Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada 7 Maret 1953 dalam majalah Mimbar Indonesia, No. 10, Th, VII. Keterangan artikel ini hanya “(Terdjemahan Pramoedya Ananta Toer)”, kemungkinan dari rubrik di harian The Times yang diterjemahkan oleh Pram. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Telah diakui oleh umum, bahwa kesusasteraan modern mengalami krisisnja. Sedikit buku baru jang dapat disetarakan dengan apa jang telah dikeluarkan dalam tahun pertama dari abad it…Apa sebabnja gedjala ini?
LITERAIRE SUPPLEMENT dari The Times mendapatkan djawaban atas pertanjaan tsb. pada keadaan-keadaan kedjiwaan dan kebendaan dari masa sekarang. „Alangkah gila untuk membantah”, demikian kata madjalah tersebut, „bahwa hari depan bagi sastera-mentjipta adalah menjedihkan. Pengarang2 dan publiknja terus-menerus terpaksa memusatkan perhatian pada segi kebendaan dari kehidupan dan pada kesukaran2 penghidupan jang melarat. Anasir kesenian bertambah-tambah lagi terdorong kebelakang. Maka pelajan2 tak ada lagi, dan kita sibuk dengan kesukaran sehari-hari.
„Tapi ada lebih dari itu sadja. Visi pengarang dikeruhkan oleh chaos jang mengatjaukan dari kedjadian2 internasional dan berita sehari-hari tentang bentjana mendatang. Adakah untuk berkembangnja seni jang agung dibutuhkan kelas jang dimuliakan, ataukah Kebudajaan—untuk memindjam istilah Arnold Toynbee—mendjadi steril, apabila ia tersebar begitu merata, adalah barangkali suatu persoalan akademis. Namun sudah njata, bahwa kemerdekaan intelektuil, jang menurut utjapan seorang humanis jang terdahulu hanja melahirkan pengarang2 besar, hanja mungkin menghasilkan apabila ada keharusan dari suatu kejakinan jang kuat. Baik pengarang2 maupun para pembatja pada waktu ini merasa seperti sedang diduduki. Dibawah tekanan peristiwa2 belakangan ini hanjalah dapat dipupuk harapan2 untuk hari depan. Dan berbarengan dengan hilangnja sebagian dari kepertjajaan-ketuhanan kini muntjul pula putus-asa kebendaan.
Cyril Connoly, redaktur jang tjakap dari Horizon, memandang masalah itu semata-mata bersifat ekonomis. „Negara”, demikian katanja, „dan kedermawanan jang bersifat internasional pada saat ini melindungi angkatan muda dan mereka jang mempunjai harapan besar. Aku kenal seorang pengarang muda, jang menerima tak kurang dari tiga hadiah jang berharga buat sebuah bukunja, jang belum lagi diterbitkan. Tetapi kapankah seorang jang tengah umur, jang telah membuktikan apa jang ia dapat kerdjakan, menerima kembali apa jang mendjadi haknja? Aku dapat menjebut setengah lusin pengarang, jang dapat menghasilkan tulisan2 berharga, seperti seorang Maecenas apabila didjamin dapat bertenang beberapa tahun lamanja, dan jang kini dengan pajahnja berdjuang agar tak tenggelam dengan tulisan2 tak keruan. Kesusasteraan sedang dalam keadaan tenggelam mendjadi kesukaan buat waktu-waktu senggang (selain buat pengarang-pengarang roman jang dapat melemparkan buku-bukunja ke Hollywood), dan akibatnja mereka kehilangan kekuasaannja. Bertambah sedikit orang berpikir tadjam dan berperasaan kuat, bertambah berkuranglah pengaruh buku tertjetak dan senisastera meranalah. Karena sekalipun manusia mentjari hiburan dalam kelezatan-seni dihari-hari krisis nasional, tak adalah jang lebih melumpuhkan bagi seorang seniman dari pada kekurangan roti, kurang makanan, dingin dan penjakit. Kesenian bukanlah suatu kebutuhan. Tapi ia adalah barang lux, jang tak dapat kita tinggalkan, dan seniman berhak untuk dipelihara kesedjahteraannja”.
KEADAAN DI PERANTJIS
Di Perantjis keadaannja boleh dikatakan sama sadja. Madjalah Gavroche membuat penjelidikan tentangnja, dan kebanjakan para pengarang memberi djawaban, bahwa disana pada saat ini tidak mungkin dapat hidup dari hasilpena belaka tanpa melatjurkan bakatnja. Kebanjakan diantara para pengarang berpenghasilan lebih kurang dari pada pekerdja terdidik.
„Pada waktu ini di Perantjis barangkali ada empatbelas pengarang hanja jang dapat hidup dari keseniannja”, demikian kata Maurice Constantin Wever dalam Paru.
Dalam tulisan pengarang Inggeris politik hampir-hampir tidak mempunjai pengaruh. Pandangan hidupnja pada umumnja lebih praktis dan konkreet daripada ber-teori jang kabur-kabur. Tetapi dibanjak kalangan Perantjis anggapan-anggapan kesusasteraan kewarnai oleh anasir politik, jang dianggap mendjadi kepentingan jang terbesar untuk keadaan dalam keseluruhannja. Demikianlah Louis Salleron memandang politik sebagai kuntji dari seluruh masalah.
„Tentang apa jang didapat seorang pengarang sebagai gandjaran”, demikian katanja, „pada waktu ini timbul perselisihan antara dua anggapan, kedua-duanja materialistis. Dalam alam kapitalisme liberal posisi auteur ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran. Masjarakat totalitair jang Marxistis hanja menimbang pekerdjaan jang dihasilkan.
„Keberatan terhadap stelsel liberal itu ialah bahwa ia menjediakan kesempatan-kesempatan terbaik, apabila tidak pada golongan pertengahan, ialah pada mereka jang gilang-gemilang diantara golongan pertengah itu. Penghasilan tergantung pada permintaan pada buku, dan karenanja orang berpenghasilan terbanjak dengan menghasilkan batjaan demikian matjam, sehingga dapat memperoleh pembeli terbanjak.
„Seorang filsof berpenghasilan lebih kurang daripada pengarang roman jang berperasaan lembut, dan inipun pada gilirannja lebih sedikit daripada orang, jang dapat menjumbat kesukaan publik besar. Lebih banjak pengarang itu bersesuaian dengan kesukaan publik, lebih hebat lagi ia dipudja-pudji oleh pers. Dan pendapatan massa djarang sekali sama dengan orang-orang jang mempunjai perasaan halus dan berpengetahuan mendalam. Hampir-hampir tanpa dilebih-lebihkan dapat dikatakan, bahwa, dengan mengesampingkan beberapa keluar biasaan, keadaan keuangan seorang pengarang berbanding terbalik (omgekeerd evenredig) dengan kesungguhan tjiptaan-tjiptaannja dan mutu daerah kedjiwaan jang dikuasainja.
Sampai sedemikian keberatan-keberatan sistim ini sedikit dirasai. Tradisi dan kemakmuran umum mendjamin kebebeasan seorang pengarang. Dalam hidupnja sadja modal telah bekerdja sebagai pelindung kaum intelektuil. Dalam masjarakat jang kaja sekalipun kaum miskin telah ketjukupan.
Perihal semua itu kini telah berachir. Pengarang, tertjerai dari kelilingnja, jang memberinja penghidupan, dihadapkan pada pemilihan membuat karangan-karangan bermutu rendah, atau meminta pertolongan dari negara. Suatu antjaman timbul-balik dan fatal terhadap kebebasannja jang dibutuhkannja untuk segala hal.
ADAKAH SUATU PENJELESAIAN?
Penjelesaian masalah ini mula-mula harus ditjari dalam lapangan perekonomian. Dalam segala hal seorang sasterawan membutuhkan kehidupan jang terdjamin dan tenang. Ia harus dapat menulis apa sadja ia kehendaki, bukan jang dapat didjualnja dengan harga tertinggi dan itu tanpa perdjuangan untuk hidup jang terus-menerus.
Dalam kalangan2 Perantjis dan Inggeris jang berkuasa telah dinjatakan, bahwa hanja sedikit sadja pengarang jang berpenghasilan tjukup dari pekerdjaan kesusasteraan melulu. Selain jang sangat beruntung, mereka terpaksa berbuat sesuatu jang lain. Tetapi apa?
PENDAPAT INGGERIS
Dalam hubungan ini Horizon telah membuat angket. Pemetjahan2, jang dilakukan oleh berbagai pengarang, sangat berbeda-beda, dan umumnja mengandung humor.
Kebanjakan menerangkan bekerdja dilapangan pengadjaran atau dikementerian. Umumnja orang tak menjetudjui lapangan djurnalistik. John Betjeman akan suka mendjadi kepala stasiun nun dililin samping. Cyril Connolly melihat suatu penjelesaian jang baik dalam suatu perkawinan jang kaja. Herbert Read menulis: „Jang terbaik bagiku ialah menggosok lensa, seperti Spinoza. Kalau aku harus memulai lagi, aku akan peladjari keradjinan tangan dan mentjari pekerdjaan pada industri ringan, sebaiknja jang mana pekerdjaan bergantian dengan kebutuhan-kebutuhan sesaat”. Stephen Spender menasihatkan terhadap gila hormat dan tanggungdjawab.
„Hendaknja mendjadi seorang pegawai kantor jang superieur dan berhak”, demikian katanja, „seorang jang tak mendengki orang lain, tetapi jang mendapat keuntungan mempeladjari keanehan-keanehan kawan-kawannja”.
George Orwell dan Rose Macaulay berpendapat, bahwa pekerdjaan sambilan hendaknja tidak bersifat literair dan tidak intelektuil, dan menuntut energi pengarang itu sesedikit mungkin. Dylan Thomas, sebaliknja, menulis: „Pengarang murah adalah tjara jang sama baiknja untuk menambahi penghasilan ketjil, asal sadja orang, sambil bekerdja untuk B.B.C. atau untuk film, atau meresensi buku-buku, tidaklah membajangkan, bahwa dengan itu dunia kehilangan sadjak atau romannja jang besar. Jang besar, setidaknja karangan jang baik toh akan dilahirkan djuga, sekalipun seorang pengarang mempergunakan sebagian dari waktunja untuk pekerdjaan2 jang lain samasekali.” Elisabeth Bowen, jang menterdjemahkan penderitaan wanita, menerangkan, bahwa tjuma sedikit wanita jang mempunjai waktu untuk mendjabat dua pekerdjaan sekaligus, karena kehidupan perseorangan dan kekeluargaan sadja telah menuntut waktunja jang banjak.
DAN APA KATA ORANG DI PERANTJIS?
Gavroche di Perantjis meniru tjontoh Horizon dan dapatlah menarik kesimpulan sebagai berikut:
Maurice Fombeu mendjabat suatu pekerdjaan dikantor pemerintah jang tenang. „Keberatan bagi kerdja-kembar”, demikian katanja di Gavroche, „ialah bahwa pengarang besar kemungkinan tidak mempunjai waktu lagi untuk pekerdjaan-sasteranja. Tentu sadja selain apabila menulis atau menjadjak itu telah mendjadi darah-daging baginja. La Fontaine bekerdja pada Djawatan Pengairan dan Kehutanan. Rabelais adalah dokter, Chateubriand dan Claudel duta, Mallarmé professor, dan Paul Valery sekretaris pada agenschap-pers Havas. Tiap pekerdjaan (pada mereka) achir-achirnja tjukup banjaknja”.
Djurnalistik sebagai pekerdjaan-sambilan umumnja ditolak. Pekerdjaan tangan banjak dipudjikan, dengan sjarat bahwa ia tidak terlampau berat. Ph. Soupault memudjikan pekerdjaan bibliothekaris. Charles Plisnier, jang memudjikan perdagangan, pengadjaran, hukum dan obat-obatan, menerangkan: „Djurnalistik adalah jang penghabisan, dari apa pengarang boleh mendjadi. Tak adalah suatu pekerdjaan, jang lebih banjak menjita seluruh manusia atau jang begitu mentjapaikan. Terpaksa menulis terburu-buru tentang berbagai hal, ia kehilangan bakat dan mendangkalkan gajanja”. Julien Blanc setudju dengannja. „Hidup seorang djurnalis, dan belokan jang chusus ini, jang harus dikenakannja pada gaja dan buah pikirannja untuk menarik perhatian pembatjanja jang terburu-buru, adalah mutlak tak dapat dipersatukan dengan kemerdekaan dan keamanan hati, jang tak dapat ditinggalkan oleh tiap tjiptaan kesusasteraan”.
APA KATA AMERIKA?
Achirnja beberapa buah pikiran Amerika tentang segi perekonomian dari masalah ini, dipindjam dari djawaban-djawaban jang diterima oleh Partisan Review dalam tahun 1939 atas daftar pertanjaan jang dikirimkan.
James Farrell berpendapat, bahwa dalam stelsel perekonomian kita dewasa ini kian tambah berkurang tempat untuk sasterawan-chusus. Ia menjalahkan Hollywood jang merendahkan mutu seni sampai pada taraf produksi industri, dan berpendapat bahwa pengaruh kota-film sangat merusak. Katherina Anne Porter menggambarkan keadaan itu sebagai beriku: „Tidak, pekerdjaan mengarang itu sendiri tidak pernah dapat dibuat mendjadi sumber penghasilan. Sedjarah kesusasteraan serta musik dan sebangsanja, menundjukkan, bahwa seorang seniman selain karena suatu kebetulan jang menguntungkan, hampir-hampir tidak pernah dapat hidup dari keseniannja melulu. Seniman tak pernah dimanapun djuga mendapat keamanan perekonomian, selain apabila ia menerima pekerdjaan dan mengerdjakan apa jang diperintahkan orang padanja seperti orang-orang lainnja. Orang tak dapat mengharapkan dapat menghasilkan roti dan sertamerta memiliki kebebasan. Orang tak dapat terus-menerus mengeritik masjarakat, dan sertamerta mengharapkan penghasilan dari masjarakat itu. Pengarang-pengarang dewasa ini menuntut keluarbiasaan dan hak-hak jang bertentangan. Menurut pendapatku ini bersifat kekanak-kanakan. Seakan sudah haknja jang benar mereka menuntut kebebasan sebanjaknja, jang mana djiwa-djiwa besar selamanja berdjuang untuk memperolehnja, dan jang mana kadang-kadang mereka mati karenanja”. Achirnja Sherwood Anderson, jang mengatakan: „Aku harus mengerdjakan segala-galanja untuk dapat bertahan agar tak tenggelam, tapi seorang seniman sebenarnja dimanapun tak pernah hidup enak dan gampang. Sekarang, setelah mendjadi pengarang selama 20 á 25 tahun, barulah masuk sekeping demi sedikit untuk dapat hidup setjara lajak. Tapi untuk itu aku telah bekerdja”.
EXPERIMEN TSJEKO
Sekarang kita arahkan pandangan kita pada negara ketjil di Eropa, ialah Tsjekoslowakia. Bagaimana disana orang memetjahkan masalah itu dan sebagian menurut sangkaan mereka telah dapat dipetjahkan, digambarkan dalam petikan-petikan dari karangan Walter Marsden dalam The Central European Oserver.
Menurut tradisi pengarang Inggeris mati melarat dan terpentjil diloteng, atau hidup miskin kerdja keras untuk parapenerbit. Tetapi pengarang-pengarang Tsjeko kini bekerdja dalam masjarakat sosialistis! Artinja, bahwa orang sadar akan tanggungdjawabnja, dan bahwa mereka dalam hubungan itu memiliki hak-hak jang pertama. Misalnja, mereka boleh menginap diistana indah Dobris didekat Praha, dimana mereka dapat bertukar pikiran dengan kawan-kawan dan kenalan-kenalan luarnegeri. Selandjutnja mereka menikmati hak-hak pertama dipemandian-pemandian jang amat indah di Bohemia dan Slowakia, jang mendjadi milik negara. Dan achirnja mereka membajar 50% lebih kurang daripada padjak penghasilan orang-orang lain.
Hak-hak pertama ini dan jang lain-lain lagi diberikan kepada anggota-anggota dari Gabungan pengarang Tsjeko, jang telah didirikan tigapuluh tahun sebagai sematjam perhimpunan-sekerdja. Tetapi selama peperangan gerakan dibawah tanah telah mendekatkan pengarang-pengarang itu satu-sama-lain, dan mereka menempa rentjana-rentjana untuk gabungan mereka jang kini sedang berkembang itu. Gabungan itu berdaja-upaja menjediakan pertolongan material dan teknis kepada para anggotanja jang melahirkan kesusasteraan untuk rakjat, dan menerbitkan buku-buku murah.
Para anggota dibagi-bagi atas pengarang roman, belletris, pengarang-pengarang dilapangan keilmuan, penterdjemah, pengarang buku kanak-kanak dan pengarang-pengarang drama, film dan radio. Sjarat-sjaratnja adalah tinggi. Untuk seorang pengarang roman tiga buku, untuk pengarang drama tiga karangan pandjang, untuk penterdjemah enam buku, untuk pengarang dalam rangkaian program radio karangan jang pandjang seluruhnja 270 menit, jang sebanding sadja dengan tiga drama, dan untuk pengarang-pengarang film tiga teks, suatu sjarat, jang seharusnja dikurangi. Atau suatu kombinasi dari sjarat-sjarat tersebut. Karangan-karangan jang diminta tergantung pada penghasilan.
Tentang segi kebendaannja Gabungan itu mempunjai kontrak jang kollektif dengan Ikatan Penerbit Tsjekoslowakia, dimana tergabung 95% dari semua firma-firma penerbitan. Maka adalah honorarium minimum bagi para anggota Gabungan 10% dari harga pendjualan untuk pengarang jang mana telah menerbitkan tidak lebih dari tiga buku, 13% untuk jang lebih dari itu. Untuk penjair 13% adalah jang minimum. Penterdjemah prosa menerima antara 3 sampai 5% tetapi untuk terdjemahan puisi mulai 10 hingga 13%. Selandjutnja diadakan kontrak-kontrak kollektif untuk film dan radio dan diadakan persetudjuan tentang karang-karangan sandiwara. Pengarang-pengarang tua, sakit dan miskin dipelihara oleh gabungan tersebut dan dalam tahun berlalu 52 orang diantara mereka bertetirah di- [tidak ada lanjutannya].
Untuk hari depan gabungan itu mempunjai rentjana-rentjana besar. Sekarangpun ia telah menguasai agentschap sastera di Tsjekoslowakia jang djuga membuat persetudjuan dengan direktur-direktur sandiwara dan mempunjai saham pada Svobod né Noviny (Pers Merdeka), suatu harian dibawah redaksi Peroutka, seorang sahabat karib Karel Capek, jang umum menghormatinja karena komentarnja jang sungguh dan pemberitaannja jang objektif. Selandjutnja Gabungan tersebut bermaksud untuk mendirikan firma sendiri untuk menerbitkan karangan-karangan klassik—bukan hasil pekerdjaan pengarang-pengarang jang masih hidup—dan djuga akan menerbitkan mingguan jang bertjorak sastera-budaja-politik.
Dalam pertengahan tahun kedua tahun 1947 telah diadakan konperensi untuk menjelidiki, apa jang dapat dikerdjakan untuk pengarang-pengarang muda jang giat. Salah satu dari soal jang diperbintjangkan ialah memilih pengarang-pengarang roman muda dan penjair-penjair oleh negara, dengan bantuan dalam bentuk pembebasan padjak, hadiah-hadiah dan sebagainja, sesuatu jang oleh Bernard Shaw dalam New Statemen ditolak sebagai tjara jang telah tua. Kerdja-kembar umumnja tidak mendjadi kebutuhan bagi mereka, karena adalah kekurangan karangan-karangan asli sebagai akibat dari kenjataan, bahwa banjak pengarang terlampau terburu diberanikan untuk menerima djabatan negeri, jang mana menjebabkan mereka kekurangan waktu untuk menulis. Demikanlah pula maka baru-baru ini seorang pengarang-sandiwara kenamaan mendapat perlop dua bulan untuk menulis sebuah drama.
Hingga sekarang seniman-seniman Tsjekoslovakia belum lagi mendjadi pedjabat-pedjabat pemerintah, dan pada mereka tidak diharuskan apa-apa jang harus mereka tulis atau sadjakkan atau lukiskan. Tetapi—seperti J.B. Priestley baru-baru ini pidatokan didepan Fabian Society—„menurut alamnja mereka memang berbakat menjelaraskan pekerdjaannja dengan aliran-aliran pokok dalam masjarakat, dimana mereka termasuk. Mereka berbuat seperti jang dikehendaki oleh para politicus jang ingin agar mereka mengerdjakannja, bukan karena itu diperintahkan oleh mereka, tetapi karena merekapun menimba ilhamnja dari satu sumber”.
(Terdjemahan Pramoedya Ananta Toer)