Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.
The entirety of this book was taken from the site of Sébastien Lallement. We humbly made some modification to the chapter’s title and date to ease the reading process.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Tahun ini tahun 1999, dan bulan ini bulan April,- sudah limapuluh tahun meninggalnya seorang penyair pelopor Angkatan 45 dalam sastra dan perpuisian. Tepatnya Chairil Anwar meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta. Dia lahir tanggal 26 Juli 1922 di Medan, Sumut. Dan kisah ini sebagian kecil dari hidup kami bersama ketika itu. Jauh di Tanjungpandan, Belitung sana, kampung halamanku, ketika aku masih di SD, aku sudah sangat menyukai sastra-budaya. Baru kelas 5 SD aku sudah membaca MADAH KELANA karangan Sanusi Pane, aku sangat suka sajak-sajaknya, tetapi sebenarnya aku tak begitu mengerti apa maksud sebenarnya. Juga aku mengenal sastra melalui yang mungkin orang katakan "roman picisan" dari berbagai penerbitan di Medan, misalnya CERDAS, tulisannya ketika itu TJERDAS, lalu LUKISAN PUJANGGA. Karena suka sastra dan mengagumi beberapa pengarang seperti HAMKA yang kata orang "pengarang roman air-mata", lalu Yousuf Soueb, Merayu Sukma, Chairil Anwar yang baru saja naik daun ketika itu, dan juga Sitor Si-tumorang, dan Mozasa nama lain dari Mohamad Zain Saidi. Mosaza ini redaktur bahkan pimpinan Redaksi majalah WAKTU ketika itu di Medan. Tentu saja aku ingat benar, pertama kali aku membuat cerpen, dimuat di majalah WAKTU tahun 1948 di Medan itu, kalau tak salah nomor 36! Mulai umur 13 aku sudah mulai belajar mengarang. Dan aku ingat benar ketika itu, betapa aku sukanya akan puisi Chairil Anwar itu. Hebat amat puisinya itu,kataku dalam hati. Siapa yang takkan tergugah oleh sajaknya yang bernama AKU, atau SEMANGAT yang isinya :
——————————-
Demikian katanya, dan sajak itu dibuat pada Maret 1943. Tetapi memang ada dua versi, pada sajak yang sama tetapi judulnya SEMANGAT, diubahnya sedikit, yang tadinya kata Ku mau lalu menjadi kutahu. Pada kata Hingga hilang pedih peri, menjadi Hingga hilang pedih dan peri, yang satu versi Deru Campur Debu, dan yang satunya lagi Kerikil Tajam, dua-duanya nama kumpulannya sendiri dan dibuat pada bulan dan tahun yang sama. Mungkin Chairil perlu uang, maka sajaknya itu dimuat dua kali, agar dapat dua honor. Ketika aku sampai di Jakarta tahun 1948 karena mau melanjutkan sekolah, sebab di kampung halaman kami di Belitung ketika itu belum ada sekolahan SMP, maka aku ke Jakarta. Aku tinggal di Oud Gondangdia Binnen no 2, yang akhirnya di-indonesia-kan menjadi Gondangdia Lama Dalam nomor 2. Kami tinggal bersama, abangku dan temanku,lalu ada lagi teman lainnya, yang bila pulang sangat malam, dan aku jadi "tukang buka pintunya". Katanya sih namanya Chairil, tetapi dalam pikiranku pastilah bukannya Chairil Anwar yang sangat kukagumi itu. Dan kalau malam menjelang pagi, kalau ada suara yang memanggil, "rad, rad———-panjang dan berkali-kali, dan tidak dibuka-buka, lalu disusul lagi dengan memanggil namaku "bron—bron—– buka pintu", dan tahulah aku, Chairil datang. Dan aku membuka pintu, hari sudah hampir jam 01.00 menjelang pagi. Lalu dia tidur pakai tikar sama dengan kami, dengan sebuah bantal lalu bantal guling yang sudah agak butut. Suara "r"nya telor (bukan telor dari kata telur, seperti orang Perancis mengucapkan huruf r ). Lama bahkan sesudah berbulan-bulan barulah aku tahu, bahwa Chairil inilah yang Chairil Anwar kukagumi itu. Tadinya memang ada perasaan dalam hatiku, masak sih Chairil ini yang Chairil Anwar itu! Tak mungkin! Dan lama-lama juga dia tahu bahwa aku suka bacaan sastra, dan setelah kami saling tahu, lalu kami bersahabat baik,walaupun aku baru kelas satu SMP di Jalan Budi Utomo, dan umur kami berbeda 12 tahun! Tetap saja aku menjadi "tukang buka pintunya" dengan panggilan r telornya, "bron—bron—buka pintu" sambil menggedor pintu agak pelan, agar jangan mengganggu orang lain yang sedang lelap di alam mimpi. Karena abangku banyak temannya dan juga Chairil banyak temannya, lalu banyak yang sering datang ke rumah kami. Yang pada akhirnya orang-orang terkenal seperti HB Jassin, Asrul Sani, Rivai Apin, Dolfverspoor, bahkan ada "serdadu belanda" yang membawa karaben dengan celana pendek, yang akhirnya aku tahu, itulah JC. Princen, dia "mengkhianat" bagi Belanda, tetapi "pahlawan" bagi perjuangan kita ketika itu. Lalu juga jauh sebelum ini, sering datang para pejuang ketika itu, seperti Chairul Saleh, Wikana, dan lain-lainnya. Chairil dengan matanya yang selalu merah, badannya yang kurus, tetapi pancaran mata yang selalu bersinar dengan api yang menyala-nyala, semangat yang selalu segar, banyak bacaannya, pandai serta cerdas, tapi kami sudah tahu bahwa dia ini suka "jahil-tangan" suka "maling kecil", istilahnya ketika itu, Chairil ini terkena penyakit kleptomani, suka "nyuri kecil" yang menurutnya sendiri, hal itu bukanlah kejahatan pencurian. Dan karena kami terkadang benci, tapi juga terkadang rindu kepada Chairil apabila dia tidak pulang-pulang selama beberapa hari, akan selalu bertanya, ke mana sih kok Chairil nggak pulang-pulang! Suatu kali dia datang dan dengan bersemangat memanggilku. "Bron, aku tahu, dan aku sudah baca sajakmu. Bagus, lumayan, boleh kan aku muat nanti di Mimbar, dan aku sudah bilang sama Jassin", katanya. Ketika itu aku tidak tahu apa itu arti "muat", yang nantinya barulah aku tahu, artinya "siarkan,terbitkan". Dan ketika sajakku dimuat di Mimbar Indonesia asuhan HB Jassin itu, abangku tanya apakah aku sudah terima honorariumnya. Lagi-lagi aku tak mengerti apa itu arti honorarium! Dan setelah dengan malu kutanyakan apa itu semua artinya, lalu kutunggu Chairil mau menanyakan tentang honornya. Beberapa hari sesudah itu dia datang, dan kutanyakan padanya. Dengan tertawa seenaknya, tapi juga seakan-akan tak ada soal, tak ada perkara apapun, berkata : "Yah, kan kita sudah makan sate ketika itu kan. Ingat nggak malam-malam itu, kubawa makanan, dan kau dengan lahapnya makan sate pakai lontong itu, ingat nggak?". Dan memang satu malam pernah kami makan sate-lontong yang dibawa Chairil ketika itu. Tetapi aku sama sekali tak tahu bahwa uangnya adalah uang honor itu, yang honorarium itupun aku tak tahu! Tapi kami akhirnya tokh hidup bersama begini harus saling maaf memaafkanlah. Dan banyak kudengar sesudah itu, bahwa Chairil suatu ketika "nyambar" jas pamannya ketika sama-sama sedang menghadiri sebuah jamuan-makan, resepsi, dan katanya pamannnya itu adalah Sutan Syahrir, yang pernah jadi Perdana Menteri! Dan banyak lagi cerita-cerita agak aneh, tetapi banyak orang yang pada akhirnya rindu mau bertemu dengan Chairil, yang tadinya sangat benci dan geregetan mau nabok dan nempelengnya! Dan lama sekali Chairil tak pulang-pulang ke rumah kami. Lama sekali berbulan-bulan. Tahu-tahu ada kabar, dia sudah meninggal di RS CBZ, yang akhirnya menjadi RS Tjipto itu. Kami sangat bersedih, dan aku menitikkan airmata. Rupanya sajaknya yang menyebut di Karet, di Karet daerahku yang akan datang, terjadi dan terkabul juga apa yang dia katakan. Kami berdua SM. Ardan ziarah ke kuburannya. Dan cobalah periksa sejarahnya, agar lurus dan agar benar, kami berdua Ardan adalah orang pertama memperingati Hari Meninggalnya Chairil Anwar ketika satu atau dua tahun meninggalnya, di Balai Prajurit DIPONEGORO dekat Balai Pustaka ketika itu. Masih ingat aku keesokan harinya terpampang fotoku di MIMBAR INDONESIA sedang berpidato dalam acara memperingati meninggalnya Chairil Anwar pada tahun 1951, dan yang kenapa aku ingat, tampak bulu kakiku, karena aku belum tahu dan belum punya celana-panjang atau pantalon! Aku setiap hari hanya bercelana pendek saja, tidak tahu bagaimana rasanya punya celana panjang dan pantalon itu, dan sekolahpun baru kelas tiga SMP! Sesudah itulah baru banyak orang dan banyak badan serta grup dan organisasi memperingati meninggalnya Chairil Anwar. Chairil sangat banyak membawa kenangan yang pahit-manis,suka-duka,berkelit-jujurnya dan dengan semangat memberontak, selalu berapi-api, dan seluruh hidupnya diabdikan buat sastra-budaya, sayang umurnya demikian singkat, tapi nafas-jiwanya sampai kini menggema, apalagi zaman reformasi ini,- "dan aku akan lebih tidak perduli, aku mau hidup seribu tahun lagi", bukan main deklarasi semangat juangnya!
Paris 14 April 1999
Dalam KTP, kartu-tanda-penduduk dulu ada tercantum, pekerjaannya apa, sebagai apa. Ini harus diisi, sebagai guru, pegawai, buruh, pedagang atau apa. Bisa diisi dengan : pelajar atau mahasiswa. Tapi karena pekerjaan dalam daftar isian itu, agar tampaknya tidak terlalu biasa, sedangkan pekerjaan yang sering menyita waktu itu selalu saja minta perhatian, maka kami isi saja dengan : juri-deklamasi. Memang pada akhir tahun 50-an dan awal tahun 60-an, banyak sekali pemuda-pelajar, perkumpulan, organisasi, bahkan kepartaian, yang mengadakan acara deklamasi, atau lomba-deklamasi. Karena kebiasaan, karena sering terjadi, beberapa teman secara gurau pernah mengusulkan, bagaimana dalam KTP kita, dicantumkan saja pekerjaan : juri-deklamasi ini. Ketika itu antaranya Buyung Saleh. Buyung sering sekali menjadi juri-deklamasi, dan secara kebetulan selalu saja bertemu denganku. Artinya kami berdua, lalu ada seorang teman lagi yang lainnya, misalnya saja, yang aku ingat Dodong Djiwapraja, juga seorang penyair yang puisinya sangat indah dan bagus. Sebuah puisi Dodong yang dimuat dalam kumpulan GEMA TANAH-AIR oleh HB Jassin pada tahun 49 dan awal 50-an. Aku sangat suka sekali dengan puisi Dodong namanya Mengisi Puisi Tjik Atu. Menggambarkan seseorang yang kalau tak punya cita-cita, bagaikan sekerat sabut terombang-ambing tak menentu.Puisi pendek itu sangat indahnya, segar dan plastis.
Para penyair kalau menggambarkan dan mencurahkan perasaan gelora hatinya, bila terkena tepat antara kata-kata dan makna-maksud hakekatnya, maka sangat indah, dan orang akan selalu terkenang dan hapal dalam hati. Selalu teringat dan lancar mengucapkannya. Terkadang kalau kita ucapkan kata-kata yang "sangat mengena" itu, tidak usah kita katakan siapa penciptanya, tetapi orang akan tahu, bahwa si A-lah atau si B-lah yang melahirkan ucapan itu. Misalnya saja, siapa yang mengatakan ucapan ini :
Dua sajak di atas kepunyaan Chairil Anwar, yang satunya dalam 1943,-DIPONEGORO, sedangkan satunya lagi, SEMANGAT atau AKU,-
Demikian kata Sitor Situmorang. Lalu pada ramai orang memperdebatkan, mana ada bulan ketika malam lebaran, tak akan tampak karena umurnya baru satu-dua hari saja!
Demikian kata Buyung Saleh. Tetapi semua sajak-sajak itu seandainyapun orang tahu dan mengenalnya, karena sudah pernah dimuat di berbagai majalah atau suratkabar. Kalau sajak pendek yang ini, orang tidak akan tahu, karena sangat khusus sifatnya, dan hanya orang-orang resto INDONESIA yang tahu, sebab sajak ini khusus ditujukan buat kami :
Tiga rangkaian kalimat ini dari Mas Willy, Mas Rendra buat kami di Paris. Semua kami sangat senang mengulang-ulang kalimat Mas Rendra ini.
Karena beberapa teman mengetahui "kebiasaan dan kegiatan" kami, maka datanglah teman akrabku, Mas Bud,-Budiman-, mencariku. Dia minta agar aku mau nolong, mau bantu dia, dan ditambahkannya : " Kan dalam ktp-mu, pekerjaan kau kan sebagai juri-deklamasi, jadi ya konsekwen dong!",katanya. Sudah tentu aku mau bantu, siap menolong, sebagai juri-deklamasi, sesuai dengan isian pekerjaan di KTP itu. Kutanyakan siapa saja teman lainnya, dia jawab : Buyung Saleh dan Dodong Djiwapraja,-Mendengar dua teman itu, semakin semangat aku dibikinnya. Tetapi pada hari yang dimaksudkan, sebe-narnya aku punya janji dengan teman lain, hanya waktunya agak sorean sekitar jam 17,°°. Kupikir tentu-lah jauh sebelum itu akan selesai. Hanya aku lupa menanyakan apakah banyak pengikutnya, yang akan lomba-deklamasi itu.
Karena "teman" maka kujawab saja, setuju dan siap membantu, menjadi juri-deklamasi. Dan aku tahu benar bahwa Mas Bud ini juga adalah seorang deklamator yang sangat trampil, dan volume suaranya bagus, besar menggema. Dia pernah beberapa kali menjadi juara deklamasi pada beberapa lomba-deklamasi. Dan dia juga seorang penyair, atau katakanlah calon penyair. Sajaknya yang berjudul JANGAN JAMAH KUBA, sangat baik, daya agitasinya sangat mengena, dan sajak itu bagus sekali. Tetapi dalam lomba-deklamasi kali ini, dia tidak ikut, dan memang tidak boleh dia ikut. Sebab yang mengadakan lomba-deklamasi ini adalah "para anak-buahnya", anak-anak IPPI. Mas Bud kan "jenderal-nya" IPPI, tidak mungkin dia ikut. Ingat semua ini barulah aku agak tersedar, karena lomba-deklamasi kali ini adalah buat seluruh anggota IPPI se-Indonesia. Pastilah banyak yang ikut, dan kalau begitu ren-cana kami akan "terancam gagal" buat pertemuan sore hari itu. Tapi sudahlah, sekali siap membantu, haruslah membantu, lagi pula kan dalam ktp-ku isian pekerjaannya sebagai juri-deklamasi, suatu pekerjaan yang tak pernah menghasilkan uang. Paling-paling hanya dapat makan-siang atau uang-becak, ongkos transport.
Lomba-deklamasi yang diadakan para anggota IPPI se-Indonesia itu, tempatnya di Gedung Kesenian. Begitu aku turun dari becak dan naik ke Gedung Kesenian, sudah bukan main ramainya anak-anak muda, para pelajar. Juga tak lama kemudian datanglah Buyung dan Dodong. Ketika itu kucari Mas Bud,mau menanyakan mulai jam berapa dan berapa orang pengikutnya. Melihat begini ramainya sambutan, timbul juga pujian dalam hati, hebat sangat anak-anak IPPI ini! Dan ketika ketemu Mas Bud, dan kami siap-siap buat mengambil tempat-duduk buat juri, sebab beberapa menit lagi akan dimulai karena sedapat mungkin jangan ikut-ikutan jam-karet, tercengang dan terngagalah aku dibuatnya, ketika dijawabnya, ada 300 peserta yang ikut lomba ini, dan mereka berdatangan dari seluruh Indonesia!
Minta ampun, baru kali inilah menjuri-i peserta begitu banyak, 300 orang! Ini betul-betul kerjaan gila! Dan sudah kuputuskan dalam hati, gagallah acaraku sendiri. Tapi ya memang harus konsekwen, sebagai pekerjaan juri-deklamasi, tertera pula di ktp-ku, tidak lain, ya harus dikerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Dan lagi pula, ini benar-benar sejarah lomba-deklamasi yang paling dahsat! Ternyata tidak hanya aku, tapi dua teman lainnya itupun sama-sama menarik nafas, betapa akan capek, bosan dan lelah-letihnya. Biasanya kami menjadi juri-deklamasi,pesertanya paling banyak hanya belasan orang, atau tak akan lebih dari 30 orang saja, nah ini tigaratus orang. Puyeng dan mabuklah kami dibuatnya.
Kami mulai pada jam 10.00 lewat sedikit, termasuk tepat-waktu. Ada istirahat makan-siang, lalu diterus-kan sorenya, dan sorenya sesudah jam 17.00 juga ada istirahat lagi. Badan dan pikiran sudah capek, rambut sudah agak kusut, wajah sudah agak kurang jernih. Tetapi kami tetap bertahan, dan kami harus ingat dan perhatikanlah secara solider dan setiakawan, para pelajar ini berdatangan dari seluruh Indonesia. Ada yang dari Sumut, Jatim, Nusatenggara, Kalbar dan lain-lain. Mereka sangat bersemangat. Pada tahun-tahun itu memang acara deklamasi bukan main dapat sambutannya, sangat meriah. Barangkali karena hal itu juga yang menjadikan kami mengisi ktp dengan pekerjaan juri-deklamasi, hampir setiap minggu ada saja pekerjaan juri-deklamasi ini. Tidak hanya di Jakarta, tetapi kami juga dapat "pesanan" dari berbagai daerah, misalnya dari Tanggerang, Bandung sampai Surabaya, dan Bali.
Tapi pada acara dan pekerjaan kami itu tidaklah "segila" sekarang ini. Ini benar-benar pekerjaan "profe-sional juri-deklamasi", dalam hati menyumpahi dirisendiri, rasain mau-maunya jadi juri-deklamasi sampai sampai ditulis dalam ktp. Dan mengapa harus kutulis dan kuceritakan, sebab baru kali itulah kami harus bekerja lebih dari 12 jam-kerja sebagai "juri-deklamasi" dan pada jam 23.00 lewat barulah acara itu usai dan selesai, yang dimulai pada jam 10.00 pagi. Sebuah kenangan yang sebenarnya menyegarkan, bagaimana "daya-jual" deklamasi ketika itu begitu larisnya. Dan hanya kenangan indah begitu yang seharusnya dikenang. Buyung sudah meninggal,dan Mas Bud juga sudah meninggal, dan kami dulu itu suka sekali menggoda Dodong," Dong, apa kau sudah lapor dan saluir kepada isterimu?". Sebab Dodong adalah kapten AURI sedangkan isterinya adalah Mayor, le-bih tinggi setingkat. Betapa indahnya kenang-kenangan kami dulu itu,-
Paris 16 April 1999
Dulu nama jalannya, Citadelweg, dekatnya ada hotel yang namanya Hotel Centraal. Lalu berubah menjadi Jalan Nusantara sekian, dan nama hotelnya juga berubah menjadi Hotel Sriwijaya. Ini terjadi pada tahun 1949 menjelang tahun 50-an awal. Ke hotel itulah saya sering datang buat melihat ayah yang menginap sementara belum dapat rumah. Ayah menjadi anggota DPR( Sementara ) mewakili suara ( Rakyat ) Belitung bersama tiga temannya lagi, semuanya guru, guru Saat, guru Abubakar dan guru Djohar. Mereka mewakili daerah dan sekaligus ayah mewakili golongan Angkatan 45. Ayah salah seorang yang turut memimpin gerakan pemuda di Belitung angkat senjata melawan kekuasaan kolonial Belanda. Dan akhirnya melarikan diri ke daerah Yogyakarta, daerah RI, sedangkan kami berada di daerah Federal, di Belitung.
Yang lucunya dan anehnya, Ayah satu kamar berdua dengan orang yang namanya sama dengan ayah, hanya beda tulisan satu huruf saja! Dan dua-duanya sama-sama anggota DPR. Yang satu namanya Abdullah Aidit, ayah saya, sedangkan seorang lagi namanya Abdullah Aidid, dari partai Masyumi, saudagar batik dan seorang philatelis dari Solo, turunan Arab. Ayah saya pakai huruf t ujungnya, sedangkan yang lainnya lagi pakai huruf d ujungnya. Saya sangat senang kalau mendengarkan Pak Aidid memanggil teman sekamarnya itu, suaranya sangat dalam dan dialeknya diucapkan sangat kental bahasa Arabnya. "Abdullah——-Abdullah" katanya memanggil ayah buat sama-sama makan, dengan suaranya yang sangat kental huruf l nya dan dialeknya ke Arab-araban. Dan waktu itulah aku turut diajak makan. Yah, tentu saja aku sangat senang, biasanya makan apalah di rumah, kini makan di hotel, makanan enak, maklumlah makanan anggota DPR.
"Hei, Abdullah junior, coba sini lihat, dekat sini", kata Pak Abdullah memanggilku, dan dia memberikan sejenis kaca pembesar bagaikan teropong, lalu kulihat ke arah yang ditunjukkannya. "Lihat itu baik-baik, geriginya atau giginya itu yang penting. Kalau sudah tumpul dan datar, maka sudah sangat berkurang harga-nilainya", katanya padaku. Sebuah perangko zaman Napoleon. Akan dijual seharga 5000 dollar AS, dan kemaren sudah ditawar 3000 dollar, tapi Pak Abdullah belum mau melepaskannya dan masih bertahan. Pak Abdullah adalah seorang saudagar batik dari Solo dan juga pengumpul perangko, seorang philatelis yang trampil dan banyak diandalkan orang-orang sehobbynya.
Di luaran beredar suara-suara yang bahkan sudah masuk koran, dan tanpa dibantah bahwa Abdullah Aidit yang ayahnya DN Aidit itu adalah seorang anggota Masyumi. Ini samasekali tidak benar. Ayah saya adalah salah seorang pendiri perkumpulan keagamaan yang namanya Nurul Islam di Belitung, pada tahun 40-an. Nurul Islam lebih banyak berorientasi kepada Muhammadyah. Ketika itu Masyumi belum lahir. Masyumi lahir sesudah zaman Jepang. Beda nama kedua orang yang sama-sama anggota DPR dan kebetulan sama-sama satu kamar di hotel Centraal itu hanyalah tulisan dengan t atau d, hanya satu huruf saja adanya. Sekali lagi, jadi tidak benar ayah saya atau ayahnya DN Aidit itu pernah atau dari anggota Partai Masyumi. Ayah saya non-partai, wakil daerah Belitung, mewakili golongan Angkatan 45.
Lalu pernah terjadi "pemboman - pelemparan granat" di Malang ketika DN Aidit sedang berkampanye di Malang. Kebetulan yang jadi biangkeladinya bernama Hasan Aidid, katanya DN Aidit dibom dan dilempari granat dari adiknya sendiri. Ini tidak benar, adik dari DN Aidit adalah bukannya Hasan tetapi Asahan. Dan Asahan ketika itu baru saja menjelang dewasa, umur 17 tahun, dan masih aktive bersekolah, samasekali tak ada bau-bau politiknya.
Lalu banyak sekali dalam literatur, bacaan, baik majalah maupun suratkabar, bahwa DN Aidit itu lahirnya di Medan. Ini tidak benar. Dia lahir di Belitung, Sumatera Selatan. Nama dulunya adalah Achmad, dengan tulisan Achmad Aidit. Lalu menjelang usia dewasa dia mengubah namanya setelah memberitahukan kepada ayahnya, Abdullah Aidit, dengan nama Dipo Nusantara Aidit, dan ayah menjetujui gagasannya. Banyak literatur membelokkan kepanjangan nama DN ini, ada yang menuliskan Djamil Nawawi, dan DN Aidit ini sebenarnya orang Riau. Semua ini tidak benar!
Achmad Aidit dulunya pendiri perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi Senen, tahun 1940.-Teman-teman sepergerakannya yang pada akhirnya bermusuhan secara ideologi setelah mereka masing-masing memilih jalannya sendiri-sendiri, adalah Adam Malik, Chairul Saleh, bahkan Insya Anshari dan Amelz, tokoh Masyumi itu. Mula pertama gerakan di sekolahnya, DN A memimpin pemogokan karena meninggalnya Husni Thamrin tokoh pergerakan Nasional ketika itu. Dia Sekolah Dagang, Handels School. Di Menteng 31 dengan API-nya, DN A turut aktive belajar dengan guru-gurunya tokoh-utama Nasional, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, juga prof Muhammad Yamin. Menurut banyak temannya, Hatta tadinya banyak menaruh kepercayaan dan harapan pada DN A, tetapi pada akhirnya sangat keras bermusuhan secara ideologi politiknya dengan Hatta.
Semua bahan-bahan ini pada tahun 1994 sudah saya berikan kepada dua akhli sejarah kita, secara resmi, buat diungkap atau diapakanlah menurut sebaiknya. Pertama kepada Pak Onghokham, kedua kepada Pak Abdurrachman Suryo———-alm. Maksud pengungkapan, semua bahan ini, agar ada keterangan dan kejelasan serta sekedar pelurusan sejarah dalam menuliskannya. Karena apa yang dulu "dituduhkan dan dituliskan" belum dibantah, belum diralat. Sehingga kalau dibiarkan terus-menerus tanpa bantahan dan ralat, lama-lama oleh orang banyak dianggap benar. Inilah maksud pengungkapan tulisan ini. Semoga bermanfaat.-
Paris 18 April 1999
Dua anakku seakan-akan protes, semangatnya bagaikan mau demonstrasi, unjuk-rasa, semula kepadaku, karena tidak tahu protes ini akan ditujukan kepada siapa. Apa pasal? Saudaranya, keluarganya akan menikah dengan orang yang pernah menjadi musuh bapaknya. Ita, ponakanku, akan melangsungkan per-nikahannya dengan seorang yang dulu paling berkuasa buat menjalankan undang-undang militer KOPKAMTIB. Tentu saja seorang militer yang Jenderal. Jenderal ini sangat tidak populer, disamping sudah agak tua, yang umurnya sudah berkepala 7, suka kawin-cerai lagi. Yang ini saja, dengan ponakanku ini, adalah isteri yang entah keberapa, resminya yang ketiga atau keempat. Di luar itu kita tidak tahu. Tapi hal itu bukanlah soal benar. Yang paling soal yalah, mengapa Ita kok mesti menikah dengan Pak Jen yang dulunya tersangkut-penting sebagai orang yang membunuh bapaknya sendiri. Bapaknya tahanan-pol ka-rena dituduh tersangkut langsung dengan Tiga Puluh Sekilo dulu itu. Dan bapaknya ini meninggal dalam penjara akibat siksaan yang bukan main kejamnya. Dalam sakitpun, tidak punya kekuatan, masih juga kakinya diborgol-besi.
Hubungan dua anakku dengan Ita adalah saudara sepupu dari pihak ibunya. Karena, isteriku alm, ibu dari anak-anakku adalah tantenya Ita yang paling bungsu. Ibu Ita adalah yang tertua, sedangkan ibu anak-anaku adalah yang termuda, bungsu. Kekeluargaan ini cukup dekat dengan anakku, tetapi denganku sendiri sebenarnya tak ada hubungan darah secara langsung. Namun kedekatan antara kami keluarga besar ini, sangat tampak dan terasa. Ke mana-mana bila aku sedang di Jakarta, selalu berdua dengan Ita. Dan Ita dengan bmw-nya yang masih harum-baru siap-sedia ke mana saja membawaku. Kami setiap bertemu di Jakarta, selalu di rumah Ita, dan ke manapun sering berdua. Itulah sebabnya suatu hari temanku, Ajoeb pernah mengatakan , " hei, Mon, sudahlah kau kawini saja si Ita itu. Gatal mataku meli-hat kalian berdua ngintil ke mana-mana. Apalagi lah soalnya, dia janda kau duda, selesailah soal", demikian katanya. Kujelaskan pada Ajoeb, bahwa kami benar-benar hanya merasa sangat dekat saja sebagai keluarga. Dan persoalan berkeluarga, menikahinya, itu soal lain, dan soal cukup besar, tidak begitu saja adanya.
Anakku dengan keras mengatakan padaku, " Sekarang bagaimana pendapat Papa sendiri. Tahu tidak kakak Ita bahwa bakal suaminya itulah yang turut membunuh bapaknya sendiri, dan juga membunuh paman kami, saudara papa sendiri!", kata anakku. KOPKAMTIB dibentuk pada tanggal 10 Oktober 1965, khusus untuk menjerat, memerangkap para musuh politik penguasa militer ketika itu. Semua ini aku mengerti mengapa begitu keras reaksi mereka. Bahkan cucuku yang tak tahu apa-apa itu, yang tadinya Ita dipanggilnya Tante Belle, karena cantiknya, sudah berpihak kepada ibu dan tantenya, menentang putusan Ita. Maka pusing tujuh kelilinglah kepalaku dibuatnya. Ada surat Ita kepadaku yang menyatakan putusannya ini. Isi surat memang dengan sangat agar aku bisa mengerti dan memahami keputusannya ini, dan betapa dia akan merasa bahagianya, seandainya akupun bisa memaafkan kekeliruan maupun kesalahannya. Bagaimanapun memang sangatlah tidak wajar adanya keputusan itu, atau paling moderat katakanlah, kenapa sih kok sampai terjadi hal-hal demikian.
Secara manusiawi, bisa saja terjadi seseorang saling jatuh cinta tanpa melihat kiri-kanan atau latarbelakang sejarah kekeluargaan dulunya, atau apa yang pernah terjadi. Namun, rasa manusiawi lainnya, juga adalah wajar kalau berpendapat, waduh sayang ya, kok begini jadinya! Kenapa sih harus terjadi hal-hal demikian, atau mbok pikirkanlah lagi baik-baik, berulang-ulang. Soal pernikahan, orang berumahtangga kalau di kampung kita di adat kita, bukan saja soal pribadi orang-perorang, tetapi sering-sering sudah menjadi soal keluarga besar, soal suku dan adat. Barangkali pendapatku ini terlalu kuno, dan masih adat lama dalam dunia serba moderen ini. Dan sekarang dihadapkan padaku, bagaimana seharusnya aku dan kami bersikap. Ini baru dua anakku saja, sedangkan di Indonesia, saudara-saudara
Ita sendiri, cukup banyak yang tidak setuju dengan putusannya. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana sebaiknya harus bersikap.
Ketika kami di Jakarta tahun lalu, masih sempat kami ketemu Ita, tetapi sudah tentu suasana sudah sangat berlainan. Sebab kami datang bulan Agustus, sedangkan mereka akan melangsungkan pernikahannya pada tanggal 1 November, dua bulan lagi sesudah itu. Dan kalau dulu kami selalu menginap di rumah Ita, maka kini tentu saja sudah tertutup-pintu untuk itu. Dan cerita serta gatalnya mata temanku Ajoeb dulu, sudah tak mungkin lagi terjadi. Sebentar lagi Ita tokh sudah isteri orang, isteri Pak Jenderal. Dan kita semua harus menghormati norma-norma begini.
Okeylah, bisa saja ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Tetapi sekarang bagaimana sikap kita secara orang per orang. Bukankah sangat aneh dan tidak wajar kalau kita yang tidak setuju itu lalu "mengutuk, menyumpahi" calon penganten, calon mempelai ini? Aku pribadi bersikap, bagaimanapun aku mengharapkan agar Ita dan suaminya, akan selalu bahagia, sehat dan sejahtera. Kita bisa berbeda pendapat, tetapi soal pernikahan, bukankah itu artinya suatu kualitas hidup-baru? Sebaiknya kita harapkan dan bahkan doakan agar mereka bahagia. Mereka bagaimanapun membutuhkan sokongan moral secara demikian. Soal besar dulu itu, sudahlah, soal sejarah manusia, soal generasi. Kalau mau diutak-atik, dipandang dengan kacamata sempit, Pak Jenderal kita inipun "sangat tidak bersih lingkungan", sebab dia memperisteri orang-orang keturunan tapol, yang dulunya dia turut menyiksa dan membunuhnya. Tapi itu kan pandangan dari kacamata mereka sendiri, yang mereka ciptakan sendiri buat menyiksa dan menganiaya diri kita. Dan sikapku ini kutuliskan kepada Ita. Buangkanlah perasaan sentimental-lama, atau kenangan-lama dulu itu, karena keadaan memang menghendaki begitu. Dan kita mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan keadaan itu, kalau tidak mau jauh ketingalan.
Ita masih sempat berpesan, dan dengan sangat gembira dia membaca jawabanku,-"Oom, situasiku rupanya tak dapat aku tentukan sendiri, Tuhan menentukan lain. Barangkali sudah suratan-nasibku harus begini. Tapi aku sangat yakin, rasanya putusan inilah yang harus kuambil walaupun akan sangat banyak tentangan dari keluargaku sendiri. Aku juga merasa yakin, suatu waktu, Oom dan saudaraku yang lainnya akan memaafkanku yang mereka anggap sangat keliru dan salah akan keputusanku ini. Izinkalah aku "berkhianat" atas gurauan kita dulu, bahwa siapa yang duluan mengakhiri ke-janda-an dan ke-duda-an kita, maka dia kita "pecat" dari perkumpulan "para janda dan duda" ini!", demikian Ita. Dan aku lagi-lagi memeriksa diri,- memang sebaiknya Ita sudah seharusnya berkeluarga lagi, bersuami lagi sesudah belasan tahun menjanda, mungkin sama denganku, yang sudah 18 tahun men-duda. Disamping itu juga aku menganjurkan kepada dua anakku, biarkanlah kakak Ita bersuami dengan Pak Jenderal itu, dan berharaplah agar mereka bahagia dan sejahtera. Rupanya sangat sulit bagi mereka berbuat seperti pandanganku, karena mereka terlalu banyak tahu juga siapa Pak Jenderal ini, yang bahkan mereka tahu, "surat-sakti" Pak Jenderal yang akhirnya mengangkat posisi Edy Tanzil yang raib sampai sekarang sesudah merugikan negara sebanyak trilyunan rupiah.
Lalu apakah kami sudah bertemu ketika di Jakarta dulu itu dengan "calon mantu" itu? Sampai kini akupun belum tahu bagaimana sikap Pak Jenderal kita menghadapi lika-liku kekeluargaan begini. Dan kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa membayangkan Pak Jenderal itu secara aturan garis-kekeluargaan, dia harus memanggilku dengan kata Oom! Jenderal yang dulu penguasa utama KOPKAMTIB itu, adalah temasuk "ponakanku",- Rasanya aneh juga, walaupun Pak Jen sampai kini mungkin tidak tahu begitu banyak seluk-beluk kehidupan kekeluargaan yang "mengepung" dirinya. Orang bila saling jatuh cinta mana ada pikiran sejernih pualam, sejernih mata-air pegunungan!
Paris 19 April 1999
Kami orang-orang Resto, atau masarakat Resto, kebanyakan suka beli loto. Ada yang hanya kadang-kadang saja, ada yang bagaikan punya jadwal, merasa harus beli loto, harus setiap minggu mengeluarkan uang buat beli loto. Kami tahu, sebenarnya beli loto ini sama dengan berjudi, tetapi kami selalu mengelakkan dan berdalih bahwa beli loto itu tidak sama dengan berjudi biasa. Ini hanya temporaire saja, dan lagi kata beberapa teman pecandu loto, kita tokh tidak akan jatuh miskin karena beli loto, kan modere saja, sedang-sedang sajalah. Jangan ngoyo kata orang Jawa! Beli saja tapi sedang-sedang saja. Dulu, dulu sekali ayahku pernah mengatakan, kita harus cari dan bikin lobang buat rezeki masuk. Kalau sang rezeki mau masuk, tetapi tidak lobang, tidak ada jalan dan salurannya, dia tak jadi masuk. Dan apa lobang serta jalan salurannya itu? Ya, loto itu tadilah. Dan ayahku tak pernah dapat loto.
Menurutku, orang yang suka beli loto itu, sebagian besar adalah kaum tak punya, kaum have not, bukan to have, kaum menengah ke bawah. Orang yang yakin akan usahanya, yakin akan laba dan keuntungan dari hasil pekerjaannya, dan serba-cukup, mana mau beli loto seperti kami ini! Terang-terangan saja, dengan beli loto, siapa tahu sang rezeki nomplok di depan kita! Cara resmi cari makan dan kehidupan, kami bekerja di Resto, tapi itupun sangat minim, hanya sekedar bisa hidup sederhana saja. Kami mau banyak uang atau cukup uang untuk keperluan secondaire atau tertiare, misalnya beli mobil, beli rumah, atau keliling dunia berwisata. Tetapi kami tahu betul, dengan kerja mati-matian belasan jam setiap hari di Resto, tidak mungkin bisa melaksanakan "semua mimpi" itu. Nah, jalan satu-satunya beli loto. Siapa tahu, satu waktu akan "ketiban rezeki nomplok".
Di Paris yang namanya perjudian berbentuk loto begini, sangat banyak, dengan berbagai nama, seperti tacotac, yang pakai digoret lalu tertera dapat berapa uangnya, atau kosong! Ada lagi namanya millionaire, lalu rapido, setiap lima menit akan ketahuan kena atau tidaknya. Bahkan main sepakbolapun ada judi lotonya, dengan nama foot-loto, dan juga ada yang namanya KENO, belasan jenis dan macamnya. Publisite mereka, di Perancis hampir setiap minggu ada orang yang jadi milioner dadakan karena menang loto. Dan kami diam-diam mau juga jadi orang kaya, atau banyak uanglah! Di antara kami memang pernah kena loto, dapat hadiah yang agak lumayan, misalnya aku pernah dapat sejumlah 13000 francs pada tahun 1973. Sudah itu tak pernah lagi sampai detik ini, kenapun hanya puluhan francs atau paling banyak ratusan francs, yang hanya sekedar kembali modal. Diam-diam ada teman-teman yang pernah kena sampai 25000 francs, dan itupun "ketahuan" sesudah bertahun-tahun berlalu. Lebih dari itu tak pernah kami dengar. Di antara kami ada teman "akhli loto". Mengapa kami namakan demikian? Karena dia ini tahu semua jenis loto, dan pernah mencoba beli semua jenis loto yang ada di kota Paris. Hal ini tidak semua teman yang tahu dan paham selukbeluknya. Misalnya aku saja tak tahu dan tak pernah tahu dan ikut loto balapan-kuda, yang hampir setiap hari ada. Tetapi teman kami yang satu itu, loto apa saja pernah dicobanya.
Adakah unsur mistik dalam kami membeli loto itu? Dulu ada, tetapi lama kelamaan menjadi pudar dan hilang begitu saja, karena kenyataannya sangat berlainan dengan harapan dalam hati kami. Apa itu halnya? Mimpi! Kejadian mimpi pada dirikita adalah sangat penting menurut kami ketika itu, juga berbagai angka dan peristiwa dianggap sangat penting. Misalnya saja pernah beberapa kali aku mimpi menangkap ikan, mancing dan menjala. Dan kami berdua Cong pernah menangkap ikan-mas kuning besar dan banyak. Lalu kuceritakan pada Cong temanku sama-sama gila loto itu, segara saja Cong berreaksi,-"Kita harus segera beli loto, jangan sampai terlambat, sekarang juga. Itu artinya kita akan dapat hadiah nomor satu atau paling tidak kita akan dapat ribuan francs", kata Cong. "Tapi Cong", kataku "Mimpi itu kan masih tetap berlaku selama 40 hari". "Ya, tapi kalau terus ditunda, rezeki akan lari!", katanya. Dan kami segera berangkat beli loto, kuatir kalau rezeki kami berdua akan hilang. Bukan main sangat jarang orang mimpi ikan-mas, besar, kuning dan menggairahkan. Dan aku percaya penuh akan mimpi itu, alamat nasib kami akan berubah, dari tukang sapu kakus Resto selama belasan tahun akan meningkat menjadi kaum menengah-atas! Dan kami berdua penuh mimpi, melamun dalam hari-hari itu. Sampailah pada hari penarikan undian. Dan kami berdua dari semula di jantung ini dag-dig-dug keras sekali, lalu lambat-lambat tenang dan ada rasa jengkel, tak satupun mengena! Tak satupun! Ternyata mimpi itu bohong sangat. Sering terjadi mimpi yang tadinya kami anggap bahwa ini pertanda rezeki akan mampir, tahu-tahu tak ada apa-apanya.
Aku ingin menuliskan tentang mimpi yang pernah kualami. Mimpi yang tadinya samasekali tak ada dalam ingatan, tak pernah secuilpun ingat akan hal itu, tahu-tahu muncul dalam mimpi. Satu malam aku pernah mimpi kawin, menikah dengan puteri Anne, adiknya Pangeran Charles dari Inggeris itu. Gila! Tak pernah aku ingat dia, wajahnyapun tak hapal seperti apa. Lalu satu malam aku pernah mimpi berkencan dengan Monica Seles, sampai mencapai puncaknya. Juga gila! Tak pernah aku ingat dan terkenang akan Monica Seles. Malah kenapa tidak mimpi dengan Sabatini saja atau Hinggis saja! Betul-betul yang namanya mimpi itu ya memang mimpi dan bohong. Seperti kukatakan, dulu pernah aku percaya dan yakin, tetapi karena pengalaman selama ini, lalu lama-lama jadi pudar dan tak terpedulikan lagi. Dulu ketika mau beli loto, kuhubungkan dengan hari lahir, hari pernikahan, hari lahir anak, lalu cucu, lalu hari lahir orangtua, dan berjenis angka yang kira-kira akan "keramat", termasuk angka 17 (Agustus). Tak satupun mengena.
Ketika aku ke Jakarta, sebelum berangkat aku beli loto cukup banyak. Kubawa ke mana-mana, termasuk ketika aku naik dan memanjat puncak Borobudur candi yang termasuk keanehan di dunia itu. Dalam hatiku, masaksih satupun tak ada yang kena, tidak mungkin! Dan ketika kutunjukkan kepada ponakanku yang profesinya paranormal, Ita dengan minta maaf padaku, mengatakan, dan sambil tertawa pula, "Maaf Oom ya, menurut pantauan Ita sih, satupun nggak ada yang kena", katanya. Dan aku betul-betul tidak percaya akan kata-katanya. "Coba nanti Oom lihat, kalau ada yang kena, tolong tilpun Ita. Ita mau tahu juga, apa betul pemantauan Ita itu, walaupun Ita sebenarnya mengharapkan agar Oom kena loto, tapi kan tampaknya harapan Oom itu sangat tipis bahkan tak tampak", katanya enteng saja. Dan sesampainya aku di Paris, segera kulihat dan kuperiksa angka tiras loto. Dan benarlah, tak perlu aku menilpun Ita, dan dia benar, semoga saja profesinya sebagai paranormal tetap mantap.
Seorang teman kami di rumahnya terkadang menutup pintu kamarnya, mungkin dengan maksud agar anaknya atau isterinya jangan mengganggu dia sedang istirahat. Tetapi pada suatu hari, isterinya mencium bau yang tidak sedap dan aneh menurut isterinya. Bau apa itu, tak pernah tercium dulunya?! Isterinya agak curiga. Lalu membuka pelan-pelan kamar-kerja suaminya. Ternyata suaminya sedang khusuk dan sangat terkonsentrasi, agaknya sedang berdoa. Dan disampingnya bau-bauan dari bakaran menyan. Dan disampingnya lagi, foto orangtuanya yang sudah lama meninggal. Dan berdekatan dengannya, foto mereka berdua ketika selesai upacara pernikahan dulu ketika di Medan beberapa tahun yang lalu. Lalu segepuk loto, diayun-ayunkan ke atas asap menyan itu, sambil komat-kamit entah apa yang diucapkannya. Dan isterinya mengerti, tak mau mengganggu konsentrasi suaminya, bahkan diam-diam mengharapkan agar suaminya dapat rezeki atas doa dan sudah membawa-bawa foto sanak-keluarga dan para kerabatnya. Sayangnya, sama saja seperti aku, membeli loto itu banyak keluar sedikit masuk.
Dan selama dari tahun 1982 sampai detik ini, untung ada catatanku, sudah menghabiskan uang tak kurang dari 80.000 francs, tetapi dapatnya uang masuk tak sampai 14.000 francs,- dan kenapa kita ini tak kapok-kapok,tak jera-jeranya! Ada maksud dan perlawanan di hati, agar jangan lagilah kerja gila begituan, percaya mimpi yang gituan. Mbok sudah waktunya berdasarkan nalarlah, yang ilmiahlah, dunia sekarang ini adalah dunia-ilmu, dunia-tehnologi. Semoga aku atau kami bisa mengikuti dunia-ilmu, dunia-tehnologi, serba komputerisasi dan telekomunikasi begini,-
Paris 21 April 1999
Di kampungku, Belitung, dengan ibukotanya Tanjungpandan, pasaran secara umum memang dikuasai oleh orang Tionghoa. Maksud dikuasai yalah, merekalah yang berdominasi. Misalnya pasar-sayur, keba-nyakan etnis Tionghoa yang paling banyak berjualan di sana. Apalagi yang namanya Pasar-Dalam yang banyak memperdagangkan berjenis kain, cita, bahan pakaian, dan berjenis sepatu, jamtangan, piring-mang-kuk, barang pecah-belah. Semua barang kelontongan, dari batere, lampu, sapu, sampai sepeda dan motor, semua dipegang oleh orang Tionghoa. Dan herannya atau baiknya, tak pernah penduduk Belitung cekcok disebabkan oleh benturan sosial - perbedaan apapun. Ini maksudku dulu antara tahun 40-an sampai sekarang ini. Kami penduduk "asli" atau "melayu-aslinya" tak pernah merasa harus memusuhi mereka. Bahkan banyak di antara kami kalau hari lebaran pada mengantarkan makanan - ketupat kepada teman-teman, tetangga kami yang orang Tionghoa itu. Sebaliknya merekapun demikian pula bila hari Imlek, Tahun Baru Tionghoa, juga banyak mengantarkan barang-barang, atau makanan yang sifatnya bukan daging. Karena mereka tahu, kami beragama Islam, mereka tidak akan mengantarakan daging ayam yang sudah dimasak, apalagi babi, takkan mungkin mereka kerjakan. Mereka sangat mengerti dan paham akan keadaan kami pada umumnya.
Mungkin karena pengaruh sejak kecil itulah, berbaur dengan pergaulan etnis Tionghoa, lalu terbawa sampai sudah dewasa ketika itu. Pergaulan dan aktivitasku berkisar dan berputar sekitar situ-situ saja. Aku aktive di Lembaga Persahabatan Indonesi-Tiongkok. Dari sejak Ketuanya Pak Prof DR Prijono, lalu Pak Djawoto, dan pernah Henk Ngantung, aku terus-terusan mengurusi administrasi dan sekretariatnya. Dan "nasib" rupanya tidak hanya di situ saja, juga aku pernah aktive di BAPERKI, dan juga kebanyakan anggotanya keturunan etnis Tionghoa. Aku sangat menyukai pergaulan dengan mereka. Juga kutambahkan, aku bertahun-tahun mengajar di SMA THHK, Tjung Hua Hwei Kuan di Blandongan -Kota. Dan semua muridnya ketika itu adalah kewarganegaraan-rangkap, artinya juga etnis dan warganegara Tiongkok. Dan karena Tiongkok, jadwalnya juga sama dengan yang di Tiongkok sana. Ada dua liburan tahun-baru, bahkan lebih. Tahun Baru Imlek, libur. Tahun Baru masehi 1 Januari, juga libur, dan hari lebaranpun, libur. Juga ada sistim liburan semacam musimdingin di Tiongkoknya. Karena para muridnya adalah orang-asing(warganegara Tiongkok) maka begitu aku masuk ke dalam pekarangan gedung sekolah itu, maka akulah satu-satunya orang asing, orang Indonesia! Ini antara tahun 1957 sampai dengan 1963,-
Jadi lengkap-sempurnalah pergaulanku dengan etnis Tionghoa ini! Mana di lembaga persahabatan Indo-nesia-Tiongkok, mana di Baperki pula, lalu mengajar sekolah Tionghoa pula, dan ini yang "puncaknya", begitu aku dikirim ke Tiongkok, tahun 1963, hampir saja tak pulang-pulang. Ngendon di sana selama 18 tahun! Bukannya sedikit, bukannya sebentar!
Di Baperki dan pergaulan secara umumnya di kalangan etnis Tiongkok ini, untukku sangat menyenangkan. Ada lucunya, ada kekagumanku, dan cukup banyak pelajaran yang harus kita petik darinya, disamping juga ada kritik yang kita harus ajukan kepada mereka. Di Baperki Pusat sewaktu kami mengadakan rapat, yang isinya nanti Anda akan ketahui, banyak para orang tua, jauh lebih tua dariku, yang bicara, berdebat, yang terkadang membikin aku pusing atau ngantuk atau merasa agak lucu bahasa yang diucapkannya. "Owe sudah bilangin pada dia orang, atawa siapapun temen-teman koneksiannya. Bahwasanya kita orang kudu ngumpulin itu dana, bisa tiga koma delapan, bisa tujuh koma sembilan, pokoknya usahakan jangan nyampe kedodoran kita punya maksud mendirikan ini laboratorium. Ini penting, namanya Res Publica, ingat itu! Untuk kepentingan nyang luas, nyang lebar, nyang mencangkupin sak nusantara kalau bisa! Kandaran-kandaran owe sudah pada aturin, ke mana maunya ke sana kita tujukan, tinggal perintain aja, klop sudah".
Yang bicara ini seorang tua yang punya modal dan uang banyak, atau yang bisa mengusahakan keuangan. Walaupun oudeheer ini orang kaya dan banyak uang, samasekali tak dapat dikatakan dia ini seorang konglomerat. Kenapa? Dia merangkak dari nol sampai menjadi "orang" dan pada masa itu belum ada atau belum banyak atau belum membudaya apa yang dinamakan "surat-sakti" katebelletje itu, dan bentuk korupsi masih cukup asing di kalangan orang-orang ini. Dialah yang namanya Ang Yang-goan. Seorang yang sangat aktive, sosial dan selalu menggebu-gebu semangatnya, semangat sosialnya yang tinggi. Kalau tak salah dia punya suratkabar Sin Po dulu itu, atau punya saham terbesar di sana. Pada menjelang umur 70 tahun, dia dengan isterinya masih keliling dunia dengan———keretaapi, menjalani daratan Tiongkok sampai Eropa daratan. Kemana dan di mana beliau kini? Mungkin sudah lama meninggal, sebab kalaupun hidup, mungkin sekitar 100 tahun umurnya!
Apa yang kami rapatkan ketika itu? Rapat inilah yang memutuskan buat mendirikan sebuah bangunan, kampus, dan laboratorium universitas Res Publica, yang kini menjadi universitas Trisakti. Yang disebutkan berupa angka tadi itu, adalah angka dalam milyunan sampai trilyunan! Dan angka ini yang bikin aku pening kepala, apalagi aku hanya bagian budaya saja, sebagai anggota Pengurus Pusat bagian Kebudayaan,- yang terkenal tak pernah punya uang banyak. Sekarang harus hadir rapat pada pemutusan untuk membangun pergedungan, kampus dan laboratorium itu. Pada rapat lain dengan acara lain, hadir seorang tua yang sangat sukar ngomong tetapi kalau dia menulis, minta ampun lihaynya. Dia seorang wartawan kawakan yang sangat menguasai bidangnya. Nama samarannya dalam pojok di Keng Po atau Sin Po,dengan nama "garem", garam sangat remeh tampaknya, tetapi tanpa garam mana ada masakan yang enak! Dialah Kwee Kek Beng. Setiap tahun dia mengeluarkan semacam almanak yang sangat lengkap sangat bervariasi isinya, dan sangat dicari-cari orang. Nama majalah itu SINTJUN, artinya Tahun Baru, Imlekan, penuh dengan pengetahuan populer, sangat menarik. Kwee Kek Beng, juga satu angkatan dengan Ang Yang Goan, kalaupun masih hidup umurnya mendekati 100 tahun.
Seorang pengarang atau sastrawan yang dapat dikatakan pemerhati sastra beretnis Tiongkok, dan juga banyak menulis buku yang sifatnya susastra, yang sangat paham akan sastra kuno-Tiongkok adalah Nio Yu Lan, ini tentunya nama samaran. Tetapi di antara pengarang lama, yang memperhatikan sastra etnis Tionghoa, tidak mungkin akan dan dapat melupakan orang tua yang sangat baik ini. Di Paris, beberapa tahun yang lalu pernah diadakan sebuah seminar tentang budaya-sastra etnis Tionghoa ini. Hadir banyak pakar tentang Indonesia-Tionghoa, seperti Claudine Salmon, juga Denys Lombard ( suami Claudine ), Henk Maier, Henri Chambert-Loir, dan datang dari Indonesia khusus untuk itu adalah Myra Sidharta. Seminar ini sangat menarik. Ternyata cukup banyak sumbangan sastra-lama atas sastra Indonesia pada umumnya yang diberikan oleh golongan-etnis Tionghoa ini.
Dan suatu waktu ketika aku melewati kampus dan laboratorium yang dulu masih bernama Res Publica dan yang kini bernama Universitas Trisakti, teringatlah aku, dengan kesederhanaan, kebodohanku, kami ketika itu membicarakan dan memutuskan buat mendirikan pergedungan ini. Tahun-gelap Indonesia sekitar 65 - 66, semua itu telah disita serdadu Suharto, habis semua! Tetapi siapapun yang kini menjadi para siswa dan mahasiswanya, dan segenap dewan gurunya, semua pekerjanyanya, aku mengucapkan, hiduplah Trisakti yang berpikiran maju, yang memperjuangkan reformasi sejati. Tradisi revolusioner Res Publica ternyata juga membenam dan tertanam di Trisakti, sangat membikin gembira hati ini, dan sangat tak sia-sialah rapat kami dulu itu, yang kebanyakan mahasiswanya mungkin belum lahir ketika itu, masih awal tahun 60-an, atau akhir tahun 50-an. Ke manakah dan di manakah orang-orang yang kusebutkan tadi? Aku sangat ingat akan kalian, akan kita semua ketika itu,-
22 April 1999
Setiap aku pulang berlibur-panjang dari Jakarta, aku selalu berteman dan ke mana-mana dengan abangku Ratman. Dia ini ibunya adalah adik ayahku. Dan ayahku hanya dua saudara itu saja, dia dan adiknya wanita, yaitu ibu Ratman ini. Kesukaan Ratman yalah memancing dan menembak, berburu. Kalau sudah berburu, bisa sendirian mengaduk-aduk hutan dan padang-lalang, dari petang sampai pagi lagi. Rupanya perkara berburu ini, "penyakit" ayahku menurun kepada ponakannya ini. Dan kelaknya sesudah seperempat abad kemudian, ternyata juga "menurun kepadaku". Hanya bedanya aku "pemburu kecil", berburu burung saja, tembur, tembak-burung, dan itupun sesudah aku lama sekali di Tiongkok. Rasanya ketika itu kami menunggu hari Minggu, hari libur, di mana kami bisa dan punya waktu buat berburu, bukan main terasa lamanya. Baru hari Senin atau Selasa saja, sudah menghitung-hitung akan ke hutan mana saja pada hari Minggu nanti. Maka mengertilah aku, bagaimana dan betapa "menggilanya" punya hobby berburu itu. Rapat yang tidak begitu penting ( menurut anggapannya ) bisa ditinggalkannya atau batal karena dia mau berburu!
Suatu kali Ratman mengajakku berburu. Aku mau juga karena sekedar mau tahu saja, mau coba saja seperti apa sih berburu itu. Bukan main dia gembiranya karena mau diajaknya berburu. Artinya dia punya teman, tidak kesepian menjelajahi hutan belukar dan padang-ilalang. Kami bersiap, dengan perbekalan sebagaimana layaknya orang mau berburu. Lampu-karbit yang diikatkan di kepala, baterei, minuman, gula-jawa, permen, dan segala sesuatunya buat bekal di jalan serta sedikit makanan dan minuman buat siapa tahu menumpang menginap di rumah orang, dan buat orang itu sekeluarganya. Sudah tentu yang paling pokok senapang yang double-loop itu beserta pelurunya dan senapang BSA mimis 5,5 buat menembak pelanduk, kancil. Senapang-api double-loop buat nembak kijang dan rusa.
Kami menuju Seberang, Tanjungtikar, masih tetap di daerah Belitung juga. Tetapi karena letak tipografi pulau Belitung itu ada bagian yang seperti paruh-burung, maka kami harus menyeberang muara sungai buat ke Seberang itu. Kukira mengapa namanya Seberang, barangkali karena harus menyeberang itulah. Kami dengan perahu tambangan, artinya bayar, yang memang selalu ada setiap waktu buat menyeberangkan orang ke Seberang, ke Tanjungtikar. Kami berangkat dari rumah pada jam sesudah magrib, sesudah orang-orang pada bersembahyang magrib. Ratman menyandang senapang-api dan aku menyandang senapang-angin yang 5,5 itu. Lalu kami masing-masing dengan ransel yang tidak begitu berat. Ke mana dan di mana tentulah hanya Ratman yang tahu, sedangkan aku hanya ikut saja, karena pengalaman ini adalah pertama kali aku ikut berburu yang dulu belasan tahun yang lalu "digilai" ayahku. Berburu artinya memburu, mengejar, maka artinya ya harus jalan, jalan dan jalan terus. Bayangkanlah berapa jam jalan semalaman itu. Dari kira-kira jam 20.00 mulai jalan,di tengah medannya, sampai mendekati pagi, menjelang subuh! Orang normal, jalan normal biasanya satu jam antara 4 sampai 5 km, jalan cepat bisa sampai 7 km sejam. Tetapi karena ini berburu, jalannya tidaklah secepat orang jalan normal, sebab ada pelannya karena mengintip sasaran, dan juga medannya tidak datar. Berbukit, menye-berang sungai, tali-air, mengharung air karena ada bagian banjir. Kukira satu jam antara 2 sampai 3 km, karena memang tidak memerlukan jalan cepat.
Di kampung kami, di seluruh Belitung tidak ada binatang buas, seperti harimau-macan, juga tak ada bina-tang besar-besar seperti gajah walaupun Belitung termasuk Sumatera Selatan, Palembang ,yang banyak gajahnya. Itu di daratan Sumateranya, sedangkan Belitung terpisahkan oleh laut.Yang dikuatirkan yalah ular berbisa, ular senduk, kobra istilahnya, dan buaya. Di tengah jalan, sedang menyeberang tahu-tahu melintas ular kobra. Dan ketika memasuki semak-semak belukar, baru saja menyeruakkan kepala dari berbagai ranting dan dedaunan, tahu-tahu saja hampir dilibas kobra, akh sungguh ngeri juga! Dan dalam perjalanan itu tidak sekali dua terperosok ke dalam lobang dan alur yang agak dalam. Singkat kata, berburu itu haruslah siap sengsara, siap susah-payah, siap menemui hal-hal diluar dugaan termasuk siapa tahu kecelakaan. Sampai beberapa jam barulah ketemu mata yang memancar bersinar tajam. Ratman mau membidik, tetapi setelah diamatinya, ternyata menurutnya, setelah agak berbisik padaku : "Nah, bagianmu. Siap senapang-angin. Pelanduk yang agak besar! Hati-hati dan tenang, bidik yang tepat", katanya agak berbisik. Mata itu tetap tidak bergerak,tetapi menuju ke lampu-karbit di kepalaku. Dan aku sesudah menarik nafas agak panjang, lalu menahannya pelan-pelan, dan dengan menenangkan diri, lalu membidik tepat di antara kedua mata itu. Dan——–bloss bunyinya, seperti terkena tempurung atau benda yang agak kosong di tengahnya. Lalu kulihat mata itu hilang dan ada bunyi yang jatuh. Ratman dengan gembira berkata : "Sudah, sudah———–kena itu". Dan kami dekati, memang seekor pelanduk yang agak besar, dan yang tadi berbunyi itu ternyata bloss itu kena tempurung kepalanya di atas matanya sedikit.Tentu saja aku sangat gembira, termasuk Ratman juga gembira, dengan harapan agar aku selalu mau ikut bila dia berburu lagi. Sedangkan kegembiraanku tidak begitu lama, sebab membawa pelanduk yang kira-kira beratnya 7 atau 8 kg itu cukup melelahkan. Beratnya sih tidak begitu soal, tetapi ini kan jalannya jauh, menanjak, menurun, mengharung, menyeberang, bukannya datar di jalan raya! Dan rupanya tak lama se-sudah itu bagian Ratman yang membidik, seekor kijang terkapar setelah bunyi senapang api itu mengaum garang dan dahsatnya. Dan kini persoalan bertambah. Bagaimana membawa kijang yang beratnya saja lebih dari 20 kg itu!
Dalam hati, aku sudah banyak sekali pertanyaan yang tak dapat kujawab. Bagaimana sekiranya dapat lagi, dan kapan akan berhentinya. Kulihat jam sudah jam 03.00. Mau nanya kapan pulangnya, tetapi tidak enak. Sudahlah, terus saja, kepalang sudah memutuskan mau dan siap, harus diselesaikan. Sepanjang malam sampai kami berhenti di rumah seorang penduduk di tepi hutan, tak jauh dari pantai, kami harus memikul tiga ekor pelanduk dan seekor kijang. Itupun setengah kami seret, karena sudah terlalu letih dan tak punya tenaga lagi. Tak jauh dari situ menjelang subuh, Ratman mengetuk rumah orang yang entah siapa, kamipun tak kenal. Tetapi itulah adat di kampung kami, mau menginap di rumah siapapun, di pedalaman jauh di desa, hutan, asal kita mendahului berbaik hati, dan minta dengan sopan dan ramah, maka tuan-rumah akan membalasnya lebih ramah lagi. Kami serahkan pelanduk dan kijang itu mau diapa-kan. Dan betapa tuan-rumah gembiranya, perbekalan yang kami bawa tadi, sejak dari rumah sudah kami persiapkan, gula, kopi, tembakau dan ikan-asin, kami serahkan buat keluarga itu. Kami katakan kami mau tidur, karena sangat ngantuk dan sangat capek. Mereka segera menyiapkan tikar dan bantal butut, digelar di tengah rumah. Sesudah mencuci-muka dan tangan, kami merebahkan diri, dan sudah tak tahu lagi apa yang terjadi.
Ketika kami bangun, karena mata kami sudah kena timpa sinar matahari yang masuk celah-celah dinding bambu itu, ternyata hari sudah jam 1100. Oleh tuan-rumah, kami dipersilahkan mandi kalau mau, atau cuci muka untuk segera makan! Dan betapa harum bau makanan dan masakan tuan-rumah. Isterinya sudah siap menyajikan gangan-pelanduk ( gagangan artinya gulai cara Belitung). Dan begitu kami menampak sekeliling rumah yang baru sekarang ini terlihat jelas, bagus sekali dan subur sekali tanaman mereka. Kebun singkong, cabe, terong-pukak, terong-cina,pohon pisang yang sedang berbuah. Dan memandang di kejauhan, tampak laut luas tak bertepi, bagaikan kaca jernih. Ada tampak kecil sekali layar putih, perahu nelayan, berjalan pelan dan lambat bagaikan kupu-kupu yang lucu. Tak begitu sempat kami menikmati pemandangan yang sangat indah itu, karena perut kami sudah terdengar keroncongannya. Gangan-pelanduk pakai irisan singkong-muda, lalu lalap daun singkong dicecal dengan sambal terasi, dan nasi yang sedang mengepul, ya Allah, nikmatnya hidup ini, ya Tuhanku! Kami berusaha jangan memperlihatkan kerakusan yang berlebihan, walapun agak kelaparan! Tahanlah, bertahanlah baik-baik!
Kami tinggalkan pesan, agar perolehan pelanduk dan kijang itu dibagikan kepada orang-orang sekitar situ, kepada tetangga-tentangga. Sedangkan kami cukup sekedarnya saja untuk dibawa pulang. Dan yang paling gembira barangkali bukannya keluarga petani-nelayan itu, tetapi aku, akulah yang paling gembira! Karena pulang nanti tidak lagi membawa beban. Tadinya tuan-rumah menolak, agar semua kami bawa saja, tokh keluarga kami di rumah memerlukannya katanya. Tapi Ratman menjawab, cukup sekedarnya saja, terlalu banyak, lebih baik dibagikan kepada para tetangga situ. Mendengar perkataan ini, kataku dalam hati, "nah begitu dong Man, agar kita nggak kecapean bawanya". Semua ini terjadi tahun 1952. Begitulah dulu orang-orang kampungku, pada ramah, baik-hati, di mana saja dan ke mana saja mau menginap terutama jauh di pedesaan, perkampungan, perhutanan, mereka dengan senang hati dan ramah menerima kita dengan hangatnya. Semoga masih begitulah hendaknya. Apakah sudah ada perubahan yang tidak seperti dulu itu, misalnya sudah lain, tidak ramah dan terbuka lagi? Entahlah, aku sendiri sudah lebih 40 tahun terpisah dari keadaan itu, tetapi sampai kini aku masih mengenang kampung halamanku yang aman-sentosa ketika tahun 50-an dulu itu.-
Paris 23 April 1999
Ini tentang kisah perkara peruntunganku, mungkin orang lain akan lain pula halnya. Mungkin tiap orang takkan sama "nasib peruntungannya". Sebaiknya aku harus pikir-pikir panjang dan tenang kalau diajak orang atau sendirinya mau pergi mancing. Perkara mancing ini sudah berkali-kali kucoba sejak puluhan ta-hun yang lalu, tetap saja nasibku paling buruk dari orang lain. Pernah aku mancing di pelabuhan di kota kami Tanjungpandan, ramai-ramai dengan teman-temanku, nama tempat itu kami sebut boom, sebuah pelabuhan kecil. Barangkali ada belasan orang duduk berderat di pinggiran tembok-galangan kapal sepanjang boom itu. Ketika selesai, dan mau pulang, kami saling memperlihatkan hasil berjam-jam duduk mancing. Dan ada teman yang memperoleh sekira 3 sampai 4 kg, ada yang termasuk "sial" hanya mendapatkan satu kg saja. Dan ternyata aku hanya dapat tiga ekor ikan kecil namanya bebulus, yang kalau ditimbang mungkin ada 3 ons. Jadi akulah yang paling sial dari yang "tersial". Malu juga rasanya.
Suatu kali aku diajak mancing ke pulau, dengan teman dari abang-sepupuku Ratman. Aku mau, karena bukan soal mancingnya itu, tetapi akan ke sebuah pulau itu, jauh dari kampungku, dan harus bermalam, naik perahu lagi! Ini yang pokok yang, bukan soal mancingnya. Tetapi bagaimanapun aku mau ikut mancing walaupun tahu kira-kira takkan seberhasil orang lain. Dan teman Ratman masih ada pertalian keluarga dengan kami, karenanya aku mengenalnya juga : Bang Amat. Nama Amat atau Akhmad di kampung kami bukan main banyaknya. Nama abangku yang tertuapun namanya Amat, kupanggil Bang Amat. Kami bertiga, Amat, Ratman dan aku. Menjelang petang dengan perahu nelayan milik Bang Amat kami menuju sasaran-mancing. Laut sangat tenangnya, angin baik, alim, gelombang tak garang, perahu kami tak banyak geraknya. Bang Amat memang nelayan, itulah pekerjaannya. Itulah kehidupan sehari-harinya.
Dengan dayung perahunya, dia dengarkan suara yang entah suara apa, tetapi dengan teliti sekali, seakan-akan suara sesuatu yang memang ditunggunya. Aku melihat saja dengan rasa aneh. Gagang dayung itu dia masukkan kedalam air-laut, lalu dia dengarkan baik-baik, agak lama. Lalu dia berkata " kita pindah ke tempat lain, tak ada apa-apanya di sini, tak ada ikannya", katanya. Barulah aku tahu, kalau begitu dia mau mendengarkan suara ikan. Bagaimana bisa terjadi, bagaimana bisa menjelaskannya mendengarkan suara ikan melalui gagang dayung. Dan setelah kami berdayung agak jauh dari tempat semula, kembali Bang Amat seakan menancapkan dayungnya ke dalam air-laut, dan lagi-lagi mendengarkan di ujung gagang da-yung itu. Lama juga, tetapi lambat-laun tampak wajah Bang Amat berseri-seri dan senyum, dan lalu berkata kepada kami. "Nah, ini dia, di sini kita lempar jangkar, bukan main banyaknya ikan, banyak jenis-nya pula", katanya. Dan aku diam saja. Dalam hatiku, apa benar apa yang dia katakan itu?! "Bang Amat", kataku. "Aku mau dengar seperti apa sih yang ikam dengarkan itu?" ( Ikam = artinya kamu tetapi buat orang yang lebih tua dari kita ). "Coba sini, kau dengarkan baik-baik, bukan main bergalaunya bunyi ikan-ikan berbagai jenis", katanya sambil mengunjukkan dayung kepadaku. Dan aku melakukan gerak-gerik seperti dia tadinya. Kudengarkan melalui gagang dayung. Baik-baik dan teliti-teliti, agar tahu baagaimana dan betapa bunyinya. Tetapi tak ada yang terdengar aneh padaku. "Bang, bagaimana sih cara mendengarkannya? Tak ada apa-apa yang bisa kudengar, bunyi desau air saja, dan imbasan gelombang", kataku. "Sini kuajari", sambil diambilnya gagang dayung itu dan melekatkannya di telinganya. "Nah, bukan main banyaknya ikan. Ayoh cepatan, siapkan pancing, lekas kita, jangan sampai ikan-ikan itu keduluan pindah", katanya. Dan dia mulai melemparkan pancing, juga Ratman, dan juga aku. Kami diam dan menunggu pancing disentak ikan. Bang Amat segera menyentak tali pancing ditangannya, dan ditarik, agak tegang talinya. Dan seekor ikan-bulat, besar, kira-kira dua kilo. Bukan main senangnya. Lalu segera pancing diganti umpan baru dan segera dilemparkan. Belum lagi dua tiga menit, Bang Amat menarik-sentak tali pancing, dan dapat lagi ikan-ketarap besar. Bang Amat sibuk menyentak tali pancing, mengganti umpan baru, dan selalu berhasil. Perolehan Bang Amat sudah kira-kira 7 kilo, dan Ratman sudah memperoleh dua ekor ikan-seminyak, dan aku termangu saja di tempatku. Pancingku tak disentuh seekor ikanpun. "Bang Amat", kataku, "ikam pindah ke tempatku, dan aku ke tempat ikam". Dan kami berpindah tempat. Pikirku pastilah di tempat Bang Amat banyak ikannya, sedangkan di tempatku tak ada ikannya, walaupun jarak kami duduk tak sampai tiga meter. Tetapi sungguh sial! Malah Bang Amat dapat ikan yang jauh lebih besar di tempatku tadi. Dan aku begitu pindah ke tempat Bang Amat, tetap saja nganggur dengan tali pancing yang tak pernah bergerak. Pokoknya sepanjang malam itu, Bang Amat dapat kira-kira 15 kg, dan Ratman kira-kira 4 kg. Dan aku tak perlu kusebutkan karena sangat memalukan, masaksih seekorpun tak nyentuh umpan, tak lewat di mata-pancing.
Mancing begini, baik di laut maupun di air tawar, danau, sungai, tidak ada sedikitpun keberuntunganku. Selalu sial dan dapatnya nihil! Capek-capek tidak keruan. Sebenarnya sejak dulu sekali aku sudah tahu bahwa aku tidak punya keberuntungan buat urusan pancing-memancing. Tetapi kenapa masih mau terus? Hanya mau coba saja, ikut saja, sebagai rekreasi. Lalu lapangan apa saja yang aku tak punya keberuntungan? Ternyata juga dalam soal bertani, tak banyak aku mendapatkan hasil jadi-bertani. Hasilnya tak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, jauh berbeda dengan orang lain. Kata orang kampung kami,"tangannya sih panas, bukan lapangannya, bukan rezekinya", entah benar entah tidak, tapi sering terjadi begitu adanya. Dan setelah banyak coba-coba berbagai lapangan, ternyata kemungkinanku punya "rezeki" adalah pada bidang : peternakan dan perburuan, berburu, nembak. Rasanya lapangan inilah yang "ada dan punya rezeki". Tetapi aku kini hidup di kota besar, di Paris. Mau nembak di mana, mau beternak di mana! Di apartemenku, pelihara ayam saja dilarang, tapi pelihara anjing dan kucing boleh dan dihormati. Tapi kan pelihara anjing dan kucing tokh bukannya beternak, dan peternakan. Dan lagi aku tidak suka anjing dan kucing. Aku suka beternak, karena hasilnya bisa dimakan dan dijual, ini yang pokok.
Tahun 1946 aku pernah beli dua pasang serati, mungkin namanya bebek-manila atau itik-manila, entok atau mentok. Kubeli di kampung Mempiyu, 17 km jauhnya dari rumahku di Pangkallalang. Serati ini berkembang-biak, banyak anaknya. Lalu tetangga dan orang-orang kampungku ingin memeliharanya juga dan mereka mau beli barangkan sepasang dua, buat bibit. Serati disukai orang karena bisa menjaga rumah seperti angsa. Dan ular pada takut dengan serati. Tetapi telornya tidak begitu dicari orang sebagaimana telor bebek, itik. Dan ternyata dari satu rumah ke rumah yang lain, para tetangga dan keluarga dulu itu, sudah pada punya peliharaan serati. Ketika aku pulang berlibur panjang dari sekolah pada tahun 1954, sampai hampir seluruh kampung sudah ada peliharaan serati. Dan katanya semua itu adalah dari bibit yang berasal dari Mempiyu dulu itu, dari rumahku. Dan ketika terakhir aku pulang buat tidak pulang selama 30 tahun, yaitu pada tahun 1961, Umak(ibuku) membenarkan memang bibit yang bermula adalah dari rumah kami dulu itu.
Bukan main lamanya baru berhasil mendapatkan pengetahuan yang mungkin saja belum pasti mutlak akan kebenarannya, dalam lapangan apa keberuntungan kita dalam kehidupan ini. Diceritakan, ada seseorang yang datang kepada orang pintar, dia ini minta petunjuk ( ini bukan Harmoko!) dalam lapangan apa dia akan dapat rezeki dan kehidupan yang baik. Orang pintar itu setelah "memantau" keberuntungan orang di hadapannya, mengatakan " hanya benda cair yang Anda harus usahakan dalam hidup Anda, dan akan membawa Anda dalam kehidupan yang gemilang", katanya. Okeylah, orang itu mulai berusaha dengan pesan itu tadi. Mula-mula dia berdagang besin, pompa bensin. Tetapi rugi dan bangkrut. Lalu dicobanya jualan minyak-tanah, ke mana-mana dan di mana-mana. Masih juga rugi terus. Maka dia datang lagi ke orang pintar itu. Orang pintar tersebut tetap saja dengan pendiriannya, yang akan memberinya keberuntungan hanyalah air dan benda cair itu saja. Dan lagi-lagi orang itu berusaha lain, tetapi tetap benda cair. Dan pada akhirnya dia berjualan es! Dan sangat laku, akhirnya dia mendirikan pabrik es. Pabrik es ini pernah sangat jaya cukup lama dan cukup terkenal, namanya Perusahaan Ijs Petojo, atau Petojo Ijs, sangat terkenal di Jakarta pada tahun 40-an sampai 60-an.
Begitulah katanya akan perihal Liem Siu Liong, Sudono Salim. Dia akan sangat beruntung kalau berjualan yang sifatnya makanan. Dan katanya konon entah benar entah tidak, betapa banyaknya keuntu-ngan yang diraihnya kalau dia hanya membatasi diri dengan jualan, dan pabrik yang sifatnya makanan seperti berjenis mi, indo-mi dan pabrik bogasari, tepung terigu. Tetapi karena merasa sudah sangat sukses, lalu dia pindah ke per-bank-an, pertambangan, dan lainnya yang lebih wah lagi. Katanya malah akhirnya menuju ke bangkrutan bila dibandingkan ketika dia menguasai hanya di bidang makanan saja, berupa mi dan pabrik tepung terigu.
Lalu perkara aku tadi yang ada sedikit peruntungan di bidang peternakan dan perburuan itu tadi, mungkin ada masalah suka dan tidak suka. Aku tidak suka yang sifatnya diam saja, kurang gerak. Misalnya ada beberapa hal yang aku tidak suka. Tidak suka mancing, karena statis, diam saja. Tidak suka cukur rambut, hanya diam saja beberapa puluh menit sampai setengah jam lebih. Tidak suka nonton filem, karena harus duduk lama, rasanya sangat tersiksa. Nah, berburu dan beternak, di sana ada gerak, dan harus gerak, mungkin begitu, tak tahulah aku!
Paris 25 April 1999
Terakhir aku berada di kampungku pada tahun 1961, kemudian setelah "terdampar di luarnegeri" selama 33 tahun, barulah aku datang lagi pada tahun 1996, artinya aku berpisah dengan kampungku selama 35 tahun. Sudah banyak perubahan, banyak pergedungan dan perumahan yang dulunya tidak ada, sekarang ini sudah pada bertingkat. Perubahan baik maupun perubahan tidak baik. Apanya yang tidak baik? Banyak soal. Sejak PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung terus merugi, maka boleh dikatakan perusahaan ini bangkrut. Sedangkan penduduk Belitung yang jumlahnya sekitar 150.000 orang itu, kebanyakan ada sangkut-pautnya dengan PPTB itu, baik sebagai buruh( karyawan) tetap, maupun sebagai honoraire-harian, atau honoraire-lepas, sewaktu-waktu. Karena kebangkrutan itu, maka buruh dan karyawannya harus mencari pekerjaan lain. Lalu pindah, ke mana saja, mencari lahan kehidupan di tempat lain, ke Jawa, Sumatera dan ke Kalimantan. Dan pulau Belitung, terutama yang kulihat ibukotanya Tanjungpandan, menjadi sepi. Pergedungan dan perumahan sudah tidak terawat baik. Sekitar perumahan dan pergedungan penuh ilalang, semak, belukar, dan kotor. Pemandangan yang dulu indah, bagus dan menarik, kini bagaikan perempuan tua yang sudah sangat uzur, yang dulu bukan main cantik-menariknya.
Tempat-tempat yang dulu sering kami kunjungi, karena indahnya, karena banyak mengandung kenangan, kini menjadi sepi, kotor, penuh semak dan betul-betul menyedihkan. Ada pantai yang dekat kota atau menyatu dengan ibukota, nama pantainya Tanjungpendam. Dulu, sampai tahun 1950-an, Tanjungpendam sangat indah. Pantainya putih-bersih, pasirnya halus-jernih, dan gelombang lautnya tidak menakutkan, dan malah sangat memikat. Sebab di depan pantai ada pulau yang bagaikan barriernya. Dulu perangko yang harganya 10 sen, tien cent, zaman Belanda, adalah bergambarkan pemandangan Tanjungpendam ini, di mana di depannya berhiaskan sebuah pulau kecil yang bernama Kalamoa, Kelemua kata kami orang Belitung. Ini dulu. Kini Kalamoa-pun sudah sangat tak menarik.
Pada tahun 1951, dan berturut-turut sampai tahun 1953, kami para pelajar yang tergabung dalam IPB dan IKPB, Ikatan Pelajar Belitung, dan Ikatan Keluarga Pelajar Belitung, selalu mengadakan aktivitas bila kami berlibur selama bulan puasa sampai lebaran lewat. Kami sibuk mengadakan pertunjukan drama, sandiwara, kabaret, tarian-nyanyian. Antaranya drama "Awal dan Mira" lalu "Bunga Rumah Makan" dua-duanya dari Utuy Tatang Sontani. Lalu " Dosa Tak Berampun" saduran karya Jepang oleh Usmar Ismail. Ketika itu terdengar pada kami, kepala polisinya yang bernama Pak Paloh, sangat galak dan cerewet. Dan kami belum apa-apa sudah merasa tidak suka kepadanya. Tetapi begitu kami bertemu muka untuk urusan izin dan segala sesuatunya mengenai gerakan dan aktivitas pelajar ini, ternyata Pak Paloh yang komisaris polisi itu sangat baik. Ada anaknya yang laki-laki ketika itu, dan sesudah puluhan tahun, barulah aku teringat, apakah anak itu bukannya yang sekarang bernama Surya Paloh pimpinan suratkabar Media Indonesia? Sebab kebetulan yang kuceritakan semua ini adalah orang Aceh.
Tanjungpandan bila kami sedang berlibur bersama, menjadi ramai, meriah, dan kotanya menjadi hidup. Selalu saja ada pesta dan perayaan atau makan-makan, undangan hampir setiap malam, bergilir, antara para pelajar itu. Sebab kami datang dari berbagai jurusan sekolah, dari Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Palembang, Pontianak, dan kota lainnya, bergabung bersama, berteman, bersahabat dan sebagaimana watak pelajar, selalu gembira, optimis. Kami mengadakan aktivitas selama liburan termasuk mencari dan mengumpulkan dana buat memiliki sebuah asrama pelajar Belitung. Yang pada akhirnya kami dapatkan di Yogyakarta, di Patangpuluhan, lalu di tempat lain seperti di Bandung dan Palembang. Kami keliling kota dengan arak-arakan mengabarkan bahwa pada tanggal sekian malam anu jam sekian akan ada pertunjukan drama, tonil, tari-tarian, nyanyian, baik daerah maupun nasional. Dan dalam truk yang tak beratap itu, kami bermusik gembira, suatu publisite, reklame yang sebelumnya tak pernah di lihat orang. Tentu saja seluruh kota menjadi meriah dan menarik, jadi tontonan orang dan penduduk Tanjungpandan. Sesudah capek gila-gilaan dalam truk itu, kami menuju pantai Tanjungpendam, di mana ketika itu hari sudah malam, dan kami sengaja bergerombolan yang semuanya kaum pria. Mengapa? Ada maksud lain. Di pantai Tanjungpendam yang sangat indah itu, dengan pasir-putih, air-jernih dan ombaknya bagaikan membelai-sayang itu, kami menceburkan diri bulat-bulat telanjang bulat ramai-ramai. Bulan memancar di sela-sela awan lalu, dan sinarnya menimpa air laut, menimpa badan kami yang sedang telanjang berenang menikmati pantai kampung kami yang indah itu. Malu? Mengapa? Tak seorangpun yang melihat kami! Hari sudah jam 22.°° malam, tak ada orang lagi yang lainnya. Hanya kami saja bertingkah aneh dan gembira begitu, dan mau-maunya antara kami "berkomplot" berenang secara alamiah-nudisme begini. Rasanya sangat lucu dan aneh, tetapi penuh kegembiraan. Kami mau menikmati pantai alam kampunghalaman kami. Sudah itu satu tahun lagi atau bertahun-tahun kami tidak akan saling bertemu, kecuali kalau bersepakat buat pulang liburan bersama.
Ketika aku libur hanya berdua dengan cucuku Loulou yang umurnya baru 10 tahun, pada tahun 1996 itu, aku datang ke tempat-tempat yang kami dulu pernah bersama, bergembira. Kulihat tempat itu, sudah penuh dengan semak-semak, kotor dan pantainya butek, pada berlobang, karena ulah-tingkah para penambang timah yang semaunya menggali lobang buat mengangkat timah ke permukaan bumi. Tanah dan pantai menjadi rusak-binasa. Pemandangan menjadi jelek dan menyedihkan. Masa kejayaan keindahan pantai Tanjungpandan sudah hilang, sirna begitu saja. Dan aku terdiam lama, terpukau, sedih dan merasa sakit di hati, dan lalu tak terasa beberapa butiran air-mata, mengaliri pipiku. Dan terlebih sedih lagi, ketika aku mendarat di pelabuhan-udara Buluh-Tumbang, tak ada keluarga yang menyambut, kecuali yang memang kupesankan agar tolong mengusahakan penginapan kami. Aku dari jauh, jauh sekali, kembali ke kampunghalamanku, buat berziarah ke kuburan orangtuaku, buat nyekar. Dan sudah puluhan tahun tak bersua dengan kampunghalaman dan keluarga, kini aku datang ke hadapanmu. Tetapi apa yang kudapati? Aku sendiri, dan tak ada yang menawariku untuk menginap di rumahnya. Padahal keluargaku cukup banyak. Karena itu kami berdua Loulou terpaksa harus menginap di hotel, padahal inilah kampungku, tempat kelahiranku, di mana aku dibesarkan sampai tamat SD. Rasanya sangat sedih, tak seorangpun di antara keluargaku menawari menginap di rumahnya, tak seorangpun! Betapa aku merasa sedih dan kesepian. Padahal dulu ketika tahun-tahun 50-an, kami para pelajar ini bagaikan "merajai seluruh" kota Tanjungpandan. Kami dan penduduk kota saling bergembira, saling bersahabat dan para keluarga saling dekat dan akrab. Dan ketika kami pulang ke tempat masing-masing dengan kapal, ratusan penduduk kota mengantarkan kami di boom pelabuhan Tanjungpandan. Ada yang bertangisan, sedih karena berpisah buat sekian tahun lagi.
Cerita itu hanya menjadi kenangan-lama yang sulit digambarkan kini. Aku sangat mengerti, memahami, mengapa bisa terjadi demikian. Ketika kami berdua Loulou di hotel, banyak sekali keluarga yang datang menjenguk kami, bahkan Loulou bisa jarang di rumah ( hotel) karena "diperebutkan" oleh para keluarga buat mengajaknya pergi main, atau mengunjungi banyak obyek, menonton pertunjukan atau makan di rumah keluarga. Mereka tentu saja sangat asing melihat Loulou yang agak sedikit bule itu, karena peranakan Portugis-Indonesia (Aceh-Belitung), tetapi begitu mereka tahu bahwa Loulou lancar berbahasa Indonesia, maka jadi rebutan buat saling mengajaknya pergi. Dan aku sendirian, lebih bebas buat mencari dan mendatangi obyek kenangan yang dulu kami pernah bermain di tempat itu.
Keluargaku takut dan kuatir dengan keberadaanku di Belitung, karena takut tersangkut "tak bersih lingkungan", dan sangat kuatir, gara-gara hanya ketemu sebentar saja bisa-bisa hilang matapencaharian, hilang pekerjaan, di PHK-kan. Dan aku sangat mengerti mengapa bisa terjadi tragedi demikian. Aku sendiri memahaminya, dan aku bisa memafkan semua itu seandainyapun hal itu perlu ada persoalan maaf-memaafkan. Betapa sedihnya kami, aku dan keluargaku, tidak ngomong tetapi saling mengerti. Tidak berani mengajak menginap, tetapi berani datang ke hotel kami buat ngobrol dan berkangenan, berani mengajak Loulou cucuku. Inipun sudah pertanda bahwa mereka bukannya tidak ingat, bukannya tidak rindu, bukannya tidak kangen, tetapi ada rasa takut, kuatir, cemas. Memang yang paling berhasil dan paling sukses pemerintahan Orba-Suahrto-Abri selama 32 tahun ini, adalah menanamkan rasa takut, rasa kuatir, rasa tidak tenteram, kepada seluruh rakyat. Dan kini persemaian yang mereka bibitkan dulu itu mungkin akan berbuah lain. Sebab ada waktunya orang-orang dan rakyat yang dulu pada takut, pada cemas-kuatir, kini mulai merasa bahwa sudah waktunya buat bangkit-bangun dan menegakkan kepala. Betapa ketika itu aku sangat menjadi asing di kampunghalamanku sendiri, namun demikian aku harus mengerti dan memahaminya mengapa semua itu bisa terjadi. Ada sumber pokoknya, ada arus pokoknya, sedangkan yang kami hadapi bersama ini hanyalah arus-arus cabang saja, hanyalah akibat imbasannya saja. Jadi janganlah sampai lupa arus-pokok dan sumber-pokok itu tadi. Kita-kita ini hanyalah kalaupun terjadi sedikit kortsluiting, karena akibat imbas sumber itu tadi,-
Paris 27 April 1999
Ketika kami berada di lapanganterbang Buluhtumbang, Belitung, untuk pulang ke Jakarta, dan mendekati keberangkatan pesawat, banyak sekali orang-orang yang kulihat mengantarkan kami. Kutanyakan pada Si-han, ponakanku dan juga pengantar kami, siapa mereka. Sihan menjawab, hampir semua mereka adalah keluarga kita, katanya, dan memang mereka mengantarkan keberangkatan kami pulang ke Jakarta dan Paris. Lalu kenapa ketika mau berangkat begini, barulah mereka muncul. Sebab ketika kami di hotel selama 5 hari itu, banyak wajah yang kini sulit aku mengenalnya, dan rasanya banyak yang tak pernah datang ke hotel. Dan kutanyakan lagi pada Sihan siapa di antaranya. Para pengantar itu tidak bisa mendekat dan kami tidak bisa lagi ke luar, karena sudah dalam daerah tertutup dan terlarang, karena sebentar lagi para penumpang akan masuk pesawat. Jadi antara yang mengantarkan dan yang diantar, hanya berpandangan dari jarak beberapa meter, hanya saling melambaikan tangan, dan saling senyum-senyum. Lagi-lagi kutanyakan pada Sihan, siapa-siapa mereka. Dan Sihan menunjukkan seseorang yang agak tua, yang beda umurnya sekira 3 a 4 tahun denganku. Dan dia dari jauh melambaikan tangannya, senyum, dan berkata dengan mulut komat-kamit. Tentu saja kami saling tak bisa mendengar, hanya bisa saling melihat.
"Coba Pak De perhatikan benar-benar, yang berkudung putih itu siapa? Apa Pak De masih ingat?", kata Sihan. Dan aku lama memperhatikannya, sambil melambaikan tangan, dan membuka mulut tapi tak satu terucapkan dengan suara. "Sihan, aku tahu dia, tapi kira-kira saja. Apakah dia bukan tantemu, Bu Ngah Hamimah?", kataku. Sihan hampir menjerit karena tak disangkanya bahwa aku telah dengan tepat mengatakan hal sebenarnya. Malah sekarang Sihanlah yang kulihat berwajah redup, lalu Hamimah yang sudah jadi nenek itu, dari jauh tetap melambaikan tangannya padaku, dan kami saling berkata dengan gerak-gerik tangan, wajah dan muka, tanpa bersuara. Hamimah adalah adik dari ibu Sihan, dan ibu Sihan serta Hamimah ini adalah anak dari adik ayahku, jadi kami sepupu. Ayah hanya dua bersaudara saja, dengan adiknya wanita bernama Zahara. Dan menerawanglah kenangan lama yang ternyata Sihanpun pernah diberitahukan oleh Bu Ngah Hamimah ini. Pernah orangtua Hamimah, Pak dan Bu Lik Zahara mengatakan kepada ayahku, bagaimana sekiranya anak kita ini dijodohkan. Ayahku sebenarnya tidak begitu setuju, tetapi karena ini adalah harapan adik kandungnya, dan lagi karena sesaudara tetapi silang tidak sejajar, karena laki-laki dan perempuan, maka pernikahan itu sah-sah saja adanya kalaupun semua sudah bersetuju. Kepada kami, Hamimah dan aku, juga dikatakan harapan orangtua kami itu. Mereka sangat tahu bahwa kami ketika kecilnya sangat dekat dan berkawan, abang dan adik. Begitu mendengar harapan itu, maka perkawanan kami malah menjadi tidak seerat dulu lagi, sudah saling malu dan menjauh. Tetapi kami saling tahu dan bersepaham, bahwa kami tidak punya perasaan lain, hanyalah benar-benar seperti abang dan adik. Lalu bagaimana bisa dijodohkan begitu saja. Kami merasa tidak mungkin, tidak ada alasan, antara kami tidak ada perasaan lain sedikitpun. Akhirnya kedua orangtua kami "mengundurkan" maksud hatinya. Dan lama sesudah itu barulah perkawanan kami menjadi erat lagi seperti sediakala.
Lalu kutanyakan lagi kepada Sihan, mengapa Bu Ngah Hamimah tak mau menemuiku di hotel dulu itu, dan tidak berusaha mau ketemu diriku? Jawaban klasik orang-orang kampungku, mereka sangat mau bertemu dan melepas kekangenan dan rindu, tetapi takut, tidak berani. Akibat hal kecil begitu saja, bisa hilang pekerjaan, hilang dan berpecahan periuk-belanga, piring-mangkuk, bahkan bukan mustahil masuk—-lagi ke dalam! Dan barulah aku mengerti dan paham selukbeluknya, mengapa mereka hanya berani me-ngantarkan pulang dan itupun hanya di lapanganterbang saja. Lama aku terhenyak dan terdiam tak bisa ngomong. Cerita begini ternyata belum selesai dan ada-ada saja ekornya buat mempersedih diri. "Tahukah Pak De, siapa yang diujung sana"? Kulihat seorang wanita agak tua juga, tetapi tidak setua Hamimah. Dia melambaikan tangannya ke arahku. Dan aku menjawab lambaian tangannya. "Coba ingat-ingat, siapa dia"?, kata Sihan mau tahu. Dan seperti tadi, lama aku memeriksa, membongkar ingatan dan kenangan. "Apa bukannya tante Habibah?", kataku kepada Sihan. Dan lagi-lagi Sihan malah menepuk belakangku dengan agak keras. Rupanya Sihan merasa gembira dan senang, karena aku masih mengenal dengan baik orang-orang ini, kaum keluargaku. Tetapi kuharapkan Sihan tidak tahu dan tidak pernah mendengar cerita panjang yang tak banyak bedanya dengan Bu Ngah Hamimahnya. Habibah adalah anak dari pamanku. Ayah Habibah adalah adik ibuku. Mereka berempat saudara, dua laki-laki dan dua wanita. Ayah Habibah adalah adik bungsu dari ibuku. Dan persis seperti kisah Hamimah tadi, orangtua Habibah punya harapan agar kami lebih mempererat kekeluargaan, dengan mendekatkan diri kami menjadi suami isteri. Dan aku merasa sangat beruntung setelah bertahun-tahun terlepas dari "harapan-harapan" tersebut kedua adik-adiku itu, tak ada perasaan lain, sama dengan diriku. Kami dekat, berkawan, semata-mata karena rasa kekeluargaan saja. Bagaimana bisa dipertalikan dengan pernikahan, tidak mungkin. Jadi mungkin angkatan kami, dengan dua adikku itu, sudah lepas dari ikatan kekunoan pikiran dulu itu, yang sampai waktu itu masih dipegang orangtua kami.
Kupuas-puaskan memandangi kedua adikku itu, yang kini katanya sudah punya cucu belasan. Aku baru punya cucu empat orang saja. Dan katanya sampai menjelang pensiunnya, adikku Hamimah menjadi guru Taman Kanak-Kanak, sedangkan adikku Habibah menjadi jururawat di rumahsakit umum. Dua-duanya memang aku tahu, mereka punya pekerjaan tetap, pegawai tetap pemerintah. Dan betapa akan fatalnya sekiranya pemerintah dan penguasa dan kaum tentara tahu, seandainya mereka menemuiku ketika itu. Dan mereka akan dianggap "tidak bersih lingkungan" lalu ceritanya akan berkepanjangan, yang mungkin pada akhirnya menjadikan penyesalan seumur hidup. Maka tahulah aku, setujulah aku dengan sikap mereka, daripada menemuiki di hotel atau di rumah, lebih baiklah mereka melihat dari jauh saja. Dan kami, dan kita, adik-adikku, biarlah kita lepaskan kerinduan dan kekangenan ini berjarak jauh saja. Betapa manusia menyiksa manusia lainnya.
Dan beberapa minggu setelah aku enak-enak dan tenang-tenang di rumahku di Paris, tak disangka, tak terpikirkan sebelumnya, mereka menilpunku kedua-duanya, tetapinya berlainan harinya. Ketika salah seorang mereka menanyakan masih kenalkah dengan suaranya? Kujawab, kan yang kulihat di pinggir pagar lapanganterbang Buluhtumbang itu kan? Yang kita saling melambaikan tangan? Ya, tidak? Dan Hamimah tertawa senang. Tetapi sebelum kami ngobrol agak lama, kuminta nomor tilpunnya, dan segera kumatikan, agar aku saja yang menilpunnya, agar mereka terbebaskan dengan ongkos tilpun yang begitu mahal. Tidak, aku tidak lupa akan suara adik-adikku. Dan ternyata Hamimah sudah jadi haji, hajjah. Sedangkan Habibah pada tahun ini akan naik hajinya. Kukatakan, abang mendoakan ke hadirat Tuhan, agar kemauan dan hajatmu diridoi dan dikasihi Tuhan. Karena mereka adik-adikku yang kini sudah pada tua dan nenek, kutanyakan kenapa berani menilpun? Katanyanya, sekarang kan zamannya reformasi, jadi tak seperti abang ke Belitung dulu itu. Kami sudah agak beranilah, berani ngomong, bahkan kalau abang pulang lagi, kami mungkin berani menemui abang, atau kami minta abang menginap di rumah kami. Mendengar kata-kata ini, pelan-pelan aku mengusap dada. Betapa zaman baru-baru ini sudah begitu hebat dan sangat dalam bisa dan mampu menjadikan kami penduduk dan rakyat biasa begitu dicekam ketakutan dan kebodohan, serta memendam kerinduan dan kekangenan antara keluarga. Kuharapkan, dan kudoakan agar adik-adiku dan semua keluargaku, serta teman-temanku, bisa bertuan atas dirinya sendiri,-
Paris 29 April 1999
Tidak hanya satu dua orang teman-temanku dan keluargaku menginap di rumahku di Paris. Aku sangat merasa senang karena mereka mau dan bersedia menginap di rumahku. Orang Indonesia di Paris sangat sedikit, sehingga kami merasakan kangen dan sangat ingin bergaul dengan orang-orang yang langsung datang dari tanahair. Baik dari pihak keluarga maupun teman-teman, para sahabat dan kenalan biasa. Ketika itu kami belum bisa pulang, karena belum punya paspor. Sedangkan paspor yang kami miliki ketika itu ada tulisan yang sangat menyolok : berlaku untuk seluruh dunia, kecuali Republik Indonesia! Kami bebas mau ke Portugal, atau ke Israel, yang mungkin untuk orang Indonesia sangat sulit, tetapi buat kami samasekali tak ada soal. Yang paling soal yalah, kami tidak boleh ke Indonesia, yang justru ke sanalah kami paling mau dan rindu.
Maka wajarlah kalau kami bertemu dengan orang Indonesia yang "masih hangat" dari Indonesianya, banyak sekali tanya-jawab mengiringi pertemuan itu. Dan tamu-tamu kami yang menginap itu dengan hangat mengharapkan : "Jangan lupa lho Mas, kalau pulang nanti harap ke rumah saya dan menginap di rumah saya. Saya dan keluarga saya siap membawa sampeyan ke mana-mana jika sudah di Indonesia nanti, tenan lho", katanya meyakinkan. Sudah tentu kami sangat gembira menerima tawaran itu. Sangat hangat dan bersahabat. Dan tidak hanya itu saja, antara kami masih bersurat-suratan bahkan kalau ada peristiwa penting, misalnya ulangtahun, atau pesta pernikahan keluarganya, anaknya, sunatan cucunya, kami saling bertilpunan. Rasanya hati ini bukan main senangnya ada kehangatan antara keluarga, teman dan sahabat serta kenalan. Rasa kangen pulang agak terobati dengan hubungan begini. Tetapi di lain pihak, karena kehangatan tadi itu, jadinya semangat pulang bertambah menggebu-gebu. Dan apa yang kami tunggu belasan tahun ini, dengan rasa sabar dan sedikit gemetar, karena gembiranya, maka seorang demi seorang kami mendapatkan paspor kewarganegaraan Perancis. Kontan begitu dapat paspor itu apa yang kami lakukan? Cari tiket, booking buat ke Jakarta! Pekerjaan ini yang paling pokok, kalau perlu ngutang dulu buat ongkos beli tiket.
Dan seorang demi seorang, bahkan ada yang dengan sekeluarganya pulang ke kampunghalaman, yang sudah terpisah selama 30 tahun lebih. Dan, nah, tema inilah yang mau kuceritakan. Sesampainya di Jakarta, bukan main kami pada berkangenan dan melepas kerinduan dengan kaum keluarga dan sahabat serta kenalan. Setiap hari sibuk bertemu dengan keluarga dan teman, hal ini wajar dan tak ada anehnya. Tetapi setelah aku berusaha menilpun keluarga, teman dan kenalan yang dulu pernah di rumah kami, dan yang begitu menggebu-gebu mengajak datang ke rumahnya, mengajak menginap, lalu apa yang terjadi? "Waduh sayang Mas ya, akhir-akhir ini saya bukan main sibuknya dengan pekerjaan kantor. Rapat setiap hari, dan begitu pulang sudah larut malam. Kapan ya baiknya bisa ketemu", katanya dalam tilpun. Masih sempat aku berpikir, agar kesiapanku menerima segala kemungkinan yang tak sedap kalau begitu tiba di Jakarta, tampaknya akan jadi kenyataan. Dan sekali-kali janganlah memaksa orang yang memang tak mau ketemu dirikita. "Begini sajalah", kataku,- "Pokoknya kan sampeyan tahu nomor tilpun saya, nah, kapan sampeyan ada waktu dan kebetulan sempat bisa sewaktu-waktu menilpun saya. Sementara ini saya tetap di Kayu Putih Utara, Jakarta Timur, kan kita ini masih sama-sama di wilayah Jakarta Timur, kan?", kataku. "Nah, kalau begitu simpatiklah usul sampeyan itu. Okey deh ya, salam dan sampai ketemu kapan-kapan", katanya. Tampaknya teman itu bukan main senangnya dengan usulku yang tidak memberikan beban berat kepadanya. Dan aku sudah memperkirakan jauh sebelumnya. Tak ada tilpun sesudah itu, dan akupun merasakan lebih baiklah tak usah didesak-desak mau ketemu. Biarkan dia bebas menentukannya sendiri. Soal yang dulu itu, begitu hangat, begitu bersahabat, begitu menggebu-gebu menawari datang dan menginap di rumahnya, bisa saja sekarang ini berubah. Haruslah kuketahui, tidak semua orang berani bertemu dan berkenalan dengan kami, apalagi di tanahairnya sendiri! Ada yang berani, tetapi jauh di luarnegeri! Tak ada yang melihat, tak ada yang mengawasi, tak ada yang menguntit dan melaporkan!
Ada seorang temanku, sudah jadi haji. Kami bersahabat sejak kecil di SD, sampai pisah tahun 1963 itu, tetap antara kami hangat dan akrab. Dan saling bertulisan surat, saling mengungkapkan rasa kekangenan dan kerinduan antara kami. Sesudah saling janji mau ketemu dan mau ngobrol sepanjang malam kalau aku suatu hari bisa pulang, masing-masing kami sudah merencanakan apa saja yang mau diobrolkan. Tetapi tampaknya teman akrabku itu samasekali tidak menyangka yang pada akhirnya aku bisa pulang. Maka tergagaplah ketika aku menilpunnya begitu sampai di Jakarta Timur, sama dengan yang kutemui pada kasus pertama.
"Aduh kapan ya kita bisa ketemu. Saya ini sedang sibuk memperbaiki rumah, reparasi agak besaran. Jadi sekarang bagaikan kapal-pecah rumah kami ini. Sangat tak sedap dilihat mata", katanya. "Ya, kapan-kapan sajalah. Kalau sampeyan ada waktu saja nanti. Pokoknya saya kan dalam dua tiga minggu ini masih di rumah ini. Bisa sampeyan menilpun saya kalau ada waktu dan sempat". "Nah, kalau begitu baik jugalah. Nanti kalau sudah agak senggang dan sudah agak rapi, saya akan tilpun sampeyan", katanya. Sangat senang tampaknya teman akrab saya satu ini dengan usul longgar begini. Dan lagi-lagi kudapati kasus yang sama. Sampai pulang ke Paris, teman akrabku itu, tak ada kabar beritanya. Dan akupun merasa senang, mengerti dan bisa memahami mengapa mereka tak mau bertemu denganku. Bisa terjadi banyak hal yang tidak menjamin keamanan hidup mereka. Lebih baik tak usah bertemulah, daripada misalnya sesudah bertemu denganku, lalu ada ekor-ekor jahat yang bisa melibas mereka. Dituduh macam-macam. "Tidak bersih lingkungan" atau harus diinterogasi, siapa itu, dari mana dia, di mana tinggal menetapnya. Atau paling celaka, tahu-tahu ada surat keputusan di PHK-kan dari pekerjaannya karena hanya bertemu denganku. Jadi, para keluarga dan teman-temanku dan sahabatku, sepenuhnya aku mengerti, mengapa antara kita bisa terjadi hal-hal begini. Antara kita tak ada yang salah dan bersalah. Soal dulu itu, yang sangat menggebu-gebu dengan semangat hangat-bersahabat agar mampir dan menginap di rumah kami kalau sampeyan di Jakarta nanti, sudah tentu bisa kita lupakan, anggap saja tak ada. Dan bukankah bisa saja hanya sebagai basa-basi, atau karena keadaan kongkrit atas situasi kongkrit, terpaksa kita harus saling mengertilah.-
Paris 1 Mai 1999
Nyaris saja, berbeda satu hari saja. Kalau sekiranya malam itu aku tidak "tertangkap" oleh abangku yang sudah 9 tahun tak bertemu, maka tak tahulah aku bagaimana jadinya perkembangan diriku. Malam itu seakan sengaja mereka "berkomplot menculikku" dengan adik iparnya Gandhi, yang padahal keesokan paginya aku harus berangkat dengan kapal SMN - Stoomvaart Maatshappij Nederland ke jurusan Amerika Serikat dengan kapal yang namanya TAHU LANDANG-,lihat buku kumpulan cerpen RAZZIA AGUSTUS, bagian Cabin-boy,-Jabatanku ketika itu namanya cabin-boy, menurutku bukan main hebatnya jabatan itu. Dan setelah malam itu aku "tertangkap karena penculikan" itu, keesokan harinya aku dibawa oleh Pak Iskandar Subekti buat mencatatkan diri masuk Taman Siswa bagian Taman Dewasa. Tahun 1948,- Kembali aku jadi "anak baik" lagi, bersekolah, belajar dan hidup normal lagi.
Lama-lama terasa aku mencintai Taman Siswa. Rasanya Taman Siswa itu bagaikan rumahtangga saja adanya, tak terasa bahwa itu adalah sekolahan, pendidikan, perguruan. Karena pergaulan antara para siswa dan para pamongnya, sebutan buat para gurunya, sangat akrab, hangat dan bagaikan sekeluarga besar. Tak terasa perbedaan antara si miskin dan si kaya, atau tidak sangat menyolok. Di Taman Siswa tidak hanya ditanamkan pendidikan sekolahan saja, tetapi juga ditanamkan pendidikan budi-pekerti, civic, cinta tanah-air, filsafat kehidupan secara umum, dan lain sebagainya yang sifatnya soal-soal kehidupan. Itulah pula sebabnya aku merasa cocok dengan pendidikan Taman Siswa, dan selama 6 tahun penuh aku di sana, dari 1948 sampai dengan 1954.
Guru-guru Taman Siswa dengan kami para siswanya bagaikan saudara dan keluarga. Sangat terbuka dan akrab. Dapatlah dibayangkan, kalau rumahku yang di Kepu Selatan itu kebanjiran tamu dari Belitung atau yang akan pulang ke Belitung dari Yogyakarta, Bandung, Bogor dan lainnya, maka aku gampang saja mencari tempat penginapan. Aku menginap di Taman Siswa. Di mana? Ya, di kelas. Pasang beberapa bangku, dekat-rapatkan, lalu bawa selimut dari rumah, dan tidur. Tetapi harus ingat dan sekali-kali jangan lupa, agar besok sebelum jam 07.°° harus sudah meninggalkan ruangan itu dengan dibersihkan sebaik-baiknya. Sebab sebentar lagi ruangan itu digunakan buat kelas-perlajaran. Nah, beres, dan sudah berkali-kali kukerjakan begini, tanpa tahu para pengurus, dan pamong. Sebenarnya kalaupun mereka tahu, takkan terjadi apa-apa, hanya saja harus selalu dibersihkan, dirapikan. Tokh kitapun harus tahu, ini gedung pendidikan sekolahan bukannya asrama pemondokan. Aku sering juga ke asrama pemondokan Taman Siswa yang jauh di Ujung Kali Sunter sana, dan sering juga menginap di sana. Nama asramanya SOLI DEO HONOR,-
Seorang pamong dan juga Ketua Majelis Luhurnya ketika itu adalah Pak Said. Pak Said adalah seorang guru yang sangat dicintai para siswanya. Dia benar-benar seorang akhli pendidikan, bukan hanya guru semata-mata. Dulu ada pemeo yang mengatakan, kalau Indonesia punya sepuluh saja orang seperti Pak Said ini, maka bereslah Indonesia ini, akan maju pesat. Yang berpendapat demikian antaranya Bakhrum Rangkuti, seorang deklamator, seorang penyair yang terkemuka ketika itu. Tetapi sebagai tambahannya, Bakhrum-lah yang antara lain menjadi petunjuk buat para serdadu rezim fasis Suharto buat menyeleksi buku-buku mana saja terbitan orang Lekra yang harus dilarang! Dan sampai kini larangan itu belum dicabut. Ini antara lain berkat "jasa" Bakhrum Rangkuti juga.
Ada suatu periode yang kebetulan aku menjadi "pejabat-tinggi" PPTS, Persatuan Pelajar Taman Siswa. Satu hari kami mengadakan peringatan atau perayaan Hari Kartini, 21 April. Perayaan begini seperti 10 November, Hari Pahlawan, atau 3 Juli kelahiran Taman Siswa, selalu kami rayakan. Kesibukan di sekitar kegiatan hari perayaan dan peringatan itu sangat makan-tenaga dan waktu dan pikiran. Anggota Panitya lainnya sudah berkali-kali minta uang-dana buat ongkos beli peralatan segala macam dekor, perlengkapan, dan yang lainnya. Yang diincer dan dicari-cari adalah aku sendiri sebagai "penguasa" PPTS. Dan aku dapat giliran mengincer Pak Said agar dia mengeluarkan uang-kas buat keperluan itu. Sudah kubuatkan surat tanda-terimanya, uang 300 Rupiah, tinggal tandatangan Pak Said saja. Semua hal-ihwal ini aku mengetahui semua mekanismenya, karena sudah biasa. Tetapi baru saja mau menemui Pak Said, tahu-tahu dia harus pergi. Selalu saja sibuk. Yang kutahu ketika itu, ada beberapa Perguruan Tinggi serta Akademi yang Pak Said jadi dosennya. Kebanyakannya Pak Said memberikan mata-pelajaran Bahasa. Bahasa Belanda, Bahasa Jerman dan Bahasa Inggeris. Dan dia memberi kuliah di PTIK, Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian, atau di ADLN, Akademi Dinas Luar-Negeri, atau di APPDN, Akademi Pendidikan Pamongpraja Dalam Negeri.
Karena kesibukan Pak Said yang banyak menyita waktunya ini, sehingga kami sendiri sangat sulit menemuinya, maka kucari jalan-pintas buat mencairkan uang yang 300 Rupiah itu. Kupelajari tandatangannya, dan sangat mudah. Ada tulisan said pakai huruf kecil lalu ekornya di ujung d itu, ada celekukan seakan pakai r, jadi seperti saidr. Tanpa ragu-ragu kutandatangai sendiri, tokh Pak Said sudah tahu akan keperluan itu dan sudah tahu,bahwa kerja organisasi begini juga menghendaki kecepatan kerja. Dan ketika aku datang ke Pak Bardjo buat mencairkan nota itu, tanpa keraguan sedikitpun uang sejumkah tertulis diserahkannya padaku. Dan aku langsung menyerahkannya kepada Sri Utami penanggungjawab pertunjukan. Beres kan, akan cepat sekali kerja yang tahu mekanismenya, demikian pikirku ketika itu. Tetapi petang itu Pak Said datang dan langsung menanyakan kepadaku, apakah sudah beres semua perlengkapan dan persiapan buat pertunjukan yang tinggal dua hari lagi? Dan mana yang harus saya tandatangani itu, kata Pak Said. "Oh, sudah beres kok Pak". Pak Said agak kaget. "Tapi saya kan rasanya belum tandatangan. Lalu bagaimana kamu katakan beres?!". "Saya tandatangani sendiri Pak. Habis menunggu Bapak saya kira akan lama, jadi saya tandatangani sendiri saja", kataku. Tampak Pak Said agak kaget. "Ini kerja tidak beres. Bagaimana bisa terjadi begitu. Mari kita sama-sama ke Pak Bardjo", katanya.
Dan kami ke Pak Bardjo. Pak Bardjo juga merasa sangat kaget dan heran. Diambilnya kertas bon itu, dan kami sama-sama melihat tandatangan itu. Pak Said pada mulanya dengan muka merah agak marah, tetapi lama-lama terbit sedikit senyumnya. Dan lalu berkata: "Keterlaluan kamu Simon.Persis, tentu saja Pak Bardjo akan memberikan uang itu, tak ada bedanya. Bagaimana kamu menirunya begitu persis", kata Pak Said. "Karena sudah biasa melihat tandatangan Bapak, dan selalu saja saya "tukang ambil uangnya di kas" kataku. "Kamu tahu apa hukuman yang kamu kerjakan itu? Kamu harus mempertanggungjawabkan kerja-keliru dan bersalah itu. Itu artinya pemalsuan tandatangan. Kamu mengerti? Kamu tahu ya, saya juga kerja di PTIK, bagian kriminalogi", kata Pak Said. Sebenarnya aku juga sudah merasa bahwa itu salah, tetapi karena aku mau kerja-cepat dan praktis, jadi kukerjakan juga walaupun salah. Dan kalau Pak Said akan lebih marah lagi, aku menyerah saja, apapun yang akan ditimpakannya padaku. "Sekarang saya beri kesempatan padamu, besok datang ke kantor, pikir dulu beberapa jam ini. Apa kesalahanmu itu, dan apa akibatnya bagi kehidupan dirimu dan juga lingkungan di mana kau ada dan hidup", kata Pak Said.
Aku sebenarnya sudah takut dan sangat kuatir kalau-kalau siapa tahu aku akan dipecat dari Taman Siswa. Dan keesokan harinya aku datang ke kantor Pak Said, dengan sudah siap "menyerahkan" diri. "Pak saya datang buat mempertanggungjawabkan pekerjaan saya kemarin. Saya mengakui kesalahan saya, dan saya menyerahkan semua hal-ihwal saya kepada Bapak! Sebagai orang yang bersalah dan dapat dianggap memalsukan tandatangan Bapak. Tetapi saya ingin mengatakan mengapa semua ini saya kerjakan? Karena saya hanya terpancang kepada pekerjaan peringatan dan perayaan ini agar bisa selesai dengan cepat dan baik. Itu saja alasan mengapa maka saya kerjakan penandatanganan itu". Lama Pak Said tampak berpikir. Lalu dengan agak mengejek berkata: "Kau itu Mon, tak ada pikiran harus punya "kesabaran revolusioner" sebagaimana sering dikatakan abangmu di koran-koran", kata Pak Said sambil memicingkan matanya kepadaku. Memang kata-kata ini dikeluarkannya agar aku terasa bersalah tidak punya "kesabaran revolusioner" seperti sering dikatakan Bang Amat di koran-koran ketika itu. Kalau sudah begini, alamat baik, takkan ada ekor belakangnya yang sangat kukuatirkan. Dan betapa aku senangnya setelah itu, aku dipeluk Pak Said dengan pesannya wanti-wanti agar selalu bertindak korek.
Dan cerita dengan Pak Said ini ternyata belum selesai. Ada seruan di Taman Siswa, bahwa bagi siapa-siapa yang merasa terlalu banyak dikenakan uang-sekolahnya, agar bisa mengajukannya ke tatausaha kas Taman Siswa, agar bisa dipelajari, dan kalau mungkin dan masuk-akal uang-sekolah akan diturunkan. Tetapi sebaliknya, kepada para siswa agar mengisi pendapatan orang-tuanya dalam daftar-isian, yang bukannya tidak mungkin uang-sekolah akan dinaikkan sesuai dengan pendapatan orang-tua. Uang-sekolahku ketika itu 35 Rupiah. Rasanya aku ingin minta turunkan agar bisa 20 Rupiah, nah, ini rasanya cocok dengan uang-belanjaku, nantinya ada tambahan dari turunnya 15 Rupiah itu, sebab ayahku akan selalu memberikan uang sejumlah 35 Rupiah itu. Dan akupun turut antri minta turunkan uang-sekolah itu.
Tadinya kukira pemeriksaan hanya pada pegawai tata-usaha saja adanya. Ternyata Ketua Majelis Luhur-pun harus turut juga memeriksa dan mempertimbangkannya. Maka satu petang ketika akan pulang sekolah, aku dipesan Pak Said agar datang ke kantornya. Samasekali aku tak menyangka perkara apa lagi yang akan "menimpa" diriku. "Simon, sini, kamu kok ada-ada saja Mon. Ini apa-apaan?", katanya sambil memperlihatkan daftara isian yang minta turunkan uang-sekolah itu. Dan kulihat masih kosong belum ada paraf atau tanda apapun. "Ya, Pak, rasanya saya juga ingin diturunkan uang-sekolahnya", kataku. Pak Said menghela nafas panjang, dan sesudah berpikir agak lama, barulah berkata: "Kamu tahu Simon, seharusnya uang-sekolahmu dinaikkan, ini terlalu murah bagimu, hanya 35 Rupiah, lalu masih juga kamu minta turunkan 20 Rupiah, keterlaluan kamu", katanya. "Lalu apa alasannya Pak", kataku seolah-olah samasekali tak ada salah dan kekeliruannya. "Memangnya saya tidak tahu, bahwa ayahmu jadi anggota Parlemen, abangmu jadi anggota Parlemen, dan mertua abangmu juga jadi anggota Parlemen! Jadi, kamu samasekali tak dapat dikategorikan orang yang tidak punya dan miskin, tidak,tidak dapat! Tidak mungkin anakku, tidak mungkin, seharusnya Taman Siswa menaikkan uang-sekolahmu, karena perhitungan ini dulu ketika ayah dan abangmu belum jadi anggota Parlemen. Kamu kan masuk di TS pada tahun 1948, dasar dari tahun itulah penetapan uang-sekolahmu, jauh sebelum kalian sekeluarga punya uang!", kata Pak Said. Aku menyerahkan saja kepada TS dan Pak Said. Dan akhirnya setelah bersetuju dengan pihak TS dan Pak Said serta ayahku, maka aku harus bayar uang-sekolah 50 Rupiah, naik 15 Rupiah, bukannya turun 15 Rupiah seperti perkiraan dan rekayasaku semula. Dan sebenarnya uang-sekolah ini masih tetap murah dan wajar bila mau dipersandingkan dengan pendapatan ayah dan uang-sakuku ketika itu.
Dan aku tetap sangat mencintai Taman Siswa sampai tahun 1954 sesudah aku pindah ke UI di Fakultas Sastra Salemba. Aku tahu betul, adat dan kebiasaan TS dan Pak Said, tidak akan mengusir dan memecat para siswa yang tidak mampu bayar sekolah karena memang miskin dan tak punya. Tidak akan memecat dan mengusir siswa yang tak naik kelas, tak lulus karena tak sempat belajar disebabkan siswa itu harus bekerja sambilan di beberapa kantor dan perusahaan. Tetapi TS dan Pak Said memang akan dan pernah memecat siswa yang berbuat kejahatan kriminal, misalnya mencuri sepeda, mencopet, jambret, berjudi dan berkelahi tawuran, dan itupun sesudah diperingatkan berkali-kali.
Aku tahu tabiat TS dan Pak Said, sangat suka dan gembira bila melihat para siswanya aktive bergerak di organisasi, menjadi aktivis, sportive, lincah, dan selalu perduli dengan masarakat sekitar dan rakyat. Dan itulah pula sebabnya TS pada periode tertentu pernah menjadi "sarang" orang-orang PSI, Masyumi dan PKI. Banyak seniman serta budayawan "bersarang" di sana. Termasuk Affandi, S.Sudjojono, Chairil Anwar, dan orang-orang pelaku politik - budaya dan sosial. Walaupun TS termasuk pernah menjadi "sarang" beberapa gerakan tadi, Pak Said pernah kudengar dituduh atau memang ya, adalah penganut paham PSI, bukan Masyumi apalagi PKI! Tetapi bagaimanapun, peranan TS dulu sangat aktive, dan sangat peduli pada gerakan masarakat, baik dari segi politik apalagi sosial-budaya. Dan sifat-sifat ini yang menjadikan aku sangat mencintai Taman Siswa dan tak terpisahkan dengan Pak Said, guru dan pendidik yang benar-benar berbobot jelas dalam saling asuh, asah dan asih.-
Paris 2 Mei 1999
Dapatkah dikatakan mistik, atau suatu kepercayaan yang ada di kalangan keluargaku ini? Aku sendiri tak dapat mengatakannya secara pasti. Biarlah orang lain sesudah mendengarkan penuturan ceritaku ini, menentukan pendapatnya sendiri. Yang kumaksud dengan mistik di kalangan keluargaku, adalah di pihak keluarga isteriku. Sedangkan di pihak kami, di pihakku, tak ada atau tak terdapat gejala yang demikian. Misalnya saja ponakan isteriku, Ita, yang dulu selalu denganku ke mana aku bepergian, adalah seorang paranormal. Rata-rata keluargaku, mereka ini kenal dan tahu mistik, termasuk dua anakku. Sedangkan aku cukup asing dengan dunia itu, tetapi terkadang percaya juga, hanya tidak menjadi suatu keyakinan benar.
Ketika kami di Jakarta bersama anakku yang pertama, si Wit, maka bertemulah dia dengan saudara sepupunya, si Ita, yang berprofesi paranormal itu. Tampaknya kedua saudara sepupu itu ada kecocokan dalam dunia mistik. Ketika ada tamu buat konsultasi tentang suatu perkara, Ita selalu menyertakan Wit, agar turut serta membahas persoalan yang dihadapi tamu atau pasiennya. Mereka berdua selalu berbahasa Tionghoa Beijing, karena kebetulan Ita juga sejak kecilnya disekolahkan yang berbahasa Tionghoa di Medan. Sedangkan Wit, jauh lebih mahir berbahasa Tionghoa daripada bahasa Indonesia, sejak umur satu tahun dia sudah di Tiongkok sampai umur 18 tahun. Karena dua saudara ini selalu saja berbahasa Beijing, maka tamunyapun agak heran juga, kok tahu-tahu dukunnya ini ternyata bisa berbahasa Tionghoa. Siapa tahu keadaan ini, menjadikan sang dukun, paranormalnya ini sedikit dapat angka plus, siapa tahu! Dalam bahasa Beijing, Ita berkata kepada adiknya, Wit:
"Wit, kau coba juga lihat. Nanti kita cocokkan antara penglihatan kakak dengan penglihatanmu. Coba sini, kau konsentrasikan, lalu kau pantau baik-baik, ada apa rupanya, dan dapat tidak terkabul maksudnya?", kata Ita. Aku dengan Maya, anak Ita, selalu dapat mendengarkan percakapan mereka, walapun sebenarnya bukanlah bermaksud "nguping". Karena bentuk rumah ini bagian dalamnya menyatu dengan ruangan belakang, jadi dapat saja saling terdengar semua percakapan. Dan tampaknya bagi tamu dan pasien tersebut tak jadi soal benar. Wit dengan konsentrasi dan meditasinya yang tampaknya saling belajar dan saling tukar pengalaman dengan kakaknya, sedikit agak serius daripada biasa. Dan agak lama dia mengumpulkan hasil pantauannya. Lalu berkata kepada kakaknya dan tamu - pasien itu:
"Saya lihat bisa sih bisa kalau mau dijual, tetapi makan-waktu agak lama juga. Sebab saya lihat perumahan itu masih penuh semak dan pohonan gula yang tidak teratur. Saya kira bersihkan dulu baik-baik dan pohonan gula itu habiskan tebangi rata. Kelihatannya calon pembeli sangat tidak suka akan semak belukar pohonan gula itu", kata Wit. Dan kakaknya menanyakan dalam bahasa Beijing, apa itu pohonan gula. Dijawab yang bisa dibikin gula manis buat kopi dan kue-kue itu. Maka tahulah kakaknya, yang dimaksudkan Wit adalah pohon tebu yang tak teratur tumbuhnya. Dan ternyata tamu dan pasien itu bermaksud akan menjual pekarangan berikut rumah-lamanya di suatu kampung. Dan kakaknya merasa sangat puas akan pemantauan adiknya, ternyata pendapat mereka sama.
Dan semua hasil pemantauan mereka berdua ini dikatakan kepada tamu tadi. Dan tamu tadi merasa sangat puas. Kenapa? Memang rumah-pekarangan yang mau dijualnya itu masih penuh semak-semak kecil yang belum dibersihkan, dan "pepohonan gula" itu tadi juga adalah benar, banyak tetumbuhan tebu liar, bukannya ditanam teratur. Pihak tamu dan pihak "pemantau" sama-sama puas. Dan aku tidak lagi mengikuti bagaimana akhirnya perkara penjualan rumah-pekarangan yang dimaksud.
Kakak Ita, saudaranya yang sulung namanya As. As ini pernah kirim surat padaku, bahwa katanya, tantenya, yaitu isteriku almarhum, sering dilihatnya ada di pohon mangga di rumahnya. Ini benar-benar aneh dan gila! Isteriku meninggalnya di Beijing, Tiongkok, sedangkan rumah As itu ada di Rajawali Selatan, Kemayoran - Jakarta. Bagaimana bisa jadi? Tapi sudahlah, dengarkan sajalah ceritanya. Itulah pula sebabnya, pohon mangga di rumahnya itu selalu berbuah, kapanpun, tak bermusim, demikian kata-nya. Suatu waktu ketika kami pulang pertama tahun 1993 setelah genap 30 tahun tak ketemu tanahair, dan kami menginap di rumahnya di Kemayoran Jalan Rajawali Selatan, betul saja, pohon mangga itu sangat rindangnya dan bergayutan buahnya lebat sekali. Padahal musimnya samsekali bukan musim buah mangga. Sekitarnya semak belukar yang akan segera dibabat habis, karena rencananya seluruh lokasi Kemayoran sekitar lapanganterbang, akan dijadikan proyek eksposisi - pagelaran barang-barang industri. Dengan demikian seluruh perumahan sekitar situ akan digusur bersih dan habis. Termasuk rumah besar ponakanku As ini. Maklumlah rumah ini rumah dinas AURI, sedangkan suami As ini, termasuk perwira menengah-tinggi, mana ada rumah tentara yang berpangkat yang kecil dan jelek!
Keanehan lain, sering sekali seekor burung bayan yang sangat jinak datang ke kepalaku, ke telapak tanganku. Dan ketika hinggap di kepala cucuku Loulou, dia terkejut dan berteriak ketakutan, menjerit na-ngis. Dan bayan itupun terkejut juga dan lari terbang. Tetapi dua tiga jam lagi, datang lagi dan tetap mau hinggap di kepala kami atau di telapak tangan kami. Bayan ini sangat jinak, dan sangat menyenangkan. Biasanya bayan akan selalu hidup di hutan yang besar atau agak besar. Tapi ini di sekitar hutan semak-belukar kecil yang ada di sekitar Kemayoran itu saja. Ini cukup mengherankanku. Bagaimana bisa jadi seekor bayan begitu jinak dan terbang tak jauh-jauh. Ketika kutanyakan siapa yang punya bayan itu. Katanya tidak ada orang yang memiliki bayan, dia bayan liar saja, hidup begitu saja. Lalu berkepanjanganlah pikiranku. Betapa kasihan juga pada bayan itu. Dia sudah kehilangan hutannya! Terlalu banyak kita ini sudah kehilangan. Orang sekitar situ akan segera kehilangan rumahtinggalnya, karena akan segera digusur. Sedangkan banyak binatang sekitar situ juga akan kehilangan habitatnya, kehilangan tempattinggal dan sarangnya. Ternyata tidak hanya bayan itu saja, tetapi juga ada beberapa ekor ayam liar, ayam hutan. Dulunya, dulu sekali, hutan sekitar Kemayoran cukup lebat, bahkan pernah menjadi tempat bersarangnya para penyamun dan perampok sebelum Perang Dunia - 2,-
Ketika "kami" akan berpisah, keesokan harinya kami akan berangkat ke Bali buat terus pulang ke Paris, bayan tersebut datang buat penghabisan kalinya. Karena "kami" sudah agak akrab dengan bayan itu, terutama Loulou dan aku, termasuk ibu Loulou, si Nit, maka sedih juga rasanya kami akan berpisah. Aku ngomong baik-baik kepada bayan itu : "Bayan, aku tidak tahu kamu akan ke mana. Orang rumah ini akan dan dipaksa pergi ke Cibubur sana. Sedangkan kamu, tidak mungkin kami bawa. Cobalah cari hutan yang agak lebat. Mungkin ada, mungkin sangat jauh. Tapi kudoakan agar kamu selamat cari tempat lain. Sekarang ini tidak hanya kamu dan ayam-liar itu saja kehilangan habitatnya, kamipun terusir juga, sudah sama -sama harus pergi dan meninggalkan tempat ini. Besok pagi-pagi kami harus pergi", kataku kepada bayan itu. Dan kuciumi dan kubelai-belai bulunya yang licin dan penuh warna-warni itu, merah-hijau-agak kuning, ada putihnya sedikit, bagaikan pameran warna di seluruh tubuhnya. Dan apa yang kulihat serta kusaksikan? Loulou cucuku yang berumur 6 tahun itu mengambil bayan itu dari tanganku. Lalu menciuminya, mengelus-elus bulunya yang berkilat licin itu, dan tampak airmatanya sedikit ke luar. Kudengar bisikan, dia ngomong kepada bayan itu dalam bahasa Perancsinya yang pada akhirnya, demain——-aurevoir bayan ya, aurevoir demain, dan berkali-kali diciuminya. Melihat adegan begini, terharu juga hatiku dibuatnya. Betapa akan sangat indahnya apabila segala makhluk di dunia ini baik binatang maupun manusia, serta alam-lingkungan saling bersahabat, erat dan akrab, maka sorgalah dunia ini!
4 Mei 1999,- buat ulangtahun cucuku Loulou tepat hari ini 13 tahun
Ketika isteriku sakit berat, diopname di Rumahsakit Persahabatan Beijing, setiap sore aku menjenguknya. Terkadang kami bertiga dengan dua anakku, lebih sering aku sendiri, sebab anak-anakku harus belajar dan mengerjakan PR-nya di rumah. Dari sehari ke sehari sakitnya tak berkurang, malah tampaknya tambah berat, walaupun banyak jalan sudah ditempuh pihak rumahsakit. Pada satu sore, dia samasekali tak mau memperlihatkan mukanya, tak mau melihat kami. Dan hanya menangis dan menangis. Hari itu kami tak dapat berdialog, dia diam saja, dan hanya terdengar isakannya, karena menangis sangat sedihnya. Tentu saja dua anakku juga menangis, bingung dan kesedihan. Aku segera mencari dokter-dinas hari itu, kutanyakan apa yang sudah terjadi. Paginya beberapa dokter datang memeriksanya, semua dokter yang ada sangkut pautnya dengan penyakitnya. Penyakit pinggang, nir, jantung, penyakit kulit, dan spesialis bagian dalam. Hari itulah para dokter menyimpulkan penyakit apa yang diidapnya.
Belakangan, beberapa hari sesudah itu, barulah aku tahu, sesudah isteriku menceritakan semuanya, dengan masih terus menangis. Para dokter ketika itu ngomong dengan tanpa perhitungan lain, bahwa sebenarnya isteriku mengetahui sifat dan jenis penyakit. Dan lagi dia sendiri adalah dokter geneakoloog obstretikus, penyakit bagian kewanitaan, dan dengan sendirinya banyak tahu sifat dan karakter penyakit. Para dokter menyatakan bahwa dia mengidap penyakit yang namanya LE, lupus erytomatusus. Penyakit ini kalau diterjemahkan dari bahasa Tionghoanya, sakit-bintik-bintik darah merah akibat srigala. Sebenarnya penyakit ini sejenis kangker darah yang merusak ginjal, paru-paru, dan keseluruhan metabolisme tubuh. Dan ketika hari diumumkan itulah dia menangis sepanjang hari, yang kami datangpun tak sedikitpun diperdulikannya. Karena dia tahu benar, bahwa penyakit ini tidak mungkin dapat disembuhkan. Dan hanya menunggu hari-hari terakhirnya saja. Dan itulah pula sebabnya dia sangat bersedih hati. Dia tahu akan meninggalkan dua putrinya yang sedang menanjak dewasa, yang sebenarnya sangat memerlukan asuhan seorang ibu. Diapun tahu akan betapa beratnya seorang ayah yang harus bertanggungjawab atas dua putri yang sedang menanjak dewasa, dan pada akhirnya ayah itu harus berfungsi ganda, sebagai ayah dan juga sebagai pengganti seorang ibu.
Dan sesudah itu, tiap sore kami menjenguknya, semangatnya sudah jauh merosot, lemah, dan seakan-akan sudah pasrah. Ini juga karena penyakitnya. Dia sudah sangat sulit kencing, dan bila batuk sudah mengandung darah-segar. Dan aku melihatnya sangat berat dan sangat memelas, betapa iba hati kita melihat penderitaannya. Tetapi adakalanya semangatnya baik. Mau ngomong dan mau banyak tanya ini itu, dan mau menanyakan perihal sekolah anak-anaknya. Ketika pada sore Sabtu, kami lihat semangatnya cukup baik, dan sudah berjalan di koridor sekitar situ. Kami sangat gembira melihat semua ini. Dan kami berjanji buat keesokan harinya mau makan bersama dengannya di rumahsakit. Kami akan bawa sendiri makanan dari rumah. Tetapi begitu sampai di rumah, anakku Wit, kakaknya Nit, tiba-tiba saja menangis. Kutanyakan mengapa? Bukankah besok kita akan bersama-sama Mama makan di rumahaskit? Wit men-jawab : "Tidak mungkin lagi. Saya merasa besok Mama sudah dipanggil oleh Jesus buat kembali ke asalnya", kata Wit. Dan aku merinding buluhalusku mendengar ucapannya. Anak ini sangat dekat dengan ibunya, sangat perasa, dan dugaannya jarang meleset. Ini sejak kecil kuperhatikan.
Aku yang dipesan oleh pihak Radio Beijing yang mengurus kami, kalau terjadi apa-apa, mereka akan menilpun langsung ke rumah, selalu saja aku mendengarkan kalau-kalau ada deringan tilpun. Dan bagaikan orang sakit syaraf aku dibuatnya. Kutunggu kalau-kalau ada, kutunggu. Yang kutunggu deringan tilpun. Tetapi malah yang datang ketokan pintu menjelang jam 05.°°. Seorang petugas Radio menjemput kami untuk segera ke rumahsakit, bahwa ibunya anak-anak dalam krisis berat. Begitu kami datang, dia sudah koma, dan sudah tak ingat apa-apa lagi. Kudampingi dia sampai nafas terakhirnya, sedangkan anak-anak pulang segera buat mempersiapkan pakaiannya yang terbaik, cara nasional, berbatik kebaya, lengkap. Dan benarlah kata anakku Wit, tak mungkin sempat memenuhi perjanjian kami bersama buat makan berempat secara lengkap. Anak-anak menangis sangat sedihnya, kehilangan ibu yang sangat dicintainya. Aku menahan diri, biarlah nanti saja, kalau sudah sampai di rumah, dan kalau sudah malam mau tidur.
Dalam rangka ini yang mau kuceritakan yalah peranan arti mistik yang ada pada anakku. Si Wit tahu betul dan yakin betul bahwa Mamanya tidak mungkin akan dapat makan bersama berempat dengan kami keesokan harinya. Padahal jaraknya hanya beberapa jam saja, dan dia sudah terasa dan sudah tahu, katanya Tuhan Jesus besok akan lebih dulu menjemputnya. Padahal jauh sebelumnya dua anak kami ini tak pernah mendapatkan pendidikan agama, tetapi dia sudah menyebut nama Tuhan dan Tuhan itu menurut sebutannya adalah Tuhan Jesus.
Ketika kami bertiga mau berangkat ke Beijing tahun 1990, Nit, Loulou cucuku dan aku, buat berziarah ke makam ibunya anak-anak, kami masih sempat "berkonsultasi" dengan Wit. Kutanyakan pada Wit, coba tolong pantau, kira-kira ada halangan tidak kami berangkat kali ini. Sesudah dia berkonsentrasi dan sedikit meditasi, dia katakan dengan tegas dan tanpa kebimbangan : "Ada kesulitan dan ada halangan. Tetapi tetap papa dan Nit dan Loulou bisa berangkat, tidak apa-apa karena memang masih bisa di atasi. Berangkatlah", katanya. Dia agak sedih karena tak bisa berangkat bersama dengan kami, karena diapun sangat ingin nyekar dikuburan ibunya di Beijing.
Dan benar saja, kami hari itu tidak bisa berangkat karena pihak pelabuhan-udara melarang kami berangkat karena kami hanya punya paspor travel-dokument saja. Padahal kami tahu benar, travel-dokument yang dikeluarkan atas nama perjanjian Jenewa, berlaku di manapun. Tetapi yang namanya polisi, tak dapat dan kena kalau didebat! Hari itu juga kami urus ke Prefektur Pusat, ke Kantor Polisi Pusat buat kota Paris dan sekitarnya. Pihak Kantor Polisi Pusat segera menilpun ke kantor polisi pelabuhan udara, yang menyatakan larangan mereka itu adalah salah, salah samasekali! Tetapi sudah terlambat, dan kami dua hari sesudah itu barulah bisa berangkat, karena tak ada penerbangan ke Beijing secara langsung ketika hari itu. Ini yang pertama dugaan Wit adalah benar, benar ada halangan.
Lalu ketika kami kembali ke Paris melalui Pakistan, dan singgah di Rawalpindi selama 6 jam, dan meneruskan perjalanan lagi, begitu sampai di Beijing, ada sebuah koper kami yang hilang. Tak bisa ditemukan, sudah dicari-cari, tetap saja tak ketemu. Oleh pihak penerbangan bersedia mengganti kerugian, dengan perjanjian berat sekilogram akan diganti 20 dollar AS. Tercatat di dokumen loggage, berat koper yang hilang itu 18 kg, dikalikan 20 dollar AS. Isinya sebenarnya kalau diperhitungkan dengan uang tidaklah begitu berharga, tetapi bagiku sangat-sangat berharga, sebab di dalamnya ada beberapa tulisanku, karanganku selama di Beijing. Sudah kebiasaanku, membawa mesintik dan mengetik begitu di hotel. Beberapa tulisan hilang bersama mesintiknya, barang lainnya tak kuingat benar. Dalam pikiran yang jelek ini, sayang, kalau tahu begitu koper itu diisi batu saja biar lebih berat, inilah pikiran yang semata-mata kemarahan saja adanya. Dan hal ini yang kedua adanya halangan dan rintangan yang disebutkan Wit. Ketika mau berangkatnya ada halangan, dan ketika pulangnya ada yang kehilangan. Mistik pada Wit kelihatannya lebih besar daripada yang ada pada adiknya, Nit. Tapi yang paling besar adalah yang dimiliki kakaknya yang di Jakarta, Ita, paranormal yang aku sendiri selalu minta pemantauan darinya apabila mau ke Jakarta.
Paris 4 Mei 1999
Satu hari aku hampir gila rasanya. Seluruh tubuhku menjadi gatal. Terus menggaruk, tak tahu apa sebabnya. Badan - dada - sampai perut menjadi merah karena digaruk, sangat gatal. Pakai bedak anti-septic yang biasa digunakan buat bayi, pinjam kepunyaan Loulou cukuku yang baru berumur dua tahun setengah ketika itu. Lalu setelah sehari suntuk agak membaik, dan bergantian dengan sakit-dada. Rasanya sangat sulit bernafas, dan bagaikan ditusuki dengan jarum-pentul, ngilu - nyeri antara tulang dan kulit luar. Jadi bukan bagian dalam, bukan jeroan. Sakitnya bukan kepalang. Sampai Nit tengah malam memanggilkan dokter darurat. Dan dokter dengan keterangan Nit, sekaligus membawa peralatan cardiogram-portable. Tetapi aku sangat yakin, ini bukan masalah jantung. Sakitnya di luar, daging di luar bagian-dalam, antara daging dan kulit-luar. Dan betul saja, sesudah diperiksa dengan teliti, dan dengan silang-siurnya snur penghubung elektrik cardiogram, jantung normal-normal saja, tak ada simptom gangguan. Tapi rasa sakitnya tetap saja muncul beberapa menit sekali, dan perih, nyeri. Dokter menyatakan dia tidak dapat menemukan penyakit apapun. Tetapi dokter mengatakan besok paginya yang hanya beberapa jam lagi, agar kami menilpunnya lagi, buat kelanjutan pengobatannya dan kemungkinan akan diopname.
Ketika itu kulihat yang gelisah dan marah, malah anakku Nit. Dia buka bajuku, yang baru-baru ini kena penyakit gatal kemaren dulunya. Dan dia menggelengkan kepala. Lalu tak lama sesudah itu dia masuk kamarnya, dan kudengar dia marah-marah, mengucapkan sesuatu yang tak begitu jelas bagiku. Tetapi ada kata-kata terdengar yang kutangkap agak jelas : "Saya tahu, ayah saya tidak apa-apa. Saya tahu dia takkan berbuat seperti persangkaan kamu. Saya sangat yakin dia itu baik, apa adanya. Saya sangat tidak suka yang kau bikin. Saya akan kembalikan, kembalikan buat kamu. Kamu yang buat harus kamu yang terima. Kamu yang lemparkan, harus kamu yang tanggungkan! Ingat itu! Sekarang giliran kamu yang rasakan!", dan kudengar entah apa yang berbunyi agak aneh di kamarnya. Sedangkan aku tidur di ruangan tamu seperti biasa. Dan gilanya, keesokan harinya, aku dan kami tak perlu menghubungi dokter yang tadi malam. Sebab penyakit itu hilang dan sembuh sendiri,tanpa minum obat apapun. Kukatakan kepada Nit, bahwa aku sudah sembuh. Dia senyum senang, tetapi aku merasa tak perlu banyak tanya-tanya kepadanya. Hanya aku tahu serta merasakan, dia berkonsentrasi dan bermeditasi buatku di kamarnya, dan dia sudah "bekerja" menolong dan menyelamatkan ayahnya dengan cara dia sendiri.
Ketika kami di Bali, kami menginap di hotel SANTIKA. Katanya hotel ini anak-perusahaan GRAMEDIA, Kompas, tentunya ada hubungan dengan Mas Yakob Utama. Baru malam pertama, sangat anehnya, kamar kami diserang lelatu, laron, banyaknya mungkin ribuan. Penuh dan menghitam. Padahal kamar kami ada di tengah. Mengapa kamar-kamar sebelah pada aman, tak ada laron-lelatu itu? Kami panggil petugas hotel. Disemprotnya dengan racun anti-laron. Memang berkurang, tetapi masih ada dan masih saja "menyerang" kamar kami. Dan pada tengah malam, kudengar seakan bebatuan dan pasir dilemparkan ke kamar kami. Bulu halusku berdiri, dan merasa takut, ngeri. Di kampungku dulu, ini namanya serangan kuntilanak. Kulihat Nit dan Loulou tetap tertidur baik. Jadi hanya akulah yang belum tidur dan tidak bisa tidur karena gangguan bebatuan dan pasir yang beterbangan sekitar kamar kami.
Dalam pengalaman selama ini, ada satu hal yang kudapatkan. Seseorang apabila merasakan takutnya hampir mencapai puncaknya, lalu berubah menjadi berani yang tak ada taranya. Hampir nekad, atau sudah habis rasa takutnya lalu berganti dengan rasa-baru : berani menantang, berani berlawan, habis-habisan! Maka akupun sebagaimana biasa datang kepadaNYA dan ngomong dengan caraku. Aku berkonsentrasi dan meditasi, seolah berhadapan denganNYA di depanku : "Ya Allah, ya Tuhanku. Aku datang ke mari dengan anak-cucuku, dengan maksud baik, tanpa pikiran yang bukan-bukan. Hanya sangat rindu dengan tanahairku. Lihatlah mereka betapa tenteramnya dalam tidur. Tuhanku, janganlah biarkan kami menderita, ketakutan, cemas tak menentu sepanjang perjalanan kami ini. Lindungilah kami ya Allah ya Tuhanku, kami ingin bersama dan menyatu dengan tanahair kami. Kami datang dari jauh, puluhan tahun tak bertemu, sedangkan anak-cucuku baru kali inilah melihat tanahair nenek-moyangnya. Kenapa bila siang kami selalu saja dikuntit para intel, lalu malam begini dikuntit paera leak Bali yang katanya terkenal menakutkan. Lalu apakah kesalahan kami ya Allahku? Lindungilah kami, amankanlah kami, selamatkanlah kami Ya Tuhanku. Amien!"
Dan sekali lagi, gilanya, sejak itu semua berjalan aman tenteram. Tak ada sedikitpun gangguan apa-apa. Berjalan lancar. Tetapi sudah timbul keanehan padaku. Dan ini setelah ditandai oleh Nit di luar kesadaranku. Lama barulah terasa padaku, bahwa keanehan yang dilihat Nit, juga kurasakan pada akhirnya. Ketika kami makan bersama di hotel atau resto atau warung pinggir jalan, selalu saja aku menyediakan 4 kursi, yang padahal kami hanya bertiga! Atau aku menyediakan tempat buat seseorang lagi, seolah-olah kami berempat. Perkara ini pernah menjadi tertawaan Nit, katanya : "nah papa juga sekarang kena juga yah. Tapi tak apa, ini kan yang baik. Dia menjaga dan menyertai kita". Dan lama kupikir mengapa sampai terjadi hal demikian. Mungkin betul juga Nit, pernah kurasakan dan terpikir dalam bayanganku. Ada seseorang yang selalu menemani kami, sehingga aku perlu menyediakan tempat atau kursi buatnya. Orang itu kurasakan seorang wanita berasal dari Mesir, yang tak kukenal, tapi telah menjaga kami. Pernah tampak bayangannya, dia berjalan tidak di atas bumi, tak kelihatan kakinya, tapi tampak wajahnya. Betul, yang ini samasekali tidak menakutkan, tetapi menjadikan kami tenteram dan ada pelindung, ada teman, ada pengawal walaupun hanya wanita! Dan gilanya lagi. Begitu kami meninggalkan Bali buat pulang ke Paris, dia juga pamitan yang menyatakan tugasnya selesai. Aku sangat mau menemuinya dan menyatakan terimakasih kami. Tetapi dia tak muncul-muncul lagi. Dan Nit selalu merasa lucu bahwa ayahnya sekali ini kena juga! Tetapi kena yang baik, yang mengawal dan menemani. Hanya lucunya itu, selalu menyediakan 4 kursi padahal kami hanya bertiga. Tak apa, kami sepanjang sesudah kejadian itu selalu lancar dalam perjalanan. Tak ada lagi lelatu dan laron mengganggu, tak ada lagi leak Bali yang katanya menakutkan itu.
Sebelum ke Bali aku masih sempat mendekati Ita, agar dia mau "memantauku" sambil agak kubisikkan apakah aku ini akan terus sendirian, tak ada lagi yang "mau dan sedia" hidup bersamaku? Ringkasnya kira-kira siapa sih yang akan jadi jodohku ini? Sekali ini Ita benar-benar mengkonsentrasikan dirinya sampai dia merasa hilang "ke-ada-annya", setelah keringatan kelelahan, dia menarik nafas. Terasa aku a-gak menyesal, karena dia sudah begitu banyak mengambil energi buat semua itu. Tampak dia juga agak sedih dan dengan harapan aku tidak akan kecewa dan kuat menghadapi semua ini. "Oom, kuatkan ya, tahankan, dan tabahlah! Melihat penglihatan Ita, sorry ya Oom,- Oom itu tak ada lagi jodohnya, sudah takkan lagi bertemu seperti yang mungkin Oom harapkan. Ini sudah suratan Oom barangkali, tetapi itulah yang Ita lihat. Mau percaya apa tidak, itu tertinggal pada Oom sendiri. Yang Ita katakan soal jodoh ya, bukan soal kencan-berkencan, atau pacaran atau asik-asikan. Soal itu sih Ita lihat masih cukup ligat, hanya jodoh secara jodoh, tampaknya tak ada lagilah!".-Mendengar semua ini, sudah dapat kuduga, jadi tidak begitu down-lah. Dan lagi memang ada dalam perasaan, kalau jodoh dalam pengertian berumahtangga normal, kukira aku sudah sangat menikmati kehidupan kesendirianku. Terlalu lama aku membujang-lapok, jadi sudah kepalang enak-kepenak sendirian, mungkin kalau ada pendamping-tetappun betapa akan banyaknya kontradiksi baru. Pandanganku kini, sudahlah jangan bikin kontradiksi baru, yang sudah ada saja sudah sulit mengatasi dan menyelesaikannya. Dan kini hidup pensiun pula dengan pendapatan hanya seperempat dari dulu! Ini uang pensiun yang sangat minim, sudah tidak terlunta-lunta menderita kemiskinan, sudah sangat baik!
Paris 5 Mei 1999
Kalau diusut-usut untuk apa sebenarnya seseorang itu sejak kecil bersekolah sampai begitu tinggi, bertahun-tahun bahkan belasan tahun, buat memiliki diploma atau ijazah, dan untuk apa akhirnya. Tentu banyak jawabannya, tidak satu dua. Tetapi ada satu yang pokok yang bisa membikin orang manggut-manggut tanda setuju. Semua ini buat bekal : cari kerja! Cari hidup! Dengan diploma yang tinggi, yang hebat, siapa tahu dapat "kedudukan" yang basah dan makmur. Mau hidup enaklah, kalau dapat ya mau kaya, mau banyak uang. Dan adanya pikiran begini samasekali tidak berdosa, wajar-normal, begitulah orang rata-rata. Kalau seseorang sejak kecil atau masa mudanya sudah mengarahkan ke pendidikan yang pada akhirnya bersesuain pula dengan kedudukan, posisi yang memang sejak semula dicita-citakannya, nah, ini namanya ideal! Seseorang misalnya sejak kecil ingin sekali menjadi pemain drama atau filem, dan sejak masa mudanya sudah mengarahkan kependidikan jurusan itu, dan tahu-tahu memang mendapatkan posisi tersebut, maka "sempurnalah" cita-citanya sejak kecil. Lancar dan smooth jalan hidupnya. Seseorang yang belajar bermacam jenis pembuatan kue dan makanan, bertahun-tahun bersekolah dan mempelajarinya dengan tekun, tahu-tahu dia memang mendapatkan kedudukan itu, maka tercapailah semua cita-citanya itu. Antara jurusan pendidikannya bersesuian dan cocok dengan kedudukan yang didapatkannya. Dia "berhasil" meletakkan dasar yang sangat kukuh bagi kehidupannya.
Tetapi hal ini secara umum saja. Tidak sedikit orang yang "tergila-gila" akan pekerjaan yang sangat disukainya, dicintainya, tetapi samasekali boleh dikatakan tidak menghasilkan uang! Atau pekerjaannya itu samasekali jauh daripada sebuah industri penghasil uang. Kalaupun dia punya uang, hanyalah karena ada sponsor yang bersimpati, tidak akan dia hidup bertabur uang dan harta. Orang yang begini tidak sedikit di dunia. Banyak orang yang kegemarannya, kesukaannya, kecintaannya pada hobby yang bukannya menghasilkan uang, malah banyak harus membuang uang! Jauh dari keramaian, jauh dari tepuktangan, sanjung puja-puji orang ramai dan yang bersifat pentas - pagelaran. Orang yang berjenis bagaimanakah itu? Seseorang yang kesukaannya mendaki-gunung, pendaki gunung, melayari laut luas sendirian, menjelajah lautan salju yang puluhan derajat di bawah nol sendirian, pengeliling dunia berjalan kaki atau naik sepeda. Orang bertipe begini, baginya yang paling penting adalah : kepuasan, kesenangan pribadinya. Orang lain bisa menganggapnya gila, sinting, tetapi dia sendiri merasa sangat puas kalau berhasil apa yang dicita-citakannya. Ada penyelidik binatang langka, bertahun-tahun hidup di tengah hutan belantara di Kalimantan atau Afrika hanya mau menyelidiki bagaimana orangutan hidup, atau gorilla di Afrika hidup, atau melindunginya dengan kasihsayang yang jujur dan ikhlas. Orang yang begini masih mendingan, ada-ada saja sponsor yang bersimpati kepadanya, sehingga dia tidak pontang-panting harus cari uang buat dananya.
Di dunia yang sudah amat padat dengan persaingan mencari-kerja, sedangkan lowongan-kerja sangat sulit didapatkan, betapa kerasnya persaingan. Keadaan begini membikin orang harus hati-hati dalam menjuruskan pendidikan yang akan disesuaikan dengan pekerjaannya nantinya. Ibarat kata orang kampung kami, jangan sudah susah-susah bersekolah tinggi-tinggi, lalu bertahun-tahun menganggur karena tak ada lowongan-kerja. Atau punya diploma ini tapi bekerja di bidang itu, tak sesuai dengan jurusan spesialisasinya dan dengan sendirinya tidak akan sesuai dengan gaji yang diharapkan.Ini sama saja dengan antara harapan dan kenyataan selalu tak selamanya sama.
Seorang temanku tanya, apakah betul si Polan itu sudah doktor, bertitel DR besar. Kataku, betul saya lihat dan menghadiri upacara pengukuhannya, dan dia betul hebat mempertahankan tesis, skripsi dan desertasinya. Lho kok masih kerja di resto, jadi tukangsapu, katanya. Nah, inilah masalahnya. Kalau jurusannya, spesialisasinya, belum ada posisi untuk itu, atau tak ada lowongan yang sesuai dengan spesialisasinya, maka "untuk sementara" ya statusquonya begitu saja dulu. Apalagi misalnya hasil gelar doktornya itu dalam masalah ilmu antropologi bagian Petani Klaten, nah kan berat! Harus mencari bagian pekerjaan yang memang riset serta penyelidikan ke arah itu. Di toko supermarse, atau resto, atau Jawatan Keretapi, mungkin takkan ada jurusan itu! Dia tampaknya hanya "menunggu" adanya lowongan mengajar untuk itu, atau sejenis riset ke arah itu.
Banyak sekali doktor yang jurusannya lain, dapat pekerjaannya lain, dan ini akan mengakibatkan gaji yang akan diterimanya tidak sesuai dengan diplomanya. Karena memang bukan jurusannya. Coba, ada doktor, apa keakhliannya? Dia doktor tentang topeng, untung saja dapat pekerjaan sebagai jurnalis, dan untung saja posisinya baik di perusahaan suratkabar itu. Dan ada lagi seorang doktor, tentang apa? Doktor tentang : batik Pekalongan! Di Bukares, Rumania, ada seorang profesor tua yang sangat berpengalaman, juga doktor, tentang apa. Dia doktor tentang suling! Ada akhli tentang semua lonceng gereja di Eropa! Bunyikan saja sebuah lonceng gereja di satu kota kecil, dia akan tahu bahwa lonceng gereja itu adalah lonceng gereja di kota Anu, yang dibangun pada tahun Anu, riwayatnya begini dan seterusnya. Dan dia ini doktor lonceng gereja di Eropa!
Jadi secara tinjauan sebagai "pencari kerja praktis", kiranya akan lebih berhasil seseorang yang punya keakhlian bikin roti dan berjenis kue daripada seseorang doktor-ekonomi-perusahaan. Sebab yang belakangan ini tidak begitu mudah untuk mendapatkan posisi itu dalam persaingan begini dahsat. Sedangkan yang pertama itu tadi, dia akan lebih mudah karena pekerjaan itu banyak diminta dan ditawarkan, dan praktis pula.
Suatu sore datang seseorang muda yang tampaknya termasuk bercita-cita yang kita ceritakan ini. Seorang mahasiswa yang sedang mengumpulkan bahan-bahan buat disertasinya di uni di sebuah kota di Malaysia.
"Jadi Enchik, saye itu sedang ngumpulkan berjenis name hantu yang ade di Malaysia bahkan di dunie ini. Nah, saya datang buat minta bantuan dan keterangan dari Enchik, sekirenya Enchik sudi dan rela pule memberikannya pade saye. Hantu ape saja yang kirenya Enchik tahu", katanya dengan logat Melayu agak kental. "Mengapa Anda tertarik benar pada soal hantu ini, apa yang menarik Anda buat riset tentang hantu ini?", kataku mau tahu. "Wah, ini menarik Enchik, interes bangat mengetahui banyak soal itu. Tak ade seorangpun yang riset ke arah itu, dan saye mau itu. Saye akan kerjakan, sangat menarik dan saye antusias dibuatnye", kata mahasiswa periset tentang hantu itu. Dan kini akulah yang bengong dan hampir "gila" mendengarkan keterangan ini. Dan setelah kami banyak membicarakan tentang penyelidikannya ini, mahasiswa ini sangat menarik, yang orang anggap aneh dan ajaib, tetapi baginya hal itu harus diselidikinya, dirisetnya dengan ilmiah dan bertanggungjawab. Coba, akan mengambil disertasi tentang hantu! Dalam bayanganku yang sangat awam dan berpikir praktis dan pragmatis ini, lalu bagaimana dia akan bekerjanya, di mana dan kantor mana serta perusahaan mana.
Setelah kami berjanji akan ketemu pada hari sekian dan jam sekian, bukan main senangnya dia, teman baruku yang bernama Muslim itu. Dan akupun sangat ingin mengetahui banyak tentang dia ini. Begitu dia antusiasnya menyelidiki tentang hantu ini, begitu inginnya aku mengetahui tentang dia. "Jadi sudah berapa banyak tentang hantu yang Anda ketahui", kataku ketika kami bertemu atas janji kami dulu. "Sudah ade, tapi belum banyak benarlah. Sukur kalau Enchik banyak bantu saye", katanya. "Baiklah. Ada hantu-laut?". "Sudah saya tulis, Enchik, dan saya tulis juga di mana kepercayaan itu mula-mula timbul, riwayat dan sejarahnya". "Hantu-gergasi", kataku. "Nah, ini belum", katanya. Lalu dia menuliskannya dengan seksama. "Hantu-gunung". "Nah, ini juga saya harus tulis". "Kuntilanak, leak di Bali", kataku. "Sudah, sudah", katanya. "Vampir?". "Itu termasuk di Eropa, juga sudah saya tulis", katanya. "Hantu-berekor-panjang". "Sudah".
Ternyata sudah banyak yang dia tulis. Dan tentu saja pengetahuanku tentang hantu sangat cetek dibandingakan dengannya. "Hantu komunis yang berkeliaran di Eropa", kataku sambil mengajuk gurau. "Akh itukan bukan hantu yang saye mau tulis. Itu kan hantu politik dari Karl Marx", katanya lagi. Dan banyak lagi kami membicarakan tentang hantu yang dia mau tulis menjadi bahan yang ilmiah. Kukira maksud dan cita-citanya meriset tentang berbagai jenis hantu itu, pada akhirnya memang akan memberikannya gelar doktor-tentang-hantu. Anehkah kehendak dan cita-cita begini? Tak tahulah aku, dulu selalu ketakutan pada hantu. Kini hantu diriset secara ilmiah, dipelajari, diajak berunding, bermusawarah, apa sebenarnya kamu itu. Kapan kamu ada, di mana kamu sangat ditakuti dan jadi momok. Spesialisasi terkadang memang sulit dimengerti. Ada orang cari uang, cari hidup, cari daerah basah, tapi jangan lupa ada orang yang hanya hobby, kesukaan dan kecintaan, tanpa memikirkan benar bagaimana akan kehidupannya nanti. Ketika aku berpikir keras tentang ini, tahu-tahu tersedar-diri, ternyata akupun masuk orbit dunia begini ini. Semua yang kukerjakan ini, adalah semata-mata kesukaan dan kecintaan, dan kesenangan serta kepuasan. "Capek-capek nulis, lama berjam-jam, tokh hanya buang uang, mana nulis di internet akan dapat uang. Hanya menghabiskan uang tilpun, tak ada yang masuk, banyak materi hilang, tapi hati puas dan senang",-
Paris 9 Mei 1999
Mengintip itu enak, mengintip itu nikmat. Dilakukan sekali mau dua kali, nyandu, sungguh! Dulu ketika umur kami sudah belasan tahun, temanku Karim, Harun dan aku tinggal di Kebayoran blok Q tak jauh dari Pasar Santa. Yang jalannya selalu dimulai dengan Ci, seperti Cikatomas, Ciranjang, Ciujung, Cipayung dan lainnya. Bila malam menjelang agak sepi, ada seorang yang kami perhatikan, karena gerak-geriknya mencurigakan. Kami ikuti ke mana dia pergi. Sepertinya selalu sibuk mendekati rumah orang, lalu mendekatkan kepalanya ke arah dinding. Ketika itu rumah-rumah yang jadi sasarannya adalah rumah-rumah yang berdinding papan atau kayu, bukannya rumah gedung yang mentereng. Tentu saja, perumahan mentereng gedongan selalu ada peliharaan anjingnya. Dan anjing adalah musuh para pengintip dan para maling. Setelah kami berdua dengan Karim mengikuti gerak-gerik orang itu hampir setiap malam, maka tahulah kami apa yang dikerjakannya begitu asyik! Ternyata orang itu hanya mau mengintip orang yang ada dalam rumah tertentu, sedang mengapa mereka.
Suatu waktu orang ini kami dekati dan kami tanya baik-baik. "Pak, setiap malam begini ini, apa nggak capek dan bosan?". "Akh sudah memang kerjaannya sih, mau apa lagilah. Lagian kerjaan begini memang kesukaan saya sejak dulu", katanya sangat enteng. "Sebetulnya kalau kami boleh tahu, apa sih yang Bapak cari dan initipin?". "Akh, biasalah, kadang asyik juga kalau orang rumahnya sedang main, kadang ya asal bisa ngintip saja.Walau mereka dalam keadaan biasa saja, tidak melakukan tugas suami-isteri, asal kita bisa melihat mereka dan mereka tidak tahu bahwa kita ngintipin mereka, sudah puaslah saya". "Lalu apa bapak setiap malam begini ini?" "Kalau tidak ada kerjaan lain, ya kerjaan ngeliatan begini ini asyik bangat. Barangkali sudah suratannya begitu Pak, saya terima sajalah apa yang menimpa saya", katanya mengaku terusterang.
Jadi memang pekerjaan ngintip itu sudah sangat menyenangkan dirinya. Setiap malam, dan gilanya lagi, kalaupun hari hujan, dia membawa payung mencari sasaran rumah intipannya! Dengan berpayung dia mengelilingi perumahan sekitar blok Q Pasar Santa itu, mencari sasaran pengintipannya. Orang ini pada akhirnya kami tahu benar, dia bukanlah orang jahat, bukanlah maling dan mau mencuri. Tetapi mungkin sejenis sakit jiwa. Sehari saja tidak mengintip, dia akan sangat resah dan gelisah. Ini kami ketahui setelah lama mengikutinya dan "berkawan" dengannya. Tetapi "perkawanan dan pertemanan" ini akhirnya kami akhiri pada suatu hari. Sebab kukatakan pada temanku Karim, memang pada mulanya kami sangat asyik mengikuti jejak Pak Ukur ini,- demikian namanya. Mulanya kami yang mengintip Pak Ukur. Dan kami sendiri hampir setiap malam mencari dan mengikuti Pak Ukur ini. Dan bila Pak Ukur mendapatkan sasaran intipannya, kami lebih asyik lagi melihat dan menyaksikan tingkah-pulahnya. Dia tahu kami mengintip dan mengikuti dirinya, tapi dia tidak perduli. Dia anggap kami tidak akan mengganggu kesenangannya. Bahkan kami bisa berbicara berbincang dengan bebas dan sangat menarik mendengar cerita hasil intipannya.
Nah, kukatakan pada temanku Karim. "Hampir setiap malam kita mengintip Pak Ukur dan mengikutinya. Asyik juga, dan lebih asyik lagi kalau kebetulan Pak Ukur sedang menikmati hasil intipannya, di mana tuan-rumah sedang ligat main. Dan kita berbias menikmati Pak Ukur. Jadi kita sebenarnya sudah kejangkitan suatu penyakit baru. Mengintip dan mengikuti seorang yang gila mengintip! Jadi sebenarnya kita inilah yang juga berpenyakit gila mengintip orang mengintip. Jadi bukankah sama saja hakekatnya?! Apa tidak begitu?", kataku pada suatu hari. Kami pada akhirnya "mengurangi" dulu penyakit kami, lama-lama barulah bisa mengakhirinya. Tetapi karena sudah kadung kenal dan berkawan dengan Pak Ukur, suatu malam ketemu Pak Ukur, dan dia menanyakan kami. "Kok lama nggak kelihatan Pak? Ke mana aja selama ini? Saya lihat-lihat kok nggak ada, yang biasanya hampir tiap malam ketemu", katanya mau tahu. "Akh, banyak urusan macam-macamlah Pak", kata Karim temanku. Dan hampir saja kami punya penyakit jiwa yang tidak enteng, menghabiskan waktu tak keruan. Yang pada mula dan asalnya mengintip orang yang suka mengintip, tahu-tahu diri sendiri ketularan penyakit yang dobbel!
Apakah kebiasaan ini ada pengaruhnya dengan dulu ketika kami masih agak bocah, ketika umur sepuluh sampai duabelas tahun? Ketika itu bila di kampung kami akan ada kondangan, perhelatan, misalnya akan ada pesta pernikahan, selalu ramai seluruh rumah keluarga yang akan mengadakan pesta itu. Dan kami anak-anak tanggung sehabis mengaji di surau, dengan beberapa teman kami, pergi mengintip! Dan kepala anak-anak ketika itu adalah Jamal. Jamal orangnya kurus, tetapi berani berkelahi, dan kami selalu jadi sasaran pukulan dan bentakannya. Jamal yang ini kami namai Jamal Bengek. Kenapa? Karena nama Jamal cukup banyak di kampung kami. Ada Jamal Gendut, ada Jamal Pincang, dan yang ini Jamal Bengek, karena mengidap penyakit bengek, asma. Dan kalau sedang kambuh, bunyi nafasnya kedengaran belasan meter jauhnya, seperti orang menggesek biola yang baru belajar! Dan karena penyakit inilah kami punya rasa takut dengan penyakitnya itu. Tidak berani dekat-dekat, geli dan dia itu agak bau, ada sedikit congekan, bau telinganya itu!
Tetapi Jamal terkadang menyenangkan, pandai mengorganisasi, dan juga pandai dan berwibawa kalau menghardik dan membentak kami. Memang dia tertua dan terbesar di antara kami. Suatu kali kami berlima atau berenam pergi mengintip di rumah seorang keluarga Jamal yang akan mengadakan pesta pernikahan. Seperti kebiasaan rata-rata rumah di kampung kami, selalu berlantaikan papan dan selalu ada sela-sela lobang yang berjarak beberapa sentimeter. Sehingga ada lobang buat melihat, mengintip dari bawah rumah itu. Karena rumah panggung, jadi ada ruangan luas buat setengah berdiri di bawah rumah itu, dan kami mengintip dengan bebasnya. Di kampung kami ketika itu, mana pula kaum wanita dan para gadis yang pakai slip! Ini kan tahun 40-an. Ketika itu tahun 1942. Kami mengintip orang sedang asyik masak-masak, menumbuk bumbu, sibuk bekerja. Ada yang sedang menggoreng, ada yang sedang memotong ayam, sayuran, mencuci piring, dan seperti biasanya rumah panggung, langsung saja air bekas cucian piring atau segala perabotan-masak seperti kuali, panci, dandang, langsung saja dibuang ke bawah di sela-sela lobang antara papan itu. Maka menjeritlah teman kami, karena matanya tersiram air agak panas dan pedas itu.
Lalu Jamal akan sangat marah, dan mengancam akan memukulnya, sebab kalau ketahuan orang di atas, mereka akan memarahi kami semua. Dan para keluarga kami tentu akan mencari kami. Untunglah ketika itu orang di atas tidak mendengarkan jeritan Masri teman kami itu. Dan kami kembali asyik mencari sasaran intipan. Banyak para gadis yang umurnya di atas umur kami, mungkin bisa disebutkan perawan tingting ketika itu. Dan kami agak curiga pada Jamal, sebab dia selalu terpaku pada satu titik, tidak bergerak dari tempat berdirinya. Sedangkan kami ke mana-mana mencari sasaran lainnya, dan Jamal tak pindah-pindah tempat, di situ terus. Tetapi ketika kami mau mendekatinya, lalu segera dia sangat marah dan mengusir kami. "Sana jangan sini. Awas kalau dekat kupukul! Pergi menjauh, sana!", katanya dengan kasar dan mengancam. "Lalu kenapa rupanya", kata kami. "Ini, yang di atas ini, adalah kakakku, tak pula pakai celana dalam lagi. Kalian tidak boleh ke sini, awas, kalau ke sini kupukul", ancam Jamal. Maka tahulah kami mengapa Jamal tak bergerak dan tak pindah-pindah itu. Rupanya dia menjaga dan menjadi pengawal kakaknya yang tak berslip itu. Kami mau ketawa tapi tertahan-tahan karena ancamannya sambil dia memgang sepotong kayu agak besar. Kalau terkena pada orang lain boleh-boleh saja, kalau terkena pada keluarga sendiri samasekali tak boleh, inilah rahasia yang samasekali bukan rahasia!
Paris 13 Mei 1999
Tidak hanya satu dua orang menanyakan kepadaku, apa saja yang kau peroleh dan dapatkan belasan tahun hidup di Tiongkok itu? Dan sebenarnya teman-temanku yang "sealiran" dalam kehidupan, mengharapkan banyak agar aku bisa menguasai "Bahasa dan Sastra Tiongkok". Tapi justru harapan dalam soal itu, tidak terkabul dan jauh panggang dari api. Menguasai Bahasa dan Sastra Tiongkok, sangat tidak mudah. Harus bersekolah dengan tekun dan memang hanya itulah kerjanya. Sedangkan aku datang ke Tiongkok adalah demi tugas bekerjasama dengan Tiongkok dalam soal pengajaran, pendidikan dan penterjemahan, bukannya buat bersekolah sebagai mahasiswa. Tetapi sebagai "pegawai negeri". Jadi tidak mungkin membuat proyek tersendiri dengan tujuan mengusai bahasa dan sastra yang begitu luas, rumit dan pelik.
Harapan ini pernah ditanyakan oleh teman terdekatku, Ramadhan KH. Ramadhan KH inilah satu-satunya temanku yang paling berani berhubungan denganku sejak mula-mula tahun 1953 sampai peristiwa 1965 dan sampai ketika aku hidup di Tiongkok. Dia tak pernah merasa takut dan kuatir dalam berhubungan denganku, sejak dulu, sejak dulu dan sampai kini, sampai kini. Padahal dia tahu siapa aku, dan aku tahu siapa dia. Dia kan yang menulis Otobiografi SOEHARTO, Pikiran,Ucapan, dan Tindakan Saya,- yang adalah musuh rakyat Indonesia yang terbesar sepanjang abad ini! Itu soal lain, dan kami tetap bisa berteman baik. Dan Atun pula,- nama panggilan dekatnya-, yang pernah secara gamblang mengatakan padaku : "kau tahu Bron, apa dosamu yang paling besar?! Adalah karena kau berhenti dan tidak mau menulis lagi,- itulah dosamu yang paling besar", katanya pada satu hari di resto kami. Dan sejak itulah aku mulai lagi menulis walau dengan jalannya lamban seperti bekicot, tapi ya jalan.
Sekali ini aku ingin menjawab pertanyaan banyak teman itu. Yang kuperoleh tentu saja tidak sedikit, tetapi terasa sangat sedikit bila kulihat dan kualami dan kurasakan begitu banyak hal-hal yang baik, yang luarbiasa, yang seharusnya menjadi pelajaran dalam kehidupan. Kebudayaan, peradaban, adat-istiadat Tiongkok yang begitu tua, besar, luhur, hebat, sangat menarik. Semakin dipelajari semakin terasa bahwa pengetahuan kita terhadap Tiongkok selalu sangat sedikit, dan betapa banyak dan luasnya yang ingin kita tahu, kita dalami.
Barangkali ada tiga hal yang ingin kukatakan, yang sangat berkesan dan yang sampai kini kurasakan manfaatnya. Barangkali orang lain akan merasa aneh, ya kok yang begini ini yang justru kutuliskan dan ceritakan. Tetapi ya itulah, tiga hal itu yang kurasakan sebagai "oleh-oleh kehidupan" selama aku di Tiongkok.
Pertama, tusukjarum, akupungtur. Aku mempelajari ilmu ini, dan sudah pernah mempraktekkannya selama bertahun-tahun, antara tahun 1970 sampai 1982, baik semasih di Tiongkok sendiri maupun ketika sudah di Perancis. Dan hasilnya menurut catatan buku-diagnose kami, berhasil menyembuhkan sekira 85 persen pasien.
Kedua, taiciquan, silat-lemas. Gerakan silat taici adalah gerakan silat Tiongkok kuno yang sudah ribuan tahun. Aku mempelajarinya cukup lama dan bahkan sampai pernah memberikan pelajaran taici kepada beberapa orang teman. Kegunaannya sangat bermanfaat bagi kesehatan, sebagai ilmu pernfasan dan tenaga-dalam. Cerita tentang ini cukup banyak yang pernah kualami, antaranya sudah kutuliskan.
Ketiga, Feng Shui. Feng Shui adalah seni memanfaatkan Angin dan Air. Feng artinya angin, udara, dan Shui artinya Air. Feng Shui mengemukakan tentang menangkap nafas kosmis naga yang vital, atau Chi, yaitu tenaga yang beredar dan bergerak dalam lingkungan, di dalam rumah dan di luar rumah, di tanah, di air di pegunungan. Chi ada di mana-mana, suatu energi. Kata orang, Chi itu adalah tenaga dalam.
Ilmu Feng Shui sebenarnya ilmu tata-letak. Letak rumah, gedung, perkantoran, perkebunan, proyek apa saja. Kalau tata-letaknya tidak bersesuaian dengan Feng Shui maka "nasib peruntungannya" akan sangat jelek dan buruk. Tetapi kalau tata-letaknya bersesuaian dengan Feng Shui, karena secara kebetulan atau secara memang dicari kebaikan dan manfaatnya, maka proyek itu, baik pergedungan, perkantoran, perusahaan, maupun apa saja, akan "mendapatkan keuntungan, kebaikan, dan rezeki". Kata ilmu Feng Shui, harmonisasi jalannya atau bertempatnya antara naga-hijau dan macan-putih, sangat serasi dan harmonis. Itulah sebabnya, orang Tiongkok sangat memperhatikan tata-letak ini. Apalagi masarakat Tiongkok di kalangan bisnis seperti di Hongkong. Ilmu Feng Shui bagi mereka sangat diistimewakan, sebab menurut anutannya, kalau Feng Shui-nya baik, maka rezeki akan berlimpah masuk dan datang. Kalau Feng Shui-nya tidak bersesuain dan bertentangan, maka segera perusahaan itu akan bangkrut! Ini adalah kepercayaan mereka, dan hanya bagi orang-orang yang mau percaya saja. Tapi pengalaman banyak sekali membuktikan kebenaran ini.
Satu kali aku menginap di kaki pegunungan dekat Bandung, di rumah seorang ponakanku. Tetapi selama dua hari dua malam aku menginap di sana, samasekali aku tak bisa tidur. Rasa gelisah dan panas, dan ada rasa mengerikan. Ketika kutanyakan ada apa dengan kamar ini? Ponakanku menjawab, ternyata ada beberapa orang yang pernah menginap di kamar itu, yang merangkap kamar buku, perpustakaan, juga tak bisa tidur dan merasa gelisah yang amat sangat. Jadi bukan hanya aku yang tak bisa tidur di kamar itu.
Dan keesokan harinya kucarilah ada apa, maka begitu seram. Padahal dari tata-letaknya rumah gedung itu cukup baik, sudah kuteliti dengan Feng Shui-ku yang baru bermodalkan satu sen dua sen ini. Kucari sebab-sebabnya. Ternyata dekat talang loteng ada tiga buah senjata tombak, di simpan di kamar perpustakaan itu. Senjata tombak itu tampak sudah berkarat, tetapi masih kuat dan kukuh. Sekali kupegang, terasa magnitnya mendebarkan jalan darahku. Kukatakan pada ponakanku, agar tiga tombak itu dipindahkan ke tempat lain, jangan di tempat tidur dan kamar yang seharusnya tenang. Ingin sekali aku mengatakan pada ponakanku, tampaknya dan rasanya, salah satu tombak itu "sudah pernah makan darah orang", terutama yang kupegang bermagnit dan menggetarkan jalan darahku itu. Tetapi kata-kata itu tidak kukatakan, dan beberapa bulan kemudian barulah aku dapat surat darinya yang mengatakan kamar perpustakaan itu kini sudah adem-ayem dan menyenangkan dan sudah berapa orang tidur di sana tak ada apa-apa, tetap bisa tidur nyenyak.
Seorang teman dekatku Ajip Rosidi yang hidup di Osaka-Jepang, ingin membuka kebun-salak di Jateng, dan dia menginginkanku agar bisa melihat dan meneliti bagaimana kira-kira kalau di tempat itu membuka kebun-salak. Tampaknya kebun-salak itu belum "kejadian" sebab masih banyak urusannya.
Dengan tiga hal "oleh-oleh" itu, dengan tiga ilmu yang sangat berkesan bagiku, betapa Tiongkok telah mengingatkanku akan kebesaran, keluhuran dan kecintaanku terhadap rakyat dan negeri Tiongkok yang betapa besar dan luasnya itu. Aku ingin berkata dalam soal kehidupan, peradaban dan adat-istiadat, kebudayaan secara menyeluruh, bukan dalam soal politik dan ideologi praktis,- jangan dicampurbaurkan. Mungkin akan ada perbedaan sikap kalau perkara itu dicampurbaurkan begitu saja, semoga teman-temanku mengerti perkaranya,-
Tepat ketika tanggal 17 Agustus 1995, saat RI berulangtahun ke 50, kami "menyepi" di Pelabuhan Ratu. Ponakanku yang paranormal itu bersama sekeluarga adiknya, dan kami tiga generasi, anakku dan dua cucuku. Kami menginap di sebuah hotel yang terletak benar-benar di pinggir pantai. Sehingga ombak-gelombang yang sungguh dahsat itu terdengar sampai ke kamar. Dan kalau kita berdiri tak jauh dari pecahan dan deburan ombak itu, akan terlihat gulungan air menggulung-garang menuju pantai. Dan bunyinya begitu membahana. Bagi orang yang tidak menyukai segala bunyian yang ribut, tentulah tidak menarik buat beristirahat di tempat ini. Tetapi bagiku yang memang berasal dari "anak-laut dan anak-pantai" betapa sedapnya mendengarkan dan mengamati gulungan gelombang yang begitu garang. Pantai Pelabuhan Ratu adalah Laut Jawa Selatan yang masih termasuk Samudra Hindia. Ombak-gelombang di sepanjang pantai selatan ini sangat dahsat, pantas sajalah orang-orang menamakannya tempat bersemayamnya Nyai Loro Kidul.
Berjam-jam aku mengamati gerak-terjang ombak-gelombang ini. Dan bila hari sudah malam, suara itu semakin garang, dan terlihat garis-putih bagaikan gigi panjang berkilometer menggarisi laut jauh ke arah tengah. Sangat indahnya. Kalau sudah begini, terasa bagaikan menyatu dengan alam. Konsentrasiku kupersembahkan kepadaNYA, agar DIA bersamaku selalu, dan aku selalu bersamaNYA. Kutumpahkan segala harapan dan permintaanku agar jalannya kehidupan ini tidak sangat rumit berjalin-jalin. Dan kuserahkan kepadaNYA, mau diapakan aku ini yang sudah begitu banyak dosa dan kesalahan. Sudah tentulah segala harapan dan permintaanku itu kumohonkan satu persatu sebagaimana adanya, tanpa malu-malu, karena yang tahu hanya aku dan DIA.
Kompleks pesanggerahan ini letaknya sangat baik. Yang kumaksud lokasinya memberi harapan dari segi Feng Shui. Yang punya adalah seorang wanita, dialah pemiliknya, Bu Darsih. Orangnya sangat baik dan ramah. Kami disambutnya dengan keramahan yang tampaknya tak dibuat-buat, wajar sebagaimana adanya. Karena letak lokasi pesanggerahan ini cukup jauh dengan kota atau pusat perbelanjaan, maka Ibu Darsih banyak sekali membantu kami membelikan dan mensuplai keperluan kami. Dan kami bermaksud mengadakan pesta bakar-ikan dan bakar-sate. Semua keperluan diusahakannya sehingga memperlancar maksud dan hajat kami. Kamipun mengundang ibu direktris itu. Kelakar tukar menukar pengalaman. Dan aku "terpaksa" juga menceritakan bahwa kami datang dari jauh dan berdomisili di Eropa, dan kini tiga generasi, anak dan dua cucuku berlibur di tanahair. Bu Darsih terlebih bersemangat dan dengan keramahannya menceritakan banyak hal berkenaan dengan usahanya ini. Dan sampailah titik dan garis cerita itu pada soal Feng Shui.
Dia menanyakan bagaimana letak hotel pesanggerahan ini. Dan kukatakan setelah dua tiga hari kami bermalam di tempat itu, dari segi letak memang baik, tetapi akan lebih baik lagi kalau beberapa hal diperhatikan, agar rezeki dan keberuntungan tidak terhalang buat masuk ke lumbung-hartanya. Apa perkaranya, katanya. Dan kukatakan, di depan pesanggerahan tepat menghadap ke ruangan-duduk-duduk para tamu, sangat tak sedap melihat terpancangnya pohon-tua yang sudah usang, yang tak bersinar bahkan punya sinar redup,gelap. Sebaiknya pohon-tua yang "menghalangi jalan masuknya Chi yang baik itu" dihindarkan, dibuang dan ditebang saja. Lalu di ruangan depan gerbang-masuk terlihat pancuran-air, tetapi tak ada airnya, macet dan kosong saja. Harap dialirkan airnya, jangan sampai tersumbat. Berilah jalan kepada air yang mau mengalir, janganlah ditutupi dan disumbat-paksa walaupun karena terlupa atau tak sengaja.
Bu Darsih ternyata juga punya orangpintar dan para Feng Shui, dan katanya apa yang kukatakan itu juga pernah dikatakan sang Feng Shui-nya sendiri. Artinya cocok menurutnya, dan artinya dia mau mencoba apa yang aku tahu dan punya! Namun demikian Bu Darsih adalah benar-benar orang baik, dan karenanya aku menganggap adalah sangat baik kalau aku sendiri berinisiatif membantu dan menunjukkan apa yang aku tahu dan yakini. Orang baik sebaiknyalah menerima kebaikan juga!
Pada pertengahan tahun 1996, aku menerima surat dari Bu Darsih, langsung dari pesanggerahannya di Pelabuhan Ratu itu. Dia menyatakan sangat berterimakasih atas "petunjuk Feng Shui-ku" yang katanya "sangat bersesuaian" dengan sang Feng Shui-nya sendiri. Juga dikiriminya beberapa buah foto hasil renovasi setelah hotel itu diperbaiki sesuai dengan nasehat Feng Shui. Dan katanya, sangat sulit mengatur lalulintas pelanggan sebab selalu penuh dan padat, selalu minta kamar, dan sangat laris. Dan memang tampak dari beberapa foto itu, sudah tak ada lagi faktor penghalang masuknya Chi buat kemurahan rezekinya. Dalam hatiku, sukurlah kalau ilmu Feng Shui-ku memang benar-benar membawa kebaikan bagi usaha dan dirinya. Orang baik seharusnya menerima kebaikan pula, kataku dalam hati.
Seorang keponakanku yang lain, yaitu kakak dari keponakanku yang paranormal itu, tidak begitu percaya kepada adiknya. Sehingga kalau dia menanyakan sesuatu yang rumit dalam kehidupannya, tak pernah dia mau menanyakan kepada adiknya ini. Dia tidak percaya kepada adiknya ini, walaupun aku sendiri sangat percaya kepadanya, bahkan diam-diam dalam hatiku, dialah "paranormalku dan guruku dalam ilmu yang beginian, termasuk Feng Shui". Feng Shui dan ilmu paranormal memang tidak sama, tetapi ada segi kesamaannya, yaitu tentang konsentrasi, energi, dan meditasi.
Keluhan si As ponakanku ini, ada-ada saja, sakit inilah sakit itulah, kecurianlah. Dan pertengkaran dengan anak-anak dan adik-adiknya, dan memang kulihat, si As sangat pemarah. Dan lekas sekali naik-darah dan lalu mengamuk, banting ini banting itu, rusak dan berpecahanlah piring-mangkuk dan porselen yang mahal-mahal. Suatu hari dia minta agar aku berkonsentrasilah dan meditasilah, carilah energi, dan cari tahu mengapa maka pada hari-hari itu dia sangat lekas menjadi marah dan suka ngamuk-ngamuk. Pandanganku, apabila benar-benar seseorang sangat serius dan sungguh-sungguh minta tolong dan minta bantuan kepada kita, maka dirikita-pun harus dengan serius dan sungguh-sungguh pula harus membantu dan menolongnya. Kulihat, kuamati, dan kuperiksa sekitar rumah-barunya itu, tak ada yang menjadi halangan besar buat Chi yang baik masuk ke rumahnya. Semua jalan dari luar buat masuk ke dalam lancar-lancar saja adanya. Lalu mengapa terjadi hal demikian? Sekarang bagian dalam harus kuteliti, dalam rumahnya, dalam kamarnya.
As adalah penggemar pengumpul barang-barang antik. Dia banyak mengkoleksi barang-barang antik, seperti cincin, pedang, keris dan tombak, barang-barang tembikar dan porselen zaman kuno. Dia kolektor amatiran, jadi belum menguasai barang dan benda apa saja yang seharusnya dikoleksi. Padahal tidak semua barang antik itu akan selalu membawa kebaikan kepada kita. Bahkan ada benda dan barang-barang yang membawa "kesialan dan keburukan" bagi seseorang, dan hal ini yang dia tidak paham. Dan semua barang koleksiannya itu kudekati dan kuamati, bahkan kupegang-pegang dan kubalik-balik. Tanganku gemetar dan dadaku terasa sesak setelah memegang sebilah keris-tua, sangat panas dan badanku menolak memegangnya lama-lama. Maka tahu dan terasalah padaku, keris ini pasti ada apa-apanya. Sebaiknya keris ini ditiadakan, tak usah masuk barang koleksian. Tetapi ilmuku bagaikan kepandaian si As dalam mengoleksi barang-antik, yaitu baru amatiran, demikianlah aku, juga baru amatiran dalam ilmu ke-Feng Shui-anku. Diam-diam kubawa keris itu dalam bungkusan kain-sutra yang sangat tebal dan rapi, dan aku datang kepada "guruku" itu, adik As sendiri yang sangat tidak disukainya. Dan memang benarlah perasaanku dan pendapat kami berdua, menurut si Ita, paranormalku itu, sebaiknya keris itu dikembalikan kepada pemiliknya dan penjualnya itu dulu. Menurutnya, keris itu "sudah pernah makan orang", dan sangat panas sifatnya. Dan setelah kukatakan kepada As sebaiknya keris itu dikembalikan kepada pemilik dan penjualnya dulu. As sangat menyetujuinya, tetapi bagaimana cara mencari penjual dan pemiliknya dulu itu, sebab keris itu dibelinya ketika dia berkunjung ke Ujungpandang dulu itu. Maka kira-kira kloplah pendapat kami, keris itu sudah makan orang karena perkelahian, pembunuhan. Dan siapa saja yang memilikinya akan berwatak dan berdarah panas, pemarah, penaik darah dan akhirnya pengamuk.
Setelah aku kembali ke sarangku di Paris, dan beberapa bulan kemudian, ada surat dari As dan juga dari anak-anaknya, yang menyatakan adanya perubahan baik pada dirinya dan keluarganya. Kata anaknya si Nita yang stewardess itu, "Kek, tahu nggak kek, mama sekarang jadi baik deh sama Nita, sudah mau ngajak datang ke rumahnya, nggak hari-harinya begitu, sekarang sudah bisa bermanis-muka nggak kayak dulu, kerjanya marah-marah doang, dan pake ngamuk lagi",- Dalam hatiku, Feng Shui itu bukan hanya mencari tahu hal luarnya saja, tetapi juga hal dalamnya, karena Chi itu ada di mana-mana, suatu energi yang positif dan bisa negatif, tergantung tata-letaknya, sebagaimana ilmu Feng Shui,-
Paris 19 Juni 1999
Wim Umboh tiba-tiba saja datang ke resto mencariku. Dan sudah tentu kami sangat bergembira karena sudah terlalu lama tak bertemu. Ketika di Jakarta dulu, kami "dicap" sama-sama mendirikan "Seniman Senen", dan masih kusimpan fotonya yang dari Sinar Harapan. Sudah itu berdirilah apa yang dinamakan MSDR, Masarakat Seniman Jakarta Raya, didirikan bersama dan dibawah perlindungan walikota Jakarta Raya, Pak Sudiro. Dan sudah itu berdirilah Lekra, Lesbumi, LKN, dan lain sebagainya. Nah, barulah kami mulai terkotak-kotak, mulai banyak pasang kuda-kuda, sebab kami sudah memasuki arena aliran dan warna politik. Tetapi secara pribadi, antara kami tetap berkawan berteman asal tidak membicarakan dan mendiskusikan politik.
Setelah Wim tahu bahwa aku benar-benar berdomisil di Paris dan punya apartemen tersendiri, dia segera pindah ke tempatku dari hotelnya yang sebenarnya cukup mewah. Tentu saja aku sangat gembira, Wim dengan kesibukannya yang luarbisa, dan memimpin rombongan crew filmnya masih sempat-sempatnya bersedia tinggal bersamaku. Persahabatan antara kami ternyata tak pernah lapuk, tak pernah berkarat walaupun aliran dan warna politik ketika itu bisa gontok-gontokan karena perbedaan jalannya kehidupan.
Tetapi memang jauh perubahan yang kudapati pada Wim. Dia sudah mulai sakitan. Layaknya atau kebanyakan orang filem, sutradara, punya penyakit jabatan dalam pengertian kongkrit. Karena mereka ini sangat tidak teratur dalam mengatur jadwal kehidupan, antara kerja - istirahat dan makan, maka penyakitnya juga berjenis sama, sakit lever, tbc,syaraf karena sangat kurang tidur. Begitulah Wim, berbicarapun sudah mulai gemetar, berdiri tak tahan lama, berceritapun terkadang sudah tidak nyambung. Dan bila waktu makan, selalu kuletakkan beberepa helai koran-bekas, agar nasinya tidak bertumpahan secara sembarangan. Sudah lebih dari bayi, bila makan selalu berserakan ke mana-mana, bertumpahan. Dia sudah mulai tidak bisa lagi menyeimbangkan dan mengharmonisasikan gerak-gerik syarafnya.
Tetapi semangatnya memang luarbiasa. Dalam keadaan demikian dia masih tetap menghasilkan filem-filem cerita yang tidak jelek. Ketika itu anak-buahnya termasuk pemain-utamanya menginap di suatu hotel, sedangkan Wim maunya selalu bersamaku, mau bernostalgia istilahnya. Kepada pemain utamanya ketika itu, Ucha Perucha, kutanyakan banyak soal. Bagaimana cara Wim memberikan perintah atau mengomando dalam menyutradarai filemnya. Ucha menjawab, Wim dengan kursi-roda berkeliling atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Ketika Wim juga mengenali keluargaku, terutama anakku, Nita, Wim menjadi tertarik setelah banyak omong-omong, berkelakar, dan dia minta agar Nita mendampingi Perucha turut mengambil bagian. Aku dalam hati sebenarnya tidak setuju, tetapi semua itu kuserahkan kepada yang bersangkutan, dan "untunglah" tidak jadi dan tidak pernah terlaksana,- nanti ada ceritanya.
Wim, sebagaimana Wim yang kukenal, dan orang filem lagi! Selalu berkata, " ya, bron kau tilpunlah cewek yang cantiklah, pesankan buatku. Aku perlu cewek cantik, masaksih di Perancis nggak ngapa-ngapain, kau kan tahu, aku ini tokh bukannya pastor!""Ya, ya nantilah kutilpunkan, aku sedang milih-milih buatmu. Pilihanmu kan aku tahu, aku tokh tahu seleramu selama ini", kataku. Isteri pertama Wim kukenal baik, namanya Onarsih. Isteri keduanya kukenal dari koran dan majalah sebab aku sudah tidak di Indonesia lagi. Paula Rumokoi cantik sekali. Dan yang ketiga ini, sesudah mereka bercerai, kawin lagi dengan wanita muda dari Jabar, tapi samasekali bukan dari kalangan orang filem. Dan Wim masuk Islam sesudah dengan yang ketiga ini. Dan kalau bukan Tuhan yang memberikan nyawa panjang kepadanya, niscaya Wim sudah lama meninggal, begitulah menurut penuturannya sendiri.
Wim mulai bekerja di kalangan filem sejak adanya maskapai filem Golden Arrow di Senen. Dan dia sudah menghasilkan filem puluhan banyaknya. Dia bukan sutradara yang paling top. Tetapi nama dan prestasi Wim Umboh samasekali tak bisa dilupakan dan diremehkan. Filem-filemnya umumnya terbagi dua pengolahan. Pertama yang benar-benar dia cari duit, yang kedua benar-benar dia mengungkapkan rasa-seninya, sebagai seniman yang jujur. Dapat kita ambil perbandingan seperti filemnya Pengantin Remaja dan Tukang-becak. Yang satu penuh dengan glamour, sehingga lokasinyapun sebagian mesti diambil di Paris-, ingat Sophan Sophian dan Widyawati-. dan Tukang-becak tentang rakyat jelata.
Umumnya filemnya sangat berani dalam menggambarkan keadaan sebenarnya, baik hal mewah maupun hal miskin. Ada pula filemnya yang menggabungkan dua hal itu sekaligus, maunya cukup glamour dan mewah tetapi juga banyak ditonton orang, dan juga mengungkapkan rasa-seni realismenya. Tapi hal ini sangat tidak mudah. "Membagi" antara "kebutuhan-pasar"dan "kualitas-seni", juga punya pekerjaan seni tersendiri!
Ketika di Paris, kuminta ponakanku bisa dan bersedia menemani Wim ke mana-mana, karena dia punya kendaraan sendiri. Sedangkan aku kebanyakannya tenggelam dengan pekerjaan resto. Wim sangat berterimakasih kepada ponakanku Bai. Wim kalau sudah menyelesaikan urusannya, baik tentang hal penyutradaraan ketika itu : Secawan Anggur Kebimbangan, maupun urusan selukbeluk sekitarynya seperti mencari wig, buat keperluan alat-perlengkapan filemnya, dan lainnya, dia minta agar Bai mau menemaninya ke mana-mana. Dia merasa bebas dengan Bai yang juga memang sangat lincah dalam mengurus sesuatu, cekatan dan ringan-tangan dalam membantu teman. Sekali lagi kukatakan, Wim, adalah orang filem, temanku yang sangat lama kukenal. Ketika dia berkali-kali minta carikan cewek cantik, mau "mencoba" orang-bule Prancis itu, seujungrambutpun aku tak percaya. Itu hanya kompensasinya saja. Bagaimana aku bisa percaya, berdirinya saja sudah banyak gemetarnya. Makannyapun sudah lebih meneyerupai bayi, berserakan ke mana-mana. Dan bila kencing di toiletku, berserakan ke mana-mana, dan setiap kali kencingnya harus kupel-bersih lagi. Dan selalu minta tolong kancingkan celana pantalonnya. Mana pula punya tenaga untuk yang satu itu!
Ketika dengan Bai, dia minta agar dibawa ke toko sex-shop. Dan membeli alat-alat buat keperluan itu. Dan dia menyewa filem porno buat ditonton ketika itu juga, di sebuah kamar yang kecil, buat satu sampai empat orang. Diajaknya Bai buat sama-sama nonton. Untunglah Bai mengerti semua adat dan pergaulan orang filem yang notabene temanku Wim ini, dan Bai menolak halus. Ketika selesai filem itu, di sekitar kamar itu tentu saja berbekas tak keruan, Bai berkata, "Oom, saya harus agak cepatan pulang, karena saya harus menjemput suami saya dari resto, sudah itu barulah saya antar Oom". Wim tertegun agak lama, dan sedikit bingung. Ketika Wim menanyakan, siapa. Lalu Bai menjawab " ya Mas Bud kan, dia menunggu saya sekarang ini".
Dan Wim benar-benar bermuka merah dan sangat malunya, sebab selama berhari-hari ini dia menganggap Bai itu adalah laki-laki. Lebih malu lagi dia ketika minta diajak ke toko sex-shop dan menonton filem porno dan mengajak nonton bersama pula. Ketika Wim minta maaf berkali-kali, Bai dengan sangat baik dan ramahnya berusaha keras agar Wim jangan merasa sangat punya beban.
Dan ketika tiba-tiba saja Wim minta aku menemuinya di suatu tempat, yang aku agak heran, sebab selama ini di tempatku,- dia menyatakan, agar merelakannya pindah lagi ke hotelnya. Sebab pihak KBRI-Ambassade sudah mulai mengikutinya. Dan inilah tadi sebabnya aku merasa "beruntung" anakku sudah pasti akan ditolak kalau meluluskan kehendak Wim. Bagaimanapun gerak-gerik dan pekerjaan Wim ketika itu tidak mungkin lepas dari pengamatan pihak Ambassade. Dan memang tidak mungkin Wim bisa begitu bebas bergaul dengan kami pihak resto. Dan kami pada akhirnya hanya berhubungan dengan tilpun saja. Semua ini aku mengerti persoalannya. Betapapun halnya, Wim, bagiku adalah seorang seniman pekerja-keras, ulet dan sangat militan. Sampai akhir hayatnya dia tetap dalam keadaan bekerja dan menggeluti perfileman nasional. Semangat menciptanya luarbiasa dan pertarungan antara kerja perfileman dengan penyakitnya telah mengakhirinya sebagai orang filem yang sangat setia pada profesinya.
Aku baru saja mendengar berita bahwa temanku Syumandjaya meninggal di Jakarta. Dan kebetulan pula tak lama sesudah itu isterinya, Ucha Perucha sedang ada di Paris. Dia bersama sutradaranya sendiri, yang juga temanku Wim Umboh, akan menyelesaikan location pengambilan filemnya di Paris. Filem itu berjudul Secawan Anggur Kebimbangan. Kesempatanku buat mengucapkan belasungkawa dan pernyataan dukaku kepada isterinya ini. Tentu saja barangkali Ucha tadinya agak bingung, tahu-tahu saja ada orang mengucapkan dukacita kepadanya, walaupun mungkin agak terlambat. Dan kujelaskan siapa aku berkenaan dengan almarhum suaminya. Dan barulah dia mengerti dengan permintaan maafku sedalam-dalamnya, samasekali bukannya mau membangkitkan kedukaannya kembali. Aku berusaha menceritakan pergaulan antara kami dulunya.
Syumandjaya, teman dekatku. Kami satu kelas ketika masih di Taman Madya, Taman Siswa, Jalan Garuda di Kemayoran. Rumahnya di Kebun Kosong, sedangkan aku di Kepu Selatan, berdekatan. Jadi dia anak Kebun Kosong, aku anak Kepu Selatan. Kami sama-sama aktive di gerakan PPTS, Persatuan Pelajar Taman Siswa. Dan kami selama 6 tahun menjalani pendidikan di Taman Siswa. Dia pandai main biola, dan sangat mencintai seni. Dia sangat mahir memainkan lagu Toselli, lagu Italia yang sangat indah itu,lalu serenade singkat. Ketika kami sedang gila-gilanya dengan gerakan seni ini, kami memainkan drama Awal dan Mira. Dia sebagai Awal, tokoh utama,sangat kena dengan badannya dan perawakannya. Sebab yang diminta pengarangnya Mang Utuy Tatang Sontani ( alm- kini ), berperawakan kurus agak tinggi, dengan badan tak terpelihara. Maka paslah, klop dengan perawakan Mandjoy,- sebutan antara kami,-.
Ketika itu sedang trend di mana sekolahan SMA sedang membawakan drama-drama, dan terutama drama Utuy, Usmar Ismail, dan Sanusi Pane. Dan karena semua dialog dalam Awal dan Mira itu sangat memikat,- dan pantaslah kala itu mendapatkan hadiah pertama dari BMKN-, Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional,- maka hampir semua pelaku yang menjadi Awal selalu benar-benar jatuh cinta kepada Mira-, bahkan ada yang memang jadi dan menikah secara sah! Dan rupanya tak terkecuali dengan Mandjoy temanku ini. Ketika itu minta ampun dia cintanya kepada Sawitri Dewi, putrinya pujangga Sanusi Pane itu! Dan tentu saja tak jadi, karena mungkin memang belum jodohnya. Aku ketika itu mendampingi Mandjoy menjadi Baju Biru dalam drama tersebut, sebagai dua pelaku badut dengan si Baju Putih.
Kegiatan kami di PPTS banyak menyita waktu dengan diskusi tentang seni-budaya. Salah satu diskusi kami ketika itu yalah: dalam bidang apakah pengungkapan seni menjadi total dan menyeluruh, yang lengkap mendekati sempurna? Kami punya kesatuan pendapat sesudah banyak pergeseran dan persintuhan serta perbedaan. Pada umumnya semua seni bisa dibagi empat bidang, dan semua seni ada dan terdapat pada empat bidang itu. Keempatnya yalah: seni-sastra, seni-suara, seni-gaya dan seni-rupa. Semua seni yang ada di dunia ini bisa dimasukkan dalam empat bidang itu. Dan pengungkapan yang paling total, menyeluruh dan komplit, adalah ke dalam sebuah filem! Sebuah filem yang baik dan lengkap, serta menyeluruh, terdapat empat bidang seni itu pada sebuah filem. Dengan musiknya yang baik, indah dan merdu, gerak-gerik actionnya yang memikat, dan sastra yang mempesona, dan seni-filmis yang terpuji.
Mungkin ada pengaruh diskusi kami dulu itu pada Mandjoy, sehingga dia memutuskan untuk bersekolah di jurusan sinematographi di Moskow dengan teman-temannya satu angkatan seperti Uzhara, Ami Priyono, Zubir Lelo. Mandjoy dan Ami Priyono masih beruntung dapat mewujutkan pelajaran sekolahnya di Indonesia, dengan menciptakan karya filemnya. Dan karya penyutradaraan Mandjoy memang sangat berharidepan. Sayangnya dia seperti sudah kutuliskan tadi itu, kena penyakit jabatan sebagai orang filem : sakit lever, sakit akibat tak teratur makan-tidur-kerja dan istirahat, yang pada giliran sesudahnya menyusullah sutradara temannya Wim Umboh. Orang filem, akan tetap bekerjakeras ketika jadwal menuntut pengambilan filemnya pada jam 01.00 atau jam 02.00 bahkan sampai pagi menjelang siang lagi. Adakalanya jadwal kerjanya selama belasan jam tanpa mengenal siang dan malam.Kalau tak salah ingat, Mandjoy yang menciptakan beberapa cerita novel menjadi filem seperti Si Doel Anak Sekolahan yang diteruskan oleh Rano Karno, Operette Jakarta, Karmila dan Atheis roman Achdiat K Mihardja itu. Masih banyak karya dan tulisan Mandjoy yang belum sempat direalisasikannya.
Isteri pertamanya seorang ballerina kenamaan yang menamatkan sekolahnya di Bolshoi Theatre Moskow sebuah perguruan-tinggi drama yang sangat terkenal di dunia, Farida Utoyo, banyak saling membantu dalam cipta-karyanya. Sampai kini Farida dengan sukses meneruskan realisasi sekolahnya, membuka sekolah ballet dan menciptakan tarian sebagai koreograph klassik maupun modern.
Ketika kami sama-sama menamatkan SMA Taman Madya, masih sempat kami "gerombolan seniman" bersama Ajip Rosidi, Sukanto SA, Trisnoyuwono, Mandjoy, Riyono Pratikto ke rumah Ajip di Ciborelang, dekat Cirebon, menemani Trisno melamar Ami yang kembar dan sangat cantik itu.Hampir saja Trisno digampar kembaran Ami ( Sulasmi ) karena mau mencium kakaknya ( kembarannya ), dikira itu adalah Ami, pacarnya. Dan ketika masih kelas dua TM, suatu hari Mandjoy sempat nangis karena kehilangan sepedanya. Aku malah ketawa, sebab kok seorang Mandjoy bisa nangis segala ya! Dan dua tiga hari sesudah itu dia mencariku, "Sudah - sudah terbayar, seri, satu lawan satu" katanya. "Apanya seri dan satu lawan satu itu", kataku tidak mengerti apa yang dia maksudkan. "Ya, aku kehilangan satu sepeda, dan aku sudah curi satu sepeda, kan seri, satu lawan satu kan?", katanya dengan enteng dan ringan. "Akh kau gila! Tak baik begitu, kalau ketahuan Pak Said, kan tidak enak kita yang begitu dipercayainya, lah, kok kau turut maling", kataku.
Tak lama sesudah itu, sepeda yang "dicurinya" hilang lagi. Tapi kali ini dia tidak menangis, dan ketika dia mau membentangkan "ide sintingnya", lekas-lekas aku mendahului. "Kalau kau mau menyamai stand dua-dua, maka kaulah yang sebenarnya pencuri. Hapuskan ide sintingmu itu. Kalau tidak, aku akan ceritakan pada Pak Said, biar kau dipecat dari Taman Siswa", kataku memang agak marah. Dan dia benar-benar tak jadi "mengharumkan" nama gelaran anak Kebun Kosong itu! Dan beberapa tahun kemudian kudengar dia akan meneruskan sekolahnya di Moskow, berkat kiriman Persari yang ketika itu masih didirekturi Djamaluddin Malik, seorang produser dan regiseur kenamaan pada masanya. Aku sangat gembira mendengar kabar ini. Tapi tak lama sesudah itupun aku meneruskan "pengembaraan abadiku" ke Tiongkok dan akhirnya ke Perancis sampai kini. Dan aku sangat merasa sedih dan terpukul, pada tahun-tahun yang berdekatan, Indonesia telah kehilangan dua sutradara sekaligus, dan kebetulan dua-duanya temanku yang amat akrab: Wim Umboh dan Syumandjaya (Mandjoy).
Paris 20 Juni 1999
Kami bertujuh saudara, hanya satu wanitanya. Kakakku itu meninggal di Mekkah ketika naik haji beberapa tahun yang lalu. Kebetulan bersama satu rombongan-terbang ( kloter = kelompok-terbang ) dengan Bung Tomo, yang juga meninggal pada tahun itu, di Mekkah. Hanya bedanya mungkin, yang kudengar makam Bung Tomo dipindahkan ke tanahair. Makam kakakku? Mana kami punya kemampuan buat memindahkannya, perlu banyak uang dan mana kami punya!
Semua anak-anak Ayah pada pokoknya berhasil dalam masalah sekolah dan pendidikannya, sampai ke batas dan sampai ke puncak. Ini dalam soal pendidikan. Tetapi apakah berhasil dalam masalah kehidupan dalam pengertian "secara kampungan, orang kampung kami"? Menurutku dari kami semua bertujuh ini, hanya Ayah yang dapat dikatakan berhasil, dan mungkin juga kakakku yang sudah lama meninggal di Mekkah itu. Apa ukurannya berhasil atau sukses tidaknya? Menurut orang kampungku yang dikatakan sukses berhasil dalam kehidupan itu yalah : bila punya rumah-gedung, batu dan beratap sirap, punya pekarangan-rumah atau sawah. Dan bila bisa naik-haji menunaikan rukun-Islam, dan ada emas sebungkal dua bungkal, di tangan, di kuping di leher atau di gigi! Dan bila tak punya hutang. Bila memang ini ukurannya, maka kami bertujuh atau berenam ( minus kakakku, karena dia punya ukuran itu ) tak seorangpun yang berhasil dalam kehidupan ini. Abangku yang tertua, dengan pangkat menteri ketika pemeritahan Soekarno, sampai akhir hidupnya tak punya rumah pribadi. Yang dia tempati itu walaupun sangat besar, yang katanya bekas kompleks Kedutaan Inggeris di daerah Pegangsaan dulu itu, tokh bukan hak-milik pribadinya. Dia benar-benar tak punya secuil hartapun, tidak seperti Ayah kami.
Sangat banyak syarat-syarat yang kami tak punya, dan takkan pernah punya, serta takkan mungkin punya. Adikku? Walaupun sekolahnya punya dua atau lebih ijazah dari dua negeri, manapula dia punya harta dan rumah. Aku? Sampai kini pensiun, tak punya apa-apa, rumah sewaan yang setiap mau bayar sewa apartemen, selalu dag-dig di hati, sebab apakah masih bisa dibayar penuh? Naik haji? Naik kereta buat ke Holland untuk rapat YSBI saja terkadang ngemis kepada teman-teman!
Dan gilanya pula, hanya Ayah yang sekolahnya paling rendah di antara kami semua. Dia hanya tamat SR,Sekolah Rakyat. Ketika itu hanya lima tahun. Tetapi dia pula yang pertama jadi anggota DPR dari anak tertuanya, sebab anak tertuanya sesudah jadi Ketua Partai barulah bisa jadi anggota DPR dan MPR. Tetapi Ayah jadi anggota DPR karena mewakili daerah Belitung dan MBA45, Musyuwarah Besar Angkatan 45, yang dulu pernah diketuai Chairul Saleh. Ayah salah seorang yang secara langsung memimpin rakyat dan pemuda dalam pemberontakan bersenjata serta mengibarkan bendera merah-putih di Belitung. Karena dikejar-kejar mau ditangkap dan dibunuh Belanda, maka Ayah melarikan diri ke daerah RI, Yogyakarta dengan melalui Cirebon dengan sebuah perahu Bugis. Lalu bergabung dengan BPRI pimpinan Bung Tomo, dan bertemu dengan anak tertuanya sesudah bertahun-tahun berpisah.
Ayah salah seorang pendiri Nurul Islam, organisasi Islam yang pertama di Belitung pada akhir tahun 1930-an. Nurul Islam lebih berorientasi kepada Muhammadyah, dan bukan kepada Masyumi yang lahirnya sesudah tauhun 1940-an. Banyak orang mengatakan bahwa Ayah adalah anggota Masyumi. Ini tidak benar. Pada Seri tulisan ini, sudah kutuliskan cerita yang sebenarnya. Anggota DPR ketika itu memang ada dua yang namanya Abdullah Aidit, yang satu pakai huruf d ujungnya, Abdullah Aidid, sedangkan Ayah saya pakai t ujungnya, Abdullah Aidit. Dan gilanya lagi, dua Pak Abdullah itu menghuni satu kamar, berdua, dengan nama yang sama hanya beda huruf d dan t. Dan yang huruf berujung d itulah dari fraksi Masyumi, seorang saudagar batik dan pengumpul perangko, philatelis kenamaan, dari Solo. Ayah saya bukan anggota PKI tetapi samasekali tidak anti-PKI, sedangkan anak tertuanya menjadi Ketua PKI.
Kami mendapat pendidikan sekolah secara sama. Kata Ayah : Aku tidak membedakan kalian dalam mendapatkan pendidikan, sampai setinggi apapun dan sampai manapun. Aku akan berusaha sekeras mungkin buat mengongkosi kalian bersekolah. Tetapi yang sudah pasti, aku tidak akan meninggalkan harta kekayaan buat berbagi, dan kalian samasekali tidak boleh bercerai-berai karena harta orang tua! Jadi tugasku, kata Ayah, menyekolahkan kalian secara sama. Sama mendapatkan pendidikan baik secara sekolah maupun budi-pekerti di rumah. Tetapi sampai mana yang kalian dapatkan, itu tergantung pada diri kalian masing-masing. Pembentukan watak-luhur, tergantung pada dalam-diri kalian masing-masing. Hanya dalam masyarakat kongkrit, kerja-praktek-nyata, barulah arti pembentukan watak-luhur itu akan menjadi kenyataan.
Demikianlah nasehat dan anjuran Ayah kepada kami semua. Dan memang demikianlah kenyataannya, kami mendapatkan pendidikan sekolah dan budi-pekerti secara sama, tetapi soal hasilnya bisa berbeda-beda. Ayah sangat demokratis, sejak kecil kami sudah ditanamkan rasa-demokratis ini, tidak ada pemaksaan secara ideologis. Tetapi perkara karena kami nakal, rata-rata kami pernah kena pukul. Pantatku sering kena sapu-lidi atau penepak-kasur, atau membiru sekitar kulit-perut karena dicubit. Tetapi memang benar, beliau tak pernah melengketkan tangannya di kepala kami. Selalu di pantat atau di perut, atau di kuping. Dan sedikitpun aku tak pernah merasa menyesali Ayah karena memukulku, karena aku merasa sudah seharusnya aku mendapatkan hukuman itu, - karena memang sudah keterlaluan nakalnya.
Dalam bahasa Belitung, Ayah kami itu sangat pandai "berijo". Berijo yalah banyak pengertiannya, bisa dalam pengertian "memperhitungan" dan "mengusahakan" bisa "mencari akal" dan kepandaian bagaimana memperlakukan hidup ini. Aku menganggap Ayah sangat banyak akalnya, selalu tahu saja bagaimana seharusnya. Otaknya selalu jalan dan bekerja, dan dapat dikatakan "menguasai ilmu-strategi dan taktik dalam kehidupan". Dalam hatiku, seandainya Ayah kami mendapatkan pendidikan sekolahnya seperti kami anak-anaknya, maka "martabat dan prestasi" Ayah pasti melampaui semua anak-anaknya, termasuk siapa tahu anaknya yang tertua itu, Bang Amat.
Ingin aku menuliskan hal-hal yang sangat berkesan dalam hatiku, dan mungkin "agak monumental" bagi kehidupan kami. Karena Ayah dianggap pandai "berijo" tadi itu, maka Pemerintah Jepang menugaskan Ayah buat "mencuri orang Jawa" ke dan di Pulau Jawa. Maksudnya yalah, orang-orang Jawa ini akan ditugaskan dan mengajarkan agar orang-orang dan penduduk Belitung mau dan bersedia membuka tanah buat bersawah! Sebab di Belitung tidak ada sawah, semuanya huma, padi-kering seperti di Kalimantan. Dan orang-orang penduduk Belitung tidak mengerti bersawah, perlu belajar bagaimana bersawah itu. Maka missi Ayah yang "berjuang sendirian" "mencuri orang Jawa" dari Pulau Jawa itu pada akhirnya berhasil. Ada 25 keluarga orang Jawa dengan perahu-besar, sebagai pembidas, dapat "dibujuk" dan sedia hidup di Belitung. Waktu itu samasekali tak ada masalah transmigrasi di Belitung, dan samasekali bukan dalam pengertian transmigrasi. Sebab yang menugaskan itu adalah Pemerintah Daerah Belitung, Gunzeikanbu Jepang, dengan melalui Jawatan Kehutanan. Ayah selama puluhan tahun adalah pegawai Boschweizen, mantri Kehutahan Kabupaten Belitung. Dan sejak itulah penduduk Belitung baru mengenal persawahan berkat Ayah berhasil "mencuri" orang Jawa itu.
Sesudah Jepang kalah, Ayah menjadi orang non, artinya non-koperasi, tidak mau bekerjasama dengan Belanda dan melawan Belanda. Bertentangan dengan orang ko, artinya koperasi, mau kerjasama dengan Belanda. Karena Belitung adalah daerah federal, daerah-jajahan-Belanda, sedangkan Ayah adalah orang non, dan orang Republikein, maka beliau sudah pasti sangat terasing dan terisolasi dalam kehidupan pemerintahan Belanda ketika itu. Apalagi beliau secara langsung memimpin para pemuda-pejuang buat membrontak terhadap Belanda. Tak bisa lain untuk menghindari penangkapan dan penjara serta mungkin pembunuhan, maka Ayah harus segera melarikan diri.
Ketika tahun-tahun 50-an, di mana Ayah sudah jadi anggota Parlemen, maka Ayah harus pindah ke Jakarta. Anaknya yang kedua, adiknya Bang Amat, yaitu Bang Seri ( Basri ) sudah berkali-kali berusaha mencari rumah. Tetapi tak pernah dapat, tak pernah berhasil. Begitu Ayah turut membantunya, langsung Bang Seri dapat rumah! Begini ceritanya. Kami ketika itu sedang jalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Tahu-tahu sesuai dengan gelaran nama Bogor, kota-hujan itu, haripun hujan. Cukup lebat. Kami terpaksa berteduh di emper rumah orang. Dan tidak hanya kami, ada lagi orang lain. Di antara orang lain itu ada seorang penjual-bunga. Berbagai macam bunga dalam pot-kecil, indah sekali. Dan Ayah membuka percakapan dengan penjual-bunga itu. Ayah menanyakan apakah pernah mendengar atau apakah tahu, ada orang yang mau menyewakan rumah. Kata Ayah, saya sedang mencari rumah di dekat-dekat sini. Penjual-bunga itu dengan mengingat-ingat agak lama, mengatakan dia tahu, tapi rumah itu tidak di daerah dekat sini, melainkan dekat Kebon Pedes Bogor, dekat Kedung Halang. Pembicaraan semakin hangat dan meningkat-maju. Dan Ayah berjanji akan mendatangi rumah yang disebutkan penjual-bunga itu.
Tidak sampai satu bulan Bang Seri sudah pindah ke rumah-sewaan Kebon Pedes itu. Rumahnya besar, pekarangannya baik, bersih dan ada tanaman bunga-bunga. Bukan main Bang Seri sangat gembiranya. Dan akupun pernah menginap di rumah Bang Seri yang sangat sejuk dan berhalaman besar itu. Dua kali dengan ini Bang Seri dapat rumah dengan usaha Ayah mencarikannya. Bang Seri ke sana ke mari mendatangi kantor-kantor urusan perumahan, dengan resmi surat-menyurat, dengan Bahasa Belanda yang cas-cis-cus, tokh belum pernah berhasil. Dan Ayah yang tua serta "sekolahnya paling rendah" itu dengan cekatan dan sigap mendapatkan sebanyak dua kali yang Bang Seri tak pernah berhasil.
Kata Ayah "berpetuah" padaku. Kau tahu, kalau kita mau cari rumah, cari saja melalui orang-orang yang selalu banyak dan sering berkeliling kampung. Nah, penjual-bunga pastilah banyak dan sering keliling kampung dan daerah-daerah perumahan penduduk. Dan orang ini paling banyak mengerti keadaan orang-orang setempat. Mengapa tidak kepada mereka saja kita minta bantuan dan mendapatkan keterangan? Mengapa kita tidak menempuh jalan yang terang-benderang dan sudah pasti mereka lebih tahu dari kita? Jangan remehkan orang-orang kecil begini. Mereka bermata sangat tajam, mengetahui sangat luas. Sering-sering kita tak tahu apa-apa, tetapi mereka tahu banyak. Dan celakanya, kalau kita menganggap kita lebih tahu atau sok tahu, padahal mereka benar-benar tahu.
Selalu Ayah memberikan contoh kongkrit di depan mata kami, yang kami tidak melihatnya dengan terang. Ada lagi cerita Ayah yang lain, bagaimana Ayah "dipecat" dari anaknya yang tertua, karena seperti kata peribahasa Tiongkok, seperti Tuan Shi taku akan Naga! Dan Ayahku pulang kampung ke Belitung karena memang sudah "dipecat" anaknya yang tertua itu.
Paris 22 Juni 1999
Bang Amat sekeluarga semula tinggal di daerah Galur, Tanah Tinggi Senen. Rumah ini aku tahu karena agak sering juga datang ke sana. Tetapi setelah mereka pindah ke Pegangsaan, rumah yang agak besaran, aku sudah di luar Indonesia, jadi tidak tahu dan tak pernah melihatnya. Ini menjelang tahun 1964, tak lama menjelang peristiwa-besar nasional itu. Sedangkan kami sejak tahun 1963 sudah tak berada di Indonesia lagi.
Ketika rumah masih di Galur, keadaan perekonomian rumah-tangga memang sangat sulit. Penghuni rumahnya sendiri turut merasakan kesulitan itu. Telor satu dibagi buat dua orang. Dan makanan tahu-tempe sudah "membudaya" hampir tiap hari. Makanan murah sering dibeli, makanan yang rasanya enak dan digemari sangat jarang, sebab mahalnya. Rasa bosan karena itu-itu saja diterima karena apaboleh buat. Bang Amat tentu saja sangat jarang makan di rumah, sebab dia ngantor di Kramat. Di Kantor Kramat makannya jauh lebih enak. Jadi soal makan di keluarga rumah ini, Bang Amat tidak banyak tahu, dan tokh pengurus rumah-tangga sudah ada. Ada yang bertanggungjawab atas masalah itu.
Karena rumah itu rumah Ketua Partai, maka tentu saja banyak orang-orang, teman-teman, kenalan dan sahabat yang makan di sana. Terkadang kalau memang sudah tahu akan ada tamu, tahu bahwa nanti siang akan ada beberapa orang makan di sana, tentu saja mbah(penanggungjawab dapur rumahtangga) akan membeli dan memasakkan lauk-pauk yang agak enak dan mendingan. Tetapi lebih sering, datangnya tamu dan orang-orang, terutama para pemuda dan anak-anak muda dari berbagai organisasi dengan berbagai keperluan, sulit diramalkan kapan datangnya dan akan makan di sana atau tidak. Hal ini menyebabkan memang selalu menemui kesulitan mengatur konsumsi makanan rumah-tangga.
Ada beberapa anak-anak muda yang bekerja atau dengan keperluan yang sudah diatur oleh Kantor Kramat, membenahi perpustakaan, mengatur dan menata pembukuan, bibliografi. Ada yang bertanggungjawab atas sekitar rumah, misalnya kebun, pekarangan, peralatan, dan lain sebagainya. Bahkan ada bagian staf pengawal. Ini pekerjaan besar, dan Partai ketika itu sudah besar dan bertambah besar. Karena sudah tambah besar, maka musuhnya juga tambah membesar, kesulitannyapun juga meningkat. Banyak musuh-musuh mengincar pekerjaan apapun yang dilakukan Partai. Orang-orang muda dan para pemuda itu tentulah semua sudah diatur oleh Kramat, jadi semuanya memang terorganisasi, rapi dan semu ada aturannya. Dan kebanyakan mereka karena waktu selalu saja tak cukup, sempit, maka tak sempat pulang. Dan tidak bisa lain harus makan di rumah itu. Dan ini artinya biaya dan ongkos rumahtangga selalu sering tidak cocok dengan perhitungan sehari-hari. Harus ada tambahan, dan makananpun harus baik atau cukup baiklah. Nah, ini menambah kontradiksi lagi.
Ketika itu Ayah berada di rumah itu. Melihat keadaan begini, Ayah sendiri mengusulkan kepada Bang Amat, bagaimana seandainya biaya rumah-tangga, dapur, makanan buat banyak orang dan teman-teman itu, ditambah atau dicarikan, diusahakan. Menambah biaya, ongkos rumah-tangga, tentulah tidak mudah dan tidak begitu saja. Harus ada pendiskusian yang benar-benar demokratis dan masuk akal serta adil. Bang Amat menanyakan kepada Ayah, apa akal Ayah buat mengatasi hal ini. Dan Ayah mengatakan kalau beliau diperkenankan dan diizinkan, tentulah Ayah akan berusaha mencari ongkos dan dana buat itu. Bagaimana caranya? Ayah menyatakan pendapatnya, beliau akan berusaha buat jual-beli barang, singkatnya dagang-dagang kecillah. Ongkos dan modalnya hanya satu yang penting : tilpun! Bang Amat tampaknya tidak begitu keberatan, tetapi juga tidak lalu setuju sepenuhnya. Dengan sikap, cobalah dulu.
Ketika itu aku sudah di Beijing, bekerja atas kerjasama RI-RRT. Kami beberapa orang dikirim atas persetujuan kerjasama buat pekerjaan pendidikan, pengajaran, penerbitan dan penterjemahan. Kami semua mendapatkan gaji yang cukup besar, bahkan agak berlebihan bila dibandingkan dengan pendapatan di tanahair. Dengan "pangkat" sebagai expert, akhli, tentu saja punya keuangan yang bagus. Semua ini Bang Amat tahu, dan tentu saja tahu, ini tokh pekerjaan yang semua ada hubungannya dengan Kramat. Karena itu ketika Bang Amat mampir di Beijing dan bertemu dengan para pemimpin Tiongkok, dari PM Chou En-lai, Chen Yi, Liao Shao-chi sampai ke yang topnya Mao Tse-tung, sempat "mengumpulkan" kami buat bertemu dan bertatap-muka serta berbincang-bincang.
Karena keperluan Partai sudah semakin besar, dana perbelanjaan juga membesar, sedangkan yang didapat selalu tidak mencukupi, maka bagaimana kalau kami juga para expert yang bergaji besar ini mbok membantu keperluan dan kebutuhan banyak teman di tanahair. Maka kamipun siap buat itu. Ada teman yang diminta buat mencarikan beberapa mesintik, juga alat olahraga, alat pertukangan dan perlistrikan. Ketika itu semua kami sedikitpun tidak keberatan, rela dan siap membantu. Suasana jor-joran revolusi sangat meningkatkan semangat. Dan ketika Bang Amat datang kepadaku, buat menentukan sumbangan apa yang harus kuberikan berdasarkan kebutuhan di tanahair, semula agak terkejut aku mendengarnya. Kepadaku diharapkan agar membelikan 200 meter kain CP, kain drill. Ini bukan sedikit, 200 meter, tak dapat kubayangkan! Kata Bang Amat sambil senyum : "jangan kau bayangkan, tapi kau sediakan uangnya, itu yang penting!" Kukatakan, bukankah di Tiongkok kini buat membeli kain satu meterpu harus ada kuponnya. Ketika itu di Tiongkok masih banyak kesulitan. Semua pembelian buat barang dan benda strategis harus ada kuponnya, dan setiap orang sangat terbatas buat mendapatkannya. Bang Amat menjawab : "pokoknya semua sudah diatur, yang penting kau keluarkan uang buat itu. Tidak usah dipikirkan tentang kuponnnya, tentang bagaimana cara membelinya, membawanya, mengangkutnya", katanya singkat. Dan sebenarnya soal keuangan, dia tahu betul, kami semua punya kemampuan buat itu.
Teman-teman di tanahair banyak yang kesulitan pakaian, mahal dan tak ada uang buat membeli. Yang berdatangan ke rumah Bang Amat, banyak sekali orang-orang muda, kaum buruh, kaum tani, para nelayan yang memang sangat miskin dan berketiadaan. Dan kami memang sedia dan rela menyumbangkan uang gaji kami yang cukup besar itu.
Akan halnya Ayah, sudah mulai "dagang" yang bermodalkan tilpun. Pada bagian lain sudah kuceritakan bahwa Ayah ini sangat pandai "berijo" kata kami orang Belitung. Pandai mengusahakan, mencari akal, mengadakan, mencari dan mendapatkan. Dalam hatiku : jangankan mencari uang, dagang, mencuri puluhan keluarga orang Jawa-pun dulu itu disanggupinya, dan berhasil. Apalagi hanya dagang yang begini sah dan jelas. Dan Ayah mulai sibuk tilpun sana-sini. Lalu bepergian mengurus perjanjian dagangnya, transaksi, ada bagian yang dikerjakannya dengan istilah "nyatut", tetapi yang paling sering dan banyak yalah menjadi perantara, mencarikan dan mendapatkan, menemukan. Dan ini hasilnya cukup banyak, sekian persen dari pembelian dan penjualan. Dan Ayah banyak mendapatkan keuntungan keuangannya, dan semua itu diserahkannya kepada penangungjawab rumah-tangga. Dan hasilnya, makanan buat banyak orang dan teman menjadi baik dan bermutu. Tidak lagi setiap hari hanya itu-itu saja dari tempe ke tahu dari tahu ke tempe, lalu berbelok ke ikan teri dan kangkung yang agak kering, tidak segar.
Maka ketika Ayah sibuk mengadakan hubungan dagangnya ini, keuangan rumahtangga sangat baik, perbaikan mutu makanan sangat meningkat. Bahkan sudah berani mengundang orang atau tamu yang dari jauh seperti dari Aceh, dari Irian, yang kebetulan ada urusan di Jakarta. Dan semua ini diketahui oleh Bang Amat. Ayah dalam soal keuangan rumah-tangga sudah bagaikan menteri keuangan rumah Bang Amat. Tampaknya Bang Amat sangat besar mendapatkan bantuan dari Ayah. Perbaikan rumah tidak hanya mutu makanan, tetapi juga sudah meningkat ke perbaikan peralatan rumahtangga, dan sekitar kebun, serta kamar belakang, perpustakaan yang sedang dibangun. Tampaknya keuangan Kramatpun sudah banyak terbantu oleh pekerjaan Ayah ini.
Aku merasa benar dengan pendapatku. Ayah sangat cekatan, daya-pikir, daya-usaha, inisiatifnya sangat cepat, berkembang dan menjalar. Tak ada atau sangat sedikit yang menurunnya kepada kami, jangan-jangan juga bahkan kepada Bang Amat. Atau mungkin hanya kepada Bang Amatlah yang diwariskannya. Tetapi dipihak lain, kini sudah mulai timbul rasa tidak enak kepada diri Bang Amat. Adalah benar dan nyata, bahwa pekerjaan Ayah sangat banyak membantu dana keuangan Kramat, meningkatkan mutu makanan rumah-tangga, dan sebenarnya juga menyenangkan banyak orang dan teman atas pekerjaannya ini. Tetapi dipihak lain, akupun mengerti kalau Bang Amat merasa sangat tidak enak. Masaksih orangtuanya Ketua Partai dagang? Memang tidak ada larangan, tidak ada peraturannya dalam AD dan ART, tetapi dari kaedah kebiasaan dan kewajaran masyarakat, akan melihatnya ada keanehan.
Sebaliknya Ayahpun sudah merasakan, mungkin pekerjaannya ini sudah agak melampaui keharusannya, sudah agak sedikit kelebihan. Karena itu ketika Bang Amat "selesai berperang" dengan pikiran dalam dirinya sendiri, dan menyatakan saran dan usul serta pendapatnya, bagaimana kalau Ayah kembali saja ke Belitung, istirahat yang banyak, menikmati hari-tua dengan pensiun yang didapatkan dari DPR itu.
Ketika pernyataan itu dikemukakan kepada Ayah oleh Bang Amat, dua beranak itu penuh dengan perasaan penyesalan, kesedihan, kepiluan, bahkan Ayah menitikkan air-mata tuanya. Beliau dinasehati oleh anaknya sendiri, anak tertuanya, agar menghentikan usahanya selama ini. Ayah samasekali tidak merasa sakithati, tetapi yang disayangkannya yalah : usaha keras dan kerjakerasnya itu, kini terpaksa harus dihancurkan demi kejayaan Partai. Sesudah berhasil baik, maka harus segara dibunuh! Dan kami semua mengerti, mengapa Bang Amat terpaksa mengambil sikap demikian. Dan kami semua memahami sifat dan watak Ayah kami, kalau sudah berusaha, bekerja, menyanggupi, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh dan mati-matian, niscaya kerja apapun dan bagaimanapun pasti akan berhasil.
Maka Ayah kami kembali ke kampung halamannya karena -, mungkin tidak tepat istilah ini, "dipecat oleh anaknya sendiri"-, sudah tidak dikehendaki lagi usaha-kerjanya, sesudah berhasil karena terlalu gemilang!!
Ayah lahir pada tahun 1901. Ketika meninggalnya tahun 1968, mayatnya hampir membusuk karena tak ada orang atau keluarganya yang berani menguburkannya. Mereka semua takut akan akibat sampingannya, takut kalau-kalau tersangkut tidakbersih lingkungan. Tidak berani menguburkannya, karena Ayah adalah ayahnya Ketua PKI! Untunglah masih ada Palang Merah Indonesia dan pihak Rumahsakit yang tidak boleh membiarkan mayat tak terurus. Tragis sungguh, anaknya yang tertua yang dulu "memecatnya" meninggal diteror, dibunuh-gelap oleh rezim Orba yang tak tahu di mana kuburannya, di mana jelasnya. Dua orang anak-ayah itu telah memenuhi syarat-syarat kehidupan dalam masyarakat, di mana orang seharusnya memperdulikan dan menghargai orang lain, menghormati orang per orang dan orang banyak. Semua ini karena mereka mau berbuat baik kepada sesamanya, terutama kepada orang miskin dan terhina-papa.-
Paris 23 Juni 1999
Tadinya diperkirakan pertunjukan ini akan sangat sukses. Rombongan tarian, nyanyian solo - duet - trio, quartet dan koor, yang sudah pernah dipertunjukkan di beberapa kota, dan penontonnya melimpah-ruah. Dan sesungguhnyalah memang nilai pertunjukannya selalu bagus, memikat, menambat dan bernilai seni yang menarik. Tapi sekarang ini mengapa jadi begini? Ada yang mengatakan, salah dalam pengaturan acara, dan panitya setempat yang harus bertanggungjawab. Sangat memalukan, tragis dan tragedis. Kalau yang dipertunjukkan memang isi dan temanya tragis dan tragedis, tidaklah jadi soal, karena memang begitulah isi ceritanya. Tetapi perkara ini menyangkut kehormatan Paguyuban Seni Budaya Khatulistiwa, PSBK, yang sudah terkenal apik dan resik dalam setiap pertunjukan.
Ada pula yang mengatakan, seandainya acara deklamasi itu diletakkan pada mendekati akhir pertunjukan, tentulah tidak akan seperti sekarang. Tetapi ada pula yang mengatakan, bukan pada soal letak acara itu salah penempatan, tetapi isi sajaknya itu yang menjadi soal. Sebab kalau memang sajaknya bagus, memikat, diletakkan pada nomor acara ke berapapun tetap saja baik dan menarik. Lalu ada pula yang mengatakan, mengapa tidak dari mula isi sajak itu disensor dulu, kalau perlu tidak diadakan acara deklamasi tersebut. Lalu antara orang-orang PSBK saling mendebat, tidak semestinya lagi zaman sekarang ini diadakan sensor, pelarangan dan pemasungan segala macam! Itu zaman kuno, zaman Orba masih sedang berkuasa-kuasanya. Sekarang ini kan sudah mendekati dan memasuki zaman reformasi walaupun belum total dan belum sejati, tapi dekat-dekatlah sudah.
Biasanya kalau PSKB mengadakan pertunjukan, penonton selalu membludak dan selalu minta diulang-ulang, bis - bis - bis teriak suara di ruangan penonton, dan ramai meriah bersukacita. Semua merasa puas, dan bila rasa itu menghinggapi dan bersarang pada setiap pemain dan penonton, maka tak ada rasa lelah, letih dan bosan. Gembira dan gembira, senang dan puas. Tetapi ini, sesudah acara deklamasi yang menggemparkan itu, penonton satu demi satu, dua demi dua, lima demi lima, dan secara rombongan, pada pulang meninggalkan ruangan. Beberapa menit kemudian, ruangan hampir kosong, padahal tadinya tak terdapat bangku kosong. Ada beberapa penonton yang masih tetap menunggu acara selanjutnya, sebab banyak penonton yang masih mengharapkan pertunjukan yang sangat disukainya. Akan ada acara tarian legong, tarian perang Aceh, perang puputan Bali, akan ada trio nyanyian bergitar Kano, Kini dan Kana, yang sangat menarik. Tetapi kini entah akan bagaimana jadinya. Akankah terus melanjutkan pertunjukan atau distop saja karena penontonnya yang tadinya ribuan kini hanya tinggal belasan orang!
Lalu ada pula yang memperdebatkan, bagaimana maka kepada penyair Masri Rimbun diberikan acara deklamasi itu. Padahal judul sajaknya saja sudah tidak bagus, tidak sopan, apalagi isinya yang bagaikan memancing permusuhan, perdebatan dan bahkan mungkin kerusuhan. Buktinya sekarang ini, dengan judul sajaknya KENTUT saja sudah membikin sepi panggung dan ruangan penonton. Penyair Masri Rimbun samasekali bukan anggota rombongan PSBK, tetapi berhubung namanya sedang naik-daun, dan penyair muda yang katanya sangat berbakat, maka acara pembacaan sajak itu diperkenankan buat dibawakannya.
Acara deklamasi ini diletakkan pada acara ketiga, artinya pertunjukan belum lama, baru saja dimulai dengan dua acara. Maka dengan pembawaan seorang seniman agak nyentrik, rambut gondrong dan bagaikan orang mabuk, dengan wajah sedikit sangar dan menantang, dia melirik ke kiri dan ke kanan, berhenti sebentar menarik napas panjang, lalu dengan suaranya campuran bas dan bariton, mulai membuka suara :
————————–Ketika itu Masri Rimbun betul-betul membukakan celananya, dan terlihat kulit pantatnya, sambil membelakangi penonton. Penonton semuanya terperangah, heran, terkejut, dan merasa dilecehkan, merasa dihina dan sangat disepelekan. Ada penonton yang tertawa, mungkin karena merasa lucu, merasa hebat dan mengaguminya sebagai deklamator dan penyair yang sangat berani dan trampil. Tentang perkara inipun turut dibicarakan orang, biasalah kata orang, selalu saja ada yang kontra dan pro, ada yang membenci dan ada yang mengagumi. Tetapi satu kenyataan, sangat banyak orang yang dirugikan akibat gara-gara pembacaan sajak itu. Nama judulnya saja KENTUT, dan pakai buka pantat secara realis-naturalis, cukup jelas rasa terhinanya bagi banyak penonton. Dan wajarlah, memasuki acara keempat sudah berduyun-duyun penonton pada pulang. Dan pada acara kelima dan keenam, orang-orang PSBK sudah meragukan, apakah pertunjukan akan diteruskan, sebab penontonya berkurang dari yang tadinya ribuan, ratusan, lalu belasan dan kini tinggal 6 orang lagi!
Para pemainnyapun sudah kehilangan semangat. Yang tadinya menggebu-gebu ingin menunjukkan seni pangung yang baik, bagus dan memikat, kini sangat merasa lemah, loyo tak bersemangat, akankah pertunjukan dilanjutkan dengan pemainnya saja puluhan, sedangkan penontonya hanya hitungan panca lebih satu!
Maka pendiskusianpun diam-diam tanpa diatur, terus berlanjut, bahwa dengan nama apapun istilah seni-budayanya, kalau hal itu dirasakan penonton menghina dirinya, dilecehkan, disepelekan, pastilah akan ditinggalkan orang. Apa saja yang kurang sopan, mau dengan nama realis-naturalis, realis-romantis, atau apa saja, tidak akan disukai orang banyak. Tetapi kalau mau hitung-berhitung apakah ada pengikutnya, apakah ada penggemarnya? Tentulah akan ada dan selalu ada, tetapi arus pokoknya tidaklah akan begitu. Arus pokoknya adalah selalu menghendaki yang baik, yang sopan, yang wajar, normal dan berpergaulan masyarakat ramai. Maki-maki dan kata-kata tidak sopan ternyata tidak begitu disukai para penonton dan orang banyak.
Hari itu haru naas bagi PSBK. Tetapi juga hari yang punya pelajaran-nyata bagi PSBK, suatu pertunjukan yang gagal-total gara-gara deklamasi sajak yang mungkin realis dan naturalis, tapi penuh kata-kata tidak sopan dan pakai buka pantat lagi. Dan tentu saja akan ditinggalkan penonton. Padahal untuk membangun kepercayaan penonton agar menggemari dan menyukainya, bukanlah hal gampang dan dapat dilakukan dalam dua tiga minggu dan dua tiga bulan, tetapi tahunan, tahunan lamanya.-
Paris 6 Juli 1999,-
Orang bule atau orang Barat ini menganggap dirinya paling "berperikemanusiaan atau mungkin berperikebinatangan - mengasihani binatang", sampai-sampai ada badan organisasi pengasihan-binatang, atau pelindung binatang. Ada grup yang sangat membenci orang-orang yang berpakaian kulit-binatang, misalnya jasnya, mantelnya yang terbuat dari kulit dengan bulu binatang. Ini sih boleh-boleh saja. Tetapi di pihak lain, kita jadi bingung dan heran juga dengan ulah sebagian mereka ini. Aku sangat benci dan sering-sering sakit syaraf, bila melihat dengan matakepala sendiri, atau terkadang dalam filem, ada orang-orang Barat itu pergi memancing. Sudah jauh-jauh dan susah-susah memancing, begitu dapat ikan, lalu segera dilepaskan! Terkadang ada juga alasannya, karena ikannya terlalu kecil atau tak sesuai dengan kemauannya. Tetapi lebih sering mereka itu tampaknya saja seperti "kasihan ikan, berperikebinatangan" dengan melepaskan kembali ikan pancingannya itu. Apa ini "berperikebinatangan" "kasihan" ikan?
Kalau kita di kampung kita, begitu mancing kalau dapat ya dapat, bawa pulang dan di rumah di masak enak-enak, lalu dimakan. Yang begini menurutku yang normal dan benar. Kita mancing kan buat dapat ikan, dan bila dapat ikan, kan buat bawa pulang dan dimasak enak-enak. Mungkin dalam kitab-agama, semua itu disediakan Tuhan bukankah buat keperluan manusia? Dan menurutku, cara kampungan begini ini adalah normal dan wajar. Kita tidak merusak dan menyiksa binatang, ikan itu, tapi memanfaatkannya buat keperluan makanan manusia. Sedangkan mereka orang Barat itu samasekali tidak! Mereka hanya untuk kesenangan mereka dengan melihat perolehan hasil mancingnya, lalu setelah diamati, diperhatikan, ditimbang, adakalanya difoto dulu, lalu dilepaskan kembali ke air, sungai atau laut. Jadi mereka hanya buat kenikmatan mata dan hati mereka. Sedangkan kita, buat keperluan dan kebutuhan kehidupan, gizi, vitamin dan lainnya.
Padahal dengan dapat ikan hasil memancing itu, yang lalu segera dilepaskan sesudah menikmatinya dengan mata dan perasaan bangga, ikan itu tampaknya sangat menderita. Insangnya luka, berdarah, mulutnya luka, cacat, dan begitu berenang kembali dalam air, sudah samasekali tidak normal lagi. Menurutku, cara begini yang justru tidak "berperikemanusiaan dan berperikebinatangan". Justru menurutku, cara mereka bersenang-senang sambil "menyiksa" binatang begini yang perlu dicela dan dikritik. Benar-benar aku selalu sakit syaraf bila melihat orang-orang Barat ini bagaimana memperlakukan binatang, dalam hal ini: ikan. Mereka "menyiksa" ikan demi kesenangan pribadi mereka, demi kepuasan mata dan perasaan mereka, sedangkan ikan-ikan itu cacat, luka, berdarah, dan begitu berenang kembali, siapa tahu malah bisa mati, akibat lukanya terus berdarah karena kena pancing yang matanya sangat tajam itu.
Banyak kulihat orang-orang yang memancing demi mencari kesenangan dengan cara "menyiksa" ikan dengan cara begini, hanya pergi ke sungai, danau dan laut, pulangnya malah samasekali tak membawa ikan seekorpun! Jadi sebenarnya, betapa banyak mereka telah "menyiksa" "menyakiti" ikan hanya demi kesenangan mata dan perasaannya. Sangat berlainan dengan kita atau kami di kampung dulu itu, apalagi kalau pendapatan kehidupannya seperti nelayan, maka diametral bertentangan. Apakah jalan pikiranku ini membawa ekor keterbelakangan dunia ketiga?! Kukira tidak, tokh aku punya wawasan dan gagasan bagaimana sebaiknya mencari kesenangan dan hobby, rekreasi yang sehat, tetapi samasekali jangan menyiksa binatang seperti itu! Cara mereka yang seperti kuceritakan tadi, sungguh sudah sangat meluas, bahkan mungkin kalau pendapatku kukemukakan kepada mereka, bukan mustahil malah terjadi cekcok dan perkelahian. Lalu malah jadinya dari penyiksaan yang awalnya perihal binatang, merembet kepada perihal manusia. Dan itu artinya bertentangan dengan rumus "perikemanusiaan" dan "hak-hak azasi manusia" yang sangat dibanggakan dunia Barat, yang merasa dirinya selalu jadi kampiun "perikemanusiaan dan hak-hak azasi manusia". Padahal pendropan senjata yang begitu banyak, penjualan senjata yang canggih dan dahsyat, justru dunia merekalah yang menyebarkannya. Dan selalu saja "diantarkan dan dipersembahkan" kepada dunia ketiga. Dan dunia ketiga saling berperang dengan senjata buatan dan jualan serta hantaran yang menamakan dirinya "kampiun demokrasi, kampiun hak-hak azasi manusia".
Sorry, ya, pembicaraan sudah begitu jauh merembet. Tetapi begitulah adanya sekitar kehidupanku ini, selama puluhan tahun hidup di Barat ini. Rasanya aku belum seperti Mas Johnny yang tampaknya sangat anti Barat, dalam soal ini anti H. Dan Mas Johnny bicara denganku, selalu saja matanya melihat kekiri dan kekanan, serta mencari-cari tampaknya, takut kalau-kalau isterinya mendengarkan dan ketahuan apa yang sedang diperbincangkan, karena isterinya adalah orang Barat! Lain lagi dengan Mas Emil, dia kucap, aku sendiri yang mencapnya, sebagai anti Barat, tetapi betapa konsekwennya dia. Kinipun dia tersuruk dan terpuruk di Kalimantan Tengah itu sebagai guru dan dosen, jauh di pedalaman, sepi, kering, terasing, tetapi dia dengan hati yang senang dan bangga mengabdi kepada penduduk setempat. Emil yang orang Dayak ini bukan main hebatnya, sangat cinta tanahair, dalam soal ini : kampunghalaman! Cita-citanya sejak dulu memang mau pulang kampung, menjadi orang Dayak yang memang asalnya, tetapi betul-betul membangun Dayak dengan sesungguhnya, sejujurnya. Padahal tadinya sama denganku, puluhan tahun hidup di Barat. Hanya seperti kata orang kampung kami, "hidup peruntungan seseorang, selalu berlainan dan tidak sama", maka begitulah jadinya. Syarat-syaratnya juga lain! Kalau aku mau seperti dia, alamat habislah riwayat hidupku dalam sekejap. Aku sampai kini tidak boleh pulang, hanya boleh datang. Melihat-lihat saja, sudah itu harus segera pergi, kalau tak mau disiksa atau di "Pramoedya-kan".
Tunggu sampai keadaan berubah? Tunggu reformasi sejati? Tunggu sampai selesainya revolusi? Pemilu saja tak pernah beres-beres. Dulu janjinya akan diumumkan hasilnya tanggal 7 Juli. Lalu berubah diundur sampai tanggal 21 Juli, ini kan artinya mundur dua minggu, padahal pemilunya tanggal 7 Juni, masaksih satu bulan lebih tak rampung-rampung, padahal mesin canggih buat menghitung suara bukan main banyaknya di Jakarta. Tentulah bukan soal mesin itu, tapi ada dalam kepala orang-orang tertentu, sebab pembagian suara, jatah suara, betul-betul hal yang paling rumit membaginya secara adil dan jujur, dan betul-betul berada dalam keadaan rawan. Jadi nyatanya tidak hanya soal mancing lalu dapat lalu dilepaskan tadi itu yang menjadikan aku sakit syaraf, soal yang inipun sangat mempengaruhi kehidupanku dan kehidupan kami, kapan kami bisa pulang secara sah dan resmi, diundang-undangkan, dinyatakan secara kenegaraan. Bukan main lamanya masa menunggu itu. Ingat akan kata-kata Ho Chi Min, ketika dia ditanya wartawan, apakah lama dia di penjara dulu itu, di penjara kolonial Prancis. Ho Chi Min menjawab, "seseorang di penjara selalu merasa terlalu lama, selalu!" Yah, begitulah aku, begitulah kami, selalu merasa terlalu lama menanti kapan bisa pulang ini, pulang benaran lho, bukan pulang cara wisata musiman!
Paris 10 Juli 1999,-
Yang aneh-aneh itu bukan saja pada orang lain, tapi juga pada dirikita, dirikami, diriku sendiri. Hanya mungkin dirikita sulit melihatnya, bagaimana mau melihat gajah di pelupuk mata, terlalu dekat sehingga sulit tampak, kabur! Coba, ambil misal, kami ini pekerja resto, cukup makan. Apa saja yang dijual buat pelanggan, kami bisa makannya dan boleh asal saja tahu dirilah, jangan semau-maunya! Mau rendang, ya ambillah, mau gulai-kambing, ya ambil sana! Mau sate udang yang merangsang itu, ya silakan. Namun karena sudah setiap hari, maka lama-lama bosan. Sangat bosan makan yang selalu saja dihidangkan buat pelanggan. Kami mau lain dari yang lain, lain dari yang ada dan dihidangkan. Kami bosan makan dari itu ke itu saja! Maka betapa inginnya kami makan tahu dan tempe. Di Paris tak ada jualan tempe. Dulu pernah ada pabriknya secara kecil-kecilan, tapi bangkrut, lalu ada lagi, lalu bangkrut lagi. Dan kami terpaksa pesan tempe di Holland.
Bila seseorang teman pulang dari Holland, yang paling duluan kami tanya yalah, bawa tempe nggak? Kalau nggak bawa tempe, akan kami katakan, "percuma jauh-jauh ke Belanda tapi nggak bawa tempe". Begitalh tempe sangat jadi favorit kami. Sampai-sampai aku pernah bilang, "bahasa Jawaku sekarang ini jelek sekali dan sudah banyak lupa, karena terlalu lama nggak makan tempe". Dan Mas Hersri tertawa mendengar kata-kataku. Dia tahu, ini hanya alasan saja karena mau makan tempe. Dan Mas Hersri itu yang bilang bahwa aku ini "lebih Jawa daripada Jawa" -, karena kalau aku sedang dinas di resto selalu mutar lagu Jawa, seperti Kebo Giro, dan berbagai lagu-lagu yang bergayakan salendro patet manyuro, yang sebenarnya aku juga nggak begitu tahu, asal-asalan saja.
Tapi kukira, kalaupun seandainya setiap hari makan tempe, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai terus-terusan, ya jangan-jangan bosan juga. Nah, ini lagi keanehan kami ini, barangkali ini bawaan dari dunia ketiga. Sudah baik-baik dan bagus-bagus tersedia bermacam jenis daging yang berkualitas, masih juga kami mencari : buntut-kambing, buntut-sapi, kaki-sapi, kaki-kambing. Dan adakalanya mencari kepala-kambing, masak gulai-kepala-ikan tenggiri. Semua yang mungkin di mata orang bule rada aneh-aneh! Tapi kalau enak, ya memang kami cari dan usahakan. Mencari kepala-kambing dan kepala-tenggiri bukannya mudah. Harus di toko-Arab atau toko-Turki kalau di Holland. Juga mencari kaki-kambing atau kaki-sapi, karena semua itu yang menggemarinya sama, sama-sama orang dunia ketiga!
Di suatu tempat dulu itu, ada beberapa teman yang tidak mau makan babi. Tidak makan babi terdiri dari bermacam orang. Bisa karena agama, haram hukumnya, bisa karena kebiasaan, tidak biasa makan babi, dan juga bisa karena dieet, takut gemuk dan takut kolesterol tinggi. Nah, yang anehnya, ada beberapa teman yang tidak mau makan babi, okey, sah-sah saja, tetapi kalau kaki-babi bukan main dia sukanya! Kalau ada sajian dan pembagian makanan masakan kaki-babi, orang-orang yang terdaftar tak makan babi, pada rebutan masakan kaki-babi! Padahal kaki-babi adalah bagian yang terkotor, terendah dari seluruh tubuh babi! Aneh kan! Nggak makan babi, tapi suka makan kaki-babi! Nah, coba mau apa! Lain orang lain hatinya, kepala sama berbulu, hati siapa tahu, sedalam-dalam laut dapat diduga, tapi dalam hati siapa tahu!
Aku ini barangkali sejenis orang gourmandes dan gastronomic, agak rakus, pemakan, dan juga memahami soal rasa dan selera. Mungkin dengan bahasa kerennya, siapa tahu berselera tinggi. Ada pilihan tertentu, tidak termasuk sembarangan. Aku suka ikan, tetapi tidak semua ikan aku suka. Ikan sejenis ikan-layur atau yang panjang seperti itu, di kampung kami, kami namakan : ikan ikat pinggang CPM! Karena di kampung kami sangat kaya ikan, seperti juga daerah Bagan Siapi-api, Tanjungbalai, Asahan,- Karena itu di kampung kami, walaupun ada lauk berjenis ayam, daging, selalu tuanrumah yang menjamu berkata, "maafkan ya, kami tak punya ikan buat hari ini, lagian ikannya tak begitu baik". Bagi orang kampung kami, ikan adalah nomor satu, bukannya ayam atau sapi! Barangkali aku seharusnya merasa cukup baik dan senang juga bila betul-betul memang "berselera tinggi". Karena ada temanku yang sangat lahap, apa saja dimakan, apa saja selalu dikatakannya enak. Sehingga ada peribahasa kami buat teman satu itu : "kalau si Polan bilang nggak enak, kucing dan anjingpun takkan mau makannya"! Nah, ini barangkali termasuk "berselera rendahan", asal makan, asal kenyang, semua dirasa enak, tak ada yang tak enak, kata peribahasa lagi : "bagi si Polan sih, batu juga asal pakai saus pasti dirasanya enak, sesudah dijilatinya maka batu itu lalu barulah dibuangnya"! Ini sih keterlaluan kami menghinanya, dan kami tahu, hal begini tidak baik! Dan diapun tak marah, karena hanya gurauan saja adanya.
Ada teman-teman kami yang saling membanggakan tanahair dan kampungnya ketika saling bercerita sesama temannya orang asing, orang bule. Orang-orang bule sangat membanggakan buah-buahan yang katanya disebut dalam injil bahkan quraan, seperti anggur dan apel. Anggur dibuat menjadi wine merah dan putih, sangat luas dipakai di dunia. Okey lah, betul. Tapi kata teman kami itu, kami di Indonesia punya buah yang begitu hebat, sampai 6 a 7 orangpun takkan mungkin menghabiskan buah itu, katanya. Mendengarkan hal ini, aku sendiri ketika itu agak heran juga, masaksih! Katakanlah buah durian, duren yang bagaimanapun besarnya, tentulah bisa dihabiskan oleh dua-tiga orang. Setelah lama semua teman berdiaman dan menunggu jawaban, barulah teman itu berkata : buah nangka! Semua kami tercengang, karena baru ingat, baru tahu! Betul, buah nangka yang besar, bisa-bisa tidak habis walaupun 10 orang! Dan teman-teman kami orang bule itu pada heran, setengah tak percaya. Terpaksalah beberapa teman mencarikan segala macam literatur tentang buah-buahan di dunia, buat ditunjukkan kepada teman yang tak percaya itu.
Di Albania, dekat Tirana, di bagian pasar-ikan, tadinya banyak dijual berjenis udang. Tetapi orang Albania, penduduk aslinya, tidak makan udang, masih merasa asing dengan udang. Maka datanglah para "melayu preman kurawa" ini, membeli udang yang begitu segar dan besar-besar. Dan selalu saja setiap minggu membeli udang di pasar itu. Kedaan ini dilihat dan diperhatikan oleh penduduk setempat, penduduk aslinya. Rupanya merekapun mau mencobanya, mau makannya, setelah berguru bagaimana cara masaknya secara praktis-praktis saja. Teman kita mau mengajari dan memberi contoh. Dan sejak itulah teman-teman kita yang dulu sangat leluasa dan sangat mudah membeli udang segar dan besar-besar itu, kini sudah sangat sulit mencarinya! Sebab orang Albania penduduk aslinya sudah mau dan suka makan udang gara-gara "para kurawa melayu" ini! Dan Albania dengan tipografi buminya lebih besar daratan dan pegunungan, bebatuan, maka makanan laut tadinya tidak begitu disukai. Mereka lebih banyak makan daging kambing dan domba.
Kami pribumi yang bernenekan dan keturunan anak sungai dan laut, tak makan ikan dalam seminggu dua minggu, rasanya bukan main inginnya mencari ikan. Tenggiri adalah jenis ikan yang bisa dimasak dengan cara apa saja. Lain halnya dengan ikan pari, hanya bisa dipanggang atau gulai, pepes, tetapi tak ada ikan pari yang digoreng! Aneh kalau ada, dan memang tak pernah kudengar di kampung kami ikan pari digoreng, samahalnya daging kambing yang digoreng. Daging kambing selalu dipanggang atau digulai, tetapi tak pernah ada goreng kambing. Yang ada, nasi-goreng-kambing. Namun demikian boleh-boleh saja kalau mau coba, biarpun aneh ya tapi silahkan saja.Termasuk ikan hiu atau ikan cucut, bukanlah jenis ikan yang buat digoreng! Ikan hiu atau ikan cucut, hanyalah buat dipanggang atau digulai, juga bisa dipepes.
Gulai kepala ikan ada rahasianya! Semakin ikan itu besar semakin enak rasanya, apalagi kalau bibir ikan itu tebal. Sarden, semakin berjenis kecil semakin enak. Sebaliknya makerel, maqereau, semakin besar akan semakin enak. Udang berjenis sedang-agak-kecil lebih enak daripada udang-raksasa yang besar itu. Udang raksasa-besar itu bukannya dari segi enaknya, tapi kekaguman kita kepadanya, dagingnya sih biasa-biasa saja. Dia menang besarnya saja, hebat di mata saja, tapi soal rasanya takkan menang dengan udang-sedang atau agak-kecil, juga menang mahalnya saja.
Caviar jenis telur ikan caviar yang paling mahal adalah dari Iran, tetapi yang paling terkenal adalah dari Russia. Satu kilogram caviar dari Iran ada yang berharga sampai 10.000 Francs sampai 40.000 francs bahkan lebih, nah kalikanlah dengan kurs rupiah atau uang di mana Anda berada! Kupikir-pikir bagaimana cara makannya ya! Sama dengan makan uang saja layaknya, dan harganya setingkat harga emas murni 24 karat! Ini yang dalam kalengan. Dan tokh, "orang aneh dan gila" selalu saja ada di mana-mana yang membelinya, jangan heran. Kita saja yang pada geleng kepala, mereka diam-diam siapa tahu membeli lebih dari dua tiga kaleng, yang dengan uang kita sudah dapat beli rumah-gedongan yang mewah!
Paris 11 Juli 1999,-
Tahun 50-an, dapatlah dikatakan masa boom berkembangnya berbagai majalah dan tabloid di Jakarta. Hampir tiap bulan ada saja terbitan majalah yang baru, sebaliknya yang tak bisa bertahan, lalu bangkrut, tetapi kejadian ini sangat sedikit. Rupanya begitu berkembangnya dan banyaknya majalah yang terbit, muncul pula barisan pengarang-penulis-dan penyair muda. Ketika itulah dapat dikatakan awal kebangkitan para pengarang-penulis dan penyair, dan kelahiran suatu angkatan dari sebuah generasi, yang akan lebih baik tidak usah dibagi menjadi angkatan apa, dan angkatan tahun berapa. Tetapi secara orang per orang, sampai kini mereka eksis, tercatat, dan menempati suatu catatan sejarah sastra, tanpa melihat siapa mereka dalam kategori suatu angkatan. Seperti halnya ada yang menamakan "Angkatan 45" lalu ada yang menyebut "Angkatan 66" dan bahkan ada yang menyebut "Angkatan 80". Kukira penamaan angkatan inilah yang justru mempersempit arena penciptaan.
Ketika itu terbit berbagai jenis majalah, seperti Sastra lalu berubah menjadi Kisah, ada lagi yang namanya Roman, Cerita Pendek - Prosa, Zenith, Gema, Gema Suasana, Indonesia, Gaya, Siasat, Spektra, Merdeka, Mimbar Indonesia, dll. Ada yang memang sudah sejak lama terbit, seperti Mimbar Indonesia,Merdeka, dan Siasat. Kami sendiri, "punya" juga majalah secara tersendiri, namanya Kencana yang dipimpin Junus Lubis, lalu lembaran Kebudayaan yang masih numpang di majalah Merdeka-nya BM. Diah dan lebih banyak dikelola istrinya, Herawati Diah. Nama Ruangan Kebudayaan ini adalah Genta, dengan redaksinya, orang majalah Merdeka sendiri : Asnawi Idris (alm) lalu Zulharman ( alm, Ketua PWI) SM.Ardan dan penulis sendiri.
Sang Boss yang Nyonya Herawati Diah itu bukan main seremnya. Kalau kita masuk kantor, kebetulan terpandang pada matanya, maka nyonya yang masih cantik ini, menjadi tidak cantik lagi karena seremnya dan galaknya. Seolah-olah dirikita ini dianggapnya hanya minta honorarium gaji saja menurut anggapannya.
Dan ketika itulah disamping adanya boom majalah dan lembaran budaya-sastra, bangkitnya suatu kelahiran pengarang-sastrawan-penyair yang umurnya masih belasan tahun, dan baru menjelang 20 sampai likuran tahun. Di sinilah dan ketika itulah, munculnya nama-nama seperti Ajip Rosidi, SM Ardan,Rijono Pratikto, Sukanto SA, WS Rendra, dan angkatan yang sedikit lebih tua seperti Ramadhan KH dan Nugroho Notosusanto, yang punya majalah namanya Kompas. Juga penyair seperti AS Dharta. Penulis AS Dharta sangat mengejutkan kami karena tulisannya di Spektra : Angkatan 45 Sudah Mampus,- Ditulisnya dengan nama samaran Yogaswara, disamping nama samaran lainnya Klara Akustia.
Semua ini mungkin cukup banyak nama-nama dan majalah-majalah yang terlupakan menyebutnya. Dan ini yang kutuliskan ini, hanya untuk Jakarta saja, belum yang di dan ada di daerah. Seperti di Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Penyair seperti HR Bandaharo, Agam Wispi, Aziz Akabar, WS Kuncahyo, Sabar Anantaguna, dan banyak lagi yang aku lupa, adalah barisan pengarang-penyair yang mendapat tempat di lapangan Sastra dan Budaya Indonesia. Penulis yang lebih tua seperti Boejoeng Saleh, Rivai Apin, Nyoto, dan beberapa nama lainnya sering turut meramaikan suasana sastra dan budaya Indonesia di berbagai majalah dan lembaran kebudayaan seperti Zaman Baru, Republik, Star Weekly, Sunday Courier, Terang Bulan, Minggu Pagi, Berita Minggu dll.
Dan mereka yang tinggal sekitar Jakarta akan lebih mudah menemuinya di sekitar Senen dan Kramat. Sebab di situlah sering berkumpulnya banyak seniman-sastrawan. Dan kalau sudah bicara soal seniman, dan sastrawan, artinya mencakup banyak bidang seperti lukisan, filem, drama dll. Dan itulah pula sebabnya ketika itu ada penamaan Kaum Seniman Senen. Di Senen memang banyak sekali berkumpul seniman dan sastrawan dari berbagai kalangan. Kalangan perfileman seperti Wim Umboh, Syumanjaya, S.Sumanto, Wahid Chan, dan beberapa pemain dan bintang filem seperti Farida Ariyani, Lies Noor, Mieke Wijaya, dll. "Zaman" itu tak mengenal golongan per aliran, semuanya bisa satu dan bersatu, saling membantu dalam masalah pekerjaan per bidang. Misalnya dari pekerja filem minta bantuan tenaga kepada seniman lain, sastrawan, maka mereka dengan ringantangan akan sama-sama mengerjakannya, dan juga sebaliknya ada penulis yang membutuhkan cerita-bergambar, yang ada gambar dan lukisannya, langsung saja minta kepada pelukis, atau teman yang bisa menggambar dan ketika itu juga.
Pada "zaman" itu karena banyak arena dan lapangan buat memasukkan dan memuat karangan, dan lukisan, sketsa, vignet, karena banyaknya majalah dan lembaran kebudayaan, maka penulis, pengarang dan pelukisnya selalu tidak kekeringan, selalu ada di "daerah basah", punya uang biarpun tidak banyak dan tidak kaya. Ketika kami masih asik-asiknya ngobrol dengan Ajip, Trisnoyuwono, Syumanjaya, tiba-tiba saja Riyono Pratikto mau pulang. Kami heran ada apa dan mau apa. Langsung saja Riyono bilang : "besok dead-line terusan cerpen saya yang bersambung itu. Saya harus meneruskannya, sekarang sudah begini sore, dan saya harus antarkan ke kantor Roman. Padahal saya juga lupa sudah nomor berapa, mungkin sudah yang 11 atau 12, pokoknya saya harus pulang dulu, terus bikin dan terus antarkan ke percetakan", katanya.
"Bagini saja", kataku,- "kau tulis saja di belakang kamar Ajip ini, kan Ajip ada mesintulis, kenapa harus pulang dulu?" "Ya, tapi aku lupa nomor berapanya sudah". "Bikin sajalah asal sedikit saja teringat jalan ceritanya, kan nanti dipercetakan kau bisa sesuaikan". "Ya cara begitu juga bisa, tapi sekiranya nggak nyambung bagaimana?" "Makanya bikin dulu, nanti kau lihat di kantor, lalu kau sesuaikan, sedikit perubahan kan nggak apa-apa, masih bisa kau edit di sana nanti", kataku yang tidak mau kehilangan Riyono dalam obrolan ini. Dan Riyono bisa setuju dan memahaminya. Maka Riyono dengan mesintik-tua kepunyaan Ajip itu meneruskan cersam, cerita-bersambungnya, dan sekira satu jam jadilah sambungan cerita itu. Betul-betul Riyono ini "pabrik-industri cerpen" pada masa itu. Banyak sekali cerpennya yang dimuat di berbagai majalah, dengan cersamnya. Dan sedapnya, dia sering lupa sudah nomor berapa yang harus disambungnya pada majalah Roman atau Prosa, atau yang lainnya.
Ketika di Taman Siswa Jalan Garuda 25, aku ketemu seniman yang lebih tua dari angkatan generasi kami, bukan lagi "teman" kami, tapi "abang" kami. Maka tertawalah aku setelah Trisno Sumardjo berkata kepada S. Sudjojono : "bagaimana kita teruskan polemik kita, atau kita akhiri pada nomor depan saja?". "Akh, jangan, aku masih perlu duit nih, lukisan sudah hampir satu bulan ini belum ada yang laku. Teruskan dulu, deh. Sampeyan jawab yang soal dadaisme itu dulu, lalu kubisme dan seterusnya nanti kita lihat sajalah", kata Pak Jon. Dan Trisno dengan senyum menyetujuinya.
Dua orang itu "terlibat" dalam polemik tentang lukisan di majalah Mimbar Indonesia. Yang kuikuti saja sudah empat nomor ini selalu bergantian mereka saling "menyerang". Dan mereka saling tertawa dan senyum setelah "perundingan" bilateral berduanya. Mereka kebetulan sama-sama perlu uang, dan kebetulan ada bahan buat "diperdebatkan" di Mimbar Indonesia, dan masuklah honorariumnya yang lumayan ketika itu. Dan pimpinan MI, Pak Sukardjowiryapranoto dan HB Yassin tak kan ambilperduli masalah "rahasia mereka berdua" itu. Pokokonya dunia seni-lukis memang sedang ramai-ramainya, dan polemik ini ada segi baiknya, membukakan mata banyak orang, disamping mengisi dompet dan kocek uang honorarium mereka berdua buat masuk tersimpan ke dalamnya.
Paris 13 Juli 1999,-
Sebenarnya Feng Shui itu dapat juga dikatakan Ilmu Penyesuaian - Harmonisasi - Keseimbangan. Segala sesuatu harus seimbang, menuruti kebiasaan alam, menuruti kewajaran, seharusnya, sepantasnya. Apa saja gerak-gerik di dunia ini apabila dirikita dapat menyelaraskannya, menyesuaikannya secara harmonis, seimbang, maka kita akan dapat menguasai masalahnya. Dari soal-soal kecil sampai ke masalah besar. Dari kelihatannya masalah sepele, sampai masalah serius, haruslah dibawakan dengan keseimbangan, kewajaran, dan kepatutan. Lawannya yalah apa saja yang ekstrim, berlebihan, keterlaluan. Apa saja yang keterlaluan, berlebihan adalah tidak baik, karena sudah tidak sesuai lagi, tidak seimbang lagi.
Dari hal kecil, soal makanan saja misalnya, seharusnya kita punya rasa keseimbangan ini, harmonis, pantas dan wajar. Rasa menahan diri, belajar menguasai diri adalah sangat baik, tetapi samasekali bukan menyiksa diri. Karena itu ada ilmu budha yang mengajarkan, "apabila mengantuk, tidurlah" "apabila lapar, makanlah" dan juga ada peribahasa Tiongkok kuno, yang mengatakan apabila seseorang mau berumur panjang antaranya inilah nasehatnya. "Makanlah kalau sudah benar-benar merasa lapar, tetapi berhentilah sebelum merasa kenyang". Saya sendiri bisa mengamalkan yang nomor satu itu, tetapi yang nomor dua belakangannya sering-sering gagal, sebab kalau sudah asik makan, ya sampai kenyanglah.
Dalam "ilmu-makan" juga ada harmonisasi, ini sebagian dari ilmu gastronomic. Kita ambillah sebagai contoh : nasi goreng sebaiknya janganlah dengan lauk yang juga digoreng! Jadi makan nasi goreng akan lebih baik dan enak dengan apa saja yang bukan digoreng, misalnya dengan sate, dengan ikan panggang dengan ikan pepes. Sedangkan makan nasi putih yang sedang mengepul penuh dengan aroma sedap, akan lebih enak dengan lauk yang digoreng, ikan goreng, ayam goreng, tempe goreng. Nasi kuning tidak cocok dengan gulai kambing, sebab sama-sama berlemak, mengandung santan, lebih enak dengan semur, atau apa saja yang tidak ada rasa santannya, sebab nasi kuning sendiri sudah bersantan.
Sudah dituliskan pada bagian belakang, makanan, laukpauk yang dengan masakan apa baiknya. Bebek sebaiknya jangan digoreng, lebih enak dipanggang atau gulai kering. Bebek digoreng, tak ada enaknya, yang ada neknya! Peranan "ilmu-makan" sangat penting dalam menilai semua jenis makanan. Orang yang "pandai makan" bukan berarti orang yang suka dan banyak makan, tetapi pandai menikmati makanan secara benar dan utuh, pandai menilai makanan. Asal bisa makan saja, bukanlah "pandai makan". Dalam hal ini termasuk minum. Orang Prancis kebanyakan pandai minum anggur. Orang Prancis yang biasa penilai makanan, akan selalu menyesuaikan dengan minumannya. Misalnya makan daging yang masakan cara begini, maka minuman anggurnya haruslah anggur-merah, sedangkan makan daging yang masakan begitu, maka minuman anggurnya haruslah anggur-putih. Tidak semua anggur lalu sama saja!
Kebiasaan alam dan kebiasaan hidup seseorang, juga sangat berpengaruh atas kehidupan keseluruhan. Orang pegunungan dan orang laut yang masih sangat tebal rasa tradisi kehidupan alamnya, akan selalu suka akan warna-warni. Ini sesuai dengan alam yang alamiahnya. Di kampung kami hanya orang-laut yang sangat suka ikan-karang. Ikan-karang itu selalu penuh warna-warni, seekor ikan bisa ada 6 a 7 macam warnanya, sangat indah. Tetapi kami tidak suka akan ikan-karang yang penuh warna-warni itu, kami merasakannya tidak begitu enak. Ternyata yang sangat suka warna-warni yang sangat mencolok mata begini bukan hanya kita dan kampung kita, tetapi juga suku minoritas di Tiongkok juga begitu.
Suku minoritas di Tiongkok sangat suka warna-warni, penuh warna yang sangat tajam, kalau merah betul-betul merah, kalau hijau betul-betul hijau tajam sekali. Tetapi juga merekalah yang paling pandai dan banyak kreasi seni budayanya. Bangsa yang selalu menyanyi dan menari, sangat gembira, ramah dan komunikatif.
Kembali ke soal makan dan minum. Sesudah makan yang banyak lemaknya sebaiknya dinetralisir dengan minuman yang bersifat menghancurkan lemak. Misalnya teh hijau, teh biasa, merah, tetapi jangan pakai gula. Dalam keadaan biasa minum teh merah atau teh kental-hitam sangat cocok kalau diminum dengan gula batu. Teh hijau tidak biasa diminum dengan gula! Teh hijau hanya biasa diminum panas-panas. Tetapi teh merah bisa diminum panas maupun ketika dingin, karena itu ada yang namanya teh-es.Tak ada teh-es tapi tehnya hijau! Ketika makanan jamian, makanan kecil seperti kue-kue yang manis atau yang sangat manis, akan sangat terasa enak kalau minumannya teh pahit atau kopi pahit, tak usah bergula! Akan sangat tidak enak kalau makanan kecilnya pada manis lalu teh dan kopinyapun juga manis! Ini tak ada rasa seni makannya!
Kembali kita kepada masalah kewajaran, keseimbangan dan harmonisasi tadi itu. Semuanya itu harus sesuai dengan keadaan, kondisi kongkritnya. Jangan coba-coba menasehati seorang teman yang sedang asik merokok atau sedang menghisap pipa(cangklung) lalu kita seakan berkhotbah bahwa merokok itu adalah sangat tidak baik! Dia pasti akan marah, bahkan bisa-bisa dia akan menghardik kita :"aku sekarang sehat begini justru karena banyak merokok. Obat jantungku adalah banyak merokok". Nah, kalau sudah begini, kitalah yang tak tahu diri, sebab waktu dan tempatnya sangat tak cocok buat menasehati teman itu.
Samahalnya ketika kita sedang melihat teman kita yang gemuk sedang menikmati dan menjilati es krim, lalu kita katakan, "minum dan makan es krim itu tidak baik, hanya menambah gemuk dan kolesterol saja". Pastilah dia akan marah, dan bisa-bisa kita diusirnya atau dimakinya. Nasehat dan anjuran baik kita itu, samasekali tidak cocok dan tidak pada tempatnya diajukan ketika itu juga! Kalau cara begini kita ajukan dan kita nasehati, maka nasehat baik seperti apapun tidak akan mempan, malah hanya menjadi permusuhan dan rasa kebencian saja adanya. Nah, gerak-gerik atau perilaku seseorang haruslah sesuai dengan keadaan kongkrit, harus seimbang, harus melihat rasa harmonisasi. Ternyata nasehat dan anjuran cara demikian, tidak cocok, tidak sesuai dengan keadaan kongkritnya. Harus selaras antara motif dan sebab-akibat. Kehendak dan kemauan baik, harus selaras, harus harmonis dengan alam bagaimana keadaan ketika itu.
Ilmu Penyesuaian dan Harmonisasi ini sudah tentu tak ada sekolahnya. Yang ada hanyalah berbagai pengalaman kongkrit. Kita pernah terbentur, pernah mental ke tembok, dinding granit, lalu seharusnya bisa mengambil pelajaran darinya, agar lain kali jangan begitu lagi. Hanya itu sajalah resepnya. Kata orang, pengalaman praktek adalah guru segala teori, semua teori seharusnya datang dari pengalaman praktek yang sudah disimpulkan,-
Paris 14 Juli 1999,-
Iman dari New York memang adakalanya menilpunku. Cerita biasa, tanya keadaan keluarga dan tak pentinglah diceritakan. Tetapi sekali ini benar-benar menjadikan aku harus lama berpikir dan bukan persoalan sederhana.
"Oom ini ada soal penting, bagi saya atau bagi kami tentu. Siapa tahu juga penting buat keseluruhan keluarga kita. Saya minta bantuan Oom", katanya dalam tilpun itu. Dan aku menunggu apa yang mau dikatakannya penting itu. Orang menunggu selalu dalam tidak mudah menenangkan diri. "Jadi, apa itu, katakanlah. Saya siap", kataku menguatkan diri dalam perasaan. "Begini, saya minta bantuan Oom, melamar! Oom kan tahu tentang saya dan Ningsih, kan Ningsih juga cerita ketika di Paris dulu itu, kan? Nah, saya minta bantuan Oom buat melamar Ningsih kepada orangtuanya di Jakarta", katanya lagi. "Man, apa saya tidak salah dengar nih? Saya kau minta agar melamar Irianingsih kepada orangtuanya di Jakarta?". "Ya, betul, betul, samasekali tak salah dengar. Dan kami berdua sudah bersetuju agar Oom membantu melamarkan Ningsih. Kami punya rencana matang buat menikah di bulan Agustus ini juga". Dan aku agak lama mendengarkannya, menyimak perkataannya kalimat per kalimat. Ini benar-benar serius buatku.
Melamar. Melamarkan buat ponakan, melamar anak orang kepada orangtuanya yang aku belum tahu dan belum pernah bertemu. Mereka merencanakan buat menikah bulan depan ini. Dan katanya tadi, ini serius, sudah matang rencana mereka. Maka kini, akulah yang paling banyak memikirkan bagaimana cara melamar dengan sistim tilpun begini. Dan lagi begitu kutanyakan kepada Iman, " Man, bagaimana Man caranya, kan beliau di Jakarta, saya di Paris, kalian di Amerika?". "Kalau mengenai soal tempat dan negera serta kota, Oom tenang saja, tidak soal. Yang penting Oom bicara, melamar Ningsih, atas nama kami berdua, bahkan seluruh keluarga kita. Semua saya sudah kontak dengan mbak Bai dan Mbak Leni, bahkan Felix ada di tempat kami, liburan musimpanasnya. Jadi Oom kami beri kuasa buat melamar itu". "Tapi bagaimana caranya, Man?" "Lha saya kan tidak pengalaman, dan belum pernah melamar, tentunya Oom lebih tahulah bagaimana semestinya", katanya ringan saja. Pertanyaan ini, memang pertanyaan rada bego dan sedikit sinting. Tidak semestinya aku bertanya begini, tetapi karena kebingunganku sendiri. Ya, dong, dia kan tidak pernah pengalaman melamar secara agama kami.
Dan karena mau melamar ini, semua persoalan harus sedapat mungkin kukuasai, kupelajari. Dan karenanya, aku banyak bertanya ini itu, banyak mau tahu, siapa orangtuanya, siapa keluarga lainnya, dan siapa pula keluarga kami yang masih ada dan hidup. Aku harus banyak "membongkar" ingatan dan kenangan. Dari pihak Iman dan Ningsih, dua-duanya sudah cerita kepadaku dan kepada keluarga kami seluruhnya yang ada di Paris. Mereka berkenalan di Bandung. Iman pelatih wanadri, pecinta-alam, penaik-gunung, penyeberang jeram dan sungai. Ningsih ketika itu masih kecil, boleh dikatakan ikut-ikutan latihan dan selalu turut kegiatan wanadri, baru saja SMP. Sedangkan anggota lainnya pada umumnya sudah mahasiswa. Ningsih sebenarnya sudah lama "mengagumi" dan "bersimpati" kepada Kak Imannya ini. Tetapi dari pihak Iman tentu saja masih menganggapnya adik kelasnya yang sangat jauh jaraknya, bahkan dipandangnya akh, anak kecil ini!
Iman sebenarnya juga tahu dan merasakan rasa simpati yang tampaknya ada apa-apanya. Tetapi Iman ketika itu cuek saja, kata orang Jakarta. Dan oleh keadaan dan sejarah kehidupan orang per orang, maka merekapun terpaksa berpisah. Iman ke AS sejak tahun 1983. Tahun 1995 ayah Ningsih meninggal. Karena Ningsih anak tertua dari bertiga saudara, dua adiknya laki-laki, maka Ningsih menjadi tiang penyangga keluarga berempat itu. Ningsih dapat kedudukan yang cukup lumayan, karena dia bekerja di suatu bank yang bonafid. Ketika Iman mendengar bahwa ayah Ningsih meninggal, dia merasa sangat tidak pantas kalau tidak menyatakan rasa belasungkawa. Dan lagi Iman sudah mengenal secara baik seluruh keluarga ini. Tentu saja, Iman sebagai penanggungjawab pelatih wanadri, harus mengetahui dan mengenal para anggota barisannya.
Iman menilpun ke keluarga Ningsih, yang tadinya yang pokok mau menyatakan rasa belasungkawa kepada Ibu Mardjo, ibunya Ningsih. Tetapi kebetulan yang pertama menerima tilpun adalah Ningsih. Ningsih merasa heran dan agak terkejut, juga Iman merasa tak terduga. Sebab selama ini hubungan mereka tak nyambung selama duabelas tahun lebih. Keluarga Ningsih, Ibu Sumardjo, merasa terkenang lagi kepada Iman yang dulunya begitu dekat mereka, sebagai kakak Ningsih yang sangat bertanggungjawab. Dari titik terang ini, mulailah "jalur tilpun" jalan lagi. Dan pada tilpun selanjutnya terjadilah dialog-dialog seperti : "Hei, Ning, kamu sudah punya anak berapa?" "Nah, kak Iman sendiri ada berapa?" Pada jawaban berikutnya saling terbongkarlah, bahwa mereka samasekali belum pernah menikah. Walapun dalam pada itu, dalam perpisahan belasan tahun itu, masing-masing sudah punya pacar bahkan sudah pada berganti, tetap belum diikat. Kata pengarang lama, walaupun sudah ada pertalian, tetapi tali itu merentang saja adanya, tidak tersimpul dan tidak terikat, apalagi terikat mati!
Maka pada puncak perasaan cinta yang sudah nyambung dan mulai berakar kembali antara "pelatih dan yang anak-didik" itu, tampaknya sudah saling sedia berserah total antara masing-masing. Ningsih siap menyusul ke AS dan kalau sudah jodoh siap melayarkan bahtera kehidupan. Ada penghalang, soal agama. Ningsih Islam, dan Iman Katolik. Tapi Ningsih memberikan sarat, dia bersedia diperisteri dengan menikah di mesjid dan secara agama Islam. Ketika itu Iman menjawab, akh itu sih gampang. Gara-gara jawaban ini, hampir saja terjadi kegagalan. Sebab Ningsih berpegang teguh kepada ucapan Iman yang mengatakan soal gampang itu tadi. Dan Ningsih bersikeras tetap mau dengan cara Islam. Persoalan ini sampai kepada keluarga di Paris. Dan kami menyatakan, pegangan Ningsih adalah sepatutnya dihormati, dan ditaati. Apalagi Ningsih sudah begitu baiknya, meninggalkan pekerjaan yang begitu baik kedudukannya, dan juga meninggalkan ibunya dan dua adiknya. Adiknya yang satu sudah lama berkeluarga. Dan Ningsih ini sudah berumur di atas 30, tidak muda lagi, tapi masih belum tua, sedangkan Iman, berhati-hatilah sebab umurnya sudah lebih 40, keenakan tak menikah dan bujangan, lama-lama bisa keterusan membujang lapok. Dua kakak Iman di Paris mengingatkan dengan keras tetapi dengan penuh sayang dan cinta.
Dan oleh keadaan ini semua, sebenarnya kami sekeluarga sangat mendukung Iman buat memetik Ningsih menjadi isterinya. Dan lagi betapa Ningsih ini baiknya di mata kami. Sebenarnya Ningsihlah yang paling banyak peranannya yang mendekatkan antara Iman dan Oomnya dan keluarga lainnya di Paris. Sebab Ningsih pernah beberapa hari di Paris dan bahkan menginap di Holland di rumah saudara sepupu Iman, anakku sendiri, si Ina di Almere Holland. Jadi kami sebenarnya sudah cukup banyak tahu tentang Irianingsih. Tetapi kepada orangtuanya di Jakarta, Ibu Sumardjo, belum pernah kenal dan apalagi bertemu, tahu-tahu kini aku ditugaskan buat melamarkannya. Tentu saja ada rasa sedikit kikuk dan agak bingung. Tetapi karena dipercayai dan tugas itu demi membantu yang juga adalah keluarga, maka bingung dan gugup seperti apapun haruslah dipikul. Dulu akupun belum pernah melamar, semuanya kuserahkan kepada keluarga. Sebagai ayah dari dua orang gadis, memang pernah aku menerima lamaran, tetapi tak ada pengalaman melamar. Hanya masih ingat bagaimana cara melamar di kampung kami dulu, dan itupun melihat orang-orang lain, dalam "menonton" para orangtua calon pengantin.
"Jadi Oom", kata Iman, "teng pukul 15.°° di Paris, sedangkan kami baru saja selesai sarapan pagi di AS, dan di Jakarta pada jam 20.°°, ketika itulah saya bel Oom, dan Ibu Mardjo siap saling berbicara dengan Oom, dan kami mendengarkan, dengan kalau perlu saling sambung-menyambung. Jadi ada tiga pihak yang akan bicara, Paris - Jakarta dan New York. Siap kan Oom?", kata Iman. Dan lagi-lagi aku menjadi agak bingung, dan benar-benar dunia ini menjadi begitu mudah, praktis, yang bagi kami orang-orang kuno dulu itu, samasekali tak terbayangkan. Melamar kok dengan tilpunan!!
Hari Minggu 11 Juli, jam 15,°° tilpun berdering. Aku sudah tahu, siapa lagi kalau bukan Iman dan nanti akan ada suara Bu Mardjo. "Nah, Oom, kita bertiga kota, nah, ini Ibu Mardjo................" "Selamat siang Bu, apakabar?" "Bapak, apakabar, Pak? Ketemu-ketemu ya kok di tilpun ya Pak ya", kata Bu Mardjo. Mendengar suara yang ternyata ramah begini, aku jadi punya kepercayaan diri lagi, tidak sebingung sebelumnya. "Ya, Bu, saya betul-betul minta maaf kepada Ibu, belum sempat ketemu dan datang kepada Ibu. Tentulah Ibu tahu kan persoalannya". "Ya, ya, Pak, saya sudah dikasih tahu dari Ningsih. Banyak foto-foto keluarga Kak Imannya terutama di Paris dan Holland yang dikirimkan Ningsih. Juga Ningsih banyak cerita tentang keluarga Kak Imannya", kata Bu Mardjo. Dan mendengar ini, aku "bertambah senang dan tenang". "Yah Bu sukurlah kalau Ningsih juga sudah cerita tentang kami di Paris dan juga di Belanda. Jadi, Bu, saya ini minta izin kepada Ibu, ponakan saya, katakanlah anak saya, Iman melalui saya minta izin kepada Ibu, bahwa mereka ingin menikah. Dan Iman serta kami, minta izin kepada Ibu agar Ibu sudilah kiranya memperkenankan Iman buat memperistri Irianingsih. Ningsih pada pokoknya sudah kami kenal, dan kami sangat menyenangi Ningsih. Inilah sebenarnya maksud pokok ketemu Ibu walaupun hanya di tilpun hari ini". "Yah, Ibu sangat terimakasih atas lamaran yang sangat baik ini......." "Bu, kamilah yang seharusnya sangat merasa banyak terimakasih kepada Ibu. Kan kalau menuruti adat kampung kita, seharusnya kami datang kepada Ibu, tetapi lha kok ini hanya dengan tilpun saja", kataku. "Yah, itu sih tak apa, karena memang sarat-saratnya baru sebeginilah adanya. Kita sama-sama tahulah", kata Bu Mardjo. Dan karena ada tiga pihak yang akan bicara, maka maksud pokok sudah kulaksanakan.
"Oom, kalau merasa sudah cukup, boleh Oom letakkan tilpunnya, biar kami ngomong yang lain. Ningsih mau bicara dengan ibunya, juga saya". Dan Paris - Jakarta - New York terputus, tinggal antara New York - Jakarta. Dan sesudah itu aku mengusap dada, dan dengan rasa lepas-bebas merasa senang bahagia, sudah melamar anak orang buat ponakan sendiri. Dan ketika itulah aku sangat teringat Bang Amat, abangku yang tertua, ayahnya Iman. Entah di manalah kuburannya, entah bagaimanalah keadaannya ketika pembunuhan itu, kejam dan sadisnya, yang sehingga kini masih gelap belum terungkap!
Sedangkan Iman dengan calon isterinya ini, Irianingsih, akan melangsungkan pernikahannya pada tanggal 4 Agustus di kantor catatan-sipil dan juga di sebuah mesjid di suatu kota di AS, pada hari Rabu. Semoga Tuhan merestui mereka, semoga Ayah dan Ibunya yang meninggal akibat siksaan demi berdirinya Orba dulu itu, juga "menyaksikannnya dan memberikan restunya",- Amien!
Paris 16 Juli 1999,-
Dari pekerjaan resto sehari-hari, aku sudah pensiun sejak awal tahun 1998. Tetapi pekerjaan membuat tapai, ternyata sementara ini belum bisa kulepaskan sepenuhnya. Tetap seperti dulu, paling sedikit dua kali seminggu, tetap harus bikin tapai. Seperti hari ini, siang tadi, lagi-lagi harus bikin tapai. Prosesnya begini : rendam dulu beras ketan-putih sebanyak dua kilo selama dua jam, lebih juga tidak apa-apa, tetapi janganlah lebih dari 4 jam, nanti jadi nasinya bisa terlalu lembek. Sesudah direndam selama itu, barulah siap dikukus dalam dandang atau kukusan. Aku punya kukusan dandang yang sangat setia. Pertama aku membuat tapai pada tahun 1983 dulu itu dengan dandang inilah. Sampai kini dia setia dan tetap awet, belum rusak, padahal sejak dan sampai 15 tahun ini, paling sedikit dua kali seminggu, dia terjerang di api panas selama berjam-jam, dan tokh dia tampaknya masih tetap tahan.
Sesudah selama dimasak satu jam dalam kukusan dandang itu, sambil sebelumnya diaduk-aduk agar merata masaknya, maka bisalah diangkat lalu dijerangkan dalam niru atau talam buat didinginkan. Dalam pada itu kita siapkan raginya, ditumbuk halus-halus, semakin halus semakin baik. Sebutir ragi biasanya sebesar ibu-jari-kaki, atau lebih kecil sedikit. Tidak ada ragi yang sebesar bola pingpong! Untuk dua kilo beras-ketan-putih, aku menggunakan 6 sampai 8 butir ragi. Tergantung besar kecilnya ragi, kalau kecil bisa digunakan sampai 10 butir ragi. Pengalaman selama ini, yang paling baik yalah ragi dari Indonesia dan Thailand. Yang dari Tiongkok dan Vietnam, tidak sebaik yang dari Jakarta dan Thailand. Sifat ragi, adalah lebih lunak lebih baik, kalau keras tidak begitu baik.
Sesudah nasi-ketan-putih itu dingin, barulah digaulkan dengan tepung-ragi itu, sambil dicampur dengan air dingin. Pekerjaan ini bagian terberatnya, sebab harus benar-benar merata dan berkali-kali, dibongkar, dimuat, terus sampai tepung-ragi itu benar-benar merasuk ke setiap bagian nasi-ketan-putih itu. Dan sesudah selesai dengan baik, maka harus membersihkan mulut panci yang akan kita peram dalam balutan yang tebal dan masukkan ke dalam lemari, kas, atau apa saja. Di rumah, aku menggunakan bekas mesin-cuci yang sudah rusak. Dan panci yang sudah kubalut dengan selimut tebal itu, kumasukkan dalam mesin-cuci bekas yang sudah rusak itu. Harap diingat, ini maksudnya agar hangatnya cukup baik. Karena itu tergantung dari musim dan juga tempat pemeramannya. Musimdingin biasanya sampai lima hari barulah jadi tapai. Sedangkan musimpanas cukup lima hari sudah jadi tapai.
Apakah pernah gagal dan kenapa gagal? Banyak sebab-sebabnya. Mungkin karena raginya tidak baik lagi, sudah tidak "mempan dan tidak makan" lagi, karena lamanya. Atau juga tidak baik ketika mengadonnya dulu itu. Ketika mengadon dengan tepung-raginya, sangat pantang minyak! Membuat tapai benar-benar harus bebas-minyak, hampa-minyak. Musuh terbesar ketika membuat tapai yalah minyak! Atau juga karena terlalu basah, terlalu banyak air, atau terlalu kering, sehingga tidak meragi. Ada seorang teman menilpun menanyakan mengapa dia gagal dalam membuat tapai, padahal sudah mentaati aturan-aturannya. Dan ketika kutanyakan : "Berapa hari pemeraman baru sampeyan buka?". "Ya, biasa seperti sampeyan bilang itu, sampai lima atau tujuh hari kan? Tapi pada hari ketiga saya buka sebentar karena mau lihat, apakah kira-kira akan jadi, saya intip saja". "Nah, ya itu sebabnya. Baru hari ketiga sampeyan sudah tidak sabar lagi, maunya ngintip saja! Tidak akan jadi. Pemeraman tidak boleh kemasukan udara dari luar! Harus sampai lima atau tujuh hari, tanpa pengintipan. Dia, akan marah dan ngambek kalau sampeyan gatal saja mau ngintip!", kataku sambil menggurauinya.
Kemudian kedua sampai ketiga kalinya barulah teman itu berhasil dengan baik. Dengan beras ketan-putih dua kilo biasanya jadi tapainya sampai tiga liter lebih. Kalau di Bali, air tapai dan tapai yang diperas agar banyak airnya itu, dinamakan minuman beurem, mengandung alkohol. Menyimpan tapai semakin lama semakin tidak baik, karena raginya naik terus sehingga alkoholnya juga naik lalu rasanya pahit bukannya manis! Di resto kami, tapai dicampur dengan es krim dan jenis es krim yang paling cocok buat tapai yalah sorbet de coco, es krim kelapa, sedikit disirami santan segar. Pelanggan biasanya kalau hanya mau mencoba pertama kali, selalu tidak suka tapai es krim. Yang selalu minta tapai atau tapai es krim, adalah orang-orang yang sudah kenal tapai dan sudah biasa. Kalau belum biasa, nyatanya memerlukan proses pengenalan dulu, sudah itu barulah proses cintanya, lalu cari dan tanya-tanya.
Pelanggan kami orang-orang Indo-Cina, seperti Laos, Kamboja, Vietnam dan juga Jepang, cukup kenal tapai ini. Dan umumnya memang orang Asia. Ada orang Kamboja pelanggan kami, begitu baru saja masuk belum duduk tenang sudah menanyakan tapai : "Ada tapai merah, juga yang putih?", katanya memesan tapai buat dessertnya, padahal belum pesan makanan pokoknya. Tapai merah, terdiri dari beras-ketan-merah. Satu setengah kilo beras ketan-merah akan jadi tapai hampir 4 liter, lebih banyak dan lebih mengembang serta lebih banyak airnya daripada tapai putih. Tapi orang bule, Eropa, tidak begitu suka tapai merah, lebih suka tapai putih, dan itupun hanya sedikit yang suka. Masak tapai merah lebih lama jangka waktunya daripada tapai putih, dan juga raginya harus lebih banyak daripada ketan putih, dan harus ditanak, bukan dikukus. Kalau dikukus akan terlalu lama dan kurang baik, sebab beras ketan merah sangat keras.
Pelanggan kami orang bule sering minta tapai sorbet, tapi tanpa tapai hitam(merah), hanya mau yang putihnya saja. Sebaliknya ada pelanggan kami orang Kamboja dan Vietnam hanya mau yang hitamnya(merahnya)saja. Lain orang lain kesenangannya, yang kita suka belum tentu orang lain juga suka, juga sebaliknya. Dan aku sebagai pembuat tapai, sampai kini masih cukup setia menyenangkan selera orang yang bagaimanapun pandangan dan sikap-lakunya. Ada yang baru makan sepertiganya saja, sudah tak dimakannya, lalu hati ini sedih. Tetapi ada yang begitu lahap dan habis-kikis butir-demi butir nasi ketan itu, lalu hati ini senang dan gembira. Hal ini berlangsung belasan tahun, dan hari-hari ini harus kusiapkan agak banyak persediaan tapai, karena mau liburan musimpanas, jadi harus selalu ada persediaan. Jangan sampai karena liburan, lalu tak ada persediaan ketika dirikita tidak sedang berdinas.
Memang tampaknya remeh, kecil saja adanya, tetapi soal tanggungjawab, bukan memandang kecil besarnya perkara, setia kepada pekerjaan ternyata menghendaki juga pengorbanan tertentu walaupun sekecil titik.-
Paris 18 Juli 1999,-
Dulu pada awal tahun 90-an, kami pernah berlibur musimpanas ke Pattaya, Thailand. Walaupun hanya tiga orang, tapi dari segi umur mewakili tiga generasi, cucuku, Lulu, dan anakku, dan aku, lengkaplah sudah, dari kakek hingga cucu. Lulu ini sangat suka berenang, baginya apa arti libur musimpanas, tak lain hanyalah berenang. Dia sangat puas dengan alam Thailand tepi pantai yang sangat bagus. Sebelum itu dia juga sudah melihat berbagai pemandangan yang bagus-bagus di Perancis, seperti di sepanjang pantai Riviera Perancis, Croisette, di Cannes, Nice, Antibes sampai Monaco-Montecarlo. Sepanjang pantai Cote d’azur ini sangat indah, terindah di Eropa.
Kami beberapa kali dengan bis menyusuri jalan pemandangan sepanjang pantai dari Cannes sampai Monaco. Karena bis hampir setiap jam mondar-mandir Cannes - Monaco. Ketika itu Lulu belum pernah ke Thailand, Pattaya. Dan begitu mengunjungi Pattaya, dia sudah berani mengemukakan pendapatnya. Katanya pemandangan alam, laut - pantai yang paling indah di dunia ini adalah Pattaya! Tetapi pada tahun berikutnya kami berlibur musimpanas di Bali. Dan Lulu sangat mengagumi keindahan Bali dengan pantai di Kuta, Sanur dan tempat lainnya. Lalu berubah pendapatnya yang dulu itu. Katanya pemandangan alam, laut dan pantai serta pegunungan, yang paling indah adalah Bali! Inilah yang dirasakan seorang anak yang berumur antara lima sampai tujuh tahun.
Ketika kami berlibur musimpanas tahun 1996 di Lombok, komentar Lulu tidak banyak lagi. Komentarnya sudah bukan pemandangan alam yang indah lagi, tetapi soal tempat berenangnya saja. Di Lombok lebih enak buat berenangnya karena ada peluncuran yang di tempat lain tidak ditemuinya. Komentarnya sudah minor. Dan tahun ini, kembali kami berlibur musimpanas di Bali lagi, di Nusa Dua dan Sanur. Rombongan kali ini, aku membawa dua cucu, Lulu dan plus saudara sepupunya, Angel, yang walaupun namanya Angel, dia laki-laki.
Apa sebenarnya yang menarik dan yang dapat diceritakan secara khusus tentang Bali ini? Aku pertama ke Bali pada tahun 1956 ketika membawa Robongan Akrobatik Peking dulu itu, bersama Henk Ngantung yang akhirnya jadi gubernur DKI. Sudah itu tahun 1963 ketika kami mengadakan Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Sanur, yang cukup sukses. Dan sudah itu entah sudah berapa kali, mungkin sejak yang pertama sampai kini sudah belasan kali. Setiap ke Bali memang ada dan terasa bahwa Bali "memang lain" dari yang lain. Dapat kusimpulkan buatku sendiri, bahwa hampir setiap orang Bali adalah seniman!
Orang Bali lebih dari 90 persennya adalah tahu dan mengenal seni, bahkan banyak yang menguasainya. Kalau tidak sebagai pengukir, atau penari, tentulah pemahat, pematung atau penabuh gending, atau pemain musik, alat musik Bali. Atau penghasil kerajinan tangan yang mengandung dan berisikan seni yang amat bagusnya. Agama orang Bali, Hindu, banyak sekali meritualkan wajah seni, seperti berbagai perwujudan tarian. Dari segi agamanya saja, banyak menuntut orang Bali agar mendalami beberapa mata acara yang bersifat seni. Kebiasaan dari kecil begini, menjadikan suatu kehidupan yang rapat dan bersenyawa dengan kesenian. Pantaslah ada nyanyian yang sudah hidup puluhan tahun, yang sampai kini masih dinyanyikan, Pulau Bali Pulau Kesenian. Dalam perjalanan kehidupan, atau selama hidupnya, orang Bali akan banyak menemui berbagai upacara ritual agama yang mengandung kesenian. Misalnya seseorang anak-gadis atau pemuda seharusnya bisa menari, bisa mengukir, bisa memainkan alat musik, dan membacakan sajak-sajak mantra, doa yang penuh puitik. Seluruh jelujur kehidupan agama begini, menjadikan orang Bali banyak mengetahui, bisa dan menguasai banyak mata acara kesenian.
Lalu alam Bali memang sangat indah. Perpaduan pantai, laut dan pemandangan pegunungan, padang rumput yang memang banyak "dihidupkan" sebagai penghias, bukannya lapangan golf, menambah plus nilai keindahan Bali. Lalu keramahtamahan penduduk Bali betul-betul bisa dijadikan ladang yang paling subur buat pasar wisata, tanpa pengertian negative. Walaupun pemandangan alam yang luarbiasa bagusnya, tetapi kalau penduduk sekitarnya atau para pekerja-wisatanya tidak ramah, pemarah, dan selalu curang dan sangat tidak jujur, termasuk suka ngutil dan maling, maka kaum turis takkan lagi punya minat kembali ke tempat itu! Dan di sinilah kemenangan Bali. Ambillah contoh dunia wisata Lombok dan Bali. Lombok, alam wisatanya sangat bagus, masih asli, belum banyak terpengaruh luar. Tetapi menurutku, pekerja-wisatanya belumlah se-profesional orang-orang di Bali. Bali dalam soal pekerja-wisatanya, mengingatkan kita pada profesionalnya orang Thailand di Pattaya, Phuket atau Chiangmai. Setiap orang yang ada hubungannya dengan pekerjaan wisata, selalu tahu benar dan menguasai apa yang harus dikerjakannya. Apa yang harus didulukan, mendapat prioritas utama buat menyenangkan para tamu, membikin rasa senang dan puas para wisatawan dalam dan luarnegeri. Dan ini benar-benar dijalankan di Thailand, termasuk juga di Bali. Itulah sebabnya yang membedakan antara Bali dengan daerah atau tempat lainnya, dalam persoalan pekerjaan profesional ini. Mungkin Bali karena punya pengalaman sejak puluhantahun yang lalu.
Orang yang sudah terbiasa menjalani pengalaman wisata, tentulah akan merasakan bahwa Bali memang lain dari daerah lainnya. Ada nilai plusnya yang tersendiri. Baik secara alamnya, maupun manusianya dengan ritual agamanya yang di tempat lain tidak terdapat. Lalu apakah yang kutemukan yang agaknya baru dengan perbandingan yang tahun-tahun lalu? Tentu saja cukup banyak. Tetapi yang paling menonjol, kalau dulu Bali dengan enak dilalui jalan lalu-lintas mobil yang cukup lancar, maka kini kemacetan bertambah "menggumul" perkotaan. Motor, mobil sudah amat padatnya, dan barisan antri kendaraan roda dua dan empat sudah semakin dipikirkan buat mencari jalan agar kemacetan jangan sampai seperti Jakarta!
Dan pengaruh asing sudah semakin menonjol. Di Hotel kami, Ml itu, samasekali sudah tak ada lagi keterangan yang berbahasa Indonesia. Dan televisi hanya menyiarkan satu pemancar saja yang dari Jakarta, yang lainnya semua televisi asing, Barat, Hongkong dan Jepang. Dan yang gilanya lagi, di Hotel kami itu uang rupiah tidak laku! Semua harga dengan dollar AS, lalu nantinya nilainya dikurs dengan rupiah, tapi rupiahnya tak pernah muncul! Dan makanannya sangat mahal, ada yang lebih mahal daripada di Perancis maupun di Holland. Kami pernah makan bertiga, yang menurut kami samasekali tidak mewah biasa-biasa saja, tetapi karena dengan tarif dollar dan lagi pajaknya 21 persen, lalu sangat terkejut melihat harganya dalam rupiah! Harga makanan kami bertiga sekali makan itu jauh lebih mahal daripada gaji satu bulan pelayan yang melayani kami! Dan sejak itulah kami pindah mencari makanan ke warung-warung pinggir jalan yang kami rasakan masih ada rasa manusiawinya. Dan ternyata orang-orang yang seperti kami cukup banyak, mencari makanan murah, sekalipun tempatnya sangat sederhana. Harga makanan yang sangat mahal, walaupun sebenarnya rasanya enak, begitu melihat dan tahu harganya, makanan itu akan tersendat di kerongkongan, di perut, di otak di pikiran, lalu yang ada hanyalah bentuk frustrasi yang bagaimanapun kecilnya, tetap saja nggak enak! Lebih baiklah cari yang lain, yang tidak mengganggu kantong, tidak mengganggu pikiran, yang akibatnya akan menganggu perut dan kelezatan.
Paris 26 Agustus 1999,-
Sesungguhnya apakah tujuan pokok seseorang wisatawan? Pada umumnya adalah untuk mengenal negeri tertentu itu, mau tahu. Juga mau beristirahat, mau cari yang enak, yang bagus, yang menyenangkan, melepaskan rasa stres, frustrasi, mau cari suasana baru, mau menghisap dan menghirup udara baru, segar dan bebas dari segala ketidakenakan. Jadi yang menjadi soal yalah : kepuasan, kesenangan, kenikmatan. Karena itu seseorang wisatawan apabila menemui banyak soal gangguan apapun yang tidak menyenangkannya di sesuatu negara dan tempat, baginya perjalanan dan wisata itu menjadi cacat, dan baginya mungkin perjalanan itu adalah yang terakhir, untuk selanjutnya dia tidak akan mau lagi ke tempat itu. Karena itu pula, jalinan pasar-wisata dan pekerja-wisata benar-benar harus memelihara dan memperhatikan masalah ini. Dalam soal ini Bali ada hal-hal sangat menonjol buat jadi contoh.
Pada paro pertama tahun 1999 ini dan dimulai pada paro terakhir tahun 1998, keadaan di Bali, terutama daerah pusat-wisata seperti Kuta, Sanur,sekitar Denpasar, terjadi hal-hal yang menjurus ke kekacauan. Banyak sekali penjaja asongan, kakilima, dan "kaum preman" yang pada amburadul, liar, tidak mau tunduk pada peraturan, dan akibat sampingannya banyak kejadian pencopetan, jambret, setengah perampokan, pemaksaan dan kekerasan. Yang menjadi sasaran utama tentulah kaum turis yang dianggap banyak uang, mudah diperas, ditipu, dikerasi dan diancam. Keadaan ini sesungguhnya sangat tidak menguntungkan penduduk Bali secara keseluruhan. Sebab pemasukan keuangan baik pada negara maupun pada rakyat biasa adalah turisme ini. Turisme sangat membantu dalam pemasukan keuangan secara keseluruhan Bali, dan ini meratai penduduk biasa. Kalau turis berkurang, tidak masuk, maka keuanganpun juga tidak masuk, devisa siasia, kosong. Ketika paro tahun-tahun itu terjadilah kemacetan pemasukan turis, dan artinya juga keuangan yang tadinya banyak masuk pemda dan penduduk biasa sangat berkurang.
Rupanya pihak pemda dan masarakat setempat mencium tajam keadaan ini. Lalu pemda bertindak dengan cukup beralasan yang disokong dan didukung masarakat setempat. Pedagang asongan, kakilima, "preman tak menentu" dulu itu ditertibkan dengan pendekatan yang tidak sampai menjadi dendam. Dan hasilnya bukan main, turisme masuk lagi, keuangan mengalir lagi. Karena kekerasan, pencopetan, penjambretan, setengah perampokan sangat berkurang. Bali aman lagi seperti dulu-dulunya dan biasa-biasanya.
Sesuatu pasar-wisata, industri-wisata, bisa merosot secara pelan maupun drastis apabila keadaan di suatu tempat tidak aman, tidak menyenangkan, karena turis tidak mau datang ke tempat itu, betapapun bagusnya, indahnya lokasi wisatanya. Turun naiknya kejahatan dan kekerasan, penipuan, akan sangat mempengaruhi masuk-ke luarnya kaum turis. Contoh kongkrit keadaan wisata di Italia. Banyak tempat wisata yang tidak aman, seperti di Sicilia, Milan, Turin, sedikit di Roma dan Venesia, kaum turis menurun pelan dan bahkan ada yang drastis. Karena banyak pencopetan, jambret, kekerasan. Baru-baru ini ada teman penulis yang secara berombongan bergrup dengan bis sebanyak 43 orang datang ke Itali. Sudah diingatkan oleh pemandu agar berhati-hati jangan sampai kecopetan, kehilangan. Namun demikian, dari satu rombongan 43 orang itu, ada 4 orang yang kehilangan dan kecopetan, padahal di suatu tempat yang tidak sama, dengan waktu yang berlainan! Artinya "gagal sebanyak 10 persen", dan ini cukup membikin cacat nama turisme Italia! Para wartawan Indonesia yang pernah meliput acara-acara tertentu di Italia-pun pernah menjadi korban pencopetan ini. Dan memang akibat semua ini, turisme Italia menjadi tidak populer lagi, sayang!
Turisme atau wisata itu bagaikan sebuah restoran. Untuk melihat enaknya makanan di resto tertentu, lihat berapa banyak orang datang ke resto itu! Sebuah rumahmakan atau warung yang banyak didatangi orang, pastilah makanannya enak. Puluhan kendaraan roda-dua atau roda-empat pada antri di depan sebuah resto atau warung, maka di situlah ada tempat makanan yang enak! Tetapi kalau ada atau terjadi beberapa kali kekerasan dan penipuan, maka orang-orang takkan mau lagi datang ke tempat itu. Orang datang dan mau menjadi turis, mau makan di tempat itu, karena katanya enak, nyaman dan aman, menyenangkan. Turisme sangat berkepentingan dengan rasa aman, nyaman, sedap dan menyenangkan. Bahkan yang disebutkan barusan ini mungkin malah yang menjadi pokok.
Tidak sedikit orang yang mau menambah harga tiket karena mau naik-pesawat yang disukainya di penerbangan maskapainya si A, tidak mau si B. Karena di si A ada makanan atau minuman kesukaannya yang di B tidak ada. Juga karena kursi-tempatduduknya agak renggang tidak seperti di penerbangan si Polan, yang belasan jam seseorang harus menekukkan kakinya tidak bisa agak ngelonjor karena sempitnya jarak kursi. Begitu turun pesawat, seseorang itu terpincang-pincang lama sekali, karena kakinya tertekuk karena rapatnya kursi. Atau di penerbangan si A biasanya layanannya baik, para pramugarinya ramah, tidak merengut dan mahal senyum, nah lebih baiklah naik pesawat si A, walapun di si B lebih murah beberapa dollar. Inilah filsafat seseorang turis, wisatawan, mau yang enakan, yang memuaskan, yang menyenangkan, tak perduli sedikit menambah biaya ongkos. Lebih baik agak mahal sedikit tetapi hati puas, senang dan mengesankan secara indah, daripada murah tapi penuh dengan hal-hal yang tidak enak! Senyum, ramahtamah, lapanghati, lapangdada, tidak merengut, dengan wajah berseri melayani para tamu dan turisme, barang sedikit tidak baguspun, sedikit tidak enakpun, akan menjadi bagus dan enak. Betapa halnya kalau memang bagus dan enak, maka panen uanglah turisme di tempat itu!
Paris 27 Agustus 1999,-
Sekali ini kami tidak di Kuta dan tidak di Sanur, tapi di Nusa Dua. Nusa Dua memang suatu lokasi yang sangat bagusnya, indah dan hijau di mana-mana, lebih sepi dari di dua tempat di atas. Jauh dari pusat keramaian kota. Dan ini yang tidak begitu sreg : daerah mahal, eksklusive, dan agak terasing. Soal enak, nyaman, bersih, sedap dan nikmat, okeylah! Tapi agaknya tidak begitu sesuai dengan kemampuan kami dari segi kanker = kantong kering. Di hotel ini, Ml-sol, beberapa hari kami di tempat ini, tidak pernah menemui orang pribumi seperti kami. Semua orang asing, kalaupun Asia, selalu dari Jepang, Hongkong atau Korea. Pernah salah tegur, kami kira orang berjenis kami, pribumi, ternyata dari Filipina. Mungkin kebetulan saja tidak bertemu dengan melayunya. Soal kemampuan punya uang, kata orang "uang kan nggak berkokok", pasti bukan masalah itu benar yang jadi soal. Betapa banyaknya orang yang masih punya uang, di samping juga betapa lebih banyaknya orang yang sangat sulit uang.
Sudah kuceritakan, kejadian pertama kali dan tak pernah lagi kami ulang, kami bertiga ( dengan dua cucuku, umur 13 dan 10 ) sekali makan yang biasa saja, tidak mewah, begitu dihitung dengan rupiah, ternyata lebih mahal daripada gaji satu bulan pelayan yang sedang melayani kami! Dan sejak itulah kami pindah tempat begitu waktu jam makan, cari warung jauh di luar lokasi resto. Tetapi karena daerah wilayah Nusa Dua ini memang secara khusus, di mana-manapun harga makanan tetap mahal dari daerah lainnya. Semua harga dengan tarif dollar AS, dan di semua bagian hotel tidak ada keterangan bahasa Indonesia, semuanya dengan bahasa asing. Rupiah tidak laku di wilayah ini, tetapi transaksi selalu bukan berupa cash, kartu-kredit atau "uang-plastik", dan begitu dihitung dengan rupiah, lalu membengkak-menggunung.
Harga pisanggoreng, resminya dua dollar, tetapi dengan pajak penjualan, pajak cukai dan segala macam susu-asmanya ( tetek-bengek-nya ) bisa menjadi tiga dollar, itu artinya 18 Francs atau 9 Gulden, atau lebih dari 18.000 Rupiah. Nasigoreng 5 dollar, bisa menjadi enam dollar, artinya 36 Francs, atau 18 Gulden, lebih mahal daripada di Holland, artinya lebih dari 36.000 Rp satu piring nasigoreng.Yang benar saja akh. Yah benar,daerah mahal, dan pelayanannya dan enaknya juga sebanding dengan mahalnya. Jangan ngomel-ngomel! Mereka menjual jasa, barang, keramah-tamahan, kebersihan, keenakan dan kelezatan, kalian harus berani keluarkan-uang! Maka kamipun,daripada ngeri melihat harga yang berpusing-pusing di depan mata ini, dan daripada mencacati liburan yang seharusnya enak-enak dan nyaman-nyaman, lebih baiklah "mundur teratur". Dan kami pindah ke Sanur. Walaupun jumlah bintangnya tetap saja sama, tetapi karena wilayahnya lain daripada Nusa Dua, maka wajah dan muka sudah tidak lagi bersegi-delapan dan merengut-asam, karena harga-harga lebih manusiawi daripada Nusa Dua! Dan Sanur serta Kuta, menurutku lebih " merakyat " dibandingkan dengan Nusa Dua. Begitu ke luar dan kompleks hotel, pasar-ramai yang lebih merakyat cukup terjangkau kantong turis-miskin seperti kami ini. Makanannya nikmat, orangnya ramahtamah, kebersihan cukup baik, harganya masih bertaraf dan bertarif sopan, apalagi, nah ini baru ideal!
Berkali-kali kami ke Bali, tapi baru sekali inilah ke Nusa Dua, selalu saja asal tak di Kuta lalu di Sanur. Daerah Nusa Dua sebenarnya boleh diacungi jempol, bagus, indah, penuh bunga-bunga, burung-burung, tanaman kehijauan. Pagi-pagi bunyi-bunyian burung dan tupai yang jinak-jinak serta tokek yang sangat menarik bagi dua cucuku, sangat mengesankan. Mereka berdua yang setengah bule itu sangat heran mendengar dan melihat tokek, seekor cecak besar kata mereka, betapa besarnya, dan mereka mengaguminya yang tak pernah mereka dengar dan lihat di Eropa. Berjenis burung berloncatan di depan jendela hotel, jinak sekali dan selalu meriah-gembira. Sebenarnya dua cucuku itu masih sangat senangnya di Nusa Dua, tapi mereka mengerti bahwa kakeknya seorang pensiunan-miskin, seorang yang suka menulis tetapi puluhan tahun tak pernah merasai kayak apa sih honorarium tulisan itu! Mereka mengerti semua, dan karena itu begitu kami pindah angkat koper ke Sanur, ada satu hal lagi yang mereka temui.
Kakak dua-pupunya, si Nita yang namanya sama dengan ibunya, yang sudah sepuluh tahun menjadi pramugari Garuda, berpos di Nusa Dua dan satu hotel lagi! Berpos hanya buat empat hari, karena harus bolak-balik Denpasar - Perth, Australia. Nita sudah sangat lama tidak terbang ke Paris, kenapa? Karena Garuda di Paris tutup, katanya bangkrut, atau secara bahasa sopannya, line-terbangnya kurus tidak gemuk. Kini jurusterbang kakaknya ini pindah ke sebelah timur dan selatan, kalau tidak ke Australia, lalu ke Jepang. Lulu dan Angel sangat dimanjakan kakaknya, pertemuan yang tak disangka-sangka, tidak ke Jakarta-pun kami, orang Jakarta datang kepada kami secara tak sengaja. Tiga saudara itu menyewa mobil secara khusus sehari suntuk menjalani Bali sekitar Sanur - Kuta - Jimbaran dan Uluwatu. Nita tak terasa capek dan lelah, walaupun beberapa jam lagi harus take-off buat ke Perth. Pertemuan yang sangat mengesankan bagi tiga saudara itu, juga bagiku, semua kami, karena Nita selalu memanggilku kakek. Cacat dengan harga sangat mahal ketika di Nusa Dua kemaren-kemaren itu sudah ditebus dengan adanya Nita yang selalu disekitar kami selama dua-tiga hari itu. Sangat mengesankan liburan singkat kali ini, dan gilanya lagi, keberangkatan Nita ke Australia bersamaan waktunya dengan keberangkatan kami ke Amsterdam yang langsung dari Denpasar. Di Ngurai Rai tiga saudara itu berpelukan dan mengusap airmata cinta dan rindu.-
Paris 28 Agustus 1999,-
Menurut banyak paranormal di Indonesia, pada hari - tanggal - bulan dan tahun ini akan terjadi pergolakan besar, kiamat, ledakan dunia, mungkin kehancuran total dunia. Tentu saja kebanyakan orang atau kebanyakan di antara kami lebih banyak tidak mempercayainya. Tapi ada juga rasa ingin tahu, kalaupun terjadi bagaimana sih rupanya, bagaimana sih rasanya, ramai-ramailah kita di dunia ini merasakannya-, begitulah pikiran kami. Yang kumaksudkan kami itu, adalah semua teman yang kukenal dan yang dekat dan ada di sekitar komunitasku, paling tidak di resto di mana kami berkeliling hidup di sekitarnya di Paris.
Berita yang begini ini sudah sering terjadi, beritanya maksudku, yang kutahu saja sejak aku masih di SD dulu lebih setengah abad yang lalu. Tokh tak terjadi apa-apa, buktinya sampai kini aku masih bisa menulis catatan ini. Ini bukannya mau apa-apa atau takabur! Kalaupun terjadi, kan kita semua ini yang ada dan penghuni dunia ini pada ludas-habis tak bersisa ya kan? Dalam hati sih mengharapkan agar janganlah terjadi apa-apa atau "Big Bang" kedua ini, kan masih mau menyaksikan dunia ini sampai dengan batas normal atas "jemputan Tuhan secara wajarlah".
Seorang Ibu di tempat kami menilpun anaknya yang di Jakarta. " Hei, Ded, bagaimana jadinya, ada terjadi apa saja yang kau lihat dan saksikan di Jakarta sekarang ini?". Anaknya heran, ada apa kok Mama nilpun dengan cara demikian. "Kenapa Ma, ada apa rupanya?" "Ya, kan katanya hari ini tanggal 9 bulan 9 tahun 99 akan terjadi kiamat, di koran kan ditulis dan beritanya ngetop". " Akh, itu sih hanya isu biasa, ramalan biasalah kerjaan paranormal. Nggak ada apa-apa. Ya, kiamat sih memang sudah terjadi terus menerus tapi di Timor Timur, terutama bagi rakyat kecil dan rakyat awam. Tiap hari terjadi pembakaran, perkosaan dan pembunuhan. Dulu orang biasa, orang kecil, miskin, kini pendetapun dibunuh. Dulu perumahan rakyat yang dibakar, kini gereja-resmipun dibakar, uskup Belo sendiri kalau tak dilindungi secara ketat lalu diselamatkan, pastilah kena bunuh juga", kata anaknya yang bernama Ded itu.
Sebenarnya Ibu itupun juga termasuk tak percaya akan adanya "Big Bang" kedua itu. Tapi sambil iseng-iseng mau juga tahu, terpengaruh juga rupanya akan berita-berita ramalan yang cukup ramai itu. Di kampung kami angka 9 dalam permainan kartu dengan hitungan tiga-tiga, artinya ada tiga kartu yang masing-masing tiga, dengan jumlah 9, maka angka itulah yang tertinggi dan itu untung, membawa keberuntungan,-dan ini sebenarnya angka judi! Namanya angka tiga lajur-sembilan.
Soal kiamat? Benar juga, kiamat untuk sebagian orang, memang terjadi di Timor Timur, Aceh dan Irian Barat. Dan yang jadi "sang mahakuasanya" ya serdadu TNI dengan dia punya kepalanya Suharto-Habibi. Jangan lupa menyebutkan Suharto, karena dia adalah sumber kiamat bagi rakyat Indonesia, dan jangan lupa menyebutkan Habibi, karena dia adalah pelanjut dari gurunya, guru politik dan filsafatnya.
Teman-teman kami masih dengan "keisengan ngotot" menyebutkan mungkin yang akan terjadi pada tanggal 9 bulan 9 tahun 99 itu adalah pada jam 9,- maksudnya pagi, sebab kalau malam bukan jam 9 tetapi jam 21 dan itu tak termasuk hitungan para normal. Dan ketika aku pada hari itu, artinya kemaren, sedang berdinas di resto, menggantikan seorang teman yang absen karena sakit, tiba-tiba ada deringan tilpun. Aku sudah merasa GeeR, sebab tentulah ada yang mau pesan tempat buat makan malam ini atau entah kapan-kapan. Tilpun kusambut dengan harapan gembira,- tetapi lha kok isinya begini.
"Apakah Anda orang Indonesia?", kata suara orang bule entah di mana. "Ya, betul, Anda mau pesan tempat?" "Dengarkan baik-baik, apa yang akan saya katakan ini! Anda tahu tentang Timor Timur? Apa Anda mengikuti kejadian pembunuhan kejam di Timtim?". "Ya, saya tahu, kami mengikuti dengan seksama semua peristiwa itu sampai kini...." "Diam! Dengarkan saya, Anda dengarkan, jangan banyak omong!", katanya. Dalam batinku, wah, lha kok tumben nggak ramah, malah marah-marah dan kasar omongannya. "Pemerintah Anda telah dengan kejam membunuhi rakyat Timtim, sampai kini dari sejak puluhan tahun negara dan pemerintah Anda sangat banyak membunuhi rakyat yang tak bersalah, memenjarakan puluhan ribu rakyat, menyiksa, memperkosa, terus menerus menindas rakyatnya sendiri. Apakah Anda dan teman-teman Anda tetap berdiam diri dan membiarkan pemerintah dan serdadu pemerintah Anda terus menerus membunuhi rakyat Timtim, Aceh dan lain-lainnya? Awas, kami akan datangi tempat Anda, dan kami akan unjuk-rasa, manifestation besar-besaran mendatangi tempat Anda.....................", dan plok.........gagang tilpun dibanting.
Belum sempat aku menjelaskan duduk persoalannya, tiba-tiba saja tilpunnya dibanting dengan kasar. Tak diberinya kesempatan buatku menjelaskan bahwa mungkin dia salah alamat, bukanlah kami yang seharusnya disasar. Pemerintahan kami? Mana kami ada pemerintah! Kami sendiri jadi begini karena pemerintah RI-nya Suharto-Orba-Abri!
Tapi berita ini kukatakan kepada semua teman resto, dan ada yang bahkan menilpun teman lainnya ke rumahnya, agar mengetahui bahwa akan ada demonstrasi ke resto, mau mengutuk perbuatan pemerintah RI-Habibi-TNI. Ketika itu kami berempat sedang dinas di resto, dan menurut isi tilpun itu, kini, hari ini mereka mau mendatangi resto kami buat demonstrasi menentang pemerintah RI-Habibi yang pembunuh, penyiksa rakyat itu. Sebenarnya aku sudah sangat yakin, bahwa isi tilpun itu salah alamat. Alangkah baiknya kalau si penilpun tadi agak sabaran sedikit lalu mendengarkan penjelasanku. Tetapi mana ada orang sedang marah menggebu-gebu yang bisa bersabar! Sedangkan di televisi Prancis sekarang ini hampir setiap hari menyiarkan tentang kejadian dan peristiwa di Timor Timur, yang dulunya tak pernah secuilpun menyiarkan tentang apa saja yang bersifat Indonesia. Banyak teman penuh pikiran bagaimana cara menghadapi para demonstran itu kalau sekiranya datang dalam beberapa jam ini.
Dan nyatanya Tuhan masih menolong kami pada hari yang serba sembilan itu, dan datangnya tilpun anullation, pembatalan itupun pada jam 21,°° sembilan malam.
" Anda resto Indonesia?", kata suara dalam tilpun. "Ya, ini resto Indonesia". "Maafkan tadi itu, teman kami telah salah alamat. Dikiranya tempat Anda adalah bagian dari Kedutaan RI di Paris, karena itu dia menyebutkan manifestation, unjuk-rasa ke tempat Anda. Ini kesalahan kami, harap Anda dan teman-teman Anda memaafkan kami. Dia kurang mendapat penjelasan dari kami, ini kesalahan kami. Harap Anda dan teman-teman Anda memaafkan kesalahan kami", kata-kata ini diucapkan berkali-kali. Dan aku menjawabnya juga dengan ramah, orang sudah minta maaf apalagilah! Sedangkan dia benar-benar sudah salah alamat. Kalaupun dia tahu kamipun bernasib dibeginikan dari pemerintah Suharto-Abri-Habibi-TNI, tentulah dia cukup memahami, kamipun seperasaan dengan rakyat Timor Timur yang menghendaki kemerdekaan itu. Kalaupun dia tahu bahwa bagaimana Ramos Horta tak pernah melewatkan kesempatan apabila dia sedang di Paris selalu berkunjung ke tempat kami, dan kami banyak beramahtamahan dengannya dan lingkungan yang mendambakan kemerdekaan dan demokrasi sejati. Untung saja angka serba sembilan pada hari itu, yang tadinya hampir nyaris "salah urus dan salah alamat" berakhir dengan terangbenderang dan jelasjemelas.-
Paris 10 September 1999,-
Banyak nama yang tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak usah jauh-jauh. Namaku ada dalam Al-Quran, artinya sabar, kenyataannya sebaliknya, akulah orang yang tidak mampu mengemban nama menjadi kenyataan, karena aku bukanlah orang yang sabar. Dan banyak contoh lagi, tidak usahlah kusebut karena menyangkut orang lain.
Sebaliknya ada nama yang sangat cocok dan serasi dengan kenyataan. Nah, ini yang mau kuceritakan. Namanya Untung, kusebut Mas Untung walaupun dia jauh lebih muda dariku. Nama isterinya Dewi, juga sesuai dengan nama itu, dia betul-betul dewi bagi Mas Untung. Kami berkenalan ketika di udara di dalam pesawat-terbang menuju Jakarta dari Amsterdam. Anaknya dua, semua wanita seperti aku juga. Manis-manis dan lucu, umurnya empat dan enam tahun. Ketika kami bersalaman dan Mas Untung bercerita bahwa dia bekerja di resto di Tilburg, Alphen di Noord Braban, selatan Holland, maka kelakar kami semakin asyik, sebab aku juga "orang resto". Dan dia tampaknya sangat senang sebagaimana aku juga begitu, sama-sama "orang resto". Dan dia baru tahu bahwa di Paris ada resto Indonesia. Tapi aku samasekali tak heran kalau di Tilburg ada resto Indonesia, sebab Holland itu sudah bagaikan "kampung melayu". Di mana-mana ada orang Indonesia, di mana-mana ada resto Indonesia. Di mana dan ke mana saja kita melangkah akan bertemu dengan orang dari Indonesia, mendengar percakapan bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa!
Mas Untung sekeluarga sedang berlibur ke Indonesia. Dia bekerja di resto Indonesia yang bernama Resto BUNGA MELATI. Setengah tahun sesudah perkenalan kami ini, tepatnya Tahun-Baru tanggal 1 bulan 1 tahun 1999, kami menuju dan beranjangsono ke Tilburg, Holland Selatan. Ternyata terlalu banyak yang belum diceritakan Mas Untung. Misalnya Resto BUNGA MELATI itu ada dua. Melati Satu dan Melati Dua, dan Chef-Kok-nya hanya Mas Untung sendiri. Tamu resto itu bukan main ramai dan melimpahnya. Deretan mobil yang parking di kompleks resto itu belasan sampai puluhan. Semua pemilik dan teman serta keluarganya makan di resto Mas Untung. Katanya diambil rata-rata, pelanggan yang makan setiap hari, antara 150 sd 200 orang. Pernah terjadi sampai 300 orang. Bandingkan dengan resto kami di Paris, baru pelanggan datang sehari dan itupun pada hari Sabtu, week-end sebanyak 130 orang saja sudah bukan main bangga dan senangnya hati kami. Jadi jangan bandingkan antara resto kami dengan resto Mas Untung itu, seperti kerikil dan bebatuan-gunung!
Bagaimana asal-mula Mas Untung "terdampar" di Holland Selatan itu? Dulu tigabelas tahun yang lalu, Mas Untung jadi guru perhotelan dan resto di Pakan Baru. Dan juga jadi chef-kok di sebuah resto di Pakan Baru. Seorang turis Belanda yang juga punya hotel dan resto di Tilburg, pernah makan dan menginap di hotel di mana Mas Untung bekerja di Pakan Baru. Dan Belanda, Tuan Meijer ini sangat tertarik dengan masakan Mas Untung, dan setelah dia menemui Mas Untung dan bicara-bicara, ngobrol ngalor-ngidul, berjanji akan selalu bertemu. Tuan Meijer sangat tertarik kepada pribadi Mas Untung, masakannya sangat enak, sesuai dengan selera yang dicita-citakan Tuan Meijer, dan orangnya sesuai dengan apa yang dicita-citakan Tuan Meijer buat bekerjasama dengannya. Akhir kata, Tuan Meijer berjanji akan "memboyong" Mas Untung buat menangani restonya di Tilburg. Berjanji akan sangat "menguntungkan Mas Untung". Tapi ada kesulitan kecil, bahwa Mas Untung masih dalam kontrak-kerja. " Tak apa" kata Meijer, kita tunggu, tokh hanya tinggal beberapa bulan saja.
Tuan Meijer barangkali seperti peribahasa kita dulu itu, bagaikan mendapat durian jatuh, matang di pohon, sangat senangnya. Pada waktunya Mas Untung memang diboyong, dan semua janji dipenuhi. Setelah setahun dua tahun, dan resto berjalan dengan mulus dan sangat laku, Mas Untung mengajukan permintaan buat liburan ke Pakan Baru, memenuhi janji pribadinya, memperisteri seorang gadis cantik yang dulu pernah jadi muridnya di sekolah perhotelan dan restoran, Dewi. Betul-betul Tuan Meijer itu sangat menyayangi dan mempercayai Mas Untung, bisa saja mau berapa hari, tapi asalkan dia ikut "menemani". Keikutan ini ada dua hal, mau benar-benar menyayangi dan bersimpati, membantu, ikut merayakan, atau karena kuatir kalau-kalau Mas Untung "minggat" lalu tak kembali lagi ke resto Bunga Melati yang sedang sangat laku karena "tangan-dingin" Mas Untung.
Tetapi ketika proses-mula sampai akhir upacara pesta pernikahan itu, benar-benar Tuan Meijer ikut dan aktif memberikan sokongan moril-materil. Jadi Tuan Meijer sudah bagaikan komunitas keluarga Mas Untung saja layaknya. Dan Tuan Meijer diterima oleh seluruh keluarga kedua belah pihak, baik Mas Untung maupun keluarga Dewi. Dan upacara itupun selesai dengan mulus dan sangat banyak mendapat perhatian. Keluarga Mas Untung menetap di Tilburg dan mengelola dua resto BUNGA MELATI, sampai kini sudah belasan tahun. Resto ini sangat laku, dan pelanggannya berdatangan dari daerah lain dan kota-kota lainnya sekitar Braban Utara itu. Bahkan ada yang berdatangan dari Belgique dekat perbatasan Holland Selatan. Lebih dari itu tidak jarang Mas Untung harus menyelesaikan pesanan katering, nasi bungkus yang terkadang sampai 1500 bungkus! Artinya buat makanan sejumah 1500 orang, dibawa menggunakan camion, truk kecil.
Kalau kami datang mengunjungi keluarga Mas Untung, bukan main mereka senangnya, karena sangat jarang orang Indonesia berdiam di daerah ini. Ini daerah perbatasan Holland-Belgique, sangat terpencil dari masarakat Indonesia, tetapi samasekali bukanlah daerah mati. Seperti kebiasaan di mana-mana, daerah dekat perbatasan selalu ramai dan lalulintas selalu sibuk padat. Yang kukatakan sepi itu adalah dari masarakat Indonesia, boleh dikatakan tak ada masarakat Indonesia di daerah ini, atau sangat-sangat jarang. Tetapi pasal dan perkara orang makan, orang Belanda itu sangat tergila-gila akan masakan Indonesia! Karena itu kalau ada orang Belanda makan di resto kami di Paris, kami sudah pasang kuda-kuda dalam hati, sebab mereka sangat tahu dan menguasai rasa masakan Indonesia. Sedangkan pelanggan kami yang mayoritasnya orang Prancis, tak begitu perduli dengan rasa asli atau tidaknya, yang penting enak! Jadi, nah ini lucunya, bila ada tamu Belanda, kami lalu agak ada rasa dag-dig-dug dalam hati, kuatir dan sedikit cemas, bagaikan ada guru sedang mengawasi murid,- tapi ini dulu, lho, sekarang sih nggak lagi!
Ketika kami ngobrol agak santai, terceruak juga perasaan Mas Untung. Bekerja cara begini, memang sangat capek dan melelahkan. Habis waktu, habis tenaga, kurang dengan keluarga, padahal keuangan tidak juga bertambah kaya. Yang kaya selalu majikan, pemilik resto, Tuan Meijer. Ada terbersit bagaimana kalau kita atau kami mendirikan resto lain. Soal tukang-masak, chef-kok, ada Mas Untung yang keakhliannya, diplomanya, sah dan resmi dan sudah didukung oleh pengalamannya selama belasan tahun ini. Agak berpikir panjang juga aku dibuatnya oleh masukan ide barunya ini. Tetapi sungguh pandai dan cerdik Tuan Meijer itu. Dalam kontrak-kerja ada dituliskan, kalau Mas Untung mau membuka resto sendiri, haruslah jauh jaraknya dengan resto kepunyaan Tuan Meijer, paling sedikit 50 km jaraknya! Soal jarak beginipun masih disebut-sebut dalam kontrak, keterlaluan, tetapi inilah hukum,inilah undang-undang dan peraturan yang harus ditaati. Kalau tidak, hukuman dan pengadilan sudah menganga buat melahap si pelanggar!
Jadi kalau mau buka resto harus di kota lain yang jauhnya lebih dari 50 km, tapi itupun tak soal. Yang sangat soal yalah : dananya, uangnya, modalnya! Lalu tenaganya, tenaga kerjanya. Mencari tenaga kerja memang mudah, tetapi mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang benar-benar bisa dipercayai dan diandalkan, bukan main sulitnya. Buktinya kami hadapi dalam kehidupan "ber-resto" selama belasan tahun ini, bersama Mas Untung. Dalam kartu nama Mas Untung tertera nama : UNTUNG - GUUS GELUK, artinya serba untung, gelukkig, beruntung. Dan memang Mas Untung itu sangat beruntung, isterinya Dewi, betul-betul Dewi yang sangat setia mendampingi Mas Untung, yang selalu tertawa, senyum, terbuka dan sangat ramah tamah. Kukira yang tak kurang beruntungya yalah Tuan Meijer, pemilik dua resto BUNGA MELATI itu dan kudengar kabar akan membuka lagi cabang lainnya, artinya akan ada tiga resto. Tuan Meijer mungkin lebih beruntung dari Mas Untung sendiri. Aku yang punya pikiran rasa kasihan pada keluarga Mas Untung, selalu "menghasut" agar minta naikkan gaji! Karena dari kerja mati-matian ini, capek-lelah-kepleh, dan kurang waktu buat menyirami pepohonan-keluarga beruntung ini, sudah semestinya punya hak minta naikkan gaji, minta fasilitas ini itu. Pemasukan keuangan buat Tuan Maijer luarbiasa, tetapi tambahan kerja ekstra Mas Untung juga luarbiasa banyaknya, sangat tak sesuai dengan gajinya yang menghasilkan pemasukan keuangan buat Tuan Meijer bagaikan sumber air yang mengalir sangat derasnya. Terkadang ada rasa sangat sayang bercampur geram pada Mas Untung teman akrabku ini, mbok berani mengajukan permintaan yang memang sewajarnya, yang sudah menjadi haknya!
Tuan Meijer baik sih baik kepada Mas Untung, tetapi dibanding pemasukan keuangan pemilik tiga resto itu dengan tenaga kerja Mas Untung yang "sudah diperas" begitu rupa, sekarang tinggal kepada Mas Untung untuk tetap beruntung punya majikan dan gantungan seperti itu. Namun demikian Mas Untung masih tetap dalam orbit dan kategori itu tadi, Mas Untung masih tetap dalam keadaan beruntung, tetapi capek-lelah-kepleh dan loyonya, harus dibawah keberuntungannya.-
Paris 6 Oktober 1999,-
Nama yang ada dan biasa adalah "rumah - duka". Tapi judul ini kupakai "bis - duka". Ada hubungan dengan duka. Setahun yang lalu bis ini, dengan sopir yang sama, mula-mula membawa puluhan teman-teman kami dari Holland ke Paris buat menghadiri upacara pemakaman Mas Bud, seorang teman yang sangat kami cintai, yang mana kami sangat merasa terpukul dan kehilangan. Lalu pada tahun itu juga beberapa bulan sesudah itu, kembali lagi bis yang sama dengan sopir yang sama membawa puluhan teman kami dari Holland buat ke Paris, buat menghadiri upacara pemakaman Mas Gon, seorang teman kami yang sudah punya banyak pengalaman dalam bidang-bidang internasional, terutama dalam soal-soal perburuhan. Kembali lagi kami terpukul dan merasa kehilangan.
Kenapa ada soal bis? Karena teman-teman dari Holland itu memang banyak, dan kebanyakan teman-teman kami memang tinggal di Holland. Kalau yang meninggal kebetulan ada di Holland, maka teman-teman dari Paris dan dari Jerman tak pernah menggunakan bis seperti teman-teman dari Holland, sebab yang datang menghadiri upacara itu tidak akan sebanyak teman-teman dari Holland. Dan lagipula dengan beberapa mobil pribadi sudah cukup tertampung bagi semua yang akan menghadiri upacara itu. Dan pada pihak lain, kenapa lalu bisa dengan bis yang sama dan sopir yang sama? Karena bis dan sopirnya itu kebetulan dekat dan bertetangga dengan taman kami yang "sudah biasa" mengurus "rombongan duka" buat upacara penguburan itu. Itulah alasan pokoknya.
Tetapi yang patut juga diceritakan, karena "kebiasaan" ini, lama-lama sopir itu mengenal banyak tentang kami. Mengenal kebiasaan kami, pergurauan kami, bahkan beberapa kata-kata Indonesia, dan lalu makanan nasi-bungkus yang kami bawa dalam bis itu. Kepada sopir kami berikan juga nasi-bungkus itu di samping uang jajan-makan-siangnya. Dan ternyata sopir itu sangat suka akan nasi-bungkus itu, dan katanya makanan nasi-bungkus itu bukan main enaknya, ada pedasnya lagi!
Kebiasaan dan pengenalan terhadap kami, dengan akhir bulan September ini, bis dan sopir itu sudah tiga kali membawa "rombongan duka", dua kali ke Paris dulu itu, dan kini ke Koeln, mengantarkan kami puluhan orang buat menghadiri pemakaman teman kami : AZIZ AKBAR, kelahiran Aceh pada tgg 15 April 1932. Terakhir Bung Aziz menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Daerah Lekra Sumatra Utara. Dan memimpin rombongan pengarang-sastrawan Indonesia - Lekra buat menghadiri uapacara perayaan 1 Oktober 1965 ulangtahun RRT, dan lalu sangkutlah dan terdamparlah Bung Aziz seperti kebanyakan kami pada umumnya, dan bagi Bung Aziz, akhirnya sejak tahun 1965 itu takkan pernah pulang kampung lagi, dan meninggal di kampung orang, Jerman. Bung Aziz meninggal pada tgg 24 September 1999, dan dikebumikan dekat Koeln pada tgg 29 September 1999.
Bung Aziz adalah seorang pengarang, penyair dan budayawan. Dia aktive turut berpartisipasi dalam menunjang, menopang beberapa majalah yang kami terbitkan di Eropa, seperti Kreasi, Arah, Arena, Mimbar dan beberapa buku tulisannya. Sajak-sajaknya sungguh manis, bernas. Artikel dan kritiknya pedas, pedas-pedas sedap. Dalam bis kami saling mengenangkan kebaikannya disamping juga dengan gembira membicarakan teman lain yang rada-rada gosip. Kalau sudah ngumpul begini mana bisa menghilangkan gosip. Kelakar kalau tak ada gosipnya terasa kurang garam kalau mau diibaratkan makanan, dan seperti biasalah, kalau rada-rada miring dan sedikit agak porno, nah, barulah lengkap-sempurna. Barangkali, nah, inilah sedapnya masakan-padang atau masakan-cina itu. Lalu bergurau, tertawa, saling mengejek, dan mencari sasaran-teman yang bisa disasar. Lalu cerita tentang yang aneh-aneh dan lucu, lalu lagi-lagi sedikit porno. Tapi ketika akan menceritakan bagian suspennya, tegangnya, atau inti-fokusnya, suara agak dipelankan, karena di depan bangku kami duduklah beberapa teman wanita. Sudah itu barulah meledak tertawa hirau-degau dan ramai sekali dalam bis itu. Dan teman wanita kami itu sudah pada tahu, apa kira-kira yang kami ceritakan itu, dan kami sudah sama menyadari diri, kami ini sudah pada punya cucu, paling sedikit sudah punya mantulah. Tapi soal kegembiraan sungguh tak boleh kurang.
Ketika agak sedikit reda suara tertawa gembira itu, ada seorang teman mengingatkan bahwa kita ini sedang pergi menghadiri uapaca penguburan bukan mau pesta gembira. Lalu banyak suara menentang dan menyatakan, di Jawa bahkan juga di Sumatra, ada keramaian main judi, nyanyi-nyanyi ketika malam sesudah atau sebelum penguburan itu. Bahkan ada sukubangsa yang bermusik dan bernyanyi gembira ketika upaca penguburan itu. Dan kamipun sebenarnya tak tahu pasti, apakah kami yang ramai-ramai gembira itu terkena dosa apa tidak. Tapi dalam hati kami samasekali prihatin kepada keluarga Bung Aziz dan kepadanya sendiri, dan mendoakan dengan cara masing-masing agar Bung Aziz diterima Tuhan dengan baik, dan kaum keluarganya tabah menghadapi semua ini. Sangat sulit menghendaki para melayu ini agar tampak diam-bersedih, bermuka muram-durja kalau sudah ngumpul begini.
Dan lagi kami ini berkumpul lengkap dan tersangka-sangka hanyalah pada kejadian yang tak enak begini. Karena itu ada teman kami menyindir dengan judul sajaknya, bahwa orang-orang kiri ini hanyalah berkumpul-lengkap dan banyak hanyalah ketika ada upacara kematian. Lalu judul sajaknya itu dinamai PKI yang artinya Partai Kematian Indonesia, karena partai itu orang-orangnya berkumpul banyak dan lengkap hanyalah kalau ada upacara kematian, demikianlah tanggapan seorang penyair yang membuat sajaknya dengan judul PKI itu.
Aku sendiri merasa memang sangat haus bertemu dengan banyak teman yang sudah belasan tahun tak pernah bertemu, bahkan ada yang sudah seperempat abad baru kali itulah bertemu. Karena perpisahan kami sejak tahun 1973 dulu itu, bukankah sudah 26 tahun? Dan dulu ketika kami masih sama-sama satu kandang di mana kami ini semuanya adalah "tamatan dan alumni" "Universitas Ideologi dari Fakultas Kontradiksi" yang kerjanya diskusi-debat-tengkar-ejek lalu siap kelahi, siap tarung, yang meskipun pada akhirnya tak seorangpun yang berani dan mau memulai! Ini benar-benar hebat! Ada pisau di kantong, pentungan, krakkeling, tepung-sabun buat menyirami mata lawan lalu mengganyangnya lumat-lumat, bahkan siap tombak dan golok di rumah. Tetapi ya Puji Tuhan, kami ke luar dari sarang dan kandang semuanya selamat dan tak cacat!! Dan kini setelah belasan tahun dan puluhan tahun, kami bisa tertawa bersama, dan termasuk mentertawakan diri sendiri, lucu akan kekerdilan jiwa kami ketika itu!
Ketika pertemuan di pemakaman di Koeln itu, banyak yang kami lupa wajah masing-masing. Tetapi setelah kami saling menanyakan, lalu dengan erat dan hangat kami berpelukan, dengan mesra, dengan kerinduan, kekangenan. Tak secuilpun ada rasa dendam. Kami benar-benar lupa wajah dan rupa masing-masing. Ada seorang pemuda yang ganteng sekali, dan sangat aktive membantu kerja upacara itu. Di sampingku duduk Estono yang baru bertemu kali ini sesudah perpisahan tahun 1973 dulu itu. Kutanyakan pada Estono, siapa pemuda yang sangat ganteng dan sangat aktive membantu itu. "O, itu, Josso, anak saya yang sulung, sudah berumur 22 tahun" katanya. Aku terbengong, dan sekali lagi kupeluk Estono yang sudah hampir punya mantu itu.
Di pekarangan pemakaman, bukan main indahnya. Rumput halus - bagus dan bersih. Luas, dan bagaikan pemandangan Istana Bogor, dan memang luar biasa bagusnya pemakaman campuran Nasrani - Islam itu. Teman di sebelahku yang sama-sama jalan mengitari lapangan kompleks pemakaman itu, Mas Suraji, sangat mengagumi keindahan kompleks pemakaman ini. Dari mulutnya keluar pujian yang sungguh-sungguh dan kekaguman karena indahnya. "Bukan main bagusnya tempat ini, bersih, udaranya bebas-polusi, rumputnya lebih bagus dari lapangan golf orang Jakarta, barangkali", kata Mas Raji. Dan mulutnya berdecak kagum, ck, ck, ck..... Lalu kukatakan padanya "Sampeyan tertarik? Mau tinggal di sini?", kataku meningkahi. Segera dijawabnya " Nee.....Nee....bukan begitu maksud saya, bagusnya itu lho", katanya mungkin gentar juga mendengar tawaranku walaupun lokasinya indah-jelita.
Setelah upacara penguburan secara Islam, kami menuju ruangan istirahat, dan dapat minum-makan serta kopi-susu. Dan ngobrol, lagi-lagi ramai dan penuh tawa. Dan ternyata keluhan seorang teman yang di bis kami tadi itu, benar-benar tenggelam dalam suasana gembira karena sungguh lama tak bertemu. Nah, kataku dalam hati, inilah kalau kami para melayu ini sudah bertemu! Kuperhatikan sekeliling, ada bermacam suku, suku-sunda, jawa, minang, melayu, madura, dayak, batak, maluku dan banyak lagi. Jangan lupa di dunia ini paling banyak suku-bangsanya adalah kita Indonesia hampir 500 suku-bangsa termasuk yang kecil. Padahal kita hanya 200 juta, Tiongkok yang lebih satu milyard penduduknya, tak sampai 100 suku-bangsanya. Penghitungan tahun 1956 barulah 55 suku-bangsa, kebetulan aku pernah menjadi penyiar Radio Beijing, yang membacakan ulasannya.
Ketika sudah menjelang sore, rasanya sangat berat berpisah, dan kami semua menyalami dan memeluk keluarga Bang Azis, isteri dan anaknya. Kami besarkan hatinya, kami berikan kehangatan kekeluargaan kami. Dan kami dalam bis menuju Amsterdam - Amstel dan Utrecht, tak terasa lelah dan ngantuk. Yang paling terasa yalah, sudah begitu berkurang teman-teman kami itu. Hampir setiap tahun ada saja yang mendahului dan pulang ke Rumah Allah, bukannya pulang ke kampunghalamannya! Kami hanya berdoa dan mendoakan orang lain dan terutama diri masing-masing, agar bisa dan sampai pulang ke kampunghalaman sendiri sebelum dipanggil pulang oleh Tuhan kami. Dan kami saling melihat, tapi tak saling bercakap, mulut kelu dan bisu tapi mata nyalang dan bertanya-tanya, bisakah kiranya, semoga bisa, semoga diperkenankan Tuhan sampai bisa pulang ke kampunghalaman sendiri sebelum dipanggil Tuhan. Tetapi namun demikian, kami pasrah, Dia-lah yang paling berkuasa dan menentukan, sedangkan kami tunduk tak berdaya dan berserah diri bulat-bulat kepadaNYA,- Amien,-
Paris 8 Oktober 1999,-
Tentang beberapa nama di kampungku, Belitung, ada yang masih kuingat, yang nama itu sangat aneh bila orang lain mendengarnya. Tetapi tidak bagi kami orang kampungku, karena memang begitulah namanya. Untuk apa harus malu kalau memang namanya begitu sejak dulu-dulu. Sebuah kue yang disarungi atau dibalut dengan daun pisang, yang juga berisi pisang dicampur dengan tepung beras dan santan, lalu dinamakan nagasari. Tetapi kalau kue itu tidak dibalut, tergelar saja di sebuah talam, yang kalau mau diambil haruslah dipotong lebih dulu, maka namanya bukan lagi nagasari tetapi bugistelanjang! Jadi kalau kami sedang menjajakannya ke mana-mana, kami akan berteriak dengan kata-kata : bugistelanjang..............bugistelanjang................dengan suara yang lantang dan sedikit berlagu atau sedikit mendayu agar terdengarnya bagus dan indah. Agar orang tertarik lalu membeli kue yang kami jajakan itu.
Pekerjaan berjaja keliling kampung ini kulakukan pada jam 15.°° sampai menjelang sore sekitar jam 17.°°. Biasanya kami anak-anak kelas 4 dan 5 SD. Pekerjaan ini kami lakukan untuk membantu keungan rumahtangga keluarga kami. Apalagi ketika ayahku ke tanah Jawa selama beberapa tahun karena menggabungkan diri dengan kekuatan RI di Yogyakarta tahun-tahun 1946 dulu itu. Yang jadi soal ketika sedang berjaja itu yalah, kalau kebetulan ada orang Bugis, nelayan maupun pelayar-pelayar dari tanah Makassar, Bugis, maka suaraku akan kukecilkan atau kuganti saja menjadi : kue bugis.......kue bugis, tanpa kata telanjangnya. Sebenarnya belum tentu orang Bugis akan marah, atau juga siapa tahu pasti marah, lha kok namanya bugistelanjang! Tapi yang pasti kami merasa takut kalau mengucapkan itu di depan orang Bugis benaran.
Lalu ada sebuah kue yang digoreng yang bentuknya berputar-putar, memelintir, yang kalau di Jawa atau mungkin di tempat lain namanya untir-untir, maka di kampung kami namanya butobibik, artinya kontol-bebek! Dan kami akan meneriakkan jualan itu dengan : butobibik...........butobibik ( artinya kontol-bebek, kontol-bebek ). Nah ucapan ini tak kami takutkan karena tak ada yang kami kata-katai, bebas berteriak sekuatnya. Lama sesudah itu, ketika aku sudah ke mana-mana terutama ke tanah Jawa buat bersekolah, barulah aku ingat, memang kue itu, untir-untir itu sangat menyerupai kemaluan-bebek. Lah, kok, orang kampungku tega-teganya menamai untir-untir itu dengan butobibik, kontol-bebek. Tak tahulah aku, tapi begitulah adanya dan sebutannya.
Lalu ada ikan bulat panjang, namanya Alu-alu. Nama ini aku tahu setelah aku di luar kampungku Belitung. Ternyata yang dinamai Alu-alu itu kalau dikampungku namanya butocine, artinya kontol-cina! Sorry para pembaca, tak secuilpun aku mau ber-kurangajar atau porno. Memang begitulah nama itu di kampung kami, dan anehnya di kampung kami yang dulunya aman-damai-tenteram itu tak pernah terjadi kerusuhan anti-cina, tak pernah! Antara kami penduduk kampung yang di kotanya mayoritas adalah orang cina, tak pernah merasa risi akan nama itu. Dan tokh di pasar ikan yang dikitari penduduk cina itu, tak ada kejadian yang terasa menyakitkan hati atau menghina, ya, tentu saja memang namanya begitu, lalu mau apa. Tetapi hal-hal ini dulu sekali, pada tahun 40-an sampai 50-an. Sesudah itu aku tak tahu lagi, mungkin sudah ada perubahan. Memang secara kesopanan agaknya kurang baik, dan akupun sangat setuju kalau nama-nama yang kusebutkan itu mbok ya digantilah!
Tapi dua nama yang kusebutkan semula, kualami sendiri, karena kalau sore hari sepulangnya dari bersekolah, aku selalu menjajakan kue butobibik dan bugistelanjang itu.
Di kampung kami ada seorang wanita, sampai tuanya tak pernah bersuami. Ini menjadi aneh dan tidak wajar kalau di kampung itu. Karena itu tak heran kalau anak-anak suka mengganggu nenek itu, termasuk aku suka ikut-ikutan mengganggunya. Nama nenek itu adalah Nek Dumbet. Sudah sangat tua dan bongkok. Kami anak-anak suka mengikutinya dan kalau sudah sangat menganggunya, kami mau dipukulnya dengan tongkotnya. Akh, kalau aku berpikir sekarang ini, alangkah kurangajarnya kami ketika itu. Ada cerita yang sedikit miring. Katanya ada yang menanyakan secara benar-benar, bukannya mau usil, mengapa Nek Dumbet tidak bersuami. Lalu Nek Dumbet berkata, " heh........bersuami........kamu tahu nggak, daging kita ini kalau ditusuk dengan jarum yang begitu kecilnya, bukan main sakitnya, perih, apalagi ditusuk dengan barang itu yang begitu gedenya",- begitu kata cerita dari mulut ke mulut! Entah benar entah tidak, tetapi merata di kampung kami, kalau ada perempuan yang tak bersuami atau yang sudah berumur agak lanjut tapi belum bersuami, maka orang kampung akan mengatakan : "sampai kini belum bersuami? Emangya mau jadi Nek Dumbet!"
Dan aku masih ingat pada Nek Dumbet itu. Kalau kini kupikir, betapa kami dulu itu kurangajar dan nakalnya, dan orang-orang yang mengata-ngatainya dan meremehkannya turut berdosa. Dosa yang begini, ternyata sejak kecil sudah mengumpul, dan tambah lama tambah besar, semoga setiap minta ampun pada Tuhan, Beliau akan memaafkannya.
Lalu ada lagi yang bernama Nek Mot,- Nek dari kata Nenek. Nek Mot lain lagi tipe orangnya. "Penyakitnya" suka menginap di rumah orang, pura-pura ngobrol berkepanjangan, lalu "meninggalkan diri" di rumah seseorang itu, dan lalu menginap. Dan kalau sudah menginap biasanya sampai dua-tiga hari. Pekerjaan tetapnya ya tidak ada, bercerita panjang lebar lalu menginap. Dan kalau kebetulan ada Cina mati, nama ini belum kuubah menjadi Tiongkok atau Tionghoa, persis aslinya, jadi tak ada hubungan dengan hina atau tidaknya. Nek Mot akan datang ke rumah Cina mati itu, dan bergabung, dan menginap. Pada acara puncaknya, mengarak ke penguburannya, Nek Mot akan menangis kesedihan turut terisak sambil berkata menurut apa saja yang mau dia sebuat. Misalnya " aduh.............baba Kim Lim ini, bukan main dulunya baiknya kepada orang. Tidak hanya kepada saya, tapi kepada semua orang. Rasa-rasanya tak adalah yang menandingi kebaikan babah Kim Lim ini, sangat baiknya, sangat baiknya", kata Nek Mot dengan sedih dan ratapannya.
Dan begitu pulang dari penguburan, Nek Mot akan mendapatkan uang yang sangat besar, upahnya karena turut bersedih dan turut upacara pemakaman. Dan pekerjaan yang begini, hanyalah dikerjakan Nek Mot saja, dan masarakat kami di kampung sekitar itu sudah pada tahu bahwa memang begitulah pekerjaan Nek Mot. Tak ada yang menghinanya, tetapi juga tak ada yang mau atau bercita-cita mengikutinya. Dan biarlah hanya Nek Mot saja yang berprofesi begitu, tetapi ya itulah salah satu pekerj aan di antara banyak mata-acara kerja.
Puluhan tahun sesudah itu memang tak kudengar lagi orang yang berjenis Nek Mot ini. Dia tak pernah menganggu orang, tak pernah menyakiti hati orang. Dia tukang cerita, menghibur, tapi juga dia akan menginap, akan menumpang makan di rumah siapa saja yang dia mau. Dan di antara kami tak pernah kudengar yang mengusirnya, atau menyakitinya atau mengganggunya sebagai mana Nek Dumbet dulu itu. Orang di kampung kami sudah pada tahu bahwa Nek Mot akan banyak cerita yang "di karang-karangnya" atau katakanlah kasarnya bohong. Tetapi bukankah bohong itu kalau tak menipu secara langsung atau merugikan orang lain, tokh tak ada kerugian bagi orang lain? Jadi itulah pekerjaan sebagaimana pekerjaan orang lain-lain itu. Pekerjaan Nek Mot adalah jenis suatu pekerjaan, dan berapalah dapatnya bagi penghidupannya. Paling banyak hanya buat makan ketika hari-hari itu saja.
Nama-nama yang kusebutkan tadi adalah cerita sekitar tahun-tahun 40-an sampai 50-an awal, ketika umur kami anak-anak sekitarku berumur antara 10 sampai 13 tahunan. Di mana kami ketika itu terkadang banyak di pengajian surau-surau kalau sudah magrib sampai paginya buat bersekolah lagi. Kampungku di Belitung, penghasil timah yang kini timahnya pada bangkrut, kering, tandus dan tak terpelihara pada tahun-tahun pemerintahan ORBA satu dan ORBA dua ini-, dan ini kulihat pada tahun 1996,-
Paris 12 Oktober 1999,-
Undang-undang dan Peraturan di Perancis adalah hal yang tidak boleh dibantah, tidak boleh dinegosiasikan. Satu hal yang sudah tertera dan sudah begitu, kalau tidak ya dihukum, didenda, dan bisa masuk penjara, benar-benar tidak main-main. Yang saya lihat paling keras antara hutang dan pajak, maka pajaklah yang sangat keras dan tidak tanggung-tanggung. Seseorang yang menghindari pajak, atau yang menggelapkan pajak, maka hukumannya benar-benar masuk penjara. Seorang menteri dalam pemerintahan, juga seorang kaya-raya seperti Bernard Tapi, benar-benar masuk penjara, tanpa ampunan, padahal dia itu menteri dan juga seorang konglomerat. Tapi karena terbukti benar-benar berusaha menghindari pajak dan diusut oleh pengadilan yang benar-benar terpisah dari administrasi pemerintah, ekskutive, maka dia harus segera masuk penjara.
Juga ada seorang pembawa acara dalam televisi yang paling digemari dan dipuja-puja pemirsa yang luas, ketahuan menggelapkan pajak pendapatannya. Seseorang pembawa acara televisi yang sangat digemari dan mendapatkan pemirsa yang sangat luas, mendapatkan gaji - salaire yang sangat besar, sampai ratusan ribu francs sebulan. Tetapi pajaknya juga besar, dan seseorang itu bukannya tidak mungkin bagaimana caranya berkelit menghindari pajak. Tetapi jawatan pajak dengan sangat sigap dan sangat aktive, memburu ke mana saja seseorang itu pergi dan larinya, sampai dapat! Sehingga publik sangat ngeri dan penuh rasa permusuhan dengan jawatan bagian pajak ini. Dan pengacara yang kita sebutkan pada akhirnya yang memang ketahuan menggelapkan pajak, tanpa ampun masuk penjara.
Ada peribahasa di antara kami, ada beberapa pihak yang tak bisa dibantah, tak bisa diajak berunding. Satu, pihak kepolisian, kedua, pihak bank, ketiga, pihak pajak dan keempat, bisa kita isikan siapa saja yang kita temui yang punya watak seperti tersebut terdahulu.
Dan ternyata yang begini ini bukannya hanya di Perancis, tetapi juga di Holland, saya kira pada umumnya di Eropa dan negara-negara yang benar-benar menganut paham negara-hukum. Dekat sekali hubungannya dengan saya, yaitu mantu saya sendiri. Ketika pemeriksaan dossier pajak ( dossier = kertas-kertas resmi ) ternyata ada satu bulan kwitansi yang tak terlampirkan dan harus dapat membuktikannya. Mantu saya itu sudah mencarinya ke mana-mana, dan dia sangat ingat benar sudah membayar dan ada kwitansinya. Tetapi tak dapat membuktikan kwitansi aslinya itu. Dan hal ini tak boleh terjadi! Akhir kata dia harus menghadap pengadilan. Dan kena juga hukuman : masuk penjara selama 2 minggu atau kerja-paksa tanpa dibayar selama 60 jam. Kerja-paksa ini tentu saja dipilihkan oleh pihak pengadilan. Dan ternyata dia harus bekerja di sebuah restoran yang ditetapkan oleh pemerintah, dan tanpa dibayar. Satu minggu dia harus bekerja selama satu atau dua hari yang jam-kerjanya penuh selama 7 jam, sampai jumlahnya 60 jam.
Kami sambil gurau menggodainya, sudahlah masuk penjara saja, nanti kami bezoek sambil bawa makanan rantang dari rumah! Ini soal putusan hukuman. Tetapi soal pelaksanaannya, tidaklah terlalu strik benar. Sebab hampir dua tiga hari sekali mantu saya itu selalu menilpun pengadilan menanyakan akan di mana dia ditempatkan buat melakukan pekerjaan-paksa itu, dan pengadilan selalu menjawabnya, tunggu saja, kami sedang berusaha mencari restonya dan bernegosiasi dengan resto bersangkutan.
Inilah bentuk dan wajah suatu negara yang benar-benar menuruti undang-undang dan peraturan. Ketika kami bertiga naik metro, anakku dan cucuku Loulou yang sudah berumur empat tahun ketika itu, tidak membeli karcis, tiket, karena memang ada peraturan, seorang anak sampai tiga tahun tak bayar tiket. Tetapi Loulou sudah empat tahun, mau kami masaksih beda setahun tak boleh! Dasar pikiran dunia-ketiga! Dan kami ketika kena kontrol, kena juga, harus bayar 250 francs, atau masuk penjara satu minggu, boleh pilih! Padahal kalau beli tiket hanyalah 8 francs! Tentu saja tandatangani saja cheque sejumlah itu. Tak ada pasal berunding atau tahu sama tahulah ( tst ). Semua itu keharusan, ini undang-undang dan hukum, tak ada soal "uang-damai" atau "uang-semir atau uang-kopi". Tak ada istilah itu, dan sangat asing, tak dikenal. Tetapi dengan mengatakan demikian, samasekali bukan maksud saya ingin menyatakan bahwa di Eropa itu tidak ada sogokan dan korupsi. Sudah tentu ada saja, hanya tempatnya berlainan, bukan di tempat yang saya ceritakan.
Kejahatan dan penipuan serta usaha buat menghindari bayar-pajak atau undang-undang dan peraturan, selalu ada saja. Tetapi kalau ketahuan, hukumannya sudah tertulis, harus begini, harus begitu, masuk penjara, atau denda atau kerja-paksa, tanpa bayaran. Kerja-paksa ini bukanlah seperti zaman Jepang dulu, dengan pengawasan ketat, atau penyiksaan dan hukuman badan, kerja-paksa di sini dimaksudkan harus bekerja karena sebagi hukuman, jadi tak dapat honor atau upah, atau gaji. Jadi sifatnya sangat keras dalam menegakkan undang-undang dan peraturan, tetapi ada keadilan dan kelonggaran dalam pelaksanaan kongkritnya.
Resto kami adalah resto spesialisasi masakan Indonesia. Karena itu harus memutar lagu-lagu Indonesia juga, tak boleh memperdengarkan lagu-lagu lain selainnya lagu-lagu Indonesia. Tetapi karena belasan tahun bosan mendengarkan lagu-lagu yang sama saja irama dan gayanya, suatu kali kami memutar lagu-lagu Amerika Latin yang hot dan bergaya panas itu. Untung saja ada yang mengetahui bahwa lagu itu bukanlah lagu-lagu Indonesia, sedangkan teman yang kebetulan mengingatkan kami itu orang yang tahu akan perihal peraturan, dan bukan pula mata-mata kepolisian, maka kami sangat berterimakasih akan peringatannya itu. Dan setelah kami pelajari undang-undang dan peraturannya, kalau dengan sengaja melanggarnya, maka kami terutama penanggungjawab resto harus siap masuk penjara, atau resto tutup buat selama-lamanya, atau paling ringan harus bayar denda yang sangat mahal. Tergantung tingkat besar-kecilnya kesalahan, lalu hukumannya seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Sejak itulah, walaupun bosan mendengarkan lagu-lagu yang itu-itu juga selama belasan tahun, ya, apaboleh buat, boleh pilih hukuman yang akan dijatuhkan!
Kami memang menyadari bagaimana penting dan harus sangat diperhatikan benar-benar mengenai persoalan undang-undang dan hukum di negara di mana kita hidup, tetapi sebenarnya tidak sangat menghayati, sebab terkadang masih sangat liberal, semaunya berbuat. Sebenarnya boleh dikatakan gampang ya tidak gampang, sulit ya tidak sulit, asal saja penuh kesadaran, bahwa manusia hidup harus ada undang-undang dan aturannya. Kalau tidak, apa jadinya negara ini, penuh dengan kekacaun seperti di................................
Paris 13 Oktober 1999,-
Di Perancis, seseorang polisi bila mau memeriksa orang selalu akan mengatakan papier svp, artinya surat - resmi. Dia minta ditunjukkan surat-surat resmi, misalnya KTP, Rebewes-SIM, Kartu tentang urusan lainnya. Dan urusan surat-resmi ini sangat penting, tetapi juga sangat njelimet, ruwet. Tetapi bila sesuatu Jawatan - Kantor minta agar kira melengkapi surat-resmi itu, maka urusan apapun akan mudah dan lancar.Yang sulit yalah ketika mengurus untuk mendapatkan surat-resmi itu, sebab masing-masing urusan ada Kantor dan Bagiannya.
Banyak dan sering terjadi seseorang harus mengurus urusan surat-resmi ini dengan mengulang dari mula, dari nol lagi. Ini terutama dialami oleh para migrant atau refugie, kaum pelarian ( politik ). Misalnya seseorang keluarga, terdiri dari suami-istri, dan ada anaknya. Sebuah Kantor memerlukan surat-nikah keluarga itu. Tetapi keluarga itu tak punya surat-nikah, sebab tertinggal atau hilang, maklumlah pelarian politik mana pula akan sempat membawa surat-nikah segala! Ketika melarikan diri dari negerinya, bukankah terbirit-birit ketakutan, pengejaran, mau lekas-lekas, manapula akan terpikir harus membawa surat-resmi apapun. Bagi polisi atau petugas negara, tidak perduli, itu urusan kamu, tapi kami perlu adanya surat-nikah itu, kami perlu bukti!
Lalu apa akal? Sedangkan surat-resmi itu harus ada, kalau tidak, urusan apapun macet dan tidak akan dapat diurus! Maka ada petugas yang menasehatkan agar : nikah lagi di Balai Kota, demi untuk mendapatkan surat itu! Dan sepasang keluarga itupun menikah lagi buat kedua kalinya, walaupun ada anaknya dua dan sudah besar-besar lagi! Semua ini demi surat-resmi, surat-nikah. Tidak ada uang buat keperluan itu? Akan dibantu, dipinjami dan dihutangi, tetapi betul-betul harus dibayar. Demikianlah pentingnya surat-resmi itu.
Buat mengurus surat KTP, tanda-penduduk, betapa banyak surat-surat harus dilengkapi. Juga buat mendapatkan rebewes, SIM, apalagi kalau mau masuk menjadi warganegara Perancis, yang padahal tadinya bukanlah orang dari negara jajahan Perancis. Misalnya kami ini, pelarian politik dari Indonesia. Dari begitu banyak syarat-syarat yang diminta yalah harus ada dan memenuhi syarat-syarat ini: 1. Sudah tinggal di Perancis selama 10 tahun berturut-turut, artinya terus-menerus selama jangka waktu itu, tidak boleh diselingi jangka waktu setahun misalnya pernah tinggal di negara lain. 2. Punya salaire sendiri, sah sebagai pekerja atau pegawai di sesuatu Kantor, Jawatan atau Perusahaan. Maksudnya punya sumber matapencaharian sendiri. 3. Sudah bayar pajak secara teratur, dan ada surat-surat buktinya. 4. Punya kediaman sendiri, bukannya menumpang pada orang lain. 5. Tidak pernah berurusan dengan polisi dan pengadilan karena perkara kriminal. 6. Bisa dan cukup mengusai Bahasa Perancis. 7. Tidak punya penyakit berbahaya, misalnya sida ( aids ), dan harus membuktikan tanda sehat dari dokter yang ditunjuk oleh bagian kepolisian. Semua ini syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan akan diteliti satu persatu. Dan untuk itu urusan menjadi beranak-pinak, ada lagi surat-resmi lainnya yang harus diurus. Misalnya buat membuktikan nomor 4, harus ada surat-resmi lainnya, kwitansi-sewa-rumah, kwitansi-listrik atau tilpun, juga kwitansi-air ledeng, sudah bayar air-dingin dan air-panas.Dan semua itu betul-betul harus dilengkapi. Karena itu biasanya buat mengurus ini, kita akan membawa map sedabrek banyaknya-surat menyurat-resmi. Pada pihak lain syarat pertama saja, kita harus menunggu selama 10 tahun! 10 tahun buat demi surat-resmi tanda kewarganegaraan Perancis itu! Sukurlah kini sudah ada keringanan, katanya bukan 10 tahun lagi tetapi 5 tahun. Ketika kami dulu, kami harus menunggunya selama 10 tahun!
Ini di Perancis. Setiap negara lain-lain urusannya, tetapi ada kesamaannya. Misalnya pelarian politik dari negara jajahan Perancis, misalnya Vietnam, Kamboja, Laos dan beberapa negara Afrika, buat menjadi warganegara Perancis, segera dan cepat sekali, mudah dan tidak rumit. Sama dengan di Holland, orang Indonesia yang lahir sebelum tahun 1949 ( sebelum KMB= Konferensi Meja Bundar ), dianggap secara otomatik adalah masih warganegara Belanda, karena itu dengan mudah kapan saja bisa menjadi warganegara Belanda, hanya pemutihan secara resmi saja. Dan kalau lahirnya sesudah 1949, itupun tetap saja tidak sukar seperti di Perancis. Ini sangat wajar, karena ada hubungan historisnya, seperti juga Perancis terhadap orang-orang dari negeri jajahannya dulu.
Saya punya rumah kediaman yang sekarang ini, adalah karena pemerintah. Saya turut mengajukan permohonan buat mendapatkan rumah itu. Tetapi buat mengajukan permohonan itu bukan main banyaknya surat-menyurat yang harus dilengkapi. Seperti misalnya, kamu sekarang tinggal di mana, dengan siapa, mana tanda surat bahwa kamu itu sah dan resmi menumpang pada si A. Juga harus melampirkan kwitansi-rumah si A itu, mau diteliti apa betul memang si A itu punya rumah dan sudah bayar secara teratur. Berapa gajimu, kok berani-beraninya mau punya rumah sendiri. Dan secara kasarnya, sewa rumah yang akan kita tempati, sesuai dengan kemampuan gaji kita, paling mahal sepertiga dari gaji kita. Misalnya gaji kita 6000 francs, kita hanya akan dapat rumah yang sewanya tidak akan melebihi 2000 francs, artinya rumah atau apartemennya itu cukup kecil! Dan saya sudah menunggu giliran rumah yang kini saya tempati selama 11 tahun!!
Dan surat pengajuan permohonannya harus diperbaharui setiap tahun. Sebab berlakunya hanya satu tahun. Terkadang baru saja kita selesai melengkapi surat-menyurat lainnya yang diminta, jangka-waktunya sudah hampir satu tahun dan belum dapat rumah juga, jadi lagi-lagi permohonan harus diperbaharui. Repot? Tentu saja sangat repot dan kesal dan mangkel. Tetapi kamu mau apa? Mau rumah nggak, ya tunggu sabaran! Dan itulah yang sudah saya lakukan, 10 tahun menunggu buat menjadi warganegara agar dapat paspor buat pulang ke kampunghalaman, dan 11 tahun menunggu buat dapat rumah yang sekarang ini.
Setiap orang akan lain-lain pengalamannya. Dan urusan Kantor serta Jawatanpun, juga akan ada perbedaan cara mengurusnya, termasuk setiap tempat dan daerah. Terkadang mudah terkadang lama, dan yang ini sering kita temui! Tidak ada urusan atau istilah nyogok atau jalan belakang, semuanya harus resmi dan dari depan. Memang ada cara mudah dan gampang, kalau punya kenalan, dossier kita yang sebenarnya terletak paling bawah, bisa sekedar di keataskan agar segera diurus, tetapi bukanlah dengan cara menyogok, menyuap, hanyalah dengan cara karena ada kenalan. Sogok, suap, korupsi tentu saja ada di mana-mana, termasuk di Perancis. Tetapi bila ditilik, dan diperiksa satu per satu orang kita ini, yang saya maksudkan para melayu ini, bagaimana mereka mau nyogok dan nyuap, lha darimana uangnya! Sama miskinnya! Nyogok, nyuap itu kan harus punya banyak uang, nggak hidup kelaparan saja sudah sangat lumayan.
Ada kejadian, dua orang saudara. Yang satu kakaknya yang memang tinggal di Perancis, suka ngebut dan melanggar peraturan lalulintas. Adiknya yang kebetulan datang dari Jakarta turut serta. Ketika kakaknya sedang melanggar peraturan, lampu-merah yang diterobos terus, atau apa persisnya saya lupa, lalu disemprit polisi. Dan mobil mereka-pun dipinggirkan. Sang adik berkata pada kakaknya "mbak, udahlah kasi aja uang-kopi, bereskan, kita bisa pergi segera", kata adiknya. " Gila lu, emangnya di sini di melayu, di Jakarta, nggak ada gituan di sini, pokoknya ya kena tilang 300 francs-lah, atau ya masuk penjara kalau nggak bisa bayar, itu saja", kata kakaknya.
Barangkali negara yang begini ini, itulah yang bisa dinamakan negara yang benar-benar memegang dan berprinsip negara hukum, ada undang-undangnya, ada peraturannya, dan dilaksanakan secara konsekwen, tegas dan jelas.
Paris 15 Oktober 1999,-
Hari Minggu begini ada deringan tilpun agak aneh juga. Sebab biasanya pada hari libur, Sabtu dan Minggu, antara penduduk Paris, bahkan Perancis, deringan tilpun hanyalah akan kita dengar sesudah jam 09.°°. Atau jangan-jangan ada hal-hal darurat, urgensi, dan kabar menyedihkan. Deg-degaan juga ketika mengangkat tilpun pagi ini. Tahu-tahu saja Aty sudah nyerocos : "Kakek, katanya saya dengar dari Oom Djoen mau ke Jakarta ya". "Oh, kamu tokh Ty, tumben nilpun pagi-pagi. Sudah selesai dari gereja"? "Di sini tidak pagi kek, sudah jam 14.°°. Memang pagi di tempat kakek, tapi di tempat kami siang banget". Biasanya kalau terjadi hal-hal begini, Aty duluan nilpun, tentulah pihakku harus ngalah, mendengarkan baik-baik. Jangan aku yang aktive bicara, dengarkan baik-baik. Barangkali juga aku ini sudah menjadi poubell kata kami di Paris, sebuah tong sampah atau keranjang sampah buat membuang kotoran, ampas segala macam. Ini kusebutkan bukan karena penghinaan, bisa juga suatu kemuliaan karena orang percaya kepada kita. Dan kepercayaan itu sungguh mahal tak dapat dinilai dengan uang,- begitu kan katanya.
"Kek, mbak Yud kemaren malam kemari. Apa yang dibicarakan? Paling penting bagi masa depan! Bagaimana dunia anak-anak yang masih begitu muda, begitu besarnya punya hari depan yang gemilang, tetapi kalau generasi muda ini pada berhancuran, kita mau apa! Negara dan bangsa ini mau dijadikan apa? Kakek ngerti nggak maksud Aty?" "Ya, kau teruskanlah!" "Kakek tahu nggak bahwa sekarang ini anak-anak SD-pun sudah pada kecanduan barang-barang haram, drog, ekstasi, dan segala macam racun? Pastilah kakek kurang percaya. Begini, mereka memang bukan mengisap seperti rokok atau nyuntik badannya sendiri. Tapi mereka suka beli permen. Dalam permen sudah ada bahan yang mengandung drog, candu, ekstasi, dalam dosis kecil, tapi sudah membahayakan yang mengisapnya. Kakek tahu nggak bahwa Indonesia itu sudah dikenal dan ditulis sebagai penghasil candu terbesar kedua di dunia. Dalam kandungan dan kemasan produksi kecil-kecilannya, tetapi sangat merata pasarannya. Dan hal inipun di ketahui setelah ada beberapa anak-anak yang kedapatan sakit dengan badan gemetar, lemas, ngantuk dan tak bersemangat. Setelah para orangtuanya mengadu kepada sekolahan, dan dokter, dan setelah diperiksa dengan teliti, ternyata anak-anak itu sudah lama dan sudah jauh kecanduannya.
Dan setelah diperiksa secara merata dan menyeluruh, ketahuanlah, anak-anak itu suka sekali mengisap permen, dan ada yang membeli permen dua tiga bungkus. Harga permen itu tentulah agak lebih mahal dari yang biasanya. Tetapi keuntungan yang diraih si penjual, bukan soal mahalnya, melainkan produksi barangnya itu akan laku keras dan frekwensi peredarannya sangat cepat. Ini pasaran yang berhari-depan menurut pengelola candu itu.
Dan, kek", kata Aty sambil menarik nafas, mungkin agak lelah dan tegang ketika bicara itu, dan juga mau cepat mengucapkan kalimat demi kalimatnya, maklumlah ini tilpun jarak Jakarta - Paris, mahal sekali. "Mungkin kakek, nggak percaya deh! Anak-anak SD yang kecanduan ini bukan hanya di Jakarta saja, bukan di sekolah umum negeri dan swasta. Juga sudah menjalar ke pesantren-pesantren!". Nah, kini akulah yang bengong dan terhenyak kaget, sangat mengherankan, dan gila!
"Akh, betul kamu Ty? Darimana kamu tahu?" "Kek, Aty sudah tanyakan dan selidiki pada banyak teman dan orang-orang yang berkecimpung di pendidikan dan juga sampai beberapa pesantren di Jabar dan Jateng. Dan betul. Cara modus-operandi-nya sama, juga lewat makanan, permen, bonbon, dan sakitnya juga sama, badan gemetar, lemas, tak punya semangat, ngantuk. Dan ketika diperiksa dokter sudah pada tingkat kecanduan-lanjutan tahap sekian, darahnya positive mengandung racun. Aty pernah duduk-duduk dengan teman dan ngobrol-ngobrol, tahu-yahu saja dia menjadi lemas dan sangat sulit bicara, sehingga Aty tudak tahu maunya apa. Ternyata diapun terkena kecanduan obatbius dan drog ini. Jadi, kita sulit membedakan atau menandai mana teman kita yang sudah terkena kecanduan dan mana yang belum. Dapat diketahui dengan jelas hanya ketika dia kumat saja.
Banyak orang-orang tua pada mengeluh dan sangat merasa terpukul. Yang tadinya anak-anaknya itu akan menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan orangtua, tahu-tahu sudah terkena drog yang tahapnya sudah berkelanjutan. Lalu siapa yang salah, kek?", kata Aty menanyakan seolah-olah aku sudah jadi pesakitan buat harus menjawabnya. "Kakek kan tahu ya, kalau si pengedar atau boss-nya tertangkap, dia akan segera bisa lepas, sebab amplop punya main, lalu yang paling penting, kekuasaanlah yang akan melidunginya! Kakek dengar dan tahu kan, boss besarnya malah cucunya si babe? Nggak bakalan kena hukum. Lihat itu anaknya yang jelas-jelas seharusnya kena hukum karena korupsi dan tukarguling tanah dan gedung, malah kini dinyatakan bebas-lepas tak punya bukti kesalahan!! Kakek dengar dan baca kan, bahwa si babe sudah bebas, dinyatakan tak ada bukti kesalahannya, sehingga penyelidikannya dihentikan, dan dia bebas lepas? Kek, mau jadi apa negara dan bangsa kita ini? Mau dikemanakan negara dan bangsa kita ini? Yang sedang ramai bersidang di Senayan, hanya pada rebutan kekuasaan, rebutan kursi! Itupun dengan sogokan dan suapan. Siapa yang berani lebih besar sogokan dan suapannya, dialah yang dapat diperkirakan akan menjadi pemegang tampuk kekuasaan yang terpusat. Kakek tahu kan berapa sogokannya? Mulai dari 1 sampai 3 milyar, lalu naik menjadi 5 milyar dan terus naik seperti bursa dagang, dan pasaran-efek Jakarta saja layaknya. Harga sogokan dan suapan itu turun-naik persis seperti mata-uang asing dan bursa-pasar. Dan kakek tahu, ini adalah soal negara, soal bangsa kita,kek! Mau ke mana bangsa dan negara kita ini, kek?!"
Aku diam saja mendengarkan, dan aku sangat iba mendengar suara Aty itu. Aku tak punya kekutan apa-apa, tetapi dia telah mengungkapkan perasaannya secara jujur dan ikhlas dan sangat mencintai negara dan bangsa ini. Tetapi diapun tak punya jalan ke arah itu. Dia tahu, dia paham, dia mengerti, tapi dia tak punya akses ke arah itu bagaimana caranya, bagaimana sebaiknya. Dan ini sangat mempengaruhi daya pikirnya. Memang paling sakit, kalau dirikita tahu, paham, mengerti, tetapi tidak punya kekuatan, tidak punya daya-tenaga buat mengubahnya. Dan pagi ini kubiarkan Aty bicara sepuasnya. Mengungkapkan perasaan dan curahan pikiran dan perasaannya. Aku sangat rela menjadi poubelle-nya. Terasa pada diriku, betapa mengharukannya cerita Aty ini.
Dia yang baru saja beberapa tahun ini menamatkan kuliah hukumnya di Universitas sekitar tak jauh dari Senayan itu, sudah tahunan mencari kerja, tetapi tak satupun kantor dan jawatan yang bersedia dan ada lowongan buat menerimanya. Begitu banyak para sarjana yang menganggur seperti dia itu. Untunglah sekedar ada uang kantong, dia bisa mengajar menari dan akting di sebuah sanggar. Itupun sementara ini ditutup karena sering-sering kendaraan tak bisa lewat, karena ada rombongan demonstran akan lewat atau ditutup oleh petugas negara karena untuk menghalangi para demonstran memasuki wilayah Senayan.
Yang diceritakan dan dikeluhkan Aty semuanya masalah hari depan generasi muda, dan yang akan banyak menentukan arah pendidikannya adalah yang kini sedang bersidang di Senayan. Tak jauh dari rumah Aty dan sanggar tempat dia mengajar, tetapi jarak perbedaan pikiran - ide dan tujuan masing-masing betapa jauhnya, betapa besarnya perbedaan. Untuk berkuasa saja, sudah betapa banyak mengeluarkan dan menghamburkan uang dan menghamburkan peluru! Padahal masa depan generasi muda ini sampai kini tidak berketentuan dan semakin kacau serta tak punya hari depannya kalau masih terus begini-begini saja.
"Sudahlah Ty, terlalu banyak ongkos tilpunmu. Besok giliranku menilpunmu", kataku menghentikan suaranya. Aku tahu dia menangis, agak terisak dan sangat sedih. Dia adalah orang kecil, golongan tak punya, seperti aku dan kami-kami ini, karenanya antara kami sudah seharusnya saling berpegangan, bergandengan tangan dan bersatuperasaan peduli dan menaruh perhatian dengan masa depan generasi muda ini.
Paris 17 Oktober 1999,-
Tidak heran kalau di antara kami orang-orang resto-pun turut memperbincangkan peristiwa nasional yang begitu besar,- tentang pemilu, hasilnya dan persidangan Senayan, dan sekitarnya. Bahkan di antara kami ada teman-teman yang turut memilih dan datang ke KBRI buat mencoblos. Dan kami menghormati sikapnya ini, lagipula itu adalah haknya disamping kewajibannya sebagai warganegara. Sedangkan kebanyakan teman lainnya sudah tak punya hak lagi buat memilih, karena sudah bukan warganegara Indonesia lagi,- dan itupun karena keterpaksaan jua adanya, bukan dengan sangat sukacita bertukar kewarganegaraan.
Omongan kami bermacam-macam. Namanya saja omongan, bukan hasil diskusi atau kesimpulan yang mengikat, atau suatu perjanjian yang bersyarat. Ada beberapa nama yang disangkutkan buat pemilihan presiden dan wakilnya ini. Semula nama-nama itu adalah : Megawati, Habibi, Akbar Tanjung, Wiranto, Gus Dur. Lalu mengecil menjadi Gus Dur, Megawati, Habibi. Lalu ada nama lain lagi, suatu alternative lain, Nurcholis Madjid, Sultan Hamengkubowono X, Mahendra, Hamzah Haz. Nama-nama itu, dikocok secara acakan atau secara pasangan, atau sendiri-sendiri, dibolak-balik, diperkirakan bagaimana kalau yang ini menjadi pasangannya yang itu.
Ketika benar-benar hari H-day-nya beberapa jam lagi, nama-nama yang terakhir masuk, maka ada beberapa orang nama yang mengundurkan diri, Akbar Tanjung, Wiranto dan Mahendra. Nama-nama ini buat wakil Presiden. Di antara kami ada yang mengurut dada, sebab kalau dua nama itu terutama Wiranto dan Akbar, tidak mengundurkan diri, alamat sangat berat bagi Mega. Mega akan bersaing berat dan ketat, sebab dua nama ini punya banyak suara di antara 700 suara itu. Dan juga ada suara-suara yang "akan nyeberang" karena pandangannya "asal bukan Mega", juga asal jangan perempuan, dari segi gender-nya. Dan "sukurlah" dua nama itu dengan rela atau pokoknya menyatakan diri mundur. Akan halnya Mahendra dan Hamzah, banyak teman percaya, bukanlah saingan berat Mega.
Dan ketika voting, Mega menang. Sudah sepenuhnya bisa dipercaya, Mega akan menang kalau "hanya" bersaing dengan Hamzah. Dan jadilah Gus Dur sebagai presiden dan Mega sebagai wakil presiden. Nah, mulailah kami omong-omong, yang berdasar maupun sebagai obrolan warungan. Dikutak-katik, dibolak-balik, bagaimanapun dua nama ini, Gus Dur dan Mega, tetap merupakan yang terbaik dari bahan-bahan yang ada. Sebenarnya belum ada yang ideal. Tetapi dua nama ini, dua pasangan ini adalah jauh lebihbaik daripada yang lainnya. Maka kamipun turut mengurut dada dengan rasa yang mungkin "sukurlah kalau begini". Coba bayangkan kalau Habibi atau Wiranto jadi orang pertama! Alamat yang akan turun ke jalan akan lebih ramai dan "meriah" lagi, ataupun jadi orang kedua yang kemungkinannya mereka sendiri tidak akan mau! Dan "sukurlah" Mega bersedia menjadi orang kedua, rela dan mau. Soal nanti apakah akan naik menjadi orang pertama kalau ada apa-apa, atau kalau "menurut persetujuan berdua mereka", itu soal lain.
Jadi menurut nama-nama yang masuk buat maju ke pilihan presiden dan wakilnya, maka dua nama ini adalah yang terbaik daripada yang lainnya. Dan memang hanya sebegitulah kita punya bahan-dasarnya. Nah, barulah kami memasuki obrolan yang pantas saya tulis di sini. "Gus Dur itu sudah sejak lama memperjuangkan demokrasi. Kan dia yang mendirikan fodem itu, front demokrasi. Dan juga orangnya sangat berani melawan arus", kata seorang teman. "Orang-orang Islam konservative, kolot dan berbau fundamentalis, yang anti Keristan, membakari gereja, membunuhi orang, Gus Dur sangat menentangnya. Orang-orang yang sedang gila-gilanya anti Yahudi, Israel, dia tahu-tahu neyelonong ke Israel! Orang sedang hangat-hangatnya menghujat Suharto agar diseret ke pengadilan, malah Gus Dur lebih dari lima kali mendatangi Suharto ke rumah-istananya, katanya sih anjangsono biasa! Dan kita kan tahu, dia dulu pernah ngomong, bahwa orang-orang NU dan Ansor paling banyak membunuhi orang-orang PKI dan kaum kiri, dan dia menyatakan ketidaksetujuannya ketika itu, di depan kita kan?!", kata teman itu. "Orang-orang pada menentang dwifungsi-Abri, malah dia masih kasi kesempatan 5 a 6 tahun lagilah baru dicabut! Pokoknya pendapatnya pada aneh dan nyleneh, tapi tetap saja dia disukai orang banyak", katanya lagi.
"Bagaimanapun resto kita ini melibatkan beberapa orang yang ada kaitannya dengan beberapa presiden, baik yang mantan ataupun yang sedang berfungsi ketika itu, ataupun yang bakal menjadi presiden", kata seorang teman lagi. "Maksudnya?". "Coba, presiden Miterrand dan nyonya, terutama Madame Daniele Miterrand beberapa kali makan di resto kita dengan rombongannya, lebih dari 6 kali selama ini. Lalu Madame Allende nyonya mantan presiden Chile itu pernah membawa rombongan pejuang Chile setelah konferensi Amerika Latin di Paris, dan makan di resto kita. Nah, ingat kan, Gus Dur itu setelah beberapa tahun yang lalu makan dan ramahtamah dengan kita, akhirnya kan juga jadi presiden!", kata teman itu dengan rasa "ge-ernya". Meskipun tak ada hubungan dan dicari-cari hubungannya itu, tetapi kami semua turut senyum-senyum mendengar uraian teman itu.
"Tapi kan itu dulu, setelah dia jadi presiden, kini sangat tak ada kemungkinan dia akan mau dan bersedia lagi makan di resto kita", kata teman lain. "Yah, siapa tahu ya, kan Gus Dur itu orangnya lain dari yang lain, bisa saja terjadi yang orang tak terpikirkan sebelumnya". "Yang penting, berani nggak Gus Dur menyeret Suharto ke pengadilan, berani nggak mencabut Dwifungsi Abri, memberantas KKN yang sudah sangat berkarat di batang-tubuh RI ini". "Yang paling penting lagi, berani nggak memulangkan kita ke tanahair, yang sudah puluhan tahun tak bisa pulang ini, yang akibat presiden dua dan tiga yang lalu", kata seorang teman. Dan kami tertawa heran akan pikiran itu. "Akh, kamu terlalu egois akh, masaksih soal itu dulu dibicarakan", kata seorang teman. "Ya, tidak yang itu dulu, tetapi termasuklah, dulu kan pada ketawa-ketawa saling berramahan dengan kita di ruang-bawah itu, mbok ya sekarang ingatlah, kapan kita ini bisa dipulangkan, begitu", katanya lagi dengan nada sudah agak minor.
Kami berdiaman dan merenung jauh, bagaimanapun pikiran itu tetap saja ada pada perorangan kami, hanya ada yang muncul ada yang terpendam saja. Tetapi kami sudah saling bersetuju walapun tak ada yang mengikat, bahwa kita berikan kesempatan buat mereka berdua ini bekerja dengan sungguh-sunggu ke arah demokratisasi bangsa, dan yang paling penting lagi mengatasi semua krisis yang ada di batang-tubuh bangsa ini. Kita berikan kesempatan pada "dua orang adik-kakak" ini memperbaiki nasib bangsa dan rakyat Indonesia yang sudah begitu lama disengsarakan, dimiskinkan, dan dibodohkan oleh presiden dua yang dilanjutkan oleh presiden tiga baru-baru ini, semoga!
Paris 23 Oktober 1999,-
Untuk menyingkatkan kata dan pengertian, kutuliskan saja kata Jakarta, buat Indonesia, Nusantara dan kampunghalaman, tapi maksudnya keseluruhan itulah. Kupikir-pikir selama aku selalu pulang ke Jakarta ini, apakah benar-benar pulang? Ternyata kalau dipikir dengan nalar yang jernih, sebenarnya bukan pulang tetapi datang. Datang ke Jakarta. Lalu apakah aku atau banyak yang menanyakan apakah kami tidak ingin pulang? Lebih dari 95 persen di antara kami sangat ingin pulang, benar-benar pulang, bukannya hanya datang. Bahkan banyak yang menginginkan buat mati di kampunghalaman sendiri. Kehendak begini samasekali wajar dan normal, manusiawi.
Seorang Kaisar, diktator besar saja, kepala-negara seperti Chiang Kai-shek bukan main inginnya mati dan berkubur di tanahairnya sendiri, Tiongkok daratan. Tetapi tidak kesampaian, dia berkubur di Taiwan. Juga Marcos, malah lama dikuburkan-sementara di Hawai, bukannya bisa langsung ke Filipina. Tentu saja tak ada secuilpun kesamaan antara kami dengan dua diktator itu. Mereka penguasa nomor wahid di negerinya, sedangkan kami puluhan tahun sebagai orang yang terpinggirkan, dikuasai, dikenai hukuman dengan undang-undang yang tidak kentara dan tidak secara cespleng langsung.
Kalau aku ketika sedang di Jakarta, sudah lebih dua minggu saja, yang kurasakan yalah, mau pulang, mau cepat pulang. Kalau kupikir lagi, lalu mau pulang ke mana? Mau pulang ke Paris! Apakah Paris dan Perancis menjadi tanahairku? Tidak, samasekali tidak. Tanahairku tetap Nusantara, bagaimanapun dan betapapun, dan aku tetap mencintainya. Lalu kenapa berpikiran begitu jadinya, kok, pulang saja harus atau mau ke Paris? Ya, tentu saja, kalau diriku setengah mati cintanya kepada tanahair, kampunghalaman, tetapi diriku tidak diterima, tidak diperdulikan dan tetap terus menerus dipinggirkan, diikuti, dibenci, ditakuti, dimusuhi, lalu apa enaknya aku berlama-lama di tengah kehidupan yang terus-menerus menyakiti diriku? Apa enaknya aku terus hidup di situ itu? Betul, betapa kangennya aku kepada banyak teman, banyak sahabat, banyak keluarga, betapa rindunya aku kepada mereka. Tetapi undang-undang yang dulu itu, yang meminggirkan kami dulu itu tetap saja terpancang erat dan tak pernah dicabut. Lha, tentu saja ada perasaan tidak enak, tidak sah, tidak mendapat tempat, tidak tercatat.
Ketika aku pulang ke kampunghalamanku, tempat kelahiranku di Belitung, tak seorangpun yang berani menawariku buat menginap di rumahnya, termasuk keluarga dan teman-temanku. Dan aku sangat mengerti dan memahaminya, mereka bukanlah membenci kami, tapi sangat kuatir akan keselamatan diri mereka. Bisa-bisa mereka akan kehilangan pekerjaan, kehilangan kemerdekaan, kehilangan matapencaharian, disebabkan hanya mengenal dan berbaik-baik dengan kami. Semua keadaan ini kami mengerti sepenuhnya, dan tak secuilpun rasa dendam ada pada kami. Tetapi rasa-sedih, rasa-malu, rasa-terpinggirkan ya tetap saja ada. Aku bersama cucuku yang berumur 10 tahun ketika itu, terpaksa menginap di sebuah hotel yang ada di kampunghalamanku sendiri! Betapa menyedihkannya! Tak diterima di kampunghalaman dan tempat kelahiran sendiri, bukankah cukup tragis?
Tapi itu dulu, jauh sebelum reformasi. Katanya sekarang ini sudah tentu sudah berlainan sangat.
Sampai di manakah kecintaanku akan Paris dan Perancis? Sebenarnya sudah banyak kutuliskan, aku mencintai Paris dan Perancis bukan karena memang ada dan timbul rasa cinta yang sejak dulu, bukan! Tetapi melalui proses perkembangan, sebagaimana halnya hal-ihwal pada manusia. Paris dan Perancis adalah tanah orang-orang yang terpinggirkan. Betapa banyak kami berkumpul di Perancis dari berbagai negeri, seperti Asia, Vietnam, Laos, Kampuchea, Srilangka, India, dan Afrika, Senegal, Botswana, dan bahkan dari Eropa sendiri seperti Russia, Polandia, Rumania, dan kosovo, Albania, dan sangat banyak lagi. Orang-orang ini adalah banyak kesamaan nasibnya dengan kami : sama-sama terpinggirkan, sama-sama terusir, sama-sama marginal dalam segala hal! Jadi menyatu sebagai orang-orang perantaian yang tanpa belenggu, orang-orang terpenjara tanpa gedung penjaranya. Dan Paris serta Perancis memang benar-benar tanah perlindungan buat kaum terpinggirkan, yang terusir dari negerinya masing-masing. Di sini kami merasakan menjadi manusia, dimanusiakan, diorangkan. Menikmati demokrasi dan undang-undang serta hukum yang berlaku bagi siapa saja, tak mengenal derajat-pangkat.
Dulu, semoga kini berubah sudah,- cukup banyak aku menulis surat dan mengirimkan tulisan, buku-bukuku yang kami terbitkan sendiri, mengirimkan salam perkenalan dan persahabatan serta kekeluargaan kepada banyak teman, banyak penerbitan dan persuratkabaran dan majalah dan banyak orang. Tetapi ketika itu tak serambutpun berjawab, bagaikan batu jatuh ke lubuk, hilang tanpa bekas, tidak diperdulikan. Mengirimkan karangan, tulisan, buku-buku, tak satupun berjawab, tak satupun mendapat perhatian. Tetapi okey-lah, mungkin orang-orang itu masih kuatir dan segan berhubungan dengan kami, karena ketika itu belum ada reformasi, masih dalam kekuasaan-lama yang usang. Dan inipun kuanggap hasil yang sangat luarbiasa hebatnya dari rezim penguasa presiden dua dan tiga yang lalu. Bukan main hebatnya hasil penanaman rasa-ketakutan kepada banyak orang, sampai kinipun tetap membekas dan cukup lama barulah akan hilangnya.
Sebenarnya yang aku mau yang kami mau bukanlah kami datang ke Jakarta, tapi kami maunya pulang! Bukan sebagai turis dan sekedar kangen-kangenan, sekedar melepas kerinduan, tetapi benar-benar pulang. Tapi belum ada undang-undangnya buat membebaskan kepulangan kami. Yang ada itu baru taraf kami bisa datang tapi samasekali bukannya pulang. Dan itulah jadinya, Mau Pulang, lalu Pulang Ke mana? Sementara ini tentulah pulang ke masing-masing negeri yang memberi perlindungan, dan entah akan berapa lama, hanya pemerintahan yang sekarang inilah yang dapat menentukan bisa pulang tidaknya,-
Paris 12 November 1999,-
Sulit sekali meyakinkan Laura untuk bersedia pindah ke Holland bersama sekeluarganya, adiknya Berry, dan ibu-bapaknya. Dia tetap tidak mau pindah, dan hanya ingin hidup di Paris bersamaku, sama-sama dengan kakek saja katanya. Kukatakan bahwa sangat sulit kalau kita berdua, tanpa mama dan papa, dan lagi kan kakek kerja, dan bagaimana mengatur kehidupan kita berdua. Tetap saja dia sebenarnya tidak mau pindah ke Holland. Sudah biasa dan sudah mapan hidup di Paris bersama banyak teman-temannya. Kalau di Holland, harus mulai dari nol lagi belajar bahasa Belanda, demikian alasannya. Sebenarnya alasannya ini banyak benarnya, tetapi kalau betul-betul dia ngotot tidak mau pindah, maka betapa kami berdua akan mendapatkan kesulitan, hanya berdua saja dan jadwal di rumahnya tidak sama, ada yang sedang sekolah dan ada yang sedang bekerja, lalu pulangnya dengan waktu yang berlainan.
Untunglah mamanya menemukan alasan yang masuk-akal. "Laura, ada undang-undang dan peraturan, bahwa semua anak-anak yang di bawah umur, di bawah 17 tahun, harus ikut ibunya, harus ikut keluarga ibu-bapaknya. Karenanya menurut undang-undang dan peraturan itu, maka Laura seharusnya bersedia ikut mama-papa ke Holland, dan lagi bagaimana adikmu kalau dia terlalu kangen kepada kamu?", kata mamanya. Laura tidak menjawab, tampaknya dia berpikir keras, dan masuk kamar. Keesokan harinya dia datang kepada mamanya, dan menyatakan bahwa dia sedia pindah bersama-sama ke Holland, dan dia juga datang kepadaku seolah-olah minta restui agar aku mengizinkan dia ikut ke Holland. Sudah tentu aku sangat setuju dengan pikirannya, dan aku lalu memeluk dengan sangat sayangnya cucu pertamaku ini. Ketika itu tahun 1997, dia baru berumur 10 tahun lebih sedikit.
Laura anaknya pintar, bukannya luarbiasa, tetapi satu hal, memang anak ini cerdas. Selama di Paris dua kali oleh sekolahnya dianjurkan lompat-kelas, tetapi mamanya tak pernah setuju, dan aku sendiri menyetujui pikiran dan pendapat mamanya. Biarlah secara wajar saja, jangan sampai dia menjadi agak sombong dan merasa diistimewakan. Dia sudah ikut ke mana-mana bersamaku berdua saja sejak umurnya 10 tahun itu, ke Jakarta, Bali, Lombok dan Belitung. Dan bahasa Indonesianya sangat baik. Sampai kini, umurnya sudah 13 tahun, tapi dia sudah menggunakan beberapa bahasa : Bahasa Indonesia, Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman, sedikit bahasa Tionghoa. Lima bahasa itu dapat digunakannya secara aktive, tapi dia lebih suka dan lebih menguasai bahasa Perancis, lalu bahasa Belanda.
Di rumah, ada beberapa diploma dan tanda penghargaan, seperti diploma berenang, main ski-ruangan, jalan-jauh, pekerjaan-tangan membuat tembikar, berjenis pot bunga, dan beberape pertunjukan, seperti play-back show dari Janet Jackson yang menggondol hadiah pertama buat seluruh sekolah di kota Almere di Holland. Dia selalu termasuk tiga-besar terpandai dalam kelasnya.
Setelah lahir adiknya Berry, yang berbeda 10 tahun dengannya, ternyata Berry-pun cukup cerdas bahkan sangat cerdas. Tapi anak ini sangat lain dengan kakaknya, perawakannya kecil, makannya sulit, tidak seperti kami. Berry adalah betul-betul anak Indonesia, melayu-tulen kata kami. Kakaknya ( Laura ) selalu memanggilnya Liliput, sebab amat kecilnya. Anak ini perkembangan ketika kecilnya juga ada keanehan. Dia tidak pernah tahu merangkak dan duduk seperti bayi lainnya. Tetapi duduknya seperti orang bersembahyang, atau seperti orang Jepang, kakinya terlipat dan telapak kakinya itu menghadap ke atas, seperti orang duduk sembahyang dalam bacaan Attahhiyat. Dia tidak bisa duduk bersila seperti kebanyakan orang-orang seperti kita ini. Lalu langsung saja berdiri dan jalan, dalam umur 10 bulan.
Ketika mereka sudah pindah ke Holland tahun 1997 itu, suatu kali ada tilpun? Dan begitu kuangkat, tahu-tahu suara Berry. "Berry, ini?" "Ya, Berry, berry mau tilpun kakek", katanya. " Di mana mama, di mana kakak?" "Mama sedang di wc, Loulou sekolah". "Lho, yang mutar tilpun siapa?" "Ya, Berry sendiri, papa kerja di Amsterdam"; "Berry tadi yang putar tilpun?" "Ya, Berry!", katanya agak keras dan seakan-akan marah. Dan ketika ibunya datang, kutanyakan, dan mamanyapun menjadi heran, darimana anak ini tahu nomor tilpun yang begitu banyak, tidak mungkin dia akan hapal. Perkara ini menjadi keheranan kami sampai kini. Mungkin karena terlalu biasa ikut mamanya menilpunku ke Paris, mungkin siapa tahu secara kebetulan saja, atau mungkin saja dia ingat. Tapi pokoknya memang dialah yang mutar nomor tilpun itu.
Kalau di antara mamanya atau kakaknya ( Loulou ) menjemput Berry dari sekolahnya penitipan kanak-kanaknya, maka Berry adalah murid terakhir pulang dari sekolahnya. Mengapa? Karena ada upacara khusus buat dirinya. Berry sebelum pulang dari sekolahnya, selalu mencium semua barang dan benda yang ada di kelasnya, tanda perpisahan sampai esoknya lagi. Dia menciumi sepedanya, bolanya, dan mainan lainnya, seperti kursi-mejanya, dan mainan lainnya. Gurunya merasa aneh juga dengan kelakuan anak ini, tetapi membiarkannya saja secara bebas dan inisiatif dirinya sendiri.
Ketika dia minta antarkan kepadaku buat kencing dan ternyata bukan hanya kencing tapi mau berak, lalu dia bilang : " los semuanya kakek, semuanya, los......", katanya, artinya buka semua celananya. Kata "los" ini benar-benar sangat jarang kudengar malah tak pernah kudengar diucapkan kakaknya maupun ibu-bapaknya.
Suatu kali dia diajak Oom Mbangnya meninjau suatu toko mekanik, elektronik. Ketika di toko ini dia terheran-heran, dan berkata kepada Oom Mbangnya. "Oom, Berry suka sekali toko ini, semuanya otomatik ya".Darimana pula dia tahu akan kata-kata otomatik ini. Dan terkikik kami pada tertawa ketika suatu kali dia kaget dan keheranan serta amat terkejut oleh perbuatannya sendiri, sambil mengatakan " Oh my god, help me!". Kami tak tahu dari mana kata-kata ini, sudah tentu dia hanya menirukan suatu adegan filem yang dilihatnya, tetapi pemakaiannya sangat pas dan jitu.
Ketika kami masih ngobrol di rungan-tamu, salon, tiba-tiba dia memanggil mamanya, "mama, sini datang, Berry ada ide bagus, sini deh", panggilnya. Dan kami pada keheranan darimana dia tahu akan katakata "ide", ide-bagus. Tentulah pernah dia dengar, tetapi dia menggunakannya sangat tepat-waktu.
Anak ini ada liciknya, mungkin karena otaknya terus jalan dan berpikir. Tiba-tiba saja ketika kami masih ngobrol dengan Mas Mbang, dia berkata : " Berry ada mencium bau permen", sambil dia mendenguskan hidungnya agak ke atas. Dia tahu dalam kantongku memang ada permen tapi masaksih permen ada baunya!! Bilang saja kalau mau permen habis perkara. Tetapi dia menyatakannya dengan cara dan jalan lain. Mas Mbang yang disebutnya Oom Jesus cekikian tertawa mendengar alasan bau permen itu, yang padahal hanya minta permen. Nama Oom Mbangnya dengan nama Oom Jesus kamipun tak tahun dari mana dapat nama itu.
Suatu kali pernah kutanyakan pada Laura, ketika tahun ini juga, apakah sudah betah dan mapan hidup di Holland? Dia katakan, kalau ditanyakan soal itu, tak pernah dia merasa mapan dan suka tinggal di Holland, tetap saja suka tinggal di Perancis. Tetapi dia lebih sangat terikat dengan adiknya, dia tampak benar memang sangat mencintai adiknya. Oleh karena sejak sekarang sudah kurasakan dan kulihat, bahwa adiknya ini tidak akan kalah dengan kakaknya dalam soal kecerdasan, maka pernah kutanyakan : "Laura, kakek mau tahu, kalau nanti ternyata Berry lebih pintar dari kamu, bagaimana perasaan kamu?" "Oh, saya sangat bangga kalau adik saya lebih pintar dari saya". Betul lho kek, saya akan sangat senang dan bangga kalau Berry lebih pintar dari saya", katanya kontan dan langsung. Dan aku sangat merasa senang, kupeluk-ciumi Laura dengan sangat sayangnya. Dulu sebelum kata-kata ini kutanyakan dan ke luar dari mulutnya, memang aku harus mempersiapkan dan mempersenjatai Laura agar dia tidak menjadi cemburu dan iri kepada adiknya sekiranya nanti adiknya ini lebih cerdas darinya.
Dengan demikian hatiku sendiri menjadi tenteram juga, jangan ada persaingan tak sehat antara kakak-beradik itu.
Paris 14 November 1999,-
Laura dan Berry adalah cucu saya yang pertama dan keempat, dari anak kedua, sedangkan cucu kedua dan ketiga adalah Angel ( Anzel ) dan Celine ( Selin ), yang kini berumur 10 tahun dan 8 tahun, dari anak pertama. Jadi saya punya 4 cucu, sepasang dari anak pertama dan sepasang dari anak kedua. Empat anak ini bila bertemu sangat ramai, gembira, dan hirau-degau. Tetapi mereka punya faksi sendiri. Bila keempatnya bertemu, maka kecocokan antara mereka dengan sendirinya akan menggabungkan diri dengan masing-masing "temannya atau saudaranya". Misalnya Laura hanya cocok dengan Angel, sedangkan Berry hanya cocok dengan Celine. Dan kalau mereka bertiga, kurang salah satu, maka akan selalu cekcok, berkelahi, bertengkar. Tapi kalau faksinya itu sudah terbagi dua-dua, maka keadaan akan tenteram dan damai.
Itulah sebabnya musimpanas yang lalu, ketika Laura mengusulkan untuk ke Bali, dia hanya setuju kalau mangajak Angel saja. Dia tidak setuju mengajak Berry ataupun Celine. Angel anak laki yang boleh dikatakan cukup alim, sangat baik, agak lemah lembut. Tetapi anak ini tampan, gagah, hanya kurang kelaki-lakian, kurang mannelijk. Tidak begitu sesuai dengan pelajaran yang diambilnya. Dia belajar Judo, dan dia judoka-kecil yang piala dan penghargaannya sudah belasan. Di kamarnya di Holland saya pernah menghitung piala dan diploma judonya, ada 18 buah. Kemaren kuterima tilpun dari tantenya ( ibunya Laura ), bahwa Angel menjadi juara pertama judo di perputaran-pertandingan buat kota Almere. Pada pertandingan itu dia sudah mengalahkan 7 orang lawannya, bahkan ada yang sudah berumur 14 tahun, sedangkan dia baru berumur 10 tahun. Padahal mereka baru saja dua bulan ini pindah ke Holland, menjadi penduduk Holland seperti saudaranya Laura dan Berry. Kemenangan kali ini menambah lagi piala yang diatur di kamarnya memenuhi sebagian lekuk-dinding.
Ketika di Paris, di sekolahnya, terjadi sedikit perkelahian antara adiknya Celine dengan teman sekelasnya. Celine dikerubuti beberapa anak-anak sebayanya. Melihat perkelahian ini, abangnya, Angel bukannya mau menolong tetapi malah lari terbirit-birit. Hal ini diketahui ibu-bapaknya. Dan ibu bapaknya marah kepada Angel, mengapa tidak melerai perkelahian itu, mengapa membiarkan adiknya dikeroyok orang, padahal malah dia adalah juara Judo seluruh sekolahnya. Angel dengan enteng menjawab : "Benar saya juara judo, itu kan dalam pertandingan. Tapi dalam perkelahian benaran, saya takut dong!" "Tapi kan kamu paling sedikit menengahi perkelahian itu, jangan sampai menjadi perkelahian seru dan menjadi gawat. Malah kamu membiarkan adikmu dikeroyok anak-anak lain, lalu lari pulang ke rumah. Nanti cobalah pikir, apakah tindakanmu sudah benar? Membiarkan adanya perkelahian, membiarkan adikmu dikeroyok, dan lalu lari ketakutan, apakah hal itu benar?",-kata ibu bapaknya. Tampaknya Angel mau berpikir lama tentang masalah ini. Sebagai judoka, semangat sportifnya diuji dalam kejadian ini.
Celine lebih cekatan dan lebih lincah daripada Angel, abangnya. Ketika tahun 1995, ketika 50 Tahun RI dulu itu, mereka sekeluarga datang ke Jakarta menemui banyak keluarga dan teman-teman. Antara berdua itu, Celine lebih banyak praktek bahasa Indonesianya, sedangkan Angel tampaknya malas belajar bahasa Indonesia. Ketika kami sedang bercakap-cakap dan tertawa gembira, selalu Angel menanyakan dalam bahasa Perancis, dia bilang apa, apa dia bilang,- selalu diajukan Angel kepada Celine, dan Celine menjadi penterjemah Angel. Lama-lama rupanya Celine dongkol juga, " kamu belajar, dong, bahasa Indonesia. Dulu aku kan juga nggak bisa apa-apa", kata Celine agak dongkol. Celine sedikitpun tak canggung makan nasi dengan tangan, tanpa sendok-garpu-pisau seperti orang-orang bule pada umumnya. Dan Celine jauh lebih banyak punya teman daripada Angel ketika di Soreang-Bandung dan Jakarta ketika itu.
Berry punya kelemahan, penyakit yang sering engselnya lepas dari tangannya. Sehingga dia kesakitan. Dan kalau kena, kambuh, segera kami bawa ke dokter, dan dokter tinggal menyentak tangan itu, membenarkannya dan engsel itu akan terletak pada tempatnya yang tepat. Dulu ketika mula pertama kami belum tahu penyakitnya, kami agak sedikit panik juga. Sebab dia tampaknya sangat kesakitan. Ketika sedang sakit dan kambuh, terlepas itu, tangannya dipegangpun kesakitan. Hal ini karena orang lain mengangkat sebelah-tangan atau duabelah-tangan Berry, tetapi tidak samarata, tidak semitris, sehingga tangan yang lemah itu tergeser lalu engselnya terlepas dari sendi perputarannya. Dan tangan yang lemah itu menjadi lunglai. Hal ini sudah berkali-kali terjadi, sehingga Berry sendiri seakan-akan sudah tahu kalau sudah terasa engselnya itu lepas.
Suatu hari dia bermain dengan Celine. Dan Celine mengangkat Berry dengan sebelah tangannya yang lemah itu terlepas untuk kesekian kalinya dari engsel itu. Berry menangis kesakitan sambil berteriak keras. Ibu dan tantenya datang. Dan Celine juga menangis karena ketakutan dan menyesal, merasa kasihan kepada Berry. Ibu dan tantenya membawa ke Drie-Hoek, segitiga dekat rumahnya, sebuah puskemas yang siap-sedia 24 jam meladeni dan melayani pengobatan. Hanya beberapa menit saja, tangan Berry dapat dipulihkan ke perputaran-engselnya. Berry segera mencari Celine kembali, sedangkan Celine masih menangis karena ketakutan dan menyesal telah membuat adiknya sakit dan menderita. Begitu tahu bahwa Celine-pun menangis dan ketakutan, Berry segera membujuk Celine,- "Celine, lihat ini tangan Berry sudah baik. Kamu jangan nangis, Berry sudah tidak sakit lagi. Kita main lagi ya, mari ya..", kata Berry sambil menarik tangan Celine. Dan dua badung itu kembali lagi bermain, tapi sudah punya pengalaman, tangan mana yang tidak boleh tersentuh dan tersentak dengan keras.
Berry diakui banyak orang yang melihat dan bergaul dengannya, bahwa anak ini bakalan cerdas. Tetapi bagi kami, ibu-bapaknya, opa-oma dan kakeknya, cukup punya kesulitan dalam mendidik Berry. Berry punya tabiat yang keras tetapi sulit dikendalikan. Kalau dia sudah tidak suka, barang apapun dilemparkannya, dibantingya, dan rusak binasa, hancur. Ibu-bapaknya sebenarnya cukup keras kepadanya. Tidak jarang Berry distrap, dihukum di kamar mandi atau WC, atau dimasukkan ke kamar tidur, dengan menangis terisak-isak. Tetapi kakaknya Laura selalu saja membebaskannya secara diam-diam, dan keduanya saling berpelukan dan menyembunyikan diri di kamar Laura.
Dari rumah Wita ke rumah Nita, anak saya yang pertama dan kedua, tidak jauh. Mereka tinggal di satu jalan yang sama. Hanya nomor rumahnya yang berbeda 100,-Yang satu nomor 115 dan yang lainnya nomor 15, sedangkan saya di Paris juga bernomorkan 15.
Kalau ditanyakan kepada saya, atau saya sendiri menanyakan pada diri sendiri, sebenarnya apakah yang sekarang ini saya punya, apakah saya masih punya harta-benda dan kekayaan? Yang paling bisa saya jawab yalah, kekayaan saya itu adalah 4 cucu itu! Hanya itulah yang saya masih punya, dan untungnya, bahagianya, mereka selalu ingat dan sering-sering menilpun saya. Dan kalau salah seorang menilpun dengan menanyakan, "kapan lagi kakek datang ke rumah kami? Kami tunggu ya!",- maka berusaha-keraslah saya mencari dan membeli tiket dengan kereta-cepat Thalys yang menuju Schipol. Dari Shipol langsung naik train ke Almere, seluruhnya makan-waktu lima jam dari Paris. Dan akan bangkrutnya saya adalah gara-gara mondar-mandir Paris-Schipol ini. Walaupun takkan pernah saya rasakan kebangkrutan itu, karena sangat sayang dan cintanya kepada cucu.-
Paris 15 November 1999,-
Ketika aku sedang anjangsono di rumah Mas Gon, karena mereka baru pindah, tiba-tiba ada tilpun dari resto. Aku selalu titip-pesan kepada resto dan teman-teman, ke mana saja aku pada hari itu. Sebab kami harus selalu stand-by sewaktu-waktu, sehingga mudah dan gampang menghubunginya. Ternyata tilpun itu hanya menyampaikan pesan lagi agar aku hari itu ke Hospital St. Louis, karena Luara sakit agak gawat, dia diopname.
Laura adalah cucuku yang pertama. Ketika itu bulan Juni 1988, menjelang musimpanas, umurnya baru dua tahun. Ibunya, Nita, anakku yang kedua, tahu benar, bahwa antara kakek dan cucu itu sangatlah eratnya. Terkadang, bahkan selalu, kalau Laura sakit, akulah yang lebih panik daripada ibunya sendiri. Ibunya jauh lebih tenang daripadaku sendiri, dan ini sampai kini sangat menguntungkan. Ketenangan seorang ibu sangat penting menghadapi bagaimana kalau anak-anaknya sakit atau dalam keadaan darurat.
Sorenya aku datang ke Hospital itu. Kudapati Laura sedang berbaring dengan begitu banyak kawat atau snoer jalinan penghubung elektronik yang dilengketkan di sekitar dadanya, lalu dihubungkan dengan mesin cardiogram dan alarm, yang sewaktu-waktu berbunyi tanda-darurat, dan dokter akan datang segera. Melihat itu saja, aku sudah terasa akan lunglai, lemas dan melihat Laura dengan hati yang sangat memelas, kasihan dan sangat menyedihkan. Ibunya di kamar itu juga dan menginap buat menemani Laura yang sakitnya cukup gawat. Laura selalu muntah dan berak, dan tak mau makan. Makannya melalui slang, diinfus. Dan yang aneh bagiku, salah satu pengobatannya agar melawan dan anti-muntah, dia diberi minum cocacola yang biasa itu!
Suatu waktu alarm itu berbunyi, ini artinya tanda-darurat. Dan dokter segera datang, semua diperiksa, termasuk tekanan darahnya. Kulihat ada lima orang dokter dengan masing-masing keakhliannya. Setelah tensi darahnya diperiksa, ada yang mengagetkan, darahnya 140/100,- ini benar-benar tidak normal, sebab anak itu baru berumur dua tahun. Dokter sibuk bekerja dengan masing-masing keakhlian dan kejuruannya.
Yang sangat membantu dokter yalah : semangat Laura, dia selalu saja terlihat semangat mau main, cerah dan tidak tampak sedih dan sakit. Dan kalau aku datang yang selalu membawa makanan yang disukainya, dia selalu tertawa dan senyum yang bagiku juga mempertinggi semangatku sendiri. Diam-diam ibunya dari samping selalu melihat dan mengamatiku. Aku tahu benar, ibunya ini dengan sendirinya selalu bertugas ganda, memelihara anaknya dan bapaknya agar jangan terlalu bersedih hati.
Setiap hari aku dan tantenya, Wita selalu datang ke hospital. Dan ini sangat membantu pengobatan Laura dan juga ibunya, karena mendapatkan semangat solidaritas keluarga. Setelah dua-tiga hari barulah ada keputusan para dokter, bahwa penyakit Laura ini adalah penyakit "kawasaki". Penyakit kawasaki berasal dari nama Jepang, dan memang juga berasal dari Jepang. Suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri, amuba, yang merusak jaringan tubuh, metalisme tubuh. Dia menolak makanan dari luar, dan itu menyebabkan selalu muntah dan berak. Penyakit ini sangat jarang ditemukan, dan tidak menulari orang kiri-kanan. Si pasien terkena karena kemasukan bakteri itu dari luar, dan mengendap dalam tubuhnya tanpa aktive mencari sasaran lain,- tidak berjangkit. Penyakit ini kalau dibiarkan beberapa waktu, akan merusak organ ginjal, jantung dan paru-paru.
Setelah keluar dari krisisnya, barulah kami dapat bernafas lega. Bahkan sudah berani berkata, kalau ada penyakit kawasaki, tentu ada penyakit honda, atau penyakit nissan, atau toyota, yang semuanya merek motor dan mobil dari Jepang. Setiap malam aku berdoa kepada Tuhan, agar tolong sembuhkanlah cucuku Laura, dan kalaupun bisa digantikan, ya Tuhanku, aku mau menggantikannya, dan kalaupun sekiranya Kau mau mengambilnya, Tuhanku, ambillah aku sebagai penggantinya, begitulah doaku setiap malam. Dan tambah bersukurlah aku, karena Laura telihat semakin membaik. Ketika ada harinya dia tak mau makan, dokternya bahkan berani bergurau, "akh, tak apa-apa, coba lihat badannya masih tetap agak gemuk dan tak dapat dikatakan kurus! Biar saja kalau dia tak mau makan hari ini", kata dokter, dan lalu dicubitnya pipi Laura yang tetap masih agak seperti tomat itu.
Selama di RS Laura jarang berbaju dan berpakaian lengkap, selalu saja hanya pakai celana-dalam, slip, sebab dalam kamar sangat panas, menjelang musimpanas. Dan yang menjadi catatan dalam hati kami yalah : selama 18 hari Laura sakit diopname itu, tak pernah kami lihat bapaknya, papanya, membezoeknya, tak pernah! Bapaknya adalah orang Portugis, namanya Umberto Marques. Karena itu nama lengkap Laura adalah Laura MARQUES. Ketika dia berumur 8 tahun nama itu dia ubah sendiri menjadi Laura MARQUES SOBRON. Lalu kami katakan, nama tidak boleh diubah sembarangan, harus melalui pengadilan dan peraturan resmi. Karena sudah tercatat di pengadilan-negeri bahwa nama bapaknya adalah MARQUES, maka harus ditulis sebagaimana peraturannya. Dan dia mengerti, tetapi tetap saja dan malah dalam beberapa tulisan bukunya atau catatannya, masih kulihat dia tetap saja mencantumkan namaku. Tetapi dalam nama resmi, misalnya paspor, di sekolah, dia menuruti peraturan.
Aku masih ingat, pada malam tanggal 24 Juni 1988, Laura sekeluarga, artinya mereka berdua, langsung dari Hospital pulang ke apartemenku. Tidak lagi pulang ke rumah mereka di kota Paris, di Nation. Aku tinggal di Paris Timur. Malam itu aku baru pulang dari kerja di resto, dan kulihat sudah ramai di rumah. Karena beberapa teman membantu pindah secara kilat ke rumahku, jadi bolak-balik mengangkuti barang-barang dari apartemen mereka. Di dapur kulihat Nita dengan bapak Laura, Umberto MARQUES. Mereka kelihatannya dengan masing-masing wajah yang gelap dan sedikit bertengkar. Beberapa orang keluarga yang membantu kepindahan itu, termasuk beberapa laki-laki. Aku tahu dan mengerti maksudnya, agar juga dalam melindungi keluarga kami. Karena sudah terlalu malam, kutawarkan kalau seandainya mereka mau pulang, silahkan saja. Tetapi mereka malah menawarkan padaku, agar apakah kami perlu ditemani, karena mereka tahu ada bapaknya Laura yang orang Portugis itu. Kukatakan, tak apa-apa, ini kan rumah saya, ada dalam kekuasaan saya, dia takkan berani berbuat apa-apa, nanti kami sendiri yang akan menghadapinya kalau sekiranya dia mau berbuat semaunya.
Setelah kukatakan demikian barulah mereka mau pulang, dan kami sangat menyatakan rasa terimakasih kami. Tak lama sesudah itu Umberto juga sudah bangkit dari kursinya, tapi minta diantarkan sampai pintu depan, dan Nita menolaknya. Tampaknya dia mau memaksa, tapi Nita tetap berkeras. Ketika itu aku memang agak siap-siap juga, dan Laura sudah kutidurkan, karena sudah menjelang pagi jam 0010.
Adalah benar, aku sangat yakin, Umberto tidak akan berani berbuat semaunya. Dan lagi ada kepercayaan pada diriku sendiri, ini tokh rumahku, kalau ada apa-apa, kekerasan yang dilakukan olehnya, maka peraturan hukum dan undang-undangya ada pada pihakku, sebab dia datang tanpa diundang, dan dia datang dengan pemaksaan, tidak disukai oleh siapapun, dan dia datang hanya mau berbuat kejahatan dan kekerasan.
Setelah dia pergi dan keesokan harinya barulah Nita mau bercerita padaku, bahwa dia diancam akan dibunuh oleh Umberto bila tak mau kembali ke Nation, apartemen mereka. Aku tahu betul, apartemen Nation itu, adalah kepunyaan Nita pribadi, karena untuk memperoleh aprt itu, akulah yang menanggungnya, sebab Nita belum berumur 26 tahun. Dalam ancaman itu Umberto malah terkejut dan tak disangka-sangka, Nita menjawab dengan berani : "Jangan kau kira kau akan dapat membunuhku begitu gampang. Sebab akupun sudah menyiapkan hal serupa yang membalikan tindakan kamu. Siapa yang akan duluan mati, jangan-jangan kamu duluan, bahkan bisa-bisa pagi ini atau besok malam. Kalau kamu tidak urungkan maksud jahat kamu, sayapun akan biarkan banyak teman saya akan mengejarmu sampai kuburanmu. Ingat itu, ya, saya sudah siapkan lama perlawanan ini, ingat itu!!". Tampaknya Umberto agak kaget juga mendengar ucapan Nita yang sangat sungguh-sungguh itu, dan selama mereka hidup bersama tak pernah Nita diketahuinya akan sekeras itu, seberani itu.
Di kalangan kami kaum keluarga sudah banyak yang tahu, bahwa Umberto adalah seorang pemabuk, petualang, sering berkelahi, bahkan katanya pernah berusan dengan penjara segala! Kami tadinya malah berpikir bagaimanalah caranya agar Nita terlepas dari kungkungan hidup demikian. Tetapi ternyata belum sampai kami keluarkan maksud kami ini, Nita sudah punya kesadaran itu. Dan lagipula, faktor Laura sangat banyak membantu niat kami itu. Entah apa sebabnya, Laura selalu saja minta kepada ibunya, agar kita pindah ke rumah kakek saja. Dan ketika mereka masih di Nation-pun hampir setiap minggu Laura minta antarkan kepada ibunya agar sepanjang hari Sabtu Minggu selalu bersama kakek.
Pernah satu kali Laura menangis sangat marah, karena begitu sampai ke rumahku, aku tak ada di rumah. Dan untunglah tak sampai setengah jam aku sudah sampai di rumah, yang walaupun sebenarnya mereka punya kunci rumahku. Semua kejadian sehari-hari begini, dan sangat terkesan tampaknya pada diri Laura, ketika dia sakit gawat-darurat itu, bapaknya tak pernah muncul. Yang selalu setiap hari adalah kakek dan tantenya.
Dan sejak itulah kami selalu bertiga selama tujuh tahun, dan Nita menjanda juga selama itu. Dan kami selalu bertiga ke mana-mana, seperti ke Thailand, Hongkong, Spanyol, Indonesia dan lain-lainnya. Kebersamaan ini juga menjadikan kami bertiga seakan satu kesatuan. Dan lengkaplah rasa perasaan kami setelah kami tahu, unsur apa saja yang menyebakan satu kesatuan itu menyerap kami selama ini. Kalau dari ukuran unsur astrologi Tiongkok-kuno, kami merupakan kesatuan yang ideal : unsur bumi, air dan kayu. Nita itu air, Laura adalah bumi sedangkan aku adalah kayu. Tiga unsur itu saling membutuhkan, saling berpegangan erat. Entah benar entah tidak, tetapi kami rasakan selama ini, kami merasa sangat cocok dalam kehidupan bersama, saling menghargai, saling menghormati, saling mencintai dan menyayangi. Tapi kami pada akhirnya juga harus berpisah, bukankah kami ini adalah orang, adalah manusia, yang normal-normal saja adanya? Nita mendapatkan suami yang sangat bertanggungjawab dan mencintainya, dan Laura harus ikut keluarganya, dan adiknya Berry yang sangat disayanginya. Maka mereka harus pindah bersama suami dan bapaknya yang baru.
Sedangkan si kayu ini, biar sendirian, tetaplah harus tumbuh, yang mungkin bumi dan airnya bukankah ada di mana-mana?
Paris 18 November 1999,-
Penyakit kawasaki ternyata makan-waktu lama mengkonsolidasinya. Laura diwajibkan mula-mula tiap bulan harus diperiksa, dichek kesehatannya terutama mengenai penyakit lamanya ini,kawasaki. Sesudah jangka waktu satu tahun diperiksa setiap bulan, lalu tiga bulan sekali diperiksa selama dalam jangka-waktu satu tahun. Sudah itu harus periksa setiap tahun, lalu diperiksa tiga tahun kemudian. Barulah dinyatakan bebas kawasaki seluruh dan setuntasnya.
Ketika mereka masih tinggal di Nation, pernah juga aku menjemputnya di penitipan kanak-kanaknya. Ketika itu dia adalah murid yang paling kecil, sebab terpaksa harus dititipkan karena mamanya bekerja, padahal ketika itu umurnya belum dua tahun. Seharusnya rata-rata sudah berumur tiga tahun. Ketika rombongan kelasnya berbaris menuju ruangan kelasnya buat bubaran sekolahnya, aku mencari di mana Laura. Ada beberapa anak yang sedang jalan, tetapi di antaranya ada barisan yang ompong, tampaknya kosong. Nah, ternyata itulah Laura, sebab badannya terlalu kecil dan pendek sehingga tak nampak dari kejauhan. Karena itu barisan itu terlihat seakan kurang satu anak, karena terlalu pendek dan kecilnya.
Badan Laura yang tampak pendek kecil itu pernah menjadikan kami terpaksa memeriksakannya kepada dokter akhli kanak-kanak. Setelah diperiksa dengan teliti, dokter mentertawakan kami, katanya anak itu normal pertumbuhan badannya, hanya saja terlihat pendek, padat, karena gemuk, dan memang masih kecil. Nanti kata dokter, akan tampak jelas bahwa dia normal. Ini kejadian yang keduakalinya bagiku ketika masa kecil ibunya dulu. Dulu ketika kecil, Nita juga demikian. Terlihat sangat kecil, pendek, dalam bahasa Tionghoanya kami namai "Siao Ai", artinya si kate, si pendek. Ternyata begitu besar, malah lebih besar dan lebih tinggi dari kakaknya dan kakak sepupunya. Demikianlah Laura, setelah dia besar, dan setelah berumur 10 tahun, dan kini 13 tahun, benar juga kata dokter Thaiyib di Paris, yang selalu memeriksa Laura pada masa bayi dan kecilnya, katanya waktu itu, anak ini malah akan tinggi sekira 180 cm, dan benarlah kira-kira ramalan ilmiahnya. Kinipun Laura sudah setinggi 169 cm padahal baru berumur 13.
Ketika Laura masih bayinya, belum satu tahunnya, bapaknya sangat bangga akan anak ini, dan selalu mengatakan dan bertanya seolah-olah minta dibenarkan, " lihat anak saya, sangat cantiknya, sangat menarik, ya kan?!", dan selalu ucapan ini diulang-ulang. Dan Laura ketika sedang dalam gendongan bapaknya, begitu melihatku lalu minta agar aku menggendongnya, tapi bapaknya tetap saja menyatakan kata-kata pujian bahwa betapa cantik anaknya. Satu kali agak dongkol juga aku dibuatnya, "kamu tahu mengapa anakmu sangat cantik, karena ibunya adalah anakku! Dari ibunyalah maka anakmu sangat cantik, dan dia adalah anakku". Demikian kataku kepada Umberto. Dan orang Portugis yang tidak kami sukai itu, terdiam nyengir-nyengir kuda.
Ketika Laura sudah berumur 6 atau 7 tahun, sudah tentu dia samasekali lupa akan wajah bapaknya, dan setelah dia keluar dari Hospital dulu itu, dia tak ingat lagi bapaknya. Ini menyebabkan aku berunding dengan mamanya, bagaimana sebaiknya seandainya nanti Laura akan bertanya di mana bapaknya. Kami sudah sepakat, katakan terusterang bahwa bapaknya memang meninggalkan mereka, dan tidak lagi memperdulikan mereka. Ini kenyataan. Tetapi samasekali jangan menanamkan kebencian dan dendam pada Laura terhadap bapaknya. Biarkan dia mengetahui sendiri persoalannya tanpa dijajakan, suatu waktu kalau dia sudah besar dan menjelang dewasa, tentulah dia akan mempersoalkannya dengan jiwa dewasanya.
Dan benarlah suatu hari Laura bertanya kepada mamanya. Ketika itulah mamanya mengatakan semuanya itu, bahkan membeberkan semua foto-foto mereka ketika masa kecil bayinya Laura, ketika mereka masih hidup bertiga di Nation dulu itu. Dan setelah melihat dan mengamati wajah bapaknya, beberapa lama antaranya, Laura berkomentar, " Oh itu toh orangnya. Nggak menarik, tampaknya bukan orang-orang seperti kita ini ya mama", kata Laura. "Apa maksudmu bukan orang-orang seperti kita"? "Tampaknya bukan orang baik-baik". "Bagaimana kamu dapat menyimpulkan begitu"? "Nyatanya sampai kini dia tidak ada usaha buat mencari saya, dari rupanya saja sudah begitu, apalagi kenyataan hidupnya. Dulu waktu saya sakit, yang selalu ada malah mama tante Wita dan kakek, setiap hari. Dia tidak pernah melihat dan memperdulikan saya selama itu, ya, kan ma?". Mamanya menganggukan kepala, tapi tanpa menambah dan mengurangi pembicaraan.
Suatu kali pernah Nita dapat surat pemanggilan dari perfektur polisi dari pusat, yang bermarkas di Creteil. Katanya akan ada sidang atas permintaan bapaknya Laura, Umberto MARQUES, dia menuntut untuk bisa bertemu anaknya. Dalam persidangan itu nanti akan diajukan beberapa tuntutan dan syarat-syarat undang-undang yang tertulis. Sidang ini atas permintaannya, oleh pihak kepolisian apakah kami menyetujuinya? Kami katakan akan kami layani dan ladeni, apa maunya asal saja masih dalam kategori hukum dan undang-undang.
Maka ditetapkanlah hari persidangan itu tanggal sekian dan jam sekian. Pada waktunya, Nita dan Laura seudah siap menghadirinya. Ketika itu Nita sudah punya anak Berry yang baru berumur beberapa bulan. Karena tidak ada yang menunggu, dan aku sendiri bekerja di resto, maka mereka berempat datang ke prefektur polisi di Creteil, datang dengan bayi sekecil itu. Pada penetapan sidang, akan dibuka pada jam 15.°°. Tetapi Umberto tak tampak. Ditunggu terus, tetap saja tak datang. Katanya mereka menunggunya sampai jam 18.°° sampai kantor tutup. Ketika itu polisi menanyakan, bagaimana sebaiknya. Dan mereka menjawab, "kami datang memenuhi panggilan polisi, sekarang sidang tak dapat dibuka karena yang menuntut tidak datang dan tidak memberi kabar. Maka bukan kami yang menentukan, pihak polisilah yang menentukan, kami datang atas undangan dan panggilan polisi".
Dan polisi membatalkan sidang itu. Ketika mereka sudah pulang menjelang malam baru sampai di rumah, berkatalah Laura kepadaku sambil agak menghempaskan ranselnya : "mana berani dia datang. Kami sudah datang lama-lama menunggu, eh, dia tidak berani muncul". "Siapa yang kamu maksud Laura", kataku. "Itu lho, si Marques itu!". "Siapa sih si Marques itu", kataku dengan berpura-pura. "Siapa lagi, yang katanya bapak saya itu kan!", katanya. Kejadian ini menambah perbendaharaan Laura tentang bapaknya sendiri. Orang lain termasuk mamanya sendiri tidak perlu menambahi bumbu kebencian kepada anaknya, dan Laura sudah tahu sendiri. Lama sesudah itu aku banyak berpikir. Lha, kok ada ya, manusia punya pikiran demikian, sampai-hatinya, teganya, dan jahatnya! Laura dan ibunya tak pernah diperdulikan, ditinggalkan begitu saja, tanpa bantuan secuilpun, tanpa kasihsayang seujung rambutpun. Aku saja yang kakeknya, tidak langsung dari darahnya sendiri, bagaimana bisa menangis sedih karena rindu kepada cucu, bagaimana gelisahnya kalau sudah lebih satu bulan tidak melihat dan bermain dengan cucu. Dan aku lebih mengerti dan jangan-jangan sama dengan sang begawan ekonom nasional itu, Prof Soemitro, ketika masih aktive di Fakultas Ekonomi UI, rapat bisa tertunda dan bahkan bisa batal hanya disebabkan beberapa orang cucunya! Ini pernah dinyatakannya dalam sebuah wawancara.
Orang lain seperti Papi dan Mamie-nya Laura, M. Alberto dan isterinya yang tak punya anak itu, sudah sejak kecilnya mengangkat Laura menjadi cucunya yang sangat disayanginya. Padahal mereka orang Uruguay dan Spanyol. Violetta dan Alberto benar-benar sudah menjadi papi-mamienya Laura. Mereka kini tinggal di Chamonix, dikaki pegunungan Mont-Blanc dekat Swiss. Mereka minta agar ketika liburan panjang, Laura dikirimkan ke Chamonix, atau mereka jemput. Akhirnya setiap liburan panjang, kami mengirimkan Laura dari Schipol, Holland ke Geneve, Swiss, dan dari sana dijemput papi-mamienya, bermobil hanya 40 menit dari Jenewa - Chamonix. Padahal Alberto - Violetta secuilpun tak ada hubungan darah dengan Laura, tapi betapa sayangnya mereka kepada Laura. Kami selalu mengalah pada acara apapun, kalau mamie-papinya berpesan agar kirimkan Laura ke Paris atau ke Chamonix. Bahkan papi dan mamienya ini datang dan menginap di Almere - Holland, demi hanya mau melihat dan bertemu cucunya, termasuk Berry adiknya Laura yang sangat dekat dengan papi. Dan mereka lagi-lagi berbagi secara selera masing-masing : Laura dekat mamie, dan Berry dekat papi.
Tapi yang namanya bapaknya sendiri, yang menurunkan anaknya dari darahnya sendiri, serambutpun tak ada rasa mau perduli. Dan yang begini ini sangat menyesakkan dadaku, lha kok ada dan ada-ada saja manusia yang begini. Sangatlah untungnya Laura begitu banyak disayangi orang, banyak betul papi dan mamienya, kakek, opa-oma, walapun tanpa bapak sejatinya yang tak mempengaruhi ganjil-genapnya kehidupan.
Paris 18 Nov 1999,-
Ketika di ruangan-bawah, lantai-dasar, yang merupakan ruangan-duduk, juga merangkap ruangan-makan dan tamu, biasa kami bercerita satu sama lain. Atau menanyakan tentang berbagai soal baik pelajaran anak-anak maupun pekerjaan-rumahnya dan juga pekerjaan kami, para orang-tuanya.
Ada yang menjadi keherananku, dan agak tidak biasa. Laura selalu menyatakan dia tidak suka akan matematik, wiskunde. Tetapi angkanya selalu baik, bagus. Dengan nilai D, kalau pakai angka biasa sekitar 90 atau 9, sebab nilai yang paling tinggi yalah E, yaitu 100 atau 10 atau exellent. Pada umumnya kalau seseorang sudah merasa tidak suka, maka sedikit banyaknya akan mempengaruhi hasil kerjanya. Jangan jauh-jauh, aku misalnya, tidak suka ilmupasti, matematik, karena itu angka matematikku jelek dan dalam rapor menjadi merah. Juga banyak temanku yang lainnya, bila tidak suka akan matapelajaran tertentu, maka hasilnya juga tidak akan baik. Nah, Laura lain lagi, tidak suka tapi angkanya baik dan bagus.
Ketika kami sedang membicarakan antara suka dan tidak suka ini, tiba-tiba Berry nyeletuk dan nimbrung. "Berry suka matematik". "Akh, Berry, tahu tidak apa itu matematik?" "Berry tahu apa itu matematik", sambil dia menganggukkan kepalanya dan tampak yakin akan dirinya. "Coba apa itu matematik?", kataku mau tahu apa jawabannya. " Itu yang itung-itung itu. Twee plus twee is vier, yang begitu itu. Vijf plus vier is negen"; "Ya betul, pintar Berry, tapi tahu tidak apa itu negen bahasa Indonesianya?". "Sembilan", katanya tidak ragu-ragu. "Lalu bahasa Perancisnya?". Dia mulai menghitung dengan komat-kamit di mulutnya. "Neuf". "Lalu bahasa Cinanya?". Dia komat-kamit lagi mulai menghitung dari satu dalam bahasa Cina. "Ciu". "Ya, betul. Pintar Berry", kataku memujinya. Semua kami tertawa, merasa lucu dengan si badung pintar ini. Kami selalu mengajarkan yang dia masih sanggup dan mau menghafal dan menyebutnya. Kami sesuaikan dengan kemauan dan kerelaannnya, apakah mau diajari dan mau mengulangnya.
Kata-kata yang sulit dan yang agak aneh kedengarannya malah lebih mudah dia menghafalkannya. Tadinya aku tidak sangka bahwa dia kok tahu apa itu matematik, apa itu otomatik, apa itu kata-kata los, los saja semua, dan apa pula dan bagaimana menyebutkan kata keheranan "oh my god, help me please". Dan semua kata-kata ini kami dengarkan langsung dari mulutnya, dan ucapan serta waktunya sangat pas buat diucapkan.
Tadinya kukira hanya kakaknya yang suka nguping dan nimbrung, tahu-tahu dia nyambung ketika pembicaraan kami sedang berlangsung. Dan ngupingnya serta nimbrungnya ini tepat waktu. Tapi kami tetap mengajarinya bahwa kebiasaan nguping dan nimbrung adalah tidak baik, apalagi ketika orang-tua atau orang dewasa lainnya sedang berbicara. Tidak baik mencampuri pembicaraan orang yang bukan urusan kita.
Laura ataupun Berry selalu memperhatikan gerak-gerik orang-tuanya maupun kakeknya atau opa-omanya. Dia akan meniru, maka sangatlah harus berhati-hati, apabila ada atau secara tak sengaja perbuatan kita itu meng-efek-kan negatif pada anak-anak. Mamanya selalu berdoa ketika sedang menghadapi meja-makan dan ketika mau mulai makan. Berry juga ikut berdoa, sambil menampungkan kedua tangannya di depan dada dan tunduk komat-kamit sama dengan mamanya. Dan begitu selesai berdoa, Berry sambil berkata mengakhiri dengan agak keras : " makan!". Ucapan itu serentak dengan ucapan mamanya yang agak terdengar nyata, tapi mamanya bukan mengucapkan kata " makan". Hal ini ditanyakan kepada Berry, mengapa ucapan makan itu keras dan kelihatannya ditekankan. Mamanya mengatakan, yang diucapkannya itu bukan kata makan, tetapi " amien ".
Maka baru tahulah Berry, bahwa ucapan terakhir itu adalah amin bukannya makan. Sejak itulah, Berry juga diajari berdoa ketika mau mulai makan. Dan Berry ketika makan bersama mamanya selalu duduk teratur dan khusuk berdoa yang isinya harapan-harapan dan kemauannya yang juga sesuai dengan anak-anak yang berumur tiga tahun. Sejak itulah pada akhir kata yang dulu agak keras dengan kata-kata "makan" sudah diubah menjadi "amin".
Aku mengerti sepenuhnya kalau dua anak-anak ini, dan apalagi kini sudah semua anak-anak dan cucuku pindah ke Holland, lengkap dua anak dan empat cucu di Holland, mengharapkanku agar bisa dan sedia pindah ke Holland. Yang empat orang para badung itu tentulah dari segi kangen, rindu dan mencintai kakek, mau berkumpul semua. Kali ini mereka menuntutku. "Kakek tidak bersama kami ketika Noel, Hari Natal, tidak bersama kami ketika Tahun Baru millenium itu, maka kami minta agar kakek datang pada hari Sinterklas, 5 desember itu " kata Laura yang diikuti tiga adik-adiknya, Angel, Celine dan Berry.
Dan aku yang "sangat lemah" terhadap kemauan cucu, harus cari uang lagi buat beli tiket yang tak murah itu, yang padahal keberadaanku di Holland hanya dua-tiga hari saja, sebab aku punya acara lain di Paris yang harus segera kembali lagi ke Paris. Ternyata cinta kepada cucu, mungkin lebih hebat lagi daripada cinta asmara ketika pacaran dengan neneknya dulu itu!
Banyak permintaanku dan harapanku kepada Laura dan adik-adiknya. Tetapi Laura juga selalu dan sangat menekankan agar aku jangan sampai ada pikiran mau masuk rumah-jompo, rumah-penampungan orang-tua yang tak ada lagi keluarganya. Yang dilihat dan dibacanya dalam berbagai koran, jurnal, cukup mengenaskan, menyedihkan. Hal ini karena anak-anaknya dan cucunya tak ada lagi yang mau mengurus kakek-nenek itu. Memang tidak semua panti-jompo jelek, ada yang enakan, karena mereka bayar dan mahal. Tapi kalau yang tidak punya, yang miskin, bagaimanapun tetap saja sengsara dan kurang diperdulikan. Kepedulian dan perhatian lebih banyak tergantung berapa kamu sanggup bayar, berapa kamu punya uang yang bisa diserahkan kepada kami setiap bulan! Jadi kepedulian dan perhatian, perawatan dan pemeliharaan tergantung kepada fulus, uang, duit!
Bagi orang miskin, pensiunan yang sangat kecil, masuk panti-jompo berarti memang hanya menunggu urusan pemanggilan terakhir dari Tuhan. Dan ini rupanya sangat ditakuti oleh Laura. "Kami, mama, papa dan kami semua dengan keluarga tante Wita, kan bisa mengurus kakek, apalagi kini tante Wita sudah dekat bersama kami, satu kota, bahkan satu jalan yang sama", begitu Laura meyakinku agar benar-benar membuangkan niat masuk panti-jompo kalau memang ada dalam pikiran. Terkadang aku juga membuat kesalahan yang bisa fatal akibatnya. Kalau aku sedang dongkol dan marah karena cucu-cucu, maka pernah kuucapkan,- "Sudahlah, kalau kalian begini, pada nggak nurut dan sangat tidak mendengarkan orang-tua dan kakek, lebih baiklah kakek masuk panti-jompo saja, biar di sana sendirian menghadapai dinding dengan kesepian yang menyedihkan". Kulihat wajah Laura agak murung, dan mereka kembali tenang dan reda setelah ada "ancaman" itu.
Tetapi kukira "ancaman" begini kalau sering-sering diucapkan menjadi inflasi! Tak ada daya kekuatannya lagi, tak berharga. Dan lagi main "ancaman" begitu sangat tidak pada tempatnya. Karena itu tak pernah lagi kuucapkan kata-kata itu. Tetapi aku tahu benar, Laura dan adik-adiknya sangat tidak akan bersenang hati sekiranya kakek mereka masuk panti-jompo, hanya menunggu akhir kehidupan dalam pengertian pernafasan, nyawa saja. Mereka selalu mengharapkanku agar selalu berada di tengah mereka. Tetapi sampai kini aku belum berpikir untuk pindah ke Holland. Pindah sangatlah tidak sederhana, tapi datang dan tiba, cukup menyenangkan dan mengesankan, termasuk tidak hanya ke Holland, juga ke kampunghalaman sendiri, tempat kelahiran sendiri, Nusantara.-
Paris 20 November 1999,-
Ada periodenya ketika saya menjuruskan diri kepada masalah konsultasi, pengobatan dan kesehatan. Pengobatan termasuk tusukjarum, urut, dan serba-sedikit obat-obat tradisional. Waktu itu antara tahun 1971 sd 1977, lalu terputus, lalu tersambung lagi tahun 1981 sd 1983. Yang pertama ketika masih di Tiongkok, yang kedua sesudah hidup di Paris. Pada tahun-tahun itu benar-benar kegiatan hanya pada masalah kesehatan, kedokteran dan pengobatan. Masih sempat-sempatnya membuka "kursus tusukjarum" dengan puluhan murid-murid, yang padahal "murid-murid" itu adalah mahasiswa kedokteran di berbagai negara sosialis. Dan pada akhirnya mereka banyak yang betul-betul menjadi dokter yang berdiploma resmi sedangkan awak ini tetap saja "tukang jual koyok"!
Yang saya makud dengan istilah ini bukan dari jual-koyok membualnya, kebohongannya, tetapi semata-mata, saya tidak mungkin hidup dari pengetahuan yang serba sedikit dan tanggung itu, dan lagi tak ada surat-surat resmi, seperti diploma, sertifikat resmi dari negara. Ternyata pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai pembacaan literatur, dan yang saya praktekkan itu, tidak bisa saya andalkan untuk hidup-nyata. Saya harus mencari kehidupan secara lain, yang kongkrit menghasilkan uang, yang bisa jadi sandaran buat meneruskan bernafas, bernyawa dan kekehidupan normal seperti orang-orang lain itu.
Sebagaimana halnya dalam soal tulis-menulis, karang-mengarang, semua pekerjaan ini hanya dari segi kesukaan dan kecintaan, tetapi dia tidak bisa menjadi sandaran hidup dirikita, dan kita benar-benar akan sengsara, bahkan bisa mati kelaparan kalau hanya mengandalkan dari segi pekerjaan kesukaan dan kecintaan secara demikian. Itulah sebabnya banyak yang sudah saya tuliskan bahwa kehidupan saya lebih banyak saya jalani karena keharusan, karena kemestian, tetapi samasekali bukan karena kesukaan dan kecintaan. Namun di sela-sela pekerjaan keharusan dan kemestian ini, saya tetap dapat menyisihkan waktu untuk kerja kesukaan dan kecintaan saya. Termasuk masalah Seputar Pencegahan dan Kesehatan serta pengetahuan kedokteran itu.
Hanya saja pedoman kita yalah : kalau memegang pekerjaan keharusan dan kemestian itu sedang dalam periode kita jalani, haruslah belajar mencintai, bertanggungjawab, dan penuh rasa menghayati pekerjaan itu. Jadi walaupun dirikita diliput oleh keharusan dan kemestian, tetapi berusaha keraslah buat mencintai dan penuh tanggungjawab akan pekerjaan itu. Kalau tidak, semua pekerjaan tidak akan berhasil, dan dirikita akan selalu dalam suasana frustrasi dan depressi dan stres yang berkepanjangan. Kata peribahasa kampung kami " pandai-pandailah membawakan diri dengan suasana sekeliling kita, berusahalah menyerap dan bersenyawa dengannya". Hanya itulah pedoman saya selama ini.
Dari manakah saya dapatkan pengetahuan serba-sedikit tentang Seputar Pencegahan dan Kesehatan serta Ilmu Kedokteran secara partikeliran ini? Yang terbanyak karena suka membaca literatur yang berkenaan dengan persoan tersebut, tertarik dan sangat memikat minat baca dan mengetahui dalam bidang ini. Lalu bertanya sana-sini, melihat, menyaksikan, dan secara kebetulan orang yang paling dekat dengan saya, almarhum isteri saya adalah seorang geneacolog - obstretikus, dan ipar saya yang wanita, isterinya Bang Amat juga seorang dokter tamatan Fakultas Kedokteran UI - Korea dan Moskow. Dari dialah saya banyak belajar secara lisan dan tanya-jawab, dan berdiskusi dengannya. Tusukjarum, saya banyak berkonsultasi dengan isteri saya alm. Banyak yang saya tahu bahkan karena sambil praktek. Misalnya ketika saya mencobakan titik-tusuk dengan lebih duapuluh jarum ke tubuh isteri saya, dia berseru agar segera dicabut, sebab jantungnya berdebar sangat cepat.
Kami selidiki mengapa sebabnya. Apakah karena jarumnya terlalu banyak karena lebih duapuluh itu? Ataukah karena tidak cocok titiktusuknya, berlawanan misalnya? Dari berbagai diskusi dan tanya sana-sini itu, barulah kesimpulan yang agak kongrit dapat disatukan : ketika sedang tusukjarum itu, dia dalam keadaan lapar dan belum makan dan belum pernah minum pada hari itu. Seseorang yang akan ditusuk-jarum, samasekali tidak boleh dalam keadaan lapar dan kehausan!
Dari banyak diskusi dengan kakak iparku yang prakteknya di Rumah Sakit Melati di daerah Paseban, Kramat, ada yang bisa sedikit kujadikan pegangan, ketika beberapa teman minta pendapat tentang birth-control, ber KB, Pembatasan-Kelahiran ( PK ). Aku memberikan pendapat ketika dalam konsultasi itu - dan yang namanya konsultasi itu, tentu saja tidak harus mengikat, agar menjadi bahan pertimbangan, mau dipakai ya baik, tidak mau pakai ya tidak apa-apa.
Bahwa yang paling baik dan paling ideal dalam ber PK atau ber KB adalah melahirkan dulu, sudah itu barulah ber PK atau ber KB. Jadi begitu menikah, bisa setahun dua tahun sesudah itu melahirkan anak, lalu bisa ber PK atau ber KB. Mengapa? Ber PK atau ber KB terlalu lama, katakanlah lebih dari tujuh tahun atau lebih dari sepuluh tahun, tidak begitu baik. Kenapa? Karena kebiasaan "membentengi" diri "selalu menolak kewajaran" terlalu lama, akhirnya alat produksi penis maupun vagina, penyemprotan sperma dan daya terima vaginanya, termasuk sel-telur dan alat-kandungan, tidak lagi elastis, tidak lagi sensitif, lalu jadi kurang peka. Ini terlihat dan banyak bukti, begitu pasangan yang terlalu lama ber PK atau ber KB, ketika pasangan itu menghendaki anak, menghendaki kehamilan, lalu menjadi sangat sulit, meleset terus, tak jadi-jadi. Kalaupun jadi adalah baik, sebab sesuai dengan kehendak dan cita-citanya. Tetapi dalam penyelidikan kami, pasangan yang terlalu lama ber PK dan ber KB, lebih dari 10 tahun, hasilnya menunjukkan ketika benar-benar sudah mau punya anak, sangat sulit, tak jadi-jadi. Menurut saya, semua alat produksi buat kehamilan itu, sudah tidak begitu peka lagi, sudah tidak elastis dan tidak sensitif lagi. Ini karena terlalu lama "dibentengi" "menolak kewajaran alamiahnya" sudah terlalu lama.
Itulah sebabnya kami katakan, memang yang paling ideal adalah melahirkan dulu, sudah itu barulah ber PK dan ber KB. Tetapi hal itupun sulit diatur oleh pasangan suami-isteri, karena masalah waktu dan jadwal kehidupan sehari-harinya. Pengetahuan dan pendapat yang seperti ini, karena praktek dan melihat, menyaksikan, bertanya sana-sini dan juga berkonsultasi kepada orang-orang tertentu yang mengetahui dan memahami persoalannya. Tetapi hal inipun tetap belum dapat jadi pegangan mutlak, karena pembawaan, karakter, sifat-sifat perorangan ada yang sangat khusus, ada yang khusus, ada yang normal-normal saja. Jadi bisa jadi pegangan umum, kebanyakannya begitu, tetapi tidak mutlak harus begitu. Memang dunia pengetahuan Seputar Pencegahan dan Kesehatan serta Kedokteran ini sangat menarik, sangat luas dan manusiawi,- ( Sumber bacaan : Bunga Rampai , Yayasan Pengobatan Tradisional Modern, oleh Hakim A.S,- Kamus Kedokteran, oleh Ahmad Ramali, Dr. Med,- Flora oleh Soewita, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, penerbitan Balai Pustaka 1985 dll ).-
Paris 23 November 1999,-
Karena sudah belasan tahun bertemu-muka dengan banyak pelanggan kami di resto, maka pada umumnya kami tahu mana pelanggan kami yang lama, dan mana yang baru. Juga mana yang tersetia, hampir selalu datang setiap minggu selama belasan tahun. Dan hubungan kami menjadi akrab, tanpa protokol resmi-resmian, kami bersahabat baik dan dekat. Sehingga kalau ada tamu yang datang dan kami lihat ternyata pelanggan-lama, teman-lama, langsung dan segera kami menyalaminya, " apakabar? baik-baik saja, kok lama ya rasanya nggak muncul-muncul?",- dan dia akan menjelaskan tanpa merasa pertanyaan itu sedikit nggak enak kalau diucapkan kepada orang lain yang belum dekat benar. Ini kepada siapa saja, maksudku baik kepada orang Indonesia sendiri maupun kepada orang bule, Perancis, Amerika atau Eropa lainnya.
Suatu hari datang Madame Carmen dengan temannya. Madame Carmen adalah peranakan Italia. Dia pelanggan kami yang termasuk setia dan secara teratur datang ke resto kami. Dan karena seringnya datang ke resto kami, dia juga banyak sahabat yang berkenalannya di resto kami. Sehingga dia tahu siapa Tuan L itu, siapa Madame C itu, dan siapa Hermes peragawan pria yang agak kebanci-bancian itu. Dan aku jadi ingat beberapa pelanggan kami lainnya, seperti Richard, Bruno, dan Catherine, dan banyak lagi. Aku terkesan lama dengan Richard dan Bruno ini, karena dua orang ini selalu bersama, dan kalau datang ke resto tanpa diberi dan minta kartu-menu, mereka sudah ngomong sebelum kami menawarkan kartu-menu. "Biasa, dua-duanya nasi goreng, yang pedas ya!", kata Richard sedangkan Bruno meng-ya-kan saja. Dua orang ini berkenalan baik dengan Madame Carmen. Jadi begitu Madame Carmen datang dan sesudah duduk sambil ngobrol sedikit denganku, lalu kutanyakan di mana sekarang dua sahabat baik kita itu, Richard dan Bruno.
"Oh, belum tahu Anda? Benar belum tahu?" "Ya, kenapa rupanya? Sudah pindah dari Paris?" "Ya pindahnya jauh sekali tak mungkin kita temui di dunia ini!", katanya. "Maksud Madame? Tuan Richard-nya? Dia meninggal?" "Tidak hanya Richard, juga Bruno, heh! Mula-mula Richard yang meninggal duluan, lalu dua bulan sesudah itu disusul oleh Bruno. Dan sakitnya ya sama, sebentuk dan sebangun, jajaran-genjang!", katanya tak bersenang hati. Madame Carmen lalu bercerita menjelaskan. Dua-dua sahabat itu mati karena sida ( aids). Mereka disamping suka gitu-gituan dengan wanita lain yang tukar-tukaran, tapi juga antara sesama mereka berdua, jadi biseksual. Dan barulah aku mengerti duduk-soalnya kenapa sudah begitu lama Richard dan Bruno tak datang ke resto kami. Padahal dua orang itu sangat akrab dengan kami, dan selalu banyak bergurau, dan bercerita segala macam soal kehidupan.
Dan yang paling kami ingat, bila datang ke resto kami selalu menanyakan apakah hari ini si San kerja? Si San itu wanita mahasiswi dari Jakarta yang sekolah di Paris. Richard yang paling mau dan demen kepada si San. Dan San bekerja service di resto kami, melayani para tamu. Dan kalau kebetulan San bekerja dan melayani Richard dan Bruno, maka agak terbengkalailah bagi pelanggan lainnya. Karena mereka ngobrol! Richard lebih ganteng dari Bruno, tetapi Bruno lebih kelihatan matang dan dewasa, tenang pembawaannya. Sebenarnya mungkin saja mereka berdua sama-sama tertarik kepada San, tapi mereka tidak merasa harus bersaing, sebab mereka tak pernah tergantung pada satu dua orang cewek! Begitu banyak cewek di Paris ini, gudangnya! Dan lagi dua-duanya kan bisa main antara orang dalam, antara mereka berdua, sebagai biseksual, pede atau homo kata kami di Paris.
Kami katakan penyakit sida atau aids ini sebenarnya penyakit enak, karena enak jadi lupa! Karena enak, jadi penyakit dan jadi koit.
Ada jurnal di Paris yang mempropagandakan anti rokok, dalam rangka anti-kanker, dan disebutkan dengan angka-angka fakta dari Kementerian Kesehatan bahwa sekian ribuan orang mati setiap tahunnya karena kanker, korban pengisap rokok. Ini juga termasuk penyakit enak, sebab karena enak - ketagihan, lalu menjadi penyakit yang menjadikan orang pada koit. Ketika diadakan konperensi anti-kanker oleh Pemerintah Pusat di suatu Gedung, banyak yang berdatangan dari daerah-daerah dan provinsi. Ruangan sidang memang boleh dikatakan bersih. Tetapi begitu diadakan istirahat setengah jam, sebagian besar peserta sidang menyerbu ruangan untuk merokok, yang bersebelahan dengan ruangan Sidang resmi-nya. Dan ruangan untuk merokok itu penuh asap, agak gelap dan penuh polusi, sedangkan di sebelahnya mereka membicarakan bagaimana menentang tabak, tembakau, penyehatan paru-paru dan lingkungan hidup!
Dulu, pada masa kami masih muda, atau mungkin sampai sekarang ini masih ada seperti yang mau kuceritakan ini. Kami akan merasa sangat bangga kalau memamerkan jam-tangan yang merek ini, merek itu, dan sudah dipakai belasan tahun, dan tokh masih baik jalannya. Tetapi sekarang ini bukan soal tahan lamanya, bukan soal belasan tahunnya atau puluhan tahunnya, tetapi setiap tahun harus berganti, mengikuti model. Jadi bukannya pameran tahan lama, tapi pameran yang setiap tahun berganti model, lewat satu tahun sudah kuno! Ini sebagian termasuk "berumahtangga" atau termasuk "kumpul-kebo". Kalau ada yang bisa bertahan sekian tahun, apalagi belasan tahun, itu mah bukannya mengikuti model, tapi ketinggalan model!
Karena itu di Paris, mungkin di seluruh Perancis, yang merayakan "perayaan pernikahan atau perkawinan EMAS selama 50 tahun hidup berumahtangga" sangat langka dan sangat aneh, dan dianggap ganjil. Memang ada, tapi pengikutnya dan pengagumnya tentulah dari golongan sejenis, yang dikatakan termasuk orang kuno! Dan lama aku tertegun membaca beberapa kejadian di kampungku, Nusantara. Ada pasangan laki-laki wanita yang berselingkuh, padahal ada suami dan ada isterinya secara sah. Masih juga mau "main gila". Lalu ditangkap penduduk setempat, dan diadili secara kampungan, diarak ramai-ramai disepanjang gang dan jalan di mana mereka tinggal sekitar situ. Diiringi dengan musik, diarak sepanjang gang dan jalan itu. Maksudnya mungkin agar mereka malu dan itulah hukumannya buat orang yang berselingkuh padahal masih bersuami dan beristeri.
Yang jadi renunganku yalah : seandainya hal-hal demikian mau ditrapkan di Paris, dan seandainya mau dicobakan hukuman secara demikian, maka sudah pasti rombongan musik yang akan mengiringinya tidak mungkin cukup! Sebab hampir setiap gang dan jalan dan boulevard selalu ada saja yang berlaku demikian. Maka akan ramailah Paris ini dengan rombongan ratusan mungkin ribuan rombongan musiknya!
Banyak sekali anekdote dan humor yang agak miring dan sedikit porno di Paris ini. Sesuailah dengan kota turis dunia, kota mode dunia. Semua tahu dan mengerti, apabila waktu liburan misalnya musim-panas, maka suami isteri akan mengambil liburan dengan waktu berlainan, sebab liburannya tokh tidak sama, kantornya juga berlainan. Dan pasangan itu sudah saling mengertilah, ketika beginilah kalau mau ambil kesempatan "jajan di luaran". Malah suami-isetri itu kalau dengan berbaik hati dan saling terusterang, malah jadinya awet, bahkan tahan lama! Tokh, kata masing-masing pasangan itu, kembalinya kan ke saya juga! Ketika mau berpisah, mau berangkat, berkatalah sang suami kepada isterinya : "Yah, aku hanya setuju paling-paling selama tiga minggu itu, kau bisa lakukan tiga kalilah paling banyak, dan itupun haruslah kau ingat aku ini, bagaimanapun kita ini akan mau lama kan?". "Semua kuserahkan kepadamu, bukankah kau yang mengusulkan duluan, dan itupun datangnya bukan dariku, kau ingat itu. Aku setuju saja dengan pendirianmu." "Baiklah, marilah kita saling pegang-janji", kata suaminya sambil memeluk isterinya ketika akan berpisah itu.
Dan waktupun berjalan menurut layaknya. Sesudah liburan selesai dan segera besok lusa akan kembali bekerja, datanglah sang suami kepada isterinya mau menanyakan pengalaman isterinya. "Cobalah kau ceritakan bagaimana pengalamanmu selama liburan itu. Apakah kau tetap memegang janji kita dulu itu?". "Aku sih tetap pegang janji yang kaukatakan itu", kata sang isteri. "Tetapi karena kau yang mengusulkan, maka kuharap kaulah yang cerita duluan"; Maka berceritalah sang suami. Benar diapun katanya "hanya" tiga kali saja. Mula-mula dengan seorang pelayan toko serba-ada, karena sama-sama suka. Lalu yang kedua dengan jururawat yang kebetulan dikenalnya di sebuah puskemas yang ketika itu dia mau berobat. Lalu yang ketiga ini, dengan seorang pegawai kantor urusan sosial, yang kebetulan ketemu sama-sama sedang berlibur, itupun sangat kebetulan sekali, tak disangka-sangka, kata sang suami.
"Nah, sekarang saya yang mau dengar pengalamanmu", kata sang suami dengan bersemangat mau tahu. "Ya, tak ada anehnya, sesuai dengan yang kau katakan itu, malah saya sih hanya satu hari saja, dalam satu hari saja. Kau kan tiga hari kalau per harinya, saya hanya hari itu saja", kata sang isteri seakan membela diri. "Lalu dengan siapa", kata sang suami sudah tak sabaran mau tahu. "Dengan siapa? Apakah penting kau tahu?" "Ya, kan saya terusterang, kaupun baik juga terusterang", kata sang suami. "Okey, okey. Di kota-pelabuhan C, kan. Kan kau tahu, mungkin baca nggak di koran, bahwa ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan B dan C di kota C, nah dengan mereka itulah, grup itulah", kata sang isteri tenang setenang lautan Merriditerrania. Mendengar ini sang suami terasa berputar kepalanya, pusing tujuh keliling, dan hampir pingsan. Dalam benaknya apakah dengan rombongan yang belasan orang itu?!
Tapi wahai para pembaca, janganlah buru-buru mengecap orang Perancis itu kok suka gitu-gituan sih. Ini kan hanya anekdote dan humoristis, walaupan bagaimanapûn dan betapapun mungkin sedikit ada hubungannya. Namun demikian anggaplah itu hanya humor dan anekdote biasa saja adanya!
Paris 30 November 1999,-
Ternyata Cibubur itu cukup luas, sedangkan yang saya tahu dalam beberapa hari itu pada mulanya biasa-biasa saja adanya, tidak mengandung suatu apapun yang berarti. Pada iklan yang terpampang di jalanan-tol, ada terpampang tentang iklan kota Cibubur ini dengan tulisan segede gajah : CIBUBUR KOTA DENGAN SEJUTA PESONA atau pada iklan lainnya tertulis : CIBUBUR KOTA PETUALANGAN, atau KOTA DUNIA PESONA DAN PETUALANGAN. Pokoknya ingin memperlihatkan bahwa Cibubur itu hebatlah adanya.
Dalam hati saya, alah, apasih anehnya Cibubur itu, jauh dari kota, jauh dari pusat Jakarta, agak udikan lagi! Saya tinggal di Cibubur selama hampir dua bulan di Jakarta baru-baru ini. Bolak-balik dengan mobil, itu-itu saja yang dilihat, lalu apanya sih yang sejuta pesona dan kota petualangan itu? Tidak ada kendaraan umum yang dekat-dekat perkampungan itu. Kalau tak punya kendaraan pribadi, minta ampun sengsaranya tinggal di Cibubur itu. Mau pesan taksi, jauh sekali, harus tilpun, paling cepat seperempat jam baru taksinya datang. Kendaraan umum sangat jauh dari perumahan. Ada kendaraan ojek, tapi itupun jauh letaknya. Pokoknya kalau jadi orang miskin seperti saya ini sangat sulitlah kalau tinggal di Cibubur, semua harus pakai uang, taksilah, ojeklah, jalan jauhlah, pendeknya selalu harus keluar tenaga, pikiran dan uang! Harus bersusahpayah. Jakarta sangat panas, bergerak sedikit sudah basah berkeringat.
Dulu, tahun dulu saya juga di Cibubur, tapi di rumahnya Oom Djoen. Dan kini juga di Cibubur tapi di rumahnya keponakan saya : Asmaralda, si as. Dan ternyata setelah berminggu-minggu saya tinggal di Cibubur dan melihat agak keseluruhan ke-Cibubur-annya, maka mengertilah saya, ada kecocokan antara iklan papan-raksasa yang terpampang di jalanan-tol itu, mengandung kebenaran juga adanya.
Cibubur itu ternyata luas, sampai-sampai walaupun namanya sama-sama Cibubur dan tempatnya memang di satu wilayah, ternyata ada yang wilayahnya termasuk Jakarta-Timur seperti rumah Oom Oey itu dan ada wilayah yang sudah termasuk Depok-Bogor, seperti rumahnya Asmaralda yang saya tempati ketika itu. Dan ejekan alah apasih Cibubur itu, tampaknya ponakanku si As tak bersenang hati, lalu pada suatu hari diajaknyalah saya dengan BMW-nya menjelajahi daerah Cibubur itu.
Dan alah mak, luas juga Cibubur ini, dan isinya bermacam-macam. Jambore Nasional tempat pesta pramuka se dunia atau se Asia, di Cibuburlah tempatnya. Dan perumahannya memang ada yang mengandung sejuta pesona itu. Rumah-rumah yang bagaikan istana-kecil, ditatah dengan rasa seni yang tinggi, dan dipadukan dengan rasa estetika yang berkelas, maka pemandangan dan lingkungan Cibubur sangat indah, berseri dan bersih,- paling tidak pada bagian perumahan kelas menengah-atasnya-,
Dan sayangnya atau anehnya, perumahan yang menggunakan pertanahan sampai 5 atau 6 hektar itu, yang begitu luas, tapi penghuninya kosong! Jadi perumahan yang begitu bagus indah, ternyata hanya dihuni penunggunya, orang gajiannya dari para pemiliknya! Karena pemiliknya sangat-sangat jarang datang ke tempat itu. Dan ternyata kebanyakannya memiliki perumahan itu hanyalah sebagai peyimpan uang dalam bentuk hipotik,perumahan, sebagai investasi akumulasi modal.
Dan ternyata ada nama-nama beken yang memiliki perumahan atau pertanahan di Cibubur itu. Jauh sebelum Habibie menjadi Presiden ke tiga, dia sudah punya perumahan dan pertahan di wilayah Cibubur ini. Bahkan katanya dulu itu, kalau dia bepergian dari perumahan yang bagaikan istana-kecilnya itu selalu pakai helikopter! Dan memang sangat jarang Habibie datang ke tempat istana-kecilnya ini, karena itu penduduk sekitar akan lebih tahu kapan Pak Habibie dengan helikopternya itu. Dan katanya istana-kecilnya itu lebih banyak dihuni oleh anaknya.
Lalu ada nama-nama seperti Bob Hasan konglomerat yang dilahirkan dari rakhimnya pemerintahan Orba Suharto, si raja-kayu si raja-hutan Kalimantan itu. Lalu ada lagi menteri R. Ramelan dengan tanah dan perumahan yang kata orang bisa dengan istilah aduhainya. Dan agak kepojok yang ada telaga buatan, ada kompleks perumahan yang sangat jarang orang tahu, itulah kepunyaan Jenderal Prabowo! Yang padahal Prabowonya entah di mana tinggalnya, katanya masih di Timur Tengah. Dan ada beberapa lagi kepunyaan orang Jakarta dengan sulapan dari pertanahan kosong menjadi pesanggerahan mewah.
Perumahan luks tetapi biasa-biasa saja pemiliknya, artinya bukan dari golongan beken seperti yang saya sebutkan tadi itu, cukup banyak. Perumahan dengan nama Taman Bunga Arnoldi Rafflesia, bukan main bagus-bagusnya perumahan di daerah ini. Dan perumahan yang bagus-bagus, mewah-mewah, mempesona begini, ternyata di sekitar Jakarta dan Jabotabek ini, bukan lagi monopoli daerah PONDOK INDAH dan CINERE lagi! Seperti pada belasan tahun yang lalu. Pada waktunya akan saya ceritakan bagaimana perumahan di daerah PANTAI MUTIARA, dan beberapa daerah lagi yang sudah jauh meninggalkan kesemarakan dan glamournya daerah PONDOK INDAH dan CINERE.
Dan ternyata orang-orang kaya Jakarta yang sangat pelahap-tanah, pelahap-rumah itu sungguh pandai melihat situasi. Dalam keadaan begini ulah perekonomian, penyimpanan uang, "menyembunyikan" harta-benda uang dan emas, jauh lebih baik bila dijadikan investasi perumahan, dan tidak dipendam atau dijalankan dengan mesin-bank yang dulu beberapa tahun yang lalu, pada menjamur bertumbuhan subur, tetapi kini pada rontok, bangkrut karena ada badan pemeriksaan kemacetan pembayan hutangnya. Tanpa itu tetap saja tidak akan ketahuan ke mana masuk dan jalannya itu uang yang mengalir deras dari luarnegeri.
Dalam satu sajak saya ada saya tuliskan, ada pejabat atau konglomerat yang merasa masih penasaran karena rumahnya, kepemilikan rumahnya baru saja ada dua dan tiga. Maunya bisa banyak bahkan bisa belasan!
Kembali ke rumah kami yang di Cibubur itu, yang wilayahnya sudah masuk Bogor, sangat sulit mencapainya. Karena termasuk letaknya di ujung dunia. Selalu saja kalau ada beberapa teman atau wartawan yang mau mencari saya, akan saya katakan, susah mencarinya. Dengan keterangan : Cibubur daerah Bogor, masuknya dari tol dekat lapangan jambore pramuka, lalu menuju ke kompleks IPTN, lalu cari permahan Mandala Sari, lalu masuk gang yang jalanannya masih tanahliat, kalau hujan minta ampun beceknya. Di mana ada pintu seng, dan hanya ada satu saja rumah yang terletak di situ, nah, itulah rumahnya, masuklah. Dan kalau sudah sampai ke jalan becek, yang penuh semak, dan pagar seng itu, dan pintunyapun seng pula, maka tak ragu-ragu itulah rumah yang kutumpangi itu.
Nama gangnya, atau jalannya kalau mau keren sedikit, adalah nama keluarga, Nazahara Puri, diambil dari nama Ayah dan Ibunya dari si As, ponakanku itu. Dan tak ada yang protes, sebab jalan itu hanya mereka saja tinggal di gang itu! Namun demikian ada juga teman wartawan yang menyerah kalah, mereka berdua kembali ke rumahnya, sebab gagal dan tak dapat menemukan rumah itu, karena jauhnya, karena terpencilnya.
Ketika ada kenalan-keluarga saya yang wanita mau menemui saya datang ke rumah, saya katakan lebih baik undurkan saja maksud itu, takkan bisa menemui alamat tempat saya menginap. Sangat sulit mencarinya, lebih baik saya saja yang datang ke tempatnya atau bertemu di suatu tempat. Tapi Maya tetap ngotot mau datang. Dan ternyata dia pakai banyak akal. Dia bawa handphone, setiap ada kesulitan mencari jalan dan gang itu, lalu dia tilpun. Dengan demikian ada penuntunnya terus. Sehingga sampai di depan rumah yang jauhnya dari gang itu sejauh 70 meter, tetap kami berhubungan tilpun, dan dia dapatkan alamatnya. Dan dia merasa menang, sudah ditakut-takuti takkan mendapatkan alamat itu, tetap saja ngotot mencarinya sampai dapat,- bravo Maya!
Paris 16 Febr 2000,-
Orang Jakarta tampaknya memang suka nongkrong. Makan di resto, warung, termasuk warteg, dan emper-emper warung kaki-lima yang digelar menjelang sore. Kalau sudah jam 17.°° beberapa pinggiran jalan sudah penuh warung makanan yang sifatnya darurat, sebab menjelang tengah-malam, daerah itu harus mulai dibersihkan, buat keesokan harinya digunakan buat parkir mobil atau juga kios darurat.
Sepanjang pinggiran jalanan di Pecenongan masih seperti 50 tahunan yang lalu, penuh warung makanan, dan anehnya satu sama lain tampaknya tak kentara bersaingan, atau memang sudah sama-sama bersetuju tak saling mengganggu. Dan aneh lainnya lagi, pada pokoknya semua warung makanan disitu penuh dengan pelanggan. Dibandingkan dengan tahun-tahun limapuluhan dulu itu, menurut saya kebersihannya jauh labih baik ketika dulu itu. Kini cukup banyak lobang-lobang menganga, solokan yang letaknya tak jauh bahkan dipinggir kursi pelanggan yang sedang makan. Sehingga pelanggan mudah saja dan leluasa membuangkan tulang-tulang ayam, ikan,kambing ke solokan dan lobang yang menganga itu.
Dan saya lihat satu sama lain sudah biasa dengan keadaan demikian. Tak ambil perdulian, masakbodo, makan ya makan, yang penting enak di selera, nikmat di lidah, habis perkara.
Warung yang sifatnya darurat begini bukan main banyaknya di Jakarta, sampai ke Kebayoran. Dan sudah jadi mode, para artis buka warung, buka cafe, buka tenda manis-klimis dan asik-menarik. Tentu saja terkadang para artisnya bersama para pendatang dan pelanggan, dan yang begini ini yang bikin laku. Orang-orang terkadang mau ngobrol sama artisnya, mungkin lebih penting menikmati rupa dan wajah kecantikan artisnya ketimbang rasa makanan dan minumannya.
Sesuatu warung kalau sudah demikian lakunya, maka tak ada tempat buat duduk menikmati makanan. Apa akal? Para pelanggan dengan menggunakan mobil pribadinya duduk di mobil saja sambil menikmati makanan. Dan "yang beruntungnya" saya juga melakukannya. "Untungnya" keluarga saya ini pada suka makan, suka nongkrong, suka jajan, maka satu seleralah kami semobil itu. Anak muda yang penuh energik, cucu saya Pongky, mengajak saya makan nongkrong di pojokan jalanan yang di Kebayoran. Makan nasi-uduk yang katanya sangat enak dan terkenal.
Begitu kami datang, tak ada tempat lagi, penuh. Sehingga kami pesan dan datang ke bagian penyajian, dapur darurat, tunjuk sendiri, ambil sendiri, pokoknya help your selp-lah! Dan lalu kami kembali ke mobil dan makan dalam mobil. Ketika itu kami baru pulang dari disko jumpjaz. Salah seorang penyanyinya sambil nyanyi sambil pakai pet, topi kasket, simpatik, manis dan ramah, selalu senyum. Melihat yang beginian, mana saya tahan, lalu bagaikan magnit-besiberani, mau tahu, mau kenalan. Dan saya minta kalau istirahat nanti tolong temui saya di meja sekian.
Seorang pelayan anak muda yang juga cantik, menyampaikan pesan saya ini. Dan betullah ketika istirahat, si dia datang dengan tetap pakai pet-kasket dengan rambutnya pendek, jongenskop. Dan saya silahkan duduk berhadapan dengan saya, sedangkan "para cucu" saya agak minggir memberikan kesempatan pada kakeknya buat wawancara! Namanya Diana, dipanggil Mbak Yana saja. Mereka rombongan for you, dan ditulis dengan nama band mereka 4 U,- Anggota bandnya 10 orang, 6 pemain musik dan 4 penyanyi. Dua penyanyi wanita, mbak Yana dengan adiknya Uci, dan dua penyanyi pria.
Mereka rata-rata berumur 20 sampai 28 tahun. Yana sendiri 25 tahun. Tamatan dari Uni Trisakti bagian ekonomi. Kalau pagi ngantor di sebuah kantor swasta, kalau malam nyanyi di bar, di cafe, di diskotik. Mereka rata-rata harus hapal antara 150 sampai 300 lagu berbahasa Inggris dan Indonesia. Pokoknya diusahakan sebaik dan serapi mungkin, jangan sampai ada permintaan lagu dari para hadirin tetapi tak tahu dan tak mengerti lagunya, jangan sampai terjadi demikian!!
Ketika saya tanyakan bagaimana cara memelihara suara yang begitu terus menerus menyanyi, capek dan lelah, tetapi volumenya tetap stabil. Yana mengatakan, resepnya sendiri adalah sekali-kali jangan minum banyak ketika sedang nyanyi, dan kalau sangat haus basahilah kerongkongan dengan minum air-putih biasa, jangan terlalu dingin, dan samasekali jangan hangat. Dan banyak olahraga yang sifatnya tidak berat tetapi selalu kontinyu, berkesinambungan.
Ketika itu bulan puasa, dan Yana serta banyak anggota rombongan berpuasa dengan baik dan taat agama, memang luarbisa! Berapa dapat uangnya? Pertanyaan ini termasuk agak rahasia dapur, tetapi yang sifatnya umum, dapat jawaban. Mereka sekali manggung terkadang dapat dua juta sampai lima juta rupiah buat keseluruhan, buat perorangan, nah di sini rahasia dapurnya. Terkadang bisa lebih tinggi, sebab ada pelanggan di bar dan disko itu yang sedang berulangtahun, dan minta diperpajang atau minta agak khusus buat mengiringi dansa antara keluarga dan teman-teman dekat. Nah, malam itu bisa sampai 10 juta rupiah!
Ketika saya tanyakan, apakah mbak Yana suka baca buku cerita dan sastra? Ternyata dia suka, dan ada jalan buat saya memberikan beberapa jilid yang kubawa dari Paris. Dan ternyata buku itu beredar dari tangan ke tangan, dan kami lalu berhubungan tilpun dan e-mail yang selanjutnya dia masih mengharapkan akan bisa membaca karya-karya lainnya. Dan pada beberapa hari yang lalu, dia katakan, bahwa dia sedang sibuk mengurusi pernikahan. Sampai di sini saya tak tahu, pernikahan siapa, apakah pernikahan dirinya sendiri atau pernikahan keluarga lainnya atau temannya.
Tapi kalaupun dia yang menikah, saya sudah undang dia dengan calon suaminya itu buat bermalam di Paris di rumah saya, dan akan saya berikan kunci apartemen saya selama dia suka dan mau, dan saya mengungsi ke Holland atau ke teman saya di tempat lainnya di Paris ini.
Sebenarnya perkenalan itu mungkin tidak akan lama berlanjut, kalau pada malam itu juga kami secara tak sengaja, bertemu sama-sama mau nongkrong, mau makan nasi-uduk Wak Sadri di pojokan salah satu jalan di Kebayoran.Karena sama-sama tak ada tempat duduk,kami merapatkan mobil masing-masing, dan sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan adiknya Uci dan lain-lain. Padahal malam itu sudah berganti hari dari Sabtu ke Minggu dinihari, sebab sudah jam 01.°°
Ada dua yang saya dapatkan, memang nasi-uduknya enak, dan suasananya sedap, santai dan berkesan, yang mau diwawancarai berganti mewawancarai saya. Di mana kini hidup, sudah berapa lama tinggal di Paris, di mana dan berapa banyak keluarganya, apakah tak ingin pindah ke Jakarta atau Indonesia, bagaimana kesannya setelah pemerintah baru ini, setelah babe lengser dan Habibi jatuh ini? Dan banyak pertanyaan lainnya yang mungkin perbandingan sama dengan jumlah pertanyaan saya dua tiga jam yang lalu ketika mula pertama saya mewawancarainya.
Kehidupan malam di Jakarta baik yang terang jelas jemelas maupun yang redup-redup, muram-muram, sangat menarik buat dilihat, dinikmati.Caramenikmatinya memang berlainan antara satu orang dengan orang lainnya. Kalau saya, mungkin diperpadu dengan kehidupan saya yang sangat sederhana, agak miskin lalu menggunakan atau melalui "saluran" keluarga saya dari pihak istri almarhum yang berkedudukan golongan menengah. Sedangkan keluarga saya adalah keluarga miskin, paling tidak sangat sederhana. Jadi sebenarnya saya ini hanya pandai menumpang, nebeng pada golongan berada, numpang menikmati hidup berkelas tinggi, ini untuk saya. Untuk golongan yang memang lebih tinggi, apa yang saya nikmati dan alami, samasekali tak ada artinya, sebab mereka "permainannya sudah sangat atasan dan top", ibaratnya mereka itu sudah pada batu-gunungan, sedangkan saya baru batu kerikilan!
Paris 17 febr 2000,-
Pada suatu periode pernah sejumlah ibu-ibu, orangtua anak-anak sekolah SD di beberapa sekolahan mengeluh, mengapa anak-anaknya tampak lemas, tak bersemangat, mundur dalam pelajaran. Tetapi ini hanya gejala akibat sesuatu, sebab sebelum itu sangat aktive, gembira dan lincah. Hanya kegembiraan dan kelincahan ini tak berlangsung lama, sementara saja. Yang berlangsung lama justru yang tampak lemas, tak bersemangatnya, dan mundur dalam pelajarannya.
Setelah beberapa waktu diselidiki oleh beberapa orangtua anak-anak itu, maka ketahuanlah, anak-anak yang bertingkah demikian, selalu saja sesudah membeli permen kesukaan mereka di dekat warung sekolahnya. Dan dalam permen itu mengandung obatterlarang, sejenis morphin, candu, yang walaupun tingkatnya tidak sangat berat dan keras, tetapi sudah menjadikan anak-anak itu ketagihan. Dapatlah dibayangkan bagaimana cemas dan kuatirnya para orangtua anak-anak itu. Terbayang gelap-buramnya masa depan anak-anaknya.
Penjual dan pedagang serta pengedar barang-haram dan terlarang itu sudah demikian gilanya meracuni anak-anak dan masa depan bangsa. Tapi mana perduli kalau orang sudah mabuk dan gila cari uang.
Sekarang barulah diadakan razzia di sekolahan-dasar, SD dan SMP. Kalau dulu razzia itu hanya di beberapa tempat tertentu, seperti diskotik, bar dan night-club dan sejenisnya, tempat-tempat hiburan malam, maka pada suatu periode, menyeluruh ke segala tingkat pendidikan, sekolahan, bahkan di beberapa madrasah dan pesantren! Lalu diserukanlah bagaimana bahayanya "narkoba" itu, perang terhadap narkoba.
Orang masih ingat jelas, suatu ketika diadakan razzia di sebuah tempat hiburan, mencari pengedar, penjual dan pemakaian obatterlarang itu. Ditemukan beberapa oknum tentara, si bajuhijau. Ditangkap, diusut, ternyata orang ini seorang angkatandarat yang berpangkat letnan. Dan tak berapa lama, orang muda pengedar obatteralarang itu, dijemput oleh tentara lainnya dari kepolisian, sebab orang ini adalah anaknya Panglima Angkatan Darat, KSAD ketika itu! Dan sampai kini kisah-cerita itu hilang raib, dipeti-eskan, dan dianggap tak ada saja! Begitulah berkuasanya yang namanya jenderal-jenderal. Setiap peristiwa dan kejahatan, dan pembunuhan, peculikan, apabila terlibat oknum serdadu, alamat persoalannya takkan mungkin diajukan ke pengadilan! Betapa banyak contoh begini.
Obatterlarang pengedar dan pemakaiannya sudah sangat luas beredar di Indonesia, lebih khusus lagi di Jakarta. Sudah turut orang-orang asing dari Afrika yang baru-baru ini tertembak. Sayangnya dedengkot, biangkeladi, kepala dan geng sebenarnya tetap saja yang dalamnegeri, lolos saja dan selalu selamat-selamat saja.
Pada beberapa tahun yang lalu, keponakan saya mengajak saya berdisko di TanahAbang, namanya Tanamur, artinya Tanah-Abang-Timur. Begitu masuk ke ruangan disko ini, benar-benar saya hampir saja pingsan, sebab mendengar musiknya berdentam-dentam sangat keras, keras sekali. Jantung dibuatnya turut berdentam dengan irama gila itu! Tak sampai duapuluh menit pertama saya ke luar. Lalu masuk lagi, karena keluarga saya tampaknya biasa-biasa saja adanya, saya malu menyatakan bahwa saya mau pulang. Jadi selama itu saya lebih banyak di luar daripada di dalam. Dan saya lihat, orang-orang yang berdansa itu, jingkrak-jingkrak, berputar, melompat, bahkan ada yang pakai salto segala. Betapa hebatnya, dan gembiranya, dan kuatnya itu jantung-jantung mereka. Saya sangat kagum dibuatnya, walaupun tak secuilpun saya mau seperti mereka.
Ternyata setelah saya tanyakan, mengapa dan bagaimana mereka sampai begitu kuat dan tahannya melakukan gerak begitu sulit dan meminta tenaga olahraga begitu hebat. Ponakan saya menjawab, tanpa minum dan menelan ekstasy tidak mungkin tahan melakukan gerakan demikian. Maka mengangguklah saya, sedikit mengerti.
Dan lalu saya menjadi tertarik mau tahu segala jenis dan selukbeluk obattelarang itu. Ternyata cukup banyak jenisnya. Ada ekstasy yang sudah sangat terkenal, sejenis pil. Ada yang bernama putao, shabu-shabu, koplo yang agak sederhana dan sedikit kampungan, dan berjenis tablet, seperti nipam, megadon dan banyak lagi. Shabu-shabu seakan-akan nama dari Jepang. Shabu-shabu menggunakannya melalui pemasakan, dihisap lewat zat-cair, seperti orang menghisap candu yang melalui pipa-air yang berbunyi gerodok-gerodok, sedap kedengarannya. Shabu-shabu tak boleh langsung, harus melalui penghisapan lewat air, bentuknya seperti kristal gula, ada yang serbuk. Kalau begitu terendam air, plup-plupnya kasar, itu artinya belum baik, belum tingkat hebat, kalau halus, buihnya kecil, nah, inilah yang dicari-cari.
Tingkat penghayalan shabu-shabu dan ekstasy ada kesamaannya tapi ada perbedaan lainnya. Shabu-shabu jauh lebih banyak tingkat penghayalannya, banyak dreamnya, mimpinya. Karena itu obatterlarang ini banyak menyerang syaraf. Pada tingkat awalnya akan terasa tenang, happy sekali, tak ada beban apa-apa. Tetapi setelah itu, obatnya masuk melalui syaraf-otak, barulah terasa lemas, malas, dan hanya mau mengulanginya lagi, terus begitu. Otak-kecil ditariknya, sehingga meregang, karena itu tak bisa tidur, sangat sulit tidur. Semua ini karena jantung dipacu keras, berdentam-dentam. Yang ada rasa malas dan jemu, tapi tak ada rasa mau tidur, terlena mengantuk saja, tapi tidak bisa tidur,- betapa nggak enaknya kalau begitu! Keadaan sipemadat ini tidak bisa tenang, lekas sensetif dan pemarah.
Jadi kalau begitu rasa enaknya itu hanya betul-betul buat sementara saja, dan sudah itu akan terasa akibat semua ketidakenakannya. Lah, kenapa orang mau!? Karena daya dan gaya mimpi, dream, menghayalnya, sangat enak seketika!
Ekstasy dan shabu-shabu banyak jenis istilah namanya, seperti "blue-sky" "perang-sabil" "superman" "elektrik" "appel". Dengan berbagai harganya. Si pemesan tinggal sebut jenisnya, lalu diantar ke pemakai, atau dijemput di sesuatu tempat. "Blue-eyes" satu gramnya RP 600.000,- ada yang hampir satu juta rupiah.
Menurut para pemakai dan pengedar itu, ada tablet, sejenis pil yang sangat anti ketagihan obatterlarang. Pil itu satunya 40 juta rupiah! Dan begitu minum pil itu, ditanggung takkan mau lagi mencoba obatterlarang itu, hilang semua rasa ketagihan dan ketergantungan. Ini katanya, sebab tak mungkin lepas dari merek dagang agar setiap pemakai ada jaminan perasaan aman, tokh nanti kalau sudah ketagihan sangat, cari saja pil yang seharga 40 juta itu! Bereslah!
Istilah mereka-pun ada kekhususannya, misalnya "sakao", dia sedang sakao nih,- artinya dia sedang sakit karena putao!
Kebetulan kalau razzianya sedang berada ditingkat tinggi, agak kerasan, maka pengedar dan pemakai begitu ketahuan, akan masuk sel. Tetapi semua bisa diatur! Beberapa teman dari ponakan saya, tokh bisa lolos tanpa ke pengadilan dengan menebus seharga 15 juta Rupiah!
Pesta shabu-shabu cukup meriah. Pesta shabu-shabu lain dari pesta lainnya. Sebab penuh makanan dan irma musik yang berdentam-dentam dan terkadang lalu agak pelan. Di samping penuh makanan dan minuman sebagaimana layaknya pesta, juga penuh minuman pendampingnya seperti beralkohol tinggi dari belasan derajat sampai 70 derajat, dari minuman bernostalgia seperti Taps, Bols, Jenever, yang semuanya sangat terkenal di zamannya kolonial Belanda bahkan VOC dulu itu!
Kata orang-orang pemakai obatterlarang itu, " owe bo kam boan"lah! Maksudnya saya tak relalah kalau sampai ditangkap dan masuk sel. Apa ini artinya? Siap menyogok, mengeluarkan uang banyak, atau mati atau melarikan diri menghilangkan jejak. Masuk lingkungan atau lingkaran dunia-obatterlarang, sama halnya masuk dunia-maffia, tanggungannya yalah penjara, pembunuhan, atau kematian. Jual-beli obatterlarang ini, sangat cepat dan sangat menguntungkan, frekwensinya juga cepat sekali, tetapi kadar bahaya dan perjudian nasib-jiwanya sangat beresiko tinggi yang bukan main! Tak ada pedagang, penjual, pengedar ataupun pemakai yang merasa aman hidupnya, selalu penuh ketegangan, penuh rasa ketidakamanan, dan selalu ada api disekitar kehidupannya, selalu ada ancaman maut. Penuh persaingan, penuh pergumulan kecurangan, dan jiwa selalu diujung belati atau peluru. Semoga kita saling sama mengerti akan bahayanya obatterlarang ini yang sangat merusak haridepan manusia.-
Paris 18 Febr 2000,-
Tahun 50-an Jakarta Kota, atau disebut juga Kota, adalah pusat perdagangan. Dua nama besar seperti Pintu Besar dan Pintu Kecil merupakan pusat perdagangan yang daerahnya sangat tak kentara bahwa daerah itu adalah daerah uang. Banyak orang menyebutkan dua nama itu bagaikan Wallstreet kecil Indonesia, yang ada di ibukota Indonesia. Sekarang sudah banyak berubah. Tetapi tetap masih merupakan pusat perdagangan, pusat uang, pusat hiburan malam, pusat kesibukan, pusat kemacetan dan juga pusat kejahatan, kemaksiatan. Juga termasuk pusat penongkrongan, makan dan jajan.
Daerah ini mulai dari yang dulunya bernama Pintu-Besi, Pasar Baru, Sawah Besar, ketika waktu zaman Belandanya bernama Moolenvliet yang berubah menjadi Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tetap sampai kini daerah padat, ramai, sampai ke pusatnya, yaitu Kota. Sampai stasiun Kota, lalu menyebar ke daerah Tambora, Jembatan Lima, sekitar Glodok, yang dulu dinamakan Batavia. Sampai kini nama Batavia merupakan merek dagang yang menarik. Ada café yang namanya Batavia dan laku sekali, termasuk banyak orang asing yang menjadi pelanggan dan pengunjungnya.
Pengertian café di sini ternyata berbeda dengan café di Paris. Café di Jakarta jauh lebih besar dan lebih lengkap daripada di Paris. Sebab ada restorannya, ada hiburan musiknya, musik-hidup dengan seperangkat alat-alat musiknya, yang di Paris bukan lagi bernama café. Dan di Paris sebenarnya betul-betul buat orang ngopi dan ngobrol lama, santai, dan duduk-duduk pada ngeliatan orang lewat, atau rond-point buat janji bertemu karena ada hal-hal yang mau dibicarakan. Tapi di Paris tak ada café yang begitu besar dan begitu lengkap dengan musik-hidup seperti di Jakarta itu, yang sekaligus merangkap restauran besar.
Soal makan tempat nongkrong enak, Jakarta Kota-lah tempatnya, bahkan mulai dari sepanjang jalan Pecenongan lalu menjurus ke bagian Kota Atas, ini istilah dulunya, maksudnya Batavia Centrum. Kota Bawah, yang menuju ke arah Jatinegara, atau Meester Cornelis, ini nama baheulanya. Istilah dulunya Weltevreeden. Jadi bagian Kramat, Senen, Salemba, bukan lagi yang bernama Kota atau Batavia, tapi sudah Weltevreeden, yang keseluruhannya sampai kini tetap bernama Jakarta, atau Jakarta Pusat. Yang di sebut duluan adalah daerah Jakarta Utara sampai Tanjungpriok, termasuk dari Kelapa Gading yang kini sudah sangat ramai dengan daerah perdagangannya, tak jauh dari daerah Kayu Putih dan Pulo Mas, daerah Jakarta Timur.
Jakarta dengan pembagian wilayahnya menjadi Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Barat dan Selatan, Utara, sebenarnya bukan main luasnya. Saya kira jauh lebih luas daripada Paris, kecuali kalau di masukkan Ile de France yang merangkap daerah wilayah 91, 92, 93, 94, 95, 77, dan 78, yang disebut masih Ile de France - Parisien, karena masih dianggap bagian Paris secara keseluruhan. Tetapi kalau hanya Paris Kota, atau Kota Parisnya tok, tidaklah begitu luas. Hanya mengena pada delta yang dilingkungi atau yang dipeluk Sungai Seine itu saja, dengan berpusat pada Cité, Kantor Pengadilan Kota Paris. Tetapi kalau Paris keseluruhan dengan daerah yang saya sebutkan tadi itu, memang cukup luas juga. Hanya tak dapat dengan pasti saya katakan, mana yang lebih luas, Jakarta atau Paris kalau mau dimasukkan daerah-daerah itu. Tetapi kalau hanya Paris saja, Paris tok, dengan kotanya saja, pastilah Jakarta lebih luas, apalagi kalau mau digabung menjadi Jabotabek, Jakarta - Bogor - Tanggerang dan Bekasi.
Karena Jakarta dan sekitarnya itu pusat pekerjaan, termasuk perkantoran, pegawai, dan pabrik - perindustrian, zone industrial, dan juga banyak perguruan tinggi, universitas,akademi, sekolahan SMP - SMA dan sekolah lanjutan lainnya, maka dapatlah dibayangkan betapa banyak dan padatnya Jakarta itu. Orang lalulintas kalau siang hari, sekitar Jakarta, tak kurang dengan angka sebelas juta sampai belasan juta ke atas lagi, kalau menurut catatan kehidupan Jakarta di siang hari. Kota Paris jauh di bawah itu!
Tak heran karena itu orang yang begitu banyak perlu cepat, perlu ringkas dan perlu praktis, dan karenanya banyak tak punya waktu kalau pulang dan lalu menyiapkan makanan dan masak-masak lagi. Cari saja resto, warung, kakilima! Dan kesibukan begini menambah daya tampung dan daya serap rumahmakan dengan berbagai bentuk dan cara penyajiannya.
Ketika menjelang babe jatuh lengser keprabon panditaratu, banyak nama makanan yang disesuaikan dengan bergolaknya situasai ketika itu. Banyak warung, tempat penongkrongan menjual "nasi uduk reformasi" dan "nasi goreng demonstran". Juga ada nama bubur ayam dengan "bubur hostess". Mengapa demikian? Memang ada kekhususannya. Tempat atau resto itu, hanya buka mulai jam 24.°° sampai dengan 06.°° pagi. Yang paling banyak pengunjung dan pelanggannya yalah wanita-wanita muda yang bekerja-malam, yang merasa lapar lalu nongkrong di tempat itu. Lama-lama menjadi populer di kalangan yang suka cari makan nongkrong, karena memang banyak hostessnya, lalu menjadi "bubur hostess atau bubur-ayam hostess". Rasanya sangat enak, murah dan lumayan bersih. Satu mangkoknya antara Rp 5000 sampai Rp 8000, artinya 5 sampai 8 francs. Campurannya berbagai macam yang kita pilih dan kehendaki, bisa dengan ayam dan sotong, cumi-cumi, bisa dengan daging sapi, babi-panggang, bebek, ikan-teri segar-gorengannya, atau jeroan ayam seperti ati-rempla dan lainnya.
Bisa dimakan cara model Tionghoa (sebenarnya nama ini lebih enak diucapkan dengan "cara Cina", tapi sudahlah), yaitu dicampur youtiao goreng.
Rumahmakan yang dulu sangat populer dan laku karena memang enak, tetap masih ada. Padahal sudah lebih 50 tahun yang lalu. Saya teringat dan sering juga nongkrong di rumahmakan yang ketika tahun 50-an namanya "Tung Kong". Letaknya di sekitar Asam Lama dan Asam Baru, dulu namanya Oude Tamarindelaan dan Nieuwe Tamarindelaan, yang ada sekolah Krisnya. Lalu berubah menjadi Jalan Wahid Hasyim. Rumahmakan itu ternyata masih tetap ada, tetapi sesuai dengan kebutuhan zaman, nama Tionghoanya harus diganti, dan huruf Tionghoanya harus dihapus, tapi nama asal hurufnya tetap sama. Ternyata namanya sudah berubah menjadi "Cahaya Kota", ini perubahan dari tulisan Tjahaya Kota, yang asal hurufnya Tung Kong, T dari Tjahaya, atau Cahaya, sedangkan K-nya adalah Kota, jadi Cahaya Kota. Sama kan dengan Lim Siu Liong menjadi Lim, Salim Sudono, bunyi namanya tetap masih ada.
Dan rumahmakan "Cahaya Kota" yang 50 tahun yang lalu itu bernama " Tung Kong" tetap masih bisa mempertahankan rasa sedap enak dan lezatnya sampai kini. Sebab hampir setiap tahun saya berlibur ke Jakarta, saya tetap mengunjungi rumahmakan itu, dan rasanya tetap masih enak, dan pelanggan-pengunjungnya tetap ramai dan laris-laku.
Ada tempat penongkrongan yang dulu bernama Jalan Sabang, tetapi kini berubah. Dan disitulah saya mula-mula makan apa itu "ngohyong", sampai kini tetap ada. Jalan Sabang dulu itu yang berdekatan sekitar Jalan Jaksa, yang ramai dengan turis asing, juga tempat penongkrongan. Banyak pusat penongkrongan menurut wilayah dan daerahnya. Di sekitar Kelapa Gading ada jajan yang bernama Martabak Bangka, ini martabak manis. Sebenarnya saya menyebutnya martabak Belitung, sebab pada tahun 40-an dan saya sudah sangat suka membeli dan makan martabak itu di kota saya di Tanjungpandan Belitung. Sebuah martabak yang digumuli dengan mentega, lalu kacangtanah-halus, atau wijen, lalu coklat, dan penuh minyak mentega, atau gula kristal. Yang di Kelapa Gading harganya minta ampun sudah Rp 22000, tapi tak mungkin dimakan satu dua orang, besar sekali. Paling ideal di makan 4 orang atau 5 a 6 orang, barulah "sedap dan sedang dan nikmat". Sebab kue ini sangat manis, kalau agak kebanyakan lalu enek, nek, sama dengan makan panggangbebek-Peking, kalau kebanyakan rasanya nek.
Setiap daerah akan lain harga makanan itu. Martabak Bangka tadi itu harganya dari Rp 20000 sampai Rp 22000 di Kelapa Gading. Tetapi di Cibubur hanya Rp 2500, tentulah campuran dan adonan serta rasanya sangat berlainan. Dua cucu saya ketika di Bali hanya tertarik makan jagungrebus dan kacangrebus, ada baiknya, ini makanan rakyat dan murah.
Gado-gado yang dulu di Jalan Cemara yang sangat enak itu, sehingga harus pesan tempat dulu buat diambil pada jam sekian, sampai kini masih ada. Jadi sejarahnya juga 40 sampai 50 tahunan atau lebih. Gado-gado sebenarnya tidak sulit kalau hanya mau mempertahankan rasa. Yang sangat disukai orang adalah sausnya yang banyakan dan enakan. Enaknya gado-gado terpusat pada sausnya, barulah sudah itu campurannya, seperti ada emping, ada goreng bawang ,ada kerupuk bahkan terkadang ada goreng tempenya.
Orang Jakarta kalau pasal cari makan enak dan pertongkrongan begini memang jempolan. Dapat dikatakan berselera tinggi, dapat membedakan mana yang enak, mana yang sangat enak, mana yang sebaiknya tak usah makan di sanalah! Bagaiman cara makan yang cepatan, ringkas, praktis, tetapi juga adakalanya bagaimana mau makan yang khusus cari makan enak tok, yang khusus menikmatinya. Dan memang lain-lain rasa dan caranya. Kalau mau cari makan enak, lezat, lebih baik tak usah ke Bali!! Tapi akan lebih baik di Bandung atau yang paling baik tetap saja Jakarta!
Paris 20 Febr 2000,-
Anak muda yang selalu membawa saya keliling Jakarta bahkan Jabotabek ini adalah keluarga saya dipihak isteri almarhum. Namanya Pongky, bekerja di bagian bank valas, valuta asing di bank Halim. Terdengar kabar Halim ini adalah keluarga salah seorang keturunan Lim dari Liem Siu Liong, orangkaya raya itu. Pongky sudah lama di bank Halim, sudah termasuk pegawai senior yang dipercayai. Maka tidaklah heran kalau dia punya mobil BMW seperti yang kami naiki ini.
Umurnya menjelang kepala tiga. Dan ibunya sudah pusing menyuruhnya agar pacaran yang benaran, yang seriuslah. Jangan pacaran sembarangan, yang lebih tua-lah, yang "cina-lah", yang hanya mau main-main doanglah! Dipesankannya juga padaku, mbok diajari si Pongky itu cari pacaran yang benaran, yang buat diperisteri yang benaran, buat hidup langgeng, buat menjadi ibu dari anak-anaknya kelak,- begitu pesannya si As padaku. Ya, kusampaikan saja, tetapi nampaknya Pongky sih masih tetap saja sebagai anak muda masa kini, mau bebas menikmati kehidupan ini. Dan aku sebagai duda-abadi yang sangat lama menikmati kehidupan kesendirian sudah membayangkan, kalau ada lagi orang lain, walaupun orang itu katakanlah pendamping luardalam, rasanya risi juga. Nah, inilah bahayanya terlalu lama hidup membujang, sendirian. Sudah terlalu lama hidup bebas, enak sendirian, lalu ada rasa egois yang besar, ada rasa tak mau berbagi! Inipun kukatakan juga kepada Pongky, jangan terlalu lama hidup sendirian. Sudah bolehlah berpikir, berencana buat bekeluarga, sebentar lagi akan berumur 30! Kalau lebih beberapa tahun lagi, nanti keenakan hidup sendirian, lalu tak ada lagi kehendak berkeluarga, dan ini tak baik! Demikian kata saya dalam "mengkhotbahinya", dan dia cengar cengir saja.
Dan kami tetap saja ketika dia libur menjalani Jakarta dan Jabotabek ini. Dan ketika itulah dia cerita banyak sekali yang bagiku hal-hal baru.
Ada sebuah jalan namanya Jalan Kunir, di bagian Kota. Gedung yang tak begitu menarik perhatian. Itulah pusat perjudian yang sangat eksklusif. Yang menghasilkan uang pajak pemasukan bertrilyun rupiah. Dilindungi oleh pemda dan pemerintah resmi. Jadi tak ada soal razzia merazzia, aman, terlindungi. Dan para pelanggan dan pengunjungnya biasa terdaftar, dapat dilacak di mana kerjanya, sebagai apa, dan apakah dia orang kaya, konglomerat atau kapitalis biasa saja. Di Gedung ini selama melakukan perjudian itu, bebas makan minum semaunya dan seenaknya, tanpa bayar. Itu sih tidak aneh, sebab mereka sudah atau akan menghabiskan paling sedikit jutaan bahkan bisa milyaran rupiah, di meja judi itu. Pemasukan pada bandar dan pihak pengelola, berkali-lipat lebih hebat.
Lalu artinya kalau hanya punya uang ratusan ribu atau jutaan dengan angka kecil, lebih baik tak usahlah ke sana, dan tokh harus menyertai catatan-catatan tertentu. Daripada akan malu-maluin, kalau mau berjudi setingkat yang lebih rendah lebih baiklah cari yang lain saja!
Sebenarnya Pongky-pun sekali-sekali juga turut berjudi yang jenisnya macam-macam. Dari turut aktive membeli saham valuta asing itupun sebenarnya tingkatnya juga judi. Dan katanya pernah kalah sampai 20 juta Rupiah, lenyap dalam sehari saja. "Tapi kan untungya tidak kau katakan pada kakek", kata saya menggodanya. "Ah, tetap saja nggak seimbang kek. Mana ada orang berjudi lebih banyak menangnya daripada kalahnya, kecuali bandarnya, atau pengelolanya sendiri yang bermodalkan harta dan jiwa". "Lho kenapa sampai jiwa segala?", kata saya. "Begini kek, pengelola judi itu sama saja dengan berdagang barangharam, termasuk mafia, tidak bisa sendirian, dan paling banyak ancamannya, paling banyak saingannya, paling banyak musuhnya. Uang itu kan bagaikan api, bagaikan darah, selalu hangat, bukan hal tenang.Coba lihat saja contohnya......."
Dan Pongky lalu bercerita banyak. Di Jakarta ada badan untuk peminjaman uang yang mau pinjam berapa saja asal benar-benar buat sesuatu, misalnya dagang, buat membuka perjudian juga, cafe, bar, usaha lainnya. Pinjam uang begini cukup mudah, tidak pakai berbelat-belit. Tetapi begitu meminjam artinya bagaimanapun sudah termasuk golongan terdaftar pada mafia, sesuatu mafia. Dan kalau tidak terbayar, atau berbohong, atau menipu atau mengkhianat, maka kepalalah agunannya, potong kepala, gorok dan habis perkara, takkan ada tuntutan. Karena sudah masuk mafia itu tadi. Yang melakukan penggorokan, potong kepala itu, pada biasanya takkan kena tuntutan apapun. Kalaupun si penuntut ngotot membawanya ke pengadilan, maka kepala salah seorang keluarganya akan segera terpisah lagi dengan badannya, entah si isterinya, ibunya atau bapaknya atau saudaranya, atau keluarga lainnya. Dan cara begini sudah ada buktinya. Jadi siapa yang mau pinjam kalau begitu jalan ceritanya.
Ingat kasus Hong Lie dan Beng Seng? Pemenggalan kepala di Jakarta atau isntruksi dari Singapura - Hongkong? Yang sampai kini tak pernah selesai. Memang ada yang ditahan di penjara, tetapi soal rahasia ketertutupan fokus-pokoknya sampai kini tidak terungkap. Yang ditangkap itu hanya pelaku kasarnya saja, tapi otak sebenarnya sampai kini tak bisa diungkap, tak terungkapkan. Ini masalah peminjaman uang yang bermilyaran rupiah dalam membuka perjudian di beberapa tempat, termasuk di Kamboja.
Hong Lie yang hidupnya tidak tenang itu, karena sudah beberapa kali melakukan hukum pancung sebagai mata-acara mafianya, ketika diwawancarai beberapa wartawan ketika di Singapura, mengatakan : "setiap pagi-pagi saya bangun, dan saya menarik nafas, saya sungguh bersukur, ternyata pagi ini saya belum mati, Tuhan masih memberikan nyawa dan nafas buat hari ini. Hal ini setiap pagi dan setiap hari saya sukuri, karena ancaman kepada saya begitu banyak, dan musuh saya begitu berjibun, saingan saya begitu nafsu buat melenyapkan saya. Bisa saja begitu saya meleng dan dalam keadaan tidur, tahu-tahu saja sebuah mata belati atau pedang atau peluru menembus kepala dan dada saya, dan kepala saya terpisah dari badan saya"-, demikian Hong Lie pernah berkata. Dan saya memang pernah mengikuti cerita itu dari beberapa suratkabar dan majalah.
Mafia yang di Jakarta ini, sudah tentu bertalian dan berhubungan dengan mafia yang di Hongkong, AS California, Singapura, yang bernama Triad itu, lalu di Jepang dengan Yakusha itu. Anggota Yakusha bila sedikit saja menipu dan tidak jujur kepada induk organisasinya akan ketahuan, sebab salah satu buku jari tangannya akan dipotong, jadi cacat yang siapapun dapat melihatnya!
Apa nama induk organisasi mafia yang di Jakarta ini? Akan sangat lebih baik tidak usah diketahui saja, kalaupun sekiranya kita tahu apa namanya, belum tentu nama yang kita sebutkan itu betul-betul bernama itu! Ini salah satu kelihaian mafia di Jakarta!
Dan ketika kami sedang asik bercerita tentang masalah kejahatan - kekerasan di Jakarta, belum ada titik-koma kalimat, tiba-tiba saja Pongky menyambar dan menunjukkan tangannya dengan keras. "Nah, lihat itu kek, itu bmw yang saya harus punyai, itu yang harus saya cari, itu dia. Kakek tahu, itulah serie nomor BMW 740, seri 7 namanya. Harganya 600 juta sampai satu M. Yang kita naiki ini sih baru seri 3, masih jauh kalahlah. Doain saya kek agar kesampaian", kata Pongky.
Dan BMW seri 7 itu memang melesat, cepat dan jalannya sangat stabil. Untung Pongky tahu diri, dia tidak berusaha mengejar dan mengebut, sebab BMW-nya baru seri 3, masih jauh kalah. Dan pernah kuingatkan : "Pong, ingat ya, saya ini harus pulang ke Paris dan anak-anak dan cucu-cucu di Holland masih menunggu saya lho Pong. Kan kau juga katanya mau ke Paris ke rumah kakek, nah ingat-ingatlah, jangan ngebut deh",- lalu Pongky mengurangi kecepatannya dari 180 menjadi kembali ke 120, dan saya mengusap dada, lepas dari ketakutan. Tidak enak hilang dari peredaran hanya karena kecelakaan gara-gara ngebut di Jakarta!
Dan kami dengan Pongky ada merasa agak risi kalau ibunya, ponakanku si As ikut dengan kami. Dan sayapun merasakan, kalau hanya kami berdua Pongky, rasanya ada dan banyak "kebebasan" walaupun perbedaan umur antara kami dengan sebutan antara cucu dan kakek, tapi banyak persamaan kehendak yang masih bisa dirundingkan, begitulah!
Paris 21 febr 2000,-
Kenapa aku mau ke Jakarta yang justru angka paling keramat, pada tahun 2000 itu, orang namakan millennium? Ya, itu yang pokok, aku mau "merayakan dan memperingatinya" justru di tanahairku. Orang lain berbondong-bondong ke luar, ke negeri asing, tapi aku mau di Jakarta atau dekat dan sekitar teman-temanku, keluarga, para sahabat. Lalu tujuan lainnya, mau mencari, bergaul, melihat, berkenalan dengan teman-teman muda, yang penuh gairah, aktivis SLM dan yang lainnya. Lalu seperti kebiasaanku ketika berlibur ini, aku mau membaca banyak suratkabar, majalah, buku sastra-budaya, dan melihat televisi Indonesia. Aku mau mendengar secara langsung bahasa Indonesia yang diucapkan orang Indonesia yang di Indonesia, mendengar cerita Indonesia, anekdotenya, bahkan gossipnya. Memang asik!
Selama belasan tahun bahkan puluhan tahun, lebih banyak mendengarkan bahasa Indonesia dari orang Indonesia yang bernasib sama seperti aku juga! Yaitu para musafir-abadi, yang hidupnya puluhan tahun di luarnegeri, kan sangat lain?! Sedangkan aku saja, dalam tulisanku saja, banyak yang berpendapat bahwa bahasaku sudah sangat lain dengan bahasa Indonesia yang di Indonesia. Ada bau lain, mungkin bau asing atau "keterasingan, keterpencilan" dan hal lainnya. Semua ini sama-sama bisa dipahami.
Jadi ada tiga perkara itu tadi, mengapa aku mau ke Indonesia ketika millennium 2000. Ternyata yang paling pokok, yang tanggal 1 bulan 1 tahun 2000-nya itu justru aku gagal-total menyambut dan menyertainya! Ketika tanggal 31 desember pagi aku masih di Yogyakarta, dan pagi-pagi sekali dengan Garuda kami terbang ke Jakarta. Selama lima hari di Yogyakarta, tapi sudah dipesan wanti-wanti, awas kalau sampai tanggal 31 malamnya tak ada di Jakarta, tak ada di rumah Oom Hay-djoen, awas, tahu sendiri deh, demikian pesan tilpun ke ponakanku si As dan disampaikan ke Yogyakarta.
Tanggal 24 desember malamnya, karena keluarga tempatku-tinggal adalah keluarga protestan ( walaupun mereka ini orang Aceh ), dan merayakan Hari Natal, dan karena ada pesta-kecil keluarga, maka akupun "menyumbang masakan" tertentu buat meramaikannya. Aku membuat kolak-durian, kinca kata orang. Durian-dagingnya itu diremas dengan gula-jawa, dengan pandan, dengan sedikit cengkeh dan kayu manis, dan dengan santan-tebal, lalu dibuat kolak. Dan kolaknya ini dimakan dengan ketan, nasi-pulut atau roti-tawar. Kulihat begitu lahap para tamu makannya, sehingga akupun tak tahan-hati, ikut juga melahapnya. Dan biasalah kalau enak dan sedap, mana orang bisa tahu diri! Lalu mungkin kebanyakan buatku. Dan sebelum itu sudah ada bibit sakitperut, karena kemarennya aku merasa salah-makan. Sebenarnya salahku, bukannya salah-makan!
Kemarennya kami makan di sebuah resto Padang. Aku memilih kepala-ikan, gulai kepala-ikan. Tetapi rasanya tidak begitu segar, agak basi mungkin karena terlalu lama atau bagaimana, tak tahulah aku. Tapi si rakus ini tetap saja makannya. Dan kukira salah satu penyebab sakit perut itu, ya kepala-ikan dan kolak-durian itu. Maaf seribu maaf, samasekali tak ada maksud menyalahkan restoran Padang!! Ini bukan kesalahan restoran itu, tapi 100 persen salahku, kenapa kalau sudah tahu tak segar lagi kok diteruskan makannya, ini kesalahanku yang pokok! Dan kukira karena dua sebab itulah aku sakit perut, sejak berangkat ke Yogyakarta tanggal 26 desember itu.
Padahal ada tugasku yang lain, akan memenuhi undangan ceramah di depan mahasiswa ASRI di Yogyakarta. Tak dapat dihindarkan, walaupun bagaimana sakitnya perut ini, ceramah harus diteruskan. Selama di Yogyakarta dan juga selama di Jakarta sampai tanggal 5 januari 2000, aku sakit perut. Dan pada tanggal satu Januari itu sakit perut ini mencapai puncaknya. Tetapi janji tetap harus ditepati. Aku hadir di tengah keramaian para teman dan sahabat di rumah Oom Djoen, hampir 100 orang, bersesakan. Karena sakit perut ini, selama satu minggu itu aku punya perasaan aneh dan gila! Kenapa? Aku sangat membenci melihat makanan apapun! Aku sangat benci melihat orang makan dan sedang makan! Dan dapatlah dibayangkan, di rumah Oom Djoen yang penuh makanan, penuh orang melahap makanan sambil ngobrol bersenda-gurau menyambut millennium itu, aku begitu benci kepada diriku kepada mereka. Apa salah mereka, tak ada! Yang salah aku, kenapa harus sakit perut justru sedang menyambut dan merayakan tahun 2000!
Ada teman baikku yang tinggal di Canada, yang produktif sekali. Mereka tinggal di Canada sejak tahun 1969. Menanyakan padaku, apakah aku punya persoalan yang sama dengannya, yaitu selalu sakit perut bila pulang kampung, ke Indonesia, selalu diarhe. Ya. Semoga dengan tulisan ini agak terjawab. Mula-mula sekali aku pulang ke Indonesia tahun 1993, aku juga sakit perut, mencret kagak ketulungan kata orang Jakarta. Lalu tahun 1994, juga sakit perut dan mencret ketika di Yogyakarta dan Magelang dan Solo, ketika itu dengan Mas Oyik, Satyagraha Hurip almarhum. Lalu tahun 1999-2000 ini, dan sekali ini yang paling parah. Selama 9 hari, kehilangan berat badan sebanyak 7 kg. Kalau hilangnya itu normal dan wajar, enak juga dan sukur, tapi ini mah karena mencret tak ada isinya itu perut selama hari-hari itu.
Seorang temanku yang belum pernah pulang ketika itu ( 1993 ), mentertawakan dan agak mengejek. " Tentu saja si simon tuh, mana tahan diri kalau sudah lihat makanan, segala macam gasak saja, nah, tahulah akibatnya", katanya di depan orang banyak, dan aku mesem-mesem saja karena malu.Tahun berikutnya teman saya ini pulang buat pertama kalinya. Dan apa hal? Dia sampai masuk rumahsakit, diopname karena diarhe berat, sampai belasan kali buangair selama satuhari satu malam. Dan lebih seminggu di rumahsakit di Jakarta.
Saya lihat dan amati dan saya tanyakan sana-sini, katanya teman-teman yang pulang setelah puluhan tahun tak pulang-pulang itu, selalu saja sakit perut, mencret, murus. Semua ini karena persoalan makanan dan minuman. Mengapa demikian? Sampai kini aku tidak tahu sebab pastinya. Tapi kukira perut kita ini sudah menjadi perut manja, perut tak tahan lagi dengan perubahan. Perut priyai, perut burjuasi,- tapi juga tidak begitu bangat. Banyak orang asing lain yang ke Jakarta, lha kok nggak apa-apa. Masaksih turis-turis yang baru kalipertama ke Indonesia, lalu sakit perut juga, seperti kita-kita ini, seperti kami-kami ini. Lebih 60 persen teman-teman saya selalu saja sakit perut ketika pulang mudik. Tetapi setelah beberapa hari, lalu ada penyesuaian diri, baik sendiri dan lalu tahan sendiri. Tampaknya belajar adaptasi dululah dengan kampunghalaman yang terlalu lama ditinggalkan.
Beberapa kali saya ke Indonesia, bahkan hampir setiap tahun, begitu pulang kembali ke Paris, selalu berat badan saya turun, baik karena sakit maupun karena memang banyak gerak, banyak jalan dan banyak keluar keringat kepanasan. Berdiam diri saja sudah keringatan dan baju basah, apalagi gerak jalan. Saya suka menyalahkan dirisendiri, dasar perut priyayi dan perut burjuasi, rasain sakit perut, baru begitu saja sudah sakit perut. Nah, dulu bagaimana sih hidupnya, kok nggak apa-apa. Setelah berdiam di negeri orang puluhan tahun, pulang-pulang pada sakit perut, pakai mencret segala!
Sayangnya, begitu beberapa hari lagi di tempat perantauan, lalu badan mekar lagi, meluas, membesar lagi. Padahal persoalan pokok bagi kebanyakan kami, bagaimana bisa sedikit kurus tanpa sangat lapar. Kalau di kampung kita, persoalan pokok bagi saya yalah duduk bersila, lesehan. Makan cara duduk lesehan, duduk bersila seperti di kampung itu, nah, itulah siksaan yang paling berat selama bersama banyak teman di kampung, seperti di Yogyakarta baru-baru ini. Ketika di Yogyakarta, saya minta dengan sangat kepada panitya agar saya diizinkan duduk di kursi, sebab saya sedang sakit perut, dan saya tak tahan duduk di bawah berlama-lama bersila. Walaupun dulunya sayapun bersila seperti itu, tapi kejadian itu sudah lebih 40 tahun yang lalu. Di tengah anak-anak muda yang lincah, segar dan penuh semangat itu, hanya saya yang duduk di kursi, betul-betul sangat memalukan! Tapi apaboleh buat, hanya itulah kebisaan saya.
Namun demikian, dengan latarbelakang sakit perut dan ada bagian-bagian yang tak disukai orang, masih dibenci orang dan teman-teman lama, tak dapat sambutan ketika mau bersalaman Tahun Baru itu, tokh tetap saja mau datang ke Jakarta atau tempat lainnya pada waktunya. Indonesia bagaimanapun adalah tanahair saya. Sedangkan isinya, teman-teman lama saya, atau bahkan keluarga saya, bisa saja tidak senang, belum suka, belum bisa terima keadaan saya, keadaan kami, mungkin masih makan proses lama, lama sekali. Tapi soal datang ke Indonesia, tidak tergantung suka atau tidak suka, terima atau belum terimanya teman-teman atau keluarga tertentu. Semoga pada waktunya akan sama-sama suka dan sama-sama terima, sama-sama lega lahir-batin. Semoga akan sampai dan tiba waktunya.
Paris 21 februari 2000,-
Yang membawaku keliling sekitar Jabotabek dengan BMW-nya Pongky, selalu bergantian. Bila Pongky bekerja, ngantor, maka ibunyalah yang membawa mobil. Jadi mereka berdua bergantian mengelilingi Jabotabek ini membantuku memenuhi berbagai macam acara. Betapa baiknya dan hangatnya keluarga ini. Tak cukup empat lima kali aku menyatakan rasa terimakasihku kepada keluarga ini, harus terus menerus rasa terimakasihku itu kunyatakan, jangan sampai lupa.
Acara di Jakarta cukup padat. Terutama memenuhi undangan, baik rapat-rapat biasa, maupun wawancara - interview beberapa majalah dan suratkabar, tabloid, baik yang dalam negeri maupun luarnegeri, termasuk FEER, Far East Economic Review. Semua acara ini "kuserahkan pada sekretarisku", Firola atau Yola nama panggilan sehari-harinya, anak bungsu Asmaralda. Yola seorang mahasiswa Ekonomi Keuangan tingkat akhir, umurnya 22 tahun. Sering kukatakan, dia punya body seperti Sophia Loren, bintang Italia itu. Anaknya lincah, gesit dan segar. Olahraganya main ski di Mall Taman Anggrek yang kata orang kepunyaan Jenderal Prabowo itu. Yola yang mengatur jadwal harian dan tempatnya sekaligus, jamnya. Jadi kesibukan Yola termasuk menerima dan mengirim tilpun, fax dan e-mail.
Ketika ada wawancara dengan majalah Indikator, Yola dan ibunya mengusulkan agar tempatnya sesuai dengan " orang yang datangnya dari mana", yaitu di Cafe de Paris, kalau tak salah daerah Kemang, daerah pertokoan - resto dan banyak turis asingnya. Mereka semua yang menentukan. Dan kami berangkat satu mobil yang dikendarai Pongky, yang juga ada ibunya serta adiknya Yola. Begitu tiga wartawan itu melihat "rombongan" kami itu, mereka agak terheran-heran. Kami duduk memisah dengan keluarga itu. Agak jauh, di kursi lain, karenanya ada wartawan bertanya sambil agak bergurau: "Lho pak, banyak betul para pengawalnya", katanya padaku. "Ya, mereka sangat kuatir kalau kalian akan menculik saya, karenanya mereka ikuti dengan seksama", kataku mengimbangi guraunya. Dan kami tertawa semua, tiga wartawan itu dan aku.
Pada undangan lain, yang selalu jamnya tanggung, misalnya rapat dimulai jam 15.°° sampai "berbuka-puasa bersama", dan itulah sebabnya jam yang tanggung itu, sehingga bisa pas dengan bedug berbunyi, lalu buka puasa dan makan bersama. Rapat begini pada bulan puasa ketika itu sepertinya jadi mode. Rapat yang kuhadiri ini bertemakan, apa bentuk negara yang kita kehendaki nantinya. Apakah negara kesatuan ataukah negara federal. Yang hadir, banyak orangtua yang rata-rata dari tapol bahkan "lepasan Pulau Buru". Di situ aku ketemu banyak teman lama yang sudah tak saling kenal lagi. Aku masih kenal dengan Pak Wimanjaya Liutohe, lalu Pak Surya, Bung Bintang Pamungkas, Yopi Lasut, dan banyak lagi. Sudah tentu perdebatan dan diskusi yang begitu takkan selesai dalam jangka waktu lama. Masing-masing dengan bermacam argumentasi. Sama seimbang antara yang menghendaki negara kesatuan dan negera federal, atau otonomi yang luas, belum ada yang berangka mutlak, paling tidak ya tidak ada angka mayoritas, bedanya sangat tipis. Jadi rapat itu belum mendapatkan hasil apa-apa, baru saling jajagi.
Pada rapat peluncuran buku Tan Malaka Madilog, tahu-tahu saja Budiman Sujatmiko mendatangiku dan menggandeng tanganku lalu memperkenalkanku kepada semua teman-temannya. Aku tak kenal pada Budiman, pada hari itulah perkenalanku pertama. Bukan main ramahnya pemuda itu, hangat, dan terbuka. Dalam perdebatan, penjelasan, pikirannya luarbiasa jernihnya, dan berdaya ajakan buat bersatu, berjuang, dan penuh semangat, berapi-api. Orangnya cerdas dan menyenangkan. "Ternyata pada hari dan tanggal yang sama kita masuk dan keluar", kata Budiman padaku. "Bung datang ke Jakarta tanggal 10 desember, sayapun persis keluar resmi dari penjara juga tanggal 10 desember itu", katanya. Dan aku heran juga, begitu teliti dan memperhatikan yang begitu sepele tampaknya. Ketua PRD ini mungkin tahu benar tentang info intel ABRI-Golkar dulu itu, di dalam suratkabar Merdeka dan majalah SINAR, yang menyatakan bahwa diriku menjadi pimpinan PRD seksi luarnegeri. Surat kabar Merdeka tanggal 31 Juli 1996, dan majalah SINAR tanggal 3 dan 10 Agustus 1996. Padahal kenalpun aku tidak kepada mereka dan PRD ketika itu! Lengkap dengan skema dan susunan pengurus PRD-nya, yang akupun terheran-heran, dimasukkan juga ke dalam skema itu, yang padahal tak tahu menahu!
Mengenag semua itu, kami pada tertawa. Lalu rapat yang di TIM, yang pembicaranya Nurcholis Madjid, Sarbini, dan Onghokham, yang dipandu oleh Mulyana Kusumah, dengan In-Demo-nya, pada pembukaan agak heran juga aku, karena ada kata-kata sekalian memperingati 24 tahunnya Malari. Lho apa hubungannya dengan Malari? Rapat ini akan menggagas apakah perlu dibentuk badan oposisi terhadap pemerintahan Gus Dur ini. Ada yang menyatakan perlu, misalnya Cak Nur sendiri malah. Sebab katanya oposisi bukanlah atau belumlah otomatis berarti penggulingan pemerintah. Tapi paling pokok yalah mengingatkan, memberi perhatian agar jangan nyeleweng. Rapat ini yang paling kacau selama aku menghadiri rapat di Jakarta. Setelah diteliti, maka ketahuanlah, katanya rapat ini didanai penuh oleh orang-orangnya Hariman Siregar. Lha ya, Prof DR Sarbini sendiri kan adalah mertuanya Hariman, jadi "penuh" orang-orang PSI!
Kata orang-orang dalam sekitar rapat itu " Apa nggak salah ini, apa nggak kepeleset ini, kok Cak Nur dan Mulyana ikut-ikut masuk rombongan rapat dan penggagasnya pula!", demikian kata orang-orang. Semua rapat yang kuhadiri, aku tak pernah menyatakan pendapatku di depan umum. Artinya aku tak pernah angkat bicara, aku hanya sebagai pendengar dan hadirin biasa saja. Karena diundang maka aku datang. Dan menghadiri rapat seperti ini baru pada tahun sekitar millennium 2000 ini. Dulu mana ada rapat begini, dan mana berani!!
Paling menarik menurutku yalah rapat atau pertemuan-tetap pada acara di rumahnya Ibu Dolorosa, dekan IKJ,- Setiap Bulan Purnama Lima Belas, selalu ada pertemuan, tanpa diundangpun bisa datang, dan ingat sendirilah, bila sudah waktunya Bulan Lima Belas, Purnama, datanglah ke sana. Dua kali Purnama aku selalu hadir. Banyak pesertanya, dan temanya macam-macam. Misalnyapada Purnama pertama yang kuhadiri,membicarakan Kasus Aceh. Puluhan anak muda, para sukarelawan yang benar-benar berpengalaman kerja di Aceh, yang datang dari "front depan" berbicara blak-blakan, menjelaskan apa yang mereka saksikan, lihat dan rasakan.
Lalu pada Purnama selanjutnya, tema dengan Kasus Ambon. Juga sangat menarik, karena teman-teman yang bicara itu langsung pernah beberapa lama di Ambon dan sekitarnya, yang juga datang dari "front depan". Mereka anak-anak muda, yang militan, segar, gesit dan lincah, penuh pengorbanan.
Semua rapat dan pertemuan ini selalu aku "diikuti" keluargaku. Maksud utamanya ada dua. Pertama mereka tidak rela melepasku sendirian, selalu mau mengawani dan menemaniku. Kedua, aku sendiri merasa adalah sangat baik kalau mereka ikut, agar mereka juga tahu akan dunia-luar, dunia yang mereka tidak kenal sebelumnya, yang bukan dunia mereka tadinya. Agar mereka bergaul dengan banyak orang, banyak teman dan banyak pengenalan.
Banyak sekali nama-nama yang kukenal hanya melalui suratkabar dan majalah, dan karena keterkenalan akibat aktivitas mereka. Jadi baru kenal nama, tapi belum kenal orangnya. Dan ketika itulah baru berkenalan secara berhadapan, dan saling berbicara satu sama lain. Misalnya dengan Budiman Sujatmiko itu tadi. Lalu aku berkenalan dengan orang yang sangat kukagumi : Romo Sandiyawan. Lalu dengan salah seorang dari astronom Indonesia yang kukenal, seperti Bambang Hidayat, Ninok Leksono, Karlina Leksono, Solomon S. Empat orang pakar astronom Indonesia ini, sarjana ilmu-falak ini, sangat pandai menulis, apa saja melalui tangan mereka jadi bagus. Sayangnya aku hanya bertemu dengan mbak Karlina Leksono saja, sarjana yang "lembut hati" itu, yang selalu Peduli Ibu, yang selalu halus, bagus, sabar dan tawakkal.
Sayang mbak Karlina hanya satu kali saja, padahal sudah ada perjanjian akan bertemu dalam rangka tanya-jawab ilmiah atau sejenis kuliah ilmu-falak. Dari banyak penemuan, perteleponan dalam rangka mengadakan hubungan, jangan kira tak ada halangan! Beberapa orang tampaknya segan dan menghindar buat bertemu denganku. Salah seorang adalah Sarjana yang banyak bergerak di Sastra dan Budaya yang tinggal di Jalan Cemara itu, beberapa kali dan beberapa tahun kuhubungi, tetapi tampaknya menolak bertemu denganku. Agaknya memang segan dan memang masih kuatir, sebab aku dan mungkin kebanyakan kami "jenis ini" yang "tak bersih lingkungan", belum berani mereka hadapi.
Bayangkan bagaimana dan betapa hasil yang dicapai Menteri Yusril ke Den Haag baru-baru ini?! Dikatakannya paling lama pada tanggal 15 februari 2000, semua persiapan surat dan perundang-undangan sudah mulai dibahas atau diturunkan. Tetapi rombongan itu baru sampai Hongkong saja, sudah ada yang nyeletuk, paling cepat pada bulan April 2000,- Dan begitu ramai suara dari Eropa dan Tanahair mengomentari hasil-kerja Pak Yusril itu, sudah banyak sekali yang berpakaian putih-putih, yang tampaknya siap berjihad membasmi "kalau ada yang mau macam-macam", sudah diizinkan pulang saja sudah untung, jangan macam-macamlah, begitu gerutu orang-orang yang masih membenci kami itu.
Yah, tampaknya memang sungguh masih lamalah buat menjadi perantau dan musafir-abadi itu, tak secepat seperti apa yang banyak disuarakan di Den Haag dan Eropa dan Jakarta.-
Paris 22 februari 2000,-
Ponakanku As punya anak empat. Yang pertama Nita, Amanita dan kedua Pongky, lalu Riva dan Yola. Yang sulung adalah wanita dan yang bungsu juga wanita. Nita berumur tingkat kepala tiga. Dia ini pramugari Garuda. Sudah lama di Garuda, sehingga dia sudah senior. Ketika Garuda belum begitu bangkrut, mereka sering terbang ke Paris. Tetapi setelah bangkrut tidak lagi ke Paris, hanya ke Jerman dan Holland saja buat daerah Eropa. Dan ketika Nita bermalam di Paris dengan rombongannya semua crew Garuda, selalu saja Nita memilih bermalam di rumah kami di Fontenay. Padahal hotel mereka berbintang lima, tetap saja dia memilih hotel tanpa bintang di rumah kami. Dia lebih senang bermain dengan saudara-saudara dan adik-adiknya.
Nita memang sangat familiar, sangat tebal rasa kekeluargaannya, sampai kini. Tapi watak sebenarnya dia ini pembrontak. Begitu dia dapat gaji sendiri, dan sudah merasa bisa berdikari, dia pisah rumah dengan mamanya dan hebatnya, dia beli rumah sendiri walaupun dengan sistim kredit. Rumahnya itu jauh di ujung kampung di Ciledug. Aku tak mau ambil resiko kalau dengan taksi mencari rumahnya, sangat sulit! Tapi rumahnya ini sangat indah, kecil mungil, penuh hiasan tanaman di depan rumahnya dan bersih, apik kata orang Jawa.
Perbedaan besar dan selisih-paham besar dengan ibunya yalah, Nita berpacaran dengan orang Islam sedangkan dia adalah Protestan. Kukatakan pada ibunya : "Nah, As, jadi kan satu-satu standnya. Dulu kau dari Islam pindah ke Protestan karena mau kawin dengan Yopi, padahal betapa tantangan dari keluargamu sebagai orang Aceh. Bayangkan orang Aceh pindah agama hanya karena mau kawin dengan orang Kristen. Dan kini anakmu dari Protestan mau pindah ke Islam karena mau kawin dengan pemuda Islam, kan standnya satu-satu. Kata orang itulah hukum karma".
As merengut dan agak marah padaku. "Saya tidak menghalangi dia kawin dengan pemuda yang tidak seiman, tetapi cobalah pertimbangkan dengan baik-baik dulu. Pertimbangkan masak-masak dulu, jangan begitu mudah mengambil keputusan", katanya membela diri. "Yang kau katakan itu persis puluhan tahun yan lalu juga dikatakan ibu-bapakmu kepadamu. Ingat nggak?", kataku mengingatkan. "Akh sudahlah, jangan omong tentang itu lagilah", katanya. Dan kami berdiaman.
Sampai kini Nita belum menikah dengan pacarnya yang Islam itu. Dia masih ingat akan "ketidaksetujuan" mamanya, padahal umurnya sudah cukup lanjut sebagai wanita. Ada beberapa hal yang sangat tipikal dengan Nita ini. Anaknya cerdas agak tomboy, praktis dan lugas. Tapi sangat sulit menahan nafsu makan, selalu lahap dan banyak. Karenanya dia menjadi gemuk. Sebagai pramugari Garuda, ada ketentuan berat badan, kalau terlalu berat, maka tidak boleh terbang. Dan tahulah kami, kaum keluarganya baik yang di Jakarta maupun yang di Paris, bila Nita tidak terbang, itu artinya berat badannya sudah kelebihan. Dan kalau dinas terbangnya tidak diperkenankan karena terlalu berat, maka dia bekerja di ground saja, dan biasanya mengajar Bahasa Inggris. Begitu lama jam-kerjanya di ground atau sebagai guru Bahasa Inggris, itu artinya badannya masih gemuk, kelebihan berat badan! Tetapi pada suatu waktu, karena dia sangat keras dieetnya, tahu-tahu saja dia terbang. Terkadang dalam negeri, antara Jakarta - Medan - Ujungpandang - Biak - Denpasar, terkadang luar negeri, Perth, Jepang dan Eropa. Sayangnya buat kami, ketika dia ke Eropa-pun takkan mungkin lagi ke Paris. Sebab lijn Paris sudah lama dihapus, karena bukan lijn gemuk katanya.
Sesekali antara kami saling nilpun dari Paris-Jakarta atau sebaliknya, karena kalau terlalu merasa lama tak saling berkabar, lalu ada-ada saja yang mendahului menilpun. Begitulah, ketika aku bermaksud bermillennium 2000 ke Jakarta, aku menilpunnya. Dan betapa gembiranya dia, juga aku. Dia akan menjemput dengan adiknya Pongky. Pongky penting karena punya mobil yang bisa antar-jemput. Dan katanya mereka sudah atur semua buatku menginap di rumah mamanya di Cibubur. Rumah Cibubur sejak pembangunan dasarnya aku sudah tahu, sudah lihat, jadi sudah dapat mengira-ngirakan di kamar mana aku akan ditempatkan.
Dasar si Nita, kepadaku, kakeknya dia sangat dekat dan agak manja. Ketika aku di rumah mamanya, setiap hari dia menilpun dari kantornya Cengkareng atau dari rumahnya Ciledug, dan setiap harinya dua tiga kali, dan yang dibicarakan sangat remehtemeh, tidak penting. Begitu aku tiba di Cengkareng lapanganudara, kami bertiga lalu setengah agak paksa diajaknya mampir dulu ke kantor para crew Garuda itu. " Sudahlah kek, dan Pong, mampir dululah. Di sana kan banyak pramugarinya, siapa tahu, ada yang ngena dan lengket", kata Nita kepada Pongky dan aku. Pongky melirikku, dan kuserahkan pada Pongky. "Untuk kamu Pong, siapa tahu kesempatan ini jadi sungguhan, saya doain deh", kataku mengajuk Pongky. "Yah, bukan hanya buat saya aja kek, siapa tahu kakek juga kena batunya juga", kata Pongky ngeledek.
Dan kami benar di bawa Nita ke kantor Garuda tak jauh dari lapangan. Dan memang gila ini Nita. Hampir semua pramugari dan kapten dia kenal, dan sangat ramah, dan begitu banyak yang dikenalnya dan pada ramahtamah. Dan aku malah tidak sangat gembira, sebab masih capek selama belasan jam dari Eropa dengan kaki melengkuk karena duduk terus. Dan gilanya lagi, selalu Nita memperkenalkanku kepada teman-teman pramugarinya itu juga kepada kapten-kapten itu.
"O ya, Dessy, ini kakek saya baru datang dari Paris, kenalkan", kata Nita. Dan kami bersalaman. Atau tiba-tiba saja dia datangi seseorang, "Ning, kenalkan ini kakek saya, barusan ini aja datangnya dengan KLM, dia dari Paris", kata Nita dan bersalaman lagi. Orang kalau sedang capek, ngantuk, lapar, mana bisa lihat secara teliti yang berwajah ayu, cantik-menarik atau memikat. Semuanya kayaknya sama aja! Jadi kukatakan pada Nita, mbok juga kenalkan dong adikmu itu, Pongky. Yang paling perlu diperkenalkan itu kan Pongky bukannya si tuabangka ini! Masa berjayanya buat si kakek kan sudah redup, dan Pongky sedang menyala-nyalanya, kataku kepada Nita. Dan Pongky-pun sibuk bersalaman dengan gadis-gadis ayu itu.
Nita setelah atau selama aku di rumah mamanya di Cibubur ini sering juga datang ke rumah mamanya. Dan seperti kutulis pada bagian belakang, acara harianku "dipegang" oleh Yola, yang mengatur. Dan ketika itu dimasukkan ada acara mendatangi atau menghadiri undangan, atau pertemuan dengan teman-temannya Nita. Dan semua ini adalah acara undangan dan perkenalan dengan pramugari Garuda teman-temannya Nita. Aku tak pernah minta, tak pernah membicarakan mau kenalan segala macam. Tetapi rupanya Nita selalu mempropagandakan si kakeknya, bahwa kakeknya inilah itulah, bisa beginilah begitulah. Sehingga teman-temannya yang pramugari itu menjadi mau juga ketemu dan berkenalan denganku. Dan ini termasuk acara lain lagi kisahnya!
Yang pertama pertemuan dengan Yvonne, pramugari gadis dari Sulawesi, dari Kendari. Kami ketemu di sebuah resto India tak jauh dari Kemang. Katanya Yvonne mau ketemu, lalu aku ya kan saja. Kenapa pasal? Yvonne itu ternyata suka baca buku yang sifatnya sastra, dan kalau ngomong banyak bahasa dan peribahasa nya, banyak kata-kata dan kalimat yang Nita tidak mengerti. Maka gayung bersambutlah, kata Nita, nah kalau begitu kamu akan saya perkenalkan dengan kakek saya yang pandai sastra itu. Nanti kamu puaslah berbicara dan berbahasa dengan dia. Begini dia, kata Nita sambil mengacungkan jempolnya kepada Yvonne.
Tentu saja Yvonne jadi tertarik mau tahu, siapa dan kayak apa itu si kakeknya Nita. Maka jadilah kami bertemu. Yvonne dengan pakaian ketatnya dan pendek rok spannya, dan dengan hiasan agak berlebihan. Dan kami ngobol juga, dan aku sudah memperhitungkan dalam hati, - bukan yang ini pilihanku, jauh dari selera! Apalagi Yvonne dengan begaikan anak kelinci lompat sana lompat sini tidak tenang dan selalu goyang dan bergerak. Lalu nah ini alasan yang sangat baik, katanya jam setengah sembilan nanti dia ada janji dengan kapten. Tak sampai jam segitu, sang kapten sudah datang menjemput. Maka bebaslah aku.
Belakangan Yvonne masih menilpunku mengatakan dua jilid buku yang sedang dibacanya akan dikembalikannya sebelum aku pulang ke Paris. Dan ternyata sampai kini dua buku itu tidak juga dikembalikan.
Pada pertemuan kedua, lagi-lagi si Nita yang centil, lincah dan sayang kakek ini "mengadu" buat bertemu dengan Yanti, seorang pramugari yang sedang patah hati dari bercinta. "Orangnya asik deh kek", kata Nita kepadaku. "Pasti deh kakek akan lain pandangannya dengan melihat Yvonne dulu itu. Ini lain, benar-benar deh telaga tenang, taman bunga, penuh warna-warni semarak menarik", katanya setengah berpropaganda. Dan aku mengangguk saja.
Dan kamipun bertemu di sebuah cafe di Pantai Mutiara. Memang Yanti tidak seperti Yvonne. Umurnya 27, lebih sedikit tua dari Yvonne yang 25. Belum pernah menikah, tapi tukar-tukar pacar sih sudah banyak daftarnya. Duduk dekatnya terasa bau wangi dan merangsang, dan bila berbicara wajah-mukanya agak didekatkan pada kita, padaku. Masih ada getaran listrik positif-negatif pada darah tua ini, dan tak boleh lama-lama dibiarkan. Artinya bukan lalu mau masuk ke wilayah itu, tapi segeralah tinggalkan, lupakan karena janganlah mengerjakan suatu pekerjaan yang tak mungkin. Lalu kan waktunya sangat sempit, dan ini kan hanya membuang waktu saja adanya.
Ulah Nita yang selalu mengundang dan mempertemukanku dengan beberapa temannya ini, menjadikan mamanya agak marah. Kukira kemarahan itu bisa dimengerti dan aku bisa memahaminya. "Nit, kenapa sih kamu selalu mengganggu acara kakek yang lebih penting dan lebih diperlukannya? Dan lagi acaramu itu kan hanya kenalan-kenalan saja". "Ya, ma, tapi bukannya Nita yang mengajak dan minta apalagi mendesak mereka, tapi mereka yang antusias mau ketemu kakek, mau lihat dan mau tahu kakek", kata Nita membela diri. "Itukan pastilah karena kamu perkenalkan dan propaganda kamu saja, sehingga lalu teman-temanmu itu jadi penasaran mau lihat dan ketemu kakek, ya kan?" "Akh tidak juga, mereka kan sudah dewasa, lagian yang Nita kenalkan ini, bukannya isteri orang atau tunangan orang. Ini yang semuanya masih bebas".
Aku sangat memahami pernyataan mamanya ini. Tetapi akupun merasakan dalam hati, Nita sangat dekat dan sayang padaku. Dia sebenarnya tidak rela kalau kakeknya hidup sendirian begitu lama. Tetapi dia sendiripun tak ada jalan buat berbuat yang lebih baik dari apa yang dikerjakannya. Dan akupun seperti kataku kemarin-kemarin, sudah terlalu lama membujang dan hidup kesendirian, rasa egoisnya sudah terlalu besar. Tak mau berbagi dan enggan bersama dalam hal-hal tertentu, tapi jeleknya watak manusia, ya watakku ini, kalau tidak terikat sih mau-mau saja, misalnya kencan, bercinta, pacaran, tapi jangan lebih dari itu, misalnya kawin-tetap atau kawin-kontrak apalagi berkeluarga secara sah dan resmi! Idih jelek amat watak beginian! Tapi nantilah ada ceritanya setelah aku datang ke Paris,-
Paris 22 februari 2000,-
Pernah kutuliskan pada tahun-tahun lalu, bahwa hidupku ini ada di antara dua negara, Holland dan Perancis. Sebab paling sedikit satu bulan satu kali selalu ke Holland dan ada di Holland antara satu-dua minggu. Ada dua hal, pertama buat menghadiri rapat YSBI — Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia —, yang rapatnya paling lambat satu bulan satu kali, kedua karena memang kangen anak-cucu. Sekarang ini semua anak-anakku dan cucu-cucuku hidup di Holland.
Beberapa bulan yang lalu, ketika aku baru saja pulang dari Holland, dan baru saja melepaskan pantat di kursi karena 4 jam duduk di kereta, tiba-tiba ada tilpun dari Mas Y temanku di Resto. Isinya benar-benar mengejutkan, dan kata pengarang dulu-dulu, bagaikana geledek di siang bolong. Bahwa isterinya Mas Untung tiba-tiba saja minta cerai dan kini sudah hidup dengan cowok Perancis! Ini benar-benar gila! Aku salah seorang merasa diriku tahu benar bahwa kehidupan Mas Untung dengan mbak Iming itu sangat bahagia. Setiap hari bagaikan penganten baru. Kalau jalan berduaan, mbak Iming selalu mendekatkan badannya ke Pak Untung sambil gelayutan bagaikan anak-anak muda di Paris. Padahal kalau mau omong soal umur, masya-Allah, ini sih cucu sama kakek! Yang satu berumur kepala tiga dan si kakek berumur menjelang kepala tujuh! Bahkan tidak jarang mbak Iming memanggil suaminya si Ngkong, artinya si kakek.
Cerita Pak Untung memang unik. Dia ini minta carikan isteri sudah sejak belasan tahun yang lalu. Karena dia ini benar-benar serius mau kawin, mau berumahtangga, maka aku sangat berusaha keras mencarikannya, walaupun kami sama-sama bujang-lapok. Bedanya dia sangat serius mau kawin, mau punya isteri lagi. Isteri yang dulu sudah lama meninggal di Jakarta. Dan aku berusaha kian kemari minta tolong carikan seorang yang mau diperisteri oleh seorang teman yang begini begini. Disertakan fakta umurnya, keadaan sosialnya, kesehatannya, rumahnya, dan harus lengkap, sehingga jangan sampai dikatakan menjual kucing dalam karung.
Calon sudah pada ramai. Tetapi belum ada yang cocok. Yang dari asal Tiongkok, asal Jepang dan dari Indonesia sendiri. Berkali-kali gagal, karena memang belum menemukan jodoh yang sebenarnya, belum ada kecocokan. Ada-ada saja soal. Soal lain agama, lain perwatakan, lain tabiat-adat-istiadat, dan macam-macam. Satu hal yang aku kagumi pada Pak Untung ini, dia tetap ngotot mau punya isteri, tak berubah kehendaknya ini sejak belasan tahun, hebat!
Dan yang ini cocok bangat, mbak Iming ini. Dan kami merayakan, memestakannya di Resto kami. Ini kasus pertama di antara kami, ada kawin sistim paket, kiriman, yang di Holland dan Jerman adalah soal biasa, sudah berjalan bertahun-tahun. Dan kehidupan mereka yang kulihat dari luar, sangat bahagia, rukun dan kami yang melihatnyapun juga turut merasa senang dan bahagia. Tapi ternyata penglihatan dari luar itu adalah belum benar-benar merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Ketika Mas Y menceritakan bahwa mbak Iming memang sudah pindah dari rumah Pak Untung ke rumah laki-laki Perancis itu, aku menjadi terhenyak, serasa tiba-tiba dapat serangan mendadak, pukulan dari belakang yang tak tersangka.
Sejak kabar itu menyebar di antara kami di Resto, maka bagaikan seminar bisik-bisik, kami membicarakannya, memperbincangkannya, mendiskusikannya, kok mengapa bisa terjadi hal demikian. Memang ada di antara teman kami sudah mulai mencurigai mbak Iming. Karena kalau pulang kerja dari Resto, dia selalu terlambat sampai di rumahnya. Dan ketika liburan mingguan, adakalanya dia sering bepergian sendirian tanpa si Ngkongnya. Tapi soal "kebahagiaan" tadi itu tetap saja kami lihat dari luar, soal selalu menggayut, berpimpin, berpelukan, bagaikan anak-anak muda orang bule saja kelakuannya. Mana kami bisa membayangkan akan terjadinya peristiwa yang beginian.
Tak dapat kami mengerti, kenapa mbak Iming kok bisa meninggalkan Pak Untung begitu cepat, begitu tega. Padahal kecintaan Pak Untung kepada mbak Iming luar biasa. Anak-anak mbak Iming yang empat orang di Jakarta itu, selalu dikirimi uang, selalu tepat waktu dikirimi Pak Untung. Bahkan lebih dari itu, tahun lalu mbak Iming pulang ke Jakarta, dan sudah membeli rumah seharga 150 juta rupiah atas nama mbak Iming — karena Pak Untung orang asing, warganegara Perancis tidak punya hak undang-undang buat beli rumah. Dan tokh rumah itu buat mereka sekeluarga kalau Pak Untung nanti pulang buat hidup di Jakarta.
Dan tambah bingung kami dibuatnya, bahwa mbak Iming merasa sudah berisi, sudah hamil dengan laki-laki Perancis itu. Ketika itu kembali seminar bisik-bisik itu menghantui kami di Resto, ayo, kira-kira siapa yang "mengisi perut" mbak Iming itu, Pak Untung atau cowok Perancis itu? Lebih-lebih lagi herannya kami ketika secara blak-blakan Pak Untung "terpaksa" cerita bagaimana dia merasa hebatnya main di ranjang, sehingga katanya mbak Iming sampai kewalahan! Kata kami dalam hati, "kok bisa ya, kok bisa begitu, apa betul begitu" ; tapi sudahlah, mungkin saja perilaku seks itu belum mutlak menentukan segala sesuatunya buat kelanggengan hidup di sesuatu keluarga. Dan mungkin pula hanya menutupi keadaan sebenarnya, sehingga kami menggosip, kalau betul-betul puas dan kelabakan, masaksih masih cari yang lain, pakai bunting lagi!
Peristiwa ini sudah berbulan yang lalu. Dan kami bersimpati pada Pak Untung, kami merasakan susah-sedih-kesalnya Pak Untung, dan kami selalu mendekatinya, menasehatinya baik-baik, menjaganya agar dia tegar dan kukuh. Dan betul-betul sangat hebat Pak Untung ini. Dia menyatakan kepada kami, bahwa dia tetap masih mau kawin lagi, masih mau punya isteri lagi. Lalu kehidupan berjalan seperti biasa lagi, sudah tak ada seminar, diskusi seperti dulu itu lagi.
Begitu aku kembali dari Holland, aku dapat tilpun lagi, bahwa aku diminta masuk kerja karena tak ada orang, tak ada tenaga. Katanya teman sekerjanya si Putu. Aku kenal Putu, punya anak dua, dan isterinya orang Perancis, yang kalau di rumahnya mereka sering bukannya berbahasa Perancis atau Indonesia, malah berbahasa Bali!
Malam itu tampak Putu sangat sedih, tampaknya kurus setelah beberapa minggu ini aku baru saja bertemu dengannya hari itu. Bekerjanya pun ogah-ogahan, selalu salah tingkah, dan tak ada semangat, lemas dan tak berdaya. Ketika kutanyakan keadaan sebenarnya, malah dia menangis sedih dan lalu dengan terbata-bata bercerita padaku. Bahwa hari itu siang tadinya, isterinya sudah mengatakan minta cerai! Sudah tidak cocok lagi berkehidupan dengannya, dan akan lebih baik kalau cerai saja. Mendengar ini kembali aku terhenyak, agak bingung dan merasa sangat kasihan kepada Putu yang sangat baik, sangat ramah dan juga cukup ganteng ini.
Dan gilanya lagi malam itu dia harus meladeni pesta perkawinan orang Perancis dengan orang Indonesia di sal bawah, memang tidak banyak, sejumah 17 orang. Tetapi rasa sedih dan kontrasnya itu? Yang satu sedang bahagia, penuh suka dan gembira, yang meladeninya ini sedang dalam duka nestapa karena akan segera dicerai isterinya. Maka kembali peristiwa beberapa bulan yang lalu kini muncul di tengah kami. Dua-dua ini adalah keluarga Resto. Dua-dua ini kami sayangi, seorang tua yang sudah hampir 70 dan seorang muda, tampan, baik-ramah-menyenangkan.
Peristiwanya sama, isteri minta cerai, bahkan diam-diam ada yang sudah bunting dan melarikan diri secara terang-terangan. Apa ini semua? Drama kehidupan yang berjalan di antara kami, keluarga Resto di tempat kami. Dan setiap aku kembali dari Holland dan Jakarta, dengan ini sudah dua kali ; ada yang minta cerai, padahal dua-dua keluarga itu kulihat sangat bahagia tadinya, walaupun penglihatan itu hanyalah dari luar.
Masih sempat aku berpikir, ketika di Jakarta, betapa baiknya cucuku Nita, selalu saja memperkenalkanku dengan teman-teman juniornya, pramugari yang cantik-ayu yang kenes-kegenitan. Ada yang diam-diam termasuk dalam daftar catatan hati, ada yang bahkan menggemaskan, selalu bikin geregetan, ada yang berdekatan saja sudah nyetrum karena wangi-harum merangsang. Apakah itu Yvonne, Yanti, Dessy, Ning, Sum dan lainnya itu? Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja menyentak pada diri : memangnya kamu mau di Pak Untung-kan atau mau di Putu-kan! Sedangkan Pak Untung yang katanya bisa bikin kelabakan wanita muda itu saja bisa ditinggalkan, nah, apalagi yang hanya normal-normal biasa saja. Lagi pula becerminlah, kamu kan tidak muda lagi, sudah berkepala enam, dan sudah empat cucu, mau apalagi!
Ketika seorang teman, mbak Didin, menanyakan bagaimana pendapatku setelah ada dua peristiwa beruntun yang menimpa komunitas Resto kami ini. "Ya, mbak, tadinya masih ada sepuluh persen semangat mau berbini secara baik-baik. Tetapi kini yang sepuluh persen itu sudah habislah sudah. Daripada dicerai orang, lebih baiklah tidak maju ke gelanggang!", kataku tegas. "Lho, jangan dengan cara begitu berpikir, mungkin keadaannya lain-lain. Sampeyan dengan cara sampeyan dengan pribadi sampeyan, ya mungkin lain lagi peruntungannya", kata mbak Didin.
Tapi betul-betul sudah ngeri memikirkannya, drama sedih kehidupan sudah menimpa dua keluarga kami di Resto. Lebih baiklah aku mengundurkan diri dari semangat mau maju ke gelanggang secara teman-temanku itu. Tampaknya gelanggangku yang biasa-biasa sajalah, tidak tetap, tidak ambil resiko, bisa bebas lepas agar tak dicerai orang, agar tak dicerai oleh Yvonne, Dessy, Ning, Yanti yang selalu bikin aku gemas itu.
Paris 23 februari 2000,-
Dulu zaman tahun 50-an, Pasar Ikan di Jakarta memang masih memusat di tempat Pasar Ikan itu saja. Tetapi kini Pasar Ikan yang dulu itu sudah tak berfungsi lagi, atau kalaupun digunakan hanyalah kecil-kecilan saja. Kini pusatnya ada di Muara Karang, Muara Baru dan Muara Angke. Terutama Muara Karang. Pasaran berjenis ikan ini sangat besar, luas dan berjenis ikan. Agaknya jauh lebih besar dan luas di tempat ini dari pada di Pasar Ikan dulu itu. Kira-kira tempat ini tak ada istilah sepi, selalu ramai, dan sejak tengah-malam menjelang jam 24.°° semakin banyak orang datang dan jual-beli ikan. Mobil-gandengan, truk-kecil dan sedang bahkan besar, membawa pedagang ikan antara kota. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru kota tidak hanya sekitar Jawa Barat saja, tetapi juga dari Jawa Tengah. Dan pedagang kecil, sejenis asongan lebih banyak memeriahkan lelang ikan ini. Jumlah kaum wanitanya berimbang dengan kaum prianya, baik sebagai pedagang maupun sebagai pekerja, buruh harian. Katanya kebanyakan mereka berasal dari kehidupan pantai, terutama dari Madura.
Tiga Muara itu, terutama Muara Baru, akan selalu ramai sejak tengah-malam sampai pagi harinya. Tak henti-hentinya mobil pengangkut lalu-lintas berjenis ikan, simpang-siur. Karenanya akan timbul kesan sangat semerawut, lalu lintasnya kacau, sulit diatur. Walaupun nyatanya berjalan bertahun-tahun, ya, begitu-begitu saja, dan tokh kehidupan pasar berjalan seperti biasa. Yang tidak teratur, semerawut itu kalau setiap hari begitu, artinya itulah aturannya, itulah kebiasaannya.
Tak jauh dari daerah pantai ini, ada sebuah perumahan baru, namanya Pantai Mutiara. Pantai Mutiara adalah daerah perumahan yang sangat istimewa, agak terpencil, tetapi banyak hal yang mengagumkan. Perumahannya teratur, besar, bagus, indah-manis, dan lain dari yang lain bentuknya. Ada bagian jalan yang meminggir ke sungai atau aliran-air-buatan, yang sangat jernih, kelihatan batu-batu putih yang bagaikan diatur. Dan hebatnya, setiap rumah yang bertengger di bibir pantaiya itu ada sebuah kapal atau beberapa motor-boat kecil ditambatkan dekat pinggiran rumahnya. Kalau di tempat lain, daerah lain, adalah biasa kita melihat rumah yang ada garasi mobilnya. Tetapi daerah Pantai Mutiara, disamping juga ada garasi mobilnya, ada lagi garasi kapalnya! Dan kapalnya ini tampak mewah, bagus, manis. Sama saja dengan yang kulihat di sepanjang Cote d*Azur atau Riviera, pantai selatan di Perancis, atau di Marina, Saint Rafael yang terkenal tempat kaum burjuasi Perancis dan Eropa itu.
Ada yang menarik perhatian kami karena sebuah kapal yang ditata demikian indah, namanya sangat eksotik, Lady Lingling. Penghuni daerah ini, kebanyakan adalah dari kalangan keturunan Tionghoa dan orang asing, yang sedang kontrak atau bekerja di Indonesia. Sebenarnya daerahnya tidak sangat ramai, dan justru keadaan inilah yang menjadikan lebih nyaman dan santainya untuk berdiam-tinggal.
Pintu portal-keluar-masuknya tentu saja dijaga satpam dengan agak teliti dan keras. Tetapi tetap mereka cukup ramah, artinya jauh daripada seram, malah bisa berkomunikasi dengan kata-kata dan kalimat. Dan daerah ini hebatnya lagi adalah daerah aman, jauh dari kekacauan misalnya huru-hara yang sebenarnya bisa disebut demonstrasi. Sebenarnya tidak mengherankan, karena mereka para penghuninya ini sangat berani mengeluarkan uang! Berani membelanjai sesuatu, jadinya aman-aman saja. Daerahnya berlainan dengan daerah luks lainnya, seperti Pondok Indah, Cinere, ataupun Bumi Serpong Indah, atau daerah bagus-bagus lainnya. Daerah Pantai Mutiara dapat dinikmati semua orang, dan terasa tidak demonstrative dan provokative, tetapi bagus, indah, sedap dipandang mata, tetapi tidak memancing buat berbuat yang tidak-tidak. Ini lainnya dengan daerah lain, sejuk mata memandang dan mulut-lidah kita selalu berdecak sambil mengagumi dan menikmati harta-benda dan kekayaan orang lain itu!
Mall atau Pasar Raya tempat mereka orang-orang kaya ini juga terletak tak jauh dari daerah ini, dan juga tidak luarbiasa. Mungkin karena kalau mereka sekedar mau belanja saja, bisa-bisa saja ke daerah itu. Tetapi kalau mau belanja yang hebat-hebat, bukankah mereka bisa melalui kapal mereka yang bisa langsung ke luarnegeri dan langsung masuk ke rumahnya ? Dan tokh tak ada orang lain yang melihatnya, dan bisa mengurangi kecemburuan sosial orang yang melihat.
Setelah menikmati perumahan orang-orang kaya model tersendiri ini, kami melepaskan lelah si sebuah resto kecil tapi sedap dan bagus tempatnya. Di tempat inilah yang sangat teringat pada kami. Es alpukatnya sangat lain dari yang lain yang pernah kami rasakan di mana-mana. Setelah kuselidiki, tanya-tanya kepada beberapa orang, baik yang juga memesan pesanan yang sama maupun kepada pelayannya, memang es alpukat di tempat ini, ada kelainan. Sebab dicampur dengan isi daging-durian, dan beberapa sendok teh calvados. Mana ada di tempat lain yang dicampur dengan minuman digestive yang cukup langka itu! Harganyapun tidak sangat mahal, masih dalam batas kewajaran.
Sebenarnya berbicara soal harga, memang Indonesia daerah tidak mahal atau bahkan ada barang-barang yang cukup murah. Tetapi hal ini kalau yang melihat dan merasakannya adalah orang asing atau seperti kami yang hidupnya di luarnegeri, yang nilai uangnya cukup mahal dan tinggi. Tetapi sebenarnya cukup banyak harga makanan dan barang-barang yang samasekali tidak murah. Di Cibubur, Pasar Rakyat, kami sering membeli ayam-hidup, dipotong di situ juga, dibenahi, artinya sesudah disiangi, sehingga sesampainya di rumah tinggal dibumbui saja. Membeli ayam cara begini, ayam-kampung, sangat segar, manis dan sangat alamiah, bukan main enak dan lezatnya, sebab masih berdarah, begitulah segarnya. Tapi berapa ayam itu satu ekornya? Seekornya 13.000 rupiah, kami beli tiga ekor, menjadi 39.000 rupiah. Artinya satu ekornya 13 francs Perancis, padahal di Paris sendiri harga ayam itu ( walaupun sudah bukannya segar lagi seperti di Cibubur ) seharga 15 francs, beda dua francs saja. Jadi sebenarnya cukup mahal, atau apakah harga di Perancis itu yang cukup murah?!
Harga-harga begini sebenarnya tidak dapat dikatakan murah, tapi tetap saja ada bagian yang cukup mahal. Ada perubahan yang kulihat tahun-tahun ini. Pasaran atau ekspansi perdagangan Perancis cukup deras dan laju. Sudah banyak supermarket kepunyaan atau yang berasal dari Perancis, bahkan hampir meratai daerah-daerah dan wilayah konsumen. Misalnya supermarket CONTINENT dan CARREFOUR, dua pertokoan ini sangat luas dan cepat perkembangannya. Anehnya di Perancis sendiri yang paling top adalah CARREFOUR, sedangkan di Jakarta yang paling disukai orang, dan paling ramai didatangi orang adalah CONTINENT. Dan aku tidak suka akan Continent, sebab aneh ini toko, satu-satunya toko yang tak bersedia menerima kartu-kredit!! Padahal pikirku, kenapa tak mau terima kartu-kredit visa, kan kita sama-sama dari Perancis!! Biasanya kalau aku belanja selalu pakai kartu-plastik visa itu. Ini sangat menguntungkan, sebab sesudah satu bulan baru ditagih di Perancisnya, jadi ada lowongan untuk dirikita bermiskin dulu, ada kesempatan menghutang!
Bagiku jauh lebih senang berbelanja di Hero misalnya atau di Matahari, atau kalau makanan segar yang belum diolah, jauh lebih baik di Pasaran Rakyat itu, seperti kami di Cibubur beli ayam, beli sayuran, minyak, beras, keperluan dapur.
Di TIM, banyak warung dan sedap buat nongkrong yang sambil ngobrol. Ini daerah seniman dan ilmiawan, jadi cukup murah. Nasi gorengnya model seharga 2500 rupiah, inipun termasuk harga sedangan, tidak murah betul. Kita ini banyak bicara soal krisis ekonomi, krisnom dan dulu itu krismon, tapi nyatanya begitu banyak resto, warung, cafe, supermarket yang penuh dibanjiri orang berbelian. Katanya krisnom dan krismon, tapi hotel selalu berisi di atas 70 persen, bahkan ada yang selalu penuh tak ada kamar kosong. Tempat hiburan, persantaian, makanan, pada penuh dan ramai. Ini yang agak sulit dipahami secara luaran. Tetapi kalau diteliti dengan angka dan kenyataan resmi, memang benar ada kesusahan dan kemiskinan.
Sekarang ini banyak mata memandang dan menujukan perhatian kepada Indonesia, khususnya setelah pemerintahan baru ini. Harapan banyak orang, terutama kalangan asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia, berharap banyak agar presiden ke empat ini, Gus Dur berbuat lain, berbuat banyak dan baik, yang selalu menguntungkan rakyatnya sendiri disamping juga menguntungkan para penanam modal dan para pemberi hutang itu.-
Paris 24 febr 2000,-
Ketika aku sampai di Paris dari Jakarta, seperti biasanya, diri ini sudah segera mau ke Resto bertemu teman-teman yang sudah hampir dua bulan ku tinggalkan. Dan di sana aku bertemu dengan Erwin. Erwin ini abangnya Rina. Rina tinggal di Holland. Rina punya anak dua laki-laki, umur 6 tahun dan 3 tahun. Yang kutahu dan pernah kudengar bahwa Rina ini sakit kulit, sakit berat, sebab sudah selama sepuluh tahun terus sakit kulit. Kedua belah tangannya kalau berjalan selalu seperti orang menadahkan tangan dan diangkat agak ke atas. Dia sangat jarang ke luar karena sakitnya ini, dan juga ada rasa malu sebab terlihat orang banyak. Jadi sakitnya banyak sekali menanggung beban, sakit phisik dan sakit psychis.
Dan di Resto itulah aku mendengar cerita Erwin, bahwa sakit Rina sudah semakin sembuh, dan Erwin melihat sendiri keadaannya, sebab dia sendiri baru pulang dari Holland. Cerita Erwin sangat membesarkan hatiku, sebab sembuhnya penyakit kulit Rina karena diobati oleh Nita. Dalam hatiku, "sudah semampu itukah Nita anakku itu?". Aku tahu dan mengikuti perkembangan "pelajaran dan amal-baktinya", tetapi apa betul sudah begitu baik hasilnya. Aku mengikuti perkembangan bagaimana dia berpuasa, mutih, tidak makan barang yang berdarah, tidak makan yang pengolahannya digoreng. Sehingga kami di rumahnya di Almere, Holland "turut puasa" juga dengan suaminya Bregas, sebab kami tidak pernah makan enak selama dia berpuasa itu. Tidak ada makanan yang digoreng, semua rebusan, dan tak ada daging atau yang berdarah. Jadi kalau kami mau makan yang agak enakan, harus bikin sendiri! Dan ini selama empatpuluh hari. Memang tidak sangat berat, tetapi bukannya ringan.
Dari tilpunnya ketika aku di Jakarta, memang dia mengatakan sedang mengobati Rina, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengatakan bahwa dia sedang berkonsentrasi dan menghimpun energi buat kesembuhan Rina. Bahkan dia mengatakan salah satu proyeknya tahun 2000 ini adalah menyembuhkan Rina dari sakit kulitnya yang sudah selama 10 tahun itu.
Rina kami kenal sejak kecilnya, karena kami sama-sama di Beijing dulu, di Tiongkok, sejak tahun 1964, di mana mereka masih kecil, Nita baru berumur satu tahun, dan Rina baru berumur beberapa tahun saja. Yang kami kenal Rina ini benar-benar anak baik, sabar, dan sangat jarang marah, dan tak pernah kami dengar dia maki-maki seperti anak-anak lain. Sesudah menjelang dewasa, Rina menjadi guru gitar anak-anak sebayanya, dan adik-adiknya termasuk Nita adalah salah seorang murid Rina dalam musik.
Rina termasuk anak pendiam, bukannya geropoh-gerapah seperti Nita yang selalu bergerak, selalu lari-lari, dan gelisah. Rina tokoh anak tenang, sejuk dan bagaikan lautan tak bergelombang. Pokoknya kami semua menyukai Rina. Mungkin faktor ini juga menjadikan Nita "agak nekat" lalu berkonsentrasi ingin menyembuhkan Rina. Nita tahu benar siapa Rina, bahkan sejak sama-sama kecilnya puluhan tahun yang lalu. Dia menjadi tak tahan hati melihat dan menyaksikan Rina, wanita dan ibu dan isteri Kamal yang begitu baik, tetapi menderita sakit kulit yang sudah selama 10 tahun. Sudah berobat ke mana-mana, tetapi tetap tidak sembuh. Dan kata para dokter bukanlah karena bakteri atau yang menular.
Banyak orang yang tak tahan hati melihat keadaan Rina. Kulitnya itu melepuh dan kedua belah tangannya itu pada waktu tertentu mengalir campuran darah dan nanah, dan sangat gatal. Betapa dia tersiksanya, menangis selama tahunan, ingin memeluk dan menggendong anaknya, tetapi dia tak punya kemampuan buat itu. Ingin mencium anaknya yang lucu-lucu, tetapi tak tekerjakan, karena sakitnya ini, hampir seluruh badan. Dia berpakaian agak lebar dan kebesaran, karena sengaja, agar kulitnya yang selalu basah berdarah campuran nanah itu tidak lengket mengenai kulitnya.
Kamal sebagai suaminya yang orang Marokko itu sangat sabar, luarbiasa. Sebab Kamal sendiri sering dicaci-makinya bahkan dilemparnya dengan sesuatu benda. Tetapi Kamal tahu benar, ketika Rina marah dan amat galak dan kejamnya itu, samasekali bukanlah Rina yang sebenarnya. Rina yang sebenarnya, ibu dari dua anaknya, bukanlah Rina yang ini, yang sedang marah dahsat begini. Inilah pendapat Kamal.
Bertahun-tahun hidup secara begini, sangat "menyakitkan perasaan Nita", yang lalu dia bersumpah pada dirinya sendiri dalam hati, agar tahun 2000 ini, sembuhkanlah Rina, wanita dan ibu dan isteri yang baik itu. Dan lagi teman sejak kecil, teman sepermainan Nita belasan tahun yang lalu, seprofesinya, sama-sama suka musik.
Rina pernah dinasehati oleh adiknya yang bernama Titin, kenapa Rina tidak bilang kepada Nita bahwa dirinya sakit kulit sudah begitu lama? Dan Titin pernah mengatakan kepada Nita bahwa kakaknya Rina sakit kulit, dan juga teman Nita yang paling akrab, Rima, pernah cerita tentang keadaan Rina ini. Sejak itulah tergerak hati Nita buat benar-benar menyembuhkan Rina.
Sebenarnya Nita mempelajari ilmu-tenaga-dalam dan setengah paranormal ini baru saja tahun lalu secara intensifnya. Tetapi karena dia ini punya bakat yang baik, dan lagi mau serta bersedia berkorban, sedia bersakit-sakit dulu, menderita dulu sebelum diisi energi, maka hasilnyapun menjadi lebih baik. Aku tahu benar, dua anakku beserta Wita, mereka punya kelebihan dalam tenaga-energi-dalam ini. Tapi Wita tidak memeliharanya. Keturunan dari pihak ibu mereka, semua punya kekuatan-dalam ini, energi-dalam yang bagaikan paranormal. Ponakanku, Aty, yang di Jakarta, sudah belasan tahun menjalani pekerjaan beginian. Dia sebagai orang-pintar, dan sudah profesional sejak menjadi amatir lebih dari 7 tahun. Tadinya kukira ilmu yang ada pada Aty akan berangsur hilang, karena "kelasnya" sekarang ini berubah. Dia dulu sebagai janda, tapi kini menjadi isteri mantan jenderal yang paling berkuasa pada masanya, boleh dikatakan orang kedua sesudah Suharto!
Ternyata setelah kutemui selama di Jakarta ini, "ilmunya" itu masih tetap baik dan berfungsi. Sehingga pada suatu kali tercetus pernyataan Pak jenderal ini kepada ajudan dan sopirnya : " ada juga ya nggak enaknya punya isteri paranormal, semua dia tahu, apa saja yang saya buat dan maksudkan, dia pada tahu semua", katanya kepada sopir.
Ketika Nita datang ke rumah Rina buat langsung menemui dan mengobatinya, Nita meneteskan airmata. Tak tahan dia. Begitu menderitanya Rina, sedangkan anaknya yang lucu itu sangat baiknya, ada dan punya semangat mengasihani ibunya, punya perasaan bahwa ibunya sedang sakit. Dan Kamal suaminya, sangat menyayangi dua anak dan isterinya. Tetapi begitu Nita masuk rumah Rina, terasa badan dan perasaannya sangat panas dan gemetar, ada sesuatu, ada masalah. Dan begitu Nita ingin memeluk teman lamanya ini, tubuh Nita gemetar dan panas sekali, gelisah.
Nita mengelilingi rumah Rina. Dan Nita mengatakan agar mencopot kaca-cermin yang banyak bergantung di atas itu. Tadinya kaca itu sebenarnya buat Rina melihat dan mengamati dua anaknya, sebab Rina sangat sulit bangkit dan berjalan. Dan semua kaca-cermin itu dicopot, Kamal sibuk menaiki tangga dan menanggalkannya. Lalu Nita mendekati Rina, dan memejamkan matanya. Sebelum itu di rumah Nita sudah berkonsentrasi, dan "mengisi energinya", sehingga begitu sampai di rumah Rina tinggal menuangkannya. Anehnya, ketika Rina mau menilpun Nita apakah jadi datang ke rumahnya, justru waktu itulah ada bel pintu rumah Rina, Nita datang. Nyatanya dua orang ini sudah saling kontak dalam perasaan,- ini cerita Rina ketika kuwawancarai.
Dan Nita mengatakan pada Rina, dengan yakin, dengan kesungguhan, bahwa Rina akan sembuh, dan Tuhan akan menolong Rina. Nita hanya sebagai kekuatan luar, yang menyampaikan pesan yang sangat, yang memohon, yang memanjatkan kepada Tuhan, dan Tuhan semoga berkenan mengembalikan Rina kepada keadaan kesehatannya. Ketika Rina menanyakan apa obat yang akan dimakan atau diminumnya, dan apa saja yang harus diperbuat Rina? Nita mengatakan, sementara ini dia belum langsung memberikan obat, karena katanya penyakit ini bukanlah masalah obat, tetapi ada kekuatan tertentu yang harus dilenyapkan. Dan, katanya yang melenyapkannya ini, pada suatu hari akan datang seseorang yang sangat pandai, sangat berpengalaman dalam "penyakitnya" ini. Ini dikatakan Nita setelah kontaknya dengan kekuatan-dalam-energinya. Dia mendapatkan bisikan-perasaan, akan datang seseorang buat langsung mengusir setan yang berdiam dalam tubuh Rina itu.
Namun demikian, kata Nita, Rina sejak waktu itu akan berangsur sembuh, semoga Tuhan merahmati. Rina sangat gembira setelah dikatakan Nita, bahwa Rina akan mendapatkan kesembuhannya. Kulitnya kembali akan bagus, licin dan dia sendiri akan cantik. Mendengar ini wajah Rina sangat gembira. Sejak kedatangan Nita, rumah itu sudah ada sedikit perubahan. Tidak sekum, sumpek seperti biasanya. Tiba-tiba saja derai tertawa Rina sudah kedengaran yang dulu tak pernah samasekali. Dan dua anaknya ini serta Kamalpun sudah "terisi" wajah gembira dan dilingkupi senyum dan tawa karena gembira. Tetapi baru suasana sekilas saja, belum menyentuh hakekat pokok.
Sejak kedatangan Nita dan setelah memenuhi anjuran agar letak rumahnya diadakan perubahan, kaca-cermin dicopot, dan beberapa barang dihindarkan, dipindahkan, lalu diganti dengan bunyian-bunyian dari kristal dan bambu serta beberapa pot bunga yang dipasang di tempat tertentu, maka rumah itu tampak lebih berseri. Kata Nita, tadinya fengshuinya sangat kacau, tidak baik. Dan sejak itulah Rina sudah terasa mendapatkan seorang pelindung, seseorang yang benar-benar yang akan mengobatinya sampai sembuh. Tetapi sekarang ini baru ada hawa dan suasana sedikit kegembiraan, tetapi samasekali bukannya penyakit itu lalu segera hilang. Yang ada yalah kegairahan kehidupan, semangat buat hidup, semangat bangkit dari kejatuhan. Tapi belum kesembuhan penyakit-kulit itu, dan kapan yang dikatakan Nita itu? Rina masih menunggunya, entah kapan, entah di mana.—
Paris 25 febr 2000,-
Begitu kutanyakan kepada Nita tentang pengobatan dan kesembuhan Rina mengenai penyakit kulitnya, yang kudengar dari Erwin di Paris, Nita meng ya kan. Dan kukatakan kepadanya, aku sangat ingin bertemu Rina. Ingin menanyakan dan ingin melihat sendiri akan kesembuhannya. Nita mengatakan, bahwa Rina sekeluarganya akan datang ke rumah ini ketika hari Minggu nanti, sebab hari itu adalah ulangtahun Nita. Dia mengundang beberapa temannya yang terdekat saja, termasuk sekeluarga Rina ini. Nita setuju aku mau menanyainya berkenaan dengan pengobatan dan kesembuhannya ini.
Siang itu sekeluarga Rina datang, lengkap dengan dua anaknya, suaminya Kamal, bahkan abangnya Victor, yang kami kenal sejak tahun 1964 di Beijing - China. Tampak mereka sangat gembira, tak terlihat tanda dulu itu, bahwa dia sakit kulit yang begitu berat dan telah menyiksanya bertahun-tahun. Dua anaknya sangat asik bermain dengan cucuku Berry, dan Berry lebih "menggila" lagi karena ada dua temannya anak laki.
Rina kuminta bersama Nita agar datang ke tempatku dilantai dua, paling atas, shoulder. Di atas itulah sarangku, ada internet-emailnya, di mana aku bisa kerja menulis sesuatu. Dengan Nita tak bisa berlama-lama, sebab dia harus masak buat para tamu siang itu. Dia sekedar mengantarkan Rina, karena kami tahu betul Rina ini sangat pemalu. Tapi karena sudah lama saling kenal, maka percakapan cukup lancar.
"Jadi, Rin, kamu memang merasa bahwa sebenarnya yang berperanan pokok itu adalah Nita? Bukannya syekh itu?". "Betul Oom, saya sangat merasakan bahwa Nita-lah yang paling pokok menyembuhkan saya. Dialah yang menyembuhkan saya, punya keinginan buat hidup, punya semangat bangkit kembali, buat bisa bergembira, menikmati rasa kekeluargaan. Cobalah Oom lihat, mana pernah kami segembira ini selama bertahun-tahun itu. Dan lagi Oom lihat ini tangan saya, badan saya...",- Rina memperlihatkan kedua belah tangannya dan sedikit menyingkap punggungnya, yang dulunya tidak mungkin dia mau memperlihatkannya kepada orang. Sebab ada air, berair, darah campur nanah. Kini kedua belah tangan itu sudah licin, bersih, kering dan malah bagus sekali kulitnya!
"Ketika Nita mengatakan bahwa akan ada seseorang yang akan mengobati saya secara langsung dan dengan obat benaran, saya menunggunya. Tetapi saya tak tahu kapan, di mana, dan bagaimana persisnya. Tetapi saya punya keyakinan penuh dan sangat percaya bahwa memang Nita sedang menjalankan misinya buat kesembuhan saya. Tampaknya dia memohon penuh, memanjatkan penuh doanya kepada atasannya, agar orang yang lebih hebat dari dialah yang langsung mengobati saya. Tetapi saya sangat percaya, semua ini adalah peranan Nita. Dia benar-benar mengatakan, akan datang seseorang yang akan membantu saya, mengobati saya. Dan orang ini adalah "persekutuan" Nita dengan rokh dan semangat orang itu, syekh Ibrahim orang Marokko itu. Yang padahal Nita tak pernah mengenal dan tak pernah bertemu dengannya.
Suatu sore datang Kamal sangat tergesa-gesa, dengan terengah-engah turun naik karena keletihan lari-lari entah dari mana, lalu mengatakan kepada saya, agar lekas berbenah dan kita sekarang juga sesegera mungkin datang ke rumah syekh Ibrahim, orangpintar yang merangkap jadi tabib, akan mengobati saya. Bagaimana saya harus secepat itu. Ada dua anak yang harus diatur, ditinggalkan walaupun hanya buat beberapa jam saja. Kamal dipesan oleh seorang temannya yang juga orang Marokko, agar membawa isterinya ke syekh itu. Rupanya teman Kamal ini sudah "membooking" agar isteri Kamal dapat kesempatan diobati oleh syekh itu. Dan syekh Ibrahim segera mengatakan agar seketika itu juga, isteri Kamal datang kepadanya. Rupanya entah bagaimana, syekh Ibrahim sudah punya "firasat dan pesan-titipan" agar segera menyembuhkan Rina yang sudah bertahun-tahun kemasukan setan jahat dalam tubuhnya.
Hari itu, Oom, lanjut Rina, sore itu, saya diseret-seret, sambil menyeret kaki yang sakit, dan badan setengah pingsan, saya jalan berdua Kamal dan temannya itu, menuju rumah syekh. Dua anak saya, saya titipkan kepada tetangga. Dan minta ampun capek sekali, lelah, letih loyo tak ada tenaga. Saya tak pernah ke luar selama bertahun-tahun. Sekarang saya harus menuju rumah syekh itu. Kami tak pernah mengenalnya. Habis tenaga saya, hampir saja saya menyerah dan mogok di tengah jalan. Tetapi entah bagaimana sangat jelas tergambar, terbayang wajah Nita, menyemangati saya, agar teruskanlah, Nita seakan berkata, bagaimanapun kamu harus datang kepadanya, inilah dia itu,inilah dia itu!
Dan saya menguatkan diri sedapat-dapatnya. Dan kami sampai ke rumah syekh itu. Saya melihatnya sangat benci, sangat marah, mau memakinya, tetapi tidak punya tenaga, tidak terkeluarkan. Kamal membantu saya mendudukkan saya ke dekat syekh, dan saya bukan main marah dan bencinya kepada Kamal. Semua orang di ruangan itu sangat memuakkan saya, sangat membencikan dan membosankan. Lalu syekh mengkap tangan saya dan menundukkan kepala saya ke arah sebuah cangkir yang berisi air-putih-jernih. Syekh berkata, lihat itu yang dalam air! Lihat baik-baik apa itu yang dalam air! Dan terlihatlah sebuah mata yang sangat besarnya, menyeramkan sangat. Lalu telinga yang sangat besar dan berbulu. Saya sangat takut, tetapi syekh tetap memegang kepala saya dan menundukkan agar terus melihat ke dalam cangkir beisi air itu. Tak beberapa lama lalu syekh mengangkat saya duduk yang baik. Lalu dia mengambil kertas lipatan dan saya merasa tiba-tiba saja dia menusukkannya ke rusuk saya sebelah kiri. Dan kertas yang terasa sangat kuat tajam serta keras itu, bagaikan angin topan menerpa rusuk saya. Saya sangat terkejut, dan lalu menarik nafas yang sangat panjang, sebab seperti sangat kelelahan, dan lalu terasa ada yang ringan, ada yang hilang terbang. Tusukan dan libasan kertas itu benar-benar saya rasakan seperti kerasnya hembusan angin topan. Dan saya lalu terasa enak bernafas, ada yang ringan dan melegakan.
Lalu saya diberi obat gosok, terdiri dari air. Saya masih ingat benar, dulu Nita ketika datang ke rumah saya, berjanji akan memberikan obat gosok air ini, dan ternyata bukannya dia yang memberikan, tetapi syekh itu. Dan inipun sudah dikatakannya, ada seseorang baik yang akan datang kepadamu, dan akan mengobati kamu. Saya kira inilah orangnya, dan inilah semua yang dikatakan Nita",-
"Jadi Oom, tak pernah sedikitpun saya ragu, Nita-lah yang mengobati saya, dan yang paling penting saya merasakan semua itu. Dan bagaimanapun saya sangat berterimakasih kepada syekh Ibrahim itu, yang telah memberikan obat kepada saya. Saya gosokkan obat itu ke bagian sakit kulit saya, sehingga selicin ini", kata Rina lagi-lagi memperlihatkan tangannya.
Rina baru satu kali diobati dengan diberi obat gosok oleh syekh Ibrahim. Syekh Ibrahim adalah seorang tabib merangkap paranormal dari Marokko juga. Dia sangat terkenal di kalangan orang-orang Afrika yang saling mengamalkan ilmunya dalam soal kejiwaan. Katanya Rina kemasukan setan selama tahunan ini. Entah benar tidaknya, tetapi nyatanya Rina sudah berkali-kali berobat ke dokter, tidak juga menemukan kesembuhan.
Dengan "perkenalannya kembali" dengan Nita sesudah bertahun-tahun tidak dekat, yang padahal hidup di satu negara, Holland, maka sangat terasa bagi Rina, bahwa Nita-lah yang sebenarnya dapat menyembuhkannya. Tetapi Nita berkali-kali menyatakan dirinya, dia hanya sekedar bantuan luar, yang "tugasnya" sangat memohon, memanjatkan doa agar Tuhan memberi kesembuhan kepada siapa yang benar-benar dan sungguh-sunggu ingin sembuh, dan pecaya penuh kepada kekuatan Tuhan. Inilah tugas utamanya, memberi bantuan, menolong orang yang benar-benar mengharapkan bantuan dan pertolongan. Pasal berhasil atau tidaknya, terpulang pada yang di Atas, yang mahakuasa, sedang manusia hanya berharap, berdoa.
Sebelum ini Nita sudah berkali-kali diminta datang buat menyembuhkan orang atau teman dekatnya. Nita memberikan bantuan dan menolong, tetapi dia tetap sebagai orang biasa, bukannya dukun, bukannya paranormal yang sudah professionel, tetapi baru taraf belajar. Karenanya sementara ini dia pantang menerima bantuan, sumbangan apalagi berbentuk uang! Membantu dan menolong kemanusiaan, itulah program tahunannya buat tahun 2000 ini. Sedang dia bekerja di sebuah pabrik sebagai buruh pemasang alat-alat elektronik dengan banyak temannya baik dari Asia maupun dari Eropa,—
Paris 25 februari 2000,—
Kesembuhan penyakit kulit Rina sangat menggembirakan bukan hanya Rina sekeluarganya di rumah saja, tetapi juga seluruh keluarga lainnya, abang-abangnya dan saudara lainnya. Erwin dan Victor sangat gembira akan kesembuhan adiknya ini. Erwin menceritakan ini dengan mungkin agak berlebihan, karena gembiranya. Adiknya yang sudah begitu lama menderita sakit kulit, hampir saja putusasa, kini sembuh seperti sebelumnya. Dan Victor yang kami panggil Ntong ketika di Beijing, lalu sangat tertarik kepada Nita yang sudah begitu berhasil menyembuhkan adiknya ini.
Ntong pernah beberapa kali mengikuti Nita ketika Nita bertugas membantu dan menolong teman-temannya. Dan Ntong lalu sangat berminat buat menanyakan sesuatu tentang dirinya sendiri. Dia benar-benar mau tahu sesuatu tentang dirinya. Dan setelah dia yakin bahwa Nita akan mampu mengurai tentang dirinya, maka lama sekali Ntong buat memutuskan apakah pertanyaan itu akan diajukannya atau tidak. Nita sebagai orang yang perasa dan peka kepada perasaan seseorang, apalagi mengenai kejiwaan, atau dengan bahasa sederhananya, apa maunya sih ini orang. Tahu dan mengerti apa sebenarnya kehendak Ntong ini.
"Nita", kata Ntong suatu kali kepada Nita,- "Sekarang aku datang kepadamu dengan sesuatu maksud. Sudah lama kupikirkan apakah akan kutanyakan atau tidak. Dan aku sudah mengambil keputusan, sebaiknya kutanyakan kepadamu, lepas dari kau tahu atau tidaknya, kau mengerti dan memahamiku atau tidaknya. Begini : aku mau tahu, siapa sebenarnya aku ini, dan apa, dan bagaimana? Aku selama ini, bertahun-tahun tenang-tenang-gelisah, mau tahu siapa dan apa aku ini sebenarnya",- kata Ntong. Tetapi Nita samasekali belum memberikan reaksi sedikitpun, dan juga tampak samasekali tidak kaget, tidak aneh, dan tidak pula terasa heran.
"Sebenarnya hal itulah yang aku mau tahu. Aku sungguh percaya, apalagi aku mengikuti dan menyaksikan pengobatan, pertolongan dan bantuanmu selama ini kepada keluargaku sendiri maupun kepada teman-teman kita yang lain. Inilah pertanyaanku. Kau tolonglah aku, bantulah aku!",-
Mendengar perkataan dan harapan Ntong ini, barulah benar-benar Nita yakin akan hal dan maksud Ntong yang sebenarnya. Dan Nita samasekali tidak heran akan pertanyaan itu. Sebab Nita sebenarnya sudah tahu, sudah mengerti siapa sebenarnya Ntong ini. Tetapi tentu saja dia tidak akan menjelaskan siapa Ntong sebelum orang punya badan tidak menghendaki keterangan dan penjelasan itu. Dan Nita setelah dengan penuh ketenangan dan penguasaan dirinya, lalu mengatakan dengan mantap, karena sudah lama dia tahu.
"Ntong, sangat baik pertanyaanmu mengenai dirimu sendiri. Aku ingin terus-terang kepadamu. Kau Ntong, sebenarnya kau itu perempuan. Kau Ntong sebenarnya kau itu juga laki-laki. Pada dirimu ada perempuan dan ada laki-laki. Kau-pun sebenarnya sudah lama terasakan bahwa pada dirimu ada dua jiwa, kau itu ada dua badan, dua raga dan dua jiwa",- Nita berhenti dan memperhatikan reaksi Ntong. Tapi Ntong malah sangat tenangnya, tidak sedikitpun merasa terkejut dan heran.
"Ya, Nit, kau betul, akupun merasakan hal itu. Tapi aku mau tahu lebih jelas lagi tentang aku yang kau pantau dan amati selama ini. Dan itulah sebabnya pertanyaan ini kuajukan padamu, justru karena aku yakin kau tahu, kau mengerti tentang aku",- Nita diam merenung lama, berpikir jauh, mengumpulkan energi, lalu berkata lagi : "Dia, perempuan itu sudah lama berdiam dalammu, bahkan ketika di Beijing dulu itu, kalau tak salah dia bukan orang kita, bukan Indonesia. Bukan main kau sayang dan cintanya kepadanya, ya, kan Ntong?",- kata Nita.
"Ya, sekarang aku agak ingat-ingat, dia temanku orang Jepang, meninggal karena kecelakaan, tahun 64 atau 65 sekitar itu",- "Dan kau ketika itu baru berumur sekitar 10 tahun", kata Nita. "Kau betul", kata Ntong. "Jadi Ntong, sekarang soalnya terletak kepadamu. Lalu kau mau apa, mau ke mana dan mau kau apakan, semua soal terletak kepadamu", kata Nita yakin dan mantap.
Ntong sekarang ini berusia lanjut buat berumahtangga, tetapi sebenarnya belum terlambat benar, umurnya sedang berkepala 4,- Orangnya, wajahnya sebenarnya penuh kelaki-lakian, mukanya sebagaimana keturunan Batak, agak bersegi empat, dan mengarah ke wajah patung Gajah Mada buatan Henk Ngantung itu. Walaupun perawakannya kasar dan kelaki-lakian, tapi jiwanya halus, lembut, dan tidak pernah petatang-peteteng, seperti kebanyakan laki-laki kasar lainnya. Orangnya baik dan sangat ramah. Dia banyak tahu tentang olahraga, pemain badminton yang baik, pemain pingpong yang handal, juga sepakbola. Beberapa kali bercinta tapi gagal. Kenapa, orang tidak tahu, semuanya serba gelap.
Dulu sekali pernah berteman dekat dengan seorang wanita setengah pengusaha, yang sudah berkeluarga. Karena kedekatannya ini menjadikan suami wanita itu cemburunya luarbiasa, dan akhirnya mereka bercerai. Banyak orang banyak teman kami yang tidak mudah begitu saja percaya bahwa Ntong sudah benar-benar menodai wanita itu secara fisik. Itu hanya penuh kecemburuan saja adanya. Orang lebih mempercayai Ntong sebagai pemuda yang jujur dan hanya ingin berteman biasa saja. Bukti lain setelah bertahun-tahun kejadian itu, tokh mereka baik Ntong maupun wanita itu tetap saja membujang, yang satu bujang-lapok, yang satunya lagi janda setengah tua.
Dan apa yang ditanyakan Nita kepada Ntong adalah sepenuhnya terletak dan tergantung pada Ntong, itu adalah kebenaran. Menurut Nita, perempuan itu samasekali tidak jahat, bukannya rokh jahat, tetapi sudah tentu dia tidak sudi kalau Ntong lalu kawin berumahtangga dengan perempuan lain, yang padahal dia sudah tahunan tinggal bersama Ntong di dalam satu jiwa, satu raga, dengan dua kejiwaan. Dan ketika pernah ditanyakan Nita apakah Ntong mau berpisah dengan wanita yang bersama Ntong itu, malah Ntong menjawabnya : "Saya sudah terbiasa dengannya Nit, dan tokh dia kan tidak jahat. Dan lagi kalau aku pergikan dia, aku suruh pergi begitu saja, kan aku juga kesepian. Dan yang paling mejedihkan nantinya, kalau dia kusuruh pergi, lalu aku kesepian. Sekarang ini dan selama ini aku hidup sendirian tampaknya dari luar, tetapi ada dia bersamaku, dan aku tak pernah merasa kesepian selama dia ada dalam diriku",- "Nah, di situlah soalnya yang kukatakan padamu itu. Semua itu terletak kepadamu, tergantung pada dirimu. Apakah akan terus begitu kau hidup dengannya yang selalu tak tampak di orang lain, walaupun hanya kau sendiri saja yang merasakannya, yang bisa melihat dan merabanya",-
Tiba-tiba Ntong bertanya serius: "Apakah aku tidak bisa berkeluarga dengan orang lain, Nit, seandainya aku mau dan mau melepaskan dia?". "Tampaknya kau tidak akan serius karena kau sudah terbiasa dengannya, dan lagi kalau kau betul-betul mau berkeluarga, kau benar-benar harus minta izin kepadanya. Dia tidak akan rela tampaknya kau usir begitu saja, dan lagi kau sendiri tampaknya sudah terbiasa dengan adanya dan kehidupan berdua selama bertahun-tahun ini dengan dia",- kata Nita. Dan ternyata memang Ntong membenarkan semua kata-kata Nita. Lama sebelum ini tidak hanya satu dua orang yang mengatakan bahwa Ntong itu adalah perempuan sebenarnya, hanya terkadang saja dia menjadi laki-laki. Dan setelah Nita mendalami ilmu tenaga-dalam dan rokh-kejiwaan ini, semakin tampak olehnya bahwa Ntong memang sangat terikat akan perempuan yang hidup di dalam diri Ntong. Dan terbukti, Ntong sendiri amat berat berpisah dengannya. Dan kian bertambah umur Ntong, sudah semakin sulit buat menentukan berkeluarga dengan wanita lain. Apalagi sekarang ini beberapa tahun lagi umurnya akan berkepala lima.
Semakin lama Nita mendalami ilmu ini, semakin banyak soal-soal yang ditemuinya. Semua minta penyelesaian, semua minta didahulukan, semua minta diperhatikan. Untung saja pelariannya hanya kepada Tuhannya, tergantung dan berpasrah kepada Tuhannya, hanya itulah kekuatannya sehari-hari. Tapi dia sudah berpegang kepada penyerahan diri buat membantu kemanusiaan dan perbaikan kehidupan umat manusia, dan berdasarkan kekuatan Tuhan yang menguasai jagad alam ini
Paris 25 febr 2000,-
Nama yang tercatat di kotapraja Fontenay Sous Bois, Paris — lengkapnya : Berry Batis Aditya Jaya,— dan dia lahirnya di Paris. Sejak umur tiga bulan sudah punya paspor sendiri, dengan foto dipegangi dari samping, sehingga kelihatan foto bayi itu tidak dalam posisi duduk. Tapi sekarang ini peraturannya sudah lain, harus ikut orangtua, ibunya. Sulitnya bila mau ke mana-mana tidak bisa sendirian, harus ikut paspor yang ada dua orang, ibu dan anak. Ketika itu peraturannya bebas, bisa bikin paspor sendiri, walaupun umurnya belul setahun. Ini termasuk peruntungan Berry, sekecil itu sudah punya paspor sendiri. Sehingga ketika dia pertama kali ke Indonesia dengan kami, ibunya, kakaknya dan kakeknya, orang douane, imigrasi, terheran-heran, anak umur dua tahun ketika itu, sudah punya paspor sendiri. Suatu hal yang sangat langka dan mengherankan, lalu menjadi perhatian orang.
Ketika kecilnya sampai umur satu tahun satu rumah denganku, dan sangat dekat dan begitu dekat denganku. Ke mana saja aku pergi selalu mau ikut. Kata ibu bapanya, Berry itu adalah ekornya kakek. Selalu menguntit, maunya selalu ikut. Dan ketika mereka pindah ke Holland, tentu saja aku sangat sedih, berpisah dengan Berry, dan Berry-pun minta agar aku ikut pindah ke Holland. Aku sudah menjelaskannya, tidak mungkin dalam waktu yang dekat ini. Kami biasanya akan berkata dan bercerita sebagaimana orang-orang yang seharusnya mengerti dan dewasa, tidak dianggap atau jangan sampai menganggap anak-kecil takkan mengerti apa-apa.
Dulu ketika kakaknya masih kecil, dan dia belum lahir, kesayanganku tertumpu pada kakaknya, Loulou - Laura. Tetapi kini Laura menjelang umur 14, lucu kekanak-kanakannya sudah hilang. Dan kepada Berry-lah tumpuan kesayangan itu. Ini bukan samasekali tidak sayang lagi, tetapi sudah ada perubahan, sudah lain bentuk kasih-sayangnya, bukannya faktor lucu dan menggemaskan lagi, tapi sebagaimana menyayangi cucu yang menjelang dewasa.
Ketika umur Berry sekitar menjelang tiga tahun, banyak sekali kenangan yang sangat sulit dilupakan, bahkan selalu teringat. Setiap kali aku ke Indonesia bila tanpa dia, seperti tahun 1999 dan 2000,— Januari barusan,— aku bisa begitu cengeng, begitu sedih terlalu lama berpisah dengannya. Dan kontan aku menilpun ke Holland, dan setiap menilpun di wartel, habis puluhan ribu rupiah. Tapi tak apa, hati sudah terpuaskan.
Menjelang aku berangkat ke Jakarta, aku ke Holland buat menemui para cucu. Di satu jalan yang sama, berdiamlah dua anakku, masing-masing punya sepasang anak, laki dan wanita,- sangat ideal. Jadi aku punya empat cucu, dua laki, dua wanita. Yang satu rumahnya nomor 115, yang satunya lagi nomor 15,— beda 100,— Karenanya di rumah dua-duanya aku harus menginap, agar setiap cucu merasa adil dan juga memang mereka selalu minta agar aku menginap di rumahnya. Rumah yang satunya adalah rumah Wita, anakku yang tertua. Dia punya anak Angel, laki-laki umur 10 tahun, lalu Celine umur 8 tahun. Kalau orang Jawa, seharusnya Laura dan Berry harus memanggil abang dan kakak kepada Angel dan Celina, karena ibunya adalah anakku yang tertua. Sedangkan ibu Laura dan Berry, Nita, adalah anakku yang kedua. Tapi adat kami tidak begitu, yang benar-benar tua umurnya ya seharusnya dipanggil kakak atau abang. Jadi bagaimanapun, Angel harus panggil kakak kepada Laura, dan Angel dan Celine adalah adik-adik Laura. Di sini kedudukan Berry tetap tak berubah, sebab dia anak paling muda, paling kecil umurnya, jadi dia tetap saja adik terkecil.
Ketika aku mau menginap di rumah Wita, Angel dan Celine, Berry protes. Mengapa harus menginap di sana. Gilanya, Berry langsung tilpun tantenya, Wita, bahwa dia tidak setuju kakeknya menginap di rumah tante Wita. Untuk meyakinkannya ini, tidak begitu gampang. Dulu pernah Berry mengatakan, bahwa si simon itu adalah kakeknya Berry sama Laura, bukan kakeknya Angel sama Celine.
Aku menjelaskannya, juga ibu dan tantenya. Kakek adalah kakek dari empat cucu. Kakek adalah kakeknya Laura, kakeknya Angel, kakeknya Celine dan juga kakeknya Berry. Lalu Berry protes lagi mengapa dia nomor vier, vierde, yang keempat tidak yang pertama. Dijelaskan lagi karena Berry memang urutan umurnya yang keempat. Dan lalu dia mengerti. Kalau dia mengerti akan selalu mengatakan : "Oh ya", atau "oh so".
"Tante Wita, Berry tidak mau kakek menginap di rumah tante Wita. Berry jalous lho", kata Berry menilpun tantenya. "Kan Angel dan Celine juga mau agar kakek menginap di rumahnya. Kakek di rumah Berry kan sudah sering, nah, sekarang, hari ini kakek menginap di rumah tante Wita, ya, sayang".-"Nee, Berry tidak mau, kakek harus di rumah Berry. Atau Angel, Celine menginap di rumah Berry sama-sama kakek di sini, jadi kita vier mensen", kata Berry dengan bahasa campuran. Kalau sudah begini cukup sulit solusinya. Berry tidak bisa dipaksa atau dikerasi tanpa alasan yang bisa diterimanya. Kami berpikir bersama mama dan papanya dan juga tantenya. Akhirnya kami menemukan jalan. Agar Berry ikut menginap bersama kakeknya di rumah tantenya, dan Berry sangat setuju. Maka berangkatlah kami berdua Berry ke rumah Wita yang hanya sekian puluh meter itu! Malam itu kami berempat dengan tiga cucu. Laura tidak ikut, sebab banyak PR-nya yang harus diselesaikan malam itu.
Berry setiap aku datang ke Holland, selalu mau ikut aku ke Paris. Kukatakan ini tidak mungkin, karena kakek bekerja, dan Berry sendirian bagaimana di rumah. Dia katakan ikut kakek saja ke mana-mana. "Tidak bisa Berry, kasihan mama dan Loulou dan papa, ditinggalkan Berry". "Lat maar, biar saja, aleen dua tiga hari saja tokh",- kata Berry berkilah.
Dan ketika aku mau ke Jakarta baru-baru ini, pulang dari Holland ke Paris, Berry juga mau ikut ke Paris dan mau ikut ke Jakarta. Dan dia ingat ketika baru beberapa bulan yang lalu, kami bertiga, Laura, Angel dan aku ke Bali. Dia lalu menagih, bahwa dia juga mau ke Bali dengan kakek, aleen twee, hanya berdua kakek saja, katanya. Pagi-pagi itu ketika aku mau menuju stasiun Almere Stad, dia menangis mau ikut, paling tidak mengantar saja ke stasiun. Terpaksalah tantenya, Wita, turut mengantarkan bersama Berry ke stasiun. Dari stasiun Almere, aku menuju Schipol, lalu barulah dengan kereta-cepat menuju Paris.
Dan ketika di stasiun itu, Berry digendong tantenya. Tidak banyak omong dia. Tetapi airmatanya mengalir sedih sekali. Aku berusaha membujuknya agar jangan menangis, jangan bersedih hati, kan kakek tidak lama, hanya satu bulan lebih saja. Tapi Berry tak mau tahu. Tak terdengar suara berkata, tetapi isakan halusnya terdengar. Dan begitu aku naik kereta, hanya tangannya melambai dan airmatanya terus menggenang. Sampai jauh sekali kuperhatikan, anak dan cucu itu sudah agak jauh, tetap saja tangannya dinaikkan ke atas. Terbayang matanya berkilat dan dari pelupuk mata kanak-kanaknya menetes butiran mutiara putih-bersih. Dan kini setelah jauh kereta, mungkin giliran airmataku-lah yang mengalir. Terasa memang, ada ikatan tertentu dengan Berry,— aku sangat menyayanginya.
Biasanya kalau begitu bertemu sesudah bulanan tak bertemu, dia akan lari sekencangnya dan menerkamku buat minta gendong, minta peluk dan cium. Padahal tidak semua orang dia suka diciumi. Ada orang-orang tertentu bila mau memeluk dan menciumnya, lalu dia berkata : "Oh nee, salaman saja", katanya sambil mengunjukkan tangan sambil sedia bersalaman. "Yang ciuman itu kan meisje", katanya. Ada-ada saja alasannya. "Berry kan jongen", katanya. Ketika badannya oleng-oleng, terutama pantatnya bergerak geol-geol, itu tandanya dia sudah mau kencing. "Ayo Berry, lekas sini, buka celananya, kamu kan mau pipis". "Nee, Berry kan dansa, nari-nari", katanya memberi alasan. Padahal dia itu sangat malas buka celana kalau mau kencing. Dan tak lama antaranya, dia memekik karena terkencing, lalu datang kepadaku. "Nah, rupanya dansa tadi itu, lalu terkencing ya Berry",— "Oh ya, so",— Dia tak mau ngaku bahwa gerak-gerik pantatnya tadi karena mau kencing.
Semua ini, apa saja yang menjadi gerak-geriknya ini menjadikan aku tertawa sendirian, sangat lucunya. Ada kalanya dia berdua bersepakat dengan kakaknya, Laura, agar aku mau bercerita kepada mereka berdua. Semua ceritaku yang pernah kutulis, Laura-lah yang paling banyak tahu, karena selalu saja dia minta agar aku ceritakan apa saja yang kutuliskan selama ini. Dan cerita-cerita ini, bila Berry tidak mengerti kata-kata dan kalimat tertentu ketika aku sedang cerita, maka Laura akan menterjemahkannya ke dalam bahasa Belanda. Dan Berry biasanya kalau dia memang mengerti, selalu akan berkata : "oh so",—
Sekarang ini mereka sekeluarga sedang di Chamonix,dekat Swiss pegunungan Alpen,salju, buat istirahat dan main ski. Berry menilpunku agar aku menyusul ke sana. Kukatakan kakek kan sekarang kerja, cari duit buat beli tiket ke Holland, buat lihat dan ketemu Berry. "Oh so, Berry tunggu ya kakek di Almere, Holland", katanya dalam tilpun.
Paris 26 febr 2000,-
Jauh sebelum ini aku sudah dipesan oleh Luis, Tuan Luis, yang juga kami panggil Lao Chang, bahwa pada satu hari dia membutuhkanku sebagai penterjemah. Dia mau bertemu beberapa orang Perancis di resto kami. Jadi pada waktu dia memerlukanku sebagai penterjemahnya, sebaiknya aku tidak usah kerja pada waktu itu. Sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Minta gantikan pada hari lain, buat pengganti hari itu.
Aku juga menanyakan siapa orang Perancis itu, agar aku dapat mengira-ngirakan bahan apa saja yang akan menjadi topik pembicaraan. Luis mengatakan bahwa mereka tadinya adalah tentara, dan bahkan ada yang berpangkat kolonel bahkan seorang diantaranya pensiunan brigjen. Luis menjelaskan sekedarnya, sebab dia tidak mau mengatakan secara persisnya topik apa yang hendak diterjemahkan itu. Inipun dia katakan padaku karena dia percaya, dan dengan pesan bahwa peganglah kepercayaan ini, agar persahabatan kita langgeng, demikian katanya.
Yang kutahu tentang Luis, dia ini pedagang, Ketua Konsorsium Eksekutif Dewan Keuangan suatu perusahaan yang berkedudukan di Singapura. Yang diperjual-belikan yalah yang sifatnya hipotik, seperti hotel, bangunan perkantoran, juga ada pabrik, dan pertokoan. Pada tahun 1994 kami bersamanya bermobil dari Singapura menuju Kuala Lumpur buat berunding dengan beberapa temannya yang bersepakat akan membuka toko serba-ada, departement store di Shanghai dan Beijing. Dan mengapa aku menjadi dekat dan berhubungan dengannya? Karena dia sudah mempercayakan padaku, akan menyerahkan pengelolaan sebuah restoran di Beijing. Restoran itu merangkap hotel berlantai tujuh, tidak besar amat, tapi samasekali tidak kecil.
Rencananya restoran ini adalah resto Asia-Eropa. Mengapa dia getol amat ingin agar aku juga bergabung dengannya, dan bekerja bersamanya? Panjang ceritanya. Dia sudah berkali-kali datang makan ke resto kami di Paris. Sebenarnya dia ini adalah teman atau kenalan dari anakku Wita dan Nita. Mereka kalau bertemu selalu berbahasa Tionghoa Beijing. Luis umurnya belum tua benar, tapi sudah lewat sebagai anak muda. Sebagai pengusaha yang juga berkuasa atas pengeluaran uang, memang umurnya masih muda, baru mengakhiri kepala 3 dan mau ke kepala 4. Ketika dia minta agar aku mau bergabung dengannya, dan bekerja padanya, kukatakan kini aku sedang bekerja di resto kami sendiri. Akhirnya dia tahu bahwa aku adalah salah seorang pendiri Restaurant Indonesia. Setelah dia tahu malah dia lebih nekat ingin agar aku mau bekerja dengannya.
Kukatakan sekarang tidak bisa, kecuali kalau aku sudah pensiun, dan kalau aku sendiri berkenan, setuju. Tambah begini jawabanku, tambah menjadi-jadi mengincerku untuk bekerja dengannya. Dan karena aku tahu, dia lebih dekat kepada dua anakku, maka kutanyakan mengapa Luis begitu ngotot mau mengajakku bekerja dengannya. Tahulah aku sekarang. Salah satu diantaranya ketika kami dulu datang ke rumahnya di Singapura, seorang anak kesayangannya langsung memelukku dan minta digendong. Anak itu berumur satu tahunan, manis sekali. Katanya, kata Luis, anak itu sangat tidak mudah dekat orang, dekat tamu papa dan mamanya. Tapi kenapa denganku lalu kontan minta digendong, dipeluk.
Memang aku ingat hal itu. Tetapi tak pernah jadi perhatianku. Aku sangat suka anak-anak. Pernah aku diherani oleh isteriku almarhum, "mengapa kamu kok, begitu disenangi anak-anak kecil itu, sedangkan aku yang wanita tidak begitu seperti kamu ya", kata isteriku. Mungkin karena memang aku sangat suka akan anak-anak. Tapi sudahlah, aku tidak mau memperpanjang persoalan dan perihal yang dipercayai Tuan Luis itu!
Luis sangat banyak perhatiannya kepada ilmu yang mengarah ke mistik. Dan dia juga tahu masalah dunia-halus, termasuk dia merasa dirinya sebagai paranormal yang amatiran. Menurut dua anakku itu, Luis percaya bila dia bisa mengajakku bekerjasama dengannya dan mau bekerja untuknya, maka usaha apapun akan menguntungkan dia, begitu kepercayaannya! Dan aku tak ambil open akan hal itu, urusan dialah itu. Tapi memang pernah kudengar, termasuk dari anakku, bahwa "katanya, menurut pengamatan dalam", siapa saja yang bekerjasama denganku, atau bila aku berada dalam satu usaha dengan orang lain, ramai-ramai, maka badan usaha itu selalu akan untung, pokoknya lucky deh. Tetapi katanya pula, bila aku hanya sendirian mau coba-coba dagang, alamat akan segera bangkrut. Kukira hal yang belakangan ini yang aku jauh lebih percaya. Karena aku tidak punya bakat dagang. Aku jauh lebih berbakat kuli, memburuh, bekerja pada orang lain.
Karena "tekanan begitu rupa, dan desakan dan kata-kata orang", maka lama-lama ada juga sedikit kepercayaan padaku, jangan-jangan apa yang dirasakan dan dipercayai Luis itu, benar juga adanya?! Tapi syaratnya yalah memang bekerja di suatu usaha yang sifatnya bukan perorangan, tapi ramai-ramai. Ya, seperti resto kami sekarang inilah, barangkali lho!
Itulah pula kengototan Luis sampai mau menunggu aku pensiun lalu "mengabdikan tenaga" buatnya, yang artinya meninggalkan resto yang aku sendiri dulu turut menjadi pendirinya. Dan pasal gaji, salaire, kami sudah pernah membicarakannya dengan Luis, juga di depan dua anakku. Mungkin maksudnya sebagai saksi. Katanya minta berapa sajalah yang jauh lebih tinggi dari pendapatan resto kami sendiri. Misalnya ketika itu aku bergaji sekitar 6000 Francs ( ketika itu, tahun 84 sampai dengan 90-an, sebelum adanya krisis), dan ketika aku mengajukan sekiranya dua kali lipat atau tiga kalilipat dari itu, lalu bagaimana? Luis samasekali tidak keberatan, bahkan katanya dalam perjanjian nantinya bisa terima dalam dollar sebagiannya.
Dan pekerjaannya sudah dibayangkannya, cukup berat. Bukan hanya mengelola resto yang di Beijing itu saja, tetapi mengawasi jalannya perusahaan yang ada di Jepang-Tokyo, Thailand-Bangkok, Australia-Perth dan kemungkina juga di Indonesia, yang seperti dijalankan oleh Luis sekarang ini. Luis itu dalam satu bulan paling banyak hanya sebagian saja di rumahnya di Singapura itu. Selain itu dia keliling buat mengawasi, juga mengelola usahanya di mana-mana, termasuk di Perancis ini.
Pada tahun 1994 itu saja karena ada hubungan dengan usaha Luis, padahal belum bekerja dengannya, baru dalam rangka mau mengenal pekerjaan, aku sudah bolak-balik, Paris-Singapura-Kuala Lumpur dan Beijing, dalam dua bulan terakhir ini saja! Terbayanglah olehku, bahwa kalau sekiranya akan jadi bekerja dengannya, alamat hidupku lebih banyak berdiam di hotel, di pesawat, di kapal, di perjalanan. Baik-baiklah memikirkannya, kataku dalam hati.
Maka pada hari yang dijanjikan itu, pekerjaanku di resto digantikan oleh seorang teman, dan aku akan menggantikannya pada hari lain. Empat orang Perancis, tiga pria dan seorang wanita. Semuanya berpakaian bagus, steady, dan umurnya ada yang setengah tua, tetapi tidak ada yang muda seperti Luis. Aku akan menterjemahkan dari Tionghoa - Inggeris dan Perancis. Orang Perancis itu tidak begitu menguasai bahasa Inggeris, juga Luis-pun bukannya pandai benar dalam berbahasa Inggeris. Tapi ketika kuanjurkan agar Luis menyewa jurubahasa saja agar mudah dan menguasai persoalan, dia menolak keras. Katanya sebagai alasan, belum tentu semudah itu mempercayai orang dalam perundingan yang akan begitu penting.
Sebenarnya aku sendiri-pun bukannya pandai dan menguasai tiga bahasa itu. Hanya alakadarnya sajalah. Tapi adalah benar, yang membikin aku mau saja membantu dan menolongnya, disebabkan aku mau tahu saja soalnya. Perundingan apa ini, itulah yang aku mau tahu. Sebab berundingnya kok dengan mantan perwira yang sudah pensiun pula!
Ketika Luis mengatakan istilah Xicang, dia tak dapat langsung menterjemahkannya, memang tak ada bahasa Inggerisnya maupun Perancisnya, tapi aku kebetulan tahu, bahwa Xicang itu adalah Tibet, daerah otonom Tibet, daerah atap-dunia menurut orang Tiongkok. Dan percakapan itu makin lama makin seru juga, dan tugasku tidak begitu banyak sebab ternyata bahasa Inggeris mereka cukup sama-sama nyambung, sama-sama mengerti. Paling-paling aku hanya sekedar menterjemahkan istilahnya kalau mereka tidak mengerti, ke dalam Perancisnya atau ke dalam Tionghoanya. Tapi kini ketika pembicaraan semakin seru dan lancar, malah akulah yang konsentrasi kepada bahasanya jadi berarah lain.
Tidak lagi ke soal bahasa, tetapi apa itu istilah begitu banyak nama senjata! Dan aku tahu benda-benda semua senjata itu. Aku mengenal baik nama-nama senjata itu. Aku pernah menjadi wartawan-perang ketika ke Vietnam sedang ramai-ramainya perang dengan Amerika dulu itu. Tidak, tidak salah pendengaranku! Yang dibicarakan yalah tentang M-16, ini senapang-serbu dari AS. Lalu G-3, itu dari Italia. Dan orang banyak kenal apa itu AK-47 dan AK-45, sejenis Kalashnikov, semua ini dari Russia yang dulu Uni-Sovyet. Semua ini senjata yang sangat praktis dan banyak digunakan dalam perang-daratan, dan perang-serbuan.
Lalu membicarakan berbagai bahan TNT, dan bahan-ledak lainnya. Sudah, sudah ngawur ini Luis dan pedagang-senjata Perancis itu! Aku sangat dongkol. Tapi masih bisa menahan diri, dan sangat marah kepada Luis dan empat orang itu. Ketika aku mau bangkit meninggalkan mereka karena benci dan marahnya, justru pembicaraan mereka memutuskan kapan lagi mereka akan bertemu. Dan barangkali wajahku ketika itu sudah begitu merengut dan kusut, bagaikan angka delapan!
"Luis, saya benar-benar sangat tidak setuju dan menentang you berdagang secara begitu. Saya tidak mau you menjadi Kashogi kedua! Ketahuilah itu", kataku tak sabaran setelah aku datang ke hotelnya di pinggiran kota Paris. "Ya bisa saja begitu, tapi kan you saya minta bantuannya buat penerjemahan bukan buat turut berdagangnya. Perkara dagang itu urusan saya, perkara untung-rugi dan resikonya itu perkara saya, bukan you". "Tapi, Luis, itu artinya penyelundupan, penggelapan, dan juga pembunuhan terhadap rakyat di sesuatu negeri. Bukankah senjata itu buat digunakan perang, pertempuran, pembunuhan? Jadi perdagangan begini adalah kejahatan besar. Itu saya tidak mau, Luis, benar-benar saya mentangnya", kataku marah. "Tapi you kan tidak dalam orbit ini. You saya minta mengelola restoran dan mengawasi jalannya usaha lain bukan yang kemaren kami bicarakan. Semua urusan yang kemaren tidak masuk bagian you. You sudah tahu di mana you punya pekerjaan dan tugas-tugasnya. Saya mengajak you buat urusan kemaren karena percaya pada you, dan sekalian minta bantuan penerjemahan", kata Luis.
Turun naik-nafasku karena marahnya. Tetapi si Luis yang sudah kulihat sangat mendongkolkan itu, malah tenang-tenang saja. Dalam hatiku berkata, ilmu apapun yang dia pelajari, kuasai, akhirnya ilmu itu akan hilang dan akan menerkam dan menenggelamkan dirinya. Karena berdagang-senjata artinya adalah berdagang nyawa, bertaruh dan berjudi jiwa. Pekerjaan begini harus kita jauhi. Keuntungan yang bagaimanapun bila taruhannya jiwa, itu artinya menyamakan uang dengan darah dan nyawa. Tidak, bukanlah itu duniaku. Luis, ketahuilah, bukanlah itu duniaku. Biarlah aku memburuh biasa, menguli, setengah mati mencari kehidupan, karenanya harus mencintai kehidupan, dan membenci serta menjauhi pembunuhan dan kesengsaraan lainnya,-
Paris 27 febr 2000,-
Itikad baik pemerintah untuk membuka pintu bagi orang-orang yang dianggap punya keterlibatan pada sejarah kelam 65, sehingga puluhan tahun tak bisa pulang ke tanahairnya sendiri, sampai perlu mengirimkan seorang Menteri dengan stafnya buat berdialog dengan orang-orang itu di Eropa, di Holland, patut disambut. Dan memang sudah disambut dengan berbagai tulisan. Pada umumnya orang-orang itu menyambut baik kemauan pemerintah yang sudah begitu terbuka, seakan-akan sudah waktunyalah pulang, tokh sekarang ini bukankah tak ada lagi tapol?
Berbagai cara dan bentuk penerimaan seruan, dan himbauan pulang. Ada yang sangat gembira, ada yang gembira, ada yang biasa-biasa saja. Tetapi pada umumnya langkah pertama pemerintah yang membuka pintu buat pulang saja, sudah diterima dengan baik, dan disambut baik. Inilah pada umumnya pendapat yang boleh dikatakan terbanyak. Sudah tentu ada pendapat yang dengan kecurigaan dan kewaspadaan tinggi, tetapi pendapat itu bukanlah yang terbanyak.
Sekarang ada dua hal perkara. Pertama, tentang penyambutan kemauan baik, itikad baik pemerintah. Hal ini sudah banyak didengar, dibaca, dibicarakan antara satu orang dengan orang lainnya. Dalam diskusi kecil dan sedang, baik di luarnegeri sendiri, maupun dalam negeri, Indonesia, sudah dapat diketahui berbagai macam reaksi. Kedua, pelaksanaan seruan dan himbauan itu. Kenyataan kongkrit atas hasil, atau reaksi kongkritnya. Kenyataan kongkritnya bagaimana. Nah, perihal kedua inilah yang menjadi masalah pelaksanaan, kenyataan kongkritnya.
Menyambut seruan, menyambut himbauan, lalu sesudah itu, mau tidak pulang yang juga secara kongkrit pulang benaran. Pulang mudik buat selama-lamanya. Selama ini yang banyak dikerjakan dan dilakukan orang-orang itu, termasuk saya, yalah datang, datang ke Jakarta, datang ke Indonesia. Sudah itu, sesudah dua-tiga minggu atau satu-dua bulan, lalu kembali pulang ke kandang semula, yaitu ke Eropa lagi. Jadi datang hanya sebagai turis saja, ziarah, nyekar, ketemu banyak keluarga, teman dan sahabat dan rindu kampunghalaman.
Setelah adanya seruan, himbauan bahkan seakan-akan mengajak pulang, membuka pintu tanahair buat warganegaranya yang selama ini terasing di tanah pengasingan selama puluhan tahun, lalu bagaimana? Banyak pertanyaan diajukan oleh perorangan, bahkan beberapa suratkabar, tabloid, majalah, seakan-akan berlomba mewawancarai, apakah Anda mau pulang? Apakah Anda sudah siap pulang? Katanya Anda akan segera pulang, apa benar? Apakah Anda tahu, bahwa tidak sedikit pendapat yang sebenarnya menentang pendapat dan himbauan pemerintah itu, yang pada pokoknya masih banyak yang tidak setuju Anda dan teman-teman Anda pulang sekarang ini!? Pertanyaan inipun sebenarnya ingin menyelidik, ingin tahu secara agak tidak biasa. Seakan-akan "benar nggak kalau memang kamu mau pulang, apa benar kamu berani pulang?".
Orang-orang itu, sejenis saya ini, cukup banyak tahu juga apa yang dikatakan oleh orang-orang suratkabar itu. Memang reaksinya tidak sedikit yang negatif, bahkan kami melihat, mendengar, mengetahui, reaksi yang keras itu, bahkan cukup tahu juga dari pihak mananya. Dan orang-orang sejenis kami ini agaknya cukup terdidik untuk tetap waspada, sebab taruhannya yalah, jiwa, nyawa, penjara, atau hilang sirna, hilang begitu saja.
Gus Dur, presiden RI ini, ya, beliau sih baik, tetapi bawahannya itu? Beliau sih hebat, mendepak Wiranto saja, dengan lihai tekerjakan olehnya, dan berhasil baik, tanpa macam-macam akibat belakangnya. Menteri Yusril ketika Januari dua tiga bulan yang lalu masih mengatakan di Holland, bahwa perundang-undangan dan peraturan mengenai sesuatu atas pelaksanaan himbauan ini, paling lambat akan selesai pertengahan Februari. Rombongan itu baru saja memasuki perbatasan tanahair, di Hongkong, sudah ada yang mengatakan, bahwa paling cepat peraturan dan perundang-undangan itu, sudah sangat baik kalau selesai pada April 2000,- dan ini dikatakan oleh staf menterinya yang ikut bersama Bapak Yusril.
Dan sampai kini belum ada bau-baunya akan segera diselesaikan. Beberapa undang-undang dan peraturan yang dulu dikeluarkan pemerintah, tetap belum dicabut, tetap masih berlaku. Artinya tentang pelarangan paham komunisme, baik orang-orangnya maupun ajarannya. Artinya juga melarang orang-orangnya pulang secara biasa, karena undang-undang serta peraturan itu justru buat mencekal, menghadang dan melarang orang-orang dan pahamnya, dan lebih dari itu ya menangkap, memenjara, dan siapa tahu melenyapkannya begitu saja. Semua ini masih tetap yang lama. Seruan dari Presiden, Kepala Negara, walaupun sudah paling atasan, tokh beliau tidak mungkin mengawasi dengan cermat secara terperinci. Sebab ketika sudah taraf pelaksanaan, ke bawahnya walaupun masih juklak-nya, sudah lain lagi soalnya. Antara atasan yang paling atasan dengan yang bawahan, kebanyakannya dalam praktek, tak ada hubungan erat dan langsung, ada antara putus, bisa missing-link, akan ada rantai terputus. Dan ini sangat berbahaya, berbahaya bagi orang-orang yang berani-beraninya pulang tanpa lihat kiri-kanan, bagi orang-orang sejenis saya ini.
Kalau dulu mungkin yang paling berbahaya itu adalah tentara, serdadu, tapi kini malah bukan lagi hanya yang berbaju hijau, tapi justru yang berbaju putih. Dan ini sudah tampak nyata dengan barisannya yang mengingatkan DI dulu itu. Pada waktu pertengahan akhir 65 dan sepanjang 66, orang-orang inilah yang paling banyak membunuhi orang-orang yang dianggap terlibat dengan orang dan paham komunis. Dan tampaknya orang-orang dulu itu tetap ada penerusnya, dan menyatakan diri siap melakukan apa saja yang bersifat dan anggapannya sama dengan jihad. Pihak ini bukan main galak dan kejamnya, mengganasnya kagak ketulungan!
Nah, siapa mau berani-beraninya pulang tanpa perhitungan? Sudah pasti ada yang akan dan berani pulang. Tentunya dengan perhitungan tertentu. Tetapi sudah sama diketahui bahwa situasi secara menyeluruh belumlah ideal benar buat pulang. Sebab penghalang secara ideologisnya cukup harus diperhitungkan secara kepala dingin, secara nalar yang jernih. Apa ini semua? Mengapa begitu lama keadaan seperti ini? Inilah hasil dan keberhasilan yang sangat gemilang dari Suharto selama 32 tahun lebih ini. Hasil paling gemilang Suharto selama lebih 32 tahun ini, yalah menjadikan rakyat miskin, menderita, bodoh, saling curiga, terpecah-belah, saling bunuh dan saling dendam. Dan sudah tentu hasil paling jempolannya yalah KKN itu.
Kalau ada pertanyaan, apakah Anda tak ingin pulang? Apakah Anda tak rindu kampunghalaman, dan tak cinta tanahair? Mungkin tak ada, atau sangat sedikit di antara kami yang tak ingin pulang, tak mau pulang. Kebanyakannya, mayoritas mau pulang, rindu kampunghalaman, cinta tanahair.Hanya paspor saja atas nama asing, tetapi hati dan jiwa tetap Nusantara. Sebab tanpa paspor nama asing itupun, tidak mungkin kami bisa datang melepaskan rindu dan kangen kami kepada kampunghalaman dan keluarga serta teman-teman dan sahabat-sahabat. Tetapi kedaan kongkrit, penuh perhitungan, lihat kiri-kanan, harus selalu menjadi andalan kami, sebab nyawa dan jiwa kami sangat murah dihargai oleh mereka itu, sedangkan kami sangat mahal menghargai harta-nyawa yang hanya itulah satu-satunya hakmilik kami.
Setelah kami lihat kiri-kanan sekitar kami, benarlah adanya. Dari ratusan orang berjenis kami yang katanya "klayaban" di tanah Eropa ini, saya kira belum ada 3 persen yang sudah pulang. Bahkan dari tempat saya, seorang tua yang tadinya pejuang tangguh, Angkatan 45, Angkatan Menteng 31-pun, sudah datang ke Indonesia, malah pulang lagi ke kandangnya, sudah tentu dengan berbagai alasan yang masuk akal. Ternyata pulang secara biasa, benar-benar belum akan biasa, masih tetap luarbiasa, belum normal,-
Paris 6 Maret 00,-
Di televisi Prancis ada ruangan khusus buat merasakan masakan, dan ruangan masak-memasak. Ruangan masak-memasak, sudah biasa, banyak terdapat di siaran manapun, termasuk dalam majalah, penerbitan, media-massa. Tetapi ruangan buat merasakan masakan, mencicipi dan menikmati makanan, nah, ini sangat menarik. Sebab petugas tivi itu yang mengasuh ruangan tersebut, mencari berbagai resto, warung yang terkenal hasil masakannya enak, dan lezat. Dan mencari ke berbagai daerah setempat yang masakannya sudah dikenal secara luas dan dikenal oleh banyak orang.
Petugas itu akan datang dan turut mencicipi, makan dengan enak dan lahap, sehingga pemirsa-pun turut terasa lapar, keluar airliur karena terlalu berselera. Pemirsa diajak melihat, menyaksikan bagaimana cara membuatnya, dari proses mula, sampai jadi dan sampai dimakan bersama oleh beberapa orang. Sudah tentu petugas tersebut dipilih dengan teliti, dapat menarik orang banyak mengikuti cerita dan obrolan tentang makanan, rasa makanan, enaknya makanan. Dan dia sendiri harus benar-benar pandai memperlihatkan kepada orang lain, kepada pemirsa, bahwa dia memang benar-benar akhli tentang makanan, pelahap, sedikit rakus. Dua kata Prancis, "gourmand et gastronome", dengan terjemahan, suka makan enak, pandai merasakan berbagai macam makanan dan minuman, pelahap, dan agak rada-rada sedikit rakus.
Pengalaman saya, bila mau mengajak orang makan, ajaklah yang benar-benar suka makan dan lahap makan. Mengajak orang makan tetapi orang itu tidak nafsu makan, dan ogah-ogahan makan, atau tidak pelahap, sulit makan, maka "jamuan" itu tidak berhasil baik. Hanya sekedar makan-makan biasa saja, bukan untuk plaisir kata orang Prancis. Jadi mengajak orang makan dengan maksud mau menikmati makanan, juga punya cara dan permainan tersendiri. Keadaan sekeliling kita amat mempengaruhi rasa makanan, mempengaruhi rasa dan selera.
Kalau saya pada satu hari mau masak dan mau makan enak, saya sudah rencanakan mau masak apa dan lalu mau mengundang siapa. Orang yang tidak suka makan ikan, sebaiknya tidak usah diajak bersama makan ikan, lain kali saja bagiannya. Bagian yang ini adalah bagian yang suka makan daging. Sangat ideal bila seseorang itu sangat suka ikan, juga suka daging. Kalau saya masak gulai kepala tenggiri, saya akan tilpun teman saya si B. Kalau saya masak gulai kepala kambing, saya akan tilpun teman saya A, sebab A tidak suka ikan. Dan si B, suka semua! Jadi kalau kami makan gulai kepala kambing, saya undang dua-duanya.
Kepala ikan, apabila ikannya besar, apalagi bibir ikan itu tebal, gemuk, maka kepala ikan itu akan sedap dan lezat. Jadi tidak semua kepala ikan akan terasa enak. Dan ikan, lihat-lihat ikannya, ikan karang atau ikan pasir. Ikan karang biasanya banyak sekali warna-warninya, bermacam warna, bagus sekali dari segi warna, tetapi tidak seenak ikan pasir. Tenggiri, kakap, hiu, tongkol, semua itu termasuk ikan pasir bukan ikan karang. Sebenarnya gampang mengingatnya, semakin bagus warna-warni ikan itu, semakin bermacam jenis warnanya, maka ikan itu adalah ikan karang, dan tidak seenak ikan pasir.
Karena sifat ikan adalah anyir, amis, maka peranan bumbu sangat penting. Masak gulai kepala ikan, harus ada serai, jahe, laos, daun jeruk, adas, dan tomat setengah matang, bukan yang sudah ranum. Semua masakan Indonesia, harus selalu ada bawang merah dan bawang putih. Resto kami paling banyak menggunakan bawang merah ini, satu minggu terkadang sampai 50 kg.
Gulai kepala kambing, akan terasa enak kalau ada daun salam, sedangkan bumbu lainnya hampir sama dengan gulai kepala ikan tadi itu. Gulai yang saya maksud dengan gulai kepala ikan, samasekali tidak pakai santan kelapa. Sebenarnya dari segi masakan, namanya bukan gulai tetapi masakan-asam-pedas, "gangan" dalam bahasa Belitungnya, mungkin "pangek" dalam bahasa Minangnya. Gulai kepala kambing bila pakai santan kelapa, tidak akan cocok, sebab terlalu nek, terlalu berminyak.
Masakan kaki sapi ataupun kaki kambing bumbunya hampir sama dengan masakan di atas tadi. Sebaiknya tidak usah pakai tomat, sebab kaki tidak seamis, seanyir kepala. Masakan ini kalau sudah mendidih besar, lalu apinya dikecilkan tetapi mainkan apinya itu secara lama. Seperti kepala kambing itu tadi, kalau sudah jadi, kupingnya itu akan sangat renyah, di sentuh sedikit saja terasa sudah memancing selera, dan lidah kita akan mencarinya buat menikmatinya. Juga kalau bibir ikan yang tebal tadi itu, akan terasa tenggelam dalam gigi dan mulut, pelan-pelan dengan rasa yang takkan terlihat dan takkan teringat mertua lewat!!
Di Prancis ada jenis ayam namanya coquelet, sejenis ayam jago kecil, khusus untuk dipotong, dimakan. Artinya memang hanya buat ayam-potong, umurnya biasanya sangat muda, hanya bulanan, paling tua tiga empat bulan. Ayam ini yang paling enak hanyalah digoreng, tanpa tepung, jangan pakai tepung. Ayam goreng dari coquelet ini menurut saya jauh lebih enak daripada "ayam goreng Ibu Suharti" di Jakarta, apalagi kalau hanya dengan Kentucky Fried Chicken itu. Ayam goreng di dua resto itu, terlalu banyak tepungnya daripada merasakan daging ayamnya!
Saya mencari ayam coquelet ini di Holand, tapi tidak ada, atau mungkin saja belum bertemu. Tapi ada kelebihan Belanda soal ayam ini. Di Belanda ada "ayam jagung", ayam yang makanannya khusus dari biji-bijian jagung. Dan rasanya sangat enak, makanannya dari jagung, dan sudah tentu lebih mahal daripada ayam biasa. "Ayam jagung" ini bisa dimasak dalam "segala cuaca", maksudnya enak digoreng, enak disup, enak dipanggang, tapi sudah tentu tidak enak digulai, sebab terlalu banyak minyak. Di Holland menurut saya, makanan yang di restorannya biasa-biasa saja, tak ada lebihnya dari Prancis. Tetapi yang paling menarik, bukan soal makanan pokoknya, melainkan jajannya! Nyamikannya, kudapannya, snoepennya. Semua serba ada yang menurut kami dari Prancis, betul-betul "kampung melayu". Mau kue cucur, mau kue serabi, kue pancong, kelepon, ongol-ongol, nagasari, kue mayang, bika-ambon, kue bugis, berjenis lempar, berjenis kroket, dan risole, lunpia? Semua ada! Dan semua cukup sedap.
Saya biasanya kalau ke sesuatu tempat, misalnya ke Jakarta atau Bandung atau Holland, selalu akan memesan makanan yang tak ada di Prancis, dan sangat langka. Selalu saja saya pesan makanan seperti karedok, lotek, laksa dan jenis yang sangat lama tak saya rasakan. Jadi tentu saja saya takkan mencari gulai kambing kalau hanya ke Jakarta dan Bandung, dan takkan mencari sate-satean. Karena resto kami sendiri menjualnya, membuatnya. Kalau mau makan enak di Nusantara yang pernah saya alami, memang bukan tempatnya kalau di Bali! Tempat nongkrong yang paling enak itu justru di Jakarta dan Bandung, juga bukan di Yogyakarta dan Solo, karena saya pernah merasakannya. Sudah tentu ada masakan dan makanan yang enak dan cukup tipikal di sana, tetapi maksud saya bukanlah makanan yang dicari-cari, yang diidam-idamkan.
Mencari makanan yang enak dan ideal itu bukanlah di warung dan resto yang menetap seperti di Mall-mall dengan berjenis pasarrayanya itu. Tetapi justru yang dengan masak a la minute, ketika itu juga. Panas, berbunyi keresekan kuali dan pancinya, dan penuh asap yang sedap. Biasanya tempat ini selalu resto yang banyak dan penuh didatangi orang. Sebenarnya tidak sulit kalau mau tahu di mana resto yang enak dan sedap masakannya. Carilah resto yang penuh pelanggannya, ramai orang antri, kendaraan pada parking di sekitar itu, selalu ditunggui pelanggan. Biasanya masakan resto itu, pasti enak, sebab takkan mau orang bersusah-payah nungguin orang makan, bergiliran, menuggu meja kosong!!
Paris 7 Maret 00,-
Porsi makanan resto di Belanda dan Perancis, beda yang paling menonjol yalah isi porsi itu. Di Perancis isi porsinya sedikit, di Belanda isi porsinya banyak. Karenanya orang-orang yang sudah biasa hidup dan makan di Perancis, kalau makan di resto di Belanda, akan cukup kekenyangan. Sebaliknya orang-orang yang sudah biasa hidup dan makan di Belanda, kalau makan di resto di Perancis, akan selalu merasa kekurangan, belum kenyang, ada rasa tidak cukup.
Mungkin bisa ditelusuri dari bangunan tubuh orang-perorang. Orang-orang Utara, seperti orang Belanda, Swedia, Norwegia, biasanya besar-besar. Sedangkan orang-orang Perancis yang lebih Selatan ini berbadan agak kecil bila dibandingkan dengan orang Utara itu. Sudah tentu makanannyapun cukup sesuai dengan keadaan tubuhnya. Itulah sebabnya pula, kalau kami makan di resto di Holland, selalu merasa cukup banyak, kenyang benar, bahkan sedikit terasa kekenyangan. Kebiasaan orang Perancis, dan ini agaknya sama dengan orang Belanda, sehabis makan selalu minum kopi. Minum kopi, rata-rata dua kali sehari, pagi dan sore. Itulah pula sebabnya, deretan pertokoan yang paling banyak sepanjang jalanan di Paris, cafe - toko atau tempat minum kopi, adalah cafe ini,- sudah itu barulah tabac, toko berjenis rokok, dan pharmacie, apotik.
Orang Perancis selalu menuntut rasa dessert harus manis, tetapi kopi sebaliknya jarang pakai gula. Yang datang ke resto kami bila seseorang minta kopi, lalu minta susu, kebanyakannya pastilah bukan orang Perancis! Sebab orang Perancis boleh dikatakan tak ada yang minum kopi dengan susu. Orang yang selalu minta susu buat kopinya, selalu orang lain daripada Perancis, misalnya dari Belanda, Amerika atau Eropa Utara tadi itu.
Kalau pelanggan minta sendok buat makan, kebanyakannya pastilah bukan orang Perancis. Sebab orang Perancis selalu makan pakai garpu dan pisau, tanpa sendok. Sendok hanya buat minum sup. Telah beberapa kali percobaan kami membuat dessert seperti cendol, tapi tak pernah laku. Mereka pelanggan kami umumnya tak suka cendol. Telah beberapa kali kami membuat masakan rawon, tetapi mereka tak pernah suka akan rawon, juga tak pernah suka gudeg juga tak suka akan lodeh. Orang Perancis kebanyakannya sangat suka daging, dan bukannya ikan. Ikan tidak populer buat orang Perancis, kecuali yang hidup di tepi laut, pesisir, dan itupun juga mereka kebanyakannya tetap saja suka daging.
Itulah pula sebabnya, masakan rendang dan semur, sangat menguras tenaga dapur. Sebab biasanya sekali masak daging buat rendang, sampai 13 kg, hanya bisa tiga hari paling lama, bisa-bisa hanya buat dua hari, bahkan kalau dibanjiri pelanggan, bisa-bisa hanya buat sehari. Padahal yang makan di resto kami paling banyak 120 orang sehari semalam. Orang Perancis tidak suka makanan berkuah, misalnya soto yang dikuahi ke dalam nasi, sehingga nasi itu tenggelam dalam kuah soto, tidak akan dikerjakan mereka sebagaimana sering kita lakukan. Mereka paling menyukai rasa saus. Saus sangat memegang peranan penting dalam masakan Perancis. Biar sausnya sedikit tetapi harus enak. Mereka tidak suka saus banyak sehingga membanjir ke dalam makanan, mereka suka kering-kering-basah atau barangkali basah-basah kering.
Ada beberapa tempat atau daerah-makan di Paris. Yang paling terkenal tentu saja di China-Town, daerah Paris 13, lalu di Belleville daerah Paris 19 dekat 20,- Lalu di pusat Parisnya, sekitar daerah Quartier Latin, daerah Paris 5 dan 6. Kota Paris dibagi menjadi 20 arrondissement. Daerah Quartier Latin adalah daerah tempat nongkrong, makan, dan bersantai. Di daerah inilah resto kami sejak tahun 1982 itu, segitiga antara Universitas Sorbonne, Teatre National ODEON dan Taman Luxembourg, sebuah taman yang terbesar di kota Paris. Dan Jalannya yang bernama Rue Vaugirard itu adalah jalan yang terpanjang di seluruh kota Paris, begitu panjangnya sampai melewati dua arrondisement, Paris 6 dan Paris 15.
Janganlah kaget ketika melewati jalanan yang penuh resto dan warung itu, tiba-tiba kedengaran piring-gelas-cangkir berpecahan. Ada yang sengaja dijatuhkan, bahkan ada yang sengaja agak dibanting. Ini perilaku orang-orang resto Yunani - Greg atau Turki, pertanda buang sial dan menghadang keberuntungan, memanggil rezeki. Ini kepercayaan mereka. Dan ini biasanya akan selalu terdengar di daerah Quartier Latin bila kita berjalan-jalan sepanjang resto yang puluhan bahkan ratusan banyaknya itu. Mereka berlomba memancing pelanggan agar mampir ke restonya.
Suasana berjalan-jalan di sepanjang jajaran resto dan warung itu benar-benar sangat mengasyikkan. Suasana gembira, penuh bahagia, tapi juga harus selalu waspada. Sebab copetnya juga tak kalah dengan copet sekitar Senen dan stasiun-stasiun di Jakarta. Bau aroma udang bakar, panggang-kambing-guling dengan minyaknya yang sangat ditakuti para anti-kolesterol, dan yang begitu menggoncangkan selera kaum gourmande dan gastronome, berlomba merebut simpati dan antipati. Toko-toko es krim, dengan anak-anak dan orang-orang dewasa seenaknya menghirup dan menjilatinya, seolah-olah mengajak kita juga ikut merasakan kenikmatannya. Sepertinya ada yang seolah-olah mendemonstrasikan bagaimana cara menjilati sedapnya wangi es krim.
Kalau sedang regime atau dieet, akan lebih baik tidak usah saja melewati daerah ini, jangan sampai tergoda iman di dada. Pedagang kakilima seperti crepe, sejenis kue yang dibuat ketika itu juga, sudah tentulah buat menarik pembeli. Berjenis crepe yang pakai mentega, susu, keju, pisang, kacang, daging-sosis, berjenis manisan dan asinan, memancing mata kita untuk melihatnya dari dekat. Tambah dilihat akan tambah terpikat. Lebih terpikat lagi, berarti keluarlah uang yang tadinya kita janjikan pada diri sendiri buat tidak belanja apapun, ternyata ada kalanya kita juga kalah akan dirikita sendiri. Tapi itulah Paris, menarik, memikat, mempesona. Dan itu baru dari segi makanan saja. Belum musiknya, belum tariannya, belum pertunjukan berbagai modenya, dan belum musiumnya yang begitu banyak, besar, lengkap, dan bersejarah lama tapi selalu dirasakan baru,-
Paris 8 Maret 00,-
Dulu aku selalu menguar-uarkan ke mana-mana, betapa bahagianya pasangan Pak Parto dan Mbak July itu. Walaupun perbedaan umur bagaikan antara kakek dan cucu, yang pria hampir berkepala tujuh, isterinya baru 30-an lebih. Pak Parto adalah kasus pertama di Paris dan Perancis yang mendatangkan isteri dari tanahair, kasus perpaket, kiriman, pesanan. Yang di Holland dan Jerman kasus begini sudah lama dan sudah banyak. Tetapi belum terdengar ada yang bercerai, dan semoga teruslah mereka bahagia.
Kami turut memestakan pernikahan Pak Parto dan Mbak July di kotapraja di kota kami Fontenay Sous Bois, lalu kami adakan pesta-kecil di resto kami. Kami semua gembira, kami anggap resto kami RESTAURANT INDONESIA nggunduh mantu. Pada bulan-bulan pertama sepasang pengantin baru yang umurnya samasekali tak baru itu, penuh dengan kebahagiaan. Mbak July sering nggandulan di bahu Pak Parto bila berjalan di kota Paris ini. Terkadang lagak-lakunya bagaikan anak-anak muda, berpelukan, gandengan, dan ini kami lihat, dan kami bahagia melihatnya. Dan itulah pula sebabnya, kukatakan ke mana-mana, bahwa pasangan Pak Parto-Mbak July itu sangat serasi, akrab, mesra dan selalu hangat. Puja-pujiku benar-benar sangat menyenangkan siapa saja yang melihat pasangan itu.
Tetapi siapakah yang bisa mengira, siapa yang bisa menduga, tahu-tahu saja mendengar kata-kata Pak Parto, bahwa Mbak July sudah meninggalkannya dan hidup dengan pria Perancis. Lama kami bingung, terhenyak, kaget dan tak percaya. Tapi Pak Parto teryata benar apa yang dikatakannya. Mbak July memang sudah tidak lagi di rumah Pak Parto. Ini kami tahu setelah beberapa teman kami menyelidikinya dengan maksud benar-benar ingin tahu dan lalu ingin membantu dan meringankan beban Pak Parto.
Beberapa teman secara sedikit mengejek berkata padaku : " heh, bagaimana teori kamu dulu itu, yang mengatakan orang paling berbahagia, pasangan paling mesra, akrab dan selalu hangat itu, kini sudah ambyar", katanya. Dan aku hanya bisa menggelengkan kepala saja. Dan anehnya, antara kami lebih ramai ketimbang Pak Parto sendiri. Kami merasakan betapa terpukulnya dan terpental pontang-pantingnya Pak Parto mengalami semua ini. Kami merasa kasihan, bersimpati, dan ingin meringankan beban Pak Parto. Tetapi sebaliknya Pak Parto orangnya luarbiasa kuat, teguh dan hebatnya. Kamilah yang merasakan dia terpukul, tetapi tampaknya Pak Parto sendiri malah biasa-biasa saja.
Dari hari ke hari, Pak Parto biasa-biasa saja, kerja seperti biasa, tak ada soal berat, tak ada beban tampaknya, bisa ketawa, bergurau dan tidak bingung dalam bekerja. Sedangkan Mbak July memang memutuskan secara sepihak, bahwa dia tidak masuk lagi bekerja di resto, dan tak mau lagi bertemu dan datang ke resto. Sebabnya tentulah banyak alasannya. Tapi belakangan kami dengar juga, bahwa memang benar Mbak July semasih di rumah Pak Parto sudah mulai hamil, dan kini sudah positif, demikian Pak Parto bercerita pada kami. Ketika kami tanyakan kepada Pak Parto, darimana dia tahu. "Saya baru saja ketemu dia, kok", katanya. Dan sejak itu tahulah kami, bahwa Pak Parto masih juga berhubungan secara tilpun, handphone, dan janjian ketemu di mana. Bahkan seorang teman kami secara tak sengaja, memergoki Mbak July ada di rumah Pak Parto. Dan mereka masak-masak, dan teman kami itu lalu bersama makan di situ bertiga.
Kami heran juga. Dulu pernah Pak Parto mengatakan bahwa hamilnya Mbak July, entah karena cowok Perancis itu, entah karena saya. Sebab saya dalam soal gituan masih cukup hebat, bahkan dia sering-sering kelabakan, demikian cerita Pak Parto kepada kami. Jauh di dalam hati, di antara kami ada yang meragukan, masaksih kalau sampai begitu hebat, sampai kelabakan, lha kok larinya ke cowok Perancis!! Lagipula soal perut sudah berisi itu, ada di antara kami yang berpendapat, bagaimanapun sperma pria yang sudah hampir 70, lain dong kuat dan segarnya dengan sperma pria muda-usia 30-an! Lagipula calon seorang ibu tahu betul yang sedang dikandungnya itu dari mana bibitnya! Dia akan merasakan dari nalurinya, walaupun belum pasti tepat.
Tapi sudahlah, kami berbesar hati juga dengan Pak Parto ini, dia kuat dan tabah. Dan pada lain waktu, dia cerita lagi bahwa dia bepergian dengan Mbak July ke mana-mana dan sering janjian. Nah, ini sedapnya. Seorang suami yang masih dan tetap sah, pada janjian, pacaran berbentuk baru. Sedangkan cowok Perancis itu kami dengar penuh dengan kecemburuan, setelah mengetahui pacarnya , Mbak July itu masih hubungan dengan suami resminya. Pacarnya Mbak July itu sering menilpun mencari-tahu di mana kekasihnya itu berada. Dia sangat kuatir kalau-kalau Mbak July selalu bepergian dan tahu-tahu kembali ke suami resminya. Tetapi dari janji dan ucapan-hati yang dikeluarkan, mereka tetap saling bercintaan dan mau hidup bersama, kalau mungkin akan kawin-resmi. Dari pihak Pak Parto, nah, ini banyak soal. Yang banyak soal sebenarnya bukan Pak Parto, tapi kami orang-orang partikelir dan swasta ini!
Pak Parto pernah mengatakan padaku, bahwa dia tetap sangat mencintai Mbak July, bahkan siap sedia menerimanya kembali ke rumahnya, dan tak mau cerai, walaupun kembalinya itu dengan anak bayi hasil hubungan gelapnya itu. Mendengar pendapat dan pendirian Pak Parto ini, kami orang-orang luaran, partikeliran ini, agak sewot juga dibuatnya. Rasanya kok nggak ada harga dirinya, ada yang punya pendapat begitu. Kami pikirkan dalam-dalam dan lama-lama. Seorang Mbak July tentulah akan dapat mengerjakan apa saja kalau melihat asal muasalnya beberapa tahun belakangan ini. Kenapa? Dia sebenarnya punya anak empat orang, yang sudah dewasa ada satu yang tertua, lalu yang terkecil umur 6 tahun. Semuanya dia tinggalkan di Jakarta bersama kakaknya. Sedangkan kakaknya ini punya anak dua, jadi kakaknya menanggung enam anak. Memang benar Mbak July-Pak Parto mengirimkan uang belanja kepada empat anaknya ini, tetapi yang kami pikir itu yalah tega-teganya itu meninggalkan empat anak karena mau ke Paris, karena mau kawin dengan Pak Parto. Yang sebelumnya samasekali tak saling mengenal.
Lalu dengan empat anak saja dia berani meninggalkannya, apalagi hanya bagi seorang kakek seperti Pak Parto yang walaupun katanya sendiri hebatnya bukan main kalau dalam soal yang satu itu. Ternyata jago yang satu itu saja belum cukup menjamin langgengnya usia perkawinan, dan itupun kalau benar jago. Lama-lama kami tahu juga, mengapa Pak Parto begitu perlu mendekati Mbak July ini. Ada apa-apanya barangkali, pikir kami. Dan rupanya begitulah adanya. Pak Parto sudah membelikan rumah buat Mbak July sekeluarga, artinya bersama pak Parto. Rumah itu dibeli seharga 150 juta rupiah di Jakarta. Karena Pak Parto berwarganegara-asing, Perancis, maka nama pemilik rumah itu haruslah atasnama Mbak July. Pak Parto akan segera ke Jakarta mengurus rumah itu, tak jadi diberikannya kepada Mab July, tokh mereka akan bercerai juga, dan Mbak July sudah tak mau lagi bersuamikan Pak Parto. Karena itu surat-surat-resmi pemilikan rumah itu haruslah dapat dimiliki Pak Parto. Dan surat-surat itu semua ada pada Mbak July. Dan semua surat-surat itu harus segera didapat oleh Pak Parto.
Inilah sebabnya menurut Pak Parto kepadaku, kenapa dia akhir-akhir ini banyak bikin janji dengan Mbak itu. "Lalu dapat nggak surat-surat itu", kataku kepada Pak Parto. "Akhirnya dapat juga. Bahkan dia mau tandatangan di atas segel bahwa rumah itu diserahkannya kepada saya". "Tapi itu saja mungkin belum cukup, Pak", kataku. "Lalu apalagi menurut sampeyan?", katanya padaku. "Surat-menyurat-resmi itu harus diketahui KBRI dulu, sebab kehidupan Mbak July dan sampeyan, kan, ada di Paris. Apalagi sampeyan orang-asing, sedangkan Mbak July orang Indonesia, perlu diketahui ambassade-nya, jadi perlu disaksikan dan diketahui KBRI Paris", kataku. "Mungkin juga", katanya. Dan sesudah itu sibuk lagi Pak Parto mengurus surat-menyurat-resmi atas kepemilikan rumah itu.
Urusan Pak Parto-Mbak July ini bukan main tidak sederhananya. Dari urusan soal-soal perasaan, sampai ke urusan hak-milik harta-benda. Tapi bagaimanapun kulihat di mata dan penanganan Pak Parto, semuanya tenang-tenang saja. Sampai kini Pak Parto tetap berpendirian, kalau Mbak July mau kembali kepadanya, dia tetap mau menerima, siap sedia selalu kapan saja Mbak itu mau kembali. "Lha, kalau dia tetap tak mau, dia mau kawin sama orang Perancis itu, lalu bagaimana sampeyan", kataku. "Tidak apa-apa, kami urus surat-cerai, ini sangat perlu bagi saya, sangat perlu". "Mengapa sangat perlu, apa sangat mendesak?", kataku kebodoh-bodohan. "Ya, dong, sebab saya kan juga mau kawin, saya mau cari isteri lain lagi", katanya ringan dan mantap. "Lalu ke Jakarta sekali ini, mau ngurus rumah atau mau cari yang lain lagi", kataku setengah bergurau. "Dua-duanya. Begitu dapat memiliki rumah yang memang saya beli sendiri itu, akan lebih mudah dan cepat dapat isteri lagi", kata Pak Parto penuh kepastian.
Dan aku merenung dalam, hebat sungguh orang ini. Sebentar lagi umurnya 70 tahun, tapi semangat mau kawinnya tak kalah dengan yang umur 18 - 20-an. Ditinggalkan begitu saja oleh isterinya, dia tetap secara mencuri-curi membujuk isterinya yang memang tetap dan masih sah itu. Dan kini yang sakit syaraf adalah cowok yang merebutnya itu, yang tiga empat bulan lagi akan jadi seorang bapak yang gelap tak resmi. Ada-ada saja kehidupan di Paris ini,-
Paris 12 Maret 2000,-
Lama kurenungkan kasus Pak Parto-Mbak July ini. Dua-dua orang ini punya keistimewaan, baik kekurangannya maupun keunggulannya. Dari beberapa segi, aku jadi angkat-tangan, dalam pengertian betapa hebatnya orang-orang ini. Pak Parto begitu ngebet dan kebelet mau kawin. Sejak limabelas tahun yang lalu, dia sudah mengajukan kepadaku, mbok tolonglah carikan jodohnya, mbok dengar-dengarlah, kalau-kalau ada kemungkinan punya isteri lagi walaupun umurnya sudah tidak muda lagi. Isteri Pak Parto sudah lama meninggal, jadi dia merasa perlu lagi beristeri yang baru. Dan ini sangat wajar, kan. Karena itu kami mulai mencari hubungan-hubungan, menanyakan sana-sini.
Beberapa penemuan kami kabarkan kepada Pak Parto. Dan dia menghubunginya dengan tilpun, surat-menyurat maupun pesan-titip. Lalu ada hubungan. Tak lama ada keputusan bahwa tak jadi diteruskan, karena tak sesuai dengan pikiran dan perilaku masing-masing. Dan kejadian begini juga tetap wajar-wajar saja. Sebab beristeri itu bukanlah bagaikan membeli barang buat seketika, tapi buat selamanya kalau bisa. Harus dilihat, ditinjau, ditimbang baik-baik, lihat dan amati kiri-kanan, muka-belakang atas-bawah, dibalik-balik. Bukannya orangnya dengan badan-raga, tapi tabiat, perilaku, watak kepribadian dan sebagainya. Menurut yang kutahu, barangkali ada tujuh kali gagal, tak jadi, urung. Dan ada beberapa bangsa, dari Jepang, Tionghoa, dan Indonesia, berbagai suku. Tak apa, kami mengerti kenapa gagal dan belum-belum jadi juga.
Tetapi yang sekali ini, malah kami heran, bukankah dia tahu bahwa Mbak July itu bukan hanya janda biasa saja, tapi sudah punya empat anak, ada yang sudah dewasa, ada yang masih cukup kecil. Lalu dirinya sendiri sudah pensiun, pendapatan berkurang dari dulunya. Lalu bagaimana nanti kasi makan anak orang, yang ekornya juga berjumlah empat itu?!
Dan geleng kepala serta garuk kepala tak gatallah kami, karena kami dengar tahu-tahu saja, mereka berdua sudah beli rumah seharga 150 juta rupiah, itu artinya paling sedikit 150.000 francs. Untuk kami betapa banyaknya jumlah uang sebegitu. Kami samasekali tak menyangka diam-diam punya harta sebanyak itu. Ini salah satu kehebatan Pak Parto. Diam-diam "meledak" dengan "hentakan" membeli rumah! Sungguh tidak gampang! Aku teringat akan diriku. Uang habis tak bisa terkumpul karena terlalu banyak bepergian, ke Indonesia saja bisa dua kali dalam satu tahun, lalu ke daratan Eropa lainnya, ke Holland saja setiap bulan!
Lalu setelah ada peristiwa larinya Mbak July ke cowok Perancis itu, dan mengajukan perceraian, kami yang agak panik dan rikuh. Bagaimana cara meringankan beban jiwa, kesedihan, kebingungan Pak Parto. Kami cari akal dan caranya. Tetapi malah Pak Parto tenang-tenang saja. Yang dia urus malah bagaimana memindah-alihkan rumah yang baru dibelinya itu agar menjadi hak-milik dia sepenuhnya. Dan, nah, ini yang lagi-lagi hebatnya, dia mau segera cari lagi wanita yang bisa dijadikannya isteri. Tahun depan umurnya 70 tahun, dan tahun depan itu tinggal beberapa bulan lagi. Menurut pengakuannya, dia masih hebat dalam soal yang satu itu. Itu sih bisa-bisa saja terjadi, hanya apa betul, apa betul hebatnya itu sampai bisa membikin kelabakan seperti halnya Mbak July menurut pengakuannya. Dan kalau sampai kelabakan dan hebat, kok, Mbak July masih juga mau pacaran dan jatuhnya ke tangan cowok Perancis yang masih muda dan penuh semangat. Dan lalu yang sampai hamil itu, tokh Mbak July "main" dengan dua pria dalam satu periode, sebab ketika itu dia masih satu rumah dengan suami sahnya. Tapi hal itu sih bukan buat diperdebatkan, hanya membeberkan fakta yang adanya saja.
Belum lagi tuntas kami "membicarakan" dan "menyeminarkan" perihal Pak Parto ini, sudah ada lagi kasus Putu! Putu pekerja, pegawai resto kami. Orang Bali, anaknya dua, isterinya minta cerai. Kami punya pikiran tadinya bahwa Putu ini masih muda, tenaganya cukup baik, dan mau diajari dan ditunjuki, orangnya sabaran, tenang, pokoknya kami punya angka dalam kepala, bahwa dia ini bisa kami andalkan kelaknya. Sebab resto kami ini semakin lama semakin berkurang kader lamanya, sebab yang meninggal saja sudah dua orang, yang pensiun sudah enam orang plus yang meninggal itu. Jadi harus dari sekarang memikirkan peremajaan, menerima darah-segar, dan salah seorang yang kami pikirkan Putu ini.
Sekarang Putu punya soal lagi, dia "ingin dan akan dicerai oleh isterinya". Isterinya orang Perancis, peranakan Guadelope, jadi berkulit agak gelaplah. Jadi kalau dikutak-katik, dua kasus ini berbeda. Yang satu, ditinggalkan oleh orang Indonesia, yang satunya lagi orang Indonesia ditinggalkan oleh orang Perancis. Dan memang dua watak serta kasus ini sangat berbeda. Malam kejadian setelah Putu menerima kabar-berita bahwa isterinya sudah secara resmi mengajukan perceraian dengannya, Putu ketika itu bekerja di sal denganku. Hari itu semua serba salah, salah antar makanan yang mestinya ke meja lain. Salah yang lainnya orang minta kopi yang diberikan malah dessert tapai, salah memberikan notes tanda pembayaran yang mestinya pelanggan itu minta tambahan nasi.
Lalu kutanyakan mengapa dan ada apa ini. Berceritalah Putu keadaan sebenarnya. Aku mengurut dada, belum selesai yang satu sudah datang yang beginian! Dan kami ada dan punya paguyuban, sedangkan peristiwa tidak enak ini terjadi pada anggota paguyuban kami. Kami harus mengurus dan memperdulikannya, harus ambil-perhatian sebaik-baiknya. Paguyuban kami yang bernama PARIS bukanlah pengertian kotanya tok, tapi kepanjangan dari Paguyuban Rekan-rekan Indonesia di Paris, maka jadilah PARIS nama paguyuban kami itu. Nah, baru saja berdiri sudah ada dua kasus yang sama tapi wataknya berbeda yang harus diurus.
Setelah beberapa hari, sudah dua tiga minggu sesudah itu, kutanyakan kepada beberapa teman yang bekerjasama di resto dengan Putu. Banyak komentar, banyak pendapat, ada yang sama, ada yang dengan pendirian pribadi menanggapinya. Katanya kehidupan Putu dan Daniele, dengan dua anaknya itu tadinya biasa-biasa saja, tapi lama kelamaan, masing-masing watak aslinya pada keluar. Yang Bali ini tetap saja membawa ke-Bali-annya, sehingga di rumah mereka yang berada di kota Paris ini, Putu selalu saja berbahasa Bali dengan isterinya! Jadi Putu sangat terbelakang dalam Bahasa Perancis, sedangkan Daniele maju pesat dalam bahasa Bali. Lalu apa gunanya terus menerus berbahasa Bali sedangkan bahasa Perancisnya keteteran dalam meladeni tamu di resto. Soal ini sudah pernah kami ajukan kepada Putu jauh sebelum peristiwa ini, agar Putu memperdalam bahasa Perancisnya, demi buat kemajuan pekerjaannya.
Lalu, ketika datangnya musim-panas buat liburan bersama, Daniele dengan anak-anaknya mengajak Putu, suaminya, buat liburan bersama. Tetapi Putu menolak, katanya dia lebih senang di Paris saja, bekerja terus sambil mencari penghasilan tambahan. Dan ini katanya sudah dua kali kejadian, dua kali liburan tanpa suami, karena menolak pergi bersama. Dan lagi benarlah begitu setelah kutanyakan sendiri kepada Putu, bahwa Putu tidak pernah mengatakan kata-kata cinta dan sayang kepada isterinya, tidak pernah mencium isterinya kalau masing-masing baru ketemu setelah sehari suntuk berpisah karena bekerja. Jadi Putu memperlakukan isterinya sebagaimana orang-orang di Bali sana mungkin. Apa sih kata-kata cinta dan kekasih, apa sih arti ciuman formil, begitu pikir Putu. Putu sudah 6 tahun beristerikan orang Perancis, tapi dia samasekali tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan isteri yang orang Perancis. Kata-kata sayang, cinta, kekasih dan ciuman sehari-hari adalah sangat penting, sangat harus diperhatikan. Karena kebiasaan itu, perilaku demikian, sudah jadi air mandi kehidupan orang Perancis. Dan kalau Putu tidak melakukannya, maka artinya Putu tidak pernah mandi-mandi!
Dan lagi kenapa sudah hidup di Perancis, di Paris-nya pula, tapi masih terus membawa kebiasaan hidup di Bali, dan di kampung yang jauh dari Kuta, Sanur, dan Ubud-nya lagi! Sudah tentu semua ini menjadi perseteruan, menjadi minyak-bakar dalam kehidupan yang sedikit saja tersandung, akan segera terbakar. Dan ketika kukatakan hal-hal begini sangat penting dalam kehidupan orang Perancis, Putu setuju dan akhirnya meng ya kan, tetapi sudah jauh terlambat.
Sekarang yang soal ada banyak hal. Putu sangat mencintai isterinya, tapi sangat sakit hati kepada isterinya, sebab sampai hati dan tega-teganya minta cerai dan seakan-akan mau mengusir Putu dari rumah itu. Padahal Putu sangat menyayangi dua anaknya. Putu seakan tak mampu akan berpisah dengan dua anaknya itu. Dan dua anaknya itupun sangat mencintai ayahnya. Lalu kalau Putu harus pergi dari rumah itu, mau ke mana, kepada siapa? Tak ada keluarganya di sini. Lagipula kalau mau cari rumah sendiri, mana gajinya, takkan cukup hanya mengharapkan dari gaji resto kami saja! Lalu bagaikan putus harapan, Putu mengajukan kepada kami, bahwa dia mau pulang ke Bali saja! Mendengar hal begini, kontan aku menentangnya. Kalau dia tiba-tiba marah dan merajuk tahu-tahu mau pulang ke Bali, dia akan banyak kehilangan. Kehilangan dua anaknya, kehilangan hak-haknya, kehilangan pekerjaan dan teman-teman-baiknya di Perancis dan ada beberapa kehilangan lainnya. Di Paris, tokh, ada "banjar" atau semacam "subak" buat orang-orang Bali dengan organisasi tradisionalnya, dan lagi kami kan ada pagyuban PARIS ini. Kita usahakan, kita bantu, kita carikan jalan yang sebaik-baiknya.
Dalam perbincangan bagaimana menangani dua kasus ini, beberapa teman tentu ada-ada saja mengeluarkan uneg-uneg, dan rasa agak kesalnya, ditambah gossip sedikit. "Kenapa sih kok cinta amat pada wanita tua begitu"!, kata seorang teman. "Lho, kok, kamu tahu, apa isterinya tua, apa?!", kataku agar teman ini memperbaiki kata-katanya. "Ya, dong, beda 16 tahun, apa nggak tua itu! Lagian isterinya itu tampaknya rada-rada tomboy, nggak ada sedikitpun femininnya. Saya sih heran bangat kalau Putu begitu tergila-gilanya sama itu wanita"!,- kata teman sekerja saya itu. Aku diam saja. Dan setelah kutanyakan kepada beberapa teman yang kebetulan sudah pernah ketemu dengan isterinya Putu, meng ya kan semua pendapat itu. Katanya memang isterinya lebih tua 16 tahun dari Putu, lalu orangnya itu gagah-perkasa, besar-tinggi, agak kelaki-lakian, mungkin maksudnya tidak begitu feminin-lah tokh mereka sudah punya dua anak, betapapun tidak femininnya!
Ketika aku pulang kerja dari resto, ada sebuah e-mail yang datang dari Indonesia, entah siapa orangnya, tak kukenal, tapi ditujukan kepadaku. "Tolonglah pak, saya memang benar hanya kenal bapak dari e-mail saja, bacaan dari tulisan bapak, saya tahu bahwa bapak di Paris. Adik saya wanita juga di Paris, dia ini akan segera dicerai oleh suaminya orang Perancis. Padahal mereka sudah hidup bersama selama 22 tahun. Tahukah bapak, bagaimana cara mendapatkan seorang lawyer yang mungkin bisa gratis atau agak murah? Tolonglah hubungkan adik saya itu agar dia bisa mempertahankan hak-haknya, tidak dibiarkan begitu saja dicerai semaunya oleh orang Perancis itu", katanya dalam milis itu.
Wanita yang disebutkannya itu aku tidak tahu dan lagi tak pernah datang ke resto kami. Seandainyapun dia datang dan minta bantuan kepada kami, lalu apa lagi daya kami dan kekuatan kami buat mengurus semua ini? Kataku dalam hati : "bisa-bisa resto ini jadi badan konsultan perceraian, dan mungkin perkawinan". Dengan demikian kini ada tiga kasus perceraian yang sedang kami amati, urusi, perdulikan, ambil-perhatian. Dan ketiganya dengan watak serta perilaku yang berbeda. Akh, baru saja mau mengurus perceraian, " begitu aja repot-repot"! Dan dalam bulan April sedang musimsemi sejadi-jadinya, biasanya puncak orang-orang pada kawin dan cerai, berjagalah!
Paris 13 Maret 2000,-
Mula pertama saya berkenalan dengan HB Jassin pada tahun 1948, ketika umur saya 14 tahun, masih di SMP. Ketika itu yang membawa saya ke Pak Jassin adalah Chairil Anwar, yang serumah dengan saya. Lalu sekalian Chairil memperkenalkan saya kepada Pak Jassin karena ada beberapa sajak saya yang dimuat di Mimbar Indonesia. Sebelumnya saya sudah memuat cerpen di majalah WAKTU di Medan. Tetapi sampai pada waktu itu saya samasekali tidak mengerti bahwa setiap tulisan kita yang dimuat dalam majalah atau penerbitan apapun, biasanya dapat apa yang dinamakan honorarium. Tentu saja waktu itu Chairil diam saja mengenai perihal honorarium ini, dan tokh sudah kami makan bersama dibelikan soto-babat di Boplo, Pasar Gondangdia.
Antara rumah kami dengan kantor redaksi Mimbar Indonesia, cukup dekat, hanya beberapa menit jalan kaki. Rumah kami ketika itu nama jalannya Oude Gondangdia Binnen no 2, yang akhirnya menjadi Gondangdia Lama Dalam no 2, hanya terjemahannya saja. Sedangkan kantor Mimbar Indonesia ada di Jalan Cikini Raya, kalau tak salah nomor 31, sedangkan nomor 25 adalah Bengkel Las - Teknik "Belitung" di mana banyak teman-teman saya bekerja di situ. Seperti ungkapan sebutan banyak orang, " Cikini si Gondangdia, aku begini lantaran dia", begitu pantunnya, jadi memang berdekatan dua kampung itu.
Dalam pada itu rumah kami yang di Gondangdia itu selalu saja kedatangan tamu-tamu penting, karena hubungan-hubungan sosial-budaya dan juga politik. Karena saya masih terlalu muda, jadi saya tidak begitu openen, melihat orang ya melihat orang, tapi tak tahu siapa. Setelah beberapa lama antaranya barulah saya tahu, misalnya Asrul Sani, Rivai Apin, HB Jassin juga, dan bahkan ada orang bulenya, berkulit putih. Bahkan ada serdadu Belandanya segala, bawa stengun lengkap, tapi pakai ransel dan celana pendek. Belakangan barulah saya tahu, dialah itu JC. Princen, yang sampai kini masih hidup, seorang pejuang hak-hak azasi manusia. Ternyata sejak dulu beliau itu sudah anti-perang, anti-kekerasan, sehingga "melarikan diri" dari ketentaraan Kerajaan Belanda yang menjajah Indonesia. Jiwanya berontak, dan akhirnya "masuk ke kalangan" kita, dan sampai kini sebagai seorang pejuang tangguh hak-hak azasi manusia. Juga kalau tak salah ada yang namanya Dolfverspoor, Beb Vuyk, dan lain-lainnya.
Di kalangan kaum politisi juga demikian, sering datang dan pergi, atau paling tidak surat-menyurat dengan abang saya, seperti Chairul Saleh, Wikana, dan jauh sebelum itu juga Mohamad Yamin, dan beberapa kaum politisi lainnya.
Hubungan dengan HB Jassin, maksud saya antara grup sastrawan ini, sejak zaman Chairil dengan teman-temannya, sampai ke angkatan sesudahnya, yaitu kami-kami ini. Yang saya maksudkan kami-kami ini ada beberapa nama sastrawan muda yang ketika itu sangat aktive mengisi banyak ruangan budaya-sastra di beberapa majalah dan suratkabar. Ketika itu kami masih "agak satu" belum "terpecah-pecah". Masih bisa bersama, selalu kumpul dan bicara ngobrol ngalor-ngidul. Teman-teman saya ketika itu yang dekat, lebih banyak dan menyeluruh, masih menyatu. "Komplotan" kami ketika itu ya sebenarnya tak ada komlotan dalam pengertian yang sesungguhnya, bisa saya ingat-ingat seperti Ajip Rosidi, SM. Ardan, Sukanto SA, Trisnojuwono,Syumanjaya,Rijono Pratikto, Rendra, DS Mulyanto dan banyak lagi. Rendra dan Mulyanto datang belakangan sebab mereka selama itu ada di Solo dan Yogyakarta. Sama halnya dengan angkatan yang lebih tua dari kami, seperti Wiratmo Sukito, Trisno Sumardjo, juga dari Solo.
Angkatan yang lebih tua dari kami, tetapi sering bersama, seperti Nugroho Notosusanto dan Ramadhan KH. Dan beberapa sastrawan lainnya yang digrup Balai Pustaka seperti Anas Makruf, Amal Hamzah, Taslim Ali, Achdiat K Mihardja, dan Pramoedya Ananta Toer. Dan sebenarnya secara diam-diam keseluruhan dari kami, mau tidak mau, dalam hati ada pengakuan, bahwa kami ini bukan apa-apa kalau tidak diperkenalkan oleh HB Jassin kepada sidang pembaca yang luas dengan ulasan-ulasannya, dengan kritik sastranya. Secara diam-diam dan menyeluruh, sebenarnya pengaruh HB Jassin luarbisa besarnya, kepada pertumbuhan sastra dan sastrawan. Sepertinya, kayaknya, kalau "belum disahkannya", maka kriterium sastrawan itu belumlah akan mendapatkan tempat sewajarnya. Perasaan ini ada pada banyak kami, walaupun tidak mau mengakuinya ketika itu. Dan pengaruh yang begitu itu sangat tampak dari luar bagi orang yang memang memperhatikan perkembangan budaya-sastra.
Itulah pula sebabnya oleh Gajus Siagian, Pak Jassin digelari "Paus Sastra". Seolah-olah dialah yang "membaptis" bisa tidaknya seseorang menjadi sastrawan. Sudah tentu pendapat ini sangat berlebihan, atau karena tidak suka, tidak rela akan pengaruh besar Jassin ketika itu. Saya kira tidaklah sampai begitu benar halnya. Walaupun kenyataan ke arah itu memang ada. Katakanlah seseorang yang "belum mendapatkan pengesahan" dari Jassin, memang begitu lama "berada di kalangan luar" dan lama sekali baru bisa masuk "kalangan dalam" yang resmi. Ini dapat saya lihat pada beberapa pengarang, misalnya pada Motinggo Busye, termasuk pengarang-pengarang yang walaupun aktive - produktive sepertri Marga T, dan penulis yang dikatakan novel-pop, dan sebangsanya. Padahal menurut saya, banyak juga hasil karya mereka itu cukup baik, berseni, bernilai-bernas. Ini semua sebenarnya karena "pengaruh besar kepausan" Jassin itu.
Jadi ketika itu seolah-olah ada dua kubu, yang sudah "masuk" dan bisalah dikatakan sastrawan-pengarang "resmi" dan yang belum "masuk", masih berada "di luaran". Dulu pada tahun-tahun pertengahan 50-an, seperti saya sebutkan tadi, kami masih satu, mengumpul, tidak atau belum terkotak-kotak. Tetapi ketika sudah zamannya "jor-joran", banyak organisasi budaya-sastra yang tumbuhnya dari partai politik, seperti Lekra, Lesbumi, LKN, Lesbi dan lain-lainnya, nah, sejak itulah kami sudah terkotak-kotak, sudah terbagi, terpisah, tidak menyatu lagi seperti jauh sebelumnya. Saya sudah sangat jarang bergaul dengan Ramadhan KH dan Nugroho, bahkan dengan Ajip dan Ardan atau Misbach Jusa Biran. Tidak mungkin lagi bergaul seperti jauh sebelumnya, sebab sudah ada "barrier" kata orang Perancis, sudah ada "penghalangnya, hambatannya". Apa itu, ya, garis politik itu tadi.
Dulu pada periode tertentu tahun 50-an, saya pernah merasa, bahwa seorang Mochtar Lubis itu bagaimanapun pernah "mengasuh" saya, dengan banyak karya sastra saya yang diterbitkannya, dan diolahnya di majalah MUTIARA yang berkantor di Jalan Pecenongan itu. Tetapi setelah ada bau politik, dan dia tahu bahwa nama saya itu mungkin ada sangkutan dengan garis politik yang dia paling benci, maka tentu saja Mochtar Lubis mengambil jarak. Mana dia mau kenal lagi, mana dia mau menegur-sapa lagi!
Sebelum itu kami bisa kumpul di MSDR, Masarakat Seniman Jakarta Raya, sering ngumpul di Suropati di rumah Pak Sudiro, walikota Jakarta-Raya, dan juga di sekitar Senen. Sampai ada kata Seniman Senen, oleh banyak kalangan, nama sayapun disebut sebagai pencetus ide Seniman Senen, karena sering ngumpul, bergabung sesama sastrawan-seniman di sekitar Senen. Ketika itu Pak Jassin-pun juga sering datang sekedar omong-omong dan bertemu dengan banyak kalangan seniman. Dan secara kebetulan pula beberapa rumah kami ketika itu sudah agak berdekatan. Misalnya rumah Pak Jassin di Siwalan, rumah saya di Kwitang ketika itu, lalu Ardan juga di Kwitang, dan juga Ajip lebih dekat ke rumah Pak Jassin, dan semua daerah ini sekitar Senen Tanah Tinggi.
Karena kami "merasa anak-asuh Pak Jassin" ketika itu, sudah tentu kamipun sering datang ke rumah Pak Jassin di Siwalan. Dan banyak menanyakan soal-soal sastra-budaya, dan tentu saja menanyakan tentang karangan kami sendiri. Sudah tentu pula banyak menanyakan mengapa sajak itu, cerpen itu, yang kami kirimkan baru-baru ini kok ditolak?! Dan Pak Jassin menjawabnya menurut alasan-alasannya, latarbelakang penolakannya, dan sebagainya. Pada waktu itulah kami tahu, kami mengerti bahwa Pak Jassin itu bukanlah akhli berdebat, bukanlah akhli bicara di depan umum. Pak Jassin menurut pengamatan saya, samasekali bukanlah orang podium, bukanlah orang mimbar, akhli pidato, lancar berapi-api. Tetapi dia adalah orang yang menulis, orang yang berpikir lalu menuliskannya, orang yang sangat tekun dan telaten, rajin, berhati-hati dan resik. Tetapi janganlah diajak berdebat di depan forum resmi, kasihan dia. Dia tidak akan meladeninya, karena memang bukan orangnya buat diajak berdebat berhadapan.
Karena itupula pada banyak kesempatan pada beberapa kali simposium sastra-budaya, ketika konggres, konperensi, seminar, dia selalu menolak untuk berbicara yang sifatnya akan ada perdebatan. Bahkan ketika kami minta dia bicara ketika kami dengan Ardan memperingati dua tahun wafatnya Chairil Anwar di Gedung Balai Prajurit Diponegero, Pak Jassin menolaknya. Kami tahu penolakan ini lebih-lebih dia sangat tidak mau menonjolkan diri, disamping menghindari pembicaraan di depan umum.
Ketika kami agak mengajak diskusi kenapa sebuah hasil sastra ditolaknya, dia lama sekali merenungkan apa yang mesti dia keluarkan, dengan kata-kata : "saya kira, ada apa ya............ya, buyar begitu, hambar begitu.........tak padu-lah, sulit mencernanya.........apalagi yah...........", kata-kata begini sangat sering kami terima darinya. Setiap pengarang sudah tentu lain-lain mendapatkan kesuksesannya, tetapi ada yang satu hal sama, Pak Jassin tak pernah ragu menolak sebuah hasil karya yang dianggapnya "belum masuk" "belum padu, belum bernas" dan banyak belum-belum lainnya. Dan kami pada akhirnya menerima argumentasinya. Juga menjadi catatan pokok dari keseluruhan aktivitas Pak Jassin, sampai kini belum ada yang menekuni bidang sastra dalam kritik dan analisis yang sebaik Pak Jassin. Kehebatan Jassin, adalah ketekunannya, juga ketelitiannya, rajin, rapi dan sangat telaten. Dia mengumpulkan begitu banyak buku sastra lama dan baru sejak sebelum zaman Jepang. Dan buku-buku itu sudah tidak mungkin lagi disimpan di rumahnya. Karenanya pemerintah memerlukan suatu perpustakaan untuk menampung begitu banyak buku-buku Jassin. Semua ini adalah warisannya selama puluhan tahun hasil kerjanya, dan perlu adanya sebuah Perpustakaan HB Jassin yang sekarang ini di TIM,-
Paris 14 Maret 2000,-
Kalau tak salah Pak Jassin itu tidak bisa bersepeda. Dan kami tahu betul, beliau itu kalau mau ke mana-mana selalu jalan kaki. Ada kalanya naik bis, becak dan kendaraan umum lainnya. Tetapi kebanyakannya selalu jalan kaki. Mungkin karena itu beliau selalu dalam keadaan sehat pada zamannya. Ini yang saya kenal sejak tahun 1948 sampai tahun 1963.
Seperti yang sudah saya tuliskan di belakang, setelah zaman jor-joran itu naik suhunya ketingkat tertentu, maka perkenalan saya dengan Pak Jassin turut menjadi macet. Sudah terlalu banyak barrier, halangan dan garis-garis yang menggurat tak sama. Dan beliau sendiripun tampaknya sudah banyak mengambil jarak. Tetapi saya tetap menghormati beliau. Dari luarnegeri inipun saya tetap menyerahkan tulisan saya yang berupa buku buat perpustakaannya di TIM. Dan saya juga menulis surat kepadanya. Sudah dapat saya perkirakan, mana mungkin akan dibalasnya. Dan yang begini ini tidak hanya kepada beliau, juga kepada orang-orang dan teman-teman lainnya. Kebanyakannya tidak membalas, bahkan jangan-jangan mereka agak takut menerima surat dari saya, atau dari kami yang jenis golongannya sama dengan saya.
Bahkan jauh sebelum saya di luarnegeri, ketika masih sama-sama kuliah di Salemba ketika itu, hampir setiap pagi bertemu, tapi kami hanya saling senyum dari jauh, dan melambaikan tangan tanda masih sama-sama ingat. Kalaupun "kepergok" bertemu paling-paling hanya mengucapkan apa kabar, sehat-sehat, bagaimana baik? Hanya itu saja, tak banyak bersoal jawab, sudah saling tahu dan mengerti. Ketika itu beliau kuliah di Sastra Indonesia bagian matapelajaran Sastra Jawa Kuno. Saya kuliah di bagian Sinologi, ilmu ke-Tionghoa-an. Unik sekali Pak Jassin ini. Dan ini membuktikan bahwa beliau itu tak henti-hentinya haus belajar, mau tahu, mau mengerti banyak ilmu, mau riset. Apa harapannya ketika pernah suatu kali ulangtahunnya? Dia berharap dan memanjatkan doa, agar Tuhan berkenan sedikit lagilah menambah umurnya, agar pekerjaan yang dia mau rampungkan dapat terselesaikan. Saya tidak tahu pekerjaan yang kongkrit yang mana. Tetapi di antara kami banyak yang menganggap pekerjaan itu kira-kira penterjemahan Kitab Suci Alquran yang memang dapat diselesaikannya dengan baik dan penuh puitis. Yang sampai kini banyak dibaca dan dipelajari orang.
Ketika masih kuliah di Salemba, kami sering lewat dan agak sedikit mengintip ke ruangan kuliah di mana Pak Jassin menjadi mahasiswa dan merangkap menjadi mahaguru sekaligus! Ketika kuliah sastra-lama, terutama matapelajaran Jawa Kuno, Sanskerta, Pak Jassin menjadi mahasiswa, tekun duduk bersama mahasisawa lainnya dan penuh perhatian pada matakuliahnya. Tetapi begitu berganti matakuliah Sastra Modern, Masa Kekinian, Pak Jassin berdiri dan maju ke depan, beliau di podium lalu memberi kuliah, karena memang sebagai doktor Sastra Modern. Jadi dalam satu hari pada dua matakuliah, beliau sekaligus bisa menjadi mahasiswa dan bisa menjadi mahaguru!! Sangat langka orang yang begini. Teladan yang Pak Jassin berikan kepada banyak mahasiswa sungguh sangat mendalam. Sangat rajin belajar, tekun, teliti dan sungguh-sungguh.
Saya sampai kini tetap berpendapat, seseorang yang betul-betul mau menjadi pengamat Sastra dan Bahasa Indonesia secara serius, adalah nonsens bila tak tahu, tak mengerti tiga soal. Bila tidak mengerti Bahasa Jawa, tak mengerti tentang wayang dan perwayangan, dan tak mengerti Bahasa Belanda, adalah nonsens. Karena bagaimanapun pertalian tiga perkara itu sangat erat, nara sumber pokoknya kebanyakan di situ. Maka artinya saya betul-betul tak ada bau-baunya untuk menjadi pakar sedemikian. Tentang Bahasa Jawa dan Pewayangan saja saya tidak mengerti, tak mungkin menjadi ke arah itu.
Dan Pak Jassin semua soal yang saya sebutkan tadi sangat menguasainya, ditambah lagi beliau sangat menguasai Bahasa Arab, luar biasa, luar biasa! Apakah posisi Pak Jassin takkan tergantikan karenanya? Belum tentu. Di dunia ini tak ada yang tak tergantikan, segala sesuatu selalu ada-ada saja dan akan terdapat penggantinya,-ini hukum perkembangan dunia dan alam. Tetapi satu hal, dalam masa dekat ini tampaknya memang cukup sulit buat menduakan yang keuletannya dan ketelitian, kerapian dan keseriusannya seperti Pak Jassin. Yang mula pertama saja, beliau sudak sejak masa mudaremajanya sudah memulai pekerjaan itu, jadi bukannya baru belasan tahun belakangan, tetapi sudah lebih dari separuh umurnya.
Pak Jassin orangnya agak pendek, gempal agak gemuk, tetapi padat berisi. Dekat bibirnya ada tahilalat, berkacamata tebal, kulitnya putih sebagaimana kebanyakan orang dari Menado - Minahasa. Umumnya tidak bisa bergurau mendahului, tetapi bisa nyambung kalau dimulai oleh orang lain. Orangnya tenang, sabar. Tetapi kalau dengan Chairil Anwar dulu sih, hampir saja berkelahi, karena sama-sama ngotot dan masing-masing masih muda. Beliau tahu, mengurus Chairil ini cukup sukar dan banyak mendapat kesulitan. Plagiat, mencuri karangan orang, sudah berkali-kali, menterjemahkan tanpa menyebut sumbernya, dan mengakui karangan itu adalah kepunyaannya, padahal sesungguhnya hasil terjemahan, sudah berkali-kali dihadapi Pak Jassin berhadapan dengan Chairil ini.
Sejarah mencatat, sepanjang hidupnya Pak Jassin menumpahkan perhatiannya pada pekerjaan buat kemajuan sastra-budaya Indonesia, kepada disiplin ilmu budaya dan terutama kesusastraan. Sepanjang umurnya yang 82 tahun itu lebih separuhnya diabdikannya buat pekerjan demi kemajuan sastra Indonesia. Kita kehilangan Pak Jassin yang sangat memberikan teladan pekerjaan sastra kepada kita. " Paus Sastra" itu telah kembali ke asalnya yang abadi, semoga Tuhan menerimanya sesuai dengan amal baktinya sebagaimana harapannya sendiri dan harapan kita semua.
Paris 15 Maret 2000,-
Setiap aku datang ke Jakarta, Indonesia, termasuk kampungku di Belitung, aku selalu berusaha mencari teman-teman lama, sahabat-sahabat lama. Rasa kangen, ingin melepaskan rindu, ingin ngobrol berkepanjangan, dalam keadaan dan suasana yang santai. Ingin saling cerita keadaan masing-masing, ingin banyak tanya dan dengan penuh perhatian, sebagai seorang teman, sahabat dan keluarga.
Sebagian besar memang mendapat sambutan baik, hangat dan bersahabat bahkan bisa akrab. Tak dapat dibayang dan diperkirakan, sudah begitu lama berpisah, lebih tigapuluh tahun. Aku ingat seorang penyair Tiongkok, Thu Fu, dalam sajaknya PERTEMUAN, ditulisnya :
Siapakah gerangan yang dapat mengira sesudah duapuluh tahun berselang aku dapat menjejak lagi bendul pintu rumahmu ini?
Kala kupergi dari sini, dahulu engkau masih bujang belia, - Tetapi sekarang anakmu *lah hampir selusin, sehat-sehat sekali.
Lucu pula, anak-anakmu itu berkerumun disekelilingku, dan bertanya kepadaku dengan jenakanya dimana tempat tinggalku, dan dusun tempat lahirku!
Sedang tanya jawab kian meriah dihidangkan oleh mereka anggur sepiala disusul buah-buahan yang segar-segar.
.........dan beberapa bait lagi yang seterusnya. Sebagai catatan : Thu Fu adalah seorang penyair besar Tiongkok yang hidup pada dinasty Thang, ketika zaman keemasan Sastra Tiongkok-lama. Hidup satu zaman dengan penyair besar lainnya LI Tai-po. Thu Fu digelari sebagai "Dewa Sastra" sedang temannya Li Tai-po digelari sebagai "Pandu Sastra", keduanya hidup pada abad keemasan sastra Tiongkok-lama, 701-762 ( LI TAI-po ) dan 712-770 ( THU FU ).
Sudah tentulah bukan mau menyamakan pertemuanku dengan teman, sahabat dan keluarga itu sebagai Thu Fu dan Li Pai! Jauh dari itu. Tapi sebagai orang yang suka pada puisi dan sastra, tentulah tak ada salahnya kalau teringat akan hal tersebut, ya kan?
Tetapi ada juga yang kutemui hanyalah merupakan pil pahit, tidak tepat waktu. Masaksih ketika orang ramai-ramai merayakan milenium 2000, di tempat umum, perayaan dan malam-gembira, persahabatan, pertemuan besar menjelang Tahun Baru 2000 di Jakarta, ada orang yang menolak kusalami, dan membelakangiku, dan lalu menghindar. Aku heran, mengapa pada hari-baik, malam-baik, Tahun Baru pula, penuh suasana persahabatan, dengan gembira aku menyalami banyak teman, sahabat dan mungkin ada keluarga walaupun agak jauh, tahu-tahu uluran tanganku ditolak dan tidak diterima, membelakang lalu menghindar dan menghilang dari mata. Rasanya tak pernah aku berbuat salah kepada teman itu. Rasanya pernah bertemupun tidak. Lalu kenapa uluran tanganku ditolak? Sungguh ada rasa malu, dipermalukan di tengah umum! Betapa menyedihkan. Tapi sudahlah, siapa tahu memang beginilah sang nasib "orang buangan" "orang yang dianggap buangan" dan bermacam gelaran yang kami terima selama puluhan tahun ini.
Kepada seorang teman yang memang sejak dulu tak takut berteman denganku, walaupun keluarganya termasuk keluarga diplomat yang selalu banyak hidup di luarnegeri, kutanyakan bagaimana keadaan si A sekarang? Baikkah kalau aku mencarinya, lalu menemuinya, tentu dengan menilpunnya dulu? Teman itu mengatakan, menurut dia rasanya aku ini belum akan dapat sambutan. Mungkin temanku ini benar. Tetapi dari segi waktunya yang sudah lebih 30 tahun, dan mengingat persahabatan kami dulu itu sangat eratnya, rumahku dan rumahnya sudah menjadi tempat sehari-hari kami berdua, maka kukira masaksih dia akan menolak?
Dulu tahun 1951, kami berdua pernah sampai mengunjungi kuburan Chairil Anwar di Karet, Tanah Abang, maksudnya menyekar dan di kuburan itu kami berdoa agar kami bisa menjadi penyair, pengarang, paling tidak seperti dirinya itulah. Ketika itu kami samasekali tidak menganggap kemauan dan kehendak kami itu aneh! Malah kami anggap mulia, dan sakral rasanya. Dan tidak kebetulan kami berdua dengan dibantu teman lain memperingati wafatnya Chairil Anwar pada tahun 1951 itu, di mana ketika itu banyak yang hadir selain HB Jassin, Utuy Tatang Sontani, Balfas, Amal Hamzah, BachrumRangkuti dan banyak sastrawan lainnya. Bahkan persahabatan kami ini menelurkan kumpulan sajak bersama, kami bertiga yang berjudul KETEMU DIJALAN diterbitkan Balai Pustaka, yang akhirnya dilarang karena ada namaku, terpaksa dua orang temanku dikorbankan karena ada satu nama yang "mengotori" kehendak penguasa.
Kalau ingat ini semua, masaksih ajakan bertemu akan ditolak? Maka pagi yang cerah itu kutilpunlah teman-lamaku ini. "Hei, Sah, apakabar? Semoga kau masih ingat. Aku sangat kangen dan sangat ingin ketemu kau", kataku. Dan dia tanyakan siapa aku, lalu kuceritakan siapa aku, nama asliku, dan kenangan dulu-dulu ketika bersamanya. Ketika dia mendengar dengan jelas siapa aku, terasa dalam suaranya di tilpun, dia agak ragu dan tidak ramah.
"Jadi apa bisa kita ketemu, entah di manalah menurutmu yang baik?" "Ya, di mana ya? Jangan sampai di rumahlah, sebab susah nyarinya, di tempat lain. Juga jangan sampai di kantor. Lagipula apa begitu perlu kita ketemu? Kalau bisa dengan tilpun kenapa tidak digunakan tilpun saja ya". "Ya, aku sih sangat mau ketemu kau, rasanya sangat lama benar kita nggak ketemu. Bagaimana keadaan rumah, keluargamu?" "Ya, baik-baik saja. Soal ketemu itu lain kali saja ya kita janji, jangan sekarang ini. Lagian yang perlu kan di situ bukannya di saya, saya sih sibuk kantoran, banyak pekerjaan menjelang milinium ini. Gitu aja baiknya, okey?" Tak lama tilpunnya ditutup, dan dia yang mulai nutup, dan aku terhenyak, agak kaget juga.
Benar juga pendapat temanku itu. Dari segi pengkotakan, aliran, memang dia termasuk "lesbumi" sedang aku termasuk "lekra", tapi tak pernah ada persoalan itu di antara kami, secara pribadi dan perorangan kemanusiaan antara kami baik-baik saja.
Seorang sarjana, juga seorang sastrawati, yang sebenarnya cukup kukagumi, sudah berkali-kali kuhubungi dengan tilpun mau ketemu. Sudah selama tiga tahun ini. Dan tahun 2000 ini lagi-lagi kuhubungi. Dia ini seorang wanita yang energik, kaya, pintar dan ternama, dan katanya masih ada pertalian keluarga dengan ponakanku dari garis ibunya. Karenanya kuanggap sudah pantas kalau aku mencarinya untuk bisa bertemu, mengadakan tali persahabatan, paling tidak antara manusia.
" Saya simon. Apa ini ibu T?" " O, bukan, saya pembantu di rumah ini. Memang tadi ada pesannya sebelum ibu keluar", kata yang mengaku pembantu itu. "Apa bapak ini adalah pamannya Iman Bungsu?" "Ya, betul, saya datang dari Paris, kalau dapat mau ketemu Ibu T". "Mungkin belum cocok waktunya barangkali, sebab Ibu ke luar kota buat menghadiri pertemuan, begitu pesan Ibu tadi sebelum pergi. Dan minta disampaikan kepada Pamannya Iman Bungsu". "O begitu, ya, lain kali sajalah, dan salam hangat kepada Ibu ya, tolong sampaikan kepada Ibu, dan terimakasih banyak ya",- kataku.
Ini pengajuan pertemuan buat ke empatkalinya sejak tahun 1996. Dan padahal aku tahu betul bahwa Ibu T ketika itu ada di Jakarta, tidak keluar kota, karena dia memberikan kuliah tambahan kepada mahasiswanya, dan mahasiswanya ini ketika sorenya bertemu denganku menceritakan kuliahnya. Dan ada terasa dalam hati, jangan-jangan yang menjawab sebagai pembantunya itu, adalah Ibu T sendiri, karena kami belum pernah saling tahu suara masing-masing. Tetapi kutekankan pada diriku, janganlah terlalu cepat curiga, selalulah memandang yang baik, yang jelas dan jernih.
Dan, begitulah keadaan kenyataan yang kutemui selama di Jakarta dan Indonesia. Yang anehnya, barangkali yang gilanya, aku tak pernah bosan untuk datang ke Indonesia. Ada yang masih belum bisa menerima kami, atau aku, dan bahkan bisa menyakiti hati, mempermalukan kami atau aku. Tetapi sungguh tak ada rasa dendam padaku. Bisa dimengerti keadaan semua ini, terlalu lama kekuasaan Orba dulu itu mencengkamkan dan menanamkan kebencian, ketakutan, antara rakyatnya sendiri. Mengaduk-aduk, mengobok-obok, mengadu-domba antara kami. Yang termakan tentu saja terkena, yang merasa bisa mengatasi persoalan, cobalah berpikir jernih dan bening. Dan aku berusaha keras buat menekan perasaan yang selama ini ada dan terperam, agar tidak perlu lagilah menyuburkan kebencian dan permusuhan. Bukankah dunia ini akan bertambah jelas, jernih, terang benderang bila penghuninya saling dapat memahami persoalan dan perihal selama ini? Make the world clear, clean and happy.
Paris 6 April 2000,-
Semua kami yang ada di kotaku selalu menghormatinya, menghargainya sebagai seorang tua atau yang dituakan. Kami mengerti beliau ini adalah tokoh tua dalam sejarah pergerakan bangsa, dan cukup berjasa. Mungkin persamaan kami dengan beliau yalah sama-sama menanggung beban, beban sejarah perjalanan bangsa ini. Tetapi juga beban terhadapnya, terhadap diri beliau, karena beliau mungkin terlalu berat menanggung beban keseluruhannya.
"Jadi benar bapak berkunjung ke Suharto itu", tanya kami suatu ketika. "Lah, ya, bukan hanya itu, juga saya datang ke Habibi, Nasution, dan semua jenderal teman-teman saya dulu itu. Kan kamu tahu, saya ini orangnya Barnas, Barisan Nasional yang kebanyakan anggotanya adalah para jenderal. Dan saya merasa cocok di situ, sama-sama jenderal juga tokh?", katanya.
Maka sebagaimana kebiasaannya selama ini, bila beliau ini agak sedikit dipancing buat cerita "sejarah lamanya" dengan "mengunyah-ngunyah jasa lamanya" maka keluar dua tiga kalimat dari kita, akan berjawab ratusan kalimat dari beliau.
"Saya baru saja dari Nasution, Pak Nas, kan baru sekali ini saya ketemu setelah beliau diangkat jadi Jenderal Besar itu. Dan saya bawa gagasan saya buat kembali menegakkan aspirasi, spirit Angakatan 45. Yang masih hidup, kan sudah tidak banyak lagi, boleh dikatakan tinggal dua hitungan jari tangan kanan dan kiri. Antaranya ya saya ini, Pak Nas dan Pak Harto. Saya gagaskan agar kita kembali menegakkan semangat 45 dulu itu. Pak Nas, setuju, tapi dimintanya saya yang datang ke Pak Harto. Apalagi si Ucup itu percaya benar bahwa Pak Harto itu akan menurut apa saja yang saya katakan dan minta. Benar saja, Pak Harto tidak keberatan menandatangani gagasan yang saya keluarkan itu. Tapi sompretnya itu si Tutut, selalu saja turut campur. Dan Tutut mengatakan bahwa soal penandatanganan itu nanti saja. Bukankah Bapak sedang dalam pengurusan soal-soal yang diminta Jaksa Agung itu. Dan itupun belum selesai, jadi tunda saja dulu. Begitu Tutut campur tangan, lha, si babe kan nurut aja sama Tutut, maka gagallah penandatangan gagasan yang sudah begitu bagusnya saya susun."
Suatu kali beliau bercerita tentang bagaimana hebatnya, beraninya, luarbiasanya Angkatan Menteng 31 itu. Dan sampailah kepada teman-temannya se-angkatan. "Akh, itu Aidit, begitu lepas dari saya, maka nggak keruan dia itu, bisa gila dia. Bung Karno nggak bisa menundukkan dia, yang bisa menundukkan dia itu ya saya ini. Tapi kan saya tidak bisa ngendon terus di Jakarta, tugas saya kan menjabat Duta Besar, ya harus berangkat. Maka sesudah itulah ambruknya itu Aidit! Lepas dari saya betul-betul dia keblinger, seperti kata Bung Karno. Saya sudah katakan pada Bung Karno, mbok jangan saya, banyak pekerjaan dan tugas menghendaki saya harus di tanahair, carilah orang lain. Dan Bung Karno marah pada saya, beliau bilang ini keputusan dan perintah dari Pemimpin Besar Revolusi. Maka saya okey-kan".
Ketika ada seseorang yang mau menanyakan cerita-cerita tentang sekitar proklamasi dulu itu, ada kesempatan buatnya banyak berpropaganda. "Sudah baca belum buku saya, Menteng 31? Baca dong, atau minta sama teman yang punya. Mungkin di Jakarta sudah habis terjual. Angkatan muda sangat perlu membaca buku itu, agar tahu bagaimana perjuangan kami-kami dulu itu, penuh keberanian dan pengorbanan, tidak mementingkan diri sendiri. Orang-orang muda sekarang ini tidak seperti kami muda dulu, penuh semangat juang buat tanahair dan bangsa. Kalian,kini yang diingat bagaimana jadi kaya, punya banyak harta, punya pangkat yang tinggi dan akhir-akhirnya ya korupsilah! Yang diingat dan diperjuangkan hanya kepentingan diri sendiri, ya materialistislah!"
Kami semua pada pokoknya sudah membaca dua jilid buku itu. Dan ada yang berani mengatakan kepadanya, bahwa buku pertama itu penuh penjilatan dan cari muka pada Suharto, sedangkan buku keduanya, yang berjudul bagus, Menggugat, seolah-olah perbaikan dari jilid pertama, sudah berani menuding Suharto. Kata kami dalam hati, mungkin karena buku jilid pertama itu tidak diperdulikan oleh Suharto, maka beralih haluan, apalagi massa rakyat yang luas sudah mulai berani berkata apa yang dirasakannya, dan sealiran dengan jalannya gerakan rakyat yang menghendakai reformasi. Maka mau tak mau harus juga mengikuti aliran pokok dari gerakan batangtubuh rakyat yang luas, lalu ikut juga menuding dan menggugat Suharto.
"Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada teman-teman di Jakarta, sekaranglah waktunya untuk berembug, ber-rekonsiliasi-nasional, dan ini sangat sesuai dengan semangat persatuan yang didengungkan Bung Karno. Mari maju ke meja perundingan, kita bicarakan bersama-sama, persatukan kekuatan yang benar-benar menginginkan kesatuan dan kemajuan bangsa dan rakyat. Saya sudah berkali-kali menilpun Bang Ali, si Kemal, dan jenderal-jenderal di Barnas. Mereka saja tidak mau mendengarkan, nah, inilah akibatnya, terus saja ada soal, soal Timtim baru selesai, lalu soal Ambon, soal Papua-Irian, soal Aceh sudah betahun-tahun tak selesai. Makanya, kalau mau tahu apa isi kepala masing-masing, ya, mbok ketemu di meja perundingan, meja dialog! Ya, kadang-kadang saya nggak sabaran. Dan kalau sudah begini, benar-benar saya ingin pulang, terjun ke praktek langsung", katanya bersemangat. Dan paktua kita ini harus diakui, selalu bersemangat, selalu berapi-api.
Umurnya sudah 82 tahun, tapi masih tetap sehat. Dan sangat rajin bekerja. Dia mengerjakan apa saja yang sehari-hari pekerjaan restorannya. Dari belanja buat restonya sampai mengurus dan membersihkan kakus wc, dia kerjakan sendiri. Padahal dia sudah pernah operasi jantung; Karena rajin kerja badan begini, walaupun sudah berumur 82 masih tetap gagah sebagai orang tua.
Kalau dia kita beri pendapat, dia tidak akan marah dan tidak akan memaki kita. Beban kami kepadanya, sudah kami katakan, dia terlalu suka memuji dirinya sendiri. Dan semangat kesombongannya luarbiasa. Merasa sudah berjasa, merasa sedikit merendahkan orang lain, dan tetap "rindu pada jasa-jasa lama" lalu "mengunyah sejarah dan jasa-jasa lama". Merasa dirinya penting dan tidak akan beres kalau dia tidak turut dalam pekerjaan apa saja, teristimewa dalam mengurus negara dan rakyat. Barangkali ada kaitannya dengan masa dulunya sebagai Menteri Pengerahan Tenaga Rakyat. Lalu ketika masa Bung Karno dengan pangkat letnan kolonel, naik menjadi Mayor Jenderal (titulair) ketika masa Suharto. Soal keberanian, dan kecintaan pada tanahair dan bangsa, tak seorangpun yang meragukannya di antara kami. Dalam kepalanya benar-benar yang dia pikirkan hanyalah persoalan tanahair, sudah tentu ada juga soal lain, misalnya bagaimana agar rumahnya yang di Jalan Madura itu bisa kembali kepadanya. Kami kira pikiran itu tidak samasekali salah.
Kesombongan dan keangkuhannya minta ampun. Suka ngomong gede, dan tidak mengenakkan yang mendengar. Aku masih ingat ketika kami berdua dengan Mas Hersri mengantarkan seorang teman yang mau menginterviunya, kontan saja beliau menyapa : "Nah, bagaimana anak muda? Apa saja yang sudah kau kerjakan buat bangsa dan rakyat di tanahair kita? Apa saja yang sudah dan sedang kalian kerjakan buat kemajuan bangsa dan rakyat kita yang sedang terpuruk ini?", katanya dengan lepas dan enak saja. Padahal teman itu baru sekali ini berjumpa dengannya. Dan belum pula pernah berkenalan, baru dari buku-buku sejarah dan cerita dari mulut ke mulut. Sesudah kami ngomong-ngomong berjam-jam di restonya, teman itu tidak mengeluarkan apa-apa buat perlengkapan wawancaranya. Dan kamipun pulang setelah mendengarkan cerita-cerita kehebatannya, keluarbiasaannya, dan pujian-pujian pada dirinya sendiri. Kami tanyakan kepada teman itu, lho, kok nggak jadi mewawancarainya.
"Sudahlah, belum mulai, saya sudah nggak tahan mendengar ocehan pujian-pujian pada dirinya sendiri dan merendahkan orang lainnya. Lebih baik dibatalkan sajalah, efeknya akan jauh lebih baik", kata teman kami itu.
Orang tua tokoh yang satu ini barangkali merupakan sisa-sisa sejarah lama kita. Penuh beban-beban sejarah, penuh kemarahan dan ketidakpuasan, apalagi dulunya pernah jadi Menteri dan Dutabesar. Namun walaupun begitu, aku dan mungkin kami, tetap menghargainya sebagai tokoh lama yang turut aktive menyelenggarakan urusan negara dan rakyat. Soal beliau suka memuji dirinya sendiri, sombong dan angkuh, merasa sangat berjasa, tokh beliau sudah "mendapat pengajaran" dari teman-temannya di Jakarta baru-baru ini, pada sebuah rapat yang banyak dihadiri bekas teman-temannya, para jenderal dari Barnas. Beliau akan atau semoga merasakan bahwa pikirannya selama ini sudah sangat tidak cocok lagi dengan banyak teman-temannya sendiri, mungkin sudah ketinggalan. Orang-orang lain sudah pada maju, tetapi beliau, tokoh tua kita ini, masih mau mengganduli jasa-jasa dan sejarah lamanya. Aku hanya berharap, semoga beliau bisa mengubah diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang sangat jauh berubah. Semoga bisa mengikuti zaman dan irama sejarah yang sedang berjalan,-
Paris 8 April 2000,-
Ketika sepasang keluarga muda yang sempat menginap di rumahku dari lawatannya ke Irlandia dan akan ke Indonesia, kutitipkan kepadanya seberkas sajak-sajakku yang belum pernah dibukukan. Maksudnya minta bantuannya agar tolong dicarikan penerbitannya di Jakarta atau di mana saja, asal bisa diterbitkan. Setelah berbulan-bulan barulah ada beritanya bahwa kumpulan sajak itu akan diterbitkan, dan bagaimana buat selanjutnya, sebab kumpulan sajak-sajak itu sangat acak-acakan. Kukatakan pada teman yang kupercayakan mengurusnya, Oom Hadeo, agar teman-teman di Jakartalah yang menanganinya bagaimanalah baiknya. Apakah dibagi atas waktu penulisannya ataukah atas lokasi tempat terjadinya peristiwa sajak-sajak itu diciptakan. Ataukah atas masalah perihalnya. Semua ini kuserahkan kepada teman-teman yang mengurusnya melalui Oom Hadeo, termasuk juga siapa yang akan diminta membuat Kata Pengantar kumpulan sajak itu.
Hal ini bukan karena aku mau lepas tangan tak mau bertanggungjawab atas masalah teknis penerbitan itu, tetapi semata-mata mempercayakan kepada beberapa teman. Dan lagi bukankah orang lain akan lebih obyektif menilai tulisan dirikita daripada kita sendiri? Dan orang lain pandangannya akan lain dari kita sendiri sebagai "bapak dan ibu kandung" dari tulisan atau ciptaan kita sendiri itu. Atas dasar inilah aku mempercayakan semua itu kepada beberapa teman. Dan Oom Hadeo setuju atas pandanganku ini. Dan setelah bolak-balik dengan beberapa perbaikan, koreksi dan perbaikan ejaan, huruf dan lain sebagainya melalui e-mail, maka kata "fiat" dapat diputuskan dan akan masuk mesincetak. Tetapi ada hal yang aku betul-betul tidak memperkirakan dan tidak terpikirkan. Dan hal aneh sangat aneh, bukan kepada masalah kepada diri teman-teman itu, tetapi pada diriku sendiri, sampai ketika itu aku belum tahu nama judul buku itu. Mengapa tidak kutanyakan, mengapa lalu terlupa menamai judul buku itu. Walaupun kuserahkan sepenuhnya kepada beberapa teman, tokh tak ada salahnya aku seharusnya menanyakan apa nama judul buku kumpulan sajak itu.
Lalu segera ku-email Oom Hadeo. Katanya sudah agak rapi, sudah ada Kata Pengantar, dan dari seorang teman yang juga "pernah jadi penyair" dan penulis beken serta dulunya pernah berperanan penting, bahkan menjadi konsultan, bahkan ada yang mengatakan seseorang yang sangat dipercayai Mas Gun,- demikian pendapat banyak teman. Dan aku kenal betul teman yang akan memberikan Kata Pengantar itu, kenal sejak tahun 1960, artinya 40 tahun yang lalu. Dan aku setuju serta percaya kepadanya. Tetapi yang menjadi pertanyaanku justru judul kumpulan buku itu. Dan nama judulnya MENCARI LANGIT, dan katanya teman itulah yang memberikan nama judul itu, sekaligus memberikan Kata Pengantar.
Sampai di sini, lama sekali aku berpikir, darimana nama judul yang dia dapatkan itu. Rasanya tak ada sajakku yang berdjudul Mencari Langit, dan lagi terasa asing nama judul itu. Pada umumnya nama judul sebuah kumpulan buku, akan selalu diambilkan dari sebuah nama sajak yang ada di dalamnya. Dan dari situlah timbulnya keherananku, tak ada nama sajakku yang Mencari Langit. Mau bertanya langsung kepada temanku Am itu terasa tidak enak. Tetapi dibiarkan begitu saja mengawang dalam pikiran sendiri juga lebih tidak enak. Maka satu-satunya jalan, lebih baik lagi kuteliti satu persatu semua sajakku yang dimuat dan yang akan dibukukan itu. Diperiksa dan diteliti seluruhnya. Sebab tidak mungkin teman itu akan semaunya memberikan nama judul buat buku seseorang teman yang dia tahu kehidupan kepenyairannya.
Maka mulailah aku meneliti mengapa dia memberikan judul begitu, padahal tak ada sajakku yang berjudul demikian. Lama dan lelah juga mata mencari-cari sajak yang seonggokan, sebuku itu. Berkali-kali, berulang-ulang, maka bertemulah dengan kata "mencari langit" itu tetapi bukan sebagai judul sajak, melainkan kata-kata dalam sebuah sajak saja adanya. Demikian sebuah sajak tersebut :
Maka tahulah aku, dari kata-kata ini lalu diambilnya buat nama judul buku itu. Lalu dan kalau begitu aku tidak perlu heran lagi. Ada dasarnya, dan aku setuju dengan judul yang diberikannya itu. Tetapi yang aku herankan dan yang "kukagumi" pada temanku ini, begitu teliti dia memperinci persoalan kehidupanku dengan nama judul buku itu sendiri. Artinya dia tidak hanya begitu saja mengambil nama judul yang dipetiknya dalam kata-kata sajak itu, tetapi dia juga meneliti seluruh kehidupanku yang berliku-liku sepanjang puluhan tahun itu. Dan kebetulan diapun tahu jalan kehidupanku, termasuk almarhum isteriku yang dikenalnya sejak dari Medan, yang meninggal di Beijing tahun 1980. Jadi dan maka kloplah dia memberikan Kata Pengantar dan nama judul MENCARI LANGIT itu.
Membaca sajak ini, lalu teringatlah aku ketika itu, musimpanas tahun 1982, aku di Lure, tanah Perancis Timur yang penuh dengan bunga-bunga mewangi. Aku berjalan-jalan sendirian di tengah hutan yang sejuk terlindung rindangnya pepohonan. Aku tengah merenungkan bagaimanalah nasibku yang betul-betul tak tahu ujungpangkalnya, akan berapa lama terpaksa tinggal di Perancis ini, dan akan ke mana lagi sesudah itu. Semuanya gelap dan tak menentu, pokoknya bagaimanalah agar bertahan dulu sampai bisa pulang ke tanahair. Tengah aku merenungi nasib dan ingat kerinduan akan tanahair, terdengar kelepak burung balam, sangat jinaknya. Yang kalau ketika kami di Tiongkok dulu, sudah jadi sasaran tembak yang sangat empuk. Tetapi ini di Perancis, bukan lagi ada di dunia ketiga! Dan kami berdua balam itu betul-betul berdamai, dan aku menikmati bunyi suaranya, dan bunyi kelepakan sayapnya yang tengah menetapkan kehinggapannya di cabang dan ranting. Betul-betul "kami" berdua balam itu menikmati damainya rasa ingin berkenalan dan saling bertanya, tetapi yang ada hanya kesunyian, dan pertanyaan-pertanyaan itu terpaksa dijawab sendiri.
Seketika itu tersadarlah aku, bahwa "kami berdua" sama-sama ada di Perancis Timur, dekat perbatasan negara lain. Hanya kataku dalam hati, dia itu bagaimanapun balam, sedangkan aku kan manusia, masih perlu memikirkan nasib dan hari depan. Namun demikian, suasananya sangat nyaman, sepi, sunyi dan penuh dengan aroma haruman bunga-bunga dan bau daun-daunan, pepohonan. Suara-suara hanya ada bunyi kelepakan balam dan burung-burung lainnya, yang agak kurang kuperhatikan. Tetapi balam memang khusus kuperhatikan sebab sangat mengingatkanku pada balam-balam yang di kampungku, Belitung, yang puluhan ribu batu jauhnya dari tempatku ketika itu.
Maka terjawablah mengapa kumpulan sajak itu bernama Mencari Langit tadi itu, dan malah aku menjadi terharu, sebab sangat mengingatkanku akan "kami berdua" dulu itu. Penulis Kata Pengantarnya sendiri mungkin tidak tahu sejarah akan kenapa ada sajak itu ketika aku di tengah hutan Perancis itu dulu. Semoga terbaca jugalah olehnya kisah yang sangat sederhana ini,-
Paris 11 April 2000,-
Lure, Perancis Timur, Juni 1982,-
Di antara beberapa tujuan dan niatku datang ke Jakarta, Indonesia, antara lain yalah mencari buku-buku. Dan beberapa toko-buku yang kudatangi, aku mendapatkun buku-buku yang memang sudah lama kucari. Dan toko-buku itulah yang agak "menghabiskan" uangku. Kalau dituruti, bisa bangkrut, belum lagi kalau kelebihan timbangan batas bawaan seorang penumpang, maka juga turut menguras uang.
Di Holland ada sebuah pasar-malam yang setiap tahun diadakan di Den Haag. Namanya Pasar-Malam Tongtong. Kenapa dinamai Tongtong aku tidak menelitinya. Tetapi inisiatif pertama dulu yang mengadakan dan menciptakan yang sampai kini masih ada,- kalau tak salah yang ke 42,- adalah Tjalie Robinson, seorang peranakan Belanda-Indo. Tjalie Robinson juga adalah seorang seniman yang banyak mengetahui tentang Indonesia. Boleh dikatakan dia adalah seniman segala rupa, bercabang banyak, banyak tahu musik, tarian, sastra, dan ada beberapa lagi. Dan pecinta budaya adat Indonesia. Karena itu banyak yang menamakan Pasar-Malam itu adalah nostalgia Tempo Doeloe. Dulu Pasar Malam selalu diadakan di Gambir - Batavia, namanya Pasar Malam Gambir, sekitar Lapangan Banteng yang luas.
Nah, dalam pasar-malam yang biasanya diadakan setahun sekali ini, sangat banyak didatangi para pengunjung dari seluruh Holland, bahkan dari Eropa Barat. Lamanya antara 7 sampai 10 hari. Isi pasar-malam itu berbagai rupa yang sifatnya ke-Indonesia-an. Kerajinan tangan Indonesia, batik, patung-mematung, makanan dan minuman, buah-buahan Indonesia, seperti nangka, durian, cempedak, dan pertunjukan budaya, seperti wayang golek, wayang kulit bahkan wayang orang. Semua ini antaranya didatangkan dari Indonesia. Keroncongan dari tahun 30-an dapat dilihat dan disaksikan di pasar-malam ini, lengkap dengan lagu-lagu setambul duabelasnya. Pokoknya pasar-malam ini menggambarkan semua hal-ihwal ke-Indonesia-an, adat-budaya, kesenian, makanan, dan pertunjukan. Dan seperti juga ketika setiap aku ke Jakarta, pasar-malam inipun tak pernah kulewatkan. Sasaran utama yang sangat langka dan yang kucari-cari adalah : buku! Dan buku-buku sastra-budaya.
Banyak buku-buku yang di Indonesia dilarang, yang tidak ada lagi, di pasar-malam ini terkadang selalu ada saja. Beberapa buah buku yang kudapatkan di pasar-malam Tongtong ini sudah tak terdapat lagi di toko-buku di Jakarta, sudah lama tak dijual lagi, atau sudah habis, atau dilarang. Buku-buku yang ada dijual di toko-buku di pasar-malam inilah yang cukup banyak "menghabiskan" uangku. Perkara makanan memang juga punya peranan penting, tetapi perut kan terbatas isinya. Sedangkan nafsu membeli buku tak terbatas pada perut tapi pada isi kantong. Nah, jadi ada dua sasaran buatku memburu mencari buku, yang di Holland setiap tahun sekali itu, dan ketika datang ke Jakarta.
Di Jakarta sudah tentu sasaran pokoknya di toko-buku Gramedia, atau toko buku lainnya yang banyak menjual buku sastra-budaya Indonesia. Di Tim juga ada sebuah toko-buku kepunyaan seorang penyair masakini, juga banyak sekali buku yang patut kita baca dan punyai. Lalu di Utan Kayu yang lokasinya sangat strategis, sebab di kompleks itu yang juga dinamai TUK, Teater Utan Kayu, sebagai persinggahan para seniman, budayawan dan ilmiawan. Juga di kompleks ini ada beberapa kantor redaksi majalah-majalah penting budaya-sastra seperti KALAM, dan penerbitan lainnya. Dan enaknya di TUK ini juga ada warung yang kecil-mungil tetapi sangat menyenangkan dan menarik, sebab susananya sangat kekeluargaan - familiare.
Di toko-buku itulah aku juga sering mencari buku-buku yang kuperlukan. Sambil menunggu janji ketemu seseorang teman atau janji dengan relasi lainnya, maka kita bisa masuk toko-buku yang ada di situ.
Suatu kali memang aku bermaksud mencari majalah Kalam, majalah khusus tentang sastra-budaya. Banyak sekali buku-buku yang memang sudah lama kucari, buku-buku penerbitan lama dalam cetakan yang kesekian. Sudah lama terbit tetapi belum pernah kubaca, seperti tulisan Kuntowijoyo KHOTBAH DI ATAS BUKIT. Buku ini dapat hadiah pada zamannya, kini sudah pada cetakan yang kesekiannya. Penulis ini banyak menulis cerpen, novel, novellette yang bagus-bagus dan pernah berturut-turut selalu dapat hadiah karena tulisannya terbaik. Aku termasuk seorang pengagumnya, sangat menyukai tulisannya.
Juga banyak buku-buku yang tak pernah kita lihat dan kita baca iklannya di suratkabar atau di majalah, tetapi ada di toko-buku ini. Terkadang pusing juga dibuatnya, sebab sudah dipegang dan sudah mau dibayar, tetapi ada lagi buku lain yang mungkin lebih menarik. Lalu lepaskan lagi, mengingat isi kantong sudah mau cekak! Dan aku meratai lagi ke bagian lain. Tak terasa akan bertemu "dengannya" dan agak kaget, ada sebuah buku kumpulan sajak yang namanya MENCARI LANGIT. Dalam hatiku, apa betul dia? Kupegang, kubalik-balik, dan memang betul, dialah itu.
Seperti dalam baris sajak yang di dalamnya, "ada juga kau di sini, apa yang kau cari? mencari langit?", kataku mengingatkan diri sendiri dengan perjumpaan buku itu. Tetapi dalam hati ini selalu ada pertanyaan, apakah ada orang yang mau membelinya? Sekarang kira-kira ada enam buku jumlahnya. Apakah dulu mula-mula juga enam buku ketika dipajang pertama? Ataukah ada yang sudah terjual? Aku tahu benar, buku apa saja kalau tentang puisi, kumpulan puisi, tidak akan banyak laku! Penggemar buku puisi itu sangat sedikit, dan sangat sulit buat laku. Barangkali hanya W.S. Rendra yang buku kumpulan puisinya sangat laku, sehingga dicetak-ulang berkali-kali. Dan kalaupun ada penyair lain yang bukunya sangat laku, maka jumlah orangnya takkan banyak, paling-paling hanya hitungan sebelah tangan saja.
Karena itu aku tidak punya ilusi buat memperkirakan bahwa buku itu akan laku, dan ada yang mau membelinya. Mana ada orang suka puisi sehingga mau membeli buku puisi, begitu pikirku selalu. Dan lagi-lagi kuperhatikan letak buku tersebut, dan kuperhatikan orang-orang yang ke luar-masuk, tak seorangpun yang tertarik dan mau membelinya. Rupanya penjaga toko-buku memperhatikan gerak-gerikku, yang mungkin bisa mencurigakan, atau mau membantu mencarikan buku yang mungkin sudah lama kucari-cari. Penjaganya seorang wanita muda itu mendekatiku, lalu bertanya apa yang bisa dia bantu. Baik juga pikirku penjaga yang satu ini. Karena itu sudah kepalangtanggung berdialog, teruskan sajalah : "Dik, numpang tanya ya, boleh?" "Ada soal apa pak?", katanya ramah. "Ini, buku ini", kataku sambil menunjuk Mencari Langit,-"Ada nggak yang laku. Apa ada orang yang membelinya selama ini", kataku ingin tahu. Rupanya pertanyaanku itu lama sekali dipikirkannya, dan tampak dia tidak begitu bersenanga hati. "Apa maksud bapak bertanya begitu?", katanya agak curiga. "Ndak, saya hanya mau tahu saja, sebab orang kan sangat jarang suka buku puisi. Benar nggak perkiraan saya, tentu adik kan tahu selama ini", kataku lagi. "Yang saya tahu, selalu ada saja orang yang membeli buku apa saja, ya, termasuk buku ini", katanya sambil menunjuk buku itu. "Malah yang saya ingin tahu, kenapa kok bapak tanyanya secara begituan. Seakan-akan buku-buku yang kami jual ini, termasuk puisi pada nggak laku. Ada-ada saja pak yang beli dan mau beli", katanya menegaskan.
Rupanya pertanyaanku tadi benar-benar menjadi kecurigaannya, sehingga kalau diteruskan dialog ini akan naik ampernya, bisa-bisa tidak baik kesudahannya. Karena itu aku memutuskan lebih baiklah berterusterang saja. "Begini dik, maafkan saya, tadi saya bertanya begitu karena saya kuatir kalau-kalau buku ini nggak laku barang satupun! Mengapa saya kok ada keperdulian menanyakan begitu, karena sayalah yang menulis buku ini", kataku. Lalu dia mengawasiku lama sekali, dan tampak ragu-ragu apakah dia akan percaya. Rupanya Tuhan sedang menolongku, seseorang yang kutunggu masuk ke toko-buku itu. Dan teman ini adalah yang bekerja di TUK ini, dan mengenal semua pegawai toko-buku itu. Kulihat penjaga wanita itu bertanya kepada teman yang berjanji denganku itu. Dan tampak sekarang langit itu jernih dan gembira, lalu menyodorkan buku itu minta agar aku menandatanganinya, sebagai penulis buku tersebut. Rupanya dia sendiri memiliki buku itu, atau baru saja dibelinya, akupun tak tahu.
"Bapak kok tanyanya ada-ada saja sih! Maafkan ya pak kalau saya tadi itu agak kurang ramah", katanya. "Bukan adik yang harus minta maaf, tetapi sayalah yang tanyanya usil dan nggak sopan. Tentu saja pemilik toko-bukunya akan marah dong!", kataku berusaha mencairkan rasa kebekuan yang tadi. Ketika aku ke luar toko-buku, kami bersalaman, kebekuan tadi sudah mencair, dan kini siapapun yang mencari langit, akan dapat terlihat, langitnya jernih, awannya putih, hatinya bersih,-
Paris 12 April 2000,-
Ketika aku ada di Jakarta, setiap hari selalu ada saja acara yang cukup padat. Baik acara yang diacarakan, direncanakan, maupun acara dadakan, yang sebenarnya diluar acara. Salah satu diantaranya, tak tahu aku namanya, tetapi menyangkut perasaan, menyangkut "pengamanan perasaan" dan dengan tilpun atau datang sendiri ke obyeknya.
Aku punya kenalan yang kami sudah saling menganggap keluarga sendiri. Benar juga kata peribahasa, orang yang baik terkadang bisa menjadi keluarga yang dekat, bahkan lebih dekat dengan keluarga yang sebenarnya ada pertalian darah. Dan perkara inilah yang mau kuceritakan.
Keluarga ini kurasakan sangat dekat dengan kami. Sekeluarg tiga orang. Seorang Ibu dengan dua anak gadisnya, yang ketika kami mulai berkenalan dengan keluarga ini, dua anak gadis ini sudah berumur dewasa, dan bahkan sudah berkali-kali ganti pacar, dan itu bukannya cacat-cela benar, adalah biasa, apalagi kalau para pembaca mengikuti alur cerita keadaannya.
Kami mengenalnya sejak tahun 90-an, yang ketika itu kakaknya berumur sekira 25-an dan adiknya 20-an. Ketika keluarga ini ke Paris, di rumah kamilah mereka menginap. Dan di rumah inipun, si adik yang bernama Mira, sudah menumpahkan air-pahit penderitaan hidupnya kepadaku, sebagai Oomnya yang dipercayainya. Dan sudah wajar kalau dia menangis tersengguk-sengguk. Dan keluargaku lainnya yang tidak mengerti, bertanya-tanya, ada apa ini, belum apa-apa kok sudah menangis. Dan aku belum menceritakannya secara detail.
Perkenalanku dengan Mira, serta mama dan mbakyunya, kebanyakan hanya kesedihan yang paling banyak kuterima dari alur-alir kehidupan Mira. Sebenarnya kakaknya, Lisa itupun sama juga halnya. Hanya Lisa pandai membawakan hidupnya, dan pandai berkelit memainkan peranan kehidupan yang seirama dengan dirinya, pandai hidup, pandai membawakan diri.
Apa soal? Persoalan anak muda, apalagi kalau bukannya cinta-asmara. Dan aku seperti biasa kami katakan antara kami, menjadi poubelle kata orang Perancis, keranjang-sampah, buat penumpahan kesedihan dan segala yang menyakitkan hatinya. Tentu saja poubelle di sini dalam pengertian baik, artinya yang sedia dan dengan rela menerima tumpahan perasaan. Bukankah ini artinya suatu kepercayaan? Mana ada orang mau menumpahkan kepercayaannya kalau tempatnya itu tidak bisa dipercayai, ya kan?!
"Oom", kata Mira suatu kali kepadaku dalam tilpun. "Agar Oom juga tahu, saya selalu merasa enak, dan beban terlepaskan bila Oom mau mendengarkan keluh-kesah saya dalam lautan kehidupan ini. Apalagi Oom turut memikirkan dan memberikan solusi bagaimana baiknya saya harus menjalani kehidupan ini. Terutama dalam perkara yang sedang saya hadapi ini", katanya dulu sekali. Lalu karena itulah aku menjadikan diriku sebagai orang pengayom, pengasuh, penentraman perasaan, karena orang itu sendiri mengharapkan begitu, dan kulihat nyatanya juga begitu. Dan sejak itulah aku merasa berkewajiban buat meneruskan "pekerjaan" yang bagaikan pendeta atau Oom spiritual.
Mira berwajah cantik, sebagaimana kakaknya, Lisa, juga cantik. Dua-duanya gadis ini cukup cantik, bahkan boleh dikatakan banyak menjadi rebutan anak-anak muda. Tetapi pertanyaanku yang paling besar dan sampai kini belum tuntas terpecahkan, mengapa gadis secantik itu kok susah amat dalam menemukan jodohnya. Sampai-sampai doaku kepada Tuhan, aku pernah mengatakan begini : " Ya Tuhanku, tolonglah Kau temukan jodoh Mira yang sesungguhnya. Sering sekali dia harus menemui kegagalan dan sakithati dalam perjumpaan dengan pria yang dicintainya. Dan sering sekali dia terbenam bahkan hampir tenggelam dalam lautan kesedihan dan sakithati. Tuhanku, selamatkanlah dia Tuhanku, ampunilah dosanya, dan bahagiakanlah dia Tuhanku", beginilah sering-sering aku berdoa buat Mira.
Suatu kali aku menilpun Mira, tetapi jawaban dari ibunya sangat mengejutkan. Mira ada di rumahsakit S, karena tiba-tiba pingsan tadi pagi katanya. Dan aku terpaksa membatalkan acara sehari-hariku. Kuanggap menjenguk dan mengamankan perasaan Mira jauh lebih penting, dan ini bukan main-main.
Sampai di rumahasakit, Mira sudah siuman, dan sesudah diberi suntikan glucose, tampaknya agak mendingan. Begitu aku datang, lagi-lagi tangisnya terkeluarkan dan isakan sesenggukannya bebas hambatan. Kubiarkan agar berhabis-habis tuntas, agar lalu mendapat ketenangan. Bukan main kurusnya anak ini, wajah yang dulu begitu berseri, pipinya yang selalu memerah tomat, dan bibirnya yang selalu basah bila berbicara, kini redup, bagaikan pelita yang hendak padam. Kupeluk sayang dia, dan aku tahu benar, dia memerlukanku berlaku demikian. Dan tangisnya dipuaskannya. Benar, tak lama kemudian keadaan menjadi berangsur tenang. Dan dia sudah mau bercakap-cakap.
Dia pingsan karena terlalu lelah dan letih. Kurang tidur, banyak pikiran yang menerawang, dan karena tidak mau makan sudah berhari-hari. Dan ini yang sangat tidak membantu, merokoknya luar biasa, dari mulutnya seperti keluaran asap lokomotiv. Ibunya selalu menangisi anak gadisnya ini. Ibunya sangat bersedih, dan pernah mengatakan padaku, tolonglah Mira bagaimana kesanggupan bapak buat membantunya, katanya suatu kali. Dan juga baik Mira maupun ibunya menyatakan minta maaf dan berterimakasih atas bantuanku. Tentu saja aku berbuat demikian dengan perasaan sejujur dan seikhlasnya, bagaimanapun antara kami sudah serasa satu keluarga.
Dalam pada itu, kehidupan keluarga ini, tinggal lagi dua orang di rumahnya di Kebayoran. Mbakyu Mira, Lisa, sudah pindah ke London, mengikuti suaminya seorang yang masih berteteskan bangsawan Inggris. Kisah Lisa-pun tersendiri dengan jalur dan alur yang berbeda, kenapa sampai di Inggris, tetapi tetap ada persamaan, nasib peruntungan karena jodoh juga adanya.
Suatu petang, di mana aku datang ke rumah Mira buat memenuhi janji akan menemuinya, dia menegaskan lagi mengapa terakhir ini putus lagi hubungan dengan pacarnya yang hampir saja sudah mengeluarkan surat undangan pernikahannya baru-baru ini.
"Coba Oom bayangkan, tanggal 28 Desember dia belum mengatakan apa-apa, masih biasa-biasa saja. Dan saya dengan semangat dan hati yang senang, tetap berpendirian bahwa kami akan menuju pernikahan. Orangtua kami masing-masing sudah pada setuju dan siap-siap. Ee tanggal 30 Desember dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima kehidupan nyata saya yang saya sudah ceritakan itu", kata Mira kepadaku.
"Mir, maafkan, saya mau tanya, semoga kau tidak marah, dan sedia terusterang", kataku mau tahu. "Apa yang kau maksudkan tidak bisa menerima kehidupan nyata saya yang sudah kau ceritakan itu"? "Biasa Oom, soal klasik dan bahkan kuno dan usang. Bahwa kami ini, ayah saya adalah bekas tapol, dan kami keluarga yang dipencilkan. Sangat sulit cari kerja, sulit masuk ke pergaulan umum. Keluarga yang dulu dekatpun menjadi jauh, orang-orang menghindari kami. Dulu kan sudah saya ceritakan pada Oom, ketika saya sedang kiprahnya mengajar anak-anak balet dan tarian klasik di sanggar Darma, tahu-tahu setelah diketahui saya ini siapa asal keluarganya, saya dapat surat PHK. Maka habislah hubungan saya dengan murid-murid saya yang baik-baik dan manis-manis itu", demikian katanya.
Memang ayah Mira adalah bekas tapol, meringkuk bertahun-tahun di penjara. Dan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Mbakyu-nya Lisa, pernah menjadi wartawan suratkabar terkenal yang beroplah besar. Dan setelah tahu siapa asal keluarganya, yang "tak bersih lingkungan", juga dipecat. Dan ketika sedang jadi wartawan radio, dan mengajukan permohonan masuk PWI, juga terkena litsus tersendiri, dan juga ditolak bahkan oleh Pemimpin Redaksinya "dianjurkan" agar mengundurkan diri sebelum dipecat secara kontan!
"Bukankah soal yang dulu-dulu kau ceritakan masa lalumu itu, sudah sangat lama kan, Mir", kataku menyeling. "Ya, dan sudah ada jedah beberapa minggu malah, lalu tiba-tiba dia putuskan tidak bisa menerima masa lalu saya, dan putus hubungan begitu saja, habis, titik",-kata Maya dengan perasaan tertekannya.
Lama kupikirkan perkara Mira ini. Sebab yang kuketahui saja setelah aku mengenalnya, Mira sudah tiga kali dengan ini berpacaran, dan selalu sudah mendekati akhir ketetapan berumahtangga, lalu tiba-tiba putus tak menentu. Dan pihak yang memutuskan selalu ada pada pihak prianya. Soalnya sama, tidak bisa menerima Mira sebagai keluarga "tidak bersih lingkungan" dan "tidak bersih diri", terutama bapaknya yang tapol itu walaupun sudah lama almarhum.
Karena perkara ini sangat dekat dengan perasaan kekeluargaan, maka akupun turut memikirkan bagaimanalah sebaiknya Mira ini. Tetapi aku hanya bisa berdoa saja, dan berharap dengan beberapa nasehat. Nasehatku selalu didengarkan, bahkan dituruti. Karenanya akupun harus berhati-hati, begitu salah nasehat, salah jalan, maka akulah yang bisa langsung dianggap bertanggungjawab. Seperti masalah jalannya kehidupannya ini. Dulu dia sangat asyik dengan bergabung dengan teman-temannya di IKJ - Tim, berkesenian, naik-panggung, mencipta, main-drama, ikut aktive dengan Tim dan IKJ. Tapi akibat itu jarang pulang ke rumah, dan kuliahnya di Atmajaya jadi berantakan. Dan ibunya merasa sangat kesepian di rumah, tak ada yang menolong sehari-hari di rumah.
Lalu Mira minta nasehatku bagaimana sebaiknya. Dan kukatakan pendapatku, karena kuliahnya di bagian Hukum Perdagangan di Atmajaya tinggal setahun, maka lebih baik dirampungkan dengan sungguh-sungguh, tokh tinggal persiapan membuat inskripsinya saja. Dan dia mau menuruti nasehatku yang tadinya hampir saja dia mau mulai kuliah di IKJ dari mula-mula, awal tahun. Ini rugi, kataku, kau mulai dari nol lagi, sedangkan di Hukum Perdagangan itu tinggal setahun, lebih baik dirampungkan setuntasnya. Dan benar saja, hanya setahun dia kerja, belajar mati-matian, dia dapatkan gelar SH dari univ. Atmajaya. Mbakyunya Lisa juga sarjana UI bagian Politik dan Pengetahuan Sosial, salah seorang mahasiswa andalan profnya Yuwono Sudharsono yang mantan menteri itu. Tetapi Lisa ternyata lolos dari lobang jarum kehidupan yang sempit-gelap yang dialami rata-rata kehidupan keluarga tapol. Dan dia melesat ke jagad lain, Eropa Barat, "dapat pula menggondol bangsawan Inggris itu", beruntunglah dan sukurlah.
Jadi andil perjalanan alur dan alir kehidupan Mira, akupun merasa harus bertanggungjawab atasnya. Dan apalah salahnya kalau aku seharusnya memperhatikan kehidupan keluargnya, khusus buat Mira yang selalu saja gagal dalam percintaan, padahal menurut mata-hatiku, apalah cacatnya Mira itu. Orangnya cantik, menarik, pandai bergaul, pandai berkesenian, pandai kerja, bahkan pandai mencari hidup. Tetapi selama ini selalu gagal dalam percintaan, dan cukup menyakitkan, yang dalam hatiku selalu berkata, apa sih dia kurangnya, segala dia ada dan bisa, tetapi ternyata menemukan jodoh dia sangat sulit,-
Paris 13 April 2000,-
Yang aku tahu saja, dengan kejadian ini, percintaan Mira dengan pacarnya adalah yang ketiga. Yang pertama katanya dengan teman dekatnya yang sama-sama aktive di IKJ dan Tim. Pemuda yang berasal dari Sulawesi Selatan, orang Bugis. Mengapa sampai putus? Selalu yang menderita ada di pihak Mira. Katanya Mira selalu dipukuli, sering main tangan, dan perilaku yang tidak semestinya sebagai sepasang orang yang sedang berkasih. Dan juga Mira selalu dibohongi, dan ibarat kata lama, Mira sering diduakan. Artinya pemuda itu punya lagi kekasih lainnya, yang pada akhirnya diketahui Mira, bahwa diam-diam dia dijadikan yang kedua. Tentu saja Mira sakithati dan sangat sedih.
Dan mendengar kisah-kisah ini, terkadang akupun ada juga kejengkelan. Karena walaupun sudah diperlakukan demikian, sebenarnya Mira masih juga mencintai pemuda Bugis itu. Dan aku mengatakan pada Mira, "kalau sudah begitu pasalnya, mengapa lagi kau harus mencintai orang itu?", kataku agak campurtangan.
"Lalu apakah dia tahu ’masa lampaumu’ dulu-dulunya?", kataku menanyakan. "Tahu, dan siapa tahu karenanya kalau sampai pada pernikahan, tampaknya dia akan lama berpikir, sebab kaum kerabatnya banyak yang menjadi tentara dan pejabat di pemerintahan". "Bagaimana kau dapat memastikan atau memperkirakan bahwa dia ragu menikahimu?". "Dia pernah berterusterang, kita berkenalan saja walaupun rapat, tetapi tidak usahlah memikirkan pernikahan. Kau kan tahu tentang kaum keluargaku, dan merekapun tahu juga tentang keluargamu. Mereka kuatir akan kehilangan keududukan karena aku menikah denganmu. Kukira wajar saja ada kekuatiran begitu, termasuk diriku, tidak mungkin bisa berkembang maju lebih dari yang sekarang. Sebab semua posisi untuk maju selalu terhambat oleh litsus tentang "bersih diri dan bersih lingkungan", begitu dia pernah berkata.
"Mira", kataku dengan menahan kesabaran. "Tahu tidak kamu bahwa pernyataannya itu sendiri sudah menyatakan keraguan buat menikahimu, dan Oom tidak sangat yakin bahwa dia mencintaimu dengan sepenuh hati. Malah kamulah yang sebenarnya sangat mencintainya, yang padahal dia menduakanmu, katamu. Untunglah dan baguslah kalau kamu kini putus dan menjauhinya", kataku.
Dan percintaan kedua, aku mengikutinya. Karena ketika aku ke Jakarta tahun 1994 Mira dan pacarnya ini yang selalu membawaku ke mana-mana, dan banyak kesempatan buat omong-omong. Pemuda inipun orang sekeliling IKJ dan Tim juga, dan mengenal pacar Mira orang Bugis itu. Pemudanya ganteng, besar gagah, atletis, secara badaniah, tampaknya sangat cocok dengan Mira. Dalam hatiku ketika itu, nah, yang ini kira-kira jadi nih.
Tahu-tahu macet lagi, dan sekali ini selain mungkin soal yang klasik dulu-dulu itu ada persoalan lain agama. Pemuda itu Islam, Mira Katolik. Keluarganya menentang mengambil gadis Katolik apalagi ada berbau kiri. Dan pada akhir cerita, putus lagi. Dan Mira menderita lagi. Dan aku kesal lagi memikirkan, kenapa Mira yang sebenarnya bisa memegang posisi kunci, karena cantiknya, karena pintarnya, karena baik hati dan ramahtamahnya, karena pandainya bergaul dan membawakan diri, selalu saja gagal dalam percintaan dan selalu menderita siksaan hati dan batin. Sebagai kedekatan rasa kekeluargaan, aku sebenarnya agak marah dan merasa tidak enak, merasa sedikit direndahkan oleh dua kali percintaan dengan pemuda-pemuda itu.
Dan yang kali ketiga ini, aku tidak mengikutinya secara dekat, tetapi Mira selalu mengatakan dan menceritakan padaku. Mira terkadang sangat manja padaku. Dan aku mengerti, sejak kecilnya dia sangat kurang bergaul dengan ayahnya. Baru mau besar, ayahnya sudah meninggal. Tak sempat menikmati kasihsayang seorang ayah. Mereka bertiga sangat saling dekat. Dan begitu mbakyunya menikah dengan bangsawan Inggris itu lalu pindah ke London, dia bertambah kesepian. Hanya berdua dengan ibunya, dan seorang pembantu.
Rumahnya terletak di tengah perumahan orang-orang Islam, dan mereka sangat terpencil dan juga ada faktor pemencilan, ditambah lagi ada jarak antara keluarga Mira dengan para tetangganya. Karenanya mereka terkadang merasa terpulau di tengah karang-karang tajam, yang tampaknya selalu menganga. Suatu kali ketika mereka ke luarkota, rumahnya pernah kemasukan maling. Dan banyak sekali barang-barang yang agak berharga hilang diangkuti ’dengan aman’ oleh maling itu. Dan mereka tidak berani melapor. Karena mereka tahu, kalau melapor pasti akan berkepanjangan, dan bisa-bisa akan lebih banyak lagi yang akan hilang, dan siapa tahu, kalau sedang sial, mereka sendiri kena batunya!
Ketika kukatakan pada Mira, kalau dia memerlukanku, tilpun saja kapanpun, dan jangan merasa segan dan tidak enak. Kukatakan aku merasakan kedatanganku ke Jakarta antara lain mau dekat denganmu dan mama. Pernyataan ini saja sudah merupakan obat dan kekuatan buat Mira. Dan aku merasa sangat bersenang hati, dapat meringankan beban orang lain, betapa bahagianya.
Hampir setiap hari atau malam aku menilpun Mira atau Mira menilpunku menyatakan bagaimana keadaan dirinya. Suatu malam Mira menilpunku agar kalau mungkin apakah aku dapat datang ke rumahnya. Ini pertanda, artinya kesehatannya kurang baik, dan aku melesat dengan taksi menuju Kebayoran. Kulihat dia dipembaringan. Dia memang sedang menungguku. "Maaf yang Oom ya, Mira sengaja menilpun agar Oom bisa datang. Mira selalu menyusahkan ya, maafkan sekali lagi", katanya.
Kuamati dirinya. Masih agak pucat dan kurus sekali. Kupegang tangannya dan kucari jarinya yang sudah kuning itu. Merokoknya sangat keterlaluan, dan itu menandakan dia sedang sangat kusut. Lalu batuknya menjadi-jadi, dan nafasnya turun-naik menahan desakan paru-paru dan jantung. "Kau harus mengurangi rokokmu, Mir", kataku. "Ya, Oom, tapi kalau pikiran sedang suntuk, mulut juga menagih terus buat merokok". "Yah tapi kan nggak boleh dituruti kemauan yang tidak baik buat kepentingan kesehatanmu. Kesehatan bagimu sekarang ini yang paling pokok. Kalau kau sudah sakit, banyak yang menderita, tidak hanya kamu, tapi juga mama dan mbak Lisa, sebab pasti akan ada pengaruhnya, bahkan juga buat Oom sendiri", kataku. Dan banyak lagi dia ngomong yang dia peram dan tahan selama ini. Kubiarkan diriku menampungnya, di mana sekali-sekali memotong buat meluruskan pikirannya yang tidak menguntungkan dirinya dan jalan kehidupannya. Aku sangat minta dan berharap kepadanya agar dia melupakan semua yang sudah lalu dan cobalah memulai yang baru. Dia mengatakan akan mencobanya. Dan aku sangat merasa gembira, lalu kupeluk dirinya erat-erat. Terasa dadaku basah. Airmatanya sejak tadi yang terbendung kini melancar mengalir. Dan kubiarkan dia, biarlah menangis sejadi-jadinya, lama-lama juga akan ada hentinya sendiri.
Ketika pagi-pagi hari baru saja jam 06.°° sudah ada lagi tilpunnya. Sekali ini ternyata bukan keluhan, tetapi tekad dan niat dan semangat. Dia katakan pembicaraan kita tadi malam sangat berarti, dan dia bertekad buat bangkit. Dia berusaha buat sehat dan kuat, lalu mulai lagi mencari kerja dan kehidupan baru, dengan kualitas baru. Ada tekad begini saja sudah sangat baik. Dan aku menambahkan, "kalau kau sehat, sembuh dan kuat, Oom kan dengan tenang dan merasa aman bisa pulang ke Paris lagi. Tapi kau harus janji, sementara ini janganlah memikirkan kegagalan yang baru-baru ini. Boleh dipikirkan buat benteng untuk tidak mengulanginya lagi. Dan berusahalah ’mencari’ yang tidak punya banyak soal, tetapi itupun bukannya sekarang.
Betul adanya. Mira selalu saja bertemu secara kebetulan dengan orang-orang yang selalu punya soal kebencian dan anti ’kaum kiri’ dan takut akan ’lingkungan dan diri yang tidak bersih’. Secara iseng pernah kutanyakan pada anakku Nita, karena dia juga tahu persoalan Mira dan keluarganya, dan apalagi dia sedang mendalami "ilmu pintar spiritual". Dan Nita mengatakan, Mira kenapa selalu saja nyangkut dengan pemuda yang anti-kiri dan komunisto-phobi. Dia akan sukses kalau ketemunya itu dengan yang tidak takut dan yang berani bercinta, yang berani bertanggungjawab, berani mengambil alih haluan dan kemudi-kehidupan. Mbakyunya juga berkali-kali gagal, karena ketika itu pemuda yang dicintainya kebetulan anaknya jenderal. Tentu saja penghalangnya akan berjibun. Tapi segera Lisa mengubah haluan dan banting setir, dan akhirnya sanggup ’menggaet’ turunan bangsawan dan pedagang pula!
Aku dari jauh, hanya bisa berdoa dan berharap agar kehidupan Mira bisa berubah. Sekali ini dan nantinya semoga jadilah, ya Tuhanku, pertemukanlah jodoh Mira dengan tuntunanMU dan berkaMU. Sudah terlalu banyak dan terlalu lama dia disakiti hatinya oleh kegagalannya dalam bercinta. Padahal menurut fisiknya saja, tidak sedikitpun cacat Mira, malah sampai kini tetap bisa bila dikatakan dia itu adalah bunga semerbak, cantik-menarik. Ternyata orang tidak cukup hanya dari pihak wajah fisik saja, tetapi juga dari pihak politik.
Paris 14 April 2000,-
Karena ayah menjadi mantri Kehutanan, Boschwezen, maka rumah kami juga terletak di pinggir hutan. Sebenarnya tak jauh dari kota hanya 6 km saja. Tetapi maklumlah pada masa baheula, baru begitu saja jaraknya sudah terasa jauh. Lagi pula pulau kami, Belitung kan kecil, jadi pandangannyapun mungkin juga tak besar-besarlah. Seseorang yang mau bepergian yang jaraknya baru saja puluhan kilometer, rasanya dia itu sudah mau merantau begitu jauhnya, padahal masih dalam satu pulau. Dari satu ujung ke ujung yang lain, barat dan timur, selatan dan utara, tak sampai 100 km. Jadi cukup kecil, dengan penduduknya dulu itu sekitar 60.000, dan kini tahun 2000 ini, tak sampai 160.000.
Di rumah kami, rumah dinas pemerintah Belanda waktu itu, sebagai pejabat kantor Kehutanan, tentu agak besar bila dibandingkan dengan rumah penduduk yang tak jauh dari rumah kami. Semua sangkutan pakaian di rumah kami, selalu terdiri dari cabang-cabang tanduk rusa. Kepala rusa yang sudah diawetkan itu, dan sudah sangat keringnya, bertanduk, bercabang sampai 8 cabang. Dan dengan cabang-cabang tanduk itulah kami menyangkutkan pakaian dan yang pantas disangkutan. Juga kalau para tamu sedang bertamu, bisa menyangkutkan sesuatu di tanduk kepala rusa itu.
Ini menandakan juga ayah adalah seorang pemburu, hobbynya memburu. Dan kalau sudah keranjingan memburu, berhari-hari dan adakalanya tidak pulang. Tapi begitu pulang diiringi "para pengikut dan pengawalnya", sebab membawa banyak hasil buruan, rusa dan kijang. Tetapi ada juga yang sudah tidak utuh, sebab sudah dibagi-bagikannya kepada orang-orang sekampung dan sedesa. Bila ayah berburu, itu artinya rezeki hasil buruan akan selalu dinikmati bersama antara orang-orang kampung dan desa itu. Dan pada biasanya, kepala-rusa dan kepala-kijang yang bertanduk bercabang itu, selalu dibawa ayah ke rumah, diawetkan. Dan tanduk rusa dan kijang itulah yang banyak menghias rumah kami.
Menurut catatan ayah sampai beliau pensiun, dia sudah berhasil menembak 65 rusa dan kijang. Tak dihitungnya kalau hanya kancil atau pelanduk, atau burung-burung punai dan sejenisnya. Pada zaman itu tak ada orang meributkan tentang lingkungan, polusi dan sebagainya, juga tak ada tentang hak-hak azasi manusia atau perlindungan alam. Waktu itu semua berjalan yang dianggap wajar dan tak pernah membahayakan, dan tidak pula dianggap merusak alam dan sebagainya. Dan semua ini diketahui oleh pemerintah Belanda waktu itu.
Ayah punya pistol-dinasnya sebagai seorang mantri-kepolisian-kehutanan. Dan juga punya senapang dobbelloop, berlaras-dua. Pelurunya dibuat sendiri atau beli melalui kantor dinas-kehutanan. Peluru senapang berburu itu dibuatkan tabungnya lalu diisi dengan puluhan milis senapang-angin, dan dengan bubuk-peledak dan sebagai detonatornya. Jangan main-main dengan peluru senapang ini, jangankan orang, gajahpun bisa mati. Karena peluru itu menyembur, menghancurkan kalau sasarannya terlalu dekat.
Yang aku tahu, senapang berburu itu betul-betul hanya untuk berburu, sedangkan pistol dinasnya itu, sepucuk browning buatan Belgia, hanya untuk pakaian dan perlengkapan kedinasannya saja. Karena aku selalu ikut dengannya apabila sedang memeriksa penebangan hutan atau pembuatan dapur-arang, yang dikelola orang-orang Cina, istilahnya waktu itu, maka aku tahu betul, tak ada masalah apa-apa dengan pistol itu. Dan ayah tak pernah bentrok dengan pengelola kehutanan, sebab pada umumnya mereka menuruti semua peraturan yang ditetapkan pemerintah. Dan aku sangat senang mengikutinya jauh ke desa dan hutan. Bau hutan, dedaunan dan pepohonan sangat menyenangkan.Ditempat pemeriksaan kayu,balok atau gundukan arang, maka aku dapat melihat semua pekerjaan ini. Dan aku adakalanya bermain-main dengan anak-anak kampung dan anak-anak Cina itu. Dan yang ini bagian aku yang paling senangnya lagi, begitu mau pulang, selalu dibawakan telor rebus, atau singkong rebus. Rasanya enak sekali. Begitu sampai di rumah, aku sudah kekenyangan. Sambil digoncengan sepeda yang dikayuh ayah, aku terus melahap telor dan singkong itu, sampai ngantuk. Dan sampai di rumah, ibuku mengangkatku karena sudah setengah tidur, dan mungkin juga karena kekenyangan.
Suatu hari menjelang tengah malam, ada sedikit keributan di rumah kami. Ribut bunyi ayam beterbangan, dan abang-abangku berlarian menuju ke kolong rumah mengikuti ayah yang siap dengan pistolnya. Ternyata katanya ada maling ayam. Aku juga ikut melihat dan mau tahu. Kami turun rumah dan dengan beberapa senter,baterei, menyinari kolong rumah, rumah panggung yang anak-kecil bisa sampai berdiri. Dan dikolong itu ada beberapa tiang-batu buat menyangga rumah. Jadi bisa sembunyi di sebelah-menyebelahnya.
Tak jauh dari kolong rumah, terletak beberapa karung yang sudah berisi ayam dan masih berbunyi keok-keok, ramai sekali. Menurut ayah dan ibu serta abangku, mereka melihat si pemaling bersembunyi di balik tiang batu. Tapi mereka diam saja setelah ayah agak membentak mereka. Yang dibentak ayah malah anak-anak dan ibuku, bukannya yang maling. Maksudnya agar jangan ribut dan berteriak, jangan sampai si maling tahu bahwa kami tahu siapa dia. Maksudnya mungkin jangan sampai yang maling itu menjadi sangat ketakutan dan malu. Dan pistol itupun memang ternyata hanya pakaian dinas saja bukan buat membunuh orang, demikian pikirku ketika itu.
Dan lama juga aku berpikir dan keheranan, bahwa pada suatu hari aku disuruh ayah membawa bungkusan yang aku tahu berisi pakaian bekas dan sedikit beras. Bungkusan itu harus kubawa dan kuberikan kepada tetangga kami yang agak jauh rumahnya. Namanya aku tahu betul, sebab anaknya teman sepermainanku. Nama anak itu "Pentis", artinya burung kecil. Sedangkan bapaknya Senen. Keluarga ini keluarga miskin. Bapaknya bekerja sebagai kuli harian, dan terkadang juga bekerja di dinas kantor kehutanan di mana ayahku menjadi pegawainya. Lha, lha, dalam hatiku, dan setelah tahu dari abang-abangku, yang katanya si maling ayam itu adalah Pak Senen tadi itu, malah kini aku harus mengantarkan bawaan pemberian, hadiah buat mereka!! Waktu kecilku itu belum mengerti, apa-apaan perbuatan ayah dan abang-abangku ini, mengherankan, ajaib, ganjil. Lama-lama barulah sedikit mengerti, orang miskin, susah hidup seperti Pak Senen sekeluarga itu, bukanlah sasaran tangkapan dan pengaduan. Bagaimana bisa menolong dan meringankan kehidupannya, dan itulah yang seharusnya kita kerjakan buat mereka, demikian selalu yang dikatakan ayah dan abangku,-
Paris 15 April 2000,-
Di Pulau Belitung sejak dulu sampai satu waktu tertentu tidak ada sawah. Penduduknya berhuma, membuka tanah buat ditanami padi kering. Seperti halnya di Kalimantan dan bagian Sumatra tertentu, mereka berhuma, membuka ladang. Cara begini terlalu banyak menghabiskan hutan, penebangan pohon yang tak terbatas, dan secara ekonomis cukup merugikan. Dan karena selalu berpindah, jadinya tanah yang ditinggalkan tidak efektif. Dan sesudah bertahun-tahun barulah menjadi hutan lagi. Sedangkan berhuma, berladang itu, terlalu banyak menguras tenaga, karena selalu harus membuka tanah baru, huma baru, ladang baru. Begitu selesai padi diketam, dipanen, harus segera memikirkan ke mana lagi berpindah membuka huma baru itu. Dan demikianlah setiap tahun, bertahun-tahun.
Rupanya pemerintah Jepang ketika itu, berpendapat, penduduk Belitung harus membuka sawah sebagaimana halnya di Jawa, bagian Sumatra tertentu. Tetapi bagaimana akal? Penduduknya sudah terbiasa berhuma, membuka tanah dengan menebang hutan, dan lagi mereka tidak ada kemauan buat bersawah yang bagi mereka sangat asing. Dan lagi bukankah pekerjaan ini harus dari nol lagi, harus memulai dari dasar lagi, dan mana ada orang Belitung dan penduduk Belitung yang bisa dan pandai bersawah, tak ada, dan juga tak mau.
Maka bagian-bagian pemerintah daerah Belitung harus mencari akal, bagaimana caranya "mengajar" penduduk yang sudah terbiasa berhuma itu, memulai "belajar" bersawah. Lalu siapa yang mengajar? Sebab semua penduduk Belitung belum tahu, belum mengerti apa dan bagaimana itu bersawah. Maka pilihan jatuh ke tangan bagian kehutanan, jawatan kehutanan, penilik dan pengawas kehutanan harus mencari akal, bagaimana "membiasakan" penduduk Belitung mulai bersawah, belajar bersawah! Singkat cerita, ayah yang menjadi pegawai kehutanan sudah puluhan tahun, diberi tanggungjawab buat "mencuri" orang Jawa. Datang ke tanah Jawa dan membawa orang-orang Jawa yang terbiasa bersawah itu. Kenapa seolah-olah dikatakan "mencuri"? Karena ketika itu tidak ada istilah transmigrasi bagi Pulau Belitung, tidak ada penampungan buat keperluan tersebut! Dan banyak pendapat yang menyatakan, tanah Pulau Belitung tidak baik buat persawahan.
Pada kenyataannya memang penduduk Belitung punya matapencaharian seimbang antara petani huma dengan nelayan dan buruh serta pegawai. Belitung terkenal dengan hasil pertambangan timahnya, dan pernah menjadi andalan pemerintah, sebagai pulau penghasil timah di antara tiga besar : Pulau-pulau Bangka, Belitung dan Riau Kepulauan, Singkep, Tanjungpinang. Ketika masa jayanya boom-timah, penghasilan dan kehidupan penduduk Belitung cukup baik. Cita-cita anak-anak muda kebanyakan bagaimana agar bisa menjadi pegawai staf di PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung. Suatu maskapai, perusahaan yang sedang jaya-jayanya, dengan perumahan, pendapatan gaji, salaire yang sangat menggiurkan. Perumahan pegawai staf, pegawai tingginya, rata-rata punya rumah besar, gedung mentereng, di antaranya yang bekas kepunyaan pegawai Belanda dulu. Kompleks perumahannya bagaikan kota dalam kota, mewah dan megah.
Ayah ditugaskan mencari dan "mencuri" orang-orang Jawa ke tanah Jawa. Pemerintah Jepang akan selalu berkoordinasi dengan pemerintah Jepang yang ada di Jawa, kalau-kalau ayah menemui kesulitan, misalnya ditangkap atau dicurigai. Sebab proyek ini bukan proyek resmi pemerintah yang sudah solid dan terkoordinasi. Tetapi proyek pemerintah daerah yang dikuasai Jepang, dan tak ada hubungan dengan pemerintah pusat di Jawa dan Jakarta. Karenanya ayah dipersiapkan kalau-kalau menemui kegagalan dan penangkapan, ditahan di Jawa, maka pemerintah daerah akan "membelanya".
Tentu saja ayah juga bukannya dengan tenang, tetapi ada juga ketegangannya, dan juga kami, serta jawatan ayah di mana beliau bekerja. Dan dalam jangka waktu dua bulan tibalah sebuah perahu besar yang membawa keluarga orang Jawa dengan 33 kepala keluarga dan lebih seratus orang dengan anak-anaknya. Perahu ini perahu Bugis yang selalu berlayar antara Jawa Sumatra, Kalimantan, dan selalu juga singgah di Belitung. Mereka berangkat dari Semarang, dan pada umumnya tidak menemui kesulitan dengan aparat penguasa. Tetapi malah lebih banyak kesulitan lainnya, dalam meyakinkan orang-orang itu. Sebab pindah kehidupan ke daerah lain, bukannya mudah. Orang-orang itu dijanjikan akan mendapatkan tanah seberapa mereka kuat buat mengusahakannya. Tetapi tetap sawah, dan dengan tujuan mengajarkan bersawah kepada penduduk Belitung. Dan karena Belitung itu sangat jarang penduduknya, dan tanah masih cukup luas, maka janji-janji itu samasekali bukannya bohong. Benar-benar mereka mendapatkan tanah seberapa mereka sanggup mengusahakannya.
Dan tokh menurut pemerintah, hasil padinya tetap buat keperluan Pulau Belitung, kecuali berlebihan buat dijual ke luar daerah. Dan setelah dua tiga tahun, pada pokoknya semua orang Jawa itu merasa puas, dari hanya berumahkan pondok darurat, papan, lalu lama-lama menjadi gedung, dan tidak pula sulit buat kalau mereka mau melihat keluarganya di Jawa. Sebab hubungan Pulau Belitung dengan Jawa, sangat mudah, tidak jauh, dan hubungannya ramai dan sering. Dan sejak itulah penduduk Belitung sudah "mau belajar" bersawah dari saudaranya orang-orang Jawa itu. Dan sejak itu pulalah Belitung tercatat sebagai pemula orang-orang membuka sawah di Belitung, sebelumnya, ratusan tahun sebelumnya, mereka hanya berhuma, mengharapkan padi kering yang setahun sekali itu. Kerja dan usaha ayah yang dulu mencari dan "mencuri" orang-orang Jawa, sampai kini keluarga itu masih ada turunannya, dan setiap malam Kemis selalu ada pertunjukan Ketoprak di Kampung Parit di Tanjungpandan. Juga tonil atau drama modern, yang kebanyakannya juga dipentaskan di arena yang sama. Sebab penduduk Belitung yang berasal dari Jawa, sebelumnya juga memang sudah ada. Dengan kedatangan penduduk baru ini, maka lingkup pergaulan mereka menjadi lebih luas dan ramai.
Kuanggap hasil kerja ayah ini adalah hasil yang cukup monumental, ada artinya dan bersejarah sampai kini. Bahwa pada akhirnya penduduk Belitung tetap saja lebih suka berhuma, adalah soal lain. Tetapi satu hal, mereka sudah mengenal sawah dan bisa bersawah. Memang pada dasarnya penduduk Belitung bukanlah petani tradisional, tetapi lebih merupakan nelayan tradisional, dan buruh serta pegawai Pertambangan Timah yang sudah ratusan tahun sejarahnya.
Ayah selalu mengatakan kepada kami : "aku tidak akan meninggalkan harta untuk kalian, tetapi aku akan berusaha sekuat mungkin agar kalian bersekolah sebaik-baiknya, mencari ilmu. Jangan sekali-kali mengharapkan harta orangtua dan warisan, yang bisa kalian lihat dan saksikan sendiri, harta dan warisan itu hanya lebih banyak menjadi perseteruan antara kaum keluarga, bahkan bisa menjadi permusuhan. Tapi sekolahlah sebaik-baiknya, setingginya", begitu ayah selalu menekankan kepada kami. Dan menurut penilaianku, di antara kami anak-anaknya, yang paling rendah sekolahnya adalah justru ayah kami, hanya tamatan SD saja. Tetapi yang paling berhasil antara kami yalah ayah sendiri. Beliau sejak umur 18 tahun sudah punya rumah sendiri, kampunghalaman sendiri, hak-milik sendiri. Dan tidak hanya satu. Sedangkan kami yang rata-rata bergelar macam-macam kesarjanaan, bahkan ada yang menjadi menteri, tak satupun yang punya rumah sendiri! Hanya ngontrak, nyewa, atau mendiami rumah dinas.
Apakah keberhasilan itu menurut ukuran dulu? Yalah bila seseorang punya rumah sendiri, rumah panggung, gedung. Lalu bisa dan sanggup naik haji, punya emas sebungkal dua bungkal, punya sawah sendiri, dan tak punya hutang! Dan kami anak-anaknya tak satupun yang sanggup memenuhi persyaratan itu. Tetapi ayah yang hanya sekolah rendah yang dulu namanya SR lalu SD, sempat menjadi anggota DPR sebagai wakil Angkatan 45 dari daerah Belitung. Anaknya yang termasuk pernah jadi menteri-pun "tak mampu bersaing" dengan ayah dalam soal "keberhasilan dari ukuran masa baheula" itu.
Dan lagi-lagi menjadi catatan sejarah buat ayah, beliau adalah salah seorang pemimpin daerah Belitung yang mula pertama mengorganisasi pemuda mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda di Belitung. Salah seorang pemula mengibarkan bendera merah-putih di daerah Belanda di Belitung, karena Belitung termasuk daerah federal, Belanda. Akibatnya ayah dicari-cari mau ditangkap, dipenjarakan, tetapi ayah sempat meloloskan diri, melarikan diri dengan perahu Bugis, menuju Cirebon dan masuk wilayah RI di Yogyakarta. Rasanya aku hanya bisa dan sanggup memuji dan mencatatnya, dan hanya itu yang aku bisa, sebab kemampuan ayah jauh lebih luarbiasa dari kemampuanku.-
Paris 16 April 2000,-
Sudah tiga tahun ini banyak teman-temanku menanyakan, di mana sebenarnya tempattinggalku yang tetap. Di Holland-kah atau di Perancis. Sebab yang mereka tahu, setiap bulan selalu saja aku ada di Holland, tetapi mereka juga tahu bahwa aku nyatanya tidak menetap di Holland. Dan bila aku datang di Paris sesudah satu minggu dua minggu di Holland, teman-temanku yang di Paris selalu menanyakan : "kapan lagi ke Belanda?". "Lha saya ini kan baru kemaren datang dari Belanda. Baru saja datang kok sudah nanya kapan ke Belanda. Nggak suka ya saya di sini, sama-sama kalian? Mbok nanyanya jangan gitu dong!". Sebaliknya kalau aku datang di Holland, juga teman-teman di sana sama saja pertanyaannya "kapan kembali lagi ke Paris",- padahal baru kemarennya datang dari Paris.
Dan gilanya lagi, mondar-mondirku ini dijadikan bahan terkaan bagi mereka. Di mana si simon itu lamanya, di Belanda-kah atau di Paris? Dan aku selalu menyatakan dan tak pernah berubah, bahwa tempattinggalku yang tetap, adalah Paris. Dan aku selama ini paling lama di Holland tak lebih dari tiga minggu, belum pernah satu bulan penuh. Tapi adalah benar, aku selalu mondar-mandir antara Perancis dan Holland, antara Paris - Amsterdam atau Schipol. Teman-teman di resto kami masih memberi kesempatan padaku buat bekerja di resto dua kali satu minggu, dan bekerja satu bulan akan mendapatkan uang buat beli tiket pergi-pulang Perancis - Belanda, dan masih berlebih buat belanja beli tempe buat banyak teman di resto.
Mengapa sering amat mondar-mandir? Aku tak tahu yang mana yang harus kuletakkan menjadi nomor pertama, sebab ada dua hal mengapa aku setiap bulan mondar-mandir itu. Pertama selalu ada rapat YSBI, Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia, atau pertemuan lainnya. Kedua, kangen anak-cucu, terutama cucuku yang empat orang itu. Semua mereka sudah pindah, tinggal di Holland. Nah, inilah yang kukatakan, yang nomor satu itu yang mana harus diletakkan paling atas. Sudahlah, nyatanya dua hal itu bertaut rapat, jalin menjalin.
Karena aku selalu datang-pergi, atau pergi-pulang antara Belanda dan Perancis, maka menjadi tahu banyak, atau lebih tahu sedikit dari orang yang tak pernah datang ke sana, inipun hanya mungkin, belum mutlak. Dan selalu ada pengalaman baru, pengenalan baru, lalu mengadakan perubahan baru. Misalnya dulu aku selalu berhenti dan berangkat-pulang di stasiun Amsterdam Centraal. Tetapi akhirnya aku tak mau lagi berhenti di stasiun itu. Aku pilih berhenti di Schipol, lalu naik kereta antara kota menuju Almere Stad, praktis, mudah dan tak berbelit. Kalau di Amsterdam Centraal, kita harus turun naik lagi cari rel atau jurusan kereta yang mana menuju Almere. Sedangkan di Schipol, tinggal pindah jalur saja dan tak perlu naik turun lagi, hanya sebelahnya saja.
Jadi jangan salah, orang hanya mengenal Schipol itu bandar-udara saja, padahal di bawahnya, line kereta yang cukup luas, ke seluruh negeri dan luarnegeri. Dan Schipol adalah tempat rekreasi yang sangat sedap, enak, menyenangkan, jauh lebih bagus, lebih nyaman daripada di Paris, Roissy, lapanganterbang di Charles de Gaulle. Schipol sangat menarik orang. Banyak orang hanya mau senang-senang, bermain-main, belanja, nongkrong, termasuk cuci-mata, menjamu teman, lihat-lihat, datang ke Schipol. Dan Schipol memang merupakan suatu tempat buat keperluan itu, lain daripada di Paris, tak ada yang seperti Schipol itu, atau tidak selengkap dan sebagus Schipol. Mall-mall-nya sungguh banyak, dan pertokoan luarbiasa menariknya, memancing dan selalu memikat mata.
Aku selalu naik kereta-cepat atau kereta-kilat yang namanya Thalys. Kereta ini sangat cepat, sama dengan model di Jepang itu. Dengan bis, antara Perancis - Holland, makan-waktu sampai 6 a 7 jam, dan dengan Thalys ini hanya 4 jam. Dan ada syarat lainnya, naik Thalys diharuskan dan diwajibkan dengan pesan-tempat dulu, tidak bisa naik begitu saja pada detik itu, kecuali harus datang dan melapor dulu ke bagian jawatan kereta yang khusus mengurusnya. Dan yang lainnya, kalau Thalys ini terlambat, sampai 20 menit, apalagi lebih dari setengah jam, maka jawatan kereta Thalys harus mengganti kerugian kepada penumpang! Dan aku sudah pernah dua kali dibayar oleh Thalys karena keretanya terlambat setengah jam dari ketentuan jadwal, dan ini melanggar, dan bila melanggar harus bayar! Memang tidak banyak, tapi lumayanlah, sekira 15 sampai 20 persen dari harga tiket. Banyak penumpang yang tidak mau mengurusnya, sebab harus mengisi daftar dulu, melampirkan tiket aslinya sebagai bukti dan cengkune lainnya. Dan aku sebagai "kebiasaan orang miskin" biar susah-susah dululah asal dapat uang kembali walaupun tak banyak. Pikirku, betapa sulitnya mencari uang, bekerja sampai menjelang dinihari dan pulang sangat malam dari resto, hanya buat mendapatkan sekedar beli tiket. Sekarang kau harus juga ulet mengurus pengembalian uang bayaran denda karena terlambat itu. Kerjakan biar susah juga! Begitu kataku dalam hati.
Thalys berjalan cepat dari Perancis sampai Belgia, Brussel. Lalu sisanya tidak bisa secepat Perancis - Brussel, sebab katanya ada kelainan relnya. Tapi tetap saja cepat, hanya tidak bisa nggenjot laju. Antara Paris sampai Brussel dan sebaliknya, kecepatannya sampai 350 km perjam, dan ini bukan maksimum. Dan sangat bagus dan enak melihat pemandangan di samping kereta, karena ada jalan raya umum. Semua mobil yang tadinya dan kelihatannya jalannya sangat cepat, begitu dilewati kereta Thalys, beberapa detik saja sudah sangat jauh ketinggalan di belakang kereta. Tentu saja, mobil itu pada biasanya kecepatannya 180 per km, kalaupun di full-kan katakanlah sampai 200 atau maksimum lebih dari itu, tetap saja ketinggalan jauh. Dan pemandangan begini sangat mengasyikkan, seperti berlomba tetapi selalu mobil kalah dan ketinggalan jauh sekali. Gedung-gedung, pepohonan tampak berlarian menuju belakang!
Kereta-cepat yang ke Holland dan Jerman, namanya Thalys. Kereta-cepat yang ke Inggeris namanya Euro-Star, dan antara Perancis, dalam negeri namanya TGV. Pada pokoknya kecepatannya sama, tetapi harga tiket lain dari harga kereta-biasa. Katanya nantinya semua kereta akan diubah menjadi kereta-cepat semua. Naik kelas satu di kereta-cepat, sama dengan kapal-terbang, dapat suguan dan sajian makanan, hidangan dan service yang sama dengan pekerjaan pramugari-udara. Penjagaan yang sangat ketat malah ada di Perancis, pemeriksaan sangat teliti kalau waktunya ada yang dicurigai. Tetapi kalau tak ada yang dicurigai, tak ada laporan bagian keamanan, maka perjalanan smooth saja, mulus dan bagus, aman dan sedap, menyenangkan. Kecurigaan tertentu itu biasanya berhubungan dengan barang-terlarang, ganja, heroin, atau kejahatan lainnya, pelarian narapidana, atau kecurigaan terhadap terorisme. Kalau sudah begini biasanya, anjing pelacak-pun turut serta memeriksa penumpang, tetapi polisi dan tentaranya selalu minta maaf dulu karena harus memeriksa penumpang.
Selama ini tak pernah kujumpai pemeriksaan yang di wilayah Belanda maupun Belgia, selalu saja di Perancis, tidak tahu apa sebabnya. Sedangkan kalau biasanya kami naik mobil, rumah-jaga yang dulu ada, kini malah sudah rata dengan tanah. Sudah tak ada lagi penjagaan seperti dulu, karena sekarang ini Eropa sudah satu.
Paris 17 April 2000
Sedikit membandingkan kehidupan antara Holland - Perancis, sangat aneh dan tak dapat dibayangkan bila ada rumah atau keluarga di Holland yang tak punya payung dan sepeda. Rata-rata rumah, keluarga, pasti punya payung dan sepeda. Kendaraan sepeda sangat populer di Holland. Karena itu banyak sarana jalanan yang tersedia buat jalan sepeda. Lain halnya di Perancis, walaupun negeri ini sangat terkenal di dunia dengan tour de france-nya, lomba sepeda ke seluruh negeri, tapi sangat jarang orang bersepeda bila dibandingkan dengan di Holland. Lalu soal payung. Mudah dimengerti, Holland itu negeri hujan! Kalau sedang dongkol dengan hawa dan cuaca di Holland, aku selalu mengatakan, Belanda itu hanya ada tiga : dingin - angin dan hujan! Dan tiga perkara ini tidak mudah kita dapatkan di Perancis. Perancis bila dibandingkan dengan Holland, hawanya tidak sedingin di Holland, anginnya dan hujannya tidak sesering dan sebanyak di Holland.
Tapi barangkali karena sulitnya hawa yang baik itu, karena tidak mudahnya hidup dengan negeri yang begitu kecil, di bawah laut lagi, maka keuletan bangsa ini, kemilitanannya luar biasa. Bagaimana mereka dulu mencari jalan ke luar, berperahu-perahu, berkapal-kapal melintasi lautan, samudra, mencari barang dagangan. Mencari pasaran, mencari lapangan kehidupan yang lebih banyak, lebih kaya, lebih menguntungkan. Ketika zaman sebelum dan baru mulainya VOC dulu, mereka melintasi banyak lautan, melintasi benua Afrika untuk mencari jalan ke Hindia. Berperahu-perahu dan berkapal-kapal mereka tenggelam sepanjang perjalanan itu. Mencoba, terus mencoba, dan akhirnya dapat menemukan barang dagangan itu : rempah-rempah, kopi, gula dan hasil bumi lainnya di Hindia, Indonesia, yang lalu mereka namai "Hindia - Belanda". Maka kebanyakan orang mengatakan, sesudah itu mereka menduduki negeri itu selama 350 tahun!
Sebelumnya, di mana buat menuju ke tanah Hindia itu harus melewati benua Afrika, sampai ke selatannya sekali, melewati Tanjungharapan, yang sesudah tanjung yang menonjol itu terlewati barulah ada Harapan! Karena selat Suez baru dibuka pada pertengahan abad ke 19, oleh arsitek dan insinyur genius Ferdinand de Lesseps ( 1869 ). Bersusah payah, mati berkorban, ratusan bahkan bisa ribuan orang, dan puluhan kapal dan perahu pada tenggelam, akhirnya membuahkan hasil yang sampai kini dinikmati banyak manusia lainnya. Semua ini kerja hebat-hebatan, mati-matian bangsa Belanda.
Karena tanah Belanda itu sangat rendah, di bawah permukaan laut, bagaikan lobang raksasa di bumi, hole, maka kata orang lalu menjadi tanah lobang, hole = Holland. Begitu katanya, wallahualam bisssawab, siapa bisa menjawab di dalam gelap! Tempat, kota yang kini sedang berkembang luas yang selalu kudatangi, bernama Almere, berada di bawah laut sedalam 3 meter! Ada tempat-tempat di Belanda yang sampai 5 a 6 meter di bawah laut. Karena sulitnya tanah dan tempat-tempat di Belanda, dan karena sempitnya, maka pengetahuan dan ketrampilan orang Belanda tentang bagaimana mengolah tanah, boleh dikatakan jempolan! Laut, danau, bisa diuruk dan ditimbun, lalu beberapa tahun kemudian sudah menjadi kota! Kerjanya menggali, menimbun, memindahkan pertanahan, dan membuat saluran air, tali-air.
Dan kalau orang Belanda tidak tahu dan tidak menguasai persoalan tanah dan air, alamat akan celaka, sebab air laut kalau sampai masuk, maka akan tenggelamlah tanah Belanda yang hanya sebesar Jawa Barat itu! Dan karena sangat pandai mengelola tanah, termasuk pertanian, dengan rumah-kaca yang hangat, maka eksport Belanda ke negara-negara Eropa sekitarnya, termasuk ke Perancis, adalah tomat, timun dan sayuran lainnya. Ke Russia malah bunga tulip diangkut dengan pesawat-terbang! Bagaimana petani Perancis tidak akan marah, kalau tanaman tomatnya pada tidak laku dijual, karena penduduknya lebih senang dengan tomat dan sayuran import dari Belanda, karena lebih bagus, lebih murah. Bertruk-truk tomat Perancis dihancurkan di jalanan tertentu. Ini termasuk "perang perdagangan" antara Eropa.
Perbedaan lain antara kehidupan di Perancis dan Belanda, jurang antara kaya dan miskin di Perancis lebih kentara daripada di Belanda. Di Belanda tampaknya merata, perbedaan kaya - miskin tidak sangat nyata seperti di Perancis. Sosialisasi Belanda tampaknya lebih bagus daripada di Perancis. Dan juga tampaknya kehidupan rakyat biasa, Belanda jauh lebih makmur daripada rakyat Perancis. Mungkin negeri kecil yang relatif gampang mengaturnya, memang ada kemungkinan begitu. Rakyat Belanda, penduduk rata-ratanya, lebih suka berdiam di rumah, karena itu rumahtangga, pengaturan, dekorasi, hiasan rumahnya sangat bagus bila dibandingkan rata-rata di Perancis. Sebab mungkin karena mereka akan selalu lama ada di rumah. Tetapi di Perancis, terutama di Paris, orang-orang tampaknya akan selalu lama di luar rumah. Karenanya rumah itu hanyalah buat istirahat pulang ke rumah dan lalu tidur. Sebab kebanyakan orang kota di Perancis, lebih banyak di luar rumah. Di resto, jalanan, teater, kantoran, dan tempat lainnya.
Dan karena itu pula paling banyak resto di Belanda selalu mencantumkan kata-kata afhaalen, buat di bawa pulang, take-away, tidak terlalu biasa di Perancis! Orang di Perancis, resto, cafe, bar, itu merupakan bagian suatu kehidupan. Aku sampai kini agak heran dengan hal ini : makanan segar yang belum diolah, di Belanda lebih mahal daripada di Perancis, tetapi makanan yang sudah diolah, sudah menjadi masakan siap-santap, jauh lebih murah daripada di Perancis. Makanan, jajanan, nyamian, jauh lebih murah di Belanda daripada di Perancis. Tetapi yang namanya ongkos transpor, akomodasi, transportasi, di Belanda minta ampun mahalnya bila dibandingkan dengan Perancis! Dan di Perancis ongkos transportasi, sangat murah bila dibandingkan dengan Belanda.
Orang Indonesia di Belanda? Baik "asli maupun tidak asli", baik "baru maupun lama, sudah puluhan tahun", bukan main banyaknya. Kataku dalam hati : orang melayu di Belanda sih, memang sudah kayak kampung melayu saja adanya! Di mana saja, di metro, kereta, bis, stasiun, jalanan, apalagi pasaran, kita akan selalu ketemu dengan orang Indonesia, dan bukan hanya berbahasa Indonesia, tetapi bahasa Jawa, bahasa Sunda, Minang, dan lainnya. Malah yang "sulit" yalah, bila satu hari suntuk kita ada di luaran, tidak pernah mendengar orang berbahasa Indonesia, atau bahasa daerah "kita", atau tidak bertemu dengan orang Indonesia. Rasanya takkan terjadi hal yang beginian. Yang kalau di Perancis atau di Paris, betapa akan senang dan bahagianya kita kalau mendengar atau bertemu dengan orang Indonesia, berbahasa "daerah kita", karena sangat jarangnya. Resto kami namanya Restaurant Indonesia, tetapi orang Indonesianya terkadang satu minggu penuh tak ada orang Indonesianya yang datang ke resto kami. Karena sangat jarangnya "penduduk Indonesia" yang tinggal di Paris. Dan lagi pelanggan kami lebih 85 persen adalah orang bule.
Orang Indonesia yang ada di Perancis, bukan hanya Paris, kami kira tidak akan sebanyak orang Indonesia di satu kota di Belanda, misalnya, Den Haag, apalagi Amsterdam atau Rotterdam. Syarat-sayaratnya memang lain. Belanda dulunya memang negara induk dari negeri jajahannya Indonesia, sama dengan Perancis yang juga negara induk dari negeri jajahannya di Indo-Cina dan sebagian Afrika. Karena itu orang-orang Indonesia yang ingin menjadi warganegara Belanda, naturalisasi, apalagi yang kelahirannya sebelum tahun 1949,- KMB -, sangat mudahnya,- ini dulunya. Tetapi orang-orang Indonesia yang ingin menjadi warganegara Perancis, naturalisasi, harus menunggu selama 10 tahun dulu, dan dengan tinggal terus-menerus di Perancis,- ini dulu,- Sebaliknya bagi orang-orang dari Indo-Cina dan Afrika, untuk menjadi warganegara Perancis, mungkin semudah orang-orang Indonesia yang mau menjadi warganegara Belanda. Lain negeri lain peraturannya, lain padang lain belalangnya.
Pada batas-batas tertentu memang ada kemudahan hidup di Belanda. Jaminan sosialnya jauh lebih baik daripada di Perancis. Buat orang Indonesia yang hidup di Belanda, dapat tunjangan sosial buat seumur hidup! Seorang penganggur yang bisa berhemat, niscaya akan dapat menabung buat beli tiket ke Jakarta setiap tahun, bahkan bisa beli mobil second-hand. Hal ini tidak mungkin terjadi di Perancis, tidak ada dan tidak pernah ada kasus demikian. Katanya "pencekikan" pengetatan dan kerasnya jawatan-pajak, lebih hebat di Belanda. Sangat sulit orang mau kaya di Belanda, sebab jawatan-pajaknya memang sangat aktif, sangat reaktif, sangat mengejar-ngejar pajak orang-orang yang "kelebihan duit". Dan banyak kehidupan menjadi bangkrut karena di kejar-kejar pajak, yang di Perancis tampaknya tidak sekeras di Belanda.
Dulu pada zaman baheula-nya, mungkin kehidupan Perancis jauh lebih makmur daripada di Belanda, apalagi tumbuhnya burjuasi Perancis adalah lebih awal dan lebih berkembang lama. Karena itu ada pengaruh revolusinya, bahwa revolusi Perancis 1789 itu, adalah model suatu revolusi burjuis demokratis. Dan sampai kini betapa banyaknya istana-kecil di Perancis yang mau dijual, karena tidak terawat, tidak ada kesanggupan merawatnya, dan juga sudah puluhan bahkan ratusan tahun tidak ada yang mendiaminya dan mengelolanya. Kami pernah tahu dan melihat, ada sebuah istana di kota Tours, suatu kota yang dulunya banyak tinggal baron, pangeran, burjuasi-daerah, mau dijual, dengan kamar sebanyak 21, harganya "hanya" 6 juta Francs,- Sampai kami melihat dan "memeriksa" istana itu, tahun 1999 kemaren ini, belum ada yang berminat membeli. Sudah tentu kalau yang namanya istana, dihargai dan dipotong harga sejumlah 90 persen-pun, tidak mungkin kita akan membelinya!
Paris 19 April 2000
Sebelum aku sering ke Belanda, aku tidak begitu mengenal yang namanya kota Almere. Yang kukenal tentu saja kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam, Den Haag. Dan yang agak besar menurut pandanganku seperti Leiden, Woerden. Dalam peta, kalau kita mau menuju Almere, akan selalu keretanya itu akan mentok, atau terminus di kota Lely Stad, dan di petanya, kota Lely Stad jauh lebih besar daripada kota Almere. Tetapi kenyataan sesungguhnya, kota Almere jauh lebih besar, lebih ramai dan lebih berkembang. Menurut orang-orang yang mengerti dan mengikuti perkembangan beberapa daerah Belanda, memang tadinya Lely Stad cukup besar dibandingkan dengan Almere. Tetapi karena perkembangan industri, mekanisasi pertanian di Belanda, dan di sekitar Almere, maka penduduk Lely Stad banyak yang pindah ke Almere. Dan pembangunan perkantoran, perusahaan, dan mekanisasi pertanian, lebih berkembang di Almere.
Perkembangan belakangan ini, menjadikan kota Almere lalu berkembang, melebar, meluas. Dan kota Lely Stad menjadi mengecil, menciut, karena penduduknya sendiri banyak yang pindah ke Almere. Dan setelah bertahun-tahun aku mondar-mandir antara Paris - Almere, maka tahulah dan agak mengertilah bagaimana besarnya, luasnya dan berkembangnya kota Almere yang dulu kuanggap nggak ada apa-apanya.
Almere di mana anak-anakku tinggal, adalah Almere Stad, kelurahannya Staatlieden wijk, masih bagian Almere Stad, pusat atau Centraal. Sedangkan kelurahan tetangganya, adalah berbagai wijk, atau kelurahannya. Dulu di Jatinegara, Jakarta, namanya adalah Meester Cornelis, dan ada beberapa wijk, semacam kelurahan, seperti Bejened wijk, Murtadho wijk, dan lain-lain. Semua nama ini berasal dari penamaan Belanda. Wijk-wijk atau kelurahan-kecil sekitar kota Almere ini, cukup banyak. Seperti Kruidenwijk, nama dan jenis rempah-rempah, bumbu-bumbu. Ada lagi muziekwijk, kebanyakan jalannya mesti ada hubungan dengan nama yang disandang, juga berkenaan dengan kruidenwijk tadi. Nama-nama jalannya kebanyakan nama bumbu atau rempah-rempah. Seperti nama jalan Vanille straat, basilicumweg, curcumma straat, dan lain-lain.
Daerah muziekwijk mempunyai nama yang berkenaan dengan pertalian musik. Seperti nama jalan Gitarweg, Mozartstraat, Fluitelaan, Stringbaspad, Vioollaan, dan lain-lain. Juga nama-nama jalan di daerah Filmwijk, suatu daerah yang baru, bagus dan sangat menarik. Perumahannya sangat menarik, tertata rapi, ada yang kecil-mungil dengan taman yang hijau subur. Dan rumahnya seperti pemandangan di sekitar Hollywood. Daerahnya bersih dan perkampungannya sangat memikat. Aku sering mengunjungi Filmwijk ini. Disamping memang buat jalan-jalan olahraga, lalu juga menikmati alam-jalanan-perumahan di Filmwijk. Dan nama jalannya sangat mengasyikkan. Masih ingat aku, ketika suatu kali kesasar tersesat, mau mencari di mana arah letaknya stasiun Almere Stad. Sebab kalau tahu letak stasiun itu, pasti tahu jalan pulang ke rumah. Dan ketika aku menanyakan kepada seorang madame yang di Filmwijk itu, ketika dia masih bermain-main dengan anaknya, madame itu menjawab. "Stasiun? Masih jauh sekali, tuan. Itu, ke arah sana", katanya sambil menunjuk jauh sekali. "Apakah tuan membawa kendaraan sendiri?", katanya. "Tidak, saya jalan-jalan olahraga", kataku. Dan dia mengamatiku seolah-olah tidak percaya. "Tuan telah berjalan begitu jauhkah? Sebab stasiun bis sangat jauh dari sini", katanya. "Tidak apa-apa, memang saya sengaja berjalan jauh", kataku. Lama dia mengamatiku, seolah keheranan, kok ada juga manusia yang "gila" begini. Dan aku ingat betul, di jalan yang aku menanyakan kepada madame itu, adalah Charlie Chaplin weg. Tak jauh dari situ ada jalanan yang bernama Audry Hepburn weg, lalu Creta Carbolaan, lalu Ingrid Bergmanpad, dan Rita Hayworthstraat, dan Gone With the Windlaan.
Kataku dalam hati, nah, inilah hukumannya buat orang yang sering nekad. Aku membandingkan dengan jalan olahragaku di Paris, selalu ada tanjakan, perbukitan, tetapi di Belanda mana ada tanjakan, apalagi mana ada perbukitan! Semuanya rata, semuanya datar! Karena itu kalau aku jalan-olahraga biasa di Paris selama satu atau satusetengah jam, maka di Belanda ini harus ditambah beberapa puluh menit. Sebab tanahnya datar, tak ada tanjakan dan perbukitan. Arti olahraganya sangat kurang dibandingkan dengan di Paris, karena itu jamnya, lamanya harus ditambah. Di Paris sport jantungnya lebih agak ketat, karena harus mendaki, menanjak, tapi di Belanda datar-datar saja. Dan karena dengan tekad begitu tadi, kujalani beberapa wijk sekitar Almere, seperti waterwijk, muziekwijk, kruidenwijk, dan filmwijk. Banyak sekali rumah-rumah bagus, dengan tataletak yang diatur rapi, taman mini yang benar-benar mungil, dan orang-orangnya, penduduknya yang terbuka, dan gampang berkomunuikasi. Sedangkan mata dan hati tak puas-puasnya menikmati keindahan sekitar. Dan tak terasa jam terus jalan. Ketika berangkat dari rumah tadi, dari Clemenceaustraat pada jam 14,°° dan kini sudah hampir jam 18.°°.
Terasa kaki sudah agak berat, dan keringat mengalir membasahi baju. Musimpanas di Belanda, antara bulan Juli dan Agustus, kalau udara-cuacanya tidak bertingkah, sedang bagus-bagusnya, betapa indahnya Belanda itu. Tetapi untuk menemukan ketika Belanda itu alim, baik dan cantik, mempesona, sungguh tidak mudah! Sangat jarang, sangat jarang. Tetapi begitu ada, begitu ketemu, segera kau pegang, kau tangkap, pegang erat, sampai kau sendiri bersenyawa dengannya.
Betapa tidak begitu,- Berjalan di pinggir kali, tali-air yang di Belanda ini ada di mana-mana, yang di sisinya ditumbuhi pohon willow, pohon liu, bukan main enaknya. Di sekitar kali dan tali-air itu tumbuh bermacam bunga, mawar merah, kuning, putih dan tulip kebanggaan Belanda. Mewangi menyebar ke sekitar. Dan di sungai-kecil, kali dan tali-air itu, berkecipak bunyian terbangan berjenis burung air, termasuk itik-liar, yang sebenarnya sudah sangat jinak. Dulu, sorry ya, dulu sekali, ketika aku masih "membawa beban" pikiran "dunia ketigaku", melihat itik-bebek yang begitu gemuknya, begitu jinaknya, masih ada pikiran, ya, betapa enaknya kalau masuk panggangan-api, dibumbui kecap!! Betapa berminyaknya, betapa enaknya masakan bebek-itik sepanjang kali itu!
Dan ketika sambil ngobrol enteng, kukatakan kepada anak-cucuku, kontan mereka memakiku dengan kata-kata sadisnya ini papa dan kakek! Itu kan dulu, kini sudah pelan-pelan terhapus pikiran dulu itu. Kini sudah dengan tanpa beban menikmati pemandangan yang sangat indah itu. Bunyi-bunyian berjenis burung hinggap di pepohonan, dan berkecipak bunyi air-kali karena terbangan itik-bebek dan burung air lainnya, menambah indahnya pemandangan sekitar. Ketika itu seolah-olah Belanda akan selalu enak dan bagus seperti ketika itu. Padahal tidak, ini hanya terdapat pada musimpanas dan itupun tidak setiap hari. Tetapi begitu tidak ada yang tiga macam aku paling benci itu : angin - dingin dan hujan,- maka Belanda betul-betul indah, bagus, menarik dan asyik. Karena asyik dan menariknya, sudah beberapa wijk aku lalui, dan sudah beberapa jam kutempuh. Terasa sudah lelah, letih badan, tetapi hasrat memeluk dan menikmatimu, Belanda, sungguh selalu menambah semangat api, semangat cintaku. Tak apalah tersesat jalan, sekalian olahraga panjang. Tetapi yang kudapat, dulu yang kuumpat, lalu pada akhirnya tak jarang aku menjadi terpikat, walaupun tak boleh terikat.
Paris 26 April 2000
Ada dua istilah yang membedakan pengertian tentang istana dalam bahasa Perancis. Yang pertama yalah : chateau,- Semacam kastil yang dikelilingi tembok-dinding sebagai benteng. Lalu di sekitarnya pastilah ada sungai atau aliran air yang mengurung atau membentengi istana itu. Maksudnya buat mencegah musuh tidak dengan mudah dan begitu saja masuk dan menyerang istana tersebut. Biasanya akan selalu ada jembatan-gantung atau jembatan-angkat buat jalannya ke luar-masuk istana. Lalu di atas istana itu akan selalu ada menara penjagaan, menara pengintai, yang letaknya tertinggi. Di sekitarnya ada lapangan buat balatentara, para serdadu berperang mempertahankan istana dari serbuan musuh.
Istana begini biasanya peninggalan masa lampau, sebuah puri feodal. Tempat kediaman tuantanah atau keluarga raja. Di Perancis, banyak sekali istana yang begini ini. Mungkin ada hubungannya dengan sejarah Perancis sebagai pemula revolusi burjuis demokratis di Eropa, bahkan bisa dianggap di dunia. Di mana pada masa itu banyak sekali orang-orang kaya, feodal yang bangkrut lalu menjadi pangeran-pangeran, raja-raja kecil, penguasa pertanian, peternakan dan industri rumah-tangga. Sehingga sampai sekarang ini banyak meninggalkan istana = chateau tadi itu.
Dan karena penguasa dan pemiliknya sudah bangkrut baik sebagai pemilik modal, uang maupun sebagai sejarah kebangsawanannya, maka istana itu sudah tak didiami lagi. Dan yang masih cukup mampu, masih dipelihara secukupnya dan sekuatnya. Tetapi tidak lagi berfungsi seperti dulu lagi, di mana mereka hidup sangat senang, kayaraya dan bermewah-mewah. Lalu tidak sedikit istana yang sedang, tidak sangat besar, masuk koran, diiklankan mau dijual! Ada sebatang sungai, namanya Loire, sungai Loire. Dahulu kala di sepanjang sungai itu, banyak sekali didirikan istana keluarga raja, sehingga ratusan tahun sesudah mereka bangkrut, menjadilah sebutan Les Chateaux de la Loire. Kastil - istana sepanjang sungai Loire.
Ada tersebut berita, penyanyi kondang Mikhail Jackson telah membeli sebuah istana di peluaran kota Paris. Lalu ada beberapa kapitalis Jepang juga membeli istana di Perancis.
Nama yang kedua yalah : palais. Palais des sports = istana olahraga. Palais de l*Etat = Istana Negara. Nama yang ini adalah bentuk baru, istana di zaman sekarang. Istana yang bentuk begini tidak ada yang mau dijual! Istana chateau yang pertama sampai kini masih ada yang mau dijual dan belum laku. Banyak obyek turis di Perancis yang mata-acaranya berkunjung ke beberapa istana, baik di sekitar Paris maupun di pedalaman Perancis. Istana yang paling terkenal yalah Istana Versailles, di pinggiran kota Paris. Inilah peninggalan sisa feodal Perancis sebelum Perancis menjadi Republik. Dan istana ini memang sangat indahnya, sangat bernilai sejarah dan mengandung budaya-seni yang sungguh mengagumkan. Baru saja di luarnya, di sekitar lapangan istananya, sudah sangat indahnya dengan tata-letak tanaman, taman-bunga, taman-rumput bagaikan permadani lembut-hijau. Dan begitu masuk ke dalamnya, mata dan perhatian kita jadi tambah terpesona. Banyak sekali benda-benda berharga, bernilai tak tepermanai, berseni-tinggi, ukiran, pahatan, patung, dan lukisan dan hantaran atau kado dari para raja-raja negeri lainnya di dunia ini.
Benarlah kata orang, bila datang ke Paris, tetapi tidak sempat mengunjungi Istana Versailles, maka kunjungan itu kurang lengkap, belum sempurna. Datang ke Paris, dan sempat mengunjungi Istana Versailles, Musium Louvre, keliling kota dengan mampir di bawah menara Eiffel dan gereja Notre Dame, nah, barulah kunjungan itu dapat dikatakan lengkap. Kukira ada benarnya pendapat ini.
Ketika ada kesempatan buatku berkunjung ke beberapa istana = chateau di beberapa kota, terutama kota yang terkenal dengan banyaknya chateau, yaitu TOURS, di bagian selatan Paris, kami sangat menikmati kunjungan itu. Sebelumnya ada beberapa istana yang bekas peninggalan keluarga raja, yang termasuk bisa dijual kalau ada yang berminat dan menawar. Dan kami masuki istana tersebut. Tetapi kebanyakannya biasa-biasa saja, tidak sangat menarik. Boleh dikatakan bangunan gedung-tembok-dinding dari berbagai jenis batu. Lalu ada belasan bahkan puluhan kamar-lamar besar, tetapi mungkin para raja dulu itu tidak mengutamakan keindahan, kebagusan. Hanya mengutamakan kebesaran, keluasan, tapi belum termasuk tata-estetika keindahan, kesejukan dan warna-warni yang lembut menarik.
Pernah aku berpendapat dalam isi kepala ini : istana yang pernah kulihat itu, ada beberapa yang tidak menarik. Hanya masalah besar, kukuh buatannya, banyak kamarnya, banyak cengkune ini itunya, tapi bagiku tidak menarik. Lalu kalau sekiranya aku ditawari istana itu, yang pernah kulihat tidak menarik itu, walaupun namanya istana, tetap saja aku mau milih rumah-mewah yang ada di sekitar Jakarta itu! Rumah atau istana para konglomerat, kapitalis di sekitar pinggiran kota Jakarta itu, jauh lebih bagus, lebih pandai menatanya, lebih menarik, lebih indah dan berseri.
Ada sebuah istana yang di kota TOURS, masih terawat rapi, bagus dan sangat indah. Pemandangan di sekitarnya dengan pepohonan yang ditanam dan dirawat rapi, lalu kebun-kebun sayuran, dan tebat atau aliran sungai yang memelihara ikan mas dan berjenis ikan lainnya. Lalu ada peternakan kecil di pinggiran istana itu yang masih termasuk bagian pekarangan dan halaman istana. Peternakan ayam, kambing dan itik. Masuk istana ini harus beli tiket, karcis. Sangat ramai pengunjungnya, turis dari berbagai negeri, dan istana ini bisa dimasuki dengan leluasa, bebas bertanya dan membuat foto. Lebih tampak ada suasana kerumahtanggaan, ada suasana keluarga. Hampir semua petugas yang bekerja di istana itu, adalah bekas kaum kerabat sang pangeran yang punya istana. Maka pantaslah mereka merasa memiliki dan mengemban tanggungjawab keluarganya, keluarga raja yang sudah bangkrut.
Ketika kami tanyakan secara iseng-iseng, apakah istana ini termasuk mau dijual? Petugas Kepala Rumah Tangga Istananya menjawab, dulunya memang pernah ada maksud dijual. Tetapi setelah mendapatkan cara pengelolaan baru ini, maka tidak ada lagi maksud buat dijual. Dan cara baru ini antaranya yang bisa kami lihat dan rasakan serta saksikan ini. Mengelola istana ini hanya bersandar pada penjualan tiket kunjungan saja, sangat tidak cukup. Lalu para pekerja dan petugas istana itu dibolehkan tinggal di sekitar istana dengan membangun perumahan penduduk dan pekerja istana kalangan dalam. Juga dibolehkan dan dianjurkan hidup berdikari secara kolektif, sama-sama pekerja dan petugas penjaga istana. Ada 35 orang pekerja dan petugas yang masih bertalian keluarga istana pemilik dulunya. Lalu ada belasan orang luar yang bekerja di sekitar istana. Jumlah seluruhnya sekitar 50 orang.
Mereka bekerja di bagian penjaga, petugas istana bagian dalam. Lalu yang merawat perkebunan, peternakan kecil dan bagian perawatan ikan. Sayuran dan peternakan serta perikanan hasil istana, dibagikan antara pegawai dan petugas. Dan bila berlebih, dipasarkan, dijual buat umum. Ketika kami tanyakan, lalu bagaimana pendapatan keseluruhannya itu, termasuk penjualan karcis. Katanya itupun pas-pasan, mereka dapat gaji yang cukup, tidak banyak, lebih banyak in natura, hasil alam, berupa sayuran, daging ternak dan ikan. Dan ketika kami sedang berkunjung, para petugas sedang panen anggur di sekitar istana. Anggur yang masih segar itu lalu dipress ketika itu juga buat di suling dan "diperam serta di ragi" agar sempurna menjadi anggur minuman wine. Dan betapa senangnya kami ditawari minum anggur yang masih segar itu, langsung dari mesin press-nya. Dan rasanya sangat enak, sejuk dan segar, asam-manis. Aku lebih suka minum anggur yang belum disuling dan belum menjadi wine ini.
Tampaknya dengan bekerja merawat istana keluarga secara begini, mungkin bisa menjadi contoh bagi chateaux yang lainnya. Bisa berdikari menghidupi diri sendiri secara kolektif, dan mengikis rasa feodal yang dulu zaman baheula itu. Dari sejarahnya yang menghisap orang, menghisap rakyat dan penduduk, lalu bisa menjadi orang biasa yang sama-sama bekerja wajar dan normal. Merasakan menjadi rakyat dan penduduk sama-sama cari makan dan mempertahankan hidup. Dan tak ada lagi masalah mau menjual istana, dan dapat pula memecahkan masalah pengangguran, paling tidak buat ratusan mulut dan perut kaum keluarga raja dan pangeran yang bangkrut itu. Ini namanya bisa memanfaatkan yang dulunya sejarahnya yang penuh negatif lalu membuat sejarah yang ada artinya, ada manfaatnya buat banyak orang.
Paris 27 April 2000
Ayahku hanya punya satu saudara perempuan. Namanya Zaharah, panggilannya di antara kami yalah Siti, nama lengkapnya Siti Zaharah. Kami panggil Busu Siti. Busu artinya yang bungsu. Sedangkan ayah yang sulung. Jadi kakek-nenekku dulu hanya punya dua anak, satu laki-laki, ayahku dan satu perempuan Siti Zaharah. Ayahku dipanggil oleh keluarga lainnya menjadi Pak Long, artinya yang sulong, sulung.
Pasangan Busu Siti dan Busu Rakhman ( suami Busu Siti ) punya anak banyak, terutama perempuannya. Laki-lakinya dua. Laki-laki yang kecil namanya Sapri. Sapri meninggal ketika umur 5 tahun. Ada bisikan yang kudengar, tante dan pamanku ini tidak beruntung punya anak laki. Lihat, Sapri itu meninggal ketika umur 5 tahun. Lihat Bang Taib itu, sampai kini tidak dapat jodoh, padahal umurnya sudah menjelang 25 tahun,- begitu kata orang-orang sekitar keluarga kami ketika itu.
Aku tidak begitu percaya. Dan aku sangat suka kepada Bang Taib, abang sepupuku itu. Kurasakan dia juga adalah abangku yang tidak beda dengan abangku yang lainnya, dan kami berdua disamping bersaudara juga berkawan baik dan akrab. Memang perbedaan umurnya denganku 5 tahun, tapi rasanya sama saja dengan teman-temanku lainnya yang seumur denganku. Sejak masih di SD, kami sudah dekat, bahkan rumahnyapun bersebelahan. Ayahku sangat baik terhadap semua keponakannya ini, terlebih dengan Bang Taib ini. Mungkin ada hubungannya dengan hobby ayah, yang sama dengan Bang Taib ini. Yaitu suka berburu. Senapang ayah yang dobbel-loop itu diwariskannya kepada Bang Taib. Dan Bang Taib sama dengan ayah dalam tergila-gilanya berburu. Ada yang lainnya dengan ayah, Bang Taib disamping suka berburu, juga suka mancing.
Kasyikan-hidup dan kenikmatan-hidup bagi Bang Taib, adalah berburu dan mancing di laut. Dua macam kesukaan dan hobby-nya ini benar-benar mendarah mendaging. Peluru sejenis dumdum, yang patronnya besar berisi puluhan mimis 5 setengah itu, dibuatnya sendiri atas ajaran ayah. Maka hobby Bang Taib lengkaplah sudah didukung ayah.
Bang Taib punya kedudukan yang sangat baik di daerahnya, di Tanjungpandan Belitung. Dia Kepala Bagian DKR = Dinas Kesehatan Rakyat Tanjungpandan. Dan dia anggota DPRD. Punya mobil dinas DKR, punya tilpun di rumahnya, padahal ketika itu, tahun 1950, sangat jarang, sangat langka ketika itu seseorang punya semua itu. Tapi -, dan ini yang dikeluhkan oleh orangtuanya -, masaksih pemuda seganteng dan segagah itu belum juga menikah dan berkeluarga, padahal umur sudah 25. Umur 25 ketika itu pada umumnya bagi laki-laki sudah berkeluarga atau sudah seharusnya berkeluarga. Ini situasi di kampung kami ketika itu, yang sekarang ini sudah jauh berubah. Umur 25 terkadang terlalu muda buat berkeluarga. Aku sendiri berkeluarga ketika umur 27. Dan mungkin pandangan inilah yang menambah pikiran keluarga sekampungku, mengapa mereka katakan paman dan bibiku itu tak beruntung punya anak laki. Padahal kata hatiku, apa kurangnya Bang Taib, orangnya gagah, ganteng, punya mobil, punya tilpun, anggota DPRD lagi, dan selalu tak kekurangan uang.
Di kantornya DKR, dia punya tugas sebagai Kepala Pemberantasan Malaria. Bahasa kampung kami dia dinamakan mantri-nyamuk. Di kampung kami banyak sekali nama pangkat yang berkenaan dengan tugasnya di bagian apa. Nama-nama seperti mantri-garam, mantri-candu, mantri-kehutanan seperti pangkat ayahku, dan beberapa mantri lagi. Bang Taib mendapatkan kedudukan itu kukira sangat sesuai dengan profesinya. Dia sudah sejak lama menekuni tugas pemberantasan malaria ini. Dan lagi aku tahu benar, dulu ketika Jepang tahun 1943 dia disekolahkan di Bangka dan Bengkulen, juga dalam soal kesehatan rakyat. Lalu tahun 1950 dia disekolahkan di Institut Pasteur di Jakarta, bagian laboratorium Eijkman. Tempatnya di sekitar Cikini - Raden Saleh. Aku sering ke sekolahnya, dan melihat dia praktek ketika pelajaran "mengoperasi nyamuk"! Jadi dia bekerja dengan mikroskop, dan benda-benda laboratorium lainnya.
Maksudku menceritakan ini semua, menyatakan bahwa dia memang benar punya keakhlian buat bidangnya. Pada mulanya dia bekerja menyemprot got-saluran air kotor, tebat-air yang tak mengalir dan penuh nyamuk malaria. Mencari dan menemukan sarang malaria, lalu memberantasnya dengan semprotan sejenis DDT, dan obat anti-nyamuk malaria-tropika lainnya. Karena nyamuk jenis itulah yang menularkan demam-malaria di kampungku, sehingga banyak penduduk sakit bahkan bisa mati kalau tidak segera diobati.
Karena semua pekerjaan dan hobby-nya sangat dekat dengan alam dan hutan, dan perkampungan,- pedesaan, Bang Taib sangat mencintai alam sekitar. Cobalah, dia sangat suka mancing, itu kan di laut. Dia sangat suka berburu, nembak, itu kan di hutan. Dan pekerjaannya mencari sarang malaria, itu kan di kampung-kampung dan pedesaan, dusun-dusun terpencil. Dan kalau bertugas ke perkampungan nelayan, ke berbagai pulau-pulau kecil, atau ketika hari libur bagian berburu dan mancing, selalu harus menggunakan perahu, motor-laut. Dan ketika itupun juga dalam balutan dan pelukan alam sekitar. Maka tidaklah heran kalau Bang Taib tidak bisa berpisah dengan alam, dengan hutan, dengan laut, dengan gelombang dan perahu, dan penduduk rakyat biasa yang sangat dicintainya.
Beberapa kali aku selalu mengikutinya buat memancing dan berburu. Sengsara, sungguh sengsara! Berburu, harus masuk hutan dan harus berjalan, terus berjalan, dari malam jam 20,__ sampai pagi, sampai pagi! Kalau dapat hasil buruan, kijang atau pelanduk, lebih setengah mati lagi, sebab harus mengangkutnya, memikulnya dibawa pulang atau diserahkan kepada penduduk dan rakyat setempat. Dan berjalan menuju rumahnyapun sangat jauh. Tak ada enaknya mengikuti berburu sambil membawa beberapa senapang yang dobbel-loop itu dan senapang-angin 5 setengah, buat menembak pelanduk ( kancil ). Berat, capek, lelah dan loyo. Tapi itu bagiku. Bagi Bang Taib, itulah suatu keindahan, kenikmatan hidupnya. Persis seperti ayahku.
Aku lebih suka nembak daripada mancing. Tapi nembakpun bukannya nembak rusa, kijang dan pelanduk, tapi nembak burung, seperti yang kulakukan di Tiongkok dulu itu. Dan mancing, aku tidak punya "kerezekian mancing". Rezekiku pada nembak dan beternak. Mancing, mengikuti Bang Taib, pernah semalaman aku tak mendapatkan ikan seekorpun. Padahal Bang Taib dan Bang Akil yang membawa kami, mendapatkan ikan-ikan besar yang banyak dan beratnya berkilo-kilo. Tentu saja aku sedih dan malu, sangat malu. Jadi kubenarkan kalau aku tidak punya rezeki mancing,- sangat memalukan.
Keikutan-sertaku menemani Bang Taib mancing maupun nembak dan juga ketika berdinas ke pulau-pulau itu yang dia namakan tourne, mungkin tour of duty, lebih banyak mau tahu saja. Dan mau ikut menemani Bang Taib. Ini biasanya kulakukan ketika liburan sekolah dari Jakarta selama liburan bulan puasa sampai sesudah lebaran. Yang menjadi kesukaanku, bukan pada jenis mancing dan nembaknya, tapi turut menikmati alam, hutan, pegunungan dan laut. Ketika sedang dirundung gigitan nyamuk dan rundungan lalat, memang menderita juga. Tetapi begitu ketika melihat laut, pantai, dan alunan ombak, lalu melihat perahu para nelayan yang hilir-mudik, lalu menyapu pemandangan dengan mata yang mengarah ke darat, maka betapa indahnya perumahan, pondok nelayan dari jauh. Lalu pohon kelapa yang berayun ditiup angin laut, dan sembulan bebatuan sepanjang bibir pantai, dan putihnya alunan ombak yang jinak. Semua itu sangat mempesonakan, nikmat dilihat, nikmat dirasakan.
Paris 1 Mei 2000
Bang Taib sebagai Kepala Bagian Pemberantasan Malaria, dan sebelum itu sudah bekerja di DKR, selama lebih dari 20 tahun, diberi tanggungjawab untuk juga bisa mengobati berbagai penyakit di daerah operasinya. Kepala Dinas Kesehatan Rakyat, seorang dokter bernama Tjoa Peng-lie. Dokter Tjoa dipindahkan dari Jakarta, RSUP ( Rumah Sakit Umum Pusat ) buat membina dan membangun dengan perluasan tertentu beberapa pos kesehatan, yang jauh sesudah itu barulah bernama Puskemas yang sekarang ini. Kerjasama antara dr Tjoa dan Bang Taib sangat serasi dan banyak kecocokan. Ada lagi faktor kesamaan hobby, dokter Tjoa suka mancing juga seperti Bang Taib. Dan mereka adakalanya berjanji untuk mancing bersama. Tetapi dokter Tjoa tidak suka berburu, nembak.
Secara kebetulan aku sendiri mengenal dengan baik dokter Tjoa. Sebab pada tahun pertengahan 50-an, dokter Tjoa-lah yang kebetulan mengoperasi kakiku yang bengkak, lalu infeksi dan ketika kubawa ke RSUP, dialah yang menanganinya, dengan operasi kecil, lalu sembuh dengan baik. Dan ketika dia sudah pindah ke Tanjungpandan, dan aku selalu saja ikut ke mana-mana dengan Bang Taib, kami mula-mula saling mengangguk, lalu dokter Tjoa menanyakan di mana rasanya kita pernah bertemu. Dan kuceritakan bahwa dokter-lah yang mengoperasi kaki saya ketika di RSUP. Dia lalu tertawa dan kubuka kaos kakiku, kuperlihatkan kepadanya, sudah sembuh dengan sangat kecil bekas - guratannya, jahitannya. Dan dokter Tjoa tampak sangat senang. Lalu kami menjadi akrab bertiga. Karena "rasa kekagumanku" kepada dokter Tjoa yang baik itu, kubuat sebuah cerpen tentangnya dan dimuat di HARIAN RAKYAT MINGGU, dan begitu terbit kuberikan kepada dokter Tjoa. Lalu dibacanya. Dengan tertawa dan tampak agak tersipu, diberinya komentar : "you berlebihan menggambarkan saya. Ini lebih banyak pujiannya daripada cerita yang sesungguhnya. Tapi tak apa, ini juga suatu propaganda buat bekerja demi kebaikan rakyat, sesuai dengan nama Dinas Kesehatan Rakyat-nya", kata dokter Tjoa.
Ketika tourne ke pulau-pulau sekitar Belitung, aku ikut dengan Bang Taib. Aku tahu, dia sebenarnya selalu ingin agar aku ikut, tetapi aku tahu juga, dia segan pada ayahku, pamannya sendiri. Sebab datangnya aku ke Belitung adalah buat liburan dan buat keluarga. Tetapi dengan selalu ikut Bang Taib, jadi kurang waktu bersama keluarga terdekat. Keseganan Bang Taib ini kukatakan padanya, ayah tak pernah menghalangiku buat selalu ikut dengannya.
Dan kami dengan perahu berlayar kesekitar pulau Belitung. Mula-mula ke Tanjungtikar, masih bagian dari pulau Belitung, tetapi karena bentuk pulaunya demikian rupa, haruslah menyeberang dengan perahu walaupun masih satu daratan dengan pulau utamanya. Nama penyeberangan itu adalah sama dengan kata kerjanya yaitu Seberang. Lalu terus ke Tanjungtikar, lalu ke pulau Seliu, dan Mendanao. Semua ini dalam rangka memeriksa hasil pekerjaan bulanan yang dikerjakan bagian Pemberantasan Malaria dari DKR. Kami semua berlima, dua orang lainnya adalah memang pegawai dinas kesehatan dari DKR. Ketika sampai di sesuatu tempat, di perkampungan nelayan, penduduk sudah berkumpul jauh sebelum kami datang. Mereka sudah siap buat minta pemeriksaan berbagai macam penyakit, juga pegawai DKR bertiga itu siap pula dengan alat-alat pemeriksaan dan berbagai macam obat-obatan, vitamin, suntikan, dan mikroskop,steteskop, alat-alat laboratorium, buat memeriksa bakteri, amube, dan jenis nyamuk malaria tropika atau malaria sentana, retina, dan sebagainya.
Akh, jadinya betapa juga aku senangnya, banyak yang dapat kuketahui dan kupelajari. Dan banyak yang dapat kulihat dan kusaksikan. Betapa sebenarnya begitu antusiasnya penduduk dan rakyat setempat membutuhkan obat-obatan, dan pengobatan. Juga betapa banyaknya mereka yang sakit, kurang vitamin. Berbagai macam penyakit rakyat seperti kudisan, gatal-gatal, gembung perut, tbc, sakit kuning, batuk-rejan, korengan, mata-rabun, bengek, dan tak sedikit yang membutuhkan dan harus dioperasi. Dan semua ini mereka catat buat menyediakan pengangkutan, dibawa ke ibukota kabupaten.
Karena kesibukan yang hanya tiga orang mereka pegawai DKR, maka aku turut membantu. Dan mereka sangat senang karena aku siap sedia membantu, yang padahal sebenarnya aku sendirilah yang sangat senang, sebab diberi kepercayaan penuh untuk itu. "Kau cari aneurin, 50 cc", kata Bang Taib. Dan aku membongkar dalam tas RS DKR-nya. Jauh sebelum itu karena aku juga sangat senang akan ilmu kedokteran, maka banyak istilah yang aku tahu. Aneurin adalah nama lain buat vitamin B1,- Bang Taib siap menyuntikkan vitamin BI kepada beberapa penduduk. "Jangan lupa alkohol, cari yang 90 derajat, jangan yang 70, sebab orang itu juga termasuk kudisan", kata Bang Taib. Dan aku menuruti perintahnya. Paling baik memang alkohol 90 derajat, sebab disamping bisa mensteril, lalu bisa mematikan jenis bakteri, amube dan mikrobe.
Seorang penduduk yang tampaknya selalu riang-gembira, dan tampaknya sehat dan perawakannya kuat, gagah, yang juga kenal baik dengan Bang Taib, minta suntikan. Aku tak tahu sakit apa dia. Tapi Bang Taib "memerintahkan" padaku. "Ambil ampul a-d", katanya. Nah, tahulah aku, dalam ampul itu hanyalah air biasa saja, bukannya apa-apa, tapi steril dan tak akan membawa efek jelek. Itu artinya aqua-destilata. Ada efek psikologisnya. Orang yang keranjingan suntikan, dengan aqua-destilata saja, sudah merasa sangat sehat dan merasa sangat kuat setelah disuntik dengan "obat" itu!
"Ambil dan bungkus vit C sebanyak C juga" kata Bang Taib. Kubungkus vitamin C menjadi 4 bagian, masing-masing 25, sebab istilah C artinya 100,-
Dua tiga hari itu kami betul-betul sibuk melayani penduduk sakit, minta obat, minta periksa, minta suntik, bahkan ada yang minta operasi, yang padahal belum tentu harus dioperasi. Penduduk dan rakyat setempat itu sangat ramah, baik dan menyenangkan. Dan kulihat Bang Taib betapa senang, gembira dan benar-benar menikmati mata-acara-pekerjaannya. Tourne sekali ini kami banyak melayani penduduk yang sakitan, selama satu minggu. Dalam dinas kerja itu, tak ada jam-kerja. Begitu bangun pagi, sudah ditunggu penduduk dan rakyat sekitar di bangsal pendopo tempat pertemuan kampung. Dan kapan selesainya? Sehabis makan siang, lalu mulai lagi, sampai makan malam. Lalu mau tidur malam barulah selesai. Dan bukan main lelah letihnya, tapi herannya, hati tetap senang dan gembira. Rasanya dada ini ada rasa mongkoknya, sebab merasa sudah membantu orang dan rakyat. Padahal apalah artinya hanya musiman saja, bukannya kerja-tetap,- ini untukku. Tapi untuk Bang Taib dan temannya itu, mereka benar-benar bekerja sambil mengabdikan diri buat kesehatan rakyat dan penduduk.
Semua ini tidak pakai bayaran, gratis, subsidi dari pemerintah. Dengan sendirinya, semua kami, terutama pegawai DKR-nya, tak dapat penghasilan apa-apa. Memang ada selalu oleh-oleh yang diberikan penduduk kepada mereka, seperti ikan-asin, kelapa, minyak-kelapa, singkong, tepung singkong, dan beberapa jenis makanan lagi. Tetapi rombongan kami juga membawa kopi, gula, tembakau, minyak-tanah dan beberapa lainnya buat dibagikan kepada penduduk, terutama di mana kami akan menginap.
Setelah bekerja - memeriksa - tugas-tugas selesai, nah, waktu itulah yang benar-benar kesempatan yang sebaik-baiknya buat istirahat. Kulihat Bang Taib sangat pandai menikmati istirahat yang sedikit waktunya itu. Dia mencari tempat duduk di ketinggian di sebuah batu yang menghadap pantai dan laut. Matanya menyapu pemandangan jauh ke depan. Laut yang tenang, ombak yang jinak dan angin yang semilir, di bawah pohon nyiur. Di depannya beberapa perahu nelayan tampak putih warna layarnya, dan berjalan pelan seperti kupu-kupu di atas kaca-alam. Agak kebelakang, masuk sedikit hutan, riuh bunyi berjenis burung. Dan Bang Taib ketika itu selalu ingin sendiri, jangan diganggu, biarkan dia menyatu dengan alamnya.
Dulu, ketika Bang Taib harus ke Jakarta berhubung dengan tugas yang diberikan oleh DKR, baru beberapa hari saja dia sudah gelisah mau pulang. Selalu saja ingin pulang segera. Dia tak bisa lama-lama meninggalkan Belitung dengan pantai dan lautnya, serta hutannya, dengan kesukaanya akan mancing dan nembak. Lalu tourne, ke berbagai pulau dan bertemu dengan banyak penduduk dan rakyat setempat. Siapakah bisa meramalkan bahwa pada akhirnya nasib Bang Taib jadi begitu?
Tahun 1965, dia ditugaskan sambil berobat dan mewakili organisasi dari daerahnya, turut menghadiri upacara ulangtahun kemerdekaan Tiongkok pada 1 Oktober 1965. Dan ketika terjadinya huru-hara itu, dia termasuk orang yang tidak bisa pulang berhubung dengan keadaan tanahair sedang kacau-balau dengan pembasmian habis-habisan terhadap kaum kiri. Selama itu dia sangat lama berada di rumahsakit dan sanatorium, bertahun-tahun sakit-lever, hepatetis B. Dan pada suatu kali setelah pemeriksaan dokter dengan teliti dan menyeluruh, ternyata dia terkena kangker-hati. Akibat penyakit ini, dia tidak bisa bangun dari pembaringannya, sehingga pada tempat-tidurnya dibuatkan sebuah lobang buat dia buang-air, karena dia sudah tidak bisa duduk lagi.
Namun dia selalu cerita tentang bagaimana bagusnya dan indahnya pulau Belitung itu. Dan dia tetap bercita-cita ingin pulang segera ke Belitung. Ingin ke berbagai pulau, ingin mengobati penduduk dan rakyat setempat. Semua keinginannya ini diutarakannya kepadaku. Dan kami selalu saling bercerita tentang pengalaman lama di Belitung dulu itu. Kami saling cerita bernostalgia tentang kunjungan kami ke pulau-pulau dulu itu. Mengobati penduduk, menyuntik, memeriksa dan soal suntikan aqua-destilata itu, kepada seorang pemuda yang kuat-sehat, tapi keranjingan suntikan!
Kami tertawa mengenangkan semua itu. Tapi begitu aku sampai di rumah kembali, aku menangis. Aku tahu benar, dan sangat kasihan dengan nasib Bang Taib. Umurnya ketika itu sudah hampir 50 tahun, tetapi belum juga berkeluarga. Dan, dan yang ini, yang paling mengenaskan, tak beberapa lama sesudah itu Bang Taib meninggal di rumahsakit Nanchang, ibukota provinsi Ciangxi, Tiongkok Selatan. Betapa cintanya dia akan pulau Belitung itu. Betapa cintanya dia akan pekerjaannya, mengabdi penduduk setempat, mengobati orang dan bergumul, berkutat, masuk-dalam-dalam ke relung-jantung alam sekitar. Dan aku merasa sangat kehilangan, abangku Bang Taib, anak-alam, anak-sungai dan lautan dan anak-hutan yang sangat cinta akan semuanya itu,-
Paris 2 Mei 2000
Kukira yang mengasah dirikita, yang membikin kita menjadi tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, adalah persintuhan dengan orang perorang, antara manusia. Dan hal ini hanya kita dapatkan dalam pergaulan antara manusia, lebih kongkrit lagi dalam pekerjaan sehari-hari. Pelajaran yang paling baik yang kita dapatkan adalah dalam pergaulan dan pergulatan masarakat, dalam praktek kehidupan nyata. Dan sekolah besar itu adalah masarakat sekitar kita sendiri. Dari pergaulan dalam pekerjaan kita sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, artinya kita hanya melihat dan medengar saja, dan mengetahui, itupun sudah menambah pengetahuan dan pengenalan kita terhadap sesuatu hal, apalagi kalau secara langsung dan mengalami sendiri.
Pekerjaan, kerja-keras, kelelahan dan keletihan, semua itu adalah batu-pengasah bagi hati dan jiwa kita. Kesusahan hidup, penderitaan kehidupan, jalannya perjuangan buat kehidupan, buat cita-cita, buat kebaikan masarakat, apalagi buat bangsa dan rakyat, semua itu menempa dirikita, menyepuh dirikita. Apakah seseorang akan menjadi baja yang baik, emas-intan dan permata yang baik, atau hanya loyang dan tembaga biasa saja, malah siapa tahu hanya hamparan batu kerikil saja, atau bahkan jadi sisa-sisa sampah masarakat, semua itu ditentukan oleh lingkungan kita, dan kita sendiri. Olah dan ulah kita sendiri akan menentukan watak dirikita, dan semua itu atas dasar dan dalam perjuangan kehidupan itu sendiri.
Betapa banyak yang bisa kita pelajari dalam kehidupan nyata yang kita geluti sehari-hari, di sekitar kita. Seseorang, sesuatu kelompok, bagian, keluarga, semua selalu ada-ada saja yang bisa kita ambil dan petik hal-hal yang baik, disamping juga ada hal-hal yang sebaiknya janganlah kita tiru! Jadi seperti kata kearifan-lama, seseorang itu akan selalu ada hal-hal baiknya dan juga ada hal-hal buruknya. Tergantung dirikita, yang mana yang mau kita ambil, yang mau kita petik. Di sesuatu hal ihwal, perihal, orang-manusia, akan selalu ada segi baik dan segi buruknya, bagaikan sebuah mata-uang yang selalu ada dua sisi. Dalam filsafat Tiongkok-lama, dia dinamakan yangying, unsur positive dan negative. Dan tak dapat dikatakan mana yang baik, sebab dua unsur itu sangat erat berhubungan dan saling berkaitan,- dan tergantung pada hal-ihwal tertentu dan pada waktu tertentu pula.
Dalam suatu badan pekerjaan, di suatu kantor atau perusahaan, atau pabrik, kita dapat melihat dan menemukan berbagai macam orang, berbagai macam tabiat, perilaku, kebiasaan, dan berbagai macam watak. Seseorang sangat baik bekerjanya, sangat rajin dan tekun, tetapi selalu tidak baik sikapnya terhadap teman lainnya. Ada juga baik kedua-duanya, terhadap pekerjaan dan terhadap teman lainnya, tapi kekurangannya suka marah, pemarah dan lekas sekali tersinggung dalam perasaan, suka menyimpan emosi. Kelihatannya seakan-akan bertentangan watak yang demikian, tetapi sebenarnya dan kenyataannya tidak, ada kasusnya.
Ada seseorang sangat tekun dan rajin kerjanya, sangat rapi dan bersih serta teliti. Tetapi selalu saja ada kekurangannya. Dia ini diam-diam sebenarnya cukup lumayan egoistis dan mementingkan dirinya sendiri, dan selalu suka pujian, suka sanjungan dan mencari sanjungan. Bukan main sulitnya buat mencari kesempurnaan yang menyeluruh. Maka benar dan tepatlah kata peribahasa, "tak ada gading yang tak retak", tak ada manusia yang sempurna yang begitu ideal, komplit baik dan luhurnya. Seseorang yang sempurna dan tiada cacat itu, mungkin selalu belum dilahirkan atau sudah lama mati.
Belajar dalam kehidupan nyata, dalam masarakat, dalam pekerjaan dan pergaulan, memang betapa asyiknya, disamping juga betapa muskilnya. Dalam pekerjaan yang kongkrit kudapatkan selama ini yalah : betapa sulitnya mengatasi perasaan dan emosi yang seharusnya dikendalikan. Lalu apakah yang paling sulit dalam pekerjaan? Yang paling sulit dalam pekerjaan yalah : bagaimana sibuk dan giat serta aktive bekerja, tetapi wajah dan airmuka tetap bersih,selalu senyum, jernih dan tenang. Betapapun sibuk dan banyaknya pekerjaan, tapi tidak marah-marah, tidak menyalahkan orang lain, tidak menganggap dirikita adalah penting dan hebat. Nah, inilah yang paling sulit! Dapat membedakan salah dan benar, baik dan buruk, memilih mana yang sebaiknya diambil, itupun memerlukan pengalaman yang tidak begitu mudah.
Apalagi kalau mau sampai pada kejujuran. Kejujuran itu, menjadi bisa dan sanggup memegang kejujuran, bukanlah begitu saja datang dari langit, tahu-tahu sudah ada dan sudah hinggap didiri-kita. Kejujuran itupun datangnya bertahap, melalui proses yang lama, proses belajar dan kegagalan yang berulang-ulang. Kukira tidak ada atau adalah kebohongan kalau seseorang mengakui dirinya selalu jujur dalam segala hal, yang padahal belum dan tak pernah teruji! Datangnya dan berdominasinya kejujuran itu pada diri seseorang, selalu melalui proses yang lama, teruji, pernah berkali-kali gagal, dan adakalanya masih juga gagal ketika mempraktekkannya. Dan itulah sebabnya, hanya dalam praktek-sosial dirikita dapat menempa semua itu. Dan itupun belum pasti secara otomatik penempaan itu akan menjadi baja, emas-intan dan permata. Kehidupan adalah tidak selalu lurus seperti jalan Malioboro di Yogyakarta, atau jalan yang bersimpang 13 di pusat kota Paris sekitar Champs-Elisees.
Kehidupan itu sangat berliku-liku, dan jalan kehidupan itupun juga berliku-liku, banyak persimpangannya. Banyak perbedaan, disamping juga banyak persamaan. Yang kami alami misalnya, tidak dialami oleh orang lain. Sebaliknya yang orang lain alami, kami tidak mengalaminya. Kami tidak mengalami penyiksaan secara langsung, penderitaan fisik, masuk penjara, kelaparan, dibuang ke Pulau Buru, dan sebagainya. Tetapi kami mengalami yang sampai kini menjerat dan membelenggu kami, yalah sampai kini kami tidak boleh pulang ke kampunghalaman kami sendiri, tanahair kami sendiri.Sampai kini kami belum bisa menyatu dengan keluarga dan teman-teman serta sahabat kami yang di tanahair dan kampunghalaman kami sendiri.
Paris 4 Mei 2000
Selama aku tinggal di Paris hampir duapuluh tahun, sudah beberapa kali pindah rumah dan pindah kota. Setiap pindah ke tempat baru, selalu harus berurusan dengan segala macam kertas, surat-surat penting, dan urusan kepindahan itu. Misalnya bank, surat kartu-penduduk, listrik, tilpun, dan alamat-alamat surat penting lainnya. Dan untuk mengurusnya ini, diperlukan waktu cukup lama. Melengkapi surat-menyurat resmi, atau menggantinya dengan yang baru. Mengajukan permohonan baru, dan segala macam permintaan dari jawatan tertentu buat bisa mengeluarkan surat yang baru, di tempat yang baru.
Di situlah kita akan banyak menemui berbagai macam kesulitan, berbagai macam pengalaman. Dan juga berbagai macam watak orang perorang, adat kebiasaan, dan perilaku para pengurus surat-surat itu. Di sesuatu kantor, jawatan, prefekture, kantor pemerintah daerah yang dibawah kepolisian, berbagai macam perilaku yang kita temui, kita akan banyak belajar. Belajar bagaimana seharusnya bekerja dengan baik, atau bagaimana seharusnya jangan sampai melakukan seperti orang-orang yang kita lihat dan kita jumpai itu!
Sebuah kantor prefekture yang pegawainya kebanyakan dengan disiplin kerja kepolisian, tidak sedikit yang perilaku kerjanya sangat lamban, tidak serius, dan kurang tanggungjawab. Tak sedikit yang pegawainya, petugasnya sedang asyik ngobrol, minum-minum kopi di tempat kerjanya ( bukan di kantin ), bahkan baca koran, ngerokok menikmati isapan rokoknya. Sedangkan orang-orang yang bekeperluan dengannya, menanti, menunggu dengan hati yang agak dongkol melihat perilaku mereka. Bukannya kesibukan kerja yang mereka lakukan, tapi penuh dengan kesantaian, ngobrol ngalor-ngidul dan tertawa riang terbahak-bahak. Yang diceritakan kebanyakan hal-hal sepele yang samasekali tak ada hubungan dengan pekerjaan kedinasan mereka. Bagaimana orang-orang di luar yang sedang menunggu panggilan itu tidak akan dongkol! Mau marah, mau protes,- ingat ini kantor kepolisian pemerintah daerah! Kalau urusan mau selesai dengan baik, jangan macam-macam, kamu bisa panjang diperkarakan, ini pusat kekuasaan!
Mengurus surat menyurat resmi semacam ini di Paris, rata-rata memerlukan sehari suntuk jam-kerja, dari pagi sampai sore. Paling banyak makan waktu karena menunggu, karena antrinya panjang. Sedangkan yang bekerja lambat, lamban dan tidak gesit, penuh kesantaian. Adalah baik kalau jalannya lancar, biar lambat dan lama tapi selesai. Sangat mengesalkan kalau begitu lama antri menunggu, sambil melihat perilaku mereka ngobrol, tahu-tahu urusan kita belum lengkap, harus kembali minggu depan! Yang diherankan, hal ini sering terjadi justru di kantor dan jawatan pemerintah yang sebenarnya harus punya pelayanan yang baik buat masarakat.
Apakah kantor, jawatan semacam ini semua begitu? Tidak juga. Kepindahan terakhir ini, aku dapat rumah di daerah Fontenay Sous Bois, dengan alamat dan kotapraja baru. Karena kepindahan baru, maka lagi-lagi harus mengubah semua surat menyurat resmi. harus diganti alamat baru, urusan baru. Dan berbagai kantor dan jawatan harus didatangi buat keperluan kepindahan itu. Belum apa-apa, hati dan perasaan sudah siap-siap dongkol, sebab mengingat pengalaman lama yang sangat tidak menyenangkan itu.
Pelajaran bagi kehidupan yang banyak kualami. Janganlah belum apa-apa sudah apriori, sudah berprasangka buruk, padahal belum terbuktikan. Pengalaman pertama aku datang ke Mairie, kotapraja Fontenay Sous Bois, kutemui suasana yang belum pernah kurasakan selama belasan tahun aku di Paris. Ketika aku mengurus surat-surat kepindahan, agak mengherankan juga, pegawai dan petugasnya pada baik-baik, ramah-ramah dan berwajah senyum. Selalu menanyakan segala sesuatu kelengkapan surat menyurat dengan kata-kata yang baik, malah selalu mengingatkan, jangan sampai lupa. Atau bahkan mengatakan pada kita, agar besok-lusa datang buat melengkapinya. Malah ada surat menyurat yang pada hari itu juga selesai dengan lancar. Dan tampak suasana kerjanya sangat menyenangkan.
Banyak orang antri mengurus surat-surat, tetapi mereka pegawainya, petugasnya semua sibuk bekerja, namun dengan wajah yang bersih, ramah dan hangat. Melihat semua ini, perasaan jadi aman, senang dan juga penuh kegembiraan. Bahkan, lain lagi persoalannya, di sini malah yang sering ribut, ramai dan cerewet adalah yang mengurus surat-surat itu, karena tidak sabaran, karena mau cepat dan ringkas. Padahal semua pegawainya sangat baik, sangat ramah, bahkan kulihat sangat sabar. Sebab tidak sedikit yang datang mengurus urusan surat sudah dengan perasaan yang penuh marah-marah. Jadi barangkali seperti aku dulu itu, belum apa-apa sudah ada benteng kemarahan, gelombang luapan kebencian.
Kantor kotapraja Fontenay Sous Bois memang sangat dikenal dengan keramahan dan keterbukaan para pegawai dan petugasnya. Kalau kita sedang mencari-cari di mana kamar dan bagian kantor sesuatu urusan, maka kalau ada seorang pegawainya kebetulan melihat kita sedang mencari sesuatu, dia akan menanyakan kepada kita. "Anda mencari sesuatu? Apa bisa saya menolong Anda?" "Oh ya, terimakasih banyak. Saya mencari urusan bagian penyewaan apartemen". "Nah, di sana agak ujung, kamar nomor 145". "Maaf lagi. Sudah itu bagian bantuan keringanan perpajakan". "Nah, Anda turun ke tingkat dua, kamar nomor 47", katanya dengan wajah yang jernih. Sungguh sangat jarang ada kantor dan jawatan yang pegawai dan petugasnya begitu baik dan mengemban kewajiban yang begitu diperlukan bagi pelayanan umum.
Memang seharusnya bagian pelayanan public-service melayani dengan penuh tanggungjawab semua harapan dan permintaan penduduk setempat. Tidak boleh bekerja semaunya, tidak serius dan lamban, samasekali tidak mengabdi umum. Dan semua unsur yang seharusnya itu, kutemui di kebanyakan kantor di tempatku sekarang ini, kotapraja Fontenay Sous Bois. Mengurus apa saja, kita akan selalu menemui banyak keramahan dan kemudahan. Kalaupun ada hal-hal yang kiranya agak macet, sumbernya memang dirikita sendiri, salah sendiri, karena memang kurang lengkap surat menyuratnya.
Lalu pada suatu kali, karena urusan yang sangat penting, yaitu bagaimana buat mendapatkan apartemen murah, maka kami mau tidak mau diberi kesempatan buat bertemu dengan walikotanya, Tuan Louis BAYEURTE. Tuan Bayeurte menyediakan waktu kepada penduduknya setiap hari Kemis buat penduduk bertemu dengannya, selama jam-kerja itu. Bisa mengemukakan segala hal ihwal yang berkenaan dengan kehidupannya. Jauh sebelum itu, kami mengenal Tuan Bayeurte melalui majalah, berita kota kami, koran lokal. Dari semua berita dan siaran koran lokal, tampak nyata bahwa Tuan Bayeurte sangat aktive, giat dan turun ke bawah, langsung menangani berbagai macam persoalan kotanya dan penduduknya.
"Jadi sudah berapa lama Anda tinggal di Paris dan di Fontenay Sous Bois ini?" " Masuk Paris tahun 1981, dan tinggal di Fontenay tahun 1984. Menyewa apartemen yang kami rasakan sangat mahal buat kami", kataku yang ketika itu disertai anak bayi, cucuku Laura. "Sebelum ini di mana keberadaan Anda?" "Di Tiongkok", kataku. Dan dia kulihat memeriksa semua dossier kami, dalam sebuah map yang cukup tebal. "Anda punya koperasi restaurant rupanya?", katanya sambil membalik-balik dossier kami. "Ya, sama-sama teman lain"? "Semua kaum refugie?" "Ya, tapi juga ada empat orang Perancis dan empat kami dari refugie", kataku. "Baik ini, usaha sendiri ya, membantu dan menyediakan lowongan pekerjaan buat keperluan bersama", katanya.
Dari percakapan itu, dapatlah kuketahui, keadaanku dan keadaan keseluruhan kehidupan kami, cukup mendapat perhatiannya. Dan kami menunggu semua itu, buat mendapatkan sebuah rumah yang dapat kami jangkau dengan pendapatan yang minimum ini.
Dan sesudah itu berkali-kali aku bertemu dengan Tuan Bayeurte. Dan yang paling sering malah bertemu di kolam-renang di kota kami. Dia selalu menyempatkan diri buat berenang satu kali dalam satu minggu paling sedikit. Dan kalau bertemu selalu dia dengan ramah bersalaman dan bertegursapa dengan ramah. Pernah bertanya ini itu tentang kehidupan kami. Bahkan yang paling mengesankan, dia mengajak kami mengunjungi Pesta L*Humanite, sebuah Pasar Raya yang setiap bulan September diadakan di Paris ini. Sebuah Pasar Raya yang terbesar di Eropa.
Lama aku berpikir tentangnya, tentang Tuan Bayeurte ini. Sebab tertulis dan tercatat di sebuah batu prasasti sejarah kotapraja Fontenay Sous Bois, bahwa Tuan Bayeurte sudah menjadi walikota Fontenay selama lebih tigapuluh tahun! Apa sebabnya begitu lama dia bisa bertahan dan selalu terpilih dengan demokratis. Yang padahal ada beberapa partai dan golongan yang mencatatkan diri buat bersaing pada pemilihan walikota kotapraja itu.
Melihat dan memperhatikan, dan juga melihat suasana kantor dengan semua pegawai dan petugasnya, maka pantaslah dia disukai dan sampai kini terpilih sebagai walikota yang mungkin termasuk terlama di sekitar Paris ini. Dia dengan keseluruhan pegawai, staf dan petugasnya, ibarat satu kesatuan yang kompak. Sepenuhnya bekerja buat mengabdikan dirinya buat kepentingan penduduk dan rakyat setempat.
Aneh, dan heran, kalau kami datang ke kotapraja dengan keperluan berbagai urusan, kami merasa datang ke rumah sendiri, merasa ada hak, bahwa inilah kotapraja kami. Dan semua pegawai dan petugasnya yang ramah dan baik-baik itu, betul-betul sangat jarang ditemukan di bagian manapun di Paris ini. Dan kota kami sampai kini sangat bersih, kota bunga, bagus, jalannya mulus, sarana pendidikan anak-anak sangat baik, kantor kesehatan cukup buat melayani penduduk. Dan penduduk merasakan bahwa kotapraja mereka selalu berkembang dengan pesat dan baik, terpelihara, sangat menyenangkan. Keluhan penduduk sangat kurang, pada umumnya puas. Dalam hatiku, tentu saja Tuan Bayeurte bisa menjadi walikota sekian lama. Penduduk dan rakyat ingin kehidupannya aman, tenang, terpelihara dan diperhatikan secara seksama, dan semua itu cukup terpenuhi. Pantas saja walikota Bayuerte bisa bertahan puluhan tahun. Hanya hasil kerjanya dan tanggungjawabnya itulah yang menjamin dirinya mengapa bisa terjadi demikian lama bertahan di fungsi dan posisinya.
Paris 5 Mei 2000
Nama tokoh cerita yang dikenal di Tiongkok yalah Avanti, mungkin kemudian menjadi Afandi. Dan nama yang dikenal di kalangan kita di Indonesia yalah Abunawas. Abunawas menurut catatan, hidup pada zaman Sultan Harun Al Rasyid, ada di daerah Asia Tengah. Sedangkan Avanti atau Afandi, ada di daerah Uighur, dekat Sinjiang, perbatasan daerah Uni Sovyet ( dulu ) atau Rusia ( sekarang ) dan Tiongkok. Sinjiang ( Xinjiang ) wilayah Tiongkok yang berbasiskan penganut agama Islam, karena itu namanya kebanyakan nama muslim. tetapi karena juga dekat Rusia, maka namanya ada yang bercampur dengan nama Rusia, seperti misalnya Burhanove, Ismailove, dan lainnya.
Afandi dan juga Abunawas adalah tokoh rakyat biasa. Miskin tapi pintar dan cerdas. Sering-sering suka membuat olah macam-macam, tetapi disukai banyak orang. Karena dia juga banyak membela dan berpihak pada rakyat biasa yang seperti dirinya sendiri juga, maka dia dicintai dan disukai penduduk. Menurut "sahibbulhikayat" pada pemerintahan Harun Al Rasyid itu, adalah pemerintahan yang makmur, adil dan sejahtera. Pengadilan sangat ketat memegang perundang-undangan dan peraturan. Rakyat bisa mengadukan kepada sidang pengadilan yang dikepalai seorang Kadi, dan sidang pengadilan akan memberikan keadilan yang sejujur dan seadilnya, demikian kata "sahibbulhikyat" pada zaman itu.
AFANDI MAU TERBANG
Sudah terdengar ke mana-mana berita bahwa Afandi mau terbang. Dan banyak orang-orang menanyakan kepadanya sendiri, apakah betul Afandi mau terbang. "Ya, memang saya mau terbang", kata Afandi. "Apakah orang-orang banyak sekitar pedesaan dan kota kita ini sudah pada tahu semua bahwa Tuan mau terbang?". "Saya tidak tahu, yang saya tahu betul bahwa saya mau terbang, itu saja", kata Afandi. Dan orang-orang yang datang ke rumah Afandi, ketika menanyakan perihal dirinya, semua mendapat jawaban yang sama. Banyak orang-orang heran, jangan-jangan Afandi ini sudah gila. Dan juga saling bertanya, bagaimana maka Afandi punya pikiran tiba-tiba mau terbang itu.
Kabar Afandi mau terbang benar-benar sudah merasuki semua pedesaan dan kota di provinsinya, dan bahkan sudah terdengar kepada Sultan penguasa negeri. Kabar ini menjadi suatu kehebohan. Orang tahu benar bahwa Afandi itu sama seperti orang-orang kebanyakan, mana ada punya sayap, tak ada alat-alat khusus, tidak juga menganut ilmu-burung yang bisa terbang. Kepala Kampung mendengar berita ini betul-betul marah, karena beritanya sudah begitu meluas dan terjadi sedikit kehebohan, sebab orang-orang saling berdebat dan bertengkar. Mereka saling berdebat, bertengkar bahkan cekcok, dan berkelahi, sebab ada yang tak percaya bahwa Afandi mau terbang itu. Ada yang bertahan, pasti Afandi bisa terbang, karena mereka tahu benar bahwa Afandi tak pernah bohong. Orangnya jujur dan memegang janji dengan teguh. Sifat-sifat Afandi banyak orang tahu, sebab dia sangat disukai orang banyak. Tetapi banyak juga orang tak percaya, masaksih Afandi yang begitu-begitu saja lha kok bisa-bisanya mau terbang, tak mungkin!
Kepala Kampung memanggil Afandi menghadap. Afandi dengan diiringi banyak orang dan "pengawal"nya datang memenuhi panggilan Kepala Kampung. Kepala Kampung yang merangkap penguasa daerah itu menanyai Afandi.
"Afandi, betul kamu mau terbang?" "Ya, tuanku, memang saya mau terbang", jawab Afandi. "Kapan? Dan di mana?". "Hari Jumat yang akan datang ini, dan dari menara mesjid Baitulrakhim, tak jauh dari rumah saya", kata Afandi. "Afandi, karena berita tentang kamu ini sudah sangat meluas, dan bahkan terjadi sedikit kehebohan, maka pengadilan masarakat, akan menyaksikan kamu, dan kamu kalau berbohong sesuai dengan kitab-undang-undang negeri, akan mendapat hukuman. Kamu tahu, berbohong dan membohongi orang banyak, sama dengan menipu, dan menipu ada hukumannya, sampai yang paling keras yalah hukuman gantung", kata Kepala Kampung. "Baik tuanku. Saya tidak berbohong, bahwa saya mau terbang, pada hari Jumat dan dari menara tertinggi mesjid Baitulrakhim tak jauh dari rumah saya", kata Afandi dengan tegas.
Orang-orang yang menyaksikan dan medengarkan dengan hati dan jantung deg-degan mendengarkan dengan rasa takut, ragu-ragu dan dengan kekaguman. Bayangkan Afandi, teman mereka yang biasanya pada saling berhutang, kini tiba-tiba akan menyaingi burung Garuda yang berani membelah langit! Siapa yang takkan kagum. Tetapi dalam pada itu banyak juga yang meragukan kebisaannya. Dengan alat apa dipakainya buat terbang? Mampukah dia? Berbohongkah dia?
Orang-orang pada menunggu hari Jumat. Katanya sehabis sembahyang lohor hari Jumat itu, semua penduduk pedesaan dan sekitar kota itu, akan berkumpul bersama menyaksikan Afandi terbang. Dan seperangkat alat-alat hukuman buat Afandi menjalani hukuman kalau dia berbohong juga sudah siap. Sesudah sidang pengadilan nanti memutuskan hukuman apa yang akan dijalankan terhadap Afandi. Apakah dengan 100 lecutan rotan, apakah dengan pemotongan daun kuping, ataukah yang paling berat, hukuman gantung.
Orang-orang pada hari Jumat itu, ramai-ramai bersembahyang bersama di mesjid. Yang biasanya sangat jarang ikut bersama berjemaah, kini ramai-ramai berjemaah bersama sekalian melihat dan menyaksikan pertunjukan yang teraneh di dunia. Seorang Afandi, rakyat biasa, yang sering hutang-berhutang, kini, sebentar lagi akan mempertunjukkan kebisaannya yang bagaikan Garuda membelah langit dan menembus awan-gemawan. Betapa mengagumkannya, membanggakannya!
Tapi dalam pada itu tidak sedikit yang berdoa agar Tuhan menyertai Afandi, melindungi Afandi, agar benar-benar Afandi bisa terbang dan jangan sampai kena hukuman dari Kepala Kampung. Mereka sangat memikirkan nasib Afandi. Karena apa yang dikatakan undang-undang dan Kepala Kampung, itu adalah mutlak tak dapat diubah.
Pada hari yang dinantikan, Jumat sesudah sembahyang lohor itu, lapangan sekitar mesjid Baitulrakhim sudah penuh orang. Orang biasa, rakyat, penduduk dan penguasa setempat, sudah berjubel, mengambil tempat masing-masing. Orang-orang menantikan saat yang paling genting dan mendebarkan. Afandi dicari semua orang dengan mata dan hati yang mau tahu, mau agar Afandi selamat dan lepas dari hukuman. Mau agar Afandi sukes dan berhasil gemilang dalam bercita-cita terbangnya.
Tak usah mencari Afandi. Afandi dengan langkah yang sangat gagah dan tak ragu, menaiki tangga menara tertinggi. Orang-orang mengikuti dengan mata yang nanar dan tak bergerak, terpaku, terpadu dan menyatu mengikuti seluruh tubuh Afandi. Ketika Afandi sampai pada puncak tertinggi, dia melihat lurus, dan terkadang ke bawah yang penuh orang. Badannya dan kedua belah tangannya merentang lurus, seakan-akan benar mau terbang. Orang-orang yang dibawah itu, dengan seksama memperhatikan, bahwa tak ada satupun alat-alat yang dipakai dan digunakan Afandi. Dengan alat apa lalu dia harus terbang? Orang-orang terus memperhatikannya. Dan Afandi terus dan berulang-ulang merentangkan tangannya dan memajukan badannya seakan-akan terbang dan bagaikan berenang perilaku gerak-geriknya. Beberapa menit dilakukannya, berulang-ulang. Tetapi nyatanya tetap saja Afandi tak bergerak terbang. Dan orang-orang di bawah yang menyaksikan itu benar-benar menunggu dengan jantung berdegup kencang.
Kepala Kampung dan seperangkat undang-undang dan peraturannya merasa sudah waktunya buat bersiap-siap membuka kitab-undang-undang, dan akan segera menjatuhkan hukuman apa yang seadilnya dan sejujurnya, dengan patokan yang terberatpun harus dilaksanakan kalau bunyi hukuman itu menyatakan demikian.
Dan orang-orang melepaskan desakan nafasnya yang tadi barusan begitu cepat jalannya jantung, kini sama-sama melihat Afandi turun ke bawah. Dan Afandi menemui mereka. Mereka semua terpana, terpesona, heran dan penuh keraguan, apalagi yang mau dibuat Afandi ini!
"Apa semua kalian lihat tadi bagaimana saya mau terbang itu?", kata Afandi. "Ya, kami lihat, kamu menggerakkan kedua belah tanganmu dan badanmu tergerak ke depan, tampaknya memang bergaya mau terbang", kata orang banyak. "Lalu apakah saya bohong bahwa saya mau terbang pada hari Jumat ini dan di menara tertinggi mesjid Baitulrakhim ini?", kata Afandi. "Ya tidak bohong, kamu betul mau terbang hari ini dan di sini. Tapi kenapa lalu kamu tidak terbang?", kata mereka. "Yang saya katakan saya mau terbang. Lalu saya coba, lalu ternyata yang seperti kalian lihat tadi itu", kata Afandi. "Tapi ternyata kamu tidak bisa terbang!", kata orang-orang. "Itu soal lain, saya tidak mengatakan bahwa saya bisa terbang. Saya hanya mengatakan saya mau terbang pada hari ini dan di sini. Itu yang saya katakan, dan kalian semua tahu semua itu. Tidak ada ke luar dari mulut saya yang menjanjikan saya bisa terbang. Saya katakan saya mau terbang, hanya itu, dan hari Jumat dan di sini, itu lihat, dari menara tertinggi mesjid ini", kata Afandi.
Orang-orang pada berlihatan, dan mulut-mulut bergumam. Tarikan nafas panjang, karena Afandi terlepas dari jeratan hukum. Orang-orang juga sama membenarkan bahwa Afandi memang tidak berbohong. Dia melakukan semua yang dia pernah katakan. Dan "rombongan Kepala Kampung" dengan tanpa banyak cingcong mengayunkan langkah kedongkolannya, dan mengumpat dengan mulut tertutup, sebab merasa malah mereka-lah yang diadili Afandi,-
Paris 6 Mei 2000
AFANDI dan TUAN TANAH
Ada seorang tuan tanah yang rumahnya tak jauh dari rumah Afandi. Sebagai tuan tanah tentu saja rumahnya sangat besar. Lengkap dengan seperangkat gudang makanan, pemeliharaan ternak, dan banyak kamar serta sangat kaya. Hampir semua penduduk sekitar daerah itu bekerja pada tuan tanah, bekerja keras mati-matian tetapi dengan hasil sedikit. Dan bila meminjam bahan makanan kepadanya, selalu dengan bunga dan bayaran serta pengembalian yang sangat tinggi. Derajat penghisapannya sangat kejam. Dan lagi sebagaimana layaknya tuan tanah, selalu pelit, rakus, dan loba-tamak.
Di perumahan tuan tanah itu banyak pekerja harian, di antaranya tak sedikit teman-teman Afandi. Tuan tanah ini mendengar kabar bahwa Afandi itu punya kepandaian yang rada aneh. Bila dia meminjamkan sesuatu, maka bayarannya selalu lebih, katanya pinjaman itu beranak. Misalnya seseorang meminjami Afandi seekor ayam, lalu bayarannya akan lebih, karena ayam itu beranak. Juga misalnya meminjami dua ekor ikan, maka bayarannya akan lebih dari dua ekor ikan, sebab katanya, ikan yang dipinjam Afandi itu akan segera beranak. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi tuan tanah itu. Menarik juga kepandaian Afandi ini,- demikian pikir tuan tanah.
Maka tuan tanahpun menanyakan tentang kepandaian khusus ini kepada pegawai-pekerjanya yang kenal Afandi. Dan pekerja itu menyatakan kepada tuan tanah. "Oya Tuan, Afandi itu bila dipinjami apa saja, maka pengembaliannya akan selalu berlebih dari pinjaman orang biasa. Katanya semua yang dipinjamnya akan selalu beranak". Mendengar jawaban ini, tuan tanah sangat tertarik. Dalam hatinya, nah ini dia kesempatan buat memperbanyak harta. Semoga saja suatu waktu Afandi mau meminjam apa saja kepadanya.
Dan pada suatu hari datanglah Afandi kepada tuan tanah buat meminjam bahan makanan. Ketika itu Afandi meminjam tiga butir telur ayam. Tuan tanah dengan sukacita dan gembira segera saja memberikan pinjaman tiga butir telur. Malah tuan tanah masih sempat menanyakan, mau pinjam apa lagi. Afandi hanya mau pinjam sejumlah itu saja. Tetapi dengan cepat tuan tanah menanyakan, kapan bisa beranaknya telur itu? Afandi menjawab, tergantung keadaan. Dan tuan tanah sudah tak sabaran ingin tahu, berapa pengembaliannya. Dan berharap Afandi akan mau meminjam lagi, apa saja!
Lima hari sesudah itu, Afandi kembali ke tuan tanah. Mengembalikan pinjaman telur sebanyak lima butir. Menerima lima butir telur itu, bukan main senangnya hati tuan tanah. Dan tuan tanah masih menawari mau pinjam apa lagi. Afandi sekali ini meminjam dua buah piring tembikar. Tuan tanah memberikan dengan senang hati. Dalam hatinya siapa tahu pengembaliannya akan sangat banyak dan jauh lebih bagus dari yang dipinjamkannya.
Lima hari sesudah itu, Afandi kembali ke tuan tanah. Mengembalikan pinjaman dua buah piring tembikar menjadi tiga buah. Walaupun tidak begitu sesuai dengan pikiran tuan tanah, tetapi hatinya cukup gembira, karena ternyata dua piring dulu itu hanya melahirkan satu anak saja. Tak apa, pikir tuan tanah, wajar-wajar saja, sedangkan orangpun malah terkadang bisa hanya punya anak tunggal saja, bahkan adakalanya tak punya anak.
Dan sekali ini baik Afandi maupun tuan tanah sama-sama gembira, sebab Afandi dipinjami uang seribu dinar. Jumlah itu banyak sekali, gaji buat puluhan pekerja dan pegawainya dalam satu bulan. Dan tuan tanah sudah berangan-angan buat apa saja uang yang nantinya beranak itu, dan berapa saja jumlah anak-anak uang pinjamannya. Tuan tanah menanti dengan hati yang tak sabar. Ditunggu lima hari, tapi Afandi belum juga datang. Ditunggu seminggu, juga belum datang. Dan ditunggu hampir satu bulan juga belum datang. Begitu tuan tanah merencanakan akan mendatangi Afandi bersama para centengnya, maka datanglah Afandi. Mulanya tuan tanah sangat gembira, tetapi sesudah Afandi menjelaskan persoalannya, bukan main marah dan berang besarnya tuan tanah yang pelit dan loba-tamak itu.
"Sayang sekali Tuan. Uang tuan yang saya pinjam itu, bukannya beranak, malah tiga hari kemudian mati mendadak". Mendengar kata-kata ini betapa berangnya tuan tanah. Hampir saja Afandi dikeroyoknya, untung saja ketika itu melintas orang-orang yang baru saja kembali dari pekerjaannya, yang kebanyakannya teman-teman Afandi.
Segera sesudah itu tuan tanah mengadukan Afandi, dan tuan tanah sangat berharap agar Afandi dihukum rajam, kalau dapat segera digantung. Belum lagi pengadilan digelar, baru saja pada tanya jawab, maka Pengadilan Negeri membatalkan pengaduan itu, sebab dasarnya sudah tidak kuat. Karena tuan tanah sangat percaya apa saja yang dipinjamkannya pasti akan beranak. Dan kalau sesuatu bisa beranak, pasti pada suatu hari bisa mati. Dan Afandi sudah menjalankan lakonnya dengan baik. Dia dianggap tidak menipu, tapi penuh akal, sedangkan tuan tanah berdasarkan kerelaannya sendiri, bukannya dibujuk, dihasut dan ditipu. Bahwa tuan tanah menjadi tertipu adalah memang wataknya yang sangat rakus, pelit dan loba-tamak itu.
AFANDI dan KAUM RAMPOK
Ketika Afandi sedang melintas jalanan di tepi kuburan menuju ke rumah keluarga lainnya, dia mendengar hirau-degau orang-orang berkuda. Ramai sekali dan sangat ributnya. Rupanya kaum rampok baru saja beraksi di sesuatu tempat. Afandi sangat takut mendengar suara yang begitu ribut, penuh rampok yang tak segan-segan membunuh orang.
Afandi segera bersembunyi di sebuah lubang dekat kuburan itu, di pinggir kuburan yang agak tidak sempurna letak bangunannya. Tetapi dia sudah bertekad bulat, lebih baik bersembunyi dalam pinggiran lubang kuburan daripada berhadapan dengan kaum rampok itu. Kuburan tidak akan membunuh orang, tapi rampok tak segan-segan membunuh orang. Tetapi ketika Afandi mau mengendapkan kepalanya dalam lubang, di antara perampok itu ada yang melihat Afandi. Lalu dengan membentak : "Hei siapa kamu! Jawab siapa kamu?!". Mulanya Afandi segan menjawab, tetapi karena ketakutan akhirnya menjawab juga. "Saya, orang yang sudah mati", katanya. "Lho, tadi saya lihat menongolkan kepalanya, lalu ngapain?!". "Oh, tadi saya menongolkan kepala itu mau menghirup udara segar", jawabnya. "Lho, orang yang sudah mati kok perlu udara segar?!". "Oh ya, ya, saya lupa", segera secepatnya Afandi membenamkan diri bersembunyi lagi dalam-dalam. Dan perampok itu pada mentertawakan Afandi dan ramai-ramai melarikan diri dengan hasil rampokannya,-
Paris 7 Mei 2000
Semestinya tahun inilah aku mulai pensiun secara resmi. Tetapi aku sudah memulainya hampir tiga tahun yang lalu. Ketika pertama kali aku mengajukan buat pensiun, menghadap Jawatan Pensiunan, pegawai dan petugasnya meyakinkanku agar pikirlah baik-baik, setelah dia mendapat jawabanku kenapa aku mengajukan pensiuan dini, jauh sebelumnya.
"Tuan dalam keadaan masih bisa bekerja, bukan?", katanya. "Ya, bisa, tetapi saya mau mengajukan pensiun dini ini bukan karena tidak bisa bekerja lagi, tetapi saya ingin mengerjakan pekerjaan yang saya sukai. Sudah terlalu lama saya selalu saja mengerjakan suatu pekerjaan yang harus saya kerjakan, bukannya pekerjaan yang saya sukai. Saya hidup dalam keadaan terlalu banyak keharusan ini keharusan itu", kataku. "Okey-lah, tetapi yang mau Tuan kerjakan itu apakah juga bisa memberi penghasilan dan kehidupan kepada Tuan? Karena masalah ini adalah mesalah kehidupan Tuan sendiri, yang bisa menjamin kehidupan Tuan. Hal ini yang Tuan harus pikir", katanya lagi. Aku terpaksa harus lagi berpikir untuk memutuskannya, karena kukatakan pada mereka, bahwa memang benar, sesudah nanti aku pensiun dini itu, tak ada lagi sumber mata-pencaharianku.
Dan kalau kupikirkan dengan tenang dan jernih, pendapat mereka sangat jitu dan sangat baik, beralasan dan masuk-akal. Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka atas saran dan pendapatnya. Mereka itu adalah pekerja-pekerja dengan mengemban kewajiban melayani secara baik semua penduduk yang datang kepada mereka. Mereka bekerja melayani tidak hanya mengenai persoalan dan perihal keuangan, pensiunan, tetapi juga melayani dari segi moral, moril dan psychologis. Ketika aku antre menunggu giliran dipanggil berdasarkan nomor urutan, beberapa orang dengan menangis karena kesal, sedih, dan marah kepada entah suaminya, entah keluarganya, yang meninggalkan kehidupan wanita yang sedang menangis itu. Juga beberapa pengaduan yang menyatakan sangat tidak cukup keuangan yang didapatkannya dari pensiun suaminya almarhum. Dan berbagai persolan lain, yang selalu dan dengan tekun dan hati-hati serta penuh pengertian meyakinkan orang-orang yang sedang menghadap itu.
Betapa banyaknya persoalan di dunia ini. Dan kulihat, kudengar begitu banyak keluhan yang ditumpahkan para penghadap di Jawatan Pensiunan itu. Sedangkan persoalanku sangat lain, sangat beda. Bukannya mau seperti apa yang banyak kudengar dari berbagai keluhan itu, malah aku mau segera pensiun dini. Pegawai dan petugas Jawatan Pensiun ini, mungkin merasa aneh juga melihatku, orang satu ini. Sekarang malah kewajiban mereka meyakinku agar cobalah pikir-pikir dulu. Kebanyakan orang begitu takut dan agak menggelisahkan datangnya hari pensiun itu, tetapi aku malah memburunya agar segera datang. Tentu saja mungkin penemuan baru bagi para petugas dan pegawainya. Namun pada akhirnya aku pulang dengan hati yang sangat berterimakasih kepada mereka yang sudah begitu baik menyarankan agar berpikirlah matang-matang dan baik-baik.
Sambil pulang, aku masih sempat terpikir, ada juga orang-orang, pegawai-pegawai dan petugas-petugas yang berdinas di service-public, yang begitu baik. Memberikan saran dan pandangan yang sejuk. Mereka terheran-heran juga, biasanya orang merasa ingin memperpanjang masa kerjanya. Bahkan bagaimana mencari akal agar jangan segera dipensiunkan walaupun secara umur dan kedinasan kerjanya seharusnya sudah pensiun.
Tetapi rupanya aku hanya bisa bertahan satu tahun untuk terus bekerja seperti biasa di resto yang kami dirikan bersama itu. Lalu perasaan yang biasa-biasa itu datang lagi dengan mendesak dalam dada. Tak tahan lagi, lalu aku datang lagi ke Jawatan itu. Dan bertemu lagi dengan petugas dan pegawainya dulu itu, dan bertanya lagi padaku, apakah aku betul-betul sudah memikirkan kelanjutan kehidupanku dari segi keuangan dan kehidupan nantinya. Sebab sebenarnya menurut umur, seharusnya aku pensiun tiga tahun lagi, pada tahun 2000.
" Okey-lah kalau Tuan memang benar-benar sudah memikirkan semua akibatnya dan sudah memutuskan buat pensiun. Tetapi karena menurut umur kurang tiga tahun lagi masa pensiun Tuan, maka satu-satunya alasan adalah dari surat keterangan dokter, bahwa Tuan dalam keadaan tidak bisa lagi meneruskan pekerjaan Tuan sebagaimana mestinya", katanya memberi keterangan dan alasan agar aku menindak lanjuti petunjuknya.
Diberikannya padaku beberapa formulir buat diisi beberapa dokter. Ada yang harus diperiksa dan diisi oleh dokter umum, lalu dokter bagian jantung, cardiolog, lalu bagian kaki, phlebologi, dan beberapa bagian lagi. Semua yang harus kudatangi dan yang harus mengisi formulirku, kukenal baik dokternya. Sebab mereka memang dokterku yang aku selalu menjadi langganannya. Tak ada persoalan kalau hanya buat mendapatkan keterangan dan pengisian formulir itu. Sebuah Institut Jules Verne di jalan Rue d*Assas yang menjadi puskemas kami seluruh resto, pada pokoknya semua dokter yang bertugas di sana kukenal baik.
Di Institut ini banyak bagian-bagiannya, yang tak ada hanya bagian pemeriksaan gigi. Dan kebanyakan bagian itu sebagian besar sudah kudatangi, kecuali bagian geneocology, bagian wanita. Surat-surat yang harus kuselesaikan buat dibawa lagi ke Jawatan Pensiun, dalam tak sampai tiga minggu semuanya selesai. Dan kembali aku mendatangi Jawatan itu. Pegawai dan petugas yang sepertinya sudah hapal betul wajahku, malah melambaikan tangannya agar langsung saja menyerahkan surat-surat yang dulu dimintanya agar dilengkapi. Dan kebetulan para penghadap tidak ramai, dan ada bagian lowong, aku dipersilahkan menjawab beberapa pertanyaan dan mendengar penjelasan lanjutannya nanti. Sebab menjadi orang pensiunan artinya sudah memasuki dunia baru, dunia pensiunan.
Lalu mengapa sebenarnya aku begitu ngotot mau pensiun dini itu? Aku mau mengerjakan pekerjaan yang selama ini pekerjaan itulah yang seharusnya kukerjakan dengan hati yang suka, cinta dan yang menjadi cita-cita kehidupan. Seperti kukatakan tadi, selama sejak dari tahun 1966, aku selalu harus mengerjakan suatu pekerjaan yang sifatnya keharusan, kemestian, tetapi bukan kesukaanku. Memang selama itu aku berperilaku, kerjakanlah pekerjaan itu dengan tanggungjawab penuh, berusahalah mencintai pekerjaan yang tadinya tidak kau sukai itu. Dengan dasar inilah kukerjakan pekerjaan keharusan serta kemestian itu.
Apa aku suka jadi tukang masak di resto? Tidak! Apa aku suka jadi pelayan resto? Tidak! Apa aku suka jadi seorang restaurateur? Samasekali tidak! Semua ini bukan kesukaanku, tetapi harus kukerjakan, harus kulakukan dengan bertanggungjawab dan serius serta berusaha lama-lama mencintainya. Kami tidak punya pilihan buat bekerja menurut kesukaan, menurut kesenangan hati dan cita-cita kehidupan. Kami sejak tahun 1966 pada pokoknya sudah menjadi tawanan, sudah tidak punya kekebasan apapun buat memilih pekerjaan. Yang ada hanyalah selalu keharusan, kemestian! Kalau kamu tidak mau, berartti kau akan mengalami kehidupan yang parah dan terlunta-lunta. Jangan banyak pilih, kamu berada dalam kehidupan tidak normal, karena terbuang di tanah pengasingan. Tidak mungkin kamu dapat memilih pekerjaan yang kamu sukai, kamu senangi, kamu cita-citai. Sebenarnya kamu hidup dalam tawanan sejarah-gelap-bangsa. Jadi ketahuilah, kerjakanlah apa yang bisa dikerjakan buat kamu bisa hidup, titik! Hanya itu, hanya itu!
Dan apa itu pekerjaan yang kusukai, kucintai, dan yang menjadi cita-citaku? Sejak dulu, sejak lama, sejak umurku 10 tahun, aku sudah tahu mau menjadi apa. Dalam soal ini kukira aku termasuk bahagia, sebab sejak kecilku sudah tahu dan sudah menentukan mau jadi apa aku. Yang tidak bahagia itu adalah bagian dari sejarah-gelap-bangsa dan tanahair itu tadi. Setelah tahun 1965 - 1966, semua kehidupan kami jadi berubah, berganti arah, mungkin bukan 180 derajat, malah mungkin 360 derajat tetapi hinggap di titik lain. Sejarah gelap bangsa dan tanahair ini, dari sejak pertengahan tahun 60-an itu membuat kami terpulau, di rantau tanah pengasingan yang sampai kini dilarang pulang! Sanak keluarga terpencar, tercerai, terbunuh, penuh dengan penghinaan dan penyiksaan. Tidak boleh bekerja, tidak boleh sekolah, tidak boleh punya kebebasan buat jadi manusia normal, tidak boleh ngomong yang benar dan jujur. Tidak punya hak suara, dan yang dirantau sampai kini tidak boleh pulang. Berani pulang, jihad siap menghadang! Bukan lagi para serdadu, polisi dan tentara, tetapi juga orang-orang biasa tanpa bedil dan senapang, tetapi menyandang pedang, berbaju putih-putih yang siap kena muncratan darah merah.
Paris 8 Mei 2000
Sebelum penandatanganan final, dan sesudah semua surat-surat selesai keseluruhannya, aku masih tetap diberi kesempatan buat berpikir, dan kalau semua sudah okey, sudah fiat, barulah bubuhi tandatangan. Dan sudah itu tak ada lagi tawar menawar perubahan. Sebelum itu aku banyak berkonsultasi dengan banyak teman-teman yang sudah punya pengalaman dalam soal ke-pensiun-an, baik orang "kita" sendiri maupun orang Perancis. Tadinya ada kasus, jam-kerja yang kita pernah bekerja di Indonesia ataupun di Tiongkok, bisa dimasukkan, asal ada bukti bahwa kita memang benar-benar pernah bekerja di tempat itu. Artinya ada surat-surat lengkapnya.
Jam-kerja di "luarnegeri" ini bisa diperhitungkan, bisa dimasukkan dalam tambahan jam-kerja dengan yang sekarang ini,- di Perancis. Tetapi kita harus membayar sekian francs sesudah dikalkulasi oleh Jawatan Pajak dan Jawatan Pensiun. Berapa tambahan pensiunan aslinya dengan tambahan jam-kerja di "luarnegeri" itu ditetapkan berdasarkan perhitungan kedua Jawatan itu. Dan beberapa teman termasuk diriku, sudah mengajukan berapa tahun jam-kerjaku di Jakarta dulu itu, dan berapa tahun jam-kerjaku di Tiongkok dulu itu. Dan sesudah itu, dihitung, berapa kami harus membayar ke Jawatan Pajak dan Jawatan Pensiun, sebagai penebus tambahan jam-kerja dinas selama di luarnegeri itu. Dan rata-rata kami terkejut, temanku dan aku, masing-masing harus membayar sekitar 30.000 francs buat tambahan jam-kerja yang sejumlah 12 tahun itu. Dan kini kamilah pihak yang menghitung, apakah akan mengalami kerugian dan berapa jumlah kerugian itu. Dan juga sekiranya kami setuju membayar dengan sejumlah itu, darimana kami punya uangnya.
Akhirnya kami mengambil keputusan, biarlah jam-kerja selama di Jakarta dan di Tiongkok itu tidak usah dihitung. Dan menurut perhitungan kami, kalaupun dihitung dan kami mendapat tambahan uang pensiun dari jam-kerja di luarnegeri itu, tetap saja rugi. Ini berdasarkan juga umur kami masing-masing, sebab setelah kami hitung, rasanya sangat sulit untuk sampai ke umur sekian barulah uang pelunasan hutang yang sekitar 30.000 francs itu akan habis terbayar. Biarlah dapat sedikit, tetapi tidak berhutang. Tentu saja, dengan hanya dinas kerja 15 tahun sampai 18 tahun, pendapatan pensiunnya sangat sedikit. Lalu mau apa!
Kesalahan ini kepada siapa harus kami tujukan?! Orang-orang pada umur lebih dari 50 sudah merencanakan dalam kepala kalau nanti pensiun, apa yang akan dikerjakannya. Sedangkan kami pada umur melampaui 50 baru mulai mencari pekerjaan! Terlambat, sangat terlambat! Tapi mengapa terlambat? Nah, banyak ceritanya, dan semua yang tahu keadaan kami, juga tahu mengapa sebabnya. Samasekali tidak terlepas dari peristiwa besar tanahair tahun 1965/1966 itu. Kami adalah orang-orang yang terdampar, orang-orang yang harus hidup di tanah pengasingan yang sudah puluhan tahun, yang sampai kini dilarang pulang. Kami adalah orang-orang korban peristiwa dulu itu, bagian dari banyak teman-teman kami yang menyebar di segala penjara di tanahair dan Pulau Buru. Kami adalah bagian dari rakyat dan penduduk yang sangat menderita di tanahair, yang penuh mengalami penyiksaan, penghinaan, penderitaan dan pelecehan kemanusiaan.
Kadar penderitaannya tentu saja berbeda dan derajatnya tidak sama. Tetapi kelainan itupun samasekali tidak mengubah harkat sesungguhnya dari akibat peristiwa besar itu. Kami, lebih kongritnya aku, tidak pernah menyesali mengapa kami harus hidup begini ini. Semua ini adalah bagian dari keseluruhan, dan aku ketika dulu itu, sama dengan teman-teman lain, menjalankan garis serta politik yang kuanut ketika itu. Dan aku samasekali tidak boleh menyalahkan perorangan dalam membawa penyesalan kehidupan yang begini ini. Tokh dulu itu aku merasakan tak ada apa-apa kesalahan waktu itu, sama bersetuju, sama sehati dan setujuan. Jangan pula sesudah terjadi keterpurukan itu, lalu menyalahkan orang lain, seolah-olah dirinya yang sejak dulu benar dan tepat. Padahal dari dulu juga tetap saja manggut-manggut dan paling keras menyatakan setujunya, acc-nya dan cocoknya.
Maka jadilah kata terakhir penandatangan kepensiunan itu. Aku diminta menunggu. Setelah beberapa waktu, datang keputusan. Pengesahan keputusan pensiunku tepat pada tanggal 1 bulan 1 tahun 1998, artinya dua tahun sebelum pensiun resminya, dan disahkan memasuki pensiun dini berdasarkan keterangan beberapa dokter, karena disetujui setelah mempertimbangkan kesehatan yang sesungguhnya "sudah boleh memasuki pensiun dini". Sejak permulaan tahun 1998, aku mulai memasuki dunia baru, dunia pensiunan, yang samasekali tak terpikirkan bahwa akan memasuki pensiun di negeri rantau. Dan aku harus sudah memulai kehidupan baru, dengan perhitungan baru, dengan semangat baru, tetapi dengan pendapatan pensiunku tak sampai sepertiga dari gaji normal ketika aku masih berdinas aktive di resto kami.
Lalu mengapa aku berbuat begini, yang padahal masih punya kesempatan dua tahun lagi bekerja full dengan gaji full, walaupun tetap saja tidak sebanyak orang-orang Perancis lainnya? Lagi-lagi harus disadari. Kami memulai bekerja baru saja tahun 1982, di mana kami mendirikan Restaurant Indonesia. Dan itupun dimulai pada akhir Desember 1982, kami meresmikan resto kami pada tanggal 14 Desember 1982. Sukurlah sampai kini resto kami tetap bertahan, tidak sangat maju, tetapi bisa menghidupi belasan nyawa kami. Dari mula pertama dengan modal dengkul, modal pinjaman dari mana-mana, dan hutang berjibun, lama-lama setelah lebih dari 8 tahun barulah terbayar. Dan sesudah itupun gelombang naik-turun keadaan resto selalu mengkhawatirkan, walaupun keadaan ini tidak hanya kami sendiri. Ketika itu lebih dari 30 persen horeca ( hotel - resto dan cafe ) pada bangkrut, akibat krisis ekonomi di Eropa secara keseluruhan. Ketika itu benar-benar kami dalam keadaan cukup gawat. Kami siap berani berkorban dengan gaji tidak dibayar sekian bulan. Dan resto berhutang kepada pegawainya sendiri. Kalau bukan bentuk secara koperasi dan koperatif, mana mungkin kami mempertahankan resto kami.
Tapi pada akhirnya kami bisa keluar dari keadaan krisis itu. Dan sesudah mengencangkan ikat pinggang antara kami semua pegawai dan anggota koperasinya, kini hutang ini benar-benar lunas. Dan kami bisa menarik nafas panjang karena kelelahan, dan karena bersukur, yang pada akhirnya kami sanggup melunasi semua hutang kami, baik kepada bank maupun kepada teman-teman pegawai dan pekerja di resto sendiri.
Sempat aku "menikmati" pensiun ini secara kesendirian selama hampir setahun. Karena dalam jangka waktu itu, samasekali aku tidak bekerja di resto lagi. Sekali-sekali datang, bertemu banyak teman, ngobrol, rapat, menghadiri pertemuan, natalan, tahun-baruan, dan undangan lainnya. Tetapi nyatanya, aku dan teman-temanku tidak bisa berpisah lama begitu. Dan karena saling membutuhkan, pada akhirnya lag-lagi aku diminta bekerja seadanya, dua kali dalam satu minggu. Dan aku merasa sangat gembira, berkumpul lagi, bekerja-sama lagi, dan ngobrol, bergurau dan diskusi bermacam persoalan, termasuk bumbu kehidupan : gossip -ngerumpi dan yang miring-miring - porno.
Paris 10 Mei 2000
Belum kutuliskan untuk apa sebenarnya aku minta agar pensiun dini itu. Aku mau mengerjakan suatu pekerjaan yang kusukai, kucintai, dan yang menjadi cita-citaku sejak kecil. Aku mau menulis, menulis dan menulis, bercerita, bercerita dan bercerita. Untuk itu semua, aku harus banyak membaca, banyak belajar, banyak berpraktek dalam masarakat kongkrit. "Menenggelamkan diri" dalam arena masarakat nyata secara lebih intensif. Mensenyawakan kehidupan dengan denyut nadi masarakat kongkrit. Kata Glinka kompuser musik terkenal orang Rusia itu, bahwa musik itu sebenarnya ada dalam masarakat itu sendiri, kita hanya menggalinya, menyimpulkan dan menghimpunnya. Tanpa kita menerjunkan diri dalam masarakat itu, kita tidak akan mendapatkan apa-apa.
Juga Maxim Gorki penulis Rusia yang lalu Sovyet itu, bahwa sekolah besar dan arena besar praktek sosial itu ada dalam masarakat kongkrit itu sendiri. Lu Hsun ( Lu Sin ) seorang pujangga Tiongkok tadinya bersekolah dokter di Jepang, tetapi setelah dipikir-pikirnya dengan keadaan negerinya yang sedang diagresi Jepang, lalu segera putar haluan. Menurutnya sebaiknyalah dirinya tidak usah jadi dokter obat-obatan, mengobati penyakit biasa. Tapi jadilah dokter jiwa-masarakat, mengobati sakitnya masarakat, dengan menyadarkan dan membangunkannya. Caranya tidak lain, menulis, mengarang, mengungkapkan kebenaran, berani menyatakan kebenaran. Bersuara lantang dan memaparkan keburukan akibat feodalisma dan penjajahan. Maka Lu Hsun lalu menjadi seorang pengarang yang terhebat pada zamannya.
Mereka itu bagaikan contoh kongkrit, bagaimana dan betapa peranan pokoknya sebuah masarakat untuk kita belajar di dalamnya, mengambil hikmah dan menimba pengalaman. Sampai kini bukan main terkenal dan populernya buku Das Kapital dari Karl Marx itu. Tetapi apa kata Marx? Yang saya tulis dan saya simpulkan itu, sebenarnya semua orang juga sudah pada tahu, sebab ada dalam masarakat itu sendiri. Saya bukan menciptakan sendiri, tetapi masarakatlah yang memberikan semua itu, sedangkan saya hanya menyimpulkan, mempolakan, mengkristalisasikan semua yang sama-sama kita lihat itu. Apa itu, yah, seperti teori nilai lebih, tentang arti penghisapan, tentang gerak, tentang graduil dari kuantitas ke kualitas, bahkan sampai watak materialisme dialektika historis. Bukankah semua itu sebenarnya semua orang juga tahu, ada di depan kita bersama? Sama-sama bisa kita lihat semua, kita saksikan bersama, kita jalani bersama? Bedanya memang Marx bisa dan trampil secara genius menyimpulkannya, mengangkatnya dan meningkatkannya menjadi suatu teori. Sedangkan kita tidak!
Semua ini sangat mendorongku agar aku harus banyak belajar, banyak membaca, banyak meneliti, di atas dasar itu tadi, banyak menulis. Jadi sudah ada dalam rangka pikiranku. Begitu aku memasuki usia pensiun, itu artinya akan betapa banyak pekerjaan yang harus kukerjakan, betapa banyak waktu kuperlukan buat membagi semua itu. Tetapi kontradiksi yang paling besar pada diriku yalah, kalau dulu aku bekerja mendapat uang, gaji, yang dapat membuat kehidupanku secara phisik terpenuhi sandang-pangan, maka kini samasekali lain persoalannya. Ditinjau dari mata-acara-pekerjaanku sesudah pensiun dengan cita-cita tadi itu, maka proyek yang mau kulaksanakan ini samasekali hanya membuang-buang uang, bukan mendapatkannya, tapi membelanjakannya kepada begitu banyak keperluan buat itu semua. Sedangkan aku bukanlah orang penting atau orang yang banyak 2, 6, dan 7, artinya re la si, hubungan-hubungan khusus!
Ada segi lain setelah aku pensiun ini, sesungguhnya ada kengerian tersendiri mengingat nantinya bagaimana aku harus hidup. Dengan pemasukan dari uang pensiun hanya sepertiganya dari gaji lama dulu itu, samasekali aku tidak mungkin bisa hidup, tidak mungkin. Harus bayar sewa apartemen, listrik, air, tilpun, disamping harus makan dan belanja lainnya. Dan aku tekor defisit lebih sekian ribu setiap bulan. Lalu bagaimana? Teman-teman resto menawari aku kerja dua kali seminggu, pendapatan inipun tentu dapat sedikit meringankanku. Tetapi pendapatan dua kali kerja dalam satu minggu itu, ternyata hanya dapat dua soal. Aku dapat membeli tiket bolak-balik ke Holland dan bayar pengobatan tusuk-jarum kepada dokter Isabelle Liauw, dokterku yang datang ke rumah juga dua kali dalam seminggu. Artinya pendapatan satu bulan dengan 8 kali sampai 9 kali kerja itu, hanya dapat membayar ongkos tiket dan pengobatan tusuk-jarum secara bulanan.
Tetapi itupun sangat memadai. Maka benarlah kebanyakan pendapat orang yang menghadapi usia pensiun, betapa menakutkannya menghadapi usia pensiun itu. Lalu bagaimanakah denganku setelah dua tahun dalam keadaan pensiun ini, yang mestinya baru tahun ini kualami? Sudah tentu aku tak pernah menyesal akan keputusanku, karena jauh sebelum itu sudah kuperhitungkan risikonya. Hanya mungkin ada juga kenekadanku ketika memutuskan dulu itu, dengan pikiran masakbodolah, yang nanti ya urusan nantilah!
Dan bagaimana dengan pelaksanaan proyek dalam pikiranku dulu itu? Betul, sejak mulainya aku pensiun dua tahun lebih itu, setiap hari kumulai belajar, membaca dan menulis, menulis dan menulis. Terlalu lama dan terlalu jauh aku ketinggalan dengan zaman, dengan waktu yang terus beredar. Semua ini harus dikejar, menyesuaikan diri dengan keadaan kemajuan zaman. Apa itu arti "menenggelamkan diri" dalam masarakat kongkrit? Menurutku tempat yang paling ideal adalah di tanahair sendiri, dengan banyak orang, banyak teman, banyak sahabat, dan dalam perjuangan buat menegakkan demokrasi sejati. Kukira dan menurut pendapatku, sekarang ini perjuangan yang paling pokok yalah menegakkan demokrasi, menegakkan HAM dan supremasi Hukum dan Keadilan, karena perangkat inilah justru yang paling parah keterpurukannya di Indonesia. Tetapi bagiku menuntut syarat-syarat lain karena aku sendiri ada di tanah pengasingan. Lalu bagaimana? Inipun suatu pemikiran yang rumit dan berliku-liku. Masih terpancangnya undang-undang dan peraturan yang sangat membelenggu kami para korban sejarah-gelap-bangsa dulu itu.
Baru satu saja masalahnya, sudah menemui berbagai rintangan. Bagaimana mau pulang kalau pikiran Orba dulu itu selalu menghadang dan menghalang. Sekarang ancaman kepada kami bertambah banyak. Bukan saja dari aparat resmi, tentara, polisi dan bahkan satpam dan satgas, tetapi juga yang justru bisa lebih kalap : yang berbaju putih, berjubah yang juga mungkin berjenggot yang bergaya Timur Tengah, ke Arab-araban. Bukan main banyaknya penghalang dan penghadang. Tetapi ya itulah perjuangan, kalau gampang mah bukannya perjuangan! Yang kami hadapi dan yang kuhadapi, bukannya barang tetapi orang, yang hidup, yang persoalannya lain lagi karena sama-sama benda hidup. Jadi ada lagi kesukaran ganda, bukannya keuangan, perekonomian, tetapi dari segi keamanan, sekurite, jaminan kehidupan. Di sini, di tanah pengasingan, kami berkutat merebut kehidupan dengan kerja-keras, tetapi tidak ada soal dengan masalah keamanan dan undang-undang, serta jaminan keamanan-diri secara kehidupan. Tetapi begitu kami pulang, kesukaran, selukbeluk kehidupan akan berganda mencakar dan mencengkam. Dan semua itu yang paling pokok berkisar dalam masalah keamanan jiwa, sekurite. Jadi tidak hanya dari segi keuangan dan kesukaran hidup lainnya secara sandang-pangan. Malah yang paling berbahaya adalah aparat-aparat dan yang berjubah putih itu, atau yang loreng-loreng seperti yang menduduki kantor berita di Surabaya kemaren itu tadi.
Paris 10 Mei 2000
Dalam resto kami bagian atas kami bagi dua. Ruangan yang boleh merokok dan ruangan yang tak boleh merokok. Bagian bawahnya ruangan campuran, boleh merokok dan yang tidak merokok. Bagian atas di bagian yang merokok, meja paling mula, adalah meja nomor 1, sampai ke bagian ruangan yang tidak merokok, kami tandai dengan meja nomor 6. Di meja nomor satu inilah menurutku yang enak duduk-duduk, sebab bisa memandang kekejauhan. Banyak yang bisa dilihat, orang-orang di jalanan, perkantoran, bank BNP, bank kami dan kantor Senat yang para anggotanya kebanyakan pelanggan kami.
Kalau sedang istirahat atau memang belum jam-kerjanya, atau mau menunggu sesuatu, sedap sungguh duduk di meja nomor 1 itu. Dan aku selalu duduk di situ, terasa santai dan merasa nyaman dan aman. Bila mau merenung dan mengenang juga sangat cocok duduk di nomor 1 itu. Setelah aku pensiun, aku sering duduk-duduk disitu, dan mengenang serta merenung perjalanan resto kami yang menuju umur 20 tahun. Perjalanan panjang resto kami tidak sebentar tapi juga belumlah lama benar. Satu hal dapat disimpulkan, resto kami pada umumnya berjalan baik walapun sangat sulit mengembangkan sayap. Banyak suara dan pendapat dari orang-orang yang menyaksikan, melihat dan merasakan perjalanan resto kami, mengajukan berbagai macam pendapat. Semua pendapat itu pada dasarnya bernadakan dan berisikan simpati besar. Tidak sedikit yang mengajukan kenapa tidak diperbesar, kenapa tidak membuka cabangnya lagi. Bahkan ada yang mau menanamkan modalnya dalam resto kami. Semua ini kami jawab dengan baik serta rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya.
Selama 18 tahun ini, betapa banyak lika-liku perjalanan resto yang kami alami. Kami pernah dua kali mengalami krisis, sehingga seluruh pegawai dan pekerja resto sama-sama mengencangkan ikat-pinggang karena beberapa bulan tak dapat gaji, karena menghutangi resto. Semua teman dengan rela hati, sebab semua mereka tahu benar, resto ini adalah sumber kehidupan mereka sendiri. Dua kali krisis itu sempat beberapa bulan. Tetapi sudah itu nanjak dan naik lagi, maju lagi. Kata teman-teman kami, yah, begitulah perjalanan kehidupan mencari makan, bagaikan roda pedati, terkadang ke bawah terkadang ke atas. Tapi kalau sedang ke bawah ya mbok jangan lama dong! Kan sengsara juga kita dibuatnya! Dan kini suasana dalam keadaan baik, kami sudah tak punya hutang lagi. Tetapi tetap harus selalu waspada, fluaktuasi ekonomi terkadang sangat sulit diduga.
Dalam pada itu kami secara rendah hati mencatat dengan perasaan jangan sampai dihinggapi penyakit puas-diri dan sombong. Sejak berdirinya sampai kini, kami telah memberikan pekerjaan kepada sejumlah 72 orang, jumlah semua orang yang pernah bekerja di resto kami. Lalu sesuai dengan nama scop Fraternite, persahabatan, maka kami telah mempekerjakan sejumlah 12 bangsa. Antaranya bangsa Belanda, Spanyol, Madagaskar, Jerman, Malaysia-Singapur, Russia dan lainnya. Dulu secara berkala kami menerima perusahaan dan perkantoran yang mengirimkan orangnya, pegawainya buat stage - stageure, magang. Buat mencari pengalaman-kerja.
Kami juga dengan tenaga dan sumbangan yang sangat sederhana dan sebisa-bisanya ingin membantu banyak teman. Misalnya ada teman dalam kesulitan keuangan buat mendatangkan keluarganya ke Eropa, yang sangat saling merindukan buat bertemu. Kami tentu saja tak punya dana buat itu, tetapi kami bisa menyediakan lowongan kerja buat selama beberapa bulan "mencari uang" buat keperluan mendatangkan keluarganya itu. Dan alhamdullillah, semua dapat menyenangkan semua pihak. Uang dapat buat beli tiket, keluarga saling bertemu dengan mesra dan penuh kerinduan dan kekangenan. Dan kami pernah merasa sangat senang, seorang teman bekerja sekian bulan, begitu pulang ke negaranya kembali, membawa sebuah merci, mercedes-benz walaupun second-hand, tapi perjalanan jauh ribuan kilometer dapat ditempuhnya, dan dia dapat modal buat mengembangkan usahanya.
Ada juga kasus begini. Seorang mahasiswi yang bersekolah di Amerika, dan pindah ke Perancis buat bersekolah mode - design. Orang kaya, orangtuanya saudagar batik dan rokok kretek. Bekerja di resto kami. Lantas buat apa? Kan dia orang kaya! Katanya buat cari pengalaman kerja, dan orangtuanya punya gagasan yang baik. Anaknya dibelanjai dan dikirimi uang dengan tabungan, bisa dipakai sebanyak 70 persen dari biaya ongkos semua kehidupannya, dan yang 30 persen lainnya harus cari sendiri. Cara ini sangat baik, sebab semua orang harus kerja, harus berusaha buat mandiri. Dan gadis manis Sawitri ini ternyata memang bisa dan punya kesanggupan buat kerja seperti kami, kerja-keras, giat dan tak takut kotor dan susahpayah. Suatu kali ketika pembagian gaji, salaire, kami panggil Sawitri. "Akh natilah Oom, besok-besok aja, saya mau lekas pulang nih, besok ada kontrol ulangan. Tak sempat lagi saya", dan Sawitri ngacir dengan cepat pulang karena hari sudah mendekati jam 24.__.
Tandanya Sawitri tidak sangat membutuhkan uang, tidak seperti kami. Gaji dan salaire selalu ditunggu-tunggu, sebab tanpa itu mau apa kami! Anak manis ini lebih memerlukan kerja dan latihan praktek daripada uang. Tentu saja karena uangnya memang banyak dan orang kaya lagi! Tetapi kami sangat menyayanginya, sebab anak ini walaupun anak orang kaya, tetapi sikap kerjanya sangat baik, bertanggungjawab. Dalam hatiku, betapa bahagianya orangtuanya, punya anak sebaik itu, semanis itu. Karena kegiatannya dengan sekolah dan organisasinya, dia minta izin buat tidak kerja lagi sementara ini. Dan kami meluluskannya dengan harapan dan doa agar dia selalu sukses dalam kerja dan cita-citanya. Dalam hatiku, ada-ada saja orang dengan berbagai macam polahtingkah dan perilaku di dunia ini. Kerjasama Sawitri dengan orangtuanya sangat serasi. Baru-baru ini orangtuanya datang ke Paris buat menjenguk anaknya.
"Wit", kataku, "kenapa tak kau ajak papamu datang ke resto?". "Aduh Oom, dia hanya dua hari saja, lalu mau ke AS periksa kesehatan", katanya. Nah begini kalau orang kaya, periksa kesehatan saja harus ke AS!
Apalagikah yang kuingat-ingat dengan perjalanan resto menuju ke 20 tahun ini? Karena kami memulai mencari pekerjaan sudah pada usia tua, maka masa kerja tidak bisa lama lagi, sebab usia pensiun sudah menunggu di depan kita. Pernah kukatakan pada seorang teman, hari ini jumlah umur yang kerja lebih dari dua abad! Sebab hari itu ada 4 orang yang sedang berdinas. Semua 4 orang itu bila dijumlahkan usianya lebih dari 200 tahun! Sebab yang satu umurnya sudah berkepala 6, dan yang lainnya berkepala 5! Ketika kukatakan bagaimana cara ngitungnya, barulah teman itu senyum-senyum tertawa lucu.
Dalam pada itu sudah ada perubahan komposisi pegawai dan petugas sebab sudah banyak yang dimakan usia. Yang pensiun sudah sejumlah 4 orang, artinya sudah berumur usia-pensiun, lebih 65 tahun umurnya. Dan yang meninggal sudah 2 orang, termasuk salah seorang pendiri. Pendiri mula-mula ada 4 orang, kini tinggal dua orang yang masih di Paris. Yang satu meninggal dan yang satunya lagi sudah bertugas di tanahair. Pendiri semulanya ada 4 orang Indonesia dan 4 orang Perancis. Karena ada peraturan ketika itu, orang yang belum berwarganegara Perancis tidak bisa membuka resto specialite negara tertentu. Ketika itu belum seorangpun di antara kami yang sudah berwarganegara Perancis, karena itu kami tidak bisa membuka resto tanpa ada orang Perancisnya.
Perubahan lainnya, ternyata zaman keterbukaan ini, juga punya dampak baik dan keberanian. Ketika aku sedang bertugas siang, melayani pelanggan, ada seorang muda pria dengan wanita muda. Tampaknya seperti orang Asia. Betul juga, dia yang mendahuluiku berbahasa Indonesia. " Maaf dik ya, sudah pernah kemari?", kataku. "Wah, sudah beberapa kali Pak", katanya. "Habis, saya baru ketemu sekarang sih", kataku. "Kalau saya datang, tampaknya bukan ketika giliran bapak yang kerja", katanya. "Betul, saya hari ini menggantikan teman lain". "Ya, biasanya kan Pak Mitro" katanya.
Dan ketika mau pulang pamitan, masih sempat kutanyakan. "Sekolah atau turis biasa, dik?". "Ah, saya dari KBRI pak, saya dari Ambassade", katanya. "Oooh", kataku panjang, diluar kesedaranku, sambil menjabat tangannya! Baru kali ini, baru zaman ini, ada pelanggan kami yang begitu berani menyatakan dirinya dari Kedutaan RI, yang dulunya sangat takut dan membenci kami. Sudah tentu kami menyambutnya dengan hangat dan ramah.
Paris 11 Mei 2000
Catatan budget atau anggaran belanja diluar sewa apartemen dengan segala perlengkapannya, ada lagi yang harus kupikirkan. Satu bulan satu kali aku harus ke Holland karena selalu ada rapat YSBI ( Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia ). Itu artinya harus keluar uang sejumlah hampir 800 francs pergi-pulang. Lalu ada lagi buat pembayaran pengobatan tusukjarum. Satu minggu dua kali hari tusukjarum. Dan satu kali tusukjarum harus bayar 100 francs. Satu bulan berarti paling sedikit 800 francs. Ini harus bayar sendiri, tidak diganti oleh kantor asuransi ataupun securite sosiale. Tadinya terpikir juga buat menghentikannya atau menguranginya dengan cukup satu kali satu minggu saja.
Mengingat dokter Isabelle ini pernah "menyelamatkanku" ketika tahun 1997 kakiku dekat jari-jarinya menjadi hitam dan tak dapat lagi digerakkan karena sakit dan membengkak, karena serangan sakit gout, asam-urat yang hebat, maka lebih baiklah teruskan saja. Ketika itu betul-betul mengerikan, sehingga dokter Isabelle-pun tampak cemas, sebab kemungkinan besar harus diamputasi kalau ke dokter barat. Dan dengan tusukjarum selama satu minggu, bengkak itu lalu mengempes dan akhirnya baik - sembuh kembali seperti biasa. Nyaris, betul-betul nyaris. Mengingat ini semua, cukup besar jasa pengobatan dokter Isabelle. Lagi pula mengapa aku harus begitu "kejam" terhadap masalah keuangan yang walaupun sangat sempit dan ketat, yang padahal aku "hanya terima beres". Sebab selalu saja dokter Isabelle yang datang ke tempatku, bukannya aku yang harus datang mendatanginya, ke rumahnya atau ke tempatnya praktek.
Dokter Isabelle karena praktek gelap, dia harus mendatangi pasiennya ke rumah-rumah dan alamat tertentu yang berjauhan. Karena itu satu hari dia hanya bisa mengobati tidak lebih dari lima orang saja. Sebab waktunya sangat sempit dan ketat. Dia pergi dari rumah pada jam 08.°° mendatangi rumah-rumah pasiennya. Sekali tusukjarum makan waktu setengah jam, tetapi yang makan waktu paling lama itu adalah transportasinya, sebab rumah pasien satu dengan yang lainnya sangat berjauhan. Terkadang lebih dari satu jam barulah sampai ke rumah yang harus didatanginya. Karenanya setiap hari barulah pada jam 23.°° dia ada di rumahnya kembali. Ini termasuk kerja berat juga. Dilakukannya sendiri, dan harus dilakukannya. Dia tidak boleh dan belum boleh praktek resmi, walaupun dia benar-benar dokter Tiongkok yang memang bekerja di Rumahsakit Tienjin tidak begitu jauh dari Beijing. Dan keakhliannya dalam tusukjarum diakui oleh Rumahsakitnya sendiri, sebuah Hospital di Tienjin dan juga banyak pasien yang disembuhkannya selama di Perancis ini.
Untuk dapat pengakuan bisa berpraktek resmi, dia harus mengambil dan mempunyai diploma kedokteran Perancis atau harus mengalami ujian tertentu lagi. Sedangkan dokter Isabelle baru datang ke Perancis pada tahun 1995. Belum menguasai Bahasa Perancis. Kini dia dapat bimbingan kedokteran Perancis dengan kursus kilat, 4 kali dalam satu minggu, dan itupun kursus privat, dan harus bayar 100 francs satu jam, sedangkan kuliahnya 2 jam, jadi dia harus keluarkan 200 francs satu kali kuliah, dan secara kontan pula!
Keterikatannya dengan Tiongkok dan anaknya yang satu-satunya laki-laki itu, "memaksanya" buat pulang ke Tiongkok setiap tahun. Terutama ketika hari Imlek, Tahun Baru Tiongkok, antara akhir Januari dan pertengahan Febrauari. Dan sekali pulang biasanya paling cepat satu bulan, rata-rata satu setengah bulan. Itupun para pasiennya sudah pada mengeluh, kenapa dokter Isabelle begitu lama di Tiongkok, termasuk diriku. Rasanya kalau dia absen di Paris, ada rasa ketidaktenangan. Dia sangat mencintai pekerjaannya, giat dan berinisiatif, dan juga cerewetnya cukup lumayan. Kalau kakiku ada sedikit saja perubahan karena misalnya terlalu banyak atau "salah makan" udang, kepiting atau kambing, dan tampak sedikit agak bengkak, maka dia akan mengumpat. "Makanya jangan terlalu sering ke Holland! Mesti deh kakimu itu selalu akan tampak tidak baik kalau sering ke Holland, sebab kau akan dimanjakan oleh Nita dengan masakan yang enak-enak!", katanya. Sebenarnya tidak begitu juga, tapi karena kurang hati-hati atau kebetulan sedang dalam tidak dapat menguasai diri barangkali!
Dan kalau aku tilpun kepadanya karena aku akan ke Holland minggu depan, dia akan selalu tidak enak jawabannya. "Pasti deh kakimu bakal bengkak lagi!", katanya. Yang aku masih tetap bertahan mengapa aku mau saja menerima tusukjarum ini walapun bayarannya harus kulakukan kontan mengeluarkan uang pada waktu itu juga, sebenarnya harga ini sangat murah. Kalau kepada dokter tusukjarum lain, harga itu terkadang lebih duakali lipatnya. Sekali tusuk saja bisa sampai 200 sampai 250 francs, dan itupun dokternya sangat pelit jarumnya! Artinya paling-paling hanya 6 sampai 10 jarum. Sedangkan dokter Isabelle selalu saja antara 26 jarum sampai 30 jarum tertanam di tubuhku. Dan apa saja yang diobatinya? Menyeluruh! Dari memperkuat pertahanan jantung, ginjal, mengobati prostat, darahtinggi, gula dalam darah ( glecime ) dan beberapa lagi. Karena dulunya aku juga pernah beberapa tahun praktek tusukjarum baik ketika masih di Tiongkok maupun di Perancis - di Lure, maka titiktusuknya aku kenal benar.
Ketika aku minta titiktusuk guanyuan, 4 jari dari kemaluan, dia tampaknya keberatan. Kenapa? Dia tahu apa maksudku. "Sudahlah, kau kan sudah tua, lagi pula tak ada isteri, ngapain titik itu harus diperdulikan kini, kecuali kalau kau mau punya isteri lagi bulan yang akan datang", katanya cerewet! Titiktusuk itu buat memperkuat "keperkasaan". Tidak enak juga rasanya ketahuan maksud yang tersembunyi itu.
Seminggu yang lalu dokter Isabelle mengalami musibah dengan keluarganya. Suaminya meninggal di sanatorium luarkota Paris. Suaminya ini adalah pengusaha barang-barang congele, pengawetan hasil laut, udang, ikan, kepiting dan juga daging. Kami resto Indonesia pernah berlangganan, berjenis udang buat keperluan nasi-goreng dan a la carte. Suaminya ini adalah Tuan Lin, peranakan Haiti turunan Vietnam, tapi sudah lama menetap dan menjadi warganegara Perancis. Dokter Isabelle-pun adalah turunan Vietnam.
Ketika dia sudah diterima menjadi warganegara Perancis, karena dia berasal dari Vietnam, mudah mendapatkan kewarnegaraan Perancis-nya. Tetapi begitu mendapatkan paspor Perancis dan ketika mau kembali ber-Imlek ke Tiongkok, lalu dia marah-marah lagi. Ini bentuk kemarahan baru, sebab kalau dulu, dia begitu saja pulang ke Tiongkok tanpa visa, karena pulang ke negerinya sendiri, kini harus pakai visa! Sebab dia sudah menjadi warganegara Perancis. Dan kami-pun juga begitu, ke Indonesia dan Asia Tenggara lainnya, enak-enak saja bisa berangkat kapan saja, tanpa visa. Tetapi ke Tiongkok harus pakai visa. "Nah, rasain kamu, dulu capek-capeknya mengurus surat-surat buat masuk naturalisasi. Kini tak rasane kue"!, kataku meledeknya.
Semua keluarga dokter Isabelle pada pokoknya lebih banyak di Perancis ini. Yang di Tiongkok hanyalah anak laki-lakinya, itupun sebenarnya sudah "bukannya anak lagi" tapi sudah suami orang, karena umurnya sudah 33 tahun, sudah berumahtangga, hampir punya anak, dan dokter Isabelle hampir punya cucu. Suami dulunya sudah meninggal. Lagi-lagi dunia ini terlalu banyak yang aneh-anehnya. Ketika suaminya akan meninggal, dia berpesan, agar lamaran Tuan Lin yang datang dari Paris itu, diterima saja. Saya tokh tidak bisa apa-apa lagi, dan kamu kan masih cukup muda, demikian katanya. Suami pertamanya itu sakit menahun, selama bertahun-tahun karena sakit jantung. Lalu datanglah seorang dari Paris, Tuan Lin, bertemu dengan dokter Isabelle, di Beijing malah, sebab ketika itu dokter Isabelle datang buat keperluan seminar kedokteran tradisional Tiongkok. Dan begitu ketemu, bergaul, rapat dan tahu-tahu cinta dan dengan berani dan nekad datang ke Tienjin buat melamar dokter Isabelle kepada suaminya yang masih sah! Dan gilanya ini sejarah kehidupan, suami dokter Isabelle merestuinya!
"Kalau ada kemungkinan kawinlah secara baik-baik, juga kalau aku sudah tiada nanti, teruskanlah maksud itu", kata suaminya. Dan tak beberapa bulan sesudah itu, suami pertamanya meninggal. Sejak dulu sebenarnya sudah tak ada penghalang buat dokter Isabelle bersuamikan Tuan Lin. Tetapi dengan meninggalnya suami pertamanya ini, jalan buat itu semakin lancar. Sayangnya, baru saja 5 tahun menjalani kehidupan barunya, suami yang keduanya ini lagi-lagi meninggal. Aku dalam hati berdoa, semoga perasaan dan hati dokter Isabelle tidak sama dengan masarakat-lama dulu itu. Seseorang wanita kematian suaminya, apalagi sudah dua kali ini, akan merasa dirinya memang sial, memang nasibnya sudah begitu. Inilah anggapan masarakat-lama ketika itu. Dan anggapan-lama ini sudah lama dituliskan oleh pujangga kenamaan Lu Sun ( Lu Hsun ), dan sudah pula menjadi sebuah filem yang amat mengharukan The New Year Sacrifice,-
Paris 12 Mei 2000
Ketika aku berada di Holland, banyak mendapat pertanyaan bagaimana rasanya menjalani usia-pensiun dihari tua itu. Bagaimana pengalamannya terutama mengatur kehidupan ketika sudah tidak bekerja lagi. Tentu yang dimaksud tidak bekerja sebagai salairie, yang mendapat gaji teratur. Dulu selalu punya pemasukan keuangan secara tetap, kini jauh berkurang dan bagaimana mengatur waktu sehari-hari.
Adanya pertanyaan begini, aku memahami sepenuhnya. Umumnya yang bertanya demikian, adalah teman-teman yang setahun dua tahun lagi akan menempuh kehidupan baru itu. Ada juga yang masih beberapa tahun lagi, tetapi selalu menyimpan kecemasan, kekuatiran. Tampaknya rasa cemas, kuatir, membalut dan menghinggapi dirinya. Sebab kalau sudah pensiun, itu artinya dirikita sendirilah yang mengatur semua tata-cara kehidupan. Karenanya kukatakan, begitu memasuki masa-pensiun, kita dalam keadaan tidak bekerja lagi secara rutin, kebiasaan sehari-hari. Tetapi samasekali bukannya tidak ada pekerjaan. Pekerjaan bisa banyak, tetapi pekerjaan itu tidak menghasilkan uang, karena memang tugasnya seharusnya sudah bukan dalam bekerja secara salairie lagi.
Disinilah aku memahami sebagian pikiran teman-teman, bahwa begitu memasuki masa pensiun, lalu diartikan habislah segala pekerjaan, menganggurlah dirikita ini. Seolah-olah habislah masa aktive dulu itu, bersantai-santai dan menganggur, dan akan betapa sedih dan merananya. Sudah tentu pikiran begini harus dilenyapkan, dikikis. Pikiran begini hanya bahan pemupuk kecemasan, ketakutan dan kekuatiran dirikita sendiri. Yang pada akhirnya hanya akan menyiksa dirikita sendiri. Menurutku jauh sebelum masa pensiun, kita seharusnya sudah menyiapkan apa saja yang akan kita hadapi. Pekerjaan apa dan bagaimana yang akan kita lakukan. Karena itulah, bagiku masa pensiun itu malah kukejar buat kudapatkan, dan aku berusaha keras agar bisa pensiun-dini. Karena aku mau mengerjakan pekerjaan yang kusukai dan kucintai.
Dan setelah dua tahun lebih ini, apa yang kurasakan? Pekerjaan yang mau dan harus kita kerjakan itu banyak, bahkan bisa-bisa pada suatu waktu malah kita merasa kurang waktu tersedia buat mengerjakan pekerjaan kita sendiri. Dan itu pula sebabnya kukatakan, begitu masa pensiun, kita samasekali bukannya tidak ada pekerjaan. Pekerjaan itu banyak, tetapi tidak menghasilkan uang, dan tidak punya sumber pemasukan keuangan seperti dulu lagi. Kalau hal ini, adalah benar. Betapa kita merasa miskinnya dalam keuangan dan dana, tetapi bukannya miskin dalam pikiran dan cita-cita.
Ada juga teman-teman bertanya, lalu bagaimana cara mengatur kehidupan dengan uang yang begitu minim. Dan pertanyaan demikian adalah sangat wajar, normal dan masukakal. Barangkali aku ini termasuk manusia yang banyak merasa sudahlah, nanti ya soal nanti, jalani sajalah dulu. Nanti kan ada-ada saja penyelesaiannya. Menurutku begini, karena kita ini miskin, selalu saja dalam keadaan asor, maka dirikita harus banyak akal, punya taktik, giat mencari usaha yang bisa kira-kira menjadikan kita bertahan. Bagaimana sudah miskin tapi tak mau cari akal?! Sudah miskin tapi tidak mau bergiat, berusaha.Maka akibatnya sengsara bagi dirikita. Mencari kecerdikan, terus berusaha, tetapi tidak menipu!
Di Eropa sebenarnya banyak badan usaha sosial yang bisa mencarikan jalan buat kehidupan bagi orang-orang yang benar-benar memerlukannya. Badan-badan sosial itu ada di mana-mana. Tetapi dirikita terkadang tidak tahu, atau tidak menemukannya, karena juga karena tidak berusaha untuk tahu! Jalan yang sudah ada dan tersedia saja, terkadang tidak kita gunakan karena tidak tahu, atau tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Sampai kini aku sendiri tetap dengan mata awas dan jeli, memperhatikan suasana sekitar, kalau-kalau ada lobang-lobang buat masuk atau buat ke luar dari banyak kesulitan dan kesempitan ini. Sebab apa yang mau kita kerjakan atau proyek yang mau kita laksanakan dalam hati kita, sungguh memerlukan dana yang yang tak sedikit.
Apa yang kudapatkan keringanan itu? Dalam pengobatan sehari-hari, aku mendapatkan keringanan. Gratis buat berobat ke dokter yang sudah ditunjuk, gratis obat-obatnya sendiri. Gratis kalau harus masuk rumahsakit, opname, gratis semua pemeriksaan apa saja. Lalu transportasi, gratis buat seluruh kota Paris yang dari ujung ke ujung sejauh 100 km, jauh di luar Paris, mendekati provinsi daerah. Semua kendaraan pemerintah gratis dinaiki, kecuali taksi karena tak ada taksi pemerintah. Lalu kenapa kok bisa begini? Karena punya syarat buat itu semua. Syaratnya yalah : dapat menunjukkan surat resmi tidak bayar pajak karena pendapatannya sangat sedikit, di bawah minimum, setelah pensiun ini. Biasanya bila mendapatkan pemasukan tidak sampai 40.000 francs dalam setahun, maka dapat gratis bermacam hal. Tetapi juga syarat lainnya buat mendapatkan syarat yang ini selama paling sedikit 15 tahun selalu bayar pajak secara teratur dan bersih.
Jadi memang ada timbalbaliknya. Ada yang mengatakan wah enaknya rek, serba gratis begitu! Jangan lupa dan jangan pula bangga! Keadaan ini menandakan si penerima ke-gratis-an itu karena begitulah miskinnya! Tak mungkin akan dapat hidup kalau semua harus bayar, sedangkan pendapatan pensiunnya sangat kecil. Bisa matilah warganegaranya!
Selama di Paris sejak tahun 1981, aku sudah pernah tiga kali diopname di rumahsakit, dan karena dioperasi kaki, sakit varises dan kencingbatu. Sekali opname menurut perhitungan keuangan rumahsakit harus bayar 15.000 francs. Tetapi buatku, gratis, karena ada bukti bahwa aku tidak punya kemampuan buat membayar sebegitu banyak uangnya. Gajiku tidak cukup, tidak mencapai syarat-syarat yang harus membayar. Tetapi dalam pada itu, aku diperiksa apakah secara teratur membayar pajaknya. Dan ketika semua beres, maka hak ke-gratis-an itu diberikan padaku.
Juga pembayaran apartemen - rumah, terlalu mahal, sampai 3000 francs. Pendapatan pensiunku sendiri tak sampai sebegitu besar. Dan semua ini ada buktinya. Lalu kita harus berusaha bagaimana minta bantuan. Dan ada badan untuk itu, Allocation Familialle, Asistant Sociale. Mereka memeriksa semua surat-menyurat resminya, dan yang paling pokok apakah kita selama sekian tahun itu membayar pajak secara teratur apa tidak. Lalu badan itu malah membantu lebih dari setengah jumlah sewanya, dalam setiap bulannya. Tanpa bantuan dan ke-gratis-an demikian, kita tidak mungkin bisa hidup. Tetapi "untungnya" pemerintah tidak akan dan tidak boleh membiarkan warganegaranya mati kelaparan, menderita karena kesengsaraan dan kemiskinan, apalagi selama belasan tahun dalam hidupnya si orang itu selalu membayar pajak secara baik dan bersih.
Inilah yang kumaksud dan kukatakan kepada banyak teman yang menanyakan perihal diriku, janganlah sampai ada kecemasan dan begitu kekuatiran ketika akan menghadapi usia-pensiun. Selalu ada saja jalan, selalu ada saja perlindungan kalau dirikita benar-benar berusaha buat hidup sebagaimana adanya. Tetapi juga dituntut pada dirikita sendiri agar selalu aktive, bergerak, berusaha, giat mencari buat menemukan. Sebegitu besar usaha-kerjamu, sebegitu besar yang akan kau dapat,-
Paris 13 Mei 2000
Tidak sedikit teman atau orang yang ragu-ragu, bagaimana sikapku, atau sikap kami terhadap agama. Maksud kami di sini yalah sekitar keluargaku. Kalau kuceritakan bahwa pada pokoknya semua saudaraku, abangku dan aku sendiri sejak kecil ditanamkan menaati agama. Mengaji, sembahyang atau shalat, sejak kecil kami lakukan. Ada teman atau orang yang heran setelah kuceritakan bahwa kami semua tamat Al-Quran, khatam. Ada yang mau menyanggah : "akh masaksih, apa betul abangmu itu juga tamat Quran? Kan dia gembongnya PKI. Apa bisa baca Quran?!".
Kukatakan dia bisa bahkan tamat baca Quran. Setiap kami menamatkan Al’Quran, selalu diadakan kenduri sederhana. Membuat gegunungan dari nasi-kuning dan ditancapkan berbagai telur rebus yang ditusuk dengan lidi dari bambu. Biasanya telur itik. Nasi kuning itu dihias begitu rupa seperti tumpeng di Jawa, dengan campuran lauk-pauk dipinggirnya, teri-goreng, kacang-goreng, dadar-telur yang diiris halus, emping-goreng, kerupuk dan ayam-goreng. Yang kuingat benar, tak ada di antara kami yang tidak beragama, apalagi yang anti-agama. Sesudah besar dan dewasa, barulah punya pikiran yang luas-bebas, dan ada yang seakan-akan melepaskan agamanya. Pengertian melepaskan di sini yalah tidak lagi seperti dulu, sudah tak mengaji lagi, tidak shalat lagi. Tetapi tidak ada yang anti-agama. Pengertian anti-agama dengan tidak beragama samasekali lain. Tidak beragama dengan anti-Tuhan juga sangat berbeda. Tidak beragama dapat diistilahkan vrij-denker, tetapi anti-agama lebih keras dan berupaya menghalang dan menghadang orang yang beragama, termasuk menghalang dan menghadang orang-orang yang melalukan ibadah agama, ritual agama. Dan yang berkategori begini, tidak seorangpun ada di antara keluargaku.
Aku sejak kecil sampai ketika "jaya-jayanya PKI" sampai tua begini ini, tidak pernah anti-agama dan anti-Tuhan. Sejak dulu aku selalu mengakui adanya Tuhan dan merasa diriku tetap beragama, dan melakukan berdoa selalu walaupun tidak shalat, tidak sembahyang, tidak puasa. Bagaimana bisa menjadi anti-agama, anti-Tuhan, sekeluarga kami selalu berada di tengah kehidupan orang-orang dan keluarga yang taat beragama. Ayahku sendiri adalah salah seorang pendiri perkumpulan Nurul Islam di Belitung pada tahun 1936. Nurul Islam ini adalah organisasi ke-Islaman yang orientasinya banyak ke Muhammadyah di Jawa, Yogyakarta ketika dulu itu.
Sampai hari tuanya, ayah bila sedang berada di Jakarta di rumah anaknya yang "benggolan dan kepala PKI" itu tetap sembahyang. Sampai kini seorang abangku yang "lepasan Pulau Buru selama 13 tahun di sana" adalah seorang haji. Beberapa kali ketika aku menilpunnya dari Paris di Depok, selalu isterinya menjawab bahwa dia sedang di mesjid. Dalam hatiku, "nah, ini betul-betul haji luardalam". Ketika dulu dia bertemu denganku di Jakarta di tempat penginapanku, ketika tengahhari lewat sedikit, dia mengajak anaknya, agar menuju langgar ( surau ) terdekat, buat sembahyang lohor! Ketika itu aku betul-betul merasa terharu. Dulu akulah yang merasa lebih islam dari dia, ternyata kini dia betul-betul islam luardalam!
Ada orang mengatakan bahwa PKI itu anti-agama, tidak beragama, atheis. Kukira ini benar, sebab PKI itu bukan orang, dia adalah partai, organisasi, tak ada agamanya. Golkar dan PDI-pun tak ada agamanya! Kalau berbicara perorangan, nah, barulah jelas. Jangan dicampuradukkan antara partai, organisasi dan orang perorang. Dalam PKI, sudah tentu ada orang-orang yang tidak beragama, seperti juga dalam Golkar dan PDI, tentulah di dalamnya ada orang-orang yang tidak beragama. Lain halnya kalau di dalam NU dan Masyumi, atau PPP atau Partai Bulan Bintangnya Yusril, mungkin tak ada orang yang tak beragama, namanya saja partai berlandaskan agama.
Ketahuilah, sejarah PKI yang mula-mula adalah Syarikat Islam (Merah,)dari embrionya yang landasannya justru agama! Sedangkan orang-orang PKI angkatan pertama tahun-tahun 20-an, terutama yang memelopori pembrontakan bersenjata mula-mula melawan penjajahan Belanda tahun 1926, kebanyakannya adalah orang-orang santri, dan haji! Dan yang dibuang ke Tanah Merah di Digul itu kebanyakannya adalah orang-orang yang justru sangat taat beragama.
Ditulisan ini aku sebenarnya mau mengatakan bahwa adalah tidak benar bahwa PKI itu tidak beragama atau anti-agama atau anti-Tuhan. Yang benar adalah, memang ada orang-orang PKI yang tidak beragama, ini secara perorangan. Sebagaimana juga, tentulah ada orang-orang yang tidak beragama di Golkar atau PDI, atau yang lainnya, selain di NU, PPP atau Bulan Bintang tadi itu. Tetapi kalau sampai anti-agama dan anti-Tuhan, menurutku tidak ada dalam peraturan-dasar, anggaran-dasar, dan konstitusi di partai dan organisasi itu.
Tentu saja ada-ada saja bahan perdebatan tentang agama dan Tuhan, tetapi kalau diperdebatkan bakal tak habis-habisnya dan hasilnya takkan ditemukan, karena masalahnya sangat individual, antara dirikita, antara perorangan dengan Tuhan-nya masing-masing.
Sampai kini karena pendidikan agama di kampungku dulu itu, aku masih bisa membaca Al-Quran. Di SR, Sekolah Rendah, lalu jadi Sekolah Rakyat, lalu menjadi Sekolah Dasar ( SD ), di kampung kami di Belitung, kami diajarkan huruf Arab. Namanya huruf arab-gundul. Karena tidak pakai tanda, baris, harus tahu sendiri mencari dasar katanya. Huruf Arab yang tidak gundul, ya, itu di dalam bacaan Al-Quran. Karena pada umumnya anak-anak yang bersekolah di Sumatra diajarkan huruf arab-gundul, maka kami semua bisa membaca dan menulis dengan pakai huruf arab, sampai kini. Dan karenanya bisa juga membaca Al-Quran.
Aku ingat benar ketika dulu itu, yang kebetulan kami sama rapat para guru di Beijing. Bila isteriku atau aku sendiri pulang duluan ke rumah, selalu kami berpesan pakai surat tertulis kecil dalam tulisan arab. Yang orang lain tidak akan dapat membacanya, yang isinya sangat pribadi, misalnya : " jangan lupa kalau kau pulang duluan, angkat jemuran, jangan sampai kehujanan" atau " makanlah duluan, lalu mandikan anak-anak sebelum tidur" atau jenis pesanan lainnya. Ini karena banyak orang lain, jadi sulit ngomong berhadapan, dan lagi lebih praktis pakai tulisan arab-gundul itu.
Karena namanya saja arab-gundul, tak ada tanda baca a, i, atau u, atau e dalam ekor, maka kalau salah baca bisa berabe! Kami dulu ada bacaan namanya Hikayat si Miskin, tentang cerita Mara Karma, sebuah buku agak tebal, tetapi dengan huruf arab-gundul. Lalu ada bacaan buku yang terbitan Medan. Dalam buku itu ada kata-kata yang sama tulisannya tetapi lain bacaannya. Dan inipun berdasarkan logika, bukan asal terka sembarangan. Dan inilah uniknya tulisan arab-gundul itu. Misalnya ada kalimat " ada kumbang hinggap di atas kembang.Lalu kambing datang maka kumbangpun terbang", kalau salah baca bisa menjadi "ada kambing hinggap di atas kembang, datang kumbang lalu kembang terbang"! Karena apa, tulisan kembang, kambing dan kumbang, sama saja, sama persis!
Ketika kami mendapat pelajaran pengajian dulu itu, karena sudah bisa membaca hurufnya, maka kami bisa berinisiatif sendiri, pindah atau meneruskan bacaan secara bebas Al-Quraan yang begitu tebalnya. Al-Quran yang 30 jus itu, biasanya kalau bulan puasa dibaca bersama, satu malam satu jus atau lebih sedikit, sehingga menjelang lebaran, akan tamat sejumlah 30 jus. Tidak mungkin dibaca sendiri, atau sangat melelahkan dan luarbiasalah! Karena sudah bisa baca sendiri, kita bisa agak ngebut dalam pengajian, namun guru mengaji kita, akan selalu memperhatikan dan tahu benar di mana kesalahan kita, di mana tekanan suaranya yang kurang afdol, di mana tajwidnya yang kurang dengung dan tekanan. Beliau akan selalu tahu dan memperhatikan murid-murid mengajinya. Yang sedapnya yalah kami tahu dan pandai mengaji, tetapi kami tidak tahu apa arti bacaan itu! Apa ceritanya bacaan itu. Kami hanya membaca, mengeja dan melagukan, tetapi samasekali tak tahu apa artinya semua itu. Kecuali kalau ada pengajian khusus, ada "guru besarnya" yang datang ke surau kami buat mengajarkan secara khusus pula.
Rasanya dan pada kenyataannya, tidak akan ada di antara kami yang begitu sampai hatinya sampai bisa menjadi anti-agama dan anti-Tuhan. Karena kehidupan kami dulu itu betul-betul sangat meresap tertanam dalam, dan lagi tak ada rasa penyesalan atau merasa dibohongi atau tertipu oleh kehidupan beragama ketika dulu itu. Kalau sampai tidak menjalankan upacara agama dan suruhan serta kewajiban beragama, masih dalam pengertian yang bisa diterima akal. Walaupun hukumnya tetap saja sebuah dosa, dan itupun entahlah, tak dapat dipegang teguh karena aku bukan lagi orangnya yang sedang memperdalam agama.
Paris 16 Mei 2000,-
Barangkali kalau hanya berdoa saja, tetapi tidak melakukan ibadah lainnya, mungkin doanya tidak akan manjur. Maunya hanya berdoa, tetapi ritual yang lainnya tidak melakukannya, tidak sembahyang, tidak shalat, dan tidak yang lainnya yang diperintahkan agama. Dan itu adalah aku orangnya! Tetapi begitulah yang kulakukan, dan siapa tahu, bagian ini termasuk dosa juga. Kalau demikian halnya, juga aku harus menerimanya. Aku pasrah saja.
Yang mengherankan dalam cerita ini, aku banyak mendoakan orang-orang yang samasekali tidak ada hubungannya denganku. Dia tak kenal akan daku, dan tak mungkin terjangkau karena jauhnya, karena perbedaan sosial, karena macam-macam soal. Tetapi adalah benar aku mendoakan orang itu dengan hati yang tulus agar dia, agar mereka selamat, sejahtera dan selalu dalam lindungan Tuhan. Siapa orang-orang yang kudoakan itu? Dengan khusuk secara sacral menurutku. Anda tidak akan menyangka mungkin. Dialah Corry Aquino, Bunda Theresa, dan Yasser Arafat. Orang-orang ini ketika itu sangat goncang kedudukannya. Seperti Corry Aquino ketika itu sudah enam kali mau dibunuh, mau digulingkan. Padahal menurutku berikanlah kesempatan padanya membawa rakyat Filipina ke arah demokrasi yang selama ini ditindas, disiksa rezim diktator Marcos.
Lalu Yasser Arafat. Satu-satunya kepala negara atau pimpinan bangsa dan rakyat, yang sudah lebih 50 kali mengalami percobaan pembunuhan. Bahkan pernah jatuh dari pesawatterbang, beberapa pengawalnya mati, tetapi dia sampai kini masih cukup sehat buat memimpin negara dan rakyatnya. Kupikir akan sangat sulit dan akan mulai dari nol lagi kalau seandainya Yasser Arafat mati, dan rakyat Palestina akan sangat lebih menderita. Tokoh pemersatu rakyat Palestina memang adalah Yasser "Abu" Arafat ini.
Lalu bunda Theresa ketika krisis sakitnya, sangat menyedihkan dan sangat memprihatinkan. Padahal beliau pernah dianggap setengah manusia suci. Pengabdiannya buat kemanusiaan, terutama bagi penduduk miskin, hina, tak punya apa-apa, kelaparan, kedinginan, sangat mengagumkan peri kemanusiaan sedunia. Ordo yang hasil karyanya menyebar ke bagian dunia lainnya. Dan beliau bagaikan malaikat, mengulurkan tangannya, menggamit dengan rasa cinta yang dalam buat orang-orang miskin, yang penuh barutan-luka, busuk, membau, kotor, dan sudah tak layak manusia lagi. Tetapi beliau melakukannya dengan hati yang tulus. Orang yang mau mati, hampir mati, menerima uluran tangan beliau menjadi tenang matinya, aman, tenteram. Dan tak sedikit yang malah ada yang sembuh, dapat memperpanjang hidupnya beberapa lama. Perbuatan mereka ini sangat menggugah hatiku, sehingga dari hati yang tulus aku mendoakannya agar mereka selamat, dapat melanjutkan pekerjaannya demi buat rakyat setempat di mana mereka berada.
Aku tidak tahu, apakah doaku itu diterima Tuhan atau tidak. Tetapi aku melakukannya demi Tuhan, dan aku yang penuh dosa ini, tetap berharap agar kemanusiaan di manapun adanya akan diperlakukan sebagai manusia yang layak dan sepantasnya.
Untuk banyak soal yang tak terpecahkan, membuatku sangat pusing, dan lalu aku membuat SURAT KEPADA TUHAN pada tanggal 19 Maret 1999. Beberapa teman yang membaca surat ini di internet ini, dengan jenaka mengatakan padaku : "Bagaimana sudah dibalas belum oleh Tuhan suratmu itu? Kalau Tuhan tidak membalasnya lalu kau saja yang harus datang kepadanya, bagaimana?". Tentulah maksud teman itu, kalau Tuhan lalu langsung saja memanggilku, tidak pakai balas surat segala macam, artinya matilah begitu. Untukku tidak soal.
Sebaliknya dari doa, ada sumpah. Ada sumpah serapah. Buat Suharto dan klik serta keluarganya, aku telah membuat puisi namanya Sumpah Serapah, juga sudah dimuat di internet ini pada tahun 1997. Sajak Sumpah itu berbentuk mantera yang bagaikan sumpah betulan yang dibuat seorang dukun. Begitu sajak itu dibaca banyak orang, beberapa temanku mengajukan pendapat dan kritiknya yang keras terhadapku. Dan aku dengan tenang mendengarkan dan memperhatikan pendapatnya. Sudah tentu bukan karena aku, bukan karena sajak Sumpah Serapah itu maka Suharto jatuh 10 bulan sesudah itu.
Dalam semua pekerjaan, pergaulan, persinggungan dalam masyarakat, kita pada suatu kali atau pada suatu peristiwa tentulah akan mengalami sekali atau beberapa kali kejadian yang tidak enak, yang rasanya masaksih sampai begitu, apa betul begitu? Tetapi nyatanya apa saja di dunia ini akan selalu mungkin, akan selalu bisa terjadi, yang tadinya kita seakan-akan mau mengatakan "tidak mungkin", tahu-tahu terjadi dan diluar kemampuan berpikir kita. Begitulah halnya dengan pengalaman diriku.
Dalam soal doa berdoa, ada satu hal yang dapat kusimpulkan. Pengalaman menyatakan, berdoa untuk orang lain, jauh lebih bagus, lebih efektif, dan lebih manjur daripada berdoa buat diri sendiri! Barangkali Tuhan tidak suka kepada orang yang egois dan individualis! Dulu begitulah aku, selalu saja berputar, berkisar dan berkutat pada doa diri sendiri. Dan sampai kinipun tetap saja masih ada, tetapi "untung" saja ada imbalannya, ada balans-nya, agar juga banyak mendoakan orang lain dan pihak lain. Ini dapat dilihat pada isi suratku yang Kepada Tuhan itu.
Suatu waktu aku bertemu dan berteman dengan seorang wanita yang sudah beberapa tahun ingin punya anak, tetapi sampai ketika itu belum punya anak. Lalu timbul dihati ini, bagaimana kalau kudoakan agar dia bisa punya anak. Kumohonkan kepada Tuhan dengan segala harapan terdalam, agar dia diberi karunia dan kebahagiaan agar punya anak yang sangat diidam-idamkannya itu. Kutanyakan mau tidak kudoakan secaraku sendiri? Dan dia menjawab, tentu mau dan sangat berterimakasih. Dan kutanyakan lagi yang sangat pribadi, dan sukurlah dia mau menjawabnya. Bahwa mereka melakukan "tugas suami isteri" itu biasanya pada hari itu dan kira-kira jam begitu.
Okey, aku dengan khusuk dan dengan penyerahan penuh kepada Tuhan, mendoakan "si Inem" agar dia bisa punya anak, agar Tuhan memberikan rahmatNYA kepada "si Inem". Setiap hari itu dan jam sebegitu, aku terus berdoa tidak hanya satu dua kali. Sudah tentu, dan akupun tidak merasa karena aku,dan bukan pula karena doaku, maka "si Inem"pun setahun kemudian melahirkan bayi laki-laki yang sangat sehat, bagus dan gagah. Kembali aku berdoa dan bersukur dan sangat berterimakasih kepada Tuhan, "melaporkan" bahwa "Inem" sudah dengan bahagia memomong bayi idamannya.
Tahukah Anda? Aku sendiri tak tahu kenapa sebabnya, apa salah dan dosaku, ketika aku bertemu Inem kemudian, aku samasekali tidak diperdulikannya, tidak ditegurnya dan teguranku tidak digubrisnya. Sampai kini aku tak tahu apa kesalahan dan dosaku kepadanya maka aku tiba-tiba saja dibencinya. Yang begini ini, tidak hanya sekali dua kualami. Ada teman dan juga keluarga yang sangat baik, berbaik hati ketika berada di luarnegeri, ketika di Perancis. Dan kami menyambutnya dengan hangat, mengajak menginap di rumah, menemaninya ke mana saja, selalu berusaha menyenangkan teman dan orang itu.
Tetapi begitu kami ke Jakarta, orang itu, teman itu, keluarga itu, seolah-olah tak kenal dan tak pernah kenal kepada kita. Selalu menghindar dan menjauhi kami. Apakah mungkin dia atau mereka takut atau masih cemas? Kurasa tidak, karena ketika itu sudah lama "reformasinya", tak ada hubungan dengan takut ini itu. Hal ini menjadi lagi-lagi pelajaran dalam kehidupan. Segala apa saja mungkin, bisa terjadi. Misalnya kita yang dulu berbaik hati, berusaha berbaik dan menyenangkan dan memuaskannya, jangan sampai menganggap dirikita juga tentulah akan disenangkannya, akan dibuatnya seperti kita membuat mereka dulu itu. Kalau begini harapanmu, artinya kau berbuat baik bukanlah sepenuh hati, karena ada maunya. Karena ada udang dibalik batunya! Kalau mau berbuat baik, ya karena memang mau berbuat baik, titik! Janganlah ada terselip sedikitpun rasa ingin dibalas, ingin diperhatikan dan diberi. Inilah yang kusebutkan, selalu saja dirikita akan menemui yang tidak enak, tidak tersangka kok bisa begitu. Ya, bisa, bisa begitu dan semua mungkin yang diluar kemampuan kita berpikir
Jadi berbuat baik, berdoa, berharap, bisa saja datang hasil sebaliknya dari apa yang kaupikirkan. Tetapi hal begini ini betul-betul sangat sedikit, sangat jarang. Kecenderungan umum adalah selalu baik dan terang, jelas jemelas, bahkan bisa jernih bening,-
Paris 17 Mei 2000,-
Ketika aku berkunjung dan berniat ziarah ke kampung halamanku pada tahun 1996, setelah lebih 35 tahun tak pernah menginjakkan kaki di tempat kelahiranku, Belitung, aku ditemani oleh abang sepupuku, Rakhman. Bang Man, begitulah aku memanggilnya, sudah tampak tua. Sudah pensiun. Dan memang dia lebih tua 3 tahun dariku. Tapi tampaknya masih bisa diajak bergurau, bercanda. Kami dulu ketika masih kecil, bisa berkawan, juga pernah berkelahi, bertinju. Karena kami sepupu, satu nenek satu kakek, maka dia sering menginap di rumah kami, dan akupun sering menginap di rumahnya.
Mengenangkan masa kecil, sama-sama nakal, betapa bahagianya. Dan ketika tahun kepulanganku itu, kami jalan mengelilingi kampung Baro, yang letaknya agak rendah. Dulu perumahannya tidak begitu teratur. Kini sudah bagus, sudah banyak perubahan. Dan agak sulit mengenalinya, karena perubahan yang baik itu. Dulu rasanya ada bandar, parit yang besar sekali. Ada rumah yang letaknya seakan-akan menantikan ambrol, runtuh, karena dipinggir tebing. Kini rumah yang dulu lebih 35 tahun yang lalu itu, sudah tidak ada lagi. Lubang besar, parit dan yang merupakan lembah kecil itu sudah tertutup. Sudah banyak pepohonan, dan perumahan tak perlu lagi kuatir ambrol dan longsor.
Kami jalan lagi ke tempat-tempat dan perumahan sekitar kampung kami. Kampung kami namanya Pangkallalang. Sebelahnya nama kampung itu Air Pancor, lalu Kampung Ujung. Agak menjauhi kota Tanjungpanadan, ibukota kabupaten Belitung, namanya Air Ketekok. Ada sebagian kampungnya yang tampak tidak begitu terpelihara, banyak rerumputan, semak-semak. Di sebuah rumah yang sudah agak hancur dan tampak tak didiami, tiba-tiba saja Bang Man terdiam, dan akupun terhenti. Bang Man melihatku agak lama. Akupun melihatnya, ada apa ini. Dan sambil dia mengerenyitkan mata dan kerut-kerut keningnya, dia bertanya : "Masih ingat tidak kau, rumah siapa dulu itu?". Aku memeras ingatan. Seakan-akan masih ingat. Lalu pikiranku menerawang ke belakang waktu, puluhan tahun yang lalu. "Rasa-rasanya masih ingat. Apakah bukannya rumah kak Titin dulu itu?", kataku. "Betul. Lalu masih ingat tidak apa yang terjadi dengannya, ketika malam-malam kita terbangun pagi-pagi sekali dan mengintip dia menyanyi?". Lagi-lagi aku memeras ingatan. Sekali ini jalan pikiranku sudah pulih buat menggali ingatan dengan leluasa.
Keluarga kak Titin yang kami tahu ada adiknya laki-laki, namanya Bahani. Dia ini meninggal muda. Lalu adiknya yang perempuan, namanya Sabut. Mengapa dinamai Sabut, kami tak tahu. Dan Sabut ini cukup cantik. Kak Titin-pun sebenarnya juga cantik. Yang kami tahu lagi, sekeluarga ini kena sakit ingatan, kurang akal, kasarnya gila. Nah, sekarang ingatanku pulih sudah.
55 tahun yang lalu, ketika kami masih kecil, umurku sekitar 6 tahun, dan Bang Man sekitar 8 atau 9 tahun, suatu malam kami terbangun. Yang kami tahu ketika itu hampir pagi, sudah lewat jam 03.°°. Aku sedang menginap di rumah Bang Man. Kami terbangun karena mendengar suara orang menyanyi. Lalu kami mengintip dari jendela kaca rumah Bang Man. Sebenarnya kami takut, takut dan ngeri sekali. Tetapi karena mau tahu, siapa yang sedang menyanyi di pagi buta itu, kami berani-beranikan diri sambil diam-diam, berginjit kaki melihat keluar. Tampak kak Titin menyanyi dengan suaranya sangat bagus. Malam itu bulan sangat terang, tak ada angin, tenang. Kak Titin menyanyi. Berganti lagu, lalu diam. Lalu berkata-kata, bicara. Kepada siapa? Yang tampak ada seekor kucing yang diikat pada lehernya, ditambatkan dekat pohon bunga bougenville. Lalu ada seeekor ayam, juga ditambatkan. Dan ada seekor burung bayan, jenis kakaktua, juga ditambatkan dekatnya. Tampaknya kak Titin mengajar makhluk-makhluk itu. Mungkin dalam pikirannya semua itu adalah muridnya.
"Ayo dengarkan baik-baik. Dengar saya dulu ya, sudah itu kamu semua, harus bisa ya, harus!". Lalu kak Titin menyanyikan lagu Cempaka Putih, lagu lama, angkatan kakak-kakak kami, yang kami sendiri tak pernah menyanyikannya, tetapi masih ingat kata-katanya. Lalu berganti lagu Mawar Merah. Mawar Merah, mawar menyala, harum mewangi semerbak berseri dan seterusnya. Suaranya sungguh jernih. Dan dengan suasana malam yang begitu sepi, dengan terang bulan sinar kencana, menambah suasana bertambah sedih sepi dan ngeri. Bayangkan tengah malam buta, ada orang menyanyi bagus dan menyayat hati. Kami terdiam, kami merenung. Dan padaku ada terasa sangat kasihan, tetapi aku merasa sangat takut dan ngeri.
Kata orang, pada malam bulan teranglah, orang gila akan selalu kambuh penyakitnya. Kukira keadaan yang kami lihat itu menambah kebenaran pendapat ini. Sebab selalu sesudah itu kak Titin apabila bulan terang, antara bulan 13 sampai dengan 17, selalu berada pada arena - panggung nyanyiannya. Sebuah pelataran yang sekelilingnya ada beberapa pohon bougenvile, flamboyan, dan cempaka, dekat rumah Lurah Haji Abussama, termasuk keluarga kami yang sudah jauh.
Orang-orang, tetangga sekitar situ, tentu saja tidak akan mengusirnya. Tetapi jelaslah terganggu, dan sangat merasa kasihan, sedih, tetapi apa akal? Di kampung kami tidak ada rumahsakit gila buat perempuan, tetapi buat laki-laki memang ada. Dulu pernah kami dengar, kak Titin mau dimasukkan ke sana. Tetapi banyak orang-orang menentang pendapat itu. Karena sebenarnya kak Titin kalau ketika pikirannya sedang waras, dia berlaku seperti orang normal saja adanya. Ketika dia penyakitnya kambuh, barulah dia akan bertingkah abnormal. Dan itupun tidak mengganggu orang, hanya orang-orang akan menjadi terganggu. Dan itupun karena ulah dan perilakunya yang suka menyanyi tengah malam buta itu. Bahkan diam-diam kurasa orang-orang akan sangat senang mendengarkan nyanyian dari suaranya yang indah bagus itu.
Sambil berdiaman kami di depan rumah yang sudah hampir roboh semuanya itu, tersadar diriku, sedang mengapa kami berdua Bang Man ini. "Lalu di mana dia sekarang Bang Man?" "Kak Titin sudah lama meninggal". "Adiknya si Sabut itu?" "Juga sudah meninggal, tapi ada keturunannya". "Maksudnya keturunan yang bagaimana?" "Sabut punya anak, katanya malah ada dua. Tapi suaminya tidak ada." "Jadi bagaimana ceritanya?" "Siapa yang mau kawin dengan orang gila. Hanya perkosaan dan paksaan yang bisa menjadikannya hamil dan punya anak. Dan itulah anaknya", kata Bang Man. Ketika itu dalam hati yang dapat kuucapkan : astagafirrullah sampai hatinya memperkosa orang gila, dan sampai punya anak lagi.
"Lalu di mana anaknya itu?". "Anaknya sudah lama pindah ke sebuah pulau, tentu kau tahu Pulau Seliu", kata Bang Man. Aku tahu dan pernah ke Pulau Seliu, satu malam pelayaran dengan perahu biasa. "Lalu cerita lainnya tentang keluarga Sabut dan keturuannya itu?", kataku lagi mau tahu lebih banyak. "Anaknya itu, lalu punya anak lagi. Dan sudah dewasa, katanya sudah bekerja di perusahaan pertambangan timah. Jadi artinya cucu si Sabut, cucu ponakan dari Kak Titin. Agaknya mereka pindah dan menjauhkan diri dari kampung kita ini, kemungkinan besar buat menghilangkan jejak. Mana ada orang mau mengawini dan kawin dengan orang keturunan gila. Kalau terus di sini, tentulah akan sangat sulit bagi kehidupan mereka", kata Bang Man. "Tetapi apakah lalu semua anak cucunya lalu jadi gila, tidak waras semua turunannya?", kataku mau tahu. "Yang kudengar sih tidak semua turunannya. Cucu si Sabut dan cucu ponakan Kak Titin ini malah kudengar baik-baik saja, dapat kedudukan yang baik di PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung. Tapi lebih terperincinya kita tidak begitu tahu, sebab sudah sangat jauh tinggalnya dari kampung kita ini",- kata Bang Man.
Dalam hatiku semoga sajalah mereka sehat-sehat dan tidak menurun penyakitnya itu, dan tidak pula diasingkan oleh masyarakat seperti di kampung kami ini dulunya itu. Dan semoga anak-anak lain, yang "pangkatnya" cucu kami, tidak lagi mendengarkan cucu-cucu dan keturunan Kak Titin maupun Sabut pada menyanyi di pelataran sekitar pohon-pohon bunga di dekat rumah Pak Haji Abussama lagi. Ingat ketika itu betapa banyak perasaan bercampurbaur dalam hatiku : takut, ngeri, sedih dan sangat iba rasanya hati mendengarkan nyanyian yang sesungguhnya begitu merdu dan sahdu. Sungguh kasihan pada Kak Titin yang sudah lama almarhum itu. Dan suaranya yang menyayat hati pendengarnya, sebenarnya banyak doa dipanjatkan agar Kak Titin sembuh dari penyakitnya, tetapi kami orang-orang kampung tak tahu apa yang mesti kami buat ketika itu,-
Paris 19 Mei 2000,-
Tiga kata ini pada pokoknya sama, ngomongin orang lain, dan kebanyakannya negatif. Kalau positif namanya ya bukan gosip, tapi muji. Kalau kita sudah berkumpul dua tiga atau beberapa orang, dan ngomongnya sudah tidak begitu keras lagi, agak bisik-bisik, sepertinya takut didengar orang lain, maka artinya mulailah dunia gosip buka layar! Apalagi sasaran yang digosipkan itu ada tak jauh sekitar situ saja, maka omongan semakin agak diperkecil, jangan sampai kedengaran orang yang berkepentingan.
Gosip, bergunjing, ngerumpi kata orang Jakarta, memang ada keasyikan tersendiri. Kalau sangat jarang dilakukan, semakin enak, kalau terlalu sering sampai jadi kerjaan sehari-hari, maka nilainya sudah kurang, agak berbau inflasi, yang itu ke itu saja. Ternyata semua hal-ihwal, kalau selalu dikerjakan itu-itu saja, maka dia bukan lagi suatu keenakan dan keasyikan, tetapi sudah merupakan pekerjaan dan kewajiban, maka nilai enak dan sedapnya sudah sangat berkurang. Tidak pernah bergosip, bergunjing, dan tidak pernah membicarakan kekurangan orang lain, adalah suatu kebaikan, dan boleh dikatakan hebat. Tapi keabsahannya bisa-bisa diragukan, apa betul begitu, benarkah begitu?
Sudah menjadi adat di dunia ini, atau kebiasaan, terdapat banyak kejadian, bahwa berbuat baik itu cukup sulit. Tapi kalau berbuat jelek, buruk dan jahat, sangat mudah, bisa di mana saja dan kapan saja. Seseorang yang melihat seorang tua membawa beban berat sekali, lalu hatinya timbul rasa kasihan dan simpati, maka diapun menolong membawakan beban itu, atau membukakan pintu buat orang lain, atau menolong apa saja. Hal ini termasuk kategori berbuat baik, tetapi berbuat baik secara begini, sebenarnya adalah suatu hal-ihwal yang sangat biasa, belum termasuk yang seharusnya dicatat. Belum luarbiasa, masih termasuk kategori ya seharusnyalah begitu!
Tetapi seseorang tiba-tiba saja mengambil batu lalu melemparkannya ke kaca rumah orang, atau kaca mobil, lalu pecah berantakan, sudah berbuat jahat. Atau meninju orang, mengaitkan kaki ke kaki orang lain, lalu jatuh, sudah kategori berbuat jahat. Berbuat jahat, jelek, dan buruk, betul-betul mudah, gampang dan bisa dilakukan di mana saja, kapan saja. Lain halnya berbuat baik, tidak mudah, harus ada wacananya, ada kesediaan perasaan, kerelaan, dan tempat serta waktunya. Tidak semudah berbuat jahat, buruk dan jelek. Ada sebuah peribahasa yang agak tidak begitu ekstrim, agak moderat, tetapi menganjurkan janganlah berbuat jahat, sedangkan berbuat baik, ya sedang-sedang saja, tapi jangan terus-menerus.
"Berbuat baik, berpada-pada, berbuat jahat jangan sekali-kali". Di sini kata "jangan sekali-kali" samasekali berlainan dengan pengertian "sekali-sekali". Kata "sekali-sekali" artinya boleh sekali-dua saja, tetapi "sekali-kali" artinya satu kalipun jangan! Peribahasa ini walapun menganjurkan berbuat baik tetapi tak perlulah kebangatan, hanya berbuat jahat jangan sekalipun terjadi! Kenapa ada peribahasa begitu mungkin ada sejarahnya ketika kelahirannya itu.
Semua kejadian yang ada di dunia ini, yang pernah kita dengar, yang pernah kita tahu, adalah proses praktek masarakat dalam masarakat itu sendiri. Baik karena kita sendiri menyaksikan, mengalami ataupun dari orang lain yang kita dengar atau menceritakannya kepada kita. Karena itu hidup dalam masarakat kongkrit, berada di dalamnya, bergelut, berkutat, berkubang di dalamnya, adalah suatu pengalaman yang sangat berharga dan sangat banyak pengalaman yang kita tahu. Ada hal-hal yang tadinya kita tidak tahu, tidak sangka, yang kita pikir tidak mungkin, ternyata ada dan memang ada! Inilah artinya pengetahuan kita sebenarnya sangat terbatas, sedangkan pengetahuan yang ada dalam alam-jagat-raya ini tidak terbatas.
Kita tidak menyangka bahwa ternyata ada seseorang yang gaya-langgam hidupnya hanya mengharapkan pertolongan orang lain. Dan kalau si A menilpun atau datang kepada seseorang, menulis surat, berkabar, berpesan, titip-pesan, selalu saja minta tolong ini, minta tolong itu. Artinya begitu dia bersuara, begitu dia tampil, kontan bikin susah orang lain! Selalu ada-ada saja permintaan dan harapannya, minta bantuan ini, minta bantuan itu, dan selalu saja membawa beban buat orang lain. Tetapi dia sendiri tidak openan kepada orang lain, tidak pernah perduli apalagi membantu dan bersolidaritas kepada sesamanya. Orang yang hanya mau menerima tetapi tidak pernah mau memberi. Tipe manusia begini selalu ada, walaupun sangat minoritas, untung minoritas!
Ada lagi seseorang yang tadinya kelihatan baik sekali. Suka seakan-akan berkhotbah, bahkan seakan-akan membawa pesan agama. Kalau kita terbius dengan kata-katanya, maka bisa-bisa kita anggap orang ini setengah suci, bukan main baik hatinya. Kata-katanya selalu mengandung nasehat yang baik, jujur, ikhlas. Kita sangat merasa kehilangan setelah beberapa lama tidak bertemu dengannya. Tetapi bagaikan petir disiang-bolong, tiba-tiba saja kita dengar dan kita ketahui bahwa dia itu sudah ditangkap setelah digebuki orang banyak, karena ketahuan memperkosa anak-gadis orang dan menipu orang dengan mengumpulkan dana buat mencarikan pekerjaan orang-orang yang begitu banyak menganggur. Selama ini dalam pergaulan beberapa hari dulu itu, kita bagaikan dibius oleh kata-kata manis-madunya, dan oleh perilakunya yang tidak sesungguhnya. Dan kinilah baru kita tahu dari banyak orang lain, setelah kejadian yang kita dengar dan ketahui baru-baru ini.
Ada peribahasa Tionghoa mengatakan "untuk mengetahui kuda yang baik, lihatlah dalam perjalanan yang jauh, untuk melihat teman yang baik, lihatlah dalam pergaulan yang lama",- Benar juga, dulu itu kan kita hanya beberapa hari dan minggu saja, bukannya tahunan!
Ada lagi jenis manusia yang selalu saja berkutat, bergumul, bergelut-puji sekitar dirinya sendiri. Memuji dirinya sendiri, kalau bukannya karena aku, wah, wah, pada nggak beres semua. Kenapa terjadi begitu itu? Karena ketika itu aku tidak ada di tanahair, jadi tidak ada yang memimpinnya. Si Anu itu, mana dia bisa, dulu saja kalau tidak ada aku, habislah dia! Kenapa sekarang sampai terjadi begini kacau, terus terpuruk? Dulu sudah kuusulkan, sudah kutulis surat kepada Pak Harto, bahkan sudah kudatangi, kuanjangsonoi, sudah kami bicarakan baik-baik. Tahu-tahu konsep yang saya bawa dulu itu, samasekali tidak digubris oleh Pak Harto. Nah, lihat apa akibatnya, lha dia sendiri dilengser-keprabonkan! Rasa sendiri! Mereka itu kan pada baru-baru. Aku ini sejak muda, anak-anak, sudah berkecimpung dalam perjuangan nyata dan senjata, kongkrit-krit! Anak-anak muda sekarang ini mana tahu semua perjuangan Angkatan 45 dulu itu! Tanpa Angkatan 45, kami-kami dulu itu, mana ada ini kemerdekaan, mana ada proklamasi yang menyebar keseluruh dunia! Mengangkat Indonesia keforum dunia itu siapa,siapa?! Sekarang lupa, lupa kacang akan kulitnya, lupa bebek dan kerbau akan kubangannya! Demikian kata seseorang mengenai dirinya sendiri. Yang tadinya tidak terpikirkan pada kita, ada juga ya manusia yang bertipe begini dan ternyata ada!
Paris 23 Mei 2000,-
Hasan, adik saya itu, lebih lama lagi baru bisa datang ke Jakarta dan kampunghalamannya. Saya selama 30 tahun barulah bisa datang ke kampunghalaman, sedangkan Hasan selama 36 tahun barulah bisa menjenguk kaum keluarga dan ziarah ke pekuburan Emak dan Ayah. Beberapa negara pernah ditinggalinya, ini baru orang kelayaban benaran, walaupun juga sama saja dengan saya. Tiga negara dilahapnya sekaligus, Uni Sovyet ( ketika itu ), Vietnam, dan Holland, hidup selama 36 tahun di sana, dan entah sampai kapan lagi jadi orang kelayaban.
Ada kesamaan saya dengannya. Begitu sampai ke Belitung kampunghalaman tempat kelahiran kami, tak seorangpun yang menawari menginap di rumahnya! Keluarga yang dekatnya bagaimanapun, sama-sama pura-pura tidak tahu dan tidak ambil-perduli, seolah-olah ya harus tahu sendirilah. Tentu saja maksud kami-pun samasekali tidak ada maksud buat membebani keluarga dengan mau menumpang menginap. Semua hal-perihal sudah kami perhitungkan, termasuk semua biaya hotel dan perjalanan dan segalanya. Jadi persoalan tak ada tawaran menginap itu hanyalah dari segi kekeluargaan dan kekerabatan saja. Rasanya masaksih sudah pulang ke kampunghalaman tempat kelahiran, tidak ada yang menyambut, tidak ada yang menawari menginap dan makan di rumahnya. Yang padahal keluarga masih banyak, masih tetap dekat, dan masih ada keturunan darah sekeluarga.
Tapi hal itupun tetap saja masih bisa dimengerti, masih bisa dipahami. Orang-orang masih pada takut, kuatir, jangan sampai dianggap, dituduh, dituding tidak bersih lingkungan. Sedangkan kami ini dianggap, barangkali "sumber lingkungan yang tak bersih itu"! Tidak soal. Ini menandakan betapa hebat dan merasuknya itu racun yang ditanamkan Orba dan Abri.
Tapi yang saya tidak mengerti, lebih-lebih Hasan dan isterinya, mengapa tiba-tiba mereka diminta meninggalkan Tanjungpandan Belitung secara tiba-tiba, mendadak. Ketika itu Hasan dan isterinya masih enak-enak beristirahat di tepi pantai Tanjungkelayang, menikmati keindahan alam yang sangat nyaman, indah dan tenang. Mereka baru saja dua hari dan masuk hari ketiga di tepi pantai yang indah itu. Dengan pasir putih dan deburan ombak yang jinak, dan angin semilir yang manja, tiba-tiba ada seseorang yang datang mencarinya. Dikatakan ada tilpun dari Jakarta agar segera kembali ke Jakarta, sangat urgent!
Tentu saja Hasan dan isterinya menjadi heran, terkejut, tak habis pikir. Seperti peribahasa kampung kami, tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu saja menggeledek petir sambar menyambar, ada apa ini? Usut punya usut, panggilan dari Jakarta itu adalah dari abangnya, abang kami yang tinggal di Depok, lepasan Pulau Buru selama 13 tahun di sana, disamping juga lulusan Lumumba, Moskow.
Tentu saja tambah marah dan dongkollah Hasan dan isterinya. Dan sayapun pada mulanya juga turut-turut marah dan menyalahkan Murad abangku itu. Dalam hati sangat keterlaluan si Murad ini! Tetapi seperti biasanya kebanyakan orang yang sedang marah, emosinya duluan yang jalan, sedangkan pikirannya di belakang! Dan lama sesudah itu, barulah jernih persoalannya, dan jelas darimana sumber pemanggilan agar segera kembali ke Jakarta itu. Tadinya sudah sampai kami berpikir, pastilah hal ini ulah tentara, serdadunya Suharto. Agar Hasan segera meninggalkan Belitung, ke Jakarta dan lalu segera pulang ke Holland! Bukankah ini suatu pengusiran? Suatu persona-non-grata yang tidak tertulis, yang sebenarnya adalah suatu pencekalan?
Ketika keadaan sudah agak tenang, di mana pikiran dan penalaran sudah di depan sedangkan emosi sudah mengambil tempatnya yang tepat, barulah kami tahu. Seorang yang boleh dikatakan menjadi penjemput, penunjuk jalan, yang selalu menyertai kami, ketika itu Hasan dan isterinya, adalah termasuk keluarga dekat kami. Namanya Hamdani. Hamdani inilah yang cepat dan segera menilpun Murad di Jakarta agar segera memanggil Hasan buat lekas kembali ke Jakarta, dan pulang ke Holland. Kenapa? Dia pernah ditanya oleh pihak kepolisian, siapa turis yang dalam hari-hari ini yang selalu disertainya itu? Pertanyaan ini rupanya buat Hamdani sudah menjadikannya sumber ketakutan yang amat sangat. Polisi itu hanya mau tahu, dan hanya bertanya begitu saja. Orang-orang kampungku selalu akan bertanya semua hal-ihwal yang mereka merasa asing, merasa mau tahu. Sedang kampung kami itu kecil lingkungannya, semua pada tahu, semua pada mau tahu. Kata orang-orang, di sini jarum jatuhpun kedengaran dan ketahuan, begitulah ibaratnya.
Rupanya bagi Hamdani, ini dirasakannya sebagai suatu isyarat bahwa mereka pihak kepolisian dan juga ketentaraan, sudah mengetahui keberadaan " si sumber tidak bersih lingkungan" itu, berada dikampung halamannya sendiri. Bagi Hamdani, ini dirasakannya bagaikan bom-waktu yang sebentar lagi akan meledak, akan sangat membahayakan. Dapat dimengerti sepenuhnya, apalagi kalau kita mengetahui riwayat sejarah Hamdani ini. Beberapa tahun yang lalu Hamdani terpilih menjadi wakil DPRD Belitung, dari KNPI. Ingat, KNPI itu kan anakbuahnya Golkar! Sebenarnya sangat baik buat Hamdani, harapan smooth sangat besar. Tapi ternyata lain. Setelah di cheque dan recheque, dilitsus, Hamdani ini termasuk tidak bersih lingkungan. Karena pamannya anggota PKI dan matinyapun di Tiongkok. Lalu paman lainnya, sepupu pamannya, adalah orang pertama PKI, bukan main bahayanya! Lalu, tentu saja, Hamdani didepak keluar KNPI, dan tak jadi duduk sebagai wakil rakyat Belitung di DPRD! Dan Hamdani harus keluar dari semua bagian pemerintah, harus keluar dari jadi guru SMP pemerintah! Padahal pilihan secara demokratis cara dan ketika itu, sebenarnya Hamdani sah dan tepercaya, tapi yang paling berkuasa dan menentukan adalah perangkat perang militer Orba dan Abri.
Maka semakin jelaslah dulu itu, siapa yang tiba-tiba memanggil Hasan sekeluarga agar segera pulang ke Jakarta dan terus ke Holland. Yang memanggil dan merekayasa pencekalan itu adalah keluarga sendiri, darah sendiri, sepupu sendiri. Saya lebih-lebih berusaha meyakinkan adik saya itu, agar kemarahan yang dulu itu, tidak usah dipersubur. Hilangkanlah, tanamlah, buanglah. Kita semua seharusnya bisa mengerti dan memahami keadaan trauma yang begitu merasuk dan tertanam dalam di hati banyak orang.
Dan lebih-lebih baru-baru ini ada cerita dan pesan bahkan surat dari kampung, abang kami sendiri Murad, sudah pulang ke kampunghalamannya, di tempat kelahirannya, setelah lebih 40 tahun tidak pulang. Katanya kaum keluarga sekarang ini sudah berani mengundang buat menginap, mengundang makan, dan katanya lagi, mungkin juga ada sedikit dilebihkan, pada rebutan ingin jadi tuanrumah. Banyak yang minta agar menginap dan makan di rumahnya, setiap hari selalu ada undangan makan, pesta keluarga. Dan ramai dengan sukacita, bernostalgia. Dan dimasukkan juga kejadian yang kami alami bersama adikku Hasan itu. Katanya lagi, mereka minta maaf dan agar bisa memahami semua keadaan ini. Dan, katanya lagi, kapan Hasan dan Bang Yom akan ke Belitung lagi? Kami harap datanglah dan menginaplah di rumah kami. Orang-orang yang mengatakan ini, pada mulanya malah seakan-akan ketika itu tidak mengenal kami. Tapi kini pada mengajak dan mengundang menginap dan makan bersama, pesta keluarga.
Saya dalam hati, benar-benar mengerti dan memahami. Soal ada rasa kesedihan mendapat perlakuan begitu dulu itu, sudahlah, lupakanlah. Kita hidup menuju ke depan, lupakan dan jangan sampai dirasakan benar apa-apa yang sudah terjadi di belakang. Tidak perlu menyimpan dendam, tidak perlu memendam kemarahan dan kebencian, apalagi di kalangan sendiri, keluarga dan sahabat. Kukatakan juga kepada adik saya Hasan, walaupun tampaknya sangat berat, dan itupun saya juga mengerti. Sakitnya Hasan ketika diperlakukan yang sebenarnya sebuah pengusiran itu, justru datangnya dari keluarga sendiri yang cukup dekat. "Sudahlah San" kataku pada suatu hari. "Maafkanlah mereka. Anggap saja begini ini, secara seloroh dan agak gampangan,- kita ini apalah, sedangkan presiden Gus Dur saja, berani minta maaf dan berani memaafkan. Dari segi gampangan itu saja dulu. Jangan memperbandingkan yang lainnya, sebab kalau diperbandingkan, payah. Sebab Gus Dur kan tidak mengalami apa yang kita alami. Keluarga kita lebih 60 persen dibunuh atau dipenjara atau mati karena siksaan. Dan sampai kini di mana kuburan Bang Amat, tidak seorangpun yang tahu. Tapi dengan adanya sedikit perubahan sekarang ini, bolehlah kita mulai memajukan perubahan itu agar lebih besar lagi", kataku seperti orang berkhotbah saja layaknya. Tapi adalah benar, apa yang kukatakan itu, mau kulakukan, siap kujalankan, dan hanya itulah yang aku bisa dan mampu.-
Paris 24 Mei 2000,-
Apakah pekerjaan yang kuanggap berat bila aku ada di rumah anakku Nita di Holland? Membersihkan rumah, mencuci piring-mangkuk, menjemur pakaian yang banyaknya menggunung itu? Atau masak makanan buat sekeluarga anak-cucu? Tidak, bukan itu! Tapi menjaga Berry! Berry cucu yang berumur tiga tahun lebih ini nakalnya minta ampun, bandel, dan terkadang kolokan. Tapi semua orang menyukainya, mencintainya, menyayanginya. Kalau aku sedang bertugas menjaganya di rumah, wah, capek, lelah, tapi sangat menyenangkan, lucu, senang. Dia mengajakku main bola, main cepat-cepatan pasang puzzle yang aku tak pernah menang, atau main sembunyi-sembunyian, dan mendorong gerobak yang di dalamnya banyak mainannya, mobil, motor. Kalau aku sudah capek karena harus menendang bola lurus ke arahnya, dan aku berhenti, dia akan agak membentak :
"Ayo kakek, cepat ambil, lalu tendang lagi ke Berry, yang lurus". Dan setiap pagi aku harus mengantarkannya ke sekolah Taman Kanak-Kanaknya yang tak jauh dari rumahnya. Harus pula pakai kereta-dorongnya dengan dia di dalamnya. Dulu ketika Azizah, orang Marokko itu selalu mengantarkannya, dengan dua anaknya lagi, Saadiah dan Habibah, dua-duanya wanita, Berry selalu didorong dengan purchette itu. Dan sudah kukatakan, tentu saja dalam bahasa Indonesia agar Azizah tidak mengerti.
"Berry, kamu kan lebih tua dari Habibah, dia baru saja mau tiga tahun, kamu sudah tiga tahun lebih. Seharusnya Habibahlah yang naik kereta ini, bukannya kamu!", kataku. "Ya, tapi dia tidak marah, dan Azizah selalu saya yang disuruhnya naik, bukannya Habibah", katanya membela diri. "Kamu tahu Berry, kamu kan laki-laki, dan umurmu lebih tua,dan diakan wanita.Biasanya kita laki-laki itu kan harus bisa mengalah dan menyilahkan seorang adik kita naik purchette", kataku. Lalu dengan agak marah Berry turun. Azizah heran mengapa Berry tiba-tiba turun. Dan menanyakan pada Berry apa yang terjadi dengan kakek. Lalu Azizah kembali menyuruh Berry naik kembali purchette-nya. "Nah, coba kakek lihat, Azizah sendiri yang suruh Berry naik", kata Berry.
Ternyata Berry memang juga dimanjakan keluarga Azizah. Keluarga Azizah orang Marokko itu, punya anak dua, semua wanita, maka "jadi rajalah si raja perang kecil" ini. Dan suami Azizah Tuan Salam dan bapaknya sendiri, Tuan Somad, juga menyayangi Berry. Sering Tuan Somad mengantarkan sendiri Berry pulang dengan mobil kamionnya yang sehari-harinya selalu melewati rumah kami bila Tuan Somad menuju mesjid yang dekat dari situ. Dan Berry juga sering makan di rumah keluarga Azizah. Sudah tentu untuk semua pekerjaan ini keluarga anak-mantuku membayarnya secara adil dan masukakal. Tetapi kulihat dan setelah kuhitung-hitung, tetap saja keluarga Azizah ini adalah keluarga yang baik, bukan berdasarkan keperluan dan kebutuhan keuangan, tetapi terlebih-lebih karena kesayangan, persahabatan, dan kecintaan.
Dulu ketika Azizah masih bekerja pada keluarga Sarbani orang Iran tetangga Nita yang lama, sering mereka ini bentrok. Semua gara-gara jam yang tak tepat, janji yang tak tepat, dan pembayaran yang kurang. Dan ketika keluarga Sarbani tahu bahwa Azizah bekerja pada keluarga Nita, dan lebih-lebih lagi Nita mempercayakan anaknya, Berry, dan seluruh rumahnya dengan menyerahkan kunci kepadanya, bukan main heran dan tidak senangnya keluarga Sarbani.
"Nita, betul kamu menyerahkan kunci buat Azizah yang bebas memasuki rumahmu?", tanya Azizah mau tahu. "Betul. Agar dia tidak terikat waktu dengan saya. Saya kan bekerja, suami saya bekerja, dan Berry banyak ikut dia, antar kesekolah, jemput, sedangkan kami tidak ada di rumah". "Kamu sudah tahu betul siapa Azizah dan siapa itu orang-orang Marokko?", kata Sarbani. "Tahu semua", kata Nita. "Kamu tidak kuatir akan kehilangan barang-barang berhargamu. Ingat lho, dia itu orang Marokko. Banyak yang suka ngutil, mencuri dan menipu. Saya sih hanya mengingatkan saja". "Oh, terimakasih atas peringatanmu itu. Tapi rasanya sih atau semoga tidak akan terjadilah seperti yang kau ingatkan itu".
Memang ada hal-hal terjadi pada satu-dua kejadian begitu. Tapi menurut kami, asal kita saling percaya, saling mengenal dan dekat, saling merasa punya perhatian, kecintaan dan kesayangan, maka hal-hal negatif lainnya semoga saja terhindar. Dan nyatanya kedekatan dan persahabatan ini sudah masuk tahunan lamanya. Ketika hari Raya Lebaran Haji, Idul Korban, keluarga Sarbani dengan sangat mengundang kami makan di rumahnya. Dan sering antara kami saling mengantar makanan. Berry merasakan keluarga Azizah sudah seperti keluarganya sendiri.
Suatu hari pernah Berry berkata begini di depan mama-papanya. "Kakek yang di Paris, itu adalah kakeknya Berry. Tapi papanya Azizah juga adalah kakeknya Berry". Lalu dia diam, dan kami menunggu lagi apalagi yang mau dikatakannya. "Lalu siapa lagi kakeknya Berry?". Tapi Berry diam saja dan kami menunggu jawaban. "Bukankah ada lagi, kenapa tidak kamu sebut? Bukankah kakek yang di Hoorn, Opa dan Oma, juga adalah kakek dan nenek Berry?". Oom Sukardiman dan Tante Anneke, ibu-bapaknya papanya Berry, dia tidak sebut. Ada apa ini?
Beberapa waktu sesudah itu, dapatlah jawaban itu. Pada suatu hari Berry ingin menginap di rumah Opa-Omanya di Hoorn. Tentu saja mama-papanya sangat senang, sebab akan menyenangkan sang kakek dan nenek yang juga memanjakan cucu pertamanya pula, dan laki-laki pula, dan nakal serta cerdas pula. Janji semula Berry mau menginap selama tiga hari, sebab liburan sekolahnya. Tetapi setelah baru saja sehari, Berry sudah menilpun mamanya ke Almere, agar menjemputnya buat pulang. Tak mau lagi melanjutkan menginap selama yang dijanjikannya. Ibunya menjemput. Dan Berry tampak berwajah asam dan tak gembira.
Kalau sudah terjadi hal-hal begini, ibunya selalu dengan rasa sayang dan kecintaan seorang ibu, menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. "Mama lihat kamu sangat sedih. Ada apa Berry sampai begitu sedih, apa yang terjadi Berry?". Berry diam saja, dia samasekali tidak ngomong. Tetapi airmatanya menggenang, dan lalu isak-tangisnya terdengar sesengukan. "Ayo, Berry harus katakan sama mama, agar mama tahu apa sebabnya, nanti kita pecahkan solusinya. Semua persoalan pasti akan terpecahkan dengan baik, tapi kita harus jujur dan terus terang", kata ibunya. Sudah sejak dulunya, Nita selalu berkomunikasi dengan baik terhadap anak-anaknya, jelas dan tidak menganggap persoalan ini adalah persoalan anak-anak, tetapi persoalan antara manusia, antara orang, bukannya secara umur dan tingkat kederajatan.
Sesudah agak tenang dan isakan tangis Berry sedikit mereda, berkatalah dengan suara agak tersangkut-sangkut. "Opa jahat, Opa tidak suruh Berry lihat tele(visi). Opa lalu bentak Berry dan suruh tidur. Lalu Opa sendiri yang nonton, Berry disuruh ke atas tidur dengan Oma". "O soal itu, tapi mungkin Opa benar, sebab hari sudah terlalu malam, sedangkan anak-anak seperti Berry harus sudah tidur". "Tapi kenapa Opa boleh nonton, Berry harus tidur cepat?". "Ya, karena Opa kan orang tua bukan lagi anak-anak yang harus segera lekas tidur pada jamnya. Sedangkan Berry masih kecil dan anak-anak, kalau sudah jam tidur ya harus tidur, tidak boleh lagi nonton tele", kata ibunya meyakinkan. Dan sebuah misteri anak-anak terbuka katupnya.
"Jadi, tetap saja Opa dan Oma adalah Opa dan Oma-nya Berry. Dan kalau menyebut siapa Opa dan Oma-nya Berry, yang di Hoorn tetap adalah Opa-Oma Berry, ya kan sayang?!", kata ibunya. Tampak Berry agak berat dan menganggukkan kepalanya belum rela sepenuhnya. Rupanya "sakit hatinya" karena "bentakan" itu juga bisa merasuk kepada hati anak-kecil, anak balita. Mungkin saja kadar bentakan itu cukup tidak bisa dipikul anak sekecil itu, tapi mungkin saja si anak karena tidak pernah mengalami hal-hal demikian, lalu menjadi sangat berkesan dalam hatinya, yang lalu tidak mau menyebutkan orang "yang sudah menyakitkan hatinya itu".
Dan pada biasanya kami selalu berusaha sejalan dalam cara dan membawakan pendidikan ini. Memang Berry adalah anak cerdas, menyenangkan, pada pokoknya semua orang yang mengenalnya akan bersimpati padanya. Tetapi bila salah-didik, benar-benar anak ini bisa jadi "raja-perang kecil" seperti kata Opanya,"pangeran Soreng - Bandung", karena asal papa dan neneknya orang Soreng - Bandung. Dan sampai kini keluarga Azizah dari kakek Saadiah dan Habibah, menjadi sahabat kami yang dekat, terpercaya, dan saling mengerti dan penuh rasa kekeluargaan. Ternyata pemberian kepercayaan yang sepenuh hati, akan diterima oleh hati yang juga tahu, merasakan, melihat kenyataan sehari-hari dalam kehidupan ini,-
Paris 26 Mei 2000,-
Ketika aku sedang bertugas service disal dan bar, resto kami, giliran siang, ada dua orang muda yang berwajah Asia, datang mendekati bar. Dan seakan mau bertanyakan sesuatu. Aku siap melayaninya, sepertinya orang muda ini datang dari jauh.
"Tuan, kami datang dari perbatasan Perancis dan Suisse, dan membawa titipan dan pesan buat seseorang yang ada sangkutpautnya dengan Restaurant Indonesia ini. Kami ingin menemui seorang Tuan yang bernama Simon", katanya. Dan aku menunggu lagi apa yang akan dikatakan orang muda ini. "Oh ya, semoga saya dan kami bisa membantu Anda", kataku. "Titipan itu dari Tuan Antoine, dan untuk diserahkan kepada Tuan Simon. Apakah benar yang kami tujukan ini tidak salah alamat?", katanya lagi. "Benar", kataku. "Dan sayalah yang Anda maksudkan itu, saya Simon", kataku. Lalu dua orang muda itu menjabat tanganku dengan erat. Kami bersalaman dengan rasa masing-masing ingin tahu akan kelanjutan titipan dan pesannya itu.
Lalu orang itu membawa bungkusan dan menyerahkannya kepadaku. Agak berat juga, dan berbentuk memanjang dan bulat. Terasa sekilas, barang itu tidak hanya satu. "Dan juga bersama surat ini, dengan pesan Tuan Antoine, kalau Tuan sempat dan tidak keberatan, Tuan Antoine mengharapkan balasan suratnya dan titipannya ini", katanya lagi. "Apakah artinya saya harus segera membalas surat ini begitu saya terima titipan ini?", kataku mau tahu. "Tidak begitu benar. Kami akan ada beberapa hari di Paris ini. Besok kami datang lagi membawa surat balasan dari titipan Tuan Antoine. Dan kami akan kembali lusa ke dekat Basel, Bale, Suisse. Dan kami akan mampir di Mulhouse membawakan surat dan apa saja kalau Tuan ada titipan buat Tuan Antoine", katanya lagi.
"Nah, kalau begitu baik sekali, saya punya waktu untuk membalas suratnya di rumah, dan besok saya bawakan balasan surat atau titipan lainnya sekiranya ada", kataku pula. Lalu kami agak ngobrol ke sana ke mari. Ternyata dua orang muda itu adalah teman asal senegara Tuan Antoine, sama-sama orang Kamboja. Dan aku agak tidak sabaran, mau segera membuka isi titipan dan surat Antoine itu.
Masih di resto, dan masih dalam keadaan bertugas, begitu ketika tamu sudah susut dan reda, sudah banyak yang pulang, aku segera membuka bungkusan titipan itu. Agak heran dan setengah kaget juga aku, sebuah payung dan sebuah tongkat, lalu amplop surat. Tuan Antoine, memang aku ingat benar. Dia adalah pasienku dalam pengobatan tusuk-jarum ketika aku tinggal di Lure, sebuah kota kecil di Perancis Timur, tidak jauh dari perbatasan Suisse. Tuan Antoine ini punya penyakit menahun, mulutnya menyong, tidak simetris. Tak sedap dilihat. Kalau bicara terlihat agak sulit, karena tidak bebas menggerakkan mulutnya. Ini ada hubungan dengan syaraf mulut dekat bibir. Kata orang ada yang mengatakan karena masuk-angin, diterpa angin-jahat, atau karena tidur justru menghadang angin.
Dia sering datang ke Kota Lure untuk bertemu dengan banyak para refugie orang-orang Kamboja, Vietnam dan Thailand. Di sanalah kami bertemu mula-mula. Dan aku setiap hari praktek tusuk-jarum mengobati banyak penyakit kaum pengungsi yang kebanyakannya orang-orang Indo-China itu, bekas jajahan Perancis dulunya. Di antara pasienku itu, terdapat Antoine ini. Sebenarnya yang pokok aku mengobati orang-orang yang tinggal di foyer ( asrama ) kami, sama-sama kaum pengungsi dari Asia, Afrika dan Arab Timur-Tengah. Karena itu tidak usah bayar, kuanggap sama-sama tak punya sumber matapencaharian. Tetapi kenyataannya banyak juga orang-orang berobat dari kota-kota lain yang berdekatan dengan kota Lure. Mereka datang pada hari Sabtu dan Minggu. Dan dua hari yang sebenarnya hari libur itu, justru aku harus bekerja sesibuk-sibuknya melayani pasien yang banyaknya belasan setiap Sabtu Minggu. Dan di antaranya Tuan Antoine ini.
Tuan Antoine mau berobat tusuk-jarum padaku. Dia pernah mengatakan padaku, bahwa dia yakin dan percaya pada pengobatan tusuk-jarum, dan lebih-lebih percaya kepadaku secara pribadi. Kukatakan, sukurlah, dan ini menandakan akan ada sebuah dasar kerjasama yang baik, antara pasien dan dokter, yang berobat dan yang mengobati. Sebab kalau sudah ada terselip sedikit saja ketidakpercayaan atau keraguan, maka kerjasama itu mungkin akan mengalami tiada hasil apapun. Dan tampaknya dia gembira dengan keyakinannya itu dan dengan pendapatku.
Sejak itulah Tuan Antoine berobat tusuk-jarum setiap hari Sabtu dan Minggu selama jangka waktu bulanan. Sistim pengobatan kutambah dengan urut-massage sekitar bibir dan bawah-hidung. Setelah jangka waktu lebih satu bulan, menurut katanya sendiri, ada efek baiknya, sudah merasa agak ringan, atau kalau bicara tidak merasa kaku dan keras seperti sebelumnya. Ada rasa sudah elastis. Tetapi tentu saja belum sembuh benar. Dan juga sudah kukatakan, karena sakitnya itu sudah lama, menahun, maka mungkin agak lama baru bisa sembuh, bahkan boleh dikatakan sangat sulit untuk sembuh seperti sediakala. Tuan Antoine menyadari akan hal itu, tetapi dengan yakin dia berobat padaku. Karena dia sangat yakin, maka akupun benar-benar berusaha buat menyembuhkannya. Sering aku berdoa dengan secara khusus agar Antoine dan siapa saja yang sungguh-sungguh mengharapkan kesembuhan, kumohonkan kepada Tuhan agar mereka itu disembuhkan, dan "Tuhan", kataku selalu "tolonglah Tuhan, tolonglah sembuhkan si Anu itu, dan mereka itu. Mereka sangat mengharapkan kesembuhan, sedangkan aku takkan mampu menyembuhkannya. Hanya KAU-lah yang punya kuasa menyembuhkannya. Tolonglah sembuhkan mereka itu", kataku selalu memohon.
Dan aku yakin Tuhan memberikan pertolongan dan kesembuhannya buat mereka yang sangat mengharapkan pertolongan dan bantuan kesembuhannya itu. Dan siapa tahu, Tuan Antoine-pun termasuk "dalam pilihan Tuhan" itu. Dan dia tampak sangat senang akan hasil-hasil yang dicapai dalam pengobatan dalam kerjasama tiga jalur yang sangat baik, antara aku dan dia dan DIA.
Ini terjadi pada tahun 1982. Dari pergaulanku dengan Tuan Antoine, tahulah aku bahwa dia ini dulunya adalah bekas serdadu kolonial Perancis di Kamboja dan orang Kamboja. Lalu melarikan diri ke Perancis karena kekalahan kolonialis Perancis di seluruh tanah Indo-China. Dan Antoine dapat pekerjaan sebagai pelatih karate di kota Mulhouse, melatih kader tentara dan pekerjaan lainnya merangkap sebagai wiraswasta, pengusaha katering dan resto.
Sayangnya baru pengobatan setengah jalan, aku diminta banyak teman agar pindah ke Paris. Kami akan berusaha mendirikan sebuah restoran di Paris. Karena semua ini aku harus banyak meninggalkan pasienku yang masih sedang berobat jalan. Jauh hari sebelumnya satu dua bulan sebelum pindah ke Paris, aku sudah memberitahukan kepada temanku Antoine ini, bahwa kami akan pindah ke Paris dalam bulan-bulan mendatang ini. Dan sejak itulah frekuensi pengobatan dia tambah sendiri, tidak hanya datang pada Sabtu-Minggu saja, tetapi pada hari lainpun diusahakannya datang ke Lure yang jauhnya dari Mulhouse, rumahnya sendiri berjarak lebih dari 200 km. Sehingga pengobatan menjadi 3 atau 4 kali seminggu. Sudah tentu efek baiknya meningkat. Keadaan ini sangat menggembirakannya. Juga aku sangat gembira melihat kemajuan pengobatannya. Dalam hatiku selalu mengharapkan, betapa aku akan senang dan bahagianya seandainya Antoine ini bisa sembuh biarpun tak sampai 100 persen, tetapi lebih dari 70 persenpun sudah sangat baik.
Dan tampaknya, seandainya pengobatan ini bisa diteruskan, tanpa ada jedah karena jadwalku harus pindah ke Paris, maka kemungkinan besar hasil lebih dari 70 persen itu akan mendekati kenyataan. Kami berdua Antoine serta sekeluarganya sangat merasa gembira. Tetapi juga merasa akan mengalami kesedihan karena perpisahan ini. Yang satu di Paris, dan yang lainnya di Mulhouse dekat perbatasan Suisse. Namun rasa eratnya persahabatan, tidak hanya karena antara seorang pasien dan dokter, tetapi antara bangsa dan antara manusia-,.
Paris 27 Mei 2000,-
Belum habis heran, dan belum mengerti mengapa titipan dan hadiah payung dan tongkat dengan disertai sebuah amplop. Dan aku belum lagi membuka amplop itu, masih terpikat oleh payung dan tongkat. Masih mencari sela-sela hubungan dua benda yang sulit ada hubungan dan ketidakmengertian. Sedangkan pikiran lain masih menerawang ke belakang, tahun 1982, ketika kami masih tinggal di Lure, kota kecil di mana kami "dikonsentrasikan" buat belajar bahasa Perancis. Sesudah 6 bulan atau paling lama 10 bulan, sudah mengerti bahasa, sudah punya dasar buat berhubungan dan bekerja, mencari pekerjaan, lalu dilepas. Dan harus dilepas buat berdikari dan harus mencari kehidupan sendiri.
Ketika sedang dalam kehidupan foyer ( asrama ) itulah cukup banyak penemuan, pengalaman, karena persintuhan, pergaulan, pengenalan dengan banyak bangsa dan banyak persoalan. Termasuk dengan Antoine ini. Lama sekali aku menganalisa dan menyidik, kenapa Antoine ini begitu baik kepada kami sekeluarga, dengan dua anakku. Bukannya tak ada pikiranku, apakah kebaikan ini karena ada maunya? Karena ada udang di balik batunya? Kuselidiki, kusidik dengan teliti, tetapi memang tak ada atau tak kutemukan semua unsur yang kiranya agak mencurigakan. Padahal kami sudah pernah diajaknya menginap di rumahnya di Mulhouse. Hidup beberapa hari dengan seluruh keluarganya.
Dia punya anak tiga orang. Yang paling besar sudah berumur sebelas tahun, lalu delapan tahun, dan tiga tahun. Isterinya peranakan Kamboja-Vietnam. Sebagai ibu rumahtangga, sangat baik, sangat memperhatikan keluarga, pendidikan anak-anak, dan ramahtamah. Selama di rumahnya, kami bagaikan di rumah sendiri, bebas dan merasa leluasa. Isterinya selalu berbaik hati, dan memperhatikan kesenangan dan kesukaan para tamunya. Bermain dengan anak-anaknya. Ketika itu musimpanas. Antoine sekeluarga dapat tender proyek buat membuka kantin dan katering di kompleks Kolam Renang. Kolam renang ini amat besarnya. Dalam sehari suntuk dari pagi sampai malam jam 21.00, kolam renang ini dikunjungi paling sedikit 4000 orang, secara bergantian. Dan mereka makan-minum, nongkrong, ngopi, segala macam urusan perut, berkutat dan berpusat di sekitar kantin Antoine. Betapa sibuknya mereka meladeni tamu yang selalu kehausan dan kelaparan itu.
Dan aku melihat sendiri dan juga turut membantu semua kesibukannya dalam meladeni dan melayani para tamu itu. Mereka memerlukan belasan tenaga-kerja buat keperluan selama musimpanas tiga-empat bulan itu. Sebagaimana peribahasa Tionghoa yang memisalkan pedagang emas-intan. Pedagang emas-intan, sering terasa bosan menunggu pembeli, karena tak datang-datang. Tetapi begitu ada pembeli yang memang sangat mencari emas-intan, selama setengah tahun bisa goyang-goyang kaki, cukup persediaan uang dan makanan. Begitulah Antoine, selama 3 sampai 4 bulan sibuk dan sangat capek bekerja meraup uang selama musimpanas. Sudah itu bisa jadi penganggur selama setengah tahun, karena uang sudah terkumpul selama itu.
Ketika sudah memasuki musimgugur, pernah Antoine mengajakku memasuki wilayah Suisse yang memang sangat dekat rumahnya. Tetapi kukatakan kepadanya, agar jangan masuk terlalu jauh, karena aku sangat kuatir dengan semua urusan papier dan dossier-ku. Sebab aku belum punya surat-surat resmi sebagai penghuni penduduk Perancis. Dan kalau tertangkap razzia kependudukan, alamat akan diusir atau ditangkap karena sebagai penduduk gelap. Dan polisi Suisse itu sangat keras. Tapi Antoine seolah tak perduli. "No, non, jangan takut, saya bisa bebaskan Anda, saya punya banyak relasi kepolisian", kata Antoine. Mungkin hal itu bisa betul. Tapi aku tetap saja kuatir. Sambil memasuki wilayah jauh masuk pedalaman Suisse, rasa kuatir dan tidak tenang tetap saja membalut perasaanku.
Suatu waktu Antoine mengatakan padaku bahwa dia mau bercerai dengan isterinya yang sekarang ini. "Apa alasannya", kataku. " Karena saya mau kawin saja sama Maria Lopez itu. Dia cinta saya dan saya sangat suka kepadanya. Kecuali kalau isteri saya setuju saya kawin dengan Fatima, okey-okey saja, tidak perlu saya ceraikan", katanya ringan saja. " Apa isterimu sudah tahu akan hal itu?". " Belum saya katakan dengan resmi, tapi sudah saya bayangkan kepadanya". "Lalu apa reaksinya?", kataku lagi. " Lalu dia marah-marah dan menangis sepanjang hari. Padahal baru saya bayangkan sedikit saja, baru tingkap-tirai pertamanya saja!", katanya lagi dengan ringan. " Tentu saja dia akan marah dan sedih, wajar dan normal", kataku. " Nah, sekarang apa pendapat Anda", katanya padaku. Dan aku menarik nafas panjang, panjang sekali. Aku tahu siapa itu Maria Lopez, gadis Spanyol yang jaga kiosk dekat kantin Antoine itu. Antoine pernah membawaku ke Maria, mau menunjukkan gadis taksirannya. Dan memang gadis Spanyol satu ini sangat seksi, dengan buahdadanya mempapaya, dan kalau ngomong selalu mendekatkan bibirnya yang selalu berkilat basah itu. Tetapi samasekali tak ada alasan yang masukakal buat Antoine menceraikan isterinya. Isterinya sangat baik, sangat bertanggungjawab kepada keluarga. Soal wajah, memang tidak cantik, tapi soal budi-luhur, mendapat acungan jempol. Kata orang baik-baik, isteri cantik hanyalah permainan mata, isteri budiman adalah tajuk mahkota, dan beginilah isteri Antoine yang bernama Nguyen itu.
"Antoine, kau mau tidak mendengarkan kata saya?", kataku dengan serius kepadanya. Karena antara aku dan kami sekeluarga sudah merasa dekat dengan keluarga ini. " Tidak ada alasan buat kau menceraikan isterimu. Dia tidak punya kesalahan apapun kepadamu dan seluruh keluargamu. Dia adalah perempuan setia, baik budi dan sangat bertanggungjawab kepada keluarga. Tapi karena kau sudah kebelet pada Maria yang memang bergaya selalu menggoda itu, lalu kau tergila-gila kepada Maria, hanya itu saja yang kulihat dalam beberapa hari ini. Ingat kau punya keluarga yang sangat utuh, bersatu, rukun dan baik. Tetapi kehancuran itu datangnya akan terjadi setelah kau melaksanakan ide gilamu itu", kataku dengan agak geram.
Agak sedikit kaget juga Antoine mendengar pendapatku. Dalam hatiku yang agak benci tentang masalah cerai-kawin yang diutarakan Antoine, timbul dosaku dengan mengumpatnya. Antoine ini walaupun mulutnya menyong, berwajah tak sedap dilihat, tapi sabetannya terhadap cewek minta ampun! Lalu aku ingat pemeo di tanahairku, soal wajah adalah nomor sepuluh, yang selalu nomor satu yalah uangnya! Hartanya! Atau pangkatnya! Dan inilah Antoine, dan begitulah kukira kenapa Maria pandai sekali menggoda Antoine! Maria punya modal cantik dengan buahdada mempaya bahkan mungkin mengsemangka, dengan bibir mengkilat basah menggiurkan, dan selalu mendekatkan bibir kalau ngomong sama siapapun.
Dan aku menolak keras kalau sampai Antoine menceraikan isterinya. Bahkan sampai aku agak mengancam dan menakut-nakutinya. "Hati-hati lho Antoine, kita ini kan sama-sama berasal dari dunia Timur, Asia. Kamu tahu kan arti kualat?! Nanti kalau kau sudah ketimpa kualat, bukannya mulutmu itu tidak sembuh-sembuh, tapi yang dibawahmu itu, dalam celanamu itu bisa menjadi mengkerut dan bisa layu dan loyo", kataku. " Pernah terjadi di kampunghalamanku, dan persis seperti kamu itu, sama soalnya. Karena menceraikan isterinya mau kawin dengan yang muda juga", kataku. Sebenarnya kata-kataku ini, tak ada bahkan mungkin tak ada hubungannya, dan aku menyedari semua itu. Tapi aku tak tahu cara lain lagi begaimana mencegah maksud buruk temanku Antoine ini. Bukan main hebatnya si menyong ini, kataku dalam hati. Tapi diam-diam aku berdoa dan minta ampun kepada Tuhan, bahwa aku sudah mencerca teman baikku Antoine. Aku sudah membangun dosa baru, karena menghina Antoine walaupun hanya dalam hati, yang mungkin justru lebih berbahaya.
Kelihatannya dengan "ancaman" yang sebenarnya tak ada kait-mengaitnya itu, agak punya greget berdaya rem juga bagi Antoine. Dan aku agak tenang setelah maksud Antoine itu tidak menanjak lagi, dan bernada sudah minor. Untungnya keterusteranganku terhadap sikapku yang sebenarnya terhadap keluarga Antoine yang begitu serasi dan harmonis, tidak menjadikan Antoine marah dan berkecil hati. Dan aku tetap dengan serius dan dengan harapan permohanan kepada Tuhan agar penyakit Antoine dapat tersembuhkan. Tetapi juga permohan dan doa ini jadinya menjadi bermata dua. Memohon kesembuhan dan memohon agar Tuhan memperkenankan pelurusan dan penjernihan pikiran Antoine yang kebelet dan kebacut mau mengawini si Maria pepaya-semangka itu! Dan menyelamatkan seluruh keluarga Antoine yang sebenarnya begitu serasi dan harmonis,-
Paris 29 Mei 2000,-
Setelah kami pindah ke Paris, selama itu pula aku tak pernah bertemu dengan Antoine. Tetapi kalau hanya saling nilpun memang adakalanya dua tiga bulan sekali. Itupun sekedar bertanya apa kabar saja. Beberapa kali bahkan sejak kami masih tinggal di Lure, Antoine pernah "membujuk atau menawarkan" padaku agar aku mau tinggal di Mulhouse bersamanya atau mencari rumah dengan bantuannya. Dia berjanji mau membantu keuangan buat mencarikan rumah dan pekerjaan buatku. Dan janjinya ini setelah kuamati dan kuselidiki, memang bisa dipercaya. Tetapi hal itu akan berarti aku akan jauh dan sangat terpisah dengan "masarakatku" sendiri. Terpisah dari teman-temanku, dari pergaulan dan cita-cita dan "perjuanganku". Dan lagi, yang kita kejar itu bukanlah uang, rumah, dan apalagi kekayaan. Tetapi memang ada maunya dalam kehidupan ini, yang rasa-rasanya setiap orang pastilah punya tujuan hidup, mau apa, dengan mengemban cita-cita apa.
Dalam suratnya atau tilpunnya jauh sebelum ini, Antoine selalu mengabarkan keadaan rumahtangganya dan kesehatan dirinya sendiri, dan tak lupa dia katakan "akan halnya si Maria papaya itu kini sudah punya pacar baru lagi. Dan aku mungkin buatnya kurang menarik dari segi wajah, dan lagi kau kan tidak setuju kalau aku bercerai dan kawin sama Maria. Jadi serba kebetulanlah dari segimu, dari segiku tetap saja akan selalu asyik kalau dengan Maria", katanya. Dalam hatiku, dasar si menyong dan si monyong Antoine ini, maunya main perempuan saja!
Dan sudah itu belasan tahun tak ada lagi saling berkabar di antara kami. Dan tahun 2000 ini "dikirimnya" utusan serta titipan amplop surat tebal dan payung serta tongkat itu. Apa pula arti kiriman itu, tampaknya kuno amat. Tapi tampaknya kalau hanya menduga-duga memang akan selalu tak terpecahkan apa maunya payung dan tongkat itu. Maka kubuka dan kubacalah surat amplop yang tidak tipis itu. Kuloncati membacanya, lalu kuulang ke atas lagi, lalu kusisir secara berurutan, agar mau cepat tahu.
"Kawanku simon, masih ingat kan si papaya atau si semangka Maria? Benar juga kau agak memarahiku dulu itu, selama lebih 15 tahun ini, sejak kau kukenalkan kepada dia, Maria sudah berganti pacar lebih dari tujuh kali! Seandainya aku dulu menuruti perasaan dan emosiku, entah laki-laki yang keberapa aku ini disepak dan diusirnya. Tapi benar-benar kau itu temanku yang sebenarnya sangat kubutuhkan dari dulu sampai kini. Tapi kau rupanya sangat getol akan kota Paris. Padahal kalau mau hidup tenang, aman dan tenteram, hiduplah jauh dari Paris, apalagi dekat perbatasan seperti kami ini. Aku terkadang heran, mengapa kau ketagihan amat untuk tinggal di Paris itu! Apa sih yang kau dapatkan? Sebuah restoran? Hanya itu? Kalau kau mau, sudah kubuatkan restoran yang lebih mentereng daripada punyamu yang hanya berkapasitas 66 orang itu! Tapi kau tidak mau mendengarkan kata-kataku. Tetapi namun demikian, amat banyak hikmah yang kudapatkan selama berteman denganmu simon.
Masih ingat kan Nguyen, isteriku, tentulah sudah tua, seperti juga aku. Dia selalu menanyakanmu, paman yang baik katanya selalu. Dan bagaimana dua putrimu? Tentulah kau sudah punya banyak cucu. Dan tiga anakku yang kau tahu dulu itu, di mana kau juga pernah menjenguknya di rumahsakit ketika dia diopname karena kakinya patah terjatuh ketika main ski, kini sudah menamatkan sekolah akademi perniagaan di Suisse. Lalu dua saudaranya sudah lulus universitas semua, dan sudah pada kerja. Dan kami benar-benar tinggal berdua, dan segera akan punya mantu. Kalau kau sempat nanti datanglah ke Mulhouse, nanti kukirimi surat undangannya.
Dan kau tahu simon, sifat dan adat di kampung kami? Seseorang cucu yang amat sayang kepada kakeknya, akan menghadiahi kakeknya dengan kado yang paling berharga dan terhormat ketika ulangtahunnya. Apa kado itu? Sebuah keranda peti mati dari kayu cendana, warum mewangi baunya. Dan kado ini tidak sembarangan, hanya cucu laki-laki dan yang pertama, dan itupun setelah dipertimbangkan sang kakek apakah akan diterimanya atau tidak. Biasanya kalau cucu pertama dan laki-laki, akan selalu diterima dengan baik dan bangga. Begitulah permisalan ini simon. Kau adalah temanku yang boleh dikatakan setengah menyelamatkanku. Penyakit mulut miring dulu itu pada pokoknya baik sampai mencapai 70 persen, dan ini menurut perkiraanku yang kurasakan. Aku merasa tidak seperti sebelum tusukjarum padamu dulu itu. Setelah beberapa minggu bahkan hampir dua bulan, keadaanku bertambah baik dan enak. Tentu saja belum tuntas samasekali. Dan inipun karena kau tak punya waktu buat meneruskannya, karena kepindahanmu ke Paris.
Lalu hal apa yang paling aku merasa teringat dan terkenang padamu? Kau dengan keras mencegahku agar aku jangan sampai menceraikan isteriku karena mau mengawini si papaya Maria. Ternyata kau benar, dan aku ketika itu hanya menuruti emosi dan nafsu berahiku. Cobalah seandainya jadi dulu itu, artinya kuceraikan Nguyen, dan aku kawin dengan Maria papaya, yang sekarang ini sudah merosot jadi Maria telordadar, karena papayanya sudah mengempes! ( Dalam batinku, dasar si Antoine ini matakeranjang! ). Dan kini kami serumah, berlima dengan tiga anakku, hidup tenteram, aman, tanpa problim rumahtangga seperti dulu itu. Dan Nguyen seperti katamu dulu itu, adalah tajuk mahkota, isteri budiman, walaupun bukan permainan mata dan permainan raga semata!
Apa semua ini? Karena ada orang yang berani dan jujur menyadarkan diri saya. Dan itu adalah kau simon, kawanku. Lama saya pikir, dengan apakah kebaikanmu itu kuimbali, kubayar budinya? Lagi-lagi kuceritakan permisalan di kampung kami di Kamboja. Karena kau sudah pasti dalam keadaan pensiun, karena menurut umurmu yang aku tahu, sudah waktunya pensiun, maka aku merasa pemberian yang paling tepat adalah Payung dan Tongkat ini. Payung adalah pelindung di kala panas dan hujan. Lalu Tongkat, orang tua, berilah tumpuan agar dia jangan sampai jatuh, berilah tangga untuk dia turun dan naik, dan itu juga artinya tongkat itu tadi. Dua perlambang ini di kampung kami, tidak sembarangan memberikannya. Dengan harapan itulah dua benda perlambang orang kampung kami itu, harapan saya kau akan rela menerimanya. Sudah tentu dalam amplop itu dapatlah hendaknya kau sekedar belanja ringan, walaupun aku tahu bukan benda itu benar yang kau puja-puja dan tinggikan. Tapi terimalah pemberianku yang ikhlas, jujur, setiakawan.
Dalam pada itu, kapan saja kau mau datang ke rumah kami, menginap berapa lamapun kau suka, termasuk anak-anakmu dan cucumu, kami sangat senang menerima kalian. Kalau sekiranya tahu-tahu saja kau berubah pikiran dan mau hidup di dekat kami, saya tetap akan mencarikan rumah dan pekerjaan bagimu, seperti yang pernah saya katakan dulu itu, yang kau sangat bandel dan menentang ajakanku",- demikian antara lain surat Antoine.
Dan kini barulah aku mengerti apa pula arti titipan dan kiriman payung dan tongkat itu. Dan dalam amplop yang samasekali tidak tipis itu disertai uang. Sebagaimana sejak dari dulu, Antoine selalu saja memberi sangu kalau aku pulang dari rumahnya, berupa uang atau barang. Dan aku dalam hati terharu dan menitikkan airmata, bukan karena pemberian benda-benda itu. Tetapi dia masih ingat akan daku, ingat akan anak-anak dan cucuku yang dia belum pernah melihatnya. Perpisahan selama 18 tahun, membuat semua kami berubah banyak. Berubah baik bukannya jelek. Dan keterharuanku, tetap saja dia sangat ingin kalau aku mau menuruti ajakannya agar aku mau hidup di dekatnya, tak berjauhan dari rumahnya. Sudah tentu hari itu juga disamping aku menilpunnya, juga menulis surat kepadanya dan kepada seluruh keluarganya, terimakasihku yang mendalam atas persahabatan yang langgeng ini. Selama 18 tahun, dipisahkan tempat, pekerjaan dan kehidupan dengan tugas sehari-hari, tetapi perpisahan sejauh dan selama itu, nyatanya tidaklah menghilangkan segala dan samasekali. Aku jadi semakin ingat akan Antoine yang tetap baik, walaupun dulu aku sangat marah mendengar maksudnya mau menceraikan Nguyen isterinya karena mau mengawini si papaya-semangka Maria, yang katanya sendiri sudah merosot jadi telordadar, demikian istilah Antoine.
Semoga Antoine dapat mantu yang baik, dapat cucu yang baik. Dan aku rasanya bersedia datang pada undangan pernikahan anaknya yang kami kenal dulu itu. Dan Nguyen ibu rumahtangga yang sangat baik itu, bersiap-siap ngunduh mantu, berharap-harap dapat cucu yang baik, semoga semua berjalan lancar dan sejahtera,-
Paris 30 Mei 2000,-
Sebenarnya yang mau diceritakan ini bukanlah rumah dalam pengertian kita di Indonesia. Akan lebih tepat kalau dikatakan sebuah apartemen. Kalau rumah dalam pengertian kita di Indonesia, istilahnya adalah maison dalam bahasa Perancis. Sedangkan yang ini adalah ruangan berkamar sekian, ada kamar tidur, kamar makan, dapur dan ruangan-tamu, dan ini namanya apartemen. Ruangan inilah yang mau kuceritakan.
Apartemen kami semula hanyalah dua kamar, kamar-tidur, ruangan-tamu, dapur dan kamar-mandi serta WC. Ini mula-mula, dan masih ngontrak. Apartemen ini cukup bagus, karenanya juga mahal sewanya. Kami diami bertiga, tiga generasi, anakku dan cucuku, jadi ada cucu, anak, dan kakek. Sebelum itu hanyalah aku sendiri. Aku sangat senang bila ada tamu-tamu dari Indonesia yang menumpang menginap di apartemenku. Dan sesudah itu tidak hanya tamu dari Indonesia saja, tetapi juga dari berbagai peloksok dunia. Tidak hanya orang Indonesia saja, tetapi menurut catatanku beberapa bangsa. Bangsa Inggeris, Perancis, Tionghoa, Australia, Belanda, Jerman, Selandia Baru, Malaysia, Amerika Serikat, pernah menginap di apartemenku. Semuanya adalah teman-temanku.
Wim Umboh pernah bermalam di rumahku ketika dia sedang menyelesaikan pengambilan opname filemnya SECAWAN ANGGUR KEBIMBANGAN. Lalu sepasang suami-isteri yang dua-duanya pernah menjadi diplomat RI di Singapura dan Los Angeles, pak Ali Karnaradjasa dan isterinya Kartiniradjasa. Dua-duanya sudah meninggal. Yang masih hidup sebaiknya tak usah kusebutkan.
Lalu tahun 1994 kami pindah dari rumah kontrakan, ke apartemen lebih besar, dengan tiga kamar tidur dan ruangan-tamu. Rumah ini adalah pembagian dari pemerintah, yang sudah kutunggu selama 11 tahun, menurut giliran antriannya. Ini apartemen pemerintah, harga sewanya murah, dan biasalah karena kepunyaan pemerintah, artinya tidak begitu bagus, sederhana. Tapi si penyewanya dapat hak menempati selama hidupnya, tidak perlu kuatir akan diusir, atau disuruh pindah. Bisa ditempati selama seumur hidup, asal dibayar tepat-waktu dan tidak pernah menunda atau sangat terlambat. Apartemen ini, bila dibandingkan dengan yang sebelumnya, sangat berbeda. Dulu tingkat mahalan, kini tingkat murahan, tapi ada ketenteraman hati, sebab bukan kontrak, tapi bisa ditempati selama hidup kita.
Setelah di apartemen ini, tamu-tamu kami yang menumpang menginap tetap saja banyak dan "laku-laris", apalagi menjelang musimpanas begini. Ketika aku ke mana-mana yang hampir saja jadi pengusaha-dadakan karena bergaul dekat dengan seorang pengusaha asal Singapura yang telah kuceritakan dalam Serba-Serbi ini juga, aku punya banyak kenalan. Seperti selalu kata anak-anakku sambil sedikit agak menyindir dan tidak-enak diucapkan "tamu papa itu, siapa lagi, selalu saja cewek". Dan benarlah, ada tiga orang gadis Malaysia yang bekerja di MAS pernah beberapa hari di rumahku. Salah seorang diantaranya -, yang menurutku, pastilah cantik, asyik dan menarik-, hampir agak serius dalam berkencan, tetapi dengan sangat menyesal, dia kuanjurkan menikah dengan pemuda dari negaranya sendiri.
"Sharon", kataku dengan seruan yang kurasakan gemulai dan bujukan sayang. "Kita tidak mungkin meneruskan perkenalan dan percintaan kita ini. Dan kau, Sharon, kuanjurkan menikah dengan pemuda seasalmu. Coba lihat, perbedaan kita yang begini menyolok dan tak masukakal. Beda 30 tahun usia antara kita, dan kau lebih muda daripada anakku sendiri, tidak mungkin kita akan meneruskan percintaan kita ini", kataku pada suatu hari. Perkenalan dan yang akhirnya percintaan yang dimulai sejak aku hampir bertugas di Beijing tahun 1994 dulu itu, kini berbuah kesedihan akan perpisahan. Memang, perasaan hati sedih dan pilu, tetapi aku sangat yakin, hal itu hanya buat sementara saja adanya. Dan benarlah, beberapa bulan sesudah itu, Sharon mengabarkan padaku dari Kuching - Malaysia, bahwa tahun depan dia akan menikah dengan seorang pemuda seasalnya. Dan aku sangat gembira, bisa melepaskan ikatan kasih-sayang yang terasa "pincang" diantara kami, karena besarnya perbedaan usia. Dan pada mendekati hari H-nya, dia mengirimkan surat-undangan pesta pernikahan. Dan aku memberikan ucapan selamat berbahagia dengan setulus-ikhlasnya.
Dalam hatiku, apa yang kukerjakan akan selalu berbuah begitulah akan hasilnya. Bisa senang, untung, sukses, dan bisa juga malang, buntung, sedih dan teriris-iris. Begitulah terjadinya selama aku berkenalan dan bercintaan dengan Sharon, stewardess MAS itu. Semoga saja peristiwa yang mengiris hati itu sudahlah jangan sampai terjadi lagi. Bagaimanapun, kurasakan, kesalahan ada pada pihakku. Terlalu mudah buat main-main berkencan, terlalu mudah mengeluarkan kata-kata bermanis-madu, yang lalu membikin orang lain mabuk yang lalu aku sendiri juga tenggelam dalam lautan yang kubikin sendiri! Rasain lu simon, rasain lu, demikian aku menyumpahi diriku sendiri.
Kalau sudah pernah terjadi hal-hal negatif begitu, buat sementara aku selalu berhati-hati. Tetapi lama-lama tak terasa seperti akan terjadi lagi dan terulang lagi. Untungnya umur-usia semakin menyatakan diri, bahwa kamu itu sudah tua, ingat itu! Dan aku lalu selalu harus introspeksi-diri. Aku dan kami berusaha mengubah hal-hal negatif menjadi positif, maksudku antara aku dan Sharon. Siapa bisa menyangka antara kami, keluarga kami lalu menjadi akrab sebagai saudara sekeluarga, Sharon dan suaminya Robert-Chong saling bersahabat, berkunjung, berkirim-kabar dan saling memperhatikan kehidupan kekeluargaan. Semua ini, tentang peristiwa kami itu, diceritakan oleh Sharon kepada suaminya. Dan suaminya malah semakin dalam mencintai isterinya, dan juga tak disangka-sangka, Tuan Robert-Chong sangat menghargai arti kejujuran persahabatan kami. Dan sampai kini hubungan kami tetap dekat dan bersahabat.
Ini semua ada sangkutpautnya dengan apartemenku sekarang ini. Di rumah baru inilah tamu pertamaku, tiga gadis Malaysia dan ketiganya adalah pramugari MAS, yang dengan kami berbahasa Melayu dan Cina, campuran, lalu diseling dengan bahasa Inggeris. Dan ketiga dara itu telah dengan dekat dan mau bersama kami ke Holland buat merayakan pesta-pernikahan anakku Nita dan Bregas. Ketika perayaan pernikahan itu, tak sedikit suara sumbang terdengar mengenai persahabatan dan percintaanku dengan Sharon itu. Tetapi semua itu kuterima dengan hati terbuka, sebab siapa sebenarnya yang menabur benih mula-mula? Siapa yang memberikan asalmula asap itu? Ditarik sampai ke akar-akarnya, semua itu akulah yang punya kesalahan besar. Ketika mula pertama saja kuajak Sharon keliling Beijing dan ke diskotik Beijing, berani-beraninya dan nekad-nekadnya aku menciumnya dengan gemas! Hayo, salah siapa? Kan semua itu aku sendiri yang mula-mula menyebar benih-duka itu, kataku dalam hati.
Sudahlah, sejarah maju lagi, jangan sampai berulang. Aku harus mengolah apartemen ini secara lama dan panjang. Panjangnya perjalanan yang kami tempuh entah akan kapan berakhir, tapi sebutan baru yang tidak kami sukai, yang bernama "kaum kelayaban" itu harus diakhiri.
Paris 31 Mei 2000
Rumah lama dengan rumah baru jaraknya sekira 300 meter saja. Rumah lama kami diami sejak awal tahun 1984 sampai dengan 1994, dan rumah baru dari tahun 1994 sampai kini. Mengingatnya gampang, kami dapat rumah pada 14 Februari, hari Valentine, hari bercintaan, hari asmara. Lalu pindahnya pada hari pertamanya tanggal 21 Maret, hari pertama musimsemi. Ini hanya kebetulan saja, samasekali tidak direncanakan dan tidak disengaja. Tahu-tahu setelah dapat dan pindah, barulah ketahuan hari apa dan berkenaan dengan apa, hanya itu saja,-
Lalu karena pada tahun itu banyak teman dan keluarga tahu bahwa kami sudah punya kediaman tetap yang lebih luas dari dulu, maka dengan senang hati mereka berdatangan, karena kamipun sangat bersenang hati menerima mereka. Bahkan sering-sering menawarkan, kapan datang ke rumah kami. Pernah dalam satu malam, rumah yang sebenarnya tak begitu luas, cukup untuk bertiga berempat, diinapi sebanyak 11 orang dengan kami 4 jiwa. Teman-teman kami dari Selandia Baru, Indonesia, Jerman, dan lainnya. Bahkan juga ada sepasang muda dari AS, yang suaminya berkebangsaan Amerika.
Lalu, dan yang lucunya, selama baru saja dua tahun, sudah ada 4 orang pendeta yang menginap di rumah kami. Pertama sekeluarga pendeta, sang bapak yang berumur 77 tahun, dan anaknya seorang ibu dengan putrinya berumur 3 tahun waktu itu, dengan suaminya. Semuanya keturunan orang Maluku, dan bapak pendeta itu meninggal di Ambon pada tahun berikutnya. Anaknya wanita yang pendeta itu pulang ke Ambon buat menghadiri upacara pemakaman bapaknya. Jadi bapak dan anak keduanya sama-sama pendeta. Hubunganku dengan keluarga ini sampai kini dekat dan bersahabat. Pendeta wanita ini bertempattinggal di Holland dan aktive bekerja buat umatnya di organisasi Perki.
Lalu ada lagi seorang pendeta muda, berkebangsaan Korea Selatan. Bagaimana riwayatnya lalu tahu-tahu menginap di rumah kami? Bregas, menantuku itu, sedang mengantar tamu dari Indonesia, termasuk rombongan Habibi, ketika masih menjadi menteri Ristek. Bregas bertugas siangmalam mengantar tamu ke seluruh bagian kota Paris ini. Pada suatu malam dia bertemu dengan seorang tamu yang mau menginap di hotel di mana delegasi Habibi menginap. Tetapi orang Korea ini tak dapat kamar. Dan dia mengeluh sudah ke mana-mana kamar penuh. Dan seperti biasa, Bregas ini adalah berperasaan lembut dan lekas jatuh kasihan. Kontan saja ditawarkannya kalau mau menginap di rumah kami. Dan ternyata orang Korea yang pendeta itu mau saja dan merasa sangat senang ditawari dan diajak menginap.
Malam-malam Bregas datang membuka pinta berdua dengan pendeta Korea itu. Semula kami heran, "siapa lagi yang dibawa Bregas menginap ini", demikian pikiran kami berdua Nita, isteri Bregas. Setelah tahu bahwa orang ini memerlukan penginapan, maka kami menyambutnya. Menyediakan tempat-tidur dan ngopi atau ngeteh dulu, bicara sekedarnya, barulah beristirahat. Sebab keesokan harinya tamu kami pendeta Korea ini akan meneruskan perjalananya ke Hawai buat menghadiri suatu konferensi seluruh pendeta di wilayah Asia dan Amerika di Hawai.
Pendeta Kim Mok itu sangat berterimakasih kepada kami, sambil mengatakan katanya, Nita yang sedang mengandung-tua itu, diramalkannya akan melahirkan anak laki-laki. Kami diam saja dan menyatakan terimakasih atas ramalan dan kerelaannya telah mau menginap di rumah kami. Ketika itu tentu saja kami sudah lama tahu akan jenis kelamin kelahiran bayi Nita, sebab menurut analisis laboratorium di mana Nita akan melahirkan nanti, sudah dikatakan dokternya bahwa nanti bayinya adalah laki-laki.
Kami makan pagi bersama dengan pendeta itu sebelum diantarkan Bregas ke lapanganterbang Charles de Gaule. Dan dia sangat berterimakasih atas penerimaan kami itu.
Lalu ada lagi seorang pendeta dari Amerika Serikat namanya Max. Dia ini aktivis urusan kemanusiaan. Menurutku lebih banyak dia mengurus dan aktive sebagai aktivis kemanusiaan daripada seorang penggembala umat. Ketika kukatakan pendapatku ini, dia tertawa, "mungkin pendapat sampeyan itu benar, tapi mungkin juga sama saja tokh, kan mengurus umat dan menggembala juga kan urusan kemanusiaan, apa nggak begitu", katanya sambil mengakak. Dan aku setuju saja dengan pendapatnya. Dia hidup di AS sudah lebih dari 40 tahun, sejak muda belianya, berasal dari Jakarta-Tanggerang. Jadi bahasa Indonesia dan Sundanya masih cukup lancar. Dan ketika itu banyak sekali dia bercerita yang bagiku sangat menarik. Sebab dia baru saja pulang dari Timor Timur, dan dia menyaksikan sendiri kekejaman Abri dengan serdadu Suharto-Orbanya. Pendeta Max akan selalu berkata : "ya ampun". Apa saja ujung kalimat yang diucapkannya atau kita bercerita yang dia terheran-heran, dia akan menyelipkan kata-kata "ya ampun, kok bisa begitu ya", "ya ampun bisa-bisanya begitu". "Ya ampun, apa benar bisa begitu?",-katanya hampir sesudah dua tiga kalimat percakapan.
Empat orang pendeta pernah menginap di rumah kami. Dalam ujung terdalam hati ini ada juga rasa senang dan bangganya. Rumah kami yang sederhana yang walaupun berpintu duabelas ini, "laku juga ternyata", begitulah kata batinku. Dan memang pernah aku menghitung ada duabelas pintu termasuk pintu gudang, dan pintu apa saja asal dapat dikatakan pintu, di rumah kami. Secara ilmu ke-fengshui-an yang kupelajari, rumah dengan begitu banyak pintu, tidaklah begitu baik. Tetapi kata hatiku, kalau didatangi banyak orang, siapa tahu ilmu fengshui-pun akan bisa berubah arah, karena "hawa - chi - tenaga-dalam setiap orang" akan berbeda dan saling mengisi, dan lalu bisa menetralisir yang buruk dan jahat menjadi tawar dan hambar, tidak tajam dan runcing lagi.
Kini kembali rumahku kedatangan tamu. Begitulah menjelang musimpanas selalu saja ada tamu yang datang buat menginap. Dan kami sangat senang menerimanya, rasanya kita ini tidak sepi sahabat dan kenalan. Kata orang, banyak sahabat dan kenalan yang baik, adalah suatu kekayaan batin dan jiwa. Kukira benar juga dan lama-lama terasakan juga dalam hati, karena memang begitulah adanya.
Lalu apakah ada tamu-tamu yang agak aneh, atau agak lain, agak sukar, atau pokoknya jadi urusan kesulitan dan kerumitan? Mungkin ada, tetapi mungkin juga belum sampai taraf begitulah. Tetapi bila kurenungkan, jangan-jangan aku ini sudah punya dosa kepada seorang dua tamuku. Mengapa?
Ada dua orang tamu wanita, yang umurnya sebayaku, artinya termasuk usia-pensiun. Yang satu punya kemampuan energik, bisa jalan jauh dan lama, dan selalu menaruh perhatian pada sesuatu. Suka melihat dan memperhatikan hal-hal baru, bersemangat, banyak mau tahu dalam pengertian baik dan positif. Lalu yang satunya sangat bertentangan dengan yang baru kusebutkan tadi, serba takut susah, takut dingin, takut capek, takut lelah. Bergerak sedikit saja sudah merasa capek dan lelah, dan lekas merasa takut dingin. Sehingga pada acara apapun si Inem ini akan menjadi beban orang lain. Sebab sedang mau jalan mau naik metro atau bis atau kereta, lalu dia mengeluh capek, lelah dan letih. Atau dingin, atau "masih jauh nggak ini, lha, kok nggak nyampe-nyampe sih. Kalau di Jakarta nggak bakalan begini, naik mobil atau taksi saja, beres. Di sini kok katanya Paris, tapi kok sering-sering melelahkan", begitu katanya dengan kesal.
Kalau diajak jalan dan melihat sesuatu obyek turis di Paris, si Inem ini yang akan selalu jadi batu-penghalang, sebab dia tak mau pergi. Kenapa? Dia akan selalu mengatakan capek, lelah dan letih. Atau "kok dingin-dinginnya, kenapa kita harus jalan sih?". Pokoknya selalu tidak senang ini tidak senang itu. Memang dia punya penyakit gula, tetapi sebenarnya tidaklah gawat, malah menurutku seharusnya dia selalu bergerak berolahraga. Yang tidak boleh yalah terlalu capek, over capek, itu tidak boleh. Tetapi aku juga punya penyakit gula, darah tinggi, prostat, dan beberapa lagi. Hanya harus kulawan, harus banyak olahraga dan gerak. Penyakit itu jangan sampai dimanjakan, tetapi harus dicegah, dilawan, disingkirkan. Salah satu cara menyingkirkannya yalah harus banyak gerak, banyak olahraga.
Nah, pengalaman inilah yang kukatakan dan kunasehatkan pada tamuku Inem ini. Sebab kalau terus-terusan Inem bersikap begini, kasihan temannya yang satu itu. Tak dapat apa-apa, tak melihat apa-apa. Lalu apa gunanya ke Paris, beli karcis mahal-mahal. Begitu sampai di Paris hanya ngendon di rumah atau di hotel saja. Kan rugi, dan juga merugikan orang lain, secara tak sengaja sebenarnya menghalangi kemajuan dan semangat hidup orang lain. Dan semua perasaan dan pikiranku ini kunyatakan kepada si Inem. Hal inipun karena kulihat Inem cukup sehat, cukup mampu melakukan semua "pekerjaan turisnya" itu. Hanya malasnya, takut capeknya, manjanya itu yang membikin dirinya lemah tak berdaya. Dan polahtingkahnya itu sangat merugikan teman-teman lainnya. Sebab si Inem-lah yang menghalangi rombongannya buat melakukan "sebagai tugas turisnya" karena sedikit-sedikit tak mau, tak ingin, karena takut capek, takut lelah dan takut dingin.
Usut punya usut, katanya si Inem ini adalah anak-tunggal, lalu kematian suaminya. Dulu hidupnya sangat senang, sebab isteri seorang Kombes, Komisaris Besar Polisi. Di rumahtangganya sendiri jarang kerja, sebab banyak pembantunya, "babu dan jongos pelayannya sendiri" ada lima enam orang,- begitu kata temannya yang "menderita" akibat kemanjaan si Inem ini. Dan disinilah barangkali dosaku terhadap tamuku sendiri. Sebab telah berani-beraninya mengajukan pendapat yang dirasakannya bisa menyakitkan hatinya. Ada juga rasa penyesalan di hatiku walaupun hanya sedikit, kenapa sih berani-beraninya menasehati orang yang adalah tamuku sendiri. Memang barangkali aku kasar, tidak sopan, tetapi mauku memang berkehendak baik, bukannya yang jelek. Tapi hanya sebegitulah kemampuanku dalam pergaulan dengan para tamuku. Semoga mereka mengerti, yang kuinginkan yalah, semua kita maju, semua kita senang dan tak terhalang, terus dan mulus,-
Paris 1 Juni 2000,-
Mula kami kenal namanya Liauw, dokter Liauw. Ketika itu dia satu kelas dengan Bregas, menantuku, sama-sama belajar Bahasa Perancis yang diadakan oleh kotapraja di kota kami. Bregas cerita kepada kami di rumah, bahwa dia punya teman yang orang Tiongkok di kelasnya, yang belum bisa banyak berbahasa Perancis. Dan dia ini dokter baru datang dari Cina, Tientsin, tak jauh dari Beijing. Nita, isteri Bregas minta agar Bregas mengundangnya datang ke rumah, buat berkenalan, karena sama-sama datang dari Cina. Dan Nita tentu saja akan senang langsung berbahasa Cina dengannya, dan kukira apalagi bagi dokter Liauw.
Maka datanglah Liauw ke rumah kami. Begitu bertemu Nita, ramailah rumah itu dengan bahasa Cina, yang aku juga turut di dalamnya. Sekarang yang terdiam membisu adalah Bregas dan Berry, sebab mereka tidak mengerti bahasa Cina. Dan sejak itulah mulainya perkenalan kami dengan Liauw. Ketika itu dilihatnya Berry yan baru berumur satu tahun lebih, selalu ingusan meleler. Liauw menawarkan buat mengobatinya secara tusukjarum. Nita setuju, dan sejak itulah Liauw sering ke rumah kami. Sebenarnya aku tidak begitu setuju Liauw tusukjarum kepada Berry, terlalu kecil, dan Berry terlalu kurus. Aku kuatir kena tulangnya karena kurusnya. Tetapi karena Nita setuju, yang ibu Berry sendiri, aku mengalah.
Tapi ternyata efeknya baik, dan melernya menjadi berkurang. Kami semua merasa gembira akan hasil pengobatan tusukjarumnya ini. Ketika itu kami bayar 80 francs setiap kali tusuk, yang kalau orang lain, selalu 100 francs. Rupanya cerita akan menjadi panjang dan lama, sebab aku juga kena kambuh sakit gout-ku, sakit asam-uarat yang gawat. Kakiku dekat jari-jari kaki bengkak, sakit dan menghitam. Dokter Liauw melihat kakiku ini, tampak sangat cemas, dan agak tidak tenang. Katanya aku harus berobat secepatnya dan dianjurkannya agar mau tusukjarum. Lalu aku setuju saja, dan sejak itupula aku menjadi pasiennya sampai kini. Ini terjadi tahun 1997.
Ketika kakiku itu berangsur sembuh berkat pengobatan tusukjarum itu, barulah Liauw merasa senang dan plong, lepas bebannya. Sebab katanya keadaan kakiku kalau sekiranya ke dokter-barat, besar kemungkinan harus diamputasi. Tetapi "ketika itu tidak saya katakan kepadamu. Aku kuatir kau akan kaget dan menolak buat operasi kakimu. Sebab sesudah itu kau akan pakai kruk ke mana-mana", demikian kata Liauw. Dan apa kata Liauw memang banyak buktinya dan aku sendiri mengerti dan tahu, sebab aku juga banyak mengerti persoalan penyakit dan juga pernah praktek tusukjarum sebagai dokter-telanjang-kaki*, selama tahun 1970 sampai dengan 1982,-
Dan sejak itupula Liauw selalu ke rumahku buat membehandel semua penyakitku, tidak hanya soal kaki dulu itu. Karena penyakitku ini banyak, maka dia dengan sistim babat-habis. Apa artinya? Babat semua penyakit yang mau mendominasi diri. Karenanya banyak sekali jarum yang ditusukkan padaku. Biasanya kalau hanya satu penyakit saja, hanya beberapa jarum, difokuskan. Paling-paling 6 a 7 jarum, atau paling banyak 10 jarum. Tetapi dia mengobati penyakitku, buat menyembuhkan gout, asam-urat, prostat, diabete, hypertensi, dan lain, dan lain,- Maka habislah itu daerah perut dan kaki, sampai ubun-ubun kepala, penuh jarum. Ada 30 jarum. Dan kebanyakan titik-tusuknya aku tahu dan pernah kulakukan dalam praktek.
Ada satu hal yang selalu menjadi "percekcokan dan perdebatan kecil" antara aku dan dokter Liauw. Dia ini kukira kurang teliti, kurang bersih dan hati-hati. Tidak hanya satu-dua-tiga kali dia lupa mencabut jarum yang sedang menancap di tubuhku! Terkadang di kaki masih ada dua jarum, terkadang yang di kepala lupa dicabut. "Siao Liauw, kamu selalu harus menghitung semua jarum itu. Tadinya berapa jarum kau benamkan, dan ketika dicabut, berapa batang yang harus kau cabut, dan harus cocok, harus sama. Kalau ketika mula kau tanamkan 30 jarum, maka kembalinya juga harus 30 jarum. Kalau kurang dari itu, pastilah ada jarum yang tertinggal. Persoalan ini sebenarnya sangat sederhan. Tapi kamu malas menghitungnya. Dan hal begini, kamu sebagai dokter tidak korek. Dan kalau kau sering melakukan kesalahan begini, maka kau akan segera dipecat kalau kau bekerja di rumahsakit di Paris ini"!,-kataku agak keras karena kedongkolanku memuncak.
Tadinya ada terpikir olehku bahwa aku mau berhenti saja tusukjarum ini. Sebenarnya bagiku sangat berat, harus mengeluarkan uang sekali tusuk 100 francs. Seminggu dua kali, satu bulan 8 kali atau 9 kali. Itu artinya harus mengeluarkan uang 800 sampai 900 francs satu bulan. Buatku cukup berat. Aku diberi kesempatan bekerja di resto dua kali dalam satu minggu. Gaji satu bulan itu hanya cukup buat beli tiket ke Holland dan bayar tusukjarum itu saja. Pas dan habis, hanya buat dua macam itulah aku bekerja setiap bulan di resto yang aku sendiri salah seorang pendirinya. Apaboleh buat. Mau berhenti tusukjarum, ada rasa sayang. Karena sebenarnya aku tinggal terima bersih saja. Sebab dokter Liauw akan selalu mencariku, datang ke rumah, dan sebelumnya menilpun secara baik-baik. "Bagaimana Senen depan, apakah kau bisa? Atau jadwalmu kerja di resto? Kalau tidak bisa, kita ganti hari lain, sampai kau leluasa menentukan jadwalnya", begitu selalu kata dokter Liauw.
Kalau kupikir-pikir bukankah sangat baik dokter ini? Dia menanyakan, dia menawarkan, dan dia sungguh-sungguh mengobatiku, mencariku. Sedangkan aku hanya tinggal "pasang badan" saja, menerima benaman jarum-jarum itu. Dan lagi tusukjarum itu tak ada efek jeleknya, paling-paling secara psychologis ada yang ketagihan. Dalam hal ini aku memahami diriku sendiri. Aku merasa kasihan kepada dokter Isabelle ini, dan lagi menurut pengalamanku selama ini, memang ada efek baiknya, tak ada efek jeleknya. Dia jauh-jauh praktek menusuki begitu jauh jarak antara pasiennya. Yang satu di Barat, yang satu lagi di Timur, lalu menuju ke Tenggara lagi, lalu kembali ke Selatan. Karena itu dia berangkat dari rumah pada jam 08.°° dan sampai ke rumahnya kembali sesudah jam 23.°°. Ini karena banyak buang waktu karena transportasi yang berjauhan, disebabkan jarak rumah antara pasiennya bersebaran jauh di pinggiran kota Paris. Dan karena itu dia membeli tiket cart*orange dengan jarak 5 zone, sudah jauh ke luar kota Paris, antara ujung ke ujung yang lain lebih dari 60 km. Artinya dia harus keluar uang setiap bulan sejumlah 500 sampai 600 francs.
Dan dia juga kuliah 4 kali dalam satu minggu secara privat, buat maju pada ujian mengambil diploma Perancis. Dengan demikian, kalau dia lulus dan ada kesempatan praktek resmi, dia mendapat izin praktek resmi, dan mungkin saja akan banyak memetik hasil keuangan. Tetapi bukan itu benar yang dia cari. Dia sangat mencintai ilmunya, faknya. Kalau di Tientsin, dekat Beijing itu, dia memang bekerja di sebuah rumahsakit, sebagai dokter senior dan akhli akupungtur.
Dan lagi yang aku senangi padanya, dia tidak marah kalau kuberi pendapat dan kukritik dan sangat memperhatikan kesehatanku. Selalu cerewet kalau aku dilihatnya sedikit saja kaki membengkak. "Ingat, ingatlah, kalau kau begitu datang dari Holland, selalu saja kakimu bengkak. Karena makanmu tidak disiplin. Pastilah di rumah Nita-Bregas kau makan lupa daratan! Itulah sebabnya kalau kau selalu ke Holland, aku selalu saja ketar-ketir akan kesehatanmu. Ayo kau bilang kau sudah makan apa saja!", katanya dengan tidak ramah. Aku diam saja dan agak menunduk, sebab memang apa yang dikatakannya memang benar.
"Ya, kan hanya makan gulai kambing",- kataku. "Lalu apalagi, sebutkan", katanya mendesak. "Pernah kami makan sea-food, udang dan kepiting ketika merayakan ulangtahun temannya Nita-Bregas", kataku lagi mengaku tidak bisa berbohong. Dan dokter Liauw menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil meletikkan lidahnya berkata "cek, cek, cek........berkali-kali. Lagi-lagi aku ketangkap basah karena tidak disiplin terhadap dirisendiri.
Nah, apakah aku akan "memecatnya" dengan menghentikan pengobatan tusukjarum ini, karena alasan mahal dan tak punya uang? Padahal kalau dokter lain dengan begitu banyak jarum dan membabat penyakit, paling sedikit aku harus membayar 250 samapi 300 francs. Perkara ini yang menjadikan aku bimbang menerawang. Okeylah soal uang, aku harus mencarinya dan mengusahakannya. Yang penting yalah kesehatanku, dan juga aku mau bersahabat dengan dokter Isabelle ini, yang sudah begitu baik selama tiga tahun ini,- *= dokter telanjang kaki, dokter praktek bukan karena sekolah kedokteran, biasanya di desa-desa di Tiongkok.
Paris 2 Juni 2000
Dulu ketika baru datang di Perancis, hampir lima tahun yang lalu, namanya Liauw Shen-ming. Dia keturunan Vietnam, warganegara Tiongkok. Hampir semua keluarganya sudah berdiam di Perancis. Ketika itu dia masih punya suami dan anak lelakinya yang sudah berumur menjelang 30 tahun. Suaminya mengidap penyakit jantung dan sudah tak bisa apa-apa lagi sejak 20 tahun belakangan ini.
Suatu ketika Dr Liauw bertemu dengan Tuan Lin di Beijing. Di Beijing ada konferensi kedokteran tentang perkembangan tusukjarum di Tiongkok. Tuan Lin begitu bertemu dengan Liauw, lalu tertarik, lalu dengan nekad terus mendekati Liauw dan langsung menyatakan jatuh cinta. Menurut cerita Liauw kepadaku, dia sudah mengatakan pada Tuan Lin, bahwa dia masih berstatus isteri orang, yang kini sedang sakit di Tientsin. Dan diceritakan pula oleh Liauw bahwa suaminya ini selama 20 tahun sakit tak sembuh-sembuh dan sudah tidak bisa apa-apa lagi. Mendengar keadaan begini, Tuan Lin rupanya semakin nekad, dan bermaksud mau melamar Liauw.
Liauw merasa heran juga, ( ini menurut cerita Liauw kepadaku, entah benar entah tidak, wallahualam bissawab, siapa bisa menjawab dalam gelap ) berani-beraninya mau melamar isteri orang kepada suaminya yang sah. Ini sangat mengherankan. Dan sebelum jatuh pada hari lamaran itu, Liauw menceritakan semua peristiwa ini kepada suaminya dan anaknya yang sudah jauh dewasa itu. Heran bin ajaib, lucu bin lugu, suami dan anak Liauw malah setuju! Suaminya bahkan mengatakan ambillah kesempatan ini, hidup bersamanya takkan ada apa-apa lagi dan katanya,-dia sudah 20 tahun membikin isterinya juga menderita. Jadi dia setuju dengan lamaran Tuan Lin dan mengizinkan mereka menikah dan pindah ke Paris.
Demikianlah, akhirnya Liauw menjadi isteri Tuan Lin. Padahal di Paris, masih ada keluarga Tuan Lin, isterinya dan dua anaknya yang sudah dewasa. Mereka ini juga keturunan Vietnam, tapi kelahiran Haiti. Ada kebenaran yang kulihat, sebenarnya Liauw tidak mencintai Tuan Lin, tetapi agaknya hanya semata-mata faktor kesempatan, agar Liauw bisa bergabung dengan beberapa keluarganya di Paris. Jadi benar juga canangan suaminya yang sah di Tientsin itu, dengan nasehat ambillah dan pergunakanlah kesempatan yang baik ini. Dan selama Liauw bersama Tuan Lin, hidup mereka seperti masing-masing. Yang satu tak mau tahu yang lain, masing-masing melakukan kewajiban sehari-harinya sendiri.
Dalam pada itu Liauw menggunakan kepandaiannya dan profesi kedokterannya praktek tusukjarum dari rumah ke rumah. Menurutku pedapatannya dari praktek ini cukup lumayan, punya pemasukan sendiri dan bisa hidup berdikari. Tidak banyak uang, tapi selalu punya uang. Liauw setiap hari mengobati beberapa pasien setiap harinya. Dan pada suatu kali dia dengan terengah-engah datang dengannafas yang kelelahan. Ada apa dan mengapa sampai begitu. Dia menjawab, ada berita buruk, bahwa suaminya yang di Tientsin meninggal. Dan kami para pasiennya turut berdukacita, dan dengan rela melepasnya buat segera pulang ke Tientsin buat keperluan mengurus jenazah suaminya.
Liauw selalu pulang ke Tiongkok dua kali setahun. Pertama ketika tahun baru Imlek, antara akhir Januari dan pertengahan Februari, kedua ketika musimpanas, Juli-Agustus. Sebenarnya katanya dia sangat mencintai tanah Tiongkok, tetapi hampir semua keluarganya ada di Perancis. Kendala yang sangat memberatkannya yalah karena Liauw belum bisa berbahasa Perancis dengan baik dan lumayan. Jadi kontradiksi pokoknya memang bahasa itu. Dia cinta tanah Tiongkok, tetapi keluarganya hanya tinggal satu, yaitu anaknya sendiri. Sedangkan di Perancis banyak keluarganya, tetapi dia tidak senang hidup di Perancis.
Dulu ketika dia mau pulang ke Tiongkok, bisa kapan saja, tinggal beli tiket. Kenapa? Karena dia pulang ke tanahairnya sendiri. Tetapi begitu dia sudah masuk warganegara Perancis, dia harus minta visa buat masuk Tiongkok! Dan dia marah-marah, katanya, justru setelah jadi orang Perancis malah susah-susah mau pulang ber-Imlek dan liburan musimpanas. Kukatakan pada Liauw, kamipun begitu, harus minta dan antri ke-kedutaan Tiongkok dulu, minta visa dulu. Ini peraturan internasional, siapapun harus minta visa dulu. Sebab pemerintah Tiongkok mengharuskan begitu bagi banyak bangsa lainnya di dunia ini. Kami-, kataku menjelaskan kepada dokter Laiauw-, ke mana-mana apalagi Asia Tenggara, selalu bebas visa, tapi kalau mau ke Tiongkok, mutlak harus minta visa dulu. "Kenapa, kenapa harus begitu?", kata Liauw. Ya, itu peraturan yang dikenakan oleh pemerintah Tiongkok kepada bangsa dan negara lain, kataku.
Apakah kamu menyesal masuk warganegara Perancis?,-kataku suatu hari. Menyesal sih tidak, tetapi dulu ketika saya masih belum warganegara Perancis, enak saja dan mudah saja pulang-pergi Tiongkok-Perancis. Kini malah bertambah susah, itu yang saya tidak mengerti, kata Liauw. Tampaknya dia merasa peraturan itu hanya buat mempersusah dirinya saja.
Selalu saja ada perubahan kehidupan pada diri dokter Liauw. Begitu dia diterima menjadi warganegara Perancis, namanya harus diubah, dan menjadilah nama itu Isabelle Liauw. Dan kontradiksi intern rumahtangganya, dengan suaminya Tuan Lin, semakin meruncing. Berbagai persoalan yang ada-ada saja ketidakcocokan, dan perseteruan kecil, yang lama-lama jadi besar. Dan pada akhirnya Isabelle pindah dari rumah suaminya, dan menumpang di rumah salah seorang pasiennya yang juga dokter, berkebangsaan Perancis. Tapi di rumah itu dia merasa tidak bebas, orangnya sih baik dan ramah, tetapi kan saya sekali-sekali ingin juga bikin masakan cina asli, katanya, dengan masakan pakai bawangputih, cara cina,- tapi kan mana mungkin! Dan Isabelle semakin merasa serba susah dan selalu menemui keterbatasan dalam kehidupan nyata ini.
Perkara dan cerita ini betul-betul menjadi begitu rumit dan berbelit. Tuan Lin adalah pengusaha bahan makanan sea-food yang sudah dibekukan. Dulu tokonya persis di depan resto kami, Restoran Indonesia. Dan kami berlangganan berjenis udang pada toko Tuan Lin. Udang ini buat sate udang dan buat pelengkap laukpauk nasi goreng. Dengan demikian dia mengenal kami dan mengenal diriku. Ini tahun 1985, sangat jauh sebelum dia menikahi Isabelle. Dan kuceritakan pada isterinya, Isabelle, dan Isabelle sangat wanti-wanti berpesan agar aku tutup-mulut dan jangan sampai cerita apa-apa tentang dirinya mengobati dengan tusukjarum kepada sekeluarga kami. Dan aku mentaatinya. Tetapi kalau benar-benar aku perlu Isabelle, aku bisa menilpunnya ke rumah mereka. Dan beberapa kali aku menilpun Isabelle, tetapi yang menjawab adalah Tuan Lin. Dan Tuan Lin tidak tahu bahwa yang menilpun itu adalah aku yang dulu selalu dipanggilnya, "Allo, monsieur professor, ca va bien?", katanya. Sebab dia tahu aku menjadi professor ketika di Beijing dulu.
Tapi ketika itu Tuan Lin masih gagah. Seperti bintang filem Kuomintang, sebab selalu pakai kumis melintang. Dan ketika Isabelle pindah ke rumah temannya, pisah rumah dengan Tuan Lin, sangat jarang Isabelle berhubungan tilpun dengan suaminya itu. Rupanya selama itu Tuan Lin ada di sanatorium dalam perawatan intensif. Sakitnya berbagai macam, karena terlalu banyak minum, sakit lever, sakit prostat, dan yang lainnya.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dicegah, lagi-lagi Isabelle menerima kabar buruk. Suaminya Tuan Lin meninggal di sanatorium, yang selama ini sudah hampir setengah tahun dirawat di sana. Ketika dia datang tusukjarum padaku, aku mengucapkan belasungkawa yang sedalamnya. Tapi kulihat Isabelle tak ada tampak kelihatan bersedih, hanya memang wajahnya muram, kusut. Dan ketika kutanyakan bagaimana dan apa saja perasaannya kini? Dia menjawab, terusterang saja katanya, dia bukannya bersedih, merasa kehilangan, tapi merasa akan ada lagi sesuatu yang akan menimpanya. Lalu apa itu,- kataku. Saya kuatir anak-anak dan isteri Tuan Lin akan menuntut saya, dan mengusir saya dari rumah itu. "Tapi bukankah kau sudah pindah ke rumah dokter Gerard?", kataku. "Itu kan buat sementara, sedangkan rumah Lao Lin itu adalah sebenarnya hak saya punya saya juga, bukankah membelinya bersama saya ketika kami baru menikah dulu itu?", kata Isabelle.
Mendengar kata-kata pertanyaan dan pembelaan diri secara begini, aku teringat pada suatu kali, Isabelle pernah minta padaku agar dia diperkenankan tinggal bersamaku di rumahku yang sekarang ini. Ketika itu aku segera berpikir, sebagai apa lalu? Sebagai pacar? Sebagai orang kumpul kebo atau sebagai suami isteri yang sah menikah? Semuanya tidak mungkin! Dan kini yang aku tahu saja, Isabelle sudah dua kali kematian suami. Lalu„„,lalu, seandainya dan siapa tahu aku menjadi suaminya yang ketiga, apakah aku lalu menjadi korban yang ketiga? Dan sebagai apa statusku kalau dia tiba-tiba pindah ke rumahku yang sekarang ini? Bukankah dulu pernah kukatakan kepada banyak teman-temanku bahwa kini aku sudah betul-betul tutup-buku bagi semua wanita!
Baiklah soal itu bukan persoalan benar. Tetapi persoalan dan perihal dokter Isabelle memang terlalu banyak persoalan, dan liku-liku dan belitan oleh jalinan kehidupan yang teramat rumit. Tetapi lalu aku mau apa. Apa dayaku! Aku mau meringankan penderitaan kehidupannya, tetapi rasanya aku tak mau kalau karena semua itu lalu aku sendiri juga sama-sama menderita dan lalu sama-sama tenggelam tak timbul-timbul lagi. Karena aku juga membawa suatu deretan kereta yang tidak hanya aku saja. Benar mungkin aku bukannya lokomotif, tapi katakanlah aku adalah gerobak-tua,tapibanyak gandengannya. Itu di belakang ada dua anak-anakku, dan empat cucuku, dan sederetan teman-temanku. Makanya kataku dalam batin, sudahlah jangan lagi menambah kontradiksi yang sudah ada. Yang sudah ada ini saja sudah bukan main sulit mengurai benang kusutnya, mau lagikah menambah benang kusut baru?,-
Paris 3 Juni 2000,-
Pada umumnya kami sekeluarga menyenangi musik. Suka musik bukan berarti pandai bermusik, nah, ini saya ini. Saya sangat suka musik, tetapi sangat bodoh dalam hal memainkan alat musik, dan matapelaran menyanyi angkanya sangat jelek. Berlainan dengan adik saya Hasan. Dia punya bakat musik yang tebal, dan saya kira kalau dia teruskan belajar musik secara baik, tentulah arah kehidupannya akan lain daripada sekarang ini. Tentulah dan siapa tahu dia menjadi violis yang terkenal atau komponis yang handal. Ketika dia sedang belajar viol dulu itu, pernah saya secara iseng-iseng menggesek biolanya, mau turut belajar juga. Dia melihat dan memperhatikan saya.
Lalu saya mulai menggesek. Tapi aneh, jari saya menekan snar lain, tetapi yang keluar bunyinya adalah snar lain! Dan Hasan tertawa sambil juga dongkol, karena bakal muridnya kebangetan begoknya. Sebab snar yang saya tekan, justru tidak saya gesekkan, dan snar lain yang tergesek, tentu saja tidak nyambung apa yang dimaksud. Begitulah kelemahan saya dalam bidang instrumental.
Bang Amat kalau sudah mendengarkan lagu-lagu klasik, wah, bisa lupa makan. Dan dia biasanya berdua dengan adik saya, Hasan. Hasan tinggalnya di Galur, Senen dekat Tanahtinggi, bersama bang Amat sekeluarga. Dalam urusan musik dan musik klasik, rupanya bang Amat sangat cocok dengan adik bungsunya ini. Diam-diam sebenarnya bang Amat sangat menyenangi Hasan karena punya bakat musik ini. Mereka bisa berdiskusi panjang dan lama sekali mengenai musik dan sekitarnya. Berbagai komponis, musikus, dan riwayat hidupnya mereka saling cerita dari berbagai macam bacaan dan literatur. Pernah aku turut mendengarkan, memang sangat asyik. Kita jadi tahu bagaimana karakter para musisi dan komponis itu.
Semisal Paganini, Mozart anak ajaib itu, dan Beethoven yang tuli itu namun karyanya abadi, sangat asyik mendengarkan cerita dua orang itu. Di sini aku menilai, ternyata bang Amat bukan hanya sebagai politikus ulung yang dapat menyatukan berjuta-juta massa rakyat, dan 25 juta keluarga PKI, tetapi juga pandai dan trampil menghargai musik.
Kebanggaan dan kebahagiaan bang Amat berkembang subur ketika pada suatu hari beliau diundang oleh Yayasan Musik Indonesia buat menghadiri pertunjukan kwartet. Dan kwartet itu ternyata membawa cerita panjang. Dua bersaudara Embut, Mokhtar Embut dan Syafei Embut bersama dua violis, Thio Djin-tjin dan Hasan, adik bungsunya sendiri! Mokhtar dan Syafei Embut ketika itu sudah masuk golongan musikus nasional, sudah mengambil tempat dan tercatat dalam sejarah musik Indonesia. Bagaimana beliau takkan bangga dan senang, sebab salah seorang diantara pemain kwartet itu adalah adik bungsunya sendiri!
Mendekati pertunjukan, saya datang ke Galur bertemu Hasan dan Bang Amat. Mereka katanya sekeluarga akan menonton dan akan bermobil sedan nomor 13 itu, mobil resmi menteri. Wah, Hasan akan diantar dengan sedan menteri nomor 13 itu, bayangkan kata saya dalam hati. Karena sebenarnya saya juga turut senang, bahagia dan bangga.
Ketika hari itu, lagi-lagi saya datang siang-siang. Sorenya akan sama-sama melihat pertunjukan di Gedung Kesenian Pasar Baru. Tetapi rupanya sedan itu sudah cukup penumpang, sehingga saya tak dapat tempat. Dan pokoknya saya harus bersepeda dengan sepeda tua-reot yang sehari-hari menemani saya. Itupun tak apalah, akan menonton permainan musik saja sudah sangat senang, dan apalagi yang turut mainnya adalah adik saya. Dan bersama dua orang musikus nasional lagi. Bang Amat dan sekeluarganya berpakaian sangat rapi, menonton sebagai undangan menteri, menghadiri pertunjukan kwartet yang dipersembahkan oleh Yayasan Musik Indonesia, dan sebagai tambahan kalimat dari saya : yang turut main, adiknya lagi!
Karena aku bersepeda, jadi aku berangkat duluan. Ketika hampir dekat persimpangan Gunung Sahari menembus jalan dari Jalan Garuda, sebuah mobil dari jauh dan di belakang tampak sedan nomor 13. Nah, itulah Bang Amat dan Hasan sekeluarga. Mendekati akan melewati sepeda bututku, tiba-tiba Hasan mengeluarkan kepalanya dari jendela sedan, sambil berseru lantang : "hallo.......hallo......Hallo, bang Yom, hallo.......hei", katanya berseru kepada saya. Saya tahu, maksudnya lihat ini gue naik sedan menteri, lu hanya pakai sepeda tua! Lalu saya juga teriak keras : " Tai kucing kaulah! Mentang-mentang naik sedan menteri, gua pakai sepeda reot!", kataku dongkol didahului mobil mereka.
Dan hari itu kami sungguh menikmati pertunjukan musik klasik ringan, yang notabene turut dimainkan adik kami. Kalau tak salah ingat, mereka membawakan petikan Mendelsohn, Mozart, Bella Bartok, Paganini. Dan tentu saja dan normal, kami memperhatikan gesekan biola Hasan. Menurut kami, baik, dan sudah reprensentatif buat pertunjukan di kalangan terbatas undangan seperti ini. Kelihatannya permainan mereka sangat kompak, tenang, bersih dan menguasai keadaan dan suasana. Sehingga bis berkali-kali. Ternyata mereka berempat juga sudah siap cadangan bila di bis berkali-kali.
Hari itu saya merasa sangat senang, karena bang Amat terlihat puas sungguh dan apalagi Hasan adik saya itu, banyak disalami keluarga, teman-temannya, dan para gurunya dari Yayasan Musik. Banyak juga rupanya orang tahu bahwa pemain viol yang satu itu adalah adiknya bang Amat, sehingga orang lain juga turut menyalami bang Amat karena adiknya ini, padahal sebenarnya tak ada urusan sama semua itu!
Lalu, nah, ini termasuk saya kebagian. Kami makan malam di sebuah resto yang sudah terkenal enak masakannya. Perlu saya perkenalkan lagi, keluarga kami ini memang suka makan enak, karenanya kami pada umumnya berbadan samasekali bertentangan dengan istilah kurus!
Dan ada lagi yang mau saya ceritakan. Soal sedan itu. Tadinya bang Amat dapat sedan menteri nomor 15. Tetapi Pak Idham Khalid yang dapat nomor 13, tidak begitu senang dengan nomor "sial" itu. Lalu menawarkan kepada bang Amat, apakah dia mau dan rela bertukar dengan sedannya yang nomor 13 itu, dan bang Amat pakai nomor 13. Bang Amat mana dia percaya akan takhyul dan mistik. Dan mau saja, rela saja. Apalagi ketika itu sedang semangat nasakom, dan Pak Idham yang a itu, tentu saja disambut kom dengan baik dan ramah. Maka bertukarlah sedan nomor 15 ke 13, dan 13 ke 15. Itulah kisah sedan nomor 13. Tetapi wahai para pembaca, adakalanya untung tak dapat diraih dan malang tak dapat dielakkan. Tak berapa lama, Pak Idham menggunakan nomor 15 yang bekas punya bang Amat, lalu terjadi tubrukan yang merusak kepala sedan cukup berat. Untung saja penumpangnya dan Pak Idham ketika itu tak ada dalam mobil itu, hanya sopirnya saja.
Sedangkan sedan bang Amat yang nomor 13 itu aman-aman saja, selamat-selamat saja sampai kedetik peristiwa Gula Tigapuluh Sekilo ini. Yah, hanya nomor saja dan berbeda dua nomor saja. Bang Amat tidak kecelakaan mobil, tapi jauh lebih dahsyat dari kecelakaan manapun. Karena kecelakaan nasional, sejarah-gelap bangsa akibat sapuan-bersih, tumpas-kelor Suharto-Abri terhadap kami, terhadap teman-teman kami, keluarga kami, sahabat kami dan banyak rakyat, telah membawa kami yang sampai kini tidak bisa pulang ke kampunghalaman sendiri. Dan yang telah menjadi korban lebih dari satu juta jiwa. Ini lebih dahsyat dari kecelakaan manapun. Dan lagi pula akibat dampaknya, sampai kini kita rasakan semua, termasuk para pembaca Serba-Serbi ini,-
Paris 5 Juni 2000,-
Ketika aku memapah Wati, isteriku, mengantarkannya opname di rumahsakit Persahabatan Beijing, aku sempat berkata padanya. "Lihat gedung itu, dulu beberapa tahun lalu, kau di situ melahirkan Nita, tahun 1964, enambelas tahun yang lalu",-lalu dia melihat gedung bagian wanita untuk bersalin. Lalu matanya nyalang mencari entah gedung mana, tetapi ucapannya sungguh mengejutkanku. "Yah, benar di sana aku melahirkan. Tetapi rasanya di sebelahnya aku akan berakhir dalam kehidupan ini". "Akh, ngomongnya masaksih begitu. Kan kita selalu berharap sehat, sembuh dan kita akan selalu bersama-sama", kataku menghilangkan rasa waswas.
Dan sejak opname dari tanggal 23 Mei 1980 itu, setiap hari aku menjenguknya, dan anak-anak bezoek bergiliran disesuaikan dengan PR-nya, pekerjaan-rumah kewajiban sekolahnya. Dokter masih tetap berpendapat sakit ginjal, gagal-ginjal, dan metabolisme tubuh. Sulit dan sedikit kencing, tak ada nafsu makan, badan lemas tak punya tenaga. Dan aku masih setiap sore sehabis bekerja dari Radio, selalu menjenguknya.
Suatu hari hujan lebat di Beijing, topan seakan mengamuk dan halilintar menyambar beberapa pepohonan. Kota Beijing seakan diguyur hujan dan banjir kecil menggenangi jalanan. Walaupun hujan bagaimanapun derasnya, bezoek buat Wati tak mungkin dibatalkan. Dia sangat perlu dorongan dan bantuan perasaan dan kejiwaan. Aku tetap saja pergi membezoeknya. Tapi sesampainya di rumahsakit, dia tidak lagi di sal yang biasa. Aku sempat mencarinya ke beberapa sal. Seorang jururawat menunjukkan tempatnya. Dia sendiri di kamar yang agak khusus. Dan sirr darahku berdebar sangat tidak enak, ada apa ini?
Kudapati dia sedang menangis yang tampaknya sangat menyedihkan. Tak mau bicara, diam saja dengan mata kecil menerawang jauh. Isakan dan sesengukannya sedikit menggoyangkan badannya yang berselimut agak tebal. Aku menciumnya dan memeluknya. Beberapa menit kemudian barulah mau bicara tetapi sangat sedikit, jauh berubah dari biasanya. Aku menanyakannya mengapa menangis. Ada sedikit diceritakannya, tetapi tidak dengan terang-terangan. Kesimpulan harus kita ambil sendiri dari jawaban pertanyaan kita.
Hari itu, paginya, para dokter datang, masing-masing dengan disiplin ilmu spesialisasinya. Bagian jantung, bagian-dalam, bagian syaraf dan lainnya. Para dokter itu bicara tanpa segan-segan di antara mereka. Mereka samasekali tidak menyangka pembicaraan itu walaupun bahasa mereka dan penuh dengan istilah kedokteran, tokh mereka tetap berpendapat, pasien ini bukankah seorang asing, mana pula mengerti selukbeluk istilah penyakit. Mungkin mereka memang dengan wajar saling diskusi kecil di depan pasien, tetapi juga mungkin mereka tidak akan menyangka yang Wati juga adalah seorang dokter praktek. Karena dia prakteknya di Nanchang ibukota provinsi Cuiangxi, sedangkan ini Beijing, ibukota negara.
Setelah mendengarkan dan menerima keputusan sakit apa sebenarnya Wati ini, barulah dia down begitu rupa, sehingga dia menangis dan membisu tak mau bicara sepanjang hari itu. Dia tahu, dia mengerti akan apa kesudahan penyakit ini, penyakit LE = lupus erythomatusus, sakit bintik-darah-merah gigitan srigala, begitu kalau terjemahannya. Tetapi sebenarnya sejenis kangker darah. Merusak semua bagian vital tubuh, seperti ginjal, jantung, lever, dan metabolisme tubuh. Tentu saja dia menangis dan sangat sedihnya. Sebab dia tahu benar, sakit ini tak ada harapan, obatnya belum ada yang mantap dan mujarab. Dan kukira dia sudah tahu benar, usinya sudah mendekati akhir. Dan anak-anak, dan kami bertiga nanti. Kukira inilah yang menjadi pikirannya. Dalam isakan dan sesengukan itu, kurasakan kami bertigalah yang dia pikirkan, bukan dirinya sendiri.
Dia merasa tugasnya sebagai seorang ibu belum tuntas mengantarkan kedua anaknya ke jenjang dewasa secara penuh. Dan lagi pula pikiran kami akan bertambah sedih dan rumit. Kami sudah saling berjanji buat meninggalkan Tiongkok, tetapi kini bagaimana dengan sakitnya ini. Setelah kejadian tahu dan mengertinya dia akan sakitnya, dan akan kesudahannya, ketika dia bisa menguasai diri, dia katakan kepadaku dan kepada dua anak-anaknya, agar kami bertiga harus terus berusaha meninggalkan Tiongkok dan mencari jalan buat pulang ke tanahair. Sambil mengatakan dan berpesan secara demikian, sambil menangis sedih dan pilu. Kami bertiga sangat merasakan, dia merasa belum cukup tuntas bersama kami dan mengantarkan kedua putrinya memasuki kedewasaan. Belum cukup dalam mendidik anak-anak, mengasuh anak-anak. Belum full dalam mencintai mereka dan banyak lagi bebannya.
Kami tahu dia tidak akan menangis sedih kalau hanya memikirkan dirinya sendiri, akan sakit dan kesudahan penyakitnya. Dan dalam pada itu, hampir setiap hari dia batuk-batuk. Dan kalau batuk, terlihat cairan darah segar, batuknya berdarah, terkadang mengental. Kalau sudah begini biasanya dia akan setengah pingsan, dan dokter datang mengobati sekedar penahannya. Aku terdiam kaku, dan sangat sakit melihat penderitaannya. Biasanya kukatakan kepada dua anakku, bahwa mama sakitnya agak berat dan kukatakan dengan hati-hati dan sangat lembut, agar kita bersiap-siap buat hanya bertiga saja. Tampaknya mereka mengerti, dan mereka punya persiapan tertentu, dan aku merasa agak sedikit ringan karenanya.
Di rumah, kompleks Radio Beijing, aku sendirian di kamar. Kamar anak-anakku di depan kamar kami. Di kamar itulah kalau aku mau mengeluarkan airmata, mau bersedih menumpahkan perasaan hati dan berdoa. Aku sering sekali berdoa dan memohon kepada Tuhan, agar minta kesembuhan buat dirinya. Tetapi juga kukatakan kepada Tuhan,- "Tuhanku, aku tak sampai hati melihatnya begitu sengsara karena sakitnya. Tuhanku, bolehkah kami katakan kepadaMU? Kami sudah rela seandainyapun dia pergi meninggalkan kami, Tuhanku. Sungguh kami sangat bersedih karena dia sakit itu, tetapi kalaupun Tuhan mengambilnya pada hari-hari ini, kamipun sudah siap atau sudah harus siap menghadapinya, Tuhanku. Tetapi kami tak tahan, tak sampai hati melihat dan menyaksikan dia batuk selalu mengeluarkan darah segar dan kental. Tuhanku, kami serahkan padaMU semua ini. Kami benar-benar sudah rela", kataku dalam setiap doa.
Sejak bulan Mei tahun itu sampai bulan Agustus, dia terbaring dengan lesu. Makannya sangat sedikit, kencingnya sangat sulit, dan bila batuk selalu mengeluarkan darah. Dan aku pada pokoknya sangat kurang tidur, sangat sedih dan hidup ini rasanya diayun-ayunkan di atas perahu yang bergelombang besar. Di langit sana, gelap dan awan siap menutupi bumi, dan badai topan siap menerkam. Belum lagi memikirkan mau ke mana kami bertiga ini. Ke negara mana? Tapi harus keluar dari Tiongkok, dan sampai ketika itu belum ada keputusan akan menuju ke negara mana.
Aku sudah siap seandainya menerima tilpun, bukan mustahil tilpun itu adalah dari rumahsakit yang memberitakan kesedihan-puncak itu. Setiap ada deringan tilpun, syarafku terganggu. Darahtinggiku sudah samasekali tak terkontrol lagi. Aku tetap bekerja di Radio. Menyiarkan berita setiap hari. Ruangan warta-berita dan Taman Sastra dan Alam-Wisata Tiongkok dan Kudapan Beijing, selalu kubawakan. Ketika hari Imlek, hari raya Tiongkok, dan hari-hari libur tradisional Tiongkok kuminta kepada atasan agar aku bisa menggantikan teman-teman penyiar lain yang mau berlibur. Siaran Radio tak ada liburan, tetapi pegawai-pegawainya punya hak libur. Sedangkan aku orang asing tenaga-akhli yang dikontrak pemerintah Tiongkok, sudah sewajarnya punya perasaan mau berbagi solidaritas.
Pekerjaan banyak, pikiran sumpek dan kesedihan juga banyak dan akan segera membanyak, menggunung. Selalu setiap hari aku berdoa di kamarku,- "Tuhanku, kuatkanlah jiwaragaku, tuntunlah aku agar dapat memikul semua ini. Aku akan segera sekaligus bertugas menjadi ayah dan ibu, dan harus bisa menjadi panutan dalam mengasuh dua putriku yang baru mau menjadi dewasa. Tanpa bantuan, dan pertolongan dariMU, tidak mungkin aku dapat mengemban tugas berat ini. Dan lagi, Tuhanku, akan kemanakah kami ini? Akan menuju negara manakah, akan di manakah kami hidup, Tuhanku?", kataku dalam setiap doa.
Tuhan sudah pasti tahu, kami tidak bisa pulang, tapi juga Tuhan pasti tahu betapa kami inginnya pulang. Keluarga kami banyak yang dibunuh dan dipenjara, anak-anakku belum mengenal tanahair, belum mengenal akar sejarah bangsanya, belum mengenal keluarga besarnya. Terlalu banyak pikiran yang kuemban selama ini. Mengingat sakit kerasnya Wati, tetapi juga mengingat watak luhur ibu dari dua anak-anakku itu, terkadang terobati juga hati ini. Begitu banyak orang mengenal dan menyayangi Wati. Rasa simpati sangat besar dicurahkan kepadanya dari banyak pihak ketika sakitnya, sampai-sampai dutabesar-lama, memerlukan datang menjenguknya. Dan atasan kami pihak Radio dan pihak penanggungjawab pekerja asing, serta banyak teman-teman lain, selalu bergantian datang menjenguknya ke rumahsakit Persahabatan Beijing. Rasa simpati dan saling memperhatikan ini sangat membesarkan hatinya dan juga hati kami.
Paris 6 Juni 2000,-
Hampir tiga bulan Wati di rumahsakit. Dalam pada itu aku setiap hari membezoeknya, dan anak-anak paling tidak dua kali seminggu menjenguk ibunya. Ibunyapun berpesan, biarlah papa saja sendirian, kecuali kalau kalian keesokan harinya libur atau tak ada pelajaran yang ditunda dan berat, bolehlah melihat mama, katanya berpesan kepada dua anaknya. Tetapi mereka tetap berhubungan tilpun antara rumahsakit dan kompleks Radio kami.
Penyakitnya bertamabah berat, sudah semakin kurus, dan setiap batuk selalu mengandung darah. Suatu kali dia bisa duduk dan ngobrol dengan kami. Ketika itu hari Sabtu, dan karena keesokan harinya libur, anak-anaknya turut membezoek ibunya. Mereka ngobrol dengan suara berat, mengandung kesedihan dan kerinduan pulang dan bergabung di rumah, bersama-sama berempat seperti dulu-dulu. Karena merasa agak sehat dan bisa duduk di ruangan umum, di mana ada televisi dan buku-buku bacaan, kami berjanji keesokan harinya, hari Minggu akan makan bersama di rumahsakit. Dan aku masak-masak buat kami berempat. Sesampainya di rumah, aku siap-siap ke pasar membeli bahan-bahan buat dimasak dan buat kami berempat besok.
Tapi kulihat Wita, anakku yang pertama samasekali tidak gembira. Bahkan di kamarnya kudapati dia menangis, menangis dengan sangat sedihnya. Dan adiknya Nita juga tampak sedih. Padahal bukankah besok kami akan berkumpul dan makan bersama? Kutanyakan kepada Wita, mengapa menangis, kan besok siang kita makan bersama mama?! Wita tampak sedih bukan main.
"Rasanya tidak mungkin, papa, sebab Tuhan akan segera memanggil mama", katanya sangat yakin. Dan aku tersentak kaget. "Bukankah mama sendiri yang minta dan menjanjikan kepada kita? Kau dengar kan tadi itu, mama ngomong agar besok hari Minggu kita makan bersama?". "Ya, tapi ada perasaan saya, maksud itu tidak akan kesampaian. Semoga saja bisa dan terkabul kita makan bersama. Tapi yang saya rasakan sekarang, rasanya takkan kesampaian", kata Wita tak ragu-ragu. Mendengar kata-katanya terasa sedih benar dalam hati ini. Mengapa anaknya sendiri berkata demikian. Aku tahu benar dan banyak peristiwa membuktikan bila dua anakku ini berkata dari hati sanubarinya, memang jarang meleset, biasanya tepat.
Tetapi bukankah ini masalah jiwa, dan jiwa-nyawa di tangan Tuhan. Tuhanlah yang menentukan dan memutuskan apa yang DIA mau dan tentukan. Segera perasaan sedih dan ragu itu kukikis, dan aku tetap akan masak-masak buat besok kami berempat seperti yang dijanjikan Wati kepada kami. Tetapi dalam pada itu setiap ada deringan tilpun, aku selalu syaraf! Terganggu, ragu dan gelisah. Kukira tahun sepanjang 1980 bagi kami adalah tahun-tahun duka dan penuh kesedihan. Dan ternyata deringan tilpun yang sangat mengganggu syarafku itu, tidak berbuyi untuk yang satu itu. Tetapi entah bagaimana dan mengapa, pagi-pagi sekali ada suara ketukan di pintu kami dan memanggilku. Pagi itu jam 05.00 pagi, dan begitu kubuka, Siao Lie, pegawai Radio, penyiar yang juga muridku mengatakan agar aku dan anak-anak diharapkan datang segera ke rumahsakit. Wati dalam keadaan krisis berat.
Tak tahu bagaimana menggambarkan perasaan kami bertiga ketika itu. Kulihat Wita malah tampak agak kuat, dan tahu serta mengerti lebih dulu bahwa peristiwa puncak kesedihan ini hari ini akan membalut dan membungkus kami. Dan begitu sampai ke rumahsakit, Wati sudah koma, dan tak bisa bicara lagi. Snur, dan segala peralatan aparat jantung, cardiogram dan sejenisnya sudah silang-siur di atas badannya. Beberapa dokter mendatangi kami, mengatakan berita-acara sakitnya sejak malam itu. Dan akupun mengerti sudah, apa yang harus segera kami kerjakan. Kuminta anak-anak segera kembali ke rumah agar menyiapkan pakaian mamanya, kain sarung dan kebaya yang selalu dipakainya ketika upacara kenegaraan. Juga peralatan lainnya seperti melengkapi pakaian resminya ketika resepsi-resmi.
Dan anak-anak segera berangkat ke rumah. Sekarang yang kami pikirkan bukan lagi kesedihan itu, tetapi bagaimana mengurus jenazahnya nanti. Dan dokter sudah mengatakan bahwa sikap dan tindakan kami sangat tepat dan beralasan serta ilmiah. Tampaknya dokter mengkhawatirkan kami kalau-kalau tidak bisa menahan diri dan mengatasi keadaan. Sesudah mereka melihat gerak-gerik kami, mereka merasa bebannya terlepaskan. Dalam pada itu aku berdoa dipinggir ranjangnya, dan juga berdoa agar Wati menunggu anaknya mengambil pakaian resminya. Kulihat matanya sangat kecil memandangiku. Tanpa bicara sepatah katapun, dan nafasnya sangat berat. Jalan garis-garis cardiogram, terkadang melurus saja, terkadang berbelok-belok, terkadang malah macet!
Aku bersukur karena dua anakku datang dan langsung mendekati mamanya dan memeluk mamanya. Wita dan Nita menangis mengisak sangat berat. Jalan kardiogram pelan dan tampaknya keadaan krisis-puncaknya. Kami bertiga memegang dan memeluknya. Dan kami bersukur kepada Tuhan, Wati melepas nyawa dalam pelukan kami bertiga,Inna Lillahi wainna Illahirajiun betapa bahagianya dia!Meninggal dalam pelukan, anak-anak dan suaminya. Semua sudah siap, baik para dokter dan pihak kantor kami, Radio Beijing, maupun pihak Perumahan Akhli-Expert. Pihak tuanrumah kami sibuk mengurus pemakaman, perlengkapan dan semua yang berhubungan dengannya.
Sorenya banyak sekali orang-orang datang ke rumah kami. Dan tuanrumah mengatakan bahwa akan dikebumikan pada tanggal 5 September 1980, dia meninggal pada tanggal 31 Agustus hari Minggu. Jadi seperti kata anaknya Wita, memang benarlah kami tak sempat makan bersama lagi hari Minggu itu. Dan kami begitu sesudah penguburannya akan liburan musimpanas, karena terlambat, terhalang oleh musibah ini. Dan malamnya, aku sangat heran dan sampai kini sulit terpecahkan. Malam itu tidurku sangat nyenyak, lelap luarbiasa. Kenapa? Mungkin selama tiga bulan Wati sakit dan di rrumahsakit, tidurku selalu kurang dan syarafku sangat terganggu, gelisah, resah dan sangat sedih. Memikirkan banyak persoalan. Masa depan yang suram, yang tidak tahu ujungpangkalnya. Harus pergi dari Tiongkok, tetapi belum tahu mau kemana dan kapan persisnya. Mungkin ketika itu kegelisahan dengan meninggalnya Wati ada sebagian pikiran dan beban sudah selesai. Wati tidak menderita lagi, takkan kulihat lagi dia meregang badan dan paru-parunya karena setiap batuk selalu keluar darah segar terkadang kental. Dia sudah melewati krisis sakit dan penderitaannya.
Dan kami mengantarkan dengan memeluknya bertiga. Yang dulu kami selalu berempat kini tinggal bertiga. Puncak kesedihan kini ada pada kami, mungkin sementara ini belum ada puncak baru, dan kami berada pada dataran puncak tertinggi itu. Dan karena pendakiannya sudah kami lewati, maka yang mendominasi kami kini adalah pikiran bukan lagi sepenuhnya perasaan seperti ketika Wati sedang sakit-sakitnya. Mungkin karena itu semua, tidurku pada hari pertama Wati meninggal itu bukan main justru nyenyak dan lelapnya. Aku merasakan bahwa kami sudah mengantarkannya ke depan Tuhan, dan memohon agar Tuhan menerimanya sesuai dengan amal perbuatan isteriku dan ibu kedua anakku.
Apa sekarang? Persiapan pemakamannya. Dan sesudah itu kami akan ke Selatan, ke Selatan membawa dan melarikan duka nestapa seperti yang kutulis dalam sebuah puisi-duka:
PERJALANAN DUKA
Setelah kami sepuluh tahun hidup di Paris, kami datang ke Beijing, tahun 1990 musimpanas. Ketika kami pergi dulu, anakku Nita masih gadis remaja. Kini kami datang dengan anaknya, gadis kecil, Laura, cucu-pertamaku. Dan kami bertiga ziarah ke kuburan Wati, sudah tiga generasi, cucuku yang tak pernah mengenal neneknya, tetapi selalu tahu menujukkan mana neneknya kalau dalam setiap foto yang ada gambar neneknya, ibunya Laura dan aku kakeknya. Kami nyekar dan berdoa bersama. Terkenang dulu ketika mau berangkat dari Kemayoran bulan desember 1963, mengapa Wati menangis begitu berat! Rupanya dia tahu, berangkat buat tidak kembali lagi ke kampunghalamannya di Aceh, di Tapaktuan. Dan kami bersalaman sangat erat dengan Bung Nyoto yang mengantarkan kami, yang kini juga sudah tak tahu di mana kuburannya. Sedangkan bang Amat sudah lebih dulu hilang dan terbunuh oleh penguasa militer. Sungguh berat dan tragis nasib tiga generasi kami ini. Tapi namun demikian, kami sangat besar kemauan hidupnya, semangat kami menyala terus walaupun kalian terus berusaha memadamkannya, dan bermaksud membunuhi kami secara tumpas-kelor sekalipun. Kami tidak dendam, tidak memendam dendam, dan tidak memeliharanya tetapi kami patutlah selalu waspada, mungkin eling kata orang Jawa.
Paris 6 Juni 2000,-
Hampir tiga minggu saya di Holland selama bulan Juni ini. Banyak kejadian dan berita yang mendunia. Pertandingan perebutan kejuaraan-dunia sepakbola se Eropa, dibicarakan dan ditonton orang ratusan juta melalui televisi. Masing-masing orang punya keberpihakannya, punya favoritnya sendiri. Punya idolanya sendiri. Tentang sepakbola ini saja, banyak resto, pertokoan, bar, cafe yang pada sepi, kurang pelanggan datang karena orang-orang pada asyik nonton bola. Terkadang jalanan yang biasanya ramai, ketika adanya atau dimulainya atau sedang ramai-ramainya pertandingan, orang-orang mengumpul di ruangan tertentu yang ada televisinya, dan bersama-sama, ramai-ramai nonton pertandingan. Ini makan-waktu mingguan lamanya. Apa ini? Ini juga salahsatu jalan buat cari uang, mengumpulkan uang, mengeduk keuntungan tertentu. Pihak televisi, hotel, pengangkutan, iklan, rumah atau kamar-sewaan, panen uang. Pemasukan keuangan bagi badan-badan yang memang "tukang cari uang", adalah masa panen yang berlipat ganda. Belum lagi bandar-judi, taruhan, perjudian gelap.
Lalu berita besar lainnya yang juga mendunia, sebuah truk-trailer besar ketika akan melewati antara Belanda dan Belgia, Perancis, buat nyeberang ke Dover, daerah Inggeris, dirazzia, digeledah karena dicurigai. Katanya, ketika akan membayar bea-masuk, petugasnya membayar dengan uang likid, uang kontan. Padahal biasanya orang-orang akan selalu membayar dengan kartu-kredit atau cheque atau sejenis kartu-lainnya. Petugas pelabuhan mulai mencurigai trailer itu. Maka segeralah petugas pelabuhan berhubungan dengan polisi setempat, buat memeriksa trailer itu, apa isinya, mengapa begitu aneh cara masuk dan cara bayar ongkosnya.
Maka trailer, truk-gandengan itu dibongkar dari belakang, dengan kekerasan dan paksa. Tampak jelaslah, seonggokan manusia bertimbun mati lemas. Setelah dilihat dan dihitung, penumpang truk-gandengan itu ada 60 orang. 58 orang sudah mati kaku, sedangkan dua orang lagi masih bisa diselamatkan. Dan pada akhirnya dua orang ini diselamatkan dan dengan ketat "dipelihara" buat jadi bukti dan jadi kunci buat membuka rahasia yang menggemparkan itu. 60 orang itu kesemuanya orang Tiongkok, telah begitu jauh membawakan diri dalam perjalanan yang berliku-liku. Melewati Rusia, Cheko, dan Belanda, buat nyeberang ke Inggeris. Mereka rata-rata telah membayar sampai puluhan ribu dolar AS seorang buat menyeberang dan mencari kerja serta hidup di Inggeris. Mungkin saja sudah banyak yang masuk Belanda, atau Belgia atau Perancis.
Ini sebuah sindikat besar, mafia yang sangat kuat. Berhubungan dengan penjualan dan jual-beli paspor palsu, sogok-menyogok. Kalau memperhitungan uang sogokannya saja, maka dapat diperkirakan, pendatang atau "para pencari kerja" ini bukanlah orang biasa. Atau yang "memperjual-belikan orang/manusia" ini bukanlah sebagai sindikat atau mafia kelas teri, tapi kelas kakap, bahkan bisa kelas cucut.
Mau ke mana mereka? Mau cari kerja dan cari hidup di negeri kapitalis. Mengapa? Banyak bukti, sesusah-susahnya dan seberat-beratnya hidup dan bekerja banting-tulang di negeri kapitalis, tetap saja masih bisa hidup, tetap saja masih bisa kirim uang ke negeri leluhurnya, negeri asalnya. Sama saja dengan TKI atau TKW yang bekerja di negeri-negeri Arab, Singapura, Hongkong dll. Ditipu, dihisap, ditindas, diperkosa, tetap saja berjubel buat jadi tenaga kerja-kasar di negeri itu. Tokh tetap masih bisa kirim uang ke desa dan kampungnya, dan bahkan ada yang bisa dan mampu membangun rumah, rumah gedongan lagi.
Apakah mereka tidak tahu, bahwa di negeri kapitalis itu juga bukan main hebatnya penindasan, dan penghisapan, kerja mati-matian, banting-tulang, terkadang tanpa perlindungan-kerja? Mereka tahu, mereka mendengar bahkan cukup banyak pengalaman dari teman-temannya. Tetapi mereka tidak perduli. Untung-untungan, namanya juga orang cari makan, orang cari hidup. Ini artinya di tanahairnya sendiri sudah sangat sulit buat mencari kehidupan, sangat sulit buat hidup minimum dengan rasa aman dan terlindungi. Sebab kalau wajar-wajar saja, takkan mau mereka menukarkan jiwanya, taruhan nyawanya, dengan sekedar bisa belanja menanggung kehidupan secara minimal saja. Daya tarik kehidupan di negeri kapitalis tampaknya sangat luarbiasa, biarpun penghisapan dan penindasannya juga luarbiasa. Tetapi tentulah mereka membandingkan, memperhitungkan akan untung-ruginya hidup di antara kedua tanah itu. Tanah-air mereka sendiri dan tanah-air asing, negeri kapitalis itu sendiri.
Ketika puluhan tahun atau belasan tahun yang lalu, di mana blok negeri sosialis masih cukup berjaya, maka perbandingan mana yang beratsebelah, yang banyak didatangi orang. Apakah atau banyak mana yang melarikan diri atau masuk menyelundupkan diri, apakah orang-orang dari negeri kapitalis masuk atau melarikan diri ke negeri sosialis, ataukah orang-orang negeri sosialis yang melarikan diri dan masuk ke negeri kapitalis? Tampaknya jauh lebih banyak orang-orang dari negeri sosialis yang melarikan diri dan masuk ke negeri kapitalis. Bahkan berani menantang dengan mempertaruhkan nyawa dan jiwaraga, menyeberangi lautan yang paling ganas sekalipun, berani menaiki dan memanjat tembok-Berlin, berani menjadi boat-people segala, berani dan siap mati ditembak. Mengapa semua ini?
Hanya buat mencari kerja dan kehidupan yang sudah diperhitungkannya akan cukup lebih menguntungkan daripada di negerinya sendiri. Persoalan ini sebenarnya, seharusnya menjadi persoalan negara tertentu yang warganegaranya begitu berani dan nekad hijrah ke negeri orang lain. Karena negerinya sendiri sudah tak bisa, tak mampu memberi kehidupan bagi warganegaranya sendiri. Terkadang bukan hanya dari soal keuangan dan perekonomian saja, tetapi cukup banyak karena masalah politik. Tidak ada jaminan keamanan, tidak ada hukum, tidak ada keadilan. Tempat yang paling tidak adil yalah pengadilan dan mahkamah-agung, tempat yang paling banyak korupsi malah di kementerian keuangan, dan bank, pusat-pusat terbasah seperti pabean, imigrasi, bea-cukai, di mana banyak uang ke luar-masuk, lalulintas keuangan.
Yang paling banyak menderita, kemiskinan, ketidakberdayaan, kemelaratan, adalah orang-orang, penduduk dan rakyat yang samasekali tak punya jalur-hukum, tak punya andalan apapun, baik kenalan maupun keluarganya. Maka terkadang bisalah dimengerti, daripada mereka hidup tak menentu tanpa tahu kapan akan mati dan kapan akan jadi korban penangkapan, korban penculikan, korban penipuan, apakah mereka akan diam saja, tidak mencari jalan lain?
Paris 29 Juni 2000,-
Perjalanan atau pekerjaan atau proyek kecil-kecilan terkadang berjalan lancar tanpa direncanakan sebelumnya. Tetapi kalau direncanakan secara teliti, terperinci, sedikit rumit, terkadang sering-sering juga gagal dan tak jadi. Begitulah kami bertiga ketika itu. Ada dua janda dan satu duda, yang masing-masing berusia sudah berkepala enam. Dan kalau kami jumlahkan usia kami, maka kami bertiga sudah berumur dua abad lebih! Yang tertua di antara kami adalah mbak Tati, tetapi sehatnya mak, minta ampun. Selalu mau bergerak saja, selalu mau jalan saja, selalu mau mengajak piknik saja. Dulu kukira menantuku Bregas itu betul-betul tukangjalan, dan tak pernah lelah-letih kalau nyetir mobil, selalu mau bepergian saja. Ternyata masih ada saingannya, mbak Tati ini. Dari segi umur, mbak Tati adalah neneknya Bregas! Tapi semangat jalan dan semangat pikniknya tak kalah dengan anak-anak muda. Tidak heran kalau anaknya, wanita muda yang jadi polisi interpol itu menamakan ibunya Madame on the road.
Pendek kata kami bertiga sudah sepakat mau ke Belgique paling dekat. Kalau bisa akan keliling sekitar Luxembourg dan Jerman. Dan ketika kami tanyakan, Nunung bersama saya menanyakannya, apa betul dia bisa dan kuat mengelilingi negara tetangga sekitar sini? Mbak Tati bahkan menjawab, dia sudah sering pergi-pulang ke Perancis bahkan sampai Monacco - Montecarlo. Kami-pun percaya karena ada buktinya. Tetapi Nunung mengatakan, dia tidak akan mau menyetir di Eropa ini, dia hanya mau nyetir di sekitar Jakarta saja. Jadi artinya capek tidak capek, agar ditanggulangi sendiri saja. Kalau tahan dan kuat okey - okey saja. Jang duda satu ini, yah, nggak pernah punya sim. Tampaknya mbak Tati mau dan siap, bahkan sedikit membujukku agar aku juga mau. Katanya tentulah akan bertambah ramai kalau duda satu ini ikut.
Tujuan kami pertama ke Belgia dulu. Ke kota Antwerpen tak jauh dari Holland. Antwerpen adalah kota intan sedunia. Di sinilah permata intan-berlian berpusat, tempat pengasahannya, tempat pengukiran dan dengan gaya-seni tertinggi ukiran permata intan-berlian. Intan-berlian yang di Antwerpen tentu saja tak ada dari bumi Belgia, semuanya dari Afrika, khususnya Afrika Selatan dan dari bumi lainnya yang mau diasah dan diukir di kota intan sedunia ini. Kota Antwerpen tidaklah besar, tetapi sangatlah terkenal, karena penghasil intan yang sudah jadi itu. Banyak orang yang lalulalang dengan aman dan damainya, dan biasanya banyak yang berjenggot, kumis dan kopiah setengah seperti kue serabi di atas kepalanya. Itulah orang-orang dan pedagang intan Yahudi, raja uang di Eropa.
Lalu kami menuju Waterloo, sebuah tempat arena peperangan zaman Napoleon, di mana Napoleon menemui perlawanan yang sangat sengit. Dari perang berstrategi dan taktik tinggi, sampai pertempuran satu lawan satu, seperti duel yang kacau. Sebenarnya menurut sejarah, Napoleon menemui banyak kekalahan di Waterloo. Kejadian ini sudah pernah difilmkan beberapa puluh tahun yang lalu. Lalu kami menjalani tanah Belgia. Ternyata Belgique yang dulu pernah kuanggap nggak ada apa-apanya, bukan main indahnya. Berlainan dengan Belanda, tanah yang datar dan dibawah laut itu, di mana-mana tedapat air dan tali-air, datar dan rata saja ke manapun kita pergi. Inilah Belanda. Tetapi Belgia ternyata banyak berbukit dan gunung, dan air. Banyak airterjun, sungai yang jernih, mengalir dengan indahnya. Sekali-sekali tampak orang-orang, dan turis berkayak dan berkano menuruti aliran air dan menuruni jeram yang cukup tinggi. Dengan derasnya mengikuti arus melalui sela-sela bebatuan. Bunyi air yang berkecipak itu sangat memancing terlinga dan mata buat mengawasinya dengan lama dan penuh pesona - keheranan.
Ketika itu masih bulan Juni minggu kedua dan ketiga. Pucak ramai turisnya adalah pada bulan Juli dan Agustus, di mana penginapan, hotel, motel, bungalow pada banyak pendatang. Tetapi karena wilayah Belgia ini sebenarnya tidak begitu banyak dikenal dunia luar, maka akan selalu ada kesempatan buat menginap ketika musim turis ramai. Saya sendiri baru tahu, kalau wilayah Belgia ini cukup baik dan indah buat istirahat-pegunungan dan lembah serta tebing-tebing pinggir bukit.
Karena jalannya amat baik, mulus, walaupun banyak kelokan, banyak lekukan dan turun-naik pegunungan, mbak Tati selalu kami ingatkan, agar istirahat kalau capek dan berhenti mengaso kalau agak ngantuk. Dan pada waktu jam-goute, jam nyamian, menjelang jam 10.°° dan kalau sore pada jam 16°° -17°°, kami selalu cari cafe, bar dan ngopi dengan santainya. Dan ketika itulah keluar semua gurauan yang ternyata antara janda dan duda sudah tak ada lagi batasnya. Yang miring-miring bahkan bengkok-bengkokpun pada nyembul keluar. Kami bertiga selalu ramai, bergurau, mengisahkan cerita-cerita lama, dan tentu saja gosip tak ketinggalan. Gosip itu bagaikan garam, makanan yang tak terasa garamnya selalu hambar, tak berasa! Begitulah gosip dan cerita-cerita sedikit porno.
Bagaimana maka kami bertiga ini kok sampai bisa bertemu demikian akrabnya? Ini sebenarnya gara-gara Nunung! Nunung punya teman yang paling akrab, yalah mbak Tati ini. Mbak Tati sudah lama menjanda, suaminya meninggal beberapa belas tahun yang lalu. Nunung juga janda, suaminya meninggal, juga beberapa belas tahuhn yang lalu. Dan akupun menjadi duda persis duapuluh tahun yang lalu, karena isteriku meninggal pada tahun 1980 di Beijing dulu itu. Dari Nunung-lah aku kenal mbak Tati, karena tujuan Nunung ke Holland antaranya mau ketemu mbak Tati ini. Jadi aku disangkutkanlah, kecipratan kenal juga! Lalu bagaimana aku kenal Nunung,- nah, ini tema cerita yang akan berkepanjangan. Aku kenal Nunung mula-mula tahun 1954 ketika diadakan Pekan Buku di Jakarta di Deca Park waktu itu. Lalu namanya diubah menjadi Gedung Pertemuan Umum, di depan Gedung Pemuda pada tahun 50-an.
Pekan Buku seluruh Indonesia itu diprakarsai oleh Gunung Agung, yang dipimpin oleh Tjio Wie-thay, ( Lie Thay-san ). Tjio Wie-thay mengubah nama dengan Mas Agung Idayu, karena mereka mendirikan Yayasan IDAYU, nama Ibunda Bung Karno, wanita Bali itu. Mas Agung lalu masuk Islam. Dia sudah lama meninggal. Nah, stop dulu cerita bagian ini.
Ketika hari sudah malam dan kami masih juga di tanah Belgia, maka harus secepatnya cari hotel buat menginap. Sebenarnya tak ada apa-apa dan tak ada kesukaran apapun, serta tak ada beban apapun. Kami bertiga sudah bagaikan saudara, dan tokh usia kami bila dijumlahkan sudah lebih dua abad kan! Kalaupun ada perasaan lain, misalnya taroklah antara aku dan Nunung, kan hal itu riwayatnya dulu-dululah, riwayat dan kisah pada setengah abad yang lalu. Masaksih akan berulang seperti 50 tahun yang lalu? Nunung sudah punya cucu 6 dan aku sudah punya cucu 4, yang seorangnya sudah menjelang remaja.
Jadi ketika kami memasuki kamar hotel ya biasa-biasa saja. Bahwa kami akan bertiga satu kamar. Dua tempattidur berdekatan, dan yang satu lagi melintang, tidak sejajar. Kira-kira akulah yang akan menempati tempattidur itu. Tapi mereka berdua itu pada tertawa dan tampaknya mentertawakanku. "Nah, tempattidur satunya yang melintang itu, kosongkan saja", kata mbak Tati. Dan aku heran dan agak kaget juga. "Mengapa?", kataku keheranan. "Lah, dengan dua tempattidur ini kan cukup kita bertiga. Dik simon di tengah, dik Nunung sebelah kiri dan saya sebelah kanan, kan beres",-kata mbak Tati sambil ngakak tertawa diiringi tertawa Nunung yang rupa-rupanya sepakat mentertawakanku.
Dan aku langsung tahu dan mengerti, mereka berdua mau ngerjaiku, mau main-main dan bergurau. Lalu kusambut "Emangnya kalian mau jadikan saya sandwich! Bisa-bisa tak sampai pagi saya sudah jadi corned atau peuyem Bandung!", kataku. Hal ini tidak mungkin, sebab di tengahnya ada lobang, bisa-bisa jatuh terjerembab. Ini hanya obrolan dan gurauan semata. Lagipula antara kami lebih merasakan sesaudara, dan seirama-keluarga, dan ini kukira kalau bertiga. Kalau dulu ketika belasan tahun yang lalu, biarpun bertiga tetap saja cukup "berbahaya". Dan kalau berdua, umpamanya aku hanya dengan Nunung saja, sudahlah tak usah diceritakan lagi, tak ada gunanya.
Dan karena kami sudah amat lelah, apalagi mbak Tati yang sudah hampir belasan jam menyetir, rasa kantuk sudah membalut kami masing-masing. Walaupun tetap dengan banyak bergurau, tetapi mata dan badan sudah bagaikan lampu lima watt. Dan ketika biasanya aku selalu bangun tengah malam, dua janda itu mendengkur kelelahan, dengan rasa lelap yang aman dan tenteram. Teringat nasib, kami bertiga yang sama-sama tua, tetapi berlainan arah dan berlainan kandang. Mereka adalah orang-orang normal, wajar dan samasekali bukan yang terpinggirkan. Sedangkan aku adalah orang yang termasuk terhalang-pulang dan masih kelayaban. Masih ada TAP nomor 25 dan PP 23, yang mengekang dan mencekal kami. Tapi dua temanku yang janda itu semua tahu siapa aku, semua mengenal keluargaku. Mereka berdua dengan berani dan rela mau berteman denganku, berteman erat pula. "Persatuan sehati dan sejiwa" kami bertiga tidak bisa tergoyahkan dan merenggang walaupun TAP dan PP itu tetap saja berlaku di tanah melayu, dan bukan main susahnya buat menghapusnya. Ada atau tidak ada TAP dan PP itu, rasa persahabatan antara kami, mungkin tidak hanya kami bertiga saja, akan selalu langgeng dan lestari,-
Paris 1 Juli 2000,-
Siapapun teman Nunung yang di Holland ini selalu akan memanggilnya Nur atau dengan nama panggilan Nurtje. Hanya aku dan keluargaku yang di Holland memanggil Nur dengan nama Nunung. Sebab nama ini yang kukenal ketika tahun 1954 dulu itu. Ketika Pekan Buku se Indonesia diadakan di Jakarta tahun 54 dulu itu dibuka oleh Menteri PP dan K Prof Muhamad Yamin. Pekan Buku ini sangat sukses. Setiap hari berkumpullah para seniman dan sastrawan muda maupun seniman dan sastrawan yang sudah jadi. Di sanalah aku punya banyak teman yang menjadi akrab, atau yang baru kukenal ketika itu juga. Di beberapa stand, para penjaga dan petugas pameran ini banyak juga yang cantik-cantik.
Ada sebuah stand yang banyak dikerumuni orang atau para sastrawannya, antaranya yalah Pram dan beberapa lagi. Pram mendekati seorang wanita cantik, dan wanita ini ada lagi adiknya. Yang kami kenal waktu itu, wanita yang kusebut tadi selalu dipanggil Mimi dan adiknya selalu dipanggil Nunung. Maka kami berdua Pram selalu nyantol dan berlabuh di stand dua saudara adik-kakak ini. Tampaknya Pram jauh lebih serius daripadaku sendiri. Dan sukurlah percintaan mereka menjadi kekal, yang akhirnya sampai di pelaminan pernikahan, sampai kini, sejak tahun 1954 dulu itu. Jadi artinya hampir setengah abad yang lalu. Dalam bukunya NYANYI SUNYI SEORANG BISU, Pram menceritakan semuanya, termasuk semua nama sastrawan yang menghadiri upacara pernikahannya dulu itu.
Adapun si simon ini juga bercintaan dengan adiknya Mimi, yang namanya ketika itu adalah Nunung. Nama sebenarnya yalah Nursiah Thamrin, masih keponakan Tokoh Nasional Muhamad Husni Thamrin. Tetapi dalam pada itu Nur dalam keadaan sudah dipertunangkan oleh keluarganya dan segera tak lama lagi akan melangsungkan pernikahannya dengan keluarganya juga yang tidak lagi begitu dekat. Mungkin pernikahan ini juga termasuk buat mendekatkan lagi tali kekeluargaan itu, tak tahulah aku. Tentu saja aku dengan harus berani dan rela, sudah sepatutnya mengundurkan diri. Lagipula ketika itu umurku baru 20 tahun, masih terlalu muda dan belum punya persiapan buat berumahtangga. Kalaupun sampai jadi menikah dengan Nunung, mau dikasi apa anak orang! Awak belum punya matapencaharian tetap, masih mahasiswa yang tak punya cantelan pendapatan tetap. Agaknya Nunung-pun mengerti dan memahami hal ini, dan juga dia bersedia memenuhi kehendak keluarga yang sudah begitu besar perhatiannya terhadap ikatan tali kekeluargaannya.
Karena itu semua, Nunung lebih cepat melangsungkan pernikahannya daripada kakaknya sendiri, Mimi dengan Pram. Pram - Mimi menikah pada tahun 1956, diselang dengan perpisahan-paksa mereka akibat Pram masuk Pulau Buru sekian belas tahun. Namun Mimi tetap setia menantikan Pram, yang pada akhirnya mereka bertemu kembali dalam keadaan semakin saling mencintai. Dan aku dalam pada itu tak pernah lagi tahu bagaimana keadaan Nunung. Pada tahun 1993 ketika aku pertama kali pulang ke Indonesia setelah selama 30 tahun tak pernah datang ke Jakarta, aku mengunjungi keluarga Pram - Mimi. Dan ketika aku hendak pamitan pulang, Mimi dengan suara pelan dan hati-hati berkata : "bron apa kau masih ingat Nunung? Rumahnya tak jauh dari rumah ini. Kalau kau mau ketemu dia, bisa kutunjukkan dan kuantarkan. Dia sudah lama menjanda", kata Mimi dengan rasa keibuan.
Ketika itu kujawab, biar lah lain kali, sampaikan saja salamku kepadanya. Dan sudah itu tak pernah terpikir, tak pernah teringat akan Nunung, hilang begitu saja, tanpa kesan apapun. Perjalanan hidup manusia memang macam-macam, berbagai selukbeluk menerpa dan membalut diri orang perorang. Misalnya si aku ini, ada-ada saja soal. Dari segi teman dan persahabatan, ternyata aku punya teman wanita jauh lebih banyak ketimbang teman pria. Tetapi seperti sering kukatakan dan kutuliskan, walaupun banyak punya teman wanita, tak satupun yang nyangkut yang benar-benar nyangkut bagaikan ikat di mata pancing. Dan lagi selalu tak seimbang, selalu pincang dan selalu serba tak mungkin. Teman wanitaku itu selalu jauh lebih muda dari anakku sendiri! Atau kalaupun dia tidak muda, tetapi mereka itu adalah isteri orang, yang berstatus nyonya si Anu. Dan tak satupun teman wanitaku itu yang kira-kira pantas atau seimbang denganku. Dalam tulisan SERBA-SERBI ini entah yang keberapa, ada kutuliskan, bagaimana seorang cucuku sangat aktive "mencarikanku" teman wanitanya yang dari pramugari, yang muda-muda, lincah, cantik bahkan agak genit. Mana pula aku tahan!
Dalam malam sepi, sendiri dan dalam keheningan, aku selalu berdialog dengan Tuhan. Aku berdoa dan minta pada Tuhan, ya, Tuhan, tolonglah lempangkan pikiranku ini. Luruskanlah, jernihkanlah, bukalah pikiranku ini, agar aku benar-benar kembali ke jalan yang lurus, tepat dan baik. Terutama dalam masalah hubungan teman-teman wanita ini. Aku pasrah dan aku menyerahkan diriku kepadaMU Tuhanku. Aku akan menerima siapa saja asal itu adalah pemberianMU, asal dia itu adalah tunjukanMU, asal dia itu adalah utusanMU. Begitulah aku berpikir dan berdoa. Tak tahan dan bagaikan mau gila saja layaknya mengenai masalah ini.
Dan sudahlah, pikirku, tokh Tuhan sudah tahu perasaanku. Dalam pada itu di suatu senja ada tilpun datang dari Jakarta. Yang menilpun itu adalah suara wanita. Dan aku tak begitu mengenal suaranya, agak asing di telingaku suara itu. Dan berceritalah suara itu, " saya Nunung, masih ingat beberapa puluh tahun dulu itu?", katanya lagi. Tentu saja aku ingat, walaupun tak pernah teringat sedikitpun setelah perpisahan tahun 1954 dulu itu.
Nunung mengatakan bahwa dia akan ke Holland ke rumah temannya. Dan katanya lagi dia mau ke Paris, dan kalau tak keberatan, apakah boleh datang ke tempatku melihat-lihat dan sekedar bertemu? Tentu saja kukatakan dengan senang hati, masaksih lupa akan teman lama, kataku lagi. Dan begitulah ceritanya, selama 10 hari Nunung di rumahku di Paris. Aku menerima keberadaannya di rumahku, dengan hangat, dengan akrab. Dia tampak gembira dan bahagia bertemu denganku, dan juga aku. Walaupun sampai kini aku tidak tahu pasti, apakah yang ini pemberian Tuhan yang dulu aku berdoa itu? Tak tahulah, tetapi aku tak pernah menampik kedatangan dan perasaan Nunung. Lalu yang pada akhirnya Nunung-pun pernah menginap di rumah anak-anakku di Holland, dan anak-anakku seolah-olah "mendesak" agar papa meneruskan perkenalan kembali dengan tante Nunung-nya. Anak-anakku dan cucu-cucuku sudah mulai akrab dengan Nunung.
Dan ketika Nunung di rumah, di mana aku seolah-olah tinggal terima jadi, baik dalam soal makanan dan kehidupan biasa, pakaian, kebersihan rumah, tadinya kukira, pastilah akan ada gangguan pada pekerjaanku sehari-hari, seperti menulis, mengarang dan bekerja di resto dua kali seminggu itu. Ternyata malah sebaliknya, aku bisa berkiprah bahkan lebih produktive lagi dari biasanya. Terasa dalam hati, apakah begini ini orang beristeri itu? Karena aku sudah sangat lupa, sudah duapuluh tahun menduda, mungkin sudah lupa kayak apa sih punya isteri itu?! Dan kalau keterusan dan kebablasan enaknya hidup bujangan, memang jauh memilih lebih baik bujangan daripada beristeri, sebab sudah sangat terbiasa hidup egois, enggan berbagi, enggan mengalah. Semoga aku tidak begitu.
Ketika kami saling bercerita tentang keadaan tahun 50-an itu, Nunung semua mengenal siapa-siapa saja temanku di kala itu. Begitu banyak sastrawan dan seniman yang setiap hari ngumpul di Pekan Buku Indonesia itu. Ketika itu aku selalu dengan banyak sastrawan muda, seperti Ajip yang pernah ditanyakan oleh Menteri Yamin, kenapa nama Ajip harus ditulis dengan Ayip Rossidhy, tidak yang biasa-biasa saja. Ajip menjawab, nah, bapak sendiri pakai huruf Y tidak pakai huruf J. Dan sejak itulah Ajip menulis nama yang sekarang ini. Lalu kami sering bertiga dengan Ramadhan KH dan Nugroho Notosusanto, mereka mengasuh majalah yang namanya KOMPAS, majalah mahasiswa. Dan pergaulan kami ini menyebabkan aku sering-sering ke rumah Atun alias Ramadhan bersama Sugiarta Sriwibawa. Sayangnya Sugiarta ini tampaknya masih belum mau berhubungan denganku. Surat-suratku tak pernah dibalasnya, mungkin dia masih enggan berhubungan dengan orang sejenisku begini.
Dulu ketika aku mau menyampaikan salamku kepada Nug melalui Atun, dia mengatakan, salam dan pesanmu sengaja tak kusampaikan kepada Nug. Kau kan tahu, Nug itu satu kakinya memang sastrawan dan sejarawan, tapi sebelah kakinya lagi kan dia itu jenderal yang masih berfungsi penuh sebagai aparat penguasa, demikian kata Atun ketika itu. Benar juga Atun, sejak dulu dan yang sampai kini Atun tak pernah merasa takut dan segan berhubungan denganku. Dan semua teman-temanku ini Nunung tahu, karenanya kalau kami saling cerita masa dulunya, semuanya nyambung dan kena! Dan agak mabuklah aku ketika sehari-hari di rumahku di Paris, Nunung memanggilku dengan sebutan papi. Dan itulah kisah Nunung denganku, yang di Holland serta resto kami, banyak teman-teman yang sudah pada berbisik dengan suara pelan, ada apa lagi ini, gerakan si simon ini, mau apa pula dia itu!
Paris 1 Juli 2000,-
Tanpa berunding dan kompromi lebih dulu, kami bertiga selalu mencari rumah-makan Cina. Dan restorant Cina selalu ada di mana-mana. Tentang cerita ini ada anekdotnya. Dua orang kosmonaut dari Uni Sovyet ( ketika itu ) dan Amerika Serikat, bertengkar di Bulan, siapa sebenarnya yang lebih dulu sampai di Bulan. Dalam pertengkaran itu masing-masing bertahan bahwa dirinyalah, bangsanyalah yang lebih dulu sampai di Bulan. Tak ada keputusan, akhirnya lelah sendiri dan merasa bosan dan terasa sangat haus dan lapar. Bagaimana mau cari restoran di Bulan? Tetapi tak jauh dari tempat mereka bertengkar tadi, mereka berdua melihat kepulan asap agak dari jauh. Tentu ada rumah orang barangkali. Mereka sangat gembira, dan lekas-lekas mendekati lokasi yang berasap itu.
Begitu didekati, memang sebuah restorant dan ada juga tulisan Cina-nya, ternyata sebuah restorant Cina sudah lama berdiri di Bulan itu! Mereka-pun berhenti bertengkar. Untungnya hal ini hanya anekdote saja, tapi ada hikmahnya, lain kali janganlah selalu menganggap dirinya yang paling duluan, paling hebat, paling nomor satu.
Penduduk Belgia lebih banyak menggunakan Bahasa Perancis daripada Bahasa Belanda. Karena itu dua saudaraku itu, selalu menyodorkanku bila ada yang harus berbicara kepada siapapun. Tetapi karena mereka berdua ini juga tahu dulunya aku belasan tahun di Cina, maka lagi-lagi mereka menyodorkanku agar menggunakan Bahasa Cina bila di restorant Cina. Dan petugas resto itu juga kebetulan mengerti Bahasa Cina Mandarin atau Kuo-yu. Sebab tidak sedikit pegawai dan petugas resto Cina tidak mengerti Bahasa Nasional mereka. Mereka hanya mengerti berbahasa Kanton atau dialek lainnya. Sedangkan aku dan kami dari Cina itu umumnya tidak mengerti Bahasa Kanton atau Hongkong. Bahasa Kanton dan Hongkong itu sama saja.
Di sini aku sangat menghormati Nunung, yang walaupun sudah tiga kali naik-haji, dan sholat secara teratur, tetap tidak fanatik. Yang paling penting yalah tidak makan babi, dan selalu kupesankan kepada petugas dan pegawai resto itu, agar bersih dari daging babi, karena kami adalah muslim, demikian kataku. Dulu ketika Ajip teman akrabku itu menginap di rumahku di Paris, dia hanya mau makan ikan saja, atau sayuran, ayam-pun ditolaknya, karena menyembelihnya tidak pakai bacaan bismillah dsb. Tapi itu hanya Ajip saja, sedangkan keluarga lainnya menerima buat makan ayam walaupun sembelihannya tak pakai bacaan Arab.
Ketika di rumah selama hampir dua minggu itu, aku selalu mengingatkan Nunung apakah sudah sholat, sholat magrib, isa dan sebagainya. Terkadang dia memang lupa atau belum teringat. Walaupun aku tidak sholat, tetapi apa salahnya mengingatkan orang lain buat beribadah. Ternyata saling menghormati begini juga banyak baiknya dalam pergaulan. Petugas dan pegawai resto Cina yang ada di Dinant dan juga di Bouillon, jauh di pedalaman Belgia, malah lebih dekat ke perbatasan Perancis, ternyata adalah orang Wenchow. Wenchow adalah suatu tempat di dekat Shanghai. Kebanyakan pedagang dan pengusaha restorant. Di Paris ada dua China-town. Yang terbesar di daerah 13, sedangkan yang agak kecil di Belleville. Tetapi di Belleville adalah daerah campuran, Cina, Yahudi dan Arab. Sedangkan di daerah 13, semunya Cina yang dari Cina, dan Vietnam, Kamboja dan Laos. Yang di Belleville kebanyakan dari Wenchow ini. Mafia mereka sangat kuat, solidaritasnya sungguh mengagumkan. Berita ada sebuah truk-gandengan, trailer yang menyelundupkan orang-orang Cina buat menyeberang ke tanah Inggris dari berbagai tempat, Russia, Cheko lalu melalui Belanda, yang matinya sejumlah 58 orang dari 60 orang, kebanyakan dari Wenchow! Truk-trailer itu ternyata sebenarnya buat membawa daging awetan, lalu dijadikan buat menyelundupkan manusia buat mencari kehidupan dan pekerjaan di tanah negeri kapitalis, yang pada akhirnya mereka sendiri yang jadi korban pengawetan.
Ketika kami jalan lagi meneruskan petualangan ini, terkadang kehilangan arah dan pedoman. Jalannya kecil, walaupun enak dan mulus, jarang ada kenderaan lain. Dan ketika kami sudah tidak tahu mau ke mana lagi karena kehilangan plank-nama tempat-penunjuk, tiba-tiba saja mbak Tati berhenti dan lalu mengubah arah. Ternyata ada bacaan dan tulisan "frontier a la France". Rupanya kami sudah akan memasuki wilayah Perancis, begitu jauh nyasarnya! "Kenapa kok jadi grogi mbak?", kataku, "kan nggak apa-apa, tak ada larangannya", kataku lagi. "Bukan soal itu, yang soal jangan sampai sampeyan melarikan diri ke wilayah dan kampunghalaman sampeyan. Kami kan masih perlu sampeyan. Agar kita selalu bertiga, maka saya hindari jauh-jauh itu wilayah perbatasan, agar sampeyan nggak sampai pulang begitu saja setelah melihat wilayah Perancis itu"; katanya sambil tertawa.
Dan aku baru tahu, itu tokh maksudnya. Aku tidak akan pulang "ke kampunghamanku kok", lebih senang bertiga begini, penuh gurau, gembira, dan selalu tertawa, kataku kepada mbak Tati dan Nunung. Dan kami terus lagi jalan, mencari daerah Spa, yang ada air-terjunnya, dan pemandangan yang sangat bagus. Perpaduan antara pegunungan, sungai dan lembah, di mana di tebingnya ditatah dengan bungalow, motel dan rumah peristirahatan yang kecilmungil. Tanaman berbagai bunga sangat semarak, penuh warna-warni, dan harumnya lembut menyebar sangat beraroma halus.
Pemandangan yang begitu banyak keindahannya, menyebabkan kami selalu berhenti buat berfoto. Ternyata mereka berdua sama kesukaannya, berfoto, dan pasang-aksi dengan berbagai pose turis. Dan aku selalu jadi tukangfotonya, photographer kagetan,- di mana tak ada rotan, maka akarpun berguna! Pada sebuah tempat yang agak aneh tetapi bagus, mbak Tati berhenti, minta diambilkan foto. Aku sempat mengamati lokasi yang mana yang mereka mau ambil. Ada sebuah jalan yang lurus menjauh, tetapi di ujungnya ada dua batu-tinggi yang bagaikan mengapit jalanan yang lurus itu. Dan mereka minta difoto tepat di tengah tembusan antara dua batu pegunungan yang tinggi menjulang. Jadi kalau dalam ilmu perfotoan, latarbelakangnya haruslah super-longshot, sedangkan mereka berdua sedapat mungkin dengan medium-close-up.
"Ya, di sini", kata mbak Tati sambil memperkirakan letak berdirinya dengan memperbandingkan jalan-lurus dengan dua batu-tinggi yang bagaikan tebing yang sangat curam itu, tetapi cukup jauh buat super-longshot. "Dik simon, jangan lupa, harus kelihatan lobangnya, harus tergambarkan", kata mbak Tati. Dan aku agak terhenyak atas permintaannya ini. Kubidik lensa, tak ada apa yang dikatakan lobang itu. "Apa yang mbak katakan lobang, tak ada kok lobangnya!", kataku. Dan lagi-lagi aku mengamati dengan seksama di mana lobangnya itu. Dan ketika aku benar-benar heran dan mencari di mana yang dikatakan lobang itu, sambil agak memiringkan kepalaku, dan batas mata ini menjulur ke bawah kedua badan mereka, lalu meledaklah tertawa mereka tanpa filter. Dan aku terlebih heran lagi.
"Dik simon harus lihat ke jauhan itu, itu lho antara dua batu-tinggi, bukannya badan kami yang harus dilihatin, kalau mau ngelihatan kami sih tak usah jauh-jauh begini susah payah cari tempat berfoto. Ngerti!". Dan aku lagi-lagi memperhatikan apa yang dimaksudkan lobang itu. Dan barulah aku tahu setelah dijelaskannya benar-benar apa maksudnya. Ternyata lobang yang dimaksudkannya itu adalah terowongan antara dua batutinggi itu. Kataku, itu mah terowongan bukannya lobang. Di katakan lobang, tentu aja beta jadi bingung!
Salahpengertian begini tidak hanya satu kali ini saja. Dan tidak hanya di kalangan kami bertiga saja, tetapi sering terjadi perselisihan antara kami di rumah di Holland. Mengapa? Karena soal bahasa semata! Karena kami dan mereka terlalu lama di luarnegeri, amat sulit menyesuaikan kebahasaan, terjemahannya atau tapsirannya sudah berbeda dan kurang cocok, kurang pas. Namun demikian, gara-gara berfoto harus kelihatan lobang itu, teringat akan kelucuan dan bahan tertawaan antara kami bertiga sampai kini.
Sesudah tiga hari kami di Holland lagi, aku menilpun mbak Tati. Dan suaranya sangat berat, sulit berbicara. Ternyata dia jatuh sakit. Sakitnya ini sudah dapat kami perkirakan, dia terlalu lelah-letih, suaranya hilang, dan batuk terus. Kami berdua Nunung menjenguknya dan lama di tepi tempattidurnya, berkelakar, menghiburnya, memberi dorongan semangat agar dia berangsur sembuh. Ketika kelakar sampai ke masalah lobang itu, meledak lagi tertawanya yang mulai cerah lagi. Rupanya dia sangat ingat peristiwa yang begitu lucu karena istilah itu, masaksih lobang segede terowongan. Semua mbak Tati yang mulai dan dia juga yang paling tertawa merasa lucu, tetapi mungkin akulah yang begitu bodoh dan nggak ngerti apa-apa!
Paris 2 Juli 2000,-
Pada bulan Juni yang baru lalu ini ada rapat yang boleh dikatakan sangat penting menyangkut "nasib" para perantau-abadi, khususnya di Holland. Orang banyak menyebutkannya "yang terhalang pulang" ada pula yang menyebutkannya "mantan kaum eksilan" dan yang tak sedap didengar dengan sebutan "kaum kelayaban". Yang benar yalah "kaum pelarian politik", atau refugie.
Tetapi karena sudah puluhan tahun tinggal di tanah Eropa, maka statusnya berubah secara naturalisasi, bukan lagi pelarian politik ataupun refugie, tetapi warganegara Belanda, Perancis, atau Jerman atau Swedia dan lain-lain. Rapat yang dimaksudkan tadi adalah antara Kementerian Dalam Negeri, Jawatan Imigrasi dan badan-badan yang bersangkutan dengannya berhadapan dengan kaum yang terhalang pulang itu. Isi dan putusan rapat tersebut mengandung harapan baik, bersifat menguntungkan bagi yang akan melaksanakan keputusan rapat tersebut. Mereka boleh pulang ke Indonesia dengan mempunyai hak-penuh buat mendapat uang-bantuan selama ini, apakah memang dari pensiun yang sah karena bekerja sebagai salaire, ataukah hanya sebagai penerima uang-bantuan-sosial setiap bulannya. Yang tidak mendapatkannya lagi hanyalah yang bersifat bantuan karena tinggal di Belanda. Misalnya bantuan sewa-rumah, kesehatan, pendidikan, atau uang-bantuan setiap musimpanas, uang bantuan liburan setiap musimliburan.
Dan ini wajar dan semua dapat menerimanya, sebab akan sangat aneh kalau masih juga bisa menerima uang bantuan sewa-rumah dan yang lainnya itu yang padahal tak ada hubungan dengan tempattinggal barunya : di Indonesia nantinya. Dari segi putusan rapat bersama ini, kiranya dan patutnya sudah tak ada soal lagi. Tak ada beban dan apa-apanya lagi. Ini dipandang dari segi luarnya, kulitnya, pembungkusnya. Tetapi dari segi dalam-internnya, tidaklah semudah itu. Masih banyak hal yang harus dipikirkan, dipersoalkan, dipertimbangkan, dan harus 100 kali ditimbang-timbang akan akibat mendatangnya. Banyak orang, banyak teman yang sudah menghitung-hitung, akan berapa dapatnya sekiranya di-rupiahkan bantuan itu. Apakah akan cukup kalau hidup di Indonesia? Apakah akan bisa hidup secara minimum saja di kampunghalaman nantinya?
Uang bantuan itu katakanlah secara rata-rata sejumlah 700 gulden setiap bulannya. Dan kalau dirupiahkan sekira dua juta rupiah. Secara hidup minimum tentu saja cukup dan sangat memadai. Tetapi semua ongkos kehidupan hanyalah dari situ semata-mata, buat cari rumah, sewa-rumah, makan, kesehatan, dokter, obat-obatan, pendidikan, belanja apa saja. Tetapi itupun masih cukup baik. Ini kalau diperbandingkan dengan pendapatan teman-teman yang memang tinggal di Indonenesia. Yang tamatan sarjana saja, tidak lebih dengan gaji antara 300 sampai 500 ribu rupiah. Pegawai biasa banyak yang bergaji antara 200 sampai 300 ribu rupiah. Pegawai perhotelan dan pelayan hotel dan resto bergaji antara 150 ribu sampai 250 ribu rupiah, bahkan ada yang jauh lebih rendah.
Banyak pegawai tinggi yang ber-eselon bergaji jutaan, tetapi itu kan sangat jarang dan sangat sedikit. Yang paling banyak yalah yang bergaji di bawah jutaan! Jadi dengan 700 gulden yang dapat dirupiahkan sekitar dua juta rupiah itu, sangat memadai, sangat baik, bisa hidup layak walaupun jauh dari mewah. Ini dari segi gaji dan pendapatan. Tak adakah beban atau halangan atau kecemburuan-sosial lainnya dengan pulangnya kaum eksilan ini? Inilah sesungguhnya beban, halangan dan kecemburuan-sosial yang paling pokok! Apakah masarakat umum akan mau dan rela menerima semua ini? Apakah tidak akan ada anggapan, wah, enak benar, pulang-pulang dari luarnegeri, tidak pula pernah masuk penjara, tak pernah di Pulau Buru, tak pernah menerima siksaan hidup seperti kami dan kita-kita ini, tahu-tahu begitu saja pulang enak-enak, banyak uang lagi!
Apakah orang-orang berwajah sangar yang selalu berpakaian putih-putih yang banyak menginfilterasi Ambon dan Maluku itu akan berdiam diri? Apakah kaum jihad itu akan rela melihat dan memandangi orang-orang yang baru pulang ini? TAP nomor 25 dan PP nomor 32 yang semua isinya menghalangi gerak-gerik dan semua aspek kehidupan orang-orang ini bukan main sulitnya buat mencabutnya. Bahkan lebih cenderung dapat dikatakan tak mungin dicabut selagi nafas Orba ini masih berdenyut seperti sekarang ini. Dan semangat Orba, denyut-nadi-nafas Orba samasekali belum tersentuh secara total, baru pinggir-pinggirnya saja. Reformasi yang dicita-citakan ketika mencetuskannya, samasekali belum tuntas, bahkan lebih banyak aspek yang belum tercapainya daripada yang sudah tercapainya.
Lalu apakah semua kaum keluarga dan teman-teman serta para sahabat juga sudah benar-benar rela menerima orang-orang ini yang walaupun sudah berpisah selama lebih dari 33 tahun ini? Apakah mereka benar-benar sudah berani dan bersedia dan rela pergaulannya dimasuki orang-orang yang baru pulang ini ( seandainya pulang nanti )? Semua ini pada akhirnya dibicarakan di kalangan kaum terhalang pulang ini, dan seharusnya dibicarakan dan ditimbang-timbang sebaik-baiknya, sehati-hatinya. Ini menyangkut nasib banyak nyawa, banyak keluarga, dan sangat sensitif dan emosional. Dan ternyata belum ada yang melaksanakan "kepulangan dengan segala janji fasilitas bantuan dari Holland itu", sudah ada reaksi dari dalamnegeri! Mereka yang dalam-negeri tidak akan begitu saja menerima kepulangan orang-orang ini, tidak sedia dan tidak siap buat dengan rela dan sepenuh hati menerima orang-orang yang hilang ini. Jadi tak adalah istilah Kembailah dia si anak hilang!
Mereka yang tadinya sudah menghitung-hitung secara keuangan dan biaya kehidupan di Indonesia, kini terpaksa menunda dulu rencananya, dan entah kapan dapat direalisasi, samasekali bukan urusan pemerintah dan badan-badan di Belanda, Perancis, Swedia, Jerman dan lain-lain! Urusan yang paling penting, paling pokok, adalah di dalamnegeri, pemerintah RI sendiri, dan masarakatnya sendiri, yang akan didatangi itu! Dan samasekali bukan masalah keuangan, jaminan sosial, belanja dan biaya, tetapi yang paling pokok adalah masalah keamanan, masalah security. Kita harus selalu berusaha keras buat menghentikan mengalirnya darah yang siasia. Yang kita alami selama ini, justru darah rakyat, penduduk biasa, rakyat awam, paling banyak menjadi korban, paling banyak menumpahkan darah dan hilangnya jiwa. Dari dulu sampai kini, sampai detik ini, seperti di Ambon, Maluku, Aceh, Irian dan lain-lain, selalu saja darah belum pernah berhenti mengalir. Marilah kita mengurangi jatuhnya korban yang tak perlu begini, sudah tentu kalau dapat dan sanggup menyetopnya samasekali. Tetapi seperti sudah dikatakan tadi, selagi denyut-nadi dan nafas sisa-sisa Orba masih jalan, tidak mungkin semua ini distop! Tidak mungkin, karena semua itu sejalan, sebangun, sealiran!
Paris 3 Juli 2000,-
Zainab umurnya lebih 60, suaminya Amir sudah 68. Anaknya ada dua, yang tertua lahir di Jakarta, yang kedua ini di Moskow. Semua sudah berkeluarga, dan mereka punya cucu 4, bahkan salah seorang sudah beranjak menjadi remaja putri. Dan kalau cucunya ini nanti punya anak, mereka belum-belum juga bisa pulang, maka penamaannya bukan lagi beranak-bercucu di luarnegeri, tapi beranak-bercucu dan bercicit, tambah pangkat satu lagi. Keempat cucunya ini mana tahu soal tanahair, tanah leluhur, segala macam. Bahasa Indonesia saja tidak lurus, dan sudah banyak melupakan atau terlupa apa yang dikatakan yang serba tanahair dan kampunghalaman itu. Tapi Zainab sendiri bersama suaminya yang sudah lama pensiun ini, malah sangat sulit bisa melupakan Indonesia dan kampunghalamannya yang di Palembang itu. Ingat-ingat begini, Zainab sering-sering menghela nafas panjang, Oi mak nasib, dulu jauh di kampung dekat Komering, kini tersuruk di ujung Woerden, Belanda. Betapa perjalanan nasib dan sejarah orang perorang manusia berbelit dan berselukbeluknya.
Mak Zainab dan Pak Amir sering-sering juga kumpul atau sengaja mencari teman-temannya buat berbincang-bincang akan sesama nasib komunitasnya, sama-sama vloehteling, kaum pelarian politik yang sering-sering juga berkumpul. Dengan alasan arisan, paguyuban, kangen-kangenan, dan perayan-perayaan tertentu. Tidak bisa dilupakan, juga termasuk ketika upacara penguburan salah seorang dari komunitas mereka. Dulu hampir setiap bulan ada saja yang bermatian, karena sakitan, karena tua, siapa tahu tahu karena ngenes tak bisa-bisa pulang. Mungkin saja karena mati kerinduan, kekangenan, demikian pikiran Zainab. Seseorang bisa saja mati karena kekangenan dan kerinduan, demikian dia pernah berpendapat.Pada upacara penguburan ini biasanya pada bertemu, dan lalu melepas kekangenan. Karena yang datang ke upacara penguburan itu tidak hanya dari tanah Belanda saja, tetapi ada juga yang berdatangan dari Jerman, Swedia, Perancis dan Belgia. Dan itulah sebabnya ada suara yang menyatakan orang-orang yang berkumpul bersama-sama mengantarkan jenazah itu disebutnya kaum PKI, tetapi yang artinya Perkumpulan Kematian Indonesia. Ya, bisa-bisa saja menamakannya begitu, mungkin tak ada salahnya, tetapi mungkin saja ada dosanya.
Dari banyak pertemuan begitu, biasanya keluarga Zainab dan Pak Amir akan selalu tanya-menanyakan bagaimana tentang masalah pulang kepada semua teman-teman dan kenalannya ini. Teman-temannya ini ada yang sudah bertahun-tahun tidak saling bertemu, bahkan ada yang sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun. Rasa rindu, melepas kekangenan antara teman senasib, sangat menggugah semangat pulang, kerinduan yang tak putus-putusnya terhadap kampunghalaman. Dan dari saling tanya-jawab, saling cerita begini, tahulah keluarga Zainab, ternyata yang mau pulang itu, yang sangat rindu kampunghalaman itu, cukup banyak. Bahkan sebagian besar punya keinginan pulang seperti dirinya juga. Tetapi yang dilihatnya, dirasakannya, ada perbedaan antara dirinya dan keluarganya dengan teman-temannya itu. Tak dilihatnya ada persiapan buat melaksanakan kemauan dan hasrat pulangnya itu. Sedangkan dirinya dalam keadaan siap, misalnya saja tahun ini akan pulang, okey-okey saja, mereka sudah siap secara teknis. Yang dimaksudkanya teknis itu adalah keuangan.
Diam-diam mereka cukup menyiapkan uang. Mengontrak rumah misalnya di Sumedang kampunghalaman suaminya, atau di sekitar Komering, Sumatra Selatan kampunghalamannya sendiri. Bahkan kalau perlu, termasuk membeli rumah, itupun mereka sudah menyiapkan keuangannya. Mereka bukan orang kaya, tetapi bagaimanapun selama puluhan tahun ini, karena keinginan dan hasrat yang begitu besar buat pulangkampung, tentu saja bisa menyisihkan uang buat itu semua. Dan lagipula, harga gulden kan sampai antara 3000 sampai 4000 rupiah per-gulden. Cukup punya walaupun tidak kaya.
Dan karena banyak tanya sana-sini itu, dan juga banyak mendengar cerita-cerita orang lain, bertambah yakinlah keluarga Zainab bahwa soal pulang kalau hanya dari segi keuangan, mereka bisa mengatasinya, tidak menjadi soal besar. Ada tanda-tanya besar pada diri Zainab, mengapa orang-orang lain itu yang sama-sama mau pulang, tetapi samasekali tak tampak persiapan nyatanya. Hanya kata-kata mau pulang saja, rindu kampunghalaman saja, tetapi samasekali tidak kelihatan persiapan pulangnya. Sedangkan mereka benar-benar sudah siap. Misalnya sebuah rumahnya sudah dijual, sedangkan rumah yang kini didiaminya, mereka kontrak-sewa. Dan anak-anak cucunya sudah samasekali tak ada hubungan teknisnya lagi, dan juga tak ada maksud pulang seperti dirinya. Mereka samasekali tak tertarik apa itu kampunghalaman, apa itu kerinduan, bahkan sudah lama tak mengerti dan lupa akan bahasa Indonesia. Tak tertarik akan hasil kerajinan-tangan dan hasil bumi Indonesia. Bahkan mereka benci bau durian, nangka apalagi bau cempedak yang tajam itu. Tak pernah merasa suka akan papaya, apalagi gudeg. Bahkan mereka mencibir kalau memperhatikan ibu dan neneknya membuat masakan Indonesia.
Cucunya tertawa-tawa lucu ketika neneknya membuatkan cucunya ini kue kebanggaan kampungnya, kelepon, dan ongol-ongol serta cucur. Pikir keluarga Zainab, sungguh sudah lain sangat anak-cucunya ini. Pak Amir lain lagi pembawaannya dengan isterinya Mak Zainab. Pak Amir tidak banyak cakap. Lebih banyak diamnya, tapi banyak menyetujui sikap dan maksud serta cita-cita isterinya. Yang penting baginya yalah : hari tua itu seharusnyalah di kampunghalaman, dan sekerat dua kerat tanah, atau rumahtangga milik sendiri, dan sebidang kecil tanah buat penguburan dirinya dan isterinya, itu saja sudah cukup. Pulang buat menikmati hari tua, dan buat dikuburkan di kampunghalaman,- titik itu saja. Dan ternyata maksud dan hasrat tuanya ini sama dengan isterinya, jadi apalagi gunanya banyak cakap lain,- demikian pikir Pak Amir.
Berkehendak mati dan dikuburkan di tanahair dan kampunghalaman sendiri, nyatanya banyak pengikutnya. Tapi lagi-lagi seperti terpikir pada isterinya Mak Zainab, kenapa mereka yang berkehendak sama itu, tidak tampak persiapan mau pulangnya. Tenang-tenang saja adanya. Tidak seperti mereka berdua ini, bahkan sudah menjual rumah buat modal cari rumah dan tanah, dan buat mati. Sampai sekarang mereka berdua belum sampai menanyakan hal ini kepada banyak temannya. Hanya baru menyimpan pertanyaan saja, mengapa selama ini mereka itu belum menyiapkan segala sesuatu seperti dirinya.
Tapi dari cerita-cerita dan omong-omong santai yang walaupun serius itu tak ada kata atau pesan yang kiranya berlawanan dengan kehendak mereka. Bukankah artinya mereka itu setuju dengan cita-cita dirinya? Beda pokok, orang-orang itu hanya pada kata-kata saja, sedangkan mereka sudah sempat siap sampai menjual rumah buat modal segalanya, termasuk yang terakhir : kuburan mereka berdua.
Melihat semua ini, timbul juga pertanyaan pada dirinya, ada apa ini sebenarnya? Mengapa ada kelainan antara persiapan mereka mau pulang itu dengan pernyataan teman-teman tuanya? Suatu kali mereka mau tahu apa sebabnya. Bukankah katanya kalau mau melangkah itu harus serentak, agar seirama? Yang ini, mau pulang ini lain lagi, tak ada bau-bau serentaknya. Pertanyaan dalam hati yang belum terkeluarkan ini, terus menerus menyembul kepermukaan buat diutarakan ke antara teman-teman senasibnya,-
Paris 4 Juli 2000,-
Ada beberapa surat dari Sumedang dan Palembang, dari saudara sepupu Zainab dan keponakan Pak Amir. Surat-surat itu isinya pada pokoknya menjawab berita yang disuratkan Mak Zainab dan Pak Amir atas hasrat pulangnya itu. Pada dasar isi nafas surat itu, semua menyatakan pikir-pikirlah sebelum pulang menetap di kampunghalaman. Ada pula isi surat itu yang menyatakan : "lho, banyak orang-orang yang di Indonesia ini pada mencari jalan buat keluar Indonesia, tapi kalian malah mau datang. Orang-orang ramai-ramai mau keluar, kalian mau masuk. Apa benar-benar sudah dipikir masak-masak? Apa kalian sudah tahu benar situasi kampunghalaman dan tanahair?", demikian antaranya isi surat yang bertambah membimbangkan hati keluarga Zainab.
Lagi-lagi Mak Zainab perlu mencari teman-teman senasibnya buat bertanyakan banyak soal yang mereka benar-benar belum tahu. Dari cerita-cerita temannya barulah sedikit tahu tentang apa saja yang terjadi dan yang kini ada di Indonesia dan kampunghalamannya. Katanya masih tetap banyak halangan pulang. Ada yang berupa undang-undang dan ketetapan pemerintah sewaktu orba dulu, yang isinya sudah sangat tidak cocok dengan situasi sekarang. Begitu diusulkan buat dicabut, reaksi bukan main banyak dan tajamnya. Masih sangat banyak yang tidak setuju dan menentang pencabutan penetapan dan peraturan itu. Sebab katanya, kalau penetapan dan peraturan itu dicabut, maka komunisme dan orang-orang kiri akan merajalela lagi, akan ada pembrontakan, kekacauan, dan pembunuhan seperti enam jenderal dulu itu.
Mendengar cerita begini Mak Zainab meringis dan marah. "Memangnya sekarang ini sudah tidak ada lagi kekacauan dan pembunuhan itu? Sudah semua daerah menjadi aman?", katanya dengan nada tinggi. "Ya itu memang benar. Tetapi kalau kita-kita ini pulang, sedangkan masarakat yang akan menerima kita itu belum siap dan masih mendendam, bukankah sasaran akan ditujukan kepada kita lagi", kata temannya yang diajak ngobrol itu. "Mak Zainab tahu tidak bahwa reaksi tentang kepulangan kita itu sudah banyak para penantangnya. Yang berbaju-pakaian putih itu, kaum jihad. Yang kini sudah ribuan dikirim ke Ambon dan bagian Maluku lainnya? Sekarang ini yang justru paling galak dan bermata-gelap itu, tidak hanya aparat serdadu, tetapi juga para preman berjubah-Islam itu. Dulu tahun 65 dan 66 merekalah yang paling banyak membunuhi kaum kiri. Dan kini tampaknya akan sama saja. Para aparat negarapun, para serdadu resmipun sudah tak berkutik menghadapinya. Mereka berdemonstrasi ke istana negara saja pakai golok-tajam mengkilat, dan dibiarkan serdadu pemerintah juga. Bayangkan kalau kita-kita juga nekad pulang yang mereka siap menghadang dan menantang. Jadi cobalah pikir-pikir lagilah! Rindu sih rindu, kangen sih kangen pada keluarga, kampunghalaman, tetapi semua itu kan harus pakai pikiran, penalaran bukan perasaan dan emosi", kata Mak Mariam teman dekat Mak Zainab yang juga termasuk orang yang mau pulang, tetapi tidak mau nekad seperti Mak Zainab.
Sebenarnya Mak Zainab tidak begitu suka akan politik, bahkan pernah dikatakannya dia benci akan politik. Tetapi dia sendiri pada akhirnya menyadari juga, bahwa semua gerak-gerik ulah manusia, termasuk perilaku yang dihadapinya sekarang ini, penuh warna politik. Pada akhirnya ke manapun, di manapun akan bertemu dengan warna politik. Dan terkadang dia lupa, sebenarnya dia sudah jauh masuk ke wilayah politik yang pernah dia benci itu. Lalu ada lagi cerita yang didengarnya dan bacaan yang dilihatnya, adalah benar apa yang dikatakan Mak Mariam dan teman-teman lainnya. Bahwa banyak sekali orang-orang mencari jalan agar bisa keluar dari Indonesia. Sebagai apa saja, sebagai TKI dan TKW, jadi buruh-harian, buruh-lepasan, pengasuh-bayi. Bahkan tidak sedikit mau saja diperisteri secara kontrakan asal saja bisa ke luarnegeri. Bukannya tak didengar dan tak diketahuinya, tidak sedikit yang terjadi, perkosaan, bahkan sampai pembunuhan, dijatuhi hukum-rajam dan hukum-gantung, karena akibat perlakuan para majikan dan penguasa setempat, atau karena antara para pencari-kerja itu. Dan tokh tak berkurang yang tetap berusaha keras mencari jalan ke luar dari Indonesia.
Mengapa semua ini terjadi? Karena di tanahairnya sendiri samasekali tak ada jaminan-kerja, tak ada jaminan-kehidupan. Tak ada keadilan bagi rakyat kecil, tak ada tempat mengadukan nasib. Semua serba tak pasti, yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Orang bisa saja menjadi korban, korban kerusuhan, korban pemerasan, korban konyol yang tak jelas apanya dan bagaimananya. Juga di dengarnya, banyak yang mencari jalan keluar Indonesia, ke berbagai negeri. Ada yang sampai ke Australia, Eropa dan Amerika, bahkan ke mana saja asal keluar Indonesia. Banyak kampung-baru di Perth, Australia, di Melbourne, Sidney dan lain-lainnya. Memang banyak juga orang-orang kaya yang melarikan modalnya, tetapi juga lebih banyak lagi orang miskin yang mencari kehidupan di tempat baru yang masih ada sela-sela demokrasinya.
Yang mau mencari jalan keluar Indonesia buat hidup di tanah-rantau itu bukan saja berasal dari kesulitan hidup perekonomian, kaum migrant, tetapi juga karena politik. Sebab politik di Indonesia terlalu buruk untuk menjadi tempat kediaman yang aman, terlalu kacau. Korupsi dan kolusi yang terbesar di dunia ini, atau di Asia ini adalah di Indonesia, juga termasuk pelecehan Hak-hak Azasi Manusianya. Semua ini serba sedikit diketahui juga oleh Mak Zainab dan Pak Amir. Lalu jadinya bagaimana? Sangat rindu dan sangat kangen mau pulang, mau tinggal dan mau mati di Indonesia. Tapi kalau keadaan dan situasinya masih begini apa mungkin bisa pulang sekarang? Tadinya keluarga Mak Zainab merasa sangat gembira, sebab mereka tahu, oleh presiden RI sendiri ditugaskan seorang menteri datang ke Eropa, tepatnya ke Belanda ini, buat katakanlah menjelaskan bahkan "membujuk" agar para perantau-abadi yang sudah puluhan tahun ini, bersedia dan mau pulang. Dan menteri itu tadinya nampaknya bersemangat baik, terbuka bahkan bisa-bisa dikagumi orang-orang tertentu di kalangan teman-temannya sendiri. Tetapi nyatanya seperti peribahasa, belum kering liur di lidah dan bibir, dia sudah berubah langkah. Dialah yang paling anti pencabutan ketetapan dan peraturan orba yang sangat mengekang kehidupan orang-orang kiri itu. Dan tampaklah wajah yang sebenarnya pada diri sang menteri yang termuda itu.
Oleh banyak bertanya kepada teman-temannya dan membaca sendiri berita-berita dari tanahair dan kampunghalamannya, keluarga Zainab lama-lama mengerti juga serba sedikit. Dalam hatinya tergores-jelas, politik yang dulu kubenci pada akhirnya aku mau tak mau masuk juga ke dalamnya. Dan apakah soal bisa tidaknya ketetapan nomor 25 dan peraturan nomor 32 itu dicabut, juga adalah semata-mata soal politik. Termasuk mengapa sekarang ini lebih baik atau terpaksa harus ditunda kepulangan yang sudah bertahun-tahun dirancangkan itu. Semua ini bukankah karena jiwa dan warna politik? Tetapi lalu bagaimana dengan keuangan nantinya? Demikian pikir Mak Zainab, rumah sudah dijual, uang simpanan semakin sedikit, jarak pulang bertambah jauh. Kalau sudah mengingat dan menghadapi semua ini, sungguh tak terasa airmata tuanya pelan-pelan mengaliri pelupuk matanya dan turun ke pipinya yang sudah semakin mengkerut. Terkadang ada terdengar isakan hidungnya menahan tangisan sedih dengan pertanyaan yang tak pernah berjawab. Kapankah kami ini bisa pulang mendiami kampunghalaman sendiri dan berkubur di tanahair sendiri?,-
Paris 4 Juli 2000,-
Kejuaraan Sepakbola Perancis lengkap sudah. Mungkin sudah atau mendekati sempurna. Tahun 1998 Kesebelasan Perancis menjadi juara-dunia sepakbola sedunia setelah mengalahkan Brazzile. Tahun 2000 ini menjadi juara Se-Eropa setelah mengalahkan Italia. Ketegangan ketika itu betul-betul membikin deg-degan orang sedunia, sebab Italia sudah unggul satu nol dalam waktu yang lama. Tetapi satu dua menit lagi akan berakhir, angka dapat disamakan satu -satu. Pertandingan diperpanjang 15 menit, dan pada akhirnya goal bisa dicetak Perancis. Kiper yang memang hebat dari Italia itu, terpaksa juga mengakui bola masuk sangat indah, berseni tinggi. Maka lapangan pertandingan di Rotterdam itupun bagaikan hendak meledak karena kegembiraan penonton yang memang kebanyakan memihak Perancis.
Dan mulailah pesta gila-gilaan para pecandu bola. Jalanan sekitar Champ-Elysees yang dapat dianggap jantungnya keramaian dan kemewahan kota Paris, pada malam itu dari ujung ke ujung penuh manusia. Tugu Kemenangan Arc-de-Triomphe yang dapat dikatakan membelah kota Paris dengan simpang sejumlah Tigabelasnya, manusia menyemut. Ada yang mengatakan ratusan ribu manusia memenuhi sekitar Champ-Elysees itu, ada yang mengatakan bahkan jutaan manusia memenuhi jalan-jalan sekitar jantung-kota-Paris. Tetapi memang dapat dituliskan satu hal, kegembiraan, kebanggaan orang-orang Paris dan Perancis memang luarbiasa. Dua-tiga hari sampai satu minggu rasa kegembiraan dan kebanggaan itu terus menerus belum akan banyak menurun. Televisi berulang-ulang menayangkan bagaimana hebatnya kesebelasan nasionalnya, sehari bisa belasan kali pada penggambaran yang sama.
Dulu saya pernah tidak begitu suka akan semua yang begini ini. Rasanya ini kesebelasan Perancis bukan main sombongnya. Ada suatu periode saya selalu memihak pihak lain bila Perancis bertanding apa saja dengan pihak lain. Saya sebagai tercatat berwarganegara Perancis dulunya selalu memihak yang justru lawan dari Perancis. Mengapa? Saya tidak suka akan kesombongan Perancis. Terlalu besar rasa bangganya sebagai bangsa. Tetapi lama kelamaan, setelah saya pikir-pikir dengan rasa seobyektive mungkin, adalah wajar-wajar saja adanya dan timbulnya rasa bangga itu. Mungkin siapapun akan berlaku demikian, hanya kebetulan saja sekarang ini yang saya hadapi dan saya hidup di tengah-tengah masarakat Perancis.
Ada beberapa pemain olahragawan Perancis yang saya tadinya tidak suka, dan saya anggap bukan main sombongnya. Olahragawan itu ternyata memang ada segi sombongnya, tidak begitu disukai orang banyak di Perancis. Terutama olahragawan petenis. Tadinya saya sangat tidak suka akan Henri Laconte, pemain nasional Perancis yang angkuh, dari segi tingahlakunya maupun kata-katanya. Ternyata memang menurut banyak orang, jadi bukan hanya saya saja, orang ini tidak simpatik. Omongan dan tingkah lakunya selalu meninggi high-profile, dan kata-katanya selalu jauh lebih tinggi dari kenyataannya. Padahal dia sendiri belum pernah menjadi juara-dunia tenis, paling-paling juara Perancis saja. Juga Yanick Noah, saya anggap sombong. Tetapi ternyata Yanick Noah sebenarnya sangat ramah, dan selalu bergaul dan bermasarakat di kalangan bawah dan menengah. Dan dia lebih banyak berkomunikasi dengan para seniman dan artis. Beberapa kali dia menjadi non-playing-captain tim tenis Perancis. Karena dia dianggap bisa mewakili pemain-pemain Perancis, dan lagi orangnya banyak disukai para teman-teman tenisnya. Kini Noah malah lebih banyak aktive di kalangan artis-panggung, sebagai pencipta tarian dan lagu-lagu.
Pemain tenis yang juga tadinya saya tidak suka adalah Marie-Pierce. Orangnya sombong dan angkuh, serem dan angker. Tetapi ternyata lama-kelamaan kelakuannya ini berubah banyak. Dia lebih banyak senyum dan tertawa, dan banyak berkomunikasi dengan teman-teman pemain tenis lainnya termasuk dengan negara-negara lain. Ketika dia belum mengubah kelakuannya ini, banyak sekali omongan di luar, akh apa sih si Marie itu, dia kan orang Canada, bukan orang Perancis, dia kan paling-paling orang Perancisnya Canada! Begitulah para pemain dan olahragawan itu akan selalu dapat sorotan penonton dan publik. Tetapi akhir-akhir ini, Marie-Pierce memang betul-betul berubah, tidak serem lagi, tidak angker lagi, dan sudah banyak senyum, terbuka dan mudah didekati, sudah seperti Martini Hinggis saja adanya. Martini Hinggis adalah petenis yang paling banyak dapat pujian dan simpati. Hinggis selalu saja senyum, tertawa dan sangat simpatik, dan lepas dari semua itu, dia juga manis. Hinggis adalah petenis termuda menjadi juara dunia ketika mula dia muncul. Hinggis sebenarnya pukulannya tidak kuat dan biasa-biasa saja, tetapi dia punya taktik pukulan sering-sering tak terduga oleh lawannya.
Monica Seles petenis yang dalam satu periode cukup stabil. Monica Seles dan Steffie Graaf, dalah petenis yang sangat mahal senyum dan tertawa, apalagi Steffie Graaf, sangat sulit senyum dan tertawa. Tetapi semua ini bukannya mereka sombong, hanyalah memang sudah sifat tabiatnya begitu. Bukankah memang ada sejenis orang yang sangat sulit tersenyum dan tertawa? Tetapi samasekali tidak sombong, kalau didekati malah cukup ramah.
Ada seorang petenis yang sudah tak mucul lagi, sudah berpindah profesi menjadi pengusaha dan pemain-iklan, dialah Gabriele Sabatini, dari Argentina itu. Dia sudah punya perusahaan parfume yang namanya juga sama dengan dirinya. Sebenarnya dari segi body, perawakan badan, petenis yang terbaik perawakan badannya adalah Gabriele Sabatini dan Marie Pierce. Tinggi semampai, lincah, dan sangat mudah bergerak. Martina Hinggis dan apalagi Sanchez dari Spanyol itu, agak pendek sebagai petenis. Sabatini dan Marie Pierce sangat ideal perawakan-badannya sebagai petenis.
Sekarang ini, dan baru-baru ini melihat permainan Marie Pierce di Rolland Garros, penampilannya sangat simpatik dan penuh senyum serta sangat menyenangkan siapa saja yang menyaksikan pertandingannya. Dalam persepakbolaan, sebenarnya sangat sedikit yang berkategori seperti pemain tenis ini. Yang agak tidak simpatik hanyalah Eric Cantona, pemain Perancis yang temperamental dan sombong. Sehingga di kalangan orang Perancis dan teman-temannya sendiri Cantona tidak begitu "laku" dan hanya laku di Inggeris, sebagai pemain bayaran-kontrakan, dan itupun sudah mulai tidak dipakai lagi.
Dalam pertandingan baru-baru ini ketika Perancis melawan Belanda, di mana Perancis kalah satu angka, adalah sebagai strategi-taktik "peperangan". Tim Perancis tidak menurunkan pemain terunggulnya, Zidane, karena memang secara strategis-taktis, sebaiknya pertandingan kali ini dimenangkan Belanda. Kalau nanti Perancis pada akhirnya ketemu Belanda, dan lagi pertandingan itu diadakan di Belanda, maka Perancis akan lebih merasa berat, sebab melawan "tuanrumah" di "kandangnya sendiri", di mana akan begitu banyak suporter Belanda berpihak kepada bangsanya sendiri. Dan ternyata taktik ini benar sepenuhnya, pada akhirnya Perancis berhadapan melawan Italia, yang sama-sama "pendatang luar" sama-sama menjadi "orang ketiga" bertanding di kandang orang lain.
Satu hal harus saya catatkan lagi. Pemain Perancis ini, sejak dulu, selalu berwajah tenang, simpatik dan samasekali tidak sombong, sejak dari Platini, Alain Gires, Jean Pierre Papin, sampai Zidane ini. Zidane banyak bergaul dan mengasuh anak-anak muda dan angkatan baru, dia berusaha mendidik penerusnya. Dua kali perebutan juara dunia, Zidane selalu jadi motor utama, tahun 1998 dulu itu dan kini tahun 2000 ini. Zidane banyak sekali dipakai buat bintang iklan, ada yang bilang, dari segi keuangan, jangan-jangan Zidane ini lebih banyak panen uangnya dari hasil bintang iklan itu, daripada pemain sepakbolanya. Kerjasama tim Perancis selama tiga empat tahun ini memang harus diakui, sangat solid, sangat kompak, penuh rasa solidaritas atas sesamanya. Dua kiper Perancis itu, Lama dan Barthez, sangat baik kerjasamanya, dan juga hubungan dengan pemain lainnya. Mereka bagaikan saudara sekeluarga disamping sebagai teman seperjuangan. Coba lihat, kalau Zidane membawa bola, kalau tidak sure betul, bola itu tidak akan langsung ditendangnya, tetapi selalu saja dia mencari teman lainnya yang posisinya lebih strategis. Semua ini dilihat mata banyak orang. Dan karena itu pula Zidane sangat banyak mendapat simpati dan pujian orang-orang.
Satu hal lagi harus dilihat dan diakui secara obyektive, bahwa tingkat permainan tim Perancis memang beberapa tingkat atau katakanlah setingkat lebih baik dan lebih bermutu, berkelas lebih atas dari rata-rata kesebelasan lainnya. Sehingga atas kemenangannya itu akan terasa sangat wajar, dan sudah semestinya begitu. Jadi bukan faktor keberuntungan dan dewi-fortuna, tetapi memang mutunya lebih baik, kelasnya lebih tinggi.
Saya lihat dan saya perhatikan, sebenarnya para olahragawan itu pada dasarnya tidak sombong, tidak angker dan tidak serem. Tetapi yang sering-sering bikin mereka itu angker dan sombong malah media-massa, akibat sanjungan yang berlebihan, pujian yang kelewat batas, bahkan ada kultusnya, sehingga membikin watak pemain itu menjadi "naik ketingkat sombong". Jadi peranan pers, majalah dan suratkabar, sangat sering dan cukup banyak mengubah tingkahpolah mereka menjadi sombong. Dan yang sombong, angker, serta serem begini sebenarnya sangat minoritas. Lebih banyak ada rasa kebanggaan tertentu yang mungkin sedikit berlebihan. Kebanggaan yang berelebihan begini sering-sering membikin orang lain tidak suka. Apalagi kalau pihak yang dijagoinya kalah, dan yang menang itu pamer yang keterlaluan dihadapan orang kalah itu, maka cap sombong itu akan melekat-erat sulit terhapusnya,-
Paris 5 Juli 2000,-
Sejak tahun 1997 sampai sekarang ini, belum pernah saya tidak ke Belanda sampai tiga bulan. Artinya tidak pernah berada di Paris secara utuh selama tiga bulan. Pernah satu kali satu bulan ke Belanda, bahkan kalau memang perlu bisa dua kali sebulan, tergantung keperluan. Apa sih yang dikerjakan di Belanda itu, ada pertanyaan begini yang diajukan kepada saya.
Pertama, ada keperluan rapat atau pertemuan. Ada-ada saja rapat-rapat dan pertemuan. Kami punya YSBI, Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia. YSBI ini hampir setiap bulan ada rapat, dengan berbagai keperluan dan kebutuhan.
Kedua, ada keperluan belanja buat resto kami di Paris. Kami memerlukan berbagai bumbu, yang di Paris tidak ada. Dan hanya ada di Belanda. Kalau sampai tidak ada bumbu dan bahan-bahan keperluan resto itu, maka kami tidak bisa menjual bahan makanan tertentu.
Ketiga, ada keperluan kerinduan dan kekangenan, kepada anak-anak dan cucu-cucu dan juga kepada banyak teman. Teman-teman Indonesia, yang bisa saling kangenan dan kerinduan, bahkan agak sedikit ngelamun dan mimpi, kebanyakan ada di Belanda.
Tiga masalah inilah yang menyebabkan saya harus selalu ke Belanda setiap bulannya. Dan tiga perkara ini saling berkaitan. Yang mana nomor urutan pertamanya, tergantung pada yang melihat dan menyaksikannya, tapi ketiganya memang saling berkaitan. Ongkos tiket pergi pulangnya? Ditanggung sendiri, tak ada bantuan, tak ada dananya walaupun buat keperluan rapat penting sekalipun! Mana yayasan kami punya uang! Jadi darimana uangnya? Dari uang pensiun yang sangat kecil itu, dari kerja sambilan - gelap itu, dari sisa-sisa tabungan dulunya, yang pada suatu hari pasti akan ludas-das. Nah, bagaimana nantinya, bagaimana buat selanjutnya? Yang nanti soal nantilah, dipikirkan sekarang hanya akan memperbanyak persoalan yang tak pernah berkurang.
Naik keretanya selalu dengan Thalys, kereta-cepat. Beli tiket Thalys selalu harus dengan pesan-tempat, tidak bisa mendadak-sontak. Lama perjalanan sekitar 4 jam, Paris - Amsterdam. Dan ini keistimewaan Thalys, kalau terlambat dari jadwal, pihak Thalys akan membayar kerugian kepada kita! Saya pernah tiga empat kali terlambat keretanya, dan pihak kereta membayar denda. Tidak banyak, tapi lumayanlah, dari tiket seharga 700 francs, pernah menerima pembayaran sampai 140 francs, karena Thalys terlambat setengah jam dari jadwal kedatangan yang semestinya. Hebat kan! Kereta harus membayar kerugian kepada penumpang karena tibanya terlambat,- dulu sih mana ada!
Dan lagi ada kesukaan saya yang mungkin agak kekanak-kanakan. Saya sangat suka melihat mobil-mobil, sedan mewah dan yang jalannya cepat bagaimanapun, tetapi beberapa detik sudah jauh ditinggalkan kereta kami, Thalys ini. Mengapa? Karena kereta kami jalan melaju sampai 350 km satu jam, mana ada sedan secepat itu. Dan kalau kebetulan rel kereta agak berdekatan dengan jalan mobil, akan terlihat perlombaan yang sangat tak seimbang. Kereta bagaikan terbang, dan mobil-mobil dalam beberapa detik saja sudah jauh ketinggalan. Rasanya enak sekali dan bagus sekali pemandangan demikian. Dan saya sangat asik memperhatikannya.
Ketika dua atau tiga hari lagi saya akan pulang ke Paris, selalu saja ada tilpun dari Paris, resto kami. Biasanya tahulah saya, ini ada tugas lagi nih. Mbak Dini atau Mas Parto akan selalu berpesan macam-macam. "Jangan lupa ya Oom simon. Terasi cap-jempol, kalau dapat carilah terasi yang cap-jempol. Kalau sudah tak ada yang cap-jempol, ya apaboleh buat yang cap lain juga bolehlah. Lalu kencur-bubuknya, yang asli! Mbak Ros tak mau kalau tidak asli, tak mau kalau dicampur tepung beras, ingat itu, nanti nggak dipakai lagi kayak dulu itu, rugi restoran. Lalu kalau bisa kecap-manis, dan harus cap-bango dan yang botolnya plastik bukannya beling! Kalau benar-benar tak ada yang cap-bango, yang lainpun bolehlah daripada tak ada samasekali. Kecap ini buat keperluan kurawa, sebab Oom kan pakai kereta, jadi sulit membawanya. Berapa botol sajalah, asal ada. Lalu jangan lupa bawa kemiri, paling tidak satu dua kilo. O ya, lalu jangan lupa bawa tempe, nah, ini mungkin mau agak banyak, sebab banyak yang pesan sih. Tapi seberapa sajal asal Oom masih kuat bawanya",- demikian pesannya. Dan pesanan itu biasanya berentetan, harus dicatat sebab bisa lupa karena banyaknya dan jenisnya serta bungkusan maupun capnya.
Dan tidak aneh barangkali, yang namanya perempuan itu ada-ada saja maunya dan kurangnya. Ini termasuk anak-anak saya, isteri saya, yang almarhum dulu itu, dan juga ibu saya dulu juga begitu. Jadi, mengertilah kalau maunya itu harus sangat persis. Sudah kecap yang harus cap-bango, botolnyapun harus plastik pula, kan dirikita harus dua kali lihat, dua kali kerja. Yang namanya tempe itu, bukan main dikalangan kurawa menggemarinya, termasuk saya sendiri. Ada cemoohan kalau tak bawa tempe dari Belanda, " percuma lama di Belanda, tempe saja lupa bawa!". Kurawa adalah gelaran kami para pekerja dan pegawai resto, artinya orang-dalam, orang-sendiri. Mungkin ini nama wayang, tak tahulah saya.
Dan biasanya kalau kebetulan Bregas menantu saya itu ke Paris dengan mobil, maka bawaan akan cukup banyak. Selalu ada pindakaas, kacang-giling buat bahan saos gado-gado dan sate, kecap-manis sampai 5 drum, satu drumnya 10 liter. Bumbu kacang-giling itu sampai 7 kaleng, yang satu kalengnya 5 kg. Dan berbagai titipan lainnya, seperti kemiri, kencur, tempe, dan lain-lain yang tak kurang beratnya 100 sampai 200 kg. Tetapi kalau saya sendirian dengan Thalys, maka paling banyak beban itu 20 kg saja, belum lagi barang-barang saya yang lainnya, diluar titipan.
Barang seberat 20 kilo, sebenarnya tidaklah berat sangat. Tetapi kalau membawa-nya itu jauh jaraknya dan lama, maka akan terasa makin lama makin berat. Kami di resto saling suka gurau kalau disuruh atau harus mengangkat beras yang beratnya 25 kilo dari lantai bawah ke lantai dasar. "Berat sekali ya, habis barang mati sih, nggak bergerak. Coba kalau yang lain, seberat 50 kilo saja rasanya enak-enak saja mengangkatnya", sambil cekikikan mengucapkannya ini. Biasanya kalau didengar wanita yang bekerja di dapur, mereka pura-pura diam saja. Tetapi kalau dilirik sedikit saja, ternyata mereka juga senyum-senyum senang.
Dan begitulah kalau saya pulang dari Belanda, dua tangan dan dua bahu ini penuh bergerintulan segala macam sangkutan, ransel, tas, bungkusan dan bawaan lainnya. Rasanya bukan main berat dan tersiksanya. Dan saya langsung ke resto dari stasiun Gare du Nord menuju resto kami, yang cukup praktis karena bisa langsung tak jauh dari stasiun. Sesampainya di resto nafas sudah kembang-kempis, dan tenaga sudah mau habis. Tetapi begitu sampai kontan ditanya, dan yang ditanya duluan adalah : "Ada tempe sama kecap-cap bango nggak?". "Ada dong, siapa dulu yang nyariin!". Lalu saling pada senyum, karena berhasil apa yang dipesan. Sedangkan si pembawanya juga merasa senang karena tidak diperenguti orang.
Semua pesanan ini samasekali tak ada di Paris. Kami terpaksa titip dan pesan secara begini, sedikit-sedikit, dan berulang-ulang, tak bisa lain. Dan dengan cara begini, sudah kami lakukan belasan tahun lamanya, sejak resto berdiri pada tahun 1982. Maka akan terasa lengkaplah salinghubungan ke tiga perkara di atas tadi. Kalau memang ada undangan rapat ke Belanda, artinya bisa bertemu anak-cucu dan bisa belanja buat resto, dan sekaligus kangenan sama beberapa teman. Bisa lagi melihat dan menikmati pemandangan perlombaan tak seimbang antara kecepatan sedan dan Thalys yang bagaikan terbang melewati banyak benda-benda seperti pepohonan, gedung-gedung dan perkampungan.
Karena kebiasaan begini, sudah tiga tahun lebih, lalu bila sudah satu bulan lebih ada di Paris, belum juga ke Belanda, maka terasa, kapan ya berangkat ke Belanda. Ada teman-teman mengusulkan "mbok pindahlah ke Belanda, daripada mondar-mandir menghabiskan uang tak keruan. Tokh aktivitasnya banyakan di Holland ini. Lagipula semua anak-cucu kan sudah pindah semua ke Holland",- Ada benarnya kata-kata dan usul baik ini. Tapi rasanya saya belum mau sekarang ini. Nantilah kapan-kapan, itulah jawaban saya bila ditanya,-
Paris 6 Juli 2000,-
Bekerja di restoran, apalagi langsung melayani tamu, adalah mutlak harus ramah-tamah, mudah senyum, pandai bicara, baik, komunikatif, dan sedabrek peraturan lainnya. Kalau tidak begitu, alamat tidak bakalan laku itu restonya. Belum lagi masalah bagaimana rasa makanannya, dan ini kunci dari suksesnya sebuah resto. Untuk melihat sebuah resto enak apa tidak makanannya, dapat dilihat banyak apa tidak pelanggannya yang datang. Orang berduyun-duyun datang mau makan ke sebuah resto, itu menandakan rasa makanannya enak, lezat. Jadi antara enak makanannya, dan baik pelayanannya, enak suasananya, maka mendekati sempurnalah resto itu. Nah, bagaimanakah kalau aku menilai resto kami ini? Artinya aku menilai resto sendiri, kepunyaan sendiri dan yang kami dirikan sendiri hampir duapuluh tahun yang lalu itu?
Sangat sulit, dan sejujur mungkinpun, tetap saja akan ada kekurangannya. Karenanya akan lebih baik tak usah kunilai sendiri, lebih baiklah dia bicara sendiri, menyatakan dirinya sendiri. Yang kumaksud dia itu adalah resto itu sendiri. Kalau sekiranya diadakan semacam perlombaan, siapa yang paling baik pelayanannya ketika melayani tamu, paling ramah dan paling banyak senyum dan paling menyenangkan tamu, maka kalaupun aku ikut pada perlombaan itu, tak ragu-ragu kukatakan, akulah dapat nomor yang paling belakang, alias kalah telak! Dan yang akan menang kukira tentulah Mas Benno, Pak Ramu, Mas Tejo. Mereka itu sangat baik, sangat ramah bila dibandingkan denganku. Untuk menghibur diri, dan untuk sekedar pemaafan diri, kukatakan, ya, kan orang lain-lain. Aku salah seorang pendirinya, tapi begitu resto berdiri harus ada yang sangat pandai buat melayani para tamu, aku kan hanya mencari, membuka, mengusahakan, kalau sudah ada ya kalianlah yang melanjutkannya! Ini hanya sekedar apologetic semata, alasan buat ada-ada saja sebagai pemaafan.
Kalau ada tamu yang "agak cerewet" dan si simon sudah bermuka agak asam dan bersegi empat, maka hal itu biasa! Tetapi kalau sampai Mas Benno atau Mas Tejo atau Pak Ramu, sudah terdengar menggerundel, sedikit saja sudah berhenti senyumnya, maka lihatlah siapa tamu itu. Lebih baik jangan sampai diserahkan kepada si simom melayaninya, rusak nanti nafsu makannya! Artinya tamu itu sudah betul-betul tidak begitu menyenangkan, dalam kamus si simon, sudah kelewatan cerewetnya!
Suatu kali datang tamu yang menginap di sebelah hotel resto kami, hotel Amassadeur. Dia mau menanyakan apakah ada masakan ikan yang dia lupa namanya. Lalu dia datang kepadaku, apakah ada masakan ikan yang........yang.........dia lupa namanya. Lalu dia minta kepadaku, yang ada jenis ikan bagaimana, coba tolong gambarkan, lukiskan kepada saya, katanya. Aku tidak bisa menggambar ikan atau gambar apa saja secara baik. Dulu angka raporku di sekolah merah, jarang tidak merah. Menggambar kuda memper anjing, menggambar kucing memper harimau, begitu kata Pak Jito guru gambar kami ketika kami bersekolah di Taman Madya Kemayoran. Nah, bagaimana aku bisa! "Begini saja Tuan, maunya ikan yang bagaimana? Tolonglah Tuan gambarkan, mungkin Tuan jauh lebih pandai dari saya dalam menggambar. "Okey, okey, tolong kertas dan pensil", katanya. Dan dia mulai menggambar. Ternyata kukenali nama ikan itu, karena dia pandai melukiskannya. Ikan itu serem, banyak giginya ketika menganga, dan dahsyat sekali. Tetapi mana ada masakan ikan yang begitu di resto kami. Siapa tahu di resto lainpun dia tidak akan menemukan ikan itu. "Tuan, ini namanya ikan hiu dalam bahasa kaminya, bahasa Inggerisnya shark, bahasa Perancisnya requin. Tentu saja kami tak punya masakan ikan hiu", kataku. "Ya, ya, betul, shark, saya lupa nama itu", katanya. "Apa tuan tahu kira-kira di mana ada masakan ikan shark itu? Di restoran mana yang bisa didapatkan masakan shark?", katanya mau tahu. "Saya tidak tahu Tuan, dan lagi saya tak pernah dengar ada resto yang punya masakan ikan shark itu", kataku.
Dalam pada itu para tamu lainnya semakin banyak yang datang. Dan aku hanya sendirian di depan, merangkap di bar. Kalau siang, memang begitu, paling banyak kami pasang tiga orang. Satu di dapur, satu mondar-mandir antara sal dan dapur, dan satu lagi di bar merangkap di sal. Kalau tamu-tamu di bawah duapuluh orang, masih cukup enak meladeninya. Tetapi kalau di atas duapuluh orang, sudah mirip akting Charlie Chaplin. Dan kalau sudah di atas tigapuluh orang, wah, Charlie Chaplinnya-pun sudah kehilangan aktingnya!
Dan paling kasihan kepada para tamunya, sebab banyak terbengkalainya. Apalagi service siang, mereka mau cepat, karena jam-kerjanya hanya istirahat satu dua jam saja dari kantor dan toko serta perusahaannya. Sal bawah sengaja tak kami buka, sebab tak ada tenaganya, lagipula resto ini kami pusatkan sebagai resto malam, dan yang paling pokok itu malam hari.
Lalu tamu hotel di sebelah kami itu, lagi-lagi bertanya. "Apakah resto ini halal, tak ada masakan babinya?",- "Ya, halal, kami semua muslim, Islam semua", kataku. "Muslim yang juga sholat?", katanya lagi. "Saya sih tidak, kan masih termasuk musafir, mungkin boleh di kadho-kan", kataku. "Lalu apakah masakan ayamnya, sapinya, kambingnya adalah dari toko-daging yang muslim? Seperti toko orang Turki, atau orang Arab lainnya? Dan bagaimana cara potongnya? Sebab kalau Islam, seharusnya dipotong cara Islam, dan itu biasanya dari toko yang juga dari Muslim. Apakah resto tuan juga begitu?", katanya lagi. Dan barangkali wajahku yang memang tidak bagus alias jelek ini, sudah mulai bertambah buruk! "Ya, kami pesan dari perusahaan daging biasa saja, bukannya dari toko Arab atau Turki", kataku. Dan aku semakin gelisah, sebab para tamu lain juga sudah banyak yang menungguku buat pesan makanan, sedangkan teman lainnya sangat sibuk mondar-mandir antara sal dan dapur. Banyak sekali pekerjaan. Sedangkan tuan yang satu ini masih sibuk bersoal jawab tentang pemotongan ayam, sapi dan kambing apakah cara Islam atau lainnya.
Rupanya tuan ini dari Timur Tengah, tak usah kusebut nama negaranya, tak ada gunanya. Dan ketika para tamu sedang ramainya, aku minta maaf kepadanya, agar aku diizinkan melayani para tamu lainnya, sebab mereka sudah lama menunggu. Dan memang benar dilihatnya sendiri bahwa para tamu lainnya terhalang karena menunggu dia bersoal-jawab tentang makanan, pemotongan cara Islam atau tidaknya dan soal ikan hiu-cucut itu! Pada akhirnya dia hanya pesan nasi putih dengan saus kacang-tanah sebagai kuah sate dan gado-gado, lalu gado-gadonya. Dan itupun harus diantarkan ke sebelah, hotel penginapannya.
Begitu dia pamitan dengan pesanan itu, bagaikan orang terlepas dari himpitan sesak nafas yang sangat, aku mengurut dada, boleh bernafas panjang agak lama. Dan aku harus segera lagi sibuk dengan para tamu lainnya. Untungnya para tamu kami ini sebagian besar bahkan boleh dikatakan semuanya baik-baik, ramah-ramah dan pandai menimbang-rasa. Bahkan seorang pelanggan setia kami, yang bekerja di toko buku dekat resto kami itu, berkata "Ada soal rupanya, kok lama sekali diskusinya",- "Ya, selalu ada-ada saja, untungnya yang ada-ada saja itu sangat jarang. Kalau sering-sering aku pindah kerja di tokobukumu saja", kataku. "Eh, siapa bilang di tokobuku tak ada pembeli yang cerewet! Sama saja, hanya kadar dan nilai kecerewetannya lain-lain",- kata Serge nama teman setia kami itu.
Rupanya orang yang bekerja di service-public, selalu saja akan menemui ragam-macam orang yang bertipe begini. Akh, kalau tidak begitu dunia takkan ramai. Siapa tahu ada perlunya orang begini, agar ada tempat latihan-jiwa, latihan-sabar, latihan-syaraf. Jangan hanya mau berlayar di lautan-tenang saja, di mana tak ada ombak-besar dan angin-topan. Sekali-sekali kenalilah ombak-besar dan angin-topan, asal saja tidak sampai menenggelamkan kapal, demikian kataku dalam hati. Ya, sekali-sekali sih baik, tetapi kalau sering-sering, lalu bagaimana, kataku pula berdialog dengan diri sendiri,-
Paris 8 Juli 2000,-
Karena aku bekerja di resto tidak setiap hari, hanya dua kali satu minggu, dan lagipula terkadang sampai satu bulan tidak kerja, sebab ada di Belanda, maka banyak hal-hal yang aku tidak tahu. Ketinggalan keadaan. Misalnya kini ada peraturan baru, dulu setiap orang yang begitu duduk, sudah tersedia sendok, garpu, pisau, dan gelas anggur. Kini ada yang baru, sendok tidak dipasang lagi, karena memang sangat jarang digunakan. Orang Perancis tidak pernah makan menggunakan sendok, kecuali menghirup sup. Mereka makan selalu pakai pisau dan garpu, tanpa sendok. Karena itu kalau ada pelanggan kami minta sendok, walaupun tak ada supnya, maka kebanyakan pelanggan itu bukanlah orang Perancis.
Kecuali seseorang dapat bagian sup atau memang memesan sup, maka barulah sendok disiapkan. Dan inipun aku sering-sering lupa dengan peraturan baru ini. Ketika ada pelanggan memesan sup, tetapi aku tidak menyiapkan sendoknya. Dia lama menunggu, lalu mengangkat tangannya memanggilku, minta sendok. Dan aku minta maaf karena lupa. Pelanggan kami kebanyakannya memang baik-baik, ramah-tamah, maka dia berkata, tak apa, kan bisa saja lupa, tidak begitu soal kok, demikian katanya.
Ada seorang pelanggan wanita, hanya datang seorang saja. Begitu datang sudah asyik membaca koran, lalu membuka-buka majalah dan buku-buku. Buku daftar makanan samasekali tak digubrisnya. Ketika kukatakan kepada seorang teman di dapur, maka teman dapur mengintip ke luar, lalu segera tahu,- "Akh, kan dia langganan setia kita. Itu kan si Blandine, tuh pacarnya Mas Benno tu sih", kata teman itu. " Segera Oom tanya mau apanya. Biasanya sih sup atau urap, nasinya goreng, coba deh tanya!". Betul saja, walaupun tidak membuka daftar makanan, tapi dia siap menyebutkan apa maunya. Kalau begitu memang dia langganan setia, tahu sudah apa yang mau dipesan. Inilah gara-garaku sangat jarang kerja-pagi dan tidak pula setiap hari.
Blandine minta gado-gado malah. Tapi nasinya tetap nasi-goreng service siang, yang lebih sederhana daripa yang malam. Lalu kusajikan gado-gado. "Seperti biasa, minta sausnya yang banyakan", demikian katanya.
Lalu aku ke dapur, dan teman dapur sudah tahu. "Memang begitu Blandine sih! Coba ntar, ada lagi deh yang dimintanya", kata teman dapur. Dan masih tetap betul teman dapur. "Coba minta kerupuk, yang agak kuningan, yang warna putih-tua. Jangan yang putih betul ya, yang agak hangus, tapi jangan hangus betulan",- Begitu kuletakkan yang dimintanya, lalu dia minta air-kendi. Lalu minta batu-esnya.
Ketika kusajikan nasi-gorengnya, dia lagi-lagi minta "Coba tambah acarnya lagi. Saya minta yang banyak timunnya, jangan yang ada wortelnya",- Dan mondar-mandir ke dapur meladeni Blandine ini, sama banyaknya seperti meladeni dua meja buat delapan orang!
Lalu giliran minta desertnya, dia minta kolak pisang. Lalu kusajikan lagi. "Akh, tambah santannya yang agak kentalan. Bersamaan dengan itu minta kopi, sekaligus saja", katanya. Sebab biasanya kopi yang terakhir sesudah selesai makan dessert.
Dan ketika kutanyakan kepada teman lain, berapa biasanya harga makanan yang begitu sering bolak-balik minta ini itu. Teman lain mengatakan sama dengan harga biasa nasi-goreng siang. Jadi tak ada tambahan lainnya. Jadi tidak bayar itu semua tambahan kerupuk, acar, dan lain-lainnya itu. Heran juga aku, tapi karena katanya sudah memang begitu kalau si Blandine, maka okey-okey sajalah.
Lama-lama barulah aku menjadi mengerti juga. Blandine ini hampir setiap siang makan di resto kami. Dan terkadang membawa teman-temannya. Artinya dia membawa pelanggan baru bagi kami. Dan bertambah mengetilah aku, ketika aku sudah siap mondar-mandir lagi mengambil segala macam permintaannya, yang ketika itu dia bersama tiga temannya lagi,- dan ternyata dia tidak minta apa-apa!
Kukatakan kepada teman dapur, mengapa kok sekali ini Blandine jadi alim dan baik hati, biasanya ada saja yang dia minta dan yah agak cerewetlah! Teman dapur mengatakan padaku :
"O, Oom belum tahu ya. Blandine itu kalau dengan teman-temanya justru tidak banyak cingcong, tidak akan dia minta macam-macam seperti dia sendirian seperti biasanya. Kayaknya dia tahu ya, bagaimana mesti banyak macam, ketika suasana yang bagaimana. Sepertinya sih, kalau dia hanya sendirian, dia akan selalu macam-macam dan minta banyak tambahan ini itu", kata teman dapur menambah pengetahuan baru bagiku. Pada akhirnya akupun setuju, okeylah kalau begitu, tokh dia selalu membawa teman-temannya, pelanggan baru bagi kita.
Dan sejak itulah baik Blandine maupun aku, sudah saling tahu, saling mengerti. Berapa sih ruginya kalau hanya kerupuk beberapa biji, dan santan dua tiga sendok, dan kopi secangkir kecil, dan saus gado-gado dua tiga sendok makan! Tokh dia sudah mendatangkan pelanggan baru bagi resto! Dan sejak itulah baik dia maupun aku sudah saling memahami tanpa bicara, tanpa penjelasan.
Tapi pada akhirnya ketika aku dengan inisiatif sendiri membawakan apa-apa saja yang biasanya selalu dimintanya, dia dengan senyum yang sangat jarang, berkata : "Sekarang sudah biasa ya dengan kebiasaan saya", katanya. "Yah, karena sudah menjadi terbiasa", kataku. Dan dia maupun aku saling tertawa senyum saling mengerti. Sampai kini Blandine sudah selama hampir setengah tahun ini menjadi pelanggan kami yang setia, hampir setiap siang makan di resto kami.
Ada lagi seorang nyonya setengah tua. Resto kami selalu didatangi pelanggan yang lebih 80 persen adalah wanita. Nyonya setengah tua ini sendirian. Dia agak lama membuka dan membalik-balik daftar menu makanan. Akhirnya dengan tangannya dia melambai agar aku mendekatinya. "Saya mau makan yang tidak ada garamnya. Saya diet garam", katanya. Aku berpikir lama. Tak ada masakan kami yang tak pakai garam. Kalau secara sengaja harus membuatkan masakan yang samasekali tak pakai garam, belum pernah terjadi dan belum ada kasusnya. "Kami sangat menyesal Nyonya, tak ada masakan kami yang tak pakai garam. Kecuali ada sayuran gado-gado yang belum dibumbui, dan telur rebus saja", kataku. "Ya tapi saya bukan seorang vegetarian. Saya hanya diet garam saja bukannya samasekali tak makan daging. Dan bukan pula harus makan sayuran saja", katanya dengan agak keras.
Dan aku ke dapur melaporkan keadaan pelanggan baru ini. Dan semua teman dapur sependapat, semua masakan sudah jadi, dan itupun semua biasa, bergaram. Bahkan sayuran buat gado-gado saja direbus sedikit pakai garam, tak ada yang bersih garam! Katakan pada pelanggan itu dan benar-benar minta maaf, kita tidak bisa menyediakan makanan yang berdiet garam itu. Tetapi pendapatnya akan kita perhatikan sungguh-sungguh. Karena malam itu malam week-end, sangat banyak tamu dan sangat sibuk, maka benar-benar kita minta maaf tak dapat memenuhi kehendaknya. Demikian kata teman-teman dapur. Dan aku menyampaikan permintaan maaf kami atas nama semua pegawai dan pekerja resto. Tetapi nyatanya nyonya setengah tua itu, tetap saja mau pesan makanan. Dan yang dipesannya itu adalah rijsttafel termahal, terlengkap, terbanyak, bernama Pertiwi. Satu set lengkap seharga 149 francs. Kukatakan apa saja isinya, dan jenisnya, baik daging maupun ikannya, dan nasi pilihannya, putih biasa, kuning atau goreng. Dan lalu dessertnya boleh pilih apa saja, dan termasuk secangkir kopi.
Cukup banyak. Aku meragukan seorang wanita setengah tua berbadan kurus pula akan dapat menghabiskan begitu banyak jenis makanan. Lagipula semua makanan ini adalah makanan normal buat orang yang normal, bukannya yang berdiet garam.
Setelah kukatakan dan kujelaskan, tetapi masih juga dia berkeras mau pilih Pertiwi, nama rijsttafel itu, maka kami menyiapkan semua peralatannya, termasuk dua buah perangkat penghangat-lilin. Nyonya itu makan dengan tenang dan asyik, satu persatu, menikmatinya. Lambat tapi tetap mantap, terus walaupun pelan. Dan satu demi satu piring menjadi kosong melompong. Ada yang bagaikan tak berbekas karena licin dan bersihnya. Akhirnya tujuh piring kecil-kecil itu kosong tak bersisa, licin. Biasanya kata kami, terutama teman dapur selalu mengatakan : "Akh, ini sih tak perlu dicuci lagi! Sudah licin dan bersih begini kok"!
Nah, pada akhirnya, nyonya yang dengan keras mengatakan berdiet garam tadi telah menghabiskan seperangkat lengkap menu Pertiwi! Ini luarbiasa, luarbiasa. Bagaimana kok bisa yang tadinya berkeras tak mau garam, lalu menghabiskan begitu lengkap menu besar itu, wanita pula, dan tidak gemuk lagi, bahkan agak kurus! Lalu bisakah kalau kita katakan, jangan lekas percaya pada omongan saja, tapi lihat kenyataannya. Atau jangan lekas percaya pada pandangan pertama, sebab kenyataan akhirnya yang akan selalu memberi keputusan. Entahlah! Banyak yang dikerjakan, banyak yang dialami dan ditempuh, semakin banyak yang bisa dilihat dan diketahui. Yang tadinya kita tidak tahu lalu menjadi tahu, yang tadinya kita tidak sangka, tahu-tahu adalah benar kenyataannya begitu. Begitulah kehidupan,-
Paris 8 Juli 2000,-
Ketika aku di Holland, kami banyak omong-omong tentang pulang, tentang situasi kampunghalaman, dan tentang yang bersangkutan dengan nasib kehidupan orang-orang yang sejenis kami. Apa pula itu perkaranya! Ya, yang terhalang pulang, yang masih ada halangan pulang, terutama masalah TAP dan PP-nya.
Ada kabar yang kiranya cukup baik. Pemerintah Belanda dengan aparatnya Kementerian Dalam Negeri dan Imigrasi, mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh Indonesia. Dalam pertemuan itu ada sejumlah ketetapan, bahwa kaum yang menjadi pengungsi politik maupun yang pernah berstatus demikian, diperkenankan pulang ke tanahairnya dengan tetap dapat tunjangan keuangan. Juga yang sudah berstatus pensiun, bisa menerima uang pensiun di kampunghalamannya sendiri. Tentu saja tunjangan yang bersifat lokal, tidak bisa lagi dilanjutkan. Misalnya bantuan buat sewa apartemen, bantuan tunjangan libur-musim-panas, dan yang lainnya yang bersifat nasional ke-Belanda-an. Kukira hal itu betul dan wajar dan masukakal. Semua juga setuju buat dihentikan seandainya sudah bisa pulang.
Lalu timbul soal baru dari akibat semua itu. Ini kan baru dari pihak Belanda! Bagaimana di pihak Indonesia? Bukankah yang akan menerima orang-orang itu nanti adalah pemerintah RI? Dan ini yang dikatakan lalu timbul soal baru. Reaksi dalam-negeri sudah ada yang beringasan. Dari pemerintah RI sendiri tidak ada reaksi, tetapi ada reaksi baru dari beberapa pejabat, fungsionaris dan aparat perseorangan pemerintah. Yang menyatakan pada pokoknya keberatan, tidak setuju bahkan menentang. Semua ini sebenarnya sudah bisa diperkirakan. Paling tidak akan ada terasa kecemburuan sosial, ini baru satu soal, belum soal lainnya. Misalnya bagaimana hubungannya dengan TAP nomor 25 itu, lalu dengan PP nomor 32 itu. Sebab semua TAP dan PP itu belum dicabut, kok lalu berani-beraninya pulang?! Mau nantang nih! Enak aja pulang-pulang bawa uang, padahal kami di sini mau makan aja susahnya minta ampun! Ini pikiran kami dengan berbagai reaksi itu.
Karena kami ini hanya omong-omong, bertemu lalu saling cerita dan berkelakar, maka tak ada keputusan, wong namanya saja bukan rapat! Jadi adalah wajar ada reaksi balik! Lalu di pihak lain, apakah pemerintah Belanda ini benar-benar baik, berbaik-hati dan sangat memperhatikan hak-hak azas kemanusiaan, terutama kepada kaum yang "sangat diperhatikannya ini"? Juga belum tentu begitu persis! Bukannya tidak mungkin pemerintah Belanda juga sangat berkepentingan untuk mengurangi jumlah para pendatang, tamu asing, imigrant, refugie politik, dan sebagainya itu. Bagaimanapun, kedatangan dan keberadaan mereka itu, sedikit banyaknya mempengaruhi kedaan dalam-negerinya sendiri, kebijaksanaan perpolitikannya sendiri dan juga keadaan perekonomiannya sendiri. Pemerintah bukannya tidak mungkin, sebenarnya mereka inginnya memang orang-orang itu pulanglah ke negerinya masing-masing. Tetapi demi nama baik pemerintah, agar dapat dikatakan cukup bersih, cukup fair, maka janganlah sampai mengusir mereka.
Suruh pulang baik-baik, kalau perlu diongkosi, diberi bekal. Bahkan kejadian ini ada dan terbukti, cukup banyak kasusnya. Yang berbuat kriminal, dan politik dan bertentangan dengan pemerintah, agak gampang mengurusnya, tangkap, usir, kembalikan ke negerinya sendiri! Tetapi yang "pada alim ini", nah, ini suatu urusan yang menghendaki kebijaksanaan yang berganda. Harus hati-hati, bagaimana agar mereka itu samasekali tidak merasa bahwa keberadaannya sesungguhnya tidak disenangi dan dapat mengganggu kestabilan ekonomi-sosial dan politik pemerintah.
Apakah benar bahwa semua orang-orang pendatang atau yang sudah menjadi penetap itu selalu merusak, dan membikin busuk nama pemerintah? Juga tidak benar bahkan bisa sebagian besar tidak benar. Kalau semua mereka itu diboikot, dikembalikan, dipulangkan, mau ke mana dan mau apa itu pabrik mobil Renault, dan Peugeout di Perancis itu?! Juga yang di Belanda itu pasti akan ada pengaruh buruknya kalau semua para pendatang itu pada dikeluarkan. Dua pabrik raksasa mobil di Perancis itu, sebagian besar buruhnya adalah para pendatang, walaupun sudah hidup belasan dan puluhan tahun di Perancis. Juga yang di Belanda ini, banyak sekali tenaga orang-orang Turki, Marokko dan tenaga kasaran, buruh, pekerja-kasar lainnya.
Secara gurau ada teman mengatakan, yang mengantarkan kesebelasan-sepakbola Perancis menjadi juara se Eropa dan se Dunia dulu itu, adalah kakinya orang-orang pendatang. Dua goal dari Perancis yang menjadikan Perancis juara se Eropa itu adalah kakinya orang-hitam, pendatang dari Afrika. Siapa sih Zidan itu? Dia kan turunan Aljazair, juga bekas pendatang yang walaupun sudah lama puluhan tahun di Perancis. Begitu juga Belanda, siapa sih si Gullit itu, Rijkard dan lainnya itu?
Jadi memang banyak bukti, orang-orang pendatang itu tidak selamanya selalu bikin jelek dan bikin rusak pemerintah tertentu. Tetapi juga harus kita akui, keberadaan orang-asing dan para pendatang itu, bila jumlahnya sudah keterlaluan, sudah sulit dikontrol, maka pemerintah menemui kesulitan tertentu pula. Banyak yang harus diperhitungkan buat disesuaikan dengan jalannya roda pemerintahan. Dan tampaknya pemerintah Belanda dan Perancis agak keteteran juga karena begitu banyaknya pendatang, baik yang sudah lama maupun yang masih baru. Dan yang terus dan selalu berdatangan, baik secara resmi maupun dengan cara menyelundup, menyogok, menipu, akal-akalan, dan sebagainya dengan berbagai cara.
Masih ingat kan, ada trailer, truk-besar yang membawa sejumah orang dari Tiongkok, yang begitu mau menyeberangi selat Inggeris buat ke Dover, ketahuan sejumlah 60 orang yang segera akan diselundupkan ke Inggeris. Dan dari sejumlah 60 orang itu, sudah menjadi mayat sebanyak 58 orang, dua orang masih hidup. Apa ini semua? Buat mencari kehidupan di negeri asing, di rantau. Karena di dalam trailer itu, mereka tertutup rapat sekali, jadi mati-lemas. Mungkin kepanasan, mungkin juga kedinginan, sebab trailer itu biasanya membawa daging segar yang diawetkan.
Jadi memang ada dua soal yang bertentangan. Yang satu bagaimana caranya membuat mencari jalan ke luar dari negerinya masing-masing, mencari kehidupan dan mencari tempat-baru ke luarnegeri dan tanah rantau. Ini bisa disebabkan karena ekonomi, bisa disebabkan karena politik, banyak soal. Sedangkan yang lainnya, negara tertentu itu, juga mencari jalan, bagaimana sebaiknya mengurangi atau membatasi keberadaan orang-orang yang memang sudah lama menghuni negaranya. Dan juga bagaimana mengatasi dengan mengurangi, membatasi air-mengalir berupa manusia itu jangan sampai menjadi air-bah masuk dan hidup di negaranya. Dan kita, kira-kira di mana dan berada di tempat mana pada kelakar dan omong-omong kita ini tadi? Mungkin mereka dan keadaan serta situasi yang kita obrolkan itu benar, mungkin juga itu hanyalah perkiraan kita saja, siapa tahu ya!
Paris 9 Juli 2000,-
Tanjungpandan adalah ibukota kabupaten Belitung. Bangka Belitung dua buah pulau yang dulunya satu keresidenan di bawah sebuah provinsi Sumatera Selatan dengan ibukotanya Palembang. Namun demikian, walaupun sebuah kabupaten di Sumatera Selatan, kami penduduk Belitung merasa lebih dekat ke Jakarta apabila berhubungan pos maupun hal lainnya. Juga hubungan lainnya lebih mudah dan lebih lancar antara Tanjungpandan - Jakarta daripada Tanjungpandan - Palembang.
Tanjungpandan adalah kota kecil, sebenarnya kota pelabuhan. Tetapi kalau ada kapal besar yang singgah di Tanjungpandan, maka kapal itu tidak bisa merapat sampai boom, pelabuhan kotanya. Karena lautnya dangkal. Lalu pengangkutan dengan kapalmotor, dan tongkang atau motorboat biasa. Sedangkan kapalnya berlabuh jauh dari boom-nya Tanjungpandan. Tanjungpandan dan sekitarnya, apalagi dekat pantainya sangat indah. Di pinggir Tanjungpandan ada sebuah pantai yang berpasir-putih-bersih, namanya Tanjungpendam. Di depan Tanjungpendam ada sebuah pulau kecil, namanya Kelemua. Kata orang dulunya namanya Kalamoa, dari kata Kalah Semua. Karena dulunya banyak perompak, bajaklaut yang merampas isi perahu para nelayan dan pedagang. Tetapi dalam pertempuran dekat pulau kecil itu, para bajaklaut, perompak dan lanun itu semua dapat dikalahkan. Dan karena itu penduduk, nelayan, para pedagang-nelayan, selalu "mengajak" para bajaklaut dan perompak, lanun itu bertempur dan berkelahi dekat atau di pulau itu. Kata orang, sejak itulah nama pulau kecil itu menjadi Kalamoa, dan Kelemua.
Karena aku dilahirkan di pulau Belitung, dan bertempattinggal di Tanjungpandan, dengan kampungku yang namanya Pangkallalang, lalu Air Saga dan Tanjungpendam ini, maka wajarlah kalau aku mengenalnya cukup dekat. Pantai Tanjungpendam yang berpasirkan putih-bersih itu, bila airlautnya sedang pasang-naik, maka banyak sekali orang memandang dan menikmati pemandangan dipinggir-pinggir pantainya. Bagaikan ada pasarmalam, atau ada keramaian, mereka memandang kekejauhan, ke arah kapal-kapal yang jauh berlabuh. Lalu beberapa perahu nelayan yang berserakan di sepanjang dan sejauh mata memandang ke arah laut lepas. Sedangkan ombak berkilat-kilat ditimpa sinar matahari senja. Dan pepohonan kelapa meningkah indah hiasan dan gambaran hidup-alam. Ada yang tegak dengan untaian mayangnya yang penuh bergayutan buahnya, dan bunga-bunga barunya. Ada yang bagaikan menjulurkan lehernya, miring mengarah ke air laut, dan ada yang bagaikan orang berdiri yang keberatan pikulan.
Dulu pada tahun 30-an sampai 40-an, ada perangko zaman Belanda yang bergambarkan pemandangan Tanjungpandan dengan pulau Kelemua ini, harganya 5 sen dan 10 sen. Rumah-rumah sekitar Tanjungpendam itu sangat bagusnya, terpelihara, dengan rumput hijaunya yang selalu teratur, selalu dipangkas kalau sedikit saja sudah tak sedap dipandang. Pohon-beringin yang besar-besar memeluk bebatuan-besar yang bagaikan rumah, dengan akarnya merambat, dan janggut pohonnya berurai dari atas ke bawah. Sedangkan burung-burung di atasnya berpesta-pora memakani buah-buahan, dengan suaranya yang ramai dengan berbagai jenis burungnya.
Masih ingat aku, kalau sudah senja, aku bersepeda disepanjang pantai Tanjungpendam, menikmati pemandangan alam pantai yang sebentar lagi akan gelap membuka tabir malam. Dari agak kejauhan terdengar bunyi dentingan piano, dengan lagu-lagu yang sangat indahnya. Kukenali sebuah rumah yang bagus. Dari rumah inilah bunyi lagu dan nyanyian itu. Aku kenal pemainnya, yaitu guruku sendiri. Seorang wanita muda yang bernama Kurniati. Kurniati ini anaknya Guru Ilyas, seorang tokoh pemuka Belitung. Beliau dengan ayahku adalah pemuka tokoh Belitung yang bersama mendirikan perkumpulan Nurul Islam pada tahun 30-an. Nurul Islam lebih berorientasi kepada Muhammadiyah. Guru Ilyas ini adalah orang yang selalu berpedomankan Indonesia, cinta Indonesia. Semua anak-anaknya selalu dinamai dengan nama Indonesia "asli", tidak seperti kami yang lainnya, selalu saja dari kata Arab atau berbau Islam, termasuk namaku.
Anak guru Ilyas namanya selalu yang benar-benar istilah Indonesia. Seperti nama guruku itu Kurniati asal kata Kurnia Hati, kakaknya Mulyati, dari nama Mulya Hati, lalu nama adiknya yang satu kelas denganku namanya Jaya Bakti. Sayang Guru Ilyas meninggal masih cukup muda baru berumur menjelang 50-an, masih penuh energik, tetapi dia kalah dengan penyakitnya yang ketika itu sangat ditakuti di kampungku, tbc.
Kami semua selalu meninggalkan Belitung apabila mau melanjutkan sekolah. Karena tak ada sekolah sambungannya ketika itu di Belitung. Kalau sudah tamat SD, atau HIS ( Hollands Inlands School ), tak bisa lain harus keluar Belitung. Begitulah angkatan abangku yang tertua, bang Amat, menuju Batavia pada tahun 1936, karena melanjutkan sekolahnya. Dan aku meninggalkan Belitung pada tahun 1948, karena juga melanjutkan sekolah. Tetapi dalam pada itu kami selalu pulang berliburan menjelang bulan puasa dan lebaran. Dan Tanjungpandan, terasa ramai kalau para pelajar yang pada berpulangan masa liburan itu. Dari pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan Yogyakarta, dan dari Sumatera dari Palembang, serta dari Kalimantan, Pontianak dan Banjarmasin. Kebanyakan pelajarnya adalah dari Yogyakarta dan Jakarta serta Bandung dan Bogor.
Tahun 1952 - 1953 kami mendirikan perkumpulan pelajar daerah, namanya mula-mula IPB - Ikatan Pelajar Belitung, lalu berubah menjadi IKPB - Ikatan Keluarga dan Pelajar Belitung. Ketika musimliburan itulah kami merasakan bahwa ketika itulah benar-benar kami berada dalam dunia kami. Yaitu dunia pelajar dan mahasiswa. Tahun 1953, sudah ada yang melanjutkan di perguruan tinggi di Jawa dan Sumatera. Kami mengadakan pertunjukan sandiwara, nyanyian, tarian, dan berbagai bentuk kesenian. Kota Tanjungpandan tampak dan terasa sangat berseri, hidup, ramai, dan berwajah muda. Pertandingan sepakbola, dan berbagai pertandingan olahraga lainnya, seperti badminton, volley, lomba sepeda, lomba melukis dan lainnya, hampir setiap minggu. Ini semua karena turut sertanya pelajar dan mahasiswa yang pulang berlibur itu.
Jauh sebelum itu kami sudah mendengar ada Kepala Polisi Belitung yang berkedudukan di Tanjungpandan, orangnya sangat galak. Dia orang Aceh, namanya Abdullah Palloh, berpangkat Komisaris. Katanya banyak orang Belitung yang sangat tidak suka kepadanya, karena galaknya, karena kasarnya. Main bentak, main panggil datang ke kantor. Terkabar kepada kami, kepala-polisi ini adalah kepala-polisi Belitung yang tergalak selama ini. Dan setelah kami tanyakan ke mana-mana, orang-orang kenalan kami dan juga keluarga terdekat, memang Pak Palloh ini orangnya galak dan agak kasar. Tetapi sebenarnya tidak sebagaimana sangkaan orang banyak. Sebab galaknya dan kasarnya itu memang ada alasannya. Misalnya dia akan marah kalau orang-orang pada ngobrol di tengah pasar yang menghalangi badan-jalan, menghalangi lalulintas jalan-umum, dan pakai selimut ketika nonton di bioskop. Orang itu akan dibentaknya, bahkan disuruhnya datang ke kantor polisi. Dan apa artinya harus datang ke kantor polisi? Bagi penduduk Belitung, itu artinya punya kesalahan yang cukup besar. Padahal kenyataannya begitu sampai di kantor polisi, orang itu hanya dinasehati baik-baik, agar bersama-sama menjaga kebaikan umum. Agar kalau mau nonton filem, ya mbok jangan pakai selimut tidurlah! Mbok jangan ngobrol di tengah jalanlah, bukankah dapat mengganggu orang lain.
Kami sebagai pelajar dan mahasiswa muda, sangat tidak enak mendengar Pak Palloh berulah sedemikian. Ini pada mulanya. Kami "sudah siap" menghadapi Pak Palloh sebagai penguasa polisi setempat, seandainya dia ini akan menghalangi tujuan kami berlibur sambil memperkenalkan gerakan kami dengan pertunjukan sandiwara, nyanyian, tarian dan olahraga. Seandainya dia menentang kami, dan tidak menyetujui kami, maka akan kami lawan. Kami sudah satu dalam masalah ini, dari pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Belitung, yang bersebaran di Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
Tetapi diluar dugaan kami semua, juga sangat diluar dugaanku, ternyata Pak Palloh sangat baik, sangat mengerti gerakan pelajar, dan sangat membantu kami. Betul, dia memang keras, dan suara bicaranyapun juga keras, bisa membentak orang kalau memang orang itu sangat menjengkelkan umum. Ada kami dengar, bila Pak Palloh membentak orang, maksudnya membentak penduduk yang berkelakuan tidak semestinya, tidak patut dan tidak senonoh, katanya ada yang terkencing-kencing karena terkejut dan ketakutan!
Setelah bergaul, dan bahkan kami beberapa orang pimpinan IKPB, pernah diundangnya datang bertandang dan makan-malam di rumahnya, barulah kami tahu siapa sebenarnya Pak Palloh ini. Dia ingin sekali Belitung, terutama ibukota Tanjungpandan ini menjadi kota kebanggaan di Sumatera Selatan. Dia ingin teratur, ingin menegakkan disiplin bagi penduduknya. Ingin agar kotanya bersih, aman dan terjaga selalu. Setiap orang harus merasakan berkewajiban secara umum disamping juga merasakan memiliki secara umum juga. Tetapi mungkin ada kekurangannya, dia terlalu mau cepat, mau praktis, mau realis sesegera mungkin. Padahal penduduk yang sangat lama dan jauh tertinggal itu perlu mengalami proses dulu, melalui tahap-tahap pendidikan secara kemasarakatan.
Ada terpikir olehku setelah puluhan tahun sesudah itu. Apakah Pak Palloh ini adalah orangtuanya Surya Palloh yang punya Media Indonesia itu? Sebab kami kenal Pak Palloh ini pada tahun 1952 - 1953, di mana ketika itu akupun pernah melihat beberapa orang anaknya laki-laki sekira berumur 6 a 7 tahunan. Entahlah. Tapi harus kami akui, dengan kepala polisi Pak Palloh-lah gerakan pelajar kami mengalami sukses dengan semua pertunjukan dan semua izin, dan kelancaran selama liburan musim bulan puasa dan lebaran. Tanpa kerjasama yang baik antara gerakan pelajar dan kepala polisi ini, tidak mungkin akan mengalami sukses semua aktivitas yang kami adakan.
Dan Tanjungpandan ketika itu, masih bersih, teratur, aman dan damai. Masih ada keramahan, masih ada kehangatan persaudaraan dan kekeluargaan. Tetapi bagaimanakah kepulanganku setelah 40 tahunan baru kembali lagi ke Tanjungpandan, setelah "terhalang" selama 33 tahun belakangan ini? Tahun 1996 aku pulang ke Tanjungpandan, dan apakah yang kutemui dengannya? Ketika itu aku hanya dapat merasakan sedih dan sepinya, kosong dan hampanya,-
Paris 10 Juli 2000,-
Kini aku sendirian di hotel Melati. Laura, cucuku dibawa keluarganya dengan bermotor keliling Tanjungpandan, dan tempat-tempat pertunjukan kesenian. Mau ke mana aku? Belum ada tujuan tertentu. Tak ada seorangpun teman dan keluarga mendatangiku. Begitu kami datang ke Tanjungpandan, kota kelahiranku, kampunghalamanku, tempat seketurunanku, tak seorangpun yang berani dan rela menawariku buat menumpang menginap. Itulah sebabnya kami berdua cucuku Laura yang ketika itu berumur 10 tahun, memutuskan kita menginap di hotel saja. Pulang ke kampunghalaman, tetapi menginapnya di hotel, karena tak seorangpun berani dan mau menawari tempat bermalam. Rasanya menerima keadaan ini bukan main terasa sangat malunya, terhina dan terasa tersisihkan.
Dulu ketika tahun-tahun 1952 berturut-turut sampai tahun 1954, ketika kami para pelajar dan mahasiswa pulang berlibur bulan puasa dan lebaran, kota Tanjungpandan ini menjadi begitu hidup, ramai dan bersinar yang memancarkan suasana kekeluargaan, persaudaraan. Pertandingan sepakbola, badminton, volley, dan malam drama, tarian, nyanyian, quis, karnaval, banyak jenis pertunjukan kami adakan. Dan penduduk Tanjungpandan tidak sedikit mengatakan, kotanya ramai dan meriah apabila anak-anak pelajar dari Jawa - Sumatra dan Kalimantan pulang berlibur. Tetapi begitu mereka pulang, katanya lagi, kami merasa sepi, ada yang hilang. Dan sesudah itu kami menunggu bulan puasa dan lebaran setahun lagi,- dan begitulah seterusnya beberapa tahun berturut-turut.
Kami mengadakan pertunjukan drama Awal dan Mira, lalu tahun berikutnya Bunga Rumah Makan, dua-duanya karya Utuy Tatang Sontani. Lalu kami juga mementaskan Dosa Tak Berampun, saduran Ayahku Pulang, drama Jepang yang disadur oleh Usmar Ismail. Dan semua pertunjukan itu sangat digemari oleh penduduk kota Tanjungpandan ketika mereka menyaksikannya. Semua ini adalah hasil kerja kolektive kami beramai-ramai, dan dengan kerja keras tetapi dengan hati gembira. Selama liburan dan ada berbagai pertunjukan dan pagelaran itu, penduduk kota sangat merasa dekat dengan kami. Kami dapat bantuan yang cukup banyak dari mereka. Ada yang meminjami mobil, truk, bismini, buat kami berpropaganda, beriklan buat menyukseskan pertunjukan kami, ke berbagai kota kecil dan kampung sekitarnya. Dengan rombongan musik yang biasanya selalu mengiringi pertandingan sepakbola dan pesta pernikahan, mereka juga bersedia meminjamkan rombongan musik ini demi suksesnya pertunjukan kami.
Tanpa bantuan mereka, penduduk setempat, tidak mungkin kami akan berhasil baik. Hampir setiap malam selalu ada pesta, dengan nyanyian dan tarian di beberapa tempat pelajar itu. Baik pelajar setempat, maupun pelajar yang sedang berlibur. Orangtuanya mengadakan pesta sukuran dan kangenan buat anak-anak dan teman-teman dari anak-anaknya. Persaudaraan dan kekeluargaan secara ini, gabungan antara pelajar setempat dan pelajar yang pulang berlibur, sangat akrab, mesra secara perkawawan. Nama-nama penyanyi yang berbakat ketika itu, di manakah sekarang ini, seperti Helpria Juliana Pohan, Mala, Hasbah dan lain-lainnya?
Dan ketika kami malam-malam masih juga bekerja karena membenahi dan mengemasi gedung dan tempat pertunjukan, beberapa orang di antara kami merasa cukup lelah dan ada yang mengusulkan bagaimana kalau kita mandi di Tanjungpendam. Karena airnya sedang pasang-naik dan gelombangnya sedang baik-baik dan jinaknya, lagipula anginnya tenang dan bulannya sedang purnama. Dan kami sejumlah enam-tujuh orang, bersepeda menuju Tanjungpendam. Sudah tentu tak seorangpun yang ada di sana, karena sudah lewat jam 24.°° malam. Tetapi kesempatan ini yang justru kami cari. Kami dengan ugal-ugalan dan mungkin kurangajar, semuanya tanpa dikomando membuka pakaian seluruhnya, dan menyemplungkan diri, lalu berenang dengan telanjang bulat. Bulan sangat terangnya, cahaya keperakan, menimpa gelombang laut yang menyisir pantai dengan tenang dan lembutnya. Kami sudah berlupa, berenang, main air, main gelombang dan menikmati tumpahan cahaya bulan yang menyinar di sekitar. Pasir putih yang halus lembut, bagaikan terbang dan berloncatan bila tersentuh kaki. Pantai Tanjungpandan, bersih putih, sedap mata memandang. Begitu melihat dan begitu memandang membikin orang sulit pulang!
Lalu ketika liburanku karena menziarahi kuburan Emak dan Ayahku berdua Laura, ke sanalalah aku ingin mengenangkan keindahan dulu itu. Dan ketika Laura diajak keluarganya itulah, aku mau sendirian, duduk memandangi laut dan pantai Tanjungpendam. Kubawa sepeda pegawai hotel itu, menuju tempat yang dulu kami pernah mandi malam-malam pada telanjang bulat itu walaupun sudah berumur menjelang 18 dan 20.
Tetapi di manakah tempat itu? Sangat sulit mencarinya. Karena sudah banyak semak-semak. Sudah banyak pepohonan liar yang tak teratur. Dan pepohonan nyiur yang dulu pernah kami naiki dan bergayutan lalu terjun ke air yang tak begitu dalam itu, mana ada lagi! Lalu tempatnya itu sudah bukan main kotornya, dan semak belukar menghalangi pemandangan. Pantainya menjadi begitu kotor, berlobang, banyak sampah, bekas botol-botol plastik, dan ember, dan kertas-kertas yang hancur berserakan. Rumah yang dulu bagus-bagus sekitar Tanjungpendam, sudah pada tua, usang dan bobrok, tak ada pembaruan. Dulu jalanan yang mulus, dengan deretan rumahnya yang teratur, rapi dan sangat menarik, kini sudah hanya bekasnya saja. Reruntuhannya yang menandakan dulunya pernah ada deretan rumah di sana. Pada tahun-tahun 1947 - 48, aku sering bersepeda mengelilingi pantai dan rumah-rumah bagus itu, dan lalu berhenti kalau sedang kebetulan ada bunyi dentingan piano yang sangat menarik hati mendengarnya. Guruku Kurniati ketika itu sedang main piano, sangat indah dan merdu buyinya. Dan aku terhenyak diam mendengarkannya, sudah segan pulang. Aku menyandarkan sepedaku di pokok pohon kelapa tak jauh dari rumah guruku itu, dan mendengarkannya dengan asyik.
Dan kini sudah tak ada lagi bekasnyapun. Kemanakah semuanya ini? Kemanakah guruku Kurniati, dan adiknya yang satu kelas denganku Jaya Bakti itu? Dan pemandangan yang dulu sangat memikat, sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah kotoran dan sampah di sana-sini. Yang ada hanyalah semakbelukar. Tak kusedari benar, airmataku mengalir kepipiku. Aku hanya sendirian, ada baiknya, biarlah hanya aku sendiri saja yang tahu bahwa aku sangat sedih dan merasa sangat sepi dan kehilangan. Sudah bagaikan tak diperdulikan keluarga dan sahabat, ditambah lagi semua pemandangan yang dulu begitu indah dan menarik jadi hilang, kini hanyalah kebobrokannya saja yang kulihat. PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung yang dulu begitu berjaya, kini sudah lama bangkrut. Katanya pailit, rugi dan pasaran dunia melemah. Tetapi ada yang tak dijelaskan. Korupsi di mana-mana, penipuan, akal-akalan, dan bagian inilah yang sebenarnya paling berdominasi. Penduduk dan rakyat Belitung banyak yang berusaha menjadi nelayan tradisional dan bertanam sahang, - lada -, dan berkebun lainnya. Kalau dulu lebih banyak mengandalkan pada PPTB, kini harus berusaha sendiri. Karena itu banyak yang pindah dari Belitung dan mencari kehidupan di tanah lainnya.
Dulu yang kulihat dan kurasakan, rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Dan begitu memandang pantai Tanjungpendam dan Air Saga, kampungku,- penuh dengan keindahan, penuh rasa aman dan damai. Begitu menikmati alamnya, pantainya, pasir putihnya, mata lalu terpikat tak mau beranjak. Dan hati ini terasa damai dan senang berkepanjangan. Tetapi kini, hilanglah sudah semua itu. Hanya merupakan kenangan yang sangat menyedihkan. Dan karena aku sendirian di tepi pantai Tanjungpendam ini, biarlah kupuaskan mengenangmu semua itu,-
Paris 11 Juli 2000,-
Nama Pak Lurah ini, kami panggil Lurah Date. Karena bahasa Belitung sama dengan bahasa Melayu Riau, bila kata yang diujungnya ada huruf a, maka akan disebut menjadi e. Misalnya kemana, akan dibaca kemane, mengapa menjadi mengape, bagaimana menjadi bagaimane, maka Pak Lurah yang namanya ditulis Data itu selalu kami sebut Pak Lurah Date.
Kelurahannya agak jauh dari ibukota Tanjungpandan, agak kepedalaman di sebelah Timur mendekati pantai. Lurah Data sudah beberapa periode selalu menjadi lurah, entah terpilih ataupun ditetapkan, atau sudah begitu saja adanya. Orang kampung kami mana pula akan perduli harus dipilih secara adil atau yang kini namanya transparanlah, entah apalah, pokoknya dia, Pak Lurah Data jadi lurah lagilah, habis perkara. Ini ketika itu, jauh sebelum zaman tahun 50-an dan sesudahnya. Ada yang menjadi perbandingan bagi kami antara lurah-lurah di kabupaten kami. Lurah Data ini sangat kaya, dan sangat kuasa, dan semua anak-anaknya juga kayaraya. Bagaimana kekayaannya itu? Kekayaannya melebihi camat bahkan wedana, bahkan lebih dari bupati. Dan juga kekuasaannya sulit ditembus. Para polisi dan tentara di daerah itu tidak berani menggubris hak dan kekuasaannya.
Rumahnya terletak di atas bukit, dan dari bukit yang bagaikan khusus hanya buat menenggerkan rumah yang sudah bagaikan istana itu, terjaga dengan aman. Banyak penjaganya berupa orang, yang kalau zaman sekarang mungkin hansip, dan juga terjaga oleh beberapa ekor anjing. Kata orang anjingnya ini namanya herder, dan sangat galak. Makanan dan perawatan buat anjingnya, kata orang, melebihi pengeluaran ongkos buat para penjaga yang terdiri dari orang itu. Dulu memang ada orang-orang masih suka dan mencintai Pak Lurah Data ini. Tetapi setelah dia berbuat banyak kejahatan dan penipuan, bahkan anak-anaknya diam-diam juga menjadi kepala rampok, kepala perusahaan, dan kepala banyak bagian usaha-usaha perdagangan, maka orang-orang samasekali tidak lagi menyukainya. Bahkan lebih banyak yang membencinya. Tetapi rasa takut dan bahkan rasa ngeri, membikin banyak orang diam saja, masakbodo Pak Lurah-lah.
Banyak kejadian, ada orang-orang benci kepadanya dan ada usaha buat menjatuhkannya, dan ketahuan oleh Pak Lurah. Orang-orang itu beberapa hari hilang, ada yang mengatakan terbunuh, tetapi tak seorangpun menemui mayatnya. Ada orang yang tahu akan perbuatan Pak Lurah ini, tetapi tak seorangpun yang berani buka mulut. Mereka lebih baik diam saja, daripada hilang kepala dan hilang anggota keluarganya. Mau mengadu, mengadu kemana, semua aparat polisi dan tentara saja tak berani mengusut dia. Darimana lalu kekayaannya dan kekuasaannya itu? Dia memajaki dan memotong pendapatan, dan juga menjatuhkan semacam cukai bagi siapa saja yang berusaha di daerah kekuasaannya. Ada petani lada yang akan segera panen berlimpah. Pak Lurah sudah siap mendatanginya buat mencukai dan memotong pendapatannya dan mendapat bagian dari para petani lada itu. Pendapatan Lurah Data terkadang jauh lebih banyak daripada para petani yang berusaha dengan keringat dan tenaganya sendiri. Juga kaum nelayannya, baik juiragannya maupun pekerja-nelayannya, harus menyerahkan setoran yang hampir separonya, padahal samasekali tak mengeluarkan modal dan tenaga.
Kekayaan dan kekuasaan Pak Lurah Data ini bagaikan merambat, melebar, meluas, melebihi daerah kelurahannya sendiri. Orang-orang pada heran, tetapi hanya sebatas heran saja, mau apa lalu? Orang-orang hanya ngomel, nggerundel dan marah di dalam saja, tetapi tak terkeluarkan karena takut. Sedikit saja dikeluarkan, lalu ketahuan dan sampai ke Lurah, maka alamat orang itu akan segera hilang dari peredaran kampung itu. Kata orang, mata-mata Lurah itu amat banyak. Karena itu orang-orang diam saja. Sebatas ngomel, nggerundel, marah, dongkol, dan hanya itu-itu saja.
Anak-anaknya tak seorangpun yang menjadi pejabat pemerintahan, tetapi kayarayanya, dan kekuasaannya melebihi pejabat resmi pemerintahan. Jabatannya hanya sebagai anak Lurah Data saja, hanya itu. Tapi dengan atas nama anaknya Pak Lurah Data saja, mereka bisa berbuat apa saja. Tak satupun perusahaan dan badan-badan-dagang yang tak dikuasainya atau paling sedikit mereka punya saham yang paling menentukan jalannya perusahaan. Tak seorangpun berani yang menolak kalau ada diantara mereka yang mau duduk sebagai pimpinan atau pemegang saham. Maka menjadi kerajaan Lurah Data-lah kabupaten Belitung itu pada zaman itu.
Tak berapa lama isteri Pak Lurah meninggal. Kata orang karena melerai perkelahian dua anaknya yang memperebutkan harta. Ketika melerainya karena dua anaknya bertikaman dengan keris pusaka nenek-moyangnya yang bernama Kyai Jagat, maka terkenalah ibu mereka. Dan meninggal akibat terkena keris pusaka itu. Kata orang sejak itulah pamor kekuasaan dan kekayaan Pak Lurah Data menjadi kian merosot. Dan lalu orang-orang sudah mulai berani buka mulut, dan berani mulai menghujat. Lurah Data tahu akan hal ini. Tetapi dia sendiri kian lama kian terasa, bahwa dirinya disamping semakin tidak seperti dulu hebatnya, lalu kesehatannyapun merosot tajam. Sudah kena serangan jantung, sudah hampir lumpuh, dan umurnyapun ketika itu sudah diujung senja. Orang-orang sudah mulai dan berani menghitung-hitung, kira-kira kapan Lurah ini akan mati. Sudah banyak orang tahu, bahwa dia sudah sedikit mulai pikun, mulai ada kelumpuhan, mulai agak tuli, dan bahkan ada orang mengatakan sudah ada gejala gila.
Ketika itu katanya umur Lurah sudah mau mendekati 80, dia lahir pada tanggal 8 Juni tahun 1860. Tapi walaupun sudah banyak jenis penyakitnya, dan sudah hampir pikun, sudah kena kelumpuhan, dan sudah sering-sering duduk-duduk saja bengong, tak kelihatan tanda-tanda mau matinya. Terkadang bahkan seolah-olah masih tetap sehat. Karena itu tidak sedikit orang-orang mengatakan bahwa Lurah itu bohong dengan penyakitnya. Dia pura-pura sakit saja, karena takut diperiksa oleh Bupati yang sudah agak berani ini. Dalam pada itu banyak juga orang melihatnya, bahwa benar-benar Lurah Data itu menderita sakit. Terkadang tampak nyeri, dan perih. Tetapi entah apanya yang sakit dan perih nyeri itu.
Tabib-tabib, dukun-dukun sudah diundang datang buat mengobati, bahkan juga para dokter-barat juga katanya banyak yang sudah menggelengkan kepala. Kenapa? Katanya ada yang mengatakan, sebenarnya Lurah ini sebenarnya sudah seharusnya mati, tapi mereka heran, kok belum-belum juga mati. Ada "orangpintar" yang ternama dan terjitu ramalannya, yang mengatakan bahwa Lurah Data ini akan sangat lama tersiksa, dan menderita sakitnya sebelum mati. Katanya dulunya ketika masih jaya-jayanya, ada seorang dukun yang dimintanya buat memasang susuk intanberlian dan emas-murni, agar dia tetap kayaraya berkuasa dan panjang-umur. Dan kalau dia sakitan dan akan mati, susuk itu perlu dicabut dulu, dan yang mencabutnya itu adalah dukun yang memasangnya dulu itu. Kalau tidak, dia akan lama menderitanya dan tersiksanya. Dan sayangnya, kata orang-orang banyak itu, dukun yang memasangnya dulu itu sudah lama meninggalnya! Jadi dan lalu bagaimana? Kata orang, Pak Lurah Data sebelum meninggalnya akan lama pula tersiksa dan menderitanya. Tapi kata orang pula, tak apalah semua itu tokh karena perbuatannya sendiri juga. Dan lagi kata orang-orang itu, sudah terlalu banyak dia berbuat dosa dan menyiksa dan menipu rakyat yang dibawah kekuasaannya. Entah benar entah tidak, Lurah Data yang lahirnya tanggal 6 Juni 1860 itu sampai kini belum mati. Betapa lamanya dia tersiksa dan menderita, dan betapa banyak orang menunggu kabar kapan dia akan mati,-
Paris 12 Juli 2000,-
Di Perancis angka pengangguran dua-tiga tahun yang lalu berkisar antara 2 setengah juta sampai dengan 3 juta penganggur. Terkadang grafiknya turun - naik, tetapi sekitar angka itulah. Pendatang lama belum lagi mendapat pekerjaan, pendatang baru berdatangan bagaikan air mengalir. Kedatangannya baik sebagai migrant, mencari pekerjaan dan kehidupan, karena kesulitan kehidupan, perekonomian di negaranya, maupun yang karena disebabkan politik. Misalnya keterancaman kehidupannya, karena dicari-cari, karena mau ditangkap dan disiksa dan bahkan dibunuh, pokoknya tidak bisa lagi hidup di negeranya sendiri. Lalu mencari perlindungan politik di negara lain, dan negara lain itu kebetulan Perancis.
Dan semua ini menjadi beban pemerintah setempat. Harus menyediakan perumahannya, menyediakan lowongan pekerjaannya, dan menjamin semua kehidupannya. Karena begitulah konsekwensi telah menerima kedatangan orang-orang itu. Apakah bisa pemerintah menampung orang yang begitu banyak? Tidak ada jaminan. Jangankan orang-orang pendatang itu, rakyatnya sendiri yang berurat berakar di negaranya sendiri, masih banyak yang tak dapat pekerjaan, tak punya perumahan tetap, tak ada jaminan apapun!
Lalu jadi bagaimana? Semua orang harus mencari jalannya sendiri. Tidak bisa dan tidak mungkin selalu menggantungkan diri kepada pemerintah maupun suatu badan yang secara khusus menangani masalah kesulitan hidup para pendatang ini. Maka berbagai jalan, dan berbagai cara mereka mencari makan, mencari kehidupan. Kalau cara mencarinya itu masih dalam batas-batas kewajaran, dan normal, tidaklah menjadi persoalan benar. Tetapi kalau cara mencari makan dan kehidupannya di luar batas kewajaran, abnormal, maka beban pemerintah bertambah berat, terutama dari segi keamanan, kestabilan. Orang-orang itu harus ditangkap kalau sampai berbuat kriminal, dan harus dikembalikan ke negara asalnya. Kalaupun ditangkap dan dipenjara, artinya sama saja bahwa pemerintah harus menyediakan tempat dan makanan, dan kehidupannya di......penjara! Bolak-balik tetap saja beban pemerintah tidak akan berkurang.
Ada peraturan pemerintah tentang gaji, yang berlaku di seluruh negeri. Yaitu seseorang minimum harus mendapatkan gaji atau upah sekitar 40 francs satu jam-kerja. Peraturan ini harus ditaati, dan ada sanksinya, hukumannya, kalau dilanggar. Dan tokh ada saja yang melanggar, atau nyerempet secara berani dan untung-untungan. Hal ini sebenarnya pemerintah juga tahu, hanya mau apa! Tetapi kalau sudah benar-benar kebangatan, barulah diciduk, ditahan, didenda dan perusahaan atau usaha dagang itu ditutup. Dan kasusnya ada, hanya tak begitu banyak. Sebab kalau banyak ditutup, kembali lagi beban pemerintah akan berlipatganda lagi, sebab semua itu pada akhirnya akan jadi beban pemerintah juga! Dan lingkaran setan begini, tak habis-habisnya!
Yang berani nyerempet bahaya, tidak sedikit, tapi juga tidak banyak benar. Bukan rahasia lagi, ada perusahaan dan pertokoan yang menampung tenaga kerja bagaikan di Jakarta saja. Begitu ada kapal masuk di pelabuah Havre buat bongkar-muat barang dan akan diteruskan ke Paris atau kota lainnya, mereka berani mempekerjakan para buruh-pengangkutan yang tak terorganisasi itu dengan gaji 100 francs sehari dengan dapat dua kali makan! Bandingkan dengan gaji yang seharusnya diterima mereka menurut peraturan pemerintah. Tetapi lalu mau apa! Para pengangguran itu perlu kerja, perlu makan, sedangkan lowongan kerja tidak ada, dan bagaimana mau makan kalau tak ada uang! Bolak-balik begitu terus. Mendingan dengan kerja kasar dapat makan dua kali dan dapat uang biarpun hanya 100 francs.
Tenaga-kerja-lepas begini biasanya banyak sekali, dan mangkal pada suatu tempat yang rahasia. Hanya orang-orang berkepentingan tahu selukbeluknya. Dan biasanya kebanyakan dari Asia dan Afrika, terutama dari negeri-negeri sedang berperang dalamnegeri.
Ada lagi dengan cara-cara lain, tetapi sifatnya lebih perseorangan bukannya grup ataupun rombongan. Biasanya mereka ini pakai mobil. Tahu-tahu meminggir dan berhenti, lalu memanggil melambaikan tangannya kepada seseorang. "Tuan, saya sedang mencari kedutaan Itali. Apakah tuan tahu?", katanya dalam bahasa Inggeris. Orang ini pakai sedikit ilmu-jiwa. Lalu katanya lagi : "Saya dapat kesulitan berbahasa. Orang-orang Perancis ini bukan main sombongnya dalam bahasa mereka. Kalau kita tidak mengerti, mereka sepertinya mengejek kita, dan tidak mau membantu kita. Ini juga kesulitan saya. Untung saya ketemu tuan yang juga sama-sama bisa berbahasa Inggeris", katanya sudah mulai mau masuk pokok persoalan. Dan kalau kita katakan tidak tahu lalu dia mulai kesoal pokok.
"Begini tuan, saya mau pulang ke Roma. Tetapi sekarang kesulitan mencari kedutaan itu. Saya memerlukan uang kontan. Sekiranya tuan mau menolong saya membeli oleh-oleh yang tadinya akan saya bawa ke Roma, saya akan sangat berterimakasih",-Dan dia mengeluarkan dari kopernya sebuah jas yang cukup baik, masih dalam bungkusan yang rapi. Dan dibalik-baliknya memperlihatkan kepada kita. Tak ada cacatnya, bagus masih baru. "Tuan boleh lihat, coba juga boleh. Apaboleh buat harus saya jual dengan harga murah, agar juga tuan mau dan sedia membelinya. Sebab saya memerlukan uang buat membeli bensin persiapan pulang ke Roma sore nanti", katanya lagi. Dan kalau kita juga memegang dan membukanya, membalik-baliknya, maka kejadiannya akan sama dengan pedagang-pedagang asongan disekitar Danau Toba di Sumut itu. Baginya ada harapan sekian persen.
Harga jas itu memang murah, jauh dibawah harga toko. Dan kalau kita juga sedikit tertipu, lalu mau saja. Sebab kalau di toko sampai 900 francs, sedangkan yang itu hanya 200 atau bahkan 150 francs saja. Tetapi sesampainya di rumah tahulah kita, bahwa kualitasnya jauh dibawah ukuran. Dan katanya begitu sekali cuci, tampak segera akan kehancurannya, karena memang kualitas buruk. Orang jenis ini biasanya dia akan selalu menyasar orang asing, kalau bisa pendatang baru, bukan penduduk Paris yang sudah lama. Cara begini untung-untungan, siapa tahu kena. Tapi sering-sering juga gagal, sebab sasarannya salah tembak, karena orang itu adalah penduduk Paris yang lama, sudah banyak tahu banyak soal cara cari uang.
Apakah ada faktor penipuan dalam soal ini? Mungkin ada, tetapi mungkin juga salah yang mau membeli. Dia tokh tidak memaksa, tetapi membujuk dan merayu, agar kita tertarik. Tidak banyak untungnya, dan juga tidak banyak orang dengan cara mencari uang begini, sebab juga takkan banyak lakunya. Tapi begitulah salah satu cara mencari uang. Mana bisa diandalkan cara begini. Paling-paling hanya sekali-sekali.
Ada lagi seseorang yang sangat punya perhatian kepada kita. Lama sekali memperhatikan kita, dan tampaknya tertarik mau tahu sesuatu, atau mau bertanya, atau mau berhubungan entah mau apa.
"Tuan, saya ingin menjelaskan apa yang saya rasakan dan tahu tentang tuan dari pengamatan saya. Mungkin saya salah, tapi mungkin juga benar, hanya Tuhan yang tahu. Sedangkan saya hanya dapat melihat dan meraba secara pemantauan", katanya membuka percakapan. "Bahwa hari depan tuan itu tampaknya akan sangat baik. Terlihat pada wajah tuan, berwajah agak bulat, dan tampak airmukanya bukannya kering, tapi sedikit berminyak. Itu sudah menandakan tandanya akan banyak rezeki masuk. Tuan sendiri tidak menyedari hal ini. Apa betul begitu pemantauan saya itu?", tanyanya.
Dan dirikita siapa yang takkan merasa senang mendengar lagu-lagu nyanyian indah merdu buat kehidupan kita itu. Dan terjadilah percakapan lebih agak dekat. Dan diapun mengatakan punya pengalaman melihat nasib orang, yang pada akhirnya memang apa yang diramalkannya terjadi, demikian ceritanya sendiri. Dan pada akhirnya dirikita "terpaksa" merogo kantong dan mengeluarkan 100 francs, yang walaupun bukan dia yang menetapkan. Semua ini atas kesediaan kita saja. Baginya tak perduli apa yang tersimpan di hati kita, mau percaya apa tidak, tapi dia perlu makan, perlu uang. Terkadang diapun ragu akan kepercayaan kita sendiri. Maksudnya diapun kurang percaya kalau kita sendiri percaya, dia meragukan kepercayaan kita. Tetapi dia perlu cari kehidupan. Masakbodo apakah itu penipuan, tetapi bukankah tanpa kekerasan dan atas sama-sama suka? Maka berjalinlah antara yang perlu uang masuk dan orang yang perlu nyanyian merdu dan pujian dan pengangkatan dirinya. Begitulah antaranya sebagian kecil orang dengan berbagai cara mencari makan, mencari kehidupan di tengah masarakat kapitalis ini,-
Paris 13 Juli 2000,-
Banyak orang bertanya dalam hati, bagaimana sekiranya nanti pada hari Jumat tanggal 14 Juli itu turun hujan? Bagaimana, dan apakah parade-nya tetap jadi, walaupun hari hujan? Kenapa ada pertanyaan begini, padahal secara bulannya adalah musimpanas? Karena musimnya sudah tidak keruan, sudah tidak berpegang lagi pada kebiasaan sehari-hari. Menurut meteo, di Eropa Barat, seperti di Paris hawanya 15 C, di Brussel dan Amsterdam antara 14 dan 17 C, tetapi di Moskow pada waktu yang sama sudah 27 C! Ini mengherankan dan mengagetkan. Sangat jarang terjadi. Pertengahan Juli, tapi hawanya tetap saja dingin. Di dalam rumah, ada orang yang tetap saja masih mengenakan pakaian wol, dan agak tebal. Jadi tidak ini musimpanasnya?! Demikian orang pada bertanya kepada masing-masing dirinya. Biasanya dan kalau dulu-dulunya, bulan begini, pertengahan Juli sudah bukan main panasnya. Ini malah dinginnya tidak karuan. Dan hujan sudah tak berketentuan, kapan dia mau, maka datanglah dia dan turunlah dia. Kata orang, dunia sudah tua, dan Tuhan sudah tidak suka lagi kepada manusia, karena sudah terlalu banyak dosa.
Maunya manusia itu, bunuh-bunuhan saja, korupsi, menipu, menyiksa, dan semua maunya yang sifatnya mengumpulkan dosa. Khususnya kaum elite di Jakarta itu. Khususnya kaum politisi dan aktivis partai di Jakarta itu. Belum lagi di tempat lainnya dan bangsa-bangsa lainnya, khususnya dunia ketiga yang paling banyak soal-soal serta permasalahan.
Orang-orang di Perancis banyak sekali yang akan berkonsentrasi pada perayaan 14 Juli, hari kemerdekaan dan revolusi Perancis. Mengapa? Bukankah biasanya tiap tahun juga begitu? Katanya tahun ini akan lebih istimewa, karena tahunnya tahun 2000,- lebih istimewa, menandai milinium baru. Dan akupun turut-turut mau berkonsentrasi pada perayaan parade dan defile ini. Dan akupun turut berdoa agar jangan sampai hujan, agar parade nasional itu akan dapat terlaksana dengan baik. Dan betapa baiknya Tuhan kepada bangsa Perancis, hari itu terutama ketika berlangsung parade dan defile nasional, tidak setitikpun hujan jatuh. Tetapi setelah selesai dan rampung semua parade, lalu jatuhlah hujan yang cukup lebat, merata, lalu terbitlah matahari yang lebih kemilau dari sebelumnya.
Dan ketika menyaksikan parade itu, sangat sulit menggambarkannya, rasanya kata-kata dan kalimat tidak cukup tersedia buat menggambarkannya. Parade sekali ini jauh lebih baik dari parade tahun-tahun sebelumnya. Ini sih pamer semua kehebatan, semua keindahan, semua tehnik baris berbaris dengan semua disiplin militernya. Tentara darat, laut dan udara, serta kepolisian, dengan senjata lengkapnya, baris berbaris dengan tegap dan wajah yang segar dan bersemangat. Lalu angkatan dari berbagai kesatuan, sampai-sampai tentara yang pernah bertugas di Kosovo dan negara-negara lainnya sebagai tentara PBB, semua turut serta. Tentara pembangunan, tentara zeni dengan simbol alat pembangunan seperti kapak, skop dan lainnya, turut dengan gagah. Tentara wanita yang cantik tetapi gagah dan bersifat tentara, tetap tak kehilangan wajah kewanitaannya.
Lalu barisan helikopter, lalu pesawatterbang yang membentuk asap berupa bendera tri-warna, bendera Perancis, sangat gagah dan indah. Presiden Jacque Chirac dan Perdana Menteri Lionel Jospin dan pembesar negara yang lainnya, serta para tamu asing dengan mata yang bersinar gembira, menyaksikan dengan sangat puasnya. Pameran persenjataan secara konvensional, secara umum dan bisa diperlihatkan, hari itu dipamerkan. Tentu saja yang terhebat dan tercanggih selalu bukan buat dipertontonkan, tetapi yang dapat disaksikan secara umum saja, sudah akan beredecak kagum kita melihatnya. Parade sekali ini adalah yang terlengkap, terindah, terbagus, dan tampak solid dengan disiplin yang tinggi. Persenjataan yang hanya sekilas melintas, membikin orang penasaran melihatnya, senjata seperti apa sih itu, hebat amat! Dan lalu menerawanglah pikiran, kenapa sih kita kok tergantung amat sama Amerika, semua persenjataan kebanyakan dari Amerika. Begitu diembargonya, matikutulah kita! Dan dia bisa mempermainkan orang yang teragantung itu!
Lalu sedang asyik menyaksikan di depan televisi, terdengar deringan tilpun. "Sudah lihat kan kau yang sedang berlangsung ini?", kata suara Pak Han. "Ya, ya, hebat ya kan Pak?",- "Bukan hanya hebat, tapi juga mengagumkan. Begitu kalau bikin tentara! Dulu malah kami sudah usulkan, saya sama-sama Chairul Saleh, Pandu dan bahkan Amir Syarifuddin, bagaimana membentuk tentara dari TKR, BKR lalu jadi TNI itu. Yang pernah dikebiri jadi dwi-fungsi itu. Masih ingat kamu?". "Ya ingat-ingat begitu saja",- "Makanya baca buku saya itu, harus tahu sejarah bangsa dan tentaranya. Ini angkatan muda sekarang ini tahu apa sih!",- "Ya, tidak semua bisa teringat Pak, terlalu banyak hal lain yang seharusnya lebih diutamakan mengingatnya, bukan hanya isi cerita buku Bapak saja",- "Lha ya juga, tapi buku saya itu sejarah yang benar dan tepat, yang saya dan kami alami semua",- katanya.
Dan aku sebenarnya sangat malas, atau sedang malas bicara dengan Pak Han ini. "Kenapa tidak kulihat kamu di Wisma Indonesia baru-baru ini, ketika undangan Presiden Gus Dur itu?",- "Aduh ya Pak. Sial tuh bagi saya, dua kali Gus Dur di Paris, dua kali saya justru tidak di Paris. Pertama saya di Jakarta, yang kedua ini saya ada di Holland. Senang dong Pak ya, ketemu Gus Dur di Wisma itu. Apa saja ceritanya, dan oleh-oleh saran dan pesannya?",- "Ya, dia duduk di samping saya. Dia minta saya supaya pulang segera, banyak urusan negara, dan dia perlu bantuan. Saya kira betul itu, Gus Dur perlu kita bantu, tapi dia juga harus dengarkan kata-kata saya. Jangan hanya satu pihak saja, minta bantuan, tapi tidak mau mendengarkan nasehat kita, itu mah berat sebelah? Bukan begitu cara negarawan, dan politikus ulung",- Dan aku sudah mulai agak seperti biasa, dongkol padanya karena selalu saja berpusat pada dirinya sendiri, dan suka sekali memuji diri sendiri.
"Bapak sudah coba belum memberikan pendapat dan nasehat kepadanya?", kataku. "Justru karena dia tidak pernah mau mendengarkan dan memperhatikan nasehat saya, maka dia begitu itu. Kalau tidak, tentulah Indonesia ini tidak akan begitu terpuruk seperti sekarang ini. Lihat itu dollar, sudah pernah menembus angka 10.000. Ekonomi berantakan, politik ngawur, pembunuhan merajalela, korupsi bertambah meluas dan menggila. Apa semua itu? Karena tidak mau mendengarkan pendapat orang, tidak mau memperdulikan pendapat saya", katanya lagi. Dan aku sudah mulai malas meladeninya. Padahal Pak Han ini sedang sakit. Tetapi kalau dia bicara soal politik dan soal-soal kenegaraan, kebangsaan dan kerakyatan, maka semangatnya menjadi meninggi, lalu lupa bahwa dia sedang sakit. Ini adalah segi baiknya dia, semangatnya itu terus punya api, dan selalu ingin turut serta pada semua urusan penting negara.
Tetapi jadinya beginilah. Soal pikiran menyaksikan parade nasional itu, yang begitu bagus, hebat, rapi dan disiplin yang tinggi, terorganisasi secara solid, menjadi sedikit menerawang karena "ngelamun" tentang negara kita, negara yang kini menjadi begini ini,- sedang terpuruk begitu dalam dan jauh, sedang bunuh-bunuhan, adudomba, dan korupsi yang takkan berkesudahan dalam waktu yang lama! Yang banyak diurus bukannya masalah pembunuhan dulu itu yang jumlahnya dari dua sampai tiga juta dan terus bertambah sampai kini, malah mengurus maling uang, penggelapan dan korupsi. Padahal dari dulu juga tidak ada yang bisa kena bui. Usut terus usut tapi jadinya malah bertambah kusut!
Paris 14 Juli 2000,-
Dulu ketika kami masih tinggal di Tebet, di sebuah gang yang namanya sungguh indah, Gang Anggrek, yang padahal jalannya tidak diaspal dan bila hujan langsung segera becek! Isteriku punya beberapa tetangga dan teman-temannya yang sering-sering rapat perkumpulan wanita. Terkadang mereka juga rapat di rumah kami. Dan kalau rapat dengan beberapa orang kaum ibu, maka aku-pun harus menghindar, harus pergi sampai rapat mereka selesai dan bubar. Tentu saja aku juga kenal dengan kaum ibu teman-teman isteriku itu. Tetapi hanya kenal begitu saja, tak ada urusannya dengan rapat mereka sesama satu organisasi. Di antara kaum ibu itu, tentu saja ada yang merasa saling dekat dengan isteriku. Sehingga bisa saling mencurahkan pikirannya satu sama lain. Terkadang mereka begitu gembira, tertawa sampai seperti menangis karena airmatanya keluar. Terkadang juga berbicara berbisik-bisik dan pelan sekali. Biasanya tentulah yang dibicarakan soal-soal serius atau justru yang agak rahasia, dan jangan sampai diketahui orang lain.
Di antara kaum ibu itu, ada yang masih muda, ada yang setengah baya. Ada juga yang cantik sekali dan seksi. Diam-diam, aku sering memperhatikan ibu Neni yang cantik dan seksi itu. Dia masih muda, punya anak dua. Satu laki-laki dan satu perempuan. Kulitnya kuning, kalau pengarang lama mungkin menuliskannya kuning-langsat, atau kuning-duku, atau kuning-kencana. Rambutnya tebal, dan matanya hitam besar, alisnya juga tebal. Bila tertawa ada lesung pipitnya, dan tampak berbaris gigi yang putih mengkilat, dan bibirnya, bibirnya bercahaya basah, penuh delima merkah. Dan dadanya penuh mengemban dua bukit yang tajam. Betapa cantiknya dia. Terpikir pada saya, betapa suaminya ini bahagianya. Betapa beruntungnya suaminya itu, dapat isteri yang demikian cantiknya, begitu menariknya. Dan pula menurut cerita isteriku dan juga yang kuketahui, Bu Neni orangnya sangat baik, bertanggungjawab kepada keluarga dan setia kepada rumahtangga dan seluruh keluarganya. Maka lengkaplah kalau begitu kebahagiaan suaminya itu, mau apalagi!
Suaminya itu kami panggil Pak Radi, seorang pegawai biasa di suatu bank swasta. Samasekali tidak kaya, tetapi bukan pula orang miskin. Dan agak tidak begitu sejajarlah kalau mau memperbandingkan Pak Radi dengan Bu Neni. Bu Neni sangat cantik. Tapi Pak Radi orangnya gemuk, pendek dengan kepala agak botak. Sulit membayangkan dulu itu, bagaimana kok jadinya Bu Neni dan Pak Radi jadi suami isteri! "Semestinya" Bu Neni itu suaminya gagah, besar tinggi, berkumis, dan kaya atau berpangkat. Ini kok hanya Pak Radi, pegawai biasa, dan tidak pula gagah dan menjadi idaman para wanita muda atau gadis-gadis kota seperti Jakarta ini. Bahkan dalam pikiran saya "yang tidak bersih ini" alah berapa lama sih tahannya rumahtangga itu, nanti juga siapa tahu Bu Neni dilarikan orang lain, tinggallah Pak Radi. Atau Bu Neni kecantol sama pria gagah dan kaya serta berpangkat, lalu Pak Radi merana membawa cintanya yang menyedihkan.
Kalau Bu Neni ke rumah, selalu saja dia membawa apa-apa, oleh-oleh buat kami. Oleh-oleh itu makanan kecil, seperti rempeyek, goreng singkong, buatannya sendiri. Dan mereka berdua di dapur omong-omong sangat akrab, ini sebelum ibu-ibu lainnya datang. Biasanya Bu Neni akan selalu datang lebih dulu, lebih cepat datangnya, barangkali agar bisa ngobrol lama.
Suatu kali Bu Neni datang ketika tidak ada acara rapat. Mereka ngomong-ngomong di dapur seperti biasa. Tetapi agaknya sekali ini tidak begitu gembira. Karena omongannya agak pelan dan tidak ada acara tertawanya. Lalu kudengar suara agak keras, dan lalu melemah dan lama berdiaman. Sepertinya suasananya suram. Dan ketika aku melintas pura-pura lewat mau mengambil sesuatu di dapur, tampak Bu Neni menyandarkan kepalanya kepangkuan isteriku. Dan terdengar isakan tangisnya yang tertahan-tahan. Lalu tangan isteriku membelai kepala dan wajah Bu Neni, dan berusaha menghapus airmatanya. Wah, Bu Neni sesenggukan menangis, agak tertahan bunyi isakannya. Isteriku terdengar membujuknya. Rasa mau tahuku, mendesak ke leher dan mulut, tapi kutahan, nanti juga akan tahu apa sih soalnya. Orang secantik begitu kok punya soal berat, tak mungkinlah! Demikian pikirku.
Lama mereka berdua. Lalu isteriku mengantarkan Bu Neni pulang ke rumahnya dan hampir malam barulah isteriku kembali ke rumah kami gang Anggrek itu. Dan aku sudah menanti mau tahu ada cerita apa. Dan isteriku bagaikan terpukul. Dia juga merasa sangat kecewa dan sangat sedih. Dan tampak isteriku juga barusan menangis dan tampak sangat sedih dan marah.
"Cobalah Pa, kau pikir. Masuk akal nggak, Pak Radi itu diam-diam ada main sama pembantunya, sama babunya sendiri, mbok Iyem gadis yang masih mengkal itu!". Aku terdiam lama, menjadi bodoh dan bengong. "Jadi bagaimana kelanjutannya, dan apa yang sudah terjadi?". "Ya, si Iyemnya sudah bunting, dan Pak Radi harus bertanggungjawab, harus mengawininya secara sah", katanya sambil dengan suara keras. "Apa Pak Radi mau, dan apa Bu Neni sedia dimadu atau dicerai?",- kataku. "Ya harus, dua-duanya. Pak Radi harus mengawininya, dan Bu Neni harus merelakannya atau dicerai. Itu saja, jalan lain sementara belum ada. Dan kami harus segera mengadakan rapat buat itu. Ini kan soal keluarga dalam satu organisasi juga",- kata isteriku dengan suara membela dan tegas.
Dan aku lagi-lagi bingung, bengong dan mungkin juga bodoh. Orang secantik Bu Neni yang dengan dada penuh, bibir basah, kulit kuning langsat, delima merkah melekat di bibirnya yang menggairah itu, lah, kok suaminya sampai ada main dengan babunya, yang pakai lipstik saja tak bisa! Jadi apa kurangnya Bu Neni yang begitu cantik itu. Jadi apa tidak cukupnya Pak Radi yang gila seks itu! Apa sih Pak Radi yang gemuk - pendek dan agak botak itu? Di mana sih menariknya dia! Tak cukup dengan Bu Neni lalu mbok Iyem jadi korban? Yang tadinya kusangka mula-mula, Bu Neni-lah yang punya bakat akan segera meninggalkan sipendek gemuk botak itu. Eh malah Bu Neni yang kelimpungan, menangis tersedu-sedu akan jadi korban dipermadu atau jadi janda kembang.
Sehari suntuk itu kami berdua isteriku masing-masing dengan pikiran yang mungkin berlainan. Isteriku penuh berkonsentrasi bagaimana memecahkan solusi rumahtangga ini dengan teman-teman wanitanya, agar dapat diselesaikan dengan baik, dan bisa diterima kedua belah pihak. Sedangkan aku lain lagi, lah, kok bisa terjadi hal-hal begini. Orang yang secantik Bu Neni dan setia pula, baik lagi, dapat suami yang berlawanan daripada tampan dan kaya serta berpangkat, Pak Radi. Dan Pak Radi dengan dia punya sabetan, bisa memainkan peranan yang begitu "mengagumkan", sehingga gadis mengkal yang baru 17 tahun saja bisa dia apa-apakan, di rumahnya sendiri, di rumahnya Bu Neni yang cantiknya minta ampun itu! Akhirnya pikiranku pelan-pelan bertambah, menjadi sedih, kasihan, dan bersimpati pada Bu Neni, dan menjadi benci, muak terhadap Pak Radi. Juga kasihan pada mbok Iyem gadis yang bekerja mencari kehidupan di rumah majikannya yang gemuk-pendek-botak itu. Kataku dalam pikiran saja : terlalu banyak yang tak disangka-sangka terjadi di dunia ini. Terlalu banyak terjadi hal-hal di luar dugaan pikiran kita, dan ini baru saja dalam persoalan sebuah keluarga saja.
Paris 15 Juli 2000,-
Kami juga mengenal anggota muda dari organisasi kaum ibu dalam perkumpulan isteriku ini. Gadis ini namanya Savitri. Mungkin juga ada hubungan antara nama dan perawakan tubuhnya. Namanya bagus sekali, dan wajahnyapun ayu, menarik dan sangat komunikatif, mudah bergaul dan hari depannya begitu bagus. Seorang aktivis muda yang sangat cekatan dan lincah, disukai banyak orang dan teman-temannya. Kami semua sangat menyayanginya. Kalau ada gerakan apa saja yang sifatnya buat kemajuan organisasi, maka dialah yang lebih cepat, lebih sanggup dan lebih trampil buat maju ke depan. Tetapi seperti kata orang, tak ada gading yang tak retak. Dan Savitri ini mungkin gading yang retak itu, walaupun keretakannya tak begitu besar atau tak begitu serius. Tetapi juga mungkin saja akan menjadi serius.
Tadinya kami medengar bahwa Savitri ini punya teman pria yang dicintainya, dan banyak teman meramalkan, mungkin inilah jodoh Savitri. Tetapi temannya ini yang bernama Danton itu bukanlah seperti dirinya, penuh semangat dan penuh api perjuangan dan pergerakan. Danton pemuda biasa saja, maksudnya tidak menggebu-gebu, bukan pula penuh api dan semangat aktivis seperti Savitri. Tetapi juga mungkin tidaklah begitu soal, bukankah yang penting itu saling mencintai dan saling menghargai? Lagipula tampaknya Savitri begitu serius akan pergaulannya dengan Danton ini. Dan dia sering-sering pula bercakap-cakap dari ke hati dengan isteriku. Seperti dulu itu, biasalah kalau sudah ada masalah yang serius, dan agak rahasia, lalu mereka akan bercakap-cakap agak berbisik. Tampaknya tak mau diketahui banyak orang. Dalam hatiku, baik juga, biarlah isteriku dapat membantu kesulitannya dan biarlah dia mencurahkan isi hatinya dengan sejujur dan apa adanya terhadap teman terdekatnya, dan organisasinya.
"Bagaimana Ma tentang keadaan Savitri? Ada kesulitan tertentu dalam kehidupannya?",-kataku. "Ya, ada-ada saja orang hidup. Belum selesai yang satu sudah datang yang lain. Bertubi urusan minta penyelesaian. Kau tahu kan Pa, Mas Danton-nya itu?", kata isteriku. "Ya, aku tahu, orangnya sepertinya tidak pedulian, masakbodo hal-hal yang bukan urusannya dan urusan umum ya kan?". "Tidak hanya itu! Tapi sudah meningkat lain, bagaimana akan kelanjutan hubungan mereka keduanya nanti!? Itu yang penting. Tidak bisa seperti sekarang ini!",-katanya lagi. "Lalu apanya yang sulit dan perkaran peningkatan itu?". "Papa tahu, Mas Danton-nya sudah mulai main pukul yang katakanlah bakal isterinya itu! Habislah Savitri babakbelur dipukulinya",- "Apa salahnya, dan apa soalnya sih?". "Bukan masalah kesalahan itu, bukan besar kecil derajat kesalahannya. Tapi dengan main pukul saja sudah bukan antara teman dan bakal teman hidup. Main pukul itu bukan penyelesaian antara teman, saudara dan keluarga. Main pukul itu pelanggaran hak-hak azasi manusia. Ini sudah pelecehan terhadap harkat kemanusiaan. Dan lagi ironisnya, justru Savitri itu adalah bakal pejuang hak-hak azasi kemanusiaan. Dan dia pula terkena, terdepan dan terdahulu mengalaminya",- kata isteriku.
Agak terkejut juga aku mendengarnya. Kami kenal baik dengan Savitri, dan menurut penglihatan kami, Savitri adalah gadis yang bukan hanya baik tetapi juga penuh dengan semangat mengutamakan kepentingan umum dan orang banyak. Dan sangat dikenal sebagai aktivis yang handal, berani dan berapi-api. Apalagi kalau sudah berdiri di barisan terdepan ketika demonstrasi, maka dialah orangnya. Kata orang maka dialah ratunya! Lalu kini, malah babakbelur dipukuli Mas Danton-nya. Rasanya akupun turut tersinggung dan merasa sakit. Zaman ini bukan lagi zaman main pukul begitu. Lalu pandanganku jauh ke belakang. Bagaimana bisa seorang Savitri yang penuh semangat, berani, cerdas, dan selalu argumentatif, lalu babakbelur dipukul Mas Danton-nya yang setengah menganggur itu!
Dan pada suatu senja, setelah Savitri kira-kira satu bulan tak datang ke rumah kami, maka menjelang petang itu, dia datang ke rumah. Sekali ini kulihat mukanya bengkak, matanya sembab, dan wajahnya kuyu tak bersemangat. Dia langsung memeluk isteriku dan sesenggukan kudengar suaranya menangis. Oh, apakah ratu kami itu kena pukulan lagi? Rasanya aku benar-benar tidak sudi kalau Savitri-kami mendapat perlakuan demikian. Savitri itu bukanlah kepunyaan orangtuanya, atau apalagi Mas Danton-nya. Savitri itu adalah kepunyaan kami semua, kepunyaan organisasi, siapa tahu bakal kepunyaan hari depan Indonesia, siapa tahu!
Dan senja itu, benar-benar isteriku terlihat terpukul. Dan sudah tak mau menjawab ketika kutanyakan. Aku merasa punya tanggungjawab buat tahu dan buat bertanya, sebab Savitri ini sudah menjadi saudara dan keluarga kami sendiri. Malam itu isteriku tidak mengizinkan dan tidak membiarkan Savitri pulang ke rumahnya. Mereka berdua sangat rapat dan dekat. Dan saling menyemangati. tetapi setelah kejadian ini, tak tahulah aku bagaiman jadinya nanti. Dan keesokan harinya barulah aku tahu. Kemaren dulu Savitri telah dipukuli begitu rupa, sehingga mukanya berdarah-darah, dan dua batang giginya tanggal-copot, artinya juga cacat! Kukira sudah seharusnya Savitri-kami itu menarik garis pemisah dengan Mas Danton-nya, dan itu pemuda Danton samasekali bukan mas, tapi tembaga rongsokan, atau tembikar bau! Aku benar-benar marah dan sakit hati.
"Ma, kuharap jangan sampai Savitri kawin sama Mas Danton-nya itu. Dia samasekali bukan mas lagi, tapi besi rongsokan! Ingat Ma, ingat nggak beberapa kejadian teman-teman dan kenalan kita. Bila seseorang suami sudah main pukul, maka dia akan menjadi kebiasaan memukul, dan akan terus memukul. Dan gilanya lagi, sang isteri atau pacarnya itu, selalu akan datang-datang buat minta pukul lagi dengan hebatnya! Dan gilanya lagi, si wanitanya menjadi ketagihan buat terus dipukuli. Jadi Savitri harus segera dan dengan tegas memutuskan hubungannya dengan si besi-tua-rongsokan Danton itu",- kataku dengan penuh emosi.
Isteriku tidak menjawab. Tampaknya dia hari-hari belakangan itu sangat banyak menerima pengaduan yang sifatnya kerumitan hubungan rumahtangga. Dan penyelesaiannya pada biasanya tidaklah begitu mudah. Ini soal perasaan, soal kejiwaan bahkan hargadiri. Jadi sangatlah harus berhati-hati. Sedangkan urusan lainnya, yang bersifat regional, lokal dan nasional sangat banyak meminta tenaga, pikiran dan pengorbanan. Yang agaknya "menyelamatkan dirinya" dari begitu banyak urusan, kami harus berangkat pada tahun 1963 ini juga buat mengemban tugas lain. Yang pada akhirnya dia tak sekalipun punya kesempatan buat pulang ke tanahair, karena sudah lama meninggal di Beijing pada tahun 1980,-
Paris 16 Juli 2000,-
Sebenarnya menurut undangan, acaranya dimulai pada jam 17.00. Tetapi kami datangnya jauh lebih cepat dari jam yang ditentukan. Karena Nita mau membantu mbak Ita berbenah, berkemas dan masak-masak kalau ada yang belum selesai. Aku sendiri tidak begitu kena l dengan keluarga ini. Tetapi sudah mengenal melalui Nita, dan sudah pernah satu kali bertemu. Mas Popo berumur setengah abad, anaknya ada tiga. Satu laki-laki yang tertua dan ada dua adiknya semua wanita berumur 8 dan 10 tahun. Karena pesta ini bukannya hari ulangtahun biasa, maka kukira pastilah akan ramai dan meriah.
Ketika kami datang sudah ada sepasang tamu. Dan wanitanya yang setengah baya lalu segera menyeru : "Nah, datang juga orang Paris rupanya. Ini tanda baik nih", katanya. Dan kami saling senyum sambil bersalaman. Dan kami saling menyebutkan nama, tetapi tidak begitu terdengar nyata siapa namanya. Dan aku sendiri tidak tahu siapa wanita yang ramah itu. Jug a tak jelas nama yang disebutkan suaminya tadi. Tapi pada akhirnya aku tahu juga siapa mereka. Dari percakapan yang lancar, lalu pada akhirnya nyerempet keadaan masa kini, maka terbukalah tabir yang tadinya cukup sulit untuk terkuak.
"Ya Oom, bayangkanm saja, ayah saya yang tidak kurang lebih tiga kali jadi menteri, pensiunnya tak sampai 100.000 rupiah. Sedikitpun tak ada penghargaan dari pemerintah Orba ini. Mengapa? Karena ayah saya jelas pengikut Bung Karno. Dan pemerintah Orba sam asekali tidak menghargai orang-orang yang dekat dengan Bung Karno. Padahal seluruh jajaran Orba ini paling nomor satu perkara korupsinya. Sampai sekarang, yang walaupun katanya si babe sudah lengser keprabon", katanya dengan sedikit dan tipis dialek Batak . Kepalanya licin mengkilat, dan kumisnya tipis putih. Wajahnyapun agak putih. Dan ketika kutanyakan terang-terangan siapa dia ini barulah aku tahu dan membenarkan apa yang diceritakannya. Sebab akhirnya akupun mengenal keluarganya.
Ibunya dari Manado, dan ayahnya dari Batak. Dan betul sudah beberapa kali jadi menteri ketika zaman Bung Karno. Nama teman baru ini adalah Beno Tobing. Tentu orang akan segera mengenal Dokter Tobing yang beberapa kali menjabat menteri ketika pemerintahan Bung Karno. Dan dokter Tobing-lah yang beberapa kali selalu menengahi perkelahian, percekcokan serta perselisihan antara suku Batak dan Manado, dan suku Aceh dengan suku Batak. Yang ini tidak diceritakan oleh Bung Beno. Dan pada akhirnya akulah yang mala h bercerita agak mencengangkan Bung Beno. Karena kebetulan ada anak wanita dokter Tobing yang selalu dan aktive bersama kami di PPI dulu itu. Dia bernama Vera yang banyak mengurusi bagian kesenian dan olahraga serta keputrian.
" Ya puji Tuhan, Vera kan kakak saya. Bagaimana kok Oom kenal dengan kakak saya itu. Waduh, waduh, tidak percuma saya bercerita panjang lebar tadi itu", katanya agak tak sabaran. ’Ma, mama sini! Dengar ini Oom yang dari Paris yang kau sebutkan tadi itu kenal sama mbak Vera lho ma", katanya lagi. "Betul-betul dunia ini tidaklah sangat besar ya Oom?!", katanya lagi. Dan kami lalu bersama ngobrol dan bercerita dengan saling bersahutan, sambung menyambung. Terkadang pada akhirnya sama-sama kenal. Dalam pada itu tamu lainnya berangsur menjadi ramai dan terus berdatangan. Tadinya kami di ruangan depan. Kini sudah banyak yang membentuk ruangan tengah. Lalu mendekati jam acara resminya, dibuka ruangan belakang. Ruangan belakang menembus jalan belakang yang menuju sebuah gang kecil tanpa nama. Bentuk perumahan di Holland, karena rapatnya, lalu terjadilah ada sebuah gang yan g terbentuk karena dua lapis perumahan yang saling membelakang, sehingga membentuk atau merupakan gang tanpa nama. Besarnya kira-kira antara satu setengah meter sampai dua meter, tapi memanjang jauh. Nah, pada gang inilah para tamu mengeluarkan kursi-kurs i buat berdudukan sambil makan sate, lempar, kroket, dan nasi dengan lauk pauk yang sangat menggiurkan. Sebab mbak Ita isteri Mas Popo terkenal pandai masak, dan kata kami, tentu saja orang Padang sih, dari Minang sih!
Asap bakaran sate menyerang kemana-mana dan baunya memancing selera. Meja makan penuh dengan segala makanan nyamian, gorengan, gulai kambing, udang balado yang pedasnya pedas-pedas lombok yang kalau dimakan tak kapok-kapok! Makanan bergaya "melayu’ dan "b arat’ boleh pilih. Kebanyakan tetap saja banyak memilih yang bergayu "melayu-dangdut’, wajik - kue cucur - ongol-ongol, kue putu, semar-mendem. Bir harus selalu ada, juga rokok kretek Gudang Garam atau Bentul atau Wismilak. Bau ruangan sudah campur baur, dan suara kelakar ramai bagaikan pasar. Tapi itulah pesta, kalau benci ramai, tak usah datang!
Sudah tak ada tempat duduk yang pasti, sebab bisa bertukar atau bahkan bisa tak dapat tempat duduk. Dan tak ada rasa marah dan kesal. Orang-orang muda dan setengah baya sudah bercampur tak lagi memilih selera bergaul. Di gang tanpa nama itu berkumpul oran g-orang yang selalu membuat tertawa ramai, gembira dan saling ejek mengejek tapi menyenangkan semua orang, sebab lucunya. Mbak Lily isteri Mas Beno yang orang Jawa Semarang itu ternyata bukan main pandai mendagelnya. Tapi yang jadi ejekan kali ini adalah orang Ambon. Karena ada teman dekatnya yang orang Ambon. "Orang Maluku, Ambon, mula pertama ke Belanda terheran-heran karena rumah-rumah di Belanda ini terlalu rapat. Tidak seperti di Maluku dan Ambon. Kalau di Holland, katanya altijd huis - huis -huis allemal huis, en dan huis, nog huis! Tapi maar di Maluku, h uis en wachten - wachten - wachten, en dan huis en dan wachten - wachten, baru huis lagi! Begitu kita orang punya model, niet seperti Holland!", katanya menirukan dialek Malukunya, sambil melirik dan mengejek temannya si Lucy yang genitnya bukan main.
"Lalu tahu kalian kenapa ada nama burung gereja tapi tak ada nama burung mesjid? Dulunya burung-burung itu banyak hinggap dan beterbangan sekitar mesjid. Tetapi suatu kali burung-burung itu melihat suatu keadaan yang sangat mengerikan mereka. Sebab ketika itu sedang diadakan pesta massal sunatan secara umum. Burung itu pada beterbangan mencari gereja yang mereka rasa sangat aman. Kata burung gereja itu kepada temannya, coba gila nggak yang namanya manusia itu. Burung-burungan-pun mereka potong ujungnya, n ah, apalagi kita-kita ini yang benar-benar burung asli, bukan burung-burungan, habislah kita semua ini! Maka sejak itulah burung-burung yang tadinya banyak beterbangan dan hinggap di mesjid itu bernama burung gereja. Mereka sangat takut kena potong sepert i burung-burungan itu", kata mbak Lily. Semua orang pada tertawa mendengarnya.
"Tahu kalian bahwa adat masing-masing bangsa dan rakyat suatu negeri itu, berlainan, dan terkadang bertentangan dan aneh bagi yang satu. Tapi dipegang teguh buat bangsa dan rakyat tertentu yang menganutnya. Misalnya saja katanya bagi orang Ceko, terinjak tahi, tahi apa saja, tahi anjing maupun tahi orang, itu artinya sial dan sangat sial kalau terinjaknya itu siang hari! Maka pada suatu hari ada seorang Ceko yang jalannya agak sempoyongan karena sudah mulai agak mabuk. Ketika berjalan di jalanan yang agak banyak bebatuan kerikilnya, dia terjatuh terjerembab. Dan jatuhnya itu persis di setumpukan tahi anjing mengenai hidungnya. Dan ketika dilihatnya dan diamatinya secara teliti, dia berkata dengan hati yang sangat senang dan gembira, untung tidak terinjak! Tak apa hanya tercium saja!,- katanya. Dan banyak lagi cerita mbak Lily.
Pada akhirnya gang yang tanpa nama itu penuh orang dari ruangan depan dan ruangan tengah. Sedangkan orang-orang pengguna gang tanpa nama itu yang rumahnya saling berdekatan ada yang menggabung buat menumpang tertawa bersama. Dan ada teman-teman kami secar a sukarela menterjemahkan kisah-kisah lucu itu, tetapi begitu diterjemahkan, lucunya sudah berkurang sekian puluh persen. Tak lama lagi pesta ini akan memasuki upacara pemotongan kue tart besar yang menandakan setengah abad usia Mas Popo, yang entah di ru angan mana dia. Sebab kami kebanyakan berada di gang tanpa nama itu jauh di belakang.
Almere - HOLLAND 26 Juli 2000
Teman kami Pahlevi itu belum lama ini baru menempati rumah baru. Mereka baru saja berkeluarga, menikah resmi dengan cara Islam, dan memerlukan kedua orangtuanya datang ke Holland. Pahlevi memang mungkin termasuk orang yang beruntung. Menduduki posisi yang baik, bergaji tinggi, punya isteri yang manis dan baik, alim dan sangat cocok sebagai ibu rumahtangga yang ideal. Pada upacara pesta ultah Mas Popo, tampak sekali memang dia punya banyak sahabat dan teman. Orangnya banyak kelakar, termasuk lucu, banyak m embikin orang ketawa. Tapi hari itu ada godaan tertentu. Lucy yang manis dan agak kegenitan itu selalu menggodanya. "Eh, katanya kamu mau istirahat ke Swiss ya? Apa bener? Mbok aku dong yang diajak, kan biasanya kalau di Eropa ini bila istirahat musimpanas bukannya isteri sendiri yang ngintil jadi ekor. Tapi ada yang lain. Kalau kamu seharusnya ada wil, kalau aku sehar usnya ada pil, wanita lain dan pria lain. Nah, kan cocok, aku ada pil, kau pilnya, dan kamu ada wil, aku wilnya. Gimana, aku siap nih", katanya tak segan-segan di depan orang banyak itu.
Tampaknya Lucy ini memang sengaja minta perhatian orang banyak. Dan wajah kerupawanannya cukup memberikan syarat-syarat buat semua itu. Dan kami pada berdiaman mendengarkan entah gurauan biasa entah benar-benar serius. Tapi rasanya dari segi kesopanan per gaulan, tidak seharusnya ngomong begitu. Agak kasar permainannya. Dan isteri Pahlevi yang sibuk di dapur, adalah wanita yang betul-betul rajin bekerja, sangat suka membantu orang lain. Orangnya tidak banyak omong, rendah hati, dan sangat berlainan dengan adat dan kebiasaan suaminya yang selalu menganggap dirinya itu hebat, pintar dan serba tak mau kalah. Nama isterinya Fonda, kelahiran di Belanda tetapi keturunan Jawa. Bahasa Indonesianya bertambah baik, pergaulannya bertambah keindonesiaan. Ada dua wanit a yang kulihat betul-betul sangat rajin bekerja dan sibuk membantu ini itu di dapur. Pertama Fonda ini, dan seorang lagi wanita Pakistan tetangga mbak Ita, bernama Ramayanti. Mereka boleh dikatakan tenaga inti pekerja service dapur selama pesta itu. Dan h ebatnya, samasekali tak tampak wajah kelelahan, capek, dan merengut misalnya. Sangat sulit mendapatkan seseorang bekerja sibuk, lelah letih, tetapi tidak menyalahkan orang lain, atau sambil merengut atau sambil bermuka asam dan bersegi delapan! Dan inilah dua wanita itu, Fonda dan Ramayanti, tanpa merengut, tanpa lelah letih, dan selalu senyum. Dalam hatiku, betapa kami akan beruntungnya kalau dua wanita ini bekerja di resto kami di Paris!
Dulu pernah Nita bercerita padaku ada seorang wanita yang agak cantik tapi genit. Punya soal tertentu dengan suaminya. Lalu minta cerai. Dan katanya, persoalannya lebih banyak dari pihak si wanita yang selalu merasa benar tetapi kenyataannya dari pihak di alah yang memulai gara-gara. Ini semua kata orang luar. Tetapi katanya pula, setelah benar-benar akan maju ke pengadilan, suaminya membelikannya sebuah merci, mercedes benz seri 7. Maka perceraian itu tidak jadi. Karena ternyata suaminya masih mampu kalau hanya mau mobil mewah. Dan aku teringat cerita Nita itu, apakah wanita yang kini ada di hadapanku? Ketika kami pulang ke rumah, masih dalam mobil kutanyakan pada Nita. Katanya memang itulah cerita yang dulu kudengar itu. Dalam hatiku, ya pantaslah, dan s esuailah dengan keadaan dirinya yang agak cantik dan genitnya kagak ketulungan! Dan ngomongnya itu kurang memenuhi pergaulan kesopanan di tengah umum begitu.
Di ruangan depan ketika orang-orang sudah ada yang pulang, Mas Popo menyiapkan perlengkapan karaoke. Orang-orang mengumpul di sekitar karaoke. Berbagai jenis lagu tersedia, dangdut, pop, reggae, dan barat, beeges. Ruangan tengah tetap saja masih ramai. Da n bagian belakang gang tanpa nama sudah menipis, sebab hawa sudah mendingin. Musimpanas kali ini, sangat tidak menyenangkan. Pertengahan bahkan mau akhir Juli, tetap hawanya dingin, rata-rata hanya belasan C. Seorang wanita yang samasekali tak kukenal sib uk menjadi bagian pengangkutan. Mondar-mandir mengangkut berjenis kue, risol, pastel, lempar, rempeyek. Yang dibawa itu tidak hanya dua tiga, tetapi selalu penuh. Dan ini semuanya buat suami dan keluarganya yang duduk di ruangan tengah. Ketika suaminya da n anak-anaknya pindah ke ruangan depan karena mau ada karaoke, lalu makanan itu juga pindah ke depan suami, dan teman-teman suaminya dan keluarga mereka. Mereka mengumpul jadi satu lingkaran keluarga terdekatnya. Dan merupakan pesta tersendiri di dalam pe sta. Banyak mata yang merasa aneh melihat dan memperhatikannya. Terutama kepada wanita bagian pengangkutan buat keluarga terdekatnya itu. Walaupun banyak mata yang merasa aneh melihat peristiwa itu, tertap saja wanita itu tidak perduli dan menganggap sepi orang lain.
Dan ketika karaoke dimulai, suami dan beberapa teman suami wanita itu berebutan memegang mik buat siap menyanyi. Dan mereka menyanyi dengan keras, lantang dan mengikuti lagu-lagu itu. Walaupun suaranya boleh dikatakan di bawah ukuran minimal, mereka tidak perduli. Tetap menyanyi. Dan mungkin merasa nyanyian dan suaranya bagus dan orang lain pada suka. Kalau benar adanya perasaan ini, sangatlah harus dikasihani. Banyak bibir orang agak miring dan mencibir karena memperhatikan tingkah-polah keluarga itu. Su dah makannya seperti orang kelaparan, dan mengangkuti makanan itu sepuas dan semaunya buat kepentingan keluarga terdekatnya, lalu rebutan mik karena mau menyanyi. Anak-anak wanitanya yang berumur belasan menjadi kesatuan lingkaran keluarganya. Mereka hany a bergaul dan bercakap-cakap di kalangan lingkungan mereka saja, tidak dengan orang lain seperti halnya kebanyakan tamu di situ.
Sebenarnya banyak orang dan tamu mengharapkan seseorang akan menyanyi, sebab kebanyakan mereka tahu dan mengenal dengan baik, bahwa ada seseorang yang punya bakat baik dalam perkara tarik-suara. Suaranya bagus dan bahkan pernah mendapat pendidikan khusus buat vokal. Tapi harapan banyak orang ini menjadi kandas karena "penguasaan" mik di tangan orang-orang di kalangan keluarga khusus ini. Terdengar ada bisikan, betapa egoisnya segelintir tamu ini. Apa sih pendidikannya, ada yang bertanya begitu yang tak me merlukan jawaban. Tapi pesta tetap jalan. Dan dapat dikatakan pesta ultah Mas Popo ini, benar-benar meriah, ramai dan penuh kegembiraan. Rumah yang sebenarnya tidak kecil itu, didatangi sekitar seratus orang dengan anak-anak dan bayi, lalu menjadi terlalu kecil.
Dan sebagaimana layaknya sebuah pesta, tidaklah sepantasnya kalau kita mau membagi secara begini begitu menurut kemauan kita sendiri. Harus begini, harus menjadi jalur yang demikian. Semunya bebas dan semuanya terbuka, campurbaur, segala ada, warna-warni, namanya juga pesta! Namun dalam hati, kami mendoakan agar Mas Popo dengan seluruh keluarganya selalu dalam keadaan sehat, gembira dan sejahtera. Kami tahu benar, keluarga Mas Popo adalah keluarga yang baik, sejahtera, dan sungguh banyak teman serta sahab atnya.
Almere - HOLLAND - 27 Juli 2000
Biasanya orang akan mengatakan singa itu adalah raja hutan. Atau berjenis macan, harimau, akan dikatakan raja hutan. Tetapi mengapa sekali ini Kingcobra yang walaupun tanpa nama raja dalam bahasa setempatnya, telah menjadi raja yang sangat menakutkan. Semua jenis kera bila Kingcobra lewat, berbunyi mendesis melalui rerumputan, pepohonan kecil dan semak-semak, mereka akan memperhatikan dengan seksama dari atas pohon. Melihat ke bawah, memperhatikan Kingcobra sambil menjalar dan merayap dengan badannya yang panjang bulat. Di atas sepanjang perutnya dengan kulit berwarna hitam - putih dan kebiruan, dan dengan kepala mendongak ke atas bagaikan siap menerkam, keluarlah lidahnya yang bercabang itu. Keluar masuk, lidah itu panjang bagaikan pedang bercabang dan bermata dua. Beberapa jenis kera mencengkam erat dahan atau cabang pohon, seakan ketakutan kalau terjatuh yang pasti akan dilahap Kingcobra.
Dari kejauhan berjenis babi dan anak-anaknya berlarian ketakutan bila ada bunyi keresek-keresek rerumputan kering atau semak-semak, pepohonan kecil, rebah atau bergoyang mencurigakan. Kelinci yang paling sering menjadi santapan empuk Kingcobra. Tambah lama tambah pandai mewaspadai gerak-gerik Kingcobra, Dan Kingcobra akan melahap apa saja bila dia merasa kelaparan. Babi yang sedang-sedang, serta kambing penduduk sekitar pedesaan itu, sudah berkali-kali hilang dan orang-orang tahu, semua itu adalah korban Kingcobra. Yang menjadikan orang banyak menjadi heran, singa dan berjenis macan, harimau-pun, menghindar apabila Kingcobra hendak lewat. Mereka dengan mata tajamnya melihat dan memperhatikan bagaimana Kingcobra menjalar dan menjulurkan badannya yang bulat panjang itu. Sambil lidahnya keluar masuk yang cukup panjang, bercabang dua, bagaikan mata pisau. Kingcobra yang satu ini benar-benar mengerikan bila diperhatikan gerak-geriknya. Larinya cepat dan bisa berbelok-belok secara tiba-tiba. Lalu congor mulutnya itu segera menerkam mangsanya, dan korbannya tak bisa lagi bergerak meronta secara leluasa, karena cengkeraman gigi depannya sebagai alat penangkap dan penjepit bagaikan pisau tajam. Dan gigi lainnya secepat kilat mengeluarkan racun yang sangat berbisa. Maka korban tangkapannya alamat akan segera masuk perutnya yang panjang itu.
Bagi jenis ular, apalagi ular berbisa seperti Kingcobra ini, tak ada istilah mangsanya dikeluarkan lagi karena terlalu besar atau karena alasan apapun. Sebab jenis susunan giginya masuk ke dalam mulutnya, sehingga kalau sudah tertangkap menancap di antara giginya, artinya benda dan mangsa apapun hanya ada satu tanda : masuk terus ke dalam perutnya, tak bisa dan tak mungkin dapat ke luar lagi. Sebab susunan giginya akan mendorong terus masuk ke dalam dan tak bisa ke luar dan tak mungkin ke luar. Lain dengan binatang buas lainnya. Seekor singa, macan, harimau, atau buaya, akan memotong-motong atau bisa mengeluarkan badan mangsanya, akan mencabiknya menjadi beberapa bagian. Tetapi jenis ular tak bisa berbuat seperti binatang buas lainnya itu. Dia akan memangsanya bulat-bulat.
Di perkampungan Agra sebelah timur Delhi, India, tak jauh dari perbatasan Nepal yang juga tak jauh dari kaki pegunungan Himalaya, ada seekor Kingcobra yang panjangnya empat meter. Karena dikenal penduduk sekitar, kehebatannya memangsa berjenis binatang, dan ketakutan binatang buas lainnya terhadap Kingcobra ini, maka oleh penduduk dinamai Kingcobra Jaya. Bilakah King Jaya terlihat amat garang dan buasnya? Penduduk menandainya apabila King Jaya akan berganti kulit. King Jaya ketika itu seakan gelisah, jalannya sangat cepat, bagaikan berlari dan deras sekali. Keluar masuk hutan dan menyeberang sungai, dan melewati bebatuan, Berjenis binatang biasanya menandai apabila King Jaya lewat dan mengganas ketika akan sampai waktunya dia berganti kulit.
Periode begini biasanya Kingcobra Jaya akan selalu lewat di sela-sela pepohonan dan bebatuan yang kedua belahnya berdekatan. Seakan-akan memang dicarinya tempat begitu, buat dengan segera menanggalkan kulitnya, agar segera mengelupas dan lancar jalan pergantiannya. Penduduk yang menandai masa-masa pergantian kulit begini, akan mencari di mana dan kapan King Jaya akan berganti kulit. Mereka melihatnya dari kejauhan dan agak terlindung dari mata tajam King Jaya. Dia akan menjulur dan menjalar menggesekkan badannya. Lalu kulit itu mengelupas dengan wajar dan tanpa sedikitpun tergores apalagi luka. Lalu kulit barunya itu bukan main bagusnya, mengkilat bagaikan diminyaki. Dan warna kulitnya bagaikan dicat dengan berbagai warna-warni, dengan dominasi warna burik, kelabu dan bintik-bintik putih abu-abu. Dia biasanya akan "melepaskan lelah" agak sebentar. Dan tak berapa lama sesudah itu dia akan dengan ganasnya mencari mangsa, karena lapar, karena haus dan mau mengeluarkan racun berbisanya selama periode pergantian kulit itu.
Pada periode begini, dia akan berjalan - lari dan mengejar dengan derasnya. Lalu menangkap mangsanya dengan kejam dan buas, serta mengerahkan semua racun berbisanya sampai mangsanya itu mati lemas. Ketika itulah penduduk tak berani lagi agak dekat-dekat, dan semua ternak rumah dijaga dengan ketat agar King Jaya tak seenaknya menyerang dan memangsa peliharaan penduduk. Penduduk saling mengabari satu sama lain sedang di mana beradanya King Jaya, agar mengambil ancang-ancang buat berhati-hati. Kingcobra Jaya yang sebesar dan sepanjang itu bukanlah jenisnya buat dipermainkan penduduk India seperti cobra-cobra biasanya. Dia sudah dianggap bagaikan datu-datu sakti yang bertuah dan disakralkan. Tak ada orang berani berusaha menangkap atau menjinakkannya, apalagi membunuhnya. Penduduk hanya tahu ada Kingcobra Jaya, sekali-sekali memangsa peliharaan dan ternak penduduk, hanya itu. Dan itupun mereka terima dengan apadaya dan apaboleh buat.
Suatu kali cerita Kingcobra Jaya pada akhirnya menjadi kenangan dan cerita yang panjang tak berkesudahan. Di atas sebuah bukit yang banyak pepohonan dan juga bebatuan, penduduk melihat dari jauh ada binatang panjang seperti naga kalau memang naga itu ada. Binatang itu bagaikan berkelahi, mengempaskan dan membanting sesekor binatang yang besarnya bagaikan kerbau liar. Lama penduduk mngamatinya. Lalu mereka beramai-ramai mendatangi sebuah bukit tempat perkelahian antara naga dan kerbau liar itu. Begitu mereka semakin mendekat, tahulah mereka, seekor naga dan kerbau liar itu adalah Kingcobra Jaya sedang memangsa sesekor rusa yang bertanduk-banyak dan tajam. Rupanya King Jaya berusaha keras buat menelan rusa bertanduk banyak dan tajam itu, tetapi karena tanduknya itu panjang dan bercabang banyak dan tajam, maka tidak dapat tertelan begitu saja. Rusa itu tentu saja tak bisa berlawan, dan sudah mati lemas. Tetapi tanduknya yang bercabang-ganda, tajam dan panjang itu, bagaikan senjatanya yang terakhir. Dan Kingcobra Jaya karena berjam-jam berkelahi dengan kepala tanduk rusa bercabang-ganda dan tajam-panjang itu, pada akhirnya juga merasa kelelahan dan juga lemas karena bisa-racunnya-pun banyak hilang dan terkuras. Dan betapa penduduk merasa gembiranya. Mereka tak seorangpun dapat dan mampu buat menangkap King Jaya, dan juga tak bersedia membunuh King Jaya. Tetapi seekor rusa yang bertanduk-ganda, tajam dan panjang, sudah menembuskan badan King Jaya, menembus perutnya yang juga sepanjang yang ketika itu hampir lima meter. Dan King Jaya Rajakobra di kaki pebatasan Nepal - India itu, pada akhirnya mati karena kekejaman dan kerakusannya sendiri. Mati karena kehabisan dan terkuras kering racunnya sendiri, dan penduduk tak lagi kehilangan binatang ternak peliharaannya,-
Almere - HOLLAND,- 27 Juli 2000,-
Harus diakui, atau mau tidak mau orang banyak akan mengakui bahwa Tuan Pahlevi memang pintar, cerdas dan pandai bergaul. Soal sampai ke mana kejujurannya itu soal lain, tidak masuk acara kisah ini. Di Holland saja selama dia belajar lima tahun, sudah dapa t menggondol ijazah MBA. Padahal ketika dia sampai dulu itu dari Jakarta, dia belum bisa berbahasa Belanda, dan bahkan belum lulus SMA-nya. Dan kini dia sudah menjadi direksi bagian marketing di perusahaannya. Mengapa saya kenal dengan Tuan Pahlevi? Menan tu saya Bregas adalah teman baiknya, dan isteri Bregas yang artinya anak saya, Nita, adalah teman baik dari keluarga Tuan Pahlevi. Artinya juga adalah teman baik isterinya, Fonda ( lihat Kisah Serba-Serbi nomor 131 dan 132 ). Kata cerita-cerita lama yang sampai kini masih relevan, bagaimanapun seseorang itu selalu saja ada kekurangannya. Tak ada gading yang tak retak. Mungkin sedikit keretakannya inilah yang mau saya kisahkan barang sedikit. Karena saya merasa kasihan juga kepada Tuan Pahlevi akibat ulah pekerjaan kami. Artinya saya termasuk punya dosa kepadanya, disamping temannya sendiri, Bregas turut membikinnya sakit syaraf karena ulahnya yang tak pernah mau kalah. Tak pernah mau kelampauan, dan dilampaui orang lain.
Bregas dan isterinya, saya anggap cukup berhasil dalam soal membina kehidupan materiel. Tadinya kami punya niat dan juga sudah kami sampaikan kepada mereka berdua, bahwa kami pihak restoran Indonesia di Paris, ada keinginan buat menjadikan mereka sebagai tenaga tulang-punggung. Karena mereka berdua masih muda, cekatan dan selalu punya inisiatif, maka ada keinginan kami agar mereka turut secara aktive mengelola resto koperatif ini. Tetapi mereka tampaknya keberatan, dan menolak. Mereka pada akhirnya pindah ke Belanda sekeluarganya, empat orang, dengan anak yang baru berumur 11 tahun dan 2 tahun, Laura dan Berry. Ini ketika tahun 1997. Sebagaimana layaknya orang muda, mereka tampaknya sangat mudah buat mendapatkan kerja di Holland. Buktinya mereka berdua se lama 3 tahun itu sudah lebih dari dua kali pindah pekerjaan. Karena ingin mendapatkan gaji yang lebih baik. Sebab artinya pindah pekerjaan, haruslah selalu gajinya ini lebih baik dari yang sebelumnya. Dan baru saja selama dua tahun mereka hidup di Hollan d, mereka sudah dapat membeli sebuah rumah. Tentu saja dengan kredit sekian tahun, artinya masih ngutang. Mungkin karena dua-duanya bekerja, jadi pihak hipotik percaya buat memberikan kredit kepada mereka. Dalam pada itu mereka punya banyak teman, antaran ya Tuan Pahlevi ini. Rupanya Tuan Pahlevi banyak menaruh perhatian kepada keluarga Bregas - Nita ini. Banyak menanyakan berbagai soal, kenapa kok bisa secepat itu membeli rumah, padahal gaji mereka berdua jauh lebih kecil dari gajinya sendiri.
Saya tidak tahu apakah persis seperti dugaan banyak orang lain, pada akhirnya Tuan Pahlevi juga membeli sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari kota tempat kediaman keluarga anak saya itu. Sama-sama di kota Almere. Bedanya rumah yang dibeli oleh Tuan Pah levi, adalah samasekali baru, baru dibangun. Artinya Tuan Pahlevi kata orang Jawa, nganyari, merawanin, rumah baru yang betulbetul baru dibangun. Dan, ini yang penting bagi dirinya, rumah baru itu harganya jauh lebih mahal, tentu saja lebih mentereng sesu ai dengan gaji yang diterimanya. Pada waktu menyelamati, atau merayakan mendiami rumah baru itu, diadakan pesta. Dan kami semua datang. Menurut pendapat saya, rumah baru itu, bagus sih bagus, tapi rasanya saya jauh lebih menyukai rumah anak mantu saya itu . Dan agak kecil. Buat mereka berdua dengan Nyonya Fonda, dan belum punya anak, cukup besar. Tapi sekiranya ditempati kami berlima seperti rumah kami sekarang ini, maka rumah Tuan Pahlevi ini agak kecilan. Soal baru yah memang baru, soal bagus yah memang bagus, dan soal mahal, juga memang mahal. Tetapi memang beginilah kehendak Tuan Pahlevi. Dia tidak akan mau mempunyai dan memiliki apa saja yang lebih murah, lebih sederhana daripada kepunyaan teman-teman dan sahabat-sahabatnya. Ini pantang, demikian menu rut pengakuannya pada suatu kali ketika dia agak berdebat dengan kami. Bagaimana soal politik dan situasi masa sekarang?
Tuan Pahlevi sangat anti membicarakan politik, termasuk situasi sekarang di Indonesia. Ketika dulu pernah kami membicarakan berbagai gerakan dan organisasi yang ada di Holland, yang pada waktu itu baru saja didirikan AKUI, Aksi Kemanusiaan Untuk Indonesia, dia dengan mencibir agak mengejek. Padahal dalam susunan pengurusnya banyak juga keluarganya dan bahkan abangnya. Dan ini lainnya dari orang lain. Orang lain selau hangat membicarakan situasi tanahairnya sendiri, tetapi Tuan Pahlevi sangat tidak suka bi cara soal politik atau tegas dan jelasnya, tidak mau membicarakan yang tak ada sangkutpautnya dengan uang, duit, fulus! Sebenarnya yang jauh lebih mendekatkan kami dengan keluarga ini adalah pihak keluarga isterinya, pihak Nyonya Fonda. Fonda Nyonya Tuan Pahlevi ini, benar-benar jauh dari yang sebenarnya Raja Pahlevi dengan dua isterinya itu, Soraya dan Farah Diba. Fonda yang ini adalah wanita yang kulihat selama ini, sangat baik, ramah, terbuka dan sangat bertentangan dengan suaminya Tuan Pahlevi. Fonda sangat rendah hati, dan selalu hangat buat membantu orang lain. Dalam sebuah pesta atau pertemuan, perayaan apapun, Nyonya Fonda selalu yang paling aktive dan giat serta sangat rajin membantu orang. Dan Fonda termasuk wanita yang manis, ayu, tidak seksi t etapi ayu sebagaimana orang Jawa tradisional, berwibawa, dan orang senang memandangnya karena ada daya menarik buat berteman dan berkenalan dengannya. Dalam pengertian jauh dari selera yang tak baik ataupun vulgaire.
Di peluaran kota Amsterdam ada suatu tempat, arena, buat pertokoan berbagai mobil, juga mobil mewah. Tempat ini merupakan suatu kompleks permobilan. Semua merek mobil ada di sini. Dan Bregas sangat suka akan mobil. Bregas itu menurut saya adalah orang yan g tak bisa hidup tanpa mobil. Bukan soal dia suka mobil mewah, tetapi suka akan mobil saja, tak ada soal merek, tapi pokoknya mobil. Tentu saja kami ketika itu meratai pameran mobil itu. Dari merek biasa sampai yang mewah megah. Dari Chevrolet sampai ke A udty, Volvo, Mercedes-Benz, BMW dan sebangsanya. Kami datang melihat ke pameran penjualan mobil ini karena membunuh waktu sebelum datang ke pesta ultah Mas Popo ketika itu. Sebab terlalu kecepatan kalau kami langsung datang ketika itu, sedangkan hari baru jam 14,30, pesta mulai pada jam 17.00,- Bregas karena suka akan berbagai merek mobil, tentu saja dia sangat lain cara memperhatikan mobil-mobil tertentu daripada saya memperhatikan mobil. Ada merek mobil dan jenis mobil baru yang saya juga melihatnya, y aitu Volvo model S 70. Bagus sekali stream-line. Tetapi lebih bagus lagi yang model S 80. Di dalam Volvo ini, ada tilpun, ada televisi, ada bar-kecil buat minuman, ada peta jalanan yang sedang ditempuh. Pokoknya saya belum pernah melihat perlengkapan yang begitu sempurna. Ternyata juga Bregas baru sekali ini melihat jenis mobil yang demikian. Dia tampaknya sangat tertarik. Lalu diambilnya prospektus untuk itu, sebuah majalah lengkap tentang Volvo. Ini di Paris tidak ada. Tidak ada suatu tempat yang seluru hnya kompleks buat pameran penjualan mobil berbagai jenis. Yang ada satu per satu, terbagi, tidak ada yang begitu banyak jenis seperti pameran penjualan ini.
Volvo model S 80 ini harganya hampir 150.000 gulden. Dari model yang hebat dan mahal ini, lalu timbul akal licik kami. Kami ingin mengerjai Tuan Pahlevi. Bahwa Bregas sudah memesan Volvo ini buat membelinya walaupun dengan kredit sekian tahun. Dan ketika kami sampai di rumah Mas Popo, dan ketika orang-orang sudah agak tenang, barulah Bregas memperlihatkan iklan dan prospektus Volvo itu kepada Tuan Pahlevi. Tuan Pahlevi terperangah melihat mobil bagus dan mewah itu. Foto dan gambarnya, serta keterangan ter perinci sangat menarik. Memang ini hanya jenis Volvo bukannya BMW atau Mercedes-Benz, tetapi ini model baru dan jenis baru. Dan yang paling membikin Tuan Pahlevi belingsatan, adalah ketika dia mendengar dari mulut Bregas sendiri, bahwa dia sudah memesan V olvo itu buat dimilikinya tahun depan nanti 2001, tokh hanya tinggal lima enam bulan lagi. Dan ketika itulah Tuan Pahlevi saya lihat lalu wajahnya menjadi pucat dan kedua belah tangannya menjadi gemetar. Seketika dia tidak bisa berbicara, terdiam, lalu ma tanya agak melebar terus menjadi sayu, seakan bertanya, apakah dirinya bermimpi? Dan dia lalu segera pergi menuju ke dalam. Saya ikuti dengan mata, dan lalu dengan agak pelan, saya ikut di belakangnya. Ternyata dia mencari isteri Bregas dan segera menanya kan, apakah benar Bregas mau beli dan sudah pesan Volvo jenis S 80 itu. Kudengar Nita menjawabnya, itu baru rencana saja, belum sangat pastilah.
Dan sejak itu saya lihat Tuan Pahlevi serba salah tingkah. Sudah tidak normal lagi. Lalu saya dengar dia bicara sendiri. "Tidak mungkin, impossible, mana gaji dia akan cukup. Dia punya gaji masih jauh dari 100.000 gulden per tahun. Saya jauh lebih tinggi dari 120.000 gulden per tahun. Saya tahu gaji dia tak sampai setengah dari gaji saya. Nee, nee, omongkosong!", katanya me nggumam sendirian. Tersedar dia, bahwa saya duduk di sebelahnya, lalu bertanya "Apa benar Pak Simon, menantu sampeyan itu mau beli Volvo jenis ini?", katanya sambil menyodorkan iklan Volvo yang kami bawa tadi. "Tampaknya memang tadi itu dia sudah pesan agar bikin rendes-vous buat membicarakan dengan direkturnya. Dia mau bicara serius mengenai pembelian Volvo tersebut buat tahun depan", kata saya secara sengaja memanasinya. Dalam hati saya, agar dia ini belajar tahu adat! Saya lihat Tuan Pahlevi semakin nervous. Sudah tak lagi selincah sebelumnya. Diajak berguraupun sudah malas dan reaksinya sudah lamban dan salah tingkah.
Ketika kami pulang menjelang tengah malam, jam 24.00, baru sebentar kami di rumah, sudah ada tilpun menjelang jam 01,00. "Kamu jangan gila Gas, kamu harus perhitungkan gaji kamu. Itu kan seharga 150.000 gulden. Sedangkan hutang kredit rumah kamu saja masih berapa tahun harus dilunasi. Ingat itu. Saya sih sebagai temanmu merasa harus mengingatkan kamu. Jangan begitu mudah ma u punya mobil bagus, yang padahal gaji kamu tak sebesar gaji saya. Sebelum kamu ambil keputusan pasti, saya ingatkan lagi. Pikirlah dalam-dalam, panjang-panjang", demikian kata Tuan Pahlevi menurut cerita Bregas. Setelah saya berpikir agak lama, lalu saya katakan pada Bregas, agar "permainan dan pengerjaan" kita kepada Tuan Pahlevi sebaiknya diakhiri. Tak baik secara sengaja membikin orang berlama-lama sakit syaraf dan nervous berat karena takut tersaingi dan merasa dilampaui! Untuk ngerjai dengan mimpi Volvo S 80 saja, Tuan Pahlevi sudah tak dapat tidur selama dua malam, begitu kata Nyonya Fonda kepada kami berdua Nita.
Kata saya kepada Bregas, sekali-sekali ngerjai orang angkuh, congkak, ada baiknya. Biar kita kasi ajar adat kepada dia orang! Dan hari ketiga sesudah itu, Bregas menyatakan bahwa dirinya membatalkan pemesanan Volvo S 80 itu, yang sebenarnya memang tak pe rnah terjadi kami memesannya. Dan semoga saja buat hari ketiganya sesudah itu Tuan Pahlevi bisa mengurangi kecongkakan dan keangkuhannya barangkan beberapa puluh persen!
Almere - HOLLAND 28 Juli 2000,-
Tuan Pahlevi sendiri yang memberitakan bahwa orangtuanya mau datang ke Holland. Dan keperluan pokoknya mau menikahkan anaknya, Tuan Pahlevi ini. Tuan Levi menjadi biungung karena berita itu. Dan kalau Tuan Levi mengalami kesulitan serta kebingungan begini biasanya dia akan datang kepada Nita. Lalu menanyakan bagaimana sebaiknya bersikap menghadapi soal rumit begini. Sebenarnya tidaklah begitu rumit, tetapi Tuan Levi sendiri yang bikin menjadi rumit. Yang bikin rumit itu yalah, sebenarnya Tuan Levi samasekali belum mau dan belum siap untuk menikah dan berkeluarga secara normal. Sementara ini dia hanya mau samenleven saja dulu, atau istilah yang tak begitu sedapnya, biarlah kumpul-kebo dulu. Tapi soal kumpul-kebo itu sudah dijalaninya lebih dari setahun dua. Dan orangtuanya yang masih memegang adat lama, sebenarnya adat normal dan wajar, menghendaki anaknya menikah baik-baik. Dan pernah dikatakan orangtuanya, selagi mereka hidup, ingin sekali menyaksikan pengantin anaknya.
Semua ini bisa dipahami, dan sangat wajar dan manusiawi, apalagi ayahnya berasal dari Tanah Minang, dan ibunya dari Tanah Jawa yang kental beragama. Untuk menentang dengan menolak keras kehendak keluarganya, dia rasa-rasanya tidak begitu tega. Tapi untuk menerima begitu saja, dia juga tidak terima. Dan itulah sebabnya dia datang kepada Nita buat bagaimana pandangan Nita atau pemantauan Nita tentang soal ini. Nita pertama membuka kata-kata dengan sangat berhati-hati. Sebab soal ini adalah soal keluarga besar oranglain, dan soal kepercayaan. Jadi benar-benar harus diperhitungkan dengan sebaik-baiknya dan juga sejujur-jujurnya. Dan saya tidak hanya sekali dua mengingatkan Nita, agar apa saja yang dia "rasakan dan dia dengar dan yang tergambar padanya" itulah yang dikatakan dan dijelaskan. Maksud saya samasekali jangan diluar rasa dan gambaran dari pemantauannya, jangan dikarang-karang, jangan asal menyenangkan atau membimbangkan orang. Soal perasaan luar dari itu, bisa saja terjadi, tetapi apa yang diungkapkan dan dikatakan karena dirasakan dan tergambar, hal itulah yang dikemukakan.
Sebenarnya saya juga sangat kuatir dengan "pekerjaan dan missinya" ini, sebab sekiranya meleset dan tidak tepat, lalu bagaimana? Betul hal ini bukannya reka-rekaan dan main teka-teki, duga-dugaan, tetapi betul-betul berdasarkan apa yang dirasakan dan tergambar jelas di ruang jiwa dan nuraninya. Barangkali inilah yang dikatakan pancaindra yang keenam itu. Yang orang lain, atau saya sendiri tidak punya.
"Ya Tuan Levy, saya sudah melihat semua ini, dan juga sudah sedikit mengetahui apa yang Tuan rasakan dan kehendaki. Tetapi apa yang saya tahu dan rasakan ini, belum tentu cocok dan sesuai dengan kehendak dan pikiran Tuan. Juga belum tentu pasti akan terjadi. Saya hanya meneruskan kepada Tuan, apa saja yang saya tahu dan yang tergambar pada saya mengenai sedikit jalan kehidupan Tuan. Jadi semua itu terletak kepada Tuan sendiri",- "Maksudnya apa itu?", kata Tuan Levy. "Sudah tentu yang paling pokok terletak pada Tuhan dan Tuan sendiri. Kalau Tuhan menghendaki lain dan Tuan sendiri menghendaki apa yang Tuan mau dan rasakan, maka tentulah akan lain terjadinya. Saya hanya meneruskan apa yang saya pantau dari apa yang saya rasakan dan yang tergambar saja. Saya sama sekali tidak bisa mengubah bagaimana seharusnya kehidupan Tuan. Urusan itu hanya ada pada keputusan Tuhan dan Tuan semata", kata Nita mendahului akan kelanjutannya.
Saya sendiri agak heran juga, kok Tuan Levy mau-maunya sekarang ini datang kepada Nita yang dulu pernah dia ejek dan dia sangat tidak percaya akan pengetahuan supranatural itu. Kini tampaknya berubah pandangannya. Karena itu saya jadi tambah mengerti mengapa Nita harus dengan proloog agak panjang sebelum memasuki soal. Missinya saya tahu tentang Nita, karena dia selalu berkonsultasi mengenai persoalan supranatrural ini, tak lain semata-mata mau membantu orang lain, mau meringankan beban orang lain. Itupun kalau orang itu mau dan rela buat percaya, kalau tidak ya tidak kena, tidak cocok, karena memang dasarnya hanya coba-coba bukannya pasrah dan percaya. Dalam ilmu supranatural, hal ini menjadi sangat penting.
Tuan Levi tampaknya mengerti dan mau mengerti apa yang diutarakan Nita. Dan anak saya itu, memandangi dalam-dalam ditentang pangkal hidung dan difokuskan antara kedua mata Tuan Levi, dengan tajam-tajam dan dengan dalam-dalam. Tuan Levi tertunduk, kesombongannya dan keangkuhannya sementara terkalahkan.
"Ada beberapa hal yang Tuan berada dalam posisi agak sulit. Orangtua Tuan menghendaki agar Tuan menikahi Fonda, dan dengan cara Islam. Tapi Tuan bukankah masih berkeberatan? Yang saya lihat, kalau Tuan menuruti perasaan Tuan, maka kesulitannya lebih berganda. Sekiranya Tuan menentang kehendak orangtua Tuan, dan dengan catatan sudah jauh-jauh dari Jakarta datang ke Holland buat keperluan dan kedamaian dan kebanggan keluarga, maka Tuan akan lebih mengalami kesulitan yang Tuan tak terpikirkan",- "Apa itu rupanya?", tanya Tuan Levy. Tampak Nita menarik nafas panjang dan menghembuskannya dalam-dalam. "Kalau Tuan menentang kehendak keluarga, lalu Tuan menuruti perasaan dan kemauan pihak Tuan sendiri, lalu orangtau Tuan meninggal? Mereka akan sangat bersakit hati sampai matinya. Dan rokhnya akan sangat mengganggu kehidupan Tuan dan sekitar kehidupan Tuan. Bukan mereka sengaja menyakiti kehidupan Tuan, tetapi semua itu karena akibat dari sangat sakit hatinya ketika masa hidupnya karena kehendak mereka Tuan tampik. Tetapi ada lagi kesulitan lainnya. Kalau Tuan bersedia berkorban dan mau menuruti kehendak orangtua, tetap saja kehidupan Tuan juga akan mengalami kesulitan. Hanya kesulitannya itu tidak sebesar kalau Tuan menolak kehendak mereka", tambah Nita.
Dan pada konsultasi pertama ini, tampak wajah Tuan Levi, semula agak merah, lalu pucat dan agak layu. Dan keringatnya, barangkali keringat dinginnya, menjadi bintik-bintik air, bulat-bulat, lalu mengaliri pipinya yang biasanya agak tembem. Tuan Levi ini agak berwajah baby-face. Sesudah itu beberapa hari kemudian dia datang lagi buat konsultasi kedua kalinya. Nita bercerita padaku, bahwa Tuan Levi mau dan bersedia berkorban demi kehendak orangtuanya, tetapi bukanlah dari hati yang sebenarnya, demikian kata Tuan Levi sendiri. Lagi-lagi Nita menjelaskan pengertian berkorban. Kalau rasa pengorbanan itu terus dan selalu saja diutik-utik dan diutak-utak, bukankah jadinya tidak rela dan tidak jujur pengorbanan itu? Betul-betul watak kesombongan dan keangkuhan Tuan Levi ini, cukup alot. Tapi Nita tetap bersabar dalam menjelaskan sesuatu buat dipahami Tuan Levi. Saya kira hal inipun tidak begitu saja Tuan Levi mau menerimanya, sebab watak keraskepala dan kepalabatunya akan selalu ngeyel dan keangkuhanya terkadang meledak tidak hanya timbul pelan-pelan saja.
Tuan Levi dalam hari-hari kedatangan dan selama orangtuanya ada di Holland, apalagi kalau mereka dalam keadaan bersama sekeluarga besarnya, terlihat sangat tertekan. Rasa sombong dan angkuhnya sangat sulit buat keluar seperti biasanya. Sebenarnya yang disombongkan itu hanya dari segi keuangan, material dan pangkat kedudukan sekitar kantornya saja. Tahu tentang dunia lain, manapula dia openi, apalagi kalau soal politik, atau soal pengetahuan dunia lainnya. Namun tentang segi inipun tidak satu dua diantara keluarganya yang turut agak iri dan cemburu, bagaimana bisa Tuan Pahlevi selekas ini menanjaknya dan tinggi gajinya dari semua anggota keluarganya. Bermobil baru, punya rumah baru, dan betul-betul baru dibangun lagi. Dan yang terakhir ini, beristri baru. Dan semua orang tahu dan mengenal Fonda, wanita keturunan Jawa itu, walaupau lahirnya di Belanda, tetapi adat Jawa dan ketimurannya sangat halus, rendahhati, dan sangat menyenangkan. Kalau Tuan Levi sedang bercerita, selalu saja ceritanya itu tentang kemewahan, kekayaan dan material, yang sangat sedikit orang lain akan mendapatkan faedah baiknya.
Dia memang selalu bertugas ke dan di luarnegeri. Sebentar-sebentar sudah di New York, lalu dua tiga hari lagi sudah di London. Terkadang makan paginyapun di Paris, dan makan siangnya di Roma. Karena itu dia sering-sering mengatakan dengan terbang begini, tak cukup waktu. Harus ada lagi jenis pesawatterbang yang lebih cepat, lebih canggih. Dia lalu bercita-cita, sebenarnya bukan cita-cita, tetapi dia mimpi mau beli pesawatterbang jenis concorde yang sangat cepat dan praktis itu. Concorde selama ini cocok dengan pekerjaannya, sebab concorde hanya terbang sekitar Amerika dan Eropa saja, tidak kelain tempat. Dia benar-benar memimpikan membeli pesawat concorde secara pribadi, walaupun dengan kredit dulu. Hal ini dintakannya kepada beberapa temannya, termasuk kepada Bregas suami Nita. Dan orang yang diceitainya itu pada manggut-manggut yang siapa tahu pura-pura percaya sajalah dulu. Apa sih susahnya pura-pura percaya! Dan suatu kali berdering tilpun di rumah Bregas.
"Gas, Gas, aku benar-benar tak jadi mau beli concorde itu. Baru mau beli, tahu-tahu sebuah concorde jatuh meledak di dekat Roissy dan Bourget di Paris. Tahu kau, serombongan kapitalis Jerman mati semua dalam concorde itu. Jatuhnya di Paris pula, di tanah tempat kalian hidup dulu itu, yang kini mertuamu hidup! Jadi bukan salah saya kalau tak jadi saya beli concorde ya! Saya hanya mau jadi kapitalis saja, tapi tak bersedia jadi kapitalis seperti rombongan kapitalis Jerman di concorde kemaren dulu itu", katanya seolah-olah memang benar-benar meyakinkan kami bahwa dia urung membeli pesawat concorde buat pribadinya.
Paris 30 Juli 2000
Menurut pemantauan, penglihatan yang tergambar pada Nita, mau tak mau harus dikatakannya kepada Tuan Levi. Sebab pada biasanya, bila seseorang memang benar-benar minta bantuan dan sangat mengharapkan bantuan, Nita akan selalu menolong dan membantunya. Tetapi samasekali bukannya bisa dan mampu mengubah. Mengubah, mengganti, itu urusan Tuhan dan diri seseorang, faktor dalamnya sendiri,- demikian Nita berpendapat.
Begitulah halnya dengan urusan pernikahan Tuan Levi ini. Dia sebaiknya menuruti kehendak yang baik dari orangtua dan keluarga besar lainnya. Tetapi bagaimanapun kesulitan lain sudah menunggu di depan pintu. Hanya tidaklah sebesar kalau Tuan Levi menentang kehendak keluarga besarnya. Sedangkan keluarga dipihak calon isteri, Fonda, tidak persoalan besar, diserahkan kepada keluarga besar Tuan Levi. Soal agama juga demikian. Mereka memang tidak menganut suatu agama tertentu, tetapi percaya adanya Tuhan, percaya akan doa dan kebaikan serta kebajikan yang dianjurkan agama.
Tetapi ada hal-hal yang dijelaskan Nita kepada Tuan Levi. Pasal mau atau tidak mau menuruti apa yang dikatakan Nita, itu urusan Tuan Levi sendiri. Hanya Nita merasa berkewajiban buat menjelaskannya terusterang apa yang berhasil menurut pemantauan Nita. Mau percaya ya silahkan, mau tidak percaya juga tidak menjadi beban bagi orang yang benar-benar mau membantu.
Bahwa ketika upacara pengantinnya nanti, mempelai wanita harus berpakaian putih-bersih, tanpa warna lain. Dan mempelai pria, harus berpakaian betul-betul harus sederhana, tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah pesta perkawinan. Dan tidak pesta besar-besaran. Saya benar-benar heran, dan tak habis pikir. Semua apa yang dikatakan Nita, secara baik dituruti oleh Tuan Pahlevi, dan keluarga besarnya juga menuruti kehendak Tuan Levi ini. Nita sendiri juga benar-benar tidak punya beban apa-apa kalau seandainya apa yang dikatakannya itu tidak dituruti dan ditentang Tuan Levi dan keluarganya. Dia benar-benar merasa berkewajiban menolong dan membantu orang yang memang benar-benar mengharapkan dan membutuhkan bantuan.
Dan terjadilah pada upacara pernikahan itu. Sebagaimana yang dijelaskan Nita, semua apa yang dipesankannya dituruti oleh Tuan Pahlevi. Tuan Levi hari itu benar-benar hanya berpakaian sehari-hari, tak ada tanda bahwa hari itu adalah hari istimewa baginya dan kehidupannya. Sedangkan Nyonya Fonda, sangat cantiknya dengan pakaian pengantin yang serba putih-bersih itu. Dan yang hadir hanyalah keluarga besar itu saja, dari dua belah pihak. Dan ditambah dengan keluarga Bregas - Nita, tak ada undangan lainnya. Secara kebetulan, Tuan Levi sendiri memang tidak menghendaki pesta besar pada upacara pernikahannya ini. Sebenarnya sejak semula, Tuan Levi memang sudah menentang dan sangat tidak setuju akan pernikahan ini. Tetapi karena dia mengingat dan mempertimbangkan kehendak orangtuanya dan pihak keluarga besarnya, maka dia mengalah. Dan hal ini bagi seorang yang sombong dan angkuh, bukan main cacat besar yang dirasanya. Tetapi dalam hati saya, jangan-jangan keadaan ini merupakan hukuman juga bagi Tuan Levi, dan karena akibat sikap dan tingkah-lakunya sendiri.
Dalam pada itu Nita juga menjelaskan bahwa kesulitan dan kerumitan lain bagi Tuan Levi, sudah menunggu di depan pintu. Hanya kesulitan dan kerumitan apa, tidak dijelaskan. Tetapi Tuan Levi menjadi penasaran, dia mau tahu dengan jelas, kesulitan dan kerumitan apa itu. Dalam ilmu ramal-meramal, tidak akan begitu jelas dan terperinci segala apa saja yang kita mau tahu. Kalau jelas jemelas, terperinci, satu persatu, itu mah rencana lima tahun kenegaraan, dan sudah menyangkut ilmu eksak.
Nita dengan samadi dan konsentrasinya akhirnya mengatakan juga, bahwa kesulitan dan kerumitan itu adalah persoalan sekitar kantornya. Dan benarlah, tak perlu berlama-lama "menunggu" apa itu soal kerumitan dan kesulitan, di kantor Tuan Levi terjadi perubahan. Bossnya yang dulu pindah, dan kini digantikan boss baru yang wanita. Dan wanita ini dirasakan oleh Tuan Levi sangat tidak simpatik dan tidak menyukai dirinya. Sering main perintah, main komando, dan tidak ramah.
Pertengkaran sudah mulai terjadi sedikit demi sedikit. Suasana kantor sudah tidak seperti dulu lagi. Apalagi letak meja Tuan Levi walaupun tidak berdekatan dengan sang majikan, tetapi berhadapan langsung. Seolah-olah dapat dengan mudah buat mengontrol pegawainya ini. Sebenarnya perbedaan boss dulu yang pria itu dengan boss baru yang wanita ini, tidaklah begitu besar. Masih dalam kategori normal. Tetapi karena Tuan Levi sejak dulu punya sikap yang merendahkan terhadap wanita, dan selalu saja bersikap meninggi, selalu high-provile, dan menganggap dirinya sendiri yang paling benar, paling hebat, paling pintar dan banyak paling lainnya, ini tidak kena pada seorang boss. Seorang boss memang selalu dan tugasnya buat memerintah dan mengomando, dan mengawasi. Masih tetap normal apa yang dilakukan boss baru yang wanita ini. Persoalannya bagi Tuan Levi, mengapa harus ber-boss dengan seorang cewek! Mengapa? Apa tidak ada pria yang lain buat menjadi boss?
Perbedaan pendapat, perselisihan kecil selalu dibawa Tuan Levi ke rumahnya. Dan kini Nyonya Fonda terpaksa harus menampung dan menerima segala keluhan suaminya dari kantor. Keadaan ini sangat mempengaruhi kehidupan yang aman dan damai dalam keluarga baru pengantin ini. Sudah mulai terasa bagi Nyonya Fonda, keadaan rumahtangga tidak lagi tenteram seperti sebelum perubahan susunan administrasi baru dengan boss baru suaminya ini.
Fonda merasa harus menilpun Nita, ingin menanyakan yang sangat menguatirkan perasaan keluarga pengantin baru ini. "Nit, benar Nit apa yang jij katakan dulu. Sudah ada kesulitan dan kerumitan di kantor Mas Levi. Saya ingin jij terusterang, apakah mungkin pada akhirnya Mas Levi bisa terusir dan dipecat dari pekerjaannya?", kata Nyonya Fonda pada suatu hari. Dan Nita sesudah mengamatinya dan memantaunya mengatakan
"Menurut apa yang saya rasakan dan tergambar, tidak sampai begitu jauh. Tetapi persoalan yang sekarang ini akan selalu ada kalau tidak ada perubahan pada diri masing-masing, terutama Mas Levi-mu. Itu yang penting", kata Nita.
Dan rupanya percakapan Fonda dengan Nita ini, menjadikan Tuan Levi tidak tenteram. Kontan Tuan Levi minta agar Nita datang ke rumahnya. Rumah Tuan Levi dan rumah Bregas-Nita tidak berjauhan, masih dalam satu kota kecil saja yang jauhnya 30-an kilometer dari Amsterdam. Dan Nita selalu akan datang kepada seseorang yang benar-benar gamang dan gelisah dan perlu bantuan dan pertolongan.
"Jadi apa yang kau maksud harus adanya perubahan diri masing-masing itu? Apa yang mesti aku buat, apa dong yang mesti aku perbaiki? Aku mau tahu!", kata Tuan Levi dengan nada tidak sabaran dan agak cenderung marah. Nita anak saya yang saya sangat kenal itu, selalu bersikap kalau orang marah dan sedang berapi-api, dia akan selalu membawakan angin segar, atau air sejuk, hawa dingin-dingin sejuk dan hembusan ketenteraman.
"Sebenarnya kau sendiri tahu dan paham apa yang seharusnya kau ubah dan perbaiki. Saya ingin mengatakannya karena kau minta, tetapi saya ragu, apakah kau sanggup menerima apa yang mau kukatakan?! Dan lagi lebih dari itu kalian kan sudah kami anggap keluarga sendiri, lalu bisa saja terjadi rasa ketidakcocokan apa yang terasa bagi orang lain dengan yang kita rasakan sendiri, ya kan Mas Vi? Terkadang apa yang kita katakan kepada orang lain, kita rasakan biasa saja, tetapi bagi yang menerimanya bukan main sakit hatinya, ya kan Mas Vi? Coba sampeyan pikir dan pertimbangkan benar nggak sih?",-
"Okey-lah, itu belum menyentuh soal. Saya ingin yang kongkrit, saya adalah orang materialis, bukan idealis, bukan abstrak, nyata, terlihat, terasa, teraba, inilah saya", kata Tuan Levi, juga tetap belum kelihatan kesabarannya, dan tetap tak bisa menahan diri.
"Bukankah Mas Vi juga tahu bukan, bahwa terlalu banyak orang menga nggap sampeyan adalah orang yang sombong, angkuh, congkak. Kalau ngomong mau menang sendiri, merasa dirinya paling hebat, pintar, kaya raya, gagah, berwibawa. Dan penyakit yang paling gawat adalah suka meremehkan orang lain, suka menghina dan mengejek orang lain. Suka merendahkan orang lain, dan menganggap dirinya selalu benar dan selalu berjaya. Padahal apakah semua itu betul adanya? Betul begitu? Kan belum tentu kan? Di Dunia ini selalu ada yang bisa melebihi, bisa menandingi, dan ternyata diri kita itu sesungguhnya sangat terbatas. Dan Mas Vi, terasa nggak bahwa sampeyan itu sangat suka merendahkan wanita, suka menganggap wanita itu berderajat jauh lebih rendah dari laki-laki? Terasa nggak sih?", kata Nita dengan suara tetap berusaha menahan diri. Dan sambil lalu melihat dan memperhatikan Nyonya Fonda.
Dan Nyonya Fonda terlihat mengalirkan air dari matanya dan turun ke bawah, ke kedua belah pipinya. Nita tahu sebabnya, tapi tak dikatakannya. Bukankah persoalan ini adalah rahasia rumahtangga pribadi yang sangat rumit?
Dan Tuan Levi terdiam lama memikirkan apa itu perubahan, kerumitan, dan kesulitan. Terpikir juga olehnya, semua itu bukan karangan dan asal bunyi saja dari mulut Nita, tetapi dia masih malu buat mengakuinya. Kini yang menjadi kepalanya sendiri di kantor adalah seorang wanita! Ini betul-betul tamparan bagi Tuan Levi yang selalu mendongakkan kepalanya bila melihat wanita, sangat merendahkan. Mungkin hal ini juga yang menjadikan dari pelupuk mata Nyonya Fonda itu, keluar butir mutiara putih bersih itu.
Apa yang dikatakan Nita itu sebenarnya juga terasa pada diri Tuan Levi, tetapi wahai, betapa sulit mengakuinya, betapa sulit mengubahnya. Tetapi memang ada dan terasa secara pelan-pelan, dia berusaha tidak akan gotot mempertahankan apa yang selama ini dikatakan orang-orang banyak tentang dirinya.
Dan lagi-lagi hampir pertengkaran terjadi. "Okey, okey, saya akan usaha. Buat semua ini saya akan bayar jij seberapa jij mau dan tetapkan atas semua nasehat selama ini", kata Tuan Levi. "Saya harap apa yang kau ucapkan harus kau cabut! Tak pernah saya bekerja buat menolong dan membantu orang lalu mengharapkan, apalagi menetapkan buat minta bayaran. Apalagi kalian sudah saya anggap keluarga sendiri. Saya bukan bekerja buat semua itu. Inilah satu tanda terakhir lagi, bahwa kau bukan main sombong dan angkuhnya dalam soal materiel. Belum lagi kering bibir-mulutku mengatakannya, kau sudah menyatakannya sendiri tentang siapa kau", kata Nita.
Ketika itulah Nyonya Fonda menangis terisak-isak, dan air mata itu berjatuhan bukan lagi mengalir, tetapi sudah berurai berjatuhan.
Tapi segera Nita menahan diri lagi, berusaha menguasai dirinya lagi. Terasa baginya, bagaimanapun dia adalah manusia biasa. Berkali-kali disebutnya nama Tuhan, minta dilindungi, minta pengampunan. Dan dia terasa menyesal telah menyebutkan apa adanya tentang pasien, pelanggan si kepala-batu yang satu ini. Dan kami, bagaimanapun, tidak boleh memusuhi keluarga Tuan Levi ini. Kami bagaimanapun tetap sedia dekat, sedia bersahabat, tetapi tak boleh terikat dan tidak boleh mengandung rasa ketidakbebasan sedikitpun,-
Paris 31 Juli 2000
Selama kekuasaan orba-abri-golkar- Suharto, betapa banyaknya anak-anak orang-orang yang dianggap PKI dan kaum kiri, yang tidak bisa menjadi orang normal. Tidak bisa bersekolah, tidak bisa mencari pekerjaan, tidak bisa hidup dengan aman dan tenteram. Selalu saja ada gangguan, ancaman, hinaan, pelecehan dan semua hal-hal yang samasekali tidak manusiawi. Dan ini berlangsung sampai puluhan tahun.
Anak-anak yang ketika itu baru saja lepas dari umur balita, begitu mau sekolah, sudah disambut oleh teman-temannya dengan berupa hinaan dan cercaan. Tentu saja semua ini akibat pendidikan secara umum, baik memang dari sekolahnya maupun dari lingkungan keluarganya. Sesama anak-anak yang boleh dikatakan masih bersih itu, bagaikan kertas putih yang belum banyak atau belum ada coretannya, anak-anak pinggiran ini mengalamai hinaan dan cercaan, bahkan lebih dari itu.
"Hei, hei, anak pki tidak boleh sekolah di sini hei, hei, orang pki pemberontak, pembunuh manusiawi anak-anak pki, pki, pki, harus pergi dari sini!", dan berjenis "nyanyian dan sorakan serta ejekan" lainnya. Tentu saja anak-anak pinggiran ini sangat malu dan lebih dari itu merasa sangat sakit hati. Dan mereka lalu menjadi tidak suka lagi bersekolah di tempat itu, dan orangtuanya atau walinya berusaha agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Tetapi pindah ke tempat lain. Atau ditumpangkan ke tempat lain, atau bisa juga dikatakan ngenger ikut keluarga lainnya. Menangis atau berlawan secara berkelahi, ada juga pengalaman begini. Tetapi situasi umum ketika itu, selalu berpihak kepada yang berkuasa, anak-anak "resmi orang normal" itu. Tentu saja kesalahan pokok bukan pada anak-anak itu. Tetapi situasi ketika itu sangat memusuhi orang-orang pki dan kaum kiri keseluruhannya.
Orang-orang pki dan kaum kiri secara umum, berserta kaum keluarganya sangat mengalami siksaan, ancaman, serta hinaan. Harus melapor setiap minggu, atau setiap bulan, atau secara berkala lainnya, sesuka hati para penguasa militer mengaturnya, bagaimana mereka punya mau. Dan tidak jarang banyak keluarga yang diperas. Misalnya rumahnya akan segera digusur bila tak bisa damai dengan cara lain, atau ketika mau membuat KTP, atau pindah yang memerlukan surat-keterangan, maka faktor uang, sogokan, menjadi faktor pokok. Atau ketika diadakan transaksi penjualan rumah, tanah atau apa saja, maka orang ketiga yang selalu akan muncul, akan memeras orang-orang pinggiran ini. Orang-orang pinggiran beserta keluarganya, adalah sasasaran yang paling empuk buat diperas, buat dijadikan umpan, korban, dan kelinci-percobaan.
Terkadang tak sedikit dan tak jarang secara tiba-tiba keluarga orang ini didatangi begitu saja buat dimintai uang, barang bahkan bisa saja mau "melamar" anak gadisnya atau cucunya yang ketika itu sudah beranjak dewasa. Dan kalau tidak mau dan menolak, kembali lagi ke soal pokok : uang, sogokan, uang tutup-mulut, dan uang-tutup-perkara. Sangat sulit bagi anak-anak orang pinggiran ini buat meneruskan sekolahnya atau walaupun hanya buat menamatkan sekolah dasar saja atau sekolah lanjutan saja.
Akan tetapi tidak sedikit yang juga berhasil gemilang, bahkan jauh melampuai orang-orang atau teman-teman yang berkategori normal dan wajar itu. Tidak sedikt di antara mereka, anak-anak orang pinggiran ini yang begitu berhasil dan menjadi andalan sebuah kantor, atau perusahaan, atau usaha komersial lainnya. Mereka dengan kepandaian, kepintaran dan kecerdasannya, memegang tampuk pimpinan di sebuah kantor, atau perusahaan, atau pabrik. Tetapi jauh sebelum itu, ketika dalam menuntut pelajaran dan dalam kelas sekolahnya, mereka dengan sangat ulet, dan militan, belajar dengan sangat tekun, rajin, serta selalu mendapat hasil yang gemilang. Mereka itu menjadi insinyur, dokter dan doktor, akuntan, notaris, ahli hukum, sarjana ekonomi, akhli informatic, akhli komunikasi internasional, dan professor sesuatu disiplin ilmu. Bagaimana ceritanya bisa demikian?
Jalan berliku-liku. Tidak sedikit di antara mereka yang harus menanggalkan indentitas resminya, harus menyembunyikan kenyataan sesungguhnya demi buat bisa terus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak demikian, alamat sekolahnya akan macet, akan gagal, karena dihina, bahkan bisa diusir dengan berbagai cara. Ada yang mengubah namanya, ada yang ikut keluarga jauhnya bahkan bisa juga ikut dengan siapa saja yang menaruh simpati kepada keluarga mereka. Dan orang-orang baik semacam ini ternyata masih tetap ada. Dan Tuhan masih tetap menyediakan tempat bagi mereka yang benar-benar ulet, gigih dan militan.
"Yah Oom kan tahu sendiri, ketika masa-masa itu, semua kami yang dicap keluarga pki dan orang-orang kiri ini, tidak punya tempat buat bersekolah, buat mencari pekerjaan, bahkan buat hidup normal seperti orang-orang lain itu", kata Zulkarnain, seorang akhli pertambangan yang bekerja di sebuah perusahaan Amerika, dan yang mendapat kedudukan sangat baik.
"Ketika itu kami berlawan, berlawan secara diam. Tetapi bukan diam passive. Kami berlawan dengan belajar secara sungguh-sungguh. Kami harus punya tekad menyelesaikan pelajaran sebaik-baiknya. Mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Dan buat semua itu hanya satu modalnya, kemauan-keras, keuletan. Kami ingin menunjukkan juga bahwa kami bisa sebagaimana mereka yang dulu menghina dan mencerca kami juga sama bisanya. Bahkan mereka yang dulu pernah menghina, dan mengejek kami, banyak juga yang tertinggal di belakang kami, bahkan tak sedikit yang gagal. Tapi kami samasekali tidak memusuhi mereka. Semua ini ada sebab pokok lainnya. Sedangkan mereka yang melecehkan kami dulu itu, hanyalah sebagai akibat pendidikan dan politik penguasa secara keseluruhan. Ya, begitulah Oom. Semua kami yang berhasil ini, adalah hasil perjuangan yang cukup susahpayah, menghendaki ketabahan. Bahkan di antara kami dalam tahun-tahun belakangan ini bukannya samasekali sudah tak ada lagi rasa kecemasan itu. Bisa saja sewaktu-waktu tergencet, terusir, ter-phk-kan, dan lagi-lagi terpinggirkan", kata Zulkarnain, anak teman akrab saya dulu itu.
Dan sesudah itu ada dua tiga orang lagi saya temui anak-anak yang dulu berada dalam status pinggiran, kini memegang posisi yang sangat baik sebagai manager sesuatu pabrik dan perusahaan. Dan betapa saya gembira dan senangnya hati. Anak-anak pinggiran ini, ternyata perjuangannya tidak berbunyi, dan mereka tidak menyanyi, tetapi sukses sangat membanggakan hati. Cara mereka berjuang agak berlainan dengan orangtuanya dulu. Dan itupun mungkin karena situasinya juga berlainan. Tapi bagaimanapun rezim repressive Suharto ini telah melahirkan suatu angkatan baru, suatu angkatan yang berjuang secara diam-diam, tidak berbunyi dan tidak bernyanyi, tetapi dengan belajar setekun-tekunnya, sebaik-baiknya. Dan mereka ternyata berhasil baik buat menyamakan diri dengan teman-teman dan orang-orang normal lainnya. Dan rezim Suharto ternyata "masih menyisakan" kaum pinggiran ini buat menjadi orang normal kembali, buat menjadi orang dan yang diorangkan, berkat semua hasil perjuangannya sendiri,-
Paris 1 Agustus 2000,-
Fabel Satu
Tuan Abubakar tidak hanya dua tiga kali mendengar nasehat dan ocehan orang, agar dia memperdulikan kata-kata dan nasehat orang luaran. Perkaranya sangat bersifat pribadi, dan Tuan Abubakar tidak suka akan saran dan nasehat itu. Yang olehnya sering dianggap hanya sebagi ocehan dan rasa iri serta cemburu. Nasehat yang dianggapnya ocehan itu, yalah agar dia baik-baik menjaga isterinya yang kelihatan cantik serta agak genit itu. Orang luaran sudah sering melihat dan menemui Nyonya Abubakar selalu berdua-duan dan ada juga yang melihat Nyonya Siti Mekarsari dengan pria lain. Dan pria lain itu selalu saja datang dan tepat waktu ketika Tuan Abubakar sedang tidak ada di rumahnya. Maklumlah seorang saudagar seperti Tuan Abubakar selalu berlayar. Ke negeri jauh, dan ke tanah rantau yang ramai dengan perdagangan. Dan lagi kata orang, pria yang sering dan tepat waktu ketika mendekati dan mengencani Nyonya Siti Mekersari, tidak hanya satu orang saja, tetapi ada dua atau tiga orang.
Perkara ini tidak baik bila dilihat orang banyak. Dan juga memang tidak pantas. Bukankah seorang isteri dan punya anak tiga lagi, sudah seharusnya setia dan jujur kepada seorang suami? Dan lagi akan sangat aib, memalukan seisi kampung itu melihat tingkah laku Nynonya Siti Mekarsari ini. Semua ini disampaikan oleh beberapa orang penduduk yang bermaksud baik kepada keluarga Tuan Abubakar. Tetapi Tuan Abu tetap saja menganggap remeh, dan tidak memperdulikan nasehat dan saran orang-orang itu. Dia menganggapnya semua nasehat dan saran itu hanyalah ocehen orang-orang yang merasa iri, cemburu bahkan dengki kepadanya. Dia juga menyadari, bahwa dirinya selama ini bertambah kaya raya, tentu saja orang-orang akan banyak yang iri, cemburu dan dengki.
Orang-orang, terutama penduduk yang dekat sekitar kediaman Tuan Abu, merasa sudah melaksanakan kewajibannya. Menasehati tetangga, menyarankan hal-hal baik, dan bahkan ingin memberikan suatu penyelesaian kebaikan, bagaimanalah sebaiknya Tuan Abu menghadapi Nynonya Siti Mekarsari. Tetapi Tuan Abu dengan percaya diri yang sangat berlebihan, bahkan dengan agak keras dan sedikit kasar dan sombong berkata :
"Terus terang saya katakan, tidak mungkin isteri saya akan berlaku sedemikian rendahnya. Saya percaya penuh kepadanya. Dan saya tahu betul, isteri saya itu mendapatkan apa saja yang dia mau, sebagaimana layaknya seorang isteri, yang masih muda dan penuh gairah. Dia sangat puas dengan saya baik lahir maupun batin. Lahir, dia mendapatkan apa saja yang dia mau. Perhiasan? Pakaian? Rumah dan istana kecil? Uang? Dan batin, nafkah batin, bahkan dia terkadang kelabakan menghadapi saya. Saya masih menggebu-gebu, dia sudah sampai klimaks! Ayo, apalagi? Tidak mungkin semua yang kalian katakan itu", kata Tuan Abu.
"Ya, tetapi bukankah Tuan selalu tidak di rumah dan berlayar jauh, berminggu-minggu?",-"Itu saya tahu. Tetapi begitu saya tiba di rumah, kami tetap seperti layaknya pengantin-baru yang penuh madu. Dan dia sangat mesra dengan saya, walaupun kami sudah punya anak tiga", kata Tuan Abu lagi.
Dan banyaklah kata-kata serta pendapat dan saran orang-orang mengenai hal-hal yang mereka anggap aib dan memalukan seisi kampung. Sejak itulah orang-orang sudah tak mau lagi berhubungan dengan Tuan Abu. Dan sudah sangat tidak memperdulikan Tuan Abu, baik sebagai teman atau tetangga biasa, maupun sebagai seorang manusia yang sudah seharusnya saling memperhatikan.
Dan suatu kali ketika Tuan Abu tiba sebagaimana biasa dari pelayaran jauhnya, dia mendapati rumahnya sudah kosong. Dia panggil-panggil pembantu rumahtangganya, menanyakan ke mana dan di mana isteri dan anak-anaknya. Para pembantu wanita dan beberapa pria itu, menjawab bahwa Nynonya mereka Siti Mekarsari sudah tiga hari ini pergi dengan anak-anaknya. Dan tidak pula menyebutkan mau ke mana dan berapa lama. Mendengar hal ini, bukan main marah dan timbul rasa bencinya dia kepada isterinya. Tapi bagaimanapun besarnya kemarahan dan kebencian, perkara-lama ini sudah timbul dan sudah terjadi.
Bagi Nyonya Siti Mekarsari juga ternyata dia harus memutuskan, akan terus hidup begitu atau dengan seorang pria yang mengerti dirinya. Bisa memuaskan dirinya secara harmonis, sama-sama sederajat, tidak seperti dengan suaminya Tuan Abubakar yang sangat egois dalam mementingkan kemauan dirinya sendiri. Putusan ternyata harus diambil, dan dia tinggalkan segala kemewahan dan kemegahan sebagai Nyonya saudagar Tuan Abu.
Dan orang-orang kampung sekitar situ, sudah lama tahu, bahwa hal ini pada akhirnya akan tetap terjadi. Tuan Abubakar sebenarnya sangat ingin keadaan seperti dulu lagi. Baik terhadap orang-orang kampung dan tenteram damai hidup sekeluarganya, maupun dengan siapa saja yang mau bersahabat dengannya. Tetapi jalannya kehidupan sudah banyak berubah. Ada memang terasa dalam hati dan sanubari yang terdalamnya, ternyata kalau orang sudah begitu banyak dan begitu sering memberikan pendapat, saran dan nasehat, kemungkinan besar hal itu adalah benar. Ternyata orang-orang kampung matanya lebih tajam, lebih awas dan lebih mengerti tentang hal-hal yang sebenarnya dia kurang mengerti. Atau karena terlalu besar rasa percaya-dirinya, sehingga lalu hanyalah kesombongan yang menonjol. Bagaimanapun dalam soal ini sudah terlambat,-
Fabel Dua
Seorang raja muda mempunyai juru kesehatannya sendiri. Dia punya dokter, tabib sampai dukun sekalipun. Raja muda ini, yang bernama Syeh Jailani, pada waktu-waktu tertentu memeriksakan kesehatannya. Seorang dokternya yang bernama Sri Pratama, pada suatu hari dengan teliti dan seksama memeriksa raja muda Syeh Jailani ini. Pada akhir pemeriksaan dan sesudah mendapatkan hasil penelitiannya, dokter Pratama mengatakan kepada raja muda, bahwa ada tanda-tanda sesuatu penyakit dalam tubuhnya. Dan dokter mengatakan, pada suatu hari dia akan memeriksanya lagi penyakit apa itu, jenis yang bagaimana.
Tetapi raja muda tidak memperdulikannya, dan tidak pula mau menuruti nasehat dokternya, agar minum obat yang diberikan. Raja muda merasa sangat sehat, tak ada satu apapun yang dirasakannya, badannya dirasakannya cukup fit dan prima.
Dokter itu mengatakan, hal begini bisa saja terjadi, tetapi hanya buat sementara saja, sudah itu biasanya akan terasa dan menahun dan bertahan dalam tubuhnya. Raja muda tetap tidak percaya dan tidak memperdulikan nasehat dokternya. Pada pemeriksaan selanjutnya, dokter mengatakan, penyakit raja muda yang disebutkannya dulu, sudah memasuki darahnya. Raja muda masih tetap ragu, dan dia belum mau minum obat yang disarankan oleh dokternya.
Dan pada kedatangan dokter yang ketigakalinya, sesudah melalui pemeriksaan dengan teliti, dokter terkejut dan agak heran, raja muda masih bisa bercakap-cakap dan berbuat seperti sehari-harinya. Penyakit yang dulu dikatakannya sudah mulai masuk tulang sumsum, dan menjalari seluruh tubuhnya. Raja muda sudah merasakan ada simtom-simtom tertentu dalam tubuhnya. Mungkin saja ada penyakit yang disebutkan dokternya itu. Dan ketika itulah dia baru mau minum obat. Dokter Sri Pratama sudah sampai menggelengkan kepalanya. Dia sudah tahu akan kesudahan raja muda ini.
Keesokannya, negeri itu berkabung. Raja muda mati terkapar karena penyakit seluruh badannya, dan ketika kemarennya, sudah tidak bisa bergerak apalagi berdiri, sebab seluruh darah, dan tulang sumsumnya sudah dijalari bakteri penyakit yang sedang mau diteliti dengan sungguh-sungguh. Tetapi raja muda ketika hidupnya menolak dengan selalu mengatakan tak apa-apa, dan badannya tetap merasa fit bahkan prima. Ternyata penyakit itu semula mengendap, lalu menyerang pelan, lalu menghantam dengan dahsyatnya. Dan lalu terkaparlah raja muda yang selalu menganggap dirinya fit dan prima itu. Dan lalu berkabunglah seisi negeri itu. Banyak orang mengatakan, ya salahnya sendiri, siapa suruh selalu menentang dokternya sendiri. Dokternya dengan disiplin ilmunya sendiri, sedangkan raja muda hanya dengan perasaan subyektifnya saja,-
Fabel Tiga
Seorang raja sangat suka akan seorang tabib yang juga merangkap orang pintar. Tabib ini sangat disayangi raja. Suatu hari raja minta sesuatu nasehat, apa kira-kira yang dapat menjadi andalan bagi dirinya agar tetap bisa hidup sehat, selamat, dan aman-aman tenteram dalam memerintah isi negerinya.
Tabib itu meluluskan permintaan raja. Diberinya catatan khusus dan dilipatnya kecil-kecil, lalu diberikannyalah kepada raja. Oleh raja kertas kecil bertulisan itu dianggap sebagai jimat, sebagai mascotnya, sebagai yang bisa menyelamatkannya. Tetapi raja juga agak heran, karena yang tertulis dan disuruh selalu mengingat-ingatkannya itu hanyalah bertuliskan : "sebelum kamu memulai pekerjaan ini, pikirlah baik-baik akan hasil dan kesudahannya", dan hanya itu saja. Apa sulitnya menghapal dan mengingat kata-kata itu?,- pikir raja,- Dan raja selalu saja mengucapkan kata-kata ini bila dia mau berbuat dan memulai sesuatu. Pada lain pihak, dia juga mau menekankan pada dirinya dan buat dirinya sendiri, agar sebelum berbuat sesuatu agar pertimbangkan akan baik buruknya, akan akibatnya dan akan bagaimana hasilnya kelak. Jadi kata-kata dan nasehat itu memang tepat dan baik bagi siapa saja. Hanya tidak semua orang menyedari akan makna kata-kata dan nasehat itu. Tapi raja tetap bahkan lebih-lebih percaya dan sangat sayang akan tabib kesayangannya itu.
Karena raja memerintah dan menguasai negerinya cukup baik, memperhatikan kebanyakan rakyatnya, dan negerinya makmur, aman-sentosa, maka bukan hanya satu dua negeri tetangganya yang merasa iri, dengki dan mau merebut kerajaan itu. Raja punya pegawai banyak sekali. Dan pegawai istana ini, sesuai dengan tugas pekerjaannya masing-masing. Ada tukangjahitnya tersendiri, ada grup kesehatannya tersendiri, ada tukangmasaknya, dan sebagainya. Tukangcukur rambutnya yang gemuk berkumis itu semestinya sudah datang buat mencukur raja, tetapi katanya dia akan datang satu minggu lagi. Raja berpesan agar segera datang karena jambang, kumisnya sudah mulai agak gatal. Sudah seharusnya dicukur, diperbaiki, dipelihara indah-indah tidak semerawut seperti sekarang ini.
Maka pada suatu hari tukangcukur itu datang buat mencukur raja. Tetapi kedatangannya agak aneh, karena tampaknya dihinggapi ketidaktenangan, agak tergesa-gesa dan tidak seperti biasanya. Ketika raja sedang bercukur dan tukangcukur sedang menyabuni kumis dan jenggotnya, ketika itulah raja mengucapkan isi jimat dan maskot dulu itu : "sebelum kamu memulai pekerjaan ini, pikirlah baik-baik akan hasil dan kesudahannya", dan ada dua tiga kali raja mengucapkan isi kata-kata itu. Raja mengucapkannya sebagaimana biasanya yang dilakukannya sehari-hari saja, apabila dia memulai pekerjaannya, sebagaimana orang Islam mengucapkan Bismillah.
Tetapi tukangcukur itu begitu mendengar ucapan raja itu, lalu segera menjadi lunglai. Dan pada ucapan keduanya dan belum ketiganya, tukangcukur itu terkulai dan jatuh, terkapar pingsan. Segera dengan cepat para pengawal dan prajurit raja menangkap tukangcukur itu. Tukangcukur mengira semua rencana yang ditugaskan sebuah negara tetangga buat membunuh raja itu, diketahui raja dengan baik dan jitu. Padahal raja hanya begitu saja mengucapkan kata-kata itu. Dan tukangcukur itupun masuk penjara, dan terbongkarlah jaringan spionase bentuk lama dengan kelakuan tetap sama dari dulu sampai sekarang, bunuh membunuh, jatuh menjatuhkan. Dan sejak itulah raja semakin menyayangi tabibnya yang baik hati dan yang sudah menyelematkan dirinya hanya dengan isi kata-kata yang sangat sederhana itu,-
Paris 2 Agustus 2000,-
Liburan musimpanas ini agak kacau kami mengaturnya, karena ada hal-hal yang salah rencana, dan secara tiba-tiba berubah. Sehingga yang tadinya sudah direncanakan akan ke tempat A, lalu tak jadi. Laura sudah mulai libur sejak akhir Juni sampai dengan awal September. Sebagaimana kami, juga kebiasaan umum di mana-mana, kami menggunakan dan merencanakan liburan musimpanas jauh sebelumnya. Tetapi karena rencana itu salah dan meleset, maka beginilah jadinya.
Dan karena itu harus disusun-ulang, tentu saja ke tempat lain. Laura punya pendapat yang mungkin agak aneh dan tersendiri. Dia hanya mau ke Asia, kalaupun tak dapat ke sana, dia mau ke Hawai. Lalu kami mendatangi beberapa agence de voyage di Almere. Kami merencanakan berlibur ikut grup, bersama-sama, ke Sumatra, sampai Lombok. Atau yang jurusan ada Kalimantannya. Saya belum pernah ke Tanah Minang, Minangkabau dan Kalimantan. Dan kami mencari jurusan yang menempuh dua tempat itu.
Agence de voyage D-Reizend yang besar di Holland, saya tidak suka. Sebab mereka tidak mau menerima kartu-kredit internasional, hanya mau lokal Belanda saja. Jadi kita harus bayar dengan uang likid, dan itu artinya harus tukar uang dulu, dengan gulden-florin. Ini harus potong pajak dan emisi. Mula pertama saja kita sudah rugi! Jadi agence de voyage itu, saya tinggalkan. Lalu ke Globe. Tak ada tempat, semua penuh dan habis. Lalu ke The Start. Juga seluruh perjalanan yang ke Indonesia dan Malaysia, tak ada tempat buat seluruh bulan Juli dan Agustus. Sedangkan kami ketika itu mulai mencarinya pada awal Juli. Orang dan petugas agence de voyage itu mengatakan bahwa biasanya orang-orang booking dua tiga bulan sebelumnya. Sangat kecil kemungkinannya akan dapat tempat. Semua tempat habis.
Lalu Laura putar haluan, bagaimana kalau ke Hawai saja. Dan lagi-lagi kami mencari tempat atau tiket yang ke Hawai. Juga habis buat seluruh bulan musimliburan ini. Dan Laura akhirnya,- "Sudahlah, kalau begitu saya mau ke Paris saja dengan kakek. Dan saya mau bekerja di resto Indonesia, sambil belajar kerja, stage, menjadi stagieur", ucapannya ini dihadapkan kepada kedua orangtuanya. Itu terjadi pada Kemis malam. Dan pada Jumat pagi-pagi, Bregas-Nita setuju akan mengantarkan Laura, dengan seisi keluarga buat ke Paris. Maka sesudah kedua orangtuanya pulang kerja, sore itu, menjelang malam kami berangkat ke Paris dengan mobil, lengkap lima orang. Bregas - Nita, Laura, Berry dan saya. Dan saya segera menghubungi teman-teman yang mengatur pekerjaan di resto.
Dulu sebelum keluarga Nita-Bregas pindah ke Holland, mereka berdua juga pernah bekerja di resto kami. Laura sebenarnya tidak asing dengan pekejaan resto, sebab sering melihat orangtuanya dan kakeknya bekerja di sana. Dan dia sering juga menolong mengangkat piring-mangkuk-gelas-cangkir dari meja pelanggan membawanya ke dapur. Semua ini dilakukannya dengan sukarela dan dengan semangat mau kerja. Ketika itu umurnya antara 5 - 6 tahun. Jadi kira-kira sekarang ini sesudah umur 14 tahun tentu saja seharusnya bertambah baik. Tetapi memang ada kendala lain. Kami mau mempekerjakannya, tetapi justru karena umurnya masih jauh di bawah batasan usia-kerja yang seharusnya, 17 tahun, maka tidak bisa kami pasang begitu saja sebagai pegawai. Sebab hal ini menyalahi peraturan kerja dan undang-undang. Karenanya dia kami pasang sebagai sukarelawan, bantu-bantu saja.
Dan begitulah dia bekerja kalau jam-kerja saya ada dipasang. Jadi dia bekerja tanpa dipasang susunan kepegawaiannya. Tetapi pekerjaannya ya sama saja, hanya sebagai pegawai magang, stage, tentu saja banyak hal-hal yang dia belum tahu, dan belum trampil. Ini normal, dan sangat wajar. Apalagi selama tiga tahun ini dia hidup di Holland dengan tatacara sana, dan tidak berada dalam masarakat Indonesia sebagaimana kami hidup berkomunite di resto. Tadinya saya meragukan, jangan-jangan nanti Luara akan banyak diomeli, dimarahi Oom-Oom dan tante-tante lainnya, bahkan bisa-bisa dibentak karena banyak salah kerja. Apalagi suasana dapur yang sangat sibuk, dan berhawa panas api-dapur itu, adalah suatu tempat yang paling sensetif. Yang mudah marah, mudah dan gampang naik-darah, gampang membentak dan paling tidak ya ngomel dan menggerundel.
Tetapi ternyata tidak, bahkan jauh dari persangkaan saya. Semua Oom dan Tantenya itulah yang justru lebih banyak ngomong, cerita sambil tanya ini itu mengenai kehidupannya selama tiga tahun di Belanda itu. Mereka sangat senang mendengar Laura bercerita mengenai keadaan di Belanda, dan lebih-lebih senang karena mendengarkan bahasa Indonesianya yang bagus tetapi bergaya ke Eropaan, antara Belanda dan Perancis. Terusterang saya katakan, sangat banyak anak-anak di Belanda yang sebaya Laura dan Berry, tetapi sedikitpun tak mengerti bahasa Indonesia. Padahal lingkungan keluarganya adalah Indonesia dengan budaya dan adat yang kental Indonesia, bahkan Jawa!
Saya selalu bekerja di bar, atau mondar-mandir antara bar-dapur. Bekerja di bar harus banyak mengawasi secara keseluruhan, dan mengurus keuangan, dan permintaan minum, termasuk kopi dan teh.
"Laura, antarkan dua kopi ini ke meja A 2. Ingat yang satu ini adalah deca, decafein. Deca selalu sendoknya di atas permukaan mulut cangkir, dan kopi biasa, cafe sendoknya selalu di atas tatakan piringnya. Jangan sampai salah. Nanti orang tidak bisa tidur kalau dia minum cafe, yang padahal dia mau deca,"-"Okey, kakek, saya bisa", katanya. "Laura, kau antarkan cafe au lait ini ke meja bawah, C 8, dan dua mangkuk kolak ini ke meja C 2, hati-hati jangan jatuh dan jangan salah meja", kata saya. Dan Laura akan selalu menjawab : "Okey kakek, je fait, saya bisa", katanya dengan cekatan. "Kakek, bagaimana membuat tapai au sorbet?",-"Begini, kau ambil satu sendok tapai hitam, lalu satu sendok tapai putih. Lalu di atasnya pakai es-krim-kelapa, au coco, lalu disirami dengan saus kolak pisang satu sendok, lalu dengan santan satu sendok makan",-"Wah, kalau begitu enak benar dong, kek",-"Sudahlah, kerjakan cepat, kalau mau mencobanya, nanti kalau semua pelanggan sudah pulang", kata saya.
Malam itu sebenarnya baru malam Kemis, atau Rabu malam. tetapi pelanggannya begitu banyak. Sampai ke ruang bawah, lantai-bawah. Sangat jarang pelanggan begitu banyak kalau hari-hari biasa, bukannya week-end. Sekira 50 orang lebih dengan tenaga kerja-utuh, tiga orang di sal, dan dua orang di dapur. Kalau malam week-end, Jumat malam atau Sabtu malam, pelanggan sebanyak 50 orang termasuk sedikit, biasanya antara 60 sampai 80 orang. Bahkan pernah lebih dari 100 orang. Tetapi tenaga kerja juga bertambah dua orang lagi.
Malam ini memang cukup banyak pelanggan kami yang agak tidak begitu smooth komunikasinya dengan kami. Hal-hal begini bisa terjadi, tetapi sangat jarang. Mungkin memang ada kesalahan dipihak kami, dan bukannya tidak mungkin memang ada pelanggan yang agak nakal.
"Kakek, dari meja A 3, dia tidak mau bayar sebegini banyak katanya, coba kakek datangi". Dan saya datang ke meja A3. "Saya tidak merasa memesan sate-ayam, Tuan. Jadi saya tidak mau bayar yang tidak saya pesan", katanya. Dan saya melihat catatan fich-nya, ada sate-ayam. Dan saya mengurusnya ke dapur, di fich dapur juga sama dengan fich bar. Dan saya datang lagi ke meja A 3.
"Tuan, menurut catatan kami, Tuan memang pesan sate ayam. Dan sate ayam yang kata Tuan, tidak Tuan pesan itu, sudah tuan makan habis. Seharusnya kalau Tuan tidak merasa memesannya, Tuan kembalikan, atau Tuan tanyakan kepada petugas service, bahwa Tuan tidak memesan makanan itu. Dan ini Tuan sudah habiskan sate yang kata Tuan tidak Tuan pesan itu. Jadi seharusnya Tuan bayar apa yang sudah Tuan makan", kata saya dengan kata agak pelan tapi tegas. Pelanggan itu tetap berkeras tidak mau bayar. Dan kami tidak mau bertengkar. Apalagi ketika itu banyak pelanggan, sibuk. "Okey, karena Tuan tidak mau bayar, padahal Tuan sudah makan sate ayam yang tidak Tuan pesan itu, saya potong seharga sate ayem. Tetapi agar Tuan tahu, lain kali kalau ada makanan yang tidak Tuan pesan, jangan Tuan makan, kembalikan, atau tanyakan kepada petugas service. Sebenarnya peraturan ini sangat strik, di resto manapun akan berlaku peraturan ini. Agar Tuan tahu hal itu.", kata saya. Dan pelanggan sejumlah tiga orang itu, diam-diam meninggalkan ruangan, tanpa pamitan. Mereka anak-anak setengah baya. Dari wajah sangarnya sudah agak tampak, sulit bisa dikatakan jujur dan baik.
"Laura, bikin kolak secepatnya. Kita kekurangan dessert kolak. Lalu kalau sudah, tutupi dengan kertas gerenjeng". "Apa itu kertas gerenjang, kek?". "Ah, apa itu. Nah, kertas almunium!". "Bahasa apa itu gerenjeng?". "Bahasa Jawa". "Kakek jangan bahasa Jawa dengan saya. Saya tidak ngerti!", katanya. "Sudahlah, cepat sana, kerjakan", kata saya segera menyuruhnya cepat. "N’importe quoi, kakek", katanya masih sempat membalas. Sembarangan ngomong kakek.
Lalu sesudah pelanggan agak mereda, menjelang jam 23.°°, beberapa Oom dan tantenya, menyuruh Laura makan lagi sebelum pulang. Dan Laura makannya, biasa, selalu lahap, selalu nasi goreng dengan citron yang asamnya bukan main itu. Itulah kesukaannya. Malam itu kulihat dia cukup lelah, sebab turun-naik ke lantai bawah dan lantai satu dengan membawa makanan yang tidak ringan. Tetapi karena dia anak muda, beberapa menit saja sudah pulih dan merasa segar lagi, dan tak terlihat tanda kelelahannya.
Para Oom dan Tantenya masih mau banyak cerita dan tanya ini itu lagi, karena sangat suka mendengar tutur-kata Laura dalam bahasa Indonesia yang kedengarannya bukan dari mulut anak Indonesia yang tinggal dan hidup di Indonesia, saya sudah mengajaknya pulang. Takut ketinggalan bis terakhir dari stasiun ke rumah kami di Bois de Cadet. Betapa senangnya Laura bisa ikut bekerja di resto, bercakap-cakap dengan para Oom dan Tantenya, dan pelanggan lainnya, buat mengembalikan kemahiran berbahasa Perancis lagi. Sebab selama tiga tahun ini dia diharuskan berbahasa Belanda karena keadaan kehidupannya di sekolah dan beberapa organisasi olahraga bela dirinya dan musiknya,-
Paris 3 Agustus 2000,-
Pengalaman mengajar bahasa Indonesia buat para pelajar berbagai tingkat sekolah akan berbeda dan kesulitannya juga berbeda, selukbeluknyapun berbeda. Termasuk mengajar bahasa Indonesia buat pelajar yang lahir dan hidupnya di Indonesia, juga berbeda dengan mengajar bahasa Indonesia buat pelajar Indonesia yang lahir dan hidupnya di luarnegeri. Juga berlainan dengan pengalaman mengajari orang-orang atau pelajar Indonesia sendiri dengan orang asing yang belajar bahasa Indonesia.
Saya pernah bertugas mengajar bahasa Indonesia buat pelajar asing yang mempelajari bahasa Indonesia. Tingkatnya adalah perguruan tinggi, universitas. Dan juga pernah mengajar bahasa Indonesia buat anak-anak Indonesia yang lahir dan hidup di luarnegeri. Tingkatnya Sekolah Dasar.
Karena anak-anak ini lahir dan hidupnya di luarnegeri ( di Tiongkok ) sedangkan pergaulan sekitarnya, terutama di rumahnya di mana orangtuanya berbahasa Indonesia, maka punya sedikit pengenalan tentang Indonesia dan sedikit bahasa Indonesia. Tetapi sekolah aslinya adalah berbahasa Tionghoa, sehingga mereka merasa mempelajari bahasa Indonesia itu adalah belajar bahasa asing. Di antara mereka saling bertanya, apakah sore ini ada pelajaran bahasa asing? Maksudnya bahasa Indonesia.
Dan ketika anak-anak itu pada pindah ke Eropa, dan suatu waktu mereka bertemu dengan teman-teman sebayanya di Belanda misalnya atau di Jerman, mereka berusaha untuk bisa berbahasa Indonesia. Tetapi sudah banyak lupa atau sangat sulit mengingatnya.
Suatu ketika ada dua orang anak remaja bertemu di Belanda, dan saling mengucapkan kata selamat, tetapi lupa selamat apa, dan istilahnya apa, tetapi tahu apa maksudnya. Sambil bersalaman yang satu mengucapkan "Selamat Hari Raya....... Ibu Kartini ya",- Yang lainnya tertawa, tapi juga tahu bahwa ucapan temannya ini salah, tapi dia juga tidak ingat. "Oya, selamat Hari Raya Abdul Fitri",-
"Ahk, salah, juga saya lupa, apa ya, betul-betul lupa saya", kata temannya.
Dan untunglah ada seorang Oomnya yang sedari tadi memperhatikan kedua sahabat itu yang baru bertemu kali ini sesudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Yang kalian maksudkan tentulah Selamat Hari Raya Idulfitri, betul tidak?",-"O ya Oom, saya betul-betul sudah lupa", katanya. Dan mereka saling tertawa merasa lucu. Sungguh sangat sulit mengucapkan kata dan kalimat itu.
Satu hal sebagai kekurangan umum dan kekeliruan umum, selalu saja terbalik menggunakan kata-kata. Lalu menggunakan persamaan bunyi, merasa atau mendengarnya ada kesamaan bunyinya, ada kemiripannya, tetapi tidak tepat seperti yang diucapkan.
Anak saya ketika berumur 5 dan 6 tahun, selalu mengatakan hari itu dia tidak masuk sekolah, karena sakit kelapa ( padahal maksudnya kepala ). Lalu suatu waktu suaranya sangat serak, sulit bicara. Seorang Oomnya menanyakan mengapa dia sangat sulit bersuara dan berkata.
"Saya sakit anggoro, Oom".
Di tempat kami ada seorang Oom yang namanya Anggoro, dia mantan wartawan Olahraga yang sangat trampil dalam menulis. Oom ini sering datang ke rumah kami dan rupanya nama ini yanga ada dalam kepalanya. Padahal maksudnya sakit tenggorokan, persamaan bunyi nggoro, tenggorokan dan anggoro, bukankah berdekatan?
Lalu anak saya yang lain, sangat sulit makan, selalu saja menutupi mulutnya dengan tangan. Seorang Oom lainnya menanyakan.
"Kenapa kau Nita? Sakit apa?".
"Saya sakit ambeien Oom".
Mendengar kata ini Oom itu tertawa, dia tahu maksudnya kira-kira apa.
"Bukannya sakit seriawan, Nit?"
"O betul. Ambeien dong di pantat ya, seriawan di mulut", katayanya sambil memperbaiki kesalahannya. Nita inilah yang sering ditertawakan banyak Oomnya, karena banyak terbalik menggunakan istilah bahasa Indonesia.
"Kenapa berjalan agak pincang Nit?".
"Sepatu saya borek Oom", katanya. Oom itu lalu membenarkan apa maksudnya, bahwa sepatunya robek.
Hal-hal tebalik begini, bukan saja orang Indonesia dan anak Indonesia yang lahir dan besar di luarnegeri. Murid saya di sebuah universitas di Beijing saja, masih sering terbalik dalam menggunakan istilah bahasa. Suatu waktu dia bercerita, bagaimana kaum tani yang sedang bekerja di sawah, tetapi tak sempat pulang makan siang ke rumahnya. "Lalu merekapun bersiap untuk makan kabel yang memang sudah disiapkan sejak dari rumah". Saya mau tertawa, tapi karena saya gurunya, artinya saya menterwakan diri sendiri.
"Feng-huang, ingat kabel itu adalah jenis kawat. Sedangkan yang kamu maksudkan bukankah bekal? Ingat Feng-huang, yang satu bekal, yang satu itu kabel, sangat lain artinya.
"O ya Pak, saya lupa",-
Seorang siswa angkatan terakhir masih terbalik menggunakan kata-kata bahwa
"Ketika di pasar, ibu itu banyak membeli berjenis ikan dan daging, di antaranya adalah daging cacing",-
"Apa ada jualan daging cacing di Pasar Sitan itu, dan dijual pula di sana?", kata saya.
"Itu Pak, daging yang sudah dijadikan halus-halus itu". "O, maksudmu tentulah daging cincang kan?"
"Betul Pak, saya lupa kata-katanya",-
Tetapi penyakit terbalik menggunakan kata-kata ini bukan hanya mereka orang asing ataupun anak-anak kita yang lahir dan besarnya di luarnegeri. Kita-pun dan kami-pun demikian. Saya sendiri ketika di toko serba-ada berbahasa Tionghoa mau membeli sesuatu dengan mengatakan "wo yao mau ganbing", ternyata artinya saya mau beli orangsakit, ganbing artinya melihat orang sakit. Sedangkan yang saya maksudkan adalah mau beli binggan, binggan artinya biskuit! Petugas tokonya hanya senyum-senyum saja, dia tahu ini orang asing tidak bisa berbahasa Tionghoa, baru datang barangkali! Isteri saya, ketika kami baru datang di Tiongkok pada awal 1964, sudah berani berbahasa Tionghoa meskipun banyak salahnya. Suatu waktu dia sakit karena persoalan menyusui bayi ( Nita ). Lalu datang dokter, mau memeriksa, dia katakan "Wo de niuney hen deng", maksudnya susu ( buah dada ) saya sakit sekali. Padahal arti niuney itu adalah susu-sapi, niu=sapi ney=susu. Tetapi dokter tahu maksudnya. Karena perbendaharaan, istilah bahasa Tionghoanya belum banyak yang dia tahu.
Sampai baru-baru ini, artinya tahun 2000 ini, anak saya yang pertama Wita menanyakan kepada adiknya Nita. Ketika mereka di kleine tuin di rumahnya, sebuah kebun kecil.
"Nit, mana yang kaubilang kau punya tanaman jangkrik dulu itu. Bunga jangkrik itu bagus lho, dan katanya sangat mahal",-
Nita keheranan, dan lama terdiam. Barulah dia ingat bahwa dia memang pernah cerita menanam,
"Oo, begok kamu akh, sampai bingung saya. Kamu maksudkan bunga anggrek kan? Jauh amat antara jangkrik dan anggrek!",-
Dan mereka saling tertawa.
Teringatlah saya pada teman saya sama-sama guru bahasa Indonesia di Beijing. Teman saya ini membawa anaknya yang berumur 5 tahun ke sebuah puskemas di kompleks kediaman kami. Disertai seorang muridnya yang baru belajar menjadi penterjemah. Anaknya sakit agak parah, badannya panas sampai 40 C,-
Dokter memeriksanya dengan teliti. Mereka menunggu hasilnya. Sang Bapak tentu saja sangat gelisah, anak begitu panas badannya, nafasnya sudah terengah-engah. Setelah selesai, dengan kurang sabar sang Bapak bertanya.
"Apa rupanya sakitnya? Apa kata dokter?"
"Anu Pak, dia sakit pura-pura".
"Apa? Sakit pura-pura sudah panas 40C dan sudah begitu parah masih juga pura-pura?!".
"Itu Pak, yang ada di dada itu, yang buat bernafas itu!"
"Akh, kamu, jadi sakit paru-paru. Mengapa paru-parunya?"
"Ada sedikit radang paru-paru, Pak".
Ya, tentu saja sang Bapak hampir saja marah besar, anaknya sakit parah dikatakan sakit pura-pura, padahal radang paru-paru! Berbagai pengalaman kami mengajar, lucu, asyik dan bagaimanapun menyenangkan karena banyak pengalaman yang tak terduga, tetapi terkenangkan sungguh lama,-
Paris 4 Agustus 2000,-
Mendengar dan mengetahui Laura tidak jadi berlibur ke Indonesia, ke Malaysia dan Hawai, dan akhirnya ke Paris, Papie dan Mamie segera menilpun Nita dan kami semua, bahwa mereka ingin membawa Laura ke Chamonix. Kalau sudah Papie dan Mamie minta Laura atau kirimkan Laura kepada mereka, maka kami tidak bisa apa-apa lagi. Papie dan Mamie sangat menyayangi Laura, juga memanjakannya. Siapa mereka? Bukan sanak bukannya kadang, tetapi kenalan biasa. Karena sudah begitu lama berkenalan dan bersahabat, maka lama kelamaan menjadi keluarga sendiri. Begitulah hidup di rantau ini, kalau sama-sama berbaik hati, terbuka dan punya kejujuran, maka kenalanpun menjadi keluarga dekat.
Papie namanya Alberto Moraes, keturunan Spanyol, dan beberapa tahun sekali tetap pulang ke Spanyol berkunjung ke sanak-keluarganya. Mamie namanya Violetta, keturunan Uruguay, juga beberapa tahun sekali pulang ke Uruguay berkunjung ke sanak-keluarganya. Papie adalah seorang arsitek, insinyur bangunan perumahan, dan kini sudah 10 tahun yang lalu pensiunnya. Dan Mamie, dulunya adalah seorang jururawat ketika di negerinya. Lalu begitu di Paris bekerja di sebuah kiosk sovenir di tengah kota Paris. Juga Nita bekerja di kiosk itu. Dan disitulah mereka berkenalan sejak tahun 1982, dan sampai kini kami semua menjadi keluarga dekat.
Papie mempunyai beberapa apartemen di Paris. Salah satu apartemennya kami menjadi penyewanya, yang satu gedung dengannya. Hanya mereka tingkat 3, kami tingkat 8. Sebenarnya aku tidak punya hak buat menyewanya. Karena gajiku tidak cukup syaratnya. Sebab semua perumahan dan peraturan di Paris, si penyewa harus punya gaji-salaire paling sedikit 3 kalilipat sewa rumah ( apartemen ). Sedangkan sewa apartemen yang kami sewa itu 2500 Ff satu bulan, mana ada dan mana mungkin gaji saya harus lebih dari 7500 Ff! Karena dia percaya, maka dapat jugalah kami menyewanya, tambahan lagi ketika itu sudah lahir Laura, pada tahun 1986.
Mereka menganggap Laura adalah sebagai cucunya, dan menganggap benar-benar cucunya, sebab mereka kemana-mana dan dimana-mana terutama di kalangan keluarga mereka masing-masing selalu mengatakan dan menceritakan bahwa Laura adalah cucu mereka. Mereka tidak punya anak, tidak punya turunan. Hidupnya hanya berdua saja. Ketika itulah dan lama aku merenung dan berpikir, ada-ada saja kekurangan manusia ini. Mereka berdua itu kulihat sangat bahagia, banyak uang, setiap tahun voyage, ke mana-mana, dan belanja dan...........Pada pokoknya kalau persoalan uang, sudahlah. Pensiun mereka berdua saja, lebih banyak dan lebih tinggi daripada gaji kami empat orang di resto Indonesia. Ini baru pensiunnya saja! Ketika mereka dua-duanya masih aktive bekerja sebagai salarier, jumlah gajinya hampir 40.000 Ff. Mana ada orang Indonesia yang berjenis kami, punya gaji begitu tinggi!
Maka yang kuceritakan tadi, soal ada-ada saja kekurangan dan kelebihannya bagi diri orang per orang manusia, kita ini. Mereka begitu lapang hidupnya dalam soal uang. Tetapi tidak punya anak, tidak punya turunan, dan tampak juga kesepian mereka. Mereka selalu tilpun kepada cucunya, Laura ini. Tahun lalu mereka minta benar kepada orangtua Laura dan aku, kakeknya, bahwa mereka ingin liburan musimpanas bersama Laura. Mereka ingin bertiga saja sepanjang liburan itu.
Seperti kukatakan tadi, kalau sudah Mamie-Papie minta Laura, tak pernah sekalipun kami tolak, dan tak mampu kami menolaknya. Karena mereka benar-benar dan sungguh-sungguh mencintai dan menyayangi "cucu satu-satunya" ini. Dan Laura sendiri tahu benar, merasakan sungguh, kedua Papie-Mamie-nya itu sangat mencintai dan menyayanginya. Mereka sudah 4 tahun ini tinggal di Chamonix, sebelah selatan-tenggara Perancis, di bagian pegunungan Mount Blanc, tempat peristirahatan musimdingin, bersalju abadi di sepanjang pegunungannya. Chamonix boleh dikatakan berbatasan dengan Italia dan dekat dengan Swiss.
Bagaimana lalu persoalan ini? Mereka di Chamonix, begitu jauh dari Paris, apalagi dari Holland. Keluarga Nita-Bregas, Laura-Berry sudah tiga tahun ini tinggal di Holland. Dari Chamonix ke Paris, lebih jauh daripada Paris - Amsterdam. Papie-Mamie tak kurang akal. "Kirimkan Laura dengan pesawatterbang ke Jenewa, nanti kami jemput. Bermobil dari tempat kami ke Jenewa hanya 50 menit. Pesankan kepada pramugarinya agar tolong sertai Laura, dan kami sudah kontak dengan KLM", kata Papie dan Mamie dalam tilpunnya ke Almere - Holland. Dan pesannya agar Laura siap-siap diajak ke Italia barangkan satu minggu.
Menyaksikan hal-hal begini, kembali aku berpikir dan merenung lagi. Ada-ada saja kekurangan dan kelebihan manusia seperti kita semua ini. Laura itu tidak tahu dan samasekali tidak ingat bagaimana rupa bapaknya! Itulah sebabnya aku sangat menyayangi Laura. Karena dia itu tidak pernah mengenal bapaknya sendiri. Bapaknya itu adalah orang Portugis, namanya Umberto Marques. Itulah sebabnya Laura mengunakan nama Laura MARQUES. Tapi diam-diam dia selalu menulis Laura Marques SOBRON. Pernah kukatakan padanya, itu tidak boleh. Bagaimanapun kamu harus menyertakan nama asal keturunan bapakmu. Bahwa kamu tidak suka kepada bapakmu, itu soal lain.
Sejak Laura berumur dua tahun, bapak Laura sudah meninggalkan keluarganya, Nita dan Laura, pergi entah ke mana. Dan tak ada kabar beritanya, tidak pula menulis surat, apalagi memberi bantuan buat anaknya. Ketika anaknya sakit selama 3 minggu di rumahsakit, karena penyakit "kawasaki", sekalipun tak pernah Umberto melihat anaknya ini. Tetapi dia selalu dikelilingi kami bertiga, ibunya, tantenya dan kakeknya. Semua ini Laura mengetahuinya, dan tanpa diceritakan-pun dia tahu siapa bapaknya itu. Samasekali tidak ada tanggungjawabnya. Malah akulah yang selalu bertanya dan mengajukan pendapat, apakah dia ingin bertemu bapaknya? Dia menjawab angat tegas, tidak ingin. Katanya lagi, bukan saya yang mau bertemu, mestinya dia seharusnya mencari saya. Tidak pernah sekalipun dia mau membezoek saya ketika saya sakit, hanya mama, kakek dan tante Wita,- demikian kata Laura. Namun seperti renungan dan pikiranku tadi, Laura katakanlah tak punya bapak, tetapi begitu banyak orang lain yang menyayanginya. Yang sudah pasti dia punya mama yang sangat mencintai dan menyayanginya, lalu kekeknya, tantenya, Papie-Mamie-nya, bapaknya Bregas, dan Opa - Omanya, ibu-bapak Bregas, semua menyayanginya.
Dan ketika Papie-Mamie tahu Laura ada di Paris, mereka menilpun bahwa mereka akan segera menyusul ke Paris. Dan akan menjemputnya buat berlibur bertiga di rumahnya Chamonix. Dan juga mengatakan kepada kami, bahwa lagi-lagi Laura akan diajaknya ke Italia dan Swiss. Papie menyetir mobilya sendiri dari Chamonix. Padahal Papie ini sudah berumur 75 tahun. Dan Mamie berumur 72 tahun. Mereka memang sudah berumur tua, tetapi badannya sangat sehat, dan semangatnya sangat baik.
Papie artinya kakek, Mamie artinya nenek dalam bahasa Perancis. Tetapi dalam bahasa Belanda adalah papa dan mama biasa. Sebab dalam bahasa Belanda papie dan mamie menjadi Opa dan Oma. Papie Alberto dan Mamie Violetta, cukup memanjakan Laura. Kebutuhan Laura sejak dia berumur satu hari, selalu turut dipenuhinya, dan membantu memperlengkapi semua keperluan Laura. Dulu ketika kami belum tahu benar dan belum merasa dekat benar, pernah kami mau memberikan sejumlah uang buat mengimbangi pemberiannya kepada Laura yang begitu banyak telah mengeluarkan uang. Dan mereka marah dan merasa dikecilkan arti kecintaannya kepada Laura dan keluarga kami. Sejak itulah kami mendiamkan saja apa saja yang mau dikerjakannya bagi keperluan dan kebutuhan Laura.
Berobat juga hati Laura yang tadinya sangat kecewa tidak bisa berlibur di Indonesia, Malaysia dan Hawai,- kini dengan Papie dan Mamienya. Dan aku sedikit merasa ringan tanggungjawabnya buat mengajak liburan ke beberapa negara itu. Sekarang bagian Papie dan Mamie-lah yang memegang tanggungjawab liburan Laura. Ya, Papie dan Mamie yang sudah lanjut umur itu, ternyata demi "satu-satunya cucunya" itu mau-maunya begitu jauh bermobil berjam-jam berdua saja, bercapek-lelah-letih hanya mau menjemput cucunya. Bagaikan rentangan rantai dan pilinan tali, kurang yang satu ada penggantinya yang lain, agar rantai dan pilinan tali itu utuh dan bersambung tanpa tampak. Pertemuan antar manusia, kecintaan dan rasa manusiawi, kehangatan persaudaraan dan kekeluargaan, selalu saja ada. Walaupun kami dulu selalu saja tidak diterima di tanahair sendiri, di kampunghalaman sendiri, selalu saja mendapat tampikan, rasa ketidaksenangan, selalu menghindar karena takut, kuatir ataupun benci, namun tidak akan selalu selamanya begitu, bukan?
Paris 5 Agustus 2000,-
Setiap bulan pada setiap tahun selalu saja ada tamu yang menginap di rumahku. Mereka yang sengaja kuundang buat tinggal beberapa hari di Paris, buat melihat-lihat dan jalan-jalan saja sebagai turis biasa, ataupun yang menumpang menginap. Pada biasanya, antara bulan-bulan musimpanas begini akan lebih banyak dan lebih sering para tamu itu menginap di rumahku. Tentu saja aku dengan senang hati menerimanya. Memang juga harus diakui, sesudah para tamu itu bepergian, terasa capek dan lelahnya, tetapi hati menjadi senang, gembira. Bisa bertemu dan saling bercerita dengan teman-teman lama atau keluarga yang sudah saling kangenan, sangat menyenangkan. Berbagai pengalaman hidup bersama para tamu itupun juga banyak mengesankan, banyak belajar, baik dari segi harus dicontohnya maupun dari segi sebaiknya tidak usahlah berlaku seperti dia itu.
Aku pernah menceritakan bahwa selama tahun-tahun ini aku pernah menerima empat orang tamu yang semuanya pendeta. Pernah sekaligus dua orang pendeta, dari sang bapak yang sudah emiritius, pensiun dari pendeta, dan putrinya yang sedang aktive jadi pendeta di Belanda. Lalu pendeta dari Korea dan Amerika Serikat. Sangat menarik, banyak belajar dan menimba banyak pengalaman dari mereka. Ada para tamu yang sebaya dan sealiran denganku, gampang mengurusnya dan bisa "terbang dalam segala cuaca", terutama mudah dan praktis selama di rumah. Tamu yang begini sih sebenarnya adalah teman-teman sendiri seperti Mas Hersri, Mas Chalik dan Mas Bambang. Kukatakan sealiran, karena sama-sama suka budaya-sastra, mereka para penyair dan pengarang.
Tapi yang kurasakan mendapat sedikit kesukaran, artinya tidak boleh aku main gampang-gampangan, harus serius tetapi juga hangat dan terbuka, ramah dan selalu siap, adalah menghadapi Papie-Mami ini. Apanya yang kurasakan? Karena kehidupan mereka berdua sangat lain dengan kehidupan kita atau kehidupan kami pada umumnya. Terutama Papie, orangnya sangat strik memegang waktu, sangat disiplin. Sedangkan Mamie dan juga keduanya, orangnya sangat bersih. Mereka selalu serba teratur, apik dan teliti. Sifat-sifat baik ini adalah baik dan juga banyak guna dan faedahnya. Tetapi menurutku kalau dijalankan secara serius dan tanpa kenal waktu dan ruang, bukankah lalu menjadi kaku dan sedikit keras serta koppig? Sedangkan di pihak lain, aku ini orangnya kalau dibandingkan dengan mereka, banyak longgarnya daripada keras dan ketatnya.
Papie, misalnya, tepat jam 13,30 harus istirahat siang selama 1 jam. Dan makannya selalu harus ada wine, anggur satu gelas. Daging yang dimakannya harus bersih dari gemuk, tak boleh ada gemuknya. Kue apa saja yang mengandung ada coklatnya, harus dihindari. Pasal sangat keras memegang ketentuan waktu, aku tahu benar sejak lama kami bergaul, Papie memang disiplin, bahkan menurut kami agak kaku. Tidur atau masuk kamar tidur harus selalu jam 21,30 dan bangun harus pada jam 07,30, dan makan pagi harus pada jam 08,15,-
Tentu saja mereka di rumahku tidak lalu terang-terangan minta agar aku juga menuruti ketentuan jadwal-waktu sehari-harinya. Tetapi bukankah aku tahu dan mengerti tentang kehidupan mereka? Jadi artinya, akulah yang harus tahu diri dengan tamuku ini, siap meladeni mereka sebaik-baiknya.
Ketika mereka bertiga sedang jalan-jalan, dan aku di rumah karena beberapa pekerjaan, Papie tiba-tiba pulang. Ketika itu jam 13,15. Mamie dan Laura sedang berbelanja di sebuah toko tak jauh dari kediaman kami. Tahulah para pembaca, bagaimana sih kalau wanita, apalagi ada cucuku yang menanjak remaja dan seorang Mamie yang sangat menyayanginya, berbelanja di beberapa toko! Akan betapa lamanya, betapa njelimetnya. Dan hal ini tidak begitu disukai Papie. Terutama akan menggangu jadwal istirahat siangnya. Dan rupanya Papie pulang duluan itu hanya buat memenuhi jadwalnya agar bisa istirahat siang antara jam 13,30-nya sampai selama satu jam! Bukan main zeg!
Ketika kami masih berkelakar di ruangan tamu sesudah makan malam, dan ramai bergurau dan tertawa Mamie dan Laura yang cukup keras karena rasa gembiranya, tanpa banyak omong lagi Papie bangun dan permisi kepada kami semua. Dia masuk kamar tidur, karena jam sudah menunjukkan 21,29, sudah jadwal tidurnya. Maka kurang seorang di antara kami. Dan tampaknya Mamie tak lama lagi akan menarik diri dan akan pamitan buat menyusul Papie buat tidur.
Laura kalau sedang libur begini, selalu tidurnya terlambat dan kami sendiri tidak pernah melarangnya agar berhenti main atau mengerjakan apa saja, dan segera masuk tempat tidur. Terkadang dia tidurnya menjelang jam 24.°°, tetapi tentu saja tidak setiap malam, tergantung apa yang dikerjakannya. Dan bangunnya terkadang juga begitu terlambat, sampai jam 11.°°. Semua ini karena masa liburan sekolahnya, jadi kami membiarkannya agak sedikit liberal. Tetapi kalau menurut kami tidak apa-apa sedikit longgar, tokh masa liburan sekolah. Kalau ketika masa sekolah sehari-harinya, dia selalu lebih cepat tidurnya tidak akan mungkin sampai lewat jam 22.°° dan bangunnyapun sesuai dengan waktu harus masuk sekolahnya. Dan kami pikir, selama itu bukankah memang begitu dia menggunakan jadwal sehari-harinya? Dan tokh hasil belajarnya tetap saja belum pernah ke luar dari lima besar murid terbaik dalam sekolahnya. Namun demikian mungkin saja cara pendidikan kami salah. Dan mungkin saja ada hal-hal yang harus kami perbaiki.
Laura pernah menyatakan padaku bahwa terkadang Papie dan Mamie suka bertengkar, suka berdebat. Inipun tak pernah kuberi gong buat meng ya kan Laura atau menambahinya. Karena aku tahu sendiri dan melihat sendiri sejak lama, bahkan sejak belasan tahun kami bergaul begini. Yang dipertengkarkan adalah soal-soal sangat sepele, sangat kecil dan sangat tidak prinsip. Mereka bertengkar sering-sering di depan kami. Kalau pertengkaran itu agak hangat lalu mereka segera mengubah bahasanya. Dari yang tadinya berbahasa Perancis, segera mereka teruskan dengan bahasa Spanyol. Mungkin agar enak dan lancar, sebab dua-duanya lebih menguasai bahasa Spanyol daripada bahasa Perancis. Dan orang kalau sedang bertengkar tentulah merasa lebih enak dengan bahasa ibunya sendiri. Tetapi juga mungkin agar kami tidak memahaminya, karena kami tidak mengerti bahasa Spanyol.
Beberapa hari ini saja antara aku dan Papie sudah ada pertengkaran kecil. Dan soalnya tidak besar. Karena Papie dan Mamie baru datang dari peninjauan ke dan di Tiongkok secara bergrup, dia menanyakan padaku, apakah Tiongkok itu banyak sekali etnis atau suku bangsanya. Kukatakan, walaupun Tiongkok itu penduduknya paling banyak di dunia, tetapi suku-bangsanya jauh lebih banyak Indonesia, walaupun perbandingannya Tiongkok lebih satu milyard penduduk, Indonesia "hanya" 200 juta penduduk. "Tidak mungkin, nonsens", katanya membantah dengan keras. Dalam hatiku, ini orang tadinya nanya, sekarang malah membantah! Dan hal ini sudah kutulis dalam sebuah artikel di ruang milis ini. Dan aku sendiri pernah hampir duapuluh tahun tinggal di Tiongkok dan juga pernah bekerja di Radio Beijing dan menjadi penyiar yang justru menyiarkan berita tentang semua itu. Lalu ada tulisan soulier di lift, melihat tulisan itu dia berkata : "tahu kan apa artinya soulier?". "Ya, kami juga berlangganan padanya, Soulier itu". "Bagaimana mungkin itu?! Soulier itu adalah nama sejenis logam", katanya dengan keras dan tegas. "Soulier itu adalah nama sebuah perusahaan yang mendistribusi berjenis taplak meja dan restoran kami menjadi pelanggannya sejak belasan tahun ini", kataku. "Ya, tapi itu nama jenis logam", katanya lagi. ’Okeylah, itu yang Papie tahu. Tapi yang saya tahu tetap saja soulier itu nama perusahaan yang kami jadi pelanggannya. Nama perusahaannya soulier", kataku tak mau bertengkar lebih jauh lagi.
Papie dan Mamie seperti kata Laura memang suka bertengkar. Kukira tak apa-apa asal saja tak menjadi meluas, melebar, membakar. Tokh selama ini mereka tetap saja banyak rukunnya dan damai serta sejahteranya. Dan lagi dua tiga tahun lagi mereka akan merayakan ulangtahun pernikahannya selama 50 tahun, pesta perkawinan-emas kata orang. Dan aku dan kami berdoa agar Papie-Mamie selalu sehat dan gembira serta sejahtera. Hanya kalau ditanyakan padaku, tentu saja aku akan menolak kalau cara hidup mereka harus kuikuti. Kehidupan Papie menurutku diatur dan ditentukan oleh jadwal-waktu. Kalau aku, merasa aku harus mengatur jadwal-waktu buat keperluan dan kebutuhan kehidupanku. Aku tidak mau diperintah dan diatur oleh jadwal dan ketentuan jam-jam yang menurutku sekaku Papie. Aku tak mau diperintah oleh waktu, tetapi aku yang merasa harus disiplin secara wajar dan tidak kaku. Kehidupan seperti jadwal-waktu yang seperti Papie, jelas aku tidak akan mau, dan menurutku sangat kaku. Dan kukira, nah, ini mungkin tidak baiknya aku, adalah lebih baik Papie dan Mamie hidup di Chamonix yang serba tenang, bersih lingkungan, dan alamnya sangat menyenangkan,- dan jangan di Paris ini. Jadi pilihan mereka buat hidup tenang di Chamonix, adalah sesuai dengan jalur dan lika-liku jalannya kehidupan mereka sendiri. Mungkin godaan dan goncangan kehidupan di Chamonix tidak akan sebanyak dan serumit di Paris.
Paris 6 Agustus 2000,-
Selama sepuluh hari ini, aku bagaikan orang gila. Dan penuh kesedihan, kemarahan, kedongkolan serta kekesalan. Selama sepuluh hari ini komputer-internetku macet total. Sudah dibawa ke toko yang dulu menjualnya, yang biasanya mudah-mudah saja diperbaiki, tetapi kali ini mereka para tehnisien itu angkat-tangan, menyerah. Lalu kulaporkan kepada pusat agent langganannya, pihak club-internet.fr. Mereka minta aku datang pada jam 17,30 di sebuah kantor Grolier dengan membawa komputernya, otaknya itu. Lalu bawa juga modemnya sekalian.
Mulailah sang tehnisien otak-atik, tetapi tetap saja macet. Malah kesialan baru bermunculan. Dia ganti program dengan disk lain, serta alat lain. Akibatnya semua program yang ada dulu, yang selama ini bisa kubuka kapan saja, hilang samasekali. Ratusan surat-surat penting dan tulisan-tulisan penting habis semua. Karya tulisan memang selalu kukopi, dan lagi tentulah ada pada banyak teman-temanku yang menyebar di Eropa, Asia, terutama Indonesia dan Tiongkok, bisa kumintai tolong sekiranya kubutuhkan. Semua yang dulu tertulis dan tercatat, habis kikis terbang tak tentu di mana rimbanya. Ini menurut orang kampung kami, seperti tikus memperbaiki labu. Labu sudah bagus-bagus bentuknya, bulat, bundar, licin, maka begitu diperbaiki tikus, labu itu menjadi benjol, berlobang-lobang dan cacat! Dan si tikus itu adalah tehnisien komputer itu, yang katanya akhlinya itu!
Utak-atik, kobok mengobok begini sampai pada jam 21.00. Dan dia bilang, tak bisa kami perbaiki, harus ada aparat atau benda yang diperlukan buat diganti, terutama bagian dalamnya. Sudah dia buka semuanya. Dan ketika kutanyakan di mana harus kubeli, dan berapa kira-kira harganya? Dia catatkan nama tokonya, depot barangnya. Tetapi setelah aku tahu berapa harganya, katanya antara 2000 sampai 4000 francs, terkejutlah aku. Mendingan beli baru. Komputer-internetku yang macet ini sudah kupakai empat tahun, dan sudah mengalami kerusakan belasan kali. Dan ongkos perbaikannya sudah hampir sama dengan harga beli baru. Kukatakan, sejak hari ini kuanggap aku sudah tidak punya internet-komputer lagi!
Komputer yang beratnya sekira 10 kg itu, digotong-gotong selama beberapa hari ini. Di bawa ke kantor sana, di bawa ke kantor sini dan toko reparasi sini, reparasi sana. Rasanya tulang tangan-lengan pada ngilu dan semutan, karena biarpun hanya 10 kg, tapi kalau digotongnya sampai ratusan meter jauhnya ya capek juga, lelah-letih juga. Dan bukan hanya itu, rasanya dan sudah kurasakan sendiri, apabila kemauan menulis sudah penuh di kepala, tetapi tidak dikeluarkan karena tidak ada wadahnya, tidak ada alat penyalurannya, maka perasaan ini bagaikan orang gila. Tak tentu pikiran, tak keruan hidup ini, bingung dan sebagai seorang ibu yang mau melahirkan, tetapi tak ada bantuan, tak ada jalan keluar lainnya. Maka begitulah aku dalam selama sepuluh hari ini.
Apa akal? Sudahlah buang uang buat beli tiket ke Holland, dan di sana nanti menulislah sepuas-puasnya. Dan kebetulan pemakaian komputernya sementara ini tidak rebutan antara kami berdua Laura. Sebab Laura sedang berlibur di Chamonix di Perancis Tenggara. Kalau tidak akan selalu ribut rebutan, karena dia juga suka chaten-chaten dengan banyak teman mudanya. Kalau tak dilarang dan diperingatkan bisa sampai lewat jam 01.00, terutama ketika selama liburan sekolahnya. Dan aku apalagi sebagai kakek, selalu saja mengalah, terutama mengintip dan mencari kesempatan bila dia tidak sedang chaten-chaten.
Kuanggap gila juga, hanya buat menulis saja harus begitu jauh datang ke Holland. Semoga Pak John, apakabar, dan mimbarbebas mengerti keadaan ini. Aku bertekad buat membeli komputer-internet sebelum akhir tahun ini. Ini hanya tekad, kenyataannya belum tahu dan siapa sih yang tahu? Lalu darimana uangnya? Menulis belasan tahun tetapi tak pernah satu senpun merasai apa itu yang dinamakan honorarium. Dari langit lalu? Memang ada nama judul kumpulan puisiku MENCARI LANGIT dan dijual di Jakarta. Tetapi sampai kini aku belum pernah merasai satu senpun honorariumnya! Lalu dari mana uang buat membeli komputer-internet itu? Tak tahulah aku, semoga Tuhan memberikan jalannya kepadaku yang siang malam selalu berdoa agar aku bisa menulis secara baik dan disukai oleh banyak orang. Semoga Mas Tjipto tahu akan kesulitanku ini, semoga KL dan AKA juga mengerti kenapa surat-surat tak berbalas, bagaikan batu jatuh ke lubuk. Semoga beberapa fansku mengerti keadaanku ini. Dan tentu saja terimakasihku yang terdalam kepada mereka yang tentulah bertanya-tanya, ke mana ini si SS kok nggak muncul-muncul sekian lama dan tak pula berberita. Aku baru saja tiba di Holland beberapa jam yang lalu, dan langsung menulis ini. Besok lusa kulanjutkan,-
Inilah kisah dari KISAH SERBA-SERBI sebagai nomor bonus ini.
Almere - HOLLAND 13 Agustus 2000,-
Karena pekerjaan orangtua sebagai mantri Kehutanan, Boschewezen, maka kami sering-sering pindah tempat dan pindah rumah. Cirinya selalu dekat hutan. Terkadang juga tak jauh dari sungai, pantai dan laut. Karena itu aku merasa bahwa aku adalah anak kampung, anak sungai dan anak pantai. Sebab sekitar situlah ketika kecilku terpusatnya ketika bermain-main dengan teman sebaya. Karena berdiam sekitar kampung, sungai dan pantai, maka semua pengenalan menjadi akrab dengan lingkungan alam. Ketika kecilku masih di SD Belanda yang namanya HIS, Hollandse Indische School, kami tinggal di Air Raya, pinggir hutan. Letaknya 7 km dari kota tempatku bersekolah. Dan kami pergi bersekolah sering jalan kaki. Harus bangun pada sebelum jam 06.00, dan lalu berangkat pada jam 06.20 dan paling lambat pada jam 06.30. Sebab lonceng pertama berbunyi pada jam 07.30. Jalan kaki dengan agak berlari-lari kecil sepanjang hampir 7 km itu harus ditempuh dalam 1 jam sekian menit.
Dulu ketika kecil, bisa saja berjalan cepat sambil lari-lari kecil, ketika berumur 6 tahun. Tetapi setelah 60 tahun kemudian, sekarang ini paling cepat bisa berjalan 4 km dalam satu jam, bedanya jauh rupanya karena beda umur juga sebanyak 60 tahun! Ini karena aku menggunakan pedoman peribahasa Belanda, bagaikan gerobak tua, biarpun berbunyi kereot-kereot karena usang dan kurang minyak, namun akhirnya sampai jua. Biar pelan tapi pada akhirnya harus sampai dan sampai.
Ketika sudah jauh dewasa, sudah mulai mencari kehidupan sendiri, dengan mengajar di berbagai SMA di Jakarta, seperti di THHK, Tjung Hua Hui Koan di Blandongan Kota dan SMA Utama di Salemba, dan Akademi Sastra Multatuli, barulah terasa dan benar-benar merasakan, betapa beruntungnya aku karena menjadi atau berasal dari anak kampung, anak sungai dan anak pantai. Dan ketika dalam satu bacaan terdapat kata-kata yang tidak dimengerti oleh pelajar dan siswa, karena mereka memang tidak tahu, belum mengenalnya, tidak pernah melihatnya. Seperti apa itu "jermal" atau "sero" atau "bubu - lukah - tekalak". Atau apa itu "lunas" dari sebuah perahu, apa itu "buritan dan haluan" atau apa bedanya antara "perahu - tongkang - jung - sampan - katir dan pinisi". Atau nama-nama binatang seperti "pelanduk atau kancil" dan berjenis belalang, atau berjenis nama ikan dan kepiting, rajungan. Bagi anak-anak kota nama-nama itu sangat jarang terdengar, dan kalaupun pernah mendengarnya, belum tentu pernah melihatnya. Dan guru yang menjelaskannya adakalanya hanya melihat dan membaca di berbagai kamus, tanpa pernah melihat dengan matakepala sendiri. Nah, di sinilah terasa bahwa aku sangat beruntung, karena semua itu aku pernah melihatnya, dan tahu serta mengerti beda dan pembuatannya.
Di kampung kami Belitung, dekat pantai ataupun sungai, sangat sering para nelayan, dan orang-orang pelayar, perahu, membuat sebuah perahu, ataupun tongkang, jung dan sampan. Dan kami anak-anak sebaya berumur 5 sampai 8 tahun bermain-main sekitarnya. Menyaksikan bahkan sering-sering disuruh untuk menolong mengangkatkan sebuah papan yang agak berat bersama orang-orang dewasa yang sedang bertukang itu. Beberapa papan besar, keras dan kaku, lalu diasap, di panasi dengan api sabut kelapa. Maksudnya agar papan itu menjadi agak lemas, lunak dan elastis, gampang dibentuk. Lalu dari sebuah lunas yang dari dasar sebuah perahu itu akan tahu kita, pada akhirnya akan menjadi apa nantinya. Ini kalau kita tidak bertanya kepada para tukang pembuat perahu itu. Sebab bila lunas itu tidak lebar, maka pada akhirnya akan menjadi perahu. Tetapi kalau lebar dan agak luas lunasnya, maka pada akhirnya akan menjadi sebuah tongkang atau jung. Sebab sebuah tongkang atau jung memerlukan bangunan badannya sebagai kotak, karena fungsi tongkang dan jung adalah bagaikan truk besar bagi mobil, sebagai pembawa barang, pengangkutan, bagaikan truk muatan berbagai barang-barang besar dan berat. Dan tongkang serta jung biasanya tidak diberi layar, dia ditarik, sebagai gandengan. Pada akhir tahun 50-an, ada yang diberi bermotor tersendiri, sudah lebih modern.
Kami sering melihat dan bermain-main di tempat pembuatan perahu yang besarnya sampai 10 ton bahkan lebih. Perahu kecil yang berkapasitas 3 sampai 5 ton, tidak dianggap proyek besar. Dari mana para tukang yang sangat mahir itu memperoleh bahan-bahan kayu, balok yang besar-besar dan kokoh itu? Juga dari Belitung, sebuah pulau kecil dekat Belitung yang juga bernama Pulau Balok, karena banyak bahan kayu baloknya. Setelah aku banyak membaca sejarah, ternyata Pulau Balok itu sangat penting dan tercatat dalam sejarah. Dulu banyak pelayar dan saudagar dari Tiongkok, mampir di Pulau Balok ini, untuk mengganti bahan-bahan kayu di perahu dan kapalnya. Dan juga mengambil bahan-bahan kayu itu buat keperluan penting bahan-bahan perahu dan kapalnya. Yang hebatnya, siapa saja yang mampir dan mengambil bahan-bahan balok? Pernah ditulis armada Ku Bilai Khan yang menyerang Pulau Jawa yang langung masuk Gresik itu, pernah mampir di Pulau Balok, hanya buat mengambil bahan kayu balok itu dari anaknya Pulau Belitung itu! Lalu seorang akhli navigator Tiongkok kenamaan, Cheng He ( terkadang ditulis Zheng Ho ) juga mampir di Pulau Balok. Cheng He ini banyak catatan istimewanya. Pertama dia lahir dan orang Kunming, Yunnan, yang padahal tak ada lautnya, tanah daratan pegunungan,- tapi dia akhli tentang pelayaran dan navigasi, dan akhli tentang alam semesta. Kedua, dia ini beragama Islam. Ketiga, dia ini dulunya orang sida, orang yang dikebiri buat bekerja di istana raja yang banyak punya para harem yang cantik-cantik. Dan keempat, dari dialah kita banyak mendapat catatan tentang ekspedisinya ketika dia menuju suatu tempat dekat pelabuhan laut di Jawa Tengah yang namanya Sham Pao-lung, yang ternyata adalah Semarang! Cheng He merupakan seorang akhli, pakar yang sangat trampil dalam pelayaran, navigasi, astronomi, dan kelautan. Padahal dia berasal dari tanah daratan yang tak ada lautnya, Yunnan.
Kepada para siswa dan pelajar, ketika aku menjelaskan tentang berbagai nama dan istilah serta beda satu dengan yang lainnya itu, sangat merasakan keuntungan ini. Bahwa karena aku dilahirkan dan dibesarkan serta tempatku bermain ketika masa kecil itu, maka tidak begitu sulit buat menjelaskan semua itu. Bahkan boleh dikatakan tidak perlu menggunakan kamus. Dan ketika punya waktu buat mencocokkan pengertian istilah itu ya sama saja. Dan satu kesulitan besar bahwa diri kita sangat menyayangkan tidak sedikit para siswa dan pelajar itu tidak pernah melihat, tidak pernah tahu begitu banyak hal-hal yang bersifat alam. Kelakuan dan adat-adat kebiasaan alam, dan perihal gerak-gerik binatang dan air laut, pasang naik dan pasang surut, pengaruh cahaya bulan, arus dan gelombang, adalah merupakan petunjuk alam yang sangat membantu. Aku bukanlah anak kampung, anak sungai dan anak pantai yang baik dan pintar. Aku adalah mungkin termasuk anak kampung yang tidak termasuk pandai. Bayangkan anak-anak kampung yang kulihat dan kusaksikan yang pandai-pandai itu, betapa jauhnya kepandaianku ini bila dibandingkan dengan kepandaian dirinya. Mereka sangat menguasai hukum-hukum alam, kelautan, sungai dan pantai, hutan dan berjenis binatang. Apa artinya bila semut beramai-ramai ke luar dari lobangnya? Apa artinya bila suatu pagi yang cerah itu bukan main ramainya kicau berbagai jenis burung? Yang padahal biasanya tidak begitu! Apa artinya bila anjing malam-malam melolong, mengaum dengan suara seakan-akan bersedih hati? Apa artinya bila malam hari terang bulan, tetapi awan-awan sangat deras berkejaran, dan awan-awan bagaikan sisik-sisik ikan yang bagaikan menggambarkan isi lautan, isi samudra?
Semua ini memang ada tamsil ibaratnya. Dan untuk mendapatkan semua itu tadi, kukira hanyalah bergaul dan hidup di antara anak-anak kampung yang hidupnya sangat sederhana itu. Dan para tukang pembuat perahu, serta pelayar yang sangat handal itu, dulunya mereka sampai ke pantai-pantai Madagaskar dan Afrika Selatan. Dan dari merekalah kita bisa memperolah pengetahuan yang sangat berharga dari berbagai kesimpulan pengalamannya dari sepanjang kehidupannya. Ketika itu mana ada catatan tertulis buat keperluan kuliah universtas! Hidup banyak tergantung pada alam, laut, pantai dan sungai serta hutan dan pegunungan. Mereka sangat memahami, bagaimana melekatkan dan bersenyawa dengan alam. Mereka harus berbaik hati dan budi kepada alam karena alamlah yang menghidupi mereka,- ini yang orang kota kurang memahaminya!
Almere - HOLLAND 14 Agustus 2000,-
Setiap ayah akan bepergian jauh, misalnya ke tanah Jawa buat berbulan-bulan, kami selalu ditinggalinya makanan yang cukup buat selama jangka waktu itu. Nah, yang ditinggalkan selama kepergiannya itu, kami sudah "dipesankan" kepada keluarga kami yang di kampung Mempiu, yang jauhnya 16 km dari rumah kami, buat bertanam padi huma seluas satu surik. Satu surik itu panjangnya kira-kira 80 meter, lebarnya kira-kira 25 meter. Surik adalah ukuran luasnya penanaman padi di huma.
Yang menanam padi itu, dengan istilah menugalinya, adalah keluarga Kik Marup, ( kakek Marup ). Tugal yalah sejenis kayu besar buat melobangi tanah padi huma, yang di dalamnya akan ditanami padi kering. Sejumput bibit padi dimasukkan ke dalam lobang yang dalamnya sekira 4 sampai 7 cm. Nanti tumbuh sendiri. Menanam padi dengan jenis menugalinya sendiri ini pernah juga kami kerjakan bersama, keluarga Kik Marup, ibu dan aku. Adikku ketika itu masih terlalu kecil belum lag berumur tiga tahun. Dan ketika menuainya, diserahkan kepada kami berdua saja, ibu dan aku. Karena mereka sendiri tidak punya tenaga kerja buat keperluan itu. Sebab masing-masing sibuk dengan pekerjaan ladang,- huma. Ketika itulah kami tinggal di rumah Kik Marup hampir satu bulan karena pekerjaan menuai padi huma itu.
Dan kami menuainya sendiri huma yang sudah menjadi hak kami itu. Artinya harus dikerjakan sendiri. Nah, pekerjaan ini barulah pertama kali kami kerjakan. Dan betapa sederhana dan primitivenya jenis pekerjaan yang kami lakukan itu. Dan ini bukan saja kami yang mengerjakannya begitu, tetapi sudah menjadi sekampung-kampung lainnya di Pulau Belitung ketika itu. Menuainya, atau mengetamnya, dengan tangan sendiri, tidak pakai alat lain! Jadi tangkai yang berisi penuh padi itu, dilorot melalui tangan secara langsung! Dan betapa sakitnya tangan. Semula ada yang berdarah-darah karena terkena taringpadi, tulang dan bulu-bulu padi yang tajam itu. Tetapi lama kelamaan akan menjadi biasa, tangan menjadi kapalan dan keras sekali, sebab setiap hari pekerjaannya melorotkan butiran padi dari tangkainya.
Tangan para petani itu sudah bagaikan batu, mengeras, kapalan, dan seakan-akan membengkak. Tentu saja sesudah lebih satu minggu kami mengerjakan pekerjaan ini, tangan kami berdua ibu-pun juga sudah agak-agak samalah dengan para petani itu. Tadinya, semula bisa berdarah, tergores luka, lama-kelamaan terbiasa juga akhirnya. Cara mengetam atau menuai padi begini memang sangat primitive, dan sudah lama tak ada di Tanah Jawa ataupun tanah Sumatra lainnya. Biasanya pakai alat yang namanya ani-ani, alat pemotong tangkai padi. Atau dengan cara lain, dengan sabit, dengan golok, dipotong lalu dikumpulkan, dijemur dan lalu disimpan di lumbung padi. Biasanya kami bekerja dari jam 08.30 sampai tengahhari menjelang makan siang. Lalu sorenya mulai jam 14.30 sampai menjelang magrib. Di bawah sinar mentari yang sangat terik, dengan keringat mengucur, badan dan kulit menjadi hitam legam. Selama itu makan semua kami sangat banyak, makan petani lebih banyak dari makan orang biasa, misalnya pegawai negeri, guru dan pekerja kantoran lainnya.
Kalau malam, kami mencari belalang yang merusak padi itu. Kami berdua Retim cucunya Kik Marup yang agak sebaya denganku, dia tua 3 tahun dariku. Dengan suluh, sumbu api di dalam tabung bambu dengan minyak tanah, kami meratai huma itu dengan masing-masing sebuah karung buat tempat belalang yang kami dapat. Ternyata sampai kini aku ingat yang kejadiannya pada tahun 1943 - 1944, belalang itu bila digoreng jauh lebih enak daripada udang! Sekiranya aku disuruh pilih mana antara udang dan belalang, tak sedikitpun ragu, aku pilih belalang! Belalang bila digoreng bukan main enaknya. Membersihkannya sangat sederhana, Patahkan kepalanya, tetapi jangan diputuskan samasekali, dan buang tahinya yang hitam memanjang itu. Lalu buang sayapnya, tinggal badannya dan kepalanya, termasuk buang kaki panjangnya yang berduri itu. Lalu bumbui dengan sedikit garam dan air jeruk, dan lalu goreng seperti menggoreng udang! Betapa enak dan sedapnya, sudah lebih 50 tahun yang lalu, sedapnya masih terasa dilidah sampai kini, gila nggak!!
Karena kami hidup dengan keluarga Kik Marup, dan aku berteman dengan cucunya Retim, jadi bila istirahat dari kerja ladang - huma, kami berdua Retim pergi memancing, berbubu, pasang tekalak, pasang jaring atau "berasu" artinya dengan ajing memburu pelanduk, atau kancil. Dan karena aku melihat dan sama-sama hidup dengan Retim, apa yang dilakukan Retim juga kulakukan dan kutiru. Misalnya Retim sering kulihat makan belalang mentah, langsung dipetiknya atau diambilnya dari tangkai padi, lalu disianginya, tahi dan sayup serta kakinya yang berduri itu, lalu hap -hap - hap masuk mulutnya. Terkadang masih menggelepar di ujung bibir! Dan ketika mula pertama aku melihatnya, agak jijk juga. Tetapi lama kelamaan akupun mencobanya. Tentu saja aku tetap memilih yang sudah digoreng daripada makan mentahnya. Dan ketika ibuku tahu, aku juga makan belalang mentah, ibu bukan main marahnya padaku. Dia ngomel dan melarang dengan keras makan belalang mentah seperti orang-orang kampung huma itu.
Tapi terkadang aku juga tetap saja ikut mereka melakukannya.
Ada juga sedikit kelebihan menuai atau mengetam padi cara dengan tangan secara langsung begini. Tidak lagi harus ditebah di lapangan tebah, atau memilah dan memilihnya dan memisahkannya antara butiran pepadian itu. Cara menuai dan mengetam cari primitive begini, hasilnya dapat secara langsung, sudah dalam keadaan terseleksi. Jadi tidak lagi melalui seleksi penebahan. Hanya tetap saja cara begitu bukan yang praktis dan efisien. Dan cara kuno dan usang ini "untungnya" kamipun sudah pula merasakannya! Dan pada akhir penuaian padi secara umum, akan diadakan pesta tahunan hasil panennya buat satu kampung, atau satu kelurahan. Namanya "Pesta Kampung, Makan Beras Baru, Hasil Panenan Musiman". Hidangannya adalah emping padi dengan saus kelapa dan gula jawa dengan santan, serta wewangian pandan. Lalu makan nasi dari beras baru, biasanya dengan daging kancil, pelanduk atau kijang atau rusa dan ayam. Pesta tahunan hasil panenan ini sangat meriah dan sangat gembira. Termasuk mempermudah mencari jodoh dan ketemu jodoh dalam pesta itu.
Emping dari padi baru itu, adalah beras atau padinya yang sudah dijemur, lalu digongseng di kuali, lalu ditumbuk. Lalu diayak dalam tampi, nyiru, buat membersihkan kulit padinya yang berbulu tajam itu. Emping padi yang sudah disausi, diberi kuah santan gula jawa dan wewangian pepandanan itu bukan main enaknya. Sambil menghirup makan emping padi, atau makan nasi baru yang masih mengepul wangi harum, dengan balado dendeng rusa, alah mak! Tak terlihat mertua lewat, karena anaknya memang sudah dalam dekapan!
Semua ini bukan gambaran, kutipan atau rekaan, tetapi inilah kehidupan kami pada tahun-tahun selama kekuasaan Jepang itu. Antara tahun 1943 sampai menjelang tahun 1945,- Dan sekali lagi ingin "kubanggakan" betapa beruntungnya aku menjadi anak kampung yang sangat dekat dengan alam sekitar yang bisa kuceritakan kepada anak-anak kota di mana tempat aku mengajar dulu itu,- antara tahun-ahun 1954 sampai dengan 1963,-
Almere - Holland,- 14 Agustus 2000,-
Di kampung kami penduduk rata-rata memburuh di pertambangan timah di PPTB, Perusahaan Pertambangan Timah Belitung, atau bertani secara tradisional atau menjadi nelayan tradisional. Mana yang banyak, sulit menghitungnya, sebab angkanya sangat seimbang, tak ada yang berdominasi satu atas yang lain. Seakan-akan sama banyaknya. Ketiga matapencaharian itu tampaknya saling mendukung dan saling isi mengisi. Ada kalanya seorang buruh juga merangkap menjadi nelayan tradisional.
Nelayan di kampung kami menggunakan berbagai jenis alat penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. Seperti pukat, jala, sungkor dan sero atau jermal. Sero ini pada masa tertentu sangat populer. Sero atau jermal itu alat penangkap ikan yang berupa pagar dari pancang yang dipasang di tepi laut. Diberi berpintu seperti bubu dan dibelakangnya dipasang jaring besar yang dapat diangkat satu waktu bila ikan telah berkumpul disitu. Panjang pemasangan sero biasanya paling pendek sampai 50 meter jaraknya, dan paling panjang 100 meter. Bahannya dari batang sejenis rotan, yang di dalamnya ada isi beserta kulit kerasnya. Namanya resaman. Resaman ini adalah tetumbuhan yang merambat, bukan yang berakar tunggal tumbuh meninggi seperti layaknya pohon manggis, durian atau po hon bercabang lainnya. Besar tumbuhannya tidak lebih dari seperti besarnya sebatang rokok. Tetapi panjang, dan bila direntang buat keperluan sebuah sero itu bisa sehingga dua sampai dua setengah meter. Pancang-pancang ini dipasang di laut yang tidak dala m, atau pertemuan muara dan laut. Bila dilihat dari pesawatterbang, tampak bagus sekali bagaikan pagar yang dibentuk di tengah laut. Nama bahasa Belitungnya ada bunun-masuk, tempat kelewatan ikan yang lalu lalang agar mengikuti pagar yang memanjang lurus itu. Lalu masuk ke bunun-tengah, lalu terus masuk ke bunun-mati, di mana ikan tak mungkin bisa ke luar lagi.
Biasanya pemilik sero, atau juragan sero akan selalu memeriksanya setiap hari, atau dua tiga hari sekali. Tergantung musim apa ketika itu. Sebab ada musim-ikan, ada musim-barat. Musim-barat yalah antara bulan Desember sampai bulan Februari, selalu hujan d an angin dan topan. Musim-barat ini biasanya juga disebut musim paceklik, sangat susah mendapatkan hasil laut yang memadai, karena cuacanya sangat buruk. Musim-ikan biasanya antara bulan Mei sampai September. Itupun tergantung musim ikan apa, sebab banyak jenis ikannya. Misalnya musim ikan-tenggiri akan lain dengan musim ikan-tamban atau ikan sarden. Akan lain dengan musim ikan bingkis atau libam. Ikan bingkis dan libam hanya diperlukan telurnya yang besar dan enak rasanya. Tak sebanding besar antara telu r dan badannya, sebab telurnya begitu besar dibandingkan dengan badannya. Tapi daging ikan bingkis tidak enak, karena itu penduduk hanya mengambil telurnya.
Pemilik sero juga selalu menugaskan kepada nelayan upahannya, tidak mesti langsung turun ke laut. Nanti diperhitungkan dengan bagi hasil. Hasil laut dengan penangkapan sero atau jermal ini, tidak tentu, adakalanya banyak, dan banyak sekali. Tetapi adakala nya sedikit bahkan sedikit sekali. Tergantung letak pemasangan seronya itu di mana. Letaknya apakah menguntungkan bagi ikan-ikan yang lewat, atau istilah kampungnya "tempat kelewatan ikan". Jadi strategis tidaknya letak atau lokasi pemasangan sero itu, tergantung atas arus laut, arah angin, dan jalur tempat lewatnya ikan. Kata orang kalau tempatnya itu mengandung rezeki atau zaman sekarangnya letak secara feng shui-nya baik dan menguntungkan maka pendapatan pemilik seronya akan sangat menggiurkan.
Ketika kami sedang bermain-main di sebuah lapangan bola tak jauh dari rumahku, tiba-tiba saja Pak Maksum berteriak keras-keras kepada beberapa nelayan yang punya perahu, agar ikut dengannya memanen ikan ekor kuning di sero-nya Haji Madura, yang bernama Ha ji Aziz. Dinamai Haji Madura, karena Haji Aziz ini adalah orang dari Madura. Atas seruan dan ajakan ini, beberapa nelayan membawa perahunya buat panen ikan ekor kuning itu. Dan kami melihatnya datang ke pantai, ada tiga perahu yang sarat dengan ikan, sek ira belasan ton penuh dengan ikan ekor kuning. Dan itupun katanya, masih cukup banyak yang tertinggal, tak ada tempat lagi buat membawanya. Sayangnya ikan itu terlalu banyak sehingga harganya juga jatuh merosot, dan yang menjadi pembelinya juga sangat ter batas. Kalau kebanyakan orang, kebanyakan nelayan pada berjualan ikan ekor kuning, lalu siapa lagi yang akan membelinya?
Katanya Haji Madura yang punya tiga gugusan sero ini, berkat pendapatan penjualan ikannyalah maka bisa dan mampu naik haji ke Mekkah! Tapi yang kami lihat pada suatu waktu ada gugusan seronya hancur tinggal puing-puingnya karena terlalu banyak ikan tamban ketika musim ikan tamban. Ikan tamban yalah ikan sarden. Katanya begitu para nelayan itu memeriksa sero Pak Haji Madura, hampir isi seluruh bunun-tengah dan bunun-mati seperti bubur hitam, bergumpal karena penuh dengan ikan sarden. Tak tertampung lagi, l alu sero itu hancur akibat keganasan karena terlalu banyaknya ikan sarden itu. Rupanya kalau rezeki sudah keterlaluan banyaknya, akhirnya bisa menghancurkan juga!
Begitu pula ketika musim ikan-tenggiri. Banyaknya bukan main. Belitung penduduknya tidak banyak, sangat jarang. Mereka memang pemakan ikan nomor satu. Artinya yang kukatakan mereka itu adalah termasuk diriku! Jadi bagaimanapun kekuatan pemakannya tetap s aja sangat terbatas. Sedangkan banyaknya ikan masuk perut sero itu tak mungkin tertampung oleh penduduk walaupun pemakan ikan nomor wahid sekalipun! Dan pada akhirnya banyak yang siasia dan mubazir. Semua ini karena sarana - wadahnya buat transportasi dan akomodasinya sangat kurang dan sangat tidak memadai. Ada diusahakan sejenis koperasi kampung buat menampung ikan itu, dijadikan ikan asin atau ikan peda. Tetapi tetap saja tidak mencukupi karena banyaknya hasil penangkapan. Ini kuceritakan ketika tahun-t ahun 40-an dulu itu. Katanya kini sudah sangat berlainan. Sangat sulit menangkap ikan, karena sudah banyak saingan pedagang-pedagang asing, kapitalis dalam dan luarnegeri. Tidak mungkin lagi para nelayan tradisional itu dapat mengatasi dan menyainginya. M alah banyak sekali para nelayan tradisional itu menjadi bangkrut karena kekurangan sarana pengangkutan dan juga karena hasilnya sudah sangat berkurang. Zaman kini para pedagang besar yang kapitalis itu menggunakan pukat-harimau, trawler, pukat raksasa. Be gitu diraup oleh kapal penyapu ikan, langsung masuk pabrik pengolahan dan ada yang langsung masuk pabrik kalengan ikan di tengah laut itu!
Sayangnya yang kuceritakan ini, dapat kulihat dan kami rasakan ketika lebih 50 tahun yang lalu dulu itu, di mana kami menyaksikan sendiri, tetapi kini menjadi terhapus kikis menjadi kenangan yang sudah lama berdebu. Dan semua itu kurasakan, kulihat, kuala mi sendiri karena aku adalah salah seorang penduduk kampung Pulau Belitung.
Almere - HOLLAND 14 Agustus 2000
Ada pemeo di kalangan kami orang-orang kampung. Terutama mengenai kehidupan dari segi ekonomis, berkecukupan atau tidak berkecukupan. Sering dikatakan bagi seseorang yang hidup sederhana, segala sesuatu keperluan dan kebutuhan hidup, selalu saja : "bila sedikit cukup, bila banyak ya habis",- Ini menandakan bahwa kehidupan itu sendiri bisa mengatur seakan-akan otomatis ya begitu itu, maksudnya bagaimanapun ya dicukup-cukupkanlah, sebab kalau banyak dan berlebihpun tokh akan habis juga pada akhirnya. Hidup ini anggaplah tenang-tenang saja. Mau makan, tokh akan selalu ada makanan, asalkan dirikita cukup usaha buat itu semua. Akan selalu ada-ada saja jalan. Sepertinya begitulah kehidupan kami orang-orang kampung, dijalani atau terjalani juga secara apa adanya. Semuanya disediakan alam ini, dan kita sebagai manusia harus aktive dan bergiat mengolah semua yang disediakan alam ini.
Secara kehidupan, yang paling mendasar adalah soal kebutuhan pokok : makan, sebagai keperluan sehari-hari yang mutlak dijalani. Rasanya selama ini kehidupan kami terpenuhi kalau hanya soal makan, dalam pengertian bisa makan tiga kali sehari. Hal ini baik ketika ditinggalkan ayah pergi ke tanah Jawa karena dia dikejar-kejar kekuasaan Belanda dulu itu, maupun sebelumnya ketika kekuasaan pemerintah Jepang. Kehidupan kami ketika itu biasa-biasa saja, bisa makan tiga kali sehari. Seluruh penduduk Belitung boleh dikatakan tidak ada yang mati kelaparan ketika pemerintah Jepang sedang berkuasa-kuasanya. Tetapi dari segi pakaian, memang sudah ada yang mengenakan kain kasar ataupun malah kain dasarnya bekas karung goni. Namun bila dibandingkan dengan penduduk di tanah Jawa, penduduk Belitung jauh lebih baik keadaannya. Keadaan kehidupannya bukanlah berarti kaya atau makmur, tetapi dengan istilah jujurnya : bisa hidup sederhana, tak ada dengan soal kelaparan. Bahwa ketika masa Jepang orang-orang sudah banyak yang makan singkong, gaplek, atau mengurangi nasi,- itu betul. Tapi tetap saja bisa hidup sederhana atau sangat sederhana.
Begitupan ketika perubahan zaman ke transisi, zaman kemerdekaan, setelah Agustus 45, kehidupan kami, termasuk banyak penduduk Belitung lainnya, tak dapat dikatakan lalu sengsara. Biasa-biasa saja, dijalani dan terjalani sebagaimana adanya saja. Bagi kami, maksudnya bagi kebanyakan penduduk Belitung, asal ada bahan pokok utamanya saja : beras, bereslah sudah! Soal lauk-pauk sudah ada disediakan alam. Asal ada beras, artinya bakal akan ada nasi. Ada nasi haruslah ada laukpauk buat makannya. Ini soal sangat gampang.
Petik saja daun-daunan, sayuran yang tumbuh disepanjang pagar rumah atau sedikit pergi ke belakang rumah. Di sana ada semak-semak, hutan kecil, penuh dengan tetumbuhan yang bisa dimakan. Segala pucuk, dedaunan muda banyak sekali yang bisa dimakan dan disayur, dilalap. Semua ini kami jalani sepanjang kehidupan kami di Belitung. Pucuk muda dedaunan jambu mete, atau jambu-monyet, dijadikan lalap, bukan main enaknya. Lalu pucuk dedaunan pakis yang di mana saja tumbuh itu, digulai dengan sedikit ikan, enak sekali. Dan betapa banyaknya tumbuh pohon-pohon melinjo. Dedaunan mudanya sangat enak disayur. Jenis kacang-kacangan seperti kacang panjang, kacang hijau, kacang ercis, banyak terdapat di mana-mana. Dan bisa disayur, ditumis, digulai, dan semua itu bahan makanan yang cukup sehat dari segi vitamin, mineral.
Mau makan ikan, kerang, hasil laut lainnya? Pergilah ke pantai atau muara sungai yang selalu ada di Belitung. Kita bisa menangguk ikan, udang, dan mencari berjenis kerang, yang banyak jumlahnya dan terdapat di mana-mana. Aku sering bersama orang-orang muda maupun nelayan tradisional lainnya, sering pergi menyuluh. Arti kata dasarnya suluh. Suluh yalah lampu dari sumbu yang disumbatkan ke sebuah batang bambu. Dengan suluh itu kita dapat mencari kepiting, dan berjenis hasil laut lainnya. Pergi ketika laut pasang-surut. Di sana akan terdapat banyak kepiting. Dengan bersenjatakan dan menggunakan sebuah tombak yang sedang-sedang buat menombak kepiting, yang biasanya kalau kami, dibuat dari jari-jari sepeda yang diruncingkan dan dibuat bertangkai dengan kayu sekira dua meter lebih. Lalu mencari kepiting, Banyak kepiting yang pada berlarian dalam pasir putih, dan membenamkan dirinya ke dalam pasir. Kita tinggal membidiknya saja dan menombaknya. Lalu mengambilnya dengan tangan yang harus sedikit berhati-hati agar jangan disepit supitnya. Ada lagi cara kami yang lain. Ketika kepiting itu membenamkan diri, injak pelan-pelan dan hati-hati. Lalu dari arah belakangnya kita ambil dengan tangan, tanpa melukainya tanpa menombaknya. Sebab kalau sudah ditombak, kepiting itu luka dan tembus, lalu dagingnya tidak seenak yang masih utuh, tidak bercacat. Terkadang kami juga sering-sering dapat berjenis ikan, dan juga kerang. Hasilnya sangat lumayan. Dan ini semua bukannya buat dijual, ini betulbetul buat keperluan sendiri, buat makan sehari-hari. Kalau kita mau dan bersedia, memberikan hasil ini kepada tetangga-tetangga dan keluarga kita yang membutuhkan.
Ketika itu begitu gampang penduduk Belitung buat hidup dan menjalani kehidupannya masing-masing. Ini terjadi dan teralami oleh kebanyakan penduduk Belitung antara tahun-tahun 40-an sampai 50-an. Sesudah itu aku samasekali sudah tidak tahu lagi dan tidak berhubungan lagi. Pulau kecil yang bagaikan sedikit bersegi empat kalau di dalam petanya itu, berpenduduk ketika itu hanya 80.000 orang saja. Dan kami penduduk Belitung, mungkin karena kecilnya itu, maka alamnyapun dapat kami jalani dan kami kenali serta kami gauli sebagai teman yang sangat akrab. Hutannya, sungainya dan pantainya, dan lautnya, kami kenali dan sangat baik kepada kami. Dia selalu menyediakan makanan buat kami, tidak pernah kami merasa tidak bisa makan karena tidak ada sayuran, tidak ada ikan, udang dan kerang. Pokoknya sediakan dulu berasnya, soal laukpauk banyak disediakan alam Belitung yang sangat baik kepada kami penduduk yang mendiaminya, yang saling mencintai antara kami dengan alam sekitarnya. Soal Gunung? Di Belitung hanya ada dua buah gunung, dan lertaknyapun aneh sekali. Berdekatan, seakan berdempetan. Oleh penduduk dinamai Gunung Tajam Laki dan Gunung Tajam Bini. Dan tidak pula sangat tinggi. Tingginya hampir 500 meter dari permukaan laut. Barangkali kalau di tanah Jawa dan Sumatera, hanya dianggap bukit saja! Tapi bagi kami, dua buah gunung itu bagaimanapun tidak tingginya, tetaplah dua sejoli itu adalah gunung dan mereka berdua kami namai Gunung Tajam Laki dan Gunung Tajam Bini. Bisa terlihat dari kejauhan, dari laut, dari kapal yang sedang berlabuh. Demikianlah aku sebagai anak dan orang kampung, telah bergaul seadanya dengan alam Belitung yang sangat kucintai, yang begitu dicintai penduduknya, karena telah begitu banyak memberikan kehidupan kepada kami.
Alam begitu baik kepada manusia, dan manusia sewajarnyalah juga berbaik budi dan berbaik hati kepada alam. Kalau mengambil sesuatu dari alam itu, ambillah seperlunya, jangan sampai mubazir, dan jangan sampai dapat dikatakan mengeduk dan menguras alam buat kepentingan diri sendiri dan menumpuk kekayaan hartabenda. Semua ini ketika dulu itu tak ada dan tak secuilpun terniat pada kami penduduk Belitung. Kami, manusia dan alam saling mengasuh, saling memberikan, dan menerimakan. Betapa akan bahagianya sekiranya di dunia ini antara alam dan manusia saling memperhatikan, saling tahu diri dan saling memelihara, saling menyeimbangi,-
Almere - HOLLAND 15 Agustus 2000,-
Morison seorang photographer profesional yang telah banyak dan lama bekerja di Afrika Selatan. Dia bekerja dan mencari obyek perfotoan di Namibia, di Zimbabwe, di Mozambique dan di Afrika Selatan-nya sendiri. Semula dia bekerja atas kerjasama kontrak, lalu dan terkadang secara lepasan, freelance. Tapi pekerjaan begini sangat menjadikan dirinya bahagia, penuh dengan kegembiraan dan kesenangan, walapun capek, lelah-letih yang bukan alang kepalang. Baru-baru ini dia bekerja buat beberapa kantor berita dan majalah serta perfilman dokomenter. Dan ketika dia sampai di Afrika Selatan, di sebelah utara kota Durban, atas petunjuk temannya yang di London yang juga pernah beberapa tahun bekerja di Afrika Selatan, agar dia menghubungi seseorang yang sangat berdedikasi tentang lingkungan-alam, yang namanya Paul Kurkuttu, penduduk asli yang banyak tahu tentang lingkungan. Begitulah, Morison memulai menjelaskan dan menerangkan maksud pekerjaannya. Benarlah kata temannya yang di London itu, tak banyak dan tak begitu menjelimet buat menjelaskannya,- Segera Paul Kurkuttu mengerti dan katanya dia siap membantu. Persiapan yang disanggupkan Paul buat melengkapi pekerjaan Morison benar-benar di luar dugaan Morison. Sangat perfek hampir-hampir tanpa cacat. Paul menyiapkan tanah atau arena, atau dunia kecil bagi para aktor-aktor yang akan dimainkan para pelakunya,- binatang-binatang. Semula yang dikerjakan Paul, mencari jenis kodok atau katak kecil, sekecil kotak korek api. Lalu membuat saluran air dengan bebatuan, kayu-kayu dan rerumputan, dedaunan. Lalu hutan kecil buatan itu diselimuti dengan kawat-kasa yang lobangnya cukup besar tetapi tidak sampai bisa jenis kodok itu bisa meloloskan diri. Lalu dia mencari berjenis kelelawar, masuk ke dalam sebuah gua, terowongan. Beterbanganlah ribuan jenis kelelawar itu. Dan Paul menangkapinya dengan sejenis tangguk dan memasukkannya ke sebuah tempat yang memang sudah disediakannya. Lalu dia juga mencari jenis kobra, ular-senduk. Dan terakhir dia juga mencari sejenis musang yang namanya manggous. Kehebatan musang ini sangat berani bertarung dan berkelahi mati-matian dengan ular. Bahkan tak jarang ular yang berbisa itu mati digigit manggous. Dan perkelahian sejenis inilah yang mau diambil Morison buat keperluan filem dokumenternya. Pendek kata Paul sudah menyiapkan hutan kecil, dengan saluran air mengalir kedengaran gemeciknya, dan melewati bebatuan. Pohon-pohon dan semak-semak, belukar kecil cukup baik dan dibuat strategis agar berjenis binatang bisa dan merasa nyaman buat bersembunyi atau buat mengintai mangsa. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Morison dengan persiapan kamera, lampu, standard penopang, filem celuloid agar tak ketinggalan waktu yang walaupun hanya setengah menit atau beberapa detik. Sedangkan Paul sibuk dengan persiapan berjenis binatang agar tampak terlihat alamiah, se-nature mungkin. Agar berjenis binatang itu tidak merasa dalam kurungan dan buatan manusia. Berkali-kali percobaan Paul melepas kelelawar agar menyambar kodok yang sedang bertengger di ketinggian sebuah batu. Tapi tetap belum sempurna, belum ideal, dan Morison maki-maki dirinya sendiri, karena kurang siap dengan detik waktu yang diperlukan. Dan pada akhirnya momentum yang sangat baik dan tepat-waktu, seekor kelelawar pas dan tepat mulutnya mau menyambar seekor kodok, mata kamera berbunyi. Mulut kelelawar dan kodok itu berjarak sekian milimiter, masuk dalam foto yang jelas-terang dan mengagumkan. Lalu tiba giliran perkelahian antara manggous dan kobra yang berkepala segitiga. Ini menandakan kobra ini sangat berbisa. Manggous mengimbangi ancaman dan keganasan kobra. Kobra itu mendenguskan mulutnya buat menyebarkan racunnya. Tetapi manggous bagaikan seorang pendekar silat yang sangat trampil, memainkan ekor dan mulutnya sambil berputar menghindari mulut dan cengkraman gigi kobra. Kobra tampak keganasan dan kemarahannya. Tetapi manggous lagi-lagi berputar mengambil ancang-ancang, dan dengan gerak tipunya yang betul-betul mengagumkan. Barangkali dia juga tahu, begitu sampai kena cengkeraman gigi kobra, kontan mati kena racunnya, dan lalu dilahap kobra. Dan moment ini harus direbut manggous secara cerdik dan penuh tipuan. Manggous betul-betul bisa memainkan gerak tipunya yang berputar-putar dan terkadang putarannya bertentangan secara tiba-tiba membelok 180 derajat. Dan ini membikin kobra sering tertipu. Begitu moment itu didapatkan manggous, secepat kilat manggous menerkam bagian belakang kepala kobra. Dan babak ini kekalahan angka buat kobra. Kekuatan kobra sudah berkurang sedikit. Rupanya buat "merebut angka" sampai kobra knock-out betul, perlu memasukkan dribbel, swing, dan sehingga kekuatan kobra lama-lama menjadi aus dan kelincahan manggous tak berkurang. Pada akhirnya dengan tipuan gerak-gerik berputar itu, manggous dapat menggerus dan menggigit bagian kepala belakang kobra, dan kobra tergeletak mati tanpa sanggup mencengkeramkan giginya yang penuh berbisa itu. Manggous dapat menggigit dan memakani bagian tubuh kobra yang dia mau. Tetapi manggous bukanlah kobra, tidak pernah dia melahap habis sebagaimana kobra melahap mangsanya. Kemenangan perkelahian itu saja cukup "membanggakan" manggous, dengan sedikit merobek dan memakani bagian tubuh kobra. Perkelahian begini sudah sering terjadi difilemkan secara dokumenter. Tetapi peristiwa yang direkam atas kerjasama Paul dan Morison ini betulbetul sulit mencari cacatnya, mendekati sempurna. Juga bagaimana seekor kelelawar yang menyambar seekor kodok yang jarak mulutnya dengan kepala kodok hanya beberapa milimeter. Dua hasil rekaman ini sangat mempesona bagi yang melihat dan menyaksikannya. Semula bagian filem dokumenter BBC akan memberikan hadiah pertama pada perlombaan pemotretan secara dokumenter dengan hasil filem Morison ini. Tetapi rupanya Morison dengan judul filemnya " The Trial of Life"nya minta ditangguhkan agar dia juga diperkenankan menambahkan siapa yang paling berjasa bagi pembuatan filemnya. Dan tokh dengan berbagai tambahan adegan dan dengan montage yang baik, semoga bisa menampilkan orang yang sangat berjasa baginya, yaitu Paul Kurkuttu. Seorang yang sangat mengerti tentang lingkungan, seorang yang dianggap sangat perduli dengan lingkungan alam, ekoloog. Tetapi lalu timbul perdebatan, apakah seorang Paul Kurkuttu bisa dianggap sangat perduli dengan lingkungan alam, ekologi? Yang padahal dia dengan aktive membantu membuat filem dokomenter Morison yang menampilkan mangsa memangsa antara binatang. Dan bukan hanya itu, mengapa lalu Paul Kurkuttu membuat sejenis hutan buatan hanya demi buat keperluan filem itu. Atas keberatan pihak yang menggugat, Morison membela Kurkuttu mati-matian, malah mendekati seperti perkelahian antara manggous dan kobra itu. Tanpa turutcampur secara langsung dan aktive dari Paul Kurkuttu, tidak mungkin Morison akan seterkenal dan setrampil serta semashur sekarang. Untuk itu Morison bersedia menghadapi yang jauh lebih hebat, sampai badan PBB sekalipun. Pembelaan Paul Kurkuttu di depan pengadilan dengan lantang mengatakan : " Keperdulian dengan lingkungan tidak berarti lalu membiarkan segala yang liar dan dianggap nature secara apa adanya. Tugas kita yang jauh lebih penting dan baik, adalah melindungi, memelihara dan mendekatkan manusia dengan alam dan dengan binatang. Tugas kita memelihara, melindungi, melestarikan alam, manusia dan binatang, dan mendekatkannya agar ketiga unsur itu saling menyeimbangi. Jadi sekali-kali bukanlah membiarkannya menjadi liar sebagaimana adanya dengan cara berjalan sendiri-sendiri. Sedangkan apa yang kami kerjakan dengan pembuatan filem itu, saya menganggapnya ada unsur ajaran pemeliharaan alam lingkungan, pengenalan binatang dan lingkungannya. Dan yang jauh lebih penting adalah unsur pembuatan filem secara ilmiah dan nature. Tapi tugas kita, tugas kami yalah tetap mendekatkan ketiga unsur yang saya sebutkan di atas",-Sejak itulah pihak BBC dan beberapa badan pembuat filem alamiah dokumenter berpihak pada pikiran Morison dan Paul Kutkuttu. Dan Morison menambahkan filemnya yang tadinya hanya " The Trial of Life" menjadi "The Trial of Life and The Man Behind The Actor". Dan tetap saja filem dokumenter Morison dan Paul Kurkurttu menadapatkan hadiah pertama dan banyak penghargaan lainnya. Barangkali inilah contoh yang baik dan mendekati sempurna bagaimana kerjasama yang baik itu. Dasar kerjasama yang baik tidak hanya atas dasar "sama-sama kerja" tetapi unsur pokoknya yalah "kerjasama dan perhatian",-
Almere - HOLLAND 15 Agustus 2000,-
Kantor Senat di Paris menyediakan diri buat mengadakan sebuah pameran foto yang sungguh spektakuler. Pameran foto ini diadakan di sekitar Taman Luxembourg, sebuah Taman yang terbesar di kota Paris. Di mana di dalam kompleksnya terletak kantor Senat. Pameran foto ini tampaknya tidak mungkin dipamerkan di sebuah gedung apapun. Sebab melihat kenyataan apa saja dan bagaimana saja foto-foto itu keadaannya. Setiap foto sama besar panjang dan lebarnya. Dan sebuah foto rata-rata sepanjang dua meter, dengan lebar satu setengah meter. Dan yang dipamerkan sejumlah 154 foto. Tentu saja harus ada jarak antara satu foto dengan yang lainnya. Dan ini menurut perkiraan, paling tidak memerlukan ruangan yang sepanjang satu km! Mana ada gedung yang begitu itu! Karena itu pameran foto ini diadakan di luar gedung, sepanjang bagian sayap Taman Luxembourg. Karena masalah tempat, penempatannya, banyak juga foto yang "terpaksa dipasang" yang saling membelakangi. Jadi ada yang bisa dilihat dari luar Taman, dan ada yang hanya bisa kalau masuk atau kita ada di dalam Tamannya. Bagian ini ada "kerugiannya" bagi publik. Sebab Taman itu tutup bila malam hari, dan dikunci. Sedangkan yang di luar Taman, tetap saja selama 24 jam dapat dilihat, dengan setiap sebuah foto disorot dengan spotlight berkapasitas 200 watt. Jadi orang melihatnya bisa kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Bagaimana bila hujan? TIdak ada soal. Karena bahan kertas foto itu terbuat dari celuloid yang tahan banting. Kata peribahasa kita dulu "tak lekang di panas tak lapuk di hujan", ini benar-benar kongkrit. Jadi hujan lebat bagaimanapun dan hawa cuaca bagaimanapun untuk ukuran Paris, tidak akan apa-apa. Orang yang berjalan hilir mudik menikmati kota Paris, tentu saja banyak tertarik dan melihat serta menikmatinya. Sering terdengar pujian yang dengan mulutnya berdecak kagum, dan mereka terpesona mengamati foto-foto yang begitu indah, cantik dan menarik. Photographer Yann Arthus-Bertrand yang mengerjakan pembuatan dan penyeleksian foto ini telah mulai mengerjakannya selama 10 tahun. Dan telah menembakkan kameranya sejumlah 100.000 jepretan. Dan telah melahirkan karya fotonya ini di sejumlah 76 negara, dengan jumlah jam-terbangnya 3000 jam-terbang! Mengapa semua ini disebut dan ditulis? Karena semua foto ini dibuat dari atas. Selalu dalam posisi vertikal dan tak ada yang horizontal. Nama tema pameran foto ini, aslinya LA TERRE VUE DU CIEL dengan Inggerisnya EARTH FROM ABOVE. Kalau proyek raksasa ini dikerjakan sendiri atau organisasi kecil, rasanya memang jauh dari kemungkinan. Karenanya tidak heran kalau dalam kata pengantarnya Yann Arthus-Bertrand mengatakan bahwa terlaksananya pameran foto ini dibantu dan disponsori oleh UNESCO - UNO - PBB. Lalu seperangkat bantuan lainnya, terutama dari pihak Perancis. Bantuan penerbangan dari AIR FRANCE, dan Fuji Film, dan kata Yann :"Those who helped me in the fullfilment of this work are so numerous that I feel like guilty for being unable to publish their names. I wish nevertheless to thank them from the bottom of my heart",- Karena pengerjaan dari mula sampai jadinya pameran yang sekarang ini memang memerlukan bantuan ribuan orang, ratusan badan-badan organisasi sedunia. Dari sejumlah 76 negara sebagi sumber penciptaan foto ini, ada dua foto yang dari Bali. Sebuah percobaan penanaman rumput laut yang dilihat dari atas, lalu sebuah hamparan sawah sengkedan di Bali yang pengurusannya di bawah organisasi tradisional adat Bali : subak. Sangat bagusnya, sangat indahnya. Sawah yang bertingkat, tampak kehijauan pepadian, dan juga genangan air, pelan-pelan turun ke bawah, ke pematang lain yang terus ada di bawahnya. Namun air itu takkan kering-keringnya karena penyusunan mekanismenya sangat diperhitungkan. Dari Filipina malah lebih banyak dari Indonesia. Hal ini tidak bisa diperbandingkan secara mengapa satu negara lebih banyak dari negara lain, atau mengapa negara itu tidak ada termasuk penciptaan fotonya. Seniman Yann Arthus-Bertrand mengatakan ;"the earth is art, the photographer is only a witness",- jadi tidak perlulah kita memperbandingkan atau adanya perasaan sedikit iri dan cemburu, mengapa negara kita kok hanya Bali saja, padahal banyak tempat lain yang jauh lebih bagus. Atau kenapa Marokko, Venuzuela, Spanyol kok lebih tiga empat foto, atau Irak, Koweit juga tidak hanya satu foto saja. Pameran ini adalah pameran art tadi itu. Bagaimana penggambaran sekawanan sapi di Argentina yang menyeberangi sebuah sungai, tampaknya berebut saling mendahului, dan tampak lucu sekali, sebab ada yang ditubruk temannya sehingga terjerembab, dan sebuah kakinya terinjak teman lainnya sehingga nyangkut tak dapat melepaskan diri. Lalu antrian panjang puluhan panci karena bergiliran harus menampung air-bersih yang sudah dijatah di sebuah negara di Afrika. Dilihat dari atas sangat bagus dan aneh, dan lucu. Tetapi juga bagaimana mengenaskannya ambruk, hancur leburnya perumahan, bangunan di Taiwan akibat gempa bumi dulu itu. Dan para penduduk sekitar situ dengan sedih menyaksikan perumahan yang barangkali ada yang rumahnya habis-kikis menjadi puing berserakan. Dan bekas-bekas perang sesudah Perang Dunia ke II, terutama Perang Irak-Koweit, Perang Irak-Iran, Perang PBB mengeroyok Irak. Ampas tank dan kapalterbang yang berserakan, menjadi tumpukan besi tua yang sampai pembuatan foto itu tidak diurus mau dikemanakan! Semua ini seakan-akan berkata dan bertanya-jawab pada dirikita, lalu nantinya akan mau dikemanakan. Atau, nah, itulah akibat perang, kalah menangpun tetap saja sama penderitaannya, atau yang berjenis lain. Namun harus diingat kata Yann, foto ini adalah seni, dan dia hanyalah saksi buat pembuktian,-Pameran foto spektakuler ini sudah saya tuliskan beberapa bulan yang lalu. Ternyata masih begitu banyak yang berkata-kata dan bercerita kepada saya mengenai masalah ini, dan kepada kita sekalian masih tetap ada dan punya bahan yang selalu baru buat dikemukakan. Tentu saja pameran ini tidak tanggung-tangung, disamping gratis dan bisa dilihat dan dinikmati tak terbatas waktunya, selama 24 jam, lama jangka waktunyapun bukan main,- selama 6 bulan. Dari mulai bulan Mei yang lalu sampai Oktober dua bulan lagi. Dan didatangi dan dinikmati ribuan orang setiap harinya. Ada sedapnya juga kalau saya tuliskan, letaknya hanya beberapa langkah dari restaurant kami, Restaurant Indonesia, jadi sedikit banyaknya, siapa tahu kamipun kecipratan rezeki dari para turis yang kehausan dan kelaparan. Namun tak ada maksud buat meng-iklan-kan semua itu dengan tulisan ini, sungguh mati, dan berani sumpah! Karena saya sangat mengagumi pameran foto yang begitu sangat spektakuler ini. Setiap hari dilihat, selalu ada yang bagus, indah dan sangat menarik, dan yang berkata serta bercerita dari foto-foto itu memang benarlah, the earth itu betullah is art,-
Almere - HOLLAND 16 Agustus 2000,-
Sudah lama ada dalam pikiran saya, bahwa tanggal 17 Agustus nanti saya mau datang ke KBRI di Paris. Diundang maupun tidak diundang, saya mau datang, saya mau hadir. Saya mau bersama-sama melihat, menyaksikan berada di tengah masarakat Indonesia di Paris bersama-sama merayakan dan memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Saya merasa diri saya adalah bangsa Indonesia dan ingin merasakan berada di tengah masarakat Indonesia yang sebelumnya saya merasa asing atau saya merasa mereka asingkan selama lebih dari 34 tahun! Tak tahu-tahunya diluar dugaan, tepat nanti pada 17 Agutus, ternyata saya tidak di Paris, malah di Holland. Namun demikian kehendak dan niat saya untuk datang ke KBRI Ambassade Indonesia, tidak berubah. Seandainya di Holland-pun saya tetap ingin hadir, ingin tahu, ingin merasakan berada di tengah masarakat bangsa saya, yang selama ini saya merasa diasingkan selama puluhan tahun itu. Tidak penting bahwa saya tak punya surat undangan! Gila kan! Agak nekad juga kan! Dan saya sudah pesan pada Mas Mung agar saya ikut dengan tanggungjawab saya sendiri. Dan Mas Mung samasekali tak keberatan, dan malah dia merasa punya teman seiring dalam mobilnya nanti. Maka "kegilaan dan kenekadan" saya itu terlaksana hari ini, siang tadi itu. Dan Mas Mung bersama isterinya dan teman lainnya beserta saya, datang ke KBRI di Wassenaar di Den Haag. Padahal sebelum itu saya tak pernah hadir atau apalagi diundang oleh pihak KBRI. Pembaca kan tahu, bahwa kami atau orang sejenis saya ini, sudah dimusuhi sejak tahun 1965. Bagaimana mungkin mereka mau dan rela mengundang saya, tidak mungkin! Tetapi hal itu tidak penting. Saya mau datang, saya mau hadir, saya mau berada di tengah masarakat bangsa saya di KBRI Den Haag pada hari ini. Soal saya tidak akan diterima atau akan ditolak atau siapa tahu akan diusir, itu soal belakangan. Dan saya siap buat semua itu. Jadi saya akan datang dengan senjata dan perbekalan : mau bersahabat, mau bergaul, mau berkenalan dan mau segalanya di atas dasar keterbukaan, kejujuran dan demokrasi! Itu saja modal saya hari ini.-Dan ketika kami masuk pertama pada jam 08.30 di wilayah KBRI Den Haag Wassenaar itu tampaklah banyak orang-orang berbadan tegap, berambut agak cepak, tetapi berpakaian lengkap, berdasi, seragam resepsi, memeriksa kami. Kami membawa seperangkat buku-buku dan alat presentasi buku-buku yang mau dijual oleh Mas Mung. Dan dengan ketat serta teliti memeriksa semua bawaan kami. Semua ini urusan Mas Mung. Saya hanya tahu dari dia, bahwa dia sudah minta izin akan menjualkan beberapa buku, termasuk buku tulisannya sendiri. Pada hari pertama minta izin, pihak KBRI mengizinkan dan tak keberatan samasekali. Tetapi pada hari keesokan harinya 17 Agustus, mereka menilpun Mas Mung, bahwa beberapa daftar buku-buku yang akan dijual itu dilarang dibawa ke KBRI! Hanya diizinkan tulisan dan kumpulan puisi Mas Mung sendiri bersama seorang teman. Yang dilarang buat dibawa masuk antaranya buku tulisan karya Prof DR Wertheim, DR Saskia, dan tentu saja tulisan dan buku saya, SA. Katanya alasannya, karena ada juga orang yang minta menjualkan buku, tapi ditolak oleh pihak KBRI. Jadi katanya, yang dibawa Mas Mung itu juga seharusnya dilarang, dong! Saya tidak mengurus soal itu, walaupun di dalam pelarangan buku itu ada buku karangan saya. Semua itu urusan Mas Mung dengan pihak KBRI, ada bagian-bagian yang mengurusnya. Saya hanya berpikir bagaimana dan kenapa kok saya nekad dan gila benar kok mau datang ke KBRI, sebuah kekuasaan dan kekuatan yang dulu pernah memusuhi kami selama 34 tahun! Menghadapi pintu masuk, betapa banyak orang-orang yang berpakaian dan berdasi tetapi bergaya militer, memeriksa dan mengawasi begitu teliti orang-orang banyak itu. Tetapi begitu sudah masuk ke dalam, barulah tahu saya bahwa dunia yang saya masuki itu tidaklah sangat seram dan menakutkan. Apa yang saya lihat? Dalam hati saya, apakah ini KBRI itu? Lapangan hijau buat upacara nanti itu, dan semua sayap menuju ke sana, sudah penuh dengan tenda-kecil yang berisi dan menjual makanan. Saya hitung lebih dari 25 tenda. Berisi jualan makanan, kue-kue, makanan, ada yang namanya warung Banyumas, Empek-empek Palembang, Soto Betawi, Siao Moi Jakarta, Asinan dan Gado-gado Jakarta, dan goreng pisang, kelepon, cucur, segala macam makanan kudapan, makanan santapan siang. Lalu terpikir pada saya, kok kayak pasar-malam Tongtong aja ya! Itupun saya tidak perduli. Orang-orang sudah ramai. Padahal mulainya pada jam 09.45. Saya memperhatikan semua orang yang bisa saya capai dengan mata. Ada juga yang saya kenal, tetapi sebagian besar tidak saya kenal, dan dengan wajah-wajah baru. Dalam hati saya : sekarang saya berada di tengah masarakat bangsa saya. Kenalilah mereka, ajaklah mereka bercakap-cakap, jangan sekali-kali pasive, menunggu sampai mereka menegurmu! Kamulah duluan yang aktive, dekatilah mereka, senyumlah, bukankah kau sudah terlatih ramah selama belasan tahun menghadapi tamu-tamu di restomu? Inilah senjataku, inilah modalku. Dan aku mulai mengenali mereka, beramahan dengan mereka, dan pelan-pelan mengajak bergurau. Ternyata persangkaanku yang dulu atau semula ada padaku, berangsur hilang setelah aku menjalankan ofensif ramah dan bersahabat ini. Dan kami bisa berkelakar dengan orang-orang yang tadinya samasekali tak kukenal. Dari percakapan dengan orang-orang itu tahulah saya, tadinya atau dulunya, semua makanan yang disediakan KBRI adalah gratis, ini tiga tahun yang lalu. Tetapi sejak dua tahun yang lalu dan yang ini adalah yang ketiga, barulah beberapa grup mereka yang disekitar KBRI diperkenankan membuka stand, tenda, dan menjual makanan. Tetapi ternyata sebenarnya cara sekarang inilah yang tepat, dan hal-hal yang gratis begituan sebenarnya tidaklah tepat. Dan banyak yang membenarkan bahwa cara yang sudah tiga tahun ini, adalah penemuan yang ternyata benar dan wajar. Apakah ada akibat dan dampak negatif lainnya? Mungkin ada. Katanya dulu itu yang datang sampai mencapai 2000 sampai 3000 orang, maka penuh padat dan sesaklah lapangan sekitar KBRI itu. Tetapi setelah harus bayar sendiri itu, paling banyak yang datang hanyalah 600 orang. Sudahlah, itu bukan urusan penting! Pada jam yang sudah ditentukan, upacara dibuka dengan waktu yang tepat. Dari jam pembukaan mulai jam 09.45 sampai jam terakhir jam 10.15, yang padahal di dalamnya ada pidato Duta Besar, Pengheningan Cipta, penaikan bendera dan pembacaan proklamasi, dan beberapa acara lagi,- sangat tepat waktu! Kaget dan kagum juga saya dibuatnya. Dan dari percakapan orang-orang, katanya Duta Besar yang satu ini Pak Irsan, sangat lain dari yang lain. Beliau tidak suka yang sangat berbau militer, dan beliau menolak dikawal ke mana-mana padahal hanya dalam kompleks KBRI itu saja. Dan beliau menolak duduk di kursi kehormatan yang disediakan oleh panitya yang letaknya terpisah dengan keberadaan massa yang hadir. Semua ini saya lihat, betul memang begitu. Tampaknya Pak Duta ini, yang telah saya ikuti gerak-geriknya sejak adanya instruksi presiden mengenai orang-orang terhalang pulang dengan mendatangkan menteri Yusril dulu itu, cukup terbuka dan bisa berdialog tampaknya. Pidato-nyapun bagus, dalam pengertian ingin bekerja dan menuju keterbukaan dan kelonggaran. Katanya peringatan sekali ini dihadiri oleh Duta Besar Belanda yang sedang berlibur di Holland. Ketika upacara penaikan bendera, ada banyak orang-orang yang kulihat pada tegap dan berambut agak cepak dan berpakaian lengkap buat resepsi dan berdasi itu dengan tegap memberi hormat saluir cara militer. Padahal mereka berpakaian sipil! Kalau begitu mereka itu adalah para militer, inteligen, informan dan reserse dan intel! Tapi sudahlah. Di sana saya banyak berkenalan dengan orang-orang baru, orang-orang yang sangat asing tadinya. Tapi begitu bergaul dan saling mengenal dan cerita, ternyata mereka adalah sebagian besar sama saja dengan orang-orang yang kukenal selama ini. Bahkan banyak di antaranya yang menjadi pejabat di KBRI dan pegawai dinas luarnegeri yang dipekerjakan di KBRI. Artinya calon-calon diplomat muda. Dan mereka ini tampaknya ada yang benar-benar ingin juga berkenalan dengan orang-orang sejenis saya. Bahkan salah seorang di antaranya, sekretaris ke........ingin mengajak saya menemui Pak Duta agar berkenalan dengan Pak Duta. Ini benar-benar gila! Apalagi setelah mereka tahu siapa saya, malah pihak merekalah yang tampaknya menaruh perhatian besar kepada persoalan saya. Ini orang datang dari Paris, tanpa diundang mau datang ke KBRI Holland, dan dengan hati terbuka dan jujur,-ini setelah saya katakan apa dan bagaimana maksud saya yang sebenarnya datang ke tengah bangsa saya hari ini buat bersama merayakan dan memperingati hari proklamasi ini. Oleh keterangan saya ini, mereka malah bertambah tertarik, dan pada akhirnya mereka memberitahukan kepada Pak Duta Besar. Dan pada akhirnya saya diminta buat menemui Pak Duta Besar, dan kami pada bercakap-cakap dengan ramah. Dan saya katakan, maaf dulu itu, saya tak dapat hadir ketika Menteri Yusril di Den Haag, sedangkan teman saya datang dari Paris buat keperluan itu. Ketika Januari 2000 itu malah saya sedang di Jakarta. Kata Pak Duta Besar memang ada didengarnya berita itu. Dan Pak Duta Besar mengajak saya buat berfoto bersama! Masyallah, pikir saya, apakah ini saya bermimpi? Apakah ini benar-benar terjadi sih? Dan memang benar dan bukannya bermimpi, kami dengan beberapa orang lagi, dengan Pak Duta Besar Irsan bersampingan dengan saya, berfoto bersama! Kalau dulu, semasih berkuasanya babe Cendana, pastilah saya akan menolak, dan saya akan berpikir, habislah saya, sebab foto itu akan disimpan di lemari kopassus atau seperangkat dinas militer siap buat menculik dan menggebuk dan menghabiskan saya kalau mereka anggap perlu. Tetapi pikiran itu kini saya kira tak perlu sampai demikian benar. Bukankah saya datang dengan modal dan tekad bersahabat dan mau berkenalan, mau sama-sama menuju dan menegakkan demokrasi. Dan lagi saya sekarang ini mau menegakkan kepala saya yang selama ini dipaksa buat tunduk. Saya ingin mengepakkan sayap saya selebar dan seluas mungkin, buat terbang menuju angkasa kemerdekaan dan demokrasi yang sebenarnya. Untuk semua yang saya alami hari ini bersama begitu banyak orang-orang yang baru saya kenal, yang tadinya sangat asing, termasuk kepada Pak Duta Besar Irsan, terimalah salam saya yang sangat hangat dan bersahabat. Dunia masa depan ini, bukan main banyak dan rumitnya pekerjaan kita, dan saya harap pengertian kita itu adalah juga kalian yang tadi-siang bersama-sama saya,-
Den Haag - HOLLAND 17 Agustus 2000,-