Baca EPUB: Kisah Seorang Pradjurit Soviet

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
MIKHAIL SHOLOKHOV
Kisah Seorang Pradjurit Soviet
Kacabenggala Editions

Publisher Note

(Tjatatan Riwayat Hidup)


Michail Sjolochov


Michail Sjolochov, penulis Soviet Rusia jang ulung, dilahirkan dalam lingkungan keluarga buruh pada tgl. 24 Mei tahun 1905. didesa Kruzhilinski ditepi sungai Don. Semula ia belajar dalam sekolah desa dan kemudian, samai tahun 1918 ia belajar dalam sekolah menengah.

Sjolochov ikut serta dalam Perang Saudara melawan kaum intervensionis dan Tentara Putih, dan ketika perang telah selesai, ia mendapat pekerjaan sebagai tukang batu, seorang buruh buku ahli, seorang pekerja statistik dan djuga sebagai seorang pemegang buku.

Ia mulai giat dalam lapangan kesusasteraan dalam tahun 1923 dengan membantu suratkabar2 dan majalah2 pemuda. Tjeriteranja jang pertama "Tahi Lala" ditjetak dalam tahun 1924. Satu setengah tahun kemudian munjuliah djijlid pertama dari tjeritera2-nja jang dinamakan "Tjeritera2 dari Don."

Sjolochov tergolong pada angkatan penulis Soviet jang tumbuh dan berkembang dalam djanan revolusi Perang Saudara dan pembangunan sosialis. A. Fadejev, penulis Soviet, berbitiraja tentang penulis2 sematjam Sjolochov itu, melukiskan kehidupan mereka sbb.: "Setelah Perang Saudara selesai, ketika kami mulai berkumpul dari segala pendjuru negeri kami jang tak kenal batas, pemuda2 jang tergabung didalam Partai dan bahkan lebih banjak jang tidak tergabung didalamnya. Kami merasa heran untuk melihat betapa banjak kami mempunyai persepsiun. bahkan meski- pun kehidupan kita masing2 begitu berbeda-beda. Furmanov, penulis dari buku "Tjapavej" telah melalui djalan sematjam itu. Demikian pula djalan Sjolochov, jang bahkan lebih muda usianja, dan mungkin jang paling berbakat diantara kami. Kami memasuki lapangan kesusasteraan gelombang demi gelombang, karena kami banjak jumlahnja. Dan masing2 membawa serta pengalamaninja sendiri dalam kehidupan keprabadianija sendiri. Te- tapi kami semua dipersatukan oleh perasaan bahwa dunia baru adalah milik kami, dan kami sangat mentjinaintainja."

Setelah tjeritera2-nja jang pertama munjul jangtjetak, Sjolochov jang telah hidup sebentar di Moskow, kembali kedesa tempat kehaliannja di- sungai Don. "Saja ingin menulis tentang orang2, diantara sija ada sija dilahirkan dan jang saja kenal," kata Sjolochov. mengingati masawaktu itu.

Ia mulai bekerdjia dengan novelja, "Dan Tenanglah Arus Don" dalam tahun 1926. Djijlid jang pertama diterbitkan dalam tahun 1928, jang terakhir — jang keempat — dalam tahun 1940. Untuk mengerdjakan ini meminta

banjak waktu dan usaha dari padanja. Ia membatja banjak sekali, bekerja dalam arsif2 Moskow dan Rostov, mengundungi bermatjam-matjam desa dimana ia menjatit tjeritera3 tentang orang4 dari djamun dulu dan njanjian2 rakjat. Setiap bab dari novelja adalah hasil dari karja jang tengkuk.

Ketika sedang mengerdjakan „Dan Tenanglah Arus Don” Sjolochov memulai dengan sebuah novel baru, „Tanah Prawan Dibuka.” Volume pertama dari karja baru ini muntjiu dalam tahun 1932. Buku ini melukiskan perdjangan klas diadesa dalam djamun kolektivisasi pertanian. Sjolochov menulis „dengan mengikuti djeljak jang hangat” dari kedjadjan2-nja.

Gorki, pendiri dari kesusasteraan Soviet, dan Serafimowiti, salah seorang dari penulis2 Soviet jang paling tua, banjak sekali membantu Sjolochov dalam karja sasteranja. Serafimowiti jang menuliskan kata pengantar untuk „Tjeritera2 dari Don” Sjolochov, adalah orang pertama jang memenukah bahwa penulis muda ini dikaruniai dengan ketjakapan jang luar biasa, dan bahwa ia memiliki pengetahuan tentang kehidupan, daja pelukisan jang besar dan bahasa jang indah serta hidup. Gorki besar bantuannja kepada Sjolochov untuk memeritikan djilid ketiga dari „Dan Tenanglah Arus Don.”

Seluruh kehidupan dan kegiatan kesusasteraan Sjolochov ada hubungan2-nja dengan Don. Ia sangat mentijntai tempat2 asalnya, dan dari kehidupan pasukan2 Kosak Donlah bahwa ia mengambil thema2, gambaran2 dan bahan untuk tulisan2-nja.

Menggunakan bahan tentang kehidupan pasukan2 Kosak Don. Sjolochov berhasil untuk membuka proses2 jang dalam jang mempunjai arti sedjarah jang besar. Didalam karja2-nja ia berusaha untuk menjatit perobahan2 jang begitu radikal kehidupan rakjat2 URSS sematjam Perang Saudara („Dan Tenanglah Arus Don”), kolektivisasi („Tanah Prawan Dibuka”), dan Perang Patriotik Besar rakjat Soviet melawan kaum penjerbu Hitler („Mereka Berdjiong untuk Tanah Air” dan „Nasib Seseorang”). Ini adalah saat2 dimana perdjangan untuk dunia baru, dunia sosialis, perdjangan melawan dunia lama dari penghisapan dan penindasan menjatit bentukna jang paling tajam, paling sengit dan jang dramatis.

Segi2 jang penting dari ketjakapan Sjolochov sebagai penulis adalah luas2-nja pandanganjana jang luar biasa. ketjendurunganjana pada pemotretan2 jang monumental dan artistik, generalisasi2 sosialisir jang dalang, dan pe- njugunan masalah2 penting jang menjatut nasib sedjarah dari rakjat.

Watak2 didalam karja2 Sjolochov adalah orang2 pekerjaan biasa. Fikiran2 mereka, kegembiraan2 dan kesusunan2 mereka, daja upaja mereka untuk kebahagiaan dan keadilan, dan perdjangan mereka untuk kehidupan baru senantiasa menarik perhatian penulis itu.

Suatu tjiri jang chas dari methode kreatif Sjolochov ialah kebentjiannja pada setiap jenis idealisasi dari kenjataan. Prinsip jang menuntut Sjolochov dalam pekerjaanjang, prinsip jang dipegangnya dengan erat, sebagai salah seorang wakil terbesar dari realisme sosialis, ialah : senantiasa mengikut kebenaran jang kersa dari kehidupan, membuka kenjataan didalam segala kontradiksiinja, didalam segala kepelikanjanya serta bersegi-banjaknja, didalam segala konteks2-nja, sekali-kali tidak meluakkan ketadjamnan dan konflik2 jang timbul dalam proses jang sulit dan kompleks dari lahirnja dunia Komunis jang baru.

Sjolochov tergolong pada angkatan penulis2 jang menjadi kebanggaan dari kesusasteraan Soviet. Karja2-nja tidak sadja telah diterjemahkan dalam bahasa2 dari rakjat2 URSS, tapi djuga kedalam banjak bahasa rakjat negara2 lain didunia.

Seorang tokoh umum dan pedjoang perdamian jang ulung, Michail Sjolochov dikenal dan ditjinai baik di Soviet Uni maupun diuar negeri. Ia telah menjadi utusan dalam beberapa masa dinas badan tertinggi dari kekuasaan negara di Soviet Uni. Jaitu Soviet Tertinggi URSS, dan djuga menjadi anggota Akademi.

Karja Sjolochov jang terakhir, jaitu tjeriteranja jang bernama „Kisah seorang Pradjurit Soviet" pertama kali ditjetak dalam awal tahun 1951. Kami ingin meminta perhatian kepada parapembajia di Indonesia mengenai tjeritera ini, ja ini bahwa tjeritera tersebut, „Kisah seorang Pradjurit Soviet", merupakan sebuah sumbangan jang penting bagi kesasteraan Soviet. Mengarahkan pandangannya pada djaman Patriotik Besar, penulis telah menulis tentang kehidupan jang sulit dari seorang Rusia. Andrei Sokolov, pahlawan tjeritera itu, masih tetap memiliki dijwanja jang kuat serta keberaniannja setelah berdojoang dengan gigih untuk negaraanja dan mengalami kengerian2 dari pendjara fasis dan hilangnja keluarganja. Tetapi peperangan tak dapat mematahkan semangatnya atau membuat hatinya menjadi mati. Ketegasan, kebanggaan, keindahan dijwa adalah tjiri2 jang oleh Sjolochov dilukiskan begitu wajjar dalam watak seorang Soviet. Tjeritera ini lebih dalam isinya dari pada banjak novel2 jang tebal. Michail Sjolochov, seorang tokoh dunia jang terkemuka, salah seorang penulis jang terbesar dari djaman kita. telah melukiskan setjara sangat meyakinjan dan setja pada kebenaran pertjobaan2 sedjarah dimana pada saat2 itu ditentukan nasib rakjat2, mempersempahkan hal2 itu dalam tjeritera ini melalui kehidupan seseorang.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Bagian 1

Musimsemi jang pertama sehabis perang diudik sungai Don luar biasa keras dan teguhnja. Angin panas meniup dari daerah Azov pada achir bulan Maret dan menggunduli pasir pada tepian kiri sungai dalam dua hari sadja. Djurang-djurang serta ngarai dipadang-padang rumput mendjadi gembung oleh saldju dan anak-anak sungai merangsang, dan menghantjurkan selaput es jang menutupinja. Djalan-djalan hampir-hampir tak dapat dilalui.

Dan didalam tjuatja dingin dengan djalan-djalannja jang membenam itulah aku harus bepergian kedusun Cossack, Bukanovskaja, sebuah djarak jang tidak djauh benar — hanja enampuluh kilometer kurang lebih — tapi sama sekali tidaklah mudah untuk mendjalaninja. Kawanku dan aku sendiri berangkat sebelum matahari terbit dan walaupun sepasang kuda kami, jang telah diumpani tjukup itu, menarik tali-temali kereta sampai-sampai hampir putus, mereka hanja menarik britzka kami jang berderik-derik itu sedikit sadja dari lumpuran. Roda-roda tenggelam didalam lumpur bertjampur saldju sampai keinden dan tubuh binatang-binatang itu, tali-tali kulit dibawah sabuk pinggangnja jang sempit itu dalam satu djam telah diserpihi keringat kuda-kuda itu, sedang udara pagi jang tadjam itu mengandung bau keras daripada keringat kuda jang terpelumas dan kepanasan.

Dimana perdjalanan itu benar-benar sulit, kamipun turun dan berdjalan disisinja. Tidaklah mudah melangkah melintasi saldju basah jang menderis-deris dibawah kaki, tetapi gundjai-gundjai kristal djalanan pun samalah sulitnja dalam berkilau-kilauan. Kami membutuhkan waktu enam djam untuk dapat melewati djarak jang tjuma tigapuluh kilometer dan sampailah dipenjeberangan Kali Yelanka.

Kali ketjil ini, jang disana-sini mendjadi kering pada musimpanas, melewati tepinja sekilometer penuh ditanah-tanah bandjiran jang dirimbuni oleh pepohonan alder ditentang rantja Mochovski. Kami menumpang diatas sebuah perahu botjor berlunas datar jang hanja bisa mengangkut tiga orang. Kuda-kudapun dilepaslah, karena sebuah Ejip telah menunggu kami disebuah gudang diseberang kali, sebuah kendaraan ketjil jang terbengkalai dipertanian kolektif selama musim dingin dipergunakan lama dan berat. Sebentar itu, sisopir dan aku dengan perlahan-lahan duduklah didalam perahu itu, sedang kawanku tertinggal dengan barang-barang kami. Belum lagi lama mantjal kemudian airpun melesit bersemburan diberbagai tempat pada dasar jang telah rusak itu. Kami tamballah perahu kami jang tak aman itu dengan apa sadja jang ada dan terus-menerus kami harus djamin keselamatannja sehingga kami mentjapai tepian jang lain. Sedjam lamanja kami menjeberang ini. Kemudian sopir itu mendjalankan jipnja dari gudang kearah batas air achirnja kembali keperahu dan menjekau salah sebuah dajung.

„Kalau perahu terkutuk ini tak petjah belah didalam air,” katanja. „dalam dua djam ini aku akan sampai padamu. Djangan harapkan lebih tjepat.”

Rantja itu terletak agak djauh sedang kesunjian pangkalan itu sama halnja dengan tempat-tempat jang biasanja ditinggalkan pada pertengahan musimgugur dan permulaan musimsemi. Air mengutjurkan hantjuran daun jang berisikan bau sengit busukan alder, tetapi ada harapan akan angin jang datang dari padang rumput jang lenjap dibalik kabut ungu dan ada djuga harapan akan bau segar abadi dari pada tanah baru jang telah bebas dari pada selimutan saldju.

Sebuah daun pintu rusak terletak pada leret pasir dekat air, sebuah tempat jang baik untuk duduk dan merokok. Tetapi waktu kusorongkan tanganku kedalam saku kanan badju-kapasku, alangkah ketjewa hatiku waktu mengetahui, bahwa sebuah rokok „Belomor” ku telah kujup seluruhnja. Dan kemudian teringatlah aku bahwa segulungan gelombang telah menjapu tepian perahu jang rendah itu selama menjeberang dan aku sendiri terdampar didalam air lumpur sampai kepinggang. Tak ada waktu untuk memusingkan sigaret pada waktu itu. Aku kala itu harus terus mendajung dan menambal sekuat mungkin agar sang perahu dapat terus meladju. Tetapi sekarang aku menjesalkan rokok jang tersia-sia itu. Dengan lemah lembut kutarik bungkusnja jang telah petjah itu, kemudian duduk diatas tumit dan mulailah aku mendjadjarkannja diatas daun pintu sebatang demi sebatang; semua telah kujup dan tjoklat.

Hari telah lohor dan matahari sama panasnja seperti pada bulan Mei. Harapku, hendaknja rokok-rokok itu segera kering, tetapi matahari memantjar begitu panasnja sehingga aku menjesalkan tjielana-tentaraku dan badju-kapas jang kukenakan dalam perdjalanan itu. Ini adalah hari pertama jang sungguh-sungguh panas sedjak musimdingin dan enaklah rasanja duduk diatas daunpintu, seorang diri dan tertelan mentah-mentah oleh kesenjapan dan kelengangan; senang rasanja melipat kembali gombak penutup kuping pada topi tentara serta mengeringkan rambut setelah mendajung setengah mati itu dan dengan pikiran kosong merenungi gumpalan-gumpalan mega putih jang merangkak didasar langit jang biruputjat. Segera kemudian kelihatan seseorang muntjul didjalanan dibalik salah sebuah bidang tanah jang lebih djauh. Ia menggandeng seorang anaklelaki dari lima atau enam tahun. Mereka terseok-seok kelelahan menudju kearah penjeberangan, tetapi, waktu hampir sampai pada jip kemudian membelok menghampiri aku. Orang jang tinggi dan agak bungkuk itu mendekati dan bitjara dengan suara besar-redup:

„Apa kabar, saudara?”

„Apa kabar!” kudjabat tangannja jang besar lagi kapalan itu.

„Beri salam pada paman ini, jung!” Ia membungkuki anaknja. „Dia sopir djuga, seperti bapak. Hanja, kau dan aku menjupiri truk sedang dia menjupiri kendaraan ketjil ini.”

Sambil mengangkat matanja kepadaku dengan bolamata sedjernih langit dan senjum ketjil, anak itu dengan gagahnja mengulurkan tangannja jang dingin, ketjil, dan kedjambu-djambuan. Aku gontjangkan tangannja pelahan-lahan dan bertanja:

„Mengapa kau, kakek? Tanganmu begitu dingin. Diluaran ini begini panas sedang kau rupa-rupanja sedang membeku.”

Anak itu mendesak lutut-lututku dengan sentuhan kejakinan kanak-kanak dan mengangkat alisnja jang berwarna djerami.

„Bagaimana bisa kau sebut aku kakek, paman? Aku masih kanak-kanak dan aku tidaklah membeku biarpun dingin. Karena membuat bola-bola saldju, itulah!”

Sambil melepas kasang kempis, ajahnja duduk disampingku.

„Penumpangku jang satu ini bawel,” katanja. „Aku lelah karena dia sadja. Kalau aku melangkah lebar dia harus lari. Tidak gampang-gampang berlumba langkah dengan pradjurit sematjam dia. Pabila biasanja aku melangkah sekali, bersama dia ini aku harus melangkah tiga kali dan dengan demikian kami berdjalan terus seperti kuda dengan kura. Dan aku harus awasi dia sepandjang waktu, karena sedetik sadja menoleh, dia telah tertjebur dalam kubangan atau mengisap tetesan air es seakan-akan gula-gula. Bukan sembarang pekerdjaan seperdjalanan dengan penumpang-penumpang sematjam dia! Sedjurus ia terdiam dan kemudian bertanja: „Dan kau? sedang tunggu madjikanmu barangkali?”

Entah bagaimana aku merasa tidak tepat membiarkan dia mengetahui bahwa dia salah terka, dan bahwa aku bukan seorang sopir seperti dirinja.

„Aku mesti tunggu disini,” kataku.

„Mereka akan datang menjeberang dari tepi sana?”

„Ja, benar.”

„Apa perahunja akan segera tiba?”

„Dua djam lagi kurang lebih.”

„Benar? Kalau begitu biar aku mengasoh. Aku sedang lewat tadi waktu memandang-mandang dan nampak kau olehku, saudara sopir, kau sedang bermalas-malas berdjemur. Aku pikir alangkah senangnja kalau aku berhenti sebentar dan merokok bersama-sama denganmu. Sungguh menjedihkan merokok seorang diri. Tapi nampaknja kau makmur, bukan? Merokok sigaret! Sajang benar kau basahkan semuanja. Ja, saudara, tembakau basah samalah halnja dengan kuda sakit — sia-sia. Lebih baik rasanja kalau kita gulung rokok dengan tembakau.”

Ia keluarkan selepah tembakau tua jang terbuat dari pada sutera djingga dari kantung tjielana kaki musimpanas. Pada sebuah udjung selepah itu waktu ia mendatarkannja terbatja olehku tulisan setikan jang berbunji: „Kepada seorang pradjurit tertjinta dari seorang gadis sekolah nomor 6 Sekolah Menengah Lebedia.”

Lama djuga kami duduk-duduk sambil menghembuskan asap tembakau dengan diam-diam. Hampir-hampir aku bertanja padanja kemana ia mau pergi dengan anak itu, jang menjebabkan ia berdjalan dimusimsemi jang sedang mentjair. Tetapi ia telah mengadjukan pertanjaan padaku:

„Kau terus berdjuang sepandjang masa perang itu?”

„Hampir-hampir.”

„Digaris depan?”

„Ja.”

„Ja, aku djuga, saudara, kekenjangan kesulitan sampai dikuping rasanja.” Ia taruh kedua tangannja jang berwarna tjoklat itu diatas lututnja dan menunduk. Aku pandang dia dari samping dan rusuh benar ia nampaknja. Kalau kau pernah melihat sepasang mata jang seakan-akan ditaburi abu, mata jang digambari kerawanan dan kesunjian sehingga pajah untuk menentangnja, itulah matanja. Itulah mata kawan jang kuperoleh dengan mendadak itu.

Sambil menarik-narik dan melengkung-lengkungkan ranting jang diambilnja dari daun pintu itu sebentar ia mengguratkan beberapa gambar aneh dipasiran.

„Kesempatan masih ada,” katanja. „Kalau orang tak tidur dimalam hari dan tinggal merenung-renungi kegelapan dengan mata kosong dan bertanja: Kenapa oh, kenapa Hidup, kaurusakkan aku sematjam ini; mengapa kau hukum aku sematjam ini? Dan djawabannjapun tiada — baik dikegelapan maupun diterangan ............... Aku kira takkan mungkin ada djawabannja.” Tiba-tiba ia mendjadi sadar diri dan dengan kasihnja mendorong anaknja jang ketjil itu sambil berkata: „Ajoh, sajang, bermain-mainlah ditepi air. Selalu kanak-kanak asjik diairan. Hanja sadja djangan sampai kakimu basah!”

Telah kutjuri pandang baik pada anak maupun pada bapaknja waktu kami dengan diam-diam merokok dan ada kuketahui sesuatu jang nampak aneh bagiku. Anak itu berpakaian sederhana tetapi pantas. Segala-galanja jang ada padanja menundjukkan adanja perawatan wanita, sepasang tangan seorang ibu jang tjakap: badju pandjangnja jang bergalur-galur dengan bulu domba amat sesuai padanja, dan aku dapat melihat bahwa sepatunja jang ketjil itu telah terdjahit demikian seperti dikenakan pada kaus kaki wol, dan sebuah kojakan pada lengannja ditisik oleh tangan ahli. Tetapi ajahnja lain pula halnja. Badju-kapasnja ditisik sembrono dan kasar dibeberapa tempat jang kojak. Tambalan pada tjielana kakinja belum lagi selesai terdjahit, tetapi nampak seperti tisikan kasar jang sesuai dengan sobekannja jang dilakukan oleh tangan lelaki jang kikuk. Sepatu-tentaranja hampir-hampir baru, tetapi bagian atas kaus-kaus kakinja jang terbuat dari pada wol itu telah dimakan rengat dan njata tak pernah tersentuh oleh tangan wanita .......... Itulah sebabnja aku berpikir: „Dia mungkin seorang duda atau hanja seorang jang tak dapat bersesuaian dengan isterinja”.

Sambil memandangi anaknja jang ketjil itu, ia tekan batuknja dan berkata lagi:

„Hidupku tjukup wadjar pada mulanja. Aku dilahirkan di Gubernia Woronezj ditahun sembilanbelas ratus. Dimasa Perang Saudara Pertama aku masuk dalam Tentara Merah, dalam divisi Kikvidze. Dalam musim kelaparan tahun ’22, aku bekerdja sebagai buruh upahan pada „kulak” didaerah Kuban — itulah sebabnja aku tinggal hidup. Ajahku, ibu dan adikku perempuan, jang tinggal dirumah, tewas karena kelaparan. Itulah sebabnja aku tertinggal seorang diri, tanpa seorang familipun diatas dunia ini. Setahun kemudian aku pulang dari Kuban, djual rumah dan pergi kedaerah Woronezj dimana aku mula-mula bekerdja dibengkel tukang-kaju dan kemudian disebuah pabrik, beladjar bekerdja menjétel. Segera kemudian akupun kawin. Isteriku seorang jatim piatu jang dibesarkan dirumah jatim. Dia seorang wanita jang baik. Dia seorang jang hati-hati dan riang, penolong dan radjin, terlampau baik dia bagiku. Dia telah peladjari arti dengki dan djahat dimasa kanak-kanaknja dan inilah barangkali jang ikut membentuk wataknja. Bila dipandang dia dari samping, orang takkan dapat membedakannja dari pada jang lain-lain. Tapi aku bukan hanja memandangnja dari samping, tetapi dari dekat benar dan langsung hanja melihat tiada seorangpun jang lebih molek dan lebih menggairahkan dari pada dia: tak ada diseluruh dunia ini dan tak ada pula setelah dia!

„Kalau aku pulang dari kerdja, lelah dan marah, seperti kadang-kadang terdjadi, tak pernah kudengar suaranja jang kasar atau jang tidak menjengangkan. Dia malah mendjadi manis dan sibuk mengurus aku serta memaksa-maksa dirinja untuk menjijapkan makanan jang sedap sekalipun dengan uang penghasilan kami jang ketjil itu. Sambil memandangi dia, maka tertawalah aku, dan sedjurus kemudian merangkulnja dan berkata: „Maafkan aku, manisku, Irinka. Aku sudah berlaku kasar terhadapmu, tetapi memang aku baru alami kesulitan kerdja hari ini.” Maka berlangsung kembalilah suasana damai itu dan hatipun mendjadi tenang. Dan kau tahu bagaimana hal itu mempengaruhi kerdja orang, saudara! Pagi-pagi benar keesokannja aku bangun seperti burung, pergi kerdja kepabrik dan insaflah bahwa tiap pekerdjaan jang telah kulakukan dengan tanganku sendiri terdjadi dengan sendirinja sadja rasanja! Itulah artinja punja isteri dan sahabat jang berperasaan.

„Dan ada djuga waktu-waktu tertentu aku minum sedikit dengan sobat-sobatku. Pulangnja aku berdjalan meljuk-ljuk dengan kakiku jang seakan-akan tak mau tinggalkan liukannja itu. Alangkah banjak dibitjarakan orang tentang ini itu! Bahkan djalan-djalan mendjadi terlalu sempit, djangankan lorong. Aku seorang jang sehat dan kuat seperti setan. Aku dapat minum banjak, tetapi selalu pulang dengan kaki sendiri. Dan bahkan sekiranja terdjadi bahwa aku harus didjati tetes-tetes terachir, artinja, aku harus merangkak, sama sadjalah halnja. Dan seperti biasa, jaitu tak keluar tjomelan sepatahpun dari padanja, tidak pula djerit dan tidak pula tingkah. Dia hanja tertawakan aku, Irinka-ku itu, dan djuga dengan hati-hati pula, karena siapa tahu orang mabuk pun dapat tersinggung hatinja. Kemudian ia bantu aku melepas sepatuku dan berbisik kepadaku: „Lebih baik terus naik randjang dan berguling sampai ketembok, Andryuska, biar kau tak djatuh nanti waktu tidur.” Dan akupun runtuhlah dirandjang seperti sekarung gandum, dan melihat kamar berputar-putar, dengan kesadaran jang hanja tjukup buat merasai tangannja jang dengan lemah lembut membelai-belai rambutku dan mendengar bisikannja jang berkasih-sajang karena ia merasa kasihan terhadap aku ...............

„Dipagihari ia bangunkan aku dua djam sebelum waktunja untuk menjedarkan aku sebelum berangkat kerdja itu. Dia tahu bahwa dengan petualanganku itu maka tak ada sesuatu jang bisa kumakan dan dengan petualangan itu tiadalah kami dapat menghasilkan sesuatu bahkan asinan sekalipun jang dapat ditelan setiap waktu itu, dan iapun menuangkan segelas-anggur vodka: „Gudjuran ini akan segarkan kau, Andryuska, tapi djanganlah kau minum lagi, kekasihku,” katanja. Dan siapakah dapat chianati kepertjajaan sematjam itu? Maka kuteguk habislah itu dan berterimakasih padanja tanpa mengutjapkan sepatah katapun — dengan mata sadja hanja kemudian mentjiumnja dan akupun berangkat kerdja seperti tak terdjadi sesuatu apa. Pabila dia halangi aku dengan sepatah kata sadja dalam petualanganku sematjam itu, maka segera aku minum lagi pada keesokan harinja. Itulah jang djustru terdjadi pada keluarga-keluarga lain dimana isterinja bodoh. Aku telah banjak mengetahui hal jang sematjam itu dan aku mengertilah.

„Kemudian lahir anak-anakku. Lelaki jang mula-mula, kemudian dua anak perempuan ............ maka kuputuskan hubunganku dengan sobat-sobatku. Seluruh upahku hanja buat keluargaku karena kami telah tumbuh mendjadi satu keluarga benar-benar dan tiada lagi selera padaku untuk minum. Kadang sadja aku minum sebuli bir dihari-hari besar, hanja itu sadjalah.

„Pada tahun ’29 aku menghasratkan mengurus motor pengangkut dan belajar mengendarai dan mendjadi sopir truk. Segera kemudian aku mendjadi terbiasa pada pekerdjaan ini sehingga tak ingin kembali kepabrik. Tak adalah kesenangannja rasanja selain dibelakang setir, pikirku. Dan dengan demikian kami hidup sepuluh tahun lamanja dan tak pernah memperhatikan bagaimana hidup itu berlaku. Waktu-waktu itu seakan melintas didalam mimpi sadja. Dan apa arti sepuluh tahun? Tanjalah pada orang orang tua pabila mereka memperhatikan betapa hidupnja melintas pergi. Tak ada sesuatupun jang ia mampu perhatikan! Masa liwat adalah seperti padang-padang rumput jang djauh didalam pelukan halimun sana itu. Aku telah djalan melintasinja pagi tadi; segala-galanja njata diselingkunganku, tetapi dua puluh kilometer sana, semua kabur-kabur didalam kabut tiadalah orang dapat membedakan hutan dari pada semak atau tanah garapan dari pada padang rumput.

„Aku terus bekerdja siang dan malam dalam sepuluh tahun itu dan mendapat upah jang baik sehingga kami dapat hidup tidak seburuk jang lain-lain. Anak-anakku itu merupakan kegirangan itu sendiri. Ketiga-tiganja mendapat angka amat baik disekolah, dan Anatoli, jang tertua, begitu berbakat dalam ilmu pasti, sehingga surat kabar pusat menerbitkan sebuah artikel tentangnja. Dari mana dia mendapat bakat itu tak dapat aku mengetahuinja. Tapi aku rasa ini bulan sadja tentunja, tapi aku sangat bangga padanja, ja Allah, betapa bangga aku padanja!

„Dalam sepuluh tahun itu djuga, kami simpan sedikit uang, dan njaris sebelum perang kami bangunkan rumah ketjil dengan dua buah kamar, sebuah kamar sepén dan pendopo ketjil. Irinka beli dua ekor kambing dan apa lagi jang kami harapkan? Kanak-kanak mendapat susu buat bubur mereka ada atap diatas kepala, kamipun berpakaian djuga dan bersepatu dan nampaknja segala-galanja sudah beres. Satu-satunja kekurangan hanjalah tempat jang kupilih untuk kutinggali itu. Mereka beri aku sebidang tanah dari tudjuh perseratus hektar didekat pabrik penerbangan. Kalau sadja rumahku itu berada ditempat lain, maka hidup kamipun akan berlainan pula halnja.

„Dan kemudian datanglah dia, perang! Pada hari kedua aku terpanggil dan pada hari ketiga masuk latihan. Keempat orang anggota keluarga mengantarkan aku: Irinka, Anatoli, dan anakku perempuan Nastenka dan Olyuska. Anak-anak itu berpekerti baik, walaupun aku lihat airmata jang antara sebentar menggemerlap pada mata keduanja. Anatoli terus menggigil djuga seakan ia kedinginan. Ia berumur enam belas pada waktu itu. Tapi Irinka, Irinkaku! Aku tak pernah melihat dalam keadaan seperti itu dalam tudjubelas tahun hidup bersama dengannja. Sepandjang malam ia basahi kemedjaku dengan airmatanja, dan demikian pula pada pagi harinja. Waktu kami sampai distasiun, sungguh-sungguh tertjekam hati memandangnja. Bahkan bibirnja membengkak karena menangis; rambutnja terurai lepas dari bawah kerudungnja dan matanja redup dan tak mengerti seperti mata perempuan gila. Waktu komendan memerintahkan kami naik djatuhlah ia didadaku, dan memelukku kedua belah tangannja pada leherku dan menggigil seperti pohon jang sedang merubuh. Anak-anak mentjoba menghiburnja, dan djuga aku sendiri, tetapi, tak ada suatupun jang dapat menolongnja. Perempuan-perempuan lain bitjara dengan anak-anak dan suami mereka, tetapi istriku bertengger padaku seperti daun pada sebatang ranting dan hanja menggigil-gigil djua, tak mampu mengatakan sepatah katapun. „Sabarlah,” demikian jang aku bilangkan terus-menerus padanja, Irinka, kekasih! Katakan sepatah sadja kepadaku sebagai utjapan selamat djalan!” Diapun mulailah bitjara, tersedan-sedan pada tiap kata: „Andryuska, satu-satunja jang kumiliki ............ Kita takkan bertemu lagi ............ Kau dan aku ............ Tidak kan lagi ............ didunia ini!”

„Hatiku sudah pada saat hendak meledak karena kasihan kepadanja, dan — bahkan kata-kata itulah diutjapkannja. Mestinja dia mengerti bahwa perpisahan itupun tidaklah mudah bagiku sendiri. Aku bukannja berangkat kepesta dirumah mertua perempuan! Dan tiba-tiba sadja hilang kesabaranku. Kurenggangkan tangannja dan mendorongnja pelahan pada pundaknja. Rasanja pelahanlah doronganku, tetapi aku punja kekuatan luarbiasa dan ia terhujung-hujung mundur dua atau tiga langkah. Kemudian ia hampiri lagi dengan langkahnja jang pendek-pendek dengan tangan terkembang, dan mendjerit: „Begitu tjaranja mengutjapkan selamat tinggal? Apa kau mentjoba mengubur aku sebelum waktunja? Aku rangkul lagi dia karena aku tahu bahwa dia tak sadar akan dirinja dan ............”

Ia berhenti dan ada kudengar bunji menggogok dan mengertik dalam tenggorokkannja dalam kesenjapan jang tiba-tiba itu. Karena terkena oleh kerawanannja jang tiba² itu dengan diam-diam pandang padanja, dan nampak padaku tak ada airmata pada matanja jang padam itu. Dia hanja duduk disampingku dengan kepala tunduk, tetapi ada getaran ketjil pada tangannja jang besar lagi terkulai itu, pada dagu dan bibirnja jang kukuh itu ............

„Ah, kawan, tak ada gunanja mengingatnja,” aku berkumam kepadanja, tetapi ia nampak tak mendengar dan setelah mengalihkan rawan hatinja sendiri dengan daja jang besar, iapun meneruskan dengan suara jang berubah serak dan aneh:

„Sampai hari matiku, sampai djam terachirku, bahkan pabila ku bernafas untuk penghabisan kali, tiada aku akan ampuni diriku sendiri karena pada hari itu telah mendorongnja dari padaku.”

Ia berdiam diri lagi untuk waktu lama, dan mentjoba menggulung rokok pada sobekan koran jang kemudian petjah, dan tembakau berhamburan pada lututnja. Achirnja dapatlah ia menggulungnja, membakarnja, menjedot beberapa kali, dan kemudian meneruskan tjeritanja:

„Kulepaskan diriku dari pada Irinka, kutaruh mukanja pada kedua belah tapak tanganku dan mentjiumnja, tetapi bibirnja sedingin es rasanja. Aku rangkul anak-anakku, lari keperon dan melompat ketangga kereta jang sedang bergerak. Tetapi kereta berdjalan amat pelahannja, dan sudah mendjadi nasibku dapat berhubungan kembali dengan keluargaku. Maka kupandangi mereka dan mengetahui bahwa anak-anak, anak-anakku jang tertinggal itu, telah berkerumun; mereka melambai-lambai kepadaku dan mentjoba keras-keras untuk tersenjum. Dan Irinka! Dia tekankan tangannja pada dadanja, bibirnja putih seperti kapur. Ia membisikkan sesuatu, merenungi aku tanpa berkelap serta mentjangkung pula, seakan sedang berdjuang melawan angin keras ............ Itulah jang selalu mengingatkan aku kepadanja: tangan menekan dada, bibir putih seperti kapur dan mata lebar penuh dengan airmata ............ Itulah jang sering kulihat dalam mimpi ............ Mengapa dia kudorong waktu itu? Aku merasa seperti hatiku diserbit-serbit dengan pisau tumpul tiap kali aku mengenangkannja.

„Kami ditempatkan di Belaya Tserkov di Ukraina dan aku diserahi sebuah ZIS-5 jang kusopiri kegaris depan. Tak ada gunanja tjerita padamu tentang perang. Kau sendiri ada melihatnja dan mengetahui bagaimana pada mula-mulanja. Keluargaku sering menulis kepadaku, tetapi djarang aku membalasnja. Kadang-kadang aku kirimkan kartupos dan mengatakan bahwa aku sehat, bahwa kami berkelahi sedikit, dan walaupun mundur, segera akan mengumpulkan tenaga dan membuat musuh berdjingkrak bujar. Apakah jang bisa ditulis? Waktu itu terlalu sulit menulis surat. Dan sesungguhnjalah, aku bukan termasuk orang jang suka mengaduk kesedihan orang, dan djuga tak dapat membenarkan mereka, jang baik ada atau tidak jang lajak ditjeritakan, mentjangkungi surat untuk bini atau kekasihnja pada tiap hari dan mengutjurinja dengan airmata. „Sulit”, demikian orang sematjam itu menulis, „dan aku menderita. Dan satu-satunja jang kuketahui ialah bahwa aku akan terbunuh.” Begitulah tjara betina-betina dalam tjelana itu mengeluh, mentjari-tjari simpati dan menolak pengertian bahwa isteri dan anak-anak jang papa itu tidaklah lebih mudah dari padanja, dari pada digaris depan. Seluruhnja itu dipikulkanlah kepada mereka itu! Pundak matjam apakah jang dimiliki oleh isteri dan anak-anak kita itu untuk menanggungkan beban seberat itu? Dan mereka itu tidaklah roboh, tetapi tetap berdiri! Sedang pesolek-pesolek sematjam itu dengan djiwa mengkeriut menulis surat jang menjedihkan, tjukuplah kiranja untuk dapat membuat pekerdja wanita jang giat terpental dari pada keteguhan hatinja. Tjoba, apakah manfaat membatja surat sematjam itu? Wanita jang menerimanja hanja akan dapat mengulaikan tangannja dan tidak mampu bekerdja sama sekali. Surat-surat sematjam itu bukan datang dari aku. Orang harus djeritakan semuanja dan harus bersiap-siap dimana dibutuhkan! Itulah sebabnja orang djadi lelaki dan djadi pradjurit! Dan apabila orang lebih betina dari pada lelaki, maka pakailah rok dan beberapa gundjai agar djiwa jang mengkeriut itu nampak lebih tjantik, sehingga dia dapat nampak seperti perempuan, se-tidak²nja dari belakang, dan pergi menjangi kebun ubimanis dan memerah sapi, karena dalam hal ini garis depan sudah terlalu busuk sekalipun tanpa golongan sematjam itu.

„Ternjata kemudian aku tak berkelahi digaris depan sampai bahkan setahun lamanja ............ Dua kali aku terluka, tetapi kedua-keduanja enteng sadja: sekali pada daging lengan, dan jang lain dikaki. Jang mula-mula adalah peluru dari pesawat udara. Orang-orang Djerman menembaki trukku hingga bolong-bolong dari atas dan dari samping memang, tapi aku masih untung, saudara, untuk dihari-hari pertama itu. Ja, dan untung djuga, walau dengan achir jang getir. Aku ditawan dalam keadaan jang mengenaskan di Lozowenki pada bulan Mei tahun 1942. Orang-orang Djerman pada hari-hari itu madju sedikit demi sedikit dan sebuah dari pada kesatuan howitzer kami jang berukuran 122 mm hampir-hampir kehabisan peluru. Mereka muati trukku dengan peluru sebanyak dapat memuat, dan dalam memunggah itu aku bekerdja begitu keras sehingga kemedjaku merekat pada tulang punggungku. Kita harus bekerdja tjepat karena perkelahian telah mendatang: tank-tank menggerabak disamping kiri, maka terdjadilah tembak-menembak, djuga pada samping kanan dan didepan sana dan segera kami dapat tjium bau asap.

„Sanggup terus, Sokolov?” komendan kompi truk kami bertanja. Benar-benar tak ada gunanja pertanjaan sematjam itu. Apa gunanja buang-buang waktu disitu, sedang kawan-kawanku disana dan dibunuh? „Pertanjaan aneh!” kataku kepadanja. „Aku harus bisa!” „Kalau begitu berangkatlah kesana”, katanja, dan lari sebisamu!”

„Dan larilah aku, berkendaraan seperti belum pernah terdjadi dalam hidupku sebelumnja! Aku tahu aku bukanlah mengangkut kentang dan bahwa muatanku harus diperlakukan dengan hati-hati, tetapi bagaimana mungkin bisa berhati-hati, tetapi bagaimana bisa berhati-hati kalau kawan-kawan disana sedang berkelahi dengan tangan kosong, sedang djalannja sendiri sedang dihudjani dengan tembakan artilleri sepandjang waktu. Aku telah berkendaraan kurang lebih enam kilometer dan segera kemudian hendak berbelok kedjalanan pedati jang menudju kelorong dimana bateri kami berada waktu aku lihat kesekelilingku dan, ja, Allah lindungi aku, kulihat infantri kami telah mundur melalui padang² gundul kearah kanan dan kiri djalan besar. Randjau-randjau musuh sudah mulai meledak diantara mereka. Apa kan kuperbuat? Balik? Bukan aku! Aku indjak pedal gas hingga sampai dasarnja! Kesatuan meriam itu hanja satu kilometer lagi dan segera aku berada didjalanan pedati, tetapi nasib menghalangi, sudara, aku tak pernah sampai pada kesatuan hawitzer itu ............ Sebuah sendjata long-range, kiraku, menanamkan sebuah peluru berat tepat dipinggang trukku. Tak ada kudengar letusannja, tetapi seakan ada suatu jang memagut didalam kepalaku; tak ada sesuatu lagi jang dapat aku ingat tentangnja. Tetapi aku usahakan agar tinggal hidup, aku tak tahu sampai berapa lama tergolek sekira delapan meter dari parit, tiada ku dapat mengatakan. Tapi achirnja aku siuman djuga dan sadar, bahwa aku tak bisa bangun. Kepalaku tersentak-sentak dan tubuhku terguntjang-guntjang seperti dalam demam. Semua pekat dihadapanku dan terasa mengertak dan mengerkah didalam pundak-kiriku. Sakit seluruh tubuhku itu begitu hebatnja sehingga aku merasa seperti dipukuli selama dua hari dengan apa sadja. Akupun merangkak diatas perutku beberapa lamanja, tetapi achirnja berhasil berdiri djuga. Tetapi dimana dan apa jang telah terdjadi atas diriku sama sekali aku tak tahu. Ingatanku terhembalang hilang, tetapi aku takut bertiduran lagi, takut kalau-kalau aku takkan bisa bangkit lagi bila kutjoba melakukannja. Dengan demikian akupun berdiri berajun-ajun seperti pohon populir didalam badai.

Waktu aku mendjadi sadar diri, dan mengetahui dimana berada maka kutindjau kelilingku, maka aku merasa seakan seseorang telah mentjekau djantungku dengan sebuah tjapit. Peluru jang kubawa telah berantakan kemana-mana, sedang trukku tinggal tjangkrang sasis meliuk dengan roda-roda mentjongak keudara. Dan pertempuran? Pertempuran itu, pertjaja atau tidak, sekarang berketjamuk dibelakangku.

„Aku harus mengakui bahwa lemahlah kakiku waktu mengetahui ini, aku runtuh ketanah seakan sesuatu telah memukul daku: aku mengerti bahwa aku terkepung, atau lebih djelas, aku mendjadi tawanan fasis. Ini adalah hal jang memang dapat terdjadi dalam peperangan ............

„Sungguh sedih, kataku, mengetahui bahwa diri diperhamba bertentangan dengan kemauan sendiri. Bagaimana tidaklah mudah mentjernakan ini didalam djiwa seorang jang tak merasa lagi berada didalam kulitnja sendiri, untuk mengerti maksud dari pada hal jang sematjam itu.

„Dan dengan demikian aku berada disana, seperti kataku tadi, dan mendengarkan: terdengar gelegar tank-tank. Empat buah tank sedang kepunjaan Djerman lewat dengan ketjepatan sepenuhnja kearah tempat kedatanganku semula waktu mengangkut peluru. Bagaimana pendapatmu tentang perasaanku waktu itu? Kemudian datanglah seleretan traktor jang menarik meriam, dibelakangnja dapur lapangan dan achirnja beberapa pasukan infantri — tidak banjak, tidak lebih dari sekompi sehabis pemukulan itu. Aku pandangi mereka dari podjok mataku dan kemudian menekankan daguku pada tanah untuk menghapus mereka dari penglihatanku: tamasa itu membuat orang sakit melihatnja, sakit dihati.

„Kuangkat kepalaku karena berpendapat, mereka semua telah lewat, tetapi kemudian kulihat sebuah kesatuan tomygun membelok dan langsung menudju kepadaku, dan menghampiri dengan diam-diam. „Jah”, pikirku, „itulah maut jang sedang mendjelang aku.” Karena tak sudi mati waktu bertiduran, akupun bangunlah dan kemudian berdiri. Waktu mereka telah beberapa tindak lagi daripadaku, salah seorang diantaranja menggeserkan pundaknja dan melepas sendjatanja. Dan, ini perlu djuga kukatakan kiranja, lutju benar bangun badannja, karena aku merasa tak bingung sama-sekali, pun tiada getaran dalam djantungku. Aku hanja berdiri melihatkannja dan berpikir-pikir : „Dia sedang bersiap-siap memberondong aku dengan sendjatanja. Tapi mana jang dipilihnja? Kepala atau tembus dada?” Seakan hanja perbedaan ketjil sadja bagian tubuhku jang akan dilumatkannja itu.

„Ia seorang muda, tidaklah berwadjah buruk : berambut hitam, bermulut dapang dan bermata djuling. „Dialah orang jang dengan tiada berbimbang-bimbang lagi akan membunuh aku,” pikirku. Dan benarlah aku, dia telah tjongakkan sendjatanja — dan aku masih tetap memandanginja tepat pada matanja dan tak bilang apa-apa. Tetapi seorang lain, kopral kiraku jang lebih tua daripadanja, seorang setengah baja menurut pikiranku, menjerukan sesuatu dan mendorongnja kesamping. Sambil bitjara dalam bahasanja sendiri ia menghampiri aku, menekuk tanganku pada sikut dan menjelidiki otot-ototku. Waktu mengetahui semuanja beres, dia bilang : „O-o-o!” dan menundjuk kedjalanan dimana matahari sedang tenggelam, maksudnja : „Ajoh djalan, kudatarik! Ada kerdja buat Reich kita.” Seperti madjikan sadja lakunja, anak sundal itu!

„Tetapi sirambut hitam kemudian memandangi sepatuku. Keduanja tak nampak buruk memang kalau tak dilihat dekat-dekat benar. „Lepas,” katanja sambil menundjuk kepada kedua sepatuku itu. Waktu aku duduk ditanah dan melepasnja segera ia merampasnja. Dengan demikian aku lepas djuga kaus kakiku dan memberikan kepadanja sambil memandangnja. Dia tidak bilang apa-apa kepadaku. Dengan menjumpah-njumpah dalam bahasanja sendiri sambil memegangi sendjatanja, sedang jang lain-lain berdiri mengeruak! Setelah itu, dengan tjukup tenang mereka pergi. Hanja sirambut hitam berpaling memandang aku tiga kali sebelum mentjapai djalan besar, sedang matanja berkerlipan seperti mata anak serigala. Dia begitu marah, sehingga aku berpendapat bahwa akulah jang telah rampas sepatunja dan bukan dia jang merampas sepatuku.

„Tetapi djalan keluar tak ada, saudara! Djadi aku melangkah keluar kedjalan besar dan berpapasan dengan barisan jang menjumpah-njumpah setjara Voronezj sedang menudju kearah barat, tawanan perang. Benar, aku tidak lebih daripada pelantjong kaki waktu itu; kurang lebih satu kilometer sedjam itulah jang dapat kutempuh. Ingin aku mempertjepatnja, tetapi tubuhku tetap djua berajun-ajun dari samping kesamping dan menggigil sematjam djalannja seorang pemabuk. Tak lama kemudian sebuah rombongan tawanan telah menjusul aku, orang-orang dari divisiku sendiri. Mereka digiring oleh serdadu-serdadu tomygun Djerman dan waktu jang memimpin telah berada disampingku ia pukulkan batang sendjatanja pada kepalaku. Bila aku djatuh, dia akan rongsong aku dengan semburan pelurunja, tetapi kawan-kawanku menangkap aku untuk kemudian masuk dalam barisan dan memasukkan aku ketengah-tengah mereka dengan memapah aku selama kurang lebih setengah djam. Waktu aku sadar kembali akan apa jang terdjadi, salah seorang diantaranja berbisik kepadaku : „Djangan djatuh, demi Allah! Djalan terus sekalipun dengan tenagamu jang terakhir. Kalau tidak mereka akan bunuh kau.” Dan aku berdjalan terus, dengan tenaga penghabisan.

„Setelah matahari terbenam, barisan itu diperkuat dengan kurang lebih duapuluh orang serdadu tomygun jang diangkut diatas truk. Dan kami harus bergerak terus bertjepat-tjepat. Mereka, jang luka parah dan tak dapat melangkah tetap, ditembak mentah-mentah didjalan. Dua orang diantara kami mentjoba lari, tetapi lupa bahwa bulan dipadang terbuka menjebabkan mereka djadi sasaran jang menjenangkan. Merekapun kenalah. Mendjelang tengah malam kami sampai disebuah dusun jang habis terbakar dan dihalau geredja dengan relung runtuh. Disana kami akan menginap malam itu. Tak ada selembar djarampun diatas lantai baru itu. Tak ada diantara kami jang punja badju-parit. Kami hanja punja badju pandjang dan tjelana dan tiada suatupun untuk lapik. Setengahnja bahkan tak punja badju pandjang, tetapi badju dalam tipis. Kebanjakan diantara mereka ini adalah opsir muda jang melutjuti djaket atau badju pandjangnja untuk menjembunjikan pangkat masing-masing. Ada pula diantaranja seorang anakbuah artileri jang hanja berbadju dalam, seperti pada waktu ia tertangkap disamping meriamnja.

„Hudjan turun dengan derasnja malam itu sehingga kami basah sampai ketulang sumsum. Pada suatu tempat, relung itu terhapus samasekali oleh ledakan granat atau bom udara, dan ditempat lain atapnja hantjur kena ledakan peluru. Tak ada tempat kering, bahkan djuga dialtar tidak. Dengan demikian kami me-rangkak² kekeliling dan berkubang diberbagai tempat semalam suntuk dalam geredja itu seperti domba didalam kandang tertutup. Dalam kegelapan itu seseorang menjintuh tanganku dan bertanja : „Kau luka, kawan?” „Apakah bedanja dengan kau, saudara?” djawabku. „Aku dokter tentara dan barangkali sadja bisa tolong kau,” katanja. Dengan demikian bertjeritalah aku kepadanja bahwa ada menggerapak didalam pundak-kiriku, dan bahwa ia membengkak dan sakitnja bukan alangkepalang. „Kalau begitu, lepaslah badju pandjang dan badju dalammu,” katanja dengan suara kuat. Aku lepas semua dan mulailah ia pidjit² pundakku dengan djari²nja jang pandjang lagi tipis itu demikian rupa sehingga hampir² aku gila dibuatnja karena kesakitan. Dengan mengerutkan gigi, aku bilang padanja : „Barangkali kau ini dokter hewan, dokternja binatang bukan dokternja mausia. Buat apa ditjekau tempat sakit itu, iblis tak berdjantung”. Tetapi ia tinggal djuga me-midjit² dan menarik-narik, dan hanja mengonggong : „Diam! Sudah tjukup kudengar! Tahan, dan sekarang mendjadi lebih sakit lagi!” Dan ia tarik tanganku sedemikian rupa sehingga aku dapat melihat bintang-bintang.

Bagian 2

Setelah agak baik, aku bertanja kepadanja : „Apa kauperbuat ini, fasis tjelaka! Tanganku hantjur seluruhnja — dan kautarik pula sematjam itu!” Aku dengar ia tertawa pelahan dan berkata : „Aku kira kau bisa sodok aku dengan tanganmu jang kanan, tapi bagaimanapun djuga kau penakut! Tanganmu tidak patah, hanja terkilir. Sekarang sudah kutaruh kembali ditempatnja semula. Bukankah sekarang agak baik rasanja?” Dan dia memang benar. Aku rasai sakit itu memudar dan mengutjapkan terimakasih dengan sedjudjur hatiku, tetapi ia meluntjur kedalam kegelapan diam-diam, sambil bertanja-tanja lagi : „Luka? Ada jang sakit?” Itulah dokter jang sesungguhnja! Sekalipun dalam tawanan, sekalipun dalam kegelapan, dia terus lakukan kewadjibannja.

„Malam gelisah waktu itu. Tak seorangpun diantara kami diidjinkan pergi kekakus. Sebelum itu komendan konvoi telah peringatkan kami bahwa begitulah peraturannja, jaitu waktu mereka sedang halau kami masuk kedalam geredja berdua-dua. Dan sebagai kesialan maka adalah seorang saleh diantara kami jang kepingin benar pergi kekakus. Dia tahan dan tahan kepinginnja, achirnja tak dapat lagi dan mulailah dia menangis : „Tak sanggup aku nadjisi geredja sutji ini! Aku beriman, aku Kristen! Apa mesti kauperbuat, saudara-saudara?” Jah kau sendiri tahu orang matjam apa kami itu! Beberapa orang mulai tertawa, setengahnja menjumpah dan sisanja memberinja nasihat-nasihat busuk. Hal itu menimbulkan semangat kami barang sedikit! Tapi achir sedihlah jang menjusul : Dia mulai memukul pintu dan meminta agar diperbolehkan keluar. Dia meminta kepadanja dan dia mendapat daripadanja! Sifasis diluar menembak beretetan pada pintu itu dari udjung jang satu sampai ke jang lain. Orang saleh itu dan tiga orang lainnja terbunuh seketika. Seorang jang kelima luka parah dan meninggal mendjelang pagi.

„Kami taruh simati bersama-sama dan duduk, tertekan dan berpikir-pikir : Inilah permulaan jang busuk itu. Segera kami bitjara pelahan dan berbisik-bisik satu dengan jang lain : „Kau berasal dari mana?” „Daerah mana?” „Bagaimana kau tertangkap?” Ada serombongan dari sebuah peleton, atau mungkin hanja kenalan-kenalan dari satu kompi jang hilang didalam kegelapan itu dan berpanggil-panggilan pelahan. Dan tepat disampingku aku dengar seseorang bitjara : „Djangan kau tinggal bungkem kalau mereka menggertak minta tahu siapa komisaris rakjat, siapa komunis dan siapa Jahudi, kalau mereka bariskan kita sebelum menjelidiki kita! Kau komendan peleton dan tak sesuatu jang mesti kausembunjikan. Apa kau pikir sudah djadi pradjurit hanja karena buang badju pandjangmu! Tak mungkin! Aku takkan mau terima pukulan jang semestinja kau terima. Akulah jang pertama-tama bakal tundjuk kau! Apa kau pikir aku tak tahu kau Komunis? Bukankah kau djuga jang tjoba-tjoba budjuk aku untuk menggabungkan dengan Partai? Ja-jah, djawablah itu sekarang”. Seperti itulah kata-kata orang jang duduk disampingku itu, dari samping kiri, dan disamping lain daripadanja, aku dengar suara muda mendjawab : „Aku selalu tjurigai kau sebagai orang djahat, Kryzjnev, terutama waktu kau menolak menggabungkan diri pada Partai, dan berdalih terlalu bodoh untuk itu. Tetapi sungguh tak pernah terpikir olehku kau akan djadi pengchianat. Kau sudah beladjar tudjuh tahun lamanja, bukan?” „Apa peduli itu?” kata jang lain pelahan-pelahan. Agak lama mereka tak bitjara dan kemudian aku dengar komendan peleton bitjara lagi : „Djangan chianati aku, kawan Kryzjnev.” Tetapi jang lain hanja tertawa pelahan. „Kawan-kawan itu,” katanja, „tinggal dibelakang garis depan dan aku bukan kawanmu, karena itu djangan meminta-minta padaku. Aku akan tundjuk kau. Mula-mula orang harus lindungi dirinja sendiri.”

„Mereka tak bertjakap lagi dan aku merasa mendidih karena pengchianat sematjam itu. „Aku takkan biarkan kau serahkan komendanmu, anak sundal!” pikirku. „Kau takkan tinggalkan geredja ini hidup kalau sadja aku bisa menolongnja. Aku akan buat kau djadi dingin, kalau ini perbuatan satu-satunja jang harus djuga dilakukan” Waktu memantjar tjahaja sedikit, kulihatlah bahwa dia seorang berahang kukuh. Dia sedang bertiduran dengan tangan sebagai bantal. Dan jang lain duduk disampingnja, seorang pemuda kurus jang hanja dalam pakaian dalam. Ia duduk berpeluk lutut dan kulihat ia berhidung menongak dan sangat putjat. „Dia bukan tandingan sikurus lunak itu,” pikirku. „Aku harus lakukan sendiri pekerdjaan itu.”

„Aku sentuh tangan anak itu dan berbisik : „Kau komendan peleton?” Dia tak mendjawab; hanja mengangguk. „Dan dia mau chianati kau?” Aku tundjuk jang lain itu dan ia mengangguk lagi. „Jah, ringkus kakinja!” kataku, „kita tak dapat biarkan dia meradjalela! Tjepat!” Dan aku rubuhi orang jang sedang tidur itu dan benamkan djari-djariku dalam tenggorokannja. Tak terdengar sesuatupun dari mulutnja. Kubanting-bantingkan dia beberapa menit lamanja dan kemudian melepasnja. Sipengchianat itu telah mati, lidahnja mendjelir tergantung kesamping.

„Tetapi betapa sebal aku sesudah itu dan betapa aku ingin tjutji tanganku — seperti bukan seorang manusia jang telah aku habisi, tetapi sesuatu jang lendir mendjidjikkan, ular …Itulah untuk pertama kali aku membunuh seseorang — dan djustru jang ada pada pihak kita sendiri sewaktu itu …Tapi apakah benar dia dipihakku sendiri? Dia lebih busuk daripada seorang asing, sipengchianat itu! Akupun berkemas-kemas dan memandang kepada komendan peleton itu. „Mari pergi ketempat lain, kawan!” adjakku kepadanja. „Geredja ini besar.”

Ternjata terdjadi djuga seperti jang diharapkan Kryzjnev. Kami dideretkan disamping geredja dipagi hari keesokannja dan dikelilingi serdadu-serdadu tomygun, sedang tiga orang opsir SS mengambil orang-orang jang tak disukainja. Mereka menanjakan siapa-siapa Komunis, komendan dan komisaris rakjat, tetapi nampaknja tiada jang ditjarinja itu. Dan tak ada jang mengotjeh, suatu hal jang patut kutjeritakan ialah bahwa hampir separoh diantara kami adalah Komunis, dan bahwa diantara kami terdapat pula komendan-komendan dan komisaris rakjat djuga. Hanja empat orang dipisahkan daripada djumlah kami jang lebih dari duaratus orang itu : seorang Jahudi dan tiga orang pradjurit. Tiga orang Rus itu sungguh sial karena berambut hitam dan ikal. „Kau Jahudi?” tanjanja pada salah seorang diantaranja. Waktu ia mendjawab ia orang Rus mereka tak mau dengar : „Keluar dari barisan!” perintahnja dan tak ada sesuatupun jang dapat diperbuatnja.

„Keempat orang tjelaka itu ditembak mati dan kami dihalau terus. Komendan peleton, jang menolong aku meringkus pengchianat itu melengket sadja padaku sepandjang perdjalanan ke Poznan itu, dan pada hari pertama ia tetap djua mentjoba hendak mendjabat tanganku. Mereka pisahkan kami di Poznan itu dan akan kutjeritakan kepadamu sebabnja.

„Seperti jang kauketahui, saudara, aku bermaksud melarikan diri dan menggabungkan kembali pada pihakku sendiri pada hari pertama, tetapi menghendaki bahwa pelarianku itu benar-benar beres. Tak adalah kesempatan jang menguntungkan sampai kami berada di Poznan dan memasuki kamp tawanan jang sesungguh-sungguhnja. Aku pikir sudah tibalah waktunja sekarang, jaitu waktu mereka kirim kami untuk menggali beberapa kuburan dihutan buat para tawanan perang. Ini terdjadi pada achir bulan Mei. Banjak diantara kami kena disentri. Dan sedang menggali lempung Poznan itu, aku terus tilik kelilingku dan achirnja mengetahui djuga, bahwa dua orang diantara para pengawal itu duduk-duduk sambil makan-makan sedang jang ketiga sedang bergolek-golek dipanasan. Dengan demikian kulepaskan sekopku sekaligus, kemudian meluntjur menjelimap kedalam semak dan lari sekuat tenagaku, menudju langsung kearah matahari terbit.

„Tjernjata para pegawai tidak mengetahui pelarianku itu dengan segera dan tak tahulah aku dari mana kuperoleh kekuatan bagi diriku jang kurus kering itu, untuk menempuh perdjalanan jang hampir-hampir empatpuluh kilometer djauhnja dalam hanja sedjam. Tapi semua usaha itu sia-sia : mereka tangkap aku pada hari keempat, waktu aku telah djauh benar dari kamp terkutuk itu. Andjing-andjing mengedjar dan menangkap aku dan mendapatkan aku diladang gandum.

„Aku takut berdjalan melalui padang terbuka setelah fadjar, sedang hutan itu tidaklah kurang dari tiga kilometer lagi djauhnja. Djadi tak adalah jang bisa diperbuat selain berbaringan diladang gandum itu. Kuremas-remas bulir-bulir gandum dengan tangan, memakannja dan mengisi kantongku waktu tiba-tiba kudengar gonggongan andjing dan deru sepeda motor …Ketjililah hatiku waktu mendengar binatang-binatang itu kian mendekat djua. Aku bertiduran dan mengangkat tangan untuk melindungi diri, setidak-tidaknja mukaku sadja, daripada taringnja. Sedjurus kemudian mereka telah berada diatasku dan menjobeki tiap kain jang kukenakan. Dan aku tertinggal telandjang bulat seperti waktu dilahirkan. Mereka guling-gulingkan aku diladang gandum itu sekehendak hati mereka sedjurus lamanja. Achirnja seekor andjing besar meletakkan tjakarnja jang agak besar diatas dadaku dan menggeram-geram kearah tenggorokanku, sekalipun tak ada jang diperbuatnja selama itu.

„Dua orang Djerman datang berderak-derik diatas sepeda motornja menerdjang ladang gandum itu. Mula-mula mereka pukuli aku sekuat-kuatnja, kemudian menjerahkan penganiayaan selandjutnja kepada andjing-andjing itu sehingga aku hampir-hampir terkojak-kojak djadi serbitan. Seperti itulah matamiku waktu mereka bawa aku kembali kekamp — telandjangbulat dan mandi darah. Aku dikurung seorang diri sebulan lamanja setelah kedjadian itu, tetapi hidup …aku tinggal hidup!

Bagian 3

„Sedih mengenangkannja dan lebih sedih lagi ialah mentjeritakan hal-hal jang aku alami sebagai tawanan, saudara. Pabila kuingat akan siksaan-siksaan jang tak berperikemanusiaan jang kami deritakan disana, di Djerman, dan mengenangkan kawan-kawan dan sahabat-sahabat jang disiksa sampai mati diberbagai kamp, hatiku mendjadi ngilu dan sesak nafas.

„Dalam dua tahun itu kemana sadja mereka tak halau aku! Telah aku djalani separoh dari negeri Djerman didalam waktu itu : di Sapony aku kerdja didalam pabrik gelas, didaerah Ruhr mendorong gerobak-gerobak arang didalam tambang, di Bavaria hampir-hampir aku patahkan leherku waktu menggali parit. Akupun pernah di Thuringia djuga dan setan djuga mengetahui ditempat mana lagi ditanah Djerman aku pernah indjakkan kakiku. Tempat-tempat dinegeri itu berlain-lainan memang, tetapi pukulan dan tembakan-tembakannja terhadap kami-kami ini sama sadja dimana-mana. Ja, kami dipukuli oleh lintah dan ular-ular itu, dipukuli lebih hebat dari pada kita pukuli binatang-binatang tarik kita disini. Mereka gasak kami dengan kepalan, tendang kami atau garap kami dengan tjamuk karet, dengan linggis, dengan benda-benda logam jang dibuat untuk itu, dan djangan dikata lagi pentung atau gagang senapan.

„Mereka pukuli kami hanja karena kami orang Rus, hanja karena kami masih djuga tinggal hidup, hanja karena kami bekerdja untuk mereka sendiri! Mereka pukuli kami hanja karena kami telah pandang mereka dengan tjara jang mereka rasa kurang sepantasnja, hanja karena kami salah melangkah atau menoleh …Atau mereka pukuli kami terus-menerus dengan harapan pada suatu kali akan mati, atau ingin melihat kami bermandikan darah kami sendiri serta menggaok-gaok dibawah pukulan itu. Barangkali di Djerman masih kurang banjaknja tempat-tempat pembakaran majat-majat kami.

„Dan makanannja pun sama sadja dimana-mana : bubur lobak jang keair-airan dan seratuslimapuluh gram roti ersatz jang setengahnja tertjampur dengan tahu gergadji. Air mendidih sebagai ganti teh kadang-kadang diberikan djuga, tetapi lebih sering tidak. Mengapa masih djuga hidup? Hanja ini djawabku : Berat tubuhku delapanpuluh enam kilogram sebelum perang dan pada musimgugur tidak lebih dari limapuluh. Aku hanjalah kulit pembalut tulang dan jang inipun hampir-hampir aku tak sanggup membawanja. Tetapi aku harus tetap bekerdja dan tutup mulut dan lakukan berbagai matjam pekerdjaan jang tjukup berat untuk dapat membunuh kudagerobak.

„Pada permulaan September, seratus empatpuluh dua orang Soviet tawanan dikirimkan dari sebuah kamp dekat Kuestrin kekamp „B-14” dekat Dresden. Kuranglebih duaribu diantara kami berhimpun dengan mereka djuga dikemudian hari. Kami semua bekerdja didalam penggalian batu, memotong dan membelah batu Djerman itu dengan tangan. Hasilkerdja tiap djiwa ditetapkan empat meter kubik sehari dan djiwa-djiwa itu, ja ampun, hanjalah sematjam ditempelkan sadja dengan selembar benang pada tubuh jang memilikinja. Tjelaka. Dalam dua bulan sadja jang masih hidup tinggal limapuluh tudjuh orang dari djumlah barisan jang seratus empatpuluh dua itu. Biadab, bukan? Hampir-hampir kami tak punja waktu lagi untuk menguburkan majat dan ada pula berdjangkit desas-desus, bahwa orang-orang Djerman telah mengambil Stalingrad dan sedang menusuk ke Siberia. Rawan bersusul pilu. Dan aku begitu berketjilhati sehingga hampir-hampir tak dapat mengangkat mataku dari tanah — seperti minta dikuburkan disana, ditanah Djerman. Dan parapengawal kamp tiap hari mabok-mabok sadja kerdjanja, meneriakkan njanjian-njanjian, menghibur-hibur diri masing-masing dan bergaok-gaok.

„Pada suatu malam kami pulang kebarak setelah kerdja. Hari itu hudjan terus-menerus sepandjang hari dan air dapat diperas dari badju tjompang-tjamping kami sampai mengalir. Kami telah membeku diluaran sana didalam angin dan sudah merasa sulit untuk menghentikan gelutuk gigi kami, sedang didalam barak tiada tempat bagi kami untuk berkering atau berhangat diri. Dan kami lapar! Rasanja, mati masih kurang tjukup, bahkan lebih busuk daripada mati itu sendiri! Memang, kami tak diberi makan pada malam itu.

„Kulepas pakaianku jang basah itu, kulemparkan diambinku dan bilang : „Mereka minta batu empat meter kubik dari kita, tetapi semeter kubik sadja sudah lebih dari tjukup untuk membunuh siapa sadja diantara kita.” Hanja itulah kataku, tetapi ada djuga tjoro diantara kami jang menjampaikan kata-kataku jang pahit ini kepada komendan kamp.

„Komendan kamp, atau Lagerfuehrer seperti orang Djerman menjebutnja, bernama Meuller : pendek, tegap, sangat bulé, putih seluruhnja. Rambut kepalanja seperti djerami jang telah digelantang. Alis dan bulu-matanja sama sadja; bahkan matanja keputih-putihan dan polong pula. Ia dapat bitjara Rusia tidak lebih buruk daripada kau atau aku dan bahkan menekankan „o” seperti orang jang dilahirkan dan dibesarkan di Wolga. Dan sumpahannja! Kadang-kadang mengerikan! Dimana ia beladjar menjumpah seperti itu tak dapat aku mengatakannja! Kadang-kadang ia deretkan kami didepan blok kami — jang mereka namai barak itu — dan berbarislah didepan anakbuahnja jang terdiri dari orang-orang SS dengan tangan terulur. Ia mengenakan sarungtangan kulit, sarungtangan jang dilapisi timah untuk melindungi djari-djarinja. Iapun memeriksa barisan kami dan memukul tiap orang kedua diantara kami pada hidungnja sehingga berdarah-darah. Itulah jang ia namakan „Penangkal influenza”. Dan ini ia ulangi tiap hari. Kamp itu seluruhnja terdiri atas empat blok, dan dengan demikian pada suatu hari ia bagikan „penangkal”-nja itu pada penduduk blok pertama, pada hari berikutnja pada penduduk barak kedua dan seterusnja. Dia sungguh-sungguh setia pada kekedjiannja ini, dan tidak pernah mangkir. Walau demikian masih ada satu hal jang dia tidak mengetahui, sigila itu. Sebelum melajangkan tangannja jang bersarung itu, selalu dia berdiri menjumpahi kami untuk kuranglebih sepuluh menit lamanja. Ia mengutuk sedjadi-djadinja, tetapi hal itu djustru membuat kami merasa riang : kata-kata pribumi kami sendiri itu amat manis terdengar, suatu kesemerbakan dari rumah sendiri …Kalau sadja dia tahu kutukan itu merupakan hiburan jang sesungguhnja bagi kami, aku jakin dia akan berhenti mendjerit-djerit dalam bahasa Rusia dan akan berpindah kedalam bahasa sendiri. Diantara kami hanja terdapat seorang sadja jang merasa pedihnja kutukan-kutukan itu. Ia seorang Moskow. „Kalau dia berdiri menjumpah sematjam itu,” katanja, „aku tutup mataku dan aku merasa seperti di Moskow, diwaktu minum-minum bir di Zatsepa. Saking kepinginku minum sampai peninglah kepalaku.”

„Jah, komendan itulah jang memanggil aku pada keesokanharinja setelah aku menjatakan pikiranku tentang meter kubik batu itu. Seorang penterdjemah dan dua orang pengawal datang kebarak kami pada malamhari : „Siapa Sokolov Andrei?” „Aku.” „Ajoh berangkat. Herr Lagerfuehrer sendiri mau bertemu denganmu.” Dengan mudah aku dapat menduga sebabnja. Sudah tentu dia mau lumat-lumat aku! Akupun berpamitan dengan kawan-kawan dan merekapun tahu bahwa aku berangkat kemedan maut; sambil mengeluh aku pergilah. Aku berdjalan melintasi lapangan kamp sambil merenungi bintang-bintang, dan mengutjapkan selamattinggal kepada mereka dan berpikir-pikir : „Dan tibalah achirnja penderitaanmu, Andrei Sokolov, tawanan no. 331!” Hatiku mendjadi rawan mengingat akan Irinka dan anak-anakku, tetapi kemudian berhenti bersedih dan mentjoba menguatkan semangatku agar nanti mampu memandangi montjong pestol tanpa undur, sebagaimana harusnja seorang pradjurit; dan aku tak ingin mereka tahu bahwa sesungguhnja sulit djuga bagiku berpisahan dengan hidupku sendiri …

„Diatas bendul djendela kantor komendan terdapat bunga-bunga dan didalamnja semuanja bersih seperti diruangan klub dinegeri sendiri. Kelima-lima kepala kamp sedang duduk melingkungi medja dan dengan lahapnja minum schnaps dan memperlunak kerasnja minuman keras itu dengan menggigit daging babi. Sebuah botol schnaps gendut lagi indah berdiri diatas medja, dan banjak terdapat roti dan daging babi dan setumpuk manisan appel dan kaleng-kaleng terbuka berisikan bermatjam-matjam daging dan ikan. Dengan mataku semua itu kutelan dengan sekali pandang, dan — pertjaja atau tidak — aku merasa mabuk sehingga hampir-hampir muntah. Aku lapar seperti seekor serigala dan tidak terbiasa dengan makanan manusia, dan kini dihadapanku terhampar begitu banjak makanan …Aku perangi perasaan mabokku, tetapi amat sulit rasanja memalingkan mata dari medja itu.

„Mueller sudah setengah mabok dan duduk memandangi aku sambil mempermain-mainkan pestolnja, melemparkannja dari tangan jang satu ketangan jang lain dengan tiada berkedip — lebih memper seperti seekor ular. Aku lekatkan kedua belah tanganku kaku-kaku pada pelipit tjelana, menghentakkan tumit jang telah usang itu dan melapurkan diri dengan suara keras : „Tawanan perang Andrei Sokolov, siap terima perintah, Herr Komendan.” „Djadi kaupikir batu empat meter kubik itu terlalu banjak, Iwan Rus?” Tanjanja. „Tetap, Herr Komendan, terlalu banjak!” „Dan satu meter sudah tjukup buat bikin mati?” „Benar, Herr Komendan, lebih dari tjukup!”

„Aku akan beri kau kehormatan besar,” katanja sambil bangkit, „Aku akan tembak kau dengan tanganku sendiri karena kata-katamu itu, dan sekarang djuga! Tetapi tak lajak kalau ditempat ini. Mari kita pergi keluar dan disana kau akan terima peluruku!” „Silakan,” kataku. Tetapi sebaliknja dari pada berlalu, ia berdiri berpikir-pikir sedjurus, kemudian melemparkan pestolnja keatas medja, menuangi gelasnja dengan schnaps, menaruh seiris dagingbabi diatas sepotong roti dan menjerahkannja kepadaku, sambil berkata : „Minumlah sebelum kau mati, Iwan Rus, demi kemenangan balatentara Djerman.”

Waktu mendengar kata-katanja jang achir aku merasa seperti djari-djariku mendjadi hangus. „Kau harapkan daripadaku, seorang pradjurit Rusia ini, untuk minum demi kemenangan tentara Djerman. Tidak lebih lagi jang kauminta, bukan, Herr Komendan?” pikirku, bagaimanapun djuga aku akan mati, karena itu persetan dengan kau sendiri dan vodkamu!”

„Terimakasih atas perlakuan jang baik itu, tetapi aku bukan peminum,” kataku keras-keras sambil meletakkan gelas dan roti itu diatas medja kembali. „Djadi kau tak mau minum untuk kemenangan kami?” ia tersenjum. „Kalau begitu minumlah demi kehantjuranmu sendiri!” „Dan apakah rugiku?” Aku akan minum demi kematianku dan demi kebebasanku daripada kesengsaraan ini,” aku menjetudjuinja dan meminum kosong gelas itu dalam dua kali teguk, kemudian menjeka bibirku dengan sopan dengan punggung tangan. Sepotong roti dan daging babi itu tak kusintuh. „Terimakasih atas perlakuan jang baik ini,” kataku. „Sekarang aku sudah siap, Herr Komendan. Siap terima pelurumu diluar sana.”

„Makanlah kau sebelum mati,” katanja sambil memandang aku dengan sungguh-sungguh. „Aku tak pernah makan sesuatupun setelah minum jang pertama,” djawabku. Dengan demikian ia tuang gelas jang kedua dan kuminum jang ini seperti jang pertama, namun tetap aku tak mau mendjamah dagingbabi itu. Dalam pada itu aku mendapat kesempatan jang baik : „Baik djuga mabok sebelum pergi keluar untuk berpisah dengan hidupku sendiri,” pikirku. „Mengapa kau tak djuga makan barang sedikit sehabis minum jang kedua kalinja, Iwan Rus?” kata komendan itu sambil mengangkat alisnja jang putih itu tinggi-tinggi. „Djangan malu-malu!” Tetapi kubungkam dia dengan tjeritaku sendiri : „Maaf, Herr Komendan, tetap tak pernah aku makan sesuatupun sehabis minum jang kedua.” Kedua pipinja mekar dan kemudian mulai ia meritjau tjepat dalam bahasa Djerman kepada kawan-kawannja jang masih dimedja. Barangkali dia sedang mentjeritakan pada mereka apa-apa jang aku telah katakan. Mereka mulai tertawa, memalingkan kursi dan mengarahkan montjongnja masing-masing kepadaku, walaupun ini rasanja kukatakan dengan agak kasar, kiraku.

„Komendan itu menuangkan gelas jang ketiga dan menjerahkannja kepadaku, dengan masih tetap tertawa, serta dengan tangan menggeletar. Jang ini kuminum pelahan-lahan kemudian memakan sedikit sandwich dan meletakkan sisanja diatas medja. Ingin aku perlihatkan pada buaja-buaja itu bahwa aku tak sudi telan remah-remah mereka bagaimanapun aku sedang kelaparan, dan bahwa aku masih tetap mempunjai harga Rusia dan kebanggaan Rusia, dan bahwa mereka tak dapat membalik aku mendjadi pendjilat bagaimanapun djuga mereka mentjobanja.

„Kemudian komendan itu mendjadi lebih tenang, membenarkan kembali letak salib besi didadanja. Ia pergi dari medja tanpa membawa pestol. „Nah begini, Sokolov. Engkau orang Rusia sedjati, seorang pradjurit berani. Akupun pradjurit dan dapat menghormati seorang lawan jang patut. Aku takkan tembak kau, terutama karena pasukan kami jang gagahberani itu sudah mentjapai Wolga hari ini dan telah duduki seluruh Stalingrad. Hal itu merupakan peristiwa besar bagimu dan aku bermurahhati untuk menjelamatkan djiwamu. Kembalilah kau keblokmu dan ambil ini buat memelihara semangatmu.” Ia mengambil segolondong roti dan segumpal daging dari medja.

„Maka roti itu aku tekankan pada tubuhku dan kugenggam daging itu ditangan kiriku, sehingga aku mendjadi katjaubalau karena peristiwa-peristiwa jang mendadak itu, sehingga lupalah aku berterimakasih kepadanja. Waktu hendak keluar melalui pintu aku berpikir-pikir : „Barangkali dia akan tanamkan peluru diantara pundakku, dan aku takkan pernah dapat serahkan makanan ini pada kawan-kawan!” Tetapi sekali ini maut lewat dengan amannja, dan hanja mendingini aku dengan djari-djarinja.

„Dengan tjukup kuat aku keluar dari kantor komendan, tetapi kekuatan itu mendjadi berantakan waktu aku sampai diudara terbuka. Waktu mentjapai barak tiadalah aku mengetahui sebabnja, tetapi aku djatuh tertengkurap dilantai semen dan tak sadarkan diri. Kawan-kawan menggotong aku sedang masih gelap itu. „Tjeritai kami apa jang terdjadi tadi!” pinta mereka. Lambatlaun aku ingat kembali sampai hal-hal ketjil dan kemudian mentjeritakan semuanja kepada mereka. „Bagaimana tentang permintaanmu untuk membagi-bagikan barang-barang jang kaubawa ini?” tanja orang jang seketiduran denganku. Suaranja menggetar. „Bagi rata untuk semuanja!” kataku kepadanja. Kami harus menunggu sehingga ada sedikit tjahaja pada waktu fadjar dan memotong-motong roti dan dagingbabi itu dengan sangat teliti dengan benang. Tiap orang dapat sepotong roti jang tidak akan lebih besar daripada kotak geretan — dan kami hitung tiap remah. Sedang dagingbabi itu, tidaklah tjukup samasekali untuk membaginja rata-rata sekalipun hanja untuk membasahi bibir. Walau demikian kami usahakan membaginja tanpa perbedaan.

„Tigaratus orang djumlah kami, jang paling sehat segera kemudian dikirimkan dari kamp itu untuk mengeringkan rawa, setelah itu bekerdja ditambang didaerah Ruhr, dimana mereka tinggal sampai tahun 1944 waktu pihak kita telah mulai menekuk batang leher Djerman dengan tjukup keras sehingga kaum fasis itu mulai kurang mual terhadap tawanan perang. „Mereka jang sebelum perang pernah djadi sopir, madju kedepan!” penterdjemah seorang pembantu letnan memerintahkan. Dihadapannjalah seluruh penjaringan itu diadakan. Tudjuh orang diantara kami jang tadinja mendjadi sopir melangkah madju. Kami kemudian diberi pakaian bekas dan digiring ke Potsdam. Waktu sampai dikota itu, kami dikirim keberbagai djurusan. Aku sendiri ditugaskan di „Todt”, jaitu sebuah lembaga Djerman jang membuat djalan-djalan pertahanan.

„Jang kusopiri ialah sebuah „Oppel-Admiral”. Tuanku jang sekarang adalah seorang insinjur Djerman jang berpangkat major, seorang fasis tergemuk jang pernah kulihat. Ia buntjit dan pendek dengan lebar jang sama dengan tingginja dan djuga berpantat besar seperti pantat perempuan jang paling montok. Maka ada tiga dagu jang tergantung pada dada uniformnja dan tiga lipatan gemuk bergantung pada gombak badjunja jang belakang. Aku taksir paling sedikit ada tiga pood gemuk murni terdapat pada orang itu. Ia bernafas lokomotif apabila berdjalan. Tapi orang harus melihatnja waktu duduk pada medja — mengerikan! Dia mengunjah-ngunjah sesuatu dan sepandjang hari meneguk konjak dari botollogamnja. Kadang-kadang dia beri djuga aku. Maka ia suruh aku berhenti didjalan, kadang-kadang, kemudian ia potong susis dan kedju dan makan dan minumlah ia. Kalau ia sedang bersenanghati, ia lempari aku sebahagian, sebanjak jang mestinja diberikan kepada andjing. Ini adalah dibawah hargadiriku untuk mengambil sesuatu dengan tanganku. Walau begitu ia djauh lebih baik daripada kamp-kamp dan lambatlaun aku nampak sebagai manusia dan berat tubuhku naik.

„Dua minggu lamanja aku menjopiri mobil major itu ke dan dari Potsdam dan Berlin, tetapi kemudian dia dikirim kedaerah garisdepan untuk membangun pertahanan pasukannja ; dan itulah jang menjebabkan aku lupa tidur dan rebah, djaga dari makan kemalam, memikirkan suatu rentjana untuk melarikan diri kenegeri sendiri.

„Kemudian kami berada dikota Polotsk. Untuk pertama kalinja dalam dua tahun itu aku dengar dentuman artileri kita pada suatu subuh. Kedjadian itu terasa aneh dihatiku ! Tak pernah aku berdjingkrak ria seperti waktu itu. Djuga tidak bila aku bertemu dengan Irinka dahulu, sebelum kawin. Perkelahian sengit sedang berketjamuk sekira delapanbelas kilometer sebelah timur Polotsk. Orang Djerman dikota itu sangat marah dan gugup, penumpangku jang gemuk itu tetap lebih sering mabok. Pada siangnja ia suruh aku membawanja keluar kota dimana ia perintahkan kepada mereka untuk membangunkan pertahanan, dan malamnja, ia minum sendirian. Ia menggendut seluruhnja dan matanja mendjadi terlalu longgar.

„Tak ada ’gunanja menunggu lebih lama”, pikirku. Waktuku sudah sampai sekarang, tetapi aku harus bawa tuanku jang gendut ini. Mungkin dia bisa djuga berguna kepada kami dipihak sana !”

„Aku menemukan besi timbangan dari dua kilogram direruntuhan dan membungkusnja didalam topi untuk menghindari mengalirnja darah bila aku toh harus mempergunakannja. Akupun mengambil kawat tilpon pandjang, dan dengan hati-hati mempersiapkan benda-benda lain dan menjembunjikan semuanja itu dibawah kursi depan. Pada suatu malam dalam perdjalanan pulang dari mengisi bensin, jaitu dua hari sebelum aku tinggalkan orang-orang Djerman itu, aku lihat seorang serdadu Djerman tak bertugas jang begitu mabuk sehingga samasekali ia tak dapat berdiri tegak sekalipun dengan tangan pada dinding. Dengan tiada menjia-njiakan waktu, kuhentikan kendaraanku, kubawa dia ketempat sunji diantara reruntuhan dan melemparkannja dari uniformnja. Dengan tiada melupakan topinja tentu. Semua inipun kusembunjikan dibawah kursi depan.

„Pada pagihari bulan Djuni tanggal 29, majorku memerintahkan aku pergi membawanja dari kota kedjurusan Trosnitsa dimana dia mengawasi pembangunan berbagai perkubuan. Hatiku berdebur-deburlah waktu kami berangkat itu. Tetapi untunglah simajor itu djatuh tertidur sebagaimana biasanja. Mula-mula kukentjangkan kendaraan itu. Diluarkota kupelahankan dan achirnja kuhentikan. Sambil keluar kupandang-pandang belakang kendaraanku dan pada suatu djarak ada kulihat dua buah truk menghampiri dengan pelahan-lahan. Tjepat kuambil timbangan besi dan membuka pintu belakang selebar mungkin. Major gendut itu tidur mendekur dengan damainja seakan-akan disamping isterinja. Waktu aku timpakan timbangan besi itu pada pelipis-kirinja, tangannja djatuh terkulai. Kupukul dia sekali lagi untuk mejakinkan bahwa dia tak sadarkan diri, tetapi tanpa maksud untuk membunuhnja. Aku ingin dia tetap hidup karena aku jakin dia mampu memberi banjak hal jang harus diketahui kepada pihak kita diseberang garis sana. Aku ambil parabellum dari bungkusnja dan kusembunjikan dalam kantongku, kemudian menggandjalkan besi dibelakang tempatduduk belakang, menegakkan major itu dan mengikat tengkuknja dengan kawat tilpon. Ini membuat dia tidak terguling atau djatuh kesamping selama berkendaraan kentjang itu. Buru-buru aku kenakan uniform Djerman beserta topinja sekali, kemudian menghidupkan mesin dan menudju langsung ketempat dimana buminja sedang diguntjangkan oleh pertempuran.

„Beberapa orang serdadu tomygun melongok dari kandangmonjetnja waktu aku melintasi garis Djerman jang membudjur antara dua buah blok rumah. Aku pelankan kendaraanku agar mereka dapat melihat major penumpangku. Kemudian mulailah mereka memekik dan melambaikan tangan mereka : „Djangan pergi kesana !” Tetapi aku pura-pura tak mengerti dan menekan pedal gas sampai kedasarnja. Pada waktu itulah mereka paham akan apa jang sedang terdjadi dan mulai menembaki aku dengan senapanmesin, sedang aku telah berada dengan sehat didaerah tak bertuan, menjeruduk dilubang-lubang granat dengan tjepat sematjam seekor kelintji.

„Sedang orang-orang Djerman mendjudju aku dari belakang, pradjurit-pradjurit tommygun kita menghudjani peluru dari depan. Katjadepan berlubang dibeberapa tempat sedang radiatornja tembus. Achirnja nampak olehku sebuah kolam diantara pepohonan dan pradjurit-pradjurit kita berlari-larian menudju kepadaku. Akupun mengambil diantara pepohonan, membuka pintu mobil dan merangsang keluar untuk segera mentjium bumi tanahairku. Rangsangan itu menjebabkan aku hampir-hampir tak dapat bernafas.

„Jang mula-mula sampai kepadaku adalah seorang pemuda berkemedja tentara dengan talipundak terbuat daripada kain khaki jang sebelumnja tak pernah kulihat. „Djadi kau kesasar, Fritz terkutuk ?” Ia berseru sambil menjeringai dengan kilatan giginja. Maka kulepaslah badjupandjang Djerman itu dan melemparkan topi pada kakinja : „Djangan tolol, sahabat ! Fritz matjam apa aku ini. Aku jang dilahirkan dan dibesarkan di Voronezj ? Aku tawanan, mengerti ? Dan sekarang lepas babi jang duduk didalam itu. Ambil tassuratnja dan bawa aku pada komendanmu.” Kuserahkan pestol itu kepadanja dan kemudian aku diserahkan dari tangan ketangan sehingga pada malamnja barulah aku dapat menghadap kolonel komendan divisi.

Pada waktu itu djugalah aku mendapat makan dan mandi jang patut. Akupun ditanjai dan diberi barang-barang baru, sehingga dapat muntjul dalam kandangmonjet kolonel itu dengan tubuh dan djiwa murni dan dalam uniform lengkap. Kolonel itu bangkit untuk menjambut aku waktu aku datang dan memeluk aku dihadapan para-opsir. „Terimakasih, pradjurit” katanja, „sungguh tepat pada waktunja bawaanmu dari Djerman itu. Majormu dan tassuratnja lebih berharga daripada duapuluh tawanan tertangkap. Aku usulkan agar kau dikaruniai dekorasi.” Aku begitu terharu oleh kata-katanja jang ramah itu sehingga aku hanja dapat berdiri dengan bibir gemetar. „Tempatkanlah aku dalam salah sebuah kesatuan infantri, kawan Kolonel,” kataku.

„Tetapi kolonel itu tertawa sadja dan menepuk bahuku : „Kau mau djadi pradjurit jang bagaimana — kau jang hampir-hampir tak dapat berdiri diatas kaki sendiri ini ? Hari ini djuga kau mesti dikirim kerumah sakit. Kalau kau sudah sehat dan gemuk sedikit, pulanglah kau pada keluargamu. Kau dapat perlop sebulan. Selama itu kami akan tjarikan tempat untukmu.”

„Kolonel dan semua opsir jang hadir dalam kandangmonjet itu kemudian berdjabatan tangan denganku, sehingga aku mendjadi katjaubalau samasekali. Aku tumbuh dengan tak terbiasa dirawat sebagai manusia dalam dua tahun jang lalu itu. Bahkan lama setelah itu aku masih tetap menundukkan kepala pabila bitjara dengan atasanku seakan takut mereka akan pukul aku. Begitulah matjamnja kaum fasis itu membentuk kami didalam kamp-kamp itu.”

„Kutulis surat kepada Irinka segera aku berada dirumahsakit dan dengan singkat melukiskan didalamnja betapa aku hidup didalam tawanan perang itu dan betapa aku melarikan diri dengan major Djerman. Dan, tak tahulah aku apa jang menjebabkan aku berbuat seperti anak ketjil itu, tetapi aku tak bisa tidak bertjerita kepadanja bahwa kolonel itu telah berdjandji untuk mengusulkan dekorasi buat aku.”

„Tak ada jang kuperbuat selama itu selain makan dan tidur. Empatbelas hari lamanja. Mereka beri aku makan sedikit tetapi sering, karena paradokter mengatakan bahwa aku akan mendjadi belipat-lipat kalau dibiarkan makan sesukahatiku. Aku peroleh kembali kekuatanku dan dalam waktu kurang lebih dua minggu sudah segan melihat makanan. Suratku kerumah ternjata tak berbalas dan aku mulai kuatir. Aku kehilangan nafsumakan dan tak dapat tidur. Aku mendjadi kuatir oleh berbagai matjam pikiran. Aku terima sepucuk surat dari Voronezj pada minggu jang ketiga. Bukan dari Irinka, tetapi dari seorang tetangga, Iwan Timofejevitj, seorang tukang kaju. Dan semoga Allah melindungi tiap orang daripada surat sematjam itu ! Dia menulis bahwa orang Djerman telah mengebom pangkalan penerbangan pada bulan Djuli 1942 dan sebuah bom berat telah djatuh tepat diatas rumah-ketjilku. Irinka dan anak-anakku perempuan ada dirumah waktu itu …Tak ada terdapat bekas mereka, dan hanja tertinggal sebuah kawah besar dimana tadinja berdiri rumah kami. Mula-mula aku tak dapat batja surat itu hingga pada achirnja. Semuanja mendjadi hitam dan aku merasa hatiku meringsut dan tinggal sematjam itulah. Akupun berbaring sedjurus dan kemudian membatja terus. Tetanggaku menulis, seterusnja, bahwa Anatoli berada dikota waktu terdjadi pengeboman itu. Waktu pada suatu malam ia pulang, dilihatnja kawah itu dan pada malam itu djuga ia pulang kembali kekota. Sebelum pergi, ia bilang kepada paratetangga, bahwa ia akan masuk djadi pradjurit sukarela kegarisdepan. Hanja itulah.

„Waktu aku sudah bisa bernafas lagi dan merasai desakan jang berdetakan dikuping, ingatlah aku betapa pahit semua itu bagi Irinka untuk berpisahan denganku distasiun. Hati wanitanja barangkali telah membilanginja, bahwa sudah pada waktu itu ia merasa bahwa kami tiada kan berdjumpa lagi. Dan aku dorong pula dia. Familiku, rumahku, hartabenda jang minta waktu bertahun-tahun lamanja itu tersapu lenjap dalam sekejap mata, dan kini aku sebatang kara. „Bisakah aku impikan semua ini ?” pikirku. Bukankah aku bitjara pada Irinka dan anak-anak tiap hari dalam tawanan itu dengan suara batinku ? Bukankah aku telah tjoba menghibur mereka, bahwa aku kuat, bahwa aku akan tinggal hidup, dan memberikan djaminan kepada mereka, bahwa aku akan kembali, bahwa mereka tak perlu kuatir, dan bahwa aku tinggal hidup mengatasi semua kesulitan dan bahwa kami akan berkumpul kembali ? …Djadi apakah aku bitjara dengan majat mereka dalam dua tahun itu ?”

Kawanku itu terdiam sedjurus lamanja dan kemudian menambahi dengan tekanan jang lambat-lambat dan berubah serta putus-putus : „Mari merokok lagi saudara, ada sesuatu jang menjumbat dalam diriku rasanja.”

Kamipun menggulung rokok dan terdengar oleh kami patukan keras burung pelatukbawang diantara pepohonan diatas air. Djantungan pohon-pohon alder tetap bergerak-gerak dengan malasnja didalam angin panas itu dan mega lebar merangkak melintasi langit biru seperti tadinja, dan walaupun demikian nampak berbeda pada saat-saat kerawanan batin itu — dunia jang mahabesar bersiap-siap untuk menjambut rahasia musimsemi, kerelaan hidup jang berulang-kembali setjara abadi itu.

Amat sulit rasanja duduk-duduk demikian tanpa bitjara.

„Apa terdjadi kemudian ?” aku bertanja.

„Kemudian ?” rupa-rupanja ia segan meneruskan. „Kemudian, aku terima sebulan perlop dari kolonel dan seminggu kemudian sampailah aku di Voronezj. Aku berdjalan ketempat dimana sekali keluargaku tinggal. Jang kulihat hanja kawah berisi air kuning dilingkungi belukar setinggi pinggang. Sangat sunji, sesunji kuburan. Alangkah sulit berada disitu dan melihatnja, saudara ! Karena telah merasa kekenjangan kesedihan, akupun kembali kesetasiun. Aku tak ingin lebih lama dari sedjam ditempat itu dan berangkat kemudian menudju kedivisiku pada hari itu djuga.

„Tapi ada kegembiraan ketjil padaku dalam tiga bulan itu. Seikat sinar matahari menembus mendung: ada kabar dari Antoli. Aku terima surat daripadanja digarisdepan — dari garisdepan lain. Dia dapatkan alamatku dari tetangga kami, Iwan Timofejewitj. Ternjata bahwa mula-mula ia bersekolah disekolah artilleri jang mana bakat ilmupastinja menjebabkan ia mendapat hasil jang baik. Setelah lulus dari sekolah dengan angka sangat baik, sesudah setahun beladjar, berangkatlah ia kegarisdepan. Kemudian ia menerima pangkat kapten, mendjadi komendan daripada sebuah batteri „empatpuluh lima” dan mendapat dekorasi enam order dan medali. Pendeknja, ia telah langkahi ajahnja sendiri dalam tiap djalan jang mungkin dan aku amat bangga padanja untuk kesekian kalinja, ah, begitu bangga ! Bagaimana sadja kau berpendapat, sudara, anakku sendiri mendjadi kapten komendan batteri — bukan soal ketjil bukan ? Dan dia dikaruniai order dan medali pula ! Apalagi bagi bapaknja jang hanja melarikan amunisi dan bahan-bahan perang lain didalam Studebaker ! Hidup ajahnja berada dimasalalu, tetapi dia, kapten, dan hidup dimasa datang.

„Dan pada malam-malam hari aku mulai mengimpikan seorang orang tua. Orang tua jang mengimpikan dapat saksikan dia akan kawin bila perang telah selesai dan ia hidup bersama dengannja. Dan orang tua itu melakukan pekerdjaan tukangkaju dan bermain-main dengan tjutju-tjutjunja. Semua bajangan ini datang kepadaku ! Bajangan jang menjenangkan disebabkan karena usia jang mendjadi tua. Tetapi segala-galanja ternjata salah duduk. Dengan tanpa senggang kami madju terus dimusimdingin itu dan tiadalah waktu bersurat-suratan lebih sering. Waktu kami hampir di Berlin, achir perang hampir sampai kukirimkan surat kepada Anatoli dan mendapat djawaban pada keesokan harinja. Ini tak lain daripada suatu tanda, bahwa kami sedang menghampiri ibukota Djerman itu dari berbagai djurusan, dan bahwa kami telah berdekatan satu-sama-lain. Hampir-hampir aku tak dapat menunggu detik pertemuan itu. Dan memang kami bertemu, tetapi bagaimana bertemunja ? ! Tepat pada pagihari tanggal 9 bulan Mei, pada Hari Kemenangan, Anatoliku ditembak mati oleh penembak bersembunji Djerman.

„Komendan kompi memanggil aku pada sorehari. Maka adalah seorang opsir bersama dengannja, seorang letnankolonel artilleri jang bangkit berdiri dan waktu aku masuk ke kamar itu seakan memberi salut kepada atasannja. „Ia datang untuk bertemu denganmu, Sokolov,” kata komendan kompiku itu kepadaku dan memalingkan wadjahnja arah kedjendela. Aku merasa seakan kedjangkitan arus listrik : aku menduga ada sesuatu jang tidak beres sedang terdjadi. Letnankolonel itu datang menghampiri aku lebih dekat dan berkata pelahan : „Kuatkan hatimu, pak ! Anakmu Kapten Sokolov gugur dibatterinja hari ini. Mari pergi bersama denganku !”

„Kata-katanja itu membuat aku terhujung-hujung, tetapi aku berusaha untuk tetap kukuh diatas kakiku. Rasanja masih djuga seperti didalam mimpi : perdjalanan dengan kendaraan besar dengan letnankolonel itu, reruntuhan jang kami lewati didjalanan, barisan jang kabur-kabur dibelakang petimati anakku jang diselimuti dengan beledu merah. Dan kulihat Anatoli didalam peti itu seperti aku melihat kau sekarang ini, saudara. Aku lebih mendekat lagi untuk dapat melihatnja lebih djelas. Anakkulah jang ada didalamnja itu dan samasekali tidak sama dengan dia sendiri jang dahulu. Anakku dahulu seorang pemuda tersenjum, berbahu sempit dan kuruskering dan djangkung tinggi, tetapi jang ini adalah seorang lelaki tjakap berbahu bidang dan mata setengah tertutup memandang langsung kedepan melangkaui aku, kedalam djarak jang tiada aku dapat mengetahui. Hanja pada sudut-sudut mulutnja djua aku masih dapat mengenali senjuman abadi anakku jang tak njata itu, anakku jang ketjil dahulu, Tojaku. Aku tjium dia dan melangkah mundur. Letnankolonel itu mengutjapkan sebuah pidato, sedang kawan-kawan Anatoli berdiri sambil menjeka airmata. Tetapi airmataku jang sudah kersang barangkali telah kering benar didalam hati. Dan djustru karena itulah barangkali aku mendjadi rusak.

„Seperti itulah kusaksikan dia dikuburkan, harapan dan kegembiraanku jang terachir itu, dikuburkan diatas tanah Djerman jang asing. Batteri anakku menembakkan salvo untuk mengiringkan komendannja dalam perdjalanannja jang terachir dan perdjalanan takkan kembali untuk se-lamanja itu, dan jang ada kurasai sesuatu jang mengerikan didalam diriku. Aku bukan lagi diriku sendiri waktu kembali pada kesatuanku. Tetapi segera kemudian mereka didemobilisasi aku, dan, kemana aku harus pergi ? Kembali ke Voronezj ? Tidak mungkin ! Kemudian, aku teringat pada kawanku di Urjupinsk. Waktu ia didemobilisasikan pada musimdingin setelah terluka, ia undang aku untuk tinggal bersama dengannja. Aku ingat pada undangannja itu dan pergilah aku ke Urjupinsk.

„Kawanku dan isterinja tak beranak dan tinggal dirumahnja sendiri diudjung kota. Ia menerima pensiun invalid, tetapi disamping itu punja pekerdjaan pada perusahaan transport bermotor. Padanjalah aku bekerdja. Aku tinggal bersama mereka dan mereka terima aku dengan amat ramahnja. Kami antarkan berbagai matjam barang keseluruh daerah itu dan dimusimgugur mengangkut gandum. Waktu itulah aku bertemu dengan anakku jang ketjil jang sedang bermain-main dipasirnja itu.

„Bila aku pulang kembali kekota dari suatu perdjalanan, selalu aku singgah dikedai teh, makan barang sedikit dan minum sedikit dan minum sedikit wodka, kebiasaan buruk jang beberapa waktu lamanja pernah memperbudak aku. Tetapi pada suatu hari aku lihat anak ketjil berada didekat kedai teh, dan pada hari keesokannja dia disana lagi. Anak ketjil itu berbadju tjompangtjamping mukanja berlumuran air semangka ; ia berdaki abu dan kotoran dan tiada bersisir, tetapi matanja berkilauan seperti sepasang mata binatang ketjil didalam kegelapan sehabis hudjan. Dan aku begitu kasih kepadanja. Tak tahu aku mengapa, tapi aku ingin bertemu dengannja selalu dan selamanja bergegas-gegas untuk pulang dari perdjalanan. Kehidupannja — makan apa sadja jang diberikan orang kepadanja dikedai teh itu.

„Pada hari keempat, waktu berangkat kerdja aku lewati kedai teh itu, walaupun sedang mengangkut gandum dari rantja negara. Anak itu ada disana, duduk ditangga, mengajun-ajunkan kaki-kakinja jang ketjil dan nampak kelaparan. „Hé, Wanjusjka !” seruku padanja dari atas truk. „Naik sini lekas ! Mari berkendara kederék, lantas kita makan bersama-sama kalau pulang lagi !” Dia kaget karena panggilan itu. Dia terlompat dari tangga. Dengan susahnja ia memandjat pada tréplank dan bertanja takut-takut : „Bagaimana kau tahu aku Wanja ?” Ia berdiri menunggu djawaban dengan mata lebar dan aku terangkan kepadanja bahwa aku termasuk golongan orang jang banjak melihat dan mengetahui segala-galanja.

Kukuakkan pintu untuknja waktu dia lari melingkar kearah samping kanan trukku, mendudukkannja disampingku dan kemudian meneruskan perdjalanan. Anak jang selintjah itu kini duduk dengan sangat tenangnja disampingku, seakan sedang berpikir. Ia mentjuri pandang padaku dari bawah bulumatanja jang pandjang melengkung keatas itu dan mengeluh. Siapakah jang pernah dengar keluhan kanak-kanak ? „Dimana ajahmu, Wanja ?” tanjaku. „Mati digarisdepan.” djawabnja berbisik. „Dan ibumu ?” „Ibu mati waktu sebuah bom mengenai kereta kami.” „Kau datang dari mana ?” „Tak tahulah aku, lupa.” „Tak ada sanakmu disini ?” „Tidak.” „Dimana kau tidur ?” „Dimana sadja.”

„Mataku terbakar waktu mendengar ini.” Kita tak boleh berpisahan dalam kepapaan,” demikian hatiku memutuskan.” Aku akan ambil dia.” Dan sekaligus aku merasa lebih rianghati dan merasa lega dengan anehnja. „Wanjusjka ! Tahu kau siapa aku ini ?” tanjaku pelahan-lahan. „Siapa ?” ia bertanja sambil menghembuskan nafas. Sepelahan itu pula aku mendjawab : „Aku ajahmu — itulah aku.”

„Ja Allah, apa jang terdjadi kemudian ! Dia lemparkan dirinja pada tengkukku, mentjiumi pipiku, bibir dan keningku. „Ajah ajah !” ia tinggal mendjerit-djerit sehingga kupingku berdenging. „Aku tahu Aku tahu kau akan temukan aku ! Sekarang kau telah temukan aku ! Kau kutunggu begitu lama untuk temukan aku !” Ia kemudian rapatkan dirinja padaku menggigil-gigil seperti daun. Dan pemandanganku mendjadi berkabut semuanja dan akupun menggigil-gigil djuga, terutama tanganku. Aku masih tak djuga mengerti bagaimana aku dapat kukuhi kemudiku, meskipun trukku telah lari menerdjang parit dan kemudian mesinnja mati. Aku mengasoh sampai merasa sehat kembali, takut kalau-kalau menggilas seseorang. Kami berada disana kira-kira lima menit lamanja, sedang anakku terus djuga menekankan dirinja padaku dengan seluruh tenaganja jang ketjil itu. Dia mulai tenang sekarang, tinggal menggetar. Aku tekankan dia padaku dengan tangan-kananku dan membelokkan truk dengan jang kiri. Kami berangkat pulang. Ini bukan waktunja untuk pergi kepesawat derék sekalipun dengan membawa muatan gandum.

„Truk aku tinggalkan dekat gerbang dan anakku jang baru itu kubawa masuk kedalam rumah. Dia masih djuga rangkulkan tangannja pada tengkukku sepandjang perdjalanan itu, dengan pipinja pada pipiku jang belum tertjukur itu, seakan-akan kami sudah lama hidup bersama. Begitulah tjaraku membawa dia pulang. Sobatku dan isterinja waktu itu ada dirumah. Aku mengerling kepada mereka waktu masuk, sambil bitjara riang : „Jah, aku telah temukan dia, Wanjusjka-ku ! Aku harap kalian mau terima kami dengan senang, sahabat !” „Mereka, sahabat-sahabatku jang tak beranak itu, segera mengerti apa jang terdjadi dan mulai sibuklah mengurusnja. Aku tak dapat membuat anakku melepaskan pelukannja pada tengkukku, tetapi achirnja dapat djuga mengambil hatinja, mentjutji tangannja dengan sabun dan meletakkannja dikursi pada medja. Njonjarumah mengisi piring dengan sop kubis dan berlumuran airmatalah ia waktu melihat anakku makan dengan lahapnja. Ia berdiri dekat perapian dan menangis dibalik tjelémeknja sampai achirnja Wanjusjka-ku meletakkan sendoknja dan lari kesampingnja. „Mengapa menangis, bi ?” Ia tarik bilai kemedjanja. „Ajah menemukan aku dikedai teh dan kita mestinja girang dan bukan menangis.” Tetapi ini menjebabkan arus tangisnja kian mendjadi kentjang seakan ia akan tenggelam didalam airmatanja sendiri.

Sehabis makan, aku suruh guntingkan rambutnja pada tukangpangkas, kemudian memandikannja didalam kulah dirumah dan membungkusnja dalam kain bersih. Dia tertidur dengan tangan memeluk aku dan dengan hati²i kupindahkan dia kerandjang, kemudian lari ketrukku, berkendaraan kederék, mengosongkan gandum dari dalamnja, pulang kembali, memasukkan truk kedalam garasi dan lari ketoko sekuat tenaga. Aku belikan dia sebuah tjelana baru badju wol jang baik, kemedja ketjil, sandal dan topi djerami. Seperti jang kuduga semula, ternjata ukurannja tak tjotjok dan kwaliteitnjapun tak baik. Tjelana itu sendiri menjebabkan aku diomel njonjarumah : „Apa kau gila,” teriaknja, „Masa mau dandani anak dengan pakaian tebal sematjam itu dimusimpanas begini.” Setjepat kilat ia siapkan mesindjahitnja dimedja, kemudian pergi membongkar kopornja dan dalam sedjam sadja Wanjusjka-ku telah memiliki tjelana pendek satin dan sebuah kemedja putih ketjil berlengan pendek. Aku berbaring disampingnja dan untuk kali sedjak bertahun-tahun itu aku dapat tertidur dengan damai. Semalam-malaman aku terbangun empat kali dan mendapatkan dia sedang mendengkur pelahan dibawah tanganku, senikmat burung geredja dibawah talang, dan sulitlah mengatakan kepadamu betapa machluk ini meriangkan hatiku. Aku berusaha untuk berténang-tenang agar tak membangunkannja tetapi tiadalah dapat aku menahan keinginanku untuk bangun dan menjalakan korekapi dan memandanginja.

„Sekali lagi aku bangun sebelum fadjar menjingsing karena heran mengapa terasa sulit benar nafasku. Rupanja anakku jang ketjil itulah jang menjebabkannja. Dia melilit-lilit dari bawah selimutnja dan menjilangi aku dengan kakinja diatas tenggorokanku. Dia anak jang gelisah dalam tidurnja, tetapi aku merasa kesepian tanpa dia disampingku. Sambil memandanginja waktu ia tidur serta mentjium rambutnja jang subur itu, aku merasa bahwa hatiku aman, dan bahwa ia kini telah mendjadi lunak, karena hampir-hampir telah berubah mendjadi batu disebabkan kesedihan-kesedihan sebelumnja.

„Mula-mula ia kuadjak berkendara dengan trukku, tapi kemudian aku insaf bahwa ini tidak selajaknja. Aku sendiri tak banjak mempunjai kebutuhan. Seremah roti dan barang asin sudah tjukup baik bagi seorang pradjurit untuk sehari penuh, tetapi baginja aku membutuhkan susu atau telur rebus ; ia membutuhkan makanan panas. Kerdjaku tak mengidjinkan untuk menjediakan semua ini. Achirnja, kukumpulkan kemauanku untuk meninggalkan dia dalam asuhan njonjarumah. Tetapi sehari-harian ia menangis dan pada suatu malam bahkan lari mentjari aku kederék dan menunggu aku sampai djauh malam.

„Mula-mula tidaklah mudah hidup bersama dengannja. Sekali, waktu kami pergi tidur sebelum gelap, karena diluar kebiasaan aku amat lelah sehabis kerdja berat seharian itu, ia jang selalu berkitjau seperti pipit itu, mendjadi pendiam. „Mengapa, nak ?” tanjaku. „Apa jang kauperbuat dengan badju-kulitmu dulu, ajah ?” tanjanja sambil merenungi loteng. Ini sungguh-sungguh mengagetkan : aku tak pernah punja badju kulit dalam seumur hidupku dan sekarang harus segera memikirkan djawaban. „Kutinggalkan di Woronezj.” „Dan mengapa begitu lama kau baru temukan aku ?” Karena aku sudah tjari kau kemana-mana : di Djerman dan di Polandia ; bahkan aku sudah berdjalan kaki dan berkendara keseluruh Bjelorussia, tetapi rupanja kau ada di Urjupinsk !” „Apakah Urjupinsk lebih dekat Djerman ? Apakah Polandia djauh dari rumah kita ?” Dan begitulah kami berkitjau sebelum tertidur.

„Dan adakah kaukira sia-sia sadja pertanjaannja tentang badju kulit itu ? Sama sekali tidak ! Ini berarti bahwa ajahnja jang sebenarnja pernah memakai badju kulit dan waktu itu ia teringat padanja. Ingatan kanak-kanak adalah seperti kilat musimpanas. Mengedjap, menerangi segala-galanja sebentar, dan kemudian lenjap. Begitulah kerdjanja ingatannja itu — seperti kilat musimpanas — dalam kedjapan.

„Sebenarnja kita bisa tinggal beberapa tahun lagi di Urjupinsk kalau sadja pada bulan November jang lalu aku tak mengalami bentjana. Tjuatja buruk waktu itu dan trukku selip kedalam salah suatu rantja dan menubruk seekor sapi. Kau sendiri dapat bajangkan kelandjutannja : djerit perempuan, kerumunan penonton dan ispektur polisi lalulitas jang muntjul entah dari mana. Dia sita rébewésku, bagaimanapun djuga kukemukakan alasanku. Sapi itu sendiri bangun lagi dengan sehatnja dan pergi dengan buntut kopatkapit! kedjalan-djalan dan lorong-lorong, tetapi aku kehilangan rébewésku. Dimusimdingin aku kerdja dibengkelkaju, tetapi kemudian bersurat-suratan dengan seorang jang biasa bekerdja denganku. Ia bekerdja sebagai sopir di Distrik didaerahmu sekarang. Dialah jang mengundang aku untuk menggabungkan diri dengannja. Dia menulis bahwa aku boleh bekerdja selama enam bulan sebagai tukang-kaju di Kasjari dan jakin aku akan mendapat rébewés baru didaerah itu. Dan demikianlah maka anakku jang ketjil dan aku beperhatian berdjalan kaki ke Ksjari ini.

„Tentu sadja, bila kau ingin tahu kebenarannja .......... bagaimanapun djuga tjepat atau lambat aku mesti tinggalkan Urjupinsk — sekalipun aku takkan alami ketjelakaan dengan sapi itu. Kesedihanlah jang tak memperbolehkan aku tinggal lama-lama disesuatu tempat. Aku ingin tahu apa jang akan terdjadi kalau waktunja sudah tiba untuk menjekolahkan Wanjusjka. Barangkali sadja aku akan mendjadi tenang dan menetap, tetapi sementara ini aku harus bergerak terus, mengembarai seluruh Rusia.”

„Tetapi amat sulit bagi anak ketjil itu untuk terus berpindah-pindah,” tugasku.

„Dia sendiri tak banjak berdjalan. Biasanja dia berkendara diatas pundakku. Kalau dia mau lempangkan kakinja, baru kutaruh dia kebawah agar lari sampai keudjung djalan sedjurus lamanja dan melompat-lompat seperti anak kambing. Ini tidak akan banjak mengganggunja, saudara, dan aku sungguh-sungguh jakin akan beres kalau sadja djantungku tidak mengganggu. Dia mulai tidak beres. Aku kira aku membutuhkan pengisap baru untuknja. Kadang-kadang aku mendapat s rangan sehingga segala-galanja kabur dihadapanku. Aku takut kalau-kalau pada suatu hari aku mati waktu tidur dan menakutkan sianak ketjil itu. Dan ada lagi kesulitan jang lain djuga : Tiap malam aku selalu mimpi berpisahan dengan kekasihku itu. Kebanjakan, aku mimpi sedang memandangi dia dari balik kawat berduri. Mereka berada disebelah lain dan nampaknja merdeka. Aku bitjara pada Irinka tentang segala-galanja dan pada anak-anakku djuga, tetapi segera aku mentjoba menjingkirkan kawat berduri itu dengan tanganku, mereka menghilang, mengabur dihadapan mataku .......... Dan ini ada pula hal jang aneh : disianghari aku merasa diriku sehat dan tak seorangpun-djua dapat membuat aku mendjadi mengeluh dan berkesah, tetapi bila aku terbangun dari tidurku dimalamhari, kudapati bahwa bantalku basah karena airmata ..........”

Tiba-tiba terdengar suara kawanku didalam hutan dan bunji ketjibak dajung.

Orang asing itu, jang kini terasa sebagai sahabat lama, bangkit dan mengulurkan tangannja jang besar, keras sebagai kaju.

„Selamat berpisah, sudara selamatlah untukmu !”

„Aku harap kau akan selamat tiba di Kasjari.”

„Terimakasih. Oh, nak ! Mari berangkat menumpang perahu !”

Anak itu lari kesamping ajahnja, mengambil tempat disebelah kanannja, berpegangan pada sambungan badju-kapas ajahnja, berlari sekuat-kuatnja agar dapat mengikuti langkah kaki orang jang berkaki pandjang itu.

Apakah jang masih tersedia bagi kedua orang manusia jang terampas dari segala jang dipunjainja itu — dua butir pasir jang tertiup didaerah asing oleh taufan peperangan ? Aku lebih suka pertjaja, bahwa orang Rusia ini, seorang dengan kemauan jang tiada terpatahkan, akan membuktikan bahwa ia kuat menghadapi segala kesulitan, dan bahwa anaknja akan berkembang disamping ajahnja dan mendjadi seorang jang mampu bertahan dibawah tindasan segala kesulitan dan mampu mengatasi segala rintangan demi panggilan tanahairnja.

Maka dengan hati berat aku awasi mereka pergi tetapi segala-galanja akan lebih mudahlah bagiku kalau sadja siketjil Wanjusjka itu tak berpaling waktu melangkah ketjil-ketjil itu untuk sekali lagi melambaikan tangannja jang djingga itu sekali lagi kepadaku. Segera aku terpaksa memalingkan pandangku, merasa seakan-akan hatiku diterkam oleh tjakar jang lunak djuga berluku tadjam. Bukan sadja didalam tidur orang dewasa tumbuh mendjadi tua djuga dimasa peperangan. Soal jang terutama adalah bahwa orang harus dengan tepat dapat memalingkan wadjahnja, untuk menghindari luka jang mungkin mengenai anak ketjil, untuk melindungi dia agar djangan sampai mengetahui airmatanja jang kersang meleleh pipinja dengan paksa.