Publisher Note
Karya ini pertama kali diterbitkan atas nama Soe Hok Djin dalam Mimbar Indonesia no 31, 3 Agustus 1957.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TARMIN baru dapat pekerjaan baru. Sebelumnya, dia lama menganggur, sejak dia diperhentikan sebagai sopir truck. Dalam pengangguran itu, dia merasa sepi dan sukar. Dicobanya mencari pekerjaan baru dengan kepandaian nyupirnya itu, tapi sia-sia saja. Untunglah, ketika uang disakunya tinggal empat piring nasi saja lagi, dia diterima menjadi sopir kereta-mati disebuah perkumpulan kematian. Memang, dia merasa enggan menyupir kereta-mati, tapi dia merasa itu lebih baik daripada dia sendiri mati. Jadi, pekerjaan itu diterimanya dan dia mendapat uang muka.
Besoknya dia datang dan majikannya menjuruh dia ke sebuah rumah. Sebelum dia naik kekereta-matinya, dia memandang dulu keadaan tempat kerjanya itu. Sebuah mobil panjang bercat hitam dengan bendera hitam megab berkibar-kibar. Itulah kereta-mati, tempat kerjanya yang hitam.
Segera dia duduk di belakang stir dan mesin mobil dihidupkannya. Di sisinya, duduk wakil dari perkumpulan kematian itu dan mobil hitam perlahan-lahan bergerak. Di jalan raya, dia merasa agak janggal duduk dibelakang stir mobil itu. Semua mata rakyat seakan-akan memandangnya hingga hilang dari pandangan. Mata yang ingin tahu.
"Engkau sopir baru?" kawan di sisinya bertanya, seakan-akan mengisi kekosongan suasana.
"He-e."
"Mengapa engkau kerja di sini?"
"Aku perlu uang. Untuk makan."
Kawan di sisinya diam lagi, tapi masih didengarnya dia mengeluh.
"Huh! Makan. Makan menunda mati."
Kereta-mati hitam itu tiba di rumah sakit dan terus diarahkan ke gedung penyimpanan mayat. Di sana ada beberapa orang berpakaian hitam. Pada mukanya tampak muram dan sedih. Di sudut ruangan tampak sebuah peti mati Kristen dengan kembang putih dikelilingnya.
Kawan di sisinya turun dan Tarmin juga turun. Dia membeli rokok, lalu dihirupnya rokok itu di sisi kereta-mati itu sambil memandang ke arah ruangan peti mati. Semua tampak sedih. Percakapan dilakukan dengan berbisik-bisik saja. Beberapa lama kemudian, peti mati diangkat orang ke dalam mobilnya. Dan terdengar beberapa tangisan seperti lolong anjing di malam sepi menyayat hati pendengarnya. Ada juga yang cuma mengeluarkan air mata yang sebentar-sebentar disekanya dengan sapu tangan. Dari mereka ini pilu hati yang melihatnya.
Tarmin termenung melihat semua ini. Dia jadi teringat bapaknya yang mati ditembak Belanda. Tak ada yang menangisinya. Dia sendiri cuma meringis oleh penglihatannya. Ibunya mati sakit, tapi kematiannya datang begitu cepat. Di antara batuk-batuknya yang menggema dikerongkongan dia melepaskan jiwanya. Tarmin sendiri masih belum insyaf dan belum mau percaya bahwa ibunya telah mati ketika penguburan selesai. Dia baru merasa sepi ketika ditemuinya rumahnya yang sudah hampa. Kala dia menjerit memanggil ibunya, hanya gema yang menyaut. Barulah dia menangis melolong-lolong, mengharap ibunya kembali.
Perlahan dia naik ke kereta hitam itu, lalu menghidupkan mesin mobil. Dia masih terpesona ketika kawan di sisinya memerintahkan dia supaya jalan perlahan-lahan.
Iringan-iringan itu seakan-akan merayap menuju kepekuburan, pelabuhan terakhir untuk hidup manusia. Semua mata memandangnya, memperhatikan iring-iringan yang merayap itu, diiringi lagu sedih dari suara tangisan yang terisak-isak. Angin bertiup perlahan di dahi Tarmin, menyebabkan air matanya turut mengalir.
Engkau menangis! tuduh kawan di sisinya.
Lekas-lekas disekanya air matanya. Dicobanya untuk menginsyafi keadaan sekelilingnya, tapi pikirannya sudah tertanam pada suara tangisan keluarga si matai. Semakin lama, semakin pilu.
Akhirnya, tibalah mereka dipekuburan. Rem berdenjit, lalu Tarmin turun. Dipandangnya pekarangan pekuburan yang penuh dengan tugu-tugu nama si mati. Sejauh mata memandang semakin ganjil dan seram rasa hati. Semua, yang sekarang terbaring di bawah tanah, tadinya begitu hidup seperti manusia biasa. Tapi sekarang tinggal tulang berserakan. Tak lebih dari zat kapur dan zat perekat, ya, hanya zat-zat saja yang tinggal. Mereka yang tadinya pandai berpikir, bercakap, berpidato, berdansa sekarang tinggal zat kapur dan zat perekat. Tulang saja.
Peti mati diturunkan perlahan-lahan. Lalu, seakan-akan sebuah parade yang teratur, iring-iringan manusia hidup itu bergerak maju mengikuti bekas manusia di dalam peti. Tarmin cuma memandang saja sambil menghirup rokoknya sedap-sedap. Dan akhirnya dia lelap di antara asap rokoknya.
Si orang tua datang menghampirinya. Pakaiannya yang lapuk menambah ketuaan wajahnya. Setelah dekat, ditegurna Tarmin:
Engkau tidak masuk.
Tarmin menoleh sedikit kejut. Ditatapnya orang tua itu dalam-dalam, kemudian dia menggeleng.
Mengapa engkau tak mau masak? Tak suka melihat kuburan-kuburan? Itu akan jadi rumahmu nanti.
Orang tua itu diam sebentar, lalu tiba-tiba dia menarik tangan Tarmin: Marilah. Kita masuk bersama-sama. Engkau tidak takut pada rumahmu sendiri, bukan?
Tarmin menurut dan dia mengikuti orang tua itu. Mereka berjalan di antara kuburan-kuburan. Dia agak takut sebetulnya, tapi diberanikan hatinya dengan menghirup rokoknya kuat-kuat.
Aku telah lama di sini…eh, siapa namamu, nak?
Tarmin!
Ya, aku telah lama bekerja di sini, Tarmin. Bapakku juga kerja di sini dan kukira anakku akan bekerja di sini juga. Jadi penjaga kuburan. Itu rumahku, Tarmin!
Orang tua itu menunjuk sebuah gubuk di tengah-tengah pekuburan itu. Rumah itu juga merupakan kuburan manusia hidup di antara kuburan manusia mati. Tak terasa Tarmin jadi bergidik.
Bapak tak merasa takut tinggal di situ? Apalagi kalau malam.
Takut? Apa yang kutakuti? Ini? Dia berjongkok di suatu kubur yang masih baru. Pada nisan tertulis: Saaman. Di sekitarnya ditanam bunga-bunga dan rumput. Orang tua itu mencabuti rumput-rumput liar, seraya dikebutnya nisan itu.
Engkau tidak tahu? Saaman. Dia kawanku. Ketika dia mati, aku masih hutang sepuluh perak padanya. Aku belum bayar, tapi dia sudah mati. Nah, aku pergi dulu, Saaman.
Ditepuk-tepuknya tanah dekat nisan Saaman. Lalu mereka jalan lagi.
Engkau tidak tahu, Tarmin. Masyarakat mati lebih baik dan masyarakat hidup. Mereka tak suka uang, kekuasaan. Mereka tak sombong. Aku benci pada kehidupan, sebab itulah kuharap anakku jangan jadi orang hidup. Biarlah dia hidup di alam mati, sebab alam hidup penuh keserakahan. Aku rindu akan kematianku dan bagiku kematian cuma berarti melangkahi batas hidup. Tak beda hidup dan mati untukku!
Tarmin terus mendengari si penjaga kubur berkata-kata sendiri. Setiap dia menengok, kuburan yang tampak. Terasa, cuma dua tubuh yang bernyawa di antara beribu-ribu yang mati. Dan mereka tiba
digubuk si orang tua. Sebelum masuk, dia berhenti di muka kubur yang sudah agak lama kelihatannya. Di sisinya tampak sebuah pohon tanjung yang sudah tak berdaun dan rantingnya tampak seperti rangka manusia.
Ini, Tarmin. Kuburan bapakku. Dulu dia tidur di sebelah, dalam gubuk ini, tapi sekarang dia tidur di bawah tanah. Hanya beda kira-kira dua meter. Memang, mati dan bagi bapakku berarti dua meter.
Malah waktu dia mati, dia bisa tertawa.
Aku juga turut tertawa, karena aku tahu dia cuma pindah pembaringan. Dia tak pergi jauh dari padaku.
Kemudian, orang tua itu pindah ke kubur sebelah, lalu katanya: Ini ibuku. Sebelah lagi isteriku. Kaulihat! Apa yang kutakuti hidup di antara keluargaku juga. Marilah kita masuk!
Tarmin menurut, dan di dalam tampak dua buah bale bambu. Di sisinya ada jendela dan dari sana tampak beratus-ratus nisan dan cabang2 pohon Tanjung.
Lihatlah, betapa senang hidupku. Kerjaku cuma membersih-bersihkan nisan dan uang dapat dari si mati. Maksudku dari keluarga-keluarganya. Apalagi? Apalagi yang kupikirkan? Mereka–manusia hidup di dalam hidup–tidak tahu bahwa inilah kehidupan yang mereka cita-citakan. Ahli-ahli filsafat belum insaf di mana letak kebahagiaan hidup. Di sini, di alam mati letak kebahagiaan. Mereka semua tak insaf. Bodoh!
Diambilnya sebuah gelas, lalu dituangnya air dingin dari sebuah kendi.
Kalau engkau mau minum, Tarmin, ambillah sendiri, karena engkau bebas di sini. Engkau tak tahu, Tarmin? Di sinilah sorga. Coba, Cobailah air taman
Firdaus. Ha, ha, ha!
Tarmin mengambil gelas, lalu dituannya air dingin penuh-penuh. Sambil minum, dia memandang nisan dari jendela. Dingin, segar dan agak manis rasa air itu.
Enak?
Tarmin mengangguk.
Tarmin! Kutanya terus terang padamu, karena engkau sahabatku. Engkau takut kematianmu?
Kembali Tarmin memandang nisan-nisan dari jendela, kemudian matanya bertemu pada wajah si orang tua. Akhirnya, dengan keringat dingin di dahinya, dia mengangguk gemetar.
Ha, ha. Bodoh. Memang, itulah adat manusia di alam hidup. Engkau takut mati, sebab itu engkau takut melihat kuburan. Bayangan kenyataan yang sedang mendatangi. Semakin lama semakin dekat. Itulah sebabnya tak mau aku melemparkan anakku ke alam hidup. Biarlah dia bersamaku, di alam mati yang bahagia. Demi kebahagiaannya sendiri. Marilah minum!
Dia kembali menuangkan air dari kendi penuh-penuh ke gelasnya, lalu dihirupnya sekali. Tarmin cuma mengawasi saja.
Tarminnn…
Terdengar teriakan sayup-sayup. Segera Tarmin keluar dan dilihatnya iring-iringan mobil siap berjalan. Lekas-lekas dia masuk ke dalam gubuk, lalu katanya: Aku pergi sekarang, pak!
Si orang tua menunda minumnja, lalu dia tersenyum: Pergilah! Dan datanglah kembali, kalau engkau bosan hidup. Di sini sorga, Tarmin. Ingatlah itu!
Lalu diminumnya pula air kendi itu. Tarmin lekas-lekas berlari menuju mobil hitamnya. Dia masih sempat memandang kuburan-kuburan yang dilaluinya, lalu akhirnja dia tiba di mobil hitam itu. Ketika dia duduk di belakang stir, kawan disisinya telah ada di situ.
Mobil perlahan-lahan bergerak dan Tarmin sekali lagi menoleh memandang kuburan itu. Terlintas dalam pikirannya nisan Saaman, pohon Tanjung dan air kendi yang segar, dingin dan manis itu. Akhirnya dia terpaksa memusatkan perhatiannya ke jalan raya yang sudah mulai ramai sekarang.
Mengapa engkau di gubuk penjaga kubur itu? Tanya kawan di sisinya.
Bercakap-cakap saja.
Bercakap-cakap? Dengan orang gila itu?
Siapa kata dia gila? Dia waras seratus persen. Seperti engkau dan aku.
Engkau belum tabu. Anaknya tak disekolahinya dan dilarang bermain dengan anak-anak lain. Dipaksanya dia hidup sendiri, menyepi. Disuruhnya anaknya bermain-main dengan kuburan-kuburan sekitarnya. Disuruhnya anaknya yang cuma satu itu mati sepi.
Tarmin mendengari saja. Kemudian dia mengeluh: Engkau tak mengerti dia! Orang gila itu!