Publisher Note
Tulisan ini diterbitkan di Star Weekly No. 523, 7 Djanuari 1956.
Menurut Prof. Dr. A. Teeuw, Pramoedya Ananta Toer, penulis karangan ini „hingga sekarang adalah pengarang prosa terpenting jang terdapat dalam kesusasteraan Indonesia” („Pokok dan Tokoh dalam kesusasteraan Indonesia baru” 1953). Ia dilahirkan dalam tahun 1925 dan telah banjak menulis, terlampau banjak untuk disebut disini. Ia sendiri tidak beragama Kristen.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Untuk kawan Tatengkeng1
TIADA DAPAT disangkal lagi bahwa moral Kristen telah mendjadi moral Eropah. Dengan adanja pertemuan Eropah ini dengan Indonesia, maka moral ini dibawa serta pula kemari. Hari Minggu mendjadi hari-libur resmi jang berlaku tiap minggu sekali, misalnja. Satu tjontoh ini sadja telah mempunjai banjak pengaruh dilapangan perekonomian, dilapangan prestasi-kerdja. Hari Minggu achirnja mendjadi hari jang memberikan senang kepada buruh, pegawai serta peladjar.
Setelah selesai pemilihan umum jang pertama kali terdjadi di Indonesia ini, njata benar oleh kita betapa besar ummat Kristen jang ada disini. Ini belum lagi terhitung mereka jang memilih tanda² gambar lain. Tetapi adakah sebenarnja moral Kristen di Indonesia ini? Saja kira, sekalipun begitu banjak djumlah pengikutnja, moral Kristen ini tidak memperlihatkan suatu potensi jang kuat. Dan mengapa?
Beku dan hidup.
Saja sendiri berpendapat, karena publisitat kekristenan barulah sampai pada taraf penjebaran pekabaran Indjil. Ber-kali² telah saja ikuti chotbah beberapa pendeta, dan ternjata dunia pikiran mereka ini dengan memindjam istilah filsafat adalah scholastik: dari agama kepokok pembitjaraan dan dari pokok pembitjaraan ke-agama.
Mau tak-mau tjara seperti ini benar² tidak memikat mereka jang berada diluar agama Kristen. Berbeda halnja apabila kita berhadapan dengan buah² tangan Graham Greene, tokoh kesusasteraan Kristen jang terkemuka diabad ini dengan bukunya jang tak begitu kuat seperti „The Matter of the Affair”, misalnja2 . Persoalan² jang ditangan para pendeta mendjadi sesuatu jang beku ditangan Greene mendjadi hidup, mendjadi persoalan kita, persoalan tiap orang.
Mengapa? Djawaban saja ialah, karena chotbah² itu tidak punja moral ke-kristenan jang bisa diterima oleh tiap orang. Chotbah² itu baru merupakan suatu pertemuan-antara-kita-belaka, bukan suatu pertemuan jang langsung membawa kita kepada perhubungan-antara-manusia, perhubungan jang positif.
Dan bila kita batja roman Alan Paton „Cry the Beloved Country” misalnja3 , kita mengakui, bahwa dalam kegalauan djenis bangsa di Afrika Selatan itu, dalam kebangkrutan orang kulit hitam berhadapan dengan expansi orang kulit putih itu, terdengar suara Alan Paton jang mewakili moral Kristen. Ia tak membeku dalam melebarkan pekabaran Indjil didalam romannja ini. Ia memberi iklim moral Kristen ini dalam persoalan jang bergalau. Ia djuga berchotbah didalam romannja ini, tetapi bukanlah berchotbah — antara — kita — belaka, tetapi kepada bangsa kulit hitam, bangsa kulit putih dan seluruh dunia Kristen, seluruh ummat manusia, untuk ikut memikirkan nasib bangsa kulit hitam jang terusir dari negeri tumpahdarahnja sendiri. Achir²nja agama bukan hanja suatu keimanan dan keibadahan kepada Tuhan belaka, tetapi setjara positif djuga mengatur pengikutnja dalam perhubungan antara manusia. Bukan hanja karena agama menjuruh, tetapi terutama² karena ada kesadaran, ada tanggung-djawab terhadap baiknja perhubungan antara-manusia.
Tentu bahwa kesadaran ini mula² sekali didahului oleh adanja pengertian. Dan pengertian tentang hubungan antara-manusia ini hanja bisa didapat dari pergaulan antara-manusia itu sendiri, dan karena tidak tiap orang mampu dengan seorang dirinja mengertikannja, itulah gunanja hasil² kesusasteraan baginja.
Perbaikan terdjemahan Indjil.
Diwaktu-waktu belakangan ini njata adanja kegiatan penerbitan dilapangan ini. Bahkan perbaikan terdjemahan Indjil sedang diselenggarakan. Sungguh menggembirakan bahwa seorang pengarang seperti Pospos turut duduk pula didalam komisi penterdjemahan ini4 .
Baru² ini terbit pula oleh Balai Alkitab Djakarta, sebuah buku „Kabar Baik” jang berisikan kutipan² dari Alkitab. Ternjata terdjemahan jang dipergunakan lebih baik daripada jang dapat diduga semula, artinja, bahwa bahasa jang dipergunakan telah memenuhi taraf bahasa Indonesia dewasa ini. Tetapi penerbitan tersebut masih berada didalam pengertian-antara-kita.
Sebuah buku daripada Ir. C. Swaan-Koopman jang diterdjemahkan oleh F. Sitanggang, berkepala „Lima Djalan Untuk Asia” telah pula diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen. Membatja titel buku ini kita mengharapkan akan adanja pengupasan soal sepenting itu dalam iklim moral Kristen. Tetapi ternjata, walaupun buku itu suatu batjaan jang bagus, tidaklah memenuhi harapan kita, masih djuga dalam suasana antara-kita.
Sungguh menggembirakan bahwa buku Alan Paton „Cry the Beloved Country” telah diterdjemahkan oleh Gajus Siagian5 dengan kepala „Ratapan Tanahair” dan diterbitkan djuga oleh Badan Penerbit Kristen. Alan Paton jang tahun² jang lalu, dengan hasil²nja menduduki tempat tersendiri didalam kesusasteraan dunia amat patut dibatja bukan sadja oleh tiap ummat Kristen, tetapi djuga oleh semua orang.
Kemudian „Christmas Carol” karangan Charles Dickens diterdjemahkan oleh Barus Siregar6 dan diterbitkan oleh penerbit tersebut diatas pula. Tetapi dua matjam buku bermoral Kristen jg. bitjara pada tiap orang ini tidaklah tjukup untuk menimbulkan moral Kristen diantara kaum Kristen sendiri. Dilihat dari jurusan kesusasteraan terdjemahan Barus Siregar jang menjesuaikan Charles Dickens ini dengan keadaan di Indonesia merupakan suatu peremehan terhadap pembatjanja suatu sikap jang seakan-akan berkata: kalau diterdjemahkan setjara buku asli-nja, kalian tidak akan mengerti, tidak akan asjik!
Fungsi Kesusasteraan Kristen.
Pemilihan pengarang serta hasilnja untuk diterdjemahkan sesungguhnja mengambil bagian jang terpenting dalam penerbitan. Mengapa misalnja Bruce Marshall7 jang punja iklim moral Kristen jang begitu kuat, sekalipun melantjarkan kritik terhadap Katholisisme tidak diterdjemahkan, sedang tegas² Marshall menghadapkan seorang manusia dengan moral Kristennja jang berperang melawan tendens keruntuhan achlak. Kita tahu Marshall dibatja seluruh dunia. Dan Kai Munk, misalnja.
Mengapa jang mendapat prioritas buku² chas Kristen seperti „Christoferus” atau „Perdjalanan Ziarah jang Aneh” karangan Leo Tolstoi. Mengapa misalnja Badan Penerbit Kristen musti menerbitkan buku tentang Schweitzer sebagai seorang jang berdjasa kepada agama Kristen, dan mengapa bukan menerbitkan salah sebuah bukunja jang ditulisnja sebagai manusia jang bermoral Kristen.
Kita semua mengerti bahwa alasan jang tampil kedepan adalah komersial.
Ini kita semua bisa memaafkan, tetapi publisitas kekristenan djuga bisa berdjasa kepada golongan jang bukan Kristen, artinja menerbitkan buku² jang ditulis oleh para pengarang umat Kristen jang menulis bukan hanja untuk umat Kristen, bukan tulisan antara-kita belaka, tetapi buku² jang ditulis oleh individu bermoral Kristen untuk tiap orang.
Dan disinilah letak fungsi kesusasteraan Kristen!
Kegiatan agama bukanlah suatu bolak-balik atau suatu wara-wiri dari persoalan keagama dan kembali dari agama kepersoalan dan begitu seterusnja. Kegiatan agama sedjogjanja bukanlah hanja menarik pengikut dan beribadah dan memudja hal² jang dianggap kudus belaka, tetapi ia harus pula dapat mentjiptakan moral agama agar kegiatan itu tiada mendjadi tandus bagi pergaulan-bersama.
Djangan disia-siakan.
Kalau kita menghendaki akibat² langsung daripada pembentukan moral oleh kesusasteraan, memang kita akan ketjewa, karena akibat batjaan atas moral ini berdjalan amat lambat, lambat sekali sekalipun dengan kepastian jang amat kuatnja. Kita kenal pengaruh aliran romantik, terutama dalam kesusasteraan, atas tumbuhnja kekesatriaan. Kita djuga kenal pengaruh aliran realisme atas tumbuhnja dajakritik. Dan sudah sewadjarnja kekuatan jang dimiliki kesusasteraan ini tidak disia²kan dalam penerbitan jang bersifat Kristen.
Kita kenal tokoh² besar jang ikut menentukan sedjarah dunia jang berhubungan erat dengan kesusasteraan jang beriklim bermoral Kristen ini.
Dengan tibanja Tahun Baru 1956 ini, patutlah kiranja persoalan jang tak pernah terdengar di Indonesia ini mulai mendjadi bahan pertimbangan bagi mereka jang berkepentingan.
Djakarta, achir 1955.
1J. E. Tatengkeng, dilahirkan tahun 1907 di Sangihe. Tokoh kesusasteraan Kristen (Protestan) di Indonesia kini. Buah tangannja: Sjair „Rindu Dendam” (kumpulan).
2Greene penulis roman Inggeris, beragama Katholik. Romannja jang terachir: The Quiet American. Film The Third Man berdasarkan karangannja.
3Buku Alan Paton ini adalah sebuah djeritan protes terhadap nasib malang dari penduduk kulithitam di Afrika Selatan. Telah diterdjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Badan Penerbit Kristen (Protestan) di Djalan Kwitang, Djakarta.
4Nai Pospos pengarang „Aku dan Toba”, penerbitan Balai Pustaka 1951. Buku ini jang bersifat autobiografis dapat dibandingkan dengan buku Radjab „Semasa ketjil dikampung” (Minangkabau).
5Gajus Siagian, lahir tahun 1920, wartawan, penulis scenario, penterdjemah beberapa buku, penulis tjerita pendek.
6Barus Siregar, lahir 1923, wartawan, pengarang „Busa di Laut Hidup”, penterdjemah, misalnja buku George Orwell „Tahun 1984”.
7Bruce Marshall, pengarang Katholik.