Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada 18 Juli1953 dalam majalah Mimbar Indonesia, No. 29 Th. VII. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
MEMBITJARAKAN masalah kemunduran kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini adalah sia-sia dan terlampau terburu. Tetapi apa hendak dikata kalau sekelompok pemikir-pemikir salon telah mengadjukan soal ini sebagai soal jang urgent dewasa ini. Apa jang dikemukakan tentang kemunduran ini oleh Jassin dalam offensifnja itu rupa-rupanja djatuh dibumi jang subur. Terutama bagi pemikir-pemikir salon jang memang sudah tidak sanggup menghasilkan lagi, maka gedjala dirinja sendiri ini dianggapnja sebagai gedjala umum. Dimanakah letaknja Riono Pratikto. Mh. Ali dan sebagainja dalam kesusasteraan Indonesia modern, apabila mereka jang tetap menghasilkan itu tidak pernah turut dihitung?
Apa jang dinamai kesusasteraan Indonesia ialah suatu bangun kesusasteraan jang terus menerus diisi oleh pengarang-pengarang Indonesia. Djadi tidaklah ada alasan berbitjara tentang kemunduran. Sebagaimana kebudajaan umumnja, kesusasteraan pun tidak memberi atau ditentukan rangka atau djangka waktu pengisian jang menghadapi mengehendaki tenagatjipta suatu bangsa. Kebudajaan dan kesusasteraan selamanja ada dalam proses, karena ia berdua adalah sesuatu jang hidup selama bangsa itu masih hidup. Bahkan terlampau terburu bila orang hendak memasukkan kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini kedalam sedjarah kesusasteraan, karena baji jang baru dilahirkan belum lagi pada tempatnja untuk menutup seluruh sedjarahnja.Pendeknja, kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini belum merupakan suatu keseluruhan dari tiap bagian jang telah ada, karena bagian-bagiannja belum lagi lengkap: seluruh watak dan sifat dari angkatan jang mentjiptakannja belum digantikan oleh jang lain angkatan jang menjusul.
Masalah kemunduran kesusasteraan Indonesia modern ini telah mendjalar pula di Amsterdam dimana pada tanggal 26-VI tahun ini telah diadakan simposion kesusasteraan Indonesia modern digedung dan djuga diusahakan oleh Sticusa dan jang djuga mendapat perhatian besar dikalangan jang berminat pada kehidupan kedjiwaan dan kemasjarakatan bangsa Indonesia-dalam-perkembangan. Diantaranja jang berminat terdapat djuga Prof. Wertheim, Jan dan Annie Romein. Dibawah pimpinan prof. mr. resink berbitjara antara lain Prof.dr Teeuw tentang sedjarah kesusasteraan Indonesia. Kemudian muntjul pemikir-pemikir salon Indonesia jang sering ngomong-ngomong demikian djuga di Tugu atau ditempat-tempat lain; dr ir Sam Udin tentang kesusasteraan Indonesia dan keseniannja dalam mentjari fungsi; mr Takdir Alisjahbana tentang kedjadian kedjiwaan dalam kesusasteraan Indonesia modern dan Asrul Sani tentang Kota. Desa dan Kesusasteraan.
Titikberat simposion ini berachir berkisar pada mentjari sebab-sebab kemunduran kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini. Sam Udin dongan ragu dan gagap membitjarakan bahan jang sebenarnja tidak dikuasainja, jakni tentang kenjataan bahwa baik mengenai nilai maupun djumlah sangat sedikit jang telah dapat dihasilkan setelah revolusi selesai.
Symposion tentang kesusasteraan Indonesia di Amsterdam, jang diusahakan oleh Jajasan Kerdjasama Kebudajaan, tanggal 26 Djuni 1945. Asrul Sani sedang mengutjapkan pidatonja tentang „Kota, desa dan kesusasteraan”. (foto: J.M. Arsath Ro’is)
Atas pertanjaan seorang peminat berapa banjaknja pengarang Indonesia modern dewasa ini Sam Udin memberikan djawaban. Pertanjaan demikian bisa saja disambung dengan djumlah pengarang serta buku dan neratjanja ditiap tahun.
Sebaliknja di Indonesia sendiri sudah mendjadi kenjataan jang selela-lelanja, bahwa produksi kesusasteraan tambah hari bertambah banjak, tetapi penjelenggara penerbitan jang mau tanggung risiko kian hari kian tipis. Sebagian terbesar penerbit-penerbit di Indonesia, baik asing maupun apa jang biasa menjebut dirinja nasional, hanja menggantungkan hidupnja pada pesanan pemerintah (terutama PPK) dan oleh sunatan anggaran belandja pemerintah dengan latahnja mereka menolaki naskah-naskah jang bersifat kesusasteraan. Sebaliknja, dilain pihak perhatian dan minat pada kesusasteraan sangatlah besar, bahkan dapat dikatakan suatu lompatan jang fantastis di Indonesia, apalagi kalau ini diperbandingkan dengan masa dua puluh tahun jang telah lewat.
Sam Udin mengadjukan kenjataan bahwa setelah revolusi padam tidak djuga lahir tjiptaan bernilai seperti dalam perdjuangan dahulu. Ah, masjarakat ini serta para peminat dari golongan pengarang. Ini djuga kenjataan dan kenjataan jang lain lagi ialah: mereka ini hanja meminta djarang memberi pada pengarang untuk memelihara dajatjiptanja.
Njonja Jodjana dengan tenangnja mengemukakan, bahwa dimasa revolusi ada terdapat kesatuan individualisme dengan satu tudjuan; merampas kemerdekaan. Tetapi apakah parapedjuang dimasa ini telah bersiap untuk mempergunakan kemerdekaan jang pasti akan diporolehnja? Kelesuan dewasa ini menjatakan, bahwa mereka belumlah mempunjai persiapan, karena harga dari kemerdekaan terletak pada apa jang-bisa diperbuat dengan- kemerdekaan-itu.
Pembitjaraan lama-kelamaan terlepas dari kesusasteraan itu sendiri dan berbelok kearah masalah ilmu masjarakat, jg. mana antara sebentar mahaguru ilmu masjarakat Wertheim tampil kemuka dengan gaja-bitjara jang ringanlantjar dan penuh humor. Ia sendiri banjak membatja hasil kesusasteraan Indonesia, dan dengan sendirinja menindjaunja dari djurusan ke-djurusannja.
Sangat menarik, dan djuga tangkas dalam mendjawabi pertanjaan atau menangkis serangan ialah Alisjahbana. Ia kemukakan tragik kaum terpeladjar Indonesia dimasa sebelum perang dan jang berbuntut hingga kini: apabila sekali mereka itu memasuki dunia barat jang lain daripada dunianja sendiri, mereka tidak akan kembali lagi, mereka mendjadi anak hilang, mereka tidak memenuhi keinginan orangtua jang mengongkosi, tetapi hanja melahirkan keketjewaan pada mereka jang ditinggalkan. Ini dikemukakannja setelah menjinggung masalah famili, perkawinan dan masjarakat dalam kesusasteraan Indonesia. Tjontoh jang tepat dari anak hilang ialah buku Abdul Muis Salah Asuhan.
Takdir Alisjahbana jang hampir dalam sedjarah masalahnja memandang dari sudut pertemuan antara timur dan barat, dalam simposion inipun mempergunakan katjamatannja jang lama pula. Kelesuan kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini, menurut pendapatnja ialah karena pengarang-pengarang Indonesia modern dewasa ini melarat, tidak mempunjai apa-apa, karena telah, menjepak dunianja jang lama dan belum mendapat dunia jang tidak memberikan ketentuan apa-apa. Atau dikatakan lebih pendek: mereka ini berada dalam kehampaan djiwa. Tjara Alisjahbana mengemukakan soalnja adalah demikian simpatik sehingga diantara parahadirin banjak terpesona.
Nampak benar, bahwa djuga dinegeri Belanda, Alisjahbana mempunjai daerah. Jang patut disajangkan jalah, bahwa dalam simposion ini tidak ada kesempatan berdebat setjara mendalam karena waktu sangat terbatas dan para perserta demikian banjak.
Berbagai pembitjara dan peminat menjatakan pendapatnja setelah melihat masalah kemunduran kesusasteraan Indonesia modern dewasa ini melalui katjamatannja masing-masing. Tetapi dapat dikatakan tidak ada jang mau menanggalkan katjamatanja jang berwarna-warna itu. Diantara begitu banjak pembitjara, pendebat atau petanja, tidak ada jang memandang soal dari sudut kedjiwaan—sumber jang terdekat untuk mengetahui kedaan pengarang itu sendiri dalam fungsinja sebagai pentjipta. Sungguhlah tepat kata seorang pembitjara, bahwa kesusasteraan suatu bangsa adalah pula kemampuan jang bisa diberikan oleh parapengarangnja. Tetapi anehnja kehadiran atau keakuan dari pengarang tidak pernah disoroti setjara selajaknja. Padahal inilah modal pertama jang melahirkan hasil kesusasteraan, sebagaimana paberik adalah suatu kehadiran dari produsen.
Simposion jang dimulai dari djam 11.00 hingga djam 18.00 dengan selingan makansiang, minum teh dan ditutup dengan makan nasi ini rupa-rupanja tidak sempat menjoroti masalah jang sewadjarnja, jang paling dekat dan paling dominant jakni: bagaimana situasi kedjiwaan parapengarang Indonesia modern dewasa ini. Bila ada sekali ini disinggung maka besar kemungkinan sifat simposion ini akan berbeda daripada jang telah terdjadi. Namun sebagaimana di Indonesia sering terdengar, omong-omong demikian adalah obrolan kosong dan memperkuat barisan inteligesia salon jang terlepas dari kehidupan jang sewadjarnja dan terangkat terus keatas sampai dipuntjak menara-gadingnja.
Revolusi telah merubah bangsa inlander mendjadi bangsa Indonesia jang bangga karena telah dapat merampas kemerdekaan untuk diri dan keturunannja. Revolusi dipertjepat oleh adanja kesatuan individualisme untuk merampas dan memiliki kemerdekaan itu. Dan kesatuan individualisme itu bersifat meminta seluruh individualisme bangsa Indonesia jang ikut berdjuang dalam lapangannja masing-masing. Tetapi serenta revolusi berhenti (atau politis biasa dikatakan: revolusi belum lagi selesai) kesatuan ini terurai dan kembali terpentjar mendjadi milik perseorangan. Bahkan dapat dikatakan, bahwa ada terdjadi stagnasi individualisme semasa revolusi itu, dan dikala kemerdekaan-tertjapai, gudang itu jang terlampau penuh itu petjah. Kini sudah mendjadi kenjataan telandjang betapa bangsa Indonesia terlampau banjak meminta dan tidak banjak kesanggupan untuk memberi. Permintaan jang demikian banjak dan jang djuga demikian tak tersusun achirnja mengatjaukan kedamaian djiwa, kedamaian mentjipta, kedamaian segala-galanja.
Hidup dalam masjarakat jang demikian rupa golongan pengarang, tidak terluput dari penjakit ini. Rangkaian konflik, besar dan ketjil, terserak dalam djiwa, tidak mendapat tjukup waktu dan tenaga untuk mengendapkan. Achirnja konflik jang seharusnja melahirkan idee hanja mengatjaukan djiwa den tenaga, dan dajatjipta, lumpuh karenanja. Dari djurusan ini pula orang dapat mengerti mengapa korupsi lahiriah dan rohaniah mengamuk di Indonesia, terlepas dari pertemuan timur dan barat dari Takdir Alisjahbana. Dan apabila produksi hasil kesusasteraan mengalami kemunduran, ini adalah sepatutnja sadja, karena dalam hidupnja orangpun membutuhkan istirahat, merapersiap diri dan mongumpulkan tenaga serta menjusunnja. Dalam keadaan demikian orang ini tidak pada tempatnja dinamai tidak bekerdja lagi. Dengan atau tanpa ditjari-tjari sebabnja mengapa dia tidak bekerdja, besok atau lusa orang ini berangkat djuga kepekerdjaannja—karena itu sudah mendjadi kewadjibannja. Dan dalam hal ini kematian adalah bentjana jang sebesar-besarnja.
Bukanlah mustahil apabila masalah timur dan barat Takdir Alisjahbana dan masalah kesatuan-segala dari Sam Udin sejoganja dimaksukkan kotak dahulu, dan dikemukakan satu masalah baru, jakni penjusunan djiwa kembali, mentjiptakan organisasi kerdja baik kedjiwaan maupun lahiriah.
Dengan ini dapatlah dikatakan, bahwa in’statif Sticusa Amsterdam dengan mengadakan simposion sematjam ini hanja menjuburkan tumbuhnja intelligentsa salon jang terlepas dari kehidupannja sendiri.
Dalam symposion itu Prof. Teeuw menguraikan tentang kesusasteraan Indonesia Modern. (foto: J.M. Arsath Ro’is)