Publisher Note
Cerpen ini terbit di majalah Gema edisi 10 Oktober 1948.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Ia pertama kulihat disamar-samar lampu tukang kotjok dadu. Berbadan pandjang, rambut keriting dan kulit muka menghitam dibakar matahari. Pakaiannja ta’ seberapa berbeda dari pakaian orang2 didekatnja, usang dan barangkali sudah seminggu ta’ kena air, tetapi aku mengetahui, bahwa ia bukan termasuk golongan orang jang sering kulihat disekeliling medja dadu kotjok.
Sandiwara „Asmara” jang sedjak matahari terbenam mentjoba menarik perhatian orang dengan lagu2 gembira ditjiptakan alat2 musik seberapa ada, hendak memulai tjeritera malam itu dengan utjapan selamat datang kepada hadirin jang terhormat jang ta’ seberapa. Maksud hendak menonton sandiwara, tetapi kaki melangkah kemedja dadu, jang berdjedjer dibelakang gubuk sandiwara. Disegala sudut „polisi” tukang dadu berdjaga-djaga…menanti kedatangan polisi jang mungkin mengganggu keamanan jang main djudi.
„Tiga selamanja”, teriak tukang dadu. Wadjah bersinar, terang nampak dalam tjahaja pelita samar, seolah terlepas dari tekanan bahaja…„Perasaanku menjuruh nomer lima, tetapi tangan mau nomer tiga. Nasib…nasib…tjukup makan dua hari”, katanja. Wang setengah rupiah jang dalam sekedjap mata itu sudah beranak sampai dua rupiah menghilang dalam kantong dan dengan ta’ berkata apa2, ia melangkah kedalam gelap malam.
Dua hari kemudian ia kulihat lagi. Mengadu untung, dengan harapan akan dapat melandjutkan hidup beberapa hari lagi dari medja dadu kotjok…tetapi tukang dadu tak segan menarik uangnja jang penghabisan…empat-puluh lima sen.
„Bagaimana bung”, tanjaku.
Pandangan lesu, bagaikan lampu senter kehabisan batu, adalah djawab jang lebih terang dari kata2.
Purdin namanja. Ia sudah tammat sekolah menengah perikanan. Diwaktu ia duduk dikeals dua, ia berasa bahwa ia beladjar tidak sesuai dengan kehendak hati. Akibat kehendak orang-tua jang belum mau memberikan sianak kemerdekaan memilih arah djalan hidup.
Tammat sekolah…revolusi di Indonesia petjah. Purdin, seperti pemuda2 Indonesia lainnja menuruti panggilan zaman. Ia mengembara diseluruh pulau Djawa, sebagai tentara, wartawan, pengandjur, pemimpin, pendek kata semua pekerdjaan sudah, selain dilapangan perikanan.
Achirnja ia terdampar di Djakarta. Mula2 bingung, lambat-laun biasa akan kota internasional. Wang jang dibawa dihamburkan, pengganti hari2 jang sudah liwat…berachir tinggal dipondok. Sesudah pakaian ditukar dengan hidup beberapa hari, sehingga hanja tinggal jang melekat dibadan, untung baik memberikannja pekerdjaan dikota. Pondok bertukar dengan sebuah garage, gado2 ulek dengan nasi-goreng.
Hari biasa seperti hari2 jang sudah dan jang akan datang. Langit menguning disebelah Timur, tanda bulan berkundjung malam.
„Purdin…”
„Asih…”
Nama Asih tak asing lagi bagi pemuda2 Djatinegara. Jang empunja nama, jang telah sering berpindah dari mulut-kemulut, jang sudah mekar dipupuk pudjaan kata, kini duduk dihadapan Purdin.
Kundjungan jang pertama, disusul dengan kundjungan kedua, ketiga…hati terpikat.
Ia bekerdja dengan sungguh, ia tahan membungkuk dari pagi sampai sore-hari, taman bahagia, taman mereka berdua, dengan kembangan melambai ditiup angin sepoi lalu, makin lama makin njata…sampai angan2 jang melambung tinggi menghilang dibalik awan menghitam datang…tjinta tak berbalas. Ombak meriuh menggulung dari segalaa pendjuru…biduk terhempas kiri-kanan—…tak terkemudikan lagi.
„Bila saudara ke Singapura?”
„Menunggu muatan dan angin baik”
Biduk jang berlabuh di Pasar-Ikan dibuaikan beriak air menari-nari mendatang dari lautan. Sampan satu2 melintjir hilir-mudik. Para pelaut bersandar malas, tak tahu apa jang hendak dikerdjakan untuk pengisi waktu. Sebentar2 keluar kata2, diam, gelak-ketawa…
Purdin mengeluh. Kaki sudah sering berkundjung. Pasar-Ikan, pikiran djauh melajang dibawa ombak ke Makassar, Timor, Singapura…kelautan luas, djauh dari…maksud hanja tinggal didalam hati.
„Ajo, tukang putar dadu datang”. Riuh sebentar, senan, pitjisan, dari kantong, dompet, pindjam sini…asjik mereka menghadapi tikar tempat piring dengan dadu…setiap kali diputar, sekian kali harapan timbul, sekali ini untung akan mendjadi miliknja.
Djauh sore-hari, bandar pulang dengan utjapan: „Sampai besok”, dimaki oleh jang menjesal turut main tadi…semua pulang…Purdin entah kemana kaki membawa.
Puluhan orang terpikat oleh penjanji lenong! Sebentar2 siutan menjambat, penjanji dipanggung menggerakan alis serta badannja; seolah arus listrik meliwat, badan semua penonton terasa bergetar. Melajang sapu-tangan, kain, kopiah, disertai sorak pudjian…Purdin merasa sunji dalam ramai. Frombergspark dengan bangku2 dilindungi gelap malam. Bisikan, tjumbuan dibalik semak2…gumpalan daging berkeliaran menanti orang haus pelukan.
„Mengapa sih berbuat demikian ini?”
„Sudah nasib, ka!”
Kepala disandarkan kedada, suara menjesal mentjeriterakan kissah jang menjedihkan, jang mungkin menjebabkan bertjutjuran air-mata „orang baru”. Ia ditinggalkan lakinja. Sebetulnja ia dahulu belum mau kawin, tetapi dipaksa orang-tua. Ia sekarang baru berumur tudjuh-belas tahun. Baru setahun mereka kawin. Lakinja dipindahkan ke Tjimahi dan ia dengar, bahwa lakinja sudah kawin lagi. Sekarang ia tukang djait di Tandjung-Priuk, tetapi karena gadjinja tidak tjukup, ia terpaksa „bekerdja malam…”
Polisi liwat. Badan didekatkan.
„Djangan takut. Kan aku ada temannja”.
„Sebetulnja gua pengen pulang, ka’, tetapi mau pulang kemana. Orang-tua tidak mau terima lagi…”
Sunji sebentar. Hanja dua bintikan udjung rokok menandakan ada dua machluk.
„Rumahnja dimana?”
„Di Tanah Abang, ka”.
„Aku mau pergi kerumah ibumu. Aku mau tjeriterakan ini semua, supaja kamu pulang sadja. Tidak, djangan bekerdja begini lagi. Nanti lama2 mendjadi sakit…”
„Habis bagaimana ka’”.
„Tidak. Lupakan semua jang sudah lalu. Harus berdjuang untuk hidup…”.
Purdin terkedjut…seolah ia terbangun dari mimpi djelek. Gumpalan daging itu dilemparkan ketanah, badannja gemetar…
„Dimana ia sekarang? Siapa jang berkata tadi?”
Dengan tjepat ia meninggalkan tempat itu, ta’ melihat pandangan jang bentji mengikutinja.
Puluhan betja berderet menunggu dimuka bioskoop „Deca-Park”. Slow-fox Yen Pin menambah ngantuk pendjaga kantor-tilpon.
Purdin berdjalan terus…terus…
„Stop. Darimana?”
Dua topi-putih mendapatkannja. Surat keterangan…tempat-tinggal…semalam ia diseksi satu.
„Apa sekarang maksudmu?”
„Entahlah”.
„Kau tidak dapat hidup begini terus, bukan. Keadaan kau tahu bagaimana. Hanja dengan tempat-tidur aku dapat menolong kau…sekedar ada”.
Purdin ta’ menjahut. Ia duduk dihadapanku bagaikan segumpal daging jang ta’ bertulang.
Mataku tertudju kepada bunga dipot jang sudah laju, karena aku lupa menjiraminja…