Baca EPUB: lahirnja-manusia-penjair

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SITOR SITUMORANG
Lahirnja Manusia Penjair
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini merupakan pidato Sitor Situmorang pada malam peringatan Chairil Anwar yang diadakan di Balai Perdjurit pada 28 April 1953. Kemudian, pidatonya dimuat dalam majalah Zenith, No. 5, Th. III pada 5 Mei 1953.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Pringatan Chairil Anwar

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertachta

TIDAK ketahuan pada usia berapa Chairil Anwar mengalami kematian neneknja, kepada siapa ia mempersembahkan sadjak ini. Tetapi sadjak ini ditulisnja pada umur 20 tahun. Sadjak jang ketjil ini merupakan tugu jang besar lagi djaja dari pada kesedihan dan penerimaan kematian. Terbajang dimata paras neneknja jang menggambarkan sesuatu pada Chairil Anwar, sesuatu jang mengatasi ratapan dan jang menjingkap keabadian dalam mana kepedihan berpisah dikenal sebagai permulaan.

Permulaan lahirnja seorang penjair. Setiap kepenjairan berdasar tanja jang dihadapkan ketidakkekalan. Antara saat kesedaran pertama akan hal ini dan detik terachir jang akan melengkapkan sadjak, merentanglah kehidupan jang dapat diikuti dalam sadjak-sadjaknja.

tjemara menderai sampai djauh,
terasa hari akan djadi malam,
ada beberapa dahan ditingkap merapuh,
dipukul angin jang terpendam.

Demikianlah penjair jang telah mempersaksikan kematian, pada saat penghabisan mem-pendam-nja sendiri. Tak terutjapkan lagi sebab kata terachir selalu pada sepi.

Sadjak tak dapat dipertjakapkan melainkan dibatja untuk dimengerti atau tidak. Sekira semuanja dapat dipertjakapkan tak perlu penjair menuliskan sadjaknja. Hal2 jang gampang dirumuskan telah tjukup memekakkan telinga dan menggelapkan pandangan pada hal-hal jang terlalu biasa tapi jang tak semua orang dapat merumuskannja.

Chairil Anwar sebagai penjair bukan tak mendapat pengakuan. Malahan ada penghargaan jang berlebih-lebihan jang tak diperlukannja. Tapi ada pula pendapat jang hendak menjunglapkan pengertian, berkata bahwa Chairil Anwar itu landjutan sesuatu dalam arti bahwa penjair itu bukan sesuatu jang lengkap bulat dalam dirinja. Kelengkapan Chairil itulah jang menjebabkan ia sanggup berkata djelas pada orang jang berkesanggupan mengertinja. Mengerti Chairil bukan suatu kelebihan tapi suatu kematangan. Jang tak mengerti bukan taman se-„tanahair” lagi. Pada mereka ini harus kita mempergunakan bahasa lain, apa sadja, tapi bukan puisi.

Apakah Chairil Anwar itu seorang penjair besar? Bila buat pangkat penjair besar dipakai ukuran daja pemikiran, daja-bentuk sastera, Chairil tak dapat diberi gelaran besar. Kalau tuan memerlukan penjair besar, bersabarlah, mungkin kehidupan akan memberikannja dibumi Indonesia ini. Atau tidak, atau terlalu lama baru akan timbul. Sebab hal ini bersangkutan dengan tradisi sastera, ja, seluruh lapangan kebudajaan dengan aksi dan reaksinja. Chairil Anwar adalah aksi dan reaksi dari pada rasahidup jang menjintuh kehidupan sekelompokan manusia perasa dan pemikir di Indonesia ini. Individualisme dan achirnja nihilisme. Bukan sebagai hasil pemikiran dinegeri ini, akan tetapi sebagai hasil keadaan dimana manusia ditempatkan, kadang2 merasa terkatung2 sebagai korban, tapi dalam mana penjair dan orang jang mengerti puisi tak rela hidup berserah.

Chairil Anwar sebagai penjair jang dilahirkan, katakanlah terkutuk atau diberkati lahir untuk menjair me-rasa-kan udara kosong ini. Tak ada manusia berpikir jang dapat berita dalam nihilisme. Maka mendesaklah tuntutan penetapan harga hal-hal jang dihadapi sedjak dari pada tjinta, sedih, chianat mendjalar sampai kepada benda mati misalnja guling, bantal (Rivai Apin). Buat apa semua ini dan kenapa?

Tiada siap djawaban achirat dengan neraka atau sorganja. Tuhan sendiri tidak lagi menimbulkan takut atau penjerahan. Ketidakmampuan pertjaja akan hal diluar hidup, djusteru pada detik ini, antara kata pertama dan terachir tjerita jang didjalani manusia.

Waktu bertanja2 dan mentjari terbatas pasti, djadi pertanjaan mutlak menghadapi dihadapan. Dari hari kehari dari sadjak kesadjak Chairil Anwar mendjawab dan bertanja silih-berganti. Dalam pergantisilihan djawab dan tanja, penjair demikian akan terus ada, selama masih ada manusia jang tak mampu lagi mentjari djawaban dalam achirat.

Kenjataan ini djuga mendjelaskan sifat kepenjairan seperti jang didukung oleh Chairil. Bukan tak ada kepenjairan berdasarkan rasa hidup lain, serta penolakannja terhadap manusia sebagai Chairil. Tetapi kepenjairan apapun jang timbul tak ada jang lahir selain daripada pemberontakan atau penjerahan-dalam-pemberontakan.

Diluar sadjak2nja Chairil tak pernah menulis pendjelasan rasahidupnja sebagai hasil pemikiran. Pemikiran Chairil ialah pemikiran penjair. Baginja kepenjairan itu—selain kelahiran—mendjadi tugas. Bukan tugas jang mengharapkan pensiun atau bintang djasa, akan tetapi jang dipikulkan dan dipikul sendiri. Itulah kepenjairannja, ia penjair. Bukan krani, bukan pradjurit atau separoh pegawai. Melainkan lengkap dengan gajanja.

Kehidupannja memperlihatkan gaja jang resah, tadjam menusuk, berdenjut2, seperti pandangan matanja dan kelantjipan mukanja. Kesetimbangan manusia tergontjang dari menit kemenit dilingkungan ia hidup. Usaha mendapat kesetimbangan, mendapat ketusan rasa jang berpetjahan harus tjepat-tepat. Inilah tuntutan kepada kepenjairannja. Lalu ia mendjawab dalam kalimat pendek2-tadjam, menghenjakkan. Nafas pandjang diserahkan kepada masa lain jang memungkinkan gaja alunan besar.

Tapi ia tidak hanja bernafas pendek. Sadjaknja jang pertama dan kalimat2nja pada saat terachir mendjelaskan pada kita bahwa pada diri penjair ini terpendam djuga angin jang beralun pandjang.


Foto koleksi bg. kesenian Djawatan Kebudajaan P. P. K.


Tapi kita kembali kepada tradisi dan bersama ini pula pada sudut teknik sastera. Darimanakah ia harus mewarisi nafas pandjang. Toch bukan dari Armijn Pane? Amir Hamzah pun tidak. Ia hanja mewarisi kata2 bahasa Indonesia sebagai materi jang diberinja kandungan tjap Chairil dan dengan demikian mentjipta kata2 sendiri. Inilah kelengkapan penjair Chairil Anwar. Bila kita menutup kumpulan sadjaknja serta lupa akan kalimat2nja masih mengaum ditelinga suara Chairil Anwar. Puisi jang berusaha melepaskan diri dari materi. Mendjangkau hasil mutlak. Tapi tak mungkin oleh siapapun. Tapi hal ini akan tetap merongrong rasa setiap penjair.

Namun Chairil dalam nafas pendeknja sering selintas kilat menjintuh hal-hal jang dapat dipertjakapkan sepandjang malam dan belum habis.

Atau ini
Peleburan dalam tiada
dan sekali akan menghadap tjahaja.

Seumur hiduppun jang bukan-penjair mentjari kesatuan dalam mistik ia tak akan dapat mendekati, djangankan mengerti kalimat2 ini.

Sesungguhnja kemudaremadjaan kita membelokkan perhatian dulu dari pada jang inti. Walaupun kita tak bersalah benar, maklumlah masanja masa sembojan, lalu.

Aku ini binatang Djalang
Dari kumpulannja terbuang

ditjatat. Ukuran militantie orang mudaremadja. Tapi Chairil pernah djuga merumuskan militantie manusia, strijdbaar, bukan dengan lembing atau stengun, akan tetapi dengan kediriannja, tapipun siap untuk naik baricade djika kedirian ini bakal dibunuh oleh terror peniadaan manusia oleh kepertjajaan jang didjadikan sistem atau dogma. Dengarlah

Pemuda2 jang lintjah jang tua2 keras, bermata tadjam,
Mimpinja kemerdekaan bintang2nja kepastian
ada disisiku selama mendjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka jang berani hidup
Aku suka pada mereka jang masuk menemu malam
Malam jang berwangi mimpi, terlutjut debu…
Waktu djalan. Aku tak tahu apa nasib waktu!

Sungguh lain mimpi anak jang tua-tua keras! Berapa pulalah orang jang dapat hidup sonder djaminan pensiun dan perpegangan tjita2 bahwa segalanja akan berachir baik asal mau pertjaja? Hidup sonder mandat!



Sadjak „Kepada Kawan” sama botjahnja dengan kalimat „Aku ini binatang Djalang” pada usia keremadjaan. Chairil pun pernah remadja. Ja, ia tua dan remadja sekaligus. Siapakah jang lebih tua dari pada manusia jang dapat menulis sadjak seperti „Sebuah Kamar”? sama tuanja dengan hidup dan pengertian. Tapi sambil lalu terselit djuga disana kalimat:

Keramaian pendjara sepi selalu

Tjarilah dalam sadjak2 sebelum Chairil kalimat seperti itu. Ini sambil lalu. Lalu

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir
sempat

tulislah buku banjak2 tapi sebelum mengerti kalimat2 seperti ini tak usah bitjara tentang puisi dan sastera.

Bila Chairil berpaling dalam hidup ia masih didalamnja, seperti semua machluk jang masih bernafas, akan tetapi bernjanji-lah Chairil lagu „Beta Pattiradjawane” dan „Tjintaku djauh dipulang”. Jang bukan penjair tidak ambil bagian (Ch. A.) Dan memang tidak perlu sebab dengan itu ternjata ia hanja memerlukan jang lain. Sungguh tak ada alasan bersombong djika mendjadi penjair atau tidak, artinja terhadap sesama manusia, akan tetapi hati ingin membikin turut kebagian segala manusia dalam kebesaran manusia jang dapat bernjanji.

Beta ada dimalam, ada disiang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Kesepian mendjadi hukuman pada kesombongan jang begini jang menantang jang Mutlak dan keabadiannja. Dan seakan2 main2, seperti desir lidah gelombang dipantai berpasir putih, sunji manusia—penuh dewata, penjair dan mereka jang mengerti. Siapa jang mau turut menari diatas tifa demikian sampai pada tanahair Kesenian menghadap benua lama dan baru. Luntjurkanlah perahu, kalungkan ole-ole buat Kekasih dan terseduhlah mereka

Perahu jang bersama ‘kan merapuh!
Manisku djauh dipulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Kesepian jang terlutjut tjinta atau dendam—dalam lagu kematian! Ditengah2 kita telah lahir seorang manusia-penjair. Batjalah dan kenangkan!