Publisher Note
Artikel ini dimuat pada bulan April 1952 dalam majalah Pudjangga Baru, No. 10, Th. XIII. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Soal Tuhan adalah soal jang tiada habis2nja sedjak dahulu. Untuk mendapat Tuhan terlebih dahulu orang menjiapkan diri dengan kepertjajaan sebagai konsessi. Dengan tiada ini ia akan lenjap. Kepertjajaan adalah pula hal jang sangat luas, jang mana dengan tiada kedjudjuran akal sifatnja sebagai kepertjajaan hilang- lenjap. Dan apabila kepertjajaan bukan buahhasil akal jang mentjari, sehingga dengannja seseorang tak perlu mentjari lagi, dan akalnja terlepas dari suatu beban tsb. untuk mengambil beban jang baru, maka ia akan berubah roman bersama sendi2nja: kefanatikan. Dan sepandjang sedjarah, orang2 fanatik inilah jang didjadikan umpan ditiap medanpertempuran untuk kepentingan mereka jang berpikir, mereka jang sanggup menggerakan massa dan achirnja pula jang mengetjap nikmat buah amal massa jang fanatik. Dan kefanatikan itu pula jang membuat orang djadi buta akal, jang tjuma melihat satu sinar sadja, dan itu pula jang ditudjunja, hendak direguknja habis2, dan sebagaimana halnja dengan laron mentjari api, dia terbakar kena apinja—kematian jang romantis. Dan kematian2 jang romantis ini selalu datang dan pergi sepandjang djaman, djuga dalam buku2 dalam tiap djaman.
Bagi mereka jang tidak atau tidak mau mengikuti perkembangan alam pikiran individu, memang merasa djanggal rasanja bila membatja buku2 jang antara lain dalamnja termaktub kalimat2 jang seakan2 atau memang dengan sengadja meniadakan, mengedjek atau mengingkari adanja Tuhan. Perkataan djanggal adalah terlampau lunak untuk itu. Sebaiknja perkataan itu diganti dengan marah. Dan ini adalah soal jang gampang dimaklumi. Diktator Kebiasaan jang turun-temurun itu memang menghendaki agar semua dapat terangkum dalam kekuasannja. Tapi sebagaimana djuga dalam segala matjam ketertiban kemasrakatan, maka dalam hal inipun ada brandal2 jang menentang kediktatoran Kebiasaan. Dan sepandjang sedjarah mereka ini adalah perintis djalan baru atau dia jang terkutuk dalam pengertian jang luas atau sempit, atau dia adalah ke-dua2nja sekaligus.
Dengan kemadjuan ilmupengetahuan dan kestatisan kepertjajaan, maka Tuhan se-akan2 mendapat tempat dua matjam dalam djiwa manusia. Tuhan disatu tempat adalah Tuhan jang dikehendaki agar dipertjaja, dianut, dipatuhi. Tuhan ditempat lain lagi adalah Tuhan sebagai objek, sebagai sesuatu jang dikehendaki agar diurai, dipahami.
Djadi kita mengenal Tuhan didua tempat: Jang harus dipertjajai dan Jang harus difahami. Jang pertama adalah akibat—atau hendaknja sebagai akibat—dari jang kedua. Bila jang ada pada seseorang hanja Jang pertama belaka, ini tidaklah mengherankan. Ini adalah suatu soal tukangsulap jang mana seluruh djawaban sudah sedia. Jang kedua adalah soal pentjarian, pengertian, perdjuangan djiwa—tak ubahnja dengan seseorang jang dengan tekunnja mentjari unsur2 jang baru jang belum pernah dikenal orang, atau mendapatkan obat baru jang belum pernah didapatkan orang, untuk kelangsungan sedjarah kemanusiaan. Kebimbangan atau kesangsian jang sehat adalah lebih baik daripada kepertjajaan atau kejakinan jang buta, da jang hanja baik bagi golongan jang kehilangan akalnja.
Buat mereka jang memandang Tuhan sebagai titikmati jang tak boleh di-singgung2, sesungguhnja tidak perlu benar mengutuki demokrasi jang mengakui hak2 azazi pada manusia, jang mana dengan hak2 ini pula Sokrates (dalam demokrasi antiknja) mengedjek demokrasi jang memberinja hak untuk mengedjeknja, tapi jang djuga telah mempergunakan hak2nja untuk meruntuhkan kekuasaan djuga telah mempergunakan hak2nja untuk meruntuhkan kekuasaan sophisme, dan djadi perintis baru dalam lapangan filsafat, dan sebagai konsekwensi dari keberandalannja ia harus kehilangan njawanja sendiri. Dan dengan tiada perintis2 sebagai ini, lapangan pemikiran—djuga dilapangan ketuhanan—hanja terbatas pada selingkungan kata2 belaka, dan kemudian pengertian akan tersepak kian-kemari. Orang akan terdjerat dalam kekuasaan dogma2 melulu. Dan sesungguhnjalah: kematian diselingkungan kata2 belaka adalah kematian jang selamanja mengikuti dibelakang tiap perkembangan atau kemadjuan. Dan kemampusan ini selamanja mendjadi bahaja jang mengantjam kedewasaan pikir manusia dari abad keabad.
Keberanian menghadapi jang baru sangat diperlukana dalam masa perubahan: keberanian jang terbit dari hati jang djudjur. Djuga keberanian mengadji azas2 pemikiran jang sesungguhnja djadi djalan untuk mengerti, memahami. Dengan tiada keberanian ini, djalan kearah penindasan hak2 azazi terbuka luas2.
Kemampuan diselingkungan kata2 belaka ini sesungguhnja adalah kemampuan jang dimulai dari alampikiran manusia sendiri. Hanja keberanian jang sanggup menghindarkan kemampusan ini. Orang tahu, bahwa tiap istilah ber-geser2 pengertiannja sepandjang waktu dan keadaan untuk mendapatkan kemasakannja sendiri. Tiap istilah, tiap pengertian, djuga tiap pengertian tentang Tuhan.
Kesusasteraan sebagai pentjerminan kehidupan kemasjarakatan, tentu sadja mau-tak-mau mem-bawa2 masalah Tuhan ini didalamnja. Dilapangan ini terdapat djuga dua tempat untuk Tuhan, jang mana seperti disebutkan di atas: Jang harus dipertjajai dan kedua Jang harus difahami. Tuhan ditempat pertama, jang dianggap sebagai pemetjah dari segala masalah, adalah jang paling biasa dalam kesusasteraan seperti halnja dalam kehidupan kemasjarakatan. Tuhan ditempat kedua lambat-laun tapi pasti kini mulai merajap dalam kesusasteraan Indonesia. Suatu hal jang mesti dan harus terdjadi. Dalam kehidupan masarakat Indonesia pun Tuhan jang harus dipertjajai, disembah dan dipohoni, dalam kebimbangan orang terhadapnja. Ia mendjadi sesuatu jang harus dipahami. Pengertian manusia terhadap sesuatu mendekatkan diri pada sesuatu itu sendiri sekalipun sesuatu itu ada dalam berbagai nama. Dan pemudajaan selamanja memberikan kesan, bahwa ada suatu penindasan rohani jang sebenarnja tidak perlu diperkuat dalam suatu ketertiban tertentu.
Pemudjaan adalah sahabat karib kefanatikan jang biasanja bergandengan tangan dan tiap kesempatan dipergunakan mereka untuk membunuh akal: malakulmaut kemerdekaan berpikir dan kemadjuan. Ke-dua2nja akan mengakibatkan pembakaran hati mereka jang dihinggapi bila ke-dua2nja itu tersinggung oleh barang keras atau lunak—barang jang tak dikehendaki. Tetapi keadaan dan waktu selamanja memberikan kemungkinan baru untuk tiap perkembangan, dan dalam hal ini rintangan dari pemudja2 akan membangkitkan konflik kemasarakatan, jang berpangkal pada konflik pemikiran. Dan konflik2 sematjam itu akan ada terus-menerus selama dalam masarakat itu sendiri masih ada semangat hidup pada anggota2 masarakatnja. Djumlah tidaklah djadi faktor jang menentukan, tapi pembuatan djalan kearah keinsafan baru jang djadi pokok soal.
Tentu sadja perintisan djalan kearah keinsafan baru itu membutuhkan tundjangan dari keberanian jang berpangkal pada kedjudjuran; dan kedjudjuran jang disebabkan karena pemilikan pribadi sendiri kembali. Dengan tiada ini bahaja kematian diselingkungan kata2 belaka sudah lama menerkamnja djadi kurban. Dan dalam masarakat ini telah begitu banjak mereka jang kehilangan kepribadiannja, kehilangan diri, telah menderita sakit keras dimakan kuman2 kefanatikan dan pemudjaan.
Dalam kesangsian sehat jang mesti ditimbulkan oleh alampikiran jang dinamis, orang mentjari pengertian2 baru jang lebih berisi, jang lebih besar dan lebih sesuai dengan kehendak djiwanja buat diisikan pada kata2 abstrak jang telah dibuat mati. Dan dalam hal ini masalah Tuhan termasuk didalamnja. Dan pengertian2 baru—termasuk djuga tentang Tuhan—dengan sendirinja akan djauh berlainan sifatnja daripada pengertian2 usang atau jang telah diusangkan jang diberikan oleh Kebiasaan.
Kalau suatu golongan telah mentjemooh Tuhan ini bukanlah karena Tuhan itu sendiri, djustru tiap orang jang berpikir kearah itu tidaklah akan mendapat penjelesaian jang memungkinkan ia berpuashati. Tjemoohan ini adalah tjemoohan jang dilemparkan oleh golongan kepada pengertian2 jang diisikan pada nama itu oleh sang Kebiasaan. Dan bukan kedjadian baru hal demikian. Pada waktu2 jang tertentu ada sadja golongan baru jang berbuat demikian.
Sudah djadi kemestian bahwa orang mengertikan kata2 abstrak dengan kemampuan rohaninja masing2. Dan buat suatu golongan masarakat jang masih banjak lagi membutuhkan kemampuan rohani ini mengertikan Tuhan sesuai dengan kebutuhannja jang ia sendiri tak mungkin dapat memenuhinja didunia ini. Mereka mengertikan Tuhan menurut nafsunja masing2 jang tak dapat dipuaskan didunia ini. Dan tidaklah mengherankan mengapa kadang2 Tuhan diartikan sesuatu jang maha2 kuasa, jang sanggup memuaskan segala nafsu kebinatangan mereka, nafsu jang takkan mungkin dipuaskan didunia ini dalam seluruh hidup seseorang machluk, nafsu jang tak lagi terangkum dengan kekuatan djasmaninja terutama. Dan karena itu bukanlah hal jang mengagumkan lagi bila golongan demikian menganggap Tuhan jang dipudjanja sebagai kepala harem besar (atau sebutlah jang lebih ekstreem lagi: bordeel) dengan sorganja jang penuh bidadari, ideal hawanafsu sedjati—sebagai komandan kempei (dengan nerakanja lengkap dengan tukangsiksa2)—sebagai diktator (karena tak ada diantara keputusannja jang diambil setjara parlementer, jang mana seluruh kekuasan mutlak ada padanja).
Teranglah bahwa golongan jang mengingkari Tuhan pada hakikatnja mengingkari pengertian jang diberikan pada nama tersebut. Pengertian seperti tersebut diatas terbit dari djiwa jang masih harus banjak lagi mengisi diri dengan kedjudjuran. Dan ini tak dapat diharapkan dapat terlaksana dari kalangan besar. Ini hanja bisa terdjadi bila seseorang telah memiliki dirinja kembali, setelah dapat merenggutkan dirinja dari pegadaian Kebiasaan.
Dalam kesusasteraan, konflik pemahaman tentang Tuhan ini telah dimulai sedjak dahulu dan tidaklah merupakan kedjadian setempat, tetapi jang sesungguhnja adalah suatu pemberontakan seorang pengarang terhadap anggapan2 biadab tentang Tuhan. Malahan seorang pudjangga Islam Omar Kayyam diantara begitu banjak rubayyat2nja ada pula me-njinggung2 anggapan biadab itu. Djuga dalam kesusasteraan Indonesia dewasa ini konflik pemahaman itu telah terbawa kedalamnja. Dan pada suatu waktu tertulis djuga oleh Hariadi S. Hartowardojo:
Aku djumpa Tuhan ditikungan. Kutjabut keris terus kutikam.
Atau djuga oleh Idrus:
Tuhan lama sudah bertukar dengan Tuhan baru.
Keingkaran terhadap pengertian Tuhan jang diakibatkan oleh hawanafsu rendah, tidaklah patut dikuatirkan. Djuga buku2 kesusasteraan jang membawakan sekelumit dari kehidupan kemasarakatan sematjam itu didalamnja tak perlu benar dinamai buku2 tjabul atau buku jang merusak moral, atau jang lazim diwaktu ini: hasil moral jang diamuk krisis. Kesusasteraan sebagai sendjata jang utama untuk mereka jang tak punja kekuasaan sebagai kaum politisi, jang tidak punja uang sebagai kaum plotokrat, jang tak punja bedil sebagai kaum militer, jang tak punja djapamantera sebagai kaum tenung, adalah jang paling baik untuk memerangi nafsu2 biadab dari massa. Dan ini bukanlah kedjahatan. Bahwa ada golongan jang bertahan pada segala matjam perbaikan memang ada dan tetap ada dalam masarakat manapun djua. Dan itu tak patut mendapat perhatian.
Dengan demikian pertanjaan mengapa dimasa ini banjak pengarang jang mentjemoohkan Tuhan dapat disimpan kembali. Dan bila seseorang telah menjadari bahwa dihadapan diri sendiri dan alam tiap manusia adalah telandjangbulat, ia tidak akan kaget pabila pada suatu waktu nama Tuhan berpindah djadi Alam atau Kebenaran, djustru jang djadi pokok soal adalah kepertjajaan dan kepertjajaan pada pendapat dan kebenaran pengertiannja bahwa dengan itu ia bisa menolong kemanusiaan atau se-tidak2nja kepribadiannja sendiri. Perpindahan atau pergantian nama ini tidaklah mengganggu rasanja, karena seseorang akan tetap sebagaimana dirinja sekalipun berganti nama seribu kali sehari.
Masalah Tuhan sesungguhnja tidaklah baru buat Indonesia. Konflik pemahaman terhadapNja sudah lama ada, djuga dalam kesusasteraan. Hamzah Fansuri terpaksa memberikan djiwanja karena ini, berhubung kuatnja diktator Kebiasaan dalam menindas hak2 azazi manusia. Dan tidak dapat dilupakan ialah Sjech Siti Djenar dimasa parawali giat menjebarkan agama Islam ditanah Djawa, dan jang harus menebus pemahamannja tentang Tuhan dengan djiwa sendiri. Lama setelah masalah ini matjet, tiba2 pada tahun 1949 muntjul buku Achdiat K. Mihardja „Atheis”, jang karena keadaan masa jang menguntungkan, tidak perlu lagi mengurbankan djiwa pengarangnja, tapi tjukup menggemparkan terutama dikalangan kaum agama. Bukan mengherankan lagi bila buku ini dibeberapa keluarga dianggap tabu—keluarga jang takut kehilangan djandji2 muluk dari Tuhannja, Tuhan jang dianggapnja sebagai sesuatu jang kelak akan memenuhi segala nafsu kebinatangan dan kebiadabannja. Tak ubahnja dengan orang dahulu kehilangan adjimatnja, kehilangan dewa2nja jang sekarang dikeram dimusium.