Baca EPUB: Paris

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
MANENDRA SARAPIL
Paris
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Manendra Sarapil lahir pada tahun 1920 di pinggiran kepulauan Indonesia, tepatnya di Enemawira, kepulauan Sangihe-Talaud, perbatasan Indonesia dan Filipina. Pengalaman hidupnya menempatkannya sebagai orang yang kerap bertualang melanglang buana. Karirnya dimulai di militer (BKR, TKR, TRI, dan TNI), hingga mencapai pangkat Letnan Dua. Lalu dia merantau untuk menempuh pendidikan dalam jurnalistik dan pembangunan di Strasbourg dan Paris.

Selain belajar di Eropa, Manendra Sarapil juga aktif di dalam organisasi kemahasiswaan sebagai anggota Persatuan Pelajar Indonesia Se-Eropa. Di situ, dia langsung berhadapan dengan perpecahan ideologis yang tengah menghangat di kalangan Indonesia antara “kiri” dan “kanan”. Dia kemudian bekerja sebagai wartawan “free-lance” pada Radio Nederland-Hilversum dan pada radio nasional ORTF Prancis, sebelum “melayani”—meminjam katanya—berbagai perwakilan Indonesia di Brussel, Lisbon, Paris, Aljir, Tunis, dan Marseille. Dia juga pernah bekerja selama beberapa tahun di Pusat Penerangan Hankam.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Ketika pada tahun 1954 saya tiba di Paris, saya tidak mengira, bahwa kota ini akan banyak menentukan jalan hidup saya, bahkan cara berpikir dan tingkah laku saya. Padahal saya sama sekali tidak memilih datang ke kota ini. Pada awal 1954 saya masih berada di Lisboa, ketika Dubes RI di Paris waktu itu, Anak Agung Gde Agung, memanggil saya untuk bekerja di bagian Tata Usaha. Tawarannya saya terima. Bahwa kemudian saya terpesona oleh kota besar ini dan akhirnya ingin tinggal lebih lama di situ adalah soal lain.

Perkenalan pertama dengan suasana Paris adalah pertemuan dengan pelukis Salim, salah seorang Indonesia yang telah lama bermukim di sana. Dia kebetulan bekerja juga di kedutaan. Ketika saya bertanya kepada dia: “Anda baik-baik saja?” Beliau langsung menyentak: “Sejak kapan anda turut campur kehidupan saya?”

Ketika saya meninggalkan ibu kota Prancis pada tahun 1990, saya sudah insaf benar akan arti sentakan tersebut, yaitu bahwa “kehidupan pribadi seseorang adalah keramat di dunia Barat ini”.

Jadi, saya mulai bekerja di bagian Tata Usaha KBRI. Setelah beberapa waktu, saya diundang makan oleh keluarga Akbar Djoehana. Aki (nama akrabnya) sedang belajar bahasa Cina dan konon juga menguasai bahasa Latin dan Yunani. Sambil duduk menunggu hidangan makan, saya diputarkan lagu klasik Barat, yang melodinya memang sesuai dengan selera saya. Secara iseng-iseng saya bertanya: “Itu gubahan siapa?” Terdengarlah jawaban lakonik: “Itu ’kan Mozart!” Pada saat itu saya benar-benar merasa diri sangat bodoh. Kok begitu saja masih tanya-tanya!!

Memanglah, untuk dapat bergerak bebas di dalam acara-acara sosial dan resepsi-resepsi di kota Paris ini, orang harus pernah menyaksikan karya-karya teater terkenal dan pernah mendengar konser-konser. Harus tahu tulisan-tulisan Camus, Maurois, Gide, Stendhal, Céline, atau Marcuse. Harus pernah melihat patung-patung Rodin dan mengenal J.S. Bach. Seakan-akan orang tak pernah habis menimbun pengetahuan. Seorang penulis yang sudah lama meninggal dunia bisa terus-menerus diminati dan karyanya tetap menjadi barang jualan massal. Saya sendiri melihat jumlah buku-buku saya terus bertambah!

Meskipun orang Indonesia, Salim adalah bagian dari dunia Paris ini. Beliau mempunyai reputasi sebagai orang yang berpengetahuan sangat luas, dan saya mendekatinya sebagai seorang yang ingin “belajar”. Namun, ketika saya menanyakan pengalaman melukis wanita-wanita cantik, tak ragu-ragu ia “nyemprot” saya: “Anda tidak serius”, katanya. Kok, pikirannya pada wanita, meskipun yang diomongkan seni! Dan dilanjutkan dengan semacam kuliah tentang aliran-aliran seni lukis dunia. Mulai dari zaman Pertengahan, ketika lukisan-lukisan bertema religius; melalui Rembrandt dan para Impresionis; dan sampai ke Picasso, yang nampaknya tidak lepas dari pengaruh kesenian primitif. Dan karena semua ini belum genap, ia membawa saya ke museum-museum tersohor seperti Louvre atau Orangerie. Setiap detail, yang lazimnya tidak diminati khalayak ramai, diperlihatkan pada saya.

Di rumah Pak Salim, dipasangnya motto MAI MORIREM (kita tidak akan pernah mati). Memang seorang seniman akan terus hidup di dalam karya-karya seninya. Anehnya, ketika berbicara tentang agama, Salim selalu mengatakan, bahwa ia adalah seorang atheis. Mungkin hal itu adalah ucapan belaka: karya-karyanya ternyata banyak memperlihatkan katedral dan pohon tinggi-tinggi yang menuju ke “atas”. Saya juga jarang berbicara tentang Pancasila dengan dia, karena saya tahu bahwa ia membenci kata-kata mulia yang dalam prakteknya sering menimbulkan “ketakperikemanusiaan” itu, dan malahan tak jarang mengarah ke “pembantaian sesama manusia”.

Orang Indonsia yang menarik lainnya adalah Emir Suryasumirat (alm.), yang bertugas di UNESCO. Emir nampak sebagai seorang diplomat ulung. Dia selalu kelihatan membawa majalah bacaan kaum intelektual kiri, yaitu Nouvel Observateur. Mendengarnya berbicara tentang, katakan, sengketa Arab-Israel adalah laksana mengikuti kuliah Science-Po (Lembaga Ilmu Politik) di Paris. Tetapi Emir juga meleburkan diri dalam dunia bisnis. Kabarnya, ia berdagang senjata. Tank AMX Prancis konon berhasil dijualnya pada Indonesia. Tiba-tiba ia menjadi kaya dan dapat membeli rumah di Marlyle Roi!!!

Salah satu kesukaan Emir adalah mengantar tamu-tamunya ke Quartier Latin, dan rupanya apartemen saya di nomor 1, Carrefour de l’Odéon dianggapnya sebagai obyek wisata: tempat tinggal seorang pelajar Indonesia yang hidup pas-pasan. Pada suatu hari ia membawa seorang Brigjen yang turut dalam rombongan Jendral Nasution. Kebetulan pada waktu itu saya tidak ada di rumah dan ia membawa tamunya bersantai ke Café La Rhumerie di Boulevard Saint-Germain. Pada hari berikutnya Emir datang lagi dan mengajak saya ke Hotel Crillon untuk memperkenalkan saya kepada Brigjen itu. Sampai ke kamarnya, tahu-tahu sang Brigjen masih berpakaian dalam. Seorang jendral yang berpakaian dalam, tanpa bintang-bintang di dadanya, kelihatan sangat simpatik, kan? Malah dia minta maaf. Yaah, siapa bisa menduga, Brigjen tersebut beberapa tahun kemudian akan menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia?

Sebagai Ketua Persatuan Pelajar se Eropa, salah satu tugas saya adalah menerima tamu—pelajar-pelajar dari Eropa Timur. Menjelang Kongres PPI se-Eropa, saya pernah kedatangan Saudari Kusumastuti dari Pimpinan PPI-Bulgaria. Saya dan istri saya menjamunya dengan baik. Seperti halnya semua pelajar lainnya, kami menyuguhkan makanan kami yang serba sederhana itu. Sebagai tamu kami menghormati dia. Tapi, jangan bertanya bagaimana sikapnya pada waktu Kongres? Setiap kali saya angkat suara, setiap kali pula PPI-Bulgaria angkat tangan dan membantah, menentang dengan tegas setiap ucapan saya. Dan juru bicaranya justrulah… Sdri Kusumastuti sendiri. Rupanya delegasi-delegasi dari Eropa Timur sudah membagi-bagikan tugas: siapa harus menentang siapa. Melawan PPI-Prancis rupanya adalah tugas Bulgaria. Secara jujur, mereka memang bekerja secara sistematis dan menang. Sesudah Paris (Royaumont), PPI se-Eropa membelok ke Praha untuk kemudian berkiblat ke Moskwa.

Mei 1968

Pada waktu kami tinggal di Carrefour de l’Odéon, kami sempat menyaksikan langsung “Les événements de mai”, yaitu unjuk rasa massal muda-mudi Paris sepanjang bulan Mei 1968. Suatu peristiwa yang kini sudah masuk sejarah.

Para demonstran tidak hanya berteriak-teriak, tetapi juga menggulingkan bis kota yang besar, dan hal itu mereka lakukan di persimpangan Carrefour de l’Odéon dan Boulevard Saint-Germain, tepat di bawah apartemen kami. Di sana-sini terdengar pecahnya kaca-kaca toko dan terlihat orang lari-lari sambil meneriak-neriakkan slogan. Dan kami dapat menonton semua itu dari balkon kita, di “loge” pertama, seperti lazim dikatakan di dalam dunia teater!

Berapa jumlah mereka? Wallahu a’lam, ribuan barangkali atau bahkan puluhan ribu. Apalagi Mei ’68 itu tidak terbatas pada kericuhan pelajar/mahasiswa belaka, tapi juga diikuti oleh kaum buruh, baik yang berhaluan kiri maupun kanan. Dan lumpuhlah Prancis karena pemogokan umum.

Pada tanggal 13 Mei, penggerak utama mahasiswa-mahasiswa itu, Daniel Cohn-Bendit, mengepalai barisan-barisan pengunjuk rasa bersama Alain Geismar, Sekjen Snesup (Perserikatan Pengajar Pendidikan Tinggi) dan Jacques Sauvageot, Ketua UNEF (Persatuan Nasional Mahasiswa Prancis) di sepanjang Boulevard Saint-Germain. Tadinya tidak ada orang yang mengenal nama-nama mereka, tetapi sekarang mereka menantang kekuasaan pemerintah De Gaulle dan berhasil menggoncangkannya. Mereka muncul di layar TV dan siaran-siaran radio. Beberapa surat kabar menaruh simpati pada mereka. Seluruh Prancis menjadi sinting.

Tapi apakah sebetulnya yang terjadi pada bulan Mei ’68 itu? Seluruh Prancis seakan-akan serentak terkejut. Tetapi jejaknya masih berbekas di dalam jiwa orang dan di dalam pikiran masa kini. Ada sementara pihak yang membaca peristiwa itu sebagai salah satu gejala dari krisis psikologis kolektif, yang memang terasa di mana-mana pada akhir tahun 60-an itu: di Amerika Serikat, Skandinavia, Belanda, dan Jerman. Namun yang paling “lain” di antara “lain” adalah di Prancis, tepatnya di Paris.

Perkembangan anarki memang seakan-akan tak dapat dikekang lagi pada zaman itu. Sikap spontan merajalela, seperti terlihat pada lukisan-lukisan atau terdengar pada irama musik. Dan puncaknya adalah Mei ’68. Semua orang berkhayal tentang daya kreasi masing-masing. Kaidah-kaidah budaya yang berlaku digoncangkan. Nilai-nilai sejarah yang selama ini dipupuk oleh lembaga-lembaga pemerintahan dipertanyakan. Bahwa lembaga-lembaga itu berfungsi untuk melindungi warisan nasional demi kepentingan umum tidak dihiraukan.

Dan semua itu muncul tanpa teori yang muluk-muluk. Kebudayaan yang langsung diambil alih begitu saja oleh kaum muda. Dilancarkannya semboyan: “kreativitas di atas segalanya”. Setiap manusia adalah seorang seniman, katanya. Setiap manusia sanggup menciptakan apa saja. Tidak dipertanyakan bagaimana mengevaluasinya. Yang penting adalah “kebebasan”.

Yang tampaknya tersirat di dalam tuntutan akan “kebebasan” ini adalah kebutuhan untuk “berkomunikasi”, menyelami jiwa orang lain bahkan juga jiwa diri sendiri. Dan kebutuhan itu diberi tanda nyata. Pada suatu unjuk rasa, kami menyaksikan seorang wanita muda digendong di atas pundak seorang pemuda. Sang puteri membungkuk. Mulutnya mencari mulut lawannya dan kedua insan itu berciuman: mereka memperlihatkan bahwa mereka itu sama, bersama, berpartisipasi, saling memberi, saling menyerah. Biar dunia tahu bahwa dalam pergaulan sosial mereka masih terdapat keikhlasan, masih ada “l’amour” (cinta).

Dalam konteks unjuk rasa berhaluan lain yang diadakan sebulan kemudian di Champs-Elysées, sempat kami saksikan juga seorang wanita muda—aduh cantiknya!—didukung seorang pemuda, membawa bendera Prancis dan berseru: “Vive de Gaulle”.

Perasaan kedua pasangan yang berbeda haluan itu sesungguhnya adalah sama: mereka mengungkapkan kepekaan dan imajinasi kaum muda. Mereka menentang bentuk masyarakat di mana segala-galanya diserahkan kepada para “bapak”, kepada para “pakar”.

Maka ide-ide bulan Mei ’68 di Paris itu meluas ke seluruh Prancis, walau hanya berlangsung selama bulan Mei itu juga. Pada bulan-bulan berikutnya para muda-mudi kembali ke rel-rel budaya yang layak, dan keadaan dipulihkan kembali oleh “mereka” yang bermaksud “baik”. Dan kini budaya Mei ’68 telah menjadi bagian dari wacana politik yang berlaku. Kebutuhan vital masyarakat akan “komunikasi” diakui. Pada semua warga diberikan kesempatan untuk menyatakan aspirasi sosialnya, yaitu untuk dapat memproyeksikan otonominya sebagai anggota masyarakat.

Mungkin saja slogan-slogan Mei 1968 itu nampak kurang realistis, tetapi gerakan itu akhirnya diakui juga oleh pemikir-pemikir yang serius. Para muda-mudi telah menantang, berkelakar, dan bahkan ada kalanya bersikap ganas, namun masalah-masalah yang diangkat mereka penting: persamaan hak antara wanita dan pria, arti kebebasan seksual, hak hidup kaum homoseksual, dst… dst-nya.

Bulan Mei 1968 di Paris adalah suatu revolusi tanpa penumpahan darah. Suatu revolusi kesusilaan yang diwarnai oleh aspirasi gila-gilaan, yang membawakan perubahan kesadaran bersama.

Kata wasiat pada waktu itu adalah: KONTESTASI, yaitu segala yang bisa menghantam kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran-pemikiran yang sudah “berkarat”.

Dan semua ini di kurun waktu bulan Mei ’68, di daerah Quartier Latin, diamati dari balkon kami di Carrefour de l’Odéon, Paris.

Lebih dari Seperempat Abad Kemudian

1. Mauze, 23 Juni 1994, setelah kembali ke Prancis

Tahukah anda di mana letaknya desa Mauze itu? Anda dapat menemukannya di peta Prancis pada departemen “Lek Deux Sèvres”. Letaknya tidak jauh dari kota La Rochelle, di tepi laut, yang dapat ditempuh dengan kereta api dalam waktu 4 jam dari Paris. Nah, di desa kecil ini, barangkali sebesar Kota Gede dekat Yogyakarta, secara iseng-iseng saya masuk kios surat-surat kabar. Dan… astaga… berita dari Tanah Air ternyata tembus juga ke pelosok ini. Berita tersebut disiarkan dua kantor berita dunia, yaitu AFP dan Reuter. Berita ini sangat mengejutkan. Dikabarkan, bahwa Pemerintah RI telah membredel tiga majalah terkenal, yaitu Tempo, Editor, dan Detik.

Dinyatakan selanjutnya, bahwa dengan pembredelan ini Pemerintah Indonesia telah menghentikan politik keterbukaannya. Majalah-majalah tersebut, kata seorang pakar yang diwawancarai, tidak disukai pihak penguasa, karena keterus-terangannya yang dianggap menguntungkan pihak-pihak yang menentang kelompok Soeharto.

Lebih lanjut, pada tanggal 8 Juli, surat kabar Le Monde memuat suatu artikel tentang peristiwa yang sama. Dikatakan, bahwa pers Indonesia yang kini dibungkam itu mulai ngambek. Dikutipnya ucapan Pemimpin Redaksi majalah Detik, Eros Djarot: “Kita telah kalah di dalam suatu pertempuran, tapi belum dalam peperangan!” Dijelaskannya, bahwa rakyat Indonesia kini memerlukan “keterbukaan”. Menurut Eros Djarot, demokrasi adalah satu-satunya jalan untuk Indonesia menuju abad ke-XXI. Jadi, adalah mutlak untuk penyusunan hari depan Indonesia.

2. Paris, 16 Agustus 1994

Kutipan dari Pidato Presiden RI di depan Sidang DPR yang seharusnya disiarkan setiap Perwakilan RI di L.N.

«“Pembaharuan memerlukan suasana terbuka. Dari tahun ke tahun suasana”keterbukaan” makin terasa. Gagasan-gagasan dan nilai-nilai baru yang segar telah bermunculan di antara kita dan telah kita bahas secara “terbuka” dan mendalam, sehingga yang baik dapat tumbuh menjadi bagian dari budaya politik bangsa. Namun, yang tidak sesuai dengan jati diri dan hakikat kebangsaan harus dengan tegas kita tolak, kita jauhi. “Keterbukaan”, yang kita perlukan adalah “keterbukaan yang bertanggung jawab”.»

Sekali lagi, astaga… ide-ide kita mengenai “keterbukaan” sudah tembus ke sana! Dan Eros Djarot, yang menurut ingatan kami masih main-main gitar di alam damai pada malam perayaan perkawinannya, kini namanya sudah masuk ke kantor Perdana Menteri Prancis sebagai pembawa ucapan tersohor dari De Gaulle: “Nous avons perdu une bataille, mais pas la guerre” (kita telah kalah di dalam satu pertempuran tetapi belum di dalam perang)—suatu ucapan dari De Gaulle ketika dia mengambil keputusan meneruskan peperangan melawan Jerman, setelah Prancis diduduki tentara Hitler.