Baca EPUB: mecromegas-voltaire

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
PORKAS DAULAE
„Mecromegas“ Voltaire
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

DALAM roman filosofic „Micromegas” pudjangga Perantjis Voltaire (1694 — 1778) menunjukkan, bahwa tidak ada sesuatu jang besar atau ketjil pada dirinja sendiri. Segala sesuatu adalah relatif.

Tokoh utama dalam karya tersebut adalah Micromegas (kombinasi dari 2 perkataan Junani jang berarti ketjil dan besar), seorang penghuni dari planet Sirius. Djabata: filosof. Tinggi badan: seratus duapuluh ribu kaki (manusia biasa: lima kaki lebih sedikit).

Voltaire, seorang rasionalis, tentu tidak pertjaja bahwa ada machluk raksasa seperti itu. Tjerita Micromegas hanjalah sekedar alat untuk mendjalurkan gagasannja.

Voltaire, menurut Lanson-Tuffrau dalam „Histoire de la Littérature Française” (Paris, 1960), berdominasi dalam abad ke-18, karena evolusi dari djiwapudjangga tersebut seiring dengan evolusi semangat Rakjat. Roman Micromegas mendapat inspirasi dari suatu keadaan di Perantjis pada masa mendjelang Revolusi.

Micromegas mengundjungi planet² lain dalam tata-surya. Ia tiba di Saturnus. Ia geli melihat machluk disana jang setinggi 6000 kaki. Kerdil pada pemandangannja. Micromegas mendjadi sahabat seorang filosof, Sekretaris Akademi Ilmu pengetahuan Saturnus. Bersama machluk kerdil ini ia meneruskan perdjalanannja ke-planet² lain.

Achirnja mereka tiba dibumi kita ini. Lautan² besar, tidak lebih dari paja-paja pada pemandangan mereka. Dan tidak ada tampak tanda² machluk jang bernjawa.

Sewaktu Micromegas mengadakan gerak impulsif dalam suatu diskusi hangat dengan sahabatnja, tali kalung pada lehernja putus dan butir² berlian berdjatuhan. Ternjata berlian diasah sedemikian rupa sehingga bisa berfungsi sebagai mikroskop.

Melalui mikroskop sebutir berlian si-kerdil dari Saturnus melihat sedjumlah insek, serangga. Kedua machluk dari planet asing itu memeriksa insek² itu dan memastikan, bahwa tidak mungkinlah ada djiwa dalam binatang jang begitu ketjilnja.

Tetapi karena insek² itu tampaknja mempunjai komunikasi antara satu sama lain maka Micromegas, jang sangat gemar kepada bahasa, menduga bahwa ada bahasa dari insek² itu. Penghuni dari Sirius tersebut menggunting kuku ibu djarinja dan membentuk kuku itu mendjadi sematjam terompet. Pangkal jang sempit didekatkannja pada telinganja sedang terompet itu melingkupi kumpulan insek tadi untuk menangkap getaran suara mereka. Dan sungguh adjaib! Micromegas mendengar kata², bahasa Perantjis! Ternjata „insek” itu adalah manusia, serombongan filosof dalam kapal, tengah mengadakan riset. Si-kerdil dari Saturnus geli melihat insek² jang begitu ketjilnja.

Machluk setinggi 6000 kaki tampak kerdil bagi machluk jang tingginja 120,000 kaki.

Dan machluk setinggi 5 kaki tampak sebagai insek melalui mikroskop bagi machluk setinggi 6000 kaki.

Voltaire mau menunjukkan bahwa tidak ada jang besar atau ketjil pada dirinja sendiri tetapi hanjalah demikian djika dihubungkan dengan jang lain. Sifilosof dari Saturnus tampak kerdil bagi raksasa dari Sirius tetapi tampak raksasa bagi machluk bumi kita. Semuanja relatif.

Djika hal tersebut diterapkan dalam kehidupan sahari-hari kita djuga dapat mengatakan, bahwa tida ada guru atau siswa setjara absolut. Seseorang tampak sebagai guru kalau dihubungkan dengan orang jang kurang pengetahuannja tetapi tampak sebagai siswa bila dihubungkan dengan orang jang lebihbanjak pengetahuanja. Djadi memutlakkan orang sebagai guru atau siswa tidaklah sesuai dengan kenjataan. Ketjuali itu: memutlakkan diri sebagai guru mengakibatkan sikap sombong, sedang memutlakkan diri sebagai siswa mengakibatkan sikap rendah diri. Karena tidak ada manusia jang serba tahu atau serba tidak tahu, maka setiap orang adalah sekaligus murid dan guru.

Djadi tidak ada alasan ilmiah untuk tinggi hati, pun tidak ada alasan untuk rendah diri, tetapi ada segala alasan untuk rendah hati.

Kembali ketjerita Voltaire. Machluk dari Saturnus itu mengadjukan seribu satu pertanjaan kepada „insek²” penghuni bumi ini. Mendengar pertanjaan: Apakah „binatang² jang terlalu ketjil” itu mempunjai djiwa, seorang anggota dari rombongan ahli matematika, melompat, mengadakan dua observasi dengan alat ukurnja, kwadran, dan kemudian berkata:

„Djadi Tuan kira bahwa karena Tuan enam ribu kaki tingginja dari tumit kaki sampai udjung kepala bahwa Tuan …”

„Enam ribu kaki!” seru si-kerdil. „Masja Allah! …… Hah, atom ini telah mengukur saja!............”

Dan sungguh! Para wong tjilik Perantjis mengukur para peng-gede. Kemudian ternjata bahwa para wong tjilik tidak hanja pandai mengukur para peng-gede, tetapi dapat pula mengadakan perhitungan dengan „raksasa²” lawan mereka (Revolusi Perantjis).

Dengan menjebrangi zaman dan lautan dapat pula dikatakan, bahwa para wong tjilik masakini djuga pandai mengukur para peng-gede, para „raksasa” masakini. Malahan mengadakan perhitungan dengan mereka. Di Dien Bien Phu, didataran² Vietnam Selatan, dibukit² Korea, di-kota² dan desa² diperkebunan² dan instalasi² minjak di Indonesia — dimana-mana di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Para „raksasa” imperialis tidak memperhitungkan djiwa dari para wong tjilik. Sebagaimana dalam „Micromegas”-nja Voltaire para wong tjilik masakini tidak rugi apa²: bukan mereka jang akan tanggung akibat reka jang akan tanggung akibat dari salah hitung imperialis!