Hakim kelahiran Boyolali, Jateng, pada tanggal 9 Maret 1943 ini, sepenuhnya berkarir di dalam bidang hukum. Seusai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga di Surabaya, dia melanjutkan pendidikan di dalam bidang Hukum Administrasi Negara di Universitas Sorbonne hingga meraih gelar doktor pada tahun 198. Sekembalinya di Indonesia dia ditempatkan di berbagai pengadilan negeri daerah hingga akhirnya dipindah ke Jakarta di mana dia kini menjabat sebagai Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. Dia juga bekerja sebagai dosen pada beberapa universitas dan kini menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan Lanjutan Pengadilan Tata Usaha Negara.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Tujuan keberangkatan saya dalam rangka studi di Prancis pada tahun 1976 pada mulanya adalah untuk mengikuti pendidikan (stage) selama delapan belas bulan di Institut International d’Administration Publique (I.I.A.P) di Paris, khususnya untuk memperdalam pengetahuan dalam Section Juridique yang menyangkut masalah hukum administrasi dan peradilan administrasi di negara tersebut. Sebelum itu saya bertugas sebagai kepala biro umum pada Pengadilan Tinggi Surabaya, dan rupanya pendidikan saya ke Prancis itu ada kaitannya dengan rencana untuk membentuk Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia.
Rombongan ke I.I.A.P. itu dari Indonesia pada tahun 1976 tersebut terdiri dari berbagai macam pejabat di beberapa instansi, semuanya berjumlah dua puluh orang, sedangkan yang khusus di bidang peradilan dan masuk ke section juridique I.I.A.P. ada empat orang hakim yaitu:
- 1.
- Ny. Chairani Gani, S.H., sekarang menjabat Direktur Tata Usaha Negara di Mahkamah Agung R.I.
- 2.
- Ny. Titi Nurmala Siahaan, S.H., sekarang menjabat Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Medan.
- 3.
- Benyamin Mangkudilaga, S.H., sekarang menjabat Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara.
- 4.
- Saya sendiri, yang sekarang menjadi Hakim dan Humas Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.
Persiapan untuk keberangkatan ke Prancis tersebut berlangsung sejak awal tahun 1975 dan dilakukan secara rapi dan terarah oleh pihak Lembaga Administrasi Negara (L.A.N.) dengan bekerja sama dengan Kedutaan Prancis di Indonesia. Program pendidikan ke I.I.A.P. di Paris itu memang merupakan kerja sama antara Pemerintah Prancis dengan Pemerintah Republik Indonesia, yang sudah berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya.
Persiapan bagi rombongan kami itu terutama dipergunakan untuk mendapat pendidikan bahasa Prancis secara intensif serta pemahaman tentang latar belakang sosial dan budaya Prancis. Pendidikan persiapan ini tentunya bertujuan agar kami seluruh rombongan menguasai secara lancar bahasa Prancis untuk dapat mengikuti pendidikannya dan agar dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan masyarakat dan kehidupan di Prancis.
Pada waktu tiba di Prancis pun pendidikan bahasa ini masih ditambah lagi selama kurang lebih enam bulan di kota Besançon ataupun di kota Vichy.
Memang penguasaan bahasa Prancis merupakan syarat mutlak apabila ingin berhasil mengikuti pendidikan di negara tersebut, sehingga dalam rangka kerja sama tersebut masalah pendidikan bahasa Prancis sangat diperhatikan.
Lembaga I.I.A.P. memang bermanfaat sekali sebagai tempat untuk menimba ilmu tentang administrasi negara dan pemerintah pada umumnya, terutama ditinjau dari segi praktek dan pemecahan masalah. Orientasi pendidikannya tidak terlalu teoritis, karena itu memang bukan maksudnya (seperti halnya di universitas atau perguruan-perguruan tinggi lainnya), tapi lebih banyak menekankan masalah praktek melalui studi perbandingan. Karena memang di I.I.A.P. tersebut bertemulah berbagai “karyasiswa” (karyawan yang menjadi mahasiswa) dari berbagai negara, terutama negara-negara yang sedang berkembang.
Berbagai seminar dan diskusi menjadi “makanan” sehari-hari di lembaga tersebut dan diikuti dengan pelatihan “on the job training” selama kurang lebih tiga bulan di berbagai instansi.
Selama mengikuti pendidikan tersebut, saya berkenalan erat dengan salah satu staf pengajarnya yang juga menjadi guru besar di Universitas Sorbonne (jurusan hukum administrasi negara), yaitu Profesor Georges Dupuis, di samping beberapa guru besar lainnya.
Pada waktu itulah baru terlintas dalam pikiran saya, alangkah baiknya seandainya pendidikan selama delapan belas bulan di Prancis itu dapat dilanjutkan sampai ke tingkat doktor (Ph.D) di universitas yang sama. Tetapi untuk hal itu diperlukan beberapa tahun lagi.
Dalam masa pendidikan di I.I.A.P tersebut, saya dengan kawan-kawan dari section juridique beruntung berkesempatan melakukan kuliah kerja nyata (stage) selama tiga bulan di Conseil d’Etat di Paris, suatu lembaga yang berwibawa dan bergengsi tinggi sebagai badan peradilan tertinggi dari peradilan administrasi dan sekaligus sebagai dewan penasehat pemerintah.
Sedangkan bagi orang Prancis sendiri pun tidak mudah untuk mendapat stage di lembaga tersebut, kecuali untuk mahasiswa-mahasiswa dari Sekolah Tinggi Administrasi Nasional (Ecole Nationale d’Administration atau singkatnya E.N.A.).
E.N.A. adalah lembaga pendidikan elit bagi pejabat-pejabat tinggi Prancis, dan banyak sekali para presiden, perdana menteri, menteri, gubernur, duta besar, dirjen, irjen, dll., yang berpendidikan E.N.A. Hampir seluruh hakim agung administrasi di Conseil d’Etat adalah juga alumni dari E.N.A.
Selama saya mengikuti pendiidkan bahasa di Besançon dan kemudian I.I.A.P. di Paris, banyak ragam segi budaya dan kehidupan rakyat Prancis yang saya pelajari. Sebagai penganut agama Katolik, saya beruntung mendapat kesempatan berziarah ke kota Lourdes yang terkenal itu beberapa kali, dan juga ratusan gereja Katolik yang besar-besar dan indah-indah di Paris dan beberapa kota lainnya di Prancis. Hanya sayangnya, pada waktu ibadah, banyak sekali gereja-gereja yang besar itu hampir-hampir kosong dan berisi banyak orang tua saja, dan sedikit sekali kaum muda yang mengikuti misa.
Namun tempat ziarah Lourdes memang selalu penuh manusia dari berbagai penjuru dunia, terutama di bulan-bulan Mei, Agustus, dan Oktober.
Seusai mendapat ijazah I.I.A.P. menjelang akhir 1977, dengan nilai yang cukup memenuhi syarat, maka saya berkeinginan menempuh pendidikan doktor di Universitas Sorbonne yang terkenal itu, sesuai dengan anjuran dari beberapa profesor yang saya kenal. Maka saya pulang ke Indonesia pada tahun 1978 untuk memohon izin dari Mahkamah Agung dan Departemen Kehakiman. Beruntunglah Ketua Mahkamah Agung almarhum Bapak Profesor Oemar Senoadji, S.H. sangat mendukung rencana itu dan langsung memberikan rekomendasi. Bantuan moral beliau tidak akan pernah saya lupakan sebagai andil sukses saya menjadi doktor! Pendididikan doktor saya hanya berlangsung antara tahun 1979 dan 1982, karena ada beberapa nilai stage di I.I.A.P. yang diakui sebagai penelitian, sehingga waktu pendidikan saya dapat dipersingkat.
Sistem pendidikan di Prancis sangat tertib administrasinya. Perpustakaan sangat besar jumlahnya dan banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswa sehingga penuh dan bahkan kadang-kadang sesak. Pada tahun-tahun akhir, ketika saya banyak mencarikan data di berbagai perpustakaan, harus saya lihai mengatur waktu. Untuk makan saya biasa menggunakan restaurant universitaire (restau U) yang bertebaran di kota Paris dengan sistem antrinya.
Di negeri orang, harga diri sebagai pejabat harus bisa dikesampingkan, dan benar-benar mengikuti ritme hidup mahasiswa pada umumnya. Hiburan cukup banyak, bahkan tempat hiburan ada di mana-mana di kota Paris. Tinggal kita memilih saja, mana yang positif dan mana yang negatif.
Untuk pondokan saya memilih tinggal bersama keluarga Prancis. Hal itu sangat bermanfaat untuk penguasaan bahasa Prancis sebab setiap hari harus berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Selain itu saya sempat mengenal lebih baik kebiasaan-kebiasaan dan tata budaya Prancis, sesuatu yang amat membantu saya di dalam penulisan disertasi.
Selama menempuh pendidikan doktor itu saya mendapat beasiswa dari perusahaan minyak Prancis Total, yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menutupi biaya kehidupan saya sewaktu di Paris.
Pendapatan ini ditambah lagi dengan hasil kerja semasa liburan tahunan (hampir dua bulan). Tiga kali saya menjadi resepsionis pengawas (Réceptioniste en Chef) di hotel berbintang di daerah arrondissement Paris ke-16 di dekat Avenue des Champs Elysées yang terkenal itu. Hal itu saya lakukan demi pengalaman dan juga karena saya cukup beruntung menguasai secara fasih bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis dan secara pasif Jerman dan Spanyol.
Enak sekali bekerja di hotel berbintang yang terkenal, karena selalu berpakaian gagah, rapi, dandy, pakai jas dan dasi dan selalu bertemu dengan tamu-tamu asing. Tapi saya agak kikuk juga sewaktu bertemu dengan tamu-tamu agung bangsa Indonesia! Apalagi bila mereka tahu bahwa saya ini jelek-jelek seorang hakim lho!! Hanya saja statusnya waktu itu jadi “mahasiswa” di Universitas Sorbonne! Biarlah itu sebagai kenang-kenangan menjadi mahasiswa di negeri orang!!
Setelah mencapai gelar doktor dalam bidang hukum administrasi ini pada tahun 1982 (Oktober), saya kembali lagi bertugas seperti biasa di Indonesia, tapi sesudah itu saya masih berulang kali ke Paris untuk tugas, dan tentu saja menikmati lagi nostalgia Paris dengan metro-nya, toko-toko besar, cabaret-cabaret, obyek-obyek turisme, gereja-gerejanya, café- café di Montparnasse yang selalu saya kunjungi. Tidak lupa pula saya beberapa kali menginap di hotel besar tempat saya pernah “stage” sebagai resepsionis dulu. Tapi sudah bukan sebagai petugas lagi tentunya, namun sebagai tamu yang terhormat dan harus dilayani!!!
AU REVOIR
Jakarta, 9 September 1993