Publisher Note
Berkenalan dengan bahasa Indonesia melalui Injil sejak kelas IV SD, Parakitri Tahi Simbolon lahir di sisi Danau Toba pada tanggal 28 Desember 1947. Sejak 1996 hingga kini, dia kembali menggeluti sastra dengan jabatannya sebagai direktur Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.
Dalam hidupnya, beberapa karir lain pernah dicobanya. Dia pernah masuk seminari dan hampir menjadi pastor. Masuk Fakultas Sospol UGM di dalam bidang Hubungan Internasional (1967-1972), dan hampir menjadi diplomat. Menjelang peristiwa Malari, dia mendapat beasiswa untuk belajar di Prancis pada Institut International d’Administration Publique. Namun dia urung menjadi pejabat, karena perhatian utamanya diberikan pada kegiatannya sebagai wartawan dan pengamat sosial.
Tulisannya yang pertama terbit di majalah Basis pada tahun 1968, kemudian karyanya muncul di Horizon, Prisma, Indonesia Raya, Time, Indonesian Observer dan Kompas, di mana dia bekerja sebagai wartawan tetap antara tahun 1976 dan 1992. Novel pertamanya, Ibu, mendapat hadiah UNESCO pada tahun 1970, disusul beberapa novel dan skenario film, di antara yang terakhir: Gadis Penakluk yang mendapat hadiah Citra untuk skenario terbaik pada tahun 1981.
Dari sudut penelitian sosial, Parakitri T. Simbolon selalu mengambil pendekatan yang lain: seusai pendidikan di Paris, dia secara tak terduga memilih negara Haute-Vota (kini Burkina Faso) sebagai bidang penelitiannya. Ketika di negeri Belanda di dalam rangka studi pasca-sarjana dia meneliti masalah etnisitas di Batavia. Disertasinya: „Tapping on the Wall: Ethnicity and Marketplace Trade in the Urban Context of Jakarta,” dipertahankannya pada Februari 1991. Buku terakhirnya „Menjadi Indonesia 1: Akar-akar Kebangsaan Indonesia” diterbitkan oleh Kompas-Grasindo pada tahun 1995. Kini walaupun Parakitri Tahi Simbolon sibuk menjabat sebagai salah satu pemimpin dari kelompok Kompas-Gramedia, kita boleh selalu berharap dapat membaca tulisan-tulisannya yang baru.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sekitar Juni 1973, tawaran beasiswa Prancis sampai di berbagai instansi di Indonesia. Programnya berupa kursus latihan (stage) selama dua tahun, namun dengan syarat tertentu program tersebut dapat membuka peluang untuk melanjutkan pelajaran sampai ke gelar „doktor”.
Ketika tawaran itu datang, saya sudah hampir setahun di Departemen Luar Negeri RI (Deplu). Biasanya pegawai baru seperti saya tidak tertarik dengan tawaran itu. Jauh lebih menarik mengikuti Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu), yang lulusannya hampir pasti ditempatkan di luar Indonesia, dengan gaji puluhan kali lebih besar daripada yang diterima di dalam negeri. Itulah sebabnya, yang mengambil beasiswa itu, lalu menjadi stagiaire, pastilah mempunyai alasan khusus, atau tidak memenuhi syarat masuk Sesdilu.
Saya memilih beasiswa itu karena alasan khusus. Memang sejak semula saya tidak pernah berniat menjadi pegawai negeri. Saya masuk Deplu secara kebetulan. Ketika itu saya sedang membantu seorang mahasiswa melakukan penelitian di sana untuk skripsinya. Pada hari pertama penelitian itu, kami menyaksikan antrean panjang para pendaftar ujian masuk pegawai Deplu. Bagi saya, sebagai bekas aktivis mahasiswa, peristiwa itu sangat mengejutkan. Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa untuk menjadi pegawai pemerintah, bukanlah antre untuk ujian masuk yang menentukan, tapi koneksi dan jalan belakang.
Penasaran karena ingin tahu kejadian „aneh” itu, saya memutuskan ikut mendaftar esok harinya. Tetapi saya tiba ketika pendaftaran baru beberapa menit saja dinyatakan selesai. Saya sudah hendak keluar ketika seorang pejabat, seorang wanita yang bersikap sangat santun, tampak iba melihat saya. Mungkin nuraninya terganggu jika harus menolak saya hanya karena formalitas waktu. Maka atas keputusan wanita itu, berkas pendaftaran saya akhirnya diterima. Kemudian saya tahu, pejabat itu adalah satu dari sedikit wanita yang berjabatan cukup tinggi di Deplu waktu itu, dan salah satu juga dari sedikit pejabat yang dihargai karena integritas pribadinya.
Ternyata seusai ujian saya dinyatakan lulus, lalu menjadi calon pegawai Deplu.
Terlalu nyinyir kalau saya menguraikan bagaimana kenyataan yang sebenarnya setelah saya bekerja di Deplu. Yang jelas, saya sangat kecewa. Tahu-tahu datanglah tawaran pemerintah Prancis itu. Bagi saya tawaran itu ibarat pucuk dicita ulam tiba. Saya memilih jadi stagiaire di IIAP (Institut International d’Administration Publique) Paris daripada masuk Sesdilu. Institut ini terletak di Avenue de l’Observatoire. Hitung-hitung kesempatan belajar selama dua tahun itu akan membuat saya bisa berbahasa Prancis, selain memungkinkan saya mengamati kiprah Deplu di luar negeri. Sesudah itu, selamat tinggal!
Tertunda karena „Malari”
Sebelum berangkat ke Prancis, semua stagiaires diberi kursus audio-visual bahasa Prancis selama tiga bulan di gedung Kebudayaan Prancis (Alliance Française), Salemba Raya. Pada akhir kursus diadakan tes, dan yang tidak lulus tentu tak boleh berangkat.
Untuk kursus itu dua orang guru (pria) didatangkan dari Prancis. Seorang di antaranya, kebetulan yang paling ganteng, langsung memberi kesan sangat positif tentang masyarakat Prancis. Kesan itu sekaligus mencakup tiga ciri bagus masyarakat itu yang sudah sering terdengar atau terbaca. Ketiga ciri itu adalah modern, setia dengan tradisi revolusinya (liberté, egalité, fraternité), dan kaya humor. Betapa tidak, guru itu hitam legam mirip orang Keling tapi bernama Si Putih (Leblanc). Bahasa Prancisnya terdengar lebih indah daripada bahasa rekannya yang bule. Konon orang tuanya berasal dari Martinique, salah satu propinsi seberang laut Prancis (Département d’Outre-Mer) di Karibia.
Semua peserta kursus sedang siap menanti hari berangkat ketika Jakarta digoncang oleh demonstrasi besar-besar pada hari Selasa, 15 Januari 1974. Peristiwa itu, yang seterusnya dikenal sebagai Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), secara aneh sangat mempengaruhi kehidupan pegawai di Deplu di luar negeri. Pasalnya, setelah peristiwa itu pemerintah melarang impor mobil-jadi, padahal membawa mobil itu masuk Indonesia sangat menguntungkan pegawai Deplu ketika itu. Biasanya yang dibawa masuk dianggap barang bekas pakai, jadi tidak dikenai pajak impor, dan pada umumnya mobil jenis mewah, seperti Mercedes Benz. Di Indonesia, mobil itu dapat dijual mahal. Hasilnya, dapat membeli rumah dan sekaligus mobil yang lebih murah.
Saya sendiri ikut beberapa kali dalam berbagai diskusi menjelang peristiwa 15 Januari. Sebagai bekas mahasiswa demonstran yang „lugu” dari Yogyakarta, saya sempat „shock” menyaksikan permainan politik mahasiswa di sekitar peristiwa itu. Tidaklah mengherankan bahwa saya lega ketika diumumkan bahwa kami akan berangkat ke Paris pada awal bulan Februari 1974.
Tetapi pada hari keberangkatan itu saya justru merasakan kerasnya cekaman kekuasaan negara Indonesia atas warganya. Ternyata saya dilarang pergi ke luar negeri, tapi hal itu dengan sengaja baru diberi tahu ketika saya siap hendak naik kapal terbang. Saya dicegat ketika menuju ruang tunggu keberangkatan, dan paspor saya ditahan. Sama sekali tak ada penjelasan. Jadilah koper saya ikut terbang ke bandar udara Le Bourget di Paris, sedang saya tak boleh pergi.
Mudah membayangkan apa yang terjadi dengan keluarga saya waktu melihat saya muncul tiba-tiba. Ketika itu, ke luar negeri ibarat ke bulan sekarang ini. Seluruh keluarga tumpah ke Halim Perdanakusuma untuk mengantar. Demikian juga dengan keluarga saya. Mereka naik ke balkon dan melambai-lambaikan tangan mengiringi tinggal-landas pesawat besar DC 10 milik UTA (Union des Transports Aériens). Istri saya melambai sambil bersimbah air mata. Maklum, kami baru kawin tiga setengah bulan sebelumnya, dan istri saya itu baru tiga bulan mengandung.
Betapa kagetnya keluarga menyaksikan saya muncul di hadapan mereka. Ada yang sempat berteriak „hantu” segala, karena mereka yakin saya sudah berada di dalam pesawat yang barusan berangkat. Istri saya saja yang tampak agak lega melihat saya tak jadi terbang. Namun, ketika dia tahu apa sebenarnya yang menimpa saya, barulah ia menangis kembali. Kami semua hanya bisa menduga, saya dilarang pergi sehubungan dengan „Malari”. Dari pencegah saya, sama sekali tak ada penjelasan, seolah-olah saya tak punya hak apa pun sebagai seorang warga negara.
Hampir sebulan lamanya persoalan saya „dijernihkan”. Untuk itu keluarga terpaksa ikut repot. Entah apa yang mengubah pikiran pihak pencegah, namun akhirnya saya boleh berangkat pada awal Maret. Kali ini, saya minta agar tak seorang pun ikut mengantar, siapa tahu saya dicegat lagi. Semua yang mendengar tertawa, sebagian karena menikmati sarkasme praktis yang terkandung dalam putusan itu, sebagian lagi mungkin karena senang tak perlu capek-capek ke lapangan terbang.
Takkan Menyesal
Perjalanan saya ke Paris 21 tahun lalu, awal Maret 1974, sangat mendebarkan. Maksud saya, selama mastodon bernama DC 10 itu belum tinggal landas, saya masih cemas kalau-kalau dipaksa turun, sehingga pengalaman pahit sebulan sebelumnya terulang.
Ketika naik di dalam pesawat saya mencari-cari orang Indonesia. Hanya ada dua, salah satunya seorang perempuan. Semua penumpang lain kulit putih. Memang banyak kursi yang kosong.
Kedua orang itu tampak tidak menghiraukan kedatangan saya, walaupun saya sudah menuju jajaran kursi mereka. Ketika saya mengucapkan selamat siang, mereka hanya mengangguk sedikit dengan senyum yang sudah biasa kita perlihatkan itu. Begitu saja, mengangguk dan senyum, tidak sepadan dengan semangat saya memberi salam, yang jelas minta berkenalan lebih jauh.
Sempat saya membatin, jangan-jangan mereka membaca di jidat saya bahwa sebulan lalu saya dicegah pergi karena diduga terlibat „Malari”. Mungkin mereka mengira sama bahayanya terlibat „Malari” dan bicara dengan orang yang diduga terlibat. Karena itu saya memilih diam dan mengamati. Apa boleh buat, 22 jam terbang akan sangat membosankan!
Ternyata keadaan tidak sekonyol itu. Kedua teman sebangsa itu masih tetap saja bergeming ketika saya pindah-pindah tidur di jajaran kursi yang kosong. Namun, ketika saya coba „membunuh” rasa bosan dengan mengulang pelajaran bahasa Prancis keras-keras, tetangga saya itu mendadak hidup. Yang lelaki malah ikut-ikutan berbaring di jajaran kursi kosong, lalu mulai berbicara dan bercerita tentang dirinya.
Ternyata ia bekerja di suatu departemen pemerintah dan hendak ke sekolah yang sama dengan saya. Juga wanita itu, katanya. Rupanya kami mengikuti kursus yang sama di Alliance Française, cuma tidak saling kenal. Keduanya juga mestinya berangkat sebulan sebelumnya, tapi terpaksa tertunda karena urusan keluarga. Mereka tidak menanya mengapa saya terlambat berangkat seperti mereka, karena itu saya diam saja.
Tidak terasa penerbangan segera akan berakhir. Pesawat kami mendarat malam hari dengan selamat di bandar udara Le Bourget, Paris. Segera saya mencari keterangan di bagian yang menangani barang hilang mengenai koper saya yang sudah duluan tiba. Seperti halnya dengan pramugari di pesawat, petugas yang mengurus barang hilang itu sama sopannya melayani saya. Tampaknya mereka terhibur mendengar seorang asing mencoba berbicara dalam bahasa mereka. Koper itu memang saya dapatkan seutuhnya, cuma saja semua pakaian saya berlepotan warna coklat karena botol semir cololite pecah di dalamnya.
Mungkin berkat kedua teman saya itulah maka kami dijemput pegawai pemerintah Prancis, lalu dibawanya ke suatu gedung besar, kalau tak salah di rue de Vaugirard dekat metro St. Placide. Kami disediakan masing-masing sebuah kamar, tapi karena sudah malam, sekitar jam 10, tak ada makanan. Terpaksa kami makan di kantin yang entah kenapa masih buka.
Kami bertiga heran kok semua makanan dan minuman di situ dingin, padahal udara bulan Maret masih dingin dan membuat kami menggigil. Menurut logika kami, makanan dan minuman mestinya hangat, tapi mendengar itu penjaga kantin tertawa. Ia bilang „dingin dengan dingin, panas dengan panas, itu baru cocok” (le froid avec le froid, le chaud avec le chaud, c’est normal).
Entah bagi kedua teman saya, bagi saya sendiri pengalaman makan makanan dingin dan minum minuman dingin malam itu di Paris merupakan pertanda pengalaman selanjutnya. Yang langsung saya alami adalah rasa curiga terhadap banyak hal yang kita anggap bagian dari kemajuan Eropa, hal yang hingga hari ini konon hendak dikejar oleh kita dari Dunia Ketiga.
Persoalannya bagi saya sederhana saja. Mestinya penjaga kantin bisa bilang bahwa sudah terlalu malam untuk menyediakan makanan hangat, dan yang sisa cuma yang dingin. Jika demikian halnya, paling-paling hati ini cuman pasrah, „apa boleh buat”. Lain halnya kalau kami „ditipu” dengan „kewajaran” Prancis tadi, le plat froid avec le froid itu. Terus terang, ketika itu saya merasa sedang diperlakukan seperti orang bodoh hanya karena datang dari negeri seperti Indonesia.
Namun saya bertekad tidak akan pernah menyesal datang ke Prancis, apa pun yang akan terjadi. Tugas saya sudah jelas, yakni belajar dari Prancis tanpa rasa gamang, menghadapi peradaban Prancis tanpa rasa rendah diri!
Ditempatkan Jauh di Massy
Esok harinya kami diminta segera berangkat ke Massy, suatu kota kecil sekitar 15 kilometer ke arah selatan tempat menginap kami, atau 12 kilometer dari batas selatan kota Paris. Status daerah itu mirip Kebayoran Baru untuk Jakarta, suatu kota satelit, suburbs kata orang Inggris, banlieue kata orang Prancis. Konon di sanalah hampir semua anggota rombongan kami ditempatkan selama mengikuti pelajaran lanjutan bahasa Prancis.
Berbeda dengan kedatangan kami, kini tak ada yang akan mengantarkan kami ke Massy. Petugas yang menerima kami bermalam hanya memberi peta Massy dan menyarankan kami agar naik taksi saja. Saya masih ingat, kami bertiga membayar taksi itu 50 franc sampai di Massy. Kemudian kami tahu, seandainya petugas itu sabar menjelaskan rute metro dan kereta api, paling kami membayar sembilan franc.
Pemandangan di pinggiran selatan Paris sangat menarik. Ada ladang-ladang luas diselingi dengan rumah mungil petani, tapi ada juga ladang sempit dengan rumah yang mulai reyot. Di beberapa ladang terlihat petani menggemburkan tanah dengan traktor, tapi ada juga dengan alat yang ditarik kuda. Badan kuda itu agak aneh bagi kami. Keempat kakinya pendek, besar, dan tegap dengan bulu lebat membentuk gelang dekat lututnya. Tampaknya dengan badannya yang pejal itu, si kuda tidak pintar berlari, tapi hanya tahu menghela.
Akhirnya taksi kami tiba di depan gedung bertingkat 17, yang tertinggi di kota Massy itu. Gedung itu tampak bagus karena baru. Daerah sekitarnya pun masih kebanyakan kosong. Petugas di lantai dasar gedung itu (rez-de-chaussée) meminta kami pergi ke rumah sebelah, tempat direktur gedung tinggi itu tinggal. Di sana kami disambut oleh seorang tua yang santun dengan rambut memutih, sesantun namanya, de la Mar. Direktur itu menjelaskan hak dan kewajiban penghuni gedung, termasuk 200 franc sewa satu kamar per bulan.
Alangkah mahalnya sewa kamar itu, persis sepertiga dari beasiswa kami. Kendati demikian, membayangkan punya kamar sendiri membuat kami tidak bernafsu menawar. Apalagi, harga itu tentu telah disepakati oleh semua teman yang lebih dulu tinggal di sana.
Bahasa Prancis Lagi
Menurut rencana pihak Prancis, kami akan belajar lagi bahasa Prancis sampai akhir Agustus sebelum masuk ke IIAP. Tempat belajar kami itu terletak di Avenue Reille, di pinggir selatan kota Paris. Dibatasi jalan ke arah selatan gedung itu terletak taman bagus dengan pohon-pohon pinus tua, disebut Taman Bukit Tikus (Parc de Montsouris). Di selatan taman ini, di seberang Boulevard Jourdan, terletak kawasan yang lebih indah lagi, yakni Kota Universitas (Cité Universitaire). Disebut demikian karena di kawasan inilah terdapat puluhan asrama mahasiswa lengkap dengan restoran, taman, dan fasilitas olahraga.
Setiap pagi kami naik kereta api dari Massy ke tempat kursus bahasa, dan berhenti di stasiun Kota Mahasiswa itu. Jam belajar kami sampai sore, sehingga kami harus makan siang di sekitar situ. Untunglah kami berhak membeli karcis makan di restoran mahasiswa di kawasan Kota Mahasiswa itu. Harganya murah tapi mutu makanannya lumayan.
Belajar bahasa saban hari selama berbulan-bulan tentunya bakal sangat membosankan. Ternyata tidak demikian. Pengajaran itu berhasil dilakukan dengan kegembiraan, terutama karena guru-gurunya sangat mahir. Namun demikian, belajar seperti itu hanya bagus di dalam kelas. Untuk dipakai belajar dari lingkungan Prancis, apalagi bergaul dalam lingkungan itu, ternyata tidak begitu banyak gunanya. Mahir belajar bahasa berdasarkan kaidah-kaidah gramatika ternyata tidak cukup. Yang lebih perlu lagi adalah mengenal tradisi dan peradaban masyarakat pengguna bahasa itu. Dalam hal inilah rombongan stagiaires Indonesia mengalami persoalan yang pelik.
Mengenal tradisi dan peradaban suatu masyarakat dalam tempo relatif singkat tentu hanya mungkin lewat membaca. Mengenai masyarakat Prancis, yang khazanah kebudayaannya begitu kaya, membaca itu berlipat kali lebih penting lagi. Terus terang, membaca bukanlah keutamaan kami para stagiaires Indonesia. Ketika guru kami menyinggung logika hati (la logique du coeur) versus logika akal (la logique de la raison), Blaise Pascal versus René Descartes, misalnya, kami hanya diam, padahal topik itu subur dengan bahan diskusi. Dengan diskusi yang serius, tentunya kemampuan bahasa kami akan terpacu. Semua itu tidak terjadi selama pelajaran bahasa.
Selain membaca, pergaulan merupakan lahan subur perkembangan bahasa. Dalam hal ini pun rombongan kami sama konyolnya. Melulu karena kurang yakin akan kemampuan berbahasa, inisiatif pergaulan dari pihak kami sangat sedikit. Sebaliknya, dari pihak orang Prancis inisiatif itu tampak lebih sedikit lagi. Di kereta api, misalnya, kami sering harus duduk berhadaban dengan orang Prancis, lutut bisa bersentuhan, tapi diam seribu basa. Bila mereka pasangan laki-perempuan, tidak jarang terjadi saling peluk dan cium di depan hidung kami. Saking penasarannya kami sering bicara tanpa berpaling kepada teman di samping, „ulur, uluuur”. Apa yang diulur tentu tergantung pikiran konyol di kepala kami.
Terus terang, jangankan orang Prancis, orang Afrika yang berbahasa Prancis pun, susah memulai percakapan yang serius dengan kami. Malah sering terasa bahwa orang Afrika jauh lebih bangga dengan bahasa Prancisnya daripada orang Prancis sendiri. Antara sesama mereka, orang Afrika suka berdiskusi, atau tepatnya berdebat riuh, di mana saja, kapan saja. Sekali waktu saya pernah coba masuk dalam diskusi itu, tapi praktis tak diacuhkan.
Salah siapa kalau pelajaran bahasa dibuat hanya dalam kelas? Entahlah. Yang saya tahu tidak mudah menjawab pertanyaan itu.
Terkucil
Melulu karena soal bahasa, para stagiaires Indonesia sudah terpaksa merasa terkucil dari masyarakat luas di Paris. Memang ada beberapa kali acara sosial, seperti undangan makan atau kesenian. Walaupun demikian, mungkin karena sifatnya yang resmi, mungkin juga karena hambatan bahasa lisan, acara seperti itu malah cenderung jadi beban bagi kami daripada kesempatan. Bahkan, ketika rombongan kami berhasil dengan baik menyumbangkan lagu-lagu pada suatu acara sosial, kenikmatannya terbatas pada ketika menyanyi. Acara sesudah itu, seperti makan bersama dan ngobrol, kurang menyenangkan.
Pada soal bahasa, harus ditambahkan juga soal makan. Karena tak mungkin makan masakan sendiri siang hari, maka kontak sosial utama kami pada peradaban Prancis dimulai dari makanan. Harus diakui, bagi hampir semua kami tidak mudah menyesuaikan diri dengan makanan Prancis, terutama keju (fromage). Hari-hari pertama semua keju yang termasuk dalam jatah disisihkan. Konon beberapa orang merasa akan muntah hanya dengan melihat keju yang sisi luarnya tampak seperti lapuk membusuk, padahal orang Prancis sangat menyukainya.
Tentang penyesuaian yang susah ini ada beberapa peristiwa yang konyol. Seorang teman merasa tak perlu makan buah, sayur, apalagi keju. Malam hari ia memasak sendiri makanan seperti di Indonesia saja, misalnya soto babat. Seminggu lamanya memang belum terlihat akibatnya, dan teman itu merasa yakin dengan cara makannya. Baru ketika memasuki minggu kedua, bibir si kawan mulai kering dan retak-retak. Dengan rajin ia mencabuti kulit bibirnya yang kering. Sial, semakin ia mencabut, semakin panjang dan lebar robekan kulit kering itu. Akhirnya seluruh bibir dalam dan luar mulai berdarah karena kulitnya ditariki, sampai mulut si kawan itu tampak seperti kawah luka.
Untuk menghibur diri, stagiaires Indonesia cenderung kumpul-kumpul. Agar lebih asyik, sambil kumpul itu ada juga masak bersama. Yang dimasak, yah, yang paling gampang, yakni soto babat. Dagingnya murah, karena biasanya dibeli orang untuk hewan piaraannya, kucing atau anjing. Setelah dicuci tinggal direbus, lalu ditaruh bumbu.
Saking seringnya kumpul dan kumpul dan masak soto babat bersama-sama, maka timbul sindiran bahwa para stagiaires kita di Paris waktu itu tambah fasih berbahasa Jawa tapi makin kurang mahir berbahasa Indonesia, apalagi berbahasa Prancis. Saking terlalu sering membeli jeroan di tukang daging yang sama, para stagiaires kita itu sering juga dipuji oleh si tukang daging. Katanya „Eh, banyak amat rupanya anjing di rumah anda” (Tiens, comme ils sont nombreux les chiens chez vous).
Ditangkap lagi
Lagi giat-giatnya belajar bahasa Prancis, awal Juli 1974 saya dipanggil oleh Kedutaan Besar RI di Paris. Panggilan itu terasa serius sehingga sangat mencemaskan saya semalam suntuk. Esok paginya saya berangkat ke kedutaan, perjalanan yang cukup jauh. Waktu itu, duta besar kita untuk Prancis dan Spanyol adalah Letjen Achmad Tahir. Tentu pertama-tama saya harus menemui atase kebudayaan, Ibu Kartini. Ia tampak sungkan memberi tahu maksud panggilan saya, dan minta agar saya membicarakannya dengan duta besar saja.
Saya pun naik ke lantai dua, bertemu dengan Pak Tahir. Dengan keramahannya yang sudah terkenal itu, Pak Tahir berhasil mengesankan bahwa musibah yang menimpa saya itu perkara kecil belaka. Saya „hanya diminta pulang ke Jakarta oleh Kopkamtib untuk memberi keterangan.” Keterangan tentang apa, Pak Tahir merasa tak perlu memberi tahu, karena hal itu akan ditanyakan langsung nanti oleh Kopkamtib.
Pak Tahir melanjutkan keterangannya. Katanya, lusa saya sudah harus berangkat. Karcis pesawat dan surat-surat dari kedutaan sudah disiapkan untuk saya bawa. Karena masih akan kembali ke Prancis, saya hanya perlu bawa pakaian secukupnya saja. Selama di Jakarta, pemerintah akan menanggung biaya hidup saya. Pulang ke Prancis lagi juga akan diurus oleh pemerintah.
„Oleh karena itu Saudara tak perlu cemas”, demikian ujar Pak Tahir. „Ini perkara kecil saja. Saudara tak ditangkap, tapi cuma dipanggil untuk diminta keterangan. Kalau nanti ada kesulitan saya sendiri akan membantu. Jadi, selamat jalan!”.
Kendati diberi tahu dengan cara selembut itu, saya meninggalkan gedung kedutaan dengan limbung. Saya hanya dapat surat dari kedutaan, sama sekali tidak ada dari Kopkamtib di Jakarta. Tentang semua hiburan yang diucapkan oleh Pak Tahir, tak ada jaminannya. Saya hanya dapat percaya akan kebaikan hatinya. Terlebih lagi saya harus menduga sendiri mengapa saya dipanggil. Pendeknya, dalam peristiwa ini saya dibuat tanpa pegangan.
Sambil berjalan di kota Paris yang penuh sejarah perjuangan demi harkat manusia dan hak-hak warga negara itu, saya tak bisa menghindari bayangan sejarah pada bulan itu 185 tahun sebelumnya (1789). Memang beberapa hari lagi akan tiba tanggal 14 Juli, ketika seluruh Prancis dan mungkin banyak negeri lain di dunia akan memperingati revolusi Prancis yang tersohor itu. Salah satu hasil terpenting revolusi itu disebut „Pernyataan hak-hak asasi manusia dan warga negara” (Déclaration des droits de l’homme et du citoyen). Tak mungkin lupa salah satu isinya: pelecehan hak-hak manusia dan warga negara merupakan pangkal penderitaan umum, korupsi, dan penyelewengan.
Apa yang telah dicapai oleh Revolusi Prancis seperti menyala di hati. Betapa tidak! Yang barusan saya alami di kedutaan RI adalah kebalikannya. Pada akhirnya, begitu saya berfikir, belum juga usai pertarungan antara harkat kemanusiaan dan hak warga negara di satu pihak, serta pelecehannya di pihak lain. Dalam pertarungan itu, kemerdekaan dan kekuasaan hanyalah alat.
Lagi-lagi Kekonyolan
Tiba di Jakarta, hampir selama tiga bulan saya diperlakukan sekonyol-konyolnya. Seandainya ditahan, paling sedikit saya akan diberi makan. Nyatanya saya hanya diperiksa, sehingga saban hari saya harus bolak-balik dari tempat menginap di Cipete ke Gambir atau Tanah Abang. Dalam sembilan dari sepuluh bagian pemeriksaan itu, saya lebih banyak dijemur. Artinya, saya diharuskan datang pada jam delapan pagi, tapi baru diperiksa jam lima sore. Dan untuk semua itu saya tak punya sumber pendapatan.
Namun demikian saya memperoleh penghiburan dari yang lebih kuasa daripada pemerintah. Waktu itulah anak sulung saya lahir. Seandainya saya tak ditangkap, takkan mungkin saya melihatnya. Selain itu, selama dijemur saya sendiri ternyata sungguh-sungguh bersentuhan dengan kekuasaan yang terus berdarah, sejak Ken Arok sampai ke Kolonel Untung. Sejak itu tumbuh tekad saya untuk tidak mau terbenam dalam kebiasaan yang telah menyejarah itu.
Pulang ke Prancis akhir September harus melalui perang mulut dengan pejabat pemerintah. Namun, begitu tiba kembali di Paris, IIAP menyatakan bahwa saya tak mungkin melanjutkan kuliah. Tiga bulan lamanya saya tidak ikut belajar, dan ujian masuk IIAP sudah lewat. Alasan saya tidak ikut belajar tidak dihiraukan, sementara saya tidak mendengar adanya campur tangan kedutaan besar RI untuk membela saya.
Lagi-lagi kekuasaan yang lebih tinggi campur tangan. Ternyata masih ada beberapa stagiaires Indonesia yang harus mengulang ujian karena dianggap tidak memenuhi syarat pada ujian pertama. Lantas saya bilang kepada Monsieur Massaut, direktur IIAP agar saya diperlakukan serupa. „Tiga bulan ketinggalan, apakah Anda berani?”, begitu tanyanya heran.
Lalu saya ikut ujian, yang pertama bagi saya, yang kedua bagi yang lain. Syukur, saya lulus, sedang dari yang lain itu ada dua yang gugur. Sial, saya jadinya tak bisa mengharap banyak dari pelajaran di institut itu. Bahwa saya lulus, kendati telah ketinggalan, itu berarti mutu institut itu tidaklah tinggi. Maka bertekadlah saya menuntut pelajaran yang saya rancang sendiri, sama sekali tidak menghiraukan belajar di IIAP. Sering sekali saya bolos di IIAP agar bisa belajar sendiri.
Juga saya tidak lupa menagih janji Pak Tahir soal perhatian pemerintah kepada saya selama di Jakarta. Kendati saya datang dengan nada menuntut, ternyata Pak Tahir mau juga memberi 1.200 franc. Tentulah bukan jumlahnya itu yang penting, melainkan kemauan duta besar kita itu. Apa pun alasannya mendengar tuntutan saya itu, yang jelas hal seperti sikap Pak Tahir itulah yang sering memulihkan kepercayaan kembali kepada keutamaan bangsa sendiri.
IIAP tak berdaya menghadapi sikap saya yang tak acuh dengan pelajaran yang diberikannya. Lantas, lembaga itu mungkin menduga bahwa saya baru akan tahu rasa setelah ujian akhir. Nyatanya saya mengagetkan lembaga itu lagi ketika saya memilih Volta Hulu (La Haute-Volta ketika itu, Burkina Faso sekarang) di Afrika sebagai tempat studi lapangan akhir. Semua teman lain memilih kota negeri maju, seperti London, New York, dan Tokyo.
Waktu itu Volta Hulu merupakan negara paling miskin di dunia, berpenduduk enam juta jiwa, dan baru saja ditimpa kelaparan di daerah Sahel. Sekali saya mengirim surat dari Ouagadougou, ibu kota negara itu, ke Paris, kepada Kang Ramadhan K.H. dan istrinya almarhumah Kakak Tines Ramadhan. Saya tulis, saya sulit percaya bahwa Volta Hulu adalah suatu negara, dan Ouagadougou suatu ibu kota. Kesan yang lebih kuat adalah bahwa negeri itu kerajaan suku, dan ibu kotanya desa kedudukan kepala suku. Di ibu kota ini hanya ada tiga gedung bertingkat dua atau tiga, salah satu di antaranya kantor Presiden Sangoulé Lamisana. Jalanan berdebu. Sumber devisanya bergantung pada buncis, yang konon bermutu tinggi karena tak bertulang punggung. Surat kabar praktis tabloid. Ada televisi, mungkin dua kali siaran seminggu selama dua jam. Mungkin sayalah orang Indonesia yang pertama menginjak negeri itu.
Lantas, mungkin heran karena tak menduga bahwa ada negeri seperti itu Kang Ramadhan sampai menerbitkan surat saya itu di surat kabar Sinar Harapan. Memang, saya sendiri merasa beruntung memilih negeri itu sebagai tempat penelitian lapangan. Di sana saya dapat melihat sisi lain dari bangsa Prancis sebagai penjajah. Di sana penjajahan itu sepertinya tidaklah jahat, cuma congkak, dingin, dan tidak perduli. Dengan kata lain, saya makin memahami bahwa kekuasaan yang congkak, dingin, dan tak perduli, pada dasarnya adalah kekuasaan yang jahat juga.
Tidak hanya itu bentuk sikap tak perduli saya terhadap IIAP. Ketika ujian akhir sudah selesai, tanpa menunggu hasilnya, saya dan seorang teman langsung pulang. Belakangan terdengar kabar bahwa upacara penyerahan ijazah atau sertifikat diundur dan dilangsungkan di Jakarta. Karena saya pun tak menghadirinya, maka selesailah sudah urusan saya dengan IIAP.
IIAP bukanlah Prancis
Tentulah IIAP bukanlah Prancis. Sebagaimana negara maju yang lain di Barat, mutu ilmu dan pengetahuan di Prancis ditentukan oleh jaringan kelembagaan yang jauh lebih luas daripada sekolah, institut, atau universitas. Perpustakaan, museum, pusat penelitian, perhimpunan ahli, dan jurnal-jurnal, adalah beberapa yang terpenting dalam jaringan kelembagaan tersebut. Perpustakaan dalam Sorbonne di sekitar Panthéon, atau perpustakaan milik Maison des Sciences de l’Homme di Boulevard Raspail, hanyalah sedikit contoh dari jaringan itu. Saya merasa, jauh lebih berguna bagi saya menggunakan beasiswa Prancis dalam jaringan kelembagaan seperti itu daripada mendengar dosen pintar bicara di IIAP setiap pagi yang dingin itu.
Terus terang, berkat jaringan kelembagaan tersebut, di Prancislah saya mulai menyadari bahwa Indonesia tak mungkin berjalan layak dalam dunia modern ini tanpa lebih dulu membangun dan merapikan jaringan kelembagaan seperti itu, yang menjadi lahan tumbuh ilmu pengetahuan. Kesadaran itulah hasil terbesar yang saya peroleh selama saya jadi stagiaire di Paris antara 1974 dan 1975. Mungkin itu tidak banyak, tapi berlipat kali banyaknya harus saya berterimakasih untuk kesempatan itu.