Publisher Note
Tulisan ini diterbitkan di Star Weekly No. 529, 18 Pebruari 1956.
(Pameran tsb. diatas berlangsung sampai tanggal 22 Pebr. 1956 di Djalan Gadjah Mada 13 Djakarta, Red.)
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Pramoedya Ananta Toer
PADA tanggal 8 Pebruari 1956 sekali lagi Sticusa membuka pameran jang benar² bersifat budaja, dan sekali ini adalah pameran Kesusasteraan Dunia Dalam Terdjemahan Belanda dan Indonesia.
Bagaimana pentingnja kesusasteraan ini telah dinjatakan oleh H. van Galen Last, seorang essayist muda dan terkemuka Belanda, didalam buku pengantar pada pameran ini, bahwa: Kesusasteraan, bagaimanapun djuga orang berpendapat tentangnja asal sadja dinikmati dengan tjara jang tepat — adalah alat jang tiada tergantikan untuk membuat kita mendjadi terbiasa dengan kehidupan akrab manusia diatas bumi ini, dengan segi²nja jang menarik, tetapi pun tidak kurangnja dengan segi²nja jang tak begitu menarik.
Sedang dalam buku pengantar kepada bahagian pameran terdjemahan Indonesia, H. B. Jassin menjatakan, bahwa: „Kesukaran menterdjemahkan sesudah perang dunia kedua tidak djadi masalah lagi bagi para pengarang dan penjair, sedjak Chairil Anwar memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan mejakinkan akan kemampuannja mendukung dan mendjawab dunia² jang paling asing.
Dari pernjataan H. van Galen Last tersebut kita mengerti mengapa pameran kesusasteraan dunia ini diadakan. Dan dari pernjataan H. B. Jassin tersebut kita mentjoba memandang apakah bagian pameran ini berhasil atau tidak.
Bukti penerbitan terdjemahan.
Dalam tjeramahnja pada malam pertama pameran ini Theo Nash menjatakan, betapa pentingnja terdjemahan didalam usaha pendjaluran kebudajaan dunia. Menterdjemahkan adalah seni jang berdiri sendiri, seni jang bukan hanja memindahkan kelompokkan kata², tetapi pentjiptaan kembali djiwa sesuatu buku kedalam struktur perasaan dan pikiran jang berlainan sama sekali.
Apabila pernjataan Nash ini didjadikan pegangan, maka sebenarnja djarak antara pendjaluran dan penterdjemahan mendjadi kabur. Tetapi hal ini tidaklah penting benar karena dalam pameran ini bukan nilai terdjemahan jang mendjadi titik-berat, tetapi bukti penerbitan terdjemahan. Disana-sini terdapat djuga terdjemahan jang belum merupakan buku, misalnja Max Havelaar, terdjemahan Haksan Wirasutisna dari karangan Multatuli jang masih berupa naskah, kemudian proefdruk drama Garcia Lorca terdjemahan Ramadhan K. H.
Djumlah buku terdjemahan Belanda dalam pameran ini tidak kurang dari 700 buah, jakni buku² jang dengan sendirinja masih dapat diperoleh di-toko² buku atau museum jang mungkin, karena peperangan jang baru lalu banjak menghantjurkan sebahagian dari hasil² terdjemahan ini demi kebentjian.
Djumlah buku terdjemahan Indonesia tidak kurang dari 100 buah, djuga jang masih dapat diperoleh di-toko² buku atau museum, se-tidak²nja djauh lebih banjak daripada jang termuat didalam daftar Jassin. Mengherankan adalah, bahwa buku karangan Alan Paton, seorang pengarang Kristen terkemuka dari Afrika Selatan, tidak dimasukkan oleh Jassin didalam daftarnja, demikian pula terdjemahan Utuy T. Sontany dari karangan Jean de La Fontaine.
Kekurangan dipameran ini.
Kekurangan jang terdapat dipameran ini ialah tak adanja terdjemahan² dari kesusasteraan dunia penerbitan luar Djawa. Margareth Gauthier, karangan Dumas misalnja, pernah terbit di Medan dalam terdjemahan Hamka. Bahkan saudara Lie Tie Gwan menjesalkan bahwa terdjemahan Melaju-Tionghoa jang sebenarnja telah banjak terdapat dimasa sebelum perang djuga tidak nampak sebuahpun dalam pameran ini. Dan tidak pula muntjul adalah Decamerone karangan Boccacio jang ternjata telah banjak sekali diterdjemahkan dan diterbitkan walaupun setjara liar.
Djuga karangan dari kesusasteraan dunia, jang sambil menunggu penerbitan dalam bentuk buku, dimuat setjara berturut didalam madjalah tidak disebut² ataupun dipamerkan didalam pameran ini selain karangan Lorca. Dalam hubungan ini bolehlah disebut Robinson Crusoe karangan Daniel Defoe, terdjemahan Haksan Wirasutisna dan Rusman Sutiasumarga dimadjalah Remadja serta Sebastopol karangan Leo Tolstoi, terdjemahan Koesalah Soebagyo Toer, dimadjalah Pemuda.
Apabila organisasi pameran ini agak mempunjai kesabaran jang lebih banjak, dengan sendirinja pameran terdjemahan Indonesia akan lebih meriah lagi. Sepengetahuan saja masih banjak naskah terdjemahan jang bisa dideretkan disini, misalnja: Tjinta Pertama dari Turgenev; Buahrenungan dari Blaise Pascal; dan Augustinus; Puteri Kapitan dari Pushkin terdjemahan Mundingsari; Ibu dari Pearl S. Buck, terdjemahan Suroto; Sebelas Tjerita Edgar Allan Poe, terdjemahan Zaglul Effendi; Bumi Manusia karangan Atoine de St. Exupery, terdjemahan Rivai Apin; Bungarampai tjerita-pendek Dunia himpunan dan terdjemahan Toto Sudarto Bachtiar dan Rivai Apin.
Dibandingkan dengan djumlah terdjemahan Belanda, sesungguhnja djumlah terdjemahan Indonesia masih banjak mengetjewakan, jang disebabkan oleh dua faktor, jakni pertama: ketjurigaan penerbit akan daja-beli pembatja, serta ketjurigaan penerbit akan adanja pemilihan terdjemahan asing atau asli daripada terdjemahan Indonesia, sekalipun ternjata banjak djuga diantara buah terdjemahan itu mengalami ulang-tjetak; dan dua: adalah karena kurang utuhnja bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia jg. masih bergerak dan berkembang.
Sebagaimana umum ketahui, bahasa Indonesia masih terlampau muda, belum mempunjai kekajaan disegala lapangan jang mungkin, pintjang dalam lapangan pergaulan dan pertjakapan, belum melahirkan bahasa keluarga, jang sebenarnja mendjadi satu sjarat jang penting untuk dapat mempertjajakan perasaan² manusia jang paling intim. Tidaklah mengherankan apabila pada masa beberapa tahun jang berselang Steinbeck telah menolak diterdjemahkan dan dibukukannja dalam bahasa Indonesia karangan²nja Tortilla Flat dan The Moon is Down. Mengapa? Karena ia beraliran purisme, jakni suatu aliran jang menjebabkan djiwa, perasaan, pikiran tulisan itu lengser mendjadi satu dengan bahasa jang dipergunakan.
Dalam usahanja untuk menghargai bahasa Indonesia jang dalam masa beberapa puluh tahun sadja telah dapat menterdjemahkan kesusasteraan dunia, Theo Nash bertindak agak ketelandjuran. Barangkali karena perkembangan bahasa Indonesia ia ikuti dari djauh, sekalipun ia takkan membantah akan kesulitan² terdjemahan jang menghadapi bagian² jang ’keihard’ seperti ia kemukakan dalam berbagai terdjemahan Belanda daripada Christmas Carol karangan Charles Dickens. Dengan bahasa jang masih bergerak dan berkembang sebagai bahasa Indonesia ini, sesungguhnja dunia terdjemahan menghadapi kesulitan jang tiada terelakkan. Kita tahu mengapa perdjalanan Gulliver karangan Dean Swift tak lagi diterbitkan oleh Balai Pustaka, dan kita mengerti mengapa Don Quijote karangan Cervantes dalam terdjemahan Indonesia tidak mempunjai banjak daja-penarik bagi angkatan muda. Karena? Karena bahasa jang dipergunakannja tidak lagi memenuhi taraf bahasa Indonesia dewasa ini.
Kekenduran semangat penterdjemahan di Indonesia.
Perbandingan djumlah antara terdjemahan Belanda dan Indonesia dalam pameran ini dengan djelasnja bitjara kepada kita tentang masalah² sosiologis dan individual jang djuga menarik hati. Dengan mengampingkan lamanja masa kebangunan bahasa Belanda, maka kita berhadapan dengan suatu kegiatan terdjemah jang amat hebat. Kehebatan ini barulah meresap dihati kita apabila kita terima kenjataan akan sempitnja daerah bahasa Belanda, akan sempitnja dja-beli, dan akan ketjilnja honoraria sipenterdjemah.
Bila hasil² terdjemahan ini hanja terbatas pada buku² tipis ringan, maka kita tidaklah akan begitu heran, tetapi bila pada kita dihadapkan buku² setebal bantal seperti tulisan Dostojevski, misalnja, mau-tak-mau kita mengakui akan keuletan dan ketekunan terdjemah ini.
Dunia terdjemahan Indonesia mempunjai gaja jang lain lagi. Sekalipun seorang pembitjara dalam kata pembukaan malam pameran itu mengatakan bahwa bukan dimaksud mendjadjarkan terdjemahan Belanda dan Indonesia itu sebagai suatu perbandingan, tetapi untuk memperlihatkan adanja kepentingan bersama, namun djumlah terdjemahan Indonesia ini djuga dengan tegas telah bitjara kepada kita.
Masa sehabis peperangan adalah merupakan masa jang biasanja menerbitkan ketjurigaan akan usaha penterdjemahan. Mengapa? Karena kesusasteraan, terutama jang sebagai tamu dari luar datang masuk kedaerah kita, dalam bentuk terdjemahan, tidak mungkin dapat menolong pembatja meringankan tarif padjak, atau ikut membangunkan djembatan, gedung.
Tetapi chas di Indonesia masa sehabis perang merupakan masa kemaruk dalam mereguk nilai² sastera dan budaja dari segala pendjuru dunia jang mungkin. Tambah djauh dengan masa selesainja peperangan ini tambah mundurlah kegiatan itu. Ini menjebabkan kita mengerti, mengapa madjalah Gema, jang merupakan kata-hati kemadjuan dunia dimasa kini, sekarang tak pernah terbit lagi.
Kekenduran semangat penterdjemahan di Indonesia ini, sekalipun kita telah 10 tahun merdeka — suatu kenjataan jang tidak dapat dipergunakan sebagai excuse — terlebih mendjoloknja apabila kita hadapkan kenjataan² akan luasnja daerah bahasa kita, akan banjaknja organisasi kebudajaan, akan lebih banjaknja para pemuda kita membatja dan menelaah buku daripada masa² sebelum perang, akan lebih terbukanja kesempatan pendidikan dan pengadjaran dsb. dsb.
Tamparan bagi Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional.
Dari sudut kwantitas dapatlah dikatakan, bahwa pameran terdjemahan Indonesia ini memang berhasil, sekalipun didjadjarkan dengan djumlah terdjemahan Belanda, kita mendjadi malu karenanja. Tetapi dengan pertjobaan memandang melalui pernjataan H. B. Jassin tersebut diatas ada banjak hal jang membuat kita mendjadi ragu akan hasil pameran ini dari pertimbangan kwalitas, sebagaimana telah djelas dalam alasan² bahasa tersebut diatas.
Tetapi, bahwa pameran terdjemahan ini djustru Sticusa jang menjelenggarakan, benar² merupakan tamparan jang tidak enteng bagi Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional, jang hingga kini masih djuga bergulat untuk mendapatkan subsidi jang bukan sadja teratur dan dapat didjadikan pegangan waktunja, djuga jang masih terus bergulat mendapatkan djumlah subsidi jang lajak. Dan kalau Sticusa memperoleh subsidi tidak kurang daripada 3 djuta gulden dalam setahun, se-tidak²nja sudah selajaknja Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional mendapatkan djumlah sebesar itu pula dalam rupiah.
Djumlah terdjemahan Indonesia jang boleh dikatakan memalukan diperbandingkan dengan alasan² tersebut diatas membukakan kepada kita perspektif baru jang rasa²nja tidak dapat dihindarkan, jakni pentingnja terdapat dewan terdjemah di Indonesia ini untuk mendapatkan rentjana terdjemah jang terpimpin. Disini dibutuhkan kesadaran budaja daripada Ikapi, Jajasan Lektur, Badan Musjawarat Kebudajaan Indonesia, Balai Pustaka, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Mengapa? Karena kitapun sadar, bahwa kita bukan hanja warga-negara serta penduduk Indonesia belaka, tetapi djuga warganegara dan penduduk dunia. Dalam hal ini terdjemahan Indonesia daripada kesusasteraan dunia akan membawa kita dengan langsung pada pengertian ini.
Djakarta, II-1956.