TIGA PULUH
CERITA PENDEK INDONESIA MODERN:
TAHUN 1920—1940
WIDODO DJATI
SURYATI SYAM
KOLOFON
TIGA PULUH
CERITA PENDEK INDONESIA MODERN:
TAHUN 1920—1940
disusun oleh
WIDODO DJATI
SURYATI SYAM
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
1994
Pembina Proyek
Dr. Hasan Alwi
Pemimpin Proyek
Dr. Edwar Djamaris
Penyunting
Dr. Edwar Djamaris
Pembantu Teknis
Radiyo Sartiman
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta 13220
Transcriber
k-Jank
Editor
F. Indah, k-Jank
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: Repositori Institusi Kemendikdasmen
Gambar sampul: Human Misery (Misères humaines) (1898-1899), karya Paul Gauguin
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
KATA PENGANTAR
KEPALA PUSAT
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
Sejak Rencana Pembangunan Lima Tahun II, telah digariskan kebijakan pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional dalam berbagai seginya. Dalam garis haluan ini, masalah kebahasaan dan kesastraan merupakan salah satu masalah kebudayaan nasional yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh dan berencana sehingga tujuan akhir pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah dapat dicapai. Tujuan akhir pembinaan dan pengembangan itu, antara lain, adalah meningkatkan mutu kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi nasional, sebagaimana digariskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Untuk mencapai tujuan itu, perlu dilakukan berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan seperti (1) pembakuan ejaan, tata bahasa, dan peristilahan; (2) penyusunan berbagai kamus bahasa Indonesia dan kamus bahasa daerah serta kamus istilah dalam berbagai bidang ilmu; (3) penyusunan buku-buku pedoman; (4) penerjemahan karya kebahasaan dan buku acuan serta karya sastra daerah dan karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia; (5) penyuluhan bahasa Indonesia melalui berbagai media, antara lain melalui televisi dan radio; (6) pengembangan pusat informasi kebahasaan dan kesastraan melalui inventarisasi, penelitian, dokumentasi, dan pembinaan jaringan informasi kebahasaan; dan (7) pengembangan tenaga, bakat, dan prestasi dalam bidang bahasa dan sastra melalui penataran, sayembara mengarang, serta pemberian hadiah penghargaan.
Sebagai salah satu tindak lanjut kegiatan itu, dibentuklah oleh Pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia-Jakarta. Bagian proyek itu mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan yang bertujuan meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, mendorong pertumbuhan sastra Indonesia, dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia.
Salah satu putusan Konggres Bahasa Indonesia V tahun 1988 mengamanatkan perlunya diterbitkan beberapa naskah yang berkaitan dengan sastra. Untuk melaksanakan putusan kongres tersebut, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melakukan beberapa kegiatan yang tercakup dalam dua kegiatan utama, yaitu penyusunan “Citra Manusia dalam Sastra Indonesia Modern” dan “Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara”. Buku ini Tiga Puluh Cerita Pendek Indonesia Modern: Tahun 1920—1940 adalah satu hasil kegiatan itu, yang naskahnya berhasil disusun berkat bantuan tenaga dan pikiran Drs. Widodo Djati dan Saudara Suryati Syam, B. A. Untuk itu kami sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Buku ini mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi para peminat sastra dan masyarakat pada umumnya. Untuk penyempurnaan buku ini di kemudian hari, kritik dan saran pembaca sangat kami harapkan.
Akhirnya, kepada Pemimpin Bagian Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia-Jakarta 1993/1994, Dr. Edwar Djamaris, beserta seluruh staf yang telah mengelola penerbitan buku ini, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta, Januari 1994
Dr. Hasan Alwi
PRAKATA
Penyusunan himpunan cerita pendek Indonesia modern terbitan tahun 1920—1940 yang bersumber dari majalah Panji Pustaka dan beberapa dari jumlah Pujangga Baru telah selesai dikerjakan. Penyusunan ini bertujuan untuk menyediakan data bagi para peneliti yang berminat meneliti cerita pendek pada masa itu. Penyusunan ini dilakukan bagi cerpen-cerpen itu sudah tidak diterbitkan lagi sehingga dikhawatirkan akan punah begitu saja tanpa ada yang mengumpulkan dan menyimpannya.
Penyusunan ini dilaksanakan sebagai kegiatan rutin Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa tahun anggaran 1992/1993. Hasilnya belum dapat dikatakan sempurna seperti yang diharapkan, mengingat kemampuan kami yang masih terbatas sehingga perlu adanya penyempurnaan lebih lanjut. Sehubungan dengan itu, segala kekeliruan yang berkaitan dengan penyusunan ini tetap menjadi tanggung jawab kami. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih atas saran-saran yang sifatnya menyempurnakan penyusunan Tiga Puluh Cerita Pendek Indonesia Modern Tahun 1920—1940.
Sehubungan dengan penyusunan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan banyak masukan selama penyusunan ini, khususnya Kepala Bidang Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Bapak Dr. Edwar Djamaris, selaku konsultan kami sehingga penyusunan ini dapat terwujud. Kami berharap hasil penyusunan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat dalam meningkatkan minat baca dan studi sastra Indonesia.
Jakarta, Januari 1994
Penyusunan,
Widodo Djati
Suryati Syam
BAB I
PENDAHULUAN
Cerita pendek (selanjutnya disingkat cerpen) termasuk karya sastra yang sudah lama berkembang di Indonesia. Cerpen Indonesia telah ditulis oleh pengarang Indonesia dan diterbitkan sejak tahun 20-an. Oleh karena itu, ada benarnya kalau dikatakan bahwa kurun waktu 30 tahun saja jumlahnya telah mencapai seperempat dari seluruh buku sastra Indonesia modern (Pamusuk, 1983:28). Hal ini menunjukkan bahwa bentuk cerpen digemari oleh pengarang Indonesia sejak masa sebelum perang.
Kegemaran pengarang Indonesia akan bentuk cerpen itu dapat mengisyaratkan adanya hal yang sama di pihak pembaca. Jelasnya, suburnya penulisan cerpen ada kaitanya dengan penerimaan pembaca atas bentuk itu.
Mengapa bentuk cerpen digemari baik oleh pengarang maupun oleh pembaca? Jawabnya jelas. Cerpen dapat ditulis dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, cerpen pun dapat dibaca dalam waktu yang singkat pula. Penerbitan cerpen pun dengan sendirinya tidak memakan banyak waktu dan tempat. Dapatlah dikatakan bahwa terbitnya kumpulan cerpen di Indonesia berpangkal pada penerbitnya di media massa. Namun, tentu saja tidak sama cerpen dapat dikumpulkan dan diterbitkan sebagai kumpulan cerpen. Tidak sedikit cerpen Indonesia yang masih tersebar di majalah, lebih lebih lagi majalah sebelum perang.
Penelitian terhadap cerpen itu pun ikut berkembang sesuai dengan perkembangan cerpen yang diterbitkan. H. B. Jassin, misalnya menganalisis cerpen dalam majalah yang kemudian dikumpulkan dalam buku Analisis Sorotan Atas Tjerita Pendek (1965). Ajib Rosidi (1968) dalam bukunya Tjerita Pendek Indonesia, mengungkapkan perkembangan cerpen di Indonesia secara lebih khusus. Pamusuk Eneste (1983) dalam bukunya Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esai dan Kritik, mengumpulkan berbagai karangan tentang cerpen. Dalam salah satu tulisannya, Sapardi Djoko Damono (1983) lebih tegas mengatakan bahwa kini kita tidak dapat terhindar dari cerpen meskipun diakuinya pula bahwa banyak dari cerpen yang ditulis itu tidak berharga. Terlepas dari penelitian yang dikemukakan Sapardi itu, kita tidak dapat menutup mata bahwa genre cerpen itu bagian yang amat penting dalam perkembangan sejarah sastra kita. Upaya yang dilakukan oleh Satyagraha Hoerip (1986) untuk menghimpun sejumlah cerpen yang baik (setidaknya dalam pandangan Satyagraha Hoerip) dari kurun waktu selepas perang hingga masa pasca Orde Baru patut mendapat penghargaan. Secara cermat Satyagraha membeberkan kecenderungan umum cerpen Indonesia dari masa ke masa selepas perang kemerdekaan itu.
Berdasarkan latar belakang tersebut, terpikir perlunya penyediaan data cerpen Indonesia dari masa sebelum perang. Hal itu, penting dilakukan karena sangat berguna untuk pakar sastra yang ingin meneliti cerpen periode itu. Penyediaan bahan-bahan cerpen tahun 1920—1940 belum banyak dilakukan sehingga dapat menimbulkan hambatan penelitian mengingat naskah-naskah cerpen periode itu sukar dijangkau karena hanya ada dalam majalah yang hanya tersimpan dari perpustakaan terlalu.
Penyusunan ini bertujuan mendaftar, mengumpulkan, memilih, dan menyajikan cerpen Indonesia modern tahun 1920—1940. Cerpen-cerpen itu bersumber dari majalah terbitan tahun 1920—1940 di Jakarta, bukan majalah daerah. Majalah itu dikhususkan Panji Pustaka dan Pujangga Baru. Sebagian besar, pengumpulan cerpen ini diambil dari majalah Panji Pustaka karena cerpen tahun 1920—1940 banyak dimuat dalam majalah itu. Pada kurun waktu yang sama, majalah Pujangga Baru kebanyakan memuat cerita terjemahan dan cerita bersambung.
Tiga puluh buah cerpen dari majalah terbitan tahun 1920—1940 ini merupakan pilihan dari beberapa cerpen terbitan tahun itu. Perlu diketahui bahwa majalah Panji Pustaka terbitan 1920 sampai dengan tahun 1927 banyak memuat cerita terjemahan dan cerita bersambung atau fuileton. Perlu juga dikemukakan bahwa majalah terbitan tahun 1920—1940 itu tidak semuanya memuat cerpen asli, tetapi sebagian memuat cerita terjemahan dan cerita bersambung. Penyusunan kumpulan naskah cerpen ini lebih memusatkan kepada cerpen Indonesia modern yang dikarang oleh sastrawan Indonesia dan memakai bahasa Indonesia.
Cerpen-cerpen itu dipilih dengan memperhatikan keragaman temanya hubungan dengan pendidikan lahir-batin dalam kehidupan. Ciri-cirinya seperti, mencari jodoh sendiri di kalangan anak muda dalam rangka menentang adat kawin paksa dari orang tua. Permasalahan suami istri dalam rumah tangga, kegigihan anak muda mununtut ilmu dan mencari pengalaman hidup.
Pengungkapan masalah kawin paksa terwujud antara lain dalam bentuk penentangan terhadap kawin paksa mencari dan menentukan pasangan hidup sendiri. Tema seperti ini terungkap dalam cerpen “Hanyut Tak Tentu Muaranya” karya Damachajs (1932), “Cerita Puteri Seri Laut” karya Seleguri (1937), “Barang Tiada Berharga” karya Armijn Pane (1935), dan “Tak Disangka-sangka” karya Aminuddin S. T. S. (1934). Cerpen-cerpen itu mengungkapkan usaha muda-muda untuk mencari pasangan sendiri dan secara tidak langsung menolak kawin paksa yang dianggapnya menghambat kemajuan atau kebebasan mereka. Percintaan itu ada yang berawal dari kawin paksa sehingga menimbulkan kegelisan pada yang bersangkutan, tetapi akhirnya mereka rukun setelah mengetahui bahwa jodohnya itu ternyata kekasihnya seperti dalam cerpen “Tak Disangka-sangka” (1934). Kegagalan cinta karena si laki-laki mengundurkan diri akibat dia kegagalan cinta karena si laki-laki mengundurkan diri akibat dia belum mendapatkan pekerjaan, hal itu dia lakukan sehubungan dengan perasaan harga dirinya terungkap dalam cerpen “Barang Tiada Berharga” (1935). Percintaan muda-mudi menjadi gagal akibat salah seorang pasangannya dijodohkan oleh orang tuanya sehingga menimbulkan perasaan patah hati pada pihak yang ditinggalkan terungkap dalam cerpen “Hanyut Tak Tentu Muaranya” (1932). Rencana kawin paksa diatur orang tua yang gagal karena kedua anak muda itu melarikan diri, tetapi akhirnya kawin paksa itu terwujud setelah kedua anak muda itu saling mengenal dan mempersatukan hatinya terungkap dalam cerpen “Cerita Puteri Seri Laut” (1937). Demikianlah usaha kaum muda untuk menentang kawin paksa dan bermacam cara untuk mengingatkan orang tua bahwa kawin paksa berakibat tidak baik untuk anak muda menjadi tuna utama dalam cerpen tahun 1920—1940-an.
Masalah kehidupan rumah tangga digambarkan dalam delapan cerpen, yaitu cerpen yang berjudul “Sesal Dahulu Pendapatan Sesal Kemudian Tiada Berguna” karya Saus Gelar Dt. Rajo Bandaharo (1932), “Lukisan Ruwah” karya Sanusi Pane (1932), “Tiga Kelamin” karya Ajirabas (1938), “Sesal Kemudian Tiada Berguna” karya Muhammad Rahim (1934), “Dekat Lebaran” karya T. St.S. (1939), “Pembalasan” karya A. D. Muhammad (1934), “Kalau Ibu Meninggal” karya Nur Sultan Iskandar (1934), dan “Jimat” karya Anonim (1928). Cerpen-cerpen itu mengungkapkan masalah rumah tangga, baik yang ditimbulkan dari dalam maupun luar lingkungannya. Persoalannya selalu berkisar pada masalah keharmonisan suami dengan istrinya dalam membina rumah tangga. Ketidak harmonisannya itu diakibatkan oleh suami yang senang berjudul sehingga rumah tanggaannya terbengkalai terungkap dalam cerpen “Kalau Ibu Meninggal” (1934), Adakalanya rumah tangga tidak harmoniskan itu disebabkan oleh pihak istri. Seorang istri yang berprofesi sebagai artis film senang berkehidupan glamor dan pergaulannya bebas dengan berbagai laki-laki. Hal itu, menyebabkan suaminya menderita batin karena pergaulan bebas istrinya itu dan akhirnya rumah tangganya pecah. Artis itu kemudian bergantiganti suami karena tidak pernah merasa puas. Peristiwa itu menggambarkan bahwa kehidupan rumah tangga artis pada waktu itu tidak pernah harmoniskan terungkap dalam cerpen “Pembalasan” (1934). Persoalan rumah tangga yang sering terjadi adalah persoalan salah paham yang menyulut perselisihan suami-istri. Akan tetapi, biasanya persoalan seperti itu akan reda kembali dan mereka menyesali perbuatan mereka seperti dalam cerpen “Dekat Lebaran” (1934).
Persoalan rumah tangga tidak terlepas dari usaha perkawinan, biasanya semakin tua usia perkawinan akan semakin tipis rasa kasih sayang suami kepada istrinya karena timbulnya rasa kejenuhan. Persoalan rumah tangga seperti itu bukan menjadi patokan yang mutlak karena banyak juga rumah tangga yang usia perkawinannya telah lama masih kelihatan harmonis dalam membina hubungan antara suami istri seperti terungkap dalam cerpen “Tiga Kelamin” (1938). Persoalan rumah tangga memang tidak ada habis-habisnya, kadang persoalan itu timbul dari pihak ketiga. Hal itu, digambarkan melalui kehidupan seorang dokter yang mulai bosan kepada istrinya dan mulai tertarik kepada wanita lain. Hal itu tidak berlangsung lama sebab dokter itu menginsafi kekeliruannya dan kembali menyayangi istrinya seperti dalam cerpen “Lukisan Ruwah” (1932). Persoalan rumah tangga kadang timbul dari pihak istri. Istri yang kurang teguh pendiriannya akan menyebabkan rumah tangganya berantakan dapat dibaca dalam “Sesal Dahulu Pendapatan Sesal Kemudian Tidak Berguna”. Kehidupan rumah tangga pada waktu itu digambarkan tidak jauh berbeda dengan keadaan masa kini karena konflik-konflik rumah tangga selalu ditimbulkan oleh masing-masing pihak, baik suami maupun istri. Percekcokan dalam rumah tangga itu kadang-kadang dapat menimbulkan perceraian, tetapi tidak jarang pula yang berakhir dengan penyesalan dan perdamaian.
Masalah suka dan duka dalam kehidupan digambarkan juga dalam tujuh belas cerpen terbitan tahun itu, yaitu “Lebai Yang Sial” karya A. Damhuri (1932), “Surat Dari Ibu” karya Or. Mandank (1932), “Keduaan Hari Raya” karya Marah Rusli (1932), “Raja Kecil” karya Ali Hasjmi (1935), “Lupa” karya A. Mada (1936), “Kelana Anak Sumatra” karya Or. Mandank (1932), “Panjang Uratnya” karya M. Kasim (1934), “Salah Mengerti” karya T. St.S. (1934), “Penipu Yang Licin” karya T. St.S. (1934), “Terlampau Harap Tertiarap” karya Dali (1939), “Lima Hitam” karya E. Ns. (1939), “Berpuasa Di Tengah Lautan” karya Hadjil Aboebakar (1934), “Gara-Gara Kaman Durian Dalam Puasa” karya M. Kasim (1934), “Tersinggung Pernya” karya M. Kasim (1933), “Gara-Gara Bagar Kambing” karya M. Kasim (1933), “Kesetiaan Seekor Anjing” karya Anonim (1928), dan “Kurang Usul Periksa” karya Pak Buyung (1930).
Cerpen-cerpen itu membicarakan suka dan duka kehidupan seseorang. Hal itu terlihat dalam “Labai Yang Sial” (1932), cerita itu termasuk cerita lucu yang menceritakan seorang Lebai terjerumus ke dalam tebat sehingga sakit perut dan tidak dapat bersuka-dia pada hari Lebaran. Tema cerita itu adalah keteledoran akan menimbulkan kerugian. Hubungan anak dengan itu digambarkan dalam “Surat Dari Ibu” (1932). Persoalan pokok cerpen itu adalah anak yang berbakti kepada ibunya. Suka duka seorang ayah digambarkan dalam “Kedudukan Hari Raya” (1932) yang persoalan pokoknya adalah ayah yang penuh tanggung jawab kepada anak-anaknya setelah istrinya meninggal dunia. Masalah kebajikan dalam kehidupan digambarkan dalam “Raja Kecil” (1935), seseorang yang tadinya memiliki sifat ta, ak berubah menjadi baik setelah menyadari kekeliruannya itu. Keputusan digambarkan dalam cerita “Lupa” (1936, seseorang yang berulangkali ditimpa kegagalan dalam usahanya menyebabkan dirinya putus asa dan jatuh ke jalan kehancuran dalam hidupnya. Manfaat pengembaraan digambarkan dalam cerita “Kelana Anak Sumatra” (1932). Orang yang suka mengembara itu baik karena dia akan banyak mendapatkan pengalaman dari daerah lain. Masalah keberanian dan ketidakberanian digambarkan dalam “Panjang Uratnya” (1934), orang yang berani menghadapi kenyataan hidup akan memperoleh keuntungan dan mereka yang takut menghadapi kenyataan hidup akan rugi. Ketidakarifan digambarkan dalam “Salah Mengerti” (1934). Dalam cerpen ini terungkap tema bahwa kekeliruan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu akan menimbulkan kesalahpahaman dan mengakibatkan penyesalan pada kedua belah pihak. Ketedoran digambarkan dalam “Penipu yang Licin” (1934), yang mengisahkan orang yang kurang berhati-hati dalam menentukan sesuatu akan mengakibatkan dirinya tertipu dan rugi. Hampir seluruh cerpen-cerpen itu menggambarkan pengalaman suka-duka seseorang pada saat menemui kesusahan dan kesenangan sehingga orang itu memperoleh hikmahnya untuk perjalanan hidupnya pada masa yang akan datang.
Kriteria kedua yang digunakan dalam memilih cerpen ini adalah latar cerpen itu sendiri. Latar cerpen tahun 1920—1940 sekitar Indonesia, tidak sebuah cerpen yang tertimbun menyebutkan latar cerita. Hanya dua belas cerpen yang terhimpun ini. Latar daerah Sumatra Barat, seperti Batusangkar terdapat dalam cerpen “Kurang Usul Periksa” Pak Buyung, (1930), Padang dalam cerpen “Terlampau Harap Tertiarap!” (Dali, 1939). Latar daerah Sumatra Utara, seperti Medan terdapat dalam cerpen “Tersinggung Pernya” M. Kasim (1933), Kota Raja dalam cerpen “Kota Raja dalam cerpen ”Berpuasa Di Tengah Lautan“ Hadjil Aboebakar (1934), Latar daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Sukabumi, Bogor, Purworejo, Yogya, dan Solo terungkap dalam cerpen ”Lukisan Ruwah“ Sanusi Pane (1932). Yogya dan Purworejo dalam cerpen ”Barang Tiada Berharga“ Armijn Pane (1935), Solo dalam cerpen ”Lupa“ A. Mada (1936). Latar daerah Betawi terdapat dalam cerpen ”Terlambat“ Nur Sultan Iskandar (1934), ”Salah Mengerti“ T. St.S. (1934), “Pembalasan” A. D. Moehammad (1939), “Dekat Lebaran” T. St.S. (1939), dan “Lima Hitam” E. Ns. (1939). Tempat-tempat yang menjadi latar itu tidak dirinci secara jelas karena hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam cerpen-cerpen itu.
Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam cerpen-cerpen itu hampir seluruhnya menampilkan tokoh muda yang sudah mulai berpikir maju sesuai dengan perkembangan zaman. Mereka mulai menentang masalah kawin paksa dan mulai mencari sendiri pasangan hidupnya.
Akhirnya perlu ditegaskan kembali bahwa penyusunan tiga puluh buah cerpen Indonesia modern ini hanya dibatasi pada cerpen yang terdapat dalam majalah Panji Pustaka dan beberapa buah dari majalah Pujangga Baru. Kedua majalah itu terbit tahun 1920—1940.
BAB II
CERITA PENDEK INDONESIA MODERN
TAHUN 1920—1940
1
Jimat
(Panji Pustaka, 11 Mei 1928, Thn. VI, No. 38)
Hendrik Meijer, wakil dari firma Claassen & Co, sudah selesai makan pagi, lalu berdiri akan pergi kekereta api. Demikianlah permulaan suatu cerita, yang dimuat dalam de Telegraaf yang terbit di negeri Belanda.
“Henk,” kata isterinya dengan gugup sedikit, sesang jarinya meramas-ramas kain meja.
“Apa?” bertanyalah suaminya. Kerut keningnya pun timbul menyambung garis hidungnya. Ia merasa, bahwa isterinya akan bercerita penting, dan ia khawatir kalau-kalau panjang perkataannya, sehingga boleh jadi ia ketinggalan kereta api.
“Henk,” katanya lagi, sambil memandang suaminya. “Senangkanlah olehmu akan hatiku.”
“Apakah maksudmu?”
“Hatiku tak pernah senang, kalau aku ingat, engkau akan naik kereta api. Sudah kerap kali saya dengar kecelakaan!”
Ia mengangkat pundaknya.
“Aku pun tak dapat tinggal di rumah selalu.”
“Bukan begitu. Tetapi dengarlah, aku harap engkau memakai barang yang boleh melindungi diri: pakailah jimat!”
Sekarang ia melihat kepada isterinya dengan senang hati serta matanya tiada lagi membelalang.
“Apa!” sahutnya sebentar kemudian. “Apakah engkau kehendaki badanku penuh oleh benda-benda yang tak ada gunanya itu?”
Ia tersenyum karena kebodohan suaminya tentang perkara gaib-gaib.
“Tidak, bukanlah besi kuda atau boneka sakti,” katanya dengan sabar, “melainkan satu jimat. Coba lihat. Kemarin, waktu berbelanja, aku dapat uang ketip Hindia, tak tahu aku entah di mana. Bawalah uang ini, agar supaya hatiku tetap dan senang. Suatu mata uang dari negeri sebelum Timur dengan huruf Arab.”
“Apakah bukan orang Hindia?”
“Tak mengapa, ia datang dari Timur.” Perkataan yang akhir dituturkannya seperti bernyanyi.
Suaminya tertawa menyindir.
“Ya, betul dari Timur!” Sambil melihat lonceng dan menurutkan kehendak isterinya, ia berkata: “Marilah; barangkali ada juga gunanya.”
“Baik betul hatimu!” kata isterinya dengan girang. Hendrik memakai bajunya lalu mengepit tas surat. Dengan lekas diambilnya ketip Hindia itu serta dimasukkannya dalam saku rompinya.
Waktu Hendrik Meijer sampai ke stasiun, sudah hampir berangkat kereta api.
Ia bernafas sedikit lagi akan melepaskan lelah, waktu ia sudah membuka surat kabar, yang kebetulan masih dapat dibelinya dari Piet, tukang koran di peron.
Sebagaimana dilazimkan tiap orang, lebih dahulu ia melihat halaman gambar. Dengan segera matanya melihat suatu gambar yang mengerikan. Di tepi sebuah jurang tergantunglah beberapa buah kereta, sedang lokomotifnya sudah jatuh ke bawah.
“Betul terlalu sekali,” katanya sama sendirinya.
“Apa?” tanya seorang, yang menyangka bahwa orang itu berkata dengan dia.
Sebagai jawab, Hendrik Meijer memperlihatkan gambar itu, dan lalu timbullah percakapan panjang lebar tentang kecelakaan kereta api.
“Di sini tidaklah begitu selamat,” demikian akhirnya kata seorang tuan, yang sudah banyak menjalani negeri luaran.
“Tidak seberapa! patut ditambahkan di situ!” kata seorang tuan yang lain.
Sebagai akan menunjukkan kebenaran perkataannya it, kebetulan kereta api yang ditumpanginya dengan tiba-tiba terlompat-lompat dan bergocak-gocak. Teriak ketakutan hilang leyap oleh keributan hebat. Kereta itu terlepas dari rel dan jatuh dari tebing spoor.
Antara manusia itu kacau bilau dan mengeluh ditimpa oleh pecahan kaca, keping-kepingan papan dan percikan darah, tetapi Meijer selamat. Ia bingung melihat bahaya itu. Kakinya menggigil sedikit. Tetapi yang selainnya? sekali-kali tidaklah ia mendapat kerusakan tubuh. Ia masih memakai topi dan tas surat, begitu juga surat kabar pagi lagi ada padanya.
“Masya Allah! masya Allah!” katanya dengan tiba-tiba saja.
“Boleh jadikah...?” bisiknya sama sendiri.
Ia disingkirkan oleh pegawai kereta api, yang membawa alat pembebat (verband).
Dari pihak lain datanglah kereta lokal, yang berhenti juga di tempat kecelakaan itu. Oleh karena rasa-rasanya Hendrik Meijer tidak akan sempat menjalankan barang suatu apa pun waktu menolong orang yang dapat kecelakaan, serta sekalian kejadian negeri itu akan dapat juga diketahuinya dari surat kabar dengan tidak dilihatnya dengan mata sendiri, ditetapkannya hatinya akan naik kereta lokal, yang setengah jam kemudian berangkat membawanya dengan kecepatan sedang kembali ke kota tempat tinggal.
Sebagai mana Hendrik Meijer sudah memperkirakan, maka khabar bahaya itu telah dahulu sampai dari kereta lokal, yang sebergegas (ter-buru-buru) itu akan mencapai waktu yang sudah hilang. Tidaklah heran setelah ia menampak isterinya antara orang banyak di peron. Dengan lebih lekas dari yang biasa diketahuinya, isterinya mendesakkan orang banyak.
“Jantung hatiku,” katanya dengan hati walang. Daripada mata isterinya ia melihat tanda kegirangan.
Dengan perlahan-lahan ia membawa suaminya ke tempat yang tak banyak orang di peron. Meijer menurut saja, ia maklum bahwa isterinya hendak berkata-kata dengan dia. keduanya duduklah di bangku.
“Aku sama sekali lilah tentangan dirimu,” kata isterinya sambil tersenyum.
“Sudah hampir saja,” jawab suaminya.
“Engkau dijaga,” kata isterinya dengan hati yang sangat percaya. “Sekarang memanglah engkau tidak akan mengatakan lagi, bahwa satu jimat tak ada gunanya, Negeri sebelah Timur mempunyai kekuasaan, yang mula-mula tidak dipercayai oleh Bangsa Barat, sehingga...”
Ia berhenti sebentar. Seorang anak penjual koran sampai ke muka mereka itu, sambil memberi hormat serta berkata:
“Tuan Meijer...”
“Terima kasih Piet, saya sudah ada koran oagi.”
“Betul tuan, akan tetapi tadi pagi tuan bayarkan kepada saya dengan uang ketip Hindia. Hal itu tidaklah akan menjadi apa-apa, saya sudah kenal tuan, tetapi saya hendak mengembalikan uang ini, barangkali tuan perlu menyimpannya.”
Hendrik Meijer menukari uang itu dengan ketip Belanda.
Piet memberi hormat lalu pergi.
Nyonya Meijer masih berdiam diri juga.
“Jiwaku, sekarang engkau ketahui,” kata Meijer lagi sambil ia membunyikan tertawa, “bahwa....”
Sekarang barulah nyonya itu dapat berkata pula.
“Henk,” katanya dengan menyindir, “tatkala itu engkau berlaku lalai, sehingga uang ketip Hindia itu kauberikan kepada anak penjual koran itu; itulah sebabnya maka terjadi kecelakaan itu. Coba jika engkau tidak selalai itu, niscaya kecelakaan itu takkan terjadi sama sekali.”
Sekarang Meijer bingung, karena memikirkan perkataan isterinya itu.
2
Kesetiaan Seekor Anjing
(Panji Pustaka, 18 September 1928, thn. VI, No. 75)
Profesor O, ialah seorang berilmu yang termasyur. Kalau kebetulan ia tidak ada kerja, biarpun hanya sebentar, tidaklah ia tinggal bersenang-senang saja dalam kamarnya. Ia biasa pergi ke luar kota, di mana ke dapatan gunung yang bagus. Asal ada waktu pergilah ia berjalan-jalan ke luar bersama-sama dengan Doyan, seekor anjing setia yang sangat disayanginya.
Pada suatu hari duduklah ia dalam hutan pertanaman sambil membaca buku lama, yang sangat menarik hatinya. Waktu itu doyan pun tidak berdiam diri, melainkan memburu seekor kelinci dalam belukar. Profesor itu sangat asyik membaca buku, sehingga ia tidak insyaf, bahwa temannya yang setia sudah melenyapkan diri.
Tatkala ia berbangkit barulah ia mengetahui anjingnya tidak ada lagi di situ. Profesor itu pun segera berseru, bersuit lalu berjalan kesanakemari akan mencari serta bertanya kepada orang lalu dan penjaga hutan, akan tetapi tidak seorang juga yang bertemu dengan anjingnya.
Tersebut perkataan, bahwa si Doyan ditangkap orang lalu dijualnya kepada seorang dagang, asal dari negeri lain, yang kemudian memakai anjing itu akan menarik gerobak.
Doyan merasa amat melarat sekali hidupnya selama pada tuannya yang baru, sebab tuannya itu amat bengis dan ganas. Ia disuruh menghela barang-barang berat.
Sementara itu profesor memasukkan pemberi tahun dalam surat-surat kabar, serta bertanya kepada polisis, akan tetapi pekerjaannya ter-buang sia-sia saja, sebab Doyan tidak juga dapat.
Pada suatu hari dapatlah Doyan melepaskan dirinya dari ikatan rantai. Tetapi sayang sekali ia tak dapat mencari kalan yang begitu jauh ke rumah tuannya dahulu, sebab tuannya yang sekarang membawa dia dari satu tempat kepada suatu tempat, sehingga sampai ke sebuah negeri yang sekali-kali tidak diketahuinya.
Doyan berlari-lari sepanjang beberapa jalan, sambil mencium tanah berulang-ulang akan mengetahui jejang tuan yang dicarinya. Akhirnya ia terlalu lelah sekali, sehingga ia jatuh pingsan dalam kebun seorang dokter. Tuan dokter yang berbudi itu pun segera melihat binatang itu dan tampaklah kepadanya, bahwa Doyan sangat letih dan kelaparan. Ia menepuk-nepuk binatang itu serta diberinya makan minum. “Kasihan sekali,” kata dokter, “saya ingin hendak mengantarkan engkau kembali kepada tuanmu sendiri. Tetapi darimana engkau datang?”
Doyan tak dapat menjawab perkataan dokter itu, melainkan ia mengipas-ngipaskan ekornya akan tanda kesukaan.
Dokter memeriksa kalung lehernya, apakah di situ terdapat keterangan atau nomor dan lain-lain yang boleh menjadi jalan baginya ke mana binatang itu harus diantarkan. Akan tetapi ia tidaklah melihat barang sesuatu tanda yang demikian, sebab itu anjing itu dipeliharanya di rumahnya, sehingga dalam beberapa hari saja Doyan telah sehat kembali serta menjadi tangkas dan bagus seperti bermula pula.
“Bagus sekali binatang ini,” kata dokter itu. “Tuannya niscayalah menyesal sekali kehilangan binatang ini! Tetapi di manakah tuannya itu akan dicari?”
Dokter mengisap pipanya sambil membaca surat kabar dan kemudian ia pergi keperkakas radio Hilversum pada malam itu.
Sementara itu anjing tadi berbaring dekat perdiangan serta menarik napas seperti orang berduka sedang tidur.
Sekonyong-konyong terdengarlah perkataan perkakas radio “... keadaan ajaib tentangan ilmu huruf zaman dulu dalam bahasa Belanda kita dapati lagi misalnya dalam karangan Marnix van St. Aidegonde....”
Waktu mendengarkan suara yang demikian dengan tiba-tiba bangkit-lah Doyan dari tidurnya, lalu menyalak dengan girang serta berjalan berulang-ulang berkeliling pesawat itu.
“Terlalu bersuka hatikah engkau mendengarkan pidato tentangan ilmu huruf zaman dulu dalam bahasa Belanda?” kata dokter itu masih berbunyi, lalu menjerit-jerit setelah pesawat radio berhenti mengeluarkan suara.
Keadaan yang demikian menimbulkan suatu perasaan dalam hati dokter itu. Dengan segera diambilnya programma radio, lalu dibacanya dan ia dapat mengetahui bahwa pidato itu dibicarakan oleh profesor O, dalam suatu kota yang jauh letaknya dari situ. Dengan segera ia menulis sepucuk surat kepada profesor yang tersebut.
Setelah mendapat surat itu dengan selekas-lekasnya tuan profesor itu berangkatlah menuju ke rumah dokter itu, akan mencari anjingnya yang sudah hilang lenyap begitu lamanya. Waktu profesor O, sampai di rumah dokter itu, melompatlah Doyan menyongsong tuannya, lalu menyalak berulang-ulang dengan kegirangan yang lebih besar lagi dari malam dahulu waktu ia mendengar suara tuannya itu.
Demikianlah semenjak waktu itu profesor, dokter, anjing, dan radio menjadi sahabat karib yang kekal selama-lamanya.
3
Kurang Usul Periksa
(Panji Pustaka, 28 Februari 1930, Thn VIII, No. 17—18)
Lima tahun lamanya berharap-harap, lima musim bercita-cita, berusaha membelah benak, akan memperoleh ijazah, yang sudah kuperoleh sekarang ini. Lima belas hari yang lalu, sudah terseberang aku dari lautan yang penuh dengan cemas dan harapan. Tiap-tiap tahun kembang kempis perutku memikirkan: akan tinggalkan aku oleh kawan atau akan sama-sama, akosihkan kegunjainya...; nah, sekarang sudah pasti, tak ada yang jadi pikiran lagi, lapang sudah dadaku, dan karena itu lebar dan luas pula dunia ini dalam perasaanku. Siapa yang tak bergirang hati, bersukacita, karena sudah terlepas dari apalan, terhindar dari pertanyaan dan ujian, takkan disiksa pikiran lagi—usahaku yang lima tahun sudah berbuah, sedikit hari lagi sudah boleh kupetik buahnya itu...!
Nyah sekalian buku dan dicatat... aku takkan ditanyai lagi, apa sebabnya luas lingkaran itu r x r², aku tidak akan disuruh menerangkan lagi apa yang dimaksud dengan “Likhamelijke opvoeding”, atau “Zedelijke” atau “Zielkunde”. Apa peduliku akan gunung di negeri Anu, sungai dan teluk dan sebagainya itu. Aku tidak.....
Aku sudah tamat belajar, cita-citaku akan sampai, aku jadi “engkau” guru...; tapi bukan ini yang terutama membesarkan hatiku, ada cita-citu ku yang lain, yang akan tercapai pula, cita-cita yang lebih penting, cita-cita yang mesti ada pada tiap-tiap laki-laki bujang yang sehat tubuh dan sehat pikirannya!
Sudah beberapa lamanya mataku tertarik, hatiku tertambat pada... seorang gadis, anak seorang guru. Sudah kerap aku ke rumahnya, datang bercakap-cakap dengan ayahnya... dan kalau tak salah tilikanku adalah aku diberi harap, baik oleh bapanya, maupun oleh gadis itu sendiri. Selama ini karena masih dalam sekolah, tak berani aku membuka rahasia hatiku itu bahkan tersingit pun tidak. Tetapi sekarang tak ada alangannya lagi, dan sudah sepatutnya juga. Pikirku, ibu bapakku takkan berkeberatan, malahan akan besar hati. Sudah lama dicita-citakannya akan bermenantu. Memang menurut perasaan kaum muda sekarang, Tak baik terburu-buru beristeri itu, lebih afdal kalau dimasakkan pikiran dan tubuh, diperbanyak pengalaman hidup dulu, maka akan dipikul ke- wajiban berlaki bini itu; tapi ibu bapakku masih orang kuno, belum dapat kukalahkan pendiriannya, belum dapat kubawa beliau masuk ke dalam hawa kemajuan dan keinsafan. Bakal menantunya itu anak orang baik-baik, orang senegeri pula dengan kami, elok pula parasnya... sungguh, menurut kira-kiraku, tak ada suatu juga hal-hal yang akan mengurung kan cita-citaku, tak ada suatu juga hal-hal yang akan mengurung kan cita-citaku itu, bahkan semuanya akan mendorongkan sampainya juga.
Sudah lima belas hari aku dalam kesukaan itu, sedang temasa kian kemari; tiap-tiap kota si Sumatera Barat yang ada kaum kerabatku tinggal di sana, akan kukunjungi, sebab—siapa tahu—boleh jadi aku dipindahkan jauh dari negeriku, entah berapa pula lamanya tidak akan pulang, dan lagi... jika sudah dalam pekerjaan, tiada mudah lagi kian kemari dengan bebasnya, sudah banyak alangan dan keberatannya. Sebab itu aku memuas-muaskan hatiku benar.
Waktu aku sedang di Batusangkar, datang surat dari bapaku...
Ya, Ilahi! Rasakan karam bumi kupijak, setelah membaca surat itu. Wahai nasibku, tidak akan bolehkan aku ini bergirang hati, hidup dengan aman sentosa! Ya, Tuhan Rabbi, perlukah cobaan ini dilakukan atas diriku? ....
Bapakku mengabarkan bahwa beliau sudah menerima “jemputan” orang. Aku sudah diminta orang akan jadi semenda ke rumah kemenakan Sutan Saidi dan “jemputan” itu sudah diterima oleh bapakku, setelah dipermupakatkannya dengan ibu dan ninik mamakku.
Aduhai! Orang sudah membicarakan perkaraku dengan tiada menyai diriku lebih dahulu. Kalau sudah patut permintaan orang itu diterima menurut pendapat orang tua dan ninik mamakku, sudah cukuplah pada pikiran mereka. Tidak dipedulikan orang perasaanku sendiri.... Tidak ditanyakan orang, kalau-kalau sudah ada tempat hatiku!
Sekarang hendak kupengapakan! Hendak kubantah, tak ada gunanya lagi. Permintaan orang sudah diterima, hitungan sudah putus, janji sudah diperbuat. Kalau aku tak mau, kalau aku berkeras menolak, alangkah malu orang tuaku! Bukan akan melipat tanda orang, yang kutakutkan, melainkan orang tuaku akan bersusah benar. Acapkali beliau berpetua kepadaku: “Ingat-ingatlah anak,” katanya, “jagalah perbuatanmu jangan sampai menyusahkan hidupku dalam korong kampung. Benar engkau akan pergi talang kian kemari, tak akan engkau pedulikan timbangan orang kampung, tetapi aku, yang akan tinggal di sini sampai malaekatulmaut menjemputku, mesti memperhatikan benar-benar timbangan isi kampung!”
Betul-betul buah “simalakama” yang diberikan kepadaku ini: dilulur ibu mati, diludahkan bapa mati!
Tak dapat aku melukiskan betapa benar perasaanku pada masa itu, lemah lunglai segala sendiri tulangku, Tak sedikit juga aku bergirang hati, karena aku telah dihidupkan ini. Selama ini tak dapat kupahamkan arti sebutan: nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa duri! Waktu itu baru aku tahu, bahwa kata-kata itu bukanlah “isapan jempol” orang saja!
Aku sudah di rumah orang tuaku. Lebaran sudah dekat, buah tutur orang tak lain daripada tentang hari raya yang akan tiba semata-mata. Sekalian pikiran orang buat kepada hari raya itu. Hanya aku yang tak sedikit juga mencampuri, kenang-kenanganku penuh dengan nasibku sendiri—duduk ke sana termenung, berdiri ke sini bermuram muka, selalu bermurung hati, bagi ayam kena tungau....
Esok orang akan hari raya. Hari ini orang amat sibuknya.
Segala yang belum selesai harus diselesaikan pada hari itu; saratsarat adat mesti diisi. Banyak benar pekerjaan yang mesti dilakukan. Hari ini juga orang membantai dan bagi orang yang bertunangan hari inilah yang terlalu penting di negeri kami. Pihak laki-laki harus mengantar kepala kerbau, gula pasir dan sakar ke rumah gadis tunangannya. Bapak pun telah membelikan kepala kerbau, gula dan sakar itu untuk tunanganku. Sorenya bapakku telah menyuruh orang mengantarkan sekaliannya itu ke rumah tunanganku.
Sudah berapa hari ini aku dilamun perjuangan pikiran dan hatiku. Hatiku mengatakan: “batalkan pertunangan yang takkan engkau kehendaki itu!”—pikiranku berkata: “ingat akan ibu bapakmu, yang sangat mencintaimu, jangan engkau rusakkan hati mereka.” Demikianlah selalu berbantah-bantah hati dan pikiranku tiada yang kalah dan yang menang—kadang-kadang aku tak lelap sekejap mata pun juga.
Pada sore hari itu, entah apa sebabnya, hatiku lebih kuat, lebih keras serangannya, tiada dapat dibantah oleh pikiranku. Badanku panas-panas dingin, sebentar-sebentar tegak bulu romaku. Waktu orang suruhan bapakku pergi, tatkala itulah hatiku lebih hebat sekali serangannya, tak tertahankan oleh pikirankulagi—lalu kuambil sepedaku, kususul suruhan itu. Tidak lama antaranya tersusullah ia. Lalu dia kubujuk, kuberi uang sepuluh rupiah, dan kuanjikan aku akan menanggung segala akibatnya, asal dia mau membuangkan segala antaran itu ke sungai. Permintaanku dikabulkannya dan niatku akan sampai: tak boleh tidak pertunangan kami akan putus.
Hari sudah malam. Orang makin sibuk juga, petasan berdentamdentam, tabuh gemuruh, malam yang biasanyaunyi, mendengung! Tetapi aku berkurung berkunci pintu dalam bilikku. Pikiranku belum juga lagi tenang dan hati tak senang. Betapakah murkanya bapakku kelak, alangkah sedihnya hati ibuku nanti, jika diketahui mereka perbuatanku? Kadang-kadang aku menyesali diri telah terdorong membuat aib nama kaum kerabatku demikian; kadang-kadang lapang dadaku, aku tak akan jadi melalui jalan “penghidupan”, jalan dunia yang sempit dan licin, berbimbingan dengan orang yang belum kuhendaki; entah mau dia kubimbing, entah kuasa dia membimbing aku, bila tergelincir, belum dapat kuterka atau kuduga pada waktu itu!
Sudah pukul 12 tengah malam. Tiba-tiba terdengar olehku suara riuh di muka, memaki-maki, membesut-besut tak keruan. Setelah aku perhatikan nyatalah bahwa bapakku yang telah marah-marah. Tidak lama sudah itu diguguhnya pintu bilikku lalu kubukakan.
Warna muka bapakku hitam, matanya merah, tangannya gemetar, keningnya menyeringit. Demi pintu terbuka dihardiknya aku dilompatnya, seperti hendak dicekiknya aku—tetapi segera ia berdiri di mukaku menentang aku. Maka diseretnya aku ke beranda muka. Di sana aku dapati orang suruhan tadi berdiri di sudut menunjukkan kepala berpangku tangan.
“Lihat itu! Tahu kamu apa artinya itu? kata bapakku. Aku lihat yang ditunjukkannya: gambar kepala kerbau terbuat dari manggar kelapa dan dua buah bungkusan; yang sebuah seperti berisi dengan pasir dan sebuah lagi seperti batu. ”Itulah pembalasan dari kaum kerabat tunanganmu, sebab empilim tak mengisi adat, itulah tanda jalan damai sesudah ditinggalkan mereka, tanda mereka telah menyatakan perang.“
Pertanyaan bapakku itu tidak ku jawab, aku menunjukkan kepala saja.
“Engkau akukah, bahwa itu perbuatanmu?”
“Saya bapa!” sahutku segera, karena aku tak hendak memberatkan kesalahan itu kepada orang yang telah menolong aku.
“Mengapa engkau berbuat demikian!”
Aku berdiam diri saja.
Banyaklah kata bapakku, maki dan cercanya tak teringat lagi olehku, apalagi pada masa itu keadaanku adalah seperti dalam mimpi saja. Tiba-tiba terdengar olehku ibuku menangis meratap ratap beriba-iba dalam biliknya. Mendengar itu bagi diiris rasa jantungku, dengan tidak tahuku, sudah tiba aku diribaan ibuku.
“Ibu, janganlah ibu bersedih hati demikian benar—saya tahu ibu sayang sangat kepada saya—dan jika ibu mengetahui apa sebabnya saya telah berbuat demikian akan ibu maafkan juga anak ibu ini.”
Ibuku tak berhenti-henti menangis tersedu-sedu, terus juga.
“Malu, malu benar, O, nak! Tidak ada malu yang sebenar ini naak!”
“Wahai ibu—dengarkanlah ibu apa sebab maka saya berbuat demikian itu. Ibu, tidak dapat saya memperisteri gadis yang ibu carikan untuk anak ibu, karena... sudah ada... tambatan hati anak, o, ibu, maklumlah kiranya, o, ibu, bagaimana susahnya pikiran anak ibu, apalagi melihat ibu bersedih hati demikian ini.”
Ibuku berhenti daripada menangis, disekanya mata dan hidungnya; maka katanya: “Siapakah, anak, pilihanmu itu?”
“Anak engku guru Sutan Ibrahim, ibu!”
“Ya Allah! Mengapa maka jadi begini kesudahannya! Pilihanmu itu pilihan orang tuamu juga!”
“Jika demikian, mengapa ibu pertunangkan saja dengan kemenakan Sutan Saidi, yaitu seperti yang tersebut dalam surat bapa, yang saya terima di Batusangkar?”
“Wahai anak, rupanya karena engkau kurang usul periksa sudah terjadi aib yang demikian ini,” kata ibuku sambil menarik napas panjang. “Tidak, bahwa anak engkau Sutan Ibrahim itulah yang kemenakan Sutan Saidi?”
Sunyi senyap, tiada seorang juga di antara kami yang berkata-kata sehabis itu. Tapi tidak lama bapakku telah masuk pula, dengan menggerentang dan merungsung-rungsung. Maka belau pun disabarkanlah oleh ibuku, dan diceritakannya pula salah paham saya itu. Bapaku pun menceritakan keheranannya melihat keadaanku beberapa hari yang lalu ini, lebih-lebih perbuatanku yang belakangan sekali, sebab sudah dua tiga kali beliau bertemu engku Sutan Ibrahim dan engku guru itu selalu memuji-muji dan menceritakan, bahasa saya acap juga datang ke rumahnya semasa di Bukit Tinggi.
Dipendekkan saja cerita ini: aku disuruh tidur dan esoknya aku sendiri mesti pergi menyelesaikan perkara itu kembali kepada orang tua tunanganku, mengaku segala kesalahanku, minta maaf atas perbuatan yang memberi malu itu.
Bagaimana jalannya aku menyelesaikan perkara itu, bagaimana perkawinanku dapat dilangsungkan dengan mak si Buyung, takkan kuceritakan di sini.
Pagi-paginya setelah selesai sekalian perkara itu, maka aku pun pergi menghadap bapakku menyembah dan minta ampun.
“Karena bulan baik, hari baik, hari yang ditentukan buat bermaaf-maafkan bagi kaum Islam,” kata saya, “supaya jangan memberatkan pada saya dunia akhirat, sudah tentu bapa akan....”
Belum sampai kata-kataku itu, sudah diputuskan saja oleh bapaku, kata beliau: “Maaf dan pengahapusan dosa itu ada dalam kuasamu sendiri! Biar seratus kali engkau minta dimaafkan kesalahanmu, mohon diampuni dosamu, biar seratus kali engkau menyebut tobat berjanji tiada akan berbuat kesalahan lagi, sekalipun aku telah memberi maaf dan ampun itu, sekalipun aku telah percaya engkau telah tobat sungguh—dosamu tiada akan terhapus, yang memberikan kepadamu dunia akhirat tiada akan hilang, kalau sekaliannya itu tinggal di mulut saja. Dosamu akan terhapus, tobatmu akan sah, oleh perbuatanmu sendiri—kerjakan dan ikhtiarkanlah supaya sekalian yang akan melaratkan, sekalian yang akan menyakiti hati orang, terjauh dari padamu. Pendeknya ”perbuatan“ itu jauh lebih berguna dari ”perkataan“, ”Usaha“ lebih berpadaah daripada ”niat“.
Mudah-mudahan petua bapaku itu akan dicamkan juga oleh pembaca Panji Pustaka.
4
Hanyut Tak Tentu Muaranya
(Panji Pustaka: No. Lebaran, Thn. 1932)
Seperti air yang menitik-nitik di dalam gua batu layaknya, pelan-pelan tetapi tetap, darah yang menitik dari hatiku yang lukai menjadi telaga akhirnya, dan di dalam telaga darah itu rokhku timbul tenggelam.
Saya ambil surat itu lalu saya baca kembali buat sekian kalinya; dengan tangan yang menggigil saya remas surat itu lalu saya tekankan ke dada saya sebelum kiri.
Akan mudah rasanya memadami api yang baru menyala, katanya. Tetapi api yang menyala di dada saya ini tak kan padam-padamnya, sebab api di dalam dada saya bukannya api lilin, melainkan api listrik dan kontak pemadaman itu sudah hilang, hilang tak dapat diganti lagi. Selama mesin di dadaku masih berjalan, selama itu pula api itu nanti menyala.
Hidup ini ialah mimpi, berbunyi di dalam surat itu. Mimpi? Kalau demikian baiklah saya bermimpi-mimpi, bermimpikan anak sungai yang membelit-belit di kaki bukit yang hijau biru, di bawah kayu-kayuan yang berbuai-buai; baiklah saya mimpikan padang rumput yang berombak-ombak di tiup angin sepoi-sepoi basa, di tempat hewan hidup dengan mewahnya, digembalakan anak-anak yang meniup buluh perindu.
Tetapi di waktu saya belum masuk bermimpi, saya bukannya ber- angan-angan dan mempersaksikan keadaan yang indah-indah, jadi, tentul- lah nanti saya bermimpi bukannya tentangan syurga dan indera, melainkan tentangan azab dan neraka.....
Telah genap tiga puluh hari lamanya saya hidup dalam keadaan yang terbalik. Siang dipergunakan seperti malam, malam dipakai seperti siang.
Puasa telah hampir habis! Cuma semalam ini saja lagi. Dan beresok, beresok, .....Hari Raya!
Dengan adanya hari esok itu, terbukalah lagi pintu kehidupan seperti sediakala, pintu gerbang ke medan peperangan, medan pertempuran hidup, hidup yang tak menaruh kasihan.
Siapa yang lengah dia patah, siapa yang tak awas dia tewas.
Ya, mulai hari esok pintu taman perdamaian akan tertutup. Taman perdamaian? ? Tidak! sekali-kali tiada. Apakah di dalam taman per- damaiian itu tak dilakukan orang lagi penipuan, kejahatan, kecurangan, .....ke.....ke.....? ??
Kecewalah mereka itu yang menyangka bahasa di dunia ini tak ada kejahatan-kejahatan, biar barang sepersemilium detik pun!
Selama bulan puasa itulah makin menjadi penghisapan darah. Barang pakaian, makanan, keperluan rumah tangga naik berlipat ganda harganya. Percuma saja taman perdamaian itu!
Di situ dipertebar-tebarkan orang sampah dan kotoran! erbuang saja hari, berburuan yang tiga puluh hari itu, terbuang, tak ada gunanya seperti hari yang sudah-sudah. Tak jadi masuk pengajaran supaya memberi sesup nasi kepada orang yang sedang menderita lapar, seteguk air kepada orang yang dahaga.
Ah, Tuhan yang kaya!
“Apakah yang engkau menungkan, Adam?”
“Ibu? Ah tak apa-apa.”
Gusti! Berapa pandai saya berdusta. Tak kan luput-luput saya rasanya dari lautan dusta itu. Sebagai seorang sahabat saya karang berbagai bagi dusta buat penyenangkan hati kawan-kawanku, seperti seorang kakak, saya cari bermacam-macam dusta buat penyenangka hati adik-adikku.
“Tak baik diperlihatkan susah hati manakala orang sedang bergirang-girang. Perusak perasaan kamu, namanya.”
Wahai! suatu pengajaran pula, supaya saya selalu berpalsu-palsuan. Tetapi, ibu saya itu tak dapat saya cela, sebab dahulu beliau mendapat didikan seperti itu pula.
“Berjalan-jalanlah ke pasar, Nak! ini uangku masih ada; cukupkah serupiah ini?”
Bunda, bundaku! masih terus menerus engkau memperutangi saya, biarpun belum ada saya angsur utang itu barang sepesar buta pun.
Tatkala saya masih berpencaharian, semasa saya bekerja di hadapan meja tulis, uang yang saya peroleh tiap-tiap habis bulan, saya hamburkan kepada kepelesiran. Tak teringat oleh saya hendak membelikan engkau kekudung buat sembahyang.
Dan tatkala saya diperhentikan berhubung dengan malaise, tatkala saya kembali kepadamu, kamu terima saya dengan girang ke dalam kerajaanmu. Berapa baik budimu! Tetapi saya, saya anak celaka ini, saya gunakan budi baikmu dengan wissel.
Saya turuni anak tangga yang lima! Aku sampai di tanah, tanahku, semenjak dari nenek moyangku. Tanaku. Tanahku? ?? Cuma namanya saja lagi! !!
Saya berjalan di dalam gelap terang-terangan. Dari sela-sela daun kerambil kulihat bintang yang bertaburan, berkelap-kelip, berkilau-kilauan. Ke manakah saya akan pergi?
Ke sana, ke tempat orang membunyikan telempong dan gendang yang menghimbau-himbau? Ke situ, ke tempat petasan yang perdentam-dentam ataukah ke sana, ke tempat mereka yang mengaji Quran?
Bagi hatiku, kemana pun saya pergi sama saja. Tetapi kakiku membawa saya arah ke pasar.
Di rumah yang berleret-leret sepanjang jalan yang saya tempuh, lampunya terang benderang, seolah-olah menyatakan kegirangan kaum yang menghuni rumah itu. Dengar....., dengarlah anak-anak yang berlarian dari ujung kepangkal, dan tertawa ibu bapaknya. Betapa girang mereka itu!
Sedikit pun tak terdengar oleh mereka itu keluh kesah makhluk yang lain. Ah, seandainya kambing dan ayam itu pandai meratap, tentulah pada malam ini mereka meratapkan ratap yang berbuai-buai, sekiranya mereka pandai menangis, tentulah mereka mencurahkan air mata darah, sebab beresok, sedang subuh-subuh benar, sedang pemandangan di Timur gelang gemilang, darah mereka akan tertumpah ke tanah, tertumpah oleh tangan manusia, manusia yang menganggap binatang-binatang itu hak mereka. mengapa, mengapakah manusia mengatakan ternak itu hak mereka, hak yang boleh diperlakukan menurut kesukaan hatinya?
Dahulu, dahulu benar, semasa zaman perbudakan, pihak pertuan mengatakan bahasa budak itu hak mereka yang dapat diperlakukannya sebagaimana kehendaknya. Tetapi hal itu sudah tak ada lagi; sungguhpun masih ada, tentu tak banyak benar kelaliman yang berlaku. Apabilakah masanya binatang ternak itu akan memperoleh perubahan nasib seperti perubahan yang telah jadi dengan budak-budak di zaman yang telah silam?
Alangkah ramainya di pasar ini! Pening kepalaku rasanya melihat orang yang silang siur itu. Ke toko ini, ke kedai itu, ke tempat jualan di sana, berdesak-desakan, berselisih-selisih lalu; Allah, betapa ributnya. Uang yang selama ini dikumpulkan dengan bersusah payah, sekarang diboroskan, dikeluarkan dari simpanan, buat pembeli barang perhiasan, pakaian, makanan dan sebagainya. Sekarang berbukti apa artinya jeritan mereka yang selama ini: “Susah meleset, kelam kabut. Tetapi, ah ya, lupakah saya yang bahasa manusia ini terbagi dalam beberapa bagian? Dan sekarang sedang kelas yang paling bawah menjerit-jerit oleh karena kesengsaraan dan kemelaratan, mereka yang hidup berlebih-lebihan menghamburkan uangnya, menurutkan hawa nafsunya.
Wahai! Hidup yang bernafsi-nafsi.....! Di tempat yang gelap saya berdiri, melihat mereka yang berbondong-bondong itu. Ramai sangat orang menukar di Syanghai Store. Hampir semuanya orang yang keluar masuk di sana bangsaku semata-mata. Mengapakah mereka lebih suka membeli-beli pada toko bangsa asing, padahal di toko bangsanya sendiri tak kurang barang yang bagus-bagus? Gali jugalah tanahmu, dan tanah penggalian itu timbunkanlah ke bukit orang lain! !!
Jemu, jemu sungguh hatiku melihat keadaan ini. Ke manakah saya sekarang lagi? Ke mana-mana saya jadi. dengan tiada kukehendaki, pasar yang hiruk pikuk itu telah jauh di belakangku. Yang kelihatan cuma api lampu saja lagi, yang kedengaran cuma ngaung suara orang banyak dan dentam dentum petasan.
Lima puluh langkah lagi di hadapanku dan saya sampailah ke muka rumah kurungan. Penjara, neraka dunia!
Dari balik dinding yang tebal, mereka yang terkurung mendengarkan sorak, dari orang yang merdeka, dari sela-sela terali, dari mereka yang tertahan itu menengok orang yang pesiar dengan kendaraan yang mah andah. Berapakah hancur hati mereka, berapakah luluh jantung si tertahan.
Akan baikkah jadinya fiil yang jahat itu ditutup buat sekian lamanya, dan kemudian setelah tak mendapat aliran kepada yang mulia dilepaskan kembali ke dalam pergaulan hidup? ??
Seperti bermimpi saya berjalan terus, terus tak bertujuan yang pasti; bermacam-macam pikiran bercabul, hilang satu timbul yang lain. Saya teringat kepada mereka yang saya telah sekian lamanya, bermalam-malam tidur di bawah jambatan-jembatan, berembun, berdingin-dingin, dengan perut yang bergemuruh, dengan anggota yang lemah lunglai. Saya terkenang pada sesamaku manusia yang bekerja di dalam lubang penggalian batu bara, tak berpenerangan, tak berudara yang bersih.
Nampak-nampak olehku mereka itu bekerja di dalam gelap gulita di dalam sunyi senyap yang maha hening; cuma bunyi martil dan penggali yang dikorekkan ke dinding batu arang itu saja yang kedengaran sangat ganjil bunyinya, mengerikan, mendatangkan-: “Harapan yang tak ada lagi.” Cuma malakalmaut saja lagi yang diharap mereka, malakalmaut yang akan melepaskan mereka dari siksaan neraka dunia.
Oh, mereka yang menutupi matanya kepemandangan- “Siksa dan nista”, mereka yang menyambut telinganya kependengaran- “Jerit dan keluh kesah”.
Iblis! kalau ubun-ubun saya ditimpa mumbung celaka itu, pastilah saya pingsan kalau tak kan mati. Saya pun tenang kembali. Tak lama kecemasan bersarang didiriku.
Di dalam perjalanan pulang, bertanyalah saya pada diri saya, apakah barangkali mumbung yang hampir mengenai kepalaku tadi bukannya suatu teguran dari Illahi, agar supaya tak saya bangkit-bangkit lagi kenangan seperti yang telah saya kenangkan, sedari tadi, yakni mengenangkan keadaan yang buruk-buruk dan menyedihkan saja. Kalau benar demikian, ke manakah lagi mesti saya tujukan pikiran saya? Kepada diakah? Tetapi saya tak hendak berpikir tentang dia! Otakku saya larang keras berpikir tentang dia, hatiku saya kunci, kalau hati itu hendak berserikat dengan otak. Tetapi otak itu keras kepala, hati itu tak terkunci teguh oleh saya. Dan sekarang, sekarang ini, sekalian kenang-kenangan, segala keinginan-keinginan itu mengalir ke otak dan ke hati saya, mengalir-mengalir dengan sangat derasnya, laksana air di Batang Anai yang sedang membuas. Dan saya, saya manusia yang lemah ini, hanyut semakin lama semakin ke hilir, hanyut tak dapat ditolong lagi, hanyut tak tentu muaranya.... Anehnya, saya dihanyutkan itu seperti di dalam buaian, seolah-olah bersampan-sampan diriak yang berkejar kejaran. Kalau boleh maulah saya teikenang-kenang itu berhari-hari, berbulan-bulan lamanya.
Jelas sangat, terang terbayang diperanganku kejadian pada lima belas hari puasa itu.
Dia sedang mencari-cari di bawah pagar di muka rumahnya. Tatkala saya hendak lalu dengan diam-diam saja terpandang akan suatu barang yang berkilat di rumpun aur Cina. Saya tunjuk barang itu, lalu ujarku: “Itukah yang engkau cari, Gadis?”
“Mana? Ah, dibutakan Tuhan mata saya sedari tadi. Tetapi barang yang halal tak mudah hilang. Uang tabunganku saya belikan pada gelang ini. Terima kasih.....”
“.....Adam!”
“Adam? oh, manusia yang mula-mula sekali turun ke dunia ini.”
“Ya?”
“Tentu.”
Dia tertawa, sudah itu dia pergi.
Di anak tangga yang paling di atas dia menengok kembali kepadaku. Dengan senyuman dibibirnya dia masuk ke dalam rumahnya.
Dengan cermat saya masukkan cahaya matanya yang lemah lembut itu kehatiku, lagu suaranya yang merdu itu, kepanca indera pendengaranku. Kemudian saya kunci mati, sudah itu saya bubuhi lak bersetempel.
Hampir setiap sore saya berjalan-jalan melalui rumahnya dan selalu saya lihat dia berdiri di pagar.
“Melengah-lengah lapar?” tanyanya.
“Meragu-ragu hati,” kataku.
Dia tersenyum lalu menekur dan saya berjalan terus.
Pada suatu kali pula.
“Letih benar kamu rupanya. Sangat benarkah terasa lapar itu?”
Kata saya:“Bukannya saya letih oleh karena lapar, bukannya saya lesu karena tak makan, tetapi.....”
“Tetapi?”
“Melainkan, tetapi.....ah, mengapakah kamu memandang kepada-ku seperti itu? Tak kuat hati saya menahan pandanganmu itu.”
Saya lihat darah naik ke mukanya‘ pipinya yang putih kuning itu seperti digambari dengan pemandangan di langit sewaktu matahari mulai naik, merah delima sangat indahnya.
“Siapakah namamu?” tanyaku.
“Saya? Ah, namai sajalah saya ini hawa.”
“Hawa? ? Tuhan Azzawajalla! Nama yang mula-mula sekali pernah disebut orang di dunia ini.”
“Seiring dengan Adam.”
“Benarkah?”
“Sungguh!”
“Ah.....”
Saya telengkan peci Indonesia saya sedikit lagi ke kiri; dengan menggaya saya berjalan. Betapa indahnya awan yang berarak-arak itu, betapa bagusnya permainan sinar matahari di sebelah barat. Merdu, sangat merdu bunyi mentilau di puncak kelapa, sangat merdu bunyi daun pimpang di tiup angin sepoi-sepoi basah. Bukankah dunia ini suatu surga?
Tiadakan indah tanah airku, dengan gunung-gunungnya yang hijau biru, dengan awan-awannya yang berarak-arak, dengan danau-danaunya yang beriak-riak? Segala-galanya indah; semuanya molek!
Sorenya waktu berbuka saya makan dengan sangat bernafsu. Malam itu saya pergi ke surau mendengarkan orang mengaji Quran. Sungguh-pun saya tak mengerti apa arti yang dibicarakan orang itu, tetapi dalam kenang-kenanganku saya rasanya melihat syurga.
Dengan tak sabar lagi saya nantikan matahari condong ke barat pada keesokan harinya; dan setelah jam di dinding menunjukkan pukul setengah empat, saya pergi, pergi menemui dia, Hawa.....Hawaku! Saya berjalan dengan tergesa-gesa; saya hendak lekas sampai ke sana, ke sana, kesurgak, tempat saya akan mempersaksikan sepasang mata yang seperti bintang timur, suara yang berlagu-lagu.
Akhimya, akhirnya sampai jugalah saya ke sana. Sangat kencang darah saya mengalir, amat hebat pukulan hatiku. dengan sabar dia berdiri di sana, tenang, seorang puteri layaknya. Perawakannya yang semampai, lehernya yang putih, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah delima, Tuhan yang kaya, bukankah dia bidadari yang menjelma?
“Adam.....” katanya.
Gusti, bunyi buluh perindu! Tetapi, salahkah pendengaran saya? Tiadakah terselip dari lagunya berkata itu suatu kesedihan? Dan cahaya matanya, cahaya matanya itu, tidakah seperti cahaya bulan sewaktu subuh-subuh? Kesedihan apakah yang mengganggu kalbunya, kemasygulan apakah gerangan yang menyiksa sukmanya?
Saya, saya akan bermohon supaya diizinkannya memikul kemasgulan itu.
“Hawa, seperti panas mengandung hujan gayanya kamu disore ini.”
“Saya? Betapakah tiada. Hidup ini ialah mimpi, Adam. Sangka ita, kita berlayar di lautan hidup ini dengan kemudi dan kompas. Kita taksir, kita timbang, kita pikiri masak-masak, tetapi kita, dibawa arus ke jurusan lain juga. Adam, seperti dalam mimpi engkau jumpai saya, laksana dalam mimpi saya tinggalkan engkau. Sudikah engkau membaca ini.....?”
Diunjukkan sepucuk surat bagiku. Lama sekali saya ditentangnya; air matanya menepi-nepi. Dengan menghela nafas dia berpaling, lalu pergi, pergi, meninggalkan saya....saya....Adam....
Saya masukkan surat itu kesakuku sebelum ke atas, saya tekankan kehatiku yang berguncang. Apakah yang mesti kuperbuat, tertawakah atau menangiskah? Di tempat yang lengang saya buka surat itu. Tangan saya menggigil, nafasku sesak rasanya.
Adam!
Seorang penipu saya ini, Adam! Saya tipu diri saya sendiri, saya tipu engkau, kamu, Adam, Adam saya. Semestinya tak patut saya temu-temui juga engkau sesudah pertemuan kita yang mula-mula. Semakin acapkala kita bertemu, semakin dalam luka hatiku; semakin besar harapanmu, harapan yang akan disudahi oleh kecewa. Jikalau saya berharap dan engkau menyangka kita akan dapat masuk ke surga dunia ini, harapanlah embun tengah hari. Sebab saya saja sudah ditukari dengan uang oleh ibu bapaku kepada seorang hartawan, yang berumur lanjut. Beresok, beresok pada hari Raya, kami akan pelesir sejadi-jadinya dengan uang penjualan diriku. Adam, hidup ini ialah mimpi. Lupakanlah saya buat selama-lamanya. Akan mudah rasanya memadami api yang baru menyala daripada memadami api yang telah berkobar-kobar.
Hawa.
Saya menangis, menangisi Hawa, Hawaku yang ditukari dengan uang.
Uang, uang, sekali lagi uang!
Dan saya pun hanyutlah, hanyut, dibawa arus kemasgulan, hanyut bertambah lama bertambah jauh, hanyut tak tentu muaranya.....
5
Kedukan Hari Raya
(Panji Pustaka, No. Lebaran, Thn. 1932)
Selama aku ingat akan diriku-tetapi masa ini belum lama benar lagi, karena umurku baru 12 tahun-perkataan “bado” atau lebaran itu, selalu menimbulkan keriangan kepada kanak-kanak yang sejawat dengan aku.
Oleh sebab itu, mula-mula sangat heran hatiku melihat, ada di antara orang tua-tua, yang termenung mendengar nama hari yang besar ini, seakan-akan menerima berita keduaan. Sekali kudengar ayahku sendiri dengan mengeluh berkata kepada temannya: “Ah, puasa telah datang pula, yang tentulah akan diakhiri oleh bado.
“Tentu”, jawab temannya dengan heran.“Mengapa engkau mengeluh atas kedatangan hari yang baik, bulan yang baik ini?”
“Sebab datangnya itu pun membawa tanggungan, yang kadang-kadang tak mudah dapat dipenuhi”, jawab ayahku.
“Tanggunggan apa?”
“Lebaran itu yaitu hari yang dibesarkan. Dan membesarkan sesuatu itu tiada dapat dengan angin atau cita-cita saja. dapatkah diadakan sekalian keperluan, untuk merayakan hari ini, seperti pakaian, makanan, mercun dan lain-lain, dengan keinginan hati saja?”
Sebagai akan menjadi hukuman atas kealpaanku ini, Tuhan telah merasakan kepadaku, bagaimana beratnya dan sedihnya penanggungan mereka, yang tida dapat menyampaikan cita-citanya, dalam kerajaan pada satu Syawal. Karena beberapa bulan, sebelumnya puasa ini, Tuhan telah mendatangkan percobaan ke atas diri kami berulang-ulang; percobaan yang hampir tak dapat ditanggung-tanggung rasanya..... oleh bahuku yang masih kecil dan lemah ini.
Dua bulan sebelum bulan puasa, tiba-tiba ibuku yang sangat kucintai karena kasih sayangnya kepadaku meninggal dunia. Inilah percobaan yang pertama. Tidakkah terlalu berat hukuman ini, untuk kesalahanku yang sedikit tadi? Wahai! Bagaimana sedih dan hancur luluh rasa hatiku, karena ditinggalkan ibuku yang sangat kucintai ini, janganlah kucoba uraikan di sini, karena tak dapat rasanya aku menyusun perkatan, untuk menyatakan perasaan ini. Tambahan pula bukanlah maksudku hendak memberi pilu tuan-tuan pembaca.
Yang teringat olehku sesudah ditinggalkan ibuku, yaitu akan lenyap-lah ia selama-lamanya dari mataku dan menjadilah aku anak piatu, yang tiada mempunyai ibu lagi.
Adalah sebagai keduaan yang sangat ini belum cukup rasanya untuk memberi insyaf kepadaku, sebulan kemudian datanglah percobaan yang kedua. Ayahku diperhentikan dari pekerjaannya, sebagai mandor pada suatu toko; karena toko ini jatuh ditimpa malese. Oleh sebab itu, tiadalah ayahku beroleh apa-apa, untuk menyambung kehidupannya, buat sementara. Dan sebab di rumah pupanya tak ada pula uang simpanannya, “melesetlah” pula kehidupan kami. Walaupun ayahku segera berusaha untuk mencari pekerjaan lain, sampai mau ia berkuli hari, tetapi sia-sia belaka. Dimana pun tak ada pekerjaan; yang banyak hanya lepasan.
Sejak waktu itu kurasai benar-benarlah kesakitan yang dibawa malese ini. Makanan kian hari kian kurang. Akhirnya ayahku hanya dapat membeli beras saja lagi, yang kami masak jadi bubur. Bubur ini lebih dahulu kuberikan kepada kedua adikku, yang berumur delapan dan lima tahun; karena merekalah yang tiada dapat menahan lapar. Sisanya baru aku makan berdua dengan ayahku. Tetapi tiada berapa lama kemudian daripada itu, bubur ini pun harus ditukar pula dengan jagung dan akhirnya dengan gaplek.
Sekarang datang percobaan yang ketiga. Pada suatu hari aku disuruh pulang oleh guru sekolahku dan tiada boleh datang ke sekolah lagi, sebab uang sekolah tiada dapat dibayar oleh ayahku. Meninggalkan sekolah ini, lebih lebih bercerai dengan teman sejawatku, telah mengiris pula hati jantungku, yang belum sembuh dari lukanya.
Sebab aku memang suka belajar dan kata guruku, hatiku terang; dapat aku kemudian meneruskan pelajaranku ke sekolah yang lebih tinggi. Tetapi apa hendak dikata? Ilmu itu rupanya tiada dapat dituntut dengan tiada berbiaya.
Di situ ayahku menyuruh aku menjualkan kue-kue seorang tukang kue. Walaupun pekerjaan ini belum pernah kujalankan juga sedapat-dapatnya, karena dengan penjualan ini dapat aku beroleh upah 5 atau 6 sen sehari; boleh penambah pendapatan ayahku, yang pada waktu itu telah dapat menjaja kopi giling.
Di dalam hal kami dilamun ombak kemelaratan ini, tiadalah kami rasai pupanya bulan Ramadan kian hari kian dekat.
Pada suatu hari, tengah aku menjunjung kue-kue daganganku, tibatiba kelihatan olehku, teman-teman sekolahku dahulu, datang berlari-lari melompat-lompat dan berkejar-kejaran dengan berteriak dan menyanyi-nyanyi, karena kegirangan hati. Rupanya mereka baru keluar dari sekolah, hendak pulang ke rumah.
“Esok hari kita mulai perai, empat puluh hari lamanya! Selamat dukder, selamat puasa, dan selamat bado!” berteriak sekaliannya.
Dengan terkejut aku dengan khabar ini, karena kerajaan yang besar ini telah kulupakan. Rupanya aku telah ada di muka pintu puasa, yang dahulu mengembangkan hatiku.
Karena termenung beberapa saat lamanya, tersadar akan untungku yang malang, yang tiada serupa dengan untung teman-temanku ini, tiadalah kulihat mereka telah hampir padaku. Tatkala aku hendak melarikan diriku, bersembunyi di belakang sepohon kayu, kedengaran olehku suara berseru: “Hai Di!”-namaku Supardi-“mengapa engkau hendak lari?”. Lalu diburu mereka aku, seraya berkata pula: “Supardi; Supardi: ”Kemudian dikelilinginya aku, sehingga aku tak dapat melepaskan diri lagi.
“Mengapa engkau keluar dari sekolah dan berjual kue ini?” tanya seorang temanku, yang baik kepadaku.
Pertanyaan ini tiada dapat kujawab, karena malu dan sedih aku akan halku pada waktu itu.
Bertambah pilu rasa hatiku, tatkala seorang daripada mereka yang benci kepadaku, sebab selalu dapat kukalahkan dalam pelajaran sekolah, walaupun ia anak seorang yang mampu, berkata dengan ejekkannya: “Bukankah ia telah tamat belajar dan telah mendapat diploma. Sekarang ia berdagang supaya lekas kaya”.
Ia tahu apa sebabnya aku dikeluarkan dari sekolah. Sekarang di-balaskannya sakit hatinya kepadaku, dalam halku yang sedemikian ini, dengan menyindir kemelaratanku. Apa dayaku? Apa dayaku karena memang aku miskin dan sekarang ditimpa kesengsaraan pula. Karena tiada dapat membalas perkataannya ini, kutahanlah hatiku dengan sekeras-kerasnya, sehingga air mataku berlinang-linang kepipiku. Untunglah temanku yang baik tadi berkata dengan segera: “Esok hari janganlah engkau berjualan, tetapi ikutlah aku menonton dukder dan pergi ke Balai Kembang”.
“Nantilah aku bicarakan dengan ayahku”. sahutku.
“Esok pagi aku jemput engkau kerumahmu”, katanya pula, lalu pergi diiringkan teman-temannya, seraya bernyanyi lagu ketoprak (komidi Jawa yang hampir sama dengan komidi Setambul). Aku pun meneruskan penjualanku, tetapi dengan hati yang sedih bercampur cemas.
Tatkala hari itu aku sampai ke rumahku, kulihat ayahku telah kembali dari menjaja kopi giling. Rupanya ia riang sedikit, boleh jadi karena beroleh untuk yang baik. Dengan demikian akan diizinkannya
Mendengar perkataan ayahku ini, hilanglah segala cita-citaku, akan dapat mengikut teman-temanku bersuka hati, karena aku tiada berani melawan perintah ayahku. Sampai jauh malam aku harus menolong ayahku menyediakan apa-apa yang perlu untuk berjual es ini. Dalam pada itu di kiri kanan rumahku banyak kudengar teman-temanku ribut membicarakan perkara dukder ini.
Pada keesokan harinya, kira-kira pukul setengah lima, dibangunkanlah aku oleh ayahku, lalu berangkatlah kami menuju ke Randusari. Walaupun hari masih pagi, tetapi di jalan telah banyak kelihatan orang yang bergegas-gegas pergi arah ke kampung ini. Rupanya mereka pun hendak berjualan, sebagai kami; karena ada membawa beberapa per-kakas penjualan.
Setelah sampailah kami ke Randusari, kelihatanlah di sana berpuluh-puluh orang, telah berjejer timbal balik jalan raya, berjual kembang sampai ke Bargota. Ayahku membeli kembang dan daun ruku-ruku sedikit, lalu mendaki ke gunung Berintik. Tiada berapa lama kemudian, sampailah kami ke kuburan ibuku, lalu ayahku membersihkan kuburan ini, memperbaiki tanah dan kayu nisannya, lalu disebarkannya kembang dan ruku-ruku yang dibelinya tadi ke atas kuburan ini. Sudah itu mengaji dan mendoalah ia. Walaupun pada mukanya tiada seberapa kelihatan kedukaan, sebab ditahannya hatinya rupanya, tetapi pada suaranya yang pilu, dapat kurasai, bagaimana hancur luluh hatinya, karena ditinggalkan ibuku. Oleh sebab itu, tiadalah dapat kutahan hatiku, yang memang telah sebagai diiris dengan sembilul rasanya dan dengan berseru memanggil ibuku menelungkuplah aku ke tanah, yang telah menutup badannya, lalu menangislah tersedu-sedu, dengan bercucuran air mataku.
Rupanya ayahku sebagai tiada mengindahkan tangis dan kesedihan hatiku, karena setelah selesailah ia mendoah, lalu berdiri, walaupun dengan berat rupanya, seraya berkata:“Ayuah, Di!” lalu didagangnya pikulannya berjalan meninggalkan tempat yang sedih ini.“
Tidak berapa lama kemudian daripada itu, sampailah kami ke Balai Kembang, lalu ayahku mencari suatu tempat yang baik, di bawah se-pohon jambu yang rindang, untuk menjual esnya.
Walaupun hari masih pagi, tetapi di sana telah hampir penuh dengan orang-orang yang berjualan makanan, minuman, permainan, kembang-kembang. Sekalian tempat, di bawah-bawah pohon kayu, di pinggir-pinggir taman dan kolam, di atas gunung-gunung batu, di pintu-pintu gua, telah berisi. Memang Balai Kembang ini suatu taman yang amat permai perbuatannya dan cukup dengan segala perhiasan yang mahal-mahal dan elok-elok, sampai kepada binatang-binatang dan ikan-ikannya serta lubang-lubang di dalam tanahnya. Segala kesenangan, kebesaran dan kecantikan, untuk penghiburan hati, sebagai berkumpul di dalamnya. Tiada heran bila ia dapat melipur hati yang empunya, hartawan Oei Tiong Ham, yang masyarakat kekayaannya itu menjadi semarak kota Semarang dan tontonan mereka yang tamasya ke kota ini.
Kian terang cuaca, kian banyaklah orang di Balai Kembang ini, sehingga akhirnya penuh sesak, tiada termuat. Laki-laki dan perempuan, tua muda, kecil dan besar berkumpul di sana, akan beriang-riang hati, sebagai untuk melipur keduaan yang baru diperoleh mereka, tiada berapa jauh dari sana, yaitu di makam Bargota dan Gunung Berintik, tempat keluarga mereka beristirahat, untuk selama-lamanya. Sekalian orang-orang ini memakai pakaian yang indah-indah dan perhiasan yang mahal-mahal, yang sebagai hendak ditontonkan di sana. Bukannya mereka yang memeluk agama Islam saja yang ada di sana, sebagai bangsa Jawa, Melayu, Arab dan keling, tetapi ada juga kelihatan bangsa Tiong Hoa dan bangsa Barat pun. Adalah sebagai Balai Kembang ini tempat keramaian umum. Ada yang membawa bunyi-bunyian, lalu bermain musik, bernyanyi dan menari; ada yang membawa makanan, ada pula yang hendak memberi apa-apa. Terlebih-lebih untuk anak-anak dan pemuda-pemuda, tempat ini memang taman kesukaan.
Tetapi aku, tiada dapat merasai kesenangan itu, seperti tahun yang sudah-sudah, karena harus membantu ayahku berjualan es. Aku di tengah keramaian, dapat melihat dan mendengarnya tetapi tiada dapat merasainya. Untunglah banyak kerjaku, untuk menolong ayahku karena esnya laku lebih-lebih tempo hari mulai panas. Sungguhpun demikian, acapkali tiada juga dapat kutahan hatiku, melihat teman sejawatku berkumpul di sana, akan melepaskan segala keinginan hatinya, lebih-lebih tatkala datang sahabatku, yang telah berjanji kemarin akan membawa aku, minta supaya aku mengikut padanya bersuka-suka hati.
6
Kelana Anak Sumatra
(Panji Pustaka, No. 11, Nomor Lebaran 1932: 189–191, Batavia: Balai Pusaka)
Di tepi pantai nan curam. Di jungut tebing yang berbatu. Di sana duduk seorang kelana anak Sumatra. Duduk berurai air mata. Di be lakangku hutan belaka. Rimba belantara. Angin menderu di puncak pokok. Burung sibuk berbunyi. Ranting dan daun melambai-lambai. Di hadapanku terbentang samudera yang luas. lautan besar. Air sematamata. Alun berarat ke tepi. Riak mengerling. Gelombang bertepak. Ombak memecah di tepi pantai. Berdebur. Menderu bunyinya.
Tiba-tiba aku terperanjat. heranku bukan alang kepalang. Takjubku tak dapat dikatakan lagi. Angin teduh. Gelombang berhenti. Ombak tak kedengaran lagi. Burung tidak berbunyi pula. Puncak pokok terdiam. Manakah riak? Air pun hening. Aku tepekur. Air mataku keluar tidak berhenti. Meleleh dipipiku. Lalu jatuh bertitik-titik. Membasahi bunga kuku empu kakiku. Empu kaki yang telah sekian banyak penanggungannya selama aku mengembara menjadi kelana. Khayal? Ingatanku entah ke mana. Kembali mengulangi jejak yang lama-lama. Surat kepada nan telah sudah. Terkenangkan tanah asal, tempat tumpah darahku jana bijana.
Aduhai... entah teah berapa lamanya sudah aku mengembara tiadalah kuketahui lagi. Rasanya belum jauh benar perjalankanku. Sungguhpun demikian banyak sudah penanggungan yang kuderita. Hanya teringat olehku, rasanya dahulu, sebelum aku mengembara melampaui padang yang luas, tempat aku bermain hanyalah halaman. Pekarangan. Banyak temanku ketika itu. Dan rasanya pada suatu ketika telah sampai juga kami ke sebuah taman. Tapi... nasibku tak baik. Salah-kah bunda mengandung? hidupku selalu kecewa. Senantiasa berusak hati. kadang-kadang hampir aku putus asa... Akhimya melangkah aku dengan tak kuketahui. Berjalanlah aku tak tentu arah. Ke arah yang tidak kumaklumi tujuannya. Menurut kehendak empu kakiku. Perjalanku selalu sunyi. Sunyi dan sedih. Sedih tak ada bandingannya. Dunia ini racun bagiku. Hidup serasa di neraka. Demikianlah penderitan seorang kelana yang kecewa.
Sekarang baru aku ingat. Di pinggir sepanjang jalanku, yang telah aku lalui. Banyak bunga-bungaan tumbuh. terbabar. Yang harum semerbak baunya. Yang jelita warnanya. Tetapi ketika itu aku tak kuasa memetiknya. karena datangnya berduri. Dan aku tak pandai mempergunakan senjata yang ada padaku. Ada lagi yang lebih celaka. Dan inilah yang menjadikan aku menyesal. Bukan semua bunga itu banyak durinya. Tetapi aku alpa dan lalai. Ketika itu belum terniat dihatiku hendak mempersunting kannya. “Nanti kupetik,” kataku lalu aku berjalan terus. Sangkaku akan dapat aku kembali ke sana, atau pada tempat lain akan kudapati juga bunga yang seperti itu. Inilah celakanya. Meskipun semuanya itu masih dapat ku ingat kukenang-kenang, kubayang, kugambarkan di ruangan mataku, tetapi aku tak dapat lagi balik ke sana. Tak mungkin! Dan meskipun dapat, bunga itu takkan bertemu lagi. Hanya sekali saja kita dapat melihatnya, jika tidak kita persunting dengan segera. Ada juga kita yang tak pernah menampaknya, meskipun ia berkembang di muka kita.
Karena kesal hatiku tak tertanggungkan oleh badan. Aku hendak terjun ke dalam laut. Biar jasmaniku ditelan oleh Yu. Agar tak ada seorang manusia yang mengenal kesudahan riwayatku. Rohaniku akan terus mengembara. Menurut peraturan yang telah tersurat. Menepati janji nan dahulu. Agar lekas sampai ke alam baka. Hidup itu telah pahit bagiku. Lebih pahit dari empedu.
Ketika aku hendak terjun. Dengan tak ku sengaja, pandangku melayang ke tengah lautan. Jauh di sana. di tempat air bertepikan langit. Ilam-ilam kulihat sebagai noktah. Makin lama makin besar. Rupanya bertambah dekat. Serupa manusia. Hilang timbul. Ya, serupa manusia. Tapi sejurus ia tenggelam. Timbul... Timbul. Tenggelam pula... Tak timbul... Tak juga timbul... Hai, timbul lagi. Sudah dekat ke tepi sini.
Manusia. Ya, manusia. Orang tua yang telah beruban.
Rupanya ia tiada kuat berenang lagi. Anggotanya lemah. Karena lelah. Karena tua. Batuknya tak berkeputasan. Sebentar-sebentar masuk air ke dalam mulutnya. Hampir-hampir tak dapat ia mengambil napas. Tiap ia timbul ke muka air, selalu orang tua itu memandang dan menunjuk-nunjuk arah ke puncak sebuah gunung, yang amat tinggi di daratan. Dan tiap-tiap nampak olehnya puncak gunung itu, kelihatan mukanya berseri-seri. Tersenyum. Seolah-olah bersukacita dan menaruh pengharapan.
Tapi, sebagai tadi, ia pun tenggelam pula. Tatkala timbul lagi makin dekatlah ia ke tepi. Setelah sampai ke tepi benar orang tua itu mencapai capai hendak mendaki tebing yang tinggi dan curam itu. Beberapa kali akar tempat ia bergantung putus, lalu orang tua itu jatuh pula kembali ke dalam laut. Tenggelam. Timbul pula. Akhirnya dengan susah payah orang tua itu sampai juga ke darat. Ketika tiba di atas ia jatuh pingsan. hanya sebentar saja. Seketika ia sadar juga. Takjubku bukan seperti. Aku tak dapat bergerak dari tempatku. “Jangan heran hai cucuku,” kata orang tua itu kepadaku. “Sebagai cucuku pula nenek ini seorang musafir. Nenek hendak pergi ke puncak gunung yang ada di sebelah hutan ini.”
Kucoba hendak berkata sepatah dua. Tapi suaraku tak mau keluar. Hanya bibirku juga bergerak-gerak.
“Ya, nenek maklum sudah,” jawab orang tua itu. “Cucuku berkesal hati. Cucuku merasa kecewa dengan keadaan cucuku sebagai sekarang ini. Nenek katakan kepadamu, hai cucuku, bahwa kesedihan cucuku itu belum berapa. Berapalah baru penanggungan cucuku jika dibandingkan dengan penanggungan nenek masa dahulu, sewaktu nenek dalam berhal seperti cucuku ini pula. Jalan yang nenek tempuh lebih sunyi dan jauh lebih sukar dari yang telah cucuku lalui itu. Lama nenek berperang. Membuat jalan. Menumbangkan kayu yang besar-besar. Menebas belukar yang banyak berduri. Melawan binatang yang bisa-bisa, yang selalu bertemu sepanjang perjalanan nenek. Beberapa kali nenek terjatuh ke dalam jurang.
Tetapi bila nenek berhal demikian, biasanya nenek melihat peman- dangan yang baharu akan meneruskan perjalanan nenek. Nenek berdiri. Keluar dan berjalan lagi. Tetapi dalam perjalanan yang baru itu tak pula kurang banyak rintangan. Berkepanjangan. Tak ada hingganya. Sungguh tak mudah menjadi kelana. Lebih celaka lagi bila kita ketahui, bahwa jalan yang kita tempuh sunyi adanya. Dan kita tak betah merasakan kesunyian itu. Kadang-kadang sesat kita. Lalu kita katakan Tuhan tidak adil. Banyak pula orang yang putus asa. Lalu tak hendak meneruskan perjalanannya lagi. Ditamatkannya riwayatnya. Dengan jalan yang ngeri. Dipecahkannya pintu. Lalu ia melompat ke dalam, akan beristirahat. Atau ia menarik diri dari pergaulan.
Nenek pun dahulu nyaris berlaku demikian pula. Akan tetapi seketika nenek pun insaf, bagaimana yang sebesarnya dunia ini. Seorang yang telah jauh perjalanannya tak dapat tidak akan mengerti, bahwa dunia ini mayapada adanya. Tempat silap semata-mata. Oleh sebab itu seorang kelana yang hendak sampai cita-citanya tak boleh terperdaya karena itu. Siapa yang telah biasa masuk ke dalam hutan, mendaki bukit menuruni jurang, niscaya akan luas pemandangannya dan lebih banyak mengenal keindahan alam yang sejati, daripada mereka yang pernah berjalan pada tempat yang ramai saja. Kesunyian itulah yang baik tempat berpikir dan belajar. Niscaya akan didengarnya nyanyian burung dan bisikan kuncup yang memaparkan, bahwa ia merasa segar dan berbahagia di dalam embun pagi, daripada ditimpa hujan lebat yang bagi dicurahkan dari langit, yang senantiasa mendatangkan percikan lumpur dan kotoran kepadanya.
Akan tetapi nenek katakan kepada cucuku, bahwa banyak pula orang yang mendapat suatu penyakit di dalam kesunyian itu, yakni penyakit sedih dan kecewa namanya. Barang siapa yang dihinggapi oleh penyakit yang demikian, meranalah ia. Nenek pun dahulu telah diserang penyakit itu. Untung segera juga nenek ketahui, bahwa ada juga kiranya obatnya yang mujarab.“
“Apakah obatnya itu, ya nenekku?” tanyaku dengan tak kusengaja.
“Jangan terlampau banyak kita memandang dunia. Tetapi harus kita kenal akan dia. Tak guna dihiraukan hal dan jalan orang lain, melainkan ikhtiarkanlah supaya kita dapat berjalan terus. Kerjakan apa yang berkenan di hati kita. Harus berpikir dan belajar senantiasa. Lama-lama akan kita ketahui, bahwa masing-masing kita ada di dalam alam dan mempunyai jalan sendiri-sendiri. Semua alam itu sama, tapi tak ada yang serupa. Dan kita harus mengerti, bahwa pada pokok yang berdiri kerap kali kedapatan bunga yang berona bagus dan harum. Di tempat yang sunyi akan kita dengan bisikan dan nyanyian yang merdu serta menarik hati. Banyak orang yang lupa akan itu. Nasihat nenek, teruskanlah pengembaraan cucuku. Jangan berhenti.
Berkelanalah sepanjang musim yang silih berganti.
Di dalam pertukaran hujan dengan panas-susah dan senang, di sanalah terselip suatu kurnia, intan mestika, yang tak termilai harganya, bagi barang siapa yang telah insaf dan mengerti. Ingatlah, bahwa anak air yang tengah besar digunakan bernyanyi dengan merdu ketika ia melalui lembah yang berbatu-batu dan waktu menerjuni tebing yang tinggi-tinggi...Nenek akan melanjutkan perjalanan penek pula.“
....Nenek akan melanjutkan perjalanan nenek pula.“
Lalu orang tua itu membungkuk-bungkuk, mencari sekerat kayu hendak dijadikan tongkat. Sebelum ia berangkat bertanyalah aku: “Ke manakah aku harus pergi, dan jalan manakah sebaik-baiknya kuturut, ya nenekku?”
“Itu tak dapat nenek tunjukkan,” jawab orang tua itu. “Dan cucuku tak boleh bertanya demikian. Harus cucuku sendiri meyakini akan tempat yang cucuku sendiri menentukannya. Jika belum cucuku ketahui carilah sampai dapat. Bila telah cucuku peroleh ketetapan, berusahalan supaya cucuku dapat sampai ke situ. Jika nenek sendiri menetukannya, belum tentu cucuku akan suka pergi ke sana, dan belum tentu pula jalan itu akan dapat cucuku tempuh. Siapa tahu tempat yang nenek katakan baik itu berbahaya bagi cucuku. Sangka nenek ada juga kejadian demikian. Harus cucuku sendiri meyakini akan tempat yang cucuku tujui. Jika demikian niscaya akan cucuku peroleh jalan di mana-mana. Walaupun sukar itulah yang lebih baik. Belajarlah mempergunakan senjata yang ada padamu.
Jika merenangi lautan, jangan gugup menentang gelombang yang besar-besar. Bila telah biasa kelak akan cucuku rasai betapa enaknya bermain-main dengan arus dan ombak—ke tengah dan ke tepi.
Jika cucuku sampai ke seberang, niscaya akan cucuku lihat masya yang lebih indah, yang belum pernah cucuku lihat di tempat ramai. Tetapi harus cucuku ketahui bahasa tak mudah sampai ke sana. Hanya, musafir yang yakin juga yang dapat mencapai cita-citanya. Itu pun tidak selamanya. Sebagai nenek pula, tentu cucuku tidak akan diindahkan orang. Itulah yang lebih baik. Supaya kita bebas mencari jalan. Sekali lagi nenek katakan, teruskanlah pengembaraan cucuku. Melangkahlah. Jangan ragu.
Sangka nenek, sekarang hari lebaran. Lihatlah laut sedang tenang. Angin tak bertiup. Pokok terdiam. Wafak untuk memulai perjalanan yang baru. Ambillah yang sudah-sudah akan jadi perbandingan. Jangan takut akan kesunyian, karena dialah yang akan mengajarmu berpikir. Penderitaan akan mendidikmu dalam segala hal. Dan kesedihan boleh menimbulkan perasaan yang halus dan dalam-dalam. Camkanlah. Nenek berjalan....“
Kukutkan orang tua itu dengan mataku. Beberapa kali tersungkur ke bumi, lalu berdiri pula. Tersesat ke dalam lumpur, surut kembali, surut kembali, lalu berjalan terus. Dan Aku? Entah berapa lamanya terdiri juga di tempatku tadi, tiadalah kuketahui. Entah telah kumulai melangkah entah belum, itu pun tiada aku insaf....
7
Lebai yang Sial
(Panji Pustaka, No. Lebaran, Thn. 1932)
Hari masih dinihari. Meskipun maharaja siang belum memperlihatkan dirinya, tetapi di dapur rumah-rumah orang telah tampak cahaya api kemerah-merahan, menandakan bahwa kaum ibu di rumah itu sedang asyik memasak bukan untuk makan dinihari, melainkan untuk Lebaran yang sebentar lagi akan menjelma ke dunia ini.
Dua jam lagi hari akan siang dan Lebaran yang datangnya sekali, pasal 1, apal, apal, apal,
Di sana-sini kedengaranlah bunyi tabuh bersahut-sahutan, bahannya memenuhi angkasa yang masih gelap dan sunyi senyap itu. Kokok ayam berderai-derai kedengaran dari jauh menyertai bunyi musik tabuh itu, seolah-olah memberi selamat datang kepada Lebaran yang bersama-sama tiba berarak dengan maharaja siang.
Meskipun hari masih pagi benar, tetapi segala ahli rumah telah bangun, yang perempuan pergilah ke dapur dan yang laki-laki duduk bercakap-cakap sambil berselimut kain sarung dan mengisap rokok daun. Bermacam-macamlah percakapan mereka itu, seakan-akan untuk pelupukan hari yang tak beberapa jam lagi. Anak-anak ada yang telah mengeluarkan pakaiannya dengan tak merasa sabar lagi. Tetapi hari masih gelap juga.
Nun pada sebuah surau yang terletak dalam sebuah lembah yang amat sunyi, kelihatanlah cahaya api terkelip-kelip, kemerah-merahan dari celah-celah dinding dapur surau itu. Seorang-orang yang sudah separuh umur yaitu seorang lebih yang diam di surau itu, sedang asyik merebus kahwa duduk berdiang dekat tungku. Dari mulutnya keluarlah asap rokoknya bergumpal-gumpal. Badannya diselimutinya dengan kain selimut yang putih, dan tangannya diulurkannya keapi tungku itu.
“Ah, sudah subuh hari rupanya,” pikir lebih itu dalam hatinya, lalu turun dari surau itu akan pergi mengambil air sembahyang.
Fajar telah menyingsing, kelihatan antara pohon-pohon kayu laksana tabir aneka warna. Di sebelah Timur kelihatanlah bintang kejora bersinar dengan terang, seolah-olah sebutir intan yang besar mengerahkan rakyatnya bintang-bintang lain, yang telah berangsur-angsur juga melenyapkan dirinya sebuah demi sebuah karena ulah perangnya dengan maharaja siang yang gagah perkasa itu. Di dalam lembah itu masih gelap.
Lebai tadi, engku Labai digelarkan orang itu, berjalanlah perlahan-lahan di tepi tebat akan pergi ke pancuran. “Hm,” pikir lebih itu dalam hatinya, “nanti alamat akan kenyang perutku makan kolak, lemang, dodok; hai fitrah banyak pula akan aku terima nanti, ya tentu.....” Tiba-tiba “bum” ia terjatuh masuk tebat, karena asyik mengenangkan juadah yang masih dalam angan-angannya itu. Sebagai ganti juadah yang masih dalam cita-citanya itu, air tebat yang penuh dengan bermacam-macam zat yang kotor itu, masuk kemulutnya sehingga terteguak dengan tiada disengajanya.
Dengan sangat susahnya lebih itu pun mencapai-capai tepi tebat itu akan naik, tetapi tebat itu curam dan tinggi sehingga payah ia hendak naik. Pakaiannya semuanya habis basah dan rebek kena rebat yang ada dalam tebat itu. Dinginnya bukan alang kepalang pula sehingga gemelutuklah giginya kedinginan. Tetapi jalan keluar tidak dapat juga olehnya. Karena akan mengelakkan rebat itu, ia makin ke tengah juga. Lumpur tebat itu dalam sehingga payah ia melangkahkan kakinya, dan sebentar-sebentar ia tertumbuk ke pancang-pancang yang ada dalam tebat itu.
“Di manakah tepinya tebat ini,” ujar lebih itu sama sendirinya seperti suara orang akan menangis.
“Siapa itu?” seru seorang-orang yang kebetulan lalu di tepi tebat itu akan pergi buang air, sambil disenternya ke tengah tebat itu.
“Hai, engku lebai?” kata orang itu, “mengapa di sini engku lebai mandi, dalam tebat yang sekotor ini atau menangkap ikankah engku lebai, ah, hari sedingin ini mau juga lagi engku lebai menangkap ikan.”
“Tidak.” sahut lebih itu dengan gemetar suaranya karena kedingian“, saya terjatuh ke dalam tebat ini, tolonglah senter kemari karena tak tampak jalan oleh saya.”
“Ha, ha, ha,” tertawa orang itu, mendengar jawab lebai itu, lalu disentemya ke tengah tebat itu.“Pada sangka saya engku lebai menangkap ikan, kiranya menangkap ruan.”
Tebat itu pun teranglah karena cahaya senter itu, lalu lebai itu pun kelurlah.
“Hari gelap, tak tampak oleh saya tepi tebat ini, sehingga saya jatuh,” ujar lebih itu setelah ia sampai keluar.“Ya,” jawab orang itu.“sehingga telah mendoa engku lebih dalam tebat, padahal sembah yang hari Raya belum selesai.”
“Nah, sudahlah,” kata lebai itu pula lalu kembali kesuna.
Setelah sampai kesuraunya, diambilnyalah kain sarungnya, lalu ia pergi membersihkan dirinya ke pancuran. Tetapi ia tak jadi lagi sembahyang, entah karena malasnya, entah karena marahnya, entahlah tak dapat ditentukan. Pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari dan selimutnya habis basah, sebasah-basahnya oleh air tebat itu.
Setelah sudah dibersihkannya badannya, kembaliilah ia ke surau. Dengan segera keluarlah sesalin pakaian dari peti lebai itu yang rupanya sekali setahun saja memperlihatkan dirinya kepada orang banyak. Setelah sudah dikenakannya pakaiannya itu, disediakannyalah cangkir dan piring serta beberapa juadah yang diberikan orang kepadanya. Kemudian pergilah ia ke dapur akan menjemput kahwa dan nasi. Akan pembawa nasi itu dibawanya sebuah piring besar, kahwa dengan periuknya saja dibawa nanti.
Setelah sampai ke dapur, dibukanyalah jendela dapur itu. Baru saja dibukanya jendela itu, tampaklah kepadanya periuk tanah tempat ia merebus kahwa itu telah pecah dan kahwanya habis terbuang sedikit pun tak ada lagi tinggal. Seekor kucing tengah menengok-nengok juga ke atas, rupanya tadi ia mengejar tikus sehingga melanggar periuk kahwa itu, yang membasahkan tungkunya.
Baru saja dilihatnya hal itu, tahulah ia apa yang terjadi, lalu diletak-kannya piringnya dekat tungku dan kucing itu diambilnya lalu diempas-kannya ke tungku itu “Tak” bunyi piring itu pecah ditimpa kucing itu. Kucing itu larilah dengan tak ada suatu kerusakannya, sebab kakinya yang tiba dipiring itu.
Lebai itu berdirilah dengan sangat meradangnya melihat hal itu serta katanya sama sendirinya: “Untung tak periuk nasiku yang pecah, tak berisi perutku sepagi ini.”
Ya, apa hendak dikata, kahwa terbuang piring pecah pula; api padam tungkupan berair, baju basah selimut koyak. Akan dihidupkan api, tak dapat lagi sebab tungku telah menjadi kubangan. Nah, apa hendak diminum lagi, kahwa telah habis. Dengan memberengut dimakannyalah nasi dengan air dingin saja.
Matahari telah memancarkan sinarnya ke muka bumi ini, makin lama makin bertambah tinggi, dan sinarnya bertambah terik juga. Di jalan besar kelihatanlah hamba Allah berjalan berduyun-duyun, akan pergi sembahyang hari Raya ke mesjid.
Di sana kelihatanlah engku lebai bersarung pelakat, berbaju jas hijau dan pada kepalanya terlilit sehelai tuala. Betapalah lenggang dan lenggok beliau berjalan, aduh putus rangka hati orang tua melihatnya.
Lebai itu ialah lebih yang jadi pokok ceritera kita ini. Di kampung tempatnya tinggal ia telah digelarkan orang “lebail kolak,” sebab ia suka sekali makan kolak. Kalau ada beberapa juadah dan ada pula kolak, nah di situlah beliau bertumpu dahulu. Lebih-lebih lagi kalau ada pula le-mang, “tidak tersapa mertua lalu lagi,” kata orang kini.
Begitulah, sesudah sembahyang hari Raya, pergilah ia dengan seorang temannya akan mendoa ke rumah orang. Pada lahirnya lebih itu akan pergi berdoa, tetapi pada batinnya “komisi kolak.”
Pada tiap-tiap rumah yang dinaikinya, kebiasannya terus ada kolak dan lemang. Maka kolak dan lemang itulah yang ditandaskan oleh beliau-lebai “kolak” itu-di sana. Yang lain pagi tadi betul teringat tetapi sekarang sudah beliau talak tigakan.
Kira-kira pukul 12 ia merasa perutnya memilin-milin, lalu ia minta izin kepada temannya akan kembali kesuraunya.
“Hai” ujar temannya, mengapa pulang, besok tak ada kolak lagi.
“Biarlah,” jawab lebih itu, lalu kembali ke suraunya.
“Ah, celaka,” pikirnya, “kolak sedang banyak, perut sakit, ya apa boleh buat, meskipun selera mau, perut tidak.”
Setelah sampai kesuraunya, berbaring-baring ia dan sebentar-sebentar ia mengaduh kesakitan. Pintu dan jendela ditutupkannya, sebab malu ia kalau-kalau ada orang masuk. Kalau ada orang masuk, tentu terbuka rahasianya bahwa ia sakit perut. Sedang ia menekan-nekan perutnya itu juga, kedengaranlah kepadanyanya orang berkata.“Hai kak, ke mana kakak akan mengantarkan fitrah itu?” tanya yang seorang.
“Maksud saya kepada engku lebai ini,” jawab yang seorang lagi.
“Aku hendak kemari juga,” sahut orang yang tadi pula.
“Tanggiran,” kata seorang dari perempuan itu, kepada seorang laki-laki yang lalu di situ, “ke mana engku lebai?”
“Entahlah,” jawab orang itu, “boleh jadi ia pergi menandaskan kolak, maklumlah ia ”lebai kolak.“
“Ya, boleh jadi,” jawab kedua perempuan itu sambil tertawa gelak-gelak.
“Lebih baik berfitrah kepada orang lain saja,” ujar laki-laki itu pula.“Kalau kolak difitrahkan kepadanya, boleh jadi diterimanya dengan dua belah tangan, tetapi kalau beras ia tidak di surau.”
Sebentar kemudian heninglah kembali.
“Hai, malang,” kata lebih itu seorang dirinya“, akan kupanggil malu aku, wahai untung celaka.”
Begitulah lebih itu menyadar untungnya dalam surau itu, sambil menekan-nekankan perutnya. Hari telah malam tetapi lebih itu suatu pun tak ada diperolehnya lain daripada sakit perut karena “komisi kolak.”
Belilah kain, sutera merah.
Mandi berempat berlimau perut,
Orang lain menerima fitrah,
Awak mendapat sakit perut.
8
Lukisan Ruwah
(Panji Pustaka, Nomor Lebaran, 1932: 181—184)
Dr. Amran melihat seorang perempuan dengan anaknya membersihkan kuburan di bawah pohon kamboja, dan semenjak itu sering kali timbul kembali pemandangan dalam pikirannya dan pada akhirnya ia seperti terdorong, terpaksa menggambar penglihatannya itu pada kain.
Sudah lama ia tidak memegang palet dan pensil lagi, akan tetapi pada ketika itu tangannya sebagai dikemudikan jiwanya dan ia bekerja seperti dalam mimpi....
Ia termenung di depan lukisannya.
Ruwah. Ia terkenang akan waktu masih ia anak-anak, ia membersihkan kuburan neneknya dengan ibunya, teringat akan selamatan, sawah kerbau, gembala, batang air, akan udara kampung, kawadanan tempat bapanya.
Ramadan. Ia seperti mendengar beduk, Allahu Akbar azan, suara orang mengaji di mesjid. Ia duduk dekat bapanya, yang menanti waktu berbuka, di atas permadani.
Lebaran. Orang berduyun-duyun datang ke rumah bapanya. dalam hatinya kegirangan. Mercon. Dalam mulutnya... sebatang rokok.
Kejadian yang sekecil-kecilnya timbul kembali dalam kenangannya. Heran, manusia tidak pernah jadi tua, tidak pernah lupa akan waktu yang silam.
Ia sekarang doktor, akan tetapi kenang-kenangan ini dicintainya, sungguhpun ia dipengaruhi peradaban Barat.
Kenang-kenangan ini menjadi satu suara, yang memanggil dia, ya, ke mana?
Besok akan dikirimnya telegram kepada ibu bapanya, mengucapkan selamat Lebaran. Tahun yang lalu selalu ia lupa, sebenarnya bukan lupa, tetapi karena tidak berguna pada pikirannya. Agama... olok-olok.
Ya, besok akan dikirimnya telegram. Surat tidak bisa lagi.
Wajah ibunya terpandang olehnya dan ia tersenyum dengan cinta.
Sudah itu datang muka Tuti, matanya mengerling.
Amran tertawa dengan geli dan setelah itu mukanya muram; ia mengenang Sulastri dengan anaknya.
Sunyi benar dalam rumah ini.
Suara anaknya tidak didengarnya.
Lukisan itu belum sempurna. Daun itu harus lebih hijau dan bunga itu terlalu putih.
Ia mengambil baju penggambar, dipakainya, dan ia mulai men-campur cat pada palet.
Sulastri. Sebenarnya ia berbudi halus. Apakah sebenarnya, maka mereka tidak hidup dengan damai lagi?
Mengapakah begitu banyak perkawinan runtuh? Apakah salahnya pada batinnya?
Rabindranath Tagore dan Graf Keyserling....
Och, bayang-bayang itu kurang hitam....
Kebosanan, ya, kebosanan, itulah pangkal mulanya.
Sunyi benar sekelilingnya. Seperti sendirinya saja di atas dunia.
Ia duduk di atas kursi dan memikirkan keadaannya.
Ahli pengetahuan, bolehkah berperasaan seperti ia ini?
Ia tahu, bahwa ia tidak berbahagia di sisi Sulastri, akan tetapi, akan tetapi, akan berbahagiakah ia dengan perempuan yang lain? Tuti. Ach, adakah sebenarnya cinta? Dan apakah bahagia? .
Di manakah dasar kesukaran ini semuanya? Di manakah
Ia berdiri dan mengambil pensil.
Sulastri tidak bersalah satu apa. Ia yang berdosa, tidak mempunyai dasar yang tetap.
Benar perkataan Suratman di Geneve dahulu itu. Peradaban Timur sudah jauh dari padanya dan peradaban Barat tidak menjadi sendi adatnya, tidak menjadi darah dan dagingnya.
Ia berdiri pada watas dua dunia.
Akan tetapi kalau sesungguhnya ia orang Timur atau orang Barat, akan berbahagiakah ia dalam perkawinannya?
Jangan berpikir, jang berpikir!
Bagaimana keadaannya? Uang cukup, tidak ada yang kurang baginya, tetapi, tetapi....
Jangan berpikir, Goddomme, jangan berpikir!
Sulastri, ya Sulastri, God, ya, Sulastri.
Ia seperti anak-anak, ia, doktor Amran.
Pengetahuan, ha! Daging manusia disayat-sayatnya, dan di mana jiwanya?
Kebenaran berada di ujung pisau lancet!
Cita-citanya dahulu: memberi penerangan kepada bangsanya... pikiran anak-anak.
Mengapa ia tidak turut tadi dengan si Ahmad ke perjamuan itu? Sekarang ia sendirian dengan pikirannya dan sesalnya.
Kalau ia pergi ke Sukabumi, bagaimana? Ia tahu, bahwa Sulastri akan menerima ia. Tahu? Ya, tahu, karena budi Sulastri amat halus. Dan budi inilah yang diinjak-injaknya, dicemarinya. Buat dan karena Tuti. Buat Tuti? Ia sama sekali tidak cinta kepada perempuan ini, sama tidak. Apakah sebabnya, kalau begitu?
Lebih baik ia pergi juga ke perjamuan itu. Anggur. Tuti. Riang.
Sepatunya harus ditukarnya. Dan dasinya. Dasinya sudah baik.
Daun ini lagi.
Mengapa hatinya bimbang sekarang? Och, bukan sekarang ini saja.
Sudah. Sudah dari dahulu. Jiwanya seperti selalu bertengkar.
Bayang-bayang batu ini kurang gelap.
Sulastri sesungguhnya baik benar.
Dasi mana dipakainya? Lebih baik ia bekerja terus.
Tetapi, terlalu sunyi!
Terdengar olehnya suara orang tertawa, antaranya gelak perempuan dan beberapa sahabatnya masuk, bersama Tuti.
Titi berkata dengan tertawa
“Lihat, tuan doktor menggambar! Aku tak tahu, bahwa engkau itu Bintara Tagore!”
“Satu Abanindranath Tagore!”
“Satu Abindranath Tagore. Siapa bisa membilang nama itu!” “Jangan pakai!”
“Cih,” kata Tuti, Tidak mengacuhkan perkataan orang itu, “gambaran kuburan! Tuan doktor ingin dicabut Malaikulmaut jiwanya!”
Sekaliannya tertawa terbahak-bahak.
Ahmad berkata:
“Pabila kembali dari mekkah, bang Haji?”
“Coba ucapkan doa kunut!”
“Alfatiha!”
“Tentu dikantungnya ada kitab Jasin!”
“Kitab sipat dua puluh!”
“Bhagavad-Gita!”
“Gilakah engkau? Itu buku Hindu!”
“Afa khabr, tuan Sayid? Afa ada fulus?”
“Kami hendak pesta di sini!”
“Untuk menghilangkan segala pikiranmu kepada maut!”
“Seorang membunyikan gramofoon.”
“Keep your sunny-side up!” teriak suara dari mesin bicara itu.”
“Dan Amran ditolak-tolak dan ditarikan mereka itu, sambil bernyanyi.
Seorang yang sungguh tinggi budinya, bangsawan hatinya, bisa mempengaruhi satu kumpulan orang dengan tidak berkata satu apa pun. Dari badannya keluar sesuatu yang tidak bisa dirasa, tida bisa diterangkan. Apalagi keluar orang dikenal oleh yang melihat dia, mengetahui kehidupannya dan pekerjaannya.
Orang yang seksar-kasarnya merasa kekurangan dalam tabiatnya dekat orang yang berbudi mulia, walaupun ia barangkali sesudah itu menekan perasaannya dan mengambil sikap yang kasar, yang diperlebih-nya dengan sengaia. Tetapi biarpun sebentar, ia sudah melihat jiwanya sendiri, memandang dirinya berpakaian buruk, kotor dan hina dalam sinar matahari yang terang benderang.
Ketika sahabat-sahabat Amran melihat Mr. Suratman di muka pintu, mereka diam sekoyong-koyong, tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Sebentar mereka merasa jurang yang dalam antara dirinya dengan pujangga yang mulia itu, yang mengorbankan dirinya dengan tulus dan ikhlas akan cita-cita yang tinggi.
“Maaf,” kata Suratman, “tetapi jongos menyuruh saya masuk ke dalam. Saya mau berbicara sebentar dengan doktor Amran.”
Amran memberi salam kepadanya.
“Pabila datang dari Jokya?”
“Kemarin.”
“Hendak apa di Betawi ini?”
“Saya harus berpidato besok pada perayaan Lebaran.”
“Saya harus berpidato besok pada perayaan Lebaran.”
Suratman maju ke muka dan memandang lukisan Amran beberapa jurus lamanya. Teman Amran keluar semua dari bilik itu seorang demi seorang.
“Maharesi.”
“Ha, ha!”
“Aku selalu hendak pingsan melihat Ulama!”
“Hi, hi, hi! Ha, ha, ha!”
Sekaliannya menunjukkan kekasarannya untuk menutup malunya akan diri sendiri.
Amran mempersilakan Suratman duduk.
Suratman berkata:
“Lukisan ini menerangkan kepada saya, bahwa kedatangan saya ke sini ini tidak akan sia-sia, karena tuan rupanya masih berperasaan halus.
Sebenarnya saya tidak suka mencampuri perkara orang yang lain, akan tetapi karena perkara ini amat penting bagi jiwa seorang orang, saya perlukan datang ke sini.
Saya baru datang dari Bogor.
Dari Sunarya saya mendengar, bahwa isteri tuan sekarang sakit payah.“
“Sulastri?” kata Amran terperanjat. Sudah itu ia bersadar kembali dan berkata lambat-lambat:
“Ibu bapanya ada di sini.”
Isteri tuan berada di Bogor, bukan di Sukabumi. Bapanya tidak suka menerima dia. Sebab itu ia pergi ke Bogor, ke rumah kenalannya di kampung, keluarga babunya dulu.“
“Mengapa ia tidak pergi ke rumah sakit?”
“Ia tidak mau menerima pertolongan siapa pun. Dan orang kampung tidak bisa mengurus dia.”
“Saya pergi menemui kewajiban saya... sebagai doktor.
Saya kira malaria tropicana timbul kembali.“
“Tuan tidak akan pergi sebagai doktor saja, tetapi juga seperti suami.”
Amran menunjukkan kepalanya. Beberapa jurus setelah itu, ia berkata:
“Tuan tidak tahu akan perhubungan kami.”
“Saya mendengar berita dari kenalan tuan di Bogor. Dasar kesukaran ini ialah peradatan tuan, yang tidak tetap itu.”
“Bukan saya saja yang demikian. Tidak terhitung banyaknya perkawinan yang runtuh.”
“Sesungguhnya, akan tetapi pada tuan asalnya lebih lagi dari yang biasa. Sebab yang biasa itu dibesarkan oleh perasatan yang tidak mempunyai dasar yang teguh itu. Di Geneve sudah saya terangkan kepada tuan, bahwa tuan berdiri pada watas dua dunia. Karena itulah kesukaran tuan lebih dari orang yang tidak terpelajar.
Tuan berpengetahuan Barat dan berperasaan Timur. Kalau kedua-duanya tuan cocokkan, tentu tuan berazas yang kukuh dan tentu tuan umpamanya tidak begitu lekas dan mudah meruntuhkan perkawinan tuan.
Bagi saya kerusakan perkawinan tuan ini yaitu daripada akibat keadaan jiwa tuan, yang tidak tetap bentuknya itu. Tiak ada kedamaian dalam hati tuan.“
Amran merasa seperti ada tirai yang terbuka dalam jiwanya.
“Besok hari lebaran dan di dunia Islam orang akan merasa dirinya bersatu, akan melupakan waktu yang silam dan memulai kehidupan yang baru.
Akan berdiri, kiri-kiri tetap sebagaiisticah, sebatang keta, di tanda mencoba menegakkan gedung kehidupan yang baru, berbunyi dalam lingkungan jiwa sendiri, enggan menyatakan diri dengan lautan kedamaian?
Aram berdiri dan berkata dengan suara yang gemetar:
“Perkataan tuan menjawab soal kehidupan saya.”
Suratman tegak juga.
“Ada yang tidak saya ceritakan kepada tuan tadi, sebab saya suka, supaya tuan jangan pergi ke Bogor karena kasihan. Sebenarnya isteri tuan bangkit kembali malaria tropikanya, akan tetapi ada yang menambah bahayanya: ia akan melahirkan anak, barangkali besok.”
Amran terperanjat. Dipegangnya telefoon dan dimintanya seorang doktor di Bogor dengan selekas-lekasnya membantu isterinya dan menanti dia. Sudah itu disuruhnya seorang verpleegster sebentar itu juga datang ke rumahnya. Ia memberi perintah kepada supir membawa auto ke depan dan perkakas yang perlu dikumpulkannya.
Suratman pergi ke luar dan berkata kepada teman-teman Amran yang menanti di beradan.
“Doktor Amran akan pergi ke Bogor, karena isterinya sakit payah.”
Sekaliannya, lain daripada Tuti, terkejut. Och, sebenarnya tidak ada orang yang rendah pekertinya.
Setelah Amran datang, mereka menjabat tangannya dan mengucapkan ucapan yang tidak karuan, karena tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Mereka pun pergi. Tuti lebih dulu membilang dengan suara yang mencaci: “Pergilah jaga binimu!”
Mendengar ini Suratman tersenyum, sebagai melihat perbuatan anak-anak....
Auto berjalan selekas-lekasnya dalam malam itu.
Amran tidak mendengar bunyi beduk dalam kampung-kampung, bunyi mercon, suara keriangan.
Ia cuma mengenang Sulastri dan anaknya dan keadaan jiwanya.
Akan terlambatkah ia datang? Bagaimanakah kalau demikian kehidupannya nanti? Senantiasa mengingat kesalahan, merasa kesal yang tidak terhingga?
Orang banyak menyangka, bahwa atau meester sudah sunyi daripada perasaan manusia; mereka dipandang sebagai dewa.
Amran tertawa dengan kesakitan, sehingga verpleegster yang dekatnya terkejut.
Dewa ia barangkali bukan manusia, tetapi “bukannya” itu arah ke bawah, bukan arah ke atas!
Ia pembunuh badan dan pembunuh jiwa. Tidak berdasar tidak berhaluan. Tidak berkeluarga, tidak bercinta. Ia melayang antara bumi dan langit. Berdiri pada watas dua dunia.
Suratman. Orang ini mencocokkan Timur dan Barat. Ia selaku batu karang di tengah gelombang, kuat dan kukuh. Tahu apa yang dikehendakinya. Mengemudikan kehidupannya dengan tangan yang tetap. Tidak suka membiarkan dirinya di bawa-bawa, diempas-empaskan golombang.
Amran menunjukkan jiwanya kepada pujangga ini, seperti kepada Mahaguru, kepada orang yang lebih tinggi derajatnya dari dia.
Seperempat jam lagi. Amran memegang dinding auto dengan erat-erat-erat-erat, seperti ia akan turun sebentar lagi. Yang dilihatnya cuma rumah tempat Sulastri.
Bogor.
“Supir, kiri! ... Kanan! ... Kanan! ... Kiri! ... Brenti! ...
Zuster, kita sudah sampai!“
Dengan verpleepgster itu Amran melalui beberapa jalan kecil dengan bergegas-gegas.
Doktor temannya itu berdiri di muka dan menerangkan dengan kata yang pendek-pendek akan keadaan istrinya.
“Papa!”
Seorang anak kecil berlari kepadanya, dijunjungnya dan diciumnya.
“Sri! Schatteke! Lieveling!”
Dibawanya lari ke dalam, didirikannya di situ.
“Ah, juragan!” kata seorang perempuan tua.
“Juragan istri...”
Amran mencium sterinya.
“Ri, Ri!”
Cinta yang tidak terhinggi kedengaran dalam suaranya.
“Ran,” sahut Suhartri dengan lemah. Sebentar matanya berkilat-kilat, sudah itu ditutupnya kembali....
Semalam itu Amran berjuang dengan bahaya maut. Keringat ketakutan mendidih dari keningnya. Ia seperti berdiri di muka ketiadaan, di tepi jurang yang gelap gulita.
Dasar jiwanya berguncang, pikirannya serasa kosong.
Pukul dua lahirlah anak Sulastri dan ia jatuh pingsan.
Dua jam lamanya ia melayang antara hidup dan mati.
Akhirnya ia tertidur. Bahaya sudah menyingkir!
Amran mengawasi muka istrinya, yang menunjukkan penderitaan itu, dan dengan cinta berahi diciumnya tangan Sulastri perahan-lahan.
Dari menara mesjid kedengaran suara azan:
“Allah Akbar, Allah Akbar!”
Hari yang baru sudah mulai.
Amran berdiri lambat-lambat dan pergi ke luar. Angin yang sejuk, membawa keharuman bunga menghembus kepalanya.
Ia merasa dirinya satu dengan dunia, kedamaian masuk dalam hatinya.
“Allah Akbar, Allah Akbar!”
Hari yang baru sudah mulai.
Hari Raya Aidilfitri.
9
Sesal Dahulu Pendapatan Sesal Kemudian Tidak Berguna
(Panji Pustaka, No. Lebaran, 1932)
menyesali diri berulang-ulang.
Hidup melarat, tidak sentosa,
sedih dan kesal datang bersilang.
Petang berebut dengan senja, sinar matahari mulai suram cahayanya. Di langit sebelum barat teja membangun, membujur terbentang tinggi, kuning mas terbarat kesegenap penjuru alam. Awan bertumpuk dan berteriak-riak, lalu berarak lambat-lambat, amat indah dipandang mata. Tak jauh sebelum sananya berbaris awan kemerah-merahan yang disilih awan putih yang bersalutkan kuning kelabu. Di belakang panca warna yang permai, terbentang langit lazuardi, jernih laksana sutera biru halus. Pohon-pohon sudah agak kabur tampaknya. Sinar kuning kemerah-merahan itu berangsur-angsur berubah warnanya menjadi lembayung. Di atas teja terbayang mega kehitam-hitaman, sebagai jalan ke gua yang penuh rahasia keajaiban di dalamnya.
“Dum” meriam berbunyi bagi putus tunggal hendak membelah bumi, mengejutkan penduduk seluruh kota Betawi. Bunyi meriam yang dahsyat itu disambut oleh tabuh di mesjid, di sela tabur di langgar, bersahut-sahutan tabuh yang banyak, hingga bergegar bumi karenanya.
“Besok Lebaran! Besok Lebaran!” demikianlah kedengaran seru anak-anak di kampung-kampung, sambil berlari-lari ke sana-kemari, melompat-lompat dan bersorak-sorak, akan menunjukkan riang dan suka cita hatinya. Mereka itu berlarian menuju warung-warung Tionghoa, sehingga warung itu penuh sesak oleh anak-anak yang berebut-rebutan membeli mercun. Sekalian anak-anak yang berasak-asakan dan berteriak-teriak, mengacungkan uang dengan tangannya, supaya petasan itu lebih dahulu diperolehnya, dilayani tukang warung dengan cekatan dan senyum-senyum manis, sebab ia beruntung berlipat-lipat ganda daripada yang biasa. Sungguh makan tangan tukang-tukang warung yang menjual petasan, karena keuntungan yang tidak tepermansi banyaknya itu me- ngalir ke dalam saku mereka itu. Tidak diwarung-warung saja, bahkan di toko-toko di Pasar Senen dan di Pasar Baru pun penuh sesak orang membeli petasan untuk anak, adik dan kemenakannya.
Pada tiap-tiap rumah orang Muslimin amat terang cahaya lampu, sedang bagi orang yang agak berada sekeliling cucuran atap rumah-nya penuh terpasang tanglung aneka warna. Di serambi muka, sampai-sampai ke pintu gapura rumahnya, berderet-deret tanglung, amat indah-indah dipandang mata. Di pekarangan anak-anak ribut bermain membakar mercun, disertai pula dengan sorak dan teriak yang sangat riuh. Mereka tertawa bergirang hati, melompat menghambur-hambur berkejarkejaran dengan kawan-kawannya. Demikian pula halnya orang-orang yang sudah dewasa umumya, tidak pula kurang sukacitanya. Perempuan-perempuan di dapur yang sedang memasak pangan yang lezat citaras-anya, kedengaran tertawanya terkekeh-kekeh. Mereka bekerja dengan gembira memperlihatkan kepandaiannya membuat kue-kue, gulai dan lain-lain sebagainya.
Tabur di langgar dan di mesjid tidak berhenti-hentinya berbunyi. Bunyi mercun berdentam-dentam, gegap gempita, bagaikan terangkat bumi Allah karenanya. Tidak ubah sebagai di medan peperangan rupanya, karena bunyi petasan dan tabuh itu sebagai bunyi bedil dan genderang perang kedengarannya. Asal mengepul, bunyi api berterbangan ke udara, riuh amat sangat. Memang sudah selayaknya demikian, karena malam penghabisan mereka menahan haus dan lapar yang telah tiga puluh hari lamanya. Ya, malam itu malam takbiran, dan esok harinya segala umat Islam akan memuaskan hawa nafsunya.
Sebuah rumah petak kecil di gang Aliasman, Pasar Baru, hanya diterangi oleh sebuah lampu dinding kecil, terkelip-kelip cahayanya, agaknya kurang minyak. Di serambi muka rumah itu tampak seorang perempuan muda duduk pada sebuah kursi kayu yang telah tua. Melihat kepada tampang mukanya, umur perempuan itu tak kan lebih dari 20 tahun. Hidungnya mancung, kulitnya kuning langsung, seperti udang kepalang panggang. Sungguhpun wajahnya pucat lesi dan pipinya agak cekung, tidaklah mengurangi kebagusan perempuan itu, karena dihiasi oleh rambut yang ikal berombak-ombak seperti mayang mengurai.
Tingginya sedang, pinggangnya ramping, gemuk tidak kurus pun bukan. Lehernya yang jenjang dan pemandangan yang seperti pelita padam itu menarik hati barang siapa yang melihatnya.
Rosnah, demikianlah nama perempuan itu, duduk sambil memeluk seorang anak yang sedang tidur. Ia memandang merenung ke halaman dengan tidak bergerak sedikit pun. Sungguhpun anak-anak ribut membakar petasan di kiri kanan rumahnya dan bunyi tabuh tidak berkeputusan, tetapi semuanya itu seolah-oleh tidak kedenang olehnya. Matanya hampir tidak dikejapkan, ia duduk sebagai patung. Rosnah bermenung, pikirannya melayang memikirkan nasibnya. Tiba-tiba ia menarik nafas, lalu meraba-raba lehernya dengan jarinya yang halus sebagai duri landak itu, seolah-olah ada yang dicarinya. Maka air matanya pun jatuh berlinang dipinya. Rosnah menangis mengenangkan hidupnya yang celaka itu. Sambil menghapus air matanya dengan lengan baju, ia mengeluh ke dalam hatinya: “Aduhai, ..... nasibku!
Dahulu, dua Lebaran yang sudah, dengan suamiku yang dahulu, hidupku senang dan sentosa. Kita hidup berkasih-kasihan, rukun dan damai sepanjang hari. Pakaianku cukup, lemariku penuh berisi kain baju yang mahal-mahal harganya. Perhiasan pun tidak pula kurang, dileherku tergantung liontin berlian dengan rantai masnya; lenganku dilingkar gelang mas yang bertatahkan permata yang amat indah-indah, dan telingaku dihiasi oleh kerabu berlian yang terang cemerlang cahayanya. Pada waktu hari akan Lebaran begini, mesin menjahitku selalu berputar membuat pakaian untukku sendiri, buat ibu bapak pamiliku. Ya, dahulu hidupku berkemewahan, sekalian kaum keluargaku amat kasih sayang kepadaku. Sanak yang jauh menjadi dekat, seorang pun tak ada yang kutolak, jika mereka meminta tolong kepadaku.
Tentang keadaan rumahtanggaku pun jangan dikata lagi. Perkakas rumah cukup dan baru-baru belaka. Aku mempunyai lemari kaca, lemari makan dengan meja dan kursinya. Di serambi muka terletak sepasang kursi yang amat bagus buatannya. Pada dinding bergantungan beberapa pigura dan piring-piring kuno yang amat indah-indah ukirannya.
Beberapa jambangan bunga daripada kuningan berkilat-kilat kena sinar matahari. Amat teratur perkakas rumah tanggaku, tak ubah sebagai rumah tuan-tuan.“
Rosnah teringat akan kesenangan hidupnya dengan suaminya yang dahulu. Segala kepelesiran, kesentosan hidup di masa yang sudah tampak-tampak di matanya. Ia terkenangkan bagaimana ia hidup seia-sekata, setidak sebukan, sehilir semudik dan beramah tamahan dengan suaminya itu. Maka Rosnah pun melayangkan pemandangannya ke langit biru yang jemih tak berawan itu. Nun.....jauh di sana, dikelilingi oleh bintang-bintang yang sedang gemerlapan cahayanya, terbayang nyata di mata Rosnah wajah bekas suaminya itu, melambai-lambai hendak menarik dirinya daripada lembah kesengsaraan hidup pada masa itu. Air mata perempuan itu jatuh bercucuran dengan tidak berhenti-hentinya. Rosnah menangis tersendu-sendu mengenangkan nasibnya yang celaka dan selalu dirundung malang dengan suaminya yang sekarang itu.
Sejak ia cerai dengan suaminya yang dahulu, dan kawin pula dengan suaminya yang sekarang itu, sebulan dua ada juga manis tingkah lakunya dan baik budi bahasanya kepadanya. Tetapi sejak itu tidak sedikit juga ia berhati sabar. Kalau ia berkata-kata kepadanya, selalu dengan marah dan muka masam saja. Acapkali terjadi perselisihan. Dalam perselisihan itu acapkali pula dideritanya pukul dan sepak terjangnya. Sudah beberapa kali Rosnah terpaksa bersembunyi (mencari perlindungan) di rumah kenalannya yang tak berapa jauh dari rumahnya. Tidak hal itu saja yang ditanggungkannya, akan tetapi sekalian barang-barangnya yang dibelikan suaminya yang dahulu itu lambat laun habis terjual sama sekali, untuk memenuhi keperluan suaminya yang sekarang itu. Ia tak hendak memberi belanja, bahkan untuk makan pakai dan belanjanya sehari-hari, disuruhnya menggadai atau menjual barang-barangnya. Rosnah tidak berani menolak permintaan suaminya itu. Jika sedikit saja dibantahnya, tak dapat tiada sepak terjang dan pukulan akan bertubi-tubi datang kepadanya.
Di hari Lebaran yang lalu Rosnah belum celaka benar-benar nasibnya, sebab barang masih ada lagi sisa-sisanya. Tetapi sekarang.....sekarang hidup Rosnah sudah tidak karuan lagi. Sekalian barang-barangnya telah habis sama sekali, hanya pakaian yang lekat di badan itulah saja lagi yang tinggal. Ia telah jatuh melarat, makan pagi tidak petang. Yang akan dijual tak ada lagi untuk nafkah hidup; sengsara nian hidupnya. Karena tak ada lagi dayanya, sedang perut perlu diisi, terpaksa Rosnah mengambil upah cucian di sebelah menyebelah rumahnya. Ya, dia hidup boleh dikatakan dengan belas kasihan orang saja. Sekalian kaum keluarganya yang dahulu sangat kasih sayang kepadanya, sekarang seakan-akan menjauhkan diri daripada. Mengenangkan hal itu amat sedih hati Rosnah, ia menangis tersenduh-sendu. Kesenangannya dahulu dan kesengsaraannya sekarang, yang sangat berbeda sebagai siang dan malam, sangat menghancurkan hati jantung perempuan yang malang itu.
Tiba-tiba Rosnah terperanjat, mukanya berubah dan berseri-seri sebagai orang bersuka hati. Agaknya terlihat kepadanya barang sesuatu yang sangat menarik hatinya. Segala kesedihan yang meremukkan hatinya itu hilang lenyap, berganti dengan suka yang bersalutkan harap-harap cemas.
Tidak jauh dari rumah perempuan yang sedang bersedih hati itu, ada sebuah rumah yang terang benderang cahaya lampunya. Anak-anak bersuka raya memasang petasan. Mereka bertambah riang bersorak-sorak dan berlompat-lompat, sebab “om”nya datang, seorang laki-laki muda remaja, membawa buah tangan dan berbungkus-bungkus mercun. Tak lama kemudian laki-laki muda itu keluarlah dari dalam rumah itu, lalu duduk di serambi muka bercakap-cakap dan melihat anak-anak bermain-main.
Orang muda itukah yang menghilang lenyapkan gundah gulana dalam hati Rosnah? Siapa ia? Tidak lain dan tidak bukan, muda teruna itulah bekas suaminya dahulu. Melihat laki-laki itu keluar, ia bermaksud hendak menemui orang muda itu. Setelah ditidurkannya anaknya ke tempat tidur, maka ia pun turun ke halaman. Ketika ia melangkahkah kakinya ke pintu gapura, tiba-tiba kedengaran suatu suara memanggil namanya. Rosnah berpaling, maka nyatalah kepadanya bahwa yang memanggilnya itu suaminya yang baru pulang dari jalan-jalan. Dengan kesal dan sedih yang tak dapat dikatakan, perempuan itu terpaksa balik ke rumah, terus masuk ke dalam, terus masuk ke dalam.
“Apakah yang engkau tunggui di luar, Rosnah?” ujar suaminya sambil menghardik.“
“Saya menunggu-nunggu abang, sebab lama benar maka pulang!” jawab perempuan itu dengan lemah lembut.
“He! menunggu aku?” jawabnya dengan mengejek, sambil melayangkan pemandangannya.“Pandai benar engkau mengalih-ngalih, pembohong. Itu yang duduk di serambi rumah di muka itu, siapakah? Diakah yang engkau lihat, binatang? Hendak balikkah engkau kembali kepadanya monyet? Sungguh kurang ajar benar engkau, perempuan jalang.....! Ingin pulakah engkau hendak mendapat ketupat Bangkahulu daripada?”
Mendengar perkataan suaminya demikian itu, Rosnah ketakutan, gemetar seluruh badannya. Ia berdiam diri saja, sepatah pun tidak dijawabnya. Amat sedih hatinya mengenangkan untungnya yang malang itu. Sekalian orang pada malam itu bersuka-sukaan dengan anak isterinya, akan tetapi dia jangankan bergirang hati, melainkan selisih yang bersua. Remuk redam, hancur luluh hatinya memikirkan nasibnya yang celaka itu. Semalam-malaman itu matanya tak dapat dipejamkannya. Berbagai-bagai ingatan yang datang menggoda pikirannya. Teringat olehnya masa yang telah lalu. Ia menyesali dirinya tidak berkeputusan. Diremas-remasnya dadanya karena pedih rasa hati jantungnya. Lahimya ia jatuh miskin, batinnya jatuh celaka, melainkan oleh perbuatannya sendiri juga. Ia kurang sabar. Ia tidak tahu menghargai kasih sayang dan cinta suaminya.....sehingga ia terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Malam itu ia insyaf akan kesalahan dirinya karena tidak setiap kepada suaminya yang demikian mengasihinya.
Akan tetapi semuanya itu tak ada gunanya: Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Lain tidak ia mengucapkan: istigfar berulang-ulang, bertobat kepada Allah Subhanahu Wataala.
Dipohonkannya kehadirat Tuhan supaya kesalahannya diampuni-Nya. Maka ditetapkannyalah pikirannya. Karena esoknya hari baik bulan baik, ia hendak datang ke rumah bekas suaminya. Rosnah akan meminta ampun dan maaf sekalian kesalahannya. Hendak dinyatakannya sesaknya yang tak berkeputusan atau perbuatannya yang sudah-sudah itu, sehingga membawa perceraian antara dia berdua. Sesudah dipikirkannya habis-habis, barulah matanya dapat dipejamkannya, dan tidak lama kemudian tertidurlah perempuan itu.
Keesokan harinya pukul 7 anak-anak kecil sudah banyak berbondong-bondong dengan pakaiannya yang bagus. Di dalam saku bajunya penuh berisi dengan mercun yang akan dibakarnya sepanjang jalan. Tidak lama antaranya sudah kelihatannya orang-orang hendak pergi sembahyang “ Idulfitri ke mesjid berama-ramai.
“Ma, sudahkah Ma bersihkan rumah?” seru orang muda pada sebuah rumah di Petojo kepada seorang perempuan yang tua umurnya.“Sudahkah Ma memasak air? Lihatlah, orang-orang sudah berduyun-duyun hendak pergi sembahyang hari Raya ke mesjid. Sebab sekarang hari baik, barangkali kita kedatangan tamu. Sebab itu bersedalah Ma! Semua kue-kue itu letakkanlah di atas meja supaya gampang nanti kita memper-silahkan tamu yang datang ke mari.”
Orang tua yang dipanggilnya Ma oleh orang muda itu, ialah bujangnya yang menguruskan rumah tangganya setiap hari. Semenjak ia bercerai dengan istrinya, ia tinggal menyewa rumah sendiri. Perempuan tua itulah yang menguruskan dia dan rumah tangganya.
Perempuan itu datang keluar menemui orang muda itu, lalu berkata: “Semua sudah Ma sediakan, kue-kue, kopi dan lain-lain Nasi pun sudah Ma sajikan. Lebih baik makanlah engku muda dahulu, barangkali engku muda akan pergi ke rumah famili dan kawan-kawan memberi selamat Lebaran. Rumah dan pekarangannya pun sudah Ma bersihkan.”
Dengan tidak menjawab lagi orang muda itu terus berjalan menuju mesjid, dan sembahyang Idul Fitri. Setelah sudah sembahyang, pulang kembali, lalu pergi makan. Sudah makan dibakarnyalah rokoknya sebatang dan ia rebahkannya badannya di atas kursi malas karena dirasanya masih terlampau pagi akan pergi menjelang keluarga dan handai tolannya. Sambil menghirup rokoknya, maka pikirannya melayang-layang ke negeri tumpah darahnya, mengenangkan kaum keluarganya di kampung. Sedang bermenung demikian, sekoyong-koyong ia terperanjat sebab dilihatnya dari jendela seorang perempuan beberguk sambil mendukung seorang anak berjalan menuju rumahnya. Perempuan itu diiringkan oleh seorang perempuan tua. Dengan segera orang muda itu keluar, ingin hendak mengetahui siapakah perempuan yang tergopohgopoh datang menuju rumahnya itu: hanyalah kepadanya bahwa perempuan itu tidak lain dari istrinya yang sudah diceraikannya kira-kira dua tahun yang lalu.
Dengan hati yang berdebar-debar kedua perempuan itu dipersilah-kannya masuk ke dalam rumahnya. Apakah gerangan maksud perempuan itu datang menemuinya? Setelah kedua perempuan itu minum dan makan kue-kue yang sudah disediakan oleh Mak bujangannya, barulah orang muda itu mulai bertanya, apakah maksud dan niatnya datang itu.
Dengan air mata yang berlinang di pipinya dan dengan berat-berat juga lakunya, sekali-sekali perempuan itu menegakkan kepalanya memandang kepada orang muda bekas suaminya itu dengan sayu, katanya: “Sejak dari semalam adinda sangat bersedih hati memikirkan nasib dan untung malang adinda. Tak putus-putus adinda menyesali diri adinda. Sejak adinda kakanda ceraikan, adinda selalu dirundung malang. Sekarang adinda hidup sengsara dan melarat. Pakaian dan barang-barang yang kakanda belikan untuk adinda dahulu, sudah habis berangsur-angsur adinda jual untuk nafkah hidup adinda.
Sekarang adinda insyaf akan diri adinda. Adinda menyesali diri amat sangat, karena perceraian kita tersebut adindalah. Akan tetapi apa boleh buat, semua itu barangkali sudah untuk dan nasib adinda. Adinda memang berdosa kepada kakanda, dan dosa itu tidak dapat diampuni kalau sekiranya tidak kakanda maafkan. Itulah sebabnya maka adinda datang kemari menemui kakanda, akan minta ampun dan maaf segala kesalahan adinda yang telah sudah itu.
Adinda maklum dan mengetahui bahwa kedatangan adinda kemari ini memang kurang baik dan janggal di mata orang. Akan tetapi orang karena hati adinda yang tulus dan bersih, adinda bawalah Mak tetangga adinda ini akan menyaksikan bahwa adinda datang ini hanya akan mengakui segala kesalahan adinda yang telah lalu dan mohon sudah kiranya kakanda memaafkan adinda yang celaka ini.“
Rupanya masih banyak lagi yang terkandung dalam hati perempuan yang malang itu, akan tetapi tak dapat dilahirkannya karena suaranya putus oleh kepiluan hati dan air matanya.
Amat sedih hati anak muda itu melihat bekas isterinya. Apalagi ketika dilihatnya pakaian Rosnah dan mukanya yang pucat kurus itu, belas kasihan bergelora dalam sanubarinya. Segalanya itu menunjukkan kesengsaraan yang dideritanya lahir dan batin. Ya pilu dan sedih silang berganti dalam hatinya. Ia terkenangkan semasa ia hidup beruntung dengan perempuan itu. Akan tetapi dengan cepat segalanya kenangannya itu ditahannya, sebab perempuan itu telah menjadi istri orang lain dan telah beranak pula. Dengan suara yang tenang tetapi lemah lembut anak muda itu berkata:
“Segala yang adinda katakan itu sudah kakanda maklum! Kakanda sudah mafhum bahwa adinda menyesali perbuatan adinda yang telah lalu itu. Kesalahan adinda itu sudah kakanda ampuni dari dunia sampai di akhirat, kendatipun adinda tak menemui kakanda kemari. Kakanda maklum bahwa perbuatan adinda yang sudah-sudah itu ialah karena kurang pikir juga. Karena hawa nafsu adinda dapat didaya syetan sehingga adinda jauh terperosok ke dalam jurang kesengsaraan dan kemelaratan. Apaboleh buat sebabnya lain tidak karena adinda kurang pikir juga. Oleh sebab itu akan ganti pengajaranlah oleh adinda semua yang terjadi itu. Ingatlah tiap-tiap yang buruk menimpa diri kita itu, akan membawa kebaikan perubahan yang sempuma juga akhir kelaknya. Dan kakanda pun minta juga dimaafkan segala dosa, khilaf dan alpa kakanda.
Biarlah kita berpisah dengan bersih putih pada kedua pihaknya.....
Sekarang kembalilah adinda pulang, jangan terlalu lama di sini. Nanti kalau suami adinda tahu akan kedatangan adinda kemari ini, tentu ia marah kepada adinda. Dan boleh jadi menimbulkan yang tak baik bagi adinda suami istri.“
Dengan segera orang muda itu membuka tempat uangnya, lalu dikeluarkannya sehelai uang kertas digenggamkannya kepada anak yang didukung oleh perempuan itu, sambil dibelai-belainya pipinya. Dengan kemalu-maluan serta dengan hati yang sedih sesudah mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kebaikan bekas suaminya itu, perempuan itu pun turunlah lalu pulang ke rumahnya. Sampai jauh Rosnah diikuti dengan matanya oleh orang muda itu. Setelah hilang dari pandangannya diambil sapu tangan, disapunya matanya karena dengan tidak dirasainya air matanya telah jatuh berleperan di pipinya.
Sepanjang jalan perempuan itu tak berkata-kata barang sepatah juga, seakan-akan dibiarkannya badannya di lamun oleh perasaan yang sedang mengiris-ngiris hatinya.....Dari jauh tampak rumah yang ia tinggali dengan suaminya.....dengan anaknya.....dan makin dekat rumah itu makin hancur remuk hatinya.....sebab di situ tak ada bahagia bagianya.....
10
Surat dari Ibu
((Panji Pustaka, No. Lebaran, Thn, 1932)
Saya hitung-hitung.....sudah empat tahun kurang sebelas hari lamanya saya di negeri orang. Jauh dari kampung halaman bercerai dengan kaum keluarga, sanak keluarga.
Sudah tiga kali Lebaran saya berhari raya di negeri orang saja. Sekali ini ingin benar saya hendak pulang ke kampung. Entah apa sebab karenanya.
O, ya, karena itu saya tua. Dan beliau telah berulang-ulang pula berkirim surat, menyuruh saya pulang juga dalam Lebaran di muka ini.“.....jika tidak akan lama, barang beberapa hari saja cukuplah. Sebelum saya menutup mata untuk selama-lamanya hendaknya melihat juga saya, engkau seperti anak orang pula.”
Demikian bunyi surat beliau yang saya terima tiga hari menjelang puasa ini.
Pening kepala saya memikirkan, entah kepada siapa pula beliau minta tolong membuat surat itu-sebab ditulis dengan huruf Belanda. Beliau hanya pandai menulis huruf Arab. Dan biasanya, kelau ada sesuatu hal penting yang hendak berleai khabarkan kepada saya, peliau sendirilah yang menulis surat itu. Berjam-jam, yah kadang-kadang sampai beberapa hari peliau mengarangnya. Untuk sampulnya senantiasa peliau saya kirimi beberapa hal yang telah saya bubuhi alamat secukupnya. Tetapi kadang-kadang kalau sudah kehabisan benar-pandai juga rupanya peliau meniru alamat saya itu. Entah bagaimana dan berapa lamanya peliau mempelajari menuliskan keenam patah perkataan itu, sungguh saya sendiri heran memikirkannya.
Surat yang ditulis dengan huruf Belanda baru sekali ini saya terima dari beliau-ibu saya-. Pasti bukan belaiah yang menulisnya.
Sakitkah beliau? Mengapakah sekali ini beliau minta tolong kepada orang lain? Dan kepada siapa?
Darah saya berdebar-debar. Entah perasaan bagaimana yang timbul di dalam hati saya ketika itu, tak dapatlah saya katakan kepada pembaca.....
, Sebelum saya menutup mata untuk selama-lamanya hendaknya melihat juga saya, engkau anak orang pula……“ Entah berapa kali saya ulang membacanya.
Saya perhatikan bentuk tiap-tiap huruf di dalam surat itu.
Siapakah yang menulisnya? Tulisannya rebah; bentuk hurufnya-panjang dan kurus-kurus belaka.
“Tidak! Apa gunanya saya menenung-nenung surat dari ibu! !
Surat ini datang dari ibu saya. Beliau menyuruh saya pulang dalam Lebaran ini. Dan saya sudah ingin pula hendak pulang. Habis perkara. Saya mesti pulang!“ Demikian saya putuskan.
Tetapi saya harus sabar dahulu barang dua puluh hari lagi. Karena ada sesuatu hal yang penting tak dapat saya terangkan kepada pembaca.
Tiga hari menjelang lebaran! Pukul lima petang. Sayang tiba di kampung. Srrr.....
Bukan buatan terperanjat saya.
Dari jauh kelihatan oleh saya banyak orang di rumah. Seorang.....memikul perian. Sakit keraskah ibu saya atau.....?
Telah terlambatkah saya tiba?
Mengapakah tidak dipermulaan puasa tempo hari saya pulang! sekarang terlambat sudah.....?
Ketika sampai di tepi pagar saya berdiri sebagai patung. Tak kuasa rasanya saya berjalan lagi. Hampir pula saya rebah. Tubuh saya gemetar dan terasa lemah.
“Hai sudah tiba? Langkah kanan benar rupanya dilangkahkan dari jauh ini. Petang ini ma makan memanggil orang berbuka. Mengapa bermenung di sini? Teringat akan.....nan di negeri orang?”
Dengan terperanjat saya menoleh ke belakang. Kiranya si Dalima, yang tengah memikul perian baru kembali dari sumur.
“Pandai benar kau mengejut-ngejuti orang, Dalima,” jawab saya. “Saya serasa-rasa kelupaan. Tetapi entah apa dan di mana tinggalnya, itulah yang saya pikir-pikirkan dari tadi tiada juga teringat.”
“Sudah saya sangka. Lepaskanlah dahulu supaya teringat.....” katanya pula, lalu berjalan pulang.
Ibu saya selamat. Sehat walafiat. Hanya terasa oleh saya beliau lekas benar bertambah tua dalam empat tahun ini. Selama saya tinggalkan. Tiada lama kemudian datanglah orang akan berbuka.
Betapa ramainya percakapan sesenja itu tentulah pembaca akan maklum. Sedang makan pun kami terus juga berkata-kata, memperpincang keadaan di negeri orang dan hal-hal di kampung.
Ketika tabuh Isya telah berbunyi kami pun pergilah ke surau akan sembahyang. Semalam itu saya tidak serta bertarawih. Badan saya sangat letih. Sesudah sembahyang Isya saya kembali pulang.
Maksud saya hendak tidur. Tetapi mata saya tak pula mau dipejamkan. Bermacam-macam pikiran dan kenang-kenangan datang mengganggu.“Siapakah yang menulis surat tempo hari itu? Mengapakah ibu minta tolong kepada orang lain, padahal beliau tak kurang suatu apa?
“Masih tak dapat saya terka.
Tiba-tiba terpandanglah oleh saya kain selendang yang tersangkut pada tali dekat dinding.
Ketika itu terbayanglah di ruangan mata saya kehidupan kami dengan Dalima, dahulu.....Ia itu kemenakan ayah saya. Semenjak dari kecil sampai-sampai ke bangku sekolah kami selalu bergaul. Sebentar-sebentar bertengkar dan berbantah, tetapi semenit sesudah itu lalu berbalik pula. Sehari saja saya tidak mendengar perkataan yang kasar-kasar daripadanya sudah gelisah saya rasanya. Demikian pula kalau saya tengah bekerja dengan diam-diam, sebentar-sebentar diganggunya. Kalau saya marah-marah ia tertawa. Dan kalau ia menangis sebab mendapat marah dan sebagainya, selalu pula saya perolok-olokkan.
Masih teringat oleh saya ketika pada suatu kali saya berbuat demikian pula, lalu dilemparnya saya dengan tempurung. Kena kepala saya dan berdarah. Saya menangis. Tetapi ia tertawa pula. Bukan buatan panas hati saya. Lalu saya kejar dia. Tetapi ia segera lari ke dekat ayah.
Waktu dilihatnya kepala saya makin banyak juga darahnya keluar, sudah cemas pula ia rupanya. Tentu saja ia menyesal. Tetapi tak berani ia mengatakan kepada ayah. Dan saya pun tiada hendak mengadukan dia, sebab tentulah kami berdua akan sama-sama mendapat bahagian pula dari ayah. Demikianlah biasanya; sebab itu tidak pernah kami mengadukan, meski apa sekalipun yang diperbuat oleh seorang kepada seorang. Kami sama kami saja menghabisinya-meski apa sekalipun yang diperbuat oleh seorang kepada seorang.
Ketika itu hari Lebaran-entah beberapa tahun yang silam, saya tak ingat lagi. Baju saya yang masih baharu dan bersih telah penuh dititiki darah. Sakit luka saya itu tak terasa amat oleh saya. Tetapi hati saya bukan buatan kesalnya. Baju saya hanya sehelai itu yang berdobi. Yang lain hanya baju sehari-hari, tak ada yang dapat dipakai di hari Lebaran.
“Baik! Sama-sama menanggungkan kita, ”kata saya seorang diri. Dengan diam-diam saya pergi ke dalam bilik. Saya keluarkan kain selendangnya-yang akan dipakainya hari itu-dari dalam peti, lalu saya titik-titiki dengan darah kepala saya.....
“Sekarang saya berbalas sudah. Rasai pula oleh kau,” pikir saya, lalu kain itu saya lipat kembali bagus-bagus dan saya masukkan pula ke dalam peti. Belum sempat saya menutupi peti itu, tiba-tiba saya dengan ibu berkata; “Dalima! Darah apa ini yang bertitik-titik di tangga ini, Dalima? Lihatlah sampai-sampai ke atas bendul.....”
Dengan tak berdetik sedikit juga saya lalu ke belakang ibu. Setelah tiba dirusuk beliau saya keluar cepat-cepat. Saya pergi. Tak saya dengarkan lagi beliau bertanya dan memanggil-manggil.
Saya pergi mencari kawan bermain. Tetapi kebanyakan mereka itu menjelekkan saya. Bajunya bagus-bagus dan bersih belaka. Saya dikata-kannya berbaju cita.
Meskipun hati saya sangat panas karena kesombongan mereka itu, tetapi saya tahan saja. Akan pulang saya tidak berani. Saya ikut-ikutan juga mereka dari belakang. Tidak lama kemudian baju mereka itu kotor pula. Lebih kotor lagi dari baju saya. Ketika itu barulah mereka mau berteman dengan saya. Tetapi hati mereka saya ketahui sudah. Dan saya tak dapat lagi menahan hati saya hendak bertemu pula dengan Dalima.....
O, kehidupan kami semasa kecil! Beberapa tahun yang terlampau!
Sudah empat tahun kami tidak bergaul lagi. Saya tinggalkan dia, dan saya pergi ke negeri orang. Pada mulanya canggung benar rasanyasaya bercerai dengan dia. Dan ia pun akan demikian pula agaknya.
Meskipuun-hm-saya sangat rindu, tak pernah saya berkirim surat kepadanya. Sekalipun tidak! Dengan sengaja saya berbuat begitu. Saya tahun benar hati saya. Jika tidak demikian tentu telah lama-sekurang-kurangnya setahun dua-saya sudah diayun dibuaikan oleh surat-surat percintaan. Ah, tidak. Saya belum sekali juga menulis ataupun menerima surat percintaan.....
Sekarang kami bertemu kembali. Adakah pergaulan kami akan seperti dahulu pula?
O, tak mungkin! Sekaraang ia seorang gadis. Dan saya.....seorang anak muda.
Tentang keadaan saya di hari lebaran sekali ini rasanya tak ada yang hendak saya ceritakan kepada pembaca. Hanya yang penting bagi saya sendiri ialah karena sekarang saya ketahui sudah, kepada siapa ibu saya minta tolong menulis surat tempo hari itu.....
Beberapa hari sesudah lebaran ini saya akan berangkat kembali ke negeri orang. Dan saya telah berjanji dengan ibu dan kaum keluarga, bahwa enam bulan lagi saya akan pulang pula ke kampung, beberapa hari lamanya.....
11
Tersinggung Pernya
(Panji Pustaka, 4 April 1933, thn. XI, No. 27)
Dari Redaksi:
Sebagai pengarang tuan Kasim telah lama dikenali orang. Terutama sekali tentang karang-mengarang yang lucu-lucu sampai dewasi ini masih payah mencahari orang yang dapat menyamainya. Sebab itulah amat girang hati kami dapat memberitakan kepada pembaca P. P. bahwa tuan Kasim telah berjanji akan menulis cerita-cerita yang menarik hati dalam halaman majalah kita ini.
Dja Dasun baru sekali ke kota Medan. Ia datang bersama-sama dengan beberapa orang teman, menjual lembu ke sana. Lembunya dua ekor, terjual dengan harga bagus, sebab itu ia hendak tinggal di kota Medan barang beberapa hari, hendak mencoba bagaimana senangnya tinggal di kota.
Sudah banyak rupa makanan yang telah dikecapnya selama tinggal di kota itu dan macam-macamlah penglihatan yang mengherankan dia. Satu daripada yang amat menakjubkan hatinya, hanya lampu listrik di Bioskop, yang menyala dan padam dengan sendirinya.
Pada suatu malam, setelah habis menonton, ia masuk ke warung orang Keling.
“Mau makan?” bertanya yang punya warung
“Ya...” kata Ja Dasun.
“Ya...” jawab Ja Dasun, meskipun ia tidak tahu makanan apa se-benamya, yang bernama demikian.
Ja Dasun pun makan dengan tiada menoleh-noleh dan dalam waktu yang sedikit dua kali meminta tambah, nyatalah ia amat kelazatan.
Habis makan, sambil menyapu-nyapu mulut dan kumis, ia bertanya: “Berang?” katanya
“Berapa?” katanya.
“Sembilan ketip!” jawab tulang pelayan.
“Alangkah mahalnya!” memberengut ia, seperti berkata dengan dirinya sendiri. “Pakai....candu, ya?” bertanya ia.
“Candu apa?” menjawab orang warung itu, sebagai keheranan dan seperti hendak marah.
“O, tidak, tidak,” jawab Ja Dasun sambil membayar utangnya.
Baharu saja ia keluar, seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya terus berdiri dan bertanya kepada tukang warung:
“Apa kata orang itu? Saya dengar ia mengatakan candu!”
“Ya... tetapi apa maksudnya, saya tidak mengerti,” jawab orang warung itu.
Laki-laki itu—rupanya ia seorang sersi—terus keluar, lalu mengintai perjalanan Ja Dasun dari belakang.
Akan menghindarkan kendaraan yang lalu lintas, Ja Dasun berjalan dari pinggir sekali.
Tiada berapa jauh dari rumah tempat ia menginap, kakinya bersantuk kepada suatu barang dan kebetulan waktu itu lampu listrik, yang terpasang di tempat itu lalu padam.
‘Celaka ini...!“ kedengaran Ja Dasun mengeluh sambil berlari.
“Tunggu...!” berseru sersi tadi.
Mendengar teguran itu, Ja Dasun mempercepat larinya, mengelok ke kiri, mengelok ke kanan dan tiada berapa lama sampai ke rumah tempat ia menumpang, terus menumbur pintu dan masuk ke dalam.
Orang yang empunya rumah sangat terkejut, apalagi setelah melihat Ja Dasun terengah-engah dengan muka yang amat pucat.
“Mengapa engkau?” bertanya yang empunya rumah.
“Celaka saya!”
“Celaka bagaimana?”
“Per apa yang engkau singgung?” bertanya yang empunya rumah dengan amat heran.
Belum sempat Ja Dasun menjawab, pintu ditokok orang dari luar dan sersi tadi masuk ke dalam.
“Siapa yang baru masuk ke rumah ini?” bertanya sersi itu.
Orang yang empunya rumah tidak menjawab, hanya memandang kepada Ja Dasun.
“Ikut aku ke pos polisi,” kata sersi itu kepada Ja Dasun.
“Janganlah adukan saya bang, tidak saya senga ja itu!”
jawab Ja Dasun dengan gemetar.
“Marilah ikut, nanti di kantor boleh engkau terangkan apa yang hendak engkau terangkan,” jawab sersi itu.
Mau tak mau, Ja Dasun terpaksa menurut dan sesampai di pos polisi, sersi itu pun melaporkan pendengarannya kepada kepalanya.
Oleh karena tuduhan itu berhubung dengan candu gelap, Ja Dasun terus diperiksa. Setelah ia menerangkan namanya dan nama kampung-nya, kepala polisi meneruskan pemeriksaan:
“Apa kerjamu datang ke Medan?”
“Menjual lembu, tuan!”
“Dan candu itu di mana engkau simpan?”
“Candu apa, tuan?” bertanya Ja Dasun dengan terbelalak, karena keheranan.
“Tadi ada engkau menanyakan candu kepada seorang Keling. Benar atau tidak?”
“Benar, tuan, tapi bukanlah saya hendak membeli atau menjual candu.”
“Jadi apa maksudmu menanyakan candu itu?”
“Saya bertanya kalau-kalau gulai kambing itu ada dicampuri dengan candu.”
“Apa perlunya?” bertanya kepala polisi itu dengan heran.
“Sebab gulai kambing itu amat enak dan mahal harganya, tuan.”
“Ya, kalau enak dan mahal, apa pertaliannya dengan candu?”
“Kata orang, candu itu amat enak dan mahal harganya, jadi saya sangka gulai itu dicampuri candu.”
Mendengar jawab Ja Dasun itu, sekalian yang hadir tertawa gelak-gelak.
“Dan apa sebabnya engkau lari, waktu engkau melihat orang ini datang?” tanya tuan itu sambil menunjuk kepada sersi itu.
“Saya takut, tuan!”
“Sebab apa takut?”
“Sebab aku tersinggung akan per itu, tuan, tetapi tidak saya sengaja, tuan.”
Pada waktu itu kepala polisi itu amat heran, hingga ia menyangka, kalau-kalau ia ada berhadapan dengan seorang yang kurang waras otaknya.
“Per apa yang engkau singgung itu?”
“Sebab saya takut dilanggar kereta, saya berjalan dari pinggir tuan, tahu-tahu kaki saya terantuk, rupanya per lampu listerik, terus lampu itu padam; sebab saya takut tangkap, jadi saya lari....”
Pemeriksaan putus....disambung oleh bunyi tertawa yang amat riuh.
Akhirnya... Ja Dasun boleh pulang.
12
Gara-Garanya Bagar Kambing
(Panji Pustaka, 11 April 1933, thn.XI, No.29—30)
Sekalian ini, ambtenaar dan orang-orang yang ternama dari satu onderafdeeling, yang namanya tidak disebut, berkumpul di pasar M, mengadakan vergadering untuk membicarakan studiefonds.
Vergadering berjalan dengan selamat. Yang dimaksud akan tercapai rasanya dan yang diamal akan pecah.
Pegawai B. B. yang jadi kepala di pasa M, seorang engku yang periang dan suka berjamu. Semuanya yang hadir dalam vergadering itu dijamunya makan minum dengan sepertinya.
Habis makan, dalam keadaan yang segar dan senang serta bersenjatakan cerutu “Karel I” satu seorang, tamu-tamu naik ke dalam autonya akan kembali ke tempat masing-masing.
Seorang kepala kuria, yang terkenal sebagai seorang yang suka bergurau, duduk-duduk satu auto dengan seorang pegawai, tempaan abad yang kedelapan belas.
“Apa kabar sekarang, engkau?” bertanya engkau kepala kuria sambil menghadap kepada tadi, yang pada ketika itu duduk terbadai sambil menghembuskan asap cerutunya.
“Kabar baik, tuanku, bumi senang padi menjadi, tetapi... ada suatu perkara, yang penting yang sedang saya pikirkan.”
“Apa dia perkara itu? Coba engkau keluarkan, boleh sama-sama kita pikirkan,” jawab engku kepala kuria.
“Begini; vergadering yang akan datang akan dilangsungkan di K. Tamu-tamu yang datang tentu akan dijamu pula.”
“Keberatankah engku rasanya menjamu tamu yang sebanyak itu?”
“Tentang belanjanya tidak keberatan, tetapi siapakah yang akan masak. Gulai kambing yang dihidangkan kepada kita tadi bukan main lazatnya. Siapalah agaknya yang memasak itu?”
“O, itu perkara, mudah, engku, itu perkara bumbu, kalau ada bumbu semuanya....”
“Ya, tetapi siapa yang pandai membuat bumbu itu?”
Perkara mudah, engku, pesan saja ke Medan. Engku yang di M itu pun memesan bumbu ke Medan juga.“
“Engku tahu adresnya.”
“Mengapa tidak. Tam... Mari... le,” jawab engku kepala kuria, yang kebetulan bersin waktu menyebut nama itu.
“Van Marlr?” bertanya engku pegawai tadi.
“Ya,” jawab engku kepala kuria dengan tersenyum, seperti kegelian rupanya.
“Straat mana dan nomor berapa?”
“Tidak perlu, nama itu terkenal benar di Medan.”
Dua minggu kemudian, kedua engku itu bertemu kembali.
“Assalamu’alaikum, apa kabar bumbu kita?” kata engku kepala kuria.
“Mampuslah segala bumbu, aku tidak peduli sama bumbu.
“Perbuatan engku sudah keterlaluan, mentang-mentang engku....”
“Keterlaluan bagaimana engku?” bertanya engku kepala kuria dengan air muka yang sungguh-sungguh.
“Cobalah engku baca ini, boleh engku tahu,” kata engku pegawai kita, sambil memberikan sehelai briefkaart.
Engku kepala kuria membaca surat itu:
Medan, 7 Februari 19.....
Dengan ini kami beritahu, bahwa firma Van Marle, bukannya warung, yang jual bumbu-bumbu, tetapi satu firma besar, yang menjual bermacam-macam auto.
Dengan sangat, kami minta keterangan dari engku, apa engku menulis surat itu karena kesilapan atau dengan sengaja hendak menghina firma kami?
Atas nama Directeur,
De Cranie,
Ahmad.
“Benar, An Marle itu suatu firma yang terkenal di kota Medan; yang saya sebut menjual bumbu itu Tambi Marile,” kata engku kepala kuria, terbatuk-batuk menahan tertawanya.
13
Berpuasa di Tengah Lautan
(Panji Pustaka, No. 5—6/Lebaran, 16-1-1934)
Permulaan kata
Saya ceritakan kejadian ini dalam nomor Lebaran Panji Pustaka, ialah supaya diketahui orang, bahwa selain daripada keadaan-keadaan yang menggembirakan hati, kadang-kadang ada pula terjadi penanggungan yang sedih di dalam bulan puasa itu.
Menjadi anak perahu!
Tiada dapat saya kabarkan, betapa senang hati saya mendengar ajakan itu. Harapan saya yang hampir putus, timbul pula kembali. Karena, jika saya pergi ke kota Raja itu, bukan saja dapat saya lakukan kehendak si Aminah, tetapi dapat juga saya memenuhi suatu kewajiban adat di kampung saya berhubung dengan bulan puasa ini. Karena perkawinan saya terjadi di dalam tahun ini, bukankah saya diadatkan harus membawa pulang sebuah dada kerbau (poewoe sie) atau uang sebanyak harga itu ke rumah istri saya? Ke manakah hendak saya mencahari uang akan membeli daging adat itu? Hal itulah yang memusingkan kepala saya dalam beberapa hari ini. Sekarang terbuka bagi saya suatu jalan dengan tiba-tiba. Bukankah itu sebagai mendapat durian runtuh?
Saya berlari pulang mendapatkan kekasih saya itu dan dengan gembira saya ceritakan kepadanya: “Aminah, sekarang dapatlah kakanda perkenankan permintaanmu. Bukan saja ijaplang (semacam kain sutra tenunan Aceh, yang sangat menggoda pikiran istri saya siang dan malam, hendak dipakainya pada hari raya), barangkali seluruh pakaian pun dapat kakanda salin buat hari raya ini”.
“Wahai, kaya benar kakanda!” seru si Aminah, seraya dipeluknya leher saya dan diciumnya saya beberapa kali.
Kemudian saya ceritakanlah kepada istri saya itu, bagaimana saya akan mendapat uang untuk membeli kain yang dikehendakinya. Saya katakan, bahwa saya tahadi dipanggil Pawang Itam ke rumahnya dan ditanyai, kalau-kalau saya suka mengikutinya berlayar ke Kota Raja membawa papan. Sedianya mereka akan berangkat berenam orang saja, yaitu nahkoda itu sendiri, Nyak Uma, si Mamut, si Wahab, dan Nyak
Amat. Tetapi karena sekarang belum puasa, lalu dicaharinya seorang lagi anak perahu tambahan. Maka sayalah yang sangat diharapkan akan jadi anak perahu tambahan itu. Juga saya ceritakan kepada si Aminah, bahwa saya suka mengikuti Pawang Itam ke Kota Raja, walaupun laut sekarang ini amat bergelora dan ombaknya amat besar-besar sekali.
Tatkala mendengar itu kelihatanlah kepada saya air muka si Aminah berubah, dan ia tidak segembira tadi lagi, ketika mendengar saya mulamula berkata. Agaknya hatinya sudah bercabang akan melepaskan saya pergi berlayar sejauh itu dan meninggalkan dia yang sedang hamil pula. Tetapi sesudah saya ceritakan bahwa saya pun sudah pernah berlayar, meski tiada jauh sekalipun dan betapa perlunya uang bagi saya akan memenuhi kewajiban adat itu, agar supaya dengan mendapat malu kepada orang banyak, maka barulah dengan sepenuh hati ia mengijinkan saya meninggalkan negeri Calang.
Karena beduk sudah berbunyi, maka kami pun berbukalah. Pada malam itu saya hampir tiada tidur sekejap mata dua pun, karena hati saya amat besar beroleh mata pencaharian itu.
Istri saya pun bekerja semalam-malaman menyediakan makanan yang bakal saya bawa esok pagi-pagi hari.
Tatkala telah berbunyi pula beduk sahur, kami pun makan pula. Bagi saya hampir tak tertelan nasi yang saya makan itu, karena amatlah sedih hati saya waktu memandang rupa si Aminah yang hendak saya tinggal-kan itu. Sesudah selesai makan, saya pun memberi selamat tinggal kepada istri saya sengaja air mata saya pun berhamburanlah ke luar. Perkataannya, supaya saya jangan melupakan dia dalam keadaan yang musykil, menyebabkan, hampir-hampir saya tak dapat menggerakkan langkah keluar dari rumah saya itu.
Maka pada hari Senen itu juga, yaitu tanggal 11 Januari 1932, kami pun berlayarlah meninggalkan kampung halaman kami masing-masing. Perahu kami amat sarat dimuat dengan papan. Semua jumlah papan itu 550 keping, dan tiap-tiap keping itu 16 hasta panjangnya dan sehasta lebarnya. Papan itu kepunyaan Teuku Leman di Kota Raya.
Sebermula maka dengan kurnia Allah tiadalah kurang suatu apa-apa. Hari pada waktu itu amat bagus. Angin pagi yang sejuk lagi bertiup dengan lemah langlainya, mengembusi layar perahu kami, sehingga kapal kecil itu berlayar laksana seekor ular yang sedang melancar di atas permukaan air laut. Apalagi disebabkan muatannya amat berat, maka hampir tiada kelihatan olengnya sedikit jua pun perahu itu, sehingga saya, yang belum kerap kali berlayar, pun tiada merasa suatu perubahan apa-apa juga.
Negeri Calang makin lama makin jauh dari mata kami. Sebuah demi sebuah kami lalui pulau-pulau yang bertaburan letaknya di dalam teluk itu, hijau ditumbuhi oleh pohon nyiur dan pinang, sedang air embun pagi yang masih melekat papucuknya kelap kelip gemerlapan karena disinari cahaya matahari yang baru terbit.
Akhirnya kami pun keluarlah ke lautan samudra dan haluan perahu kami pun ditujukan arah ke utara. Semua kawan-kawan saya itu pergi berbaring di atas papan, sambil bercakap-cakap, karena tak adalah suatu jua pun lagi pekerjaan yang harus kami lakukan, jika perahu telah berlayar dan mendapat angin yang sempurna. Hanya masing-masing kami diwajibkan bergantiganti memegang kemudi beberapa jam lamanya.
Adapun perahu kami ini masuk bahagian perahu yang terbesar juga di antara perahu-perahu yang memperhubungkan negeri kecil-kecil di pantai barat Aceh, yang tidak disinggahi kapal K. P. M. Acapkali juga perahu ini ditumpangi orang yang akan pergi ke Lhok Kruet, Lageuen, Daya dan sebagainya.
Di dalam perahu ini terdapat bilik-bilik kecil untuk tempat tidur. Dapur kakus pun disediakan juga.
Pawang Itam yang menjadi nahkoda perahu itu ialah seorang yang tinggi bentuk badannya. Warna kulitnya hitam manis, dan mukanya bersih. Ia seorang yang peramah, penyayang lagi salih dan taat melakukan agamanya. Kadang-kadang sampai larut malam ia membaca koran di dalam perahu itu. Semua kami anak buahnya segan kepadanya, karena di antara kami dialah yang lebih tinggi pengetahuannya tentang agama. Umurnya saya taksir tiada kurang dari 40 tahun, tetapi badannya kelihatan tegap dan kukuh juga.
Demikianlah kami belajar dengan amannya dalam beberapa hari lamanya. Sehingga timbullah dalam hati kami masing-masing, jika senantiasa mendapat angin yang sedemikian baiknya, niscaya dalam dua hari lagi kami pun akan sampai di Lhok Nga.
Tetapi persangkaan kami itu raupanya tiada benar. Pada petang Kamis, tatkala saya menjaga kemudi, tiba-tiba terasa oleh saya arah angin senantiasa berubah-ubah saja. Ombak pun mulai besar, sedang air acap kali masuk ke dalam perahu. Hal itu segera saya katakan kepada nahkoda dan kami pun disuruhnya bersiap. Si Wahab dengan Nyak Unih bergantiganti diperintahkan menimba air, sedang pawang itam yang sedang mengaji, berhenti sejurus akan melihat keadaan kami. Nyak Uma tak jadi memasak menyediakan pembukaan kami, tetapi lalu pergi menjaga tali temberang.
Sekonyong-konyong Pawang Itam pun berteriak: “Topan! Wahab, gulungkan layar! Teman semua bersiap!” Ia lalu meletakkan Koran dan berlari ke tempat saya, hendak mengemudikan sendiri. Kami berlari kian kemari, tapi semua sia-sia belaka. Akhirnya perahu pun dipukul angin ribut. Dari kiri, dari kanan, dari hadapan dan di buritan masuk air. Hujan guruh dan petir pun mulailah. Tiang perahu lalu patah, temberang putus-putus, dan layar pun koyak-koyak ditiup angin. Kemudi tiada makan lagi, dan kesudahannya perahu pun terbalik di tengah-tengah lautan. Tapi mujurlah sekalian kami dapat bergantung dengan kuat pada papan perahu itu, sehingga tidak dihanyutkan air.
Dengan susah payah kami telentangkan kembali perahu kami, serta airnya kami timbakan bersama-sama. Sekalian muatan habis dihanyutkan air. Tapi mana-mana bungkusan atau barang sesuatu yang terapung dekat kami, lalu kami renangi, kami kumpul di perahu. Di antaranya adalah sebuah bungkusan makanan yang amat berguna yang telah basah dengan air laut itu, lalu kami bagi-bagi untuk berbuka puasa, karena hari pun sudah malam.
Angin ribut belum juga berhenti-hentinya. Ombak pun sampai- sampai sebesar rumah tingginya. Perahu itu diangkatnya seperti mengangkat sabut kelapa saja. Hujan pun turun dengan lebatnya, sehingga kami semua kedinginan amat sangat. Meskipun demikian tiada putus-putusnya kami menimba air bergantiganti. Semua kami merasa cemas, dan dengan hati yang harap kami meminta tolong kepada Tuhan.
Pada keesokan harinya hujan pun teduh. Akan tetapi angin dan ombak makin menjadi-jadi. Tatkala hari sudah terang, ketahuanlah bahwa perahu kami sudah menjadi hanyut ke tengah lautan. Daratan tiada kelihatan sedikit juga pun lagi. Sepuas-puas mata memandang lautan biru belaka, kiri kanan ombak dan gelora sampai ke tepi langit di tempat awan berarak. Kami berpandang-pandangan dengan hati yang kecut. Semua kami menaruh kuatir, karena tak seorang juga pun yang tahu, di mana kami sekarang. Masing-masing menyerahkan untung kepada Allah subhanahu wa taala.
Di dalam keduaan yang ngeri itu saya tiada putus-putusnya teringat akan si Aminah, istri saya yang saya tinggalkan di kampung lagi mengandung.
“Aduhai, Aminah,” kata saya dalam hati saya. “Jika sampai ajal kakanda di tengah lautan ini, tak dapatlah kakanda melihat lagi wajahmu. Alangkah sedih hati kakanda tan dapat kakanda menyampaikan citacitamu, hendak membelikan kain yang kau kehendaki itu, yang termimpi-mimpi olehmu siang dan malam!” Terasa oleh saya air mata saya waktu itu mengalir membasahi pipi saya.
Sesudah tiga hari tiga malam di tengah lautan itu, mulailah berlaku suatu kejadian yang amat ngeri lagi menyedihkan. Nyak Uma sudah tak dapat bangun lagi, karena kelaparan dan kehausan. Kami tak dapat memberikan pertolongan suatu apa pun padanya. Yang dapat kami lakukan adalah menyiram badannya dengan air laut. Nahkoda selalu mengajarkan dia dua kalimah syahadat. Dan pada petang harinya terjadilah kehendak Tuhan yang Maha Kuasa. Nyak Uma pun berpulanglah kerahmatullah di hadapan kami dengan laku yang sangat menyedihkan.
Mayat itu di tahan dalam perahu, karena kata pawang Itam: “Lebih baik mayat kawan kita ini kita biarkan dahulu dalam dua tiga hari ini demikian. Siapa tahu, kalau-kalau kita mendapat pertolongan atau bersua dengan dengan daratan.”
Maka mayat itu pun kami tutup baik-baik. Yang amat mengherankan kami, adalah mayat saudara kami itu dalam sekian lama tidak jadi busuk, bahkan harum baunya, seakan-akan bau kemenyan juga adanya. Manakala hari yang ketiganya belum juga kami beroleh tanda-tanda akan mendapat pertolongan, maka mayat itu pun lalu kami kuburkan ke dalam laut dengan berkapankab kain layar yang telah koyak-koyak.
Adapun badan kami sangat lesu. Sudah sepekan lamanya kami tidak merasa sebutir nasi jua pun. Kepala saya bukan main pusingnya. Dan badan kami seakan-akan angus dibakar matahari. Oleh karena itu jika hari panas, maka kami isilah perahu kami sedikit dengan air, sehingga kami dapat berenda di dalam air itu hingga leher. Dengan jalan demikian dapatlah kami menyegarkan badan sekedarnya. Tetapi jika malam hari atau hujan, maka lekas-lekaslah kami kosongkan kembali, karena maklumlah pada malam hari di tengah lautan dan di dalam angin besar itu bukan alang kepalang dinginnya, tambahan pula selain daripada pakaian yang melekat pada badan kami dan layar yang sudah basah lagi koyak- koyak tak adalah secerik kain jua pun yang dapat kami pergunakan untuk menyelimuti badan kami yang dingin itu.
Yang amat besar faedahnya bagi kami dalam masa dahaga dan lapar itu, ialah sebuah guci kami yang kebetulan tidak tenggelam dalam laut. Apabila hari hujan, maka kami tampunglah air dengan guci itu, dan air yang tawar itu dapatlah memuaskan dahaga kami yang amat sangat. Sesaat pun kami tiada lupa kepada Tuhan, dan jika sampai waktu berbuka, maka kami pun mencoba doa pembukaan akan menghormati waktu yang mulia itu, walaupun sebenarnya kami ini siang dan malam berpuasa.
Saya ingat, bahwa oleh karena lapar yang amat sangat, dan kelakuan kami pun amat ganjilnya. Kain layar kami cabik kecil-kecil, dan setelah kami rendam dalam air lalu kami telan akan pengganti nasi. Betapa sakit penanggungan kami serupa ini, Tuhanlah yang mengetahui. Perut kami pedih bukan main, dan pada waktu buang air besar, haruslah kami menolong dengan tangan akan mengeluarkan najis. Lebih baik janganlah saya ceritakan semua keadaan yang menyeramkan bulu roma ini.
Berhari-hari kami dalam keadaan yang demikian. Kemudian kelihatan Pawang Itam sudah kepayahan pula. Dan Nyak Amat sahabat karib saya pun sudah tak bergaya lagi. Kira-kira hampir sembahyang magrib, maka Pawang Itam memberi isyarat pada kami, akan mendekatinya sebentar. Tatkala kami sudah berdampingan, maka ia pun meminta dimaafkan dosanya lahir batin, seraya berdoa, supaya kami lekas juga mendapat pertolongan. Semua kami menjawab dengan air mata berhamburan, mengatakan, bahwa ia tiada berdosa sebesar zarrah pun pada kami. O, Tuhan, alangkah sedih dan hancurnya hati kami pada waktu itu! Rupanya ia sudah tahu, bahwa ajalnya sudah dekat. Ia hendak berjalan meninggalkan kami menyusul temannya Nyak Uma sujud ke hadirat Tuhan yang mahakuasa.
Maka diraihnya kepala saya ke dekat mulutnya, lalu dibisikinya dengan suara yang putus-putus, mengatakan beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada istrinya dan anaknya sekalian. Maka dibuka-nyalah destar yang lagi dipakainya dan diberikannya kepada saya, supaya disampaikan kepada anaknya yang tertua. Sejurus kemudian keduanya pun berpulanglah meninggalkan kami semua. Sampai kepada putus nyawanya, kedua mereka itu tiada berhenti-hentinya mengucapkan kalimah. Mayatnya pun kami kuburkan ke dalam laut dengan kain layar.
Demikian azab dan sengsara yang kami derita di atas perahu yang terkatung-katung di tengah lautan besar itu, memakan kain layar, meminum air asin, sampai kelihatan kepada kami pada suatu pagi dari jauh, ada sebuah kapal hitam berlayar. Maka kami pun berteriak-teriak dan merangkak dengan bersusah payah melambai kapal itu dengan kain layar, memohon pertolongan. Tetapi kapal itu tiada datang. Agaknya udara terlalu gelap, sehingga tiada kelihatan kepadanya lambaan kami itu. Tak terperikan betapa sedih kami pada waktu itu!
Dari mulut kami tiada putus-putusnya memanggil nama kawan-kawan kami yang telah berkubur dalam laut yang berombak besar itu.
“Ya Allah!” seru kami dengan putus asa, “tiadalah seorang juga pun yang dapat menolong kami, melainkan engkau juga. Kepadamulah kami menyerahkan diri kami. Kami sedia akan menerima takdirmu, supaya kami jangan lama menanggung sengsara lagi seperti ini, o Tuhan seru sekalian alam!”
Sedang kami berseru-seru itu, tiba-tiba si Wahab berteriak: Kapal! Kapal! Ada kapal lagi!“
Kebetulan kapal itu berlayar tiada jauh dari kami. Jelas benar kelihatan kepada kami, karena pada waktu itu tengah hari dan hujan pun baru berhenti pula. Meskipun demikian orang-orang dalam kapal itubelum kelihatan betul.
Kapal itu kami lambai dengan kain layar, yang kami ikat pada ujung galah. Rupanya lambai kanik sekali ini berhasil. Sebentar antaranya kelihatan kapal itu mengelilingi perahu kami. Setelah dekat maka sekoci pun diturunkan oranglah menuju keperahu kami. Perahu kami dihelanya ke dekat kapal. Lalu kami dinaikkan ke kapal dengan tali seling. Sekalian orang kapal berkumpul melihat kami, yang katanya hampir tidak menyerupai manusia lagi. Tuan Kapitan dan dokter menyuruh membawa kami ke kamar sakit. Maka kami pun dibawalah dengan tandu ke dalam sebuah kamar besar, lalu dimandikan di sana dengan air hangat. Kemudian dibawa ke kamar sakit dan ditidurkan di atas tempat tidur.
Saya minta air minum kepada tuan dokter yang datang ke situ, tetapi rupanya ia tidak mengerti akan permintaan saya. Ia memberi isyarat supaya kami tinggal diam saja, sementara ia memeriksa badan kami masing-masing.
Sesudah selesai pemeriksaan itu maka disuruhnya berikan kepada kami susu panas, tetapi hanya sedikit seorang. Sebentar diberi lagi susu dengan roti sedikit. Adalah dua orang kelasi yang menjaga kami itu, sedang tuan dokter itu hampir tiap jam datang memeriksa kami. Dengan obat-obatan dibersihkannya perut kami yang berisi kain layar itu. Dan pertolongan itu diberikannya kepada kami sampai kami baik dan segar kembali.
Maka datanglah tuan-tuan putih itu empat orang, diantarnya tuan Kapitan yang saya lihat kemarin dahulu, menanyakan hal ihwal kami. Saya ceritakan kepadanya dengan bahasa Melayu, tetapi tak seorang jual pun yang mengerti akan perkataan saya. Maka kami bercakap-cakap dengan isyarat saja. Saya katakan, kami orang Aceh, masuk rakyat Belanda. Agaknya adalah sedikit ia mengerti, karena saya lihat, ia lalu menuliskan itu ke dalam kitab peringatannya.
Semua anak kapal itu baik-baik belaka. Ada yang memberi kami pakaian, ada yang memberi rokok, kue-kue dan sebagainya. Kami tanyakan kepada mereka itu, ke manakah mereka hendak berlayar, tetapi kami pun tidak mengerti akan jawabnya, hanya dari perkataannya ada terdengar: “Singapur! Singapur!” Maka kami tahulah, bahwa kapal itu hendak berlayar ke Singapura. Maka senanglah hati kami.
Tiga hari tiga malam dalam kapal itu barulah kami sampai di Singapura. Kami pun diserahkan kepada Consul Belanda. Sebelum kami dapat meminta terima kasih kepada tuan Kapitan dan tuan dokter, kedua orang itu tidak kelihatan lagi.
Oleh Consul Belanda kami ditumpangkan di rumah tuan Haji Abdul Syukur di Basyrahstreet, sementara menanti kapal Belanda yang akan mengantarkan kami kembali ke tanah air kami. Tidak usah saya ceritakan, bahwa tiap saat kami dikunjungi orang, yang ingin mendengar kisah penanggungan kami. Dan dari serumah keserumah kami dijamu berbuka, dan diberinya pula kepada kami sedekah, ada yang berupa uang, pakaian dan barang makanan.
Oleh Teungku Yaya, seorang saudagar aceh di Arabstreet, kami di bawa melancong dalam kota Singapura itu ada 4 atau 5 kali sebesar dan seramai Kuta Raja. Kemudian dibawanya ke tokonya. Tatkala ia menanyakan kepada saya, apa yang ingin saya peroleh, karena ia hendak bersedekah kepada kami, maka teringatlah saya akan kekasih saya si Aminah.
“Saya ingin sekali hendak membeli ija plang, adalah barang itu di toko teungku?”
Seungguhnya ia ada juga menjual kain-kain Aceh lama ditokonya. Dan dengan senang hati ia memberi saya selembar kain sutera itu dengan percuma. Saya mengucapkan syukur atas pemberiannya yang sangat berharga itu. Kemudian kami pun pulanglah.
Keesokan harinya kami diperintah tuan Consul pulang ke Aceh dengan sebuah kapal yang hendak berlayar ke sana.
Rupanya khabar kami diserang topan itu sudah berserak di kampung kami. Semua orang sudah yakin, bahwa kami sudah mati di tengah lautan. Dan itulah sebabnya masing-masing sanak keluarga kami mengadakan kenduri pada malam hari raya itu untuk sekalian arah kami. Demikian pun di rumah saya. Di serambi muka penuh orang alim-alim yang sedang berkumpul hendak membaca doa bagi arah saya. Ibu saya duduk di pintu tengah lagi menangis, pun istri saya di tempat tidur sedang meratap tersedu-sedu. Oleh karena itu alangkah terkejutnya mereka itu, ketika kami naik ke rumah dan memberi salam kepada orang banyak. Semuanya terperanjat, karena semuanya menyangka kami sudah mati.
Ibu saya lalu melompat memeluk saya, sambil menangis dan berkata: “Si Muhammad! Si Muhammad! Si Muhammad tidak mati! Anakku masih hidup!” Dan dibawanya saya ke tempat istri saya berbaring, yang juga memeluk saya dengan air matanya. Maka ributlah seisi rumah saya itu, malah seisi kampung kami gempar oleh kedatangan kami dengan tiba-tiba itu.
Maka buru-burulah saya keluarkan kain ija plang dari bungkusan saya dan saya serahkan kepaa si Aminah, sambil berkata: “Walau ke langit hijau sekalipun kakanda ikhtiarkan juga akan menyampaikan kehendakmu!”
Tetapi pada waktu itu juga ia membuka sehelai kain penutup, dan... O Tuhan! Semua yang terjadi di lautan samudera itu hilang seketika itu. Kesusahan, dahaga, kelaparan yang sudah saya deritai semua hanya dari pikiran saya karena melihat benda itu! ... Itulah anak saya! Si Aminah sudah melahirkan biji mata saya! Itulah upahnya kepayahanku! Tiada ada yang terlebih besar lagi daripada itu pemberiannya kepada saya pada malam hari raya itu!
Maka saya pun berkata sambil mengangkat anak saya itu: “Maaftkanlah ayahanda, o anakku! Tahadi tuan tidak kelihatan kepada ayah, karena mata ayah sudah rabun oleh panas matahari di tengah lautan. Tentu biji mataku suka mengampuni dosa ayah, bagaimana besarnya sekalipun pada malam ini, bukan?” Lalu saya cium akan dia dengan sepuas-puasnya.
14
Gara-Garanya Makan Durian dalam Puasa
(Panji Pustaka, No. 5—6/Lebaran, 16 Januari 1934)
Pekan di kampung L lipat ganda ramainya dari biasa, melimpah sampai keluar pagar, penuh sesak terus ke jalan raya.
Gadis-gadis dan ibu-ibu yang jarang ke pekan pun, sekarang sama berdatangan, hendak memberi keperluan masing-masing untuk hari raya.
Yang sangat ramainya pada belerong tempat berjual kain dan dikedai perhiasan emas. Di situ orang berasak-asak, berebut-rebut hendak lebih dahulu maju ke muka, seolah-olah takut kehabisan barang yang berguna kepadanya.
Di kedai perhiasan emas, yang tersebut, tampak dua orang perempuan. Menilik air muka dan potong pakaiannya, keduanya isteri pegawai negeri.
“O, kepekan ka’...?” menegur yang muda akan ganti memberi salam.
“Ya, kepekaan!” jawab yang lebih tua, dengan senyum yang dibuat-buat.
Menilik tingkah keduanya, mereka itu bukanlah orang yang bersahabat, meskipun dalam kampung kecil itu hanya mereka berdalah istri pegawai negeri. Yang muda istri seorang hulpmenteri, yang jabatannya membeli kopi untuk Gouvernement. Yang seorang istri controlementeri, yang pekerjaannya mengamat-amati penyelenggaraan kebun kopi dan jalan-jalan.
Waktu istri hulpmenteri membeli beberapa macam perhiasan dan dibayarnya dengan uang kertas yang baru-baru, kelihatan istri engku controlementeri menggerling-gerling dengan merengut. Pada air mukanya kentara, bahwa iri hati dan cemburu menjadi-jadi dalam hatinya.
Engku controlementeri duduk terbadai di atas sebuah kursi malas. Akan perintang-rintang puasa, beliau membaca-baca surat kabar. Istri beliau berkata, sambil menyimpan barang-barang belanjaan, yang baharu dibelinya di pasar tadi: “Alangkah royalnya isteri hulpmenteri itu. Pekan dahulu ia membeli kain batik entah beberapa helai, tadi sudah membeli perhiasan emas pula bermacam-macam.” Lagunya berkata itu ke- dengaran ada mengandung dua maksud: pertama karena cemburu dan iri hati, kedua seolah-olah hendak mengatakan: “Lihatlah istri orang, begitu royal, cukup pakaian, cukup dengan perhiasannya, tidak seperti aku.”
Mendengar perkataan itu engku controlementeri meletakkan surat kabar yang sedang dibacanya, dan menjawab: “Ya, mengambil barang-barang orang di pkan itu mudah saja, tetapi waktu membayarnya nanti, baharu sakit perut.”
“Bukan... saya lihat sendiri dibayarnya kontan semuanya, sedikit ia tidak berutang. Sungguh pandailah orang menyimpan uang; awak saja, yang habis bulan gaji,” katanya sambil mengerling suaminya.
Hati engku menteri kita jadi meradang, sebagian karena iri hati, sebagian sebab kena tempelak isterinya.
“Ya, biarlah ia royal sekarang, nanti baharu ia tahu...” katanya dengan bersungut, dan setelah berpikir sebentar ia lalu berdiri menghampiri meja serta duduk menulis sepucuk surat.
Apa yang ditulisnya tiadalah kita ketahui dengan terang, tetapi tak salah agaknya terka kita, bahwa isi surat itu tak dapat tidak ada perhubungannya dengan percakapannya dengan istri tadi dan berat dugaan, isinya akan menghamburkan bau yang kurang baik terhadap kepada engku hulpmenteri.
Setelah surat itu dimateri dan dicap, beliau memanggil orang jaga di rumahnya.
“Bawa surat ini ke K, berikan kepada opas jaga di rumah tuan Controleur. Hati-hati jangan hilang dan jangan... Ya, pergilah.”
Entah bagaimana jalannya, hal ini berbau juga kepada hulpmenteri, agaknya karena mereka itu selalu intip mengintip.
Waktu berbuka pada malamnya engku controle menteri makan besar, maklumlah baharu hari pekan apalagi sore tadi beliau mendapat hadiah 3 buah kepala-kepala durian, yang pada waktu itu mulai bermusim.
Tidak heran, sesudah makan berdua itu, beliau terbadai saja, karena kekenyangan dan ditambah pengaruh hawa durian tadi, beliau merasa sangat kepanasan pula lalu membuka baju sama sekali.
Waktu beduk berbunyi memanggil orang sembahyang tarawih, beliau masih merasa malas. “Ah, tempoh saja dahulu pergi kemeisjid malam ini. Tuan Syech M. pun agaknya tidak akan datang,” berkata beliau di dalam hati dan tiada berapa lama kemudian beliau terlena lalu tertidur.
Sebuah kereta berhenti di muka rumah hulpmenteri; seorang opas naik ke rumah.
“Tabik engku; tuan controleur ada di bawah.” berkata opas itu.
Setelah berpakaian dengan tergesa-gesa, engku hulpmenteri turun menemui tuan Controleur. Sebentar kemudian tuan Controleur dan hulpmenteri, dan opas tinggal menunggui kereta.
“Panggil controlementeri,” kata tuan Controleur dan ia berdiri menunggu di tengah jalan.
Lama juga engku hulpmenteri mengetok pintu, baharu kedengaran orang menyahut dengan suara bersungut: “Siapa Itu?” “Saya”.
“Saya siapa, mengganggu orang sedang tidur?”
“Saya, hulpmenteri.”
Pintu terbuka, engku controlementeri keluar berselimut sehalai kain bugis hitam.
“Ada apa?”
“Tuan menunggu engku di jalan”
Di tengah jalan kelihatan berdiri seorang, yang berpakaian putih.
“Tuan Syech?” bertanya engku menteri.
“Yyy...aah” jawab engku hulpmenteri dengan suara yang bimbang. Engku controlementeri pun turun dan menuju ke tengah jalan.
“Assalamu’alaikum” katanya sambil menyorongkan tangan.
“Hee! ... apa mengertinya ini menteri?” bertanya tuan Controleur.
“O, tuan... an?” kedengaran suara engku controlementeri dengan gugup serta undur dua tiga langkah dan segera mananggalkan selimutnya lalu bersesamping (berserong).
Karena kelakuan menteri yang bersalah itu, tuan Controleur menggoreskan api-api. Bukan main herannya tuan Controleur melihat controlementari terdiri di hadapannya, bersamping tetapi tiada berbaju.
“Apa mengertinya ini menteri...?” bertanya tuan Controleur sebagai hendak marah.
“Saya sangka … sebab kata hulpmenteri …” kata engku itu dengan tidak keruan jawab.
“Nah, pergilah menteri ambil baju dahulu, nanti masuk angin, dan turut kita ke gedung kopi.”
Sebentar tuan Controleur, yang menyangka kalau-kalau menteri itu demam panas.
“Tidak tuan... tetapi saya sangka tadi.... sebab hulpmenteri bilang, yang hendak bersua dengan saya tuan syech.”
“Ya, hulpmenteri... bagaimana itu?” bertanya tuan Controleur dengan rupa yang hendak marah.
“Bukan begitu tuan. Saya katakan tadi kepada engku menteri: ‘Tuan ada menunggu di jalan.”
“Engku menteri bertanya: ”tuan chef?“
“Saja bilang ‘Ya”.
“Rupanya engku menteri salah sangka dan saya salah pendengaran.
Tuan Controleur terus menggigit bibir dan berpaling ke tempat yang gelap akan menyembunyikan tertawanya dan engku hulpmenteri, yang jenaka itu, menekan perutnya menahan tertawa, yang hendak tersembur keluar.
15
Kalau Ibu Meninggal ....
(Panji Pustaka, No. 5—6/Lebaran, 16-1-1934)
Malam gelap udara tenang, di langit kelihatan hanya berapa buah bintang, bintang tujuh menyisi awan, bintang kejora bercermin laut. Tetapi di kampung-kampung terang-benderang, pada tiap-tiap pekarangan terpasang lilin atau pelita berleret-leret, setidak-tidaknya lampu di beranda dua tiga. Anak-anak riuh keliling rumah, gelak dan pekik berderau-derau, di jalan ramai orang berbondong-bondong, di warung dan di toko sibuk orang berbelanja. Bunyi beduk dan marcon bagaikan lulus, gemuruh dalam tiap-tiap kampung.
Malam Lebaran!
Jalan besar antara Betawi dan Mr. Cornelis bukan main ramainya, kendaraan mendengung bersilangsiur, lonceng sado berdencingan berselisih lalu, orang berjalan tiada berputus. di tepi jalan kelihatan dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang perempuan, berjalan berdekat-dekatan. Di depan sebuah rumah yang besar mereka tegak berhenti. Di dalam rumah itu tampak olehnya empat lima orang anak-anak sedang bergirang-girang membakar kembang-kembang api dan memasang marcon. Ibu bapanya duduk-duduk dengan senang memandang perangai anak-anaknya.
Melihat itu yang perempuan menyentuh tangan yang laki-laki dengan sikunya.
“Din, lihatlah senangnya laki istri itu melihatkan anak-anaknya,” katanya.
“Lebaran di muka kita pun sudah dapat begitu pula, Limah,” jawab yang laki-laki dengan tersenyum.
“Ah, masalah,” kata yang perempuan dengan tersenyum pula. “Kalau selamat, masih kecil.”
Keduanya terus berjalan.
Setahun kemudian! Di dalam rumah Alidin terang-benderang, di depan dan di belakang lampu terpasang. Di atas meja terletak bermacam-macam kembang api dan beberapa bungkus mercon. Tetapi Nuraini, anaknya yang baru berumur sepuluh bulan, tak hendak melihat kembang api yang berkilat-kilat dan memancar-mancar itu, tak hendak mendengar bunyi mercon yang berdentam-dentam. Ia selalu merengeh saja, sebentar-sebentar menangis, badannya berasa panas. Ditidurkan ia tak mau, digendong ia pun tak suka. Nuraini mulai tumbuh gigi.
Ibu bapa yang muda itu amat kecewa. Harapan akan bersuka-sukaan pada malam Lebaran itu hilang lenyap. Kebetulan benar anak itu merenyeh saja waktu malam Lebaran pula. Dengan berungut Alidin mengambil bantal dan selimut, lalu tidur berselubung di atas balai-balai.
“Malam lebaran yang dulu harap benar akan bersuka-suka, tetapi begini jadinya!” terdengar ia bersungut-sungut.
“Abang tak sabar,” jawab istrinya dengan tangis.
“Anak belum cukup setahun masalah akan dapat dibawa bermain kembang-kembang api? Lagi ia sedang tumbuh gigi. Lihatlah nanti tahun di muka!”
Tiada lama Alidin terdengar mendengkur, tetapi istrinya tak tidur semalam-malaman itu.
Setahun pula sudah lalu. Nuraini telah jadi seorang anak yang manis dan lucu. Tetapi dia sudah mempunyai adik laki-laki yang baru lahir. Sebagaimana biasa bayi kecil itu selalu menangis saja. Karena itu terpaksalah Alidin berdua saja dengan Nuraini bermain bersuka-suka membakar kembang api dan memasang mercon pada malam lebaran itu. Istrinya terbaring di tempat tidur, karena badannya masih lemah sesudah melahirkan anak. Bukan main kesal hati Alidin; sudah dua Lebaran yang demikian.
Setelah Nuraini tidur, keluarlah ia ke jalan besar hendak melipur-lipur hati. Akhirnya sampai ia ke sebuah warung kopi. Di dalamnya ramai orang main domino. Alidin masuk, lalu ia turut pula main domino, maksudnya akan penghilang-hilangkan kesal hatinya.
Akan tetapi permainan itu jadi mencandu padanya, sehingga tiapiam tak berhenti lagi ia ke sana. Hasil bengkelnya—ia membuka bengkel arloji—sebagian besar dihabiskannya di warung kopi itu. Makin lama makin sedikitlah uang belanja yang sampai ke tangan istrinya. Anak-anaknya makin lama makin besar juga, dan makin banyaklah keperluannya waktu Lebaran. Tetapi Alidin tak peduli lagi! Ratap tangis anak-anak itu meminta dibelikan ini dan itu tak menggerakkan bulunya lagi. Uang perlu olehnya untuk memuaskan hatinya.
Akan tetapi ibu yang pengasih penyayang itu tak sampai hati melihat anak-anaknya berdukacita sedemikian. Biarkan tidak berbaju baru, biarkan tak berkain baru, asal mereka malam lebaran itu bergirang-girang. Maka dibelikannyalah juga permainan untuk mereka dengan sisa-sisa uang belanjanya. Tetapi Alidin sangatlah marah melihat perbuatan itu, dikatakannya membuang-buang uang saja.
Dari setahun kesetahun kehidupan mereka semakin buruk juga. Alimah sudah penyakitan, pekerjaan Alidin tak tentu lagi, ia sudah banyak di warung kopi dari dibengkelnya. Akhirnya membayanglah kecelakaan yang akan menimpa mereka anak-beranak.
Malam lebaran sudah datang pula. Tetapi di rumah Alidin suram saja. Lampu di depan tiada dipasang, hanya lampu di kamar terkedip-kedip. Alimah terbaring di tempat tidur mengerang-erang. Sekarang demamnya datang pula dengan keras. Ia mengingau sedang merintah-rintih: “Sekarang puaslah hatinya—kita tak berlebaran setahun ini—sebagai orang yang tak beragama. Biarlah dia pergi kepada kawan-kawannya di warung kopi itu—di sana dia senang bergaul dengan mereka daripada dengan anak bininya.”
Alidin mendengar jadi bimbang. Selain istrinya itu tak hendak hi-lang dari telinganya. Is tegak termenung di dalam bilik istrinya yang sakit itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perempuan tetangganya masuk, lalu berkata:
“Alidin, pergilah panggil dokter! Aku lihat istrimu keras sakitnya. Nanti jadi sesalan!”
Terbang semangat Alidin mendengar nasihat perempuan itu. Dengan tiada berkata sepatah juga pun keluarlah ia. Sepanjang jalan tampaklah olehnya anak-anak bersuka-sukaan di hadapan rumah. Maka teringatlah oleh Alidin anak-anaknya di rumah, duduk dalam cemas dan ketakutan menunggui ibunya sedang sakit keras. Aduh, terlambatkan sudah....?
Sepulang dari rumah dokter, dituntung-tuntungkannya uang di dalam sakunya, uang kelebihan yang dibawanya main tadi. Maka masuklah ia ke dalam sebuah toko, lalu dibelinya gula-gula, kue-kue dan sebotol setrup untuk anak-anaknya. Akan tetapi sesampai di rumah benda-benda itu tak jadi diberikannya. Hatinya merasa malu kepada Nuraini, karena beberapa saat yang lalu anak itu dibentaknya, sebab meminta uang akan pembeli kue untuk adik-adiknya, sebab anak-anak itu bertangisan minta kue. Dengan hardik dikatakannya ia tiada beruang.
Maka disembunyikannya pembeliannya itu ke dalam lemari. Kemudian pergilah ia duduk bermenung dekat jendela.
Maka datanglah Nuraini ke dekatnya. Sambil menangis ia berkata:
“Pak, anakda sudah besar! Anakda tahu apa yang telah terjadi. Tak usah bapak sembunyi-sembunyikan juga. Hanya anakda harap, kalau ibu meninggal... hendaklah bapak berjanji di hadapan mayatnya.... kami adik beradik takkan bapa sia-siakan!”
Gelap bumi Allah ini pada pemandangan Alidin. Air matanya jatuh berderai-derai dengan tiada dirasanya. Maka dibimbinglah ia oleh Nuraini masuk bilik ibunya. Kebetulan ketika itu dokter sudah selesai memeriksa.
“Perlu kita tunggu semalam ini,” kata dokter. “Kalau ampal besok tak apa-apa, besar sekali harapan! Tetapi engkau mesti menjaganya baik-baik, terutama hatinya perlu disenang-senangkan.”
Sesudah dapat obat dari dokter Alimah tertidur. Nuraini duduk menjaga di depan tempat tidur ibunya. Alidin termenung memegang kepala di atas meia.
Perlahan-lahan Nuraini mendekati bapanya, lalu katanya:
“Pergilah, pak! Nanti kalau ibu sudah bangun, anakanda jemput bapak ke warung kopi!”
Hati Alidin rasa disayat-sayat mendengar sesalan anaknya itu. Sudah sedalam itu benar jatuhnya ke dalam jurang kebinasaan. Ia berdiri, berjalan terhuyung-huyung keluar bilik. Sangka Nuraini tentu bapanya pergi ke warung kopi juga. Tetapi Alidin pergi ke bengkelnya. Setelah tampaklah bengkalainya berserak di sana-sini, ketika itu seolah-olah terdengar olehnya orang berkata:
“Alidin, janganlah diturutkan juga iblis itu. Bekerjalah kembali dengan baik! Untuk anak dan istrimu!”
Ia menoleh, tapi tak seorang juga yang tampak. Bermimpikah ia? Ia terhuyung masuk bengkelnya. Perkataan Nuraini masih mendengung dalam telinganya: “Kalau ibu meninggal....”
“Salah saya, semuanya salah saya,” keluh Alidin sambil merenggut-renggutkan rambut di kepala. “Aduh, kalau aku masih belum terlambat... kalau Alimah dapat hidup bersama-sama.... Aku berjanji akan mengubah kembali... aku berjanji takkan merusakkan hatinya lagi...!
Dengan bertekun mulailah ia bekerja!
Beduk di langgar gemuruh, bunyi mercon semakin riuh, disela bunyi bom berdentam-dentam. Kokok ayam bertambah ramai, di timur fajar semakin terang. Alidin terus jiga bekerja.
Tiba-tiba pintu bengkel terbuka, Nuraini masuk ke dalam, Alidin menadahkan tangan ke atas sebagai akan mentdoa.
“Pak, ibu sudah bangun...!” seru anak gadis itu dengan muka berseri-seri.
“Alhamdulillah! Segala puji bagi Allah!” ucapan Alidin, sambil menghela napas panjang sebagai orang terlepas dari bahaya besar. “Dia akan hidup dan berbahagia, Aini! Bapak berjanji begitu! Lebaran sekali ini, tidak saja bagi dunia akan bermaaf-maafan, tetapi bagi bapak sebagai cahaya yang melenyapkan segala noda di hati, sebagai sinar menerangi kalbu yang gelap.”
Ia berdiri dengan muka berseri-seri, lalu pergi mendapatkan istrinya yang sudah mulai segar.
Maka berdamailah laki istri pada hari perdamaian itu.
16
Tak Disangka-Sangka
(Panji Pustaka, No. 5—6/lebaran, 16 Januari 1934)
Sekali ini aku bangun pagi benar.
Memang sejak semalam, pikiranku sudah terharu-biru, memikirkan hari raya yang telah tiba pula. Menurut hematku allangkah lekasnya masa ini bergilir-gilir. Dengan tak disangka-sangka saja bulan bersilih dan musim bertukar.
Tabuh sudah mulai kedengaran. Tak putus-putusnya telinga mendengar bunyi yang mendengung-dengung. Di sana-sini dicampuri pula oleh dentam-dentum petasan, tak ubahnya sebagai ada perang bersesak pada dewasa itu.
Dengan hati-hati aku beringsut-ingsut ke jendela. Dari celah-celah papan tutup jendela itu dapat kulihat, bahasa hari masih kelam.
“Ah, pukul berapa sekarang?” pikirku sama sendiri. Kuraba-raba kantung bajuku yang tersangkut di dinding, sayang...arloji Tak terbawa pula.
Kucoba hendak memejamkan mata kembali... sia-sia saja. Angan- angan telah berkeliaran ke sana-kemari. Macam-macam yang timbul dalam ingatan. Tengah aku termangu-mangu dalam gelap gulita itu, tibat- tiba kelihatan garis keputih-putihan tak berapa jauh dari tempatku.
Dengan tak bertangguh lagi, aku usahakan pula beringsut perlahan-lahan menuju benda itu. Serta dekat mulutku ternganga... pintu surau kiranya yang tak terkunci. Hatiku berdebar-debar. Tak syak lagi, tentu malinglah yang punya perbuatan, karena hendak mencuri barang-barang anak surau.
Aku melihat berkeliling. Tetapi sebuah tak ada yang tampak.
Dengan hati-hati kugenggamkan benar-benar pintu yang telah terbuka itu. Sekarang baru dapat aku memperamat-amati tempat yang berkeliling. Kebetulan hari telah berangsur terang juga, sehingga sekalian barang-barang tampak belaka.
Pakaian, seperti baju dan kemeja masih bergantungan. Kain sarung pun begitu pula. Sedikit tak ada keterangan yang menunjukkan, bahasa pencuri telah bekerja. Kawan-kawan kulihat sedang tidur nyenyak. Setengahnya berselubung rapat-rapat, barangkali karena merasa angin masuk.
Pikiranku jadi berkisar. Perkara pencuri seakan-akan raib saja dari kepalaku. Sepenuh-penuh hatiku menghadap kepada keadaan teman-teman yang sedang bergelimpangan itu.
Pikirku: “Tak tahukah mereka gerangan, bahasa tabuh telah memanggil-manggil? Tak sadarkan mereka, bahasa hari baik bulan baik telah menanti di luar?”
Ah, rupanya aku saja yang sangat terpedaya kepada “suara tabuh dan perasaan hening” itu. Berapa agak sombong pula aku sedikit, memikirkan keadaanku itu. Lebih jauh kuperamat-amati lagi.
Cahaya telah bertambah terang juga, Jadi bolehlah kutatap benar-benar satu persatu pada mereka itu. Di sudut kulihat ada tempat terluang. Kupandang ke atas... kelihatan selimut tergantung dengan rapi.
Wah! pikirku: “Ke mana pula si Jaman malam ini?” Aku tahu betul, bahasa tempat itu ketiduran si Jaman juga.
Aku mulai pula berpikir panjang. Senja tadi temanku itu ada kulihat. Terang benar kepadaku, bahasa ia tak ketinggalan mentelaah, sesudah guru pulang ke rumahnya.
Ingatanku kembali pula kepada baris putih yang kupandang tadi. Sekarang baru kuketahui, bahasa bukannya maling yang telah berdosa, melainkan si Jaman yang telah meninggalkan kami.
Dengan segera aku pun mulai melipat selimut tebalku. Setelah kuhamparkan bagus-bagus, kugulunglah bersama-sama dengan kasur dan tikar.
Serta selesai, aku pun turun ke pancuran.
Wah! bukan main sejuknya mandi sekali itu. Hanya sekali setahun aku boleh mengecap sebagai yang kurasai sekarang, Yakni mandi di dalam alun suara tabuh. Tak bandingnya nikmat yang kuperoleh ketika mandi itu. Di dalam kalbuku timbul suatu perasaan yang baru, Yakni perasaan hendak berhati-hati, hidup dengan beriman, pendeknya hatiku hendak berjalan di padang kebaikan dan hendak tinggal di alam orang saleh-saleh. Serta selesai mandi, aku pun mengenakan kain sarung, bersiap hendak sembahyang subuh.
Waktu beragak hendak pulang ke rumah, kawan-kawan masih bergelung juga, rupa-rupa tak berlaku perubahan saat atas dirinya.
Setiba di rumah kulihat ibu dan bapa telah duduk bernantinanti di beranda muka.
Dengan penuh kehormatan, pergilah aku bersimpuh ke hadapan mereka itu, meminta ampun atas dosa atau perkataanku yang ter-dorong.
Sesudah aku dapat ampunan, kami pun masuk ke dalam.
Di ruang tengah kulihat permadani sudah terhampar. Di atas lamat puspa warna itu berjejer piring halus-halus berisi kue-kue, disela oleh tempat basuh, tekoh dan cembung ketan.
Pikirku: “Wah! kaya benar ibu bapakku hari ini. Hidangannya rasa-rasa layak jadi santapan raja-raja”.
“Makanlah Li!” Kata ibu menyuruhku mengecap sajiannya.
“Biarlah saya bersama-sama dengan tamu kelak, mak”, jawabku pura-pura berbasa.
“Marilah kita makan dulu!” Kata ayah, demi dilihatnya aku tak berani seorang diri.
Kami pun makanlah. Alangkah lainnya perasaan lidah sepagi itu. Sudah sebulan ia biasa tempoh saja pagi-pagi hari. Sekarang terperintah keras, akan membalik-balik makanan pula.
Baru dua suap aku mengecap nasi hari raya itu, kedengaran orang naik di tangga muka. Demi orang itu berjalan mendekati kami, maka nyatalah yang datang itu tak lain si Jaman juga.
“Masuklah Man!” seru ayah mengajak orang muda itu ke dalam.
Karena undang-undang basa agak dibubarkan ketika Lebaran, si Jaman pun masuklah, lalu duduk di sisiku.
“Mengapa engkau sepagi itu benar bangun, Man? Tanyaku akan meninjau hati sahabatku itu.”
“Hm!” lalu tertawa nabi. Hanya begitu jawaban yang kuperoleh.
Bapa pun pura-pura tak acuh saja tampaknya.
Ketika aku keheranan benar barangkali, si Jaman berkata: “Engkau tahu Li, bahasa sekarang hari raya? Bukankah dewasa ini tempat orang bersuka-sukaan, dan juga tempat orang bermanis-manis tentangan adat tuturnya? Untuk yang demikian itu, tentu saja kita mesti bangun pagi. Tentu kita mesti segera mencari teman-teman yang akan menemani kita bersuka-na.”
Aku tak mengerti sedikit juga, apa-apa ujud perkataan si Jaman itu. Tak ubahnya sebagai malam yang sangat gelap bagiku.
Tetapi mendengar itu tertawa di belakang kami, tahulah aku bahasa si Jaman telah menyindir.
Hari berangsur tinggi juga.
Setelah sudah makan, maka kami pun pergi duduk-duduk ke beranda.
Dari jauh telah kelihatan orang berpakaian apik, barangkali hendak ke mesjid.
“Nah” kata bapa “kita bersiap lagi!”
Kami pun masuk ke dalam.
Di atas meja kecil di sudut rumahku itu, telah terletak dua pasang pakaian yang sangat berlainan daripada pakaian hari-hari ini.
“Memakailah Man!” Kata ibu kepada temanku. “Engkau biarlah bersarung batik saja. Sarung Bugis itu suruh pakai si Rusi, karena lebih berat tampaknya.
Si Jaman pun mengambilkan sarung itu untukku. Mula-mula aku belum mengerti juga apa yang akan terjadi. Tetapi sesudah lengkap apa-apa yang harus dipakai, maka tampaklah perbedaanku dengan si Jaman. Pakaianku lebih berdarajat tupanya daripada pakaian kawanku itu.
“Biarlah aku memakai pakaian yang lain saja mak” kataku kepada ibu.
“Tak boleh jadi” jawab ibu. “Aku lebih senang, jika engkau ber- pakaian yang sedemikian.”
Dalam pada itu ayah telah mengajak, dan kami pun menurutlah di belakang.
Setiba di mesjid, kami pun memberi salam.
Wah! langkah ringannya rasa badanku, setelah duduk di muka khalaik bersama itu.
Berpasang-pasang mata yang memandang kepadaku.
Masing-masing di atas wajah rupa-rupa hendak tertawa. Sekirnya takkan memalukan orang tua, sudah mau aku lari saja dari mesjid itu.
Sesampai kami di luar mesjid, aku lihat teman-teman sama-sama mengaji telah tegak menantikan kami. Di antara mereka itu ada pula orang-orang yang dekat rumah orang tuaku.
“Ke mana kita lalu?” tanya seorang di antara mereka itu kepada ayah.
“Ke jalan besarlah” jawab ayah, sambil menyuruh kami berjalan bersama-sama dengan orang banyak itu.
Di tengah jalan tak sunyi-sunyinya aku dari gangguan teman-teman. Setengahnya ada yang pura-pura memperkatakan binatang atau tumbuh-tumbuhan, tetapi ujung keceknya kepada aku juga.
Rasa-rasa hendak kutanggalkan sarungku, barangkali karena kain itulah aku dapat usikan.
Si Jaman tertawa kecil pula. Tak pula dikatakannya benar, hendak ke mana kami akan berhari raya.
Setelah kira-kira sepuluh menit berjalan, maka sampailah kami kehadapan sebuah rumah yang menurut hematku rumah pamili bapakku.
Anak-anak bukan main ramainya menonton kedatangan kami. Setengahnya masih memegang puntung pembakar petasan.
Perempuan-perempuan penuh sesak di serambi muka. Kutilik-tilik, kuparemat-amati, ... semuanya lebih mengutamakan memandang wajahku.
Di sini baru berdesir darahku. Seluruh tubuhku merasa dingin. Panas Matahari yang bagian memegang dari langit, sedikit pun tak terasa olehku. Tempat berkeliling rasa-rasa berdinding es.
“Naiklah!” seru seorang perempuan yang telah agak baya. Kami pun majulah ke muka. Ketika menaiki jenjang, bapaku sudah tak ada lagi. Tapi hal itu kupendam saja, karena malu rasanya akan bertanya.
Setelah sampai ke beranda, tuan rumah menyambut kedatangan kami. Dalam pada itu aku yang dipapahnya sampai-sampai duduk.
Perasaanku makin berjadi-jadi dinginnya. Kupiah sutera yang se-baru itu, rasa tak ada di kepalaku. Lebih-lebih ketika kulihat, bahasa si Jaman dan akulah yang lebih diutamakan dalam perjamuan itu. Kami didudukkan di ujung, di atas sebatang kasur tebal, dengan bantal beranggit.
Ketika orang menghidangkan makanan, aku mempermainkan sudut mata ke tempat yang berkeliling.
Di dinding, di atas kepala kawanku, tergantung sebuah tempat surat. Di permukaannya yang berenda-renda itu tertulis “Rostina”.
Darahku berdesir. Ingatlah aku rumah Rostina kiranya yang kunaiki ini. Sekali-kali tak kusangka, bahasa aku akan meningkat janjang gadis itu.
Rostina aku kenal kepadanya. Kerap gadis itu bermalam di rumah orang tuaku. Gadis itu pamili bapakku juga.
“Oh!” aku mengeluh, bagaimana maksud ayahku, memperbuat aku sebagai ini. Hendak... tak dapat kuteruskan perasaan hatiku itu.
Aku tahu betul, bagaimana tabiat gadis itu. Biasanya ia pemurah, baik hati, tetapi keras kemauannya.
Jika sebenarnya aku hendak dipertalikan dengan dia, akan bagaimana rasa hatiku?
Dengan cepat pikiranku membantah: “Ah, tidak, masakan orang yang belum berpencaharian hendak mencari jodoh. Pekerjaan itu sia-sia betul; akan membawa ke jalan melarat juga.”
Tetapi... ja, aku terpikat oleh kelakuan anak dara itu...
Sementara aku dimabuk angan-angan itu, orang telah mulai mencuci tangan, bersiap hendak makan.
Aku pun menurut pula. Tetapi awan gelap dihatiku tadi, sudah berangsur hilang. Sungguhpun belum tentu aku akan berbesar hati, tetapi aku sudah rela diperkatakan kawan-kawanku, asal bertentangan dengan Rostina. Serta selesai makan, kemenyan pun dibakar orang, lalu dibacakan doa selamat.
Aku serta pula mengamin, tetapi pikiran tak searah juga yang di dalam do'a itu. Kepalaku bagi penuh sesak oleh berpuluh-puluh masalah, sehingga tak kusangka-sangka orang telah minta diri hendak kembali ke tempat masing-masing.
Aku pun diajak oleh si Jaman berdiri menurutkan orang banyak itu. Setelah memberi salam kami pun keluar, lalu turun ke halaman.
Setiba di halaman, aku lihat perempuan-perempuan telah penuh sesak pula di beranda, menukikkan pemandangannya ke wajahku juga.
Di tengah jalan tak henti-hentinya aku mendapat usikan dari temanteman. Sampai pulang aku diberi orang salam, yang berupa cumbu-cumbuan....
17
Terlambat
(Panji Pustaka, No. 5—6/Lebaran, 16 Januari 1934)
Malam Lebaran!
Di atas kasur yang terbentang berhampari dengan tikar pandan putih halus di tepi dinding ruang. Tengah sebuah rumah besar, adalah seorang perempuan tua duduk bersimpuh, terasing agak jauh sedikit daripada yang lain-lain. Umur perempuan itu sudah lebih daripada lima puluh lima tahun; kepalanya yang ditutup dengan tengkolok putih bersih sudah penuh dengan uban, kulit mukanya yang kekuningan kena-sinar lampu�, gantung sudah berkerut dan kering. Sungguhpun demikian, sungguhpun usianya sudah selanjut itu, tubuhnya masih kuat, cahaya matanya masih terang dan langkahnya masih cepat dan tegap. Memang, sebab dari kecil badannya terpelihara dengan baik. Ia berada dan setelah ia remaja putih lalu kawan dengan seorang tuanku laras, yang kemudian dijadikan districtshoofd atau demang di negerinya. Sekarang ia sudah randa, bercerai mati dengan suaminya. Akan tetapi ia masih mulia di mata orang, masih dihormati dan disegani oleh seisi kampungnya.
Adat tabiatnya keras: katanya pantang dipatahkan, hendaknya pantang dilalui.
Kira-kira sepuluh tahun yang lalu ia bercedera, berselisih paham dengan anak kandungnya, anak laki-lakinya hanya seorang itu saja. Imran dikirimnya ke negeri Belanda, akan belajar ilmu hukum di sekolah tinggi di sana. Amat besar pengharapannya supaya anak itu menjadi meester in de rechten kelak dan... bekerja menjadi hakim seperti presiden landrasd di negerinya. Akan tetapi dua tahun lagi akan tamat sekolahnya, Imran menyakitkan hatinya. Sakit yang tak terperikan, berang yang tak dapat dipadamkan.
Dengan tidak disangka-sangkanya akan itu mencempungkan diri ke dalam pergerakan politik, bahkan menjadi ketua pula dalam golongan itu. Dilarangnya tiada terlarang dan ditengahnya tiada tertegarah, maka dalam panas hati dan berang dijatuhkannyalah hukuman yang amat berat kepadanya: putus ia beranak kepada Imran, kalau anak itu tidak melepaskan cita-cita politik yang sekali-kali tidak disukainya itu dengan segera.
Dua tahun kemudian daripada itu Imran pulang ke kampungnya dari negeri dingin dengan bergelar meester. Sungguh, ia tidak diterima oleh Ibunya dengan suka cita, karena ia tidak mau menurut nasehat dan kehendaknya. Imran tak dapat menghilangkan cita-cita yang tumbuh dan telah tertanam berurat tunggang di dalam hati nuraninya. Dengan sabar dan tenang, tetapi diiringi dengan cerca dan sumpah oleh ibunya yang keras siasat itu, ia pun berangkat ke tanah Jawa; di sana ia disambut oleh kawan-kawannya yang sepaham dan sehaluan dengan tempik-sorak kegembiraan.
Bagi ibunya Mr. Imran telah mati, tiada menjadi sebutan lagi. Senang hatinya berbuat demikian, berlaku keras, sesuai dengan pikiran dan paham almarhum suaminya. Ia masih ingat perkataan marhum itu itu dalam suatu perkara: “Kadang-kadang kita mesti berlaku dengan keras, keras-bengis, sebab kalau lemah kita seolah-oleh berbuat pada diri sendiri dan kepada masyarakat”. Sampai sekarang perkataan itu pun masih dipegangnya dengan teguh, bahkan telah dijadikannya perkataan dia sendiri.
Sudah beberapa kali anak-anaknya yang perempuan dan menantunya berusaha hendak memperdamaikan dia dengan Imran, tetapi selalu di-tampiknya.
“Imran tidak ada padaku lagi, katanya dengan marah.
“Kak Imran sudah masyarakat sekarang, ibu,” kata mereka itu memberanikan diri. “Selalu namanya disebut-sebut orang, gambarnya kerap kali tertera dalam surat-surat kabar dan majalah. Buah pikirannya dipahamkan orang dengan gembira. Barang di mana ia berpidato menganjurkan persatuan dan semangat kebangsaan, senantiasa ramai.
“Ya, aku sudah melihat gambarnya,” kata ibu itu dengan cemeeh... “berkopiah kain lurik, berkain pelekat buruk seperti dimamah sapi, berterompah.... Tak ubah sebagai tukang pedati. Hm, begitu rupanya lukisan semangat kebangsaan, kemuliaan bangsa!! Persatuan.... Sedangkan aku dengan dia tidak tersatukan olehnya, apa konon rakyat yang berjuta-juta. Tida terbuang percuma saja uangku beribu-ribu buat menyekolah dia. Jangan kalian sebut-sebut juga anak durhaka itu di hadapanku... ia sudah kukikis dari sanubariku.”
Setelah berkata demikian ia pun berjalan merentak dengan berang. Dan sungguh, rupanya tidak sedikit juga ia teringat akan anaknya yang sulung itu. Kalau ada, hanya sebentar saja yakni waktu hari baik bulan baik seperti itu; tetapi ingatan itu selalu dihapuskannya dengan ejekan dan penghinaan.
Akan tetapi semalam itu lama benar ia termenung. Gelak anak menantunya di kepala rumah, derum suara orang takbir dan gemuruh bunyi tabuh di surau dan lain-lain, seolah-olah tiada terdengar olehnya. Sirah yang telah lumat ditumbuknya di dalam gobek tidak dimakannya. Ia termangu-mangu, pikirannya melayang jauh kepada anak yang sudah dibuangnya.
Sudah delapan tahun Imran tinggal di tanah Jawa, pergi ke sana-sini menyebarkan cita-citanya, dan sudah sekian lama pula ia menderita dan menanggungkan kesengsaraan, kemiskinan... hidup seperti, bahkan kurang daripada seorang kuli. Biarpun begitu, tiada pernah ia meminta orang barang sesen pulang! Keadaan itu ada sampai ke telinga ibunya; mula-mula senang benar hatinya mendengar kemelaratan anaknya itu. Kerap kali ia berkata dengan kerenyut bibir: “Tanggungkan! Demikian janjinya, jika orang tidak mendengar nasihat. Coba turut kataku dahulu, sudah lama ia menjadi hakim: hidup senang, berpangkat tinggi dan bergaji besar! Akan tetapi seketika sesudah itu hal itu pun tidak pula menjadi perhatian lagi padanya. Baik Imran akan makan tanah, baik bagaimana jual pun, ia tidak peduli. Masa bodo... salah sendiri! Pun ketika ia mendapat kabar dari seorang kenalannya di Betawi bahwa Imran dalam dua tiga bulan yang terakhir acap kali sakit sudah kurus, sedang uang tak ada sesen jual padanya, orang yang keras hati dan tetap pendiriannya itu berkata dengan geram: Salah sendiri!
Pagi hari. Pintu dan jendela sudah terbuka semuanya. Perempuan tua itu berdiri dekat sebuah jendela serta menghadap ke halaman dengan tenang. Hawa lembab; meskipun matahari sudah lama terbit, tetapi tidak kelihatan sebab tersembunyi di balik awan yang bersisik-sisik. Angin ada, daun kayu tidak bergerak sedikit juga. Di muka rumah-rumah dan di jalan raya telah mulai ramai: anak-anak sudah bersorak-sorak dengan riang,—riang dan sukacita karena mereka memakai baju baru, celana baru, ya, segala baru. Dan Menuju ke masjid sudah berbondong-bondong pula orang, yang berpakaian indah-indah dan berharum-haruman. Kebanyakan mereka itu merokok,—rokok yang tak pernah diudutnya siang hari dalam bulan yang baru lalu itu. Sedang perempuan itu berdiri memandangi orang yang pergi sembahyang aidilfitri dengan riang itu, tiba-tiba ia berasa pening, seolah-oleh dimabuk hawa udara yang lembab harum itu. Ia undur ke belakang dan dengan berhuung-huung ia pun terperanjat di atas sebuah kursi dekat meja tulis yang tidak jauh dari dia.
Lama ia duduk di situ lurus-lurus, seperti pohon kayu mati yang masih dapat berdiri lurus bekerja lamanya. Akan tetapi hati dan sukmanya buncah dikacau keraguan tentang peri keadaan sesudah sepuluh tahun.
Baiklah ia berkerat rotan dengan anaknya, meski si anak itu penuh dengan kesalahan sekalipun? Baiklah ia tak mengaku anak akan anak kandungnya sendiri sepuluh tahun lamanya, karena si anak itu berkuat pada pendiriannya, hanya sebab pendirian si anak itu bertentangan dengan pendirian dan kemauannya? Baiklah ia menaruh kasam-kasemat, melanggar perintah Allah bahwa tiap-tiap makhluk harus hidup damai dengan sesamanya? Ya, telah sepuluh tahun ia melupakan ampuan, oleh karena tinggi hati dan keras kepala.
“Tidak, tidak,” komat-kamit bibirnya yang gemetar. Ia telah sesaat, sepuluh tahun ia sesat dan keliru!
Dan tangannya yang gemetar meraba-raba di atas meja mencari pinsil dan kertas. Ia hendak membuat sepucuk surat kawat kepada kenalannya di Betawi, menyuruhnya dia datang kepada anaknya dan meminta dengan sedapat-dapatnya, supaya Imran pulang menjelang ibunya dalam bulan hari raya itu juga. Kawat itu hendak dikirimnya bersama dengan uang sekali.
Akan tetapi sementara ia memikir-mikirkan dan mencari-cari kata kata yang akan ditulisnya—baru sekali itu ia berasa bimbang, seumur hidupnya—datanglah seorang opas, pos mengantarkan sepucuk surat, kawat kepadanya. Ia terkejut dan berdiri dari kursinya. Belum jauh benar lagi, takang, dan berdiri dari
Beberapa orang berlutut berkeliling orang tua yang tengah pingsan itu, seraya memercit dahinya dengan air. Seorang mengambil sehelai surat kawat yang terkembang dari tangannya, lalu dibacanya: “O, ini sebabnya,” katanya dengan sedih dan sayu. Di dalam kawat itu tersebut dengan pendek bersahaja, bahwa Mr. Imran telah pulang ke rahmatullah....
18
Penipu yang Licin
(Panji Pustaka, No. 14, 16 Februari 1934, Thn. XII)
Tan Kim Nio, adalah seorang perempuan terpelajar, bekas istri seorang kasir pada salah satu bank di Betawi. Umurnya kira-kira 45 tahun. Sungguhpun usianya sudah lanjut tetapi kulitnya belum kisut, dan rupanya tak ubah sebagai orang berumur antara 35 dan 30 tahun. Hal itu sebabnya lain tidak karena semasa bersuami hidupnya amat senang, suka pelesir dan boros. Tan Kim Nio sangat berur, tidak hemat cermat membelanjakan uang. Ia tidak peduli berapa pun uang yang habis, asal hatinya puas dan senang. Siang malam kerjanya bersuka-ria, bersedau gura, berpesta-pesta dan pesiar kian kemari. Berjudi, main ceki dan lain-lain sebangsanya amat digemari perempuan itu. Oleh karena hidupnya amat boros, suaminya tekor (uang Bank terpakai) dan dituduh menggelapkan uang. Suaminya diperhentikan dari dari pekerjaannya dan dihukum penjari pula beberapa tahun. Karena sedih, kesal dan sesalan yang tak putus atas kejadian itu, maka suami yang malang itu mati menggantung diri dalam penjari. Meskipun suaminya sudah meninggal dunia, tetapi tabiat Tan Kim Nio sedikit pun tidak beruh daripada yang sudah-sudah. Segala harta peninggalan suaminya dihabiskannya belaka. Lama kelamaan perempuan itu jadi miskin, dan terpaksa tinggal di rumah yang kecil. akan tetapi tingkah lakunya yang boros itu belum juga ada perubahannya. Ia seakan-akan tidak insyaf akan dirinya. Dandannya seperti biasa, dan tingkahnya sebagai dahulu juga, Apa saja barangnya yang boleh dijadikan uang, lalu dijulanya untuk berjudi dan pelesir. Akhimya Tan Kim Nio jatuh melarat dan sengsara.
Karena hawa nafsunya tidak dapat ditahannya, maka timbullah dalam hatinya hendak melakukan pekerjaan yang tidak senonoh. Mulamula Tan Kim Nio merentenkan uang. Dipinjamnya uang dengan sepuluh pulang dua belas, lalu dipinjamkannya kepada orang lain sepuluh pulang lima belas. Ia tidak lama berbuat demikian, sebab tak berapa hasilnya yang diperolehnya. Maka dengan tipu muslihat yang halus dan dengan jalan sembunyi, Tan Kim Nio menjual anak gadis orang.
Begitulah kerjanya dari hari-sehari. Bermacam-macam tipu daya yang jahat dilakukannya, asal saja ia mendapat uang. Salah satu dari- pada tipu muslihatnya itu, adalah seperti tersebut di bawah ini:
Pada suatu petang Tan Kim Nio pergi berjalan-jalan ke Pasar Baru. Ia masuk ke sebuah toko mas intan, akan melihat-lihat barang dalam toko itu. Maka tampak olehnya sebuah kalung berlian yang amat bagus. Harga kalung berlian itu tidak kurang dari f 1000. Hatinya tertarik dan amat ingin hendak memperoleh barang itu. Tetapi apa daya, uang sesen pun tidak punya. Tan Kim Nio pulang ke rumahnya. Semalam-malaman itu ia hampir tak dapat memejamkan matanya karena pikirannya kepada kalung berlian itu saja. Pagi-pagi buta ia sudah bangun, lalu berdandan. Kira-kira pukul 7 lewat Tan Kim Nio keluar dari rumahnya. dengan sebuah taxi ia menuju rumah seorang dokter. Dokter itu spesialis dalam hal mengobati orang sakit zenuw. Setelah ia dipanggil masuk ke dalam, maka dokter pun bertanya, katanya:
“Nyonya sakit apa?”
“Saya tidak sakit, tuan dokter!” ujar Tan Kim Nio dengan tenang.
“Kalau nyonya tidak sakit, apa maksud nyonya datang kemari?” ujar dokter pula.
“Anak saya sakit!”
“Sakit apa?”
“Entahlah, dokter! Tapi kalau penyakitnya datang, ia selalu menyebut-nyebut:”Mana kalung saya! mana kalung saya!“ Saya sendiri amat heran akan penyakit anak sya itu. Saya takut kalau-kalau mendatangkan bahaya, sebab ia seakan-akan hendak menyerang sambil menanyakan”mana kalung saya.“
“Anak nyonya itu ada dibawa kemari?” ujar dokter sambil meng- angguk-anggukkan kepala.
“Tidak tuan dokter!”
“Nah, bawalah ia kemari sore nanti, boleh saya periksa.”
“Baiklah, tuan dokter!”
Petang harinya Tan Kim Nio pergi ke toko mas intan yang dimasukinya kemarin, Maka ia pun berkata kepada tuan toko, katanya:
“Saya hendak membeli kalung itu, tetapi suami saya hendak melihat barang itu lebih dulu. Dia tidak sempat datang kemari. Sebab itu saya hendak membawa barang itu, dan nanti di rumah saya bayar harganya.”
“Boleh, nyonya, tidak ada alangan!” ujar tuan toko dengan tidak berpikir panjang.“Nyonya boleh bayar saja nanti harga kalung itu kepada employee saja.”
Kalung berlian itu diberikan tuan toko ke tangan nyonya Tan Kim Nio. Seorang employee disurahnya mengiringkan nyonya itu ke rumahnya. Mereka kedua pun naik auto menuju rumah dokter. Setelah sampai, maka kata nyonya Tan Kim Nio kepada employee itu;
“Tunggulah sebentar, saya perlihatkan kepada suami saya!”
Employee itu pun duduk di beranda muka. Tidak lama antaranya ia dipanggil dokter masuk ke dalam, lalu disuruhnya duduk. Maka dokter mengambil geretan, lalu ditorehkannya perahan-lahan ke punggung tangan employee itu, serta katanya:
“Tuan ada merasa apa-apa?”
“Saya tidak sakit, tuan dokter,” ujar employe itu dengan gugup bercampur heran.“Mana kalung saya? Mana uang belinya?”
Dokter teringat akan perkataan ibu orang muda itu. Maka pikir dokter: “Benar seperti kata ibunya. Orang muda ini hanya sakit zenuw. Penyakitnya mulai datang, bagus!” Maka katanya pula:
“Tuan suka ingat akan arwah nenek moyang tuan yang telah meninggal?”
“Saya tidak sakit! Mana kalung saya? Mana kalung saya?” ujar employee itu berulang-ulang sambil berdiri mendesak kepada dokter.
“Ya, nanti saya berikan!” ujar dokter dengan lemah lembut, sebab ia tahu orang muda itu dalam sakit.
“Sabar, duduklah dulu!”
“Tidak, mana kalung saya! Isteri tuan membawa kalung dari toko. Ia berkata bahwa tuan yang akan membayar harga kalung itu.”
Demikianlah employee itu selalu mendesak meminta kalungnya sehingga baju dokter ditarik-tariknya. Ia mengatakan tidak sakit, dan meminta kalung itu juga. Akan tetapi dokter tidak memedulikan perkataan orang muda itu, sebab ia yakin bahwa orang itu sedang diserang penyakit zenuw. Employe itu tak ubah seperti orang kehilangan akal dan berkata pula:
“Istri tuan membawa kalung kalian. Mana kalung itu?”
“Saya tidak punya istri!” ujar dokter pula dengan tenang, akan menyabarkan hati orang muda itu.“Saya tidak ada menyuruh orang membeli kalung. Buat apa kalung itu, sebab saya di sini hidup bujang.”
“Tidak! mana kalung saya? Isteri tuan yang membawa kemari.”
“Itu bukan isteri saya, melainkan ibu tuan, bukan?” ujar dokter pula.
“Tidak, tidak: Mana kalung saya? Mana dia perempuan itu?”
Dokter selalu didesak eploye itu. Melihat hal orang muda itu, dokter mulai takut kalau-kalau terjadi yang tidak baik. Maka ia pun pergi ke kamar sebelum, anak memanggil ibu orang muda itu. Akan tetapi perempuan itu tak ada lagi. Ketika itu hati dokter mulai bimbang. Tetapi persangkaan demikian segera lenyap dalam hatinya, sebab boleh jadi ibu orang muda itu pergi ke mana-mana sebentar dan lekas pergi. Maka diteruskannya memeriksa penyakit eploye itu. Eploye itu tak suka diperiksa dokter, dan minta menumpang menelepon sebentar.
Permintaan itu diizinkan dokter, dan tidak lama kemudian datanglah tuan toko mas intan ke sana. Setelah dikatakan dokter peristiwa itu, maka tuan toko menerangkan bahwa orang muda itu employenya, dan dia sekali-kali tidak sakit. Mendengar keterangan tuan toko itu, dokter insaf akan dirinya, dan nyata bahwa dia sudah tertipu. Maka kata tuan toko sambil mengancam:
“Rupanya tuan dokter tidak tahu membedakan orang sakit dengan orang tidak sakit. Kalau tuan tidak mau membayar harga kalung berlian itu, niscaya akan saya umumkan dalam surat-surat khabar atas kejadian ini. Dengan jalan demikian niscaya percuma saja tak akan ada orang yang mau berorbat kepada tuan. Bagaimana? Suka tuan membayar harga kalung itu atau saya umumkan dalam surat khabar?”
Dokter termenung mendengar perkataan tuan toko itu. Ia baru saja menjalankan praktik di kota Betawi, tetapi namanya akan tercela karena itu sekali-kali ia tidak suka. Akhirnya dengan terpaksa, dikeluarkannya uang f 1000 akan pembayar harga kalung berlian itu.
19
Salah Mengerti
(Panji Pustaka, No. 28, 6 April 1934, Thn. XINN)
Ada seorang asing baru datang dari Betawi. Ia menumpang pada sebuah hotel yang sedang saja besarnya. Adapun orang asing itu belum pernah ke Hindia ini. Sebab itu ia tidak pandai berbahasa Melayu. Bahasa Belanda sepatah pun tidak mengerti. Keesokan harinya pagi-pagi ia sudah keluar dari hotel itu hendak mengurus sesuatu hal dengan salah satu Bank di Betawi-Lama. Sampai pada simpang sebuah jalan dia berdiri, menanti taxi yang akan ditumpangnya. Di pinggir jalan tampak olehnya sebuah tiang, dia atasnya bertulis: Jalan pelan-pelan. Dengan segera diambilnya notes, lalu dituliskannya peringatan itu, yang disangkanya nama jalan kehotelnya. Tidak lama kemudian sebuah taxi lewat, lalu ditumpangnya. Setelah selesai urusannya dengan Bank itu, ia pun pulang kembali kehotelnya. Sebuah taxi dipanggilnya lalu naik.
“Ke mana tuan?” ujar supir.
“Jalan pelan-pelan!” jawab orang asing itu, sedang dia tidak mengerti apa yang dikatakan supir itu.
Auto berjalan perlahan-lahan. Ketika auto itu sampai pada jalan bersimpang, supir pun berkata pula:
“Ke mana tuan?”
“Jalan pelan-pelan! : ujar orang asing itu pula
“Makan tangan kita, Mat!” ujar supir kepada keneknya dengan girang., Lihat hari, pukul berapa sekarang! Auto kita akan dipakainya berjam rupanya.“
Auto dijalankan supir perahan-lahan saja. Melihat hal itu orang asing itu amat heran. Ia tidak mengerti apa maksud supir itu berbuat demikian. Mula-mula hendak ditegurnya, supaya auto dijalankan lebih cepat. Tetapi maksudnya itu diurungkannya sebab dengan jalan auto demikian, ia dapat memperhtikan keindahan kota Betawi. Maka di-biarkannya saja auto itu berjalan lambat.
Auto ditujukan supir ke Meester Cornelis. Dari sana balik lagi melalui jalan Manggarai. Orang asing itu merasa sudah lama di atas auto. Tadi dalam beberapa menit saja ia sudah sampai ke Bank. Sekarang sudah lebih sejam belum juga sampai kehotelnya. Maka timbullah sak wasangka dalam hatinya. Tak dapat tiada ia sudah ditipu oleh supir itu. Waktu ia pergi ke Tiongkok dahulu, sudah juga diperbuat supir macam itu. Kalau supir itu mengetahui bahwa orang yang naik autonya baru datang ke negeri itu, maka dibawanya berkeliling-keliling kota, supaya dapat bayaran yang mahal. Maka ia pun berkata dalam hatinya: “Heh, aku sudah ma'lum akan tipu muslihatmu. Engkau boleh bawa aku ke mana suka. Bagiku senang, karena boleh melihat-lihat keindahan kota dengan auto dan bayarannya murah pula. Nanti kubayar sekadarnya saja, sebanyak kubayar pergi ke Bank tadi. Kalau engkau tidak mau menerima pembayaranku yang sedikit itu, kubawa saja engkau kepada polisi. Nah, bukan saja engkau rugi sewa automu amat murah, tetapi pasti engkau dihukum pula karena menipu orang.”
Matahari mulai condong ke barat. Perut orang asing itu sudah berkeroncong, sebab pagi tadi hanya roti sepotong saja masuk perutnya. Amarahnya timbul karena nyata bahwa ia sudah tertipu.
“Stop!” ujarnya tiba-tiba.
Auto diperhentikan oleh supir.
“Jalan pelan-pelan!” ujamya pula, sedang mukanya merah menahan amarah.
“Kapan uda jalan pelan-pelan tuan!” jawab supir dengan hormat.
“Ape tuan mau jalan pelan-pelan bener?” katanya pula sambil menganggukan kepalanya.
Orang asing itu menganggukan kepalanya pula. Tetapi ia tidak mengerti apa yang dikatakan supir itu. Pada sangkanya supir itu sudah mengerti apa yang dimaksudnya.
Auto berjalan perlahan-lahan benar. Hampir sama cepatnya dengan orang berjalan kaki. Melihat hal itu ia semakin marah. Nyata kepadanya bahwa supir itu tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dan boleh jadi juga supir itu berpura-pura tak tahu nama jalan yang disebutnya, supaya lebih lama autonya dipakai. Maka tampak olehnya seorang orang berdiri di tepi jalan tram. Orang itu berpaantalon, bertopi vilthud, gagah dan tampan rupanya. Ia bermaksud hendak meminta pertolongan orang itu.
“Stop!” katanya pula, lalu turun dari auto akan bertanya kepada orang yang berdiri itu.
“Ikut dia, Mat!” ujar supir kepada keneknya.
“Nanti dia lari, sewa auto kita belum dibayamya.”
Orang asing itu pun bertanyakan di mana, jalan pelan-pelan“ kepada orang berdiri di pinggir jalan itu. Mendengar pertanyaan itu orang itu bingung saja, karena tidak mengerti akan ujud perkataannya. Sambil mengangkat topi dan tersenyum sedikit orang itu menganggukan kepalanya. Dalam pada itu orang asing itu mengulang pertanyaannya sekali lagi. Maka orang itu pun berkata dalam bahasa Melayu, katanya: ”Mengapa saya tuan suruh jalan pelan-pelan?
Saya menunggu tram di sini. Apa dilarang berdiri di sini?“
Orang asing itu tidak mengerti apa maksud perkataan orang itu. Maka ia pun naik auto kembali. Orang itu pun berkata pula kepada supir: “Jangan-jangan orang ini mabuk atau gila supir bawa! Masa orang berdiri di sini disuruh jalan pelan-pelan. Yang bukan-bukan saja.”
Perkataan orang itu menjadi pikiran kepada supir itu. Ia takut kalah-kalau sewa autonya tidak diterimanya kelak. Jika benar seperti kata orang itu, tak dapat tiada ia rugi besar, sebab auto sudah lebih tiga jam dipakainya.
Auto pun sampai pada simpang jalan. Di situ ada berdiri seorang opas. Auto disuruhnya perhentikan pula. Ia turun dan bertanya kepada opas itu seperti tadi juga. Opas itu tercengang saja mendengar pertanyaan itu. Ia tidak mengerti. Yang dimakluminya hanya “jalan pelan-pelan” saja. Sebab itu maka jawabnya:
“Saya tidak bisa pergi, sebab saya jaga di sini.”
“Jalan pelan-pelan!” ujar orang asing itu sekali lagi, sedang muka-nya semakin merah.
“Mabuk agaknya orang ini,” kata opas itu dalam hatinya. “Lihatlah, mukanya merah amat sangat. Baik aku turut perintahnya. Kalau tidak, jangan-jangan aku dipukulnya nanti.”
Maka opas itu pun berjalan perlahan-lahan. Tetapi ia segera dipegang orang asing itu, lalu berkata pula:
“Jalan pelan-pelan?”
“Saya tidak mengerti maksud tuan!” jawab opas itu dengan muka agak pucat.“Tuan suruh saya jalan pelan-pelan, saya tuan pegang.”
Dalam pada itu datangian seorang hoofdpolitie egent dengan sebuah sepeda. Opas itu menerangkan apa yang telah terjadi atas dirinya dengan orang itu. Dan orang asing itu pun bertanyakan nama jalan itu pula kepada hoofdpolitie agent itu. Akan tetapi hoofdpolitie agent tidak pula mengerti apa yang dimaksudnya. Maka dibawanya orang itu ke Politie- bureau. Di hadapan komisaris orang itu menerangkan maksudnya, dan supir itu diadukannya pula, sebab telah menipu dia. Supir ditanya pula oleh komisaris, dan diterangkannya apa yang telah terjadi. Mendengar keterangan kedua orang itu, komisaris tertawa, karena nyata kedua-duanya salah pengertian. Maka diterangkan komisaris bahasa supir itu salah mengerti, dan sewa auto disuruhnya bayar. Setelah itu komisaris menelpon sekalian hotel yang ada di Betawi, menanyakan kalau-kalau ada nama orang asing itu menumpang di hotelnya. Lebih kurang sejam komisaris menelepon, barulah didapat hotel yang ditumpangnya.
20
Sesal Kemudian Tiada Berguna
(Panji Pustaka, No. 36, 4 Mei 1934, Thn. XII, Hlm. 628—629)
Hari telah pukul lima petang. Seorang perempuan pulang dari ladang kpoinya, sambil menjunung setengah sumpit buah kopi yang dipetiknya tadi.
Dari pagi tadi si Umi itu di ladang kopinya bekerja. Mula-mula ia menyudahkan pekerjaan yang tinggal sedikit kemarin, yaitu memacul rumput-rumput yang tumbuh dikebunnya itu. Setelah selesai pekerjaannya itu barulah ia memetik buah kopi yang masak-masak dan yang tua.
Tengah hari berhentilah ia memetik buah kopi dan pergi mandi serta sembahyang di pinggir sebuah bendar yang mengalir dekat kebunnya itu. Kalau ia telah mandi dan sembahyang, makanlah ia di sana.
Nasi serta lauk pauknya dan air kahwa telah tersedia di situ. Makanan ini waktu subuh tadi dimasak oleh anaknya yang bernama Sitti Nurhayati. Manakala si ibu itu sudah makan, ia pun mulai pula memetik buah kopi. Setelah dapat setengah sumpit pulanglah ia.
Setiba ia di rumah sumpit yang berisi buah kopi itu disambut oleh anaknya yang perempuan itu dengan muka yang jernih.
Si Sitti tidak dibawa-bawa ibunya lagi ke sawah atau ke ladang kopi, semenjak ia bertunangan dengan seorang anak sekolah demang yang bernama si Baharuddin yang hampir keluar.
Jika kedua pemuda itu menjadi suami isteri kelak, memang sudah sepantasnya kalau dilihat kepada perawakan mereka itu.
Yang seorang bagus, aksi dan bakal menjadi demang kelak. Dan yang seorang lagi cantik, molek, manis, menarik hati, pendeknya jempol.
“Mandilah ibu! Hari sudah petang,” kata Sitti kepada ibunya.
“Jadi, tunggulah sebentar. AKu akan melepaskan lelahku dahulu. Penghidupanku ini sangat susah. Betul-betul membanting tulang. Tetapi untung bagianmu akan baik rupanya dan penghidupanmu tidak akan susah penghidupanku ini. Beras sudah ada di rumah. Kayu api tak perlu mencari, hanya tinggal membeli saja lagi. Awak tidak berpanas setiap hari.
Meskipun demikian aku khawatir pada kemudian hari, kalau-kalau suamimu akan mencari engkau atau menyia-nyiakan engkau. Tetapi itu tidak apa! Kalau engkau telah bersuami kelak, nanti akan kumintakan engkau pekasih (guna-guna) kepada seorang dukun, supaya lakimu selamanya cinta dan kasih kepadamu.“
“Itu tidak usah ibu,” sahut Sitti“, bukankah itu dilarang agama kita! Kalau aku akan lama bersuamikan dia, ya tentu akan lama juga. Pendek bahagianku dengan dia, ya pendek juga.”
“Setan ini,” jawab ibunya dengan marahnya“pandai pula ia mematahkan perkataan ibunya. Orang akan menjaga keselamatan dirinya, entah apa katanya. Aku ini sudah tua, sudah lama hidup dan banyak dirasai.”
Ibunya merentak lalu pergi sambil berkata: “Tidak mau dibentuk anak durhaka ini!”
Enam bulan kemudian nikahlah si Sitti itu dengan si Baharuddin itu. Lima belas hari setelah perkawinan itu langsung, ibu si Nur berkata kepada anaknya: “Buatkan suamimu besok pagi sebagai biasa segelas kopi, tetapi campurkan yang berbungkus ini kedalamnya. Kalau tidak kau campur kopi itu dengan pekasih ini, atau kau buang obat ini, rugilah aku lima ringgit dan engkau tidak aku anggap anak lagi. Awaslah!”
Karena ia takut kepada ibunya dan sebab ia tiada mengetahui akan mara bahayanya, maka diperbuatnya apa kata ibunya.
Sepekan kemudian si Nurhayati itu pergi mengikuti suaminya pindah ke lain negeri, sebab lakinya telah dibenum jadi G. A. I. B.
Hidup mereka itu senanglah suami siteri. Gaib itu amat sayang kepada isterinya. Tetapi tiap-tiap bulan ia mengirimi orang tuanya uang lima belas rupiah atau sepuluh rupiah dan kepada mertuanya sering gita saja.
Mertuanya itu tidak senang mendengar itu. Kehendaknya, dia saja yang akan menerima perkiriman dan orang tua mentuanya sesen jangan.
Setahun kemudian si Sitti Nurhayati melahirkan seorang anak perempuan. Karena permintaannya, sebelum ia bersalin, ibunya si Umi, diminta datang. Dan ia pun datanglah menghadiri anaknya bersalin itu.
Selain daripada memenuhi permintaan anaknya itu, sebenarnya ia bermaksud juga akan datang ke situ karena ia ada mempunyai sebuah niat buruk kepada menantunya.
Beberapa minggu kemudian si ibu berkata kepada anaknya: “Siti ramuan ini campurkan pula ke air teh lakimu, supaya ia menurut perintahmu. Dan apabila ia telah menurut perintahmu, larang ia mengirim-ngirimi mertuamu, dan aku saja suruh kirimi!”
Melihat pekerjaan ibunya yang pertama kali amat berhasil dan oleh karena kebodohannya, pekerjaan itu dilakukannya pula.
Demikianlah hal itu terjadi beberapa kali berturut-turut, sebab tiap-tiap kali Umi itu datang, ada-ada saja yang dibawakannya untuk menantunya. Dan kehendaknya berlaku. Menantunya tak memedulikan orang tuanya lagi dan tiada mengirim apa-apa jua pun. Ia lebih dihormati dan disegani oleh menantunya.
Dalam dua tahun saja ibu Sitti itu telah membuat rumah yang bagus dan besar. Sawah ladangnya telah bertambah-tambah pula. Dari manakah uang diperolehnya akan pembeli itu? Tidak lain dan tidak bukan dari menantunya.
Setelah gaib, yang sudah menjadi asisten demang itu lima belas tahun dalam pekerjaannya dan telah mempunyai empat orang anak, maka badannya sehari ke sehari bertambah-tambah kurus dan wajahnya selalu pucat. Beliau itu mulai batuk-batuk. Payahlah dokter mengobatinya, tetapi penyakitnya makin lama makin mendalam dan akhirnya batuk darah. Maka dikimlah ia ke rumah sakit T. B. C. di pulau Jawa.
Berobatlah ia di sana beberapa bulan lamanya, tetapi penyakitnya tidak juga sembuh. Atas permintaan orang tuanya ia dikeluarkan dari rumah sakit dan dikirim kembali ke tempatnya. Dalam pada waktu itu atas pertolongan seorang dokter ia dipensiunkan. Maka kembalilah ia ke kampungnya.
Di situ ass. Demang pensiun itu diobati oleh kaumnya dan oleh keluarga pihak si Sitti secara obat di kampung. Alangkah jauh beda rupa badannya sekarang daripada mula ia keluar sekolah; sebagai siang dengan malam. Dahulu ia gemuk, tegap, mukanya penuh dan merah. Matanya bercahaya, betisnya berisi.
Sekarang..... ya..... ia kurus, pucat.
Sudah tinggal kulit dengan tulang saja lagi. Pipinya kempis, matanya jauh terbenam ke dalam dan kabur. Dadanya yang busung dahulu itu telah pecak; tulang jerejaknya telah dapat dihitung; nafasnya cepat turun naiknya. Bahunya sudah tinggi. Berangkat sedikit saja sudah payah ia.
Ia telah tahu bahwa penyakit yang ditanggungkannya ini, pekerjaan isterinya semata-mata, sebab mendengar khabar dari kiri dan kanan.
“Ooooh....Si...tti,” keluhnya sebentar-sebentar“”kalau....ti....dak....karena...engkau....tidak....serupa....ini....jadinya.....aku.“ Maka menangislah ia.
Mendengar itu hati si Sitti sebagai diiris dengan sembilu rasanya. Ia memeluk suaminya smabil meratap juga. Katanya: “Jangan disesali aku, jangan disalahi aku, engku. Itu memang pekerjaanku, tetapi atas paksaan ibuku yang telah meninggal itu. Yaaa....Allah....sembuhkan juga...lah....dosa....ibuku...itu. Tetapi karena salahku sendiri, aku akan memelihara engku dan mengobati engku dengan sungguh-sungguh hatiku.”
Tiba-tiba si Nurhayati mendengar anaknya yang kecil menangis. Pergilah ia mendapatkan anaknya itu.
Bertambah remuk hatinya melihat anaknya dan mengenang- nengankan nasib anaknya di belakang hari. Keempat-empat anaknya di kampung semuanya. Yang tua sudah hampir tamat sekolah H. I. S, yang nomor dua sedang duduk di kelas lima, yang nomor tiga di kelas dua dan yang bungsu baru berumur lima tahun. Oleh karena bapak anak-anak itu dalam hal keadaan semacam itu, dan sebab tak ada sanak-sanak yang kuasa menanggung mereka itu, maka ketiga anak itu dikeluarkan dari sekolah.
Si Sitti memeluk anak-anaknya serta menangis, sambil berkata dalam hatinya: “Aaah.....aku sesali juga ibuku.....Kalau tidak karena ajarannya tak sesusah ini aku.....Betul pada masa itu banyak yang terbeli, tetapi.....sekarang sudah habis terjual semuanya akan pembeli obat.....Yah.....untungku dan untung anak-anakku. Gelap yang akan kita tempuh, anak-anakku.”
Sekonyong-konyong si sakit batuk pula. Si Sitti pergi melihat. Bergumpal-gumpal darah hidup keluar dari mulut dan hidungnya. Sitti menolong suaminya itu seberapa dapat ditolongnya. Air matanya berlinang-linang; kasihan dan kesal bertalu-talu di dalam hatinya.
Baharuddin kelihatan amat lemah. Ia tiada tertolong lagi. Pada suatu malam ia menutup mata meninggalkan Sitti anak beranak dengan kesal tiada berkesudahan.
21
Pembalasan
(Panji Pustaka, No. 41, Thn. XII, 22 Mei 1934)
Marlene, seorang gadis dusun-kota, atau lebih betul barangkali kalau disebut gadis kota saja. Sebenarnya namanya bukan Marlene, Ramlinah, tapi ia akan lebih suka dan berseri nampaknya, bila dipanggil Marlene. Kepada tempatnya biasa korespondesni, selalu ditulisnya akhir-akhir ini Marlene. Boleh jadi pengaruh populer dan aktip Marlene Dietrich di layak gambar. Agaknya, tentu sekali dua kali sekurangnya, pernah dilihat dan didengarnya Dietrich beraksi di layar talki Tionghoa Bioskop.
Dengan sebenarnya kata gadis, hanya dapat diletakkan kepada Marlene, melihat kepada tampang muka dan perawakan juga. Ia telah tujuh kali kawin dan sekarang lagi yang kedelapan kalinya. Memang melihat gaya genitnya, rasa tak kan ada orang yang menyangka, ia gadis perawan. Tak boleh terletak Marlene sedikit juga. Belum habisiddahnya, telah ada pula yang memasukkan rekes pinangan. Dihitung-hitung orang agaknya, ditanyakan pada tuan kadi, bila talaknya jatuh dan pabila cukup idahnya.
Sayang sedikit...gaya dan genit yang berlawanan itu, dinodai oleh pekerti yang kurang senonoh. Laki-laki oleh Marlene, tak lebih tak kurang hanya suatu barang permainan, demikian dilakukannya, berguna hanya di waktu perlu dan di waktu kepingin, habis itu ia boleh minta cerai atau menghilang dari rumah suaminya. Selama ini laki-laki yang banyak demikian atas perempuan, tetapi Marlene memang demikian terhadap pada laki-laki. Telah sekian laki-laki yang mencoba dan merasai, tapi masih yang lain hendak mencoba juga. “Boleh jadi dengan si Abas, belum juga ada peruntungan baiknya, dengan saya...! ? Belum bertemu ruas dengan buku,” ujar pemuda yang tergila-gila kepada Marlene.
Aswar seorang petani modern, hendak mencoba peruntungannya dengan Marlene. Aswar, bukan tani, macam pak tani di desa! Ia tani modern. Sebutan itu telah tepat benar. Pergaulannya di kota dengan saudagar-saudagar besar dan amtenar-amtenar.
Ia anggota dari rumah bola Medan Perdamaian dan salah seorang pengurus dari voet teater di원บรรจุ. Zwarte Diamant. Aswar jago di meja bilyart, tapi bermain catur (schaak) memang ia kurang pandai.
Dikebunnya ada seorang boekhoulder merangkap clerk, yang menolongnya menyelesaikan buku-bukunya.
“Di tangan Aswar, rasanya takkan terbang-terbang lagi merpati itu,” demikian bisik desus orang.
Setahun telah berlalu.
Selama itu, encik Marlene telah hidup rukun dengan Aswar,—tampaknya keluar. Urusan rumah tangga orang bagian dalam kita tak tahu—, dan memang tak ada perlunya kita tahu.
Hanya... 2 bulan sesudah setahun yang kita kisahkan di atas, Marlene telah menghilang lenyap.
Tiga pekan kemudian, Aswar menerima suratnya yang telah berada di Medan Deli....
Aswar, tampaknya memandang kejadian yang berlaku atas dirinya itu, sebagai tak apa-apa. Seolah-olah ditutupnya saja, dengan: sesudah mencinta dan dicinta, harus menanggung menderita. Itu adat dunia; itu dia hidup. Duka, siapa orang yang tak duka, tetapi ada yang pandai menutup, ada yang tidak. Aswar rupanya masuk golongan yang pandai menutup.
Aswar, orang satria.
Settinggi-tinggi terbang bangau, surutnya ke kubangan juga.
Sembilan bulan kemudian, Marlene pulang kembali. Ia telah pesiar ke Penang, ke Singapura. Manila, bahkan sampai-sampai ke Makao dan ke Hongkong dengan seorang pemuda yang mewarisi pusaka Besar.
Sekarang ia surut, hendak berbaik dengan lakinya.
Aswar, tak keberatan menerima dan memberi maaf orang yang menyerah. Tawanan tak sepatutnya dibinasakan, apapula kalau telah menyatakan sesal, tobat. Betul-betul Aswar orang satria, orang mulia hati, berpadang lapang, dalam penilikan. Tapi sebaliknya banyak pula yang mencela-menghinakan: Aswar termakan barang guna-guna, buta matanya untuk yang lain, tak bermalu, sampai-sampai ada yang mengatakan tak berotak, orang gila; lebih-lebih sanak pamilinya.
Aswar tak hiraukan perkataan orang itu. Baginya: Orang campak tahi, kita campak bunga.
Jangan takkan dipandangnya sebelum mata, Marlene, perempuannya, malah makin dipupuk dipermanjanya. Apa kehendak Marlene tak dilaluinya, Tak berkehendak Marlene pun dibelikannya. Telah bilang ratusan pula kekayaannya penjulang pemanjakan Marlene, selama Marlene pulang ini. Marlene tenggelam dalam laut kepiutangan budi, hampir-hampir tak dapat bernapas lagi.
Pada suatu hari Aswar berkata pada perempuannya: “Dindaku, rupanya dalam jaman begini, makin dipertutukan, makin habis. Makin dicoba sehari lagi, makin dalam jatuh kita. Kopi hampir boleh disebut tak berharga. Getah, jangan dikata lagi. Upah mengambil dan memelihara saja, rasa-rasa takkan tertutup olehnya. Uang simpanan, makin hari makin berkurang. Ingatlah, keperluan hidup kita besar. Mengarungi rasa belum mungkin. Mau benarlah diperkecil, tapi tak juga berpadanan dengan berkurangnya pendapatan.
Sebab itu ada niatan kanda, kita hendak pergi ke luar negeri, meluaskan pemandangan. Habis benar uang karena itu, rasa takkan mengapa amat. Jelas pandam pekuburannya. Mula-mula kita hendak pergi ke Jepang, dari situ kalau mungkin ke Amerika, kemudian ke tanah Inggris, ke Paris, ke Turki, berakhir ke tanah Suci dalam musim haji di muka ini. Kalau telah demikian, telah ada buah hidup. Miskin atau tak beruang lepas itu, apatah lagi. Dunia sudah dicoba.
Mudah-mudahan pula, kembali dari perlawatan itu, kalau takkan pandai, sekurangnya cakap bertukar.
Tapi pula, untuk tempat kita beristirahat kembali dari perlawatan, harus kita buat sebuah rumah. Sedang saja jadilah, terpokok 3 a 4 ribu rupiah komplit. Sekarang pergilah adinda pulang dahulu, bicarakan maksud kita ini kepada ibu bapa, kaum keluarga. Jangan baik menurut kata kita saja.“
Marlene, menerima baik uraian suaminya, lalu pulang mendapatkan orang tuanya, sekadar menemui dan membicarakan sementara, akan kembali hari itu juga ke rumah di kebunnya.
Setengah jam tiba di rumah, sedang ia asyik menceritakan rancangannya laki istri di hadapan kaum keluarganya, Sarjan bujangnya di kebun, menyogok di pintu mengunjukkan sepucuk surat, isinya menyatakan. talak Aswar jatuh atas Marlene.
Marlene terhuung bingung... tak dapat berbuat apa. Tapi hilang akal, dia tidak. Seperempat jam kemudian, pikirannya dapat dikumpulkannya kembali. Dengan di antar oleh bapanya, ia berkendaraan auto ke kebun, akan mendapatkan Aswar menjelaskan kejadian itu.
Tapi...apa hendak dikata..., kebun sudah likuidasi. Aswar telah berangkat ke lapangan Talang betutu hendak ke Betawi. Dari situ dengan kapal Cikarang ke Jepang, melawat keliling Dunia, berdua dengan... istri barunya, yang baru dikawininya malam tadi.
22
Panjang Uratnya
(Panji Pustaka, No. 41, 1 Juni 1934, Thn. XII)
Malin Sabar antara sebentar sakit gigi. Banyaklah sudah obat-obat yang dijual orang di pasar dipakainya tetapi tiada yang menolong. Baik sehari dua, kembali sakit pula. Jampi-jampi dukun kampung pun telah banyak kali dicobanya tetapi tiada mujarab. Sampai ia mengomel: “Zaman ini bukan saja pencaharian yang meleset, tiada yang mujarab lagi, seperti dahulu;” katanya.
“Bawa saja ke dokter, sebentar saja baik,” kata seorang guru pensiun kepadanya.
“Entahlah engku, saya tidak berani dengan dokter. Dokter main cabut, main suntik dan main potong kepotong saja. Kalau salah potong, awak juga yang melarat, jadi takut akan lumpur lari ke duri awak namanya, : jawab Malin Sabar.
Pada suatu hari penyakit giginya menjadi-jadi benar.
“Jika mati pun matilah, sekarang aku pergi ke dokter,” kata Malin Sabar, sambil memegang pipinya yang sakit itu lalu pergi ke rumah sakit.
“Tabik tuan, tolonglah obat gigi saya,” katanya sesampai di sana.
“Boleh, tapi tunggu sebentar,” jawab tuan dokter.
Malin Sabar pun duduklah menunggu di atas sebuah bangku, sambil mengerang-erang kecil.
Mendengar jerit orang yang sedang diobati dokter di bilik sebelah, Malin Sabar terbit takutnya, kecut hatinya. Sudah berpikir-pikir ia hendak meninggalkan rumah sakit itu, tetapi tiba-tiba pintu terbuka dan tuan dokter memanggil dia:“Ayo masuk!”
Hati Malin Sabar berdebar-debar, dan badannya pun gemetar sebab ketakutan. Sangat menyesal ia rasanya datang ke rumah itu.
“Duduk di sini,” kata tuan dokter men unjuk sebuah kursi, kemudian menyediakan perkakasnya.
Melihat perkakas yang berkilat-kilat itu, hati Malin Sabar makin kecut.
Tiada berapa lama tuan dokter pun menghampiri Malin Sabar dengan sebuah perkakas pada tangannya.
“Ayo, ngangakan mulut,” katanya
“Jangan dicabut tuan, kasihanlah sama saya!” kata Malin Sabar dengan suara yang gemetar.
“Jadi bagaimana dan? : kata tuan dokter, heran bercampur gusar rupanya.
“Tuan obat saja, kasihanlah tuan!”
“Ayo buka lekas!” memerintah tuan dokter.
“Malin Sabar pura-pura tidak mendengar, dagunya makin ditekankannya.
Tetapi tuan dokter tidak sabar rupanya menunggu lama-lama, “Tap”, ditangkapnya rahang Malin Sabar lalu dipijitnya.
Karena Malin Sabar tidak juga mau membuka mulutnya sengang- nganganya, tuan dokter memberi perintah dengan bahasa Belanda kepada verplegernya.
Verpleger mengambil sebuah peniti lalu mencocok kedudukan Malin Sabar dari belakang.
“Au.....” Malin Sabar terkejut, mulutnya terganga, dan dengan tangkap tuan dokter memasukkan perkakasnya, terus mencabut gigi yang sakit itu sekali.
Setelah memberi pertolongan yang perlu, tuan dokter pun berkata: “Na, sekarang boleh pulang,” katanya sambil tertawa.
Sambil meraba-raba berkas yang kena cocok itu, Malin Sabar pun keluar.
“Darimana engkau Malin Sabar?” bertanya orang di tengah jalan.
“Dari rumah sakit, mencabut gigi!”
“Sakit....tidak?”
“Eeei, bagaimana tidak sakit, hampir aku mampus.....uratnya panjang sampai ke sini,” katanya, sambil meraba kedudukannya.
23
Raja Kecil
(Pujangga Baru, No. 1-12, Hlm. 82, 1935, Thn. III)
Air yang menjulang, belah berderai itu, jatuh ke bawah, bagi mutiara bunga api berai, membasahi rumput riwarna-warni. Angin pagi lemah berhembus menayang kembang menjerit bunga, melajah-lajahkan puncak pokok nagasari, laku dewi mengurai-surai dan disela-sela rambut itu meninjaulah bunga kecil putih kekuning-kuningan.....
Di bawahnya belunjur-sandar putera Sultan Ibrahim, Tengku Mahmud, maharaja Riau dan Johor, memandang-mandang ke kaki langit, mengenang-ngenang yang telah lampau. Pada mukanya yang bujur itu, kecil memancung hidung yang lemah melandai ke bawah, bertekan pada pipi yang tipis kemerah-merahan. Tiba-tiba tertawa yang mulia itu tergelak-gelak....., dan suara itu dilarikan gaung dipecah-pecah, ditaburtaburkannya. Terkejut kedayan yang memangku tepak keemasan itu, sejuk tangannya, dan dikerlingnya hulu keris yang maha mulia, yang berbinar-binar itu, zamrud berlawankan sinau dengan matahari.
“Benarkah Sultan Mahmud ini tiada betul pikirannya, benarkah cerita orang bahwa paduka ini bertemu dengan dewi rimba yang diberkahinya itu, sampai beliau mengharamkan perempuan bangsa manusia?”
Menarik nafas panjang beliau, sambil bersabda dengan geramnya: “Semuanya bohong, bohong.....” tiba-tiba suara itu lemah, mengusap-usap, “dewi rimba, yah, dewi rimba.”
Menoleh beliau ke belakang: “Pulang!” sabdanya. Menyembah semuanya, mengisut undur setapak dua menyembah, lalu bangkit; hanya penghulu batin duduk-tunduk, memangku tangan.
“Apa khabarnya. ”Kata dua patah yang diucapkan baginda ini, penuh mengandung kasih sayang yang tiada ternilai.
“Anaknya? apa orangnya”, mata yang pada kalanya mungkin bersinar-sinar laku kilat membelah kelam, kini lemah, sebagai pandangan mengandung rindu dendam, sambil bulu mata yang panjang itu menaungi sinau tersimpul.“Puteraku, bangsawan, raja, tetapi.....”, mata yang kabur itu beralih warna bersilaukan sinar kilat kencana dan tangan yang geram itu memukul-mukul hulu keris yang bertahakan zamrud itu.
“Panggilannya Raja kecil! ...
Penjajab dan kerakap yang akgkuh tinggi menganjung di atas air laut itu, angguk-mengangguk, lenggang-melenggang dilonjak-lonjakkan gelombang berang selat Melaka. Ular-ular gulung-gemulung, menampar-tampar tiang tengah, sambil panji-panji kuning raja itu lambai limambai, merentang-rentang..... Angkatan laut itu bergerak seperti merpati menyongsong angin, dan di hadapan sekali melancar lancang kuning, kecil rampis, membelah-belah air laut, memecah-mecah gunung gelombang.
Dihaluannya berdiri Raja Kecil, kelana-satria, pengarung laut imbang Dayeng Marewa, Parani dan Pali, raja ilanun Bugis, pemunah-penjarah, penyusur, penyenyap pantai.
Teluk belangan hitam yang bertangan lebar itu berbuahkan emas, berikat pending, bertuliskan ayat seperti bungan diuntai rapat.
Tangan berjari lampai, halus lancip lalu ke ujung, memegang tombak, berumbai kuning, dan dikirinya bersila kedayan memangku perisai. Pandnagan beliau menuju pantai tanah Semenanjung, yang naik mengijau di kaki langit, menggunung, memuncak tinggi, menya pun menyecah awan.
Silau-sinar matahari naik membangun merah pada muka, mengemas puncak ombak bertepak.
“Tambah layar!” seru panglima laut, seketika membungkuklah lancang kuning itu, berderak ketiga tiang dan ditinggalkannyaalah sementara kawan seiringnya itu.
Kota Djohor naik membangun, menyata rupa menunjuk bentuk; peninjauan berseru-seru, bertempik mengimbau kawan dan berlarianlah rakyat kian kemari, dipasanglah tunam berpuluh-puluh dan bersuaralah lela rentaka ganti berganti.
Lompat Raja Kecil ke darat, berbentengkan perisai yang dikedangkan kedua kedayan dan tangga pun disandarkan orang berpuluh-puluh. Dan berserulah perangsang, memanggil tuah menaikkan gembira: “Raja Kecil, Raja Kecil, maharaja laut.”
Dan seru ini mengecutkan hati yang mendengar sebab bukanlah beliau ini memajati selat Melaka menunggu-nunggu ketika baik akan meruntun, mengambil kembali kota Johor dari tangan orang yang tiada berhak itu?
“Tuanku!” suara yang gemetar ini diiringi oleh sembah rapat ke kening, “tiada baik demikian, tengku Tengah tuanku pinang, tengku Komariah tuanku ambil. Kalau-kalau gusar abangnya raja Sulaiman, dan mendurhaka beliau.....?”
“Apa katamu!” suara yang gemuruh ini memenuhi ruang istana yang lebar itu dan kaki yang dipalut kasut berbunga benang mas itu merentak-rentak, “si Sulaiman mendurhaka padaku, si Sulaiman yang kuhidupi karena kasihan, kemurahanku, aku Raja Kecil.....” hendak lompat lakunya kedua belah biji mata beliau dari sarangnya sambil bersinar-sinar, seperti mata harimau di malam kelam, “apa hendak dilawan-kannya, di mana rakyatnya, mana senjatanya!”
Tunduk kembali kepala yang telah putih beruban itu, bersusun pula jari yang telah berkerut-kerut dan gemetar lemah kedengaranlah pula suara yang tadi: “Intan, tuanku, lupakah penghulu patik pada Dayeng Parani.....?”
Sunyi senyap di ruang istana tengah itu, tunduk termenung Raja Kecil, pikirannya melayang terbang ke zaman lampau, dari belakang sayup sampai suara gadis menyanyi berbalas-balas, berulang-ulang:“Ayahnya di Johor, bundanya di Pagaruyung”.
24
Barang Tiada Berharga
(Pujangga Baru, Thn. III, No. 4-5, Oktober-November 1935)
Haerani masih hening tegak di jenjang beranda muka, tangannya kemalai terkulai di sisi badannya. Kondenya telah lepas menurun pada lehernya.
Pekarangan rumah sudah berpanas; di bawah mangga, tempat kerosi kebun, sudah pula bertalau-talau, bergerak-gerak bayang daun, seperti biasa.....
Mobil baru saja berangkat, Pardi sudah pergi mengunjungi pasiennya. Reni memandang ke jalan melihat trem lalu, ada berharap melihat muka yang dikenal melintas, dirangkai jendela trem. Ingin menggerakkan tangan, mengangkatnya, akan tanda menabik, akan menggerakkan air muka, bersenyum. Tetapi jarang ada kenalan yang melintas dengan trem itu. Sekali ini pun tiada kenalan yang melintas dengan trem itu. Sekali ini pun tiada. Haerani memandang ke langit. Biru, tiada berawan. Akan panas terik hari ini.
Mengeluh, Haerani berbalik, hendak masuk ke dalam. Di samping meja, tangannya memegang majalah berkala “Die Woche”, yang kulitnya bergambarkan perempuan berpakaian sport, beraksi hendak melemparkan tombak. Dipandangnya sejurus, lalu sedang tangan kirinya membalik-balik majalah itu, matanya terpandang ke arah kamar tempat suaminya belajar. Masih ada beberapa buku terbuka. Beberapa pula yang bertebaran tiada beratur.
Haerani melangkah ke arah meja itu tetapi tertahan sebentar oleh suara telepon. Langkah tergesa-gesa kedengaran di belakang. Biarkan saja babu menerimanya. Tentu cuma seorang pasien yang bertanyakan Pardi. Tangannya mulai mengumpulkan buku yang bertebaran di atas meja suaminya itu, hendak disusunkannya ke dalam lemari kitab. Ke-dengaran padanya babu menyebutnya “nyonya ada, nanti sebentar saya panggil.”
Haerani segera meletakkan kembali buku-buku itu di atas mej, lalu masuk ke dalam, bertemu di pintu dengan babu yang mengatakan: “Ada telepon buat nyonya.”
Agak riang suaranya karena terlepas sebentar dari yang biasa, ada hal yang luar biasa, waktu mengatakan: “Hallo, nyonya dr. Supardi sini,” Riang benar suaranya waktu menyebutkan: “Kau, Ti? .....Ke Pasar Baru? ....Jadi.... Ya, ya, aku mandi dahulu. Kalau datang aku sudah klar.”
Gembira hidup matanya, gerak badannya, waktu meletakkan hoorn telepon kembali. Sekonyong-konyong lepas suaranya, menyanyi lagu gembira. Terpandangnya gramopon. Martha Enggertahun Sebentar lagi meriang suara Marta Enggerth, serta suara menyanyi Haerani yang bergegas ke kamar mandi.
Bila Trini hendak berbelanja ke Pasar Baru, selalu diajaknya Haerani yang amat pandai menolongnya memilih yang pantas padanya. Trini sendiri amat susah rasanya memilih warna dan bungan yang sepadan dengan badan dan warna kulitnya. Sekian banyak warna dan rupa stof kebaya dalam toko Bombay dan toko de Zon. Susah pada Trini memilihnya.
Sekali ini pun Haerani-lah yang memimpin. Dialah yang melangsirkan pandangannya melintas susunan stof yang berbagai rupa itu, sedang Haerani tegak menanti. Sekali-sekali Haerani menyuruh orang Bombay pelaan toko itu menarik blok stof dari susunannya, lalu Haerani pun menggantungkan sebidang stof dari susunannya, lalu Haerani pun menggantungkan sebidang stof yang dipilihnya itu pada badan Trini. Bersama-sama keduanya memandang kaca, akan menguji pantas atau tiadakah. Tiada lelahnya Haerani memandang lalu memilih. Trini dengan sabar menantikan putusan Haerani. Dia tahu bahwa Haerani tiada puas bila belum bertemu yang menyenangkan kehendaknya.
Lebih dari setengah jam lamanya Haerani memandang, memilih, lalu mencoba tetapi tiada juga yang sesuai dengan rasanya. Keduanya meninggalkan toko Bombay yang tiada menyenangkan ingin Haerani, lalu masuk toko de Zon. Haerani senang rasa hatinya, di tengah-tengah barang yang indah-indah itu, di tengah-tengah barang yang indah-indah itu, di tengah-tengah perempuan yang berpakaian berwarna-warna, berbagus-bagus.
Kap lampu yang ada pada tempat dia melintas, menarik matanya, melupakannya sementara akan maksud yang sebenarnya. Amat bagusnya dipakai di kamar tengah, pikirnya. Ditawarnya, terlalu tinggi harganya. Lalu Haerani teringat lagi maksud hendak memilih stof buat Trini.
Habis tepat pilihnya, timbul lagi ingatannya bahwa ia perlu kant. Pelayan membawa Haerani dan Trini ke tempat kant. Haerani memilih, menawar, tepat harganya.
Pardi perlu stof gabardine. Ada-ada saja timbul ingatan Haerani, akan menanya barang yang diingatnya perlu. Beberapa kali dia tiada sampai bertanya harga, cukup sudah menyatakan tiada yang sepadan dengankehendaknya. Seolah-olah dia hendak melenga di toko itu.
Trini tahu akan sifat Haerani yang amat senang akan warna dan cahaya. Trini senang mengajaknya ke toko akan akan melihat kawannya itu gembira. Sekarang pun Trini senang melihat kawannya itu tiada lesu seperti biasanya dia kelihatan. Dengan sabar diturutnya Haerani dari sudut toko ke sudut lain, meskipun dia tahu bahwa Haerani akan membeli.
Sesudah toko de Zon, Haerani mengajak Trini minum sebentar di Ragusa. Bukan karena hausnya atau lelahnya Haerani hendak duduk di sana. Dia amat senang duduk hening melihat orang dan kendaraan lalu lintas sedang musik kedengaran.
Haerani menyendok es krimnya sedang Trini terus berkata-kata. Haerani tiada sepenuhnya mendengarkan cerita kawannya itu. Pikirannya tiada sedang pendengarannya bersetujuan dengan lagu klasik yang diperdengarkan dengan radio. Berangan-angan Haerani bukan, bersedih-sedih pun bukan. Pikirannya tenang, digerakkan diayunkan lagu, terselasa oleh cakap Trini.
Trini yang tiada mengerti akan kesenangan kawannya itu, tetapi tiada segan mengawaininya berjam lamanya. Lambat-lambat sekali-sekali Haerani menyendok-nyendok eskrimnya lalu sebentar-sebentar diletak-kannya kembali pada meja. Kedua belah lengannya memanjang tangan kerosinya, sedang tangannya memegang ujung tangan kerosi itu, badannya tegang, seolah-olah hampir hendak melonjak. Sejurus kemudian badannya melepas, seperti busur yang sudah ditembakkan anak panahnya lalu membungkuk, menyendok-nyendok lagi, sekali-sekali menengadah, bila ada tamu keluar masuk.
Trini dan Haerani tiga tahun bersama-sama sekelas di Middelbare Huishoudschool. Sama-sama pula selesainya tiga tahun yang lalu. Trini dengan segera berusaha mendapat tempat mengajar di Malang. Di sanalah dia mengajar sampai setahun yang lalu, waktu dia kawin dengan Marsidi. Semasa dia sekolah, Trini dan Marsidi sudah bertunangan tetapi keduanya masih menanti Marsidi selesai pelajarannya pada Sekolah Dokter Tinggi.
Tetapi kedua belah famili menghendaki keduanya kawin setahun yang lalu. Trini tiada merasa keberatan dengan mudahnya dia melangkah segala halangan yang dilantangkan. Marsidi. Perkara uang diselesaikan Trini dengan senyumnya, bahwa mereka bisa juga hidup dengan sederhana. Bisa menyewa rumah kecil yang hanya berkamar du saja, satu kamar tidur, satu kamar tempat Marsidi belajar. Di Rawamangun, di Ampasietweg, bukan ada rumah yang akan bisa ditinggalinya?
Bila ada anak datang? Trini memandang Marsidi. Bukankah Marsidi yang bermula menerangkannya perkara membatasi anak lahir? Trini tiada setuju mulanya. Melanggar panggilan natur. Mematikan yang hidup. Cuma buat kesenangan suami isteri biar lepas tangan, berbuat senang sekehendaknya.
Marsidi menerangkannya soal itu, dari segala sudut. Sudut susila, agama dan sosial serta kesehatan.
Bila‘ ada dua orang yang berkasih-kasihan yang hendak kawin tetapi tiada cukup keadaan pendapatannya buat sementara akan membelanjai anak, tiadakah melanggar kesusilaan bila keduanya tiada kawin? Adakah orang yang berasa bertanggungan, yang hendak melarang keduanya kawin? Bila keduanya atau seorang berpenyakit turunan, lain halnya.
Aneh benar bahwa rakyat biasa jarang, jangankan tiada sama sekali, mengenal uang jadi halangan kawin. Kalangan yang menengah dan atas yang melihat uang jadi rintangan kawin. Sedang semestinya mereka-lah yang seharusnya lekas kawin, akan meninggalkan sebanyaknya peneruskan kuntum bangsa.
Lama Marisid membentangkan soal itu, Trini belum puas pada perasaannya. Beberapa kali Marsidi menerangkannya, baru Trini lambat laun meresap soal itu.
Sekarang Marsidi yang merintangkan halangan uang dan anak. Trini memandang mengejekkan tunangannya. Bila kawin, pikirannya akan tertarik oleh urusan rumah tangga dari pelajarannya. Trini menertawakannya: “Bukankah aku yang memikirkan rumah tangga? Aku tahu keberatanmu. Kau merasa tertambat. Tiada bebas lagi dipuja, dan dijadikan kawan oleh gadis, di Betawi. Tiada bebas lagi pergi kemamana. Kalau pergi kepertemuan atau keramaian selalu ada aku. Tidak ada lagi sempat melirik ke sini melirik ke sana. Benar tidak, Di?”
Begitulah hilang segala halangan Marsidi oleh mudahnya rasa hidup Trini, yang tiada pernah melihat kesukaran dan keberatan dalam hidup.
Lain benar dengan kawannya, Haerani. Setelan tamat sekoiannya, dia kembali ke Jokja tinggal di rumah ibu bapaknya. Dia ada mendapat tempat di Purworejo tetapi tiada diterimanya. Banyak benar halangan dirasanya. Sekolahnya sekolah Kristen, dia harus bertempat tinggal di internat. Jarang boleh keluar. Lagi pula ibu lebih senang dia di rumah.
Heran Trini mendengar keberatannya yang pada rasa Trini bukan keberatan. Haerani pada banyak hal amat berpikiran merdeka, yang mengeleng-gelengkan kepala Trini. Haerani jarang sendirian pulang, pukul sepuluh malam, lepas berkunjung ke rumah Trini. Ajakan Trini, biar dia dibawa oleh adik Trini lelaki, tiada diterimanya.
“Aku datang sendirian, aku pergi pulang sendirian pula.” Meskipun Trini tiada setuju, kemudian bila Haerani datang sendirian, tiada pernah lagi dia mengajak Haerani diantarkan.
Haerani amat bergembira perempuan berdiri sendiri, mencari nafkah sendiri. Tetapi selesai sekolah, adan kesempatan berdiri sendiri, kesempatan itu tiada dijangkaunya. Trini banyak kali mengalamkan, Haerani memutuskan akan melakukan sesuatu tetapi bila hampir tiba ketika memulai, Haerani bertrik diri. Haerani seolah-olah seorang yang melihat buah yang masak, lalu dengan cepat dan rajinnya memanjat pohon, tetapi sampai di atas, segan menjangkau, sebab sudah hilang nafsu atau takut jatuh, meskipun kawan di bawah mengunjukkan galah.
Perkawinannya pun dengan dokter Supardi hampir tiada jadi. Ada-ada saja halangan yang dikemukakannya. Dia cinta katanya, tetapi kasih itu terlalu suci, akan dinodai oleh perkawinan. Kasih itu akan bisa hilang oleh perkawinan. Tiadakah lebih baik tiada kawin, kasih tetap ada?
Supardi, dibantu oleh Trini menerangkannya bahwa cinta yang tiada berestukan kawin ialah cinta palsu, cinta mati. Cinta kata Supardi baru cinta sebenarnya bila dia menjadi penyuruh mengadakan. Cinta yang sebenarnya tiada mencari yang negatif tetapi yang positif. Trini mencela Haerani. Manakah lagi yang dikehendaki seorang perempuan yang melebihi daripada mendapat anak daripada lelaki yang dicintainya?
Haerani menunjukkan bukit halangannya. Pardi akan senantiasa keluar, terlingkungi oleh pekerjaannya di luar. Terlalu banyak memandang dan berurusan keluar hingga akan mengurangi perhatiannya kepada Haerani. Reni menghendaki Pardi buat dia semata-mata. Trini mener tawainya benar. Manakah itu mungkin. Itu pikiran yang amat sempit. Pikiran orang yang cinta buta.
Amat sukarnya kepada Trini mengajaknya menyampingkan kesukaran yang sebenarnya bukan kesukaran itu. Perkawinannya terlangsungkan juga enam bulan yang lalu.
Tiba-tiba Haerani memanggil jongos hendak membayar rekening. Mari pulang Tri, nanti Pardi datang di rumah, aku tidak ada.“
Trini tiada heran, Haerani sekonyong-konyong hendak pulang. Pukul tengah dua belas baru. Biasanya Trini baru kembali pukul tengah satu. Nanti tergesa-gesa pulang ke rumah. Tiba di sana baru datang biasanya pukul setengah satu! seolah-olah Reni mencari kecewa, mencari sedih yang tiada usah. Di tengah jalan pulang, Trini mengajak Reni datang sorenya ke rumahnya.
“Rukmini datang nanti.”
Reni mengangguk. Trini tahu, Reni senang bertemu dengan Rukmini. Sejurus kemudian: “Lebih baik jangan, Tri. Pardi...”
“Nanti, selesai mengunjungi pasien, Pardi datang menjemputmu. Biar dia juga sejam dua bercakap-cakap dengan kita, melupakan pekerjaannya. Dia perlu juga istirahat. Lagi dia sudah lama tidak ke rumah.”
“Tri, Ki sudah dapat pekerjaan tidak?”
“Belum.”
“Kemarin dulu ada dia kulihat. Lain benar pupanya sekarang.”
Basuki turun lambat-lambat, sambil menghitung anak tangga. Kecewa tiada lagi dalam hatinya. Dia sudah biasa mendengar ucapan bahwa dia baru menanti, bahwa namanya sudah dicatat. Bila dikatakan bahwa namanya akan dicatat, dia tahulah, dia tiada harapan mendapat pekerjaan itu. Kali ini lain, chef afdeling menggertaknya bertanya, adakah namanya tercatat? Dia menjawab ya, lalu digertak sekali lagi, adakah dia dipanggil? Tidak? Bila begitu tiada lowongan. Dia haruslah memajukan rekest lagi.
Basuki dengan benar mendengar dari seorang kenalannya yang bekerja diafdeling itu bahwa ada lowongan berhubung dengan lisensi baru. Entah lisensi apa. Itu tiada diperdulikannya, yang penting baginya ialah bahwa ada lowongan. Chef afdeling mengatakan tiada. Dari tadi sudah tahu bahwa dia tidak akan mendapat. Anak tangga jumlahnya delapan belas, jadi genap. Genap angka sial baginya. Aneh, semua tangga departemen genap jumlah anak tangganya ke tingkat kedua. Itulah sebabnya dia tiada mendapat. Tadi waktu naik dihitungnya, anak tangga persis delapan belas sama sekali. Dia tiad mengharap lagi tetapi dicobanya juga, siapa tahu sekali itu terkecuali. Benar, anak tangga dari atas sampai anak tangga yang lebar tempat tangga melengkung, ada dua belas. Ke bawah lagi, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, benar, tadi juga enam, tidak salah penghitungannya tadi.
Basuki keluar dari Departement van Economiche Zaken melalui gang tengah kamar direktur dan onderdirektur. Ada pada badannya rasa gerak orang yang kebanyakan waktu yang tiada tahu apa diperbuatnya kemudian, karena itu dia menahan selama mungkin keadaannya yang sedang berjalan.
Setibanya pada tepi jalan, Basuki bimbang. Dia melihat ke kiri lalu ke kanan. Ke mana? trem ada datang dari jurusan Harmoni. Ke Betawi? Tapi apa yang akan diperbuat di sana? Mencoba lagi masuk kantor keluar kantor? Kantor mana yang belum cobanya?
Ke park saja lagi. Di sana duduk-duduk sampai tengah satu. Lalu pulang. Lambat-lambat dia menuju Harmoni, menepi reling kali. Di beranda Hotel des Indes, banyak tamu bermeja-meja, senang-senang duduk makan minum. Dia ada uang, ada pekerjaan. Di seberang kiri kali, Hotel des Galeries, bertingkat-tingkat, berandanya, bersekat-sekat. Kebanyakan ditutup krei. Ada yang terbuka sesekat. Nampak seorang perempuan berpakaian putih membungkuk. Rupa-rupanya hendak memberi botol susu kepada anak dalam buaiannya. Di bawah, di tempat cafenya dua tiga orang sedang bercakap-cakap.
Societeit Harmoni kosong, di sana baru malam ramai. Di tempat yang beratap, di tengah-tengah simpang enam itu, duduk orang abang-abang; orang yang mencoba melalaikan waktu duduk-duduk di sana. Seperti aku juga,“ pikir Basuki.”Cuma aku berpantalon, dia tidak, tetapi sama-sama menganggur.“
Basuki tiga bulan yang lalu terpaksa sekonyong-konyong memberhentikan pelajarannya karena bapaknya dipengsiunkan lebih dahulu daripada yang diharapkan.
Candidat I-nya baru didapatnya, maka haruslah dia menyingkirkan harapannya akan menjadi jurist.
Dia bukan seorang yang mudah terpatahkan maunya. Dengan segera dicobanya dengan giatnya mencari pekerjaan. Dua tiga kali ditolak, masih juga keras harapannya. Dua tiga minggu tiada ditolak, masih juga keras harapannya. Dua tiga minggu tiada juga berhasil. Waktu masuk bulan yang kedua, mulailah surut harapannya, mulailah tegak kenyataan, bahwa tiada akan mungkin dia mendapat pekerjaan. Lambat laun menjadi obsesi padanya, bahasa dia tiada akan mendapat kerja. Giatnya dan maunya yang deras itu makin lama makin melambat. Kurang giat ini bergambarkan diri pada geraknya, yang dahulu cepat dan giat, kemudian melalui dan canggung. Dia merasa dirinya hampa, leher sukmanya bergantungkan besi berat, seperti seorang hukuman yang dipertontonkan kepada umum. Begitulah dirasanya dia dipandang orang jadi seorang yang tiada berharga, yang tiada dapat dipakai, yang tiada berkedudukan dalam masyarakat. Kawannya sepelajaran dahulu dijauhinya, takut rasanya menemui mereka yang ada berketetapan tujuan sehari-hari itu. Dia pelambung pada kail, dilambungkan air, sebuah tanda cuma jadi permainan ikan dan pengail. Dia tiada berharga, orang yang tiada berarti, pelemah, yang bergantung pada orang lain.
Dia baru menang ujian candidatnya, waktu dia mulai berkenalan dengan Rukmini. Marsidi dan Trini tiada di rumah, pergi berjalan-jalan, ketika Rukmini datang pertama kalinya berkunjung ke rumah. Basuki mengawaninya bercakap-cakap sebelum Trini pulang. Beberapa kejap cuma sesudah berkenalan, maka hilanglah rasa asing yang senantiasa ada di antara dua orang yang baru berkenalan. Percakapan mengenai Malang lalu Batu. Ternyatalah pengalamannya di sana sama, tempat yang menarik hati Basuki, menarik hati Rukmini pula. Rasa sesuai melambungkan mereka kepada kawan yang rupanya kenalan kedua belah fihak. Dari kawan itu datang pula kepada kawan lain. Begitulah kedua belah fihak bertanya berturut-turut: “Kenalkah si Anu?” Bila kenal, percakapan-nyalah perangai kenalan mereka itu.
“Dia periang,” kata Rukmini, “tiada dalam perasaannya.”
“Belum tentu. Dia pernah bercakap-cakap dengan aku. Kusangka dulu dia tiada dalam, tapi sesudah itu, aku tahu, dia dalam juga.”
“Ya,” kata Rukmini, “aku juga heran sekali menerima surat dari dia, lain dari surat yang lain-lain. Heran aku dari mana didapatnya pikiran yang sedalam itu.”
Boleh jadi dari buku....., senyum Basuki.“Banyak orang yang mengajukan pikiran seolah-oleh kepunyaannya, tetapi sebenarnya cuma didapatnya dari buku. Seperti seorang makelar atau commissionnair. Seorang tengkulak pikiran.”
Bagai itulah keduanya bersetujuan dan koreksi mengoreksi pemandangannya akan kawannya bersama. Lama kelamaan sampai percakapan kepada pekerjaan Rukmini. Senangnya dan gembiranya dia mengajar. “Aku serasa tetap anak, setiap hari bergaul dengan anak. Cobalah lihat anak yang baru datang dari sekolah lain. Masih segan. Susahnya melepaskan segannya. Setiap anak lain caranya melepaskan segannya itu. Harus berawas-awas kita, bila tidak boleh jadi segan itu terus menerus, tetap jadi sifatnya dalam kelas. Susahlah memasukkan pelajaran.”
Mata Rukmini bersinar-sinar.
“Tentu ada susahnya, di samping senangnya mengajar, memimpin sukma anak. Anak yang nakal, yang tiada mudah menarik perhatiannya. Kadang-kadang salahnya sudah sejakkecilnya, salah didikan. Padahal yang begitu ak mengingat Adler. Saya cobalah menyelidiki apa sebabnya anak itu nakal. Biasanya berhasil juga usaha saya.”
Ada sudah pada keduanya udara percaya, ketika Trini dan Marsidi datang. Trini dengan herannya mengucapkan: “Kamu seperti kenalan lama.”
“Benar, Ni, sekali-sekali kita berkenalan dengan seorang yang dalam kenangan kita sudah lama kita kenal. Seperti pikiran yang lama kita kandung, tetapi tiada juga terkatakan, sampai sekonyong-konyong oleh sesuatu, pikiran itu terlahir. Dan kita lega.”
Kemudian pada mengantarkan Rukmini pulang. Rasa Basuki benar-benar lega. Entah apa, keduanya tiada ingat akan memanggil kendaraan. Percakapan lancar saja, tentang berbagai-bagi hal. Tiada dalam, melompat-lompat dari hal satu ke hal lain, tiada bersambungan, seperti burung meloncat-loncat dari dahan kedahan, seperti orang mengecap beberapa rupa kue dengan cepatnya, takut kelambatan.
Rukmini merasa lega, ada kesempatan mencurahkan pikirannya. Pada ketika itu baru terasa padanya bahwa banyak yang dipikirkannya, yang tinggal tersimpan dalam dirinya karena tiada tempat pencurahkan. Lagi pula karena perhatiannya seluruhnya tertujukannya kepada pekerja-annya. Serasa ada teman turut menatap pemandangan. Ketika itu baru terasa padanya bahwa pikiran banyak itu berat jual selama inikarenya amat lega rasanya, dalam bercakap-cakap dengan Basuki itu. Selama tiga tahun ini dia menjadi guru, banyak lelaki dikenalnya dan jadi kawan bercakap-cakap tetapi tiada pernah melegakan rasanya. Sekarang serasa sama menyelam mengambil bersama-sama lokan mutiara.
Rukmini mengelih muka Basuki sebentar, sedang dia membentangkan pikirannya. Tenang sungguh-sungguh.
Lepas C. B. Z. , ketika harus menunggu pada boom jalan melintas sepoor teringat Basuki mereka berjalan kaki.“Ah, lupa kita naik delman.”
“Ya....., tetapi sudah tengah jalan, biarlah kita terus jalan kaki.”“Nanti lelah.”
“Tidak, aku senang berjalan-jalan begini.”
Sampai di rumah Rukmini, duduk sebentar, sebab dia tentu haus berjalan begitu. Basuki tiada menolaknya.
Lebih dari sejam lamanya, mereka terus bercakap-cakap. Basuki melihat album, sedang Rukmini menerangkannya. Banyak orang dan tempat yang sama dikenalnya. Percakapan sampai kefilm dan buku, sampai keduanya berjanji akan pergi sekali bersama melihat film, dan Basuki berjanji akan datang sekali-sekali.
Dua hari kemudian mereka sudah pergi melihat film. Keduanya tiada memuji film itu. Lebih dulu disangkanya bahwa film itu tiada bagus. Ada-ada saja sebabnya mereka harus bersua. Ada karena Rukmini harus dikawani ke Pasar Senen, meskipun dahulu dia sendirian pergi. Tetapi penutup berbelanja itu ialah duduk-duduk di eskrim palace Okamura. Di sana sejuk telah panas berbelanja.
Mereka mencari bersua. Trini yang mengetahunya lebih dahulu, lalu dia dan Marsidi memudahkan mencari bersua itu. Keduanya sejodoh pikiran dan sifat, apakah salahnya dipersuakan pikir Trini.
Beberapa minggu berasa bahagia, berakar pohon perhatian, mulai berkembang rasa ada kawan. Pada suatu malam, klawas berjalan-jalan di dekat-dekat rumah Rukmini, sampai-sampai ke dekat terusan banjin yang memanjang di Menteng Pulo. Mereka bercakap-cakap tentang cara suami, 10
“Ramping jari-jarimu Ni, lentik benar,” sambil Basuki melentikkan jari-jari Rukmini dengan tangan kirinya.
“Benar, Ki?”
Lambat-lambat didekatkan Basuki jari-jari Rukmini kepada bibirnya, lalu diciumnya sekonyong-konyong. Lalu hendak dilepaskannya, tetapi tangan Rukmini memegang tangannya. Basuki memandang muka Rukmini sejurus, cuma lemah yang kenyataan. Diciumnya sekali lagi.
Di hari-hari kemudian bahagia rasa, ada orang yang cinta dan yang mencintai pula. Ada tujuan setiap hari: bersua, berdekatan, merasa pandang yang penuh kasih.
Tibalah berita, bahwa bapak Basuki pensiun, dan tiada dapat membelanjainya lagi. Pada permulaannya berita itu menyedihkan hatinya. Rukmini melalaikan pikirannya: “Kau meester atau tidak, kau tetap kekasihku. Kita sudah kaya titel olah karena cinta kita. Bukan titel saja yang bisa memberikan bahagia.”
Kemudian Basuki senang juga mengingatkan lekaslah mungkin dia kawin, berdekatan selama-lamanya dengan kekasihnya. “Kucari kerja, biar sedikit gajinya. Dikumpul dengan gajimu cukuplah buat hidup kita berdua,” katanya, sambil memegang muka Rukmini dengan kedua belah tangannya.
Rukmini senyum: “Selalulah kau dekatku. Tiada usah aku takutkan kau tiada datang. Bolehlah aku memeliharamu.....” Basuki menutup mulut Rukmini, sambil memeluknya, pelukan cinta mengerti, memateri perjanjian kasih sayang.
Dengan giatnya Basuki mencari pekerjaan, dijalankan motor kasih sayangnya. Lama kelamaan hilang harapan mendapat pekerjaan. Bagai terjun rasa hitinya, terluang oleh hilang harapan akan terpenuhi harapan cinta. Seperti makin jauh pantai pelabuhan yang baru kita tinggalkan, tempat kawan dan kenalan melambai-lambaikan tangan. Selama ini berkandungan hatinya, sekonyong-konyong kempis, kosong, tinggal rasa sunyi, seperti kebun jati musim kemarau. Berjam-jam dia duduk di Wilhelminapark, seperti dahan yang patah, terkulai dari batangnya. Merenung berjam-jam lamanya. Patah hatinya, patah pula insyaf hatinya, insaf badannya. Barang tiada berharga....
Masih dikunjunginya Rukmini, masih dicobanya bersenyum, tetapi senyum menjadi senyum sedih. Rukmini tiada lagi bertanya tentang usahanya mencari pekerjaan. Riangnya seperti biasa, melebihi dari yang biasa pada pemandangan Basuki. Hening Basuki melihat-lihat jari-jari Rukmini bergerak, meletakkan cangkir di hadapannya, menyendokkan gula dalam cangkimya lalu menuangkan teh dan mengincau-ngincau tehnya. Kadang-kadang dipegangnya tangan Rukmini, didiamkannya mengincau, lalu dihantarkannya melemah pada tangannya, dipandangnya dengan senyum sedih, lalu diciumnya lambat-lambat, bagi mengheningkan meresapkan jadi serap di waktu kemudian. Seperti kafilah menyediakan air serap sebelum berangkat dari oase melalui lagi padang pasir.
Beberapa hari ini Basuki tiada datang lagi berkunjung. Bila tiba waktunya biasanya dia pergi ke rumah Rukmini, dia pun pergi berjalan-jalan, tiada tujuan, ke mana langkah membawanya. Malam pertama dia melalui jalan sepi Laan Raden Saleh, tiba di muka Dierentuin. Dia sejurus memandang cahaya lampu, dan affiches film yang dipertunjukkan. DUlu dia beberapa kali masuk menonton film seperti orang biasa. Sekarang tentu tiada akan pernah lagi, cuma bisa melihat gambar-gambar di luar dari tepi jalan dari tempat gelap.
Tanda peringatan van Heutz gelap. Di tepi jalan dalam gelap bayangan tanda peringatan pahlawan Belanda itu tegak dua orang, seorang lakilaki dengan seorang perempuan bercumbu-cumbuan. Baru bertemu barangkali. Bersama-sama mereka menuju Gondangdia. Basuki berjalan di belakang mereka menuju Gondangdia. Basuki berjalan di belakang mereka sampai lepas sepur, tempat yang gelap, keduanya berpegang-pegangan tangan.
Basuki terus berjalan lambat-lambat sampai di Gambir. Orang belum selesai merombak Pasar Gambir. Sebulan yang lalu tempat keramaian, tempat yang beberapa kali dikunjungi Basuki serta Rukmini, sekarang tempat gelap. Basuki hendak duduk pada tempat duduk daripada batu dekat fontein, yang sekarang tiada memancarkan air lagi. Di dekat fontein, tempat Rukmini dan dia senang berhenti sebentar melepaskan lelah, melihat air berwarna-warna, merasakan bahwa sejuk yang memenungkan orang akan harapan yang terasa-rasa dalam hatinya. Basuki hendak duduk, hendak mengingatkan waktu yang baru sebulan berselang itu, tetapi semua tempat sudah ada orangnya, berdua-dua, perempuan dan lelaki berdekat-dekatan. Orang selalu berdua-dua.
Basuki berjalan terus sampai Harmoni. Dia melalui jalan gedung Rechtshogeschool.....
Di beranda societeit Harmoni orang Belanda duduk-duduk, bercakap-cakap, melalaikan waktu, tetapi bukan karena tiada pekerjaan. Hotel des Galeries penuh cahaya lampu.
Hotel des Indes.....musik, tamu penuh, makan minum, bercakapkancap, dengan tiada sengaja mendengarkan lagu. Semuanya melalaikan waktu, bukan karena tiada pekerjaan. Mereka melalaikan waktu, tetapi memberikan pekerjaan kepada pemain musik dan kepada semua jongos yang melayani dan kepada aandeelhouder.
Di Molenvliet, dekat tiada jauh dari gedung Landraad, atempat yang gelap, orang berpakaian yurk tetapi suara, suara orang lelaki. Sifat binatang dalam manusia, entah etavisme, ketinggalan dari dahulu. Dahulu ada dibaca Basuki verslag pemeriksaan seorang laki-laki yang menjualkan dirinya. Di muka landrechter diterangkannya, bahwa dia menganggur, sudah lama menganggur, tiada juga dapat pekerjaan. Hendak dia melepaskan pekerjaannya yang hina itu, bila diberikan dia pekerjaan biasa. Air matanya bercucuran. Dia dikenakan juga denda, sebab melanggar kesusilaan di tengah jalan.
Paksaan perut tiada mengingat kesusilaan. Beriris mereka tegak menanti langganan. Ada datang mobil, mobil indah, kepunyaan orang kaya-kaya tentu. Berhenti dia sebentar. Leretan manusia tadi bergaya, ada juga yang mendekati mobil itu. Tuan yang menjalankan mobilnya sendiri itu, bercakap-cakap sebentar dengan seorang pilihan matanya, lalu berjalanlah mobil itu, membawa barang dagang pilihan itu entah ke mana.
Seorang daripada berseru kepada Basuki: “Liefye komhier.....” Basuki senyum terus berjalan, memikirkan manusia ini tempat yang indah dan yang buruk yang maha dan yang hina.
Basuki tibalah di rumah lepas berjalan tiada berketentuan itu, pada ketika dia biasanya kembali daripada berkunjung ke rumah Rukmini. Sekali dicobanya hendak tinggal di rumah, tetapi pikirannya gelisah dan hatinya perih, bila sampailah waktunya dia biasanya pergi bertemu dengan kekasihnya, maka teruslah juga dia kelaur, berjalan-jalan, tiada bertujuan, pikirannya berat pada Rukmini. Hatinya hendak menarik garis ke masa yang datang, tetapi lelah rasanya, pikirannya tegang berdiri pada permulaan garis, seperti tengah lelah menekan pensil, tiada tahu garis mana yang akan digoreskan.
Semuanya pada dirinya meringan seolah-olah semua tenaga berpedat dalam pikirannya, seperti dalam pesta amal, orang pedat membantukan tenaga, tetapi pekerjaan tiada teratur, bersebelahan dan tertahan, semuanya gelisah, bergesa-gesa, suruh-menyuruh tetapi tiada tekerjakan juga.
Mariati mengamat-amati kakaknya dengan diam-diam. Jauh pikiran Rukmini, tiada pada makanan. Bukan kebiasaan Rukmini berjauhan pikiran dari yang sedang dikerjakan. Beberapa hari ini banyak kali dia termenung; di tengah mengoreksi pekerjaan murid, dia hening berpikiran hal yang menyusahkan pikirannya. Mariati tahu akan kasih kakanya kepada Basuki. Mengapa pula Basuki tiada datang dalam beberapa hari ini.
Itulah pula yang dipikirkan Rukmini. Perangai Basuki pada belakangan ini mengkhawatirkannya. Caranya memain-mainkan rambutnya, ciumannya, sejuk, bagian angin melintas rambut, pandangannya sambil dia melentik-lentikkan jari-jari Rukmini, seperti kali itu saja lagi dia berbuat begitu. Dia tiada banyak lagi berkata-kata, dia kebanyakan hening saja. Rukmini yang bercakap.
Malam penghabisan dia datang, ciumannya pada dahi Rukmini, dan salamnya, tenang, tetapi rasakan gelisah yang tertahan, putusan yang dipaksakan hati. Rukmini kecut hatinya, dipegangnya lama tangan Basuki, pada pintu pekarangan, melembut suara Rukmini: “Besok kau datang Ki?”
“Ya, besok,” tersenyum Basuki. Tiada mengerti Rukmini akan senyumnya itu.
“Ada apa, Ki?”
“Tidak apa-apa.”
Rukmini mengangkatkan tangannya yang memegang tangan Basuki itu, lalu diciumkannya pada Basuki. Di dekatkannya lalu mukanya dekat muka kekasihnya itu, bibirnya merekah, seluruh badannya melemah menyerah. Basuki memeandangnya sejurus.....dipeluknya erat-erat badan Rukmini, diciumnya lama bibirnya. Diapus-apusnya rambut Rukmini, sekonyong-konyong diciumnya lehernya. Sekonyong-konyong dilepaskannya badan kekasihnya itu, hendak berpalingkan diri, pergi. Rukmini masih dapat memegang tangannya: “Sampai besok, Ki.....”, tetapi Basuki melepaskan tangannya. Masih nampak kepada Rukmini, Basuki membelok, lali dia pun lari ke dalam meniarapkan diri pada tempat tidurnya, rasa bahagia, bercampurkan kecut dalam dirinya.
Sudah beberapa hari dia tidak datang. Mengapakah dia tiada datang? Tiada pernah gelisah hati Rukmini. Senantiasa tenang, teguh, biasa pikiran tertujukan kepada pelajarannya semasa sekolah, dan kepada pekerjaannya, sesudah menjadi guru. Cintanya kepada Basuki, membukakan hutan tiada berhingga rasanya, yang akan ditanami tanaman yang tiada terbatas hasilnya. Bahagia yang tiada pernah dikenalnya, yang memenuhi seluruh dirinya, seolah-olah selama ini berkumpul, tersedia-kan tanah gemuk yang dengan lekas membantukan tumbuh bibit yang tersebutkan di tanah sukmanya. Cintanya kepada Basuki merancah tanah sukmanya akan memudahkan subur bibit. Sekarang gelisah perhatian akan mengasuh tunas.
Ada nampak Rukmini bahwa amat merusuhkan hati Basuki, dia tiada juga mendapat pekerjaan. Rukmini meriang-riangkan Basuki, dia tiada juga mendapat pekerjaan. Rukmini meriang-riangkan Basuki, Rukmini lebih riang daripada yang biasa akan menghalau suram hati kekasihnya itu, seperti angin mencoba memecah, menghalau awan hitam berkumpul. Rukmini berbuat seolah-olah itu perkara kecil, meskipun dia tahu bahwa kepada seorang laki-laki pekerjaan, berkewajiban, itulah tujuan hidupnya. Rukmini merasakan beratnya itu kepada Basuki yang diketahuinya senang asyik.
Lagi pula, -takut-takut Rukmini memikirkan habis-habis-, boleh jadi Basuki merasa lebih berat memikirkan berhubung dengan cintanya di masa yang akan datang. Rukmini tiada berani memandang masa yang akan datang lagi, setelah melihat jatuhnya harapan Basuki. Tiada berani dia datang lagi berangan-angankan yang akan datang, seperti pada permulaan kasihnya.
Rukmini pada masa kecilnya sudah kenyataan berwatak suka meng-urus sendiri. Makin besar dia, makin kenyataan wataknya itu, makin berani dia menanggung sendiri segala akibat kelakuan dan perbuatannya. Dia berani memandang soal sampai akhirnya, yang kemudian dilakukannya, meskipun kebiasaan di sekelilingnya memandang salah. Waktu dia mendapat tempat di Betawi, dia tidak hendak menumpang di rumah salah satu keluarga, dia hendak berumah tangga sendiri, tiada bergantung kepada orang lain, dia hendak mengurus hidupnya sendiri.
Sekarang tenaga dan berani pikirannya melemah, bimbang, lekas lelah, bila hendak memandang masa yang akan datang. Kemauannya sudah terbawakan serta dengan kasihnya kepada Basuki. Dia sudah bersandarkan diri kepada Basuki.
Pada ketika terpandangnya dengan terang bahwa di bersandarkan diri sudah, pada mulanya rasanya melawan, tiada hendak melepaskan kemauan mengurus dan berdiri sendiri seperti selama itu. Dia tiada mau mengalahkan diri, mematahkan kemauannya. Tetapi kasihnya mengharuskan kemauannya, makin lama makin terasa bahagianya bersandar- kan diri kepada lelaki yang dikasihinya, mengetahui ada senantiasa orang yang menopang, membimbing. Kasihnya makin mendalam, bersinar pada pandangannya dengan cahaya yang melembut. Menyerahkan diri pada pelukan kekasihnya, melupakan diri, tiada memikirkan sesuatu, hanya beraruskan diri kepada rasa bahagia, apalah lagi yang dikehendakinya.
Ketinggalan rasa perlawanan, rasa mempertahankan kemauan yang lama, hilang sama sekali, pada malam penghabisan Basuki datang, akan tiada datang lagi beberapa hari sudah. Sesudah dia berserahkan diri sama sekali, setelah hilang segala bimbang dalam hatinya, Basuki tiada datang lagi.
Rukmini berhenti makan, lalu meneguk minum.
“Kau sedikit makan, yu.” terdengarnya suara adiknya bermasgul.
“Aku lelah Ti, tiada nafsu makan.”
Tetapi nanti tentu ia bersua dengan Basuki, nanti sore dia diundang Trini datang ke rumahnya. Haerani akan datang juga, perempuan yang tiada bertujuan hidup, yang terapung-apung itu berpikir Rukmini sebentar.
Haerani sudah bersedia akan pergi, masih melengah sebentar, menantikan suaminya terlowong sejurus. Petang itu luar biasa jumlah pasiennya. Haerani duduk bersandar, memepet kukunya dengan kikir kecil, melalaikan pikiran. Sebentar-sebentar dikikimya, lalu dipandangnya, setengah asyik, lalu dikikimya pula.
Pintu kamar periksa dengan keras terbuka, Pardi cepat keluar, lalu memanggil jongos. Muka Haerani lemah menengadah arah Pardi: “Dia, aku pergi...”
Dengan cepat Pardi menjawab sambil menutupkan pintu:“Ya, nanti aku menjemputmu.”
Haerani mengeluh, praktik, prkatek. Tiada seketika juga melayang pandangannya kepada dirinya, kepada hiasannya. Dia berdiri, garis badannya ternyatakan benar oleh guntingan kebaya dan penjatuh kainnya. Haerani menjangkau tasnya yang terletak pada meja, lalu bergegas-gegas keluar, alat pemepet kukunya bertebaran di atas meja.
Trini dan Marsidi duduk-duduk di pekarangan rumahnya. Trini asyik merenda sedang Marsidi membaca korannya, sebentar-sebentar dibacanya keras-keras, bila ada berita penting. Pada meja beratur teko, beberapa stoples dan cangkir. Sebuah taksi berhenti di muka rumahnya.
Keduanya memandang, keluar suara dari taksi berseru: “Hallo!” Trini tegak, dengan riangnya menyambut Haerani ke pintu pekarangan.
“Ni, Ni,” mata Trini memandang Haerani dari atas ke bawah, lalu dipegangnya kedua belah tangan kawannya itu, sinar matanya memuji. Haerani merasa dipuji, senang rasanya. Trini tiada pemah menyembunyikan pujiannya, dia terus terang, bening, seperti mata air. Apa yang dikatakannya benar dipikirannya dan dirasanya.
“Ada dilihat Pardi kau tadi?”
Muka Haerani muram. “Ah, mana pula, pikirannya cuma pada prakteknya,” katanya dengan pendek. Trini hening. Keduanya duduk.
“Prakteknya maju betul kudengar,” kata Marsidi. “Dia amat populernya di kampung-kampung, orang memuji aktifnya. Tentu banyak dokter muda yang iri hati melihat majunya prakteknya.....”
Isterinya memandang kepadanya, sambil tangannya mengisi cangkir Harani, tetapi Marsidi tiada mengerti pandangan isterinya yang mengingatkan itu, terus juga memuji praktik dokter Supardi.
“Kalau aku kelar nanti, entah cuma menganggur saja, belum tentu mendapat praktik, setengah dari praktik Pardi sekarang.”
“Lebih senang begitu. Harap saja kau tiada mendapat prkatek! Tri tiada usah makan hati.” Pedas benar dikeluarkan Haerani katanya itu, seperti ada melepas yang tertahan-tahan.
“Pasiennya, selalu pasiennya pikirannya. Aku tiada perlu dirasanya diperhatikan. Aku cuma barang hiasan saja, yang tidak perlu diperhatikan lagi. Uh, praktik, praktik. Apa perlunya, diaku itu. Aku lebih senang lebih sedikit pasiennya, lebih banyak waktunya, buat rumah tangga. Cobalah lihat aku datang ke sini sendirian, dia tiada waktu. Nanti pulang aku sendirian pula, dia tiada ada waktu, pergi melihat pasiennya.
“Tidak adil timbanganmu, .....”
“Tidak adil? Bukan aku berhak juga padanya? Mana hakku? Cuma pasiennya yang berhak!”
Marsidi diam karena isterinya memberi isyarat padanya. Dia mengerti bahwa Haerani sedang panas, tiada akan tertenangkan dengan membantah-bantah.
Ketiganya hening sebentar, Haerani masih jengkel air mukanya. Suara Trini yang lebih dulu kedengaran, mencoba mengalihkan pikiran.
“Mana Mini, belum datang juga.”
Haerani mulai berubah air mukanya mendengar nama itu.“Ya, mengapa belum datang juga dia.... Di mana Basuki?”
“Berjalan-jalan tadi.....Nah, itu dia yang lama-lama dinanti itu!”
Riang Trini dan Haerani menyambut Rukmini. Diterangi lampu senja mereka bermpat duduk. Rukmini gelisah hatinya tiada melihat Basuki. Matanya mengawas-awasi pintu ke dalam, mengharap-harap Basuki keluar. Mulutnya tertahan tiada hendak bertanya. Diribut-ribut-kannya suaranya, seolah-olah hendak meliputi suara gelisah di dalamnya.
Haerani senantiasa merasa senang di dekat Rukmini, seperti hatinya terpenuhi oleh Rukmini. Rukmini teguh, penuh, setimbang rasanya kelihatan, banyak yang boleh ditaburkan oleh batinnya. Dari dahulu Haerani merasa-rasa sesifat dengan Rukmini yang tiada pada Haerani.
Dalam hatinya, Haerani amat menginginkan menjadi seperti Rukmini. Rukmini selalu pada tempatnya di mana juga, dia tiada pernah asing di tempat, dipergaulan mana juga pun. Seperti dia tiada bersusahkan apa-apa, semuanya dalam kekang tangannya.
Haerani mengamat-amati muka Rukmini. Ada tampaknya rasa yang belum pernah dilihatnya pada muka Rukmini. Ada rasa tenang, lembut pada air mukanya, yang lebih menarik hati memandangnya. Mukanya tiada cantik, sederhana, tetapi memaksa mata memandangnya, entah karena apa. Rukmini akan jadi penolong benar nanti kepada suaminya. Basuki.....Diheningkannya sifat Basuki. Keduanya tampan juga. Kawin beruntung.
Basuki berjalan-jalan tiada berketentuan. Dia tahu bahwa Rukmini akan berkunjung ke rumahnya, karena itulah dia pergi berjalan-jalan. Jangan bersua. Mendengar suaranya, melihat mukanya, akan melemahkan hatinya, akan membiarkan dirinya lagi diaruskan kasihnya kepada Rukmini. Kasihnya ini harus diputuskan.....Dengan terang nyata padanya yang terasa-rasa selama ini, tetapi yang tiada berani pikirannya menyelesaikannya, mengajinya dengan tenang. Kecut pikirannya menguasainya lalu memberat pada pikirannya, bagi meliput menggelap. Kasih ini harus diputuskan. Masa yang akan datang gelap, tiada patut dia membawa Rukmini kepenghidupan yang belum tentu. Sekarang Rukmini berbahagia, biarlah begitu. Biarlah dia yang berlakukan diri.
Timbul rasa bahagia dalam dirinya, lega rasanya, hilang sudah selama ini yang menekan hatinya, memberat pikirannya. Kemudian tentu akan datang orang lain yang dapat memberikan Rukmini penghidupan yang pantas. Rukmini akan lupa akan dia. Bibimya menarik senyum sedih.
Dia sebenamya haruslah melepaskan Rukmini, setelah datang berita dari bapaknya dia tiada dapat membelanjai lagi. Pada waktu itu seharusnya dia melepaskan Rukmini. Tetapi cintanya menggelapkan pikirannya, dia tiada berpikir akan melepaskan, hatinya ingin menahan mempunyai. Cinta pada wujudnya egoistis..... Cinta sejati ialah cinta yang memberikan, mengorbankan, yang hanya mengingat kesenangan yang dikasih.
Basuki menengadah, memandang langit bertaburan bintang. Berapa abad kau sudah memandanga sedih orang, sedih bangsa, sedih alam seluruhnya. Sedihku ini sudah berapa kali sudah kau lihat. Sekarang jual di bumi ini, malahan di kota ini, siapa tahu tiada jauh daripada再生, ada orang yang menderita seperti aku ini. Sedih yang kurasa ini apakah artinya itu dalam masa, dalam luasan dunia. Aku lahir sudah dalam sedih. Pada masa akubayi, sudah kurasa sedih lapar, kemudian berupa rupa, sedih yang kuderita setiap manusia. Sekarang sedih baru, sedih lebih dalam daripada yang lalu semuanya. Main-main nafas bayi, percobaan untuk bercakap-cakap di kemudian. Anak-anak bermain-main, jadi latihan untuk masa dewasa. Sedih lapar pada masa bayi, dan sedih karena perhatian ibu bapak terlalu kepada adik yang baru lahir, semuanya sedih itu adalah latihan sedih, buat masa sudah dewasa? Sedih seperti ini? Bila sudah tua, lalu melihat anak dan cucu, isteri barangkali, lebih dahulu meninggal, bukanah itu juga sedih? Adakah itu lebih dalam, lebih perihlagi? Untuk apakah manusia melatih diri, untuk masa manakah? Melatih diri tiada putus-putusnya. Sampai kuburan? Siapa mengatakan hidup cuma sampai kuburan? Semuanya di dunia ini lahir dan hidup, akan musnah jual, tiada yang kekal. Riang dan sedih lahir, akan hilang juga. Kasih.....akan mungkinkan punah kasihnya kepada Rukmini? Kasihnya yang sedalam ini? Kasih yang berjawaban, yang mengetahui akan sempurna hidup bila hidup bersama-sama, tahu, bahwa kedua merekalah paduan sejati, seperti dua belahan tempaan yang dahulu satu? KAsihnya tiada akan hilang....., tiada akan ada kemudian yang akan memadai kasihnya ini. Akan banyak lagi perempuan melintas jalannya, tetapi tiada akan ada yang menimbulkan kasih seperti kasihnya kepada Rukmini. Siapa tahu kemudian hari akan bersatu juga dia dan Rukmini. Tetapi sekarang lebih baiklah melepaskan Rukmini, tiada gunanya membawanya ke masa yang gelap.
Air mukanya yang pada yang kemudian itu tegang sedih, membuat bahagia. Teguh sudah putusannya. Basuki, dengan tiada insyaf sudah menuju arah pulang. Pulang, di sana Rukmini, pada malam ini juga haruslah diketahuinya. Basuki mencepatkan langkahnya.
Dr. Soepardi sudah menambah jumlah empat orang yang duduk disinari lampu, di pekarangan rumah Marsidi dan Trini. Dia mencepatkan kunjungannya pada pasiennya, supaya lebih cepat beristirahat di dekat isterinya dan Trini. Trini yang pandai itu membuat orang kerasan, senang, di dekatnya. Pengasuh, peramah. Tenang udara di sekelilingnya. Isterinya, alangkah cantiknya tadi. Dia pandai benar memakai....., senang hati Supardi memikirkan kepada isterinya. Bulan yang akan datang vakansi dahulu, bersama dia ke Sindanglaya. Haerani senang pemandangan alam di sekelilingnya. Dia terlalu banyak membaca waktu penghabisan ini. Terlalu banyak diam di rumah. Baik juga dia banyak bergaul dengan Trini. Dr. Supardi mencepatkan pekerjaannya, ingin melihat isterinya.
“Senangnya duduk begini, lepas hari banyak kerja,” kata Supardi, sambilmemanjangkan kakinya, lalu menghembuskan asap sigaretnya.
“Dan dekat isteri yang dicintai,” olok-olok Marsidi.
“Ya,” jawab Supardi“, dekat isteri yang dicinta.” Matanya memandang isterinya.
Basuki datang. Sejurus pandang, Rukmini melihat kurus kekasihnya. Basuki melintas di belakang kursinya. Rukmini mengulurkan tangannya ke belakang: “Ki.....” Basuki berhenti, bimbang, ..... lalu dipegangnya tangan yang mengulur itu. “Ke mana kau tadi, Ki? Mari duduk di dekatku.”
Sedang semuanya ramai bercakap-cakap, Haerani memandang kedua kekasih itu. Amat selenggara pandangan Rukmiri kepada kekasihnya. Rukmini melayaninya, menuangkan tehnya, lalu mengunjukkan cangkirnya. Bersahaja caranya melayani, tetapi terasa kasihnya yang memenuhi dirinya. Kasih yang bersahaja, tetapi terasa dalam, berkuasa.
Haerani memandang Marsidi dan Trini..... kasih tenang, udara keluarga.
Basuki membawa Rukmini pulang. Dia tiada hendak berjalan seperti biasa, hendak lekas sampai, biar lekas pula terkeluarkannya putusan hatinya. Mariati menyambut mereka dengan girangnya.
“Mas, mengapa lama tidak datang? Tolong, mas, sudah dua jam aku mencari hitungan ini tiada dapat juga.” Sebentar kemudian Basuki sudah asyik mencari jalan hitungan yang sukar itu. Mariati sudah memandangnya abangnya. Juga Mariati akan terlepaslah dari pandangannya.....Rukmini duduk memandang keduanya asyik mencari. Kemudian Mariati masuk kamarnya, meninggalkan kedua kekasih itu di ruang tengah.
“Ada clysma kubeli, buat isapanmu kalau kau datang ke sini.” Rukmini tegak, masuk ke dalam. Penghabisan kali duduk di sini, tiada lag melihat aturan ruang tengah ini, semuanya teratur menandakan rasa yang pandai memilih. Rukmini membukakan kotak sigaret, lalu diunjukkannya. Basuki mengambilnya.....tiadakan dia yang akan menghabiskan sigaret ini. Rukmini menjalankan sansteker, lalu dinyalakannya sigaret yang di mulut Basuki. “Kau lihat rumah ini sudah rumahmu, cuma orangnya belum di sini.”
Sukar dirasa Basuki mengeluarkan katanya. Nanti sebentar, jangan sekarang. “Mau minum lagi, Ki?” Basuki menggeleng kepalanya.
“Nanti sebentar, Ki, aku tukar pakaian dulu.”
Tiada lama kemudian, Rukmini keluar dari kamarnya, ramping, berisi, sehat, berpakaian piyama; di sebelah kiri dan kanan rambutnya berjalin dijadikan konde. Basuki hening memandangnya. Rukmini tegak di muka Basuki.“ Bagaimana, Ki, tiadakah pantas kau lihat bakal isterimu?”
Hampir tiada tahan Basuki inginnya memeluk badan yang ramping molek itu. Dia punya kalau dia mau, .....Basuki tegak lalu memandang dari jendela, membelakangkan Rukmini. Bintang yang tadi masih bertaburan, langit bening.
Dirasanya Rukmini mendekatinya, tegak di belakangnya.“Malam indah, coba lihat bintang kejora yang amat terang cahayanya itu.”
Basuki berpaling, lalu duduk. “Mari duduk Mini, ada yang kubilang.”
Rukmini berpaling lekas, mendengar suram suara Basuki. Di hampirinya Basuki, lalu duduk dipermadani, di muka kekasihnya itu, muka menengadah, tangannya pada lutut Basuki.
“Mengapa suram Ki?” “Duduk di sana, Mini.” Rukmini duduk di kursi. “Mini, coba dengarkan dengan tenang, sampai habis kataku. Apa yang kukatakan ini sudah kupikirkan dalam-dalam. Permulaannya akan menyedihkan, tetapi bila kau pikir tenang, itulah yang sebaiknya buat kita berdua. Mini, sudah tiada harapanku lagi akan mendapat pekerjaan. Nasibku tiada tentu, gelap. Mini, aku tiada hendak membawamu turut dalam yang gelap. Mini, tiada baik aku menambatmu pada diriku. Kau lebih patut mendapat penghidupan yang baik. Kemudian tentu ada orang lain yang mencintaimu, yang dapat memberikan penghidupan yang pantas.” Basuki berhenti sejurus, mukanya melihat ke atas. “Mini, biarlah kita menarik janji kita.”
Rukmini diam, terus melihat bibir Basuki. Inilah rupanya yang dalam beberapa hari ini serasa-rasa ada ditakutkannya. Berceral dengan kekasihnya, hilangkan rasa bahagia yang ada selama ini dalam hatinya. Takut akan hilang, .....itulah rupanya yang menggoda pikirannya, tetapi yang tiada berani dia memikirkannya. Serasa ada pisau membelah hatinya. Hening ditahannya, air mukanya sedih menahan.
Beberapa menit keduanya hening. Makin terasa kepada Rukmini masa yang akan datang, bila kekasihnya akan jauh daripadanya. Dia sudah bersandarkan diri, sandarannya ditarik orang. Cita-citanya hidup bersama-sama Basuki, serumah, sehidup, seanak, lenyap. Hening dirasakannya sedih itu. Makin terasa padanya apa yang akan hilang, makin keras hatinya hendak menarik, menahan. Makin lam makin teguh hatinya akan melawan, mempertahankan bahagianya.
Terterang-terang pula padanya, jawabannya pada putusan kekasihnya itu. Selama ini tersimpan dalam hatinya jawaban yang akan diberikannya itu, terasa-rasa, tetapi tiada terpikirkan nyata.
Suaranya tetap, ketika dia berkata: “Ki, kasih kita sudah mendalam, sudah berurat berakar. Sudah kau kenal aku. Aku tidak akan menyerah begitu saja.
Putusanmu itu berpenyakit. Mengapakah cinta kita tiada boleh terus, meskipun kau belum ada penghidupan? Tiada kukatakan kita kawin besok. Kita boleh menanti sampai ada penghidupanmu. Kasih bukan sama dengan kawin. Berapa banyak orang yang kawin dengan tiada cinta.“
“Kau lupa, Mini, boleh jadi aku terus menganggur atau cuma mendapat pekerjaan yang kecil.”
“Ki, aku masih bergaji cukup untuk dua orang. Apakah salahnya kita kawin.” Basuki memandangnya dengan herannya.
“Aku lelaki, Mini, yang berharus mencari penghidupan untuk anak isterinya. Bila kuperbuat seperti kehendakmu itu, di kemudian hari akan kau pandang aku rendah, tiada bertenaga, akan hilanglah cintamu, akan rusaklah perkawinan kita.”
“Moral.....”, “Moral itu berubah-ubah.”
“Benar, tetapi moral yang kau kehendaki itu bukan masanya sekarang. Barangkali beratus tahun lagi, barangkali juga tiada akan pernah.”
“Apakah salahnya but sementara sampai kau mendapat pekerjaan?”
“Mini, malu besar kepada lelaki sejati hidup dari perempuannya.” Basuki tegak berjalan hilir mudik.
“Kau tiada cinta aku, kau cinta hormatmu.....”
“Aku cinta.....”
“Ki, ingat kau perjanjian kita, pada pertama kalinya kita bersama-sama berjalan-jalan? Siapa yang mengajak, dia yang membayar, sebab yang diajak mengawani cuma, jadi bukan untuk kesenangannya sematamata. Bila sama-sama setuju, sama-sama membayar. Ingat Ki? Aku yang mengajakmu kawin akulah yang membayarnya.”
“Kau lupa Mini, bahwa penghulu yang mengawinkan kita. Di mata orang, akulah yang wajib mencari penghidupan. Datang ke penghulu artinya mengaku pandangan biasa itu.” Basuki diam sejurus, lalu segan-segan: “Bila yang perempuan yang hendak membelanjai, cuma satu jalan, ialah jangan kawin di muka penghulu, jadi tiadalah usah yang lelaki menanggung. Kawin yang begitu belum masanya di kalangan kita. Kau lihat, Mini, tiada jalan kepada kita, lain dari yang kukatakan tadi.”
Sekonyong-konyong Rukmini berdiri, lalu menjatuhkan dirinya pada pangkuan Basuki, dipeluknya lehernya, matanya mulai bercucuran air mata.
“Ki, tidak akan kulepaskan kau lagi. Kaulah cintaku yang pertama. Tidak akan kulepaskan kau.”
Diciumnya berkali-kali bibir Basuki, direkatkanya dirinya pada kekasihnya itu.
“Kau hendak menyuruh menanti, suruhlah, tetapi janganlah kau hendak memutuskan cinta kita. Aku akan menanti, menanti sampai kau ada penghidupan, cukup untuk kita berdua.”
“Mini, kalau sudah tenang pikiranmu, tentu kau setuju dengan yang kaukatakan itu.”
Rukmini berdiri, tetap hati pada air mukanya.
“Ki, kau tidak berani hidup, itulah sebabnya kau berkata begitu. Kau takut menanggung akibat cintamu, sampai segala akibat. Cinta sejati tidak menyerah, tidak tahu mundur, tidak mau menyamping. Cinta sejati mempertahankan dirinya, menghidupkan dirinya, lamun semua rintangan.”
“Mini, aku cinta, sepenuh-penuh cinta. Karena aku cintalah, aku hendak melepaskanmu. Bukankah itu tanda kekuatan, melepaskan cinta yang berbalas?”
“Itu bukan cinta sehat, itu cinta yang berpenyakit. Cinta sejati harus dapat menghidupkan, dia tiada bersunyikan diri, seperti seorang yang bertapa.”
Basuki berjalan pulang, memikir-mikirkan percakapannya dengan Rukmini. Lama mereka bertukar pikiran. Rukmini ada pikirannya sendiri. Pada penghabisannya Basuki tiada juga menarik putusannya, Rukmini tiada pula hendak melepaskannya, dia mempertahankan cintanya. Sampai di pintu pekarangan, Rukmini memeluk lehernya, menengadahkan mukanya, minta dijanikannya dia datang besok sorenya. Mulut Basuki menjanikannya, meskipun hatinya sudah menetapkan, dia tiada akan datang lagi, tiada akan bersuai lagi dengan Rukmini. Rukmini menerka maksudnya rupanya.
“Bila kau tidak datang, aku yang mendatangimu. Ingat, Ki, aku mempertahankan cintaku, Ki, .....”
Rukmini merekahkan bibirnya, badannya melemah, menyerah. Basuki bimbang, terharu. Ingin hatinya memeluk badan itu, mencium seluruh muka yang menengadah itu, mengampu badan yang melemah bersandar pada dadanya.
“Ki.....”
Basuki tiada tertahannya lagi. Dipeluknya, diciumnya dengan nafsunya. Badan Rukmini melemah dalam pelukannya, menyerah seluruh badan dan sukmanya. Mukanya bersinar bahagia. Basuki tiba-tiba insyaf kembali; dilepaskannya pelukannya, hendak melangkah pergi. Rukmini memegang tangannya, menahannya pergi. “Ki, .....”. Basuki menarik melepaskan tangannya, lalu cepat melangkah. Masih kedengaran suara Rukmini: “Sampai besok.”
Basuki baru pada dinihari sampai di rumah. Pada pagi hari keluar rumah lagi. Dia merasa dikejar dalam hatinya. Rukmini tiada hendak berlepas. Ah, bila begitu juga pemandangannya, biarlah....., tetapi harapannya terus, sedang Basuki tiada dapat menanggung harapan itu. Benar juga katanya, bahwa pada penghabisannya, egoisme juga yang menyuruh Basuki hendak melepaskan. Tiada berani menanggung akibat. Mana yang benar, berlepas atau tidak? Peranai Rukmini malamnya, melemahkan hatinya. Dia sudah memberi sandaran, sekarang diambilnya sekonyong-konyong. Tanaman sudah bertumbuh, dibantunya tibatiba.....
Berjam-jam Basuki tiada tentu tujuan, tiba-tiba insyaf dia bahwa dia masuk jalan tempat tinggal dr. Supardi. Di sana berhenti. Sekonyong-konyong terasa padanya inginnya mencurahkan hatinya. Dia sendiri tiada dapat mengalirkan derasan air keterusan baru. Hatinya banjir. Tadinya ada pandangannya tertarik oleh Haerani. Dia kawan Rukmini juga.
Haerani sedang mengapus-apuskan kutex pada kukunya, duduknya semalas-malasnya. Sebentar-sebentar dijatuhkannya jari-jarinya akan memandang cukuplah sudah warna merah muda yang diapuskannya itu. Pikirannya hendak melayang-layang seleluasanya, tetapi tertambat-tambat oleh main-main asyik mengindahkan kuku itu, seperti pintu air disangka tertutup, sedikit terbuka, air mengalir juga.
Haerani dengan senang menyambut Basuki, ada dapat pelalai waktu.
“Aku belum mandi, Ki. Malas. Biar saja begini.”
“Pardi keluar?”
Haerani bersandarkandiri. “Ya. Beginilah jadiisteri dokter.”
Tiada mendalam arti perkataan itu kepada Basuki, pikirannya bertimbun oleh susahnya sendiri.
“Jadi Ki, kapan pikiranmu kawin?”
“Kawin Ni?” Maka tiba-tiba tercurahkanlah segala isi hatinya, segala yang dipikir-pikirkannya selama ini. Haerani mendengarkannya, menentangnya. Basuki bersandarkan diri, menutup matanya sambil menyedihkan perjuangan hatinya. Haerani duduk pada sandaran kursi Basuki, ditekannya kepala Basuki pada dadanya. Di sana-sini seperti dia sendiri yang berkata. Ingin kepada kasih yang tiada diberikan, yang tiada sampai, yang tiada terpenuhi. Diapus-apusnya kepala Basuki, seperti mengapus-apus dirinya sendiri. Ingin yang tiada berketentuan membentang dalam hatinya, melemahkan dirinya.
Basuki sudah pergi.....Haerani memandang dengan tiada pandangan. Lambat-lambat insyaf padanya perbuatannya yang baru dilakukan. Dilihatnya pakaiannya yang tiada teratur, badannya terlentang dalam tempat tidur. Lambat-lambat tersimbah awan mendung, mulai terang cahaya insyaf. Dia terlentang, merenung-renung....., tiada bergaya, terpatah oleh insyaf akan akibat perbuatannya.
29 Oktober 1931
Sinar perhatianku,
Turatmu yang panjang itu sudah kubaca berkali-kali.
Amat senang hatiku mendengar suaramu seperti dulu lagi, waktu kita mulai berkenalan. Penuh harapan akan masa yang akan datang. Makin teguh dan giat oleh rintangan. Masakan tiada akan maju dagang bukum, bila kau kerjakan dengan giat? Lima bulan lagi, Ki? Datanglah kau menjemput aku? Aku bisa mengajar, katamu? Tentu Ki, aku akan menjadi guru lagi. Bila tiada sekolah yang manu menerimaku jadi guru, akan kudirikan sekolahku sendiri. Ki, senangkah kau beristeri seperti aku ini? Berpikiran dan berinisiatif sendiri? Katamu bila tiada begitu sifatku, tentu pada malam itu sudah putus cinta kita. Perempuan lain akan tawakkal, tiada bergaya lagi.
Pada beberapa hari sesudah kau berangkat, amat sedih hatiku, serasa-rasa kosong. Tetapi aku sedih perceeraian itu akan sementara saja. Apalagi perceraian itu, harus, akan menyempurnakan bahagia kita di kemudian hari. Lagi, Ki, putusan Tuhan tiada kita ketahui. Bila di kemudian hari kau yang lebih dahulu dipanggilnya, lalu aku tinggal sendirian haruslah aku bersedih-sedih selama-lamanya, tinggal berpangku tangan? Alangkah cacimu nanti, bila kau lihat aku begitu, dari dunia yang lain.
Makin lama kau tiada didekatku makin nyata padaku dalamnya kasihku padamu. Ki, dulu perhatianku tertuju padamu hingga kurang perhatianku kepada Haerani. Haerani yang merasa dirinya miskin tetapi sebenarnya tidak. Pardi amat memcintainya. Diusahakannya akan menyenangkan pikiran Haerani, sebanyak-banyak prakteknya membolehkannya. Haerani selalu merasa dikurangi haknya akan cinta Pardi. Kurang disediakan Pardi waktu untuknya. Sekarang lebih banyak kuperhatikan dia. Berkali-kali sudah kami bercakap-cakap. Dia mencari bertemu dengan aku. Berkali-kali sudah kami bercakap-cakap. Dia mencari bertemu dengan aku. Kutunjukan bahwa Pardi amat mencintainnya. Tetapi Pardi tidak banyak waktu. Tetapi waktu yang ada disediakannya semata-mata untuk isterinya dengan segala kasihnya. Salahnya bukan Pardi tetapi pandangan Haerani selalu meminta hendak mendapat sebanyak-banyaknya pula. Bukan yang banyak yang perlu tetapi kualitetnya. Pandanglah, kataku padanya, waktu sedikit itu yang tersedia buat dirimu sebagai permata, barang yang amat berharga, yang hendak kau pakai sebanyak-banyaknya mungkin akan mengindahkan dirimu. Kesempatan yang ada haruslah dipergunakannya sebanyak-banyak mungkin, sebaik-baiknya. Salahnya dia tiada memenuhi pikirannya, pada waktu Pardi melakukan prakteknya. Rumah tangga bukan dia yang mengurus tetapi abdi yang dibawanya dari Jokja yang memeliharanya dari kecilnya.
Isilah waktumu dengan usaha sosial, kataku. Diceritakannya padakua dia sebelum kawin bercita-cita hendak membantu bakal suaminya dalam pekerjaannya, belajar pekerjaan verpleegster. Waktu sudah kawin citacita itu masih ada dalam pikirannya tetapi berat hatinya melakukannya.
Sekarang sudah dia mulai bekerja sosial. Dia tampak lebih hidup. Dia hendak mengusahakan kursus mengurus rumah tangga, pada hari sore. Mulai terasa padanya bahwa dia ada kepandaiannya yang perlu juga kepada orang lain bahwa dia bisa memimpin orang.
Mudahnya bimbang sudah mulai hilang tetapi masih acapkali perlu ajakanku. Supardi ada kubicarakan tentang sifat isterinya itu. Dia juga akan menjaga-jaga, akan memperhatikan hal itu.
Ki, senantiasa ada sinar pada mata Haerani yang ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi segan. Aku tahu tentang apa. Sama saja dengan yang kuceritakan itu. Aku pun memandang, megatakan dengan mataku bahwa aku mengerti. Dia amat bergantung dan kasih padaku. Perbuatan itulah pula, pada perasaanku yang membesarkan kasihnya kepada Supardi yang menyebabkan dia memperbaiki diri sendiri. Aku tahu, dia tiada insyaf akan perbuatannya itu. Dia merasa amat sunyi pada waktu itu, sudah lama dia merasa sunyi.
Itu tanda lemah, perempuan yang menyerahkan diri karena sunyi dalam hati, tiada insyaf yang akan diperbuatnya. Perempuan seharusnya menyerahkan diri dengan insyaf, tahu apa yang diperbuatnya. Perempuan masa dulu, tunduk, menurut, semangat hamba. Perempuan masa sekarang haruslah tetap dalam rumah tangga tetapi insyaf dalam menunjukkan diri.
Dahulu kusangka bahwa bahagiaku ialah berdiri sendiri, tidak mau tunduk kepada lelaki, tetapi Ki setelah kau kukenal tahulah aku bahwa bahagia perempuan ialah menyerahkan diri, menyandarkan diri. Pada permulaannya amat susahnya kepadaku mengaku maumu lebih kuat daripada mauku. Tiada kau ketahui beratnya perjuangan hatiku, akan mengaku bahwa aku tunduk. Tetapi aku berterima kasih, menang juga yang sebenarnya, bila tidak tentulah aku pada akhirnya akan merasa hampa juga dalam hatiku. Sekarang hatiku penuh.
Ki, sebenarnya iri hatiku mendengarkan ceriteramu yang terus terang itu tentang halmu dengan Haerani itu. Tetapi aku mengerti, Ki, lambat laun hilang juga iri hatiku. Sekarang dalam suratmu kau terangkan sekali lagi. Kau sudah bisa memecah-mecahnya dengan tenang. Kau katakan, kau sendiri menderita akan putusanmu akan melepaskan aku. Batinmu sebenarnya tiada hendak melepaskan, dia dengan teguh merindui aku, menghendaki aku, kau hendak memeluk aku pada malam “perpisahan” kita, tetapi kau tahan inginmu, lalu besoknya, habis mencurahkan hatimu kepada Haerani, nyata padamu dengan pedihnya bahwa ingin itu akan tinggal ingin oleh putusanmu sendiri. Kau hendak menghilangkan, mendiamkan inginmu, sedang ada perempuan didekatmu, yang merasa-rasakan melemah menyerahkan diri.
Ki, perbuatanmu itulah yang mengembalikanmu padaku. Katamu sorenya, kau tiada akan datang, bila tiada terjadi hal itu. Kau merasa harus minta ampun padaku. Ki, itulah tanda kita sudah bersatu, bererateran. Bila aku tiada pada pikiranmu, bila kau tiada merasa ada hakku pada dirimu, masakan kau datang meminta ampun? Segala sesuatu ada baiknya.
Bila sekali-sekali hatiku lemah, kuingatkan lagi malam percintaan kita. Ingatn itu mengeraskan hatiku akan menanti ketika kita bersua lagi. Ingatan pada malam itu menerangkan hatiku. Malam itu aku menyerahkan diriku dengan insyaf, karena kasihku padamu. Kau menerima serahanku, insyaf akan perlunya tanda kita bersatu sudah seluruh-nya. Bila tiada kau terima serahanku itu, tiada akan kubiarkan kau belajar.
Adakah lagi tanda matamu yang lebih indah, lebih tetap padaku? Aku tahu perbuatan kita itu akan kau pandang tinggi, sama-sama insyaf apa yang kita perbuat.
Lima bulan lagi, datanglah engkau menjemput aku? Tiada kecut hatiku akan berpindah pulau, bukankah Medan juga kota tanah air kita?
Sedang aku menulis surat ini, Mariati bersusah payah membuat wiskundnya. Dia sering kali mengeluh, mengapa kubiarkan kau berangkat, sekarang tiada lagi Mas Ki akan menolongnya.
Saudara sepupumu Trini dengan suaminya seperti biasa. Marsidi akan menempuh ujiannya yang penghabisan dua minggu lagi.
Kemuning di pekarangan rumahnya sudah berbungan pula. Ingatlah malam kenangan kita.
Isterimu.
Mini.
25
Lupa
(Pujangga Baru. No. 3,4,5. Sep, Okt, Nop 1936. Thn. IV)
Sukartono duduk sendirian di pekarangan pesanggrahan, di bawah pohon mangga. Terang pekarangan disinari bulan. Dia memandang jauh. Lampu listrik Solo tiada terang nyata oleh sinar bulan. Di sana, pada malam ini, anak muda itu semuanya bersenang-senang, berdansa, bercumbu-cumbu.
Teringat dia lagi, masa dia juga bercumbu-cumbu dengan Haryati. Sudah berapa kali terang bulan lampau. Setiap terang bulan teringat dia lagi akan cintanya kepada Haryati. Pada terang bulan amatlah terangnya di pekarangan rumah Haryati di Malang. Mereka berdua duduk, tenang, kasih dalam hati. Harum kemuning semerbak. Haryati biasanya memetik bunganya, diciumnya lalu diberikannya kepada Sukartono. Sukartono menciumnya pula, lalu disimpannya dalam sakunya, akan meletakkannya nanti di rumah dalam satu kitabnya.
Sukartono senyum mengingat lakunya itu. Lima kali bulan purnama, maka Sukartono pun haruslah meninggalkan Malang, jauh dari kekasihnya. Di Bandung setiap kali bulan purnama, maka Sukartono pun haruslah meninggalkan Malang, jauh dari kekasihnya. Di Bandung setiap kali bulan purnama adalah dia mengirim surat kepada Haryati. Lama kasihnya dihitung mereka menurut beberapa kali bulan purnama. Maka timbullah pergerakan kiri, pergerakan non Ir. Sukarno menyebarkan cita-cita PNI. Sukartono pun tertariklah juga hatinya oleh semangat baru itu. Seperti ribuan orang lain, dia pun menjadi anggota partai baru itu. Dia membantu dengan uang. Setiap kali perlu uang, dia tetap bersedia membantu sebanyak-banyak tenaganya. Dia dengan rajin menurut kursus, terutama pemimpin.
Lama-kelamaan tertanamlah dalam hatinya semangat yang teguh, yang dengan nyata menempuh jalan yang seharusnya ditempuh menurut cita-citanya. Dia menjadi pengikut marxisme. Tetapi dia tiada terkemuka, sebab dia belum ada dorongan akan menjadi pemuka. Dia seorang pengikut yang setia.
Waktu PNI dibubarkan, dia merasa sayang, tetapi tiada memilih golongan Daulat Rakyat. Partindo didirikan, dengan segeralah dia menjadi anggota yang setia. Datanglah ketetapan pemerintah bahwa pegawai gubernemen tiada boleh menjadi anggota Partindo dan PNI. Sukartono tiada oleh menjadi anggota Partindo dan PNI. Sukartono tiada�lama berpikir, lalu meletakkan pekerjaannya. Setelah itu mulailah dia terdorong ke muka, menjadilah dia seorang pembicara yang tangkas dalam rapat umum dan dalam rapat momen aksi. Selalu dengan penuh gembira dia mengajukan isi pidatonya. Sebelumnya itu dia tiada pernah mengetahui, bahwa ada kecakapan berpidato padanya.
Pada rapat-rapat, dahulunya sedang mendengarkan Ir. Sukarno berbicara, adalah juga timbul inginnya akan menjadi sependai pemimpin itu berpidato, tetapi tiada pernah dicobanya arah ke situ. Setelah datang kesempatan, maka dipergunakannya kesempatan itu dengan asyiknya. Dia baru merasa hidup dirinya, bila ada kesempatan berpidato. Berpidato menjadi tujuan hidupnya. Yang lain daripada itu menjadi sambilan. Asalkan bisa hidup, sudahlah cukup padanya.
Serta dengan dua orang sepertinya dia mengajar pada sekolah yang didirikannya, setelah dia lepas dari pekerjaan gubernemen. Murid-muridnya berangsur banyak juga, sehingga ketiganya dapatlah hidup, meskipun dengan amat sederhana, hampir-hampir bolehlah dikatakan miskin. Mereka bertempat tinggal pula di dalam sekolah itu, mengurus rumah tangga sendiri, bila boleh dikatakan rumah tangga.
Sukartono gembira juga, meskipun dia biasa hidup senang. Tiada dipandangnya hidupnya yang hampir sengsara itu, seolah-olah semangatnya menyinari hidupnya itu, sehingga bagus nampaknya. Banyak famimila dalam kalangan BB yang menasehatinya, meninggalkan partainya, tetapi tiada yang diturutinya. Pada akhirnya semuanya tiada hendak berhubungan lagi dengan dia.
Ir. Sukarno ditangkap kedua kalinya, lalu kemudian Partindo di batas haknya bersidang. Sukartono tiadalah lagi tujuan hidupnya sehari-hari. Penuh rasa dadanya, tetapi tiada terkeluarkan. Pikirannya sesak. Gelisah rasa hatinya, maka banyaklah mengunjungi kawan-kawannya, akan bercakap-cakap, akan melonggarkan rongga dadanya, akan melepaskan isi pikirannya. Tetapi tiada lama berkuranglah kawan-kawannya, karena seorang-seorang meninggalkan Bandung, pergi bertempat di kalangan familinya. Sukartono lebih banyaklah berkata-kata kepada dirinya. Sekolah tempat dia mengajar dahulu masih membantunya, tetapi lambat laun berkurang pula. Makan sekali sehari ditahannya, tetapi da tang pulalah ketikanya, makan sekali sehari itu pun tiada tetap, bila tiada kebetulan dia berkunjung ke rumah kawan yang lalu mengajaknya makan. Pikirannya serasa melemah, rasa susah berjalan.
Dicobanya menulis dalam surat kabar, tetapi surat kabar tiada membayar. Malang sekali datang, tiada akhirnya, terus menerus menimbun. Sumur yang tergugur tanahnya, terus juga gugur, hingga tertimbun lubang yang digali itu. Rasa dan pikiran Sukartono tertimbun, serasa berpikir tetapi tiada berpikir, serasa merasa tetapi bukan rasa. Diterimanya kartu dari Malang yang bercetakan nama tunangannya. Pikiran dan rasanya sudah terlalu tertimbun, tekanan itu tiada dirasakannya, seperti orang yang baru bangun. Beberapa hari kemudian, ketika terbangun pagi-pagii, lalu berjalan-jalan di tepi sawah dekat rumahnya, maka mata hari baru timbul di belakang gunung yang bermegahkan diri, barulah ada rasa yang hendak timbul tetapi tertekan terpendam, meninggalkan rasa hampa membuluh megalam. Matanya tegang memandang bulatan sinar berdikit-dikit sembul, setegang rasanya menahan pembuluh rasa melanda itu. Rasanya berhampar tiada berbatas, rasa jauh....
Berjalan-jalan malam, tiada tujuan. Di mana orang berkerumun berhenti melihat, tetapi tiada sadar yang dilihat. Ada pada pemandangan matanya pandangan hati yang berbeban, membungkuk mendaki. Sampai datang surat dari pamannya dari Solo menyuruh dia datang. Dahulu dia tiada akan datang. Sekarang dia mengikut panggilan, berserahkan diri pada aliran peristiwa.
Terang bulan yang begini di Malang. Di manakah dia sekarang? Ingatkan dia lagi akan waktu yang lalu melihat sinar bulan yang begini? Haryati tentu sudah lupa. Dia sudah jadi batu pada tepi jalan hidup Haryati. Kenangan pada Haryati timbul dengan deras kembali, kenangan yang pada waktu yang akhir ini terbenam oleh pergaulannya dengan Soemadi dan Amir Hoed. Pikirannya sudah terbuka, tergulingkan batu penekan pikirannya. Turut ke Solo, beriang-riang? Akan terlalu mengingatkannya kepada Haryati, dahulu dia sering bersama ke tempat periang-riang yang begitu. Lama Sukartono duduk mengenang-ngenangkan yang lalu, mukanya menengadah melihat awan menlangsir.
Sukartono menatap melepaskan lelah duduk di tepi tebing. Panas hari terasa, tetapi tiada diindahkannya. Ada di Tawangmangu tempat main tenis, ada pula tempat pemandian, tetapi tiadalah gunanya kepada
Sukartono. Berjalan-jalan sendirian, setiap hari berlainan arah, tetapi tiada jauh-jauh. Melihat gunung jauh meninggi, melihat awan berarak, merasakan angin sejuk mengembus, bermenung, menatap ke yang jauh, rasa ingin yang tiada berbentuk, ingin berbentuk hawa, dalam dirinya. Seolah-olah ada yang dicarinya, seolah-olah alam, gunung yang jauh akan membantunya. Ada yang hendak dilepaskannya, tetapi entah apa tiada diketahuinya. Sukartono tahu, bahwa dari Tawangmangu ada jalan melalui puncak gunung Lawu ke belakang dinding gunung itu, ke Sarangan; dan dari Sarangan mudah pergi ke Kediri, Lalu ke Malang. Pernah pada suatu pagi diturutinya jalan itu, tetapi ketika matahari terbit, dia duduk memandang tepi langit beragam warna.
Ketika yang begitulah yang digambarkan oleh Marie Corelli dalam bukunya—buku manakah namanya?—, ketika perempuan bersua dengan dia pada suatu pulau, di tepi laut. Bersua, sekali lagi bertemu, karena dahulu dalam inkarami, benarkah itu ada? Hidup kembali? Bila matahari terbenam, bukankah dia akan timbul kembali? Sukartono tegak sekonyong-konyong, lalu melintas, ke arah lain.
Pada ketika bangun, besok harinya hatinya akan ke sana pula. Dia mengikut jalan itu pula, lalu duduk pada tempat itu pula, memandang matahari terbit. Ragam warna berlainan dari kemarennya. Ada setengah jam dia memandang dan merasakan angin mengembus. Dengan mengeluh dia tegak. Tiada juga..., baru terasa padanya bahwa dia duduk di sana karena menanti, bahwa dia datang ke sana karena mengharap. Besoknya timbul juga inginnya akan ke sana, tetapi ketika memakai sepatunya terpikir padanya, apakah gunanya ke sana. Lalu berjalan-jalan ke arah lain. Meskipun perhatiannya ditambatkannya pada alam sekelilingnya, pikirannya mengacau juga: mengapa tiada ke sana tadi, siapa tahu...
Sehari itu terus melena pikiran itu dalam hatinya. Pada sore hari sore itu, sudah dia berpakaian akan ke sana. Bukan sore seharusnya ke sana, tetapi pada pagi hari. Pukul seperti empat hari yang lalu. Lalu dia pergi duduk-duduk di pekarangan, melihat orang lalu lintas, halau ada. Sukartono duduk menanti, dia insyaf, bahwa dia menanti, bahwa melihat matahari itu cuma pura-pura. Itu orang datang, lama kelamaan nyata seorang perempuan. Perempuan itu lalu, sambil mengucap “Nuwun”, lalu lebih jauh mendaki. Sukartono menanti setengah jam, sejam, tetapi tiada apa-apa, matahari makin panas. Tiada lama Sukartono menanti, maka kelihatanlah pula seorang perempuan menghampiri tempat dia duduk. Perempuan yang kemaren...! Inikah yang dinantinya?
Dipandangnya perempuan itu, masih muda rupanya. Hampir sudah lalu perempuan itu ketika ditegurnya: “Ke mana?”
Dengan hormatnya didengarnya menjawab, bahwa perempuan itu pergi mencari kayu api.
“Kemaren jga?”
“Inggih, kemaren juga.” Lalu perempuan itu lalu. Inikah yang dianantinya? Inilah yang diharapkannya? Ada rasa sunyi dalam hatinya. Baru terasa padanya, bahwa sudah berminggu-minggu rasa sunyi itu dalam hatinya.
Mereka datang bertiga mobil. Sukartono sudah sedia menanti mereka. Riang suara di pekarangan pasanggrahan itu, lalu kemudian di dalamnya, ketika Sukartono mengatakan, bahwa dia menyediakan teh dan kue-kue akan menjamu mereka, terutama kepala perayaan itu. Seningnya muda, riang bergembira, tiada bersusah hati dan pikiran. Riang seperti alam berbukakan diri, habis hujan, seperti sawah berdator beremaskan diri. Begitulah riangnya pemuda itu. Seputih langit berawan, ada setempat yang hitam, meskipun tiada amat menarik perhatian. Amir di dalam kumpulan riang itu.
Sukartono mengajak-ajak riang, seperti seorang gembala dengan tenang memandang semua biri-birinya, lalu melontari biri-biri yang menjauhkan diri dengan kerikil, sedang dia sendiri rajin membayu di bawah pohon rindang.
Jalan melandai, di sebelah kiri dan kanan bukit. Nyanyian mereka meriang, terlontarkan kembali oleh dinding bukit.
Mata Amir membedakan badan ramping yang terbelakang berjalan. “Lihat, nun Tini...” Amir melihat tunjukan jari-jari Nurini. Tini di muka sekali, jauh di muka serta dengan Sukartono.
“‘Sepadan dia,’ kata Amir bermenung.
“Ah, ya... Mengapa kau tidak turut?”
“Mas Mir, mas Mir, mari sini, coba lihat”, terdengar suara Trini. Nurini tinggal sendirian. Pikirannya terlayang, teringat ini surat yang baru diterimanya dari negeri Belanda. Tono sudah menang ujiannya. Tiba-tiba dia terkejut mendengar teriak Trini, dengan tingginya melencing udara hening itu. Nun, Trini dikejar Amir. Riang ketawa Trini. Senang hati Nurini. Seperti adik dan abang. Sana mereka kemudian berjalan bersama-sama, sekali-sekali memetik bunga.
“Coba lihat, bagusnya pemandangan dari sini,” Kata Sukartono, lalu berhenti di tepi tebing. Jauh di bawah, sawah keemasan dan jauh mata memandang di hadapan gunung membiru. “Pagi hari lebih indah di sini, mata hari terbit.”
“Sudah sering kali tuan ke sini?”
“Ya..., sendirian, senangnya memandang matahari terbit.”
“Sendirian? Ah...”
“Ya, sendirian. Ada kalanya senang manusia sendirian...” Kalimat yang terkatakannya begitu itu, membukakan kuncup yang rupanya selama ini ada dalam hatinya. Ya, sendirian akan bermenungkan diri. Itulah yang dicarinya datang ke sini. Terasa padanya apa yang selama ini yang dicarinya..., menungan diri. Sendirian....
Sukartono duduk melepaskan lelah. “Tuan tiada lelah?”
“Ah, saya senang tegak begini, memandang.” Tiada dikatakannya, bahwa dia tiada hendak duduk, meskipun dia ingin duduk.
“Amir juga senang benar sendirian.”
“Amir, sudah kenal benar rupanya.”
“Ah, ya dalam beberapa hari ini. Seperti menjauhkan diri dia nam-pak... Coba lihat awan sana, seperti burung putih kelihatan.... Mengapa dia tidak turut tadi?”
“Bukan dia hendak menolong Nurini? Senangkah indah alam begini?” Makin terasa padanya, bahwa inilah yang dikehendakinya, yang diadam-idamkan hatinya: mengucapkan rasanya.
“Ya, aku lahir di Sumatera, di Pematang Siantar.”
Apakah hubungan tempat lahirnya itu dengan tanya-saya, pikir Sukartono. Dia tiada tahu, bahwa ucapan itu sudah berhari-hari ini tersimpul dalam pikiran Sukartini, hendak-hendak terurai dalam bercapak-capak dengan Amir. Baru sekarang terurai dengan tiada diketahuinya.
“Sering kali kami dahulu ke Laut Tawar,” katanya beberapa ketika kemudian. “Di sana indah benar alam, dipandang dari bukit.” Suara ribut dan menyanyi kedengaran mendekat. Sukartono menebas-nebaskan tongkatnya.
“Ahoi,” kedengaran suara Sumardi dengan riangnya.
Lepas makan-makan, Amir dan Sukartono terpisah dari yang lain-lainnya.“ Sudah tambun kau kelihatannya,” kata Amir.
“Ya, …” Sukartono mencabut datang rumput, lalu menggenggamnya dengan tangan kirinya.
“Bukan pekerjaan senang membubut rumput,” terdengar tiba-tiba dengan tiada permulaan. Sukartono berkata. Tiada di hatinya jawaban, seperti lokomotif yang berbunyikan peluit, di hatinya jawaban, seperti lokomotif yang berbunyikan peluit, melalui stasiun tiada akan memuat penumpang. “Apalagi rumput tanah yang sudah lama tiada dipelihara. Di dekat rumahku dahulu di Bandung ada sebuah pekarangan yang penuh rumputnya. Rumahnya terletak di tepi jalan besar, tempat gangku keluar. Rumput-rumputnya sudah tinggi. Rumahnya tentu sewanya mahal. Setiap kali aku lalu, timbul tanya dalam hatiku: Mengapakah tiada diurusnya pekarangannya. Sayang. Bila sudah menyewa mah sebesar itu, apakah susahnya menyuruh bubut rumput di pekarangannya itu? Bukankah begitu juga kita manusia?”
Amir terpikir: “Apakah maksudnya? Kepada siapa ditujukannya?”
“Bukan pekerjaan mudah membubut rumput.” Dia hening sebentar. Nun sawah menguning. Amir‘ melihatnya terlendur-lendurkan oleh embusan angin.
“Di sawah juga, tapi tanahnya terus.”
“Maksudmu, tiap-tiap kali orang membubut...”
“Ya, pada waktunya, tiada berselang-selang.” Sukartono terinsyaf, bahwa inilah yang dicarinya selamaini, bercakap-cakap, mengeluarkan pikirannya. Sudah lama dia mengheningkan diri, bergelapkan pikiran, takut berpikir menepat.
Amir teringat sekonyong-konyong gambaran seorang menabur, dahulu ada terpandangnya gambaran itu pada surat berkala Kristen. Tangan kananya dengan tegapnya mengeda, sedang tangan kirinya memegang sandangannya yang terbuka itu. Matahari hampir terbenam.
“Menabuh lebih mudah...”
“Ya, kalau tanahnya sudah terluku. Meluku lebih berat.” Sukartono mendapat dirinya memulai kalimatnya dengan “ya”. Ingin benar rasa hatinya melendur, bagi padi sana berlemahkan diri, mengaruskan diri pada embusan angin, bagi burung nun melayangkan diri.
“Akeh senenge, akeh sedihe....”. Sukartono mendengarkannya, sedang dia bersila bersandarkan dinding. Lampu duduk menerangi orang makan itu; bini Pak Harjo, dan dua orang perempuan lain. Setengah terang setengah gelap mukanya, bila dia menunduk menjemput makanan, nampak bayangannya di dinding membungkuk pula, seperti raksasa rupanya. Manusia itu juga dua mukanya, pikir Sukartono. Yang kelihatan dengan terangnya yaitu usahanya, maksudnya hanya terbayangkan kemudian lebih nyata.
“Akeh senenge, akeh sedihe, …” suara itu melepas dengan lemahnya dari aras Pak Harjo, melepas seperti tiada tujuannya. Sukartono duduk di sisi kepala yang berbaring itu, mata Sukartono duduk di sisi kepala yang berbaring itu, mata Sukartono memandang arahkan dinding tempat bayangan itu? Sukartono tiada melihatnya, tetapi diketahuinya Pak Harjo membulat-bulatkan mata candu di antara ibu jari dan telunjuknya itu.
“Akeh senenge, akeh sedihe, …” berheningkan diri, hening, jangan tepertinggi. Hening yang didapatnya minum candu itu, kelupaan tiada terharu. Rasa kudus, adakah dia sehening sedamai tidur, seperti anak itu di sudut sana tidur neyenyak. Barangkali dia bermimpi. Mimpi candu juga membawa mimpi. Mimpi melupakan..., sama saja, dengan yang dikatakan Pak Harjo tadi, minum candu melupakan seperti juga tidur dengan perempuan melupakan, ketika ‘sampai pada puncak perasaan, tetapi hanya sebentar terlupa segala-galanya. Anak itu lupa permainannya, Pak Harjo lupa hidup sekelilingnya, yang makan itu lupa semuanya, cuma makan i tu yang diingatnya. Perempuan yang mencuci tangan itu, sudah lupa dia baru tidur dengan Sukartono.
Lupa, lupa, adakah yang dilupakannya, maka dia datang ke sini? Sebenarnya sudah lama dia tiada tidur dengan perempuan, sudah lebih dari setahun sejak dia aktip dalam pergerakan. Perempuan itu menoleh, lalu senyum, berdiri menghampirinya, duduk di sampingnya.
“Enak makan…”, tiada bertanya tadi siapa perempuan itu, apakah juga perlunya, sesudah nanti, tiada akan bertemu lagi, sudah terlupakan, masa silam. Mukanya tiada berubah arahnya, pertanyaanya juga bukan pertanyaan.
“Makanan orang miskin, masakan enak …” Orang sangka makanan oang lain yang enak. Enak itu bukanlah di buat-buat, senang pun begitu juga. Adakah senang, adakah sedih? Benarkah ucapan Pak Harjo itu? Bila tiada senang, tiada sedih, …. bukankah itu kehendaknya?
“Kapan datang lagi?”
Kapan datang lagi, tanya itu berulang dalam pikiran Sukartono. Katakan “tidak lagi” tetapi apakah perlunya mengatakan “tidak lagi,” hilangkan harapan orang?
“Lusa...?” Sukartono tiada menentukan dengan tetap, dia bertanya. Perempuan itu menerima pertanyaan itu, yang ada sebenarnya menjadi tanda bimbang. Dia senyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Sukartono: “Ya, lusa, ... pukul berapa?” Hendaknya manusia terpedaya, hendaknya lebih pasti merasakan harapan yang tiada terpenuhi.
“Maklum hari”, suaranya tenang, seperti dari jauh.
“Pukul sebegini?” Manusia menggali lubangnya sendiri. Pak Harjo memasang lampu candunya, badannya memanjang, kepala cangklong-mengenai pelita, sudah bersedia menanti rasa lupa hening. Perempuan ini tiada tahu senangnya lupa.
Sebuah andong ada menanti di jalan besar, ketika Sukartono tiba pada akhir jalan melandai yang menuju rumah Pak Harjo. Kusirnya hanya mengelih ke arahnya, lalu mengangkatkan tangannya, bersedia memukulkan cambuknya, ketika di lihatnya Sukartono mengarah ke andongnya. Sukartono tidak berkata, lalu terduduk, sedang cambuk membangunkan kuda yang kelihatan tidur itu, yang lalu terbangun sebentar akan berlari anjing, tertidur kembali. Dia berjanji akan bertemu dengan Karyoso di Pasar Gede, di sudut belakang pasar.
Ketika sampai di Manahan, dan telinganya mendengar resahan lambaian rampingan cemara, baru dikatakannya dia hendak ke pasar Gede. Dilihatnya arloji tangannya, ketika andong melalui cahaya lampu jalan, sudah pukul tengah satu. Janji pukul dua belas. Ketika hendak sampai simpang ke kiri yang menuju ke Pasar Gede, katanya: “Jalan terus, jalan Purwosari.” Ingin hendak melihat ramai di Sriwedari, melihat orang banyak tegak di mukanya, tiada masuk hanya melihat ramai orang masuk. Dia bersandar pada sudut andong, ritme suara kaki kuda melupakan juga... akeh rikate, akeh sedihe. Matanya terpaku pada belakang kusir, hitam oleh gelap, lebih hitam lagi oleh hitam bajunya. Hening.
Dari jalan kelihatan panggung wayang wong, terang disinari cahaya lampu. Disuruhnya berhenti. Pada pintu gerbang yang terang itu, sepi. Penjaga pintu duduk bercakap-cakap. Pemain musik di panggung berhentikan lelah.
“Terus, pak.” Kusir membangunkan kudanya. Sukartono bersandarkan diri pula. Di tepi jalan orang yang kembali dari menonton. Dari jauh masih kedengaran suara gong gamelan, makin jauh makin lemah, meninggalkan rasa timbul, rasa berakhir dalam hati Sukartono.
Sukartono mengelih memandang melurus jalan arah istana Mangkunegaran. Gelap melebar pada pekarangan, lampu pula pada puncak pintu gerbang, masuk ke dalam... Sebentar hanya andong melintas, ... dilihatnya itu semuanya dengan mata ingatannya.
Di sebelum kanan pintu gerbang masuk alun-alun lor kesusunan. Andong melintas sebelum muka bank, masuk jalan tertujukan lurus oleh tembok jembatan, ke arah pasar Gede. Sukartono mengeluh, seperti gong mengeredum berhenti dipalu. Terang samar-samar bertirai di belakang pintu gerbang pasar, suara meremang-remang suara manusia, tiada ternyatakan dari mana dan apa yang dikatakannya, hawa mengapak beralun kehidung Sukartono. Di sebelum sudut belakang kumpulan sinar, tertawa. Dua orang perempuan berdiri, berpakaian kelabu, serasa dengan warna kelabu dan gelap sekelilingnya. Sedang dia menghampiri lambat-lambat, seorang dari padanya meninjau ke arahnya, ketika sampai dalam lingkaran cahaya terdengar ajakannya: “Monggo pinarak, priyantun.”
Sukartono tahu yang membelakang ke arahnya datang, yang berbaju putih itulah Karyoso. Karyoso menoleh, belakang kepalanya tersinar, mukanya gelap-gelap. Dia dengan cepatnya berdiri, badannya tegak.
“Apa kabar, No?” Sukartono mengangguk, kepalanya arah orang yang duduk tadi di sisi Karyoso “Mari diperkenalkan... Masdani... tangan kanannya dengan cepatnya mengarah Sukartono... Sukartono. Sukartono mengangguk ke arah Masdani yang berdiri membelakang lampu, gelap. Masdani, ada diceritakan Amir tentang seorang yang Masdani namanya.
Kedua orang yang duduk pada ujung bangku pada sisi dinding sebelum kanan, menengadah memandang arah mereka sejurus, lalu meneruskan bercumbu-cumbu dengan perempuan yang berdiri di muka mereka, sebelum dalam meja yang penuh setopeles itu. “Duduk di sini, No, ”tetapi Sukartono tiada duduk pada tempat yang ditunjukkan Karyoso itu“ di tengah-tengah, di sisi Masdani. Bila Masdani ini yang dimaksudkan Amir, lebih baik di sudut dekat dinding.
“Minum apa. No? Sukartono duduk bersandarkan diri pada dinding, kedua belah kakinya arah ke luar bangku, segan rasa hatinya menyempitkan di antara bangku dan meja, lalu menoleh ke arah ke dalam ruang batasan kedua tembok dan meja yang bersua bersiku, sejarak dengan dinding.
“Ngunjuk manapa?” Suara perempuan dekat sisinya, tentu mengharap teh air susu. Di hadapannya, lepas kedua kepala yang dekat hadapannya, kelabu, kabur uap, kelihatan orang berbaring, nyenyak tidur, lupa..., di sana juga, dia memandang ke kanan, di situ juga, di sana jauh di sana, orang menghitung uang dekat lampu duduk kecil. Suasana ketinggalan ramai, seperti habis pesta, seperti restoran pagi hari atau seperti bioskop habis... rapat umum.
“Teh susu, priyantun?”
Sukartono terkejut menengadah...
“Ya..., ya, teh susu...”
“Pisang, No”, tangan kanan Karyoso menunjukkan setandan pisang pada piring yang terletak di atas meja, di sisi setoples berisikan tingting, dikutilnya dengan giginya, dikunyahnya, lalu digigitnya sepotong lebih besar. Kedengaran suara keruk-keruk mulutnya, sekonyong-konyong terasa padanya hendak meribut, hendak berseru-seru, mengganggu kelam kabut suasana uap yang bergantungkan ketinggalan ramai. Dia tahu Karyoso melihatnya, dia tahu Masdani tahu Karyoso heran melihatnya, dia tahu Masdani hening memandang arah ke dalam ruang batasan empat persegi itu, senyum pada bibirnya, tiada berarti, seperti anak bayi senyum, baru pandai.
Cumbuan pada dinding satu lagi makin menjadi, perempuan itu makin gelisah ketawanya, kedua laki-laki itu makin menunduk minum kopinya, makin banyak kali membuka setopeles.
“Dahulu kau senang makan pisang, No”, Sukartono tahu dia akan bertanyakan itu. Dahulu, ya, dahulu.
“Aku ke Surabaya, No, (dirinya yang lebih penting pikir Sukartono), tentu sudah kau baca dalam surat kabar, aku terpilih dengan referendum”.
“Itu dahulu...”
Sukartono memandangnya, lalu mengangguk. Ya, ada dibacanya. Ada juga dibacanya karangannya, meskipun dengan nama samaran, dia tahu, itu karangan Karyoso. Dia tahu apa yang akan dikatakan Karyoso.
“Kita akan meneruskan aksi...” Teranglah pada Sukartono, bahwa dia tahu, dia akan mendengar ucapan itu, dan dia tiada setuju dengan maksud karangan Karyoso. Bila Karyoso hendak memperdengarkan kebodohannya juga apalah salahnya.
“Aksi harus saya teruskan, jangan kita lembam, revolusionering massa, harus saya teruskan.” Sukartono menarik napas, hendak mengucapkan pikirannya. Lambat-lambat merekah awan penutup pikirannya tertujukan. Mulai terasa apa yang selama ini terkabur terkincau dalam pikirannya. Orang yang menghitung uangnya dalam kantong yang terbuka terpegang oleh jari-jari tangan kirinya. Di dekatnya seorang perempuan gelisah menggaruk-garuk badannya, lalu bergolek ke sebelum kanannya. Dari luar kedengaran suara tertawa. Perempuan tua dalam ruang empat persegi itu menuangkan air kotor basuhan cangkir dan gelas dan piring ke dalam got pada kaki tembok.
“No,” lemah warna suara Karyoso, tahulah Suhartono akan datang permintaan. Kalau dia hendak minta bantuan tenaga..., “saudara kita ini... No!” (lebih tegas suara Karyoso), tolong saudara ini!“
Suhartono menanti, bila benar orang itu Masdani yang dikatakan Amir... “Saudara Masdani anggota partai kita, dahulu di Ponorogo, ketua... (benar ini dia), bayarlah (baru dia meminta) hutangnya pada perempuan ini, tiada banyak No... hutang jajan saja. Dia tiada beruang, korban....”
Sukartono senyum. Korban sudah banyak kali terdengar kata itu, bermacam-macam warna sebutannya. Dia sendiri berkali-kali menyebutkannya, dalam berupa-rupa rangkaian kata. Korban, korban... seperti terdengar olehnya suara gong, setiap kali lepas Petruk menyebut kata itu. Petruk Sriwedari..., Sukartono terpadang bentuk badan Karyoso tegang, cepat, gelisah cepat geraknya, seperti benang tegang tertambat. Ingin hatinya meretak tegang tali itu, melihat kedua belahnya kusut merusut, terjatuh ke tanah.
“Racikan ala, Priyatun?” melembut suara dekatnya. Mengapakah memutuskan harapan perempuan ini? “Ya, untuk tuan sana”, bibimya menunjuk ke arah Masdani. Dia juga yang akan membayarnya semuanya nanti.
“Priyatun sendiri?” Dia selalu bertanya, tiada meminta, ternyata pada pikiran Sukartono. “Tidak!”
“Andong, No?” Sukartono tiada menjawab dengan segera. “Jalan... kaki, hendak dia rasanya membubuhi kata kaki, akan lebih memastikan. Hendak rasanya akan mematikan, tetapi tiada terpastikan rasanya, jari-jari anak bayi menjangkau-jangkau, kakinya memijak-mijak sedang dia berbaring. Sukartono berhenti tiba-tiba, terlampau Amir, lalu berhenti pula. Dilihatnya kawannya itu masuk warung Tionghoa.
“Serutu Amir?” Amir menggelengkan kepalanya, tangannya menunjukkan sigaret yang ada di antara ibu jarinya dan telunjuknya. “Senang hatiku merokok serutu sekarang..., hendak minum... bier atau anggur?” Amir meninjau muka kawannya itu yang tegak menanti sajaknya atau... menyelesaikan soal dalam pikirannya. Amir tahu Sukartono tiada suka minum air keras, bir pun tidak.
Sukartono melangkah kembali. “Pernahkan kau pikirkan senangnya lupa?” Amir tiada menjawab, Sukartono pun rupanya tiada menanti jawab, dia rupanya berhenti berkata, rupanya hanya akan mengumpulkan pikirannya. “Pernahkah kau makan madat?”.... Pikirannya melompat-lompat, pikir Amir... “Aku juga tiada pernah. Tadi malam aku melihat orang yang makan madat.” Timbul rasa senang dalam hati Sukartono, serasa ada yang melepas, senang karena terkatakan. “Tadi malam aku tidur dengan perempuan... jalang. Banyak kali kita berbuat sesuatu dengan tiada kita ketahui, seperti orang bermimpi. Lihatlah Masdani..., mimpikah yang dikatakannya itu ataukah kebenaran.” Diam keduanya sejurus.
“Ya, Amir, buat dia benar. Bukankah itu yang benar, bila sudah benar pada kita. Kadang-kadang kupikir (benarkah itu, terlintas dalam pikiran Sukartono sendiri, makin terasa padanya apa yang selama ini teralir dalam hatinya), bukankah semuanya kita (dengan tiada dengan sengaja tertekan olehnya kata ”kita“), bermimpi? Akan melupakan sesuatu? Seperti dalam halku ini..., adakah kau berkasihkan seorang... perempuan?”
Amir hening menanti, barangkali ada datang terusannya, tapi Sukartono hening juga, bertundukkan kepala. Sukartono berhenti, memandang ke atas. Langit bertaburan bintang. Sambil melangkah lagi, katanya dengan lembut: “Kadang-kadang, Amir, aku tiada percaya akan kebesaran bangsa kita di kemudian hari, tiada percaya akan mungkin mengadakan seni, yang terpuji, seperti Borobudur, misalnya. Kadang-kadang aku bertanya pada diriku, tiadakah kita semuanya bermimpi? Akan terbangun nanti sekonyong-konyong? Dalam pada itu aku bertanya pula, baikkah membangunkan orang yang sedang bermimpi?
Amir teringat Masdani tadi, meskipun hatinya hendak-hendak mengatakan yang mengejekkan, mulutnya terkuncup juga, segan-segan.
“Tiadakah sebaiknya membiarkannya bermimpi? Amir, pernahkah kehilangan sesuatu yang indah? Harapan bahagia terlenyapkan tiba-tiba?”
Karyoso akan datang dari Surabaya, perkenalan mereka pertama kalinya di Bandung.
Sukartono terhening. Karyoso hening sebentar, lalu kemudian dengan lancarnya: “Menentukan lapitan dan rahasianya... Angka benar, rahasia!”
Ketika Partindo timbul, Karyoso turut, lalu menjadi yang terkemuka. Ketika berdebat pada suatu pertemuan antara beberapa orang pemimpin tentang makna “massa”, Karyoso menganjurkan difinisinya: massa ialah angka dijumlah dikalikan. Bila saja tahu rahasia angka, kamu sekalian tahu rahasia massa. Memimpin massa ialah menentukan lipatan. Lipatan tiada dengan jitu tertentukan dan massa juga tiada terpimpin dengan jitu, ada selalu faktor yang tiada tertentukan. Massa, faktor tiada tertentukan. Bagaimana individu, bertanya sekarang pikiran Sukartono. Anehnya dia pada waktu ini memikirkan individu. Adakah faktornya yang tiada terkira-kira? Serasa ada yang belakang ini dua belah rasanya bertarik-tarikan, tiada juga yang menang, seperti Maagdenbugerbollen tertekan oleh udara. Manusia lebih berat juangannya dari semuanya kuda yang menarikkan kedua belah bulanan itu.
Sukartono tegak menghampiri jendela. Mukanya menengadah, langit bertaburan bintang. Berapa lamakah dia sudah bersinar, memandang perjuangan manusia? Berapa yang musnah, berapa yang menang. Aneh, dia memikirkan diri sendiri, menyerduk tambang rasanya sendiri. Apakah gunanya? Tiadakah lebih baik seperti Sumardi tiada berpikirkan ke dalam, riang belaka? Sekarang dia berdansa-dansa di pesta undangan. Amir? Siapa tahu menyelam masyarakat batin orang? Masyarakat terpelajari, politik, ekonomi ada hukumnya, tetapi batin? Betulkan ekonomi juga benar yang ditentukannya? Amir berbahagia, ada tujuannya, memajukan seni lagu dan tari. Tetapi dia? Nyata padanya yang diingininya; seorang tempat dia mencurahkan hatinya. Itu yang dicarinya, ketika dia duduk menanti matahari terbit di Tawangmangu. Dia mencari seorang yang mendengarkannya.... yang hening mendengarkannya, mengerti..., dia hendak hening, hening. Terkatakan terserukan olehnya kata itu, terlenyapkan oleh ketawanya. Heran dia Trini juga tertawa.... “Lucu ya, mas No?” Mengertilah dia, Amir ada menceritakan sesuatu yang me nertawakan Trini. “Ya, Ni...”. Karyoso hendak datang, teramal oleh rasanya, lebih baik tidak, tetapi bila hendak juga apa boleh buat. Dia tiada setuju dengan pendirian Karyoso. Rasa dia terjaga dari mimpi, lemah seketika, tiba-tiba kesenangan beralunkan mimpi, badannya tegak berdiri, serasa udara sehat ternapaskan masuk. Kedua belah tangannya lebih menyingkapkan tabir jendela. Datanglah Karyoso, datanglah Karyoso, berdendang alun hatina. Matanya gembira.
Amir menghampirinya: “Bintang kadang-kadang melemahkan hati, timbul rasa rindu yang tiada terkatakan.” Dia berhenti sejurus, lalu: “Seperti lagu angin yang tiada terlagukan.”
“Kadang-kadang, Amir!” Amir terseram hatinya, mendengar lagu suaranya lain, tegap, lain daripada yang biasa, beralun berpikir, bimbang-bimbang. Sikap badannya berlainan.... waktu dia baru tiba, seperti... segan pikiran Amir mengatakannya..., seperti anjing yang terpukul..., takut-takut akan terpukul ia lagi.
“Kadang-kadang, Amir, tetapi banyak kali juga dia berarti perjuangan. Orang budiman dari sebelah Timur menuju arah bintang menemui Yezus.” Suaranya makin menegap: “Bukankah kita semuanya menuju bintang? Setiap kita ada bintangnya?” Tertarik perhatian Amir, bahwa dia senantiasa sekarang memakai “kami”, “kita”. Dahulu “aku”, “saya” selalu..... “Kau juga, Amir! Ada tujuanmu, mengadakan lagu dan tari baru. Tetapi sering kita salah tujuan, salah pilih tujuan. Kita berusaha, berjuang, berharapkan mencapai, tetapi kemudian kita kecele Amir, lebih baik tidak berharap. Lebih baik beralnkan diri”.
Amir berpikir sejurus: “Itu orang yang lemah...”
“Lemah, bukan begitu maksudku. Bertujuan, bertujuan, tetapi tiada....” Sukartono merasa belum terkatakannya pikirannya itu. “Ada terasa, tetapi belum terkatakan..., ada bertujuan...,” tidak, tidak, mengatakan kepada orang lain dia belum bisa.
“Tetapi caranya yang salah banyak kali...,” Alatnya,“ diperbaiki Amir sendiri pikirnya.
Lama baru Sukartono menjawab: “Barangkali...” Amir yang merasa makin lebih dekat kepada Sukartono, merasa terguling lagi, terkerut rasanya, sendirian lagi. Rasa rindu timbul dalam hatinya. Dunia sekelilingnya terasa lain, terasa padanya dia asing. Terasing rasanya, seperti tercampakkan kepada sebuah pantai pulau yang sunyi. Dia sendirian harus meraba jalan, ingin hatinya hendak pergi, meninggal kan pulau yang berisi manusia, tetapi yang tiada itu. Ditinya air muka Sukartono, tertutup rasanya, memandang ke diri sendiri. Tahu dia tiba-tiba, bahwa dia sudah lama mulai menghargakan Sukartono tempat dia mungkin mempercayakan diri. Ada garis membelah badannya jadi dua bagian, garis itu jadi batasan yang berapikan sedih, seperti luka yang baru parah, merah panas.
Tiba-tiba radio melepaskan lagu gemuruh..., suaranya riang ketawa Trini, riang dapat memasang knop radio.
26
Cerita Puteri Seri Laut
(Pujangga Baru, No. 6, Desember 1937, Thn. V)
Ditasyik indah cemerlang, pantai berkilat bagi cermin, kersiknya bagi emas urai, ditebing tinggi sehasta, di bawah pohon cemara, duduk-lah seorang gadis remaja. Ia duduk sambil berjuntai menggoyang-goyang kaki, sedang ombak yang memecah ke tepi datang sebentar-sebentar membasahi kaki itu dengan tak diemukan oleh yang empunya. Melihat kepada wajah muka sukarlah kita mengatakan, ia itu anak siapa, entah membang dari laut, entah bidadari baru turun, ataupun dewi dari kayangan. Badannya langsung tinggi semampai, bentuk kepala bulat panjang, rambut bagi mayang mengurai, di muka cincin tarukan di tengah ombak beralun, di belakang ular-ularan. Mukanya bulat bulan penuh, warna kulit putih kuning langsung. Keningnya kiliran taji, alis bagi semut beriring sebagai gambar baru dilukis, pipinya pauh dilayang, hidung seperti dasun tunggal, matanya terang bintang timur pemandangan gelinggang lelap. Akan gelaknya, adalah bagi delima merekah bibir bak asam seulas, giginya gawang baru diasah.
Kalau ia senyum gelak nabi, berlubang semut dipinya, terjuntai dagu bulat kecil bagian lebih sedang bergantung. Dadanya hampar bahunya bidang, lengan lilin baru dituang jarinya halus duri landak. Pinggangnya ramping badannya saring, paha bagian paha belalang, betis seperti perut padi, tumitnya bagian telur beruang, membayang darah ditumit kalau berjalan gadis itu.
Pada masa dewasa itu ia memandang dengan tenang ke laut yang lebar itu, ke sana keantara langit dengan laut, ke tempat awan berarak. Tetapi, ombak gelombang yang serumah tingginya itu awan yang merah kuning tua merupakan bermacam bentuk itu, tak tampak olehnya gerangan, karena matanya ketika itu tak berseri bercahaya sebagai tak mengacuhkan keadaan berkelilingnya. Di mukanya terbayang awan ke-dukaan, lebih sebak dari awan yang di tepi langit itu. Cahaya rebang petang, surya yang bagi emas baru di sepuh yang laksana dalam besarnya terdandang di batas pemandangannya seakan-akan tak kelihatan dan tak mendatangkan pengaruh padanya.
Sedang ia duduk demikian, tiba ia melengah ke kiri karena men- dengar suara, demikian katanya:“Mengapakah tuan duduk di sini di waktu rembang petang di dalam rimba raya di tempat yang sunyi senyap ini dan siapakah tuan hamba?”
Dengan heran gadis tadi memandang ke yang punya suara itu, tetapi entah karena apa ia tak hendak menjawab, mukanya merah muda, entah karena malu atau pun sebab takut cemas, dan dengan segera ia menekurkan kepalanya.
Suaranya tadi didengarnya pula, tetapi agak jauh, karena yang punya telah undur ke belakang.
“Gila pasik saya kiranya bertanya pada dewi rimba entah pun mambang dari laut, entah dewi dari kayangan ataupun bidadari dari langit. Mata syetan hati celaka, tertarik di muka indah bagus, tak tahu badan kau celaka tak tahu iman terpedaya.”
Mendengar kata yang demikian itu berkatalah gadis remaja tadi:“Manalah tuan yang bertanya. Mengapa tuan balik surut, bukanlah hamba hantu syetan, bukan mambang, bukanlah dewi, hamba makhluk hina papa, dibawa untung, didorong nasib maka sampai ke tempat ini.”
Mendengar itu orang itu maju pula ke muka mendapatkan gadis itu, seraya berkata:“Manalah tuan yang duduk ini, maaf saya ampunlah saya bukan tuan disangka syetan, tidak dituduh hantu rimba, tuan kusangka mambang peri kutuduh anak bidadari karena rupa tak bersalahkan. Sudah lama rasanya badan hidup telah jauh rantau dijelang banyak dilihat gadis randa yang elok tuah negeri, yang indah perhiasan kampung, obat hati pemikat mata, tetapi belumlah pernah hamba bertemu dengan yang sebanding dengan tuan. Ada yang tinggi jinjang telang, ada yang rendah rindin (pendek) amat, ada yang putih ganih (kain putih) kasar, hidung mancung badan bertemu dengan yang elok tak bercatat, barulah sekali ini. Itulah maka tak disangka manusia, dikira dewi rangkayangan anak dewa dari keinderaan. Sebagai pula itu garan maka terjadi sesat salah tuan citanya tak menjawab saya tegur tidak menyahut.
Mendengar kata yang demikian itu, tersenyumlah gadis tadi, menyingsing awan keduaan, bercahaya muka yang muram terbayang darah di pipi berkilat mata bintang timur, berlubang pipinya kiri kanan menggoyang iman yang melihat, seraya berkata dengan merdu: “Maaflah hamba pada tuan, maka hamba tak menjawab tanya tuan tadi disahuti, sebab badan sangat terkejut tercengang mendengar suara merdu sebagai bangsa Cina, heran hamba melihat rupa, tidak disangka manusia dalam pikiran hamba tadi, dewa yang turun dari langit, malaikat merupa diri, takut hamba akan berkata, cemas mulut akan terdorong, awak hina pengajar kurang, tak tahu diadat dan lembaga, tak pandai berbudi berbahasa, gentar hamba akan salah sesat. Menurut petuah orang tua kalau tidak pandai berkata kunci mulut diamkan diri.”
Mendengar itu gelak beralih orang tadi seraya berkata lagi. Manalah tuan Siti, beri jelas hamba bertanya, darimana tuan ini datang, raja di mana ayah tuan, puteri yang mana ibu tuan, di mana rumah tangga tuan, negeri apa yang dijelang, mengapa sampai kemari, ke dalam rimba sunyi penyap ketasik tempat jin dan peri, tempat dewa bercengkerama, keranah tempat orang halus. Siapa gerangan teman berjalan di mana dayang dan pengiring.“
“Ah tuan orang baru datang, usah puji diperbanyak juga tak ada orang mendengarkan, tidak kan ada yang tergelak. Sejak tadi hamba katakan, hamba makhluk hina dina, tidaklah hamba anak raja, bukan hamba seorang puteri di mana akan dapat dayang pengiring. Hamba ini anak orang dusun, ayah tidak orang ternama, ibu tidak orang bertuah, datang kemari sebab sesat, sesat mencari kayu api, tidak teringat jalan pulang, telah serantau hamba berakit, sebuah bukit terlampau, telah penat pula berjalan namun dusun bertemu tidak.”
Mendengar itu orang muda tadi tersenyum lagi, lalu berkata: “Jangan tuan banyak bicara tak guna cakap diperpanjang, tak ada orang mendegarkan, elok berkata terus terang supaya senang perhatian. Pada pendapat perasaan entah karena hamba bodoh, ke mana intan disurukkan cahayanya tinggal cemerlang, kilat tak hilang dalam lumpur tak pudar dalam pelembahan. Bagaimana tuan menyuruk, masuk ke dalam rimba raya, memakai pakaian orang dusun, cahaya muka tak kan hilang, langgam bicara tak tersuruk, rupa memberi orang tahu bahasa tuan orang asal, anak raja, anak puteri.”
Remaja puteri itu tak menyahut, melainkan menekur saja seolah-olah mencari buah bicara, menyatukan buah pikirannya.
Kemudian orang muda itu berkata pula: “Maka hamba banyak tanya banyak soal, karena hamba berjalan masuk rimba memang mencari orang hilang, puteri bernama Seri Laut. Tuanku Mambang Peri, dengan puteri Seri Bulan. Hilangnya telah berbilang bulan, lari bersama inang pengasuh, diiringi dayang dan sikambang. Konon khabarnya hamba dengan maka puteri menyurukkan diri dipaksa mamah dan mertua kawin dengan kemenakannya Lela Mengerna Anggun Dewa, orang dari seberang lautan. Lela Mengerna Anggun Dewa, orang dari seberang lautan. Lela Mengerna tak berbudi, tak tahu diadat dan lembaga bentuk buruk rupa tak tampan, memang bukan jodoh puteri bukan toloknya Seri Laut.”
Mendengar itu gadis itu tambah menekur warna mukanya merah muda, memberi tanda pada orang muda tadi, bahasa bicaranya mengenai yang mendengar, kemudian ia meneruskan pembicaraannya.
“Telah kutilik kupandangi kulihat pada tanda-tanda tuan bukannya orang lain, tuanlah puteri Seri Laut, adiklah orang yang dicari. Mari kita dik kembali pulang, ayahlah mabuk sebab rusuh, bunda lah kurus dek bercinta, gila menangis siang dan malam, nasi dimakan rasa sekam, air diminum bagi duri.
Tuan seorang anak tunggal obat jerih pelerai demam, tangkai hati mainan mata, tempat bersandar badan payah, haus tempat minta air, lapar tempat minta nasi kepada ayah dan bunda tuan. Tentang kepada Lela Mengerma, tak usah tuan cemaskan tak guna tuan takuti, khabar berita hamba dengan ia telah bertunangan dengan puteri Emas urai, anak dari mamak mudanya saudara sepupu tuan puteri.“
Mendengar itu muka gadis itu bertambah merah dengan gugup malu-malu ia berkata: “Manalah tuan orang muda, terima kasihku sangat besar, tuan telah berjerih payah mencari hamba masuk rimba, anak tak tahu akan diri awak buruk disangka elok, memberi malu ayah bunda, menolak emas dibungkusan, badan merasai dapat azab, ayah bunda menanggung rindu. Tapi, walaupun badan akan hancur, diterbangkan angin ke udara, tulang menjadi pasir bulan, atau dilulur ular besar, di-tangkap binatang buas, belum temiat dalam hati hendak pulang ke dalam kampung, malu kepada orang banyak se
“Manalah tuan Seri Laut jangan tuan panjang bicara, hari hampir berjuak malam, matahari hampir terbenam, bawa hamba ke tempat tuan menjemput inang dan pengasuh, mari kita pulang ke rumah menjelang ayah dengan bunda. Kalau tuan iba kasihan turut bicara hamba ini, karena hamba orang upahan, diupah ayah bunda tuan, jika tidak tuan terbawa di masa tiga bulan, bercerai nyawa dengan badan, kepala terpancung tengah padang, begitu bunyi perjanjian.”
“Manalah tuan orang muda, usah itu tuan takutkan jangan itu tuan cemaskan, ayahku adil, ayah pemurah, masyarakat nama hilir mudik, orang sabar, orang tawakkal, menghukum menurut undang, menilik syareat dan hakekat. Maka begitu kata hamba tuan bukan orang bersalah, datang menjelang dari jauh, menurut mamak dan mertua, menurut orang tak berbud, yang lari dengan tak bersebab. Budi tuan sangatlah besar tak terbayar dunia akhirat kepada Ayah dengan bunda mau berjalan masuk rimba mencari punai tak berhulu, mencari orang tak berakal.”
Mendengar itu Lela Mengerna gelak senyum sambil berkata:
“Wahai dik kandung Seri Laut tanda jiwamu lai mulia, bang tubuh berharga tinggi, hilang tuan ada bercari, hanyut tuan ada berpintasi, jatuh tuan ada bersambut. Beratus orang masuk rimba datuk penghulu, hulu-balang beserta hamba rakyat mencari tuan Seri Laut. Setiba hamba di negeri, belum sempat berlepas penat, melihat negeri kacau balau melihat orang bertangisan bermohon hamba mamak, mencari tuan masuk rimba. Habis hari dik berganti hari, sudah sampai berbilang pekan, genaplah hari dua bulan lah habis rimba terjalani, gua dan ngalau lah terselidiki sampai keteluk dengan lekuk berjalan terus siang malam menahan hujan dengan panas menahan haus dengan lapar, baru sekarang adik bertemu.”
“Sampailah kasih kakak kandung berjalan berbilang bulan masuk rimba belantara mencari anak tak bermalu, hilang dengan tak tentu sebab. Relakan jerih payah kakak kasih yang tak kan berbalas jerih yang tak kan berimbalan.”
“Mana dik kandung Seri Laut janganlah itu adik sebut, jiwa kakak tak berharga, badan kakak tidak berguna, hidup tidak berarti, mendengar nama orang takut sampai lari ke dalam rimba, kanan melihat rupa buruk. Apa gunanya kakak hidup tak guna jiwa disayangi, elok berbakti pada mamak masuk ke dalam rimba raya, untung kak elok suratan badan bertemu harimau tunggal, atau buaya sedang lapar, supaya nyawa habiskan itulah niat dalam hati.
Akan sekarang ini marilah adik Seri Laut, kakak antarkan tuan pulang supaya senang perhatian agar kakak berbuat bakti kepada mamak dan mertua!“
“Ah kak Lela Anggun Dewa sejak tadi hamba katakan, hamba tidak akan berbalik, tidak hendak kembali pulang. Pulanglah kakak dahulu sampaikan salam pada ayah dengan bunda serta adik kandung ialah puteri Emas Urai. Kok sampai nanti niat kakak duduk bersama Emas Urai, kok lahir anak perempuan namakan Seri Beganti, pengganti denai Seri Laut, kok lahir nanti laki-laki namakan Anggun Dewa Laut, jadi kenangan ke yang tinggal. Hanya sekian pesan hamba berjalan malah kakak kandung hari hampir bergelut senja, rantau nan jauh kan dijelang.”
Lela Mengerna berjalan beberapa langkah ke belakang sambil berkata:“Tinggal adik tinggallah sayang, tinggallah tuan Seri Laut. Badanku malang badan celaka, tidak tahu dirupa buruk, tidak tahu direndah diri, awak hina tidak berbangsa, ibu agaknya orang belian, bapak diri orang upahan. Dari kecil sejak tuan dalam kuasan adik jadi tunangan kakak dipertunangkan oleh ibu, karena anak de abangnya. Mendengar tuan telah besar mamak telah mancang gelanggang mencari orang akan menantu, dipanggil hamba dengan surat, pulang bertemu dengan tuan emas tempawan Kato Tinggi. Sebab harapan sangat besar bertemu dengan adik kandung, orang masyarakat hilir hulu bergegas hamba belajar. Setiba hamba di negeri, dilihat kota telah lengang kampung menjadi sunyi senyap, punai lah terbang dari sangkar. Bertanya hamba hilir hulu apa sebabnya demikian, dapatlah hamba keterangan, terdengar desak dengan desus, bicara orang di tepian mengatakan tuan telah lari masuk ke dalam rimba raya karena tak suka dikawinkan dengan hamba orang tak berupa tak bertampan.
Sebab hati tak tertahan hendak melihat adik kandung, biarkan dapat caci maki, biar dibakar jadi abu atau dicencang jadi bubur, bermohon hamba pada mamak mencari adik masuk rimba. Berjalan kakak siang malam sedang berhati harap cemas, harap sangat akan bertemu cemas badan akan ditolak. Mendoa kakak siang malam agar bertemu dengan tuan. Kiranya sesudah doa makbul, kita Allah pertemukan ini pula yang tersua, kakak ditunda bagian sarap kakak dikikis bagian acat. Jangankan tuan mau pulang melihat saja tuan tidak. Sedikit tidak kusangkakan untung diri kan seburuk ini. Tinggal dik kandung Seri Laut, jika sampai kakak ke kampung, tak habis oleh binatang rimba, salam amanat kusampaikan kepada ayah dengan bunda serta pada Emas Urai.
Kemudian Lela Mengema berjalan dari tempat itu. Melihat itu Seri Laut mengempaskan diri ke Pasir yang di hadapannya sebagai mengempas pada tilam sambil menangis tersedu-sedu. Mendengar tangis itu Anggun Dewa kembali berjalan lambat-lambat mendapatkan Seri Laut dari belakang. Setelah sampai dipegangnya rambut yang bagian mayang mengurai yang terdampar kusut masai di tanah dan dengan lemah lembut ia berkata:“Apakah sayang ditangiskan, apa dik kandung dirusuhkan, elok adik pulang ke tempat perhentian kepada inang dan pengasuh, kehendak sudah mak berlaku pinta adik kakak luluskan apa lagi yang ditangiskan. Kasihan kakak meninggalkan adik menangis muka yang bagus jadi mura, mata yang indah jadi bilas, rambut menjadi kusut masai air mata terbuang-buang.
Seri Laut tiada menjawab melainakn menangis lebih keras. Melihat itu Anggun Dewa berkata lagi: “Malang celaka badan hamba, kasih sedikit tak berbalas, bagian air jatuh kekersik hilang lenyap tidak berbekas, jangankan dapat yang di hati, kata pun tidak didengarkan.”
Dengan tiba-tiba Seri Laut duduk lalu menyembah kaki Anggun Dewa. “Ampunlah hamba pada kakak, usahlah hati diperlukan jangan bicara diperpanjang, hamba tahu hambalah arif kata kakak kata menyindir, ngilu tulangku mendengarnya. Dosa hamba sekerat bukit, kesalahan sebesar bumi, bagaimana hamba akan menurut bagaimana hamba akan pulang, menentang kakak hamba malu. Sejak semula hamba tahu kakak yang bukan orang lain telah bertemu dalam mimpi terbayang pada angan-angan. Bukanlah kakak yang celaka untuk hamba kiranya, saran suka mendengar asut pitnah, buah bicara orang yang pengasut. Akhirnya badan yang menanggung, menaruh dendam siang malam, hidup. ”Sebagai hantu rimba“. Demikianlah kata Seri Laut sambil menangis juga. ”Usah sayang menangis juga jangan hati dik dipertutukan, siapa orang marah padamu sedikit katiku tak berbuah, biar ditunda setapak kakak tak kasi pergi kalau tidak dengan si Upik dengan adikku Seri Laut. Kakak hanya mengulak langkah meminjam-minjam perhatian walaupun sudah kakak sangka, hati berlain dengan kikir-bikir segan hati menyuruh kikir menolak hati menahan.“
Mendengar itu Seri Laut merasa lingkan mukanya kemalu-maluan. Karena hari telah senja, cahaya syamsu telah hilang diganti terang, temaram cahaya bulan berjalanlah puteri Seri Laut menuju gua perhentian diiringkan Lela Anggun Dewa, ke tempat inang dan pengasuh. Setalah sampai di sana lalu berkata Seri Laut: “Manakah kamu sekalian adik, kakak, ibu, pengasuh berkemas kita kini-kini sebab besok dinihari kita akan berjalan pulang mendapatkan ayah dengan bunda. Ayah lah sakit sebab rusuh bunda lah tua dik teragak elok kita bergegas pulang. Sebagai pula itu garan kita sudah kena jemput oleh kakak kandung hamba, yang datang dari jauh, Lela Mangema Anggun Dewa!”
Mendengar itu seorang yang tua berbicara: Kalau itu perintah Sitti
Insya Allah kami menurut tidaklah kami akan mengelak tidaklah kami akan menupang. Hanya sedikit yang terasa tuan menyebut kakak tuan di mana beliau garan atau ini orang yang tampak tampan sebagai dewa peri bagi raja dari kayangan.“
“Jangan katamu diperbanyak mana lagi orang yang datang, hanya satu tidak berteman kakak hamba Lela Mangerna Anggun Dewa nama-nya sudah kamu dengan rupanya kini kamu lihat.”
“Jangan katamu diperbanyak mana lagi orang yang datang, hanya satu tidak berteman kakak hamba Lela Mengerna Anggun Dewa namanya sudah kamu dengan rupanya kini kamu lihat.”
Mendengar itu sekalian yang hadir tersenyum. Anggun Dewa berkata: Manalah kamu orang muda dengan petaruh dan amanat kok elok jadikan azimat kok buruk ke lautan: -Jangan memilih dalam kelam-Jangan menyangka ke yang buruk. Mencela tuan dengan mata hati timbang tilik dengan pancaindera jangan diturut kata orang, alam dunia banyak pengaruh. Jika hamba kurang timbangan jika hati dipertutrukan jika merah jadi pedoman sebab mendapat caci cela, tidak terharu rimba raya mencari adinda Seri Laut. Tetapi, hati sabar diperbanyak harapan besar pada Allah caci cela disangka rakhmat hati sayang dipertutrukan, cinta kasih jadi pedoman walau sekali belum bertemu kasih telah ter-tanam lama. Allah menolong perjalanan bertemu Upik Seri Laut bersua kamu sekaliannya. Akan sekarang ini bersiaplah kamu hingga pagi kita berjalan dinihari.
Mendengar itu semuanya menyembah lalu yang tuanya berkata: Ampunilah kami pada Tuanku segala perintah kami turut petua kami jadikan tongkat melainkan ganti kalanghulu.“
27
Tiga Kelamin
(Panji Pustaka, No. 68, 26 Agustus 1938: 1340—1342, Batavia: Balai Pustaka)
Kondektur meniup peluit. Lokomotip mengembuskan asap, mesin bergerak, roda berputar.
Penumpang dan pengantar bermacam-macam gaya dan tingkah lakunya. Setengahnya ada yang bergiring, ada yang bermuram, ada pula yang memucat melelehkan air mata.
Tiba-tiba nampaklah pada kami dua orang, laki-laki dan perempuan, tergesa-gesa masuk ke dalam peron. Keduanya berhenti, matanya di-arahkan ke kereta api yang baru saja berangkat.
Kereta api terlepas dari pandangan. Kedua orang tadi pandang-memandang, kelihatan kecewa dan kesal hatinya.
Sekelamin penganten baru rupanya. Tingkah laku dan gaya pakaiannya, serba modern. Boleh jadi hendak pergi “honeymoon” atau bertamasya. Kopornya dua buah, besar dan kecil, semuanya bertulisan huruf cetakan besar-besar. Dari tulisan itu tahullah kami, bahwa orang muda itu “RASID” namanya, “BATAVIA” tempat tinggalnya.
“Ah... celaka!” keluh isteri Rasid. Nampak benar kecewa hatinya. Sapu tanangannya sutera disapu-sapukannya pada dahi dan lehernya.
“Saaa... telaaa!” kata suaminya. Dua buah kopor yang dijinjingnya, diletakkannya di lantai. Tangannya meraba-raba saku, lalu dikeluarkannya sebuah buku kecil, dibuka dan dilihatnya. Kepalanya digelengkannya. “Dik...”, katanya seraya memalingkan muka kepada isterinya. “Kita harus sabar, menunggu dua setengah jam lagi!”
“Habis...” jawab isterinya. “Tadi saja telah bilang, kereta api berangkat jam 8.47 persis. Kanda selalu... ah, tak mengepalah, tunggu lama pun baik juga. Sebenarnya saya tidak berapa suka naik kereta api pagi-pagi.”
“Saya juga, dik. Banyak penumpangnya!”
“Saya tidak senang kalau duduk berimpit-impit, sebangku tiga empat orang!”
“Saya juga. Nanti barangkali tidak berapa banyak penumpang-nya.”
“Demikianlah hendaknya. Alangkah senangnya, kalau sebangku hanya dua orang saja.”
“Betul dik. Kalau begitu tentu tidak panas, lagi bersih hawanya!”
“Lebih senang lagi jika sekereta cuma kita berdua saja penumpangnya. Tidak banyak suara, tidak ramai...”
“Mari dik, kita duduk menanti di wachtkamer saja; tak tahan saya berdiri di peron lama-lama. Takut kalau-kalau masuk angin!”
Keduanya serempak berjalan perlahan-lahan, lengan selalu bersinggungan. Masuklah mereka ke dalam wachtkamer kelas II. Kopor diletakkan di lantai, mereka duduk dikursi berhadapan.
“Ala... kanda tadi terburu-buru pupanya.”
“Mengapa...?”
“Dasi kanda pencong-mencong!”
“He... mencong?” Dengan segera dirabanya dasinya. Di betulkannya, daitur dan dieratkan.
“Sudah baik dik?” bertanya Rasid kepada isterinya.
“Ala... masih kurang rapi! Perempuan itu berdiri mendekati suaminya. Dasi diatur baik-baik. "Nah, sekarang sudah betul.”
“Terima kasih, terima kasih!”
“Betul tergesa-gesa kakanda, masakan...”
“Hai, apa lagi?”
“Itu... leher kanda ada hitam-hitam, entah jelaga entah abu rokok melekat.”
“Mana dik...” Dengan lekas diambil sapu tangan dari sakunya, disapu-sapukan di lehernya.
“Di sini, dik?”
“Bukan... Ja... Ya... sebelum kiri... nah... o... o... o... kurang sedikit, ... disebelah kanan...” Berdiri lagi, mendekati suaminya. Saputangan sutera dipegang, gigosongkan pada leher suaminya. “Aneh sekali, apa ini, tak mau hilang!”
“Tahi lalat barangkali!”
“Bukan, saya kira jelaga melekat!”
“Anu saja dik. Ujung sapu tangan itu basahkan dengan ludah sedikit!”
“Ya, betul kanda, sekarang sudah bersih!”
“Terima kasih, terima kasih.” Nampak sangat bersih mukanya, tak jemu-jemunya memandang wajah isterinya. “He... dinda tergesa-gesa juga rupanya.”
“Ya... apa...?”
“Bedakmu, dik!”
“Terlampau...?”
“Tak rata! Ada yang tebal, ada yang tipis!”
“Apa... betul?” Dengan segera dibuknaya tasnya, diambilnya tempat bedak dan cermin kecil. Bercermin... pts... pts... pts... pts... digosok mukanya halus-halus;... pts... pts... pts... pts... sekali lagi. “Bagaimana sudah rata?”
Rasid melihat muka isterinya dekat-dekat.
“Belum... belum dik. Disusut hidung nampak tebal, terlalu putih.”
Kesekkesek... kesekkesek... kesekkesek digosok sekali lagi. “Bagai-mana sudah rata?”
Suaminya melihat muka isterinya sekali lagi, lebih dekat. Lalu berdirilah ia, mendekati isterinya. “Coba saya gosokkan!”
“Ah kanda...” Bedak dan sapu diberikan. Pts... pts... pts...
“Nah... sekarang tidak tebal-tipis lagi.”
“Terima kasih!”
“Bukan main harumnya bedak ini!” Sapu dan bedak berulang-ulang diciumnya. “Betul-betul, harum sekali baunya!”
Nyonya Rasid tersenyum simpul.
Seorang laki-laki setengah tua masuk ke dalam wachtkamer. Tegap sikap tubuhnya; tangan kanan memegang koran terlipat-lipat. Berjalan perahan-lahan sambil membaca. Seakan-akan tak ada suatupun yang dihiraukannya. Menilik tingkah lakunya, pastilah ia seorang yang hidup menurut aliran zaman, entah jurnalis entah pemimpin pergerakan.
Baru saja masuk selangkah, menolohlah ia, seraya berkata keras-keras: “Diam, orang tak tahu malu!” “Biar... memang tak tahu malu!” Demikian jawab seorang perempuan yang mengikutinya.
“Orang perempuan kolot!” kata orang laki-laki itu dengan gertaknya. “Tidak makan pengajaran, tidak tahu aliran zaman!”
“Aliran zaman apa... Kalau aliran selokan saya mengerti!”
“Bodoh!”
“Dari dulu saya memang bodoh. Kanda dulu memang sudah mengerti, saya tidak dapat membaca, tidak dapat menulis, tidak mengertialiran zaman! Mengapa kanda pilih? Mengapa kanda tidak kawin dengan perempuan cantik manis, pandai menulis, pandai...”
“Diam! Jangan banyak mulut di sini! Kalau tidak percaya tanyakan karcis ini kepada tuan yang duduk itu!” Berkata demikian seraya melemparkan karcis dilantai. Karcis dipungut oleh isterinya.
“Tuan,” tanya perempuan itu kepada Rasid. “Apa betul karcis ini buat pergi ke Jogja?”
Rasid bimbang akan menjawabnya. “Tulisannya...”
“Bagaimana tuan, jangan malu-malu”, mendesak perempuan itu, nampak sangat ingin mengetahuinya.
“Saya minta tolong, saya tidak pandai membaca.”
Suami perempuan itu berpaling, memandang Rasid dengan muka yang khawatir.
“Anu,” jawab Rasid, “buat pergi ke Bandung!”
“Nah... tuan ini betul-betul lurus hati,” memandang kepada suaminya. “Sudah berapa kali kanda berdusta! Katanya mau pergi ke Jogja, kiranya ke Bandung juga!”
“Betul-betul bodoh, engkau!” jawab suaminya dengan sabar. “Saya hendak pergi ke Jogja, mengerti? Tapi singgah semalam di Bandung, besok pagi terus ke Jogja, mengerti?”
“Masakan pergi ke Jogja jalan di Bandung!”
“Betul-betul kambing, orang ini! Engkau mengerti, aku mesti menggunakanjungi konggres di Bandung!”
“Memang pandai bersilat lidah. Masakan tiap-tiap minggu pergi ke Bandung mengunjungi konggres!”
“Otak kerbau! Kalau tidak percaya. lihat ini... lihat ini programa!” Sehelai kertas dilemparkan kepada isterinya. “Sekali lagi minta tolong, tuan,” kata perempuan itu kepada Rasid, “apa betul ini programa konggres?”
“Ya, betul programa konggres,” jawab Rasid.
Suami orang perempuan itu nampak jernih mukanya.
“Tolong bacakan tuan!”
Rasid membaca dengan bimbang:
“Konggres P.E.R.I.N. dari tanggal 23 sampai 27 April ...”
“Sudah... sudah.. banyak terima kasih. Jadi betul itu programa konggres.”
Suaminya nampak puas hatinya, agak jernih mukanya.
“Membutakan mata tak buta!” kata perempuan itu kepada suaminya. “Sekarang tanggal 10 Agustus, konggresnya tanggal 23 sampai 27 April! Mana Boleh?”
“Kepala kambing engkau! Boleh jadi, itu salah cetak, betulnya Agsutus, tidak April! Mengerti?”
“Tidak mengerti saya! Apa 23 dan 27 itu salah cetak juga? Memang kanda sekarang pandai membelit-belit, pandai berputar lidah, pandai menipu orang perempuan.”
“Nanti dulu, jangan asal mengomel saja. Di mana pikiranmu?”
“Iyaah, pikiran-pikiran apa. Orang mau mengabui mata, tak kurang jalan. Lain benar kelakuan kanda! Dulu ketika penganten baru, selalu baik, selalu manis tutur katanya, selalu halus tingkah lakunya, sekarang berubah sama sekali.”
“Diam! Jangan seperti perempuan pecinan!”
“Biar, memang saya seperti perempuan pecinan, tak tahu adat. Saya masih ingat, dulu ketika kita berdua baru kawin, bepergian bersama-sama, menunggu kereta api di sini juga. Dasi kanda mencong saya betulkan, leher kanda kotor saya bersihkan dengan sapu tangan sutera, lalu bedak saya tebal tipis kanda ratakan; semua belum saya lupakan. Bagaimana baik hati kakanda terhadap saya ketika kita masih muda!”
Rasid memandang isterinya, demikian juga nyonya Rasid memandang suaminya. Kursinya didekatkan, barangkali takut kalau-kalau suami orang perempuan itu mengamuk, sebab matanya merah, keningnya mengerut, bibirnya menggeletar. Perempuan itu tak reda juga marahnya, makin lama makin keras suaranya, makin tajam perkataannya.
Tiba-tiba diam. Dua orang tua laki bini masuk ke dalam wachtkamer. Lakinya berjalan di muka, agak membungkuk sabut karena tuanya; membawa tongkat rotan sebesar lengan. Tudungnya putih-putih kelabu, barangkali model tahun 1908. Ia berbaju jas tutup, dan longgar; lengannya panjang hampir menutup jarinya. Pada dadanya digantungkan dua buah bintang, bintang tembaga dan bintang perak. Isterinya berjalan di belakang, menggendong bungkusan, entah apa isinya. Mereka masuk ke dalam wachkamer kelas II, entah keliru entah disengaja.
Orang tua tadi duduk di kursi bertopang tongkat, apa juga pun tidak dihiraukannya.
“Hoef... hoef... hoef... hoef...” dengung napasnya.
“Hroek hroek... hroek hroek... hroek hroek...” ia berkata putus-putus diselangi batuk dan napas mengempus. “Orang tua foef... foef... foef... berjalan lima menit... hroek hroek hroek hroek... wah sudah penat seperti hampir putus napasku.”
Isterinya segera duduk di samping suaminya. Gendongan diletakkan di kursi. Bungkusan dibuka, hampir penuh obat napas dan obat batuk. Segala macam obat maca, minyak kayu putih, minyak adas, mentelatum, pepermen wud dan masih banyak lagi lainnya. Diambilnya botol minyak kayu putih, lalu dituangkannya di atas telapak tangannya.
“Hroek... hroek... foef... foef... foef.”
“Dari itu pak,” kata isterinya, “kalau bepergian kita bawakan obat. Orang tua mudah masuk angin.”
“Betul, betul, hroek-hroek-hroek... foef... foef... foef. Orang tua sudah tempo... hroek... hroek... hroek...”
Isterinya tak berhentinya menggosokkan minyak kayu putih di punggung suaminya.
“Dulu, foef... foef... foef, ketika aku muda, orang setangsi... hroek... hroek... hroek... tidak ada berani... foef... foef... foef... melawan. Lari cepat, hroek hroek hroek... hroek... hroek...!
“Orang masih muda lain dengan orang tua. Orang tua sudah dimakan umur!”
“Betul, betul... foef... foef... feof. Kalau kita ingat waktu kita muda... feof... foef... ketika kita baru kawin... hroek... hroek... hroek...”
“Ah, jaman dulu lain, pak! Tak perlu dibongkar-bongkar lagi. Sekarang bagaimana napasmu?”
“Foef... foef... sedikit baik. Tidak seperti tadi!”
Kedua orang itu nampak sangat jaga menjaga, sayang menyeyangi, selaku saudara adik beradik rupanya.
Rasid memandang isterinya, dijawab oleh isterinya dengan senyum. Orang laki-laki yang setengah tua tadi memandang juga kepada isterinya, dibalasnya dengan muka bersungut.
Tiba-tiba kedengaran di peron. Kuli-kuli lari kian kemari, teriak orang banyak tidak berketentuan suaranya.
“Awas! Awas! Orang gila mengamuk!... lekas tutup pintu... awas... lah itu... itu... awas eeee jangan dekat...”
Debag-debug orang lari, dentam-dentum batu jatuh di daun pintu...
Nyonya Rasid ketakutan. Ia bangkit dari kursi, mendekap suaminya, peluk-memeluk! Laki-laki setengah tua tadi terkejut pula, koran dan tas dibuangnya, lekas-lekas lari ke pintu... tap... ditutupnya. Isterinya ketakutan lari mengejar suaminya. Suaminya kembali dari pintu terus memeluk isterinya. Kedua peluk memeluk, lupa menedkati suaminya, memeluk lehernya erat-erat-erat-erat! Orang tua itu makin erat-erat bertopang pada tongkatnya...
Dalam wachtkamer sepi, tidak kedengaran suara apa juga pun, kecuali hfoef... hfoef... hfoef dengung napas orang tua itu.
28
Terlampau Harap, Tertiarap!...
(Panji Pustaka, No. 22, 18 Maret 1939, Hlm. 407—408)
Akhir tahun 193.....
Sutan Perumahan seorang saudagar beras di daerah Inderapura. Walaupun dia seorang yang bermata kayu, atau dengan kata lain seorang yang buta huruf karena kepandaiannya menulis cuma membuat tanda tangan saja, ia pun seperti cakar ayam pula, namun berkat kecerdikannya dalam pasaran, ia masuk saudagar yang terkemuka juga. Dia telah bermodal!
Lebih-lebih dalam tiga bulan ini, namanya naik benar.
Bintangnya terang!
Tentang perdagangan beras di daerah Inderapura itu, dia memegang monopoli. Beras-beras itu, berpikul-pikul banyaknya dikirimkannya ke Padang.....Tetapi baru-baru ini Sutan Perumahan sudah berkonkuren.
Dia mendapat saingan!
Mawardi, seorang pemuda yang baru tamat kursus dagang, anak Inderapura tulen, itulah lawannya. Kenati pun demikian Sutan perumahan tak mengalah mentah-mentah saja. Dia percaya akan kelicinan dan kecerdikannya dalam berniaga. Pengetahuan itu berkuasa, jadi cemoohnya.....
Pada suatu tengah hari, di suatu warung kopi di pasar, Sutan Perumahan duduk menghadapi kopinya. Kopi tubruk yang masih panas itu berasap-asap ke udara. Amat senang hatinya dewasa itu. Ya, telah dua kali anak muda itu dikalahkannya. Segala rancangan Mawardi telah gagal semuanya, karena ddia dapat mendahului. Langganan Mawardi yang di Padang telah dapat pula direbutnya, biarpun untuk itu di menanggung rugi, karena berasnya dimurahkannya penjualannya dari Mawardi.
“Siarlah, memang merugi dulu maka berlaba. Kalau anak itu sudah habis pokoknya, tentu kita jadi raja beras kembali,” demikian berkata Sutan Perumahan dalam hatinya.
Menurut reka-rekaan Sutan Perumahan sekali ini pun ida pula yang menang dalam pertandingan dengan anak muda itu. Mawardi dilihatnya
tidak membeli beras lagi, karena sebagian besar telah diborongnya. Padahal di Padang harga beras naik terlalu tinggi dalam dua tiga hari ini, sebab di sana kekurangan persediaan.
“Beras yang 40 pikul dalam gudangku itu lusa pagi akan kukirim pula ke Padang. Memang Mawardi tiada akan bergaya lagi. Mentang-mentang dia sekolah disangkanya akan mudah saja mengalahkan daku, berkonkuren dengan raja beras di Inderapura ini yang telah terkenal dari Bungus ke Inderapura, seluruh Bandar Sepuluh, Dua hari lagi bila berasku yang 40 pikul itu sudah terjual, dia tentu akan menggigit bibir saja melihat labaku berlipat ganda.” Sambil mengukir-ukir langit itu, kopinya diminumnya juga.
Hari baru pukul tujuh. Tetapi malam sudah sunyi, apalagi hujan turun rintik-tintik.
Seorang pun tiada yang kelihatan lalu di jalan raya. Perlahan-lahan sesudah makan malam Sutan Perumahan turun pula dari rumah istrinya menuju rumah orang tua Mawardi. Dia berpakaian serba hitam, karena kedatangannya ke sana ialah akan mendengarkan segala percakapan-percakapan Mawardi dengan bapaknya dan rancangan-rancangan yang akan diperbuatnya, sebab antara anak dan bapak itu selalu bermupakat lebih dahulu jika ada rancangan kerja.....
Pengintaian yang seperti ini sudah dua tiga kali dilakukan Sutan Perumahan dengan tiada diketahui lawannya. Dan dengan jalan ini pulalah maka Sutan Perumahan dapat mendahului segala rancangan Mawardi dan menggagalkan segala percobaan anak muda itu.
Waktu Sutan Perumahan tiba di pintu pekarangan rumah itu, tibatiba kakinya tersandung kepada sebuah kaleng kosong. Berdengar bunyinya! Tetapi karena malam hujam kecil disangkanya bunyi itu tiada akan diketahui oleh orang di atas rumah. Sangkanya itu benar rupanya, karena seketika dia tinggal berdiri tetapi tak ada orang yang menjenguk dari atas rumah itu; karena itu Sutan Perumahan pun terus masuk ke pekarangan. Dirusuk dapur, di dekat sepohon mempelam dia berdiri sebentar, kemudian di dekatkannya telinganya ke dinding. Dalam dalam dapur itu memancar dari celah-celah dinding pelupuh, cahaya pelita minyak tanah menembus kegelapan malam.....
Dari dalam, jelas terdengar oleh Sutan Perumahan suara dua orang bercakap-cakap, tak lain dari Mawardi dan ayahnya.
Penting pupanya pembicaraan itu:
“Memang Sutan Perumahan itu cerdik, susah kita akan mengalah-kannya. Terutama karena dia bermodal besar, sedang kita tidak. Apalagi dalam kerugian kita yang buru-buru ini, sangat benar melemahkan kekuatan kita akan berlawanan terus. Langganan-langganan kita yang di Padang pun dapat direbutnya. Tetapi sungguhpun begitu ayah jangan cemas! Saya akan bekerja dengan sabar dan teliti. Masih ada kekurangan Sutan Perumahan itu daripada kita, yaitu dia tak pernah membaca surat kabar. Jadi segala perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba dalam dunia perdagangan tiada diketahuinya. Di sanalah kemenangan kita!
Dari koran yang tiba tadi sore ada dikabarkan bahwa beras di Padang sudah turun harganya kembali, sebab beberapa auto beras telah didatangkan dari daerah Solok, cukup untuk sepekan lamanya. Jadi sesudah sepekan itu baru harga naik pula kembali, menanti kedatangan beras dari Jawa......Mingkabau tak dapat mengadakan pengiriman beras lagi dari satu daerah ke daerah yang lain sebab segala daerah sekarang ini kekurangan persediaan.“
“Beras kita yang 10 pikul itu bagaimana?”
“Biarlah kita tahan sampai minggu di muka, supaya dapat harga baik.
Cuma sekarang, satu toko besar di Padang sedang mencari 100 pikul kopi akan dikirimkannya ke Eropa. Dalam dua hari ini hendaknya pesanan itu dapat disiapkan. Dia mau membeli dengan harfa f 10, -sepikul. Dari Kerinci saja sudah dapat kopi itu, tetapi baru 50 pikul dengan harga f 5, -sepikul. Menurut perjanjian kami, auto yang bermuat kopi itu akan samapi jam sepuluh nanti di dekat jambatan yang tak jauh dari sini.“
“Sudah kau bayar harganya?”
“Belum, bila kopi itu diterima, baru di sana uangnya saya bayar. Jadi besok pagi, bolehlah kopi itu diteruskan ke Padang.....”
“Tidakkah rasanya, rancangan ini akan didahului orang pula?”
“Saya yakin tidak, ayah! Khabar itu baru tadi sore tibanya, dan belumada orang yang tahu sebelum kita. Rasa-rasanya akan kembali kerugian kita yang dahulu itu, bahkan berlebih lagi. Sekali ini tak mungkin lawan kita itu akan dapat memotong rancangan ini.....”
Kemudian terdengar tertawa.....
Sutan Perumahan terpekur sebentar. Segala pembicaraan Mawardi dengan ayahnya itu jelas semua masuk telinganya. Masuk benar dalam kira-kiranya.
“Harga beras di Padang sudah turun? Kalau begitu baik kutahan beras yang dalam gudang itu dahulu. Biarlah kopi ini dikejar. Hari sekarang baru kira-kira pukul delapan. Auto kopi itu menurut katanya datang pukul sepuluh di dekat jembatan.....Masih ada dua jam lagi! Biarlah kuturuti. Dibeli dengan harga f 6, - sepikul tentu saudagar kopi itu mau menjualnya, karena lebih dari tawaran Mawardi. Lebih bik kusong song auto itu sebelum sampai ke jembatan.....”
Setelah berpikir demikian itu Sutan Perumahan pun lenyap pula kembali di dalam gelap malam.....
Girang hatinya mengetahui rahasia lawannya itu.
Besar harapannya tentangan untung yang akan mungkin didapat dari kopi itu nantinya.
Empat hari kemudian.
Seluruh negeri Inderapura, tersiar khabar warta bahwa Sutan Perumahan saudagar beras itu telah lari malam.....
Orang jadi tanya bertanya, sebab kepergian saudagar beras itu menjadi teka-teki orang ramai. Selama ini orang hanya tahu dia ada bersaingan dalam perdagangan dengan Mawardi, sedangkan persaingan dalam perdagangan itu satu soal yang biasa-sudah umumnya begitu.
Tetapi sekarang dia telah lenyap saja, lenyap dengan tak tentu ke mana perginya, hilang tak tentu di mana rimbanya. Dia pergi dan pergi, dengan tiada mengucapkan selamat tinggal kepada handai dan tolan dengan tak meninggalkan sepatah kata bagi sahabat dan kenalan.....Pertanyaan akan tinggal pertanyaan, tiada seorang pun yang tahu akan jawabnya selain Mawardi dengan ayahnya.
Petang hari, Mawardi duduk berdua dengan bapaknya di beranda muka.“Di, cobalah ceriterakan bagaimana asal mulanya kau mengetahui bahwa segala pembicaraan kita selalu diintip oleh Sutan Perumahan itu, dan bagaimana kau mendapat akal akan menjathukannya, tanya orang tua itu.
“Oo, itu mudah saja, ayah! Mula-mulanya saya merasa heran, kenapa segala rancangan kita lekas benar diketahui lawan kita itu, padahal kita hanya berbicara berdua saja. Sesudah pedati kita yang bermuat beras tempo dari dilanggarnya dengan auto hingga masuk ngarai dekat Balai
Selasa, saya putuskanlah akan menyelidiki siapa yang menyampaikan rancangan-rancangan kita kepada Sutan Perumah itu. Pada suatu malam, benarlah kelihatan oleh saya bahwa memang dia sendiri yang mengintai-intai kemari, akan mengetahui rahasia-rahasia perlawanan kita. Sebab dia memang belut yang licin pula, sebab itu saya sediakan pulalah perangkap yang baik dengan tidak setahunya. Sewaktu Sutan Perumahan membeli beras 40 pikul itu, memang harga beras di Pandang menurut koran f 8, sepikul. Saya sengaja tak membeli beras, sebab saya percaya bahwa meskipun dia telah menang dalam memonopol beras ini, tentu dia akan datang juga mengintai-intai pembicaraan kita nanti, melambangkan mengetahui rancangan kita yang lain dan supaya kita percaya nanti, kelau kita katakan beras jatuh harganya. Sebelum hari malam saya letakkan dua kaleng kosong di pintu pekarangan akan jadi tanda kalau dia masuk tentu salah sebuah akan kena sepaknya, sebab hari gelap. Untung pula malam itu hari hujan sedikit. Tentu disangkanya kita tak mendengar suara kaleng itu kena kakinya. Sedangkan dua hari sebelum itu telah saya cari kopi seberapa dapat, dengan harga yang sangat murah..... Kopi itu saya suruh bawa dengan si Agus, kawan saya, supaya nanti kalau ditawar Sutan Petumahan dinaikkannya harganya. Segala perkataan kita yang kita katakan di dapur itu pun dipercayainya semua dengan tiada syak wasangka. Segala-galanya itu berjalan dengan baik, sehingga pengiriman kopi itu ke Padang lebih didahulukannya daripada beras... malam itu juga dicarinya auto yang akan membawa.....
Setibanya di Padang tentu saja dia mengomel dan kecewa, sebab harga kopi sangat rendahnya dan toko yang meminta itu sebenarnya omong kosong saja. Adapun harga beras sesudah hari itu jatuh pula. Jadi tak terburu lagi akan mengirimkan berasnya yang 40 pikul itu.
Dengan jalan yang demikian biarpun beras kita hanya 10 pikul, tetapi untungnya memuaskan karena dapat angin baik. Apabila laba kopi yang dibelinya dengan kontan itu berlipat-lipat ganda.....sedang sebagian ialah sisa-sia kopi di gudang kita yang tak laku-laku itu pula,“
Kedua beranak itu sama tertawa.....
Karena buta huruf!
Terlampau harap, tertiarap.....
29
Dekat Lebaran
(Panji Pustaka, No. 28 6 April 1939, Thn. XII, Hlm. 93—95)
Senja berebut dengan malam hari mulai samar muka. Di Gg. Lontar, Batavia-Centrum tampak dua orang laki isteri keluar dari sebuah rumah. Melihat kepada dandan mereka dan keadaan rumah tempat tinggalnya, nyata bahwa suami isteri itu masuk orang yang berada juga.
Mereka itu belum lam kawin. Keduanya hidup berkasih-kasihan, seia sekata, setidak sebukan dan rukun dan damai. Cinta kedua belah fihak sedang berkobar-kobar. Dalam sanubari mereka itu tercantum hendak “hidup serumah”. Apalagi setelah mempunyai anak, kasih sayang suami isteri semakin bertambah dalam. Anak seorang, tambatan laratnya itu, semakin memperteguh ikatan pertalian mereka kedua. Anak yang diserahkan Tuhan kepadanya itu, dipeliharanya sebagai menating minyak penuh.
Belum jauh berjalan tiba-tiba mereka berhenti, karena melihat orang berkerumun di luar pagar sebuah rumah. Maka didengarnya seorang perempuan berteriak-teriak sambil memaki-maki. Sedang yang laki-laki menampar dan meneranjangkan perempuan itu sehingga jatuh tersungkur.
Rupanya kedua orangau itu suami isteri dan sedang berkelah.
“ Apa perlunya dilihat, marilah kita berjalan, Mas!” ujar yang perempuan. Halimah namanya kepada suaminya.
“Ya!” jawab Maseri sambil menarik napas panjang. Mereka itu berjalan berpegang-pegangan tangan. Maka Halimat berkata pula, katanya:
“Sungguh, saya amat heran apakan sebabnya dalam pergaulan suami isteri terjadi percekcokan?”
“Entahlah!” jawab Maseri.“Barangkali karena keduanya berlain tujuan, tidak sesuai, seorang ke hilir, seorang ke mudik.”
“Bukankah boleh dimupakati, supaya dapat kata seia akan melakukan barang sesuatunya?”
“Hal itulah yang tak dapat dilakukan mereka, karena masing-masing bersitegang urat leher, tak ada yang mau mengalah. Mereka sama-sama mempertahankan pendiriannya masing-masing. Karena sama-sama keras, maka timbullah perkelahian, dan akhirnya terjadi perceraian.”
“Ya, itulah salahnya, kalau teruna gadis sebelum kawin tidak berkenalan lebih dulu. Mereka kedua tidak mengetahui tabiat masing-masing. Perkawinan yang tidak diikat dengan tali percintaan, niscaya tidak akan selamat juga akhir kelaknya. Oleh sebab itu pada pikiran saya, amat salah orang tua yang memaksa anaknya kawin dengan laki-laki yang tak dikenal anaknya lebih dahulu. Yang dipandang ibu bapak kalau akan mengawinkan anaknya, hanyalah rupa dan kekayaan orang muda bakal menantunya itu saja. Keselamatan pergaulan anaknya suami isteri kelak, tidak sedikit jual dipikirkan orang tua.”
“Boleh jadi!” jawab Maseri pula.
Ketika mereka itu membelok menuju jalan arah ke Pasar Senen, maka titiklah hujan kecil-kecil dibawa angin lalu. Keduanya berjalan agak tergesa-gesa, demi melihat mendung di langit sebelum timur larut sudah menghitam, alamat hari akan hujan.
Hujan rintik-rintik mulai turun, Mas!” ujar Halimah pula.
“Kalau kita berjalan kaki, tak dapat tiada ditimpa hujan di tengah jalan. Marilah kita naik sado saja!”
“Benar, katamu!” jawab Maseri.“Akan tetapi kendaraan tidak sebuah juga yang lalu.
“Kita tunggu sebentar di warung Tionghoa ini. Tidak lama tentu ada taxi atau sado kosong yang lewat.”
“Ya, tetapi kita tak kan dapat berbelanja di pasar, sebab sebentar lagi niscaya turun hujan lebat. Lihatlah olehmu, langit sudah hitam semuanya!”
“Kita nantikan hujan teduh. Bukankah tidak semalam-malaman ini hari hujan saja? .....
“Kalau lekas hujan teduh, syukur!” jawab Maseri pula.“Tetapi kalau hujan terus-menerus, bagaimana? Anak hanya berkawan dengan babu saja di rumah.”
“Jadi maksud Mas kita balik saja pulang,” jawab Halimah dengan muram muka. “Bila lagi akan membeli pakaian anak, sedang lebaran hanya tinggal lima hari lagi.”
“Bila dijahit, waktunya sudah kasip!” jawab Halimah dengan tidak bersenang hati.“Mas memang tahu senang saja. Pergi pagi pukul tujuh ke kantor, pulang pukul dua. Di rumah mas bersenangkan diri saja, tidak bekerja apa-apa. Tetapi saya setengah mati bekerja dari pagi sampai petang. Memasak, memandikan anak, membersihkan rumah tangga, berbelanja banyak lagi yang lain, sehingga sehari harian tak dapat menghentikan tangan. Meskipun ada baku yang akan mencuci pakaian dan menyapu, tetapi dia perlu pula diamat-amati dalam pekerjaannya. Jadi kalau besok lusa membeli kain, bila masanya saya akan menjahitnya. Rupanya Mas ingin saya mati telah karena tidak sedikit pekerjaan yang saya hadapi setiap hari.”
“Nah, hujan sudah semakin rapat juga,” ujar Maseri akan memotong perkataan isterinya yang berkepanjangan itu.“Marilah kita pulang! Kalau tidak niscaya kita sampai larut malam di warung ini menantikan hujan teduh. Nanti di rumah boleh engkau berkisah, dan saya mendengar pun bersenang hati.”
Halimah tidak menyahut. Hatinya mengkal-kesal mendengar perkataan suaminya; dirasainya dirinya diperolok-olokkan. Dengan merajuk ia berjalan pulang, sambil memperselebung kain selendangnya. Maseri mengiringkan dia dari belakang. Sampai di rumah Halimah tidak berkata sepatah jua pun. Dihidankannya nasi untuk suaminya. Sudah itu ditidurkannya anaknya dan pintu pun dikuncinya. Maka dibakamya obat nyamuk, lalu ia mengempas diri ke tempat tidur. Sekalian pekerjaan itu dilakukannya dengan tergesa-gesa.
Melihat tingkah laku Halimah itu, Maseri sabar saja rupanya. Ia tidak terkejut atau marah karena ia tahu bagaimana cinta kasih sayang Halimah kepadanya. Maka didekatinya isterinya lalu berkata dengan lemah lembut, katanya:
“Bolakkah kataku, Halimah! Dengarlah, hujan sangat lebatnya, bagi dicurahkan dari langit, dan bunyi petir halilintar bagi membelah bumi. Saya rasa sampai pukul 12 malam tak kan teduh-teduhnya hujan ini.”
“Ya, tetapi bukan sekali dua kali Mas menghalang-halangi, kalau akan berjalan berdua dengan saya.”
“Bila saya menghalang-halangi perjalanan kita?” ujar Maseri.
“Bulan yang sudah ketika saya ajak pergi ke rumah saudara sepupu saya. Mas hendak pergi vergadering. Minggu yang lalu saya ajak pula pergi ke rumah Sumitro, kepala Mas pusing.”
“Memang sesungguhnyalah demikian. Hal itu tidak saya but-buat melainkan yang sebenarnya saja.”
“Tidak boleh jadi. Kalau saya mengajak Mas, selalu ada-ada saja halangannya. Tidak sukakah Mas berjalan bersama saja? Burukkah saya kelihatan oleh Mas? Tidakkah saya sepadan dengan Mas? Malukah Mas dilihat orang kalau berjalan berdua?”
Mendengar pertanyaan isterinya yang sebagai hujan lebat itu, Maseri berdiam diri saja. Ia amat heran karena tidak disangka-sangka sedikit juga pertanyaan yang demikian akan keluar dari mulut isterinya. Dalam pada itu Halimah berkata pula, katanya:
“Mengapa Mas berdiam diri saja? Memang benar demikian anggapan Mas kepada saya. Mas memandang saya jelek, tidak setara dengan Mas.”
“Eh, eh, bila pula saya mengatakan engkau jelek?”
“Ke mana pula tujuan perkataanmu? Engkau rupanya hendak mencari-cari selisih.”
“Mas sendiri yang mencari-cari selisih, bukan. Kalau tidak begitu pandangan Mas kepada saya, tentu Mas suka berjalan bersama saya.
“Tidak ada saya menganggap engkau jelek.”
“Ada”
“Tidak”
“Ada”
“Tidak”
“Ada”
“Tidak kata saya, ada juga katamu!”
“Memang!”
Maseri berdiam diri pula. Ia tidak menjawab lagi sebab kalau dilawannya bertengkar, niscaya tak baik kesudahnya. Halimah berkata pula katanya:
“Mengapa Mas suka kawin dengan saya dahulu?
Bukankah Mas yang meminta saya kepada ibu? Bukan saya yang meminta supaya dikawinkan dengan Mas.“
Maseri berdiam diri saja.
“Ayuh, jawablah!”
Maseri tinggal diam.
“Kalau tak hendak menjawab, ceraikan saja sekarang juga!”
“Wah, cerai pula yang engkau minta, kawin pula yang engkau bincang. Mengapa perkara carai dan kawin yang engkau sebut-sebut? Saya sekali-kali tak ada bermaksud hendak menceraikan engkau. Engkau rupanya lekas benar memikirkan yang bukan-bukan.”
“Mas tidak suka lagi kepada saya. Memang umum tabiat laki-laki demikian. Habis manis seph dibuang.”
“Bila pula saya membuang engkau? Bukankah kita masih bercampur. Saya tak hendak membuang engkau Halimah!”
“Saya tidak suka diperolok-olokkan begitu. Waktu mula kawin bukan main kasih Mas kepada saya. Tetapi setelah beranak-anak, muka mulai kisut, Mas tidak mengindahkan saya lagi.”
“Aih, ke mana pula ini? Saya sekali-kali tidak ada mengatakan mukamu kisut. Mukamu berisi, penuh dan bagus, dan saya selalu mengindahkan engkau.”
“Bohong!”
“Benar!”
“Bohong!”
“Nah, engkau juga yang hendak mencari selisih. Perkara yang kecil engkau besar-besarkan. Benar kata saya, bohong katamu.”
“Siapa yang mencari selisih? Mas yang hendak berbantah. Mentang-mentang saya perempuan, Mas hendak leluasa saja.”
“Apa pula yang engkau sebut itu? Rupanya engkau cerewet, nyinyir, suka ribut. Benar juga kiranya kata ibu waktu saya mula kawin dengan engkau dahulu. Engkau seorang perempuan yang sangat lancang mulut. Dengan tidak timbang menimbang lebih dulu, lekas benar engkau membawa perkataan orang kepada yang salah.”
“Ibu jangan dibawa-bawa. Ibu tak ada menyebut-nyebut saya bertabiat demikian. Sekarang Mas sudah pandai mencela saya, dulu tidak. Ayuh ceraikan saja saya, habis perkara. Ambil anak ini oleh Mas, saya pergi.”
“Sedikit-sedikit minta cerai, sedikit-sedikit minta cerai.”
“Bagimu cerai itu gampang saja. Perkara kecil ya, itu hari hujan, samapi kepada cerai engkau sebut.”
“Ya, karena nyata kepada saya bahwa Mas sudah benci kepada saya.”
“Bila pula saya menyatakan benci kepadamu?”
“Perkataan Mas berputar-putar saja. Ceraikan sajalah saya.”
“Tidak!”
“Ceraikan!”
“Tidak!”
Halimah bangun dan melompat turun dari tempat tidur. Akan tetapi ia dipegang oleh Maseri. Ketika itu kelihatan oleh mereka bahwa kelambu sudah terbakar. Api sudah menjalar ke dinding rumah. Hal itu sebabnya lain tidak karena Halimah meletakkan obat nyamuk dekat kelambu tempat tidur. Maka keduanya pun sibuk memadamkan api....
Demikianlah adanya.
30
Lima Hitam
(Panji Pustaka, No. 24, 18 Mei 1939, Hlm. 89—91)
Malam Lebaran kira-kira jam sembilan kurang seperempat. Di Pasar Burung banyak orang, karena bioskop baru habis. Di antara orang yang keluar dari gedung bioskop ada lima orang Sunda yang menarik peman-dangan orang banyak karena pakaiannya sama benar: berkain kepala hitam, berbaju putih, bersarung poleng yang gemerlap cahayanya dan berterompah buatan Cianjur. Mereka itu hampir tiap-tiap malam tak pernah ada di rumah, melainkan pelesir ke park, menonton bioskop, wayang dan tontonan lain-lain sehingga orang sudah kenal akan kelima pemuda itu dan menyebut mereka “ Kepala Hitam”, karena kalau pergi pesiar selalu mereka berkan kepala hitam. Mereka seja sekata, sehina semalu dan menyebut dirinya masing-masing Hitam I, Hitam II, Hitam III, IV dan Hitam V. Di mana Hitam I, ialah ketuanya, ada, di situ kedapatan pula teman-temannya yang lain. Habis menonton gambar hidup itu kata Hitam I: “Tuan-tuan atas nama perutku, saya persilahkan tuan-tuan sekalian, sudi kiranya pergi dahulu ke warung nasi.
Siapa di antara tuan-tuan yang tidak mupakat? I, tuan Hitam II dan Hitam V tidak mupakat? Tetapi tuan-tuan mau tak mau mesti ikut juga karena kami bertiga mupakat.“
Habis makan kata Hitam III:“ Kita ini lebih senang daripada regent. Dapatkah beliau membeli jajan di tepi jalan? Kita dapat menurut se-kehendak hati kita, asal jangan melanggar undang-undang.”
“Betul, betul,” jawab temannya yang lain.“ Marilah kita beli es” kata mereka pula“, pertama karena memang sudah lazim, sehabis makan orang mesti minum, kedua kita akan minum atas kesehatan tuan karena telah berpidato yang sekalipun pendek, tetapi panjang maksudnya. Buah pikiran tuan yang mulia dan penting itu kami hargakan benar-benar.”
Setelah minum es kata ketuanya pula: “ Tuan-tuan esok malam saya mempersilakan tuan-tuan datang ke rumah saya, karena ada hal yang penting dan perlu kita bicarakan pajang lebar dengan kepala yang sejuk dan pikiran yang tenang, supaya hasilnya menyenangkan hati kita. Saya minta dengan hormat dengan kepercayaan hati saya kepada tuan-tuan sekalian, sudah kiranya tuan-tuan memenuhi permintaan saya itu.”
“Baik,” jawab segala temannya“, jika tuan sungguh-sungguh mengharapkan timbangan kami, tentu kami akan datang juga pada waktunya. Sekalipun hari panas terik ataupun malam gelap gelita, ataupun hujan lebat, kami tidak akan perdulikan segala rintangan apa pun, lamun saja kami masih bernapas.”
Maka diceritakan oranglah pada waktunya berkumpullah Hitam II, III, IV dan V di rumah Hitam I. Setelah bermaaf-maafan berhubung dengan Lebaran, maka berdirilah tuan rumah seraya mengetuk meja sekali. “Tuan-tuan,” katanya, “saya sebagai voorzitter dari perkumpulan Lima Hitam, mengucapkan terima kasih banyak-banyak atas minat tuan-tuan sekalian karena suka bercemar kaki datang ke rumah saya. Saya akan bicarakan suatu hal yang sekalipun perkara kecil saja tetapi jika kita pikirkan dalam-dalam, tentu penting dan berpaedah pulah bagi diri kita sendiri dan bagi bangsa kita, bangsa Bumiputra. Tuan-tuan maklumlah sudah, kita ini menghendaki keadaban Barat. Sebab itu hendaklah kita tiru segala tabiat kebaratan yang baik-baik itu dan buanglah segala tabiat kita yang buruk. Misalnya bangsa kita terkenal tidak suka mengindahkan perkataan, artinya tidak suka menepati janji, sehingga ada peri bahasa: Janji Bumiputera, janji Belanda. Orang yang tidak mengindahkan perkataannya itu sama dengan tidak menghormati dirinya sendiri, sehingga lama-kelamaan perkataannya itu tidak dihargai orang lain lagi. Camkanlah tuan-tuan:
Kehilangan uang, tidak kehilangan apa-apa.
Kehilangan keberanian, kehilangan sedikit saja,
Tetapi kehilangan kehormatan, kehilangan besar.
Saya dapat menyimpan kehormatan perlu kita usahakan supaya ekonomi kita tidak kucar-kacir, apa pula sekarang jaman me- leset.
Yang sudahlah, tetapi mulai sekarang ini segala perbuatan yang hendak kita lakukan itu perlu dipikirkan dahulu. Misalnya kelakuan kita suka nonton ini dan itu harus dibuangkan jauh-jauh supaya jangan dapat paling pintu dari raja rumah. Dalam pada itu hendaklah kita bekerja dengan ketetapan dan kesukaan hati, agar supaya cita-cita yang mulia itu tercapai juga akhirnya. Biarlah orang lain mengejekkan segala perbuatan kita itu, biarlah orang banyak mencela usaha kita itu, tetapi janganlah kita undur selangkah jua pun, melainkan harus kita maju terus: Rawerawe rantas, malang-malang putung, terkujur lalu, terbelintang patah, berani karena benar, takut karena salah. Tuan-tuan seperti saya sudah terangkan tadi, sekarang ini musim susah uang. Maka gaji kita dipotong 17%, mana bulan April bakal diadakan B. B. L baru lagi, yang akibatnya tidak lain dan tidak bukan, melainkan penghasilan kita akan makin turun juga, sedang kita ini tiak mempunyai ketetapan, buktinya pemerintah masih selalu mengobral pegawainya. Siapa tahu besok atau lusa di antara kita ada yang kena pisau besinihing! Sebab itu sebaiknyalah kita berpayung sebelum hujan, ialah kita harus hidup dengan cermatnya. Misalnya kita ini kerap kali menerima undangan dari orang yang tidak kita kenal. Rasanya tak perlu undangan semacam itu kita perdulikan lagi.“
Hitam II: “Menurut timbangan saya patut juga kita terima undangan itu, karena nyata mereka ingin berkenalan dengan kita. Kita ini mengembara, seyogianyalah kita mempunyai banyak kenalan di antara penduduk kota ini.”
Hitam I: “Sepatutnyalah kita hidup rukun dengan penduduk di sini, tetapi pendapat saudara Hitam II agak berlainan dengan buktinya. Biasanya orang bekerja itu pada permulaan bulan Belanda saja, waktu kantong masih penuh, sehingga saya mengira orang bekerja itu maksudnya terutama sekali mengharapkan uang. Lain daripada itu ada pula hal lain yang meneguhkan dugaan saya itu. Sudah lazim orang bekerja untuk merayakan hari kawin atau hari sunat anaknya atau saudaranya. Tetapi kadang-kadang dicarinya anak orang lain yang bukan kaum kerabatnya akan disunat. Ada pula orang bekerja itu misalnya kalau isterinya hamil genap 7 bulan. Bahkan ada orang yang bekerja tiap-tiap tahun atau enam bulan sekali, sehingga tetap keyakinan saya, maksudnya itu semata-mata untuk mencari untuk belaka.”
Hitam III: “Perkataan tuan Voorzitter itu benar belaka. Malahan saya mendengar khabar bahwa di kampung Anu ada satu perkumpulan yang maksudnya semata-mata untuk mencari keuntungan dengan bekerja. Tetapi baru khabar angin saja, belum dapat disaksikan dengan mata kita sendiri atau dengan angka-angka yang sah. Lain daripada itu saya mendengar khabar pula, entah di bilangan Kerawang, entah di bilangan Banten, kalau ada yang bekerja, maka orang yang kaya raya tidak sedikit ”sumbangannya“, ada yang menyumbang beras misalnya 10 pikul, ada yang menyumbang uang misalnya f 50, kerbau atau yang semacamnya dengan maksud supaya di hari kemudian kalau mereka bekerja mendapat kembali balasannya dengan bunganya sehingga orang bekerja yang menerima sumbangan besar itu acapkali berduka cita, karena kuatir kalau-kalau tak dapat membalasnya kelak. Untuk itu kadang-kadang orang terpaksa menggadai atau menjual harta bendanya.”
Hitam IV: “Tuan-tuan, memang uang itu manis, sehingga tidak heranlah orang berdaya upaya dengan pelbagai jenis jalan supaya mendapat untung banyak. Misalnya kalau orang hendak bekerja, maka dicarinya ikhtiar supaya banyak jamu yang datang. Maka dipanggilnya wayang Isra, Ujang atau wayang Ibuk atau tontonan lain-lain yang disukai orang banyak. Ada pula yang beberapa bulan sebelum bekerja, masuk perkumpulan atau kursus ini itu, maksudnya tak lain melainkan supaya di waktu bekerja banyak jamu yang datang.”
Hitam II: “Segala keterangan tuan-tuan itu boleh jadi besar, tetapi rasa saya menyumbang itu tidak merugikan kepada kita, sebab ada harapan bagi kita pada waktu kita bekerja uang sumbangan itu diterima kembali, barangkali dengan bunganya, sebab itu uang kondangan itu hendaklah kita pandang sebagai uang simpanan.”
Hitam I: “Ingat tuan, sekarang ini musim meleset sehingga harapan akan mendapat kembali uang sumbangan itu sedikit sekali. Contohnya siapa yang tidak kenal pada Mas Wongso. Tiap-tiap orang yang mengundang didatanginya tetapi waktu dia menyunat anaknya sedikit benar yang datang. Pada keesokan harinya sesudah bekerja, kelihatan air mukanya muram: Pelangpang dan kursi belum dibayar, sedang harus pula dibayar uang dengan bunganya karena Syekh Salim, yaitu uang untuk modal bekerja. Matanya mengantuk, uang habis, pikirannya bingung karena ditagih oleh yang punya uang. Tadinya inginkan untuk tetapi akhirnya menjadi buntung. Ada lagi contoh yang lain. Belum selang berapa lama di Pisangan ada yang bekerja. Maka dipanggilnya lenong dari Bekasi. Jamu yang datang boleh juga tetapi orang menyumbang sebanyak-banyak f 1, - maklumlah musim susah uang sedang pada keesokkan harinya harus menyediakan uang f 200, - untuk membayar rupa-rupa ongkos. Karena rupanya sudah putus asa, maka waktu dinihari, ketika penonton tertawa berbahak-bahak karena geli hatinya melihat segala perbuatan badut lenong, dia melarikan diri dengan meninggalkan anak dan bini. Jadi bekerja itu boleh disamakan dengan berjual atau mintaminta tetapi dengan jalan halus. Tuan-tuan orang yang minta-minta itu rendah budinya, hidupnya selalu bergantung pada orang lain. Betul dengan menyumbang itu kita berbuat kebaikan itu biasanya dibalas dengan kebaikan pula, sekalipun balasan itu tidak kita inginkan. Kalau kita habis kondangan minta diri hendak pulang ke rumah, maka tak salah lagi kita mendapat sebungkus nasi dengan daging semur sekerat, ialah balasan kebaikan kita. Bahkan ada juga yang menjaga di pintu untuk mengawas-awasi, kalau-kalau ada jamu yang pulang dengan tidak minta permisi dahulu, atau kalau-kalau ada jamu yang lupa membuat kebaikannya, ialah memberi uang sumbangan itu. Betul, karena diundang itu kenalan kita akan bertambah banyak juga, barangkali karena kita terpaksa mencari uang untuk kondangan, boleh jadi kita berkenalan juga dengan peci merah yang selalu suka menolong orang yang kesusahan. Betul di tempat orang bekerja itu kita bergaulan dengan orang lain yang berlainan pula pemandangannya dengan kita, sehingga pengetahuan kita bertambah banyak juga, sehingga orang yang asal mulanya tidak tahu main domino, ceki dan permainan lain semacam itu, lama kelamaan jadi ketagihan akan itu. Tetapi segala kebaikan itu bukan pada tempatnya, malahan mengganggu ekonomi kita sehingga rumah tangga kita menjadi kucar-kacir; dengan isi rumah kita tidak dapat hidup rukun lagi. Sebaik-nyalah orang bekerja itu dengan sekedamya saja. Tirulah adat Barat tentang itu. Kalau orang Eropa bekerja tidak menyusahkan dirinya kelak dan tidak pula menyusahkan orang lain. Bangsa kita sudah ada juga yang menirunya. Sebab seorang menteri guru H. I. S. Kalau ia bekerja menyunatkan anaknya tidak dibuatnya surat undangan dan tidak pula dipanggilnya tontonan melainkan anaknya itu dibawanya kepada dokter akan disunat, habis perkara. Tuan-tuan segala keadaan di muka bumi ini tidak tetap, tetapi selalu berubah-ubah, demikian pula halnya dengan adat istiadat dan kebiasaan. Dalam hal bekerjapan perbuatan tuan menteri guru itu wajib kita tiru, lebih-lebih dalam keadaan sekarang ini. Dahulu jangankan orang pandai-pandai, orang bodoh pun dapat mencari pekerjaan dengan mudahnya juga. Sekarang tidak sedikit orang mencari pekerjaan kian kemari, di antaranya banyak juga yang berdiploma sekolah tinggi. Nyata benar mencari uang itu makin sukar juga. Pendek kata tuan-tuan saya minta timbangan tuan-tuan sekalipun, baik tidaknya atau setuju tidaknya dengan pendapat saya itu. Janganlah permintaan saya itu tuan-tuan pandang sebagai “ultimatum”, tetapi hendaknya dipikirkan dalam-dalam dengan kepala yang sejuk. Kita ini “berperang” udah berjam-jam lamanya, sehingga otak kita sudah pusing rasanya. Marilah kita makan dahulu.”
“Jangan berbuat susah.”
“Sekali-kali tidak, bahkan isteri saya berbuat susah kepada tuan-tuan. Nanti tuan-tuan mau tak mau harus memamah, kemudian harus mencuci gigi dengan sirih, karena disediakan petai dan tauco. Kalau tuan-tuan nanti pulang ke rumah, boleh jadi isteri tuan-marah karena tuan-makan tidak sebagaimana biasa, sehingga boleh jadi pula timbul sangkaan pada isteri tuan, kalau-kalau tuan berdalih pergi ke rumah saya, padahal sebenarnya tuan pergi ke rumah istri tuan yang muda, dan karena cemburu itu boleh jadi isteri tuan menangis sehingga tetangga-tetangga tuan bangun dari tidurnya dan marah pula kepada tuan dan akan tuan menangis dan memihak kepada ibunya karena kuatir kalau-kalau ibunya dipukul oleh tuan, begitu pula bujang tuan menyembunyikan dirinya, takut kalau-kalau dimarahi oleh istri tuan. Sebab itu pikirkan dahulu dalam-dalam, buatlah prufbalans tentang laba dan ruginya.”
“Ah tidak, kami hendak meluluskan juga permintaan tuan itu, biar bagaimanapun jadinya kelak.”
Setelah makan kata Hitam III: “Tuan voorzitter, atas nama sekalian teman-teman, saya mengucap terima kasih diperbanyak-banyak, pertama-tama kami telah mendengar pemandangan tuan yang mulia itu, dan kedua kami mengucap terima kasih karena perut akami sudah tidak merasa lapar lagi. Rasanya tak perlu kami terangkan panjang lebar lagi, pendek kata kami setuju dengan pendapat tuan itu. Marilah kita sekarang membuat surat perjanjian.”
Maka masing-masing membuat contoh surat perjanjian dan setelah debat mendebat beberapa jam lamanya, dibuatlah surat perjanjian yang berikut:
SURAT PERJANJIAN PERKUMPULAN “LIMA HITAM”
1934 No. 1 DERAJAT BANGSA BUMI PUTRA. Mengubah kebiasaan dan adat istiadat bangsa Bumiputra.
Atas nama perkumpulan Lima Hitam! Voorzitter perkumpulan itu Setelah mendengar timbangan selama lid-lidnya dengan kesucian hatinya,
Kepada sekalian anak cucu, sahabat dan kenalan, yang akan melihat atau mendengar membaca ini, Selamatlah! mempermaklumkan:
Bahwa voorzitter, karena hendak menyampaikan cita-cita perkum- pulan Lima Hitam yang mulia, ialah mengangkat derajat bangsa Bumi- putra supaya sama dengan bangsa-bangsa lain yang sudah tinggi tingkat keadabannya dengan mengubah atau menghilangkan segala adat istiadat dan kebiasaan yang menurut pemandangan orang sopan-sopan tidak baik atau sudah tidak sesuai lagi dengan kemauan zaman, misalnya dengan menghilangkan kebiasaan memberi uang sumbangan kepada orang bekerja, yang menginginkan untuk saja;
Dengan mengingat kerukunan dan persaudaraan dalam dunia Bumiputera.
Telah berkenan dan bersetuju:
Pasal 1.
Kebiasaan memberi uang sumbangan kepada orang bekerja yang semata-mata menginginkan untung saja dihilangkan.
Pasal 2.
Aturan ini mulai berlaku pada permulaan bulan Februari tahun 1934. Dan supaya sekalian anak cucu sahabat dan kenalan yang menyetujui cita-cita perkumpulan yang mulia itu jangan seorang pun dapat berdalih tidak mengetahuinya, maka perjanjian ini akan diedarkan kepada mereka.
Termaktub di Betawi tanggal 18 Januari 1934
HITAM I
Setelah voorzitter mengucap terima kasih sekali lagi, maka pukul setengah 3 vergadering itu ditutuplah.
GLOSARI
| Ahad = Minggu |
| Akhlak = Watak/Tabiat |
| Amben = Balai-balai |
| Awak Dewek = Diri Sendiri |
| Bado = Lebaran |
| Bahasa = Perbuatan |
| Bagar = Gulai |
| Berpantalon = Berjas |
| Berjuak = Menguak |
| Buncah = Kacau |
| Diploma = Ijazah |
| Ditebarkan = Disebarkan |
| Dikutilnya = Diambilnya |
| Employe = Pegawai |
| Fiil = Pekerjaan |
| Gementar = Gemetar |
| Gusar = Marah |
| Ialam-alam = Tampak suram |
| Iktibar = Sebab |
| Jana bijana = Tanah kelahiran |
| Jungut = Tanah yang menganjur |
| Kalam = Tulisan |
| Kasam kasemat = Dendam kesumat |
| Kecele = Kecewa |
| Kincau = Aduk, Campur |
| Laku kilat = Bagai kilat |
| Laiknya = Layaknya |
| Lemba = Lemah |
| Leret = Deret |
| Lepasan = Kerja tak tetap |
| Mentua = Mertua |
| Membuas = Deras |
| Nenung = Renung |
| Noktah = Titik |
| Perian = Periuk |
| Perai = Liburan |
| Raib = Hilang |
| Samisen = Semacam gitar |
| Sedar = Sadar |
| Siapatah = Siapakah |
| Silang siur = Simpang siur |
| Syahdan = Tatkala |
| Tepermanai = Terkira |
| Tuntung = Tumpah |
| Terbabat = Terbentang |
| Terbadai = Terkantuk |
| Undur = Mundur |
DAFTAR CERPEN
——, “Jimat”, Panji Pustaka, 11 Mei 1928, Tahun VI, No. 38.
——,“Kesetiaan Seekor Anjing”, Panji Pustaka, 18 September 1928, Tahun VI, No. 75.
Pak Buyung, “Kurang Usul Periksa”, Panji Pustaka, 28 Februari 1930, Tahun VIII, No. 17—18
Damschahajs, “Hanyut Tak Tentu Muaranya”, Panji Pustaka, Tahun 1932, No. Lebaran.
Marah Rusli, “Kedukaan Hari Raya”, Panji Pustaka, Thn. 1932, No. Lebaran.
Or. Mandank, “Kelana Anak Sumatra”, Panji Pustaka, Tahun 1932, No. Lebaran.
A. Damhuri, “Lebai Yang Sial”, Panji Pustaka, Tahun 1932, No. Lebaran.
Sanusi Pane, “Lukisan Ruwah”, Panji Pustaka, Tahun 1932, No. Lebaran.
Saus Gelar Dt. Radjo Bandaro. “Sesal Dahulu Pendapatan Sesal Kemudian Tidak Berguna”, Panji Pustaka, Thn. 1932, No. Lebaran.
Or. Mandank, “Surat Dari Ibu”, Panji Pustaka, Tahun 1932, No. Lebaran.
M. Kasim, “Tersinggung Pernya”, Panji Pustaka, Tahun XI, 4 April 1933, No. 27.
——, “Gara-Garanya Bagat Kambing”, Panji Pustaka, 11 April 1933, Tahun XI, No. 29—30.
Hadji Aboebakar, “Berpuasa Di Tengah Lautan”, Panji Pustaka, 16 Januari 1934, No. 5—6/Lebaran.
Moehammad Kasim, “Gara-Garanya Makan Durian Dalam Puasa”, 16 Januari 1934, No. 5—6/Lebaran.
A. Dt. Madjoindo, “Kalau Ibu Meninggal....”, Panji Pustaka 16 Januari 1934, No. 5—6/Lebaran.
Aminoeddin S. T. S. , “Tak Disangka-Sangka”, Panji Pustaka, 16 Januari 1934, No. 5—6/Lebaran.
Nur Sutan Iskandar, “Terlambat”, Panji Pustaka, 16 Januari 1934, No. 5—6/Lebaran.
T. St.S, “Penipu Yang Licin”, Panji Pustaka, 16 Februari 1934, Tahun XII, No. 14.
——, “Salah Mengerti”, Panji Pustaka, 6 April Tahun XII, No. 28.
Mohammad Rahim, “Sesal Kemudian Tiada Berguna”, 4 Mei 1934, Tahun XII, No. 36.
A. D. Moehammad, “Pembalasan”, Panji Pustaka, 22 Mei 1934, Tahun XII, No. 41.
M. Kasim, “Panjang Uratnya”, Panji Pustaka, 1 Juni 1934, Tahun XII, No. 42.
Ali Hasymi, “Raja Kecil”, Pujangga Baru, 1935, Tahun III, No. 1—12.
Armijn Pane, “Barang Tiada Berharga”, Pujangga Baru, Oktober—November 1935, Tahun III, No. 4—5.
A. Mada, “Lupa”, Pujangga Baru, September—Oktober—November 1936, Tahun IV, No. 3,4,5.
Seleguri, “Cerita Puteri Seri Laut”, Pujangga Baru, Desember 1937, Tahun V, No. 6.
Ajirakas, “Tiga Kelamin”, Panji Pustaka, 26 Agustus 1938, No. 68.
Dali, Terlampau Harap, Tertiarap! ...“, Panji Pustaka, 18 Maret 1939, No. 22.
T. St.S. , “Dekat Lebaran”. Panji Pustaka, 6 April 1939, Tahun XII, No. 28. E. Ns., “Lima Hitam”, Panji Pustaka, 18 Mei 1939, Tahun XII, No. 24.
Emod Nata Sukarta, “Bersujud Di Ribaan Ibu”, Panji Pustaka, Tahun VII, No. 17—18.
M. Kasim, “Limonade Nomor 1”, Panji Pustaka, 18 Mei 1934, Tahun XII, No. 40.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Acuan
Eneste, Pamusuk. 1983. Cerpen Indonesia Mutakhir: Antologi Esai dan Kritik. Jakarta: Gramedia.
Hoerip, Satyagraha. 1986. Cerita Pendek Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Jassin, H. B. 1965. Analisa Sorotan Atas Tjerita Pendek. Jakarta: Gunung Agung.
Mahayana, Maman S. 1992. Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.
Rosidi, Ajip. 1968. Tjerita Pendek Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.
Daftar Majalah
Panji Pustaka, No.38, Thn.VI, 11 Mei 1928.
Panji Pustaka, No. 75, Thn.VI, 18 September 1928.
Panji Pustaka, No. 17—18, Thn. VIII, 28 Februari 1930.
Panji Pustaka, No. Lebaran, No. 11, 1932.
Panji Pustaka, No. 27, Thn.XI, 4 April 1933.
Panji Pustaka, No. 29—30, Thn.XI, 11 April 1933.
Panji Pustaka, No. 5—6/Lebaran, 16 Januari 1934.
Panji Pustaka, No. 14, Thn.XII, 16 Februari 1934.
Panji Pustaka, No. 28, Thn.XII, 6 April 1934.
Panji Pustaka, No. 36, Thn.XII, 4 Mei 1934.
Panji Pustaka, No. 41, Thn. XII, 22 Mei 1934.
Pujangga Baru, No. 1—12, Thn.III, 1935.
Pujangga Baru, No. 4—5, Thn.III, Oktober-November 1935.
Pujangga Baru, No. 3,4,5, Thn.IV, September, Oktober, November 1936.
Pujangga Baru, No. 6 Thn.V, Desember 1937.
Panji Pustaka, No. 68, 26 Agustus 1938.
Panji Pustaka, No. 22, 18 Maret 1939.
Panji Pustaka, No. 28, Thn.XII, 6 April 1939.
Panji Pustaka, No. 24, 18 Mei 1939.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.