Baca EPUB: kesan2-utuy-tatang-sontani

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
S. ZACHAROV
Kesan2 Utuy Tatang Sontani
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini dimuat dalam majalah Negeri Sovjet. Kemungkinan terbit sekitar tahun 1958-1959. Tanpa keterangan edisi.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Utuy Tatang Sontani seorang pengarang sandiwara Indonesia jang terkenal jang ikut serta dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika jang baru2 ini diadakan di Tasjkent mengadakan perdjalanan di URSS ber-sama dengan Ananta Tur dan Dodong Djiwapradja, anggota2 delegasi Indonesia.

Utuy Tatang Sontani memberikan kesan2nja tentang kundjungannja di URSS kepada wartawan “Negeri Sovjet”.

Dalam berbitjara tentang Konferensi Pengarang Afro-Asia di Tasjkent Utuy Tatang Sontani mengemukakan bahwa sekalipun terdapat beberapa kesulitan karena para delegasi memakai bahasa jang berlainan, Konferensi berlangsung dengan sukses. “Di Tasjkent”, Utuy Tatang Sontani berkata, kami berkenalan dengan banjak Pengarang2 Asia dan Afrika jang mendjadi pendukung tjita2 daripada kebudajaan bangsanja”. Menurut pendapat Utuy Tatang Sontani salah satu hasil jang penting daripada Konferensi ialah persetudjuan tentang saling memperkenalkan karja2 kesusasteraan daripada berbagai bangsa.

Utuy Tatang Sontani mengatakan bahwa ia sangat terharu oleh pertemuan2nja serta pertukaran2 pikirannja mengenai soal2 kesusasteraan dengan Pengarang2 Sovjet Tikonov, Kerbabajev dan Simonov.

Ia djuga mengatakan bahwa ia tak akan melupakan keramah-tamahan serta sikap jang menjenangkan daripada penduduk Tasjkent terhadap para peserta Konferensi. Mengenai kesan2nja daripada kundjungannja di Turkmenistan Utuy Tatang Sontani mengatakan bahwa “Di Aschabad ia melihat pembangunan kebudajaan jang besar2an. Aschabad jang tertimpa gempa bumi”. Utuy Tatang Sontani mengundjungi Opera “Sjah-Senem” dan balet “Aldar Kose” di teater Akademi Opera dan Balet Aschabad. “Jang tak saja sangka ialah melihat sebuah teater di tengah2 gurun pasir Karakum. Teater tersebut pertundjukan2nja menundjukkan kemampuan Rakjat Turkmenistan untuk mentjiptakan hal2 jang indah, kata Utuy Tatang Sontani. “Saja suka akan alat2 musik nasional”, ia berkata selandjutnja, “sedang dengan alat2 musik tersebut dapat dimainkan karja2 serta konser2 komponis2 modern seperti dengan alat2 musik Barat”.

Dalam mentjeriterakan tentang kundjungan kesebuah pertanian kolektif didaerah Aschabad Utuy Tatang Sontani mengatakan bahwa untuk para petani kolektif adalah lebih senang setjara kolektif bertjotjok tanam, karena bekerdja setjara sendiri2 mereka tak akan dapat mengalahkan gurun pasir.

“Di Republik Uzbekistan dan Turkmenistan,” Utuy Tatang Sontani berkata “saja kagum benar akan kepertjajaan Rakjat kepada kekuatan mereka dan akan kegiatan mereka diberbagai lapangan kehidupan”.

Utuy Tatang Sontani tinggal beberapa hari di Moskow, Ibukota Sovjet Uni. Ia berkeliling dikota, me-lihat2 Lapangan Merah dan Kremlin serta mengundjungi Musoleum Lenin, Museum Gorky dan rumah tempat Tjechov berdiam. Utuy Tatang Sontani mengatakan bahwa ia sangat senang sekali melihat bahwa monumen2 arsitektur kami di Moskow selalu dipelihara dan didjaga.

“Saja merasa bergembira”, Utuy Tatang Sontani berkata, “bahwa saja di Moskow berdjumpa dengan para penterdjemah tjeritera sandiwara saja” Bunga Rumah Makan”, Rano Semaun dan Jevgenia Zachatnikova jang membikin pekerdjaan saja dikenal oleh Rakjat Sovjet”.

Utuy Tatang Sontani selandjutnja mengatakan bahwa dalam pertemuannja dengan anggota Pengurus Lembaga URSS-Indonesia, ia sangat bergembira mendengar kegiatan2 organisasi jang masih muda ini dan djuga bergembira bahwa beberapa karja kesusasteraan Indonesia, diantaranja “Siti Nurbaja”, “Lajar Terkembang”, dan “Hikajat Abdullah” sudah siap untuk diterdjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Rusia di Sovjet Uni.

Utuy Tatang Sontani mengundjungi Persatuan Pengarang Sovjet dan kepadanja di tjeriterakan tentang kegiatan organisasi ini. Ia mengatakan bahwa ia pada chususnja sangat kagum akan bantuan jang diberikan oleh Pemerintah Sovjet kepada Perhimpunan tersebut.

Tamu Indonesia tadi menonton pertundjukkan “Danau Angsa” diteater Stanislavsky dan Nemirowits-Dantjengko. “Musiknja, panggungnja dan permainannja memberikan kesan jang tak terlupakan”.

Utuy Tatang Sontani jang kenal akan karja2 Pengarang Rusia A. P. Tjechov mengundjungi rumah tempat Tjechov berdiam. Dalam rumah ini, jang sekarang mendjadi Museum, tamu tadi mengetahui banjak tentang karja dan kehidupan Tjechov dalam rumah tersebut antara tahun 1886 sampai 1890. Disitulah Tjechov menulis tjeriteranja jang termasjhur “Padang Rumput” dan tjeritera sandiwaranja “Iwanov”, “Beruwang”, “Usul” dan lain2nja.

Didalam buku tamu Utuy Tatang Sontani menulis seperti berikut: “Tjechov bagi saja adalah seorang guru didalam menjelami dan menggambarkan manusia jang wadjar”.

“Saja sangat senang melihat Rakjat Sovjet gemar akan buku,” Utuy Tatang Sontani menegaskan. “Di-mana2 mereka membatja didjalan dan di Taman, dalam bus dan di Metro. Untuk memenuhi kegemaran akan membatja ini”, ia menambahkan, “dimana2 terdapat kedai2 buku”.

Sebagai penutup wawantjaranja Utuy Tatang Sontani mengatakan bahwa ia sangat terharu akan sambutan jang ramah tamah jang diberikan Rakjat Sovjet kepadanja dan delegasi2 lainnja.