Baca EPUB: kebudajaan-nasional-dan-mobilisasi-mental

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOEDJATMOKO
Kebudajaan Nasional dan Mobilisasi Mental
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Tulisan ini terbit di majalah Indonesia dalam edisi sekitar bulan April-Mei-Juni tahn 1960.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

PERGOLAKAN revolusi sekali lagi memaksakan kita untuk menjadari kembali arah dan tudjuan revolusi kita, untuk didjadikan pedoman dalam menghadapi berbagai masalah pokok mengenai kehidupan kita sebagai bangsa dan negara. Begitulah kita telah menghadapi, setelah hantjurnja negara K.M.B. dengan sistim demokrasi parlementarnja, soal bentuk pemerintahan. Begitupun telah timbul pada kita kesadaran dan pengertian bahwa nasionalisme jang telah membawa kita pada pintu gerbang kemerdekaan, tidak akan dapat membawa kita lebih djauh tanpa penjusunan kembali ekonomi kita setjara sosialis.

Lapangan ketiga, jang memerlukan kita mengorientasi diri kembali kepada tudjuan dan arah revolusi kita ialah lapangan kebudajaan.

Sekarang umum dirasakan perlunja untuk menegaskan kembali kedudukan serta fungsi kebudajaan, baik didalam usaha kita bersama untuk memperkembangkan kebudajaan kita pada umumnja, maupun didalam usaha menjelesaikan revolusi kita pada chususnja, agar didjadikan patokan dalam menghadapi permasalahan kini.

Permasalahan itu ditentukan oleh dua soal pokok: jaitu pertama, soal kepribadian bangsa kita dalam menghadapi pengaruh2 kebudajaan asing, dan kedua soal kebudajaan kita dalam rangka usaha menjelesaikan revolusi kita.

Situasi setiap bangsa senantiasa ditentukan oleh pengalaman2nja dihari jang lampau, persoalan2 jang dihadapi dihari kini, serta harapan2 dan tjita2 mengenai hari depannja. Begitupun dalam lapangan kebudajaan. Disini kita pertama-tama berhadapan dengan adanja berbagai lingkungan kebudajaan jang masing2 mempunjai sifat dan tjiri sendiri.

Adanja kebudajaan itu didalam lingkungan kebangsaan Indonesia telah memberikan kepada kebudajaan Indonesia kekajaan jang berlimpahan dalam bentuk pernjataannja, seperti djuga ditjerminkan didallam moto negara kita: Bhineka Tunggal Ika. Demikianlah telah terpupuk didalam kesadaran hidup kita rasa relativitet jang kuat dan toleransi jang mendalam.

Kebudajaan regional ini masing2 merupakan endapan daripada tjara2 penghadapan bangsa2 Indonesia dihari jang lampau dengan persoalan2 dimasa itu, termasuk persoalan2 jang timbul dari pertemuan dengan unsur2 kebudajaan asing. Sedjarah telah membuktikan besarnja pengaruh2 asing atas kehidupan kita, tetapi ia djuga membuktikan betapa kuat daja bangsa Indonesia untuk memasak dan mentjernakan unsur2 asing itu, sehingga kebudajaan2 jang berkembang sebagai djawaban bangsa Indonesia atas pengaruh2 itu, tetap kita rasakan sebagai perkembangan asli daripada bangsa2 Indonesia tadi.

Muntjulnja bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa jang merdeka dalam abad ke-20 telah membawa kita, sekali lagi, berhadapan dengan persoalan2 baru serta unsur2 asing jang baru pula. Disamping itu telah timbul didalam hati kita, kemauan kuat hendak merobah masjarakat kita mendjadi suatu masjarakat jang makmur serta adil pada tingkat kehidupan jang lebih tinggi dari jang sudah2. Susunan masjarakat agraris feodal jang statis itu telah kita tinggalkan, begitupun kita telah atau sedang petjahkan belenggu pengekangan ekonomi-kolonial dan sekarang sudah mulai menempuh djalan seriusnja kembali daripada masjarakat kita, untuk [tidak terbaca].

KEGELISAHAN TJIRI ZAMAN PERALIHAN

Kedua hal ini menimbulkan berbagai persoalan jang rumit, dan jang mau tak mau membawa banjak pula perobahan2 didalam susunan dan tjara hidup kita. Nilai2 dan tjara2 jang berakar pada susunan agraris feodal itu, sudah tidak lagi dirasakan semuanja berlaku dan tidak lagi dapat memberi djawaban atas persoalan2 jang baru itu. Kehilangan nilai2 dan tjara2 lama itu, sedang nilai2 dan tjara2 baru itu belum terang bentuk kristalisasinja, telah menimbulkan rasa ketidak pastian dan kegelisahan kalau2 hilanglah pribadi kita sendiri sebagai bangsa. Disamping itu kita seolah-olah dibandjiri dengan unsur2 kebudajaan lain. Maka timbullah dari kegelisahan ini, keinginan hendak menutup pintu untuk mentjegah masuknja pengaruh2 asing jang buruk dan membahajakan. Meskipun sikap sematjam ini dapat dimengerti, namun ia tetap merupakan suatu reaksi jang akan membahajakan pertumbuhan kebudajaan kita seterusnja.

SIFAT ZAMAN PERALIHAN

Pertama, kita melihat bahwa kegelisahan itu terutama disebabkan oleh muntjulnja beberapa gedjala di Indonesia jang dirasakan sebagai eksesip, sebagai asing dan bertentangan dengan rasa diri kita. Gedjala2 ini se-akan2 merupakan penularan dari pada gelombang2 kemabokan jang mendjeladjah seluruh dunia sampai2 menerobos tirai besi dan menular pemuda2 Soviet Uni dan Eropah Timur. Gelombang2 ini menundjukkan betapa ketjillah dunia sekarang, betapa terikat bersamalah bangsa2 dan kebudajaan2 didalamnja. Ia djuga menundjukkan, bahwa dengan tjara manapun djuga, dengan alat2 komunikasi dan interdependentie sekarang ini, tak ada satu bangsapun jang dapat menutup pintu untuk hubungan dengan kebudajaan lain2. Tak perlulah agaknja terlalu di-besar2kan bahaja manifestasi2 kemabokan ini, jang terutama meliputi alam djiwa angkatan2 belasan tahun. Dan tidak perlu pula terlalu banjak tenaga dihabiskan untuk mentjegah gelombang2 ini. Sebab ternjata djuga betapa tjepat gelombang2 ini hilang dengan hampir tidak berbekas.

Selain dari itu, pengaruh craze2 seperti rock-and-roll dan cha-cha-cha atau top-hits atas wudjud kebudajaan alam atau pribadi kita sebagai bangsa tidak seberapa. Kita nanti akan melihat faktor2 jang djauh lebih strategis dan menentukan pengaruhnja.

Manifestasi2 ini djuga menundjukkan sesuatu hal lain, jaitu bahwa bukan kita sadja jang berada didalam masa peralihan. Boleh dikatakanlah, bahwa dunia seluruhnja sekarang tengah mentjari susunan politik, ekonomi dan sosial jang baru, baik sebagai bangsa sendiri, maupun didalam pergaulan kehidupan antara bangsa, beserta djuga nilai2 kehidupan dan kebenaran jang berhubungan dengan susunan2 itu. Maka tidak mengherankanlah, bahwa dalam mentjari kepribadian kita sendiri dalam situasi abad ke-20, kita djuga terpengaruh atau ketjipratan oleh pentjaharian jang dilakukan di-tempat2 lain didunia ini, di Amerika Serikat, di Amerika Tengah, dan Selatan, di Soviet Russia, Tiongkok dan India, di negara2 Arab, di Asia Tenggara dan di Eropah. Ketidak pastian kehidupan kita ini hendaknja kita terima sebagai sifat chas daripada zaman kita sekarang ini, jang bukan hanja meliputi bangsa Indonesia, tetapi djuga umat manusia dalam keseluruhannja.

Ada djuga satu sebab lain untuk kegelisahan itu, jang terletak didalam proses kemadjuan kita sendiri. Jaitu pemasukan unsur2 kebudajaan asing untuk keperluan mentjapai tudjuan2 revolusi kita. Tidak akan dapat disangkallah, bahwa tanpa ilmu pengetahuan serta technologi modern, tudjuan2 kita itu tidak akan tertjapai. Tetapi ilmu pengetahuan serta technologi itu tidak dapat dilepaskan, tidak dapat diisolasikan, daripada manifestasi2 lainnja dari pada kebudajaan modern itu. Setiap paberik modern, setiap laboratorium jang didirikan, bahkan setiap pesawat radio jang dibuat, atau setiap mobil jang diimport, sudah akan merobah, sedikit banjaknja, kebiasaan2 serta tjara kita. Begitupun ilmu pengetahuan itu sendiri. Lepas dari pada teori2 jang mendjadi hasil ilmu pengetahuan itu, dan jang dapat ditolak atau diterima relevansinja untuk Indonesia, sikap djiwa ilmu pengetahuan sendiri, jaitu kesediaan untuk terus menerus mentjari kebenaran, setjara konsekwen dan lepas dari akibat2nja, dengan tjara pemikiran jang berdisiplin teguh itu, sekali ia sudah tertanam di Indonesia, sendiri akan merupakan sumber kekuatan2 jang akan merobah kehidupan dan djuga rasa pribadi kita itu, dan dengan djalan ini se-waktu2 akan dapat menambah kegelisahan sementara itu. Kita nanti akan melihat, bahwa menghadapi rasa tidak pasti ini, baik jang diakibatkan pengaruh luar, maupun jang timbul dari proses kemadjuan kita sendiri, hanja tudjuan2 dan tjita2 revolusi kita akan dapat memberi suatu rangka orientasi jang tegas, dan suatu pegangan baru, sehingga kita dapat bedakan jang remeh dari jang pokok.

PERTEMUAN DENGAN KEBUDAJAAN ASING

Semuanja ini sebenarnja tidak begitu mendjadi hal. Sebab sedjarah djuga telah menundjukkan, bahwa pertemuan dengan kebudajaan lain djuga dapat menghasilkan perkembangan kebudajaan jang paling gemilang. Perkembangan kebudajaan di Eropah Barat misalnja, sebagai hasil pertemuan dengan kebudajaan Islam didalam rangka perang salib, timbulnja Renaissance di Italia Utara lantaran penemuan kembali daripada kebudajaan Junani klasik, kegemilangan kebudajaan Islam sebagai akibat pertemuan dengan kebudajaan Hellenistis, dan kemudian, setelah surut sebentar, dalam abad ke-16 sebagai akibat absorpsinja daripada pengaruh Mongol dan Turki di India sebagai akibat konfrontasi Mongol dengan kebudajaan asli India, dan di Indonesia perkembangan kebudajaan Hindu dan kemudian pertemuannja dengan kebudajaan Islam, semua itu menundjukkan, betapa besar pula manfaat serta kemadjuan jang memungkinkan oleh pertemuan satu kebudajaan dengan jang lain. Kentaralah apa jang mendjadi pokok didalam pertemuan dua kebudajaan itu, jaitu kemampuan kebudajaan jang satu untuk mentjernakan dan menjesuaikan unsur2 kebudajaan jang lain itu kepada keperluan serta tudjuan2nja sendiri.

Memang vitalitet kebudajaan sesuatu bangsa dibuktikkan oleh kemampuannja untuk dirangsang oleh pengaruh2 luar, kearah suatu kreativitet jang lebih besar. Vitalitet sesuatu bangsa djuga ditjerminkan dari keberaniannja untuk mendjalankan eksperimen2 dan mentjoba djalan2 baru jang belum terdapat didalam kebudajaannja jang asli.

TRADISI DAN VITALITET BANGSA

Sebaliknja, tradisi bagai bangsa jang vital itu bukan sesuatu jang beku. Baginja ia bukan kulit kosong jang telah membantu baginja tradisi itu tak lain merupakan warisan jang berharga daripada pengalaman2 jang penting didalam sedjarahnja, jang senantiasa perlu ditjari dan ditentukan kembali makna dan artinja didalam rangka persoalan2 baru jang dihadapi sekarang ini.

Demikianlah tradisi itu bagaikan rabuk untuk pertumbuhan selandjutnja. Lain halnja djikalau tradisi sudah membatu, mendjadi aturan2 serta tjara2 jang tak dapat dirobah, dan jang sudah hilang arti dan hubungannja dengan persoalan2 jang menimbulkan aturan2 serta tjara2 itu.

Dalam hal itu tradisi merupakan kurungan jang merintangi suatu bangsa menghadapi persoalan baru.

Maka vitalitet sesuatu bangsa djuga dapat diukur pada kemampuannja untuk senantiasa mengreinterpretasikan tradisinja dengan memberi arti dan makna baru kepada pengalaman2 lama itu, sesuai dengan keperluan2nja jang baru.

KEPRIBADIAN BANGSA

Maka demikianlah pribadi sesuatu bangsa, tidak sadja diwudjudkan oleh pengalaman2 jang sudah, ia bukan sadja merupakan anggapan daripada tjara2 penghadapan serta penjelesaian sesuatu bahasa dengan masalah2nja dihari-hari jang sudah. Ia djuga ditentukan oleh tjita2 hari depannja, serta oleh kesanggupannja untuk memberi djawaban2 jang baru, jang tidak terdapat didalam endapan jang lama itu, atas persoalan2 jang baru pula.

Pendeknja jang dinamakan pribadi bangsa itu bukanlah sesuatu jang statis, melainkan didalam continuitet sedjarahnja, dynamis sifatnja senantiasa berobah dan berkembang, sesuai dengan keperluan bangsa itu serta vitalitetnja. Maka berkat kesanggupan inilah kebudajaan sesuatu bangsa senantiasa dapat berkembang dan memperbaharui diri.

Perlu agaknja hal ini ditegaskan, djangan sampai kita tersesat dalam menggunakan pengertian pribadi bangsa ini sebagai pedoman dalam menghadapi permasalahan kita ini.

KEPRIBADIAN BANGSA SEBAGAI KEDOK

Didalam sedjarah kita melihat bahwa suatu appeal kepada „mendjaga kemurnian kepribadian bangsanja” sering digunakan oleh kaum kolot jang bermusuhan terhadap segala sesuatu jang baru, biar dia datang dari luar, maupun sebagai hasil perkembangan sendiri. Sesudah revolusi Perantjis, kaum Royalistlah jang pertama-tama menggunakan slogan kepribadian Perantjis itu dengan maksud meniadakan hasil2 daripada revolusi Preantjis.

Pada waktu Soviet Unie mulai membangun masjarakat Sovietnja, ia tidak menggunakan slogan „pribadi Rusia”, melainkan usaha pembangunan mereka semata-mata ditentukan oleh bajangan hari depannja, serta tudjuan2 jang dikedjarnja. Hanja kaum pelarian Rusialah, kaum emigré jang bermimpi tentang Ibu Pertiwi Rusia jang kudus itu.

Kedua tjontoh ini tjukup menggambarkan betapa perlunja kita mendjaga, djangan sampai kekolotan dan kepitjikan alias „kleinburgerlijkheid” menjembunjikan diri dibelakang „kesetiaan kepdaa pribadi bangsa”, sehingga dalam menghadapi persoalan2 zaman baru terikat tangan kita, dan tertjegah kita dalam mengedjar tudjuan2 kita. (Suatu tjontoh lain daripada penjalah gunaan istilah „peribadi Indonesia” ialah agitasi kominis terhadap unsur2 kebudajaan Barat, sebagai bertentangan dengan pribadi Indonesia. Akibatnja ialah bahwa hanja unsur2 kebudajaan negara komunislah jang patut diterima). Maka, demikianlah dapat dikatakan bahwa kepribadian sesuatu bangsa hanja terang garis2 bentuknja apabila kita menoleh kebelakang, sedangkan apabila kita memandang kedepan, kepribadian bangsa itu terutama tertandas oleh bajangan hari depannja, serta keberanian dan kesanggupan bangsa itu untuk mengedjar tjita2nja. Dan didalam pengadjaran itulah terkembang pribadinja.

WUDJUD KEPRIBADIAN INDONESIA

Meskipun demikian, menjelami sedjarah perlu djuga, jaitu untuk menemukan didalamnja beberapa unsur kepribadian kita jang akan turut mempengaruhi tjara penghadapan kita dengan masa sekarang dan hari depan kita. Ternjatalah, bahwa wudjud kepribadian Indonesia ini tidak terletak dalam tjara2 tertentu, melainkan dalam beberapa sifat tertjitak didalam pembeberan sedjarah bangsa Indonesia, jaitu terutama rasa relativitet dari segala2 jang ada didalam dunia jang fana ini, dan toleransi jang mendjadi akibatnja.

Sikap toleransi ini sebagai unsur pribadi bangsa kita, kita dapati tidak sadja dalam menghadapi perbedaan antara kita sama kita, melainkan djuga antara kita dengan dunia luar. Ia djuga mendjadi akibat daripada, jang dapat kita anggap unsur ketiga dalam kepribadian kita, ialah kepertjajaan pada kesanggupan kita sendiri untuk senantiasa menghadapi pengaruh2 luar dengan suatu tjetusan kreatifitet jang baru, jang achirnja mentjernakan pengaruh2 luar itu mendjadi bahan2 pembinaan kebudajaan sendiri.

Ada unsur kelima dalam kepribadian kita itu, jang akan dibahas lebih djah lagi didalam karangan ini, jaitu paham kemanusiaan kita. Inilah sangu sedjarah kepada kita sebagai bekal untuk menghadapi hari depan.

Oleh sebab itu dalam menghadapi pengaruh2 kebudajaan asing, djawaban kita bukannja untuk menutup pintu kita, seluruhnja atau separoh, djawaban kita ialah dalam memungkinkan kreativitet jang lebih besar pada pihak bangsa kita sendiri.

Demikianlah kita telah dapat mendudukan hubungan kepribadian nasional, baik dengan kebudajaan2 asing, maupun dengan tradisi2 kita sendiri.

Dari pangkal penglihatan ini, kita sekarang dapat menindjau soal menjelesaikan revolusi kita dalam hubungan kebudajaannja.

REVOLUSI DAN KEBUDAJAAN NASIONAL

Kita sekarang telah menempuh djalan ke penjelesaian revolusi kita. Djalannja ialah suatu usaha perseorangan, maupun sebagai maljana. Makin lama makin kentaralah sudah, bahwa usaha raksasa ini akan meliputi semua bidang kehidupan manusia, baik sebagai perseorangan maupun sebagai masjarakat dalam keseluruhannja. Terang djugalah, bahwa pembangunan ekonomi pengorbanan besar dari bangsa kita dalam memerlukan perobahan2 besar dalam adat kebiasaan dan alam djiwanja.

Oleh sebab usaha pembangunan itu bukan semata-mata merupakan suatu usaha ekonomis, melainkan terutama merupakan suatu proses perobahan sosial-kulturil, dapatlah dikatakan bahwa berhasil-tidaknja usaha pembangunan ekonomi itu akan tergantung dari tjara bagaimana kita dapat mengatasi soal2 dibidang kebudajaan ini.

Urusan prioritet dalam perentjanaan soal ketjepatan daripada kemadjuan ekonomi jang hendak ditjapai, soal memilih tjara2 pelaksanaan2nja, dengan paksaan atau tidak mau tak mau, membawa kita pada masalah2 jang menentukan bagi kehidupan kita sebagai manusia. Ia membuka pertanjaan: apa arti dan maksud saja hidup.

Pengerahan modal dalam negeri akan memerlukan perobahan2 jang mendalam dalam tjara2 kita menabung, dalam tjara kita bersikap terhadap uang; belum lagi penjederhanaan umum dalam tjara2 kita hidup sehari-hari jang diperlukan. Soal sikap terhadap kerdja, jang akan mempengaruhi productivitet kita, soal ketjepatan hidup dan bekerdja, soal perangsang2 mana jang akan mengakibatkan orang bekerdja lebih keras, semua soal ini akan langsung mempunjai effek ekonomis; akan tetapi soal2 ini semuanja berakar pada pandangan hidup kita.

Soal apakah kita akan menempatakan industri2 kita di-kota2 besar, atau didaerah pertanian, soal relasi2 produksi, soal apakah kita hendak mendjadikan negara kita suatu negara industriil atau tidak, soal dengan tjara apa jang kita akan memperkembangkan koperasi2 kita, djawaban kita atas soal2 ini, sangat akan mempengaruhi alam djiwa dan kebudajaan masjarakat jang baru itu.

Pendeknja, tudjuan2 sosial dan ekonomis daripada usaha pembangunan kita itu serta tjara2 jang kita gunakan untuk mentjapai tudjuan2 itu, akan merupakan faktor2 terpenting didalam perkembangan dan perwudjudan pribadi dan kebudajaan Indonesia. Dibandingkan dengan faktor2 ini, maka entenglah soal2 kebudajaan jang timbul dari peniruan exces2 kebudajaan asing oleh angkatan muda kita.

Disamping faktor2 sosial-ekonomi ini, ada djuga faktor2 lain jang setjara menentukan, akan mempengaruhi perwudjudan kebudajaan nasional kita. Faktor2 itu muntjul dari perkawinan antara keperluan daja-guna dengan kebutuhan kita akan keindahan didalam proses pembangunan ekonomi.

Setiap pabrik jang akan kita dirikan, misalnja setiap gedung jang akan dibangunkan, akan meminta suatu djawaban Indonesia mengenai wudjud architectonisnja. Djawaban kita atas soal kekurangan perumahan, atas soal town and country-planning, semuanja itu akan turut menentukan pola kehidupan kita, dan demikian pula suasana kebudajaan dan pribadi kita. Djawaban2 itu akan harus dapat kita berikan dengan menggunakan tradisi2 kita, bersama dengan segala kemungkinan baru jang dibuka oleh kemadjuan technologi modern, sehingga djawaban2 itu dapat kita rasakan sebagai djawaban kita sendiri.

Begitu pula dilapangan design industrieel, dari bentuk sendok sampai bentuk kursi dan pola tekstil, daja tjipta Indonesia akan turut mewudjudkan kebudajaan nasional kita.

Oleh sebab itu, soal pembinaan kebudajaan Indonesia, soal mendjaga kebudajaan nasional, soal kembali kepada kepribadian sendiri, bukan merupakan suatu soal jang berdiri sendiri, dan jang dapat dipetjahkan sendiri. Baik definiering, maupun pemetjahan masalah kebudajaan nasional tidak dapat dilakukan lepas dari tudjuan2 pembangunan ekonomi, lepas dari tjita2 kita hendak menjusun suatu masjarakat sosialis, jang adil, makmur dan bahagia.

MOBILISASI MENTAL MEMERLUKAN POLITIK KEBUDAJAAN JANG POSITIP

Sebaliknja, kita djuga telah melihat, bahwa tudjuan2 revolusi kita itu, tidak dapat ditjapai tanpa memperhitungkan dan menggunakan faktor2 kebudajaan. Bahkan untuk mengedjar tudjuan2 itu diperlukan suatu konsentrasi dan pengerahan perhatian, pikiran dan semangat seluruh masjarakat kita atas tudjuan2 itu, pendeknja suatu mobilisasi mental.

Teranglah, bahwa tanpa suatu politik kebudajaan jang positip, pengerahan mental jang diperlukan tidak akan dapat tertjapai. Terang djugalah, bahwa tidak tjukup tudjuan2 revolusi kita dipropagandakan. Perlulah untuk memberi arti kepada tudjuan2 serta tjara2 pelaksanaan program pembangunan itu didalam rangka pandangan2 hidup jang ada di Indonesia.

Mobilisasi mental ini akan harus diarahkan menghadapi dua soal pokok.

Disamping Lembaga2 design industriil dan keradjinan tangan jang perlu didirikan dan disamping penjesuaian lembaga2 seperti MIPI dan Universitas2, djuga sistim pengadjaran kita pada umumnja perlu lebih di-orientasikan kepada usaha perobahan2 sosial-kulturil jang diperlukan itu dalam rangka usaha pembangunan ekonomi. Tentu suatu sistim pengadjaran dan pendidikan tidak boleh hanja bersifat utilitaristis se-mata2, namun toh sangat perlu, disamping memberikan kedjuruan dan keahlian, ia djuga memupuk nilai2, motivering2 dan orientasi umum jang dibutuhkan untuk mendjiwai paham kemadjuan masjarakat dan dynamisering masjarakat.

Mobilisasi mental ini tentu tidak terbatas pada lapangan pendidikan sadja. Perlu masjarakat seluruhnja diturut sertakan didalam usaha kemadjuan itu. Disinilah letaknja suatu bidang usaha jang sangat penting bagi lembaga2 negara seperti RRI dan PFN. Disamping penghiburan, politik lembaga2 sematjam ini hendaknja berusaha supaja konsentrasi masjarakat umum dipusatkan kepada usaha pembangunan dan kemadjuan ini, sebagai tudjuan2 revolusi kita, beserta kepada rentjana2 konkritnja.

Disamping itu hendaknja diusahakan, supaja lembaga2 ini membawakan kepada masjarakat bahan2 pengetahuan jang berguna untuk maksud tadi itu, dan jang dapat merangsang „verbeeldingskracht”, inventivitet serta inisiatif para pendengar dan penontonnja. Perlu diberi perhatian lebih banjak science-reporting, kepada laporan2 tentang kemadjuan jang telah ditjapai di-negara2 lain jang kira2 sama tingkat perkembangannja, bagaimana berbagai masalah dipetjahkan atau se-tidak2nja dihadapkannja, bagaimana mereka telah berhasil menemukan tjara2 dan alat2 tersendiri dalam mengedjar kemadjuan itu.

Jang pertama, ialah usaha mengatasi rintangan2 jang berakar didalam kebudajaan kita sendiri, dan jang menghalangi tertjapainja tudjuan2 revolusi kita. Jang kedua, ialah membangkitkan kembali atau memupuk unsur2 didalam kebudajaan kita jang akan memudahkan tertjapainja tudjuan2 tadi.

Untuk kedua maksud ini perlu dikerahkan segala daja pemikiran jang ada pada kita, dilapangan ilmu2 pengetahuan mengenai sosiologi, hukum adat, anthropologi, sedjarah, filsafah, bahkan ilmu kebathinanpun.

Lebih daripada jang sudah2, Universitas2 di Indonesia, terutama dilapangan ilmu pengetahuan sosial, tetapi djuga dilapangan hukum, adat, anthropologi dan filsafah hendaknja mengerahkan pengadjaran serta penjelidikannja kepada pemasalahan Indonesia kini.

Maksudnja ialah supaja para mahasiswa dan para sardjana kita perhatiannja dan sikap djiwanja, tertudju kepada masalah2 Indonesia, terutama di-lapangan2 jang akan terlibat dalam proses2 perobahan kini. Untuk itu, perlu lebih dahulu fakta2 mengenai lapangan2 itu sekarang ini dilengkapkan. Kedua, perlu setelah menjelami keadaan jang rieël sekarang ini, diselidiki bagaimana, berpangkal pada realitet konkrit itu, dapat diadakan perobahan, setjara bagaimana, dengan bentuk sosial apa, dan akibat2nja jang terdjalin satu sama lain dengan masjarakat pada umumnja. Disinilah letaknja suatu tugas utama bagi Madjelis Ilmu Pengetahuan kita (MIPI).

Disamping itu, oleh sebab kita tidak bermaksud hendak mendjiplak sadja dari sistim2 politik dan ekonomi jang sudah ada, sangat perlulah daja pemikiran itu djuga diarahkan kepada pentjaharian djawaban2 sendiri atas persoalan2 jang bergandengan dengan usaha pembangunan ekonomi itu sendiri.

Hal ini akan memaksakan para sardjana kita, untuk ber-angsur2 mewudjudkan alat2 analisia, disamping alat2 jang sudah ada, jang perlu untuk mempeladjari dan memahami keadaan kita chususnja, dan ber-angsur2 pula membina teori2 ilmu pengetahuan jang dapat memberi bimbingan kepada kita untuk mentjapai tudjuan2 kita.

Kehendak kita untuk menjusun djawaban2 sendiri atas segala soal ini, dengan tidak menggunakan resep2 jang sudah ada, djuga menimbulkan suatu keperluan lain, jaitu perlunja kesempatan jang tjukup luas untuk mengadakan pertukar-fikiran tentang pemetjahan soal2 itu jang terbaik didalam situasi kita.

Tak ada seorangpun jang seorang diri, akan dapat mentjakupi seluruh permasalahan Indonesia, dan memberi djawaban jang tepat. Perlu dimungkinkan diskusi untuk mengudji, mengkoreksi dan memperkembangkan idee2 jang timbul, dan untuk kristalisasi pemikiran, jang nanti mendjadi pangkal untuk langkah berikutnja. Sebab pentjaharian djawaban2 Indonesia itu, mau tak mau, harus merupakan suatu proses kolektif.

Inilah beberapa unsur daripada suatu politik kebudajaan jang dapat menjelenggarakan mobilisasi mental kita. Politik ini didasarkan atas pengertian, bahwa pola kehidupan serta perkembangan kebudajaan kita itu terikat pada usaha pembangunan ekonomi, artinja pada usaha kita untuk membina negara jang adil makmur dan bahagia.

Politik kebudajaan itu bertudjuan untuk merangsang, memupuk dan mengarahkan semua kekuatan mental dan spirituil ketudjuan itu.

Disini diperlukan bimbingan jang sadar dan tertudju dari pemerintah. Bimbingan ini djuga meliputi beberapa aspek organisatoris, jaitu dalam peranan jang harus dimainkan oleh pemerintah sendiri. Soal ini agaknja djatuh diluar bidang karangan ini. Tjukup disebut sadja, bahwa dalam menjelenggarakan mobilisasi mental ini, beberapa lapangan, terutama jang bersifat sosial kulturil, memerlukan suatu aanpak jang sentral oleh pemerintah, sedangkan terutama dilapangan seni lebih diperlukan suatu aanpak jang gedesentraliceerd, jaitu bukan oleh pusat melainkan oleh pemerintah2 daerah dan kota2pradja.

Demikianlah mobilisasi mental itu, bukan sadja merupakan pengerahan dan penggunaan se-effek2nja daripada tenaga mental dalam melaksanakan rentjana2, melainkan djuga bersifat keaktipan creatif mental dan intelektuil jang setinggi-tingginja.

Marilah kita sekarang menindjau didalam rangka umum ini, suatu soal jang chusus, jaitu revolusi kita dan seni.

EVOLUSI DAN SENI

Djuga seni tentu memegang peranan penting dalam usaha memusatkan segala perhatian atas tudjuan2 revolusi jang hendak ditjapai serta didalam mobilisasi mentalnja.

Fungsi didaktis dan propagandistis ini salah satu peranan jang wadjar, dan jang bukan remeh artinja, dan masih banjak jang harus dan dapat dikerdjakan kearah itu. Begitu pula dalam peranan sebagai daja pengikat bangsa, sebagai pembina bangsa bantuan jang dapat diberikan oleh seni, djauh dari tjukup digunakan.

Akan tetapi, diatas semua ini, ada satu peranan lagi jang mendjadi tugas seni, jaitu untuk senantiasa, didalam mendjalankan usaha pembangunan ekonomi dan penjususnan kembali, daripada masjarakat kita, menjadari kita, mengingatkan kita, kepada dimensi manusia didalamnja.

FAHAM KEMANUSIAAN INDONESIA

Djanganlah kita lupakan bahwa didalam lingkungan kebudajaan2 Indonesia manusia itu senantiasa dianggap dan diperlukan dalam kebulatan hubungannja dengan kodrat alam semesta, dengan lingkungan masjarakatnja, dan dengan dirinja sendiri, sebagai pentjari makna kehidupan. Mustahillah bagi kita untuk menerima penurunan martabatnja sebagai manusia, mendjadi suatu unsur abstrak, jang mengemukakan satu segi daripada kebulatan kemanusiaannja sadja, seperti didalam berbagai theorie politik Barat, (dan dalam hal ini Soviet Russiapun harus diperhitungkan sebagai Barat). Reduksi manusia mendjadi alat pengabdi kepada ras, kepada negara semata-mata, atau mendjadi faktor produksi sadja, memang benar asing bagi pribadi Indonesia.

Namun usaha pembangunan ekonomi ini, dengan segala pengerahan tenaganja mau tak mau, membawa bahaja, bahwa manusia diperlukan sedemikian ini.

Mendjaga kemanusiaan manusia Indonesia ini, mendjaga djangan sampai manusia Indonesia ini tenggelam didalam schema2 dan rentjana2 pelaksanaan usaha pembangunan itu, mendjaga djangan sampai ia mendjadi objek dan alat sadja, biar untuk tudjuan2 jang sebaik-baiknja, seperti mempertinggi tingkat kehidupan ekonominja sekalipun itulah jang mendjadi panggilan utama bagi seni dan seniman didalam penjelesaian revolusi Indonesia itu.

Sebab djanganlah kita lupa, bahwa usaha pembangunan itu dengan segala pengorbanannja dilaksanakan, bukan sadja untuk sekedar keperluan materieel sadja. Tudjuan2 jang kita kedjar itu, dikedjarnja sebagai sjarat untuk memungkinkan suatu kehidupan jang bebas dan bahagia.

DRAMATIK REVOLUSI

Tekad sesuatu bangsa untuk merobah, setjara sadar, susunan masjarakatnja serta membawanja kesatu tingkat kehidupan jang lebih tinggi memang merupakan suatu usaha raksasa jang penuh potensi dramatik.

Peralihan dari taraf kesatu ketaraf jang berikutnja, senantiasa membawa persoalan2 jang menggontjangkan bagi manusia2 jang terlibat didalmnja. Semua itu, seperti djuga tekad hendak madju, tentangan dan kesulitan jang dihadapinja, serta konflik2 jang menjertai proses kemadjuan itu, sudah sepatutnja merupakan bahan2 mentah untuk beragam-ragam karja seni. Kita sebenarnja baru pada taraf permulaan sadja, dalam menggali sumber kekajaan seni itu. Soal2 jang bergandengan dengan industrialisasi, transmigrasi, urbanisasi, pembukaan tanah liar, dan pada umumnja, modernisasi kehidupan, baik didesa maupun dikota, masih kurang diperhatikan didalam sastra, drama dan seni lukis kita.

GAJA SENI DAN MASJARAKAT

Banjaklah jang telah dikatakan tentang gaja pengutjapan seni. Ada jang berkejakinan, bahwa ada gaja2 jang sesuai dengan pribadi Indonesia, dan ada jang tidak. Maksudnja ialah, bahwa jang tidak sesuai itu harus ditekan. Ada djuga jang merasa bahwa hanja gaja realisme sosialislah jang tepat bagi kita. Akan tetapi, djauh dari penggambaran realitet dalam perkembangan revolusionernja; aliran realisme sosialis ini dalam praktek mendjadi alat partai Komunis dan propaganda semata-mata untuk kepentingan sewaktu-waktu daripada politik Komunis.

Menurut pandangan kami seniman senantiasa, disamping tahnggung2 djawab lainnja, harus mendjaga integritetnja sebagai seniman. Djuga apabila ada pesan jang hendak dibawanja dengan karjanja, seniman itu tidak dapat melepaskan diri dari tanggung djawabnja terhadap kebenaran jang ditangkapnja itu. Bentuk pernjataan kebenaran itu, tidak dapat dipaksakan kepadanja dari luar. Dan djikalau ia merasakan bahwa kebenaran itu lebih langsung dapat diselami dengan menjimpang daripada bentuk2 naturalistis atau akademis, kebebasan itu harus diberikan kepadanja.

Sebab didalam seni, deformatie stylistis hanjalah suatu alat untuk menjingkap tabir kebenaran tadi itu. Djikalau tidak, maka susutlah si seniman itu mendjadi propagandist jang berdimensi satu semata-mata.

Akan tetapi apakah seniman itu djikalau dia bebas dalam gaja pernjataan itu, tidak nanti mendjauhkan diri dari masjarakatnja dan dari tudjuan2 perdjuangan masjarakat itu?

Hubungan antara seniman dan masjarakat itu memang kuat. Namun hubungan timbal-balik ini bukan suatu hubungan jang sederhana sadja. Seniman itu bukan hanja pengutjap daripada apa jang sudah hidup terang2an didalam masjarakatnja. Kedudukannja djuga dapat dibandingkan dengan ragi didalam masjarakatnja, sebab ialah jang sering mendahului perkembangan masjarakatnja, dan mematangkannja untuk perkembangan itu. Oleh sebab itu memang penting bahwa gaja pengutjapannja dapat langsung dimengerti oleh masjarakatnja djustru didalam usaha pengerahan tenaga mental sekarang ini, akan tetapi disampingnja itu, ia sering tidak selalu dapat ditangkap seketika itu djuga. Maka demikianlah ukuran “mudah dimengerti” untuk seni bukan merupakan kriterium jang mutlak.

Pada azasnja, seniman harus mempunjai kebebasan untuk menjimpang daripada jang sudah dikenal umum untuk menerobos kepada djalan2 serta tjara2 pentjiptaan jang baru, sebab kebenaran senantiasa harus ditangkap dan ditaklukan lagi. Kebenaran, seperti binatang djalang, mengelakkan diri dari djalan2 jang sudah terkenal.

Selain daripada itu, tadi sudah kita lihat betapa kajalah bentuk2 dan gaja pengutjapan seni di Indonesia. Bermatjam-matjamlah wadjah kebenaran dan keindahan jang sepandjang sedjarah, dipalingkan kepada kita melalui kebudajaan kita. Tidak ada alasan satupun untuk sekarang membatasi keaneka ragaman ini mendjadi satu atau dua gaja jang resmi.

Agaknja, di Indonesia senantiasa akan ada bermatjam-matjam publik, beragam-ragam lingkungan penikmatan seni, dan djuga beraneka ragam warna gaja pernjataan seni. Dan memang itulah sudah sepatutnja. Indonesia dihari depan akan selalu memiliki gaja-gaja seni jang tradisionil, disamping pernjataan-pernjataan baru, jang bertolak dari seni tradisionil itu, tetapi djuga pernjataan2 seni Indonesia jang baru jang tidak bertolak dari seni tradisionil tadi itu, melainkan jang merupakan tjangkokan Indonesia daripada tanaman kebudajaan jang berakar diluar Indonesia. Perkembangan kesusasteraan Indonesia modern misalnja, jang berbentuk tjerita pendek, roman, drama dan sadjak bebas, seni suara, seni lukis dan film. Indonesia, demikianlah sifatnja. Pentjaharian gaja dan idioom Indonesia untuk media dan bentuk2 baru ini memerlukan waktu dan dari pihak masjarakat memerlukan kesabaran serta kepertjajaan. Besarlah bahaja jang mengantjam perkembangan kebudajaan kita, apa bila setjara sewenang-wenang oleh suatu instansi ditutup dan disempitkan ruangan bergerak dalam pentjaharian gaja dan idioom Indonesia jang baru itu. Disinipun kesempatan untuk bereksperimen sama pentingnja dengan air untuk menjirami tanaman.

POLITIK KEBUDAJAAN DILAPANGAN SENI

Hal ini tidak berarti bahwa tidak ada suatu politik seni jang dapat atau harus didjalankan untuk mempengaruhi perkembangan seni dan kebudajaan tadi itu. Politik kebudajaan itu terutama dapat mendekatkan lingkungan seniman dengan masjarakatnja baik dari sudut arah perhatiannja seniman2 tadi, maupun dari sudut perkenalan serta penerimaan karja2 seni oleh masjarakat.

Sulit disangkal misalnja, bahwa untuk sebagian penting kesenian Indonesia modern berakar di dan terbatas pada lingkungan kota.

Selain daripada perbedaan kehidupan kebudajaan kota dan desa ini, ada djuga perbedaan menurut geografi. Untuk mentjapai suatu pertumbuhan kebudajaan Indonesia modern jang merata, perlu sekali djarak perbedaan2 ini diketjilkan dengan suatu politik kebudajaan jang positip.

Demikianlah akan dapat berkembang suatu kebudajaan jang meskipun beragam2 bentuk pernjataannja, sedikit banjaknja homogeen dalam djiwanja.

Untuk itu, agaknja perlu seniman kota tidak hanja membatasi diri pada lingkungan kehidupan jang dikenalnja, melainkan djuga menjelami kehidupan desa, dan sebaliknja. Perlu djuga pertukaran kebudajaan daerah, dan didalam lapangan sastra, suatu usaha besar-besaran untuk menterdjemahkan bahasa Indonesia. Menurut kejakinan kita hal ini akan merupakan perangsang jang sangat penting untuk perkembangan kebudajaan Indonesia itu.

Disinilah letaknja suatu lapangan usaha penting bagi Pemerintah, baik bagi Pemerintah Pusat melalui Balai Perpustakaannja, maupun bagi Pemerintah2 Daerah melalui lembaga2 kebudajaannja sendiri.

DISTRIBUSI KEBUDAJAAN

Disampingnja itu, meskipun sudah banjak kemadjuan jang ditjapai oleh seni Indonesia modern, masih sangat kurang diperhatikan dengan sadar, soal penjebaran dan perkenalan daripada karja2 seni modern itu, oleh masjarakat Indonesia. Berikut ini ialah sedjemput illustrasi daripada jang kemungkinan dikerdjakan dilapangan ini. Dilapangan kesusasteraan, misalnja, boleh dikatakan, hanja satu bagian ketjil sadja daripada pasaran potensiil jang telah digali. Untuk itu perlu Pemerintah turut memungkinkan penerbitan buku2 jang murah. Diperlukan djuga insentip, perangsang bagi para pengarang diperbesar, misalnja dengan mengurangi padjak atas penghasilan karangan-karangannja.

Sangat besar faedahnja djikalau djuga didirikan suatu Dana penerbitan, agar supaja soal finaciering penerbitan2 jang penting dari sudut kebudajaan, tetapi jang dari sudut komersiil merupakan risiko jang besar atau pandjang, dapat diatasi. Lebih2 lagi dilapangan seni lukis banjak jang masih harus dikerdjakan agar supaja lukisan2 Indonesia modern itu tjukup dikenal. Misalnja dengan djalan pembuatan reproduksi2 berwarna jang murah, pameran keliling jang mengundjungi sekolah2 diseluruh Indonesia. Disamping itu perlu agaknja lebih luas diperkenalkan tehnik2 jang lebih murah untuk direproduksikan, seperti tehnik lino pahatan kaju, screen painting dsb. Berfaedah djuga agaknja, apabila disetiap kota diadakan pameran tetap daripada reproduksi2 karja2 seni jang ternama diseluruh dunia.

BEBERAPA BIDANG JANG PERLUKAN BIMBINGAN

Djuga dilapangan musik sangat diperlukan bimbingan jang lebih sadar. Suatu Lembaga Musik akan dapat merupakan stimulans jang penting kearah itu. Lembaga itu, misalnja, akan dapat menjusun suatu collectie rekaman seni suara Indonesia jang tradisionil dan jang dibeberapa daerah sudah hampir terlupa. Rekaman2 ini dapat disusun sedemikian rupa sehingga merupakan program2 jang educationil, dan jang dapat dipindjamkan kepada sekolah2 diseluruh Indonesia, dan kepada seniman2 sebagai bahan2 dalam penggubahannja.

Para komponis seriosa Indonesia modern hingga kini merupakan suatu golongan jang tidak dikenal. Banjak jang dapat dikerdjakan oleh lembaga musik ini untuk merangsang kembali pentjiptaan musik modern. Djuga dilapangan appreciatie musik dengan concert2 chusus untuk keperluan itu, dan dengan tjeramah2 jang diiringi oleh gubahan2 musik jang direkam. Hal ini djuga berlaku untuk seni musik tradisionil jang djuga kurang dikenal dan kurang dimengerti.

Bidang theaterpun, baik jang mementaskan drama modern, maupun theater rakjat, banjak dapat dikerdjakan dengan tjara2 jang mudah. Djikalau setiap kota misalnja mengangkat rombongan jang paling berbakat dan dynamis, sebagai theaternja jang resmi, maka telah diletakkan dasar untuk kemadjuan jang pesat. Lebih lagi djikalau padjak-hiburan jang mengekang itu, dapat diringankan. Demikianlah theater, dan djuga film Indonesia dapat mendjadi unsur actief dalam proses perkembangan dan kemadjuan bangsa kita. Film2 documentair dan educationil masih belum tjukup digunakan dalam hubungan ini.

Inilah beberapa lapangan sadja jang harus diliputi oleh suatu politik kebudajaan.

KESIMPULAN

Bagaimanapun djuga, demikianlah sekarang telah mulai kentara agaknja garis2 besar daripada wudjud suatu politik kebudajaan jang positif. Dengan meliputi bidang2 sosial-kulturil ilmu pengetahuan dan seni, tertudju kepada pelaksanaan tudjuan2 revolusioner kita. Perlu politik kebudajaan itu didjadikan bagian dalam planning untuk pembangunan ekonomi.

Dilapangan sosial kulturil, ia mengerahkan dan menjusun segala faktor kebudajaan untuk tudjuan itu, sambil mengatasi rintangan2 jang bersifat kebudajaan pula.

Dibidang ilmu pengetahuan dan seni, ia memungkinkan dan merangsang, baik setjara materieel maupun setjara spirituil, kreativitet jang sebesar-besarnja dengan menggunakan bahan2 kebudajaan sendiri, maupun asing, menurut keperluan kita sendiri.

Politik kebudajaan sematjam ini bukan suatu politik bagi kaum penakut atau kaum jang dihinggapi kompleks inferioritet terhadap bangsa dan kebudajaan lain.

Kepribadian suatu bangsa hanja berkembang djikalau bangsa itu berani dan sanggup mempertaruhkan kepribadiannja itu dalam mengedjar hari depannja. Demikian djuga halnja dengan kebudajaan nasionalnja.

Sebab memang; hari depan itu ialah bagaikan buah sedap jang hanja dapat dipetik oleh jang berani.

(Dari I.P.S.)