Baca EPUB: Marie Antoinette: Dari istana Ketiang Geulottine

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOEWARDI IDRIS
Marie Antoinette: Dari istana Ketiang Geulottine
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

pertama

REVOLUSI Perantjis !

Siapakah jang tidak pernah mendengar peristiwa jang terbesar diabad ke-18 ini? Ia telah membangunkan rakjat djelata benua Eropah untuk menentang kekuasaan radja-radja mereka jang tak berbatas. Peristiwa itu telah menjebabkan benua Eropah menggigil dan gemetar. Dijika revolusi telah berbitjara, ia berbitjara dengan bahasanja sendiri. Kekuatan radja jang diagung-agungkan selama ini, tiba-tiba djatuh tak berdaja berhadapan dengan kekuatan rakjat djelata jang tetindas. Mereka bangkit dengan sendjata ditangan, dan hati jang bergedjolak untuk merebut apa jang mendjadi hak mereka, jaitu: kemerdekaan.

Seperti setiap peristiwa apa jang sadja dimuka bumi ini, revolusi Perantjis tidaklah meledak dengan tiba-tiba sebagai suatu keadjaiban alam, tapi telah dipersiapkan oleh keadaan dan perkembangan pemikiran. Tjita-tjita „Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan” merupakan makanan jang segar bagi djiwa rakjat djelata jang sepandjang masa hidup dibawah kekuasaan radja mereka. Keadaan ekonomi jang semakin buruk mendesak mereka untuk bangkit dengan kekuatan jang amat besar, hingga radja sendiri tak kuasa menghadapinja.

Di Perantjis, semendjak lama rakjat menderita dibawah kekuasaan tirani radja mereka. LouisXIV dan LouisXV setjara beruntun telah memerintah negeri itu selama 131 tahun. Ini adalah masa jang terpandjang dalam sedjarah Eropah, dimana dua orang radja telah mentjengkamkan kukunja berturut-turut. Dalam masa ini banjaklah perbuatan tjelaka jang dilakukannja jang membuat rakjat Perantjis hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Tidak ada orang lain akan menolong mereka, ketjuali mereka sendiri.

Revolusi Perantjis meledak seperti sebuah gunung api. Tapi baik revolusi maupun gunung-api tidaklah meledak begitu sadja tanpa alasan-alasan sebelumnja. Kita menjaksikan ledakan jang tiba-tiba dan mengaguminja, tapi djauh dibawah permukaan bumi telah bekerdja kekuatan-kekuatan jang dahsjat selama masa jang pandjang, dan kekuatan-kekuatan itu menggabungkan diri satu sama lain untuk pada suatu waktu membuat permukaan bumi menggigil karenanja. Eropah mengalami masa jang demikian.

Radja-radja jang memerintah dibenua itu pertjaja sungguh-sungguh, bahwa kekuasaan mereka sama abadinja dengan Tuhan, bahkan sebagian diantara mereka malah menjangka dirinja „Wakil Tuhan” dibumi ini. Tapi ketika revolusi Perantjis meledak, barulah mereka sadar, bahwa masih ada lagi kekuatan lain jang djauh lebih hebat dari kekuasaan mereka.

Orang-orang jang bodoh dan buta hatinja seringkali mengira, bahwa revolusi itu digerakkan dan ditimbulkan oleh kaum agitator atau tukang propaganda. Tapi jang benar adalah, bahwa revolusi tidak pernah lahir karena propaganda. Revolusi lahir karena penderitaan jang maha dahsjat jang ditanggungkan dan diderita oleh rakjat djelata selama masa jang amat pandjang. Ahli-ahli pemikir dan agitator, hanjalah menundjukkan djalan terpendek kearah revolusi itu. Perasaan tidak puas akan keadaan jang berlaku, itulah jang mengundang revolusi itu. Revolusi Perantjis-pun demikian. Ribuan rakjat menderita kelaparan, sedangkan sang radja hidup mewah dan berlebih-lebihan. Penderitaan dan kesengsaraan mereka tidak dihiraukan sama sekali, hingga achirnja mereka sadar, bahwa nasib mereka berada ditangan mereka sendiri, bukan ditangan radja.

Sesungguhnja bila revolusi Perantjis dibandingkan dengan revolusi kemerdekaan Indonesia, maka revolusi Perantjis hanjalah satu segi sadja daripada revolusi Indonesia. Perantjis tidak pernah mentjita-tjitakan kemerdekaan dari seluruh bangsa jang tertindas, sebaliknja revolusi Indonesia tegas-tegas menghendaki kemerdekaan bagi setiap manusia dibawah kolong langit ini. Sungguhpun demikian, pada zamannja, revolusi Perantjis adalah revolusi jang besar, jang telah membangunkan berdjuta-djuta rakjat benua Eropah, dan menghadapkan mata pedangnja kedada sang radja jang berkuasa sewenang-wenang itu.

Korupsi dan tirani telah memanggil kebentjian rakjat Sebaliknja radja sendiri menganggap, bahwa negara dan rakjat itu adalah milik pribadi mereka jang dapat mereka perbuat menurut kemauan hatinja. Negara dan rakjat adalah kekajaan mereka jang mereka wariskan turun-temurun, hingga tjorak pemerintahan senantiasa bergantung sepenuhnja kepada kapasitet seorang radja. Rakjat djelata tidaklah lebih dari kuda-beban jang bekerdja untuk kepentingan radja dan keluarganja.

Semua perundang-undangan (kalau ada) adalah didasarkan atas kepentingan radja. Dan djika radjanja seorang jang tolol, maka akibatnja langsung diderita oleh rakjat.

Perantjis telah menundjukkan bukti-bukti jang njata mengenai hal jang demikian. Tidak djarang radja negeri itu menurutkan nasihat gundik atau permaisurinja, jang akibatnja membawa kemiskinan ketengah-tengah rakjat. Dibelakang lajar, orang-orang jang tak bertanggungdjawab memainkan peranannja, dan seringkali radja menurutkan kemauan penasehatnja jang busuk ini.

Tetapi segala sesuatu ada batasnja.

Kekuasaan radja jang tak terbatas itupun ada batasnja. kedudukan radja jang bagaimanapun kuatnja, apabila sudah disertai dengan penjelewengan hak-hak rakjat, saat kedjatuhannja segera menanti.

  • Radja-radja Perantjis tidaklah semuanja mendapat pembalasan jang ngeri dari perbuatan jang dilakukannja. Hanja radja jang terachir, Louis XVI jang langsung menerima akibatnja sebagai pembajaran atas dosanja sendiri dan dosa nenek-mojangnja. Permaisurinja jang tjantik Marie Antoinette, jang telah memegang peranan jang penting selama ia bertachta, djuga ikut menerima pembalasan jang ngeri dari rakjat Perantjis.

Walaupun ia mungkin bersedia merobah perangainja, tapi kesadaran itu datangnja terlalu lambat untuk menjelamatkannja dari maut, hingga ia tak dapat ditolong lagi. Lagi pula, rakjat jang manakah jang mau menolong orang jang sudah menindasnja dengan tjara jang kedjam itu?

Para pembantu radja, gubernur-gubernurnja, djuga bersikap djahat dan kurangadjar.

Pada tahun 1649, Inggeris telah memberikan tjontoh jang pahit dan tepat terhadap radja mereka sendiri, jaitu Charles I. Radja ini telah mentjoba menanamkan kekuasaannja jang tak berbatas dan mutlak terhadap rakjat Inggeris. Parlemen dianggapnja sebagai perkumpulan orang-orang iseng dan sama sekali tak dihiraukannja. Bahkan dengan tjara jang nekat, dibubarkannja Parlemen itu. Tapi tindakannja ini tidaklah lain dari memantjing kemarahan rakjat. Dengan serta-merta, timbullah dengan njata orang-orang jang tidak dapat menerima tindakan Charles I ini, dan mereka menantangnja radja. Olivier Cromwell memimpin golongan jang tidak suka kepada radja. Pertentangan jang hebat terdjadi dipusat kegiatan politik tanah Inggeris. Persengketaan itu petjah mendjadi perang saudara dan berachir pada tahun 1649 dengan kekalahan Charles I.

Disaat itu barulah Charles I insaf, bahwa masih ada kekuatan lain jang sanggup menandinginja. Dia didjatuhi hukuman mati dan dipenggal batang-lehernja.

Sesungguhnja peristiwa ini bisa didjadikan peladjaran oleh radja-radja lain, termasuk radja Perantjis jang turun-temurun itu. Radja Charles I dituduh telah menghianati negerinja, pembunuh, dan musuh rakjat Inggeris. Tapi peristiwa ini rupanja tidak didjadikan guru oleh radja-radja Perantjis, hingga semua tindakannja senantiasa ditudjukan untuk kepentingan pribadinja atau untuk kepentingan keluarganja serta gundik-gundiknja. Apabila radja Perantjis jang berkuasa diabad ke-18 itu mau mengambil peladjaran dari kenjataan itu, tentulah mereka tidak akan berani berbuat tjurang dan korup terhadap negeri mereka sendiri dan terhadap rakjatnja.

Semendjak Louis XIII, kemudian Louis XIV, telah ditanamkan suatu pengertian diantara rakjat mereka, bahwa radja itu adalah „Wakil Tuhan” didunia. Baik radja2 maupun permaisuri mereka mentjoba menimbun dirinja dengan uang, tapi pada achirnja uang itulah jang mendjadi sebab kematian mereka. Louis XIV bersembojan, bahwa „negara adalah saja,” sedangkan Louis XVmengatakan „sesudah saja bolehlah kiamat datang”. Sembojan-sembojan ini memang dipenuhi oleh sedjarah, dan benarlah kiamat menimpa seluruh keluarganja dikemudian hari.

Louis XIV sendiri adalah seorang radja jang tolol. Ia boleh dikatakan seperti anak ketjil jang dinina-bobokan oleh pembantu-pembantunja. Pembantu-pembantunjalah jang lebih berkuasa, tapi tanggungdjawabnja sebagai seorang radja tidaklah berkurang karena itu. Louis XIV menetapkan Versailles sebagai ibu-kota Negara dan diistananja tinggal tidak kurang 4000 orang pelajan. Bajangkanlah betapa mewahnja kehidupan Louis XIV jang tahu beres sadja segala-galanja. 4000 orang pelajan siap membantunja dan memberikan apa jang dimintanja.

Dia mempunjai ambisi jang besar untuk memperluas pengaruhnja diseluruh benua Eropah, Oleh sebab itu politik-expansi adalah politik luar-negerinja. Dia menghendaki supaja dibahagian utara tanah Perantjis, hendaknja sungai Rijn-lah jang mendjadi tapal-batas. Akibatnja petjahlah perang dengan negeri Belanda. Belanda dipimpin oleh Johan de Witt, lawan terbesar radja Louis. Louis mentjoba memantjing negeri-negeri lain supaja bersekutu dengan Perantjis untuk menundukkan negeri Belanda. Tapi negeri Belanda tidak mau menjerah begitu sadja, hingga peperangan itu berlarut-larut.

Tidak sedikit biaja jang harus dikeluarkan untuk biaja peperangan ini, tapi Louis tidak ambil pusing, sebab uang itu bukan uangnja, melainkan uang jang diperoleh dari padjak rakjat. Pemerasan dan paksaan didjalankan diseluruh negeri jang membawa akibat langsung kepada kehidupan rakjat, jaitu: kemelaratan dan kemiskinan.

Radja jang buruk ini telah meninggalkan hutang negara sebanjak 4,5 miljard franc, jang nanti akan diwariskannja kepada penggantinja. Dan hutang ini harus dibajar, barangkali dengan djiwa-raga radja sendiri.

kedua

PADA tahun 1715. Louis XV dinobatkan mendjadi radja Perantjis menggantikan neneknja Louis XIV. Radja jang baru ini hampir tak mempunjai kegairahan apa-apa, ketjuali memelihara gundik-gundiknja seraja berfoja-foja sepandjang siang dan sepandjang malam, seolah-olah hendak direguknja seluruh kesenangan duniawi ini sampai ketetes jang terachir.

Neneknja —Louis XIV— adalah seorang radja jang gila kekuasaan. Dengan sekuat tenaga ditumpuknja seluruh kekuasaan ditangannja. Dan bila kekuasaan itu sudah diperolehnja setjara mutlak, segeralah dikumandangkannja sembojan jang menegakkan bulu roma: „Negara adalah saja!”

Sembojannja ini membawa akibat langsung kepada pemerintahannja, Pada hakekatnja, timbul atau tenggelamnja keradjaan Perantjis berada dalam tangannja seorang diri. Tjorak pemerintahan akan lunak, andaikata baginda sedang berada dalam keadaan sehat-walafiat dan riang gembira. Sebaliknja apabila baginda lagi sakit atau sedang dilamun perasaan susah, maka tjorak pemerintahan akan mendjadi keras.

Dia tidak sadja seorang radja jang memerintah setjara mutlak dan tak berbatas, tapi djuga seorang pentjinta perang.

Disamping itu Louis XIV menganggap dirinja sebagai „wakil Tuhan” dibumi ini. Dengan alasan itulah ia memaksa rakjat Perantjis memeluk agama Katholik.

Sungguhpun demikian, bukan pula tak ada kebadjikan dan kebaikan jang diperbuatnja untuk negeri itu. Pada tahap pertama dari masa pemerintahannja, ia telah berhasil mendorong madju perdagangan dan perindustrian. Negeri-negeri lain memandang kepada Perantjis dengan kagum dan irihati. karena diatas bumi negeri itu bersinarlah matahari kemakmuran dan kebahagiaan. Orang-orang itu dengan segala senang hati menjandjung Louis XIV dengan djulukan „Radja Matahari”.

Tapi rupanja pudjian dan pudjian jang hebat ini telah membangkitkan perasaan sombong Louis XIV. Kini dia berusaha membangun suatu Angkatan Perang jang terkuat diseluruh benua Eropah, karena tudjuannja telah berobah untuk mendjadi penguasa jang abadi atas negeri itu. Tindakan Louis XIV ini setjara langsung mengantjam perdamaian dibenua itu. Negeri-negeri tetangganja tjuriga dan tjemas melihat perkembangan baru ini. Sementara itu Louis XIV mempersiapkan diri untuk melanda kehormatan negara2 tetangganja. Tapi antjaman ini tidak diterima dengan berdiam diri. Insaf akan harga diri sendiri, negara-negara itu menjambut tantangan Perantjis tanpa ragu-ragu. Dan inilah jang akan menjeret negeri Perantjis kedalam kantjah peperangan. Kemakmuran dan kebahagiaan akan bertukar dengan kesengsaraan hidup jang harus mendjadi beban dipundak rakjatnja.

Peperangan dengan negeri Belanda, Spanjol, Djerman dan Prusia telah memeras perbendaharaan negeri Perantjis, hingga menimbulkan kebangkrutan, ketidak-tenangan dan kemiskinan. Negara jang mula-mula hidup dalam keadaan makmur dan sedjahtera, kini telah berobah mendjadi negara jang banjak hutang jang harus dipikul oleh rakjatnja, kendatipun mereka ini sudah tjukup lemah karena pajah.

Tidak kurang dari 72 tahun lamanja, jaitu dari tahun 1643 sampai tahun 1715, Louis XIV telah melaksanakan seluruh keinginannja. Dia djugalah jang telah membangun istana Versailles dekat Paris, sebuah istana jang kemegahan dan keindahannja melebihi istana mana djugapun diseluruh benua Eropah pada waktu itu.

„Istana jang besar itu,” kata Jahawarlal Nehru, „telah dibangun dari tjutjuran darah para petani Perantjis. Versailles adalah lambang dari kekuasaan jang tiada taranja dan dari pemerintahan seorang radja jang tak bertanggung-djawab.”

Apakah jang tidak dimilikinja? Kekuasaan, uang, kekuatan, dan nafsu! Jang tersebut belakangan inilah jang terutama telah menghantjurkan kehidupan rakjat negeri itu. Namun demikian, Louis XIV tetap merasa, bahwa ia telah berbuat apa jang paling baik jang dapat dipersembahkannja kepada Perantjis. Louis XIV jang diagungkan setinggi langit ketika ia baru sadja dinobatkan, telah memperoleh kutukan rakjat pada waktu ia turun. Disaat „Radja Matahari” itu terbenam diufuk barat, ketika sinarnja padam untuk selama-lamanja, tiadalah jang dibawanja masuk kuburnja, ketjuali sumpah-serakah rakjat Perantjis. Dan ketika ia melambaikan tangannja jang terachir dipintu kuburnja, tak adalah jang diwariskannja kepada tjutjunja —Louis XV— ketjuali hutang-hutang perang, kemelaratan dan kesengsaraan buat seluruh rakjat Perantjis. Penggantinja —Louis XV— berhasil duduk disinggasana jg. ditinggalkan neneknja itu selama tidak kurang dari 59 tahun tanpa hasil apa-apa. Ia malah ikut menggojahkan sendi-sendi keradjaan itu, jang sepeninggalnja kelak akan runtuh-berantakan.

Sesungguhnja, rakjat Perantjis telah dididik oleh kenjataan, bahwa mereka tidak dapat mengharapkan apa-apa dari radja mereka, karena „paduka jang mulia” tidak bersedia memberikan sisa-sisa makanannja sekalipun sekedar untuk mengurangi kelaparan mereka. Dari balik pagar istana, rakjat Perantjis menjaksikan dengan wadjah jang putjat dan lesu, bagaimana radja mereka menghabiskan waktunja, memboroskan uangnja, sedangkan mereka sendiri merintih kesakitan dibawah telapak kaki jang kasar lagi berat.

Louis XV, pengganti jang malang itu, tidaklah lebih dari seorang radja jang bodoh dan tolol. Kemuliaan jang dipersembahkan kepadanja telah digunakannja untuk kesenangan pribadinja jang tak ada batasnja. Dia lebih suka bertjanda dengan gundik-gundiknja, atau pergi berburu bersama bangsawan-bangsawan lain, daripada mengurus rakjatnja. Hubungannja dengan rakjatnja boleh dikatakan tidak ada, ketjuali sewaktu menagih padjak. Dan rakjat Perantjis dewasa itu tidak lebih kedudukannja daripada manusia-manusia jang mempunjai kewadjiban tapi tak mempunjai hak apa-apa. Mereka boleh membiarkan perut mereka kosong, tapi sekali-kali tidak dibenarkan membiarkan perbendaharaan radja tak berisi.

ketiga

ISTANA Versailles jang dibangun oleh neneknja Louis XV, kini telah berobah mendjadi pusat kegiatan pesta dan keramaian jang diadakan silih-berganti. Louis XV sendiri adalah radja jang tjelaka, jang semata-mata hidup atas nama nafsu dan kemewahan. Dia pulalah jang mendjadi pelopor penjebar kemerosotan moral jang diikuti oleh bangsawan-bangsawan lainnja. Dia senang memelihara gundik-gundik dan mengabaikan kehidupan rakjatnja sama sekali. Djika pesta-pesta tidak ada, tentulah Lois akan pergi berburu kehutan Senart disertai oleh para pengiringnja jang terdiri dari kaum bangsawan belaka.

Sikap hidupnja tjukup njata pada sembojannja jang terkenal mengerikan itu. „Sesudah saja, bolehlah kiamat datang!” begitulah suara jang dikumandangkannja. Sembojan ini tidak mempunjai arti lain, ketjuali tak adanja kesediaan Louis untuk berdamai dengan nafsunja sendiri.

Dan benarlah seperti jang dikatakannja itu. „Kiamat” itu baru datang setelah dia sudah tak ada lagi. Ahliwarisnjalah jang akan merasakan betapa dahsjat dan bengisnja „kiamat” itu.

Peperangan masih belum reda!

Keuangan negara haruslah didapatkan dengan djalan memungut padjak kepada rakjat jang hanja tinggal kulit pembalut tulang sadja. Padjak-padjak baru ditjiptakan, jang istimewa dibebankan kepada rakjat djelata, sedangkan kaum bangsawan dan kaum geredja serta tuan-tuan tanah bebas dari beban jang demikian. Tidak tjukup sampai disana sadja! Kemerdekaan mereka dibatasi pula, hingga daerah bergerak untuk mentjari nafkah hidup bertambah sempit. Mereka tidak boleh berburu dan memantjing ikan sesuka hati mereka. Banjak sekali sumber kehidupan jang mendjadi daerah terlarang buat rakjat biasa.

Disaat kehidupan rakjat jang sematjam ini, Louis XV malah hidup serba mewah dan ber-senang2 dengan selirnja jang bernama De Milly. Wanita ini telah mendjadi kekasihnja dan mendampinginja sepandjang hari. Dia pulalah jang mendorong Louis XV untuk hidup setjara berlebih-lebihan.

Banjak wanita-wanita tjantik jang ingin mengabdi kepada kehidupan jang seperti itu, lebih-lebih djika berhasil mendjadi kekasih dari radja atau kaum bangsawan lainnja jang punja pengaruh besar. Inilah krisis jang melanda negeri itu, jang Louis XV sendiri tidak memaklumi bahajanja.

Tidak hanja De Milly sadja jang ingin mendampingi radja Paris mempunjai tjukup banjak wanita-wanita jang seperti itu. Dan diantara wanita djelita jang djuga ingin mendjadi kesajangan Louis, tersebutlah seorang gadis bernama Jeanne Antoinette Poison.

Siapakah gadis ini?

Ia adalah seorang wanita jang bertubuh ramping dengan wadjah jang mempesona. Dia dilahirkan dari perhubungan jang samar-samar karena tjinta gelap orangtuanja. Ibunja bernama Madeleine jang terkenal di Paris sebagai wanita tjantik. Ajahnja dibuang dari Paris karena sesuatu kesalahan.

Perpisahan antara ibu dan ajahnja ini, menjebabkan keadaan Jeanne agak terlantar. Oleh ibunja ia diserahkan kepada „paman” Tournahem, seorang sahabat keluarga Poison jang kaja. Pada waktu itu usia Jeanne masih belasan tahun. Ia merupakan sekuntum mawar jang mulia mekar, jang seringkali mempesonakan tamu-tamu jang datang kerumah itu. Jeanne tak djarang mendengarkan setjara sajup-sajup, bagaimana tamu-tamu itu memudji-mudji ketjantikannja. Tentu sadja Jeanne sangat bangga akan dirinja mendengar kata-kata jang indah itu.

Ketjantikannja makin lama makin menondjol. Bibirnja mungil, rambutnja kemilau keemas-emasan, potongan badannja menggairahkan. Dengan kata lain, Jeanne tumbuh mendjadi gadis jang mendjadi impian setiap pemuda.

Ketjantikan!

Inilah jang telah digunakan oleh Cleopatra, ratu Mesir itu, untuk menundukkan djenderal Julius Caesar dan Antonius, dari Roma. Sendjata „Ketjantikan” ini telah diakui oleh sedjarah sebagai sematjam sendjata alam jang amat ampuh untuk membelokkan djarum sedjarah itu sendiri. Jeanne punja bakat untuk itu! Ia adalah seorang gadis jang berkemauan keras dan ia tahu akan ketjantikannja.Tapi dewasa itu djalan keistana Versailles masih tjukup djauh buatnja. Ia belum akan berhasil mentjapainja dengan beberapa langkah sadja. Ia masih harus menunggu sekian lama untuk dapat memainkan peranannja dengan sempurna.

Tournahem —„pamannja”— mempunjai seorang kemenakan jang tjukup gagah untuk mengimbangi Jeanne. Timbullah niat dalam hati Tournahem untuk mengawinkan Jeanne dengan kemenakannja itu. Jeanne kini telah merupakan sebuah apel jang masak jang menitikkan selera. Alangkah baiknja djika buah jang masak itu djatuh ketangan keluarganja sendiri. Dan begitulah, Tournahem memadjukan persoalan itu kepada Jeanne. Jeanne tidak menolaknja. Ia merasa berhutang budi kepada „pamannja” itu, dan hutang budi itu harus dibajarnja dengan harga jang pantas. Untuk itu ia bersedia kawin dengan kemenakan Tournahem jang bernama Lenormand d’Etoiles.

Sekalipun laki-laki itu gagah dan tampan, dan punja sjarat-sjarat jang tjukup sebagai suaminja, namun Jeanne tidak memperlihatkan tjinta-kasih jang tulus. Baginja Perkawinan itu tidaklah lain dari formalitas belaka. Sebaliknja Lenormand d’Etoiles memandjakan isterinja, mentjintainja dengan sepenuh hatinja. Dia bangga, karena isterinja adalah wanita jang tertjantik diseluruh Perantjis.

Jeanne tak obahnja seperti seekor kutjing jang senang dan dimandja. Ia boleh dikatakan tidak bekerdja. Jeanne jang kini sudah bernama Madame d’Etoiles, menghabiskan waktunja dengan membatja atau menjulam atau mengchajalkan apa jang mungkin ditjapai oleh lamunannja.

Ketjantikannja makin lama makin bertambah. „Sekalipun seorang alim, akan bersedia mendjual djiwanja kepada setan untuk dapat memiliki wanita itu,” demikian pernah dibisikan orang.

Seperti kebanjakan wanita-wanita dimasa itu, Jeanne sudah lama mentjita-tjitakan untuk menembus dinding istana Versailles. Seorang ahli-nudjum pernah meramalkan, bahwa pada suatu kali kelak, dia akan mendjadi wanita paling penting diseluruh keradjaan Perantjis. Dia akan mendampingi radja!

Ramalan ini kembali memenuhi pikirannja, dan hal ini menggelisahkannja. Suaminja tidak mengetahui pergolakan jang terdjadi dalam djiwa Jeanne. Dia tetap mentjintai isterinja sepenuh hati, tapi sang isteri sendiri sudah merasa asing terhadap tjinta jang demikian. Pikirannja tertudju sepenuhnja keistana Versailles, kepusat Pemerintahan keradjaan Perantjis. Alangkah besarnja sukses jang diperolehnja, apabila ia berhasil mendampingi radja. Dan apakah artinja Lenormand d’Etoiles —suaminja— terhadap seorang radja seperti Louis XV.

Dalam kesendiriannja, Jeanne mentjoba memikirkan bagaimana seharusnja ia sampai keistana itu. Djika sekali ia sudah berkenalan dengan radja, ia takkan melepaskannja lagi. Radja akan mendjadi „tawanannja”, dan pasti akan menghamba kepadanja atas nama ketjantikan jang memabukkan itu.

Perhubungannja dengan Lenormand sebenarnja sudah tak dapat dipertahankan lagi. Sebuah rumahtangga hanja bisa tetap bahagia, apabila kedua belah pihak memberikan kasih sajang jang seimbang. Tapi tidak demikian keadaan Jeanne dan suaminja. Suaminja mentjintainja setulus-tulusnja, sedangkan Jeanne berpaling terhadapnja. Pertjeraian segeralah menjusul!

Pada suatu hari, Jeanne mendengar bahwa radja dan para bangsawan pergi berburu kehutan Sénart. Ini adalah kesempatan jang harus digunakannja sebaik-baiknya untuk berkenalan dengan radja. Dan kesempatan ini tidak boleh diabaikan.

Dengan berpakaian setjara Amazone, jang sebahagian besar terbuka untuk menondjolkan batang tubuhnja, Jeanne menunggang kudanja kehutan itu. Dia mengharapkan akan dapat bertemu dengan radja, walaupun untuk selintas-kilas sadja. Radja harus mengenalnja! Dan djika sekali radja telah mengenalnja, dia jakin bahwa perkenalan berikut akan menjusul. Dan djika sudah berkenalan untuk kedua kalinja radja akan segera mendjadi „miliknja” untuk selama-lamanja.

Apa jang diharapkan oleh Jeanne terpenuhi seluruhnja. Ketika rombongan radja selesai berburu, Jeanne muntjul dari semak-semak dengan menunggang kudanja. Hal ini mengedjutkan radja dan rombongannja. Radja memandang kepada Jeanne dan sekaligus terpesona oleh ketjantikannja. Jeanne membalas pandangan itu dengan sedjemput senjum manis. Kemudian rombongan radja melandjutkan perdjalanannja pulang keistana. Debu mengepul dari derap telapak kaki kuda, mengaburkan pemandangan dihadapan mata Jeanne.

Bagaimana pendeknja pertemuan itu, namun Jeanne sudah merasa puas, karena ia telah berhasil menarik perhatian radja. Ia merasa bangga kepada dirinja, karena apa jang direntjanakannja sudah berhasil, walaupun hal itu baru merupakan tahap pertama dari seluruh rentjananja. Jeanne berkata kepada dirinja sendiri: „Baiklah, tahapan pertama untuk berdjumpa, muka dengan radja telah berhasil, dan bila perasaanku tidak memperdajakanku, malam ini djuga radja akan menggerakkan langit dan bumi untuk mengetahui siapa saja”.

keempat

Jeanne jang tenang, kini telah berobah mendjadi seorang wanita jang gelisah. Ia didorong oleh nafsunja jang meluap-luap untuk mengindjakkan kakinja diistana Versailles dan untuk mendjadi wanita pertama digedung jang megah itu. Bukankah ahli-nudjum telah meramalkan, bahwa suatu kali kelak ia akan memegang peranan penting diseluruh keradjaan Perantjis. Kini ramalan itu benar-benar memenuhi seluruh rongga djiwanja. Ketika diudjinja ramalan itu sekali lagi, ahli-nudjum tetap berpendapat, bahwa sesungguhnja dia mempunjai hari depan jang gemilang.

Pertemuannja jang kedua dengan radja terdjadi tepat pada waktunja, karena radja Louis XV baru sadja kehilangan kekasihnja. Louis begitu murung dan sedih. Sudah terang dia akan mentjari gantinja seorang wanita jang tak kalah tjantiknja dari kekasihnja itu.

Ibu Jeanne — — njonja Madeleine — — adalah pula seorang wanita jang gila hormat. Untuk itu ia bersedia mengorbankan harga dirinja. Dan seperti Jeanne sendiri, njonja Madeleine ingin agar Jeanne mendjadi seorang jang paling dekat kepada Louis XV. Dengan bantuan ibunja inilah Jeanne dapat berkenalan dengan Louis diistana. Pada waktu itu—seperti pada hari-hari lainnja — sedang berlangsung pesta jang meriah, karena kebetulan salah seorang putera mahkota keradjaan Perantjis dinikahkan dengan seorang puteri dari Spanjol.

Jeanne muntjul dengan pakaian jang amat menarik, ditambah lagi dengan wadjahnja jang djelita dan potongan badan jang menggairahkan. Louis XV rupanja tak pernah lupa kepada wanita itu. Ia ingat kembali pertemuannja jang pertama sewaktu ia berburu dihutan Sénart. Bukankah Jeanne pernah ditemuinja disana walaupun hanja sesaat sadja. Tapi semendjak pertemuan itu, Louis XV tidak pernah lupa kepada wanita tjantik itu. Kini wanita itu berada dihadapannja. Louis merasa mendapat durian runtuh. Tanpa ragu-ragu, Louis mendekati Jeanne. Jeanne menjambutnja dengan sekuntum senjum manis jang sukar dilukiskan keindahannja.

Inilah saat jang dinanti-nantikan oleh Jeanne. Ia tahu, bahwa Louis menaruh perhatian jang tjukup besar kepadanja. Louis mendekatinja dan berkata lemah-lembut: „Ah, Madame jang tjantik perkenankanlah saja mengutjapkan bahagia untuk mengiringi Madame dalam tarian ini”.

Tawaran ini mendjadikan Jeanne mendapat kehormatan jang amat besar. Dia bukanlah seorang wanita jang dungu. Kesempatan ini dipakaikannja sebaik-baiknja. Dengan suara jang manis disertai senjuman, Jeanne mendjawab: „O, Baginda! Belum pernah saja berani memimpikan mendapat kehormatan jang sebesar ini”.

„Kehormatan itu adalah untuk pihak saja Madame, karena tak sembarang orang beruntung dapat menari dengan wanita jang tertjantik dikota Paris ini”.

Sampai djauh malam, Louis XV mendampingi Jeanne seolah-olah takkan dilepaskannja lagi. Perhatian para tamu tertudju kepada mereka berdua. Suatu permulaan telah terdjadi dan tentu akan diteruskan sampai keudjung kesudahannja.

Jeanne telah mempeladjari setjara masak tentang djiwa dan pribadi Louis, hingga dengan gampang ia dapat merebut hati radja jang berkuasa itu.

Memang ada kekasih radja jang lain, jaitu Madame de Milly tapi wanita ini seakan-akan tersingkir oleh kedatangan Jeanne. Louis tak berapa menghadapkan perhatiannja kepada De Milly karena ia telah mabuk dengan ketjantikan kekasihnja jang baru itu.

Apa jang ditjita-tjitakan oleh Jeanne selama ini, kini telah mendjadi kenjataan. Ia benar-benar telah berada diistana Versailles, dan radja menerimanja dengan hati terbuka. Inilah buah mimpi jang sudah direka-rekanja semendjak ia masih seorang gadis remadja.

Beberapa minggu kemudian, Jeanne sudah menempati salah satu ruangan istana Versailles dan kepadanja diberikan gelar kehormatan dengan sebutan „Marquise de Pompadour”. Semendjak itu, seluruh kegiatan diistana Versailles berada dibawah pengaruhnja. Dialah jang mengatur segala-galanja. Pesta-pora dan kemewahan jang berlangsung diistana itu, semuanja berada dibawah pengawasannja.

Jeanne jang kini dikenal sebagai Madame de Pompadour, tahu benar dimana kelemahan Louis XV. Kegelisahan jang selama ini merundung hati Louis, diusahakannja melenjapkannja. Dihantjurkannja Louis kedalam kesenangan jang tak berhenti, hingga radja jang bodoh itu benar-benar dapat diperbudaknja. Madame de Pompadour ini berusaha membuat kesenangan apa sadja untuk menjenangkan hati radja. Diadakannja pesta ballet, sandiwara, dan seribu-satu malam kesenian lainnja. Djika perlu, dia sendirilah jang memegang peranan dalam pertundjukan-pertundjukan itu, hingga Louis XV benar-benar menjajanginja melebihi dari gundik-gundik jang pernah dipeliharanja. Seluruh djiwa-sanubari Louis dikuasai sepenuhnja oleh Madame de Pompadour ini.

Pesta-pesta jang sematjam ini meminta biaja jang tidak sedikit. Usaha para menteri untuk melakukan penghematan ternjata sia-sia belaka. Dimana-mana muntjullah gedung2 sandiwara dan jang megah, jang seluruhnja dibangun dengan uang negara. Radja sendiri tidak keberatan dengan pengeluaran jang demikian banjaknja hanja untuk membangun gedung2 sandiwara dan tempat-tempat pesta. Radja malah berusaha pula memenuhi seluruh keinginan gundiknja ini, supaja Madame de Pompadour jang tjielaka ini tetap sajang kepadanja.

Hutang negara jang tjukup banjak sebagai peninggalan Louis XIV —nenek Louis XV— kini bertambah banjak djuga dan sudah bertimbun-timbun. Sungguhpun demikian Louis XV tidak djuga sadar akan bahaja jang sedang mengantjam.

Rakjat Perantjis menjaksikan kemewahan jang tak ada taranja ini. Mereka makin lama makin marah dan pada waktunja kelak, mereka akan bangkit dengan kekuatan jang menakdjubkan.

Walaupun Jeanne hanjalah seorang gundik, tapi kekuasaannja sangatlah besarnja. Dialah sebenarnja jang menguasai pemerintahan. Djika ia berpendapat bahwa seorang Menteri harus berhenti, maka radja tidak akan membantah kehendak kekasihnja ini. Tidak seorangpun pembesar keradjaan itu jang berani menentangnja. Pernah pada suatu kali pengalaman pahit menimpa diri Menteri Pertahanan d’Argenson.

„Saja ketahui sedjak beberapa waktu, bahwa Tuan selalu mengingkari perintah-perintah saja,” kata Jeanne. „Adakah maksud tertentu untuk berbuat demikian?”

„Saja hanja bertindak untuk kepentingan negara, Madame,” djawab d’Argenson.

„Baiklah, untuk kepentingan negara saja perintahkan supaja saat ini djuga Tuan meletakkan djabatan dan segera meninggalkan kota Paris.”

Begitulah besarnja kekuasaan Madame de Pompadour, hingga bisa memetjat seorang Menteri Pertahanan. Seluruh pemerintahan keradjaan Perantjis telah berada ditangannja. Bahkan dengan keradjaan Austria —jang merupakan musuh bagi Perantjis— diusahakannja berdamai. Dialah jang memberikan nasihat kepada radja, supaja pertentangan jang ada dapat dipadamkan, walaupun dalam hal ini radja merasa keberatan. Tapi karena nasihat itu datangnja dari kekasihnja, dia telah merobah politik luarnegeri jang sedjak keturunan demi keturunan didjalankan setjara konsekwen oleh nenek-mojangnja. Duaratus tahun lamanja keluarga Bourbon —keluarga radja Perantjis— memusuhi keluarga Habsburg dari Austria, tapi politik ini dapat dirobah oleh Madame de Pompadour.

Madame de Pompadour menjarankan kepada Louis XV untuk terdjun kemedan perang menghadapi Inggeris. Inggeris dan negara-negara Protestan lainnja bermusuhan dengan Austria jang beragama Katholik. Karena Perantjis telah merobah politiknja terhadap Austria, dengan sendirinja pula Perantjis ikut berperang dipihak Austria. Dalam peperangan ini Perantjis menderita kekalahan jang hebat. Tapi kekalahan ini tidak sadja memukul pemerintah Perantjis, melainkan djuga memukul pribadi Madame de Pompadour. Saat itu datangnja serentak dengan keadaan djasmaninja jang sudah mulai mundur. Kesehatannja tidak begitu baik lagi. Ia mendapat tekanan perasaan dan tekanan djiwa jang hebat menjebabkan kesehatannja senantiasa bertambah buruk. Dokter Quesnay, dokter pribadi radja, berusaha menolongnja, tapi rupanja keadaan sudah sangat menurun.

Sehari sebelum Madame de Pompadour meninggal dunia, radja datang mengundjunginja. Dengan suara jang sendu, Louis XV menjatakan perasaannja: „Sembilanbelas tahun lamanja engkau telah mendampingiku dengan penuh kesetiaan dan tjinta-kasih, serta memberikan kesegaran hidup kepadaku…”

Diluar djendela tjahaja matahari dengan lembutnja menjilai pohon-pohon jang sedang bersemi. „Alangkah indahnja hari ini dan alangkah beratnja perpisahan…,” kata Louis.

„Esok hari saja harap akan mendjumpai engkau dalam keadaan jang lebih baik Jeanne…”

„Harapan adalah hak bagi jang hidup, Baginda…”

„Baiklah! Selamat malam buah-hatiku…”

Achirnja datanglah hari jang penghabisan buat Madame de Pompadour. Mataharinja benar-benar terbenam untuk selama-lamanja. Ketika kereta djenazah jang membawanja ketempat peristirahatannja jang terachir berdjalan dengan lambatnja, hudjan jang lebat turun dengan derasnja.

„Madame le Marquisse de Pompadour telah memilih hari jang buruk bagi perdjalanannja jang terahir,” kata Louis XV.

kelima

BARANGKALI Louis XV sudah ditakdirkan untuk mendjadi seorang radja jang mengabdikan seluruh hidupnja kepada hawa-nafsu semata-mata. Dalam hal ini, memang tidak ada orang jang berani menghalanginja. Dan siapakah jang akan berani menasihati seorang radja jang kekuasaannja lebih luas dari samudera itu? Lagi pula, Louis lebih suka mendengarkan kata-kata selirnja daripada kata-kata para menterinja.

Diantara wanita-wanita tjantik jang mendampinginja, terdapatlah seorang wanita jang terkenal dengan nama Madame du Barry. Wanita ini dilahirkan pada tahun 1743. Ketika usianja meningkat remadja, Louis berhasil membawanja keistana. Dan pada usia 26 tahun, ia telah mendjadi gundik radja.

Louis XV tjukup litjik mengikat gadis itu. Ia memanggil seorang bangsawan bernama Guillaume du Barry dan mengandjurkan supaja Guillaume mengawini gadis itu. Djika radja sudah bertitah, siapakah jang berani membantahnja? Guillaume bilang tidak! Dengan demikian —setjara resmi— gadis itu telah mendjadi njonja du Barry. Dan semendjak itu pula, du Barry senantiasa mendampingi Louis XV. Ia mulai menjebarkan pengaruhnja diistana Versailles.

Madame du Barry adalah seorang wanita jang menggiurkan. Matanja bening seperti telaga, kulitnja putih sebersih kapas. Ia pandai memilih pakaian jang tjotjok dengan tubuhnja, hingga Louis XV sungguh-sungguh tenggelam dalam pengaruhnja. Ia selalu memakai minjak-wangi jang kekuatannja sama dengan besi berani dikutup utara. Louis XV takkan melepaskan Madame du Barry, karena wanita itulah jang mendjadi pusat kehidupannja.

Keadaan diseluruh tanah Perantjis sudah mulai berobah. Tidak adanja perhatian radja kepada kehidupan rakjat, telah menimbulkan kemarahan rakjat itu sendiri. Dan djika rakjat sudah bangkit, tak ada lagi kekuatan jang sanggup membendungnja. Revolusi Perantjis jang terkenal itu sedang menunggu diambang pintu dengan sikap jang tak sabar.

Pada hakekatnja, Louis XV telah membangun suatu kemarahan jang mendidih ditengah-tengah rakjatnja sendiri. Dia sendiri terlepas dari bahaja, tapi ahli-warisnja akan menerima hukuman jang berat untuk membajar semua hutang jang telah diperbuatnja selama ia memegang kekuasaan pemerintahan.

Seorang pedjoang Perantjis, bernama Louis Benois, telah berhasil menjelinap kedalam istana Louis XV. Dia memperoleh pekerjaan sebagai pelajan Madame du Barry. Benois mengikuti seluruh gerak-gerik dan tingkah-laku Madame du Barry. Walaupun ia sangat djidjik melihat kemewahan jang berlebih-lebihan diistana Louis XV, tapi Benois masih sanggup menahan hatinja. Ia mengikuti seluruh kebiasaan hidup terdapat diistana Versailles itu. Ia melajani Madame du Barry, mulai dari membukakan kelambu sutranja, sampai kepada meletakkan sandal kekakinja, ataupun menjediakan anggur jang paling mahal harganja untuk gundik radja itu.

Benois mendjadi saksi dikemudian hari, bagaimana Madame du Barry telah ikut menghabiskan uang negara dengan bersenang-senang ditengah-tengah kehidupan rakjat jang sangat menderita. Dilihatnja dengan mata-kepalanja sendiri, bagaimana pula Louis XV mengikuti seluruh kemauan gundiknja itu. Benois memperhatikan seluruh kehidupan Madame du Barry jang hampir tak berpisah dari radja.

Ketika Revolusi Perantjis berkobar, untuk sementara waktu Madame du Barry masih bisa bebas dari hukuman. Ketika suaminja meninggal dunia ia mentjoba memperbaiki tjara hidupnja untuk melepaskan diri dari arus revolusi jang mulai membadai diseluruh Perantjis. Tapi ia tidak berhasil sepenuhnja. Rakjat Perantjis sangat marah kepadanja, lebih-lebih setelah Benois memberikan kesaksiannja.

Laporan-laporan jang diterima menundjukkan dengan njata, bahwa Madame du Barry mempunjai kekajaan jang tak ternilai harganja jang diperolehnja dari radja. Dialah gundik jang punja medja, kursi dan alat-alat makan lainnja jang berlapiskan emas, serta memiliki sekumpulan permata jang mahal-mahal.

Kenjataan ini tidak dapat lagi menahan rakjat. Ia tahu bahwa keselamatannja sedang terantjam. Ia diburu oleh dosanja sendiri.

Ia tahu bahwa keselamatannja sedang terantjam. Ia diburu oleh dosanja sendiri.

Ketika pasukan revolusioner Perantjis memasuki pekarangan rumahnja, Madame du Barry seakan-akan mendjadi gila. Berhari-hari penuh ketakutan, tapi tak ada djalan lain baginja ketjuali menebus dosanja sendiri. Ia ditangkap oleh pasukan itu dan dibawa dengan kekerasan ketiang guellotine, dimana kepalanja dipisahkan dari badannja.

Kemewahan jang telah membuat wadjahnja berseri-seri, jang telah mendjadikan dia seorang jang ditakuti disamping radja, kini telah berlalu untuk selama-lamanja. Tangisnja, ratapnja, djeritnja, semuanja sudah terlambat untuk menolongnja. Kekajaannja jang ber-limpah2 itu tidak dapat berbuat apa2 disaat jang sangat diperlukannja. Walaupun ia telah meminta ampun, tapi sia-sia belaka. Dosanja sudah terlalu banjak untuk dapat diampuni oleh rakjat Perantjis.

keenam

DALAM rangka hidup mewah inilah Louis XV mengadakan pesta-raja jang amat meriah untuk memuliakan perkawinan tjitjunja Louis XVI dengan Marie Antoinette, Tamu tamu berdatangan dari seluruh Eropah memenuhi undangan radja Perantjis jang besar itu. Tidak sedikit biaja jang disediakan untuk pesta jang megah itu.

Betapakah dia tidak akan terdorong mengadakan pesta jang semeriah itu, padahal Louis XVI inilah jang akan mendjadi penggantinja kelak.

Hubungan baik jang telah pulih antara Perantjis dan Austria —berkat pengaruh Madame du Pompadour— telah dipererat lagi dengan hubungan perkawinan antara puteri keradjaan Austria itu dengan tjitjunja Louis XV.

Marie Antoinette, sekalipun masih muda usianja, tapi adalah seorang gadis jang matang. Ia berhasil dalam tempoh jang tak terlalu pandjang mempengaruhi suaminja dan kemudian ikut-serta mengendalikan keradjaan itu, seraja membawanja kepintu gerbang revolusi.

Marie bukan tak menjaksikan penderitaan rakjat Perantjis. Ketika ia berdjalan-djalan disepandjang kota Paris menghabiskan bulan-madunja, dilihatnja sendiri betapa kemelaratan menimpa penduduk kota. Sungguhpun demikian, hatinja tak merasa terpanggil untuk memperbaiki keadaan jang bobrok itu. Sebaliknja ditjeritakannja kepada ibundanja —dalam salah satu suratnja— bahwa rakjat Paris menjambutnja dengan hangat. Dia merasa bahagia, karena telah dapat mengikat persahabatan jang lebih kuat antara Austria dan Perantjis, jang sedjak puluhan tahun lamanja hidup dalam suasana permusuhan.

Pada tahun 1774, Louis XV jang suka memelihara gundik itu meninggal dunia karena serangan penjakit tjatjar. Dengan demikian setjara langsung, naiklah Louis XVI —suami Marie Antoinette— ketachta keradjaan menggantikan neneknja. Ia pada waktu itu masih berusia 19 tahun, dan termasuk seorang radja jang naik kesinggasana dalam usia jang masih sangat muda.

Seperti neneknja sendiri, Louis XV menutup hidupnja dengan meninggalkan warisan berupa hutang negara jang amat banjak. Penggantinja Louis XVI tidak mempunjai ketjakapan jang tjukup untuk memikul tanggung djawab ini. Benar dia mempunjai kemauan baik untuk memperbaiki kehidupan rakjatnja, tapi tjita-tjitanja itu tidak dapat dilaksanakannja. Menteri-menteri dan pembantu-pembantunja umumnja terdiri dari bangsawan-bangsawan jang litjik dan djahat, jang merupakan penghalang untuk mentjapai kebaikan. Sebaliknja, mereka ini senantiasa menggaruk keuangan negara untuk keuntungan pribadi sendiri.

Sebagai seorang suami, Louis XVI lebih baik daripada Louis XV. Tapi sungguhpun demikian, dia mempunjai kekurangan jang prinsipil. Dia tidak dapat memberikan kepuasan kelamin kepada Marie jang menjala-njala itu. Hal ini sangat mengetjewakan isterinja. Keketjewaan ini segera mentjari muaranja lewat perwira-perwira muda, dengan siapa ia bersenang-senang dan bertjanda. Bila Louis XVI sudah tertidur pulas, Marie pergilah ketaman dan bergurau-senda dengan kekasihnja jang lain. Begitulah watak jang telah mendjadi kebiasaan Marie Antoinette. Malangnja, sang suami tak pula berniat hendak mengatasi kelemahannja itu.

Pada segi lain, Marie Antoinette merupakan seorang isteri jang berhasil mengendalikan suaminja. Louis XVI mengikuti seluruh kemauan isterinja. Kemewahan dan hidup serba berlebihan masih meliputi istana Versailles. Keuangan negara sudah semakin tjiut, tapi usaha perbaikan dari radja sendiri tidak kelihatan. Salah seorang menterinja bernama Turgot, menjarankan kepada radja supaja menempuh djalan ’ang menudju kearah perbaikan ekonomi. Dia adalah seorang ahli-ekonomi dan dia mempunjai kemauan baik untuk me:obah nasib jang menimpa keradjaan itu. Turgot memadjukan rentjana penghematan. Ketika Marie Antoinette mendengar rentjana ini, ia lekas-lekas menemui suaminja dan menjatakan keberatannja. Penghematan akan berarti pengurangan biaja untuk istana. Itulah sebabnja mengapa Marie menjatakan keberatannja, dan mendesak suaminja untuk memetjat menteri Turgot.

Louis XVI adalah radja jang lemah dan bodoh. Dia mengikuti andjuran isterinja dan segeralah Turgot dipetjat. Apakah akibat dari peristiwa ini? Rakjat melihat masa gelap jang mengerikan. Perbaikan tampaknja tidak mungkin didjalankan lagi.

Setelah Turgot berhenti, keadaan ekonomi dan keuangan Perantjis terus-menerus merosot dan negara itu berada dalam bahaja kehantjuran jang hebat. Radja Louis XVI merasa tjemas sekali melihat kenjataan ini, dan itulah sebabnja mengapa ia buru-buru mengundang anggota-anggota Parlemen Perantjis untuk mengadakan sidang membitjarakan keadaan jang gawat ini.

Tindakan Louis XVI ini dipandang sebagai tanda kelemahannja, sebab sedjak tahun 1614 Parlemen tidak pernah mengadakan sidangnja lagi. Selama pemerintahan absolute dari radja-radja jang terdahulu, Parlemen setjara diam-diam telah dikesampingkan dan tidak pernah lagi mengadakan sidang-sidangnja. Seluruh keputusan dan undang-undang, semata-mata berada ditangan radja. Tapi tiba-tiba radja Louis XVI memanggil Parlemen dan memerintahkan supaja bersidang lagi. Peristiwa ini tepat terjadinja disaat negara itu dirongrong oleh kekalutan ekonomi.

Kelemahan jang dipertontonkan oleh Louis XVI ini telah membuka mata rakjat untuk segera menggunakan kesempatan. Radja tidak mengira, bahwa peluang jang dibukakannja ini akan merupakan bumerang jang berbalik kepada dirinja sendiri, dan akan membawa negeri Perantjis kepada suatu pergolakan jang dahsjat.

Marie Antoinette sangat tjemas melihat perkembangan ini. Arus revolusi sudah mulai mengalir dan tak seorangpun jang akan sanggup menghalanginja. Ia merupakan rentetan jang logis dari tindakan-tindakan jang melampaui batas dari seorang radja. Louis XVI dan seluruh keluarganja akan memikul tanggung-djawab sepenuhnja, baik untuk dirinja sendiri maupun untuk membajar hutang embah-lujutnja. Dan apabila rakjat sudah bangkit, tidak ada lagi kekuatan jang sanggup membendungnja.

ketudjuh

„D J I K A Tuhan ingin membinasakan seseorang, maka lebih dahulu orang itu akan melakukan perbuatan-perbuatan gila,” demikian bunji sebuah pribahasa Latin. Apakah Louis XVI dan Marie Antoinette tidak banjak berbuat hal-hal jang gila? Pada tahun 1777, tidak kurang dari 110.000 orang peminta-minta berkeliaran diseluruh negeri Perantjis. Djumlah ini adalah suatu djumlah jang paling tinggi jang pernah terdjadi dimasa itu.

Disaat kemiskinan dan kelaparan mengantjam penduduk negeri itu, salah seorang Gubernur pemerintahan Louis XVI malah pernah melemparkan utjapan-utjapan jang sangat biadab jang menegakkan bulu roma. „Rumput-rumput sudah berputjuk. Pergilah ketengah padang dan makanlah rumput itu,” katanja kepada sekelompok orang-orang jang tengah kelaparan.

Djangankan membantu mereka, tapi sebaliknja mereka dilempar dengan kata-kata jang begitu hina. Sungguhpun demikian, mereka masih harus bersabar hati. Saat kebangkitan mereka masih menunggu. Dan bila sekali mereka sudah bangkit tak ada lagi artinja seorang radja apalagi seorang Gubernur. Kemiskinan jang mengantjam itu, masih belum menarik perhatian radja setjara chusus. Permaisurinja jang djelita itu malah tetap menghamburkan uang sesuka hatinja. Dia telah mendatangkan defisit jang sangat hebat terhadap keuangan negara, sehingga didalam sedjarah ia di namakan „Madame Defisit”.

Sementara itu keadaan diseluruh tanah Perantjis sudah mulai bergolak. Pikiran-pikiran baru berangsur-angsur memasuki djantung negeri itu. Lewat revolusi kemerdekaan Amerika jang meletus lebih dahulu, legiun-legiun Perantjis pulang kembali ketanah airnja. Mereka membawa pikiran-pikiran baru. Mereka telah ikut berdjuang bersama rakjat Amerika untuk membebaskan negeri itu - dari kekuasaan Inggeris. Semangat kemerdekaan anggota-anggota legiun itu sedang mendidih. Dan tatkala mereka mengindjakkan kakinja dibumi Perantjis, satu-satunja keinginan mereka ialah untuk ikut-serta melaksanakan tjita-tjita kemerdekaan itu. Mereka telah ditempa setjara keras oleh pengalaman perdjuangan kemerdekaan Amerika, djauh diseberang lautan diluar negeri Perantjis. Djika mereka telah ikut berdjuang untuk kepentingan orang lain, mengapa pula mereka akan berpangku-tangan ditanah air mereka sendiri?

Dan apakah jang mereka temukan di Perantjis? Kekuasaan radja jang tak berbatas. Kehidupan rakjat jang terus merosot, serta pembatasan ruang bergerak bagi rakjat djelata untuk mentjari nafkah, sedangkan segelintir manusia hidup dengan senang dan serba berlebihan.

Di Perantjis sendiri, adjaran-adjaran Rösseau, Voltaire dan Montesquieu, sudah mulai diresapkan orang dan telah berkembang setjara pasti. Adjaran mereka tidaklah lain dari pada adjaran tentang susunan masjarakat jang adil-makmur, persamaan hidup bagi setiap orang, kemerdekaan dan persaudaraan. Mereka ini menghendaki pemisahan jang tegas antara badan-badan legislatif, eksekutif dan judikatif. Selama ini, seluruh kekuasaan itu berada ditangan satu orang, jaitu ditangan radja. Karena adjaran ini memberi keuntungan kepada rakjat maka dengan tjepat sadja rakjat Perantjis mentjernakannja. Adjaran ini lebih terkenal dengan nama „Trias politika”.

Semuanja ini merupakan sebab jang umum dari petjahnja revolusi Perantjis. Sebab-sebab jang chusus dari revolusi itu ialah karena penghamburan keuangan negara jang tak ada batasnja dan tak karuan gunanja, serta kemiskinan jang meradjalela.

Terdesak oleh keadaan jang memburuk inilah maka Louis XVI memanggil sidang Parlemen untuk membantunja memetjahkan kesulitan jang dihadapinja. Tapi apakah jang timbul?

Anggota Parlemen itu seluruhnja beranggotakan 1200 orang jang terbagi atas tiga golongan, jaitu: 300 orang sebagai wakil kaum bangsawan, 300 orang mewakili geredja, dan 600 orang mewakili rakjat djelata.

Sidang Parlemen, jang dalam bahasa Perantjis biasanja disebut dengan „Etats Généraux” mengadakan sidangnja pada tanggal 5 Mei 1789. Tapi sidang itu tidak berhasil membawa penjelesaian, melainkan berbalik mendjadi pusat pertengkaran. Dalam sidang itu kaum bangsawan dan kaum geredja menghendaki supaja sistim pemungutan suara dilakukan berdasarkan golongan bukan menurut djumlah anggota jang hadir. Djika hal ini diikuti, maka dalam setiap putusan akan selalulah golongan bangsawan dan golongan geredja mendapat kemenangan, sebab mereka ini sudah sekongkol. Perbandingan suara akan mendjadi dua berbanding dengan satu. Sampai dunia kiamat, kaum tak berpunja, rakjat djelata, akan tetap kalah. Sadar akan kenjataan ini, wakil-wakil rakjat jang berdjumlah 600 orang itu menolak sistim pemungutan suara jang demikian. Mereka menghendaki supaja putusan ditetapkan dengan suara menurut kepala. Djika hal ini terdjadi, maka setidaknja rakjat djelata akan memperoleh suara 600 melawan 600 (jaitu 300 kaum bangsawan dan 300 kaum geredja). Tapi besar sekali kemungkinan, bahwa suara jang mereka peroleh akan lebih besar dari itu, sebab ada diantara kaum bangsawan dan geredja jang berpihak kepada rakjat. Dengan sendirinja mereka mempunjai harapan akan mendapat suara lebih dari 600, jang berarti kemenangan bagi rakjat djelata itu.

Sistim pemungutan suara ini telah mendjadi persengketaan jang hebat, dan tak dapat didamaikan lagi. Radja tidak segera mengumumkan sesuatu dekrit atas peristiwa ini, melainkan berdiam diri. Dengan ini berarti radja sekali lagi memperlihatkan kelemahannja. Perpetjahan semakin memuntjak. Angin revolusi sudah mulai bertiup. Golongan rakjat semakin berkobar semangatnja dan mereka semakin sadar akan kekuatan diri mereka sendiri. Sekalipun mereka ini sudah semendjak lama dilumpuhkan, tapi kini keadjaiban telah bangkit untuk membantu mereka.

Pada tanggal 17 Djuni 1789, jaitu kurang lebih dua bulan sesudah sidang Parlemen jang gagal, wakil-wakil rakjat jang mulai bangkit itu mengumumkan, bahwa „Etats Généraux” ditukar namanja mendjadi „Assemblée Nationale” atau „Dewan Nasional”. Dewan Nasional jang baru ini tidak mengenal golongan-golongan, tapi setiap anggotanja adalah wakil rakjat djelata.

Tiga hari sesudah Dewan Nasional ini diumumkan, diadakan lah sidangnja jang pertama, tapi mereka disabot oleh golongan lain. Ketika mereka sampai digedung sidang, kenjataan gedung itu tertutup-rapat dan mereka tidak dapat masuk. Sungguhpun demikian, mereka tidak berputus-asa. Didorong oleh keinsafan akan nasib jang menimpa diri mereka sendiri serta berdjuta-djuta rakjat Perantjis jang tertindas, mereka melandjutkan sidangnja dilapangan tennis. Mereka diantjam akan dibubarkan, tapi dengan tekad jang bulat, mereka bersumpah tidak akan bubar sebelum Perantjis diperintah atas landasan sebuah Undang-undang Dasar.

Tuntutan Dewan Nasional itu berpindah dari soal2 ekonomi kepada soal jang prinsipil, jaitu sebuah Undang-undang Dasar jang akan dapat membatasi kekuasaan radja. Oleh sebab itu, sesuai dengan tuntutan mereka untuk memperoleh sebuah Undang-undang Dasar, maka Dewan Nasional itu dirubah pula namanja mendjadi Dewan Nasional Pembentuk Undang-undang Dasar atau „Assemblée Nationale Constituante.”

Perkembangan jang baru ini adalah sematjam lampu-merah jang memberi peringatan keras kepada radja tentang kebangkitan rakjat djelata. Dunia baru sedang dibentuk dihadapan radja jang selama ini memerintah menurut kemauannja seorang diri. Radja Louis XVI bukan tak chawatir melihat perkembangan baru ini, tapi sebaliknja ia merasa mulai ragu-ragu akan kekuatannja sendiri. Peluang jang baik ini dipergunakan oleh rakjat Perantjis sebaik-baiknja.

Bulan Djuli adalah bulan jang penuh ketegangan diseluruh tanah Perantjis. Rakjat Perantjis melangkah terus dengan tegapnja menudju tjita-tjita kemerdekaan. Pada tanggal 14 Djuli tahun 1789, rakjat Perantjis tak dapat lagi membendung kemarahannja. Mereka sudah tjukup berlapang dada untuk memberi kesempatan kepada radja memperbaiki pemerintahannja, tapi radja telah terlambat dan lalai. Pada hari itu, rakjat kota Paris menjerbu pendjara Bastille, sebuah pendjara jang selama ini digunakan oleh radja untuk menjimpan sendjata dan tempat mengurung pemimpin-pemimpin rakjat jang berdjiwa revolusioner.

Walaupun pendjara itu didjaga dengan kuat, tapi kekuatan makanan didunia ini jang sanggup membendung arus rakjat jang sedang bangkit itu? Tentera radjapun tidak berdaia sama sekali. Benar bahwa pasukan radja telah menghalang-halangi arus rakjat ini, tapi kemudian mereka menerima nasib mereka dengan tjara jang amat menjedihkan. Pasukan radja ini di sapu oleh rakjat jang tak tertahankan itu, hingga pendjara itu djauh seluruhnja ketangan mereka. Pemimpin-pemimpin rakjat jang revolusioner jang ditahan dalam pendjara itu mereka bebaskan semuanja dan mereka menggabungkan diri dengan arus massa. Tidak sedikit pula diantara anggo.a pasukan radja jang berpihak kepada rakjat itu.

Lafayette, seorang bangsawan jang progressif jang memimpin legiun Perantjis dalam perang kemerdekaan di Amerika, segera membentuk Tentara Nasional.

Kemenangan atas pendjara Bastille dianggap sebagai titik-tolak kearah revolusi jang lebih besar jang menjusul kemudian. Dan hari itu dipandang sebagai Hari Nasional, Hari Kemerdekaan Perantjis, jang sampai dewasa ini dirajakan setiap tahun sambil mengenangkan pahlawan-pahlawan jang telah mengambil bahagiannja setjara patriotik dalam merebut pendjara itu. Mereka adalah pionir-pionir jang telah memulai langkah pertama dari kemerdekaan Perantjis.

Bedil jang pertama telah ditembakkan. Gemanja terdengar djauh diseluruh benua Eropah dan sekaligus membangunkan mereka jang masih tidur.

kedelapan

KEKALAHAN pasukan radja jang dipimpin oleh De Luney, telah menghilangkan muka radja. Kewibawaannja mulai berkurang, lebih-lebih setelah Lafayette membentuk tentara nasional. Masa keruntuhan Louis XVI telah datang. Permaisurinja jang tjantik dan biasa mandja serta punja ketjongkakan jang mendjidjikkan, tiba-tiba mendjadi ketjut ketika mendengar chabar bahwa De Luney telah gagal mempertahankan pendjara Bastille.

Api revolusi mulai menjala dan api itu akan marak dengan hebatnja, menelan seluruh kekuasaan radja, kaum bangsawan, dan kaum geredja dimana sadja diseluruh bumi Perantjis. Rakjat djelata Perantjis dengan gagah-berani memutuskan rantai wadja jang melingkar dikaki mereka, dan dengan semangat jang berkobar-kobar mereka madju kedepan dengan sendjata ditangan. Mereka takkan mundur setapakpun, sebelum seluruh tjita-tjita kemerdekaan Perantjis terlaksana.

Golongan bangsawan mulai menggigil ketakutan, ketika mereka menjaksikan betapa rakjat tampil kedepan tanpa keengganan untuk mati. Dipelosok-pelosok Perantjis, golongan ini diawasi gerak-geriknja dan dibatasi daerah kebebasannja. Kekajaan biara dan geredja jang diperoleh dengan hak-hak istimewa, disita oleh rakjat.

Kelaparan mengamuk dibukota keradjaan Perantjis. Beribu-ribu kaum wanita telah mengadakan demonstrasi dan berteriak-teriak meminta roti. Mereka berbaris disependjang djalan dan menudju keistana Versailles dimana radja bersemajam.

Lafayette chawatir melihat keadaan ini, kalau-kalau gerakan ini berobah mendjadi terror dan anarchie jang dapat memantjing kekeruhan jang maha kedjam. Oleh sebab itu, ia mentjoba membendung demonstrasi ini, namun sia-sia. Rakjat berhasil memasuki istana, dan merompak kamar tidur radja, hingga Marie Antoinette lari ter-birit2 kepada suaminja dengan pakaian setengah telandjang.

Tapi untunglah tidak terdjadi kerusuhan jang mengerikan. Demonstran ini menuntut kepada radja, supaja radja pindah ke Paris dengan seluruh keluarganja. Dewan Constituante-pun harus pindah ke Paris. Tuntutan ini terpaksa dikabulkan oleh radja, dan mereka kembali ke Paris.

Setahun kemudian, tepat pada hari ulangtahun kemerdekaan jang pertama, radja Louis dipaksa bersumpah untuk setia kepada Undang-undang Dasar. Sumpah ini sungguh-sungguh berlawanan dengan hati-ketjilnja, tapi demi keselamatan djiwanja dan keluarganja, ia bersedia mengutjapkan sumpah itu.

Pada tahun berikutnja, jaitu tahun 1791, Undang-undang Dasar itu disempurnakan lagi dan bubarlah Constituante setelah tugas mereka selesai.

Masa ini adalah masa jang penuh dengan kekatjauan, karena golongan bangsawan menghendaki supaja radja tetap sebagai kepala negara. Sebaliknja rakjat menghendaki dibentuknja suatu pemerintahan republik demokratis.

Radja Louis XVI melihat kedudukannja terdjepit dan mendapat tantangan, jang sebelumnja tidak pernah diramalkannja. Kalau keadaan ini berkembang terus-menerus, maka nasibnja tidak akan beruntung. Oleh sebab itu, Louis dan keluarganja berniat untuk melarikan diri. Kalau ia berhasil menjelinap kenegara lain, dapatlah disusunnja kembali suatu kekuatan jang pada waktunja nanti akan dihadapkannja kepada rakjat Perantjis jang menentangnja itu. Tapi niatnja itu tidak terlaksana. Mirabeau, salah seorang tokoh gerakan rakjat mentjoba menahannja dan menjabarkannja. Mirabeau mejakinkan Louis, bahwa keadaan tidak akan bertambah buruk dan tidak akan mengantjam keselamatan djiwa radja. Itulah sebabnja, mengapa Louis XVI mengundurkan maksudnja untuk melintasi tapal batas negaranja.

Kebentjian rakjat kepada Louis dan Marie Antoinette memuntjak, ketika Austria dan Prusia bersekongkol untuk menghantam rakjat Perantjis jang sedang berdjuang merebut kemerdekaannja dari tangan radja. Dimata rakjat, hal ini tidaklah berarti lain, ketjuali merupakan usaha-usaha Louis meminta tjampurtangan luarnegeri dalam urusan negara Perantjis. Tjampurtangan jang sematjam itu adalah suatu tindakan jang tidak dapat dibenarkan, apalagi tjampurtangan itu ditudjukan untuk menumpas rakjat itu sendiri. Dengan tindakannja ini, radja dianggap telah melakukan suatu pengchianatan.

Austria memang merasa bertanggung-djawab membantu radja Perantjis. Bukankah jang mendjadi permaisuri Louis XVI adalah anak kandung dari ratu Austria? Membantu Louis sama artinja denga menjelamatkan anaknja sendiri. Ketjuali karena alasan jang bersifat pribadi ini, Austria dan Prusia perlu membendung arus semangat rakjat Perantjis, supaja djangan mendjalar kenegeri mereka masing2. Kalau rakjat di Austria dan Prusia mendapat pengaruh dari gerakan rakjat Perantjis, maka kedudukan radja dikedua negara itu akan terantjam pula. Seluruh Eropah dipenuhi oleh kebentjian terhadap kekuasaan radja-radja mereka, api Perantjis telah bangun terlebih dahulu. Mereka mendjadi pelopor gerakan pembebasan dari kekuasaan tirani dan tak berbatas dari radja mereka. Kemarahan rakjat karena pengchianatan radja ini begitu memuntjaknja, sehingga mereka ingin mentjentjang radja dan permaisurinja. Desas-desus tentang antjaman jang maha ngeri ini sampai djuga ketelinga radja, dan sungguh-sungguh menakutkan dan menegakkan bulu tengkuknja. Rakjat akan membalaskan dendam mereka, dan para bangsawan jang sudah mendjadi tawanan akan mereka bunuh. Boleh djadi suatu tindakan berdarah akan menjusul sebagai pelampiasan kemarahan rakjat jang sudah tjukup lama mendjadi kuda-beban.

Ketika radja mengetahui, bahwa njawanja sudah terantjam dan setelah Mirabeau meninggal dunia pada tanggal 20 Djuni 1791, maka Louis tidak mempunjai pilihan lain, ketjuali lari keluar negeri.

Axel Fersen, seorang perwira berasal dari Swedia, jang pernah mendjadi kesajangan Marie Antoinette, menjiapkan sebuah kereta besar bertjat kuning hidjau, dengan tirai kain beledru. Kereta inilah jang akan digunakan oleh keluarga radja untuk melarikan diri keluar negeri.

Dengan diam-diam kereta itu bergerak membawa radja, permaisuri dan anak-anaknja. Baik kereta, maupun penompangnja menjamarkan diri supaja tidak terdjebak oleh rakjat jang senantiasa berdjaga-djaga disepandjang djalan dan pelosok-pelosok negeri Perantjis. Kalau sekiranja ia ketahuan, tentulah nasib radja akan mendjadi lebih buruk, bahkan mungkin akan-meminta njawanja sebagai bajaran.

Karena berdjalan sangat hati-hati, terpaksalah p.larian itu memakan waktu agak lama, hingga terlambat sampai lima djam dari rentjana jang sudah ditentukan. Dan ketika kereta itu sampai dekat Varennes, ia ditahan. Rakjat segera mengenal radja Louis dan permaisurinja, dan mereka melaporkan kepada jang berwadjib. Komisaris-komisaris jang menerima laporan itu, segera menangkap radja dan memaksanja kembali ke Paris. Dan dengan demikian gagallah seluruh rentjana Louis. Peristiwa ini terdjadi tanggal 25 Djuni 1791, disaat revolusi sedang menjala-njala diseluruh bumi Perantjis.

Dengan gagalnja pelarian radja ini, rakjat bertambah jakin, bahwa radja memang mempunjai hubungan gelap dengan negeri lain. Dan hal itu menambah mendidihnja kebentjian rakjat kepada Louis serta permaisurinja.

Semendjak keretanja diarak kembali ke Paris, radja benar-benar telah kehilangan kewibawaannja. Dari seorang radja jang megah, ia harus mendjadi orang tahanan jang disimpan disebuah tempel tua dengan djeridji besi jang kuat dan dinding tembok jang tebal. Suasana tengik jang menuakkan memenuhi ruangan itu. Dan diluar dinding tembok itu, penguasa-penguasa baru sedang merundingkan nasib mereka.

kesembilan

PENGUASA-penguasa baru negeri Perantjis sibuk membitjarakan hukuman apakah jang paling pantas didjatuhkan kepada radja Louis dan keluarganja jang telah berch’anat itu? Mereka tidaklah sependapat mengenai soal ini. Satu golongan sudah merasa puas, apabila radja dibiarkan hidup sebagai rakjat biasa dengan mentjopot seluruh kekajaan dan kekuasaannja. Tapi golongan lain menentang saran jang demikian. Mereka menghendaki supaja radja dipenggal lehernja, sebab hanja itulah jang paling wadjar untuk seorang jang berniat hendak mendjual Perantjis kepada negeri lain.

Perbedaan pendapat ini diachiri oleh Robespierre, salah seorang tokoh revolusi Perantjis dengan mengadjukan sebuah pertanjaan jang sekaligus merupakan djawaban: „Dapatkah kelaliman dilenjapkan dengan mempertahankan seorang radja jang lalim?”

Kemudian dengan tegas Robespierre menjerukan, supaja negara dibersihkan dengan darahnja kaum pengch’anat ini. Andjuran Robespierre ini sekaligus telah menentukan dan memutuskan nasib radja dan keluarganja.

Selama berada dalam tahanannja, Marie Antoinette dapatlah mengenangkan masa-silamnja jang manis, masa jang takkan kembali lagi. Ia boleh mengingatkan dirinja kepada kehidupannja diistana Austria bersama bunda dan ajahnja jang mendjadi penguasa negeri itu. Dan betapa gembiranja gadis itu, ketika lamaran Louis XVI disampaikan kepadanja. Ia akan mendjadi permaisuri keradjaan Perantjis, suatu keradjaan jang tjukup besar dibenua Eropah.

Perkawinannja dengan Louis XVI berlangsung ketika usianja baru 14 tahun, sedangkan Louis berusia 15 tahun. Sekalipun Marie masih merupakan seorang gadis jang belum tjukup dewasa, namun ia telah dapat menundukkan kegarangan Louis jang sangat gemar berburu dan makan kue. Marie berusaha untuk mendjadi seorang isteri jang baik disamping suaminja.

Tapi amatlah sajang, karena suaminja menderita tjatjat djasmani jang menjebabkan ia tidak mendapat kepuasan kelamin dari suaminja itu. Untuk mengisi kekosongannja, ia menghabiskan waktunja bertjanda dengan perwira-perwira muda seperti Axel Fersen.

Marie Antoinette jang mungil, djelita dan menarik, gemar sekali memesan pakaian jang mewah-mewah dan membeli perhiasan jang mahal-mahal. Dia senang melihat perlombaan kuda, berdjudi atau menonton sandiwara dan paling digemarinja ialah pesta. Istana Trianon dirobahnja mendjadi tempat bersukaria dimana berkumpul sahabat-sahabatnja.

Sebagai seorang isteri, Marie Antoinette ingin mendapat keturunan dari perkawinannja dan hal ini hanja akan tertjapai, apabila Louis mau berobat dengan menempuh operasi ringan. Mula-mula Louis tidak bersedia dioperasi, tapi achirnja diturutinja djuga kemauan isterinja.

Anaknja jang pertama lahir tahun 1778, seorang putri. Tiga tahun kemudian, menjusullah seorang anak lelaki. Kelahiran ini disambut dengan pesta besar-besaran. Petasan berdentam ditiap pelosok, sedangkan bunga api melajang-lajang diudara. Tidak sedikit uang negara jang dihamburkan untuk membuat pesta jang mewah ini.

Tapi pemborosan jang tak ada batasnja ini, telah membawa kemunduran popularitet Marie dimata rakjat Perantjis. Rakjat Perantjis tahu, bahwa uang jang dihamburkan oleh Marie tidaklah lain daripada uang padjak mereka.

Disamping ditanamnja kebentjian rakjat terhadap dirinja, diantara kaum bangsawan sendiri Marie sudah kurang disukai, terutama karena ia sering mengusulkan kepada suaminja untuk memetjat orang-orang bangsawan jang tidak disukainja. Pengaruh Marie terhadap Louis mempersukar kedudukan beberapa gelintir bangsawan jang tidak disenangi oleh permaisuri itu.

Ketika Marie melahirkan anaknja jang keempat pada tahun 1786, ia sudah mulai merasakan, bahwa rakjat Perantjis taklah begitu atjuh kepadanja lagi.

Kini, semua peristiwa itu muntjul didalam ingatannja bagaikan suatu mimpi. Dan ketika ia sadar, dilihatnja dinding tembok jang lusuh, djeridji besi jang tangguh, dan diluar orang bersorak-sorai menghinanja. Masa silam telah berlalu, dan masa depan penuh dengan serba kemungkinan.

Gelora revolusi Perantjis semakin hari semakin hebat. Istana Tuileries diserang oleh rakjat dan mereka menghantjurkannja. Guellotine sudah memulai kesibukannja jang berdarah dan merupakan pisau jang ditakuti diseluruh Perantjis.

Pada suatu hari, Marie Antoinette dihormati dengan sematjam hiburan jang menegakkan bulu roma. Suatu arak-arakan lewat didepan pendjara itu, membawa kepala sahabat Marie Antoinette jang sudah dipenggal, jaitu kepala putri de Lambelle. Marie menggigil ketakutan. Djika de Lambelle sudah dipenggal, hukuman apakah jang akan diterimanja sebagai ratu jang dibentji rakjat?

Saat ini adalah saat jang penuh kengerian. Perdjuangan kemerdekaan terhadap kaum bangsawan, biarawan dan tuan-tanah sedang memuntjak dan korban demi korban mulai djatuh. Diluar pendjara didengarnja orang berbitjaru, bahwa sebentar lagi Louis XVI, akan dikirim keguellotine. Seluruh tubuh Marie Antoinette gemetar tak berdaja, takut, ngeri dan putus asa.

Keadaan djasmaninja sudah semakin buruk. Rambutnja jang dulunja indah kemilau, kini telah berobah mendjadi putih. Kulitnja kering dan badannja sudah semakin kurus. Dia dilamun oleh chajalan jang menakutkan. Pintu kematian sudah mulai terbuka dihadapan matanja.

Nasib keluarganja sudah diputuskan oleh sidang revolusioner rakjat Perantjis. Harapannja sudah tertutup sama sekali. Bahkan pada anggal 21 Djanuari 1793, suaminja dikirim ketempat pemenggalan.

Ketika radja masih meringkuk didalam kurungan, ia telah mengira, bahwa kematian pastilah akan memanggilnja dalam waktu jang pendek. Dia dituduh telah melakukan pengchianatan, dan sidang-sidang rasional mentjoba membuktikan perbuatannja jang chianat. Tapi Louis tetap menjangkal. Achirnja ia harus menerima hukuman jang tak dapat dibantah lagi.

Dengan berani, keberaniannja jang terachir, Louis berdjalan dari pendjara menudju Palace de la Concorde didepan istana Tuileries, diiringi oleh pastor Edgeworth jang djuga tidak mau bersumpah kepada Undang-undang Dasar.

Ketika kematian sudah berada beberapa detik dari tubuhnja, Louis ingin menjampaikan sekedar pesan kepada rakjatnja, tapi suaranja tak terdengar, hilang ditelan gelombang jang gemuruh dari sorak-sorai rakjat jang ingin melihat darah radjanja itu tertjutjur sebagai bajaran atas kekuasaannja selama ini. Dan dalam beberapa detik sadja, pisau guellotine telah djatuh dari tiangnja, memotong dua batang leher Louis XVI. Dan tamatlah riwajat radja jang tjelaka itu.

Peristiwa pemenggalan radja Louis ini sampai kepada Marie sebagai suatu berita jang maha mengerikan. Pada waktu itu, Marie sudah tidak mempunjai harapan apa-apa lagi.

Penderitaan ini belum berhenti sampai disana sadja. Pada bulan Oktober 1793, putranja jang kedua dibunuh pula. Ia berada pada puntjak kesengsaraan jang maha hebat. Anak jang diharapkannja akan mendjadi radja Perantjis dikemudian hari, kini tak ada lagi.

Pada malam terachir dari hidupnja, orang membuat suatu lelutjon dengan permaisuri ini. Kepadanja disodorkan dua buah lilin dan setjarik kertas, jang akan digunakannja untuk membuat surat wasiat. Diatas kertas itu ditulisnja pesan, supaja anak2nja diserahkan pemeliharaannja kepada saudara perempuan dari suaminja. Tapi surat itu tidak pernah mentjapai tudjuannja.

Esok paginja, datanglah serombongan petugas kedalam tahanannja. Permaisuri jang sudah rontok itu, digunduli rambutnja dan kedua tangannja diikat kebelakang. Kemudian, Marie Antoinette dinaikkan ke atas sebuah gerobak, dan dipertontonkan sepandjang djalan raja di kota Paris seraja menudju kelapangan, dimana pisau guellotine sudah menunggu.

Djika kematian benar-benar sudah tak dapat dielakkan lagi, hilanglah arti semua ketakutan. Begitulah Marie Antoinette. Dengan kepala jang tegak, dia naik keatas tangga guellotine. Kepalanja disorongkan diantara papan jang berlobang, dan dalam sedetik tempoh, djatuhlah pisau guellotine memotong batang lehernja. Darahnja jang panas berserak membasahi bumi Perantjis, dan diatas keruntuhan keradjaan ini dibangun pemerintahan baru jang melandjutkan revolusi Perantjis dalam pasang-surutnja djalan sedjarah …

penutup

MARIE Antoinette pergi untuk selama-lamanja. Dia telah membajar semua hutangnja dengan djiwanja sendiri. Tapi dengan lenjapnja kekuasaan Louis XVI beserta Marie Antoinette, Perantjis belumlah mendapatkan apa jang ditjita-tjitakannja.

Tindakan jang dilakukan atas diri radja beserta keluarganja mentjemaskan radja-radja lain diluar Perantjis. Mereka melihat, bahwa hantjur-leburnja kekuasaan radja di Perantjis akan membawa akibat langsung kepada kedudukan mereka. Oleh sebab itu radja-radja ini setjara serentak menentang pemerintahan Perantjis jang baru itu. Austria, Prusia, Inggeris, Spanjol dan beberapa daerah lain dibahagian Italia dan Djerman semakin mendekati satu sama lain untuk memperoleh kekuatan jang tjukup guna menghadapi antjaman Perantjis. Persekutuan ini diusahakan oleh William Pitt jang merasa tjemas melihat gelagat Perantjis. Perantjis memang telah merasa merebut ini mereka anggap sangat penting dalam menghadapi tantangan Inggeris.

Sementara musuh-musuh Perantjis mengantjam, dari luar maka keadaan dalam negeri semakin kalut. Revolusi jang sedang berkobar itu mendapat tantangan pula dari kaum kontra-revolusi. Pasukan Perantjis dibawah pimpinan Djendral Dumouriez mengalami kekalahan di Neerwinden dan kemudian ia sendiri berpihak kepada Austria. Seluruh negeri Belgia djatuh kembali ketangan Austria. Untuk mengatasi keadaan jang ruwet ini, golongan Jakobin jaitu golongan jang berkuasa di Perantjis telah melakukan tindakan kekerasan jang amat hebat. Masa ini, disebutkan sebagai masa teror. Pimpinan ini dipegang oleh Robespierre, Danton Herbert dan Carnot. Mereka mendjalankan politik tangan-besi dan menindas setiap usaha jang hendak mendjungkirkan atau melemahkan kekuasaan golongan mereka. Tidak sedikit orang jang dikirim ketiang guellotine dan dipenggal batang-lehernja karena disangka memusuhi mereka.

Suasana diseluruh Perantjis dapat digambarkan sebagai suatu lautan jang dihamuk topan dan badai. Gelombang demi gelombang menghempas ketepi pantai negeri itu dengan suaranja jang dahsjat dan menakutkan. Sementara itu kelaparan terus mengantjam, karena rakjat tak mempunjai ketenangan untuk mentjari nafkah. Dikota Paris sendiri ditjatat sebanyak 2600 orang telah mendjadi korban pembunuhan termasuk Marie Antoinette jang tjantik itu. Dan diseluruh Perantjis angka itu mentjapai 20.000 orang.

Golongan Jakobin jang berkuasa ini djuga mengantjam agama Katholik, karena selama ini kekuasaan geredja sering disalahgunakan.

Usaha teror ini buat sementara memang berhasil baik. Musuh-musuh dalam negeri dibungkem dan dimusnahkan, sedangkan musuh luarnegeri mulai pajah menghadapi Perantjis. Dengan demikian tindakan teror itu haruslah berhenti.

Robespierre jang menghendaki kekuasaan sepenuhnja, kini mulai mentjari djalan untuk menjingkirkan kawan-kawannja seperti Danton dan Herbert. Robespierre menjalahkan Herbert karena Herbert dianggapnja membahajakan negara lantaran kekedjamannja terhadap geredja. Herbert dibunuh!

Ia tidak puas sampai disana sadja. Kini tibalah giliran Danton. Ia disalahkan oleh Robespierre lantaran Danton ini-menurut Robespierre—telah membangkitkan keberanian dipihak musuh. Pikiran Danton jang lunak ini ditjap oleh Robespierre.

Setelah Herbert dan Danton lenjap, Robespierre mengira sebagai suatu penghianatan, Danton-pun achirnja dibunuh. bahwa dia akan berkuasa sepenuhnja. Tapi harapannja ini ternjata sia-sia belaka. Orang-orang lain diluar golongannja merasa dan berpendapat, bahwa tindakan teror itu memang sudah harus dihentikan. Pikiran ini mendapat dukungan dari Djendral Pouche dan seorang tokoh politik lainnja bernama Barras.

Pada tanggal 27 Djuli 1794, malam harinja mereka ini menjerbu kebalai-agung dan menangkap Robespierre beserta pengiringnja. 105 orang tokoh-tokoh Jakobin ini diseret ketiang guellotine dan dipenggal batang-lehernja.

Sesungguhnja Robespierre bertjita-tjita hendak membagi rata semua milik, hingga seluruh lapisan masjarakat dapat menikmati hasil revolusi Perantjis itu. Tapi tjita-tjita ini ditantang oleh golongan lain jang bernama golongan Gironde jang umumnja terdiri dari kaum berdjuis jang kaja raja, tuan-tuan tanah besar. Mereka melemparkan tuduhan kepada Robespierre dan golongan Jakobin, bahwa tjita-tjita jang sematjam itu adalah suatu penjelewengan.

Tuduhan lain jang memberatkan Robespierre ialah, karena ia melaksanakan tjita-tjitanja itu dengan tangan-besi, sedangkan rakjat sudah mengingini ketenangan dan keadaan normal. Ini lah alasan jang menguatkan golongan Gironde untuk mendjatuhkan Robespierre. Mereka berhasil sepenuhnja. Robespierre didjatuhi hukuman mati dan dipenggal batang-lehernja.

Semendjak itu tidak ada lagi orang jang ditakuti di Perantjis. Kaum Gironde jang berhasil memegang pimpinan ternjata tidak disegani oleh rakjat. Hal ini langsung menimbulkan krisis gezag. Bila suatu pemerintahan sudah diantjam oleh krisis kewibawaan sematjam ini, maka tindakan teror bangkit kembali. Pembalasan dendam dan pembunuhan meradja-lela diseluruh negeri itu. Untuk kesekian kalinja negeri Perantjis terombang-ambing dilautan darah.

Peraturan-peraturan jang dikeluarkan oleh pemerintah golongan Gironde ini malah menambah katjaunja keadaan. Suasana jang keruh sematjam ini menghendaki muntjulnja "orang kuat" jang sanggup memegang kekuasaan ditangannja. Dan Perantjis menunggu datangnja orang kuat jang demikian.

Pada tahun 1768, sebelum revolusi Perantjis berkobar, radja Louis XV telah menggabungkan pulau Corsica kedalam wilajah keradjaan Perantjis. Dari pulau inilah orang kuat itu akan muntjul jang kemudian terkenal dengan nama Napoleon Bonaparte.

Pada tahun 1795. Napoleon telah membubarkan barisan orang-orang jang mengepung Convensi. Ia telah melepaskan tembakan-tembakan meriam jang bersama dengan namanja, telah menggema diseluruh negeri itu. Inilah tokoh jang dinanti-nanti itu, jang diharapkan akan mengatasi segala kekeruhan jang telah melanda negeri Perantjis.

Pemerintahan golongan Gironde dilandjutkan oleh pemerintahan „Directoire” jang beranggota lima orang. Tapi Directoire inipun tidak berhasil. Jang memperoleh hasil jang njata ialah golongan militer dibawah Djendral Napoleon. Sebenarnja djasa-djasa pribadinjalah jang lebih utama, hingga ia memperoleh nama jang baik dikalangan rakjat. Pemimpin-pemimpin lainnja mulai pula mendekati golongan militer ini. Ini adalah saat jang dinanti-nantikan oleh Napoleon. Ia memang mempunja ambisi jang besar untuk menumpuk kekuasaan. Saatnja untuk merebut kekuasaan sepenuh-penuhnja akan tiba.

Sekembalinja dari Mesir pada tahun 1799, Napoleon mulai mengarahkan usahanja kepada pengumpulan kekuasaan. Disepandjang djalan, ia disambut dengan meriah dengan plakat-plakat „Hidup Napoleon ! Napoleon jang akan menjelamatkan Paris !”

Sambutan ini mejakinkan Napoleon, bahwa dia akan dapat naik lebih tinggi lagi dan memegang tampuk negeri itu. Pada tahun 1799 itu dibentuknja suatu pemerintahan baru jang disebut Consulat jang pada hakekatnja merupakan suatu pemerintahan otokrasi dimana Napoleon mengangkat dirinja sebagai kepala pemerintahan jang pertama dengan sebutan „Consul!”. Disamping Napoleon masih ada dua orang consul lainnja, jaitu Cambacérès dan Lebrun. Tapi menurut kenjataannja, segala-galanja ditentukan oleh Napoleon sendiri.

Napoleon digambarkan sebagai seorang tokoh militer dan tokoh politik jang genius. Pertama-tama dilakukannja perbaikan administrasi negara dengan mengadakan hukum jang seragam ditiap bahagian tanah Perantjis. Selama ini tiap-tiap daerah mempunjai hukum sendiri-sendiri, hingga rasa kedaerahan sangat menondjol. Kini hal jang demikian dilenjapkannja dan diganti dengan hukum jang uniform.

Untuk memperbaiki taraf hidup rakjat, dia mengusahakan perbaikan djalan-djalan dan perbaikan pelabuhan, mendorong industri jang sudah lumpuh selama revolusi.

Dalam pertempuran melawan musuh-musuh Perantjis, Napoleon selalu mempersembahkan kemenangan kepada negeri itu, hingga timbullah pemudjaan jang amat hebat terhadap pribadi Napoleon.

Bagi dirinja sendiri, adalah suatu idam-idaman untuk menguasai seluruh permukaan bumi ini. „Eropah hanjalah sebuah puntjak bukit”, katanja sekali waktu. Dia mengingini untuk mendjeladjah seluruh daerah disebelah Timur, dimana berdiam enamratus djuta manusia. Kesanalah ia hendak pergi. Tjita-tjita inilah jang mendorongnja untuk memperkuat kedudukannja baik dikalangan militer maupun didalam politik.

Kepada rakjat Perantjis ditundjukkannja pengabdian jang besar terhadap negeri itu, walaupun sebenarnja ia mempunjai darah tjampuran antara Perantjis dan Corsica, dan darah Italia. Ia sendiri sebenarnja adalah anggota golongan Jakobin jang telah mendjalankan tindakan teror dibawah pimpinan Robespierre, tetapi bukanlah karena ia pertjaja kepada tjita2 golongan ini.

Setelah „Directoire” berkuasa ia membuktikan dirinja, bahwa dia bukanlah seorang jang benar-benar mentjintai Jacobin.

Terhadap peradjuritnja, ia merupakan seorang bapak, bapak jang muda. Dia sering disebutkan dengan djulukan „Kopral Ketjil” dan tidak keberatan apabila peradjuritnja memakai perkataan „kau” atau „kamu” kepadanja. Tapi kewibawaannja sangatlah besarnja. Dibawah Napoleon, Perantjis menghadapi peristiwa-peristiwa hebat jang menggetarkan, bahkan tak kalah hebatnja dari masa2 permulaan revolusi itu sendiri.

Kisah Napoleon adalah kisah jang tersendiri seperti kisah Marie Antoinette. Bersama dengan dia, negeri Perantjis timbul dan tenggelam menghadapi gelombang dahsjat benua Eropah.