Publisher Note
Cerpen ini diterbitkan pada 17 Juli 1949.
Naskah ini merupakan koleksi pribadi Muhammad Reza Magistra.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TATKALA djam 4 lebih aku berdjalan mendjindjing koper sepandjang djalan ketjil, sekatjau-katjaunja ingatan, aku masih dapat merasakan bahwa ada satu dua laki-laki jang memandang kepadaku dengan hati memudji ketjantikanku. Tapi perempuan mana jang dapat membuka hati terhadap pandangan laki-laki, bila baru sadja bertengkar dengan suami sehingga menimbulkan pertjeraian? Ketika suamiku mulai bertemu dengan aku, iapun memandang aku dengan pandangan seperti jang dipandangkan laki-laki selama aku berdjalan itu. Tapi diwaktu jang achir-achir ini ia tidak lain dari seekor binatang berkedok manusia; hampir tiap malam meninggalkan rumah, pergi ketempat latjur di Gang M.
Apakah jang dapat lagi kukatakan dalam hatiku terhadap laki-laki didjalan itu selain dari utjapan: „Hih, tak usah engkau mentjoba meraju hatiku. Aku ini kurban manusia sematjam engkau dan mesti bentji kepadamu!”
Betul aku pernah merasakan kesenangan hidup bersama dengan suamiku, pernah mengetjap madu tjinta bersama. Tapi kedjadian itu sudah dua tahun kebelakang, sedang barusan, sepuluh menit jang lalu, …aduh sampai tidak terasa djalan jang ditempuh sudah djauh, tidak terasa tangan sakit mendjindjing koper; jang terasa hati merasa sakit, sungguh sakit digigit-gigit utjapan kasar jang barusan keluar dari mulut suamiku: „Pergilah engkau! Tak sudi aku serumah dengan kau.” Masih nampak-nampak betapa bengis mukanja dikala melahirkan kata-kata itu. Seperti ia sudah terlupa samasekali terhadap pembaktianku sebagai isterinja, atau seperti aku ini dipandangnja perempuan djalang. Ja, lebih rendah dari itu malah, lantaran perempuan djalang di Gang M. dia pudja sampai lupa pulang kerumah, seperti jang terdjadi dimalam-malam dalam minggu jang achir-achir ini,—seperti djuga jang terdjadi tadi malam, sampai-sampai ia baru pulang kerumah djam dua tadi siang dengan muka ketjut menantang bertengkar.
Didalam aku teringat kepadanja, rupanja ia senang-senang sadja tidur dengan perempuan itu. Didalam aku tidur sendirian menanti-nanti kedatangannja, rupanja ia asjik sadja memeluk mentjium perempuan itu.
Hati siapa jang tidak akan panas seperti hatiku sekarang dan tidak ada keinginan menemui itu perempuan djahat jang menjebabkan sampai terdjadi pertjeraian sehingga aku kini mesti berdjalan meninggalkan rumah?
Sajang, sungguh sajang, perempuan itu tak pernah kukenal. Kalau sudah, biar botol jang kupulkan kepada suamiku tapi dapat ditangkisnja tadi, kulemparkan pula kepada muka perempuan itu! Biar ia mendapat bagiannja, biar sekurang-kurangnja mukanja rusak sebagai hukuman atas perbuatannja jang durhaka jang menjebabkan aku kini mesti bertanja: kemana mesti pergi?
Dan sesungguhnja, kian kupikir-pikirkan kian terasa adanja keharusan menghukum perempuan itu, sebab mengapa setelah nampak dihadapan mataku banjak toko berderet dan terdengar disekitarku suara sialng-siur kendaraan, masih djuga aku mesti bertanja: kemana mesti aku pergi? Mesti kestasiun sadja untuk terus mengendarai keretaapi menudju rumah orangtuaku? Padahal orang banjak didjalan itu, tentu tidak semuanja akan memudji ketjantikanku, tentu diantaranja ada djuga jang akan mentjemoohkan nasibku atau memandang rendah kepadaku, seperti itu perempuan kenalanku jang kulihat gembira berdjalan hendak mendekati aku dan tentu akan bertanja apa sebab aku membawa koper.
Kupanggil sadja delman jang lewat kehadapan, kunaiki delman itu dengan tjepat seraja melemparkan kata kepada kusirnja: „Kestasiun!”
Tapi setelah delman madju, rumahku lagi sadja jang terbajang dihadapan muka. Sesungguhnja suatu perbuatan jang dungu, sebab rumah itu bukan rumahku, tapi rumah suamiku jang sedjak barusan mendjadi bekas suamiku. Tapi dungu atau tidak dungu, siapa orangnja jang akan lupa kepada rumah jang didiaminja selama dua tahun, dipelihara perabotannja setiap waktu, dan barusan, sepuluh menit jang lalu, tiba-tiba mesti ditinggalkan? Padahal suamiku jang sedjak barusan sudah bukan suamiku lagi dan kini kutinggalkan dirumah itu, mulai nanti malam djuga tentu akan tidur dengan perempuan jang akan didatangkannja kesana, diatas tempattidur jang biasa ditidurinja bersama aku jang barusan djadi isterinja, tapi kini ada didajalan dan nanti malam entah akan tidur dengan siapa.
Kedjam, sungguh kedjam laki-laki itu! Lebih kedjam lagi perempuan jang akan merebut tempatku. Sepatutnja dia kurangsang seperti djuga suamiki jang tadi kurangsang, ketika ia mengatakan: „Memang di Gang M. aku lebih senang daripdaa dirumahku sendiri!”
Uh, kalau perempuan djahat itu sekarang ada dihadapan!
„Apa, Neng?” bunji suara kusir delman jang mengedjutkan dan memaksa aku mau atau tidak mau mesti memandang kumisnja jang menjebalkan.
„Djangan kestasiun, ke Gang M. sadja!” djawabku dengan keinginan supaja ia lekas memalingkan lagi mukanja, tidak lama memperlihatakan kumisnja jang djarang seperti sikat kakus itu. Tapi ia malah bertanja: „Ke Gang M?”
„Ja, ke Gang M., goblok!” kataku seperti aku tadi berkata kepada suamiku: „Ja, engkau binatang!”, atau seperti jang ingin kukatakan kepada itu perempuan djalang di Gang M. jang sudah berani menelantarkan aku sekarang mendjadi djanda: „Ja, engkau djalang djahanam!” Untung ia tidak berkata lagi dan pada simpang-empat, ia membelokkan delman kearah djalan jang terus ke Gang M., tidak terus menudju kestasiun.
Duduknja jang agak tertunduk, tak salah lagi lantaran ia takut kepadaku, dan djika kuperhatikan keritjut kulit lehernja jang mengutarakan bahwa ia sudah tua, sebenarnja memang tidak usah aku memandang sebal kepadanja, tidak usah pula tadi melemparkan kata-kata marah kepada orang setua itu. Ja, tidak usah aku tadi menjuruh dia membawa aku ke Gang M., sebab buat apa sesungguhnja aku kesana?
Oh, berharap benar aku supaja ia sudi memandang lagi kepadaku dan mengadjak berkata kepadaku. Biar dia akan kupandang sebagai orang tua jang menghibur susahku. Biar dia nanti kusuruh lagi dengan ramah supaja membelokkan lagi delmannja. Tapi ia terdiam sadja, rupanja sedang merasakan sakit hati lantaran tadi kumarahi. Padahal djika kulepaskan pandanganku dari dia, melihat kesekitar, nampak toko manisan jang dilalui, jang biasa-biasa kudatangi dengan perasaan lega, ketika itu mengadjak aku berdebaran memandangnja, serasa-rasa merek toko itu berkata: „Awas kau! Lima menit lagi akan kau sampai kesana!”
Ah, bagaimana aku mesti menjuruh orang jang sedang luka hati supaja balik lagi: bagaimana aku harus memulai berkata kepadanja, supaja ia tidak nanti berkata dalam hatinja, bahwa aku ini perempuan gila lantaran bertjerai dengan suami? Biar sadja ia terus membawa aku sepandjang djalan itu, meskipun djantungku terasa keras memukul-mukul dada, lebih keras dari suara langkah kuda. Biar terus melewati Gang M., terus djangan berhenti disana, entah akan kemana sadja.
Tapi sungguh tak kunjana, bahwa kusir itu bukan orang berbudi, senang sadja nampaknja dikala ia menarik kendali menghentikan kuda didepan Gang M.,; seperti tak diatjuhkannja rasa kasihanku jang dilimpahkan kepadanja tadi, atau memang dasarnja goblok, ingin menerima pukulan selop jang serasa-rasa hendak kulemparkan kebatang hidungnja.
Sudah hendak kusemprotkan perintah: „Terus!” sebagai gantinja selop, tapi ja, apakah ruginja dari atas delman aku melihat djalan jang ada dikelopak mata, jang biasa dilalui suamiku dimalam hari itu? Kalau sudah melihat djalan itu, baru delman boleh disuruh madju lagi.
Djalan itu ketjil, hanja tjukup untuk dua orang berdjalan bergandengan tangan. Dipinggirnja ada solokan, airnja kotor, tapi tidak lebih kotor dari itu rumah petak dikapur putih terdiri atas beberapa kamar, letaknja diudjung djalan.
Tapi kamar manakah jang didatangi suamiku tadi malam? Semua kamar nampaknja sama sadja; setiap kamar menjebutkan dirinja kamar, lantaran ada pintunja untuk masuk. Pintu mana jang sering dilalui suamiku tentu tak mudah ditebak, sebab semua pintu dibikin dari kaju!
„Mentjari siapa, Neng?” bunji suara perempuan mengiang ditelinga.
Ternjata perempuan setengah tua jang duduk diwarung kopi ditepi djalan ketjil jang mengatakannja. Mukanja jang dihadapkan kepadaku persis seperti muka kera jang pernah kulihat dikebun binatang dulu; tak salah lagi dialah tjenteng jang biasa menghubung-hubungkan perempuan-perempuan latjur disana dengan laki-laki jang mau pelesir, djuga jang melantarankan suamiku senang datang kesana. Peniti dolar mas jang bergantung didadanja tentu diperolehnja dari hasik pekerdjaannja jang durhaka itu dan gelang mas sebesar kelingking membelit tangannja adalah keuntungan dari perbuatannja jang menjebabkan aku kini sampai mendjadi djanda tjelaka jang mesti melepaskan dendam kepadanja dengan mentjekik lehernja jang seperti leher babi itu.
Segera sadja aku membajar delman dan terus turun, mendatangi warung kopi itu, duduk dikursi jang disodorkan anak ketjil kepadaku. Beberapa saat lamanja mataku terus dipandangkan kepada kera tidak berbulu itu dengan hati menembak-nembakkan kutuk: „Engkaulah jang djahat!”
„Adakah jang Eneng tjari?” tanjanja dengan senjum seperti senjum pendjahat jang pernah kulihat dalam pilem.
„Ja, …tapi berilah aku kopi-susu,” djawabku seraja memalingkan muka.
Ia menjediakan apa jang kuminta. Ketika meletakkan gelas kopi-susu dihadapanku, djelas kelihatan matanja jang seperti mata andjing itu ditatapkan kepada koperku jang kutaruh disampingku.
„Eneng mentjari kamar untuk menginap barangkali?” tanjanja; suaranja berirama, tak salah lagi seperti jang biasa disuarakan kepada suamiku djuga, jang boleh djadi merdu bagi oranglain, tapi bagiku tidak.
Tapi apa jang dimaksudkannja dengan pertanjaan itu? Sudah tahukah gerangan orang kotor itu bahwa aku ini perempuan diusir dari rumah suaminja? Atau ia bertanja untuk bertanja sadja, berlagak manusia baik budi?
„Kamar-kamar disini bersih, Neng,” katanja lagi. „Jang suka datang disini bukan laki-laki dari golongan rendah.”
Memang siapa pernah mengatakan, bahwa suamiku orang rendah? Banjak perempuan meladeni dia, djustru lantaran ia tidak bermartabat rendah. Maka tanjaku dengan menggemeretukkan geraham: „Seringkah tuan Suminta datang disini?”
„Suminta mana?” tanjanja seraja mengerut-ngerutkan alis, persis seperti monjet menemui kutu.
„Klerk dikantor K.”
„Bisa djadi, tapi jang pangkatnja lebih tinggi dari klerk djuga sering datang disini.”
„Siapa?” tanjaku dengan ingatan mengatakan: „Laki-laki bukan suamiku masabodoh sadja!”
„Tuan tjamat djuga sering datang disini,” djawabnja.
Ja, tjamat memang lebih tinggi dari suamiku, kedudukannja lebih tinggi, gadjinja djuga lebih besar. Seorang tjamat ada disampingku dan bersukasenang dengan daku, tentu akan memuaskan hatiku dan akan membikin ketjil bekas suamiku jang sudah berani memandang rendah kepadaku. Sajang, aku tak pernah mengenal seorang tjamat.
„Eneng lesu sekali kelihatannja,” bunji suara tukang warung kopi lagi. „Mari diminum kopinja; kalau belum merasa segar djuga boleh nanti tidur-tiduran.”
Tidur-tiduran? Apa maksudnja? Pertanjaan-pertanjaan ini kulemparkan kepadanja bersama pandangan mata menatap. Ia tersenjum; bermula senjumnja itu masih dapat kutentang dengan hati bertanja: „Kau mau menjuruh aku tidur dengan tjamat?” Kemudian terasa suruhan hati untuk lebih baik memandang kearah kueh.
Ketika hendak kutanjakan berapa harga kueh itu, terdengar lagi ia berkata: „Ja, bagaimanapun djuga dikatakan orang, tapi mendjadi kesenangan bibi memberi pertolongan pada oranglain.”
„Hh, kedatangan suamiku dan tjamat disini, tentu sadja memberi kesenangan padamu!” kata hatiku. Dan aku kian tak sudi menghadapkan muka kepadanja. Biar sadja ia terus berkata:
„Siapapun djuga jang datang disini, bibi anggap sebagai orang jang mesti bibi ladeni untuk menolongnja.”
„Tapi laki-laki jang datang disini, semuanja djuga binatang, baik suamiku, maupun tjamat itu!” kata hatiku. Dan kupegang gelas kopi susu, hendak kuhirup isinja.
„Eneng tjape sekali nampaknja,” katanja lagi, „seperti orang kurang tidur. Padahal bibi djuga menjediakan tempat untuk tidur-tiduran.”
Gelas jang kupegang itu mau rasanja kulemparkan kepada mukanja jang kupandang lagi dengan tadjam sampai djelas kelihatan keritjut kulit dibawah kelopak matanja. Dalam mulutku serasa-rasa sudah berkumpul kata-kata jang ingin kutampakan: „Kau mau menjuruh aku tidur dengan sembarangan laki-laki?!” Tapi ia lekas menjusul dengan utjapan:
„Tak ada jang mengganggu Eneng, kalau Eneng mau tidur. Sebab kebetulan kamar itu kosong. Tu, kamar itu!”
Mau tidak mau kulajangkan mataku kearah jang ditundjuk telundjuknja, kekamar petak jang paling udjung, jang tadi nampak tidak berbeda dengan kamar-kamar jang lain, tapi sekarang djelas kelihatan didepan pintunja jang tertutup ada sapulidi dan ember, menundjukkan bahwa kamar itu akan atau baru sadja dibersihkan dari segala kutubusuk dan segala tanda-tanda jang akan menerangkan siapa laki-lakinja jang sering datang kesana, djuga jang akan menerangkan, bahwa suamiku tadi malam tidur disana.
Tapi mengapa kamar itu kosong? Mengapa perempuan jang mendiaminja pergi? Adakah gerangan perginja itu untuk pindah kerumah suamiku? Untuk nanti malam mulai tidur diatas tempattidurku?
„Kapan kamar itu mulai kosong?” tanjaku dengan mengharap djawaban penuh.
„Baru tadi,” djawabnja, dan ia tentu tidak dusta mengingat bahwa kamar itu akan atau baru sadja dibersihkan.
Entah berapa teguk aku menghirup kopi-susu, sebelum aku dapat merasakan bahwa bertanja: „Siapa nama perempuan itu?”
„Hatimah.”
Hatimah? Tapi nama itu tak pernah disebut-sebut suamiku. Ia pernah menjebut nama Netty ketika didalam tidur memeluk aku.
„Bukan Netty?” tanjaku lagi.
Ia tersenjum; katanja: „Seribu nama boleh dipakainja, Neng.”
„Seribu nama bagaimana?”
„Ja, untuk bibi dia bernama Hatimah, tapi apa salahnja ada laki-laki jang memanggil dia Netty atau Hapsah atau apa sadja.”
Kalau begitu apa salahnja Hatimah itu dipanggil Netty oleh suamiku dan apa salahnja kamar jang kosong itu kulihat untuk terus dibakar sampai djadi lebu? Biar aku puas bertjerai dengan suamiku.
„Akan Eneng pergi kekamar itu?” bunji suara tukang warung kopi lagi.
„Tidak. Tidak usah,” djawabku; didalam hati terasa sedih membajangkan betapa akibatnja kalau aku melakukan perbuatan sampai-sampai kepada membakar rumah oranglain. Orang tentu akan mengatakan aku ini gila kegila-gilaan lantaran ditjerai dan itu perempuan djalang jang sudah dan akan bersenang-senang dengan suamiku, akan lebih merasa puas sadja.
Kuangkat badanku, lalu bertanja: „Berapa harga kopi-susu ini?”
„Setalen.”
Setelah memberikan uang setalen, lekas sadja kudjindjing koperku, lalu berdjalan keluar dengan hati bertanja: kemana sekarang?
Ja, kemana? Tadi aku mau sadja kestasiun untuk terus pulang kerumah orangtuaku. Tapi sekarang didalam perempuan djalang meninggalkan kamar durhakanja dengan keinginan tak salah lagi untuk mengubah nasib, mengapa aku, aku jang sedang djadi sepah terbuang, mesti menjerah kepada nasib buruk, datang kerumah orangtua, memandang orangtuaku sebagai kerandjang? Oh, dimana letak hargaku jang lebih tinggi dari perempuan djalang? Dimana letak hargaku jang mesti kelihatan oleh bekas suamiku bahwa sesungguhnja bekas isterinja itu bukan sepah jang dia buang setelah dia habiskan manisnja?
Tapi ja, mesti kemana aku pergi? Kemana?
Tak kuatjuhkan tukang warung kopi terdengar berseru: „Neng, ini saputangan ketinggalan!” Biar sadja ia menjusul aku untuk menjerahkan saputangan itu. Djawabku tjukup dengan menghentikan langkah menunggu dia datang menghampiri.
Setelah ia ada dihadapanku, mukanja tak hendak kupandang, saputangan jang disodorkan kepadaku djuga tak hendak kuamat-amati. Bahwa aku sudah datang diwarung kopinja, tjukup rasanja didjadikan terimakasihku.
„Eneng sekarang mau kemana?” tanjanja.
Ja Allah! Mengapa manusia buruk itu seperti tahu apa jang kutanjakan, seperti sudah tahu tentang keadaan diriku? Tahu pulakah ia gerangan, bahwa suamiku tak mentjintai aku? Kupandang mukanja. Nampak djelas bibirnja renjut, persis seperti bibir monjet: tak salah lagi akan mengeluarkan kata-kata penghinaan jang halus: sebal, djidjik dan bentji memandangnja, lebih bentji daripada aku melihat suamiku tersenjum mengedjek. Mau rasanja aku mangasih tamparan atau melemparkan botol kearah kepalanja jang bersanggul ketjil seperti tahi ajam itu.
Sajang, kami ada ditepi djalan besar, kalau ada ditempat jang tiada lagi oranglain, sudah pasti sedikit aku melemparkan ludah kehidungnja jang pesek. Itu djuga ludahku terasa sudah terkumpul dalam mulut, ketika kuajun langkahku untuk mendjauhinja, untuk melenjapkan mukanja jang buruk itu dari kelopak mata.
Kalau kupikir-pikirkan, memang rupanja sudah mendjadi kesenangan orang, ikut memukul oranglain jang sudah lesu dipukul, ikut menghina oranglain jang sudah lesah dihina. Seperti halnja dengan monjet tidak berbulu itu. Ia menghina aku jang sudah dihina suamiku sudah barang tentu dengan merasa senang, sebagaimana diutarakan oleh senjumnja tadi. Demikian senangnja, sampai-sampai didalam aku berdjalan djuga, setelah aku mendjauh djuga, ia terus sadja memandang belakangku dengan masih tersenjum. Ini takkan salah lagi, sebab pantatku serasa-rasa berat diangkat dan ketika kakiku tersintuh kepada batu sehingga aku djatuh duduk, terkedjut hatiku adalah lantaran dikedjutkan bunji pekiknja.
Dia tidak akan memekik setjepat itu, kalau tidak memandang belakangku sedjak dari tadi. Ja, tak perlu ia memekik kalau tidak merasa berdosa sudah menghina!
Apakah jang patut kulakukan selain dari ingin meludahi mukanja djuga, dikala ia datang lagi kesampingku, memegang tanganku dan membantu membangkitkan badanku? Tangannja kukuatkan kesamping dan perkataannja berbunji: „Sudah bibi katakan, bahwa Eneng sangat lesu,” kubalas dengan utjapan didalam hati: „Pergi djauh, kau!”
Kuangkatkan badanku dengan tenaga sendiri, meskipun terasa berat diberatkan kaki dan pantat jang ngilu sakit dan meskipun hati ingin menangis meratapi untung malang, mempunjai badan tidak kepalang sengsara, sampai-sampai mesti djatuh ditepi djalan.
Sudah tjukup rasanja dengan mendapat penghinaan dari suamiku, sudah tjukup pula dengan kegelapan tak tahu kemana mesti pergi, terumbang-ambing tiada dikasihani ditjumbu orang, mengapa sekarang mesti ditambah lagi dengan keharusan serasa-rasa akan mentjutjurkan airmata dihadapan orang banjak? Mengapa tidak manusia lain sadja jang djatuh itu, djangan aku, manusia jang sudah tjukup direndah-rendahkan orang. Atau memang rupanja sudah mendjadi nasib perempuan ditjerai, mesti menderita lara dibalik bekas suaminja jang sukasenang, mesti menangis dibalik bekas suaminja jang tertawa-tawa. Aduh, hampir tidak tertahan lagi kehendak airmata, padahal djika telah kusapu mataku dengan saputangan, djelas kelihatan didepan toko tidak djauh dari tempat djatuhku ada dua pasang mata laki-laki ditentangkan kepadaku, seolah-olah orang djatuh itu dianggapnja tontonan, seolah-olah orang sengsara itu baik untuk dilihat. Kepada siapa aku mesti berlindung minta pertolongan, biar segera lenjap dari perasaan malu ini?
„Mari, Neng, bibi tolong,” bunji suara tukang warung kopi, tangannja memegang pinggangku. „Mari tidurkan, nak, djangan menjiksa badan sendiri,” katanja lagi; suaranja terasa lebih sedjuk menjelinap kedalam hati, melengangkan dada untuk menurut melangkahkan kaki dengan bertatih-tatih menudju arah jang ditudju langkahnja.
Dihadapan pintu tidak djauh dari sapulidi dan ember, terdengar lagi ia berkata sambil membuka pintu itu: „Silakan masuk, nak.”
Akupun melangkahkan kaki melalui pintu itu dengan merasa sakit-sakit dan lesu sekudjur badan.
17 Djuli 1949