Baca EPUB: obrolan-puasa

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
AMAK SJARIFFUDIN
Obrolan Puasa
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Tulisan ini diterbitkan di majalah Suropati edisi No. 14, Th. I, 30 Mei 1954.

Melalui Alfian Widi Santoso, kami mendapat salinan edisi majalah ini dari koleksi milik Redi Murti.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Kali ini saja tjerita tentang kedjadian2 dari udjung djalan keudjung djalan.

Hari-hari ini memang istimewa. Semua serba sibuk. Dan kesibukan jg istimewa.

Saja bikin suatu perlawatan. Tjari angin diluar halaman rumah, setelah pamitan terus berangkat.

Mulai sadja dari djurusan Selatan, dari orang2 jang sama obrol tentang puasa. Itu, didekat pasar Keputran. Disana terlalu ramai, dan untung ketemu Temokontjo lama lalu terus saja adjak menjepi. Terlalu susah berdesak-desak disana, malah seolah-olah seperti bebek jang digiring, salah2 nanti ketjopetan. Tjopet2 disini ulung dan banjak. Dari tjopet duwit sampai lampu sepeda.

Reserse dan polisi tidak bisa berdaja apa2, udjar Temo; apalagi kalau dengar ada reserse dipukul tukang tjopet di Djakarta, dan koran2 bilang itu suatu hal jang baru terdjadi disana.

Saja mengangguk. Ini memang djaman gila. Biasanja kan polisi jang pukul tukang tjopet. Bukan sebaliknja.

Temo saja adjak kedjembatan Kalimeer sana. Sepi.

Uuaah, tjepat2 kami harus pergi dari sana. Dak tahan dengan baunja. Temo ndak mau duduk2 disana, sebab katanja, disana orang tidak duduk sadja, tetapi djuga nongkrong buang air besar!

Temo dan saja djalan lagi. Mau lihat orang main tennis. Sebentar menggandul matjam orang-hutan dikebun binatang Wonokromo pada kawat pagar tennisbaan.

Kata Temo, ini menjebabkan dia kepingin, padahal dia ndak sanggup beli racketnja sadja jg kata2 harganja 200 rupiah. Dia dulu sudah punja idee mau djadi djagoan tennis di Surabaja, sajang, dia hanja orang-tjilik sedjak dulu hingga sekarang. Mau sambat ndak tahu siapa jang harus disambati.

Terus kami berdjalan.

Orang-orang pada sibuk. Hadiah lebaran baru dikeluarkan. Orang pada belandja.

Sebagai tandingan dari hadiah itu saudara bisa batja koran, kalau harga2 barang sudah ada jang naik. Jang njata disini, didaerah Keputran, mode Djakarta diimport kesini: beberapa orang mendirikan tenda2. Persis seperti pandu2 pada berkemah. Dan saudara bisa dengar irama bunji2an dari dalam tenda. Apa jang ada didalamnja bisa saudara saksikan…dengan uang!

Bitjara tentang hadiah lebaran, ada pegawai jang masih merasa sedih. Begitu kata Temo. Maunja pegawai itu, hadiah lebaran bisa dibuat untuk ongkos pulang ketempat asalnja. Tapi dia takut kalau2 uang itu ketahuan sang isteri, dan mau ndak mau terus kabur ketoko buat beli pakaian apik. Akibatnja bisa tjakar-tjakaran. Setengahnja lagi merasa lega dan beruntung. Waktu uang habis ditengah bulan, tiba2 muntjul hadiah lebaran. Hadiah, bukan persekot. Tidak usah tjitjil seperti dulu. Dan ini adalah hasil perdjuangan kesatuan aksi dari kaum buruh. Terutama jang dibawah pimpinan Sobsi.

Tiba2 kepapasan dengan kjahi Talib. Lengkapnja: Umar Thalib! Dan mengutjapkannja harus betul2 dengan logat Arab. Djadi dengan suara berat!

Wak kjahi baru beli korma—makanan importan dari Arab dan sekitarnja.

„Beli berapa wak kjahi?” tanja Temo.

„Dua kilo sadja!” kjahi Thalib mendjawab.

Dan tentu sadja saja dapat memastikan, kalau korma itu untuk takdjilan. Karena korma—menurut apa jang saja dengar dari wak kjahi sendiri—korma membawa chasiat besar, serta membawa dan menambah gandjaran. Betul tidaknja terserahlah.

Kalau saja dan Temo ndak beli korma. Sebab kalau ndak ikut puasa tapi makan korma, biar habis 10 kilo ja ndak tambah gandjaran. Kan ja?! Paling perut bisa morat-marit.

„Tjerita korma pun ada;” kata Temo. Saja ndak tahu bagaimana tjerita itu. Tetapi Temo mentjeritakan kalau korma dinegeri asalnja ini menurut tjerita Kadji Dullatip—didjemur ditanah (entah diberi tikar dibawahnja entah tidak, umpama sadja kalau tidak, bagaimana?) dan kadang-2 diindjak-indjak oleh pendjemur. Malah seringkali diindjak-indjak dengan kaki kotor, penuh…hmm. Dan korma itu—kata Kadji Dullatip pada Temo—tanpa dimasak sedikitpun. Sudah itu dikirim kemari dan terus dimakan. Manis! Korma disini bukan sadja didjual oleh orang-2 jang beragama Islam atau jang mengaku beragama itu. Tjoba sadja lihat Ngko Koen Seng. Dan engko ini suka babi. Umpamakan sadja ngko habis pegang babi lalu ada pembeli jang beli korma, dan, jah, maklum sendirilah. Mungkin disini gandjaran dan chasiat masih ada?

Saja tak bisa mendjawab pertanjaan Temo ini.

Belum selesai tentang korma, Temo bitjara mertjon bumbung untuk menghadapi lebaran. Belum lagi lebaran tiba sudah ramai dibunjikan. Nanti kalau lebaran barangkali kita sudah bosan. Malah bisa mengkal. Apalagi kalau sering2 begitu lalu ada jg meledak bumbungnja, dan muka orang jang membunjikan ini bisa seperti pindang diberengkes.

Mengingat blang-bleng-blang-blengnja mertjon bumbung, saja teringat kepada bunji meriam pembukaan Asian Games II di Manila. Meskipun saja tidak turut kesana, tapi bisa dirasakan bagaimana hebatnja.

Dan teringat Asian Games II ini terpaksa teringat pula pada Mang Wir jang taruhan sepakbola. Mang Wir berani taruh uang Rp. 150,- pada ngko Sin, bahwa Indonesia keluar sebagai djago Asia. Sebab mang Wir kita, kalau elptal Indonesia bisa digulingkan musuh kaliber besar-2 Djepang dan India, jang lain-2 tentu bisa, Ngko Sin berani nantang Mang Wir. Malah Mang Wir berani ngevoor (dan jang dimaksud itu saja tidak tahu artinja) 2 goal. Tapi apa latjur.

Tahu2 dibuntut berita RRI, Indonesia ditjukur oleh Taiwan dan Birma. Mang Wir mrotoli djuga. Barangkali dia terpaksa pajah menghadapi lebaran nanti. Ngko Sin enak. Sudah tak usah lebaran, menang lagi. Dan lebaran baginja berarti suatu keuntungan banjak pada warungnja. Warung-2 Indonesia pada banjak jang tutup.

Mengingat warung, saja dan Temo singgah di warung Sederhana, tjari kopi anget. Dengarkan bitjara orang-2 jang nongkrong disana.

Pendeknja, puasa kali ini boleh dikata penduduk dari udjung djalan keudjung djalan pada ribut, sibuk dan repot dengan uang untuk menghadapi Lebaran.

———