanya harus memahami kehidupan di Prancis untuk dapat menerjemahkan dengan baik. Beasiswa yang kuperoleh cukup besar, dapat kartu passe (tanda masuk) ke semua museum nasional di Prancis, dan dapat biaya perjalanan ke mana saja di dalam Prancis. Aku benar-benar menikmati masa itu, apalagi masa tinggal sebulan di Arles, sebuah kota kecil di selatan yang dipenuhi monumen Romawi.
Berkumpul dengan para penerjemah dari berbagai negeri sangat bermanfaat, sayangnya aku tidak menerjemahkan karya sastra—dan entah kapan berani menerjemahkannya—sehingga hanya dapat menonton diskusi teman-temanku di tempat tinggal kami, Maison Van Gogh, bekas rumah sakit yang pernah merawat pelukis Belanda itu ketika menderita sakit paru-paru. Ibu Winarsih pasti lebih menikmatinya.
Tiga bulan berlalu terlalu cepat, beberapa teks kubawa dari Indonesia untuk diterjemahkan tetapi hanya karya Descartes yang berhasil kuselesaikan bersama Ibu Ida. Aku ke bandara diantar Ibu Ida dan Pak Husen, kami berharap dapat menerbitkan terjemahan itu tahun depan…
Paris, Musim Panas 1991
Kunjungan terpendek yang pernah kulakukan di Prancis. Memang aku dan Mardani hanya mampir di Paris sebelum berangkat bersama anggota rombongan yang lain ke Skopje (Yugoslavia), untuk menghadiri pertemuan AUPELF.
Namun, aku terdampar di Paris karena pada hari keberangkatan ke Skopje, tiket dan pasporku disambar orang dari atas counter check-in, di bandara Orly. Dua puluh tahun kemudian! Dulu di stasiun, sekarang di bandara, rupanya hukum alam berlaku bagiku yang tidak memiliki kekebalan percopetan.
Ampera, Musim Hujan 1993
Lebih dari dua puluh tahun aku bekerja sebagai dosen, kisah perjalananku muncul dari waktu ke waktu di tengah kuliah-kuliah yang kuselenggarakan, seperti bunga-bunga liar penghias pinggir jalan setapak di tengah hutan: hutan Belfort, hutan Togo; hutan Cireme, hutan Pangrango; hutan Fuji, hutan Depok…
Kedua anakku memasuki masa remaja, Yudi mulai beruban. Aku masih bisa sombong tidak perlu menghitamkan rambut, tetapi kacamataku bertambah tebal saja. Kerap muncul pertanyaan dalam hati, berapa lama aku sempat berkumpul dengan mereka selama ini? Betapa jarangnya aku dapat menikmati hutan yang diciptakan Yudi di sekeliling rumahku. Namun, aku juga merasa bahwa perjalananku masih panjang, akan ada perjalanan lain, masih banyak lagi yang akan kulihat dan kuhayati…