Publisher Note
Karya ini pertama kali diterbitkan dalam Ilmu Marxis (No. 1 Th. 1964) atas nama H. Porkas.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
KARL MARX mati miskin, tetapi warisan jang ditinggalkannja tidak terhingga kajanja. Dan sifat warisan itu sedemikian rupa sehingga semakin banjak diambil dan dipakai semakin besar dan kaja pulalah ia: Marxisme. Lenin paling banjak mengambil dan memakainja, ia pulalah jang paling banjak memperkaja warisan itu, sehingga zaman kita, dan kiranja zaman² sesudah kita djuga, menggandengkan nama Lenin dengan Marx: Marxisme-Leninisme.
Kaum reaksioner boleh memaki, membentji Marx, tetapi mau tidak mau mereka mengakui, bahwa Marx merupakan kekuatan jang perkasa. Kini pada paroh kedua abad keduapuluh sepertiga umatmanusia membangun sosialisme, membuat ide Marx djadi kenjataan; sementara itu didunia kapitalis ide² Marx mendjelma pula mendjadi kekuatan² materiil jang hebat dalam wudjud gerakan² dan organisasi² massa untuk mendobrak kapitalisme. Dunia kapitalis gojah karena pukulan² dahsjat klas buruh, kaum pekerdja, jang didjiwai oleh adjaran² Karl Marx.
DENGAN berlalunja waktu semakin banjak orang menjadari, bahwa ia adalah pewaris dari Karl Marx. Kenjataan hidup, kodrat perkembangan sedjarah, membawa kesadaran Marxis kedalam kalbu semakin banjak manusia.
Bagaimana Marx sampai dapat meninggalkan warisan sedemikian itu? Antara lain karena ia merasa dirinja pewaris bukan sadja dari kebudajaan bangsanja, Djerman, tetapi djuga dari seluruh kebudajaan umatmanusia.
Marx membuka selebar-lebarnja segala pintu dan djendela dalam otak dan hatinja bagi pantjaran tjahaja kebudajaan umatmanusia zamannja dan segala zaman sebelumnja. Otaknja adalah bagaikan laboratorium raksasa dengan segala matjam peralatan jang memungkinkan proses² beraneka ragam. Memisah-misah sesuatu kedalam unsur² seketjil-ketjilnja, meneliti segala seginja, meneropong asal-usulnja, memperhatikan sifat²nja dalam hubungan dengan jang lain, menjimpulkan hakiki wataknja, membajangkan perspektifnja. Marx tidak henti-hentinja berusaha menjempurnakan peralatannja, perkakas² berpikir. Ia tidak didjemu-djemunja memperdalam dan memperluas pengetahuannja boleh dikatakan dalam setiap tjabang ilmu: ilmu² alam, ilmu bahasa dan sastera, ilmu² sosial, filsafat. Orang bisa beladjar banjak dari Marx, salahsatu daripadanja adalah: beladjar, beladjar, sekali lagi beladjar, dan beladjar dari sebanjak mungkin segi.
FILOSOF HINDU Vivekananda mengandjurkan supaja orang mempunjai „hati jang dalam seperti samudra dan luas seperti tjakrawala tiada bertepi”. Suatu peribahasa Indonesia mengatakan: „Dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu!” Kiranja kedalaman hati manusia tiada batasnja seperti keluasaannja djuga tiada batasnja. Dan menilik perkembangan ilmu pengetahuan sedjak dahulukala sampai sekarang, dapat pula kita katakan, bahwa kedalaman dan keluasan otak manusia djuga tiada batasnja.
Djadi bagi MANUSIA, umatmanusia, hati dan otak punja kedalaman dan keluasan jang tak terhingga. Tetapi bagi manusia perseorangan, jang umurnja sangat terbatas, kedalaman dan keluasan itu punja batas²nja.
Marl Marx adalah manusia jang menjadari sedalam-dalamnja kontradiksi antara keterbatasan kemampuan seseorang manusia dan ketidakterbatasan kemampuan Manusia sebagai umat. Sebaik-baik pekerdjaannja ia rasa masih kurang baik, tetapi jang sudah pasti adalah, bahwa ia selalu berusaha untuk mempeladjari segala sesuatu sedalam-dalamnja dan seluas-luasnja. Karena ia mendjelami sesuatu sedalam-dalamnja, ia menjadari kebutuhan mutlak untuk mendjeladjahinja seluas-luasnja. Maka Marx mengkombinasikan kedalaman dan keluasan, sehingga musuh²nja jang paling besar sekalipun tidak bisa menuduh ia pitjik karena hanja mendalami sadja ataupun dangkal karena hanja meluas dipermukaan sadja.
Marx memikroskopi unsur seketjil-ketjilnja dan kemudian meneropong keseluruhan hal-ihwal jang bertalian dengan unsur itu. Dalam „Das Kapital” ia memikroskopi sel masjarakat kapitalis — barangdagangan — dan menghubungkannja dengan lautan kemasjarakatan — zaman komune primitif (masa keruntuhan), zaman pemilikan budak, feodalisme, kapitalisme.
Metode kerdja meneliti sesuatu sedalam-dalamnja dan seluas-luasnja, tidak-boleh-tidak membawa Marx kedasar, hakekat, segalasesuatu jang dipeladjarinja dan djuga kedjaring talitemali sesuatu itu, hal mana memaksa Marx untuk memberi penilaian kepada segalasesuatu jang muntjul pada permukaan kesadarannja.
Kedjudjuran dan kekonsekwenan Marx, jang djuga diakui oleh banjak sardjana bukan-Marxis seperti Joseph Schumpeter dan Albert Einstein memungkinkannja untuk melihat setjara objektif nilai, peranan, kwalitet segala sesuatu jang berada dalam ruang observasinja. Dengan demikian Marx setjara objektif menilai hal-ihwal menurut nilai sesungguhnja, menetapkan mana unsur jang pokok mana jang non-pokok, elemen jang menentukan atau bukan-menentukan, faktor primer atau sekunder dsb.
Metode kerdja Marx tersebut dipadukan dengan sikapnja membukakan hati dan otaknja seluas-luasnja bagi kebudajaan umatmanusia, tidak-boleh-tidak memungkinkan otaknja menangkap setjara tepat keadaan masjarakat dan alam sekitarnja dan hukum² perkembangan jang terkandung didalamnja. Otaknja mentjerminkan setjara tepat keadaan objektif, menangkap hukum² objektif jang menggerakkannja jang Marx beri nama materialisme-dialektik.
Metode berpikir ini membawa Marx kepada tanggapan „bahwa manusia pertama-tama harus terlebih dahulu makan, minum, berpakaian dan punja atap diatas kepalanja sebelum ia dapat menjelenggarakan politik, ilmu, seni, agama dsb.; bahwa karena itu produksi daripada bahan² kebutuhan hidup dan karenanja tingkat perkembangan ekonomi jang ditjapai oleh masjarakat tertentu atau selama masa tertentu merupakan dasar atas mana lembaga² negara, pandangan² hukum, seni dan malahan gagasan² tentang agama, daripada masjarakat jang bersangkutan berkembang, dan dalam tjahaja mana hal² tersebut belakangan ini harus diterangkan, dan bukan sebaliknja, sebagaimana orang lakukan sampai sekarang.” 1
Metode berpikir demikian membawa Marx kepada tanggapan bahwa proletariat merupakan tenaga pimpinan dalam masjarakat kapitalis dan bahwa klas inilah jang menentukan haridepan umatmanusia.
Materialisme-dialektik mahaperkasa, bukan karena „tuah” atau „sabda” Marx, „sabda nabi”, sebagaimana suka ditjemoohkan oleh musuh² Marxisme, tetapi djustru karena materialisme-dialektik terlepas dari otak Marx. Materialisme-dialektik perkasa, karena ia merupakan hukum jang objektif jang terdapat dalam segala halihwal dalam alam dan masjarakat, djadi hukum jang bergerak tanpa memperdulikan apakah ada orang jang pertjaja atau tidak pertjaja, suka atau tidak suka.
Djasa Marx terletak dalam hal, bahwa ia bersama sahabat-karibnja Friedrich Engels adalah orang jang pertama-tama menemukan, mengungkapkan dan mengumumkan hukum² tersebut, hal mana sangat membantu umatmanusia untuk menggunakan hukum² itu setjara sadar dan meminimisasi korban djiwa, tenaga dan waktu, dengan demikian mempertjepat kemadjuan umatmanusia.
Seandainja Karl Marx tidak lahir kedunia ini, hukum² objektif itu lambatlaun akan diketemukan djuga oleh manusia, tetapi dengan Marx masa mentjari dan merangkak-rangkak dalam kegelapan bagi umatmanusia amat dipersingkat.
MARXISME lahir pada waktunja. Keadaan objektif memberi gambaran sebagai berikut: kapitalisme mulai memperlihatkan borok²nja — krisis umum ekonomi pertama pada tahun 1825, „overproduksi”, penutupan² perusahaan, pengangguran, stagnasi ekonomi, pemelaratan kaum buruh; kaum buruh mulai muntjul sebagai kekuatan baru — pemberontakan pertama klas buruh di Lyons pada tahun 1831, memuntjaknja gerakan klas buruh nasional jang pertama, kaum Chartis Inggris, antara th. 1838-1842, penjusunan organisasi² buruh di-mana² dan pemogokan² —; dunia pengetahuan mentjapai puntjak² ditiga negeri terkemuka waktu itu: di Djerman filsafat klasik (dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach), di Inggris teori ekonomi klasik (teori nilai Adam Smith dan Ricardo), di Perantjis teori² sosialisme (teori² sosialisme utopi Saint Simon dan Charles Fourier). Dalam keadaan objektif itu hidup seorang manusia jang mentjapai kedewasaan dan jang terlatih kritis djudjur, konsekwen dan tanpa purbasangka dalam pemikiran — Karl Marx. Kontak antara keadaan objektif itu dengan keadaan subjektif Karl Marx melahirkan materialisme-dialektik atau lebih tepat: membikin terang hukum² objektif jang terselubung sebelumnja. (1840an).
Materialisme-dialektik adalah perpaduan antara pendialektikan materialisme Feuerbach jang non-dialektis dan pematerialisan dialektika Hegel jang non-materialis dan pengilmiahan sosialisme Perantjis jang utopis.
Dengan teori baru ini Marx berusaha mengungkapkan hakekat dari masjarakat jang dihadapinja, kapitalisme. Berdasarkan teori ini dan dengan mengerahkan segala sendjata jang ada dalam perbendaharaannja — ekonomi, sedjarah, filsafat, matematika, kimia, sastra — ia „peras” rahasia-rahasia daripada barangdagangan, sel masjarakat kapitalis, dan melihat didalamnja benih-benih jang akan membawa kapitalisme kepada kehantjurannja.
PERHATIAN Marx kepada nasib umatmanusia boleh dikatakan tidak terhingga. Penghisapan dan penindasan di-tempat² jang djauh dari pusat² lalu-lintas dunia sekalipun seperti Makasar dan Banjuwangi dinegeri kita tidak luput dari perhatiannja. Dalam mahakaranja Das Kapital Marx mengatakan bahwa di Sulawesi pemuda² ditjulik, disimpan dalam pendjara² rahasia di Makassar menunggu pengiriman mereka kepasar-budak di Djawa. Seterusnja ia katakan: „Dimana sadja mereka (Belanda — H.P.) mengindjakkan kakinja, kemusnahan dan pembasmian pendudukpun menjusul. Banjuwangi, suatu provinsi dipulau Djawa, mempunjai penduduk lebih dari 80.000 pada tahun 1750, pada tahun 1811 hanja 18.000. Sungguh perdagangan manis!”
Kemudian — Marx bukan hanja mendalami ilmu, mentjari kebenaran, tetapi sebagai sardjana dan manusia sedjati ia berketetapan hati untuk menjatakan kebenaran jang diperolehnja kepada umatmanusia, untuk mengungkapkan segala kebobrokan masjarakat perbudakan kapitalis apapun akibatnja bagi dirinja pribadi. Dan bukan sadja ia njatakan kebenaran itu dengan kata dan pena, tetapi ia djuga giat mengamalkannja. Ia aktif dalam kantjah pergolakan hidup, mengorganisasi dan memimpin buruh dalam pertempurannja melawan kapitalisme. Ia adalah djiwa dari Internasionale I (1864-1872), persatuan internasional pertama dari klas buruh.
Sekali Marx menemukan kebenaran ilmiah ia menjerahkan seluruh djiwa-raganja, hidupnja, bagi realisasinja. Ia merupakan tjontoh jang indah daripada manusia jang menjatukan perkataan dengan perbuatan, manusia paripurna, manusia jang mengabdikan dirinja kepada Rakjat, kepada umatmanusia.
Dalam memperingati 50 tahun wafatnja Karl Marx 30 tahun jang lalu, Bung Karno menulis, bahwa Marx adalah manusia hebat, „jang ketetapan hatinja dan keinsjafan akan kebiasaannja mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Germania jang sakti dan tiada terkalahkan itu”2 , manusia jang tiada kesal dan tjapek bekerdja dan berusaha untuk realisasi gagasan jang mendjadi tudjuan hidupnja: pembebasan kaum buruh dari penghisapan dan penindasan, dengan demikian menghapuskan penghisapan atas manusia oleh manusia untuk selama-lamanja.
BANJAK jang djeladjahi dan diungkapkan oleh Karl Marx, tetapi mutiara dari segala mutiara adalah adjaran bahwa klas buruh, proletariat, dikodratkan oleh sedjarah untuk menumbangkan kapitalisme jang sudah lewat masa progresifnja, dan untuk membangun dunia baru, peradaban baru, jang mengungguli segala peradaban sebelumnja disegala lapangan.
Kini sesudah proletariat Sovjet membangun negara perkasa, menggagahkan fasisme Hitler, dan mengirim sputnik dan manusia pertama keruangangkasa, dan sesudah proletariat Tiongkok dan negeri² sosialis lainnja mentjapai sukses² jang mengagumkan disegala bidang, dalil Marx itu nampaknja hal jang lumrah sadja. Tetapi djika diingat, bahwa dalil itu dikemukakan ketika proletariat dimana-mana didunia dianggap sebagai lapisan terbawah dalam masjarakat, sebagai kumpulan orang tjompang-tjamping, butahuruf, bodoh, kotor, pernjataan bahwa klas buruh adalah pembangun peradaban jang paling modern, jang paling tinggi, sungguh merupakan hasil pemikiran jang zenial. Berkat teori materialisme-dialektik, penimpulan dan pengembangan setjara kreatif segala ilmu sedjak manusia berpikir, Marx dapat meneropong djauh kebelakang maupun kedepan.
Adjaran tersebut mahapenting, karena ia memberi kesadaran bagi kaum buruh siapa ia sesungguhnja, tugas apa jang dipikulkan sedjarah diatas pundaknja. Kesadaran itu membuat ia tahu harga diri dan ini memberi kekuatan jang tak terhingga baginja. Kaum buruh mendjadi sadar, bahwa ia adalah pemegang obor dalam estafet gerak-madju umatmanusia.
DI INDONESIA segera setelah lahirnja klas buruh pada awal abad ini, ia mulai berkenalan dengan Marx. Revolusi Rusia tahun 1905 jang diilhami oleh Marxisme, djuga berkumandang di Indonesia. Kemudian I.S.D.V. (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) menjebarkan benih² Marxisme dikalangan kaum buruh. Revolusi Oktober 1917 oleh kaum bolsjevik dan berdirinja negara sosialis pertama, URSS, menjadikan kaum buruh, bahwa Marxisme bukan sadja adjaran jang ilmiah, objektif, gagasan jang paling benar dan adil, tetapi pula suatu ide jang dapat diwudjudkan mendjadi kenjataan.
Dalam mentjari-tjari djalannja sendiri achirnja kaum buruh Indonesia menemukan pimpinan sedjati mereka jang dengan tak gentar mengibarkan tinggi-tinggi pandji² Marxisme: PKI lahir pada tanggal 23 Mei 1920.
Tetapi perkenalan dengan Marx bukanlah hal jang sederhana dan mudah. Soalnja ialah bahwa Marx mengungkapkan dunia jang amat luas dan dalam jang perlu diarungi dan diselami dengan keberanian, ketabahan, kemauan, ketjerdasan, semangat beladjar jang menjala-njala dalam setiap keadaan dan pemaduan kebenaran jang diperdapat dengan praktek. Perkenalan dengan Marx berarti suatu proses jang membutuhkan tenaga dan waktu seperti halnja mendaki gunung atau mendjelami dasar lautan.
Pengalaman² pahit pada banjak peristiwa sedjarah mengadjarkan kepada klas buruh Indonesia bahwa ia sudah mulai mengenal Marx tetapi belum tjukup mengenal Marx, misalnja pemberontakan ’26, tahun² pertama Revolusi Agustus ’45. Tetapi semangat jang tak kundjung padam untuk beladjar lebih baik lagi achirnja membawa klas buruh pada tingkatan baru pada tahun 1951. Klas buruh kini sudah mengenal baik Marx. Klas buruh sudah berhasil meng-Indonesia-kan Marxisme. Klas buruh memadukan Revolusi Indonesia dengan Marxisme.
Klas buruh mulai membuktikan, bahwa Rakjat Indonesia bukan sadja pewaris kebudajaan nenek-mojang, dikepulauan ini, tetapi adalah djuga pewaris dari Karl Marx, pewaris dari kebudajaan umatmanusia. Sedjak tahun 1951 kita tjatat kemadjuan² besar dalam berbagai bidang kehidupan nasional, misalnja pembatalan KMB, pengambilalihan perusahaan² Belanda, penumpasan pemberontakan PRRI-Permesta, penghantjuran DI-Kartosuwirjo, pengembalian Irian Barat, tersebarnja gagasan Manipol dan NASAKOM. Dalam mewudjudkan hal² tersebut klas buruh Indonesia memainkan peranan jang penting, hal mana tidak akan mungkin tanpa pemaduan praktek revolusi Indonesia dengan Marxisme.
DENGAN MENGENAL MARX otak dan hati terbuka lebar² bagi nasib Rakjat Indonesia, bagi sedjarah Rakjat Indonesia, bagi haridepan Rakjat Indonesia. Dengan mengenal Marx orang mengetahui siapa Rakjat dan siapa musuh²nja, didalamnegeri, siapa sahabat² dan musuh²nja diluarnegeri. Dengan mengenal Marx orang lebih tjinta kepada Rakjat dan tanahairnja, kepada bahasanja, seninja, kebudajaannja, keindahan alamnja. „Dengan tiada menjesal dan dengan senjuman dibibir mereka menuju ketianggantungan, menerima putusan hukuman pendjara atau pengasingan ketanah pembuangan”3 , demikian lukisan D.N. Aidit tentang orang² Komunis jang mentjetuskan Pemberontakan patriotik pada tahun 1926.
Dengan mengenal Marx orang lebih bentji kepada musuh² Rakjat. Dengan mengenal Marx orang terbebas dari purbasangka antara warganegara dengan asal-keturunan jang berlainan, antara sukubangsa. Dengan menggunakan metode materialisme-dialektik Marx orang menjadari betapa tepatnja semboyan „Bhineka Tunggal Ika” dan betapa isolasi alam selama berabad-abad mengakibatkan tingkat perkembangan jang berlainan pada sukubangsa² jang semula berasal dari satu rumpun. Dengan mengenal Marx orang menjadari betapa pentingnja PANTIJA SILA sebagai alat-pemersatu bangsa Indonesia.
Dengan mengenal Marx orang mendjadi patriot sedjati. Dalam perdjuangan bersendjata dalam Revolusi Agustus ’45 orang-orang Komunis bersama-sama dengan patriot² lainnja berada dalam barisan terdepan, dan dalam perdjuangan selandjutnja melawan imperialisme orang² Komunis senantiasa berada dibarisan terdepan baik dibidang politik maupun dibidang ekonomi dan kebudajaan.
Dengan mengenal Marx orang mendjadi anggota umatmanusia sedjati, terbebas dari purbasangka perbedaan warna-kulit, kepertjajaan dan kebangsaan, dan mendjadi peserta dalam perdjuangan umatmanusia melawan imperialisme untuk Sosialisme. Orang² Komunis Indonesia perasa mengenai segala kedjadian internasional. Mereka turut bergembira dengan kemenangan proletariat Djepang dalam Pemilihan Umum, turut prihatin dengan meninggalnja seorang pedjuang klas buruh di Eropa atau Amerika Latin, turut menangis dan marah dengan gugurnja pedjuang kemerdekaan Patrice Lumumba, ikut marah dan memprotes tindakan² rasialis di Amerika Serikat atau di Afrika Selatan, menjokong perdjuangan anti-imperialis Rakjat Vietnam Selatan dan segala Rakjat² jang anti-imperialis dimuka bumi.
Orang² Komunis Indonesia menganggap Homerus, Dante, Shakespeare, Beethoven, Bach, Chopin, Rembrandt, Leonardo da Vinci, Michaelangelo, Gorky, Mayakovsky, Lu Hsun, Rabindranath Tagore, Paul Robeson dll. sebagai miliknja sendiri. Orang² Komunis Indonesia dengan gairah mengikuti setiap prestasi dalam bidang apa sadja di-negeri manapun djuga, dan turut bergembira dengan setiap sumbangan bagi kemadjuan umatmanusia.
Dengan mengenal Marx dan mengamalkan adjaran²nja orang mendjadi anggota terhormat dalam barisan besar untuk menggempur segala musuh² Rakjat, imperialisme, terutama imperialisme Amerika, sisa² feodalisme, kaum kapitalis birokrat menudju kemerdekaan nasional jang penuh, kebebasan, masjarakat adil dan makmur, dan persahabatan kekal antara semua bangsa-bangsa.
Maka tidak heranlah kalau Aidit, Lukman, Njoto, pemimpin² dan anggota² lain partainja klas buruh — PKI — tidak mempunjai tjita² jang lebih tinggi daripada mendjadi Marxis sedjati, Marxis-Leninis, jaitu mendjadi patriot Indonesia sedjati sekaligus anggota umatmanusia, internasionalis, sedjati.
Maka wadjarlah bila seorang Marxis-Leninis Indonesia terharu mendengar atau menjanjikan „Lagu Pudjaan kepada Partai”:
serta terbajanglah baginja kaum buruh, Rakjat pekerdja Indonesia, angkatan demi angkatan, masa demi masa, bergulat, berkorban, berdjuang terus, dan disamping mereka kaum pekerdja semua negeri........... serta terbajang pulalah baginja mahaputera umatmanusia, Karl Marx, jang hidupnja merupakan satu seruan perkasa:
1Karl Marx and Frederick Engels, Selected Works, Vol. II, Moscow 1955, p. 167.
2Dibawah Bendera Revolusi, 1963, hml. 219.
3Lahirnja PKI dan perkembangannja, Djakarta, 1955, hlm 16.