Baca EPUB: menghidupkan-kembali-kesusasteraan

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SLAMET MULJANA
Menghidupkan Kembali Kesusasteraan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini dimuat pada 17 Agustus 1951 dalam Mimbar Indonesia, No. 32, Th. V. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Tiada mungkin isi kesusasteraan itu dipisahkan dengan tudjuannja. Demikian pula tudjua itu tiada dapat dipisahkan denga kehidupan masjarakat jang mentjiptakan kesusasteraan itu; denga kata lain: kehidupan masjarakat itu berpengaruh besar pada perdjalanan kesusasteraan. Oleh karena itu tepat benar, bila kesusasteraan itu disebut tjermin masjarakat. Meskipun bukanlah seluruh kehidupan masjarakat terbajang didalamnja, akan tetapi njata bahwa kesusasteraan itu sedikit banjak membajangkan keadaan masjarakat pada tiap-tiap waktunja. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui keadaan masjarakat pada waktu jang lampau, perlu kita meneliti kesusasteraan pada waktu jang lampau. Kebalikannja benar pula, bahwa perlu mengetahui bagaimana seluk-beluk masjarakat pada suatu saat untuk dapat memahami benar2 maksud kesusasteraan pada suatu saat.

Bagaimanapun djuga kesusasteraan adalah barang mati jang hanja dapat dihidupkan kembali oleh mereka jang paham akan artinja. Bagi orang jang tahu akan artinja kesusasteraan hampir2 tak ada bedanja dengan pentjiptanja sewaktu masih hidup. Ia dapat bertjerita tentang hal beranekawarna, ia dapat mentjurahkan perasaan hatinja dengan langgam bahasa jang menaruh perhatian, ia dapat pula menjatakan kehendaknja. Semuanja itu membajang terang dalam tulisan.

Kesusasteraan Indonesia banjak telah dibukukan oleh nenek mojang kita. Kesusasteraan itu akan tinggal mati, kalau tidak dihidupkan kembali. Dan memang maksud membukukan kesusasteraan itu supaja kelak dapat dihidupkan kembali. Tetapi siapakah sekarang jang masih sanggup menghidupkannja kembali?

Bukan sembarang orang dapat menghidupkannja kembali. Meskipun ada hasrat besar akan membangkitkannja, karna pada itu sering amat kandas, tak mungkin terlaksana, karena pada pembangkitan itu terikat sjarat2 jang harus dipenuhi dahulu, sedangkan sjarat2 itu tertjantum dalam satu kata: kesanggupan membangkitkan.

Kesanggupan inilah jang mendjadi penghalang bagi beberapa orang. Jang ingin banjak, tetapi jang dapat sedikit sadja, karena kesanggupan itu tiada diperoleh karena keinginan sadja, akan tetapi harus disertai pula didikan jang makan waktu banjak, dan perhatian sungguh2, dan sering djuga minta biaja jang tidak sedikit. Baru apabila kita mempunjai pengetahuan jang sederadjad dengan pengetahuan sipentjipta, atau paling sedikit mirip kepadanja, barulah kita ada kesanggupa akan menghidupkannja kembali. Keseimbangan pengetahuan antara sipentjipta dan sipembangkit mendjadi sjarat mutlak untuk menghidupkan kembali pengetahuan jang telah dibukukan. Lebih utama lagi, kalau pengetahuan atau djiwa sipembangkit lebih besar dari pada sipentjipta, karena djika demikian, daja pembangkit lebih kuat. Hal ini saja rasa barang jang sudah semestinja. Kalau saja katakan setjara kasar, bagaimana mungkin kanak2 jang berumur tudjuh tahun dan hanja mempunjai daja pengangkat 5 kg, dapat mengangkat batu jang beratnja 50 kg sekaligus? Perbuatan ini mustahil. Kalau harus djuga dilakukan perbuatan itu, alat2 lain jang kekuatannja lebih dari pada daja pengangkat jang diperlukan atau paling sedikit sama, harus diberikan kepadanja.

Tak mengherankan, bahwa banjak amat buku2 Indonesia jang pada waktu jang lampau tinggal tertutup bagi kebanjakan orang Indonesia, karena kurangnja putera2 Indonesia jang sanggup membukanja serta menghidupkannja. Buku2 itu menunggu timbulnja orang2 jang dapat menghidupkannja kembali. Bahkan djaman sekarang masih banjak sekali buku2 kuna jang bagi kebanjakan diantara kita masih merupakan barang mati. Apabila tjiptaan2 itu dapat kita hidupkan kembali, se-akan2 kita memanggil pentjipta2 itu kembali dari kuburannja kedunia mertjapada, paling sedikit memanggil djiwanja kembali kesamping kita. Andaikata pentjipta itu masih hidup, tetapi tinggalnja djauh dari kita, maka pentjipta itu se-akan2 kita panggil kesamping kita untuk menemani kita dikamar beladjar, jang mungkin pada waktu itu sunji-senjap. Tak perlu disini saja sebut, berapa djumlah buku perpustakaan Indonesia jang baru dan jang kuno, jang bagi kebanjakan diantara bangsa Indonesia sendiri masih asing atau hanja dikenal namanja sadja.

Mungkin ada jang berpendapat, bahwa soal menghidupkan lagi kesusasteraan lama itu berarti kemunduran, atau paling sedikit menghambat langkah untuk mengikuti peredaran djaman; menengok kesusasteraan lama berarti membuang tempo. Memang dalam perkembangan kebudajaan timbullah dua aliran: jang satu ingin berpegang teguh kepada jang lama, dan jang satu lagi bersembojan „madju terus”, takut ketinggalan dengan djaman, bahkan bila mungkin aliran ini mendahului perdjalanan waktu, oleh karena itu mereka segan menengok kebelakang, se-akan2 mereka ingin mendjadi pudjangga dengan tak usah beladjar. Aliran itu saja pandang extreem kedua-duanja dan mengandung bahaja jakni bahaja segan berusaha, dan tinggal memudji kesusasteraan warisan, dan bagi aliran jang lain bahaja sombong karena kepuasan diri, jang dapat menjesatkan. Jang satu bersifat terlampau kolot, jang lain terlalu madju. Biasanja pengikut2nja [cetakan tidak terbaca] raan bukanlah se-mata2 seni-sastra sadja, tetapi pengetahuan2 lainpun masuk djuga dalam ruangan kesusasteraan.

Bagi beberapa orang pengertian kesusasteraan hanja diartikan djuga dalam ruangan kesusasteraan.

Bagi beberapa orang pengertian kesusasteraan hanja diartikan seni-sastra sadja, jang meliputi dongeng2, tjeritera, sjair-seanteronja. Menurut pandangan saja paham ini terlalu sempit. Semua hal jang berhubungan dengan sastra adalah kesusasteraan. Demikianlah filsafat, ilmu tehnik, ilmu falak, ilmu pertanian, ketabiban d.l.l. bila dibukukan, masuk ruangan kesusasteraan. Inilah kesusasteraan tertulis dalam arti luas. Hal jang berhubungan dengan sastra, tidak semuanja tertulis. Ada jang hanja diutjapkan sadja turun-temurun ber-tahun2, tiada pernah mengenal tulisan. Itupun kesusasteraan pula. Oleh karena itu paham kesusasteraan itu terlampau luas. Baik jang tertulis diatas batu, diatas lontar, maupun jang tertjantum diatas kertas, kulit atau daun-daunan, baik jang hanja digantungkan pada pertjakapan, semuanja itu merupakan kesusasteraan.

Tiap bangsa mempunjai kesusasteraan, karena tiap bangsa mempunjai bahasa sebagai alat pergaulan. Sebagaian besar dari pada perasaannja, ditjurahkan dengan bahasa. Oleh karena itu meski hanja berupa kata-kata jang tiada pernah ditulis, pada tiap2 bangsa itu terdapat kesusasteraan. Djadi bangsa Indonesiapun mempunjai kesusasteraan djuga. Sudah sewadjarnja, bahwa kesusasteraan Indonesia itu tertjantum djuga dengan bahasa Indonesia. Memang kesusasteraan Indonesia itu tertjantum djuga dengan bahasa Indonesia, akan tetapi hal ini hanja mengenai sebagian ketjil sadja dari kesusasteraan Indonesia, sebagian besar dari perbendaharaan kesusasteraan Indonesia itu tertulis dengan bahasa2 daerah dikepulauan Indonesia ini. Sajang amat kesusasteraan daerah ini hingga sekarang hanja dikenal oleh sedjumlah ketjil orang Indonesia dalam daerahnja masing2, sehingga merupakan gudang tertutup bagi orang bangsa Indonesia. Kuntji untuk membuka gudang perbendaraan itu ialah pengetahuan bahasa daerah. Djika dalam tiap2 lapangan basa daerah itu terdapat beberapa ahli sastra jang berusaha menterdjemahkan chasanah2 bahasa daerah kedalam bahasa Indonesia, sudah barang tentu kesusasteraan daerah itu segera masuk ruangan kesusasteraan daerah itu segera masuk ruangan kesusasteraan Indonesia dengan njata; tak lagi timbul kesukaran karena sukarnja mempeladjari bahasa daerah. Hingga sekarang kesusasteraan daerah itu masuk ruangan kesusasteraan Indonesia, hanja disebabkan karena daerahnja masuk lingkungan Republik Indonesia dan bahasanja tergolong dalam induk bahasa Indonesia. Djalan lebih mudah jang dapat ditempuh untuk mempertjepat langkah itu jakni: putera daerah pentjinta sastra menterdjemahkan atau memperbaharui sastra daerahnja masing2 dalam bahasa Indonesia, sehingga kesusasteraan daerah itu terbuka bagi umum.

Hingga sekarang jang dimaksud dengan kesusasteraan Indonesia tak lain dari pada buku2 jang ditulis dengan bahasa Indonesia sekarang dan Melaju dahulu. Dalam perasaan seakan2 kesusasteraan daerah itu diperanak-tirikan, atau dengan kata lain tidak masuk perhatian.

[cetakan tidak terbaca] memudji alirannja masing2 ber-lebih-lebihan.

Dalam gerakan pudjangga Baru ada beberapa pengarang jang masih sempat menengok kesusasteraan lama seperti Amir Hamzah, Sanusi Pane dan Muh. Yamin. Hasil penilikan itu tertjatat seperti terdjemahan Bhagawad Gita, Gadjah Mada, Ken Arok dan Ken Dedes, Kertadjaja, Sandhyakalaning Madjapahit d.l.l. hal ini djuga disinggung oleh saudara H. B. Jassin dalam karangannja Angkatan ’45 untuk membandingkan angkatan Pudjangga Baru dengan angkatan ’45. Harus diakui bahwa tiap2 djaman itu dalam segala hal mempunjai alirannja masing2 jang dipandang sebagai jang terbagus pada djaman itu dan aliran2 itu ada jang membawa kepuntjak kemegahan, ada jang menjeret kelembah keruntuhan. Hal ini baru diketahui, kalau akibat aliran itu telah mendjelma, tak lagi merupakan angan2, karena tiap2 aliran itu ber-tjita2 mendjundjung deradjad kebudajaan. Rasanja tak ada aliran kesusasteraan jang dengan sengadja berpedoman akan merosotkan kedudukannja. Soal mumbul dan djatuhnja kesusastraan sebenarnja bergantung kepada pendukungan atau pentjiptanja. Djika dalam suatu aliran terdapat tjukup satu dua orang sadja—sudah barang tentu kesusasteraan pada djamannja akan mengawan deradjadnja. Tetapi kalau dalam suatu aliran itu hanja terdapat pengaruh2 biasa, meskipun djumlahnja terlampau banjak, dan puluhan djumlah buku jang diterbitkannja, nilai kesusasteraan djaman itu tiadalah tinggi. Nilai kesusasteraan tidaklah diukur menurut djumlah banjaknja hasil, akan tetapi menurut mutu, hasil jang ditjapainja. Andaikata kesusasteraan itu saja kiaskan dengan gunung, maka tinggi gunung itu diukur dari kakinja sampai kepuntjaknja, busut2 jang terlampau banjak dibawah puntjak itu memandjang dari Djawa Tengah sebelah Barat sampai Djawa Timur, tetapi tingginja kalah dengan gunung Merapi, hanja karena puntjaknja sadja. Kalau puntjaknja itu dipanggal, sama atau malah lebih rendah.

Sudah barang tentu untuk mentjapai mutu jang tinggi didalam kesusasteraan itu diperlukan didikan bakat dan mutu djiwa jang tinggi. Saja rasa paling sedikit ketiga sjarat harus dipenuhi oleh pudjangga Indonesia dalam abad kedua puluh jang ingin melajang tinggi sebagai burung brandjangan, karena pudjanggapun harus djuga berpengetahuan, harus djuga dididik.

Telah terbukti bahwa diantara hasil kesusasteraan daerah di Indonesia ada jang mutunja memang sudah sangat tinggi; ada beberapa ahli sastra bangsa asing jang memudjinja. Tetapi pendapat itu djanganlah hendaknja disandarkan kepada pudjian ahli itu sadja, karena menurut hemat saja membeo itu sering berbahaja sekali, sedangkan penjelidikan sendiri memberikan pegangan jang lebih kuat. Mungkin hasil penjelidikan jang telah mendjadi kejakinan itu menjimpang dari kebenaran. Oleh karena itu dalam penjelidikan itu harus dipergunakan ukuran jang biasa dipakai dalam mengadji kesusasteraan. Alhasil tiadalah banjak bedanja keindahan sastra Indonesia lama itu dengan kesusasteraan Barat lama, jang mendjadi sumber pembaharuan sastra Barat pada abad pertengahan jang mentjapai deradjat terlampau tinggi. Tetapi dalam pembaharuan sastera Barat pada djaman pertentangan itu terselip djuga unsur2 salah jang berasal dari pihak pembaru, jang harus dibetulkan oleh generasi baru. Kesalahan itu se-dapat2nja kita hindarkan.

Saja rasa disamping kesusasteraan modern dari pelbagai matjam bahasa asing dan kesusasteraan kuna jang lain2, kesusasteraan Indonesia kuna ini baik djuga didjadikan sumber pendidikan tjalon2 pudjangga jang ingin mentjiptakan sastra Indonesia modern. Bukan untuk membuta-tiru pudjangga kuna, dan mengembangkan kesusasteraan kuna pada djaman modern, melainkan untuk mengenal usaha2nja jang mungkin banjak berguna bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Uraian saja ini masih bersifat negatif, dibelakang mungkin saja dapat meggambarkan pendapat saja dengan tjontoh2 jang dapat diperbandingkan.

Disamping buku2 kuno jang telah usang, jang perlu dihidupkan kembali itu, masih banjak lagi buku2 terbitan baru dan buku2 jang sedang dan akan diterbitkan, karena sedjarah berdjalan terus. Se-dapat2nja kita mengikuti perdjalanan sedjarah, tidak boleh makin lama, makin ketinggalan, karena barang siapa ketinggalan, maka ia adalah orang kolot. Demikianlah perbendaharaan kesusasteraan Indonesia itu bertambah hari bertambah banjak. Djadi barang jang harus dihidupkan kembali, makin hari makin bertimbun-timbun.

Tak perlu kita berusaha menerus menengok kebelakang, dan setiap hari hanja berusaha menghidupkan kesusasteraan kuno sadja, sehingga kita ketinggalan dengan djaman. Kita berhak djuga mentjiptakan kesusasteraan baru seperti djuga nenek mojang kita djaman dahulu berhak mendirikan kebudajaan baru pada waktunja masing2.

Diantara kesusasteraan daerah ada jang sudah meningkat tinggi, ada pula jang masih ada dibawah tingkatan kesusasteraan Indoesia. Tak boleh tidak pengaruh kesusasteraan daerah itu besar pula pada bentukan kesusasteraan Indonesia. Tetapi hal ini tak berarti, bahwa kesusasteraan Indonesia itu akan berupa kumpulan puntjak2 kesusasteraan daerah, melainkan merupakan kesusasteraan baru pada abad 20, sebagai perwudjudan kehendak masjarakat Indonesia pada abad 20. Pengaruh kesusasteraan daerah akan berupa sumbangan bagi bentukan kesusasteraan Indonesia, bukanlah sebagai bagian tersendiri dari kesusasteraan Indonesia. Oleh karena itu pengaruh kesusasteraan daerah itu tak akan membajang terang sebagai tiang atau sendi bagi kesusasteraan Indonesia, melainkan sebagai bahan jang telah diolah atau dimasak bertjampur dengan bahan2 lain. Bagaimanapun pandainja mengolah, bagi mereka jang paham akan kesusasteraan daerah, memang pengaruh itu akan nampak djuga. Meskipun demikian, pengaruh tak lagi mendjadi milik kesusasteraan daerah jang ditempelken pada kesusasteraan Indonesia, melainkan sudah djadi milik kesusasteraan Indonesia sendiri sebagai pendjelmaan kesusasteraan daerah.

Sifat pengaruh mempengaruhi tak dapat dielakkan. Dan selama masih ada pergaulan, sifat pengaruh-mempengaruhi tetap berlaku. Dan pengaruh itu datangnja tidak hanja dari kesusasteraan daerah sadja, tetapi djuga dari luar. Oleh karena itu untuk dapat memahami kesusasteraan Indonesia sedalam2nja, perlu kita mengetahui sebaik2nja kesusasteraan lain2 jang pernah mempengaruhi kesusasteraan Indonesia.