Baca EPUB: lampung-selajang-pandang

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
M. CAREPEBOKA
Lampung Selajang Pandang
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini dimuat dalam majalah Api Kartini, edisi Februari 1960.


Oleh M. Carepeboka (dimuat di Majalah Api Kartini Februari 1960).


Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Kali ini Sdr2 kami bawa ke daerah Lampung atau sering kali disebut tanah lada jang terkenal dengan daerah transmigrasi. Daerah Lampung bila ditilik alam sekitarnja tidaklah boleh dikatakan daerah pelantjongan jang penuh dengan alam jang indah2, tapi ia adalah daerah pekerdja dan pedagang jang membandjiri pantai2 dari Pulau Djawa ataupun pelabuhan2 lainnja. Hanja beberapa pelosok sadja jang dapat kita djadikan tempat bertamsja jang terkenal dengan pantai pandjangnja.

Bentuk kebudajaan

Pada galibnja penduduk asli jang mendiami daerah Lampung dapat kita golongkan dalam 3 bagian:

1.
Suku bangsa Lampung:

Mendiami ketjamatan Kotabumi, Menggala, Blambangan Umpu, Panaragan dan Pasisir Utara, Tengah, dan Selatan.

2.
Suku bangsa Semendo:

Mendiami ketjamatan Rebong Kasui dan Rebong Seputih.

3.
Suku bangsa Masudji:

Mendiami ketjamatan Masudji Lampung

Sesungguhnja pada suku bangsa Lampung kalau didengarkan sepintas lalu se-akan2 terdiri dari banjak bangsa karena mendengar perbedaan bahasa. Tetapi sebenarnja bahasa Lampung hanja terdiri dari dua matjam bahasa jaitu bahasa Tulang Bawang dan bahasa Abung, inilah jang lazim dipakai di daerah Lampung. Mengenai aksaranja daerah Lampung mempunjai aksara sendiri, hampir rada persamaan dengan aksara Tapanuli. Hingga sekarang masih terpakai di kalangan penduduk asli Lampung.

Mengenai keseniannja terdiri dari ber bagai2 matjamnja, menurut suku masing2 hanja jang lazim dipakai ialah dua matjam sadja: tari tanggai, tari negel jang semuanja diiringi dengan gamelan. Biasanja dilakukan oleh gadis2 dan budjang2 bersama iringan gamelan dengan mengajunkan tangannja menurut kehalusan suara dari pantun2 gamelan tadi. Di samping ini ada djuga beberapa budjang/gadis berpantun dengan sadjak2 jang tertentu, keritikan, sindiran2 mengenai peralatan adat tsb. Tapi sajang sekali tarian2 dan pantun2 asli itu sekarang hampir hilang, sebab telah bertjampur dengan pengaruh2 baru dari luar. Upatjara adat sekarang sudah diperbaharui sedikit demi sedikit. Hanja diperdalam sadja jang masih sedikit. Hanja diperdalaman sadja jang masih berpegang teguh pada adat aslinja. Alat2 gamelannja, terdiri dari ± 24 matjam, dan dilakukan oleh orang2 jang tertentu serta ahli dalam memukulnja.

Ini biasanja dibunjikan bila ada perkawinan upatjara adat jaitu naik „Pepadon”.

Suku bangsa Lampung menurut adat terdiri 4 (empat) tingkatan jaitu:

1.
Penjimbang Marga
2.
Penjimbang Tiuh
3.
Penjimbang Suku
4.
Keturunan orang biasa.

Pada waktu itu terdjadi suatu peralatan adat (begawi) maka perbedaan tingkat ini sangat djelas misalnja:

Penjimbang Marga: memakai pakaian adat setjara putih, dinaungi oleh pajung putih dan berangkat dari rumah diiringi suatu lagi suara gamelan. Dan sesampai di rumah adat jaitu sesat ia duduk di atas Pepadon, (pepadon=serupa bentuk medja jang kira2 1 x 0,75 cm jang kakinja pendek).

Penjimbang Tiuh: hampir sama dengan Penjimbang Marga, hanja bedanja dinaungi oleh pajung kuning dan diiringi oleh dua lagi.

Penjimbang Suku: perbedaannja dinaungi oleh pajung merah dan diiringi oleh 3 lagu gamelan.

Pada galibnja zaman dahulu tiap2 tingkat merupakan pemimpin dari golongan masing2. Misal: Penjimbang Marga adalah pimpinan dari sebuah Marga, dan seterusnja.

Akan tetapi sekarang banjak dari peraturan adat sudah berubah, menurut kemampuan seorang maka ia dapat mendjadi pimpinan dari tiap2 tingkat asal adat istiadat djangan dilupakan.

Dan dengan kemadjuan2 orang-orang sekarang, dan pengaruh2 kebudajaan Indonesia lainnja, hampir hilang keasliannja.

„MANDJAN”

Sebagaimana daerah lain pemuda2 Lampung djuga mengenal masa untuk mentjari teman hidup. Masa ini lazim disebut „Mandjau”, ialah kundjungan si budjang ke rumah si gadis, umumnja dilakukan dari belakang rumah. Si gadis dari atas rumah dan budjang di bawah jang pada umumnja rumah2 asli di Lampung tinggi2. Ini dilakukan pada malam hari, guna menghormati orang tua si gadis, djadi bersifat tidak resmi. Ada djuga mandjau jang dilakukan dari depan, tapi ini terdapat pada gadis di kota2 jang sudah mendapat pengaruh dari luar.

Bila seseorang budjang berminat sekali pada seorang gadis maka ia bermaksud mengundang teman2 sekampungnja untuk bersuka ria, atas persetudjuan gadis tsb. Dalam hal ini si budjang memberi apa2, terutama makanan2 jang disebut „Bekadu” guna keperluan perajaan tsb. Ini disebut „Mijah Damau”, jang diachiri sampai subuh. Pada masa ini si gadis dan si budjang dapat menjatakan isi hatinja, melalui sindiran2, sjair2, perkataan2 jang baik disalurkan melalui surat menjurat dan ditulis dalam bahasa Lampung.



Upatjara Perkawinan

Perkawinan daerah Lampung pada umumnja terdiri dari 3 matjam bentuk:

a)
Perkawinan upatjara kebesaran, di mana perkawinan ini berdasrkan persetudjuan orang tua kedua belah pihak dari marga tersebut;
b)
Perkawinan jang berupa perkawinan „nakat” (lari ke rumah si budjang);
c)
Perkawinan jang disebabkan perbedaan golongan bangsa.

Umumnja mendjelang masa perkawinan bagi suku bangsa Lampung dapat dikatakan sangat sulit hingga kadang2 memakan waktu 2-3 tahun lamanja guna tilik-menilik antara budjang dan gadis. Bila telah disetudjui oleh kedua belah pihak maka ditentukan waktu perkawinan tsb. Perajaan dilakukan di rumah mempelai perempuan. Sehari sebelum upatjara perkawinan dari fihak laki2 datang dengan diiringi oleh sanak saudara, guna menjerahkan „uang djudjur” (mas kawin), barang2 berupa perhiasan, pakaian2 jang ditenun oleh fihak laki2. Upatjara perkawinan ini lamanja 3 hari 3 malam, dan berdjalan dengan upatjara adat kebesaran daerah Lampung, misalnja diadakan tarian2 nigel, pentjak, tari tumbai dll. jang membawa meriahnja peralatan selalu tarian2 ini, kita dapat pula melihat tiap2 suku dan tingkatan jang dapat dikenal dari pajung adat jang mereka bawa.

Bila upatjara perkawinan telah selesai jang memakan waktu 3 hari 3 malam, maka mempelai wanita dibawa ke rumah laki2. Di tempat mempelai laki2 ini djuga diadakan peralatan jang sederhana. Djadi perkawinan di daerah Lampung adalah bersifat chusus „patriatchat” atau disebut kekuasaan pada bapak.

Djuga perkawinan setjara „Paralel-Caosin” dan „Cross-Caosin” di daerah Lampung diandjurkan, terutama di kalangan bangsawan. Hal ini dimaksud untuk mendjaga supaja darah bangsawan tidak bertjampur aduk. Tapi pada masa sekarang peraturan ini tak dapat dipertahankan lagi, sebab banjak putra/putri Lampung jang sudah merantau ke luar daerah, jang sebagian pula keaslian dari perkawinan ini mulai berkurang.

Demikianlah sekedar bentuk perkawinan di Lampung di kota Menggala jang merupakan pusat adat dari daerah Lampung. Lampung mempunjai penduduk lebih kurang 900.000 dengan luas tanahnja 28.268 km2 jang mempunjai hasil pertanian lada dan pentjarian ikan merupakan kegiatan utama. Daerah Lampung adalah pusat Keradjaan Tulang Bawang pada zaman dahulu jang telah meninggalkan kesan2 dalam kebudajaan adat istiadat asli penduduk Lampung.

Bila kita tindjau Lampung sekarang bukanlah Lampung djaman Tulang Bawang, tapi Lampung sekarang telah madju menurut berputarnja arah revolusi kita jang serba sederhana, dan mulai membentuk kebudajaan2 jang disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Kami putra putri Lampung tak akan diam sadja tanpa perobahan2 dan kini selalu berichtiar mengaktipkan diri di segala lapangan jang disesuaikan dengan pembangunan tanah air, jang sanggup menjumbangkan tenaga dalam meningkatkan taraf kebudajaan jang dipadukan dengan patriotisme jang revolusioner dan jang diabdikan kepada rakjat, tanah air Indonesia, sesuai dengan proklamasi Agustus ’45.