Publisher Note
Truman Simanjuntak adalah seorang arkeolog kelahiran tanah Batak, tepatnya Pematang Siantar, pada tanggal 27 Agustus 1951. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana arkeologi di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1979, dia menjadi staf peneliti arkeologi di Yogyakarta hingga tahun 1986 ketika dikirim ke Paris untuk melanjutkan studi pascasarjana di Institut de Paléontologie Humaine.
Hal yang menarik adalah judul tesis doktornya bersentuhan bukan dengan paleontologi Indonesia, melainkan Prancis, di mana dia mengadakan beberapa penelitian di situs-situs prasejarah terkemuka yang terletak di selatan negeri ini: Dordogne, Languedoc-Roussillon, Provence. Tesis doktornya (1991) khusus mempelajari kebudayaan prasejarah dan protohistoris di daerah Lozère dan sekitarnya. Dia kini aktif sebagai kepala bidang Prasejarah di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional serta anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Memasuki Sebuah “Cakrawala Baru”
“Belajar ke luar negeri”: ucapan ini menimbulkan bayangan akan terbukanya dimensi keilmuan yang lebih luas. Demikian pula yang saya alami ketika ditawari melanjutkan studi ke Prancis. Mengingat negara ini merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya ilmu prasejarah, maka terpikir bahwa itulah kesempatan saya yang terbaik untuk memperluas pengetahuan prasejarah saya dan turut memberikan sumbangan pada peningkatan mutu prasejarah Indonesia.
Berlatar belakang kerja sama penelitian dan pengembangan ilmu antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Musée National d’Histoire Naturelle, Paris, maka pada bulan Agustus 1986, saya meninggalkan tanah air menuju Prancis. Apa yang saya bayangkan semula memang benar, negara ini pantas mendapat julukan sebagai “negara prasejarah”. Kekayaan akan tinggalan budaya prasejarah sangat menonjol, baik dilihat dari persebaran situs yang sangat padat, maupun dari tinggalan-tinggalan yang berasal dari berbagai corak budaya.
Penelitian terhadap kekayaan tersebut sudah berlangsung sejak abad ke-18 dan pada saat ini telah mencapai tingkat yang maju. Penelitian interdisipliner, pengembangan metodologi, pengolahan data kuantitatif, komputerisasi, pertanggalan, dan lain-lain, telah menjadikan ilmu prasejarah Prancis sebagai acuan dunia. Tidak mengherankan jika terminologi prehistoris, baik yang menyangkut teknologi, identifikasi kultural, maupun kronologi, sebagian besar berasal dari negara ini. Maka tidak mengherankan pula jika banyak mahasiswa dari berbagai negara datang ke Prancis untuk melanjutkan pendidikan di bidang prasejarah, sebagaimana saya dari Indonesia.
Antara Studi dan Keluarga
Saya sering mendengar ocehan rekan-rekan di tanah air, bahwa belajar di luar negeri itu jauh lebih enak jika dibandingkan dengan di dalam negeri. Pendapat ini dapat dikatakan benar jika dilirik dari sudut pandang studi. Harus diakui, bahwa di negeri asing kita memang dapat lebih berkonsentrasi untuk belajar. Namun sisi lain juga harus dipertimbangkan, seperti kemampuan berbahasa asing dan berkomunikasi dengan masyarakat.
Kemampuan berbahasa yang jauh dari cukup jelas merupakan hambatan. Banyak karya siswa lemah di bidang ini dan kelemahan ini menimbulkan berbagai kesulitan dalam studi dan pergaulan. Untuk mengatasinya diperlukan motivasi yang tinggi, dan tidak jarang mengikuti les tambahan pada sore atau malam hari. Kemampuan berkomunikasi dengan sesama mahasiswa atau para pengajar sangat menentukan kelancaran studi. Melalui diskusi-diskusi, masalah-masalah yang kita hadapi akan dapat terpecahkan.
Suatu hal lain yang tidak disadari adalah masalah keluarga. Apakah harus kita membawa atau meninggalkan keluarga? Meninggalkan sanak istri di tanah air adalah berat dari sudut psikologis, sementara memboyong keluarga menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Apa pun pilihan kita, pada umumnya kita harus berpisah pada awalnya, sambil mengadakan persiapan keuangan dan tempat tinggal. Tahun-tahun permulaan juga menentukan keberhasilan studi, dan untuk berkonsentrasi mungkin lebih baik tanpa gangguan urusan-urusan keluarga.
Apabila keluarga ditinggal di tanah air, kerinduan kerap timbul, terutama di kala senggang. Satu-satunya pengobat rindu adalah surat-menyurat, meski bagaikan pedang bermata dua: kedatangan surat dari keluarga yang tepat pada waktunya akan menjadi hiburan dan membawa kebahagiaan tersendiri, tetapi keterlambatan surat dan berita yang kurang menyenangkan merupakan beban psikologis yang sangat berat. Kesiapan mental untuk berpisah dengan keluarga menjadi suatu keharusan, sebab jika tidak dapat mempengaruhi hasil studi. Seseorang yang tidak mampu mengatasi masalah itu dapat terganggu konsentrasi belajarnya dan bahkan dapat minta kembali ke tanah air.
Saya termasuk orang yang beruntung dapat membawa keluarga (istri dan dua anak) ke Prancis. Tidak terbayang sebelumnya bahwa keinginan bisa tercapai, sebab memperoleh apartemen keluarga pada “Résidence Universitaire” bukan main sulitnya, mengingat kapasitasnya yang terbatas. Namun berkat bantuan keluarga di tanah air serta bantuan teman-teman Prancis tempat kami “numpang”, pada akhirnya saya berhasil membawa keluarga ke Prancis.
Sentuhan Budaya
Memasuki Prancis untuk pertama kalinya memang terasa seperti berada di dunia asing. Katakanlah, perbedaan itu sangat jelas terlihat pada kehidupan sehari-hari, seperti lingkungan alam dan sosial-budaya. Namun rasa “keterasingan” ini tidak mengendorkan rasa optimisme saja, melainkan menjadi pemacu sukses. Keterasingan hanya terasa pada bulan-bulan pertama. Kemudian hilang secara berangsur-angsur sehingga mencapai taraf adaptasi yang memuaskan.
Masa yang paling “crucial” adalah ketiga empat bulan yang pertama, ketika perbedaan-perbedaan di dalam etika, ritme kehidupan, bahasa, makanan, pola pikir masyarakat, pergaulan, terasa paling tajam. Namun pada tahap berikutnya, terutama bagi mereka yang berbakat menyesuaikan diri, perasaan tersebut menghilang. Kita menyatu di dalam ritme kehidupan keseharian yang baru.
Kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tahap awal ini sangat menentukan kemajuan yang dialami dalam jangka panjang. Semakin cepat kita menyesuaikan diri, semakin cepat pula kemajuan kita di bidang studi.
Penyesuaian terhadap lingkungan alam agaknya yang paling mudah. Secara alami, fisik menyesuaikan diri perlahan-lahan. Jikapun timbul gangguan kesehatan, terutama di kala pergantian musim, pada umumnya tergolong ringan dan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari. Penyesuaian terhadap lingkungan sosial-budaya, bagi saya juga tidak menjadi momok. Masalah makanan yang berbeda, cara hidup dan ritme kehidupan yang serba cepat, pola pikir yang lebih rasional, hubungan yang secara umum cenderung individualis, dll. secara perlahan dapat diterima, bahkan setelah proses adaptasi berlalu saya betul-betul merasa bagian dari masyarakat Prancis, terutama masyarakat kampus. Benturan-benturan kecil dalam bidang sosial-budaya dapat saja terjadi dalam proses adaptasi, namun hal-hal ini pada umumnya disebabkan oleh ketidakmengertian.
Di Vichy, tempat saya belajar bahasa, kehidupan sangat bersifat internasional, karena kota kecil di Prancis Tengah ini merupakan tempat para siswa yang berdatangan dari berbagai negara, khusus untuk belajar bahasa Prancis. Masyarakat heterogen inilah adalah ujicoba pertama untuk menyesuaikan diri pada lingkungan sosial yang baru. Di sekolah ini siswa-siswa ditempa secara intensif untuk berbicara dan menguasai bahasa dengan cepat. Lingkungan antarbangsa ini sangat menguntungkan, karena mengharuskan kita untuk mempraktekkan bahasa Prancis pada setiap saat.
Kesan umum yang saya peroleh di sekolah bahasa ini ialah bahwa setiap pribadi dari mana pun mempunyai sifat terbuka untuk pergaulan. Terdapat banyak peluang untuk memperlancar bahasa serta untuk bersahabat dengan berbagai bangsa, dan dengan demikian meningkatkan pengetahuan kita tentang budaya bangsa yang bersangkutan.
Suatu hal lain yang mengurangi “perasaan asing” pada tahap awal adalah teman-teman Indonesia yang juga ikut di sekolah yang sama. Biasanya solidaritas kebangsaan sangat tinggi dan siswa Indonesia satu sama lainnya bersikap sebagai saudara. Kesempatan bertemu rekan-rekan setanah air terutama terbuka sewaktu “weekend”, sementara pada hari-hari biasa masing-masing lebih terkonsentrasi pada kegiatan studi.
Persahabatan dengan orang-orang Prancis dan keluarga Prancis bagi saya merupakan kenangan tersendiri. Terasa ada suatu tali hubungan batin yang erat yang membuat kita seolah-olah merupakan bagian dari masyarakat Prancis. Keakraban hubungan sering diwujudkan dalam bentuk saling mengundang ke rumah masing-masing, lengkap dengan keluarga, untuk dapat bertemu dan berdiskusi secara panjang lebar. Saat semacam ini biasanya merupakan kesempatan baik untuk menghidangkan masakan Indonesia. Informasi tentang negara dan budaya kita biasanya amat menarik orang-orang Prancis.
Persahabatan semacam ini lebih intensif dan lebih mudah diperoleh di pedesaan daripada di kota-kota besar. Hal ini saya alami ketika mengadakan penelitian lapangan di daerah Lozère, Grands Causses, di bagian selatan Prancis. Penduduk yang jarang dan kehidupan yang tenang membuat pendatang dengan mudah dikenal masyarakat. Di sini saya menemukan keterbukaan terhadap orang asing dan kesediaan membantu jika diperlukan. Keterbukaan dan ketersediaan menerima saya secara berulang-ulang selama penelitian itu amat menambah pengetahuan saya tentang masyarakat, budaya, dan sejarah Prancis.
Dunia Kampus: Dunia Kebersamaan
Perjuangan yang sesungguhnya dimulai setelah kita memasuki kampus dengan kegiatan perkuliahannya. Pada waktu itu “rasa keterasingan” sudah lenyap. Dunia kampus inilah yang menjadi lingkaran kehidupan keseharian tempat kita belajar, berdiskusi, bersahabat dan bahkan rileks.
Kampus saya, Institut de Paléontologie Humaine (lebih terkenal dengan sebutan singkatan IPH), kebetulan merupakan suatu institut yang tidak terlalu besar, sehingga para mahasiswa, pengajar, dan staf akademis saling mengenal secara akrab. Ada suatu nilai lebih di kampus ini dibandingkan dengan di kampus-kampus, yaitu terciptanya hubungan yang intensif antarsesama insan. Belajar dan berdiskusi bersama, bekerja di laboratorium bersama, makan dan istirahat bersama, merupakan kegiatan rutin yang membuat waktu terasa berjalan cepat. Faktor kebersamaan itu pula yang meningkatkan kemampuan berbahasa lebih cepat dari sebelumnya, karena setiap hari kita terlibat dalam komunikasi dengan sesama orang-orang kampus.
Faktor-faktor kebersamaan di atas amat menentukan keberhasilan studi, sehingga di dalam waktu kurang dari lima tahun saya dapat merampung studi saya. Melalui kebersamaan dan keakraban, saya dapat mengetahui lebih banyak, tidak hanya mengenai pelajaran, tetapi tentang berbagai hal yang memperluas wawasan dan pengetahuan. Melalui kebersamaan, saya tidak lagi merasa asing seperti pada ketiga bulan pertama ketika baru menginjakkan kaki di Prancis, tapi sebaliknya saya sudah merupakan bagian dari masyarakat kontemporer: dunia kampus yang kecil dan asri. Melalui kebersamaan, saya dapat mengerti dan memahami budaya berbagai bangsa dan temperamen pribadi-pribadi yang menyatu dalam masyarakat kampus. Melalui kebersamaan itu pula saya lebih dipacu untuk lebih mengkonsentrasikan diri pada pelajaran, melalui bantuan sahabat-sahabat selama diskusi.
Tentu saja motivasi dan usaha yang kuat dari diri sendiri serta sistem bimbingan yang intensif dari profesor dan staf pengajar merupakan faktor-faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menghantar keberhasilan. Kemudahan dalam hal studi, perpustakaan yang lengkap dan praktis, laboratorium dari berbagai disiplin dengan akses yang mudah, serta pengajar yang pada setiap saat sedia membantu merupakan unsur-unsur lain yang menunjang kelancaran studi.
Faktor lain yang turut memperlancar penyelesaian studi adalah kepercayaan yang diberikan kepada mahasiswa untuk belajar dan bekerja di laboratorium. Banyak mahasiswa yang bekerja hingga larut malam dan bahkan pada hari-hari libur.
Di balik unsur-unsur positif yang menentukan keberhasilan studi di atas, tentu saja ada kendala yang dihadapi. Saya ingin menyebut beberapa hal, antara lain faktor keuangan yang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari, kesulitan untuk memperoleh tempat tinggal, karena peraturan umum menentukan bahwa harga kontrakan tidak boleh melebihi sepertiga dari penghasilan. Tentunya sulit memperoleh tempat tinggal yang layak untuk keluarga.
Pengalaman lain yang sering saya alami menyangkut pelayan di kala kita berurusan dengan CROUS (lembaga yang mengurusi beasiswa) dan kadang kala pada instansi lain. Ada kalanya saya berhadapan dengan pribadi yang kurang simpatik terhadap pendatang (orang asing). Dari pengalaman sehari-hari saya dapat mengetahui, bahwa pribadi semacam itu pada umumnya adalah orang-orang Prancis yang seumur hidupnya belum pernah keluar negeri, sehingga perasaan “chauvinistis” sangat menonjol dan sangat tertutup terhadap orang asing. Kita bersyukur bahwa pribadi semacam ini tidak layak. Saya lebih sering menemukan muka-muka senyum dan simpatik yang selalu siap mendengar dan membantu pemecahan setiap permasalahan.
Kembali dengan Tantangan
Manfaat yang saya peroleh dari pengalaman di Prancis tidak hanya menyangkut studi, tetapi wawasan, yang jauh lebih luas daripada sebelumnya. Selama lima tahun menjadi bagian dari masyarakat Prancis, saya mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman yang sampai kini sangat berharga.
“What is next”, menjadi pertanyaan mendasar setelah kembali di tanah air. Tema sentral yang sebelumnya adalah perjuangan menjadi pengembangan. Suatu tantangan yang menyangkut baik bidang ilmiah maupun hal-hal yang lebih umum seperti kelembagaan, ketenagaan, serta hubungan internasional. Perspektif baru kini terbuka, tinggal penerapan dan penyesuaian dengan kondisi di Indonesia.