Baca EPUB: lahirnja-pantja-sila

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOEKARNO
Lahirnja Pantja Sila
Kacabenggala Editions

Publisher Note (Kata Pengantar)

Boeng Karno menggembleng dasar-dasar Negara

Dengan perasaan gembira saja terima permintaan penerbit boekoe ini oentoek memberikan sepatab doea patah kata pengantar, serta dengan segala senang bati saja penoehi permintaan terseboet.

Sebagai „Kaitjoo” (ketoea) dari „Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” (Badan Penjelidik Oesaha Persiapan Kemerdekaan) saja mengikoeti dan mendengar sendiri dioetjapkannja pidato ini oleh Boeng Karno, sekarang Presiden Negara kita.

Oleh karena itoe soenggoeh menggembirakan sekali maksoed penerbit, oentoek mentjetak pidato Boeng Karno ini, jang berisi „Lahirnja Pantja Sila”, dalam seboeab boekoe ketjil.

Badan „Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” itoe telah mengadakan sidangnja jang pertama dari tanggal 29 Mei tahoen 1945 sampai dengan tanggal 1 Djoeni 1945 dan jang kedoea dari tanggal 10 Djoeli 1945 sampai dengan tanggal 17 Djoeli 1945.

„Lahirnja Pantja Sila” ini adalah boeah „stenografisch verslag” dari pidato Boeng Karno jang dioetjapkan dengan tidak tertoelis dahoeloe (voor de vuist) dalam sidang jang pertama pada tanggal 1 Djoeni 1945, ketika sidang membitjarakan „Dasar (Beginsel) Negara kita”, sebagai pendjelmaan daripada angan-angannja. Soedah (kata pengantar terputus).

We took the liberty to provide the English version in the next page.

Publisher Note

I was glad to receive a request from the publishers of this book to write a few words of introduction, and it is with great pleasure that I comply with that request.

As Chairman of the Investigating Committee for Preparation of Independence, I was in attendance and myself heard this speech by Bung Karno who is now President of our State.

Therefore it was sure to please me very greatly to learn of the publisher’s intention to print a booklet of this speech of Bung Karno which contains “The Birth of Pantjasila”.

The Investigating Committee for Preparation of Independence met for its first session from May 29th until June 1st, 1945, and for second session from July 10th until July 17th, 1945.

“The Birth of Pantjasila” is a stenographic report of Dr Soekarno’s speech which was delivered extempore on June 1st, 1945, during the first session, when “the Principles of our State” were being discussed that they might be formulated from our ideas.

A speech delivered extempore cannot but show imperfections with regard to its composition. What more important, however, is the contents! If we carefully study “The Birth of Pantjasila” it will be clear that this is a democratic principle. This is the Principle which forms the foundation of our state; it is a principle which had become deeply imbedded in Dr Soekarno’s spirit and become one with it, so that it came out spontaneously, regardless of the strict censorship exercised by the Japanese military administration.

Indeed, a spirit which craves for freedom cannot be suppressed! Dr Soekarno never relinquished the democratic idea during the whole period of the Japanese occupation. He held fast to it and always tried to find a way to bring it to realisation.

We may express the hope the “Pantjasila” will serve as a mainstay and guide for our people in their efforts to achieve independence for their country.

Dr K.R.T Radjiman Wedijodiningrat

Walikukun, July 1st, 1947

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Padoeka toean Ketoea jang moelia!

Sesoedah tiga hari bertoeroet-toeroet anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeloearkan pendapat-pendapatnja, maka sekarang saja mendapat kehormatan dari Padoeka toean Ketoea jang moelia oentoek mengemoekakan poela pendapat saja. Saja akan menetapi permintaan Padoeka toean Ketoea jang moelia. Apakah permintaan Padoeka toean Ketoea jang moelia? Padoeka toean Ketoea jang moelia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai oentoek mengemoekakan dasar Indonésia Merdéka. Dasar inilah nanti akan saja kemoekakan didalam pidato saja ini.

Maäf, beriboe maäf! Banjak anggota telah berpidato, dan dalam pidato meréka itoe dioetarakan hal-hal jang sebenarnja boekan permintaan Padoeka toean Ketoea jang moelia, jaitoe boekan dasarnja Indonésia Merdéka. Menoeroet anggapan saja, jang diminta oléh Padoeka toean Ketoea jang moelia ialah, dalam bahasa Belanda: „Philosofische grondslag” dari pada Indonésia Merdéka. Philosofische grondslag itoelah poendamén, filsafat, pikiran-jang-sedalam-dalamnja, djiwa, hasjrat-jang-sedalam-dalamnja oentoek diatasnja didirikan gedoeng Indonésia Merdéka jang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saja kemoekakan, Padoeka toean Ketoea jang moelia, tetapi lebih dahoeloe izinkanlah saja membitjarakan, memberi tahoekan kepada toean-toean sekalian, apakah jang saja artikan dengan perkataan „merdéka”.

Merdéka boeat saja ialah: „political independence”, politieke onafhankelijkheid. Apakah jang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Toean-toean sekalian! Dengan teroes-terang sadja saja berkata: Tatkala Dokuritu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saja, didalam hati saja banjak chawatir, kalau-kalau banjak anggota jang — saja katakan didalam bahasa asing, maäfkan perkataan ini — „zwaarwichtig” akan perkara jang ketjil-ketjil. „Zwaarwichtig” sampai — kata orang Djawa — „djelimet”. Djikalau soedah membitjarakan hal jang ketjil-ketjil sampai djelimet, baroelah meréka berani menjatakan kemerdékaan.

Toean-toean jang terhormat! Lihatlah didalam sedjarah doenia, lihatlah kepada perdjalanan doenia itoe.

Banjak sekali negara-negara jang merdéka, tetapi bandingkanlah kemerdékaan negara-negara itoe satoe sama lain! Samakah isinja, samakah deradjatnja negara-negara jang merdéka itoe? Djermania merdéka, Saudi Arabia merdéka, Iran merdéka, Tiongkok merdéka, Nippon merdéka, Amérika merdéka, Inggeris merdéka, Roesia merdéka, Mesir merdéka. Namanja semoeanja merdéka, tetapi bandingkanlah isinja!

Alangkah berbédanja isi itoe! Djikalau kita berkata: Sebeloem Negara merdéka, maka haroes lebih dahoeloe ini selesai, ini selesai, itoe selesai, sampai djelimet!, maka saja bertanja kepada toean-toean sekalian kenapa Saudi Arabia merdéka, padahal 80% dari rakjatnja terdiri dari kaoem Badoei, jang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itoe. Batjalah boekoe Armstrong jang mentjeriterakan tentang Ibn Saud! Disitoe ternjata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakjat Arabia sebagian besar beloem mengetahoei bahwa otomobil perloe minoem bensin. Pada soeatoe hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandoem oléh orang-orang Badoei di Saudi Arabia itoe!! Toch Saudi Arabia merdéka!

Lihatlah poela — djikalau toean-toean kehendaki tjontoh jang lebih hébat — Sovjet Roesia! Pada masa Lenin mendirikan negara Sovjet, adakah rakjat Sovjet soedah tjerdas? Seratoes lima poeloeh miljoen rakjat Roesia, adalah rakjat Moesjik jang lebih dari pada 80% tidak dapat membatja dan menoelis; bahkan dari boekoe- boekoe jang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fülöp Miller, toean-toean mengetahoei betapa keadaan rakjat Sovjet Roesia pada waktoe Lenin mendirikan negara Sovjet itoe. Dan kita sekarang disini maoe mendirikan negara Indonésia Merdéka.

Terlaloe banjak matjam-matjam soal kita kemoekakan!

Maäf, P.T. Zimukyokutyoo! Berdirilah saja poenja boeloe, kalau saja membatja toean poenja soerat, jang minta kepada kita soepaja dirantjangkan sampai djelimet hal ini dan itoe dahoeloe semoeanja! Kalau benar semoea hal ini haroes diselesaikan lebih doeloe, sampai djelimet, maka saja tidak akan mengalami Indonésia Merdéka, toean tidak akan mengalami Indonésia Merdéka, kita semoeanja tidak akan mengalami Indonésia Merdéka, sampai dilobang koeboer! (Tepoek tangan rioeh).

Saudara-saudara! Apakah jang dinamakan merdéka? Didalam tahoen ’33 saja telah menoelis satoe risalah. Risalah jang bernama „Mentjapai Indonésia Merdéka”. Maka didalam risalah tahoen ’33 itoe, telah saja katakan, bahwa kemerdékaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, ta’ lain dan ta’ boekan, ialah satoe djembatan, satoe djembatan emas. Saja katakan didalam kitab itoe, bahwa diseberangnja djembatan itoelah kita sempoernakan kita poenja masjarakat.

Ibn Saud mengadakan satoe negara didalam satoe malam, — in one night only! —, kata Armstrong didalam kitabnja. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdéka disatoe malam sesoedah ia masoek kota Riad dengan 6 orang! Sesoedah „djembatan” itoe diletakkan oléh Ibn Saud, maka diseberang djembatan, artinja kemoedian dari pada itoe, Ibn Saud baroelah memperbaiki masjarakat Saudi Arabia. Orang jang tidak dapat membatja diwadjibkan beladjar membatja, orang jang tadinja bergelandangan sebagai nomade jaitoe orang Badoei, diberi peladjaran oléh Ibn Saud djangan bergelandangan, dikasih tempat oentoek bertjotjok-tanam. Nomade diroebah oléh Ibn Saud mendjadi kaoem tani, — semoeanja diseberang djembatan.

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovjet-Roesia Merdéka, telah mempoenjai Djnepprprostoff, dam jang maha besar disoengai Djneppr? Apa ia telah mempoenjai radio-station, jang menjoendoel keangkasa? Apa ia telah mempoenjai keréta-keréta api tjoekoep, oentoek melipoeti seloeroeh negara Roesia? Apakah tiap-tiap orang Roesia pada waktoe Lenin mendirikan Sovjet-Roesia Merdéka telah dapat membatja dan menoelis? Tidak, toean-toean jang terhormat! Diseberang djembatan emas jang diadakan oléh Lenin itoelah, Lenin baroe mengadakan radio-station, baroe mengadakan sekolahan, baroe mengadakan Creche, baroe mengadakan Djnepprprostoff! Maka oléh karena itoe saja minta kepada toean-toean sekalian, djanganlah toean-toean gentar didalam hati, djanganlah mengingat bahwa ini dan itoe lebih doeloe haroes selesai dengan djelimet, dan kalau soedah selesai, baroe kita dapat merdéka. Alangkah berlainannja toean-toean poenja semangat, — djikalau toean-toean demikian —, dengan semangat pemoeda-pemoeda kita jang 2 miljoen banjaknja. Doea miljoen pemoeda ini menjampaikan seroean pada saja, 2 miljoen pemoeda ini semoea berhasrat Indonésia Merdéka Sekarang! (Tepoek tangan rioeh).

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakjat, jang mengetahoei sedjarah, mendjadi zwaarwichtig, mendjadi gentar, padahal sembojan Indonésia Merdéka boekan sekarang sadja kita siarkan? Berpoeloeh-poeloeh tahoen jang laloe, kita telah menjiarkan sembojan Indonésia Merdéka, bahkan sedjak tahoen 1932 dengan njatanjata kita mempoenjai sembojan „INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan „3 kali sekarang”, jaitoe Indonésia Merdéka sekarang, sekarang, sekarang! (Tepoek tangan rioeh).

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan oentoek menjoesoen Indonésia Merdéka, kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar-hati! Saudara-saudara, saja peringatkan sekali lagi, Indonésia Merdéka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak boekan ialah satoe djembatan! Djangan gentar! Djikalau oempamanja kita pada saät sekarang ini diberikan kesempatan oléh Dai Nippon oentoek merdéka, maka dengan moedah Gunseikan diganti dengan orang jang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang jang bernama Abdul Halim. Djikalau oempamanja Butyoo-Butyoo diganti dengan orang- orang Indonésia, pada sekarang ini, sebenarnja kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid, — in one night, didalam satoe malam!

Saudara-saudara, pemoeda-pemoeda jang 2 miljoen, semoeanja bersembojan: Indonésia Merdéka, sekarang! Djikalau oempamanja Balatentera Dai Nippon sekarang menjerahkan oeroesan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangké roemijin; toenggoe doeloe, minta ini dan itoe selesai doeloe, baroe kita berani menerima oeroesan negara Indonésia Merdéka?

(Seroean: Tidak! Tidak!)

Saudara-saudara, kalau oempamanja pada saät sekarang ini Balatentera Dai Nippon menjerahkan oeroesan negara kepada kita, maka satoe menitpoen kita tidak akan menolak, sekarangpoen kita menerima oeroesan itoe, sekarangpoen kita moelai dengan negara Indonésia jang Merdéka!

(Tepoek tangan menggemparkan)

Saudara-saudara, tadi saja berkata, ada perbédaan antara Sovjet-Roesia, Saudi Arabia, Inggeris, Amérika dll. tentang isinja: tetapi ada satoe jang sama, jaitoe, rakjat Saudi Arabia sanggoep mempertahankan negaranja. Moesjik-moesjik di Roesia sanggoep mempertahankan negaranja. Rakjat Amérika sanggoep memperta- hankan negaranja. Rakjat Inggeris sanggoep mempertahankan negaranja. Inilah jang mendjadi minimum-eis. Artinja, kalau ada ketjakapan jang lain, tentoe lebih baik, tetapi manakala sesoeatoe bangsa telah sanggoep mempertahankan negerinja dengan darahnja sendiri, dengan dagingnja sendiri, pada saät itoe bangsa itoe telah masak oentoek kemerdékaan. Kalau bangsa kita, Indonésia, walaupoen dengan bamboe roentjing, saudara-saudara, semoea siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonésia, pada saät itoe bangsa Indonésia adalah siap-sedia, masak oentoek Merdéka. (Tepoek tangan rioeh).

Tjobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannja dengan manoesia. Manoesia poen demikian, saudara-saudara! Ibaratnja, kemerdékaan saja bandingkan dengan perkawinan. Ada jang berani kawin, lekas berani kawin, ada jang takoet kawin. Ada jang berkata: Ah, saja beloem berani kawin, toenggoe doeloe gadjih F. 500. Kalau saja soedah mempoenjai roemah gedoeng, soedah ada permadani, soedah ada lampoe listrik, soedah mempoenjai tempat-tidoer jang mentoel-mentoel, soedah mempoenjai médja-koersi jang selengkap-lengkapnja, soedah mempoenjai séndok-garpoe perak satoe kasét, soedah mempoenjai ini dan itoe, bahkan soedah mempoenjai kinderuitzet, baroelah saja berani kawin.

Ada orang lain jang berkata: saja soedah berani kawin kalau saja soedah mempoenjai médja satoe, koersi empat, jaitoe „médja makan”, lantas satoe zitje, lantas satoe tempat tidoer.

Ada orang jang lebih berani lagi dari itoe, jaitoe saudara-saudara Marhaén! Kalau dia soedah mempoenjai goeboeg sadja dengan satoe tikar, dengan satoe perioek: dia kawin. Marhaén dengan satoe tikar, satoe goeboeg: kawin. Sang klerk dengan satoe médja, empat koersi, satoe zitje, satoe tempat-tidoer: kawin.

Sang Ndoro jang mempoenjai roemah gedoeng, electrische kookplaat, tempat-tidoer, oeang bertimboen-timboen: kawin. Beloem tentoe mana jang lebih gelukkig, beloem tentoe mana jang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat-tidoernja jang mentoel-mentoel, atau Sarinem dan Samioen jang hanja mempoenjai satoe tikar dan satoe perioek, saudara-saudara! (Tepoek tangan, dan tertawa). Tékad hatinja jang perloe, tékad hatinja Samioen kawin dengan satoe tikar dan satoe perioek, dan hati Sang Ndoro jang baroe berani kawin kalau soedah mempoenjai gerozilver satoe kasét plus kinderuitzet, — boeat 3 tahoen lamanja! (Tertawa).

Saudara-saudara, soalnja adalah demikian: — kita ini berani merdéka atau tidak?? Inilah, saudara-saudara sekalian, Padoeka toean Ketoea jang moelia, oekoeran saja jang terlebih doeloe saja kemoekakan sebeloem saja bitjarakan hal-hal jang mengenai dasarnja satoe negara jang merdéka. Saja mendengar oeraian P.T. Soetardjo beberapa hari jang laloe, tatkala mendjawab apakah jang dinamakan merdéka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang didalam hatinja telah merdéka, itoelah kemerdékaan. Saudara-saudara, djika tiap-tiap orang Indonésia jang 70 miljoen ini lebih doeloe haroes merdéka didalam hatinja, sebeloem kita dapat mentjapai political independence, saja oelangi lagi, sampai leboer kiamat kita beloem dapat Indonésia Merdéka! (Tepoek tangan rioeh).

Didalam Indonésia Merdéka itoelah kita memerdékakan rakjat kita!! Didalam Indonésia Merdéka itoelah kita memerdékakan hatinja bangsa kita! Didalam Saudi Arabia Merdéka, Ibn Saud memerdékakan rakjat Arabia satoe persatoe. Didalam Sovjet-Roesia Merdéka Stalin memerdékakan hati bangsa Sovjet-Roesia satoe persatoe.

Saudara-saudara! Sebagai djoega salah seorang pembitjara berkata: kita bangsa Indonésia tidak séhat badan, banjak penjakit malaria, banjak dysenterie, banjak penjakit hongeroedeem, banjak ini banjak itoe. „Séhatkan doeloe bangsa kita, baroe kemoedian merdéka”.

Saja berkata, kalau inipoen haroes diselesaikan lebih doeloe, 20 tahoen lagi kita beloem merdéka. Didalam Indonésia Merdéka itoelah kita menjéhatkan rakjat kita, walaupoen misalnja tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masjarakat kita oentoek menghilangkan penjakit malaria dengan menanam ketépéng kerbau. Didalam Indonésia Merdéka kita melatih pemoeda kita agar soepaja mendjadi koeat, di dalam Indonésia Merdéka kita menjéhatkan rakjat sebaik-baiknja.

Inilah maksoed saja dengan perkataan „djembatan”. Diseberang djembatan, djembatan emas, inilah, baroe kita leloeasa menjoesoen masjarakat Indonésia Merdéka jang gagah, koeat, séhat, kekal dan abadi.

Toean-toean sekalian! Kita sekarang menghadapi satoe saät jang maha penting. Tidakkah kita mengetahoei, sebagaimana telah dioetarakan oléh berpoeloeh-poeloeh pembitjara, bahwa sebenarnja internationaalrecht, hoekoem internasional, menggampangkan pekerdjaan kita? Oentoek menjoesoen, mengadakan, mengakoei satoe negara jang merdéka, tidak diadakan sjarat jang néko-néko, jang mendjelimet, tidak! Sjaratnja sekedar boemi, rakjat, pemerintah jang tegoeh! Ini soedah tjoekoep oentoek internationaalrecht. Tjoekoep, saudara-saudara. Asal ada boeminja, ada rakjatnja, ada pemerintahnja, kemoedian diakoei oléh salah satoe negara jang lain, jang merdéka, inilah jang soedah bernama: merdéka. Tidak perdoeli rakjat dapat batja atau tidak, tidak perdoeli rakjat hébat ékonominja atau tidak, tidak perdoeli rakjat bodoh atau pintar, asal menoeroet hoekoem internasional mempoenjai sjarat-sjarat soeatoe negara merdéka, jaitoe ada rakjatnja, ada boeminja dan ada pemerintahnja, soedahlah ia merdéka.

Djanganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas maoe menjelesaikan lebih doeloe 1001 soal jang boekan-boekan! Sekali lagi saja bertanja: Maoe merdéka apa tidak? Maoe merdéka apa tidak? (Djawab hadirin: Maoe!).

Saudara-saudara! Sesoedah saja bitjarakan tentang hal „merdéka”, maka sekarang saja bitjarakan tentang hal dasar.

Padoeka toean Ketoea jang moelia! Saja mengerti apakah jang padoeka toean Ketoea kehendaki! Padoeka toean Ketoea minta dasar, minta philosophische grondslag, atau, djikalau kita boléh memakai perkataan jang moeloek-moeloek, Padoeka toean Ketoea jang moelia meminta soeatoe „Weltanschauung”, diatas mana kita mendirikan negara Indonésia itoe.

Kita melihat dalam doenia ini, bahwa banjak negeri-negeri jang merdéka, dan banjak diantara negeri-negeri jang merdéka itoe berdiri diata soeatoe „Weltanschauung”. Hitler mendirikan Djermania diatas „national-sozialistische Weltanschauung”, filsafat nasional-sosialisme telah mendjadi dasar negara Djermania jang didirikan oléh Adolf Hitler itoe. Lenin mendirikan negara Sovjet diatas satoe „Weltanschauung”, jaitoe Marxistische, Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon diatas satoe „Weltanschauung”, jaitoe jang dinamakan „Tennoo Koodoo Seishin”. „Diatas Tennoo Koodoo Seishin” inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia diatas satoe „Weltanschauung”, bahkan diatas satoe dasar agama, jaitoe Islam. Demikian itoelah jang diminta oléh Padoeka toean Ketoea jang moelia: Apakah „Weltanschauung" kita, djikalau kita hendak mendirikan Indonésia jang merdéka?

Toean-toean sekalian, „Weltanschauung” soedah lama haroes kita boelatkan didalam hati kita dan didalam pikiran kita, sebeloem Indonésia Merdéka datang. Idealis-idealis diseloeroeh doenia bekerdja mati-matian oentoek mengadakan bermatjam-matjam „Weltanschauung”, bekerdja mati-matian oentoek me-„realiteitkan” „Weltanschauung” meréka itoe. Maka oléh karena itoe, sebenarnja tidak benar perkataan anggota jang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banjak sekali negara-negara merdéka didirikan dengan isi seadanja sadja, menoeroet keadaan. Tidak! Sebab misalnja, walaupoen menoeroet perkataan John Reed: „Sovjet-Roesia didirikan didalam 10 hari oleh Lenin C.S.", — John Reed, didalam kitabnja: „Ten days that shook the world”, „sepoeloeh hari jang menggontjangkan doenia” —, walaupoen Lenin mendirikan Sovjet- Roesia didalam 10 hari, tetapi „Weltanschauung” telah nja tersedia berpoeloeh-poeloeh tahoen. Terlebih doeloe telah tersedia „Weltanschauung”-nja, dan didalam 10 hari itoe hanja sekedar direboet kekoeasaän, dan ditempatkan negara baroe itoe diatas „Weltanschauung” jang soedah ada. Dari 1895 „Weltanschauung” itoe telah disoesoen. Bahkan dalam revolutie 1905, Weltanschauung itoe „ditjobakan”, di „generalerepetitie”-kan.

Lenin didalam revolusi th. 1905 telah mengerdjakan apa jg. dikatakan oléh beliau sendiri „generale-repetitie” dari pada revoloesi tahoen 1917. Soedah lama sebeloem 1917, „Weltanschauung” itoe disedia-sediakan, bahkan diichtiar-ichtiarkan. Kemoedian, hanja dalam 10 hari, sebagai dikatakan oléh John Reed, hanja dalam 10 hari itoelah didirikan negara baroe, direboet kekoeasaan, ditaroehkan kekoeasaan itoe diatas „Weltanschauung” jang telah berpoeloeh-poeloeh tahoen oemoernja itoe. Tidakkah poela Hitler demikian?

Didalam tahoen 1933 Hitler menaiki singgasana kekoeasaan, mendirikan negara Djermania diatas National-sozialistische Weltanschauung.

Tetapi kapankah Hitler moelai menjediakan diapoenja „Weltanschauung” itoe? Boekan didalam tahoen 1933, tetapi didalam tahoen 1921 dan 1922 beliau telah bekerdja, kemoedian mengichtiarkan poela, agar soepaja Naziisme ini, „Weltanschauung” ini, dapat mendjelma dengan diapoenja „Münchener Putsch”, tetapi gagal. Didalam 1933 baroelah datang saätnja jang beliau dapat mereboet kekoeasaan, dan negara diletakkan oleh beliau diatas dasar „Weltanschauung” jang telah dipropagandakan berpoeloeh-poeloeh tahoen itoe.

Maka demikian poela, djika kita hendak mendirikan negara Indonésia Merdéka, Padoeka toean Ketoea, timboellah pertanjaan: Apakah „Weltanschauung” kita, oentoek mendirikan negara Indonésia Merdéka diatasnja? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikata- kan oléh doktor Sun Yat Sen?

Didalam th. 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdéka, tetapi „Weltan- schauung”nja telah dalam tahoen 1885, kalau saja tidak salah, dipikirkan, dirantjangkan. Didalam boekoe „The three people’s principles” San Min Chu I, — Mintsu, Minchuan, Min Sheng, — nasionalisme, demokrasi, sosialisme, telah digambarkan oléh doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itoe, tetapi baroe dalam tahoen 1912 beliau mendirikan negara baroe diatas „Weltanschauung” San Min Chu I itoe, jang telah disediakan terdahoeloe berpoeloeh-poeloeh tahoen.

Kita hendak mendirikan negara Indonésia Merdéka diatas „Weltanschauung” apa? Nasional-sosialisme-kah, Marxisme-kah, San Min Chu I-kah, atau „Weltanschauung” apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanja, banjak pikiran telah dikemoekakan, — matjam-matjam —, tetapi alangkah benarnja perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita haroes mentjari persetoedjoean, mentjari persetoedjoean faham. Kita bersama-sama mentjari persatoean philosophische grondslag, mentjari satoe „Weltanschauung” jang kita semoea setoedjoe. Saja katakan lagi setoedjoe! Jang saudara Yamin setoedjoei, jang Ki Bagoes setoedjoei, jang Ki Hadjar setoedjoei, jang sdr. Sanoesi setoedjoei, jang sdr. Abikoesno setoedjoei, jang sdr. Lim Koen Hian setoedjoei, péndéknja kita semoea mentjari satoe modus. Toean Yamin, ini boekan compromis, tetapi kita bersama-sama mentjari satoe hal jang kita bersama-sama setoedjoei. Apakah itoe? Pertama-tama, saudara-saudara, saja bertanja: Apakah kita hendak mendirikan Indonésia Merdéka oentoek sesoeatoe orang, oentoek sesoeatoe golongan? Mendirikan negara Indonésia Merdéka jang namanja sadja Indonésia Merdéka, tetapi sebenarnja hanja oentoek mengagoengkan satoe orang, oentoek memberi kekoeasaan kepada satoe golongan jang kaja, oentoek memberi kekoeasaan pada satoe golongan bangsawan? Apakah maksoed kita begitoe? Soedah tentoe tidak! Baik saudara-saudara jang bernama kaoem kebangsaan jang disini, maoepoen saudara-saudara jang dinamakan kaoem Islam, semoeanja telah moefakat, bahwa boekan negara jang demikian itoelah kita poenja toedjoean. Kita hendak mendirikan soeatoe negara „semoea boeat semoea”. Boekan boeat satoe orang, boekan boeat satoe golongan, baik golongan bangsawan, maoepoen golongan jang kaja, — tetapi „semoea boeat semoea.” Inilah salah satoe dasar pikiran jang nanti akan saja koepas lagi. Maka, jang selaloe mendengoeng didalam saja poenja djiwa, boekan sadja didalam beberapa hari didalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sedjak tahoen 1918, 25 tahoen lebih, ialah: Dasar pertama, jang baik didjadikan dasar boeat negara Indonésia, ialah dasar kebangsaan.

Kita mendirikan satoe negara kebangsaan Indonésia.

Saja minta, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maäfkanlah saja memakai perkataan „kebangsaan” ini! Sajapoen orang Islam. Tetapi saja minta kepada saudara-saudara, djanganlah saudara-saudara salah faham djikalau saja katakan bahwa dasar pertama boeat Indonésia ialah dasar kebangsaan. Itoe boekan berarti satoe kebangsaan dalam arti jang sempit, tetapi saja menghendaki satoe nationale staat, seperti jang saja katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari jang laloe. Satoe Nationale Staat Indonésia boekan berarti staat jang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka toean adalah orang bangsa Indonésia, bapak toeanpoen adalah orang Indonésia, nénék toeanpoen bangsa Indonésia, datoek-datoek toean, nénék-mojang toeanpoen bangsa Indonésia. Diatas satoe kebangsaan Indonésia, dalam arti jang dimaksoedkan oléh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itoelah, kita dasarkan negara Indonésia.

Satoe Nationale Staat! Hal ini perloe diterangkan lebih dahoeloe, meski saja didalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannja. Marilah saja oeraikan lebih djelas dengan mengambil témpoh sedikit:

Apakah jang dinamakan bangsa? Apakah sjaratnja bangsa?

Menoeroet Renan sjarat bangsa ialah „kehendak akan bersatoe”. Perloe orang-orangnja merasa diri bersatoe dan maoe bersatoe. Ernest Renan menjeboet sjarat bangsa: “le désir d’être ensemble”, jaitoe kehendak akan bersatoe. Menoeroet definisi Ernest Renan, maka jang mendjadi bangsa, jaitoe satoe gerombolan manoesia jang maoe bersatoe, jang merasa dirinja bersatoe.

Kalau kita lihat definisi orang lain, jaitoe definisi Otto Bauer, didalam boekoenja „Die Nationalitätenfrage”, disitoe ditanjakan: “Was ist eine Nation?” dan djawabnja ialah: „Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft”. Inilah menoeroet Otto Bauer satoe natie. (Bangsa adalah satoe persatoean perangai jang timboel karena persatoean nasib).

Tetapi kemarinpoen, tatkala, kalau tidak salah, Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota jang terhormat Mr. Yamin berkata: „verouderd”, „soedah toea”. Mémang toean-toean sekalian, definisi Ernest Renan soedah „verouderd”, soedah toea. Definisi Otto Bauer poen soedah toea. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinja itoe, tatkala Otto Bauer mengadakan definisinja itoe, tatkala itoe beloem timboel satoe wetenschap baroe, satoe ilmoe baroe, jang dinamakan Geopolitik.

Kemarin, kalau tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau toean Moenandar, mengatakan tentang „Persatoean antara orang dan tempat”. Persatoean antara orang dan tempat, toean-toean sekalian, persatoean antara manoesia dan tempatnja!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakjat dari boemi jang ada dibawah kakinja. Ernest Renan dan Otto Bauer hanja sekedar melihat orangnja. Meréka hanja memikirkan „Gemeinschaft”nja dan perasaan orangnja, „l’âme et le désir”. Meréka hanja mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat boemi, boemi jang didiami manoesia itoe. Apakah tempat itoe? Tempat itoe jaitoe tanah-air. Tanah-air itoe adalah satoe kesatoean. Allah s.w.t. memboeat peta doenia, menjoesoen peta doenia. Kalau kita melihat peta doenia, kita dapat menoendjoekkan dimana „kesatoean-kesatoean” disitoe. Seorang anak ketjilpoen, djikalau ia melihat peta doenia, ia dapat menoendjoekkan bahwa kepoelauan Indonésia meroepakan satoe kesatoean. Pada peta itoe dapat ditoendjoekkan satoe kesatoean gerombolan poelau-poelau diantara 2 laoetan jang besar, laoetan Pacific dan laoetan Hindia, dan diantara 2 benoea, jaitoe benoea Asia dan benoea Australia. Seorang anak ketjil dapat mengatakan, bahwa poelau-poelau Djawa, Soematera, Borneo, Selebes, Halmaheira, Kepoelauan Soenda Ketjil, Maloekoe, dan lain-lain poelau ketjil diantaranja, adalah satoe kesatoean. Demikian poela tiap-tiap anak ketjil dapat melihat pada peta boemi, bahwa poelau-poelau Nippon jang membentang pada pinggir Timoer benoea Asia sebagai „golfbreker” atau pengadang gelombang laoetan Pacific, adalah satoe kesatoean.

Anak ketjilpoen dapat melihat, bahwa tanah India adalah satoe kesatoean di Asia Selatan, dibatasi oléh laoetan Hindia jang loeas dan goenoeng Himalaya. Seorang anak ketjil poela dapat mengatakan, bahwa kepoelauan Inggeris adalah satoe kesatoean.

Griekenland atau Joenani dapat ditoendjoekkan sebagai satoe kesatoean poela. Itoe ditaroehkan oléh Allah s.w.t. demikian roepa. Boekan Sparta sadja, boekan Athene sadja, boekan Macedonia sadja, tetapi Sparta plus Athene plus Macedonia plus daerah Joenani jang lain-lain, segenap kepoelauan Joenani, adalah satoe kesatoean.

Maka manakah jang dinamakan tanah toempah-darah kita, tanah-air kita? Menoeroet geopolitik, maka Indonésialah tanah-air kita. Indonésia jang boelat, boekan Djawa sadja, boekan Soematera sadja, atau Borneo sadja atau Selebes sadja, atau Ambon sadja, atau Maloekoe sadja, tetapi segenap kepoelauan jang ditoendjoek oléh Allah s.w.t. mendjadi soeatoe kesatoean antara doea benoea dan doea samoedera, itoelah tanah-air kita!

Maka djikalau saja ingat perhoeboengan antara orang dan tempat, antara rakjat dan boeminja, maka tidak tjoekoeplah definisi jang dikata- kan oléh Ernest Renan dan Otto Bauer itoe. Tidak tjoekoep „le désir d’être ensemble”, tidak tjoekoep definisi Otto Bauer „aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft” itoe. Maäf saudara-saudara, saja mengambil tjontoh Minangkabau. Diantara bangsa di Indonésia, jang paling ada „désir d’être ensemble”, adalah rakjat Minangkabau, jang banjaknja kira-kira 2½ miljoen. Rakjat ini merasa dirinja satoe keloearga. Tetapi Minangkabau boekan satoe kesatoean, melainkan hanja satoe bahagian ketjil dari pada satoe kesatoean! Pendoedoek Jogja poen adalah merasa “le désir d’être ensemble”, tetapi Jogjapoen hanja satoe bahagian ketjil dari pada satoe kesatoean. Di Djawa-Barat rakjat Pasoendan sangat merasakan “le désir d’être ensemble”, tetapi Soendapoen hanja satoe bahagian ketjil dari pada satoe kesatoean.

Péndék kata, bangsa Indonésia, Natie Indonésia, boekanlah sekedar satoe golongan orang jang hidoep dengan “le désir d’être ensemble” diatas daerah jang ketjil seperti Minangkabau, atau Madoera, atau Jogja, atau Soenda, atau Boegis, tetapi bangsa Indonésia ialah seloeroeh manoesia-manoesia jang, menoeroet geopolitik jang telah ditentoekan oléh Allah s.w.t., tinggal dikesatoeannja semoea poelau-poelau Indonésia dari oedjoeng Oetara Soematera sampai ke Papoea! Seloeroehnja!, karena antara manoesia 70.000.000 ini soedah ada “le désir d’être ensemble", soedah terdjadi “Charaktergemeinschaft”! Natie Indonésia, bangsa Indonésia, oemmat Indonésia djoemlah orangnja adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 jang telah mendjadi satoe, satoe, sekali lagi satoe! (Tepoek tangan hébat).

Kesinilah kita semoea haroes menoedjoe: mendirikan satoe Nationale Staat, diatas kesatoean boemi Indonésia dari Oedjoeng Soematera sampai ke Papoea. Saja jakin tidak ada satoe golongan diantara toean-toean jang tidak moefakat, baik Islam maoepoen golongan jang dinamakan „golongan kebangsaan”. Kesinilah kita haroes menoedjoe semoeanja.

Saudara-saudara, djangan orang mengira, bahwa tiap-tiap negara-merdéka adalah satoe nationale staat! Boekan Pruisen, boekan Beieren, boekan Saksen adalah nationale staat, tetapi seloeroeh Djermanialah satoe nationale staat. Boekan bagian ketjil-ketjil, boekan Venetia, boekan Lombardia, tetapi seloeroeh Italialah, jaitoe seloeroeh semenandjoeng di Laoet Tengah, jang dioetara dibatasi oléh pegoenoengan Alpen, adalah nationale staat. Boekan Benggala, boekan Punjab, boekan Bihar dan Orissa, tetapi seloeroeh segitiga Indialah nanti haroes mendjadi nationale staat.

Demikian poela boekan semoea negeri-negeri ditanah air kita jang merdéka didjaman dahoeloe, adalah nationale staàt. Kita hanja 2 kali mengalami nationale staat, jaitoe didjaman Sri Widjaja dan didjaman Madjapahit. Diloear dari itoe kita tidak mengalami nationale staat. Saja berkata dengan penoeh hormat kepada kita poenja radja-radja daholoe, saja berkata dengan beriboe-riboe hormat kepada Sultan Agoeng Hanjokrokoesoemo, bahwa Mataram, meskipoen merdéka, boekan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Praboe Siliwangi di Padjadjaran, saja berkata, bahwa keradjaannja boekan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Peraboe Sultan Agoeng Tirtajasa, saja berkata, bahwa keradjaannja di Banten, meskipoen merdéka, boekan satoe nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoeddin di Soelawesi jang telah membentoek keradjaan Boegis, saja berkata, bahwa tanah Boegis jang merdéka itoe boekan nationale staat.

Nationale staat hanja Indonésia seloeroehnja, jang telah berdiri didjaman Sri Widjaja dan Madjapahit, dan jang kini poela kita haroes dirikan bersama-sama. Karena itoe, djikalau toean-toean terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara jang pertama: Kebangsaan Indonésia. Kebangsaan Indonésia jang boelat! Boekan kebangsaan Djawa, boekan kebangsaan Soematera, boekan kebangsaan Borneo, Soelawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonésia, jang bersama-sama mendjadi dasar satoe nationale staat. Maäf, Toean Lim Koen Hian, Toean tidak maoe akan kebangsaan? Didalam pidato Toean, waktoe ditanja sekali lagi oléh Padoeka Toean Fuku-Kaityoo, Toean mendjawab: „Saja tidak maoe akan kebangsaan”.

Toean Lim Koen Hian :

Boekan begitoe. Ada samboengannja lagi.

Toean Soekarno :

Kalau begitoe, maäf, dan saja mengoetjapkan terima kasih, karena toean Lim Koen Hian poen menjetoedjoei dasar kebangsaan. Saja tahoe, banjak djoega orang-orang Tionghoa klasik jang tidak maoe akan dasar kebangsaan, karena mereka memeloek faham kosmopolitisme, jang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahoeloe banjak jang kena penjakit kosmopolitisme, sehingga meréka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semoeanja „menschheid”, „peri kemanoesiaan”. Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengadjaran kepada rakjat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saja mengakoe, pada waktoe saja beroemoer 16 tahoen, doedoek dibangkoe sekolah H.B.S. di Soerabaja, saja dipengaroehi oléh seorang sosialis jang bernama A. Baars, jang memberi peladjaran kepada saja, — katanja: djangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanoesiaan sedoenia, djangan mempoenjai rasa kebangsaan sedikitpoen. Itoe terdjadi pada tahoen 17. Tetapi pada tahoen 1918, alhamdoelillah, ada orang lain jang memperingatkan saja, — ialah Dr. Sun Yat Sen! Didalam toelisannja “San Min Chu I” atau “The Three People’s Principles”, saja mendapat peladjaran jang membongkar kosmopolitisme jang diadjarkan oléh A. Baars itoe. Dalam hati saja sedjak itoe tertanamlah rasa kebangsaan, oléh pengaroeh “The Three people’s principles” itoe. Maka oléh karena itoe, djikalau seloeroeh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai pengandjoernja, jakinlah, bahwa Boeng Karno djoega seorang Indonésia jang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnja merasa berterimakasih kepada Dr. Sun Yat Sen, sampai masoek kelobang koeboer. (Anggauta- anggauta Tionghoa bertepoek tangan).

Saudara-saudara. Tetapi......... tetapi......... mémang prinsip kebangsaan ini ada bahajanja! Bahajanja ialah moengkin orang meroentjingkan nasionalisme mendjadi chauvinisme, sehingga berfaham „ Indonésia über Alles”. Inilah bahajanja! Kita tjinta tanah air jang satoe, merasa berbangsa jang satoe, mempoenjai bahasa jang satoe. Tetapi Tanah Air kita Indonésia hanja satoe bahagian ketjil sadja dari pada doenia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: „Saja seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saja adalah peri kemanoesiaan”. „My nationalism is humanity”.

Kebangsaan jang kita andjoerkan boekan kebangsaan jang menjendiri, boekan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, jang mengatakan “Deutschland über Alles”, tidak ada jang setinggi Djermania, jang katanja bangsanja minoeljo, beramboet djagoeng dan bermata biroe, „bangsa Aria”, jang dianggapnja tertinggi diatas doenia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganja. Djangan kita berdiri diatas azas demikian, Toean-toean, djangan berkata, bahwa bangsa Indonésialah jang terbagoes dan termoelja, serta merèmèhkan bangsa lain. Kita haroes menoedjoe persatoean doenia, persaudaraan doenia.

Kita boekan sadja haroes mendirikan negara Indonésia Merdéka, tetapi kita haroes menoedjoe poela kepada kekeloeargaan bangsa-bangsa.

Djoestroe inilah prinsip saja jang kedoea. Inilah filosofisch principe jang nomor doea, jang saja oesoelkan kepada Toean-Toean, jang boleh saja namakan „internasionalisme”. Tetapi djikalau saja katakan internasionalisme, boekanlah saja bermaksoed kosmopolitisme, jang tidak maoe adanja kebangsaan, jang mengatakan tidak ada Indonésia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggeris, tidak ada Amérika, dan lain-lainnja.

Internasionalisme tidak dapat hidoep soeboer, kalau tidak berakar didalam boeminja nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidoep soeboër, kalau tidak hidoep dalam taman-sarinja internasionalisme. Djadi, doea hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, jang pertama-tama saja oesoelkan kepada toean-toean sekalian, adalah bergandengan erat satoe sama lain.

Kemoedian, apakah dasar jang ke-3? Dasar itoe ialah dasar moefakat, dasar perwakilan, dasar permoesjawaratan. Negara Indonésia boekan satoe negara oentoek satoe orang, boekan satoe negara oentoek satoe golongan, walaupoen golongan kaja. Tetapi kita mendirikan negara „semoea boeat semoea”, „satoe boeat semoea, semoea boeat satoe”. Saja jakin, bahwa sjarat jang moetlak oentoek koeatnja negara Indonésia ialah permoesjawaratan, perwakilan.

Oentoek pihak Islam, inilah tempat jang terbaik oentoek memelihara agama. Kita, sajapoen, adalah orang Islam, — maäf beriboe-riboe maäf, keislaman saja djaoeh beloem sempoerna, — tetapi kalau saudara-saudara memboeka saja poenja dada, dan melihat saja poenja hati, toean-toean akan dapati tidak lain tidak boekan hati Islam. Dan hati Islam Boeng Karno ini, ingin mèmbela Islam dalam moefakat, dalam permoesjawaratan. Dengan tjara moefakat, kita perbaiki segala hal, djoega keselamatan agama, jaitoe dengan djalan pembitjaraan atau permoesjawaratan didalam Badan Perwakilan Rakjat.

Apa-apa jang beloem memoeaskan, kita bitjarakan didalam permoesjawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita oentoek mengemoekakan toentoetan-toentoetan Islam. Disinilah kita oesoelkan kepada pemimpin-pemimpin rakjat, apa-apa jang kita rasa perloe bagi perbaikan. Djikalau mémang kita rakjat Islam, marilah kita bekerdja sehébat-hébatnja, agar-soepaja sebagian jang terbesar dari pada koersi-koersi badan perwakilan Rakjat jang kita adakan, didoedoeki oléh oetoesan-oetoesan Islam. Djikalau mémang rakjat Indonésia rakjat jg. bagian besarnja rakjat Islam, dan djikalau mémang Islam disini agama jang hidoep berkobar-kobar didalam kalangan rakjat, marilah kita-pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakjat itoe, agar soepaja mengerahkan sebanjak moengkin oetoesan-oetoesan Islam kedalam badan perwakilan ini. Ibaratnja badan perwakilan Rakjat 100 orang anggautanja, marilah kita bekerdja, bekerdja sekeras-kerasnja, agar soepaja 60, 70, 80, 90 oetoesan jang doedoek dalam perwakilan rakjat ini orang Islam, pemoeka-pemoeka Islam. Dengan sendirinja hoekoem-hoekoem jang keloear dari badan perwakilan rakjat itoe, hoekoem Islam poela. Malahan saja jakin, djikalau hal jang demikian itoe njata terdjadi, baroelah boléh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidoep didalam djiwa rakjat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% oetoesan adalah orang Islam, pemoeka-pemoeka Islam, oelama-oelama Islam. Maka saja berkata, baroe djikalau demikian, baroe djikalau demikian, hidoeplah Islam Indonésia, dan boekan Islam jang hanja diatas bibir sadja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah didalam sidang ini berapa % jang memberikan soearanja kepada Islam? Maäf seriboe maäf, saja tanja hal itoe! Bagi saja hal itoe adalah satoe boekti, bahwa Islam beloem hidoep sehidoep-hidoepnja didalam kalangan rakjat. Oléh karena itoe, saja minta kepada saudara-saudara sekalian, baik jang boekan Islam, maoepoen teroetama jang Islam, setoedjoeilah prinsip nomor 3 ini, jaitoe prinsip permoesjawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perdjoangan sehébat-hébatnja. Tidak ada satoe staat jang hidoep betoel-betoel hidoep, djikalau didalam badan-perwakilannja tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Tjandradimoeka, kalau tidak ada perdjoangan faham didalamnja. Baik didalam staat Islam, maoepoen didalam staat Kristen, perdjoa- ngan selamanja ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip moefakat, prinsip perwakilan rakjat! Didalam perwakilan rakjat saudara-saudara Islam dan saudara-saudara Kristen bekerdjalah sehébat-hébatnja. Kalau misalnja orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter didalam peratoeran-peratoeran negara Indonésia haroes menoeroet Indjil. bekerdjalah mati-matian, agar soepaja sebagian besar dari pada oetoesan-oetoesan jang masoek badan perwakilan Indonésia ialah orang Kristen. Itoe adil,- fair play! Tidak ada satoe negara boléh dikatakan negara hidoep, kalau tidak ada perdjoangan didalamnja. Djangan kira di Toerki tidak ada perdjoangan. Djangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergéséran pikiran. Allah Soebhanahoewa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar soepaja dalam pergaoelan kita sehari-hari, kita selaloe bergosok, seakan-akan menoemboek membersihkan gabah, soepaja keloear dari padanja beras, dan beras itoe akan mendjadi nasi Indonésia jang sebaik-baiknja. Terimalah saudara- saudara, prinsip nomor 3, jaitoe prinsip permoesjawaratan!

Prinsip No. 4 sekarang saja oesoelkan. Saja didalam 3 hari ini beloem mendengarkan prinsip itoe, jaitoe prinsip kesedjahteraan. Prinsip: tidak akan ada kemiskinan didalam Indonésia Merdéka. Saja katakan tadi: prinsipnja San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita haroes: Apakah kita maoe Indonésia Merdéka, jang kaoem kapitalnja meradjaléla, ataukah jang semoea rakjatnja sedjahtera, jang semoea orang tjoekoep makan, tjoekoep pakaian, hidoep dalam kesedjahteraan, merasa dipangkoe oléh Iboe Pertiwi jang tjoekoep memberi sandang-pangan kepadanja? Mana jang kita pilih, saudara-saudara? Djangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakjat soedah ada, kita dengan sendirinja soedah mentjapai kesedjahteraan ini. Kita soedah lihat, dinegara-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democratie. Tetapi tidakkah di Eropah djoestroe kaoem kapitalis meradjaléla?

Di Amerika ada soeatoe badan perwakilan rakjat, dan tidakkah di Amerika kaoem Kapitalis meradjaléla? Tidakkah diseloeroeh benoea Barat kaoem Kapitalis meradjaléla? Padahal ada badan perwakilan rakjat! Ta’ lain ta’ boekan sebabnja, ialah oléh karena badan-badan perwakilan rakjat jang diadakan disana itoe, sekedar menoeroet resèpnja Fransche Revolutie. Ta’ lain ta’ boekan adalah jang dinamakan democratie disana itoe hanjalah politieke democratie sadja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, — ta’ ada keadilan sosial, tidak ada ekonomische democratie sama sekali. Saudara-saudara, saja ingat akan kalimat seorang pemimpin Perantjis, Jean Jaurès, jang menggambarkan politieke democratie. Didalam Parlementaire Democratie”, kata Jean Jaurès, „didalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempoenjai hak sama. Hak politiek jang sama, tiap-tiap orang boléh memilih, tiap-tiap orang boléh masoek didalam parlement. Tetapi adakah Sociale rechtvaardigheid, adakah kenjataan kesedjahteraan dikalangan rakjat?” Maka oléh karena itoe Jean Jaurès berkata lagi:

„Wakil kaoem boeroeh jang mempoenjai hak politiek itoe, didalam Parlement dapat mendjatoehkan minister. Ia seperti Radja! Tetapi didalam diapoenja tempat bekerdja, didalam paberik, — sekarang ia mendjatoehkan minister, bésok dia dapat dilempar keloear kedjalan raja, dibikin werkloos, tidak dapat makan soeatoe apa”. Adakah keadaan jang demikian ini jang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saja oesoelkan: Kalau kita mentjari demokrasi, hendaknja boekan demokrasi barat, tetapi permoesjawaratan jang memberi hidoep, ja’ni politiek-economische democratie jang mampoe mendatangkan kesedjahteraan sosial! Rakjat Indonésia soedah lama bitjara tentang hal ini. Apakah jang dimaksoed dengan Ratoe-Adil? Jang dimaksoed dengan faham Ratoe-Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakjat ingin sedjahtera. Rakjat jang tadinja merasa dirinja koerang makan koerang pakaian, mentjiptakan doenia-baroe jang didalamnja ada keadilan, dibawah pimpinan Ratoe-Adil. Maka oléh karena itoe, djikalau kita mémang betoel-betoel mengerti, mengingat, mentjinta rakjat Indonésia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, jaitoe boekan sadja persamaan politiek, saudara-saudara, tetapi poen diatas lapangan ekonomi kita haroes mengadakan persamaan, artinja kesedjahteraan bersama jang sebaik-baiknja.

Saudara-saudara, badan permoesjawaratan jang kita akan boeat, hendaknja boekan badan permoesjawaratan politieke democratie sadja, tetapi badan jang bersama dengan masjarakat dapat mewoedjoedkan doea prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bitjarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara, didalam badan permoesjawaratan. Saja oelangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Djoega didalam oeroesan kepala negara, saja teroes terang, saja tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oléh karena monarchie „vooronderstelt erfelijkheid”, — toeroen-temoeroen. Saja seorang Islam, saja demokrat karena saja orang Islam, saja menghendaki moefakat, maka saja minta soepaja tiap-tiap kepala negara poen dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maoepoen Amiroel moe’minin, haroes dipilih oléh rakjat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Djikalau pada soeatoe hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnja, mendjadi kepala negara Indonésia, dan mangkat, meninggal doenia, djangan anaknja Ki Hadikoesoemo dengan sendirinja, dengan automatis mendjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oléh karena itoe saja tidak moefakat kepada prinsip monarchie itoe.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saja telah mengemoekakan 4 prinsip:

1. Kebangsaan Indonésia.

2. Internasionalisme, — atau peri-kemanoesiaan.

3. Moefakat, atau demokrasi.

4. Kesedjahteraan sosial.

Prinsip jang kelima hendaknja: Menjoesoen Indonésia Merdéka dengan bertaqwa kepada Toehan jang Maha Esa.

Prinsip Ketoehanan! Boekan sadja bangsa Indonésia bertoehan, tetapi masing-masing orang Indonésia hendaknja bertoehan Toehannja sendiri. Jang Kristen menjembah Toehan menoeroet petoendjoek Isa al Masih, jang Islam bertoehan menoeroet petoendjoek Nabi Moehamad s.a.w., orang Boeddha mendjalankan ibadatnja menoeroet kitab-kitab jang ada padanja. Tetapi marilah kita semoeanja ber-Toehan. Hendaknja negara Indonésia ialah negara jang tiap-tiap orangnja dapat menjembah Toehannja dengan tjara jang leloeasa. Segenap rakjat hendaknja ber-Toehan setjara keboedajaan, ja’ni dengan tiada „egoisme-agama”. Dan hendaknja Negara Indonésia satoe Negara jang bertoehan!

Marilah kita amalkan, djalankan agama, baik Islam, maoepoen Kristen, dengan tjara jang berkeadaban. Apakah tjara jang berkeadaban itoe? Ialah hormat-menghormati satoe sama lain. (Tepoek tangan sebagian hadirin). Nabi Moehamad s.a.w. telah memberi boekti jang tjoekoep tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa poen telah menoendjoekkan verdraagzaamheid itoe. Marilah kita didalam Indonésia Merdéka jang kita soesoen ini, sesoeai dengan itoe, menjatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketoehanan jang berkeboedajaan, Ketoehanan jang berboedi pekerti jang loehoer, Ketoehanan jang hormat-menghormati satoe sama lain. Hatikoe akan berpesta raja, djikalau saudara-saudara menjetoedjoei bahwa Negara Indonésia Merdéka berazaskan Ketoehanan Jang Maha Esa!

Disinilah, dalam pengakoean azas jang kelima inilah, saudara-saudara, segenap agama jang ada di Indonésia sekarang ini, akan mendapat tempat jang sebaik-baiknja. Dan Negara kita akan bertoehan poela!

Ingatlah, prinsip ketiga, permoefakatan, perwakilan, disitoelah tempatnja kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan tjara jang tidak onverdraagzaam, jaitoe dengan tjara jang berkeboedajaan!

Saudara-saudara! „Dasar-dasar Negara” telah saja oesoelkan. Lima bilangannja. Inikah Pantja Dharma? Boekan! Nama Pantja Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewadjiban, sedang kita membitjarakan dasar. Saja senang kepada simbolik. Simbolik angka poela. Roekoen Islam lima djoemlahnja. Djari kita lima setangan. Kita mempoenjai Pantja Inderia. Apa lagi jang lima bilangannja? (Seorang jang hadir: Pendawa lima). Pendawapoen lima orangnja. Sekarangpoen banjaknja prinsip: kebangsaan, internasionalisme, moefakat, kesedjahteraan dan ketoehanan, lima poela bilangannja.

Namanja boekan Pantja Dharma, tetapi saja namakan ini dengan petoendjoek seorang teman kita ahli bahasa namanja ialah Pantja Sila. Sila artinja azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itoelah kita mendirikan Negara Indonésia, kekal dan abadi. (Tepoek tangan rioeh).

Atau, barangkali ada saudara-saudara jang tidak soeka akan bilangan lima itoe? Saja boléh peras, sehingga tinggal 3 sadja. Saudara-saudara tanja kepada saja, apakah „perasan” jang tiga itoe? Berpoeloeh-poeloeh tahoen soedah saja pikirkan dia, ialah dasar-dasarnja Indonésia Merdéka, Weltanschauung kita. Doea dasar jang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan peri-kemanoesiaan, saja peras mendjadi satoe: itoelah jang dahoeloe saja namakan socio-nationalisme.

Dan Demokrasi jang boekan demokrasi barat, tetapi politiek-economische democratie, jaitoe politieke demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesedjahteraan, saja peraskan poela mendjadi satoe: Inilah jang doeloe saja namakan socio-democratie. Tinggal lagi ketoehanan jang menghormati satoe sama lain.

Djadi jang asalnja lima itoe telah mendjadi tiga: socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketoehanan. Kalau Toean senang kepada simbolik tiga, ambillah jang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semoea Toean-toean senang kepada trisila ini, dan minta satoe, satoe dasar sadja? Baiklah, saja djadikan satoe, saja koempoelkan lagi mendjadi satoe. Apakah jang satoe itoe?

Sabagai tadi telah saja katakan: kita mendirikan negara Indonésia, jang kita semoea haroes mendoekoengnja. Semoea boeat semoea! Boekan Kristen boeat Indonésia, boekan golongan Islam boeat Indonésia, boekan Hadikoesoemo boeat Indonésia, boekan Van Eck boeat Indonésia, boekan Nitisemito jang kaja boeat Indonésia, tetapi Indonésia boeat Indonésia, — semoea boeat semoea! Djikalau saja peras jang lima mendjadi tiga, dan jang tiga mendjadi satoe, maka dapatlah saja satoe perkataan Indonésia jang toelèn, jaitoe perkataan „gotong-rojong”. Negara Indo- nésia jang kita dirikan haroeslah negara gotong-rojong! Alangkah hebatnja! Negara Gotong Rojong! (Tepoek tangan rioeh-rendah).

„Gotong-Rojong” adalah faham jang dinamis, lebih dinamis dari „kekeloeargaan”, saudara-saudara! Kekeloeargaan adałah satoe faham jang statis, tetapi gotong rojong menggambarkan satoe oesaha, satoe amal, satoe pekerdjaan, jang dinamakan anggota jang terhormat Soekardjo satoe karjo, satoe gawé. Marilah kita menjelesaikan karjo, gawé, pekerdjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-rojong adalah pembantingan-toelang bersama, pemerasan-keringat bersama, perdjoangan bantoe-binantoe bersama. Amal semoea boeat kepentingan semoea, keringat semoea boeat kebahagiaan semoea. Ho-lopis-koentoel-baris boeat kepentingan bersama! Itoelah Gotong Rojong! (Tepoek tangan rioeh-rendah).

Prinsip Gotong Rojong diantara jang kaja dan jang tidak kaja, antara jang Islam dan jang Kristen, antara jang boekan Indonésia toelen dengan peranakan jang mendjadi bangsa Indonésia. Inilah, saudara-saudara, jang saja oesoelkan kepada saudara-saudara.

Pantjasila mendjadi Trisila, Trisila mendjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada Toean-toean, mana jang Toean-toean pilih: trisila, ekasila ataukah pantjasila? Isinja telah saja katakan kepada saudara-saudara semoeanja. Prinsip-prinsip seperti jang saja oesoelkan kepada saudara- saudara ini, adalah prinsip oentoek Indonésia Merdéka jang abadi. Poeloehan tahoen dadakoe telah menggelora dengan prinsip-prinsip itoe. Tetapi djangan loepa, kita hidoep didalam masa peperangan, saudara-saudara. Didalam masa peperangan itoelah kita mendirikan negåra Indonésia, didalam goentoernja peperangan! Bahkan saja mengoetjap sjoekoer alhamdoelillah kepada Allah Soebhanahoe wata’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonésia boekan didalam sinarnja boelan poernama, tetapi dibawah paloe godam peperangan dan didalam api peperangan. Timboellah Indonésia Merdéka, Indonésia jang gembléngan, Indonésia Merdéka jang digembléng dalam api peperangan, dan Indonésia Merdéka jang demikian itoe adalah negara Indonésia jang koeat, boekan negara Indonésia jang lambat laoen mendjadi boeboer. Karena itoelah saja mengoetjap sjoekoer kepada Allah s.w.t.

Berhoeboeng dengan itoe, sebagai jang dioesoelkan oléh beberapa pembitjara-pembitjara tadi, barangkali perloe diadakan noodmaatregel, peratoeran jang bersifat sementara. Tetapi dasarnja, isinja Indonésia Merdéka jang kekal abadi menoeroet pendapat saja, haroeslah Pantja Sila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itoelah haroes Weltanschauung kita. Entah saudara-saudara moefakatinja atau tidak, tetapi saja berdjoang sedjak tahoen 1918 sampai 1945 sekarang ini oentoek Weltanschauung itoe. Oentoek membentoek nasionalistis Indonésia, oentoek ke- bangsaan Indonésia; oentoek kebangsaan Indonésia jang hidoep didalam peri-kemanoesiaan; oentoek permoefakatan; oentoek sociale rechtvaardigheid; oentoek ke-Toehanan. Pantja Sila, itoelah jang berkobar-kobar didalam dada saja sedjak berpoeloeh tahoen. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada saudara-saudara. Tetapi saja sendiri mengerti seinsjaf-insjafnja, bahwa tidak ada satoe Weltanschauung dapat mendjelma dengan sendirinja, mendjadi realiteit dengan sendirinja. Tidak ada satoe Weltanschauung dapat mendjadi kenjataan, mendjadi realiteit, djika tidak dengan perdjoangan!

Djanganpoen Weltanschauung jang diadakan oléh manoesia, djanganpoen jang diadakan oléh Hitler, oléh Stalin, oléh Lenin, oléh Sun Yat Sen!

„De Mensch”, — manoesia! —, haroes perdjoangkan itoe. Zonder perdjoangan itoe tidaklah ia akan mendjadi realiteit! Leninisme tidak bisa mendjadi realiteit zonder perdjoangan seloeroeh rakjat Roesia, San Min Chu I tidak dapat mendjadi kenjataan zonder perdjoangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saja berkata lebih lagi dari itoe: zonder perdjoangan manoesia, tidak ada satoe hal agama, tidak ada satoe tjita-tjita agama, jang dapat mendjadi realitejt. Djanganpoen boeatan manoesia, sedangkan perintah Toehan jang tertoelis didalam kitab Qoer’an, zwart op wit (tertoelis diatas kertas), tidak dapat mendjelma mendjadi realiteit zonder perdjoangan manoesia jang dinamakan oemmat Islam. Begitoe poela perkataan-perkataan jang tertoelis didalam kitab Indjil, tjita-tjita jang termasoek didalamnja, tidak dapat mendjelma zonder perdjoangan oemmat Kristen.

Maka dari itoe, djikalau bangsa Indonésia ingin soepaja Pantja Sila jang saja oesoelkan itoe, mendjadi satoe realiteit, ja’ni djikalau kita ingin hidoep mendjadi satoe bangsa, satoe nationaliteit jang merdéka, ingin hidoep sebagai anggota doenia jang merdéka, jang penoeh dengan peri-kemanoesiaan, ingin hidoep diatas dasar permoeśjawaratan, ingin hidoep sempoerna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidoep dengan sedjahtera dan aman, dengan ke-Toehanan jang loeas dan sempoerna, — djanganlah loepa akan sjarat oentoek menjelenggarakannja, ialah perdjoangan, perdjoangan, dan sekali lagi perdjoangan. Djangan mengira bahwa dengan berdirinja negara Indonésia Merdéka itoe perdjoangan kita telah berachir. Tidak! Bahkan saja berkata: Didalam Indonésia Merdéka itoe perdjoangan kita haroes berdjalan teroes, hanja lain sifatnja dengan perdjoangan sekarang, lain tjoraknja. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa jang bersatoe padoe, berdjoang teroes menjelenggarakan apa jang kita tjita-tjitakan didalam Pantja Sila. Dan teroetama didalam zaman peperangan ini, jakinlah, insjaflah, tanamkanlah dalam kalboe saudara-saudara, bahwa Indonésia Merdéka tidak dapat datang djika bangsa Indonésia tidak berani mengambil risiko, — tidak berani terdjoen menjelami moetiara didalam samoedera jang sedalam-dalamnja. Djikalau bangsa Indonésia tidak bersatoe dan tidak menékad-mati-matian oentoek mentjapai merdéka, tidaklah kemerdékaan Indonésia itoe akan mendjadi milik bangsa Indonésia boeat selama-lamanja, sampai keachir djaman! Kemerdékaan hanjalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, jang djiwanja berkobar-kobar dengan tekad „Merdéka, — merdéka atau mati”! (Tepoek tangan rioeh).

Saudara-saudara! Demikianlah saja poenja djawab atas pertanjaan Padoeka Toean Ketoea. Saja minta maäf, bahwa pidato saja ini mendjadi pandjang lébar, dan soedah meminta tempo jang sedikit lama, dan saja djoega minta maäf, karena saja telah mengadakan kritik terhadap tjatatan Zimukyokutyoo jang saja anggap „verschrikkelijk zwaarwichtig” itoe.

Terima kasih!

Tepoek tangan rioeh rendah dari segenap hadirin.