Publisher Note
Artikel ini dimuat pada bulan Juli 1952 dalam majalah Indonesia, No. 7, Th. III. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TIADA BERBEDA dengan segala bentuk dan kreasi, kesusasteraan pun hanja alat semata. Ia tak berbeda dengan golok, alu, sepeda, mobil, mesintulis dan sebagainja. Kesusasteraan pun alat manusia untuk mentjapai sesuatu maksud tertentu. Adakah pentjapaian maksud ini berhasil, ini adalah tergantung pada kadar hasil kesusasteraan itu.
Suatu hasil kesusasteraan jang telah tertjipta dan telah pula disampaikan kepada masjarakat, dia punja sedjarah sendiri terlepas dari sedjarah pengarangnja, tak ubahnja seperti orang tua dengan anaknja. Barangkali inilah jang menimbulkan sematjam kode mengapa seorang pengarang tidak perlu meneriakkan maksud atau tudjuan dari hasil tjiptaannja. Dengan keterangan atas hasil pekerdjaannja ada timbul kesan pada orang banjak atas pengarang itu, bahwa ia telah menghidangkan tulisan jang belum selesai tulisan itu belum tjukup kuat untuk pergi seharian ketempat tudjuan sipengarang.
Tak adanja keterangan dari pengarang ini menjebabkan sering terdjadi selisih tangkapan antara parapembatja mengenai maksud seseorang pengarang. Dan sesungguhnja hasil kesusasteraan bukanlah soal-soal ilmu pasti. Disamping itu watak manusia ialah memandang segala dari djurusan kepentingan dan perhatiannja. Kemudian bukanlah mengherankan bila banjak hasil kesusasteraan jang diperalat oleh orang-orang atau pun badan-badan (kekuasaan atau hukum) sedjalan dengan kepentingan dan perhatian masing-masing.
Segala alat didunia ini, kesusasteraan tak terketjuali, dapat dipergunakan oleh seseorang untuk mentjapai maksudnja jang tertentu. Orang dapat mempergunakannja untuk membela diri, untuk memperbaiki keadaan diri atau umum, djuga dapat untuk menjerang dan membunuh lawannja atau pula untuk membunuh dirinja sendiri. Dalam hal ini bimbingan budi dan perhitungan akal merupakan faktor jang menentukan. Dengan Makan Kita sehari-hari Ilya Ihrenburg mendjelaskan proses perekonomian modern, kebiadaban kapitalisme, dengan sesuatu maksud jang pembatjanja boleh menangkap atau berpendapat masing-masing. Disamping itupun buku itu merupakan suatu pemuatan betapa manusia hanja boneka-boneka jang tak berdaja jang harus turut memainkan proses perekonomian, kehilangan kepribadian dan kegiatan sendiri. Dan adakah ini pernjataan dari penghukuman terhadap kapitalisme atau pembunuhan pribadi manusia, tergantung benar pada tangkapan pembatja masing-masing. Tetapi dilihat dari pentjapaian maksud jang terdekat, buku tersebut kuasa mentjerminkan masa dan lingkungan serta perhatian pengarangnja. Demikianlah maka antara alat dan maksud pentjiptanja terbentang suatu probleem. Dan probleem ini, pembatjanja berhak memetjahkan.
Mentjipta atau bekerdja sadja belumlah tjukup dalam hidup manusia bila maksud jang ditudju itu tak disadarinja. Kesadaran ini perlu. Dengan tiada ini seseorang pengarang gampang terdjatuh pada kesewenang-wenangan dalam menentukan atau mengenali nilai-nilai. Djuga ia akan gampang terdjatuh pada pengiaan tafsiran-tafsiran jang silang-melintang datang padanja. Achirnja ini akan menggampangkan ia kehilangan diri, terdorong kian-kemari dan djadi pabrik jang tjuma bisa berputar dan menghasilkan belaka. Ini membuat ia djadi pekerdja jang instinktif dan banjak kala djauh dari rasionil. Suatu nilai kesusasteraan jang mungkin diperolehnja membingungkan diri dan arah serta tudjuan selandjutnja jang harus ditempuh. Sedang dalam kenjatannja hasil kesusasteraan jang bernilai tidaklah begitu gampang dapat ditjapai sebagai jang disangkakanna. Dan dengan tiada kesadaran akan maksud ini, gampang sekali seseorang pengarang menghasilkan tulisan mati jang berkisar-kisar pada kedjadian belaka. Dan ini tiada djauh berbeda dengan berita sehari-hari dalam koran.
Maksud dan tudjuan dalam kesusasteraan, jang bisa dinamai tendens, njata tidak, besar-ketjil, luas daerah atau kekerdilannja tergantung pada orang-orang jang mengarangnja. Tendens jang dangkal selamanja diteriakkan keras-keras dalam kesusasteraan. Tetapi jang dalam-luas-besar terkandung dalam tiap kalimat dengan tiada perlu berteriak dan tjukup hanja dengan mejakinkan. Tendens jang besar ini tak ubahnja keadaannja dengan nafas untuk orang hidup dengan tak usah orang itu berteriak-teriak bahwa ia bernafas.
Biasanja faktor-faktor etik dan politik memainkan peranan penting dalam hasil-hasil kesusasteraan jang dangkal. Dan tak dapat dilupakan ialah faktor-faktor erotik. Daerah kesusasteraan melingkupi seluruh lapangan hidup dan kehidupan. Suatu operasi jang tertentu disudut sempit dalam daerah jang mahaluas itulah jang menelurkan segala matjam kedangkalan ini. Dan didaerah-daerah dimana faktor-faktor politik menentukan, tak djarang apa jang dinamakan kesusasteraan itu tjampur-aduk dan merupakan bahan gubal antara sastera, propaganda, antipati terhadap politik tertentu, dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan lain. Dalam hal ini kesusasteraan jang sesungguhnja dikurbankan oleh dan untuk politik. Kesusasteraan demikian adalah kesusasteraan propaganda jang belum lagi patut mendapat nama kesusasteraan.
Kesusasteraan didaerah dimana etik berkuasa, hanja etik jang dianggap kebenaran, hasil-hasil kesusasteraan kerdil akan merupakan buku nasihat dimana tiap lembar orang diberi adjaran apa jang harus dan tidak boleh dikerdjakan. Dalam keadaan seperti ini kesusasteraan bukan lagi merupakan alat untuk mentjapai tudjuan tertentu dari manusia, tetapi ialah jang diperalat buat tunduk pada sesuatu. Pengarang dalam keadaan seperti ini kehilangan diri dan visinja sendiri disimpannja dikantong tjelananja. Ia djadi permainan dan digerakkan oleh faktor-faktor jang kuat diluar dirinja. Dan bila faktor-faktor demikian lenjap, hasil kesusasteraan seperti itu turut lenjap pula.
Semua itu lain halnja bila memang sedjalan dengan kejakinan pengarang, dan pentjiptaan itu merupakan keharusan padanja jang harus dilahirkan. Bila demikian tentu sadja ia punja effek jang berlainan pula.
Kesusasteraan adalah perwudjudan jang tertentu dari kegiatan rohani manusia. Dan dalam hidup manusia ini ada banjak sekali perwudjudan itu. Batas antara perwudjudan jang satu dengan jang lain kadang-kadang tidak begitu djelas. Karena itu bukan barang jang mengherankan bila dalam sedjarah kuno orang dapat mengenal sedjarah jang tjampurbaur dengan tahjul serta dituliskan dalam bahasa bersandjak atau prosa. Biasa orang menamainja babad. Dan tahjul ini adalah tahjul jang harus dipertjaja dan bukan jang harus dikenal sebagai objek. Menurut Dr. Pigeaud pandangan sedjarah berhubungan sangat erat dengan pandangan hidup sesuatu bangsa. Dan pandangan kesusasteraan tiadalah djauh berbeda dengannja. Batas-batas antara perwudjudan dari kegiatan rohani jang satu dengan jang lain ini hanja bisa dikenali dengan ketadjaman perasaan dan pemikiran. Batas-batas jang kabur ini pula membuat seseorang pengarang kadang-kadang berpindah perwudjudan kepolitik, kefilsafat, kefilm dan sebagainja—dengan dasar dan visi jang sama.
Batas-batas jang kabur ini pula jang merubah Mussolini dari romansir jang romantis kegelanggang politik, dengan nafsu, semangat, kepastian dan harapan jang sama. Sebagian dari pemimpin-pemimpin besar Tiongkok Mau Tse Tung adalah pengarang, bahkan Mau Tse Tung sendiri masih tetap mengarang diwaktu senggangnja. Demikian pula halnja dengan deputy primer Kuo Moyo. Mau Tun ataupun Chou Yang. Perpindahan ini banjak kala disebabkan karena perwudjudan kesusasteraan tidak memberi banjak kemungkinan padanja, dan dengan sendirinja orang mengambil alat lain untuk mentjapai maksudnja.
Perpindahan itu tak ubahnja dengan ganti pisau dengan golok untuk membelah kaju dalam hidup sehari-hari, atau dari golok ke gergadji, ataupun dari gergadji ke pisau untuk menjajat daging.
Disamping kesusasteraan sebagai alat, orangpun kenal akan kesusasteraan jang diperalat, tak ubahnja dengan gergadji jang dipergunakan untuk menjajat daging, diharuskan dan direntjanakan. Pada dasarnja jang diperalat ini bukanlah kesusasteraannja, tetapi pengarang jang diperalat, karena kesusasteraan hanja dimungkinkan oleh adanja pengarang. Dan kesusasteraan jang diperalat ini gampang orang kenali dari teriakan dan sembojan-sembojan jang djadi mode pada waktunja. Dan tiada djarang terdjadi dengan tiada sadarnja orang memperkudakan diri djadi alat sesuatu, karena terlampau silau matanja oleh sukses jang murah. Sesungguhnja tidak satu faktor sadja jang memungkinkan terdjadinja kesusasteraan jag diperalat. Banjak! Tetapi biasanja jang djadi pokok-pangkal ialah tak adanja konsekwensi antara tjita, kejakinan dan keadaan hidup sebagai machluk dari darah dan daging.
Dalam lapangan keagamaan, dimana orag dengan penuh chidmat bersudjut pada Tuhannja, kesenian umumnja diberi bernafas keagamaan. Malah dapat dikatakan, bahwa kesenian didjaman jang lalu adalah alat jang langsung untuk menjembah dan mengagungkan Tuhannja. Sisa-sisa dari seni sebagai bagian dari kultus dan jang telah terpental dari agama itu masih dapat orang kenali dalam bentuk-bentuk reog, kuda lumping (penjembahan pada Dewi Durga), wajang, dan jang masih terikat misalnja menjanjikan ajat-ajat kitab sutji. Tantu-tantu dalam sedjarah Djawa-Hindu adalah dikerdjaka oleh kesusasteraa dalam hal itu. Dan besar-ketjilnja hasil seni itu dipandang dari djurusan seni terikat benar pada semangat dan kejakinan sipentjiptanja pada masanja. Selamanja tjiptaan jang berseni akan tetap hidup sekalipun orang (pentjipta) atau agamanja telah lenjap. Ini dapat dibuktikan dari tjandi-tjandi dengan bangunan dan pahatannja, dengan kesusasteraannja jang terus kuasa memberi haruan murni pada pembatjanja pada musiknja jang tetap terus, mistis dan sebagainja.
Keadaan seperti itu terdjadi djuga dalam sedjarah dunia barat didjaman pertengahan, kesenian berpusat dan diperuntukkan geredja.
Dalam djaman modern ini, kesusasteraan dan kesenian pada umumnja punja funksi jang tertjerai dari sesuatu kemestian. Ia djadi hak tiap individu untuk mengulah, menikmati dan menggerakannja. Dan hasil kesusasteraan jang dibuat melalui tjetakan jang dipaksakan padanja sedikit-banjak melumpuhkan pribadi pentjipta sebagai individu. Kostis Palamis, seorang perintis puisi modern Junani, berpendapat bahwa kesenian disediakan untuk mereka jang mengerti. Dan kesusasteraan sebagai tjabang dari kesenian tidak luput dari pendapatnja itu. Mereka jang tidak mengerti harus mentjoba mengerti. Dengan tjetakan orang dipaksa membuat pakaian dengan ukuran-ukuran jang telah ditentukan menurut tjontoh. Orang demikian bukan lagi mentjipta tetapi menukang. Dan kesusasteraan bukan lagi djadi perwudjudan djalan untuk mentjurahkan perasaan dan pemikiran, tetapi djadi alat buat menundukkan orang untuk djadi pengikut sesuatu jang patuh.
Hasil-hasil kesusasteraan jang diperalat ini dapat orang dapati kembali dalam sekian madjalah, harian atau buku jang diterbitkan dalam masa pendudukan Djepang. Djuga dalam kesusasteraan Djawa Baru (kesusasteraan jang mulai mentjium barat) jang banjak kala menjanjikan kebesaran pegawai pemerintah dengan bupati sebagai puntjak tjita jang setinggi-tingginja.
Kesusasteraan jang benar-benar diperalat atau dimobilisasikan dengan perkataan jang lebih baik mendapat bentuknja jang tegas dalam kata-kata Mao Tse Tung dalam Konperensi Pengarang dan Artis Seluruh Tiongkok beberapa waktu jang lalu: “…literature and art should serve people, especially the workers, peasants and soldiers”. Dan kalau mengingat bahwa Mao Tse Tung adalah seorang jang berkuasa disuatu daerah tertentu, dapat orang berseru: alangkah sempit batas-batas jang menentukan daerah kesusasteraan itu. Sempit buat seorang pengarang jang menghendaki daerah jang lebih luas daripada itu. Tidak sempit buat pengarang dan seniman jang daerahnja tjuma sampai disitu. Kesusasteraan jang harus melajani masjarakat, tidak bedanja dengan pelajan direstoran jang harus memuaskan langganannja. Tentu ini bertentangan dengan pendapat Kostis Palemis. Kesusasteraan demikian tidak terletak diatas masarakat dan menariknja sekali, tetapi ada ditempat jang lebih bawah atau sebanjak-banjaknja sama dengan tingkatan masarakat. Ini adalah kesusasteraan jang boleh dinikmati sambil makan-angin: kenikmatan jang murah. Dengan kata-kata jang lebih sopan: ini adalah sematjam kesusasteraan jang dimabok planning. Kebebasan kesusasteraan sebagai kemutlakan seseorang pengarang untuk mentjapai tudjuannja berganti djadi perbudakan kesusasteraan demi kepentingan politik. Titik tudjuan telah diletakkan oleh seorang tertentu (atau badan) disuatu tempat jang tertentu dan seperti kuda patjuan pengarang-pengarang harus lari menudju kesitu. tentu sadja ini membahajakan hakikat pentjiptaan sebagai keharusan pribadi dan keharusan budi.
Mana jang baik antara kesusasteraan sebagai alat dan kesusasteraan jang diperalat, tidak bisa dipergunakan ukuran-ukuran jang telah sedia untuk menentukannja. Kedua-duanja punja kebaikan dan keburukannja. Jang pertama kuasa memelihara kedjudjuran tjipta dan jang kedua membunuh kemungkinan timbulnja dekadensi tjipta jang membahajakan pergaulan masarakat. Dan didaerah kesusasteraan sebagai alat jang dan jang diperalat terdapat djenisnja masing-masing jang betul2 melahirkan suatu hasil seni. Kedjenian ini tidaklah dilahirkan oleh politik atau ekonomi. Samasekali tidak. Djuga tidak oleh faktor-faktor lain diluar dirinja. Seorang Thucydides misalnja, dalam menghadapi hukuman mati dan penjitaan seluruh hartabenda oleh pemerintah karena sebagai strateeg Athena telah gagal dalam menangkis balatentara musuh, pada tahun 423 sbl Isa, dalam pendjara menunggu kematiannja telah kuasa mentjiptakan dasar-dasar baru buat penulisan sedjarah jang kritis dan jang hingga kini terus dipergunakan orang. Ini adalah pekerdjaan djeni. Seorang Napoleon tidaklah dilahirkan karena keturunan atau karena ia seorang Napoleon, ataupun karena nasib baik belaka. Tidak! Tetapi djeni-djeni itu mentjapai tudjuannja dengan adanja kesanggupan dan kekuasaan mengatasi keraguan dan kebimbangan masa. Demikian djuga halnja dengan seorang Sokrates, Mohammad ataupun Isa. Dan tiap orang, bila tak punja kesanggupan dan kekuatan untuk mengatasinja tinggal tetap djadi permainan kekuatan-kekuatan jang ada diluar dirinja. Dan kesusasteraan bukanlah sesuatu jang luarbiasa seperti setan atau djin ataupun Tuhan. Ia barang biasa jang dilahirkan oleh adanja berpikir mentjipta.
Luas atau sempitnja budi seseorang pengarang, menentukan pula rendah atau tinggi tudjuan jang hendak ditjapainja, serta tepat tidaknja pengambilan dan mempergunakan alat untuk pentjapaian itu jakni kesusasteraan itu.