Baca EPUB: Kenangan dari Prancis

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
ANDA DJOEHANA WIRADIKARTA
Kenangan dari Prancis
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Anda dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1952 di Paris, ketika ayahnya, Moehamad Akbar Djoehana, sedang berkuliah di universitsa Sorbonne, jurusan sejarah, linguistik, dan bahasa Tionghoa, dan ibunya, Tati Widari Soewandi, seorang pianis dan penari, bekerja sebagai sekretaris di kedutaan Indonesia.

Pada tahun 1959, untuk pertama kalinya Anda ke Indonesia. Dia tinggal di Jakarta dua tahun, kemudian kembali ke Prancis tahun 1961, dan masuk SLTA di luar Paris. Ketika tamat sekolah menengah tahun 1970, dia dimasukkan ke kelas persiapan sekolah insinyur dan kemudian melanjutkan studinya ke Ecole des Travaux Publics, sekolah insinyur sipil di Paris, sampai lulus tahun 1976.

Awal 1977, mulai bekerja di suatu perusahaan konstruksi di pinggir Paris. Merasa kurang cocok dengan teknik, tahun 1979 dia kuliah lagi di Institut Français du Pétrole, jurusan ekonomi dan management dan lulus tahun 1981. Anda langsung bergabung dengan perusahaan minyak Prancis Total di Paris, di mana dia bekerja sampai 1994.

Sejak tahun 1994 hingga kini, Anda bekerja di holding group Medco milik Arifin Panigoro sebagai wakil direktur Strategi & Pengembangan.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

“Siapa yang belum memimpikan, sambil berkeluyuran di jalan raya kota, dunia yang bukannya mulai dengan kata, tapi berawal dengan niat?”

René Char, Lettera Amorosa

PARIS

Ratu Dunia

Prancis bagiku pertama-tama adalah Paris, kota di mana saya dilahirkan. Paris adalah ibu kota Prancis, salah satu kota paling terkenal dan cantik di dunia. “Paris, c’est une blonde, Paris, reine du monde”: Paris gadis berambut pirang, Paris ratu dunia, menyanyi Maurice Chevalier, yang mungkin hampir sepopuler di Ameriak dan di negeri asalnya.

Di mata dunia, Paris memang melambangkan kecantikan, keindahan, kecanggihan. Mendengar nama Paris, seluruh dunia membayangkan mode, parfum, wanita cantik penuh pesona dan berbawaan anggun. Terbayang jalan Champs-Elysées yang bergengsi, menara Eiffel yang mengesankan, medan Concorde dengan tugu Mesir kuno dan hotel Crillon yang mewah. Sejak lama nama Paris menakjubkan dunia.

Paris memang kota yang indah. Keindahan ini mulai dari bangunannya yang beraneka corak: gereja Abad Pertengahan, istana zaman Renaissacne dan Klasik, bangunan besi dan kaca abad ke-19, gedung apartemen Belle Epoque, “masa indah” peralihan abad ke-20. Namun yang menampilkan segala keindahan ini dengan begitu cemerlang boleh dikatakan adalah karya Haussmann, gubernur Paris di paruh kedua abad lalu, yang “menggali” jalan-jalan raya yang lebar dan lurus agar kota dapat diawasi dengan mudah.

Paruh pertama abad tersebut memang mengalami banyak gerakan gejolak dan revolusi, di mana para pemberontak dan pejuang memanfaatkan jalan Paris kuno yang sempit dan berbelok-belok untuk membangun barikade dan menghilang dengan mudah, seperti ditayangkan dalam film yang dibuat berdasarkan kisah “Les Misérables”, “Kaum Sengsara” karya penulis Victor Hugo. Tata kota Haussmann ternyata menonjolkan Paris dalam segala kecantikan, keanggunan, dan pesonanya. Haussmann menghapuskan tanda-tanda kesengsaraan dan pemberontakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kalangan bourgeoisie.

Tapi tidak berarti semua orang Paris kaya, anggun, dan cantik. Tidak juga bahwa Paris kenyang dengan segala kesenangan bendawi. Tidak berarti bahwa jiwa Paris terbius.

Kaum Sengsara

Saya lahir tahun 1952. Perang Dunia kedua baru selesai tujuh tahun sebelumnya. Seluruh Eropa masih sedang membangun kembali ekonominya yang hancur, berkat bantuan Amerika lewat Marshall Plannya.

Ingatanku tidak lebih jauh dari umur tiga atau empat tahun. Ketika itu kami tinggal di sebuah rumah di banlieue (pinggir kota). Lalu kami pindah ke rue de Malte di Paris arrondissement (kelurahan) 11, di bagian timur kota dan di tepi “kanan” menurut arah aliran, atau utara Sungai Seine. Kawasan ini adalah permukiman kalangan bawah. Banyak bangunan yang mendekati kekumuhan. Saya ingat tetangga gedung kami dengan temboknya yang bau kelembaban. Itulah Paris sejati, Paris kemiskinan yang pernah digambarkan dalam “Les Misérables”.

Orang tuaku memang tidak kaya. Ayah masih kuliah. Ibu sudah tamat dari sekolah musiknya di London. Ibu seorang pianis, tapi bekerja sebagai sekretaris di kedutaan kita. Di rue de Malte, kami tinggal di apartemen yang dimiliki pasangan teman orang tuaku, Tante Harjati dan suaminya Oom Marco Schutzenberger. Saat itu mereka tinggal di Indonesia.

Kemudian kami pindah ke rue Lecuirot di Paris 14, di tepi “kiri” sungai atau bagian selatan kota. Kawasan ini tidak semiskin Paris 11, tapi masih merupakan pemukiman kalangan menengah ke bawah. Apartemen yang kami diami adalah milik keluarga Auberlet, yang ayahnya adalah seorang arsitek yang tinggal di kawasan agak sejahtera di pinggiran selatan. Ayah mengenal mereka dari saat dia berkost di mereka waktu tiba di Prancis tahun 1948.

Dari apartemen kami terdengar rekaman lagu Edith Piaf, penyanyi yang disenangi rakyat kecil. Salah satu karyanya “La vie en rose”, terkenal di seluruh dunia. Di antara tetangga kami ada sepasangan muda yang sering berhantam. Satu hari, setelah pertengkaran yang cukup ribut, saya melihat sang istri turun ke jalan tanpa sepatu. Saya tidak pernah tahu alasannya tapi tidak pernah melupakan pemandangan yang aneh ini, di negara di mana orang sudah lama tidak “ngeker” di luar rumah.

Kaum Pemberontak

Seluruh dunia mengagumi keindahan Paris. Bagiku, kecantikan Paris bukan pada monumennya yang sudah dikenal seluruh dunia tanpa pernah ke sana, bukan pada Champs-Elysées yang kesohorannya hanya ditandingi Fifth Avenue di New York, bukan pdaa toko modenya. Orang berpendidikan akan bilang, kecantikan Paris ada di arsitektur bangunannya, tata perkotaannya, taman-tamannya, pemandangan tepi Sungai Seine. Mereka benar, dalam arti benar bahwa wanita yang wajah dan tubuhnya rupawan memang cantik. Tapi keindahan tidak cukup bila hanya ada pada tubuh. Paris cantik bukan hanya karena raganya, tapi juga karena jiwanya.

Jiwa Paris ada di jalannya, di batu yang melapisi jalannya, pavé yang membuat gelindingan roda kendaraan berbunyi khas. Ini dulu. Batu jalan menjadi “peluru” di tangan “perusuh” Me 1968 melawan polisi dan granat gas matanya. “Sous les pavés la plage!”, di bawah batu jalan ada pasir pantai, seru mereka, yang merasa sumpek dengan dunia kenyamanan di bawah kendali jenderal De Gaulle, dan menuntut kebebasan mutlak. “Pengamuk” Mei menganggap hidup sudah kehilangan jiwa. Setelah ketertiban dipulihkan pemerintah, sedikit demi sedikit batu jalan dilapisi aspal. Sekarang hampir tidak ada lagi extitpavé.

Jalan Paris dulu berjiwa karena rakyatnya hidup di jalan. Orang tinggal di rumah, mereka makan dan tidur di situ. Tapi orang bekerja, berbelanja, bersenang-senang, bergaul di luar. Dari rumah ke segala tempat itu orang lewat jalan. Jalan adalah urat kota, orang adalah darahnya, hidupnya.

Jantung kehidupan Paris adalah café-nya. Di café orang bukan hanya minum kopi. Orang bertemu, berbicara, berdebat. Jutaan gagasan baru muncul di café Paris yang akhirnya menjadi nyata dan mengubah dunia. Para revolusioner sedunia bertemu di Paris, kota revolusi sejak benteng Bastille diserbu rakyat tahun 1789. Para seniman sedunia juga bertemu di Paris, penulis, pelukis, penggubah. Di café “La Closerie des Lilas”, jalan raya Montparnasse, beberapa meja dipasangi lempengan logam kecil yang ditulisi nama “Hemmingway”, “Lenin”, dan banyak lagi orang terkenal.

Dengan harga secangkir kopi, pemuda dapat menghabiskan banyak jam “mengubah dunia”, istilah Prancis untuk pembicaraan seru antara teman di mana segala pikiran dilontarkan, dikupas, dan dibahas. Tidak heran kalau Quartier Latin, “Dusun Latin” yang mendapat julukan ini di Abad Pertengahan karena lembaga pendidikan, yang saat itu menggunakan bahasa Romawi kuno ini untuk pengajarannya, letaknya di kawasan ini semua, memiliki banyak café. Di café, mahasiswa bertemu dan belajar. Di pinggir taman Sorbonne, mungkin universitas terkuno di dunia, café menyandang nama seperti “L’Ecritoire”, Meja Tulis, dan “L’Escholier”, Sang Siswa.

Quartier Latin adalah panggung peristiwa Mei 1968. Mahasiswa yang ikut dalam gejolak ini dengan tulus hati memandangnya sebagai ledakan kegembiraan dan kebebasan, meskipun dalam kenyataan peristiwa ini menonjolkan kekerasan tergawat sejak demonstrasi menentang perang kolonial Prancis di Aljazair yang berakhir tahun 1962. “Bercinta di atas barikade” boleh jadi khayalan daripada kenyataan, tapi slogan ini merupakan ucapan suatu keinginan pemuda baby boomer itu, bahwa revolusi dan cinta harus bersatu.

Tahun 1968 saya masih di asrama di luar Paris, di sebuah sekolah di mana para murid berasal dari kalangan ningrat, bourgeoisie atas, dan celebrities. Kami masih tinggal di banlieue. Di musim panas, waktu kerusuhan sudah mereda, kami pindah ke rue Broca, tidak jauh dari Quartier Latin. Jalan dari rue Broca ke Quartier Latin dapat melewati rue Mouffetard, jalan sempit yang menandaki Montagne (gunung) Sainte-Geneviève, salah satu dari tujuh bukit di Paris. Saat itu Rue Mouffetard masih seperti kawasan kumuh yang diuraikan dalam karya Victor Hugo. Dia dilapisi batu. Di sepanjangnya gedung bertingkat tidak mewah seperti di lebuh raya Haussmann yang menembus kawasan orang kaya. Tidak ada pohon dan tidak ada taman.

Lima tahun kami tinggal di rue Mouffetard. Waktu Ayah pindah ke pinggiran lagi (saya sudah tinggal sendiri, seperti kebanyakan anak muda saat itu, di masa tuntutan kebebasan), rue Mouffetard sudah menjadi kawasan trendy penuh dengan bar, restoran dan tempat tontonan. Kalangan menengah berumur tiga puluhan sudah mulai bekerja dan membeli apartemen di bagian Paris yang masih murah. Mereka berpendidikan dan berdaya beli cukup. Berubahlah Paris.

Cinta dan Nyanyian

Paris, kota segala revolusi, juga kota cinta. “Car la Seine est une amante, et son amant est Paris”: Sungai Seine seorang wanita kekasih, dan Parislah prianya, menyanyi lagi Maurice Chevalier. “Les escaliers de la Butte sont durs aux miséreux, les ailes des moulins protègent les amoureux”: jalan tangga Bukit Montmartre berat bagi yang sengsara, layar kincir angin melindungi para kekasih, menyanyi Mouloudji, seorang pujangga, barangkali yang terakhir yang mengumandangkan jiwa Paris.

Mengapa yang terakhir? Apa tidak ada lagi orang yang bercinta di Paris? Bukankah kekasih dan pebulan madu seluruh dunia berlari menyendiri di pinggir Sungai Seine atau di bawah naungan Bukit Montmartre? Paris asmara adalah Paris sengsara, bukan hanya dalam syair Mouloudji, tapi bagi setiap manusia yang tuntutan batinnya mendorongnya ke Paris untuk mengucapkannya dalam bentuk karya. Seniman dari segala penjuru dunia datang ke Paris karena suasananya yang penuh keindahan mengilhamkan para pencipta.

Keindahan juga melahirkan cinta di hati mereka yang bertemu dalam suasana itu. mereka datang dengan cita-cita dan harapan sebagai satu-satunya bekal, dan hidup “d’amour et d’eau fraîche”, dari cinta dan air tawar, kata orang Prancis. Bukankah cinta selalu membawa kesengsaraan? Tapi sebaliknya, kesengsaraan mengangkat cinta: para kekasih yang muda dan tanpa uang tahu bahwa kekayaan mereka adalah harapan.

Tahun 1973, saya masih sempat mendengar seseorang main akordeon dan menyanyi di sebuah kafe di kawasan Les Halles. Lagunya adalah “Sous les ponts de Paris”, “Di kolong jembatan Paris”. Tahun 1980, saya masih suka mengunjungi bal populaire “Balajo”, tempat di mana kalangan buruh dan borjuis kecil berdansa valse musette dan java dekat medan Bastillem di bagian timur yang masih didiami golongan bawah. Lalu saya beli apartemen di kawasan Bastille.

Tahun 1984 perusahaanku menugaskan saya ke Indonesia. Waktu saya kembali ke Paris tiga tahun kemudian, seperti rue Mouffetard sepuluh tahun sebelumnya, Bastille sudah menjadi daerah trendy, penuh juga dengan bar, restoran, dan tempat tontonan. “Balajo” sudah menjadi restoran di jalan yang penuh restoran. Generasiku, para baby boomer dari kalangan menengah berumur tiga puluhan, seperti kakak-kakaknya pada gilirannya sudah mulai bekerja dan membeli apartemen di bagian Paris yang masih murah. Mereka berpendidikan dan berdaya beli cukup. Berubahlah lagi Paris.

Flânerie

Saat saya muda, rue Mouffetard dan Bastillie masih mengandung jiwa Paris kesengsaraan, cinta, dan harapan, Paris pemberontak dan seniman, Paris para kekasih. Dari Paris itu bagiku hanya tinggal kenangan. Batu jalan sudah hampir punah. Kincir angin sudah lama tidak ada lagi. Tidak ada lagi orang miskin di Paris. Buruh, tukang-tukang, dan bourgeois kecil sudah tergusur ke pinggiran. Bal populaire sudah berubah menjadi bar dan restoran. Paris tetap indah, tapi yang datang mengaguminya tidak lagi sengsara. Mereka tidak perlu berharapan dan tidak lagi bercita-cita.

Tapi kita tetap boleh merenungkan masa itu. Daripada mengelamun di rumah, lebih menyenangkan jalan-jalan menjajagi kota sambil berkhayal. Paris tetap indah, dan jalan kaki sambil melihat pemandangan adalah kenikmatan, flâner kata orang Prancis. “Flâner” artinya “berkeluyuran”, “berjalan-jalan tanpa tujuan”. Paris adalah kota flânerie, kota keluyuran. Mari kita keluar, mari kita menghirup udara kota. Siapa tahu, mungkin masih tersisa sehembus jiwa Paris dulu.

Orang Jakarta mungkin tidak akan mengerti nikmatnya keluyuran di jalanan. Di jalanan Jakarta tidak ada tempat untuk berjalan kaki, apalagi berjalan-jalan. Tepi jalan sering tidak bertrotoar, dan kalau ada sempit, tinggi, dan tidak rata, tidak enak dijalani, atau lebar tapi ditempati pedagang kakilima. Udara jalan, di samping panas dan berdebu, penuh pencemaran kendaraan. Dan pemandangan jalan tidak menarik: rumah-rumah orang kaya yang angkuh dan tanpa selera, pertokoan tanpa seni, pencakar langit tanpa jiwa. Berjalan kaki di Jakarta bukan kesenangan. Kecuali di daerah permukiman rakyat kecil. Di situ jalan sempit-sempit, tidak banyak kendaraan, suasana ramai dan ramah.

Di Paris, jalan bertrotoar. Di sepanjang jalan gedung berterusan bangunan bertingkat enam atau tujuh. Di atas bertumpuk apartemen. Di bawah berjejeran toko: boulangerie untuk roti dan boucherie untuk daging, papeterie untuk kertas dan pensil dan librairie untuk buku, mercerie untuk benang dan kancing dan quincaillerie untuk panci dan sapu. Orang tinggal turun dari apartemennya ke jalan untuk berbelanja. Di Paris, bus bersih dan métro, kereta bawah tanah, cepat. Trotoar Paris ramai dengan orang yang berjalan kaki menuju toko, sekolah atau tempat kerja, atau perhentian bus atau stasiun métro yang akan membawa mereka ke toko, sekolah atau tempat kerja. Jalan kaki bukan masalah di Paris.

Jalanan sering indah di Paris: bangunan di sepanjangnya, taman di sana-sini. Jalanan menawarkan segala macam kesenangan: toko buku untuk makanan rohani, restoran untuk makanan jasmani, bioskop dan teater untuk hiburan, dan di mana-mana, café, kedai kopi, untuk minum kopi tentu tapi juga untuk melihat orang berlalu, waktu berlalu.

Jalanan Paris mengundang berjalan-jalan. Tidak perlu ada tujuan: selalu akan ada atau terjadi yang menarik, yang indah dipandang, yang mengharukan, yang menggelikan. Jalan yang setiap hari dilalui pun dapat membawa kejutan, memperlihatkan sesuatu yang baru, yang aneh. Ada lorong yang menembus gedung, ditudungi lengkungan, yang selalu dilewati. Hari ini, Anda terundang memasukinya.

Ternyata ini tembusan sebuah passage, jalan sempit yang masih dilapisi pavé, batu yang sedikit demi sedikit punah, saksi dari masa yang mungkin tinggal kisah. Di sepanjang passage terlihat beberapa bengkel dan sanggar. Tukang dan perajin sudah tidak banyak lagi di Paris. Kegiatan mereka diganti profesi modern: kantor komputer, periklanan, perancangan. Dan masih banyak seniman: pelukis, pemahat. Anda mengintip mereka lewat depan kaca yang luas (mereka mencari cahaya siang).

Hari lain, pintu serambi suatu gedung terbuka (di zaman ini, orang takut maling dan semua pintu gedung dilengkapi dengan kunci elektronik: bila sandi tidak dikenal, pintu tidak dapat dibuka). Anda melangkahinya. Serambi menembus ke sebuah pekarangan. Tanahnya dilapisi aspal. Namun sebatang pohon ara menghiasinya, pohon daerah selatan, pohon daerah bermatahari di tengah-tengah Paris. Dia tidak akan berbuah, tapi alangkah memikatnya!

Tapi Anda boleh tidak tertarik oleh lorong, tidak berani melangkahi pintu serambi. Anda tinggal jalan, kepala menoleh ke atas (hati-hati: trotoar Paris jarang bersih) menghirup udara dan menengok muka gedung yang selalu menarik: arsitektur, dekorasi, bahkan adegan yang terlihat lewat jendela. Lalu hidung ditempel ke kaca toko. Di antara pajangan, sebuah benda menarik perhatian Anda: patung kecil, pisau kertas, geretan kuno, topi jerami. Langsung Anda menginginkannya. Anda masuk, disambut seorang pria tua berkacamata bundar dengan bingkai logam tipis. Anda menanyakan harga incaran Anda: lima puluh franc, lembaran uang yang ada di dompet. Benda dibungkus, dibayar, dan dibawa ke luar: hari ini tidak sia-sia.

Anda jalan terus, lalu ingin mengaso. Selalu ada bangku di abwah pohon plantane yang menghiasi trotoar Paris. Atau Anda haus, atau hanya ingin minum kopi. Di mana-mana ada café. Anda duduk dan melihat pemandangan. Atau Anda mengintip seorang gadis cantik atau jejaka tampan yang lewat.

Di Paris ada beberapa taman indah: Luxembourg dengan kolam besarnya yang penuh kapal-kapalan dan istananya tempat Sénat (majelis tinggi) bersidang, Monceau dan tanaman bunganya, Montsouris dan observatoriumnya, Buttes-Chaumont dengan bukit-bukitnya. Anda duduk lagi, mengintip anak-anak bermain-main atau pasangan kekasih berpelukan.

Tepi Sungai Seine juga tempat indah untuk berkeluyuran, paling tidak di atas, setingkat dataran. Di bawah, hampir setinggi permukaan air, mendiang presiden Pompidou membangun jalan lintas cepat yang mengikuti sungai. Dulu, sebelum jalan ini dibangun, tepi sungai dilapisi batu. Orang dapat berjalan di sepanjang sungai, atau duduk mengelamun menengok air yang mengalir. Sekarang, tepi sungai adalah kerajaan kendaraan yang meluncur tanpa menganggap air yang penuh kenangan.

Tapi di atas, masih ada trotoar dan orang masih dapat berkeluyuran. Di tengah kota, di kedua tepi, pinggir sungai masih tempat bouquinistes, penjual buku bekas, berjualan. Barang mereka disimpan dalam peti-peti yang dipasang di atas pagar batu di pinggir trotoar. Paris kota kebudayaan, kota pengetahuan, kota pendidikan. Banyak orang menulis, banyak orang membaca, banyak orang belajar. Banyak buku diterbitkan, dijual, dan dibeli. Orang Paris suka buku. Buku lebih penting dari mebel, dari perabot. Mereka menghidupkan dinding rumah. Mereka adalah teman. Tapi kadang-kadang kesempitan memaksa orang menjual bukunya. Muncullah buku itu di peti bouquinistes. Lalu ada pencinta buku yang tidak juga kaya. Datanglah dia ke bouquinistes.

Mungkin Anda bukan kutu buku. Daripada membungkuk di atas peti bouquinistes, angkatlah kepala. Pemandangan tepi sungai begitu indah. Di depan Anda, berdiri kedua menara Conciergerie dengan atap lancipnya seperti topi makhluk dongengan, peninggalan Abad Pertengahan yang diapit gedung pengadilan, dalam bahasa Prancis Palais de Justice, “istana keadilan”. Di sebelah kiri, di atas atap kantor pusat polisi Paris, terlihat menara corak gothique Notre-Dame, katedral Paris, juga dari Abad Pertengahan. Ke kiri lagi terlihat Pulau Saint-Louis dengan kediaman corak classique abad ke-18 yang anggun. Di sebelah kanan Anda membentang Pont-Neuf, “jembatan baru” yang memang baru waktu dibangun, di akhir masa Renaissance di abad ke-16. Terlihat ke kanan lagi kubah Institut, “kuil” pengetahuan dan kesenian Prancis. Di kejauhan terlihat Orsay, bekas stasiun kereta api yang dijadikan museum seni rupa.

Banyak tempat yang mengundang keluyuran dan kelamunan di Paris.

LIBURAN DI PEDESAAN

Biarpun kami tidak kaya, kami sering mendapat kesempatan berlibur di luar kota, bahkan ke luar Prancis (meskipun hanya sejauh Belgia dan Belanda). Musim panas 1956 (adikku Armansjah belum lahir) orang tuaku diundang ke Cerisy-la-Salle, sebuah desa kecil di propinsi Normandie, di sebelah barat Paris, di mana secara berkala dilangsungkan pertemuan antar penulis dan cendekiawan. Kastel Cerisy terletak tidak jauh dari desa, di kebun besar. Kami tidak menginap di kastel sendiri tapi di orangerie-nya, bangunan di mana para bangsawan menanam pohon jeruk, tumbuhan daerah selatan yang lebih panas, yang harus dilindungi dari kedinginan daerah utara ini.

Dapur mencantumkan kesan dan kenangan yang tidak pernah hilang dari benakku. Satu hari para koki, berpenampilan seperti petani yang masa sekarang hanya tinggal sejarahnya, duduk berderetan di dekat perapian dapur kastel. Setiap koki sedang menccabut bulu seekor ayam. Di sepanjang tembok diletakkan ayam hidup yang diikat kakinya dan menunggu dengan sabar saat dia ditelanjangi. Lantai dapur dari batu tercemar kotoran ayam. Saya, yang belum berumur empat tahun, berpikir semoga perut ayam sudah bersih saat dimasak.

Satu hari lagi ada pesta di desa, pasar malam di siang hari (malam petani tidur). Adikku Igor dan saya diangkat oleh Anne, di mataku seorang gadis yang cantik, dan kakaknya yang tidak kalah cantik, dan masing-masing didudukkan di atas pelana seekor keledai. Lalu kedua keledai dituntun dua gadis cantik ke desa. Saya tidak pernah dapat memisahkan kenangan ini dari dongengan “Peau d’Âne”, kulit keledai, dan juga kisah “Les Memoires d’un Petit Âne karya Comtesse de Ségur, seorang wanita bangsawan asal Rusia yang menulis cerita untuk anak-anak.

Di musim semi berikutnya (Armansjah belum lahir juga) kami berangkat ke Bretagne, propinsi di sebelah barat Normandie. Mobil kami hanya sebuah Fiat 600 yang kecil dan perjalanan panjang, apalagi di masa itu di mana jalan tol masih impian di Prancis. Kami bermalam di suatu pasanggrahan tua di pinggir jalan raya yang tidak begitu ramai. Zaman itu hotel memang juga masih langka di luar kota. Esok harinya, saat sarapan, lama saya memperlihatkan tembok ruang makan yang dihiasi macam-macam pistol dan senapan kuno. Akhirnya kami sampai di Saint-Malo, kota pelabuhan dan benteng sarang bajak laut yang memburu kapal Inggris demi raja Prancis. Penginapan kami di sana sebuah hotel kecil tua. Saya tidak akan melupakan toilet di lantai dasar, yang hanya dapat diguyur dengan menarik rantai toilet lantai atas. Kami tidak kaya tapi kadang-kadang bergaya hidup orang kaya. Suatu liburan natal (Armansjah sudah lahir tapi masih bayi) kami diundang Henri Cartier-Bresson, mungkin seniman foto terbesar di dunia sampai sekarang, ke kastel keluarganya di Montevray, sebuah desa kecil di daerah Sologne di sebelah selatan Sungai Loire. Saya masih ingat bunyi lonceng yang mengumumkan saat makan malam. Igor dan saya selalu diajak ibu Henri, yang oleh cucunya dipanggil “Granny”, bahasa Inggris untuk “nenek” (kebiasaan kalangan atas Prancis memang memakai istilah Inggris), jalan-jalan di hutan sekitar kastel bersama Jérôme dan Catherine, keponakan Henri, atau menengok rawa Sologne yang dijuluki “surga pemburu” karena banyaknya bebek liar. Kadang-kadang kami menemukan buah pinus, pomme de pin atau “apel pinus” dalam bahasa Prancis. Granny suka menyanyi: “Pomme de reinette et pomme, d’api, d’api, d’api rouge, pomme de reinette et pomme d’api, d’api, d’api gris”.

Malam Natal saya meletakkan sepatuku di depan perapian kamar. Saya berusaha tidak tidur sampai jam dua belas untuk memergoki Sinter Klaas. Tentu saja saya tertidur dan tidak pernah melihatnya. Saya mesti berumur enam tahun karena masih percaya pada Sinter Klaas.

Keluarga Cartier-Bresson adalah pewaris pabrik benang besar yang gulungannya menyandang merek “DMC”. Mereka salah satu dari keluarga industriawan lama yang akhirnya bangkrut karena saingan serat sintetis. Montevray sudah lama dijual.

Masih banyak liburan di luar Paris yang saya dapat ceritakan dari masa anak-anak. Kami sempat tinggal dua tahun di Jakarta. Lalu ayah ditugaskan ke UNESCO, lembaga PBB untuk pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan di Paris. Kami tidak lagi miskin dan berliburan di home d’enfants, penitipan anak kalangan berada. Kedua adikku dan saya dibawa ke Normandie lagi, ke Greuville di pedalaman dan ke Villers-sur-Mer di pantai, ke gunung juga di domaine (tanah tuan) du Flon di Jura. Saya masih terkesan dengan pemilik rumah: “Tati” Chabot yang cantik di Greuville, pipi tembem merah Nyonya Bourreau di Flon.

Sampai tahun 1969 kami sekeluarga sekali berlibur ke Indonesia, sesuai peraturan PBB mengenai cuti ke negara asal. Tahun itu adalah yang terakhir saya berlibur dengan Ibu (Ayah tidak pernah ikut kami). Setelah itu setiap tahun saya berlibur ke Indonesia tanpa orang tua.

Pertama kali saya berlibur mandiri adalah di tahun 1968, setelah Prancis kembali tenang dari kerusuhan Mei. Saya diajak temanku Paul berlibur dengan keluarganya ke Saint-Tropez, sebuah desa nelayan di pantai selatan yang menjadi terkenal karena Brigitte Bardot membeli villa di sana. Kami bertenda di tempat yang disewakan seorang petani di satu sudut ladangnya dekat pantai.

Saint-Tropez bukan desa lagi dan kapal nelayan sudah lama diganti kapal pesiar kaum kaya dan celebrities. Kadang-kadang Paul dan saya “ke kota”. Meskipun baru berumur lima belas, kami ke café di pinggir pelabuhan memandang kapal indah dan wanita cantik, atau di pinggir alun-alun menonton penerbit piringan hitam Eddié Barclay bermain pétanque (bola besi) dengan penduduk setempat.

KOTA PRANCIS LAIN

Liburan Natal 1972-73, beberapa teman dan saya pergi ke suatu resort ski di Alpen. Selama liburan salju tidak pernah turun. Siang hari kami main ping-pong dan baby-foot di café. Malam kami diskotek. Satu hari saya mengajak berdansa seorang gadis. Saya mulai menanyakan dia tentang dirinya. Namanya Isabelle dan dia tinggal di Saint-Etienne. Saya seperti orang buta yang terbuka matanya: jadi, tidak semua orang Prancis tinggal di Paris! Saya bukan penggemar sepak bola sehingga tidak pernah tahu tentang team Saint-Etienne. Beberapa kali saya mengunjungi Saint-Etienne. Kota itu lahir dari perkembangan dan industri dan tidak terlalu cantik. Saya masih memandang Paris kota tercantik di Prancis.

Saya menerima ijazah insinyur tahun 1976. Setelah beberapa bulan saya menyadari harus mulai bersikap dewasa dan mencari pekerjaan. Sambil terus mencari, saya mendapat kesempatan magang tiga bulan di suatu perusahaan engineering. Saya dikirim ke Toulouse, sebuah kota menengah di pedalaman barat daya, dalam rangka studi sistem perambuan lalu lintas kota itu. di Toulouse tinggal José, teman dari masa kanak-kanak, tapi saya belum tahu apa-apa tentang kota itu. Saya hanya senang bertemu dengan teman lama.

Alangkah terkejutnya saya waktu masuk kota dari bandar udara. Toulouse kota yang begitu cantik, bangunannya dari zaman classique terbuat dari bata merah. Kali ini saya menyadari bahwa di Prancis ada kota yang mungkin lebih indah dari Paris. Setiap gedungnya adalah sebuah permata arsitektur, dan kemerahannya yang menyeluruh memberinya pesona yang tiada samanya. “Toulouse la Rose”, Toulouse si merah muda, menyanyi Nougaro yang begtu mencintai kotanya. Rose juga berarti mawar, dan mawar merah adalah lambang cinta.

Selesai magang saya langsung diterima sebagai insinyur di satu perusahaan konstruksi. Di musim dingin 1978-79 saya ditugaskan ke Bordeaux, kota anggur terkenal di seluruh dunia, yang letaknya juga di barat daya tapi di tepi laut. Saya mengharapkan kota seindah Toulouse, apalagi mengingat ekonominya yang berdasarkan anggur bermutu tinggi pasti melahirkan golongan pedagang kaya. Memang banyak bangunan indah dan anggun di Bordeaux. Tapi suasananya dingin, terasa dari kota pedagang yang tidak menikmati kesenangan hidup. Lain dari Toulouse, kota cendekiawan dan pelajar.

Musim panas 1979, saya ke Toulouse menengok José. Sebetulnya saya ingin ke Aix-en-Provence, kota kecil dan cantik di pedalaman tenggara, tidak jauh dari kota pelabuhan Marseille. Di sana ada Sophie, seorang teman pianis yang mengikuti sepasang teman yang merancang kostum opera “Le Nozze di Figaro” karya Mozart. Aix memang terkenal untuk festival musim panasnya yang dipusatkan ke musik. José dan saya melintasi Prancis selatan dari Toulouse ke Aix dengan ber-autostop, minta tumpangan dari kendaraan di jalan. Akhirnya kami sampai di Aix.

Saya tidak tahu di mana Sophie tinggal. Kami sedang duduk di teras sebuah café di pertigaan jalan bebas kendaraan. Ratusan pejalan kaki berlalu-lalang di depan kami. Saya melamun tanpa melepaskan pandangan dari arah yang sama, sambil memikirkan Sophie. Tiba-tiba saya melihat sosok, lalu wajahnya. Sophie cantik, dengan rambut coklatnya dan mata birunya. Mungkin suasana pesta memungkinkan orang bertemu kebetulan. Mungkin Aix kota di mana orang selalu akhirnya bertemu.

Aix kota yang indah dan terpelajar. Jalan utamanya, Cours Mirabeu, selama festival ditutup bagi kendaraan. Kiri kanan berderetan gedung anggun. Masuk jalan kecil yang menembus di Cours, kita melihat bangunan tua yang manis, akrab, khas selatan, di mana matahari membuat segala sesuatu seolah-olah menyanyi. Tidak heran kalau di Aix diselenggarakan festival musik,

Malam hari tiba di Aix juga kami diajak Sophie menonton geladi resik “Le Nozze di Figaro”. Pentas dipasang di halaman sebuah biara kuno yang indah. Saya menganggap “Le Nozze” opera Mozart yang paling indah. Lagu yang paling terkenal dari opera itu adalah “Voi che saperte…”, menyampaikan kebingungan seorang remaja, Cherubino, yang ingin mengerti apa itu cinta dan bertanya kepada semua wanita: kalian yang mengetahui apa itu cinta, wanita, lihatlah apakah ada di hatiku… Waktu saya kecil, Ibu sering menyanyikan lagu itu untukku.

ORANG PRANCIS

Dalam Penjadian, demikianlah cerita sebuah buku pandu tentang Eropa Daratan, para malaikat berprotes karena Tuhan telah kurang seimbang menganakemaskan tanah yang akan menjadi Prancis. Ada kekurangan keadilan yang mendasar dalam memberi satu negeri ladang hijau Normandie, keindahan Bretagne yang kesat, cahaya ajaib yang memeluk Paris, kebun anggur Bourgogne dan Bordeaux, ketakjuban penuh kelembutan Provence, dan pantai impuan Mediterranea. “Kurang adil?”, tanya Tuhan. “Tidak. Saya belum selesai. Tunggu sampai saya menjadikan segugus pengomel yang akan saya namakan orang Prancis”.

Prancis memang salah satu negeri terindah di dunia. Memang penduduknya dikenal sombong, kurang ramah dan pengomel. Tapi penilaian ini meleset dari pokoknya: adalah juga pengomel itu yang membuat Prancis begitu penuh jiwa dan pesona. Mereka yang hanya memperhatikan kulit tidak melihat isi. Orang Prancis penuh dengan segala yang membuat negerinya begitu indah dan mengagumkan. Mereka penyindir tapi cerdas, penggerutu tapi berpendidikan, angkuh tapi sangat penyayang dan setia sebagai teman.

Orang Prancis menghargai keluarga dan sanak saudara secukupnya. Meskipun agama tidak lagi mewarnai kehidupan masyarakat Prancis modern, Natal tetap dirayakan karena merupakan kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul, seperti Lebaran bagi orang Indonesia yang muslim. Di Prancis, pernikahan bukan lembaga wajib bagi sepasangan untuk hidup bersama. Namun bila dirayakan, pestanya penuh keakraban, kemeriahan, dan kesenangan. Yang diundang adalah saudara yang akrab dan teman dekat.

Sahabat menduduki tempat khusus dalam kehidupan orang Prancis. Sahabat adalah yang membagi kesenangan di masa meriah dan kesedihan di masa susah. Teman menyenangkan kita dengan sukarela. Kita menyayangi teman karena, walaupun tidak ada ikatan dengan kita dan kewajiban kepada kita, mereka dapat membuat kita bahagia. Kata orang Prancis, saudara tidak dipilih, tapi teman dipilih.

Bagaimana dengan cinta? Pria Prancis oleh wanita bangsa lain dilihat genit dan cerewet, tapi sopan dan romantis. Wanita Prancis dikenal cantik dan anggun, tapi dingin dan berjarak. Keindahan Prancis tercermin dalam cara orangnya bercinta. Tidak heran bila Prancis sering dipilih tempat berbulan madu oleh bangsa lain.

Itulah juga Prancis bagiku, penuh keindahan, kecantikan dan rasa sayang. Prancis bukan hanya renungan tapi juga kerinduan, bukan perantauan karena sekali diterima orang, untuk selama-lamanya mereka menjadi teman.