Publisher Note
Putra Tapanuli kelahiran Harianbobo pada tanggal 2 Oktober 1924 ini, adalah sosok penyair terkemuka dari Angkatan 45. Berpendidikan "Belanda" Mulo dan AMS, dia memulai karirnya sebagai redaktur harian Suara Nasional di Tarutung (1945-1946), Waspada (Medan 1947), Berita Nasional, dan Warta Dunia. Sebagai penyair beraliran "kiri" yang amat produktif, reputasi menanjak dengan pesat di bawah Orde Lama, dan dia diangkat sebagai anggota Dewan Nasional, anggota Dewan Perancang Nasional, dan anggota Majelis Permusyawaran Rakyat Sementara. Puluhan karya sastra dihasilkannya pada waktu itu. Pada awal Orde Baru, dia dikategorikan sebagai figur intelektual yang berbahaya dan dijebloskan ke dalam tahanan antara tahun 1967 dan 1974.
Dia kemudian lebih menonjol sebagai wakil hidup dari Angkatan 45 daripada sebagai penyair produktif. Dia kini bermukim di luar negeri, tepatnya di Paris, menemani istrinya yang menjabat sebagai pegawai Deparlu Belanda.
Produktivitas dan mutu karya Sitor Situmorang mendapat pengakuan resmi berupa Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955/56 untuk kumpulan cerpennya: Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/1977 untuk kumpulan sajaknya: Peta Perjalanan (1977). Karya-karya lainnya berupa terjemahan.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sous le pont Mirabeau coule la Seine
("Di bawah Jembatan Mirabeau mengalir Sungai Seine"; kalimat pembuka sajak "Le pont Mirabeau" oleh G. Apollinaire).
Di tahun 1951, ketika saya sudah berada di Amsterdam sejak tahun sebelumnya atas undangan Sticusa (Yayasan kerja sama kebudayaan Belanda), di antara sekian banyak seniman, pengarang, dan wartawan muda Indonesia di masa itu yang diberi beasiswa untuk kesempatan "berkenalan dan menyelami kehidupan intelektual dan kebudayaan Barat, khususnya Belanda", saya memutuskan untuk pindah ke Paris.
Sejak semula saya memprogramkan dalam hati untuk mengusahakan kemungkinan "bermukim beberapa lama di kota Paris", ketika menerima tawaran beasiswa Belanda itu di Jakarta. Masa setahun berdiam di Amsterdam memperkuat tekad untuk secepatnya pindah ke Paris, lain tidak oleh karena saya yakin bahwa Parislah tempatnya untuk mengenal "kebudayaan dan kesenian Eropa", yakni Eropa sebagaimana saya bayangkan, sebagai hasil pengaruh pendidikan kolonial.
Saya tergolong angkatan terakhir tamatan sekolah menengah kolonial Belanda (persiapan untuk perguruan tinggi) pada saat meletusnya Perang Dunia II, yang berakhir dengan yang sekarang disebut-sebut dekolonisasi, baik penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang, sesudah tahun 1945.
Pengaruh pendidikan tersebut jelas memperkuat kecenderungan berorientasi ke Barat dalam hal budaya, seni, dan sastra, dipupuk lewat buku-buku berbahasa asing yang tersedia di masa itu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Di tahun 1930-1940-an, memang cakrawala pemikiran di bangku sekolah dikuasai oleh anggapan superioritas peradaban Barat dan budaya modernnya, tetapi cita-cita nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia sudah bertumbuh juga sebagai anti-thèsé... untuk kelak mencapai sintese baru di alam kemerdekaan yang diharapkan dan diperjuangkan.
Pemikiran budaya, seni, dan sastra di kalangan nasionalis bercita-cita modernisasi, mencapai karya baru di bidang seni rupa, puisi, dan sastra. Dalam gagasan itu bertumbuh kecambah modernisme dalam estetika.
Kecenderungan berorientasi ke karya sastra dan seni Barat, tanpa disadari benar, pada hakekatnya berarti berorientasi kepada model-model karya empu (klasik) yang dirintis oleh seniman, pengarang, dan penyair (dramawan), komponis-komponis yang tampil terutama sepanjang abad ke-19 dan belakangan tercatat sebagai pelopor karya modern di segala bidang seni dan sastra modern Eropa. Sampai di masa menjelang meletusnya Perang Dunia II (1939), yang juga dikenal sebagai masa "antara dua peperangan" (Perang Dunia I dan II, 1914-1918 dan 1939-1945), di antara kota besar Eropa, kota Paris diakui sebagai "ibu kota kebudayaan Barat," tempat orientasi budayawan, seniman, dan sastrawan Barat sendiri sampai di bagian pertama abad ke-20.
Di zaman "post-modern", catatan di atas adalah semacam pandangan kilas balik tentang situasi budaya dan seni Barat seratus tahun yang lalu, dan masih berpengaruh terus sebagai model yang melahirkan tolok ukur di bidang seni dan sastra modern yang terus berkembang.
Ketika saya di tahun 1951 "pindah" dari Amsterdam ke Paris, untuk mengenal "budaya dan seni Barat" lebih baik, perkembangan Barat sendiri sudah melahirkan pusat-pusat baru (misalnya New York), saya pun di masa itu sadar akan "perubahan cuaca" dan sadar bahwa keputusan saya untuk "bermukim di Paris" juga mengandung arti kesempatan melakukan "kilas balik".
Di berbagai bidang kehidupan negara-negara baru, yang sekarang lebih dikenal sebagai "dunia ketiga", dengan permasalahan-permasalahan post-kolonialnya masing-masing, abad ke-19 sejarah Eropa sebagai pelanjut "abad Pencerahan" yaitu abad-18-nya, "abad ke-19" yang merupakan periode "ekspansi Barat" (berbentuk imperialisme-kolonialisme), sampai sekarang masih berpengaruh di bidang budaya, sekalipun dunia telah memasuki era "posmo", walaupun telah mengalami pencairan berbagai posisi intelektual dan ideologis (politik) "warisan abad ke-19" (kapitalisme-antikapitalisme, Marxisme-anti-Marxisme, dan sebagainya, termasuk nasionalisme) dalam "era globalisasi".
Masa saya bermukim di Paris pada tahun 1951-1952, saya berusia 27 tahun, dan sebagai wartawan yang berminat pada bidang budaya, perhatian saya terpusat pada program "kilas balik" lewat pengamatan langsung di dunia seni di kota Paris masa pascaperang yang bercirikan apa yang disebut "gaya hidup existensialis", sebagai produk sampingan dari pengaruh filsuf Jean-Paul Sartre, kepada generasi baru yang berdatangan dari mancanegara untuk "cemplung" di suasana Paris sebagai ritual "pendewasaan" gaya baru (Barat?).
Usaha saya seperti pucuk diidam ulam tiba. Mei 1952, sebuah komite internasional Eropa menyelenggarakan pergelaran dan pameran besar-besaran yang terpusat di Paris, bernama "L’Oeuvre du 20ème siècle" (Karya Utama Abad ke-20). Pergelaran dan pamerannya meliputi seluruh bidang kesenian: musik, teater, opera, ballet, sastra, seni rupa, seni lukis, berbentuk karya-karya utama yang dipilih dan didatangkan dari seluruh "dunia Barat" dalam arti kebudayaan.
Bermodal sekedar pengetahuan terbatas tentang karya-karya utama kesenian Barat, yang sebelumnya hanya saya ketahui dari bacaan atau lewat reproduksi, saya memanfaatkan kesempatan mengikuti dan melihat tradisi Barat, selama bulan-bulan "pameran abad ke-20" di tahun 1952 itu di Paris, kesempatan "menghayati" seni mdoern Barat sebagai model (modal?) "mencapai modernisasi seni dan sastra".
Apa yang di-"gelar"-kan di "pameran abad ke-20" di Paris tahun 1952 itu mewakili yang terbaik yang dimiliki di Barat sampai saat itu, meliputi karya-karya besar yang diciptakan di bagian pertama abad ke-20 untuk "mengingatkan" diri sendiri (Barat) akan nilai-nilai budayanya lewat kesaksian karya-karya utama para empu modern Eropa, apakah itu Picasso (seni rupa), atau sastrawan besar Amerika (Faulkner, pemenang hadiah Nobel tahun 1949, yang pada kesempatan itu mengutarakan pendapatnya tentang arti peradaban Barat).
Di saat-saat itu saya merasa seakan-akan semua itu digelarkan demi memenuhi kebutuhan saya pribadi memuaskan kehausan saya "minum langsung dari sumbernya" (kesenian modern).
Paris saya hayati sebagai bagian dari proses pematangan lebih jauh dari pandangan sebagai pemicu ambisi sastra yang semakin "mendesak". Paris kemudian bagiku terkait dengan citra puitik seperti yang bergaung dalam kalimat sajak Apollinaire yang saya kutip di atas.
Sesudah tahun 1952, saya berulang kai berkunjung ke Paris: 1957, 1964, 1977, 1981, 1986, 1989, dan yang terakhir 1991.
Setiap kunjungan itu tak lebih daripada kesempatan memuaskan kerinduan yang bersifat pribadi.
Dunia tak pernah berhenti berputar. Dari tahap ke tahap, "kerinduan kepada Paris" berubah isi juga.
Paris pun secara fisik terus berubah selama 40 tahun terakhir ini. Jika saya sekarang membuat catatan tentang Paris, saya bicara tentang Paris tertentu, Paris yang menjadi bagian dari "masa lalu"-ku, tetapi yang terus saya hayati secara nyata sebagai bagian dari hidup saya.
Perasaan itu terpelihara pula oleh kontak persahabatan.
Di bulan Juli 1991 saya ke Paris. Kunjungan itu terlebih menarik bagi saya daripada yang biasa oleh karena seorang teman yang bekerja di markas besar Unesco di Paris menawarkan apartemennya untuk saya tempati selama dua minggu selama ia sendiri libur di luar kota.
Apartemen yang dia sewa itu ternyata adalah milik Cartier Bresson, juru foto termasyhur, di St. Germain des Prés, no. 202. Cartier Bresson—tulis teman saya itu—menyewa apartemen di Rue de Rivoli. Ia juga menceritakan bahwa sebagian dari apartemen besar itu adalah milik istri Cartier Bresson, yang sudah meninggal. Teman saya itu jelas tak mengira bahwa saya mengenal almarhumah istri Cartier Bresson, yaitu Ratna, seorang wanita Indonesia, yang saya kenal dari zaman saya bermukim di Paris dulunya.
Saya memang sudah mendengar berita Ratna meninggal beberapa tahun sebelumnya dan bahwa dalam surat wasiatnya Ratna menghibahkan apartemennya kepada Palang Merah Indonesia.
Menginap di bekas tempat Ratna dan Cartier Bresson itu dulu di St. German des Prés, seperti disediakan panggung rasanya untuk acara "kunjungan kilas balik" ke masa lalu, di gelanggang tahun 1950-an, di tempat dua Café termasyhur sebagai persinggahan turis mancanegara sampai sekarnag ini, yaitu Café de Flore dan Les deux Magots dekat no. 202 itu.
Pada malam pertama saya di Paris, teman saya orang Paris, Françoise dan suaminya Jean mengundang saya makan malam di satu restoran.
Françoise dan suaminya menjemput saya. Ternyata mereka juga tahu sejarah apartemen itu, bahkan lebih itu lagi. Ketika kami sedang keluar gerbang menuju jalan raya, Jean berhenti dan meminta saya berbalik sambil ia menunjuk ke arah tampang depan gedung dan berkata, "Bisa baca apa yang tertulis di plaque di sana itu?" Saya mengikuti arah tangannya menunjuk pada sebuah prasasti (plaque) terbuat dari pualam putih.
Dengan agak susah saya dapat membaca teksnya:
Dans cette maison
vécut et mourut
(janvier 1913 – 9 november 1918)
Le Poé Guillaume Apollinaire
(di rumah ini berdiam dan meninggal, Januari 1913 – 9 November 1918, Penyair Guillaume Apollinaire.)
Plaque seperti itu terdapat di banyak tempat tersebar di seluruh kota Paris, menyangkut nama-nama bersejarah, khususnya seniman dan sastrawan besar Eropa yang sampai di masa tahun 1930-an suka datang di Paris, berdiam dan berkarya di sana, berasal dari berbagai negeri Eropa sendiri, tetapi juga dari benua lain: dari Eropa Timur, Amerika Utara, Amerika Selatan (Latin), dan Asia, ketika Paris menjalankan fungsinya sebagai pusat orientasi seni modern.
Plaque yang memperingati kehadiran Apollinaire di tempat saya menginap itu, terasa istimewa seperti bukan sekedar plaque di antara sekian plaque.
Selama menikmati makanan di restoran malam itu bersama sahabat saya Françoise dan Jean, saya memperoleh perasaan seolah-olah saya tak punya alasan apa pun untuk merasa diri orang asing "di Paris". Saya merasa kunjungan saya kali itu bukan lagi sekedar pertemuan "kilas balik". Sebentar saya merasa beroleh kesempatan berkencan dan bernafas dalam suasana di mana Apollinaire seakan-akan mendadak bisa muncul nyata bergabung dengan kami di restoran itu.
(Tulisan ini saya persembahkan sebagai kenangan pada Sutan Takdir Alisyahbana, penerbit "Surat Kertas Hijau" terbitan pertama, dan kenangan pada pelukis Nashar.)
Sitor Situmorang
Islamabad, Agustus 1994
Condition
Kami telah berharap dengan kehangatan tunas di musim hujan, dan bila kami kecewa seperti anak, tidak pun karena kebohongan lagi, hanya ketidakamanan kata, perumus ingin berhubungan dengan balutan pengertian. Juga perpisahan tiada lagi menyedihkan sejak mati sendiri tak mematikan rindu, ya, rindulah napas yang menguap dari segala yang kami belai atau hancurkan, sejak kami melepaskan hak merasa asing di pembuangan, sejak pembuangan itu saja yang merasakan raut senja dan fajar benda yang dilupakan dan memberati diri...
1955
Paris-La-Nuit
1955
The Beginning of the End
1955.
Paris-Janvier
Kepada clochard1
1953
Place St. Sulpice
1953
Pont Neuf
Untuk S. Salim
I
II
1953
Boulevard Montparnasse
Paris 1977
(chanson kecil)
1clochard (bahasa Prancis): gelandangan