Publisher Note
Karangan ini pertama kali dimuat sebagai bagian dari roman-sejarah Utuy sendiri, berjudul “Tambera” yang terbit tahun 1949. Karangan ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
NIAT WUBANI ITU LAHIR DALAM PERBUATAN.
Ketika ia melihat anaknja duduk merenung menghadapi kertas dan meniru tulisan diatas kertas itu, ia hanja bertanja seperlunja dan setelah didapat djawaban, bahwa anaknja itu sedang beladjar menulis, ia tidak pandjang bertanja lagi. Terpikir olehnja, bahwa menulis itu tidak ada bahajanja.
Tapi malamnja, sebagaimana biasa, setelah anaknja tidur, kepala anaknja ditaburi air. Harapannja hanja serupa, jaitu supaja anaknja jang dikasihinja itu selamat selalu, terdjauh dari mara bahaja.
Keesokan harinja ia tidak menahan anaknja pergi kerumah Van Speult. Begitu pula setelah anaknja pulang dari sana, ia tidak menegur menjapa, tidak menjebut-njebut lagi perkara Clara.
Pada hari lusanja, ketika anaknja pergi kerumah Van Speult, waktu ia masuk didapur, ia didatangi njonja Lambaru. Dengan tidak menanti disilakan duduk oleh njonja rumah, bahkan sambil berdiri diambang pintu, tamu jang tidak diundang itu berkata begini:
„Aku barusan melihat penglihatan jang tak sedap dimata, Wubani.”
„Apa, Iwari?” tanja Wubani seraja menunda pekerdjaan, menghadapkan muka kearah perempuan tetangganja itu.
„Kulihat anakmu ada dirumah Van Speult, bermain berdua dengan si Clara. Tidak salahkah penglihatanku itu?”
Sebelum mendjawab, Wubani menahan nafas dulu; katanja: „Barangkali benar djuga.”
„Dia kaubiarkan sadja berlaku demikian?” tanja Iwari seraja masuk kedapur, lalu duduk dihadapan njonja rumah.
Wubani tidak mendjawab; ia diam mengumpulkan kata-kata untuk memberi keterangan. Didalam ia terdiam itu, tamu menjambung perkataan-perkataannja: „Aku tahu, bahwa engkaupun tidak setudju melihat anakmu bergaul rapat dengan anak Belanda itu dan tentu sudah berdaja upaja menahan kemauannja.”
„Semendjak aku dapat mentjium bahwa anak Belanda itu akan mendatangkan kekeruhan kepada pergaulan kita, Iwari, semendjak itu aku sudah berichtiar mendjaga anakku djangan sampai terlibat dalam kekeruhan jang dilantarankan anak Belanda itu,” djawab Wubani. „Pendjagaanku terhadap anakku kiranja sama dengan pendjagaanmu terhadap anakmu jang ingin berpakaian model anak Belanda itu.”
„Tidak tersisipkah sangkaan, mengapa anakmu mau bergaul dengan anak Belanda itu?”
„Tentu sadja. Kata orang anak Belanda itu tjantik. Ketjantikannja itulah agaknja jang menjebabkan anakku suka bergaul dengan dia. Padahal sudah berkali-kali kunasihatkan, bahwa dibelakang ketjantikan itu tersembunji bisa jang akan membinasakan.”
„Tapi ia keras memaksa?”
„Ja.”
„Jang kupikirkan ialah adat kiat, Wubani. Menurut adat kita, anak laki-laki hanja dibolehkan bergaul dengan anak perempuan bila mereka berkeluarga atau nantinja akan dikawinkan. Begitu, bukan?”
Peluh dingin keluar dari dahi Wubani.
„Satu kemustahilan, Iwari”, katanja. „Pergaulan mereka tidak mungkin akan sampai berbuah perkawinan.”
„Engkau mengatakan begitu, tapi anakmu barangkali mempunjai tjita-tjita ingin terus kawin. Tapi bagaimanapun djuga, kita sebagai ibu, djangan berhenti-henti mengekang kemauan anak kita, Wubani. Kalau kita jang djadi ibu selalu membuka tangan, melepas anak kita menurut kemauannja, bagaimana djadinja dengan adat kita? Kalau aku tidak kuat menahan kemauan anakku, entah bagaimanalah djadinja dengan dia. Biar sekalipun dia menangis, Wubani, namun tak hendak aku mengizinkan dia berpakaian model anak Belanda itu. Engkau djuga djangan berhenti berdaja upaja. Ichtiar apa sadja jang telah kaudjelaskan?”
„Ichtiar harus sudah kudjalankan.”
„Menurut petundjuk Ki Dukun?”
„Ja.”
„Disamping itu harus pula kaudjalankan ichtiar jang njata, Wubani.”
„Maksudumu?”
„Lekas sadja dikawinkan!”
„Aku djuga ada pikiran demikian. Memang itulah satu-satunja djalan jang masih terbentang dihadapanku.”
„Lekas sadja, Wubani, djangan kautunggukan sampai kasip.” Wubani mengiakan; dengan begitu, tamu jang tidak diundang itu tidak membuka mulut lagi, senang permisi pulang.
„Baru seorang tetangga!” kata Wubani seraja menghela nafas. Tapi setelah melahirkan utjapan itu, ia kelihatan merenung, rupanja ia terus menggunakan otaknja untuk mengunjah perkataan-perkataan Iwari barusan. Kian lama menggunakan otaknja, kian terasa adanja keharusan membitjarakan lagi perkara Clara dengan anaknja. Ja, ia mesti mengatakan kepada anaknja, bahwa pergaulannja dengan anak Belanda itu sangat menjolok mata tetangga dan melanggar adat. Dan ia akan mengatakannja nanti, djika anaknja itu sudah datang. Karena itu kedatangan anaknja sangat dinanti-nantikan.
Djam 11 lebih anak itupund datang. Dari djauh sudah kelihatan perangainja tidak segar, tak salah lagi tentu banjak soal tersisip dalam hatinja. Melihat perangai anaknja demikian, bukan Wubani mengadjak anaknja bertjakap-tjakap, sebab terpikir anaknja itu tiada akan membukakan hati untuk menerima segala jang hendak dikatakannja, melainkan ia lalu bertanja didalam hati, apa gerangan jang tersisip didalam hati anaknja itu. Tapi sebagai ibu, pertanjaan jang terkalang dalam hatinja itu, tiada dibiarkan terbajang diwadjah mukanja. Ia menghampiri anaknja dengan pura-pura tiada memperhatikan apa jang terlukis diwadjah anaknja itu.
Njata kepadanja dengan perangai jag laju itu, anaknja memandang terus kearah orang banjak jang asjik menggali tanah disepandjang batas tanah kepunjaan orang-orang Belanda.
Wahai, kini Wubani tahu sudah apa jang dimuramkan anaknja itu.
Tak salah lagi bagi anaknja itu tentu pembikinan benteng mendjadi soal jang bergerak dalam otaknja. Tapi apa sebab ia susah memikirkan soal itu? pertanjaan itulah jang kini ditanjakan Wubani kepada hatinja sendiri.
Bagi orang jang tiada teliti memperhatikan Tambera dengan perhatian jang dilimpahkan bersama kasih sajang jang tak ada taranja, tentu tiada akan mudah menemui djawaban atas pertanjaan itu. akan tetapi bagi Wubani, pertanjaan itu dalam sekilas telah melengangkan dada, dilengangkan djawaban jang banjak memberi harapan. Sebab takkan salah lagi anaknja itu dimabuk ketakutan, kalau-kalau benteng itu nanti menghalangi dia untuk sering bersua dengan Clara.
Gembira oleh harapan akan melihat anaknja menemui rintangan, Wubani merasa tiada perlu lagi menjampaikan kandungan hati jang telah dipupuknja sedjak didatangi Iwari tadi. Ia senang melandjutkan bekerdja, menghidangkan makanan untuk lakinja jang sebentar lagi akan datang.
Djam 12 kurang beberapa menit Imbata datang. Alangkah tjape nampaknja, tak salah lagi perutnjapun sudah lapar.
„Makanan sudah lama kusediakan,” kata Wubani, mendahului lakinja bertanja. Dan dengan perasaan bakti dari seorang bini terhadap laki, ia duduk menjertai lakinja, menghadapi makanan dan terus makan bersama-sama.
Baru sadja lima kali Imbata menjuapkan makanan itu kedalam mulutnja, terdengar suara tamu memandjati serambi depan. Menilik bunji suaranja jang riuh, tak pelak lagi tamu jang datang itu lebih dari seorang. Saat itu djuga Imbata terus menunda makan, pergi keluar menemui tamu-tamu itu.
„Ah, kukira bukan kalian,” katanja setelah njata kepadanja, bahwa tamu itu tiada lain dari Kawista beserta empat orang kawannja. „Ada perlu pentingkah gerangan?”
„Soal ketidak setudjuan, paman, soal itulah jang mengadjak kami datang disini sekarang,” djawab Kawista seraja mengambil tempat dikursi.
„Ketiada setudjuan apa, Kawista?” tanja tuan rumah dengan dahi dikerutkan.
„Ketiada setudjuan terhadap sikap paman, karena paman sudah bertindak sendiri. Saja dengan kawan-kawan saja ini datang disini atas nama suara rakjat jang menjatakan ketiada setudjuannja. Bukankah paman jang menjuruh orang-orang bekerdja membuat benteng dibatas tanah kepunjaan orang Belanda itu?”
„Benar, Kawista, tapi…”
„Nah, mengapa paman tidak mengadjak berembuk dulu kepada kami?”
„Mengapa harus dirembuk? Kan itu hanja soal orang mentjari uang. Aku berpendapat bahwa orang mentjari uang itu, djalannja rupa-rupa. Dan pembikinan benteng itu adalah salah satu sumber pentjaharian uang. Aku memberi djalan, Kawista, seperti djuga dulu aku mendjalani adanja djual beli untuk memperoleh uang. Kaurasakan sendiri dengan djual beli itu, kini engkau djadi orang jang senang. Apa salahnja, kalau mereka jang mendjual keringatnja pada pembikinan benteng itu, kelihatan seneng djuga?”
„Paman! Saja bukan mengiri melihat orang lain mendapat pentjaharian uang. Jang saja persoalkan ini, ialah hal membikin benteng itu. Apa paman tidak menaruh tjuriga dengan adanja benteng diatas tanah kepunjaan orang Belanda itu?”
Imbata mengerutkan dahi lagi, tapi tjepat menjahut: „Tjuriga atau tidak tjuriga, apa jang didjadikan alasan untuk kita bertindak, Kawista, sebab tanah itu sudah djadi kepunjaan mereka.”
„Benar, akan tetapi bila sebelumja dirembukkan dulu antara kita, setidak-tidaknja benteng itu kini tidak dibikin. Paman sudah mendjalankan suatu kesalahan jang besar, sebab tidak mengindahkan suara rakjat.”
„Suara rakjat jang mana, Kawista? Mereka jang bekerdja dalam pembikinan benteng itu buktinja mau sadja bekerdja, tidak mengatakan tidak setudju.”
„Ja, mereka. Tapi suara jang sampai ditelingaku tetap tidak setudju.”
„Itu bukan „rakjat”, tapi barangkali „pasukanmu” jang berdiri dibelakang engkau. Sedang jang bekerdja dalam pembikinan benteng itu meliputi chalajak banjak.”
„O djadi saja jang djadi kepertjajaan sebagian dari penduduk, dianggap terlepas dari pimpinan paman? Kalau begitu, apa sudah sedia paman mempertahankan serangan kami?”
Utjapan-utjapan itu dilahirkan dengan suara agak keras, tidak menusuk hati orang jang diadjak berkata sadja, tetapi djuga Tambera jang mendengarkan didalam, bangkit terkedjut dan terus memperhatikan dengan minat sebesar-besarnja. Djuga Wubani kelihatan berhenti makan.
„Maksudku bukan begitu, Kawista,” udjar Imbata dengan suara melemah lembut. „Engkau salah terima. Sekali-kali aku tidak mengharap ada penduduk pulau jang menganggap dirinja terlepas dari pimpinanku.”
„Tapi apa jang telah paman lakukan sudah membuktikan, bahwa paman telah melupakan kami, jang artinja melepaskan kami dari pimpinan. Buat kami tidak mendjadi kesusahan, paman. Kalau kami tidak diadjak berembuk sebagai anggota kampung jang berhak bersuara, maka tindakan kami jang lain ialah berdiri sebagai lawan kepala kampung. Kalau perlu mendjatuhkan kepala kampung itu.”
„Wahai, kalau begitu pendirian anak sekarang, siapa jang mau djadi kepala kampung! Sudah tjape aku menguraskan pentjaharian orang, tapi baru sadja ada kesalahan sedikit, orang sudah menjerang, bukan memaafkan kesalahan itu.”
„Djika paman menghendaki dimaafkan, baik, saja memaafkan kesalahan paman itu dengan peringatan, hendaknja kesalahan demikian djangan sekali lagi diulangi. Sekarang paman harus berichtiar, supaja benteng itu tidak djadi didirikan.”
„Itu tak mungkin, Kawista. Hal itu sudah djadi urusan Van Speult jang menjuruh dan orang-orang jang disuruh bekerdja.”
„Djadi paman tak sanggup menghentikan pekerdjaan itu?”
„Tjoba sadja pikir, Kawista. Apa alasannja untuk aku menjuruh mereka berhenti bekerdja? Mereka mendjual keringat dan jang membelinja ialah orang-orang Belanda; aku hanja mendjadi penghubung. Dan lagi pula, harus kautahu, bahwa menurut perkataa Van Speult, benteng itu dibikin, ialah untuk berdjaga-djaga terhadap serangan bangsa Sepanjol dan bangsa Portugis jang mungkin sewaktu-waktu datang disini memerangi kita”.
„Paman pertjaja kepada keteragan orang Belanda demikian? Kalau pertjaja, adalah paman sudah terlalu tua untuk mengertikan keadaan sekarang. Benteng itu, paman, ialah untuk memisahkan mereka dari kita penduudk asli. Dan apakah artinja perpisahan itu? inilah jang harus djadi tjuriga buat kita.”
Imbata terdiam.
Kawista menjambung perkataannja: „Ja, rupanja paman tidak pernah memikirkan sampai kesana. Sebagai kepala kampung pada hal seharusnja paman awas kepada masa jang akan datang.”
Imbata tidak mendjawab. Terasa olehnja perkataan-perkataan Kawista jang seperti tjambuk itu mendesak dia kepada sikap mengalah. Terpikir pula, bahwa Kawista lebih baik dihadapi dengan diam. Sebab bagaimanapun djuga ia berkata, nistjaja ia tidak boleh menang.
Dengan dilawan dengan diam, kelima tamu itu lalu mengundurkan diri, meninggalkan tuan rumah jang terus duduk terdiam tak mau meninggalkan kursi.
Tambera jang ada didalam, telah dapat membajangkan apa jang akan terdjadi sebagai akibat serangan jang datang kepada bapaknja itu. oleh karena itu tiadalah ia kaget, ketika dikala masuk kedalam, Imbata kelihatan berengut, dan sebentar setelah mereka bertemu pandang, meluntjur dari mulut bapaknja perkataan-perkataan:
„Sungguh kebetulan aku mempunjai anak seperti engkau. Sehari-harian kerdjanja hanja menghadapi kertas. Kapan engkau membesarkan harapanku, Tambera? Apa belum terasa djuga badanmu jang tinggi itu?”
Tambera tidak mendjawab. Dengan demikian bapaknja tidak pandjang mengomel.
Dalam pada itu, seterusnja dari rumah kepala kampung, Kawista dan empat orang kawannja itu terus berdjalan menudju orang-orang jang asjik bekerdja dalam pembikinan benteng. Mereka mendapatkan dua orang jang sedang membikin adukan semen.
„Saudara!” kata Kawista kepada dua orag itu. „Dapatkah kalian menunda pekerdjaan sebentar?”
„Ada perlu apa?” seorang diantaranja jang dua itu bertanja.
„Ingin kami bertjakap-tjakap dengan kalian. Tapi djangan disini, djangan kelihatan orang Belanda.”
Terdorong oleh minat kepada apa jang akan dikatakan Kawista itu, mereka menurut, meninggalkan pekerdjaa, mengikuti Kawista dan kawan-kawannja, menudju tempat jang sunji. Disana Kawista memulai berkata lagi: „Begini. Sebelum kalian bekerdja pada orang Belanda itu, tahukah kalian buat apa kalian bekerdja?”
Mendengar pertanjaan itu, nampak kedua orang itu keheranan.
„Buat apa?” tanja seorang. „Buat mentjari uang tentu.”
„Ja, tapi dengan begitu sebenarnja engkau membantu orang Belanda untuk mentjelakakan bangsa sendiri. Tahukah engkau buat apa sebenarnja mereka membikin benteng itu, Ara?”
„Entah.”
„Untuk mengadakan perpisahan antara bangsa kita dan bangsa Belanda, Ara. Dan apakah artinja perpisahan itu? perpisahan itu berarti permusuhan. Maka kalau engkau bekerdja dalam pembikinan benteng itu, berarti engkau membantu bangsa Belanda, membantu musuh kita. Itulah sebabnja aku minta kepadamu, supaja mulai sekarang engkau berhenti sadja mengerdjakan pekerdjaan itu.”
„Tapi kami sudah dibajar dahulu,” kata Ara.
„Kan tidak dibajar seumur hidup.”
„Untuk lima hari bekerdja, tinggal tiga hari lagi jang harus kami bekerdja lagi.”
Kawan Ara jang sedjak tadi belum berkata, kini membuka suara” „Apa sudah jakin, bahwa pembikinan benteng itu mengandung maksud jang tidak baik buat kita?”
„Aku sudah tahu,” djawab Kawista.
„Perkara menunda pekerdjaan gampang, Kawista. Tapi kami bekerdja tidak untuk pertjuma. Kami bekerdja untuk mentjari uang. Djadi kalau tidak bekerdja, berarti orang rumah menggerutu.”
„Kan masih banjak, Indalu, djalan untuk mentjari uang itu?”
„Benar. Tapi sepuluh duit sehari, buat saja jang tidak mempunjai modal untuk berdagang, djadi suatu kehasilan jang sukar ditjari-tjari.”
„Engkau kan sudah biasa menangkap ikan dilaut. Itulah djalan untuk engkau mendatangkan uang.”
„Laut banjak bahajanja, lebih bahaja daripada semen jang mesti kuaduk sekarang.”
„Harap kaupikirkan begini. Apa jang lebih baik: menerima uang sepuluh duit sehari, tapi mentjelakakan kepada kawan, atau menangkap ikan dilaut?”
Setelah hening seketika, Indalu berkata lagi: „Harus kita masak-masak pikiran, sebab belum tentu kita mesti memandang musuh kepada bangsa Belanda.”
„Ach! Mana jang akan kupertjajai diantara aku jang sewarna kulit dengan kulitmu dan mereka jang berkulit putih?”
„Tentu sadja aku lebih pertjaja kepada kawan sebangsa. Walaupun demikian, tetapi aku djuga mempunjai pendirian. Pendirianku pada saat ini ialah, bahwa dari orang Belanda itu aku menerima uang sepuluh duit sehari, tjukup untuk memberi makan kepada anak bini. Tentang musuh bukannja orang-orang Belanda itu, harus kulihat dulu dengan mata sendiri, setidak-tidaknja harus kudengar dari kepala kampung sendiri.”
Kawista lama terdiam. Achirnja ia berkata: „Baik, djika pendirianmu demikian. Aku hanja memperingatkan sadja, bahwa pada suatu waktu engkau tentu akan memilih lebih baik menunda pekerdjaan.”
„Atas peringatan itu saja mengutjapkan terima kasih”, kata Ara.
„Marilah kita bekerdja lagi,” adjak Indalu.
„Mari.”
Mereka berdua pergi lagi ketempat pekerdjaannja.
„Apa betulkah orang Belanda itu akan djadi musuh kita?” tanja Ara.
„Kita buktikan sadja,” djawab Indalu. „Djangan lekas pertjaja kepada perkataan orang. Nanti kita susah sendiri.”
Sepeninggal kedua orang itu, Kawista tidak terus diam. Ia mendapatkan lagi orang lain, mengadjak bertjakap-tjakap lagi ditempat jang sepi. Selesai dengan jang kedua kali ini, disusulnja pula dengan jang ketiga kalinja.
Rupa-rupa sambutan mereka atas hasutan itu, menimbulkan buah pertjakapan jang lama diantara mereka. Kesimpulannja, mereka memutuskan sehabis bekerdja akan bersama-sama datang dirumah kepala kampung, untuk minta pendjelasan.
Demikianlah sorenja, sebelum pulang kerumahnja masing-masing, sebagian dari pekerdja-pekerdja dalam pembikinan benteng itu, datang kerumah Imbata dibawah pimpinan Ambolo. Setelah mereka dipersilahkan duduk, setelah tuan rumah duduk pula menghadapinja, lalu Ambolo memulai berkata begini:
„Imbata! Kedatangan kami disini sekarang ialah, karena ada orang jang berkata kepada kami, bahwa kami: lebih baik menunda pekerdjaan, sebab pembikinan benteng itu adalah suatu alamat permusuhan antara bangsa Belanda dan kita.”
Belum habis Ambolo berbitjara, Imbata sudah menukas: „Kawista jang mengatakannja?”
„O, djadi engkau sudah tahu?”
„Sebab dia tadi datang djuga disini.”
„Djadi bagaimana? Apa betulkah perkataannja itu?”
Imbata berpikir sedjurus; kemudian menjahut: „Menurut pendapatmu sendiri bagaimana? Adakah tersisip sangkaan, bahwa orang-orang Bellanda itu akan djadi musuh kita?”
„Inilah jang kami belum tahu,” djawab Indalu.
„Djadi sangkaan seperti jang disangkakan Kawista itu belum ada?”
„Ada diantara kami jang membenarkan sangkaan itu,” djawab Ambolo.
Sekali lagi Imbata berpikir.
„Kita ini djadi mempersoalkan sangkaan, saudara-saudara,” katanja kemudian. „Padahal menurut keteragan jang kuterima dari Van Speult, sebagaimana telah kuterangkan pula kepada kalian, benteng itu dibikin ialah untuk mendjaga, kalau-kalau ada serangan dari bangsa Portugis atau bangsa Spanjol. Bahwa kita membantu mentjurahkan tenaga kepada pembikinan benteng itu, jang artinja turut mempertahankan kedudukan bangsa Belanda disini, ialah lantaran kita sudah mengadakan perdjandjian persahabatan dengan mereka. Kalau sekarang timbul diantara kita sangkaan bahwa bangsa Belanda akan memusuhi kita, apakah artinja perdjandjian persahabatan antara kita dan mereka itu?”
Sampai disini ia berhenti berkata. Nampak kepadanja tamu-tamu itu pandang-memandang.
Kemudian ia berkata lagi: „Saudara-saudara! Kalau kita menunda pekerdjaan, berarti kita sudah menganggap musuh kepada bangsa Belanda, sedang sampai sekarang perdjandjian persahabatan antara kita dan mereka masih berlaku. Inilah peringatanku sebagai kepala kampung jang bertanggung djawab atas sikap saudara-saudara kepada orang Belanda.”
„Menurut pendapat saja djuga, memang tidak perlu kita menunda pekerdjaan,” kata Indalu.
„Mengapa pula kita harus meributkan soal jang baru sangkaan?” kata jang lain.
„Itulah sebabnja aku tadi berkata, bahwa lebih baik kita datang disini,” udjar Ambolo. „Kepala kampung kita lebih dapat kita pertjajai dari pada Kawista.”
Dengan perkataan Ambolo itu, selesailah Imbata menghadapi tamu-tamunja. Mereka terus pulang kerumahnja masing-masing.
Keesokan harinja Imbata melihat pekerdja-pekerdja itu bekerdja sebagaimana biasa; demikian pula pada hari lusanja tidak ada kedjadian apa-apa jang mengganggu ketenteraman pikiran kepala kampung kita itu. ia njenjak tidur, nikmat makan.
Empat hari setelah ia didatangi pekerdja-pekerdja itu, barulah ia menghadapi peristiwa jang memang telah tertjantum dalam kiraannja djuga. Pada hari itu Van Speult datang bertamu dirumahnja dengan rona muka jang tidak gembira dipandang.
„Imbata”, kata orang Belanda itu, ketika baru sadja ia duduk diatas kursi, „aku hendak mendakwakan beberapa pekerdja dalam pembikinan benteng, jang mendjalankan kewadjiban dengan setengah hati. Lima orang diantara mereka hari ini tidak mau melandjutkan bekerdja.”
Segera Imbata mendjawab dengan pertanjaan: „Mereka mengemukakan alasan apa kepada tuan?”
„Alasannja? Ja, jang bukan-bukan.”
Imbata merenung, lantas tegurnja: „Apa sikap mereka itu djadi kesalahan saja, tuan?”
„Salahmu atau bukan, tidak mendjadi soal, Imbata. Tapi djika antara engkau dan aku masih ada perdjandjian persahabatan, tjoba kauichtiarkan orang-orang jang sungguh-sungguh mau bekerdja. Sudah kukatakan padamu, bahwa benteng itu harus selekas mungkin dapat berdiri. Tapi apabila ia dikerdjakan oleh orang-orang jang setengah hati, tiada mungkin ia selesai menurut sebagaimana keinginanku.”
Imbata lama terdiam.
„Dapat kauichtiarkan mentjari gantinja?” tanja Van Speult, memetjah kebekuan suasana antara mereka.
„Alangkah susahnja buat saja, tuan,” djawab Imbata.
„Sudah matikah gerangan penduduk pulau jang lainnja?”
Imbata kelihatan bingung. Perangai kepala kampung dikala itu baru sekali ini nampak dimata Van Speult, suatu perangai jang memberi kesan banjak menimbulkan pertanjaan.
„Sedapat-dapatnja akan saja ichtiarkan, tuan,” kata Imbata setelah lama terdiam. „Tapi djika tidak berhasil, harap tuan tidak mendjadi ketjewa.”
Sebelum Imbata megatakan utjapan-utjapan itu, Van Speult sudah menjimpan pertanjaan dalam hati. Kini ia mendengar perkataan jang menjuruh dia menjimpan lagi pertanjaan. Matanja jang membajangkan pertanjaan-pertanjaan itu, lama ditentangkan kepada mata tuan rumah, dan setelah lama mata tuan rumah jang ditentang itu tidak memberi djawaban jang tegas, iapun lalu berkata, katanja: „Baik, Imbata. Aku mau pulang sadja.”
Sepeninggal tamu, Imbata lama tidak berkisar dari tempat duduk. Ia tertjenung sadja, terus tertjenung, memikirkan bagaimana akal. Hendak ia menjuruh lagi orang-orang untuk bekerdja, teringat ia kepada peringatan Kawista; hendak ia tidak memenuhi permintaan Van Speult, teringat pula ia kepada perdjandjian persahabatan dengan orang Belanda itu. kesudahannja ia turun dari rumah, bertamu dirumah Lambaru.
Sebelum ia memandjat tangga rumah tetangganja itu, terdengar jang punja rumah, laki dan bini asjik bertjakap-tjakap. Sudah barang tentu mereka sedang memperdebatkan suatu soal jang berat, diutarakan oleh bunji suaranja jang keras.
Diam-diam Imbata membuka pintu, masuk kedalam.
„Ah! Kebetulan engkau kemari,” kata tuan rumah. „Mari duduk.”
Imbata duduk; tanjanja: „Ada kedjadian apa, Lambaru? Kedengarannja ribut sekali.”
„Riwoti belum pulang sedjak tadi pagi,” djawab njonja rumah.
„Ah, kusangka ada apa.”
„Begitulah laki-laki,” kata Iwari lagi. „Lambaru djuga sama dengan engkau menganggap soal ini ringan sadja.”
„Sebab nanti djuga ia kembali,” udjar lakinja.
„Ja, kalau sebelum ia pergi, tidak ada kedjadian apa-apa, aku tidak akan chawatir. Tapi ia berangkat setelah mengatakan keinginanja jang tak dapat kupenuhi.”
„Keinginan apa?” Imbata bertanja kering.
„Ia kan ingin dibikinkan pakaian seperti pakaian Clara. Tadi pagi ia menangis menjatakan lagi keinginannja. Dalam pada itu, pernah djuga ia mengatakan, bahwa djika keinginannja itu tidak kupenuhi, ia akan pergi meninggalkan rumah dan tidak akan kembali lagi. Kusangka perkataannja itu untuk menakutkan aku sadja. Tapi ternjata sampai sekarang ia belum pulang.”
„Anakku pernah dua hari lamanja tidak pulang, tapi achirnja pulang djuga,” kata Imbata.
„Anakmu laki-laki, Imbata. Meskipun sebulan tidak pulang tidak apa.”
Imbata tidak berkata lagi. Suasana dalam rumah itu hening seketika. Tuan dan njonja rumah tenggelam dalam pikirannja sendiri.
„Lambaru,” kata Imbata kemudian, „barusan aku didatangi Van Speult. Dia mengatakan, bahwa pekerdja-pekerdja dalam pembikinan benteng banjak jang tidak mau terus bekerdja. Aku tahu sebab-sebabnja, jaitu dihasut oleh Kawista jang mengatakan, bahwa pembikinan benteng itu berarti permusuhan antara bangsa Belanda dan kita.”
„Tentang hasutan Kawista itu, aku djuga sudah mendengar,” kata Lambaru.
„Bagaimana pendapatmu?”
„Tentang apa maksudmu?”
„Tentang sangkaan Kawista, bahwa bangsa Belanda akan memusuhi kita.”
Lama dulu Lambaru merenung sebelum berkata: „Bagaimanapun djuga, sangkaan itu adalah bunga dari kemauan rakjat, Imbata. Apalagi bila sudah terbukti, bahwa beberapa orang telah membenarkan sangkaan itu. kalau sebagian dari rakjat telah mempunjai sangkaan demikian, berarti sebagian dari rakjat mempunjai bahan kemauan jang tidak boleh kaulalaikan.”
„Dari itu! Aku berpendapat, bahwa tiada salah pabila diadakan kumpulan untuk memungut suara mereka. Supaja aku tahu sikap apa jang harus kukemukakan kepada Van Speult. Djangan seperti sekarang ini; kepada Van Speult aku mengatakan bersahabat, tapi sebagian dari rakjat menganggap orang Belanda itu sebagai musuh.”
„Tapi djika kedapatan suara terbanjak menganggap musuh kepada orang-orang Belanda itu, apa jang akan kita lakukan? Akan kauhapuskan perdjandjian persahabatan antara kita dan mereka?”
„Disini sulitnja, Lambaru. Padahal adanja anggapan musuh kepada orang-orang Belanda itu, tidak didasarkan kepada alasan jang njata, baru sangkaan hanja.”
„Nah, kalau engkau ada pikiran begitu, buat apa soal ini diperpandjang. Tak usah kauadakan kumpulan, tak usah kaudengar suara orang jang baru menjangka.”
„Lantas?”
„Lantas, ja…” Lambaru melandjutkan perkataannja dengan merenung.
Imbata berpikir.
Keheningan mereka itu tiba-tiba dipetjah oleh suara njonja rumah: „Bagaimana bapaknja? Apa kita akan tinggal diam sadja? Tidaklah dia akan kautjari?”
„Ja,” kata Imbata sambil berdiri, „lebih baik kauuruskan dulu perkara anakmu, Lambaru. Biar lain kali aku datang lagi.”
„Kau akan pulang sadja?” tanja Lambaru.
„Ja,” djawab Imbata seraja membuka pintu, terus berdjalan keluar. Tapi ia tidak menudju rumahnja sendiri, melainkan terus berdjalan kerumah Gapipo.
Jang punja rumah itu kedapatan asjik menghitung uang diserambi depan. Masih djauh kepadanja, Imbata sudah berkata: „Wahai kini engkau rupanja tiada kesempatan lain ketjuali untuk menghitung kekajaan, ja?”
Gapipo tegak; djawabnja: „Aku kaja? Ah!”
Imbata menghampiri.
„Silakan duduk, Imbata.” Udjar tuan rumah.
„Biar Gapipo, aku tidak akan bertamu lama,” djawab Imbata; dan setelah berhenti sebentar, disambungnja perkataannja: „Bagaimana pikirankau, Gapipo, tiadakah engkau tertarik oleh pekerdjaan membikin benteng?”
„Aku lebih baik berdagang, Imbata, tak mau lepas diperintah orang lain.”
„Tapi barangkali engkau mendengar djuga tentang pembikinan benteng itu?”
„Tentang hal apa?”
„Bahwa pekerjda-pekerdja banjak jang berhenti bekerdja.”
„O, begitu? Sepuluh duit sehari itu memang sedikit, Imbata, djika dibanding dengan keuntungan berdagang.”
„Bukan lantaran pembajarannja, tapi lantaran ada jang mengatakan, bahwa pembikinan benteng itu adalah alamat permusuhan antara bangsa Belanda dan kita.”
„Lho, siapa jang mengatakan demikian?”
„Si Kawista.”
„Wahai, gampang nian ia melahirkan kata-kata itu.”
„Dari itu! Kalau perbuatan si Kawista jang bertudjuan menghasut itu diketahui Va Speult, apa jang mesti kukatakan kepada orang Belanda itu?”
„Mengapa mesti berkata kepada Van Speult? Berkatalah kepada si Kawista, bahwa perbuatannja itu tidak betul.”
„Kawista sudah mesti kuadjak bitjara, Gapipo.”
„Aku baru tahu sekarang, bahwa dia sudah mengadakan tindakan sampai kesana.”
„Ja,” kata Imbata seraja melangkah, „ada-ada sadja jang mesti kuuruskan ini.”
„Kau mau terus kemana, Imbata?”
„Mungkin akan menemui Kawista,” djawabnja, sambil terus berdjalan, meninggalkan tuan rumah. Tapi ia tidak menudju kerumah Kawista, melainkan dibelokkannja langkahnja kearah rumah Ambolo.
Kebetulan Ambolo ada dirumah, baru pulang mandi.
„Kudengar ada lima orang jang tidak mau terus bekerdja dalam pembikinan benteng itu, Ambolo,” kata Imbata, ketika baru sadja matanja bertemu dengan mata tuan rumah.
„Benar,” djawab Ambolo.
„Siapa-siapa mereka itu?”
„Wina, Samboka, Ara, Umbada dan Beto.”
„Samboka sudah tua, turut terpengaruh djuga oleh hasutan si Kawista?”
„Saking pandainja si Kawista menghasut. Mereka jang minta berhenti bekerdja itu terus pergi kerumah Kawista, makan minum disana.”
„Mereka mengemukakan alasan apa kepada Van Speult?”
„Ada jang mengatakan mau berdagang, ada jang mengatakan banjak pekerdjaan dirumah, ada djuga jang mengatakan merasa sakit sekudjur badan.”
„Perbuatan tidak dipikir! Bagaimana djika Van Speult mengetahui sebab-sebab jang sebenarnja.”
„Aku dapat mengira, bahwa Van Speultpun telah mengetahui sebab-sebab jang sebenarnja.”
„Betul?”
„Ia tidak kelihatan diam, Imbata.”
Imbata merenung.
„Bagus,” katanja kemudian. „Biar ia tahu, bahwa disini ia mempunjai musuh.”
Perkataannja itu adalah perkataan terachir dari pertjakapan mereka. Sehabis mengatakan itu, Imbata meninggalkan Ambolo; sekali ini menudju rumahnja sendiri. Tapi ia tidak lama mengindjakkan kakinja dirumah; setelah bertukar pakaian dan menjapu keringat dimukanja, iapun turun lagi; langkahnja tegas menudju rumah Van Speult. Disana, setelah ia duduk berhadapan dengan tuan rumah, ia memulai membuka suara:
„Tuan Van Speult, untuk kita tiada jang baik dari pada sikap terus terang. Demikian pula tentang pekerdja-pekerdja dalam pembikinan benteng itu, tiada jang lebih baik dari pada kita membitjarakannja dengan terus terang. Tapi sebelum saja menguraikan pendapat saja, baiklah djika tuan menguraikan pendapat tuan. Sudah tahukah tuan sebab-sebab jang sebenarnja, mengapa pekerdja-pekerdja minta berhenti?”
Van Speult jang sudah dapat menerka apa jang hendak dibitjarakan Imbata sebelum tamunja itu berkata dan tiada terkedjut oleh kata-kata tamunja itu, segera memberi djawaban: „Sebenarnja, Imbata, terus terang adalah lebih baik dari pada sikapmu kepadaku waktu dirumahmu tadi. Dan djika engkau mengharap, supaja aku mengemukakan pendapatku, Imbata, maka aku berkata, bahwa mulai sekarang aku disini tiada lagi merasa aman seperti diwaktu jang lalu.”
„Djadi tuan sudah tahu, bahwa si Kawista…?”
„Bahwa si Kawista tak menjetudjui orang-orang Belanda ada disini, sudah lama kutahu, Imbata.”
„Sjukurlah, kalau demikian. Saja tambah, tuan, bahwa sikap Kawista itu terlepas dari pertanggungan saja. Antara tuan dan saja sebagai kepala kampung, tetap ada perdjandjian persahabatan.”
„Kalau begitu, djadi ada alasan untuk aku bertanja: apa jang akan kaulakukan dengan musuhku disini itu?”
„Dia bukan musuh, tuan.”
„Bukan musuh, katamu? Apa disebut di Lontor orang jang mengalangi niat orang lain, jang tidak menginginkan melihat aku mendirikan benteng? Tapi baik, Imbata, aku disini tak usah takut, sebab engkau jang mendjadi kepala kampung masih djadi sahabatku, bukan? Walaupun begitu, aku tidak mengerti djika engkau sebagai kepala kampung, tak hendak mengadakan tindakan terhadap orang itu.”
„Tindakan apa, tuan?”
„Jang berupa hukuman atas perbuatannja. Sebab bagaimanapun djuga, orang itu berbuat hendak menentang perdjandjian antara kita, melanggar aturan dalam pergaulan hidup jang telah kita sjahkan bersama.”
Imbata lama berpikir sebelum mendjawab:
„Tuan Van Speult, harap tuan tahu, bahwa saja tidak berkuasa menghukum orang. Mendjatuhkan hukuman, haruslah menurut kemauan rakjat.”
Van Speult mengangguk-nganggukkan kepala; kemudian katanja:
„Djika begitu, Imbata…ja, kita harus menunggu sampai rakjat mau menghukum dia, bukan?”
„Maksud tuan?”
„Maksudku, djika rakjatmu sudah mau menghukum dia, baru aku terlepas dari gangguannja.”
Imbata terdiam.
„Djadi, bagaimana halnja dengan pekerdja-pekerdja untuk mengganti jang berhenti itu?” tanja Van Speult.
„Dalam hal ini, akan lebih baik bila tuan mentjari mereka tidak dengan perantaraan saja, tuan.”
„Aku mengira, bahwa perdjandjiann persahabatan kita belum habis, Imbata.”
„Saja sudah mengatakan, bahwa sebagai kepala kampung, saja tetap bersahabat dengan tuan. Tapi djika saja mentjarikan lagi pekerdja-pekerdja, alamat saja terantjam oleh si Kawista. Harap tuan mengerti akan keterangan saja itu.”
Kini Van Speult jang kegiliran terdiam.
„Baik, Imbata,” katanja kemudian. „Dalam hal ini aku tak akan menjusahkan engkau. Tapi bagaimanapun djuga, benteng itu harus tegak berdiri. Biar sekalipun aku dapat rintangan. Dan kalau rintangan itu tak dapat kaunjahkan, aku sendiri jang akan mengichtiarkannja.”
„Tuan sendiri? Bagaimana?”
„Itu urusanku, Imbata.”
Sekali lagi Imbata terdiam. Ketika dilihatnja tuan rumah berdiri dan mengulurkan tangan mengadjak bersalaman, iapun bangkit mendjabat tangan tuan rumah jang diulurkan itu, lalu pamit mundur. Langkahnja tidak setegas diwaktu datang tadi.
Datang rumah, bininja menawari dia makan. Tapi ia menolak; katanja: „Belum mau.”
„Kau dari pagi belum makan,” kata Wubani.
„Biar dari kemarin, kalau belum mau, masakan harus kumasuk-masukkan kedalam perut! Sudah. Pergilah! Djangan aku kauganggu.”
Wubani pergi, tapi tak lama kemudian ia mendapatkan lagi lakinja; udjarnja: „Ada Lambaru diserambi depan.”
„Katakan, bahwa aku tidak ada,” djawab Imbata.
Dengan keheranan, Wubani pergi lagi untuk mengatakan kepada tamu, bahwa lakinja tidak ada.
Tampera, BP 1949