Publisher Note
Tulisan ini dimuat di Bintang Merah edisi 1–15 Januari 1951.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Dalam harian „Sin Po” tanggal 3 November 1950, tuan Liem Koen Hian menulis di dalam sebuah artikel, bahwa di dalam pertjakapannja dengan dia, tuan Hatta antara lain menjatakan sbb:
„Apa bedanja antara saja dan seorang komunis? Bedanja jalah melainkan halnja saja masih memegang teguh agama dan seorang komunis tidak mau tahu agama. Lain dari dalam hal agama, tidak bedanja antara saja dan seorang komunis”
Djuga tuan Sukarno, di dalam pertjakapannja dengan delegasi pemuda pada achir bulan Oktober jang lalu menjatakan, bahwa sebenarnja ia adalah „Marxis”, bahwa ia „mengakui adanja perdjuangan klas”, tetapi memperingatkan supaja „perdjuangan klas itu djangan diruntjingkan”. Hal ini mengingatkan kita kepada buku „standard” tuan Sukarno, jaitu „Sarinah”, di mana di dalam bab VI dengan pandjang lebar dan dengan style jang agitatoris ia menjalahkan usaha meruntjing2kan perdjuangan klas di dalam revolusi nasional. Terus pula kita teringat akan pertemuan jang pertama kali antara tuan Sukarno dan kawan Musso pada bulan Agustus 1948, ketika kawan Musso baru datang dari luar negeri. Dalam pertemuan itu tuan Sukarno menjatakan, bahwa ia adalah tetap murid Marx, Tjokroaminoto, dan Musso.
Utjapan2 dan hal2 di atas ini sedikit banjak menimbulkan pertanjaan pada mereka jang belum mengerti hakekat Marxisme, hakekat Komunisme. Bahwa golongan anti-Marxis seperti golongan sosial-demokrat Sjahrir dan golongan trotskiis Tan Malaka selalu menamakan dirinja „Marxis”, bukanlah barang jang baru. Tetapi sekarang ini djuga tuan Sukarno dan tuan Hatta – ja, djuga tuan Hatta! – menamakan dirinja „Marxis” atau „tidak berbeda dengan orang komunis”.
Benarkan begitu? Dan mungkinkah begitu?
Marilah kita kupas.
Tuan Hatta menerangkan, bahwa kalaupun ada perbedaan antara dia dan orang komunis, perbedaan itu adalah dalam hal agama. Baiklah kita turuti omongan ini. Djadi, seandainja jang diomongkan ini benar, maka di lapangan jang lain, jaitu sekurang2nja di lapangan ekonomi dan politik, tuan Hatta adalah sama dengan orang komunis. Tetapi, sudah di dalam pertjakapan dengan tuan Liem Koen Hian itu djuga tuan Hatta menerangkan, bahwa ia akan „melakukan pembangunan ekonomi Indonesia setjara sosialis”, tetapi tidak setudju dengan nasionalisasi pada saat sekarang. Terutama nasionalisasi terhadap perkebunan2 ia terang2 menolak.
Di manakah persamaannja sikap tuan Hatta ini dengan pendirian „Marxis”? Peladjar2 Marxis jang paling baru sekalipun mengerti, bahwa tidak mungkin ada tindakan jang sungguh2 ke djurusan ekonomi apabila tidak dilakukan nasionalisasi dari semua bank, pabrik, tambang, dan perkebunan milik imperialis. Djustru nasionalisasi-lah jang pertama2 dilakukan Lenin sesudah Revolusi Oktober 1917, djuga jang dilakukan oleh kawan2 Gottwald di Tjekoslowakia, Dimitrov di Bulgaria, Mao Tse-tung di Tiongkok dan kawan2 lain di negeri2 demokrasi-Rakjat lainnja, serta djuga oleh kawan Thorez di Perantjis, ketika Partai Komunis di sana turut duduk di dalam pemerintahan. Di mana letak persamaan antara tuan Hatta dengan pemimpin2 Komunis jang mendjalankan adjaran Marxis ini?
Di lapangan politik dan militer, tuan Hatta telah memelopori penerimaan perdjandjian KMB, dan dengan demikian telah mendjadikan Indonesia embel2 dari pemerintah imperialis Drees via Uni Indonesia-Nederland, serta memberikan beberapa pelabuhan Indonesia kepada imperialis Belanda-Amerika buat didjadikan pangkalan perang. Sebaliknja, kawan Ho Chi Minh di Vietnam maupun kawan Kim Il Sung di Korea, dan kawan2 komnunis di semua negeri2 koloni dan semi-koloni, memimpin perlawanan jang sengit terhadap imperialisme, dengan menjedari, bahwa perlawanannja itu mungkin, karena ada Soviet Uni, benteng proletariat jang perkasa itu, dan oleh sebab itu tidak bisa mendasarkan perdjuangannja kepada azas jang lain ketjuali azas persahabatan jang se-erat2-nja dengan Soviet Uni.
Demikianlah, setiap orang jang mempunjai pengertian politik sedikit sadja sudah bisa mengerti, tidak perlunja analise jang lebih dalam, untuk membuktikan, bahwa bertentangan dengan pernjataan tuan Hatta, tidak ada persamaan sedikitpun antara tuan Hatta dan orang komunis. Setjara pendeknja, tuan Hatta mewakili nasionalisme burdjuis, anti-patriotisme, perampokan imperialis, peperangan dan neo-fasisme Amerika, terhadap orang2 dan Partai2 Komunis jang memperdjuangkan dan mewakili internasionalisme proletar, patriotisme, kemerdekaan nasional, perdamaian dunia dan sosialisme Soviet Uni.
Bagaimana dengan „teori” tuan Sukarno?
Seandainja tuan Sukarno memang mempunjai maksud jang djudjur, dan seandainja utjapan serta tulisannja itu masih mempunjai elemen anti-imperialis, maka pernjataannja „djangan meruntjing2kan perdjuangan klas di dalam revolusi nasional” membuktikan formulasi jang sangat tjeroboh serta membuktikan tidak adanja pengertian jang benar dan terang mengenai perdjuangan klas. Tuan Sukarno tidak mengerti, bahwa di dalam perkembangan sedjarah, perdjuangan klas itu tidak mungkin berkurang runtjingnja, bahwa ia setiap kali hanja semakin sederhana dan semakin tadjam, dan bahwa revolusi nasional itu sendiri adalah suatu bentuk tertentu daripada perdjuangan klas.
Djangankan revolusi nasional – batja: revolusi demokrasi burdjuis dalam kategori baru – sedangkan diktatur proletariat sendiri tidak berarti habisnja atau berkurang runtjingnja perdjuangan klas, melainkan sebaliknja, mendjadi bertambah sederhana dan bertambah tadjamnja perdjuangan klas itu.
Lenin menerangkan tentang ini sbb: „Diktatur proletariat adalah perdjuangan jang sengit, perdjuangan jang berdarah ataupun tidak, jang bersifat kekerasan dan damai, bersifat militer dan ekonomi, mendidik dan memaksa, melawan kekuatan2 dan tradisi daripada masjarakat jang lama” (Komunisme Sajap Kiri). Bertentangan dengan pengertian Marxis tentang perdjuangan klas ini, tuan Sukarno bertindak sebagai „djuru pendamai” perdjuangan klas, jaitu berusaha buat menahan2 perdjuangan klas.
Kupasan di atas ini didasarkan atas anggapan, seandainja tuan Sukarno memang ada maksud jang djudjur untuk melaksanakan Marxisme. Tetapi, tindakan2 tuan Sukarno, baik pidatonja jang mengumumkan perang saudara pada tgl. 19 September 1948 maupun sikapnja memerintahkan cease fire dan penerimaan perdjandjian KMB membuktikan, bahwa „teori”-nja bukan keluar dari maksud jang djudjur, bahwa ia hanjalah demagogi belaka untuk menipu rakjat – atau dengan kalimat jang lebih halus: untuk membawa rakjat-pekerdja mengikuti djedjak burdjuasi nasional jang menjerahkan tanah-air kepada imperialisme.
Djuga terhadap „teori” tuan Sukarno ini tidak diperlukan analise jang lebih dalam untuk mengetahui karakter jang sesungguhnja, sebab „teori” itu sendiri ternjata sudah membuktikan, bahwa tuan Sukarno bukan murid Marx ataupun murid Musso.
*
Bahwa musuh2 Marxisme menamakan dirinja „Marxis” untuk menutupi pengchianatannja kepada rakjat, sungguh bukan hal baru. Kita sudah lama mengenal orang2 Marxis sematjam itu: Kautski dan Bernstein, Scheidemann dan Henderson, Rankovitsj dan Tito, Sjahrir dan Tan Malaka. Kita ingat, bahwa di dalam sidang umum PBB tahun jang lalu, tuan Warren Austin, wakil Amerika Serikat, berusaha mendudukkan Vishinsky dengan memakai dalil Marxis, tetapi – kasihan! – usahanja itu ternjata tidak lebih daripada lelutjon jang ke-kanak2an. Kita djuga ingat, bahwa tuan Attlee dan Leon Blum – seperti halnja tuan Sukarno – mengakui adanja perdjuangan klas, tetapi bertentangan dengan keharusan Marxis, tidak meluaskan pengakuannja atas perdjuangan klas itu mendjadi pengakuan atas diktatur proletariat, sehingga tidak bisa lain daripada djatuh ke dalam pendirian dan sikap burdjuis. Klas buruh tidak pernah dan tidak akan lupa, bahwa djuga Hitler dan Himmler menamakan dirinja sosialis, malahan djuga menamakan partai fasisnja sebagai partai sosialis (nasional-sosialis).
Dan orang lain manakah, ketjuali Lenin, murid Marx jang zenial itu, jang dapat sudah membajangkan keadaan ini? Dalam artikelnja di „Pravda” tgl. 14 Maret 1913, Lenin menulis:
„Dialektik daripada sedjarah mengharuskan, bahwa kemenangan2 teoritis daripada Marxisme memaksa musuh2nja untuk menjelubungi dirinja sebagai Marxis”.
Tuan Hatta dan Sukarno, seperti dibajangkan Lenin, djuga sudah menjelubungi dirinja sebagai „Marxis”, sebab kalau tidak demikian mereka itu tidak akan „laku” di kalangan rakjat.
Biarlah semua Franco dan Chiang Kaishek, Menzies dan Bao Dai, Churcill dan Quirinom Truman dan Syngman Rhee menamakan dirinja sebagai „Marxis”, tetapi sedjarah akan berdjalan terus: semua di djalan menudju ke Komunisme!
„Perdjuangan melawan imperialisme adalah sembojan-kosong belaka, apabila tidak disertai perdjuangan melawan oportunisme,” (Lenin).