Publisher Note
Dilahirkan di Jatiwangi, 5 Desember 1939. Pernah bekerja sebagai salah seorang staf ilmiah Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta (1965 -1966), mengajar di Fakultas-fakultas Sastra pada Universitas Padjadjaran, Bandung, dan Universitas Indonesia, Jakarta (1966-1970). Ia kemudian memperdalam keahliannya dalam bidang Linguistik dan Filologi di Universitas Leiden, Belanda, selama dua tahun (1971-1973).
Setelah memperoleh beasiswa dari Pemerintah Prancis selama setahun (1975 -1976), ia berkunjung dan menetap di negeri itu untuk mempelajari teori dan metoda dialektologi. Selama tiga bulan pertama (Juli - September 1975), ia memperdalam pengetahuan bahasa Prancisnya di Universitas Bordeaux III, untuk selanjutnya belajar di Universitas Grenoble III (Oktober 1975 - Juni 1976).
Selain menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis dalam bahasa-ibunya, bahsa Sunda. Karya-karyanya antara lain Hujan Munggaran (1960), Warisan (1965), Yang Tersisih (1965), Kabogoh Téré (1967), Panji Segala Raja (1974), Puisi Negro (terjemahan, 1976), Senandung Ombak (terjemahan karya Yukio Mishima, 1976), Pabila dan Di Mana (1977), dan Di Kebon Binatang (1990).
Dengan disertasinya yang berjudul Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (1978) yang berhasil dipertahankannya di Universitas Indonesia, Jakarta, Ayatrohaédi merupakan Doktor Ilmu Satra dalam bidang Dialektologi yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Hingga tulisan ini dibuat (tahun 1992), ia masih mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Menjelang akhir Program Leiden (RUL-18) tahun 1973, para peserta yang berjumlah 13 orang memperoleh penilaian yang berbeda. Saya, misalnya, dianjurkan agar dalam waktu dekat diberi kesempatan memperdalam pengetahuan di bidang dialektologi di salah satu pusat dialektologi yang terkenal. Menurut Prof. Dr. A. Teeuw yang selama masa pemukiman kami di Leiden menjadi pembimbing saya, pusat dialektologi adalah Perancis atau Jerman. Saya langsung memilih Perancis, karena walau bagaimana pun saya mempunyai bekal di bawah lumayan untuk bahasa Perancis, dan di bawah nol untuk bahasa Jerman. Tahun 1974 saya bertemu lagi dengan Prof. Dr. A. Teeuw di Tugu, Bogor, ketika berlangsung Penataran Perkamusan. Beliau menjadi pengajar, sedangkan saya anggota panitia penyelenggara. Di situlah niat dibulatkan: saya harus segera berangkat ke Perancis.
Pengurusan berbagai surat yang diperlukan berjalan lancar. Dari Kedutaan Besar Perancis bahkan saya sudah memperoleh kepastian tempat belajar dan beasiswa. Tiga bulan pertama belajar bahasa Perancis di Universitas Bordeaux 3 yang terletak di Talence, sedangkan sembilan bulan berikutnya di Universitas Grenoble 3 yang terletak di Saint-Martin d’Hères. Beasiswa yang saya terima dari CROUS sebesar 1.000 F. sebulan.
Sehari setelah tiba di Paris, saya diantar oleh Mas Suwaji Syafei (almarhum) yang sudah beberapa bulan bermukim di Paris untuk mendalami arkeologi Asia Tenggara, mengurus segala sesuatu di kantor CROUS. Di situ saya memperoleh uang sebesar 300 F. untuk biaya perjalanan ke Bordeaux. Apakah bahasa Perancis saya yang benar-benar menyedihkan atau oleh sebab-sebab yang lainnya, tetapi saya rasanya tidak pernah memperoleh kesan bahwa uang itu merupakan pinjaman yang akan diperhitungkan dengan beasiswa yang bakal saya terima. Yang pasti, dengan uang itu saya membeli karcis kereta api Paris-Bordeaux sebesar 98 F., sedangkan sisanya saya gunakan untuk biaya hidup selama sekitar dua minggu di Talence, termasuk untuk membayar sewa kamar.
Di Bordeaux mula-mula saya melaporkan kedatangan saya ke kantor CROUS. Di situ saya memperoleh beberapa bekal mengenai tempat tinggal, kursus bahasa yang harus saya ikuti, caranya membeli karcis restoran, dan lain-lain. Setelah beres, sambil menyeret koper yang lumayan berat, saya ke perhentian biskota. Berkat keterangan yang saya peroleh, juga dari para penumpang bis, saya turun di tempat yang tepat, di Village 3, Talence. Setelah melaporkan kedatangan, saya memperoleh kamar.
Ternyata di Talence sudah ada Saudara Nasir Tamara (sekarang Doktor). Ia pernah terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Antropologi di Fakultas Sastra UI, tetapi lalu “menghilang”. Rupanya ia ke Perancis untuk mempelajari jurnalistik atau mungkin ilmu komunikasi. Akhirnya, tercatat lima orang Indonesia di Talence, semuanya untuk “memahirkan” bahasa Perancis. Selain Nasir, ada tiga orang wanita—datang bersama sesudah saya—yaitu Siti Chamamah Suratno (sekarang Doktor) dari Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Saudara Syahriar Hanum dan Ramadhani, keduanya mahasiswa (sekarang sudah menjadi tenaga pengajar) dari Fakultas Sastra Universitas Sumatra Utara, Medan.
Karena masa liburan (Juli – September 1975), restoran universitas di Talence tidak buka bersama-sama. Bulan Juli restoran Village 3, bulan Agustus restoran Village 2, dan bulan September restoran Village 1. Tentu saja jaraknya makin jauh dari asrama. Padahal, selama tiga bulan itu kami belajar bahasa Perancis di Fakultas yang letaknya termasuk tidak terlalu jauh dari asrama. Maka, setiap saat makan siang tiba, kami pun berhamburan ke restoran. Ketika masih di restoran Village 3 belum jadi masalah karena dekat. Namun, ketika restoran Village 1 yang giliran buka, saya sempat menertawakan diri sendir dalam urusan makan itu. Dengan jalan setengah berlari, saya memerlukan waktu kira-kira 20 menit dari fakultas ke restoran. Sesampai di sana, antri sekitar 10 menit. Lalu cepat-cepat makan, sekitar 10 menit, lalu bergegas lagi kembali ke fakultas agar tidak tertinggal mengikuti pelajaran pukul satu siang. Artinya, untuk makan yang 10 menit itu, diperlukan waktu satu jam. Jadi, makan atau olahraga?
Baru dua hari di Talence, tibalah tanggal 14 Juli, hari kemerdekaan Perancis. Karena kursus libur, kami berhamburan ke kota Bordeaux. Menonton pesta kemerdekaan Perancis. Bersama dengan para mahasiswa dari Iran, Bangladesh, Suis, Sudan, Laos, dan negara lain, kami beramai-ramai naik biskota ke Bordeaux. Memuaskan dan menghabiskan siang di sana. Namun, alangkah bingungnya kami, ketika menjelang pukul tiga siang kami bersiap-siap untuk kembali ke Talence, tak satu pun biskota lewat. Seluruh Bordeaux berubah menjadi kota mati. Ternyata, mulai pukul dua siang, biskota “hilang dari peredaran”, khusus untuk hari itu. Apa boleh buat, akhirnya kami berpawai sepanjang hampir enam kilometer menuju Talence.
Selama masa tiga bulan di Talence, ada dua orang sahabat baik saya. Seorang berasal dari Laos bernama Phoukong, dan seorang Suis bernama Glük. Dalam waktu senggang, kami saling undang: makan bersama seadanya.
Dari kedua orang itu, yang paling mengesankan adalah si Laos itu. Dari penuturannya saya tahu bahwa di ibukota negaranya, Vientiane, samasekali tidak ada bioskop, apalagi yang memutar film porno. Karena itu, ia paling suka mengajak saya pergi ke Bordeaux untuk menonton film (tidak usah yang porno). Pada suatu sore, ia datang ke kamar saya dan mengeluh, katanya masuk angin. Sambil lalu saya katakan bahwa di Indonesia biasanya orang dikerok. Ternyata, katanya di Laos juga kerokan merupakan suatu kebiasaan. Sejak itu, Rheumason yang saya bawa cepat habis karena si Laos itu sangat suka digosok dengan Rheumason.
Ketika tiba saat mengambil beasiswa bulan pertama, alangkah terkejutnya saya ketika ternyata tanpa ampun beasiswa itu dipotong 300 Francs yang katanya pinjaman saya di Paris. Sambil terbengong-bengong, saya tanyakan bagaimana nasib biaya perjalanan saya dari Paris ke Bordeaux yang hampir seratus Francs itu. Katanya, asal karcisnya masih ada, dapat diusahakan pengembaliannya.
Untunglah (atau malanglah?) karcis itu masih saya simpan. Dalam kesempatan pertama ke Bordeaux, bulan itu juga, saya serahkan karcis itu, dan dijanjikan bahwa jika sudah beres tentu saya dihubungi. Ternyata, sampai saya harus meninggalkan Bordeaux menuju Grenoble tanggal 30 September malam, saya tidak pernah memperoleh kabar. Kalaupun saya tanyakan, jawabannya adalah, belum ada kabar.
Sampai sekarang, hampir 16 tahun kemudian, saya tidak pernah mendengar kabar bagaimana nasib biaya perjalanan saya itu. Namun, karena itu pula saya justru jadi dapat berbangga. Bagaimana pula tidak akan bangga: Pemerintah Indonesia antara lain memperoleh pinjaman dari Pemerintah Perancis. Yang saya tahu, Pemerintah Perancis justru mempunyai utang kepada saya sebesar 98 F.! Bukankah itu berarti bahwa saya jauh lebih kaya daripada Pemerintah Perancis?
Dari laut pindah ke gunung. Dari Bordeaux di tepi Atlantik, pindah ke Grenoble di Pegunungan Alpina. Tidak lagi untuk belajar bahasa, melainkan untuk mendalami dialektologi sebagaimana yang direncanakan.
Turun di stasiun, saya berjalan ke kantor CROUS yang terletak di seberang jalan. Di sana saya memperoleh keterangan bahwa saya sudah ditunggu oleh Prof. Dr. Gaston Tuaillon, calon pembimbing saya. Karena itu, saya segera naik biskota yang menuju kampus di Saint-Martin d’Hères. Setelah bertanya-tanya, saya pun sampai ke Universite Grenoble 3 yang akan menjadi garba ilmiah saya selama sembilan bulan.
Bangunannya cukup “membingungkan” saya. Memang, di pintu masuk saya dapat bertanya, tetapi sesudah itu tidak ada yang dapat ditanya. Masalahnya, semua pintu tertutup, dan tak seorang pun yang kelihatan. Saya kira arah saya tepat, tetapi kepada siapa saya harus bertanya?
Sampai ke suatu ujung lorong. Kiri-kanan pintu tertutup. Saya baru memikirkan, pintu mana yang sebaiknya saya ketuk untuk bertanya, ketika tiba-tiba sebuah pintu terbuka dan seorang lelaki gemuk keluar. Saya memberanikan diri untuk menanyakan di mana saya dapat menemui Monsieur… “Gaston Tuaillon,” kata lelaki itu, “C’est moi.”
Ia tidak jadi pergi, tetapi mengajak saya masuk ke ruang kerjanya. Begitulah perkenalan pertama saya dengan calon pembimbing itu.
Di Grenoble kemudian kami bertiga, walaupun hampir tidak pernah berkumpul. Selain saya, ada Saudara Pantow dari Fakultas Sastra Universitas Hassanuddin, Ujungpandang, dan Saudara Elizabeth dari Universitas Kristen Petra, Surabaya. Saya tinggal di asrama ALEJT yang terletak dalam kampus. Jika di Bordeaux sahabat baik saya orang Laos dan Suis, di Grenoble saya berkenalan dengan para mahasiswa Kuwait dan Jerman.
Kegiatan ilmiah para mahasiswa yang mengikuti kuliah dialektologi antara lain adalah menyajikan makalah hasil penelitian kecil-kecilan yang pernah dilakukan. Berdasrkan jadwal yang disepakati bersama, saya mendapat giliran berbicara bulan Januari 1976. Apa yang harus saya ceritakan?
Maka “kejahilan” saya muncul. Dalam kuliah-kuliah, Prof. Tuaillon selalu mengembalikan bahasa Perancis ke bahasa Latina. Tentu saja saya hanya terbengong-bengong, sambil memperoleh kiat dan tata cara penyelusuran sejarah kata. Justru pengembalian ke bahasa Latina itu menyebabkan saya memperoleh jalan untuk membuat mereka terbengong-bengong.
Ketika tiba giliran saya berbicara, saya sengaja memilih sejumlah kata Sunda yang dapat dikembalikan ke bahasa Jawa Kuna atau bahkan Sanskerta, termasuk bagaimana bentuk aksara yang digunakan pada setiap jaman. Dengan cara itu, berhasillah saya membuat mereka terbengong-bengong.
Dalam waktu sembilan bulan itu, saya pernah diajak dua kali mengikuti latihan penelitian lapangan. Yang pertama dilakukan di daerah pegunungan, dan tepat pada waktu salju turun. Penelitian ke dua, dilakukan pada awal musim semi, di daerah Ardèche yang lebih rendah. Dalam penelitian yang ke dua itulah saya kembali dibuat terbengong-bengong. Ketika sebagai anggota rombongan saya diperkenalkan berasal dari Indonesia, tuan rumah yang nampaknya petani atau peladang itu meragakan sikap orang menembak : “Idi Amin?” tanyanya.
Untung kemudian ia manggut-manggut ketika dijelaskan lagi bahwa saya bukan dari Uganda, melainkan dari Indonesia. Sambil, tentu saja, bukan jaminan ia benar-benar tahu di mana Indonesia.
Bahwa mereka (bukan hanya petani atau peladang itu, tetapi juga para mahasiswa) tidak tahu apa pun tentang Indonesia, saya alami di Grenoble. Dalam kesepakatan bertemu, sebagai sesama penghuni asrama, kami saling tukar keterangan. Ketika saya katakan saya dari Indonesia, maka (yang berulang kali membuat mendongkol), adalah pertanyaan mengenai letak Indonesia: Sebelah mana, atau seberapa jauh dari Bali? Setelah diberitahukan bahwa Bali hanya sebagian dari Indonesia, mereka pun manggut-manggut. Tentu saja, juga sambil tak ada jaminan bahwa mereka mengerti. Karena tidak dapat lagi berbicara dengan Bali sebagai acuan, mereka kemudian bertanya, sebelah mana Jepang atau Korea, dan berapa jauhnya dari sana?
Hanya, jika pun saya harus mengucapkan terima kasih atas ketidaktahuan mereka mengenai Indonesia, mungkin di situlah juga tempatnya. Bulan-bulan itu, ABRI baru saja masuk ke Timor Portugis (sekarang Timor Timur), dan koran-koran Perancis dalam berita-berita singkat selalu menyebutkan bahwa Indonesia “menaklukkan” Timor Timur. Kalau saja perhatian mereka terhadap Indonesia cukup besar, malapetaka akan menimpa saya jika mereka mengerubuti saya. Masalahnya, saya samasekali tidak memperoleh embaran apa pun dari KBRI atau siapa pun mengenai keadaan di Timor Timur. Kalau mereka menyalahkan, bagaimana saya dapat bertahan?
Depok, 29 April 1991