Publisher Note
Artikel ini dimuat dalam majalah Djawa Baroe, edisi No. 12 Th. I, pada 15 Juni 1943.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Toean Sanoesi Pane
Imperialis Belanda jang bersekoetoe dengan imperialis Inggeris dan Amerika, memorat-maritkan keboedajaan kita. Imperialis Sekoetoe itoe seperti kerbau jang memasoeki taman, meroesakkan djambangan2, boenga2, toemboeh-toemboehan, artja2, mengotori kolam2, mentjari makanan dan minoeman dan tempat melepaskan tanah.
Kerbau imperialis Sekoetoe itoe tidak dapat kita oesir doeloe, karena kita lemah. Tentara Dai Nipponlah jang sanggoep mengenjahkan dia dan kita sekarang dapat kesempatan membaiki taman keboedajaan kita kembali. Djambang jang petjah haroes ditambal atau diganti, boenga2 haroes diselenggarakan kembali, demikian poela toemboeh-toemboehan, artja2 haroes dibetoelkan dan diatoer ditempatnja bermoela, kolam2 haroes dibersihkan, pendeknja taman keboedajaan kita haroes teratoer dan indah kembali.
Temboknja haroes diperkoeat dan didjaga soenggoeh2, soepaja kerbau imperialis Sekoetoe tidak dapat masoek lagi.
Mari kita memberi tjontoh, soepaja maksoed kita lebih terang.
Salah satoe keboedajaan kita jang terpenting ialah tolong menolong atau gotong rojong. Masjarakat desa doeloe teratoer sebagai keloearga. Anggota-anggota keloearga itoe tolong menolong disawah dan dikeboen, dalam hal kematian, perkawinan dsb.nja. Setelah imperialisma Barat datang kesini, asas itoepoen makin roentoeh, sehingga masjarakat desa djadi petjah belah. Karena itoe pendoedoek desa djadi berdiri sendiri, mengoetamakan kepentingannja sendiri. Pertengkaran tentang batas2 sawah dan halaman, tentang air dll, terdjadi. Beaja perkawinan dsb.nja boleh dikatakan dipikoel sendiri-sendiri. Padjak tanah tinggi poela dan tanah makin koerang, karena politik ekonomi pemerintah Belanda Pak tani djadi berhoetang teroes meneroes, keadaannja kian lama kian boeroek.
Asas gotong rojong jang doeloe haroes kita kembalikan sekarang. Desa haroes kembali bersifat keloearga, sehingga makmoer lagi, sanggoep menambah penghasilan dan mentjapai peradaban jang lebih tinggi, jang paling bersikap perseorangan ialah „kaoem terpeladjar”, jaitoe mereka jang dididik setjara Barat. Mereka itoe djadi pegawai negeri hanja oentoek kepentingan dirinja sendiri sadja (tentoe ada ketjoealinja). Dalam soesoenan pemerintahan lama memangnja sikap jang lain soekar, sebab orang jang bekerdja oentoek kepentingan rakjat ditjoerigai, atjapkali dipetjat. Pemerintah Belanda berdaja oepaja dengan bermatjam-matjam tipoe moeslihat (pengadjaran, atoeran gadji dsb.nja), soepaja „kaoem terpeladjar” Indonesia djaoeh dari rakjat, dari bangsanja sendiri. Semangat golongan itoe „di-Barat-kan”, soepaja toeroet memorat-maritkan keboedajaan Indonesia, sehingga rakjat Indonesia djadi loempoeh djiwanja, sabar memikoel pikoelan jang seberat-beratnja.
Semangat „Barat-Baratan” itoe kelihatan djelas dalam sikap „kaoem terpeladjar” sebagian besar terhadap tjiptaan2 doeloe, dalam tjaranja berbitjara, dalam kehidoepannja, dalam moesik, sandiwara, kesoesasteraan, dalam pertentangan2 dilapangan politik dan pergaoelan.
Kita haroes kembali kedasar asli, dasar Indonesia dan Timoer. Ke-Indonesiaan dan ke-Timoeran haroes memantjar lagi dalam masjarakat dan kesenian kita, sehingga kita dapat makmoer sebagai doeloe lahir dan batin. Hanja dengan demikian poela kita sanggoep berdiri dalam taufan hebat jang bermaradjalela sekarang diseloeroeh doenia. Hanja dengan demikian kita dapat toeroet mentjapai kemenangan achir dalam Perang Soetji merobohkan imperialis Sekoetoe oentoek selama-lamanja.
Dengan djiwa jang loempoeh rakjat Indonesia tidak akan sanggoep membantoe Balatentara Dai Nippon dan hanja bisa djadi anggota jang menghalang-halangi dalam lingkoengan kemakmoeran bersama di Asia Timoer Raja.
Kita haroes insaf benar, bahwa perkara keboedajaan boekan perkara sambil-sambilan atau peloeang waktoe. Keboedajaan mengenai djiwa dan semangat bangsa dan orang seseorang. Keboedajaan ialah poesat kehidoepan dan gerakan manoesia. Poesat itoe ada pertaliannja dengan segala tjabang masjarakat. Kemakmoeran soeatoe negeri bergantoeng kepada keboedajaannja.
Karena itoe mengembalikan keboedajaan Timoer di Indonesia ialah keperloean dan pekerdjaan jang amat sangat pentingnja.