Baca EPUB: Kisah Pak Kapten

1 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

SOBRON AIDIT
Kisah Pak Kapten
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Kisah Pak Kapten adalah novelet kedua dari Derap Revolusi, kumpulan novelet dan cerpen yang diterbitkan Lembaga Kebudajaan Rakjat pada tahun 1962. Diketik sepenuhnya oleh Juliet Riris.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

BAGIAN I

WAKTU MULA² DIA DATANG DARI PALEMBANG KE Djakarta ini pangktanja ketika itu baru Letnan. Mula² dia tinggal di Djakarta adalah disebuah hotel jang sebenarnja sudah hampir² mendjadi mes. Tidak enak tinggal di hotel. Orang²nja tjerewet, tidak bebas lagi, demikian menurut kapten. Padahal sebenarnja tidaklah demikian. Pak kapten ini sangat kaku dalam pergaulan, tidak toleran. Apalagi kalau dia sudah ter-gila² dengan wajanggolek atau wajang orang. Kalau kebetulan ada siaran radio untuk wajang orang semalam suntuk, maka radio itu akan dibunjikannja semalam suntuk pula dengan suara jang sangat keras. Tentu sadja hal itu akan sangat mengganggu tetamu dan tetangga sebelah menjebelah kamar. Tapi siapakah akan berani mentjegahnja, dia toch letnan, sedangkan tetangga kamarnja hanjalah orang² biasa jang tidak punja kekuasaan.

Pernah tetangga² kamar ini berkumpul dan membitjarakan bagaimana tjara menjopankan dan membiasakan kapten itu bergaul dengan tetangga setjara toleran, tahu diri, tidak ribut², tidak membunjikan radio begitu keras. Mereka berkumpul dan rapat darurat. Sudah dibentuk wakil jang akan menghadap kapten, djurubitjara jang sangat supel. Ketika sudah ditentukan hari dan tanggalnja akan membentangkan maksud² itu, tiba² kabar meledak, kabar jang sangat membahagiakan tetangga² kamar itu : minggu depan kapten pindah kerumah lain, rumah sendiri. Rumah itu rumah bekas rumah djanda belanda jang akan segera pulang ke hollan. Letaknja dekat djuga dari hotel itu. Rumah besar tjukup untuk anaknja delapan orang.

Segera panitya darurat itu bubar. Djurubitjara tak perlu menjampaikan saran² agar djangan begitu ribut² kalau menjetel radio dan kalau berkelakar.

Pendek tjerita minggu itu kapten pindah. Ramai² tetangga dihotel itu mengantarkan dengan rasa pura² sedih. Ada jang mendjamunja makan nasi kuning dan kari kamping dan minum² bir, utjapan selamat atas keberuntungannja dapat rumah. Tentu sadja, rumah begitu sukar di Djakarta ini. Kapten sangat senang sekali menerima utjapan dan djamuan ini. Dia tidak tahu, apakah djamuan itu untuk keberuntngannja atau untuk keberuntungan tetangga² kamarnja jang bentji padanja.

Tapi jang sudah pasti kapten dengan senang hati menerima djamuan itu. Dia makan² banjak sekali, minum bir dan berkelakar dengan suaranja jang besar parau, djual bako kata orang Djakarta. Tamu² ketawa senang mendengarkan. Bagi tamu² jang mengerti tentulah ini adalah pesta selamat atas maburnja kapten jang begitu mengganggu ketenteraman penghuni² hotel, pesta menjambut kesenangan mereka sendiri jang sudah bebas dari gangguan bunji radio dan bunji kelakar jang besar serta bunji perkelahian anak²nja jang gadis tanggung dan bunji perkelahian antara si suami isteri.

Ber-sama² tetangga itu menolong membawakan perabot rumah, segala matjam barang² rumah-tangga serta alat² jang samasekali agak asing bagi sebagian tamu² hotel itu, barang² luarnegeri dan barang² terbaru jang belum pernah mereka lihat dan djamah. Melihat keasingan dan kekaguman orang² melihat ini, kapten tersenjum dan berkelakar banjak.

„Ini pisau tjukur listrik. Saja pesan teman saja waktu ke Bonn, Djerman Barat. Di Djakarta alat listrik ini tidak banjak. Barangkali hanja duatiga orang jang pakai. Paling menteri², orang² asing atau hartawan² . . . heh . . . heh”, kata kapten ketawa senang.

„Berapa harganja ini, pak?”, tanja tetangga kamarnja.

„Mana saja tahu kalau disini, paling sedikit belasan ribu atau puluhan. Alat moderen, kok”.

Tetangga² itu banjak bertanjakan ini itu. Tapi samasekali kapten tidak tahu bahwa dalam nada pertanjaan itu mengandung tertawaan. Dia tidak tahu pula bahwa tetangga² itu merasa sangat bersukur atas kepindahannja. Kalau tetangga² berkuasa seperti dia, tentulah kapten itu sudah lama mereka usir.

Kapten merasa ketolongan banjak dari tetangga²nja. Tidak sampai empat djam semua perabot sudah lengkap berada dirumah barunja. Dengan truk, bower dan dengan betjak, tetangga² itu dibajarnja. Betapa senangnja kapten. Tetangga jang begitu ramahtamah. Samasekali dia tidak tahu bahwa dalam perasaan tetangga, begitu tjepat kapten berlalu dari hotel itu maka keadaan akan begitu baik. Sebab itu tetangga sengaja menolong habis²an dan segera mungkin agar kapten itu tidak tampak lagi dimata hidung mereka.

„Saudara² saja dan keluarga saja sangat mengutjapkan sukur atas bantuan² saudara. Tidak pertjuma saja berdjuang untuk negara dimana saudara² tahu dan paham arti perdjuangan betapa beratnja orang mendjadi alat negara. Rupanja saudara² sangat paham, untuk membalas pengorbanan saja itu demi negara, saudara² telah menolong saja begitu banjak”, kata kapten se-olah² berpidato pada pengantar² dan tetangga²nja jang bekerdja keras.

„Ah, pertolongan itu hanja sekedarnja pak, tanda bakti kami”, kata seorang lagi.

„Tidak, tidak begitu. Hubungan kita sama berat. Saja berdjuang mati²an, bertempur dulu bahkan hampir mati menjabung njawa, lalu saudara² sangat maklum hal ini, dan saudara² menolong meringankan pekerdjaan saja. Dengan begitu saudarapun berbakti pula pada negara. Hanja tidak setjara langsung, sedangkan saja setjara langsung, itu sadja bedanja”.

„Mudah²an bapak akan terus demikian. Kami ini hanja bisa paling² bekerdja menolong begini. Kami doakan agar bapak selalu selamat dan selalu sehat serta gembira”.

„Mudah²an. Saja harap pula agar saudara² selalu datang kerumah saja. Bagi jang suka ngerokok, datanglah se-waktu² saja sering punja simpanan rokok luarnegeri. Jang suka serutupan saja sering punja simpanan serutu Amerika dari Havana. Jang suka minum², konjak brandi, tap, bols, martini, silahkan datang², masih ada selalu sedia dikulkas. Djangan malu²lah”, kata kapten dengan muka jang merahberseri tanda tjukup vitamin dan kebutuhan makanan.

„Bagi jang suka dengar lagu² luarnegeri, saja punja hampir duaratus piringan hitam, lengkap dari Spanjol, Italia, Perantjis, Amerika Inggris dan Japan, djuga Australia dan lainnja. Semua lagu populer dan hot. Kita dibikinnja muda. Tjoba, lihat sadja saja ini. Tjoba, Man, terka umur saja sudah berapa, ajo”, kata kapten pada tetangga jang bernama Sulaiman.

„Tigapuluh lima pak”.

„To, salah kan. Anak sadja kalau hidup semua ada dua belas. Saja hampir empatpuluh. Bulan Djuni nanti empat puluh. Mudah²an saudara dapat datang nanti kalau saja ulangtahun, kita makan² minum² putar filem bagus, djangan tidak lho”.

Dan bertjeritalah kapten dengan segala keistimewaannja tentang benda, barang perabot serta lagu² dari semua luar negeri. Dia tidak sebut Djepang tapi Japan, tidak sebut Ustrali atau Austrai, tapi Australia jang a nja seperti diutjapkan e atau ije. Lalu dia bertjerita pula tentang pengalamannja bertempur jang sebenarnja sangatlah tidak begitu betul. Tapi tetangga² tadi untuk demi kesopanann mendengarkan djuga walaupun sudah terpaksa benar. Begitu kapten berhenti bertjerita dan mau disambungnja lagi dengan tjerita lain, seorang tetangga jang agak berani tjepat² memotong tjerita itu.

„Maaf pak, kami ada pekerdjaan lain lagi, Pekerdjaan kantor belum selesai semua.”

„Lha pegawai negeri banjak djuga pekerdjaan rupanja. Saja kira hanja tentara² seperti saja ini.”

„Ada djuga pak”, djawab orang itu dengan sopan dan lalu bangkit berdiri minta izin. Jang lainnja bangkit pula. Sepilah rumah barunja itu. Tinggal anak²nja. Tapi belum dua djam, rumah jang baru betul² baru didiami setelah penghuninja jang lama pergi dua minggu lamanja, maka sudah kedengaranlah lagu² hotpanas dari Amerika. Pick-upnja tidak bisa beristirahat barang sedjampun kalau kapten ada dirumah. Tidak hanja itu, suara pick-up ini keras sekali, bahkan lebih keras dari sewaktu dia dihotel, kemarin²nja. Ada tidak kurang empatpuluh lagu dengan makan waktu tidak kurang dari lima djam. Dari mendjelang siang sampai mendjelang sore. Tapi kapten begitu telaten dan tidak membosankannja. Djuga anak²nja jang baru berumur enambulan itu. Anak²nja ini sudah betul terlatih djuga. Tapi jang mendjadi keheranan ialah tetangga²nja jang baru ini. Mereka sunggah tidak telaten.

Tidak berapa lama kapten tinggal dirumah ini, maka petjahlah kabar bagi kaum keluarga dan kerabat serta handaitaulannja. Kapten jang sebenarnja pada tjerita ini mestinja baru disebut letnan, buru² menulis surat. Akan ada perajaan dirumahnja, perajaan itu agak besar²an djuga, berhubung kenaikan pangkatnja dari letnan mendjadi kapten. Tentu sadja tinggi lambung semangat gembiranja, kapten dengan tiga bintang. Kenaikan pangkat itu sudah dilakukan dua hari jang lalu. Tapi pestanja baru akan dimulai seminggu lagi sebab perlu persediaan.

Orang² jang menerima surat panggilan undangan itu, sambil membatja undangan jang ditangannja masing² lalu tersenjum. senjum gembira, ada jang senjum geli ada jang senjum mengedjek, adapula jang senjum entah untuk apa. Tidak terketjuali orang² tetangga²nja jang dulu dihotel semua diundangja.

Tibalah pada hari jang sudah di-tunggu². Pesta akan segera dimulai. Lampu² neon, bola balonan, kertas² hidjau merah kuning dan djambangan bunga jang harum indah menawan mata, sudah dipadjang. Bau² haruman makanan, gorengan serta kue² sudah menjerang hidung. Orang² sibuk, terutama pekerdja² rumahnja. Tiga orang tukang masak, tiga orang penolong, pembantunja jang kalau pada djaman dulu dipanggil djongos dan jang perempuan tukang masak ialah koki. Tapi djaman sekarang panggilan itu tidak lagi populer meskipun djabatannja sama sadja. Pak kapten sudah bersedia menerima tamu²nja. Rumahnja memang besar djuga. Ada ruang²an untuk tamu²nja sendiri, ada ruangan untuk tamu isterinja dan tamu²anaknja.

Projektor filem sudah disediakan. Malam itu akan diputar filem. Tapi lajarnja tidak ada. Gampang sadja. Persis didepan rumah kapten, djadi artinja diseberang djalan ada tembok rumah bagian belakang dari rumah didjalan satunja. Rumah itu menghadap kedjalan lain, sedangkan belakang rumah itu persis didepan rumah kapten. Nah tembok putih bagian belakan itulah jang akan djadi lajarnja.

Pesta itu berlangsung meriah sangat. Ada jang mabuk². Ada jang sebelum mabuk betul² lalu segera pulang. Kapten karena memang sudah biasa makan banjak dan biasa pula minum alkohol banjak, mabuk itu tidak ada lagi dalam kamusnja. Dia memang tak pernah mabuk minum. Barangkali dia memang pernah dan selalu mabuk. tapi bukan mabuk minum, hanjalah mabuk kuasa.

Malam itu betul² dunia baru bagi anaknja jang gadis tanggung. Anaknja itu bernama Lientje berumur enambelas tahun baru duduk di tiga smp. Melihat orang berdansa begitu indah dan mangajun berirama, terasa pada Lientje anaknja itu, alangkah enaknja dansa itu, bagus dan berirama. Keinginannja timbul untuk beladjar dansa. Dulu memang pernah dia ingin beladjar dansa, tapi ibunja jang tak setudju, bapaknja malah mengandjurkan. Sebagaimana biasa dalam kehidupan banjak orang, mengalahlah bapaknja, ibunja menang, Lientje belum boleh beladjar dansa. Tapi setelah dia melihat lagi perajaan kenaikan pangkat bapaknja tadi itu maka, timbul lagi keinginan lamanja.

Malam itu se-olah² takkan berachir. Filem diputar pada djam sepulum malam. Projektor menjenter kearah djalan dan terpantjang pada tembok melalui djalan gang jang tidak begitu besar tapi tjukup masuk kalau hanja truk atau bis angkatan laut jang besar itu. Filem diputar. karena pertundjukan filem ini melalui tengah djalan, sering² bila orang lewat djalan itu akan mengenai tjahaja pemanjaran filem, lalu gambarnja djadi dihalangi bajangan orang lewat. Penglihatan terganggu. Bersoraklah orang² jang menonton menjoraki orang lewat agar lekas² berlalu supaja tidak mengganggu. Orang jang lewat segera berlari andjing menghindari tjahaja senteran projektor. Kemudian lewat sebuah mobil power jang supir power itu berumah didjalan itu djuga. Tentu sadja djadi mengganggu penglihatan mata. Power disoraki dan di-maki² kapten. Orang² lewat hanja mengganggu sadja.

Keadaan djadi terbalik. Kapten merasa tergangggu dengan banjaknja orang² lewat itu. Bagi orang beradat kesopanan dan tahu diri serta menghargai orang lain, maka jang mengganggu itu adalah pertundjukan filem itu.

„Kok main filem didjalanan”, kata seorang jang mau lewat djalan.

„O, ja rumah pak kapten. Biarin adja, abis mau diapain. Siapa jang berani larang, namanja djuga katen, orang pangkat sih”.

„Djangan² nggak pakai idjin”.

„Biar nggak pakai idjin djuga siapa jang berani tangkap. Major jang tangkap, major kerdjanja nggak gituan sudare”, kata kawannja lagi.

Sudah itu mereka berdiaman dengan perasaan jang dongkol djuga.

Tapi meskipun sering² suara sorakan bagi orang² jang lewat mengganggu kapten, pertundjukan filem itu berlangsung sampai djam 1 malam. Sehabis pertundjukan filem disambung dengan main kartu. Sambil main kartu berkelakar dengan tertawa ter-bahak² besar. Sedangkan bunji pick-up menelan bunji² jang lain. Tetangga² disebelah kanan, disebelah kiri, dibelakang, didepan hampir semuanja tidak bisa tidur. Keadaan begitu ramai dan ribut. Pikir tetangga, biarlah, toch tidak setahun sekali. Mereka membudjuk dirinja agar ber-sabar² sadja. Mau apa lantas. Mau meranga? Rakjat biasa mau melarang? Satu hal jang tak mungkin terdjadi.

Pesta berdjalan hampir pagi. Djam lima pagi tamu² baru berpulangan. Kapten dengan rasa puas dan bangga masuk kamarnja. Sebelum tidur dikenangkannja tamu itu. Dihitungnja satu² dan di-edja²nya. Ada beberapa orang jang diharapkannja datang tapi tak tampak.

„Mam, mam!”, seru suaranja. Dan istrinja datang dari kamar bajinja jang tidur njenjak.

„Apa tauke Hok Sien datang djuga?”

„Ada kok”.

„Major Hasan”.

„Ada”

„Nah, pak Harun, bekas atase di austria dulu itu toh”

„Tadi kan sudah tilpun, aku sendiri jang terima, beliau tak sempat datang. Tapi kirimannja sadja jang ada, katjungnja jang antar”.

„Antarannja, apa itu?, kata kapten tak sabar.

„Lekas ambil, biasanja istimewa itu”.

Istrinja mengambil sebuah bungkusan. Dari bungkusan itu dikeluarkan isinja. Dari dalamnja dikeluarkan ada lima buah plat piringan hitam jang baru².

„Ini kan buatan Inggris mam. Mari kita tjoba”, kata kapten memperhatikan plat itu satu persatu dengan rasa kekagumannya.

„Alah hari sudah hampir pagi begini, sudahlah besok sadja”.

„Sebentar sadja kok”, kata kapten dan langsung bangkit menudju pick-upnja. Tidak beberapa detik, suara pick-up jang keras pada pagi² buta itu menjanjikan lagu² jang biasa dinjanjikan Elvis Priesley dan Ricky Nelson tapi dengan penjanji² Inggris. Kapten sambil menggojangkan kaki dan membunjikan ibudjari satu denga djari tengahnja berbunji „tak tak tak” empat lima kali. Dipagi buta itu tetangga² jang tadinja akan merasa dapat tidur, kini diganggu lagi oleh njajian² jang keras menggaum membosankan dan menggilakan telinga. Kapten kegirangan dapat plat itu. Tengah dia menari ketjil, datang istrinja.

„Stop pap, stop tahu aturan dong, masa’ terus²an. Besok siang sadja”.

„Alah habisin dulu”.

„Stop kataku stop!”, kata istrinja setengah membentak. Dengan rasa tidak puas dia menghentikan mesin itu. Tetangga disebelah menjebelah masing² mengerutkan dada.

BAGIAN II

PAK KAPTEN ITU PUNJA ANAK SEMBILAN ORANG. Kalau hidup semua benarlah apa jang disebutkan dulu itu, dia mempunjai duabelas anak. Anak²nja jang tinggal bersama serumah ada delapan orang dengan bajinja jang paling ketjil umur enam bulan. Seorang anaknja laki² jang paling besar dan tertua sudah hampir berumur sembilanbelas tahun dan sudah hampir menamatkan SMAnja. Tapi anak jang tertua ini tidak tinggal bersama serumah. Dia tinggal di Djatinegara Pisangan Lama dirumah pamannja, jaitu adik istrinja. Pamannja ini betul² berlainan watak tabiat dengan iparnja jaitu dengan kapten. Pamannja bekerjda sebagai pegawai biasa dikantor. Tapi bekerdja sebagai organisatior, pimpinan serikat buruh. Karena si paman ini tidak punja anak, dan istrinja djuga setudju sangat kalau jang tertua bernama Hasan itu tinggal bersama pamannja.

Hasan senang sekali tinggal bersama pamannja. Tidak ribut, tenang beladjar dan banjak dapat peladjaran sesuatu hal dari pamannja. Pamannja baik, bibinja ramahtamah serta betul² kasih padanja, membikin kerasan Hasan tinggal dirumah ini mestipun rumahnja djauh sekali lebih ketjil lebih sederhana daripada rumah ajahnja sendiri. Tapi disini penuh kebebasan penuh ketenangan beladjar, penuh kasih serta tidak gaduh. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ganggaun penuh bunji,

Hasan tinggal bersama pamannja ini sudah hampir 3 tahun, malah sedjak ajahnja masih di Palemban dulu, sewaktu dia sudah dapat idjazah SMP, lalu ke Djakarta dan dirumah pamannja ini.

Seminggu sekali atau dua minggu sekali Hasan datang djuga kerumah ajahnja dan melihat orangtuanja serta adiknja. Tapi tidak lama. Malah sudah berapa kali diadjak nginap oleh ajah dan ibunja, tapi Hasan selalu menolak, katanja dia akan beladjar ber-sama kawan²nja. Memang sebenarnjalah, Hasan ini radjin beladjar dan mempunjai watak persis seperti pamannja, penuh gerak dinamik kerdja. Penuh kesibukan. Apalagi dia ini masuk pengurus IPPI.

Entah apa gerangan Hasan tidak begitu senang dengan kehidupan seperti kehidupan dirumah ajahnja ini. Pamannja samasekali tidak pernah mengadjari apa² tentang Hasan atas sikap ajahnja. Tapi berdjalan sendiri². Hasan betul bahwa pamannja ini bekerdja keras untuk serikat buruh pelabuhan SBPP. Ada djuga pamannja ini bersoaldjawab dengan ponakannja Hasan tentang sikap hidup, tapi bukanlah sikap hidup ajahnja. Mereka membitjarakan sikap hidup masarakat Indonesia, golongan², kelas masarakat, kehidupan buruh. Dengan tjontoh² jang kongkrit pamannja menundjukkan sikap hidup dan perdjuanagn Rakjat dan masarakat pekerdja umumnja. Tidak hanja tjontoh² jang kongkrit pamannja menundjukkan sikap hidup dan perdjuangan Rakjat dan masarakat pekerdja umumnja. Tidak hanja tjontoh² itu jang ditundjukkan pamannja, tapi denagn kerdjakeras, kerdja giat pamannja. Hasan melihat keuletan ketabahan dan kehidupan jang penuh gerak serta kesibukan ini lalu tertarik dan turut mentjontoh pamannja dalam lapangannja sendiri.

Suatu kali pagi² pernah Hasan datang kerumah ajahnja. Waktu itu rumahnja penuh keributan suara pick-up. Hasan menjandarkan sepeda kedinding rumahnja dan masuk.

„Kok ribut benar mak”, kata Hasin pula pada ibunja jang dipanggilnja mak.

„Ajahmu kan biasa begitu”.

„Pagi² ajah tak bekerdja?”

„Dia bekerda seenaknja, kadang² ngantor dirumah sadja sehari-harian”.

„Enak dong tidak seperti pak Lik”, kata Hasan menjebutkan pamannja.

„Kalau pak Lik setengah mati bekerdja hasilnja untuk sama², untuk buruh²”.

„Ja, orang masing² punja keahlian nak”, djawab ibunja lemah lembut.

„Keahlian ajah suka putar² plat……heh……heh”.

„Sssst”, kata ibunja.

Ketika kapten itu melintas kebelakang, dilihatnja anaknja. Lalu dipanggilnja dan diadjaknja ber-tjakap lama sekali.

„Kalau kau lulus nanti mau masuk kemana?”

„Fakultas sastra, djurusan Russia”.

„Djurusan Russia? Kau akan mempeladjari bahasa komunis itu? Kau akan masuk Russia”, kata kapten dengan muka bertanja keheren-heranan.

„Ja, djurusan bahasa Russia. Bahasa Russia itu bukan bahasa komunis, ajah. Komunis tidak ada bahasanja jang tertentu. Aku tidak masuk Russia, aku masuk djurasan bahasa Russia”.

„Kau ini betul sudah dipengaruhi pamanmu. Kau tahu tidak, pamanmu itu kan masuk serikat buruh merah. Baru berapa tahun kau tinggal disana sudah mau masuk Russia”.

„Bukan masuk Russia, tapi bahasa Russia”.

„Mam, mam……mam!”, kata kapten tjepat.

Istrinja datang dan sama² duduk.

„Ini lho anakmu sudah mau masuk bahasa Russia”.

„Lah biarin toch, asal pandai, aku sudah tahu, kok”.

„Djadi kau setujdu dia masuk Russia?”.

„Serahkan pada dia. Dia jang akan mendjalankan. Ilmu kan selalu baik asal betul² dipelajari, asal untuk kebaikan sadja tidak apa toch”.

„Ja, ini kan ilmu Russia mam, ingat!”

„Ilmu apa sadja asal baik”.

Sudah itu mereka hening sebentar. Kapten tidak setudju. Dia berpikir keras. Hasan duduk tenang. Dia merasa menang dipertahankan ibunja. Kapten tidak puas.

„Kau jakin tidak akan lulus SMA?”

„Karena aku beladjar baik, aku optimis”.

„Wah……wah, wah ngomongnja sudah pakai optimis²an segala. Betul² politik ini. Dari pamanmu ini?”

„Tidak”, kata Hasan mengelak keras.

„Lho djangan begitu, pap. Dia kan ada pikiran, masa’ toh orang harus ngikuti orang² tuanja selalu”, kata istrinja jang merasa agak tersinggung mendengar adiknja di-bawa² meskipun ipar suaminja sendiri.

„Nah begini ja. Ajah tawarkan hal² baik. Kalau kau lulus nanti, kita adakan pesta besar²an pakai band mudaria, makan², dansa boleh panggil kawan²mu semua, tapi satu saratnja, kau djanagn masuk djurusan Russia? Mau tidak, djandji nih”, kata kapten membudjuk.

„Tidak mau, ogah!, Djawab si anak, dengan tesgas singkat.

„Wah……wah…..betul² dia djuga sudah komunis”.

„Tidak”.

„Kau masuk organisasi apa?”

„IPPI”.

„Anggota biasa?”

„Pimpinan”.

„Pantas kau keras. Sudah dibentuk pamanmu ja? Itukan perkumpulan peladjar jang aliran merah. Apa kau tidak tahu itu”.

„Aku tahu. Bukan aliran merah, kuning, putih, hidjau. Itu perkumpulan peladjar jang memperdjuangkan kepentingan peladjar”, djawab anaknja.

„Betul² kau diplomat. Menurut pamanmu rupanja ja?”

Hasan tidak mendjawab. Ibunja merasa tersinggung djuga karena suaminja sudah menjingggung adiknja. Diam² ibunja bangkit dan kedapur. Dia mau melawan dan membentak suaminja, tapi kurang sedap bila didengar anaknja. Hasan mengikuti ibunja. Diam² dia ambil sepedanja dan terus menaiki sepeda itu lalu menudju kedjalan. Ibunja hanja melihatkan dari djauh. Tadi ibunja minta agar Hasan makan dirumah ini. Tapi Hasan menolak. Dia bentji ajahnja. Ibunja membudjuk agar makan sama ibunja endiri. „nggak mau”, djawab Hasan singkat. Dari kantong setagen, ibunja mengeluarkan uang limapuluh rupiah dan diundjukkannja pada anaknja. Hasan menjambut uang itu. Hasan tidak pernah minta², tapi karena sifat inilah membuat ibunja sering memberi.

Ajahnja sendiri tidak begitu memperhatikan anaknja jang seorang ini. Memang sungguh² lain. Kalau anak²nja jang lain memanggil si ajah dengan „pap” dan „mam”, maka hanja anak jang seorang jang inilah memanggil mak dan jah. Panggilan ini sedjak dulu sewaktu masih ketjil. Apakah anak ini memang benar² anaknja. Sungguh mati memang anaknja, darahdagingnja sendiri. Hanya perbedaan watak lah jang memisahkan satusama lain, perbedaan pandangan hidup.

Kapten sudah berulangkali minta pada istrinja agar Hasan disuruh pindah sadja kerumah ini. Istrinja mendjawab, kalau pindah disini, pasti akan selalu berkelahi dengan bapaknja sendiri. Lalu mendesak lagi si suami, indekos sadja pada rumah lain. Istrinja tersinggung, suruh sadja sendiri. Sewaktu kapten mengadjukan, asal Hasan mau indekos ditempat lain biar berapa sadja akan dibajarnja, dan uang belandja Hasan akan ditambah. Tapi ketika utjapan ini belum lagi kering dari mulut, istrinya membentak :

„Kalau kau tidak mau mengakui adikku, sudahlah, tapi Hasan anakmu sendiri. Kau betul² mementingkan diri sendiri. Itu rupanja guna tandapangkatmu itu. Membudjuk, mamaksa! Kau boleh buang iparmu! Tapi anakmu harus mendapat kebebasan. Dia sudah besar!”.

Kalau sudah sampai utjapan begini, kapten diam sebentar. Sebenarnja memang kapten agak ketjut djuga dengan istrinja, tapi karena kebiasaaan dikantor jang selalu membentak orang, maka bentakan istrinja tidak lagi begitu menggentarkan. Hanja dia tidak begitu berani seperti dia menakuti dan membentak orang lain bawahannja.

. . . .

Tamu² di-samping² rumahnja dengan umpatan² dan dengan sindir²an halus melontarkan perasaannja pada keluarga kapten. Tapi umpatan itu tidak begitu didengar kapten. Ada sekali² didengarnja orang marah² disebelah. Tapi dia jakin itu bukan ditudjukan untuk dirinja. Tetangga² itu tidak berdaja menghadapi si bintang tiga itu. Mereka hanja orang biasa. Djadi kalau mereka dengar bunji² begitu gaduh, sewaktu kapten membunjikan pick-upnja, mereka hanja diam bersabaran. Jang sangat mengherankan tetangga², pick-up itu dibunjikan dengan tidak mengenal batas waktu. Kadang² waktu orang mengaso. Tapi dari djam 3 siang kadang² sampai djam 10 malam baru berhenti. Dan pada djam sebelas malam disambung lagi sampai djam 2 malam mendjelang pagi. Tegangga² itu mengira, bila sudah siang hari djam 10 sampai djam 3 siang, maka bunji² ribut itu tidak akan diulang untuk malamnja. Tapi alangkah salahnja mereka. Malamnja bunji itu berulang lagi. Kalu tidak bunji pick-up, maka menggunturlah bunji radio. Radio besar seperti radio untuk bioskop Megaria atau Menteng. Listrik mereka tjukup. Malah mau putar pakai apa sadja. Betul² rumah serba listrik, mau es krim tinggal tilpun sadja. Nomor tilpun restoran² terkenal ada lengkap, djuga nomor toko² pendjual piringan hitam atau toko² besar.

Tetangga² sebelah menjebelah sudah mulai membitjarakan tetangga barunja ini. Ada jang mereka herankan. Kapten ini punja anak ketjil jang perlu banjak tidur, dan kapten sendiri kok bisa hidup ditengah keributan begitu. Kadang² dengan tenang kapten tidur dengan seenaknja tidur pulas dalam keributan radio raksasanja dengan sender luarnegeri Australia atau BBC. Dan kapten bisa tidur dalam waktu bagaimana djuga. Malam, siang, pagi² kapan sadja. Tentang kerdjanja, orang² tidak tahu. Ada jang mengatakan dia peralatan AD, ada jang mengatakan dia MBAD. Tapi bukan itu jang penting. Jang mereka pikirkan kapan sadja kerdjanja itu. Kadang² dia sehari-harian ada dirumah. Kadang² ada pagi² tidak kerdja. Tapi barang² rumahnja itu betul² mengherankan. Ada projektor 16 dan 35 mm, ada kulkas, ada tilpun, ada radio raksasa, ada pick-up, ada telivisi dan tentu sadja bergantian mobil, mula² sedan hitam Chevrolet, sudah itu Ford, sudah itu Plymouth sudah itu tidak ada lagi. Mobilnja hanja power ketentaraaan sadja. Apakah didjualnja, tidak ada jang tahu. Mungkin djuga djangan sampai begitu menjolok. Dan tamu²nja semakin banjak. dari militer² tinggi, bawahan dan tauke² pedagang besar. Rasanja tentu sadja tauke itu bukanlah dari golongan tauke jang baik bagi pengertian nasional, tapi barangkali tauke kuomintang. Ada djuga tamu²nja orang asing. Ada njonja eropah, ada keturunan Arab dan ber-tukar². Apakah orang ini menjangkutpaut bidangnja djuga, entahlah. Atau bidangnja jang menjangkut bidang orang² itu. Jang terang setiap tetanga merasakan bahwa alangkah nikmat dan segar hidup dalam serba ketjukupan seperti kapten itu.

Suatu waktu tetangga sebelah menjebelah pernah hampir² datang kerumah kapten agar tidak begitu ribut membunjikan radio dan pick-up. Tapi sajangnja ketika itu terlalu banjak tamu. Ketika itu siang, mendjelang djam 7 sendja banjak sekali tamu² gadis tanggung kawan anaknja. Mereka mula² main pingpong. Ribut sekali. Sudah itu datang orang² dewasa, wanita dan pria. Rupanja mereka akan mengadakan malam dansa. Anak² gadis tanggung beladjar dansa. Suara ramai² hirukpikuk tertawa ter-gelak² lutju. Bunji suara pick-up meningkahi dengan keras dan lantang sekali. dansa mendjadi ramai djuga. Sudah anak² lalu disusul oleh orang² tua mereka. Waktu itulah Rakjat dan tetangga sebelah menjebelah, terutama anak² kampung melihat ramai². Mereka menonton orang² dansa. Mereka masuk pekarangan itu dan dengan enak menonton permainan sepasang² itu. Akan tetapi tidak senang ditonton dengan tjara demikian. Ditonton ke-heran²an. Mereka minta agar tuannrumah mengusir orang² jang menonton. Tentu sadja tuanrumah jang meladeni tamu² dengan ramahtamah memperhatikan usul ini.

„Hei, anak², disini tidak ada tontonan. Ajo, pergi sana”.

Anak² agak mundur. Tapi mereka belum puas dan dari djarak tidak begitu djauh masih djuga menonton dengan asiknja.

„Ajo pulang sudah malam! Pergi sana! Awas, ja tak gebuki!”

Mendengar ini anak² mundur dan pergi agak mendjauh. Namun mereka tidak pulang. Malah orang² dewasa berdatangan dan menonton dari djalan besar gang itu. Dua tiga mulut usil ber-sorak².

„Pak puter filem, pak, puter filem. Mau nonton nih ah”.

Tapi dansa berdjalan terus. Kapten senang dan gembira. Anaknja sudah hambir bisa berdansa. Hanja istrinja sadja jang tetap mempertahankan tidak mau berdansa. Istrinja mearasa muak bila melihat suaminja berdansa dengan istri kawannja djuga. Tapi dengan lirikan tadjam istrinja, si kapten tidak lama mengajunkan langkahnnja. Sudah itu berhenti. Duduk² lalu berdiri lagi. Masuk kedalam dan mengeluarkan alat² baru lagi. Sebuah mikrofon dan loudspeaker akan segera dipasang. Kawat² penghubung listriknja ditalikan. Mik ditjoba.

„Hallo, hallo, disini…… satu…… dua…… tiga…… ajo²”.

Suara itu di-ulang² lagi. Lalu kapten dengan mik itu berpidato di-tengah² tamu²nja jang sedang sibuk mengajunkan langkah dansa.

„Atas permintaan, maka segera akan dibuka dengan atjara njanji. Tamu² semua tidak terketjuali akan memperdengarkan suaranja jang merdu. Hallo², tamu² dipersilahkan menjanji”.

Mendengar ini tamu² tertawa lutju. Dua tiga orang berhenti. Lalu duduk². Sekarang atjara ditukar dengan atjara menjanji. Jang mulai malah kapten sendiri menjanjikan „Sepasang mata bola”. Suaranja tidak begitu buruk, malah baik menurut penjanjinja sendiri, tentunja setjara diam².

„Sepasang mata bola itu saudara² mengingatkan saja waktu sehabis bertempur dulu. Kami menggasak musuh, malah dual satu² tanpa sendjata karena pertempuran sudah begitu asik. Sesudah saja menghabiskan musuh dengan kedua tangan ini, waktu itulah saja bertemu dengan anggota putri palang merah……heh…..heh……tjantik sekali”.

„Apa ibu jang sekarang, pak”, kata orang² menambahi.

„Bukan, bukan, ah, saja hanja main² saudara”, katanja denga suara keras sekali.

Orang² jang menonton dari luar turut tertawa. Mereka tertawa kelutjuan atau entah apa pula jang menjebabkan mereka tertawa.

Berberapa tamu² diminta menjanji. Kebanjakan menjanji asing. Ada jang suaranja memang bagus, ada jang memang terpaksa memenuhi permintaan tuanrumah. Tapi mereka tetap menjanji, termasuk djuga kawan² anaknja gadis² tanggung jang sudah tampak bakal ketjantikannja. Diam² mata kapten menjala melihat anak² bakal ini. Tapi setjara awas sekali. Seperti mata dari mata² musuh.

Sesudah atjara dansa dan menjanji, ada usul agar putar filem. Tidak tempo lagi, permintaan itu dilaksanakan. Kapten sendiri dengan satu dua orang adalah memang achli teknik listrik. Lajarnja tembok dinding jang tepat berada dimuka rumah itu.

Filem diputar. Penonton² jang diundang dan terhormat, duduk² didepan rumah, teras rumah. Penonton jang tak diundang menonton ditepi djalan. Mereka ramai² berdudukan dan berkerumun melihat filem itu. Dua tiga orang jang mau lewat djalan itu disoraki ketika melalui dan menerobosi tjahaja senteran lampu projektor. Orang itu lekas² lari empatlima langkah.

„Kok main filem didjalanan. Nggak ada pikiran”, gerutunja.

Lalu lewat sebuah truk besar. Truk itu beberapa kali membunjikan klaksonnja. Penonton² jang ditepi djalan dan jang ditengah djalan dengan rasa malas meminggir. Truk itu lewat, tapi agak lama karena mesti ber-hati² kalau² mengenai orang² jang dipinggir djalan sedangkan djalan tidak begitu lebar.

„Ajo tjepat, bung, djangan mengganggu. Tjepatan!” kata kapten menjoraki dengan suara parau besar.

Sopir truk dengan mata jang djalang melihat kearah suara itu.

„Mentang² berkuasa, bukannja dia jang merasa salah, malah kita jang disalain”, akatnja dengan suara tidak begitu kuat tapi menggerutu. Hanja orang² jang ditepi djalan mendengarkannja. Sudah itu ada sebuah djip tentara. Rupanja mau masuk gang jang disebelah rumah kapten. Beberapa kali dituter, tapi orang² belum djuga meminggir. Tentara mendjadi marah. Dalam djip itu ada tiga orang penumpangnja jang djuga semuanja tentara. Seorang diantaranja turun dan menudju keorang banjak.

„Ini bagaimana sih, main filem kok ditengah djalan. Siapa jang lakukan ini! Mana orangnja! Ini rumahnja?”

„Ja, pak”, kata suara seseorang.

Lalu tentara jang berpangkat sersan major itu masuk kedalam dan langsung menanjakan taun tumah. Mendengar ini dan melihat siapa jang menanjakan itu, tjepat² kapten masuk kedalam dan langsung menanjakan tuan rumah. Mendengar ini dan melihat siapa jang menanjakan itu, tjepat² kapten masuk kedalam kamarnja. Tentarra jang menanjakan tadi menunggu tuanrumah. Sedangkan tamu² mengatakan bahwa tuanrumah masih kekamar sebentar.

„Ajo tjepat mana orangnja”, kata tentara itu marah². „Ada² sadja main filem ditengah djalan. Djangan² tidak ada surat izin lagi”.

Tidak lama kemudian kapten keluar. Tapi sudah lengkap dengan pakaian dinasnja.

„Mau apa, toch, mana jang tjari saja tadi itu”, lalu kapten mentjari dengan matanja.

„Itu dia” kata suara seseorang tamu.

„Mau apa kamu, kamu tjari saja, ada apa, hah”, kata kapten tegas.

„O, bapak, saja kira siapa tadi. Anu pak, ini lah orang„ nggak mau minggir. Maaf ja pak, saja kira siapa”, kata tentara itu setelah melihat tanda pangkatnja dan serasa dia kenal pada kapten itu entah bertemu dimana.

Tentara itu lalu pergi dengan muka merengut. Tamu² kapten terutama gadis tanggung njengir menang.

„Dia kira siapa, orang sembaraangan kita ini, emangnja”, kata Lientje anak kapten.

Mendengar ini ajahnja ketawa dan kawan²nja merasa bangga. Sedangkan penonton² jang ada diluar garis rumah sama² bersuara agak mengedjek.

„Rasain luh, kalah pangkat empatingkat”.

„Sekarang makin gede pangkatnja, makin enak”, djawab suara² penonton dipinggir.

Pertundjukan berdjalan terus tanpa gangguan, walaupn penuh umpatan, terutama dari orang² jang mau melewati gang itu.

Sesudah permainan filem berachir kira² djam duabelas malam, ada tamu² jang lekas² minta diri setelah melihat djamnja. Tapi ada djuga beberapa tamu jang mempertahankan diri mau terus tinggal kalau² masih ada atjara jang lebih baik. Sebab biasanja tamu² sudah mengetahui pasti kapten setjara luar dalam. Tamu² itulah jang mempertahankan diri.

Atjara pindah kedalam. Suara pick-up dibunjikan. Sekarang lagu² populer biasa, terutama jang sekarang sedang meradjai djalan²an di Pasar Baru. Piringan hitam suara² dari njanjian Italia, Amerika, Inggris dan Spanjol. Untuk berbitjara satu sama lain, tentulah suara² itu harus lebih keras, sebab harus mengatasi suara bunji pick-up.

„Nah kita main kartu. Saja masih punja persediaan enam botol brandi”, usul kapten.

Lalu dia menundju kedalam. Keluar lagi membawa lima botol minuman.

„Siti, Siti”, serunja lagi.

Jang diseru keluar dan tunduk menghadapi kapten. Pelajan rumahtangganja jang tekun.

„Ambil stoples katjang, emping, lekas”; setengah membentak.

Jang bernama Siti lekas masuk kedalam dan keluar membawa dua stoples besar jang berisi penuh. Tamu² dengan senjum gembira menjambut hidangan jang memang tjotjok sambil minum².

Istri dan anak² kapten sudah masuk kedalam dan merebahkan dirinja. Mereka tidur dengan njenjak ditengah suara hirukpikuk ini.

Suara plat dan suara ramai² tamu sangat membisingkan tetangga² disebelah. Hari sudah mendjelang djam setengah dua malam. Suara² itu tidak akan begitu keras bila siang hari. Akan tetapi bila malam hari suara² itu sampai kedjalan raja jang djauhnja sampai seratus meter. Dua tiga orang tetangga keluar memperhatikan gelagat isi rumah ini. Ada tudjuh orang dengan kapten. Mereka sedang minum²an dan ngobrol keras², tertawa. Didepannja ada kartu².

Tetangga melihat ini dengan kepala jang berat menggelengkannja kekiri-kekanan. Lalu masuk lagi.

„Tidak, pak, tidak, bisa aku terus²an begini. Lama² mati aku, sudah duaminggu ini hampir selalu begini sadja. Kurang tidur. Dia ribut² seenaknja”, kata istri tetangga tadi sewaktu suaminja masuk kedalam sesudah melihat rumah kapten tadi. Istri tetanga itu sedang sakit. Baru pulang dari RSUP sesudah mengalami operasi perut jang ada tumbuhan daging, mungkin kembang² tumor.

„Besok kau pergi ke kepala RT. Bilang sadja ada orang sakit. Kalau begini enakan aku tinggal dirumah sakit lagi lebih tenteraman, tidak, tidak bisa aku begini terus²an.

„Sabarlah, bu, besok pagi aku ke RT”, kata suaminja lagi.

„Katakan pada RT bukan kita sadja jang merasa terganggu, djuga tetangga lainnja. Bilang sadja begitu. Masa’ nggak berani”.

„Mudah²an pak RT berani. Tapi aku sendiri baiknja menjampaikan ini pada RT tidak usah langsung pada tentara itu”, kata suaminja lagi.

Tentagga jang disebelah kanan dan disebelah belakang sudah sering omong² tentang tetangga baru ini. Tapi mereka sama tak berani menjatakn keberatan dengan adanja gangguan suara ribut² ini. Tetangga sama² tidak bisa tidur bila si kapten sedang gila piringan hitam dan menerima tamu²nja. Si kapten kadang² main filem dalam rumah, dalam kamar pakai priojektor ketjil. Kadang² menjetel mik lalu berpidato dan menjanji. Disuruhnja anak²nja menjanji lalu istrinja. Tapi si istri membentak tidak mau. Bila sudah menjetel mik ini, maka akan hiraudengaulah tetangga sekitar rumah itu. Mereka terganggu, apalagi kalau ribut² ini dilakukan pada malam hari jang sebenarnja waktu itu dipergunakan untuk tidur. Si kapten menjetel ini kadang² djam duabelas malam. Kadang² djam sepuluh malam mulai memutar lagu² kesajangannja, lagu² djepang terutama lagu Sajonara. Bila lagu ini diputar maka itu berarti paling tjepat akan berachir djam 1 malam. Lagu itu² sadja. Sudah betul² bosan lalu ditukar dengan jang lain. Terus begitu. Tetangga² ada jang setjara main² terutama anak² muda saling menebak. Lagu apa hari ini jang akan paling sering diputar. Mereka umumnja sama² kena. Sebab mereka sudah betul² mengalami dan memperhatikan setjara chusus.

BAGIAN III

SI KAPTEN TIDAK PERNAH MENEGUR TETANGGA² dekatnya, dia samasekali tak atjuh. Kawan²nja malah adalah orang² dari djauh dan tentu sadja orang² jang berpangkat dan kaja serta berkuasa. Tetangga² tentu sadja tak akan mulai menegur. Ada seorang dua orang jang begitu berbaik hati dan mulai menegur kapten, dan dengan anggukan kepala jang sangat sedikit kapten membalas teguran itu.

Tetangga² jang merasa sangat terganggu tidaklah akan menegur duluan. Mereka djidjik dan bentji. Kalau bertemu muka, mereka akan lekas² membuangkan mukanja kearah lain pura² sedang berpikir keras. Kaptenpun tidak ambil open akan hal ini.

Tetangga jang betul² terganggu dengan suara² ribut kapten, sama bersekutu untuk datang bersama kerumah kepala RT dan mengadukan halnja. Rumah kepala RT sebenarnja tidak djauh dari situ. Kira² seratus meter sadja.

Tetangga² sudah membitjarakan bagaimana tjara bitjara dan minta pada pak RT agar permintaan mereka akan dipenuhi sebagaimana mestinja. Dan kapten itu akan merobah sikapnja.

Pada suatu pagi minggu, dua tiga orang datang kerumah pak RT.

„Begini pak Salam, kami ini sebenarnja ingin melaporkan dan ingin menjampaikan isi hati kami pada bapak agar dapat bapak selesaikan”, kata seorang tetangga memulai membukakan usul²nja ketika sudah agak lama bitjara² dengan kepala RT.

„Tetangga kami itu selalu sadja ribut². Saban malam bunji radio keras sekali, bunji pidato², njanji² dengan mikrofon, putar filem, berkelahi dan segalanja”.

„Rumah tentara itu kan, si kapten jang baru pindah?”.

„Ja, betul, itulah jang kami maksud”.

„Djadi bagaimana maksudnja?”.

„Maksudnja agar bapak dapat menjampaikan kepadanja, karena bapak sebagai kepala RT disini, supaja rumah kapten tidak ribut² begitu lagi. Kalau mau menjetel radio ada batasnja, kalau mau ngobrol keras² ada batasnja, kalau mau dansa² pesta ramai ada batasnja, djuga ada batasnja menerima tamu².Misalnja kalau sudah pukul sebelas malam paling lama, lalu berhenti sadja. Djangan waktu orang sedang tidur, sedang ngaso. Sebab kami merasa terganggu, dan kami tak dapat tidur”.

“Ja, saja mengerti. Dari sinipun kadang² kedengaran djuga”.

„Nah, itulah apalagi kami sendiri. Sedangkan istri saja sedang sakit. Anak kawan ini,” kata tetangga itu menunjukkan kawannja, „sedang sakit keras pula”.

„Saja sendiri pernah dapat laporan dari orang lain. Dulu kapten itu tinggal dihotel. Tetangga²nja semua pada menggerutu karena sering terganggu oleh ribut² rumah kapten”.

„Itulah. Kami tak tahan lama² begini terus. Djadi kami kemari, agar pak RT menjampaikan suara² tetangga”.

„Djadi maksud saudara² saja sendiri jang menjampaikannja?”.

„Ja, bapak sendiri, abis siapa lagi”.

„Dia itu kan tentara, dia kan kapten. Bagaimana saja bisa bitjara. Kita ini tidak punja kekuasaan”.

„Bapak punja kewadjiban untuk menjampaikannja sebagai kepala RT”.

„Berat rasaja saudara, saja kuatir kalau² dia akan salah terima. Lalu kita didampratnja. Untung kalau tidak lantas dipukulinja”.

„Djadi bapak keberatan menjampaikannja. Menjampaikan suara Rakjat bapak sendiri?”, desak tetangga² delegasi ketjil itu.

Pak RT lama berpikir dan merenung djauh sekali. Tetangga menanti djawaban.

„Bagaimana kalau begini sadja. Saudara² sampaikan sadja sama lurah. Beliau lebih berwewenang daripada saja hanja kepala RT. Saja tidak berani rasanja”.

Tetangga² berdiaman. Seorang diantaranja berkata mengusulkan.

„Begini sadja. Ada dua djalan. Pertama, kita bersama pak kepala RT kerumah kapten itu menjampaikan usul tadi. Kedua, kita sama² pak kepala RT ber-sama² kelurah menjampaikannja”.

„Kalau usul saja begini”, kata seorang lagi dari tetangga itu, „saja usulkan kita bersama pak kepala RT, sama pak Salam pergi kerumah kapten itu, djadi usul nomor dua itu”

„Tidak, tidak”, djawab pak Salam tjepat, „saja usulkan nomor satu sadja, kita sama² kelurah sadja. Saja tidak berani menanggung risiko”.

„Lah kan pak Salam kepala RT”.

„Kepala RT bisa dibentak dan dipukuli tentara. Saudara tahu djaman sekarang. Saja ini kan tidak pakai tanda pangkat”.

„Kalau begitu, kalau memang bapak sendiri kuatir tidak ada djalan lain, baiklah. Kapan waktunja. Kami usulkan setjepat mungkin sadja”, kata tetangga itu.

Kepala RT menjanggupkan agar dua hari lagi mereka akan sama² kelurah jaitu pada hari Selasa. Tetangga² setudju.

. . . .

Pada hari Selasa, mereka menghadap lurah. Lurah marah² sama pak kepala RT.

„Itu kan daerah saudara. Saudara harus bereskan dulu. Kalau ada kesukaran lain baru lurah akan turun tangan. Saudara jang tangggungdjawab daerah saudara”.

„Memang sudah kami katakan begitu, pak”, kata tetangga.

„Ja, bagaimana pak kalau ada apa². Sedangkan dulu ada OKD jang ingin memeriksa surat izin waktu pak kapten ramai² dansa dan selamatan naik pangkat, dibentak dan diusir”.

„Itu djangan saudara pikirkan. Kewadjiban saudara untuk mendjaga keamanan dan kesedjahteraaan tetangga² saudara, itu jang perlu. Tetangga² ini patut diurus. Berkuasa sih boleh tapi djangan seenaknja sadja. Main pukul djuga ada batasnja”.

„Itu dia, pak. Kami ini sudah tidak tahan lagi”, kata tetangga itu pula.

Pak Lurah dan pak kepala RT sesudah lama berbitjara tentang kekuasaan, kewadjiban dan hak, lalu menasehatkan agar mereka menemui kapten itu. Sebaiknja pak kepala RT sadja. Tapi tjepat² pak kepala RT menangkis agar ditemani.

Tetangga lainnja setudju. Mereka akan sama² kesana pada keesokan harinja.

Pada malam itu kapten tetap sadja seperti malam biasa. Putar piringan hitam sampai djam duabelas. Lalu menjetel radio, siaran luarnegeri. Suaranja keras sekali. Tetangga² seperti biasa pula tidak bisa tidur, terfanffu dan bising se-akan² hendak gila.

Keesokan harinja djam sembilan tetangga² dan kepala RT itu datang kerumah kapten. Tapi oleh istrinja disilahkan duduk dulu, karena pak kapten baru sadja bangun dan belum mandi. Rupanja kapten belum masuk kerdja. Mereka mengira kapten djangan² sudah dikantor. Mudjurlah mereka, tidak terlambat, malah terlalu tjepat.

Kira² seperempat djam mereka menunggu, barulah kapten keluar dan sama² duduk ngobrol ngalor ngidul. Dan kepala RT dengan suaranja serak² mulai membentangkan maksud kedatangannja. Kapten dengan muka agak tidak berseri seperti tadi, mendengarkan hati².

„Saja sendiri heran. Kenapa bagi saudara² djadi begitu ribut. Padahal bagi anak² saja malah ada jang baru berumur belum tudjuh bulan penuh, biasa sadja. Bagi istri saja tidak ada apa², anak² jang sedang bersekolah tidak terganggu”.

„Kami djuga merasa heran, keluarga bapak, anak² jang begitu ketjil kok tahan mendengar suara² ribut itu. Barangkali mereka sudah terlatih begitu selamanja”, kata tetangga jang agak berani karena dongkolnja.

„Atau apakah karena saudara² ini merasa iri. Saudara² akan menginfasi dalam² bagaimana dulu saja berdjuang mati²an untuk negara dan bangsa, menjabung njawa untuk kemerdekaan. Membunuh dan hampir² terbunuh mempertahankan kemerdekaan. Sekaranglah saja baru mengenjam kesenangan. Saudara² akan benar insaf kalau mengalami seperti apa jang saja alami dulu. Tidak mudah saudara bagaimana mendjadi alat negara jang baik itu. Menghendaki pengorbanan besar. Kalau perlu djiwa. Ini saudara² baru sadja melihat dan mempersaksikan kesenangan saja jang sudah sewadjarnja mendapat kesenangan sebagai alat negara jang tadinja setjara hebat²an berdjuang, lalu mau membuat protes ini itu. Saudara mau demonstrasi segala”.

„Bukan itu maksud kami, pak. Tidak ada mau protes tidak ada mau demonstrasi. Hanja kami minta itu, sedikit sadja. Mengenal batas kalau sudah lewat djam sebelas malam, atau waktu sore² orang pulang ngantor dan istirahat sebentar”.

„Orang jang berdjuang tidak mengenal istirahat. Hanja orang jang malas mengenal istirahat”, kata kapten. Tetangga² hanja diam sadja, mereka tidak mau lekas² mematahkan tentang berdjuang dan istirahat ini, berdjuang dan istirahat dengan bunji² jang ribut keras.

„Baru begitu sadja saudara sudah mau menantang alat negara seperti saja ini, orang jang tadinja betul² berdjuang keras. Sekarang saja tanja ja, djawab betul². Apa saudara dari organisasi kiri, dari aliran merah?”.

„Apa maksudnja itu”, kata kepala RT tak mengerti, sungguh² tak mengerti.

„Itu lho jang dipengaruhi komunis?”.

„Oh, tidak ada hubungan dengan komunis samasekali kok pak”, kata tetangga².

„Saja kira tidak. Tetangga² ini saja kenal baik, sudah lama bertempat disebelah rumah bapak ini”.

„Djangan bilang tidak². Djangan² bapak sendiri turut itu. Hati² ja, saja ini alat negara lho. Berhak nangkap, berhak mmengadukan dan membawa kemarkas”, kata kapten setengah menakuti.

Orang² hanja diam sadja. Sesudah bitjara² agak lama dan disertai ketawa masam, mereka pulang dengan tidak membawa suatu hasil apapun.

Kapten dengan hati panas menutupkan daun pintu keras² sesudah orang itu belum djauh dari halaman rumahanja.

„Saja sudah kira akan terdjadi begitu”, kata kepala RT.

„Apa boleh buat. Tjari djalan lain sadja”, kata tetangga. Mereka sama pulang kerumahnja masing².

Kapten dengan tiada memikirkan sesuatu apapun dia tetap sadja akan melakukan seperti apa jang dilakukannja. Malam² dia tetap akan seperti biasa.

Dia pergi kekantor djam sebelas siang pulang lagi djam satu siang atau samasekali tidak kekantor.

. . . .

Pagi² sekali dia pergi. Djam tudjuh dia sudah berangkat. Itu sudah termasuk pagi sekali bagi dirinja. Tapi kira² djam sepuluh pagi sudah kedengaran bunji deru powernja dan masuk halaman rumahnja. Dengan menekankan bel dinding rumahnja, keluarlah istrinja.

„Mam, lihat ini aku bawa apa² jang bagus. Hebat sekali. Lihat dipower itu”, kata kapten menundjuk arah powernja.

„Apa sih, kau bawa apa lagi. Tentu lagi² barang² listrik”.

„Tidak kok, lutju kau tentu senang untuk mendjaga kita semua. Kita akan aman untuk berbuata apa sadja”.

Istrinja turun tangga. Dan lekas menudju kepowernja. Kapten mengiringkan.

„Tjoba lihat. Aku beli 10.000 rupiah, asli djerman, Herder hebat sekali”, kata kapten menundjukkan keseekor andjing besar jang ditambatkan dibelakang kursi setir.

„Waduh…..waduh, kau buang uang lagi, pap. Untuk apa kau beli jang beginian. Peliharanja lebih susah dari pelihara orang, kau tahu!”.

„Jah tapi penting sekali. Rumah aman. Orang² tidak usah lagi masuk² nonton segala dansa, nonton bioskop sadja harus masuk, tidak tjukup djalan sadja. Ada ini kan baik bagi kita. keamaanan terdjaga. Tidak ada maling². Tidak ada jang kira² akan djahil melihat kesenangan orang”.

Si istri diam sadja. Dengan tidak ambil perhatian begitu penting, dia lekas² masuk kerumah dan menghilang.

„Siti……Siti……Siti, lekas kemari”, kata kapten keras sekali.

Siti keluar tjepat².

„Pergi kepasar lekas beli daging sekilo, telor ajam sepuluh bidji, susu sapi seliter, untuk andjing. Kalau ada tukang susu lekas minta berlangganan, ja, minta uang sama djuragan istri. Hari ini djuga tjepat!”

„Ja, tuan”, kata Siti dan masuk segera. Sesudah itu lekas² mengerdjakan perintah tuannja. Akan hal kapten, asik dengan andjingnja. Menambatkannja ketiang. Andjing itu mengibaskan ekornja dengan montjong jang tertutup sarangmulut andjing.

„Sekarang kau mulai tinggal sini ja, baik². Namamu sekarang tidak lagi blackki tapi Dandy. Lain tuan lain nama”, kata kapten bitjara sama andjingnja.

Andjing itu kelihatan memang penurut.

Lekas² kapten pergi lagi. Dia menudju ke Senen. Ditempat tukang membuat nama, dia berhenti. Lekas² memesan nama dengan tulisan „Awas andjing galak”. Harganja lalu dibajar kontan. Lekas² pula dia pergi. Tapi belum lima menit dia kembali lagi.

„Bung, bung, jang tadi salah. Tambah dengan ini: „Awas andjing galak Herder besar”. Nah tulis begitu. Tjepat ja, saja datang Rebo nanti harus sudah selesai ja!”, kata kapten.

Orang itu tidak segera mendjawab, tetapi memperhatikan tulisan jang bertulis dikertas rokok. Rupanja bekas kertas rokok. Disebelahnja merek rokok itu „Abdullah”, rokok luar negeri.

Sekarang rumah itu betul² lengkap. Ada suara pick-up, radio, deringan tilpun, mikrofon, suara tangisan orok, suara bertengkar anak²nja jang ramai dan banjak itu, dan suaranja sendiri bertengkar dengan istrinja, dan jang baru ialah suara andjing eropah itu.

Suara² itu memang besar dan keras. Kalau dari rumah tetangga² bunji keluarga kapten itu ber-tjakap² sadja memang kuat dan djelas terdengar. Barangkali struktur buatan rumah itu mengembalikan angin udara kesekitar, sehingga tetangga² akan mendengar djelas apa sadja jang diutjapkan kapten. Atau djuga karena memang tjara mengutjapkan pertjakapan itu keras, sebab mereka terbiasa dengan suara keras. Bukankah katanja bila orang² selalu mendengar sesuatu jang keras² dan ribut² maka orang itupun pendengarannja djadi rusak dan agak ketulian. Barangkali pada pendapat itulah kapten ini berada. Agak tuli dan sesuai ngomong keras, tidak sadja keras tapi ngomong besar.

Sesudah kapten mengurus andjingnja, barulah dia berangkat kekantor. Djam sudah hampir djam 12 siang. Sebentar lagi kantor akan tutup. Waktu dia masuk kehalaman, beberapa anggota tentara bawahan memberi hormat. Dia terus kegudang, membawa langsung powernja. Berhenti dekat pintu kiri gudang. Dia lihat beberapa orang bawahan pegawai sipil, pembeli belas.

„Kardi, sini. Apa beras saja sudah kau timbang?”

„Sudah pak, saja letakkan disudut sana”.

„Tjoba lekas bawa kemobil”.

„Wah berat pak. Sekarung goni begitu mana saja terbawa. Dua orang bisa, bapak tolong”.

„Kau betul² tolol. Masa aku harus angkat² djuga. Tjari kawanmu lain. Betul² kau tidak punja otak. Ai, ai, Kardi aku ini kan perwira. Betul² kalau orang tidak pernah berdjuang mengangkat sendjata mengadu njawa, seperti kaulah djadinja. Tidak berterimakasih pada alat negara”.

Kardi hanja diam sadja. Dia terus mentjari kawannja Parmin sama² pegawai sipil dikantor itu. Mereka berdua mengangkat beras kapten kedalam power. Kaptennja sendiri tidak ada disitu. Rupanja ketempat bengkel perbaikan mobil. Sewaktu Kardi mentjari kapten ini, dilihatnja kapten sedang ngobrol dengan sopir² lain, pegawai sipil semuanja. Agaknja diban mobil jang tergelar ditanah, ada jang bersenderan pada spatbor truk jang diparkir ditempat itu. Mereka asik mendengarkan kisah kapten.

„Seperti saudara²lah saja dulu. Mula² memang djadi sopir, pegawai belanda tapi. Suatu hari saja ditugaskan membawa militer² belanda kedaerah pertempuran. Ada lima truk konvoi menudju kefront balabantuan pos jang terdjepit. Saja sudah sepaham dengan kawan² lain. Sebab kami sama² republikein. Militer² itu harus ditjegah mengirimkan balabantuannja. Kawan² saja sudah sepaham dengan saja, sabotase harus didjalankan. Dibawa pimpinan saja, kawan² itu menurut disiplin teguh. Mereka sangat patuh kepada saja. Sebab djauh sebelum itu mereka sudah saja didik, berani, berkorban berbakti untuk negara. Kami tidak bisa menghindari lagi, kami harus membawa militer² itu. Baik, kata saja. Ikut saja dari belakang. Pada kelokan djurang jang dalam nanti pada kilometer 24, kita akan mengadakan djibaku. Membelokkan truk² itu kedjurang. Mula²nja kawan² itu takut sekali. Tapi saja mempeloporinja, sebab itu saja sendiri harus berani, dan memang saja ini pemberani sedjak ketjil. Kami berangkat. Mula² ada djuga keketjutan. Ingat anak istri jang akan ditinggal. tapi, ah, perbuatan berbakti dan asal untuk bangsa dan negara tentu akan diredo dan diselamatkan Tuhan, begitu saja berpikir.

Saja membawa militer² itu berdjalam dimuka sekali. Kode² mulainja mendjalankan rentjana sudah saja berikan. Begitulah persis pada belokan djurang, disebelah kanan saja, djurang jang sangat dalam sekali dan berbatu² gunung. Tapi disebelah tempat duduk saja ada sersan belanda. Tentu sadja dia tidak tahu rentjana kami. Tjukup djauh untuk ratanja dan memberikan kesempatan djarak untuk kawan, saja perhitungkan dengan teliti. Sebelah kiri, tanah datar biasa, sebeleh kanan djurang dalam berbatu gunung keras. Tepat pada kelokan itu, gas saja tekankan lagi. Dan tjepat sekali setir saja banting kekanan, setjepat kilat saja melompak kekiri. Truk ter-guling² kebawah. Saja lihat kebelakang. Empat truk lagi belanda² itu meluntjur dengan truk² kawan saja. Saja dan kawan saja selamat semua. Masih sempat tjepat² saja melihat kearah bawah. Truk itu terbakar. Nampak militer² itu berserakan dan mati barangkali. Kalau tidak berani seperti saja tentulah tidak akan sebegitu tjepat menerima pangkat ini. Makanja djadi orang harus berani, djangan takut berkorban, djangan mementingkan dirinja sendiri. Harus baik sesamanja, saling berkorban, menolong orang jang betul² bersemangat perdjuangan. Saja sedikit merasai arti kesenangan jang sebenarnja belum setimpal dengan pengorbanan jang sudah saja berikan. Untunglah saudara² ini belum mengalami sepahit jang saja alami”, kata kapten bertjerita agak putus ² kehabisan bahan.

Beberapa orang bertanjakan perihal kapten dulunja.

„Djadi waktu itu bapak bekerdja pada belanda, knil atau kl?”

Kapten itu lama sekali berpikir dan agak ragu² tampaknja atas djawab pertanaan ini.

„Memang dulu saja ini knil. Tapi lemas menggabungkan diri dengan tentara kita”.

„Kawan² bapak jang dulu itu sekarang dimana, pak? ”, tanya seorang lagi.

„Entah, ja……entahlah, barangkali masih ada, saja . . . saja . . . sudah agak lupa itu. Orang² masing² dengan kesibukan kok. Barangkali djuga mereka sudah meninggal. Mereka itu agak penakut² tidak seperti saja. Banjak ruginja djadi orang penakut daripada orang berani. Kadang² orang harus djadi gila²an kalau mau mendjalankan sesuatu rentjana. Itu soalnja, itu sadja. Saja ini kan dulunja tidak di-sangka² akan masih hidup. Malah bertempur tidak kurang dari 49 kali. Kalau bukan djudjur betul², entah mati entah hidup. Tuhan-lah jang menentukan”, kata kapten.

Orang² hanja mendengar sadja. Kapten sedikit² masih agak berbitjara pendek².

Ketika lontjeng kantor berbunji tanda appel karena hari Sabtu, merekapun bubar. Sebelum itu masih sempat seorang memberi komentar tjerita tadi.

„Hebat orang itu kalau betul² begitu. Kau pertjaja nggak. Aku ragu² rasanja”.

„Nggak tahulah, masa’ bodo, apa sih susahnja ngomong. Aku djuga bisa gitu, lebihan lagi”, kata kawan sopir satunja.

Mereka menudju ketempat berkumpul.

Orang² kantor itu sudah mengenal kapten sebagai orang jang berani dan hebat menurut tjerita kapten sendiri. Orang² senang mendengarkannja bertjerita pandjang². Karena orang²ini senang mendengarkannja bertjerita, maka kaptenpun senang pula bertjerita hebat² mengenai dirinja. Tidak perduli dari mana sumber tjerita² itu jang dia ambil. Ada orang agak kritis menanjakan, karena tjerita itu seperti pernah dibatjanja didalam tjerita² revolusi dan madjalah² jang berisi therita pendek, mengenai revolusi.

Sekali pernah kapten bertjerita, bahwa dia pernah dianggap mata² belanda oleh pasukan RI jang menangkapnja. Untuk lebih menebalkan kepertjajaan pasukan itu, sekarang oleh tentara RI, si kapten dikurung dan disuruh berkelahi dengan tawanan belanda jang memang sudah didjatuhkan hukuman itu diadu dulu dengan perkelahian. Mata² dengan mata², atau mata² dengna tentara musuh. Si kapten mengatak dalam perkelahian itu dia dapat membunuh belanda itu dalam tempo tidak sampai sepuluh menit.

„Waktu itu dimana, pak, tentara kesatuan mana kok begitu theroboh mengadu sethara itu. Sebab saja djuga banjak kenal kepala pasukan dari beberapa kesatuan”, kata seorang jang rupanja agak tidak enak mendengar tjerita itu.

„Saja……saja sendiri ketika itu agak lupa. tapi saja ingat betul waktu membunuh itu”, kami harus membawa militer² itu. Baik, kata saja. Ikut saja dari belakang. Pada kelokan djurang jang dalam nanti pada kilometer 24, kita akan mengadak djibaku. Membelokkan truk² itu kedjurang. Mula²nja kawan² itu takut sekali. Tapi saja mempeloporinja, sebab itu saja sendiri harus berani, dan memang saja ini pemberani sedjak ketjil. Kami berangkat. Mula² ada djuga keketjutan. Ingat anak istri jang akan ditinggalkan. Tapi, ah, perbuatan berbakti dan asal untuk bangsa dna negara tentu akan diredo dan diselamatkan Tuhan, begitu saja berpikir.

Saja membawa militer² itu berdjalan dimuka sekali. Kode² mulainja mendjalankan rentana sudah saja berikan. Begitulah persis pada belokan djurang, disebelah kanan saja, djurang jang sangat dalam sekali dab ber-batu² gunung. Tapi desebelah tempat duduk saja ada sersasn belanda. Tentu sadja dia tidak tahu renthana kami. Tjukup djauh untuk ratanja dan memberikan kesempatan djarak untuk kawan, saja perhitungkan dengan teliti. Sebelah kiri, tanah datar biasa, sebelah kanan djurang dalam berbatu gunung keras. Tepat pada kelokan itu, gas saja tekankan lagi. Dan tjepat sekali setir saja banting kekanan, setjepat kilat saja melompat kekiri. Truk ter-guling² kebawah. Saja lihat kebelakang. Empat truk lagi belanda² itu meluntjur dengan truk² kawan saja. Saja dan kawan saja selamat semua. Masih sempat tjepat² saja melihat kearah bawah. Truk itu terbakar. Nampak militer² itu berserakan dan mati barangkali. Lalu tjepat² kami menggabungkan diri pada tentara kita. Kalau tidak berani seperti saja tentulah tidak akan saja begitu tjepat menerima pangkat ini. Makanja djadi orang harus berani, djangan takut berkorban, djangan mementingkan dirinja sendiri. Harus baik sesamanja, saling berkorban, menolong orang jang betul² bersemangat perdjuangan. Saja ini penuh pengalaman pahit dari dulu. Baru sekaranglah agak sedikit merasai arti kesenangan jang sebenarnja belum setimpal dengan pengorbanan jang sudah saja berikan. Untunglah saudara² ini belum mengalami sepahit jang saja alami”, kata kapten bertjerita agak putus² kehabisah bahan,

Orang² kantor itu sudah mengenal kapten sebagi orang jang berani dan hebat menurut tjerita kapten sendiri. Orang² senang mendengarkannja bertjerita pandjang². Karena orang² senang mendengarkannja bertjerita, maka kaptenpun senang pula bertjerita hebat² mengenai dirinja. Tidak perduli dari mana sumber tjerita itu jang dia ambil. Ada orang jang agak kritis menanjakan, karena tjerita itu seperti pernah dibatjanja didalam tjerita² revolusi dan madjalah² jang berisi tjerita pendek mengenai revolusi.

Sekali pernah kapten bertjerita, bahwa dia pernah dianggap mata² belanda oleh pasukan RI jang menangkapnja. Untuk lebih menebalkan kepertjajaan pasukan itu, sekarang oleh tentara RI, si kapten dikurung dan disuruh berkelahi dengan tawanan belanda jang memang sudah didjatuhkan hukuman itu diadu dulu dengan perkelahian. Mata² dengan mata², atau mata² dengan tentara musuh. Si kapten mengatakan dalam perkelahian itu dia dapat membunuh belanda itu dalam tempo tidak sampai sepuluh menit.

„Waktu itu dimana, pak, tentara kesatuan mana kok begitu tjeroboh mengadu setjara itu. Sebab saja djuga banjak kenal kepala pasukan dari beberapa kesatuan”, kata seorang jang rupanja agak tidak enak mendengar tjerita itu.

„Saja……saja sendiri ketika itu agak lupa. Tapi saja ingat betul waktu membunuh itu”, kata kapten agak ragu² dan seolah² seperti merasa seorang jang diadili.

„Pokoknja saudara pertjaja apa tidak. Kalau saudara takut² memang tidak akan pertjaja pada tjerita saja, sebab itu adalah pengalaman saja sendiri. Pengalaman keberanian jang luar biasa. Memang se-akan² tidak mungkin. Tapi apalah gunanja saja berbohong. Tidak gampang pemerintah menaikkan pangkat saja mendjadi kapten, pertjajalah. Saudara ini rupanja agak tidak pertjaja. Saudara belum pernah berdjuang sih, maka mendengarnja sadja aneh². Memang kalau orang² jang tidak seberani saja agak mendirikan bulu halus bila mendengar tjerita² saja. Saja sendiri bila mengenangkan tjerita² itu rasanja ngeri djuga. Ada pikiran pada saja, kok ketika itu saja berani amat. Kalau diulangi rasa²nja tidak akan seberani dulu……tapi……jah tidak mungkin tidak berani, saja ini sudah pemberani sedjak dari dulu kok, sedjak sekolah, berani apa sadja asal untuk kepentingan bersama. Mudah²an saudara²pun akan seperti saja djuga”.

Orang² mendengarkan dengan penuh keraguan. Tapi beberapa orang jang sangat kenal dan paham watak kapten ini, hanja mendengarkan dengan mata melihat ke kapten, tapi hati menghadap kelain, entah apa jang dipikirkannja. Bagi orang baru jang mendengarkan tjerita itu lalu bertanja, apa benar tjerita itu, kok seperti jang saja batja dalam tjerita si anu. Kawan lainnja mendjawab, ah, sudahlah, ja kan sadja kan beres. Dengarkan sadja, mendengarkan adalah lebih baik daripada bertjerita. Berilah kesempatan dia bertjerita. Sebegitu djauh dia bertjerita, sebegitu djauh kita akan dapat mengenal watak orang itu, kata kawan seseorang jang menanjakan tentang diri kapten itu.

BAGIAN IV

PERNAH TETANGGA RUMAH KAPTEN ITU MERASA sangat senang sekali dan ada jang bahkan mau kaul kalau kapten tidak akan kembali lagi kerumahnja. Waktu itu kapten diperintahkan ke Sulawesi. Entah untuk pekerdjaan apa. Rumah kapten sunji dari bunji pick-up radio dan pidato serta njanji di mikrofon. Rupanja kalau hanja anak istrinja tidak begitu mendatangkan gangguan besar bagi tetangga² itu. Keadaan tetangga²nja ini persis seperti tetangga²nja waktu dihotel dulu, dimana masing² orang jang agak tidak berkemauan baik, menjumpahi kapten agar mati dalam kepergiannja ke Padang. Waktu itu masih sedang ramainja pemerintah mengerahkan pasukan untuk menundukkan dewan banteng jang memberontak dari pusat jang lalu mendjadi PRRI. Kapten dikirim ke Padang, tentu sadja waktu itu pangkatnja baru letnan. Tetangga merasa lega, sebab si tukang ribut tidak ada dihotel. Orang bisa tidur pulas. Orang² jang tidak berhati baik benar, dalam hatinja menjumpahi kapten agar mati, ada djuga jang akan makan² enak menghabiskan uangnja tanda gembira dan selamat atas kehidupannja jang tenang. Akan tetapi apakah jang terdjadi? Tidak sampai sebulan kapten kembali dengan lebih gemuk tampaknja. Orang² datang menjambutnja kesebelah kamar dan ada jang menanjakan tentang keadaan Padang.

„Bagaimanan pak, situasi pertempuran disana? Tentu hebat sekali. Saja dengar malah tentara pemberontak pakai bazoka segala. Apa betul”.

„Betul itu. Tapi saja sendiri tidak bertugas itu. Pertempuran itu kan hanja bagi anak² muda jang belum mengalami revolusi seperti tahun 45 dulu. Saja hanja inspeksi mengalami revolusi seperti tahun 45 dulu. Saja hanja inspeksi sadja. Hanja periksa² sadja. Melihat semangat tempur mereka, kalau² ternjata tidak berkobar. Ternjata baik. Ja sudah begitu sadja”.

„Bawa apa sadja bapak dari Padang”.

„Wah betul² hebat seh Padang itu. Barang² luarnegeri banjak sekali. Mereka dulu barter banjak sekali. Saja bawa banjak piringan hitam, buatan Amerika, Djerman Barat, Inggeris dan banjak lagi jang lain². Barang² lux malah murah dari Djakarta, untung djuga saja kesana itu. Saja beli djuga pakaian wol, jang disini mahal sekali. Alat² listrik bukan main² bagus dan murahnja. Saja bawa empatpuluh bidji piringan hitam”, kata kapten bertjerita terus tentang barang² bagus mahal indah. Setitik ketjil sekalipun dia tidak bertjerita tentang situasi pertempuran. Agaknja dia samasekali tidak tahu. Pikirannja hanja plat, alat listrik, alat² perabot rumah, pakaian.

Tetangga² mengutukinja lebih dalam lagi. Karena malamnja dia mentjoba plat² itu dari djam sebelas sampai djam empat pagi. Sudah itu baru dia tidur dari djam lima pagi sampai djam 2 siang. Lalu memutar lagi lagu² itu djuga jang disenanginja.

Pada kedjadian kepergian kapten ke Sulawesi ini, bagi tetangga²nja adalah merupakan satu hiburan besar, satu istirahat dan tidur lelap njenjak. Ada malah jang mendoakan agar kapten mati sadja dalam menunaikan tugasnja. Ada djuga tetangga² jang mendoakan agar lama² sadaj di Sulawesi itu, tidak sampai mati, sebab banjak anak²nja. Orang² ini adalah orang jang betul baik dan betul djudjur².

Tapi harapan mereka itu rupanja tidaklah dikehendaki sebagaimana mestinja. Suatu hari pada pagi² djam sembilan mereka sudah pula mendengarkan bunji² plat baru dan bentakannja pada anak²nja. Tetangga² jang paling dekat rumah itu terang sekali mendengar pertjakapan kapten dengan tamu²nja ketika tamu² itu datang kerumah kapten. Tamu² itu tampaknja orang²muda dan ketika itu anak²nja sedang bersekolah dan dibawa ibunja bepergian kerumah bibinja.

„Wah, bukan main seh, Menado. Betul² hebat. Segalanja, mengagumkan kita”, katanja dengan suara memudji dan dengan tangannja berbunji tak, tak, tak.

„Apa hebat, Permesta itu. Katanja anak muda djuga bertempur. Mereka tjukup sendjata dan berani² katanja, apa betul itu?”

„Ja, mungkin ada betulnja. Saja tidak begitu perhatikan benar². Saja agak sibuk dengan urusan lainnja. A, itu kan urusan pertempuran. Bagi saja sudah agak lewat. Anak² muda sekarang memang enakan. Bertempur dengan sendjata jang lengkap. Kalau kami dulu, kalau tidak karena keberanian jang luar biasa, tidak akan menang revolusi ini”.

„Bagaimana rupanja tentang sendjata² mereka. Apa pihak kita selalu dapat kemadjuan”.

„Entahlah, tidak begitu saja perhatikan benar². Disana itu jang hebatnja barang² murah dan banjak. Baru saja tahu, kalau hanja Pasar Baru Djakarta ini, kalau hanja soal barang baik², pasti kalah. Di Menado barang² luar negeri, jang luxius bukan main seh, veel en mooi. Saja sendiri bawa tape-recorder, murah betul² murah, saja beli dari orang jang datang dari Filipina. Mereka dari Djerman Barat. Rupanja kalau di Djerman orang namai magnetofoon, katanja hanja 30 pound. Saja beli di Menado hanja 30 ribu. Saja djuga beli kutjing. Kutjing Anggora, bagus sekali, kulitnja berkilat tjoklat-kehitaman tebal, ja, tentu sadja kuthing luarnegeri sih. Tjoba you lihat”.

Kedengaran suara kapten memanggil kutjingnja.

„Kitty, kitty, hier kitty”, kata kapten. Kutjing itu datang segera dan melontjat dipangkuan tuannja.

„Ini saja beli 3000 rupiah. Murah sekali. Kalau disini tidak mungkin dapat”.

„Ada bawa plat baru?”.

„Tidak begitu banjak, saja hanja bawa kira² empatpuluh buah. Betul² Menado hebat, banjak barang² jang di Djakarta susah ditjari. You tahu, meisjesnja, waduh waduh, begini”, kata kapten dengan mengeluarkan djempolnja memperlihatkan kepada tamu muda itu.

„Persis Tionghoa. Kulitnya putihkuning, halus. Ramahtamah, lintjah sekali seh. Mereka gampang diadjak dansa. Ja, saja sendiri ada beberapa kali diundang pesta. Dansa sampai allnight. Minuman luarnegeri hebat sekali. Ada minuman seharga 2000 rupiah esbotol, malaga Madrid asli, asli Spanjol. Hebat sekali rasanja”.

Tamu itu mendengarkan. Kapten asik bertjerita tentang barang, perempuan, makanan minuman. Tidak setjuil dia tjerita tentang situasi pertempuran.

„Ah, kalau saja budjangan, tidak akan saja pulang tjepat²”.

„Tapi you memang tidak kelihatan tua. Seperti orang baru umur 30 tahun sadja”, kata tamunja.

„Hah hah…… You ada² sadja. You mau tahu rasas malaga Madrid asli Spanjol. Kita tjoba duatiga seloki sadja. Enak, panas sehat”, kata kapten. Belum lagi tamu itu mendjawab, kapten sudah masuk kedalam dan mengambil botol minuman. Dan membawa djuga beberapa barang.

„Tjoba lihat ini, berapa saja beli. Tustel buatan Djerman. Kalau di Djakarta paling murah diatas 40 ribu. Disana saja beli hanja 20 ribu. Hasilnja ini nih, bersih”, kapten menjodorkan poteret² dengan kawannja di Menado. Beberapa orang anakmuda dengan pakaian parlente dan beberapa orang gadis tjantik menggiurkan, saling merapatkan badannja.

„Bagus jah, tjutji sendiri nih?”

„Malah saja tjutji di Menado djuga. Saja beli 8 rol filem. Ngomong² mari kita minum”, kata kapten sambil menuangkan minuman malaga Madrid asli Spanjol kedalam seloki tamunja.

Mereka minum dan ber-tjakap. Tetangga² mendengarkan djelas sekali. Diutjapkan dengan terang melalui suara besarparau dan melalui kebanggaan seorang pemenang perlombaan koleksi barang² luarnegeri. Sudah itu kedengaran pula mereka mendengarkan lagu² baru dari Djerman, Perantjis dan Amerika. Hiraudegau. Sampai djauh siang bunji² itu masih berlangsung. Anak²nja datang dari sekolah, berkelahi sesama saudara²nja. Suara andjing menggonggong. Ibu anak² memanggil keras² anaknja jang nomor enam. Anak itu menangis keras² karena ditjubit berebutan kue-mari dengan saudaranja jang nomor lima.

Anaknja jang gadis tanggung masuk kedalam kamarnja dengan kawan²nja ada tiga orang gadis berumur enambelas tudjuhbelas. Mereka ngobrol keras², tertawa ter-kikik² seperti orang digelitik. Mereka melihat foto² bintang filem Holliwood, dan bintang filem tigaperempat telandjang.

Pada malam itu kapten memutar piringan hitamnja sampai sebanjak enampuluh buah. Sudah itu mentjoba mentapenja dan merelai kembali lalu dimasukkan kesuara loudspeaker. Suaranja keras dan menggaum kuat sekali. Sehingga kedengaran kerumah kepala RT jang djaraknja tidak kurang dari seratus meter. Anak² jang lewat dimuka rumah kapten, dengan kepalanja mendjenguk dari pagar sebelum kapten berangkat ke Menado baru² ini. Andjingnja selalu menjalak. Malam² andjing itu menjalak keras² dan menggonggong.

. . . .

Tetangga jang disekitar dekat rumah itu ada 2 rumah disebelah kanan ada 3 rumah disebelah kiri dan ada beberapa rumah lagi dibelakang serta beberapa orang jang berdiam didepan tepat pada depan rumah kapten jang tembok belakangnja sering didjadikan lajar untuk putar filem. Kalau di-hitung² ada seratus djiwa jang terganggu oleh adanja kapten dengan hiburan dan kesenangannja ini. Tapi tetangga² disekitar itu memang tak ada lagi tentara seperti kapten ini. Djadi kapten ini hanja satu²nja tentara, dan perwira pula pangkatnja. Malam kedua kapten berada dirumahnja kembali sesudah kembalinja dari Sulawesi, adalah malam jang tidak ada tamu². Tapi ributnja tidak kurang daripada samasekali tiada bertamu. Dia putar piringan hitam. Dia menjetel mik, loudspeaker, men-tape suara dari pick-up, lalu memasukkannja ke-loud. Ramai dan ribut sekali. Terus²an begini sehingga djam dua malam belum berhenti. Tetangga² haram barang sekedjap bisa tertidur. Mereka merasa bising dan se-akan² hendak gila. Tetangga itu berkeluaran dan berkumpul didepan rumah kapten. Anak² mereka berkumpul dan djuga membuat ramai didepan rumah itu. Tapi kapten sedikitpun tidak tahu.

Malam itu tetangga² dan anak² mereka berkumpul didepannja. Orang dari dalam tidak bisa lagi melihat dengan leluasa sebab sudah dipagari kawat berduri dan bertulisan „Awas andjing galak Herder besar”. Merkea melihat tulisan ini dengan senjum² ketjil mengawasi huruf² itu. Ketika rumah kapten itu sudah agak sunji, djam berbunji 3 kali. Tapi setelah itu ada gonggongan andjing dan me-ngedjar² kedepan. Kemudian ada suara jang djatuh, benda² tidak begitu keras, lalu bunji kaki² djalan agak tjepat.

Suara itu hilang lagi.

Pagi² djam sepuluh, kapten dengan muka jang bengis datang kekantor lurah dan menemui lurah jang kebetulan waktu itu ada djuga kepala RT. Kapten langsung menemui lurah dan kepala RT dan marah².

„Tjoba pak lurah pikir. Rumah saja itu tadi pagi waktu saja bangun keluar, ada bau² busuk. Saja tjuriga. Ada bungkusin ² daun pisang dan bungkusan kertas jang rupanja dilemparkan dari luar. Saja buka sedikit. Tahu² isinja tahi, panuh tahi, busuk. Betul² kurang adjar orang² kampung itu. Rumah saja sebagai alat negara jang mendjaga keamanan negara, berdjuang menjabung njawa demi kemerdekaan, tahu² dilempari tahi manusia. Manusia jang samasekali tidak pernah berdjuang seperti saja”, kata kapten marah² kepada lurah dan pak kepala RT.

Lurah dengan tenang memperhatikan wadjah kapten. Tampak mukanja merah padam dan tidak menguasai diri. Lurah menarik nafas. Rupanja tjerita kapten tidak begitu mengedjutkan lurah. Hanja tampak kepala RT agak tjemas² ketjil.

„Saja mengharap kalau pak lurah dan kepala RT tidak sanggup mengurus orang² kampung itu, maka saja sendiri akan bertindak keras. Mereka harus diadjar dengan kekerasan. Belum lagi berdjuang seperti saja, sudah bertindak bodoh²an seperti itu. Untung mereka dapati orang seperti saja. Tjoba kalau tentara lain, habis sudah digebuki”.

„Apa bapak kapten sudah tahu kehendak Rakjat itu, kehendak tetangga² saudara itu?”, tanja pak lurah dengan tenang dan dengan mata menusuk ketentang kapten. Rupanja lurah mempunjai penuh wibawa dan rasa kehormatan diri.

„Saja tidak begitu tegas, belum djelas persoalannja”, djawab kapten lambat.

Lurah melihat kearah kepala RT, kepala RT menekunkan kepalanja, lalu kekapten lagi.

„Apa kepala RT dan Rakjat tetangga² pak Kapten sama sekali tidak pernah kerumah pak Kapten mengadjukan setjara terang², apa jang dikehendaki mereka?”.

„Ja, …… ja …… memang pernah kerumah saja. Tapi permintaannja tidak benar. Bukan permintaan orang jang berotak sehat. Mereka minta agar saja tidak boleh senang, mereka iri dengan kesenangan saja. Karena mereka belum pernah merasai betapa halnja orang² kalau berdjuang keras membela negara, sedangkan saja sudah alami hal² itu dan berhak merasai kesenangan itu. Permintaan mereka tidak mungkin saja luluskan. Permintaan itu permintaan gila”.

„Saja kira pak Kapten tidak benar mengemukakan pendapat begitu. Orang² tetangga kapten itu samasekali tidak gila. Tidak meminta agar kapten menghentikan kesenangan itu. Permintaan mereka sangatlah wadjar dan penuh give and take”, kata pak lurah meladeni tamunja jang agak mem-bentak² ini.

„Saja punja laporan lengkap. Pagi ini tadi dua djam sebelum pak kapten datang kemari, sudah datang pula delgasi tetangga² rumah bapak itu. Mereka membawa surat² lengkap dan resolusi ketjil setjara tertulis, bahkan dikatakan djuga oleh mereka perbuatan mereka jang dikatakan pak kapten tadi. Surat itu ditandatangani oleh delapan keluarga, jang menanggung seratus lima orang djiwa”, kata lurah.

„Siapa kepalanja pak lurah, saja mau tahu dia orang!”

„Mereka tidak punja kepala²an. Mereka tandatangani surat itu ber-sama”.

„Siapa tandatangan jang atas?”

„Menurut abdjad setjara teratur”, kata pak lurah dengan senjum ketjil.

Lalu pak lurah mengambil surat² itu dari latjinja dan melihatkan pada kapten.

„Perbuatan mereka akan ditanggungdjawabi oleh mereka ber-sama². Permintaan mereka tidak gila. Lihat itu pasal 2, 3 dan 5. Pada djam sebelas malam sudah sepatutnja tidak lagi membunjikan radio, plat dan segala matjam jang mengganggu ketenteraman tetangga². Pada waktu mengaso djam 3 sampai djam lima sore², tidak ramai² sangat, tjukup sekedarnja. Kalau mau mengadakan apa² seperti pesta keramaian, dansa, sebaiknja memberitahukan pada kepala RT dan memberitahukan pula pada tetangga² jang sangat berdekatan. Saja kira itu sangat wadjar, dan mereka menuruti tatatertib sebagai warganegara jang baik”.

„Nah, pak lurah, soal berak dan tahi itu bagaiman. Apa itu menurut tatatertib warganegara jang baik pada pedjuang² negara seperti saja?”.

„Soal tahi itu gampang sadja. Siapa jang mula² tidak menuruti tatatertib meskipun orang jang per-tama² sudah mengadjukan pada pihak jang berkepentingan. Mereka bahkan sudah datang bersama kepala RT mereka. Mereka sudah menulis surat langsung kepada pak kapten sendiri jang tembusannja lengkap kepada kepala RT dan kepada saja serta pada asisten wedana”, kata lurah.

„Apa benar begitu pak kepala RT dan pak kapten”, kata lurah menanjai.

„Ja, betul”, kata kepala RT.

„Kepada saja memang saja sduah terima. Tapi itu tidak mungkin saja kabulkan. Pokoknja begini sadja. Dalam hal ini apakah pak lurah dan kepala RT berdiri dibelakang orang² itu atau se-tidak²nja turut menjokong? Itu dulu djawab!”

„Saja tidak akan mendjawab pertanjaan itu”, kata lurah tegas.

„Tapi peraturan tatatertib jang harus dipatuhi warga negara jang masuk lingkungan warganegara setjara umum jang tidak membedakan fungsi sosial, undang² dan tatatertib itu tidak berbeda, tidak ada perbedaan antara warganegara jang bekas pedjuang dan Rakjat biasa. Rakjat biasa jang bukan anggora tentara, belum tentu setjara mutlak, Rakjat jang tidak berpakaian lengkap dinas itu pasti tidaklah berdjuang seperti pak kapten. Saja ini lurah tidak berpakaian lengkap tentara. Tapi saja djuga bekas tentara tjukup lama dari tahun 45 sampai tahun 58. Maaf terpaksa saja mengabarkan diri saja jang sebenarnja sangat tidak perlu”.

„Saja tidak menjokong saudara, itu betul”, kata lurah sudah mulai menjebut saudara.

„Tapi meskipun saja jang terang tidak menjokong saudara, saja mesti mengoreksi perbuatan tetangga saudara itu. Perbuatan mereka itu perlu dikoreksi, tidak lantas kita bertindak keras. Mereka punja alasan untuk berbuat begitu, walaupun perbuatan itu tidak dibenarkan setjara hukum. Dan hukum inilah nanti jang akan mendjatuhkannja, dengan melalui pertimbangan jang adil untuk kedua belah pihak. Kita ini kan ada dalam negara hukum”.

Mendengar kuliah pak lurah jang tak di-sangka² ini, kapten semakin mengerutkan mukanja jang memang sedjak dari tadi sudah merahpadam. Tapi berhadapan dengan lurah ini, dia merasa betul² agak berhadapan dengan bukan orang biasa dihadapannja.

Kepala RT hanja mengangguk sini mengangguk sana. Kapten sesudah berdiskusi tentang perdjuangan, tentang undang², tentang tatatertib, lalu dengan sedikit mengeluarkan suara jang tidak begitu ramahtamah, berdjandji akan datang lagi untuk mengoreksi tindakan Rakjat dengan diskusi pandjang dan berhadapan muka dengan rombongan delegasi tetangga²nja.

Pada malam itu, kapten mentjoba dengan perasaannja jang marah, tidak lagi membunjikan suara radio dan pick-upnja keras². Dan sesudah djam sebelas jang kadang² djam sebelas lebih enam tudjuh menit, barulah dia menghentikan kesenangannja. Tetangga² dapat tidur dengan enak. Tapi masih ada gangguan lain. Andjing Herder itu selalu menjalak dan menggonggong keras². Barangkali dia mau kawin, begitu pikiran tetangga². Atau memang kebiasaan andjing kalau melihat tjahaja bulan jang terangbersinar kemilau.

. . . .

Keadaan berdjalan seminggu dua minggu. Tetangga dengan aman bisa beristirahat leluasa. Tapi keadaan berobah lagi setelah dua tiga bulan kemudian. Waktu itu dimulai dengan pesta jang sangat meriah. Pesta anak² muda, lalu pesta orang² tua dewasa. Pesta itu menjambut kebahagiaan anak kapten si gadis tanggung jang lintjah genit itu lulus dari SMP dan anaknja Hasan lulus SMA serta anak²nja jang lain semua naik kelas ketjuali dua orang laki² jang sedang duduk dikelas empat dan lima SR. Dua anak ini agak malas dan kerana itu tidak naik.

Pada pesta tersebut dimulai dengan dansa², dan lagu² barat populer. Lalu makan² kenjang dan bermain segala matjam jang sering dilakukan anak² muda. Dan menjanji. Putar filem, ramai sekali. Tentu sadja putar filem ini didepan rumah, ketembok diseberang djalan dan mengganggu orang lalulintas.

Rumah itu penuh gadis² berumur belasan tahun. Ada beberapa pasang orang dewasa kawan² terdekat kapten jang menghadiri itu. Tak lupa kawan² kapten jang tahu betul² kesenangan kapten, membawakan plat² terbaru dari luarnegeri dan badju gaun manis sekali untuk anaknja jang sudah kelihatan kemontokannja pelan². Hanja untuk Hasanlah jang tak begitu banjak. Kawan² kapten tidak begitu mengenal Hasan anaknja itu, sebab Hasan sangat djarang datang kerumah ajahnja. Tadi siangnja pernah Hasan datang kerumah orangtuanja ini. Tapi utnuk pesta ini dia samasekali tidak datang sesudah ada pertengkaran ketjil dengan ajahnja. Waktu ajahnja menanjakan kepada Hasan, apakah sudah berobah pendiriannja dulu, tidak akan masuk djurusan Russia jang pada waktu itu baru mula² dibuka.Hasan mendjawab, tetap akan masuk djurusan itu.

„Kau ini betul sudah dipengaruhi pamanmu. Lantas kalau sudah mahasiswanja nanti masuk organisasi jang mana?”.

„Masuk CGMI”.

„CGMI itu kan jang beraliran merah. Apa kau tidak tahu, atau sengadja mau masuk kesana itu. Kau telah tertipu barangkali, Hasan. Tjobalah kau pikir baik²!”

„Sudah kupikir baik². Hanja CGMI jang tjotjok untukku ini. Tidak ada aliran merah, aliran putih, hidjau seperti dulu ajah tjeritakan itu. CGMI memperdjuangkan hak² dan kewadjiban dan kepentingan mahasiswa dengan tidak meninggalkan persoalan masarakat dan Rakjat”.

„Apa organisasi lain tidak begitu?”

„Ja, barangkali begitu djuga. Tapi aku merasa lebih tjotjok disini. Disinalah tempatku”.

„Aku sengadja membuatkan pesta untuk kau Hasan, berdua adikmu. Lientje tahun ini masuk SMA sudah pasti dapat. Pesta ini kubuatkan untukmu. Sebuah arlodji Mido untukmu, tapi urungkanlah niatmu itu. Pakaian jang baik akan ajah sediakan”.

„Tak usahlah ajah belikan arlodji itu. Pakaianku masih ada. Pestakanlah untuk Lientje sendiri. Aku banjak kerdja djuga.”

„Seperti sudah mendjadi orang politik betul² kau ini. Rupanja termakan djuga pengaruh pamanmu, ja?!”

Mendengar perkataan paman ini, ibunja jang dekat disitu merasa terantjam dan mendjawab.

„Tentang keinginan anak djangan membawa persoalan pamannja. Kau selalu begitu, pap, itu tidak mendidik baik namanja. Pamannja toch bukan orang djahat. Kau boleh bentji adikku, tapi kau tidak boleh mempengaruhi anakmu agar bentji pula pada pamannja. Itu buruk sekali. Hasan mau masuk apa sadja boleh asal baik, asal untuk kebaikan masa depannja.”

„Lagi² kau mempertahankan,” kata kapten.

„Aku lebih baik mempertahankan, daripada menjerang anak sendiri. Daripada mempengaruhi anak sendiri agar menuruti kemauan orangtua, jang belum tentu betul² baik. Tjobalah katakan djurusan mana jang kau kehendaki itu.”

„Djururan ekonomi toch lebih baik, jang sudah terang banjak uang, kaja, gampang belanjda.”

„Aku tidak ada minat kesana. Tidak punja bakat menipu orang.”

„Nah itulah adjaran siapa itu. Kau kira orang jang kaja itu karena menipu orang, karena membohongi orang.”

„Sebagian besar kalau orang² memang hidup dinegeri kapitalis seperti kita ini. Tidak bisa lain, kalau ada orang jang kaja betul² pasti ada orang miskin betul², itu memang sistim kapitalis. Penghisapan atas manusia dari manusia.”

„Nah, dengar, dengar mam, dengar anakmu ngotjeh adjaran siapa itu. Ajo, San pilih. Arlodji Mido, pakaian wol dan mobilet, tapi hindarkan niat itu, masuk djurusan ekonomi.”

„Aku tetap memilih djalanku sendiri, apapun tawaran dari ajah. Pestakan sadja Lientje, belikan dia barang² baik. Aku tak usah, belum masanja bagiku”, kata Hasan agak marah², lalu meninggalkan ajahnja jang ber-siap² menghiasai dan membenahi keperluan untuk pesta nanti. Ibunja jang sedari tadi mendekati dan ingin djelas² mempertahankan anaknnja, lalu melihat Hasan meninggalkan ajahnja dan menudju kedapur akan keluar pulang, lekas² memegang tangan Hasan dan memasukkan uang seratus rupiah. Tapi Hasan menolaknja. Dia masih ada uang katanja, kalau tidak ada barulah dia mau menerimanja. Ibunja merasa sangat iba dan sendu. Waktu itulah Hasan pergi. Dan pada malamnja pesta itu tanpa Hasasn. Ibunja dengan airmata menggenang meladeni pesta tanpa Hasan.

Keramaian berlangsung sampai djauh malam. Untuk anak² muda berachir pada djam duabelas malam. Untuk orang² dewasa sampai djauh malam lagi. Berachir djam 2 malam. Sudah itu kapten memeriksa kado² (Cadeux) pemberian untuk anaknja. Ada beberapa buah plat baru. Plat itu ditjobanja ditengah malam sepi itu. Dari djam setengah tiga sampai djam lima pagi. Ribut dan ramai sekali. Dia samasekali lupa akan djandji²nja pada tetangga. Malam itu tetangga² hampir suntuk malam tidak bisa tidur. Kapten sudah berlupa. Selesai itu dia tidur djam enam pagi sampai djam 2 siang. Sudah itu putar lagi plat² tadi sore waktu djam orang² pulang kerdja dan mengaso karena kelelelahan. Sampai berachir djam enam sore. Dimulai lagi djam delapan malam dan berachir djam duabelas malam lagi.

BAGIAN V

ADA SATU KEDJADIAN JANG MENDJATUHKAN prestasi kapten setjara terang²an dimuka umum. Tapi hal itu adalah kesalahannja sendiri. Suatu sore kapten mengendarai mobilnja menudju kedjalan Asamlama, masuk dari djalan Thamrin. Ketika itu memang banjak oplet² jang simpang siur menudju Kebajoran.

Waktu kapten ingin menikung tiba² sadja andjingnja jang ketika itu hendak dibawanja kedokter hewan, djadi agak meronta. Terpaksa kapten mengindjak rem dengan agak tiba². Dengan sendirinja sebuah oplet jang dibelakang mobilnja terserundung terkedjut dan menubruk bagian belakang power kapten. Tubrukan itu begitu ketjilnja sehingga tidak ada kerugian apa². Tapi tjepat² kapten tururn dari mobilnja dan berhenti mendatangi sopir oplet itu.

„Kamu buta tidak melihat mobil tentara. Tolol goblok kamu! Kamu ganti itu,” kata kapten menundjuk ketempat jang tidak djelas sebab memang tidak ada apa².

Tapi kapten menarik lengan sopir itu keluar dan memegang badju dekat dagunja, sambil menggontjangkan badan sopir.

„Kau bernai sama saja. Kau tidak kenal saja, ja, kok nubruk dari belakang.”

„Djangan begitu, dong, pak, lihat salah siapa dulu. Djangan main tarik main pukul sadja. Saja kan belum tentu slaah. Orang tjari makan kok dibegituin,” kata sopir meronta. Kapten dengan tangannja melepaskan dengan kuat, lalu menjorongkannja dan terdjatuhlah orang itu terserembab dekat solokan. Orang² jang ditepi djalan menonton ramai sekali. Kendaraan² berhenti dan orang²nja melihatkan. Kemudian kapten mengangkatkan lagi. Lalu memukul sopir itu. Sopir itu belum melawan. Tapi tampak kemarahannja sudah kepuntjak.

„Saja sudah tidak melawan masih djuga dipukul seenaknja. Kamu kira saja ini binatang, mentang² kuasa, bintang untuk menindas Rakjat itu, bukan bintang kapten,” kata sopir mengelakkan tendangan kapten jang hampir djatuh keperutnja. Tapi lekas² sopir itu membuka badju jang kena kotoran karena terguling disolokan persimpangan djalan Asamlama Thamrin.

„Mari bertanding, saja tidak ngelawan tadi samasekali bukan takut. Kamu kira saja ini takut. Sama² kita bekas pedjuang. Mari berhantam, saja sediakan njawa saja untuk kekalahan tadi. Babi kamu, binatang, gampang sadja memukul Rakjat,” kata sopir. Rupanja betul² dia marah dan malu karena ditendang didepan umum itu.

Kapten dengan agak ragu² tiba² sadja kehilangan keseimbangannja.

„Kamu mau apa sebenarnja dengan saja,” kata kapten agak ragu² dan gugup² ketjil.

„Mau apa, mau apa, sudah memukul orang lantas begitu, ajo , lawan ini, babi, berani² memukul Rakjat jang belum tentu salahnja. Sini djangan takut, mau apa, mau apa. Ajo, dekat!”.

Kapten agak mundur dan betul² sekarang kehilangan keseimbangannja. Tapi sopir oplet itu agak mendekati kapten. Mukanja sudah kena lumpur karena terdjatuh tadi, badjunja habis kotoran solokan. Orang² makin ramai menonton. Melihat kapten ini agak ragu² untuk melawan, sopir tadi semakin berani dan nekat.

„Djangan lari kamu, perwira jang memukul Rakjat, djangan lari, sini,” kata sopir dan lekas² sopir itu turun kesolokan lalu mendjangkau solokan jang hitamlegam itu, dan terus dilemparkannja kemuka kapten. Tanah lumpur penuh bau²an busuk itu kena melengket kemuka kapten. Muka itu penuh benda² hitam berlumpuran lumpur. Kapten menggosok-gosokkan matanja. Tapi sopir itu tjepat mengambil lagi lumpur dan ber-tubi² melempari muka itu.

„Kamu rasakan, balasan dari Rakjat, kurangadjar berani² memukul Rakjat sembarangan. Kamu kira Rakjat tidak melawan itu semuanja takut.”

Sekarang kapten pula agak marah. Dia merasa malu ditonton orang banjak itu. Tapi sopir djadi makin berani. Lalu mengambil kaju. Waktu kaju itu akan diajunkan pada muka kapten segera datang polisi perintis jang bekebetulan lewat ada 7 orang. Polisi perintis itu menengahi. Kapten menggosok matanja. Dengan marah sekali kapten kelihatan mentjatat nomor sopir oplet. Tapi sopir opletpun mentjatat nomor mobil kapten, nomor tentara. Mereka keduanja sama didamaikan. Kapten menudju mobilnja, andjingnja menanti dengan wadjah jang penuh tanja. Orang² jang menonton pertandingan adu kotoron solokan tadi, sedikit demi sedikit mendjauhi tempat itu.

„Berani djuga ja, sopir itu, kok ngelawan kapten. Hebat itu, betul² baru saja lihat kedjadian itu. Hari Selasa djam lima sore tanggal 9,” kata orang jang didalam oplet.

„Tentu sadja, betul dia kok. Orang tidak ngelawan masih djuga dipukuli. Orang itu kan kalau sehabis begitu ketakuan, lalu djadi berani. Nekad daripada mau menerima penghinaan begitu rupa. Saja djuga rasanja akan begitu. Padahal mobilnja samasekali tidak rusak,” kata seorang jang memberikan komentarnja.

Orang² jang menonton masing² dengan komentarnja. Ada jang mengagumi keberanian sopir. Ada jang mengutuki kesombongan kapten. Ada jadengaheran-heranan melihat perwira jang penuh kotoran itu.

Hari itu kapten tidak terus kedokter hewan. Dia kembali pulang dulu bersalin pakaian. Datang dirumah dilihatnja anak² dan istrinja tidak ada, mereka ada dikamarnja masing². Lekas² kapten masuk kedalam kamar kerdjanja dan mengganti pakaian itu, sesudah membuka badjunja lalu lekas² kekamar mandi mentjutji muka.

Sudah selsesai itu barulah dia kembali kedokter hewan. Hari sudah djam 6 sore. Herdernja sakit²an dan tidak mau makan². Sampai malam harinja andjing ini tidak djuga mau makan. Sudah disuntik, namun penjakitnja tidak bertambah baik, malah malam mendjelang djam duabelas andjing itu muntah² dan me-rintih².

Kapten merasa tjemas. Keesokan paginja dia samasekali tidak masuk kantor. Andjingnja bertambah parah. Dia sendiri jang meminuminja susu, tapi susu itu selalu dimuntahkannja. Obat sudah diberikan menurut apa kata resep dan kata dokter. Hari sudah pukul sembilan masih djuga andjing itu me-rintih² seperti semalam. Ada maksudnja akan membawa kedokter lagi nanti sorenja.

. . . .

Dalam pada itu orang dikantor² bekerdja sebagai biasa. Akan tetapi mendjelang djam sepuluh pagi kantor itu kedatangan kepala inspeksi dari pusat. Seorang oberste (letkol.) dengan dua orang major akan memeriksa dan menindjau kantor itu. Kapten ditanjakan. Tak seorangpun jang berani mendjawab. Waktu ditanjakan apakah biasa tidak masuk, ada jang mendjawab, mereka tidak begitu perhatikan benar karena masing² dengan kesibukan kerdja. Akan tetapi pada hari itu djuga oleh kepala kantor pusat bagian bidang kantor kapten memang memerlukan kapten untuk hadir hari itu djuga, walaupun sudah djam kantor. Ada keperluan penting jang harus diselesaikan pada hari itu djuga. Sesudah mereka berbitjara sebentar, lalu diputuskan untuk mengirimkan seorang kurir untuk memberikan surat jang isinja minta agar kapten datang kekantor hari itu djuga. Mereka menuggu sampai djam lewat kantoran, asal djangan sampai sore benar. Surat kepada kapten dibuat dan akan dikirimkan pada detik itu djuga. Ditugaskan seorang pegawai sipil dan seorang tentara berpangkat sersan. Pegawai sipil dan sersan ini mengenal kapten dan adalah bawahan langsung kapten. Dengan djip kantor mereka menudju rumah kapten. Mereka berdua menerka apa kira² halnja maka kapten diperlukan benar pada hari itu djuga. Seorang menerka akan ada apa² tentang situasi pertempuran. Seorang lagi menerka perlengkapan sendjata akan ditambah. Dan perlu perbaikan gudang jang memerlukan tangan kapten karena kapten memang achli teknik, istimewa tentang listrik radio. Kedatangan bahan² baru dari negara² jang banjak menggunakan listrik dan hal² radio, achir² ini selalu menjibukkan kantor. Dan kapten sangat diperlukan untuk ini. Tenaga teknik dalam hal ini tidak ada orang lain memang hanja kapten jang terpandai dan dihormati.

Dua orang utusan jang membawa surat itu penuh pikiran duga²an kesibukan tentang kantoran. Mereka hampir sampai kerumah kapten, membelok gang. Djip diberhentikan dimuka rumah. Kebetulan pintu pagar tidak dikuntji dari luar. Mereka masuk kehalaman dan menudju pintu samping. Sebentar mereka berhenti dan diam² terpaku agak lama.

„Kau betul² mementingkan kesenengan kau melulu. Anak sakit kau biarkan. Tapi kalau andjing sakit kau urus seperti lebih sajang dari mengurusi anak²mu sendiri. Tidak, aku tidak akan membawanja. Mau mampus, mampuslah. Itulah djadi rumahmu dilempari tahi oleh orang². Mereka bentji karena kau selalu mementingkan kesenangan kau,” kata suara istrinja keras sekali. Serentak dengan itu bunji piring mangkuk berterbangan.

„Kalau sampai nanti sore tidak dibawa kedokter hewan, aku tidak akan pulang kesini.”

„Kau boleh pergi kemana kau suka. Aku tidak akan membawanja. Persetan sama andjing binatang jang banjak merugikan. Kau lebih suka membelandjai andjingmu daripada anakmu jang tinggalnja sama pamannja. Betul² kau gila kesenangan sendiri.”

„Tjoba bilang lagi, kau kutempeleng nanti, tjoblaah.”

„Tjobalah tempeleng, binatang, aku ini apamu, kau betul² binatang geladak. Ajo tempeleng, ini anakmu,” kata suara istri sambil mau melempakan anak orok itu.

„Kau kurang adjar, ajo, tempeleng, gampang sadja mau nempeleng². Ajo kalau berani.” Dan serentak itu berbunji terbangan piringmangkuk bertebaran melempari tubuh kapten. Kapten agak mendjauh, tapi istrinja mengedjar sampai ruangan tengah.

„Ajo djangan lari, tjoba tempeleng, aku ini bukan lagi istrimu, aku ini budakmu jang kau harus tempelengi sesukanja. Itu rupanja guna tandapangkatmu itu. Ajo, djangan lari,” kata istrinja sambil melemparkan potji porselen dan mengenal kaki kapten. Potji itu petjah.

Kapten agak lari kedepan. Waktu dia membelok ingin keluar mengendarai powernja, dia bertemu dengan suruhan dua orang tadi.

„Lho sudah lama kamu Mo”, katanja pada sersan.

„Barusan sadja pak. Ada urusan penting barangkali dikantor. Kami membawa surat untuk bapak.”

„Ja, lekas² sadja juh, saja djuga ada keperluan kekantor”, kata kapten mengelakkan kalau² istrinja mengedjar dari belakang.

Mereka keluar bersama. Sudah diluar halaman dan ketika kapten melihat kekiri kekanan tidak orang jang menonton seperti biasanja kalau sedang ramai²nja, kapten berkata.

„Anak² berkelahi dengan anak² djuga. Wah, susah kalau banjak anak, beginilah. Habis, dia mengamuk kalau kemauannja tidak dipenuhi. Hampir setiap hari sadja begini. Kamu dengar tadi mereka itu?”.

„Tidak, kami baru sadja datang waktu bapak keluar tadi itu. Jah, namanja djuga anak² pak. Dirumah saja djuga begitu”, kata Sersan Darmo dengan penuh mengerti. Kapten samasekali pertjaja betul² bahwa mereka baru sadja datang sewaktu sedang ramai²nja dia bertengkar dan bertempur dengan istrinja tadi. Dalam hati kapten mudah² sadja mereka ini betul² tidak tahu.

„Anak saja jang perempuan tadi itu betul² keras sekali. Seperti saja djuga. Dia berani sekali. Persis saja. Suka berkelahi untuk kebenaran paham jang dianutnja. Betul² hebat anak² saja itu”.

„Ja, mereka diadjar berani sih”, kata sersan.

„Tidak diadjar sadja, tapi barangkali memang sudah turunan berani² kami ini. Ajah saja dulu malah mengalahkan rampok sampai rampok² itu empat orang tidak berkutik waktu mau merampok dirumah kami. Saja waktu itu masih ketjil sekali. Tapi keberanian saja waktu itu sudah mulai, ja, seperti anak saja tadi itu, ngamuk² kalau kehendaknja tidak dikabulkan. Saja sendiri kadang² bingung djuga memikirkan ini”, kata kapten.

Dua orang tadi diam sadja. Tidak mendjawab, tidak bertanja. Tapi dalam hatinja sudah penuh sebuat tjerita jang benar² mereka rangkaikan sedjak lama. Diam² mereka mengerti dan pengertian itu tak perlu lagi diterangtanjakan. Tjukup djelas. Antara mulut dan hati memang benar² ada dinding besar dan kuat.

Mereka menudju kantor. Beberapa orang sudah siap menunggu kapten dengan sebuah perentjanaan perluasan pekerdjaan.

Pertengkaran siang tadi tjukup djelas didengar tetangga². Dengan suara jang serang menjerang, bunji² perang piringmangkok dan potji, dilandjutkan lagi pada malamnja dengan suara² jang biasa se-hari². Bunji radio besar sekali, bunji pick-up, dan pertengkaran siang tadi dilandjutkan pada malamnja. Semua ini berachir pada djam dua malam.

Tetangga² dengan hati jang penuh marah pada berkeluaran berkumpul didepan. Ada jang mengusulkan agar diambil tindakan massaal lagi seperti dulu itu. Tapi dengan bentuk lain. Beberapa orang tidak setudju. Lihatkan sadja kalau betul² tidak berobah dalam empat lima hari ini tjukuplah kita berikan kesempatan hampir selama duaminggu ini sedjak pesta dulu terus²an ribut² lagi, kata usul beberapa orang.

Mereka menantikan kesabaran mereka untuk pada achirnja meledakkannja seperti dulu.

BAGIAN VI

EMPATLIMA BULAN SETELAH ITU TETANGGA² DAN kapten seperti biasa tetap saling berwaspada. Kapten kadang² membatasi dirinja dengan segala kesenangan dan bunji kebiasaannja. Sedangkan tetangga memendamkan rasa untuk ketika² jang baik mengeluarkan peledakan jang disimpan mereka. Bukan lagi dalam bentuk melempari rumah itu dengan tahi, tapi anak² meraka pernah mengadakan demonstrasi memukuli gendang², kaleng² minjaktanah, dan ber-sorak². Ada lagi anak² dari tetangga jang agak djauh, sebenarnja tak perlu ikut²an, tapi mereka menggabungkan diri dan berbaris didepan rumah kapten itu lalu turut dengan kawan²nja memukuli kaleng² persis didepan rumah kapten. Suasana ribut sekali.

Ketika itu djam empat sore. Agaknja kapten sedang tidur njenjak. Mendengar suara hiruadengau ini, kapten terbangun dan agak terkedjut. Dikiranja ada orang mengamuk. Dia keluar. Dilihatnja anak² ramai berbaris dimuka rumahnja. Marah kapten bukan main. Anak² itu diusirnja. Anak² pergi dan ketika kapten masuk lagi dan setelah sepuluh menit kemudian, datang lagi anak² itu menamburi gendang kaleng, ada jang ber-sorak², berteriak sesukanja. Kapten terbangun lagi. Mendatangi anak² itu menamburi gendang kaleng, ada jang ber-sorak², berteriak sesukanja. Kapten terbangun lagi. Mendatangi anak² itu dan marah² mengusirnja.

„Kamu ini tidak tahu orang sedang tidur, ajo, sana main, djangan sini, awas ja, nanti saja gebuki satu²”.

„Kalau kita jang ribut dia marah²,” kata anak jang agak bengal.

„Siapa jang adjar kamu begini, ajo, bilang, siapa orangnja. Berani ribut² orang masih tidur. Anak² kampung kurang adjar. Bapak² main tahi sekarang anaknja main ribut².”

Anak² berlarian tjeraiberai, tapi ber-sorak² dengan suaranja jang masih terdengar oleh kapten. Kapten melihatkan dari djauh dan mengawasi anak² itu.

„Makanja djangan suka keras² bunjiin radio bunjiin pikep, mentang² punja. Enak adja bilang ribut², dia sendiri saban hari bikin ribut ini kampung,” kata anak jang berani dan bengal.

Kapten memperhatikan satupersatu anak² itu. Diawasinja dengan mata jang tadjam. Sedjak itulah anak²nja sendiri samasekali tidak boleh lagi bergaul dengan anak² kampung. Kapten sendiri punja anak² empat orang jang sedang nakal²nja dan sering djuga bermain dengan anak² kampung situ. Tapi sedjak terdjadinja demonstrasi ketjil anak² kampung, maka tertutuplah pintu untuk anak²nja sendiri. Anak²nja dikurung keras dirumahnja sadja. Tapi kapten sendiri tidak djuga merobah pendiriannja. Ada sekali² dia diam dan tidak begitu ribut². Tapi jang paling sering adalah memang ribut² ini. Tidak radionja, maka pertengkaran dengan istrinja. Atau suaranja jang besarparau itu memarahi anak²nja. Membentak budjang rumahtangganja karena terlambat memberikan makan kutjing anggoranja.

. . . .

Sebulan sesudah itu pula terdjadilah kehebohan rumah itu. Persoalan anaknja Hasan. Rupanja Hasan setjara diam² punja tjita² jang djustru sangat bertentangan dengan ajahnja. Hasan barulah memberitahukan ajah-ibunja setelah empat hari lagi akan berangkat. Dia akan segera berangkat ke Moskow untuk beladjar di Moskow dalam universitas persahabatan bangsa². Rentjananja ini samasekali tidak dikabarkannja pada ajah-ibunja. Akan tetapi setelah beberapa hari lagi akan berangkat dan sudah selesai segala urusan paspor visa segala matjamnja dan sudah ada pula kartjis kapalterbangnja, barulah dikatakannja pada ibunja, lalu ibunja ini mengatakannja pada ajahnja.

Betapa marah ajahnja dapatlah dibajangkan. Hari itu betul² ajahnja ini merasa dunia ini kiamat dan runtuh menimpa dirinja.

„Bagaimana djadi pikiranmu begitu tersesat, San. Rupanja tidak tjukup masuk djurusan Russia sadja, lalu mau ke Russia. Apa jang kauambil disana itu. Kau ngerti disana kan negeri komunis. Aduh, aduh, San, kemana mukaku akan kubuangkan kalau orang mengetahui kau anakku akan ke Moskow. Kau tersesat, San.”

„Aku tidak tersesat, jah, aku merasa beruntung. Kawan²ku menjokong. Disana tidak bajar, hanja tinggal beladjar sadja, segalanja hanja untuk kepentingan beladjar sadja.”

„Tentu sadja sebab komunis membudjuk agar kau mau masuk komunis, tolol. Mereka tidak akan segan² membuangkan duitnja. Kau tertipu, San.”

„Tidak jah, aku samasekali tidak tertipu. Lusa berangkat segalanja sudah beras.”

„Tjabut San, masih bisa kita tjabut, kau akan kuongkosi kemana kau suka, tapi djanganlah ke Moskow, djangan ke negeri komunis, San. Tolonglah ajahmu ini, tolong, San. Aku malu dengan kawan². Kau anakku tahu² akan ke Moskow. Hantjur aku, San. Kita tjabut sadja, nak,” kata kapten membudjuk. Tapi jang dibudjuk sendiri membatu-kali dan dengan keras menolak.

„Begini, San, besok ajah urus, kita djandji ja. Ajah akan usahakan agar kau tidak djadi. Kau terima dari ajah sebuah skuter Vespa dan foto tustel buatan Djerman, kau terima lagi uang belandja tigakali tambah daripada sekarang kau terima. Kita urus besok, ja, nak.”

„Tidak bisa lagi, jah, rentjana akan katjau balau. Kartjis sudah ada, rombongan sudah siap. Rombongan malah akan berkumpul terus dalam sehari ini. Tidak bisa djadi. Urusan di Moskow sendiri sudah beres diatur. Kita tidak boleh mengatjaukan rentjana.”

„Sekiranja aku bisa mengurus itu?”

„Aku jang tidak mau, aku tetap pilih beladjar di Mosko.”

„Tjoba terus terang. Kau sekarang sudah masuk komunis, ja, tjobalah siapa jang suruh, pamanmu tentu! Siapa jang belandjai, siapa jang bajar ongkos²mu begitu banjak. Kau betul² terdjebak. Itulah kalau sok² masuk organisasi lekas sekali terdjebak.”

„Aku tidak ada jang suruh, tidak ada jang pengaruhi. Aku melamar ke Universitas Persahabatan untuk bangsa² di Moskow, lalu diterima dan kuuras. Tidak ada bajar setjepengpun. Dari Indonesia malah akan berangkat tidak kurang dari empatpuluh orang, malah akan ditambah lagi. Aku melamar sendiri. Paman sendiri tidak tahu, baru tadi siang kuberitahu.”

„Kau bohong kau betul² mengchianati orangtuamu. Aduh, aduh, San. Hantjur aku, San,” kata kapten meremas rambut dan memegang kepalanja.

„Nanti kudatangi pamanmu itu. Kau betul² pembohong. San aku masih berhak memukul kau San, ingat itu! Kau anakku aku berkuasa atasmu, ingat itu, ja. Habis kesabaran pasti kau akan kupukuli. Nanti sore kudatangi pamanmu itu. Kau betul² bikin gara², kau mengadu aku dengan pamanmu. Keparat betul setan itu. Mau pula berkuasa atasmu, keparat betul.”

Mendengar ini ibunja jang dari tadi mendekat dan mendengarkan pembitjaraan ini:

„Lho, lho djangan sampai begitu, dong. Periksa dulu. Djangan sampai ngamuk² tidak keruan. Hasan bukannja pergi mati kesana itu. Dia ada kemauan beladjar.”

„Kau pun tolol, kenegeri komunis itu sama djuga dengan mati, tolol. Kedjam disana itu, kerdja keras, banjak kelaparan, tanah kering tandus atau bandjir besar, habis dilanda bandjir.”

„Itu kan Tiongkok. Mati kelaparan itu tidak benar, bahwa susah makanan karena bandjir itu betul.”

„Sama sadja asal negeri komunis sama sadja, sama sadja kataku, tolol! Sudah pergi sana! Pergi kamu tjepat pergi, Ai, ai, ibunja sudah ikut² kemasukan.”

„Aku kemasukan atau kau. Siapa jang dikirimi surat dari Rakjat, ajo. Siapa jang dilempari tahi, ajo. Siapa jang dibentji anak² jang masih hidjau, ajo!”

„Sudah, sudah sana, pergi semua. Ja, allah kemana mukaku akan kuhadapkan. Anakku akan ke Moskow, negara komunis, ja allah mengapa aku akan djadi begini.”

Anak jang masih ketjil dan adik Hasan, Lientje keheranan dari kamarnja dan mendatangi ajahnja, lalu menanjakan.

„Ada apa sih pap?”

„Abangmu itu akan ke Mosko. Dia mau memberi malu papie.”

„Lha enak dong ke Moskow ibukota Soviet Uni. Beladjar disana nggak bajar. Segalanja enak, beruntung, dong.”

„Beruntung, beruntung. Sudah pergi sana ajo, pergi, kamu djuga turut² gila. Ajo pergi!”

Hari itu kapten betul² marah dan kemarahannja itu tidak lagi dapat dikuasainja. Dengan meremas kepala dan memegang dadanja keluarlah airmatanja jang begitu mahal untuk keluar. Sore itu dia dengan istrinja pergi kerumah iparnja, maksudnja akan menanjakan tentang hal Hasan betul tidaknja dan sekalian akan membudjuk iparnja itu supaja turut mempengaruhi Hasan agar tidak pergi ke Moskow itu.

. . . .

Sedatangnja dia dirumah iparnja itu, kebetulan paman Hasan sedang dirumah, langsung sadja kapten menanjakan tentang Hasan. Si paman mengatakan terus terang bahwa hal itu baru diketahuinja pagi² tadi. Mereka samsekali tidak mengetahui Hasan akan ke Moskow itu. Iparnja menerangkan memang ada tawaran kepada pemuda² seluruh dunia tidak hanja untuk Indonesia, barangsiapa jang mau beladjar di Moskow boleh mengadjukan lamaran ke Moskow. Tidak dipungut biaja, tidak minta ongkos sesenpun. Malah dapat uang permulaan sebanjak 900 rubel, jang kalau dinilai dengan uang sini amat besar sekali perbedaannja. Hasan sama sekali tidak memberitahukan hal pelamaran ini pada pamannja, demikian pamannja menerangkan degan senjum, tenang. Malah pamannja bertanja apakah sudah diterangkan pada ajah-ibunja. Hasan mendjawab nanti siang. Pamannja menggelengkan kepala, dan kedatangan iparnja ini tidaklah mendjadi keheranan sangat. Untung² kalau tidak habis ditjatji makinja. Iparnja itu menerangkan lagi sebagaimana Hasan tadi, bahwa pentjabutan nama itu akan lebih sukar karena waktunja tinggal dua hari lagi. Lagipula tidak baik kalau memang Hasan betul² berminat meneruskan sekolah itu.

Kakaknja jaitu ibu Hasan mendjelaskan pula kepada suaminja, kalau toch Hasan memang ingin meneruskan peladjarannja disana bagi dia tidaklah mendjadi soal amat.

Tapi setelah si ibu mendengar bahwa itu berarti perpisahan dengan anaknja selama 5 atau 6 tahun, maka titiklah airmatanja. Namun tidaklah sampai harus menghalangi kehendak anaknja.

Bagi seorang ibu perpisahan dengan anak adalah sedih. Tapi bagi seorang ibu jang bidjaksana tidaklah akan begitu sampai menghalangi anak jang sudah mendjelang dewasa.

„Kalau anak orang lain boleh, mengapa anak kita tidak boleh,” kata ibu Hasan.

„Biarkan mereka, semua mereka itu kan komunis. Kita ini orang baik², djangan meniru mereka.”

„Mereka djuga orang baik²,” kata ibu Hasan membalas suaminja didepan adiknja paman Hasan. Paman ini hanja tertawa sadja.

„Komunis itu tidaklah sedjelek jang disangkakan abang itu. Malah semua negara komunis menjokong pengembalian Irian Barat pada wilajah kekuasaan RI. Negeri kapitalis tidak, malah terang²an membantu pemberontakan, jang abang sendiri tahu itu.”

„Aku tidak tahu politik ini itu. Itu kan hanja propaganda komunis, agar dapat simpati.”

„Kenapa Amerika tidak mau turut agar dapat simpati djuga. Sokong pengembalian Irian Barat pada wilajah kekuasaan RI. Kenapa membantu pemberontakan,” kata iparnja tenang sekali sambil tertawa manis.

Mendengar akan ada apa² ini, istri kapten tjepat² merubah pembitjaraan. Menanjakan tentang keperluan Hasan jang mesti dibawa, sebab waktunja tinggal dua hari lagi.

„Djadi kalau begitu kau setudju Hasan pergi ini,” kata suaminja.

„Daripada menghalangi maksudnja ingin beladjar, lebih baik menjetudjui kemauannja beladjar,” kata istrinja.

Mendengar ini paman Hasan tersenjum sadja.

Kapten diam terpaku. Lebih dua djam mereka ber-handai² setjara tidak begitu ramah. Kapten menjerah kalah. Ada memang kemauannja untuk tidak setahu Hasan menghalanginja. Akan tetapi setelah di-pikir²nja kegunaannja sangat kurang, maka niat itu segera dirubahnja. Tidak bisa lain apapun jang dihadapi, Hasan mesti djuga pergi ke Mosko.

Kapten tidak berdaja menghadapi front istri, ipar, dan anaknja sendiri. Memang terasa malu besar pada kawan²nja kalau diketahuinja Hasan pergi ke Moskow. Tapi dalam rentjana kepalanja ada djalan lain. Suatu waktu kalau terpaksa akan dikatakannja bahwa Hasan ini bukanlah anaknja sendiri.

Pada hari keberangkatan Hasan, ibu-ajahnja sangat minta agar Hasan menginap dirumah ajahnja. Pamanjapun minta pada Hasan agar menginaplah dirumah ajahnja itu. Setelah Hasan dibudjuk dari pamannja agar nginap dirumah ajahnja, barulah Hasan mau. Mula²nja ajahnja ini ingin mengadakan pesta ketjil²an. Tapi Hasan menolak. Kalau diadakan pesta Hasan tidak mau menginap disitu. Ajahnja mengalah.

Pada malamnja itu keluarga kapten dalam suasana bersendagurau. Terutama Hasan dengan adik²nja jang ketjil². Ajahnja hanja diam sadja. Ibunja jang terlalu banjak mengeluarkan airmata. Hasan membudjuk agar tidak perlu memikirkan dirinja. Toch banjak orang Indonesia. Moskow itu hampir² masarakat ketjil Indonesia, kata Hasan menerangkan menenteramkan hati ibunja. Dari Hasan ajahnja banjak djuga dapat keterangan tentang sesuatu tjara pelamaran diuniversitas itu. Betul² seperti main². Umumkan dimadjalah, lantas orang² melamar, lantas dapat. Diurus lantas pergi, tanpa bajaran apapun. Segala sesuatu dibajar oleh pemerintah Uni Sovjet. Mula² ajahnja tidak mau menerima keterangan ini. Tapi Hasan lebih mendjelaskan bahwa ide untuk membuat universitas persahabatan segala bangsa itu, malah dikeluarkan sewaktu perdana menteri Krutjov berada di Bandung.

Ber-kali² Hasan menerangkan bahwa universitas itu bukanlah universitas komunis. Didalamnja tidak bersaratkan menganut agama apapun. Diterangkan pula olehnja bahwa Sovjet Uni itu bukanlah negara komunis, tapi negara sosialis belum masarakat komunis. Malam itu merupakan pembitjaraan ketjil dan diskusi antara anak dan ajah.

Sedang siibu dan adik²nja mendengarkan tjerita itu. Kadang² diselangi tangis ibunja.

Pada keesokan harinja pagi² sekali sebelum djam empat pagi, turunlah keluarga itu, diiringi oleh ibu-ajahnja dan adik²nja. Sebelas njawa dalam sebuah power itu. Di kemajoran sudah banjak pemuda jang akan berangkat bersama Hasan. Ada dua tiga orang jang malah dikenal oleh ibu-ajahnja, jang seorang tuanja dikenal baik oleh kapten. Kapten lekas² menanjakan soal² itu pada kenalan ini. Betul² sama dengan keterangan Hasan. Dikenal pula oleh kapten orang ini adalah samasekali bukan komunis, malah anak Hadji Dahlan kenalannja dulu sewaktu di Palembang. Ada pula malah masih dekat famili dari fihak kapten jang orangtuanja djuga samasekali bukan komunis. Dia ini dari Djawa Timur, dari Malang. Banjak lagi anak² peladjar dari berbagai daerah. Mereka mengenakan pakaian batik² dan berpetji serta bertandakan Bhineka Tunggal Ika dipatjangkan didadanja. Mereka gagah² dan penuh senjum. Orang² tuanja bangga meskipun mengeluarkan djuga airmata sedih.

Tidak terketjuali ibu Hasan. Hanja kapten jang agak kebingungan melihat orang jang begitu ramai dan dikenalnja pula sebagai orang² jang baik dalam pandangannja. Melihat orang² tua anak² ini kapten djadi agak sedikit tidak begitu ketjewa. Peladjar² itu penuh rasa kegembiraan. Disana-sini berpelukan perpisahan. Perpisahan jang tidak sebentar. Tjukup dirindukan waktu selama 5 dan 6 tahun. Selama waktu itulah mereka tidak akan bertemu dengan anak²nja. Walau demikian tidak seorangpun antara peladjar itu jang mengeluarkan airmata. Peladjar² wanita ada 4 atau 5 orang. Merekapun tidak menangis. Hanja orangtuanja jang berlinangan airmata. Melihat keadaan ini, ibu Hasan tambah memperbanjak airmatanja. Sedangkan kapten semakin hilang rasa ketjewanja, betapa gembira anak² jang akan meneruskan peladjaran keluarnegeri itu. Ada djuga rasa bangganja meskipun sangatlah sedikit dan se-akan² takkan terlihat tapi namun ada rasa itu.

Waktu semakin sedikit. Mereka berpelukan. Ibu Hasan mentjium kening anaknja. Hasan mentjium tangan ibunja dan mentjium adik²nja. Kapten bersalaman terharu dengan anaknja jang hamper mendjelang 20 tahun itu. Sekarang rasa haru itu lantas sadja tiba² ada dan menguasai dirinja. Tapi agak sedikit terlambat. Anaknja sudah masuk lapangan. Rasa haru semakin besar, apalagi sewaktu anak² itu menjanjikan lagu Tanah Airku Indonesia ber-ramai² tanda perpisahan dengan buminja sendiri. Airmata orang² tua mengalir tjepat. Ibu Hasan semakin ter-isak². Lagu tadi masih kedengaran. Kapten termenung. Sedangkan kapal udara sudah menutup pintunja. Kelihatan bertjerantjangan tangan² dari djendela kapal itu dan mereka dengan melambaikan tangan²nja memberi tanda perpisahan dengan keluarganja-perpisahan untuk lima enam tahun. Betapa besarnja kelak bila mereka sudah kembali. Kapten djadi agak melamun. Anaknja bakal lulusan luarnegeri, walaupun negeri itu negeri jang tidak begitu ditjintainja.

BAGIAN VII

PEROBAHAN SITUASI KENEGARAAN DI INDONESIA memang tjepat dan ketjepatan ini menguntungkan Rakjat. Kepada semua pegawai² negeri dan pegawai pamongpradja jang agak chusus bekerdja dalam bidang ini, sudah ditugaskan agar mempeladjari baik² Manipol. Mempeladjari Manipol sebagai haluan negara. Manipol tidak hanja mesti dipeladjari oleh orang² tertentu sadja, akan tetapi harus dipeladjari oleh semua Warganegara. Pegawai² sibuk mem-buka² buku dan tjatatan sedjarah. Harus pula mempeladjari dari mula² adanja dekrit Presiden 5 Djuli, lalu dihubungkan dengan kelahiran Manipol ini. Haluan negara sudah digariskan dengan tegas djelas. Kita tak perlu lagi men-tjari² djalan dan tjara kemana negara ini hendak dibawa. MPRS lembaga negara jang tertinggi sudah menggariskannja, dan mereka adalah wakil² Rakjat. Manipol harus dipeladjari baik².

Demikianlah, tidak terketjuali bagi anggota tentara. Termasuk dikantor kapten. Walaupun sebenarnja Manipol itu sudah semestinja dari dulu dipeladjari, tapi tidak begitu terlambat benar. Pegawai² dikantor kapten baik sipil maupun militer mempeladjari baik² Manipol itu. Indoktrinasi setjara teratur dan terperintji dilakukan dengan baik. Kapten sendiri, tidak terketjualinja harus mempeladjari Manipol, sebuah buku jang menerangkan tentang haluan negara. Peladjaran lengkap dari pidato presiden. Kemana negara ini hendak kita bawa, dengan tjara apa, siapa² musuh negara musuh Rakjat, bagaimana tjara mendjalankan kehendak negara ini, semua lengkap dengan perintjian²nja. Buku dari Presiden Sukarno dipeladjari, tambahan dari Ruslan Abdulgani melengkapi.

Mula² peladjaran ini memang agak membingungkan kapten, sebab kapten sendiri djustru dalam pengetahuan inilah jang sangat kurang dan ketinggalan djauh. Akan tetapi keharusan mempeladjarinja dengan saran² dari pengadjar membikin setiap orang lama² djadi kerasan. Kapten sendiri pada mulanja agak berat menerima peladjaran² ini. Ada debat malah debat sengit. Peladjaran itu diberikan sampai djauh malam. Pada hari pertama agak ngantuk. Pada hari kedua ada debat. Pada hari ketiga ada debat sengit antara peladjar² jang memang sudah sama² tua itu. Tapi pengadjar menggariskan: peladjaran Manipol bukanlah suatu peladjaran untuk didiskusikan dan bukan untuk diperdebatkan, akan tetapi untuk dipeladjari dan malah dipraktekkan. Perdebatan tak perlu ada, sebab selesai di MPRS mestinja, djadi sesampainja ketangan masarakat Indonesia, buku itu bukan lagi untuk diperdebatkan. Manipol untuk dipeladjari dan direpaskan lalu dipraktekkan, demikian kata pengadjar.

Sudah itu tak ada lagi perdebatan. Jang menimbulkan perdebatan itu tentang beberapa pasal. Bagi kapten sendiri terutama perkataan: bukan kaum bedil jang harus memimpin Manipol, akan tetapi Manipol jang harus memimpin bedil, lalu tudjuan negara jaitu masarakat sosialis Indonesia tanpa pengisapan dari manusia atas manusia. Tentang sarat² membangun masarakat Indonesia jang sosialis. Pada bab inilah mula² kapten merasa harus mendebat. Sebab setahu dirinja sosialis jang tanpa pengisapan manusia atas manusia dan adil dan makmur itu adalah negara komunis. Akan tetapi diamlah kapten sewaktu pengadjar mengatakan bahwa negara kita berdasarkan Pantjasila dimana sila ketuhanan tetap diutamakan. Sedangkan negara komunis tidak ada berbunji demikian. Bukan pula sosialis jang seperti di-negara² jang seperti disebutkan kapten, tapi ini sosialis Indonesia.

Lama djuga bahan² ini mendjadi perdebatan. Akan tetapi lama² kapten sendiri sesudah memperdebatkan dengan kawan²nja jang ada dikantor terutama sekali dengan pegawai² jang kebetulan anggota Serikat Buruh Kementerian Pertahanan (SBKP). Persoalan semakin djelas. Tidak hanja djelas, akan tetapi pada achirnja kapten merasa kerasan djuga mempeladjari tentang situasi politik sedikit². Dari anggota SBKP didapatinja buku² karangan Presiden. Kapten mendapat pindjaman buku besar dan berat, tapi isinja popular sekali ialah sebuah buku kumpulan karangan presiden Sukarno jang bernama „DIBAWAH BENDERA REVOLUSI”.

Mula² kapten segan membatja buku ini. Akan tetapi lama² setelah melihat gambar²nja dan mem-balik² karangan bung Karno pada tahun duapuluhan dan tigapuluhan dan melihat pula potret² bung Karno sewaktu masih muda, melihat pula karikatur jang dibuat bung Karno sendiri jang memakai nama Soemini, kapten membatja sedikit sekali, lalu sedikit lagi. Kemudian pada besoknja dibatja lagi sedikit lagi. Terasa enak. Bung Karno memang pandai sekali mengarang dan membentangkan pikirannja setjara popular. Lama² kapten tertarik djuga dan membatjanja banjak².

Pada waktu keasikan inilah bunji² rumah kapten agak djarang² seperti dulu² lagi. Tetangga² sudah pula pandai tidur njenjak dan tidak ada lagi demonstrasi ketjil²an dan tidak lagi perlu membentuk delegasi²an. Ada keheranan pada tetangga² ini, mengapa kok tiba² berubah begitu rupa. Tapi tjepat² mereka membuangkan keheranan itu, karena mereka merasa bersukur dengan keadaan ini.

. . . .

Dari Moskow sudah sering surat anaknja datang. Anak² kapten jang sekarang sudah radjin dengan hobby² baru sudah pula sering² mengumpulkan perangko. Surat anaknja ini sedikit membanggakan kapten. Anaknja jang dulu dianggapnja begitu tolol sekarang sudah di Moskow dan beladjar di universitas jang universitas itu ada segala bangsa didunia ini. Anaknja bertjerita pula bahwa mereka dapat uang 900 rubel. Makanan murah. Makan pagi dengan makan sekenjang²nja tidak akan habis serubel, paling² hanja 8 pitjis atau 8 kopek. Olahraga tjukup. Sakit sedikit sudah masuk rumah sakit. Pemeriksaan sangat teliti. Dokter² sangat kurang pekerdjaan tidak seperti di Indonesia, kata Hasan dalam suratnja. Sebab kesehatan Rakjat sangat diperhatikan dan mutu kehidupan dengan makanan tjukup, djaminan tjukup mendjadikan dokter² agak kurang kerdjaan. Karena itu bila anak² peladjar itu sakit sedikit sudah ramai² dokter datang dan saling agak berebutan memeriksanja dengan teliti dan saksama, demikian surat Hasan.

Ada pula dikirimi Hasan potret² diri dan kawan²nja. Dengan rasa bangga kapten melihat potret itu. Anaknja sudah seperti orang² eropah betul. Pakai djas tebal bertopi jang dipakai sewaktu musim saldju. Mereka berpotret dipinggir lapangan merah. Dan didekat bukit Lenin dimana sebuah universitas berdiri dengan megahnja. Ada lagi beberapa potret Hasan dengan mahasiswa Cuba dan mahasiswa Djepang serta mahasiswa Djerman, sebuah negeri jang amat dikenal kapten via barang² luxnja. Potret ini disimpan baik² oleh kapten. Mereka membukanja ber-sama² dengan adik Hasan dan penuh sekeluarga menghadapi surat dan potret² itu. Mereka peladjar² itu, kata Hasan dalam suratnja, sudah mempergunakan bahasa Russia. Akan tetapi Hasan sedjak dari Indonesia sudah beladjar bahasa Russia itu, sebab dia masuk djurusan Russia, karena itu bagi Hasan tidak lagi mesti begitu tekun sebagaimana kawan²nja jang lain.

Serentak dengan itu waktu dikantor kapten mem-balik² sebuah madjalah jang bernama Negeri Sovjet, madjalah untuk perpustakaan. Tiba² sadja matanja menampak sebuah potret bersama anak² Indonesia sewaktu tiba dilapangan terbang Moskow. Dan dilihatnja Hasan dengan wadjahnja jang gagah. Madjalah itu lekas dibawanja pulang dan tjepat diperlihatkan pada istrinja. Sekeluarga mereka mengerumuni gambar Hasan dengan rombongan pertamanja. Betapa bahagia keluarga itu. Adik² Hasan dengan penuh ketawa memperhatikan gambar abangnja jang gagah jang kini ada diluarnegeri sebuah negeri besar.

. . . .

Ada beberapa lamanja tetangga² dengan pertanjaan² dalam hatinja masing² memikirkan, mengapa kapten ini dalam waktu beberapa hari dan minggu² itu tidak lagi terdengar ribut² dan tidak lagi terdengar² radionja jang raksasa, pick-upnja jang menggaum dan tidak djuga terdengar pertengkaran atau piring² terbang seperti dulu. Rumah itu agak sunji, hanja terdengar anak²nja jang bertengkaran entah berebutan apa. Tentu sadja kalau hanja suara anak² ini tidaklah akan mengganggu mereka. Kadang² ada djuga kawan²nja, jaitu kawan² kapten sekantor kerdjanja. Tapi kedatangan mereka ini malah tidak membikin rebut. Ada suara berdebat dan memperbintjangkan sesuatu. Kedengaran pula perbintjangan jang agak bersifat politik.

Perbintjangan tentang politik ini kedengaran djelas oleh tetangga jang paling dekat. Masalah komunisto-phobi, Rakjat-phobi, politik-phobi. Mula² perbintjangan itu agak ramai dan agak sengit. Lama² tenang² dan kedengaran suara² jang memberikan tanda setudju. Tetangga² jang mendengarkan pembitjaraan ini, lalu membukakan senjumnja dan mengangguk dengan sendirinja.

„Sudah mulai beladjar politik agaknja tetangga kita ini,” kata seorang suami pada istrinja waktu sore² jang pada biasanja waktu itulah bunji²an dari rumah kapten sangat ributnja.

„Ada baiknja daripada hingarbingar tidak keruan. Pantas sadja sudah agak tenang.”

„Sudah mulai coaching indoktrinasi Manipol. Achir² ini itu sadja jang kedengaran.”

„Boleh kaul kita sedekah² makan ramai², tetangga kita tidak lagi kemasukan setan seperti dulu. Sediakan kambing, potong kambing.” Kata tetangga sebelah kanan pada tetangganja jang sebelah kiri. Tetangga² sudah mulai dengan senjum satu sama lain bila saling bertemu.

Delegasi kekepala RT dan kelurah tempo hari kini saling bersenjuman bila mereka bertemu. Rupanja teringat akan kedjadian dulu itu. Beberapa tetangga jang dulu pernah melempari rumah itu tahi, sekarang mereka tertawa ketjil lutju bila mereka saling berpapasan.

Suatu sore, ada tamu jang datang kerumah kapten. Rupanja tamu itu baru datang dari luarnegeri dan membawa sesuatu untuk kapten. Betapa senangnja kapten pada hari itu.

„Mam, mam, sini tjepatan. Ada kiriman dari Hasan. Banjak sekali, wah, wah bukan main”.

Istrinja datang mendekati. Mereka bersamamembatja surat dan melihat potret Hasan. Bersama dengan itu ada lima buah piringan hitam buatan Uni Sovjet. Dalam surat itu Hasan mentjeritakan bahwa dia sudah lulus dari udjian pertama dengan angka jang baik. Sekarang ini dia ada di Laut Hitam di Ukraine, 32 djam perdjalanan kereta-api bila dari Moskow. Akan segera ke Moldavia dan akan ke Eropah Timur lainnja, ke Bulgaria, Rumania, dan Hongaria, sebab mereka liburan hamper dua bulan lebih.

„Lientje, Lientje”, teriak kapten, „ambil petamu tjepat. Lekasan!”, kata kapten ingin melihat perdjalanan anaknja.

Lientje keluar dan membawa peta dunia, atlas sekolahnja. Lalu membentangkan atlas itu ber-sama² mengikuti negara² jang akan didjalani Hasan. Dengan telundjuknja jang agak gemeteran, kapten mengikuti peta² Eropah Timur. Anak istrinja melihatkan dengan gembira.

„Waduh, waduh, djauh djuga. Nah, tentu ongkosnja ongkos negara. Bukan main senangnja”.

„Dulu papie marah² waktu dia mau pergi”, kata Lientje anaknja.

„Alah, kau tahu apa. Sana, ini putar, ajo”, kata kapten memberikan piringan hitam pada anaknja Kapten asik membatja. Anaknja memutar lagu² itu. Tidak lama kedengaran lagu „Saputangan„ dalan bahasa Russia.

Sebentar kapten tertegun dan berhenti membatja peta. Istrinja berhenti pula memperhatikan anaknja.

„Lho itu toh lagu Saputangan. Dalam Bahasa Russia”, kata kapten keheranan.

„Eh, bagus ja. Kok lebih bagusan dari Bahasa Indonesianja. Aneh”, katanja lagi.

Sudah itu anaknja memutarkan lagi lagu² lain. Kapten berhenti membatja dan mendekati anaknja. Mereka bersama memutar lagu² itu. Lagu Tanah Airku Indonesia, lagu Timang si Bujung, lagu Laruik Sandjo, semuanja dalam Bahasa Russia dan dibawakan dengan baik². Kapten kegirangan. Baru sekali inilah dia malah tertarik dengan lagu² Indonesia. Sajangnja haruslah melalui luarnegeri dulu.

Ber-kali² lagu itu diputarnja. Tapi tetangga²nja tidaklah perlu lagi membentuk delegasi seperti dulu untuk menertibkan tingkah lakunja. Hanja satu dua djam sadja kapten sudah berhenti. Achir² ini tidak pernah lagi dia setjara gila²an memutar lagu² itu sampai pagi buta.

Sudah itu kembali kapten memperhatikan gambar Hasan jang sedang berpotret sendiri dan potret ber-sama² kawannja setanahair. Ada potretnja jang paling menjenangkan. Sewaktu potret itu dibuat pada musim dingin. Hasan ketika itu berpakaian mantel tebal dan bertopi menutupi telinganja. Disampingnja ada sepatu ski untuk permainan seket buat mahasiswa². Tampaknja sangat gagah sekali. Sehingga kapten tertawa² ketjil memperhatikan gambar itu. Disebelahnja ada tulisan Hasan jang menjatakan waktu itu musim saldju. Musim saldju di Moskow kadang² mentjapai 30 deradjat dibawah nol. Ketika membatja tulisan ini, lekas² kapten ketiang tembok dinding rumahnja, lalu melihat barometer rumahnja. Ketika itu di Djakarta 29 deradjat diatas nol.

Ada pula potret Hasan didepan patung Lenin dan dilapangan merah. Potret² ini sangat menarik hati kapten. Betul² anaknja ini sudah hampir² djadi orang eropah djuga, demikian pikirnja. Kapten tersenjum senang. Rasa badannja panas² dingin dan di-awang².

Seminggu sesudah itu datanglah surat dari direktur universitas. Surat itu memang betul untuk kapten jaitu orangtua Hasan. Surat jang berbahasa Russia, tapi sudah diterdjemahkan djuga dalam bahasa Indonesia. Isi surat itu menjatakan penghargaan dan mengutjapkan sukur atas orangtua Hasan jang telah mendidiknja radjin beladjar. Sehingga Hasan mendapat angka paling baik dan nomor satu dikelasnja. Semua angkanja mendapat 5. Melihat angka lima ini, kapten djadi ragu². Apa baiknja angka lima. Kapten berpikir sebentar kalau angka itu salah atau terdjemahannja jang salah. Tapi setelah dibatjanja baik², ternjata memang angka lima-lah itu. Kapten tetap ragu². Lekas dia masuk kamar dan membawa sebuah madjalah Negeri Sovjet. Melihat alamat kantor penerangan Bapus (Badan Penerangan Uni Sovjet). Sesudah mentjatat dan meng-ingat² alamat kantor itu, lekas² dia mengendarai powernja menudju djalan Waringin.

Sesampainja disana diperlihatkannja surat² itu. Lebih²lah tertjengangnja kapten setelah ada seorang Russia jang pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan mendjabat tangan kapten itu erat² mengutjapkan selamat atas kemenangan anaknja jang telah menggondol kedjuaraan mahasiswa atas peladjarannja. Kapten ketika itu lebih² tertjengang setelah diterangkan oleh orang Russia itu, bahwa angka lima adalah angka jang paling tinggi, kalua di Indonesia itu berarti 10. Kapten terhenjak dan menarik nafas pandjang. Katjau balaulah pikirannja sebentar. Dia teringat angka Djepang jang paling tinggi adalah 100, angka Belanda dulu 10, sekarang angka Russia hanja 5. Aneh², pikirnja.

Setelah itu kapten lekas² pulang dan sesampainja dirumah memanggil istri dan anaknja. Sekeluarga itu berkumpul. Mereka saling membatja surat itu dan lama sekali memperhatikan tulisan Russia jang se-akan² terbalik rupanja. Adik² Hasan jang sudah masuk sekolah dan sudah duduk kelas lima kelas enam, ter-tawa² melihat tulisan jang agak terbalik itu. Mereka sekeluarga berkumpul dengan bahagianja.

Keesokan harinja kapten dan istrinja membalas surat itu. Dengan ongkos Rp. 16 ,—, akan sampailah surat itu ketangan anaknja.

. . . .

Kalau kapten agak lowong kerdja, dia pergi mendapatkan buruh² sipil dibengkel mobil jang ada dikompleks kantor besar itu. Berkelakar pandjang dan menarik. Akan tetapi kelakarnja ini tidaklah seperti dulu lagi. Tentang orang² lain tidak tentang dirinja sendiri. Tentang pekerdjaan dan tentang pembangunan. Satu kemadjuan jang sangat besar djuga, bahwa kapten pernah mengemukakan keinginannja membangun sebuah perbengkelan alat² listrik dan tempatnja di Irian Barat jang begitu kaja akan barang² tambang. Betapapun dikatakan bahwa itu ngelamun, tapi betul² utjapan itu keluar dari hatinja. Memang ada dipikirannja, bahkan dalam sekali. Kemadjuan lain akan tampak kalau orang datang kerumahnja. Kapten berlangganan suratkabar, bahkan harian pagi dan harian jang terbit sore. Sudah ada rak-rak bukunja, baik jang berbahasa asing maupun jang berbahasa Indonesia. Ada buku² politik. Bahkan sudah berani mengeluarkan 2000 rupiah untuk membeli sebuah buku „Dibawah bendera revolusi”, dan banjak lagi buku² tentang kenegaraan. Untuk membatja buku² ini tentulah akan sangat melelahkan bila terus²an. Akan tetapi karena ada waktu untuk membatja buku² inilah maka bunji jang mengganggu tetangga² dulu djadi semakin berkurang. Dan tetangga djadi berobah pendirian. Bila bertemu dengan kapten sudah mau membungkukkan badan dan kepalanja sedikit. Atau sudah berani dan sudah mau pula mengutjapkan kata „selamat pagi”, „selamat sore, selamat malam”.

Beberapa pegawai kantor jang agak dekat bergaul dengan kapten, melihat djuga perubahan ini. Mereka karena setiap hari berdekatan, tidaklah akan begitu keheran-heranan melihat perubahan ini, tidak seperti tetangga² kapten. Malah kapten begitu dekat pula dengan kawan² sekantornja, mau pula bertjerita tentang rumahtangga jang sebenarnja amat djarang ditjeritakannja pada orang sembarangan. Sering pula kapten memperlihatkan surat² anaknja dan memperlihatkan potret² anaknja jang gagah itu. Kepada seorang kawan kantoran orang bawahannja, pernah kapten memperlihatkan potret anaknja itu. Kawan kapten ini tahu djuga tentang kapten, karena kapten sering bertjerita dan berdiskusi tentang sesuatu. Waktu kawannja itu memperlihatkan potret jang diperlihatkannja itu, berkatalah kawannja ini.

„Dulu katanja ponakan jang ke Moskow itu, bukannja anak”, kata kawan itu.

„O, itu lain lagi. Itu lain lagi”, kata kapten hampir² lupa akan perkataannja dulu.

„Apa ada keduanja. Ada anak dan anak ponakan”, kata kawannja lagi.

„Ja memang, tapi gambar ini betul² anak saja. Anak saja kontan, jang tertua sekali. Sekarang sedang liburan ke Bulgaria, Hongaria dan seluruh Eropah Timur. Mereka baru² ini di Sotji. Tempat peristirahatan dekat lau. Tepi laut, bagus sekali”.

„O, ja. Bagus, ja”, kata kawannja itu dengan penuh pengertian untuk tidak menimbulkan kenang²an lama jang tidak begitu baik.