Publisher Note
(Pengantar Redaksi)
Rijono Pratikto adalah seorang pengarang cerita pendek (cerpen) yang cukup produktif terutama di tahun 1940-an, dan mendapat perhatian serius dari para kritikus sastra termasuk H.B. Jassin. Dia mengarang banyak cerpen, dengan tema yang sangat khas: horor, hal-hal yang menyeramkan dan menakutkan. Maka, jika akhir-akhir ini hal-hal berbau horor mendapat tempat tersendiri khususnya di televisi kita, sastra Indonesia telah mendahuluinya dengan Rijono Pratikto sebagai tokohnya.
Hanya saja, Rijono mengeksplorasi horor dalam karya-karyanya lebih untuk menempatkan horor itu sendiri sebagai imajinasi belaka. Horor dalam cerpen-cerpen Rijono tidak dimaksudkan sebagai takhayul yang mesti dipercayai sebagai fakta, melainkan sebagai instrumen atau alat untuk menghidupkan cerita. Horor dalam cerpen-cerpen Rijono adalah takhayul semata.
Dalam batas tertentu, takhayul mirip dengan imajinasi: sesuatu yang tidak faktual, tidak nyata secara empiris. Bedanya, takhayul seringkali bahkan selalu dipercaya sebagai fakta, dan dipandang nyata secara empiris meskipun tak pernah bisa dibuktikan. Sedangkan imajinasi tetap disadari sebagai sesuatu yang hanya ada dalam angan-angan atau alam khayal. Dengan kata lain, takhayul dibentuk secara sosial sebagai sesuatu yang secara nyata ada; sementara, imajinasi dibentuk secara sosial sebagai sesuatu yang secara nyata tidak ada. Karena takhayul terutama berisi cerita tentang hal-hal menyeramkan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, maka masyarakat cenderung menerimanya dengan rasa waswas, cemas, khawatir, bahkan takut.
Nah, bagi Rijono, takhayul tampaknya sama belaka dengan imajinasi. Atau lebih tepatnja, Rijono menyikapi takhayul sama persis sebagaimana dia menyikapi imajinasi. Takhayul adalah imajinasi yang menarik sebagai bahan cerita. Maka dia mengelaborasi takhayul, horor, dengan berimajinasi tentang takhayul itu sendiri sebagai bahan cerita.
Cerpen-cerpen Rijono yang bertema horor bermuara pada satu isyarat: takhayul “menggerakkan” suatu masyarakat (dalam arti: menyeramkan dan menakutkan bagi mereka) lebih karena terbentuknya imajinasi kolektif tentang takhayul itu sendiri, bukan karena bukti atau pengalaman menunjukkan bahwa apa yang ditakhayulkan itu memang menyeramkan dan menakutkan. Dalam arti kata lain, takhayul jadi menyeramkan atau menakutkan karena masyarakat menerimanya sebagai benar-benar ada meskipun tak pernah terbukti ada.
Tetapi, Rijono tak hanya menulis cerita-cerita seram. Dia juga menulis dengan tema-tema lain. Cerpen Rijono yang dimuat dalam Kakilangit edisi ini segera menunjukkan bahwa cerpennya yang bernada lembut pun amat menarik, indah, dan puitis. Dengan demikian, cerpen tersebut adalah sisi lain dari garis utama cerpen-cerpen Rijono.
Adik-adik sekalian, marilah kita mengenali Rijono Pratikto lebih jauh. Bacalah terlebih dahulu cerpennya dalam Kakilangit edisi ini. Setelah itu, bacalah ulasan Acep Iwan Saidi tentang cerpen-cerpen Rijono yang terkumpul dalam Si Rangka, kumpulan cerpen Rijono yang pertama kali terbit di tahun 1958. Buku tersebut telah diterbitkan ulang oleh Penerbit Pustaka Jaya di tahun 2002, dan masih relatif mudah ditemukan di toko-toko buku. Amat disarankan adik-adik membaca buku tersebut, agar mengenal lebih baik sastrawan kita yang pernah menjadi dosen pada Universitas Padjadjaran Bandung dan kini tinggal di Kota Kembang tersebut.
Di samping itu, Puji Santoso menulis proses kreatif dan riwayat hidup Rijono Pratikto, yang pastilah akan melengkapi pengenalan kita tentang sastrawan yang menulis cerpen sejak usia 15 tahun ini.
Akhirnya, selamat membaca juga puisi kawan-kawan kita dari SMA PGRI 2 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan SMAN 2 Makasar, Sulawesi Selatan. Puisi-puisi mereka diulas oleh Kak Jamal D. Rahman. Dalam pada itu, Dalilah, S.Pd., guru bahasa dan sastra Indonesia SMA PGRI 2 Banjarmasin, dan Drs. Dadang Juhaedi, guru bahasa dan sastra Indonesia SMAN 2 Makassar, menulis pengalaman masing-masing mengajarkan sastra. Drs. Muh. Hamzah Zaidan menulis catatan dari pengalamannya menyaksikan pentas drama di Australia. Sementara itu, puisi-puisi siswa dalam rubrik “Cermin” diulas oleh Kak Wan Anwar; cerpen yang menarik karya Maslia Maharani diulas oleh Kak Joni Ariadinata.
Selamat membaca.
(Tulisan tentang riwayat Rijono Pratikto terbit di majalah Kakilangit edisi No. 99 pada bulan Maret 2005).
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Rijono Pratikto dilahirkan dari keluarga polisi berpangkat komisaris, berkedudukan di Ambarawa, Jawa Tengah, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Ia merupakan anak sulung dan dilahirkan tiga bersaudara, semuanya lelaki. Rijono lahir di kota yang memiliki telaga besar bernama Rawa Pening itu pada tanggal 27 Agustus 1932. Semasa kecilnya dihabiskan di kota kecil itu hingga memasuki sekolah rakyat (1938). Ketika datang pendudukan fasis Jepang di Indonesia, sebenarnya Rijono sudah kelas empat sekolah rakyat. Namun, carut-marutnya keadaan sosial politik negeri ini menyebabkan ia baru menyelesaikan pendidikan sekolah rakyatnya bersamaan dengan dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta (1945).
Memasuki awal kemerdekaan keluarga Rijono pun tidak ketinggalan ikut bergerilya melawan tentara kompeni Belanda yang hendak menjajah kembali negeri ini. Pada suatu saat hingga terjadi perang revolusi fisik melawan tentara kolonial Belanda (NICA) yang dikenal dengan peristiwa “Palagan Ambarawa”. Ketika terjadi huru-hara mempertahan kemerdekaan itulah ayah Rijono hilang tak tentu kubur rimbanya dan rumah beserta seisinya hangus ludes terbakar. Rijono bersama kedua saudara dan ibunya dapat selamat serta pergi mengungsi ke rumah neneknya di Tegal. Di kota bahari dan dikenal dengan negeri poci ini Rijono dapat menyelesaikan sekolah menengah pertamanya (194) tanpa halangan yang berarti.
Rijono meninggalkan bangku sekolah menengah pertamanya dengan angka gemilang. Ia menjadi bintang kelas. Tanpa bersusah payah ikut tes, Rijono pun diterima di sebuah sekolah menengah atas (SMA) negeri di Semarang, ibukota Jawa Tengah, hingga lulus dari bagian B (Jurusan Ilmu Pasti dan Alam) pada 1951. Setamatnya dari sekolah menengah di Semarang ini kemudian Rijono melanjutkan ke kota Bandung, ibukota Jawa Barat. Di kota kembang ini Rijono mengambil jurusan teknik bangunan di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengikuti jejak Presiden Ir. Soekarno yang merupakan alumni sekolah tinggi tersebut. Rijono kuliah di ITB ini dengan ikatan dinas sebesar Rp 325,00 tiap bulan karena indeks prestasinya cukup cemerlang. Uang sebesar itu dapat untuk membayar pondokan sebesar Rp 250,00 per bulan.
Pada suatu hari di tahun 1955, ikatan dinasnya diputuskan. Pemutusan ikatan dinas itu sempat membuat Rijono kelabakan, nubruk sana nubruk sini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di Bandung. Pada masa itulah ia mendapat tawaran menulis di majalah Prosa yang salah satu redaksinya Ajip Rosidi, dengan honor Rp. 200,00; yang langsung ia terima dan jadilah cerpennya “Perjalanan Malam” (dimuat dalam nomor perdana majalah tersebut). Atas alasan tidak ada biaya untuk melanjutkan studinya, Rijono pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan kuliahnya di ITB. Ia kemudian bekerja di pabrik tegel di Bandung untuk menyambung hidupnya. Selain itu, ia aktif membantu RRI studio Bandung untuk siaran “Ruang Sastra”, menjadi salah satu anggota redaksi majalah mingguan Visuil, dan mengasuh ruang kebudayaan koran Warta Bandung. Lama kemudian Rijono berhasil menyandang gelar doktorandus dari Fakultas Publistik/Ilmu Komunikasi pada Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada tahun 1969. Ia akhirnya bekerja di kantor pemerintah daerah Bandung, dan kemudian mengajar ilmu komunikasi di almamaternya serta beberapa sekolah swasta lain di Bandung, terutama yang bernaung di bawah Departemen Penerangan.
Perjalanan hidup Rijono ternyata belumlah beruntung. Pada 1986 rumah Rijono di Gang Haji Nawawi 124D/136D Bandung yang ditempati bersama keluarganya, satu istri dan tiga anaknya, dirobohkan buldoser untuk digusur pembangunan jalan besar. Ia kemudian pindah ke kompleks perumahan dosen Unpad, di Bukit Dago, utara kota Bandung atas saran dekannya Hartoyo. Namun, atasannya ini mengusirnya pula ketika pada 1988 Rijono Pratikto dipecat sebagai pegawai negeri dan tanpa diberi hak pensiun oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan. Padahal ia telah menjadi dosen di Unpad itu selama sembilan belas tahun, bahkan sebelumnya bekerja di pemda Bandung. Alasan pemberhentian tidak dengan hormat itu karena Rijono diisukan sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang menjadi organ Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1950-an. Ketika itu Rijono memang mengirimkan karyanya ke berbagai media massa, termasuk koran dan majalah milik Lekra. Selain itu, Rijono juga berkunjung ke negara-negara blok komunis, seperti Rusia, Korea Utara, dan Republik Rakyat Cina, atas undangan Persatuan Penulis Soviet (kunjungan itulah yang kemudian dijadikan dalih untuk memperkuat tuduuhan terhadap dirinya; meskipun, dalam rombongan itu sebenarnya ikut juga penyair burung merak, W.S. Rendra). Akibat tuduhan itu, dua antologi cerpennya Api dan Cerita-Cerita Pendek Lain (Balai Pustaka, 1951) dan Si Rangka dan Cerita-Cerita Pendek Lain (PT Pembangunan, 1957) diharamkan dan dilarang dibaca oleh masyarakat Indonesia. Padahal, pada tanggal 18 Desember 1956, melalui suratnya kepada Menteri Pendidikan ketika itu, Rijono telah menjelaskan kedudukan kedua antologi cerpennya itu atas larangan Pemerintah Daerah Bandung. Keizinan pihak yang berwajib untuk Rijono dapat kuliah di Unpad dan menjadi pegawai negeri itu sebenarnya merupakan jaminan bahwa dirinya bersih dari tuduhan jahat tersebut.
“Biang dari semua itu”, kata A.F. Jassin, mantan mahasiswa Rijono yang berasal dari Malaysia dan menuliskannya di majalah Dewan Sastera, Malaysia, November 1988, “berpuncak daripada buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia karangan Ajip Rosidi (Bandung: Binacipa, 1969) yang membicarakan tentang Lekra”. Dalam buku Ajip Rosidi itu tercatat nama Rijono sebagai salah seorang pengarang yang sudah dikenal masuk Lekra. Memang kemudian Ajip Rosidi memberi penjelasan tentang buku itu demikian. “Bukanlah wewenang saya untuk mengusut apakah seseorang benar anggota suatu organisasi terlarang atau bukan. Ada lembaga kenegaraan yang berwenang untuk itu. Kalau ternyata lembaga itu sampai kepada simpulan yang berbeda dengan apa yang pernah saya tulis dalam buku itu atau dalam karangan lain, niscaya pendapat lembaga itu yang valid. Dengan kata lain, tulisan atau pendapat saya tidaklah dapat dijadikan bukti tentang keanggotaan seseorang.” (“Komentar”, Tempo, 27 Agustus 1988).
Setelah dimuatnya cerpennya “Api” dalam majalah Mimbar Indonesia, cerita-cerita pendek Rijono Pratikto kemudian terus mengalir menghiasi majalah dan surat kabar ibukota, seperti Mimbar Indonesia, Kisah, Zenith, Pujangga Baru, Gelanggang/Siasat, Roman, Kompas, Prosa, Indonesia, Aneka, Visuil, Seni dan Warta Bandung. Buku kumpulan cerita pendeknya yang pertama, Api dan Cerita-Cerita Pendek Lain (Jakarta: Balai Pustaka, 1951) terbit ketika Rijono masih duduk di bangku sekolah menengah umum di Semarang. Kemudian diskusi buku kumpulan cerita pendeknya yang kedua, Si Rangka dan Cerita-Cerita Pendek Lain (Jakarta: Pembangunan, 1957) yang terbit semasa dirinya kuliah di Bandung. Ia juga menerjemahkan buku karangan Boris Lavrenyov berjudul Yang Keempatpuluh Satunya (1958). Sementara itu, cerita pendeknya “Melalui Biola” mendapatkan hadiah majalah Kisah pada tahun 1954.
Setelah itu tampaknya kreativitas Rijono Pratikto menulis sastra menurun. Semasa 1960-an dan 1970-an Rijono kurang produktif menulis cerita pendek atau sastra. Baru pada 1985 Rijono menerbitkan sebuah novel remaja yang berjudul Pasukan Berani Mati (Bandung: Alumni), yang kemudian terbit pula di Malaysia. Selain itu, Rijono juga menerbitkan dua buah novel pada 1993 yang berjudul Wina Muda dari Ambarawa dan Sepanjang Sungai Sepanjang Bukit, romannya pada 1950-an dan keduanya terbit di Malaysia. Sementara itu, karya-karya nonfiksinya, antara lain, Komunikasi Pembangunan (1975), Lingkaran-Lingkaran Komunikasi (1982), Jangkauan Komunikasi (1983), Kreatif Menulis Feature (1984), dan Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi (1987) menjadi pegangan utama mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi atau FISIP.
Meskipun dalam perjalanan hidupnya nasib tragis merundung Rijono Pratikto, baik semasa pecah perang revolusi (ayahnya menjadi korban dan rumahnya ludes dibakar musuh), atau semasa permulaan Orde Baru (kedua buku antologinya diharamkan untuk dibaca oleh masyarakat), serta pada pertengahan Orde Baru (rumahnya diratakan dengan tanah oleh buldoser, digusur demi pembangunan jalan raya, menempati rumah dinas diusir oleh dekannya, maupun dipecat dengan tidak hormat oleh menterinya karena diisukan sebagai anggota Lekra), Rijono Pratikto tetap eksis dan tercatat sebagai sastrawan Indonesia yang produktif menulis cerpen.
Beberapa cerpennya dimuat dalam buku antologi, misalnya Cerita Pendek Indonesia 2 (editor: Setyagraha Hoerip, 1984), dan Horison Sastra Indonesia 2 Kitab Cerita Pendek (editor: Taufiq Ismail, dkk., 2002). H.B. Jassin membicarakan karya-karya Rijono Pratikto secara panjang lebar dalam buku Kesusastraan Indonesia modern dalam kritik dan Esai III (1967, 1985) dan dalam buku Analisa: Sorotan Atas Cerita Pendek (1965). A. Teeuw pun membicarakan Rijono dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989) sebagai sastrawan “gudang juru cerita”. E.U. Kratz dalam bukunya Bibliografi Sastra Indonesia Modern: Drama, Prosa, dan Puisi (1988) mencatat ada lebih dari 139 cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah yang terbit antara tahun 1949-1973. Ini adalah bukti kehadiran Rijono dalam panggung sejarah sastra Indonesia mdoern.
Kini, sastrawan gaek ini menikmati masa tuanya di Kota Kembang.