Publisher Note
Artikel ini diterbitkan di majalah Star Weekly pada 17 Mei 1958 dalam edisi No. 646 Tahun ke-XIII. Edisi Star Weekly ini secara khusus memiliki tema dengan tajuk “setengah abad hari kebangunan nasional”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Pada tanggal 20 Mei 1958 ini genaplah usia Pergerakan Nasional 50 tahun. Hari berdirnja Budi Utomo pada 20 Mei 1928 dipandang sebagai permulaan pergerakan nasional.
Djika diukur dengan pengertian sekarang tentang apa jang disebut perdjuangan politik dan pergerakan kebangsaan, Budi Utomo jang didirikan pada waktu itu belum lagi memenuhi sjarat untuk diberi nama pergerakan nasional. Perkumpulan itu bukan perkumpulan politik, bukan partai, melainkan suatu perkumpulan sosial. Alasan untuk mendirikannja ialah tjita2 untuk mendirikan suatu „Dana Peladjar” jang mendjadi buah hati Wahidin Soedirohoesodo, waktu itu murid Sekolah Dokter di Djakarta. Sungguhpun begitu perasaan nasional sudah terlihat didalamnja. Nasional Djawa, meliputi seluruh penduduk pulau Djawa dan Madura, jang terdiri dari pada orang Djawa, Sunda dan Madura. Belum lagi nasional Indonesia! Tetapi pengertian Djawa tidak lagi terbatas pada orang Djawa Tengah dan Djawa Timur. Bahasa resminja bukan pula bahasa Djawa, melainkan bahasa Melaju. Disini ternjata bahwa perasaan nasional sudah menghinggapi djiwa pemuda jnag mulai berkembang. Dengan memakai bahasa Melaju sebagai bahasa resmi, maka pembatasan suku bangsa sudah mulai didobrak. Nasionalisme jang sehat, jang akan menudju kebangsaan Indonesia sudah mulai bersarang dalam keinsafan kaum peladjar diwaktu itu.
Dalam peraturan dasarnja, statutennja, jang disahkan Pemerintah Hindia Belanda pada 28 Desember 1909—setelah lebih dari satu tahun dipertimbangkan—disebut, bahwa tudjuan Budi Utomo ialah „membantu mentjapai kemadjuan tanah dan bangsa jang harmonis di Djawa dan Madura. Untuk udjud itu ia, menurut tenaga jang ada padanja, akan mempergunakan segala djalan jang sah dan membantu pula usaha orang lain jang tertudju kesitu”. Sebagai usaha jang chusus disebutkan:
a. memperhatikan kepentingan peladjaran umumnja;
b. memadjukan pertanian, peternakan dan perniagaan;
c. memadjukan teknik dan industri;
d. menghidupkan kembali seni dan kepandaian serta ilmu
pupukan sendiri;
e. mendjundjung tinggi dasar2 perikemanusiaan;
f. lain2nja jang dapat mendjamin penghidupan bangsa jang
pantas.
Dr. WAHIDIN SOEDIROHOESODO
Memang, tudjuan semuanja itu enteng rasanja djika ditimbang dengan ukuran politik sekarang. Tetapi, pendirian Budi Utomo itu sebagai organisasi kaum terpeladjar, jang dipelopori oleh pemuda jang masih duduk dibangku sekolah, harus dipahamkan dari semangat masanja. Ditindjau dari suasana diwaktu itu, lahirnja Budi Utomo itu adalah suatu peristiwa jang mengedjutkan. Perkumpulan jang bertjorak politik belum dibolehkan diwaktu itu. Larangannja terpantjang didalam Regeerings-Reglement, pasal 111. Sungguhpun tudjuannja bukan politik, suatu perkumpulan jang didirikan oleh kaum terpeladjar jang menudju kemadjuan tanah air dan bangsa adalah dalam artinja. Inipun diinsafi benar oleh seorang etikus-kolonial jang terkemuka diwaktu itu, Mr. C. Th. van Deventer. Lahirnja Budi Utomo itu disambutnja dengan suatu karangan dalam „De Gids”, dengan mengatakan, bahwa sesuatu jang gandjil terdjadilah sudah. „Insulinde—katanja—, puteri tjantik jang tidur, telah bangun.”
Ditindjau dari suasana masanja, Budi Utomo bukan partai politik. Tetapi ketjambah semangat nasional telah ada didalamnja. Sebab itu Budi Utomo dapat dipandang sebagai pendahuluan kepada pergerakan kebangsaan jang muntjul didalam tahun 1912 dan 1913 dengan lahirnja Nationale Indische Partij dan Sarikat Islam.
Kalau ditindjau benar2, lahirnja Budi Utomo dalam udara kolonial jang tidak membolehkan adanja partai politik, bukanlah suatu hal jang luar biasa jang terdjadi sekonjong2. Memang masanja sudah matang untuk itu. Dan lahirnja Budi Utomo sebagai pendahuluan daripada pergerakan rakjat adalah suatu mata rantai sadja dari perkembangan seluruh Asia.
Sampai kepada permulaan abad ini dunia se-olah2 kepunjaan bangsa kulit putih. Eropah dan Amerika Serikat tempat kediaman mereka. Benua lainnja itu djadjahannja. Manakah bangsa Asia diwaktu itu jang benar2 merdeka, selain dari Djepang jang dipakai oleh Inggeris sebagai pendjaga kepentingannja di Asia? Tiongkok merdeka namanja, tetapi sebenarnja koloni internasional. Sebenarnja nasibnja lebih djelek dari India, Indonesia dan Filipina, jang sebagai djadjahan didjadjah oleh satu bangsa imperialis sadja.
Selagi negara2 imperialis Barat begitu puas rasanja dengan kekuasaannja jang penuh atas bangsa-bangsa Asia, datanglah pemimpin Neger di Amerika, Du Bois, dengan utjapannja jang merupakan nudjum, bahwa „masalah abad keduapuluh adalah masalah bangsa-bangsa jg. kulitnja berwarna.” Waktu kata2 itu diutjapkannja, orang putih menganggap ia sebagai seorang jang tak waras otaknja.
Tetapi, beberapa tahun sesudah itu dunia dikedjutkan oleh letusan meriam diteluk Tjusjima dan Port-Arthur, jang diachiri dengan kemenangan Djepang atas Rusia. Perdjandjian damai di Portsmouth jang menetapkan kemenangan itu tidak dipandang oleh bangsa-bangsa Asia jang masih tertindas sebagai kemenangan Djepang atas Rusia, melainkan sebagai kemenangan Asia atas Eropah. Semangat kebangsaan diseluruh Asia bangunlah. Kepertjajaan pada diri sendiri mulai timbul.
Sebagai sambutan atas kemenangan Djepang itu pergerakan rakjat India, jang selama itu menundjukkan pendirian jang loyal, mulai menundjukkan sikap jang radikal. Pada rapat besar di Surate dalam tahun 1907 Bal Gangadhar Tilak menjatakan terus terang, bahwa kehendak bangsa India tidak lain dari kemerdekaan jang sedjati. Kemudian ia menulis, bahwa „bagi tiap2 bangsa tidak ada djalan lain untuk mentjapai kemerdekaannja selain dari revolusi.”
Kemenangan Djepang atas Rusia itu tidak sedikit pengaruhnja atas timbulnja Budi Utomo. Gerakan politik belum boleh, tetapi salah satu tudjuannja jang chusus jang mengatakan „mendjundjung tinggi dasar2 peri-kemanusiaan” tidak bebas dari sentimen politk. Disebelah meminta perluasan beladjar, Budi Utomo djuga meminta persamaan perlakuan antara orang Indonesia dan orang Belanda jang sama diplomanja. Dengan tuntutan itu, jang masih dinjatakan keluar sebagai permohonan, ia mengantjam suatu tiang dari pada benteng kolonial, jaitu diskriminasi bangsa.
Sebagai pendahuluan kepada pergerakan rakjat, Budi Utomo menanam keinsafan nasional dalam dada peladjar jang mendjadi anggotanja bermula. Mereka ini kemudian, setelah tamat sekolah, tidak semuanja tinggal didalam Budi Utomo. Mana jang konservatif dan berperasaan ningrat tinggal tetap disitu. Tetapi mana jang berperasaan radikal sedikit, seperti dokter Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Kihadjar Dewantoro sekarang) keluar dari Budi Utomo dan menjiapkan diri untuk membangunkan ber-sama2 dengan Douwes Dekker Nationale Indische Partij (N.I.P.)
Setelah didahului oleh Budi Utomo sebagai perkumpulan jang bukan politik sifatnja, lahirlah pergerakan rakjat jang berpolitik dalam bentuk N.I.P. dan Sarikat Islam. Larangan terhadap partai politik dalam R.R. pasal 111 tidak dapat menghalangi timbulnja. N.I.P. terus terang mengemukakan tuntutannja „Indië los van Holland”—Hindia lepas dari Belanda. Nama „Indonesia” belum dikenal diwaktu itu. Tetapi tjita2 tanah air jang merdeka dan berdaulat telah hidup dalam kepala dan dada. Hindia lepas dari Belanda kemudian dirumuskan oleh Perhimpunan Indonesia mendjadi „Indonesia Merdeka”.
Dr. TJIPTO MANGOENKOESOEMO
Seperti diketahui orang-tiga pemimpin N.I.P. dibuang oleh Pemerintah kolonial beberapa tahun lamanja kenegeri Belanda. Partainja sebagai partai kaum intelek jang radikal terus berdiri disebelah partai rakjat: Sarikat Islam. ke-dua2nja menuntut pelaksanaan demokrasi di Indonesia, dengan djalan mengadakan Parlemen Kolonial. Dalam pada itu Budi Utomo, jang resmi bukan partai politik, ber-angsur2 memakai tjorak politik. Ia ikut serta dengan N.I.P. dan Sarikat Islam menuntut pelaksanaan pemerintaha sendiri.
Parlemen Kolonial jang dituntut sebagai tempat latihan untuk demokrasi dan pemerintahan sendiri, tetapi Volksraad jang diperoleh. Dengan itu timbullah masa „cooperation”, masa kerdjasama dengan pemerintah kolonial dalam pergerakan nasional. Setelah politik kerdjasama itu tidak berhasil, maka pergerakan rakjat, sebagai sajap radikal dari pada pergerakan nasional, menempuh djalan „non-cooperation”. Dengan itu antitese—pertentangan—kolonial semangkin hebat. Budi Utomo banjak djuga memberikan anggota2nja jang radikal kepada gerakan non-cooperation, tetapi Budi Utomo sendiri sebagai partai tetap berpegang kepada politik cooperation sampai pada achirnja.
Budi Utomo sendiri tidak melihat lagi lahirnja Indonesia Merdeka. Sebelum itu ia ber-sama2 dengan Sarikat Sumatera, Kaum Betawi dan Studieclub Surabaja meleburkan diri kedalam organisasi baru: Partai Indonesia Raya, Parindra. Dari organisasi Djawa Budi Utomo mendjadi organisasi Indonesia. Inilah suatu sumbangan jang besar nilainja. Ia mengorbankan nama dan tradisinja jang bersedjarah, tetapi dengan itu ia memperkuat tjita2 Indonesia satu, tidak ter-pisah2. Dengan persatuan itu, jang ikut diperkuat oleh Budi Utomo, rakjat Indonesia memperoleh kemerdekaannja.
SOEWARDI SOERJANINGRAT (Kihadjar Dewantoro)