Baca EPUB: metode-ganzheit-dalam-kritik-seni

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
ARIEF BUDIMAN
Metode Ganzheit dalam Kritik Seni
Kacabenggala Editions

Publisher Note

“The important thing here is not much the discovery of new fact as the discovery of instrument of thought.”



— Ernst Cassirer

Karya ini pertama kali diterbitkan dalam Horison no 4, April 1968.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Bagian 1

Adalah aliran Psikologi Gestalt yang menyatakan bahwa suatu keseluruhan/totalitas memiliki kualitas baru yang tidak sama dengan jumlah semua elemen-elemennya.

Kalau kita memandang ke dalam kehidupan sehari-hari, maka nyata betapa benar pernyataan di atas. Kita sering membaca sebuah kata tanpa kita sadar bahwa pada kata itu ada sebuah huruf yang hilang atau salah cetak. Kita mengenal sebuah wajah secara intim sekali, tapi bila pada suatu saat timbul pertanyaan bagaimana bentuk bibir atau hidung dari wajah tersebut secara tepat, maka kita akan cukup sibuk untuk mencoba merekontruksikan kembali bentuk-bentuk bibir atau hidung yang ditanyakan tersebut. Bahkan kemungkinan besar kita gagal untuk mematuhi permintaan itu. Padahal, kita sudah benar-benar kenal dengan wajah tersebut.

Atau pada sebuah lagu. Ambillah sebuah lagu yang kita kenal benar-benar yang dapat kita lagukan demi satu nada-nadanya sambil kita setengah tertidur. Dan sekarang, cobalah nada-nada dari lagu yang telah kita kenal benar itu, kita susun secara terbalik, dari belakang kepermulaan. Maka akan kita dapati betapa susah melakukan hal ini. Dan kemudian besar kita gagal sama sekali. Padahal kita sudah benar-benar kenal lagu itu.

Semua ini karena pada hakikatnya, yang kita hayati ialah sebuah totalitas. Sebuah totalitas bukanlah elemen yang kita susun satu per satu. Sebuah totalitas langsung kita hayati sebagai keseluruhan, bukan melalui penghayatan elemennya satu per satu. Sebuah wajah bukanlah kita hayati dengan menghayati hidungnya, kemudian kita tambah dengan penghayatan pada matanya dan kemudian lainnya lagi. Sebuah lagu tidak kita hayati melalui nada yang pertama ditambah dengan nada yang kedua dan seterusnya. Kita berhadapan langsung sebagai keseluruhan dan kita menghayati langsung sebagai sebuah keseluruhan. Elemen-elemen, secara dinamis mengadakan interferensi yang menghasilkan sebuah kualitas baru. Kualitas baru inilah yang langsung kita hayati, yang kita tangkap pertama. Elemen, baru muncul pada tahap kedua, setelah kita mengadakan refleksi dan analisa.

Bagian 2

Elemen yang muncul sebagai tahap kedua penghayatan, melalui refleksi dan analisa, bukanlah elemen dengan kualitas universal. Elemen dalam hubungan dengan totalitas, telah mendapatkan artinya yang baru. Elemen itu telah berubah. Elemen itu telah menjadi elemen fungsional yang hanya bisa kita hayati secara tepat sebagaimana dia menggejala kalau kita tidak melepaskannya dari fungsi dinamisnya dengan ke-ada-bersama-annya.

Cobalah bayangkan dua buah lagu, katakan saja lagu “Indonesia Raya” dan lagu “Padamu Negeri”. Kita ambil sebuah nada yang “sama”, misalnya nada sol. Nada sol yang kita ambil dari lagu yang pertama jelas tidak sama dengan nada sol yang kita ambil dari lagu kedua. Yang pertama misalnya, berfungsi memperkuat suasana bersemangat yang ada pada lagu itu. Sedangkan yang kedua justru berfungsi untuk memberikan situasi kesyahduan, misalnya. Bahkan, nada sol dari baris pertama lagu yang pertama berlainan dengan nada sol dari baris kedua lagu yang pertama. Padahal secara ilmu fisika, nada sol itu dibunyikan secara sama, jumlah getarannya tiap-tiap detik sama. Namun, dalam suatu interferensi dinamik dalam sebuah lagu, keduanya telah memperoleh fungsi baru dan karena itu tidak sama. Keseluruhan/totalitas telah memberinya warna yang lain.

Demikianlah, sebuah elemen yang terlepas dari sebuah totalitas, akan merupakan totalitas sendiri yang akan memberikan kualitas yang lain daripada kualitas bila elemen itu ada bersama dalam sebuah totalitas yang baru. Singkatnya, sebuah elemen mendapatkan artinya sendiri-sendiri dari dan dalam totalitas di mana di mendinamik.

Bagian 3

Beberapa buah nada yang saling mengadakan interferensi dinamis melahirkan sebuah kualitas total yang bernama lagu, yang adalah lain dari jumlah semua nada-nadanya. Dan sebuah lagu yang mengadakan interferensi dinamis dengan seorang manusia yang sedang menghayati, juga melahirkan kembali sebuah totalitas baru yang lain. Demikianlah, penghayatan tiap-tiap manusia pada sebuah lagu yang sama, ternyata berlain-lainan. Setiap penghayatan merupakan sebuah rekreasi, penciptaan kembali dari karya seni yang dihayatinya. Ini juga berlaku dalam penghayatan biasa terhadap objek-objek yang biasa. Setiap penghayatan adalah unik, yang berbeda-beda secara kualitatif, dari orang-orang yang normal sampai kepada mereka yang mengalami gangguan kejiwaan. Inilah prinsip dari aliran psikologi Ganzheit, yang mengikutsertakan faktor manusia yang menghayati sebagai elemen yang turut mengadakan interferensi dinamis dalam menyusun kualitas total yang baru.

Dengan demikian, sebuah penghayatan merupakan sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan dinamis antara manusia yang menghayati dengan objek yang dihayati. Sebuah penghayatan adalah sebuah penyatuan yang melahirkan sebuah dunia yang unik. Subjek dan objek, atau sebenarnya lebih tepat dikatakan kwasi subjek dan kwasi objek, muncul dalam tahap kedua, setelah refleksi dan analisa. Penghayatan sendiri adalah suatu kesatuan saat subjek dan objek melebur dan membentuk suatu dunia yang unik.

Bagian 4

Ernst Cassirer menyatakan bahwa ilmu (science) berusaha menyederhanakan kenyataan untuk menemui prinsip-prinsip yang umum, sedangkan seni berusaha untuk mengintensifir, mengkondensir, dan mengonsentrir kenyataan, untuk menemui gejala-gejala sebagai suatu yang aktual. Kalau ilmu menuju kepada sesuatu yang universal, maka seni merupakan penghayatan terdekat dari manusia kepada alam.

Sebagai suatu hasil penghayatan, maka seni adalah sebuah realita baru yang unik, di mana faktor manusia memegang peran yang penting. Dia adalah sebuah realita yang unik yang hanya bisa “dimengerti” bila kita telah berhasil menghayati nilai-nilai dari realita itu, yang bersifat unik, khas dirinya. Maka seorang kritisi seni yang mau “mengerti” sebuah karya seni, tidak punya suatu metode yang universal yang dapat dijadikan alat untuk membedah karya tersebut. Setiap kali dia menghadapi sebuah karya seni, setiap kali pula dia harus secara kreatif mencari sebuah alat untuk membedahnya. Akibatnya, sikap yang terbaik bagi seorang kritisi dalam menghadapi sebuah karya seni, ialah membuka diri seluas-luasnya, seperti yang dikatakan oleh Henri Bergson, “membuat tidur kekuatan aktif dan daya melawan kepribadian kita dan membiarkan diri terbawa ke suatu keadaan perfect responsiveness”. Kita membiarkan karya itu berbicara sendiri, sebelum ada suatu sikap a priori dari kita, untuk kemudian membiarkan diri terlibat dalam suatu interferensi dinamis. Hanya dengan sikap seperti inilah kita akan berhasil menangkap keunikan sebuah karya seni.

Bagian 5

Adanya faktor personal dalam sebuah karya seni melalui sebuah proses interferensi dinamis inilah yang membuatnya berbeda dengan penyorotan karya seni dengan memakai sebuah konsepsi a priori. Misalnya mau menyoroti unsur-unsur simbolik dari karya Chairil Anwar. Unsur-unsur simbolik adalah sebuah konsepsi a priori yang mau dipakai sebagai alat pembedah. Maka terjadilah pembedahan. Puisi Chairil tidak dibiarkan berbicara sebagai subjek merdeka yang hidup, melainkan disuruh diam, tidak bergerak, berhenti mengalis, kemudian dicungkili apa yang mau dicarinya. Di sinilah sang kritisi “aktif”, sedangkan sang karya seni dipasifkan menjadi sebuah kadaver di atas meja bedah. Kemudian dicari lagi konsepsi a priori yang lain, misalnya masalah retorik dalam karya-karya Chairil. Kemudian dicari lagi lainnya, misalnya unsur individualisme dalam karya Chairil. Kemudian dicari lainnya lagi, lainnya lagi, dan seterusnya. Hasil-hasil cungkilan tersebut akhirnya dikumpulkan bersama dan dibuat kesimpulan daripadanya. Inilah metode yang sering digunakan dalam kritik sastra kita dewasa ini. Metode ini dapat kita sebutkan sebagai "metode analistis", karena sifatnya yang mengutamakan analisa sebelum ada penghayatan totalitas. Di sini tidak terjadi interferensi dinamis antara dua subjek yang merdeka, melainkan sebuah hubungan dari seorang subjek yang merdeka dan subjek lain yang tidak merdeka.

Bagian 6

Metode kritik seni Ganzheit sebenarnya telah dijalankan secara hampir sempurna pada musik. Pada musik penghayatan total lebih mudah terjadi karena elemen-elemen musik adalah rangsang-rangsang “abstrak” yang tidak berdiri sendiri. Karena itu, dalam menghadapi sebuah karya seni musik, orang secara spontan melakukan approach yang langsung menuju kepada penghayatan total dan bukan melalui penghayatan elemen. Kepada sebuah karya musik, orang segera mendengarkan, “membuat tidur kekuatan aktif dan daya melawan kepribadian kita” sehingga terjadi sebuah interferensi dinamis dan baru sesudah selesai mendengarkan seluruh lagu itu, dia berkata “aku suka” atau “aku tidak suka”.

Pada seni lukis, dalam suatu unit waktu yang sama kita segera dihidangkan sebuah totalitas. Dan elemen sebuah karya seni lukis sebenarnya juga adalah "abstrak" dan tidak berdiri sendiri, yakni warna. Tetapi orang telah terbiasa mencampur baurkan antara gambar dan lukisan. Sebuah gambar adalah sebuah copy dari alam secara phisis. Sedangkan sebuah lukisan merupakan sebuah respons rohani dari seorang seniman pelukis terhadap alam yang dihadapinya dan kemudian mengekspresikannya dalam warna. Tidak ada keharusan bagi sebuah lukisan untuk mempunyai unsur-unsur gambar. Namun, orang telah terlalu terbiasa melihat gambar dan terlalu tidak biasa melihat lukisan. Maka akibatnya, dalam menghadapi sebuah lukisan, orang mencari unit-unit gambar. Dia tidak bereaksi melalui penghayatan keseluruhan dari interferensi dinamis warna-warna yang ada pada lukisan tersebut. Melainkan, secara elementaristis, dia mencari bentuk-bentuk gambar yang mungkin ditemuinya dalam susunan warna-warna itu. Orang-orang seperti inilah yang tidak bisa melihat lukisan itu terlebih dahulu. Judul lukisan merupakan konsepsi a priori yang mau dijadikan alat oleh orang itu untuk membedah lukisan tersebut.

Bagian 7

Kesusastraan, khususnya puisi, adalah cabang seni yang paling sulit untuk dihayati secara langsung sebagai totalitas. Elemen-elemen seni ini ialah kata dan sebuah kata adalah suatu unit totalitas utuh yang kuat berdiri sendiri. Dia menjadi totalitas baru dalam pembentukan-pembentukan baru, dalam kalimat-kalimat yang telah mempunya suatu urutan yang logis.

Kesulitan muncul terutama dalam puisi. Puisi, dalam usahanya melukiskan sebuah realita yang personal, realita yang tidak universal, terpaksa menggunakan penyusunan kata di luar kebiasaan yang ada dalam urutan yang tidak atau kurang logis dalam pengertian umum, supaya suasana yang dilukiskan tidak jatuh menjadi keseluruhan pengertian-pengertian yang umum. Maka sering kali terjadi, tiap-tiap kata berusaha mempertahankan integritas dirinya, bertahan untuk tidak lebur dalam suatu totalitas. Bila dalam sebuah karya puisi, tiap-tiap kata tampak berhasil mempertahankan dirinya sebagai totalitas yang berdiri sendiri maka akibatnya puisi itu saling menghancurkan di dalam dirinya sendiri. Atau mungkin pula sebuah puisi tampak gagal, karena orang yang membacanya melakukan approach yang elementaristis. Sebab itulah, puisi-puisi yang “prosais” lebih mudah dinikmati oleh banyak orang.

Maka persoalan metode kritik sastra Ganzheit, meskipun merupakan persoalan kritik sastra pada umumnya, terutama muncul dalam karya puisi.

Bagian 8

Metode kritik Ganzheit merupakan suatu proses partisipasi aktif dari sang kritisi terhadap karya seni yang dihadapinya. Mula-mula, tanpa konsepsi a priori apa pun juga, sang kritisi membiarkan karya seninya secara merdeka berbicara sendiri. Kemudian terjadilah sebuah dialog, sebuah pertemuan, sebuah interferensi dinamis antara kedua subjek yang hidup dan merdeka itu. Sebuah proses refleksi dan analisa terjadi kemudian. Di sini, elemen-elemen menjadi “terang dan jelas” dalam hubungannya dengan penyatuan keseluruhan tersebut. Elemen-elemen itu mendapatkan nilainya dari penyatuan total tersebut. Elemen-elemen yang tadinya tampak kaku-beku, setelah terjadi sebuah interferensi dinamis, seakan-akan mencair dan menjadi hidup penuh warna-warni. Pada saat sang kritisi menuliskan pengalamannya ini, maka lahirlah sebuah kritik seni yang merupakan hasil sebuah percintaan atau sebuah persengketaan antara manusia dan sebuah karya seni.

Sebuah percintaan atau sebuah persengketaan! Ini berarti, hanya karya-karya seni tertentu saja yang dapat membuat sang kritisi tergerak. Ini berlainan sekali dengan metode kritik yang analitis. Sebuah kritik sastra yang analistis dapat saja membuat kritik dan membanding-bandingkannya karya seni lain, karena dalam metode ini sudah ada konsepsi-konsepsi universal yang dapat (dipaksakan) diterapkan kepada semua karya seni. Apalagi, dalam kritik sastra analistis sang kritisi bersikap pasif dalam partisipasinya secara penuh sebagai pribadi yang merdeka. Sang kritisi aktif dalam menggunakan "alat-alat bedahnya", tapi sangat kurang dalam melibatkan dirinya sendiri.

Jadi pada hakikatnya, metode Ganzheit dalam kritik seni adalah metode yang mengembalikan kritik seni kepada manusia konkret dan menolak penggunaan alat-alat yang menggunakan prinsip-prinsip mekanistis yang universal. Metode Ganzheit dalam kritik seni adalah metode yang mengakui keunikan tiap-tiap penciptaan seni dan mengakui dunia merdeka yang hidup dari manusia yang menghayati. Metode Ganzheit dalam kritik seni adalah interferensi dinamis dari keduanya.

Jakarta, April 1968

Bacaan

KOHLER, Wolfgang. Gestalt Psychology. New York, Mentor Book, 1959

Cassirer, Ernst. An Essay on Man. New Haven and London. Yale Univesity Press. 1962.

Bergson, Henri. Time and Free Will. New York, Harper Torchbooks, 1960.

Adji, Sutisna. “Pengertian yang salah terhadap metode analitik dalam kritik puisi” INDONESIA. Jakarta, Juli 1965. (Catatan: Sutisna Adji adalah nama samaran dari Goenawan Mohammad).