Baca EPUB: mbah-ronggo-dan-setan-setannya

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
PRAMOEDYA ANANTA TOER
Mbah Ronggo dan Setan-setannya
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Cerpen karya Pramoedya Ananta Toer ini diterbitkan pada 12 Mei 1956 di Majalah Star Weekly edisi No. 541.

Tulisan ini berasal dari koleksi pribadi Muhammad Reza Magistra.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

IA DIHORMATI oleh tiap orang didaerah kami. Anak2 ketjil segera membisu bila melalui rumahnja. Aku tak terketjuali. Tetapi, bertambah tua umurku, bertambah besar ketjutjukanku untuk mengetahui rahasia jang menjelubungi orang tua itu.

Mbah Ronggo miara setan, kata orang2 lain. Dan didaerah kami, dimasa kami waktu itu, djawaban sematjam itu adalah penjelesaian masalah jang tak dapat digugat lagi.

Setelah empatbelas tahun meninggalkan daerah kami, pada suatu kali aku pulang. Dan aku lihat mbah Ronggo masih tetap melakukan kebiasaannja. Ia tetap dirinja sendiri. Berdjalan gagah dalam usianja jang telah landjut. Mengajunkan tongkatnja dan memilin kumisnja dengan tiada gugup. Pendudukan Djepang, Gelora Revolusi, Pendudukan Merah, Siliwangi, Belanda, jang semua meminta kurbannja dihadapinja dengan tanpa kegentaran. Ia tetap dirinja sendiri. Waktu rakjat banjak jang terbunuh oleh bahaja kelaparan dimasa Djepang, ia pergi kedusun-dusun dan mempergunakan pengaruhnja, untuk menggerakkan penduduk dusun itu menjembunjikan panennja daripada mata Djepang dan lurah, dan menjediakan beras setengah tjangkir sehari untuk menolong tiap djiwa jang mungkin ditelan perut sendiri jang kelaparan. Banjak lagi sepakterdjangnja jang membuktikan ia dapat mengatasi kelilingnja. Dalam masa ketakutan, kelaparan, dendam, ia masih tetap dirinja sendiri.

PADA suatu hari oleh dorongan ketjutjukan ini datanglah aku kepadanja. Omong punja omong achirnja ketjutjukanku memperoleh alasan untuk keluar. „Mbah Ronggo, mengapa mbah ini tidak seperti orang2 lain? Mengapa bisa begitu kuat menghadapi segala-galanja?”

Wadjahnja jang telah tua, digurisi kirutmirut dalam itu, berajun-ajun. Mulut-tuanja berkomatkamit. Ada sesuatu rahasia besar hendak dikeluarkan. Tak dapat aku membohongi ketegangan perhatianku. Tapi ia hanja tersenjum. Pertanjaannku kuulangi. Ia pandang aku sebentar dengan matanja jang djernih dan menjilaukan itu. „Ah, bujung”, katanja kemudian. „Sebabnja ialah, karena semua sudah kuperoleh dalam hidupku ini”.

„Apa jang telah mbah peroleh?” tanjaku. Dan karena ketjutjukan jang amat sangat itu, nada pertanjaan itu terdengar agak kurangadjar memang. Ia menjembunjikan perasaannja jang agak tersinggung. Aku lihat, ia memaafkan ketjutjukanku.

„Jang kuperoleh, bujung? Hidup sehat, kedamaian hati, ketetapan iman, kepertjaan pada Jang Mahakuasa.”

„Apakah semua itu telah tjukup, mbah?”

IA rupa2nja mengerti, bahwa pertanjaanku mengenai soal penghidupan. „Bujung, katanja lemah-lembut. „Hidup ini sebenarnja terdjadi sebagaimana kita menghendaki hidup berantakan, berantakan djugalah dia. Soalnja bagaimana kita kehendaki atasnja. Dan hidupku sudah tjotjok dengan kehendakku.”

Sebagai seorang jang telah empatbelas tahun tinggal dikota, dan sebagai orang2 lain djuga jang mentjoba mengorek-ngorek filsafat hidup, ah, saudara, benar2 utjapan itu membuat aku mendjadi malu. Banjak daripada jang kita kehendaki dalam hidup kita, bahkan mendjadi martil jang menggetok tengkuk kita sendiri.

„Bujung”, katanja lagi. „Kalau kita kehendaki suatu kehidupan jang baik, mulailah mempergunakan hidup dengan baik. Sebenarnja hidup hanja soal sederhana. Jang membuat sulit adalah,” ia atjungkan telundjuknja pada dadaku, dimana djantungku bersembunji dibaliknja, „nafsu2mu sendiri. Nafsu itu tidak apa2 sebenarnja, kalau kita kenal, dia hanja nafsu. Tapi tjelakalah kau, kalau nafsu itu kauanggap sebagai dirimu sendiri. Kalau dia telah bertindak dan bitjara atas namamu.”

Terusterang sadja aku tak tertarik pada wedjangannja. Namun aku tetap mengagumi kekuatan pribadinja. Aku ingin tahu sumber kekuatan itu, jang dalam usianja jang begitu tinggi masih tetap dirinja sendiri. Dan iapun mendongeng.

DAHULU akupun seperti kau. Gelisah. Pikiran meragu. Penghidupan kotjarkatjir. Isteriku sendiri tak pertjaja pada kelaki-lakianku, bahkan djuga dalam penghidupan sehari-hari. Aku tak berani menghadapi persoalan. Apalagi memutuskannja. Achirnja isteriku lari bersama rombongan ketoprak.”

Aku lihat wadjahnja berubah muram. Matanja mengedip tjepat.

„Aku baru beranak seorang. Lelaki. Djaman baru berumur lima bulan waktu itu. Mula-mula ada juga tetangga jang datang menolong anakku. Banjak djuga mata jang menjiratkan pandang belaskasihan kepadaku dan kepada Djaman. Aku merasa terhibur mendapat perhatian itu. Hati mendjadi aman, dan merasa bukan hidup seorang diri atas diatas dunia ini. Aku merasa berada dipihak jang benar, dan Mirjam dipihak jang sesat. Tetapi bujung,” ia menundjuk pada dadanja, „ini menghendaki lebih banjak daripada semula itu. Sementara itu orang2 jang suka menolong Djaman, anakku, terlibat dalam kesukaran sendiri dan harus melupakan anakku. Orang2 lain kemudian mendjadi terbiasa dengan keadaanku dan menjerahkan sepotong belaskasihan jang dimilikinja kepada orang2 lain lagi. Kembali aku merasa sebagai seorang terpentjil. Anakku lapar, aku jang harus menolongnja. Djaman sakit, aku pula jang harus bekerdja. Anak seketjil itu menghendaki segala2nja daripada aku, jang sudah tidak tjukup untuk diriku sendiri.”

„Kesulitan itu tidak berhenti sampai disitu. Waktu anakku berumur setahun, ia djatuh sakit keras. Untuk mandipun aku tak sempat lagi. Dan dipetjat pula aku dari pekerdjaan.

AKU bukanlah seorang jang suka menangis. Tetapi dalam kegugupan menghadapi penghidupan esok dna lusa, dalam kegugupan mempertahankan djiwa satu-satunja didunia ini jang mau menemani diriku, titiklah airmataku. Hingga kini aku masih ingat airmata itu mendjatuhi mata Djaman, anakku, sahabatku, peganganku. Ia tutup matanja jang redup. Kedua kakinja mendjompak dan kedua tangannja dikepalkan tegang-tegang. Tetapi tenaganja jang hampir padam itu menjebabkan djompakan itu hanja merupakan gerakan ketjil jang memukul djantungku sendiri.

„Kesedihan jang amat sangat itu menjebabkan aku menjesali hidupku. Aku teringat pada Mirjam. Tiba2 amarahku bangkit. Aku ambil bakjak dan kulemparkan pada katjahias pemberian orangtuaku sebagai hadiah kawin. Kembali Djaman menggerakkan kedua kaki dan tangannja, lemah sekali. ‘Anakku! Anakku! Matilah kau sekarang, anakku?’ Dalam sekilas waktu bertanjalah aku pada Jang Mahakuasa, ‘Ja, Allah, apakah anak jang belum lagi tahu siapa ajahnja sendiri ini mesti kembali kepadaMu tanpa sedjarah?”

Tiba2 nada suaranja meningkat tinggi dan terarah langsung kepadaku, „Bujung, kalau kau pernah beristeri, pernah mempunjai anak, tahulah kau arti tjeritaku.”

NADA suaranja menjebabkan aku pandangi wadjahku sendiri dengan matabatinku—wadjahku sendiri jang mendjadi lembaran2 sedjarahhidupku jang muram beberapa waktu jang lalu. Guratan muram ini takkan terhapus daripadanja. Djuga tidak dari wadjah mbah Ronggo.

„Malam itu djuga, ia kubungkus dalam kain ibunja, kain se-hari2 jang telah hilang warna aslinja. Dalam hudjan gerimis dibawah naungan pajung kertas, kubawa ia ke…Tak tahulah aku. Hanja kakiku berdjalan tanpa arah. Hanja ada sedikit hasrat menjuruh aku membawanja kepada siapa sadja jang dapat menjembuhkannja. Tapi siapa? Penghidupan jang sulit menjebabkan aku harus tinggal disebuah gubuk dipinggiran kota. Kedokter aku takut. Dukun tiada jang kukenal. Kaki membawaku dalam kegelapan malam, tanpa arah. Kalau hati tak punja arah, mustahil kakipun punja!

Waktu hudjan mulai djatuh dengan lebatnja, berhentilah aku bertedung dibawah sebatas pohon. Panas tubuhku tak kuasa untuk menghangati badan anakku. Barangkali sekaranglah tiba saat itu, saat satu2nja teman-hidupku meninggalkan aku pula. Pelahan menahan raungan akupun mengeluh, ‘Ja, Allah, apakah dengan kemurahanmu jang mahaagung itu Engkau hanja dapat beri aku sesedikit ini’?” Ia diam sebentar, ter-batuk2. Dan setelah mendeham meneruskan. „Tiba2 terdengar bisikan jang mengedjutkan. Dari belakang telingaku terdengar suara, ‘Allah telah beri kau segala-galanja, anakku’.”

“LEMASLAH seluruh sendi2 tulangku, dan aku djatuh bersimpuh dengan anakku masih tetap dalam rangkulan. Aku demikian terkedjut dan ketakutan sehingga terlupa pada penderitaanku, pada kesehatan anakku. Jang teringat dalam sedetik hanjalah suara jang menakutkan dan menggemparkan itu. Aku rasai hembusan nafasnja. Aku rasai tangan jang mengangkat ketiakku. Aku dengar bisikan jang keluar ber-desau2, tetapi sekali ini keluar dari mulutku sendiri, ‘Segala jang diberikanNja kepadaku tidak tjukup, sekadar hanja untuk hidup.’ Bisikan itu terdengar lagi, ‘Bukan tidak tjukup, hanja kau tak tahu, mempergunakannja! Suatu kenekatan menjebabkan ketakutanku mulai hilang. Dan aku bertanja, ‘Bagaimana mempergunakannja?’ Tiba2 bisikan itu berubah mendjadi suara manusia biasa jang tidak menjeramkan, ‘Marilah masuk kedalam pondokku.”

„Baru waktu itulah aku insaf, bahwa suara tersebut adalah suara manusia biasa. Rupa2nja aku berteduh dibawah atapnja jang bertiang pokok kaju. Aku tjeritakan kepadanja akan penjakit anakku, akan ketakutanku, akan kesunjian hidupku, akan kesengsaraan, penderitaan dan kegagalan rumahtanggaku. Ia tersenjum. Ia buka tapuk mata anakku. Ia usap2 kedua kakinja jang menulang-nulang itu. ‘Kalau dia mati,’ katanja dengan tersenjum, ‘bukannja dalam waktu2 ini.’

„Malam dibawah pelita itu disadarkannja kepadaku, bahwa segala kesialan jang menimpa diriku adalah kesalahanku sendiri. Ia jakinkan aku demikian rupa, sehingga seluruh perdjalanan hidupku nampak sebagai suatu djalan pandjang jang aku sendiri taburi dengan duri dan djebakan. Achirnja orang itu bilang, ‘Anakku, kau dilahirkan seorang diri. Karena itu, djalanilah hidupmu seorang diri. Tanggungdjawab hidupmu, adalah tanggungdjawabmu sendiri. Pikirkanlah itu.’ Dan akupun bertanja kepadanja, ‘Rama, dari mana kekuatan jang kauperoleh itu?’ Dia tersenjum mendjawab tanpa ter-buru2, ‘Dari bertapa.’ Aku bertanja lagi, ‘Adakah rama pertapa?’ Ia mendjawab, ‘Dahulu. Dahulu, dikuburkan ini!’ Tangannja menundjuk kebawah, kepada bumi.’ Kembali ketakutanku mengamuk. ‘Kuburan?’ aku bertanja gugup. ‘Mengapa takut, anakku? Bukankah tubuhmu itu djuga bagi rohmu? Tetapi sarang jang hangat bagi nafsu2mu sendiri? Aku pandangi kelilingku. Semua nampak lain, sinar pelita, wadjah orang tua itu. Segera anakku hendak kuangkat, hendak kubawa lari meninggal manusia adjaib tua ini. Tetapi ia hanja tersenjum.

“APAKAH rama roh? Bukan manusia biasa? Apakah rama seseorang jang telah meninggal? aku bertanja gugup dan ketakutan. Tiba2 senjumnja hilang dan berubah djadi tertawa lambat. Terdengar suara dari mulutnja tak bergigi,” Anakku, djadi, sadarlah aku sekarang, bahwa benar2 kau sendiri belum mati? Bahkan kau bukan roh belaka?’ Maulah aku berteriak, ‘Apakah aku sudah mati? Apakah anakku djuga sudah mati? Apakah aku hanja roh belaka seperti dia?’ Ia raba tanganku. Tangan itu terasa dingin. Tjepat2 kutarik tanganku. Sekilas berkata hatiku. ‘Benar dia hanja roh! Hanja roh!’ Aku menggigil. ‘Kau tak perlu takut, anakku. Kau djuga hanja roh!’ Seakan-akan ia telah tahu apa jang aku katakan dalam hatiku. ‘Engkau sudah mati sebelum hudjan djatuh sore tadi. Kau masih dengar hudjan itu? Sekarang sudah tengah malam. Dengarkan hudjan itu. Dengarkan guruh dikedjauhan itu. Dengarkan. Semua bukan duniamu jang telah kautinggalkan. Semuanja berlainan’.

„Dan aku mulai jakin, sesungguhnja akupun hanja roh belaka. ‘Mengapa tadi rama bilang anakku takkan mati dalam waktu2 ini?’ Ia hanja berbisik, “Tawakallah, anakku. Sedari keadaanmu. Dengan kesadaran itu kau akan mendjadi kuat menghadapi segala apapun. Dialam mati ini, anakku, orang tidak mati.’

„AKU tjoba mengerti keadaanku. Aku telah mati. Aku terima keadaan itu. Aku telah mati. Aku sama dengan Djaman, anakku, sama dengan roh tua jang ada didepanku. Lambat2 ketakutanku hilang, digantikan oleh perasaan hormat kepadanja. Tiba2 ia berkata, ‘Kesengsaraanmu hanjalah karena kau tak mempunjai kekuatan menundukkan nafsu2mu sendiri. Bila seseorang mati, nafsu2nja kembali kedunia mendjadi setan dan iblis. Dan dialam baka, kadang2 mereka tetap mem-buru2 rohmu, karena dia telah terbiasa kaudjadikan radjamu. Dimanapun djuga rohmu berada dia minta kebaktianmu. Karena itu, kenalilah mereka. Sadari adanja mereka.’ Ia ambilkan aku setjawan kapursirih basah. Kemudian bilang kepadaku, ‘Tinggallah kau disini bersama anakmu. Djangan takut. Kenalilah nafsu2mu sendiri, setan2 jang kauradjakan itu, sumber kesengsaraan, penderitaan, ketakutan dan kekuatiranmu sendiri. Hadapi mereka dengan tiada gentar. Kalau kau kalah, kau akan tetap dikutuki hidupmu sendiri untuk se-lama2nja. Dengarkan aku,’ katanja seterusnja. ‘Tiap setan jang datang kepadamu, berilah tanda kapur pada mukanja.’ Iaupun berlalu, berdjalan begitu lambat tanpa meninggalkan bunji, seakan berada diatas tanah dan melajang didalam udara.

„Akupun tinggal sendirian bersama Djaman. Kini ia kupangku.”



SEKARANG akupun bertanja kepadanja, „Bagaimana matjam orang dan rumah itu, mbah?”

„Kedjadian itu sudah terlalu lama berlalu. Tapi tetap terpaku dalam kenanganku. Namun rumah dan orang itu tiada terlukiskan, bujung, seakan hanja suatu pengertian.” Dan akupun tak meneruskan pertanjaanku. Ia meneruskan:

„Beberapa waktu kemudian, muntjul didepanku suatu machluk jang amat-amat lebar mukanja—sebuah muka jang sebentar merah ber-kobar2 sebentar padam dan mendjadi hidjau. Bila menjala, nampak bulu tubuhnja jang mendjidjikan. Ia me-londjak2 dihadapku dan men-djelir2kan lidah. Seluruh tubuhku menggigil. Sendi2 tubuhku seakan meriut mendjadi amat ketjilnja. Sedjenak aku hendak mendjerit. Tiba2 aku ingat pada pesan orang tua itu. Mataku jang njaris kututup kubuka lebar2. Kumasukkan telundjukku kedalam tjawan kapursirih. Machluk itu me-londjak2 terus. Waktu ia mendekat lagi kepadaku, kutjoretkan kapursirih itu pada wadjahnja. Kena kapur itu ia melenjap hilang entah kemana. Sebentar kemudian dihadapanku djatuh sepotong kepala tanpa tubuh. Kagetku bukan kepalang. Hampir aku melompat dan lari, tetapi kakiku menolak membawa tubuhku. Djuga waktu itu aku ingat pada pesan orang tua itu, dan kutjoretkan kapursirih pada wadjah tiada bertubuh itu. Iapun hilang. Demikianlah ber-ganti2 datang machluk aneh itu. Sementara itu ketakutanku mendjadi hilang dan keberanianku menetap. Tudjuh machluk telah kutjorengi wadjahnja dengan kapur, kemudian tiada jang muntjul lagi. Kurangkul Djaman, anakku, dan kubisikkan pada telinganja, ‘Selamat, anakku. Selamat. Hanja ini jang bisa direstukan orangtua kepada anaknja. Selamat.’ Anakku mendjerit dengan suara kuat dan njaring. Kedua belah tangan dan kakinja me-rontak2 kuat. Dia telah sembuh kembali. Hidupku terasa tjerah. Tak ada sesuatupun jang aku takuti.

„KEMUDIAN masuklah orang tua itu kedalam. ‘Bagus,’ katanja. Aku segera bertanja, ‘Apakah jang bagus, rama?’ Ia mendjawab tanpa memandang aku, ‘Kau telah kalahkan mereka. Kau telah kalahkan nafsu2mu, setan2mu, ketakutan dan kekuatiranmu, penderitaan dan kesakitanmu.’ ‘Dari mana tahu, rama?’ Ia menghadap kepadaku, membawa sehelai tjermin ditangannja. Dipampangkannja dihadapan mukaku. Dan apa jang kulihat didalamnja?”

Suara mbah Ronggo meningkat tinggi, sehingga dengan sendirinja aku dongakkan pandangku padanja.

„Apa jang mbah Ronggo lihat? Wadjah sendiri, bukan?”

„Ja, wadjahku sendiri,” katanja dengan suara menurun, „tjoreng-monteng dengan kapursirih. Sedang aku pikirkan keadjaiban pengalaman itu, orang tua itu mem-belai2 rambut anakku. Tiba2 ia usap ubun2ku dan berkata, ‘Anakku, pulanglah.’ ‘Kemana aku mesti pulang, rama? Bukankah aku telah mendjadi roh dan tak membutuhkan rumah?’ Tetapi ia tak berkata apa2. Aku tjium lututnja, dan dengan membawa anakku, akupun pergilah.” Mbah Ronggo berhenti mendongeng.

„Tetapi mbah Ronggo masih hidup hingga kini,” kataku.

Ia hanja tertawa lunak, kemudian mendengus, ‘Ah, kau. Apakah kau djuga jakin, bahwa kau ini hidup dan bukan mati? Jakinkah kau bahwa kau bukan hanja roh?”

AKU tertawa. Suatu persoalan jang tidak produktif, pikirku. Tetapi hatiketjilku mengakui, bahwa mungkin benar akupun hanja roh dan hidup hanja dialam roh. „Tetapi bagaimana tjerita itu achirnja?” tanjaku.

„Setelah aku keluar dari rumahnja, tiba2 aku merasa hidup sebagai manusia biasa, hanja berbeda, jaitu, tubuh dan djiwaku merasa kuat, dan batas antara mati dan hidup lenjaplah bagiku. Aku lihat anakku telah sembuh dari sakitnja. Pandangku mula2 disambutnja dengan tertawa ria. Tetapi waktu kutebarkan pandangku, ternjata kami berada disebuah kuburan tua, jang dikenal oleh penduduk dengan nama keramat Kiai Girisungging. Bujung, dalam alam adjaib, keadjaiban bukan lagi adjaib’. Diatas kepalaku me-lambai2 sebatang pohon kembodja. Kami berada disebuah bukit jang sunji-senjap. Dan matahari telah beberapa deradjat diatas kakilangit. Rupanja semalam aku tertidur dikuburan ini. Dengan hati penuh kepertjajaan diri dan terima kasih pada rama, akupun pulang kegubukku. Disana orang sedang sibuk mentjari aku. Seorang suruhan membawakan berita kepadaku, ibu Djaman memohon melihat anaknja dalam sakitnja jang amat keras. Ia menderita penjakit kotor. Aku bawa anakku dengan hati berisikan semudera pengampunan, kepadanja. Aku maafkan segala kesalahannja dan ia meninggal dalam keadaan damai. Hari itu djuga kuurus penguburannja. Djaman sekarang telah djadi kolonel. Dan aku sendiri hidup sebagaimana kukehendaki. Aku tak kekurangan apa2. Dengarkan aku, bujung, engkau bukanlah miskin. Engkau ketjukupan, kaja, pergunakan kekajaanmu. Pengalamanku adalah pengalaman tiap orang. Pulanglah kau, sebagaimana akupun disuruh pulang oleh rama.”

Baru sekali ini dalam seluruh hidupku aku membawa suatu kepertjajaan diri jang teguh. Dan baru sekali ini pula aku pulang kerumah membawa suatu persoalan ini jang indah dan tiada taranja: persoalan tentang sumber kekuatan bagi tiap orang.

No. 541 — 12 Mei ’56.