Baca EPUB: kami-semua-turunan-pembadjak

4 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
A.D. DONGGO
Kami Semua Turunan Pembadjak
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini dimuat dalam majalah Indonesia, edisi No. 1 Th. XI, Januari-Februari-Maret 1960.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

— Ori,1 panggilnja. Ori, panggilnja lebih keras lagi.

Laki-laki jang dipanggil Ori itu tidak mendjawab, tapi bukan tidak peduli. Dengan mata jang gairah ia memperhatikan anak jang memanggilnja itu mulai dari udjung kaki sampai keudjung rambutnja. Seluruh badan anak itu penuh dilumuri lumpur. Kajak kerbau baru keluar dari kubangan. Laki-laki itu tidak merasa bahwa perbuatan itu adalah laku binatang —, berkubang. Malah ketakdjuban. Takdjub seperti hal itu baru terdjadi dimatanja.

Alam telah bersatu dengan manusia, pikirnja.

— Darimana kau ? Tanjanja walau ia sudah tahu darimana anak itu datang.

— Main sawahsawahan, djawab anak itu tegas.

Lihat, kata lakilaki itu dalam hatinja, ketjilketjil anak ini sudah mentjintai tanah. Bersawah itulah peladjaran jang takpernah dipeladjari disini. Didusun ini. Anakanak djadi bisa sendiri. Alam mengasuhi mereka sedjak mereka lahir hingga mereka memasuki alam dewasa bahwa tanah adalah djathidup. Karena itu tjintailah dia. Djangan membuangbuang tanah ini setapakpun. Tanamilah dia dengan tanaman jang dapat membuahkan buahbuahan jang ledjat. Badjaklah dia dengan ketjintaan karena dia membuahkan kebahagiaan pada turuntemurunanmu. Awas ! „Sedjengkalpun tanah ini takboleh engkau biarkan ditumbuhi rumput jang takberguna, atau membiarkan dia liar atau kowu2 karena hal itu bukan adjaran nenekmojang kita, karena hal itu merugikan kamu.”

— Ori, ulang anak itu lagi.

— Darimana kamu ? ulang lakilaki itu pula.

— Main sawahsawahan, djawab anak itu.

— Kamu bisa badjak ?

— Kenapa tidak ? Sambil berkata demikian anak itu mengatjungkan sebuah badjakbadjakan jang disandangnja sedjak tadi kehadapan muka lakilaki jang dipanggil Ori itu.

— Sendirian ?

— Banjak teman. Si Kasipahu, dan si Dali djadi kerbau, aku dan si Ralo pemegang badjak. Ori mau lihat ! tawar anak itu.

— Ah, tidak, djawab lakilaki itu takatjuh.

— Kenapa tidak ? Kami mempunjai sawah disana, kami barusan menanam. Ori harus lihat, desak anak itu.

— Semua tanah berlumpur. Aku tidak bisa berdjalan dibentjah, tolak lakilaki itu.

— Besok sadja, elak lakilaki itu lagi.

— Sekarang kenapa ?

Lakilaki itu takmendjawab. Perhatiannja bertjabang dua. Ia gairah ingin menjaksikan sawahsawahan anak itu tapi segan mendjalani pekarangan rumah jang berbentjahbentjah. Bila musim hudjan datang seluruh tanah disini djadi berlumpur sedang dimusim kemarau penuh abu jang beterbangan. Dan seperti orangorang tua anakanakpun ramai pula kesawah. Mereka main sawahsawahan sepandjang hari dan sepandjang waktu.

— Ori harus lihat. Ori belum pernah lihat sawahsawahan, bukan ? tawar anak itu lagi.

— Belum, djawab lakilaki itu.

— Karena itu mari aku antar.

— Djangan sekarang. Besok sadja kalau tidak hudjan.

— Kalau tidak hudjan kami tak main sawahsawahan lagi, anak itu mendjelaskan.

Pajah djuga lakilaki jang dipanggil Ori itu mengelak adjakan anak itu. Tapi untung, sebelum keduanja berangkat, ibu anak itu tibatiba muntjul. Melihat badan anaknja penuh dengan lumpur, perempuan itu berteriak:

— Aduuuuh…, kamu berkubang lagi…Kau membiarkan sadja dia berkubang…katanja kepada lakilaki itu.

— Kami sedang mupakat besok akan main sawahsawahan lagi, djawab lakilaki itu.

— Kau harus melarang dia supaja djangan main lumpur sadja, mohon perempuan itu.

— Biarkan sadja, kata lakilaki itu.

— Kami takbisa melarang dia. Tiap hari dia hilang dari rumah dan membadjak sepandjang hari.

Tampééé…, Tampééé…, perempuan itu memanggil. Basuh si Fare biar dia bersih. Sudah itu bawa dia kemari.

Anak perempuan jang dipanggil Tampe itu muntjul lalu membawa anak itu ke belakang. Anak lakilaki itu berdjalan takpeduli. Ia takut pada ibunja. Tapi pada lakilaki jang dipanggil Ori itu ia samasekali tak menundjukan perasaan demikian. Malah dengan mata jang berkedipkedip ia melirik lakilaki itu. Dan lakilaki itu tersenjum karena mendapat lirikan.

— Kami tak bisa melarang dia, perempuan itu mulai lagi setelah anak laki-laki itu meninggalkan mereka. Pernah aku mengurung dia dalam rumah tapi seorangpun takada jang tahu ia bisa lolos sendiri. Ia lari kehudjan lebat dan dengan beberapa orang anak mereka mulai membadjaki sebuah lapangan dibelakang rumah. Itulah sawah mereka, katanja.

— Diwaktu ketjil aku sendiri takpernah berbuat seperti itu. Karena itu aku senang melihat mereka main sawahsawahan, kata lakilaki itu.

— Itu karena salah ajah kita. Sedjak ketjil kau takpernah diadjar mentjintai tanah. Sedjak ketjil kau dipisahkan dari ladang. Kau dikurung dirumah. Sedjumlah saudara-saudara ajah mendjagai kau. Kau takboleh menjentuh tanah karena itu kotor. Kau lakilaki sendiri jang ditjintai ajah. Lebih dari mentjintai ibu. Kau seperti pangeran ketjil. Bila turun kesawah sudah sedia orang jang bakal menggendong kau. Sebuah pajung jang berkembang melati menaungi kau dari terik dan hudjan.

— Karena hal itu aku djadi asing diantara keluarga kita.

— Memang kau djadi asing. Kau tidak mengerti kehidupan petani.

— Itu salah ajah kita seperti kau katakan tadi.

— Memang salah ajah. Ajah memisahkan kau dari kami. Dan oleh pisahan itu kau taklagi memiliki kulit seperti kulit keluarga kita. Kulit jang keras dibakar terik. Kau telah lain. Wadjahmu, kulitmu, taklagi menuruni wadjah dan kulit ajah. Wadjah kau wadjah putjat; ah, wadjah jang tak berdarah. Itu bukan salah kau. Tapi salah ajah. Ajah mau kau djadi orang pintar. Bukan lagi orang penjandang badjak seperti keluarga kita. Dan betapa iri kami melihat kau diperlakukan seperti itu oleh ajah.

Tahu kau, selama tigatahun Ori Hima pulangbalik bersama kau kesekolah. Ori Hima berdjalan disamping Ia Madju sedang kau diatas punggungnja. Memang kau telah diangkat djadi pangeran oleh ajah. Karena kau harus djadi orang pintar. Dan betapa kami semua dianaktirikan karena kasihnja hanja tertudju pada kau.

— Tapi kau taktahu betapa menjesal aku diperlakukan demikian oleh ajah. Kau bisa saksikan sendiri betapa berobahnja aku sekarang. Aku tak bisa melakukan pekerdjaan jang telah diwariskan oleh keluarga kita. Aku djadi patung diantara mereka. Aku tak selintjah mereka. Aku djadi kaku takbisa berbuat sebebas seperti mereka berbuat. Mereka tidur dipondok jang tak berdinding ditengah ladang. Angin malam bersahabat dengan mereka. Dan mereka tidak sakit. Tapi apa aku bisa berbuat demikian ? Tentu sadja tidak mungkin !

— Dan kau tentu masih ingat, waktu kau akan meninggalkan rumah menudju kota untuk melandjutkan peladjaran. Suatu upatjara kepangeranan berlangsung. Karena kau akan berpisah dengan kami. Ajah sangat bangga sekali mempunjai anak lakilaki seperti kau. Dikatakannja bahwa kaulah jang akan mengangkat deradjat keluarga kita dari menjandang badjak turuntemurun itu. Sungguh aku heran mengapa ajah berbitjara begitu.

Dan aku menangis karena berpisah dengan kau. Karena kau adikku. Tapi jang terutama lagi, karena kau betulbetul telah dipisahkan oleh ajah dari kehidupan keluarga jang telah turuntemurun mempunjai tjara hidup sendiri. Memelihara tanah ketanian dan menanaminja dengan ketjintaan jang adjaib bila musim telah tiba. „Sedjengkalpun tanah ini takboleh engkau biarkan ditumbuhi rumput jang tak berguna, atau membiarkan dia liar atau kowu, karena hal itu bukan adjaran nenekmojang kita karena hal itu merugikan kamu”.

Laki-laki jang dipanggil Ori itu tak mendjawab. Dalam hatinja tetap menjesali ajahnja karena dia dipisahkan dari tjara kehidupan asli keluarganja. Tapi pikirnja, meninggalkan tjara hidup demikian ada djuga keuntungannja. Ia dapat merasakan tjara hidup lain dari tjara hidup keluarga jang turun temurun itu. Dan manakah jang lebih menjenangkan dari kedua tjara hidup itu ? Orangtani hidup dalam asuhan alam jang mengadjarkan laku jang spontan tidak banjak mengambil lakaliku seperti jang dilakukan oleh orang kota. Orangtani hidup dalam kebutuhan jang sederhana, tjukup kalau panen djadi, maka hiduplah mereka dengan tenang sampai musim menanam mendjelang datang. Sedang kota,sungguh ia taktahu, banjak kebutuhannja. Tapi diapun suka pada keadaan demikian.

Dan sementara itu anak lakilaki jang disuruh mandi tadi muntjul dengan badan telandjangbulat, lumpur jang melumuri badannja sudah hilang samasekali, tinggal titik titik airmandi jang menitiki seluruh badannja. Ibunja mengeringkan seluruh badannja dan menarik anak itu kepangkuannja. Kulit anak itu kelihatan hitam keras, menandakan sedjak ia mulai beladjar berdjalan sudah berkenalan dengan matahari. Orang lakilaki jang dipanggil Ori itu menjaksikan dengan gairah laku kedua anak beranak itu, tapi lebih lagi kepada anak lakilaki itu. Anak lakilaki itu memandang dengan gairah pula kepadanja dan sebentar kemudian mata kedua mereka beradulah.

— Kau harus membawa dia kekota, kata perempuan itu sambil menjelimuti badan anak itu supaja panas.

— Itu tidak bisa, tolak lakilaki jang dipanggil Ori itu. Ini berarti kau akan memisahkan dia dari sesuatu jang ditjintainja, kata lakilaki itu lagi.

— Dia harus bersih seperti kau. Tidak berkubang dengan lumpur. Kami tidak bisa melarang dia, dia hilang dari pagi hingga sore tidak pernah merasa lapar. Dia terus bergumul dengan badjak.

— Karena dia tjinta padanja. Sebab itu kau djangan pisahkan dia dari tanah ini. Biarlah aku sendiri melakukan pekerdjaan jang tak sedikitpun aku tjintai. Aku melakukan pekerdjaanku karena memang demikian aku harus berbuat, lain tidak, kata lakilaki.

— Ori, tibatiba anak itu memanggil.

— Mau apa kamu ? djawab lakilaki itu.

— Besok Ori harus melihat sawah kami, minta anak itu.

— Kau takboleh main lumpur lagi. Nanti Ori taksuka pada kau, kata ibunja.

— Tapi Ori suka pada lumpur, kata anak itu.

— Ja, aku suka, djawab lakilaki itu. Aku suka pada sawah.

— Dan besok kita membadjak, kata anak itu.

— Tidak, larang ibunja. Kau takboleh bermain lumpur. Kau harus ikut bersama Ori kekota, kata perempuan itu.

— Kekota ? tanja anak itu tak mengerti. Ori, dikota ada badjak ? tanjanja lagi.

— Takada, djawab lakilaki jang dipanggil Ori itu. Dikota takada badjak, ia mendjelaskan.

— Aku tidak mau ikut, tolak anak itu tegas.

— Dikota kau akan mendjadi anak jang pintar, bersih seperti Ori, budjuk ibunja. Perkataan ibunja jang demikian samasekali taktermakan oleh pikiran anak itu. Apa itu pintar, apa itu bersih ?

— Kau mau mengikut aku Fare ? tanja lakilaki itu kemudian.

— Tidak ! djawab anak itu. Dikota takada badjak, takada sawah, katanja lagi.

Mendengar djawaban anak itu demikian lakilaki jang dipanggil Ori itu lalu berkata kepada ibunja:

— Sudahlah, Witi, djangan paksa djuga dia. Anak itu lebih senang disini. Dia tjuma tahu tanah, ladang dan lumpur. Dengan tak kau sadari alam dan lingkungannja telah lebih dulu mendidik dia supaja mentjintai sesuatu jang patut ditjintai. Dengan tak kau ketahui, dengan tak kau adjari anak itu tumbuh dan membentuk dirinja mentjintai pekerdjaan jang diadjarkan oleh lingkungannja. Anak itu main sawahsawahan dan berkubang dengan lumpur karena ia takbisa berbuat lain daripada itu. Apa patut kita merenggut dia dari sesuatu jang dia tjintai ? Tentu sadja tidak bisa, bukan ?

— Tapi dia takboleh berada disini sadja, kata perempuan itu. Karena itu kau harus bawa dia kekota. Disana dia akan berkenalan dengan sesuatu jang belum dikenalnja.

— Dan kau pikir dia akan mentjintainja ?

Aku pikir demikian, karena disana djuga ada tanah, kata perempuan itu.

— Tapi dikota dia takbisa berbuat seperti disini. Tanah kota tanah lain. Alam kota alam lain.

— Djustru karena itu. Dia harus berbuat sesuatu jang lain dari disini, kata perempuan itu.

— Anak itu takakan betah disana, kata lakilaki jang dipanggil Ori itu lagi.

— Itu kata kau.

— Aku takingin dia melakukan pekerdjaan lain selain dari pada apa jang dilakukannja sekarang. Dia tjintai tanah ini karena demikianlah diadjarkan alam padanja. Dan alam lebih djudjur dari kita.

— Tapi dia harus pintar seperti kau.

— Apa jang kau maksud dengan pintar ? Kepintaran kadang-kadang bisa membuat seseorang tidak berperasaan. Kalau perasaan sudah hilang dengan sendirinja tjinta djuga hilang. Kelak bila anak itu sudah pintar dia tak ingat lagi pada tanah, atau pada lumpur. Itu aku tidak mau. Pada hal tanah dan lumpur memberi dia hidup.

— Tapi dia tak boleh mentjintai tanah sadja, kata perempuan itu. Dia djuga harus mentjintai sesuatu jang lain.

— Jang kau maksud ?

— Kepintaran, atau kebersihan seperti kau, ulang perempuan itu lagi.

— Tetapi disini djuga toch ada sekolah. Disini dia bisa beladjar sekolah dan bisa beladjar membadjak. Djadi dua-duanja. Kalau dia dibawah kekota dia akan beladjar tjuma sekolah sadja dan ini berarti kita memisahkan dia dari lingkungannja.

— Kalau kau punja pikiran begitu lebih baik kaupun djangan balik lagi kekota, larang perempuan itu. Kembalilah kemari dan hiduplah seperti kami disini. Itu lebih baik, kata perempuan itu lagi.

— Itu tidak bisa, lakilaki itu mengelak.

— Bisa sadja kalau kau mau.

— Apa jang akan kau kerdjakan ?

— Membadjak seperti kami. Seperti anak lakilaki itu. Kau tjinta sawah kau kata.

— Memang aku tjinta sawah. Tapi bukan seperti kalian. Kalian mentjintai dan menanaminja. Aku tidak bisa berbuat begitu. Semuanja telah berobah. Dan ini salah ajah kita.

— Tapi apa salahnja kalau kau mulai, desak perempuan itu.

— Itu tidak mungkin. Kalau aku mulai berarti aku akan merobah letak urat dan seluruh sel-sel dalam tubuhku. Dan ini dapat kau bajangkan betapa sakitnja aku.

— Tapi darah kita darah petani.

— Memang betul. Tapi buat aku hal itu sudah liwat dan ini bukan salah aku. Aku tetap menjesali ajah kita. Ajah memisahkan aku, kau dan anak itu. Memisahkan dari darah ketanian jang telah kita miliki.

— Jah, salah ajah kita, kata perempuan itu mengeluh.

Lakilaki jang dipanggil Ori itu takberkata lagi. Perempuan itupun tidak. Mereka berdua saling menjesali perbuatan ajah mereka karena telah memisahkan mereka. Lakilaki itu memang mentjintai tanah, tapi apalah jang dapat dia lakukan dengan ketjintaan itu ? Segalanja telah berobah. Karena itu ia tak mau membuat kesalahan pula seperti ajahnja. Ia tak mau membawa anak itu kekota karena itu berarti memisahkan dia dari tanah dan lumpur jang ditjintainja. Biarlah anak itu tumbuh djadi besar dan hidup dalam kebebasan seperti diadjarkan alam kepadanja. Dan dia biarlah dia melagukan adjaran ini kemana sadja ia pergi karena adjaran itu takbisa dipisahkan dari darah dagingnja: „Sedjengkalpun tanah ini takboleh engkau biarkan ditumbuhi rumput jang tak berguna, atau membiarkan dia liar atau kowu, karena hal itu bukan adjaran nenek mojang kita, karena hal itu merugikan kamu”.


1bahasa Bima = paman


2Idem. Artinja: Suatu tanah pertanian jang takpernah dikerdjakan terutama karena malas dibiarkan begitu sadja mendjadi tanahliar, itu dinamakan kowu.