Publisher Note
Artikel ini dimuat di majalah Pujangga Baru edisi No. 8, Th. XIV pada bulan Februari 1953 sebagai kritik keras terhadap H.B Jassin.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
KURANG LEBIH SATU setengah tahun jang lalu, untuk mengatasi apa jang lazim dinamai ‘kelesuan dalam dunia kesusasteraan’, pemimpin2 lampiran kebudajaan Gelanggang telah memulai offensifnja. Beberapa pengarang diharapkan mereka akan kena todiknja: Anas Ma’ruf, Abu Hanifah, Usmar Ismail, Pramoedya Ananta Toer, Achdiat K. Mihardja dan lain2 lagi. Selain Anas Ma’ruf serta beberapa orang jang mempergunakan nama samaran, tak ada lagi jang menangkis serangan2 jang dilemparkan itu, sehingga tantangan jang tidak berbalas ini merupakan tarian gendangpentjak jang molek. Soalnja dalam hal ini harus ditjari pada pertanjaan, adakah serangan2 itu tepat ditudjukan pada sasaran, mengenai intipatinja atau tidak, dan adakah tepat pada waktunja.
Kelesuan itu sendiri bukanlah masa jang patut disesalkan, karena tiap2 usaha menghendaki persiapan, perdjuangan dan perhitungan. Lagi pula dalam dunia seni, tiap seniman hanja diwakili oleh hasil seninja dan sama sekali bukan oleh tubuh dari darah dan daging.
Sungguh tidak buruk apabila perhitungan jang toh mendjadi konsekwensi dari persiapan dan perdjuangan itu dilontarkan digelanggang kesusasteraan. Tetapi ini adalah terbatas pada paraseniman sendiri, dan tidak diluar daripadanja. Dalam tiap saat seorang seniman telah mengadakan perhitungan dengan dirinja sendiri, sekalipun ini diandjur2kan oleh H.B. Jassin jang bukan seniman. Keritikus Jassin menghendaki agar tiap seniman tidak mengelakkan tanggung djawab pengarang dan menggeserkannja pada masjarakat. Bagus sekali. Tapi Jassin tidak pernah menjadari betapa hebatnja perhitungan jang merupakan peperangan diri tiap pengarang, tiap ia sadar, tiap ia djaga. Dan apakah perhitungan jang didjelmakannja djadi buahsastera itu berhasil atau tidak, hanjalah tergantung pada dajatjiptanja dan bukan pada pergolakan didalam. Djuga dalam hal ini soal2 kemasarakatan jang diharamkan oleh Jassin, punja pengaruh besar karena achir2nja pengarang adalah djuga machluk masarakat. Mengarang hanja satu segi dari kehidupannja dari begitu banjak segi jang harus dikerdjakannja: dirumah djadi kepala rumahtangga, djadi ajah, djadi pengemong, djadi pembajar padjak, penelan nasi, pentjinta; diluar rumah djadi hamba undang2 lalulintas, djadi pegawai, setter, pendjilid, pembohong atau penipu bahkan pembunuh dan kemudian dalam hidup kemasarakatan baru ia djadi pengarang.
Rentjana offensif Jassin (atau generalcombat?) sebenarnja sudah dimulainja dengan penutup pidato-radionja, djuga sebagai penutup tahun kesusasteraan ’52, sungguh banjak mendapat perhatian. Ia tekankan soalnja pada masalah, bahwa untuk mendjaga kemurnian tjiptaannja seorang seniman senantiasa berhadapan dengan dirinja sendiri, dengan sekelilingnja dan dengan masarakatnja. Dengan diri sendiri karena dia harus mendjaga kedjernihan rasa dan fikirannja dengan sekeliling dan masjarakat, supaja kekatjauan dan kekeruhan dalamnja tidak memburamkan alamtjiptanja dan mengeruhkan ukuran2nja. Dan untuk ini diperlukan keperibadian seniman jang kuat. Utjapan jang ditudjukannja pada seniman ini tidaklah berguna, apalagi kalau seorang kritikus jang mengutjapkannja, karena ini segera mendjadi pengetahuan pengarang apabila ia telah mulai mentjeburkan diri dalam kesuasteraan. Orang djadi meragu adakah utjapan itu ditudjukan kepada dirinja sendiri—kepada kritikus Jassin. Bahwa ia memperlihatkan goodwill-nja dengan utjapan itu ia main silat dengan membuat perhitungan dengan dirinja sendiri di Zenith no. 2 tahun 1953. Tetapi apa jang dimaksudkannja sebagai perhitungan dengan diri-sendiri itu tidak lebih daripada sebuah ralat ketjil2an dari kesalahan kopi diatas zetsel jang sudah telandjur tertjetak. Perhitungannja hanja merupakan apologie jang pengetjut, sekalipun ia bilang dengan kata2 dramatisnja. Jassin sudah digantung. Dan dengan tahun 1953 ini kita memulai hidup baru.
Jassin tidak berani mengakui, bahwa ia pernah djadi seniman, djadi pengarang jang telah mati sebelum dilahirkan. Ah, kalau sadja ia mau melihat Pantjaran Tjita2nja. Djadi proklamasi bahwa ia telah menggantung dirinja sendiri tidak ada gunanja. Karena ia telah lama mati sebelum menggantung-diri. Inilah djadinja kalau mau dramatis2an. Dan jang selama ini terdengar dari Jassin hanja rohnja jang mengembara kehabisan tempat, baik didunia maupun diachirat.
Dan sungguh tak dapat difahami oleh siapapun mengapa Jassin tak suka apabila seorang pengarang mentjari penghidupan (uang) diluar djabatannja sebagai pengarang. Apakah buruknja mentjatut! Mentjatut diwaktu revolusi sudah habis! Chairil djuga mentjatut. Berdagang adalah tabu. (Tentu sadja ini dipandang dari djumlah uang masuk!). Tetapi Jassinpun tidak keberatan kalau seniman djadi tukang roti, tukangsepatu, tukangset dipertjetakan. Seniman jang mendjadi besar dalam kemelaratan. (Tentu ini dipandang dari djumlah uang masuk djuga). Orangpun tak boleh mentjemarkan dirinja sebagai pengarang dengan menulis buku pemeliharaan batjatulis, sekalipun mengandung nilai sastera. Tetapi sungguh aneh mengapa Jassin sendiri mentjari duit dengan mengumpulkan dan menerbitkan karangan dari pengarang2 jang mulai tahun 1953 ini ditjatjimakinja. Tentu sadja tepat penamaan tjari duit ini, karena ia toh akan marah bila tak terima honorarium dari bungarampainja Gema Tanahair? Ja, sekalipun dengan senjum-mulia ia dengan mati2an akan membudjuk dirinja: ini adalah untuk kepentingan kesusasteraan dan orang boleh membuktikannja.
Keuangan jang menjenangkan adalah baik bagi tiap orang. Dan pengarang adalah djuga orang biasa. Mengapakah Jassin tidak mengutuki Voltair jang bukan sadja pengarang tetapi djuga punja kegiatan2 lain?—filsof, pengusaha berbagai pabrik dan berhasil pula dan djuga mendjadi kajaraja karenanja? Apakah jang diharapkannja dari seorang pengarang Indonesia? Sedjenis dengan Chairil, dengan keuangan jang buruk, sebentar dilahirkan sebagai pengarang kemudian sebagai manusia? Sedjenis dengan Haudelair? Sungguh mendjadi lelutjon bagi Jassin untuk menentukan kehidupan seorang mendjadi simpel sebagaimana ia hendakkan. Kehidupan ini besar—mahabesar malah. Dan bila kehidupan ini seekor beruang jang gesit, Jassin hanja menangkap sehelai bulubuntutnja. Alangkah djanggal bagi seorang kritikus jang mejakinkan bahwa bulu-buntut jang sehelai adalah beruang. Tetapi ini dapat dimaafkan kalau diingat bahwa daerah perdjalanan Jassin sangat terbatas: kantor, rumahnja sendiri, rumah Balfas dan rumah2 mereka jang ia tidak kenal tetapi jang ia suka mampir sebentar untuk membuktikan bahwa iapun punja djenis sebagai machluk.
Dalam pidato-radionja jang djuga dimuatkannja di harian MIMBAR INDONESIA (ia mendapat ruangan tertentu melontarkan offensifnja disitu) hanja bisa diambil pertentangan2 antara satu dan lain alinea. Ini bukan disebabkan karena pertentangan jang timbul dalam batinnja dan kemudian tulisan itu merupakan perhitungan jang bulat, tetapi mendekati reportase alam pikirannja jang belum selesai. Dan apa jang dinamainja perhitungan adalah selembar sobekan udjung pitjisan kesusasteraan dan sedjarah kesusasteraan hanja terbatas pada penilaian isi kesusasteraan dan penjelidikan mengenai tumbuh dan berkembangnja seperti kelihatan dalam hasil2nja. Memanglah sangat tepatnja bahwa kesusasteraan hanja dinilai dari hasilnja, dan bukan pentjiptanja. Tetapi mengapa kemudian Jassin mengetjam pengarang2 jang dinamainja pelarian da mati atau mati per-lahan2? Bukankah seniman diwakili oleh hasil2nja? Dan hasilnja jang terbesar pula? Tolstoi tidak akan tjemar namanja dan djuga tidak mati setelah menerbitkan buku2nja Masa Kanak2 dan Sevastopol. Steinbeck tidak oleh Wayward Bus-nja. Abdul Muis tidak oleh Surapati-nja (bahkan naskahnja Anak Surapati pun tidak). Dan sungguh tidak pada tempatnja kata2 lari dan mati dibuat kudalumping ditengah gelanggang. Dalam revolusi Indonesia jang baru lalu tidak ada seorang Indonesia pun jang melarikan diri. Memang banjak orang jang padam harapannja sebagai republikan dan ikut Belanda, tetapi mereka ini hanja sampah2nja belaka. Djuga mati terlampau terburu, djustru kita baru menerima kelahiran kita sebagai suara kewadjiban jang harus didjalani dan bukan kewadjiban jang harus dikutuki.
Dan apabila seorang pengarang mati, hanjalah tubuhnja, atau bila tjitanja tida daat didukung oleh penduduk dunia selingkungannja, untuk se-lama2nja. Atau ia djadi pengchianat tjitanja sendiri, bukan pengchianatan sebagai proses kelandjutan tjita, tetapi belokan jang tak dapat dipertanggungdjawabkan. Bitjara tentang lari, adalah H.B. Jassin sendiri jang per-tama2 seorang pelarian. Orang takkan lupa akan Jassin sebagai suatu tokoh (sekalipun tidak penting) dari Pudjangga Baru, bahkan sebagai sekretaris redaksi madjalah itu pula. Ia telah berchianat terhadap angkatannja apabila ini tidak dilihat dari djurusan kelandjutan tjia. Soalnja sebenarnja bagaimana kita memandang, dari jang buruk atau baik. Dan apabila dengan perhitungannja untuk tahun 1953 Jassin lebih banjak tjenderung pada jang buruk maka tidak ada salahnja tentangannja disambut dari jang buruk pula.
Bagaimana sikap Jassin terhadap Rivai Apin jang dianggapnja mempunjai pahlawan plagiat Iwan Simatupang, adalah terlampau overbodig. Jassin sendiri, adakah sudah mempertimbangkan pudjiannja pada Djalan Tak Ada Udjung dari Mochtar Lubis jang mana telah ada orang jang mengandjurkannja untuk memperbandingkan dengan film This Land is Mine jang dimainkan Charles Laughton dan Maureen O’Hara? Tukasannja terhadap Asrul Sani sebagai pengarang melempem, adakah ia sudah menukas dirinja sebagai pengarang melempem didjalanan Pudjangga Baru dahulu?
Dan se-akan2 ada penghinaan jang langsung ditudjukannja pada Utuy T. Sontani, bahwa ia sebenarnja melindungi kekurangan2 Tambera. Kemudian dengan kata2 gagah mengakui pendapat Teeuw tentang buku tersebut. Dalam hatinja ia membenarkan (Teeuw), katanja. Kalau apa jang dikatakannja terhadap Sontani itu benar dan djudjur, maka njatalah betapa sikap Jassin terhadap parapengarang sesungguhnja. Ia membela mereka, memupuk mereka dan achirnja menungganginja. Kata jang tepat untuk ini ialah fokken parapengarang muda. Sungguh tidak enak untuk menerima kata tersebut, tidak untuk roh Jassin sendiri maupun untuk para pengarang. Dan waktu ternjata bahwa binatang2 ternak itu tidak lain dari pada kuda bagal, maka ia maklumkan perang terhadap mereka dengan kata2 jang romantis membuat perhitungan.
Hendak kemana Jassin ini sebenarnja? Barangkali ia sendiri tidak tahu. Barangkali ini djuga gerak sekarat (kalau rohpun bisa sekarat) karena tentangan dari kiri dan kanan. Ia selalu menerikkan individu (undivided) aliteit, kepribadian dengan tiada tjukup menundjukkan individualiteitnja sendiri. Bahan2 jang dipungutnja dari pertjakapan2 lisan sudah tjukup baginja untuk kemudian menghantam pengarang jang bertjerita tentang dirinja. Apakah faedahnja mendjadi nenek-tjomel, kalau Jassin sendiri tahu bahwa penilaian sesungguhnja hanja terletak pada hasil sastera itu. Tidak kurang dan tidak lebih? Jassin sesungguhnja bukanlah wartawan tukang-intervieuw. Iapun bukan wartawan-kesusasteraan. Apakah ia sudah menggeserkan apa jang dinamainja kewadjibannja kearah kewartawanan? Tiap orang jang mengikuti perkembangan kesusasteraan Indonesia dewasa ini tahu benar bagaimana Jassin sebagai hobby mengemplangi Idrus dan Achdiat. Jassin membuat artja lempung jang dinamainja musuhnja, kemudian artja itu diletakkannja baik2 dan diberinja nama, dan achirnja kepala artja2 itu dipukulinja sambil ber-teriak2: beginilah nasibmu Idrus, Achdiat, Chairil, Rivai! Rasai olehmu. Apakah tjukup bagi Jassin melontarkan tantangan jang tiada berdjawab? Tjara Jassin menghantam lawan2nja (jang dianggapnja sederadjat denganngja pasti!) tiada ubahnja dengan tjara Hariadi S. Hartowardjojo dengan Peningnja menghantami komunisme. Keduanja hanja memukuli artja2 buatannja sendiri. Kehilangan proporsi ini membuat peperangan menghasilkan Don Kisot. Dan Kisot Indonesia adalah Djoko Dolok.
Barangkali maksud Jassin memang baik dengan offensifnja untuk tahun 1953. Dengan offensif ini dapat dipastikan akan terpetjahbelah groepgeest pengarang2 Indonesia. Tiap pengarang dipaksa berdiri diatas kakinja sendiri (walaupun hanja punja kaki sebelah). Dan kemudian mereka ini tersebar seperti pasir diatas bumi, bersinggungan tapi tak berhubungan. Keadaan demikian memang mentjepatkan proses baik kearah kehantjuran ataupun untuk menjekrupkan mereka pada mesin keinginannja. Mesin konsolidasi individu, dan Jassin kehilangan kekuasaannja sendiri keinginan Jassin ini dalam sikapnja keluar mendjadi norma2 dengan mana ia mengukur hasil2 kesusasteraan Indonesia selama ini.
Dalam hubungan offensif Jassin ini Sitor Situmorang pernah menjatakan, bahwa tidak ada gunanja melontarkan offensif dewasa ini. Menurut dia orang2 jang akan djadi sasaran telah bertjokol djadi djenderal2 besar: Usmar Ismail, Andjar Asmara, Nasrun, Djamaludin Malik. Gempuran pada mereka adalah sejalak air didaun talas, karena seni bukanlah satu2nja nafas mereka. Sungguh sajang bahwa Sitor jang dianggap Teeuw akan mengambil kedudukan Jassin ini punja titik-lontjatan jang meleset: bukan soalnja tapi orangnja jang harus digempur. Dalam hubungan ini pula setahun jang lalu setelah kena serangan Utuy T. Sontani mendjawab lisan dengan lenggang-kagkung: soalnja, aku bukan kau dan kau bukan aku (ini djuga gomplana dari diamnja Awal dan Mira. Kita harus terima hidup ini sebagai kewadjiban sebenarnja, tidak kurang dan tidak lebih, dan bukan sebagai barangtontonan jang aneh sebagai sikap paramistikus jang salah wessel. Alam ragu sudah sepantasnja kita lemparkan. Kita bangsa muda dan tidak perlu meragu dahulu kita sebagai orang tua, sebagaimana jang sekarang meliputi peradaban Eropa. Bahkan Belanda jang sudah begitu tua belum djuga mau menanggalkan Jai Mein Tjen Drai-nja.
Sekarang Jassin telah memulai offensifnja atau perhitungan menurut penamaannja sendiri. Masing2 memang punja reaksi atau pendapatnja sendiri2. Dan salah sebuah pendapat jang menjatakan bahwa offensif Jassin ini hanja gigitan njamuk dan bukan njamuk malaria pula, akan melemahkan ketentuan kehidupan kesusasteraan tahun 1953 ini.
Dan dengan ini offensif Jassin didjawab, disambut.
Dan dengan ini fokkerij kesusasteraan Jassin telah bubar.
Dan dengan ini, adieu kritikus H.B. Jassin!