Publisher Note
Tulisan ini dimuat dalam majalah Zenith, edisi No. 9 Th. III yang terbit pada bulan September 1953.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TAK tahulah aku, namun ada tjerita-tjerita dari darat kian lama kian kekurangan garam dan basi—membasi. Sudara, kali ini aku ada dilaut, diatas kapal tua: Johan van Oldenbarnevelt. Sudah duapuluh satu tahun umurnja! Tidak sesuai lagi untuk mengangkut pasasir didjaman modern ini. Tapi apa hendak dikata, antara Amsterdam dan Melbourne tidak banjak tersedia kapal pasasir, dan kapal imigrasi ini antara Indonesia-Amsterdam djadi kapal pasasir. Penuh djuga, laku djuga: seribu duaratus pasasir sekaligus.
Tjerita dari laut, sudara, jang djuga ikut diajunkan ombak tiada hentinja—tjerita jang mengadjak tiap diri bertemu dengan diri. Tjerita jang mempertemukan segala-galanja, djuga air dan langit.
Tuan, Oldenbarnevelt tidak begitu gojang seperti Oranje—
utjapan jang begitu populer ditiap geladak tidak memberi
pengaruh apa-apa. Kapal jang punja pandjang 185 meter dan
lebar 23 meter dan tinggi 20 meter—segumpal anak bukit
dari besi dan kaju ini sebenarnja tungku besar dengan
tambahan 10 derdjat lebih panas daripada Djakarta. Sudara,
Oldenbarnevelt jang sebesar ini sudah mendjadi sebagian dari
alam—bukan lagi tjiptaan pengetahuan dan kedjuruan
modern. Sebagian dari alam dia, tak ubahnja dengan laut
dan langit dan batu karang. Baru sadja mengindjakkan
kaki keatas geladak kapal ini, keringat mulai terperas dari
seluruh tubuh. Ini bukan kapal! Ini dapur tangsi. Empat
thermotank dengan semprotan hawa dari alam bebas tidak
kuasa mengusir panas. Tiga hari didalam kapal ini, dan
kulit dihantjurka oleh biangkeringat. Anak-anak merengek
terbatuk2, melengkung, tampek. Begini panas, sudara, hingga
dalam tiga djam djemuran dalam kabin bisa kering dan siap
untuk diseterika.
Inilah tjerita dari laut sedjak Oldenbarnevelt mantjal. Segala lamunan akan kenjamanan berpesiar dengan kapal langir kelangit biru. Tapi aku tahu bagaimana pendapat si Wim dan Rita jang pergi berbulan madu kenegeri Belanda untuk dimobilisasikan disana dari misi kemiliterannja.
Bagaimana perdjalanan tuan? Memuaskan? Pertanjaan jang berulang2 disemburkan oleh berbagai mulut—dan mulut dimana hati dibawahnja mengintip tip jang bakal diterima. Serigala-serigala tip kini beraksi setelah mengantarkan kaum imigran jang tiada bermodal.
Terlalu panas kapal ini.
Ah, sebentar lagi tidak, tuan. Hawa Indonesia panas dan lembab. Dilautan Hindia nanti tuan dapat banjak angin, dan panas banjak berkurang.
Pertjakapan terdjadi. Keramahan terdjadi, dan kantong pasasir tergontjang-gontjang. Tapi panas terus mengamuk dan pasasir pontangpanting tjari angin digeladak, meninggalkan kabin, tak djarang melarikan diri kelido, sambil melihati laut dengan deburannja jang tiada henti2nja. Tiba-tiba hati djadi jakin akan keindahan laut dengan buih putihnja jang mementjak2 riang. Kadang-kadang setitik-dua putih memérak berkilauan dari kedjauhan: burung tjamar jang sedang mengontrol laut. Ah, sudara, semua dikuasai kebosanan. Kebosanan jang menggaruk-garuk—merongrong malah. Djuga semua keindahan membosankan.
Malam dansa, malam perkenalan, lajarputih, musik populer dan klasik—semuanja diharapkan untuk melupakan kebosanan. Dan mungkun djuga untuk melupakan maut jang biru jang melingkungi kapal. Orang lupa akan maut. Tapi kebosanan terus bermandja didalam dada.
Antara Djakarta dan Colombo langit selalu biru dan panas tetap tiada tertahankan.
Gerombolan-gerombolan pasasir terdjadi, perkenalan dan pertjakapan menjusul, kadang-kadang diikuti keramahan dan tidak djarang oleh persundalan.
Ah, jullie indo’s, seorang njai-njai menggerutu dikamar seterika, berapalah lamanja bersama-sama dikapal, itupun orang-orang jang sebenernja tidak jullie kenal, tapi jullie berbuat begitu.
Tapi, sudara, kapal ini djuga sepotong daratan, sepotong kebesaran manusia dengan nafsu-nafsunja. Besar-ketjil manusia memang ditentukan oleh besar-ketjil hubungan dan lingkungannja—dan dikapal ini semuanja ikut terpotong. Demikian kerdil, tiada sebanding dengan didarat dahulu.
Laki-perempuan, untuk mengembalikan kebesaran didarat, dengan riuhnja berlumba pakaian: tak perduli putih atau tjoklat. Dan tersebar diseluruh geladak pantat-pantat dalam bungkusan rok berajun demikian dibuat seperti tunggal dipermukaan laut, dan tertawa genit melengking antara sebentar. Dipodjok-podjok jang sepi orang membatja atau mengasingkan diri. Tapi membatja dikapal jang demikian riuh dan panas, dengan hati mandja didalam dada, adalah suatu kesia-siaan. Dan dalam mengasingkan diri orang menghadapi laut, dan laut bitjara dengan bahasanja sendiri. Semua seakan mati didalamnja, bahkan mati itu sendiri. Kadang ikan berlondjakan—disini kami, disini kami, jang memiliki hidup didunia lain, menguasai daerah lain, bukan kalian sadja jang hidup dan punja daerah.
Sudara, perdjalanan laut membawa orang bertemu dengan segala-galanja: laut itu sendiri, langit, maut, penjakit, nafsu, pentjuri dan potongan dunia dengan potongan manusia, dan djuga sekeping dari dirinja sendiri. Apabila pada suatu kali kapal ini tenggelam, sepotong dunia dan sepotong manusia ini ikut-ikut tenggelam dan hilang, karena apakah harganja hidup dan manusia ini sonder hubungan!
Sekali-dua terdengar selingan:
Ja, tuan kami adalah orang Belanda tetapi ikut memikirkan nasib Indonesia. Tetapi jang seperti itu hanja kadang-kadang sadja terdengar. Dan pertjakapan jang pandjang terdjadi dengan mesranja. Kadang terdengar djuga suara jang telah begitu populer ditanah air tetapi tidak mengandung isi apa-apa: satu-satunja djalan untuk menolong Indonesia adalah kerdja! Kerdja! Kerdja!
Tapi pada suatu kali tertangkap olehku suara baru jang sangat mengedjutkan:
Tuan, dahulu seluruh Indonesia akan terkedjut kalau ada orang mati kelaparan. Tapi sekarang tidak lagi. Tiap hari orang mati menggelétak seperti gaplek. Besok apabila sepuluh orang mati kelaparan atau ditembak pengatjau, orang tidak akan heran lagi.
Dan lusa, tuan, kalau sepuluh djuta orang mati kelaparan dan dibunuh pengatjau, orangpun tidak akan heran lagi.
Dan jang tinggal?
Jang tinggal? Orang-orang kaja dan para pembunuh.
Satu pertemuan jang baik sekali.
Moga-moga djangan.
Apa gunanja tuan ikut memikirkan Indonesia?
Tuan, djangan kira tiap orang asing pentjuri jang menjelundup dalam rumah tuan. Apakah jang tidak terpikir oleh orang ini asal sadja mempunjai kemauan baik atas segala-galanja? Jang tidak demikian tjuma memikirkan dirinja. Dia bakal kaja dan hidup langsung sampai achirnja bertemu dengan pembunuhnja.
Dan diudjung-udjung sana kelompokan orang jang disebabkan oleh hubungan antara pendjadjah dan jang didjadjah—tidak tjoklat dan djuga tidak putih, beromong.
Belanda terus menerus: anggota-anggota misi militer Belanda jang akan didemolisasikan dinegeri ajahnja tetapi jang selama itu bertugas dinegeri ia dilahirkan untuk menundukkan dan mengontrol ibunja. Dengan wadjah berserikan harapan mereka akan mengindjakkan kak di-Mekkah mereka—sepotong negeri dongeng jang sedjak ketjil tersimpan baik-baik didalam djiwa. Tetapi dengan diam-diam kamp-kamp penampungan menunggu dengan dinginnja. Kadang-kadang terdengar tantangan mereka pada masa jang telah lalu:
Bah itu negeri! Wij sudah bosan makan nasi.
Dan kapal berdjalan terus membelah lautan Hindia. Kadang-kadang pemandangan diselingi dengan tamasa pelabuhan: pedagang-pedagang diatas perahu di Colombo, Port Said atau Suez, persatuan antara tenaga manusia dan kegarangan alam disepandjang gurun pasir Suez Port Said, motorboot-motorboot penangkap ikan Sisilia, ikan-ikan tjoklat diselat Djabal el Tarik jang mengemis makanan pada pasasir.
Antara sebentar loudspeaker2 jang terpasang dipodjok-podjok meraungkan lagu-lagu populer Amerika jang susulmenjusul dengan pemberitahuan2 serta lontjeng tanda-makan. Lama-kelamaan terdjadi gerombolan-gerombolan jang dibentuk karena kesamaan kesukaan atau perhatian—presis didarat dengan perhimpunan dan perkumpulan-perkumpulan. Disana mengarang tjalon-tjalon diplomat Indonesia dalam gerombolan-gerombolan jang djadi harapan bagi masa datang, djuga harapan sanakkeluarga mereka masing-masing, tetapi jang diatas geladak Oldenbarnevelt ini tiba-tiba mempermaklumkan diri bahwa mereka tidak tahu terdjemahan rijst dalam bahasa Indonesia. Disana gerombolan militer Inggeris jang baru angkat kaki dari darat Malaja, dengan wadjah ruang dan menganggap terlampau enteng sekelilingnja. Disana lagi gerombolan para direktur atau kepala-kepala bagian perusahaan-perusahaan Belanda. Dan bergelandangan atau gerombolan2 tertentu meradjalela anak-anak kolong jang tjari iseng pada perempuan mana sadja jang ada mempunjai paras—kadang mereka mendapat sumpahan dan kadang mendapat apa jang mereka harapkan.
Orang jang djatuh sakit demikian banjak dikapal ini. Bahkan tigapuluh orang diantara anakbuah kapal jang tigaratus limapuluh orang menggeletak ditempat tidurnja. Rengekan dan tangis anak-anka ketjil ditempat tuan dokter memberi imbangan pada deburan air jang diterdjang lunas kapal. Tapi buku penuntun tentang penjakit2 chatulistiwa didepan tuan dokter ini tidak menolong meringankan penderitaan anak-anak jang kepanasan, batukpilek, tampek dan biangkeringat jjang lama-kelamaan bernanah, membengkak dan membakar sekudjur tubuh. Kapal ini membakar segala-galanja, dan uang berderet lari kekasa bar. Kadang-kadang naik hartawan Colombo dengan emas-berlian bertabur keseluruh badannja dan dimana-mana minta kepertjajaan, aku bukan orang Selon, aku Singalis. Atau orang-orang Sudan jang dengan bersemangat bertjerita tentang haridepan negerinja, kami bisa bersahabat dengan Inggeris djuga dengan Mesir, dan kami bisa djuga prek persetan mereka. Kami bisa dan ingin mengikuti djedjak Indonesia. Atau orang-orang India jang ingin menjaksikan penobatan ratu Inggeris. Kian kapal berdjalan kian banjak bangsa, namun Belandalah jang terlebih banjak lagi—Belanda berumah di Nederland dan makan di Indonesia. Kadang2, tapi djarangsekali, terdengar utjapan kebangsaan orang-orang Belanda atas hasil-usahanja:
Kami bisa hidup baik sonder Indonesia, tuan. Sungguh! Aku sendiri bergerak dilapangan perdagangan dalam tigapuluh lima tahun jang terachir ini. Lima tahun aku praktek di Djepang, dilemparkan kedalam kamp tawanan. Dan ia memperlihatkan tangan dan kakinja jang berkulit tjompangtjamping. Ini dibakar serdadu Djepang dengan bensin. Tuan bisa basa Djepang? Ia mulai bitjara basa Djepang. Ah, Indonesia harus meniru Djepang. Tuan tahu? Kalau sekali waktu tuan kesana, djauh tengah malam akan tuan lihat djendela-djendela jang masih terbuka dan sinar lampunja jang redup oleh kap. Itulah pemuda-pemuda Djepang jang sedang beladjar. Sedjak penjerahan kedaulatan aku di Djakarta, anggota dewan pimpinan dari sebuah diantara Big Five. Tuan tahu, ah, kasihan pemuda-pemuda tuan jang telah banjak berkurban untuk revolusi. Aku hormati revolusi tuan, tapi hasil revolusi tuan tidak menguntungkan. Indonesia, tuan, kehilangan sahabat2nja jang baik dilapangan perdagangan. Indonesia jang demikian mashur dengan hasilbuminja—sekarang, kemana harus tjari pasar2 Tuan masih harus banjak beladjar pada kami sesungguhnja, dan tidak main perasaan melulu Tuan, sebagai usawan dan pedagang kami disukai diseluruh dunia. Hanja disini tidak, disini—tangannja menuding arah kepulauan Indonesia, dan kemudian meneruskan—ditanah dimana tuan djadi pemilik dan tuannja.
Sepotong Indonesia dengan masalahnja ini ikut djuga terbawa oleh kapal ini—lebih gersang daripada kapalnja sendiri.
Port Said! Port Said! Nanti malam bertemu dengan Oranje di Port Said! Orang berteriak-teriak gembira. Dan waktu sampai di Port Said orang mengenakan pakaiannja jang terbaik. Djuga anak-anakbuahkapal berdujun2 turun dengan pakaian preman untuk memborong barang2 kulit. Pedagang-pedagang Mesir jang giat itu melompat keatas kapal. Uang apa sadja diterimanja. Ribuan uang R.I. tersebar di Mesir ini—uang jang diselundupkan dari Djakarta tentunja—dan barang-barang kulit Mesir tertimbun didalam kapal. Gelombang dingin meniup dari sebelah baratlaut. Bagi jang punja kesempatan untuk berléla dalam pakaian dingin terbuka. Wol tebal, bahkan djashudjan mulai dikenakan.
Bukankah Spanjol diamuk gelombang panas? Kadang djatuh pertanjaan satu-dua.
Orang tak mengerti. Orang kedinginan—dan dinginnja mengiris daging. Djuga kuli-kuli Mesir berpakaian tebal, dengan suara pertjakapannja jang keras seperti sedang bertjakaran bodol.
Kapal berangkat lagi. Mesir mendapat tambahan uang asing dan ribuan uang Indonesia, dan kapal mendapat tumpukan barang kulit.
Berapa bantal kulit ini, tuan?
Satu pon sebuah.
Untuk apa demikian banjak?
Tertawa menjusul, dan kemudian dinegeri Belanda, tuan, ini semua bisa menguntungkan duaratus prosen, mendingan djuga untuk djalan2 di Damrak. Bukan? Dan setelah tertawa meringis sambil menghitung laba terdengar lagi: Ini laku tigapuluh lima gulden di Amsterdam, tuan. Untung berapa? Duapuluh dua setengah gulden. Dan achir musim panas ini diseluruh Nederland ada obroal—satu setél kamgar hanja tudjuhpuluh gulden. Di Indonesia? Tidak kurang dari seribu rupiah?!! Mendingan, bukan?
Tentu sadja mendingan.
Dengan pajahnja Oldenbarnevelt berdjalan terus melintasi Laut Tengah.
Tuan, aku mau ke Argentina, anakku jang pertama djadi apotheker disana—seorang tua, Belanda berkulit tjoklat bitjara dengan logat Djawa Tengah.
Aku kira tuan warganegara Indonesia.
Ha! Aku sudah tua, tuan. Sebentar lagi mati. Djadi lebih baik aku tak masuk djadi warganegara, apalagi anak-anakku semuanja sudah dewasa dan tersebar keseluruh dunia: Argentina, Siam, Swedia dan Nederland. Dengan umurku jang setua ini sebaiknja aku mondarmandir diseluruh dunia, dan tidak ditekuk-tekuk djadi warganegara.
Ini djuga sepotong masalah Indonesia jang terbawa oleh kapal gersang ini.
Sudara, semua ini memang bukan tjerita dimana achirnja pahlawan2 pada kawin atau mati. Tentu sadja tidak. Tetapi: segala potongan jang mungkin ada di Indonesia jang diganggang diatas kapal gersang ini—potongan-potongan jang tjampuraduk mendjadi keriuhan didalam dada.
Dan achirnja atjara perpisahan—berpisahan dengan Asia dan Afrika, memasuki udara Eropa, meninggalkan selat Djabal el Tarik. Kapten berpidato, minta maaf atas kekurangan Oldenbarnevelt disamping memudji kebagusannja. Champagne diedarkan dan makanan diberikan lebih baik. Djongos-djongos harus berbaris dan tukangpotret kapal beraksi. Orang bersorak riuh dan menjanji-njanji dan musik dansa menderu-deru dibangsal tengah. Tiba-tiba kapal bersuasana lain, dengan orang-orangnja berkostum hitam. Anak-anak disimpan dikabin dan perempuan2 bunting termangu-mangu menghadapi laut dan malam jang hitam. Malam bertambah larut dan pemabok bertambah banjak terhujung-hujung dalam papahan kawan-kawannja.
Udara jang dingin terusmenerus menembusi kapal. Anak-anak, jang dilumpuhkan oleh panas, bangkit dari tempattidur dan berlari-larian seakan2 kemarin tidak sakit samasekali. Tampek dan biangkeringat tertjetjer dari kapal, tertinggal didaerah panas.
Pipi-pipi jang kemarin dahulu putjat oleh panas kini kemerah2an seperti sepasang djambu air.
Dan waktu warung mendjual badju dingin, orang berantré untuk dapat menguasai beberapa setel, dan beberapa djam kemudian habislah persediaan diwarung. Dan disamping itu uangkapal dikantong parapasasir kian menipis pula. Bar tak lagi dikepung oleh orang-orang jang kehausan dan djongos2 mondarmandir tak punja pekerdjaan. Orang lebih gembira lagi dan berita2 dari korankapal diikuti dan diperbintjangkan.
Berita udara Nederland mendengung-dengung tiap waktu. Empatbelas deradjat! Tigabelas! Tudjuhbelas! Duapuluh dua!
Enambelas? Seru seorang jang tidak punja pakaian dingin samasekali. Ini bukan musim panas. Pada parasnja tergambar kekuatiran. Ini musim es jang ringan tentunja. Dan dengan lemasnja ia termenung-menung diatas kursinja sambil antara sebentar menghangatkan tubuhnja dan menarik2 pandjang pakaiannja.
Geladak kanak-kanak kehabisan baji, karena baji-baji disimpan baik dikabin dan tidak lagi diserahkan kepada angin dingin. Dan babu-babu baji tak punja pekerdjaan, tak dapat tip lagi, mondarmandir kekurangan harapan. Kian dekat pada Nederland djongos-djongos makin kian bersikap manis. Pasasir akan turun dan tidak naik kekapal lagi seperti di Singapura, Colombo, Suez atau Port Said. Mereka akan terpentjar diseluruh daratan Eropa dan kini tinggalah tip jang penghabisan, dan moga-moga jang terbesar pula.
Teluk Biskaja jang mashur akan kegarangannja, kini tidak memperlihatkan kegarangannja samasekali, tenang dan manis. Berbagai matjam kapal besar dan ketjil mondarmandir disepandjang pantai Portugal. Dan seorang bertjerita dengan lantjarnja:
Tuan kenal Portugal, bukan? Setidak-tidaknja dari ilmu bumi. Kami dinegeri Belanda dapat dikatakan tidak punja masalah komunisme atau kapitalisme seperti jang mendjadi mode di Indonesia waktu ini. Dan disana—dengan tangan menuding Portugal—menghindari masalah itu dengan keketjutan kanak-kanak. Mereka melahirkan korporatisme dari perternakannja antara komunisme dan kapitalisme. Dan disana—tangannja menundjuk kedarat Perantjis—sekarang diamuk badai pemogokan. Dinegeri kami, tuan, orang tak perlu panasdarah untuk mentjekik lehernja sendiri.
Sudara, siapakah sebenarnja jang memudji tanahnja sendiri dimana ia dilahirkan? Orang telah begitu biasa dengan kelilingnja, dan dikeliling serta suasana asing segala-galanja jang telah biasa baginja mendjadi kenang-kenangan jang sangat mengagumkan. Dan apa sadja jang tidak terkenang oleh pasasir jang djauh dari darat, dalam kepungan laut dan maut jang biru, tidak ada pemandangan lain dan hanja kadang-kadang melihat tunggu karang atau pantai dikedjauhan atau pulau ketjil atau menara api jg. berkelip-kelip dikedjauhan!
Tiba-tiba pemandangan berubah. Southampton tidur dalam hari minggu jang sedjuk dengan pantainja jang hidjau oleh rumput muda. Pelabuhan hingga bermil-mil djauhnja disebari oleh berbagai matjam kapalperang jang akan ikut dalam manouvre penobatan ratu Elizabeth. Kembali teropong dikeluarkan dari kabin dan kamera pasasir mendapat pekerdjaan berat. Orang digiring kelambung kiri untuk mengagumi kapal perang Rusia dengan meriam-meriamnja jang dua kali lebih besar daripada kapal-kapal perang jang biasa dilihat orang. Pertjakapan timbul dengan meriamnja disekitar meriam. Djuga masalah peperangan antara komunisme dan kapitalisme—pertjakapan jang meluntjur litjin tak menghendaki penjelesaian atau kesimpulan apapun djuga.
Sudara, disini orang ngomong sadja hanja untuk melupakan kebosanan. Karena itu bertambah dekat pada Nederland obrolan bertambah berkurang. Orang dipaksa berpikir bersungguh-sungguh tentang kehidupan baru jang meminta pertanggungandjawab jang benar-benar. Tak ada dansa lagi. Tak ada gerombolan lagi jang menjanjikan lagu-lagu sekolahrakjat Belanda. Djuga dihari minggu itu tak ada domine atau pater berchotbah diberanda tengah. Parakeluarga anggota misi militer Belanda menunduk ditempatduduknja masing2. Ah, setidak2nja mereka ini belum pernah mengindjakkan kaki di Nederland, dan bila ada hanja satu-dua.
Di Bandung kami ada rumah, ada orang tua, ada sawah, seorang njonja Tionghoa warganegara Belanda isteri sersan m.m.B. dengan selingan satu-dua patah kata Belanda, aku tak mengerti mengapa harus pergi kenegeri Belanda. Ah ja, kalau lakiku tidak mau ikut pergi, sajang djuga pensiun.
Sudah lama dinas laki njonja?
Duapuluh dua tahun, dari serdadu hingga sersan tuan, dan dinegeri Belanda akan terima gadji tigaratuslimapuluh rupiah.
Wah, itu besar sekali, seru seorang Belanda totok. Dinegeri Belanda, njonja, seorang doktor bahasa jang baru turun dari sekolah, akan sambut gadji duaratus gulden dengan lahapnja. Pendeknja njonja tak usah kuatir. Barang-barang murah dan disana aman pula.
Tapi mengapa tuan bekerdja di Indonesia?
Itulah sebabnja, njonja, pekerdjaan susah didapat dan uang tambah susah lagi.
Kapal berdjalan terus melewati lau dan siang. Suasana muram berkuasa. Dan waktu matahari mengintip ditenggara oleh telah sampai di Ymuiden, memasuki kanal dimana marsosé dan doane dan bank2 melompat kedalam. Dan kemudian, saudara, Amsterdam menunggu parapasisir dengan hudjan renai dan angin dingin jang tadjam. Setelah itu orang terpentjar ketudjuannja masing2. Kapal jang gersang tiada teringat dan perdjalanan selama duapuluh enam hari tiada berkesan…
Amsterdam, VI-1953.