Baca EPUB: Subur, Subur, Suburlah PKI: Pidato Presiden Sukarno pada Rapat Raksasa Ulang Tahun Ke-45 PKI

7 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SUBUR, SUBUR, SUBURLAH PKI
  2. PIDATO PRESIDEN SUKARNO PADA RAPAT RAKSASA ULANG TAHUN KE-45 PKI
  3. SUKARNO
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. SUKARNO DAN D. N. AIDIT
  7. KATA AWAL
  8. SUBUR, SUBUR, SUBURLAH PKI
  9. UNCOPYRIGHT

SUBUR, SUBUR, SUBURLAH PKI

PIDATO PRESIDEN SUKARNO PADA RAPAT RAKSASA ULANG TAHUN KE-45 PKI

SUKARNO


KOLOFON

SUBUR, SUBUR, SUBURLAH PKI

PIDATO PRESIDEN SUKARNO PADA RAPAT RAKSASA ULANG TAHUN KE-45 PKI

oleh

SUKARNO

Yayasan Pembaruan Jakarta,

1965


Transcriber

k-Jank

Editor

F. Indah, k-Jank

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].



SUKARNO DAN D. N. AIDIT

... ayo terangan tanpa tedeng aling-aling, ayo kita minta dipotret bersama


KATA AWAL

Ketika mendirikan PNI di tahun 1927, Bung Karno mengatakan bahwa beliau bermaksud meneruskan perjuangan PKI, yang di tahun 1926 dan 1927 itu mengalami hamukan tabula rasa dari pemerintah kolonial Belanda. Sejak saat itu hingga kini, kerjasama antara Bung Karno dan PKI, sebagai sesama pencinta, pembela dan penegak kemerdekaan tanah air, selalu baik.

Ketika PKI di tahun 1959 melangsungkan Kongres Nasionalnya yang ke-VI, Bung Karno, Presiden RI, mengucapkan pidato yang terkenal, “Yo sanak yo kadang, yen mati aku sing kelangan.” Di depan Kongres Nasional ke-VII PKI, 1962, Bung Karno lagi mengucapkan amanat penting, “Go ahead!” Tahun yang lalu, Agustus 1964, ketika PKI menyelenggarakan Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner, Presiden Sukarno mengucapkan pula pidato, “Segala simpatiku kepadamu!” Pidato yang kita bukukan sekarang ini, pidato pada rapat raksasa Ultah ke-45 PKI, adalah pidato beliau yang ke-4 sejak Proklamasi Kemerdekaan, yang ditujukan langsung kepada PKI.

Ini sekedar kata awal, bukan pengantar, karena pidato ini tak membutuhkan antaran apa pun—ia berbicara sendiri.

Penerbit


SUBUR, SUBUR, SUBURLAH PKI

Saudara-saudara sekalian,

Sudah jam sebelas, kawan-kawan yang di lapangan tengah sudah tele-tele. Tapi saya hendak memberi amanat tidak terlalu panjang, lebih dulu saya menyampaikan kepada hadirin dan hadirat yang beragama Islam: Assalamu Alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh! (massa menyambut: waalaikum salam!) Kemudian pada semua saudara-saudara pekik “merdeka”: Merdeka! (massa menyambut Merdeka).

Saudara-saudara sekalian, apa yang dikatakan oleh Saudara D. N. Aidit tadi adalah benar. D. N. Aidit, Dipa Nusantara Aidit, adalah benar. Kawan Aidit itu namanya hebat, DN-Dipa Nusantara. Tahu artinya Dipa? Nah, plonga-plongo tak tahu arti Dipa, saya sendiri juga tak tahu (tawa gembira).

Coba Dit (memanggil Bung Aidit. Bung Aidit menghampiri Bung Karno). Coba katakan apa arti itu Dipa (menjawab Bung Aidit: menurut saya, Dipa artinya benteng, jadi Dipa Nusantara artinya benteng Nusantara). (Bung Karno tertawa dengan gembira).

Ya, saudara-saudara saya itu tadi pura-pura tidak tahu. Sebetulnya saya tahu, tetapi baiklah Saudara Aidit sendiri mengatakan kepada saudara-saudara bahwa Dipa berarti benteng. Benteng atau pulau atau karang. Nusantara adalah Indonesia. Jadi Benteng Indonesia Aidit (tepuk tangan riuh). Benteng Indonesia dan Benteng Indonesia Aidit (tepuk tangan panjang).

Apa yang dikatakan oleh Saudara Benteng Indonesia Aidit tadi adalah benar, yaitu bahwa pihak imperialis geger, sudah beberapa minggu ini, pertama oleh karena PKI hendak mengadakan Hari Ulangtahun yang ke-45nya dengan cara besar-besaran; kedua bahwa pada rapat raksasa Hari Ulangtahun PKI ini Predisen Republik Indonesia Sukarno akan hadir dan berpidato (tepuk tangan panjang). Pihak imperialis di luar geger, di dalam geger, bahkan mengirimkan beberapa cecunguk, “cecunguk” mengerti saudara-saudara? Untuk mengintai-intai apa gerangan yang akan diperbuat oleh Sukarno dalam rapat raksasa PKI itu. Saya berkata kepada mereka itu, cecunguk-cecunguk itu tidak perlu mengintai-intai, ini lho, terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, Sukarno ada di sini (tepuk tangan panjang). Terang-terangan tanpa tedeng aling-aling. Dit, sini, (memanggil Bung Aidit) ayo terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, ayo kita minta dipotret bersama-sama (tepuk tangan gemuruh), (Presiden bergandengan tangan dengan Bung Aidit menghampiri para jurupotret sambil melambai-lambaikan tangan kepada massa, massa menyambut dengan tepuk tangan panjang). Kok pakai cecunguk-cecungukan, intai-intaian, tidak, tidak perlu, saya malahan senang menunjukkan diri di hadapan khalayak seluruh dunia (tepuk tangan gemuruh), Memang benar dulu pernah di dalam Kongres PKI yang ke-VI, saya lebih dahulu mensitir pribahasa Jawa: dudu sanak, dudu kadang, yen mati aku melu kelangan. (tepuk-tangan). Pada waktu itu, malah saya berkata, “bukan saja dudu sanak dudu kadang,” tetapi saya berkata: “yo sanak yo kadang, yen mati aku kelangan.” (tepuk tangan). Apalagi saudara-saudara, apalagi di dalam rangka politik yang kita jalankan, yaitu politik yang sudah dari sejak dahulu saya kemukakan, yaitu menggabung menjadi satu semua tenaga revolusioner progresif, dalam bahasa asingnya, de samenbundeling van alle progressieve revolutionaire krachten, menggabungkan menjadi satu semua tenaga-tenaga revolusioner progresif. Di dalam kerangka politik yang demikian itu maka sebenarnya bukanlah satu barang yang aneh, bahwa Permerintah Republik Indonesia merangkul kepada PKI, bahwa saya sebagai Mandataris daripada MPRS merangkul kepada PKI, bahwa saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia merangkul kepada PKI (tepuk tangan panjang), sebab siapa yang bisa membantah bahwa PKI adalah unsur yang hebat di dalam penyelesaian Revolusi Indonesia ini? (tepuk tangan panjang). Tadi telah disitir oleh Kawan Aidit apa sebabnya menurut pendapat saya PKI menjadi besar, PKI ndodro, ndodro itu, lihat tangan saya lho, menjalar, menjalar, menjalar, menjalar. PKI menjadi kuat, PKI menjadi sekarang beranggotakan 3 juta, pemudanya 3 juta, simpatisannya 20 juta. Apa sebabnya PKI demikian? Ialah oleh karena PKI adalah konsekwen progresif revolusioner (tepuk tangan). Nah, sudah barang tentu saudara-saudara, saya yang berpendapat bahwa revolusi Indonesia ini tidak dapat diselesaikan jikalau tidak digabungkan menjadi satu semua, semua, semua tenaga progresif revolusioner, saya merangkul PKI, saya berkata PKI, yo sanakku, yo kadangku, yen mati aku melu kelangan (tepuk tangan).

Saudara-saudara, pernah saya ceritakan kepada saudara-saudara, dan tadi pun telah disitir, dikatakan oleh Kawan Aidit, beberapa senjata ampuh yang saya berikan kepada revolusi Indonesia, ialah antara lain Pancasila, antara lain penggabungan semua tenaga progresif revolusioner dalam Nasakom, antara lain Manipol-Usdek, antara lain “Berdikari”. Nasakom ini, saudara-saudara, pernah saya ceritakan kepada khalayak ramai Indonesia sendiri, bahwa utusan-utusan daripada perayaan Dasawarsa A-A tempohari, kagum melihat Nasakom, heran bahwa Indonesia bisa menjadi besar dan kuat, heran bahwa Indonesia yang tadinya dikatakan oleh kaum imperialis akan lekas hancur, Indonesia akan lekas gugur, Indonesia Rakatnya akan mati kelaparan, Indonesia kacau-balau, bahwa Indonesia itu sebaliknya, ternyata kuat, Rakatnya ternyata teguh, Rakatnya ternyata sehat-sehat, karena Indonesia menjalankan politik Nasakom. Tadi Bung Aidit berkata sebagai bantahan terhadap kepada kaum imperialis yang mengatakan bahwa Indonesia kekurangan pangan, bahwa Indonesia kekurangan makanan, bahwa Rakyat Indonesia malahan saking banyaknya makanan, ubi singkong dipakai untuk menutup jebolnya gili-gili. Mana ada Rakyat di dunia ini yang menutup jebolnya gili-gili dengan ubi-ubi singkong saudara-saudara. Hanya Indonesia sendiri, saking banyaknya makanan. (tepuk tangan).

Siapa bilang saya dari Blitar,

saya ini dari Prambanan,

siapa bilang Rakyat kurang makan,

Rakyat kita cukup makanan. (tepuk tangan)

Kan itu nyanyianku saudara-saudara. (Kemudian Presiden membawakan pantun lagi).

Siapa bilang ini soto sembarang soto

soto ini dari babat,

siapa bilang aku ke Tokio,

Lebih senang tinggal di kalangan Rakyat. (tepuk tangan massa mengiringi nyanyian itu).

Kaum imperialis itu memang aneh-aneh, saudara-saudara, memang aneh-aneh, meramalkan ini, meramalkan itu, dan paling-paling imperialis itu paling takut kepada Indonesia, apa sebab takut kepada Indonesia? Oleh karena Indonesia menggabungkan semua tenaga revolusioner menjadi satu, oleh karena Indonesia menjalankan politik yang konsekwen anti-imperialis. Dengan cara apa? Dengan cara menggambungkan semua tenaga yang progresif revolusioner (tepuk tangan).

Nasakom menjadi kekaguman semua utusan-utusan Dasawarsa A-A. Nasakom menjadi, malahan satu contoh bagi negara-negara Asia-Afrika yang akan melanjutkan perjuangannya menentang imperialisme. Sesudah itu dimengerti oleh semua utusan-utusan saudara-saudara, maka gampanglah bagi saya untuk menerangkan kepada mereka apa sebabnya Indonesia mengambil iniasiatif untuk mengadakan Conefo, Conference of the New Emerging Forces. Utusan-utusan ini sebetulnya saudara-saudara terlebih dahulu telah kagum kepada Indonesia bahwa Indonesialah yang mengemukakan ide New Emerging Forces ini, bukan negara lain. Indonesia yang mengemukakan ide New Emerging Forces, Indonesia yang bekerja keras untuk melaksanakan penggabungan dari semua tenaga New Emerging Forces. Indonesia sekarang hendak mengadakan Conefo, Conference of the New Emerging Forces. Sebelah ini Saudara-Saudara, sebelum Gelora Bung Karno, di sana sekarang ini sedang dibangun perlengkapan-perlengkapan, gedung-gedung untuk Conference of the New Emerging Forces. Saya sekarang saudara-saudara, memanggil kepada seluruh Rakyat Indonesia untuk membantu kepada pembangunan ini agar supaya tahun muka saudara-saudara, benar-benar di Indonesia, di Jakarta bisa diadakan Conference of the New Emerging Forces itu. Nah, sesudah utusan-utusan dari Dasawarsa itu melihat hebatnya, manfaatnya politik Nasakom, mudah bagi saya untuk menerangkan kepada mereka bahwa Conefo adalah sebetulnya satu Nasakom Internasional. Apa sebab Nasakom Internasional? Sebabnya ialah di dalam Conefo itu hendaknya kita gabungkan semua, asal tenaga anti-imperialis baik dari negara-negara yang capnya Nasional maupun dari negara-negara yang capnya Agama maupun daripada negara-negara yang capnya Komunis, bahkan daripada negara-negara kapitalis yang di situ ada perkumpulan-perkumpulan atau tenaga-tenaga progresif, saudara-saudara. Dus Conefo menggabungkan, ya negara-negara Nasionalis yang anti-imperialis, ya negara-negara Agama yang anti-imperialis, ya, negara Komunis, ya, negara-negara lain, Saudara-saudara, yang di dalamnya adalah tenaga-tenaga progresif. Oleh karena itu, maka aku bisa menerangkan kepada utusan-utusan Dasawarsa itu bahwa Conefo adalah satu Nasakom International.

Di sini, di kalangan Indonesia sendiri, saudara-saudara, ada orang-orang yang menanya kepada saya, Bung atau Pak kenapa politik Bung Karno menggabungkan semua tenaga anti-imperialis, semua tenaga revolusioner dalam perkataan Nasakom? Kenapa “Kom”? Kenapa kok tidak seperti tahun dua puluh enam waktu Bung Karno buat pertama kali mencetuskan ide persatuan daripada tenaga-tenaga revolusiner ini? Nasionalis, Islam, Marxisme atau Nasionalis, Agama, Marxis, kenapa Bung Karno tidak memakai perkataan Nasamarx? Kok pakai perkataan Nasakom? Kenapa “Kom”? Kenapa tidak “Sos”? Kenapa tidak “Marx”? Nasamarx atau Nasasos? Kok Bung Karno memakai perkataan Nasakom? Jelaslah di sini saudara-saudara, dengarkan, perkataan yang paling dicatut, dicatut oleh pencoleng-pencoleng politik, oleh coro-coro politik, perkataan yang paling dicatut pencoleng dan coro-coro ini ialah perkataan Marxisme saudara-saudara. Saudara-saudara mengetahui bahwa misalnya PSI, Partai Sosialis Indonesia yang sudah saya bubarkan itu. PSI itu selalu menepuk-nepuk dada: Kami Marxis, kami Marxis, kami Marxis! Saya berkata mereka bukan Marxis! Mereka adalah pencoleng daripada Marxisme (tepuk tangan panjang). Karena itu aku tidak mau memakai perkataan Nasamarx. Kalau aku memakai perkataan Nasamarx, jangan-jangan nanti orang-orang PSI juga ikut-ikut di dalam Nasamarx ini saudara-saudara. Padahal mereka adalah kontra-revolusioner, padahal mereka adalah revisionis tulen, padahal mereka adalah pencoleng Marxisme! (tepuk tangan panjang menggemuruh).

Kecuali itu saya dengan sengaja memakai perkataan “Kom”, Nasakom, oleh karena di Indonesia ini banyak orang yang phobi saudara-saudara, phobi kepada “Kom”. Phobi kepada “Kom” artinya takut kepada “Kom”, khususnya takut kepada PKI, benci kepada PKI, hendak menghancur-leburkan PKI. Terus terang saja, terus terang saja, di kalangan Nas ada yang Komunisto phobi, di kalangan Agama ada yang Komunisto phobi, di kalangan Angkatan Bersenjata. Dulu ada yang ber-Komunisto phobi. Nah, ini penyakit phobi ini hendak saya bantras saudara-saudara, hendak saya bantras. Maka oleh karena itu dengan sengaja di dalam penggabungan nationale revolutionaire krachten ini saya pakai perkataan “Kom”, “Kom”, “Kom”, sekali lagi “Kom”. (tepuk tangan menggelegar). Ya, “Kom” benar lho, ada juga “Kom” gadungan. (Bung Aidit: “Kom gadungan juga ada”). Sebab ada juga “Kom” gadungan, ada juga Marhaenis gadungan, ada juga Marxis gadungan, padahal di dalam perjuangan kita anti-imperialis, tidak boleh mempersatukan tenaga-tenaga gadungan, tenaga-tenaga gadungan itu malahan lebih membahayakan, lebih berbahaya daripada imperialisnya sendiri, saudara-saudara. Itulah sebabnya tempo hari saya perintahkan, bubarkan “BPS” dan semua antek-antek “BPS” (tepuk tangan).

Lebih baik dengan kumpulan tenaga yang jumlahnya kecil, tapi kompak revolusioner, kompak revolusioner, tetapi kwalitatif tinggi. Lebih baik saudara-saudara, jumlah kecil tetapi kompak dan kwalitatif tinggi daripada jumlah banyak tetapi penuh dengan cecunguk-cecunguk dan kontra-revolusioner. Oleh karena itu saudara-saudara, maka kita juga di dalam KAA yang akan datang, kita daripada Republik Indonesia berdiri di atas prinsip ini. Kalau bisa ya, semua negara A-A tergabung di dalam Konferensi A-A yang kedua di Aljazair. Tetapi kalau tidak bisa, misalnya ada negara yang tidak mau ikut oleh karena pro “Malaysia”, lebih baik mereka jangan ikut A-A ini. Lebih baik mereka di luar A-A ini. Lebih baik kita mengadakan A-A kedua ini dengan negara yang kurang jumlahnya, tetapi semuanya berpendirian anti-imperialisme daripada dengan jumlah banyak tetapi di antaranya adalah kawan-kawan dan antek-antek imperialisme. Nah, tetapi saya bisa memberitahukan dengan gembira kepada saudara-saudara bahwa usaha “Malaysia” untuk ikut serta dalam Konferensi A-A kedua ini, bahwa sebagian terbesar daripada negara-negara Asia dan Afrika tidak mau menerima “Malaysia” di dalam Konferensi A-A yang kedua (tepuk tangan). Ada satu, dua, tiga negara yang mau menerima “Malaysia” itu, ada. Mana ada perjuangan yang kompak seluruh 100% saudara-saudara, tidak ada. Demikian pula di dalam perjuangan A-A ini saudara-saudara, ada, satu, dua, tiga negara yang pro “Malaysia” yang sebetulnya jiwanya adalah jiwa antek imperialis. Tapi, biar, biar, biar, aku telah perintahkan kepada Ibu Supeni, Peni! Madepo mrene. Nah, ini Ibu Supeni! Supeni, kalau ada negara yang ngotot mau membela “Malaysia” tetaplah tolak mereka itu dari A-A, tetap tolak, kalau mereka mau keluar dari A-A biar keluar! (tepuk tangan). Cuma tadi aku sudah berkata sukur alhamdulillah, sebagian terbesar daripada negara-negara Asia dan Afrika adalah berpendirian sama dengan pendirian Republik Indonesia yaitu menolak “Malaysia” daripada Konferensi A-A yang kedua ini. Ha, wong memang “Malaysia” itu antek, saudara-saudara, antek imperialis.

Ada yang begini, ada negara yang berpendirian begini: Ya, kenapa kok Presiden Sukarno itu kok anti “Malaysia”, “Malaysia” itu kan negara Asia? Ini negara Asia mau ikut dalam Konferensi A-A kok ndak boleh? Bagaimana Presiden Sukarno itu, tidak konsekwen Asia-nya? Ha, inilah saudara-saudara keblingernya negara ini dengan mengatakan bahwa “Malaysia” adalah negara Asia. Tidak “Malaysia” bukan negara Asia! “Malaysia” adalah negara bikinan Inggris di wilayah Asia! Aku telah berkata bahwa Tengku Abdurachman bukan Asian, bukan orang Asia, dia adalah a non Asian. Orang Asia yang sebenarnya bukan Asia. Berulang-ulang saya berkata, “Malaysia” kita tidak bisa terima sebagai negara Asia. Tidak bisa kita terima sebagai negara Asia. Oleh karena, “Malaysia” didirikan oleh Inggris tidak sesuai dengan Manila Agreement. Karena, “Malaysia” didirikan tidak sesuai dengan Manila Agreement, karena, “Malaysia” didirikan untuk contain Republik Indonesia, karena, “Malaysia” didirikan untuk menjaga, menyelamatkan, to preserve “life line of imperialism” yang kataku dari selat Jibraltar, Lautan Tengah, Suez, Lautan Merah, Aden, Samudera Indonesia. Selat Malaka, Singapura, membelok ke Utara, karena, “Malaysia” itu didirikan oleh pihak Inggris untuk menyelamatkan, untuk menjaga “life line of British imperialism” ini, maka Indonesia tidak bisa menerima “Malaysia” sebagai negara Asia. Oleh karena itu Indonesia tetap menolak masuknya “Malaysia” di dalam Konferensi A-A yang kedua. Dan syukur alhamdulillah kataku, sebagian terbesar, bahkan sebagian terbesar daripada negara-negara Afrika, negara-negara Afrika yang sudah berapa kali dicekoki, dicekoki, dicecoki oleh Tun Abdul Razak, oleh Chair Zuhari dan lain-lain supaya negara-negara Afrika ini mau menerima “Malaysia” di dalam Konferensi A-A kedua, saya bisa berkata alhamdulillah, sebagian terbesar daripada negara-negara Afrika ini tidak sudi dan akan menolak “Malaysia” masuk di dalam Konferensi A-A yang kedua (tepuk tangan)

Nah, di dalam hal ini, di dalam segala politik Republik Indonesia, ya bagian “Malaysia”, ya bagian berdikarnya ekonomi, ya bagian berdaulatnya politik. ya bagian berkepribadiannya kebudayaan, selalu PKI adalah berdiri di barisan yang paling depan daripada barisan Indonesia ini (tepuk tangan riuh sekali). Karena itu pun saya tanpa tendeng aling-aling, yo PKI kene dulurku, kene dulurku, yo sanak yo kadang yen mati aku sing kelangan. Memang demikian Saudara-saudara. Manakala saya di dalam Kongres yang ke-VII daripada PKI berkata: PKI “go ahead!” Berdayalanlah terus, artinya go ahead. Sekarang pun saya berkata PKI, go ahead! PKI, maju, onward, onward, onward, never retreat! (tepuk tangan menggelegar).

Saudara-saudara sekianlah sambutanku kepada Ulangtahun ke-45 PKI ini, dan saya mendoakan agar supaya Partai Komunis Indonesia tetap subur, subur, subur, maju, maju, maju, onward, onward, onward, never retreat!

Terima kasih. (tepuk tangan riuh dan seruan “Hidup Bung Karno”, “Hidup PKI” terdengar mengguruh)


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.