Baca EPUB: Sinar Mata Penuh Harapan: Kumpulan Cerpen Perempuan Api Kartini (1959-1964)

38 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SINAR MATA PENUH HARAPAN
  2. KUMPULAN CERPEN PEREMPUANAPI KARTINI (1959–1964)
  3. SUGIARTI SISWADI · SULAMI · S. DJIN S. RUKIAH· RUKMI · S. PUDJOSEDJATI S. WATI · RATIH · ANONIM
  4. KOLOFON
  5. DAFTAR ISI
  6. TAHUN I(1959)
  7. Mimpi — Sugiarti Siswadi (Juli 1959)
  8. Orang-Orang Sebatang Kara — Sugiarti Siswadi (Agustus 1959)
  9. Dua Tanaman Liar
  10. Hati Nurani
  11. Babu Minah
  12. TAHUN II(1960)
  13. Malam Tahun Baru — Sugiarti Siswadi (Januari 1960)
  14. Semi, Gadis Gunung — Anonim (April 1960)
  15. Kisah Hati di Bulan Mei
  16. Yang Kesepian — Sugiarti Siswadi (Juni 1960)
  17. Merebut Kampung “Mutiara”
  18. Matinya Buto Ijo
  19. Pahlawan di Lereng Gunung Ungaran
  20. TAHUN III(1961)
  21. Pertemuan — S. Djin (Januari 1961)
  22. Si Udin Ketua Kelas
  23. Kebaya Biru Berkembang Merah
  24. Panen Bagi Semua — Anonim (April–Mei 1961)
  25. Rahasia
  26. Anak-Anak Muda — Sugiarti Siswadi (Desember 1961)
  27. TAHUN IV(1962)
  28. Pulang
  29. Pesta Hari Besar
  30. Hidangan 17 A.G:Di Tikungan Benteng Yogya
  31. TAHUN V(1963)
  32. “Patonah”
  33. Hadiah Ulang Tahun
  34. “Antri Minyak”
  35. TAHUN VI(1964)
  36. Inah, Penjual Kopi
  37. Elang Rajawali
  38. Kebanggaanku
  39. DAFTAR PUSTAKA
  40. CC BY-SA 4.0

SINAR MATA PENUH HARAPAN

KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN

API KARTINI (1959–1964)

SUGIARTI SISWADI · SULAMI · S. DJIN

S. RUKIAH· RUKMI · S. PUDJOSEDJATI

S. WATI · RATIH · ANONIM


KOLOFON

SINAR MATA PENUH HARAPAN

KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN

API KARTINI (1959–1964)

SUGIARTI SISWADI · SULAMI · S. DJIN

S. RUKIAH · RUKMI · S. PUDJOSEDJATI

S. WATI · RATIH · ANONIM

Ilustrator

W. Nirahuwa

Dikumpulkan dari

Majalah Api Kartini

1959–1964


Transcriber

k-Jank

Editor

F. Indah, k-Jank

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].



TAHUN I

(1959)


Mimpi — Sugiarti Siswadi (Juli 1959)

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun I, No. 2, Juli 1959

Istilah catut terbit di zaman Jepang. Entah, mengapa justru kata “catut” itulah yang dipakai. Mengapa bukannya misalnya “menggergaji”, sedang sesungguhnya menggergaji akan menghasilkan lebih banyak daripada mencatut. Mungkin nanti seketurunan lagi, ahli-ahli bahasa akan memberikan definisi tentang arti kata catut itu, sebab rupa-rupanya mencatut itu berkembang juga pada masa sekarang, dan yakin seketurunan lagi cucu-cucu kita tidak mempunyai gambaran lagi apa dan bagaimana bentuk dan cara-cara “mencatut” itu. Seperti juga halnya anak-anak kita yang masih kecil tidak mengerti dan mengenal “raja”.

Pada zaman Jepang, hampir semua orang mencatut, atau setidak-tidaknya dicatut. Banyak kisah-kisah lucu tentang nyatut ini. Pernah ada dongeng, orang mencatut akhirnya tercatut sampai habis-habisan. Berbekal selembar sarung, seminggu kemudian berubah menjadi kebaya wanita—memang tak ada kebaya lelaki—, tiga hari lagi menjadi selendang pelangi, dua hari kemudian menjadi peci, karena kurs selendang sudah turun, empat hari kemudian menjadi sandal sepasang, dan akhir-akhirnya berganti rupa menjadi sepiring nasi soto, karena seret sekali lakunya sepasang kulit sapi mentah itu. Dan ketika akhir-akhirnya si catut itu mengenang-ngenangkan asal sepiring soto itu ia terkejut setengah mati, karena justru pada zaman Jepang itu kain dan sarunglah yang pegang peranan dalam pasaran.

Pak Dasuki mencatut juga. Bukan pekerjaan baru baginya, hanya menyesuaikan cara kerja dengan perkembangan zaman. Sejak dahulu jabatannya ialah pedagang barang-barang bekas, dengan modal mulut dan lutut. Lutut ini jasanya ialah mengayuh sepeda tuanya. Rupanya pada zaman Jepang bintangnya terang. Dari seorang yang hidupnya Senin Kamis, karena berkah keanehan zaman ia bisa mendirikan rumah di gang yang agak besar. Zaman Jepang ia menjelajah seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Barang-Barang dagangannya, macam-macam. Apa diminta oleh pasaran, ia mempunyai dan dapat menyediakan dengan sistem mencatut. Kediri, Semarang, Temanggung—di kota akhir ini ia menjual belikan jimat—, Surabaya ia jelajah. Rupanya semakin kurus dan hitam, dan ia mempunyai kecakapan baru, menggandul kereta api dan memanjat jendela sepur, serta mengabui penjaga pintu stasiun. Kereta selalu padat dan sesak, orang-orang Indonesia hampir semua menjadi akrobat, mereka berpegang dengan sebelah tangan yang dipencet di bordes, dan kaki sebelah saja yang bisa tegak di lantai sepur, sebelumnya setengah tergantung, dan begitulah mereka berkereta setengah hari. Atau berbaring telungkup di atap kereta. Ngeri dan geli kelihatannya, mengingatkan nenek-moyangnya dahulu, bangsa kera.

Perjalanan Dasuki ke Surabaya yang terakhir, hampir ditebus dengan jiwanya. Ia mengalami pemboman tentara Sekutu di kota bandar itu. Selang sebulan baru ia dapat pulang kembali ke kotanya, dan ia menceritakan kengerian pemboman itu, serta bagaimana ia pucat setengah mati berlindung di lobang. Ia sungguh-sungguh tidak tahu; siapa yang harus dijagoinya dalam peperangan itu. Waktu berlindung di lobang itu, ia tak tahu bagaimana ia harus berdoa, kecuali doa agar lubang perlindungannya itu selamat dari serangan pesawat terbang. Ia tidak mendoakan agar Sekutu tidak menyerang lagi, karena hati kecilnya berkata, bahwa masa Jepang adalah masa tidak kekal, masa yang tidak sewajarnya dan harus berakhir. Tetapi mengharapkan Sekutu menang tidak juga, karena dalam zaman Jepang telah timbul kebenciannya yang mendalam kepada orang-orang kulit putih. Sungguh-sungguh ia tidak tahu, bagaimana ia harus berdoa dan mengharap agar keadaan ini, penghidupan aneh zaman Jepang bisa berakhir.

Semenjak pemboman pesawat Sekutu itu ia tak berani lagi menginjak Surabaya.

Pada suatu hari, ia bertemu seseorang sahabatnya disebutah kota di Jawa Tengah, ketika ia mampir sedang bertugas. Pembicaraan sangat asyik, ke barat ke timur, karena mereka sahabat karib. Dan Dasuki bukanlah seorang yang pelit, selalu kalau habis ia mendapat pukulan ia royal sekali. Tuan rumah ini, yang tidak ikut-ikutan mencatut hidupnya melarat, dan kedatangan Dasuki setiap waktu berarti tambahnya uang belanja untuk setengah bulan.

“Masih terus jalan, dik?”

“Ya, Mas. Sekarang sedang laku benang tenun. Sayang sekali aku tidak lagi ke Jawa timur.”

“Mengapa? Dahulu kerap kan ke Surabaya. Ah, ingin betul aku melihat kota itu sekarang. Pernah aku diam di sana, lebih kurang lima tahun.”

“Hampir aku mati di Surabaya, Mas.”

“Lho, kenapa? Sakit?“

“Tidak. Bertepatan dengan serangan udara dulu itu.”

“Di Surabaya adik waktu itu?”

“Ya, Mas. Untung juga masih hidup, bisa cerita bagaimana dahsyatnya pertempuran. Untung-untung, Tuhan masih memelihara nyawaku, coba, Mas, tempat penginapanku yang biasanya, hancur kena bom. Untung-untung, ketika aku ke sana, penginapan itu penuh sesak, coba tidak...”

Dasuki menceritakan kembali jalannya peperangan itu, dari apa yang dilihatnya dalam perlindungan, dan berdasarkan cerita kawan-kawan yang lain. Tuan rumah mengangguk-angguk, dan hanya menambah geleng-geleng keheranan. Sedang mereka asyik bercerita, datanglah tetamu tetangga tuan rumah. Dasuki kita ini pun kenal juga, dan mereka bertiga mengobrol dengan asyik. Oleh-oleh Dasuki yang pemurah itu memenuhi meja, dan mereka tak kenal waktu.

“Adik kita ini menyaksikan pertempuran di Surabaya. Serangan udara. Serangan Sekutu.”

Tetamu ini menunjukkan rasa kaget dan kagum. Dasuki lalu bercerita lagi dari permulaan. Rupa-rupanya pengalaman yang aneh ini sangat mengesan di hatinya, hingga tak bosan-bosan ia mengulang-ulang di mana pun juga.

“Mas, Mas. Aneh mengapa sesuatu itu dapat mempengaruhi begitu rupa. Bermalam-malam aku termimpi-mimpi peristiwa Surabaya itu. Tetapi tidak pernah aku perhatikan, aku tahu itu hanya terbawa saja.”

Dasuki diam, dan mengepulkan rokok Koanya seraya memandang langit-langit. Seperti ia berpikirkan sesuatu yang rumit.

“Nenek moyang kita itu memang pandai, dapat meramalkan sesuatu. Coba, kata kyai di Temanggung, zaman Jepang ini umurnya hanya seumur jagung. Saya pikir-pikir, masa seumur jagung. Kalau begitu, kan zaman Jepang itu sudah lampau. Tetapi rupanya hitungannya lain juga. Yang perlu tiga setengahnya itu. Jagung usianya tiga setengah bulan, tetapi untuk tamsilnya bukannya tiga setengah bulan, melainkan tiga setengah tahun. Baiklah kita cocokkan Mas.”

Ia berhenti bicara dan merenung-renung. Walaupun ia seorang tukang catut yang lahirnya hanya pemburu uang, tetapi Dasuki biasa memikir-mikir, dan terutama ini disebabkan karena penghidupannya yang aneh itu. Bintangnya terang sekarang, tetapi rupanya tidak memberikan kepuasan di hati kecilnya.

Tuan rumah hanya mengangguk-angguk saja dan memadamkan puntung rokoknya di cawan cangkirnya. Ia seorang yang biasa saja, tidak pernah mengeluh, tetapi tidak pernah juga mengapi. Apa yang ada di hadapannya, nampak nyata dan terang, itulah yang dilihatnya. Hidupnya rata saja, karena ia tak berani menempuh atau menanggung resiko.

“Mas, Mas, aneh sekali. Seminggu yang lalu aku bermimpi. Aku pikir-pikir tentulah itu bukan terbawa-bawa peristiwa serangan di Surabaya itu, sebab itu sudah lama lampau, tidak pernah lagi kukenang-kenang. Seolah-olah aku mendengar dengungan pesawat terbang. Dan ketika aku perhatikan—dalam mimpiku itu—maka di angkasa menghitam ratusan pesawat terbang, dan serentak menjatuhkan beratus-ratus bom. Bumi terbakar, Mas, dan aku pucat takut bersembunyi di kolong tempat tidurku. Nyaris aku kena bom, Mas. Tetapi selamat. Ketika aku terbangun keringatku membasahi bajuku. Aku takut Mas, dan ngeri, lebih negeri daripada ketika aku di Surabaya dulu itu. Cepat-cepat, paginya aku menggali perlindungan di kebun belakang rumahku, siapa tahu, mimpi itu bukan hanya bunga tidur saja, tetapi suatu isyarat. Dan kalau kita hitung-hitung masa yang seumur jagung itu hampir sampai juga batasnya.”

Ia tertawa kosong, seperti ia tak tahu, bagaimana harus bersikap sesudah mengeluarkan sesuatu yang menindih hatinya.

“Baiknya Mas bikin jugalah lubang perlindungan di kebun. Dan saudara juga, siapa tahu kapan-kapan kota kita ini akan diserang oleh Sekutu,” tambahnya, menasehati tuan rumah dan tetangganya.

Tetangga ini bangkit berdiri dan berkata.

“Maafkan, aku ada perlu, permisi sebentar. Mas Dasuki nginep di mana malam ini?”

“Di sini sajalah tidur,” kata tuan rumah: “Sayang uang dibuang-buang.”

Tetangga itu pulang, dan kedua sahabat itu meneruskan bercakap-cakap.

Tetapi, selang setengah jam, terdengarlah deru mobil berhenti di depan pintu. Kemudian suara derap sepatu dan gumam dalam bahasa Jepang. Lalu suara seorang Indonesia.

“Betul di situ, Tuan.”

Dasuki dan tuan rumah berhenti bicara, dan mereka mendengarkan suara-suara di luar dengan saksama, dan takut-takut. Mobil di waktu malam, dan derap sepatu. Tidak salah lagi, tentulah tentara Jepang, kenpeitai.

Tidak salah. Pintu digedor dengan keras, dan seorang seradamu masuk dengan kasar.

“Mana Dasuki san—ya?”

Dasuki berdiri dengan menggigil.

Sebuah tempeleng melayang di pipinya, disusul bertubi di kepala, dan tendangan di badannya. Dasuki mengerang sedikit, tetapi ia mencoba berdiri.

“Salah apa, tuan Nippon, saya tidak apa-apa.”

“Mata-mata ya, bohong ya? Hayo, pergi ikut kami orang. He, kamu orang ikat ini mata-mata bagero ya?”

Dasuki diikat, dan dipukuli lagi. Ia mengerang-erang. Tuan rumah dibentak, dan ia terkejut.

“Dasuki apa saudara, apa adik?”

“Saudara, Nippon san. Saudara.”

“Punya saudara bagero ya?” Dan tuan rumah ini ditempeleng juga.

Dasuki diseret keluar, dan sebentar kemudian mesin mobil menderu.

Malam sepi dan menekan di rumah itu. Tuan rumah itu duduk dengan ketakutan di serambi dalam dengan istrinya yang menangis tidak bersuara.

“Jangan takut Bu, asal kita tidak ikut apa-apa, tentu tidak membahayakan kita,” sebetulnya hatinya sendiri takut setengah mati. Istilah dikenpei—artinya ditangkap kenpeitai—sudah cukup mendirikan bulu roma orang yang pemberani seperti apa pun juga.

“Bagaimana bisa terjadi, dan apa sebabnya?” pertanyaan itulah yang mengganggu hatinya.

Seminggu ini, tetangga mereka sebelah tidak menampakkan diri. Dan ketika mereka dengan tak sengaja bersua, dan diberitahukan kepadanya, bahwa Dasuki malam itu ditangkap kenpei sehabis dia pulang, tetangga ini terkejut. Tetapi ia mesti belajar main sandiwara dulu, karena kepura-puraannya nampak sekali. Tuan rumah ini semakin takut, dan malam-malam di pembaringan, ia berbisik kepada istrinya:

“Hati-hati bu, dik Karto sebelum ini rupanya mata-mata kenpetai. Ia rupanya yang melaporkan dik Dasuki malam-malam dulu. Ia permisi pulang bukan? Nah, rupanya ia lapor.”

Tiga bulan kemudian, Dasuki pulang dari sekapan kenpei. Badannya kurus kering dan giginya tanggal tiga buah. Kepalanya biru matang. Dan ia pendiam sekali. Hanya matanya yang liar.

Ia mampir ke rumah sahabatnya dulu itu, akan mengambil barang-barangnya yang ditinggalkan.

“Bagaimana dik?” tanya tuan rumah takut-takut.

Dasuki tersenyum. Dengan peringisan sakit, sebab mulutnya masih bengkak ia bercerita.

“Aku ditangkap dan disiksa Jepang karena aku bermimpi itulah Mas.”

“Ya, mimpi?” tanya tuan rumah keheranan.

“Ya, mimpi melihat kapal terbang beratus-ratus itu, dan mimpi kota ini diserang.”

Dasuki diam, dan meringis.

“Tahu kau Mas siapa yang lapor?” matanya mengisyaratkan tetangga sebelah.

Tuan rumah mengangguk tanda mengerti.

“Mengapa kau mimpi? Begitu Mas bentak si Jepang kate itu. Ya, mengapa aku mimpi, aku pun tak tahu juga, bagaimana saya mesti menjawab. Bagero, ya, mimpi kapal terbang Amerika, ya? Mata-mata, ya? Coba Mas, siapa tidak geli. Ya, dah pukul dah, tendang dah, dijemur, pendek disiksa setengah mati.”

“Ya, ya, ya, mengapa aku bermimpi.”

Ia terheran-heran sendiri. Semestinya mereka tertawa kegelian. Tetapi dalam zaman penindasan pun, bisa juga orang disiksa karena tertawa. Jadi, mereka hanya meringis.

“Begini dik, jangan sampai kau ceritakan kepada siapa pun bahwa kau ditangkap kenpeitai karena bermimpi. Takut-takut nanti ada berekor lagi.”

Tetapi, untunglah Dasuki tidak perlu lama-lama menyimpan rahasianya itu, karena tiga bulan kemudian Jepang kalah, dan Indonesia merdeka. Dan Dasuki mempunyai cerita nyatanya, di samping pengalamannya menjadi tukang catut di Surabaya.

Sekarang giginya yang tanggal itu sudah diganti dengan gigi mas, dan jabatannya yang lama masih diteruskannya.

Hanya, tentunya kalau boleh ia mengajukan tuntutan, dialah orang yang termasuk pertama-tama mendapatkan pampasan Jepang, di samping beratus-ratus, beribu-ribu korban teror fasis Jepang, tawanan-tawanan yang meringkuk di penjara kenpei, dan janda-janda romusha di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan tempat lainnya. Dan juga Rakyat-Rakyat di desa yang mati karena beri-beri.

Kalau kita ingat ini, tentulah lebih ringan hati kita semua.



❀❀❀


Orang-Orang Sebatang Kara — Sugiarti Siswadi (Agustus 1959)

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun I, No. 3, Agustus 1959

Makin tinggi hari, barisan pengungsi bukannya semakin berkurang. Berbondong-bondong orang-orang yang berpunya dan tidak berpunya menyusur jalan-jalan kecil, menggendong apa yang dapat digendong, menyunggi, memikul dan membimbing kekayaannya yang paling berharga...anak-anaknya. Jalan-jalan kecil itu yang penuh dengan manusia mempunyai suasana yang aneh, sepi sedih dan muram dalam segala keterburu-buruan. Ayah-ayah, kakak lelaki dan semua anak lelaki berjalan di depan iring-iring dan keluarga, membawa barang-barang yang paling berat, beberapa malahan menuntun ternaknya, ibu-ibu, wanita-wanita dan nenek berjalan tersuruk-suruk di belakangnya, menuju ke sesuatu tempat yang belum diakui benar di mana, namun yang telah terhujam di hatinya: di tempat baru itu masih dapatlah mereka berseru merdeka dan diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih serta menyanyi sorak-sorak bergembira.

Mereka meninggalkan segala-galanya di kota yang gila terbakar itu, tidak hanya karena takut hujan peluru, tetapi juga karena mencari kedamaian hati, ketenangan dan keyakinan, dapat menghirup udara merdeka. Memang datangnya yakin itu, bukannya seperti taufan yang dahsyat, tidak, ia seperti angin lembut sepoi-sepoi membawakan lagu, merdu abadi yang berbisik pada manusia, di saat seperti apa pun juga, dan terutama pada kesepian dan keputusasaan, musik itu memberi kekuatan kembali, dan memberi irama pada langkah-langkah pengungsi yang kepayahan itu.

Matahari gila berkuasa di langit yang biru tanpa awan, dan rombongan itu sekarang menyusur jalanan panjang tanpa perlindungan. Pohon-pohon di pinggir sudah lama tua, dan jatuh ditebang di pinggir terbentang sawah yang kering, karena penghuninya telah lama melarikan diri, dan sayup-sayup hanya nampak getaran panas menggelombang-gelombang di cakrawala. Setengah sadar pengungsi-pengungsi itu mempercepat langkahnya.

Kanak-kanak dan bayi-bayi mulai merengek-rengek, tetapi mereka tidak peduli. Dalam tempat seperti ini, ya seperti ini yang tidak berperlindungan, apa pun bisa terjadi. Mudah-mudahan tidaklah.

Tetapi, ketika matahari sedikit saja memiringkan tubuhnya, terdengarlah deru mesin terbang jauh dari sebelah Barat. Pengungsi-pengungsi menengadahkan mukanya, dan hantu maut yang sangat ditakuti itu makin mendekat. Beberapa pesawat terbang merendah, kemudian terdengarlah bunyi yang dahsyat beruntun-runtun, menghujani manusia di bawah langit terik itu. Dalam sekejap mata semuanya kacau balau. Kepala keluarga yang berdiri di depan barisan mengeluarkan perintah berlindung, bercampur baur dengan kacaunya, dan anak-anak buahnya terpencar-pencar, mencari hidup sendiri. Rupanya kedahsyatan itu tidak berhenti di situ saja, sebentar kemudian menderulah tank-tank musuh meratakan jalan panjang yang tandus itu. Senapan mesinnya terbatuk-batuk sambil berlari, dan debu berterbangan. Entah berapa lamanya kedahsyatan itu, masing-masing mempunyai jamnya, ialah sesuatu yang berdetik-detik di rongga dadanya. Ukurannya tidak sama untuk tiap-tiap orang, ada yang cepat, dan lalu berhenti, ada yang cepat memburu-buru, dan terlepaslah anak dalam bimbingan, ada yang lambat perahan-lahan dalam rintihan luka-luka di parit-parit.

Ketika setan-setan itu akhirnya pergi, dan di jalan itu menjadi lebih lengang dan menyeramkan, orang-orang yang mencari kemerdekaan itu bangkit mengerang-erang. Kemerdekaan yang diburunya telah memberikan ujian, memberi harga betapa mahalnya. Keluarga-keluarga mencari-cari anggotanya yang berceceran, menangis anaknya yang tak berdosa mengucurkan darah di lengan dan kaki, dan meraung-raung pada hidup yang sampai di janjinya. Mereka terpaksa berhenti di tengah jalan, membebat, membalut, mengubur, menangis dan mencari.

Ketika malam turun rombongan yang tidak saling kenal tadinya itu, dan sekarang dipersatukan oleh nasib, sampai ke sebuah dusun yang tidak berpenghuni. Mereka masuk rumah-rumah kosong yang masih lengkap perabotannya, dan membaringkan badannya dengan lesu, tetapi dengan tekad yang lebih kuat lagi. Seorang perempuan muda, tersesat memasuki sebuah rumah bersama-sama dengan rombongan keluarga lain dari tadi, mukanya suram, dan ia sangat kebingungan. Tetapi tiada seorang pun yang memperdulikannya, karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri. Ia duduk merenung di pojok rumah, ketika beberapa orang mulai menggelar tikar bantalnya dan membaringkan badannya. Ia melihat kiri kanan, dan menghala nafas panjang-panjang. Kemudian digelarnya tikarnya di pojok yang terasing, dan ia membaringkan badannya.

Malam dingin turun, dan rumah itu gelap tiada berpelita. Orang-orang takut memasang lampu. Makhluk-makhluk pencari kemerdekaan itu, merapatkan selimutnya, atau merapatkan badannya pada anak dan istrinya, dan hilanglah separuh dari penderitaan dalam kehangatan antara manusia itu. Rintihan-rintihan kesakitan telah tiada lagi terdengar.

Perempuan muda itu melengkungkan badannya yang menggigil di lantai yang kering dingin itu, sambil merapatkan kain panjangnya, tiba-tiba lututnya terantuk sebuah kepala kecil. Anak kecil itu terbangun kena sentuhan lutut dan duduk, kemudian dengan gerakan yang mengharukan merebahkan badannya di depan perempuan muda itu, serta memeluk lehernya dengan kuat-kuat. Perempuan itu mengusap-usap kepala kecil itu setengah tidak sadar dalam gumamnya, memanggil sebuah nama yang sangat disayangi: “Giman”, dan memeluknya lagi dengan mesra, kemudian tertidurlah lagi.

Pagi telah datang mengintai, dan perjalanan yang jauh memanggil lagi. Orang-orang sudah bangun, mencuci muka dengan air dingin seperti es, buru-buru memasak air, minum seteguk, lalu berjalan lagi.

Anak kecil...“Giman”...duduk di sudut, dengan mata kepingin melihat orang-orang itu minum kopi, dan tersipu-sipu melihat Ibunya yang dipeluknya semalam-malam. Perempuan muda itu kini melihat “Giman”-nya dengan acuh tak acuh, kejadian semalam hanyalah impian saja. Ia berdiri membuka pintu, bersama-sama dengan rombongan lain meneruskan perjalanan, ke mana, entah.

Ketika rombongan itu sampai ke batas kota merdeka, mereka berhenti melepaskan lelah, di bawah pohon-pohon yang rimbun, sambil menunggu kawan-kawan di depannya sedang diperiksa oleh anggota-anggota tentara. Lagi-lagi suatu ujian kemerdekaannya. Di kota merdeka itu mereka dicurigai, dan tidak diterima seperti apa yang diharapkannya.

Mereka hanyalah anak-anak yang setia, bukannya anak-anak yang perwira, pandu dari Ibunya, pengungsi-pengungsi itu.

Laskar-laskar itu masih kecil-kecil, muda-muda, dan pakaiannya lusuh. Sambil memeriksa, mereka menanyakan situasi medan perang yang terakhir, menggeleng-gelengkan kepala, dan mengeluarkan kata-kata makian kepada Belanda. Anak-anak sekecil itu, yang mengenal bedil, baru pada waktu menyerbu tangsi-tangsi Jepang, berhadapan dengan serdadu-serdadu yang terlatih dalam Perang Dunia II, tetapi orang belum pernah mendengar, bahwa anak-anak kecil itu pernah menjadi pengecut.

Pengungsi-pengungsi itu melewati pintu penjagaan, dan mereka yang tebal perbekalannya meninggalkan kelezatan bagi perjurit-perjurit kecil itu sebungkus rokok, sekaleng susu, sebungkus dendeng, sebotol minyak rambut, biskuit-biskuit, maklumlah kota yang baru ditinggalkannya sudah mulai kebanjiran barang-barang mewah dari para pedagang-pedagang dari kota-kota pantai.

Beberapa orang yang dianggap “mencurigakan” disimpan, di belakang gardu penjagaan, dan orang-orang mulai sangsi-sangsi lagi akan nasibnya.

Perempuan muda itu bangkit berdiri, dan mengikuti rombongan orang-orang itu dengan acuh tak acuh. Pikirannya buntu, dan kemiskinannya memang menyolok. Sebungkus kecil beban dipanggul di bahunya yang lemah dan matanya kuyu. Tiba-tiba dirasanya langkahnya tertegun. Ia berhenti dan menoleh. Giman semalam yang memeluknya erat-erat memegang ujung bajunya. Air matanya menetes sebesar mutiara, dan badannya menggigil.

“Aku takut, takut, ayo lari, ada orang bawa bedil,” serunya terhisak-hisak.

“Ah, mengapa takut. Mana Ibumu?”

“Mati, ditembak oleh orang bawa bedil. Bapak juga,” dan ia terduduk menangis.

“Aku takut, ayo lari, nanti ditembak pula aku.”

“Jangan takut, nak, itu tentara kita, bukan Belanda,” bujuk perempuan itu.

Matanya sudah tidak lagi pudar, dibimbingnya anak yang menggigil itu dengan langkahnya yang lebih pasti, menuju gardu penjagaan. Gimannya menggeletar dan erat-erat berpegang pada tangan perempuan muda itu.

“Siapa nama mbakyu?” tanya laskar pendek kecil itu. Perempuan muda itu mengucapkan suatu nama dengan lembut.

“Dengan siapa mengungsi?”

“Anak saya.”

“Suami?”

“Ditawan Belanda di penjara Ambarawa.”

“Mana anaknya?”

“Ini,” sambil didukungnya Giman.

“Nama?”

“Giman.”

“Bukan,” seru anak itu: “namaku Slamet, bukan Giman.”

“Ya, Slamet, panggilannya Giman,” jawab perempuan muda itu. Laskar itu tertawa.

“Memang dik, Slamet lebih gagah dari Giman.” katanya. Lakar itu tertawa.

“Namaku Slamet Raharjo,” seru budak itu lagi.

“Ya, ya.” sahut perempuan muda itu: “Makanya kau Slamet dan Rahardjo tidak mendapat bencana. Tetapi kita pakai saja nama Giman ya untuk sehari-hari? Slamet Rahardjo kita pakai setiap Lebaran saja.” Laskar itu tertawa.

“Ini, mBakyu, secarik keterangan, pergilah ke dapur umum, minta ransum. Ini untuk dik Slamet Giman bantu baik-baik Ibu ya.”

Tiba-tiba Giman yang sudah diturunkan dari dukungan itu lalu memeluk “Ibu”nya erat-erat, dan memanggil: “Ibuku, ibuku.”

Beberapa orang yang berbaris di belakang perempuan muda itu terheran-heran, melihat peristiwa itu, karena kemaren siang, ketika rombongan pengungsi itu diserang Belanda, ia melihat perempuan muda itu berkali-kali jatuh pingsan di samping mayat anaknya, seorang budak laki-laki sebesar “Giman” itu.

Ketika dua tahun kemudian perempuan muda itu kembali ke kota asalnya, karena Belanda sudah pergi, ia tahu, bahwa semenjak ia menemukan kembali anaknya Giman Slamet, setelah menguburkan anaknya sendiri, mereka berdua adalah orang-orang-sebatang kara.

Suaminya telah mati tersiksa dalam penjara Ambarawa.

Berdua, dengan Gimannya, mereka meneruskan menempuh jalan panjang, yang tidak kalah musykilnya dari jalannya dua tahun yang lalu, menuju apa yang belum dicapainya selama ini: Kemerdekaan sejati.



❀❀❀


Dua Tanaman Liar

S. Rukiah

Api Kartini, Tahun I, No. 5, Oktober 1959

Maka datanglah Armini di tempat itu sebagai pindahan baru. Dengan penuh rendah hati, ia terseyum hormat kepada tetangga-tetangga di sekitar rumahnya yang baru itu, karena ia sadar, bahwa dialah satu-satunya wanita termuda yang turut menderet wanita-wanita setengah tua itu yang sesungguhnya mereka tidak pantas lagi untuk menjadi teman atau pasangannya.

Ia perhatikan mereka satu demi satu dengan perasaan tahu-diri, bahwa mungkin dialah satu-satunya wanita rumah-tangga yang belum pintar menempati rumah-tangga atau dialah mungkin yang paling bodoh di antero nyonya-nyonya rumah-tangga yang sekian jumlahnya melingkungi rumah barunya.

Maka setelah ia rampung mengurus barang-barang pindahannya yang serba sederhana itu dan mencocokkan dirinya, pelan-pelan kenallah ia dengan semua tetangga di sebelah-menyebelah rumah barunya.

Seorang tetangga di belakangnya, tidak begitu menarik perhatiannya.

Ia kelihatan lebih tua daripada suaminya yang tampaknya si suami itu lebih gagah, tampan dan amat berkuasa. Jika Armini sekali-sekali sibuk di belakang mengatur kebunnya, maka terdengarlah bentak dan tegur si suami dengan tiada perlawanan sedikit pun dari si istri. Perintah keluar bertubi-tubi, dari mulai celana-dalam, handuk, sikat gigi yang harus sudah tersedia di kamar mandi, hingga sambal kecap yang diharuskan pakai irisan bawang mentah untuk sarapan pagi, sampai-sampai ke sepatu dan kaus kaki berikut tas dengan segala tetek-bengek kantor yang dimestikan siap sebelum berangkat kerja. Dan jika sekali-sekali Armini berdiri di beranda rumahnya sewaktu jam kantor bubar, lalu terdengar suara jip yang mengantar si suami itu pulang, maka tampaklah olehnya, si wanita yang di belakang itu lari-lari ke ujung jalan menjemput suaminya sambil tak lupa membawakan tas dan kertas-kertas, ia berjalan mengiringkan si suami dari belakang dengan tawakkal! Kemudian ramailah terdengar soal makanan di meja makan, dari mulai sambal terasi yang diharuskan pakai jeruk pecel sampai-sampai ke goreng kripik tempe yang tidak boleh terlalu kering dan juga tidak boleh setengah matang.

Jika Armini mengintip cara hidupnya sehari-hari, si wanita yang di belakang ini sungguh menjemukan. Pandangan dan persoalan yang dihadapinya hanya yang itu-itu juga. Tak pernah ada soal baru yang menyelingi hidupnya. Seperti bulat-bulat disodorkannya seluruh hidup dan tenaganya kepada si suami seorang yang dipandangnya amat keramat itu. Amboi, jika umpamanya saja ia punya bakat yang lain daripada kewajiban rumah tangga dan suaminya, ke manakah si bakat itu harus dibawa dan dikembangkan? Armini, kadang-kadang mengeluh kasihan. Haruskah si istri itu menghabiskan umur dan seluruh energinya dengan cara yang demikian jahanamnya?

Kadang-kadang ia melihat si suami pergi malam-malam dan nonton sendirian, sedang si istri duduklah di rumah menjaga kunci dan pintu dengan tawakkal!

Armini tak mengerti. Masih adakah satu cara hidup yang begitu menyimpangnya dari semboyan-semboyan yang mereka bikin sendiri? Armini tahu, bahwa golongan mereka, punya semboyan yang muluk-muluk tentang kemajuan wanita dan kebebasan. Tapi semboyan itu hanya dibuatnya untuk jual tampang dan kegagahan di luar dirinya, sedang di dalam hidupnya mereka sendiri terdapat satu pandangan, bahwa cara kebiasaan yang kuno itu tak mungkin berubah-ubah, seakan-akan sudah tenggelam dalam peribahasa: barang siapa tiada mementingkan kepentingan sendiri, Tuhan yang ajiaib itu akan memusnahkannya. Bulu gagak itu di mana-mana hitam warnanya. Begitulah filsafat mereka yang menguatkan bahwa di zaman apa pun terlahir, wanita itu adalah seorang budak, sedang si budak itu sendiri sudah demikian tawakkalnya menjalani hidup dengan segala nasibnya. Tapi anehnya, filsafat yang sejelek ini mereka tutupi dengan semboyan yang muluk-muluk, pemutaran kalimat-kalimat yang khidmat tinggi-tinggi tentang kebebasan dan persamaan, tapi dalam hidupnya sendiri, mereka menyembunyikan ketidak-bebasan dan ketidak-samaan wanita yang merupakan jarak antara si budak terhisap dan si laki-laki penindas.

Kemudian Armini mengalihkan perhatiannya ke tetangga di samping kiri rumah barunya. Amboi, yang ini lain lagi cara membawakan hidupnya masing-masing.

Mereka merupakan satu keluarga besar, sepasang suami-istri dengan 6 orang anak-anaknya yang dimulai dari seorang gadis remaja 17 tahunan hingga seorang anak yang terkecil lima tahunan.

Si istri begitu gagah, cantik, awet muda dan pintar luar biasa tampaknya, sedang si suami kelihatan sangat tahu-diri dan teramat rendah-hati.

Armini kenal baik dengan mereka. Si istri cerita, bahwa mereka lahir dan diturunkan dari keluarga bangsawan asli. Lalu disebutnya beberapa orang bupati dan pejabat-pejabat tinggi, yang Armini sama-sekali tidak kenal. Dan ketika disebutnya, bahwa sebagian bekas-bekas mentri di kabinet yang lalu adalah masih keluarganya, Armini tersenyum hormat, karena ia merasa, bahwa dirinya lebih jauh duduk di bawah derajat tetangganya.

Sekali-sekali, di waktu yang lowong, orang ini datang di rumah Armini dengan membawa macam-macam perhiasan yang mahal-mahal. Dipamerkannya dan disombongkannya, bahwa dengan jalan demikian, ia membantu suaminya mencari uang. “Gaji suamiku hanya cukup untuk beli bedak saja”—katanya. “Sebaliknya, panghasilanku dari usaha ini, sepuluh kali lipat lebih banyak dari gaji suamiku”—tambahnya.

Lalu dipamerkannya pula segala perhiasan yang telah ia miliki. Diterangkannya, bahwa berlian-berlian macam ini harganya sekian ratus ribu, dan mutiara-mutiara asli begini harganya sekian puluh ribu kontan.

Armini yang seumur hidupnya belum pernah beli berlian dan mutiara, ia merasa jauh terasing dari orang ini. Ia merasa, bahwa dunia mereka telah begitu berlainan dan kenal satu sama lain hanya disebabkan karena kebetulan saja mereka sama-sama berbentuk manusia, tapi tugas dan keharusan mereka amatlah bertentangan.

Segi lain yang mengherankan Armini, ialah bahwa orang ini tak pernah menyeritakan anak-anaknya. Armini tahu, bahwa untuk seorang ibu yang baik, anak-anak adalah satu kebanggaan yang pertama-pertama biasa ditonjolkan, sedang suami dan perhiasan baiklah diberi tempat nomor kemudian.

Hingga pada suatu waktu, dengan sopan, bertanyalah Armini penasaran: “Dan anak-anak nyonya? Sudah di mana sekolah mereka?”

Tampak muka si nyonya ini agak kaku: “O, yang gadis sudah besar. Ia sudah tak sekolah lagi. Tapi saya rada bingung sekarang, karena dua orang doktorandus sekali datang dan satu orang lagi lulusan fakultas hukum di kantonya, telah mendesak-desak saja, ya, begitulah setengah melamar, agar si Neni lekas-lekas diberikan kepada salah satu di antara mereka. Kadang-kadang saya tak dapat tidur semalaman, karena ketiga-tiganya mereka orang baik, sama-sama bertitel, sukar dipilih-pilih nya...”

O, untuk kesekian kalinya pula Armini terseyum hormat, mengagumi nasib baiknya si nyonya ini, dan yang dikagumi pun amanlah rupanya terhadap pertanyaan-pertanyaan Armini tentang anak-anaknya.

Tapi dengan obrolannya yang setiap hari menjadi-jadi ini, lama-lama Armini menjadi jemu. Serta belakangan ini Armini tahu, bahwa pendidikan anak-anak tetangganya ini sangat jelek. Si ibu tak begitu tahu, bagaimana keadaan anak-anaknya yang setengah lusin itu, karena setiap harinya ia tak pernah ada di rumah dengan tenang untuk mengontrol anak-anaknya. Sering-sering terlihat oleh Armini, bahwa pagi-pagi sekali, sebelum anak-anaknya mandi dan sarapan, ia sudah dandan dengan make-up yang sempurna, lalu datanglah jip atau kendaraan lainnya yang menjemput, kemudian pergilah. “Barangkali memburu atau mendatangi orang-orang yang mau pesan perhiasan”—pikir Armini dengan baik hatinya.

Anaknya yang gadis sudah bekerja di salah satu kantor. Tapi kemudian Armini tahu, bahwa dari sekolah menengah pun anak ini tak sampai mendapat ijazah. Tunangannya, bukanlah seorang doktorandus atau seorang lulusan fakultas hukum, melainkan temannya sekitar di bagian urusan pegawai. Dan si pemuda ini, hampir siang malam ada di tempat si gadis, kadang-kadang menginap untuk beberapa malam. Pemuda ini tentu berbuat semau kehendaknya, karena ia tahu, bahwa ibu dari gadisnya tak pernah ada di rumah dan tak sempat memperhatikan soal anak-anaknya, sedang si ayah terlalu sibuk dengan kerja lembur di kantornya untuk mengejar penghasilan yang cukup tidak dihina oleh si istri. Dan si ayah ini, memang terlalu lemah dan rendah-hati, hingga kadang-kadang hilang harga dirinya.

Anaknya yang kedua, masih pemuda tanggung. Ketika Armini tanyakan, tahulah ia, bahwa anak ini sudah tiga tahun duduk di kelas satu sekolah menengah partikelir. Anak ini pasti terganggu sekolahnya dan kemajuannya, karena si ibu selalu menyuruh-nyuruhnya di mana ia perlu. Kadang-kadang terlihat oleh Armini, anak ini pergi naik sepeda di panas terik dengan sebuah buntelan atau bungkusan besar berisi macam-macam dagangan di boncengannya. Kain-kain panjang, sandal selendang sutra atau kerupuk, abon dan dendeng sapi. Atau jika kebetulan ia ada di rumah, ia selalu sibuk diganggu adik-adiknya yang merasa kehilangan cinta ibu dan rawatan dari kakaknya yang sudah menjadi gadis. Bagaimana ia akan dapat belajar memikirkan sekolahnya? Dan punyakah si anak ini sebuah hari depan yang bakal menampung seluruh hidup dan cita-citanya?

Belum lagi Armini mengingat anak-anaknya yang masih tanggung kecil-kecil, yang kakinya penuh dihinggapi korang-korang atau penyakit kulit lainnya. Mereka hanya mendapat rawatan dari seorang bujangnya yang amat kurus. Hampir setiap mau berangkat pagi-pagi, dengan solekannya yang rapih menarik, si ibu berteriak kepada bujangnya yang kurus itu: “Jem, jagalah anak-anak hati-hati, ya? Jangan dibiarkan panas-panasan...”

Tapi ia tidak melihat dengan teliti, bahwa setiap ia berteriak demikian, setiap itu pula, anaknya yang terkecil sedang asik main-main air selokan dengan kedua kakinya yang penuh penyakit kulit itu.

Maka kasihanlah Armini sekarang kepada keluarga besar keturunan bangsawan tinggi itu.

Pada suatu hari, keluarlah berita besar dari mulut si nyonya itu: “Minggu depan, saya akan berangkat ke Singapura mengurus dagangan...”

Amboi! seakan-akan kegagahannya yang luar biasa itu telah memuncak. Sehari-harian ia sudah tak pernah tampak lagi di rumahnya. Bermacam-macam kendaraan berganti-ganti berhenti setiap waktu di depan rumahnya, dengan bermacam-ragam pengemudinya keluar masuk: tentara, sipil, orang-orang Tionghoa dan wanita-wanita yang tipenya serupa dengan tipenya dia sendiri. Cantik-cantik, awet muda, pintar bersolek dan manis-manis mulutnya jika bicara!

Sehari sebelum ia berangkat ke Singapura, ketika baru saja Armini pulang dari latihan menggambar, maka terdengarlah si nyonya itu berteriak memanggil: “Jeng Min! Besok saya jadi berangkat ke Singapura! Singgahlah sebentar...”

Terpaksa Armini membelok ke rumahnya dengan tersenyum hormat. He; di dalam ruangan tamu tampaklah kira-kira lima-enam orang tamu laki-laki yang bermacam ragam coraknya sedang berkumpul. Armini mengangguk sedikit kepada mereka dengan kaku. Matanya segera mencari suami si nyonya itu, tapi segera yang punya rumah mendahului berkata: “Mas belum pulang, barangkali terus melembur di kantornya...”

O, untuk kesekian kalinya Armini merasa kurang paham akan kehidupan si nyonya tetangganya ini. Suaminya melembur dengan tenaga lebih dari 8 jam bekerja di kantor, sedang si istri rame-rame berkumpul di rumah makan-makan dan minum-minum dengan diselingi lelucon-lelucon dari buaya-buaya yang memuakkan! Dan di manakah anaknya yang enam orang itu? Si gadis mungkin sedang dibawa oleh pemuda tunangannya entah di mana, si pemuda tanggung yang nomor dua barangkali masih berkeliling dengan sepeda tuanya di panas terik membawa surat-surat penagihan perintah ibunya, sedang anak-anaknya yang empat orang lagi, siapa tahu di antaranya ada yang sedang belajar, mencuri buah mangga tetangganya atau main-main selokan di belakang rumah.

Armini merasa asing kini duduk di tengah-tengah lingkungan mereka. Terasa sekali, bahwa dunia tetangganya yang satu ini semakin rumit untuk dimengerti dan semakin jauh untuk dipegang diperiksa.

Lalu dengan bingung bertanyalah ia: “Nyonya sendirian saja ke Singapura?”

Maka terdengarlah tamu-tamu itu tertawa dengan riuhnya: “Nyonya sendirian, tapi pengawalnya lumayan juga banyaknya...”

Armini semakin bingung. Dan ketika ia hendak mencari lagi apa yang harus ia omongkan, maka datanglah pula seorang laki-laki lain setengah ubanan, berbadan tinggi besar. Begitu duduk, segera si nyonya rumah bertanya: “Mas, mau apa? Sirup jeruk, teh biasa atau kopi?”

Dengan sombong si laki-laki yang baru datang ini menjawab: “Aku mau kau...”

Amboi, di-tengah-tengah keriuhan tertawa antara si nyonya rumah dan tamu-tamu lelaki yang bercorakkan buaya itu, maka dengan sopan-santunnya permisilah Armini pulang!

Tahulah ia sekarang, apa yang dikerjakan tetangganya itu dan apa sebabnya ia menghina suaminya dengan ucapan bahwa: gaji suaminya hanyalah cukup untuk beli bedak saja. Alasan ini lalu dipakainya senjata untuk pura-pura jual-beli perhiasan. Dan akibatnya, suami dan anak-anaknya kehilangan harga diri serta cinta dan rawatan seorang ibu sejati!

Dua minggu berikutnya, Armini tak melihat apa-apa di rumah samping tetangganya itu. Ayah dan keenam anak-anaknya kelihatan tenang, karena mereka sudah demikian terbiasa, berpisah dengan istri dan ibu mereka.

Tapi minggu yang berikutnya lagi, sesudah tiga minggu si nyonya itu berangkat, maka datanglah si suami ke rumah Armini pinjam telepon: “Saya mau menanyakan, jam berapa datangnya kapal terbang di Kemayoran. Mbakyunya hari ini kembali...”

“O, mau dijemput ke Kemayoran, mas?” tanya Armini.

“Ya, pesannya ia minta dijemput”

“Jam berapa datangnya?”

“Katanya sebentar lagi”

“Lalu? Dijemput dengan apa?” tanya Armini heran.

“Ah, biarlah dengan becak saja...”—

Demikianlah, Armini melihat si suami itu sepi naik becak sendirian.

Akan tetapi, setengah jam kemudian, terdengarlah suara sedan berhenti di rumah sebelah. Riuh suara berbicara dan tawa dari beberapa orang laki-laki terdengar oleh Armini. Maka tampaklah si nyonya sebelum turun dari mobil diikuti dan dipegangi oleh beberapa laki-laki yang pernah dijumpai Armini tempo hari sebelum berangkat. Ramai terdengar sebentar dan minum-minum, lalu bubarlah mereka, sedang si nyonya rumah ditinggal sibuk mengatur barang-barangnya yang baru ia bawa dari perjalanan.

Dan...setengah jam kemudian, sewaktu Armini bersiap hendak menggambar di ruang kerjanya di kamar depan, maka berhentilah sebuah becak dibarengi dengan turunnya sepasang kaki yang sangat lelah dari dalamnya.

Amboi, suami yang malang!

Maka untuk kesekian kalinya Armini jatuh kasihan kepada keluarga besar turunan bangsawan tinggi di samping rumahnya itu. Ia telah menemui dua macam tanaman liar yang dikitari oleh rerumputan hutan di mana batu-batu kerikil dan segala hama jahanam turut membongkari tanah hitam yang sudah hancur tenaganya untuk menegakkan segala macam tanaman!



❀❀❀


Hati Nurani

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun I, No. 6, November 1959

Kereta penuh sesak dan hawa amat panasnya. Kami semua kegerahan dalam wagon, dan cerita-cerita yang tadinya mulai ramai dan akrab menjadi mengendor. Semuanya mulai lesu sekarang, dan kejauhan perjalanan menjadi semakin terasa. Beberapa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, bagi mereka yang mendapat berkah—kebagian tempat—dan mulai mengangguk-angguk mengantuk. Mereka yang berdiri atau duduk terserak di atas bebannya, di koper-koper, karung-karung dan lain-lain, menjadi semakin lemas. Kanak-kanak mulai merengek perlahan-lahan, dan ibu-ibunya membujuknya dengan sepotong roti atau menyusuinya.

Lelaki tua, seorang bakal kakek, teman saya mengobrol sepanjang perjalanan memandangi dengan lena anak-anak kecil yang merengek-rengek itu. Ia pergi mengunjungi anaknya di Jakarta, yang menurut kawat yang baru diterimanya, tiga hari lalu melahirkan anaknya yang keempat, anak perempuan yang pertama katanya.

“Cucu Bapak yang pertama, Nak, cucu perempuan,” katanya kepadaku.

Rupanya penting benar kelahiran seorang cucu perempuan itu baginya, dan ini tentu agak aneh. Kebiasaan yang selama ini kumengerti, orang merasa seperti diberi karunia dengan lahirnya seorang cucu lelaki.

“Aku sudah membuat perjanjian Nak, dengan semua anak-anakku, bahwa cucuku perempuan yang pertama, akulah yang akan memberikannya nama.”

Keinginan si tua ini, baru sekarang terkabul, semenjak berpuluh tahun.

“Dahulu harapanku kepada anak perempuanku sendiri, tetapi aku tidak dikaruniai anak perempuan, maka harapan aku gantungkan kepada cucu yang bakal lahir.”

Memang sering aneh keinginan orang, tidak masuk akal. Hanya ingin memberi sebuah nama saja.

“Nama untuk keturunanku wanita sudah lama saya sediakan, sudah 24 tahun yang lalu.”

“Dan sekarang akan terkabul, Bapak,” kataku.

“Ya, Nak, ya-ya,” senyumnya.

Sesudah itu kami bercakap lama sekali. Dari soal-soal kekeluargaan, siapa namaku, asal dari mana, siapa suamiku, berapa anakku, apa pekerjaanku, kami meningkat ke pembicaraan yang mendalam. Aku sendiri mempunyai sifat tidak lekas percaya kepada orang lain, jika mengenai cara hidupku dan pendirianku. Aku suka melihat-lihat dulu, menimbang-nimbang, menaksir, dan jika sekiranya telah sampai saatnya, baru aku mulai melangkah menunjukkan apa dan siapa aku. Pembicaraan-pembicaraan permulaan hanyalah mengenai soal-soal enteng saja, kulit belaka dari apa yang dinamakan hidup.

Mula-mulanya aku hanya banyak mengiyakan dan mendengar, menjawab seperlunya, memancing-mancing, dan akhirnya setelah dapat yakin aku menebak siapa lawanku bercakap, baru aku ambil sikap. Memperkenalkan diri atau menyelubungi. Sifat ini sebetulnya bukanlah sifat pembawaan. Dahulu aku seorang yang bersifat terbuka, tetapi jalan hidup pelik yang pernah kutempuh, dan akan kutempuh mengajarku berhati-hati. Pengejaran dalam bulan September ‘48, razia zaman Sukiman, memberi bekas yang dalam pada hidupku.

Tetapi Bapak lawanku bercakap ini, mudah sekali menangkap aku dalam perangkapnya. Cepat sekali aku mempercayainya, dan kami berdua menjadi sahabat akrab. Mulanya sederhana saja. Ia memancingku, peranan menjadi terbalik, mengapa aku bepergian seorang diri saja, tidak dengan suami atau anak. Kalau sampai ke soal ini, biasanya aku tak dapat menahan hati, aku mesti jawab.

“Yah, sekarang, rupanya, wanita sudah boleh mempunyai urusan sendiri sebagai manusia yang berdiri bebas.”

Bapak itu seorang yang cerdas, cepat saja ia menangkap.

“Begitulah dulu idaman Bapak, apabila Bapak dikaruniai anak perempuan, akan saya bawa ia kepada pengertian peranan rangkap dari wanita. Sebagai wanita, dan sebagai sebahagian umat manusia yang berjuang buat kebebasan.”

Kami berdua menjadi tahu, bahwa dinding yang memisahkan perkenalan kita sudah runtuh. Dan kami bicara dengan terbuka.

“Dua puluh tahun yang lalu, aku mendapatkan ilham buat keturunanku perempuan. Aku menemukan sebuah nama yang mengandung makna kebebasan yang tidak bisa terbeli, tidak bisa ditakut-takuti, tidak bisa dibohongi dan tidak bisa disumbat. Pernah Nak, aku diancam penjara dan buangan, tetapi besar hatiku. Penjara tidak bisa membuatku gentar dan takut kehilangan, sebab tidak ada kekuasaan satu pun dapat mengalahkannya, menunjukkan suara hatiku.

“Pada masa itu, aku ingat betul, aku menghadiri sebuah rapat pergerakan kebangsaan, gerakan terlarang di zaman Belanda. Ketika pertemuan bubar, aku keluar dari rumah rapat dilangsungkan, telah berdiri beberapa reserse di depan pintu. Ia tidak marah-marah, tidak menangkapi kami, hanya memungut semua catatan yang kami bawa. Kawanku mengeluh, merasakan suatu kehilangan besar, catatan pembicaraan rapat hilang, tetapi aku hibur dalam kekecewaanku juga: “Manusia masih mempunyai catatan yang utama, ialah otak dan hatinya. Manusia di zaman primitif tidak mengenal kertas dan pensil, dan mereka bisa membangunkan kebudayaan.” Dan malam-malam akan tidur, aku panggil otak dan hatiku, dan aku ajak berdiskusi, tetapi ada beberapa yang tidak dapat ditangkap oleh dua alat utamaku itu. Beberapa hari kemudian kami berkumpul dengan beberapa kawan untuk memadukan kecekatan alat utama kami yang telah kehilangan penolongnya—buku-buku catatan. Tetapi Nak, pertemuan itu ketahuan pula oleh reserse, kami tidak bisa bicara apa-apa. Mulut kami dikekang, tetapi pandangan mata tidak bisa dibatasi. Ketika kami berpisahan, kami bersalaman, dan mata kami saling mengajuk. Kami yakin, bahwa kami punya lidah lain.”

Begitulah Bapak itu berkisah.

“Hari yang paling naas pun akhirnya tiba, Nak, hari yang sebetulnya ditunggu-tunggu di dasar hati tiap-tiap orang yang memilih jalan seperti kami. Kami digerebek dan ditangkapi. Pada tiap-tiap pemeriksaan silang, kami saling menutup mulut, kami tidak bicara dan membuka rahasia. Kami tidak memandang, pun tidak menjabat tangan, tetapi kami punya lidah lain lagi, hati kami saling bicara. Dan ketika akhirnya, seorang dari kami mesti menjalani pembuangan, aku tidak diberinya kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan, walaupun aku minta kepada orang-orang berkuasa: ‘Aku akan memberikan kata berpisah kepadanya.’ Tetapi orang-orang berkuasa melarangnya. ‘Menyebut namanya saja terlarang, apalagi bercakap dan bersurat,’ begitu bunyi peraturannya.

“Malam-malam, kala aku berbaring di sel penjara, aku panggil namanya keras-keras, aku panggil ia berdiri di depanku, aku ajak ia berdiskusi, berkelakar, dan saling menguatkan ikrar. Sejuta ribu manusia di muka bumi ini tidak ada yang bisa melarang aku menyebut namanya, memujanya, mengajak bercakap dan mencintai.

“Ketika aku bebas keluar penjara, disodorinya aku selembar surat yang mesti kutandatangani, yang menyatakan aku tidak boleh dan tidak akan ikut-ikut lagi kumpulannya orang-orang yang dibuang, dengan tanpa pikir, aku bubuh tanda tanganku, sebab mereka hanya minta supaya kami menipunya. Mereka mau ditipu dan dibohongi, karena mereka tidak punya seperti apa yang aku punya. Sesampai di rumah, anggota-anggota keluargaku membujuk dan memaksa, memohon dan mengancam, agar aku meninggalkan cara hidup terlarang yang selama ini kutempuh. Aku menjawab: ‘Kalau kalian ingin aku menjawab, Ya, baiklah aku tidak berkeberatan. Tetapi yang lainnya adalah urusanku sendiri.’

“Dan begitulah Nak, kalau aku tidak bisa melawan, aku bicara dengan lidah dan bila lidahku diikat, aku bicara dengan pandangan mata, dan bila pandanganku dibatasi dengan tembok kurungan, aku bicara dengan lidahku yang lain, lidah paling setia dan jujur, ialah Hati Nuraniku.

Tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkan dan menundukkan Hati Nurani manusia, karena ia begitu agung dan mulianya, begitu peliknya, begitu setianya, karena ia mewakili kemauan terbaik dari manusia seluruh di jagat.”

Dan sambil mengipas-ngipas dengan tangannya, ia lanjutkan.

“Dan seperti juga benih, yang tidak bisa begitu saja berakar dan rimbun. Hati Nurani harus dipupuk, dikokohkan. Kalau ia dibiarkan, maka semak-semak kejahatan manusia akan menutupnya dan merusaknya. Dan, anakku, yakinlah, bahwa setiap manusia mempunyai Hati Nurani, yang mengajaknya bicara malam-malam di waktu sepi, walau belukar kejahatan itu sudah begitu rimbunnya, tetapi karena kuping hati manusia tidak semuanya terlatih baik, mereka tidak selamanya mendengar. Pesanku kepadamu Nak, kokohkan Hati Nurani, teman paling setia dari manusia, paling jujur dan paling mulia. Dan kau tidak mungkin bisa dikalahkan.”

Kemudian ia menyambung lagi.

“Cucuku perempuan pertama akan mendapat karunia nama yang paling mulia, ialah: Hati Nurani, penemuan yang paling agung dalam kegetiran dan kepahitan hidup dari kelas yang berjuang.”

Bapak itu memandangi kanak-kanak yang rewel itu dengan lena, matanya lembut dan wajahnya jernih. Aku bisa merasakan baja yang kokoh di dasar hidupnya, baja itu ialah Hati Nuraninya, yang tidak bisa ditaklukkan.



❀❀❀


Babu Minah

S. Djin

Api Kartini, Tahun I, No. 7, Desember 1959

Minah memang “babu” dengan segala arti-kerjanya. Gadis hitam kuat yang menolong “kerepotan” keluarga Husni. Pada hakikatnya segala kerja dalam rumah tangga itu terpikul pada pundaknya bersama koki Mak Idjah. sadari matahari terbit sampai jam malam panggilan:

“Minah...ambilkan ini,”

“Pergilah sebentar ke toko sebelah,”

Hampir-hampir tak ada hentinya kadang-kadang menyentakkannya dari tidur nyenyak. Tiada jam kerja baginya...Namun hampir menggigil ngeri ia mengingat masa ia di desa dikejar gerombolan yang membakar dan mengambil ayahnya di malam hari. Sedang ibunya yang sakit jantung tak lama kemudian meninggalkan Minah, dengan segala kehancuran hatinya. Ia tak mau ingat masa itu. Ia mau mencoba hidup di ibu kota, kedua tangannya masih muda. Ia masih bisa mencuci setumpuk pakaian. Ia harus kerja kalau ia tak mau mati kelaparan atau tersungkur di lorong-lorong gelap ibu kota. Minah tahu bahwa banyak teman-temannya sekampung yang mula-mula tertarik kepada sinar kemilau kota akhirnya hangus terbakar dalam api malam yang dingin dan gelap...

Baginya...Minah, ia mencintai kerja, itu adalah kebutuhan, sebagian luapan kekuatan mudanya. Ia tak mengerti bagaimana Ny. Husni bisa diam berjam-jam bermalas-malas di kursi panjang, sedang minum saja Minah pula yang harus mengambilnya. Ia masih agak menghargai Tuan Husni yang selalu sibuk mengurus dagangan. Hasannah puteri satu-satunya keluarga Husni sebaya dengan Minah, tetapi betapa besar perbedaan kedua gadis itu. Hasannah dalam usia yang muda telah berpuas-puas dalam pesta-pesta dansa gemerlapan, piknik-piknik hamburan uang. Terlampau banyak kesenangan muda direguknya sehingga dalam usia semuda itu ia menjadi bosan. Apa yang diinginkan dan bisa diperoleh dengan uang didapatnya dengan mudah saja, namun kini tak ada yang bisa memuaskannya lagi. Sesungguhnya ia sendiri tak jelas apa yang diingininya bagaikan sampan rapuh di hanyut-hempaskan gelombang ke kiri ke kanan tak berkemudi.

Berjam-jam Hasannah bisa bersolek di muka cermin dan Minah pula yang hilir mudik menolongnya. Tak jarang Hasannah meronta-ronta puas di tengah gaun-gaun sutra gemerlapan.

“Minah...ah, aku tak mempunyai baju lagi untuk pesta itu...Tak bisa aku datang dalam gaun itu-itu saja. Mengapa kulitku tak sebersih Ida...ah, Minah...kau untung tak perlu memikirkan pesta-pesta. Sesungguhnya apa yang kau pikirkan, Minah?!”

Minah tersenyum, bagaimana ia bisa menerangkan kepada gadis seperti Hasannah tentang apa yang bergejolak dalam hatinya. Ia pun manusia muda bukan kuda atau robot mesin kerja. Mata gadisnya membelai keindahan sutra, kamar Hasannah seolah-olah taman impian hati gadisnya. Ia tak mengerti mengapa Hasannah bosan dan mual dan Ny. Husni sering menggerutu menyebut dirinya “malang” dan mudah marah karena soal yang kecil-kecil. Sekilat terkilas dalam kepala Minah mengapa di dunia ada Hasannah-Hasannah yang bisa mendapat segala dengan mudah dan ada Minah-Minah yang hidupnya untuk kerja semata. Ia pun menginginkan kehidupan yang lebih indah, tetapi adakah bagainya hari depan? Kalau tenaganya tak lagi mudah dan tangannya gemetar tua, apa akan jadinya? Sampaikah ia akan mengemis di jalan sebagai Mak Indun, yang telah tua lemah serta tak bersanak saudara. Minah negeri memikirkannya...tidak! Sejauh itu ia tak mau membayangkan, selama ia masih kuat dan muda. Aneh...ia bisa tersenyum kasihan kepada Hasannah, gadis kaya duniawi yang hampir terbasah dalam deras air mata kekesalan karena tak ada “baju baru untuk pesta”.

Ia, Minah masih sempat merasakan kesegaran udara pagi bila ia melangkah ringan ke pasar. Penjual rokok di sudut jalan selalu menegurnya dengan kegirangan. Bang Amat penjual rokok itu memang tak berharta tetapi kegirangan hidup tiasa memancar dari seluruh mukanya yang mencerminkan kejujuran. Pedagang-pedagang di pagi hari sering mengerumuni Bang Amat, bila ia dengan perlahan dan keras membaca koran. Minah pernah bertanya dan dijawabnya, bahwa itu koran yang membela rakyat. Dilihatnya Bang Amat mengangguk-angguk berseri dan orang-orang sekelilingnya penuh persetujuan mendengarkan uraian-uraian Bang Amat yang sering di sela gelak jenaka. Apa yang mereka baca, sehingga membawa kegembiraan pada mereka itu. “Nanti...kalau aku mempunyai anak, akan kukirim ia ke sekolah dan ia akan sepandai Bang Amat, dan ia akan banyak mengerti. Ia tak akan kuperbolehkan bosan seperti Hasannah...O...alangkah senangnya bila aku sendiri bisa membaca.”

Suatu kebetulan menolong Minah memenuhi keinginan yang lama terpendam. Atas nasihat Dokter Nyonya Husni beristirahat di pegunungan. Minah tak mengerti mengapa Nyonya Husni bertambah lelah tampaknya, padahal ia tak pernah bekerja. Atau mungkin karena itulah badannya tak pernah digerakkan dan ia bertambah lemah? Adik Tuan Husni berpandangan maju, ia pun anggota organisasi wanita yang menghendaki kemajuan kaumnya.

Minah yang haus akan pengetahuan dipelajarinya huruf dan ia pun ikut gembira melihat sinar kegirangan yang mengkilat dalam mata Minah, ketika ia untuk pertama kali dalam hidup bisa membaca sebuah kalimat. Betapa terima kasih Minah pada bu Gurunya yang menyingkapkan dunia yang baru untuknya. Minah sangat rajin walaupun teman-teman babu lainnya mengejeknya: apa guna ia bersusah payah mengenal huruf, ia akan menjadi babu sepanjang hidupnya!!!

Ia hanya mengatupkan bibir dan tak lagi bercerita tentang kemajuannya dengan belajar di tengah malam atau di pagi buta. Ia bertekad keras untuk mengerti apa yang menyebabkan Bang Amat dan teman-temannya girang dalam membaca koran setiap pagi. Betapa heran Bang Amat, ketika diketahuinya Minah sudah tak lagi buta huruf. Kini bertambah pertanyaan bersimpang siur dalam dada Minah. Ia ingin mengerti apa arti Merah Putih itu dipasang pada hari-hari tertentu. Hasannah terkejut ketika pada waktu senggang Minah bertanya, apa itu Hari Pahlawan dan siapa itu Ibu Kartini. Tak banyak ia memikir tentang soal-soal itu, pikirannya hanya melingkar melingkungi diri sendiri.

“Minah...kau jangan banyak memikir, kau bekerja saja!” Tetapi Minah tak puas. Ia telah kehilangan ayah ibu, dilihatnya rumah-rumah dibakar gerombolan. Ia ingin tahu banyak mengapa demikian. Ia tak mengerti mengapa Hasannah begitu acuh-tak acuh, padahal seribu buku bisa dibeli. Betapa ingin ia, Minah, mereguk arti huruf-huruf berjajar di surat kabar yang membuka dunia luas tiada batas baginya.

Pernah Bang Amat berkata “Kau jangan putus asa, Minah. Dunia akan maju. Tak selama hidup kau akan jadi babu yang diperas!”

Betulkah ada harapan baginya? Bukan impian semata?

Pernah di muka pasar barisan pemuda berderap dengan membawa panji-panji, di belakangnya barisan kaum buruh berjajar rapi dengan baju birunya.

Bang Amat girang berseru:

“Tu dia Minah, lihatlah, betapa gagah barisan kita.”

“Barisan kita???”

Minah berdebar hatinya, bolehkah ia menyebut mereka itu barisan “kita”. Bukankah ia tersisih, ataukah ada yang memperhatikan nasibnya? Benarkah ada beribu manusia, yang tak dikenalnya tak melupakannya dan menginginkan hari yang lebih baik untuk semua orang, juga untuknya, Minah. Benarkah tak banyak wanita semacam Hasannah yang menggerutu bosan terhadap hidup atau seperti Tuan Husni yang terlalu sibuk mengumpulkan uang sehingga tak memperhatikan sekitar?

Untuk pertama kali dalam hidup mudanya babu Minah merasa kaya walaupun ia tak berharta, walaupun ia harus bekerja sehari semalam. Ia mempunyai harapan hari depan, dan tak seorang pun bisa mencuri kekayaan hatinya. Ia akan belajar lebih rajin dan bertanya kepada siapa saja yang mau menjawab kehausannya. Betapa hidup menarik perhatian dan berisi, bila api harapan menghangat rasa. Ia percaya suatu kali ia akan bisa membaca dan mengerti koran yang biasa dibaca Bang Amat dengan kawan-kawannya. Ia percaya dengan kepercayaan mudanya, bahwa keadaan akan maju, ia tak lagi cemas menghahadapi hidup...



❀❀❀


TAHUN II

(1960)


Malam Tahun Baru — Sugiarti Siswadi (Januari 1960)

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun II, No. 1, Januari 1960

Diam di sebuah lorong kecil dengan deretan rumah yang rapat, seperti membaca sebuah buku cerita. Apa yang tidak diketahui tentang orang-orang sekitarnya. Huruf-hurufnya terang, dan kisahnya jelas, cuma tiap-tiap orang mempunyai kaca matanya sendiri. Bagi yang kerdil dan pendek pikir ceritanya dangkal melulu, penuh berisi iri dan dengki, putus asa dan keluhan. Bagi yang berdada lebar dan berhati dalam, kisahnya penuh senyum dan haru, harapan dan cinta, setia kawan tidak berbatas. Mereka menilai manusia sebagian penghuni bumi dengan harga yang tinggi, dengan khidmat.

Malam tahun baru kali ini, telah membuka lembaran beraneka warna, kisah yang sangat menarik. Kalau kita jalan-jalan di lorong kecil dengan rumah-rumahnya yang bersih apik, dan kita paksakan berpikir, senja yang seperti ini hanya datang tahun ini saja, hari ini saja, detik ini saja, hati dicengkau oleh keharuan yang berlebihan. Matahari yang pulang tidur, telah mendukung sisa tahun, besok datang jejaka baru yang perkasa, tahun 1960. Ah, apa saja yang telah dialami dunia tahun 59, apa yang dialami Tanah Airku tahun 59, dan apa yang dialami lorongku apik tahun ini. Betapa banyak air mata tertumpah, dan kecewa menindih, betapa banyak keringat mengucur, betapa banyak kerja tertumpah! Punggung serasa bongkok memikirkan itu semua. Ketika tahun lama itu lingsir, diborongnya segala duka cita, diangkutnya segala kecewa memuncak, segala harap tak sampai dan endapan-endapan, yang bila dipikir dengan hati dangkal membuat darah naik di kepala!

Rumah apik itu, penghuninya seorang wanita muda dengan tahi lalat melekat di lereng hidungnya, malam ini sepi seperti sediakala. Lampu berkap merah di ruang tamunya begitu redup seperti hatinya. Aku lihat ia duduk sendiri seperti kemarin di sore-sore menjelang gelap, duduk merenung jauh. Sudah satu tahun suaminya pergi bertempur, di pedalaman hutan Sumatera Barat. Hanya surat-suratnya datang berkunjung, menghibur hati wanita muda kesepian itu, istri seorang prajurt. Tadi pagi aku lihat ia mengadang oplet di pangkal jalan, gaunnya merah, tetapi wajahnya sedih.

Tas belanja besar tergantung di tangan kirinya.

“Berbelanja untuk Tahun Baru, mungkin nanti Mas pulang. Surat terakhirnya mengatakan, bahwa mungkin di akhir tahun ia datang,” begitu ceritanya kepadaku.

Doaku tulus di dasar hatiku, mudah-mudahan pulanglah pahlawan hatinya dengan selamat dan membawa kemenangan gemilang.

Sebuah mobil dikemudikan wanita sebaya berhenti, dan mengajaknya ikut. Tetapi dengan sopan ditolaknya.

“Terima kasih, aku sudah berjanji menunggu teman di sini,” jawabnya membohong.

Dua manusia itu, seperti gambar zaman, yang amat sederhana, disorot terang, jelas dan tak bisa disangkal. Wanita bermobil itu pun istri tentara, dengan pangkat yang sama, tetapi dengan hidup seperti bumi dan langit. Orang mengatakan, keluarga “langit” itu adalah keluarga OKB (orang kaya baru) selama aku tinggal di lorong ini, belum pernah kulihat suaminya pergi bertempur, ia bertugas lain, kata istrinya, yang ayu modern. Pada lingsir tahun ini, aku lihat hilir mudik orang datang di rumahnya, dan seperti disihir tongkat wasiat, rumahnya yang sederhana berubah menjadi mewah. Pikirku, hanya karena menang lotrelah orang bisa membeli lampu Aladin yang sanggup memberi apa diminta orang.

Tetapi rupanya pikirku ini, pikiran kolot. Orang tidak usah membeli lotre, dan mengharap akan memboyong hadiah pertamanya yang seratus ribu itu sedang kekayaan baru orang ini kutaksir jauh lebih banyak dari seratus ribu orang bisa mendapatkan lampu Aladin di mana juga, kalau orang mau. Mau membunuh suara hatinya yang murni dan agung.

Mobil mewah hadiah dari “lampu Aladin” itu meluncur pergi, dan wanita manis bertahi lalat di lereng hidung, tidak ambil peduli. Gambaran zaman yang sederhana terpantul dari pertemuannya dengan sejawat suaminya, tidak menggerakkan hatinya. Tempat berpijaknya kokoh kuat, dan dengan ikhlas dibiarkannya dirinya diserang panas, menunggu oplet di pangkal jalan.

Sore ini kulihat ia duduk kesepian di rumahnya, menunggu suaminya pulang bertempur. Bersabarlah, istri prajuritku, seperti semua kita berharap, tahun yang akan datang akan membawa kita lebih dekat kepada tujuan. Melihat wajahmu yang tulus, aku malu kepada diriku yang kotor dan penuh gerutu.

Di pojok jalan, bertakhta dengan megah, rumah hadiah lampu Aladin. Kalau saja kita malas berpikir, orang pun akan cepat tahu, bahwa malam ini malam istimewa, malam pesta. Lampu-lampunya aneka warna, mengelilingi pagar rumahnya, dan suara musik yang entah di “cangkok” dari mana, menjerit-jerit di sore yang haru ini. Mereka berteriak-teriak merayakan tahun baru dengan caranya sendiri.

Tetangga-tetangganya selorong pun mendapat undangan buat berpesta ria di malam tahun lama menyongsong tahun baru, tetapi entahlah apakah akan banyak yang datang berkunjung. Aku pun rasa-rasanya segan menginjak dunia gembira ria itu di waktu hatiku sendu dan haru. Aku sendiri punya rencana buat menyambut tahun baru diam di kamarku, mengenang, menimbang dan memenangkan pikirku yang mau melonjak meletus saja. Tetangga-tetangganya selorong sudah tidak terkejut lagi, kalau orang di sudut jalan itu menilai tahun baru secara “merdeka” sekali. Yah, apalah yang dapat diharap dari orang-orang semacam itu kecuali kedangkalan dan keperkosaan hati nurani. OKB kita yang bertemu tadi pagi, berdiam tak jauh dari istana lampu Aladin itu, ia pun berpesta juga. Tetapi sebagai orang yang “rendah hati”, yang baru-baru menginjakkan kaki di langit cemerlang, rumahnya belum seberani menjerit-jerit seperti koleganya, pegawai dari sebuah kantor yang murah “rejeki”.

Mereka berdua bersahabat karib, tetapi alangkah anehnya persahabatan itu. Kalau mereka saling berkunjung, matanya seperti burung elang melihat anak ayam saja. Dilihatnya dengan iri dan dengki kekayaan baru “sahabatnya”, perabotan, perhiasan mas intannya, dandanan rumah dan rambut, pakaian dan rambut, pakaian dan segala kemewahan, dan tidak berbilang hari, rumah-rumah baru itu berlomba memasuki finish untuk kemudian bersaing lagi. Aku menghala nafas, betapalah payah mereka itu beradu lari, betapa kecut hatinya di larut malam, kalau hati mereka pada berbisik! Aku yakin dan pasti, bahwa hidup mewahnya yang tak wajar itu telah amat memenatkannya.

Aku percepat langkah di pengkol jalan, agak segan aku bertemu dengan mereka. Aku merasa kami telah hidup di dua di zaman yang berbeda. Tetapi, sunguh malang, suaminya berdiri di kebun bersandar di pagar. Dengan hormat aku ditegurnya. Aku menengadah, dan kulihat kelesuan membayang di wajahnya. Apa kataku, telah penat ia beradu lari, telah payah ia bersicepat dengan suara hatinya. Rambutnya sudah mulai berubanan, kulit mukanya mengkerut-kerut, tubuhnya yang tidak kurus itu nampak tak segar, dan matanya...yah, matanya membayangkan kesuraman dan kecapean. Hatiku yang meradang-radang menjadi lembut.

Ah, mudah-mudahan tahun baru nanti, akan menolongnya ia kembali ke jalan yang baik. Ia belum terlambat, penyakitnya belum parah.

Yah, harapan seorang tetangga memang mudah diucapkan. Apakah yang ia ketahui, kecuali hasil dari pergulatan hidup. Pergulatannya sendiri ia tak tahu! istrinya berdiri dengan cemerlangnya tak jauh dari suaminya yang lesu itu, mengangguk dengan tinggi hati. Dunia barunya itu telah mendarah daging, telah “pas” betul, seperti telah sejak lahirnya ia berbekalkan sekantong permata.

Hatiku mulai memberontak lagi.

Ia adalah faktor utama yang membikin suaminya capek. Dan apakah seorang yang berdiri jauh di luar pagar akan dapat memenangkan si pelari, kalau setiap malam ia dibisiki oleh segera bertanding?

Aku melangkah pergi, dan hatiku geli. Pernah aku salah menaksir, untung lekas-lekas aku tahu. Pada suatu hari terkandung niat di dada untuk mengambil wawancara dengan Nyonya yang pintar dan modern itu. Bagaimana pendapatnya tentang komando kembali kepribadian bangsa sendiri dan gerakan menentang musik ngak-ngik-ngek. Ah, ah, geli aku sekarang. Musiknya yang berisik itu membuntuti aku terus di sepanjang jalan, dan aku tahu bahwa ia wanita yang tolol, mungkin tak pernah ia tahu dan kenal tanah airnya, perjuangannya, dan cita-citanya. Aku jadi bimbang, apakah dalam malam Tahun Baru ini aku mesti mendoakannya atau mengutuknya!!

Sejuk hatiku yang meradang-radang, menggigit-gigit penuh benci, ketika aku berkelok di lorong berikutnya. Seorang janda tua, duduk menjahit, di dekat pohon natalnya yang belum dibongkar di hari Nabinya. Aku ingat waktu ia merestuiku, ketika aku memberi selamat Hari Natal beberapa hari yang lalu.

“Agar dunia lekas damai,” sederhana saja.

Aku bersimpati kepada Ibu berasal dari Sulawesi Utara ini. Ia sendirian, saudara-saudaranya, di daerah Minahasa. Dan ketika pemberontakan meletus, anak lelakinnya, berangkat ke medan perang, menumpas Permesta. Anak lelakinya yang lain, yang ada di Tomohon memihak Sumual. Tetapi perempuan kesepian ini tenang-tenang saja. Ia dengarkan segala penjelasan, ia baca segala berita, dan ia mengambil dan ia mengambil kesimpulan, bahwa anaknya di Tomohon telah sesat. Ia berduka di malam sepi, dan ia berdoa agar anaknya selamat semua. Yang seorang membawa kemenangan, dan seorang menemukan keyakinan. Betapa bijaksananya Ibu ini. Anaknya yang bertempur telah pulang dengan luka di kaki, dan membawa berita bahwa adiknya di Tomohon telah mati dalam pertempuran. Ia menangis tidak bersuara Sambil membelai cucunya yang tak berayah—yang dibawa oleh uwaknya. Semenjak itu, aku lihat bukan main giatnya ia dalam perkumpulan wanita. Dan ketika aku berkunjung ke rumahnya beberapa bulan yang lalu, aku lihat ia sibuk membuat makanan-makanan kering.

“Untuk prajurit yang berjuang di Minahasa, sebagai tanda terima kasihku, mereka telah membebaskan kampung halamanku dari terror Permesta.”

Dan...dipegangnya tanganku, matanya menyala-nyala; “Aku tak bisa bertempur, dan anakku lelaki masih luka, aku hanya bisa membantu ini saja Semoga lekas tumpas itu pemberontak dan perampok-perampok Permesta yang telah membunuh anakku di Tomohon. Kalau tidak karena hasutan Permesta, tidak akan anakku mati.”

Mataku berkaca-kaca.

Aku tahu, harapannya untuk perdamaian dunia, bukan pengharapan seorang paria yang berpakaian compang-camping dan mengemis di jalan, sebagai protes tak berdaya terhadap ketakadilan sosial, tetapi ia tegak sebagai prajurit yang menegakkan perdamaian dengan mencabut akar-akar keonaran. Ia bukan seorang pasifis.

Kepada Ibu, aku doakan bersama dengan bintang beralih di kaki langit sebagai harapanmu, semoga dunia damai, terhapus dari nafsu-nafsu rendah haus perang dan rakus makan.

Tidak terasa, langkahku menjadi enteng. Di sudut gelap di pinggir jalan, kulihat sepasang manusia berjalan bergandengan tangan—Alangkah merdunya masa muda, betapa manisnya. Pasangan itu hilang di kelok jalan, dan meluncur saja suara dari mulut nakalku, semoga mereka di tahun baru nanti lekas mendapat rumah, biar lekas-lekas kawin. Dan semoga sandang pangan lekas murah, agar hidup temanten barunya tidak dinodai oleh pertengkaran-pertengkaran karena gaji tak cukup.

Aku tersenyum sendiri, dan meneruskan langkah ringanku. Yang kutuju sudah dekat, itu rumah di pojok. Kuraba saku bajuku, surat itu masih ada. Hati ringanku menjadi berat lagi menekan. Bukan berita baik yang kubawa. Misiku tak berhasil, dan hanya kekecewaan yang dapat kusampaikan di malam tahun baru ini.

Aku dapati ia duduk sepi di dipan usang.

“Bagaimana?” sambar tanyanya.

“Belum berhasil,” aku sodorkan sepucuk surat. Dari suaminya di rumah tahanan. Kemudian marahnya meletus.

“Apakah ia merampok? Apakah ia mengkhianati bangsanya, apakah ia korupsi, makan suap dan ikut barter? Apakah ia ikut pemberontak, apakah ia turut melempar granat di Cikini? Apakah aku kaya dengan tak halal? Kau lihat sendiri aku hidup miskin. Buat siapa? Pernahkah suamiku menyeberang? Pernah ia ikut Belanda?”

Kemudian ia menangis tersedu-tersedu, luapan dari marah tak berdaya. Kubelai-belai rambutnya, aku pun tak tahu, harus bagaimana. Menghiburnya? Menjawab segala pertanyaannya? Aku tidak dapat menghiburnya dan memberi harapan kosong. Pertanyaannya tak dapat kujawab. Tetapi ia tak boleh begitu, putus asa dan tak percaya kepada siapa pun. Suaminya ditangkap beberapa bulan berselang, karena pidatonya masalah sengketa tanah. Sampai sekarang belum dibebaskan, dan belum diadili. Karena anaknya banyak dan kecil-kecil ia tak dapat selalu mengurusi perkara suaminya dan aku dimintainya bantuan. Kemarin aku menengoknya di rumah tahanan, aku temui orang-orang berwewenang, tetapi hasilnya hanyalah sepucuk surat. Pihak pengadilan menjanjikan untuk mengurus soal itu selekas-lekasnya. Tetapi apakah ia percaya kepada janji? Setelah ia tenang, aku ceritakan hasil misiku yang tak begitu berhasil. Kemudian kubawa ia keluar, melihat bintang-bintang di langit. Kubesarkan hatinya, dan kuajak ia berpikir.

“Marti, kau lihat, dalam taman ini ada berapa batang rumput jahat? Tidak banyak bukan? Ia memang mengganggu Marti, tetapi tidak berbahaya, tidak akan membunuh tanaman kita. Paling, kalau kita lengah, tanaman kita layu, mawar kita tak lebat berbunga. Begitu juga dalam hidup kita Marti. Kalau engkau lebih percaya kepada rumput jahat, kurang percaya kepada mawarmu, dan lebih lagi tak percaya kepada rawatanmu, kepada tukang kebunnya tentu hidupmu pahit. Keringat luka tukang kebun, kerja perawat taman, ini yang menentukan. Dengan tangis, mawarmu tak subur.”

Kujabat tangannya erat-erat. Lembaran seratus yang sedianya akan kuhadiahkan kepadanya buat merayakan Malam Tahun Baru, terpaksa kubawa kembali. Perasaannya masih mudah tersinggung, dan aku tak ingin menambah luka hatinya.

“Selamat Tahun Baru, Marti, semoga ia membawa kebaikan bagi kita semua. Tabahkan hatimu. Kau istri pahlawan.”

Matanya berkaca-kaca, dan aku melangkah pergi.

Selamat Tahun Baru bung Warjo, di rumah tahanan. Hati kami bersamamu.

Dan ketika aku membuka jendela kamarku jam sepuluh malam, terdengar dengan amat mengganggu suara musik brengsek di pojok jalan. Rumah mewah sedang merayakan Tahun Baru dengan “khidmatnya”. Aku tersenyum. Hatiku yang mendongkol menjadi ringan. Sungguh tak banyak rumput jahat di taman kita ini. Memang sangat mengganggu, tetapi tidak berbahaya.

Dan ketika aku hampir terlena, kudengar mobil menderu di depan tetanggaku. Wanita-wanita mudaku yang bertahi lalat di lereng hidungnya bersuara dengan riangnya. Suaminya datang, pulang bertempur dengan selamat dan menang. Malam Tahun Baru ini untukmu juga, istri prajuritku.

Yah, untuk kita semua, mawar-mawar di taman hidup ini. Dua batang rumput jahat di pojok jalan, tak perlu kita hitung, tiap hari pun mata kita tak pernah melihatnya, kecuali dengan maksud untuk mencabutnya.

Suara piano yang bening mengalun dari rumah janda Minahasa itu, lagu-lagu gereja yang khusus. Malam Tahun Baru untukmu juga.

Memang, lorong kecilku ini adalah gambaran dunia dan zaman kita dengan manis dan jelas.

Selamat jalan Tahun Lama, selamat datang Tahun Baru!!!

Akhir tahun 1959



❀❀❀


Semi, Gadis Gunung — Anonim (April 1960)

Anonim

Api Kartini, Tahun II, No. 4, April 1960

Lereng gunung memang indah bagi pelancong dengan kabut menutup kehijauan dan air yang gemercik di sela batu.

Tetapi bagi Semi, gadis desa yang setiap pagi bangun sangat pagi hidup itu bukan semata untuk tamasya. Sejak kecil ia telah membantu ibunya menggendong sayur-sayuran hasil kebun ke pasar melampaui jurang dan tebing dan bagi mak Semi hari adalah cerah bila anak beranak bisa sekedar membeli beras dan ikan asin.

Lebaran kini mendekat, mbok Lurah yang tak jauh rumahnya telah membeli kebaya baru bagi Sarintan anak gadisnya, merah jambu kemilau. Semi sebaya dengan Sarinten tetapi Semi bukan anak mbok Lurah melainkan anak mak Sayem, janda Pak Rejo yang pergi pada zaman Jepang tetapi tak kembali. Kata orang sebagai romusha ke Burma. Mak Semi tiada dapat menduga betapa jauh Burma itu dan di mana letaknya tetapi ia sampai sekarang tak jelas mengapa suaminya harus ke sana dan tak kembali. Semi senantiasa memakai baju lurik kehitaman, tenunan di desa, sekali ia memakai baju biru kembang yang sangat disayang oleh-oleh adik mak Semi dari kota. Tetapi baju itu kini semakin usang, sedang belum ada harapan penggantinya.

Kadang-kadang Semi heran memandang rumah-rumah indah di lereng gunung itu, gedung-gedung mungil di tengah taman bunga serta penghuni-penghuninya yang datang dengan mobil mengkilap beramai kemudian pergi membeli buah-buahan berkeranjang-keranjang seolah-olah uang adalah air yang mengalir. Betapa bagi Semi serta maknya setiap rupiah adalah penyambung hidup yang harus dikumpulkan dengan keringat dan berjalan di pagi buta mendaki gunung menurun lembah.

Ya...benar ia telah mendengar dari Pak Gimin tetangga yang kadang-kadang memberi penerangan di pendopo balai desa, tentang zaman yang telah berubah, bahwa negeri ini bukan lagi jajahan Belanda seperti dulu dan Jepang yang pernah datang di pabrik gula itu telah pergi semua. Bagi mak Semi semua itu samar-samar terkilas. Jepang yang datang mengambil lelaki-lelaki kuat di desa, kemudian pemuda-pemuda yang bertempur yang pernah menginap semalam di desa sedang esoknya habis rumah-rumah dibakar pasukan Belanda. Ya...rumahnya dulu lebih baik daripada gubuk peyot beratap daun sebagai kini. Hari-hari itu sebagai impian ngeri baginya yang kemudian tersaput hari-hari yang penuh kerja untuk menutup perut yang lapar, juga bagi bayi dalam gendongan. Bagi Semi yang belum pernah melihat wajah ayahnya dunianya terbatas kepada kebun sayur dan pasar. Ia ingin juga sebagai Srini puteri pak guru yang tiap pagi mengepit buku ke sekolah. Srini adalah sahabat karibnya ketika masih kecil dalam bermain di lereng-lereng bukit. Tetapi kini jalan hidup mereka telah bersimpangan. Srini meneruskan cita bersekolah guru di kota.

Kadang-kadang bila hari libur panjang Srini kembali dan menceritakan betapa besar kota dan betapa rumah-rumah adalah besar-besar dan jalan-jalan lebar. Srini pulalah yang mengajarnya menghafal huruf-huruf. Di malam sepi dalam sinar pelita berkedip Semi bergulat kegirangan dengan huruf-huruf berjajar sedang maknya menganyam tikar-tikar jerami di sampingnya.

Besok tikar-tikar itu akan dibawanya ke pasar. Di jalan berliku dekat air terjun gemuruh itu ia pernah berpapasan dengan pelancong-pelancong berpakaian bagus-bagus. Betapa riang mereka berkelakar sebagai kawanan burung dalam kesegaran pagi di tengah alam yang indah. Bahwa air terjun gemuruh itu indah, hal itu dilihatnya dari kekaguman pelancong-pelancong yang datang. Baginya gunung, jalan berliku dan air gemercik adalah kehidupannya sehari-hari.

Punggung Semi agak sakit juga di bawah beban yang berat tetapi ia nanti akan berhenti sejenak di kedai mak Idjah di bawah pohon ketapang. Di situ pula ia mula-mula kenal dengan Paidjo dari desa seberang jurang. Paidjo berbadan kuat dengan punggung yang senantiasa mengkilat menahan terik matahari di kala ia memecah batu-batu untuk meratakan jalan-jalan. Ya...penumpang mobil di jalan licin tiada teringat sekilas kehidupan Paidjo, tukang memecah batu-batu gunung yang besar-besar. Berapa tenaga dan kekuatan ditumpahkan berapa kali ayunan besi diperlukan untuk meratakan jalan. Hanya bila matahari tinggi pekerja-pekerja jalanan itu mengerumuni mak Idjah yang menjajakan nasi pecel pedas merangsang selera. Air kendi tersedia bagi siapa yang kehausan. Sejak itu Paidjo sering menunggunya dan kadang-kadang mereka berbondong pulang bersama. Paidjo telah mengerti huruf juga berkat ketekunan kalau ia jaga malam bersama Kasan anggota Pemuda Rakyat di desanya. Dan Paidjo kini sudah mulai dengan hitungan, dunia luas membentang di balik huruf-huruf berjajar. Beribu soal terasa minta jawaban dan Kasan sabar menerangkannya. Bahwa keadaan tak akan selamanya demikian, bahwa tiap orang harus mempunyai harapan di hati yang akan datang. Bersama Paidjo Semi tak lagi takut kalau-kalau berjumpa dengan Pak Dimedjo yang garang, pemilik kebun jeruk yang luas di lereng bukit. Pak Dimedjo telah mempunyai istri dua, tetapi masih pula kilat matanya menembus sehingga Semi menggigil malu ketakutan.

Tak pernah dalam kesederhanaan hidupnya ia mengidamkan kemewahan kalau hal itu mesti ditebus dengan harga dirinya. Ah...ia tak hendak menjadi istri ketiga walau emas gemerincing ditebarkan di hadapannya.

Cukup sedu-derita istri yang ditinggalkan bersama rengekan anak-anak bertanyakan bapa dijumpainya di desanya. Ya...masih banyak soal mengkilat bertubi-tubi. Srini pernah bercerita tentang wanita yang bernama Kartini yang berpuluh tahun yang lampau mengidamkan kemajuan wanita di tanah airnya. Semi belum tahu yang dikata “maju” itu wanita yang bagaimana, tentu saja semua wanita ingin sebagai Srini bisa bersekolah ke kota, tetapi masih banyak yang tidak sebagai dia. Ia tahu bahwa ia gadis gunung yang berjualan sayuran dan tikar anyaman. Adakah banyak Kartini-Kartini yang ingat padanya kini?

Di hadapan matanya dari tahun ke tahun rumah-rumah dibangunkan dan kota kecil itu semakin ramai terutama di hari-hari libur dan semakin banyak mobil bersiuran. Bisakah ia dan Paidjo sekali saja dalam hidupnya merasakan betapa lunaknya tempat duduk di mobil mengkilat itu. Betapa Paidjo akan melongo bila ia menceritakan lamunan hatinya, tentu ia akan ditertawakan. Atau mungkin Paidjo pun percaya akan idaman-idaman hari depan yang digambarkan oleh Pak Gimin yang memberi penerangan tetangga-tetangga di desa tentang zaman yang akan semakin baik, tentang buruh-buruh jalanan sebagai Paidjo yang akan bisa menempati rumah yang layak dan anak-anak gadis yang bisa bersekolah. Itu bukan hal yang aneh atau khayal. Pak Gimin bercerita dengan penuh kepastian, hanya kini masih tengah dalam perjuangan. Ah, Semi ingin sangat hal itu bukan impian saja, ia percaya banyak orang tak lupa akan gadis-gadis sebagai dirinya yang tiap pagi harus bangun sebelum ayam berkokok dan punggungnya hampir bongkok menggendong tikar anyaman.

Paidjo pun kini masih memecah batu-batu untuk meratakan jalan, keringatnya masih mengucur dalam terik matahari. Bila kau bertamasya di lereng gunung melepas lelah dalam kesegaran hawa di bawah ketapang mungkin kau jumpai Semi, gadis gunung dengan sinar mata penuh harapan akan keindahan hari yang akan datang. Aku kira kau akan tak sampai hati mengecewakan hatinya yang penuh cita dan cinta.

Benar Semi, kau tidak akan dilupakan, barisan kita semakin kuat.



❀❀❀


Kisah Hati di Bulan Mei

S. Pudjosedjati

Api Kartini, Tahun II, No. 5, Mei 1960

Dengan cepat-cepat, berlainan daripada hari-hari biasa, Minah memutar-mutar mesin pembangkus rokoknya. Harapannya semakin besar untuk memperoleh produksi dua kali lipat daripada biasanya karena esok adalah 1 Mei, hari libur dan hari kemenangan buruh sedunia, dan dia sore ini hendak berlatih sandiwara lagi dengan kawan-kawannya. Minah sudah beberapa minggu dilatih ikut bermain dalam pementasan “LAPAR” yang akan dimainkan pada tanggal 2 Mei malam di panggung terbuka alun-alun. Menurut pemimpin sandiwara, Minah dipandang salah satu dari buruh pabrik itu yang tepat memainkan peranan mbok tani dalam cerita tersebut, sedang selain itu Minah memang sedikit banyak mempunyai bakat bermain.

Sudah 5 tahun Minah bekerja pada pabrik rokok cap “Pompa” di kota Semarang, mula-mula sebagai buruh dapur pemilik pabrik tersebut, kemudian dapat diterima menjadi pengelinting rokok sampai sekarang. Dia bekerja mulai dari gaji Rp4.50 dan beruntung diangkat sebagai sehari, kemudian meningkat buruh borongan yang setiap harinya lebih kurang menerima nafkah Rp12.50. Berat perjuangan hidup Minah selama 5 tahun itu, yang sampai saat ini hanya memiliki 2 kain untuk yang tidak sobek dan bisa dipakai sehari-hari kalau bekerja, sedang di samping itu 3 kebaya poplin di antaranya satu sudah tisikan. Tiap bulan Minah harus bayar sewa kamar, yang untuk mempertahankan agar tidak diusir berani membayar sampai Rp80, hanya untuk sebuah kamar, dari dinding hampir roboh. Jadi berarti bahwa Minah setiap hari harus menyisihkan Rp2.50 untuk sewa kamar, belum uang minyak tanah untuk lampu tempel, uang kayu untuk membuat sayur, uang beras, ya semua itu harus diperinci. Hanya dia beruntung kalau sakit atau menemui kesusahan mendapat pertolongan dari pemilik rumah yang ditumpangi yaitu pak Mamat dengan istrinya, suami istri sudah tua dan bersama-sama Minah bekerja di pabrik. Karena Minah masih gadis dan belum kawin, segala kesukaran dan kepahitan hidupnya teratasi olehnya sendiri, sekalipun sering kalau ia habis nonton, terpaksa tidak dapat beli beras atau minyak, dan cukup membeli nasi sebungkus untuk menghilangkan kedinginan perutnya, tidur pun dalam kamar gelap. Semua ini hampir sama dengan kawan-kawannya sekerja, buruh sepadan Minah yang menjual keringatnya dengan tenaga. Lebih-lebih kawan-kawannya si Upi dan Inah yang masing-masing sudah mempunyai 4 dan 5 anak. Terang mereka tidak mampu mencukupi hidup keluarganya. Apalagi membelikan pakaian atau memenuhi kebutuhan hidup mereka, sedang makan saja setiap hari tidak teratur.

Kenyataan-kenyataan kepahitan hidup kawan-kawannya ini yang berlebihan dari dirinya cukup memberi kekuatan batin bagi Minah dan memberi dorongan membantu serikat buruhnya memperjuangkan nasib buruh-buruh di pabrik “Pompa” itu pada khususnya.

Di lain pihak, Minah sudah mempunyai pacar, si Dullah pembuang sampah Balaikota dan yang pada malam hari jadi sopir becak. Bagi pekerja-pekerja penglinting rokok laki-laki lainnya, Minah yang semuda itu yaitu baru usia 23 tahun, merupakan tenaga penghimpun persatuan buruh di lingkungannya yang dicintai sehingga segala ajakannya senantiasa dipatuhi oleh kawan-kawannya. Sekalipun Minah baru saja terberantas buta hurufnya, namun ini tidak mengurangkan kemampuannya menunjukkan keinginannya membantu.

Bergegas-gegas Minah pada siang itu menyebabkan ia basah berkeringat. Kebayanya yang sudah nampak hijau memutih, akibat keringat di beberapa bagian menghijau lagi. Dan kalau seorang juru tik manis siang itu lewat situ mendekat Minah tentu akan mual berbahu keringat Minah. Teristimewa kalau memperhatikan senyum Minah, orang akan melihat dua gigi mas yang menghias mulutnya, yang menyebabkan dia disayang sama kang Dullahnya! Tepat jam 4 sore, lonceng pabrik terdengar, dan semua buruh rokok di los itu bergegas-gegas membawa hasil-kerjanya untuk ditimbangkan kepada mandor, ditukar dengan uang. Demikian pun Minah, sambil mengenangkan selendangnya ketika melihat di sekitarnya tidak ada orang, dengan perlahan-perlahan mengulang-ulangi kalimat-kalimat yang harus ia hafalkan:

“Nini tak punya api—Nini tak punya nasi—memeluk bayi di hangat dadanya—memeluk bumi di hangat cintanya—apinya dalam hatinya.”

Sajak bait terakhir Anantaguna.

Minah selalu ditekankan oleh pemimpin sandiwara agar pada adegan sajak ini harus ia ucapkan disertai segala rasa dan kesungguhan, kalimat demi kalimat! Ada yang berombongan, ada pula yang berduaan, berpasang-pasangan atau sendirian, para pekerja pabrik mulai keluar menuju ke tempat tinggal masing-masing. Dua puluh tujuh setengah rupiah! Itulah hasil Minah membanting keringat. Dia harus kasih tahu kang Dullah dulu supaya malam nanti dijemput dari balai rakyat tempat latihan.

“He Nah, ayo, kuantar pulang,” seorang tukang becak berkaos coklat, bertopi tikar dan celana biru bertambal melambai tangan ke arah Minah. Minah terkejut semula, memalingkan kepala dan tersenyum melihat Dullah.

“Sudah dapat berapa duit ngenjot becak kang?”

“Kau penumpangku pertama Nah!”

Sambil membetulkan jok becak, Dullah lanjutkan:

“Lalu kau juga dapat berapa duit?”

Belum juga disahut, Minah ambil dari bengkung ikat pinggangnya kantong merah, setelah mengambil Rp12.50, menyerahkankan kantong merah kepada Dullah, sambil berkata:

“Titip kang, esok libur, jadi sisanya ini Rp15, untuk beli makan lusa.”

Dullah mula-mula ragu-ragu, tapi akhirnya masukkan kantong merah itu ke dalam saku celananya.



Dullah terus mengayuh becaknya mengantar Minah menuju pondoknya. Di tengah jalan mulailah lagi:

“Nah, aku bulan depan sudah tidak buang sampah lagi, aku dikerjakan di taman pahlawan, suruh urusin kebun dengan 2 temanku. Enak Nah, tidak susah-susah bau sampah busuk lagi.”

Sahut Minah: “Lalu, gajihmu naik?”

“Terang dong. Saya bilang sama mandor saya, kalau sudah dipindah dan gaji naik saya ada rencana kawin. Nah, aku terus terang yo Nah, bulan depan kita kawin ya? Kita kan sudah saling kenal 1 tahun. Aku berani tanggung risiko hidup Nah, aku kan lelaki!”

Minah belum juga memberi jawaban. Hatinya berdebar karena ucapan-ucapan kang Dullah itu berarti pinangan. Sudah 1 tahun dia mengenal Dullah dan memang dia pemuda yang kena dipercaya, tidak suka main-main dengan lain-lain perempuan.

Minah sukar mendapatkan suaranya karena tenggorokannya seakan-akan mengering. Berpaling ke belakang pun tidak berani. Sekalipun dia buruh dan pekerja rokok, tapi dia orang sopan dan sifat serta kehalusan kewanitaannyalah menahan dirinya tiada bergegap-gegap memperlihatkan keinginannya yang sudah lama di kandung.

Maka karena tidak terjawab sahut lagi Dullah: “Eeh, Nah, kau memangnya nggak dengar aku? Aku sudah terlalu lama tunggu kamu Nah, aku sudah menabung sedikit-sedikit dari sisa setoran becak. Tapi semua itu kalau kamu mau terima aku seperti si Dullah sekarang ini. Satu hal yang kamu tidak boleh ragu-ragu Nah, aku hanya cinta kepada kamu dan kalau aku bilang cinta, aku akan baik-baik dan betul-betul mengawini kamu.”

Terputus Dullah karena ada penyetopan. Kesempatan ini malah dipergunakan untuk memperhatikan konde si Minah, dan karena kesegaran sore itu yang disertai angin, maka terbawalah bahu keringat Minah yang belum mandi dan pulang kerja itu. Bagi Dullah bahu itu seperti bau odok lonyo yang sok dijual di pinggir jalan di pasar Yaik.

Maka sambil mengambil sapu tangannya yang setengah tua dan memberikannya kepada Minah, dia berkata lagi, “usaplah keringat itu Nah, ini boleh pakai.”

Minah hanya tersenyum seperti senyum biasanya yang dikenal kang Dullah.

Jawab Minah: “Maaf aku baru pulang kerja dan belum mandi kang. Jangan lupa tanggal 2 Mei jam 8:00 malam di alun-alun kang. Lihat aku main. Aku berangkat dengan kawan-kawan pabrik saja, nanti pulangnya saja bersama kang Dullah. Kau ambil saja tempat berdiri dekat tiang listrik sebelum timur itu kang, jadi kalau saya cari kamu dari atas panggung kelihatan.”

Dullah pun memberi kesanggupan untuk menyaksikan panggung itu dan akan bersiap di dekat tiang listrik seperti yang diminta oleh Minah.



Tanggal 2 Mei di alun-alun...

Bagi Rakyat Semarang yang baru kali itu menghadapi panggung terbuka, berkat pengatur tata tertib dan panitia, rakyat dengan rapi duduk teratur dan dengan semangat seraya menghibur diri dengan keluarganya menyaksikan hiburan-hiburan kaum buruh. Dari semua penjuru kota, dari kampung-kampung yang jauh dari alun-alun maupun yang dekat, rakyat berjejal-jejal memenuhi bagian utara alun-alun.

Cara-caranya pertama adalah: nyanyi bersama lagu-lagu sapta usaha tama, lagu-lagu perjuangan buruh, tari-tarian Rakyat, tari-tarian buruh, tarian kanak-kanak dan dagelan disambung beberapa tarian daerah dan orkes. Tepat pada jam 21:00 diumumkan oleh pengacara, bahwa babak pertama “LAPAR” akan dimulai. Kiri, kanan dan depan panggung, seluruh alun-alun utara penuh dengan penonton. Di sela-sela penonton itu ikut berjongkok para seniman dan pelukis rakyat yang ingin menyaksikan kawan-kawannya, dan hasil kerja rekannya. Di sudut lain lagi anggota-anggota massa organisasi wanita merupakan bagian tersendiri ikut serta duduk di tanah bersama sabahat-sabahatnya, ingin menyaksikan buah karya pementasan “Lapar”, di samping menghibur diri menyaksikan tari-tarian dan pertunjukan-pertunjukan lainnya.

Dullah, belum juga sampai di alun-alun, karena sejak kemarin dia kedatangan orang dari desanya yang mengabarkan bahwa adiknya perempuan malam nanti jam 20:30 akan datang dari Sragen dan minta dijemputnya di stasiun. Ya, karena gopohnya sampai juga dia belum memberi kabar Minah yang menyebabkan pada jam 20:00 dia belum nampak di dekat tiang listrik. Tepat jam 20:45 setelah kereta senel Yogya masuk Dullah dengan tidak sabar lagi berjejal-jejal dengan lain-lain penumpang mencari-cari adiknya.

“Yem, yo lekas, kita habis taruh buntelan terus ke alun-alun.” Miyem tanpa menyahut menghampir kakaknya dan apa yang diucapan, “kau dapat kiriman sarung dan peci dari mbok.”

Maka dengan menggandeng tangan Miyem mencari jalan diselip-selip penonton dan setengah dicaci maki karena meneronjol saja akhirnya Dullah sampai di bawah tiang listrik yang dimaksud Minah. Tepat, sebelum dia hendak duduk, dalam sarungnya yang baru dan peci kiriman ibundanya, mata Dullah bertemu dengan Minah yang pada saat itu kebetulan baru keluar panggung seraya mengundang anaknya, hingga berkesempatan mengerlingkan buah matanya ke sudut tiang listrik. Tapi, sial amat, mata Minah menangkap tangan Dullah yang memegang tangan seorang perempuan, seorang gadis berbaju merah dan alangkah cantik si gadis itu. Waspada-waspadalah Minah, jangan rusak permainanmu dengan peristiwa itu, pusatkan, pusatkanlah segala isi hati dan gayamu untuk menyukseskan adegan-adegan nanti. Kata-kata pemimpinnya ini seoah-olah terselip-selip ditelinganya yang merupakan paduan antara kesakitan hati melihat Dullah menggandeng gadis dan ikut serta dirinya menyukseskan pementasan. Pada detik adegan seorang tuan tanah tampil ke depan panggung dan menendang Minah, berhentilah sesaat jantungnya, laksana menahan kesakitan hati.

Dalam bayangannya menghadapi si Dullah seorang lelaki jahanam, lelaki pemain perempuan-perempuan, lepaslah kemarahan dan kesedihan si mbok tani dalam menghadapi kekasaran tuan tanah. Baju Minah tersobek karena dihajar ditendang tuan tanah, bayi, anaknya, dihempitnya, air mata Minah yang luar dari kesakitan, air mata luka jiwa yang teridapkan yang secara otomatis, berasal dari lubuk hatinya, mulai menetes, dan menyebabkan napas para penonton wanita pun ikut mendengus menyertai cerita dan kebesaran intinya serta kemampuan pemainya.

Sebagai jawaban teriak parau tuan tanah: “Serahkan anakmu, bayimu itu kepadaku sebagai pelunas hutang! Kalau tidak, suamimu kuadukan ke jaksa, kalau tidak biar dia dituntut dibuang ke Deli, atau rumahmu kusuruh bakar biar kalian musnah dimakan api!”

Terputus-putus dalam tangis-tangis yang harus dimainkan dan tangis kedendaman dan kesakitan hati seorang perempuan, Minah menjawab tuan tanah disertai ucapan-ucapan yang kuat, mengharukan dan perlahan-lahan, kalimat demi kalimat...

“Nini tak punyai api-Nini tak punya nasi-memeluk bayi di hangat dadanya-memeluk bumi di hanqat cintanya—apinya di dalam hatinya...”

Setelah sesaat lamanya seluruh alun-alun sunyi, mati menahan-nahan detak jantung dan sesak napas menangkap adegan Minah dengan tuan tanah, para wanita terutama yang duduk mematung di rumput dan menyertai cerita dengan linangan air mata, maka sesudah itu, meledaklah riuh ramai!

Massa pemuda dan kaum lelaki melonjak-lonjak kemarahannya mengecam politik tuan tanah. LAPAR berakhir dengan penyerahan bayi kepada tuan tanah sebagai pelunas hutang. Adegan dinyatakan selesai. Tepuk tangan riuh memecah angkasa alun-alun,yang tadi berjongkok,yang tadi teratur duduk, mulai berdiri melempar-melempar peci, sapu tangan dan melambaikan tangan dengan teriakan-teriakan:

“Maju ke depan,tampil lagi di panggung untuk terima sambutan massa.”

Keluarlah Minah, ini kali tidak dengan hempitan bayi, tetapi dengan senyumannya dan membongkok-bongkok, melambai-lambai dua-tiga kali menyambut kawan-kawannya, menyambut kepuasan mereka!

Dan di bawah tiang listrik itu seorang pemuda terdesak-desak oleh lain-lain penonton tak terputusnya melambai dan bertepuk tangan.

Dalam hatinya dia bangga, bahwa kang Dullah seperti dia ini akan didampingi oleh seorang pengelinting rokok Minah, seorang seniwati, seorang pejuang. Sambil menatap wajah adiknya karena kegirangannya, berkata dia: “Yem, yo dekatin dia, kukenalkan.”



Di samping kepuasan akan sukses LAPAR, di samping kebahagiaan akan sukses permainannya, di mana tepuk sorak massa masih didengarnya ketika dia berkemas-kemas di balik pangggung hendak turun dan keluar dari belakang, Minah bergolak dalam kancah perasaan dan pikiran.

Dasar lelaki pembohong, pendusta, penipu! Demikian Minah berpikir. Untung aku belum dikawini. Kalau sudah, terang aku jadi istri kedua, atau dia tentu kawin 2—3 kali lagi. Inilah, kalau belum ada undang-undang perkawinan. Nasibku! Nasib istri-istri tua itu masih juga tidak dilindungi oleh peraturan sekarang ini. Dalam kerisauan hatinya, Minah masih sempat pula menyebut-nyebut undang-undang perkawinan yang ia dukung. Setelah minta diri dari pimpinan hendak turun, ia cepat-cepat pergi dengan mengenakan selubung kepalanya yang biasanya tidak pernah dipakai yang kali ini terpaksa, agar tidak dikenal oleh orang-orang di luar yang melihatnya.

Di bawah panggung belakang dekat pintu keluar, dua kawan perempuan menghampirinya dan berbisik:

“Kau ditunggu kang Dullah tadi”

“Biarlah ditunggu” sahut Minah,“aku pusing mau pulang” ucapannya. “Maaf, Pit.”

Sambil berkata demikian Minah menuju ke Barat, jurusan Bojong. Kepalanya makin pening dan berat, seperti semua berputar. Jalan yang dilihatnya agak pudar, ia mulai berkeringat karena emosi permainannya, karena emosi menghadapi lelaki seperti Dullah yang banyak-banyak janji tetapi bawa gadis lain. Dengan cepat-cepat, menyelip-nyelipkan diri antara orang-orang yang berdesak, Minah sudah tidak peduli Dullah lagi. Dia harus istirahat, dia ingin pulang dan merasa letih. Biar dia melepaskan kekesalannya di biliknya dan mengenangkan kepuasan penonton karena suksesnya permainannya dan bagusnya cerita. Ya, dia akan ngalamun seperti juga halnya dengan puluhan perempuan senasib dengan dirinya, dia, salah satu dari mereka yang sakit hati.

Cuaca terang sejak senja yang mengiringi suasana panggung dan kegembiraan Rakyat, pada jam setengah sepuluh malam berbarengan dengan pulang Minah, mulai mengawan, menghitam,disusul dengan rintikan hujan gerimis. Suasana alun-alun riuh, ramai, orang-orang yang duduk menikmati orkes melayu, bergeser dan satu per satu menyelamatkan diri dari rintikan hujan. Satu,dua,bergerombol dan karena hujan makin kerasnya, maka semua berlari-larian mencari tempat teduh. Minah pun yang kencang melangkah, berlari juga hendak menyeberang jalan mencari lindungan di teritis toko Bojong.

Larilah dia, lari, lari, lari dengan kencangnya menyeberang jalan...

“Awas mobil...” suara menyayat diikuti jeritan segerombolan orang di sekitar.

Yang dapat mereka lihat dalam gelap hanya bayangan hitam terhimpit dua mobil yang saling bertubruk. Tak lama kemudian ambulance datang dan korban di bawa ke RSUP...





“Ke mana dia, Pit,” tanya Dullah sambil gosok-gosok pecinya yang baru.“O, ya Yem, ini si Upit, kawan Minah. Ini Pit, ini adik saya Miyem baru datang dari Sragen tadi.”

Belum juga Upit bersalaman dengan Miyem, berlari-lari pak Mamat dengan istrinya:

“Pit, Upit, Dullah, ayo lekas-lekas ke rumah sakit. Orang bilang Minah dibawa mobil rumah sakit.”

Melihat kepala Minah yang sebagian merah terbasah oleh darah, hancur luluh hati Dullah. Terbayanglah masa lampaunya dengan Minah. Dia menggambarkan hal-hal yang bukan-bukan dengan pikiran bagaimana kalau kekasihnya meninggalkan dirinya.

“Harap saudara ke luar, dokter akan memberi pertolongan,” juru rawat menegurnya.

Sambil membalikkan badannya ke arah pinu menuju ke luar ruang, Dullah meremat-remat kantong merah berisi Rp15.

Selama lebih kurang setengah jam ia terpaku di depan pintu tertutup, menyertai pertolongan dokter tiap detik dengan harapan beserta doanya. Keringatnya makin membasahi muka dan badannya karena kegelisahannya.

Tetapi jantungnya berhenti sebentar ketika pintu dengan sekonyong-konyong dibuka dan dokter berkata:

“Boleh masuk...”

Dengan cepat dan tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, larilah Dullah memasuki ruangan, dan ketika sepasang matanya yang penuh harapan memandang dokter dan juru rawat, kemudian sekejap dialihkan kepada tubuh yang berbaring di hadapannya, terlihat Minah sedang memejamkan matanya.

Terbambung-bambung di tengah gelombang perasaannya dengan bibir berkomat-kamit, Dullah hanya dapat mengeluarkan kata-kata:

“Minah, kau...”

Sesaat itu keluarga Mamat, Upit dan Miyem sudah berkerumun di sekelilingnya. Dan masih sempat menarik tangan Miyem yang dipertemukan dengan tangan Minah, Dullah berkata, “ini adiku.”

Baru Minah mengerti bahwa gadis cantik itu adalah adiknya. Dalam kelemahan badannya terasa arus bahagia menggetar. O Dullah tidak bersalah, dan ia tetap setia padanya.

“Minah, tidurlah, agar kau lekas sembuh kembali, kawan-kawan sangat bangga padamu; kau harus sembuh karena kita harus maju terus dan karena aku senantiasa menunggumu.”

Sekali lagi arus bahagia mencepatkan jantung Minah berdetik. Dicobanya untuk tersenyum serta mengulurkan tangannya tanda terima kasih. Ya, ia akan sembuh kembali, ia akan merangkum hidup dengan penuh harapan. Sukses panggung terbuka membuka pula harapan baru. Walaupun salah sangka dan ketidakpercayaannya kepada Dullah hampir-hampir menewaskannya. Hidup sangat lebar terbuka, meskipun ia tahu banyak onak duri yang perlu dilalui, ia tak akan sepicik memikir terburu-buru, ia belum mati, karena mati adalah titik dan hidup adalah layar yang mengembang lebar.

Lukanya tidak berbahaya dan ia akan hidup. Sekali lagi Minah tersenyum ketika wajah kawan-kawannya muncul dari balik pintu...



❀❀❀


Yang Kesepian — Sugiarti Siswadi (Juni 1960)

Api Kartini, Tahun II, No. 6, Juni 1960

Tiap-tiap bulan Juni, bulan ujian penghabisan, terasa ada sesuatu lagi yang patah di hatinya. Tiap hari ia hadapi kegagalan, kepatahan, kekecewaan, tetapi setahun sekali di bulan Juni, keparahan luka itu semakin dalam.

Pada hari pertama ujian penghabisan SMP yang telah tiga kali ia tempuh tanpa hasil, seperti dua tahun yang lalu, tidak ada kebanggaan dan harapan lulus. Ia kayuh sepeda jengkinya bersama-bersama rombongannya, anak-anak ekstranei yang gagal, berteriak-teriak dan menyanyi gila-gilaan sepanjang jalanan. Pagi-pagi hari tadi telah sebuah kekecewaan diterimanya, di hatinya yang rapuh. Pengawas ujian yang melihat bagaimana ia meliukkan kakinya di bawah meja menegurnya:

“Kakimu memang sudah terlalu panjang di bangku ini.”

Betapa menusuknya kata-kata itu. Ia terkejut merenung sebentar, tetapi kemudian seperti hari-hari biasa, ia kalahkan kegagalannya dengan kenekatan. Ia sengaja mengganggu ketertiban ujian, ia jatuh-jatuhkan alat tulis-menulisnya, dan berkali-kali menanyakan waktu, yang dijawab oleh pengawas dengan acuh tak acuh. Sudjono, langganan lama bagi guru-guru S.L.P.

Ia terkenal sebagai salah seorang anggota cross-boy yang menguasai salah satu gang di kotanya. Rombongannya yang setia terdiri dari lima orang, ia Sudjono, dengan julukan Johny, Pratomo di kalangan cross-boy namanya disulap jadi Tommy, Ali Irsjad alias Elvis, Sumarno pilih nama serem Kid Marno dan Sutarjo yang berjuluk Nick Taryo. Lima orang “gerombolan bandit” kesepian ini mengaduk ketenangan kota dengan tindakannya gila-gilaan dan perkelahian antar gerombolan. Mereka sudah seharusnya duduk di bangku perguruan Tinggi, tetapi bangku SMP. pun dengan susah payah belum dapat ditinggalkannya.

Pagi itu, setelah ada pengumuman bahwa ujian Ilmu Bumi tidak bisa dilangsungkan karena “sesuatu hal,” kelima bujang itu mengayuh sepedanya, dengan membungkuk, hingga celana jengkinya makin nampak merosot di atas sadelnya.

“Tom, manis bener yah, pengawas kita tadi.”

“Yah ia galak sedikit. Diejeknya gua, dikatakan kaki gua kepanjangan duduk di bangku itu. Menghina bener.”

“Coba gue dikatain begitu, gue jawab, mengkali pacar ibu guru kakinya pendek, ya?”

Kelima mereka ketawa yang jauh dari sopan, sehingga tukang becak minggir dan nyengir. Apabila anaknya berani ketawa begitu, yakin, tamparnya akan melayang berkali-kali di pipi anaknya, tidak peduli ia sudah lebih tinggi dari dirinya. Tetapi tukang becak yang sederhana ini pun tahu, bahwa bandit-bandit kecil gaya Amerika semacam itu tidak bisa didekati. Berapa kali sudah ia memuat penumpang-penumpang demikian, dan ia mendapat ganjaran tinju bukannya uang.

Kelima orang anak itu sampailah ke pinggiran kota. Jalanan sepi dari bising mobil, matahari pagi memancar dengan hangat, kehijauan pedusunan damai dalam cahaya emas. Jalanan aspal mereka tinggalkan, membelok ke jalanan berbatu kecil-kecil, dan sampailah ke pesawahan, di mana lebat menghijau tanaman kedua sesudah padi. Mentimun, waluh, kacang panjang, terong, tomat dan lain-lain. Tommy yang paling besar perawakannya dan jadi pemimpin rombongan oleh anak buahnya. Mereka berbaring-baring di bawah pohon, dan membicarakan sesuatu yang tidak karuan ujung pangkalnya.

“Kemarin ayah gue marah lagi. Bertengkar ribut sama ibu. Terlalu lama ayah pergi ke bini mudanya di Cianjur, dan begitu ayah muncul ibu menangis. Ayah bukan jadi kasihan, malah jadi ngamuk. Gue yang kesenengan, gue ambil kunci kontak, gue pergi setir Mercedesnya yang baru. Enak deh. Itu si Tuti yang sombong banget sedang boncengan scooter sama pacarnya mahasiswa kepolisian gue salip hampir terguling.”

Pratomo mendongeng dengan nada datar. Sulit kita tangkap, apakah itu dongeng penderitaan batin, ataukah kebahagiaan hidup.

“Aha, John, kemarin aku ketemu lagi sama si Samuel, keren dianya, rombongannya jadi lima belas sekarang.” Nyeletuk Nick Taryo.

“Terus kau bagaimana?”

“Kepaksa dong Tom, lari. Habis tidak ada temen.”

Mereka tertawa terbahak-bahak. Nick Taryo yang merasa tersinggung mengeluarkan belatinya yang disisipkan di pinggang, kemudian dengan gaya jagoan Tarzan ia tancapkan belati itu di pohon munggur berkali-kali.

“Pernah kau pakai melukai orang, Nick?”

“Belum, belum lagi. Tetapi cukuplah buat bikin gentar orang. Ayah gue tidak berani lagi sembarangan. Kwartalan dulu, raporku jelek sekali, aku tunjukkah ayah sambil tangan kiriku memainkan ini” (dilemparkannya belatinya ke atas diterima lagi berkali-berkali dengan gesit), “dan ayah diam saja. Aku diliriknya. Ibu menangis di kamar terhisak-hisak. Ah, lagu lama, selalu saja begitu, ayah mendiamkan aku, tidak berani menegur, dan ibu hanya menangis saja. Jadinya sesak rumah itu bagiku.”

“Biasanya ayahmu galak sekali,” sela Kid.

“Itulah maka aku lari ke belati. Tiap kali tidak ada yang bener kubuat, mana lagi minta uang buat nonton, kelihatan batang hidungku saja, ayah sudah memberondongku. Untung ibu murah hati. Tetapi, selalu habis itu ada sandiwara. Ayah ngamuk, ibu nangis. Siapa betah di rumah?”

“Kira-kira lulus nggak tahun ini kita?”

“Mereka bikin kita ndak lulus. Mereka cap kita orang-orang bengal, buat apa kita berbuat manis. Manis juga sial, mending begini, tidak mati konyol.”

Mereka tertawa lagi, keras dan hampa. Mereka tidak tahu, bahagian hidup yang mana yang mesti diterima dengan senyum, mana yang dengan ketawa bebas terbahak lepas, mana yang dengan tangis. Semuanya ditertawakannya, dengan keras-keras tetapi hampa.

“Kid, haus ini. Coba deh petik mentimun barang lima biji.”

Kid Marno anak seorang pensiunan yang terlempar ke tengah mereka adalah yang paling miskin. Ia menjadi bujang pesuruh. Di kantongnya selalu ada uang sekarang, apabila Tommy anak pengusaha berbini tiga yang kaya itu sedang murah hati. Ibunya sendiri miskin dan bekerja keras untuk menutupi ongkos hidup. Tidak pernah bisa keluar uang sepeser untuk kesenangan anaknya. Kid dengan lesu bangkit ke kebun.

“Cepetan dong Kid, tenggorokan gue sudah kering nih.”

Dilemparkannya sebungkus Lucky Strike yang sudah berkurang ke arah Kid, yang diterima dengan senyum hambar. Kid berjalan ke sawah.

“Ha, Tom, ayo ke sini kita ambil ramai-ramai. Timunnya besar-besar, tomatnya merah, gede-gede.”

“Iya. Ayo, kebetulan perut sudah lapar ini.”

Pemuda tanggung itu meloncat ke tengah sawah, dan seperti babi hutan mereka renggut mentimun, tomat dan apa saja yang bisa dimakan. Timun itu digigitnya separuh, kemudian dilempar, mereka petik lagi, digigit tiga kali dilempar, dan tanamannya rusak diinjak.

“Kau ingat film Rock Hudson dulu itu ya? Dia di sawah juga kaya kita ini. Seneng ya jadi filmstar, tidak usah pinter bisa banyak duit.”

“Tampangmu jadi filmstar. Paling jadi bandit.”

“Bandit konyol.”

Suara mereka yang keras di sawah itu mengejutkan beberapa petani di situ, yang sedang mendangir tanamannya. Ketika dilihatnya tanaman rusak, ia berteriak tanpa kenal bahaya.

“Bangsat. Kenapa kalian rusak tanaman orang, he? Ayo minggat, kalau tidak aku babat dengan parangku.”

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha. Percis yee kayak Spencer Tracy? Pelan-pelan dikit pak, kita belum kenyang makan ni.”

Nick Taryo memainkan pisau belatinya, dan Kid Marno mengeluarkan rantai besi sebesar ibu jarinya. Melihat gelagat tidak baik ini, petani kita lari dan memukul kentong. Sudah berkali-kali tanamannya dirusakkan oleh gerombolan liar seperti ini, dan rupanya sabarnya habis. Berpuluh-puluh petani tersembul dari kehijauan tanaman, dan berlari dengan parang terhunus mengepung pahlawan-pahlawan kita.

Kelima pemuda tanggung itu bukanlah jagoan berkelahi, walaupun nampaknya mereka berani menghadapi seribu musuh. Tetapi kenyataannya demi melihat berpuluh-puluh orang datang, mereka membuat langkah seribu. Cepat-cepat mereka loncati sadelnya, dan terburu-buru mengayuh. Tetapi malang, petani yang cerdik itu, merampas sepedanya, dan lari cepat-cepat khawatir dirusak dengan parangnya. Pratomo yang ketakutan membonceng sepeda Sudjono, yang ternyata telah pula digemboskan. Terpaksa Djono meninggalkan sepedanya, dan lari cepat-cepat khawatir tersusul petani-petani yang gelap mata.

Terengah-engah mereka sampai ke sebuah dataran yang meninggi. Mereka baringkan badannya dengan hati yang kecut. Mereka tatap langit yang diperintahkan tidak berawan, keringat mengalir di seluruh tubuhnya. Mereka tidak bercakap sepatah pun.

Tommy, pemimpin rombongan yang takut kehilangan wibawa, berteriak dengan keras dan datar.

“He, ada apa mereka di bawah itu? Sebuah mobil sedan berhenti. Sebuah lagi, sebuah lagi. Aduh, banyak gadisnya pada turun. Yo, kita nonton.”

Walaupun kecut masih hati mereka, mereka tidak berani bantah perintah Tommy. Perlahan-lahan mereka turun, mendekati rombongan mobil itu. Mereka berbaring di pinggir semak, pada jarak yang pas untuk memperhatikan pemandangan baru.

Seorang wanita manis berdiri bersandar di semak, gaunnya putih berkembang, dan seorang juru potret dengan kumis kecilnya melintang mengambil fotonya dari macam-macam sudut.

“O, manekin. Manekin. Mengkali ibumu turut John.”

Johny berdiri melongok. Bertepatan dengan itu, tibalah giliran pada seorang wanita yang bergaun merah dengan potongan yang ketat dan dada lebar terbuka, bergaya di depan lensa. Wanita itu tersenyum dan melenggokkan pinggangnya begitu rupa, dengan gaya yang tidak patut untuk seseorang seusia dia. Tukang potret itu membetulkan caranya berpose, mengusap rambut wanita itu yang jatuh di pipi, serta meraba tangan montoknya yang tergantung dengan semampai.

“Uhuuuuu, Uhuuuuiii,” siul pemuda kita. Tetapi Johny membalikkan mukanya dan menelungkup di rumput hijau. Wanita yang kenes itu adalah ibunya. Ibunya sendiri.

Pemuda berempat itu meneruskan melihat tamasya yang hebat itu dengan komentar yang aneh-aneh, tetapi Johnny tidak beranjak dari tempatnya.

Itulah pangkal pelariannya ke daerah gerombolan liar kesepian. Ibunya, sesorang wanita yang ia ingin junjung tinggi, terjun dalam cara-cara hidup yang tidak bisa ia setujui. Ikut dalam show di hotel-hotel besar, memotong rambutnya pendek-pendek, mencat kukunya, berdandan ketat dengan dada terbuka, hampir separuh buah dadanya menonjol keluar, berlenggok apabila berjalan, dansa segala macam corak, dari yang sopan sampai ke rock and roll, ikut dalam segala contest merebut ratu ayu, ratu air, ratu pantai sampai ke ratu apa lagi. Memang ia banyak mendapat uang dengan “kerja” begitu. Ayahnya pernah menegurnya, tetapi dengan getas dan galak ibunya menjawab.

“Gajimu tidak cukup. Kita mesti jaga standing. Aku harus cari nafkah buat hidup yang layak, aku harus kerja.”

Dan ayahnya tidak lagi membantah. Tetapi ia tidak mau tahu lagi dengan segala tingkah laku istrinya. Johny lihat, berapa puluh lelaki ganti-berganti menjemput dan mengantar, berapa banyak malam dansa diadakan di rumahnya, di mana ayahnya mengurung dirinya dalam kamar kerjanya. Ayahnya menjadi tua dan beruban, jarang tersenyum dan bercakap. Tetamu ibunya adalah orang-orang tidak berjantung yang menganggap sepi adanya ayah di rumah itu. Johny kesepian di rumah, ia tidak tahu dengan siapa mesti bercakap, kepada siapa mesti mengadu. Ayahnya semakin berwajah angker, dan tidak pernah menanyakan ke mana ibunya pergi, darimana ia datang, juga tidak pernah mengurus anak-anaknya. Johny menganggap ayahnya bukan lelaki jantan, ayahnya seorang lemah.

“Andai kata aku jadi dia,” begitu katanya dalam hati pada waktu malam sepi, “aku banting satu persatu teman lelaki ibuku. Aku tampar ibu di depan mereka dan aku tunjukkan bahwa aku lelaki.”

Tetapi Johny, tidak bisa berbuat apa-apa. Kepada ibunya ia tidak bisa menghormati sebagai layaknya terhadap ibu, kepada ayahnya ia tidak bisa bangga sebagai layaknya seorang anak bangga kepada ayahnya. Ia lari dari kesepian, dari kemasygulan dan tergelincir dalam rombongan Tommy, anak pengusaha kaya yang berbini tiga, yang tiap hari menghadapi kebengisan suami terhadap istri.

“Ihuuui, oh, baby mine,” teriak Tommy, dan sebentar kemudian terdengar deru mobil menjauh.

“Katanya mereka mau ambil bagian nanti dalam contest, memilih ratu air,” kata Kid Marno.

“Tidak pake duit kaya biasa kan?”

“He John, kenapa kau diam saja? Sedih sepedamu dirampas mereka, orang-orang tadi? Ah, minta aja sama ibu kau. Ibu kau kan banyak duit, jadi foto model katanya uangnya banyak. Aku pun akan minta sama ayah. Ah, sebenernya aku ingin kita ganti naik sepeda motor saja, tetapi gimana kalian pada nggak punya. Coba betapa kerennya, kita berlima naik, knalpot kita buka, bunyinya, wah, bisa Tuti sombong itu pingsan kita buat. Dan Samuel nyengir.”

Tetapi Djono diam saja. Matanya merenung jauh. Ia rasakan hatinya kosong dan hampa. Kepada siapa ia mesti mengajukan halnya? Halnya dalam hidup yang pelik ini? Kalau ayahnya yang tua dan beruban itu tiba-tiba mati karena makan hati berulam jantung, bagaimana dia mesti bersikap terhadap ibunya foto model yang kenes itu? Ia sendiri seorang manusia yang konyol. Ia sendiri seorang manusia yang gagal. Ia tidak berhak menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang gagal dalam hidup. Pada mulanya ia jadi cross-boy sebagai protest itu membalik sekarang pada dirinya sendiri. Kehidupan liar dan datar itu tidak bisa menenangkan jiwanya.

Kerja! Yah, mengapa orang mesti kerja seperti ibunya, yah mengapa seperti ibunya itu bisa dinamakan kerja? Seperti juga petualangannya. Masyarakat tidak bisa menghargainya, menghormatinya, karena seperti petualangannya, sikap hidup ibunya cari nafkah bukanlah kerja. Kerja sejati yang berhak mendapat penghargaan masyarakat. Tidak pernah ia dengar orang menggerutu dan menyumpah-nyumpah buruh pabrik sepatu, atau buruh becak, atau petani, atau buruh kereta api, atau nelayan, tidak. Tetapi kerja semacam ibunya lakukan, dan semacam ia lakukan dikutuk, dilihat sebelah mata karena itu bukanlah kerja.

“Aku mau pulang. Ambil sepedaku,” kata Djono sambil bangkit.

“Kau mau mati konyol?” kata Tommy.

Djono tidak menjawab. Tidak ada rasa gentar sekarang melawan pimpinan Tommy yang kejam dan datar itu.

“Aku bilang, jangan kau ambil sepeda itu dari tangan orang desa itu. Kau akan dicincang. Kau kukasih sepeda nanti.”

Djono terus berjalan balik menuruni lereng itu. Kemurahan hati dari seseorang yang hampa akan mengikatnya seumur hidup. Sepi sendiri ia melalui jalan kembalinya. Balik, bukanlah jalan yang mudah; sulit, lama dan pengorbanan. Ia mencari cinta. Cinta ayah ibu, cinta sesama, cinta kebenaran dan cinta kerja. Ia akan berbuat agar ibunya cinta kerja, kerja yang benar.

Empat orang pemuda yang ditinggalkan di belakang Djono termangu-mangu melihat Djono dengan bahu terkulai menuruni lereng dan menyusur jalan dusun yang panas terik.

Seekor burung pipit terbang dan bersiul pelan menawan hati. Alangkah sepinya, seperti hati empat anak di bawah matahari jam sebelas pagi.

Mereka itu kehilangan cinta. Kita wajib mengasihinya.

Awal Juni 1960.

(Aku tulis dengan “Cinta Ibu”)



❀❀❀


Merebut Kampung “Mutiara”

Sulami

Api Kartini, Tahun II, No. 8, Agustus 1960

Duduk diam seperti patung. Tidak tahu apa yang dibayangkan. Dia termenung-menung. Suara kereta api di stasiun yang tak jauh dari rumahnya tidak terasa lagi mengganggu. Pikiranya membara ke alamnya yang lama. Kemudian ke harinya yang kini di mana seluruh Rakyat menghadapi perayaan 17 Agustus 1960.

Anak kecil mengganggunya, datang berlari-lari dari depan, teriaknya sambil merangkul wanita muda itu:

“Yu Tin! Ada tamu!”

Anak itu diciumnya, dan Yu Tin berdiri untuk melihat tamunya siapa, Tin lari dan memeluknya, serunya sambil air matanya berlinang.

“Kau datang kemari Las! Bagaimana kau tahu!”

Anak kecil itu hanya melihat melongo. Sedang mereka berdua menangis kegirangan.

Bertanya Tin sesudah masing-masing duduk di kursi tamu yang tak begitu mentereng:

“Las! Bagaimana kau tau aku di sini?”

“Itu si Amir yang bilang. Dia di Legiun Veteran sini bukan?” jawab Lastari dengan mengusap-usap matanya.”

“O, ya, memang dia di Semarang sini. Dan, kau sekarang di mana Las?”

“Di Jakarta. Sudah lama, sejak tahun 1950.”

“Bekerja?”

“Tentu. Di Perburuhan dan di Gerwani, untuk terus melanjutkan perjuangan. Tin, kau sekarang bagaimana?”

“Sudahlah! Jangan bertanya tentang saya. Sekarang mogok. Entahlah!”

Lilik, anak kecil itu datang kembali dengan berlari-lari. Peluhnya menetes-netes seperti habis kerja berat di pabrik. Rupanya ada perlu penting, katanya berbisik-bisik dengan menempelkan mulutnya di telinganya Yu Tin, “Yu, tanganku berdarah.”

Tin segera melihatnya dan tanyanya, “Mengapa begini?”

“Kena pisau...”

Belum lanjut katanya Lilik berhenti berbicara dan melihatkan muka Tin yang merah dengan matanya pun merah,kemudian katanya lagi, “Mengapa mata Yu Tin merah? Menangis? Mengapa?”

“Akh tidak mengapa, tidak menangis, kena debu!”

Lilik sudah tak memperhatikan lagi katanya, “Yu Tin, tanganku ini diberi iodium ya?”

“Boleh, sana, sana, belakang!”

Las dengan senyumnya yang penuh kasih dan sayang memandangi Lilik sambil mengelus-elus kepalanya, tanyanya,“Sakit Lik?”

Liliknya hanya geleng kepala terus lari ke belakang.

Lastari dengan diam-diam telah teringat kepada peristiwa-peristiwa yang dahulu di mana Ayah Lilik dan Tinasih dalam perjuangan kedua-duanya. Las tidak hanya teringat itu, tetapi juga teringat berita meninggalnya Ayah si Lilik dalam pertempuran dengan D.I. di Brebes. Teringat jelas jasa-jasa dia dalam revolusi dan di masa gerilya. Seorang prajurit yang gagah berani dalam pertempuran-pertempuran melawan musuhnya. Sejenak ingat kembali di suatu pertempuran untuk merebut sebuah kampung. Kampung “Mutiara” yang telah diduduki Belanda.

Penduduknya telah lari mengungsi karena tak mau diperbudak oleh kaum penjajah. Putra dan putrinya bertahan untuk membela kampungnya, tentara bersenjata yang menjadi tulang punggungnya. Sedang seluruh rakyatnya membantu.

Waktu subuh di daerah pegunungan itu terasa sangat dingin. Orang-orang yang berjalan hati-hati di waktu malam tampak kedinginan. Mereka menggigil. Seorang di antara mereka bertaya: “Yu Las! Belanda pasti mampus!”

“Saya belum dapat merebut kembali kampung itu.”

Demikianlah Lastari menjawabnya. Kemudian yang lain menyambung: “Betul! Harus kita bikin mampus. Di kampung itu banyak ternaknya. Bebeknya ribuan.”

Yang lain menggertak, “Rupamu! Hanya makanan saja yang kau impi-impi.”

Seorang kopral yang suka sekali telor itu tertawa dan menjawabnya, “Habis, di sana saja setiap hari mendapat telor bebek tiga.”

“Itulah rasakan, sekarang garam saja kadang-kadang tidak asin.”

Prajurit muda dengan mengenakan ikat hitamnya di kepala menyambung,“Jika saya, hanya coklatnya yang menarik. Pokoknya kita harus berjuang mati-matian untuk merebut daerah perkebunan itu. Kampung Mutiara yang memberi kehidupan.”

Sersan-Mayor Hardjo menyela keras,“Yu Tin! Bagaimana kau kok diam saja.”

“Aku setuju kau.”

Semua tertawa.



Lastari yang sedang memimpikan masanya yang lampau itu mengedipkan matanya. Kemudian sadar jika dia berhadapan dengan Tin, dan katanya, “Tin, aku melamun ke waktu perang duhulu.”

“Saya pun begitu ingat Ayahnya Lilik waktu bertempur merebut ‘Mutiara’, kenangan itu bagus sekali, tetapi membuat saya tolol begini.”

“Jangan menyesal. Belum kasep buatmu, asal kau mau bertindak cepat...”

“Sebetulnya, saya juga mengerti bahwa kawin bukanlah satu akhiran dari perjuangan wanita, tetapi entahlah selama ini saya selalu kalah dengan soal tetek-bengek rumah tangga. Jasmaniah saya terasa sangat terikat. Rasanya, jika mau pergi-pergi tidak sampai meninggalkan anak, dan seperti khawatir. Sebetulnya Ayahnya Lilik almarhum juga tak melarangnya, tetapi tidak mendorong sama sekali. Entahlah saya ini.”

“Memang susah, Tin, menanggung resiko rumah tangga itu. Tetapi jika tidak bisa mengatasi, kita kaum wanita ini selamanya tak akan bisa maju. Karena itu meskipun bagaimana beratnya, harus dapat membagi waktu untuk kepentingan masyarakat dan untuk keluarga.”

Pembicaraan itu terhenti karena datangnya Lilik. Anak kecil itu menunjukkan jarinya yang sudah diperban. Kemudian katanya: “Yu Tin, minta uang untuk membeli es.”

Yu Tin mencegahnya, tetapi Lilik mau menangis. Biasa anak kecil jika meminta sesuatu tidak diberi tentu menangis. Akhirnya Tin memberinya. Dengan perasaan yang tidak enak, karena sebetulnya Tin mengerti jika anak kecil selalu diluluskan tiap kali minta uang menjadi tidak baik. Tetapi Tin tidak bisa mempertahankannya, karena pikiran Tin hanya diliputi oleh rasa sayang yang besar terhadap Lilik. Satu-satunya putra yang disayang dan dikasihani.

Lastari yang mempunyai tanggapan perasaan yang tajam mengerti akan gelisahnya Tin, kemudian katanya “Tin, biasa anak kecil itu nakal. Seperti ayahnya ya, Tin?”

“Barangkali begitu tambah besar tambah nakal. Mungkin karena hanya satu itu. Sampai kadang-kadang jengkel sendiri.”

“Tetapi anak itu jika nakal pinter, asal disalurkan ke perbuatan-perbuatan yang baik. Anak itu banyak tenaga karena itu harus pandai memimpin. Umurnya berapa Tin?”

“Sembilan tahun berjalan ini. Las, tape-gorengnya dimakan. Kau ingat tidak, di mana kita mendapat suguhan begini?”

“Terang ingat. Kita dapat tape begini ini di Pak Lurah Sumber bukan? Memang mereka berdua itu baik hati dan sadar tentang kewajibannya.”

“Kau tadi melamun ke sana?”

“Ya. Ke pertempuran merebut kampung Mutiara.”

“Las, kadang-kadang saya menangis sendiri, mengapa saya buru-buru kawin, akhirnya saya ketinggalan begini. Seperti sampah tidak ada gunanya dalam perjuangan.”

“Jangan begitu. Mulailah sekarang, nanti sudah tentu kau akan mendapatkan kemajuan-kemajuan. Masuklah di Gerwani sini.”

“Saya akan usahakan.”

Terhenti lagi pembicaraan itu karena Lilik datang lagi. Katanya sambil merangkul Yu Tinnya: “Yu Tin uangnya kurang lima kelip, es-nya pakai lotre, minta Yu Tin!”

Diberinya oleh Tin dengan maksud supaya tidak menggoda percakapannya dengan tamu. Biasa Tin berbuat begitu, akhirnya Lilik pun menjadi biasa dan jika minta menjadi sukar dielakkan. Dengan itu memberi kesan kepada tamu-tamunya jika Tin sebagai Ibunya tak bisa mendidik. Lebih-lebih sesudah ayahnya meninggal, Tin sangat memanjakan Lilik.

Tin ingin melupakan kenakalan anaknya, dan pikirannya kembali ke alam lama di mana Lastari senantiasa membincang bersamanya. Katanya:

“Las, waktu ini rasanya seperti berjalan cepat sekali. Ingatan revolusi rasanya masih seperti kemarin, tetapi nyatanya sudah 15 tahun bukan?”

“Begitulah! Lebih-lebih jika memikirkan keadaan dahulu dan sekarang. Dahulu, ingat Tin kau? Itu waktu revolusi, kemudian waktu clash kedua, pasukan kita berbulan-bulan bertahan di hutan, gunung dan desa, rakyat menderita di pengungsian, semua tidak memiliki apa-apa, satu-satunya kepunyaan hanya semangat revolusi Agustus 45. Coba Tin kau ingat-ingat waktu pasukan kita mau merebut kampung “Mutiara”. Kita mempunyai apa? Pakaian satu stel sudah tertempel di badan. Makan tidak tentu. Jika sakit tidak ada obat. Hidup kita sehari-hari hanya tergantung kepada rakyat desa yang sudah terlalu miskin begitu. Tetapi oleh karena semangat kita melawan Belanda berkobar-kobar, persatuan kita erat-erat, perlawanan kita menang dan kampung itu menjadi hak milik kita kembali.”

“Itu Benar. Waktu kita mau berangkat nyerang itu semua pasukan sudah pada lapar, karena sorenya hanya makan ketela. Sedang waktu berangkat jam 24.00 itu hujan, mana dinginnya begitu, tetapi dengan senang kita berangkat dan berhasil. Sedang itu pemuda-pemuda desa pada menjaga dan membantu dengan patuh di posnya masing-masing. Tidak ada yang mengeluh, semua bersatu dan tak ada yang mementingkan dirinya sendiri. Saya sekarang ini tidak aktif, melihat keadaan sekarang ini merasa wegah, orang asal ada kesempatan, dapat kedudukan terus lupa daratan, memadatkan kantongnya sendiri, villanya indah, mobil, foya-foya, istrinya pun tambah banyak, tiap kota besar punya rumah dan punya istri, susahlah!”

“Itulah Tin. Karenanya jika kita pergi ke desa, sering orang gunung yang tahunya hanya hutan-jati, bikin areng, cari kayu-bakar, cari sayuran di hutan, mereka itu heran, sebelum merdeka mereka itu bodoh, buta huruf, miskin, kerjanya ya begitu-begitu, desanya ya begitu, Lurahnya ya begitu, hanya bedanya sekarang mengibarkan Bendera Merah-putih, dikeluarkan pada tiap Hari Besar. Memang mereka tidak salah jika ada yang bertanya 'Bu, kampungnya merdeka itu kapan?'”

“Las, saya ingat di desa yang saya tempati dahulu, agak jauh dari kampung “Mutiara”, ada orang tua, kira-kira umur 55 tahun, katanya dengan saya, “Bu, setua saya ini belum pernah merasakan minuman begini. Itu Las, dia saya beri coklat-milk, padahal 2km dari rumahnya ada pabrik coklat. Payah nggak? Itulah Las, waktu itu kita propaganda muluk-muluk: 'Itulah Pak artinya Merdeka kita akan membuat minuman macam begini untuk Bapak-Bapak semua, lampu listrik sampai di desa-desa, radio sampai di desa-desa, kereta-api, mobil, sepeda, rumah-sakit dan lainnya sampai di desa-desa sini.' Tentu mereka senang bukan? Tetapi sedihlah jika saya tahu, orang-orang yang bertanggungjawab, dari si A diganti si B, si C, toh begini-begini saja. Ingat kau Las, malam-malam kita merangkak-rangkak masuk bentengnya Belanda. Anak-anak dengan muka kalap, giginya menggeget kemarahan, nyerbu dengan tanpa takut sedikit pun untuk menghancurkan musuh. Ingat-ingatlah itu semua!”

“Memang Tin, tak sedikit yang mempunyai pikiran seperti kau. Karena itu sekarang ini yang penting kita semua harus tumandang gawe (mulai bekerja, Ed.) untuk mengatasi kesulitan dan berjuang untuk melaksanakan tugas-tugas Revolusi itu.”

“Kalau saya turuti kemarahan saya terhadap orang-orang yang korup dan gila-gilaan itu wegah, Las, berjuang lagi. Tetapi saya itu kadang-kadang ingat jika saya berhenti sekian, apa gunanya saya dahulu ikut berevolusi, hidup menderita dalam medan-perang, menjadi penghubung yang begitu berat tugasnya. Kemudian saya ingat waktu saya jatuh cinta pada Ayahnya Lilik, itu bukan karena pangkat, kekayaan, kebagusan dan lain-lain, mula-mula hanya keberanian dan tanggung-jawab dia terhadap tugas pertahanannya, kejujuran dan keikhlasan dia dalam perjuangan. Waktu dia rebah, pingsan, darah menyembur dari bajunya, waktu merebut kampung, o, saya menangis di situ, tak tau apa yang saya harus kerjakan. Untung Letnan Palang merah itu datang. Jika tidak, tentu tak jadi kawin sesudah aman. Terus saya ingat kembali. Jika dahulu saya kawin karena tertarik pada keikhlasannya berjuang, kemudian saya sekarang kok malahan pasif. Lebih-lebih orang yang saya cintai itu akhirnya gugur juga dalam menunaikan tugas, mestinya saya harus bangkit berjuang. Tetapi Las, bagaimana juga kisah merebut kampung “Mutiara” itu tetap menjiwai saya. Tentu sebentar lagi kau akan mendengar kabar baik dari saya. Tunggu saja. Sukur jika kau segera mau menghubungkan saya dengan teman-temanmu...”

Lastari tersenyum dan memberikan salamnya dengan jabatan tangan yang erat-erat. Dan kata Las, “Tin, sekarang ini, kampung Mutiara pun masih perlu direbut kembali. Modal campuran, bukan?”

Jawabnya dengan ketawa, “Akh bukan! Saya rasa itu modalnya Belanda.”

Orang dua tertawa terbahak. Dengan mesra Tin melayani Las untuk mengatur tempat tidurnya, menyediakan minum dan makannya. Sedang Liliknya sibuk dengan permainannya yang memenuhi kamarnya...



❀❀❀


Matinya Buto Ijo

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun II, No. 10, Oktober 1960

Rumahnya persis di depan rumah saya. Sebuah bangunan yang seluruhnya dibuat dari bambu, kecuali beberapa bagian yang tidak mungkin dibuat dari bahan itu. Sampai sekarang, masih jelas teringat olehku wajahnya, uwak Wongso yang baik hati, yang lucu, yang mulutnya selalu bersumpal susur tembakau, yang dadanya bidang jarang tertutup baju—hanya selembar selendang lurik hitam menutupi dadanya—yang otot tangannya membayang seperti ular biru kecil-kecil, yang jalannya cepat setengah berlari, yang tangannya cekatan menganyam tikar batang rumput.

Ya, kenangan padanya tidak mungkin hilang begitu saja; sejak kecilku, keluarganya sahabat karib saya.

Anak lelakinya yang sulung teman sepermainan saya; kami bersama-sama sekolah, di sebuah sekolah desa sejauh setengah jam perjalanan. Kami berdua bersahabat karib benar. Ketika kami duduk di kelas satu, maka sepulang sekolah kami bersama-sama mandi di sungai. Alangkah segarnya air itu, pada hangatnya matahari jam sepuluh pagi. Walaupun aku seorang anak perempuan, tidak pernah aku kalah tangkas dengan dia, Surip, sahabat karibku. Kami bersama berenang melawan arus, sesudah itu berhilir-hilir, sampai ke tempat yang agak dalam.

“Awas, jangan terus ke bawah, ada bulus putihnya di situ.”

Terkejut aku, dan pucat setengah mati merangkak ke tebing. Bulus putih, ya nama itu keramatnya seperti beribu-ribu hantu, di kuburan yang sepi.

“Dahulu ya, ada seorang Belanda menembak seekor bulus itu, dan tahu kau apa yang terjadi? Sampai di rumah ia mati. Mati. Percaya tidak kau?” cerita Surip lebih menakuti aku lagi. Sampai sekarang, tidak ada seorang pun berani membunuh kura-kura siluman itu.

Aku menggigil, separuh karena ketakutan, separuh karena kedinginan. Aku berjemur, sampai bajuku kering, sebab sungguh istimewa caraku berenang di sungai, aku mencebur dengan seluruh bajuku.

Ayah Ibuku seorang yang berpikiran maju. Dibiarkannya aku bermain dengan siapa pun, adapun alasannya sebahagian, mungkin karena Ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya di rumah. Ibu mempunyai keahlian menjahit, dan itu tambahan yang besar untuk kami sekeluarga. Ayah hanyalah pegawai kecil saja. Ayah ingin agar anak-anaknya maju, dan untuk menyekolahkan kakak-kakakku, ongkosnya tidak sedikit.

Begitulah persahabatanku dengan Surip semakin erat. Di depan Ayah Ibu, Surip memanggilku “Den Roro”, suatu sebutan untuk “menak” kecil perempuan, walaupun menak itu seorang berandal seperti monyet. Tetapi, di sekolah, dan dalam perjalanan, ia selalu memanggilku “Ti” atau “Tikus”. Tentu karena singkatan belaka dari namaku yang agaknya terlalu mentereng, dan juga karena rambutku yang sejumput panjang seperti ekor tikus. Bagiku, kedua-dua nama itu sama-sama menyenangkan. Ya, aku pun tidak begitu peduli sebetulnya.

Sayang sekali persahabatanku itu tidak bisa berumur lama. Setelah aku naik ke kelas tiga, aku pindah bersekolah di kota, sekolah berbahasa Belanda. Dengan bekal kelas dua Sekolah Rakyat, aku mesti duduk di bangku kelas satu. Sekarang tiap pagi aku membonceng kakak, kakiku harus selalu bersalut sepatu alangkah bencinya aku, tidak mungkin aku memanjat pohon dan mencebur di sungai. Jarang sekarang aku bertemu dengan Surip.

Pada suatu sore, sedang aku duduk di depan rumah, aku lihat dia lewat.

“Surip,” seruku.

Ia menoleh, dan aku berlari menghampirinya. Tetapi Surip sudah berubah kini. Ia pandangi aku dari bawah ke atas, gaunku yang bagus, rambutku yang berhiaskan pita merah dan sepatuku.Ia acuh tak acuh saja.

“Bagaimana? Baguskah rapormu di kelas tiga?” tanyaku.

“Aku sudah keluar, tidak sekolah lagi!”

“He, he, kenapa? Kau mau jadi orang tolol?”

“Aku mesti mengangon bebek, tahu? Selama aku sekolah, bebekku tidak terurus lagi, tahu? Sekarang di kelas tiga kita mesti pulang jam satu, siapa yang mengurusi bebekku, tahu?”

Jawabnya sambil matanya melotot-lotot. Aku jadi benci melihatnya. Surip terus berjalan, menuju ke rumahnya. Aku jadi sangat kecewa, aku ingin agar ia menanyaiku, bukankah aku sudah sekolah di kota? Ingin aku pamerkan kepandaianku menyanyi, bukan sembarang nyanyian, tetapi nyanyian dalam bahasa Belanda. Tetapi, rupanya sedikit pun tidak ada perhatiannya ke situ.

Tentang emaknya, uwak Wongso, aku masih tetap sayang seperti dahulu. Ia tetap tidak berubah, jalannya setengah lari, dan susurnya menyumpat mulutnya. Pada suatu sore aku lihat dia lewat di depan rumah.

“Dari mana uwak?” seruku. Waktu itu aku sudah agak besar, sudah berusia dua belas tahun.

“Beli kelapa, den?”

“Beli kelapa?” tanganku menunjuk buah-buah kelapa yang bergantungan di kebunnya, “Itu kelapa saja. Kenapa beli? Suruh Surip memanjat sebentar.”

“Bukan milik den, bukan. Sudah digadai, itu punya mas Mangun sekarang.”

“Semua?”

“Ya, semua. Uwak hanya boleh melihat saja”.

Aku mendekati uwak Mangun dan memberinya nasehat yang menurut pendapatku sangat bijaksana. Sangat perlahan aku katakan.

“Curi saja sebutir, nanti malam. Masa dia tahu, masa dia menghitung.”

Uwak Wongso menggeleng, sambil tangannya memotong lehernya, suatu isyarat bahwa ia masih berat nyawanya.

“Uwak tidak mau mati, mau hidup. Mas Mangun kan punya buto ijo? Siapa berani mencuri milik tuannya, dia pasti mati, dibunuhnya!

“Kau ingat itu Reso, yang kemarin dulu kematian anaknya? Nah, dia menggadaikan sawahnya kepada Mangun, lalu anaknya jatuh sakit. Dia panggil dukun, apa kata sang dukun? Anaknya sakit karena digoda setan. Baru Reso ingat, ia membabat padi di sawahnya—yang sudah digadai itu—ia sudah minta maaf pada Mangun, mas Mangun memaafkan juga, tetapi buto ijo tidak, nah...matilah anaknya. Tetapi uwak masih kepengin hidup.”

Aku mengangguk-angguk, seolah-olah percaya. Persis waktu itu Mangun lewat dan uwak Wongso nampak sangat pucat.

“Tahu, anak manis, mengucapkan namanya saja, tidak boleh. Belum kering ludah kita, dia sudah lewat.

“Aku tidak mau mati, lihat itu Reso, sudah anaknya mati, mesti lagi dia mengembalikan padi yang dibabat, uang banyak keluar untuk mengongkosi dukun.”

“Salah sendiri, mengapa tidak dibawa ke dokter,” kataku

Uwak tidak menjawab, hanya mengurut dadanya. “Kalau kau sudah besar, kau akan tahu, mengapa kami memilih dukun. Ya, kau punya uang untuk menyewa sado ke kota, kami tidak mungkin bisa. Membawa anak sakit berjalan sejauh itu, sama saja dengan mengantar ke kuburan.”

Dia masuk ke pekarangan rumahnya, sekarang aku, gadis tanggung yang mulai memikir, menguruti dada. Mengapa Tuhan menitahkan makhluk Buto Ijo yang melindungi orang jahat. Mangun, yang kerjanya hanya memeras dan menipu orang miskin? Ayah Ibuku benci kepadanya, kami dilarang bermain dengan anak-anaknya. Ya, mengapa Tuhan tidak menitahkan bidadari yang melindungi uwak Wongso? Tidak terasa, aku sudah sampai di pintu rumahnya. Aku lihat uwak sedang mencampur ubi rebus dengan kelapa parut, dan aku pun ikut makan. Alangkah sedapnya. Semua saja yang dimasak olehnya, sangat gurih, enak, walaupun hanya sayur daun kacang. Mungkin ini berkah bidadari yang menjaganya. Aku lihat sesudah itu uwak duduk menganyam tikar, dengan diterangi lampu minyak tanah yang berkelip-kelip. Punggung uwak menjadi bungkuk, dan sambil tangan yang cekatan itu menganyam, mulutnya tidak berhenti bercerita.

“Uwak,” tanyaku menyela. “Bisakah buto ijo Mangun itu mati, misalnya kita tusuk atau kita tembak?”

Uwak melihat berkeliling, ketakutan membayang di wajahnya.

“Jangan bicara seperti itu, anak manis. Selama ada orang-orang seperti Mas Mangun, selama itu buto ijo tidak mati.”

“Jadi dia tetap kaya dan uwak tetap miskin? Ya, bukankah pekarangan ini uwak punya, kenapa kelapanya dia punya?”

“Itu sudah digadai, manis. Digadai.”

“Kapan lunas?”

“Kalau ada duit.”

“Dari mana duitnya?”

“Yah, dari mana? Dari tikar ini mungkin?” jawabnya mengangkat bahu.

“Suruh Surip kerja uwak, biar lekas lunas hutang uwak.”

“Yah, selama ini dia sudah kerja. Memotongkan rumput pak Wir tukang sado, membersihkan pohon kelapa Ibumu, memetik daun tembakau, memburuh ronda malam, ya apa sajalah, tetapi orang kecil, uangnya juga kecil.”

“Suruh saja dia tanam padi, bersawah, biar uwak punya beras.”

“Kita kan tidak dapat menanam padi di udara. Kita perlu sawah, baru bisa tumbuh padi.”

Sekarang aku tidak tahu jalan lagi. Semua nasehatku tidak ada yang benar. Sebab itu dengan hati berat, aku pulang.

Zaman beredar dengan cepat. Jepang datang. Dan uwak Wonggo mati karena busung beri-beri. Ketika aku pulang berlibur—aku sekolah di lain kota—dan aku lihat rumah uwak Wongso yang sepi itu, aku menangis. Lampunya berkelip-kelip dengan sangat mengharukan, dan laguan malamnya yang merdu tiada mungkin lagi terdengar olehku. Ia telah pergi, tak mungkin kembali. Tikar anyamannya yang biasa dibentangkan ibu di ruang tengah sudah banyak koyak, seperti juga pembikinnya yang hancur ditelan masa. Hanya Surip saja sebatang kara menunggu rumah yang kosong itu sekarang. Tetapi aku tidak ingin lagi menengoknya. Persahabatanku sudah putus, semenjak aku sekolah di kota. Kami tidak lagi dapat akrab.

Kemudian datanglah kemerdekaan, terus perang dalam aksi militer kedua, terus banyak kejadian beruntun, dan aku telah berkeluarga sekarang, meninggalkan tempat kelahiranku.

Kira-kira tiga empat tahun berselang, aku pulang ke dusun. Rumah uwak Wongso berseri sekarang. Surip telah kawin, dan tiga orang anaknya menghidupkan rumah yang telah mati itu. Ya, rumah itu telah banyak berubah, lebih kokoh, lebih rapi, tetapi yang sangat berubah, ialah penghuninya. Dengan agak segan-segan Surip yang berbadan kokoh itu menghormati kedatanganku. Ada rasa dalam hatiku bahwa ada benci dan curiga memancar di wajahnya. Sifat acuh-tak acuhnya dulu, ketika aku sudah bersekolah di kota, sekarang makin nampak. Aku menjadi tidak enak menerima pandang matanya yang mengejek. Ya, memang aku kelihatan mentereng, apakah dikiranya aku sudah korupsi? Apakah dikiranya aku pernah mengkhianati bangsaku? Aneh sekali, mengapa pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengganggu hatiku, karena semalam ayah menceritakan kepadaku, bagaimana wajah orang-orang desa sekarang. Mereka itu cerdas, mata hatinya tajam dan setia kawannya kuat.

Tetapi untunglah es itu segera mencair. Ketika aku sedang mampir di kantor BTI cabang, aku temui Surip di sana. Ia terkejut, dan matanya berseri sekarang. Pengurus BTI cabang menjelaskan kepada Surip, bahwa aku adalah kawannya, ya kawan kita semua, begitu katanya, “Kalau Surip menuntut dengan mosi dan resolusi, maka nak ini menuntut dengan syair dan tulisan serta kisah-kisah yang indah.” Surip mengangguk-angguk, dan pandangannya mengingatkan masa persahabatan kami dahulu.

“Kebetulan, dengan bahan-bahan langsung dari desa, eh...eh...ibu dapat menulis lebih baik.” Aku tersenyum, susah juga baginya menyebut aku.

Begitulah, persahabatanku dengan Surip aktivis BTI, tersambung lagi. Kerap sekali aku menerima surat dari padanya yang menceritakan perjuangan kawan-kawan di desa. Walaupun ia baru sampai di kelas tiga S.R., namun rupanya pada hari akhir-akhir ini, ia bertekun sekali untuk dapat menulis lebih jelas.

Kemarin aku menerima surat dari padanya, surat yang mengingatkan aku kepada Surip kecil dengan temannya si berandalan menak kecil yang seperti monyet. Katanya:

“Aku masih ingat, dahulu pernah kau bertanya, kapankah buto ijo mati. Sekaranglah, sekarang ini telah mampus buto ijo. Tukang gadai Mangun yang menjalankan praktik-praktik lintah darat, tukang numpuk tanah orang lain, kemarin kita kupas habis-habisan dalam rapat desa. Ya, Undang-undang Bagi Hasil sedang kita laksanakan, dan kita masih nunggu-nunggu kapan Undang-Undang Pemakaian dan Perubahan tanah dilancarkan.

“Aku telah ingin melaksanakan anjuran saudara, bertani, dan aku hanya bisa bertani di sawah, bukan?

“Kemarin kami mengupas praktik-praktik tuan tanah Mangun sehari suntuk, dan tidak seorang juga yang mati atau sakit disambar buto ijo. Memang, buto ijo telah mati bersama-sama dengan matinya tuan tanah. Buto ijo telah kita bunuh beramai-ramai oleh kita, oleh pikiran kita yang terang, bebas dari takhayul, oleh akal kita, yang bertahun-tahun dibikin tumpul oleh pemiara-pemiara buto ijo. Tolong, sampaikan terima kasihku kepada kawan-kawan kita yang telah memberi kami pikiran yang waras.”

Yah, barangkali akulah orang yang paling bersedih, mengapa kabar baik ini tidak dapat saya sampaikan kepada uwak Wongso. Ia sudah meninggal. Tetapi anak cucunya tidak akan lagi dibayangi oleh buto ijo macam apa pun juga.



❀❀❀


Pahlawan di Lereng Gunung Ungaran

Sulami

Api Kartini, Tahun II, No. 11–12, November–Desember 1960

Indonesia adalah dikenal oleh negeri-negeri lain sebagai “Pulau kelapa yang senantiasa hijau”. Demikianlah indahnya Tanah air kita ini di mata dunia. Turis-turis yang sengaja datang ke Indonesia hanya melihat keindahan itu, banyak terpesona pandangannya jika melihat lereng-lereng gunung yang hijau dengan segala macam tumbuh-tumbuhan. Tak usah jauh-jauh para turis internasional yang dibuat contoh, kita sendiri saja, jika berkesempatan di tempat-tempat dingin seperti Tawangmangu, Kopeng, Selekta, Puncak, Lembang, sekitar Danau Toba dan lain-lain merasakan semua itu adalah suatu kenikmatan.

Gunung Ungaran umpamanya, dia tak kalah indahnya dengan gunung-gunung yang lain. Tak hanya keindahannya yang meresapkan, tetapi bantuan Rakyat di sekitar gunung Ungaran itu pun tetap dalam hati kita. Terutama sekali, bantuannya pada pasukan-pasukan Gerilya yang sedang melawan musuh pada clash kedua.

Suatu peristiwa terjadi waktu ampak-ampak masih menutup semua puncak dan lereng gunung. Matahari masih bersemayam di balik gunung. Semua hanya terlihat hitam, putih kemudian dingin menggigil.

Hari siang sebelum menjelang malam gelap itu, biasanya petani-petani dengan niat yang dipaksakan mengerjakan sawahnya. Anak-anak menghela hewannya. Pak Tani membajak, anak-anak mencari rumput. Tampaknya semua tergesa-gesa. Pandangan matanya liar, seperti ada yang ditakutkan. Betul. Mereka takut. Dalam hati mereka hanya ada keraguan dan pertanyaan terhadap diri sendiri: “Jangan-jangan Belanda jahanam itu patroli kemari.”

Demikianlah biasa, patroli-patroli bajak itu merampas dan membunuh petani-petani yang tidak berdosa. Sering kali bom-bom jahanam menghancurkan semua yang ada. Jiwa manusia yang tidak berdosa sekalipun, semua hancur dalam ledakan jahat. Itu tidak peduli lelaki, wanita, tua, muda dan bayi kecil yang kurus. Namun hidup sedahsyat itu, sungai di sebelah desa tetap mengalir dan gemercik suaranya. Nyaring sekali jika malam sunyi itu tidak terganggu oleh ledakan-ledakan peluru dari kota. Suara nyaring gemerciknya air itu menandakan jika ia tak takut pada siapa pun. Bom dan kanon sekalipun, ia tak takut. Tetapi airnya yang jernih itu mengalir dengan tenang. Ikan dan kodok-kodok kecil yang berenang-renang di tepi sungai, malahan yang tampak menjadi penakut. Jika terdengar suara sedikit saja, segeralah mereka lari bersembunyi. Kemudian, sebentar kembali berenang dengan perlahan-lahan dan tenang.

Siang itu terdengar orang berlari-lari dan berteriak menuju sungai itu, katanya:

“Mat! Kau jangan berlagak! Kurang ajar! Tunggu dulu!”

“Apa?”

“Tunggu! Jangan cerewet! Paling-paling kau hanya akan berkumur dengan air sungai itu bukan? Mana, tak perlu pakai odol itu. Kembalikan saja!”

“Biar, mengapa?”

“Sayang! Kalau ketemu air sumur saja kita pakai.”

“Jangan berlagak Dokter kau di sini Kek!”

“Sudahlah jangan cerewet, ayo lekas mandi. Rupa-rupanya ada persiapan.”

“Lihat itu, Letnan datang.”

Belum sampai lima menit di dalam sungai, Letnan Bayu menegurnya:

“Badut-badut ini sudah merendam di sini. Pantas markasnya sunyi. Cepat-cepat, kita segera siap.”

“Siap Pak.”

Anjing-anjing menggonggong. Diam sebentar kemudian kembali menggonggong. Kopral Amat adalah Wakil Komandan Regu, demikian juga Kopral Dengkek yang dalam long-march telah mendapat tugas baru untuk menjadi penghubung. Dan rupanya gonggong anjing itu mengganggu Kopral Dengkek. Tetapi itu biasa, sekalipun kadang-kadang berbahaya jika terjadi dalam kota sasaran gerilya. Untung malam itu terjadi di sebuah desa yang masih kira-kira jarak puluhan kilometer. Sekalipun demikian sudah ratusan cacian yang keluar dari mulut Kopral Dengkek. Katanya dengan anak buah:

“Anjing tidak makan aturan lebih baik disempurnakan! Setuju tidak Man?”

“Jangan Pak, kasihan.”

“Apa? Kasihan? Orang saja kalau khianat kita bunuh, apa yang disayangkan dengan anjing itu?”

“Dia bisa menjaga desa, ini kan salah kita, mengapa kita datang ke desanya dia. Anjing-anjing itu kan ditugaskan oleh Pak Lurah untuk menjaga.”

“Akh! Rupamu! Awas melompat ada jeglongan.”

Kata si Man pada yang di belakangnya:

“Awas Cak, ada jeglongan.”

Man melompat baik-baik. Senter bersinar merah dinyalakan oleh teman di belakangnya.

Teriaknya perlahan: “Ngawur saja, mana lobangnya?”

Man segera membalik dan biasa juga caci-makinya keluar, “Slinger! Menipu, awas saya balas Pak!”

Kopral Dengkek terus berjalan dengan tertawa senang. Katanya:

“Cepat! Kita harus sampai sana jam 21.00.”

Tanya Man dengan tak menyesal sedikit pun akan peristiwa yang baru saja terjadi:

“Jam berapa Pak, Pasukan harus sudah di sana?”

“Jam 24.00.”

“Sesudahnya itu kita ke mana?”

“Jika serangan balasan menghebat, kita mundurnya ke dekat rawa-pening. Jauh tetapi harus kita kerjakan dengan baik dan cepat.”

“Apakah kami yang harus ke sana dahulu?”

“Yang lain sudah ke sana tadi.”

Kopral Dengkek kakinya terganggu lobang yang penuh air, karena itu celananya menjadi basah ujungnya. Tetapi diam, seperti tak ada apa-apa. Man yang di belakangnya kurang waspada, jalan biasa dan agak tergesa untuk mengejar jaraknya yang jauh dari Kopral Dengkek. Terdengar “gedebruk,” Man jatuh. Teriaknya:

“Aduh Cak lobang!”

Temannya mau tertawa, tetapi ditahannya. Katanya Man kembali:

“Kopral kita itu memang istimewa. Begini diam saja. Sudahlah Pak, saya yang di depan.”

“Bolehlah, masa bodo.”

Kopral Dengkek tertawa, dan katanya:

“Coba lihat ini, celana saya sudah basah.”

Hampir jam dua belas malam, sebentar lagi Pasukan akan segera datang. Kopral Dengkek sudah mempunyai beberapa rencana. Sekalipun tugas mengatur tenaga-tenaga di desa itu sudah selesai, dia tak mau tidur atau istirahat. Dia ngobrol dengan Pak Lurah, Pak Carik dan Pak Bayan. Sedang Pagar desa pada sibuk menjaga desanya. Kode sudah siap. Pemuda-pemuda itu sudah jaga-jaga nanti jika dia ditegur oleh tentara segera menjawab: “Anjing,” kemudian akan segera terdengar jawaban lagi: “Gila.”

Jika sudah demikian itu akan berarti teman sendiri dan segera ditunjukkan tempat-tempat yang sudah disediakan. Kopral Dengkek menyimpan sebungkus asem mateng di sakunya, dan beberapa puluh rokok lintingan tembakau-gewol. Adanya hanya itu mau apa lagi. Masakan belum siap semua. Harus menunggu kira-kira sampai jam satu nanti. Kebetulan di desa itu juga kehabisan gula merah, gula putih apa lagi, tak pernah ada. Karena itu minum teh cukup asal panas. sekalipun keadaan sulit begitu, mbok Lurah ridla menjadikan semua yang ada untuk segera memberikan makan pada rombongan Kopral Dengkek itu.

Gadis kecil mbok Lurah ikut ribut membantu. Karena seluruhnya harus menjamin kira-kira 500 orang. Banyak api menyala, sehingga desa itu tampak terang. Di pendopo Kopral Dengkek seteman siap untuk makan. Katanya:

“Pak Lurah ini putranya?”

“Ya Pak. Itu yang paling kecil.”

Kopral Dengkek hanya memandangnya, sedang Saminem tampak malu-malu, dan terus pergi ke belakang. Dia sudah tak mau suruh mengeluarkan apa-apa lagi.

Kopral Dengkek ingin bicara-bicara, barangkali gadis kecil itu akan tertawa senang jika mendengar dongeng-dongengnya. Tetapi malang sekali, Saminem tak mau lagi keluar. Katanya Kopral Dengkek:

“Pak! Nanti dalam pasukan kita ada wanitanya. Saminem suruh keluar biar kenal.”

“Pak, itu anak gunung, pemalu, bodoh dan tidak sekolah.”

“Biar saja, nanti, kalian dilatih hidup di kota, itu kalau sudah aman Pak, kemudian sekolah-sekolah apa, PBH, kursus menjahit dan lain-lain nanti kan jadi pandai.”

“Kalau begitu Bapak senang sekali, tetapi kapan amannya?”

“Kapan-kapan saja.”

Semua tertawa. Sahutnya Man:

“Rencana boleh saja. Janji juga boleh, asal, tidak lupa ya Pak Lurah?”

Pak Lurah tersenyum.

Kopral Dengkek minum teh pahitnya dengan berkata:

“Dapurmu!”

Seorang pagar desa bergegas-gegas datang katanya:

“Pak, pasukan sudah datang, segera akan masuk.”

Tak lama pendopo, halaman, dan jalan-jalan kelurahan sudah penuh. Seksi-Seksi Komandan mengadakan apel kepada Kompi komandannya masing-masing. Dan kemudian Kompi apel kepada Komandan Barisan—sebagai voorsplitnya. Dan begitulah selanjutnya Komandan Barisan ini apel kepala Komandan Batalionnya. Barisan selamat sampai di tempat dan semua dalam keadaan siap untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Dengan tergesa-gesa, Kopral Dengkek lapor kepada Komandan Penghubung dan Pengintai. Diperintahkan kepada seluruh pasukan, bahwa berhenti hanya untuk makan, kemudian akan terus bersiap ke tempat masing-masing sesuai dengan pos-pos yang telah ditentukan dalam peta.

Kopral Dengkek seperti mencari-mencari, Tanyanya:

“Pak, di mana mbak Narti?”

“Tidak tau. Tugas saya bukan menjaga mbak Nar.”

“Jangan begitu, nanti, kalau saya boikot kapok.”

Keduanya tertawa.

“Di sana! Belakang, masuk saja.”

“Betul Pak?”

“Betul. Bilang dia suruh kemari.”

“Biasa!”

Kopral Dengkek tersenyum mengejek sambil berjalan menuju rumah belakang. Dengan tidak ragu-ragu dia masuk, dan cepat-cepat mbok Lurah menghampirinya:

“Pak, mencari siapa?”

“mbak Narti Bu, ada dia?”

“Ada, itu sedang ngomong-ngomong dengan anak saya.”

“Boleh saya ke sana Bu?”

“Boleh, mengapa tidak.”

Cepat-cepat Kopral Dengkek mendekati Narti sambil matanya lari ke Saminem. Katanya:

“mbak! Dicari Majikannya...”

“Kurang ajar! Siapa?”

“Siapa lagi, Letnan Pengintai.”

“Bilangkan, sebentar saya ke sana.”

“Mbak Nar, Adik ini masih takut-takut, malu-malu, itu kan tidak baik.”

“Biar saja nanti, kalau sudah banyak teman dari kota kan bisa pintar.”

Saminem hanya menundukkan kepalanya dan diam. Katanya Kopral Dengkek:

“Mau Dik pindah kota, tetapi kalau sudah aman?”

Saminem hanya diam, terus pergi ke mboknya. Narti dengan Kopral Dengkek ketawa.

“Biarlah saya bilang saja sama Pak Lurah, supaya menunggu kedatangan saya kemari kalau sudah aman.”

Demikian Kopral Dengkek bicara sendiri. Sedang Narti sudah siap dengan petanya dan bersama dengan teman-temannya di Bagian Pengintai. Katanya Letnan yang menjabat sebagai Komandannya:

“Mbak Nar, kau mendapat tugas di bagian selatan gunung, sedang Komandan Pasukannya Mas Bayu. Terus Letnan Hardjo di timur gunung, komandan Pasukannya Letnan Parto. Begitulah lainnya sudah saya atur, dan saya bersama dengan Komandan Batalion di pos tengah. Rencana tetap, jika tak mungkin dipertahankan kita mundur ke rawa-pening.”

Menjelang jam dua pagi, mulailah terdengar tembakan-tembakan ringan. Kota Jatingaleh dihujani peluru dari beberapa jurusan. Pasukan dan raykat gunung Ungaran menunjukkan kekuatannya. Belanda terbuka matanya, jika tak jauh dari kota-kota Jatingaleh, Ungaran, dan Salatiga, telah menjadi serangnya gerilya. Serangan menjadi seru hingga menjelang pagi jam tiga. Pasukan gerilya kembali dengan perasaan tidak puas karena tidak tau berapa korban musuh telah jatuh atas serangannya itu. Dalam gelap gulita, Kopral Dengkek berkesempatan mendekati Amat yang sedang memimpin anak buahnya. Katanya:

“Mat, ini gula merah.”

Dengan senang Kopral Amat menerimanya dan cepat-cepat dimasukkan dalam mulutnya. Dia gebres-gebres, katanya:

“Bangsat! Asem kecut katanya gula. Kopral gila! Awas kau!”

Kopral Dengkek terus saja berjalan cepat untuk menjumpai komandan Pasukan berhubung ada berita penting. Seperti tak ada kejadian apa-apa, dia terus berjalan maju. Pasukan merubah haluan. Tak jadi menyeberang ke rawa-pening, tetapi mundur ke daerah Salatiga. Menurut perintah pasukan harus sampai di lembah Ungaran pada jam enam pagi. Demikianlah semua berjalan cepat untuk mengejar waktu. Tembakan-tembakan Belanda masih terdengar seru. Menjelang pagi keadaan kembali sunyi. Hanya bunyi walang-belalang dan kodok kongkang yang meramaikan.

Satu tahun kemudian. Keadaan berubah maju. Tentara sudah tidak lagi di desa-desa, gunung dan hutan-hutan. Tugas gerilya selesai, dan kemudian kembali ke kota. Tugas mereka tidak lagi perang, tetapi pertama-tama untuk mengatur pasukannya, mendidik prajurit-prajurit agar menjadi prajurit yang terlatih, berpengetahuan, kuat, disiplin dan dapat menjadi kekuatan Negara.

Keluarga-keluarga mereka sudah tampak banyak yang mengikuti kembali di Markas-Markas. Dan boleh dikata, bahwa tahun 1950 itu adalah tahun pembangunan keseluruhannya. Prajurit, Bintara dan Perwira-Perwiranya, yang dahulu belum berkeluarga, waktu itu sudah banyak yang memulai hidup berumah tangga. Demikian pun rencana si Kopral Dengkek. Telah menetapkan bahwa jatuh pada hari cutinya dia akan terus ke lereng gunung Ungaran untuk datang ke Pak Lurah dan mbok Lurah yang dahulu pernah memutuskan untuk mengambil menantu. Tentunya Saminem sudah kelihatan lebih besar lagi. Kopral Dengkek juga ingat Kopral Amat yang masih tetap di Pasukan. Dia telah jadi kawin dengan anaknya Pak Carik Mluwih. Gadis desa itu menjadi pandai juga sesudah dibawa ke kota. Disuruh ikut pelajaran PBH, kursus jahit-menjahit, bordir dan lain-lain. Enam bulan dia sudah dapat membuat bajunya sendiri, hemnya suami, dan baju-baju kecil untuk calon putranya. Kopral Dengkek mengenangkan itu semua. Dia sudah mendatangi seorang Ibu yang baik hati padanya selama di kota. Dan telah dijanjikan, supaya istrinya nanti jika datang ditempatkan di pavilunnya. Sudah tentu Kopral Dengkek senang sekali.

Apel pagi Kopral Dengkek sudah tak tampak. Semua temannya sudah mengerti jika dia cuti untuk menyelesaikan perkawinannya. Sekalipun sebetulnya agak ada tanda pertanyaan, “mengapa Pak Lurah tak pernah menjawab surat yang dikirimkannya.” Tetapi keyakinan masih ada jika Pak Lurah akan setia memegang janjinya. Demikianlah Kopral Dengkek yang turun dari oplet tergesa-gesa dengan ransel di punggungnya terus saja berjalan melalui sawah dan ladang yang hijau, jalan-jalan kecil yang dipinggiri sungai-sungai berair jernih, naik dan turun bukit, terus saja berjalan menuju desa yang terletak di lereng-lereng gunung. Dia tak mau banyak bicara dengan Kakaknya yang mengantarkan. Masuk desa Mluwih. Kopral Dengkek masih jelas teringat sungai yang banyak berjasa pada pasukannya. Terus saja Kopral Dengkek masuk ke desa. Terbaca olehnya tulisan di papan, “Kantor Kelurahan”.

Ada pertanyaan terhadap dirinya dengan berkata perlahan-perlahan, “Lho, kantornya pindah kemari?”

Kakaknya menegurnya, “Apa Har?”

Kakaknya suka memanggil nama aslinya Harjoto.

Jawabnya Dengkek ragu-ragu, “Mari Mas kita bertanya dahulu. Apakah Pak Lurah pindah kemari?”

Pak Lurah dengan hormat sekali menemui tamu-tamunya. Di meja tamu yang terbaik tamu-tamu itu dijamu. Teh dan kue-kue telah keluar. Mbok Lurah sudah menyediakan makanan yang terenak. Nasi putih, ikan ayam, sayur lombok dan lain-lain. Tetapi Saminem sama sekali tidak tampak. Kopral Dengkek kerapkali menundukkan mukanya. Dan banyak diam. Kata Pak Lurah:

“Saya ini masih ada hubungan keluarga juga. Saya dipilih rakyat di sini sesudah dua bulan meninggalnya Pak Lurah sekeluarga itu. Habis bagaimana Nak, coba lihat bekas-bekasnya. Bom persis jatuh di rumahnya. Habis sudahlah. Biasanya jika ada begitu kita semua lari ke sawah, ke sungai atau ke bukit sana. Tetapi waktu itu tidak bisa karena di bukit sana sudah ada Belanda patroli. Jadi kita merendam di rumah. Tau-tau sekian banyak kali bom jatuh. Sudahlah lima rumah jadi korban. Termasuk Pak Lurah sekeluarga, terus Carik yang muda-muda ditembak di depan situ. Sudahlah menyedihkan sekali.”

Kopral Dengkek tak ingin segera kembali. Dia ingin mengumpulkan semua berita untuk dilaporkan kepada Batalionnya. Nama-nama Pahlawan di lereng gunung Ungaran itu dicatatnya baik-baik.

Terkenang di ingatan Kopral Dengkek sikap baik yang dicurahkan kepada pasukannya dahulu. Mereka dihabiskan jiwanya karena mereka membantu Tentara Gerilya.

Demikianlah Pak Lurah, mbok Lurah dan Saminem yang telah menjadi Pahlawan di lereng gunung Ungaran.



❀❀❀


TAHUN III

(1961)


Pertemuan — S. Djin (Januari 1961)

S. Djin

Api Kartini, Tahun III, No. 1, Januari 1961

Motto: di atas puing reruntuhan kita membangun...!

Aku tak mengerti mengapa aku masih merasa sesuatu, setelah ledakan bertubi-tubi yang dahsyat menggegarkan telinga, seolah-olah bumi berhenti berputar. Kuraba senapanku, terasa sesuatu yang basah dan hampir aku mengerang kesakitan. Rupanya lenganku sebelah kiri terkena pecahan granat. Kucoba tegak. Kulihat Janto mengarahkan laras senapan ke atas, ke arah kapal terbang yang menderu melayang-layang di atas kami. Gerahamnya geram tertahan. Hampir ia menarik pelatuk: “Janto,” seruku “Gilakah kau? Jangan menembak!!” Kami sangat dekat gubuk yang kami jadikan markas. Suatu letusan senapan akan menunjukkan tempat sembunyi kami dan sekali lagi berondongan dan ledakan akan memecahkan telinga.

“Mereka yang gila...penjajah keparat...huh, beraninya dari atas...cis...!” Janto memuntahkan geram amarahnya. “Ah... kau kena...” Janto menoleh padaku.

Derum kapal terbang hampir menghilang, dari rumpun semak-semak belukar kawan-kawan mulai muncul, hati-hati merunduk menuju gubuk kami.

Si Marni dengan tas palang merahnya yang kumal usang setua baju satu-satunya adalah yang pertama mendekatiku. Rambut gadis ini yang terikat erat-erat dengan saputangan di punggungnya kusut masai penuh lumpur tetapi sesuatu daya tarik memancar dari serimukanya, matanya yang hitam penuh kemauan hidup, tawanya yang segar seperti air pancuran dekat rumpun bambu. Tiba-tiba segalanya berputar.

“Kuatkan...” Janto membisik...setelah aku terbangun kembali lenganku sudah dalam perban terbaring di gubuk. Cepat kuraba senapanku masih di sisiku.

Kawan-kawan telah ramai dalam gubuk kecil itu. Pelita berkedip di tengah ruangan hampir-hampir padam setiap kali seorang mengeser pintu bambu yang berderik-derik.

Kapten Hartojo atau Beruang sedang meminyaki laras senapan dengan penuh kecintaan sedang dengan hati-hati dikeratnya nama Tin di popornya. Si Ompi sudah tertidur pulas di sudut dengan tangannya merangkul bren. Si Tuyul dan Mat Kece main kartu, Si Djedor, Kemin dan lain-lain sudah mendengkur.

Di sudut sekali bersandarkan tumpukan jagung. Si Marni pun mencoba mengatupkan mata sedang Atik gadis temannya mendapat giliran jaga.

Marni dan Atik adalah kurir-kurir kami sekaligus merangkap palang merah dan “kepala dapur”. Mereka bergiliran seminggu sekali ke kota menghubungkan markas kami dengan markas-markas lainnya di kota pendudukan. Hampir setahun pasukan kami bertahan di desa-desa dan hutan karet.

Untahan kanon dan peluru 12,7 adalah peristiwa sehari-hari. Aku lupa berapa kali sudah kami berpindah tempat kadang-kadang di malam gelap atau di pagi buta. Betapa sederhana dan tabahnya kedua gadis itu memberikan tenaganya.

Kami terpental jauh dari kota tetapi tetap kami bertekad suatu kali merebut kota menyeberang Bengawan. Banyak teman telah gugur, tetapi banyak pula yang menggabungkan. Tiap hari kami berhasil mengacau kedudukan Belanda. Tak ada patroli yang berani keluar sehabis matahari tenggelam, sedang di kota pun di malam hari bukan seluruhnya kepunyaan Belanda. Tak ada malam sepi.

Kapankah kami bisa kembali ke kota dan Belanda enyah?

Kapankah kan kulihat Marni mengepit buku lagi? Tiba-tiba kudengar berondongan senapan dari dekat...Semua bangkit.

“Siapp...keluar....” Perintah Beruang, komandan kami.

“Menyebarr...!” dan mulailah pertempuran di gelap gulita itu semakin dekat...

Itu sebenarnya terjadi kira-kira sebelas tahun yang lampau ketika agresi Belanda kedua mencerai-beraikan kehidupan di kota untuk mulai pertempuran gerilya di desa-desa.

Markas gubuk nipah yang kecil dekat hutan karet itu teringat jelas kini dalam kusaksikan upacara pengayunan cangkul pertama di belakang Gedung Pegangsaan Timur tempat Republik kita di proklamirkan. Pembangunan...betapa bergetarnya hati penuh harapan memancar dari sebuah kata tadi.

“Marilah kita bangun negeri kita di atas reruntuhan api dan darah...Marilah kita bangun sebuah masyarakat yang adil makmur, di mana sampai di desa-desa kecil di lereng-lereng gunung lampu-lampu listrik bisa dinyalakan...di mana rakyat bisa bahagia dalam hidupnya...”

Sebelas tahun yang lalu dalam kegelapan malam di desa-desa dengan ancaman peluru dan bom, siapa berani memastikan bahwa kini pada detik tahun baru ini bisa kulihat teman-teman veteran berjajar dengan tegapnya mengelilingi Presiden dan para pembesar sedang para duta-duta berbagai negara menyaksikan upacara bersejarah tersebut.

Tugas kami kini telah berganti. Arena juang telah berganti rupa. Kini masing-masing bertugas dalam bidangnya sendiri-sendiri. Ketika pertempuran reda kembali aku pun kembali ke bangku sekolah dan kulanjutkan pelajaran di luar negeri. Aku ingin menjadi insinyur pertanian. Betapa erat-erat kukenal petani-petani di desa dalam tahun pertempuran itu, mereka yang rela bekerja sekuat tenaga bergulat dalam lumpur sehari-hari dengan alat-alat yang sederhana. Yang rela memberi sesuap nasinya kepada kami yang bertempur sedang aku tahu bahwa mereka pun menahan lapar.

Betapa akan bahagia mereka bila tanah itu kepunyaan sendiri, bukan sekedar menggarap sawah tuan tanah, sedang bila panen separoh harus diserahkan kepada tuan-tuan yang semakin besar lumbungnya dan semakin tambah harta kekayaannya. Benar kata Presiden pada hari Pembangunan tersebut bahwa “Revolusi tak sempurna, kala tak disertai perubahan tanah.”

Ya...kuat hasratku untuk membalas jasa bapak dan ibu tani yang demikian rela memberi segenap kemampuan hidup mereka untuk cita-cita kemerdekaan, sedang kini lebih sepuluh tahun telah lalu dan mereka belum mengecap kenikmatan buah kerjanya. Beribu pikiran memenuhi hati ketika kujejakkan kaki di landasan lapangan terbang beberapa waktu yang lalu.

Di surat kabar kubaca sebaris; telah kembali ke tanah air sehabis menyelesaikan pelajaran di lapangan pertanian, insinyur Ardi.

Dan kini dengan diploma di saku kumulai hidup baru.

Si Gendut teman gerilya dulu tetap gendut sebagai pemimpian perusahaan, mobilnya dua, hanya sayangnya istrinya pun dua. Si Tuyul tetap di angkatan perang dan kini memegang pasukan di daerah operasi melawan gerombolan. Teman suka-duka di gubuk kecil dulu telah bermacam arah.

Hanya aku kehilangan jejak si Marni gadis palang merah yang sederhana, ketika pertempuran besar sebelum gencatan senjata ia ditugaskan ke kota dan tak kembali. Kami tergesa harus pindah tempat dan ketika kucari jejaknya di kota ia telah pindah ke kota lain dan tak ada yang mengetahuinya.

Sejak itu kukenal berbagai lingkungan hidup dan berbagai tipe gadis, tetapi tak ada yang mengena benar di hati.

Dalam hati kucari sifat-sifat Marni pada setiap gadis dan hingga kini belum kujumpa. Mungkin aku terlampau idealis mencari si Marni dengan baju usang dan muka yang penuh daya juang dan kemauan hidup yang membayang dalam sinar mata yang hitam penuh harapan. Di luar negeri kulihat nona-nona cantik dan di kota-kota kulihat gadis-gadis ala bintang film ber-make-up tebal kemerah-merahan. Kulihat sekeliling. Ramai barisan-barisan wanita, pemuda, veteran dan para juru potret yang bersiuran menangkap cerita dalam lensa. Gadis-gadis manis dalam pakaian Bhineka Tunggal Ika aneka ragam menunjukkan keindahan dan kekayaan budaya tanah air. Tak jauh dari tempatku berdiri serombongan gadis tampak bercakap-cakap. Seorang yang tak kulihat mukanya tampaknya yang memimpin. Dari samping kulihat baju yang rapi sederhana, rambut yang tebal serasi. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Dan ketika ia tersenyum kepada temannya, aku tak sangsi lagi. Betapa tidak...itulah si Marni dengan sorotan mata yang jenaka.

Tahun-tahun tak menghilangkan pandang yang penuh kepastian dan harapan...hanya jauh membayang si Marni gadis kurir dalam baju usang dan rambut kusut masai...dan kini menjelmalah si Marni...salah satu gadis di ibukota yang gesit cakap menarik.

Aku menghampirinya. “Kau...Ardi...” Berapa abad aku tak bertemu dengan kau.”

Mukanya berseri kegirangan.

“Kau ingat cangkul Pak Karto, Mar...” “Bagaimana lukamu dulu kena granat,” kata-katanya mengalir deras. “Ingatkah kau Mar...” Ingatkah kau Di...ya...rumahku terbakar habis dan ayah telah gugur.”

Marni telah menyelesaikan pelajaran di lapangan obat-obatan. Baru saja ia dipindahkan di ibukota untuk bekerja di rumah sakit yang besar.

Hari itu adalah hari yang paling cerah dalam hidupku. Kulihat sekilas belum ada cincin ular melingkar di jari manisnya. Pertemuan ini menyambung cerita juang di hutan-hutan, di tengah kobaran api dan darah. Deru helikopter di atas kepala mengingatkan sekilas derum “capung” yang menyebar maut.

Ya...cukup korban telah diberikan. Di atas abu reruntuhan akan kita bangunkan kehidupan baru. Biar tak kan ada lagi ketakutan di gubuk kecil gelap. Biar hidup ini penuh keindahan di lereng gunung menjadi gedung-gedung terang benderang. Kami tak akan melupakan Pak Karto di desa. Dengan segenap kemampuan dan kemauan akan kami wujudkan impian negeri yang merdeka dan maju. Di atas puing kami akan membangun bersama-sama dengan segenap teman, juga kau pembaca sekalian.



❀❀❀


Si Udin Ketua Kelas

S. Wati

Api Kartini, Tahun III, No. 2, Februari 1961

Jam satu si Udin sudah pulang. Tetapi berbeda dengan biasanya, ia tidak segera ganti pakaian dan terus makan. Kali ini ia kelihatan sibuk di depan meja membuka-buka buku sambil mulutnya komat-kamit menyebut nama-nama temannya.

Melihat tingkah laku anaknya itu, ibunya keheran-heranan, katanya: “Mengapa Din kau tidak segera makan? Jajan di mana kau?”

“Tidak bu, jawabnya, pak guru tadi bilang, bahwa ujian masuk Sekolah Lanjutan tahun ini jatuh bulan Juni. Jadi tinggal 6 bulan lagi.”

“O, itukah yang menyebabkan kau tidak ingin makan?”

“Bukan begitu bu, pak guru pesan, supaya anak-anak belajar baik-baik, karena hasil ujian tidak hanya tergantung belajar kita beberapa hari sebelum ujian, sekalipun belajarnya siang malam, tetapi dari hasil ketekunan belajar kita yang terus menerus lama sebelumnya. Dan belajar di sekolah saja belum cukup. Di rumah kita harus lebih banyak lagi belajar. Karena itu kita harus saling bantu. Anak-anak yang berdekatan rumahnya belajar bersama dalam grup belajar. Pak guru memerintahkan saya sebagai ketua kelas untuk membentuk grup belajar itu.”

“Itu baik sekali Din, malahan kemarin bu Minah bilang, bahwa Udjang anaknya yang sekarang di SMP dapat diterima karena nilainya 25. Jadi sekalipun lulus, tetapi kalau nilainya tidak baik, sulit untuk mendapatkan sekolahan. Maka Din ibu setuju sekali adanya grup belajar itu. Malahan kalau nanti teman-temanmu belajar di sini, saya sediakan minum dan sekedar kue.”

Sambil ngomong itu si Udin terus menulis, sebentar-sebentar berhenti dan menghitung-hitung nama-nama temannya apa sudah termasuk daftar semua. Kemudian dengan perasaan lega dan gembira, ia berseru:

“Nah sekarang sudah selesai, 40 anak jadi 8 grup masing-masing 5 anak. Tinggal nanti memberi tahu kepada mereka dan memilih ketua grupnya. Pak guru tentu girang, apabila perintahnya sudah saya jalankan. Dan...yang penting, lusa sudah dapat dimulai belajar.”

Dengan muka yang berseri-seri si Udin segera membereskan bukunya, dimasukkan ke dalam tasnya, dan terus menuju ke lemari makan. Kali ini kelihatan lahap makannya. Dasar perut sudah keroncongan dan memang ibunya dapat menuju ketentuan anaknya, yaitu sayur asem, tempe goreng dan sambal terasi.

Belum sampai tangannya kering, Udin terus ambil sepedanya, digenjot sekencang-kencangnya, sebentar sudah hilang dari pandangan ibunya.

Memang Udin anak yang rajin. Dia tidak pernah mengeluh sekalipun bekerja berat. Capek, lapar, panas bukan rintangan baginya. Itulah sebabnya ia dipilih menjadi ketua kelas. Ibunya sangat bangga kepadanya. Dia tidak pernah mengulang kelas. Selamanya nilai raportnya baik. Ia menjadi teladan di sekolahnya.

Jam 5 Udin baru pulang, tapi tidak datang sendirian. Di belakangnya mengikuti Manan, Sidik, Polan dan Mainah. Belum lagi duduk Udin sudah berkata:

“Sekarang tinggal kita yang belum membentuk grup belajar, lainnya sudah beres. Parman menjadi ketua grup di kampung Paalmeriyem, Sariman ikut grup Solitude. Kita di Matraman jangan sampai kalah dengan teman-teman lainnya.”

“Setuju, sambung Sidik. Waktu sore kita tidak boleh lagi main layang-layang. Lebih baik kita berlomba belajar.”

“Ayah bilang, kalau saya lulus ujian dan nilainya bagus akan dibelikan sepeda kumbang,” sambung Polan. “Alangkah girang hatiku kelak, impian saya selama ini menjadi kenyatan.”

“Kita usulkan ketua grup Mainah,” sela Manan. “Sekalipun perempuan, dia cukup cakap memimpin kita. Apalagi sifatnya sabar dan suka menolong teman yang kesulitan.”

“Jadi,” sahut teman-temannya serempak.

Sebentar suasana menjadi sepi, ibu Udin mengeluarkan air teh dan singkong goreng. Dengan agak malu Mainah meminta nampan dari ibu Udin dan segera dibagi-bagi kepada teman-temannya. Sebagai ketua grup ia merasa bertanggungjawab dalam segala hal yang menjadi kebutuhan temannya. Terutama dalam memajukan grup belajar di kampungnya. Maka semua temannya sudah pulang, dia masih kelihatan bercakap-cakap dengan Udin untuk membicarakan hal yang perlu dikerjakan. Udin dengan segala senang hati memberi petunjuk kepadanya, terutama dalam mengatasi kemalasan dan kebandelan teman-temannya. Betapa senang rasa hatinya, melihat temannya yang menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Sebagai ketua kelas ia merasa bertanggungjawab atas kemajuan teman-temannya. Nasehat gurunya selalu diingat, bahwa: Masa kanak-kanak adalah masa belajar. Kesempatan itu harus digunakan sebaik-baiknya. Jadilah anak yang baik-baik dan dapat memberikan sumbangan yang sebesar-besarnya terhadap kemajuan Nusa dan bangsanya, agar Republik Indonesia tetap aman, makmur dan sentosa.



❀❀❀


Kebaya Biru Berkembang Merah

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun III, No. 2, Februari 1961

Ia yakin,

bahwa nanti pada panenan yang akan datang,

ia sanggup membelikan sehelai kebaya

berkembang mawar merah pada dasar biru langit.

Angin meniup segar, matahari sudah amat condong ke barat. Orang-orang di sawah sudah mulai berkemas pulang, tetapi Ali masih tekun membajak. Tanah di kakinya lembut dan memasir, airnya memercik ke kiri-kanan, memberi rasa tenang pada dirinya. Kerbau yang telah terlatih bertahun-tahun itu, tidak menimbulkan kesukaran apa pun. Tinggal satu putaran lagi, dan sawah yang sepetak ini akan selesai hari ini. Ia tidak bisa bekerja seenaknya, semua diperhitungkan dengan baik. Kerbau ini kerbau pinjaman, makin lama ia pakai, makin banyak uang pengganti lelah mesti dikeluarkan untuk pemiliknya. Bajaknya pun bukan milik sendiri. Ia seorang petani muda yang hanya berbekal tenaga. Sedang sawah yang ia kerjakan dengan tekun dan cinta bukanlah sawahnya. Pemiliknya, pada sore yang segar ini tentu sedang duduk-duduk minum teh di serambi depannya, sambil mendengarkan merdunya suara perkutut, dalam rumahnya yang besar di pinggiran kota.

“Hssy, hsssy, hayo, hirr, hir, hayo kerbauku yang baik, tinggal sedikit lagi. Masa, tubuhmu besar dan gemuk, tidak mungkin kau kelelahan. Lihatlah aku, kering dan kurus, tetapi semangatku masih seperti fajar pagi. Kiri, kiri, ya, lurus.”

Begitulah dengan melucu ia kasih aba kepada kerbaunya. Tadi, waktu hari masih panas ia menembang di belakang bajaknya, tetapi sekarang terasa nafsunya tidak ada lagi.

“Kang, Kang Ali,” didengarnya suara yang amat disayangi memanggil dari pematang.

Ali menghentikan kerbaunya, dan menoleh, Istrinya, Sarti mengemasi piring cangkir, dan memasukkan ke dalam bakul kecil yang masih baru.

“Hari sudah hampir senja, jangan lupa, selapanan di rumah Kang Sonto.”

Tidak menanti jawaban, Sarti berangkat pergi, meninggalkan Ali. Mereka pengantin baru, dan layaklah bila Sarti masih malu-malu, apabila kelihatan bertegur sapa dengan suaminya di muka orang banyak. Kawan-kawannya seusia bukan main pandainya mengusik.

Pengantin baru. Ini berarti bahwa mereka masih belum punya apa-apa, dan kemungkinan untuk mempunyai apa-apa, agaknya jauh juga. Mereka tidak punya apa-apa, kecuali sebuah rumah warisan, rumah kecil berisi balai-balai dan dapur dengan tungku tanah serta tempayan air. Sedikit kebun yang ditanami dengan pisang, umbi talas dan kelapa dua batang. Ali tertawa sendiri, melihat tingkah Sarti yang kekanak-kanakan.

“Dik, mari lekas pulang, hari sudah senja. Jangan rajin-rajin amat, lihat itu istrinya sudah menyusul,” kedengaran kemudian teriakan beberapa kawannya dari jalanan.

Ali melepas kerbaunya dari pasangan, memikul bajaknya, dan menghalau binatang yang kotor kepayahan itu ke sungai. Walaupun ia petani muda belia, tetapi orang-orang mempercayakan barang-barang untuk dipinjamnya, sebab Ali selalu tertib. Bajak dicuci bersih, dan kerbau dimandikan, baru dipasrahkan kepada yang empunya. Sebetulnya, Ali masih ingin menyelesaikan membajak, tetapi selapanan bayinya Sonto, harus dihadiri. Ia banyak berhutang budi kepadanya. Istrinya telah lama menyediakan seekor ayam lurik gemuk, dan selembar uang kertas puluhan yang masih baru sebagai sumbangan keramaian bayi tersebut.



Lampu sentir yang berkelip-kelip menerangi ruangan depan, di mana beberapa petani duduk bersila, hidangan dusun yang tradisional, kue-kuenya basah dari beras dan beras pulut, pisang raja dan kelapa memenuhi tikar. Menjadi kebiasaan, pada tiap malam selapanan bayi, yakni waktu bayi berusia tiga puluh lima hari, orang-orang berkumpul dan makan-makan serta menyanyikan lagu-lagu pujaan agar bayi sehat, lagu-lagu penolak bahaya, yang sudah lama turun-temurun, dan juga lagu-lagu nasehat lainnya yang dibukukan dalam sebuah kitab lusuh. Biasanya mereka yang pandai membaca, bergiliran melagukan beberapa bait, dan upacara tradisional itu berlaku hingga jauh malam. Tetapi, dengan datangnya seorang guru yang muda ke dusun itu, tiap-tiap malam selapanan sekarang selalu mempunyai arti yang lain. Guru muda itu bersuara bagus, nafasnya panjang, dan...ia seorang pengarang syair. Guru muda itu amat terpandang di dusun, karena sikapnya yang rendah hati.

“Nah, sekarang silahkan mas Guru mulai,” kata Sonto dengan sopan.

“Ah jangan, dik Ali dulu. Suaranya bagus. Nah, lagukan dulu nyanyi pujian dan penolak bahaya. Nanti saya sampaikan beberapa lagu yang baru-baru ini saya gubah.”

“Betul, betul,” kata yang lain berbareng.

Ali mendeham sebentar. Hatinya gembira. Baru sekali inilah ia pergi kondangan berdua dengan istrinya, dan ia yakin, begitu mendengar suaranya mengalun, istrinya tentu mengintip dari celah-celah dinding. Mukanya merah mengingatnya, hatinya bangga dan besar. Ia mulai dengan bait-bait pertama.

Ada lagu menjaga keselamatan malam, mengusir segala setan-setan jahat, melindungi bayi kekasih Hyang Widi....

Selesai satu bait, ia teruskan dengan bait berikut, lagu-lagu yang turun-temurun yang tidak kenal lagi siapa penciptanya.

Ayam tulak dan ajam tukung, menolak bencana bayi, si tukung menjaga di pintu depan, dan ayam tulak mengawal di pintu belakang, ketahullah, inilah jabang bayi kekasih Yang Maha Tinggi....

Lagu itu amat istimewa memang, sederhana, artinya dalam, mengharukan dan... mengerikan di malam yang gelap pekat. Kemudian berturut-turut Ali menyelesaikan beberapa bait lagi, yang sudah dihafalnya luar kepala. Setelah lagu-lagu tradisionil selesai dinyanyikan, mereka berhenti, sebab beberapa anak gadis mengeluarkan santapan. Sarti yang beberapa bulan yang lalu, masih suka meladen, sekarang tidak muncul, karena sudah kawin. Ia membantu bini Sonto mengatur hidangan.

“Nah, sekarang mas Guru, silahkan mulai. Ingin kami mendengar gubahan baru.”

Guru muda, seperti biasa mendeham dulu, dan membetulkan cara duduknya. Ia keluarkan buku tulis bersampul dari tas kulitnya.

“Bapak, dan semua saudara, silahkan mendengar yang teliti, lagu ini adalah riwayat saudara-saudara sendiri. Tetapi karena saya bukanlah ahli sastera yang termashur, mungkin masih banyak kekurangannya, untuk itu harap dimaafkan.”

Dengarlah burung berkicau waktu pagi, melompat riang di dahan-dahan. Siapa yang bangun bersama kokok ayam? Jawablah, burung, tentulah aku orang tani. Pintu-pintu terbuka dan hawa segar, menambah tenaga baru setelah tidur semalam. Siapa nanti punggungnya hitam terbakar, dan kakinya berbencah lumpur hitam? Aku mencangkul, membajak dan menyikat, bibit menghijau, dan segera aku pindahkan. Subur padiku, dan bertanya perawan lewat: “Padi apa kau tanam, abang, adakah sedikit beras ketan?” Padi menguning, dan sebelumnya, gadis, aku berebut air, sekarang tanah tak perlu basah, hanya unggas. Ya, Allah, layaknya seperti segenggam pasir, tertabur di permadani kuning, di padiku yang bernas.

Mas Guru berhenti berlagu, ia memandang keliling. Orang-orang asyik mendengarkan, dan mengangguk-angguk.

Sekarang, semua saja yang lewat memuji, “Buyung, padimu bernas dan berat, tangkainya melentur dan merunduk hormat, padinya Genjah harum, dan nasinya berbau wangi, nanti mempelaimu akan gembira tertawa. Habis panen berbelanja ke kota, makan gulai kambing berdua di bawah pohon beringin, dan mengepit cita baru hadiah kawin, kebaya biru, berkembangan mawar merah....”

Ah, ah, sungguh indah gambaran Guru muda kita, petani muda yang akan kawin, mengajak calon isterinya ke kota berbelanja, dan makan bersama di warung di bawah beringin tua di alun-alun, di mana tiap tahun diadakan keramaian.

“Syair penutupnya, saudara-saudara, adalah syair yang amat penting. Di sinilah terletak kuncinya.”

Sekarang, panenan telah tiba, tetapi ya Allah, padi tidak diusung ke lumbungku. Orang-orang berbaris membawanya ke pinggir kota, dan menyimpannya di limbung tuan tanah kaya raya. Akan aku yang bangun sebelum kicau murai, dan enam bulan berbencah jumpur, cukuplah diberi sekedar upah, yang cukup pas untuk pembayar hutang, penyewa ternak serta pembeli bibit padi, serta rabuk. Dan calon biniku merajuk. ’Ku hanya bisa belikan kebaya lurik buruk, yang tahan dipakai bertahun-tahun. Ya, enam bulan aku menggarap tanah orang, ya, berpuluh tahun aku jadi budak tidak berbayar.

Orang-orang mulai bergumam lagi sekarang semakin keras dan ribut. Syair yang terakhir ini, membawanya beberapa menit terdiam, dan kini mereka mulai berbicara.

Semuanya menceritakan dirinya sendiri, melahirkan penderitaan, yang satu lebih berat dari yang lain, yang lain kalah berat dengan yang satu.

Mas Guru membuka pembicaraan.

“Saudara menggarap tanah orang, saudara mesti membeli bibit sendiri, dan menyediakan alat kerja sendiri. Malahan ada lagi yang mesti membayar uang sromo, dan berapa bagian saudara? Pemilik sawah yang tidak keluarkan uang sepeser pun, padinya akan menggunung di lumbung. Saudara, bekerja dan kehilangan biaya, tetapi rumah tetap gubug setengah doyong, miliknya sebuah bale-bale bertilam tikar anyaman sendiri, tungku dapur yang berasap sehari sekali, baju lurik hitam yang setia dipakai bertahun-tahun. Saudara kira, warna hitam itu tidak ada maknanya? Ada, saudara, pertama: hitam berarti berkabung, kedua: berarti tanpa harapan, dan ketiga: warna hitam tidak mudah luntur, tidak lekas kotor, tidak perlu sabun, dan semuanya itu cocok dengan kepentingan petani miskin. Adakah saudara pernah merenunginya, mengapa kehidupan saudara tetap begitu-begitu saja? Berpuluh-puluh tahun orang-orang menginjeksikan rasa rendah diri tak berdaya di kalangan orang-orang tani, memaksakan secara halus adanya takdir yang tidak bisa ditolak lagi. Sekali ditakdirkan miskin. Seumur hidup, pasti melarat.”

Lama Mas Guru memberi penjelasan. Malam menjadi sepi dan hening, hanya suara piring beradu di dapur belakang meningkah-ningkah dengan mengharukan.

“Sekarang kita sudah merdeka, sudah lima belas tahun, tetapi kemerdekaan itu akan tanpa isi, akan tiada arti, apabila berjuta-juta manusia yang menciptakan nilai kehidupan, yang bekerja untuk kelangsungan hidup manusia, yang berproduksi, masih belum dimerdekakan. Kemerdekaan akan kosong, tidak berakar, apabila berjuta-juta manusia tidak dibebaskan dari belenggu yang telah berabad-abad mengikat kakinya. Apakah merdeka itu hanya di mulut saja, dan akan apakah gunanya itu, apabila kita masih dijajah oleh penjajahan yang semacam ini?”

Orang-orang tani itu mengangguk-angguk, sedikit demi sedikit, sinar itu datang semakin terang dan jelas.

Dan ketika Guru muda itu menjelaskan Undang-Undang Pokok Agraria, dan menjelaskan harapan-harapan baik, fajar baru di pedesaan, cahaya muka yang berseri-seri dari berpuluh wajah itu, selama hidup tidak bisa ia lupakan.

“Tetapi Saudara, semuanya masih harus kita perjuangkan. Undang-Undang hanyalah kertas bertulis, pelaksanaannya terletak kepada kekuatan kita bersama. Orang-orang besar yang harus melaksanakan hukum ini, masih kebanyakan terdiri dari pemilik-pemilik tanah. Jangan kena ditipu, jangan takut, kita telah lama berpengalaman melawan ketidakadilan. Apakah saudara-saudara bersedia dalam perjuangan baru, menyelamatkan undang-undang ini, yang berarti menyelamatkan saudara-saudara dan menyelamatkan kemerdekaan?”

Orang-orang mengangguk-angguk.

Kemudian mereka tertawa lepas, hidangan-hidangan keluar lagi, dan mereka habiskan sisa malam dengan penuh kegembiraan.

Ketika malam selapanan itu telah selesai, Ali pulang bersama-sama dengan kawan-kawannya. istrinya berjalan di depan, bersama dengan orang-orang perempuan lain. Baju lurik coklat tuanya serta kain lurik hitamnya, hilang ditelan malam. Ketika mereka berdua membelok ke pekarangan rumahnya, Ali membisiki istrinya.

“Sarti, panen depan ini tentu aku akan belikan kau sebuah kebaya biru langit berkembang mawar merah.”

Sarti membuka pintu rumahnya, pelita minyak tanahnya sebentar diterbangkan angin.



❀❀❀


Panen Bagi Semua — Anonim (April–Mei 1961)

Anonim

Api Kartini, Tahun III, No. 4–5, April–Mei 1961

Jalan yang membujur dari barat ke timur itu membagi daerah kediaman kami menjadi bagian Utara yang kaya dan subur dan bagian Selatan yang tandus dan kurus. Memang, kita kerap tidak dapat megikuti kehendak alam yang merupakan teka-teki besar, mengapa daerah utara itu kaya dengan mata air, daerah hijau sepanjang tahun yang membentang di kaki gunung berapi, dan mengapa daerah selatan tandus dan kering di sela-sela gunung-gunung kapur yang kurus. Tetapi yang lebih menjadikan teka-teki ialah mengapa manusia yang biasa memilih terlempar ke daerah tandus yang tak kenal panen itu.

Kami selalu mengatakan orang-orang di selatan itu dengan julukan: “orang-orang gunung kidul”, dan ini sekaligus mengandung arti, orang bekulit hitam terbakar, makanan pokok gaplek, dan pembikin serta penjual arang serta barang-barang tanah liat. Sangat sedikit dari mereka itu yang hidup layak. Yah, mengapa orang-orang ini terlempar ke daerah selatan yang tandus? Tentunya, waktu nenek moyang mereka membuka daerah itu, daerah utara yang subur dan kaya itu belumlah sepadat sekarang. Jadi sepanjang pengetahuan yang datar mestinya mereka itu terpaksa membuka daerah bergunung kapur tidak berair itu. Yah, terpaksa, mungkin karena pengusiran, peperangan dan lain-lain, sebab sejarah tanah airku penuh dengan peperangan perlawanan yang gagah berani dan perampokan dari kelas feodal dan pedagang-pedagang VOC yang kejam. Munginkah mereka itu, peristiwa itu meninggalkan jejak sejarahnya sampai sekarang? Hingga gua-gua dan lereng-lereng serta puncak-puncak yang paling tandus pun didiami mamusia?

Kami mendapat karunia mendiami daerah utara yang kaya. Tetapi menurut silsilah, nenek buyutku berasal dari selatan. Pada suatu masa, nenek buyut yang ahli menukang mendapat panggilan dari seorang tuan tanah kaya raya untuk mengukir pintu-pintu gerbang rumahnya, dan begitulah serombongan tukang-tukang kayu, di antaranya nenek buyutku yang masih jejaka pergi ke utara. Lama mereka tinggal di sana, tuan tanah itu membangun rumahnya yang megah, dikelilingi tembok yang tinggi. Pintu rumahnya dari papan jati utuh dan terukir, dan ceritanya nenek buyutku terpikat jelita dusun, dan mereka itu kawin serta menetap di daerah yang kaya itu. Sekarang pun, kami masih mempunyai kerabat di selatan yang kering mengerikan itu. Setiap panen kami ke sana, naik sado ditarik dua ekor kuda, membawa beras dan hasil panenan kepada orang-orang selatan yang sepanjang tahun harus makan gaplek. Apakah yang kami bawa adalah hasil panenan sawah kami?

Tidak, kami bukannya orang-orang bersawah, meneruskan tradisi kerja nenek buyut, nenek dan ayah menjadi tukang kayu.

Apabila panen di utara melimpah, kami pun dapat membantu kerabat di selatan dengan pantas. Yah, dua karung beras sekali setahun. Bibi dan uwak kami di selatan selalu melarang kami mengantar beras, tetapi nenekku selalu berkata:

“Ah, kami ingin agar panen tahun ini diuntukkan bagi kita semua.”

Memang, setiap tahun sehabis panen, orang-orang selatan mengembara ke utara untuk ikut memetik panen. Mereka itu bukan pengemis, bukan, mereka itu pekerja-pekerja yang rajin. Mereka tukarkan kepandaian mereka dengan bulir-bulir Dewi Sri yang kuning bernas. Banyak kepandaian dan kecakapan mereka. Kecuali tukang kuali, gentong dan tungku tanah liat yang bahunya menonjol dan kulitnya hitam terbakar, atau tukang arang yang sama hitamnya dengan arang yang dipikulnya, kami senantiasa, setahun sekali berkenalan dengan orang-orang gunung selatan yang cantik-cantik, manis-manis dan pandai menari serta menyanyi.

Mereka itu rombongan tandak, penari keliling desa-desa. Apabila padi di sawah sudah masuk lumbung, dan langit cerah sudah mendekati musim hujan, kami senantiasa mendengar tabuhan, khas dari tandak keliling itu. Lampunya berkelip-kelip disambar angin, dan suara penyanyinya yang lembut memikat itu membangkitkan seisi dusun, ikut berpesta. Tandak itu diikuti oleh serombongan penabuh dan gamelan, yang keberatan memikul gong besarnya serta gender panjangnya, sedang tandak-tandak cantik yang tak berbaju itu menutup punggungnya dari samberan angin malam dengan selendangnya. Ah, semuanya itu begitu indah dan menawannya.

Seisi dusun, termasuk kami anak-anak meloncat keluar, mendengar bunyi gendangnya yang dipukul bertalu-talu, orang-orang yang panen memanggil tandak itu main di halaman rumahnya, dan tontonan terbuka itu adalah atraksi gratis bagi seluruh dusun. Yang istimewa lagi, seisi dusun kenal betul anggota rombongan tandak itu. Dan rombongan-rombongan langganan kami selalu mendapat penghormatan dari kami semua orang-orang dusun yang suka menganggu tandak-tandak wanita, bungkam dan menghormati setulus hatinya kepada tandak langganan dusun kami. Rombongan itu adalah rombongan keluarga. Suami-istri, paman, bibi, kakak, adik, anak, uwak, semuanya mengiur dalam rombongan. Itu pemukul dan pemikul gong adalah suami primadonna tandak, dan penabung gambang, adik dari pemukul gong, tandak muda yang penuh adiknya lagi, dan penari kecil yang masih canggung itu adalah anak sulung mereka.

Biasanya pada jam empat sore rombongan itu sudah tiba di desa, dan mereka masih berpakaian biasa saja, mereka berdandan di rumah tempat mereka menumpang. Semenjak jam lima sore orang-orang sudah berkerumun di depan rumah tumpangan, dan tepat jam setengah tujuh, penari-penari yang sudah berdandan itu memberikan pertunjukan tanda terima kasih kepada tuan rumah.

Sesudah memberikan pertunjukan terima kasih, rombongan tandak itu berkelana dari dusun ke dusun, menukarkan kecakapan menari dan menyanyi dengan beberapa ketip uang, kemudian menukarnya lagi dengan beras putih, pesta yang dilakukannya setiap tahun. Banyak dusun yang dijelajahinya, tetapi tidak banyak orang yang memanggilnya main. Banyak, hampir sepersembilan orang-orang desa mencangkul, tetapi tidak ada seperseratus yang mempunyai sawah dan panen. Dan hanya orang-orang yang panen sajalah yang bisa memanggil tandak di halaman rumahnya.

Tuan tanah kaya yang pintu gerbang rumahnya diukir nenek buyut kami dahulu? Ya, mereka jarang sekali memanggil tandak keliling. Apabila mereka berpesta, mereka memanggil tandak dari kota yang jauh, dan mengadakan tayuban semalam suntuk. Yah, tandak-tandak yang dipanggil tuan tanah itu, berlainan sekali dengan tandak keliling kami. Tandak keliling kami bukanlah manusia yang bisa dibuat sembarangan. Dan apabila ada orangnya yang berani mengganggu tandak keliling kami, seisi dusun bangkit melindunginya.

Banyak kisah suka duka terjalin dalam rombongan tandak kekasih seisi dusun. Pernah pada satu waktu, hujan turun dengan deras, dan halilintar menyambar, sedang rombongan itu berada di tengah jalan. Basah kuyup rombongan itu mencapai rumah pertama di dusun. Sore baru saja mulai, dan untuk main, mereka tak mungkin lagi bisa. Dan sisa malam yang berhujan itu, dipergunakan oleh mereka untuk bernyanyi dan bermain di rumah tumpangan sebagai tanda terima kasih dapat berteduh. Tuan rumah ingin membayarnya, tetapi mereka menolak dengan lembut dan menawan hati. Paginya rombongan itu didatangi seisi dusun yang mengantar mereka dengan hasil panen berlimpah ruah.

“Yah, saudara-saudara, panen tahun ini, hendaknya bagi kita semua.” kata orang-orang. Dan balasannya? Malam itu rombongan tandak menyelenggarakan arakan pertunjukan cerita panjang yang mengasyikkan. Cerita petikan babad kuno tanah airku. Ah, puasnya kedua-duanya. Kami beramai-ramai mengantar rombongan ke luar dusun.

Pernah terjadi, rombongan itu kehilangan seorang anggotanya.

“Di manakah dia?” tanya kami.

“O, ia sedang hamil tuan,” jawabnya.

Dan panen berikutnya, kami melihat rombongan itu membawa bayi kecil yang belum dapat berjalan, digendong selama pengembaraan. Tetapi bayi dalam rombongan itu, tidak mengurangi keindahan seniman-seniman itu, dan orang-orang lebih lagi bermurah hati. Ah, betapa sedih kami, ketika mendengar, bahwa seminggu kemudian bayi yang molek itu meninggal karena masuk angin.

Yah, angin malam yang tidak kenal kasihan itu, telah menerbangkan nyawa bayi yang rapuh. Dan Ibunya, setelah memakamkan anak bayinnya dalam pengelanaannya, terpaksa bermain juga dalam malam-malam berikutnya. Ia tidak diberi kesempatan untuk berhenti dan berduka cita.

Sebab itu, pada beberapa panen kemudian, ketika rombongan itu harus membawa serta pula seorang bayi dalam gendongan, kami memaksanya untuk dititipkan saja pada salah seorang dari kami. Pengelanaan mereka biasanya berlangsung selama tiga bulan, dan anak bayi itu tentulah tidak mungkin dipisahkan dari Ibunya dalam waktu selama itu. Tetapi, akhirnya ibunya menyerahkan juga bayi itu ditinggalkan. Dan ia pun selamatlah.

Anggota rombongan yang kecil kurus itu, senantiasa tidak sehat. Suaranya sebetulnya merdu, dan wajahnya tampan, tetapi ia tidak kuat terlampau lama menyanyi. Selama perjalanan ia senantiasa batuk, tetapi waktu bermain ia tahan sesak dadanya. Kami kasih padanya, ya kasih bercampur kasihan. Semestinya punggungnya harus bertutup baju tebal, tetapi seorang tandak diharuskan membiarkan punggungnya terbuka. Ya, dan pada saat yang menyedihkan kami harus melihat dia diantar ke rumah sakit. Ia muntah darah. Beberapa bulan kemudian ia meninggal dunia.

Dan rombongan itu terus berjalan, dari tahun ke tahun, menukarkan suara mereka dengan beberapa ketip uang. Gadis tanggung itu sekarang telah remaja putri, dan bayi yang kami selamatkan dahulu, sekarang telah ikut bermain. Dan akan datang masanya, gadis manis itu kawin, melahirkan anak dan membawa bayinya dalam pengelanaan. Mungkin ia harus puia memakamkan bayinya dalam kubur jauh.

“Pahit panenan tahun ini,” kata orang-orang desa.

“Pahit pengelanaan kita,” kata rombongan penari-penari itu.

“Kita bagilah panenan kita sekedarnya,” bisik petani-petani sehabis panen kepada rombongan tandak itu.

“Di kubur yang jauh itu dimakamkan bayiku yang ketiga,” bisik Ibu yang muda itu dengan sedih.

Tuan tanahnya selalu memanggil tandak semalam suntuk dan memperlakukannya sembarangan, berkata sambil mengangkat bahu.

“Wanita hilang kewanitaannya. Bayinya dibunuh karena menandak.”

Tetapi, halaman-halaman dusun tempat petani-petani miskin menghibur hatinya dengan tarian dan nyanyian, menyaksikan, betapa sudah kesejahteraan pindah di balik lembaran-lembaran kayu jati itu.

Petani-petani itu membagikan panenannya dengan kata-kata penuh rahmat

“Panenan bagi kita semua, sahabat,” dan memberikan sedikit dari uangnya yang tidak banyak.

Memang, sepintas lalu, jalan yang membujur dari barat ke timur itu seperti membagi dua daerah tempat tinggalku, yang subur dan yang tandus. Tetapi dari balik peri penghidupan kami semua, jalan itu hanyalah tanah diratakan tempat lalu lintas manusia dan hidup manusia. Selatan dan Utara sama-sama miskinnya. Tukang tempayan yang hitam terbakar itu menghitung labanya yang sedikit, dan petani-petani di utara menawar, menawar sampai batas terakhir menghemat uangnya yang tidak banyak. Kami di utara hanya dapat berkata, bahwa kami bisa membagi panenan, sedang yang di selatan mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka untuk hidup: arang, alat-alat dapur tanah liat dan kehidupan kesenian.

Akan datang masanya, jalan membujur itu memancangkan papan, bahwa utara dan selatan sama-sama makmur. Di utara membentang padi menghijau, dan di selatan cerobong pabrik. Dan kami? Kami akan bertemu dengan rombongan tandak kekasih kami dalam teater terbuka.



❀❀❀


Rahasia

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun III, No. 8, Agustus 1961

Dua anak gadis kecil itu berbimbingan tangan meninggalkan halaman rumah. Rambutnya yang pendek sampai ke bahu bergantungan terumbai-umbai. Rambut yang halus dan lembut. Mereka berjalan meloncat-loncat setengah menari seperti dua rama-rama.

“Sekarang kau main di rumah kami ya. Sampai siang nanti. Nanti kita buat boneka. Bagus. Dari kain-kain perca.”

“Bagusnya, bagusnya,” sorak Ani. Ia telah lupa boneka terbarunya yang dapat memejamkan mata, tersenyum dan mengeluh. Bahkan ia lupa pada Dacochan hitamnya yang sebetulnya ia benci, oleh-oleh ayahnya dari Jepang. Membuat boneka-boneka sendiri. Alangkah indahnya nanti.

“Nanti kita buat tempat tidurnya, ya. Kemarin aku kumpulkan dus-dus obat nyamuk. Kita buat kasurnya dan bantalnya. Alangkah sedapnya,” celoteh Mimi tanpa henti.

“Enak, enak,” nyanyi Ani.

Mereka sampai ke rumah Mimi di seberang jalan. Rumah itu sunyi, hanya dari dapur mengepul asap, tanda ada seseorang sedang masak. Ani berhenti dahulu di depan kandang kelinci, melihat kelinci putih meloncat-loncat dengan manisnya.

“Ini yang belang hitam punya Toto, tetapi Mimi yang mencarikan rumputnya tiap hari. Ini yang putih besar punya yu Sri, dan yang putih bersih seperti kapas punyaku.”

“Ini yang belang merah?” tanya Ani sangat ingin.

Mimi memandang Ani, ia tahu maksud sehabatnya. Tetapi ia tidak berani menjanjikan sesuatu. Kemudian dibukanya kandang dan ditangkapnya si belang merah.

“Kau boleh memegangnya. Boleh menggendongnya.”

“Aduh manisnya, matanya bening, bulunya lunak, Kau anak manis, siapa namamu? Mau kau makan coklat? Mau kau ikut aku?” bujuk Ani dengan lucu ria. Mimi tertawa. Dengan enggan, Ani memasukkan kelincinya itu lagi ke kandang. Mereka meloncat-loncat menari-nari melewati dapur, di mana nenek Mimi sedang masak. Bau bumbu yang digoreng menusuk hidung Ani.

“Aduh mbah, sedap nian baunya. Lapar perut Ani dibuatnya,” seru Ani manja. Embah tertawa dan menggeleng. “Hanya sayur tempe Ani. Kalian di rumah tiap hari potong ayam, masakan ingin masakan embah.” Ani mengulurkan lidahnya sambil menggelengkan kepala: “Selalu tidak enak makan di rumah, mbah. Boleh Ani makan di sini nanti?”

Embah yang tua itu tersenyum dan membelai rambut Ani yang berpita merah. Mimi menarik tangan Ani.

“Sekarang kita membuat boneka ya, Ni?” Kedua gadis itu melewat ruang makan yang sangat sederhana.

“Ke mana Ibu Mi?” Mimi mengejapkan mata penuh rahasia.

“Tentu saja ibu pergi...ia rapat,” jawabnya penuh kebanggaan. Kedua gadis kecil itu berbimbingan tangan masuk ke kamar anak-anak. Ibu-ibu muda berusia lima tahun itu asyik membongkar perca-perca kain yang disimpan di lemari yang dibuat dari bekas peti sabun. Tangan yang cekatan menggulung-gulung perca, menjahit, menyambung, dan jadilah boneka-boneka kecil yang di mata mereka indahnya melebihi boneka Inggris oleh-oleh ayah Ani dari perjalanannya yang terakhir. Mereka seperti lupa waktu, dan sambil tangan-tangan kecil itu bekerja, mulut yang bijak tidak berhenti bercerita, memberi hidup kepada perumahan boneka yang mereka bina. Pada pertengahan permainan, Toto adik Mimi, yang berusia tiga tahun datang menggabung, dan ketiga anak itu bermain dengan damai.

“Besok aku boleh main ke sini lagi, Mi?”

Mimi mengangguk mengiakan, dan matanya berseri-seri. Begitu juga mata Ani. Kira-kira jam dua belas ibu Mimi menjenguk di pintu kamar.

“Alangkah manisnya anak-anakku ini. Sedang main apa kalian?” suaranya penuh dengan kehangatan dan mukanya yang kecapean itu berseri melihat buah hatinya.

“Ibu datang, ibu datang,” sorak Toto, dan sekejap ia sudah dalam pangkuan Ibunya.

Ibu cium To, cium. Lagi dong, masa hanya satu kali. Tiga kali lagi. Mimi, masa tidak ingin kau mencium ibu, ibu sudah kangen ini. Mimi dan Toto tenggelam dalam pelukan ibunya. Dan Ani berhenti bermain, melihat mereka yang berkasih-kasihan itu dengan muka yang penuh duka. Ia merasa terasing dalam rumah sahabatnya. Matanya yang bulat jernih itu penuh air mata, lekas-lekas ia menunduk dan diusapnya dengan ujung gaunnya. Ia pusatkan perhatiannya pada bonekanya yang tadi dihidupinya dengan kata-katanya penuh kasih. Boneka ini sedang sakit, dan ayahnya—dimainkan oleh Toto—sedang memanggil dokter—dimainkan oleh Mimi. Tetapi sekarang Toto dan Mimi sudah melalaikan kewajibannya, mereka tidak lekas pulang menjenguk boneka yang sakit itu. Persis seperti yang berkali-kali terjadi di rumahnya. Apabila satu dari anak-anak itu sakit, tidak ada usaha yang nampak bersungguh-sungguh untuk lekas mengobati, baik dengan tabib ataupun dengan kasih sayang. Biasanya, supirnyalah yang ditugas untuk mengantar anak-anak ke dokter. Ibunya selalu sibuk, berdandan bagus-bagus dan pergi dengan ayahnya yang juga selalu sibuk, mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk memperluas perdagangannya. Dan apabila ibu sudah berdandan bagus, jangan harap anak-anak akan mendapat cium atau peluk, karena ibunya khawatir bahwa dandanannya yang rapi menjadi kusut.

“Cup, cup bonekaku yang manis, sebentar lagi dokter datang dengan ayah.”

Mimi sekarang kembali lagi bermain. Tetapi Ani masam mukanya.

“Kalian lambat datang. Lihat anakku tambah keras sakit. Sebentar lagi dia tentu meninggal,” kata Ani dengan terisak-isak. Ia ingat, ketika dia sendiri sakit keras, radang paru-paru, dan dirasanya badanya seperti dibakar api, tetapi Ibu tidak pula datang menengok. Hanya Inem, babu pengasuhnya dengan setia duduk di dekatnya, tetapi dia inginkan ibunya duduk di situ, bukan Inem. Ketika itu ia merasa, bahwa ia pasti mati, dan sebelum mati ia ingin melihat ibunya untuk penghabisan kali, mencium pipinya yang senantiasa harum, memeluk tangannya yang lembut dan wangi. Tetapi dia tidak meninggal, dan ibunya tidak menciumnya.

“Coba saya periksa nyonyah,” kata Mimi, seolah-olah dia dokter yang sangat pandai.

“Tidak, kau dokter jahat. Tidak lekas memeriksa bonekaku,” jawab Ani.

“Dia tentu mati, tentu mati, bonekaku yang manis.” Ani menangis, keras-keras, dan didorongnya Mimi sampai terjatuh telentang. Mimi menangis juga keras-keras, sambil mengumpat: “Itu bonekaku, bonekaku. Perca kainku. Kau hanya ikut main. Aku tidak punya apa-apa. Memang aku anak miskin, anak malang, tidak punya apa-apa. Tidak ada yang menyayangi. Ambil, ambil kembali.” Toto yang kebingungan itu ikut pula menangis melihat dua orang gadis cilik itu bertengkar.

Pintu terbuka. Dan ibu masuk dengan senyum.

“He, kenapa anak-anak manis pada menangis? Ah, lebih baik kita bermain dengan damai, daripada bermarah-marahan.”

“Habis Ani nakal. Aku didorongnya hingga jatuh telentang.”

“Mimi nakal, dibiarkannya bonekaku sakit keras. Lihatlah dia hampir meninggal.”

Ibu tertawa, lalu mendekati boneka Ani yang lucu sekali, karena terbuat dari aneka ragam perca kain: “O, memang dia sakit keras, nak, dia lapar. Belum makan dari tadi. Yo, kita makan sekarang, ajak bonekanya.”

Wajah cemberut itu sekarang menjadi cerah. Ibu membimbing Ani di kiri dan Mimi di kanan, dicuci kaki tangannya di kamar mandi. Mereka duduk mengelilingi meja makan, di mana ayah Mimi sudah menunggu.

Mimi tidak dapat menangkap cakap sahabatnya. Dipukulnya nyamuk yang menempel di pahanya.

“Ah, kau saja bohong, Ni. Ayah ibumu sayang sekali kepadamu. Permainanmu penuh sekamar, kau punya dacochan dari Jepang...hii, geli aku lihat rupanya yang hitam dan matanya yang melotot itu.”

“Aku juga.”

“Kau punya boneka yang dapat menangis, dapat tertawa, dan merem melek. Aku kepengin, deh. Tetaplah tidak punya uang, dan ibu tidak kaya. Jadi ya, tinggal ingin.”

“Kukasihkan semua bonekaku, asal kau mau meminta kepada ayah ibumu, supaya aku jadi anaknya. Betul deh, betul-betul.”

“Betul?”

“Sumpah, Mi, sumpah.”

Mimi tertawa.

“Tetapi ini rahasia kita sendiri, ya. Pegang teguh. Hanya aku, kau, ayah dan ibumu yang boleh tahu, bahwa aku, aku...menjadi anak ibumu juga. Menjadi anak ayahmu, dan jadi kakakmu.”

“Nanti malam kuminta pada ayah ibu.”

“Semua tidak boleh tahu. Juga yu Sri, juga Toto. Betul ya? Nah sekarang aku pulang dulu. Besok kabari aku, apa ibu ayahmu mau mengambil anak aku.”

Ani melompat turun dari pagar dan berlari pulang. Sampai di pintu halaman, ia berhenti dan menoleh kepada Mimi yang masih berjuntai. Ia berteriak.

“Jaga rahasia kita ya, Mi.”

“Ya,” jawab Mimi, walaupun ia tidak tahu benar apa maknanya semua itu.

Gadis kesepian itu hilang di balik pepohonan. Dan pada malam sepi, sebuah jendela di rumah pedagang kaya itu terbuka, dan sebuah kepala yang mungil tersembul. Ani memandang arah rumah Mimi. Semalaman ia tidak tidur, mengenangkan alangkah nikmatnya menjadi anak Ayah Ibu Mimi, yang lemah lembut, penuh kasih sayang. Dadanya sesak, penuh dengan rahasia besar, rahasia yang terbesar sepanjang usianya yang masih muda itu...!



❀❀❀


Anak-Anak Muda — Sugiarti Siswadi (Desember 1961)

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun III, No. 12, Desember 1961

Dalam tiga bulan akhir-akhir ini berkali-kali ia harus mengurusi anaknya. Dan urusan semacam apa. Urusan yang sangat menjengkelkan, memarahkan, memalukan. Begitulah, semuanya terjadi pada hampir tengah malam. Telepon berdering. Dan ia harus lekas-lekas; malam itu juga ia harus mengambil anaknya dari tahanan.

“Hallo. Tentulah, malam ini juga. Dan maafkan, Pak, terpaksa malam-malam saya bel. Tahu sama tahulah. Begitulah antara kita.” Itulah kata-kata penutup telepon berdering itu.

Yah, antara kita. Sebab, anak pak Kapten pun juga kerap mesti diambil tengah malam dari tahanan anak-anak nakal. Antara kita, sebab anak-anak orang besar tidak boleh menimbulkan skandal di masyarakat, sebab nama orang tua yang terhormat bisa tersangkut, tercemarkan. Cuma, masalah dua keluarga ini lain. Pak Komisaris muda, mesti mengurus anaknya yang ikut rame-rame dengan segerombolan mahasiswa dan pelajar, sedang putra pak Kapten disimpan pada waktu gila-gilaan dengan kawan-kawannya di jalanan dengan pisaunya terhunus, atau sedang bergumul di lorong.

Yah, pak Komisaris mengeluh.

Antara kita. Untung ada istilah itu. Apabila tidak, anaknya sudah tentu akan menjadi penghuni penjara atau dalam tahanan untuk dua sepuluh hari.

Malam yang sial ini pun juga. Semenjak siang anaknya, Junus yang manis, pendiam, perenung itu, yang tekun, tetapi yang mengapi pada saat ia beradu kata dengan ayahnya, tidak pulang. Sang Ayah yang kesibukan di kantor, biasanya tidak pernah punya waktu yang cukup untuk mengomando anak-anaknya sendiri, seperti juga pak Kapten, yang sulit mendisiplin jejakanya. Habis makan, ia tidur. Sore hari baru ia menanyakan ke mana si Junus.

“Dari tadi belum pulang pak. Pagi tadi teman-temannya datang menjemputnya.”

“Kenapa tidak kau katakan kepada ku tadi?” dengan agak mengkal ia menyalahkan istrinya.

“Bapak sudah banyak urusan di kantor. Lagipula apa salahnya Junus pergi dengan teman-temannya? Aku yakin dia tidak berbuat kejahatan...dia terang bukan gerombolan cross-boy. Dia tidak akan menyusahkan kita,” jawab istrinya enteng.

“Tidak menyusahkan? Kau lupa, berapa kali aku mesti pergi tengah malam menjemputnya dari tahanan? Kalau tidak karena perkawanan yang akrab, mungkin Junus sudah masuk penjara. Yah, sekarang mereka masih memandang padaku, kalau mereka jengkel, atau menganggap aku menyalahgunakan dan kedudukan, apakah tidak sulit?”

“Gampang saja, pak?” jawab istrinya: “Begitu ia bawa Junus ke bui, begitu kau bawa Tommi ke Tanggerang. Habis perkara.”

“Habis perkara. Habis perkara. Perkara Tommi, perkara enteng, kebengalan anak-anak muda. Tetapi perkara Junus, perkara politik, Bu. Perkara politik. Tahu kau? Gawat.”

Istrinya mau menjawab. Tetapi ketika dipandangnya rambut suaminya yang beruban, dan wajahnya yang tua kecapean, ia menghela nafas. Timbul rasa belasnya kepada suaminya. Semestinya dia tidak usah nampak setua ini. Heran, mengapa banyak benar sekarang ini orang-orang yang nampak lebih tua dari umurnya. Orang-orang sengkatan suaminya penuh dengan keluhan penyakit, mukanya keru-merut, merasakan terlampau berat memikul beban kehidupan. Apakah jalan senantiasa bertentangan dengan suara hatinya? Ataukah sekarang suara hatinya yang mengejarnya tiap malam? Menderanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan kejujuran, dengan hati bersih; tetapi yang ia sebagai manusia tidak berani menjawab? Banyak ia lihat, bahwa suaminya tidak mampu memegang apa yang sekarang ia pegang. Bibirnya selalu harus mengucapkan cara-cara kemanusiaan sekarang, yang mau tidak mau harus ia abdi, tetapi hati kecilnya sebetulnya tidak mengerti. Atau ia harus mengatakan sesuatu yang baik, yang agung; yang luhur; seperti manusia sosialis, masyarakat sosialis, perdamaian dunia; persahabaan dunia; kerakyatan; lawan feodalisme, junjung tinggi kepribadian, tetapi pada malam hari; di kala ia berbaring sendiri-suaminya yang mempak tua itu—tiba-tiba meloncat dari jantungnya seorang makhluk kecil, ialah suara hatinya. Makhluk kecil itu meleketkan lidahnya dan menyeringai, serta berkata.

“Coba ulangi lagi apa yang kau katakan tadi pagi di depan orang-orang manusia sosialis. Jadilah pendukung Manipol. Coba ulangi lagi.”

Dan suaminya yang berbaring itu, yang tidur tetapi yang jaga, malu; mukanya merah dan mengaku.

“Aku tidak berhak mengucapkan kata-kata yang begitu agung.”

Manusia kecil itu menjulurkan dan berkata:

“Nah, bagus. Kalau begitu minggirlah. Atau belajarlah untuk meyakini, dengan setulus hatimu; dengan darah dagingmu, jadikanlah sikap hidupmu, luar dalam. Janganlah kau jadikan pakaian pesiar saja, kau pakai untuk memamerkannya pada orang lain, tetapi yang malam-malam kau tanggalkan, kau kutuk; kau simpan di lemari, sedang bajumu yang apak bau itu yang kau junjung.”

Suaminya menutup mukanya dengan bantal, menghela nafas; dan makhluk kecil itu mengunjungi suaminya tiap malam. Dan lebih kerap ia menjulurkan lidahnya daripada mengangguk memuji. Tentu saja suaminya menjadi lekas tua, sebab setiap malam ia selalu dikejar-dikejar oleh hati nuraninya.

Sebab itu ia diam saja. Ia tidak membantah kata suaminya, sebab ia yakin, bahwa nanti malam; makhluk kecil itu akan meloncat dari jantungnya, dan akan mengamangkan tinjunya yang kecil dan menembak dengan mata sipitnya yang tajam sebagai sembilu...

Dan betul juga.

Malam itu telepon berdering, sekira dalam 12.00 Pak Komisaris meloncat dan ia tahu Anaknya ditahan. Tadi sore ia mendengar berita, bahwa serombongan mahasiswa pelajar dan pemuda melempari kedutaan Belgia dan Amerika dengan batu, berhubung dengan terbunuhnya Patrice Lumumba:

“Junus yang kepala ganas itu mesti ikut gerombolan mahasiswa-mahasiswa politik itu,” gerutunya tadi sore: “Anak tak tahu urusan, kalau ia belajar terus, tiga tahun lagi ia sudah bergelar; dan ia dapat memperdalam ilmunya ke luar negeri...ke...Amerika. Malah si dungu itu ingin ke Moskow, mau belajar apa? Belajar politik? Hmmm.”



Sekarang Junus sudah duduk berhadapan di kamar kerjanya. Rumah sudah sepi. Semuanya tidur. Malam dingin. Tetapi di dalam ruangan yang kecil ini, di mana tumpukan buku-buku ayahnya rapi seperti rambut habis disisir, di mana media tulisnya berukir itu berat mengkilap di sudut malam tidak dingin dan malam tidak tidur. Percakapan yang panas seperti malam ini tidak terjadi sekali dua tetapi berkali-kali, makin lama makin panas.

“Nah, Junus. Tidak cukup kau merepotkan ayahmu yang sudah cukup repot ini?”

“Ya, repot mengurusi anak-anak cross-boy dan repot melepaskan kembali serta menutupi berita-berita skandalnya ya, Pak? Baik, bapak tidak perlu lagi mengurus saja,” jawab Junus tidak sabar, setelah berjam-jam mereka berdebat.

“Tidak banyak bapak minta padamu. Tahulah di mana kedudukanmu dan di mana tempatmu. Kau mahasiswa. Kau harus belajar. Belajar. Bukan rame-rame demonstrasi melempari gedung-gedung orang. Senang, memang senang, sensasional; nampaknya seperti perbuatan heroik, kepahlawanan; tetapi heroisme kosong, heroisme bom bas. Coba kalau kau belajar, tekun, sebentar kau mencapai gelar, kau dapat mengabdi kepada nusa bangsamu, mengabdi Indonesia dengan konkrit. Sekarang? Kami-kami ini yang mestinya mengurus soal negara yang besar, mesti turun tangan mengurusi kerewelan-kerewelan bombasme kalian. Bombasme. Sensasi. Tidak lebih dan tidak kurang.

“Jadi menurut bapak, mahasiswa harus hanya belajar aja?”

“Ya, mau apa lagi.”

“Juga kalau halilintar menyambar.”

“Juga kalau halilintar menyambar.”

“Juga kalau harga buku-buku naik.”

“Juga kalau harga buku-buku naik. Biar orang tua-tua yang usul dengan tertib kepada Pemerintah.”

“Salah menurut logika bapak, orang tua hanya harus beranak dan mendidik anaknya, tidak boleh ngurus perkara buku naik. Itu juga bombasme kosong.”

Bapaknya terdiam.

“Juga kalau ada kongres Mahasiswa?”

“Tidak perlu mahasiswa kongres-kongres, rapat-rapat. Itu pekerjaan mahasiswa yang otaknya cukup encer. Kau tahu, bahwa pengurus-pengurus serikat mahasiswa biasanya jarang lulus?”

“Ya, karena masih banyak orang-orang tua seperti bapak. Maunya anak orang lain suruh kerja ngurusi perkumpulan, anaknya sendiri hanya harus belajar sendiri, terus, supaya lekas lulus dan bertitel.”

“Habis? Mereka memang sebetulnya tidak harus di perguruan tinggi, harusnya jadi orang-orang politik.”

“Bapak bukan orang politik?”

“Bukan.”

“Apakah seharusnya politik bapak?”

Bapaknya terdiam lagi. Sebetulnya kesabaranya sudah habis. Tetapi Junus adalah anak taki-laki satu-satunya. Ia sangat menyayanginya. Junus cerdas, berpekerti baik, tetapi sayang...ia terlau banyak hanyut pada kegiatan-kegiatan di luar bidang kuliahnya, yah, ia tahu, sampai sekarang kuliahnya tidak pernah terganggu, tetapi ia khawatir, mengkhawatirkan anaknya, dan...mengkhawatirkan dirinya sendiri. Kalau anak itu begitu ekstrem, begitu kiri..apakah sebetulnya ia rela?

“Pak, setiap orang di Indonesia ini sekarang harus menganut suatu keyakinan. Keyakinan yang luhur. Dan aku mempunyai keyakinan itu. Keyakinan revolusi. Keyakinan sosialisme.”

“Kau kira hanya orang-orang bombas seperti kamu semua yang berkeyakinan revolusi? Orang-orang yang tekun di belakang meja itu tidak revolusioner?”

“Kami tidak pernah mengusik kalian yang tekun di belakang meja demi keyakinan revolusi; aku tidak mengusik.”

Ayahnya terdiam lagi. Apakah benar-benar aku mempunyai keyakinan revolusioner selama aku duduk di belakang meja? Cluppp...sekejap itu makhluk kecil itu meloncat dari jantungnya dan menjulurkan lidahnya.

“Apakah salahku Pak, kalau aku dan kawan-kawanku menyatakan amarah yang ada di kalangan rakyat Indonesia terhadap kebiadaban kolonialisme? Apa salahku, mewakili hati nurani bangsa Indonesia terhadap kejahatan imperialisme terhadap pejuang-pejuang kemerdekaan? Kita merasa bangga dan berterima kasih, apabila kawasan di luar negeri berdemonstrasi memboikot kapal perang Belanda, mencaci maki Belanda, aku bangga dan terima kasih. Dan sebaliknya, kami bangga kalau kami dengan gagah berani menunjukkan suara hati kami yang agung, meletupkan kebencian dan dendam kepada kolonialisme. Apa salah kami?”

“Betul, semua betul. Tetapi kalian melanggar undang-undang. Kalian tidak minta izin dulu. Kalian perusak tata tertib. Tahukah kamu, bahwa maksud baik dengan cara salah dapat menjadi sangat jelek?”

“Kami tidak menyalahkan mereka yang menahan kami. Itu tugas mereka. Bahwa mereka meyakini, yang salah adalah caranya, sangat membesarkan hati. Sekarang tentang ayahku sendiri. Mengapa ayah mencaci saya sebagai orang-orang bombas? Mengecilkan kegagahan kami? Saya ingin, agar ayah bangga kepadaku. Bahwa putra laki-laki bapak bukanlah pengecut, yang bersembunyi di balik buku-buku, sedang dunia gegap gempita, sorak sorai dalam kebangkitan. Bahwa anak laki-laki bapak bukannya seorang egois yang mau lekas-lekas berhasil untuk diri sendiri, tanpa tergerak hati jantannya mendengar pekik peperangan. Pekik peperangan antara kemerdekaan dan kolonialisme. Banggalah pak, banggalah.”

Senantiasa ayahnya tidak dapat menjawab sepatah kata pun, apabila Junus, anaknya, si muda, remaja itu, si kecil itu, yang dulu di timang-timang, telah mengapi. Itulah senantiasa kata pengunci dari perdebatannya berkali-kali, apabila malam-malam sang ayah mengadili anaknya, yang terlalu banyak bergerak dalam masyarakat.

Apakah ia bangga? Apakah seharusnya ia bangga? Ia keturunan feodal, ibunya dulu selalu menimangnya: “Lekaslah besar, dan nanti menjadi priyayi.” Sekarang, ia pun menimang anaknya: “Lekaslah besar dan menjadi pembesar.” Tetapi Junus ingin ditimang: “Lekaslah besar dan menjadi pemuda pejuang. Menjadi pengabdi rakyat.”

Ah, dunia yang ia pijak sekarang, sudah banyak berubah.

Ayam sudah ramai berkeruyuk. Junus sudah masuk ke kamarnya lagi. Tetapi sang ayah masih merenungi kursi bekas si Junus. Istrinya selalu membela Junus, dengan alasan yang sangat naif. “Aku lebih suka Junus pergi rapat-rapat, daripada jadi cross-boy.”

“Yah, anak-anak muda. Memang aku sudah terlalu tua untuk mengerti keluhnya.”

Matahari pagi memancar dari celah jendela. Ayah yang tua yang belum bisa mengerti itu, tertidur di meja tulisnya.



❀❀❀


TAHUN IV

(1962)


Pulang

S. Djin

Api Kartini, Tahun IV, No. 2, Februari 1962

Kampungku kecil di tepi kota, tetapi kurasa semua tetangga adalah sanak-keluarga, akrab sayang. Kalau mangga mbah Wirjo menguning matang, kami anak-anak segera naik di dahan tertinggi, atau bila jambu Paman yang merah-merah manis itu berjatuhan, segera kami menyerbu ... ya ... ketika itu aku adalah satu dari rombongan anak-anak di kampung kami, yang suka main “gobak sodor” atau kejar-kejaran di malam purnama, sedang ayah, ibu dan tetangga-tetangga di bawah lambaian nyiur gemerisik mencicip kopi panas serta juadah lezat. Indah sederhana kehidupan di kampungku .... Sekali-dua kali kami anak-anak brandal terpaksa berjongkok di tepi jalan karena “Kanjeng Sunan” akan berlalu dengan segenap gemerincing kereta hitam mengkilap ditarik enam kuda.

“Dari mana Kanjeng Sunan sekaya itu, Yah,” bisikku dan ayah menjawab singkat: “Tentu dari Kanjeng Gupermen.” Jawaban itu diulangnya berkali-kali setiap kutanyakan punya siapa gedung-gedung besar di tengah kota atau kereta api yang lewat tak jauh dari desa kami.

Suatu kali ketika aku diajak Paman berjalan-jalan, kami berpapasan dengan seorang Tuan Besar dalam mobil bagus dan Paman menerangkan itulah Kanjeng Gupermen. Tetapi mengapa kulitnya putih kemerahan dan matanya biru? Ya ... karena dia Belanda. Aku hanya tertegun, o ... jadi itulah yang sangat kaya dan kuasa lebih dari raja.

Suatu kali Paman yang sekolah HIS itu gugup menerangkan: “Semua guru Belanda berhenti, negerinya perang dan kini Jepang makin dekat ....” Aku tak mengerti apa itu artinya jadi Belanda yang kaya dan kuasa itu takut juga?

Sebulan dua bulan lampau dan benarlah ... tersiar kabar Jepang masuk kota, hiruk pikuk sampai di kampung kami.

Tembak-menembak berdentaman sehari semalam dan aku didekap ibu di bawah kolong tempat tidur.

Hanya lama kemudian aku tahu Belanda sudah pergi dan ditangkapi dan kini Jepanglah menjadi Kanjeng Gupermen.

Ketika itu aku mulai sekolah, tak lagi aku bisa berkejaran dengan Ijem anak mbok Redjo yang harus membantu menjual pecel, atau Surip anak bakul “nasi liwet” dan masih banyak lagi, karena mereka sudah harus bekerja, sedang anak laki-laki banyak yang menjual kacang atau membantu ayah mereka, karena mereka banyak yang tukang kayu atau batu atau buruh tenaga biasa.

Tiap pergi ke sekolah aku harus melewati gedung besar dijaga prajurit seram membawa senapan dan bayonet terhunus. Dan suatu kali kami ketakutan sangat melihat seorang pemuda ditendang dan diseret ke dalam, hanya karena ia tak mau membuka topi dan membungkuk di muka Kempei itu.

Sejak itu kami tak berani lagi lewat di situ. Tidakkah penjaga garang itu mengerti bahwa ditendang itu sakit? “Nanti ... kalau aku sudah besar ...!” Si Ompong menggeram, lucu dia karena anaknya bundar tetapi pendek.

Tetapi si Ompong, Sri yang takut ulat dan lainnya termasuk aku tak berani berkutik di hadapan Sensei yang menyuruh kami menanam jarak dan mencari ulat di kebun-kebun, katanya minyaknya untuk kapal terbang.

Kehidupan di kampungku semakin sulit, teman-temanku di kampung banyak yang compang-camping celananya, bahkan Kentus gembala kambing Haji Umar terpaksa memakai celana goni.

Makin banyak yang memakai celana goni di jalan-jalan karena kain tak terbeli lagi, sedang pengemis-pengemis bengkak-bengkak kaki karena lapar.

“Itu udim ... dan mesti mati akhirnya,” kata mbah Wirjo dan mulutnya komat-kamit membaca mantra agar penyakit itu tak singgah di rumahnya. Tetapi penyakit itu merenggut nyawa mbah Singa tua dan menjalar satu per satu. Dan sekali kulihat pengemis menggeletak di tepi jalan dengan kaki membesar dan perut menggelembung ... kami lari sambil menangis.

Suatu malam mbok Redjo penjual pecel, tetanggaku di gubuk sebelah rumah, berlari-lari menemui ibu ....

“O ... bagaimana nasib kami ini ... mereka besok diangkatkan, dibawa jauh pergi ke seberang.”

Mereka ini ialah hampir semua tetangga di kampung kami itu, karena mereka kebanyakan buruh, tukang kayu, tukang besi dan kuli biasa. Hanya guru di sudut kampung, ayah yang bekerja di keraton dan beberapa orang tua-tua dibiarkan.

Malamnya Sentot, anak mbok Redjo disembunyikan tetapi ketika mereka lalu dalam sedu sedan istri dan anak-anaknya tampaklah Pak Redjo, Sardi, Pak Darmo, Gareng, Mat Keong dan lain-lain. Betapa jauh ... ke seberang. Sejauh lautkah itu? Laut merupakan batas terjauh dalam angan-angan kami, anak-anak di situ. Lebih jauh lagi ... ke Birma dan Siem membuat jalan-jalan. Kami mengerumuni mbah Rono yang pernah dibuang ke Digul dan menyeberangi laut, tetapi kini sudah tua dan buta. Di sana banyak malaria dan romusha harus bekerja keras katanya, tetapi kemudian kami dilarang menengok mbah Rono.

Mbok Redjo makin tua tampaknya, dan kadang-kadang diusap matanya yang berlinang sambil melayani pembeli dengan cekatan.

“Tentu mereka pulang ...” ia menghibur diri.

Tetapi kemudian mulut usil di kampung kami mulai membisik, bahwa Minah istri Sardi tak bisa menunggu lama ... dan kawin lagi. Memang bulan telah berganti tiada kabar barang sepatah.

Musim kemarau sudah lamanya lampau dan kini hujan gerimis menambah kesedihan di kampung kami. Kadang-kadang aku ikut ibu menengok tetangga yang sakit, demam mengigau dalam bilik-bilik bambu sempit tak berhawa.

Kapan mereka pulang? Pertanyaan itu bagaikan hantu menyusup membelit mengeringkan kerongkongan mbok Redjo, Inem, Mak Idjen dan semua yang ditinggalkan romusha di hari yang naas itu.

Anak-anak mulai bertanya, kapan bapak pulang? Dan Si Brindil yang tak ingat lagi wajah ayahnya tetap mengharap ayahnya pulang membawa boneka.

Musim hujan pun lalu dan tak ada berita.

Sentot pun masuk Peta, untuk mencari bapak—pamitnya kepada mbok Redjo. Tangannya yang kurus itu semakin gemetar menumpuk kacang untuk sambel pecel. Mesti bagaimana ... adik Sentot masih banyak dan mereka harus makan.

Kata orang perang semakin seru ... di seberang dan teman-teman Paman berdatangan dan bercakap bisik-bisik.

Kudengar kata-kata “merdeka” dan “kelak kemudian hari ...” tetapi aku tak mengerti artinya. Kutanyakan Paman, ia tampak merah menahan marah. “Janji bohong ...” gerutunya kemudian ia menyantuk: “Kau diam saja, anak kecil!”

Suatu senja, kami sedang duduk di serambi muka, tiba-tiba dalam kesepian terdengar lengking jerit mbok Redjo.

Ibu terhenyak bangkit dan kuikuti ke gubuk sebelah. Dalam kerdipan pelita samar-samar kulihat dari lubang di dinding bambu mbok Rejo sedang memeluk sesosok tubuh berselimutkan sarung kumal. Dan di belakangnya tertegun Sardi ... suami Minah ... tak salah.

“O ... pakne ... pakne ....”

Tangis haru mbok Redjo menyayat.

Mereka pulang, pikirku. Tentu ayah Nono, bapak si Idjem dan lain-lainnya pun sudah pulang juga. Betapa senang ...! Tetapi mengapa mereka diam saja ... dan hanya berdua ... di mana lainnya? Sedang mengapa kaki Pak Redjo ... juga membesar ... dan mukanya pucat menebal ...? Tiba-tiba kuingat kata-kata mbah Wirjo ....

“Itu udim ... dan mesti mati ....”

Aku menggigil.

Rupa-rupanya tinggal mereka berdua yang hidup ... lainnya berkalang tanah jauh di seberang. Tetapi itu hanya kuketahui kemudian, karena ibu segera menarikku dari intipan dinding. Kasihan Nono, Idjem ... juga Brindil, mereka takkan bisa melihat ayahnya untuk selama-lamanya.

Itu semua sudah lebih dari tujuh belas tahun yang lampau, namun pada hari-hari ini, entah mengapa peristiwa itu terkilas kembali dengan jelasnya. Peristiwa kecil, ketika Pak Redjo dan Sardi pulang ke kampung ... mungkin sudah banyak yang melupakan.



❀❀❀


Pesta Hari Besar

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun IV, No. 3, Maret 1962

Dongeng demi dongeng sudah abis meluncur. Perbendaharaan dari zaman nenek-neneknya, dongeng-dongeng bahari, dongeng-dongeng karangan sendiri cerita-cerita dari Andersen, entah telah berapa puluh. Bibirnya terasa capek. Dan malam makin lama makin kelam. Anak-anak menahan kuap, matanya yang sipit-sipit mengantuk dipaksa-paksakan dinyalangkan, dan kuping-kuping hanya bisa menangkap dongengan sayup-sayup saja. Namun, Tini, dalam keharuannya masih dapat juga tersenyum. Si bungsu yang sudah berkali-kali diayunkan gelombang mimpi, setiap kali tersentak mendengar langkah di lorong di depan rumahnya.

Ayahnya belum juga datang.

Mata yang tadinya melihat ingin hidangan di meja makan, sekarang berpindah melihat tempat tidur. Kalau dapat aku letakkan kepala ini di bantal dan terus terlena ... begitu pikiran anak-anak.

“Bu, lama benar ayah tidak datang-datang.”

“Tunggulah sebentar lagi. Ya, Raden Putro dari Jenggolo, meninggalkan istana ayahnya, karena .... Dia menjadi Ande-Ande Lumut. Lalu datang Klenting Kuning,” Tini mendongeng tidak urut lagi.

“Nah itu ayah,” anak-anak meloncat, lupa kantuk dan capek. Pintu pagar terbuka, dan langkah-langkah berat ayahnya kedengaran.

“Ayah, ayah, lama bener. Sampai capek kami, dan ... lapar.”

“Ayah, kita pesta ayah, pesta ....”

Kardi memaksakan senyum kecapean, dan seorang demi seorang anak-anaknya mendapat cium. Tini ditepuk pada pundaknya.

“Maafkan Tin, tak bisa kupercepat.”

Tini hanya tersenyum. Haru hatinya memandang wajah capek suaminya, rambut yang terlalu pagi menjadi putih itu, kusut dan bajunya tak keruan lagi.

“Kita lekas makan,” kata si sulung. “Liurku sudah menetes sedari tadi.”

“Mengapa kalian tidak makan lebih dahulu?”

“Kita pesta ayah, pesta hari besar,” kata si Upik.

Tini memandang suaminya. Senantiasa lupa, ya ia senantiasa lupa. Hari ini adalah hari perkawinan mereka, yang kelima belas. Namun, si suami ini hampir dapat dikatakan tidak pernah ingat. Pada mulanya Tini senantiasa marah, kecewa, bahwa hari yang begitu ia anggap besar, terlupa begitu saja. Tetapi lama-kelamaan ia merasa tidak ada gunanya marah-marah. Suaminya banyak harus mengingat hari-hari besar yang lain. Hari yang betul-betul besar, karena hari-hari besar itu menyangkut sejarah berjuta-juta manusia. Tentang hari besarnya sendiri? Itu hanya menyangkut keluarganya saja.

“O ya, ayah lupa. Hari ini hari besar kita. Mari lekas kita serbu.”

“Selamat Ayah, selamat Ibu,” kata anak-anak berbareng. Mata Tini sebak, dan muka Kardi memerah. Sambil makan Tini memikir-mikir, hari besar kali ini tidak akan terlupakan selama hidupnya. Hidangannya adalah hidangan-hidangan “revolusioner”, yang tidak bisa ditemukan dalam resep masakan mana pun. Nenek moyangnya sendiri tidak pernah mengimpikan, bahwa dalam zaman industri modern seperti sekarang, anak-anak cucunya tidak bisa menggoreng lauk-pauk, tidak dapat menggulai penganan, tidak dapat menjadikan buah-buahan, jangankan dalam kaleng, yang segar pun tak mungkin. Indonesia negeri hijau sepanjang tahun, tetapi masih tidak mungkin secara teratur anak-anak mendapatkan buah-buahan segar, yang menurut ilmu gizi menjadi unsur keempat. Apalagi susu, dalam ilmu gizi mendapat nomor kelima, adalah sesuatu kemewahan, yang untuk bulan-bulan belakangan ini telah “berdosa” untuk mengimpikan saja.

Anak-anak sedari sore sibuk menghiasi meja makan. Mereka memetik bunga-bunga dari kebun, yang tinggal beberapa batang lagi, menaruhnya di pinggir-pinggir piring yang ditengkurapkan, si Upik ikut bundanya memotong tempe dengan bentuk roda, tempe ini nanti akan direbus dengan bumbu-bumbu. Kalau digoreng pasti lebih sedap, tetapi ... direbus pun dengan santan akan nikmat, namun negeri kelapa dan nyiur hijau di tepi pantai ini tidak dapat memberkahi rakyatnya dengan sebutir kelapa setiap hari bagi setiap keluarga. Nasi berasnya pembagian kampung yang dihemat berhari-hari, diberi warna kuning, dan diberi rasa gurih dengan daun salam dan santan cair. Mestinya, menurut resep ibunya, nasi kuning itu mesti ditemani dengan kerupuk, abon, dadar, kering tempe, bregedel, kacang tanah goreng, daun seledri, dan ketimun. Tetapi sekarang ia berteman dengan tempe rebus, tahu rebus, sesayat dua ketimun, dan sejemput seledri.

Anak-anak makan dengan lahapnya, tetapi Tini hampir tidak dapat menelan suapnya. Kerongkongannya tersumbat oleh sesuatu.

“Enak sekali Tin, enak sekali. Gurih, segar, eh ... enak sekali. Boleh aku tambah lagi?”

Tini mengerti, bahwa suaminya berusaha menghilangkan sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.

Malam telah sepi. Anak-anak telah tidur. Tini duduk berjejer dengan suaminya di beranda. Diletakkannya kepalanya yang kecapean di pundak suaminya.

“Telah lima belas tahun Mas.”

“Ya Tini.” Kardi memegang tangan istrinya. Urat-uratnya nampak membayang keluar, tangan yang hancur karena pekerjaan rumah tangga, mencuci, memasak, menimba.

“Tangan yang halus dulu ...” bisik Kardi.

Tini menarik tangannya sambil tersenyum.

“Adakah bedanya dalam hatimu Mas?”

“Lima belas tahun lamanya aku menyeret engkau dalam hidup yang keras Tini. Aku tidak dapat mengembalikan tanganmu yang halus seperti beledu. Maafkanlah.” Gementar suara Kardi. Tini tersenyum saja. Hatinya sayu.

“Aku tidak pantas Tini, tidak dapat membahagiakan kau. Artinya dalam urusan-urusan keduniawiaan,” sambung suaminya.

“Memang ada kalanya saya serasa tidak kuat lagi, apalagi pada hari-hari akhir ini. Seakan tak tertahankan. Tetapi mau apa?” Tini tahu, bahwa perbaikan hidup Tini bukan masalah Tini dan anak-anak, “bukan masalahmu sendiri Mas, tetapi masalah seluruhnya.”

Ada kalanya tengah malam Tini menangis, “walau aku tidak tahu kepada siapa aku menangis dan mengadu. Kepadamu? Tidak akan banyak gunanya. Aku menangis dan meratap, sekedar melegakan dada yang sesak.”

“Orang-orang lain dapat hidup lebih baik dari kita Tini.”

“Biar, kita bukan orang lain.” Sedari dahulu Tini tahu, “bahwa menjadi istrimu, berarti menjadi istri seorang manusia.”

Kardi terpaksa tertawa.

“Kau anggap orang-orang lain itu bukan manusia Tin?”

“Ya, begitulah kira-kira. Kita manusia mesti berpikir dalam rangka manusia.”

“Masih tahankah engkau hidup seperti ini?”

“Lantas? Apakah aku harus memaksa kau menjadi koruptor? Menjadi mata-mata? Menjadi komprador? Penjilat? Tentu lebih tinggi harga dirimu, Mas. Berjuanglah terus Mas, aku akan tabah.”

Tini percaya, bahwa hidup baik hanya dapat direbut bersama-sama ia berkembang bersamaan dengan sosialisme.

“Omong kosong mau hidup sejahtera tanpa sosialisme. Dan untuk sosialisme, diperlukan keringat pengorbanan dan air mata. Sekarang jalan ke sosialisme masih baru menuntut keringat dan air mata dari aku.”

“Terima kasih, Tin.”

Tini beranjak dari kursinya.

“Mungkin air telah mendidih Mas. Aku buatkan kopi.”

“Tanpa gula?”

“Aku ada menyisihkan dari pembagian kampung satu mangkuk. Khusus untuk hari ini.”

Tini menyeduh kopi. Baunya yang harum memenuhi kamar. “Aku juga ada sesuatu untukmu Tin. Jangan kaukira aku lupakan hari besar kita.”

Kardi mengeluarkan sekantung mete goreng dari tasnya.

“Mengapa tidak kau keluarkan tadi selagi anak-anak belum tidur?” Tini menyesali.

“Memang kusengaja. Kau tidak pernah sempat makan cukup, semuanya untuk anak-anak. Biarlah malam ini, kau makanlah sendiri. Ini hadiah hari besar. Sekantung mete, berat seperempat kilo.”

“Dari mana kau dapat uang?”

Kardi tersenyum. “Adalah,” disulutnya rokoknya: “Rokok yang terakhir. Besok takkan terbeli lagi.”

“Mana pipamu Mas?” Kardi tersenyum saja. Pipa gadingnya yang indah sudah berubah menjadi seperempat kilo mete goreng.

“Kalau rokok tidak mungkin terbeli lagi, buat apa mempunyai pipa? Itu hanyalah kemewahan yang berlebihan. Jadi ....”

“Jadi ...?”

“Ah apalah gunanya kita bicarakan pipa gading itu, kau telah kehilangan kesegaran dan keriangan hidup ....”

“Tetapi pipa gading itu?”

Pipa gading itu mempunyai riwayat yang hebat juga. Ia didapat oleh Kardi di rimba Sumatera Selatan, beberapa bulan setelah perjanjian K.M.B. yang khianat. Dengan penyerahan kedaulatan, beribu-ribu bekas-bekas pejuang yang melawan Belanda dilempar ke hutan-hutan Lampung, ditransmigrasikan, dipaksa menanggalkan senapannya, untuk memberi tempat kepada bekas-bekas KNIL. Betapa sakit hatinya, hanya ia sendiri yang tahu. Semboyan-semboyan yang muluk dilontarkan untuk menutupi kejahatan maksud. “Dari senapan ke pembangunan”. Yang pokoknya hanya menutupi masalah:

“Minggirlah republiken sejati, untuk orang-orang serdadu sewaan.”

Pada suatu hari kelompok Kardi, anak-anak tentara Jawa Timur berhasil membunuh seekor gajah. Sepasang gadingnya dibagi seadil-adilnya untuk seluruh pasukan, seorang anak mendapat sebuah pipa gading. Pipa sakit hati, begitu namanya. Pipa itu terus disimpan, sebagai kenangan akan sakit hati mereka.

“Pipa sakit hati itu Tin? Ah, aku merasa tidak adil, kalau hanya menyimpan pipa itu saja. Telah banyak kenangan sakit hatiku, yang jauh melebih peristiwa Lampung. Tetapi sekarang aku lebih dewasa Tini, semua kecewa dan sakit hati adalah keharusan konsekuensi untuk hari depan. Untuk anak-anak kita. Tak semua orang menyukai sosialisme, meskipun mulutnya mengatakan suka. Mereka sengaja atau tak sengaja memasang penghalang di jalan.”

“Ya, untuk anak-anak kita.” Tini menyimpan lebihan mete, dan memadamakan lampu.

Malam larut yang dingin damai turunlah.



❀❀❀


Hidangan 17 A.G:

Di Tikungan Benteng Yogya

Rukmi

Api Kartini, Tahun IV, No. 7–8, Juli–Agustus 1962

Bu Marto duduk di bangku di belakang dagangannya. Di depan ada beberapa orang sedang minum kopi atau teh dan makan kue yang dihidangkan. Bu Marto selalu memperhatikan percakapan pendek-pendek serta bermacam ragam yang dipercakapkan orang sepanjang hari oleh pengunjung warung kopinya.

“Wah, naik lagi harga beras Bu!”

“Iya, ini nak, aku heran mengapa keadaan menjadi begini.”

“Nah, kalau beras naik, ikutlah yang lain-lain ....”

“Tidak tahulah Nak. Ya, kita sudah mengalami banyak zaman. Ingat zaman Belanda gaji sembilan belas rupiah sebulan, mesti menyekolahkan anak-anak. Zaman Jepang, waktu orang berbaju karung, makan ampas singkong, tepung singkong, dan beras makanan istimewa. Barangkali kalau kita dulu dapat menyesuaikan diri, sekarang pun kita harus pandai mengatasi, bukan?”

“Ya, Bu tapi bagaimana orang dagang kalau harga terus berombang-ambing. Memangnya kita peras tenaga terus tanpa untung?”

“Ah, ya masak kita tidak untung, Nak. Cukup buat makan, ibu sudah terima kasih. Orang dagang, kalau keburu nafsu malah banyak rugi, Nak!”

Itulah potongan percakapan. Tapi dalam banyak hal Ibu Marto selalu mendorong para tamunya. Memberi nasihat, maka itulah orang senang datang ke warungnya yang kecil itu.

Sebetulnya tidak usah Bu Marto berjualan demikian kalau mau menumpang salah satu dari anak-anaknya yang sekarang sudah “menjadi orang”. Tetapi Ibu Marto lebih senang tinggal berusaha sendiri di pinggiran kota Yogya, di belakang Benteng.

Bu Marto tidak hendak meninggalkan anaknya karena ditembak Belanda di tikungan Benteng di dekat warung itu. Hadi anaknya yang paling bungsu telah menjadi korban waktu pendudukan Yogya.

Hadi masih sekolah di SMA (Sekolah Menengah Atas). Ketika Belanda masuk Hadi dengan kawan-kawannya ikut berjuang. Dan dia adalah pemuda amat gigih. Sering malam menyerbu ke kota. Dan banyaklah yang dikerjakan Hadi sebagai anak muda pendukung pergolakan revolusi.

Tapi pada hari naas, Hadi tertembak, kejebak mata-mata di tikungan Benteng. Pertempuran segera terjadi, mobil teng Belanda yang kuat dapat dirusak dan banyak korban Belanda jatuh, tetapi ia pun menemui ajalnya.

Benteng tinggi itu menjadi saksi dari pertempuran sengit pada malam buta. Benteng tinggi itu juga menjadi pelindung lain-lain teman Hadi yang dapat meloloskan diri dari pertempuran. Teman-teman Hadi sesudah pertempuran ada yang dapat memberi kabar kepada orang tuanya. Dan ketika jenazah tiba pun orang heran kepada ketabahan Ibu dan Bapak Marto.

Kehilangan anak menjadi pendorong untuk orang-orang tua itu makin yakin membantu gerilya. Dan meskipun mereka pada akhir-akhir zaman pendudukan harus pergi keluar Yogya dan Pak Marto terserang sakit dan meninggal, Bu Marto tak pernah kesepian, karena selalu dikelilingi oleh mereka yang meneruskan perjuangan untuk Republik.

Setelah Yogya dikembalikan Belanda, Bu Marto membuka warung di dekat tikungan Benteng. Kesetiaan kepada anaknya si bungsu mendorongnya tinggal di sana tidak hanya untuk mengenang anaknya, dan suami yang telah mendahuluinya, tetapi dianggapnya sebagai kewajibannya untuk hidup di tengah-tengah pergolakan tamu warungnya yang bermacam kehidupan. Dalam hidupnya sehari-hari selalu memberikan banyak bahan pemikiran sebagai orangtua yang telah tidak menjadi penonton dari gerak kehidupan, dia banyak memberi nasihat.

Maka sangat heranlah Bu Marto, ketika pada suatu hari datang tamu congkak mampir ke warung karena mobilnya mogok di dekat warung itu.

Seorang muda tampan sesudah memberi perintah kepada orang bawahannya untuk membetulkan mobilnya masuk warung dengan mengusap-usap mukanya penuh keringat. Di jari tangan bertengger beberapa bentuk cincin, pakaiannya bagus dan omongnya penuh kebesaran.

“Saya dulu bertempur di sini Bu. Berapa Belanda yang tak kita kirim ke langit .... Ya, kalau tidak pemberani seperti saya ini bagaimana Belanda yang bersenjata serba lengkap dan dibantu mata-mata banyak itu bisa dikalahkan. Teman saya dulu banyak yang mati, itu Bu di situ, di dekat tikungan. Sekarang perang sudah selesai Bu, revolusi sudah selesai dan saya dapat berdagang lagi, dulu waktu Republik, saya banyak selundupkan barang. Bagaimana orang dagang Bu. Kan mencari untung. Sekarang saya sudah berhasil Bu. Beginilah orang itu berusaha.”

Bu, Marto heran mendengar orang pemuda itu berkata demikian. Bekas pejuang, begitu makmur .... Dan revolusi sudah selesai? Katanya. Dia ikut berevolusi untuk kantongnya sendiri atau lebih jelek lagi. Barangkali dia dulu mata-mata, dan sekarang dia tega makan bangsanya sendiri ....

Sesudah tamu itu pergi Bu Marto tersenyum mengejek: apa itu yang menjadi parasit masyarakat?



❀❀❀


TAHUN V

(1963)


“Patonah”

S. Djin

Api Kartini, Tahun V, No. 2, Februari 1963

Orang memanggilnya Si Pat. Patonah atau Patmah tak menjadi soal benar baginya, karena sejak kecil orang selalu memanggilnya Si Pat, anak mak Isah. Si Pat telah lama ikut keluarga Hamid yang tak menyia-nyiakan tenaga mudanya. Tangan Si Pat kuat. Betapa tidak bila sejak pagi buta ia sudah tersentak bangun, mengepel lantai, menimba air, mencuci setimbun.

“Pat ... ambilkan anduk .... Pat ... lekas! Mana sabun? .... Cepat sedikit .... Pat ... mana tehnya?”

Suara nyonya Hamid melengking mengejarnya sepanjang hari, sering di tengah malam buta, bila ia merebahkan badan di sudut gudang berbantal usang tua. Ditahannya segala gertak hardik ... bukankah ia harus hidup. Sekilas terbayang makna yang sudah meninggalkannya dalam medan kehidupan yang tajam tak mengenal kasihan. Desa kecil di tepi sungai Citarum ... kemudian malapetaka mendatang di tengah malam, pasukan penjajah datang di tengah malam, membakar, merampok, meninggalkan jerit tangis ngeri ....

Ia anak kecil ... segera diseret mak Isah berlari-larian, sedang api menjalar liar memusnahkan seluruh desa. Mulailah kehidupan mengembara dari rumah ke rumah berpindah tangan. Akhirnya Si Pat kecil dititipkan kepada mak Nunung penjual nasi di pasar, karena sukar mendapatkan pekerjaan dengan menuntun anak.

Mula-mula air matanya mulai mengalir, tetapi lama-kelamaan ia hanya mengatupkan bibir saja ... bila ia dibentak ... juga ketika mak Isah sakit dan meninggalkannya seorang diri, hati Si Pat teriris tajam, air matanya membeku, menggenang di sudut mata.

Pandangan kosong ... bagaikan burung luka parah.

Kini lebih sepuluh tahun telah lewat. Berat hari-hari terbagi padat. “Babu” atau pembantu rumah tangga ... tak ubahnya sebagai budak ... tiada jam kerja ... tiada ampun. Siang malam! Ingin ia melarikan diri, tetapi ke mana? ... lorong ibu kota gelap menganga ... dan si Pat tahu betapa nasib si Hindun dan Amah yang tak mau membanting tulang, kini ditelan kegelapan malam .... Ia ngeri memikirkan Amah yang batuk-batuk terpaksa menahan hawa malam sekedar untuk memperoleh sesuap nasi ... dan bagaimana akan akhirnya ...? Ya ... kehidupan bukannya mawar dan sinar semata. Itu si Pat pun tahu benar semenjak dari gendongan kemudian perpindahan tangan dari nyonya satu ke lainnya.

Bagi nyonya Hamid si Pat bukannya sesama manusia, ia budak yang selayaknya digertak kerja berat hujan bentak.

Hanya Si Pat sendiri yang tahu betapa hati mudanya bergetar penuh keinginan hidup, tak ubahnya sebagai Nani atau Siti. Sudut gudang itulah menyimpan impian-impian mudanya .... Bilakah ia bisa menengok ke udik ... desa jauh di tepi Citarum yang jauh samar-samar dalam kenangan. Mungkinkah ia bersama Nanang, anak mak Nunung penjual nasi yang dikenalnya sejak kecil? Nanang buruh muda mengangkat batu dan pasir pada pembangunan gedung-gedung indah megah ....

Beribu ... berjuta batu bertimbun telah diubah oleh beribu pasang tangan menjadi gedung-gedung megah menjulang tinggi ... dan ibu kota bangga. Si Nanang, Samad, Cecep dan banyak lainnya. Bagaikan ribuan semut rajin menggali sarang dan gedung itu semakin tinggi dalam ayunan godam dan batu bertimbun setiap hari.

Rasa kagum menyelinap dalam hati Si Pat dalam memandang wajah-wajah geram kuat ditempa derita kehidupan. Cepat gedung-gedung melambung tinggi tetapi lebih cepat pula harga-harga menanjak tiada terbeli buruh, meskipun peluh betetesan. Bagi Si Pat, Nanang adalah pahlawan yang tak gentar turun naik mengangkat batu. Kalau tak ada Nanang, Cecep, Samad serta lain-lainnya adakah gedung itu akan terwujud. Bukankah kini bukan lagi zaman lampu Aladin yang bisa mencipta istana dengan sekali pinta ...? Hari berganti hari ... siang dan malam membawa kerja berat bagi Pat, Nanang serta berjuta lainnya.

Kata-kata Nanang bagaikan embun menetes kegersangan hatinya ....

“Pat ... sabarlah ... suatu kali kami akan pulang ke kampung. Akan kukumpulkan uang untuk membeli kebaya baru.”

Betapa manis impian, hanya Nyonya Hamid tertawa mengejek ketika terdengar olehnya.

“Ah ... Pat ... apa yang kau harapkan dari Nanang. Jika gedung itu selesai ke mana ia akan pergi, ia akan menjadi penganggur tiada berketentuan.”

Pipi Si Pat merah menahan rasa. Bukankah ia juga manusia dan berhak memperoleh tempat dalam hidup? Siapa yang salah bila orang-orang seperti Nanang dan dirinya terlahir dalam lembah hanya dengan kedua belah tangan sebagai bekal? Bukankah Si Pat tiada sekali-kali pemalas melainkan tiada sedia kerja berat. Tetapi siapa yang salah bila kebaya baru semakin samar-samar membayang meskipun pundak Nanang terasa patah mengangkat batu-batu bertimbun naik turun? Adalah kegelapan yang menanti, dan tak ada sinar cerah sekalipun di hadapannya? Hanya ketika dikenalnya Bung Rusman kegelisahan dan kepadatan hatinya mendapatkan saluran.

“Nanang ... Pat ... jangan kau putus asa. Benar kita kini tiada harta, tiada kuasa. Tetapi satu yang tak bisa dirampas orang, ialah cita-cita kita, hari depan kita. Kau dengar pimpinan buruh pernah berkata ... ‘Hanya dua jalan yang bisa ditempuh. Menyerah dan kalah, atau berjuang dan menang!’ Tentu kita memilih berjuang, bukan?”

Selangkah demi selangkah jalan melebar rata. Nanang mulai mengerti. Serikat buruh pekerjaan umum menjadi tempat Nanang belajar, mulai pemberantasan buta huruf sampai soal mengenai perjuangan rakyat.

Setiap kata disampaikan kepada Si Pat.

Di sudut gelap Si Pat mengusap tetesan air mata. Ah ... ia tak dilupakan ke tepian. Baginya masih ada harapan. Nanang telah berkata dengan jelas, bahwa tak selamanya kehidupan akan demikian. Bahwa mungkin bagi anak-anaknya penderitaan seperti yang dialaminya akan merupakan sejarah lampau.

Betapa indah hari itu. Kini Si Pat masih harus menahan hardik ejekan nyonya Hamid dan Nanang masih naik turun mengangkat batu agar gedung-gedung indah menjulang tinggi tercipta.

Kepada pembaca sekalian terletak jawaban, kapan mereka akan bisa menikmati impian hidup bahagia.

Cepat dan lambat masa itu akan datang. Semuanya tergantung kepada perjuangan kita sekalian!



❀❀❀


Hadiah Ulang Tahun

Ratih

Api Kartini, Tahun V, No. 3, Maret 1963

Aku sendiri sering merasa lucu, mengalami hidup seperti sekarang. Bukannya lucu karena hidupku ini aneh, hidup kami keluarga muda yang masih menjalani masa perkawinan selama tiga tahun, dengan anak dua yang mungil-mungil ini, lumrah seperti layaknya orang yang berkeluarga, tetapi ... ada pula tetapinya, hidup seperti sekarang ini tak pernah kubayangkan.

Aku mengenal Mas San, dulu waktu masih di SMP, kami bertentangan. Dan aku kawan karib adiknya, Janti. Waktu itu aku baru menjejakkan pengalamanku dalam organisasi Pelajaran P Mas San yang pada waktu itu telah menduduki tempat di Universitas.

Meskipun perbedaan pengalaman sejauh itu, tetapi kurasa sangat erat-erat hubungan kami sebagai kakak beradik. Karena dia pun seorang yang aktif dalam organisasi Pelajar pula. Tetapi dia dalam pimpinan dan aku masih tehitung kroconya.

Ibu mengikuti les masak, menjahit. Kehendak orang tua itu pun kuturut, tetapi untuk kepentinganku sendiri aku selalu berusaha mencari waktu, kapan ada undangan ceramah dan kursus-kursus yang diselenggarakan oleh organisasi Pelajar itu, tentu kudatangi.

“Kau tak dimarahi ibu kalau pergi malam-malam begini Ri?” Tanya Mas San waktu bersamaku pulang dari ceramah.

“Yah, inilah yang sering menggangguku, dari itu aku selalu berusaha untuk pulang tidak terlalu malam karena ibu sering marah.”

“Tetapi kau justru selalu kemalaman.”

“Karena ceramah itu menarik sekali, dan aku tak bisa meninggalkan begitu saja, sebelum selesai.”

“Sebetulnya kau bisa menjadi kader yang baik,” kata Mas San sambil menunjukkan ibu jarinya. Dan aku tersenyum.

“Mudah-mudahan besok aku dapat jadi diplomat,” jawabku.

“Atau, nyonya diplomat?” kami sama-sama ketawa.

“Dan Mas San jadi mentri,” sahutku.

“Selamat malam ya, nyonya diplomat.” Kata Mas San setelah kami sampai di depan rumah.

“Selamat malam pak mentri!”

Aku tak pernah tau mengapa ibu bapak selalu melarangku dengan pengaulan organisasi ini. Kata ibu aku harus menjadi istri orang terhormat kelak. Menjadi istri yang baik, pandai melayani suami. Dari itu aku harus pandai memasak, pandai menyulam, dan mengatur rumah. Selalu diajarkan bagaimana aku harus berpakaian. Yah, ini memang selayaknya kupikir, wanita harus dapat mencapai kesemuanya ini. Wanita seperti ibuku juga, yang cantik dan selalu rapi. Memasak dengan segala masakan yang lezat, berpakaian dengan rapi dan menarik. Aku memang mengagumi, alangkah bahagianya kelak bila aku menjadi istri seperti ibuku.

Bapak seorang pengusaha yang penuh dengan segala kesibukan. Aku sendiri tak pernah tau, kapan mulai bekerja, dan sampai kapan berhenti. Setauku, bila aku bangun dan berkemas ke sekolah, bapak telah diantar supir ke kantornya. Jika aku pulang, bapak tidur sebentar, sorenya pergi lagi sibuk benar nampaknya.

Dan ibu, tak pernah kusaksikan kepergiannya, selalu di rumah dan rapi. Aku sering mengusulkan untuk bertamasya tetapi tak pernah terkabul.

Ibu sangat takut dan patuh kepada bapak. Tak pernah pergi kalau tak diajak.

Tahun-tahun silam telah kulalui, satu tahun lagi aku lulus dari SMA. Jika lulus, rencanaku melanjutkan ke Fakultas Hukum, dan Mas San mendapat beasiswa ke luar negeri, untuk jurusan Sosial Politik.

Suatu hari bapak mendapat tamu seorang muda, kata orang Jakarta, “keren”. Dia mengendarai mobil bagus, rupanya dia kawan bapak. Aku diperkenalkan, dan ibu mengomentari bahwa setahun lagi aku lulus dari SMA.

“Lalu adik mau melanjutkan ke mana?” tanya pemuda itu. “Wanita tak perlu sekolah tinggi bukan? nantinya toh akan ke dapur juga!” katanya lagi setengah sinis.

Aduh! Mukanya, aku melihat mukanya yang mencibir itu. Mengapa di hapankau dia berani berkata begitu, padahal baru hari itu aku kenal padanya. Tak lama aku turut duduk bersama ibu bapak dan tamu yang menjengkelkan itu, aku masuk.

Kembali terngiang kata-kata pemuda yang meremehkan itu: “Wanita tak perlu sekolah tinggi bukan? nantinya toh akan ke dapur juga!” Aduh! lucunya di negara yang merdeka dan sedang membangun ini masih ada pemuda yang mempunyai pedoman demikian. Apakah kalau wanita sekolah tinggi lalu tak mau ke dapur? Dan apakah seharusnya wanita di dapur sudah tempatnya? Dan apakah seharusnya wanita di dapur saja tempatnya? Lucu sungguh lucu! Trimurti sudah menjadi Mentri, Maria Ulfah menjadi Mentri, kok masih ada pemuda yang sedemikian picik pikirannya.

Aku ingat kembali kata-kata Sinem, pembantu rumah tangga yang mengasuh aku ketika kecil. Beberapa waktu yang lalu pamit keluar katanya akan kawin.

“Kalau Sinem kawin apa masih bekerja pada ibu?” tanyaku.

“Tidak, saya tidak selamanya ingin jadi pembantu rumah tangga saja!” katanya.

“Lalu mau kerja apa?” tanyaku.

“Saya mau berdagang, jual sayuran, singkong, pokoknya apa saja yang bisa dijual.”

“Suamimu kerja di mana?”

“Tukang becak.”

“Kok Sinem masih kerja sendiri, nanti suaminya yang meladeni siapa?”

“Ya Jeng Rini, memang kalau dipikir istri itu harus meladeni suaminya, tetapi saya biasanya bekerja sendiri, dan tidak bisa hanya tergantung pada suami saya. Saya harus bekerja meskipun lapangannya berlainan. Selain menambah penghasilan juga untuk menjaga kalau ada apa-apanya, tidak takut terlantar. Karena meskipun sendiri, saya juga dapat hidup. Kami kawin tidak karena ingin enak-enak mendapatkan jaminan dari suami, tetapi karena saya dan dia sama-sama cintanya.”

Lain sekali pendapat Sinem wanita sederhana ini dengan pemuda kaya dan terpelajar teman ayah. Sinem, dengan hidup yang ditempuh sebagai pembantu rumah tangga, mempunyai harga diri tak mau diremehkan suami. Dan ingin menunjukkan bahwa dia juga wanita yang sanggup berdiri sendiri. Tetapi pemuda teman ayah menganggap, seorang wanita harus di dapur. Harus menjadi “Piaraan” suami. Jadi siapa di antara kedua orang itu yang benar? Aku belum mau memikirkan itu semua. Urusan mereka sendiri-sendiri.

Di luar negeri Mas San selalu memberi kabar kepadaku, bagaimana keadaan di sana selalu diceritakan melalui suratnya yang sangat menarik.

“Penulis sangat dihargai Ri, alangkah bahagianya kalau kau hidup di Negara ini, dan betul-betul sudah jadi penulis.”

Aku memang selalu mengatakan kepada Mas San, bahwa aku ingin menjadi penulis. “Melalui tulisan juga dapat memberikan didikan, dan pandangan,” demikian selalu katanya padaku. Mas San tau aku bukan seorang pembicara, jika berhadapan dengan orang banyak sering merasa gugup. Hal ini telah berkali-kali dicoba. Sering aku diberi jabatan pengacara dalam rapat-rapat, tetapi tak pernah berhasil. Jika diminta mengisi tulisan aku dapat melakukan, dan penuh dengan kegairahan.

Dua tahun sudah berlalu, sebentar lagi Mas San datang, dan aku? ... baru berhasil menduduki persiapan di Fakultas Hukum. Apa yang selalu merisaukan studiku ialah bujukan ibu, agar aku mau dikawinkan dengan pemuda kawan bapak. “Dia punya posisi baik Rini, sahamnya di mana-mana pokoknya milyuner, apalagi yang akan kau pilih, kau tentu bahagia kelak,” katanya ibu.

“Bahagia?” bisikku sendiri, di mana sesungguhnya letak kebahagiaan itu, di harta yang melimpah-limpahkan? Aku akan menjadi “Istri”, atau “Piaraan”, dari pemuda yang berpandangan meremehkan kemajuan wanita itu? Dengan modal kekayaannya, dia merasa bisa merajai dunia, dia bisa memenuhi apa yang dia mau, he ... congkaknya!

Dan, ah, lucunya bujukan ibu itu, memandang kekayaan sebagai pusat kebahagian. Apakah ibu juga bahagia menjadi istri bapak yang kaya itu? Yang selalu dirongrong dengan berita bahwa bapak punya “simpanan” bernyawa di beberapa tempat. Dan wajah ibu tak ubahnya seperti boneka model di Toko Comemo. Cantik dengan hiasan yang menempel, tetapi kosong tak pernah menyinarkan seri kepuasan dan kebahagiaan. Dan aku sendiri? dengan adik-adikku? tak pernah merasakan bagaimana teduhnya di naungan orang tua. Bapak selalu sibuk dengan ini-itu, dan ibu selalu dengan patuhnya mengikuti komando bapak.

Kebahagiaanku dan kegembiraanku justru pada persoalan-persoalan di luar dugaan ibu. Aku selalu mempunyai khayalan yang indah, bila menerima surat dari Mas San. Bukan indahnya pesanggrahan di pegunungan, bukan indahnya emas berlian yang menempel di badanku, tetapi indahnya pengertian yang dimiliki oleh Mas San, pengertiannya membawa pikiranku.

Ah, Mas San pemuda sederhana, yang tak punya milik duniawi yang bisa menyilaukan. Tetapi dia memiliki sesuatu yang selalu kukagumi, ialah “pribadinya”.

Aku ingat bagaimana Mas San dulu selalu memberikan pengertian kepada adik-adiknya, “Kalian harus memahami, dan mempunyai kepribadian sendiri. Jangan sembarang bisa memerintah pembantu rumah tangga, berusahalah untuk mengerjakan pekerjaanmu sendiri. Di Negara yang sudah maju tak mungkin ada pembantu yang bisa semua-semua disuruh seperti budak. Perbudakan itu akan lenyap di mana-mana dan mereka mempunyai hak sama dalam bidangnya masing-masing.”

Memang Mas San tidak senang dengan sikap “sok majikan”. Adiknya mempunyai tugas sendiri-sendiri di rumahnya. Sampai kepada si Doddy yang terkecil dan baru berumur 4 tahun mempunyai kewajiban menyiram pot bunga dan menyalakan lampu serta mematikan. Mereka lakukan sebagai tugas, bukan sebagai bujang yang diperintah majikannya. Tiap seminggu sekali beramai-ramai kerja kepatuhan sebagai tugas, bukan senaman itu sedang ibu dan adik-adiknya wanita sibuk di dapur. Selesai bekerja makan bersama-sama. Alangkah nikmat nampaknya, rekreasi yang sederhana itu cukup dapat membuat keluarga merasakan arti hari libur.

Aku sering merasa iri, dan merasa merindukan kapan keteduhan semacam itu menaungi hidupku. Hidup bergelimang kemewahan yang haus akan kedamaian dan kasih sayang.

Kini kasih sayang dan pengertian itu telah mendampingi hidupnya, sejak perkawinanku dengan Mas San, meskipun semula orang tuaku tidak memberikan persetujuannya, “Apa yang bisa kau banggakan dari San itu Rini, aku tak mau tau bila hari depanmu tak karuan.” Demikian kata bapak ketika aku nyatakan bahwa pilihan suami bagiku jatuh pada Mas San.

“Kau tau Rini, gaji pegawai Negeri tak cukup untuk membeli sehelai bajumu yang pantas,” kata ibu menyambung. Dan aku hanya diam, akhirnya toh diizinkan pula.

Keluarga muda seperti kami, pegawai Negeri lainnya. Sesungguhnya sering aku merasa pusing memutar gaji yang kuterima. Tetapi ya apakah kepusingan itu harus selalu kupikirkan dan menjadi beban bagi kami? Bukankah yang penting memikir bagimana cara mengatasinya?

Suatu keuntungan bila kadang-kadang karanganku dimuat dalam majalah atau mingguan. “Kau harus berusaha supaya bisa menulis Rini, orang hidup harus mempunyai hobby,” demikian selalu kata Mas San memberikan dorongan padaku. Aku selalu berusaha untuk menulis, yang juga merupakan selingan waktu senggangku, bila anak-anak tidur dan Mas San sedang menghadiri sidang-sidang organisasi. Kemauannya aku harus tetap melatih untuk menulis, karena dia sangat menghargai idamanku untuk menjadi penulis yang baik. Dia banyak membawa buku-buku untukku, baik buku-buku kesusasteraan maupun kebudayaan. Dan dari buku-buku itulah aku mendapatkan pelajaran-pelajaran yang kuperlukan.

Memang Mas San tak membawakan barang-barang Lux seperti harapan ibu. Dan kan, apakah aku mendapat oleh-oleh mobil atau apa, karena kedatangannya sudah cukup merupakan oleh-oleh yang paling indah di dunia ini.

Suatu pagi yang cerah karena sore harinya Mas San akan datang dari menghadiri konferensi kerja jawatannya. Satu minggu lamanya kedua anakku Gatut dan Nunung kutitipkan Sinem yang rumahnya tidak jauh dengan rumahku. Anakku sering kutitipkan kalau aku pergi belanja, karena di rumah tak mempunyai pembantu. Hanya Sinem yang mengerjakan cucian di rumahnya. Dia masih setia, di samping menjadi istri, tukang cuci yang baik bagi keluarga, di samping berdagang sayuran.

Aku ingin masak yang enak hari itu, dan membelikan baju buat Mas San, Gatut dan Nunung. Aku akan masak makanan kesukaannya, untuk merayakan hari ulang tahunnya.

Sepulangku dari pasar mampir ke rumah Sinem, kulihat Suami ada di rumah.

“Pak Amin kok tidak narik becak?” tanyaku.

“Baru pulang rapat Nyah,” katanya.

“Rapat apa?”

“Rapat Tukang becak di kota praja. Katanya sekarang becak mau diganti bemo dan bakal tak ada becak lagi. Kata pak Lurah becak menurunkan derajat bangsa. Tenaga manusia bukan mesin atau motor.”

“Kan enak pak Amin, jadi supir Bemo,” sambungku.

“Yah, enak Nyah kalau ada yang disupiri. Kalau yang disupiri. Kalau yang disupiri saja enggak ada mau enak dari mana. Beli bemo sendiri enggak kuat, kalau mau mengendarai dengan menyewa, milik siapa yang boleh disewa, dan sewanya berapa ribu nanti, masakan saya kuat, Nyah! Berabe deh!”

Hemm, lucu juga, soal becak dan bemo diributkan. Aku tak mau turut pusing-pusing memikirkan soal mereka. Soal rumah tanggaku sendiri senin kamis.

Bapak sendiri punya bemo sendiri, selain Impalanya. Setiap hari mengantarkan adik-adik ke sekolah. Dulu bapak membeli sebanyak 12 buah, harganya resmi. Tetapi sampai di tangan bapak sudah dua kali lipat dari harga semestinya, katanya untuk ongkos administrasi. Kini tinggal sebuah, yang lain telah dijual kepada orang lain, dengan harga 3 kali lipat.

“Ya, lebih baik dijual saja bu,” kata bapak. “Berabe mengurusnya, mana alat-alatnya belum datang. Kalau dijual sudah terang untungnya, daripada dijalankan, masih harus menanggung resiko lain-lainnya.”

Lucu juga, yang mampu membeli tak mampu menjalankan, yang mampu menjalankan tak mampu membeli. Tetapi ah! Peduli amat dengan urusan mereka. Biar diselesaikan sendiri.

Bagaimana nanti bila becak itu betul-betul tak ada dan tentunya pak Amin harus mengganti mata pencarian.

“Pak Amin besok akan bekerja apa kalau becak tak ada?” tanyaku.

“Yah, apa saja Nyah, asal masih mau bekerja saja tentunya dapat makan.”

Yah, memang betul kata-kata pak Amin itu, dan aku sendiri jadi merasa digurui, mengapa orang tidak ada kepercayaan pada diri sendiri. Tetapi memang nampaknya pasangan Sinem Amin ini benar-benar pasangan yang dapat dinilai baik cara hidupnya. Dihiasi hidupnya dengan gairah kerja, dan dasar percaya pada diri sendiri. Meskipun hidup sehari itu hanya mereka isi kadar makanan yang bernama nasi diseling singkong. Tetapi saat-saat dapat dibelinya ikan basah atau daging bila pak Amin mendapatkan banyak uang tarikan, merupakan hari pesta yang tak kalah nikmatnya dengan ibu bapakku dinner di Hotel Indonesia. Mungkin ibu bapakku malahan tak pernah menilai, apakah dinner di Hotel Indonesia itu betul-betul merupakan kegembiraan yang dapat dinikmati, ataukah merupakan rangsangan, untuk semakin memiliki kelobaan menekan keduniawian yang justru menyiksa sepanjang hari. Karena aku sendiri semasa di rumah tak pernah menyaksikan ibu lega setelah pulang pesta, tetapi tentu membicarakan opelnya si anu, impalanya si anu. Perhiasannya si anu, dan yang terakhir katanya si anu sekarang kawin lagi.

Lucu memang dunia ini, masing-masing dengan kesibukannya.

Kedatangan Mas San kami sambut dengan masakan yang disenangi. Dan satu bungkusan yang kubungkus rapi kuletakkan di tengah meja dengan tulisan, “Selamat hari Ulang tahun suamiku”. Setelah mandi dan berpakaian, dengan penuh keheranan Mas San mendekati meja makan. Kami berempat, Aku, Mas San, Gatut dan Nunung. Dengan lahapnya kedua anakku menyikat hidangan di meja, tetapi kulihat Mas San tak berselera. Aku jadi tak puas, tetapi kupikir mungkin karena Mas San masih capek sehingga kurang selera.

Selesai makan dirabanya bungkusan di meja, dan sambil memandangku dengan keheranan, “ini untukku Ri?” katanya. “Ya Mas, hadiah ulang tahunmu,” kataku, bungkusan dibuka perlahan-lahan.

Seakan-akan justru menampakkan kekhawatiran. Aku jadi semakin heran menyaksikannya, mungkin Mas San mempunyai pikiran yang bukan-bukan, mengapa aku bisa menyelenggarakan hal-hal semacam itu. Hadiah yang berupa baju kemeja berwarna biru itu masih belum dilepas dari bungkusannya, dan dipandangi dengan keheranan, lalu katanya, “Ri, bukannya aku tak mau menerima ini semua, tetapi ....”

“Tetapi,” sahutku cepat.

“Tetapi darimana punya uang?” begitu maksud.

Dia hanya mengangguk dan memandangku.

“Mas memang hadiah ini semua untukmu, masakan, dan kemeja itu. Memang rupanya bintangmu bersinar terang sehingga aku dapat menyelenggarakan pesta yang meriah ini. Dan biayanya? adalah uang rezekimu Mas,” jawabku, sambil kuberikan surat yang sejak tadi kupegang.

Surat itu dari suatu perusahaan, yang mengatakan bahwa kumpulan karanganku diterbitkan penerbit. Ketika dia membaca surat yang kuberikan, berangsur kebimbangannya hilang dan ... terus-bangkit dari duduknya memelukku dan menciumku.

Dan aku hanya tersenyum yang kutahan. Paginya kubelanjakan uang rezeki itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pusing memang tetapi kepusingan itu selalu terobat dengan pengertian Mas San yang sangat penting artinya bagiku.



❀❀❀


“Antri Minyak”

Anonim

Api Kartini, Tahun V, No. 4, April 1963

Jendela kamarku separuh terbuka, tampak awan putih seleret langit biru sekelumit dan ranting-ranting pohon kering meranggas, sedang ciupan burung di siang lesu ... lesu, tiada kekuatan dan tubuh hangatku terhempas lemas dalam ruang yang sempat dan kasur keras memekat, aku sedang sakit.

Sedang aku terbaring, datanglah anakku Ani—dengan muka yang penuh kasih sayang menghampiri dan dengan rasa keharuan.

“Bu, masih panas badan ibu, makan ya, bu? tadi Ani sudah beli ikan dan bubur, sudah Ani masakkan,” tanya anakku.

“Kau jam berapa tadi pulang, An, sudah masakkan buat ibu segala, baiklah bawa kemari makanan ibu,” jawabku padanya.

“Tadi Ani agak siang pulang sebab bu Guru bilang harus menyiapkan untuk perayaan 17 Agustus dan Ani mampir ke warung nasi mpok Nomi untuk beli ikan terus Ani tadi lihat orang antri minyak tanah di warung sandang pangan, bergegas Ani pulang, sebab seingat Ani di rumah tidak punya minyak tanah untuk masak. Datang di rumah, ibu sedang enak tidur jadi Ani tidak berani membangunkan, terus Ani bikin bubur saja, padahal Ani ingin sekali beli minyak tanah, sebab kalau terlalu lama nanti kehabisan, sedang Ani tidak berani membangunkan ibu, sebab ibu kelihatan capek sekali, dan uang pada ibu. Baiklah ibu makan dulu, nanti kalau sudah, baru Ani antri minyak tanah,” sambil dia menyediakan makanan untukku.

“Apakah ibu masih punya uang untuk membelinya?” tanya anakku dengan penuh kesedihan.

“Kalau sekiranya sulit untuk antri yang begitu panjang, tak usahlah kau pergi, An, masak pakailah kayu atau arang dan lampu biarlah memakai minyak untuk lampu becak saja, bukankah di jalanan banyak yang menjualnya dan kalau uang, ibu masih punya sedikit sekadar untuk makan beberapa hari lagi,” jawabku sambil kupandang wajahnya yang agak pucat disebabkan mungkin terlalu capek mengurus rumah tangga selama aku sakit.

Memang akhir-akhir ini minyak tanah sangat sulit sekali didapat, juga barang-barang kebutuhan yang lainnya yang biasa dimakan/dipakai rakyat banyak. Kami hidup dari hasil seorang buruh kecil, ayahnya Ani bekerja yang pendapatannya hanya cukup untuk makan beberapa hari saja sedang aku hanya bisa menambah untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, lain itu tidak ada, sedangkan harga barang sandang pangan sangat jauh meninggi, yang susah tercapai oleh hidupnya buruh kecil rakyat jelata.

“Tidak Bu, biarlah Ani akan antri, barangkali saja masih kebagian, bukankah lumayan sekadar untuk penyambung hidup lampu tempel kita, yang telah jadi kawan setia buat Ani pada waktu belajar, kalau pakai minyaknya lampu becak tentu sinarnya akan pudar dan akan mengakibatkan rusaknya mata Ani, yang tentunya membutuhkan lebih banyak lagi biaya yang harus dikeluarkan ibu nanti, biarlah sekarang Ani susah payah untuk antri asal nanti dapat dan tidak akan merusak kesehatan badan yang lain, mana uangnya Bu dan Ani pergi dulu ya Bu, bukankah sebentar lagi bapak datang dan bisa menemani ibu di rumah,” sahutnya sambil meminta uang terus dia pergi dengan iringan pandangan mataku yang makin dia makin menghilang jauh entah ke mana dan sampai di mana.

Aku tidak sampai hati melihat keadaan anakku begitu banyak penderitaan hidupnya, yang selamanya belum pernah mengalami kesehatan hidup, walaupun baginya belum bisa merasakan mana yang enak dan mana yang tidak, dirasanya semua sama, hanya kadang-kadang saja dia meminta sesuatu yang diingininya tapi yang sesuai dengan kemampuanku yang ada. Aku hanya bisa merasakan sendiri, kasihan hidup anak-anak rakyat sekarang, keadaannya serba kurang dan sulit: makan kurang, pakaian tidak punya apalagi hiburan yang semestinya setiap kali dirasakan oleh anak-anak dengan disesuaikan umur dan bakatnya, ingin melihat film tapi tidak ada yang sesuai dengan apa yang harus dilihat telah anak-anak sebagai bahan untuk pendidikan, di sana-sini hanya ada film yang hanya mengandung pengertian buat orang dewasa yang mungkin bisa merusak rohani dan jasmani anak-anak, juga buku-buku bacaan hiburan yang bisa membawa jiwa anak ke arah kecerdasan otaknya sangat kurang sekali, yang banyak adalah buku-buku yang mengandung keromantisan yang sangat memberikan moral bagi anak yang belum cukup umur untuk membacanya, pendek kata anak-anak sekarang belum pernah mengalami kesegaran dan kesenangan hidupnya.

Aku suka juga berpikir, kapan anak-anak kita bisa mengecap kebahagiaan hidup seperti halnya di di negara-negara Sosialis, tidak jauh kita pancangkan pandangan kita, misalnya kehidupan anak-anak di R.R.T. walaupun orang yang belum pernah melihatnya tapi sudah bisa membayangkan bagaimana bahagianya hidup anak-anak di sana, makan pakaian sudah cukup tersedia—sekolahan sudah mencukupi untuk anak berapa pun dan di mana. Istana kanak-kanak sudah tersedia, kebun-kebun indah yang baik untuk bertamasya yang bisa menjadikan spirit belajar bagi mereka dan banyak lagi yang pada pokoknya dapat membahagiakan dan menjamin sepenuhnya hidup anak-anak yang kelak menjadi patriot-patriot bangsanya. Aku tidak mengirikan disebabkan perbedaan antara anak-anak kita dengan anak-anak di R.R.T. sebab segala sesuatunya sangat berlainan, dan aku pun tidak akan menyamakan negara kita mereka dan bukan untuk memprogadankannya. Tapi aku berkeinginan dan berharap kapankah anak-anak kita mengecap seperti halnya mereka. Kita masih merasakan bagaimana sulitnya anak-anak kita untuk mencari sekolah, dari mulai Sekolah Rakyat sampai dengan Sekolah Tinggi, hanya sebagian kecil saja yang bisa ditampung dengan syarat-syarat yang sangat berat bagi rakyat banyak. Bagaimana tidak akan timbul banyak buta huruf jika benih-benihnya malah kita biarkan saja tumbuh, misalnya anak-anak yang harus dan semestinya masuk sekolah, tapi karena tidak ada tempat terpaksa menganggur di rumah menggerjakan yang lainnya tanpa bimbingan. Ada yang dapat masuk sekolah, tidak mampu membeli alatnya, hingga terpaksa lagi menganggur, bekerja tidak ada lowongan, sekolah tidak bisa melanjutkan hingga timbul banyak pengangguran yang sangat merugikan kelancaran pembangunan masyarakat adil dan makmur. Kucoba menjelaskan kepada anak-anak tentang keadaan yang dihadapi, tentu saja dengan cara yang sederhana. Mengapa barang-barang sekarang mahal dan orang harus antri minyak, padahal di sekolah dipelajarkan bahwa Indonesia adalah negeri penghasil minyak.

Dalam hati kupikir bahwa anakku sudah mulai di ambang kedewasaan, bukan lagi sebuyung yang hanya menangis dahulu, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari mulutnya yang lucu itu kadang memaksakan memutar otak untuk menjawabnya. Banyak yang aku sendiri belum jelas. Sedapat mungkin tentu kujawab dan kujelaskan agar puas, dengan janji dalam hati untuk lebih banyak bertanya kepada teman tentang keadaan sekarang. Apa sebab barang naik harganya. Mengapa wanita menuntut penyabutan peraturan 26 Mei yang membawa kenaikan harga di segala bidang. Menjelaskan tentang “antri” untuk bermacam barang, juga untuk minyak.

Hal itu penting karena, juga ibunya si Nunung kecil suka mengeluh setiap hari tak tentu arah dalam keputus-asaan menghadapi gelombang kesukaran kehidupan sehari-hari ini, tetapi bukankah kita memang sedang dalam menggelagaknya revolusi? Tidak hanya dalam masa gerilya bersenjata, melainkan sekarang dalam menghadapi kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh kaum imperialis maka segala sesuatu mesti dijelaskan dengan terang. Ah ... bapaknya anak-anak memang benar, ketika menganjurkan diriku untuk mendatangi rapat-rapat yang diadakan oleh organisasi wanita yang maju. Dulu kuejek bahwa wanita-wanita rapat hanya untuk pameran baju atau mengobrol saja, tetapi lambat laun kini aku mengerti betapa perlunya kita menggabungkan diri dalam gerakan. Dalam segala kesulitan baik dalam rumah tangga maupun menghadapi kesulitan-kesulitan yang umum menimpa seluruh rakyat, maka kita tidak akan merasa seorang diri dan kita tak akan terjangkit rasa putus asa.

Ani meneruskan memijat-mijat kakiku, tetapi lama-kelamaan ia pun mengantuk tertidur di sampingku. Kupandang anakku sayang. Mudah-mudahan masa kedewasaannya akan lebih indah dalam masyarakat yang lebih baik daripada sekarang. Masyarakat tanpa antri minyak dan tingginya harga keperluan sehari-hari yang tak terjangkau oleh kebanyakan rumah tangga.

Tergolek Ani di sampingku dan hari telah menjelang gelap, tetapi bukankah juga ibu Kartini memesan, bahwa sehabis gelap terbitlah terang? Juga dalam kehidupan dan perjuangan, masa itu bukan hanya impian tetapi akan menjadi kenyataan. Mungkin bagi anakku.



❀❀❀


TAHUN VI

(1964)


Inah, Penjual Kopi

Anonim

Api Kartini, Tahun VI, No. 9, September 1964

Sering dikenangkan kembali desanya, yang kira-kira 10 tahun ditinggalkan oleh si Amat, yang sampai sekarang belum sempat ditinjaunya kembali. Bukannya ia tidak pernah rindu kepada tempat kelahirannya itu, tapi tak lain ialah karena tidak pernah mempunyai cukup bekal untuk kembali ke kampungnya. Kehidupan di kota besar lebih menekan dia sekeluarga, yang terdiri dari istrinya, Inah, dan empat orang anaknya yang masih kecil. Alangkah beda suasana dan pemandangan desanya. Maka diingatnya kembali gubuknya di tengah-tengah tegalan hijau, di belakang rumahnya terdengar setiap hari gemercik air sungai kecil, di mana ia sering memandikan kerbaunya.

Tak jarang pula ia melepaskan lelahnya di bawah rumpun bambu, menikmati pemandangan alam yang kelihatan serba indah dan aman itu. Tapi keindahan dan keamanan itu kini telah dikacau oleh gerombolan-gerombolan DI/TII yang sering datang di desanya, tak lain ialah untuk mengadakan perampokan, pembakaran dan sebagainya, hingga banyak penduduk yang terpaksa mengungsi ke tempat lain, yang lebih aman. Juga Amat bersama istrinya terpaksa meninggalkan kampung halamannya itu, meninggalkan segalanya yang disayanginya, tanahnya, pohon-pohonnya, gubuknya, untuk mengadu untungnya di kota besar.

Sejak datangnya di Jakarta, ia bekerja sebagai tukang pembangunan yang beberapa waktu kemudian pindah ke Kebayoran Baru, kota yang masih harus dibangun, yang memberi kemungkinan kepadanya mendapatkan pekerjaan yang lebih banyak. Amat menyaksikan kemajuan dan perkembangan kota tersebut, dari kosong penuh alang-alang saja, menjadi kota yang penuh dengan gedung-gedung, dari keadaan buruk menjadi indah. Dia sendiri kadang-kadang tidak percaya bahwa pada sebagian besar dari gedung-gedung tersebut ia juga memberikan iurannya, dengan modal tenaganya yang kasar tapi kuat itu, serta mendapat dorongan moril dan materiil dari istrinya.

Alangkah bangganya kalau ia melewati gedung-gedung yang serba besar dan indah itu, yang kini ditempati oleh orang-orang yang termasuk pegawai-pegawai menengah dan tinggi, atau kaum hartawan partikelir. Malahan banyak di antaranya terdapat yang sekarang disebut OKB-OKB. Amat tahu betul, macam manusia apakah OKB-OKB itu, dan dalam hati kecilnya ia bersyukur bahwa tidak termasuk orang-orang yang semacam itu walaupun beruntung mendapat gedung-gedung besar. Ia tidak pernah menginginkan menjadi OKB, betapa juga bahagianya kehidupannya. Ia bersyukur pula mempunyai istri seperti Inah, manusia sederhana dan jujur, yang banyak memberi pelajaran baik kepadanya, hingga Amat tidak terseret oleh aliran-aliran yang salah, oleh cara hidup yang menyesatkan. Sebab tidak sedikit pula dari tempat kerjanya yang juga melakukan hal-hal yang menyimpang dari rel yang benar, misalnya mandor-mandornya yang suka makan gaji buruhnya, atau opzikhter-opzikhter yang suka main sulap dengan alat-alat pembangunannya atau bahan-bahan materiilnya. Juga berkat didikan dari organisasinya, yaitu SB Pembangunan, ia adalah orang pekerja yang rajin, jujur dan disiplin.

Berbeda dengan kemajuan yang pesat yang tampak pada seluruh kota, pada keadaan dan kehidupan Amat sekeluarga tak tampak kemajuan sedikit pun. Gubuknya tetap buruk, keadaan rumah tangga tetap korat-karit, hanya yang beda ialah bahwa anaknya bertambah banyak, dan tempatnya sering berpindah-pindah. Betapa ia tidak akan pindah, kalau setiap waktu diterimanya perintah dari petugas-petugas untuk pindah, kadang-kadang dengan ancaman akan diperkarakan kalau tidak menurut.

Maka diingatnya kembali suatu peristiwa yang menyedihkan, yaitu adanya penggusuran terhadap gubuknya, bersama-sama dengan gubuk-gubuk teman-teman lainnya. Waktu itu Inah masih mempunyai anak bayi berumur beberapa bulan. Karena mereka agak membantah petugas-petugas tersebut, dengan kekerasan gubuknya ditendang ambruk, alat-alat rumahnya diobrak-abrik semau mereka. Karena mereka beberapa waktu tidak mempunyai atap untuk berteduh, maka jatuh sakitlah anaknya, hingga meninggal. Sejak itu makin mendalam kebencian Inah terhadap petugas-petugas yang menjadi alat itu, hingga bersumpah sampai mati tidak akan mengampuni perbuatan yang mengenal perikemanusiaan itu.

“Itukah upahnya atas segala jerih payah suamiku selama 10 tahun sebagai tukang pembangunan itu?” keluh Inah. “Tidak berhakkah kita mempunyai atap di atas kepala?”

Ingin dia menyewa sebuah rumah di kampung, tapi untuk itu mesti membayar uang kunci beberapa puluh ribu rupiah. Darimana ia akan mendapat uang sebanyak itu? Upahnya sebulan tidak cukup untuk makan 10 hari, untuk dapat agak memanjangkan umur istrinya terpaksa membanting tulang siang malam, di samping membuka warung kopi, juga menerima jahitan-jahitan dari teman-temannya, yang hasilnya ya lumayan juga. Dulu waktu tempat mereka di dekat pemberhentian bisa agak lakulah warungnya, tapi sekarang di daerah pinggiran ini, amat seret, yang beli tidak lain ialah tukang-tukang pembangunan saja.

Pagi-pagi benar Inah sudah bangun dan bekerja untuk menyiap-nyiapkan dagangannya, selesai itu ia mengerjakan pekerjaan rumah tangganya, dan malamnya ia mengerjakan jahitan-jahitannya. Di samping itu Inah tidak lepas pula dari tugas-tugas membantu Amat dengan pekerjaan organisasinya, kadang-kadang menyediakan jamuan-jamuan untuk rapat, kursus dan sebagainya, membantu membuat bendera atau poster-poster, juga mengikuti PBH dan kadang-kadang juga mengikuti ceramah-ceramah atau rapat umum yang diadakan di tempatnya. Inah bukanlah anggota sesuatu organisasi, dan ia sendiri tidak tahu jadi apakah suaminya dalam perkumpulannya. Yang diketahuinya ialah bahwa tugas suaminya tidak pernah ada henti-hentinya, dan bahwa suaminya selalu senang untuk menjalankan itu semua. Kalau kawan-kawan Amat bekerja di situ sampai jauh malam, ini berarti pengeluaran istimewa bagi Inah, tapi betapa juga kekurangannya, selalu ada-ada saja akal hingga dapat menjamin kawan-kawan itu.

Sering ia ikut mendengarkan percakapan-percakapan dalam rapat atau kursus, hingga banyak sudah yang diketahui Inah, dan kadang-kadang malahan ikut melaksanakannya, misalnya ikut menandatangani petisi-petisi untuk penurunan harga-harga dan tarif, untuk kabinet Nasakom, untuk penambahan jatah minyak dan beras, menuntut kenaikan upah buruh dan sebagainya.

Ia tahu pula macam bahaya apakah Malaysia dan Armada ke-7. Untuk itu kemarin Amat menceritakan kepadanya, bahwa akan diadakan demonstrasi besar, yang akan diikuti oleh pemuda, buruh dan wanita yang progresif dan revolusioner, yang maksudnya mengganyang terus Malaysia dan mengusir Armada ke 7. Bukan main sibuknya Amat dengan kawan-kawannya, yang sejak pulangnya dari tempat kerjanya, terus membuat poster-poster, spanduk-spanduk atau menulisi tampah-tampah, dengan berbagai tulisan. Kertas-kertas bekas dicoret-coret dengan semboyan-semboyan yang menarik, yang jelas menunjukkan kebencian terhadap kolonialisme/imperialisme. Dan Inah pun ikut sibuk, dengan membelikan segala apa yang diperlukan mereka, tampah-tampah, cat-cat, kuas dan kertas.

Dengan penuh semangat mereka, Amat dengan kawan-kawannya bekerja di bawah pohon nangka, menyelesaikan itu semua untuk esoknya. Tapi malam itu tiba-tiba Amat merasa sakit, badannya menggigil, kepalanya pusing. Ketika dipegang oleh Inah, badannya amat panas. Segera disuruhnya minum aspro, dan dibikinkan kopi panas agar keluar keringatnya, dan lekas sembuh. Tapi segala bantuan dan usaha tidak meredakan sakitnya. Amat gelisah Inah pun ikut gelisah, pada satu pihak memikirkan penyakitnya. Amat, pada lain pihak memikirkan persiapan demonstrasi itu, sedang kertas-kertas masih menumpuk, dan belum ada yang ditempel-tempelkan di tembok-tembok di jalan-jalan, hal yang harus dikerjakan tengah malam nanti.

Kegelisahannya itu bertambah pula karena Amat terus menerus mengigau:

“Ganyang terus Malaysia, usir Armada ke-7, ayo maju terus ....”

Dengan susah payah dicobanya menentramkan suaminya itu. Baru sesudah agak tentram dan dapat tidur, cepat-cepat Inah memanggil tetangganya, yu Sarti untuk sebentar menjaga rumahnya dan menyelesaikan pekerjaan Amat yang masih terbalangkai itu. Karena ia tidak dapat membuat coretan-coretan, maka diambilnya setumpuk kertas yang sudah dicoret-coret, dan pergi ke luar menemukan teman-teman Amat untuk menyampaikan bahwa Amat masih sakit dan tidak dapat menjalankan tugasnya.

“Biarlah aku menjadi penggantinya,” katanya kepada teman-temannya itu, “dan biarlah saya kerjakan mana yang bisa saya kerjakan,” lalu pergi menghilang menembus kegelapan malam ... dengan tumpukan kertas di keranjangnya.

Di jalan-jalan yang sepi, di tembok-tembok tuan-tuan besar, ditempelkannya plakat-plakat itu satu per satu, penuh gairahnya .... Di hati kecilnya ia merasa puas dapat membantu suaminya dan kawan-kawannya, tapi ia pun merasa kasihan mengingat suaminya yang besok pagi tidak akan dapat ikut demonstrasi yang telah dinanti-nantikan itu. Tapi biarlah, pikirnya, masih banyak Amat-Amat lainnya, yang tidak kalah semangatnya dengan Amatnya sendiri, yang juga akan ikut menyukseskan demonstrasi yang heroik itu.



❀❀❀


Elang Rajawali

Sugiarti Siswadi

Api Kartini, Tahun VI, No. 10, Oktober 1964

Sukar untuk mengelakkan pandangan matanya yang penuh harap, sulit untuk menolak kata-katanya yang lembut.

“Mendongeng, Bu.”

Aku lihat dalam umur dongengku, sumur di musim kemarau, kering hampir nampak dasarnya. Perbendaharaan dongengku sudah habis, atau sebenarnya dalam kelelahan jasmani yang sangat, susah aku menimba dari sumber dongeng-dongeng di buku-buku dan di fantasiku. Memang ada kalanya mereka puas dengan mendengar dongeng yang itu-itu saja, sepuluh kali lagi, dan mereka bergantung pada bibirku. Tetapi adakalanya juga pada seperampat dongeng mereka sudah menjadi dan mencela.

“Baik tidur yang rapi di dekat ibu, aku akan mendongeng tentang ... ya, tentang kancil mencuri ketimun.”

“Ah basi, sudah tahu. Yang lain,” serempak serunya kecewa.

“Atau Ande-Ande Lumut?”

“Sudah tahu. Kan tentang Klenting Kuning dan Radenputro?”

“Si Amin yang sayang pada ibunya?”

“Basi, basi. Kan itu cerita si Amin mencarikan obat untuk ibunya yang sakit?”

Sepuluh lagi dongeng-dongeng yang aku kemukakan, namun malam ini anak-anakku sudah bosan mendengarnya lagi, untuk kesekian kali. Nah tentang apalagi aku harus mendongeng? Seakan-akan kilat saja datangnya ilham dan aku bangkit dari tempat tidur.

“Sekarang ibu akan mendongeng untuk kalian, dongeng yang sangat indah, mungkin dongeng yang terindah yang pernah ibu ceritakan. Tetapi kalian mesti mendengarkannya sambil duduk, sebab ibu mesti melihat peta,” kataku. “Ibu akan mendongeng tentang Burung Elang Rajawali, tentang Rajawali yang hidup di gunung karang yang tandus, yang sayapnya begitu perkasa, yang tangkas, yang gagah, yang lemah lembut, yang baik hati, tetapi juga yang berani dan kuat melawan taufan, yang menjadi gunung karang, yang hidup abadi.”

Anak-anakku meloncat dari tempat tidur, dan duduk mengelilingiku. Aku membuka atlas sekolah anakku yang sulung.

“Ini adalah peta negeri Soviet, kau lihat betapa luasnya, separuhnya dari luasnya dunia. Rajawali yang aku ceritakan dilahirkan di negeri ini, pada tanggal 22 Juni 1870.”

“Apakah menjadi kebiasaan rajawali untuk mencatat hari lahirnya?” tanya anakku yang berusia lima tahun.

“Rajawali kita ini Rajawali yang luar biasa. Hari lahirnya dicatat oleh orang-orang di seluruh dunia, dan sampai sekarang dirayakan berjuta-juta manusia, beratus juta, beribu juta.”

Anak-anakku mengangguk-anggukan kepalanya keheran-heranan. Memang selamanya dongeng mempunyai daya pikat abadi di kalbu anak-anak.

“Ketika rajawali itu dilahirkan ke dunia, negeri Rusia belum Merdeka. Masih diperintah oleh seorang raja yang jahat, yang ganas, yang kejam dan rakus. Rakyat Rusia, yakni kaum buruh dan kaum tani sangat miskin. Pakaiannya compang-camping, pada musim dingin yang dahsyat mereka tidak mempunyai baju panas dan tungku berdiang, hingga banyak rakyat yang mati kedinginan. Rakyat dipaksa bekerja keras melebihi kerja hewan. Ada satu contoh yang khas tentang kemelaratan rakyat Rusia pada waktu itu. Kau tahu, ini adalah sungai, namanya sungai Wolga. Pada waktu itu, kalau orang-orang bangsawan ingin berpesiar menyusur sungai Wolga, mereka tidak menyuruh orang mendayung perahunya atau kapalnya, tetapi perahu itu ditarik oleh hamba sahayanya dari tebing dengan tali. Kau tentu dapat membayangkan, betapa susahnya dan betapa beratnya menarik perahu memudiki sungai. Penarik-penarik perahu Wolga itu menjadi tua sebelum waktunya, punggungnya bungkuk, jenggotnya panjang, dan matanya sayu, tangannya pecah oleh tali, dan dadanya menjadi sesak dan menciut. Mengapa para bangsawan tidak menyuruh saja mendayung, atau menyuruh orang menghela dengan kuda? Ya, karena harganya manusia budak lebih rendah daripada seekor kuda.

Tetapi di samping itu rakyat yang melarat dan gemeletuk kedinginan di musim dingin yang dahsyat, hidup sekelompok manusia yang kaya, kaum bangsawan, kaum kulak yang memiliki beratus-ratus hektar tanah yang dikerjakan oleh tani hamba.”

“Jadi mereka itu kaum tuan tanah ya Bu?”

“Memang, dan tuan tanah yang kejam sekali. Pada masa itu tentu saja kerap terjadi pemberontakan kaum tani. Kaum bangsawan dan Tsar menindas setiap pemberontakan dengan kekejaman yang luar biasa. Kesalahan yang sedikit sudah dapat membawa mereka ke tiang penyiksaan. Hukum cambuk dijalankan, walaupun sudah menginjak awal abad ke-20. Apalagi memberontak. Hukumannya ialah pancung kepala atau digantung di tengah-tengah alun-alun, sampai bangkainya habis dimakan burung gagak, dikubur hidup-hidup, dan hanya kepalanya yang tersembul keluar, dan paling mujur mereka dibuang ke Siberia. Lihatlah peta ini. Siberia pada masa itu adalah padang es abadi. Dibuang ke Siberia artinya ialah mengantarkan diri kepada kematian yang mengerikan. Kecuali kaum tani, juga kaum buruh mengadakan pemogokan-pemogokan dan demonstrasi, dan kaki tangan Tsar, polisinya, tentaranya, cecunguknya, menangkapi mereka dan menghukumnya di luar perikemanusiaan. Tsar mempunyai kekuasaan mutlak, sedang rakyat tidak mempunyai hak apa pun, tidak diperkenankan berbicara, apalagi mengkritik.”

“Jadi rakyat tidak mempunyai hak-hak demokrasi ya Bu?” tanya anakku yang sudah duduk di bangku SMP.

“Ya. Tsar melaksanakan pemerintahan tunggal, atau pemerintahan otokrasi yang merupakan musuh utama bagi rakyat. Tsar juga disokong atau ditopang oleh sistem militerisme. Betapa miskinnya rakyat Rusia dapat ibu ceritakan bahwa pada tahun 1903 di Rusia terdapat 10 juta keluarga petani, dan 3½ juta tidak mempunyai seekor kuda pun untuk menggarap sawahnya. Di antaranya ada ½ juta petani kaya yang menguasai lebih dari separuh tanah garapan. Kehidupan kaum buruh sangat menyedihkan. Mereka berpenghasilan 7 sampai 8 rubel sebulan, sedang gaji tertingginya hanyalah 30 rubel. Mereka tidak mengenal jam kerja seperti sekarang. Mereka bekerja 12 jam, 14 jam sampai lima belas jam sehari. Jadi kalau mereka berangkat jam delapan pagi, baru pulang pada jam sebelas malam tanpa istirahat.

“Nah anak-anak, dalam keadaan tanah airnya yang sedemikian menyedihkan itu lahirlah rajawali kita. Dia amat cerdas, mengagumkan orang akan ketangkasannya. Dia mempelajari dengan tekun dan mengubah ajaran-ajaran Karl Marx, ia bekerja tidak kenal lelah, berjuang tidak kenal henti, memimpin grup-grup revolusioner di negerinya untuk memimpin perlawanan kaum buruh dan kaum tani. Pada usia 17 ia sudah duduk di bangku perguruan tinggi. Jangan kaget, sudah ibu terangkan, bahwa rajawali kita adalah rajawali yang luar biasa. Tetapi karena kegiatannya, rajawali kita segera dikeluarkan dari perguruan tinggi. Ia kemudian mengabdikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan revolusi.”

Kemudian dengan menarik aku ceritakan kepada anak-anakku jalan hidup si rajawali. Dibuang ke Siberia tahun 1897, keluar dari pembuangan, menyingkir ke luar negeri, menerbitkan surat kabar Iskra pada tahun 1900, secara sembunyi.

“Iskra diterbitkan di Swiss, dimasukkan secara sembunyi ke Rusia, diulang di Baku, Kisjinev dan Siberia. Lihatlah betapa besar jarak terbang Iskra, ia seakan-akan bersayap seperti penciptanya si rajawali. Iskra yang artinya Bara, mengarungi angkasa biru dan menyebar bara, bara nantinya akan menjadi lautan api yang membakar padang belukar despotisme Tsar.”

Anak-anakku mendengarkan dengan teliti dan kagum.

“Dua belas tahun kemudian, keadaan politik di Rusia semakin jelek. Tsar, mengumumkan kekangan-kekangan politik, larangan-larangan bicara, dan penangkapan-penangkapan dahsyat. Namun apabila rakyat tidak boleh bertemu dan bicara, rakyat masih bisa bicara melewati tulisan, dan berkumpul melewati tulisan, serta beraksi meliwati tulisan. Pada tahun 1912 rajawali menerbitkan Pravda artinya Kebenaran. Mungkin sulit bagimu membayangkan bagaimana sulitnya menerbitkan sebuah majalah atau harian dalam masa demokrasi dikekang. Tetapi sebagai contoh, pernah kau ingat, bahwa di zaman S.O.B. kita pernah berhari-hari tidak membaca Harian Rakjat?”

“Karena diberangus,” celetuk anakku yang di kelas lima.

“Ya, dan Pravda telah diberangus selama delapan kali dalam waktu dua setengah tahun. Setiap kali diberangus, Pravda terbit lagi dengan berbagai nama. Coba dengarkan.

“Pertama-pertama dia bernama Pravda, terbit 355 nomor, disita 50 nomor dan didenda 20 nomor. Lalu terbit lagi, sekarang namanya Pravda Kaum Buruh, terbit 17 nomor disita 12 nomor, didenda 2 nomor. Belum kapok, terbit lagi namanya Pravda Utara, baru berumur 13 nomor sudah diberangus, lalu terbit lagi namanya sekarang Pravda Kerja, berumur 20 nomor, diberangus ....”

“Terbit lagi, nama baru,” seakan-akan paduan suara anak-anak melanjutkan.

“Ya, memang demikian. Namanya sekarang menjadi Untuk Pravda. Dan tentu kau bisa melanjutkan, bahwa Tsar akan memberangus Pravda yang ini juga. Betul, kemudian Pravda ‘berganti rupa’ menjadi Pravda Proletar. Pendeknya anak-anak, sepuluh kali polisi membredel, sepuluh kali Pravda terbit.”

“Aku kira, polisinya yang kecapean, bukan Pravdanya.”

“Dan dia musti harus membaca ini Pravda, membaca uraian orang revolusioner.” sambung si sulung.

“Terang,” sahut adiknya. “Lucu juga, mereka tetap bisa kita kelabui. Aku ingat, andai kata, ya andai kata Kutilang kita dilarang terbit, kita bisa ganti nama Siul Kutilang, lalu Kutilang Bersiul, terus ....”

“Dibredel lagi, ganti nama Kutilang Bernyanyi, lalu Nyanyi Kutilang. Bisa juga Dendang Kutilang, Kutilang Berdendang.”

Aku biarkan mereka tertawa berderai-derai. Lucu, sungguh lucu dan memikat hati. Inilah “seninya” perjuangan.

“Nah, aku lanjutkan. Pravda diterbitkan tahun 1912. Dengan maksud, agar massa masih bisa bicara dengan pimpinan rajawalinya. Kalau membaca terang-terangan tidak bisa, kita akan bisa membaca sembunyi-sembunyi. Polisi Tsar, tentara Tsar betapa banyak pun tidak akan bisa menguntit orang untuk membaca di kolong tempat tidurnya, atau di kamar mandi. Apalagi kalau yang membaca secara sembunyi itu sangat banyaknya. Dan memang, Pravda dinikmati massa, dirindukan, dianggap organisatornya, sebagai gurunya, sebagai pemimpinnya. Mereka tidak dapat berpisah lagi dengan Pravda, karena mereka tidak bisa berpisah dengan burung rajawalinya, yang masih terpaksa berada di luar negeri.

“Seperti ibu juga ya, kalau sehari tidak membaca Harian Rakjat rasanya seperti kehausan ....”

“Nampaknya, anak-anak rakyat yang tergencet, sebetulnya Tsar yang tergencet. Ia ketakutan, dan menjadi kalap. Andai kata kita umpamakan dengan malam yang gelap, semakin malam semakin dingin, tetapi semakin dekat kepada fajar.

“Pada bulan Februari meletuslah pemberontakan menggulingkan Tsar yang telah didahului dengan pemogokan besar-besaran. Namun sayang sekali anak-anak, revolusi yang telah meminta darah dan keringat serta air mata rakyat itu buahnya dipetik oleh orang yang tidak betul-betul berjiwa revolusioner. Orang-orang yang memetik buah revolusi ini adalah golongan Menshevik, sedangkan golongan rajawali kita adalah golongan Bolshevik.”

“Ha, kaum Bolshevik, aku tahu,” seru si sulung.

“Kaum Menshevik makin lama makin kelihatan belangnya, dan makin tercium baunya.”

“Yang asem,” celetuk nomor tiga.

“Mula-mula mereka menyerukan semboyan-semboyan yang revolusioner, namun perbuatannya makin menjurus menjadi reaksioner, dan memukul kaum buruh.”

“Dasar munafik,” celetuk si sulung.

“Pemimpin kaum Menshevik itu namanya Kerensky, dan kalian mesti harus kenal dengan jendralnya, tokoh hebat ... namanya Jendral Kornilov. Karena tindakan Kerensky semakin menyeleweng, kaum buruh mulai mengadakan demonstrasi-demonstrasi dengan maksud untuk menyedarkan Kerensky. Pada tanggal 3 dan 4 Mei 1917, 100.000 kaum buruh mengadakan demonstrasi. Kornilov memerintahkan kepada tentaranya supaya menembak mati para demonstran, namun prajuritnya tidak mau menjalankan perintahnya.

Pada tanggal 1 Juni diadakan demonstrasi di depan makam kaum revolusioner yang telah gugur, dan tanggal 16 Juli terjadilah demonstrasi berdarah, karena Kornilov memerintahkan sekali lagi supaya kaum demonstran ditembak mati. Tidak berhenti sekian, Kornilov juga menggeledah kantor Pravda dan memberangusnya.”

“Wah memang jendral dorna si Kornilov itu. Ganyang saja. Ganyang Jendral Dorna,” teriak si nomor dua bersemangat.

“Pada tanggal 26 Juli sampai tanggal 3 Agustus 1917, kaum Bolshevik mengadakan kongresnya di tanah airnya. Waktu itu Rajawali kita telah masuk kembali ke tanah air. Tetapi karena jendral Kornilov telah kalap dan memburu-buru kaum Bolshevik dengan semangatnya yang sudah haus darah, maka rajawali kita tidak bisa menghadiri Kongres, namun ia tetap memberi pimpinan dari sebuah gubuk di dekat stasiun kereta api Razliv. Memang waktu itu Kerensky dan Kornilov telah bersatu hati untuk menyapu bersih kaum Bolshevik, kaum yang telah menumpahkan darah, kaum yang telah memberikan kursi empuk kepada Kerensky. Tidak berhenti di situ, pada tanggal 3 Agustus jendral Kornilov ....”

“Si dorna,” celetuk anak-anak berbareng.

“Ya, si dorna menuntut kepada pemerintah supaya menjatuhkan hukuman mati terhadap setiap Bolshevik yang tertangkap. Kerensky sendiri baiknya kita sebut si Sangkuni, juga mengancam akan menindas kaum Bolshevik dengan pertumpahan darah.

“Si dorna tidak sabar lagi, pada tanggal 25 Agustus 1917 ia mengerahkan Korps Kaveleri III ke Petrograd (sekarang Leningrad) untuk menghancurkan kaum Bolshevik. Pasukan dorna ini disambut oleh kaum buruh dan kaum tani revolusioner, dan akhirnya Dorna kalah.”

“Bagus, bagus,” soraknya. “Memang kapan Dorna pernah menang.”

“Kerensky memenjarakan Kornilov, dan kawan-kawannya, tetapi akhirnya membebaskan kembali.”

“Dasar Sangkuni.”

“Tentu saja Dorna kalah, sebab harus kalian ketahui, bahwa banyak tentara yang patriotik memihak kaum Bolshevik, karena menyadari kebenaran cita-cita revolusi.

“Nah, kisah ibu sudah hampir selesai. Pada tanggal 24 Oktober, atau 6 November, Kerensky mendahului menyerang kaum Bolshevik. Tetapi dari si penyerang, Kerensky menjadi si terpukul mundur. Kaum Bolshevik mengepung Istana Musim Dingin Petrograd, tempat kedudukan Pemerintah Kerensky, sedang dari arah laut kapal penjelajah Aurora mengarahkan mulut meriamnya ke Istana Musim Dingin. Dan ketika gelegar meriamnya terdengar memuntahkan peluru ke Istana Musim Dingin, mulailah lahirnya zaman baru. Salvonya telah membangkitkan jutaan rakyat tertindas di seluruh dunia, dan mereka menegakkan kepala, mengarahkan matanya kepada fajar baru, fajar Sosialisme. Tidak hanya peta negeri Rusia yang berubah, dari negeri compang-camping menjadi negeri perkasa, juga wajah seluruh dunia berubah.

“Anak-anak, itulah sejarah Revolusi Oktober Besar. Dan kalau kalian mengenangnya, jangan lupa untuk mengenang Maha Arsiteknya, ialah Elang Rajawali Gunung yang gagah perkasa. Tahukah kalian siapa dia?”

“Aku tahu, Bu aku tahu,” seru mereka serempak.

“Dia adalah Lenin, Lenin yang Agung.”

“Benar, anakku. Lenin sudah wafat, tetapi ia hidup abadi. Dia akan hidup terus, dan mungkin Lenin akan menjadi salah seorang dari sedikit manusia yang hidup abadi, yang panjang usianya tidak bisa kita ukur ....”



❀❀❀


Kebanggaanku

Sulami

Api Kartini, Tahun VI, No. 11–12, November–Desember 1964

Acapkali aku banggakan dia. Tak hanya dalam hati dan lamunan, tetapi sungguh-sungguh aku katakan. Betul-betul dia tampan. Lebih-lebih apabila sedang dalam barisan, memberikan aba-aba kepada prajurit, berlatih, berbaris dengan tegapnya. Samurai senantiasa di pingganganya. Meski itu tinggalan musuh durhaka tentara fasis Jepang, tetapi di samping samurai sebagai senjata, memang samurai di pinggang bisa menambah gagah. Betul aku banggakan dia.

Tugasku tak tentu, jika pagi ini piket di dapur umum untuk tentara, besok piket di stasiun, besok lagi di KNI, besoknya lagi kesehatan, dan baru kembali lagi ke dapur. Rombonganku periang, gadis-gadis remaja yang berani dan sanggup menjalankan tugas apa pun. Oleh karena itu, meskipun mendapat tugas satu hari satu malam tanpa istirahat tak pernah mengeluh.

Pada suatu ketika aku dikejutkan oleh berita dari garis depan “Ada yang gugur”.

Seorang Pahlawan menyusul Pahlawan yang telah mendahuluinya.

Siapa gerangan? Tak henti-hentinya aku memikirkan. Tetapi perasaan lega dan campur haru setelah mendengar yang gugur bukan “dia”. Tak pernah aku nyebut namanya, karena malu. Tetapi, kasihan aku melihat kawanku satu grup menangis terisak-isak, karena yang gugur, prajurit pujaannya. Tiga hari kemudian kawanku tak tampak tugas. Berbulan-bulan kawanku itu bersedih, namun pekerjaan sehari-hari memenuhi seluruh waktunya.

Baru satu minggu aku bertemu dengan “dia”, tetapi tiap hari aku sudah menerima suratnya, macam-macam yang “dia” minta, ada bubur untuk yang sakit, ada obat, ada lauk-pauk yang kurang, pokoknya selama “dia” menjadi perwira piket ada saja urusan dengan tugasku, baik di dapur, di stasiun, di kesehatan dan di KNI.

Aku tanyakan namanya, kawanku menjawab, “Darso.”

Aku kenal nama itu, tetapi bukankah Darso teman sekolahku itu sudah mati?

Kabarnya dia mati waktu mengikuti ayahnya pulang ke Purworejo. Alangkah dungunya aku ini, sudah tak mengenal teman lagi.

Tetapi entah karena apa, sejak aku mendapat jawaban “Darso”, semalam suntuk aku tak dapat tidur. Pikiranku terus-terus ingat masa kecilku yang sudah jauh berlalu. Darso yang berperawakan tinggi, kuning, bodoh, longa-longo itu sangat menjengkelkan aku. Meskipun Darso usianya jauh lebih tua, tetapi dia tak berdaya menghadapi aku. Biar kutarik bajunya sampai robek, dia tak mau membalas. Jika pagi-pagi, Darso tentu ambil api di rumahku. Aku merasa sangat congkak dan berani untuk mengganggu dia. Apa yang sudah diambilnya aku rebut dan aku kembalikan ke tungku yang besar di mana dandang besar penuh berisi nasi berdiri tegak, dia tak membalas sedikit pun padaku. Berkali-kali aku berbuat begitu, tetapi dia diam saja. Akhirnya Nenekku datang, aku diomeli, dan aku lari keluar, ke arah jalan di mana Darso akan melaluinya. Aku goda lagi, sampai Darso kembali ke dapur ambil api lagi. Akhirnya Nenekku teriak: “Ciumen saja.”

Aku cepat lari dan Darso pulang dengan aman. Berkali-kali Nenekku berkata:

“Kau tidak boleh menggoda anak lain, biar dia miskin, tetapi dia juga anak seperti kau. Justru sebaliknya kau harus baik dengan dia.”

Jawabku, “Nggak mau, dia bau, bajunya tidak ganti, dia suka ngompol.”

“Kau beri baju.”

Suatu peristiwa yang menjengkelkan. Upacara kenaikan kelas. Darso tidak naik kelas, terpaksa dia harus menjadi satu kelas dengan aku. Aku menjadi lebih membenci. Suka aku berlagak, sombong, dan nakal, karena aku mengagungkan orang tuaku. Kepala Desa di situ. Aku tak mengerti mengapa, aku benci, baik di rumah maupun di sekolahan. Tetapi toh aku harus berkawan satu tahun. Aku naik kelas, dia tidak naik kelas. Kasihan!

Entah sudah berapa tahun kejadian itu berlalu. Tetapi semuanya masih teringat. Bahkan waktu orang tua Darso pindah ke Purworejo, orang tuaku dan aku pun mendatangi rumahnya, memberi sekadar uang saku dan lain-lain. Perpisahan itu mesra dan aku disuruhnya salaman dengan Darso. Aku pun merasa senang waktu itu, meskipun aku setiap hari bertengkar, mencaci, mencubit, menyiram air dan lain-lain.

Malam itu aku memikir, seandainya betul itu Darso kawan kecilku dahulu, apa yang harus aku perbuat?

Pagi-pagi jam enam aku sudah siap. Cepat-cepat aku berjalan menuju dapur umum. Mungkin agak kesiangan, karena aku terlalu letih semalamnya tak bisa tidur nyenyak. Kakiku terasa ringan menginjak halaman dapur. Dan betul aku sudah ditunggu oleh prajurit membawa surat.

Katanya: “Bu, ini dari pak Darso, minta bubur dia sakit.”

Cepat-cepat aku siapkan dan aku berikan.

Katanya lagi, “Bu, bapak sudah kenal ibu, katanya ....”

Belum lanjut suruhan yang lain datang, supaya cepat, karena ada tugas yang harus diselesaikan. Aku ndongkol, belum lanjut bicara dan tanya jawab, sudah pergi. Di mana dia kenal aku. Aku tambah bertanya-tanya lagi.

Jam lima sore serombongan teman-temanku pulang. Aku berada di tengah-tengah mereka. Cerita-ceritanya sudah tak menentu lagi. Masing-masing membanggakan bintangnya. Tiba-tiba dik Tun temanku karib berkata:

“Lihat belakang ada hijau-hijau!”

Semua terdiam. Betul, serombongan perwira berjalan membuntuti. Biasa terjadi demikian.

Mereka adalah bekas-bekas PETA, yang mendapat tugas di daerah untuk melatih Batalion. Satu di antara mereka sudah kenal dan segan-segan dia menegur:

“Pulang mbak?”

Kami berhenti dan akhirnya berjalan bersama-sama. Kesempatan itu aku gunakan untuk melemparkan pandangan. Aku berpikir, jika melihat warna kulitnya kuning-langsap memang mirip teman kecilku dahulu. Tetapi apakah mungkin, anak setolol itu bisa menjadi perwira yang sudah satu minggu ini menjadi kebanggaanku?

Aku tidak yakin, karena aku tidak dapat melihat kenyataan bahwa selama tujuh tahun itu dapat membawa perubahan besar bagi tiap manusia dan kehidupan. Zaman Jepang yang membuat kehidupan dan jiwa seluruh bangsa Indonesia semakin tegas dan bulat untuk membebaskan nusa dan bangsa dari penindasan imperialisme dan fasisme. Rakyat semakin bulat untuk merebut kemerdekaan nasionalnya. Revolusi Agustus 45 meletus bagaikan halilintar di musim kemarau. Dan berkat revolusi inilah semua Rakyat, terutama pemuda-pemudanya angkat senjata melawan musuh.

Pandanganku dangkal sekali terhadap keadaan ini. Otakku risau dengan pikiran lama yang kolot. Bahwa Darso dahulu bukanlah anak yang pantas dihormati karena dia hanya anak seorang miskin.

Betapa jelek pikiran itu, berangsur-angsur mulai aku sadari, bahwa pikiran itu salah.



❀❀❀


DAFTAR PUSTAKA

Api Kartini, No. 2, Thn. I, Juli 1959.

Api Kartini, No. 3, Thn. I, Agustus 1959.

Api Kartini, No. 5, Thn. I, Oktober 1959.

Api Kartini, No. 6, Thn. I, November 1959.

Api Kartini, No. 7, Thn. I, Desember 1959.

Api Kartini, No. 1, Thn. II, Januari 1960.

Api Kartini, No. 4, Thn. II, April 1960.

Api Kartini, No. 5, Thn. II, Mei 1960.

Api Kartini, No. 6, Thn. II, Juni 1960.

Api Kartini, No. 8, Thn. II, Agustus 1960.

Api Kartini, No. 10, Thn. II, Oktober 1960.

Api Kartini, No. 11—12, Thn. II, November—Desember 1960.

Api Kartini, No. 1, Thn. III, Januari 1961.

Api Kartini, No. 2, Thn. III, Februari 1961.

Api Kartini, No. 4—5, Thn. III, April—Mei 1961.

Api Kartini, No. 8, Thn. III, Agustus 1961.

Api Kartini, No. 12, Thn. III, Desember 1961.

Api Kartini, No. 2, Thn. IV, Februari 1962.

Api Kartini, No. 3, Thn. IV, Maret 1962.

Api Kartini, No. 7—8, Thn. IV, Juli—Agustus 1962.

Api Kartini, No. 2, Thn. V, Februari 1963.

Api Kartini, No. 3, Thn. V, Maret 1963.

Api Kartini, No. 4, Thn. V, April 1963.

Api Kartini, No. 9, Thn. VI, September 1964.

Api Kartini, No. 10, Thn. VI, Oktober 1964.

Api Kartini, No. 11—12, Thn. VI, November—Desember 1964.


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.