Baca EPUB: Paris sebagai Titik Awal sebuah Pengakuan Orang Bingung

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
RAHAYU SUPANGGAH
Paris sebagai Titik Awal sebuah Pengakuan Orang Bingung
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Rahayu Supanggah adalah salah seorang pelopor pembaharuan musik Indonesia. Karena ke“gendeng”-annya, dia sering disebut sebagai pemberontak kemapanan (kesenian Jawa) tradisi. Lahir pada tahun 1949 dari keluarga dalang, tetapi tidak pernah bercita-cita untuk menjadi dalang atauseniman, karena takut miskin.

Dari Konservatori Karawitan Indonesia di Surakarta, dia memperoleh pendidikan formalnya yang pertama di bidang kesenian. Karena bakatnya di bidang karawitan, pada tahun pertama di sekolah ini (1965) dia telah terpilih sebagai satu anggota duta kesenian yang bergengsi: “Misi kesenian kepresidenan RI ke Korea Utara, RRC dan Jepang”. Dia kemudian melanjutkan ke ASKI (sekarang STSI) Surakarta, dan pada tahun 1981 mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis untuk studi lanjut program S2 dan S3 di Université de Paris VII dalam bidang Etnomusikologi, yang diselesaikannya pada pertengahan tahun 1985.

Kini Rahayu Supanggah menjabat sebagai ketua sekaligus pengajar tetap di STSI Surakarta. Dan sebagai pekerja musik, lebih dari seratus karya telah dihasilkannya. Dia juga aktif dengan berbagai peran, sebagai pengrawit, penata musik, direktur musik, dan direktur artistik. Terkadang dia juga bertindak sebagai pimpinan rombongan, penyelenggara festival, pengarah festival, peneliti, penulis di berbagai media, pembicara di berbagai forum, pelatih, dan pengajar, baik di dalam maupun di luar negeri. Lebih dari empat puluh negara di dunia pernah dikunjunginya.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Ketika mendapat tawaran beasiswa dari pemerintah Prancis untuk studi lanjut di Paris, saya sempat berpikir seribu kali—menerimanya atau tidak menerimanya. Untuk studi lanjut disiplin yang saya geluti pada saat itu, saya menganggap bahwa Paris atau Prancis bukanlah tempat ideal.

Pertama: bidang studi. Studi untuk disiplin atau bidang yang berkaitan dengan kesenian/kebudayaan Indonesia, Prancis belum memiliki reputasi yang tinggi, bahkan boleh dikatakan tertinggal dibanding Amerika ataupun Jepang, Inggris atau Belanda. Hal yang wajar dan cukup dapat dimaklumi mengingat secara historis, Prancis tidak memiliki hubungan “emosional” dengan Indonesia, baik lewat hubungan politik, ekonomi, maupun sosio kultural. Sekarang ini hubungan ekonomi, politik, dan teknologi antara kedua negara nampak semakin erat. Sedikit catatan bahwa sebenarnya Prancis, melalui komponisnya Jean-Claude Debussy, telah berhasil memelopori kehidupan musik modern, salah satu penyebabnya adalah pengaruh atau diilhami oleh musik gamelan.

Kedua: bahasa. Bahasa Prancis merupakan bahasa yang sangat asing bagi saya, juga kebanyakan orang Indonesia. Walaupun saya mengakui bahwa bahasa Inggris dan atau bahasa asing lainnya pun tidak saya kuasai dengan baik, namun di masa-masa sebelumnya, setidak-tidaknya secara pasif—lewat studi formal di sekolah serta pergaulan budaya saya sebagai pemusik dan atau musikus—, bahasa Inggris lebih dapat saya mengerti dibanding dengan bahasa asing lainnya, terutama bahasa Prancis.

Ketiga: beasiswa. Beasiswa dari pemerintah Prancis jumlahnya sangat kecil. Waktu itu—mungkin masih berlaku sampai sekarang—, beasiswa yang mereka berikan untuk bidang-bidang yang mereka golongkan sebagai “non prioritaire”, yaitu bidang-bidang sosial, politik, humaniora, termasuk kesenian, jauh lebih kecil dibanding yang mereka berikan untuk bidang prioritaire: ekonomi dan teknologi. Pada waktu beasiswa dari CROUS untuk bidang saya hanya FF 1500, kemudian naik menjadi FF 1600, FF 1800 dan sampai FF 2100, atau sekitar 300 s/d 400 US$ per bulan. Jumlah itu sudah meliputi segala keperluan hidup dan studi selama masa belajar di Paris: asrama, makan, transport, kesehatan, buku, fotokopi, telpon, dan sebagainya.

Dengan beasiswa sebesar itu, jangan berharap untuk dapat tinggal di Paris, walau kuliahnya di Paris. Apalagi mengharapkan dapat menonton pertunjukan teater, musik, opera, ballet, dan sebagainya. Sebagai gambaran, harga tiket untuk nonton opera adalah FF 200, bukan kelas utama.

Ketiga pertimbangan tersebut sebenarnya telah cukup saya gunakan alasan untuk tidak menerima beasiswa tersebut. Apalagi pada saat yang sama, saya juga mendapat tawaran untuk melanjutkan studi ke universitas Meryland, Amerika Serikat. Pada saat itu pula, Prof. Dr. Mantle Hood, tokoh yang sangat terkenal dan berpengaruh dalam bidang etnomusikologi, utamanya tentang musik Indonesia, khususnya Jawa, sedang mengajar di universitas tersebut dan bersedia untuk membimbing saya. Sebenarnyalah merupakan kesempatan emas bagi saya untuk berangkat ke Amerika.

Paris

Pada akhirnya toh saya memilih berangkat ke Paris. Dengan beasiswa sebesar itu saya siap untuk menderita dengan tinggal di Cité Universitaire Antony, di banlieue selatan Paris yang dapat dijangkau dengan metro yang memakan waktu tempuh kurang lebih 45 menit. Cité Universitaire Antony adalah asrama mahasiswa yang mungkin terbesar di Prancis dengan delapan bangunan berlantai empat dan beberapa bangunannya ada yang berlantai lebih dari empat, tanpa lift, dihuni oleh lebih dari 10.000 mahasiswa, dengan fasilitas satu sambungan telpon untuk semua penghuni, yang dipasang di couloir. Telpon masuk dapat diambil oleh siapa saja dan sering tidak disampaikan kepada si penerima karena pengambil telpon malas untuk menyampaikannya.

Lepas dari itu, bagi saya Paris memiliki pesona dan daya tarik tersendiri. Sebelumnya saya telah tiga kali mendapat kesempatan mengunjungi Paris dalam rangka lawatan kesenian di beberapa kota dan negara Eropa. Dari peristiwa-peristiwa tersebut saya dapat melihat serta membandingkan keberadaan dan kehidupan kota Paris dengan kota-kota lain di Eropa.

Saya menganggap bahwa Paris adalah sebuah pusat, secara geografis maupun kultural. Dari Paris, dengan mudah dan cepat kita dapat menggapai berbagai pusat pemerintahan dan pusat budaya lainnya di Eropa, baik melalui transportasi udara, kereta api, bus, maupun kendaraan darat lainnya. Apalagi dengan makin meluasnya jaringan kereta super cepat TGV, maka kedudukan Paris semakin sentral.

Bila kita bepergian dengan kendaraan, maka setelah sekitar dua jam dari Paris, kita sudah bisa mendapatkan arsitektur, bahasa, tradisi, adat istiadat, makanan yang berbeda. Suatu institusi yang sulit didapatkan di Amerika Serikat atau Kanada.

Seni

Melihat profesi saya, berbicara tentang Paris berarti juga membicarakan kandungan seninya. Tak berlebihan kiranya kalau kita menyebut Paris sebagai salah satu pusat kegiatan seni dunia. Menjamur dan bertaburannya galeri, museum, gedung pertunjukan, gedung-gedung bioskop, sinematek, diskotek, teater (termasuk “café teater” yang khas), variété sejenis Lido, Crazy Horse, Moulin Rouge, Folies Bergères, dan semacamnya, rumah-rumah mode, tempat ‘terbule’ mengumpulnya artis dan rupawan dari segala penjuru dunia, dan masih banyak lagi, semakin mengukuhkan sosok Paris sebagai salah satu pusat kesenian dan kebudayaan terkemuka di dunia. Menurut pengalaman kami, mungkin hanya New York (terutama Manhattan) yang mampu menyainginya. Seperti dketahui, bahwa di New York juga bertebaran ratusan rumah-rumah pertunjukan, mulai dari yang berskala kecil dengan kapasitas 50 seats sampai yang sangat besar, yang menyajikan berbagai jenis dan skala kekaryaan seni yang sangat beragam.

Suatu keuntungan lain di Paris adalah tempat-tempat kegiatan kesenian sangat mudah dijangkau dengan jalan kaki, maupun menggunakan transportasi umum, baik dengan bus, metro, atau taxi. Selain jaringannya luas, sistemnya sangat bagus dan jelas, harganya pun relatif murah dibanding dengan biaya transportasi di kota-kota besar lainnya di dunia: London, New York, Roma, Geneva, Los Angeles, dan sebagainya.

Dalam kehidupan kesenian, akhir-akhir ini Paris atau Prancis memang mendapat saingan berat, bahkan untuk jenis dan atau cabang seni tertentu, Paris telah mulai terlampaui oleh beberapa kota/negara tertentu: Amerika, Jepang, dan Inggris, yang telah banyak memunculkan karya-karya seni kontemporer serta seniman-seniman muda potensial dan menjanjikan ide-ide dan karya yang brilyan. Namun bagi mereka, Paris masih merupakan tempat ideal, barometer, dan impian bagi seniman-seniman untuk dapat menggelar karyanya di sana. Dengan demikian kami mengharap bahwa di Paris saya akan mendapat kesempatan untuk melihat pagelaran-pagelaran karya seni dengan jenis dan “teba” (range) yang luar biasa, dari yang sangat tradisi sampai yang paling avant-garde.

Sebenarnyalah bukan hanya Paris saja yang memiliki citra sebagai kota seni dan budaya, tetapi juga keseluruhan Prancis pada umumnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa terdapat berbagai jenis festival seni budaya yang diselenggarakan di berbagai kota yang berbeda, masing-masing memiliki karakter dan jenis seni yang berbeda. Beberapa festival dapat saya sebut di sini seperti festival seni tradisi di Rennes, festival teater di Nancy, festival teater tari di Avignon, festival musik klasik di Aix-en-Provence, festival marionettes di Charleville-Meziers, festival film di Cannes, dan masih banyak lagi yang kesemuanya berbobot dan berskala internasional. Masing-masing kota penyelenggara festival tidak ada saingan negatif. Festival-festival tersebut juga memberikan karakter dan kebanggaan kepada kota dan warganya, sehingga mereka ikut merasa memilikinya serta sering merelakan tempat tinggalnya untuk menampung artis-artis dari luar untuk ikut menumpang. Dampak positif lainnya dari peristiwa tersebut adalah mengalirnya wisatawan mancanegara untuk datang ke kota itu.

Wisata

Festival memang bukan satu-satunya daya tarik wisatawan untuk datang ke Prancis. Keberhasilan Prancis dalam kepariwisataan—menurut data statistik, Prancis berada di urutan pertama di dunia—ditopang oleh beberapa hal, di antaranya adalah keindahan alam, budaya, makanan, tetapi juga managemennya, termasuk dukungan infrastruktur dan sistem informasinya.

Sekarang ini, negara saya Indonesia juga sedang menggalakkan dunia pariwisata sebagai andalan sumber devisa. Hal yang sangat mungkin, mengingat potensi Indonesia tidak terbatas, terutama bila melihat keindahan alam, kekayaan ragam budaya, seni, adat istiadat, dan sebagainya.

Kesenian (termasuk senimannya) sebagai salah satu unsur terpenting dalam menunjang keberhasilan pariwisata Indonesia justru sering menjadi korban, menjadi pelengkap penderita dari kegiatan ini. Saya termasuk salah seorang yang terlibat dalam dunia seni sangat sering melihat hal ini dan ikut merasakannya akibat “salah urus”, mismanagement. Keberadaan saya di Paris sangat membantu. Dengan melihat dan belajar dari pengalaman, mudah-mudahan pada suatu saat dapat memberikan kontribusi terhadap penanganan pariwisata di Indonesia. Sebenarnyalah Indonesia dapat belajar banyak dari Prancis tentang kepariwisataan.

Makanan

Kedengarannya tidak ada hubungan antara bidang studi saya dengan makanan. Makanan adalah satu kebutuhan dasar dan pokok manusia untuk hidup. Persoalan makan kadang-kadang menjadi masalah yang cukup mengganggu bagi seorang yang peka terhadap makanan. Selera seseorang kadang-kadang sulit untuk menyesuaikan diri dengan makanan yang berbeda. Untung bagi saya yang pemakan segala. Saya termasuk orang yang gampang menyesuaikan perut, suka makan dan mencoba masakan-masakan yang belum pernah saya makan, termasuk yang aneh pun.

Saya mendengar bahwa Prancis sangat terkenal memilih jenis makanan yang bervariasi, enak, halus, delicat, dan predikat-predikat lainnya yang luar biasa positif. Masing-masing daerah di Prancis memiliki makanan khas, sebut saja bebek di Toulouse, crèpe Bretonne, boullabaise Marseille, salade Niçoise, choucroute Strasbourg, quiche Lorraine, dan sebagainya. Apalagai kalau kita bicara tentang anggur, champagne, cognac, dan masih banyak lagi.

Makanan memang merupakan budaya tersendiri di Prancis. Satu jamuan makan yang memakan waktu tak kurang dari tiga jam bukan sekedar pemenuhan kebutuhan perut. Lebih dari itu, ia melambangkan dan mencerminkan nilai persahabatan, sarana diplomasi, wahana bisnis, juga refleksi sivilisasi dan budaya. Penilaian orang terhadap seseorang dapat dan sering berlaku dalam peristiwa makan ini. Seberapa jauh pengetahuan seorang tentang makanan, cara makan, sikap makan, menggunakan peralatan makan, pembicaraan pada saat makan adalah alat-alat mengukur “kapasitas” sivilisasi orang tersebut.

Ketiga hal tersebut, disertai keinginan untuk belajar sesuatu yang lain, yang baru, yang tak mudah didapat di Indonesia telah cukup untuk “memaksa” saya memilih Paris sebagai tempat studi sekaligus “markas” saya untuk beberapa tahun, mengalahkan alasan keterkaitan langsung di bidang studi dengan profesi dan disiplin yang saya akrabi.

Masa Sulit

Sebagai konsekwensinya, walau sejak tahun 1965 saya telah mulai dan banyak berkeliaran di berbagai kota dan negara, namun tahun pertama di Paris cukup membuat saya hampir stress dan putus asa. Musim panas, saat ketibaan saya di Paris, bukan masa yang menyenangkan bagi mahasiswa dari luar Paris atau Prancis. Paris kosong, semua orang pergi berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Sebagai gantinya Paris dipenuhi orang-orang Amerika, Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, atau turis-turis lainnya. Pembimbing saya pun pergi, sehingga tidak ada kawan maupun pihak yang membantu ataupun dimintai saran. Semua urusan harus dilakukan dan diselesaikan sendiri. Dengan pengetahuan tentang Paris, sistem pendidikan, dan birokrasi Prancis yang minim serta penguasaan bahasa Prancis yang nol, maka masa tersebut benar-benar mengerikan.

Penyebab utama adalah penguasaan bahasa Prancis. Namun di samping itu, menurut penilaian saya, walau Prancis menghargai egalitas, fraternitas, dan kebebasan, terbuka dan tidak membedakan ras dan golongan, namun les Parisiens tidak tergolong orang-orang yang ramah, bahkan kurang ramah bila dibanding dengan penduduk kota-kota besar lainnya seperti London, New York, Roma, dan Tokyo.

Kesulitan penguasaan bahasa makin terasa ketika saya harus menulis rencana kerja studi, semacam proposal penelitian thèse saya. Menulis proposal akademik dalam bahasa Indonesia pun sudah merupakan persoalan tersendiri dan sulit, apalagi dalam bahasa Prancis dengan terminologi-terminologi bidang yang khas. Dengan permohonan yang berat disertai rasa belas kasihan penanggung jawab program studi, akhirnya saya berhasil menawar untuk diizinkan menulisnya dalam bahasa Inggris, yang juga belepotan.

Problem bahasa juga saya rasakan dalam mengikuti perkuliahan. Saya merasa terkucil karena tidak memiliki teman. Saya tidak dianggap sebagai orang karena tidak “bicara”, pasif dalam kuliah. Pengamatan saya, di “barat” seseorang tidak dianggap orang kalau tidak “bicara”, karena dianggap tidak memiliki ide, pikiran, atau pendapat. Pokoknya bodoh, tak punya kemampuan. Pada tahun pertama pula saya mohon kepada CROUS untuk memberi tambahan beasiswa untuk kursus intensif bahasa Prancis di Alliance Française dan di universitas saya yang diselenggarakan untuk mahasiswa asing. Setiap hari kegiatan saya benar-benar penuh, karena di samping kursus bahasa harus juga mengikuti kuliah yang tempatnya berpindah-pindah.

Tahun pertama benar-benar sulit bagi saya, sehingga tahun itu saya lepas. Saya tidak mengikuti ujian-ujian mata kuliah karena merasa tidak akan lulus.

Hal yang juga membuat saya frustrasi adalah pengurusan izin tinggal (carte de séjour) di Prancis. Setiap tahun sekali (paling tidak, bahkan sering lebih dari sekali karena Préfecture de Police hanya memberikan izin tinggal untuk beberapa bulan dan kemudian harus memperpanjangnya kembali). Saya harus antri di préfecture mulai jam 04.00 atau 05.00 pagi dalam cuaca yang mendekati titik beku. Walaupun kantor buka jam 09.00, jam 04.00 antrian sudah cukup panjang karena banyak imigran lain yang berurusan dengan kantor préfecture. Urusan ini kadang-kadang tidak dapat selesai dalam satu hari. Saat mengalami peristiwa yang demikian, saya ingat situasi yang mirip, yaitu mahasiswa asing yang sekolah di lembaga saya yang kadang bersikap berlebihan. Walau mereka telah dilayani dengan baik, diuruskan, dan dibantu diantar ke kantor imigrasi, mereka masih marah-marah, menganggap birokrasi Solo menyulitkan mereka. Mungkin kurang adil, tetapi memang begitulah yang terjadi.

Titik Awal

Di tahun kedua, masalah pemahaman bahasa telah sedikit dapat terpecahkan. Setidak-tidaknya untuk keperluan komunikasi sehari-hari dan untuk mengikuti perkuliahan telah dapat saya atasi. Di dalam kelas saya sudah mulai ikut berpartisipasi, bahkan kadang-kadang sedikit unjuk gigi. Ketika mengadakan ekspose di kelas, sering saya menggunakan ilustrasi dengan pamer kebolehan bermain musik dan “ndalang”, memainkan wayang kulit. Hasilnya ternyata luar biasa. Teman-teman mulai menganggap saya sebagai orang, bahkan ada yang berlebihan. Saya mulai banyak memiliki teman.

Di saat itu pula, saya mulai mendapat banyak undangan dan tawaran untuk mengadakan workshop, seminar, ceramah, melatih, mengajar, pentas, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak di Paris dan di luar Paris, malah di luar Prancis.

Kebetulan sistem perkuliahan di universitas saya, juga di universitas-universitas lainnya di Prancis, sangat terbuka dan luwes. Profesor saya juga sangat mengerti saya. Ia sangat tahu kapasitas saya dan memberi saya kebebasan seluas-luasnya untuk mengadakan kegiatan yang saya anggap bermanfaat bagi masa depan saya dan dunia kesenian Indonesia. Kegiatan-kegiatan akademik saya di luar universitas Paris VII dan di luar Prancis dapat diterima sebagai kredit. Memang dengan keterbatasan dosen dan sarana bacaan tentang Indonesia khususnya tentang kesenian Indonesia, maka saya mengikuti kuliah-kuliah di EHESS, di Musée des Arts et Traditions Populaires di Bois du Boulogne, di CNRS, di Musée Kwok On, di Musée de l’Homme, dan sebagainya. Justru di situlah saya mendapat kesempatan untuk ketemu dengan pakar-pakar tentang Indonesia yang kebanyakan adalah etnolog dan historian seperti M. Denys Lombard, M. Christian Pelras, M. George Condominas, M. Marcel Bonneff, Mme Marcel Dubois, M. Steve Headley, dsb. yang benar-benar membuka mata saya pada dunia yang selama itu belum sempat saya pelajari. Sedangkan kegiatan kesenian yang pantas saya sebut di sini, antara lain kesempatan untuk bekerja sama dengan para kompromis musik dan gamelan kontemporer dari Inggris. Mereka tergabung dalam kelompok EGO, English Gamelan Orchestra. Komponis-komponis tersebut antara lain, Alec Roth, Nail Sorcel, Adrian Lee, Marc Lockett, Jaan Steel, dan sebagainya.

Pertemuan saya dengan para komponis musik komputer di Institut Sonologie Utrecht dan mengadakan pagelaran bersama mereka: Warner Kaegi, Joss Jansen, Paul Goodman dan sebagainya memberi pengetahuan kepada saya terhadap media ekspresi musik yang lain.

Keterlibatan saya dengan dunia film mulai terbuka ketika saya diminta untuk membantu Sergio Leone, sutradara film Italy saat menggarap filmnya yang berjudul “Once upon a time in America” yang dibintangi Robert de Niro.

Pertemuan saya dengan pemusik serba bisa, si Juke Box, Toshi Buchitori memungkinkan saya untuk ikut terlibat di beberapa kegiatan di theater des Bouffes du Nord, pimpinan sutradara terkenal Peter Brook. Toshi adalah direktur musik dari kelompok ini. Di sini saya mendapat kesempatan untuk bergaul dengan seniman-seniman kelas dunia dari berbagai negara. Seperti diketahui bahwa dalam mempersiapkan produksinya yang fenomenal “Mahabarata” yang melibatkan berbagai seniman dari lebih 20 negara, Peter Brook memerlukan waktu lebih dari 3 tahun dan melibatkan ratusan seniman dari tak kurang dari 50 negara.

Kegiatan akademik yang lain adalah mengajar di San Diego State University (SDSU), Universitas Cambridge, di Geneva dan sebagainya membantu memperluas jaringan akademik di luar Paris dan Prancis. Dengan semakin meluasnya jaringan kerja saya yang membutuhkan sarana komunikasi yang lumayan, membuat saya tidak mungkin tinggal di asrama mahasiswa yang hanya memiliki satu sambungan telpon untuk 10.000 mahasiswa. Oleh karena itu saya terpaksa menyewa sebuah studio di luar Paris yang sewanya melebihi beasiswa yang saya terima dari pemerintah Prancis. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan lainnya, saya terpaksa mengandalkan dan mengharapkan dari hasil P.Y. imbalan kekaryaan seni.

Semasa tinggal saya di Paris bersama rekan Putra Diasa, kami membentuk kelompok kesenian Bhinneka Tunggal Ika, di bawah naungan KBRI Paris. Anggotanya terdiri dari para mahasiswa, karyasiswa, musisi Prancis, Belgia dan Amerika. Walau bersetatus amatir, kelompok ini cukup berkualitas, karenanya sering diundang untuk menggelar keseniannya di beberapa kota di Prancis maupun di luar Prancis, termasuk di antaranya Afrika.

Menjelang kepulangan saya ke Indonesia, atas inisiatif Mme Dournon dan dimotori oleh Laurence Fayet, para etnomusikolog di Musée de l’Homme berniat untuk menggunakan koleksinya gamelan yang antik dan bagus, agar tidak dipamerkan sebagai koleksi benda yang mati saja. Dengan suka hati saya mendukung prakarsa ini dengan melatih mereka untuk bermain gamelan. Namun sayang waktu saya sangat terbatas. Tidak sampai empat bulan, saya sudah harus pulang ke tanah air.

Kegiatan ini nampaknya merupakan titik awal dari kegiatan gamelan di Prancis. Sepulang saya, Laurence Fayet tetap gigih dan giat memotori kegiatan gamelan di Prancis dengan mengundang pelatih gamelan dari Inggris seperti Jenny Haton, John Pawson, Elisabeth Carée dan memanfaatkan orang Prancis yang sempat belajar gamelan di Indonesia: Gilles Delabarre dan Nathalie Jacquemart. Sekarang ini tak kurang dari enam kelompok gamelan dari berbagai tingkatan kemampuan dan tingkatan umur giat mengadakan kegiatan gamelan.

Akhir

Keasyikan berkesenian semasa tinggal di Paris sering menghambat kegiatan menulis thèse saya. Saya sempat ragu, apakah mampu menyelesaikan studi saya. Latar belakang akademik, kelemahan dalam bahasa, studi yang saya ikuti di Prancis sempat membingungkan saya. Akan jadi apakah saya, dengan bekal yang sepotong-potong tidak memungkinkan saya memilih pengetahuan yang dalam suatu bidang. Generalis? Gado-gadois? Atau tetap menjadi seniman? Seniman yang bagaimana? Adakah studi saya bermanfaat bagi kehidupan kesenian di Indonesia? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang muncul dalam benak saya.

Akhirnya saya mengambil keputusan yang paling sederhana dan yang mampu saya lakukan. Mungkin orang-orang setengah matang seperti saya masih diperlukan di Indonesia. Kajian seni di Indonesia masih prematur. Adakah sarjana Indonesia yang ahli tentang kesenian Indonesia? Kritikus? Ahli managemen kesenian? Ahli metodologi pengajaran kesenian Indonesia? Siapa dan berapa? Jawabnya, memang belum ada. Yang ada adalah seniman-seniman yang kemudian terpaksa disampiri beban untuk mengajar, meneliti, membina, mengkritik, dan mengelola seni, termasuk mencari dana untuk menopang kehidupan ini. Lihatlah sosok-sosok Sal Murgiyanto, R.M. Sudarsono, I Made Bandem, R. Supanggah, I Wayan Dibia, Endo Suanda, Sri Hastanto, Suka Hardjana, Slamet A. Syukur, Ben Pasaribu, Franki Raden, dan beberapa nama yang tak sempat saya sebut di sini adalah termasuk sosok bingung yang tak jelas identitasnya. Dengan melihat situasi yang demikian, saya mulai tenang kembali dan berpikir, mungkin untuk masa sekarang Indonesia masih memerlukan sosok-sosok bingung sampai lahir ahli-ahli yang sekarang masih digembleng di beberapa lembaga pendidikan di dalam atau di luar negeri.

Saya juga sangat beruntung memilih teman-teman sejati yang tanpa pamrih setia membantu dan mendorong memberi semangat untuk menyelesaikan studi dan tulisan saya. Mereka adalah Annick Russeil, Supriyanto, Choyite Dharmaperwira, Agus S. Waworuntu, Angela Kristanto, Maria Kristanto, dan Marc Benamou yang telah membantu dalam menyediakan makan, mengetik, menerjemahkan, koreksi redaksional, diskusi substansi, memberi kritik dan saran, serta sampai menunggui memberi semangat pada saat soutenance.

Pada bulan-bulan terakhir mereka berkumpul di café, di rumah, dan di mana saja untuk membantu saya. Bahkan Marc Benamou yang telah kembali ke Amerika, bersedia untuk terbang dari Detroit, dengan biaya sendiri, ke Paris untuk sekedar menolong saya dalam mengatasi kesulitan bahasa. Bahkan di antara kami sering diskusi masalah-masalah yang substansial. Untuk itu saya tidak pernah melupakan mereka, mengenang jasa-jasanya yang tidak pernah cukup dengan mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tentu saja juga kepada istri saya Sundari dan anak-anak yang juga merasakan masa-masa sulit karena kepergian saya. Pengertian dan pengorbanannya serta dorongannya termasuk mengunggui soutenance saya, tidak pernah saya lupakan. Semua adalah berkah Tuhan.

Amir Jakfar dan terutama Jacques Brunet, profesor pembimbing sekaligus teman, adalah yang paling berjasa membawa saya ke dunia baru yang sungguh memperkaya dimensi kehidupan saya. Paris ternyata bukan dunia impian, tetapi dunia nyata yang memberi penerangan dan pemahaman baru, terutama pemahaman terhadap diri saya sendiri dan pemahaman terhadap seni budaya saya, seni budaya Indonesia.

Akhirnya terima kasih Prancis.

Perth, 15 Februari 1999