Publisher Note
Artikel ini diterbitkan di majalah Pantjawarna pada 23 November 1963 dalam edisi No. 55 Th. II.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Oslan Husein
* Penjanji Rakjat jg redjekinja seperti redjeki harimau
* Penjanji, Pemimpin band, bintang film jang selalu bersedia
meluangkan waktunja untuk usaha2 sosial
SEORANG PEMUDA berperawakan hitam djangkung berdiri tenang didepan mikropon, mengalunkan suaranja dan dengan seluruh perasaan diikutinja sjair lagu jg dibawakannja itu dalam nada menghiba. „Kambang Aruih…kambang aruih…, kata2 tsb. diutjapkannja berulangkali dan sewaktu ia sampai pada achir lagu jang dibawakannja dengan sopannja ia memberi hormat kepada para penonton jang penuh padat mengisi gedung Kesenian.
Tapi alangkah terkedjutnja pemuda tadi, karena tak satupun penonton jang mau menghadiahkan tepuk-tangan kepadanja. Malah sebaliknja suasana dalam gedung jang melimpah oleh penonton jang ingin menjaksikan Kesenian Minang „Gadih Taranah” berubah bagaikan raungan harimau dimana satu sama lain, orang berbisik keheranan.
Dgn muka putjat ia menghilang ditelan panggung, meninggalkan penonton jang masih melongo dengan perasaan aneh jang tak habis2nja.
„Sakitkah dia?”, kenapa orang sedang diserang Malaria dipaksa djuga bernjanji, sehingga suaranja terdengar tak karuan. Serak seperti berpasir, malah ada jang mengatakan bahwa orang sakit itu memaksa suaranja keluar sehingga bunjinja terasa bertjampur dahak. Bila ia gemetar, suaranjapun ikut gemetar pula, kata jang lain.
Panitia Malam Minang jg diadakan oleh Ikatan Peladjar Mahasiswa Sum. Tengah dan banjak kawan2nja datang mengerumuni pemuda jang malang itu, menanjakan kesehatannja. Ada jang menasihatkan dan meminta dengan dengan segala kerelaan supaja ia suka melenjapkan angan2nja untuk mendjadi penjanji, karena betapapun, sudahlah djelas bahwa peristiwa malam itu membuktikan bahwa ia tidak berbakat.
Se-konjong2 ia tersentak dan dengan suara pasti didjelaskannja apa jang terdjadi. „Siapa jang mengatakan aku sakit. Getaran suaraku memang demikian. Aku bernjanji seperti biasa, tidak ada perasaan takut dan itu adalah suara asliku”, katanja mejakinkan. Berilah aku kesempatan sekali lagi, demikian pemuda jang belum putus asa itu mengharap.
SI OS.
PADA MALAM kedua pertundjukan „Gadih Taranah”, ia muntjul lagi dengan berhadapan dengan publik lebih melimpah lagi. Malam itu gedung Kesenian benar2 bagaikan disunglap. Dengan tak disangka2 tepuk tangan membadai penonton bersorak2 kegirangan menjambut suaranja jang aneh itu. Penonton riang dan bangga mendapatkannja, seorang pendatang baru, biduan jang memiliki suara istimewa.
Peristiwa tsb. terdjadi pada tahun 1955, dimana seorang pemuda berdarah Minang jg hampir kehilangan harapan itu, mendadak tampil mendjadi penjanji jang paling tenar dan dikagumi sampai sekarang.
Si Os…Oslan Husein demikian orang memanggilnja dan karena suaranja jang serak basah itu pulalah jang menempatkan dirinja dalam waktu singkat diatas deretan nama penjanji2 kenamaan, mendjadi favorit dimana2.
Suaranja direkam, beribu piringan hitam ditjetak dan laris seperti pisang goreng. Nama Oslan Husein menandjak terus seperti sputnik jg membelah angkasa. Sikapnja jang ramah tamah serta pembawaannja jang suka berkelakar membuat ia disenangi oleh orang ramai. Tua, muda lebih2 anak2 merasa terhibur bila mendjumpainja, karena Oslan Husein sendiri jang walaupun kini telah berada dipuntjak kepopuleran, tak pernah membusungkan dada. Ia tetap merasakan dirinja sebagai penjanji Rakjat, dibesarkan dipudja oleh Rakjat. Kepada Rakjat banjaklah ia mendekat dan karena itu pulalah ia disenangi.
Ketjuali sebagai penjanji, Oslan djuga mentjipta lagu, memimpin band sendiri jang diberi nama „Osria”, dimana sebelumnja ia tergabung dalam orkes „Teruna Ria”.
Tidak dibidang seni suara sadja ia tenar. Oslan Husein jang kini mengindjak umur 30 tahun dapat djuga beraksi dilajar putih. Dalam dunia film ia memulai debutnja pada film “Detik2 Berbahaja”. Sampai sekarang sudah 7 film jang dimainkannja, termasuk „Antara Timur dan Barat”.
SEPERTI REDJEKI HARIMAU
MELIHAT ketjemerlangan nama Oslan Husein sekarang ini, timbullan pertanjaan pada diri kita, benarkah ia telah mendjadi kaja, karena suara emasnja itu? Hidup dalam serba ada, serba punja? Tidak pernah dipusingkan dengan keadaan perekonomian jang melondjak2 dan sangat mentjengkam sekarang ini, karena iam mempunjai sendjata jang ampuh, jaitu suaranja tadi jang bagi setiap telinga jang ingin mendengar harus membajar mahal.
Dengan tersenjum malu, biduan jang kini benar2 sedang diamuk kebahagiaan karena muntjulnja „Oslan ketjil” ditengah keluarga barunja mengatakan bahwa sebenarnjalah banjak orang menduga, kehidupan artis itu bergulung dalam serta kemewahan, karena mereka membandingkan dengan artis luar negeri.” Bagi saja sendiri tidaklah demikian. Tahukah bung, penghidupan seperti redjeki harimau. Kalau nasib baik, dapat penghasilan lumajan”, katanja ber-sungguh2. Tapi tidak djarang sebaliknja, sampai2 dapur tak berasap.